P. 1
AHLUSSUNAH KHALAF

AHLUSSUNAH KHALAF

|Views: 71|Likes:
Published by Lek Kasto

More info:

Published by: Lek Kasto on Oct 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

pdf

text

original

AHLUSSUNAH KHALAF (AL-ASY‟ARY DAN AL-MATURIDI

)

Kata khalaf biasanya digunakan untuk merujuk para ulama yang lahir setelah abad III H dengan karakteristik yang bertolak belakang dengan apa yang dimiliki salaf. Ahlusunnah (sunni) ada dua pengertian: 1. Secara umum, Sunni adalah lawan kelompok syiah 2. Secara khusus, Sunni adalah mazhab yang berada dalam barisan asy‟ariyah dan merupakan lawan mutazilah. Dua aliran yang menentang ajaran-ajaran mutazilah. Harun Nasution dengan meminjam keterangan Tasi Kurbazadah, menjelaskan bahwa aliran ahlu sunnah muncul atas keberanian dan usaha Abu Hasan Al-asy‟ari sekitar tahun 300H.

A. AL-ASY‟ARI 1. Latar Belakang Kemunculan Al-Asy‟ari Nama lengkap Al-asy‟ari adalah Abu al-Hasan Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa Al-asy‟ari. Ia lahir di Bashrah pada tahun 260H/875M. Ketika berusia 40 tahun, ia hijrah ke kota Bagdad dan wafat di sana pada tahun 324H/935M. Ayah al-asy‟ari adalah seorang yang berfaham ahlusunnah dan ahli hadits. Ia wafat ketika Al-asy‟ari masih kecil. Sebelum wafat ia berwasiat kepada sahabatnya yang bernama Zakaria bin Yahya As- saji agar mendidik Al-asy‟ari. Berkat didikan ayah tirinya, Al-asy‟ari kemudian menjadi tokoh mutazilah. Menurut Ibnu asakir, Al-asy‟ari meninggalkan faham mutazilah karena ia telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Sebanyak tiga kali yaitu pada malam ke10, 20 dan 30 bulan Ramadhan. Dalam mimpinya Rasulullah mengingatkan agar meninggalkan faham mutazilah dan beralih kepada faham yang telah diriwayatkan dari beliau.

2. Doktrin-doktrin Teologi Al-asy‟ari Corak pemikiran yang sintesis ini menurut Watt, barangkali dipengaruhi teologi kullabiah (teologi Sunni yang dipelopori Ibn Kullab (w 854 M). Pemikiran-pemikiran Al-asy‟ari: a. Tuhan dan sifat-sifatnya Al-asy‟ari dihadapkan pada dua pandangan ekstrim. Dengan kelompok mujasimah (antropomorfis) dan kelompok musyabbihah yang berpendapat, Allah mempunyai semua sifat yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan sunnah, dan sifat-sifat itu harus difahami menurut harti harfiyahnya. Kelompok mutazilah berpendapat bahwa sifatsifat Allah tidak lain adalah esensi-esensinya. Al-asy‟ari berpendapat bahwa Allah memang memiliki sifat-sifat itu, seperti mempunyai tangan dan kaki dan ini tidak boleh diartikan secara hartiah, sifat-sifat Allah itu unik sehingga tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip. b. Kebebasan dalam berkehendak (free will) Dari dua pendapat yang ekstrim, yakni jabariah dan fatalistic dan penganut faham pradterminisme semata-mata dan mutazilah yang menganut faham kebebasan mutlak dan berpendapat bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri. Al-asy‟ari membedakan antara khaliq dan kasb. Menurutnya, Allah adalah pencipta (khaliq) perbuatan manusia, sedangkan manusia sendiri yang mengupayakannya (muktasib), hanya Allah lah yang mampu menciptakan segala sesuatu (termasuk keinginan manusia). c. Akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk Walaupun Al-asy‟ari dan orang-orang mutazilah mengakui pentingnya akan dan wahyu, mereka berbeda dalam menghadapi persoalan yang memperoleh penjelasan kontradiktif dari akal dan wahyu. Al-asy‟ari mengutamakan wahyu, sementara mutazilah mengutamakan akal. d. Qadimnya Al-Qur'an

Mutazilah mengatakan bahwa Al-Qur'an diciptakan (makhluk) sehingga tak qadim serta pandangan mazhab Hambali dan Zahiriah yang mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah kalam Allah (yang qadim dan tidak diciptakan). Zahiriah bahkan berpendapat bahwa semua huruf, kata dan bunyi Al-Qur'an adalah qadim. Dalam rangka mendamaikan kedua pandangan yang saling bertentangan itu Al-asy‟ari mengatakan bahwa walaupun Al-Qur'an terdiri atas kata-kata, huruf dan bunyi, semua itu tidak melekat pada esensi Allah dan karenanya tidak qadim. e. Melihat Allah Al-asy‟ari tidak sependapat dengan kelompok ortodoks ekstrim, terutama zahiriyah yang menyatakan bahwa Allah dapat dilihat di akherat dan mempercayai bahwa Allah bersemayam di Arsy. Selain itu ia tidak sependapat dengan mutazilah yang mengingkari ru‟yatullah (melihat Allah) di akherat. Al-asy‟ari yakin bahwa Allah dapat dilihat atau bilamana ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihatnya. f. Keadilan Pada dasarnya Al-asy‟ari dan mutazilah setuju bahwa Allah itu adil. Al-asy‟ari tidak sependapat dengan mutazilah yang mengharuskan Allah berbuat adil sehingga ia harus menyiksa orang yang salah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat baik. Menurutnya, Allah tidak memiliki keharusan apapun karena ia adalah penguasa mutlaq. g. Kedudukan orang berdosa Menurut Al-asy‟ari mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik, sebab iman tidak mungkin hilang karena dosa selain kufur.

B. AL-MATURIDI 1. Latar Belakan Kemunculan Al-Maturidi Abu Manshur Muhammad ibn Muhammad ibn Mahmud Al-Maturidi. Ia dilahirkan di sebuah kota kecil di daerah Samarkan yang bernama Maturid, di wilayah Trmsoxiana

sedangkan perintah atau larangan syari‟ah hanyalah mengikuti ketentuan akal mengenai baik dan buruknya sesuatu. Al-Maturidi mendasarkan pada Al-Qur'an dan akal dalam bab ini ia sama dengan Al-asy‟ari. Dan orang yang tidak mau menggunakan akal untuk memperoleh iman dan pengetahuan mengenai Allah berarti meninggalkan kewajiban yang diperintah ayat-ayat tersebut. hanya diperkirakan sekitar pertengahan abad ke-3 hijriyah. daerah yang sekarang disebut Uzbekistan. Pemikiran-pemikirannya banyak dituangkan dalam bentuk karya tulis. wahyu diperoleh untuk dijadikan sebagai pembimbing. al-Maturidi hidup pada masa khalifah Al-Mutwakil yang memerintah pada tahun 232-274 H/847-861 M. Karir pendidikan Al-Maturidi lebih dikonsentrasikan untuk menekuni bidang teologi dari pada fiqih. Ia wafat pada tahun 333 H/944 M. Selain itu ada pula karangan-karangan yang diduga ditulis oleh Al-Maturidi. gurunya dalam bidang fiqih dan teologi yang bernama Nasyr bin Yahya Al-Balakhi. 2. Al-Maturidi berpendapat bahwa penentu baik dan buruk sesuatu itu terletak pada suatu itu sendiri. Dalam kondisi demikian.di Asia Tengah. mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan dapat diketahui dengan akal. Kalau akal tidak mempunyai kemampuan memperoleh pengetahuan tersebut. Menurut Al-Maturidi. yaitu Risalah fi Al-aqaid dan syarh Fiqh Al-akbar. Doktrin-doktrin teologi Al-Maturidi a. tidak mampu mengetahui kewajiban-kewajiban lainnya. dll. Al-jald. Dalam masalah baik dan buruk. ia wafat pada tahun 268 H. Akal dan wahyu Dalam pemikiran teologinya. Kemampuan akal dalam mengetahui dua hal tersebut sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang memerintahkan agar manusia menggunakan akal dalam usaha memperoleh pengetahuan dan keimanannya terhadap Allah melalui pengamatan dan pemikiran yang mendalam tentang makhluk ciptaannya. Ta‟wil Al-Qur'an Makhas Asy-Syara‟I. Namun akal menurut AlMaturidi. diantaranya adalah kitab Tauhid. . Tahun kelahirannya tidak diketahui pasti. tentunya Allah tidak akan menyuruh manusia untuk melakukannya.

karena keadaan di akherat tidak sama dengan keadaan di dunia. Kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan Menurut Al-Maturidi qudrat Tuhan tidak sewenang-wenang (absolut). Melihat Tuhan Al-Maturidi mengatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhan. Al-Maturidi mempertemukan antara ikhtiar sebagai perbuatan manusia dan qudrat Tuhan sebagai pencipta perbuatan manusia. Akal tidak mengetahui kebaikan dan keburukan sesuatu.Al-Maturidi membagi kaitan sesuatu dengan akal pada tiga macam. Hal ini diberitahukan oleh Al-Qur'an. kecuali dengan petunjuk ajaran wahyu. 2. b. Sifat Tuhan Dalam hal ini faham Al-Maturidi cenderung mendekati faham mutzilah. kelak di akherat tidak dalam bentuknya (bila kaifa). antara lain firman Allah dalam surat Al-Qiyamah ayat 22dan 23. c. Perbedaan keduanya terletak pada pengakuan Al-Maturidi tentang adanya sifat-sifat Tuhan. Jadi. yaitu: 1. sedangkan mutazilah menolak adanya sifat-sifat Tuhan. Dalam hal ini. namun melihat Tuhan. Kalam Tuhan Al-Maturidi membedakan antara kalam yang tersusun dengan huruf dan bersuara . Al-Maturidi berada pada posisi tengah dari Mutazilah dan Al-Asy‟ari. Perbuatan manusia Menurut Al-Maturidi perbuatan manusia adalah ciptaan Tuhan karena segala sesuatu dalam wujud ini adalah ciptaannya. f. dan yang buruk itu buruk karena larangan Allah. d. Akal dengan sendirinya hanya mengetahui kebaikan sesuatu itu. 3. tetapi perbuatan dan kehendaknya itu berlangsung sesuai dengan hikmah dan keadilan yang sudah ditetapkannya sendiri. yang baik itu baik karena diperintah Allah. e. Pada korteks ini. Akal dengan sendirinya hanya mengetahui kebutuhan sesuatu itu.

Pelaku dosa besar Al-Maturidi berpendapat bahwa orang yang berdosa besar tidak kafir dan tidak kekal di dalam neraka walaupun ia mati sebelum bertobat. melihat Allah. . Berkat didikannya. Ayah beliau yaitu seorang yang berfaham ahlusunnah dan ahli hadits. tapi kemudian ia keluar dari Mu‟tazilah dan berfaham ahlusunnah Pemikiran-pemikiran Al-Asy‟ari diantaranya Tuhan dan sifat-sifatnya. qodimnya AlQur'an. keadilan dan kedudukan orang berdosa. kecuali semuanya atas kehendak Tuhan. g. Sebelum ayah beliau wafat. Al-Asy‟ari kemudian menjadi tokoh Mutazilah. Kalam nafsi adalah sifat qadim bagi Allah. kebebasan dalam berkehendak. beliau ditinggalkan oleh ayahnya ketika masih kecil. i.dengan kalam nafsi (sabda yang sebenarnya atau kalam abstrak). dan tidak ada yang memaksa atau membatasi kehendak Tuhan kecuali karena ada hikmah dan keadilan yang ditentukan oleh kehendak-Nya sendiri. tidak ada sesuatu yang terdapat dalam wujud ini. Pengutusan Rasul Pandangan Al-Maturidi tidak jauh beda dengan pandangan mutazilah yang berpendapat bahwa pengutusan Rasul ke tengah-tengah umatnya adalah kewajiban Tuhan agar manusia dapat berbuat baik dan terbaik dalam kehidupannya. KESIMPULAN Nama lengkap Al-Asy‟ari adalah Abu Al-Hasan Ali bin Ismail in Ishaqi bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bi Abi Musa Al-Asy‟ari. sedangkan kalam yang tersusun dari huruf dan suara adalah baharu (hadist). akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk. Perbuatan manusia Menurut Al-Maturidi. ayak beliau berwasiat kepada Zakaria bin Yahya As-Saji agar mendidik Al-Asy‟ari. h.

Al-Maturidi hidup pada masa khalifah Al-Mutawakil yang memerintah pada tahun 232-274 H/847-861 M.Al-Maturidi dilahirkan disebuah kota kecil di daerah Samarkan yang bernama Maturid. . perbuatan manusia. perbuatan manusia. sifat Tuhan. pengutusan Rasul dan dosa besar. kariri pendidikan beliau lebih dikonsentrasikan untuk menekuni bidang teologi dari pada fiqih Doktrin-doktrin teologi al-Maturidi diantaranya akal dan wahyu. melihat Tuhan kalam Tuhan. kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan.

Sejarah Lahirnya Asyariyah dan Maturidiyah a. ia gencar menyebar luaskan paham mu‟tazilah dengan karya-karya tulisnya. Dengan ilmu kemu‟tazilahannya. Ia adalah murid yang cerdas dan ia menjadi kebanggaan gurunya dan seringkali ia mewakili gurunya untuk acara bedah ilmu dan diskusi. Karena adanya keragu-raguan dalam diri Al-Asy‟ari yang mendorongnya untuk keluar dari paham Mu‟tazilah. . seorang duta perantara dalam perseteruan pasukan Ali dan Mu‟awiyah. Menurut Hammudah Ghurabah. keraguan itu timbul karena ia menganut madzhab Syafi‟i yang mempunyai pendapat berbeda dengan aliran Mu‟tazilah. kafir dan anak kecil. tetapi bersifat qadim dan bahwa Alloh dapat dilihat di akhirat nanti. misalnya tentang mukmin. Sedangkan menurut paham Mu‟tazilah. Menurut Ahmad Mahmud Subhi. Ketidak-puasan Al-Asy‟ari terhadap aliran Mu‟tazilah diantaranya adalah: 1. Karena tidak sepaham dengan gurunya dan ketidakpuasannya terhadap aliran Mu‟tazilah. menimbulkan persoalan-persoalan yang tidak mendapat penyelesaian yang memuaskan. Beliau masih keturunan Abu Musa Al-Asy‟ari. 2. ajaran-ajaran yang diperoleh dari Al-Juba‟i. Sejarah Lahirnya Asyariyah Aliran Al-Asy‟ariyah dibentuk oleh Abu Al-Hasan „Ali Ibn Isma‟il Al-Asy‟ari yang lahir di Basrah pada tahun 873 Masehi dan wafat pada tahun 935 Masehi. Sejak kecil ia berguru pada Syekh Al-Jubba‟i seorang tokoh Mu‟tazilah yang sangat terkenal. bahwa Al-Qur‟an itu bukan qadim akan tetapi hadits (baru) dan diciptakan Alloh. maka ia membentuk aliran yang dikenal dengan namanya sendiri pada tahun 300 Hijriyah.PEMANTAPAN AQIDAH ASYARIYAH DAN MATURIDIYAH A. walaupun ia sudah menganut paham Mu‟tazilah selama 40 tahun. dan Alloh bersifat rohani dan tidak dapat dilihat dengan mata. misalnya Syafi‟i berpendapat bahwa Al-Qur‟an itu tidak diciptakan.

Puncak perselisihan antara Imam Al Asy‟ari dan Mu‟tazilah dalam masalah keadilan Alloh adalah ketika Mu‟tazilah tidak mampu menjawab kritik yang dilontarkan Imam Al Asy‟ari. Dalam suasana demikianlah Imam Al-Asy‟ari keluar dari golongan Mu‟tazilah dan menyusun teologi yang sesuai dengan aliran orang yang berpegang kuat pada Al Quran dan Al Hadits. Ternyata . sebab segala sesuatu yang bekenaan dengan kebaikan manusia hukumnya wajib bagi Allah. maka pendapat ini akan bertentangan dengan ke-Esaan tindakan Alloh (Tauhid fil Af‟al) bahkan bertentang dengan ke-Esaan Alloh itu sendiri. Syekh Abu Hasan Al Asyari meninggalkan Mu‟tazilah karena beliau bermimpi bertemu Rasulullah saw. bahwa jika keadilan mencakup ikhtiar. akhirnya Syekh Abu Hasan Al Asyari berkata: “Selain kebenaran pasti hanya kesesatan. syafaat. apalagi setelah Khalifah Al-Mutawakkil mengunjukan sikap penghargaan dan penghormatan terhadap diri Imam Ahmad bin Hanbal. Setelah melewati perjalanan panjang dalam mengartikan mimpi tersebut. Alloh itu adil. sedangkan pandangan Mu‟tazilah standar adil dan tidak adil dalam pandangan manusia untuk menghukumi Alloh.” Lalu beliau mulai membela hadits-hadits yang berkaitan dengan ru‟yah (melihat Alloh di akhirat). dan lain-lain. Setelah Khalifah Al Mutawakkil membatalkan putusan Khalifah Al Ma‟mun tentang penerimaan aliran Mu‟tazilah sebagai madzhab Negara. Selain karena faktor di atas. kedudukan kaum Mu‟tazilah mulai menurun. Imam Al Asy‟ari meninggalkan paham Mu‟tazilah ketika golongan ini sedang berada dalam fase kemunduran dan kelemahan. Dalam mimpi tersebut Rasulullah berpesan kepada Syekh Abu Hasan Al Asyari untuk menolong pendapat-pendapat yang diriwayatkan dari Rasul saw.. Dalam pandangan Imam Al Asy‟ari. baik dan buruk logistik serta keterikatan tindakan Alloh dengan tujuan-tujuan semua tindakan-Nya. lawan Mu‟tazilah terbesar waktu itu. Karena ikhtiar menurut Mu‟tazilah merupakan bentuk penyerahan ikhtiar yang ekstrim dan juga menafikan ikhtiar dari Dzat-Nya.

Al Imam Ibn Khafif al Dhabbi. Muhammad al Sanusi. Taqyuddin al Subki. selain atas jasa murid-murid Syekh Abu Hasan Al Asyari. Abu Al Mudzaffar al Asfaraniyi. Syekh Yasin Al Hasanain Al Fadani (Padang). Al Imam Ali bin Mahdi At Thabari. Sultan Shalahuddin al Ayyubi (pahlawan Perang Salib. Walisongo. Ibrahim al Laqqani. Madzhab Al Asyari tersebar. . Ahmad al Marzuqi. Al Imam Hujatul Islam Al Ghazali. Ahmad Zaini Dahlan. Abu Manshur al Baghdadi. Abu Ishaq al Asfarayini. Abu Qasim al Qusyairi. Al Imam Abu Zayd al Marwazi. dan Thabaqat al Syafi‟yah al Kubro. „Adhududdin al Iji. Al Imam Abu Usain bin Sam‟un. penguasa daratan Syam. Al Hafidz Abu Bakar Al Ismaili. Al Imam Bundar al Syirazi. tidak dapat dibantah oleh lawan. Thahir al Jazari. dan lain-lain. Ahmad al Dardir. Fakhruddin al Razi. Diantara murid-murid Al Asyari adalah al Imam al Mujahid.Syekh Abu Hasan Al Asyari mampu memaparkan kaian-kajian dan dalil-dalil yang belum pernah dipelajarinya dari seorang guru. Sultan Nuruddin Mahmud (menyandang gelar al Malik al „Adil: Raja yang Adil. menyandang gelar al Malik al Nashir: Raja Penolong). Al Imam Abu Bakar al Qaffal. Hadhratus Syekh KH Muhammad Hasyim Asyari Al Azmatkhan. Ibrahim al Bajuri. Wafayat al A‟yan. Abu Bakar bin Furak. Syekh Ihsan bin Dahlan al Kediri. Al Imam Abu Hasan Al Bahili. Demikian sebagaimana dinukil dari kitab Tabyin Kidzb al Muftari. Saifuddin al Amidi. semenanjung Arabia. Muhammad ad Dasuqi. dan lain-lain. Abu al Fath al Syahrastani. diantaranya: Perdana Menteri Nizham al Mulk (perdana menteri Kabilah Bani Saljuq yang datang menggantikan Kabilah Fatimiyah yang bermadzhab Syiah Ismailiyah). Sedangkan tokoh-tokoh Madzhab Al Asyari adalah Al Qadhi Abu Bakar Al Baqillani. dan Mesir selama dua puluh tahun). Syekh Muhammad Nawawi Al Azmatkhan Al Bantani (Ulama Banten yang menyandang gelar Syekh Ulama Hijaz –Makkah-Madinah–). dan lain-lain. Al Imam Abu Sahal al Shu‟luki. juga atas peran para penguasa. Al Mahdi bin Tumart (perintis Kabilah Al Muwahidi). dan belum pernah dibacanya dalam suatu kitab. Al Palembangi. Izzuddin bin Abdis Salam (Al „Izz).

