P. 1
Pemberian Makanan Bayi Anak

Pemberian Makanan Bayi Anak

|Views: 665|Likes:
Published by andreasrudiyant95

More info:

Published by: andreasrudiyant95 on Oct 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/23/2014

pdf

text

original

STRATEGI PENINGKATAN MAKANAN BAYI DAN ANAK (PMBA

)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI TAHUN 2010

SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL BINA KESEHATAN MASYARAKAT
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) dan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tepat dan benar merupakan salah satu upaya prioritas dalam mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Upaya tersebut harus dilakukan secara maksimal agar semua bayi mendapatkan ASI Eksklusif segera setelah lahir sampai bayi berusia 6 bulan dan mendapat MPASI mulai usia 6 bulan, dan pemberian ASI dilanjutkan hingga usia 2 tahun atau lebih. Undang-Undang N0. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan telah mengamanatkan pula bahwa pentingnya pemberian ASI Eksklusif kepada bayi secara tegas tercantum dalam pasal 129 yaitu perlunya suatu Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur tentang pemberian ASI Eksklusif yang saat ini sedang diproses. Sesuai dengan Rencana Aksi Pembinaan Gizi Masyarakat (RAPGM) 2010-2014 terdapat 8 (delapan) sasaran indikator kinerja pembinaan gizi masyarakat diantaranya berkaitan dengan ASI Eksklusif dan MPASI. Pada tahun 2014 target bayi usia 0-6 bulan yang mendapat ASI Eksklusif akan mencapai 80% dan penyediaan buffer stock MP-ASI sebesar 100 % setiap tahunnya untuk menyelamatkan balita di daerah bencana dan rawan gizi. Seiring dengan RAPGM 2010-2014, Kementerian Kesehatan beserta lintas sektor terkait telah menyusun buku Strategi Peningkatan Makanan Bayi dan Anak (PMBA) yang bertujuan untuk membangun komitmen dan menjadi rujukan bagi pihak-pihak yang akan melaksanakan upaya Strategi PMBA. Dalam buku PMBA tersebut ditetapkan ruang lingkup, tujuan, strategi, indikator keberhasilan, pokok program, peran dan tanggungjawab pihak terkait. Strategi PMBA tersebut disusun berdasarkan rujukan pada Global Strategy for Infant and Young Child Feeding (IYCF) serta mendapat masukan dari para ahli dan pemerhati ASI dan MP-ASI, organisasi profesi, sektor terkait dari pusat dan daerah serta Lembaga Swadaya Masyarakat. Selanjutnya diharapkan berbagai pihak mulai dari ibu, ayah, keluarga, masyarakat serta sektor terkait diharapkan mempunyai komitmen tinggi dan memberikan dukungan dalam upaya promosi dan aksi nyata untuk meningkatkan upaya Srategi PMBA sesuai misi, tugas, dan fungsi masing-masing. Semoga dengan adanya buku Strategi PMBA dapat mendorong berbagai pihak untuk mengimplementasikannya. Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat

dr. Budihardja, DTM&H, MPH i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR SAMBUTAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Situasi PMBA C. Dasar Hukum BAB II RUANG LINGKUP PMBA A. Inisiasi Menyusu Dini B. ASI Eksklusif C. Makanan Pendamping ASI (MPASI) D. ASI pada situasi darurat E. ASI pada situasi khusus BAB III STRATEGI PMBA A. Tujuan B. Strategi C. Indikator Keberhasilan D. Pokok Program BAB IV BAB V PERAN DAN TANGGUNG JAWAB PIHAK TERKAIT PEMANTAUAN DAN EVALUASI A. Tujuan B. Komponen C. Metode D. Pelaksana E. Waktu F. Pelaporan BAB VI PENUTUP

i ii

1 4 12

13 13 14 14 15

18 18 19 19 25 28

31 32 33

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

ii

iii

serta melindungi bayi dari berbagai penyakit seperti diare dan infeksi saluran pernafasan akut yang merupakan penyebab utama kematian balita di Indonesia. Pemberian makanan pendamping 1 . mental. dan spiritual tertinggi. Kajian global telah membuktikan bahwa pemberian ASI eksklusif merupakan intervensi kesehatan yang memiliki dampak terbesar terhadap keselamatan balita. selain ASI bayi diberi makanan pendamping ASI (MPASI). Pemberian ASI saja sejak bayi lahir hingga usia 6 bulan (ASI eksklusif enam bulan) dapat memenuhi seluruh kebutuhan gizi bayi.BAB I PENDAHULUAN A. Pola pemberian makan tersebut mendukung pertumbuhan optimal bagi anak. Salah satu upaya mendasar untuk menjamin pencapaian tertinggi kualitas tumbuh kembangnya sekaligus memenuhi hak anak adalah pemberian makan yang terbaik sejak lahir hingga usia dua tahun. terencana. Sebagai manusia anak berhak untuk mendapatkan pemenuhan. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dapat mencegah 22% kematian neonatal (neonatus adalah bayi usia 0 sampai 28 hari). masa ini disebut periode emas atau golden periode. Latar Belakang Anak merupakan potensi dan penerus untuk mewujudkan kualitas dan keberlangsungan bangsa. Makanan yang tepat bagi bayi dan anak usia dini (0 – 24 bulan) adalah Air Susu Ibu (ASI) eksklusif yakni pemberian ASI saja segera setelah lahir sampai usia 6 bulan yang diberikan sesering mungkin. perlindungan serta penghargaan akan hak asasinya. Setelah usia 6 bulan. Pada usia 0 – 6 tahun terjadi pertumbuhan otak hingga mencapai sekitar 75%. Selanjutnya pada usia 1 tahun anak sudah diberi makanan keluarga dan ASI masih tetap diberikan sampai anak usia 2 tahun atau lebih. Sebagai generasi penerus bangsa. sosial. yakni 13% kematian balita dapat dicegah dengan pemberian ASI eksklusif 6 bulan. Pemberian makan yang optimal pada usia 0 – 2 tahun memberikan kontribusi bermakna pada pertumbuhan otak anak. intensif dan berkesinambungan agar tercapai kualitas tumbuh kembang fisik. anak harus dipersiapkan sejak dini dengan upaya yang tepat.

Terkait dengan tujuan MDG. July 2003). 7. Dengan tingkat kecerdasan dan perkembangan emosional yang optimal akan mempengaruhi kesiapan anak untuk bersekolah. Pemberian makan yang tidak tepat mengakibatkan masih cukup banyak anak yang menderita kurang gizi.s nomor dua yakni mencapai pendidikan untuk semua tahun 2015. Peningkatan cakupan pemberian ASI eksklusif dan MPASI akan memberikan kontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (Milennium Development Goals . Praktek pemberian makan yang tepat pada bayi dan anak juga dapat mempengaruhi ekonomi keluarga.92 trilyun. Apabila 4. The Lancet.ASI yang tepat waktu dan berkualitas juga dapat menurunkan angka kematian balita sebesar 6 % (Jones et al. dapat menghemat devisa negara minimal Rp. yang merupakan tujuan pertama dari MDG. Kekurangan gizi memberi kontribusi 2/3 kematian balita. adekuat dan aman merupakan investasi kesehatan bagi anak dimasa depan. Bagi ibu.5 juta bayi yang lahir di Indonesia mendapat ASI eksklusif sampai 6 bulan. menyusui dapat mengurangi 2 .. Sejalan dengan otonomi daerah peningkatan pemberian ASI dapat mengurangi subsidi Pemerintah Propinsi / Kabupaten / Kota untuk penanggulangan masalah kesehatan bayi dan anak karena bayi lebih sehat. Pemberian ASI ekslusif akan mengurangi beban keluarga untuk membeli susu formula dan perawatan bayi sakit yang saat ini cukup mahal. melalui PMBA yang tepat dan benar dapat menurunkan angka kematian balita sebanyak 20 persen.MDG‟s). (WHO/UNICEF 2003). Fenomena “gagal tumbuh” atau growth faltering pada anak Indonesia mulai terjadi pada usia 4-6 bulan ketika bayi diberi makanan tambahan dan terus memburuk hingga usia 18-24 bulan.s ke-empat. Dua pertiga kematian tersebut terkait dengan praktek pemberian makan yang tidak tepat pada bayi dan anak usia dini. Pemberian ASI dan MPASI yang tepat akan mengurangi kemiskinan dan kelaparan. dan hal ini memberi kontribusi pada percepatan pencapaian target MDG. Sedangkan pemberian MPASI yang tepat waktu. Kualitas anak yang optimal merupakan sumber daya manusia yang bermanfaat bagi daerah bersangkutan. Dana untuk membeli susu formula 4-5 kali lebih besar dari pada dana untuk membeli suplemen makanan untuk ibu menyusui.

*) Menengkurapkan bayi diatas perut ibunya agar terjadi kontak kulit antara ibu dan bayi selama kira-kira 1 jam dan mendorong ibu untuk mengenali kesiapan bayi untuk menyusu. 8. Dengan tidak memberikan susu formula. Memberikan ASI saja kepada bayi baru lahir kecuali ada indikasi medis. Tidak memberi dot kepada bayi. 6. dukungan keluarga dan masyarakat serta pengendalian pemasaran susu formula. Menyusui eksklusif juga dapat merupakan salah satu metode penjarangan kelahiran. Menerapkan rawat gabung ibu dengan bayinya sepanjang waktu (24 jam). Melatih semua staff pelayanan dalam keterampilan menerapkan kebijakan menyusui tersebut. Membantu ibu cara menyusui dan mempertahankan menyusui meskipun ibu dipisah dari bayinya. 4. Menganjurkan menyusui sesuai permintaan bayi. Menginformasikan kepada semua ibu hamil tentang manfaat dan manajemen menyusui. pengetahuan dan keterampilan ibu.risiko perdarahan yang merupakan penyebab utama kematian ibu. 9. 3. Mendorong pembentukan kelompok pendukung menyusui dan merujuk ibu kepada kelompok tersebut setelah keluar dari sarana pelayanan. fasilitas menyusui di tempat kerja. Membantu ibu menyusui dini dalam 30 menit pertama persalinan. Membuat kebijakan tertulis tentang menyusui dan dikomunikasikan kepada semua staff pelayanan kesehatan. Sepuluh langkah tersebut adalah. tidak ada kegiatan memasak air dan tidak ada kaleng atau dus bekas yang merupakan polusi terhadap lingkungan (kontribusi pada tujuan nomor 7 MDG‟s yakni memastikan kelestarian lingkungan hidup). serta menawarkan bantuan bila diperlukan 3 . Keberhasilan praktek PMBA dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain pelayanan/petugas kesehatan. 1. * 5. Kenyataannya saat ini fasilitas pelayanan kesehatan yang sebelumnya telah mendapat akreditasi sebagai rumah sakit sayang bayi telah menurun drastis. 10. 7. Hal tersebut menunjukkan adanya pengaruh menyusui terhadap kesehatan ibu yang merupakan tujuan ke-5 MDG‟s. Rumah Sakit Sayang Bayi yang dimaksud adalah Rumah Sakit yang menerapkan 10 Langkah menuju Keberhasilan menyusui. 2.

kepentingan yang terbaik bagi anak serta koordinasi dan sinkronisasi antar pihak dan program terkait. B. menjadi rujukan dan memberi motivasi bagi pihak-pihak terkait serta pihak-pihak yang potensial untuk berperan dalam meningkatkan cakupan dan kualitas PMBA. Masih banyak ibu yang berhenti menyusui oleh karena ibu kembali bekerja. namun pemasaran melalui pemberian sponsor pada kegiatan masyarakat maupun langsung kepada ibu hamil dan menyusui masih terjadi. Angka ini akan lebih rendah lagi bila digunakan kriteria ideal yakni membiarkan bayi mencari sendiri puting susu ibunya segera setelah persalinan. Situasi PMBA Menyusui merupakan proses alamiah yang dapat dilakukan oleh hampir semua ibu dan bayinya. Peraturan mengenai masa cuti melahirkan belum mendukung pemberian ASI eksklusif.8 %. memberikan susu formula pada bayi baru lahir. Ibu bekerja selain tidak memahami cara menyusui eksklusif bagi ibu yang bekerja. bahkan di beberapa daerah menunjukkan angka yang jauh lebih rendah. Namun ibu yang menyusui bayinya pada 1 jam pertama kelahiran hanya 41. tetapi pelaksanaannya belum memadai.Sebagian besar dari rumah sakit yang dulunya melaksanakan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui. Strategi PMBA disusun untuk memperbarui komitmen. perlindungan dan penghargaan akan hak asasi anak. Disisi lain masih adanya pelanggaran kode etik pemasaran susu formula merupakan hambatan bermakna bagi praktek pemberian ASI eksklusif Pemasaran susu formula melalui media massa sudah berkurang. Sebagian besar bayi yakni 62% mendapat ASI pada hari I kelahiran. Strategi PMBA dilaksanakan berdasarkan prinsip pemenuhan. Kapasitas petugas kesehatan untuk memberi konseling menyusui dan pemberian MP-ASI juga belum memadai. peraturan yang mengharuskan adanya fasilitas dan kesempatan menyusui atau memerah ASI bagi ibu bekerja telah ditetapkan.Fakta menunjukkan bahwa 95% ibu di Indonesia menyusui bayinya (SDKI 2007). Faktor lain adalah makin banyaknya perempuan memasuki dunia kerja tetapi harus tetap memberikan ASI eksklusif. Di tempat kerja. 4 . sebagian besar tempat kerja tidak menyediakan sarana dan fasilitas menyusui.

75%). Pemberian MPASI terkadang juga tidak adekuat baik dari segi kuantitas maupun kualitas.Capaian ASI eksklusif yang pada SDKI 2002-2003 sebesar 39. Masih cukup besar jumlah/presentase bayi yang mendapatkan makanan pralaktasi yakni makanan/cairan yang diberikan sebelum bayi mendapatkan ASI (data di Kabupaten Bone 1998.5% dari keseluruhan bayi.8% ( tergambar pada Grafik I ). 9% ASI dan air putih serta 20% ASI dan “juice”. 18% ASI dan susu formula. Menurut SDKI hanya 41. Dari data SDKI menunjukkan 30% bayi usia dibawah enam bulan selain ASI juga di beri makanan.9% dari angka sebelumnya (SDKI 2002-2003) sebesar 16. Grafik I Praktek Pemberian Makanan Pada Bayi Berdasarkan Umur (DHS 2002 & 2007) Sebaliknya bayi yang mendapat susu formula menjadi 27. lebih dari 3 (tiga) kelompok makanan dan dengan frekuensi minimal pemberian makanan. pada SDKI 2007 menurun menjadi 32.2 % bayi usia 6 – 23 bulan diberi makan sesuai anjuran yakni diberi ASI.7%. Hal ini 5 . Praktek pemberian MPASI sangat dini masih terjadi.

Berkaitan dengan IMD pihak yang paling memberi kontribusi dalam hal ini adalah penolong persalinan baik individu (praktek swasta) maupun pada sarana pelayanan. GRAFIK II Periode Gagal Tumbuh (Growth Faltering) Pada Balita di Indonesia Riskesdas 2007 Berbagai faktor mempengaruhi keberhasilan pencapaian pemberian ASI. Makanan pendamping ASI dan formula produk pabrik bila diberikan dalam keadaan terpaksa harus memenuhi standar internasional pembuatan produk makanan bayi dan anak usia dini.diperlihatkan pada grafik II yang menunjukkan kejadiaan gagal tumbuh (growth faltering) pada anak sebelum usia 6 bulan dan makin meningkat sampai anak usia 12 bulan. Meski cakupan tersebut cukup tinggi akan tetapi belum semua fasilitas pelayanan kesehatan maupun petugasnya membantu ibu menyusui dini dan mempersiapkan ibu untuk memberi ASI eksklusif dan MPASI yang optimal Rumah sakit/fasilitas pelayanan kesehatan sayang bayi (telah melaksanakan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui) telah dikembangkan dan sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan telah terakreditasi menggunakan instrumen internasional. Berkurangnya RS/RSB/RB/puskesmas 6 . Cakupan pertolongan persalinan oleh petugas kesehatan menurut SDKI 2007 sebesar 73%. Fasilitas pelayanan kesehatan yang dulunya telah terakreditasi juga sarana kesehatan lainnya masih perlu ditingkatkan lagi agar tetap mempunyai komitmen dalam melaksanakan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui.

