Standar Pertolongan Persalinan

STANDAR PERTOLONGAN PERSALINAN Terdapat empat standar dalam asuhan pertolongan persalinan seperti berikut ini; 1.

Standar 9: Asuhan Persalinan kala I Tujuan Untuk memberikan pelayanan kebidanan yang memadai dalam mendukung pertolongan persalinan yang bersih dan aman untuk ibu dan bayi. Pernyataan standar Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai, kemudian memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai, dengan memperhatikan kebutuhan ibu, selama proses persalinan berlangsung. Bidan juga melakukan pertolongan proses persalinan dan kelahiran yang bersih dan aman, dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap hak pribadi ibu serta memperhatikan tradisi setempat. Di samping itu, ibu diijinkan memilih orang yang akan mendampinginya selama proses persalinan dan kelahiran.  Hasil Ibu bersalin mendapat pertolongan darurat yang memadai dan tepat waktu, bila diperlukan. Meningkatnya cakupan persalinan dan komplikasi lainnya yang ditolong tenaga kesehatan terlatih. Berkurangnya kematian/kesakitan ibu/bayi akibat partus lama.

Prasyarat 1. Mengijinkan ibu memilih orang yang akan mendampinginya selama proses persalinan dan kelahiran. 2. Bidan dipanggil jika ibu sudah mulai mulas/ketuban pecah. 3. Bidan telah terlatih dan terampil untuk: 3.1. Memberikan pertolongan persalinan yang bersih dan aman, 3.2. Penggunaan partograf dan pembacaannya. 4. Adanya alat untuk pertolongan termasuk beberapa sarung tangan DTT/steril. 5. Adanya perlengkapan untuk pertolongan persalinan yang bersih dan aman, seperti air bersih, sabun, dan handuk bersih, dua handuk/ kain hangat yang bersih (satu untuk mengeringkan bayi, yang lain untuk dipakai kemudian), pembalut wanita dan tempat untuk plasenta. Bidan sedapat mungkin menggunakan sarung tangan yang bersih. 6. Tersedia ruangan yang hangat, bersih dan sehat untuk persalinan. 7. Menggunakan KMS Ibu Hamil/buku KIA, partograf dan Kartu Ibu. 8. Sistem rujukan untuk Perawatan kegawatdaruratan Obstetri yang efektif. Proses Bidan harus: 1. Mengijinkan ibu memilih orang yang akan mendampinginya selama proses persalinan dan kelahiran. 2. Segera mendatangi ibu hamil ketika diberitahu persalinan sudah mulai/ketuban pecah. 3. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir, kemudian keringkan hingga betul-betul kering dengan handuk bersih setiap kali sebelum dan sesudah melakukan kontak dengan pasien. (Kuku harus dipotong pendek dan bersih). Gunakan sarung tangan bersih kapanpun

lebih sering jika diindikasikan. 6. Catat semua temuan dan pemeriksaan dengan tepat dan seksama pada kartu ibu dan partograf pada saat asuhan diberikan. 7. Penggunaan partograf secara tepat akan memungkinkan bidan untuk membuat keputusan tentang perawatan ibu pada waktu yang tepat dan memungkinkan rujukan jika diperlukan. Memantau dan mencatat denyut jantung janin sedikitnya setiap 30 menit selama proses persalinan. 13.4. pecahnya ketuban. frekuensi dan lama kontraksi dan apakah ketuban pecah). perdarahan/cairan vagina. menangani benda yang terkontaminasi oleh darah atau cairan tubuh. 12. Catat pada partograf jumlah pengeluaran urine setiap kali ibu buang air kecil. pada setiap periksa dalam. Pantau dan catat pada partograf :  Tekanan darah setiap 4 jam. lebih sering jika ada komplikasi. 8. urine. nadi dan tekanan darah). 10. Jika ada tanda-tanda gawat janin bidan harus mempersiapkan rujuan ke fasilitas yang memadai. 9. DJJ harus didengarkan selama dan segera setelah kontraksi uterus. jika ada tanda-tanda gawat janin (DJJ kurang dari 100 kali/menit atau lebih dari 180 kali/menit). tanda-tanda vital ibu (suhu. 5. obat-obat yang diberikan. Minta ibu hamil agar sering buang air kecil sedikitnya setiap 2 jam. dan informasi yang berkaitan lainnya serta semua perawatan yang diberikan. lebih sering jika ada tanda atau gejala infeksi. kontraksi uterus. periksa dalam. 17. Catatan harus selalu memasukkan denyut jantung janin. harus dilakukan setiap 15 menit. Catat semua temuan pada partograf dan Kartu ibu pada saat ibu sampai dengan fase aktif (pembukaan 4 cm atau lebih). Catat pada partograf kontraksi uterus setiap 30 menit pada fase aktif. Melakukan pemeriksaan fisik secara lengkap (dengan memberikan perhatian tehadap tekanan darah. . Jika ditemukan komplikasi atau masalah. 11. Ibu harus dievaluasi sedikitnya setiap 4 jam. Lakukan pemeriksaan dalam secara aseptic dan sesuai dengan kebutuhan (Jika his teratur dan tidak ada hal yang mengkhawatirkan atau his lemah tapi tanda-tanda vital ibu/janin normal. seperti misalnya partus lama. 16. dan catat protein atau aseton yang ada dalam urine. maka tidak perlu segera dilakukan periksa dalam). 15. Penggunaan partograf diperlukan untuk pengambilan keputusan klinis dan deteksi dini komplikasi dalam proses persalinan. Jangan melakukan periksa dalam jika ada perdarahan dari vagina yang lebih banyak dari jumlah normal bercak darah/show yang ada pada komplikasi seperti plasenta previa. 18.  Nadi setiap setengah jam. Palpasi jumlah dan lamanya kontraksi selama 10 menit. Melakukan dan mencatat pada partograf hasil periksa dalam setiap 4 jam (lebih sering jika ada indikasi medis). 14. minuman.  Suhu setiap 2 jam. Menanyakan riwayat kehamilan ibu secara lengkap. segera rujuk ke puskesmas atau rumah sakit terdekat (ikuti langkah yang tercantum di standar 16). Gunakan sarung tangan DTT/steril untuk semua pemeriksaan vagina. denyut jantung janin (DJJ). Lengkapi partograf dengan seksama untuk semua ibu yang akan bersalin. Partograf adalah alat untuk mencatat dan menilai kemajuan persalinan dan kondisi ibu dengan janin. Catat pada partograf dan amati penurunan kepala janin dengan palpasi abdomen setiap 4 jam dan teruskan setiap periksa dalam. Catat semua temuan dan pemeriksaan pada fase alten persalinan pada kartu ibu dan catatan kemajuan persalinan. evaluasi dan catat penyusupan kepala janin dan cairan janin vagina/air ketuban. Dalam keadaan normal periksa dalam cukup setiap empat jam dan harus selalu secara aseptik. segera berikan perawatan yang memadai dan merujuk ke puskesmas/ rumah sakit yang tepat.

19. sabun dan handuk yang bersih. 2. 21. Berbaring telentang mungkin menyebabkan gawat janin. Selama persalinan. yang lain untuk dipakai kemudian). Tersedianya alat untuk pertolongan persalinan termasuk sarung tangan dalam keadaan disinfeksi tingkaat tinggi/steril. 5. duduk berdiri atau berjongkok. Jelaskan proses persalinan yang sedang terjadi pada ibu. dua handuk/kain hangat yang bersih (satu untuk mengeringkan bayi. 3. Anjurkan ibu untuk mandi dan tetap aktif bergerak biasa seperti biasa. ibu diijinkan memilih orang yang akan mendampinginya selama proses persalinan     Hasil Persalinan yang bersih dan aman Meningkatnya kepercayaan terhadap bidan Meningkatnya jumlah persalinan yang ditolong oleh bidan Menurunnya komplikasi seperti perdarahan postpartum. Bidan sedapat mungkin menggunakan sarung tangan yang bersih. Ibu harus selalu berbaring miring. dan memilih posisi yang dirasakan nyaman. Disamping itu. Menurunnya angka sepsis Puerperalis  Persyarat 1. 4. (Riset menunjukan bahwa banyak keuntungannya untuk memperbolehkan ibu minum dan makan makanan yang kecil selama proses persalinan tanpa komplikasi dan ada kerugiannya melarang minum atau makanan kecil yang mudah dicerna). 24. suami dan keluarganya. dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap hak pribadi ibu serta memperhatikan tradisi setempat. 