P. 1
Makalah Gulma

Makalah Gulma

|Views: 3,080|Likes:
ekologi gulma-interaksi gulma dengan tanaman budidaya
ekologi gulma-interaksi gulma dengan tanaman budidaya

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Dora Dayu Rahma Turista on Oct 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2014

pdf

text

original

Interaksi Gulma Dengan Tanaman Budidaya

MAKALAH Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Ekologi Gulma yang dibina oleh Bapak Fathur rochman dan Bapak I Wayan Sumberatha

Oleh : Dora Dayu Rahma Turista Hendrik Setiawan Nurlaily Lavianti Anggun Wulandari 407342408155 407342408157 907342410436 407342412072

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI November, 2010

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Produksi tanaman pertanian, baik yang diusahakan dalam bentuk pertanian rakyat ataupun perkebunan besar ditentukan oleh beberapa faktor antara lain hama, penyakit dan gulma. Kerugian akibat gulma terhadap tanaman budidaya bervariasi, tergantung dari jenis tanamannya, iklim, jenis gulmanya, dan tentu saja praktek pertanian di samping faktor lain. Di Amerika Serikat besarnya kerugian tanaman budidaya yang disebabkan oleh penyakit 35 %, hama 33 %, gulma 28 % dan nematoda 4 % dari kerugian total. Sedangkan di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, kerugian karena gulma tidak saja tinggi, tetapi juga mempengaruhi persediaan pangan dunia (Pemi, 2006). Tanaman perkebunan juga mudah terpengaruh oleh gulma, terutama sewaktu masih muda. Apabila pengendalian gulma diabaikan sama sekali, maka kemungkinan besar usaha tanaman perkebunan itu akan rugi total. Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Pengendalian gulma yang tidak cukup pada awal pertumbuhan tanaman perkebunan akan memperlambat pertumbuhan dan masa sebelum panen (Anonymous, 2007). Beberapa gulma lebih mampu berkompetisi daripada yang lain (misalnya Imperata cylindrica), yang dengan demikian menyebabkan kerugian yang lebih besar. Persaingan antara gulma dengan tanaman budidaya dapat dilihat dengan terjadinya interaksi antara keduanya, yakni bisa berupa interaksi positif maupun negative. Persaingan antara gulma dengan tanaman dapat dilihat dalam hal mengambil unsur-unsur hara dan air dari dalam tanah dan penerimaan cahaya matahari untuk proses fotosintesis, menimbulkan kerugian-kerugian dalam produksi baik kualitas maupun kuantitas. Cramer (1975) dalam Pemi (2006) menyebutkan kerugian berupa penurunan produksi dari beberapa tanaman adalah sebagai berikut:

padi 10,8%, sorgum 17,8%, jagung 13%, tebu 15,7%, coklat 11,9%, kedelai 13,5% dan kacang tanah 11,8%. Menurut percobaan-percobaan pemberantasan gulma pada padi terdapat penurunan oleh persaingan gulma tersebut antara 25-50 %. Terjadinya interaksi antara gulma dengan tanaman budidaya memiliki pengaruh yang cukup signifikan. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk menyusun makalah yang berjudul “Interaksi Gulma Dengan Tanaman Budidaya”.

B. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimanakah interaksi yang terjadi antara gulma dengan tanaman budidaya? 2. Apa sajakah keuntungan dan kerugian yang dapat disebabkan akibat adanya interaksi antara gulma dengan tanaman budidaya? 3. Bagaimanakah cara untuk mengendalikan gulma?

C. TUJUAN PENULISAN 1. Untuk mengetahui interaksi yang terjadi antara gulma dengan tanaman budidaya. 2. Untuk mengetahui keuntungan dan kerugian yang dapat disebabkan akibat adanya interaksi antara gulma dengan tanaman budidaya. 3. Untuk mengetahui cara untuk mengendalikan gulma.

BAB II PEMBAHASAN

A. GULMA Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Batasan gulma bersifat teknis dan plastis (Pemi, 2006). Teknis, karena berkait dengan proses produksi suatu tanaman pertanian. Keberadaan gulma menurunkan hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi. Plastis, karena batasan ini tidak mengikat suatu spesies tumbuhan. Pada tingkat tertentu, tanaman berguna dapat menjadi gulma. Sebaliknya, tumbuhan yang biasanya dianggap gulma dapat pula dianggap tidak mengganggu. Contoh, kedelai yang tumbuh di sela-sela pertanaman monokultur jagung dapat dianggap sebagai gulma, namun pada sistem tumpang sari keduanya merupakan tanaman utama. Meskipun demikian, beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma utama, seperti teki dan alang-alang. Ilmu yang mempelajari gulma, perilakunya, dan pengendaliannya dikenal sebagai ilmu gulma. Dalam pengertian ekologis gulma adalah tumbuhan yang mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang berubah. Salah satu faktor penyebab terjadinya evolusi gulma adalah faktor manusia. Manusia merupakan penyebab utama dari perubahan lingkungan dan gulma mempunyai sifat mudah mempertahankan diri terhadap perubahan tersebut dan segera beradaptasi dengan lingkungan tempat tumbuhnya (Arenloveu, 2007). Dengan kata lain gulma memiliki genetic plasticity yang besar. Sifat ini diperoleh dari seleksi alam yang terus menerus, beberapa sifat umum gulma untuk mempertahankan eksistensinya antara lain mempunyai adaptasi yang kuat, mempunyai daya saing yang tinggi, dapat membentuk spora/biji banyak, cepat berkembangbiak, mampu berkecambah dan tumbuh pada kondisi zat hara dan air yang sangat minim, mempunyai sifat dorman yang luas (biji tidak mati dan mengalami dorman bila lingkungan kurang baik untuk pertumbuhan).

Gulma dijumpai pada setiap peristiwa pemanfaatan penggunaan tanah dan air. Permasalahan yang timbul berbeda intensitasnya, tergantung pada tempat dan tingkat pemanfaatan tempat tersebut. Pada pertanaman yang berbeda akan mempunyai permasalahan dan komposisi spesies gulma yang berbeda pula. Sebagai contoh permasalahan dan komposisi spesies gulma pada pertanaman padi sawah, padi gogo/ladang, padi gogo rancah dan padi pasang surut akan berbeda walaupun jenis pertanaman yang dibudidayakan sama yaitu padi. Pada pertanaman perkebunan, masalah yang timbul tentu akan berbeda dengan masalah pada pola pertanaman tanaman pangan (Sastroutomo, 1990).

B. KAITAN SUKSESI DENGAN PERTANIAN Komposisi jenis yang ada dalam suatu komunitas tumbuhan sering kali mengalami perubahan sejalan dengan waktu. Proses ini dikenal dengan nama suksesi. Jika keadaan lingkungan mikro dari suatu habitat relatif tidak berubah, maka perubahan komposisi jenis akan berjalan sangat lambat atau tidak mengalami perubahan sama sekali (Pemi, 2006). Fase akhir dari suatu suksesi dikenal sebagai klimaks dan biasanya ditandai dengan komunitas yang dapat dilihat sejalan dengan waktu dikenal dengan nama fase pionir atau awal dan seral atau pertengahan suksesi. Suksesi Primer yaitu muncul dan tumbuhnya berbagai jenis tumbuhan di suatu daerah yang sebelumnya tidak pernah dijumpai adanya vegetasi misalnya pada proses pendangkalan danau menjadi daratan atau perubahan batu-batuan menjadi tanah akibat proses pelapukan. Suksesi Sekunder merupakan pola perubahan suatu tipe vegetasi akibat adanya gangguan lingkungan misalnya api, banjir, angin ribut yang menyebabkan daerah ini menjadi tidak bervegetasi untuk kemudian ditumbuhi kembali secara perlahan-lahan. Suksesi sekunder lebih mendapat perhatian bagi para ahli pengelola lingkungan termasuk ahli-ahli pertanian. Penebangan hutan secara liar misalnya akan menimbulkan proses suksesi sekunder yang sebagian besar akan didominasi oleh jenis-jenis tumbuhan yang berbeda dengan sewaktu belum ditebang. Sejalan dengan waktu, maka pergantian

dari jenis yang satu ke jenis lainnya akan terjadi secara berulang-ulang melalui proses suksesi. Suksesi sekunder sering terjadi akibat adanya persaingan antarjenis di mana jenis-jenis pionir akan masuk, tumbuhan dan menetap di suatu habitat yang terbuka dan saling berkompetisi. Tanah-tanah pertanian yang selalu mengalami gangguan lingkungan yang berupa pengolahan oleh manusia merupakan contoh yang paling ideal dari suksesi sekunder. Segera setelah aktivitas pertanian dihentikan pada suatu daerah akan muncul, tumbuh, bersaing, dan berkembang biak pelbagai jenis tumbuhan pada fase awal dan pertengahan suksesi. Jenis-jenis ini akan muncul dan hilang silih berganti sepanjang masa sehingga mencapai klimaksnya di mana jenisjenis yang membentuk komunitas ini akan seragam meskipun tidak 100% sama dengan jenis-jenis gulma cenderung untuk menjadi tumbuhan yang menempati fase awal dari suksesi sekunder. Pada lingkungan alami gulma dapat dikelompokkan sebagai tumbuhann pemula atau pionir. Pada daerah dengan keadaan lingkungan yang senantiasa mengalami gangguan seperti daerah pertanian, mempunyai daur hidup yang berbeda antara jenis yang satu dengan jenis lainnya merupakan faktor yang sangat penting untuk dapat tumbuh dan menggantikan jenis-jenis yang tumbuh sebelumnya. Pergantian jenis- jenis gulma sejalan dengan waktu dapat terjadi secara acak atau sebagai akibat adanya perubahan lingkungan dari musim ke musim atau adanya perubahan praktek-praktek agronomi yang dilakukan. Pengendalian gulma secara langsung mutlak harus dilaksanakan pada setiap sistem pertanian. Tetapi pengendalian ini akan menimbulkan dampak yakni terjadinya perubahan komunitas gulma dan tanaman budidaya yang biasanya hanya bersifat sementara. Pada beberapa keadaan misalnya dengan penggunaan herbisida yang secara sama terus menerus perubahannya bersifat tetap. Kedua perubahan ini jika terjadi, tidak mudah untuk dikembalikan ke keadaan semula sebelum pengendalian dan ini akan memberikan pengaruh yang nyata terhadap pengelolaan gulma jangka panjangnya.

C. GULMA, TANAMAN BUDIDAYA, DAN TUMBUHAN LIAR Setiap jenis tumbuhan memperlihatkan reaksi yang berbeda-beda jika lingkungan yang di tumbuhinya mengalami gangguan oleh manusia. Beberapa jenis di antaranya dapat bertambah banyak dengan adanya gangguan, beberapa jenis lainnya akan berpindah atau mati untuk kemudian digantikan oleh jenis-jenis lainnya. Ada tiga kelompok vegetasi berdasarkan derajat asosiasinya dengan tingkat gangguan atau kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia. Tumbuhan liar biasanya tumbuh secara alami di tempat- tempat yang tidak mengalami gangguan. Jenis-jenis ini merupakan penguasa segala tempat dengan cepat, dan jika tidak mengalami gangguan jenis-jenis ini akan bermunculan silih berganti sehingga tercapainya populasi yang stabil dan dalam keadaan seimbang. Jika habitat terus- menerus mengalami gangguan, maka jenis- jenis yang berbeda dengan jenis- jenis di atas akan bermunculan dan menetap. Jenis- jenis ini dapat dikelompokkan menjadi gulma dan tanaman budidaya (Arenloveu, 2007). Dari semua jenis kelompok tumbuhan ini tidak satupun yang dapat mengalahkan tumbuhan liar dalam penguasaan habitat. Gulma dapat masuk dan tumbuh di daerah yang baru mengalami gangguan, tetapi pada umumnya akan digantikan oleh tumbuhan liar jika daerah ini tidak mengalami gangguan lebih lanjut. Tanaman budidaya dapat bersifat gulma dan sebaliknya gulma sering juga ditanam sebagai tanaman pokoknya seperti menjadi tanaman hias, tanaman obat, dan lain-lain (Pemi, 2006). Perbedaannya ialah gulma tidak memerlukan perbanyakan secara buatan seperti yang dilakukan pada tanaman budidaya. Oleh karena itu, gulma dapat tumbuh dan menguasai habitat yang telah mengalami gangguan tanpa bantuan manusia sedangkan pada tanaman budidaya dibutuhkan bantuan yang terus-menerus untuk perbanyakan dan penyediaan habitatnya yakni dengan pengolahan tanah. Gulma dapat muncul, tumbuh dan memberikan respons terhadap gangguan yang ditimbulkan manusia dengan 3 cara: 1. Dari tumbuhan liar yang telah beradaptasi dan mengalami seleksi pada habitat yang mengalami gangguan terus-menerus,

2. Merupakan turunan dari hasil hibridisasi tumbuhan yang liar dengan jenisjenis yang telah dibudidayakan, dan 3. Dari jenis-jenis yang semula dibudidayakan kemudian lama tidak digunakan atau berpindah dari habitatnya yang semula. Hampir semua jenis gulma berasal dari jenis-jenis yang liar kemudian masuk habitat yang telah mengalami gangguan manusia. Sebagai buktinya, banyak sekali jenis gulma yang penyebarannya di luar batas-batas penyebaran alaminya seperti Imperata cylindrica, Digitaria sanguinalis, Taraxacum officinale, dan Panicum repens.

D. JENIS- JENIS RUDERAL YANG KOMPETITIF Jenis-jenis tumbuhan dengan adaptasi yang ruderal kompetitif biasanya dijumpai pada habitat-habitat yang produktif di mana dominasi jenis-jenis kompetitor telah dirusak oleh adanya gangguan. Gangguan yang sering kali terjadi dan sangat berat dapat menyebabkan vegetasi yang ada hanya ditumbuhi oleh jenis-jenis ruderal. Lingkungan yang dapat menguntungkan jenis-jenis ruderal kompetitif hanyalah yang mengalami gangguan sekali atau dua kali dalam setahunnya atau selama siklus hidupnya dan tidak mempengaruhi sebagian dari individu yang ada dalam komunitas (Siregar, 2008). Contoh dari habitat jenis ini adalah padang rumput yang mengalami kerusakan musiman (misalnya rerumputan), daerah banjir, daerah yang sering mengalami erosi, dan tepian sungai atau danau. Daerah pertanian semusim juga termasuk ke dalam habitat seperti ini. Tumbuhan yang mempunyai strategi ruderal kompetitif pada umumnya akan mempunyai kecepatan pertumbuhan awal yang cepat, dan mempunyai masa kompetisi yang terjadi sebelum waktu pembungaannya. Herba semusim seperti Ambrosia artemisiifolia, Polygonum pensylvanicum merupakan beberapa contoh yang mempunyai fase vegetatif yang relatif lama. Rumput-rumputan juga mampu menghasilkan berat kering yang cepat dan tinggi. Pendayagunaan secara optimal dari sumberdaya yang diserap dan produksi biji yang tinggi merupakan kriteria utama bagi jenis-jenis ruderal yang kompetitif. Banyak jenis tanaman pangan seperti

gandum, jagung, dan bunga matahari yang merupakan tumbuhan semusim yang mempunyai kecepatan pertumbuhan awal dan menghasilkan indeks luas daun yang tinggi. Jenis-jenis ini juga dapat dikelompokkan ke dalam ruderal yang kompetitif (Siregar, 2008). Jenis-jenis gulma semusim mempunyai peranan penting di dalam menurunkan hasil produksi tanaman pertanian. Jenis-jenis ini pada umumnya dijumpai pada tanah-tanah pertanian yang produktif dan mempunyai karakteristik yaitu pertumbuhan vegetatifnya dengan plastisitas tinggi, kecepatan pertumbuhan awal yang tinggi dan mempunyai fase pertumbuhan vegetatif yang lama baik sebelum maupun sesudah masa pembungaan. Hampir semua jenis gulma ini mengalokasikan sebagian besar sumberdayanya untuk menghasilkan biji. Ciri-ciri ini sesuai dengan karakteristik yang dimiliki oleh jenis-jenis ruderal kompetitif. Meskipun banyak dari gulma yang dikelompokkan ke dalam jenis ruderal kompetitif adalah gulma semusim, tetapi ada beberapa jenis lainnya yang merupakan gulma menahun seperti Agropyron repens dan Sorghum halepense. Jenis-jenis ini cenderung merupakan jenis tumbuhan yang mempunyai stolon dan rizoma yang luas dan berkemampuan untuk pertumbuhan secara vegetatif yang tinggi. Jenis-jenis ini mempunyai daya kompetisi yang tinggi tetapi pada saat fase kecambahnya dapat dengan mudah digantikan oleh jenis-jenis semusim yang lebih kompetitif terutama pada habitat yang sering mendapat gangguan (Arenloveu, 2007). Meskipun demikian, pengolahan tanah dapat mempercepat pertumbuhan dari bagian-bagian vegetatifnya jika jenis-jenis ini sudah berada di daerah itu. Oleh karena itu, adanya gangguan dapat mempercepat pertumbuhan dan penyebaran jenis-jenis ini. Hampir semua jenis gulma yang sering ditemukan di lahan-lahan pertanian telah beradaptasi guna memiliki ciri-ciri jenis ruderal kompetitif. Sebagai ruderal jenis-jenis ini membutuhkan adanya gangguan yang berupa pengolahan tanah untuk pertumbuhannya. Karena untuk memperoleh habitat yang selalu dalam keadaan terganggu adalah tidak mungkin di samping adanya tanaman pangan yang tumbuh, maka jenis-jenis gulma ini perlu juga untuk mengembangkan sifatsifat kompetitifnya.

Pada mulanya gulma pertanian adalah ruderal di habitat alaminya dan dengan adanya pertanian yang dari skala evolusi manusia baru saja terjadi jenis- jenis ini kemudian mengembangkan sifat-sifat yang memungkinkan keberhasilanya pada daerah-daerah yang mempunyai tingkat persaingan yang kuat dan sering kali mendapat gangguan.

E. KOMPETISI 1. Kompetisi Gulma terhadap Tanaman Adanya persaingan gulma dapat mengurangi kemampuan tanaman untuk berproduksi. Persaingan atau kompetisi antara gulma dan tanaman yang dapat kita amati adalah di dalam menyerap unsur-unsur hara dan air dari dalam tanah, dan penerimaan cahaya matahari untuk proses fotosintesis, menimbulkan kerugiankerugian dalam produksi baik kualitas dan kuantitas (Sastroutomo, 1990). a. Persaingan memperebutkan hara Setiap lahan berkapasitas tertentu didalam mendukung pertumbuhan berbagai pertanaman atau tumbuhan yang tumbuh di permukaannya. Jumlah bahan organik yang dapat dihasilkan oleh lahan itu tetap walaupun kompetisi tumbuhannya berbeda, oleh karena itu jika gulma tidak diberantas, maka sebagian hasil bahan organik dari lahan itu berupa gulma. Hal ini berarti walaupun pemupukan dapat menaikkan daya dukung lahan, tetapi tidak dapat mengurangi komposisi hasil tumbuhan atau dengan kata lain gangguan gulma tetap ada dan merugikan walaupun tanah dipupuk. Hara merupakan faktor yang paling penting dalam persaingan antara gulma dan tanaman budidaya. Sejauh mana persaingan atau kompetisi berlaku adalah sangat bergantung pada banyaknya unsur hara yang tersedia di dalam tanah dan jumlah tumbuhan yang terlibat. Unsur-unsur hara yang diperlukan dalam jumlah yang banyak ialah karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, sulfur, kalsium, dan magnesium. Beberapa sifat tumbuhan yang dapat mempengaruhi derajat kompetisi terhadap faktor-faktor pertumbuhan yang ada di dalam tanah telah dapat diidentifikasi yaitu :

1) Kemampuan penetrasi akar ke dalam tanah yang awal dan cepat 2) Tingkat kepadatan akar yang tinggi 3) Perbandingan akar dan batang/rumpun yang tinggi 4) Panjang dan berat akar yang besar 5) Mempunyai proporsi akar yang masih hidup dan aktif yang tinggi 6) Mempunyai bulu-bulu akar yang panjang 7) Mempunyai potensi penyerapan hara yang tinggi

Tumbuh-tumbuhan yang mempunyai kemampuan penyerapan hara yang melebihi efisiensi pemanfaatannya akan mempunyai kemampuan berkompetisi yang lebih tinggi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis gulma yang mempunyai daya kompetisi yang tinggi menyimpan hara yang melebihi tingkat kebutuhannya. Sistem perakaran tanaman mendapat perhatian yang lebih sedikit dibandingkan dengan bagian lain dari tanaman. Hal ini karena sistem perakaran dianggap tidak ekonomis dan sulit untuk dipelajari. Sistem perakaran memiliki dua fungsi utama bagi tanaman, yaitu fungsi secara mekanik yang menyediakan tempat dan sebagai pendukung tanaman dan media pertumbuhan serta fungsi secara fisiologis yaitu sebagai lintasan atau jalur tempat mineral dan air yang diserap oleh tanaman dari larutan tanah. Akar dapat pula berfungsi sebagai organ penyimpan makanan pada beberapa spesies tanaman. Pavlychenko (1940) dalam Siregar (2008) menyatakan bahwa kompetisi mulai terjadi ketika sistem perakaran tanaman saling menginvasi pada area tempat hidup tanaman lain, dan umumnya terjadi dalam waktu lama sebelum terbentuk tajuk yang berkembang cukup untuk berkompetisi pada kebutuhan akan cahaya. Pada iklim kering, akar umumnya terbagi menjadi dua, yaitu sukses atau berhasil dalam berkompetisi antara spesies yang satu dengan spesies lain, kecuali ada adaptasi yang cukup dalam area tersebut. Selanjutnya tajuk yang terbentuk akan berkembang sesuai dengan perkembangan akar tanaman.

Hal yang paling diperebutkan antara pertanaman dan gulma adalah unsur nitrogen, dan karena nitrogen dibutuhkan dalam jumlah yang banyak, maka ini lebih cepat habis terpakai. Gulma menyerap lebih banyak unsur hara daripada pertanaman. Pada bobot kering yang sama, gulma mengandung kadar nitrogen dua kali lebih banyak daripada jagung, fosfat 1,5 kali lebih banyak, kalium 3,5 kali lebih banyak, kalsium 7,5 kali lebih banyak, dan magnesium lebih dari 3 kali. Dapat dikatakan bahwa gulma lebih banyak membutuhkan unsur hara daripada tanaman yang dikelola manusia. b. Persaingan memperebutkan air Kompetisi terhadap air menjadi sangat penting dalam kondisi kering, luas, dan banyak terdapat tanaman. Faktor yang mempengaruhi ketersediaan air bagi pertumbuhan tanaman yaitu jumlah air yang tersedia secara musiman, morfologi tanaman, perkembang akar, dan fisiologi tanaman. Kompetisi air terjadi antara spesies dalam kondisi lingkungan pertanian apabila air dalam kondisi sangat terbatas. Derajat kompetisi antara gulma dan tanaman budidaya terhadap air sangat bergantung pada volume relatif perakaran dari masing-masing jenis yang berkompetisi. Sebagaimana dengan tumbuhan lainnya, gulma juga membutuhkan banyak air untuk hidupnya. Jika ketersediaan air dalam suatu lahan menjadi terbatas, maka persaingan air menjadi parah. Air diserap dari dalam tanah kemudiaan sebagian besar diuapkan (transpirasi) dan hanya sekitar satu persen saja yang dipakai untuk proses fotosintesis. Untuk tiap kilogram bahan organik, gulma membutuhkan 330 – 1900 liter air. Kebutuhan yang besar tersebut hampir dua kali lipat kebutuhan pertanaman. Contoh gulma Helianthus annus membutuhkan air sebesar 2,5 kali tanaman jagung. Persaingan memperebutkan air terjadi serius pada pertanian lahan kering atau tegalan. Air adalah salah satu faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Kebutuhan air tumbuhan atau jumlah air yang hilang per berat kering tumbuhan yang dihasilkan berbeda-beda antara jenis tanaman. c. Persaingan memperebutkan cahaya Apabila ketersediaan air dan hara telah cukup dan pertumbuhan berbagai tumbuhan subur, maka faktor pembatas berikutnya adalah cahaya matahari yang

redup (di musim penghujan) berbagai pertanaman berebut untuk memperoleh cahaya matahari. Tumbuhan yang berhasil bersaing mendapatkan cahaya adalah yang tumbuh lebih dahulu, oleh karena itu tumbuhan itu lebih tua, lebih tinggi dan lebih rimbun tajuknya. Tumbuhan lain yang lebih pendek, muda dan kurang tajuknya, dinaungi oleh tumbuhannya yang terdahulu serta pertumbuhannya akan terhambat. Cahaya matahari adalah sumber energi yang utama bagi semua kehidupan yang ada di bumi. Cahaya tidak hanya mengatur fotosintesis tanaman, namun juga mempengaruhi sebagian besar aspek pertumbuhan tanaman seperti dormansi biji, perkecambahan biji, fototropisme, fotomorfogenesis, dan pembungaan. Seperti halnya pada ekosistem pertanian, cahaya mengatur pertumbuhan, perkembangan, dan kompetisi antara tanaman dan gulma. Tanaman mempunyai respon pada kualitas spektrum cahaya dan untuk mengubah cahaya lingkungan. Keseimbangan energi dari tanaman ditentukan oleh radiasi, karena fotosintesis adalah faktor penentu utama dari produksi biomassa. Hal ini juga karena fotosintesis memiliki peranan yang besar dalam interaksi antara tanaman dengan gulma. Pada bagian ini, fokus utama adalah fotosintesis dan mekanisme fisiologis dari kompetisi tanaman terhadap cahaya. Fotosintesis adalah proses pengubahan energi cahaya ke dalam bentuk energi yang lebih bermanfaat. Dalam hal ini tanaman mengubah energi cahaya ke dalam bentuk energi kimia untuk penggunaan oleh tanaman itu sendiri atau disimpan. Tumbuhan yang berjalur fotosintesis C4 lebih efisien menggunakan air, suhu dan sinar sehingga lebih kuat bersaing berebut cahaya pada keadaan cuaca mendung. Oleh karena itu penting untuk memberantas gulma dari familia Cyperaceae dan Gramineae (Poaceae) di sekitar rumpun-rumpun padi yang berjalur C3. Dari peristiwa persaingan antara gulma dan tanaman pokok didalam memperebutkan unsur hara, air dan cahaya matahari, Eussen (1972) dalam Pemi (2006) mengeluarkan rumus:

