P. 1
BAB II

BAB II

|Views: 457|Likes:
Published by Ang Gha D Cato

More info:

Published by: Ang Gha D Cato on Oct 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/28/2014

pdf

text

original

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Teori dasar
2.2.1 Defleksi dan Jenis – jenis Defleksi
Suatu batang kontiniu yang ditumpu pada bagian pangkalnya akan melendut
jika diberi suatu pembebanan. Secara umum persamaan dari defleksi dapat dilihat
pada kurva defleksi dari sebuah batang prismatik. Jika dilihat pada kurva dibawah ini,
maka defleksi V

v
x
dx
α

Gambar 5.2.1 Skema defleksi pada cantilever
Defleksi dari batang pada titik m
1
pada jarak x dari tumpuam ( gambar 1 )
berpindah searah dengan sumbu y, diukur dari x aksis ke kurva defleksi. Defleksi
yang mengarah kebawah adalah positif dan yang mengarah ke atas adalah bernilai
negatif.
Suatu putaran Ө dari axis batang pada titik m
1
adalah sudut antara axis dan torgent di
kurva defleksi ( gambar 2 ). Sudut ini positif ketika searah jarum jam.
Ringkasan rumus umumnya adalah :
g = distribusi beban
dv
EIV
dx
''' = ÷ =


Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

123

A
E
l
Δl
Dimana : M = Momen bending V I M ' ' = ÷ c
V = gaya geser V I V ' ' ' ' = ÷ c
P


Gambar 5.2.2 Gaya yang bekerja pada batang cantilever
Defleksi berdasarkan pembebanan yang terjadi pada batang, terdiri atas :
1. Defleksi aksial (regangan)
Defleksi yang akan terjadi jika pembebanan pada luas penampang.

δ =
AE
Pl







Gambar 5.2.3 Defleksi secara vertical
( sumber: Mechanics of Meterial, Hibbeler )

Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

124
Turunan rumus:
ζ =
A
P
dari hukum Hooke :ζ = E ε
ΔL = δ = L – L
0
ε = ΔL / L
0
E ε =
A
P

E ( ΔL / L
0
)=
A
P

E ( δ / L
0
)=
A
P
δ =
AE
Pl
0

(sumber : Mechanics of Material, Hibbeler)

2. Defleksi lateral (lendutan)
Defleksi yang terjadi jika pembebanan tegak lurus pada luas penampang

Gambar 5.2.4 Defleksi cantilever

\
Gambar 5.2.5 Defleksi lateral secara tegak lurus penampang

Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

125
3. Defleksi oleh gaya geser atau puntir pada batang
Unsur-unsur dari mesin haruslah tegar untuk mempertahankan ketelitian
dimensional terhadap pengaruh beban. Suatu batang kontinu yang ditumpu
akan melendut jika mengalami beban lentur.

Gambar 5.2.6 Defleksi karenaadanya moment puntir
2.1.2 Tumpuan dan jenis – jenis tumpuan
Jenis jenis tumpuan yang dipakai pada struktur dapat dilihat pada tabel
dibawah ini beserta gaya yang bekerja pada tumpuan tersebut
Jenis
Tumpuan
Simbol Gaya yang Bekerja
Tumpuan
Rol



F
y


Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

126
Tumpuan
Engsel




F
x
F
y

Tumpuan
Jepit



F
x
F
y
M


Gambar 5.2.7 Jenis-jenis tumpuan pada struktur
Defleksi berhubungan dengan regangan (AL/L). Jika regangan yang terjadi
pada struktur semakin besar, maka tegangan struktur akan bertambah besar. Defleksi
sangat penting untuk diketahui karena berhubungan dengan desain sturktur dan
membantu dalam analisis struktur.

2.1.3 Faktor – faktor yang mempengaruhi defleksi

Faktor-faktor yang memepengaruhi defleksi :
1. Besar pembebanan ( kg )
2. Panjang batang (m )
3. Dimensi penampang batang ( m
2
)
4. Jenis material batang

2.1.4 Metoda Integrasi, luas momen, superposisi
Lendutan yang terjadi disetiap titik pada batang tersebut dapat dihitung dengan
berbagai metoda, antara lain :
 Metoda integrasi

Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

127
 Metoda luas momen
 Metoda superposisi
1. Metoda Integrasi
Metoda integrasi dapat dipakai untuk kurva lendutan yang mengandung unsur
momen lentur/persamaan momen lentur dengan menggunakan diagram beban besar
dan keseimbangan statis.
∑F
y
= 0 qdx + (Q+ dQ) – Q = 0
dQ = -qdx q
dx
dQ
÷ =
∑M
A
= 0 (M + dM) – (Q + dq) dx – (qdx)
2
dx
- M = 0
dM = (Q + dQ) dx -
2
1
q (dx)
2

dM = Qdx + dQdx +
2
1
q (dx)
2


Q
dx
dM
=

z
y
x
w
+
+w '

Gambar 5.2.8 Lendutan menggunakan metoda integrasi
dari persamaan sebelumnya :
diabaikan

Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

128
Q M Q
dx
dM
= ' =
q Q q
dx
dQ
÷ = ' ÷ =
EIy
M
Ψ Iy Ψ E M = ' ' =
( )
( )
( )
IV
w'=-Ψ
M
-w''=Ψ'=
EIy
- w''EIy '=M'=-Q
- w''EIy ''=Q'=-q
Untuk EIy=konstan bukan fungsi x , berlaku hubungan:
w EIy=q
w'''EIy=-Q
w'' EIy=-M

Persamaan kurva lendutan yang mengandung unsur momen lentur dapat
diintegrasi untuk memperoleh lendutan w sebagai fungsi x. langkah perhitungan
adalah menulis persamaan untuk momen lentur dengan mempergunakan diagram
benda bebas dan keseimbangan statis bila balok/pembebanan pada balok tiba-tiba
berubah pada waktu bergerak. Sepanjang sumbu balok, maka akan ada pemisahan
momen masing-masing untuk tiap bagian, persamaan untuk M diganti dengan
persamaan diferensial. Persamaan tersebut diintegrasikan untuk mendapatkan
kemiringan w’ dan konstanta integrasi. Konstanta dapat ditentukan dari kondisi untuk
batas sehubungan dengan w’ dan w pada perletakan balok dan kondisi kontinuitas w
dan w’ pada titik untuk di mana bagian-bagian balok tertentu. Konstanta untuk hasil
evaluasi dapat disubsitusi kembali ke persamaan untuk w, sehingga menghasilkan
persamaan akhir untuk kurva lendutan.



Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

129
2. Metoda luas momen
Metode luas momen memanfaatkan sifat-sifat diagram luas momen lentur.
Cara ini khususnya cocok bila yang diinginkan lendutan dan putaran sudut pada suatu
titik saja, karena dapat diperoleh besaran tersebut tanpa mencari persamaan
selengkapnya dari garis lentur terlebih dulu.

Kurva
lendutan
Garis
singgung
uA B’
uBA = uB - uA
du
dA
uB
ABA
M
EI

Gambar 5.2.9 Lendutan batang cantilever menggunakan metoda luas momen
( )
( )
}
} }
÷ = u = u ÷ u
÷ = u
÷ = u ÷ ÷ = u
÷ =
÷ =
dx
EI
M
dx
EI
M
d
dx
EI
M
d
EI
M
'
dx
d
EI
M
' w
dt
d
EI
M
' ' w
BA B A
B
A

- Teorema luas momen yang pertama
Sudut BA merupakan sudut yang dibentuk oleh garis singgung kurva lendutan
pada titik A dan titik B yang berharga sama dengan negatif dari luas momen
EI
M
diantara kedua titik tersebut.

Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

130
BA
M M
θ =- dx =- luas diantara titik Adan B
EI EI
¦ ¹
´ `
¹ )
}

konversi tanda :
1. Sudut relatif BA berharga positif, jika OB lebih besar dari OA titik B berada
disebelah kanan titik A. Jika bergerak kearah sumbu A positif.
2. Momen lentur berharga positif seperti pada gambar dibawah :

- +

Gambar 5.2.10 Momen lentur pada sebuah batang
Dari gambar diperoleh :
B B
A A
B
A
M
dA=x dθ=-x dt
EI
M
dA=- dx
EI
M
ΔBA=- x dt
EI
M
=- momen pertama dari luas kurva antara titik Adan Bdengan acuan titik B
EI
¦ ¹
´ `
¹ )
} }
}

- Teorema luas momen yang kedua
Lendutan ABA merupakan perpindahan relatif titik B terhadap garis linier,
yaitu semua faktor yang mengandung lendutan w dan turunannyan dikembangkan ke
tingkat pertama dari luas kurva
EI
M
yang terletak antara titik A dan B dengan acuan
titik B.


Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

131
3. Prinsip superposisi
Persamaan diferensial kurva lendutan balok adalah persamaan diferensial
linier, yaitu semua faktor yang mengandung lendutan w dan turunannya
dikembangkan ke tingkat pertama saja. Karena itu, penyelesaian persamaan untuk
bermacam-macam kondisi pembebanan boleh disuperposisi. Jadi lendutan balok
akibat beberapa beban yang bekerja bersama-sama dapat dihitung dengan superposisi
dari lendutan akibat masing-masing beban yang bekerja sendiri-sendiri.
IV
M
W''
EIy
Q
W'''
EIy
q
W
EIy
= ÷
= ÷
= ÷

( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( )
1 2
1 2
1 2
1 2
W x W x W x
berlakuanalog
W' x W' x W' x
M x M x M x
Q x Q x Q x
= +
= +
= +
= +

2.1.5 Aplikasi Defleksi
1. Jembatan
Disinilah dimana aplikasi lendutan batang mempunyai perananan yang sangat
penting. Sebuah jembatan yang fungsinya menyeberangkan benda atau kendaraan
diatasnya mengalami beban yang sangat besar dan dinamis yang bergerak diatasnya.
Hal ini tentunya akan mengakibatkan terjadinya lendutan batang atau defleksi pada
batang-batang konstruksi jembatan tersebut. Defleksi yang terjadi secara berlebihan
tentunya akan mengakibatkan perpatahan pada jembatan tersebut dan hal yang tidak
diinginkan dalam membuat jembatan, berikut gambar nya :



Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

132










Gambar 5.2.11 Aplikasi Defleksi berupa Jembatan
2. Poros Transmisi
Pada poros transmisi roda gigi yang saling bersinggungan untuk
Mentransmisikan gaya torsi memberikan beban pada batang poros secara radial. Ini
yang menyebabkan terjadinya defleksi pada batang poros transmisi. Defleksi yang
terjadi pada poros membuat sumbu poros tidak lurus. Ketidak lurusan sumbu poros
akan menimbulkan efek getaran pada Pentransmisian gaya torsi antara roda gigi saat
berputar, berikut gambar nya :










Gambar 5.2.12 poros Trasmisi


Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

133
3. Rangka (chasis) kendaraan
Kendaraan – kendaraan pengangkut yang berdaya muatan besar, memiliki
kemungkinan terjadi defleksi atau lendutan batang – batang penyusun konstruksinya,
berikut gambar nya :







Gambar 5.2.13 kendaraan bermotor

4. Konstruksi Badan Pesawat Terbang
Pada perancangan sebuah pesawat material-material pembangunan pesawat
tersebut merupakan material-material ringan dengan tingkat elestitas yang tinggi
namun memiliki kekuatan yang baik. Oleh karena itu, diperlukan analisa lendutan
batang untuk mengetahui defleksi yang terjadi pada material atau batang – batang
penyusun pesawat tersebut, untuk mencegah terjadinya defleksi secara berlebihan
yang menyebabkan perpatahan atau fatik karena beban terus – menerus, berikut
gambarnya :








Gambar 5.2.14 Badan Pesawat

Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

134
5. Mesin Pengangkut Material
Pada alat ini ujung pengankutan merupakan ujung bebas tak bertumpuan
sedangkan ujung yang satu lagi berhubungan langsung atau dapat dianggap dijepit
pada menara kontrolnya.Oleh karena itu, saat mengangkat material kemungkinan
untuk terjadi defleksi. Pada konstruksinya sangat besar karena salah satu ujungnya
bebas tak bertumpuan. Disini analisa lendutan batang akan mengalami batas tahan
maksimum yang boleh diangkut oleh alat pengangkut tersebut, berikut gambarnya:






Gambar 5.2.15 escafator
2.1.6 Penurunan Rumus Defleksi Lateral
Penurunan rumus : δ
P
/ 2
P
/ 2
P


1. DBB :
P
P/2
P/2



Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

135


Potongan 1 ( 0 x / 2 s s )

P/2
M
1
V

x

N


2
1
3
1 3
Px
M
2
EI M
Px
2
Px
EI C
4
Px
EI C x C
12
=
'' o = ÷
= ÷
' o = ÷ +
o = ÷ + +


Potongan 1 ( / 2 x s s )

P/2
x
M
N
V

( )
( )
( )
( )
2
2
3
3
2 4
Px
M P x / 2
2
EI M
Px
P x / 2
2
P x / 2 Px
EI C
4 2
P x / 2 Px
EI C x C
12 6
= ÷ ÷
'' o = ÷
= ÷ + ÷
÷
' o = ÷ + +
÷
o = ÷ + + +


kondisi yang berlaku :
1. untuk x / 2 = , defleksi sudut kedua persamaan harus sama (
I II
' ' o = o ), maka :
( )
2 2
1 2 1 2
P x / 2 Px Px
C C C C
4 4 2
÷
÷ + = ÷ + + ÷ =
2. untuk x / 2 = , defleksi sudut kedua persamaan harus sama (
I II
o = o ), maka :
( )
3
3 3
1 3 2 4 3 4
P x / 2 Px Px
C x C C x C C C
12 12 6
÷
÷ + + = ÷ + + + ÷ =

Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

136
3. untuk x = 0 , 0 o =
3
1 3 3
4 3
Px
C x C 0 C 0
12
maka C C 0
÷ + + = ÷ =
= =

4. untuk x = , 0 o =
( )
3
3
2 4
3 3
2
2 2 2
2
2
1 2
P x / 2
Px
C x C 0
12 6
Px P
C 0 0
12 48
4P P 3P
C
48 48
3P
C C
48
÷
÷ + + + =
÷ + ÷ + + =
÷
= =
= =

maka :
untuk 0 x / 2 s s
( )
3 2
3 2
2 2
Px 3P
EI x
12 48
4Px 3P x Px
3 4x
48EI 48EI
o = ÷ +
÷ +
o = ÷ o = ÷


untuk / 2 x s s
( )
( ) ( )
3
3 2
2 2 3 3 2
3
3 2 2 3
3 2 2 3 3 2 2 3
P x / 2
Px 3Px
EI 0
6 12 48
P 3x 3x Px 3Px
EI x
6 2 4 8 12 48
Px Px 9Px
EI
12 4 48 48
P P
EI 4x 12x 9x 4x 12x 9x
48 48EI
÷
o = ÷ + + +
| |
o = ÷ + ÷ ÷ +
|
\ .
o = ÷ + ÷
o = ÷ + ÷ ÷ o = ÷ + ÷


2. DBB :

Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

137
P
Pb

Pa







kondisi yang berlaku :
1. untuk x a = , defleksi sudut kedua persamaan harus sama (
I II
' ' o = o ), maka :
( )
2
2 2
1 2 1 2
P x a Pbx Pbx
C C C C
2 2 2
÷
÷ + = ÷ + + ÷ =
Potongan 1 ( 0 x / 2 s s )

