P. 1
Analisis BSC

Analisis BSC

|Views: 37|Likes:
Published by Taufan Widyapratama

More info:

Published by: Taufan Widyapratama on Oct 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/08/2013

pdf

text

original

ANALISIS PENGUKURAN KINERJA PERUSAHAAN MENGGUNAKAN METODE BALANCED SCORECARD (BSC) DAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DI PABRIK

GULA GENDING PROBOLINGGO Oleh Munifah Teknik Industri UNS ABSTRAKSI Pabrik Gula Gending, Probolinggo merupakan salah satu pabrik agribisnis yang memproduksi gula, berbagai usaha telah dilakukan PG. Gending untuk dapat meraih keunggulan di tengah kondisi persaingan bisnis yang semakin ketat. Salah satu faktor terpenting dalam menentukan keberhasilan jangka panjang adalah pengukuran kinerja. Selama ini perusahaan belum pernah melakukan pengukuran kinerja secara terintegrasi dan seimbang, dalam artian hanya menilai kinerja perusahaan dengan menggunakan tolok ukur dari segi finansial saja. Pada kenyataannya pengukuran kinerja yang hanya melihat tolok ukur keuangan saja sudah tidak relevan lagi dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat. Oleh karena itu perlu adanya suatu metode yang mengukur kinerja perusahaan secara meyeluruh dalam upaya peningkatan kinerja perusahan yaitu dengan metode BSC dan metode pembobotan AHP. Balanced Scorecard merupakan suatu sistem manajemen, pengukuran, dan pengendalian secara tepat dan menyeluruh yang dapat memberikan kerangka kerja dan berfikir yang integrasif. Pengukuran kinerja tersebut memandang unit bisnis dari empat perspektif, yaitu perspektif keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, pertumbuhan dan pembelajaran. Pengukuran kinerja yang dilakukan akan menghasilkan informasi-informasi yang diperlukan perusahaan untuk meningkatkan kinerja perusahaan sekaligus agar peneliti dapat memberikan masukan-masukan inisiatif strategi bagi perusahaan. Kata Kunci : BSC, AHP

PENDAHULUAN Di masa sekarang ini, banyak manajer dalam berbagai macam industri memikirkan cara yang lebih baik dalam mengukur kinerja perusahaan. Pengukuran tersebut dapat digunakan untuk menilai keberhasilan perusahaan. Model pengukuran yang lama (tradisional), yaitu pengukuran dengan melihat hasil kinerja suatu organisasi yang digambarkan dalam laporan keuangan, sudah dirasakan tidak dapat digunakan lagi karena laporan keuangan sebagai tolak ukur kinerja tidak mampu lagi menggambarkan titik-titik strategis perusahaan. Sehingga perlu adanya penelitian mengenai bagaimana mengukur kinerja secara menyeluruh, terintegrasi dan seimbang sesuai dengan tujuan perusahaan. Adapun penelitian ini dilakukan pada Pabrik Gula Gending, Probolinggo. Yaitu sebuah pabrik agribisnis yang memproduksi gula. Perusahaan selama ini berusaha melakukan efisiensi-efisiensi dalam hal biaya, tetapi masih belum dapat melakukan pengukuran kinerja secara terintegrasi dan seimbang. Artinya perusahaan belum pernah melakukan pengukuran kinerja yang berhubungan dengan visi, misi serta strategi perusahaan. Sejauh ini penilaian kinerja perusahaan hanya didasarkan pada faktor finansial saja. Jadi, perusahaan menganggap apabila keuntungan semakin meningkat, maka hal itu menandakan bahwa kondisi kinerja perusahaan meningkat. Pada kenyataannya, pengukuran kinerja dengan cara seperti ini tidak lagi layak digunakan pada

Sedangkan untuk pembobotan dilakukan dengan Analytical Hierarchy Process. 2. dan rendahnya biaya dibandingkan dengan perusahaan lain. secara otomatis perusahaan dituntut melakukan pengukuran kinerja secara menyeluruh. fungsinya yaitu mengukur kemampuan perusahaan untuk mengembangkan dan memanfaatkan sumber daya manusia sehingga tujuan strategik perusahaan dapat tercapai untuk waktu sekarang dan masa yang akan datang. DEV (Pembayaran Deviden). Prosentase Kadar Gula dalam Tebu (PKG). serta Number of Complaint (NC) selama periode tahun 2004 dan 2005.iklim persaingan industri yang kian ketat. Perspektif Pembelajaran & Pertumbuhan. yang dirumuskan menggunakan 4 perspektif yang satu sama lain saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan. Kaplan dan David P. Adapun definisi operasional dari keempat perspektif tersebut diatas. variabelnya diukur berdasarkan analisis Return on Equity (ROE). Perspektif proses bisnis internal variabelnya diukur berdasarkan analisis Supplier Lead Time (SLT). Sales Growth (SG) dan Profit Margin on Sales (PmoS) selama periode tahun 2004 dan 2005. Norton. P) selama periode tahun 2004 dan 2005. 3. Dan digabungkan dengan metode pembobotan AHP. perspektif proses bisnis internal. . serta Absenteism (Abs) selama periode tahun 2004 dan 2005. agar informasi yang nantinya didapat. Perspektif Pelanggan. Perspektif Keuangan. 4. yang mulai dikembangkan sekitar tahun 1970 oleh Thomas L. dapat bermanfaat untuk kepentingan perusahaan. yaitu perspektif keuangan. januari 2002. Return of Assets (ROA)). yaitu : 1. 4. antara lain: 1. fungsinya yaitu mengukur mutu. METODE PENELITIAN Identifikasi variable dalam peneltian ini meliputi empat perspektif BSC. Perspektif pelanggan variabelnya diukur berdasarkan analisis Customer Retention (CR). 3. oleh Robert S. Pengukuran kinerja perusahaan yang signifikan dengan kondisi persaingan bisnis saat ini dilakukan dengan metode BSC. 2. Dengan kata lain metode balanced scorecard merupakan metode yang menerjemahkan visi. Melihat kondisi operasional perusahaan yang berubah-ubah. fungsinya yaitu mengukur kemampulabaan dan nilai pasar (market value) di antara perusahaan-perusahaan lain. Perspektif Proses Bisnis Internal. 4 Perspektif BSC. perspektif pelanggan. serta Effisiensi Pabrik (Eff. dan perspektif proses pertumbuhan dan pembelajaran. Number of New Customer (NNC). misi dan strategi perusahaan ke dalam seperangkat sasaran-sasaran strategis. Metode Balanced Scorecard merupakan metode pengukuran kinerja yang terintegrasi dan mencakup keseluruhan aspek finansial dan non finansial. fungsinya yaitu mengukur efisiensi dan efektivitas perusahaan dalam memproduksi barang dan jasa. Saaty. Total Asset Turnover (TATO). pelayanan. sehingga dapat diketahui Critical Success Factors (CSFs) yang tidak memenuhi target dan memerlukan perhatian pihak manajemen untuk ditingkatkan. Employee Productivity (EP). yang diperkenalkan pertama kali dalam Harvard Business Review. Perspektif keuangan. Perspektif proses pembelajaran dan pertumbuhan variabelnya diukur berdasarkan analisis Employee Turnover (ET).

70%% 1.2% . dan saran.41% 0.5% 8. pengukuran kinerja tiap perspektif BSC. pengukuran kinerja perusahaan keseluruhan.94% 100% 6.89% 3. perhitungan CSFs.00% 24.061% Perspektif Finansial Perspektif Pelanggan Perspektif Proses Bisnis Internal Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran Kuisioner pembobotan AHP yang telah disebar kepada 5 orang expert (yang ahli bidangnya) dihitung untuk mencari bobot keempat perspektif dan tolok ukur masingmasing perspektif BSC. kesimpulan. dan hasilnya pada tabel 2 dan tabel 3. Bobot Tolak Ukur Perspektif BSC Bobot 42.45x 17. dan strategi dengan pengukuran BSC. Hasil Perhitungan CSFs tiap Perspektif BSC Tolok Tahun Perspektif Ukur 2004 2005 ROE ROA TATO SGR PMoS CR NNC DEV NC SLT PKG Eff Pbrk ET EP Abs 49.48% 17. misi.08% 1.58% 13.33x 17.42% 0.Adapun langkah-langkah dalam menganalisis data.35% 5. adalah sebagai berikut: menghubungkan visi. HASIL DAN PEMBAHASAN Data-data sekunder dari tolak ukur masing-masing perspektif BSC yang telah terkumpul.75% 56. pembobotan AHP untuk kuisioner keempat perspektif BSC beserta tolok ukur masing-masing perspektif BSC.25% 16.92% 10.50% 9. dihitung untuk mencari nilai prosentase CSFs masing-masing dari 4 perspektif BSC .67% 1.19% 43.054% 59. perancangan pengukuran BSC.42% 42. Tabel 1.36% 8% 100% 7. dan hasil perhitungan pada tabel 1.33% 84. Tabel 2. pembahasan hasil pengukuran kinerja. Bobot keempat perspektif BSC Perspektif Finansial Pelanggan Proses Bisnis Internal Proses Pembelajaran & Pertumbuhan Tabel 3.3% 28.00% 58.29% 83.66% 1.77% 13.00% 21.

maka dapat dicari pengukuran kinerja keseluruhan perusahaan.3% 9. 1.248 0.292 0.292 0.Tolak Ukur Return On Equity (ROE) Return On Assets (ROA) Profit Margin on Sales (PMoS) Total Assets Turn Over (TATO) Sales Growth (SG) Customer Retention Number of Complaint Number of New Customer Pembayaran Deviden Supplier Lead Time Prosentase Kadar Gula Effisiensi Pabrik Employee Productivity Emplyee Turn over Absenteism Bobot 24% 23% 23% 15% 15% 34. maka langkah selanjutnya yaitu mengukur kinerja perusahaan. 2.235 0. 5. Tabel 4.775 Setelah semua nilai dari keempat perspektif diketahui.70% 1. Pengukuran dimulai dengan penilaian kinerja dari masing-masing tolok ukur yang digunakan dalam setiap perspektif BSC. Tabel 5. Berikut pada tabel 5 dan tabel 6.0% 40% 20% 40% Setelah mengetahui bobot keempat perspektif dan tolok ukur masing-masing perspektif BSC dan nilai CSFsnya. Pengukuran Kinerja Keseluruhan Periode Tahun 2004 .45x 17. Tolok Ukur ROE ROA TATO SG PMoS Nilai 49.9% 29.225 Jumlah 0.496 0. perspektif finansial.70% 32.470 0. Pengukuran Kinerja Perspektif Finansial th.1% 26. adalah hasil pengukuran kinerja keseluruhan perusahaan.5% 9. adalah kutipan untuk penilaian kinerja tahun 2004. apabila hasil yang dicapai dari suatu tolok ukur memiliki nilai yang mendekati target perusahaan. 3.7% 41. 4.77% 13.146 0.225 1.1% 26.42% Total Skor 2 2 2 2 1 Bobot 0. Dan pada tabel 4. Penilaian (skor) kinerja akan semakin baik. 2004 No.146 0.

maka dapat diketahui perbandingan tingkat kinerja perusahaan antara tahun 2004 dan tahun 2005 dan dibuat usulan perbaikan strategi perusahaan. Pada tahun 2004 adalah 3 (baik).519 2.001 Tabel 6.413 Dari hasil pengukuran kinerja keseluruhan. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian pada Pabrik Gula Gending. adalah baik. Akan tetapi perusahaan harus selalu berusaha untuk mempertahankan. perspektif pelanggan.327 1. Pada tahun 2004 adalah 2 (cukup). Pengukuran kinerja berdasarkan 4 perspektif saling berkaitan antara masingmasing perspektif. nilainya tetap (stabil).213 0. Di sisi lain pada tahun 2004.496 0.000 Bobot 0. maka dapat diambil beberapa kesimpulan : Bahwa untuk kinerja pabrik secara keseluruhan. dan perspektif proses pertumbuhan dan pembelajaran.202 0. dan pada tahun 2005 nilainya stabil. dan 2005 juga sama yaitu 2 (cukup).282 Jumlah 0. Dan untuk masing-masing perspektif adalah sebagai berikut: Perspektif Finansial (Fin) dari tahun 2004 ke tahun 2005 mengalami peningkatan. Pengukuran Kinerja Keseluruhan Periode Tahun 2005 Perspektif Finansial Pelanggan Proses Bisnis Internal Proses Pembelajaran & Pertumbuhan Total Nilai 2. agar visi dan misi perusahaan dapat tercapai dimasa yang akan datang.243 0.496 0.754 0.001 (Cukup) dan meningkat pada tahun 2005 menjadi 2.425 0.800 Bobot 0.708 2.564 2. Untuk Perspektif Proses Bisnis Internal. Nilai Perspektif Finansial pada tahun 2004 adalah 2 (cukup).Perspektif Finansial Pelanggan Proses Bisnis Internal Proses Pembelajaran & Pertumbuhan Total Nilai 1.775 3. PG. Gending adalah baik. yaitu dengan kondisi baik.413 (Baik). dan pada tahun 2005 meningkat menjdi 3 (baik). Meskipun pada tahun 2004 ke tahun 2005 yang terjadi adalah penurunan nilai kinerja. perspektif proses bisnis internal.508 2.425 0. kinerja Pabrik Gula Gending pada tahun 2004 adalah 2.038 2. Gending Probolinggo.080 0. . berdasarkan criteria penilaian.151 0. Kinerja persusahaan dilihat dari tahun 2004 ke tahun 2005.327 2. namun secara keseluruhan belum mencukupi syarat perubahan skor.213 0. memperbaiki serta meningkatkan kinerja baik dari segi perspektif keuangan. Sedangkan untuk Perspektif Pelanggan. kinerja PG. sedang pada tahun 2005 juga sama yaitu 2 (cukup). Perspektif Proses Pembelajaran dan Pertumbuhan nilainya mencapai 2 (cukup). nilainya tetap (stabil).282 Jumlah 1. dengan kata lain kinerja perspektif finansial PTPN XI. yaitu 3 (baik).080 0.

ketrampilan.Kesimpulan tersebut diatas dapat disarankan agar kinerja PG. tanggung jawab. Mutu gula yang baik tidak terlepas dari bagaimana perusahaan dapat memaksimalkan effisiensi pabrik. kedisiplinan. meminimalkan kehilangan kadar gula dalam tebu dan diserta dengan sumber daya manusianya yang baik. sesuai dengan visi misi perusahaan untuk menghasilkan keuntungan perusahaan baik jangka pendek dan jangka panjang adalah dengan cara meningkatkan kepuasan pelanggan dengan memperhatikan faktor mutu dari gula yang dihasilkan. . dan bisa saling berkoordinasi dengan baik. antara pimpinan dan karyawan pelaksana. Gending dapat lebih baik. yaitu memiliki loyalitas. keahlian.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->