6. Kartu ibu partograf. Jangan perbolehkan ibu dalam proses persalinan berbaring telentang. trauma kelahiran. 20. asfeksia. 22. beri dukungan moril dan perlakukan yang baik dan peka terhadap kebutuhan ibu hamil. neonatorum. Lakukan pertolongan persalinan yang bersih dan aman (lihat standar 10). Saat proses persalinan berlangsung. Tersedia ruangan yang hangat. bersiaplah untuk menghadapi kelahiran bayi (lihat Standar 10). . Beritahu mereka kemajuan persalinan secara berkala. Bidan dipanggil jika ibu sudah mulai mulas/ketuban pecah. Selama proses persalinan. 23. Pernyataan Standar Bidan melakukan pertolongan persalinan bayi dan plasenta yang bersih dan aman. Standar 10: Persalinan Kala II Yang Aman Tujuan Memastikan persalinan yang bersih dan aman untuk ibu dan bayi. Bidan telah terlatih dan terampil dalam menolong persalinan secara bersih dan aman. suami/keluarga/orang terdekat yang mendampingi. seperti air bersih. Tersedianya perlengkapan untuk pertolongan persalinan yang bersih dan aman. Anjurkan pada orang yang mendampingi ibu untuk mengambil peran aktif dalam memberikan kenyamanan dan dukungan kepada ibu selama persalinan. kecuali jika belum terjadi penurunan kepala sementara ketuban pecah (Riset membuktikan banyak keuntungannya jika ibu aktif bergerak semampunya dan merasa senyaman mungkin). bersih dan sehat untuk persalinan. anjurkan ibu untuk cukup minum guna menghindari dehidrasi dan gawat janin. 2. pembalut wanita dan tempat untuk plasenta. Menggunakan KMS Ibu Hamil/Buku KIA.

7. 13. (Riset menunjukkan bahwa menahan nafas sambil meneran adalah berbahaya. Begitu bahu sudah pada posisi anterior-posterior yang benar. Jika pembukaan belum lengkap. sebaiknya diantara his. Sistem rujukan untuk perawatan kegawatdaruratan Obstetri yang efektif. tempat untuk plasenta. 16. irama dan frekuensinya harus segera kembali normal. saat kepala bayi kelihatan. (Kuku harus dipotong pendek dan bersih). kemudian keringkan dengan hingga betul-betul kering dengan handuk bersih. Pakai sarung DTT. 8. 4. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir. 9. 7. kecuali terjadi gawat janin. lalu ibu dan bayi harus diselimuti dengan baik termasuk kepala. bantulah persalinan dengan cara yang tepat. Pada kala dua. 15. Mengijinkan ibu memilih orang yang akan mendampinginya selama proses persalinan dan kelahiran. Kontak kulit dengan kulit adalah cara yang baik untuk menjaga kehangatan bayi. lalu potong di antara dua klem dengan gunting tajam steril/DTT. Proses Bidan harus: 1. 3. letakkan di perut ibu. dua handuk/kain hangat yang bersih (satu untuk mengeringkan bayi. (Riset menunjukkan bahwa posisi duduk atau jongkok memberikan banyak keuntungan). Begitu kepala bayi lahir. Bantu kepala bayi lahir perlahan. Bantu ibu mengambil posisi yang nyaman baginya. Menghargai ibu selama proses persalinan 2. (Riset menunjukkan hal tersebut berbahaya). selimuti . komplikasi persalinan pervaginam (sungsang. periksa keadaan bayi. Hindari peregangan vagina secara manual dengan gerakan menyapu atau menariknya ke arah luar. maka percepatan persalinan dengan melakukan episiotomi. Tali pusat di klem di dua tempat. Segera setelah lahir. keinginan meneran bisa dikurangi dengan memiringkan ibu ke sebelah kiri. padahal ibu sudah sangat ingin meneran. dan meneran sebelum kepala bayi tampak tidaklah perlu.forcep. Jika kepala belum terlihat. 6. (Jika ibu belum mandi. selimuti bayi dengan handuk baru yang bersih dan hangat. cari pertolongan medis. Pada kala dua anjurkan ibu untuk meneran hanya jika merasa ingin atau saat kepala bayi sudah kelihatan. bersih dan sehat untuk persalinan. Jika ada kotoran keluar dari rektum. (Riset menunjukkan bahwa robekan tingkat dua dapat sembuh sama baiknya dengan luka episiotomi. lihat standar 12). atau ada hambatan pada perineum (misalnya disebabkan jaringan parut pada perineum). Jika bayi tidak didekap oleh ibunya. Minta ibu memegang bayinya. Jika tidak. 