laktasi dan mendapatkan fasilitas serta kesempatan untuk memerah atau menyusui bayinya di tempat kerja. Seharusnya setiap ibu hamil yang bekerja mendapat akses informasi tentang perlindungan hak-hak reproduksi. Sebagian perusahaan (umumnya perusahaan besar) mempunyai klinik. Pasal 83. memudahkan bayi mendapat susu formula dan akan mengurangi kesempatan ibu hamil untuk mendapatkan informasi khususnya tentang persiapan menyusui dan pemberian ASI eksklusif. Umumnya perusahaan belum sepenuhnya melindungi tenaga kerja perempuan. pekerja/buruh perempuan yang anaknya masih menyusu harus di beri kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya. Namun banyak pekerja perempuan yang tidak mempunyai kesempatan untuk memeriksakan kehamilannya. Berkaitan dengan pemberian ASI eksklusif salah satu masalah yang dapat menghambat adalah masuknya perempuan ke sektor publik. 7 . Faktor lain yang menghambat IMD adalah kebiasaan atau prosedur standar untuk membersihkan ibu dan bayi dahulu setelah persalinan baru kemudian bayi disusukan kepada ibunya.sayang bayi selain tidak mendukung IMD. jika hal itu dilakukan selama waktu kerja. Hal ini akan menghambat pemberian ASI eksklusif. Apabila pasal tersebut dilaksanakan pekerja perempuan tidak mempunyal kesempatan memerah maupun menyusui bayinya. Di dalam Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 82 pekerja perempuan memperoleh cuti satu setengah bulan sebelum dan satu setengah bulan sesudah melahirkan. UU Ketenagakerjaan pasal 79 menyatakan waktu istirahat bagi pekerja hanya setengah jam setelah 4 jam bekerja terus-menerus. Namun hak tenaga kerja perempuan tersebut masih belum terpenuhi. Sebagian besar perusahaan belum menyediakan tempat menyusui maupun memberikan waktu istirahat untuk memerah ASI atau menyusui bayinya. Akibatnya buruh perempuan tersebut kurang mendapatkan akses terhadap informasi tentang pemberian ASI dan MPASI. Pada pasal 84 disebutkan pekerja/buruh yang menggunakan hak istirahat (cuti) tersebut berhak mendapat upah penuh. di mana pekerja perempuan yang hamil dapat memeriksakan kehamilannya.

Dalam hal ini yang sangat penting adalah dukungan kepada kelompok ibu tersebut. Pemahaman yang rendah mengakibatkan munculnya pendapat bahwa ASI nya tidak cukup. Praktek pemberian makan tertentu yang dianggap memberi kekuatan pada bayi memerlukan upaya yang intensif untuk merubahnya. Di tambah lagi adanya tabu atau larangan makanan tertentu ketika memberikan MPASI (misalnya ikan tidak boleh diberikan karena “amis”). Posyandu merupakan langkah awal penyuluhan dan pendukung peningkatan pemberian ASI dan MPASI yang dulunya sangat potensial yang akhir-akhir ini menurun. Pemahaman tentang cara memberikan makan agar merangsang selera anak dan mendorong anak agar mau makan masih belum banyak diketahui. Seringkali tidak memberi MPASI dengan alasan anaknya tidak mau makan. Faktor kebiasaan/tradisi memberikan makanan pralaktasi merupakan kenyataan yang tidak mudah di atasi. ibu 8 . Dengan pelarangan tersebut pemasaran susu formula untuk bayi melalui iklan media elektronik maupun cetak telah berkurang akan tetapi upaya pendekatan individual masih sangat gencar. Pelarangan pemasaran susu formula dioperasionalkan antara lain dalam 10 langkah menuju keberhasilan menyusui. Ditemukan beberapa kasus setelah sampai di rumah. Faktanya hampir semua ibu menyusui bayinya. melindungi dan mempromosikan ASI dan MPASI. Umumnya ibu memahami bahwa perempuan akan menyusui bayinya. Hal ini ditandai dengan masih banyaknya fasilitas pelayanan kesehatan yang memberi susu formula. menyusui mengurangi keindahan tubuh dan lain-lain yang mendorong untuk tidak memberikan ASI eksklusif. disamping keterampilan dalam komunikasi / konseling masih rendah pula.Memberikan ASI eksklusif dan MPASI merupakan kewajiban bagi ibu dengan dukungan keluarga. Meskipun memahami kadang petugas belum bersikap mendukung. ASI eksklusif maupun MPASI masih belum memadai. masyarakat dan petugas kesehatan. 237/1997 tentang Pemasaran Susu Formula. Satu hambatan terbesar pemberian ASI adalah pemasaran susu formula. Pemasaran susu formula sudah diatur dengan Kepmenkes No. Namun belum semua petugas kesehatan yang seharusnya memberi dukungan memahami dengan benar tentang pemberian ASI dan MPASI yang tepat. Tetapi pemahaman dan praktek tentang IMD.

akan tetapi cakupan pelatihan bagi petugas kesehatan masih rendah. Perusahaan juga memberikan sponsor dan bermacam-macam cara lainnya untuk mempengaruhi petugas kesehatan agar memberikan susu formula kepada pasiennya. Pelatihan petugas untuk menangani pemberian makan pada bayi dan anak usia dini dilakukan. Jogya/Bantul. Perlu di tinjau kembali. 9 . Di sisi lain tindakan tersebut kurang mendapat pengawasan dan sanksi oleh karena landasan pengaturan pemasaran “hanya” dengan Kepmenkes. Data yang dikumpulkan satu bulan setelah Gempa Bantul pada tahun 2006 menunjukkan meningkatnya penyakit diare sebanyak empat kali lipat pada bayi di bawah umur dua tahun. Padahal di daerah bencana kenyataannya sulit mendapatkan air bersih maupun sarana untuk membuat susu formula. Dalam hal ini telah dilakukan pelatihan pemberian ASI bagi bayi dengan ibu positif HIV/AIDS. (29 % setelah gempa dibanding 7 % sebelum gempa). Saat ini jumlah penderita HIV/AIDS makin meningkat dan telah menyebar di semua propinsi. Terbukti. Kebijakan PMBA belum terintegrasi dalam kebijakan penanggulangan bencana. Sampai saat ini dipasaran masih beredar susu dengan label untuk anak 0 – 6 bulan.disempurnakan dan disosialisasikan tata laksana penanganan bayi tersebut agar ASI tetap diberikan dan MPASI juga diberikan tepat waktu dan sesuai kebutuhan bayi dan anak usia dini. Indonesia merupakan daerah rawan bencana alam dan di beberapa daerah rawan bencana sosial. Hampir di semua kejadian (Aceh. untuk mempromosikan susu formula. Persoalan lain yang menghambat adalah terjadinya kondisi darurat akibat bencana alam maupun sosial. Terdapat sekitar 4 juta bayi lahir setiap tahun. 25 % yang sakit tersebut ternyata minum susu formula. Padang) bantuan yang datang bagi anak-anak adalah susu formula. sakit jiwa). tetapi seringkali terlambat. dua kali lipat dari bayi yang tidak diberi susu formula. Kelompok bayi lain yang memerlukan perhatian khusus yakni bayi dengan BBLR serta bayi dengan ibu dalam kondisi khusus (misal sakit berat. Situasi sulit lain yang harus mendapat perhatian khusus adalah kasus HIV/AIDS. Sebagian bayi tersebut lahir dari ibu HIV/AIDS. Dalam kondisi tersebut perempuan dan anak-anak seringkali lebih banyak yang menjadi korban.menyusui dihubungi oleh pihak perusahaan susu.

dukungan masyarakat dan pengaturan pemasaran susu formula.Selain faktor pelayanan kesehatan. telah ada peluang yang dapat dimanfaatkan antara lain adanya berbagai komitmen Nasional maupun Global baik dalam bentuk kesepakatan pencapaian program. sikap dan praktek petugas kesehatan belum sepenuhnya mendukung peningkatan pemberian ASI dan MPASI e Belum adanya perlindungan atas hak-hak ibu bekerja serta fasilitas yang mendukung pemberian ASI eksklusif f Pemahaman ibu. ditambah lagi adanya kebiasaan atau budaya masyarakat yang menghambat pemberian ASI eksklusif dan MPASI yang optimal. penurunan kematian ibu. dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri serta penanggulangan gizi buruk. penanggulangan kemiskinan. penanggulangan bencana. deklarasi. Di samping adanya faktor yang tidak mendukung peningkatan PMBA. maka situasi yang tidak mendukung PMBA antara lain sebagai berikut: a b c Pemberian ASI dan MPASI belum optimal Peraturan Perundang-undangan dan Kebijakan yang belum memadai RS dan fasilitas pelayanan kesehatan belum melaksanakan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui d Pemahaman. Program Keluarga Harapan. Berkembangnya peran organisasi profesi dan lembaga swadaya masyarakat serta tanggung jawab perusahaan (corporate social responsibility) berkaitan dengan tumbuh kembang anak. Berdasarkan uraian tersebut di atas. Dengan keterpaduan berbagai program tersebut hasilnya dapat lebih efektif. faktor lain juga mempengaruhi keberhasilan pemberian makan pada bayi dan anak usia dini adalah kurang memadainya keterpaduan berbagai program. inisiatif maupun kebijakan. 10 . ayah dan keluarga tentang ASI dan MPASI masih rendah g Dukungan masyarakat belum memadai. Program dimana upaya pemberian ASI dan MPASI dapat diintegrasikan antara lain pencegahan penyakit.

Pasal ini dapat digunakan sebagai landasan untuk melakukan advokasi serta penyusunan kebijakan operasional dan pemberian sanksi bagi yang melanggar. Salah satu kebijakan nasional yang mendukung adalah terbitnya Undang Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. menyusui ekslusif dapat dilakukan bila ibu mendapatkan cuti melahirkan dan mendapatkan kesempatan serta fasilitas istirahat menyusui atau memerah ASI ketika sudah kembali bekerja. terutama mengenai peningkatan PMBA. a. pihak keluarga. Pemerintah.000. Pada pasal 128 dari undangundang tersebut mengatur tentang ASI eksklusif.000 (seratus juta rupiah). 100. praktek PMBA akan berhasil bila.merupakan potensi yang harus lebih di tingkatkan. Ayat 3 menyebutkan fasilitas khusus yang dimaksud pada ayat 2 diadakan ditempat kerja dan tempat sarana umum. kelompok ibu menyusui maupun masyarakat sekitar. Ibu. Selama pemberian ASI. bapak atau pengasuh bayi mendapatkan informasi yang benar dan lengkap tentang PMBA dan bebas dari pengaruh pemasaran susu formula. 11 . Ayat 1 dari pasal tersebut menyatakan setiap anak berhak mendapatkan ASI eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan. Adanya riset berbasis populasi dan investigasi hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan PMBA. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi juga merupakan peluang yang dapat didayagunakan untuk keberhasilan pelaksanaan strategi. c. Menurut WHO dan UNICEF. d. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus (ayat 2). Bagi ibu bekerja. mencegah dan menyelesaikan masalah dalam PMBA baik dari petugas kesehatan. Pasal 200 mengatur sangsi bagi setiap orang yang sengaja menghalangi program pemberian ASI ekslusif yakni pidana penjara paling lama 1 tahun dan denda paling banyak Rp. b. Ibu mendapatkan akses dukungan untuk menyusui.

Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990 tentang Pengesahan Konvensi Hak-Hak Anak 14. Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 12. Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2004 tentang Keamanan. Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan 6. Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota 13. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 450/SK/MENKES/VIII/2004 tahun 2004 tentang ASI Eksklusif 16. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan 9. Undang-Undang Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025 8. Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan 10. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah 7. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen 4. dan Menteri Kesehatan Nomor 48/Men. PER. Dasar Hukum Beberapa produk hukum yang mendukung pelaksanaan Strategi PMBA.PP/XII/2008. dan Menkes/PB/XII/2008 TAHUN 2008 tentang Peningkatan Pemberian ASI selama waktu kerja di tempat kerja 12 .C. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah Antara Pemerintah. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 237/SK/MENKES/IV/1997 tahun 1997 tentang Pemasaran Pengganti Air Susu Ibu (PASI) 15. Undang-Undang Nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan 3. meliputi : 1.27/MEN/XII/2008. Peraturan Bersama Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Undang-Undang Nomor 5 tahun 1984 tentang Perindustrian 2. Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak 5. Mutu dan Gizi Pangan 11. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

setelah ASI tersebut lebih dulu dihangatkan.BAB II RUANG LINGKUP PMBA Ruang lingkup PMBA yang telah disepakati secara nasional maupun global meliputi: A. Ibu bekerja dapat memerah ASI nya kemudian disimpan dalam kulkas dan diberikan kepada bayinya dengan gelas ketika ibu sedang bekerja. ASI diberikan sesering mungkin tanpa di jadwal sampai bayi usia 6 bulan. Kolostrum tersebut meskipun jumlahnya sedikit namun telah dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi untuk hari-hari pertama kelahirannya. Untuk itu perusahaan/kantor perlu menyediakan fasilitas untuk memerah. Pemberian kolostrum yaitu ASI yang keluar pada minggu pertama sangat penting karena kolostrum mengandung zat kekebalan dan menjadi makanan bayi yang utama. Cara ini akan memberikan kehangatan pada bayi karena adanya kontak kulit ibu dan bayi (skin to skin contact). Ibu juga dapat menyusui atau memerah ASI di tempat kerja. menyimpan ASI atau tempat menyusui. Bayi tetap dapat menyusu ketika ibu dirumah. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) IMD yang di maksud adalah memberikan kesempatan pada bayi untuk menyusu sendiri segera setelah lahir dengan cara bayi di tengkurapkan pada perut ibu dan dibiarkan selama kurang lebih 1 jam agar menemukan sendiri puting susu ibunya. Dengan IMD bayi mendapat kolostrum pertama. telah memenuhi kebutuhan bayi sampai usia 6 bulan. Bagi ibu yang harus segera kembali bekerja bayi harus tetap mendapat ASI. ISPA dan penyakit alergi. ASI eksklusif akan memberikan perlindungan pada bayi dan memperkecil risiko terhadap berbagai penyakit antara lain diare. Telah terbukti bahwa ASI saja tanpa ditambah apapun. IMD tidak dilakukan hanya pada keadaan dimana ibu dan anak dalam kondisi umum yang buruk dan tidak stabil B. ASI Eksklusif ASI eksklusif yang dimaksud adalah pemberian ASI saja tanpa ditambah apapun. Dengan ASI 13 .

contohnya penurunan resiko obesitas (kegemukan). promosi dan bantuan menyusui serta pemberian MPASI yang tepat waktu. D. mental dan emosional bayi akan lebih optimal. MPASI harus pula dipersiapkan secara higienis dan menggunakan alat serta tangan yang bersih. MPASI juga harus diberikan sesuai selera dan tingkat kekenyangan bayi. Setelah 6 bulan ASI saja tidak cukup memenuhi kebutuhan bayi. aman dan cukup. penyakit dan kematian. Selanjutnya setelah usia 1 tahun anak mulai diberi makan makanan keluarga.eksklusif perkembangan fisik. Dalam kondisi darurat. Meskipun telah ada MPASI produk pabrik. ditambah 1 – 2 kali camilan. Pembagian susu formula pada situasi darurat di pengungsian dapat mengakibatkan penghentian pemberian ASI yang seharusnya tidak perlu terjadi. Cara penyiapan dan pemberian harus mendorong secara aktif agar anak mau makan meskipun anak sedang sakit. vitamin dan mineral. Pemberian ASI eksklusif pada masa bayi juga terbukti memiliki dampak jangka panjang. Setiap kali makan diberikan dengan takaran 2 atau 3 sendok makan. Untuk usia 9 – 11 bulan diberikan 3 – 4 kali sehari dengan takaran setiap kali makan ½ gelas ( 250 ml ). C. Ibu-ibu perlu didukung agar bisa meneruskan pemberian ASI. Ibu 14 . ASI dapat terus diberikan sampai anak usia 2 tahun atau lebih. protein. Disamping tepat waktu. disarankan menggunakan bahan makanan local/alami yang tersedia di masing-masing daerah dengan menambahkan zat gizi mikro. lemak. MPASI selain harus diberikan tepat waktu juga harus adekuat yakni cukup energi. Penghentian menyusui dan pemberian MP-ASI yang tidak benar meningkatkan risiko kurang gizi. ASI Pada Situasi Darurat Bayi dan anak merupakan kelompok yang paling rawan pada situasi darurat karena bencana alam maupun bencana sosial. justru perlu di tekankan upaya perlindungan. sehingga perlu di tambah makanan lumat (bubur) sebagai makanan pendamping ASI. diabetes (penyakit gula) dan penyakit jantung pada masa dewasa. Makanan Pendamping ASI (MPASI) MPASI mulai diberikan setelah bayi berusia 6 bulan. Untuk usia 6 – 8 bulan diberikan 2 – 3 kali makan perhari ditambah 1–2 kali camilan. adekuat dan aman.

