Pendahuluan Standar produksi benih ikan lele (Clarias sp) kelas benih sebar disusun sebagai upaya meningkatkan jaminan

mutu (Quality assurance), mengingat produk ikan lele banyak diperdagangkan serta mempunyai pengaruh terhadap benih yang dihasilkan, sehingga diperlukan persyaratan teknis tertentu. 1. Ruang Lingkup Standar Operasional Prosedur ini meliputi ruang lingkup, acuan, defenisi, istilah, persyaratan produksi dan cara penentuan dan pemeriksaan untuk benih ikan lele (Clarias sp). 2. Definisi Produksi benih ikan lele (Clarias sp) kelas benih sebar ukuran larva, P1, P11, P111, dan P1V adalah suatu rangkaian kegiatan pra produksi, proses produksi dan permanenan untuk menghasilkan benih ikan lele (Clarias sp) kelas benih sebar (R.SNI No 106-DKP-1999) 3. Istilah a) Pra produksi adalah persyaratan yang harus dipenuhi dalam memproduksi benih ikan lele (Clarias sp) kelas benih sebar, yang terdiri dari persyaratan :Lokasi, sumber air, sarana (wadah, induk dasar, bahan dan peralatan). b) Proses produksi adalah persyaratan yang harus dipenuhi dalam rangkaian kegiatan untuk memproduksi benih ikan lele (Clarias sp) kelas benih sebar. c) Pemanenan adalah persyaratan yang harus dipenuhi dalam kegiatan tahap akhir proses produksi benih ikan lele (Clarias sp) kelas benih sebar. d) Benih sebar adalah benih keturunan pertama dari induk pokok e) Induk Pokok (Parent stock) adalah induk keturunan pertama dari induk dasar (Garand Parent Stock). f) Sintasan adalah persentase jumlah ikan yang hidup pada saat panen dari jumlah ikan yang ditanam g) Pemijahan adalah rangkjaian kegiatan pengeluaran telur dari induk betina dan sperma dari induk jantan.

1 Lokasi a) Lahan Perkolaman : Bebas banjir dan bebas dari pengaruh pencemaran b) Tanah dasar : Liat berlumpur 4. penetasan telur dan pemeliharaan larva berupa bak baik dengan menggunakan hapa atau tidak b) Wadah pendederan I. III. IV : Kolam/tembok 4.6 Peralatan a) Pemijahan.1.5 Bahan a) Pakan : Pakan dengan kandungan Protein > 30 % b) Pupuk : Pupuk Organik c) KPUR Tohor d) Bahan Kimia dan obat-obatan : desinfektan dan antibiotic ( Bila diperlukan) 4.1. Hapa 3.1. II.3 Wadah a) Wadah pemijahan. Persyaratan Produksi 4. Kakaban 2.4 Induk Induk ikan sesuai dengan SNI No.2 Sumber air a) Tidak Tercemar b) Tersedia mencukupi sepanjang tahun 4.4. Pengukur Kualitas air .1.1.1 Pra Produksi 4. 104 – DKP-2000 4. penetasan dan pemeliharaan larva 1.1.

pH : 6.6 3. Pengukur kualitas air 2. IV 1. Suhu : 25 C – 30 C 2. ember. Ketinggian air : 50 cm – 70 cm .III.5 liter/detik 4. Laju pergantian : 10% .15% per hari 4. Peralatan lapangan : hapa/waring.5 – 8. Waktu penetasan telur : 33 jam – 36 jam 2.2. dll b) Pendederan I.2.1 Pemijahan dan penetasan telur a) Kualitas air media pemijahan dan penetasan telur 1. III. Suhu : 25 C.30 C 2. sikat bak. Debit air : 0.6 3.2 Proses produksi 4. cangkul. Waktu pemeliharaan larva : 3 hari – 4 hari 4.2 Pendederan I.7 – 8. lambit. pH : 6.4. lambit. Padat tebar telur : 50. Ketinggian air : 25 cm – 40 cm b) Padat tebar 1. dll 4.IV a) Kualitas dan kuantitas air media dikolam 1.II.000 – 100.000 butir/m2 c) Waktu pemeliharaan 1. ember. waring. Peralatan lapangan : timbangan. II. Padat tebar induk : 1 kg induk betina/m2 dengan perbandingan bobot jantan dan betina adalah 1 :2 dan perbandingan jumlah jantan betina adalah 1 : 1 2.

PIII.80 % b) Sintasan Larva : 60% . PIV seperti pada table 1 e) Waktu pemeliharaan Waktu pemeliharaan pada PI.II.3 Pemanenan 4.III. Kecerahan : 25 cm – 35 cm b) Penggunaaan bahan pada pendederan I.3.80 % c) Sintasan pada PI. PIII.1 Sintasan a) Laju penetasan : 60% . PIV seperti pada table 1 d) Padat tebar benih Padat tebar benih pada PI. PIII. PII. Penggunaan Kapur : Lihat table 1 c) Ukuran benih yang ditebar Ukuran benih yang ditebar pada PI. total dan bobot benioh yang dipanen a) Ukuran panjang total dan bobot larva SNI No 106 – DKP – 2000 b) Ukuran panjang total dan bobot benih pada PI : SNI No 106 – DKP – 2000 c) Ukuran panjang total dan bobot benih pada PII : SNI No 106 – DKP – 2000 d) Ukuran panjang total dan bobot benih pada PIII : SNI No 106 – DKP – 2000 . PII. PIV seperti pada table 1 4.3. PIII. PIV di kolam seperti pada table 1 4.2 Ukuran panjang. Penggunaan pakan : Lihat table 1 2.5.IV di kolam 1. Penggunaan pupuk : Lihat table 1 3. PII. PII.

5. 5.1 Cara Pengukuran Suhu Cara pengukuran suhu air dilakukan dengan menggunakan thermometer.1 Cara Menentukan Dosis pnggunaan bahan Cara Menentukan Dosis Pakan Cara menentukan dosis pakan yang diperlukan perhari dilakukan dengan menggunakan bobot rata-rata satu ekor ikan (minimal dari 30 ekor ikan sampel) dikalikan jumlah populasi ikan di tanam dikalikan persentasi pakan yang telah ditetapkan dalam satuan gram. Cara penentuan dan pmeriksaan 5.2 Cara Pengukuran PH Air Cara pengukuran PH air dilakukan dengan mnggunakan kertas lakmus. 5. pengukuran suhu air dilakukan di permukaan air dan dasar wadah.6.menggunakan penggaris dalam satuan sentimeter (cm). 5. 5.5 Cara Pengukuran Kecarahan Air Cara pengukuran kecerahan air dilakukan dengan mnggunakan piringan berwarna putih bergaris hitam yang diberi tali/tangkai dan dimasukkan ke dalam wadah pemeliharaan dan ukuran kecerahan dinyatakan dengan mengukur jarak antara permukaan air dengan batas piringan yang tampak jelas dalam satuan sentimeter (cm). 5.2 Cara menentukan jumlah penggunaan pupuk .6 5.4 Cara Pengukuran Ketinggian Air Cara pengukuran ktinggian air dilakukan dengan mengukur jarak antara dasar adah pemeliharaan sampai kepermukaan air.6. yang angkanya ditentukan berdasarkan kesesuaian warna terhadap standar warna derajat keasaman atau dengan menggunakan PH meter.3 Cara Pengukuran Debit Air Cara pengukuran debit air dilakukan dengan mengukur volume air dimasukkan ke dalam wadah penampungan dibagi waktu yang dibutuhkan dalam satuan per liter detik. 5.

5.6.3 Cara menentukan Jumlah penggunan kapur Cara menentukan jumlah penggunaan kapur adalah dois kapur per meter persegi dikalikn luas wadah pemeliharaan yang dinyatakan dalam satuan gram(g). .7 Cara pengukuran panjang total benih Cara pengukuran total panjang benih adalah mengukur jarak antara ujung mulut sampai dengan ujung sirip ekor menggunakan alat ukur panjang yang dinyatakan dalam satuan sentimeter (cm).4 Cara menentukan jumlah padat tebar benih Cara menentukan jumlah padat tebar benih adalah perkalian antarajumlah benih yang ditebar per satuan meter persegi dikalikan luas wadah pemeliharaan.5 Cara menentukan sintasan Cara menetukan sintasan adalah membndingkan kelangssungan hidup benih pada saat pemanenan dengan jumlah benih yang ditanam dan dinyatakan dalam persen.Cara menetukan jumlah penggunaan pupuk adalah dosis pupuk per meter persegi dikalikan luas wadah pemeliharaan yang dinyatakan dalam satuan gram (g).6.6 Cara menentukan aktu pemelihaaan Cara menentukan waktu pemeliharaan dilakukandengan mencatatan waktu mulai benih ditebar sampai dengan saat panen dilakukan dan dinyatakan dalam hari. 5. 5. 5. 5.6.6.6. 5.6.8 Cara pengukuran bobot benih Cara pengukuran bobot benih adalah menimbang benih dengan menggunakan timbangan analitis yang dinyatakan dalam satuan gram(g).

7 100 20 2 20 60 2-3 P II 200 50 2-3 50 10 3 40 70 3-5 P III 200 50 3-5 25 5 3 54 80 5-8 P IV 150 50 5-8 20 3-4 3 75 80 10-15 .6-0. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Standar Pupuk kandang Pupuk tohor Ukuran benih Padat tebar Tingkat pemberian pakan Frekuensi pemberian pakan Waktu pemeliharaan Sintasan Ukuran panen Satuan g/mᵌ g/mᵌ cm ekor/ mᵌ % BB kali/hari hari % cm PI 500 50 0.Tabel 1 Proses produksi benih ikan lele dumbo pada setiap tingkatan pemeliharaan No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful