P. 1
Kajian Pertanian Di Indonesia Dari Berbagai Teori Sosiologi

Kajian Pertanian Di Indonesia Dari Berbagai Teori Sosiologi

|Views: 643|Likes:
Published by Inoki Ulma Tiara

More info:

Published by: Inoki Ulma Tiara on Oct 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/02/2014

pdf

text

original

Kajian Masyarakat Pertanian di Indonesia dari berbagai teori sosiologi 1.

Pertanian Sebagai Teori Tindakan Sosial dan Teori Pilihan Rasional Indonesia sebagai negara yang mayoritas berpenduduk agraris (pertanian) Sektor pertanian merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja tertinggi, yaitu sebesar 44,5 persen pada tahun 20061. khususnya pangan dan industrialisasi pangan menjadi pilihan karena posisinya yang berdasar sumber-sumber sendiri dan bertitik sentral pada masyarakat pedesaan sebagai petani yang menjamin kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan dalam negeri. Di Indonesia hubungan antara sektor pertanian dengan pembangunan nasional pada dasarnya merupakan hubungan yang saling mendukung. Pembangunan Nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, sedangkan mayoritas masyarakatnya hidup di pedesaan dengan jumlah terbesar bermata pencaharian di sektor pertanian. Salah satu tujuan Pembangunan Nasional lebih diarahkan pada upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan melalui pembangunan sektor pertanian.2 Disisi lain ketahanan pangan pada masa Orde Baru menjadi prasyarat penting dalam penyelenggaraan dalam kehidupan ekonomi, politik, sosial dalam suatu sistem stablitas. Firmansyah dkk (2003:3) mengatakan bahwa pemerintah Orde Baru pada beberapa dekade membuat kebijakan pangan antara lain : 1. Kebijakan Inward Looking yaitu mengoptimalkan produksi pangan dalam negeri (swasembada pangan) dan mengurangi impor melalui kebijakan subtitusi impor serta tarifikasi impor yang tinggi 2. Pemerintah Orde Baru memopoli dan mengontrol mekanisme pangan domestik maupun kegiatan impor-ekspor pangan 3. Memberlakukan ekonomi yang intervensionis dan ekonomi merkantilistik 4. Mengontrol harga pangan langsung kepada petani dan memberikan proteksi pembangunan sektor industri maupun infrastruktur di kota.

1 2

Bps.go.id Entang Sastraatmadja, 1985, Ekonomi Pertanian Indonsia: Masalah, Gagasan, dan Strategi, Bandung: Bumi Angkasa. hlm. 35.

1

Ritzer&Goodman (2010:137) mengatakan: “Dalam teori tindakannya, tujuan weber tak lain adalah memfokuskan perhatian pada individu, pola dan regulitas tindakan, bukan pada kolektivitas. Tindakan dalam pengertian orientasi perilaku yang dapat dipahami secara subjektif hanya hadir sebagai prilaku seorang atau orang manusia “individual”...tindakan sosial Weber menggunakan metotologi tipe idealnya untuk menjelaskan makna tindakan dengan cara mengindentifikasi empat tindakan dasar. Tipologi ini tidak hanya sangat penting untuk memahami apa yang di maksud Weber pada struktur dan institusi sosial secara luas. Yang terpenting adalah perbedaan yang dilakukan Weber terhadap kedua tipe dasar tindakan rasionalitas sarana tujuan dan rasionalitas nilai. Empat tipe tindakan dasar adalah, pertama rasionalitas sarana tujuan atau tindakan yang ditentukan oleh harapan perilaku objek dalam lingkungan dan perilaku manusia lain, harapan-harapan ini digunakan sebagai syarat atau sarana untuk mencapai tujuan-tujuan aktor lewat upaya dan perhitungan rasional. Kedua rasionalitas nilai atau tindakan yang ditentukan oleh keyakinan penuh kesadaran akan nilai atau tindakan yang ditentukan oleh keyakinan penuh kesadaran akan nilai perilaku-perilaku etis, estetis, religius atau bentuk perilaku lain, yang terlepas dari prospek keberhasilannya. Ketiga tindakan efektual ditentukan oleh emosi aktor. Keempat tindakan tradisional ditentukan oleh cara bertindak aktor yang biasa dan telah lazim dilakukan.” Ritzer&Goodman dalam Wati (2003:14) mengatakan: “Teori pilihan rasional tak menghiraukan apa yang menjadi pilihan atau sumber pilihan aktor, yang penting adalah kenyataan bahwa tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan sesuai tindakan aktor” Berdasarkan hasil penelitian Prasetyo (2003:1078-1079) bahwa mengapa petani tetap bertahan menanam padi lokal/jawa sejak dari pemerintahan ORLA, Orde Baru dan Orde Reformasi Sekarang. Padahal pada jaman Orde Baru menanam padi lokal/Jawa sudah tidak boleh atau dilarang bahkan ada sanksi kalau ketahuan tanaman dicabuti dan harus diganti oleh petugas. Menanam padi lokal/jawa, tidak dapat memberikan produksi yang maksimal, bahkan memiliki resiko tinggi gagal panen, karena tidak tahan serangan penyakit dan hama wereng biotik I, II, III dan seterusnya. Dari hasil penelitian ini terjawab bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi perilaku petani tetap bertahan menanam padi lokal/jawa yaitu : a. Faktor intern meliputi : 1) Mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi atau menguntungkan secara ekonomis. 2) Mudah memperoleh bibit (buat sendiri), murah dan biaya sarana produksi lebih rendah. 3) Masih ada hubungan yang erat dengan rencana pola tanam berikutnya yaitu tanam sayursayuran, kentang, wortel, kubis, bawang merah dll. 4) Semangat dan pengalaman puluhan tahun bercocok tanam padi lokal. 5) Rotasi tanaman memperbaiki kesu-buran tanah.
2

