P. 1
Laporan Praktikum Titik Berat (2)

Laporan Praktikum Titik Berat (2)

|Views: 3,538|Likes:

More info:

Published by: Septian Ika Prasetya on Oct 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/18/2013

pdf

text

original

2012

Laporan Praktikum Fisika
Menentukan Titik Berat Benda

Kelompok 5  Riza Fahlevi  Rizqi Zakaria Nur  Rohmah Itsnawati  Rudi Handoko  Septian Ika Prasetya  Shaffil Wildaan  Siti Nurhayati

Kelas XI-IPA 2

SMA NEGERI AJIBARANG

ABSTRAK

Kami melakukan percobaan untuk menentukan titik berat dari sebuah benda datar yang tidak beraturan. Titik berat atau disebut juga pusat massa yaitu suatu titik dimana massa sistem dapat dikonsentrasikan yang jika diberikan gaya pada titik tersebut maka sistem akan bergerak translasi murni. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan titik berat benda datar tidak beraturan. Percobaan ini dilakukan dengan cara menentukan tiga garis berat pada sisi yang berbeda, kemudian menentukan titik perpotongan dari garis-garis berat tersebut. Titik perpotongan dari beberapa garis berat adalah pusat massa atau titik berat benda. Kata kunci: Vektor, Benda Tegar, Torsi, Momen Inersia, Titik Berat

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufiq, hidayah, serta inayah-Nya, sehingga kami dapat melaksanakan kegiatan praktikum menentukan titik berat bidang datar tak beraturan serta menyusun laporan kegiatan praktikum menentukan titik berat. Kegiatan praktikum bertujuan untuk menentukan titik berat atau pusat massa dari sebuah benda/bidang datar yang bentuknya tidak beraturan (poligon). Metode yang digunakan untuk menentukan titik berat benda adalah dengan metode garis berat. Sementara penyusunan laporan kegiatan praktikum menentukan titik berat benda bertujuan untuk melaporkan struktur, proses, hasil, dan kesimpulan yang kami peroleh dari kegiatan praktikum kami. Keberhasilan kami dalam melaksanakan praktikum serta menyelesaikan penyusunan laporan praktikum tidak lepas dari dukungan serta bantuan langsung dari berbagai pihak. Maka dari itu, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada: 1.) Kepala SMA Negeri Ajibarang, Bapak Drs.Arif Priadi, M,Ed Terima kasih kami ucapkan atas bimbingan dan dukungan yang senantiasa diberikan kepada seluruh stakeholders demi pembangunan sekolah kita tercinta; 2.) Bapak dan Ibu Guru SMA Negeri Ajibarang. Terima kasih kami ucapkan dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas didikan, motivasi, serta ilmu yag senantiasa ditularkan kepada kami sepanjang waktu; 3.) Orang tua kami tercinta, Ayah dan Bunda yang telah membesarkan dan mendidik kami. Terima kasih atas do’a yang selalu kalian panjatkan demi kesuksesan kami serta dukungan yang tiada henti; 4.) Guru mata pelajaran Fisika kelas XI selaku pembimbing kegiatan praktikum kami, Bapak Drs. Kusno. Terima kasih yang sebanyak-banyaknya serta penghargaan yang setinggitingginya atas bimbingan, tuntunan, didikan, serta motivasi tiada henti yang selalu Bapak berikan pada kami; 5.) Siswa-siswi SMA Negeri Ajibarang, khususnya siswa-siswi kelas XI-IPA 2. Yang senantiasa menemani kami menjalani hari-hari dalam suka dan duka. Terima kasih kami sampaikan atas dukungan yang senantiasa kawan berikan.

6.) Pihak-pihak lan yang turut mendukung dan membantu kegiatan praktikum dan penyusunan laporan yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas dukungan dan bantuan anda. Kami berharap agar kegiatan praktikum dan laporan yang sederhana ini tidak hanya sekedar untuk memenuhi tugas belaka. Namun seyogyanya laporan ini dapat memberikan manfaat yang lebih bagi kami sebagai penyusun serta bagi pembaca sekalian untuk menambah khazanah pengetahuan keilmuan. Kami telah berusaha semaksimal mungkin agar laporan ini dapat disusun sedemikian baik, namun kami tentu menyadari masih terdapat banyak kekurangan dan kekeliruan. Maka, kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca dan pengguna laporan ini demi perbaikan pada penyusunan laporan-laporan selanjutnya.

Ajibarang, Januari 2012

Penyusun

MOTTO

”Hidup adalah drama penuh improvisasi,tanpa scenario,tanpa tahu apa yang akan terjadi, siapa yang akan kau temui, atau tempat-tempat mana yang akan kau pijak. Katakan “ya”. Dan jika kau beruntung, kau akan bertemu dengan seseorang yang akan mengatakan “ya” kembali padamu. Apakah dengan berkata “ya” bisa mengantarkanmu pada kesulitan? Apakah dengan berkata “ya” bisa menyebabkan kau melakukan suatu kesalahan? Ya,tentu bisa. Tapi jangan takut membuat kesalahan. Ingat, kau tak bisa menjadi muda dan bijak dalam waktu bersamaan. Orang muda yang berlagak bijak dan mengerti tentang hidup, kebanyakan adalah orang-orang sinis. Merka tidak akan belajar apapun. Karena sikap sinis berarti membutakan diri sendiri,penolakan terhadap dunia luar karena selalu ketakutan jika dunia luar akan menyakiti dan mengecewakan. Orang-orang sinis selalu berkata “tidak”. Tetapi dengan berkata “ya” berarti memulai sesuatu yang baru. Berkata “ya” mengantarkanmu pada pengetahuan baru. Jadi, selama kau mempunyai kekuatan, katakan “ya” .:: Stephen Colbert

DAFTAR ISI
Halaman Judul ........................................................................................................... Kata Pengantar........................................................................................................... Motto ......................................................................................................................... Daftar isi .................................................................................................................... BAB I 1. 2. 3. 4. BAB II A. B. C. D. E. BAB III PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Praktikum Manfaat Praktikum LANDASAN TEORI Analisis Vektor Kinematika Rotasi Dinamika Rotasi Titik Berat Kesetimbangan Benda Tegar METODOLOGI PRAKTIKUM A. Alat dan Bahan Praktikum B. Desain Praktikum C. Pengolahan dan Analisis Data BAB IV A. B. C. D. BAB V A. B. C. D. HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN Proses Praktikum Bidang Datar Tak Beraturan Data Hasil Praktikum Pembahasan PENUTUP Tes Komprehensif Tes Formatif Kesimpulan Saran

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan Sains semakin pesat seiring dengan semakin meningkatnya taraf hidup manusia di era modernisasi. Sains semakin mantap kedudukannya dalam kehidupan manusia, tidak sekedar untuk menjelaskan dan mempelajari fenomenafenomena alam, tetapi tendensinya semakin mengarah ke aplikasi dalam berbagai produk teknologi dari hasil pengembangan dan pengkajian penemuan-penemuan dan teori-teori yang telah diungkap manusia. Sebagai rujukan, adalah bagaimana teori-teori tentang gelombang elektromagnetik yang pada awalnya hanya sekedar rumusanrumusan matematis, sekarang telah membawa revolusi dalam kehidupan dan budaya manusia setelah diaplikasikan ke dalam berbagai produk teknologi yang senantiasa dikembangkan, seperti gelombang radio untuk telekomunikasi dan kepentingan militer, sinar-X dan sinar gamma digunakan dalam teknologi medis. Kemajuan ilmu-ilmu murni telah menjadi sumber bagi ilmu-ilmu terapan seiring semakin bijak dan berkembangnya dimensi pemikiran manusia. Selama ini kebanyakan orang di Indonesia adalah pelanggan setia dari produkproduk teknologi yang berkembang sedemikian pesatnya. Mereka adalah objek statis, konsumen dari produk-produk teknologi yang jarang berpikir bagaimanakah prinsip kerja dari produk-produk teknologi yang mereka gunakan. Apalagi berinisiatif untuk menciptakan inovasi dalam bidang teknologi sains. Urgensi yang krusial saat ini adalah bagaimana menciptakan atmosfer courage and interest terhadap perkembangan teknologi terutama bagi generasi muda. Tidak sekedar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mampu menguasai,

memanfaatkan, serta diharapkan mampu memberikan sumbangsih bagi perkembangan teknologi. Jalan terbaik agar dapat menguasai, memanfaatkan, serta menciptakan inovasi teknologi adalah dengan mempelajari, menguasai, dan menerapkan Sains. Dalam mempelajari Sains, langkah awal yang terbaik adalah dengan mempelajari dasar-dasar sains. Dasar-dasar tersebut berupa konsep dan prinsip suatu fenomena alam dalam sebuah disiplin ilmu. Konsep-konsep dan prinsip tersebut merupakan konsep dan prinsip yang ilmiah, yang menjelaskan fenomena-fenomena dalam kehidupan sehari-

hari.Tahap selanjutnya yang sangat krusial adalah menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip tersebut untuk menjelaskan prinsip kerja dari suatu produk teknologi. Bahkan, bagi siswa yang memiliki kreativitas dan pemikiran ilmiah, mengaktualisasikan diri untuk menciptakan inovasi produk teknologi berdasarkan konsep dan prinsip ilmiah yang telah dikuasai merupakan langkah emas menuju teciptanya sumber daya unggul. Semangat dan motivasi untuk mempelajari dan menguasai konsep dan prinsip ilmiah yang menjelaskan fenomena natural dalam kehidupan sehari-hari adalah pemicu yang mendorong kami untuk mempelajari konsep dan prinsip titik berat dalam disiplin ilmu Fisika. Diharapkan, setelah mempelajari konsep dan prinsip titik berat, kami dapat menguasai konsep dan prinsip tersebut, kemudian mengaplikasikannya dalam keidupan sehari-hari agar mendatangkan manfaat. Konsep titik berat, yang berhubungan erat dengan dinamika rotasi dan kesetimbangan benda tegar adalah konsep yang sangat penting dan diterapkan secara meluas di berbagai bidang dalam kehidupan manusia. Hal itulah yang menarik minat kami untuk mempelajarinya. Penerapan dari konsep titik berat meliputi bidang arsitektur, teknik sipil, olahraga, dan banyak bidang lainnya.Sehingga penguasaan konsep titik berat dapat memberikan prospek bagi pilihan karier di masa depan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka rumusan masalah dari kegiatan praktikum ini adalah: 1. Bagaimana cara menentukan titik berat dari suatu benda datar yang bentuknya tidak beraturan? 2. Bagaimana hubungan antara titik berat suatu benda dengan titik berat dari bagianbagian benda yang dipisahkan kemudian digabungkan kembali? 3. Bagaimana cara menentukan titik berat sistem benda yang merupakan gabungan dari beberapa benda?

C. Tujuan Praktikum

Berdasarkan Rumusan Masalah diatas, kegiatan praktikum menentukan titik berat benda datar tak beraturan dan penulisan laporan kegiatan praktikum memiliki beberapa tujuan, yaitu: 1. Tujuan Umum (Tujuan Kegiatan Praktikum) Kegiatan Praktikum menentukan titik berat benda datar tak beraturan bertujuan: a. Untuk menentukan titik berat suatu benda datar tak beraturan dengan metode menentukan beberapa garis berat yang saling berpotongan pada suatu titik; b. Untuk membuktikan bahwa titik berat suatu sistem benda sama dengan titik berat dari gabungan benda-benda yang merupakan hasil pemisahan dari sistem benda tersebut. 2. Tujuan Khusus Kegiatan praktikum menentukan titik berat suatu benda datar tak beraturan dan laporan kegiatn praktikum tersebut bertujuan untuk memenuhi tugas mata pelajaran Fisika bab Kesetimbangan Benda Tegar, serta untuk mengaktualisasikan diri dalam aktifitas akademik ilmiah secara mandiri.

D. Manfaat Penelitian
Dengan tercapainya tujuan dari kegiatan praktikum dan penulisan laporan praktikum, maka manfaat yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut: 1. Dapat memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip mengenai kesetimbangan benda tegar beserta konsep, prinsip dan metode menentukan titik berat suatu benda menggunakan metode garis berat benda; 2. Dapat membuktikan bahwa titik berat suatu sistem benda sama dengan titik berat gabungan dari benda-benda yang merupakan penyusun dari benda tersebut; 3. Dapat mengaktualisasikan diri dalam suatu kegiatan akademik yang menyangkut kajian ilmiah, sehingga dapat meningkatkan taraf pengetahuan dan penerapan Sains; 4. Dengan pemahaman yang mendalam tentang konsep dan prinsip ilmu Fisika, terutama dalam bab kesetimbangan benda tegar dan titik berat benda, maka siswa dapat memiliki modal dasar yang krusial bagi mereka yang hendak meneruskan jenjang pendidikannya di tingkat universitas pada jurusan arsitektur maupun teknik sipil.

BAB II

LANDASAN TEORI
A. ANALISIS VEKTOR I. Besaran Vektor dan Besaran Skalar
Besaran vektor adalah besaran yang mempunyai besar dan arah. Contoh dari besaran vektor adalah perpindahan, kecepatan, dan percepatan. Sementara besaran skalar adalah besaran yang hanya mempunyai besar,tetapi tidak mempunyai arah. Contoh dari besaran skalar adalah massa, energi, dan volume. Suatu besaran vektor dapat digambarkan dengan sebuah anak panah yang memiliki suatu titik tangkap dan ujung anak panah yang menyatakan arah vektor. Berikut adalah notasi dari sebuah besaran vektor.

O

A Gambar II.A.1 Vektor OA

Keterangan:  O  A  OA  OA adalah titik tangkap vektor adalah ujung vektor adalah panjang vektor yang menyatakan besar vektor adalah arah anak panah yang menyatakan arah vektor

Suatu vektor dapat dituliskan dengan satu huruf, berupa huruf kecil atau huruf besar, misalnya a atau A . Vektor dapat pula dituliskan dengan dua huruf besar, misalnya AB.

