P. 1
Analisis Pengaruh Insider Ownership_ Kebijakan Hutang

Analisis Pengaruh Insider Ownership_ Kebijakan Hutang

|Views: 98|Likes:
Published by Handoko Wijaya

More info:

Published by: Handoko Wijaya on Oct 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/04/2012

pdf

text

original

ANALISIS PENGARUH INSIDER OWNERSHIP, KEBIJAKAN HUTANG

DAN DIVIDEN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA Oleh : Taswan
Dosen Tetap STIE Stikubank Semarang

ABSTRACT
The present study intended to expand the researches on agency theory, which relate the insider ownership, debt and dividend policy. Those studies have focused only on the interdependency relationship among them. According to agency theory, the separation of ownership and control in the modern corporation creates two parties, the managers as the agents and the owners as the principals. Furthermore, agency theory suggests several ways for reducing this conflict, by increasing the insider ownership, debt and dividend policy. This study investigated the influences of the insider ownership, debt and dividend policy to the firm value. Furthermore, this study investigated the effect of the business risk, growth, size and profitability to insider ownership, debt and dividend policy. Using purposive sampling, this study find the 95 sample size and those data have met a normality and outliers test. The analyses of data use the structural equation modeling (SEM) or LISREL. The result shows that debt policy had positive effect to the firm value. Profitability had negative and significant effect to debt but the growth, size and risk have no effect. In Addition dividend policy had negative and significant effect to the firm value. The risk factor had negative and significant effect to the dividend policy, while size and debt are not significant. Consistent with hypothesis, the insider ownership had a positive and significant effect to the firm value. Keyword : Insider Ownership, Debt Policy, Dividend Policy, Firm Growth, Firm Size, Business Risk and Profitability. I. PENDAHULUAN

Pengelolaan Perusahaan lazimnya bertujuan untuk memakmurkan pemiliknya. Semakin tinggi harga saham berarti semakin memakmurkan pemilik saham. Harga pasar saham menunjukkan nilai perusahaan. Dengan demikian bila harga saham meningkat maka berarti nilai perusahaan meningkat. Untuk mencapai tujuan tersebut, para pemilik modal (sebagai principal) bisa mempercayakan kepada para profesional (manajerial) atau insiders atau sering disebut agen. Para professional itu atau manajer akan bertanggung jawab pertama terhadap keputusan alokasi dana baik yang dana yang berasal dari dalam perusahaan maupun dari luar perusahaan untuk investasi, kedua adalah menyangkut keputusan pembelanjaan. Keputusan ini akan terkait dengan optimasi pembelanjaan, Ketiga adalah menyangkut keputusan dividen. Pemberian amanat kepada insiders dapat dipandang sebagai pemisahan fungsi decition making dan risk beating (Jansen & Meckling, 1976). Pemodal selaku penyedia dana berkepentingan untuk mengamankan dananya yang diinvestasikan, sedangkan pihak insiders

Dalam konteks yang . Penelitian ini akan menggunakan model persamaan struktural (Structural equation Modelling). Kebijakan Dividen juga bisa dikaitkan dengan nilai perusahaan. namun pada titik tertentu peningkatan hutang akan menurunkan nilai perusahaan karena manfaat yang diperoleh dari penggunaan hutang lebih kecil daripada biaya yang ditimbulkannya. peningkatan insiders ownership akan mengurangi agency difficulties melalui pengurangan insentif untuk mengkonsumsi manfaat/keuntungan dan mengambil alih kekayaan pemegang saham. pemilik perusahaan lebih suka dibiayai oleh hutang. Kelompok ketiga adalah bahwa karena dividen cenderung dikenakan pajak daripada capital gain. Dengan mempertimbangkan pajak. II. Kelompok kedua adalah pendapat Gordon-Lintner yaitu dividen lebih kecil risikonya daripada capital gain. Argumen ini mendukung pendapat bahwa perusahaan cenderung menggantikan hutang dengan equity apabila tingkat keuntungan saham tinggi. KAJIAN TEORI DAN PENELITIAN TERDAHULU a. Pengurangan ini potensial bagi misalokasi resources. Jensen & Meckling (1976) menganalisis bagaimana nilai perusahaan dipengaruhi oleh distribusi kepemilikan antara insider ownership yang menikmati manfaat dan outside ownership yang tidak menikmati manfaat. Oleh karena itu melihat keberadaan insider ownership yang dikaitkan dengan nilai perusahaan menjadi relevan. dan Zietz (1994) menemukan bahwa keuntungan saham mempengaruhi keputusan struktur modal. Mereka menemukan hubungan negatif antara keuntungan saham dengan hutang. pertumbuhan perusahaan dan size. Semakin tinggi proporsi hutang maka semakin tinggi harga saham. Dalam penelitian ini akan mengkaji pengaruhnya terhadap nilai perusahaan yang dilihat dari Market Value added (Brigham dan gapenski.berhak atas gaji dan kompensasi lainnya karena menjalankan amanat termasuk mengambil keputusan-keputusan bisnis yang diharapkan terbaik bagi pemilik modal. Variabel dimaksud adalah meliputi risiko bisnis. Dalam kerangka ini. Kelompok ini menyarankan bahwa dengan DPR yang lebih rendah akan memaksimumkan nilai perusahaan. maka nilai perusahaaan atau harga saham akan ditentukan oleh struktur modal. 1999: 113) atau price book value (PBV) ratio. namun para manajer umumnya tidak suka karena hutang mengandung risiko yang tinggi. yang pada gilirannya meningkatkan nilai perusahaan. Benkato. profitabilitas. Sementara itu kebijakan hutang juga akan terkait dengan nilai perusahaan. sehingga dividen setelah pajak dan menawarkan dividen yield yang lebih tinggi akan meminimumkan biaya modal. Ketiga pendapat tersebut memberikan justifikasi bahwa kebijakan dividen memang berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Memang masih terdapat tiga teori yaitu MM berpendapat bahwa kebijakan dividen tidak relevan yang berarti tidak ada kebijakan dividen yang optimal karena dividen tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Namun demikian pihak insiders sering bekerja bukan untuk memaksimumkan nilai perusahaan. Sedangkan Homaifar. tapi justeru mengurusi atau berkutat pada peningkatan kesejahteraan insider sendiri . Hal ini tidak disukai oleh pemilik perusahaan karena biaya-biaya itu akan dibebankan perusahaan yang pada gilirannya akan menurunkan dividen. kebijakan hutang dan dividen dipertimbangkan untuk mengetahui pengaruh langsung dari variabel eksogen tersebut. Oleh karena itu beberapa variable yang mempengaruhi insider ownership. Kajian Teori Ada dugaan yang menarik bahwa nilai perusahaan meningkat sebagai akibat insider ownership yang meningkat. maka maka investor akan meminta tingkat keuntungan yang lebih tinggi untuk saham dengan dividen yield yang tinggi.