11. yang lain untuk dipakai kemudian). Letakkan bayi dalam pelukan ibu dan mulai menyusui. 12. 10. (Riset menunjukkan hal ini penting untuk keberhasilan awal dalam memberikan ASI dan membantu pelepasan plasenta. Setelah bayi kering. sehingga bayi tak perlu dibantu. distosia bahu. sehingga tidak perlu melakukan episiotomi. vacum). Bahkan meneran sebelum pembukaan serviks lengkap adalah bahaya). 14. periksa pembukaan serviks dengan periksa dalam. (Jika kepala sudah meregangkan perineum. 5. dan terjadi kelambatan kemajuan persalinan atau DJJ menurun sampai 100 kali/menit atau kurang atau meningkat menjadi 180 kali/menit atau lebih. bersihkan dengan kain bersih. dengarkan DJJ setiap 5 menit setelah his berakhir. dan segera keringkan bayi dengan handuk bersih yang hangat. Memastikan tersedianya ruangan yang hangat. Jika bahu tidak memutar ikuti standar 18). bersihkan daerah perineum dengan sabun dan air mengalir). usap mulut dan hidung bayi dengan kasa bersih dan biarkan kepala bayi memutar (Hal ini seharusnya terjadi spontan.

Berikan plasenta kepada suami/keluarga ibu. 26. 23. . mulailah langkah-langkah untuk penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga yang tercantum di standar 11. larutan klorin 0. 24. lalu jahit perlukaan dan/atau laserasi dengan peralatan steril/DTT. 3. 2. 25. Catat semua temuan dengan seksama. Persyarat 1. 19. 18. juga tempat untuk plasenta. Pada saat plasenta sudah dilahirkan lengkap dan utuh dengan mengikuti langkah-langkah penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga (lihat standar 11). Bersihkan perineum dengan air matang dan tutupi dengan kain bersih/telah dijemur. Segera sesudah plasenta dikeluarkan. Standar 11: Penatalaksanaan Aktif Persalinan Kala III Tujuan Membantu secara aktif pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap untuk mengurangi kejadian perdarahan pasca persalinan. memperpendek waktu persalinan kala 3. 21. Menghisap lendir dari janin nafas bayi tidak selalu diperlukan. termasuk air bersih. Untuk melahirkan plasenta. (lihat standar 12) Perkirakan jumlah kehilangan darah secara akurat (ingat perdarahan sulit diukur dan sering diperkirakan lebih sedikit). Menurunkan terjadinya atoni uteri Menurunkan terjadinya retensio plasenta Memperpendek waktu persalinan kala tiga Menurunkan terjadinya postpartum akibat salah penanganan kala tiga.      Hasil Menurunkan terjadinya perdarahan yang hilang pada persalinan kala tiga. gunakan penghisap DeLee yang sudah di DTT atau aspirator lendir yang baru dan bersih untuk membersihkan jalan nafas (lihat standar 24). Jika bayi tidak menangis spontan. Bidan sudah terlatih dan terampil dalam melahirkan plasenta secara lengkap dengan melakukan penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga secara benar. Berikan bayi kepada ibu untuk diberi ASI. Dengan menggunakan teknik aseptik. Pernyataan Standar Secara rutin bidan melakukan penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga. Untuk perawatan bayi baru lahir lihat standar 13. Bidan seharusnya menggunakan sarung tangan DTT/steril. bayi dengan kain yang bersih dan hangat. 20. sabun dan handuk yang bersih untuk cuci tangan. periksa apakah terjadi laserasi pada vagina atau perineum.5% untuk dekontaminasi. Tutup kepala bayi agar tidak kehilangan panas). 22. Tersedianya peralatan dan perlengkapan untuk melahirkan plasenta. lakukan masase uterus agar terjadi kontraksi dan pengeluaran gumpalan darah. mencegah terjadinya atoni uteri dan retensio Plasenta. berikan anestesi lokal (1% lidokain). Pastikan agar ibu dan bayi merasa nyaman.17.

