STANDAR PERTOLONGAN PERSALINAN Terdapat empat standar dalam asuhan pertolongan persalinan seperti berikut ini; 1.

Standar 9: Asuhan Persalinan kala I Tujuan Untuk memberikan pelayanan kebidanan yang memadai dalam mendukung pertolongan persalinan yang bersih dan aman untuk ibu dan bayi. Pernyataan standar Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai, kemudian memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai, dengan memperhatikan kebutuhan ibu, selama proses persalinan berlangsung. Bidan juga melakukan pertolongan proses persalinan dan kelahiran yang bersih dan aman, dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap hak pribadi ibu serta memperhatikan tradisi setempat. Di samping itu, ibu diijinkan memilih orang yang akan mendampinginya selama proses persalinan dan kelahiran.  Hasil Ibu bersalin mendapat pertolongan darurat yang memadai dan tepat waktu, bila diperlukan. Meningkatnya cakupan persalinan dan komplikasi lainnya yang ditolong tenaga kesehatan terlatih. Berkurangnya kematian/kesakitan ibu/bayi akibat partus lama.

Prasyarat 1. Mengijinkan ibu memilih orang yang akan mendampinginya selama proses persalinan dan kelahiran. 2. Bidan dipanggil jika ibu sudah mulai mulas/ketuban pecah. 3. Bidan telah terlatih dan terampil untuk: 3.1. Memberikan pertolongan persalinan yang bersih dan aman, 3.2. Penggunaan partograf dan pembacaannya. 4. Adanya alat untuk pertolongan termasuk beberapa sarung tangan DTT/steril. 5. Adanya perlengkapan untuk pertolongan persalinan yang bersih dan aman, seperti air bersih, sabun, dan handuk bersih, dua handuk/ kain hangat yang bersih (satu untuk mengeringkan bayi, yang lain untuk dipakai kemudian), pembalut wanita dan tempat untuk plasenta. Bidan sedapat mungkin menggunakan sarung tangan yang bersih. 6. Tersedia ruangan yang hangat, bersih dan sehat untuk persalinan. 7. Menggunakan KMS Ibu Hamil/buku KIA, partograf dan Kartu Ibu. 8. Sistem rujukan untuk Perawatan kegawatdaruratan Obstetri yang efektif. Proses Bidan harus: 1. Mengijinkan ibu memilih orang yang akan mendampinginya selama proses persalinan dan kelahiran. 2. Segera mendatangi ibu hamil ketika diberitahu persalinan sudah mulai/ketuban pecah. 3. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir, kemudian keringkan hingga betul-betul kering dengan handuk bersih setiap kali sebelum dan sesudah melakukan kontak dengan pasien. (Kuku harus dipotong pendek dan bersih). Gunakan sarung tangan bersih kapanpun

Minta ibu hamil agar sering buang air kecil sedikitnya setiap 2 jam.4. 7. Catat semua temuan dan pemeriksaan dengan tepat dan seksama pada kartu ibu dan partograf pada saat asuhan diberikan. Dalam keadaan normal periksa dalam cukup setiap empat jam dan harus selalu secara aseptik. 15. maka tidak perlu segera dilakukan periksa dalam). menangani benda yang terkontaminasi oleh darah atau cairan tubuh. 16. seperti misalnya partus lama.  Suhu setiap 2 jam. obat-obat yang diberikan. Catatan harus selalu memasukkan denyut jantung janin. lebih sering jika diindikasikan. Melakukan dan mencatat pada partograf hasil periksa dalam setiap 4 jam (lebih sering jika ada indikasi medis). jika ada tanda-tanda gawat janin (DJJ kurang dari 100 kali/menit atau lebih dari 180 kali/menit). nadi dan tekanan darah). lebih sering jika ada tanda atau gejala infeksi. Ibu harus dievaluasi sedikitnya setiap 4 jam. Jangan melakukan periksa dalam jika ada perdarahan dari vagina yang lebih banyak dari jumlah normal bercak darah/show yang ada pada komplikasi seperti plasenta previa. Penggunaan partograf secara tepat akan memungkinkan bidan untuk membuat keputusan tentang perawatan ibu pada waktu yang tepat dan memungkinkan rujukan jika diperlukan. 12. 18. Penggunaan partograf diperlukan untuk pengambilan keputusan klinis dan deteksi dini komplikasi dalam proses persalinan. 17. dan informasi yang berkaitan lainnya serta semua perawatan yang diberikan. frekuensi dan lama kontraksi dan apakah ketuban pecah). segera rujuk ke puskesmas atau rumah sakit terdekat (ikuti langkah yang tercantum di standar 16). Memantau dan mencatat denyut jantung janin sedikitnya setiap 30 menit selama proses persalinan. 13. Catat pada partograf kontraksi uterus setiap 30 menit pada fase aktif. Jika ada tanda-tanda gawat janin bidan harus mempersiapkan rujuan ke fasilitas yang memadai. DJJ harus didengarkan selama dan segera setelah kontraksi uterus. Catat pada partograf dan amati penurunan kepala janin dengan palpasi abdomen setiap 4 jam dan teruskan setiap periksa dalam. minuman. periksa dalam. Lakukan pemeriksaan dalam secara aseptic dan sesuai dengan kebutuhan (Jika his teratur dan tidak ada hal yang mengkhawatirkan atau his lemah tapi tanda-tanda vital ibu/janin normal. Melakukan pemeriksaan fisik secara lengkap (dengan memberikan perhatian tehadap tekanan darah. Palpasi jumlah dan lamanya kontraksi selama 10 menit. kontraksi uterus. Jika ditemukan komplikasi atau masalah. denyut jantung janin (DJJ). evaluasi dan catat penyusupan kepala janin dan cairan janin vagina/air ketuban. 11. urine. Partograf adalah alat untuk mencatat dan menilai kemajuan persalinan dan kondisi ibu dengan janin. segera berikan perawatan yang memadai dan merujuk ke puskesmas/ rumah sakit yang tepat. 14. 10. Catat semua temuan pada partograf dan Kartu ibu pada saat ibu sampai dengan fase aktif (pembukaan 4 cm atau lebih). 9. Gunakan sarung tangan DTT/steril untuk semua pemeriksaan vagina. tanda-tanda vital ibu (suhu. 8. 5. perdarahan/cairan vagina. lebih sering jika ada komplikasi. Pantau dan catat pada partograf :  Tekanan darah setiap 4 jam. Catat semua temuan dan pemeriksaan pada fase alten persalinan pada kartu ibu dan catatan kemajuan persalinan. harus dilakukan setiap 15 menit. 6. Catat pada partograf jumlah pengeluaran urine setiap kali ibu buang air kecil. pecahnya ketuban. pada setiap periksa dalam. dan catat protein atau aseton yang ada dalam urine. . Menanyakan riwayat kehamilan ibu secara lengkap.  Nadi setiap setengah jam. Lengkapi partograf dengan seksama untuk semua ibu yang akan bersalin.

suami dan keluarganya. trauma kelahiran. Menggunakan KMS Ibu Hamil/Buku KIA. pembalut wanita dan tempat untuk plasenta. 20. . Menurunnya angka sepsis Puerperalis  Persyarat 1. suami/keluarga/orang terdekat yang mendampingi. 4. (Riset menunjukan bahwa banyak keuntungannya untuk memperbolehkan ibu minum dan makan makanan yang kecil selama proses persalinan tanpa komplikasi dan ada kerugiannya melarang minum atau makanan kecil yang mudah dicerna). 5. Bidan sedapat mungkin menggunakan sarung tangan yang bersih.19. anjurkan ibu untuk cukup minum guna menghindari dehidrasi dan gawat janin. Selama proses persalinan. kecuali jika belum terjadi penurunan kepala sementara ketuban pecah (Riset membuktikan banyak keuntungannya jika ibu aktif bergerak semampunya dan merasa senyaman mungkin). Selama persalinan. Saat proses persalinan berlangsung. bersiaplah untuk menghadapi kelahiran bayi (lihat Standar 10). Kartu ibu partograf. 21. Jangan perbolehkan ibu dalam proses persalinan berbaring telentang. asfeksia. 2. Standar 10: Persalinan Kala II Yang Aman Tujuan Memastikan persalinan yang bersih dan aman untuk ibu dan bayi. duduk berdiri atau berjongkok. Berbaring telentang mungkin menyebabkan gawat janin. beri dukungan moril dan perlakukan yang baik dan peka terhadap kebutuhan ibu hamil. bersih dan sehat untuk persalinan. Bidan dipanggil jika ibu sudah mulai mulas/ketuban pecah. 6. Bidan telah terlatih dan terampil dalam menolong persalinan secara bersih dan aman. dan memilih posisi yang dirasakan nyaman. 3. seperti air bersih. 23. Tersedianya alat untuk pertolongan persalinan termasuk sarung tangan dalam keadaan disinfeksi tingkaat tinggi/steril. Disamping itu. Anjurkan ibu untuk mandi dan tetap aktif bergerak biasa seperti biasa. Lakukan pertolongan persalinan yang bersih dan aman (lihat standar 10). ibu diijinkan memilih orang yang akan mendampinginya selama proses persalinan     Hasil Persalinan yang bersih dan aman Meningkatnya kepercayaan terhadap bidan Meningkatnya jumlah persalinan yang ditolong oleh bidan Menurunnya komplikasi seperti perdarahan postpartum. 22. sabun dan handuk yang bersih. dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap hak pribadi ibu serta memperhatikan tradisi setempat. 24. neonatorum. 2. yang lain untuk dipakai kemudian). Tersedia ruangan yang hangat. Anjurkan pada orang yang mendampingi ibu untuk mengambil peran aktif dalam memberikan kenyamanan dan dukungan kepada ibu selama persalinan. Ibu harus selalu berbaring miring. Beritahu mereka kemajuan persalinan secara berkala. dua handuk/kain hangat yang bersih (satu untuk mengeringkan bayi. Jelaskan proses persalinan yang sedang terjadi pada ibu. Pernyataan Standar Bidan melakukan pertolongan persalinan bayi dan plasenta yang bersih dan aman. Tersedianya perlengkapan untuk pertolongan persalinan yang bersih dan aman.

kemudian keringkan dengan hingga betul-betul kering dengan handuk bersih. dan terjadi kelambatan kemajuan persalinan atau DJJ menurun sampai 100 kali/menit atau kurang atau meningkat menjadi 180 kali/menit atau lebih. kecuali terjadi gawat janin. Jika pembukaan belum lengkap. lihat standar 12). 9. (Kuku harus dipotong pendek dan bersih). 8. (Riset menunjukkan bahwa posisi duduk atau jongkok memberikan banyak keuntungan). (Jika ibu belum mandi. Setelah bayi kering. 6. Hindari peregangan vagina secara manual dengan gerakan menyapu atau menariknya ke arah luar. dan meneran sebelum kepala bayi tampak tidaklah perlu. Pakai sarung DTT. atau ada hambatan pada perineum (misalnya disebabkan jaringan parut pada perineum). 16. Begitu kepala bayi lahir. 15. Bantu kepala bayi lahir perlahan.forcep. Menghargai ibu selama proses persalinan 2. 3. Memastikan tersedianya ruangan yang hangat. bersih dan sehat untuk persalinan.7. yang lain untuk dipakai kemudian). irama dan frekuensinya harus segera kembali normal. 10. dan segera keringkan bayi dengan handuk bersih yang hangat. Kontak kulit dengan kulit adalah cara yang baik untuk menjaga kehangatan bayi. komplikasi persalinan pervaginam (sungsang. 11. bersihkan dengan kain bersih. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir. selimuti . selimuti bayi dengan handuk baru yang bersih dan hangat. distosia bahu. Segera setelah lahir. (Riset menunjukkan hal tersebut berbahaya). Jika bahu tidak memutar ikuti standar 18). 5. sehingga bayi tak perlu dibantu. letakkan di perut ibu. periksa keadaan bayi. 7. 14. Sistem rujukan untuk perawatan kegawatdaruratan Obstetri yang efektif. (Riset menunjukkan bahwa menahan nafas sambil meneran adalah berbahaya. cari pertolongan medis. Jika kepala belum terlihat. saat kepala bayi kelihatan. bersihkan daerah perineum dengan sabun dan air mengalir). Bantu ibu mengambil posisi yang nyaman baginya. Pada kala dua. sehingga tidak perlu melakukan episiotomi. Minta ibu memegang bayinya. Tali pusat di klem di dua tempat. sebaiknya diantara his. Jika tidak. Bahkan meneran sebelum pembukaan serviks lengkap adalah bahaya). maka percepatan persalinan dengan melakukan episiotomi. tempat untuk plasenta. Pada kala dua anjurkan ibu untuk meneran hanya jika merasa ingin atau saat kepala bayi sudah kelihatan. Mengijinkan ibu memilih orang yang akan mendampinginya selama proses persalinan dan kelahiran. Jika ada kotoran keluar dari rektum. (Jika kepala sudah meregangkan perineum. bantulah persalinan dengan cara yang tepat. usap mulut dan hidung bayi dengan kasa bersih dan biarkan kepala bayi memutar (Hal ini seharusnya terjadi spontan. keinginan meneran bisa dikurangi dengan memiringkan ibu ke sebelah kiri. (Riset menunjukkan bahwa robekan tingkat dua dapat sembuh sama baiknya dengan luka episiotomi. dua handuk/kain hangat yang bersih (satu untuk mengeringkan bayi. padahal ibu sudah sangat ingin meneran. 13. lalu potong di antara dua klem dengan gunting tajam steril/DTT. vacum). 12. Proses Bidan harus: 1. Begitu bahu sudah pada posisi anterior-posterior yang benar. lalu ibu dan bayi harus diselimuti dengan baik termasuk kepala. Letakkan bayi dalam pelukan ibu dan mulai menyusui. periksa pembukaan serviks dengan periksa dalam. Jika bayi tidak didekap oleh ibunya. 4. (Riset menunjukkan hal ini penting untuk keberhasilan awal dalam memberikan ASI dan membantu pelepasan plasenta. dengarkan DJJ setiap 5 menit setelah his berakhir.

Dengan menggunakan teknik aseptik. Berikan plasenta kepada suami/keluarga ibu. bayi dengan kain yang bersih dan hangat. larutan klorin 0. berikan anestesi lokal (1% lidokain). 22. 26. Berikan bayi kepada ibu untuk diberi ASI.5% untuk dekontaminasi. 20. (lihat standar 12) Perkirakan jumlah kehilangan darah secara akurat (ingat perdarahan sulit diukur dan sering diperkirakan lebih sedikit). 24. gunakan penghisap DeLee yang sudah di DTT atau aspirator lendir yang baru dan bersih untuk membersihkan jalan nafas (lihat standar 24). mulailah langkah-langkah untuk penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga yang tercantum di standar 11. sabun dan handuk yang bersih untuk cuci tangan. Catat semua temuan dengan seksama. Pernyataan Standar Secara rutin bidan melakukan penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga. lalu jahit perlukaan dan/atau laserasi dengan peralatan steril/DTT. Standar 11: Penatalaksanaan Aktif Persalinan Kala III Tujuan Membantu secara aktif pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap untuk mengurangi kejadian perdarahan pasca persalinan. lakukan masase uterus agar terjadi kontraksi dan pengeluaran gumpalan darah.17. 23. juga tempat untuk plasenta. Tersedianya peralatan dan perlengkapan untuk melahirkan plasenta. Menghisap lendir dari janin nafas bayi tidak selalu diperlukan. . 19. periksa apakah terjadi laserasi pada vagina atau perineum. Segera sesudah plasenta dikeluarkan. 3. Menurunkan terjadinya atoni uteri Menurunkan terjadinya retensio plasenta Memperpendek waktu persalinan kala tiga Menurunkan terjadinya postpartum akibat salah penanganan kala tiga. Pada saat plasenta sudah dilahirkan lengkap dan utuh dengan mengikuti langkah-langkah penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga (lihat standar 11). Tutup kepala bayi agar tidak kehilangan panas). 18. Bidan sudah terlatih dan terampil dalam melahirkan plasenta secara lengkap dengan melakukan penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga secara benar. Untuk perawatan bayi baru lahir lihat standar 13. mencegah terjadinya atoni uteri dan retensio Plasenta. Persyarat 1. memperpendek waktu persalinan kala 3. Pastikan agar ibu dan bayi merasa nyaman. termasuk air bersih. Bersihkan perineum dengan air matang dan tutupi dengan kain bersih/telah dijemur. Bidan seharusnya menggunakan sarung tangan DTT/steril. 2.      Hasil Menurunkan terjadinya perdarahan yang hilang pada persalinan kala tiga. Untuk melahirkan plasenta. Jika bayi tidak menangis spontan. 25. 21.

4. Standar 12: Penanganan Kala II dengan Gawat Janin melalui Episiotomi Tujuan Mempercepat persalinan dengan melakukan episotomi jika ada tanda-tanda gawat janin meregangkan perineum. Setelah bayi lahir (lihat standar 10). 15. periksa plasenta dan selaput ketuban untuk memastikan plasenta utuh dan lengakp. Jika tidak ada. 5. 4. 10. 9. Berikan penjelasan pada ibu. lakuan kateterisasi bila penuh  Beritahu keluarga untuk persiapan merujuk  Teruskan melakukan penatalaksamaam aktif persalinan kala tiga selama 15 menit lagi  Rujuk ibu bila plasenta tidak lahir setelah 30 menit. jangan menarik tali pusat berlebihan karena akan menyebabkan inversio uteri. Masukkan oksitosin 10 IU IM ke dalam alat suntik steril menjelang persalinan 3. sebelum melahirkan. Setelah plasenta tampak pada vulva. Tunggu uterus berkontraksi. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban dikeluarkan. Sambil melakukan masase fundus uteri. Tersedia obat-obatan oksitosika dan metode yang efektif untuk penyimpanan dan pengirimannya yang dijalankan dengan baik. Bila sudah terasa adanya pelepasan plasenta. Periksa data-data vital. tentang prosedur penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga. lalu potong di antara dua klem dengan gunting tajam steril/DTT. Perkirakan jumlah kehilangan darah secara akurat (Ingat perdarahan sulit diukur dan sering diperkirakan lebih sedikit).3. 4. 12. Jika terjadi atoni uteri atau perdarahan pasca persalinan lihat standar 21. 11. 2. lakukan masase uterus supaya berkontraksi. 7. Ulangi langkah ini pada setiap ada his. 8. 13. Berikan plasenta kepada suami/keluarga ibu. minta ibu untuk meneran sedikit pada saat tali pusat ditegangkan ke arah bawah kemudian ke atas sesuai dengan kurva jalan lahir hingga plasenta tampak pada vulva (Jangan mendorong fundus karena dapat mengakibatkan inversio uteri). 6. . tali pusat di klem di dua tempat. Bila perlu. Berhati-hati. Catat semua perawatan dan temuan dengan seksama. lakukan penegangan tali pusat terus menerus sementara dengan tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati ke arah punggung ibu dan ke arah atas (dorso kranial). Bila plasenta belum lepas setelah melakukan penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga dalam waktu 15 menit :  Ulangi 10 unit oksitosi IM  Periksa kandung kemih. Proses Bidan harus : 1. Memeriksa fundus uteri untuk memastikan kehamilan ganda. 14. Sistem rujukan untuk perawatan kegawatdaruratan Obstetri yang efektif. pegang plasenta dan lakukan putaran searah jarum jam untuk membantu pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban. teruskan melahirkan plasenta dengan hati-hati. beri oksitosin 10 IU secara IM (dalam waktu 2 menit setelah persalinan). Bila plasenta tidak dilahirkan utuh dan lengakp. Catat semua temuan dengan seksama. ikuti standar 20. Bersihkan vulva dan perineum dengan air matang dan tutup dengan Pembalut wanita/kain bersih/telah dijemur.

6. 2. lalu jahit perlukaan dan/atau laserasi dengan peralatan steril/DTT. 5. Kenakan sarung tangan steril/DTT. tarik jarum sedikit (untuk memastikan jarum tidak menembus pembuluh darah). anestesi lokal diberikan (pada saat his). Minta ibu untuk meneran di antara dua his. partograf fan Buku KIA Proses Jika ada gawat janin berat dan kepala sudah terlihat pada vulva. episiotomi mungkin salah satu dari beberapa tindakan yang dapat dilakukan oelh bidan untuk menyelamatkan janin. 9. keringkan dan stimulasi bayi. sambil menarik alat suntik perlahan sehingga garis yang akan digunting teranestesi. 10. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban dikeluarkan.   Hasil Penurunan kejadian asfiksia neonatorum berat Penurunan kejadian lahir mati pada kala dua Prasyarat 1. 3. 7. lindungi kepala janin seperti di atas. Tunggu satu menit agar anestesinya bekerja. Sebelum menyuntikannya. termasuk gunting tajam yang steril/DTT. Jika kepala janin meregangkan perineum. kemudian lakukan pengguntingan tunggal dengan mantap (Sebaiknya medio lateral). dan alat bahan yang steril/DTT untuk penjahitan perineum. perluasan episiotomi dan/atau laserasi. (lihat standar 12). 4. diikuti dengan penjahitan perineum. 11. Masukkan anestesi perlahan-lahan. Masukkkan dua jari tangan kiri ke dalam vagina untuk melindungi kepala bayi. dengan menggunakan teknik aseptik. sementara tangan kiri menahan puncak kepala agar tidak terjadi defleksi yang terlalu cepat saat kepala lahir. . Tangan kanan melindungi perineum. sesuai dengan standar 11. 3. dan segera melakukan episiotomi dengan aman untuk memperlancar persalinan. Mulai melakukan resusitasi bayi baru lahir jika diperlukan (lihat standar 24). Tersedia sarung tangan/alat/perlengkapan untuk melakukan episotomi. 8. (anestesi lokal misalnya dengan 10 ml lidokain 1% dan alat suntik/jarum hipodermik steril). dan dengan tangan kanan tusukkan jarum sepanjang garis yang akan digunting (sebaiknya dilakukan insisi media lateral).Pernyataan Standar Pernyataan Standar Bidan mengenali secara tepat tandatanda gawat janin pada kala dua. Bidan harus: 1. Bidan sudah terlatih dalam melaksanakan episiotomi dan menjahit perineum secara benar. Pada puncak his berikutnya. Mempersiapkan alat-alat steril/DTT untuk tindakan ini. lakukan tes kekebalan/mati rasa. Periksa perineum untuk menentukan tingkat luka episiotomi. Memberitahu ibu tentang perlunya episotomi dilakukan dan yang akan dirasakannya. Menggunakan Kartu Ibu. berikan anestesi lokal (lidokain 1%). Begitu bayi lahir. 2. Kemudian lahirkan bayi secara normal. Lahirkan plasenta dan selaput ketuban secara lengkap mengikuti langkahlangkah penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga.

15. jika bukan. sehingga kekhawatiran akan terjadinya robekan perineum bukan merupakan indikasi episiotomi. 16. periksa sumbernya. Lakukan jahitan sekitar 1 cm di atas ujung luka episiotomi atau laserasi di dalam vagina. forsep. Lakukan penjahitan secara berlapis. Kenakan sarung tangan yang bersih. Pastikan. Episiotomi yang efektif dan tepat waktu dapat menyelamatkan jiwa janin yang mengalami gawat janin.12. Semakin cepat episiotomi dijahit maka semakin kecil risiko terjadinya infeksi. Catat semua perawatan dan temuan dengan seksama. Bila berasal dari luka episiotomi. Periksa apakah perdarahan dari daerah insisi sudah terhenti. temukan titik perdarahan dan segera ikat. Mulai dari vagina ke arah perineum. buatlah ibu merasa bersih dan nyaman. . Sesudah penjahitan. 13. lakukan masase uterus untuk memastikan bahwa uterus berkontraksi dengan baik.asih ada. lepaskan jahitan dan lakukan jahitan ulang. Pastikan bahwa ibu diberitahu agar menjaga perineum tetap bersih dan kering serta menggunakan pembalut wanita/kain bersih yang telah dijemur. Ikuti standar untuk perawatan postpartum Indikasi lain untuk melakukan episiotomi:    Gawat janin Komplikasi kelahiran pervaginam (sungsang. 14. ikuti standar 21. distosia bahu. bersihkan perineum dengan air matang. vacum) Jaringan parut pada perineum atau vagina Riset menunjukkan :    Robekan perineum akan sembuh sebaik luka pengguntingan. bahwa tidak ada kasa yang tertinggal di vagina dan masukkan jari dengan hati-hati ke dalam rektum utnuk memastikan bahwa penjahitan tidak menembus dinding rektum. Lepaskan sarung tangan yang sudah terkontaminasi. lalu teruskan dengan perineum. Bila hal tersebut terjadi. Bila perdarahan .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful