P. 1
Penguatan Ketahanan Energi Nasional Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Ketahanan Nasional Negara Indonesia

Penguatan Ketahanan Energi Nasional Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Ketahanan Nasional Negara Indonesia

|Views: 378|Likes:
Published by Yohanes Santosa

More info:

Published by: Yohanes Santosa on Oct 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2015

pdf

text

original

Judul : Penguatan Ketahanan Energi Nasional sebagai upaya untuk meningkatkan ketahanan nasional Negara Indonesia

Pembahasan Gambaran kondisi energi di Indonesia Merupakan tantangan tersendiri bagi negara-negara yang dianugerahi kekayaan sumber daya alam yang melimpah untuk mengelola dan mendapatkan keuntungan yang maksima dalam pemanfaatannya. Istilah yang sering muncul adalah istilah resources curse yaitu apakah sumber kekayaan alam (energi) ini menjadi berkah atau justru sebalik. Tidak terkecuali Indonesia yang terkenal dengan sebutan sebagai zamrud khatulistiwa. Kemerdekaan yang diraih pada tahun 1945 tidak serta merta memberikan kedaulatan atau self sufficiency dalam pengelolaan kekayaan alam ini. Pada kenyataannya, pola pengelolaan sumber daya alam justru memperlihatkan kecenderungan yang tidak berbeda jauh apabila dibandingkan dengan periode sebelum kemerdekaan yaitu penggunaan mekanisme konsesi dalam pengelolaan kekayaan alam (Asante, 1979). Ketidakmampuan secara tekhnologi sumber daya manusia serta kebutuhan financial negara yang mendesak selalu menjadi alasan dibalik penerapan mekanisme ini. Dalam mekanisme ini Transnational Corporation (TNC) menanamkan modal, tekhnologi dan bahkan manajemennya dalam bentuk Foreign Direct Investment (FDI). Secara konseptual, mekanisme ini memberikan ruang gerak yang luas bagi TNC untuk memegang penuh kepemilikan, control serta operasi perusahaannya tanpa campur tangan pemerintah. Superioritas dalam tekhnologi dan manajemen memungkinkan TNC untuk membatasi peran pemerintah dalam hal ini. Selain itu dengan semakin tingginya kompetisi diantara negara-negara penghasil sumber daya energy ini untuk melakukan eksplorasi akan semakin membawa angin bagi TNC untuk memilah daerah operasinya. Hal ini cukup logis mengingat kebutuhan akan sumber daya yang tidak terbarukan ini pada satu sisi terus mengalami peningkatan sejalan dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi dunia. Pada sisi yang lain, sumber daya ala mini justru dimiliki oleh negara- Negara yang tergolong masih berkembang yang membutuhkan capital untuk meningkatkan pembangunan di negaranya. Kompetisi ini telah membawa negara produsen sumber daya alam

ini untuk berlomba-lomba memberikan insentif dan proteksi tariff kepada TNC yang ingin menanamkan investasinya

Pemerintah Indonesia berusaha untuk mendapatkan hak sepenuhnya akan sumber daya alam ini. Pemisahan manajemen antara pengelolaan sumber daya minyak, gas dan mineral serta nasionalisasi pada masa Sukarno yang kemudian disederhanakan menjadi satu perusahaan negara oleh Suharto untuk selanjutnya diambil alih sepenuhnya oleh pemerintah setelah reformasi merupakan beberapa catatan sejarah pengelolaan sumber daya alam Indonesia. Akan tetapi usaha ini seakan tidak memberikan hasil. Kelangkaan bahan bakar minyak dan ketidakmampuan dalam mengontrol arga energy merupakan beberapa contoh kecilnya peran pemerintah ::a1am industry energy ini. Pertanyaan yang kemudian timbul adalah _agaimana sebenarnya otoritas pemerintah dalam menentukan posisi tawarnya terhadap TNC akan pengelolaan sumber daya energi ini. Secara umum, untuk negara berkembang, posisi tawar negara terhadap kekuasaan NC akan berkutat pada permasalahan pajak, peraturan ekspor dan impor, K.ontrol terhadap nilai tukar mata uang, manajemen structure serta hak dan kewajiban negara dan TNC itu sendiri Dari tahun ke tahun , kerawanan energy di Negara ini semakin jelas terlihat. Dalam harian Kompas, Rabu, 25 Mei 2011, dikatakan bahwa ketahanan energi Indonesia memasuki titik rawan karena kegagalan pemerintah dalam menerapkan kedaulatan atas sumber daya minyak dan gas bumi serta pertambangan. Pengelolaan sumber daya strategis yang meliputi minyak, gas, sumber daya mineral dan batubara diperlakukan sebagai komoditas dengan nilai manfaat minimal bagi kesejahteraan rakyat. Konsekuensi dari perubahan ini adalah semakin terbukanya pintu eksploitasi bagi perusahaan tambang asing, khususnya pasca pemberlakuan otonomi daerah yang semakin membuka peluang asing untuk menguasai langsung sumber daya batubara dan mineral. Tercatat bahwa 8000 izin kuasa pertambangan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah.