2. Periksa data-data vital. pegang plasenta dan lakukan putaran searah jarum jam untuk membantu pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban.3. 4. Tunggu uterus berkontraksi. 7. 15. Bila perlu. Berhati-hati. 14. Berikan plasenta kepada suami/keluarga ibu. lakuan kateterisasi bila penuh  Beritahu keluarga untuk persiapan merujuk  Teruskan melakukan penatalaksamaam aktif persalinan kala tiga selama 15 menit lagi  Rujuk ibu bila plasenta tidak lahir setelah 30 menit. Setelah bayi lahir (lihat standar 10). sebelum melahirkan. Standar 12: Penanganan Kala II dengan Gawat Janin melalui Episiotomi Tujuan Mempercepat persalinan dengan melakukan episotomi jika ada tanda-tanda gawat janin meregangkan perineum. Proses Bidan harus : 1. 10. 12. periksa plasenta dan selaput ketuban untuk memastikan plasenta utuh dan lengakp. lalu potong di antara dua klem dengan gunting tajam steril/DTT. Sistem rujukan untuk perawatan kegawatdaruratan Obstetri yang efektif. teruskan melahirkan plasenta dengan hati-hati. Jika tidak ada. Bersihkan vulva dan perineum dengan air matang dan tutup dengan Pembalut wanita/kain bersih/telah dijemur. Sambil melakukan masase fundus uteri. Bila plasenta belum lepas setelah melakukan penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga dalam waktu 15 menit :  Ulangi 10 unit oksitosi IM  Periksa kandung kemih. 13. lakukan masase uterus supaya berkontraksi. Bila plasenta tidak dilahirkan utuh dan lengakp. minta ibu untuk meneran sedikit pada saat tali pusat ditegangkan ke arah bawah kemudian ke atas sesuai dengan kurva jalan lahir hingga plasenta tampak pada vulva (Jangan mendorong fundus karena dapat mengakibatkan inversio uteri). Masukkan oksitosin 10 IU IM ke dalam alat suntik steril menjelang persalinan 3. Memeriksa fundus uteri untuk memastikan kehamilan ganda. tentang prosedur penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga. Setelah plasenta tampak pada vulva. 6. Tersedia obat-obatan oksitosika dan metode yang efektif untuk penyimpanan dan pengirimannya yang dijalankan dengan baik. Perkirakan jumlah kehilangan darah secara akurat (Ingat perdarahan sulit diukur dan sering diperkirakan lebih sedikit). Catat semua temuan dengan seksama. 4. Ulangi langkah ini pada setiap ada his. Berikan penjelasan pada ibu. . 4. Catat semua perawatan dan temuan dengan seksama. 11. 8. 9. ikuti standar 20. tali pusat di klem di dua tempat. lakukan penegangan tali pusat terus menerus sementara dengan tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati ke arah punggung ibu dan ke arah atas (dorso kranial). Bila sudah terasa adanya pelepasan plasenta. 5. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban dikeluarkan. Jika terjadi atoni uteri atau perdarahan pasca persalinan lihat standar 21. jangan menarik tali pusat berlebihan karena akan menyebabkan inversio uteri. beri oksitosin 10 IU secara IM (dalam waktu 2 menit setelah persalinan).