6) Menciptakan lembaga sosial baru. 7) Petani mampu mengatasi serangan hama dan penyakit. b. Faktor eksternal meliputi : 1) Pemasaran mudah dan harga tinggi. 2) Tidak terpengaruh oleh harga dasar gabah/beras yang di tetapkan pemerintah. 3) Petani menanam padi maupun sayur, selalu berorientasi pada permintaan pasar (petani maju) berani mengambil resiko. 4) Petani sejak dulu telah memiliki jaringan pemasaran baik lokal Malang atau Surabaya. 5) Transportasi dan komunikasi mudah 6) Kondisi alam mendukung suhu, kelembaban, lokasi lahan sawah pada lembah/cekungan dan kemiringan. Faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perilaku petani padi lokal/jawa di lokasi penelitian me-rupakan pilihan yang sangat rasional, karena petani berorientasi pada kebutuhan pasar. Yang mengutamakan keuntungan maksimal, dan terbebas dari ketentuan harga dasar gabah/beras (floor price) yang ditetapkan oleh pemerintah. Terbukti petani berani mengambil resiko gagal panen, karena jenis padi ini tidak tahan terserang hama wereng dan penyakit, serta terbukti juga petani memiliki pengalaman yang sangat luar biasa sejak sebelum orde baru dan orde reformasi, mampu mengatasi ancaman serangan penyakit dan hama wereng biotip I, II, III, dan bahkan varietas padi lokal telah beradaptasi dengan lingkungannya sehingga hasil produksinya lebih tinggi bila dibandingkan dengan padi unggul. Hasil analisa usah tani yang dilakukan para petani, pada lahan sawah 1 Ha, yang ditanami padi lokal dapat menghasilkan 5-10 ton gabah dengan merangnya, sedangkan padi unggul hanya mampu menghasilkan 4-6 ton gabah kering panen. Kalau dijual padi lokal per kwintal dengan harganya Rp. 300.000,- maka diperoleh uang sebesar Rp. 15.000.000,- atau

Rp. 22.500.000,- padi unggul harganya per kw Rp. 200.000,- maka diperoleh Rp. 8.000.000,atau Rp. 12.000.000,- hal ini sangat fantastis. Sikap dan perilaku petani padi lokal menunjukkan bahwa mereka golongan petani dengan berani mengambil resiko, kreatif, inovatif, berpikir ke depan dan mandiri, berorientasi pasar, berupaya men-dapatkan keuntungan maksimal, maka fakta ini telah membantah tesis kelompok pesimistis Clivort Geertz, Boeke, Dalton, Polongi, Wolt, George Foster dan sebagainya yang menyatakan bahwa profil petani di jawa tidak bisa maju dan berkembang karena involutif, sehingga petani jawa statis dan etos kerjanya rendah, tidak berani meng-hadapi resiko. Mereka berusaha tani hanya sebagai jalan hidup saja (way of life) secara nyata perilaku petani padi lokal, menanam atas dasar permintaan pasar dan berani menghadapi resiko, maka usaha tani
3

ini sudah tidak lagi merupakan way of life “tetapi sudah disebut usaha tani komersial (Business Commercial Form). 2. Pertanian dari Kajian Teori Modernisasi Modernisasi dapat diartikan sebagai proses perubahan dari corak kehidupan masyarakat yang “tradisional” menjadi “modern”, terutama berkaitan dengan teknologi dan organisasi sosial. Teori modernisasi dibangun di atas asumsi dan konsep-konsep evolusi bahwa perubahan sosial merupakan gerakan searah (linier), progresif dan berlangsung perlahan-lahan, yang membawa masyarakat dari tahapan yang primitif kepada keadaan yang lebih maju. Frisbi dalam Ritzer dan Goodman (2010:605) menyatakan : “pengalaman modernitas sebagai diskontinu waktu, sebagai suatu peralihan, dimana momen yang tengah bergerak dan rasa kehadiran bertemu; ruang sebagai dialektika jarak kedekatan... dan kausalitas sebagai sesuatu yang kontingen, arbitrer dan terjadi secara kebetulan. Pembangunan pertanian tidak dapat begitu saja lepas dari pembangunan pedesaan. Sebagaimana menurut pandangan umum, bahwa pedesaan hampir selalu diidentikkan dengan pertanian dan sebaliknya, pertanian diidentikkan dengan pedesaan. Hal ini telah dimaklumi bersama karena sebagian besar petani di Indonesia hidup di pedesaan, dan sebagian besar penduduk desa umumnya bermata-pencaharian sebagai petani.Oleh karena itu, dalam konteks bahasan mengenai pembangunan pertanian ini penting pula diketahui beberapa aspek sosial berkenaan dengan masyarakat petani khususnya di pedesaan sebagai pusat pengembangan pertanian modern. Modernisasi pertanian bukan hanya bersentuhan dengan teknologi pertanian(dari kerbau ke mesin bajak), cara bercocok tanam, bibit unggul, pupuk (pupuk kandang ke pupuk kimia buatan) dan sistem pengairan atau segala yang berhubungan dengan teknis pertanian tetapi sangat berhubungan dengan sosiologis dengan berubahnya cara-cara tradisional ke modern. Gidden dalam Ritzer dan Goodman (2010:605) tentang juggernaut modernitas mengatakan bahwa: “mesin terus berjalan dengan kekuatan dasyat yang, secara kolektif sebagai umat manusia, dapat kita dorong sampai ke batas-batas tertentu namun juga sangat mungkin akan lepas dari kendali kita dan dapat meluntuhlantakan dirinya. Juggernaut mengilas mereka yang melawannya. Meski kadang-kadang mengikuti alur lurus, namun ada kalanya ia mengubah haluan ke arah yang tidak pernah kita perkirakan sebelumnya. Menaikinya sama sekali tidak menyenangkan dan mengecewakan; sering kali membahagiakan dan sarat dengan harapan. Namun, selama institusi modernitas berjalan. Kita tak akan pernah dapat sepenuhnya mengontrol alur atau jalur perjalanannya. Pada

4

gilirannya, kita akan pernah merasa aman sepenuhnya, karena jalan yang dilalui penuh dengan resiko yang membawa konskuensi berat.” Ritzer dan Goodman (2010:606) mengatakan juggernaut adalah sesuatu yang bergerak serentak melalui waktu dan melampui ruang fisik. Cara pandang, pranata, norma, nilai-nilai institusi pertanian dalam masyarakat petani dirubah dan diluluhlantakan. Dulu bertani adalah sebagai bagian dari pengabdian sekarang pertanian adalah sesuatu yang komersil, dulu semua dikerjakan dengan bersama-sama (gotong royong) sekarang semuanya main upah, dulu tidak boleh menjual padi yang panen sekarang dijual habis sesudah panen dan berubah bentuk menjadi uang, dulu bertani adalah sesuatu yang sakral bentuk penghormatan terhadap pencipta sekarang tidak lebih dari sesuatu yang teknis. Berubahnya nilai-nilai kebersamaan menjadi individualis, dari masyarakat musyawarah dan mufakat menjadi masyarakat menghasilkan keputusan dengan voting (suara terbanyak). Dulu mengikuti tradisi sekarang dipaksa berfikir logis, universal dan kekinian. “Masyarakat petani pedesaan yang satu sisi membanggakan tradisi di sisi harus hidup dengan cara modern, sebuah kerangka berfikir ambigu yang belum terjawab.” 3. Pertanian dari kajian Teori Integrasi Sosial dan Sistem Sosial Teori Integrasi Sosial Johnson (1994:164-165) mengatakan Emile Durkheim mendirikan sosiologi sebagai ilmu integrasi sosial: “Pernahkan anda rasakan hidup dalam suatu kelompok yang emosional nampaknya sudah mati, dimana para anggotanya tidak rela untuk mencurahkan lebih banyak tenaga lagi dalam kegiatan-kegiatan kelompok itu yang seharusnya diperlukan? Pernahkah anda berusaha untuk meningkatkan semangat hidup suatu kelompok atau membuat anggota-anggota bergairah terhadap suatu rancangan? Pernahkah anda berada dalam kelompok di mana ada percekcokan terus menerus atau konflik yang sedemikian rupa sehingga mengancam hancurnya kelompok itu? Pernahkah anda kagum mengapa beberapa kelompok memperlihatkan moral yang tinggi, sedangkan yang lainnya ditandai oleh sikap apatis atau konflik yang terus menerus... tetapi halhal ini hanyalah sebahagian dari suatu masalah yang lebih besar dan umum, yang sudah lama dianggap penting oleh para ahli ilmu sosial. Ini masalah integrasi sosial dan dan solidaritas. Yang dilihat tidak hanya dalam hubungannya dengan kelompok organisasi tertentu, melainkan juga hubungannya dengan masyarakat keseluruhan.” Ritzer dan Goodman (2010:90-91) mengatakan: “Durkheim sangat tertarik dengan perubahan cara di mana masyarakat bertahan dan bagaimana anggotanya melihat diri mereka sebagai bagian yang utuh. Untuk menyimpulkan perbedaan ini. Durkheim membagi dua tipe solidaritas mekanis dan organis. Masyarakat yang ditandai oleh solidaritas mekanis menjadi satu dan padu
5

karena seluruh orang adalah generalis. Ikatan dalam masyarakat seperti ini terjadi karena mereka terlibat dalam aktivitas yang sama dan memiliki tanggung jawab yang sama. Sebaliknya, masyarakat yang ditandai oleh solidaritas organis bertahan bersama justru dengan perbedaan yang ada di dalamnya, dengan fakta bahwa semua orang memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang berbeda-beda.” Parson dalam Ritzer dan Goodman (2010:257) mengatakan ada empat impratif fungsional yang diperlukan seluruh sistem. Adaptasi (A/adaptation), pencapain tujuan (G/goal attainment), integrasi (I/integration), dan latensi (L/latency) yang disebut skema AGIL 1) Adaptasi. Sistem harus mengatasi kebutuhan situasional yang datang dari luar. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan dengan kebutuhan-kebutuhannya. 2) Pencapain Tujuan. Sistem harus mendefenisikan dan mencapai tujuan-tujuan utamanya 3) Integrasi. sistem harus mengatur hubungan bagian-bagian yang menjadi komponennya. Ia pun harus mengatur hubungan antar ketiga impreratif fungsifungsional tersebut (A,G,L). 4) Latensi (pemeliharaan pola). Sistem harus saling melengkapi, memelihara, dan mempengaruhi motivasi individu-individu dan pola-pola budaya yang menciptakan dan mempertahankan motivasi tersebut Masyarakat petani identik dengan masyarakat desa, karena sebahagian besar masyarakat desa berprofesi sebagai petani, ketika kita bicara tentang integrasi masyarakat desa kita akan tentang solidaritas mekanik yang dikemukan oleh Durkheim seperti di tabel Solidaritas Volume Kekuatan Mekanis Seluruh masyarakat Tinggi Organis Sebahagian Kelompok Rendah Tabel 1 sumber Ritzer dan Goodman (2010:92) Kejelasan Isi Tinggi Agama Rendah Individualitas Moral

Masyarakat desa atau petani tingkat saling peduli, kebersamaan, saling mengunjungi, sistem kekerabatan yang kuat dan homogen masyarakat dari sosial maupun budaya. Masyarakat petani teritegrasi secara sosial budaya secara bersama, hal bisa kita kita lihat saling menjadi nilai, membicarakan permasalahan secara bersama, menentukan tujuan secara bersama-sama. Masyarakat petani di Indonesia telah banyak mengunakan teknologi modern tetapi di pedesaan tertentu teknologi hanya ada alat sedangkan nilai tradisi bertani yang sudah terintegrasi di dalam masyarakat tetap di jaga dan dipelihara sebagai suatu yang berharga dan suci, adanya perayaan sesudah panen bersama sebagai bentuk syukur terhadap pencipta yang telah memberikan rezki dan keberhasilan panen. Integrasi sosial dalam masyarakat petani pedesaan lahir, tumbuh dan bertahan sebagai kekayaan sosial dan budaya.

6

Teori Sistem Teori sistem memandang bahwa keseluruhan itu lebih besar daripada jumlah jumlah bagianbagiannya berdasarkan pola-pola organisasi yang diperlihatkan dalam keseluruhan. Dengan memusatkan perhatian pada bagian-bagian individual yang termasuk dalam keseluruhan itu, kaum ilmuwan tidak memperhatikan lagi organisasi atau saling ketergantungannya. Organisasi atau saling ketergantungan yang dinyatakan dalam keseluruhan itu tidak dapat direduksikan ke bagian-bagian individual yang membentuk keseluruhan (Johnson, 1986: 227). Menurut Buckley dalam Ritzer&Goodman, (2010: 353) hubungan antara sistem sosial budaya, sistem mekanis, dengan sistem organis. Buckley memusatkan perhatiannya pada penentuan perbedaan utama antar sistem-sistem tersebut. Dalam beberapa dimensi tertentu, kontinum membentang dari sistem mekanis ke sistem organis sampai dengan sistem sosial budaya dari bagian yang paling sederhana sampai dengan yang paling labil,dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi, yang bagian-bagiannya dapat diletakkan pada sistem tersebut secara keseluruhan. Sementara dalam beberapa dimensi lain, perbedaan sistem-sistem ini lebih bersifat kualitatif ketimbang kuantitatif. Dalam sistem mekanis, kesalingterkaitan antar bagian didasarkan pada transfer energi. Dalam sistem organis, kesalingterkaitan antar bagian lebih didasarkan pada pertukaran imformasi ketimbang pertuksrsn energi. Dalam sistem sosial budaya kesalingterkaitan ini bahkan lebih didasarkan pada pertukaran imformasi (Ritzer&Goodman, 2010: 353). Luhmann beragumen bahwa masyarakat adalah suatu sistem. Ia memenuhi empat karakteristik di atas masyarakat menghasilkan unsur dasarnya sendiri, menciptakan batas dan strukturnya sendiri, merujuk pada dirinya sendiri, dan tertutup. Unsur dasar masyarakat adalah komunikasi, dan komunikasi dihasilkan oleh masyarakat. Menurut konsepsi Luhkmann, apa pun yang bukan merupakan komunikasi adalah bagian dari lingkungan masyarakat. Ini mencakup sistem biologis manusia bahkan sistem psikis mereka. Individu sebagai organisme individual dan individu sebagai kesadaran bukanlah bagian dari masyarakat, namun ada diluar masyrakat. Hal itu menyebabkan lahirnya gagasan aneh bahwa individu bukanlah bagian dari masyarakat (Ritzer&Goodman, 2010: 359). Sistem sosial yang didasarkan pada komunikasi menciptakan struktur sosial untuk memecahkan apa yang disebut Luhmann dengan kontigensi ganda. Kontigensi ganda merujuk pada fakta bahwa setiap komunikasi harus mempertimbangkan bagaimana ia bakal diterima. Namun kita pun tahu bahwa bagaimana ia akan diterima tergantung pada penerima (Ritzer&Goodman, 2010: 360). Prasetyo (2009:1077) mengatakan bahwa ada tiga sistem sosial utama yang terintegrasi secara sosial utama petani yakni: “ Pertama, struktur masyarakat komunal, merupakan kesatuan masyarakat relatif kecil dan homogen, serta di tandai oleh pembagian kerja yang minimal, hubungan sosial
7

yang menonjol, hubungan primer yang terikat kuat pada tradisi. Struktur komunal mempolakan hubungan sosial berdasarkan ikatan ketetanggaan, kekerabatan dan keagamaan. Ke dua, struktur agraris, merupakan hubungan sosial dalam sistem produksi pertanian, terutama budidaya padi lokal, padi unggul dan sayur-sayuran. Struktur agraria di desa ini lebih bercorak pada struktur pasar, hal ini ditandai bahwa para petani menjual hasil panen padi lokal, sayuran, ber-orientasi pada permintaan pasar. Khusus budidaya padi lokal dan sayur oleh petani dilakukan setiap musim tanam, karena memiliki pelanggan / telah dipesan oleh pengusaha beras di kota Malang dan Surabaya yang datang langsung ke petani. Ke tiga, struktur otoritas desa, merupakan hubungan sosial dalam sistem peme-rintahan desa, struktur ini bercorak struktur organisasi.Struktur masyarakat komunal di desa ini melibatkan dua golongan sosial utama, yakni golongan tokoh masyarakat dan penduduk biasa. Tokoh masyarakat di sini orang kaya/ wong sugih , perangkat desa (pamong), tokoh agama dan tokoh adat, rata-rata mereka sebagai petani, yang menanam padi lokal/jawa, dan sayur-sayuran juga menanam padi unggul (VUTW). Sedangkan penduduk biasa terdiri dari petani biasa dan buruh tani (tuna kisma). Hubungan komunal yang terjadi merupakan kerjasama dalam kerangka mewujudkan solidaritas vertikal, bersifat personal, bahkan ada hubungan keluarga besar, hubungan komunial di legitimasi oleh nilai-nilai budaya /agama. Bentuk kerjasama hubungan komunal, diwujudkan dalam tiga bentuk tindakan kolektif yaitu sistem sambatan/sayahan, sistem paguyuban (kerukunan), dan sistem sumbangan (saling membantu). Kekom-pakan sosial warga, dijaga melalui kegiatan membangun rumah, upacara per-kawinan, upacara bersih desa, arisan RT/RW, membesuk orang sakit, pengu-buran jenazah, kenduri, tahlilan menaman dan memanen padi lokal /jawa, padi unggul dan sayur, khusus memanen padi lokal memerlukan tenaga wanita lebih banyak dengan ani-ani.Hubungan sosial agraris di desa ini, berdasarkan data monografi dan hasil wawancara mendalam, melibatkan lima lapisan petani, antara lain: petani besar (menguasai ≥ 1,0 hektar sawah), petani menengah (menguasai 0,50-0,99 hektar sawah), petani kecil (menguasai ,25-0,49 hektar sawah) petani gurem (menguasai 0,1 – 0,24 hektar sawah), dan buruh tani atau tuna kisma. Penguasaan tanah sawah di desa ini didasarkan atas hak milik (yasan), hak sewa, hak maro, hak mrapat dan hak mrolimo. Hubungan sosial agraris terwujud dalam tiga sistem organisasi, yaitu a) penggarapan sawah dan tegal menggunakan tenaga kerja keluarga; b) penggarapan sebagian dengan sistem kerja sama atau gentian menyumbang tenaga kerja, dengan sesama saudara atau sesama petani kecil/gurem, e) penggarapan dengan tenaga kerja upahan kalau kondisi tertentu merupakan kombinasi ketiga sistem tersebut.” 4. Pertanian Strukturasi Peluruhan kelembagaan lokal pertanian yang berlangsung secara sistemik, maka upaya penguatannya perlu dilakukan secara sistemik pula. Penguatan kelembagaan lokal pertanian memerlukan perubahan struktur dimensi signifikansi, otoritatif, alokatif dan legitimasi atau perubahan rasionalitas ekososial dan reformasi. Perubahan struktural signifikasi, otoritatif, alokatif dan legitimasi didorong oleh kenyataan empirik bahwa paradigma signifikasi, otoritatif, alokatif dan legitimasi, yang menjadi dasar rekayasa sosial dan pembangunan masyarakat pertanian, terbukti melahirkan perlakuan kurang manusiawi dan alienasi

8

masyarakat (dualisme). Penguatan kelembagaan komunitas pertanian juga mensyaratkan adanya perubahan ke arah yang lebih baik dan berfihak pada petani, karena pemilik modal yang bertumpu keuntungan maksimal mendorong pemanfaatan sumberdaya secara eksploitatif dan tidak ramah lingkungan, petani hanya menjadi objek dari perubahan tersebut. Abrar (2004:79) mengatakan : “Masyarakat pertanian diposisikan hanya sebagai obyek dan komoditas semata-mata. Pengembangan dimensi manusia sebagai “homo-economicus” lebih menonjol dari dimensi dan jati dirinya sebagai “homo-ecologicus” dan “homosociologicus”. Pengarusutamaan dimensi manusia sebagai “homo-economicus” adalah terbatasnya ruang kultural, tidak tersedianya ruang bagi tumbuhnya kearifan lokal dan kelembagaan parsipatori dalam masyarakat. Dari segi ini perubahan struktural signifikasi, otoritatif, alokatif dan legitimasi dimaksudkan untuk membebaskan sumberdaya dan kelembagaan komunitas dari penetrasi kekuatan ekonomi dan politik supra lokal. Merujuk pada Habermas, pembebasan komunitas dari cengkraman kekuatan supralokal yang menindas hanya mungkin dilakukan, jika terjadi perubahan rasionalitas komunikasi antara negara dengan warga negara atau perubahan rasionalitas dari rasionalitas utility maximum menuju utility maximising manner. Sebab selama ini komunikasi negara dengan warga negara seperti halnya dengan komunitas sekitar hutan bersifat searah, dominatif dan hegemonik.” Giddens dalam Wulan (2010:32) ia mengembangkan teori strukturasi, diilhami oleh gagasangagasan hermeneutika, fungsionalisme dan strukturalisme. Teori strukturasi menepis dualisme (pertentangan), namun mengajukan gagasan dualitas (timbal balik) antara pelaku dan struktur. Bersama sentralitas waktu dan ruang, dualitas pelaku dan struktur menjadi dua tema sentral yang menjadi poros teori strukturasi. Dualitas berarti tindakan dan struktur saling mengandalkan. Giddens dalam Wulan (2010:33) mengajukan argumen bahwa sebagai “pelaku” kita mempunyai kapasitas diri secara refleksif (strategic monitoring of conduct) perubahan ini terjadi ketika kapasitas ini mengejala secara luas sehingga berlangsung de-rutinisasi.

Derutinisasi ini menyangkut proses dimana skemata yang selama ini menjadi aturan (rules) dan sumber daya (resources) tidak lagi mewadahi sebagai prinsip pengorganisasian berbagai pratik sosial atau yang sedang diperjuangkan menjadi pratek sosial baru. Struktur adalah aturan dan sumber daya (rules and resources) yang mewujud pada saat diaktifkan oleh pelaku dalam pratik sosial. Dalam arti ini. Struktur tidak hanya mengekang (constraining) atau membatasi pelaku, melainkan juga memungkinkan (enabling) terjadi pratek sosial. Sementara itu, sentralitas waktu dan ruang diajukan untuk memecah kebuntuan dualisme itu, statik/dinamik. Sikroni/diakroni, stablitas/perubahan. Dualisme seperti ini terjadi karena waktu dan ruang biasanya diperlakukan sebagai panggung atau konteks tindakan.
9

Priyono dalam Wulan (2010:33) Secara umum dapat dinyatakan Giddens memusatkan perhatian pada proses dialektika dimana pratek sosial, struktur dan kesadaran yang diciptakan Wulan (2010:33) dalam persfektif strukturasi ini, duality of structure menjadi penting. Agen dan struktur berinteraksi timbal balik, yang struktur ini diproduksi oleh agen, dan agen dipengaruhi norma dan harapan masyarakat. Dalam konteks ini struktur dianggap sebagai aturan-aturan dan sumberdaya-sumberdaya yang secara rekusif diimplikasikan dalam reproduksi sosial; karakteristik sistem sosial terlembaga yang memiliki sifat-sifat struktural dalam artian bahwa hubungan-hubungan dimantapkan sepanjang waktu dan semua ruang. Giddens dalam Wulan (2010:33) sumber daya juga memiliki dua jenis: sumberdaya otoratif yang berasal dari usaha mengkoordinasikan aktivitas agen-agen manusia dan sumberdaya alokatif yang berakar dari pengendalian atas produk material atau aspek-aspek dunia material. Bornet dalam Jones (2009:241) mengatakan “Pendapat giddens tentang struktur sangat berbeda dari model-model struktur yang sudah lama kita kenal di sosiologi. Kita kerap kali berfikir tentang struktur itu seperti kerangka fisik, tidak bergerak, terbuat dari logam. Berbeda dari itu semua, Giddens membedakan struktur dan sistem, ia menggunakan istilah “sistem” untuk merujuk kepada tataran dan institusi sosial yang bertahan lama yang secara umum telah beproduksi sepanjang waktu. Tataran dan institusi itu tidak kebal terhadap perubahan, tetapi keduanya memberikan konteks yang bertahan lama bagi tindakan. Penggunaan istilah “sistem” ini sangat dekat dengan apa yang disebut oleh banyak sosiolog sebagai “struktur” sebaliknya, Giddens mengunakan konsep struktur dalam cara yang khusus, yakni mengacu kepada seperangkat aturan dan sumber daya yang bergerak yang digunakan agen untuk bertindak. Karena struktur ini cair dan tidak dilembagakan, struktur-struktur ini secara berkesinambungan dapat dimodifikasi ketika digunakan dalam tindakan.” Pertanian dari sudut pandang teori strukturasi adalah mengambarkan bahwa petani sebagai agen dalam struktur pertanian di masyarakat sudah seharus menjadi agen perubahan. petani menciptakan struktur-struktur baru dalam masyarakat, pertanian yang selama ini hanya objek kekuasaan sekarang menjadi subjek kekuasaan, bagaimana Himpunan Kerukunan Tani Indonesia telah menjadi sebuah kekuatan sosial politik baru, serikat-serikat petani mengahadang, merubah kebijakan yang di putuskan oleh pemerintah. Mulai dari masalah pertanahan, subsidi pertanian, subsidi pupuk dll sehingga melahirkan sebuah ketahanan pangan. Target-target seperti swasembada beras,kedelai, daging dan susu menjadi isu yang diterjemahkan dalam kebijakan pemerintah di dukung oleh alokasi anggaran. Kekuatan masyarakat petanilah yang bisa membuat negara lahir, bertahan, dan berkembang.
10