serta ibu dalam ketergantungan obat a. Susu formula hanya diberikan bila ASI benar-benar tidak tersedia baik dari ibu sendiri atau ibu menyusui lainnya. Pada keluarga miskin. akan tetapi juga harus mengurangi sekecil mungkin risiko penularan HIV/AIDS melalui menyusui. yaitu bayi piatu dan bayi yang sebelum keadaan darurat sudah mendapat susu formula serta bayi yang terpisah dari ibunya. ibu dalam penjara . anak yatim/piatu. ASI Pada Situasi khusus Yang dimaksud situasi khusus antara lain adalah situasi dimana ibu bayi HIV positif.Bila menggunakan susu formula harus diusahakan untuk mengurangi dampak buruk pemberian susu formula dengan memastikan cukup persediaan yang berkelanjutan. Susu formula dapat diberikan kepada mereka yang membutuhkan. ASI dengan ibu HIV positif. dengan pertimbangan risiko penularan lebih rendah dibanding bila diberi susu 15 . tersedia air minum dan peralatan yang bersih. ibu sakit berat. Sumbangan susu formula harus diatur dengan ketat agar hanya digunakan bagi anak yang benar-benar membutuhkannya E. Risiko penularan tergantung pada lama menyusui dan pemberian makanan campuran. Dalam hal ini petugas kesehatan harus lebih intensif memberikan bimbingan. WHO (November 2009) merekomendasikan untuk bayi dengan ibu HIV diberikan ASI eksklusif 0 – 6 bulan. diberikan MPASI mulai usia bayi 6 bulan dan ASI diteruskan sampai usia 1 tahun. higienis dan cukup bahan bakar. Pada dasarnya pemberian ASI pada ibu HIV positif adalah meningkatkan kelangsungan hidup anak dengan mempromosikan ASI. Orang tua/ keluarga harus diberi informasi agar benar-benar mengerti dan mampu menyiapkan dan memberikan susu formula dengan benar.yang berhenti menyusui dalam situasi bencana sebaiknya dibantu untuk dapat menyusui kembali (relaktasi). ibu cacat mental. pilihan pertama tetap diberikan ASI eksklusif. Pada situasi bencana ibu hamil dan menyusui harus mendapat prioritas distribusi makanan dan harus diberi tambahan makanan yang lebih banyak dari jatah ransum korban yang lainnya. bayi dengan berat lahir rendah. aman penyiapannya.

Bahaya dari kebiasaan ibu memberikan makanan campuran (mixed feeding atau pemberian ASI dan susu lainnya) juga harus dijelaskan pada ibu dengan HIV positif. yakni 1. Untuk negara dengan keadaan sosial ekonomi dan keadaan lingkungan yang belum baik. Informasi mengenai berbagai manfaat ASI harus dijelaskan kepada ibu HIV positif.formula yang tidak memenuhi syarat. Semua ibu yang terinfeksi HIV harus mendapat konseling termasuk informasi umum tentang bagaimana memenuhi kebutuhan gizinya sendiri. tujuan konseling bagi ibu dengan HIV positif juga untuk mencegah pemberian makanan campuran. 4. Selain untuk membantu ibu memutuskan pilihan yang paling tepat sesuai kondisinya. harus dibantu bagaimana memberikan susu formula yang benar dan aman. 3. Feasible : orang tua/keluarga mempunyai pengetahuan dan keterampilan memadai untuk menyiapkan dan memberikan susu formula. 2. 16 . Acceptable : tidak ada hambatan sosial budaya apabila ibu memberikan susu formula. Bayi yang mendapatkan hanya ASI mempunyai risiko yang lebih kecil dari bayi yang mendapatkan makanan campuran. risiko dan manfaat beberapa jenis makanan bayi. Affordable : orang tua/keluarga mampu membeli susu formula. risiko penularan atau terinfeksi HIV/AIDS dari ibu kepada bayi lebih kecil bila disusui eksklusif selama 6 bulan daripada bayi diberi susu formula atau campuran susu formula dan ASI. Sustainable : menjamin ketersediaan susu formula untuk diberikan sampai usia bayi 12 bulan. 5. meskipun terdapat risiko penularan virus HIV melalui pemberian ASI. Apabila ibu memilih untuk tidak menyusui. Apabila terpaksa menggunakan susu formula perlu 5 syarat yang harus dipenuhi kelima-limanya. serta bimbingan khusus untuk memilih makanan bayi yang sesuai untuk kondisi ibu. Semua ibu menyusui dengan HIV/AIDS harus dibantu untuk menyusui selama 6 bulan (ASI eksklusif). disiapkan dan diminumkan dengan higienis. Safe : susu disimpan dengan benar.

Kondisi tersebut mengakibatkan risiko terjadinya kurang gizi dan sakit pada bayi lebih tinggi bahkan kematian dini. Pilihan pemberian makan tergantung pada kondisi individual. ketergantungan obat dan alkohol serta ibu dalam penjara perlu lebih mendapat perhatian dari sistem pelayanan kesehatan maupun kesejahteraan sosial. 17 . Bila bayi sangat kecil dan lemah ASI tetap diberikan dengan menggunakan sendok atau gelas. Bagi bayi sangat kecil justru ASI sangat penting. c. piatu. Dalam hal ini ibu kemudian dapat memerah ASI nya setelah bayi menyusui. karena bayi tersebut mempunyai risiko tinggi terhadap infeksi. Bila bayi telah cukup baik menghisap. Ibu-ibu dalam kondisi khusus ini perlu mendapat bimbingan/konseling lebih intensif. ASI pada Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) IMD tetap dilakukan bila bayi lahir cukup bulan atau mendekati cukup bulan. ASI dengan kondisi khusus lain Pada anak yatim. kadang-kadang perlu waktu lama karena bayi sering istirahat.b. akan tetapi pemberian ASI tetap merupakan pertimbangan prioritas. ibu yang mengalami sakit berat atau cacat mental. sakit lama dan kematian. Bila bayi tersebut mulai dapat mengisap ASI biasanya hanya mampu mengisap sebentar saja.

Penguatan fasilitas pelayanan kesehatan dalam menerapkan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui 3. keluarga dan masyarakat dalam praktek PMBA 18 . maka Strategi PMBA ditetapkan sebagai berikut : 1. Meningkatnya cakupan anak yang mendapat ASI sampai 24 bulan atau lebih. Strategi Untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dan mempertimbangkan perkembangan situasi dan kondisi berkaitan dengan PMBA. melindungi dan mendukung PMBA 4. Meningkatnya cakupan pemberian MPASI pada bayi mulai usia 6 bulan. 5. 2. 3. Tujuan Umum : Meningkatkan status gizi dan kesehatan. melalui strategi peningkatan makanan bayi dan anak (PMBA) dengan optimal. Menciptakan lingkungan yang kondusif terhadap perilaku menyusui melalui peraturan perundang-undangan dan kebijakan 2. tumbuh kembang dan kelangsungan hidup anak di Indonesia. Meningkatnya cakupan pemberian ASI eksklusif 6 bulan.BAB III STRATEGI PMBA A. Meningkatnya jumlah fasilitas pelayanan kesehatan yang melaksanakan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui B. Peningkatan komitmen dan kapasitas stakeholder dalam meningkatkan. Khusus : 1. Meningkatnya cakupan bayi baru lahir yang mendapatkan ASI dalam 1 (satu) jam pertama. Pemberdayaan ibu. 4.

Menurunnya angka kematian bayi dan balita. Revisi kebijakan yang tidak mendukung PMBA c. Peningkatan cakupan anak usia 6 – 8 bulan yang mengkonsumsi makanan lumat dan lembek 24 jam sebelumnya. Penyusunan peraturan perundangan dan kebijakan yang diperlukan untuk mendukung peningkatan PMBA d. Peningkatan cakupan menyusui ASI eksklusif pada bayi sampai usia 6 bulan. Menurunnya angka prevalensi gizi kurang D. meliputi : a. e. Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan pelaksanaan Strategi PMBA. Rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya melaksanakan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui.C. fasilitas menyusui / memerah ASI di tempat kerja dan tempat umum serta kebijakan dalam integrasi PMBA dengan program terkait 19 . h. Pengembangan peraturan perundang-undangan dan kebijakan. Peningkatan cakupan anak usia 6 – 24 bulan yang mengkonsumsi lebih dari 4 kelompok bahan makanan 24 jam sebelumnya d. Sosialisasi peraturan perundangan dan kebijakan. g. Peningkatan cakupan bayi yang mendapat ASI dalam 1 (satu) jam pertama (IMD) b. Peningkatan cakupan bayi yang diberi MPASI sesuai frekuensi yang di anjurkan f. Program PMBA meliputi : 1. c. Review peraturan perundangan dan kebijakan yang telah ditetapkan b. antara lain tentang ibu bekerja. Pokok Program Dari ke-empat strategi di atas (Sub bab B) ditetapkan. Tujuan : Penyusunan dan harmonisasi peraturan perundangan dan kebijakan yang berkaitan dengan PMBA Kegiatan : a.

Menetapkan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui dalam akreditasi Rumah Sakit dan menerapkan sangsi bagi yang tidak melaksanakan d. Revitalisasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan Sayang Bayi. pemerintah daerah dan pihak penyelenggara pelayanan kesehatan dalam pengembangan rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan yang melaksanakan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui. Pengawasan produk makanan bayi dan anak usia dini sesuai Standar produksi makanan (codex alimentarius) Tujuan : Tersedianya produk makanan bayi sesuai standar produksi makanan bayi Kegiatan : a. Sosialisasi kebijakan dan pedoman yang mengatur produksi makanan bayi b. pembinaan dan pengawasan. Memperketat pengawasan pemasaran susu formula c. Penerapan sanksi pihak yang melanggar 4. Pengawasan produksi. Pengawasan pemasaran susu formula Tujuan : Terlaksananya kode etik pemasaran susu formula Kegiatan : a. pelatihan. Penerapan sanksi bagi pihak yang melanggar.2. 3. c. Penyusunan dan sosialisasi Peraturan Pemerintah yang mengatur pemasaran susu formula. b. pemasaran dan distribusi makanan bayi c. Membangun kembali komitmen pemerintah. Tujuan : Peningkatan jumlah dan kualitas rumah sakit/fasilitas pelayanan kesehatan yang melaksanakan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui Kegiatan : a. fasilitasi. Menyelenggarakan penilaian tahunan 20 . Pengembangan fasilitas pelayanan kesehatan untuk melaksanakan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui meliputi sosialisasi kebijakan. b.

antara lain tentang ASI. baik yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat 6.5. Peningkatan kapasitas petugas Tujuan : Semua petugas di fasilitas pelayanan kesehatan yang terkait dengan pelayanan ibu dan anak 0 – 24 bulan memahami dan mampu memberi pelayanan dan promosi dalam PMBA Kegiatan: a. Perlindungan pekerja perempuan Tujuan : Adanya kebijakan dan fasilitas perusahaan yang mendukung pekerja perempuan memberikan ASI eksklusif. Sosialisasi standar pelayanan dan konseling ASI dan MPASI d. Advokasi dan sosialisasi agar ada kebijakan perusahaan tentang perlindungan pekerja perempuan dan diimplementasikan b. Perusahaan menyediakan fasilitas untuk memerah ASI dan ruang menyusui c. permasalahan serta solusinya c. Promosi PMBA melalui berbagai media dan saluran komunikasi. Memperluas pengintegrasikan PMBA ke dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan (pre-service dan in-service) b. d. Kampanye PMBA bagi pekerja perempuan. Kegiatan: a. 21 . 7. komunikasi / konseling. MPASI. Advokasi kepada semua pemangku kepentingan b. strategi peningkatan pemberian. Pengawasan pelaksanaan perlindungan pekerja perempuan. Integrasi pelayanan konseling ASI dan MPASI pada pelayanan kesehatan ibu dan anak. Advokasi dan Promosi Peningkatan PMBA Tujuan : Meningkatkan pemahaman dan komitmen semua pemangku kepentingan (stake holders) dalam peningkatan PMBA Kegiatan: a. Pelatihan berkelanjutan bagi petugas kesehatan.

9. Pemberian informasi berkala dan konseling tentang ASI dan MPASI. Tujuan : Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam PMBA serta memecahkan masalah yang timbul berkaitan dengan praktek pemberian PMBA. Mengintegrasikan peningkatan PMBA pada upaya kesehatan berbasis masyarakat (Gerakan Sayang Ibu. Mengembangkan dan memutakhirkan pedoman PMBA pada situasi sulit.8. Pemberdayaan Ibu. c. “peer group” dan kelompok pendukung PMBA. Komunikasi perubahan perilaku (untuk mengurangi faktor budaya yang tidak mendukung). Kegiatan: a. Kegiatan: a. Posyandu dan lain-lain) 10. Sosialisasi pedoman PMBA pada situasi darurat dan khusus kepada pihakpihak yang terkait termasuk fasilitas pelayanan kesehatan. Ayah dan Keluarga. Pemberdayaan masyarakat Tujuan : Meningkatnya kelompok dalam masyarakat yang mau dan mampu berperan dalam peningkatan PMBA. Mengembangkan konselor. b. d. 22 . b. Menggiatkan kembali kelompok pendukung menyusui yang telah ada c. informasi. ayah serta keluarga d. Integrasi PMBA pada pelatihan pra nikah e. ibu hamil dan ibu menyusui. dan edukasi berkala tentang berbagai hal yang berkaitan dengan ASI dan MPASI kepada remaja putri. Komunikasi. Meningkatkan cakupan pemeriksaan kehamilan b. PMBA Pada Situasi Sulit Tujuan : Mendukung dan melindungi praktek PMBA yang optimal pada situasi darurat dan situasi khusus Kegiatan: a. Pelatihan keterampilan pemberian ASI dan MPASI.

Data dan Informasi Tujuan : Tersedianya data dan informasi tentang penyelenggaraan dan pencapaian peningkatan PMBA Kegiatan: a. serta integrasi pelayanan konseling tersebut dengan program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak. Riset operasi untuk menekan tradisi negatif yang tidak mendukung PMBA b. Distribusi data dan informasi c. 23 . program dan kegiatan peningkatan PMBA 12. Riset evaluasi c. Pengembangan teknologi sederhana dengan memanfaatkan bahan makanan lokal dan murah untuk MPASI.c. Riset dan Pengembangan Tekhnologi Tujuan : Melakukan identifikasi tradisi yang mempengaruhi PMBA dan pengembangan teknologi sederhana dalam memanfaatkan bahan lokal untuk MPASI Kegiatan: a. 11. e. Mengintegrasikan PMBA pada kebijakan. Pengumpulan dan pemetaan data ( kuantitatif dan kualitatif ) b. Pemanfaatan data untuk dasar pengembangan kebijakan. Meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan mengenai konseling pemberian ASI dan MPASI termasuk pada ibu dengan HIV. Meningkatkan kesadaran dan ketrampilan petugas kesehatan mengenai prinsip-prinsip pemberian makanan bayi dan balita pada situasi darurat dan situasi khusus. program dan tata laksana penanggulangan bencana. d.

Pengawasan produk makanan bayi dan anak usia dini sesuai standar produksi makanan (codex alimentarius) Kementerian Perdagangan Kementerian Perindustrian Kementerian Kesehatan Kementerian Pertanian Kementerian Kelautan dan Perikanan Badan POM & Balai POM Pemerintah Propinsi / Kabupaten / Kota PKK LSM 24 . pihak terkait harus mensepakati dan konsekuen dalam melaksanakan peran dalam wadah koordinasi. Peran dan tanggung jawab sebagai berikut : PERAN 1. Pengawasan pemasaran susu formula. DPRD Propinsi / Kabupaten / Kota 2. DPR. Pengembangan peraturan perundang-undangan dan kebijakan TANGGUNG JAWAB Sekretariat Negara Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Kementerian Dalam Negeri Bappenas Kementerian Kesehatan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Pemerintah Propinsi / Kabupaten / Kota. Kementerian Perdagangan Kementerian Perindustrian Kementerian Kesehatan Badan POM & Balai POM Pemerintah Propinsi / Kabupatan / Kota PKK LSM 3.BAB IV PERAN DAN TANGGUNG JAWAB PIHAK TERKAIT Untuk menjamin terlaksananya strategi PMBA.

4. Pelaksanaan revitalisasi rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan sayang bayi Kementerian Kesehatan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Komisi Akreditasi Rumah Sakit Organisasi profesi antara lain IDI. IBI. PPNI. IDAI. Perlindungan pekerja perempuan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kementerian Kesehatan Kementerian Perdagangan Kementerian Perindustrian Pemerintah Propinsi / Kabupaten / Kota Sektor Swasta (pemberi kerja) 25 . POGI. PERSAGI Asosiasi RS (Persi. Peningkatan kapasitas petugas kesehatan Kementerian Kesehatan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah dan Swasta Kementerian Pendidikan Nasional Organisasi Profesi Perguruan Tinggi Pemerintah Propinsi / Kabupaten / Kota 6. Advokasi dan promosi PMBA Kementerian Menko Kesra Kementerian Komunikasi dan Informasi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kementerian Kesehatan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kementerian Pendidikan Nasional Pemerintah Propinsi / Kabupaten / Kota Mass Media PKK LSM 7. Arsada) Pemerintah Propinsi / Kabupaten / Kota Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah dan Swasta 5.

bapak dan keluarga Sektor Kesehatan Sektor Agama Sektor Pemberdayaan Perempuan Pemda Propinsi / Kabupaten / Kota PKK LSM Organisasi Profesi Mass Media 10. Riset dan pengembangan tekhnologi Pusat Kajian / Penelitian Perguruan Tinggi Kementerian Kesehatan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Pemerintah Propinsi / Kabupaten / Kota 26 . dan Badan Daerah Organisasi Profesi PKK dan LSM Pemerintah Propinsi / Kabupaten / Kota 11. Pemberdayaan masyarakat Kementerian Dalam Negeri Badan Pemberdayaan Masyarakat Propinsi Kementerian Kesehatan Kementerian Agama Kementerian Sosial Pemerintah Propinsi / Kabupaten / Kota Organisasi Profesi PKK LSM 9. Pelaksanaan pemberian ASI dan MPASI pada situasi sulit Kementerian Kesehatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Data dan Informasi Badan Pusat Statistik (BPS) Kementerian Kesehatan Pemerintah propinsi/kabupaten/kota Perguruan Tinggi 12. Pemberdayaan ibu.Asosiasi Buruh 8.

3. 27 . kriteria pemberian ASI dan MPASI pada Sektor / Propinsi / Kabupaten / Kota.BAB V PEMANTAUAN DAN EVALUASI Pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan PMBA merupakan bagian penting untuk mengetahui proses pelaksanaan dan hasil kegiatan PMBA. Pemenuhan kebijakan. Konselor ASI. Program Peningkatan PMBA. hasil dan dampak pelaksanaan strategi meliputi: 1. Terlaksananya Standar Pelayanan Minimal (SPM) 4. 7. 5. prosedur. Mengetahui keberhasilan kegiatan peningkatan PMBA. A. Komponen Komponen yang dipantau dan dievaluasi adalah komponen masukan (input). Kelompok pendukung ASI di tingkat masyarakat. Mengetahui dampak pelaksanaan Strategi Peningkatan PMBA B. Mengidentifikasi masalah yang ditemukan dan upaya pemecahan masalah. Jumlah tenaga kesehatan yang telah dilatih mengenai konseling menyusui dan pemberian MPASI 8. proses. 4. Pemantauan dilaksanakan sejak tahap perencanaan sampai tahap pelaksanaan kegiatan PMBA agar diketahui permasalahan yang dihadapi dan dilakukan perbaikan segera apabila timbul permasalahan. 2. 2. Forum koordinasi pelaksanaan kegiatan lintas sektor terkait dalam peningkatan PMBA. Tujuan Pemantauan dan evaluasi bertujuan untuk : 1. norma standar. Mengetahui perkembangan kegiatan dalam pelaksanaan Strategi Peningkatan PMBA. 3. Jumlah Rumah sakit / fasilitas pelayanan kesehatan yang melaksanakan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui. 6.

10. 13. Sedangkan evaluasi dapat dilaksanakan setiap tahun. 28 . 15. Prevalensi balita kurang gizi (BB/U z-score < -2SD). Angka kematian bayi/balita. Cakupan pemberian ASI pada anak usia 12-15 bulan 14. 17. 6. 19. Survei nasional (seperti SDKI. 3. Cakupan menyusui ASI eksklusif 6 bulan. Cakupan anak usia 24 bulan yang masih mendapat ASI. Pencatatan dan pelaporan rutin. Pertemuan koordinasi. misalnya lembaga penelitian dan/atau perguruan tinggi. Prevalensi balita pendek (TB/U z-score < -2SD) 18. 16. C. 4. 5. Waktu Pemantauan dilaksanakan secara periodik minimal dua kali setahun mulai tahap perencanaan sampai tahap pelaksanaan kegiatan Strategi PMBA. Self assessment (Penilaian Diri Sendiri) 2. Perusahaan yang memberikan fasilitas menyusui. E. Riskesdas) D. Pelaksana Pemantauan dan evaluasi dapat dilakukan sendiri oleh pihak yang melaksanakan Strategi PMBA maupun dari luar pihak pelaksana. 11. Susenas.9. Metoda 1. Cakupan bayi yang mendapat ASI pada 1 jam pertama kelahiran (IMD) 12. Kegiatan pemantauan dan penegakan hukum pemasaran susu formula. Cakupan pemberian MPASI mulai 6 bulan. Permasalahan pelaksanaan strategi PMBA. Pengamatan lapangan dan wawancara menggunakan instrument yang telah ditetapkan. Studi evaluasi.

Setiap pihak menyampaikan laporan hasil pelaksanaan kegiatan PMBA kepada koordinator atau ketua kelompok kerja masing-masing selanjutnya secara langsung disampaikan kepada Camat. Gubernur dan Menko Kesra. Pelaporan menggunakan format dan sistem yang berlaku di masing-masing pihak. sesuai dengan tugas pilihan program/kegiatan yang dilakukan.F.hal yang dilaporkan meliputi antara lain komponen yang dipantau (BAB V B). 2. Pelaporan 1. 29 . Hal . Bupati/Walikota.

BAB VI PENUTUP Strategi PMBA disusun untuk menjadi rujukan dalam menetapkan kebijakan. Forum koordinasi tersebut diharapkan secara berkala memantau kemajuan program dan menserasikan langkah kedepan. Selain koordinasi hal penting lainnya yang menjamin keberhasilan PMBA adalah adanya data baik kuantitatif maupun kualitatif yang mendukung pelaksanaan Strategi PMBA. organisasi profesi. LSM juga keluarga dan masyarakat. Keberhasilan PMBA merupakan jaminan kualitas anak kini dan masa depan. 30 . PKK. peran keluarga dan masyarakat dan kolaborasi berbagai pihak dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. investasi publik. Pelaksanaan program dan kegiatan PMBA melibatkan berbagai pihak baik pemerintah. wilayah maupun kelompok kerja. pihak swasta. Dalam strategi ditetapkan cara pemberian makan bayi dan anak usia dini dalan kondisi “normal” dan dalam situasi sulit (darurat dan khusus). Strategi akan berhasil bila ada upaya intensif untuk meningkatkan komitmen politik. perguruan tinggi. Ditetapkan pula strategi untuk meningkatkan kualitas dan cakupan PMBA. program dan kegiatan terkait dengan PMBA. Strategi juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran dan menserasikan langkah dalam meningkatkan kualitas hidup dan tumbuh kembang melalui PMBA yang optimal. Setiap program dan kegiatan seharusnya dilakukan berkesinambungan dalam satu forum koordinasi yang efektif pada setiap lembaga. kesadaran dan sikap petugas kesehatan.

Florence. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. Kementerian Kesehatan. 2008. 2007. 2003. Statistik Kesejahteraan Rakyat Welfare Statistics. 2005. 1981. Indonesia. 2002. Planning Guide for National Implementation of the Global Strategy on Infant and Young Child Feeding 31 . Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk. Kementerian Kesehatan. Jakarta Kementerian Kesehatan. Jakarta Innocenti Declaration 2005 on Infant and Young Child Feeding. 2005. 2006. Kementerian Dalam Negeri. Jakarta: Direktorat Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan. Profil Kesehatan. Strategi Nasional Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu Sampai Tahun 2005. 2005. International Code of Marketing of Breastmilk Substitutes WHO/UNICEF. WHO/UNICEF. Global Strategy on Infant and Young Child Feeding WHO/UNICEF. 2005. dkk. Italy. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2005-2009. 2007. 2005. Direktorat Gizi Masyarakat. Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal (SPM) Penyelenggaraan Perbaikan Gizi Masyarakat. Depkes.

Mengintegrasikan kegiatan PMBA ke dalam rencana pembangunan jangka panjang. Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat a. b. Menyusun dan mensosialisasikan standarisasi makanan bayi dan anak. b. menengah dan tahunan di masing-masing sektor terkait. Membuat kebijakan penerapan pelaksanaan PMBA dalam situasi khusus dan darurat. non formal dan informal. Kementerian Kesehatan a. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional a. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PMBA 32 . Mengkoordinasikan kebijakan sektor terkait dalam PMBA b. c. Mengintegrasikan materi PMBA pada kurikulum pendidikan tenaga kesehatan. c. c. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PMBA. d. g. formal. Mengkoordinasikan dan mensinkronkan perencanaan kegiatan PMBA di masing-masing sektor terkait. Membuat peraturan dan pedoman yang mendukung pelaksanaan PMBA di Rumah Sakit. 2. KEGIATAN PMBA OLEH PARA PEMANGKU KEPENTINGAN ( STAKE HOLDERS ) 1. Mengkoordinasikan sektor terkait dalam melakukan advokasi dan sosialisasi kepada Pemerintah Propinsi/Kabupaten/Kota untuk mendukung pelaksanaan PMBA. Menyediakan tenaga konselor menyusui di Rumah Sakit dan Puskesmas. Mengkoordinasikan kegiatan PMBA yang dilaksanakan sektor kesehatan di daerah. Mengembangkan materi KIE tentang PMBA Menyediakan dan memperluas media KIE tentang PMBA e. Mensinergikan kemitraan dengan badan dunia dan lembaga donor internasional. d.Lampiran 1. Memberdayakan keluarga untuk mampu menerapkan PMBA h. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PMBA 3. f. i. Puskesmas dan jaringannya.