II. Resultan Dua Buah Vektor
Penjumlahan (resultan) dua buah vektor dapat dilukiskan dengan tiga metode,yaitu; 1. Metode Jajaran Genjang 2. Metode Segibanyak (Poligon) 3. Metode Analitis

Untuk menggambarkan resultan dua buah vektor dengan metode jajaran genjang, caranya adalah dengan menggambarkan dua vektor dalam satu pangkal, kemudian lukiskanlah garis yang ditarik dari ujung masing-masing vektor yang sejajar dengan vektor lainnya, kemudian tariklah sebuah vektor resultan yang pangkalnya ditarik dari titik yang sama dari pangkal kedua vektor dan berujung di titik perpotongan dari garisgaris yang ditarik dari ujung masing masing vektor dan sejajar dengan vektor lainnya. Berikut adalah contoh lukisan penjumlahan dua buah vektor yang saling tegak lurus. A+B=C A C

B Gambar II.A.2 Melukiskan resultan 2 vektor dengan metode jajaran genjang Untuk melukiskan resultan dua vektor dengan metode segibanyak (poligon), misalnya p + q = r, langkah-langkahnya sebagai berikut. Dari ujung vektor p, diteruskan dengan pangkal vektor q, lalu gambarlah resultan vektor p + q yang dilukis dari titik tangkap/pangkal vektor p dan berujung di ujung vektor q

r q p Gambar II.A.3 Melukiskan resultan 2 vektor dengan metode segibanyak (poligon)

Besar dari resultan dua buah vektor dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

R=√
Keterangan : o a o b o o = besar vektor a = besar vektor b

(1-1)

= sudut apit terkecil yang dibentuk oleh vektor a dan vektor b = besar resultan dua buah vektor

Dari persamaan (1-1) terlihat bahwa jumlah dua buah vektor bergantung pada sudut apit yang dibentuk oleh kedua vektor tersebut.  Jika dua buah vektor searah dijumlahkan, maka vektor resultannya searah dengan kedua vektor itu dan besarnya sama dengan jumlah aljabar kedua vektor tersebut.  Jika dua buah vektor yang saling tegak lurus dijumlahkan, maka besar vektor resultannya dapat dihitung dengan dalil phytagoras untuk segitiga siku-siku.  Jika dua buah vektor yang berlawanan arah dijumlahkan, maka arah vektor resultannya searah dengan vektor yang terbesar dan besarnya sama dengan besar vektor yang terbesar dikurangi dengan besar vektor yang terkecil. Dalam kasus mengurangkan 2 buah vektor, misalnya c = a – b sama dengan menjumlahkan vektor c = a + (-b). Pengurangan vektor (selisih 2 buah vektor) dapat dilukiskan sebagai berikut: b

a

-b

c

Gambar II.A.4 Melukiskan pengurangan vektor a - b = c III. Menguraikan Cartesius Setiap vektor dapat diuraikan menjadi komponen-komponennya pada sumbusumbu dalam koordinat Cartesius. Misalkan vektor V diuraikan, maka komponen vektor V pada sumbu X ditulis Vx, sementara komponen vektor V pada sumbu Y Vektor Menjadi Komponen-Komponen Sumbu Koordinat

ditulis Vy. Jika sudut yang dibentuk oleh vektor V terhadap sumbu X positif adalah α, maka berdasarkan rumus perbandingan trigonometri pada segitiga siku siku AOB diperoleh:

cos α = sin α =

Vx = V cos α
Vy = V sin α

(1-4 a) (1-4 b)

Bila besar komponen Vx dan Vx diketahui maka besar sudut yang dibentuk oleh vektor V terhadap sumbu x-positif dapat dicari sebaga berikut:

tan α=
IV. Menjumlahkan Vektor Secara Analitis

(1-5)

Menjumlahkan secara analitis adalah menjumlahkan komponen-komponen vektor pada sumbu x dan sumbu y. Langkah-langkah menjumlahkan vektor secara analitis adalah sebagai berikut: 1. Uraikan setiap vektor menjadi komponen-komponennya padda sumbu x dan sumbu y, kemudian hitung besar komponen-komponen tersebut dengan persamaan:

Vx = V cos α

Vy = V sin α

2. Jumlahkan komponen-komponen vektor pada sumbu x dan sumbu y Rx = ∑Vx

= V1x + V2x + V3x + ....... + Vnx Ry = Ry = ∑Vy V1y + V2y + V3y + ....... + Vny

3. Hitung besar dan arah resultan vektor dengan dalil phytagoras


V. Perkalian Vektor

tan α =

Terdapat 2 (dua) macam perkalian vektor, yaitu: 1. Perkalian Skalar 2. Perkalian Vektor 1. Perkalian Skalar Perkalian skalar antara dua vektor a dan b, yang dituliskan sebagai a . b (dibaca “ a dot b”), menghasilkan sebuah skalar yang didapat dengan mengalikan besar a dan besar b serta cosinus sudut apit terkecil antara kedua vektor.

a.b
a b θ

= a.b cos θ

= besar vektor a = besar vektor b = sudut apit terkecil antara vektor a dan b.

b

θ a

Contoh besaran fisika yang merupakan hasil perkalian skalar ialah usaha,yang dirumuskan sebagai:

W

=F.s = F.s cos θ

Dengan= W cjvdjdj = usaha F = vektor gaya (joule)

F s s θ Operasi

= besar gaya = vektor perpindahan = besar perpindahan (m) = sudut apit F dan s perkalian skalar mengikuti hukum komutatif dalam

matematika,yaitu: a.b 2. Perkalian Vektor Perkalian vektor antara dua vektor a dan b, yang ditulis sebagai (dibaca a cross b), menghasilkan sebuah vektor yang besarnya dirumuskan oleh: = b.a

|a Dengan:
a b θ Vektor | a dan vektor b. Perkalian vektor tidak bersifat komutatif, tetapi anti komutatif. Contoh besaran fisika yang merupakan hasil perkalian vektor adalah luas, momen gaya, dan gaya lorentz. Luas jajaran genjang contohnya, didefinisikan sebagai: | A | = A = p.l sin θ Dengan p dan l adalah vektor-vektor yang membentuk jajaran genjang. = besar vektor a = besar vektor b = sudut apit terkecil antara antara kedua vektor a dan b. tegaklurus dengan bidang yang yang dibentuk oleh vektor a

VI. Vektor Satuan
Suatu vektor yang terletak bidang 2 dimensi dapat diuraikan menjadi komponenkomponen vektor dalam sumbu X dan sumbu Y. Sementara vektor yang yang terletak dalam ruang, maka vektor tersebut juga dapat diuraikan menjadi komponen-komponen pembentukya pada sumbu X, sumbu Y, dan sumbu Z. Gambar II.E.1 menunjukkan vektor A yang terletak dalam ruang diuraikan menjadi komponen-komponen pembentuknya, yaitu Ax, Ay, dan Az. Dengan demikian vektor A dapat ditulis sebagai berikut:

A = Ax + Ay + Az
Untuk memudahkan analisis maka ditetapkanlah vektor-vektor satuan pada sumbu X, sumbu Y, dan sumbu Z. Lihat gambar II.E.1
Y

Ay

A j k i X Az Ax

Z

Keterangan Vektor A Sumbu-sumbu koordinat Cartesius Komponen-komponen vektor A pada sumbu koordinat Vektor-vektor satuan pada sumbu koordinat

Vektor satuan adalah vektor sebuah vektor yang besarnya sama dengan satu. Vektor satuan pada sumbu X diberi lambang I, pada sumbu Y diberi lambang j, dan pada sumbu Z diberi lambang k. Sesuai dengan definisi vektor datuan maka;

|i|=|j|=|j|=1
Berdasarkan vektor satuan ini maka vektor A dinyatakan dengan:

A A

= Ax + Ay + A z = Axi + Ayj + Azk

Pada gambar II.E.1, vektor A merupakan diagonal ruang bangun berbentuk balok dengan rusuk-rusuk Ax, Ay, dan Az, sehingga berlaku:

A =√

1. Penjumlahan Vektor Satuan Penjumlahan vektor satuan identik dengan penjumlahan suku-suku aljabar.

ai + bj + ck + di + ej + fk = (a+d)i + (b+e)j + (c+f)k

2. Perkalian Skalar Dua Buah Vektor Satuan  Perkalian Skalar Vektor Satuan yang Sejenis i.i = | i |.| i | cos 0o = (1) . (1)(1) i.i = 1 jadi, kesimpulan untuk perkalian vektor satuan yang sejenis adalah:

i.i = j.j = k.k = 1

 Perkalian skalar Vektor Satuan yang Tidak Sejenis i.j = | i |.| j | cos 90o = (1) . (1)(0) i.j = 0 Jadi, perkalian skalar vektor-vektor satuan yang tidak sejenis rumusnya adalah

i.j = j.k = i.k = 0
Perkalian vektor-vektor satuan sama dengan satu jika vektor-vektor satuan tersebut sejenis, dan sama dengan nol jika keduanya tidak sejenis. Rumus perkalian skalar dua buah vektor Jika vektor A dan B dinyatakan dengan vektor-vektor satuan sebagai berikut: A = Axi + Ayj + Azk dan B = Bxi + Byj + Bzk Maka dengan menggunakan rumus perkalian skalar dua buah vektor satuan, diperoleh: A.B = (Ax i + Ay j + Az k) . (Bx I + By j + Bz k)

A.B = Ax Bx + Ay By + Az Bz
3. Perkalian Vektor Dua Buah Vektor Satuan  Perkalian Vektor Dua Buah Vektor Satuan Yang Sejenis: | i x i | = | i |.| i | sin 0o = (1) . (1)(0) |ixi|=0 i.i = 0 Jadi, perkalian vektor dua vektor satuan yang sejenis:

ixi=jxj=kxk=0

 Perkalian Vektor Dua Buah Vektor Satuan Yang Tidak Sejenis Untuk memperoleh hasil perkalian vektor dua buah vektor satuan yang tidak sejenis digunakan diagram lingkaran putar kiri, sebagai berikut:

+

-

Dari diagram lingkaran putar kiri, diperoleh: ixj jxk kxi kxj jxi ixk =k =i =j = -i = -k = -j

Penghitungan perkalian vektor beberapa vektor satuan tidak sejenis juga dapat diselesaikan dengan metode yang lebih cepat menggunakan determinan yang menggunakan cara Sarrus.

a11 a12 a21 a22 a31 a32

a13 a23 a33

a11 a21 a31

a12 a22 a32

=

a11 a22 a33 + a12 a 23 a31 + a13 a21 a32 – a13 a 22 a31 a11 a23 a32 – a12 a21 a33

Contoh E.2 1 Tentukan hasil perkalian vektor dari vektor-vektor: A = 2i + 3j – k dan B = -i + j + 2k

i axb= 2 -1 Sehingga:

j 3 1

k -1 2

vektor-vektor satuan i, j dan k koefisien-koefisien vektor a koefisien-koefisien vektor b

i axb= 2 -1

j 3 1

k -1 2

i 2 -1

j 3 1

= i (3)(2) + j (-1)(-1) + k (2)(1) k (3)(-1) – i(-1)(1) – j(2)(2) = 6i + j + 2k + 3k + i + 4j =7i - 3j + 5k

B. KINEMATIKA ROTASI
Gerak rotasi merupakan gerak benda yang berputar terhadap sebuah sumbu putar ( sumbu rotasi ). Contoh dari gerak rotasi dalam kegiatan sehari hari misalnya gerak roda mobil yang berputar, gerakan pintu yang berputar pada engselnya, dan gerak rotasi pada sumbunya. Dalam melukiskan gerak rotasi, besaran-besaran yang digunakan meliputi posisi sudut, kecepatan sudut, dan percepatan sudut.

I. Posisi Sudut
Posisi suatu benda dapat dinyatakan dalam koordinat cartesius (x,y) ataupun dalam koordinat polar. Pada koordinat polar, posisi benda dinyatakan dalam r dan .  disebut posisi sudut yang diukur terhadap sumbu x-positif, berputar berlawanan arah dengan arah putaran jarum jam.

y = r sin 

r

x=r cos 

Hubungan antara (x,y) dan (r,) adalah: X = r cos  y = r sin  r=√

=

( )

Menyatakan Posisi Sudut dalam Derajat Radian Dalam penghitungan kinematika rotasi, posisi sudut sering juga dinyatakan dalam radian atau disingkat rad. Satuan radian didefinisikan sebagai perbandingan antara panjang busur suatu juring lingkaran dengan jari-jari lingkaran.

Sudut dalam radian =

=

Dari definisi diatas, besar sudut dalam radian= 1 apabila s = r. Sehingga dapat disimpulkan bahwa satu radian adalah sudut yang dibentuk suatu juring lingkaran yang panjang busurnya sama dengan jari-jari lingkaran tersebut. Dalam kasus sebuah lingkaran penuh, keliling lingkaran adalah 2r, sehingga besar sudut suatu lingkaran penuh dalam radian adalah sebagai berikut: Besar sudut lingkaran penuh = = Sehingga, diperoleh:
2 radian = 360o 1 rad = = 57,296o

= 2 radian

s=r

 = 1 radian

=

1 radian  s = r

Pada gerak rotasi, posisi sudut suatu partikel senantiasa berubah. Dengan kata lain, posisi sudut merupakan fungsi waktu dan dapat ditulis dengan  = (t).

II. Kecepatan Sudut
B

 + 


A

t
t t + t

O

Gambar diatas melukiskan grafik posisi sudut  suatu partikel sebagai fungsi waktu. Misalkan pada waktu t partikel berada di A (posisi sudutnya ) dan setelah t + t posisi sudutnya adalah  +  (titik B). Kecepatan sudut rata-rata partikel didefinisikan sebagai perubahan posisi sudut dibagi dengan selang waktu selama perubahan posisi sudut tersebut.
 

Kecepatan sudut sesaat (selanjutnya disebut sebagai kecepatan sudut) merupakan kecepatan sudut rata-rata ketika  sangat kecil. Arah kecepatan sudut menyinggung kurva (t). Lambang kecepatan sudut adalah .

Satuan

garis singgung

kecepatan

sudut

adalah

radian/sekon atau disingkat rad/s. Suatu gerak rotasi dengan kecepatan sudut konstan

dinamakan gerak melingkar beraturan. Pada frekuensi gerak putaran melingkar didefinisikan beraturan, sebagai

A

O

banyaknya putaran setiap detik. Karena 1 putaran sama  , maka frekuensi sama dengan kecepatan sudut dibagi dengan : f

Perlu ditekankan bahwa : dengan besaran √ atau yang lain seperti: √

(kecepatan sudut) merupakan fungsi waktu, berbeda

Pada gerak melingkar beraturan keduanya sama. Satuan dari frekuensi adalah putaran per detik atau disingkat putaran/s. Seringkali satuan frekuensi ditulis sebagai s-1 atau Hz (Hertz). Frekuensi juga dapat dinyatakan dalam rpm (rotation per minute) atau putaran per menit. 1 rpm = putaran/s =

Sementara itu, periode,T, merupakan waktu yang diperlukan untuk melakukan 1 kali putaran. Hubungan antara frekuensi dan periode adalah:

III. Menentukan posisi sudut dari kecepatan sudut
Posisi sudut suatu benda dapat ditentukan dengan mengintegralkan kecepatan sudut. Jika posisi sudut awal partikel adalah , maka posisi sudut pada waktu t adalah

dan dapat dihitung sebagai berikut (anggap t0 = 0)

=∫

Jika

konstan, maka gerakan benda adalah gerak melingkar beraturan.

IV. Percepatan sudut

B

A

t

t+

Gambar diatas merupakan grafik kecepatan sudut suatu partikel sebagai fungsi waktu. Misalkan pada waktu t, partikel berada di A (kecepatan sudutnya + partikel berada di B (kecepatan sudutnya ). ) dan setelah t

Percepatan sudut rata-rata didefinisikan sebagai perubahan kecepatan sudut dibagi dengan selang waktu selama perubahan kecepatan sudut tersebut.