dengan menggunakan teknik aseptik. perluasan episiotomi dan/atau laserasi. dan dengan tangan kanan tusukkan jarum sepanjang garis yang akan digunting (sebaiknya dilakukan insisi media lateral). Mulai melakukan resusitasi bayi baru lahir jika diperlukan (lihat standar 24). 9. (anestesi lokal misalnya dengan 10 ml lidokain 1% dan alat suntik/jarum hipodermik steril). 5. Kenakan sarung tangan steril/DTT. Memberitahu ibu tentang perlunya episotomi dilakukan dan yang akan dirasakannya. termasuk gunting tajam yang steril/DTT. dan segera melakukan episiotomi dengan aman untuk memperlancar persalinan. 10. (lihat standar 12). Mempersiapkan alat-alat steril/DTT untuk tindakan ini. Periksa perineum untuk menentukan tingkat luka episiotomi. sementara tangan kiri menahan puncak kepala agar tidak terjadi defleksi yang terlalu cepat saat kepala lahir. . 2. diikuti dengan penjahitan perineum. Bidan sudah terlatih dalam melaksanakan episiotomi dan menjahit perineum secara benar. Masukkan anestesi perlahan-lahan. 2. partograf fan Buku KIA Proses Jika ada gawat janin berat dan kepala sudah terlihat pada vulva. 6. berikan anestesi lokal (lidokain 1%). 4. 3. lindungi kepala janin seperti di atas. Jika kepala janin meregangkan perineum. Tunggu satu menit agar anestesinya bekerja.Pernyataan Standar Pernyataan Standar Bidan mengenali secara tepat tandatanda gawat janin pada kala dua. Minta ibu untuk meneran di antara dua his. sesuai dengan standar 11. Lahirkan plasenta dan selaput ketuban secara lengkap mengikuti langkahlangkah penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga. anestesi lokal diberikan (pada saat his). lalu jahit perlukaan dan/atau laserasi dengan peralatan steril/DTT. sambil menarik alat suntik perlahan sehingga garis yang akan digunting teranestesi. lakukan tes kekebalan/mati rasa. Masukkkan dua jari tangan kiri ke dalam vagina untuk melindungi kepala bayi. Pada puncak his berikutnya. keringkan dan stimulasi bayi. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban dikeluarkan. Kemudian lahirkan bayi secara normal. Menggunakan Kartu Ibu. kemudian lakukan pengguntingan tunggal dengan mantap (Sebaiknya medio lateral). 3. 8. Tangan kanan melindungi perineum. 7. Begitu bayi lahir. dan alat bahan yang steril/DTT untuk penjahitan perineum. episiotomi mungkin salah satu dari beberapa tindakan yang dapat dilakukan oelh bidan untuk menyelamatkan janin. 11. Sebelum menyuntikannya. Tersedia sarung tangan/alat/perlengkapan untuk melakukan episotomi. Bidan harus: 1.   Hasil Penurunan kejadian asfiksia neonatorum berat Penurunan kejadian lahir mati pada kala dua Prasyarat 1. tarik jarum sedikit (untuk memastikan jarum tidak menembus pembuluh darah).

sehingga kekhawatiran akan terjadinya robekan perineum bukan merupakan indikasi episiotomi. 14. 13. Sesudah penjahitan. buatlah ibu merasa bersih dan nyaman. Kenakan sarung tangan yang bersih. lakukan masase uterus untuk memastikan bahwa uterus berkontraksi dengan baik. bersihkan perineum dengan air matang. vacum) Jaringan parut pada perineum atau vagina Riset menunjukkan :    Robekan perineum akan sembuh sebaik luka pengguntingan. Lakukan jahitan sekitar 1 cm di atas ujung luka episiotomi atau laserasi di dalam vagina. Bila berasal dari luka episiotomi. Ikuti standar untuk perawatan postpartum Indikasi lain untuk melakukan episiotomi:    Gawat janin Komplikasi kelahiran pervaginam (sungsang. jika bukan. Catat semua perawatan dan temuan dengan seksama. temukan titik perdarahan dan segera ikat. lalu teruskan dengan perineum. distosia bahu. periksa sumbernya. lepaskan jahitan dan lakukan jahitan ulang. Pastikan. 16. forsep. Episiotomi yang efektif dan tepat waktu dapat menyelamatkan jiwa janin yang mengalami gawat janin. Semakin cepat episiotomi dijahit maka semakin kecil risiko terjadinya infeksi.asih ada. . Periksa apakah perdarahan dari daerah insisi sudah terhenti. 15. bahwa tidak ada kasa yang tertinggal di vagina dan masukkan jari dengan hati-hati ke dalam rektum utnuk memastikan bahwa penjahitan tidak menembus dinding rektum. Pastikan bahwa ibu diberitahu agar menjaga perineum tetap bersih dan kering serta menggunakan pembalut wanita/kain bersih yang telah dijemur. ikuti standar 21. Lepaskan sarung tangan yang sudah terkontaminasi. Lakukan penjahitan secara berlapis. Bila hal tersebut terjadi. Mulai dari vagina ke arah perineum.12. Bila perdarahan .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful