P. 1
Powerpoint Retensi Urine n BPH

Powerpoint Retensi Urine n BPH

|Views: 460|Likes:
Published by ronaldyohanesf

More info:

Published by: ronaldyohanesf on Oct 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/17/2014

pdf

text

original

Dr Asriel Aziz, SpB SMF ILMU BEDAH RSUD Dr. R.

KOESMA TUBAN Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya 2011-2013

I.

Identitas Pasien
Nama Umur Alamat Jenis kelamin Agama Pekerjaan Suku No. RM : Tn. Tasiran : 72 Tahun : Tawang rejo, Tambak boyo : Laki-laki : Islam : Tayup (Bag. Penabuh Gamelan) : Jawa : 09 43 13

KU
RPS

: Tidak bisa kencing sendiri
: Pasien tidak bisa kencing bila selang kateter di lepas

RPD: Sudah hampir 7 bulan pasien mengalami kesulitan
BAK, BAK harus mengejan dan keluar sedikit-sedikit dan nyeri, sering tidak puas setelah selesai BAK, setiap bulan kateter di ganti 2 kali di puskesmas setempat.

Pemeriksaan Fisik tanggal 19 agustus 2011  Status Generalis
Keadaan Umum : Cukup Kesadaran : Composmentis TTV : Tensi : 120/80 mmHg Nadi : 8o x/menit Suhu : 36,2 ̊C RR : 20 x/menit Kepala dan Leher : A/I/C/D : -/-/-/Pembesaran KGB : Peningkatan JVP : -

Rh -/.Wh -/: Supel : Nyeri tekan – massa : Timpani : Bising usus + Abdomen : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi .Thorax : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Simetris : Nyeri tekan – : Sonor : Suara nafas vesikuler.

reflex bulbokavernosum + . nyeri tekan -. Buli-buli : Inspeksi tidak menonjol pada suprapubik. feses +. permukaan rata. Status Urologis Ginjal : Palpasi Bimanual Ginjal tidak teraba. batu uretra Scrotum : Hernia – orchitis – Rectal Toucher : Tonus Spinter ani masi terasa kuat Mukosa rectum licin. batas atas tidak teraba. striktur uretra -. nyeri tekan -. Palpasi : tidak ada tahanan. Penis dan Uretra : Stenosis -. tidak di temukan hemorroid ditemukan pembesaran prostat di arah jam 12 dengan konsistensi padat.

9 gr/dl Laju Endap Darah : 8/28 /jam PCV : 42.000 sel/ul SGPT : 15 ui/IL SGOT : 24 ui/IL .000 jt sel/ul Hitung Jenis Sel : -/-/-/87/10/3 Leukosit : 7.1 % Eritrosit : 4. Pemeriksaan Penunjang Tanggal 19 Agustus 2011 Hb : 13.620.500 sel/ul Trombosit : 266.

reflex bulbokavernosum + . batas atas tidak teraba.89 : 102.3 : 0. permukaan rata dengan ukuran kirakira 4 cm.6 : Abnormal nonspesifik ST tinggi : Pasien Tn. setiap bulan kateter di ganti 2 kali. pada pemeriksaan fisik dilakukan RT ( rectal toucher ) di temukan pembesaran prostat di arah jam 12 dengan konsistensi padat. Tasiran umur 72 tahun datang dengan keluhan tidak bisa kencing hampir 7 bulan.BUN Kreatinin GDR  EKG  Resume : 19.

Pergantian folley cateter -. Antibiotik . Diagnosa  Usulan Terapi : BPH e.c folley cateter : -. Prostatectomi -. Diet TKTP dan banyak minum -. Mendikamentosa : Infus RL 20 tpm Inj.

08. TTV -.2 ̊C RR : 20 x/menit A : Retensi Urine e.Puasa -.c BPH P : -. Antibiotik . Inj. Follow UP Tanggal 20.2011 S : Nyeri pd kemaluan karena di pasang selang O : Warna urine : kuning jernih Tensi : 120/80 mmHg Nadi : 80 x/menit Suhu : 36. Obs.

Inj.c BPH P : -.Tanggal 21. Obs TTV . sedikit cekot-cekot O : Warna urine : kuning jernih Tensi : 110/70 mmHg Nadi : 80 x/menit Suhu : 36 ̊C RR : 18 x/menit A : retensi urine e.2011 S : Kemeng dirasakan pada daerah kemaluan. Antibiotik -.08. Pasien di puasakan -.

2011 Dilakukan Operasi Tanggal 24. BAB – O : Warna urine : Merah Drain : + Tensi : 110/80 mmHg Suhu : 36.Tanggal 23. Obs.08.TTV -. Rawat Luka -. Puasa -.5 ̊C Nadi : 84 x/menit RR : 20 x/menit A : Post op prostatectomy hari I P : -.08. Tx tetap . flatus -.2011 S : Nyeri pada bekas operasi.

TTV -. Obs. BAB – : Warna urine : Merah Drain + Tensi : 130/90 mmHg Suhu : 36. Rawat luka -.Tanggal 25.08.2011 S O : Nyeri pada bekas operasi. flatus +. Tx tetap A P . Puasa -.5 ̊C Nadi : 80 x/menit RR : 20 x/menit : Post op prostatectomy hari k II : -.

Obs TTV -.2 ̊C Nadi : 80 x/menit RR : 20 x/menit A : Post op prostatectomy hari ke III P : -. Tx tetap . Rawat luka -.08. Puasa -. Flatus +.2011 S : Nyeri luka operasi sudah berkurang. BAB – O : Warna urine : Merah Drain : + Tensi : 130/90 mmHg Suhu : 36.Tanggal 26.

08. BAB – : Warna urine : Merah Drain : + Tensi : 120/80 mmHg Suhu : 36.2011 S O : Nyeri luka operasi sudah berkurang. Diet TKTP -. Rawat luka -. Mobilisasi -.Tanggal 27. Flatus +. Tx tetap A P .3 ̊C Nadi : 80 x/menit RR : 20 x/menit : Post op prostatectomy hari ke IV : -. Obs TTV -.

08. Diet MB -.2011 S O : Nyeri luka operasi -.3 ̊C : 20 x/menit A P .Tanggal 30. Mobilisasi -. Rawat luka -. Flatus +. BAB + : Warna urine : jernih Drain : Tensi : 120/80 mmHg Suhu Nadi : 80 x/menit RR : Post op prostatectomy hari ke VII : -. Tx oral : 36. Obs TTV -.

Rawat luka -. Flatus +. BAB + : Warna urine : jernih Drain : Tensi : 120/80 mmHg Suhu : 36 ̊C Nadi : 80 x/menit RR : 20 x/menit : Post op prostatectomy hari ke VIII : -.Tanggal 31. Off DC -.08. Mobilisasi jalan-jalan -. Tx oral A P .2011 S O : Nyeri luka operasi -. Obs TTV -. Diet MB -.

Mobilisasi jalan-jalan -.09. Tx oral A P . BAB + BAK + : Drain : Tensi : 120/80 mmHg Suhu : 36 ̊C Nadi : 80 x/menit RR : 20 x/menit : Post op prostatectomy hari ke IX : -.Tanggal 01.2011 S O : Nyeri luka operasi -. Flatus +. Rawat luka -. Diet MB -. Off Drain -.

Diet MB -. Tx oral A P . Flatus +. BAB + BAK + : Tensi : 120/80 mmHg Suhu : 36 ̊C Nadi : 80 x/menit RR : 20 x/menit : Post op prostatectomy hari ke X : -.Tanggal 02. Mobilisasi jalan-jalan -.09.2011 S O : Nyeri luka operasi -. Rawat luka -.

Tx oral -.Tanggal 03. Rawat luka -. Diet MB -. Flatus +. KRS A P .09.2011 S O : Nyeri luka operasi -. BAB + BAK + : Tensi : 120/80 mmHg Suhu : 36 ̊C Nadi : 80 x/menit RR : 20 x/menit : Post op prostatectomy hari ke XI : -.

    sebagian atau seluruhnya Retensio urine bisa terjadi secara akut atau kronis. bisa juga terjadi secara total atau partial Retensio urine harus bisa dibedakan dengan AN URIA atau OLIGO URIA Pada an uria. dikatakan oligouria bila urine < 400 cc / 24 jam .DEFINISI RETENSI URINE  Adalah suatu keadaan dimana urine tidak dapat keluar dari buli-buli. keadaan dimana orang tsb tidak dapat mengeluarkan kencing sama sekali atau < 100 cc / 24 jam karena produksinya di ginjal tidak ada sedang oligouria adalah berkurangnya produksi air kencing.

INFRA VESICA Penyebab infra vesika adalah penyebab mekanik seperti klep uretra posterior kongenital. batu uretra. dan prostat hipertropi . meatus stenosis kongenital. III. atau kerusakan saraf simpatis dan parasimpatis akibat trauma operasi atau neuropati DM. VESICA Penyebab vesika adalah kelainan kandung kemih yang diakibatkan obstruksi lama atau infeksi kronis yang menyebabkan fibrosis bulibuli sehingga kontraksi buli-buli melemah II. I. striktur uretra.BERDASARKAN LOKASI PENYEBAB SUPRA VESICA Penyebab supra vesika adalah hal-hal yang disebabkan persarafan kandung kemih misalnya trauma medula spinalis.

Juga perlu diketahui riwayat trauma. Pada genitalia externa kita periksa adanya infiltrat urine. ANAMNESA Ditujukan untuk mengetahui gejala maupun penyebab retensi. PEMERIKSAAN FISIK Teraba buli-buli penuh berupa penonjolan di daerah supra pubic yang biasanya nyeri tekan.GAMBARAN KLINIK  A. batu uretra maupun tumor Pemeriksaan colok dibur dilakukan untuk meraba adanya pembesaran prostat dan tumor rektum Perlu juga dilakukan test BCR (bulbus covernosus reflex) untuk menyingkirkan kemungkinan karena sebab neurogenik . Jenis kelamin. fistel. demikian juga penyakit2 yang pernah diderita seperti pernah kencing keluar batu dan darah.  B. umur penderita penting untuk diketahui.

memeriksa massa ginjal. Foto polos abdomen untuk melihat adanya batu buli-buli/batu urethra atau pada buli-buli B. C. PEMERIKSAAN PENUNJANG A. PENATALAKSANAAN Urine yang tertahan didalam buli-buli harus segera dikeluarkan untuk menghindari masalah seperti: mudah terjadi infeksi saluran kemih. D. USG dapat diperkirakan besarnya prostat. dengan melihat fungsi ginjal dan ureter. kontraksi buli-buli menjadi lemah dan timbul hidroureter dan hidronefrosis yang selanjutnya menimbulkan gagal ginjal . mendektesi residu urine. batu ginjal dan tumor buli-buli. Uretrografi untuk melihat apakah ada striktur urethra  D. IVP Untuk mengetahui adanya kelainan pada sistem tractus urinary. C.

Batas-batas prostat: Dasar : berhubungan dengan leher vesika uronaria Apex : berhadapan dengan diafragma urogenitalia Posterior : dipisahkan dengan rectum oleh septum Anterior : plexus venosus dan lemak memisahkan dengan sympisis pubis .buli dan membungkus uretra posterior. Bagian bawah kelenjar prostat menempal pada diafragma urogenital atau sering disebut otot dasar Panggul.BPH (BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA) Disebut juga hipertropi prostat jinak (Benign Prostat Hiperplasia = BPH) istilah hipertrofi sebenarnya kurang tepat karena yang terjadi adalah hyperplasia kelenjar periuretra yang mendesak prostat yang asli ke perifer  Anatomi Kelenjar prostat adalah salah salah satu organ genitalia pria yang terletak disebelah inferior bull .

Prostat mendapat inervasi otonomik simpatik dan parasimpatik dari pleksus prostatikus. . Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen dari cairan ejakulat. yaitu zona perifer. dan zona anterior Secara histopatologik kelenjar prostat terdiri atas komponen kelanjar dan stroma. zona preprostatik sprinter.Prostat diarterialisasi oleh A. zona transisional. zona sentral. Perinealis. Kelenjar ini terdiri atas jaringan fibromuskuler dan glandular yang terbagi dalam beberapa daerah atau zona. Vesikalis Caudalis dan A.

DHT berikatan dengan reseptor androgen membentuk kompleks DHT-RA pada inti sel yang kemudian terjadi sintesis protein growth factor yang menstimulasi pertumbuhan sel prostat. Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya BPH: 1. usia 80 tahun sekitar 80% dan 90 tahun hampir 100%. . Etiologi Etiologi BPH belum jelas namun terdapat faktor resiko umur dan hormon androgen. Teori dihidrotestosteron Dihidrotestosteron merupakan metabolit androgen yang sangat penting pada pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat. pria usia 50 tahun angka kejadiannya sekitar 50%.

4. Berkurangnya kematian sel prostat Pada jaringan normal terjadi keseimbangan antara sel yang mati dan laju proliferasi sel. kadar testosteron menurun sedangkan esterogen relatif tetap. Berkurangnya jumlah sel yang mati menyebabkan meningkatnya jumlah sel secara keseluruhan sehingga menyebabkan pertambahan massa prostat. .2. Ketidak seimbangan esterogen-testosteron Pada usia semakin tua. Interaksi stroma-epitel Cunha (1973) membuktikan bahwa deferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat secara tidak langsung dikontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator (growth factor) tertentu. 3.

 Patofisiologi Proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga perlahan. serta otot destrusor menebal dan merenggang sehingga timbul sakulasi atau divertikel. Teori sel stem Didalam kelenjar prostat dikenal suatu sel stem yaitu sel yang mempunyai kemampuan berpoliferasi sangat ekstensif Terjadinya proliferasi sel-sel pada BPH dipostulasikan sebagai ketidaktepatnya aktivitas sel stem sehingga terjadi produksi yang berlebihan sel stroma maupun sel epitel. .5. Pada tahap awal terjadi pembesaran prostat. Fase penebalan destrusor disebut fase kompensasi. resistensi pada leher buli-buli dan daerah prostat meningkat. Apabila keadaan berlanjut maka destrusor akan lelah akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urine yang selanjutnya dapat menyebabkan hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.

bila penderita ingin kencing tapi tidak bisa segera keluar. Rasa belum puas sehabis miksi terjadi karena jumlah residu urin yang banyak pada buli-buli. Pancaran miksi lemah. atau menetes setelah miksi. kencing tiba-tiba berhenti dan lancar kembali. yang dibagi menjadi dua yaitu gejala obstruktif dan gejala iritatif 1. terjadi karena muskulus destrusor membutuhkan waktu yang lama untuk dapat melawan tekanan uretra. . terjadi karena destrusor tidak dapat mengatasi resistensi uretra sampai akhir miksi. Intermittency. Obstruksi      Hesitancy. Terminal dribbling. Gambaran Klinis Gejala-gejala yang ditimbulkan prostat hiperplasi disebut sebagai sindroma prostatisme atau disebut juga LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms).

jika ada disebabkan oleh ketidakstabilan destrusor sehingga terjadi kontraksi involunter. yang diklasifikasikan dengan skor 07 untuk penderita ringan. Tingkat keparahan pada penderita BPH dapat diukur dengan skor II'SS. Iritasi     Frekuensi terjadi karena pengosongan yang tidak lengkap pada tiap miksi sehingga interval tiap miksi lebih pendek. Nokturia karena hamabatan normal dari korteks berkurang dan tonus sfingter dan uretra berkurang selama tidur. Disuria atau rasa tidak enak saat kencing. Urgensi. . 8-18 untuk penderita sedang dan 19-3 5 untuk penderita berat.2.

International Prostate Symptom Score (I-PSS) .

 Berdasarkan perkiraan berat prostat saat RT: -. Grade I : Perkiraan beratnya sampai dengan 30 gram besarnya kurang lebih sesuai prostat normal atau sedikit lebih besar. -. batas atas prostat tidak dapat dicapai oleh ujung jari telunjuk dan pada palpasi bimanual (tangan kiri menekan diatas simpisis dan buli-buli kosong) prostat juga teraba oleh tangan kiri. batas lateral lebih besar dan dangkal.Grade III . : Perkiraan beratnya antara 30-60 gram prostat jelas menonjol. : Perkiraan beratnya lebih dari 60 gram prostat jelas menonjol. sulkus mediana tidak teraba tetapi batas atas masih dapat teraba. Grade II -.

Menentukan besar prostat. . bila konsistensi berdungkuldungkul atau terdapat bagian yang lebih keras maka harus dipikirkan adanya karsinoma. Tujuan pemeriksaan colok dubur (Rectal Toucher) 1. Tonus sphinter yang normal. Besar prostat normal ditandai dengan batas-batas yang jelas. 2. Menentukan konsistensi prostat. Kostitensi prostat benigna biasanya rata. yaitu sulkus lateralis mudah teraba. batas atas (pole atas) juga mudah teraba. tidak longgar waktu jari telunjuk dimasukkan dan reflek bulbo kavernosa (BCR) yang positif menandakan persarafan unit vesiko uretra intak. Dan ditengahnya terdapat sulkus mediana yang juga mudah teraba. 3. Menentukan sistem saraf unit vesikouretra. Bila dengan mendadak glan penis ditekan dengan tangan kiri dan pada jari telunjuk yang directum terasa kontraksi sphinter ani maka dikatakan bahwa BCR positif.

Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah foto polos abdomen. USG dan sistoskopi. Bila terdapat hematuria. menentukan derajat disfungsi buli-buli dan volume residu urine dan mencari kelainan patologis lainnya baik yang berhubungan atau tidak dengan BPH. . walaupun BPH sendiri dapat menyebabkan hematuria. batu dan infeksi saluran kemih. harus diperhitungkan etiologi lain seperti keganasan pada saluran kemih. bakteri dan infeksi. pielografi intravena. Tujuan pencitraan ini adalah untuk memperkirakan volume BPH. II. Pemeriksaan Laboratorium Analisis urin dan pemeriksaan mikroskopik urin penting untuk melihat adanya sel leukosit. Pemeriksaan penunjang I.

batu uretrea dan striktur uretra. Pemeriksaan uroflowmetri Jumlah urine yang cukup untuk pemeriksaaan flowmetrogram yang representatif paling sedikit 150 ml dan maksima1400 ml. neuropati diabetes. dan penggunaan obat-obatan (penenang. bedah radikal yang mengorbankan persarafan di daerah pelvis. idealnya 200-300 ml. Resistensi uretra dapat disebabkan oleh pembesaran prostat (jinak atau ganas) tumor di leher buli-buli. Penilaian hasil Flow rate maksimal : > 15 ml/detik = non obstruktif 10-15 ml/detik = borderline <10 ml/detik = obstruktif  Diagnosa Banding Kelemahan otot destrusor dapat disebabkan oleh kelainan saraf (kandung kemih neurologik) misalnya lesi pada medulla spinalis. penghambat reseptor ganglion dan parasimpatolitik).III. Kekakuan leher buli-buli dapat disebabkan oleh fibrosis. .