Percepatan sudut sesaat (disebut percepatan sudut) sama dengan percepatan sudut rata-rata ketika t sangat kecil. Arah percepatan sudut sama dengan arah gradien garis singgung kurva ( ) Percepatan sudut diberi lambang .

Satuan dari percepatan sudut adalah radian/detik2 atau disingkat rad/s2.

V. Menentukan kecepatan sudut dari percepatan sudut
Kecepatan sudut dapat dihitung dengan mengintegralkan percepatan sudut. Jika kecepatan sudut awal partikel adalah maka kecepatan sudut pada waktu t adalah

dan dapat dihitung sebagai berikut (anggap t0 = 0).

Jika

konstan, maka

Posisi sudut untuk

,

∫(

)

Gerakan dengan

konstan dinamakan gerak melingkar berubah beraturan.

VI. Besaran-besaran Tangensial

Gambar disamping melukiskan sebuah titik pada tepi roda yang berputar mengelilingi sumbu putar O. Jika jarak titik tersebut ke pusat putaran
O R

S

adalah R, maka panjang lintasan titik setelah menempuh sudut s=R adalah:

Karena jari-jari lintasan R adalah konstan, maka laju perubahan s sepenuhnya disebabkan oleh laju perubahan

Dengan mengambil limit dituliskan sebagai:

mendekati nol, maka persamaan diatas dapat

merupakan kecepatan translasi atau kecepatan tangensial. Arah kecepatan ini searah dengan gerakan titik. Jika putaran roda dipercepat, maka kecepatan tangensial v aka semakin besar dan laju perubahan kecepatan sepenuhnya disebabkan oleh laju perubahan kecepatan sudut.

=R

Dengan mengambil limit

sangat kecil, rumus diatas dapat dituliskan sebagai:

merupakan kecepatan tangensial. Arah percepatan ini searah dengan arah gerakan titik. Selain percepatan tangensial, suatu titik yang bergerak melingkar akan mengalami percepatan sentripetal (perceatan normal atau percepatan radial) yang arahnya menuju ke pusat lingkaran.

Besar percepatan tangensial adalah:

=

Kesimpulan: Hubungan antara besaran- besaran tangensial dengan besaran- besaran sudutnya adalah=

C. Dinamika Rotasi Benda Tegar
Benda tegar didefinsikan sebagai benda yang tidak berubah bentuknya jika pada benda itu bekerja sejumlah gaya. Misalnya baja, beton, besi, batu dan sebagainya. Dinamika adalah ilmu yang mempelajari gerak benda dengan memperhatikan penyebabnya. Sementara gerak rotasi atau gerak melingkar adalah gerak suatu benda yang lintasannya berbentuk lingkaran. Maka dalam dinamika rotasi yang dipelajari adalah gerak rotasi berkaitan dengan penyebabnya.

I. Torsi (Momen Gaya)
Sebuah gaya dapat menimbulkan gerak rotasi apabila garis kerja gaya tidak melalui pusat rotasi. Gaya yang menyebabkan gerak rotasi menghasilkan torsi atau disebut juga dengan momen gaya. Torsi atau momen gaya adalah penyebab dari benda berotasi yang berperan layaknya gaya pada gerak lurus. Momen gaya disebut juga torsi atau torka ataupun dobrakan putar. Torsi didefinisikan sebagai hasil perkalian vektor (cross product) antara vektor gaya F dengan vektor jarak r Semakin besar momen gaya, semakin besar percepatan sudut yang dihasilkannya.Secara matematis, torsi atau momen gaya (: tau) dirumuskan dengan:

Dengan

 = torsi/momen gaya r = vektor jarak F = vektor gaya  = sudut apit terkecil antara r dan F r = besar jarak F = besar gaya

Arah vektor r

tegaklurus terhadap bidang yang dibentuk oleh r dan F

r


arah putaran

Gaya F

F

menyebabkan

batang

berputar searah putaran jarum jam dengan titik O sebagai poros

O r

putaran. Arah torsi yang dihasilkan menuju bidang sesuai aturan

perkalian vektor

Momen gaya bergantung pada besar gaya
Garis kerja gaya

yang diberikan dan lengan momen. Lengan momen adalah jarak tegak lurus sumbu rotasi dengan garis

l
Lengan momen

kerja gaya. Dengan kata lain, lengan momen merupakan jari-jari rotasi. Pada gambar dibawah, lengan momen ditarik dari sumbu putar (O) tegak lurus garis kerja gaya.

Dengan mengikutsertakan lengan momen, persamaan momen gaya dapat dinyatakan dengan: ( θ) atau

Torsi merupakan besaran vektor, maka ketentuan mengenai harga torsi sesuai arahnya adalah sebagai berikut:  jam;  (berharga negative) apabila menyebabkan putaran berlawanan arah dengan putaran jarum jam. ( ) apabila menyebabkan putaran searah dengan putaran jarum

II. Momen Inersia
Inersia adalah kecenderungan benda untuk mempertahankan posisinya. Benda yang sukar untuk digerakkan ketika diam dan benda yang sukar dihentikan ketika ia bergerak dikatakan memiliki inersia yang besar. Massa merupakan ukuran dari inersia. Pada kasus gerak rotasi, besaran yang menentukan inersia benda adalah inersia rotasi. Inersia rotasi yaitu kecenderungan benda untuk mempertahankan keadaan rotasinya. Jika benda dalam keadaan diam, maka benda tersebut cenderung tetap diam. Jika benda dalam keadaan berotasi, benda tersebut cenderung untu terus berotasi. Ukuran yang menyatakan besarnya kecenderungan benda untuk mempertahankan keadaan rotasinya adalah momen inersia.Momen inersia bergantung pada massa benda, bentuk benda, dan cara penyebaran massa pada benda tersebut. Benda yang bermassa sama namun bentuk bangunnya berbeda memiliki momen inersia yang berbeda. Untuk merumuskan momen inersia secara matematis, pada kasus momen inersia benda titik yang berputar;momen inersianya didefinisikan sebagai hasil perkalian antara massa partikel,m dengan kuadrat jarak partikel tersebut dari sumbu putarnya.

Untuk momen inersia sebuah sistem yang memiliki banyak partikel, momen inersia dari sistem partikel tersebut adalah jumlah total momen inersia dari tiap-tiap partikel.

III. Momen Inersia Benda Tegar
Momen inersia dari benda tegar (benda yang tidak berubah bentuk walau mendapat gaya atau momen gaya) adalh jumlah dari momen inersia setiap partikel dalam partikel benda tersebut. Berikut adalah tabel momen inersia dari benda-benda homogen. NO BENTUK BENDA TEGAR KETERANGAN MOMEN INERSIA

l
1

Batang silinder tipis. Poros melalui pusat titik tengah batang

l

Batang silinder tipis. Poros melalui salah satu ujung batang

Cincin. Poros melalui sumbu simetri

r

Cincin. Poros melalui diameter.

Silinder pejal. Poros melalui pusat silinder.

Silinder pejal. Poros melalui tepi silinder.

r

Kulit bola. Poros melalui pusat kulit bola.

r

Bola pejal. Poros melalui pusat bola.

r

Bola pejal. Poros melalui tepi bola.

IV. Momentum Sudut Momentum sudut suatu partikel (benda titik) yang berputar terhadap suatu titik O didefinisikan sebagai:

z L

L

y x P

r r P

P merupakan vektor momentum partikel dan r adalah vektor posisi partikel terhadap titik O.
L

O
r z p y

Pada gambar diatas, sebuah partikel berputar mengelilingi sumbu putar yang melalui O. Momentum sudut terhadap titik O adalah: θ ( ( )k )

Besar dari momentum sudut dapat dituliskan:
L=

k merupakan vektor satuan arah sumbu z positif dan kecepatan sudut.Arah dari vektor kecepatan sudut:

merupakan

vektor

 Jika partikel bergerak melingkar berlawanan arah dengan putaran jarum jam dalam bidang xy, maka arah vektor kecepatan sudutnya kea rah sumbu z positif;  Jika partikel bergerak melingkar searah dengan putaran jarum jam, maka vektor kecepatan sudutnya kea rah sumbu z negatif. Rumus berlaku juga untuk benda tegar.

V. Hubungan antara Torsi, Momen Inersia, dan Percepatan Sudut

Momen gaya () menyebabkan gerak rotasi pada benda, sehingga timbul percepatan sudut ()
F

Pada gambar disamping, benda kecil bermassa m dihubungkan dengan tongkat ringan yang dapat berputar

r A B

bebas pada ujung A. Gaya F bekerja pada ujung B. Gaya tersebut menimbulkan momen gaya sebesar menyebabkan benda berotasi. yang

Besar percepatan tangensial dari partikel tersebut adalah a = Berdasarkan hukum II Newton, diperoleh F = maT, maka:

.

= =

(

)

( ) , maka:

Karena momen inersia benda adalah I =

Persamaan diatas merupakan hukum II Newton pada gerak melingkar.

VI. Energi Kinetik Rotasi
Dalam gerak translasi, energi kinetik dirumuskan dengan

Dalam gerak rotasi, v=

, sehingga: ( ( ) )

Dengan I adalah momen inersia dan

merupakan kecepatan sudut.

Pada benda yang melakukan gerak translasi sekaligus gerak rotasi, hukum kekekalan energi mekanik dapat dirumuskan dengan:

Atau,

VII.

Kekekalan Momentum Sudut
Torsi merupakan turunan pertama momentum sudut terhadap fungsi waktu. Dapat

dituliskan sebagai:

Jika tidak ada momen gaya luar yang bekerja pada sistem (

) maka:

Persamaan diatas berarti bahwa momentum sudut sistem selalu konstan (tidak berubah sepanjang waktu baik besar maupun arahnya). L = konstan Dapat disimpulkan, dalam kasus tidak ada momen gaya luar, I I Dimana I0 dan I adalah momen inersia mula-mula dan momen inersia akhir. Sedangkan dan menyatakan kecepatan sudut mula-mula dan kecepatan sudut akhir.

D.KESETIMBANGAN BENDA TEGAR
Bangunan tinggi dapat berdiri kokoh , kita dapat berdiri tegak lurus atau lampu dapat tergantung semua ini disebabkan karena mereka dalam keadaan seimbang. Ada dua macam keseimbangan :  Keseimbangan statik , yaitu keseimbangan ketika benda diam.  Keseimbangan dinamik , yaitu keseimbangan ketika benda bergerak dengan kecepatan tetap.

I. Keseimbangan Titik
 Gaya Resultan Anggap suatu partikel atau benda titik mengalami 3 buah gaya F1 , F2 ,dan F3 . Resutan dari ketiga gaya ini merupakan suatu gaya tunggal: R = ∑Fi = F1 + F2 + F3  Syarat Keseimbangan Anggap suatu partikel (benda titik )menerima beberapa buah gaya. Resultan gayagaya ini adalah R. Apa yang terjadi jika partikel tersebut diberi gaya yang besarnya sama dengan R tetapi arahnya berlawanan ? Resultan gaya-gaya ini akan sama dengan nol . Karena resultan total gaya-gaya yang bekerja pada partikel itu sama dengan nol, maka menurut hokum II Newton (F = ma ) percepatan partikel juga nol . Artinya partikel yang semula diam akan tetap diam. Partikel dalam kondisi ini dikatakan berada dalam keseimbangan static. Jadi dapat dikatakan bahwa suatu partikel berada dalam keseimbangan static jika jumlah gaya atau resultan gaya yang bekerja pada partikel ini sama dengan nol. Secara matematis pernyataan tersebut dapat ditulis: ∑Fx= 0 ∑Fy=0 ………………………………….(1) ………………………………….(2)

Persamaan (1) dan (2) dinamakan Syarat Keseimbangan benda titik.

II. Resultan Gaya pada Benda Tegar
Benda tegar atau benda pejal merupakan benda yang tidak mengalami perubahan bentuk atau volume walaupun diberi gaya atau momen gaya.

Seperti halnya pada benda titik, pada benda tegar gaya-gaya yang bekerja juga dapat digantikan dengan satu gaya tunggal asalkan arah resultan dari gaya-gaya (R) yang bekerja adalah tegak lurus dengan arah momen gaya () yang ditimbulkan oleh gaya-gaya ini. Maksud kata “digantikan” disini adalah jika seluruh gaya-gaya yang bekerja pada benda kita gantikan dengan suatu gaya lain, kondisi gerak benda akan tetap sama. Misalkan gaya-gaya yang bekerja pada benda tegar adalah F1, F2, F3,…..,dan titik tangkap masing-masing gaya adalah r1, r2, r3,……. Keadaan gerak benda akan tetap sama jika jumlah gaya (∑F) dan jumlah momen gaya (∑) yang bekerja padanya tetap sama. Misalkan kita gantikan gaya-gaya tersebut dengan suatu gaya Ft yang bekerja pada titik tangkap rt, maka Ft dan rt harus memenuhi : Ft = F1 + F2 + F3 +…………… rt X Ft = r1 X F1 + r2 X F2 + r3 X F3 +…. Ternyata Ft sama dengan resultan gaya R. Dari persamaan diketahui rt X Ft = r1 X F1 + r2 X F2 + r3 X F3 +……..= rt X R =  (Catatan : momen gaya diukur terhadap sembarang titik) Karena  didapat dari hasil kali silang antara rt dan R, maka arah R pastilah tegak lurus arah . JAdi, terbukti bahwa gaya-gaya yang bekerja dapat digantikan dengan gaya tunggal. Dengan catatan arah resultan gaya R harus tegak lurus dengan arah total momen gaya (). Syarat agar R dan  tegak lurus ( R. = 0 ) R dan  akan tegak lurus ( R. = 0 ) jika gaya-gaya yang bekerja pada sebuah benda tegar mempunyai sifat sebagai berikut : a) Gaya-gaya sepusat , maksudnya semua gaya yang bekerja mempunyai titik tangkap yang sama. b) Gaya-gaya sebidang,maksudnya semua gaya yang bekerja terletak pada bidang yang sama. c) Gaya-gaya paralel , maksudnya semua gaya yang bekerja sejajar.

 Gaya-gaya sepusat Gambar 12.3a melukiskan dua buah gaya F1 dan F2 yang bekerja pada suatu titik pada sebuah benda tegar.

Titik tangkap dari resultan gaya terletak pada titik tangkap kedua gaya ini. Mari kita hitung momen gaya akibat kedua gaya ini . Untuk mempermudah kita ambil momen ini terhadap titik O. 0 = r X F1 + r x F2 = r X (F1 + F2 ) = r X R Pada perkalian silang (cross product ) , vektor hasil perkalian selalu tegak lurus dengan vector-vektor yang dikalikan . Dengan demikian terbukti bahwa R tegak lurus terhadap 0 .

b) Gaya-gaya sebidang
Gambar 12.4 melukiskan 3 buah gaya F1,F2 dan F3 pada bidang xy (sebidang ) . Titik tangkap ketiga gaya berada pada titik (x1,y1 ) , ( x2,y2 ) dan (x3,y3).i Gaya resultan R : R = F1 + F2 + F3 = (Fx + Fx2 + Fx3 ) i + ( Fy + Fy2 + Fy3 ) j

Vector posisi titik tangkap ketiga gaya adalah : r1 = x1 i + y1 j r2 = x2 i + y2 j r3 = x3 I + y2 j

Momen gaya total akibat gaya-gaya yang bekerja pada benda ( terhadap titik O ) adalah 0 = ri X Fi = r1 X F1 + r2 X F2 + r3 X F3 =(x1fy1 – y1 Fx1 ) k + ( x2Fy2 – y2 Fx2 ) k + ( x3Fy3 – y3 Fx3 ) k =(xiFy1 + x2Fy2 + x3Fy3 ) k – (y1Fy1 + y2Fy2 + y3Fy3 ) k =0 Ternyata R. 0 = 0, sehingga dapat disimpulkan bahwa ketiga gaya ini dapat digantikan dengan sebuah gaya tunggal. Besar gaya tunggal ini sama dengan besar gaya resultan. Lokasi titik tangkap gaya tunggal ini adalah (xc, yc) dimana

Bukti : Vektor posisi titik tangkap gaya resultan: Rc = xc I + yc j Momen gaya di titik O akibat gaya resultan : (0) = rc X R = (xcRy - ycRx) k Karena gaya resultan dianggap sebagai pengganti dari gaya-gaya yang bekerja pada benda, maka momen gaya yang disebabkan oleh gaya resultan ini harus sama dengan momen gaya total yang ditimbulkan oleh tiap-tiap gaya yang bekerja. Dengan kata lain

(0) gaya-gaya = (0) resultan
( Atau , ) ( ) ( )

Secara umum koordinat titik tangkap resultan dapat ditulis sebagai

∑ ∑

 Gaya-gaya sejajar Gambar 12.6a melukiskan 3 gaya F1, F2, dan F3 yang sejajar sumbu y dengan titik tangkap masing-masing gaya pada titik (x1, y1, z1) , (x2, y2, z2) , (x3, y3, z3) dan besarnya masing-masing gaya adalah F1, F2, dan F3. Resultan gaya R : R = F1 + F2 + F3 Arah gaya resultan sudah tentu berada pada sumbu y karena arah ketiga gaya penyusunnya semuanya berada pada sumbu y. R = ( F1+ F2 +F3) j Vektor posisi titik tangkap dari ketiga gaya adalah : r1 = x1 +y1 j + z1 k r2 = x2 + y2 j + z2 k r3 = x3 + y3 j + z3 k

Momen gaya total (terhadap titik o)  ∑ = -(zi Fy1 +z2Fy2 + z3Fy3) i + (x1Fy1 + x2Fy2 + x3Fy3) k R. 0 = ( F1 + F2 + F3) j . (x1Fy1 + x2Fy2 + x3Fy3) k – (z1Fy1 + z2Fy2 + z3Fy3) i =0 Ternyata R. o = 0 sehingga dapat disimpulkan bahwa ketiga gaya dapat digantikan dengan sebuah gaya tunggal. Gaya tunggal ini sama dengan gaya resultan : R = (F1 + F2 + F3 ) j Lokasi titik tangkap gaya tunggal (gaya resultan) ini adalah ( x ci + ycj + zck ) dapat dicari sebagai berikut : Vektor posisi titik tangkap : rc = xci + ycj + zck

Momen gaya di titik O akibat gaya resultan adalah : (0) = rc x R = -zcRy i + xcRyk Karena gaya resultan dianggap sebagai pengganti gaya-gaya, maka momen gaya akibat gaya resultan ini harus sama dengan momen gaya total akibat gaya gaya yang bekerja. Dengan kata lain

III.Syarat Kesetimbangan benda tegar
Telah kita lihat bahwa adalam keadaan tertentu gaya gaya yang bekerja pada suatu benda tegar dapat digantiakan oleh sebuah gaya tunggal dengan arah dan titik tangkap tertentu. Jika benda diberikan gaya lain yang besarnya sama tetapi arahnya berlawanan dengan gaya tunggal pengganti, maka benda tidak akan bergarak translasi ataupun berputar (berotasi). Keadaaan tidak bergerak translasi dan rotasi ini dinamakan keadaan seimbang. Pada keadan kesetimbangan, jumlah gaya yang bekerja sama dengan nol dan jumlah momen gaya terhadap sembarang titik juga sama dengan nol.

E. PUSAT MASSA DAN TITIK BERAT I.Pusat masa
1) Titik pusat massa dapat dianggap sebagai suatu titik dimana masa system dapat dikonsentrasikan. 2) Gaya yang bekerja di titik pusat massa suatu system akan membuat system bergerak translasi murni (tanpa rotasi) JIka kita mempunyai system yang terdiri dari n buah benda yang bermassa masing-masing m1, m2, m3, ….., mn dan terletak pada koordinat (x1,y1), (x2,y2), (x3,y3)……….. (xn,yn), maka koordinat pusat masa dari system ini (xpm,ypm) dimana xpm dan ypm didefinisikan sebagai berikut:

II. Titik Berat
Berat suatu benda tergantung pada gravitasi di tempat benda itu berada. Berat benda dapat dianggap terkonsentrasi pada suatu titik. Titik ini dinamakan pusat gravitasi atau titik berat. Dalam medan gravitasi homogen (medan gravitasi di setiap titik sama)lokasi titik berat sama dengan lokasi pusat massa.

X1,y1 m1 m2

X2,y2

X1,y1

X2,y2

m1 g m3

m2 g X3,y3 X3,y3

m3 g W = mg (a) (b)

Keterangan gambar: benda dibagi dalam sejumlah besar partikel-partikel kecil dengan massa m1, m2, m3,….. yang terletak pada koordinat (x1,y1), (x2,y2), (x3,y3),… koordinat x pusat massa untuk system ini adalah :

Gaya berat yang ditimbulkan tiap partikel memberikan momen gaya terhadap titik 0 yang besarnya sama dengan berat partikel dikalikan dengan lengan momennya, misalnya berat m1g momen gayanya m1g1x1 dan seterusnya. Anggap suatu gaya W (besarnya sama dengan berat benda) diletakkan di suatu titik sedemikian sehingga momen gaya yang dihasilkannya sama dengan jumlah total momen gaya yang dihasilkan oleh seluruh partikel. Titik ini adalah titik berat benda. ( ) ( )

Terbukti bahwa koordinat titik berat sama dengan koordinat titik pusat massa ketika medan gravitasi uniform!

I. Titik Berat Benda Tegar
 Benda Beraturan Titik berat benda yang beraturan dan sederhana seperti segiempat atau segitiga, terletak pada perpotongan garis beratnya. Misalnya segiempat berukuran a X b. Titik berat segiempat tersebut adalah terletak pada perpotongan kedua garis berat yaitu pada titik (1/2 a, ½ b) (di tengahtengah benda)

(½ a, ½ b)

b

a Suatu segitiga mempunyai garis berat seperti nampak pada gambar dan titik beratnya terletak pada perpotongan ketiga garis berat itu yaitu pada titik (0, 1/3 t)  Gabungan beberapa benda Untuk gabungan dari beberapa benda tegar seperti tampak pada gambar. Titik beratnya (anggap g uniform) dicari dengan menggunakan rumus (x1,y1), (x2,y2), (x3,y3) menyatakan titik berat masing-masing benda tegar. dimana

TABEL TITIK PUSAT MASSA BENDA GAMBAR y0 Garis lurus A Z B ̅̅̅̅ = Tali busur AB Busur lingkaran ̅̅̅̅ ̂ ̂ = busur AB R= jari-jari lingkaran M y0 = ½ AB Z= ditengah-tengah AB NAMA LETAK TITIK BERAT KETERANGAN

Z

A

R

y0`

B

Z y0 M

Busur setengah lingkaran

R= jari-jari lingkaran

A B R

Z ̅̅̅̅ ̂

̅̅̅̅ = Tali busur AB Juring lingkaran x ̂ = busur AB R= jari-jari lingkaran

y0 M

Z y0 M

Setengah lingkaran

R = jari-jari lingkaran

Selimut setengah lingkaran

R= jari-jari lingkaran

Selimut kerucut

t = tinggi kerucut

Setengah bola

R= jari-jari bola

Limas

t= tinggi limas

Kerucut

t= tinggi kerucut

Selimut limas

t = tinggi limas

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan Praktikum Bahan-bahan yang diperlukan dalam melaksanakan praktikum menentukan titik berat suatu benda datar tak beraturan adalah sebagai berikut: 1. Kertas karton 2. Kertas millimeter block 3. Lem kertas 4. Benang 5. Kertas Kerja (tabel data hasil pengukuran) Alat-alat yang diperlukan dalam melaksanakan praktikum menentukan titik berat suatu benda datar tak beraturan adalah sebagai berikut: 1. Statif 2. Penggaris 3. Bolpoin 4. Gunting kertas 5. Kamera

B.

Desain Praktikum

Rancangan dasar dari praktikum mentukan titik berat suatu benda datar tak beraturan adalah dengan 1. Menentukan tiga titik tangkap dari garis-garis berat suatu benda; 2. Menentukan garis-garis berat dari benda dengan cara menggantungnya pada seutas benang. Setelah benda diam, garis berat benda dilukiskan lurus terhadap benang. 3. Menentukan titik potong dari beberapa garis berat yang yang telah dilukiskan. Titik potong tersebut merupakan titik berat benda. Untuk menguji ketepatan dari titik benda yang telah ditemukan dari perpotongan garis-garis berat benda, maka desain praktikumnya adalah sebagai berikut. 1. Menimbang massa benda sebelum dipisahkan menjadi beberapa bagian; 2. Memotong benda menjadi beberapa bagian 3. Menimbang massa dari setiap potongan bagian benda 4. Menentukan titik berat dari masing-masing potongan benda dengan metode yang sama dengan menentukan titik berat benda sebelum dipotong; 5. Menggabungkan kembali potongan-potongan benda menjadi benda yang utuh pada kertas millimeter block. 6. Menentukan koordinat dari titik berat sistem benda (titik berat benda sebelum dipotong yang telah digambarkan sebelumnya): 7. Menentukan koordinat titik berat dari masing-masing bagian/ potongan benda 8. Menghubungkan titik berat masing-masing potongan benda dengan titik berat sistem benda

C. Pengolahan dan Analisis Data Data hasil pengukuran variabel-variabel praktikum dicatat secara teliti dalam table di kertas kerja. Variabel dari praktikum menentukan titik berat suatu benda datar tak beraturan adalah massa sistem benda(massa benda secara keseluruhan sebelum dipotong-potong menjadi beberapa bagian, massa dari setiap potongan-potongan benda, serta koordinat dari titik benda system benda maupun koordinat potongan-potongan benda dalam koordinat cartesius.

Format Tabel dalam kertas kerja untuk pengolahan dan analisi data adalah sebagai berikut:

M M1

M2

M1 + M 2

X

Y

X1

Y1

X2

Y2

M.X

M.Y

M1.X1+M2.X2

M1.Y1+M2.Y2

Teknik menganalisa data untuk menguji ketepatan pengukuran titik berat adalah dengan memerikas ekuivalensi dari kolom M.X dengan kolom M1.X1+M2.X2 dimana kedua kolom pada table tersebut merupakan angka penunjuk letak titik berat benda pada sumbu x jika system benda diletakkan pada koordinat cartesius. Jika harga pada kedua kolom tersebut equivalent, yang artinya keduanya memiliki harga yang sama atau mendekati sama, maka pengukuran titik berat benda pada sumbu x tersebut tepat. Demikian halnya dengan harga dari kolom M.Y dengan kolom M1.Y1+M2.Y2,.Jika harga pada kedua kolom tersebut equivalent, jika keduanya memiliki harga yang sama atau mendekati sama, maka pengukuran titik berat benda pada sumbu y tersebut tepat. Yang dimaksud dengan titik berat dari benda yang sedang diukur adalah X dan Y dalam koordinat cartesius, yang harganya sama atau mendekati sama dengan: , untuk harga dari X

, untuk harga dari Y

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN
I. Pembahasan
Dengan pengukuran terhadap massa benda sebelum dipisahkan dan massa masing-masing bagian benda yang diukur dengan teliti, maka diperoleh nilai M (massa benda sebelum dipotong menjadi dua bagian menurut garis beratnya) sama dengan nilai M1 (massa bagian benda ke-1) ditambah dengan M2 (massa bagian benda ke-2). Ekuivalensi tersebut dapat dituliskan sebagai berikut: M 4,3 g M1 + M 2 2,3 g + 2,5 g

Dari hasil pengukuran terhadap koordinat jarak titik berat benda sebelum dipotong dan titik berat masing-masing bagian benda pada sumbu-x koordinat cartesius, diperoleh harga M.X mendekati harga M1.X1+M2.X2.Kesamaan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut: M1.X1+M2.X2 57,6 g.cm 17,94 + 39,75 = 57,69 g.cm

Sementara dalam sumbu-y, terlihat bahwa harga M.Y mendekati harga M1.Y1+M2.Y2. M.Y M1.Y1+M2.Y2. 17,02 + 21,75 = 38,77 g.cm

38,4 g.cm

Dari ekuivalensi harga-harga MX dan MY terhadap sesamanya, dapat disimpulkan bahwa nilai hasil perkalian dari massa benda (sebelum dipotong) dengan jarak koordinat titik berat pada sumbu x mendekati nilai jumlah keseluruhan dari hasil kali antara massa masing-masing bagian benda dengan jarak koordinat titik berat pada sumbu x dari bagian benda tersebut. Demikian juga dengan sumbu y, nilai hasil perkalian dari massa benda dengan jarak koordinat titik berat pada sumbu y mendekati nilai jumlah keseluruhan dari hasil kali antara massa masing-masing bagian benda dengan jarak koordinat titik berat pada sumbu y.

Jika kesalahan pengukuran diabaikan, maka diperoleh nilai hasil perkalian dari massa benda (sebelum dipotong) dengan jarak koordinat titik berat pada sumbu x,y mendekati nilai jumlah keseluruhan dari hasil kali antara massa masing-masing bagian benda dengan jarak koordinat titik berat pada sumbu x,y dari bagian benda tersebut. Secara matematis dapat dituliskan M.X = M1.X1+M2.X2 dan M.Y = M1.Y1+M2.Y2

Dari keseluruhan persamaan yang diperoleh dari simpulan data hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa titik berat sebuah system benda (gabungan benda) sama dengan jumlah total titik berat dari masing-masing bagian penyusun benda.

Xo =

Dan

Yo =

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->