Memfasilitasi peningkatan peran serta masyarakat termasuk PKK dan LSM PMBA. 7. misalnya cuti bersalin. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan Pemberian ASI dan MPASI 6. Menyebarluaskan KIE tentang PMBA kepada orgasnisasi. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PMBA 5. lembaga keagamaan dan tempat-tempat ibadah f. Kementerian Komunikasi dan Informatika a. Mengkoordinasikan pelaksanaan Program Pemberdayaan Masyarakat sehingga masyarakat mampu secara mandiri melaksanakan kegiatan PMBA c. Kementerian Dalam Negeri a. Melakukan pembinaan dan sosialisasi tentang pemberian makanan yang halal pada bayi dan anak g. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi a.4. Melakukan pembinaan dan memberikan penghargaan terhadap perusahaan agar melaksanakan kegiatan PMBA d. Menyebarluaskan materi KIE tentang PMBA melalui jaringan media massa b. Mengintegarasikan materi PMBA pada kurikulum pendidikan agama e. Memantau pelaksanaan peraturan PMBA di tempat kerja c. Mengintegrasikan materi PMBA dalam konseling pra nikah c. Mengintegrasikan materi PMBA pada nasihat pernikahan d. Melaksanakan kampanye PMBA c. Mengkoordinasikan pembinaan dan pengawasan pelaksanaan kebijakan PMBA di Daerah. Membuat peraturan yang mendukung praktek menyusui di tempat kerja. Kementerian Agama a. d. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PMBA 33 . Memfasilitasi lembaga keagamaan yang berkompeten mengeluarkan fatwa atau pernyataan menurut pandangan agama yang mendukung PMBA b. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PMBA. b. tersedianya ruang menyusui dan fasilitas untuk memerah ASI b.

Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PMBA 11. Kementerian Perdagangan a. Memotivasi LSM dan organisasi perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan kegiatan PMBA c.8. Mengeluarkan sertifikat untuk produsen makanan bayi dan anak yang telah memenuhi persyaratan cara produksi pangan bayi dan anak yang baik e. Melakukan pengawasan pemasaran produk pangan makanan bayi dan anak yang beredar termasuk iklan d. Badan Pengawas Obat dan Makanan a. Membuat kebijakan dan pedoman yang mendukung penerapan Strategi PMBA b. Melakukan pengendalian dan pengawasan promosi susu formula. Memberdayakan perempuan untuk melaksanakan kegiatan PMBA d. Mengintegrasikan PMBA pada kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini (Taman Penitipan Anak. Memberikan sanksi kepada perusahaan yang melanggar peraturan perundangan yang berlaku f. Melaksanakan fungsi sebagai „focal point’ Komite Nasional Peningkatan Pemberian ASI dan MPASI b. non formal dan informal c. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PMBA 9. susu formula lanjutan dan MPASI b. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PMBA 10. Membuat standard dan pedoman teknis produk pangan makanan bayi dan anak b. Kelompok Bermain dan satuan PAUD sejenis) 34 . Mengintegrasikan materi PMBA dalam kurikulum pendidikan formal. Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak a. Mengeluarkan izin edar produk makanan bayi dan anak sesuai standar c. Kementerian Perindustrian a. Melakukan advokasi pelaksanaan PMBA bersama dengan Kemenkokesra dan instansi terkait lainnya b. Kementerian Pendidikan Nasional a. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PMBA 12. Membina dan atau mengawasi peredaran makanan bayi dan anak di masyarakat c.

Meningkatkan permintaan pangan masyarakat dalam menerapkan PMBA berbasis sumber daya. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PMBA 14. Meningkatkan ketersediaan produk olahannya sesuai potensi wilayah untuk mendukung pembuatan MP-ASI d. Mengintegrasikan pelaksanaan kegiatan PMBA di Taman Penitipan Anak (TPA). Meningkatkan mutu dan keamanan produk perikanan dalam upaya mendukung pembuatan MP-ASI dan pelaksanaan PMBA e. Melakukan advokasi pelaksanaan PMBA yang teringrasi dengan proram gerakan memasyarakatkan makan ikan (Gemarikan) bersama instansi terkait b. Menerapkan pelaksanaan PMBA dalam situasi khusus dan keadaan darurat c. kelembagaan dan budaya lokal b. Mensosialisasikan teknologi pengolahan hasil perikanan untuk pembuatan MP-ASI c. Memberdayakan keluarga untuk mampu menerapkan PMBA melalui kegiatan BKB b. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Peran dan tanggung jawab a.d. Kementerian Pertanian a. Kementerian Kelautan dan Perikanan a. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PMBA 16. kelembagaan dan budaya lokal d. Melakukan monitoring dan evaluasi penerapan PMBA terintegrasi dengan program pendidikan e. Mengintegrasikan PMBA pada kegiatan konseling Keluarga berencana 35 . Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PMBA 13. Kementerian Sosial a. Meningkatkan peran pemerintah daerah dan seluruh potensi daerah dalam memfasilitasi dan pengembangan program dan kegiatan PMBA berbasis sumber daya. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PMBA 15. Mengembangkan aneka pangan berbasis sumberdaya lokal yang aman dan terjangkau c. Membuat pedoman dan peraturan yang mendukung penerapan PMBA pada situasi khusus dan darurat b. panti sosial anak dan lain-lain d.

Organisasi Profesi (IDI. Melaksanakan KIE PMBA f. Menyebarluaskan informasi tentang PMBA e. Menyusun dan/atau merevisi berbagai kebijakan kabupaten/kota terkait PMBA b. Pemantauan dan evaluasi 19.c. IBI. PDGMI. TPA dan lain-lain) b. tersedianya ruang menyusui. Mengembangkan data dan informasi g. Melaksanakan KIE PMBA f. Mengeluarkan regulasi bagi anggota untuk mendukung pelaksanaan PMBA. Mengintegrasikan materi PMBA ke dalam materi BKB f. Menyebarluaskan informasi tentang PMBA melalui kader Bina Keluarga Balita (BKB) d. Mendorong pengembangan Rumah Sakit dan sarana kesehatan yang melaksanakan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui d. Koordinasi dalam pelaksanaan kebijakan c. Memotivasi fasilitas pelayanan kesehatan untuk melaksanakan kegiatan PMBA f. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan Pemberian ASI dan MPASI 17. POGI. PPNI. Melakukan konseling untuk membantu keluarga dan masyarakat agar mampu melaksanakan kegiatan PMBA c. Pemantauan dan evaluasi 18. Melaksanakan pemberdayaan masyarakat e. IDAI. PERSAGI. Pemerintah Kabupaten/Kota a. termasuk memberi sanksi bagi yang melanggar peraturan terkait PMBA 36 . Koordinasi dalam pelaksanaan kebijakan c. Melaksanakan pemberdayaan masyarakat e. Menyusun dan/atau merevisi berbagai kebijakan propinsi terkait PMBA b. tempat penyimpanan ASI. Pemerintah Propinsi a. Mendorong pengembangan Rumah Sakit dan sarana kesehatan yang melaksanakan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui d. Menfasilitasi pelatihan petugas lapangan KB dan kader tentang PMBA e. ASDI. Membina Pelaksanaan PMBA di kab/kota g. Mengintegrasikan materi PMBA dalam kurikulum pendidikan profesi d. Mendorong terbitnya peraturan yang mendukung pelaksanaan PMBA di tempat kerja (cuti bersalin. dll) a.

Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga a. Melakukan review dan evaluasi pelaksanaan kegiatan PMBA b. Melaksanakan kegiatan Peningkatan PMBA melalui Posyandu dan kelompok dana wisma e. Mempublikasikan hasil penelitian kepada semua sektor dan mitra terkait f. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PMBA 20. Mendorong pemerintah untuk menegakkan sanksi terhadap produsen makanan bayi dan anak. Mengintegrasikan materi PMBA pada kegiatan pengabdian masyarakat maupun kurikulum perguruan tinggi e. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PMBA 22. Memotivasi TP-PKK daerah untuk melaksanakan PMBA b. Membentuk kelompok pendukung menyusui sebagai bagian dari tujuan peningkatan PMBA d. Lembaga Swadaya Masyarakat (lokal. Memberikan rekomendasi yang “evidence base” kepada pengambil kebijakan d. Menggerakkan masyarakat untuk mampu menerapkan PMBA h. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PMBA 21. Menggerakkan masyarakat untuk menerapkan PMBA c. Melakukan penelitian dan pengembangan yang terkait dengan PMBA c. Memberdayakan keluarga untuk mampu menerapkan PMBA f. Menyebarluaskan informasi PMBA melalui berbagai media d.g. Lembaga Penelitian dan Perguruan Tinggi a. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PMBA 37 . nasional dan internasional) a. Melakukan pemantauan tumbuh kembang bayi dan anak sebagai penerapan PMBA i. Menyebarluaskan informasi tentang PMBA c. serta fasilitas pelayanan kesehatan yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan b.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->