Pendiri dari aliran ini adalah Abu Mansur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi yang lahir di Samarkand pada pertengahan kedua dari abad ke sembilan Masehi dan meninggal pada tahun 944 Masehi. yaitu golongan al jamaah”. dan al Hakim (407) yang menilainya shohih. mereka semua ingin masuk surga. Dari Mu‟awiyah bin Abi Sufyan. yang sesuai dengan nama pendirinya yaitu Al-Maturidi. hampir sama dengan aliran Al-Asy‟ariyah. Ia adalah pengikut Al Imam Abu Hanifah dan paham-pahamnya mempunyai banyak persamaan dengan pahampaham yang diajarkan oleh Abu Hanifah. Al Hafidz Ibn Hajar menilai hadits ini sebagai hadits hasan. Keadaan semacam ini telah „dibaca‟ oleh nabi melalui „sabda langit‟. Baginda Nabi Muhammad saw. bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan. Ahmad (16329). bersabda: “Sesungguhnya orang sebelum kalian dari pengikut Ahli Kitab terpecah belah menjadi 72 golongan. Sejarah Lahirnya Maturidiyah Latar belakang lahirnya aliran ini. Sabda Nabi adalah wahyu Ilahi yang pasti terjadi. Apakah ini berarti sebagian besar (mayoritas) umat Nabi akan masuk neraka? Atau kah minoritas saja? . Dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Aliran teologi ini dikenal dengan nama AlMaturidiyah. dan satu golongan yang masuk surga. Dalam hadits digambarkan bahwa 72 golongan umat Nabi Muhammad saw. B. Yang jelas. Memahami Arti “73 Firqoh” Perdebatan firqoh (sekte) bagaikan sungai yang tak pernah kering. akan celaka. Setiap firqoh mengklaim bahwa hanya pemahaman dirinyalah yang benar dan sesuai dengan al Quran dan al Hadits. yaitu sebagai reaksi penolakan terhadap ajaran dari aliran Mu‟tazilah. akan terus mengalir. ad Darimi (2/241). HR Abu Dawud (3981).b. 72 golongan akan masuk neraka.

: “Umatku adalah umat yang dikasihi. Umat da‟wah inilah yang akan terberai menjadi beberapa firqoh. karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. mereka tidak disiksa di akhirat.: “Dan bahwa (yang Aku perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus.Pendapat pertama mengatakan bahwa mayoritas umat Nabi Muhammad saw. Umat da‟wah adalah umat yang telah diseru oleh Rasul saw. Mereka berargumen bahwa penyebutan “72 golongan” tidaklah untuk menjelaskan bahwa golongan yang celaka adalah golongan mayoritas. Pendapat ini seolah-olah mengatakan bahwa tidak ada korelasi integral antara banyaknya jalan kesesatan dengan keselamatan mayoritas umat Nabi Muhammad saw. Mereka hanyalah akan mendapat siksa di dunia. yaitu orang-orang yang meyakini ajaran-ajaran yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. Kemudian apakah pendapat ini tidak bertentangan dengan hadits: “Umatku adalah umat yang dikasihi. karena mereka telah merasakan „pahitnya‟ fitnah. dan janganlah kalian mengikuti jalan (lain). dan hanya satu jalan menuju kebenaran. untuk beriman kepada Alloh dan mengakui KeesaanNya.. Hadits yang lain mengatakan: “Sesungguhnya umatku tidak akan . akan sesat dan celaka. peperangan. bukanlah umat yang celaka. Juga hadits Nabi Muhammad saw. dan sebagainya. Pendapat ini didukung oleh firman Alloh swt.” QS al An‟am: 153. sesuai tekstual hadits. bukan umat ijabah.. diampuni. gempa. peperangan. maka ikutilah dia. yakni dengan timbulnya banyak fitnah. Adapun umat ijabah adalah firqoh an Najiyah. melainkan untuk menjelaskan begitu banyaknya jalan menuju kesesatan. dan yang diterima taubatnya”? Ulama yang konsisten dalam pendapat ini memberi jawaban: Umat yang celaka adalah umat da‟wah. dan bencana ” seolah ingin mengatakan bahwa mayoritas umat Nabi Muhammad saw. Pendapat kedua mengatakan bahwa golongan yang akan celaka hanyalah golongan minoritas.

yaitu aliran yang mengikuti madzhab Al Asyari dan Al Maturidi. dan aliran yang mengikuti paradigma pemikiran Ibn Taimiyah al Harrani.” HR Ibn Majah. Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah kelompok yang mengikuti ajaran Islam yamg murni dan asli seperti yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad saw. hanya dua aliran yang mengklaim dirinya sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah.bersepakat pada kesesatan. Sawad al A‟dzam. . (2) hanya satu golongan yang masuk surga. Menurut mayoritas ulama sejak zaman salaf yang sholih. selalu dimenangkan oleh aliran Asyariyah dan Maturidiyah. Kelompok Syiah. yaitu (1) umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Dalam perjalanan sejarah. yang pada gilirannya layak menjadi golongan yang selamat (firqoh an najiyah). dan sahabat-sahabatnya. dan (3) golongan tersebut adalah al jama‟ah. adakah dalil Al Quran dan As Sunnah yang mengisyaratkan bahwa madzhab Asyariyah dan Maturidiyah layak mewakili Ahlus Sunnah wal Jamaah? Insya Alloh akan kami jelaskan berikut ini. tidak semua aliran dalam Islam mengklaim dirinya atau diakui sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah. dan paradigma Ibn Taimiyah). Mu‟tazilah. Dari sini muncul pertanyaan. Jika terjadi „konflik‟ pemikiran dan ideologis antara dua kutub tersebut (Asyariyah dan Maturidiyah. Agaknya pendapat kedua inilah yang mendekati kebenaran. Ibadhiyah. Firqoh an Najiyah. Khawarij. C. Perlu diketahui. Hadits Shohih. Ahlus Sunnah wal Jamaah merupakan kelangsungan alamiah dari perjalanan Islam yang masih asli dan murni. dll. dan Madzhab Asyariyah dan Maturidiyah Hadits perpecahan umat Islam menjadi 73 golongan di atas setidaknya memberi tiga pelajaran. Wallohu a‟lam. tidak mau dikatakan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Zaidiyah.

Berikut akan dijelaskan beberapa pandangan ulama tentang maksud dari al jamaah. a. Al Hakim menilainya Hadits Shohih. Dua hadits tersebut di atas memberi penjelasan bahwa golongan yang selamat adalah al jama‟ah. namun perbedaan ini tidak bersifat kontradiktif (tadhad). Baginda Nabi Muhammad saw.Ahlus Sunnah wal Jamaah dan Madzhab Al Asya‟ari dan Al Maturidi Al Hafidz Az Zabidi dalam kitabnya Ithaf as Sadat al Muttaqin mengatakan: “Jika Ahlus Sunnah wal Jamaah disebutkan. At Tirmidzi menilainya Hadits Hasan Shohih. .” Dari Umar bin Khattab ra. Mengikuti al Jama‟ah Dari Mu‟awiyah bin Abi Sufyan.” HR Tirmidzi. siapakah al jama‟ah? Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah tersebut.” Pernyataan Al Hafidz Az Zabidi tersebut yang senada dengan pendapat mayoritas ulama Islam tersebut menafikan suatu relita tentang adanya kelompok lain yang mengklaim dirinya sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sekarang timbul pertanyaan. maka yang dimaksud adalah pengikut madzhab al Asyari dan al Maturidi. Selanjutnya akan dijelaskan dalil-dalil secara ijmali (global. Barangsiapa yang menginginkan tempat yang lapang di surga maka ikutilah al jama‟ah. an Nasai. Dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan.. Ahmad. Setan akan lebih jauh dari orang yang berduaan. yaitu golongan jamaah. dalil secara rinci tidak dapat dimuat dalam tulisan kecil ini) dari nash Al Quran dan As Sunnah yang membuktikan bahwa Asyariyah dan Maturidiyah lah yang layak menyandang gelar al firqoh an najiyah. akan tetapi keragaman (tanawwu‟). dan satu golongan yang masuk surga. 72 golongan akan masuk neraka. Rasulullah saw. bersabda: “Ikutilah kelompok yang banyak dan jauhi perpecahan karena setan bersama orang yang sendirian. bersabda: “Sesungguhnya orang sebelum kalian dari pengikut Ahli Kitab terpecah belah menjadi 72 golongan.

an Nisa‟: 115: “Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu‟min. Pertolongan Alloh selalu bersama jama‟ah.” Sikap mengikuti ijma‟ ulama merupakan realita dalam madzhab Al Asyari dan Al Maturidi. lalu beliau menjawab: “Kelompok yang selamat adalah al jama‟ah. Dan tidak pula mencakup Mu‟tazilah karena mereka tidak mengakui ijma‟ sebagai dalil. Dan barangsiapa yang mengucilkan diri dari jama‟ah. Dalilnya adalah firman Alloh dalam Al Quran S. ijma‟.1. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” 2. maka ia mengucilkan dirinya ke neraka. karena semua orang „alim dan yang awam dari berbagai golongan menamakan mereka dengan Ahlus Sunnah wal Jama‟ah.” Juga hadits Nabi saw. karena dalam menetapkan hukum-hukum agama para ulama madzhab Al Asyari dan Al Maturidi menggunakan dalil Al Quran. dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Mengikuti ijma‟ Ulama‟. Sifat kolektivitas yang disebutkan Rasululloh saw. Al Hadits. Al Imam Abu Al Muzhaffar Al Asfarayini berkata dalam kitabnya At Tabshir fid Din: “Diantara ciri khas Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah diterangkan dalam riwayat lain. dan qiyas . Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu. Disebut aliran al jama‟ah. pernah ditanya tentang kelompok yang selamat (firqoh an najiyah). Kata al jama‟ah tersebut juga mengacu terhadap golongan yang menjadikan ijma‟ sebagai hujjah dan dalil dalam beragama. Nama al jama‟ah tersebut tidak mencakup golongan Khawarij karena mereka tidak berpandangan perlunya menjaga kebersamaan. bahwa Nabi saw. Tidak mencakup golongan Rafidhah (Syiah) karena mereka juga tidak berpandangan perlunya menjaga kebersamaan.” Ini adalah identitas yang khusus pada kami (madzhab Al Asyari dan Al Maturidi). ini tidak layak bagi mereka.: “Sesungguhnya Alloh tidak akan mengumpulkan umatku atas kesesatan.

Dalam Al Quran dijelaskan: “Sesungguhnya orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan. Kata al jamaah diatas juga mengacu pada kebersamaan dan kolektivitas. Ahlus Sunnah wal Jamaah selalu menjaga kebersamaan dan kolektivitas. Perbedaan pendapat dalam masalah furu‟ diantara mereka tidak sampai menimbulkan perpecahan (tafarruq) dan menyebabkan mereka terkotak-kotak dalam beberapa golongan.yang sempurna. mensyirikkan. 3. tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. tentang penjagaan Alloh terhadap Ahlus Sunnah dari saling mengkafirkan antara sesama mereka. Dalam realita. mensyirikkan. dan kolektivitas. Al Imam Abdul Qahir al Baghdadi dalam kitabnya al Farqu Bayna al Firaq menuturkan: “Pasal Kelima. Kemudian Alloh akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. dan memfasikkan. kerukunan. sehingga kata al jamaah menjadi identitas golongan yang selalu menjaga sikap kebersamaan. Memelihara kebersamaan dan kolektivitas. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Alloh. Di antara mereka tidak ada perselisihan pendapat yang membawa .” QS Al An‟am: 159 Ayat tersebut menerangkan bahwa orang-orang yang membuat perpecahan dalam agama dan menciptakan golongan-golongan adalah mereka yang telah meninggalkan jalan yang benar. Oleh sebab itu madzhab Al Asyari dan Al Maturidi layak menyandang Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hal ini terwujud dalam realita bahwa pengikut golongan Al Asyari dan Al Maturidi menjauhi adanya perpecahan dengan meninggalkan sikap saling mengkafirkan. membid‟ahkan. Ahlus Sunnah tidak mengkafirkan antara sesama mereka. Hal ini berbeda dengan golongan sempalan yang lain dimana perbedaan pendapat diantara mereka tidak jarang menimbulkan perpecahan dan sikap saling mengkafirkan. dan memfasikkan meskipun di antara mereka terjadi perbedaan pendapat. membid‟ahkan.

Syaikh Abdulloh al Harari dalam kitabnya Idzhar al Aqidah al Sunniyyah bi Syarh al Aqidah Thahawiyah berkata: “Hendaklah diketahui bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah mayoritas umat Muhammad saw. berbuat baik kepada penguasa. apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah kelompok mayoritas (sawad al a‟dzam). Oleh karena itu mereka memang golongan al jamaah (selalu menjaga kebersamaan dan keharmonisan) yang melaksanakan kebenaran. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir. Kata al jamaah mengacu pada arti sawad al a‟dzam. yaitu tulus amal. Oleh karena itu.: “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. karena doa . Mereka tidak ubahnya orang Yahudi dan Nasrani pada saat mengkafirkan. ini adalah hadits Shohih. seperti aliran Khawarij.” HR Ibn Majah.pada pemutusan hubungan dan pengkafiran. dan Qadariyah. Dan tidak ada satu golongan di antara golongan-golongan sempalan kecuali diantara mereka terjadi sikap saling mengkafirkan dan memutus hubungan. sehingga mereka tidak terjerumus dalam ketidakharmonisan dan pertentangan. Hadits lain mengatakan: “Tiga perkara yang dapat membersihkan hati seorang mu‟min dari sifat dendam dan kejelekan. Abd bin Hamid. Alloh selalu menjaga kebenaran dan pengikutnya. Mereka adalah pengikut sahabat dan golongan yang mengikuti mereka dalam prinsip-prinsip aqidah … sedangkan al jamaah adalah mayoritas terbesar (sawad al a‟dzam) Muslimin. Golongan mayoritas (Sawad al A‟dzam). Abu Nu‟aim. dalam artian Ahlus Sunnah wal Jamaah diikuti oleh mayoritas Muslimin. Syiah. at Tabrani. al Lalikai. Sehingga pernah suatu ketika tujuh orang dari mereka berkumpul dalam suatu majlis lalu mereka berbeda pendapat dan mereka berpisah dengan saling mengkafirkan antara satu dangan yang lain.” 4. dan selalu mengikuti kebanyakan Muslimin (al jama‟ah).” Pengambilan istilah sawad al a‟dzam adalah dari hadits Shohih Nabi saw.

telah memberitahukan bahwa mayoritas umatnya tidak akan sesat. Ibn Majah. al Asfarayini. al Baihaqi. Kedua hadits tersebut di atas mengindikasikan bahwa golongan yang selamat adalah golongan mayoritas (sawad al a‟dzam). karena dalam realita yang ada ajarannya diikuti oleh mayoritas Muslimin di dunia. Sehingga natijah (buah pikiran) dari pengertian ini adalah keharusan mengikuti Asyariyah dan Maturidiyah. Al Hafizh Murtadla Az Zabidi dalam al Ithaf mengatakan: “Pasal Kedua: “Jika dikatakan Ahlussunnah wal Jama‟ah maka yang dimaksud adalah al Asy‟ariyyah dan al Maturidiyyah”. ahli hadits. al Izz bin Abdis Salam. Tentu saja pendapat ini juga sesuai dengan Asyariyah dan Maturidiyah karena madzhab Asyariyah dan Maturidiyah diikuti oleh mayoritas ulama ahli fiqh. Hadits Shohih. para pengikut madzhab Maliki. dan lain-lain.mereka akan selalu mengikutinya. Pendapat lain mengatakan bahwa pengertian sawad al a‟dzam adalah mayoritas ulama yang memiliki ilmu yang mendalam dan pendapatnya diikuti (mu‟tabar). al Bukhori. al Amidi. al Baqillani.” HR at Tirmidzi. Pengertian ini sesuai dengan Asyariyah dam Maturidiyah. Alangkah beruntungnya orang yang senantiasa mengikuti mereka. ahli tasawuf. al Qusyairi. dari dulu hingga kini. Badrudin bin Jama‟ah. al Juawaini. karena mengikutinya berarti berada dalam mainstream mayoritas Muslimin. Ibn Furak. al Baghdadi. al Razi. al Syirazi. dan keluar dari madzhab ini berarti keluar dari mainstream mayoritas Muslimin. Ahmad. para pengikut madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala‟ al Hanabilah). al Syahratstani. seperti Sultan al Fatih II bin Sultan Murad I. al Hakim. al Ghazali. Shalahuddin al Ayyubi. Mereka adalah ratusan juta umat Islam (golongan mayoritas). Sedangkan Rasulullah saw. ahli tafsir. Mereka adalah para pengikut madzhab Syafi‟i. . dan lain-lain. al Subki.

Mengikuti Nabi Muhammad saw. dan Sahabat-Sahabat yang Mulia Dari Abdulloh bin Amr ra. Mu‟tazilah. dan ajaran sahabatnya. dan Hululiyah. pengikut madzhab Asyariyah dan Maturidiyah (Ahlus Sunnah wal Jamaah) merupakan golongan yang selalu konsisten mengikuti ajaran Nabi saw. Mereka hanya menetapkan pendapat-pendapat ulama salaf dan membela ajaran sahabat Rasulullah saw. Al Hafidz Az Zabidi berkata: “Hendaknya diketahui bahwa masing-masing dari al Imam Abu Hasan al Asyari dan al Imam Abu Manshur al Maturidi –semoga Alloh meridlai keduanya dan membalas kebaikan mereka kepada Islam– tidak membuat pendapat baru dan tidak menciptakan madzhab baru dalam Islam. Hal tersebut berbeda denga aliran-aliran sempalan seperti Syiah.” Dalam realita yang ada. Najjariyah. Pengayom dan Rujukan Umat dalam Urusan Agama Hadlratus Syaikh KH M.Hadits-hadits ini agaknya tidak tepat sekali jika dialamatkan pada aliran sempalansempalan. berkata. Mereka (Imam Abu Hasan al Asyari dan al Imam Abu Manshur al Maturidi) telah berdebat dengan kalangan ahli bid‟ah dan kesesatan sampai mereka (ahli bid‟ah) melarikan diri. Ghulat.” HR at Tirmidzi. b. Khawarij. c. karena kelompok mereka minoritas dan diikuti oleh sebagian kecil Muslimin. bersabda: “Sesungguhnya umat Bani Israil terpecah belah menjadi 72 golongan. Jahmiyah. dan umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Hadits Hasan Gharib. Para sahabat bertanya: “Siapakah satu golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Golongan yang mengikuti ajaranku dan ajaran sahabatku. Semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan yang selamat”. Rasulullah saw. Musyabbihah. Hasyim Asyari Al Azmatkhan menegaskan dalam Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah: “Al Syihab Al Khafaji berkata dalam kitab Nasim al Riyadl : „Golongan yang selamat adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah .‟ Dalam hasyiyah (catatan pinggir) al Syanawi atas .

kebohongan mereka yang bermaksud jahat.” HR Ibn Adi. Bidang Tafsir Al Quran Al Imam Abu Laits as Samarqandi. i. Al Imam al Khatib as Syarbini.dan lain-lain. Hadits Shohih. menjadikan mereka sebagi hujjah atas makhluk-Nya. Menurut Abu al Walid Ibn Rusyd al Qurthubi dalam kitab al Fatawa-nya.kitab Mukhtashor Ibn Abi Jamroh terdapat keterangan: „Mereka (Ahlus Sunnah wal Jamaah) adalah Abu Hasan al Asyari dan pengikutnya yang merupakan Ahlus Sunnah dan pemimpin para ulama. Ibn Asakir. Al Imam Abu Abdillah Muhammad al Qurthubi. al Baihaqi. Al Imam Abul Barakat Abdulloh al Nasafi. Jika kita mengkaji peradaban Islam. Abu Bakar bin Furak. dan masih banyak lagi. Mereka yang dimaksud dengan sabda Nabi saw. Abu al Ma‟ali. Al Imam Ahmad al Shawi al Maliki. Al Hafidz Ibn Jauzi. Al Imam al Hafidz Abul Fida‟ Ismail ibn Katsir ad Dimasyqi. Abu Nu‟ain. Syaikh Wahbah az Zuhaili al Syafi‟i.: “Ilmu agama ini akan dibawa/disampaikan oleh orang-orang yang adil dalam setiap generasi. Di sini akan kami sajikan sedikit nama-nama ulama tersebut. yang dimaksud dengan orang-orang yang adil dalam hadits tersebut adalah para ulama yang mengikuti madzhab Al Asyari. dan hanya mereka yang menjadi rujukan kaum Muslimin dalam urusan agama. al Ghazali . Mereka akan membersihkan ilmu agama dari distorsi (tahrif = pemalsuan) kelompok ekstrim. Al Imam Abu Hasan an Naisaburi. karena Alloh swt. . Al Imam Nashiruddin Abu Sa‟ad al Baidlawi. Al Hafidz Jalaluddin as Suyuthi. Imam Haramain. para pakar terkemuka ilmu-ilmu agama Islam dalam setiap generasi yang menjadi rujukan mayoritas kaum Muslimin hingga kini adalah ulama pengikut madzhab Asyariyah dan Maturidiyah.: „Sesungguhnya Alloh tidak akan mengumpulkan umatku atas kesesatan. dan penafsiran (ta‟wil) yang bodoh. Al Imam al Hafidz Muhyissunnah al Baghawi.‟‟ Penjelasan KH Hasyim Asyari tersebut sejalan dengan hadits Nabi saw. seperti al Imam al Baqillani.

al Ghazali. Al Imam Jamaluddin Abu Muhammad al Isnawi. Al Hafidz Al Habib Umar Al-Bin Hafidz Al-Bin Syekh Abu Bakar (Tarim. Al Hafidz Abul Walid Sulaiman al Baji al Maliki. ilmu gramatika dan bahasa. Al Imam al Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan al Makki. dan lain-lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Dan masih banyak Imam-Imam terkemuka madzhab Asyari dan Maturidi dari bidang tasawuf. Al Hafidz Al Muhaddits Al Habib Muhammad bin Alwi al Maliki Al Hasani (Makkah Al Mukarromah). Bidang Ilmu Hadits Al Hafidz Abu Sulaiman al Khattabi al Busti. Al Hafidz Al Habib Umar Al-Bin Hafidz Al-Bin Syekh Abu Bakar. Al Imam al Baihaqi.ii. Syaikh Abu Ishaq al Syirazi. Al Hafidz Al Nawawi. Al Imam Syiahbuddin al Qasthalani. Hadramaut). Al Imam Al Habib Ali bin Muhammad al Habsyi. biografi ulama. Al Imam Taqyuddin Ibn Abbas Ahmad al Maqrizi. dan Hambali. Al Hafidz Ibn Hajar al Asqolani. Al Imam Abdurrahman ad Diba‟i. Al Imam Tajuddin Abdul Wahhab al Subki. Al Hafidz Ibn Arabi.. Al Imam as Syathibi. dan masih banyak lagi. iii. dll. Bidang Ilmu Ushul Fiqh Imam al Haramain. Al Hafidz Ibn Abdil Barr al Qurthubi. Bidang Ilmu Fiqh Para ahli fiqh Madzab Syafii. Al Imam Ibn al Jauzi. Al Imam al Hafidz Qodli Iyadl. Ibn al Hajib. Al Hafidz Al Muhaddits Al Habib Salim Al-Bin Jindan Al-Bin Syekh Abu Bakar (Tangerang). v. Al Imam Fakhruddin al Razi. Al Hafidz Abu Yahya Zakariya al Anshari. . dll. Maliki. iv. Al Hafidz Muhammad Abdurrauf al Munawi. Al Imam Muhammad al Sanusi. Al Barzanji. Saifuddin al Amidi. Al Hafidz Badrudin Mahmud al Aini. sejarah Islam. Bidang Sirah Nabi dan Maghazi Al Imam al Hafidz Abu Nuaim al Ashbihani. Al Imam az Zarkasyi. Al Hafidz Qodli Iyadl. Al Imam Nashiruddin al Baidlawi. Hanafi.

samudera . Jazirah. Azerbaijan. Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang yang berjihad dan mencari keridloan Alloh. Pertama. sebagaimana diungkapkan oleh as Syatibi dalam kitabnya al I‟tisham. daerah-daerah perbatasan di Romawi. ushul fiqh. Dalam hal ini. Juga Alloh akan memberinya ma‟unah di dunai dan pahala di akhirat. dan Kaukasus dijaga oleh kaum Muslimin Ahli Hadits dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah.” QS al Ankabut: 69. mereka selalu dikalahkan seperti yang dialami oleh orang-orang Khawarij dalam perdebatan menghadapi Ibn Abbas. Syam. maka Alloh akan memberi hidayah dan petunjuk. Pada abad pertengahan. Dan sesungguhnya Alloh benarbenar beserta orang-orang yang berbuat baik. Dan apabila mereka berani. jihad dengan peperangan menghadapi musuh-musuh agama yang ada di berbagai perbatasan negara-negara Islam. baik perdebatan secara dialogis dalam forum terbuka. para ulama madzhab Asyari dan Maturidi mendirikan forumforum perdebatan (majlis munazharah) secara terbuka. Armenia. Sedangkan ahli bid‟ah kebanyakan mereka tidak memiliki nyali dan merasa enggan melayani debat terbuka dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah.d. benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. peran Ahlus Sunnah wal Jamaah sangat dominan. jihad dalam perdebatan ilmiah menghadapi orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dengan tujuan menegakkan kebenaran dan mengalahkan kebatilan. Perbatasan Afrika. dan lain-lain. Golongan yang Mendapat Hidayah Firman Alloh: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari ridha) Kami. Kedua. teologi. Andalusia. Hal ini tidak pernah berani dilakukan oleh golongan lain. Sebelum abad pertengahan. jihad dalam agama ada dua macam. Perdebatan ini selalu dimenangkan oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah menyangkut ilmu fiqh. maupun perdebatan di atas kertas melalui karya tulis ilmiah. Dalam kitab al Milal wan Nihal berkaitan dengan hal tersebut. Dalam perdebatan ini. Ahlus Sunnah wal Jamaah selalu memiliki nyali dan meraih kemenangan.

dan Yaman juga dijaga oleh Muslimin Ahli Hadits. dan lain-lain. Bilfagih. Kerajaan Ternate). Al Aidid. aktivitas jihad dalam rangka penyebaran Islam di wilayah Eropa Timur dilakukan oleh Muslimin yang bermadzhab Asyari dan Maturidi dibawah komando Kabilah Utsmani di Turki. Al Hamid. Sedangkan perbatasan seberang sungai Amudaria. seperti Kabilah Al Azmatkhan/Al Khan (Para Walisongo. Ba‟abud. Bin Syekh Abu Bakar. Kebanyakan dari mereka adalah itrah (keturunan) suci dari Rasulullah saw. Al Azmatkhan. Bafagih. adalah kabilah-kabilah dari keturunan Sayyidina Alwi bin Ubaidillah tersebut. dll. yang menghadang Bangsa Turki dan Cina dijaga oleh dua golongan. Al Habsyi. yaitu pengikut madzhab Syafi‟i dan madzhab Hanafi. . Alaydrus. Al Gadri. Sedangkan Kabilah Assegaf. Penyebaran Islam di daerah-daerah timur. Setelah abad pertengahan. Alatas (Sayyid Abdulloh bin Mukhsin Alatas). Jamalullail. Al Shahab/Al Shihab/Shihabuddin. Alaydrus/Al Idrus/Uthairus. seperti daratan India hingga Asia Tenggara yang meliputi Indonesia dilakukan oleh dai-dai yang mengikuti madzhab Syafii dan Asyari. Keterangan: Baa Alwi adalah Kabilah itrah suci Rasulullah dari jalur Alwi bin Ubaidillah bin Al-Muhâjir Ilallôh Ahmad bin Isa bin Muhammad An-Naqîb bin Ali Al-Uraidhi bin Imam Ja‟far Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam As-Sibth Al-Husein bin Al-Imam Amirul Mu‟minin Ali bin Abi Tholib. Bin Agil.Sedangkan pengikut aliran-aliran sempalan tidak memiliki peran dalam berjihad untuk menghadang serangan musuh yang berbeda agama. Al Jufri (Sayyid Idrus bin Salim Al Jufri: Pendiri Yayasan Pendidikan Al Khoirot di Indonesia bagian timur).Atlantik. Adapun penyebaran Islam di daerah pedalaman Afrika dilakukan oleh kaum Sufi yang bermadzhab Asyari. Oleh karena itu disebut Baa Alwi (Bani Alwi). dari berbagai kabilah. Assegaf. Al Aidid. Baagil. Kerajaan Cirebon: Sultan Sunan Gunung Jati. suami Az-Zahro Fathimah Al-Batul binti Rasulullah Muhammad SAW. Jamalullail dan Al Gadri/Al Qadri/Al Kadri (Kerajaan Pontianak).

maka kelak Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Alloh mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.‟” HR al Hakim dalam al Mustadrak dan menilainya Shohih sesuai persyaratan Imam Muslim. Keutamaan Madzhab Al Asyari dan Al Maturidi Terdapat dalil-dalil dalam Al Quran dan Al Hadits yang menerangkan keutamaan madzhab Asyari dan Maturidi. Nabi Muhammad memberikan penjelasan makna “kaum yang Alloh mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya” adalah kaum Abu Musa al Asyari. berdasarkan ayat di atas. maka yang dimaksud adalah pengikut Nabi tersebut.Dengan demikian. Dan Alloh Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. karena dalam realita sejarah mereka memiliki andil yang besar dalam berjihad di jalan Alloh dalam rangka penyebaran agama Islam. D. yang berjihad di jalan Alloh. bersabda sambil menunjuk kepada Abu Musa al Asyari: „Mereka adalah kaumnya laki-laki itu. dan disetujui oleh Al Hafidz Adz Dzahabi. Abu Hasan al Asyari dan pengikut madzhabnya termasuk kaum . QS Al Maidah: 54. yang bersikap lemah lembut terhadap orangorang mu‟min. diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Hal ini didasarkan pada realita bahwa setiap terjadi penisbatan kata kaum kepada seorang Nabi di dalam Al Quran. maka Rasulullah saw. dapat disimpulkan bahwa pengikut madzhab Asyari dan Maturidi adalah golongan yang mendapat hidayah. yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir. “Hai orang-orang yang beriman! Barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya. Dan sudah barang tentu. Pernyataan bahwa kaum Abu Musa al Asyari adalah kaum yang dicintai Alloh dan juga kaum yang mencintai Alloh dapat mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa pengikut madzhab Asyari adalah kaum yang dicintai dan mencintai Alloh. berdasarkan hadits Shohih: “Ketika ayat „Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Alloh mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya‟ . Itulah karunia Alloh. yang tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela.

dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan penaklukan tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh al Imam al Qurthubi dalm tafsirnya: “Al Qusyairi berkata: „Pengikut madzhab Abu Hasan Al Asyari termasuk dalam kaum Abu Musa Al Asyari karena setiap terjadi penisbatan kata kaum terhadap seorang Nabi di dalam Al Quran. Maka sebaikbaik pemimpin adalah pemimpin penaklukan itu.‟ Hadits ini menjadi dasar bagi rekomendasi Nabi saw. maka berbahagialah orang yang senantiasa mengikuti jalan mereka. meyakini bahwa Allah ada tanpa tempat. dan tradisi .: “Kelak umatku akan benar-benar menaklukkan kota Konstantinopel. mencintai kaum sufi. Al Hafidz Al Haitsami berkata: „Para perawi hadits ini dapat dipercaya. karena secara faktual. maka yang dimaksud adalah pengikutnya. Beliau bersama pasukannya termasuk pengikut setia Ahlus Sunnah wal Jamaah madzhab Al Asyari. Dengan demikian hadits ini adalah busyra (berita gembira) bagi seluruh Ahlussunnah. bertawassul. al Asy‟ariyyah dan al Maturidiyyah bahwa aqidah mereka sesuai dengan aqidah Rasulullah. Seperti maklum diketahui dan dicatat oleh sejarah bahwa Sultan Muhammad al Fatih adalah Asy‟ari Maturidi. sehingga secara tersirat masuk dalam konteks ayat di atas. dan pujian beliau terhadap Madzhab Asyariyah dan Maturidiyah. Konstantinopel (Turki sekarang) baru dapat ditaklukkan oleh Sultan Muhammad al Fatih bin Sultan Murad Khan al Utsmani (835-886 H/ 1432-1481 M). Dalam hadits ini Rasulullah saw.Abu Musa Al Asyari.” HR Ahmad. aqidahnya sesuai dengan aqidah Rasulullah. mengikuti tarekat sufi dengan mursyidnya Maulana Syaikh Aqa Syamsuddin. Selain itu juga dijelaskan secara tersirat dalam hadits Shohih Nabi saw. memuji sultan Muhammad al Fatih karena beliau adalah seorang sultan yang shalih. at Tabrani. al Hakim dalam al Mustadrak dan beliau menilainya Shohih. Seandainya aqidahnya menyalahi aqidah Rasulullah. Rasulullah tidak akan memujinya. merayakan mawlid nabi.‟” Kitab al Jami‟ li Ahkam al Quran (VI/220). Abu Nu‟aim.

sufi lainnya, sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Walid al Sa‟id dalam kitabnya Tabyin Dhalalat al Albani Syaikh al Wahhabiyah al Mutamahdits. Aqidah al Asy‟ariyyah dan al Maturidiyyah adalah aqidah kaum muslimin dari kalangan Salaf dan Khalaf, aqidah para khalifah dan Sultan, seperti sultan Shalahuddin al Ayyubi ra. Sultan Shalahuddin al Ayyubi adalah seorang „alim, penganut aqidah Asy‟ariyyah dan madzhab Syafi‟i, hafal al Qur‟an dan kitab atTanbih dalam fiqh Syafi‟i serta sering menghadiri majlis-majlis ulama hadits. Beliau memerintahkan agar dikumandangkan aqidah Sunni Asy‟ariyyah dari atas menara masjid sebelum shalat Subuh di Mesir, al Hijaz (Makkah dan Madinah), dan di seluruh Negara Syam (Syiria, Yordania, Palestina dan Lebanon). Al Imam Muhammad ibn Hibatillah al Barmaki menyusun untuk Sultan Shalahuddin al Ayyubi sebuah risalah dalam bentuk nazham berisi aqidah Ahlussunnah dan ternyata sultan sangat tertarik dan akhirnya memerintahkan agar aqidah ini diajarkan kepada umat Islam, kecil dan besar, tua dan muda, sehingga akhirnya risalah tersebut dikenal dengan nama al Aqidah ash- Shalahiyyah. Risalah ini di antaranya memuat penegasan bahwa Allah Maha Suci dari benda (jism), sifat-sifat benda dan Maha Suci dari arah dan tempat. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberi hidayah kepada kami, anugerahkanlah kami rahmat dari sisi-Mu, Sesungguhnya Engkau Maha Penganugerah

AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH A. Pengertian Ahlussunnah Wal Jama‟ah Secara etimologi, kata Ahlussunnah Wal Jama‟ah terdiri dari tiga unsur. Pertama, kata ahl, yang berarti keluarga, pengikut, atau golongan. Kedua, kata al sunnah. Secara bahasa, kata al sunnah berarti al thariqoh (jalan/perilaku), entah jalan yang benar maupun jalan yang keliru. Secara terminologis, al sunnah berarti jalan yang diridhoi agama yang ditempuh oleh Baginda Nabi Muhammad saw. atau orang-orang yang dapat menjadi teladan dalam beragama, seperti para sahabat ra., berdasarkan sabda Nabi saw. „Ikutilah sunnahku dan khulafaurrasyidin sesudahku.‟ Pengertian ini sebagaimana dinukil dari kitab Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah karya Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari. Ketiga, kata al jamaah. Secara etimologis, al jamaah berarti orang-orang yang memelihara kebersamaan dan kolektivitas dalam mencapai suatu tujuan, sabagai kebalikan dari kata al firqoh, yaitu golongan yang bercerai berai dan memisahkan diri dari golongannya. Sedangkan secara terminologis, al jamaah ialah mayoritas Muslimin (sawad al a‟dzam), dengan artian bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah aliran yang diikuti oleh mayoritas Muslimin. Syekh Abdulloh al Harari barkata: “Hendaklah diketahui bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah mayoritas umat Muhammad saw.. Mereka adalah para sahabat dan golongan yang mengikuti mereka dalam prinsip-prinsip aqidah … Sedangkan al jamaah adalah mayoritas terbesar (sawad al a‟dzam).” Merekalah yang dimaksud oleh hadits Rasulullah saw.: “…maka barang siapa yang menginginkan tempat lapang di surga hendaklah berpegang teguh pada al jama‟ah; yakni berpegang teguh pada aqidah al jama‟ah”. Hadits ini dishahihkan oleh al Hakim, dan at-Tirmidzi mengatakan Hadits Hasan Shahih. Pengertian ini senada dengan hadits Nabi saw.: “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi

perselisihan maka ikutilah kelompok mayoritas (sawad al a‟dzam).” HR Ibn Majah, Abd bin Hamid, at Tabrani, al Lalikai, Abu Nu‟aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir ini adalah Hadits Shohih. B. Pokok-Pokok I‟tiqad Ahlussunnah Wal Jama‟ah Berikut ini adalah ikhtisar aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagaimana dihimpun oleh KH Sirajuddin Abbas dalam kitabnya I‟tiqod Ahlus Sunnah wal Jamaah. 1. Iman ialah mengikrarkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati.

Kemudian iman yang sempurna ialah mengikrarkan dengan lisan, membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota. 2. 3. Tuhan itu ada, namanya Allah, dan ada 99 nama bagi Allah. Tuhan mempunyai sifat banyak sekali, yang boleh disimpulkan perkataan:

Tuhan mempunyai sifat-sifat Jalal (kebesaran), Jamal (keindahan), dan Kamal (kesempurnaan) 4. Sifat yang wajib diketahui oleh sekalian mukmin yang baligh berakal adalah 20

sifat; 20 sifat yang wajib dan mustahil (tidak mungkin) ada bagi-Nya. Dan satu lagi sifat yang harus ada bagi-Nya, yaitu : a. b. Wujud artinya ada, mustahil Dia tidak ada. Qidam artinya tidak ada permulaan dalam wujud-Nya, mustahil ada-Nya

permulaan. c. d. Baqa‟ artinya tidak berkesudahan ada-Nya, mustahil ada-Nya berkesudahan. Mukhalafatuhu ta‟ala lilhawaditsi artinya Dia berlainan dengan segala

makhluk, mustahil Dia serupa dengan makhluk-Nya. e. Qiyamuhu binafsihi artinya Dia berdiri sendiri, bukan berdiri di atas zat lain,

mustahil Dia berdiri di atas zat lain. f. g. h. i. Wahdaniyah artinya Dia Esa, mustahil Dia banyak. Qudrat artinya kuasa, mustahil Dia tidak kuasa. Iradat artinya menentukan sendiri dengan kehendak-Nya, mustahil Dia dipaksa. Ilmu artinya Dia tahu, mustahil Dia tidak tahu (bodoh).

yaitu: a. mustahil Dia dalam keadaan tidak melihat. Kaunuhu „Aliman artinya Dia dalam keadaan tahu. l. r. tetapi yang wajib diketahui secara terperinci adalah 4 (empat). Kitab-kitab itu banyak. Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as. Kaunuhu Mutakalliman artinya Dia dalam keadaan berkata. n. mustahil Dia tidak mendengar (tuli). Kaunuhu Sami‟an artinya Dia dalam keadaan mendengar. t. 5. Kaunuhu Qadiran artinya Dia dalam keadaan berkuasa mustahil Dia dalam keadaan tidak berkuasa. Kalam artinya berkata. mustahil Dia buta. . mustahil Dia dalam Kaunuhu Hayyan artinya Dia dalam keadaan hidup mustahil Dia dalam keadaan keadaan tidak mendengar. Demikian 20 sifat yang wajib (mesti ada) bagi Allah SWT. Tetapi yang wajib dipercayai secara terperinci hanyalah 10 malaikat saja. o. mustahil Dia dalam keadaan tidak berkata. Sama‟ artinya mendengar. dan satu sifat jaiz bagi Alloh. mustahil Dia dalam keadaan tidak tahu. 20 sifat yang mustahil (tidak mungkin ada bagi Allah SWT). Wajib dipercayai bahwa Malaikat ada. mustahil Dia dalam keadaan yang tidak mempunyai iradat. Bashar artinya melihat. Kaunuhu Bashiran artinya Dia dalam keadaan melihat. p. Kemudian ditambah dengan sifat jaiz bagi Alloh. Hayat artinya hidup. q. mustahil Dia mati. yaitu Alloh boleh melakukan sesuatu dan boleh tidak melakukannya. m. u. Wajib dipercayai adanya kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada Rasul- rasul-Nya untuk disampaikan kepada ummatnya. mereka banyak. Kaunuhu Muridan artinya Dia dalam keadaan mempunyai iradat. mati. k. mustahil Dia bisu.j. s. 6.

c. Di Padang Mahsyar akan ada syafaat (pertolongan) dari Nabi Muhammad SAW dengan seizin Allah SWT. Akan diadakan hisab. d. . h. Kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as. Pertanyaan tersebut dDiajukan oleh malaikat Mungkar dan Nakir. c. Kitab Al-Qur‟an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. k. Di dalam kuburnya akan ditanya: Siapa Tuhannya. i. Kaum Ahlussunnah wal Jama‟ah mempercayai sekalian rasul-rasul yang diutus Allah SWT kepada manusia. yaitu perhitungan dosa dan pahala. Orang yang jahat dan ahli ma‟siat akan disiksa di dalam kubur. d. Kitab Zabur yang diturunkan kpada Nabi Daud as. Akan ada timbangan untuk menimbang dosa dan pahala. Akan ada titian (jembatan) Shirathal Mustaqim yang akan dibentangkan di atas neraka yang harus dilalui oleh sekalian manusia. f. g. Akan ada telaga Kautsar kepunyaan Nabi Muhammad SAW di dalam surga. 8. Apa kitab suci. j. ada yang diterangkan Allah SWT kepada manusia dan ada yang tidak diterangkan. di mana orang-orang yang beriman akan dapat minum. yaitu: a.b. Tetapi yang wajib diketahui secara terperinci adalah 25 rasul yang dinyatakan dalam Al-Qur‟an. Setiap orang Islam wajib mempercayai adanya hari akhirat. Setiap orang akan mati apabila jangka usianya sudah habis. Kemudian pada suatu waktu pula akan dibunyikan terompet sehingga seluruh makhluk yang mati akan bangkit kembali. dunia akan hancur luluh dan semua manusia bahkan semua makhluk di atas dunia akan mati dan hancur pula. Permulaan hari akhirat itu bagi setiap manusia adalah sesudah mati. mereka banyak. b. 7. berkumpul di padang mahsyar. siapa Nabi. e. dan lain-lain. Setelah mati lalu dikuburkan. Kemudian pada suatu waktu akan terjadi kiamat besar. Yang lulus ujian dalam meniti Shirathal Mustaqim akan langsung masuk surga Jannatun Na‟im sementara yang tidak lulus akan tergelincir masuk ke dalam neraka.

Allah SWT bersama nama-Nya dan sifat-Nya semuanya qadim. dan akan diberikan ni‟mat lagi yang paling lezat yakni akan melihat Allah SWT. malaikat-malaikat-Nya. d. 9. n. b. Yang ada bagi manusia hanya kasab. Sekalian yang terjadi di alam ini buruk atau baiknya semuanya dijadikan Allah SWT. 10. kitab-kitab-Nya. Pendeknya nasib baik dan buruk semuanya dari Allah SWT dan kita umat manusia hanya menjalani takdir saja. c. yaitu : percaya kepada Allah SWT. Orang mu‟min yang baik-baik akan diberi ni‟mat apa saja yang dia sukai. bahwa hal itu akan terjadi. ikhtiar dan usaha. Demikian secara ringkas tentang hari akhirat. maka dengan demikian semua nama dan sifat Allah SWT adalah qadim. o. Manusia wajib berikhtiar dan berusaha. Al Quran adalah kalam Alloh yang qadim. m. Demikian kepercayaan orang mu‟min menurut faham Ahlussunnah wal Jama‟ah yang bertalian dengan rukun iman yang (6) enam. Rasul-rasul-Nya. karena nama dan sifat itu berdiri di atas zat yang qadim. Pahala yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia adalah karena karunia- Nya dan hukuman yang diberikan kepada manusia adalah karena keadilan-Nya. Orang yang mu‟min yang berdosa dan mati sebelum bertaubat. Kaum Ahlussunnah wal Jama‟ah mempercayai adanya Qada‟ dan Qadar yaitu takdir ilahi.l. sebagai berikut: a. akan masuk ke dalam neraka buat sementara dan setelah menjalani hukuman akan dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam surga buat selama-lamanya. Sedangkan apa yang tertulis dalam mushaf yang menggunakan huruf dan suara merupakan gambaran dari Al Quran yang . 11. tidak ada pemulaannya. Orang kafir langsung masuk neraka dan kekal selama-lamanya. Orang yang baik akan langsung masuk surga dan kekal selama-lamanya. Sekalian yang terjadi di dunia ini sudah ada qadla‟ Allah SWT yakni hukum Allah SWT dalam azali. hari qiyamat dan qadla‟ qadar-Nya.

lebih-lebih maqam Rasulullah SAW. dan orangorang syahid. juga tidak dapat ditunda walaupun sekejap mata. . 20. ulama‟-ulama‟. kecuali tiga buah masjid. Seluruh manusia adalah anak cucu nabi Adam. 16. wakaf dan pahala bacaan (tahlil. shalawat dan bacaan AlQur‟an) boleh dihadiahkan kepada orang yang telah mati dan sampai kepada mereka kalau dimintakan kepada Alloh untuk menyampaikannya. 19. 13. Adam berasal dari tanah. wali-wali. tidak bertambah dan tidak berkurang. Tetapi manusia diperintahkan oleh Allah SWT untuk berobat kalau sakit. tidak boleh menunggu ajal saja. malaikat-malaikat dijadikan dari cahaya. Berjalan (musafir) untuk beribadah ke masjid yang tiga tersebut adalah ibadah hukumnya. diberi pahala kalau dikerjakan. dan maqam sahabat-sahabat beliau adalah sunat hukumnya. Bumi dan langit ada. Masjid di seluruh dunia sama derajatnya. Anak-anak orang kafir yang mati kecil (bayi) masuk surga. tetapi manusia diperintahkan untuk mencari rizki. khususnya kubur ibu bapak.qadim tersebut. lebih tinggi derajatnya dari yang lain. Do‟a orang mu‟min memberi manfaat bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain yang dido‟akan. 21. diberi pahala kalau mengerjakannya. Oleh karena itulah Al Quran disebut dengan qadim dan tidak boleh disebut makhluk. 17. 15. diperintahkan untuk berusaha dan tidak boleh berpangku tangan menunggu saja. Berdo‟a kepada Allah SWT langsung atau berdo‟a dengan memakai wasilah (bertawassul) adalah sunat hukumnya. 14. jika dikerjakan mendapat pahala. Ajal setiap manusia sudah ada jangkanya oleh Allah SWT tidak dimajukan waktunya. Madinah dan Baitul Muqaddas. 12. Siapa yang mengatakan langit tidak ada dia keluar dari lingkungan kaum Ahlussunnah wal Jama‟ah. Ziarah kubur. yaitu masjid-masjid di Makkah. Iblis dan jin dijadikan dari api. 18. Pahala sedekah. Rizki sekalian manusia sudah ditaqdirkan dalam azal.

Hal ini dianggap sangat perlu agar kita tidak terperangkap ke dalam kekeliruan dalam memahami ayat-ayat suci Al-Qur‟an. maksudnya Dialah Dzat yang Qadim. Ya Rahim. Nama Tuhan tidak boleh dibuat-buat oleh manusia. kalau terdapat ayat mengatakan “Tuhan bertangan” maksudnya adalah bahwa “Tuhan berkuasa” karena tangan itu adalah alat kekuasaan. atau bertangan seperti manusia. umpamanya Ya Lathif. Misalnya ayat yang mengatakan bahwa Tuhan bermuka. bukan batang tubuhnya sebab Allah SWT tidak berbatang tubuh. sesudah itu diserahkan kepada Allah SWT apakah yang sebenarnya yang dimaksud oleh ayat tersebut. yakni bukan menurut asal dari perkataan itu. atau bermuka serupa manusia. nama Allah SWT itu 99 banyaknya. Ada lagi ayat dan hadits yang mengatakan “Tuhan turun” maka yang turun adalah rahmat-Nya. Ya Rahman. Jika dijumpai ayat mengatakan bahwa “Tuhan atau Allah SWT itu cahaya”. halaman 37-42). . Kalau terdapat ayat-ayat suci Al-Qur‟an yang seolah-olah menyatakan bahwa Allah SWT bertubuh seperti manusia. maka ulama‟-ulama‟ Ahlussunnah wal Jama‟ah mentakwilkan atau menafsirkan ayat di atas secara majazi. Siapa yang menghafalkannya di luar kepala akan dimasukkan ke dalam surga (lihat shahih Bukhari juz IV bagian 195 dan shahih Tirmidzi juz XIII. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Bukhari. Juga agar termasuk orang-orang yang menyerupakan Allah SWT dengan makhluk-Nya atau golongan kaum Musyabbihah atau Mujassimah yang menerapkan adanya keserupaan Allah SWT dengan makhluk. 23. Kita umat Islam boleh berdo‟a dan boleh menyeru dengan salah satu atau semua nama-Nya yang 99 ini. yang tidak serupa dengan makhluk-Nya. tetapi harus seperti yang telah ditetapkan Allah SWT dalam Al-Qur‟an dan Hadits Nabi SAW yang shahih. maka maksudnya adalah Allah SWT itu memberi cahaya. Kalau dijumpai ayat yang mengatakan “Tuhan duduk di atas Arsy” maksudnya bahwa “Tuhan menguasai Arsy”. Ya Wadud dan sebagainya.22. demikian seterusnya dengan ayat-ayat yang lain.

lalu diturunkan kepada beliau ayat-ayat Al-Qur‟an berturut-berturut selama 23 tahun.Dalam surat as Syura ayat 11 disebutkan sejelas-jelasnya bahwa Allah SWT tidak serupa dengan makhluk-Nya. 29.Thabari. Tetapi tidak boleh berpersepsi bahwa Allah SWT berada dalam surga. Sesudah 13 tahun menjadi rasul beliau pindah ke Madinah. Begitu juga hukuman bagi orang yang durhaka tidaklah Allah SWT terpaksa menghukumnya atau bukanlah kewajiban Allah SWT untuk menghukumnya. bukanlah kewajiban Allah SWT untuk mengutus rasulrasul-Nya. Manusia mulanya tidak ada. tafsir Jalalain. 27. 28. Hendaknya diperhatikan kitab-kitab tafsir Ahlussunnah wal Jama‟ah yang dipercayai. Sesudah berusia 40 tahun diangkat menjadi rasul. bukan dengan mata hati saja. Makam . 25. tidak. Mengutus rasul-rasul adalah karunia Allah SWT kepada hamba-Nya untuk menunjuki jalan yang lurus. Allah SWT dapat dilihat oleh penduduk surga dengan mata kepala. Hanya kita yang bertempat dalam surga yang melihat-Nya. Allah SWT memberikan pahala kepada manusia dengan karunia-Nya dan menghukum dengan keadilan-Nya. Lalu hidup kembali (bangkit) dari kematian setelah peniupan terompet dan berkumpul di padang Mahsyar sesuai dengan ayat Al-Qur‟an pada surat Al Baqarah ayat 28. seperti kitab tafsir At. Pada waktu di dunia tidak ada manusia dapat yang melihat Allah SWT kecuali Nabi Muhammad SAW. 26. menetap disitu sampai wafat. Upah (pahala) yang Allah SWT berikan kepada oang-orang yang saleh bukanlah karena Allah SWT terpaksa untuk memberikannya dan bukan pula kewajiban Allah SWT untuk membalas jasa orang itu. dan lain-lain sebagainya. 24. Tetapi dalam mengartikan atau menta‟wilkan ayat ini janganlah memakai sembarang ta‟wil. Bangkit sesudah mati hanya satu kali. Beliau wafat sesudah melakukan tugas 23 tahun dalam usia 63 tahun. kemudian lahir ke dunia kemudian mati. Wajib diketahui dan diyakini oleh seluruh ummat Islam bahwa Nabi Muhammad SAW lahir di kota Makkah. pada malam Mi‟raj. tafsir Khazin. tafsir Qurthubi.

dan Safiyah binti Hay. ra. mi‟raj dengan badan dan ruh beliau. 30. dalam lingkungan Masjid Madinah sekarang. Dari pihak ibu adalah . karena kepada beliau diturunkan wahyu ilahi. sakit. 31. Zainab binti Khuzaimah. Abdullah. Siti Fatimah. Beliau makan. Nabi Muhammad SAW Mi‟raj ke langit melalui Baitul Muqaddas (Palestina) tanggal 27 Rajab dan kembali malam itu juga ke dunia membawa perintah shalat lima kali sehari semalam.Nabi Muhammad SAW berada di Madinah. tidak pandang negeri dan tidak pandang agama. Ruqayyah. rohaniyah dan jasmaniyah beliau luar biasa kuatnya. yang kalau diturunkan di atas bukit maka bukit tersebut akan hancur lebur. Muhammad bin Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf bin Zahrah bin Kilab (nenek Nabi yang keenam dari pihak bapak). minum. mempunyai keluarga serupa manusia biasa. Saudah binti Zam‟ah. ra. Silsilah nenek moyang Nabi Muhammad SAW adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Marrah bin Ka‟ab bin Luai bin Galib bin Fihir bin Malik bin Nadlar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudlar bin Ma‟ad bin Adnan. 35. Maimunah binti Harits. Qasim. nikah. . Nabi saw. Zainab binti Jahasy. Isteri-isteri Nabi Muhammad SAW dari mulai kawin sampai beliau wafat adalah: Ummul Mu‟minin Khadijah binti Khuwailid. Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Putra-putri Nabi Muhammad SAW adalah : Zainab. makhluk Allah SWT yang termulia di antara makhluk yang lain. Aisyah binti Abu Bakar. Ummu Kalsum. 33. 34. 32. tidak pandang suku. Kaum Ahlussunnah wal Jama‟ah menganggap bahwa Nabi Muhammad SAW walaupun beliau serupa manusia biasa tetapi beliau adalah sayyidul khalaiq. bukan malaikat. tidur. Ummu Habibah binti Abi Sufyan. Hafsah binti Umar. Nabi Muhammad SAW adalah manusia serupa kita. dan Ibrahim. Juwairiyah binti Harits. Ummu Salamah binti Abi Umayyah. Akan tetapi kemanusiaan beliau luar biasa.

39. sesudah itu sahabat-sahabat yang ikut Perang Uhud. 37. 38. “Perang Shifiin” antara Sayyidina Ali dengan Mu‟awiyah. Amir bin Jarrah. lalu sekalian sahabat Nabi ra. Sa‟ad bin Abi Waqqas. Abu Ubaidah. diantaranya menyegerakan proses penghisaban di padang Mahsyar. sesudah itu Sayyidina Umar bin Khattab. 40. sebagai khalifah keempat. Sayyidina Utsman bin Affan ra. Sayyidin Umar bin Khattab ra. Wajib diyakini bahwa sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling mulia adalah Sayyidina Abu Bakar. Sesudah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia. yaitu 4 orang khalifah ditambah dengan Thalhah bin Ubaidillah. sesudah sahabat-sahabat yang ikut Bai‟atur Ridlwan.36. Nabi Muhammad SAW menerima syafaat (bantuan) nanti di akhirat kepada seluruh manusia. maka pengganti beliau yang sah adalah Sayyidina Abu Bakar ra. Kalau ijtihad itu benar pada sisi Allah . seperti “Perang Jamal” antara Siti Aisyah dan Sayyidina Ali. sesudah itu Sayyidina Utsman bin Affan lalu Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Karena itu. sebagai khalifah ketiga. beliau (Nabi Muhammad SAW) adalah nabi yang paling dahulu diangkat dan yang paling akhir lahir ke dunia. dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. Nabi Muhammad SAW terdahulu diangkat menjadi nabi dibanding nabi-nabi yang lain. Abdurahman bin „Auf. Wajib diyakini bahwa yang paling mulia di antara makhluk Tuhan ialah Nabi Muhammad SAW. sebagai khalifah kedua. barulah Muslimin yang lain. lalu para Nabi. sesudah itu sahabat-sahabat yang ikut Perang Badar. Sa‟id bin Zaid. para Malaikat. tetapi dianggap bahwa mereka berijtihad menurut pendapat mereka masing-masing. yaitu ketika Nabi Adam masih terbaring dalam surga sebelum diberi jiwa. Dalam soal pertikaian dan peperangan yang terjadi antara para sahabat Nabi. kaum Ahlussunnah wal Jama‟ah menanggapi secara positif tidak banyak dibicarakan. sebagai khalifah pertama. Zubair bin Awwam. sesudah itu Rasul-rasul yang lain. sesudah itu sahabatsahabat yang sepuluh yang telah dikabarkan oleh Nabi Muhammad SAW akan masuk surga. 41. Syafaat (bantuan) itu bermacam-macam.

Hanya Allah SWT yang mengetahui. Rasul-rasul yang dibekali dengan mu‟jizat. begitu juga nabi-nabi pembantu tidak ada lagi sesudah Nabi Muhammad SAW. terletak di tempat yang tinggi dan mulia. ulama‟-ulama‟. kita hanya wajib mengimaninya.SWT mereka dapat pahala dua. 45. . ahli gua tidur selama 309 tahun tanpa rusak dagingnya. Kaum Ahlussunnah wal Jama‟ah meyakini adanya keramat. Begitu juga pangkat kenabian dan kerasulan. Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir. umpamanya makanan datang sendiri kepada Siti Mariam. bulan dapat dibelah dua. maka orang itu pembohong yang wajib dilawan. umpamanya dengan bersekolah atau bertapa dan lainlain. 46. Kaum Ahlussunnah wal Jama‟ah yakin. Nabi Isa AS dapat menghidupkan orang yang telah mati. 44. yaitu suatu benda makhluk Allah SWT yang dijadikan dari nur. Siapa saja yang menda‟wakan dirinya sebagai nabi atau rasul baik nabi bersendiri maupun untuk menjelaskan syari‟at Nabi Muhammad SAW. yaitu perbuatan yang ganjil yang diluar kemampuan manusia biasa. tetapi kalau ijtihad mereka salah maka mereka mendapat pahala satu atas ijtihadnya itu. Keramat artinya pekerjaan yang ganjil yang di luar kebiasaan yang mampu dikerjakan oleh para wali Allah. 43. yang tidak diketahui hakekatnya dan kebesarannya. misalnya Nabi Ibrahim AS tidak tebakar dengan api. Kerasulan seorang rasul adalah karunia Allah SWT. Pangkat tersebut tidak bisa didapatkan dengan diusahakan. Nabi Musa AS bisa nenjadikan tongkatnya menjadi ular. 42. khususnya Siti Aisyah Ummul Mu‟minin yang dituduh berbuat kesalahan adalah bersih dari noda. Wajib dipercayai adanya Arsy. tidak ada lagi Nabi sesudah beliau. bahwa sekalian keluarga Nabi Muhammad SAW. Fitnah yang dilancakan kepada keluarga Nabi adalah fitnah yang dibuat-buat (QS an Nur ayat 11). dan lain sebagainya. Nabi Muhammad SAW dengan kitab suci AlQur‟an yang tidak dapat ditiru oleh orang-orang yang pandai. orang-orang sholih. 47. air keluar dari anak jari beliau. matahari berhenti berjalan.

ii. menurut faham Ahlussunnah wal Jama‟ah. v. Dosa besar hanya dapat diampuni kalau si pembuatnya taubat kepada Alloh. berbuat liwath. Hakekat keberadaannya diserahkan kepada Allah SWT. i. berdusta terhadap Nabi dan lain-lain sebagainya. Wajib diketahui adanya “Kursi Allah SWT” yaitu suatu benda makhluk Allah SWT yang bedekatan dan bertalian dengan Arsy. Dalam i‟tiqad : Syak atau ragu atas adanya Tuhan. Syak atau ragu bahwa Nabi Muhammad Saw Isra‟ Mi‟raj dengan ruh dan . yaitu suatu benda yang dijadikan Allah SWT untuk „menuliskan‟ segala sesuatu yang akan terjadi di Lauh Mahfudh. maka dosa-dosa kecil akan diampuni saja oleh Alloh. Syak atau ragu akan ke-Rasulan Nabi Muhammad Saw. terbagi dua. Dosa itu. Sekalian yang terjadi di dunia ini sudah dituliskan dengan Qalam di Lauh Mahfudh terlebih dahulu. Orang mukmin bisa menjadi kafir kembali (riddah) dengan melakukan hal-hal di bawah ini : a. tidak akan habis. Surga dan neraka bersama penduduknya akan kekal selama-lamanya. surga. makan riba/rente uang. iv. 51. Dosa besar itu ialah syirik (mempersekutukan Alloh) ini paling berat atau paling besar. Yang wajib kaum Ahlussunnah wal Jama‟ah adalah mempercayainya. 52. Kalau dosa besar tidak dikerjakan. 49. neraka dan lain-lain sebagainya. Syak atau ragu bahwa Al-Qur‟an itu wahyu Tuhan Syak atau ragu bahwa akan ada hari kiamat. Keduanya dikekalkan Allah SWT agar yang berbuat baik merasakan selamalamanya ni‟mat pekerjaan dan yang berbuat dosa merasai selama-lamanya siksa atas pebuatannya. menjadi tukang sihir mendurhakai ibu bapak. berbuat zina. membunuh manusia dengan tidak hak. iii. hari akhirat. lari dari medan perang (perang sabil). 50. Wajib dipercayai adanya Qalam. ada dosa besar dan ada dosa kecil.48. jasad.

puasa. Meng-i‟tiqadkan bahwa Alloh tidak mempunyai sifat seperti ilmu. Sayyidina Umar bin Khathab dan lain-lain sebagainya. Sujud kepada manusia dengan suka rela. Mengharamkan pekerjaan yang sudah sepakat ulama‟ Islam membolehknnya. Menghina Nabi-nabi atau Rasul-rasul dengan lisan maupun perbuatan. viii. seperti kawin haram baginya. qidam baqa‟. jual beli haram baginya. Mendakwahkan jadi Nabi atau Rasul setelah Nabi Muhammad Saw. dll. Menghina kitab-kitab suci dengan lisan atau perbuatan. hayat. makan minum haram baginya dan lain-lain sebagainya. i. iv. Menghalalkan pekerjaan yang telah sepakat ulama‟ Islam mengharamkannya.vi. seperti sembahyang. vii. Meng-i‟tiqadkan ada Nabi sesudah Nabi Muhammad Saw. pada bulan dan lain-lain. xvi. Mengingkari kesahabatan para sahabat-sahabat Nabi yang utama seperti Sayyidina Abu Bakar. v. pada matahari. Meng-i‟tiqadkan bahwa Alloh bertubuh serupa manusia. Meniadakan suatu amalan ibadah yang telah sepakat ulama‟ Islam mewajibkannnya. Mengejek-ejek agama atau Alloh dengan lisan atau tulisan. berhenti puasa boleh baginya. Dalam amalan: Sujud kepada berhala. b. Mendustakan Rasul-rasul Alloh. xiii. xii. dan lain-lain. makan minum haram boleh baginya dan lain-lain sebagainya. seperti meyakini bahwa zina boleh baginya. membunuh orang boleh baginya. . xv. xi. iii. xiv. Mengingkari salah seorang Rasul yang telah sepakat ulama‟-ulama‟ Islam mengatakannya Rasul. ii. zakat dan lain-lain sebagainya. Mengingkari sepotong atau seluruhnya ayat suci Al-Qur‟an atau menambah sepotong atau seluruh ayat suci al-Qur‟an dengan tujuan menjadikannya menjadi Al-Qur‟an. ix. x.

Akhirakhir ini muncul sekelompok orang yang mempersoalkan sifat dua puluh tersebut dengan alasan bahwa tidak ada teks dalam Al Quran dan Al Hadits yang mewajibkan mengetahui sifat dua puluh. surga dan neraka. Mengejek-ejek Nabi Muhammad saw. thawaf keliling Ka‟bah. setiap orang yang beriman harus meyakini bahwa Alloh wajib memiliki segala sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya. i. vi. haji. Mengejek-ejek keluarga Nabi. kepada orang Islam. bukan 99 sebagaimana al asma al husna? Ulama Ahlus Sunah wal Jamaah dalam menetapkan kedua puluh sifat tersebut berdasarkan kajian dan peneltian yang mendalam. iv. Dari sini muncul gugatan. Pertama.c. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap Muslim. . zakat. puasa. Bahkan dalam al Hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Alloh (al asma al husna) jumahnya justru 99. Ia harus meyakini pula bahwa Alloh boleh melakukan sesuatu atau meninggalkannya. wukuf di Arafah dan lain-lain sebagainya. Mengapa Wajib Mengetahui Sifat Dua Puluh? Dalam madzhab Ahlus Sunah wal Jamaah terdapat konsep dua puluh sifat yang wajib bagi Alloh. iii. Mengejek-ejek atau menghina nama Alloh. C. vii. Mengejek-ejek salah satu syari‟at. viii. Khulashoh (Penjelasan Ringkas) Aqidah Ahlussunnah Wal Jama‟ah 1. misalnya shalat. dll. Ia harus meyakini bahwa Alloh mustahil memilki sifat kekurangan yan tidak layak bagi keagungannya. mengapa sifat yang wajib bagi Alloh yang harus diketahui hanya dua puluh sifat saja. Ada beberapa alasan ilmiah dan logis yang dikemukakan ulama. Mengejek-ejek malaikat-malaikat Mengejek-ejek Nabi-nabi dan Rasul-rasul. Mengejek-ejek hari akhirat. ii. Dalam perkataan Mengucapkan “Hai kafir”. v.

Al Hafidz Al Bayhaqi berkata: “Sabda Nabi saw. para Ulama Ahlus Sunah wal Jamaah sebenarnya tidak membatasi sifat-sifat kesempurnaan Alloh dalam dua puluh sifat. apalagi dua puluh. shifat al Dzat.Demikian adalaha keyakinan yang paling mendasar yang harus tertanam di dalam hati setiap Muslim. baik Engkau namakan Dzat-Mu dengan-Nya. yang antara lain adalah sifat dua puluh. tidak menafikan nama-nama selainnya. yaitu sifat-sifat Alloh yang terdapat dalam al asma al husna. Kedua. saja. jadikanlah al Quran sebagai taman hatiku. pelipur laraku. Ketiga.” HR Ahmad. Pertama. dan penghapus dukaku. At Thabrani dalam al Mu‟jam al Kabir. cahaya mataku.: „Sesungguhnya Alloh memilki 99 Nama‟. Nabi hanya bermaksud –wallohu a‟lam – bahwa barangsiapa yang memenuhi pesan-pesan 99 nama tersebut akan dijamin masuk surga. menjadi dua. Al Hafidz Ibn Hibban menilainya Shohih dalam Shohihnya. dan atau hanya Engkau saja yang mengetahui-Nya secara ghaib. yaitu sifatsifat yang ada pada Dzat Alloh swt.” Kitab al I‟tiqod „ala Madzhabis Salaf Ahlis Sunnah wal Jamaah. Sehingga berdasarkan hadits tersebut nama-nama Alloh tidak terbatas hanya 99. atau Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara makhluk-Mu. Kedua. Al Hakim dalam al Mustadrak. Hadits tersebut di atas menjelaskan bahwa diantara nama-nama Alloh yang telah dijelaskan dalam Al Quran ada yang diketahui oleh sebagian hamba-Nya dan ada yang diketahui oleh Alloh swt. bahkan setiap sifat keagungan dan kesempurnaan adalah wajib dimilki Alloh. . para Ulama membagi sifat-sifat khabariyyah. Pernyataan Al Hafidz Al Bayhaqi di atas berdasarkan hadits Shohih: “Ya Alloh. sehingga sifat-sifat Alloh sebenarnya tidak tebatas pada 99 saja. sesungguhnya aku hamba-Mu … Aku memohon dengan (perantara) setiap Nama yang Engkau miliki. atau Engkau turunkan Nama itu dalam kitab-Mu.

dan lain-lain. seperti al Razzaq. Sebagaimana dinukil dari Kitab Tabsith al „Aqaid al Islamiyah karya Syekh Hasan Ayub. dan lain-lain. Hal tersebut berbeda dengan shifat al af‟al. al Khaliq. al Muhyi. sifat dua puluh dianggap cukup dalam mengantarkan pada keyakinan bahwa Alloh memilki segala sifat kesempurnaan dan Maha Suci dari segala sifat kekurangan. shifat al Dzat merupakan sifat-sifat yang menjadi syarath al Uluhiyyah. Perbedaan antara keduanya. al Mumit. dari sekian banyak shifat al Dzat yang ada. namun tidak azal (ada permulaan). Di samping itu. maka kebalikan dari sifat tersebut tidak mustahil bagi Alloh. seperti al Muhyi (Maha Menghidupkan) dan al Mumit (Maha Mematikan).shifat al af‟al. al Mu‟thi (Maha Pemberi) dan al Mani‟ (Maha Pencegah). Al Hadits. Keempat. Di samping substansi sebagian besar shifat al Dzat yang ada sudah ter-cover dalam sifat dua puluh tersebut yang ditetapkan berdasarkan dalil Al Quran. Sebagaimana diketahui. sehingga ketika shifat al Dzat ini wajib bagi Alloh. maka kebalikan dari sifat tersebut adalah mustahil bagi Alloh. kitab Ushul al Din karya Syekh Abu Manshur Abdul Qahir Al Baghdadi (penulis kitab al Farq bayna al Firaq). ulama mengatakan bahwa shifat al af‟al itu baqa‟ (tidak berakhiran) bagi Alloh. aliran-aliran sempalan menyifati Alloh dengan sifat makhluk yang dapat menodai Kemahasempurnaan dan Kesucian Alloh. Maka dengan memahami sifat dua puluh tersebut iman seseorang akan terbentengi dari keyakinan- . Kelima. yaitu syarat mutlak ke-Tuhanan Alloh. al Mani‟. Sebagaimana dikutip dari kitab al I‟tiqod „ala Madzhabis Salaf Ahlis Sunnah wal Jamaah karya Al Hafidz al Bayhaqi. yaitu sifat-sifat yang sebenarnya adalah perbuatan Alloh swt. Ketika Alloh memilki salah satu di antara shifat al af‟al. sifat dua puluh tersebut dianggap cukup dalam membentengi aqidah seseorang dari pemahaman yang keliru tentang Alloh swt. dan dalil aqli. Dari sini Ulama menetapkan bahwa shifat al Dzat ini bersifat azal (tidak ada permulaan) dan baqa‟ (tidak berakhiran) bagi Alloh. al Dhar (Maha Memberi Bahaya) dan an Nafi‟ (Maha Memberi Manfaat). al Mu‟thi.

Kemudian benda terbagi menjadi dua. Seperti. (QS As Syura: 11) Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah swt. ii. Dan Dia tidak boleh disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Allah ta‟ala berfirman: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi). diam. dan seterusnya. maka hal ini akan ditolak dengan salah satu sifat salbiyyah yang wajib bagi Alloh. i. turun. seperti cahaya. bersemayam. . ketika Mujassimah mengatakan bahwa Alloh bertempat di „Arsy. juga bukan benda Lathif atau benda Katsif.keyakinan yang keliru tentang Alloh. Sedangkan sesuatu yang demikian. dan tidak ada sesuatupun yang menyerupaiNya”. Benda Lathif: sesuatu yang tidak dapat dipegang oleh tangan. Adapun sifat-sifat benda adalah seperti bergerak. yaitu sifat qiyamuhu bi nafsihi (Alloh wajib mandiri). duduk. kegelapan. (al Imam Sa‟duddin at Taftazani. 2. yaitu benda („ain) dan sifat benda („aradl). dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jisim). karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah. maka akan banyak yang serupa dengan-Nya sebab dengan demikian berarti ia memiliki dimensi (panjang. berada di tempat dan arah. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. tanah. bukan merupakan al Jawhar al Fard. Benda Katsif: sesuatu yang dapat dipegang oleh tangan seperti manusia. yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil (al Jawhar al Fard). naik dan sebagainya. Allah Bukan Benda Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (makhluk Allah) terbagi atas dua bagian. Syarh al Aqidah al Nasafiyah). benda-benda padat dan lain sebagainya. maka ia adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam dimensi tersebut. ruh. berubah. Benda yang terakhir ini terbagi menjadi dua macam. angin dan sebagainya. lebar dan kedalaman). tidak menyerupai makhlukNya.

. Maka orang yang mengatakan bahwa bahasa Arab atau bahasa-bahasa selain bahasa Arab adalah bahasa Allah atau mengatakan bahwa kalam Allah yang azali (tidak mempunyai permulaan) dengan huruf. berpisah. kegelapan. Rasulullah saw. Dan barang siapa yang menyifati Allah dengan salah satu dari sifat-sifat manusia seperti yang tersebut di atas atau semacamnya ia telah terjerumus dalam kekufuran. Pada azal belum ada angin. „Arsy.Mungkin akan timbul pertanyaan. berubah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah. berkata –sebagaimana dinukil dalam kitab al Farq bayna al Firaq– : “Alloh swt.Nya”. itu ada sebelum adanya tempat.” Makna hadits dan atsar (maqalah Sahabat) ini adalah bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan). menempel. turun. karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk). Begitu juga orang yang meyakini Hulul dan Wahdah al Wujud telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. berikut ini menjawabnya. cahaya. maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula. Di antara sifat-sifat manusia adalah bergerak. suara dan bahasa dan sebagainya. malaikat. Al Imam ath-Thahawi juga mengatakan: “Barangsiapa menyifati Allah dengan salah satu sifat manusia maka ia telah kafir“. berbicara dengan huruf. berada pada satu tempat dan arah. duduk. waktu. HR Al Bukhari [2953]. dia telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Amirul Mu‟minin Sayyidina Ali kw. tempat dan arah. manusia. diam. bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain. bersemayam. langit. yakni tetap ada tanpa tempat dan arah. mempunyai jarak. suara atau semacamnya. jin. naik. Al Bayhaqi. Dan keberadaan Alloh sekarang seperti keberadaan-Nya sebelum adanya tempat. dan Ibn Al Jarud. tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. apakah akal dapat menerima terhadap keberadaan sesuatu tanpa arah dan tempat? Cukuplah hadits Rasulullah saw.

). bawah. Al Imam Abu al Hasan al Asy‟ari ra. Allah Ada Tanpa Tempat dan Arah Allah swt. batas akhir. depan.3. Diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma wa ash-Shifat. anggota badan yang besar (seperti tangan. Sehingga mustahil bagi Alloh menyerupai makhluk yang memiliki roh.berfirman: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. sisi-sisi. malaikat.” Perkataan al Imam Abu Ja‟far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma‟ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah). baik benda yang ada di atas maupun yang di bawah (tidak memiliki arah. berkata: “Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat”. yaitu sifat yang menafikan sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah. i. Diambil dalil dari perkataan tersebut bahwasanya bukanlah maksud dari mi‟raj bahwa Allah berada di arah atas lalu Nabi Muhammad saw. jin. Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas. naik ke atas untuk bertemu dengan- . lidah. belakang). kiri. kanan. yaitu Allah tidak menyerupai makhlukmakhluk-Nya. red. tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut.) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut.” As Syuro: 11. hidung. dll.). Pernyataan Imam Thahawi Dalam Idzhar al Aqidah as Sunniyah bi Syarh al Aqidah Thahawiyah disebutkan: “Maha suci Alloh dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar. dan segala sesuatu selain Alloh. Sifat ini termasuk sifat salbiyah. Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dan tegas dalam al Quran yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya dari aspek apapun sehingga Alloh tidak butuh pada tempat yang menjadi tempat-Nya dan tidak pula arah yang menentukan-Nya. wajah. Ayat tersebut di atas juga menjadi dalil bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa Allah memiliki sifat mukholafat lil hawadits. dll. seperti manusia. Allah juga mustahil menyerupai benda padat. sehingga Alloh tidak memiliki ukuran sama sekali).

. Syekh Abdul Qadir al Jilani. juga para panutan kita ahli tasawwuf sejati seperti al Imam al Junaid al Baghdadi. Dia ada dan belum ada tempat. dan sesuatu. Dan ini adalah kekufuran berdasarkan Ijma‟ (konsensus) kaum muslimin sebagaimana dikatakan oleh al Imam as. di saat mi‟raj adalah Jibril as. dan memperlihatkan kepadanya keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al Qur‟an surat al Isra: 1. Penegasan Imam Abu Hanifah Al Imam Abu Hanifah dalam kitabnya al Fiqh al Absath berkata: “Allah ta‟ala ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada tempat. melainkan maksud mi‟raj adalah memuliakan Rasulullah saw. makhluk. Ini adalah penegasan al Imam Abu . melainkan yang mendekat kepada Nabi Muhammad saw. sehingga jarak antara keduanya dua hasta atau lebih dekat. ii. sebagaimana diriwayatkan oleh al Imam al Bukhari dan lainnya dari asSayyidah „Aisyah ra. Juga tidak boleh berkeyakinan bahwa Allah mendekat kepada Nabi Muhammad saw.Nya. dalam kitabnya al Washiyyah berkata yang maknanya: “Bahwa penduduk surga melihat Allah ta‟ala adalah perkara yang haqq (pasti terjadi) tanpa (Allah) disifati dengan sifat-sifat benda.. maka wajib dijauhi kitab Mi‟raj Ibnu „Abbas dan Tanwir al Miqbas min Tafsir Ibnu „Abbas karena keduanya adalah kebohongan belaka yang dinisbatkan kepada Ibnu Abbas. Perkataan al Imam at-Thahawi tersebut juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham Wahdah al Wujud yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya atau pengikut paham Hulul yang berkeyakinan bahwa Allah menempati makhluk-Nya. al Imam Ahmad ar-Rifa‟i. tanpa menyerupai makhlukNya dan tanpa (Allah) berada di suatu arah”. Dan Dia pencipta segala sesuatu”. mereka selalu memperingatkan masyarakat akan orang-orang yang berdusta sebagai pengikut tarekat tasawwuf dan meyakini aqidah Wahdah al Wujud dan Hulul. Dia ada sebelum menciptakan makhluk.Suyuthi dalam karyanya al Hawi lil Fatawi dan lainnya. dan semua Imam tasawwuf sejati. Al Imam Abu Hanifah ra.

sehingga tidak boleh dikatakan Allah ada di atas „Arsy. begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. kanan dan kiri. depan dan belakang.: “Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan adaNya). 4. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah. Al Imam Fakhruddin ibn „Asakir dalam Risalah Aqidah-nya mengatakan : “Allah ada sebelum ciptaan.: “Sesungguhnya Allah menciptakan „Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” (Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq). Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat. „Di mana Dia ?‟. Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal. tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu“. HR Muslim [4888] dan lainnya. dan ini menjelaskan kepada kita bahwa ulama salaf mensucikan Allah dari tempat dan arah. . keseluruhan dan bagian-bagian.: “Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia(Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula. atas dan bawah. tidak ada bagi-Nya sebelum dan sesudah. Tidak Boleh Dikatakan Allah Ada di Atas „Arsy atau Ada Dimana-mana Atsar Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. bahwa beliau menafikan arah dari Allah swt. atau „Bagaimana Dia ?‟. Al Imam Ali kw. Al Imam Al Bayhaqi dalam kitabnya al Asma wa ash Shifat mengatakan: “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah saw. ada tanpa tempat” Karenanya tidak boleh dikatakan Allah ada di satu tempat atau di mana-mana. Dia ada tanpa tempat”.Hanifah ra. tidak boleh dikatakan „Kapan ada-Nya?‟. adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah.

al Imam Taqiyy ad-Din as-Subki dalam kitab as-Sayf ash-Shaqil dan masih banyak lagi. berada di suatu tempat dan arah. hal ini tidak menandakan bahwa Allah berada di arah langit. al Imam an-Nawawi dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah. Sedangkan ketika seseorang menengadahkan kedua tangannya ke arah langit ketika berdoa. 5. Sedangkan pengertian al hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk baik kecil maupun besar. Maksud perkataan al Imam Malik tersebut. dan sebagainya.Al Imam Malik ra. Syekh Abdul Wahhab asy-Sya‟rani dalam kitabnya al Yawaqiit wal Jawaahir menukil perkataan Syekh Ali al Khawwash: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di mana-mana“. akan tetapi karena Ka‟bah adalah kiblat shalat. Penjelasan seperti ini dituturkan oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama‟ah seperti al Imam al Mutawalli dalam kitabnya al Ghun-yah. dan kayfa (sifatsifat makhluk) adalah mustahil bagi-Nya” (Diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma‟ wa ash-Shifat). al Imam al Ghazali dalam kitabnya Ihya „Ulum ad-Din. Adz- . Hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap Ka‟bah. Sedangkan riwayat yang mengatakan wa al Kayf Majhul adalah tidak benar dan Imam Malik tidak pernah mengatakannya. Al Imam Abu Hasan al Asyari mengatakan: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah Ta‟ala di satu tempat atau di semua tempat”. Perkataan al Imam al Asy‟ari ini dinukil oleh al Imam Ibnu Furak dalam karyanya al Mujarrad. berkata: “‟Ar-Rahman „ala al „Arsy istawa‟ sebagaimana Allah mensifati Dzat (hakekat)-Nya dan tidak boleh dikatakan bagaimana. bahwa Allah Maha Suci dari semua sifat benda seperti duduk. bersemayam di atas Arsy. Allah Maha Suci dari Hadd (Batasan) Menurut ulama tauhid yang dimaksud al mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk baik kecil maupun besar.

yakni bahwa Allah tidak menyentuh sesuatupun dari makhluk-Nya dan Dia tidak disentuh oleh sesuatupun dari makhluk-Nya karena Allah bukan benda. kegelapan dan angin masingmasing mempunyai ukuran. Al Imam Ali Zainal Abidin as Sajjad bin al Husain bin Ali bin Abi Thalib (cicit Rasulullah saw. (Diriwayatkan . cahaya. penjelasannya adalah bahwa ruang kosong yang diisi oleh benda lathif. Beliau juga berkata: “Engkaulah Allah yang Maha suci dari hadd (benda. Juga tidak boleh dikatakan tentang Allah bahwa tidak ada yang mengetahui tempat-Nya kecuali Dia. Allah Maha suci dari sifat berkumpul. karenanya ulama Ahlussunnah Wal Jama‟ah mengatakan: “Allah ada tanpa tempat dan arah serta tidak mempunyai ukuran. Adapun tentang benda Katsif bahwa ia mempunyai tempat.) berkata : “Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat”. dan ukuran)” Beliau juga berkata : “Maha suci Engkau yang tidak bisa diraba maupun disentuh”. berkata yang maknanya: “Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” . menempel. Karena sesuatu yang memiliki tempat dan arah pastilah benda. dan mengenai benda lathif bahwa ia mempunyai tempat. Sedangkan Allah bukanlah benda dan tidak disifati dengan sifatsifat benda. itu adalah tempatnya. (Diriwayatkan oleh Abu Nu‟aym dalam Hilyah al Auliya‟ I/72). bentuk.Dzarrah (sesuatu yang terlihat dalam cahaya matahari yang masuk melalui jendela) mempunyai ukuran demikian juga „Arsy. Karena definisi tempat adalah ruang kosong yang diisi oleh suatu benda. hal ini jelas sekali. berpisah dan tidak berlaku jarak antara Allah dan makhluk-Nya karena Allah bukan benda dan Allah ada tanpa arah. kecil ataupun besar memiliki tempat dan arah serta ukuran. Semua bentuk baik Lathif maupun Katsif. Al Imam Sayyidina Ali kw. besar maupun kecil”. Maksud perkataan Sayyidina Ali tersebut adalah sesungguhnya berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang kecil atau berkeyakinan bahwa Dia memiliki bentuk yang meluas tidak berpenghabisan merupakan kekufuran.

dan al Imam Tsauban ibn Ibrahim Dzu an Nun al Mishri. muslim“. beliau mengatakan : “Karena perkataan ini memberikan persangkaan bahwa Allah bertempat. maka dia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Dan jika berhenti pada keyakinan bahwa pasti ada pencipta yang menciptakannya dan tidak menyerupainya serta mengakui bahwa dia tidak akan bisa membayangkan-Nya maka dialah muwahhid (orang yang mentauhidkan Allah). 7. Diriwayatkan oleh al Maturidi dan lainnya. dan barang siapa yang . 6. Hal ini juga sebagai bantahan terhadap orang yang berkeyakinan Wahdatul Wujud dan Hulul. Dzat Allah Tidak Bisa Dibayangkan Al Imam asy-Syafi‟i ra.oleh al Hafizh az-Zabidi dalam al Ithaf dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahlul Bayt. berkata: “Apapun yang terlintas dalam benakmu (tentang Allah) maka Allah tidak menyerupai itu (sesuatu yang terlintas dalam benak)” Diriwayatkan oleh Abu al Fadll at-Tamimi dan al Khathib al Baghdadi. keturunan Rasulullah). Al Imam Syekh al „Izz ibn „Abd as-Salam asy-Syafi‟i dalam kitabnya Hall ar-Rumuz menjelaskan maksud Imam Abu Hanifah.(orang yang meniadakan Allah). Bantahan Ahlussunnah terhadap Keyakinan Tasybih dan Tajsim Al Imam Abu Hanifah ra. Al Imam Ahmad ibn Hanbal ra. berkata: “Barang siapa yang berusaha untuk mengetahui pengatur-Nya (Allah) hingga meyakini bahwa yang ia bayangkan dalam benaknya adalah Allah. salah seorang murid terkemuka al Imam Malik ra. kafir. berkata : “Barangsiapa yang mengatakan saya tidak tahu apakah Allah berada di langit ataukah berada di bumi maka dia telah kafir”. Dan jika dia berhenti pada keyakinan bahwa tidak ada Tuhan (yang mengaturnya) maka dia adalah mu‟aththil -atheis. Diriwayatkan oleh al Bayhaqi dan lainnya.

Semoga Allah memerangi golongan Mujassimah dan Mu‟aththilah (golongan yang menafikan sifat-sifat Allah).menyangka bahwa Allah bertempat maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya)“. Saya (al Hushni) berkata: “Inilah kebenaran yang tidak dibenarkan selainnya. 597 H) mengatakan dalam kitabnya Daf‟u Syubah at-Tasybih: “Sesungguhnya orang yang mensifati Allah dengan tempat dan arah maka ia adalah Musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan MakhlukNya) dan Mujassim (orang yang meyakini bahwa Allah adalah jisim: benda) yang tidak mengetahui sifat Allah”. Dalam kitab al Fatawa al Hindiyyah tertulis sebagai berikut: “Adalah kafir orang yang menetapkan tempat bagi Allah ta‟ala “.” Ayat ini jelas membantah kedua golongan tersebut”. Al Hafizh Ibnu Hajar al „Asqalani (W. Juga dalam kitab Kifayah al Akhyar karya al Imam Taqiyyuddin al Hushni dikatakan sebagai berikut: “… hanya saja an-Nawawi menyatakan dalam bab Shifat ash-Shalat dari kitab Syarh al Muhadzdzab bahwa Mujassimah adalah kafir. alangkah beraninya mereka menentang Allah yang berfirman tentang Dzat-Nya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. mengenai pengkafiran mereka terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa Allah di suatu arah dan dia adalah benda. Al Imam al Hafizh Ibn al Jawzi (W. Ahmad dan Abu Hanifah ra. . Syekh Ibn Hajar al Haytsami dalam al Minhaj al Qawim mengatakan: “Ketahuilah bahwasanya al Qarafi dan lainnya meriwayatkan perkataan asy-Syafi‟i. 852 H) dalam Fath al Bari Syarh Shahih al Bukhari mengatakan : “Sesungguhnya kaum Musyabbihah dan Mujassimah adalah mereka yang mensifati Allah dengan tempat padahal Allah maha suci dari tempat”. mereka pantas dengan predikat tersebut (kekufuran)“. Malik. karena tajsim (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dan meyakini bahwa Allah adalah jisim/benda) jelas menyalahi al Quran.

karena hal tersebut mengantarkan kepada tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). semuanya dari sisi Tuhan kami. tidak seperti benda-benda maka ia telah kafir“. Al Imam Abu al Hasan al Asy‟ari dalam karyanya an-Nawadir mengatakan : “Barang siapa yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda maka ia telah kafir. dapat dipahami dengan mudah. itulah pokok-pokok isi al Quran.Al Imam Ahmad ibn Hanbal ra. Di antarnya ada ayat-ayat yang Muhkamat. akan tetapi wajib dikembalikan maknanya sebagaimana perintah Allah dalam al Qur‟an pada ayat-ayat yang Muhkamat.” QS Ali Imran: 7. seorang ahli hadits dan fiqh bermadzhab Syafi‟i dalam kitab Tasynif al Masami‟ dari pengarang kitab al Khishal dari kalangan pengikut madzhab Hanbali dari al Imam Ahmad ibn Hanbal. dan yang lain (ayat-ayat) Mutasyabihat. Sedangkan ayat Mutasyabihat adalah ayat yang tidak jelas maksudnya. Dinukil oleh Badr adDin az. tidak mengetahui Tuhannya“. D. yang dalam bahasa arab mempunyai lebih dari satu arti dan tidak boleh diambil secara zhahirnya. yakni ayat-ayat yang . padahal tidak ada yang mengetahui ta‟wilnya melainkan Alloh.Zarkasyi. Ayat Muhkamat adalah ayat-ayat yang terang dan jelas maksudnya.‟ Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat “Dialah yang menurunkan al Kitab (al Quran) kepadamu. mengatakan: “Barang siapa yang mengatakan Allah adalah benda. Mutasyabihat artinya nash-nash al Qur‟an dan hadits Nabi Muhammad saw. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: „Kami beriman kepada ayat-ayat mutsyabihat. Ayat di atas menerangkan bahwa di antara isi al Quran terdapat ayat-ayat yang Muhkamat dan Mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang Mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta‟wilnya.

sebagaimana diungkapkan oleh Syekh Abdulloh al Harari dalam al Syarh al Qawim fi Hall Alfadz al Shirath al Mustaqim. maka tidak boleh menerjemahkan kata istawa ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa lainnya karena kata istawa mempunyai 15 makna dan tidak mempunyai padan kata (sinonim) yang mewakili 15 makna . Pertama. al Imam al Mujtahid Taqiyyuddin as-Subki dan al Hafizh Ibnu Hajar dan lainnya. sesudah menyelidikinya secara mendalam. ayat Mutasyabihat yang hanya Alloh yang mengetahui maksudnya. ayat Mutasyabihat yang dapat diketahui oleh orang-orang yang mendalam ilmunya (ar rasikhun fil „ilm). surat Thaha: 5: “Ar Rahmanu „ala „arsyi istawa”. Para ulama ar rasikhun fil „ilm menafsirkan istawa di atas dengan „menguasai‟ (al Qahr). Kedua. Berdasarkan ini. bukan bersemayam. Ayat Istiwa‟ Di antara ayat-ayat Mutasyabihat yang tidak boleh diambil secara zhahirnya adalah firman Allah swt. yang Mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran”. Ayat Mutasyabihat dibagi menjadi dua. yaitu makna bahwa Allah tidak menyerupai segala sesuatu dari makhluk-Nya. QS Thaha: 5.mempunyai satu makna dalam bahasa Arab. Al Imam Ahmad ar-Rifa‟i dalam al Burhan al Muayyad berkata: “Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al Qur‟an dan hadits Nabi Muhammad saw. Seperti maksud dari al istiwa‟ dalam ayat: ”Ar Rahmanu „ala al „arsyi istawa”. Ayat ini tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah duduk (jalasa) atau bersemayam atau berada di atas „Arsy dengan jarak atau bersentuhan dengannya. karena duduk dan bersemayam termasuk sifat khusus benda sebagaimana yang dikatakan oleh al Hafizh al Bayhaqi. Juga tidak boleh dikatakan bahwa Allah duduk tidak seperti duduk kita atau bersemayam tidak seperti bersemayamnya kita. Kemudian kata istawa sendiri dalam bahasa Arab memiliki 15 makna. Karena itu kata istawa tersebut harus ditafsirkan dengan makna yang layak bagi Allah dan selaras dengan ayat-ayat Muhkamat. seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan hal yang ghaib.

hewan dan malaikat. seorang pakar bahasa Arab dalam kitabnya Isytiqaq Asma Allah.tersebut. Dan Allah menamakan dzat-Nya al Qahir dan al Qahhar dan kaum muslimin menamakan anak-anak mereka „Abdul Qahir dan „Abdul Qahhar. Tidak seorangpun dari umat Islam yang menamakan anaknya „Abdul Jalis (al jalis adalah nama bagi yang duduk). karena al Qahr adalah sifat Allah yang azali (tidak mempunyai permulaan) sedangkan „arsy adalah merupakan makhluk yang baru (yang mempunyai permulaan). al Hafizh Ibn al Jawzi al Hanbali dalam kitabnya Daf‟u Syubah at-Tasybih. al Ghazali asy-Syafi‟i dalam al Ihya. Allah menyebut „arsy secara khusus karena ia adalah makhluk Allah yang paling besar bentuknya. jin. . Yang diperbolehkan adalah menerjemahkan maknanya. al Imam Abu „Amr ibn al Hajib al Maliki dalam al Amaali an-Nahwiyyah. Dalam ayat ini. Syekh Muhammad Nawawi Azmatkhan al Jawi al Indonesi asy-Syafi‟I dalam kitabnya at-Tafsir al Munir. Kalangan yang mentakwil istawa‟ dengan qahara adalah para ulama Ahlussunnah Wal Jama‟ah. Di antaranya adalah al Imam „Abdullah ibn Yahya ibn al Mubarak dalam kitabnya Gharib al Qur‟an wa Tafsiruhu. Maka ayat tersebut di atas (surat Thaha: 5) boleh ditafsirkan dengan qahara (menundukkan dan menguasai) yakni Allah menguasai „Arsy sebagaimana Dia menguasai semua makhluk-Nya. mengatakan: “Sesungguhnya Allah menciptakan „Arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya”. Karena al Qahr adalah merupakan sifat pujian bagi Allah. Penafsiran di atas tidak berarti bahwa Allah sebelum itu tidak menguasai „arsy kemudian menguasainya. az-Zajjaj. dan masih banyak lagi yang lainnya. al Imam Abu Manshur al Maturidi al Hanafi dalam kitabnya Ta‟wilat Ahlussunnah Wal Jama‟ah. Karena duduk adalah sifat yang sama-sama dimiliki oleh manusia. Al Imam Ali ra. makna kata istawa dalam ayat tersebut adalah qahara (menundukkan atau menguasai). Syekh Muhammad Mahfuzh at-Termasi al Indonesi asy-Syafi‟i dalam Mawhibah dzi al Fadll.

bersemayam dan sebagainya. Penegasan Imam Syafi‟i tentang Orang yang Berkeyakinan Allah duduk di atas „Arsy Ibn al Mu‟allim al Qurasyi menyebutkan dalam karyanya Najm al Muhtadi menukil perkataan al Imam al Qadli Najm ad-Din dalam kitabnya Kifayah an-Nabih fi Syarh at-Tanbih bahwa ia menukil dari al Qadli Husayn bahwa al Imam asy-Syafi‟I menyatakan kekufuran orang yang meyakini bahwa Allah duduk di atas „arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya. Dengan tafwidh ini. namun mencukupkan diri dengan penetapan sifat-sifat yang telah Alloh tetapkan bagi Dzat-Nya. ii. maka akan menimbulkan pengertian bahwa Alloh memiliki sifat-sifat kekurangan dan menyerupai makhlukNya. Diriwayatkan oleh al Hafizh al Bayhaqi dalam kitabnya al Asma wa ash-Shifat.” QS al Fajr: 22. ulama mengartikan teks: “Tuhan yang Maha Pemurah beristawa di atas „Arsy. yaitu tidak melakukan penafsiran apapun terhadap teks-teks tersebut. serta menyucikan Alloh dari kekurangan dan penyerupaan terhadap hal-hal yang baru. Pertama. “Dan ja-a Tuhanmu. Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah memiliki dua pandangan. Sedangkan riwayat yang mengatakan wal Kayf Majhul adalah tidak benar. Hal ini dilakukan dengan metode ta‟wil ijmali terhadap teks-teks tersebut dan menyerahkan pengetahuan maksud yang sebenarnya kepada Alloh swt. Riwayat yang Sahih dari Imam Malik tentang Ayat Istiwa‟ Al Imam Malik ditanya mengenai ayat tersebut di atas.. Maksud perkataan al Imam Malik tersebut. metode tafwidh/ta‟wil ijmali yang diikuti mayoritas ulama salaf. kemudian beliau menjawab: “Dan tidak boleh dikatakan bagaimana dan al kayf /bagaimana (sifat-sifat benda) mustahil bagi Allah”. iii.i. dan hadits . bahwa Allah Maha Suci dari semua sifat benda seperti duduk. Jika ayat-ayat tersebut diartikan literal. Oleh karena itu.” QS Thaha: 5. Ulama Ahlussunnah yang Menta‟wil Istiwa‟ Diantara ayat Mutasyabihat dalam Al Quran ada ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Alloh.

kaum Mujassimah mempermanisnya dengan kata-kata: “Namun tangan Allah tidak seperti tangan manusia. Dalam mengartikan istiwa‟ dalam ayat di atas dengan „kekuasaan Alloh‟. Ali Imran: 73 dengan „kekuatan dan kedermawanan‟. dan lain-lain. Artinya ayat dan hadits seperti itu harus diterima secara harfiah dan tidak dipalingkan dari makna harfiahnya. secara harfiah. maka mereka telah . dan itulah penyerupaan.”. Metode ta‟wil adalah mengalihkan pengertian teks-teks yang Mutasyabihat tersebut dari makna literalnya dan meletakkan maksud-maksudnya dalam satu bingkai pengertian yang sejalan dan seiring dengan teks-teks lain yang Muhkamat yang memastikan kesucian Alloh dari keserupaan dengan makhluk-Nya. Kaum Mujassimah mempermanis komentarnya dengan katakata: “Namun turunnya Allah tidak seperti turunnya manusia”. Ulama salaf berpandangan bahwa makna istiwa‟ . metode ta‟wil yang diikuti oleh mayoritas Ulama Khalaf dan sebagian Ulama Salaf. Mereka beranggapan bahwa Allah benar-benar turun. menafsirkan tangan dalam S. Kedua. dan “turun” dalam teks tersebut memiliki makna tersendiri yang hanya diketahi oleh Alloh swt.Shohih Bukhori: “Yanzilu Tuhan kami tabaroka wa ta‟ala ke langit dunia ketika waktu tinggal sepertiga malam yang terakhir…. “datang”.” Kaum mujassimah berkata bahwa ayat dan hadits seperti itu tidak memerlukan ta‟wil.” Jadi mereka beranggapan bahwa Allah benar-benar mempunyai tangan. Dan tidak pula mengartikan “datang” (ja-a) dan “turun” (yanzilu)-nya Tuhan dalam ayat dan hadits tersebut dengan datang dan turun layaknya makhluk yang berpindah dan bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. dan tidak mengandung penyerupaan sifat-sifat Alloh dengan sifat-sifat makhluk-Nya. dengan tidak mengartikan istawa(istiwa‟) dalam ayat tersebut dengan „bersemayam‟ dan „bertempat di atas Arsy‟. Adapun katakata dibelakangnya hanyalah pemanis untuk mengecoh umat. Dalam mengomentari ayat tersebut. Sebagaimana diungkapkan oleh Syekh Abdulloh al Harari dalam kitabnya al Maqalat al Sunniyah fi Kasyf Dhalalat Ibn Taymiyah.

Legalitas Tafwidh dan Ta‟wil Al Imam Muhammad bin Ali as Syaukani berkata dalam kitabnya Irsyad al Fuhul ala Tahqiq al Haqq min „Ilm al Ushul: “Bagian kedua. dan tidak boleh melakukan ta‟wil apapun terhadapnya. Para pakar berbeda pendapat mengenai bagian kedua ini menjadi tiga bagian. Kedua pendapat ini tidak berpegang pada arti literal ayat al Quran dan Hadits tersebut. adapun kata-kata dibelakangnya hanyalah pemanis untuk mengecoh umat. sehingga ayat-ayat dan hadits-hadits lain yang Mutasyabihat dan mengesankan Alloh menyerupai makhluk-Nya harus dikembalikan maksudnya terhadap ayat sebelas surat As Syuro ini. yaitu menyucikan Alloh dari keserupaan dengan makhluk-Nya. teks-teks yang berkaitan dengan ushul (pokok-pokok agama) seperti aqidah. teks yang berkaitan dengan furu‟ (cabang/ranting) yang sebagian besar memang dita‟wil. dan sifat-sifat Alloh swt. Kedua.‟ Ibn Burhan berkata. Kedua. kelompok yang berpendapat bahwa teks-teks tersebut tidak boleh dita‟wil. Perlu ditegaskan. Ayat dalam surat as Syuro: 11: “Tiada sesuatupun yang serupa dengan Dia” menegaskan kesucian Alloh yang bersifat mutlak dari menyerupai apapun.menjisimkan Allah. Pertama. Demikian sebagaimana dinukil dari kitab Al Maqalat al Sunniyah fi Kasyf Dhalalat Ibn Taymiyah. tetapi kami menghindar untuk melakukannya serta menyucikan keyakinan kami dari menyerupakan (Alloh dangan makhluk-Nya) dan menafikan (sifat-sifat yang ada dalam teks tersebut). dasar-dasar agama. karena firman Alloh: „tidak ada yang mengetahui ta‟wilnya melainkan Alloh. tetapi diberlakukan sesuai denga literalnya. tetang teks yang dapat dita‟wil. ini adalah . karena ayat ini kedudukannya Muhkamat. kelompok yang berpandangan bahwa teks-teks tersebut boleh dita‟wil. yaitu ada dua bagian. Antara pendapat salaf dan khalaf memilki persamaan yang bersifat prinsip. dan hal ini tidak diperselisihkan oleh kalangan ulama‟. Mereka adalah aliran Musyabbihah (faham yang menyerupakan Alloh dengan makhluk-Nya). karya Syekh Abdulloh al Harari. Pertama.

Al Imam Malik bin Anas menta‟wil turunnya Tuhan dalam hadits Shohih pada waktu tengah malam dengan turunnya perintah-Nya. melakukan ta‟wil atas ayat-ayat Mutasyabihat. dll.” Kedua ayat tersebut adalah ayat Mutasyabihat yang tidak boleh dibiarkan mengikuti makna literalnya. Bahkan madzhab yang ketiga ini diriwayatkan dari Sayyidina Ali.pendapat ulama‟ salaf….” QS Thaha: 5. dan Ummu Salamah. Misalnya ayat: “Tuhan Yang Maha Pemurah ber-istawa di atas Arsy. datangnya Tuhan (QS 89: 22) dita‟wil dengan perintah dan kepastian Alloh. antara lain: kursi (QS 2: 225) dita‟wil dengan ilmu-Nya Alloh. Inkonsistensi Orang yang Memahami Ayat Istiwa‟ secara Zhahirnya Tentu saja teks-teks Mutasyabihat seperti di atas tidak boleh dibiarkan mengikuti makna literalnya tanpa melakukan ta‟wil. karena apabila ayat-ayat tersebut dibiarkan mengikuti makna literalnya. madzhab yang pertama dari ketiga madzhab ini adalah pendapat yang batil. iv.” Perkataan Al Imam As Syaukani ini juga senada dengan pernyataan Al Imam Al Hafidz Badrudin al Zarkasyi dalam kitabnya al Burhan fi „Ulum al Quran. Ibn Masud. dengan ayat: “Kepada-Nyalahnaik perkataan-perkataan yang baik. kelompok yang berpandangan bahwa teks-teks tersebut harus dita‟wil. Al Imam Sufyan Ats Tsauri menta‟wil istiwa‟(QS 2:29) dengan berkehendak menciptaka langit.Ketiga. Sedangkan dua madzhab yang terakhir dinukil dari sahabat Nabi saw. Tabi‟in Mujahid (murid Ibn Abbas) dan al Suddi menta‟wil lafadz janb (QS 39: 56) dengan perintah Alloh. maka akan melahirkan perselisihan dengan ayat-ayat yang lain. Sahabat Ibn Abbas ra. Al Imam Ahmad bin Hanbal menta‟wil datangnya Tuhan (QS 89: 22) dengan datangnya pahala dari Tuhan. Ibn Burhan berkata. Sebagai contoh. Ibn Abbas. sedangkan Al Imam Al Hasan Al Bashri menta‟wilnya dengan datangnya perintah dan kepastian Tuhan. baik secara ijmali maupun tafshili. Al Imam Al Bukhori menta‟wil hadits Shohih tentang tertawanya Alloh dengan rahmat Alloh. dll. misalnya dengan mengatakan bahwa Alloh bertempat di atas atau di . Membiarkan teks-teks tersebut tanpa melakukan ta‟wil belum pernah dilakukan oleh ulama salaf dan khalaf.

” QS as Shafat: 99. seorang tabi‟in murid Ibn Abbas. v. Allah-lah yang telah menciptakan keduanya. Pengertian demikian akan bertentangan dengan ayat: “Dan kepunyaan Allohlah timur dan barat. di penjuru bumi. mana yang benar? Apakah Alloh ada di atas „Arsy. Karena kata cahaya dan sinar adalah khusus bagi makhluk. karena Nabi Ibrahim dalam ayat tersebut mengatakan akan pergi ke Palestina. ke arah manapun hewan tunggangan itu menghadap selama arah tersebut adalah arah tujuannya maka di sanalah kiblat Allah sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid (W. dalam S. Jika memang dimaknai secara literal. dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. atau di Palestina? Hal ini akan menimbulkan perselisihan yang nyata. maka kemanapun kamu menghadap di situlah „wajah‟ Alloh. an-Nur: 35:”Allohu nuurus samaawati wal „ardl. Sesungguhnya Alloh Maha Luas (Rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. Ayat ini jika dimaknai literal akan menimbulkan makna bahwa Alloh bertempat di Palestina. Ayat 35 Surat an-Nur Dan begitulah seluruh ayat-ayat Mutasyabihat harus dikembalikan kepada ayat-ayat Muhkamat dan tidak boleh diambil secara zhahirnya. Juga dengan ayat: “Dan Ibrahim berkata: „Sesungguhnya aku pergi menuju kepada Tuhanku. sebagaimana firman Alloh dalam Al Quran surat an Nisa‟: 82. Tetapi makna ayat ini. Padahal dalam Al Quran mustahil terjadi perselisihan. Seperti firman Allah swt. Ayat ini jika dimaknai literal maka akan melahirkan pemahaman bahwa Alloh berada di seluruh arah di muka bumi.” QS al Baqarah: 115. 102 H). Akan tetapi makna surat Al Baqarah ayat 115 di atas adalah bahwa seorang musafir yang sedang melakukan shalat di atas hewan tunggangan. bahwa Allah menerangi langit dan .„Arsy. maka Ia tidak menyerupai keduanya. Takwil Mujahid ini diriwayatkan oleh al Hafizh al Bayhaqi dalam Kitab al Asma‟ Wa ash-Shifat.” tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah adalah cahaya atau Allah adalah sinar.

. tapi berbeda dengan sifat lupa pada diri makhluk. Dengan ayat ini kita tidak bisa menyifatkan sifat lupa kepada Allah walaupun tercantum dalam Al Quran. As-Sajdah: 14. berfirman: “Wahai Keturunan Adam. karena menjadikan Allah sebagai cahaya dan nabi Muhammad saw. Atau maknanya. Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku”. maka ia menjadi Muhammad”. Sebagaimana yang dikatakan oleh „Abdullah ibn Abbas ra. dan “Innaa nasiinaakum” (Sungguh Kami telah „lupa‟ pada kalian) QS. bagian dari-Nya. yakni para malaikat dan pemberi petunjuk orang-orang mukmin dari golongan manusia dan jin. salah seorang sahabat Nabi saw. Ini adalah kekufuran . Alloh “Lupa” Ayat “Nasuullaha fanasiahum” (Mereka melupakan Allah maka Allah pun „lupa‟ dengan mereka) QS At-Taubah: 67. akan lebih ekstrim lagi jika dimaknai secara literal dan tanpa ta‟wi. dan kita tidak boleh mengatakan Allah punya sifat lupa. QS. bahwa Allah adalah pemberi petunjuk penduduk langit. Dengan demikian kita wajib mewaspadai kitab Mawlid al „Arus yang disebutkan di dalamnya bahwa “Allah menggenggam segenggam cahaya wajah-Nya kemudian berkata kepadanya: jadilah engkau Muhammad.wal „iyadzu billah. maka berkatalah keturunan Adam: “Wahai Allah. bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ‟Alamin?”. Alloh “Sakit” Diriwayatkan dalam hadits Qudsi bahwa Allah swt. yang berada di bumi yaitu petunjuk kepada keimanan. Maryam: 64. tidak seorangpun menisbatkannya kepada al Hafizh Ibn al Jawzi kecuali seorang orientalis yang bernama Brockelmann. vi. vii. karena Allah berfirman dalam ayat yang lain: “Dan tiadalah Tuhanmu itu lupa”. tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” Shahih Muslim [2569].bumi dengan cahaya matahari. maka Allah menjawab: “Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?. Takwil ini diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma‟ Wa as-Shifat. Kitab ini merupakan kebohongan yang dinisbatkan kepada al Hafizh Ibn al Jawzi. bulan dan bintang-bintang.

Al Imam Syekh Abdullah al Haddad al „Alawi dalam bagian akhir kitabnya anNasha-ih ad Diniyyah menuturkan: “Aqidah ringkas yang bermanfaat -Insya Allah swt.Apakah kita bisa menyifatkan „sakit‟ kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita? Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits Qudsi diatas dalam kitabnya Syarh an Nawawiy „ala Shahih Muslim bahwa yg dimaksud „sakit‟ pada Allah adalah hambaNya dan kemuliaan serta „kedekatan‟-Nya pada hamba-Nya itu. Al Imam Abu Manshur Al Baghdadi dalam kitabnya al Farq Bayna al Firaq berkata: “Sesungguhnya Ahlussunnah telah sepakat bahwa Allah tidak diliputi tempat dan tidak dilalui oleh waktu”. berkata: “Sesungguhnya Ia (Allah) ta‟ala . Sedangkan makna ucapan: “Akan kau temui Aku disisinya” adalah “akan kau temui pahala-Ku dan kedermawanan-Ku dengan menjenguknya E. Karena seandainya Allah bertempat niscaya banyak sekali yang menyerupainya. bahwa dia berkata tentang Allah: “Sesungguhnya yang menciptakan tempat tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana dan sesungguhnya yang menciptakan al kayf (sifat-sifat benda) tidak dikatakan bagi-Nya bagaimana”.. mengutip perkataan al Imam Ali ibn Abi Thalib kw. Disebutkan oleh al Imam ar-Rifa‟i dalam kitabnya Hal Ahl al Haqiqah ma‟a Allah. Al Imam Abu al Muzhaffar al Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din. Maka barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya tidaklah diterima ibadahnya sebagaimana perkataan al Imam al Ghazali: “Tidaklah sah ibadah seseorang kecuali setelah ia mengetahui Allah yang ia sembah”.menurut jalan golongan yang selamat. Kemudian beliau ra. golongan mayoritas umat Islam. Bagaimanakah Cara Mengenal Allah (Ma‟rifatullah)? Al Imam ar-Rifa‟i berkata: “Batas akhir pengetahuan seorang hamba tentang Allah adalah meyakini bahwa Allah ta‟ala ada tanpa bagaimana (sifat-sifat makhluk) dan ada tanpa tempat”. Mereka adalah golongan Ahlussunnah Wal Jama‟ah.

yang di dalamnya tidak ada cahaya dan kegelapan. Keduanya tidak ada kemudian menjadi ada. Al Imam Ahmad ibn Hanbal dan al Imam Dzu an-Nun al Mishri salah seorang murid terkemuka al Imam Malik menuturkan kaidah yang sangat bermanfaat dalam ilmu Tauhid: “Apapun yang terlintas dalam benak kamu (tentang Allah). Dan Allah adalah Maha Pencipta segala gambar dan bentuk. berpisah. bergerak dan diam) dan tidak diliputi oleh satu arah penjuru maupun semua arah penjuru”. Maksudnya adalah kita beriman bahwa Allah ada tidak seperti makhluk-Nya. maka lebih utama kita beriman dan percaya bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah serta tidak bisa kita bayangkan. tempat dan maha suci dari menyerupai akwan (sifat berkumpul. Karena tidaklah dapat dibayangkan kecuali yang bergambar. Perkataan Sayyidina Abu Bakr . Al Imam Khalifatur Rasul Abu Bakr ash-Shiddiq ra. maka Allah tidak seperti itu”. Sebagaimana kita tidak bisa membayangkan suatu masa sedangkan masa adalah makhluk. tanpa memikirkan tentang Dzat (Hakekat)-Nya. QS al An‟am: 1. sedangkan mencari tahu tentang hakekat Allah. maka Ia tidak ada yang menyerupai-Nya. Jika demikian halnya yang terjadi pada makhluk. Adapun berpikir tentang makhluk Allah adalah hal yang dianjurkan karena segala sesuatu merupakan tanda akan ada-Nya. Allah berfirman dalam al Qur‟an: “… dan yang telah menjadikan kegelapan dan cahaya” . Berkata yang maknanya: “Pengakuan bahwa pemahaman seseorang tidak mampu untuk sampai mengetahui hakekat Allah adalah keimanan. Perkataan ini dikutip dari Imam Ahmad ibn Hanbal oleh Abu al Fadll atTamimi dalam kitabnya I‟tiqad al Imam al Mubajjal Ahmad ibn Hanbal dan diriwayatkan dari Dzu an-Nun al Mishri oleh al Hafizh al Khathib al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad. Ini adalah kaidah yang merupakan Ijma‟ (konsensus) para ulama. yakni membayangkan-Nya adalah kekufuran dan syirik”. Akan tetapi kita beriman dan membenarkan bahwa cahaya dan kegelapan.Maha suci dari zaman. Allah-lah yang menciptakan keduanya. keduanya memiliki permulaan.

dalam kitabnya al Faidl ar-Rabbani berkata: “Barangsiapa yang mengatakan bahwa Allah terpisah dari-Nya sesuatu. Allah menempati sesuatu. berkata: “Ada dua perkataan (yang diucapkan dengan lisan meskipun tidak diyakini dalam hati) yang bisa merusak agama: perkataan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya (Wahdat al Wujud) dan berlebih-lebihan dalam mengagungkan para Nabi dan para wali. Al Imam al Junayd al Baghdadi penghulu kaum sufi pada masanya berkata: “Seandainya aku adalah seorang penguasa niscaya aku penggal setiap orang yang mengatakan tidak ada yang maujud (ada) kecuali Allah“.Sesungguhnya Allah tidaklah mengampuni orang yang mati dalam keadaan syirik atau kufur sedangkan orang yang mati dalam keadaan muslim tetapi ia melakukan dosa-dosa di bawah kekufuran maka ia tergantung kepada kehendak Allah. Syekh Abd al Ghani an-Nabulsi ra. Al Imam Ar-Rifa‟i ra. F. Ia akan mengampuni orang yang Ia kehendaki“.ra. tersebut diriwayatkan oleh seorang ahli Fiqih dan hadits al Imam Badr ad-Din azZarkasyi as-Syafi‟i dan lainnya. Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari makhluk-Nya”. Ahlussunnah dan Para Sufi Menentang Paham Hulul dan Wahdatul Wujud Ahlussunnah Wal Jama‟ah mengatakan: “Sesungguhnya Allah tidaklah bertempat pada sesuatu. tidak terpecah dari-Nya sesuatu dan tidak menyatu dengan-Nya sesuatu. . jika Allah menghendaki Ia akan menyiksa orang yang Ia kehendaki dan jika Allah berkehendak. Beliau juga mengatakan: “Jauhilah perkataan Wahdat al Wujud yang banyak diucapkan oleh orang-orang yang mengaku sufi dan jauhilah sikap berlebih-lebihan dalam agama karena sesungguhnya melakukan dosa itu lebih ringan dari pada terjatuh dalam kekufuran. maka dia telah kafir“. Dinukil oleh Syekh Abd al Wahhab asy-Sya‟rani dalam kitabnya al Yawaqit Wal Jawahir. yakni melampaui batas yang disyariatkan Allah dalam mengagungkan mereka“.

sebab hal itu merupakan maksiat lidah yang paling besar. G. Sedangkan perkataan-perkataan yang terdapat dalam kitab Syekh Muhyiddin ibn „Arabi yang mengandung aqidah Hulul dan Wahdah al Wujud itu adalah sisipan dan dusta yang dinisbatkan kepadanya.Sya‟rani dalam kitabnya Lathaif al Minan Wa al Akhlaq menukil dari para ulama.Dua perkataan al Imam Ahmad ar-Rifa‟i tersebut dinukil oleh al Imam ar-Rafi‟i asySyafi‟i dalam kitabnya Sawad al „Aynayn fi Manaqib Abi al „Alamain.Rifa‟iyyah berkata: “Sesungguhnya mengatakan Wahdah al Wujud (Allah menyatu dengan makhluk-Nya) dan Hulul (Allah menempati makhluk-Nya) menyebabkan kekufuran dan sikap berlebih-lebihan dalam agama menyebabkan fitnah dan akan menggelincirkan seseorang ke neraka. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdul Wahhab asy. Syekh al „Alim Abu al Huda ash-Shayyadi ra. Maksudnya hendaklah engkau selalu menjaga lidah dari segala perkataan yang diharamkan oleh agama terutama perkataan yang menyebabkan seseorang jatuh pada kekufuran. . Maksiat Lidah dan Macam-macam Kekufuran Sebagian ulama berkata: “Hendaklah engkau memperbanyak diam wahai orang yang berakal. Demikian juga dijelaskan oleh ulama-ulama lain. jika ia dalam keadaan berakal (sadar) maka dia dihukumi murtad (kafir)“. agar engkau selamat di dunia dan hari kiamat kelak”. Al Imam Syekh Muhyiddin ibn „Arabi mengatakan: “Tidak akan meyakini Wahdah al Wujud kecuali para mulhid (atheis) dan barangsiapa yang meyakini Hulul maka agamanya rusak (Ma‟lul)”. Salah seorang khalifah Syekh Ahmad ar-Rifa‟i (dalam Thariqah ar-Rifa‟iyyah) pada abad XIII H.Shayyadi ra. dalam kitabnya atThariqah ar. Syekh al „Alim Abu al Huda ash. karenanya wajib dijauhi“. juga mengatakan dalam kitabnya al Kawkab ad-Durriy: “Barangsiapa mengatakan saya adalah Allah dan tidak ada yang mawjud (ada) kecuali Allah atau dia adalah keseluruhan alam ini.

menghalalkan perkara-perkara yang jelas-jelas haram dan lain-lain. Katakanlah apakah terhadap Allah. seperti mencaci Allah. bersemayam atau duduk di atas „arsy. atau meyakini Allah seperti cahaya atau semacamnya. ayatayat-Nya dan rasul-Nya kamu berolokolok?. malaikat-Nya. seperti orang yang meyakini bahwa Allah berada di arah atas atau arah-arah lainnya. Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kufur dan menjadi kafir sesudah mereka sebelumnya muslim …” (QS at-Taubah: 74) Qoidah i. menentang-Nya. syi‟ar agama. “Mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah. Kufur Qauli. Setiap keyakinan. Alloh berfirman dalam Al Quran: “Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan…” (QS Fushshilat: 37) iii. malaikat atau Islam. meremehkan janji dan ancaman Allah.Nya. . mengharamkan perkaraperkara yang jelasjelas halal. Alloh berfirman dalam Al Quran: “Sesungguhnya orangorang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu…” (QS al Hujurat: 15) ii. Kufur I‟tiqadi. karena kamu telah kafir sesudah beriman …” (QS at-Tubah 65-66). Alloh berfirman: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka katakan) tentulah mereka akan menjawab sesungguhnya kami hanyalah bersendagurau dan bermain-main saja. Rasul-Nya. melempar mushhaf atau lembaranlembaran yang bertuliskan ayat al Qur‟an atau nama-nama yang diagungkan ke tempat sampah atau menginjaknya dengan sengaja dan lain-lain. perbuatan atau perkataan yang mengandung pelecehan terhadap Allah. seperti sujud kepada berhala. mencaci maki nabi. Kufur Fi‟li. bahwa mereka telah mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). hukum-hukum-Nya.Para ulama dari kalangan empat madzhab membagi kufur menjadi tiga macam: i. tidak usah kamu minta maaf.

Dan wajib baginya meninggalkan kekufuran tersebut dan segera masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimah Syahadat. Meski dia dalam keadaan marah atau bercanda. Jika ia membaca istighfar sebelum mengucapkan syahadat maka istighfar tersebut tidak bermanfaat baginya. meski dia tidak mengetahui bahwa kata yang dia ucapkan menyebabkan kekufuran. . Para ulama Islam menyepakati (Ijma‟) bahwa orang yang jatuh dalam kufur yang sharih (tidak mempunyai kemungkinan arti lain selain kufur). ii. tidak sedang sabq al-lisan dan tidak dalam keadaan dipaksa dengan ancaman bunuh. Ini adalah ijma‟ para ulama. Meskipun dia tidak berniat untuk keluar dari agama Islam. iii.janji-janji dan ancaman-Nya adalah kekufuran maka hendaklah seseorang menjauhi semua ini dengan segala upaya serta dalam keadaan apapun. Barang siapa yang jatuh pada salah satu macam kekufuran tersebut maka ia dihukumi kafir. maka ia dihukumi kafir.

seperti membahas bahwa Allah ada di langit. tapi terus berpindah ke arah barat dan terus ke yang lebih barat.758. dengan menafsirkan kalimat istiwa dengan makna ”BERSEMAYAM atau ADA DI SUATU TEMPAT” . yang hanya membuat kerancuan dalam kesucian Tauhid Ilahi pada benak muslimin. karena bertentangan dengan ayat-ayat dan Nash Hadits lain. sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim hadits no. entah darimana pula mereka menemukan makna kalimat Istawa adalah semayam. maka semakin ranculah pemahaman ini. Maka bila di suatu tempat adalah tengah malam. sedangkan kita memahami bahwa waktu di permukaan bumi terus bergilir. akan tetapi karena semaraknya masalah ini diangkat ke permukaan. Bila kita mengatakan Allah ada di Arsy. maka dimana Allah sebelum Arsy itu ada? Dan berarti Allah membutuhkan ruang. maka waktu tengah malam itu tidak sirna. sedangkan dalam Hadits Qudsiy disebutkan Allah swt turun ke langit yg terendah saat sepertiga malam terakhir. Sebagaimana makna Istiwa. tentulah berarti Allah itu selalu bergelantungan mengitari Bumi di langit yg terendah. namun justru sangat digandrungi oleh sebagian kelompok muslimin sesat masa kini. padahal tak mungkin kita katakan bahwa Allah itu bersemayam disuatu tempat. Jelaslah bahwa hujjah yg mengatakan Allah ada di Arsy telah bertentangan dengan Hadits . 26 June 2007 Ayat Tasybih Mengenai ayat mutasyabih yg sebenarnya para Imam dan Muhadditsin (Ahli Hadits) selalu berusaha menghindari untuk membahasnya. mempunyai tangan. yg sebagian kaum muslimin sesat sangat gemar membahasnya dan mengatakan bahwa Allah itu bersemayam di Arsy. dan menunjukkan rapuhnya pemahaman mereka. wajah dll. mereka selalu mencoba menusuk kepada “jantung Tauhid” yang sedikit saja salah memahami maka akan terjatuh dalam jurang kemusyrikan.ARTIKEL AL HABIB MUNZIR BIN FUAD AL MUSAWA* TENTANG AYAT MUTASYABBIHAT Tuesday. maka perlu kita perjelas mengenai ayat-ayat dan hadits tersebut. berarti berwujud seperti makhluk.

Lalu bagaimana dengan firman-Nya: ”Mereka yg berbai‟at padamu sungguh mereka telah berbai‟at pada Allah. bila Aku mencintainya maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar. yg berarti Allah itu tetap di langit yg terendah dan tak pernah kembali ke Arsy. dan kakinya yg ia gunakan untuk melangkah. bertanya tentang ini adalah Bid‟ah Munkarah).” (shahih Bukhari hadits no.Qudsiy di atas. tentunya seorang Imam Mulia yg menjadi Muhaddits Tertinggi di Madinah Al Munawwarah di masanya yg beliau itu Guru Imam Syafii ini tak sembarang mengatakan ucapan seperti itu. Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS Al Fath 10)? Di saat Bai‟at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yg turut berbai‟at pada sahabat. lalu mengusirnya. kecuali menjadi dalil bagi kita bahwa hanya orang-orang yg tidak baik yang mempermasalahkan masalah ini. dan Hamba Ku terus mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah baginya hingga Aku mencintainya. Ma‟qul. bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya…. . Berkata Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Malik rahimahullah ketika datang seseorang yg bertanya makna ayat : ”Arrahmaanu ‟alal Arsyistawa”. tiadalah hamba Ku mendekat kepada Ku dengan hal hal yg fardhu. dan menjadi tangannya yg ia gunakan untuk memerangi. dan tidak boleh mengatakannya mustahil. Imam Malik menjawab: ”Majhul. hingga ia mengatakannya : ”kulihat engkau ini orang jahat”. percaya akannya wajib. Juga sebagaimana Hadits Qudsiy yg mana Allah berfirman: ”Barangsiapa memusuhi waliku sungguh kuumumkan perang kepadanya.6137). dan matanya yg ia gunakan untuk melihat. keluarkan dia.. Demikian ucapan Imam Malik pada penanya ini. Sedangkan ayat itu mengatakan bahwa Allah ada di Arsy. dan hadits Qudsiy mengatakan Allah di langit yg terendah. Imaan bihi wajib. wa su‟al ‟anhu bid‟ah (tidak diketahui maknanya. dan kulihat engkau ini orang jahat.!”.

penglihatan. sebagaimana Imam Syafii. 2. dan tanpa makna). pertolongan Allah. keberkahan Allah. dan kini muncullah faham mujjassimah yaitu dhohirnya memegang madzhab tafwidh tapi menyerupakan Allah dg mahluk. bagi mereka yg taat pada Allah akan dilimpahi cahaya kemegahan Allah. (syarah Jauharat Attauhid oleh Imam Baajuri). Pendapat Ta‟wil Madzhab takwil yaitu menakwilkan ayat/hadist tasybih sesuai dg Keesaan dan Keagungan Allah swt.Imam Nawawi dll. mata. Imam Bukhari. . Pendapat ini juga terdapat dalam Al Qur‟an dan Sunnah. bukan seperti para imam yg memegang madzhab tafwidh. 1. Masalah ayat/hadist tasybih (tangan/wajah) dalam ilmu tauhid terdapat dua pendapat dalam menafsirkannya. juga banyak dipakai oleh para Sahabat. Seperti ayat : ”Nasuullaha fanasiahum” (mereka melupakan Allah maka Allah pun lupa dengan mereka) (QS Attaubah:67). Madzhab inilah yg juga di pegang oleh Imam Abu Hanifah. ia berkata ”Nu‟minu biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala makna” (Kita percaya dg hal itu. dan madzhab ini arjah (lebih baik untuk diikuti) karena terdapat penjelasan dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada muslimin umumnya. dan sungguh maknanya bukanlah berarti Allah menjadi telinga. dengan i‟tiqad tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan). Tabiin dan Imam-imam Ahlussunnah wal Jamaah. dan panca indera lainnya. Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat.Maka hadits Qudsiy di atas tentunya jelas-jelas menunjukkan bahwa pendengaran. kekuatan Allah. dan ayat : ”Innaa nasiinaakum” (sungguh Kami telah lupa pada kalian) (QS Assajdah 14). Pendapat Tafwidh ma‟a Tanzih Madzhab tafwidh ma‟a tanzih yaitu mengambil dzahir lafadz dan menyerahkan maknanya kepada Allah swt. dan membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana. tangan dan kakinya.

Imam Ibnul Jauziy dll (lihat Daf‟ussyubhat Attasybiih oleh Imam Ibn Jauziy). karena Allah berfirman : ”dan tiadalah Tuhanmu itu lupa” (QS Maryam 64) Dan juga diriwayatkan dalam hadits Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : ”Wahai Keturunan Adam. Jakarta. bagaimana aku menjenguk Mu sedangkan Engkau Rabbul ‟Alamin? Maka Allah menjawab: Bukankah kau tahu hamba Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya? Tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits no.2569) apakah kita bisa mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita? Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits Qudsiy di atas dalam kitabnya yaitu Syarah Annawawiy alaa Shahih Muslim bahwa yg dimaksud sakit pada Allah adalah hamba Nya. (QS Asshaffat 180-182). tapi berbeda dg sifat lupa pada diri makhluk. Kabilah Al Musawa. dan kita tidak boleh mengatakan Allah punya sifat lupa. dan para Imam Ahlussunnah wal Jamaah yg berpegang pada pendapat Ta‟wil. Khadam Majelis Rasulullah SAW. sebagaimana firman Nya: ”Maha Suci Tuhan Mu Tuhan Yang Maha Memiliki Kemegahan dari apa apa yg mereka sifatkan. Imam Tirmidziy. dan segala puji atas tuhan sekalian alam”. ”wa ma‟na wajadtaniy indahu ya‟niy wajadta tsawaabii wa karoomatii indahu” dan makna ucapan : “akan kau temui Aku disisinya” adalah akan kau temui pahalaku dan kedermawanan Ku dengan menjenguknya (Syarh Nawawi ala shahih Muslim Juz 16 hal 125) Dan banyak pula para sahabat. maka berkatalah keturunan Ada : Wahai Allah.Dengan ayat ini kita tidak bisa menyifatkan sifat lupa kepada Allah walaupun tercantum dalam Al Qur‟an. dan kemuliaan serta kedekatan Nya pada hamba Nya itu. Imam Abul Hasan Al Asy‟ariy. maka salam sejahtera lah bagi para Rasul. Imam Malik.org . www. Maka jelaslah bahwa akal tak akan mampu memecahkan rahasia keberadaan Allah swt. seperti Imam Ibn Abbas. tabiin.majelisrasulullah. Aku sakit dan kau tak menjenguk Ku. Imam Bukhari. *Beliau adalah Ulama dari kalangan Ahlul Bait Bani „Alawiy (Baa Alwi) BaaHusain.

Dituturkan oleh al Hafizh Ibnu Hajar al „Asqalani dalam Fathul Baari bi Syarh al Bukhari. . dan barangsiapa yang disibukkan dengan hal-hal yang sunnah dari yang fardlu (sehingga dia tidak melaksanakannya) maka dia adalah orang yang tertipu (setan menampakkan amal ini di matanya sebagai amal yang baik padahal amal-amal yang fardlu itu lebih banyak mendekatkan diri seseorang kepada Allah dari pada amal-amal yang sunnah)”.“Barang siapa disibukkan dengan hal-hal yang fardlu dari hal-hal yang sunnah (sehingga tidak sempat melakukannya) maka dia (dianggap) ma‟dzur (diterima alasannya dan dimaklumi). Termasuk di antara hal-hal yang difardlukan oleh agama adalah menyebarkan aqidah Ahlussunnah Wal Jama‟ah dan memperingatkan masyarakat dari orang-orang yang menyalahinya.

oleh karena itu. Sebuah masyarakat di mana individu. organisasi dan masyarakat memiliki akses tak terbatas pada satu sama lain dan dunia pengetahuan. Nilai memberikan pembenaran perilaku dan. Tugas kita adalah untuk memfasilitasi komunikasi yang efektif. terlepas dari geografi. atau kompleksitas. melalui keragaman teknologi komunikasi termasuk suara.terlepas dari kebangsaan. mempunyai pengaruh signifikan terhadap keputusan pemasaran.Kami bekerja sebagai satu tim .Kami berkomitmen untuk perbaikan terus-menerus.sebuah dunia di mana setiap orang dapat manfaat dari kekuatan keterampilan komunikasi dan teknologi.BT Group . Perhatikan contoh-contoh berikut bisnis terkenal .Kami menghormati satu sama lain . mobile. jarak waktu. kelas atau pendidikan. budaya. Sumber: BT Group plc situs web Mengapa nilai-nilai penting dalam pemasaran? Banyak perusahaan Jepang telah menggunakan sistem nilai untuk memberikan motivasi untuk membuat mereka pemimpin pasar global.mendefinisikan nilainilainya: kegiatan BT adalah didukung oleh seperangkat nilai-nilai yang semua orang BT diminta untuk menghormati: . data.MANAJEMEN PEMASARAN Perencanaan Pemasaran . internet . Mereka telah menciptakan sebuah obsesi tentang kemenangan yang dikomunikasikan pada semua tingkatan .Kami profesional . Ini didukung oleh visi kita tentang dunia komunikasi-kaya .Kami menempatkan pelanggan pertama .Nilai-Nilai dan Visi Pengantar Nilai dan Visi Nilai membentuk dasar dari gaya manajemen bisnis '.

Harus sepenuhnya dikomunikasikan . Pada akhir 1980-an telah berlalu Caterpillar sebagai pemimpin dunia dalam peralatan bumi yang bergerak. apa yang dimaksud dengan "visi" dan bagaimana cara berhubungan dengan perencanaan pemasaran? Untuk berhasil dalam jangka panjang.Konsisten diikuti dan diukur . pada awal tahun 1970-an Komatsu kurang dari sepertiga ukuran pemimpin pasar . Ini membantu memotivasi karyawan.Apakah realistis . Apa saja komponen dari sebuah visi bisnis yang efektif? Davidson mengidentifikasi enam persyaratan untuk sukses: . perusahaan perlu visi tentang bagaimana mereka akan berubah dan ditingkatkan di masa mendatang.Caterpillar . Visi dari bisnis memberikannya energi. Jika "nilai" membentuk perilaku bisnis. Ini membantu menetapkan arah strategi perusahaan dan pemasaran. Misalnya.Menyediakan arah masa depan .dan mengandalkan hanya pada satu baris buldoser kecil untuk sebagian besar pendapatannya.usaha yang telah memungkinkan mereka untuk mengambil pangsa pasar dari pesaing yang tampaknya tak tergoyahkan.Apakah memotivasi . Itu juga mengadopsi strategi diversifikasi agresif yang menyebabkan ke pasar seperti robot industri dan semikonduktor.Mengungkapkan manfaat konsumen .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->