et al (1992) yang menguji determinan-determinan dari perbedaan cross sectional dalam insider ownership. Penelitian Jensen. Sementara itu Leland dan Pyle (1977) berpendapat bahwa insider berkeinginan untuk menginvestasikan modalnya kedalam proyek mereka yang berkualitas. Ketiga pendapat nampak bertentangan. Leland dan Pyle dan Ross (1977) menyajikan hipotesis bahwa insider ownership dan kebijakan finansial dapat membantu menyelesaikan asimetri informasional antara manajer dengan investor eksternal. debt dan dividend menunjukkan bahwa kebijakan –kebijakan tersebut tidak hanya berkaitan dengan karakteritik –karakteristik operasional perusahaan. Kelompok ini menyarankan bahwa dengan dividend payout ratio (DPR )yang lebih rendah akan memaksimumkan nilai perusahaan. Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan bahwa proporsi ekuitas yang dikontrol oleh para insider dapat mempengaruhi kebijakankebijakan perusahaan. Penelitian-penelitian tersebut telah mengindikasikan adanya simultanitas antara insider. para investor memandang proporsi pemegang saham insider sebagai informasi penting. namun coba kita mempertimbangkan kandungan informasi. Kebijakan Dividen juga bisa dikaitkan dengan nilai perusahaan. Born (1988) menemukan bahwa kepemilikan insider berhubungan positif dengan return saham. Akan tetapi pembayaran dividen akan berpengaruh terhadap kebijakan pendanaan perusahaan. Damsetz (1986) berargumen bahwa kepemilikan oleh non manajemen yang besar akan efektif memonitoring aktivitas perusahaan dan dia menyimpulkan bahwa konsentrasi kepemilikan akan meningkatkan nilai perusahaan. Vermalen (1981) membuktikan bahwa dalam penilaian terhadap pembelian kembali saham yang telah dijual. karena pembayaran dividen akan mengurangi arus kas perusahaan sehingga dalam memenuhi kebutuhan operasionalnya perusahaan akan dipaksa untuk mencari alternatif sumber pendanaan yang relevan. Hasil . Insider Ownership. maka dapat dikatakan bahwa pembayaran dividen sering diikuti oleh kenaikan harga saham. maka maka investor akan meminta tingkat keuntungan yang lebih tinggi untuk saham dengan dividend yield yang tinggi. Kelompok ketiga adalah bahwa karena dividen cenderung dikenakan pajak daripada capital gain. Insider ownership telah diasumsikan sebagai atribut eksogen spesifik perusahaan yang dihipotesakan mempengaruhi kebijakan dividen dan hutang. Kenaikan pembayaran dividen dilihat sebagai signal bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik. b. tetapi penelitian tersebut belum melakukan pengujian empirik berdasarkan feature spesifik perusahaan dan juga masih lebih banyak menjelaskan kebijakan perusahaan secara independen. Kajian Penelitian Terdahulu Ross (1977) dan Easterbook (1984) dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa untuk mengurangi biaya keagenan diperlukan pembayaran dividen. debt dan dividend. dan hal ini dapat mengindikasikan bahwa ekuitas yang dipegang oleh insider dapat bertindak sebagai signal nilai perusahaan. Sebaliknya penurunan pembayaran dividen akan dilihat sebagai prospek perusahaan yang buruk. sehingga dividen setelah pajak dan menawarkan dividen yield yang lebih tinggi akan meminimumkan biaya modal. Memang masih terdapat tiga kelompok yaitu MM berpendapat bahwa kebijakan dividen tidak relevan yang berarti tidak ada kebijakan dividen yang optimal karena dividen tidak mempengaruhi nilai perusahaan. kebijakan hutang dan kebijakan dividen itu sendiri dapat saling mempengaruhi (interdependensi) secara simultan. Sedangkan Hirschey dan Zaima (1989) memberikan bukti bahwa keputusan menjual perusahaaan dengan pemilik insider yang lebih besar akan memperoleh respon investor yang lebih menguntungkan daripada perusahaan dengan pemilik insider yang lebih rendah.. Kelompok kedua adalah pendapat Gordon-Lintner yaitu dividen lebih kecil risikonya daripada capital gain.terkait.

terutama di indonesia yang sepengetahuan peneliti belum pernah dilakukan. kebijakan hutang dan dividen. Hansen dan Crutcney mengatakan kelima karakteristik itu juga mempengaruhi secara siginifikan terhadap insider ownership. Sedangkan Hirschey dan Zaima (1989) memberikan bukti bahwa keputusan menjual perusahaan dengan pemilik insider yang lebih besar akan memperoleh respon investor yang lebih menguntungkan daripada perusahaan dengan pemilik insider yang lebih rendah. firm size. . Secara khusus insider ownership berpengaruh negatif terhadap kebijakan hutang dan dividen. Kim dan Sorenson (1986) mengajukan demand and supply hyphotesies. Padahal semua kebijakan akan berujung pada kepentingan nilai perusahaan. Konsistensi teori dan temuan-temuan para peneliti sebelumnya menjadi masukan yang sangat berharga dalam penelitian ini. Keadaan ini dapat dilihat pada perusahaan tertutup. Oleh karena itu penelitian yang mengungkapkan pengaruh langsung dari kebijakan tersebut perlu dilakukan . kebijakan hutang dan kebijakan dividen guna meminimalkan agency cost. kebijakan hutang dan kebijakan dividen dengan menggunakan analisa least square 3 tahap. Fried and Lang (1988) melakukan penelitian yang berkaitan dengan hubungan antara kepentingan manajer terhadap struktur modal. kim dan Sorenson berargumen bahwa perusahaan-perusahaan yang dikontrol oleh insider memiliki agency cost of debt yang lebih rendah. Penelitian masih berhenti pada konsekuensi bagi efisiensi biaya akibat kebijakan tersebut. sehingga dapat meningkatkan ketersediaan pendanaan hutang perusahaan. Hasilnya adalah bahwa insider ownership berpengaruh negatif terhadap kebijakan debt. dan hal ini dapat mengindikasikan bahwa ekuitas yang dipegang oleh insider dapat bertindak sebagai signal nilai perisahaan. Penelitian ini dapat menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan yang dikuasai secara tertutup dapat memiliki cost of debt yang lebih rendah.penelitian mendukung hipotesis bahwa keputusan finansial dan tingkat insider ownership adalah interdependensi. non debt tax shield dan advertising. dividen maupun masalah kepemilikan oleh manajerial yaitu memaksimumkan nilai perusahaan. Kesimpulannya adalah bahwa kebijakan dividen dipengaruhi oleh diversification loss. Vermalen (1981) membuktikan bahwa dalam penilaian terhadap pembelian kembali saham yang telah dijual. para investor memandang proporsi pemegangs aham insider sebagai informasi penting. kebijakan hutang dan kebijakan dividen dalam mengurangi agency problem. Kontribusi penelitian ini adalah bahwa insider ownership. Hasilnya mendukung pernyataan bahwa ownership. Secara khusus bahwa insider ownership mempunyai hubungan negatif dengan tingkat debt dan dividend. kebijakan hutang dan kebijakan dividen mempunyai hubungan yang interdependensi. at al (1992) yang melakukan penelitian tentang hubungan antara insider ownership. kebijakan hutang dan kebiajkan dividen yang dikaitkan dengan karakteristik perusahaan mempunyai hubungan yang interdependensi. research & development. Penelitian-penelitian tersebut dilakukan masih pada persoalan-persoalan hubungan keagenan. Sedangkan Crutchney and Hansen (1989) melakukan penelitian dalam konteks keagenan yang berdasarkan tiga keputusan yaitu ownership. Dukungan terhadap hasil penelitian ini dilakukan oleh Jensen. Dalam demand hyphoteses dijelaskan bahwa perusahaan-perusahaan yang dikuasai secara tertutup membutuhkan hutang yang lebih banyak karena insider dapat mempertahankan kontrol efektif jika kepemilikan mereka tidak diganti dengan lebih banyak equity. standart deviation of return. Born (1988) menemukan bahwa kepemilikan insider berhubungan positif dengan return saham. Dari penelitian ini memberikan gambaran bahwa perusahaan dapat mengkombinasikan insider ownership. Leland dan Pyle (1977) membuktikan bahwa insider berkeinginan untuk menginvestasikan modalnya kedalam proyek mereka yang berkualitas. sehingga belum mengungkap sasaran utama setiap kebijakan baik kebijakan hutang. Disisi supply.

..Sedangkan MM telah memberikan sumbangan yang sangat besar dalam mengungkapkan pengaruh kebijakan hutang terhadap nilai perusahaan. Hal ini akan meningkatkan beban bunga hutang karena risiko kebangkrutan perusahaan yang meningkat. Sementara itu menyangkut kebijakan dividen kaitannya dengan nilai perusahaan akan berlandasakan pada temuan terdahulu yaitu dengan mempertimbangkan kandungan informasi. melainkan untuk kepentingan oportunistik manajer. Sedangkan Hirschey dan Zaima (1989) memberikan bukti bahwa keputusan menjual perusahaaan dengan pemilik insider yang lebih besar akan memperoleh respon investor yang lebih menguntungkan daripada perusahaan dengan pemilik insider yang lebih rendah. Agency cost of debt yang tinggi pada gilirannya akan berpengaruh pada penurunann nilai perusahaan. Para manajer juga mempunyai kecenderungan untuk menggunakan hutang yang tinggi bukan untuk memaksimumkan nilai perusahaan. maka maka investor akan meminta tingkat keuntungan yang lebih tinggi untuk saham dengan dividend yield yang tinggi. Dengan adanya kepemilikan saham oleh pihak insiders. dan hal ini dapat mengindikasikan bahwa ekuitas yang dipegang oleh insider dapat bertindak sebagai signal nilai perisahaan. maka dapat dikatakan bahwa pembayaran dividen sering diikuti oleh kenaikan harga saham. Sebaliknya penurunan pembayaran dividen akan dilihat sebagai prospek perusahaan yang buruk. Dengan demikian hipotesis yang dapat dibangun adalah: H1: Insiders Ownership berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.1. 3. Namun temuan ini disempurnakan dengan munculnya teori trade off yaitu teori yang memperhatikan biaya keagenan dan financial distress. Kepemilikan oleh insider juga akan mengurangi alokasi sumber daya yang tidak benar (misallocation). namun coba kita mempertimbangkan kandungan informasi. Kebijakan Dividen dan Nilai Perusahaan Ada tiga kelompok yaitu MM berpendapat bahwa kebijakan dividen tidak relevan yang berarti tidak ada kebijakan dividen yang optimal karena dividen tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Kelompok ini menyarankan bahwa dengan dividend payout ratio (DPR )yang lebih rendah akan memaksimumkan nilai perusahaan. Ketiga pendapat nampak bertentangan. Temuan ini menyatatakan bahwa kebijakan untuk meningkatkan hutang memang akan meniningkatkan nilai perusahaan namun akan menurun pada titik tertentu sebagai akibat adanya biaya keagenan dan kemungkinan kebangkrutan. Kenaikan pembayaran dividen dilihat sebagai signal bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik. maka insiders akan ikut memperoleh manfaat langsung atas keputusan-keputusan yang diambilnya. Insiders Ownership dan Nilai perusahaan Untuk mengurangi biaya keagenan dapat dilakukan dengan peningkatan insiders ownership dengan harapan akan terjadi penyebaran risiko. Vermalen (1981) membuktikan bahwa dalam penilaian terhadap pembelian kembali saham yang telah dijual. PENGEMBANGAN HIPOTESIS 3. Kelompok ketiga adalah bahwa karena dividen cenderung dikenakan pajak daripada capital gain. sehingga agency cost of debt semakin tinggi. Para manajer umumnya mempunyai kecenderungan untuk menggunakan kelebihan keuntungan untuk konsumsi dan perilaku oportunistik. sehingga dividen setelah pajak dan menawarkan dividen yield yang lebih tinggi akan meminimumkan biaya modal.2. Kelompok kedua adalah pendapat Gordon-Lintner yaitu dividen lebih kecil risikonya daripada capital gain. namun juga akan menanggung risiko secara langsung bila keputusan itu salah. Sementara itu Leland dan Pyle (1977) berpendapat bahwa insider berkeinginan untuk menginvestasikan modalnya kedalam proyek mereka yang berkualitas. III. para investor memandang proporsi pemegang saham insider sebagai informasi penting. Dengan demikian kepemilikan saham oleh insider merupakan insentif untuk meningkatkan kinerja perusahaan . MM berpendapat bahwa dengan memasukan pajak maka semakin besar hutang akan semakin tinggi nilai perusahaan. .

Untuk menekan hal ini Jensen and Meckling (1976) menyarankan untuk meningkatkan kepemilikan insider dalam perusahaan. Dalam kondisi demikian perusahaan cenderung membayar dividen lebih besar jika insiders memiliki proporsi saham yang lebih rendah. Kebijakan hutang dan faktor yang mempengaruhinya • Insider Ownership Menurut Bathala et al (1994) dalam agency model yang dikemukakan oleh Jensen dan Meckling. Oleh karena itu hipotesis yang dapat dibangun adalah : H3: Kebijakan hutang berpenagruh positif terhadap nilai perusahaan. Peningkatan penggunaan debt financing akan mempengaruhi pemindahan equity capital. dengan demikian menghindari investasi yang sia-sia. Jensen (1986) menyatakan bahwa dengan adanya hutang dapat digunakan untuk mengendalikan penggunaan free cash flow secara berlebihan oleh manajemen. Kebijakan Hutang dan Nilai Perusahaan. Peningkatan nilai tersebut dikaitkan dnegan harga saham dan penerunan hutang akan menurunkan harga saham (Masulis. Sedangkan MM berpendapat bahwa semakin besar penggunaan hutang akan semakin besar pula risiko dan berarti biaya modal sendiri bertambah. Kenaikan pembayaran dividen dilihat sebagai signal bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik. Disisi lain para manajer juga mempunyai kecenderungan untuk menggunakan hutang yang tinggi bukan atas dasar maksimalisasi nilai perusahaan. Dalam konteks ini para manajer cenderung untuk menggunakan kelebihan keuntungan untuk konsumsi perilaku oportunistik yang lain. Namun demikian peningkatan hutang juga akan meninmbulkan peningkatan risiko kebangkrutan bila tidak diimbangi dengan penggunaan hutang yang hati-hati. • Dividend Policy Dalam penelitian tentang agency cost dan perilaku pembayaran dividen perusahaan. Penggunaan hutang akan meningkatkan nilai perusahaan. Pendapat ini kemudian diintrodusir sendiri oleh MM pada tahun 1963. Rozeff (1982) dan Esterbook (1984) menyatakan bahwa . Dengan demikian hipotesis yang dibangun adalah Insider ownership berpengaruh negatif terhadap kebijakan hutang.4. karena adanya penyebaran keputusan dan risiko. 1988). Dengan demikian penggunaan hutang tidak akan meningkatkan nilai perusahaan karena keuntungan dari biaya hutang yang lebih murah ditutup dengan naiknya biaya modal sendiri. yaitu bila ada pajak penghasilan perusahaan maka penggunaan hutang akan meningkatkan nilai perusahaan karena biaya bunga hutang adalah biaya yang mengurangi pembayaran pajak (tax deductable expense).maka dapat dikatakan bahwa pembayaran dividen sering diikuti oleh kenaikan harga saham. perusahaan merupakan subyek terhadap meningkatnya konflik. 3. 3. Ini jelas akan menimbulkan risiko kebangkrutan. Mereka menerima manfaat penuh tapi tidak menanggung risiko ataupun biaya yang oleh Jensen dan Meckling disebut agency cost of equity. melainkan untuk kepentingan oportunistik. Dengan demikian akan memaksa para manajer untuk menanggung risiko sebagai konsekuensi apabila mereka melakukan kesalahan dalam keputusan. Sebaliknya penurunan pembayaran dividen akan dilihat sebagai prospek perusahaan yang buruk.3. Dengan demikian hipotesis yang dapat dibangun adalah: H2: Kebijakan Dividen berpengaruh positif nilai perusahaan. Kepemilikan saham oleh para manajer/insider akan membuat mereka semakin hati-hati dalam menentukan hutang. (Rozeff (1982) menyatakan bahwa pembayaran dividen adalah suatu bagian dari monitoring perusahaan.

Hasil studi Moh’d et al (1998) . Myers (1984) dan Jensen et al (1992) menemukan bahwa firm profitability mempunyai hubungan negatif dan signifikan dengan debt ratio. • Profitability Variable ini menggambarkan pendapatan untuk membiayai investasi. at al (1992) yang melakukan penelitian tentang hubungan antara insider ownership. Adanya kewajiban tersebut . Dalam hal ini perusahan yang mempunyai divident payout ratio tinggi lebih menyukai pendanaan dengan modal sendiri. sehingga ada hubungan yang positif antara firm growth dengan debt ratio. • Business Risk Bathala et al (1994) menggunakan Earning Volatility sebagai proxy risiko bisnis. sehinga mengurangi kekuasaan manajer dan membuat pembayaran dividen mirip dengan monitoring capital market yang terjadi bila perusahaan memperoleh modal baru . . Mehran (1992) dan Zhomaifar et al (1994) menemukan bahwa firm growth mempunyai pengaruh yang signifikan dan berhubungan negatif dengan debt ratio. Pada perusahaan yang memiliki risiko bisnis lebih tinggi akan cenderung memiliki rasio hutang yang lebih rendah.5. Hasilnya mendukung pernyataan bahwa ownership. Profitabilitas menunjukkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi investor. Kebijakan Dividen dan faktor yang mempengaruhinya • Insider Ownership Jensen.. Sedangkan Myers (1977) menyatakan bahwa perusahaan yang mempunyai investasi yang lebih besar pada intangible assets cenderung menggunakan sedikit hutang didalam struktur modal mereka. kebijakan hutang dan kebijakan dividen mempunyai hubungan yang interdependensi. Hasil studi Moh’d et al (1998). Jensen et al (1992) menemukan bahwa divident payout ratio mempunyai pengaruh yang signifikan dan berhubungan negatif dengan debt ratio. • Growth Firm growth merupakan variable yang dipertimbangkan dalam keputusan hutang. Brigham dan Gapenski menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi cenderung membutuhkan dana dari sumber eksternal yang besar. Earning volatility ini ditentukan sebagai standar deviasi dari earning sebelum bunga dan pajak dibagi dengan total assets. Dengan demikian terdapat hubungan negatif antara profitabilita dengan debt ratio. untuk mengurangi agency cost yang dihubungkan dengan risiko hutang. kebijakan hutang dan kebijakan dividen dengan menggunakan analisa least square 3 tahap. Biasanya biaya emisi saham akan lebih besar dari biaya penerbitan surat hutang. Secara khusus insider ownership berpengaruh negatif terhadap kebijakan hutang dan dividen. Myers (1977) . sehingga mengurangi biaya keagenan hutang.pembayaran dividen kepada pemegang saham akan mengurangi sumber-sumber dana yang dikendalikan oleh manajer. Dengan demikian business risk akan berhubungan negatif dengan kebijakan hutang. akan membuat manajer semakin hatihati dan efisien dalam menggunakan hutang. Disamping itu pembayaran dividen dapat dilakukan setelah kewajiban terhadap pembayaran bunga dan cicilan hutang dipenuhi. Dengan demikian perusahaan yang tingkat pertumbuhannya tinggi cenderung lebih banyak menggunakan hutang. Myers (1984) menyatakan bahwa manajer mempunyai pecking order didalam menahan laba sebagai pilihan pertama. diikuti oleh pembiayaan dengan hutang. 3. Dengan demikian hipotesis yang dibangun dalam penelitian ini adalah bahwa insider ownership berhubungan negatif dengan kebijakan dividen. Jensen et al (1992) menyatakan pembayaran dividen muncul sebagai pengganti hutang dalam struktur modal untuk mengawasi manajer. kemudian dengan equity. Hasil studi Moh’d et al 91998) .

Dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini dapat dibangun yaitu kebijakan hutang berhubungan negatif dengan insiders ownership • Dividend Policy Dalam penelitian agency cost dan perilaku pembayaran dividen perusahaan. Karena kemudahan aksebilitas ke pasar modal cukup berarti fklesibilitas dan kemampuannya untuk memunculkan dana lebih besar dengan cacatan bahwa perusahaan mampu memiliki rasio pembayaran dividen yang lebih tinggi daripada perusahaan kecil. Pada gilirannya peningkatan hutang akan mempengaruhi tingkat pendapatan bersih yang tersedia bagi pemegang saham termasuk dividen yang akan diterima karena kewajiban membayar bunga dan hutang tersebut diprioritaskan daripada membayar dividen. Insider Ownership dan faktor yang mempengaruhinya • Debt Policy Hubungan kebijakan hutang dengan insiders ownership dapat dijelaskan sesuai hasil penelitian Friend & Leland (1988) yang menemukan debt ratio berhubungan negatif dengan profitabilitas dan kepemilikan manajerial. Tingkat hutang akan menurun jika tingkat investasi manajerial (kepemilikan oleh insider) meningkat. Dengan demikian business risk berhubungan positif dengan kebijakan dividen. Bila manajer memilih kebijakan untuk mencapai trade off antara benefit dengan cost sebagai akibat peningkatan earning volatility. 1989) . • Business Risk Peningkatan earning volatility akan meningkatkan biaya kebangkrutan (debt agency cost) sehingga penurunan hutang menjadi solusi untuk mengontrol equity agency cost. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kebijakan hutang berhubungan negatif dengan divident payout ratio. Oleh karena itu semakin rendah DER semakin tinggi kemmapuannya untuk membayar seluruh kewajibannya. Hal ini disebabkan bahwa risiko yang tidak terdiversifikasi dari hutang itu lebih besar bagi manajemen daripada investor publik untuk menjaga tingkat hutang tetap rendah. . Dalam kondisi demikian perusahaan cenderung untuk membayar dividen yang lebih besar jika insiders memeliki proporsi saham yang lebih rendah.• Debt Policy Kebijakan hutang sering diukur dengan debt ratio yang mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menggunakan seluruh kewajibannya yang ditunjukkan oleh berapa bagian modal sendiri yang digunakan untuk membayar hutang. Semakin besar proporsi hutang yang digunakan dalam struktur modal maka semakin besar pula kewajibannya. maka para manajer tidak hanya mengurangi hutang namun juga akan meningkatkan kepemilikannya dan dividen (Crutchley et al. Kemudahan untuk mengakses ke pasar modal berarti perusahaan memiliki fleksibilitas dan kemampuan untuk mendapatkan dana .6. • Firm Size Perusahaan besar dapat dengan mudah mengakses ke pasar modal. Rozeff (1982) dan Esterbook (1984) menyatakan bahwa pembayaran dividen kepada pemegang saham akan mengurangi sumber-sumber dana yang dikendalikan oleh manajer. Apabila beban hutang dan bunga semakin tinggi maka kemampuan perusahaan membayar dividen semakin rendah. Rozzef (1982) menyatakan bahwa pembayaran dividen adalah bagian dari monitoring perusahaan. sehingga mengrangi kekuasaan manajer dan membuat pembayaran dividen mirip dengan monitoring capital market yang terjadi bila perusahaan memperoleh modal baru. 3. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa kebijakan dividen perusahaan dipengaruhi oleh ukuran perusahaan.

sehingga manajer atau insider tidak akan segan-segan untuk menginvestasikan dananya sebagai modal perusahaan.Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hubungan antara kebijakan dividen dengan insiders ownership adalah negatif. 1993. oleh karena itu dividen akan dibagikan apabila perusahaan memperoleh keuntungan. V. Dividen adalah sebagai laba bersih yang diperoleh perusahaan. IV. Insider itu memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang proyek-proyek yang dikerjakan perusahaan. • Firm Size Ukuran perusahaan di-proxy-kan sebagai total asset perusahaan pada akhir tahun. Semakin besar keuntungan yang diperoleh semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividennya. sementara pinjaman personal itu terbatas dan juga insider akan menghadapi persoalan diversifikasi (Bathala et al. memiliki data jumlah hutang. Hubungan positif antara pertumbuhan dengan insider ownership tersebut dapat berasal dari keungggulan informasional bagi insiders tentang prospek pertumbuhan perusahan. Ini mengindikasikan bahwa firm size akan berhuhubungan negatif dengan insider ownership. 1994. Studi sebelumnya mendokumentasikan bahwa insiders ownership akan lebih banyak pada perusahaan yang lebih kecil daripada perusahaan besar. tersedia data tentang persentase kepemilikan saham oleh direktur dan komisaris (insiders ownership). Untuk kepentingan analisis kemudian digunakan pooling data untuk periode 1992. POPULASI DAN SAMPLING Perusahaan yang menjadi populasi adalah seluruh perusahaan yang telah listed sejak 1992 sampai dengan 1996. Sedangkan pemilihan sampel dengan menggunakan metode purposive sampling dengan tipe judgment sampling yaitu pemilihan sampel dengan mendasarkan pada kriteria tertentu (Cooper & Schindler. 1995 dan 1996. memiliki EBIT yang positif dan memiliki Market Value Added yang positif atau Price Book Value lebih besar dari 1. Indikator ini sering ditentukan oleh rasio tingkat keuntungan setelah pajak dibagikan dengan total assets. Dengan demikian dapat dihipotesiskan bahwa profitability berhubungan positif dengan insider ownership. • Profitability Profitabilitas disini adalah tingkat keuntungan bersih yang mampu diraih oleh perusahaan pada saat menjalankan operasinya. 1994). 1994). oleh karena itu cenderung lebih tak menyangsikan tentang propspek pertumbuhan perusahaan daripada para investor yang lain (Bathala et al . 2000). MODEL PENELITIAN . • Growth Growth direpresentatifkan sebagai pertumbuhan total asset dan diantisipasikan akan memiliki pengaruh positif terhadap insider ownership. Para manajer tidak hanya mendapatkan dividen yang tapi juga akan memperoleh power yang lebih besar dalam menentukan kebijakan perusahaan . Sebagai perusahaan yang lebih besar. Untuk menjelaskan bahwa pertumbuhan asset masa lalu akan merefleksikan profitabilitas yang akan datang dan pertumbuhan yang akan datang. Keuntungan yang layak dibagikan kepada pemegang saham adalah keuntungan setelah bunga dan pajak. dengan pertimbangan data tersebut dihasilkan dari aktifitas ekonomi secara normal (tidak terpengaruh krisis ekonomi & moneter sejak tahun 1997).membayar dividen. sebuah proporsi kepemilikan yang relatif lebih kecil dimiliki oleh manajer dengan berhutang untuk membatasi kekayaan pribadi. Memiliki laporan keuangan selama periode penelitian.

Pemodelan dilakukan dengan linear structural relations (LISREL). Model yang dibangun dalam SEM merupakan terjemahan dari fenomena yang dilandasi teori dan pengalaman empirik (penelitian terdahulu) serta pengembangan hipotesis yang dilakukan. .

.

Model Penelitian Keterangan: RISK = Risiko Bisnis. Sedangkan untuk multivariate outlier juga tidak ditemukan sebab tidak terdapat nilai MD square lebih dari 26.90 0. GROWTH= Pertumbuhan Perusahaan. Begitu juga untuk univariate outliers tidak ditemukan dalam riset ini sebab tidak satupun variable yang memiliki Z Score lebih besar dari 3.1.58 berarti data tersebut berdistribusi normal. INSD = Insider Ownership.2. Evaluasi Kesesuaian Model Kesesuaian model penelitian dengan data atau fenomena yang terjadi dapat dikonfirmasikan dengan menggunakan AMOS.58 sampai dengan 2. VII. Tabel 6.00 0.553 0.229 0.90 2. maka dapat dikatakan bahwa model tersebut secara umum dapat diterima walaupun ada keterbatasan pada AGFA dan TLI yang masih pada kondisi marginal. SIZE = Ukuran Perusahaan.981 0. Model yang sesuai adalah model yang memenuhi indeks-indeks kesesuaian yang direkomendasikan.763 Keterangan Semakin kecil semakin baik Baik Baik Baik Marginal Baik Marginal Baik Baik GFI RMR RMSA TLI NFI AGFI CMIN/DF CFI ≥ ≤ ≤ ≥ ≥ ≥ ≤ ≥ 0. PENGUJIAN ASUMSI SEM DAN KESESUAIAN MODEL 6.909 0.90 1.Gambar 1. Model penelitiaan ini dapat diterima untuk konfirmatori atas dimensi atau factor serta hubungan kausalitas antara variable yang diteliti. Model tersebut dibangun dari teori yang mendalam mengenai kausalitas antara variable yang diteliti dan logika. PBV = Nilai Perusahaan VI.00 0. Evaluasi Asumsi Structural Equation Modeling (SEM) Dengan tingkat 0. PENGUJIAN HIPOTESIS DAN PEMBAHASAN .08 0. seperti tampak pada tabel 6 akan dapat diketetahui kesesuaian modelnya.952 Dengan memperhatikan uji keseuaian diatas .90 0. DEBT = Kebijakan Hutang.860 1.01 atau 1%.077 0.94 0. 125 (untuk p=0. PROFIT= Profitabilitas.01 dan 8 variabel) 6.729 0. DPR = Kebijakan Dividen. Output Uji Kesesuaian Model Uji Fit Chi Square Rekomendasi Hasil Model ** 7. telah ditemukan bahwa tidak ada nilai Cr skewnes maupun kurtosis yang terletak diluar antara –2.