TCV = CVN + CVW + CVL

Keterangan:      TCV = Total Competition Value

CVN = Competition Value for Nutrient CVW = Competition Value for Water CVL = competition value for light.

Nilai persaingan total yang disebabkan oleh gulma terhadap tanaman pokok merupakan penggabungan dari nilai persaingan untuk hara + nilai persaingan untuk air + nilai persaingan untuk cahaya.

Besar kecilnya (derajad) persaingan gulma terhadap tanaman pokok akan berpengaruh terhadap baik buruknya pertumbuhan tanaman pokok dan pada gilirannya akan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya hasil tanaman pokok. Besar kecilnya persaingan antara gulma dan tanaman pokok di dalam memperebutkan air, hara dan cahaya atau tinggi rendahnya hambatan terhadap pertumbuhan atau hasil tanaman pokok jika dilihat dari segi gulmanya, dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti berikut ini. a) Kerapatan gulma Semakin rapat gulmanya, persaingan yang terjadi antara gulma dan tanaman pokok semakin hebat, pertumbuhan tanaman pokok semakin terhambat, dan hasilnya semakin menurun. Hubungan antara kerapatan gulma dan pertumbuhan atau hasil tanaman pokok merupakan suatu korelasi negatif. Suroto dkk. (1996) memperlihatkan bahwa perlakuan kerapatan awal teki 25, 50 dan 100 per m2 menurunkan bobot biji kacang tanah per tanaman masing-masing sebesar 14,69 %; 14,88 % dan 17,57 %. b) Macam gulma Masing-masing gulma mempunyai kemampuan bersaing yang berbeda, hambatan terhadap pertumbuhan tanaman pokok berbeda, penurunan hasil tanaman pokok juga berbeda. Sebagai contoh kemampuan bersaing jawan (Echinochloa crusgalli) dan tuton (Echinochloa colonum) terhadap tanaman padi tidak sama atau berbeda.

c) Saat kemunculan gulma Semakin awal saat kemunculan gulma, persaingan yang terjadi semakin hebat, pertumbuhan tanaman pokok semakin terhambat, dan hasilnya semakin menurun. Hubungan antara saat kemunculan gulma dan pertumbuhan atau hasil tanaman pokok merupakan suatu korelasi positif. Hasil penelitian Erida dan Hasanuddin (1996) memperlihatkan bahwa saat kemunculan gulma bersamaan tanam, 15, 30, 45, 60 dan 75 hari setelah tanam masing-masing memberikan bobot biji kedelai sebesar 166,22; 195,82; 196,11; 262,28; 284,77 dan 284,82 g/petak (2m x 3m). d) Lama keberadaan gulma Semakin lama gulma tumbuh bersama dengan tanaman pokok, semakin hebat persaingannya, pertumbuhan tanaman pokok semakin terhambat, dan hasilnya semakin menurun. Hubungan antara lama keberadaan gulma dan pertumbuhan atau hasil tanaman pokok merupakan suatu korelasi negatif. Perlakuan lama keberadaan gulma 0, 15, 30, 45, 60, 75, dan 90 hari setelah tanam masing-masing memberikan bobot biji kedelai sebesar 353,37; 314,34; 271,45; 257,34; 256,64; 250,56 dan 166,22 g/petak (Erida dan Hasanuddin, 1996). e) Kecepatan tumbuh gulma Semakin cepat gulma tumbuh, semakin hebat persaingannya, pertumbuhan tanaman pokok semakin terhambat, dan hasilnya semakin menurun. f) Habitus gulma Gulma yang lebih tinggi dan lebih lebat daunnya, serta lebih luas dan dalam sistem perakarannya memiliki kemampuan bersaing yang lebih, sehingga akan lebih menghambat pertumbuhan dan menurunkan hasil tanaman pokok g) Jalur fotosintesis gulma (C3 atau C4) Gulma yang memiliki jalur fotosintesis C4 lebih efisien, sehingga persaingannya lebih hebat, pertumbuhan tanaman pokok lebih terhambat, dan hasilnya semakin menurun. h) Allelopati Beberapa species gulma menyaingi tanaman dengan mengeluarkan senyawa dan zat-zat beracun dari akarnya (root exudates atau lechates) atau dari pembusukan

bagian vegetatifnya. Bagi gulma yang mengeluarkan allelopat mempunyai kemampuan bersaing yang lebih hebat sehingga pertumbuhan tanaman pokok lebih terhambat, dan hasilnya semakin menurun. Di samping itu kemiripan gulma dengan tanaman juga mempunyai arti penting. Masing-masing pertanaman memiliki asosiasi gulma tertentu dan gulma yang lebih berbahaya adalah yang mirip dengan pertanamannnya. Sebagai contoh Echinochloa crusgalli lebih mampu bersaing terhadap padi jika dibandingkan dengan gulma lainnya.

2. Kompetisi Intraspesifik dan Interspesifik Gulma dan pertanaman yang dibudidayakan manusia adalah sama-sama tumbuhan yang mempunyai kebutuhan yang serupa untuk pertumbuhan normalnya. Kedua tumbuhan ini sama-sama membutuhkan cahaya, air, hara gas CO2 dan gas lainnya, ruang, dan lain sebagainya. Apabila dua tumbuhan tumbuh berdekatan, maka akan perakaran kedua tumbuhan itu akan terjalin rapat satu sama lain dan tajuk kedua tumbuhan akan saling menaungi, dengan akibat tumbuhan yang memiliki sistem perakaran yang lebih luas, lebih dalam dan lebih besar volumenya serta lebih tinggi dan rimbun tajuknya akan lebih menguasai (mendominasi) tumbuhan lainnya. Dengan demikian perbedaan sifat dan habitus tumbuhanlah yang merupakan penyebab terjadinya persaingan antara individu-individu dalam spesies tumbuhan yang sama (intra spesific competition atau kompetisi intra spesifik) dan persaingan antara individu-individu dalam spesies tumbuhan yang berbeda (inter spesific competition atau kompetisi inter spesifik). Persaingan gulma terhadap pertanaman disebabkan antara lain oleh karena gulma lebih tinggi dan lebih rimbun tajuknya, serta lebih luas dan dalam sistem perakarannya, sehingga pertanaman kalah bersaing dengan gulma tersebut.

3. Periode Kritis Dalam pertumbuhan tanaman terdapat selang waktu tertentu dimana tanaman sangat peka terhadap persaingan gulma (Sastroutomo, 1990). Keberadaan atau munculnya gulma pada periode waktu tersebut dengan kepadatan tertentu yaitu

tingkat ambang kritis akan menyebabkan penurunan hasil secara nyata. Periode waktu dimana tanaman peka terhadap persaingan dengan gulma dikenal sebagai periode kritis tanaman. Periode kritis adalah periode maksimum dimana setelah periode tersebut dilalui maka keberadaan gulma selanjutnya tidak terpengaruh terhadap hasil akhir. Dalam periode kritis, adanya gulma yang tumbuh di sekitar tanaman harus dikendalikan agar tidak menimbulkan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan hasil akhir tanaman tersebut. Periode kritis adalah periode dimana tanaman pokok sangat peka atau sensitif terhadap persaingan gulma, sehingga pada periode tersebut perlu dilakukan pengendalian, dan jika tidak dilakukan maka hasil tanaman pokok akan menurun. Pada umumnya persaingan gulma terhadap pertanaman terjadi dan terparah pada saat 25 – 33 % pertama pada siklus hidupnya atau ¼ – 1/3 pertama dari umur pertanaman. Persaingan gulma pada awal pertumbuhan tanaman akan mengurangi kuantitas hasil panenan, sedangkan gangguan persaingan gulma menjelang panen berpengaruh lebih besar terhadap kualitas hasil panenan. Waktu pemunculan (emergence) gulma terhadap pertanaman merupakan faktor penting di dalam persaingan. Gulma yang muncul atau berkecambah lebih dahulu atau bersamaan dengan tanaman yang dikelola, berakibat besar terhadap pertumbuhan dan hasil panenan. Sedangkan gulma yang berkecambah (2-4 minggu) setelah pemunculan pertanaman sedikit pengaruhnya (Siregar, 2008). Dengan diketahuinya periode kritis suatu tanaman, maka saat penyiangan yang tepat menjadi tertentu. Penyiangan atau pengendalian yang dilakukan pada saat periode kritis mempunyai beberapa keuntungan. Misalnya frekuensi pengendalian menjadi berkurang karena terbatas di antara periode kritis tersebut dan tidak harus dalam seluruh siklus hidupnya. Dengan demikian biaya, tenaga dan waktu dapat ditekan sekecil mungkin dan efektifitas kerja menjadi meningkat.

F. INTERAKSI ANTARA GULMA DENGAN VEGETASI LAIN 1. Interaksi Positif a. Komensalisme Merupakan hubungan satu arah antara dua organisme hidup, terjadi bila salah satu jenis tumbuhan mendapat keuntungan, sedangkan jenis yang lainnya tidak. Komensalisme pada tumbuhan biasa dijumpai dalam bentuk epifit (tumbuhan yang melekat pada tumbuhan lainnya), yang memanfaatkan inangnya untuk membantu pertumbuhan secara fisik, bukan untuk memenuhi kebutuhannya akan unsur hara dan air yang diperoleh dari air hujan atau kelembaban (Sastroutomo, 1990). b. Protokoperasi Dihasilkan jika kedua jenis individu mendapat keuntungan dari adanya interaksi, tetapi tidak jika interaksinya ditiadakan. Biasanya peristiwa ini terjadi pada tumbuhan tingkat tinggi yang perakarannya berada dalam lapisan tanah yang sama kedalamannya. Adanya mikoriza semakin memperlancar protokoperasi. Tipe lain dari interaksi tumbuhan yang sering menghasilkan pengaruh negatif adalah adanya pengeluaran cairan kimiawi dari akar suatu jenis tumbuhan yang kemudian diserap oleh perakaran tumbuhan jenis lainnya. Sangat sedikit yang telah diketahui mengenai hal asosiasi yang menguntungkan pada interaksi gulma dengan tanaman atau antara gulma dengan gulma. Yang paling banyak diketahui ialah yang terjadi pada pertanaman campuran atau pertanaman yang digilir. Dalam pertanaman campuran perlu diketahui beberapa hal yaitu padat penebaran tumbuhan, jarak tanam, fase pertumbuhan, waktu tanam, kesuburan tanah dalam merancang dan mengevaluasi hasilnya. c. Mutualisme bersifat obligatif Yaitu kedua jenis individu tumbuhan saling tergantung satu sama lainnya. Keduanya mendapat keuntungan pada saat interaksi terjadi dan akan saling mendapat kerugian jika interaksinya ditiadakan (Sastroutomo, 1990). Mutualisme harus dibedakan dengan jelas dengan protokoperasi seperti misalnya pada pertanaman campuran. Panenan yang dihasilkan pada pertanaman campuran biasanya diperoleh

sebagai akibat tidak adanya kerugian yang timbul dari adanya interaksi dan bukan sebagai akibat adanya keuntungan yang diperoleh satu sama lain. Simbiosis adalah istilah lain yang biasa digunakan untuk interaksi positif. Dapat juga didefinisikan sebagai asosiasi yang saling menguntungkan dan permanen dari dua jenis orgenisme yang berbeda. Melalui asosiasi semacam ini tumbuhan dapat bertahan hidup meskipun dalam keadaan hara miskin yang tidak memungkinkan jenis lainnya hidup secara normal. Jenis lain dari hubungan mutualisme yang menyangkut tumbuhan tingkat tinggi adalah simbiosis pengikatan nitrogen. Kebanyakan simbion ini secara morfologis berbeda dengan bentuk bebasnya meskipun dari genus yang sama. Asosiasi Azolla-Anabaena merupakan satu-satunya hubungan mutualistik yang telah diungkapkan secara agronomi sangat penting artinya. Asosiasi kedua organisme ini dimanfaatkan sebagai sumber pupuk bagi tanaman padi. Banyak segi yang menguntungkan dari sistem tanam campuran seperti ini, terutama sekali adanya asosiasi simbiose pengikat nitrogen dari kacang-kacangan dan bakteri (Sastroutomo, 1990). Pentingnya simbiose antara Rhyzobium dan kacang-kacangan adalah adanya siklus hara terutama nitrogen yang terus-menerus dan tidak terputus serta adanya kehidupan yang panjang dari organ-organ yang dapat melakukan penyerapan. Dalam kaitannya dengan evolusi, interaksi yang positif menguntungkan dilihat dari segi ketahanan hidup organisme yang berinteraksi dan ini lebih sering terjadi jika dibandingkan dengan yang berinteraksi secara negatif.

2. Interaksi Negatif a. Kompetisi dan Kepadatan Pengaruh tingkat kepadatan terhadap pertumbuhan. Kepadatan didefinisikan sebagai jumlah individu per satuan luas. Tumbuhan dengan tingkat kepadatan yang tinggi akan cepat mengalami tekanan dari tumbuhan yang berada di sekelilingnya karena jarak yang dekat. Pada fase awal pertumbuhan atau tingkat kepadatan yang rendah, hasil panen sangat dipengaruhi oleh jumlah individu, tetapi setelah sumber

daya yang ada semakin berkurang hasil panen tidak dipengaruhi lagi oleh kepadatan (Sastroutomo, 1990). Dengan meningkatnya kepadatan, gangguan yang ditimbulkan oleh gulma akan semakin meningkat. Respon tanaman terhadap tekanan kepadatan gulma terjadi melalui dua cara yaitu respon plastisitas yaitu terjadinya perubahan morfologi tumbuhan, misalnya daun menjadi sempit, tanaman kerdil dan yang kedua melalui kematian tumbuhan itu sendiri. Pemanfaatan ruang. Pada suatu tingkat kepadatan tertentu dari suatu jenis populasi tumbuhan akan dijumpai distribusi ukuran yang merupakan karakteristik dari individu-individunya. Lokasi tempat individu menempati ukuran kelasnya ditentukan sejak awal masa pertumbuhan kecambahnya. Ruangan yang dikuasai oleh masing-masing jenis sesuai dengan beratnya masing-masing. Setiap tumbuhan akan berhenti tumbuh jika ruang yang ditempatinya dikuasai oleh tumbuhan jenis lain. Pengendalian gulma ditujukan untuk mengurangi tingkat kepadatan yang ada, maka harus dilakukan sewaktu ruang yang tersedia masih cukup luas sehingga tanaman budidaya yang ditanam dapat tumbuh tidak terbatasi ruang. Pengaruh kepadatan terhadap mortalitas. Tumbuhan mempunyai kemampuan bawaan untuk mengendalikan populasi individu-individunya pada saat ruang yang tersedia mulai menjadi semakin terbatas bagi pertumbuhannya (hukum 2/3 daya dengan model matematisnya yang merupakan hubungan antara berat tumbuhan dan kepadatan yang terjadi akibat penjarangan). Tingkat kematian pohon meningkat secara nyata dengan semakin rapatnya jarak tanam. Semakin meningkatnya jumlah faktor pembatas misalnya kesuburan, akan meningkatkan angka kematian sebagai akibat meningkatnya kepadatan individu. Hal ini terjadi karena jenis-jenis yang dominan pada keadaan seperti ini akan memanfaatkan sumber daya yang ada semaksimal mungkin sehingga biasanya individu yang besar ukurannya akan semakin membesar sedangkan yang ukurannya kecil akan semakin tertekan pertumbuhannya atau menjadi mati (Sastroutomo, 1990). Pengaruh kepadatan terhadap daya reproduksi. Keberhasilan suatu jenis tumbuhan dalam menguasai suatu tempat diikuti dengan keberhasilannya dalam

memperbanyak keturunan. Pada jenis gulma setahun dapat memanfaatkan respon kepadatan dan mortalitas untuk mengatur dan mempertahankan hasil reproduksi secara tetap. Biasanya jenis gulma yang luput dari pengendalian akan tumbuh dan berkembang menghasilkan biji yang kemudian akan menguasai daerah kosong itu. Pengendalian yang efektif adalah pengendalian yang memperhatikan jumlah atau tingkat kepadatan kritis gulma yang dapat mempengaruhi hasil panen daripada jumlah biji yang ada di dalam tanah. Gangguan dan campuran jenis. Dasar-dasar yang dibahas dalam populasi sesama jenis dapat juga diterapkan untuk populasi jenis campuran karena pada kenyataannya campuran beberapa jenis tumbuhan lebih banyak dijumpai di alam. Jika dua jenis tumbuh-tumbuhan ditanam bersama-sama maka lambatnya waktu perkecambahan dari jenis yang satu akan sangat mempengaruhi peranannya terhadap dominansinya terhadap jenis yang lain. Umumnya keterlambatan masa tanam tidak mempunyai pengaruh nyata terhadap hasil akhir total dari kedua jenis tumbuhan ini. Adakalanya pengaruh depresif dari suatu jenis tumbuhan terhadap jenis lainnya sangat kompleks sehingga kompetisi akan sumber daya yang sifatnya umum saja tidak akan menjelaskan hasil pengamatan secara jelas dan lengkap. Tingkat kematian yang mencolok atau penurunan biomassa tumbuhan dapat terjadi secara nyata pada jenis yang satu tetapi tidak ada pengaruhnya pada jenis yang lain. Keadaan seperti ini lebih dikenal sebagai komensalisme. Beberapa jenis tumbuhan dapat melepaskan senyawa beracun ke dalam lingkungan tempat berbagai jenis tumbuhan lain hidup yang dapat meracuni tumbuhan ini (alellopati: yang pengaruhnya berbeda dari jenis interaksi negatif lainnya) (Sastroutomo, 1990). b. Mekanisme Kompetisi Sebagian besar studi mengenai kompetisi tanaman telah terpusat pada fenomena dan pengaruh ukuran tanaman dan hasil panen tanpa memeriksa mekanisme yang terjadi pada kompetisi. Shainsky dan Radosevich (1992) dalam Siregar (2008) menyatakan bahwa mekanisme kompetisi untuk sumber daya harus ditunjukkan oleh:

 Penipisan sumber daya yang dihubungkan dengan kehadiran dan banyaknya tanaman tetangga.  Perubahan dalam respon pertumbuhan secara morfologi dan fisiologi yang dihubungkan dengan perubahan pada sumber daya.  Hubungan atau korelasi antara kehadiran tanaman tetangga, penipisan sumber daya, dan respon pertumbuhan. Mekanisme kompetisi tanaman terdiri atas pengaruh yang tanaman miliki pada sumber daya dan respon dari tanaman untuk merubah sumber daya tersebut (Goldberg, 1990 dalam Siregar 2008). Dua teori yang berbeda yang telah diterima secara luas adalah teori dari Grime (1979), Tilman 1988), dan Grace (1990, 1991). c. Teori Grime dan Tilman Grime menjelaskan tentang kehidupan tanaman dan pengaruh gangguan dan stres, yang menjelaskan karakteristik tanaman. Menurut Grime, kompetisi adalah kecenderungan tanaman tetangga untuk menggunakan sumber daya yang sama dan sukses dalam kompetisi, yang berhubungan dengan kapasitas penggunaan sumber daya (Grace (1990), Grime (1979) dalam Siregar (2008)). Kompetitor yang baik memiliki Relative Growth Rate (RGR) yang tinggi dan dapat menggunakan sumber daya secara cepat. Tilman menjabarkan teori yang lebih mekanistik, dan berdasarkan sumber daya dari kompetisi tanaman (Tilman, 1988 dalam Siregar, 2008) yang memprediksi keberhasilan kompetisi sebagai fungsi pemusatan dari keterbatasan sumber daya (Grace, 1991 dalam Siregar, 2008). Keberhasilan kompetisi dalam teori ini adalah kemampuan untuk menggambarkan penurunan sumber daya pada tingkat yang lebih rendah dan untuk menyesuaikan terhadap penurunan tersebut. Kompetitor yang baik dalam kasus seperti ini adalah spesies yang memiliki kebutuhan penggunaan sumber daya yang paling rendah. Meski banyak perdebatan mengenai keabsahan dan relevansi kedua teori ini, beberapa perbedaan dari keduanya dijelaskan oleh kerangka waktu dan diasosiasikan dengan pengertian tentang kompetisi. Sebagai contoh, Teori “toleransi stress” yang dikemukakan oleh Grime dapat dibandingkan dengan teori “kompetitor” yang

dikemukakan oleh Tilman (Grace, 1990 dalam Siregar, 2008). Selanjutnya, sementara Grime memfokuskan pada peranan dari ciri tanaman dalam kompetisi, teori Tilman berhubungan dengan pergerakan populasi dan tidak terpaku hanya pada individu tanaman saja. Lebih lanjut lagi, kedua teori tersebut menjelaskan bagaimana spesies tanaman saling berkompetisi pada kondisi sumber daya yang terbatas dan peranan dari ciri tanaman dalam memberi kemampuan untuk berkompetisi dengan tanaman lain. d. Parasitisme Adaptasi gulma parasit untuk pemencaran biji dan perkecambahan. Guna mempertahankan diri dari kematian, kecambah dari gulma-gulma parasit harus dengan cepat mendapatkan tumbuhan inangnya yang sesuai. Ada 3 cara bagi gulma parasit ini untuk meningkatkan peluang guna mendapatkan inangnya misalnya pada tali putri, bijinya mempunyai ukuran yang relatif besar sehingga mempunyai cukup persediaan makanan yang memungkinkan serabut akar dapat tumbuh dengan pesat sebelum memperoleh inangnya (apabila tali putri tidak mendapat inang dalam waktu 4-9 hari maka tanaman ini akan mati). Mekanisme lain adalah melalui perantaraan burung-burung. Adapun cara ketiga, untuk menentukan lokasi inangnya adalah dengan identifikasi cairan kimiawi yang dihasilkan oleh akar tumbuhan inangnya (tumbuhan parasit Orobanche dan Striga). Meskipun perkecambahan semacam ini merupakan salah satu cara pertahanan diri agar dapat hidup, keadaan seperti ini dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan gulma jenis ini. Banyak jenis gulma parasit yang mengandung klorofil, sebagian besar lagi tidak mempunyai hijau daun ini. Beberapa jenis yang mempunyai hijau daun memiliki aktifitas fotosintesis yang terbatas sedangkan jenis lainnya dapat mengikat karbon secara normal seperti pada jenis-jenis tumbuhan yang bukan parasit. Haustorium merupakan organ yang paling penting dari gulma parasit yang digunakan untuk melekat dan menembus jaringan tubuh tanaman inang. Variasi dalam struktur dan komposisi haustoria tergantung pada jenis gulma parasitnya. Meskipun demikian,

semuanya memiliki fungsi yang sama yaitu untuk melekatkan diri dan menyerap makanan dari tanaman inangnya. e. Amensalisme Amensalisme adalah suatu bentuk interaksi antara dua individu atau lebih, dimana salah satu pihak menderita kerugian sedangkan pihak lain tidak diuntungkan. Hubungan yang bersifat amensalisme ini lebih dikenal dengan peristiwa allelopati. Jenis-jenis gulma tertentu mampu mensekresikan senyawa metabolit sekunder yang mampu meracuni vegetasi di sekitarnya. Contoh nyata fenomena ini adalah kemampuan Imperata cylindrica melepaskan senyawa fenol ke lingkungan sehingga menekan pertumbuhan vegetasi lain. Apabila suatu lahan diinvasi oleh gulma ini, maka komunitas Imperata cylindrica tersebut akan mampu mendominasi areal dalam jangka waktu yang cukup lama. Penelitian di masa depan akan difokuskan pada pencakokan gen allelopati ini terhadap tanaman budidaya. Bila transfer gen tersebut berhasil maka akan dihasilkan suatu varietas tanaman yang secara alamiah mampu menekan pertumbuhan gulma.

G. KERUGIAN AKIBAT GULMA Produksi tanaman pertanian, baik yang diusahakan dalam bentuk pertanian rakyat ataupun perkebunan besar ditentukan oleh beberapa faktor antara lain hama, penyakit dan gulma. Kerugian akibat gulma terhadap tanaman budidaya bervariasi, tergantung dari jenis tanamannya, iklim, jenis gulmanya, dan tentu saja praktek pertanian di samping faktor lain. Persaingan antara gulma dengan tanaman yang kita usahakan dalam mengambil unsur-unsur hara dan air dari dalam tanah dan penerimaan cahaya matahari untuk proses fotosintesis, menimbulkan kerugian-kerugian dalam produksi baik kualitas maupun kuantitas. Cramer (1975) dalam Pemi (2006) menyebutkan kerugian berupa penurunan produksi dari beberapa tanaman dalah sebagai berikut : padi 10,8 %; sorgum 17,8 %; jagung 13 %; tebu 15,7 %; coklat 11,9 %; kedelai 13,5 % dan kacang tanah 11,8 %. Menurut percobaan-percobaan pemberantasan gulma

pada padi terdapat penurunan oleh persaingan gulma tersebut antara 25-50 %. Gulma mengkibatkan kerugian-kerugian yang antara lain disebabkan oleh : 1. Persaingan antara tanaman utama sehingga mengurangi kemampuan berproduksi, terjadi persaingan dalam pengambilan air, unsur-unsur hara dari tanah, cahaya dan ruang lingkup. 2. Pengotoran kualitas produksi pertanian, misalnya pengotoran benih oleh biji-biji gulma. 3. Allelopathy yaitu pengeluaran senyawa kimiawi oleh gulma yang beracun bagi tanaman yang lainnya, sehingga merusak pertumbuhannya. 4. Gangguan kelancaran pekerjaan para petani, misalnya adanya duri-duri Amaranthus spinosus, Mimosa spinosa di antara tanaman yang diusahakan. 5. Perantara atau sumber penyakit atau hama pada tanaman, misalnya Lersia hexandra dan Cynodon dactylon merupakan tumbuhan inang hama ganjur pada padi. 6. Gangguan kesehatan manusia, misalnya ada suatu gulma yang tepung sarinya menyebabkan alergi. 7. Kenaikkan ongkos-ongkos usaha pertanian, misalnya menambah tenaga dan waktu dalam pengerjaan tanah, penyiangan, perbaikan selokan dari gulma yang menyumbat air irigasi. 8. Gulma air mengurangi efisiensi sistem irigasi, yang paling mengganggu dan tersebar luas ialah eceng gondok (Eichhornia crssipes). Terjadi pemborosan air karena penguapan dan juga mengurangi aliran air. Kehilangan air oleh penguapan itu 7,8 kali lebih banyak dibandingkan dengan air terbuka. Di Rawa Pening gulma air dapat menimbulkan pulau terapung yang mengganggu penetrasi sinar matahari ke permukaan air, mengurangi zat oksigen dalam air dan menurunkan produktivitas air. Dalam kurun waktu yang panjang kerugian akibat gulma dapat lebih besar daripada kerugian akibat hama atau penyakit. Di negara-negara sedang berkembang (Indonesia, India, Filipina, Thailand) kerugian akibat gulma sama besarnya dengan kerugian akibat hama.

H. CARA-CARA PENGENDALIAN GULMA Pengendalian dapat berbentuk pencegahan dan pemberantasan. Mencegah biasanya lebih murah tetapi tidak selalu lebih mudah. Di negara-negara yang sedang membangun kegiatan pengendalian yang banyak dilakukan orang adalah pemberantasan. Menurut Kapugu (2006) pengendalian gulma dapat dilakukan dengan cara-cara: 1. Preventif (pencegahan) Cara ini teruatama ditujukan terhadap species-species gulma yang sangat merugikan dan belum terdapat tumbuh di lingkungan kita. Species gulma asing yang cocok tumbuh di tempat-tempat baru dapat menjadi pengganggu yang dahsyat (eksplosif). Misalnya kaktus di Australia, eceng gondok di Asia-Afrika. Cara-cara pencegahan masuk dan menyebarkan gulma baru antara lain adalah : a) Dengan pembersihan bibit-bibit pertanaman dari kontaminasi biji-biji gulma b) Pencegahan pemakaian pupuk kandang yang belum matang c) Pencegahan pengangkutan jarak jauh jerami dan rumput-rumput makanan ternak. d) Pemberantasan gulma di sisi-sisi sungai dan saluran-saluran pengairan e) Pembersihan ternak yang akan diangkut f) Pencegahan pengangkutan tanaman berikut tanahnya dan lain sebagainya. Apabila hal-hal tersebut di atas tidak dapat dilaksanakan dengan baik, maka harus dicegah pula agar jangan sampai gulma berbuah dan berbunga. Di samping itu juga mencegah gulma tahunan (perennial weeds) jangan sampai berbiak terutama dengan cara vegetatif.

2. Pengendalian gulma secara fisik Pengendalian gulma secara fisik ini dapat dilakukan dengan jalan : a. Pengolahan tanah Pengolahan tanah dengan menggunakan alat-alat seperti cangkul, garu, bajak, traktor dan sebagainya pada umumnya juga berfungsi untuk memberantas gulma. Efektifitas alat-alat pengolah tanah di dalam memberantas gulma tergantung beberapa

faktor seperti siklus hidup dari gulma atau kropnya, dalam dan penyebaran akar, umur dan ukuran infestasi, macamnya krop yang ditanaman, jenis dan topografi tanah dan iklim. b. Pembabatan (pemangkasan, mowing) Pembabatan umumnya hanya efektif untuk mematikan gulma setahun dan relatif kurang efektif untuk gulma tahunan. Efektivitas cara ini tergantung pada waktu pemangkasan, interval (ulangan) dan sebagainya. Pembabatan biasanya dilakukan di perkebunan yang mempunyai krop berupa pohon, pada halaman-halaman, tepi jalan umum, jalan kereeta pai, padang rumput dan sebagainya. Pembabatan sebaiknya dilakukan pada waktu gulma menjelang berbunga atau pada waktu daunnya sedang tumbuh dengan hebat. c. Penggenangan Penggenangan efektif untuk memberantas gulma tahunan. Caranya dengan menggenangi sedalam 15 – 25 cm selama 3 – 8 minggu. Gulma yang digenangi harus cukup terendam, karena bila sebagian daunnya muncul di atas air maka gulma tersebut umumnya masih dapat hidup. d. Pembakaran Suhu kritis yang menyebabkan kematian pada kebanyakan sel adalah 45 – 550C, tetapi biji-biji yang kering lebih tahan daripada tumbuhannya yang hidup. Kematian dari sel-sel yang hidup pada suhu di atas disebabkan oleh koagulasi pada protoplasmanya. Pembakaran secara terbatas masih sering dilakukan untuk membersihkan tempat-tempat dari sisa-sisa tumbuhan setelah dipangkas. Pembakaran umumnya banyak dilakukan pada tanah-tanah yang non pertanian, seperti di pinggir-pinggir jalan, pinggir kali, hutan dan tanah-tanah industri. Keuntungan pembakaran untuk pemberantasan gulma dibanding dengan pemberantasan secara kimiawi adalah pada pembakaran tidak terdapat efek residu pada tanah dan tanaman. Keuntungan lain dari pembakaran ialah insekta-insekta dan hama-hama lain serta penyakit seperti cendawan-cendawan ikut dimatikan. Kejelekannya ialah bahaya kebakaran bagi sekelilingnya, mengurangi kandungan

humus atau mikroorganisme tanah, dapat memperbesar erosi, biji-biji gulma tertentu tidak mati, asapnya dapat menimbulkan alergi dan sebagainya. e. Mulsa (mulching, penutup seresah) Penggunaan mulsa dimaksudkan untuk mencegah agar cahaya matahari tidak sampai ke gulma, sehingga gulma tidak dapat melakukan fotosintesis, akhirnya akan mati dan pertumbuhan yang baru (perkecambahan) dapat dicegah. Bahan-bahan yang dapat digunakan untuk mulsa antara lain jerami, pupuk hijau, sekam, serbuk gergaji, kertas dan plastik.

3. Pengendalian gulma dengan sistem budidaya Cara pengendalian ini jiga disebut pengendalian secara ekologis, oleh karena menggunakan prinsip-prinsip ekologi yaitu mengelola lingkungan sedemikian rupa sehingga mendukung dan menguntungkan pertanaman tetapi merugikan bagi gulmanya. Menurut Kapugu (2006) di dalam pengendalian gulma dengan sistem budidaya ini terdapat beberapa cara yaitu : a. Pergiliran Tanaman Pergiliran tanaman bertujuan untuk mengatur dan menekan populasi gulma dalam ambang yang tidak membahayakan. Contoh : padi – tebu – kedelai, padi – tembakau – padi. Tanaman tertentu biasanya mempunyai jenis gulma tertentu pula, karena biasanya jenis gulma itu dapat hidup dengan leluasa pada kondisi yang cocok untuk pertumbuhannya. Sebagai contoh gulma teki (Cyperus rotundus) sering berada dengan baik dan mengganggu pertanaman tanah kering yang berumur setahun (misalnya pada tanaman cabe, tomat, dan sebagainya). Demikian pula dengan wewehan (Monochoria vaginalis) di sawah-sawah. Dengan pergiliran tanaman, kondisi mikroklimat akan dapat berubah-ubah, sehingga gulma hidupnya tidak senyaman sebelumnya. b. Budidaya pertanaman Penggunaan varietas tanaman yang cocok untuk suatu daerah merupakan tindakan yang sangat membantu mengatasi masalah gulma. Penanaman rapat agar tajuk tanaman segera menutupi ruang-ruang kosong merupakan cara yang efektif

untuk menekan gulma. Pemupukan yang tepat merupakan cara untuk mempercepat pertumbuhan tanaman sehingga mempertinggi daya saing pertanaman terhadap gulma. Waktu tanaman lambat, dengan membiarkan gulma tumbuh lebih dulu lalu diberantas dengan pengolahan tanah atau herbisida. Baru kemudian tanaman ditanam pada tanah yang sebagian besar gulmanya telah mati terberantas. c. Penaungan dengan tumbuhan penutup (cover crops) Mencegah perkecambahan dan pertumbuhan gulma, sambil membantu pertanaman pokoknya dengan pupuk nitrogen yang kadang-kadang dapat dihasilkan sendiri.

4. Pengendalian gulma secara biologis Pengendalian gulma secara biologis (hayati) ialah pengendalian gulma dengan menggunakan organisme lain, seperti insekta, fungi, ternak, ikan dan sebagainya. Pengendalian biologis yang intensif dengan insekta atau fungi biasanya hanya ditujukan terhadap suatu species gulma asing yang telah menyebar secara luas dan ini harus melalui proses penelitian yang lama serta membutuhkan ketelitian. Juga harus yakin apabila species gulma yang akan dikendalikan itu habis, insekta atau fungi tersebut tidak menyerang tanaman atau tumbuhan lain yang mempunyai arti ekonomis. Sebagai contoh pengendalian biologis dengan insekta yang berhasil ialah pengendalian kaktus Opuntia spp. Di Australia dengan menggunakan Cactoblastis cactorum, dan pengendalian Salvinia sp. dengan menggunakan Cyrtobagous singularis. Demikian juga eceng gondok (Eichhornia crassipes) dapat dikendalikan secara biologis dengan kumbang penggerek Neochetina bruchi dan Neochetina eichhorniae. Sedangkan jamur atau fungi yang berpotensi dapat mengendalikan gulma secara biologis ialah Uredo eichhorniae untuk eceng gondok, Myrothesium roridum untuk kiambang , dan Cerospora sp. untuk kayu apu. Di samping pengendalian biologis yang tidak begitu spesifik terhadap species-species tertentu seperti penggunaan ternak dalam pengembalaan, kalkun pada perkebunan kapas, ikan yang memakan gulma air dan sebagainya.

5. Pengendalian gulma secara kimiawi Pengendalian gulma secara kimiawi adalah pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida. Yang dimaksud dengan herbisida adalah senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma, baik secara selektif maupun non selektif. Macam herbisida yang dipilih bisa kontak maupun sistemik, dan penggunaannya bisa pada saat pratanam, pratumbuh atau pasca tumbuh. Keuntungan pengendalian gulma secara kimiawi adalah cepat dan efektif, terutama untuk areal yang luas. Beberapa segi negatifnya ialah bahaya keracunan tanaman, mempunyai efek residu terhadap alam sekitar dan sebagainya. Sehubungan dengan sifatnya ini maka pengendalian gulma secara kimiawi ini harus merupakan pilihan terakhir apabila cara-cara pengendalian gulma lainnya tidak berhasil. Untuk berhasilnya cara ini memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang cukup dan untuk itu akan diuraikan tersendiri lebih lanjut.

6. Pengendalian gulma secara terpadu Pengendalian gulma secara terpadu yaitu pengendalian gulma dengan menggunakan beberapa cara secara bersamaan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. Walaupun telah dikenal beberapa cara pengendalian gulma antara lain secara budidaya, fisik, biologis dan kimiawi serta preventif, tetapi tidak satupun cara-cara tersebut dapat mengendalikan gulma secara tuntas. Untuk dapat mengendalikan suatu species gulma yang menimbulkan masalah ternyata dibutuhkan lebih dari satu cara pengendalian. Cara-cara yang dikombinasikan dalam cara pengendalian secara terpadu ini tergantung pada situasi, kondisi dan tujuan masing-masing, tetapi umumnya diarahkan agar mendapatkan interaksi yang positif, misalnya paduan antara pengolahan tanah dengan pemakaian herbisida, jarak tanam dengan penyiangan, pemupukan dengan herbisida dan sebagainya, di samping cara-cara pengelolaan pertanaman yang lain.

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN 1. Gulma menimbulkan kerugian-kerugian karena mengadakan persaingan dengan tanaman pokok, mengotori kualitas produksi pertanian, menimbulkan allelopathy, mengganggu kelancaran pekerjaan para petani, sebagai perantara atau sumber hama dan penyakit, mengganggu kesehatan manusia, menaikkan ongkos-ongkos usaha pertanian dan menurunkan produktivitas air. 2. Gulma dan pertanaman mengadakan persaingan memperebutkan hara, air dan cahaya, sehingga TCV = CVN + CVW + CVL. Besar kecilnya persaingan gulma terhadap tanaman pokok akan berpengaruh terhadap baik buruknya pertumbuhan tanaman pokok dan pada gilirannya akan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya hasil tanaman pokok. 3. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan beberapa cara, yakni secara preventif, secara fisik, dengan sistem budidaya, secara biologis, secara kimiawi, dan secara terpadu. 4. Tinggi rendahnya hasil tanaman pokok, jika dilihat dari segi gulmanya sangat ditentukan oleh kerapatan gulma, macam gulma, saat kemunculan gulma, kecepatan tumbuh gulma, lama keberadaan gulma, habitus gulma, jalur fotosintesis gulma (C3 atau C4), dan ada tidaknya allelopati. 5. Dalam pertumbuhan tanaman terdapat selang waktu tertentu di mana tanaman sangat peka atau sensitif terhadap persaingan gulma, sehingga pada periode tersebut perlu dilakukan pengendalian, dan jika tidak maka hasil tanaman akan menurun. Pada umumnya periode kritis terjadi pada saat 25 – 33 % pertama pada siklus hidupnya atau pada saat ¼ – 1/3 pertama dari umur pertanaman. Dengan diketahui periode kritis suatu tanaman maka saat penyiangan yang tepat menjadi tertentu. Penyiangan gulma dilakukan pada saat periode kritis.

B. SARAN 1. Untuk para pembaca sebaiknya segala informasi yang ada dalam makalah ini dapat digunakan sebagai referensi tambahan mengenai gulma, sehingga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua pembacanya. 2. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai macam- macam gulma beserta sifatnya, sehingga gulma yang sebagian besar dapat mengganggu tanaman budidaya dapat dimanfaatkan juga, bahkan menambah nilai produksi tanaman budidaya. Selain itu juga dilakukan penelitian mengenai tanaman yang dapat menjadi alelopat dari tanaman gulma, sehingga dapat dilakukan pengendalian gulma secara alamiah. 3. Bagi para petani/ pembudidaya tanaman sebaiknya tidak menggunakan herbisida untuk pengendalian gulma, karena penggunaan zat kimia dapat terakumulasi dan mampu menjadi zat yang meracuni tanaman budidaya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2007. Gulma. (Online). (http://www.wikipedia.com/~pavel/science/gulma.htm&usg, diakses 23 Oktober 2010). Arenloveu. 2007. Gulma Tanaman. (Online), (http://www.morjournal.cbn.net.id/informasi/TNT/.pdf, diakses 24 Oktober 2010). Kapugu, Lita. 2006. Pengendalian Gulma. (Online), (http://www.google.co.id/search?q=pengendalian%2gulma%2interaksi=Telus uri&hl=id&client=firefox-a&rls, diakses 23 Oktober 2010). Pemi, Tumewu, dkk. 2006. Pertumbuhan Gulma Akibat Pemupukan Nitrogen Pada Budidaya Tanaman Sawi. (Online). (http://www.pikiranrakyat.com/cetak/0303/06/cakrawala/lainnya04.htm#atas, diakses 23 Oktober 2010). Sastroutomo, Soetikno S. 1990. Ekologi Gulma. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Siregar, Yulianti Amelia, dkk. 2008. Biologi Pertanian Jilid 3. (Online). (http://www.ias.ac.in/biologipertanian/jun1009870/pdf, diakses tanggal 23 Oktober 2010).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->