Pb

M

V

x

N


2
1
3
1 3
Pbx
M
Pbx
EI M
Pbx
EI C
2
Pbx
EI C x C
6
=
'' o = ÷ = ÷
' o = ÷ +
o = ÷ + +

Potongan 2 ( / 2 x s s )


Pb

x
M
N
V

( )
( )
( )
( )
2
2
2
3
3
2 4
Pbx
M P x a
Pbx
EI M P x a
P x a
Pbx
EI C
2 2
P x a
Pbx
EI C x C
6 6
= ÷ ÷
'' o = ÷ = ÷ + ÷
÷
' o = ÷ + +
÷
o = ÷ + + +


Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

138
2. untuk x a = , defleksi sudut kedua persamaan harus sama (
I II
o = o ), maka :
( )
3
3 3
1 3 2 4 3 4
P x a Pbx Pbx
C x C C x C C C
6 6 6
÷
÷ + + = ÷ + + + ÷ =
3. untuk x = 0 , 0 o =
3
1 3 3
4 3
Pbx
C x C 0 C 0
6
maka:C C 0
÷ + + = ÷ =
= =

4. untuk x = , 0 o =
( )
( ) ( )
3
3
2 4
3 3
2
2 3
2
2 2 2 2
2 1 2
P x a
Pbx
C x C 0
6 6
Pb Pb
C 0 0
6 6
Pb Pb
C
6 6
Pb Pb
C b C C b
6 6
÷
÷ + + + =
÷ + + + =
= ÷
= ÷ ÷ = = ÷

maka :
untuk 0 x a s s
( )
( )
3
2 2
2 2 2
Pbx Pb
EI b x 0 0
6 6
Pbx
b x
6 EI
o = ÷ + ÷ + =
o = ÷ ÷


untuk a x s s
( )
( )
( )
( )
3
3
2 2
3
2 2 2
P x a Pbx Pb
EI b x 0 0
6 6 6
P x a Pbx
b x
6 EI 6
÷
o = ÷ + + ÷ + =
÷
o = ÷ ÷ +



Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

139
3. DBB
.
P
/ 2
/ 2

Dengan metode superposisi, sistem di atas menjadi :
P
I

Defleksi Pada Struktur I
dari tabel defleksi :
2
2
Px 3
x 0 x
6EI 2 2
P
3x x
24EI 2 2
| |
o = ÷ s s
|
\ .
| |
o = ÷ s s
|
\ .


Defleksi Pada Struktur II
( )
2
Rx
3 x
6EI
o = ÷ ÷
defleksi di titik B = 0, maka :
( )
BI BII
2 2
3 3
0
P R
3 3 0
24EI 2 6EI
5P R 15P
0 R
48EI 3EI 48
o + o =
÷ | |
÷ + ÷ =
|
\ .
÷
+ = ÷ =



R
II
= +

Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

140
maka defleksi total adalah :
untuk 0 x
2
s s
( )
( )
2 2
2 2
2 2
Px 3 Rx
x 3 x
6EI 2 6EI
Px 3 15 Px
x 3 x
6EI 2 48 6EI
Px 3 45 15x Px 27 33x
x
6EI 2 48 48 6EI 48 48
÷ | |
o = ÷ + ÷
|
\ .
| |
= ÷ ÷ ÷
|
\ .
¦ ¹ | | | |
= ÷ ÷ ÷ = ÷
´ `
| |
\ . \ . ¹ )


untuk x
2
s s
( )
2 2
P 15 Px
3x 3 x
24EI 2 48 6EI
| |
o = ÷ ÷ ÷
|
\ .