Inkontinensia paradoks -. Hemorroid .Hidronefrosis -. Batu kandung kemih -. Divertikel -. Hidroureter -. Sakulasi -. Hematuria -. Renal failure -.Hernia -. Sistisis -. Retensi urine akut -. hyperplasia prostat dapat menimbulkan komplikasi yang dibagi menjadi akut dan kronis sebagai berikut : Akut: -. Komplikasi Dilihat dari sudut pandang perjalanan penyakitnya. Pielonefritis (ISK) Kronis: -.

terapi BPH dibagi menjadi 3. Medikamentosa III. Residual urine > 100m1 -. Operatif: Indikasi Operasi : -.Terapi medikamentosa tidak berhasil -. IPSS skor antara 19-35 -. yaitu: I. Flowmerti obstruktif . Retensi urine kronis (selalu > 300m1) -. Konservatif: II. Terapi Berdasarkan derajat IPSS.BPH dengan komplikasi -. Retensi urine berulang -.

Langsung melihat fossa prostat -. Teknik Operasi : Prostatektomi terbuka I. Dapat memotong pleksus santorini -. Mortaliti rate rendah -. Tidak bisa untuk BPH dengan penyulit intravesikal . Perdarahan lebih mudah dirawat -. Tanpa membuka vesika sehingga pemasangan kateter tidak perlu selama bila membuka vesika Kerugian : -. Mudah berdarah -. Retropubic infravesica (Terence Millin) Keuntungan : -.

Sulit pada orang gemuk -. Operasi banyak dipergunakan pada hiperplasia prostat dengan penyulit : 1. Uretrokel Kerugian : -.II. Batu buli 2. Divertikel 4.Memerlukan pemakain kateter lebih lama sampai luka pada dinding vesica sembuh -. Banyak dikerjakan untuk semua jenis pembesaran prostat -. Batu ureter distal 3. Baik untuk kelenjar besar -. Suprapubic Transvesica / TVP (Freeyer) Keuntungan : -. Sulit untuk kontrol perdarahan .

Inkontinensia -. Dapat langssung pada fossa prostate -. Perdarahan hebat . Bisa terkena rectum -. Pembuluh darah tampak lebih jelas -. Langsung biopsi untuk karsinoma Kerugian : -. Transperineal Keuntungan : -. Mudah untuk pinggul sempit -. Impotensi -.III.

Ketrampilan khusus . Tehnik sulit -. Tidak dianjurkan untuk BPH yang besar -. Luka incisi tidak ada -. Morbiditas dan mortalitas rendah -. Prostat fibrous mudah diangkat -. Trans Urethral Resection Prostatectomy(TUR P) (Saat ini tindakan TUR P merupakan tindakan operasi paling banyak dikerjakan di seluruh dunia) Keuntungan : -. Perdarahan mudah dilihat dan dikontrol Kerugian : -.Prostatektomi tertutup I. Trauma spingter eksterna dan trigonum -. Resiko merusak uretra -. Lama perawatan lebih pendek -.

Penggunaan laser ini masih memerlukan anestesi (regional) .Trans Urethral Incision of Prostate (TUIP) Kelebihan dari metode ini adalah lebih cepat daripada TUR dan menurunnya kejadian ejakulasi retrograde dibandingkan dengan cara TUR.II.Pembedahan denaan laser (Laser Prostatectomy) Keuntungan bedah laser ialah : -. III.Tidak menyebabkan perdarahan sehingga tidak mungkin terjadi retensi akibat bekuan darah dan tidak memerlukan transfusi -.Teknik lebih sederhana -.Lama tinggal di rumah sakit lebih singkat Kerugian : -.Waktu operasi lebih cepat -.

SEKIAN DAN TERIMA KASIH .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->