P. 1
Makalah Hortikultura Kelompok 3

Makalah Hortikultura Kelompok 3

|Views: 653|Likes:
Published by Aditya Dyah Utami

More info:

Published by: Aditya Dyah Utami on Oct 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/07/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Hortikultura berasal dari Bahasa Latin yang terdiri dari dua patah kata yaitu hortus (kebun) dan culture (bercocok tanam). Hortikultura memiliki makna seluk beluk kegiatan atau seni bercocok tanam sayur-sayuran, buah – buahan atau tanaman hias. Tanaman Hortikurtura memiliki beberapa fungsi yakni sebagai sumber bahan makanan, Hiasan /keindahan, dan juga Pekerjaan. Hortikultura terbagi atas 4 bagian yaitu: Sayursayuran, Buah-buahan, tanaman Hias, dan tanaman obat. mekanisasi, tanah dan pemupukan, ilmu cuaca, dan sebagainya. Pembiakan tanaman atau perbanyakan tanaman (plant propagation) adalah proses menciptakan tanaman baru dari berbagai sumber atau bagian tanaman, seperti biji, stek, umbi, dan bagian tanaman lainnya (Wikipedia, 2012). Tujuan utama dari pembiakan tanaman adalah untuk mencapai pertambaha jumlah, memelihara sifat-sifat penting dari tanaman (Askari, 2010), dan juga untuk mempertahankan eksistensi jenisnya. Ada dua cara perbanyakan tanaman, yaitu perbanyakan secara seksual atau generative dan perbanyakan secara aseksual atau vegetatif. Pada umumnya budidaya hortikultura diusahakan lebih intensif dibandingkan dengan budidaya tanaman lainnya. Hasil yang diperoleh dari budidaya holtikultura ini per unit areanya juga biasanya lebih tinggi. Lebih lanjut dikatakan tanaman holtikultura memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan manusia. Misalnya tanaman hias berfungsi untuk member keindahan (aestetika), buah – buahan sebagai makanan, dan lain-lain. Holtikultura berinteraksi dengan disiplin ilmu lainnya seperti kehutanan, agronomi, dan ilmu terapan lainnya. Ilmu hortikultura berhubungan erat dengan ilmu pengetahuan lainnya, seperti teknik budidaya tanaman,

BAB II PEMBAHASAN

Perbanyakan secara aseksual atau vegetative adalah proses perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian-bagian tertentu dari tanaman seperti, daun, batang, ranting, pucuk, umbi dan akar untuk menghasilkan tanaman baru yang sama dengan induknya (Made, 2009). Prinsip dari perbanyakan vegetative adalah merangsang tunas adventif yang ada dibagian-bagian tersebut agar dengan system ini antara lain adalah 1. 2. 3. 1. 2. 3. 4. Menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan induknya Tanaman lebih cepat berbunga dan berbuah, Dapat menggabungkan berbagai sifat yang diinginkan. Membutuhkan pohon induk yang lebih besar dan lebih banyak Akar tanaman (anakan) kurang kokoh, sehingga mudah rebah Masa produktif singkat Membutuhkan biaya yang mahal. Perbanyakan tanaman dengan vegetative dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu stek, cangkok, okulasi, penyambungan/grafting, runduk dan juga perbanyakan modern seperti kultur jaringan. Perbanyakan tanaman dengan stek pun beragam, seperti stek batang, stek daun, stek akar, stek mata, stek umbi( meliputi umbi lapis, umbi palsu, umbi batang, umbi akar dan akar batang). A. Perbanyakan Vegetatif Tanaman Hortikultura 1. Cangkok, Mencangkok merupakan salah satu cara pembiakan vegetative buatan yang bertujuan untuk mendapatkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan induknya dan cepat menghasilkan. Pencangkokan dilakukan dengan menyayat berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang, dan daun sekaligus. Keunggulan perbanyakan

sedangkan kelemahan dari perbanyakan ini adalahh

dan mengupas kulit sekeliling batang, lebar sayatan tergantung pada jenis tanaman yang dicangkok. Penyayatan dilakukan sedemikian rupa sehingga lapisan kambiumnya dapat dihilangkan (dengan cara dikikis). Setelah luka yang dibuat cukup kering, Rootone-F diberikan sebagai perlakuan agar bahan cangkokan cepat berakar. Media tumbuh yang digunakan terdiri dari tanah dan kompos dan dibalut dengan sabut kelapa atau plastik. Bila batang diatas sayatan telah menghasilkan system perakaran yang bagus, batang dapat segera dipotong dan ditanam di lapang. Jenis tumbuhan yang biasa dicangkok pohon buahbuahan misalnya mangga, jeruk, dan lain lain. Umumnya jenis tumbuhan berkayu. dalam melakukan penyayatan cabang cangkokan dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu : a. Cabang kecil Cabang yang berdiameter kurang dari 2 cm digolongkan ke dalam cabang kecil. Kulit kayu yang tepat untuk disayat berada tepat di bawah kuncup daun, karena disitulah terkumpul zat pembentuk akar yang disebut rizokalium. Dalam satu cabang bisa dibuat satu atau lebih sayatan (cangkok berantai). b. Cabang besar Batasan cabang besar disini adalah cabang yang diameternya melebih 2 cm. Dengan besarnya cabang ini maka diperlukan perimbanga jumlah akar yang sesuai untuk memasok air dan zat hara yang nantinya diperlukan setelah hasil cangkokan ditanam. Perakaran yang tumbuh dari bentuk penyayatan seperti pada cabang kecil sering kurang memadai. Oleh karena itulah bentuk sayatan dibuat sedemikian rupa agar bidang yang nantinya ditumbuhi akar menjadi luas. Setelah kulit kayu tersayat akan tampak kambium. Kambium yang umumnya terdapat hanya pada tanaman dikotil ini merupkan suatu tabunga yang berada antara xilem dan floem. Hasil kerja kambium erupa pertambahan lingkaran batang berkayu. Untuk menghindari

kejadian ini pada luka sayatan juga agar proses pertumbuhan akar tidak terganggu, kambium harus dihilangkan. Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pencangkokan tanaman adalah: a. Waktu mencangkok, sebaiknya pada musim hujan karena tidak perlu melakukan penyiraman berulang-ulang b. Memilih batang cangkok, pohon induk yang digunakan adalah yang umurnya tidak terlalu tua atau terlalu muda, kuat, sehat dan subur serta banyak dan baik buahnya c. Pemeliharaan cangkokan, pemeliharaan sudah dianggap cukup bila media cangkokan cukup lembab sepanjang waktu Macam-macam pembungkus cangkokan : a. Sabut kelapa b. Tabung bambu c. Kaleng bekas d. Plastik bening Kelebihan cara pembiakan cangkokan antara lain : a. Pohon dari bibit cangkokan lebih cepat berbuah. b. Dapat mewarisi sifat baik dari tanaman induk karena induknya dapat dipilih yang memiliki sifat baik. adapun kelemahannya antara lain : a. Perakaran pohon cangkokan kurang kuat dan dangkal. b. Bentuk pohon induk menjadi rusak. c. Tidak dapat menyediakan bibit yang relative banyak dalam waktu yang cepat. d. Cara pengerjaan sedikit lebih rumit dan memerlukan ketelatenan. e. Jika sering dilakukan pencangkokan terhadap pohon induk maka produksi buah pohon induk menjadi terganggu.

2. Tempel (budding/okulasi)

Budding adalah salah satu bentuk dari grafting, dengan ukuran batang atas tereduksi menjadi hanya terdiri atas satu mata tunas. Cara perbanyakkan ini dilakukan dengan menempelkan tunas dari satu tumbuhan kebatang tumbuhan lain. Setiap tumbuhan itu mempunyai sifat yang berbeda. Batang dan tunas yang diokulasi berasal dari dua tumbuhan. Batang yang ditempel merupakan tumbuhan yang mempunyai akar dan batang yang kuat. Teknik ini dipilih dengan pertimbangan untuk memperbanyak tanaman yang sukar/tidak dapat diperbanyak dengan cara stek, perundukan, pemisahan, atau dengan cangkok. Menurut Ashari (1995), banyak jenis tanaman buah-buahan yang sukar/tidak dapat diperbanyak dengan cara-cara tersebut, tetapi mudah dilakukan penyambungan, misalnya pada manggis, mangga, belimbing, jeruk dan durian. Syarat batang bawah untuk okulasi : a. Tanaman berasal dari biji b. Berdiameter 3-5 mm, berumur sekitar 3-4 bulan c. Dalam fase pertumbuhan yang optimum (tingkat kesuburannya baik), kambiumnya aktif, sehingga memudahkan dalam pengupasan dan proses merekatnya mata tempel ke batang bawah. d. Batang sudah berkayu dan tumbuh subur, dan rimbun. e. Tidak terserang hama atau penyakit f. Perakarannya baik. Syarat batang atas untuk okulasi : a. Entres yang baik adalah yang cabangnya dalam keadaan tidak terlalu tua dan juga tidak terlalu muda (setengah berkayu).Warna kulitnya coklat muda kehijauan atau abu-abu muda. Entres yanng diambil dari cabang yang terlalu tua pertumbuhannya lambat dan persentase keberhasilannya rendah. Besar diameter cabang untuk entres ini harus sebanding dengan besarnya batang bawahnya. b. Cabang entres untuk okulasi ini sebaiknya tidak berdaun (daunnya sudah rontok). Pada tanaman tertentu sering dijumpai cabang entres yang masih

ada daun melekat pada tangkai batangnya. Untuk itu perompesan daun harus dilakukan dua minggu sebelum pengambilan cabang entres. Dalam waktu dua minggu ini, tangkai daun akan luruh dan pada bekas tempat melekatnya (daerah absisi) akan terbentuk kalus penutup luka yang bisa mencegah masuknya mikroorganisme penyebab penyakit (patogen). c. Syarat lain yang perlu diperhatikan pada waktu pengambilan entres adalah kesuburan dan kesehatan pohon induk. Untuk meningkatkan kesuburan pohon induk, biasanya tiga minggu sebelum pengambilan batang atas dilakukan pemupukan dengan pupuk NPK. Kesehatan pohon induk ini penting karena dalam kondisi sakit, terutama penyakit sistemik mudah sekali ditularkan pada bibit. d. Entres diambil setelah kulit kayu cabangnya dengan mudah dapat dipisahkan dari kayunya (dikelupas). Bagian dalam kulit kayu ini (kambium) akan tampak berair, ini menandakan kambiumnya aktif, sehingga bila mata tunasnya segera diokulasikan akan mempercepat pertautan dengan batang bawah. Bentuk pengambilan entres (mata tunas) : a. Segiempat b. Sayatan c. Bulatan/temple 3. Penyambungan Grafting/penyambungan adalah seni menyambungkan 2 jaringan tanaman hidup sedemikian rupa sehingga keduanya bergabung dan tumbuh serta berkembang sebagai satu tanaman gabungan. Teknik apapun yang memenuhi kriteria ini dapat digolongkan sebagai metode grafting. Inkompatibilitas antar jenis tanaman yang disambung dapat dilihat dari kriteria sebagai berikut: a. Tingkat keberhasilan sambungan rendah

b. Pada tanaman yang sudah berhasil tumbuh, terlihat daunnya menguning, rontok, dan mati tunas c. Mati muda, pada bibit sambungan d. Terdapat perbedaan laju tumbuh antara batang bawah dengan batang atas e. Terjadinya pertumbuhan berlebihan baik batang atas maupun batang bawah Batang bawah atau rootstock/understam adalah tanaman yang berfungsi sebagai batang bagian bawah yang masih dilengkapi dengan sistem perakaran yang berfungsi mengambil makanan dari dalam tanah untuk batang atas atau tajuknya. Batang bawah ada yang berasal dari semai generatif dan dari tanaman vegetative (klon). Batang bawah asal biji (semai) lebih menguntungkan dalam jumlah, umumnya tidak membawa virus dari pohon induknya dan sistem perakarannya bagus. Kelemahannya yaitu secara genetik tidak seragam. Variasi genetik ini dapat mempengaruhi penampilan tanaman batang atas setelah ditanam. Oleh karena itu perlu dilakukan seleksi secermat mungkin terhadap batang bawah asal biji (Ashari, 1995). Agar hasil sambungan dapat memuaskan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan : a. Batang atas dan batang bawah harus kompatibel b. Jaringan kambium kedua tanaman harus bersinggungan c. Dilakukan saat kedua tanaman berada pada kondisi fisiologis yang tepat d. Pekerjaan segera dilakukan sesudah entris diambil dari pohon induk e. Tunas yang tumbuh pada batang bawah (wiwilan) harus dibuang setelah penyambungan selesai agar tidak menyaingi pertumbuhan tunas batang atas. Metode yang dikembangkan adalah sambung lidah (tongue grafting), sambung samping (side grafting), sambung celah (cleft grafting), sambung susu (approach grafting), dan sambung tunjang (inarching). Persyaratan bibit batang bawah : a. Mempunyai daya adaptasi yang luas.