Dibutuhkan petani-petani tangguh untuk menjadi agen dalam meterjemahkan, melahirkan, mengembangkan struktur-struktur baru dalam masyarakat yang pada akhir membuat negara makmur dan sentosa. 5. Pertanian dari kajian Teori Postmodern Lyotard dalam Faulks (2010:263) mengatakan bahwa post-modernisme melontarkan kritik tajam terhadap semua proyek teoritis-termasuk liberalisme dan dan sosialisme-yang menawarkan pandangan holistik (menyeluruh) terhadap eksistensi manusia. Kaum postmodernis terutama mengkritik pedas berbagai meta-naratif, yakni teori-teori yang mengklaim mampu memetakan arah masa depan masyarakat melalui analisis terhadap kondisi umat manusia pada masa lampau dan sekarang. Menurut Baudrillard dkk dalam Ritzer&Goodman (2010:667) pandangan post-modern yang begitu ekstrem adalah bahwa telah terjadi kehancuran radikal dan masyarakat modern talah digantikan oleh masyarakat post-modern. Faulks (2010:263) mengatakan untuk menggantikan individualisme statis dalam liberalisme, dan kolektivitas opresif Marxisme, post-modernisme menekankan fragmentasi, relatisme, dan multi identitas-yang seringkali saling bertentangan. Mengistimewakan satu identitas, satu fragmen, atau satu „kebenaran‟ berarti menindas posisi lain yang sama-sama sahih. Oleh karena itu, meta-naratif seperti Marxisme akan selalu bersifat totatarian dan hancur dengan sendirinya. Hal yang terkait dengan penyangkalan gagasan satu subjek universal ini adalah suatu pandangan radikal tentang kekuasaan. Sekali lagi, sebagaimana identitas, kekuasaan dipahami mempunyai banyak segi. Foucault dalam Faulks (2010:263) mengatakan kekuasaan hadir dalam „institusi sosial‟, ketimpangan, ekonomi, bahasa, pada tubuh masing-masing. Faulks (2010:263) mengatakan setiap sistem pengetahuan, yang oleh kaum post-modernis disebut wacana (diskursus), niscaya melibatkan pendayagunaan kekuasaan, misalnya, seorang dokter jiwa berada berada dalam posisi kekuasaan dalam hubungannya dengan para pasiennya disebabkan oleh pengetahuannya medisnya, yang diungkapkan dalam bahasa yang sangat khusus, yang mungkin tidak dimengerti oleh pasiennya. Oleh karena sifat kekuasaan yang selalu hadir dalam hubungan manusia, maka usaha untuk menetapkan sumber utama kekuasaan-misalnya pada negara, suatu kelas, atau kelompok korporasi-akan sia-sia.

11

Smart dalam Ritzer dan Goodman (2010:667) mengatakan bahwa untuk memilah milah para postmodern. Pandangan pertama, yang begitu ekstrem adalah bahwa telah terjadi kehancuran radikal dan masyarakat modern telah digantikan oleh masyarakat postmodern. Orientasi ini dianut oleh Jean Baudrillard, Gilles Deleuze, dan Felix Guattari. Pandangan kedua adalah bahwa kendati telah terjadi perubahan, postmodernisme tumbuh, dan merupakan kelanjutan, dari modernisme. Orientasi ini dianut oleh pemikir Marxian seperti Fredric Jameson, Ernesto Laclau, dan Chantal Mouffe dan para feminis modern. Pandangan selanjutnya Bart sendiri, yang ketimbang melihat modern dan postmodern sebagai epos, kita dapat melihat terlibat dalam hubungan jangka panjang dan terus berlanjut, dengan post modern, dengan postmodernisme yang secara terus menerus menunjukan keterbatasan-keterbatasan modernisme. Baudrillard memusatkan perhatian pada kebudayaan yang dipandangnya mengalami revolusi masif dan katastrofis. Revolusi tersebut melibatkan massa yang semakin pasif. Jadi massa dipandang sebagai lubang hitam yang menyerap seluruh makna, informasi, komunikasi, pesan dsb sehingga menjadikan mereka tidak bermakna, massa dengan murung mengikuti saja dan tampa peduli pada upaya untuk memanipulasinya (Ritzer & Goodman, 2010:678). Faulks (2010:265) menagatakan pemikiran post-modernis mengisyaratkan dua kemungkinan pendirian politik. Pertama, suatu relatifitas yang ekstrim dan nihilistik, yang kembali kepada fatalisme pra-modern, atau mengarah pada perebutan kekuasaan a la Nietzsche, di mana yang kuat berjaya atas yang lemah. Kedua, kritik post-modern terhadap liberalisme ironisnya justri memberikan suatu persfektif libertarian yang radikal, ketika satu-satunya yang terpenting adalah kebebasan memilih, bukannya hakikat atau akibat pilihan itu sendiri. Modern Tradisional Post-modern Sumber Eriyanti (2012:14)

12

Pertanian Organik sebagai pertanian Post-modern Raharjo (2009:14) mengatakan bahwa : “Pada pengertian sebenarnya organik tidak hanya tertuju pada produk atau kandungan bahan-bahan di dalamnya, tetapi pada keseluruhan sistem produksi budidaya. Oleh sebab itu, pada tahun 2000 United States Department of Agriculture (USDA) menegaskan bahwa pengertian organik sebagai suatu sistem manajemen produksi lingkungan yang mampu meningkatkan keanekaragaman hayati, siklus biologi, dan kegiatan biologi dengan menggunakan input minimal. Untung (1997) menyatakan bahwa pertanian organik merupakan sistem pertanian yang bertujuan untuk tetap menjaga keselarasan (harmoni) dengan sistem alami, dengan memanfaatkan dan mengembangkan semaksimal mungkin proses-proses alami dalam pengelolaan usahatani. Prayogo dkk (1999) juga memberikan definisi bahwa pertanian organik adalah suatu sistem pertanian yang tidak menggunakan bahan kimia buatan; mewujudkan sikap dan perilaku hidup yang menghargai alam; dan berkeyakinan bahwa kehidupan adalah anugerah Tuhan yang harus dilestarikan. Barton dalam Winnet (2011:19) mengatakan asal mula pertanian organik adalah : “Albert Howard (1873 – 1947), seorang Inggris ahli botani dari Shropshire, sering dianggap sebagai salah satu pioner dari pertanian organik moderen dalam penelitiannya mengenai metode composting (pemupukan kompos) dan pentingnya nutrient cycling (siklus nutrisi). Howard sering disebut-sebut bahwa sekian banyak yang dipelajari adalah berasal dari observasi pada masyarakat tradisional di India. Howard mengamati bahwa kunci dari kesehatan tanaman adalah melalui terjaganya kestabilan dan mempertahankan kesehatan media tumbuh. Dia mengamati, bahwa tanah yang sehat mengandung setidaknya ribuan jenis mikroorganisme dan jamur yang mendorong tanaman tumbuh sehat melalui formasi yang stabil dan keseimbangan pertumbuhan nutrisi. Disisi lain, Howard mencatat bahwa pemupukan kimia hanya akan membawa kembali beberapa mineral dan nutrisi ke dalam tanah, yang diambil lebih banyak oleh tanaman. Selain dari pada itu pemupukan kimia secara ekstrem tidak mendorong perkembangan keanekaragaman mikroorganisme yang memberi nutrisi kepada akar secara terusmenerus. Prinsip-prinsip Pertanian Organik Winnet (2011:20-24) 1. Prinsip kesehatan “Pertanian organik seharusnya menopang dan meningkatkan kesehatan tanah, tanaman, hewan, manusia dan bumi sebagai satu-kesatuan yang tidak bisa terpisahkan 2. Prinsip ekologi “Pertanian organik seharusnya didasarkan dan bekerjasama dengan sistem dan siklus ekologi hidup untuk membantu mendukung dan mempertahannya” 3. Prinsip keadilan “Pertanian organik, seharusnya membangun hubungan bahwa menjamin keadilan terhadap lingkungan dan kesempatan hidup Prinsip keadilan ini tidak hanya dimaksudkan untuk petani-petani dan orang lain yang terlibat dengan pertanian organik, tetapi juga keadilan kepada masyarakat sekitar dan konsumen. Prinsip ini mengenai manejmen pertanian organik secara yang tidak merusakkan atau merugikan kepada orang siapapun yang terlibat. „Keadilan‟ itu tentang hak pekerja, distribusi penguasaan, dan transaksi di antara produser dan konsumen yang jujur dan „transparent’.

13

4. Prinsip kepedulian “Pertanian organik seharusnya diterapkan secara berhati-hati dan bertanggungjawab agar melindungi kesehatan dan kesejateraan generasi dan lingkungan saat ini dan untuk masa depan.” Pertanian organik bukan hanya bicara tentang hal-hal teknis semata atau yang bersifat ilmiah tetapi tentang prinsip-prinsip moral yang dilupakan oleh industri modernisasi produksi maksimal, bahan kimia berbahasa, membunuh lingkungan sadar dan tanpa sadar. Pertanian organik telah melewati fase modernisasi pertanian, di Indonesia modernisasi pertanian dimulai tahun 1967 dengan revolusi hijau. Keinginan menyelesaikan masalah pertanian secar holistik (keseluruhan) inilah suatu auto kritik terhadap pertanian modern. Tidak ada kematian mulai organisme satu sel (bakteri), tumbuhan kecil (jamur, perdu dll) sampai hewan-hewan kecil (cacing, jangkrik, semut dll) dan kerusakan alam ketika manusia memanfaat alam untuk kelangsungan hidup. “Pertanian organik itu adalah sistem pertanian yang bekerjasama dengan sistem alami yang ada di alam bebas”.

14

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->