RISK 7 INSD -------.PROFIT 3 DEBT -------. semakin besar kebutuhan pendanaan dari pihak eksternal.RISK 2 DEBT <-------. Namun konsisten dengan pendapat Brigham dan Gapenski (1999) bahwa pertumbuhan perusahaan akan berdampak pada meningkatnya hutang. Semakin tinggi pertumbuhan perusahaan. Semakin tinggi laba yang diperoleh semakin kecil kemauan perusahan untuk mendapatkan hutang.379 Negatif -0.695 Positif 0.892 positif -0. Temuan ini jelas tidak konsisten dengan temuan Crutchley et al(1989) bahwa peningkatan risiko bisnis akan meningkatkan pembayaran dividen. Dengan demikian suatu korelasi antara variabel yang dihipotesiskan akan signifikan baik secara positif maupun negatif bila angka CR lebih besar dari 0. Jensen et al (1992) dan Moh’d et al (1998). Temuan ini konsisten dengan temuan Meyer et al (1984).536 Negatif 0. Ho akan ditolak bila CR lebih kecil dari t table.DEBT 17 DEBT <---------.055 Negatif -0. Menolak H0 berarti menerima Ha.991 Negatif 0. Table 7.DEBT 10 PBV <----------.308 Positif 0. namun pengaruh tersebut tidak signifikan.Dengan t table pada level 0.723.INSD 11 PBV <--------.SIZE 5 INSD -------.DPR 12 DEBT <---------. 2. Firm growth merupakan variable yang dipertimbangkan dalam keputusan hutang.645 Positif -1.DPR 16 INSD <---------.024 Positif 0. Brigham dan Gapenski menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi cenderung membutuhkan dana dari sumber eksternal yang besar. Kemudahan untuk mengakses ke pasar modal berarti perusahaan memiliki fleksibilitas dan kemampuan untuk mendapatkan dana dengan catatan perusahaan mampu memiliki rasio pembayaran dividen yang lebih tinggi daripada perusahaan kecil.SIZE 8 INSD <------.191 negatif -0.233 Negatif 1.392 Negatif -1. Mehran (1992) dan Zhomaifar et al (1994).PROFIT 6 DEBT -------. Temuan riset tidak konsisten dengan pendapat Myers (1977).DEBT 14 DPR <----------. Dengan demikian hipotesis yang menyatakakan bahwa tingkat risiko bisnis berkorelasi positif dengan kebijakan dividen adalah ditolak atau tidak terbukti. df sebesar 5. Ini berarti variable profitabilitas merupakan pilihan pertama (pecking order) dalam memenuhi sumber pembiayaan. Variable Size berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen.GROWTH 4 DPR --------.539 Negatif Signifikansi Signifikan Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Tidak signifikan Tidak Signifikan Signifikan Signifikan signifikan Tidak Signifikan Evaluasi terhadap masing-masing korelasi antar variable dapat dilakukan sebagai berikut: 1. maka diperoleh t table sebesar 0.727.25 ..GROWTH 9 PBV <---------. .971 Positif -1.DPR 13 DPR <----------.INSD 15 INSD <---------. Variable Growth berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kebijakan hutang. Variabel profitabilitas (Profit) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kebijakan hutang.929 Negatif 0. Namun hubungan ini tampak tidak signifikan sehingga bisa diabaikan..969 Positif 2.INSD Cr Korelasi -1. 3.008 Positif -0. Pengaruh dan Signifikansi antara variable No PATH 1 DPR <---------. 4. Variabel Risiko Bisnis (Risk) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen.

Artinya kondisi bisnis yang penuh risiko dapat memicu keputusan spekulatif untuk menciptakan hutang. namun kemampuan insider juga terbatas walaupun dengan menciptakan hutang. 7. 11. Temuan ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan perusahaan yang dicapai masih disangsikan oleh para investor untuk ikut bergabung/menginvestasikan dananya. Semakin besar perusahaan. Para manajer mempertimbangkan pendapatan dividen. para investor memandang proporsi kepemilikan saham sebagai sinyal yang baik . Variabel Insider Ownership berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. 6. . Hipotesis terbukti dan konsisten dengan temuan Leland dan Pyle (1977). Variabel kebijakan hutang berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan (PBV).5. Semakin besar keuntungan yang diperoleh semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividennya. 9. tapi juga juga berkepentingan untuk memperoleh power yang lebih besar dalam menentukan kebijakan perusahaan. Hasil riset pada variable ini konsisten dengan temuan MM pada tahun 1963 bahwa dengan memasukan pajak pengahasilan perusahaan. Temuan ini juga tidak konsisten dengan pendapat Gordon-Lintner yang menyatakan bahwa dividen lebih kecil risikonya daripada capital gain. Dengan demikian temuan riset ini konsisten dengan temuan bathala et al (1994) dan hipotesis yang dibangun dapat diterima. Variable Risk berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kebijakan hutang. Pertumbuhan perusahaan belum dianggap dapat merefleksikan profitabilitas dimasa mendatang. Hal ini juga konsisten dengan Jensen (1986) yang menyatakan bahwa dengan adanya hutang akan dapat digunakan untuk mengendalikan penggunaan free cash flow secara berlebihan oleh manajemen. Dividen yang lebih rendah ternyata lebih memberikan nilai perusahaan. Bathal et al (1994) menemukan bahwa pada perusahaan yang memiliki risiko bisnis lebih tinggi akan cenderung memiliki rasio hutang yang lebih rendah. Namun temuan riset tidak konsisten dengan pendapat Bathala et al (1994) atau bertentangan dengan hipotesis yang dibangun dalam riset ini. Temuan ini tidak konsisten dengan temuan Bathala et al (1994) bahwa insider memiliki informasi yang lebih baik tentang proyek-proyek yang dikerjakan perusahaan. sehingga dividen setelah pajak dan menawarkan dividen yang lebih tinggi akan meminimumkan biaya modal yang pada gilirannya menaikkan nilai perusahaan. Vermalen (1981. semakin diperlukan dana oleh insider untuk mempertahankan proporsi kepemilikannya. Sebab pinjaman personal juga terbatas disamping insider akan menghadapi persoalan diversifikasi. Variable Profit berhubungan positif dengan insider ownership. 8. Kebijakan dividen mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. maka penggunaan hutang akan meningkatkan nilai perusahaan karena biaya bunga hutang adalah biaya yang mengurangi pembayaran pajak (tax deductable expense). namun tidak signifikan. Hal ini berarti bertentangan dengan hipotesis dalam riset ini. Oleh karena itu peningkatan profitabilitas dapat memicu peningkatan kepemilikan dari dalam (Insider). 10. Dengan demikian business risk akan berhubungan negatif dengan kebijakan hutang. Variabel pertumbuhan perusahaan (Growth) berpengaruh negatif dan siginifikan terhadap kepemilikan oleh insider. Walaupun demikian perilaku ini tidak signifikan sehingga bisa diabaikan. oleh karena itu cenderung tidak menyangsikan tentang prospek pertumbuhan perusahaan daripada investor lain. Temuan studi ini mengindikasikan bahwa kepemilikan insider merupakan insentif bagi peningkatan kinerja perusahaan. Variabel Size berpengaruh negatif dan signifikan terhadap insider ownership. Namun demikian hasil temuan riset ini menunjukkan bahwa faktor profitabilitas secara umum bukan hal yang signifikan bagi para insider.

Namun Profitabilitas masih menjadi sumber dana pilihan utama (pecking order) dibandingkan dengan hutang. Beban hutang dan bunga tinggi tidak berarti bahwa kemampuan perusahaan membayar dividen menjadi rendah. Variable endogen kepemilikan oleh insider (INSD) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kebijakan hutang (DEBT). Variabel kebijakan hutang (DEBT) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kebijakan dividen (DPR). SIMPULAN. Hubungan kedua variable ini konsisten dengan yang dihipotesiskan. IMPLIKASI DAN SARAN • Simpulan Variabel kebijakan hutang berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan (PBV). Profitabilitas berpengaruh negatif . 17. oleh karena itu perusahaan cenderung untuk membayar dividen yang lebih besar jika insider memiliki proporsi kepemilikan yang lebih rendah. Hal ini juga konsisten dengan Jensen (1986) yang menyatakan bahwa dengan adanya hutang akan dapat digunakan untuk mengendalikan penggunaan free cash flow secara berlebihan oleh manajemen. maka penggunaan hutang akan meningkatkan nilai perusahaan karena biaya bunga hutang adalah biaya yang mengurangi pembayaran pajak (tax deductable expense). Jensen & Meckling (1976). Para manajer cenderung menggunakan hutang untuk kepentingan oportunistik. Pengaruh dividen terhadap insider ownership adalah konsisten dengan pendapat Rozzef (1982) bahwa pembayaran dividen adalah bagian monitoring perusahaan. Variabel insider Ownership berhubungan positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Jensen et al (1992). Hal ini terjadi karena peningkatan hutang akan meningkatkan nilai perusahaan sejalan dengan peningkatan kepemilikan oleh insiders. Oleh karena itu Jensen & Meckling menyarankan untuk meningkatkan kepemilikan oleh insider akan bisa menekan risiko kebangkrutan. 14. Hasil riset menunjukkan bahwa tingkat hutang yang menaik akan meningkatkan tingkat investasi manajerial (kepemilikan manajerial) . namun hipotesis tidak terbukti (tidak signifikan). sehingga mengurangi kekuasaan manajer . Temuan ini tidak konsisten dengan hasil studi Fried and Leland (1988) yang menemukan bahwa debt ratio berhubungan negatif dengan profitabilitas dan kepemilikan manajerial. dan Moh’ed et al (1998) bahwa pembayaran dividen mempunyai pengaruh negatif terhadap kebijakan hutang. Variabel kebijakan dividen (DPR) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kebijakan hutang (DEBT). 16. Semakin besar kepemilikan oleh insider ternyata semakin besar dividen yang harus dibayar. Disamping itu temuan itu juga konsisten dengan temuan Rozzef (1982) dan Esterbook (1984) bahwa pembayaran dividen kepada pemegang saham akan mengurangi sumber-sumber dana yang dikendalikan manajer. KETERBATASAN. Temuan ini konsisten dengan studi yang dilakukan oleh Bathala et al (1994). dengan demikian menghindari investasi yang sia-sia yang pada gilirannya dapat meningkatkan nilai perusahaan. Variabel kebijakan dividen berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kepemilkan oleh insider. Oleh karena itu hipotesis dalam riset ini tidak terbukti. 15. Hasil ini menunjukkan konsisten dengan studi yang dilakukan esterbook (1984).12. VIII. Variabel kebijakan hutang (DEBT) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepemilikan oleh insider (INSD). Temuan ini jelas tidak konsisten dengan hasil studi Jensen (1992) yang menyatakan bahwa insider ownership berpengaruh negatif terhadap kebijakan dividen. 13. Hasil riset pada variable ini konsisten dengan temuan MM pada tahun 1963 bahwa dengan memasukan pajak penghasilan perusahaan.

Namun lebih konsisten dengan teori tax differential. Walaupun sample size telah memenuhi syarat minimum ukuran sample. Namun demikian untuk meningkatkan insider ownership harus didahului oleh penurunan pembayaran dividen. dividen dan keberadaan insider ownership. Kebijakan dividen juga harus memperhatikan risiko bisnis. ketiga perlu mempertimbangkan variable-variabel fundamental yang belum diteliti dalam penelitian ini . Semakin besar risiko bisnis semakin besar laba yang ditahan (dividen kecil). Begitu juga faktor Insider Ownership yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Sedangkan informasi pertumbuhan masih disangsikan oleh investor sehingga pertumbuhan tidak otomatis mendatangkan investor baru untuk bergabung. • Saran Penelitian ini dilakukan dalam periode 1992-1996 dengan ukuran sample 95 sample. • Implikasi Faktor hutang dan insider ownership masih bisa digunakan oleh perusahaan dalam mencapai nilai perusahaan yang diinginkan. Sedangkan faktor size dan debt tidak signifikan. Sementara factor profitabilitas. Temuan konsisten dengan pendapat Leland dan Pyle (1977). sehingga dividen setelah pajak dan menawarkan dividen yang lebih tinggi akan meminimumkan biaya modal yang pada gilirannya menaikkan nilai perusahaan. Hal ini berarti bertentangan dengan hipotesis dalam riset ini. dengan demikian keterbatasan ini kemungkinan dapat menimbulkan kesimpulan yang berbeda bila dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan variable-variable yang lebih lengkap. Sedangkan faktor pertumbuhan perusahaan. Kebijakan dividen yang berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Oleh karena itu penelitian selanjutnya akan lebih bermakna bila pertama penelitian selanjutnya perlu memperbesar ukuran sample misalnya dengan menambah periodesasi penelitian sehingga diperoleh sample yang lebih besar. Kepemilikan insider merupakan insentif bagi peningkatan kinerja perusahaan. Dividen yang lebih rendah ternyata lebih memberikan nilai perusahaan. Tapi insider tidak menyukai peningkatan size serta pertumbuhan. kedua perlu perhatian periode setelah krisis guna menguji konsistensi perilaku variable penelitian. kebijakan dividen dan kepemilikan oleh insider tidak signifikan dalam mempengaruhi kebijakan hutang. tidak signifikan. Disisi lain harus hati-hati sebab semakin tinggi kepemilikan oleh insider menunjukkan semakin besar dividen yang harus dibayar (temuan tidak konsisten). namun belum merupakan sample yang ideal. Peningkatan size sulit diimbangi dengan peningkatan insider ownership sebab keterbatasan dalam memperoleh dana. terhadap delapan variable . para investor memandang proporsi kepemilikan saham sebagai sinyal yang baik. Vermalen (1981).terhadap kebijakan hutang. Beberapa variable fundamental dalam penelitian ini tampak tidak memberikan perilaku (korelasi) yang konsisten terhadap kebijakan hutang. Keterbatasan lainnya adalah masalah sample size . Temuan ini juga tidak konsisten dengan pendapat Gordon-Lintner (The Bird in The Hand theory) yang menyatakan bahwa dividen lebih kecil risikonya daripada capital gain. Peningkatan insider ownership ini mendapat dukungan dari peningkatan hutang dan penurunan dividen. Artinya peningkatan sumber dana dari hutang dan laba ditahan merupakan insentif bagi insider ownership. risiko bisnis. yang berarti hipotesis yang menyatakan bahwa semakin besar kepemilikan oleh insider akan menaikan nilai perusahaan adalah terbukti. Untuk menurunkan pembayaran dividen bisa dilakukan dengan menjalankan bisnis yang berisiko rendah. • Keterbatasan Analisis ini hanya menggunakan delapan variable dari yang seharusnya sekitar 25 variabel.

Crutchley. Tesis Magister sains UGM. 38-50. version 3.. 2001. EF. Private benefits from control of public Corporations.. Rao. Debt Policy. RS. P. Michael J.... 33-71. & O’ Byrne. Corporate Control. H. 1991. J. Schindler. Easterbook. October. Analisis Simultanitas Insider Ownership. Vol 23. Kebijakan Hutang dan Dividend pada Perusahaan di BEJ. Chicago. 479-491. 313-316. 21-31. 1277-1368. and Clifford G. Arbukle J. Chicago.. Journal of Financial economics . No. 1986.. Bringham.. Corporate Leverage. Pengaruh Struktur kepemilikan Terhadap kebijakan Hutang Pada Industri manufaktur di BEJ . S. and The Impact of Institutional Holding: An Agency Perspective. Daves. Institutional Ownership. 1984. 3. Journal of Financial Economics. 1994. L. 36-46 David Young.C... Coopers. 2000.. Faisal. R.DAFTAR PUSTAKA Arbukle J. Strategic Management Journal . CE. Smallwaters Corporation... Harold. LC. Damsetz. 1997 Amos User’s Guide . JR.. Tesis S2 UGM.. & Gapenski.. p. L. Chaganti. Harry and Linda E. Deangelo. Financial Management. p. Stephen F. The Dryden Press. Bathala. p. New York.6. Moon. KP.R. Two agency –cost explanations of dividends. Summer. 1989. CT. Liquidity Versus Control: The Institutional Investor as corporate Monitor.. 1989. insider trading and rates of return. p 650-659. 2000. Financial Management. 1996. Columbia Law Review. RP. Ghon Rhee. McGraw-Hill Deangelo. Damanpour. tidak dipublikasikan. McGraw-Hill International editions. 1985. Financial Management.6. Business Research Methods. Frank. Managerial Ownership. American Economic Review. American Economic Review. & F. p. 1999.. Capital Structure and Firm Performance.. Holdeness. Managerial Ownership of Voting Rigths: A Study of Public Corporation With dual Classes om Common Stock. Rosita.. . Intermediate Financial Management. p. P. Smallwaters Corporation. Coffee. and Corporate Dividens. A Test of the Agency Theory of Managerial Ownership.. Barclay. S & Chang . The impact of Personal Taxes on Corporate Divident Policy and Capital Structure Decisions.P. D. New York. Gunoro Nupikso. PR. 2000. & Pamela S. 1992 Amos Version 3. Eva and Value-Based Management. 371-395. Hansen.

1986. Use of Causal Models in Marketing Research: A Review. p. An Empirical Model Of Capital Structure: Some New evidence. MA.. 181-197. Journal of Financial Economics. s. M. 33.. Journal of Business Finance and Accounting.A.. Chow. Financial Structure. H. 3-24. 1996.. Journal of Business Finance and Accounting 21. The Financial Review. The Market of Corporate Control : The Scientific Evidence. New york.247-263. R. Homaifar. Eugene F and Kenneth R. Tatham. Mehran. Informational Asymetries.. p. 5-50. The Debt/Equity Choice. H. JN. and Financial intermediation. The Capital Structure Puzzle. Ballinger.85-98. G.. . Bhandari. G. Invesment: Analysis and Management. & W. Journal of Financial and Quantitaive Analysis. Yogyakarta. M. J. 1998. and O. p. 1988. J.. 1988. Journal of Finance.. Multivariate Data Analysis. Perry. p 575-692. Business Conditions and Expected Return on Stock and Bonds. Rimbey. Hair JE. RL. Hulland J. journal of Financial and Quantitative Analysis. p. Evidence on the impact of the agency cost of debt on corporate debt policy. Meyers. W. Canbridge. and capital Structure. 1977. and E. 1994.23-49. Homaifar. 1976. journal of Financial and Quantitative Analysis. Benkato.. Prentice Hall International Inc. Corporate Control. Leland. French (1989). "An empirical model of capital structure: some new evidence". Agency Cost and Ownership Structure".. Journal of Finance. 1983. & Lam S. Solberg and T. 1984.. 1992. New York. 1992. Vol 27. 27. Journal of Finance 39. Simultaneous Determination of Insider Ownership. Jones. . pp.P. 1998.. The Impact Of Ownership Structure On Corporate Debt Policy: a Time-Series Cross-Sectional Analysis. . John Wiley & Son.H.. Anderson RE. International Journal of Research in Marketing. Jensen. Michael C. Pyle. Masulis. and Dividend Policies. Ziest. p.C. Jensen. Zorn. Dasar-Dasar Teori Portfolio dan Analisis Sekuritas. Jr.. Jensen. and D. UPP AMP YKPN. Meckling. 1999.. debt. W. pp.. Edisi Kedua. Debt Equity ratio and Common Stock Returns: Empirical Evidence... Moh’d. Kim. Zeitz. Sorensen. Black WG. June. Journal of Financial economics. Suad (1996). p. Executive Incentive Plans.Fama. Journal of Financial Economics p. p 371-388. G. LG. and Benkako. ruback. Chand .. 1-14 Husnan.. "Theory of the Firm: Managerial behavior.H. 539-560.D.. 247-263 Laxmi. Y. and Richard S. 1994. January. C.

Brigham. p. Tidak di publikasikan. Manajemen Keuangan: Teori dan Aplikasi. p. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. and N. Prowse. s. Ownership Concentration. . Journal of Financial Economics.. P. Majluf. Slovin. Shleifer. Vermaelen.R. S. Federal Reserve Bank of Dallas Economic Review. Sushka. 1999.249-259 Ross . and Marie E.. Rozeff M. 1995. June. Setyawan. 1986. p 23-40. Simultanitas Keputusan deviden dan struktur modal. 1995. 1990.. 25-54. 1984. Erlangga. Common Stock Repurchases and Market Signaling: An Empirical Study. M. S. 461-488 Surasni NK. The determinations of Financial Structures: The Incentive Signaling Aproach. Journal of Financial Economics... Journal of Financial Research. Dasar-dasar Pembelanjaan perusahaan.Meyers S. Journal of Financial Economics. Corporate Control Activity and Firm Value: Evidence From The Death of Inside Blockholders. Corporate Control in Commercial Banks. Growth Beta and Agency Cost as determinants of Dividend Payout Ratios. 1996. Beberapa Variabel yang mempengaruhi Dividend per share Pada perusahaan-Perusahaan Manufaktur yang listed di BEJ .. Alternative Methods of Corporate Control in Commercial Banks. Sartono. I.. Universitas Gadjah mada. Third Quarter. 1977. Bell Journal of Economics. Large Shareholders and corporate control. p.. 163-181 Weston JF and EF. The Journal of Finance. Journal of Political Economics 95. 1293-1321. Corporate financing and invesment decition when firms heve information investors do not heve. Tesis S2.. Yogyakarta. BPFE UGM Yogyakarta. A & R..B. Riyanto B. 1998. 187-221. p. BPFE UGM. Vishny. p. Prowse. 13. Stulz. 1982. 1993. 1997. Tesis Universitas gadjah Mada. Rene. 509-527. 24-36. p. 1988. Managerial Control of Voting Rights: Financing policies and the market for corporate control. Vol XX.. Jakarta. Edisi Ke empat. The Journal of Financial Research. 1981. June. A.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->