b. Mempunyai

perakaran

yang

kuat

dan

tahan

terhadap

serangan

hama/penyakit yang ada dalam tanah, serta dapat tumbuh pada tanah yang kondisinya kurang menguntungkan. c. Mempunyai batang yang kuat. d. Mempunyai kecepatan tumbuh yang sesuai dengan batang atas. e. Tidak mempunyai pengaruh negatif pada batang atas. Batang atas yang biasanya disebut entres (scion) adalah calon bagian atas atau tajuk tanaman yang di kemudian hari akan menghasilkan buah berkualitas unggul. Batang atas ini dapat berupa mata tunas tunggal yang digunakan dalam tehnik okulasi ataupun berupa ranting dengan lebih dari satu mata tunas atau ranting dengan tunas pucuk yang digunakan dalam sambungan (grafting). Persyaratan batang atas : a. Besar cabang hampir sama dengan besar batang bawah, cabangnya lurus. b. Umur cabang hampir sama dengan umur batang bawah. c. Cabang diambil pada waktu pohon induk dalam keadaan dorman Penyambungan dapat dilakukan dengan 2 cara : a. Penyusuan Penyusuan adalah cara penyambungan tanaman dimana kedua tanaman baik batang atas maupun batang bawah masing-masing masih memiliki system perakarannnya. Cara penyusuan ini dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu sambung lengkung, sambung pelana, sambung lidah. b. Sambung pucuk (enten) Sambung pucuk dapat dilakukan dengan cara sambung baji, sambung baji terbalik, sambung cemeti, sambung celah lidah : Tahapan sambung pucuk secara umum : a. Pemotongan batang bawah b. Pembelahan batang bawah c. Melancipkan 2 sisi pangkal batang atas

d. Batang atas siap disambungkan e. Batang atas disambungkan dengan batang bawah f. Pengikatan dengan tali plastik g. Sambungan telah diikat h. Sambungan diselubungi i. Sambungan telah jadi dan bertaut j. dengan kantong plastik ditandai keluarnya kuncup daun 4. Runduk, Jenis tumbuhan yang dapat dikembangbiakan dengan runduk sangat sedikit. Tumbuhan itu mempunyai batang yang panjang dan lentur. Tumbuhan yang dapat dikembangbiakan dengan cara merunduk misalnya melati , alemanda, apel, dan lain2. 5. Kultur Jaringan Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dengan kondisi aseptik, sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri tumbuh menjadi tanaman lengkap kembali 6. Stek Stek merupakan cara perbanyakan tanaman secara vegetative buatan dengan menggunakan sebagian akar, batang, dan daun tanaman untuk ditumbuhkan menjadi tanaman baru. Macam teknik penyetekan yaitu stek datar, stek miring, stek bermartil/bertumit. Persyaratan bahan stek : a. Batang/cabang tidak terlalu muda atau terlalu tua, minimal berumur 1 tahun kecuali untuk stek pucuk. b. Bebas dari serangan hama dan penyakit c. Warna batang/pucuk masih segar, berwarna hijau Keberhasilan perbanyakan dengan cara stek ditandai oleh terjadinya regenerasi akar dan pucuk pada bahan stek sehingga menjadi tanaman baru yang true to name dan true to type. Regenerasi akar dan pucuk dipengaruhi oleh

factor intern yaitu tanaman itu sendiri dan faktor ekstern atau lingkungan. Salah satu faktor intern yang mempengaruhi regenerasi akar dan pucuk adalah fitohormon yang berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh. Keuntungan stek antara lain : 1) Caranya sederhana (tidak memerlukan teknik yang rumit) 2) Memiliki sifat yang sama dengan induknya Kerugian stek antara lain : 1) Memiliki perakaran lemah, karena berakar serabut 2) Tidak bisa digunakan untuk perbanyakan semua jenis tanaman 3) Persentasi keberhasilan pertumbuhan rendah Faktor lingkungan tumbuh stek yang cocok sangat berpengaruh pada terjadinya regenerasi akar dan pucuk. Lingkungan tumbuh atau media pengakaran seharusnya kondusif untuk regenerasi akar yaitu cukup lembab, evapotranspirasi rendah, drainase dan aerasi baik, suhu tidak terlalu dingin atau panas, tidak terkena cahaya penuh (200-100 W/m2) dan bebas dari hama atau penyakit. Macam-macam stek : a. Stek batang, Bahan awal perbanyakan berupa batang tanaman. Potongan batang tumbuhan yang hendak di stek harus mempunyai sebuah mata sebagai bakal tunas. Potongan batang ini umumnya merupakan batang yang sudah cukup tua. Stek batang dikelompokkan menjadi empat macam berdasarkan jenis batang tanaman, yaitu:
1) 2) 3) 4)

berkayu keras; contoh apel, cemara semi berkayu; contoh jeruk Lunak; contoh tanaman Magnolia Herbaceous; contoh Dieffenbachia, Chrysanthemum, Ipomoea batatas

b. Stek daun

Bahan awal perbanyakan yang dapat digunakan pada stek daun dapat berupa lembaran daun atau lembaran daun beserta petiol. Akar dan tunas baru pada stek daun berasal dari jaringan meristem primer atau meristem sekunder. Umumnya diterapkan pada tanaman hias misalnya begunia. Daun yang disetek ini harus cukup tua, dan tanah yang digunakan sebagai media tumbuh harus gembur dan lembab. Secara teknis stek daun dilakukan dengan cara memotong daun dengan panjang 7,5 – 10 cm (Sansevieria) atau memotong daun beserta petiolnya kemudian ditanam pada media (Hartmann et al, 1997). Beberapa hari kemudian tumbuh tunas baru yang kemudian dapat dipindahkan ketempat lain. c. Stek Umbi Bahan utama pada stek ini adalah umbi yaitu umbi batang, umbi akar, dll. Sebagai bahan perbanyakan dapat digunakan umbi secara utuh atau dipotong-potong asalkan setiap potongan memiliki caon tunas. Untuk menghindari terjadinya busuk pada potongan umbi, maka umbi dapat direndam pada larutan fungisida dan bakterisida. Contoh tanaman yang bisa diperbanyak dengan stek umbi antara lain: Solanum tuberosum, Ipomoea batatas, Caladium, Helianthus tuberosus, Amarilis, dan lainlain.
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perbanyakan Vegetatif

1. Faktor lingkungan a. Waktu penyambungan Pada umumnya penyambungan dilakukan pada waktu cuaca yang cerah, tidak hujan, dan tidak di bawah terik matahari. Waktu terbaik pelaksanaan okulasi adalah pada pagi hari, antara jam 07.00-11.00 pagi, karena saat tersebut tanaman sedang aktif berfotosintesis sehingga kambium tanaman juga dalam kondisi aktif dan optimum. Diatas Jam 12.00 siang daun mulai layu.Tetapi ini bisa diatasi dengan menempel di tempat yang teduh, terhindar dari sinar matahari langsung.

b. Temperatur dan kelembaban Temperatur dan kelembaban yang optimal akan mempertinggi pembentukan jaringan kalus, yang sangat diperlukan untuk berhasilnya suatu sambungan. Temperatur yang diperlukan dalam penyambungan berkisar antara 7,2°C-32°C, bila temperatur kurang dari 7,2°C pembentukan kalus akan lambat, dan bila lebih dari 32°C pembentukan kalus menjadi lambat dan dapat mematikan sel-sel pada sambungan. Temperatur optimum pada penyambungan adalah 25°C-30°C. Penyambungan memerlukan kelembaban yang tinggi, bila kelembabannnya rendah akan mengalami kekeringan, dan menghambat pembentukan kalus pada sambungan karena banyak sel-sel pada sambungan mati. c. Cahaya Cahaya matahari berpengaruh pada waktu pelaksanaan penyambungan berlangsung, oleh karena itu penyambungan sebaiknya dilakukan pada waktu pagi atau sore hari pada saat matahari kurang kuat memancarkan sinarnya. Cahaya yang terlalu panas akan mengurangi daya tahan batang atas terhadap kekeringan, dan dapat merusak kambium pada daerah sambungan. 2. Faktor tanaman a. Kompatibilitas dan inkompatibilitas Pada umumnya batang atas dan batang bawah dari varietas yang sama akan menghasilkan sambungan yang kompatibel, dan biasanya gabungan tanaman/hasil sambungan akan hidup lama, produktif dan kuat.

b. Keadaan fisiologi tanaman Beberapa tanaman mengalami kesukaran untuk disambungkan ke tanaman lain, karena jenis tanaman tersebut sulit membentuk kalus. c. Penyatuan kambium

Agar persentuhan kambium batang atas dan batang bawah lebih banyak terjadi, maka diperlukan ukuran batang bawah dan batang atas dipilih yang hampir sama. 3. Faktor pelaksanaan a. Keahlian Kecepatan menyambung merupakan pencegahan paling baik terhadap infeksi penyakit dan kerusakan pada kambium. b. Kesempurnaan alat Dalam penyambungan diperlukan ketajaman dan kebersihan alat, tali pengikat yang tipis dan lentur. c. Keserasian bentuk potongan Keserasian bentuk potongan antara batang atas dan batang bawah perlu diperhatikan untuk mendapatkan kesesuaian letak penyatuan kambium batang atas dan batang bawah yang serasi.

Gambar Pembiakan Vegetative Tanaman

Cangkok

Merunduk

Okulasi

Kultur Jaringan

Penyambungan

Stek

BAB IV

PENUTUP

Berdasarkan uraian diatas mengenai perbanyakan vegetatif hortikultura dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pembiakan tanaman atau perbanyakan tanaman (plant propagation) adalah proses menciptakan tanaman baru dari berbagai sumber atau bagian tanaman, seperti biji, stek, umbi, dan bagian tanaman lainnya. 2. Perbanyakan secara aseksual atau vegetative adalah proses perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian-bagian tertentu dari tanaman seperti, daun, batang, ranting, pucuk, umbi dan akar untuk menghasilkan tanaman baru yang sama dengan induknya. 3. Keunggulan perbanyakan dengan system ini antara lain adalah menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan induknya, tanaman lebih cepat berbunga dan berbuah, dapat menggabungkan berbagai sifat yang diinginkan. 4. Kelemahan dari perbanyakan ini adalah membutuhkan pohon induk yang lebih besar dan lebih banyak, akar tanaman (anakan) kurang kokoh, sehingga mudah rebah, masa produktif singkat, dan membutuhkan biaya yang mahal. 5. Perbanyakan tanaman dengan vegetative dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu stek, cangkok, okulasi, penyambungan/grafting, runduk dan juga perbanyakan modern seperti kultur jaringan. 6. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perbanyakan vegetatif dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu faktor lingkunga, faktor tanman, dan faktor pelaksanaan.

DAFTAR PUSTAKA

Agronomi Fakultas Pertanian IPB. 72 hal. Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. Universitas Indonesia Press. Cliffs, N.J. Hartmann, H.T., D.E. Kester, F.T. Davies, and R. L. Geneve. 1997. Plant Jakarta. propagation principles and practices. 6th ed. Prentice Hall, Englewood Rochiman, K. dan S. S. Harjadi. 1973. Pembiakan Vegetatif. Departemen

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->