4. DBB
P
a b


denganmetodesuperposisi, sistem di atasmenjadi :
P
I

R
II
.
. Defleksi Pada Struktur I
dari tabel defleksi :
= +

Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

141
( )
( )
2
2
Px
3a x 0 x a
6EI
Pa
3x a a x
6EI
o = ÷ s s
o = ÷ s s

Defleksi Pada Struktur II
( )
2
Rx
3 x
6EI
o = ÷ ÷
defleksi di titik B = 0, maka :


maka defleksi total adalah :
BI BII
o = o +o
untuk 0 x a s s
( ) ( ) ( )
( ) ( )
2 2 2
3
2 2
2
3
Px Pa x
3a x 3 a 3 x
6EI 2 6EI
Px Pa
3a x 9 3 x 3a ax
6EI 12 EI
o = ÷ ÷ ÷ ÷
= ÷ ÷ ÷ ÷ +
( ) ( ) ( )
( ) ( )
2 2 2
3
2 2 2
2
3
Pa Pa x
3x a 3 a 3 x
6EI 2 6EI
Pa Pa x
3x a 9 3 x 3a ax
6EI 12 EI
o = ÷ ÷ ÷ ÷
= ÷ ÷ ÷ ÷ +


untuk a x s s
( ) ( )
( ) ( )
BI BII
2 2
3 2 2
3
0 x
Pa R
3 a 3 0
6EI 6EI
R Pa Pa
3 a R 3 a
3EI 6EI 2
o + o = ÷ =
÷
÷ + ÷ =
= ÷ ÷ = ÷

Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

142
( ) ( ) ( )
( ) ( )
2 2 2
3
2 2 2
2
3
Pa Pa x
3x a 3 a 3 x
6EI 2 6EI
Pa Pa x
3x a 9 3 x 3a ax
6EI 12 EI
o = ÷ ÷ ÷ ÷
= ÷ ÷ ÷ ÷ +















Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

143
2.2 Teori Dasar Alat Uji
Alat ukur yang digunakan yaitu :
1. Dial Indicator
Pada alat ukur yang digunakan dalam percobaan defleksi ini adalah dial gauge
(dial indikator) atau jam ukur. Jam ukur merupakan alat ukur pembanding yang
banyak digunakan dalam industri pemesinan pada bagian produksi maupun pada
bagian pengukuran. Prinsip kerjanya adalah secara mekanis, dimana bergerak linier
dari sensor diubah menjadi gerak putaran pada jarum penunjuk pada piringan
berskala dengan perantara batang bergigi dan susunan roda gigi.
Kecermatan pembacaan skala adalah 0.01, 0.05 atau 0.002 dengan kapasitas ukuran
yang berbeda misalnya 20, 10, 5, 2 atau 1 mm. Untuk kapasitas ukuran yang besar
biasanya dilengkapi dengan jarum jam penunjuk kecil pada piringan jam yang besar,
dimana satu putaran penuh dari jarum jam yang besar sesuai dengan satu angka dari
yang kecil. Dial indokator yang digunakan pada praktikum ini dapat dilihat pada
gambar di bawah.

Gambar 5.2.16 Dial indicator

Ujung sensor dapat diganti dengan berbagai bentuk (bulat, lonjong, pipih) dan
dibuat dari berbagai baja karbida atau sapphire. Permukaan jenis sensor disesuaikan
dengan kondisi benda ukur dan frekuensi penggunaannya. Toleransi kesalahan

Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

144
putarnya (run-out tolerance) dapat diperiksa dengan cara menempatkan jam ukur
pada posisi yang tetap dan benda ukur diputar pada sumbu yang tertentu.


2. Stand Magnetic
Digunakan untuk menjaga kedudukan dial indicator agar tidak bergeser dari
kedudukannya.

Gambar 5.2.17 Stand Magnetic

3. Beban
Beban yang digunakan untuk memberikan gaya luar pada batang.


Gambar 5 2.18 Beban

3. Batang Prismatik
Batang perismatik ini digunakan untuk mengetahui jarak pegas dan dumper dari
tumpuan. Dengan menggunakan batang perismatik ini kita bisa menentukan
besarnya simpangan awal yang akan diberikan

Laporan Akhir Praktikum FDM Bidang Konstruksi Defleksi

Kelompok X

145







Gambar 2.19 Batang prismatik
5. Mistar
Digunakan untuk mengukur panjang batang sekaligus mengatur letak beban yang
diinginkan.

Gambar 5. 2.20 Mistar

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->