P. 1
Konsep Imamah Dalam Islam

Konsep Imamah Dalam Islam

|Views: 85|Likes:
Published by Fatqurrozi Ozzi

More info:

Published by: Fatqurrozi Ozzi on Oct 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2012

pdf

text

original

I.

Pendahuluan Telah merasuk pada kebanyakan orang Islam sebuah pemikiran bahwa kemajuan sebuah

negara dapat dilakukan dengan memisahkan agama dan Negara. Islam adalah agama murni yang tidak ada hubunganya dengan sistem kenegaraan. Sehingga di negara-negara Timur yang mayoritas penduduknya muslim tersebar sebuah ungkapan ‫ان الديه هلل والوطه للجميع‬ bersama). Agama hanyalah aturan-aturan yang membahas hubungan manusia dengan Tuhanya, sedangkan aturan sosial kenegaraan diserahkan penuh kepada manusia. Pemahaman yang fatal ini bermula disebarkan oleh kaum imperealisme Barat. Mereka menganggap bahwa kemajuan Negara-negara Barat yang sudah dicapai sekarang adalah dampak dari mereka yang menjauh dari agama. Semakin agama tidak ikut campur dalam urusan politik, maka sebuah Negara akan dapat mengalami kemajuan pesat. Selanjutnya mereka juga menginginkan konsep Negara sekuler di Barat juga diterapkan di negara-negara Timur. Sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Mustofa Kamal at Tartuk yang mendirikan Negara sekuler di Turki. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Al-Afghani, memang harus diakui bahwa Eropa telah menjadi modern dengan cara mereka sendiri yaitu dengan tidak sungguh-sungguh menjadi Kristen. Hal seperti ini tidak bisa diterapkan pada diri orang Islam, karena kata-kata orang Eropa berasal dari prinsip-prinsip tertentu yang dipahami oleh mereka sendiri. Kaum muslimin akan maju kembali jika bersatu dan memegang teguh syariat Islam, dan sebaliknya akan lemah seperti sekarang karena mereka tidak benar-benar menjadi muslim.Oleh sebab itu sangat penting sekali bila kita kembali menerapkan syariat-syariat Islam. Karena sebenarnya Islam adalah agama universal yang melayani semua kebutuhan kehidupan termasuk dalam ketatanegaraan.

(sesungguhnya agama itu milik Allah sedangkan Negara adalah milik

Dalam makalah ini penulis akan membahas dan mengulas pandangan Islam tentang sebuah konsep Negara. Pada bagian awal akan kami bahas tentang pengertian Imamah dan Khilafah beserta lembaga dan jabatan yang berada di dalamnya seperti Ahlul Halli wal Aqdi dan wizarah. Kemudian akan diteruskan dan ditutup dengan pandangan aliran-aliran Islam tentang konsep Imamah.
1

Sejarah telah membuktikan bahwa Rasulullah. Hal ini dikarenakan seluruh sistem kehidupan manusia dikembalikan pada pertimbangan dunia demi mendapatkan kemaslahatan akhirat. Negara Islam diasaskan kepada keadaan keamanan Muslim dan kawasannya.II. Negara Islam harus berdasarkan pada perlaksanaan hukum Islam dan sistemnya. Dari beberapa definisi ini dapat disimpulkan bahwa Imamah adalah kekuasaan tertinggi dalam negara Islam yang bersifat menyeluruh dalam memelihara agama dan pengaturan sistem keduniaan dengan berasaskan syariat Islam dan pencapaian maslahat bagi umat di dunia dan akhirat. Kata imamah. Ibn Khaldun mengatakan imamah adalah muatan seluruh komunitas manusia yang sesuai dengan pandangan syariat guna mencapai kemaslahatan mereka baik di dunia dan akhirat. Al Mawardi memposisikan al-imamah sebagai pengganti tugas kenabian dalam menjaga dan memelihara masalah agama serta urusan keduniaan. Pembahasan A. Oleh sebab itu para ulama fiqih juga tidak memisahkan ketiga istilah tersebut. Sedangkan secara istilah para pakar hukum Islam mendefinisikan dengan beragam. Dalam mendefinisikan Negara Islam para ulama mempunyai dua pandangan yaitu: a. sebagaimana yang telah diungkapkan oleh imam Nawawi dan Ibn Khaldun. Pengertian Imamah dan negara Islam Secara linguistik kata imamah berasal dari amma-yaummu-imamatan yang mempunyai arti pimpinan atau orang yang diikuti. Kalau orang Muslim mendapat keamanan sebagaimana keamanan negara Islam pada periode maka Negara itu adalah negara Islam. dan khalifah mempunyai bentuk satu arti yaitu suatu jabatan tertinggi dalam suatu negara. para Shahabat dan Tabi’in tidak membedakanya. b. At Tafazani mendefinisikan dengan pemimpin tertinggi negara yang bersifat universal dalam mengatur urusan agama dan keduniaan. Selanjutnya Ibnu Mandzur mengartikanya dengan setiap orang yang telah diangkat menjadi pimpinan suatu komunitas masyarakat baik dalam menempuh jalan kebaikan atau kesesatan. Berdasarkan pada pendapat yang kedua ini dalam 2 . amirul mukminin.

Firman Allah ‫ياايهاالرين أهنىا أطيعىاهللا وأطيعىا الرسىل وأولي األهر هنكن‬ Hai orang-orang yang beriman taatlah kalian semua pada Allah. dan sebagian besar Mu’tazilah serta Khawarij berpendapat bahwa mendirikan pemerintahan Islam adalah suatu hal yang wajib. Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa yang dikehendaki dari ulil amri adalah umum untuk seluruh para pemimpin baik penguasa pemerintah ataupun para ulama. Rasulullah. Dasar-dasar yang melandasi pendapat golongan ini: 1.menentukan negara Islam hanya ditentukan atas unsur mayoritas bilangan Muslim. Oleh sebab itu dalam membentuk sebuah komunitas masyarakat haruslah ada seorang pemimpin yang mengatur kehidupan mereka. Murjiah. B. Ibn Hazm mengatakan bahwa dalam diri umat Islam harus ada sistem pemerintahan yang wajib ditaati. Syiah. seperti dari golongan Ahli Sunnah. Nabi bersabda : ‫اذا خرج ثالثة في سفر فليى’هروا أحدهن‬ Ketika tiga orang sedang bepergian maka hendaklah satu orang diantara mereka diangkat menjadi pemimpin. 3 . Hal ini tidaklah lain hanya untuk menegakkan hukum Allah dan pengaturan sistem kemasyarakatan yang berlandaskan syariat untuk mencapai kemaslahatan. walaupun undang-undang dan sistem Islam tidak terlaksana. Hukum mendirikan imamah Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa mendirikan sebuah negara adalah suatu hal yang wajib dilakukan menurut logika akal manusia. Hal ini dikarenakan setiap manusia adalah makhluk sosial yang sangat saling membutuhkan antara satu sama lain. dan Ulil Amri diantara kamu. Sedangkan hukum mendirikan negara para pakar hukum Islam berbeda pendapat. Mayoritas mereka.

Pendapat sebagian kecil ulama ini banyak ditentang oleh para fuqaha ( pakar hukum Islam). Kalaupun imamah diartikan sebagai alat untuk merealisasikan hukum-hukum Islam. Hisyam Al Fuwathi. Dhirar. Al Asham berkata : ‫لى تكاف الناس عن التظالن الستغنىا عن االهام‬ Seandainya saja masyarakat bisa meninggalkan perbuatan lalim maka mereka tidak lagi membutuhkan bentuk pemerintahan. Mereka diantaranya adalah Abu Bakar al Asham dari golongan Mu’tazilah. Sehingga dalam menarik ulur dua kerugian haruslah dipilih yang lebih ringan. Kosensus para shahabat dan tabi’in tentang wajibnya imamah. Golongan ini sangat berpegang teguh dan mendambakan persamaan hak asasi manusia. Bahkan mereka menganggap adanya imamah akan merusak kemerdekaan hak asasi manusia dan kebebasan berpikir. Hal ini bisa dibuktikan dengan bergegasnya para shahabat untuk membaiat Abu Bakar di Saqifah Bani Sa’adah sebagai Amirul Mukminin. 4 . 3. dan sebagian kecil ulama Khawarij. Karena antara imamah dan tanfidzul hukmi (realisasi hukum Islam) adalah dua kutub yang berbeda dan tidak saling berkaitan. Ubad bin Sulaiman dari Mu’tazilah. Sebenarnya dampak kemaslahatan yang ditimbulkan dari sistem imamah lebih besar dari pada kerugianya. maka hal itu tidak akan mengubah hukumnya menjadi wajib. Hadist nabi ‫هن هات و ليس في عنقه بيعة هات هيتة جاهلية‬ Barang siapa yang mati sedangkan dia tidak dalam kekuasaan baiat khalifah maka dia mati secara jahiliah. Anggapan mereka sistem pemerintahan sangat bersebrangan dengan konsep persamaan derajat karena disertai dengan pemaksaan dan penindasan dari penguasa. Realisasi hukum syariat harus berjalan sendiri tanpa adanya campur tangan dari penguasa yang mendorongnya. Sebagian kecil ulama mengatakan bahwa hukum mendirikan imamah adalah tidak wajib tapi cuma mubah. Sehingga dengan adanya imamah akan banyak menimbulkan perselisihan dan perpecahan dalam diri umat Islam.2.

pemberani. laki-laki. merdeka. Oleh sebab itu mayoritas fuqaha berpendapat bahwa tidak boleh ada 2 imam baik dalam lingkup satu kawasan ataupun beberapa kawasan. baligh. Akan tetapi ada segolongan ulama seperti imam Haramain. Rasulullhah bersabda: ‫اذا بىيع لخليفتين فاقتلىا االخر هنهوا‬ Apabila telah dibaiat dua khalifah maka perangilah salah satunya. 2) A’dalah (adil) yaitu selalu konsisten dalam melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi hal-hal yang dilarang agama. C. dan tidak mudah menyerah 5 . Abu Shabah as Samarqandi dan beberapa ulama mutaakhirin mengatakan bahwa ta’adudul imam (banyak imam) dalam penjuru dunia diperbolehkan. dan berakal. sebagai berikut: 1) Islam. al Baghdadi. 3) Mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang mencukupi baik dalam masalah keagamaan maupun keduniaan. Syarat-syarat dan tugas imam Imam Mawardi memberikan batas-batas seseorang yang boleh menjadi imam. Bahkan menurut imam Zaidiyah ketika batas teretoriyal dalam sebuah wilayah sudah jelas maka boleh mendirikan pemerintahan Islam demi untuk menjaga kemaslahatan umat. Islam adalah agama kesatuan dan umatnya harus berbentuk satu kesatuan yang tidak bercerai berai dan saling bahu membahu. Abu Mansur.Bahkan kebebasan sebenarnya yang mencakup hak asasi manusia dan berpikir akan lebih terkoordinasi dengan adanya imamah untuk melindungi dan menjaga hak orang lain supaya tidak tertindas. Dalam mendirikan negara Islam para ulama berpendapat bahwa dalam penjuru dunia harus ada satu pemerintah Islam. 4) Punya kepribadian yang kuat.

Mengatur pemasukan dan pengeluaran keuangan Negara. Sesuatu yang sudah menjadi pilihan dan keinginan rakyat akan disalurkan dan dimanifestasikan 6 . dan shadaqah wajib. Menjaga keamanan dan keadilan warganya D. Dalam menentukan jumlah Ahlul Halli wal Aqdi para ulama mempunyai beraneka ragam pendapat. 4. Memerangi musuh yang mengancam keamanan Negara dan bangsa. 2. Ahlul Halli wal Aqdi adalah suatu lembaga yang beranggotakan orang-orang yang mempunyai pengetahuan agama. dan “Ahlut Tadbir” (lembaga yang mengatur masalah-masalah kemasyarakatan). Intikhab (pemilihan langsung) Tata cara dengan pemilihan langsung terjadi pada masa khalifah Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib. budi pekerti. dan ilmu yang memadai dalam mengatur masalahmasalah kemasyarakatan. Akan tetapi secara subtansial Ahlul Halli wal Aqdi adalah penyambung lidah rakyat. fai’. Menjaga dan melestarikan hukum-hukum keagamaan.Dalam memimpin sebuah Negara. Dalam pemerintahan Islam mereka juga disebut dengan “Ahlul ikhtiyar” (orang-orang yang bertugas memilih imam dengan menggantikan hak pilih yang dimiliki rakyat). lebih-lebih yang menyangkut aqidah serta membrantas tindakan-tindakan yang berbau bid’ah dan keluar dari syariat Islam. dalam pengangkatan kepala Negara umat Islam mempunyai beberapa tata cara: 1. 3. Ditinjau dari pendekatan historis. 1. Para ulama memberikan cakupan tentang tugas-tugas yang menjadi kewajiban imam. “Ahlus Syura” (lembaga permusyawaratan). Tata cara pengangkatan imam. Sejarah telah mencatat bahwa tidak ada orang yang menolak pengangkatan imam dengan pemilihan langsung. Hanya saja dalam pemilihan harus diserahkan sepenuhnya kepada Ahlul Halli wal Aqdi. seperti ghanimah. seorang imam mempunyai tugas-tugas yang harus dilaksanakan guna mencapai kemakmuran Negara dan rakyatnya.

Imam Mawardi memberikan syarat-syarat Ahlul Halli wal Aqdi sebagai berikut: 1. 2. Imam Nawawi dalam Shahih Muslim mengatakan bahwa kaum muslimin telah sepakat jika seorang khalifah merasa akan mendekati ajal maka dia diperkenankan untuk mencari pengganti orang lain dengan mengikuti Abu Bakar. syariat dalam memberi batasan dan memasukkan kriteria-kriteria Ahlul Halli wal Aqdi sangat ketat. Tugas-tugas Ahlul Halli wal Aqdi: 1) Memilih kepala Negara dan membaiatnya (melantiknya) 2) Mengklasifikasi para kandidat imam yang sudah memenuhi kriteria. 3. Istikhlaf (mencari pengganti) Istikhlaf adalah proses pengangkatan dari imam lama kepada imam baru yang dianggap memiliki kopetensi dalam memegang dan memimpin sebuah negara dengan mendapat persetujuan dari Ahlul Halli wal Aqdi. 3) Memilih imam yang kelak akan lebih banyak memberikan kemanfaatan dan kemakmuran untuk umat. Istikhlaf juga sering disebut dengan al ‘ahdu atau washiat. 3. Qahru wal Ghalabah (kudeta) Qahru wal Ghalabah adalah tata cara proses pengangkatan imam yang tidak disepakati oleh ulama. Mempunyai pendapat dan kebijaksanaan dalam mengatur kepemerintahan dan memecahkan masalah-masalah sosial kewarganegaraan. Akan tetapi hal ini diperbolehkan hanya untuk menjaga kemaslahatan umat Islam dan menjaga 7 . Dalam sejarah tata cara proses pengangkatan seperti ini terjadi pada masa khlifah Abu Bakar dalam memilih Umar untuk menggantikanya. Sebenarnya model ke tiga ini adalah tata cara yang tidak dilegalkan oleh syariat. 4) Menurunkan dan mencopot imam dari jabatanya ketika ada hal-hal yang menyebabkan imam harus diganti. atau mengikuti jejak Rasul dengan tidak mencari pengganti. yaitu karakter untuk selalu konsisten menjaga ketaqwaan dan muru’ah (harga diri). 2.lewat mereka. Mempunyai ilmu yang bisa digunakan untuk mengetahui pribadi seseorang yang berhak menjadi imam. Oleh sebab itu. A’dalah.

memimpin tentara. wazir juga berhak melakukanya. Pada masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin istilah wizarah masih belum ditemukan. Imam Mawardi membagi wizarah menjadi dua bagian: 1) Wizaratut tafwidz yaitu seseorang yang diberi wewenang penuh oleh imam untuk mengatur dan menyelesaikan masalah dari hasil pendapat dan pemikiranya sendiri. b) imam berhak untuk menghapus imam baru pada masa kekuasaanya. dikarenakan seorang wazir punya wewenang sebagaimana wewenang yang telah dimiliki oleh imam. memutuskan urusan-urusan peradilan. Wizarah (Menteri) Wizarah dalam konsep negara Islam adalah jabatan yang yang punya kekuasaan menyeluruh sebagai pengganti imam dalam segala hal urusan dengan tanpa ada pembatasan. Dalam menjalankan roda pemerintahan kepala negara (Nabi dan Khulafaur Rasyidin) dibantu oleh para shahabat. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa setiap sesuatu yang berhak dilakukan oleh imam. kecuali tiga hal. E. Jabatan ini hampir menyamai dengan kedudukan khalifah.terjadinya pertumpahan darah diantara mereka. Seseorang ketika menduduki jabatan ini maka dia tidak berhak untuk membuat kebijakan sendiri. seperti merancang hukum-hukum ketatanegaraan. c) imam berhak memecat bawahan wazir tapi bagi wazir tidak berhak memecat orang-orang bawahan imam. Hanya saja ketika yang melakukan kudeta adalah orang kafir maka bagi seluruh umat muslim di negara itu wajib untuk memeranginya karena syarat beragama Islam selamanya harus dipenuhi oleh orang yang menjadi imam. Jabatan ini derajatnya lebih rendah dari wizaratut tafwidz. mengangkat panglima dan lain-lain. Baru pada masa dinasti Abbasyiah istilah wizarah dipakai yang diambil dari negara Persia. 2) Wizaratut tanfidz yaitu sesorang yang bertugas untuk merealisasikan dan meneruskan pendapat dan kebijakan imam. Dalam hal ini imam Syafii mengatakan “barang siapa yang mampu mengkudeta seorang khalifah walaupun dengan kekerasan dan pedang sedangkan rakyat mengakuinya sebagai khalifah maka dia bisa dinamakan dengan khalifah”. a) imam berhak memberikan jabatannya kepada orang yang sudah menjadi pilihanya. kalupun dia hendak memutuskan suatu urusan yang berkaitan dengan 8 .

9 . Oleh sebab itu syarat-syarat untuk menduduki jabatan ini tidak terlalu ketat sebagaimana wizaratut tafwidz.pemerintahan maka dia harus mengajukan pendapatnya terlebih dahulu kepada imam untuk mendapatkan persetujuan.

1999. ENSIKLOPEDI ISLAM. Darut Thibah. cet. 10 . Jakarta: PT. Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. 5 jil. Riyadz. Ke-4.DAFTAR PUSTAKA Ad Damiji. AL IMAMAH AL U’DZMA. Ichtiar Baru van Hoeve. Abdullah ibn Umar. 1409 H.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->