Hal ini diperkuat dengan dengan laporan dari British Petroleum Statistical Review, Indonesia yang hanya memiliki cadangan batubara sebesar 4,3 miliar ton atau 0,5 persen dari total cadangan batubara dunia menjadi pemasok utama batubara China yang memiliki cadangan batubara sebesar 114,5 miliar ton atau 13,9 persen dari total cadangan batubara dunia. Saat ini, Indonesia telah mengekspor 240 juta ton dari rata-rata produksi 340 juta ton per tahun. Di sektor

migas, penguasaan cadangan migas juga masih didominasi oleh perusahaan asing. Dari total 225 blok yang dikelola kontraktor kontrak kerjasama non-Pertamina, 120 blok dioperasikan perusahaan asing, 28 blok yang dioperasikan perusahaan nasional, dan 77 blok sisanya dioperasikan oleh perusahaan gabungan asing dan lokal.[3]Kalau hal ini terus berlanjut sampai 20 tahun kemudian, dapat diperkirakan Indonesia akan menjadi negara importir minyak dan batubara
Pentingnya ketahanan energi dalam menjaga stabilitas Negara

Pengertian ketahanan energi secara umum adalah suatu kondisi di mana kebutuhan masyarakat luas akan energi dapat dipenuhi secara berkelanjutan berdasarkan prinsip-prinsip ketersediaan (availability), keterjangkauan (accessibility), dan akseptabilitas (mutu dan harga). Untuk itu upaya menciptakan energy security membutuhkan dukungan dan keterjaminan terhadap akses ataupun sumber-sumber energi serta proses konversi dan distribusi energi yang dibutuhkan untuk menjamin terciptanya energy security dalam rangka kelangsungan hidup negara dalam jangka pendek maupun panjang.[3] Seorang pakar energi terkemuka dunia, Daniel Yergin, mendefinisikan ketahanan energi berdasarkan kepentingan dua jenis negara, yaitu eksportir dan importir. Bagi Negara eksportir, ketahanan energi berarti bagaimana mengamankan permintaan akan produk energi yang mereka miliki untuk menjamin pemasukan finansial yang diperlukan untuk keberlangsungan negara mereka. Contoh negara eksportir adalah Arab Saudi selaku negara pengekspor minyak bumi terbesar di dunia. Sementara itu, Yergin membagi negara-negara importir menjadi negara maju dan berkembang. Bagi negara-negara importir maju, seperti Amerika Serikat, Uni Eropa dan Jepang, upaya menjamin ketahanan energi diakukan melalui diversifikasi energi serta perdagangan dan investasi di kawasan penghasil energi dunia seperti Timur Tengah dan Afrika Utara. Bagi negara-negara importir berkembang, seperti Indonesia, ketahanan energi dijaga dengan cara mencari solusi yang tepat dalam menyikapi perubahan energi yang akan berdampak pada perekonomian mereka. Negara-negara berkembang sangat berkepentingan dengan gejolak harga energi global karena isu ini sangat mempengaruhi kondisi sosial dan domestik mereka. Sistem Ketahanan Energi sangat penting bagi sebuah negara seperti Indonesia. Selain sebagai kemampuan merespon dinamika perubahan energi global (eksternal) juga sebagai kemandirian untuk menjamin ketersediaan energi (internal). Sistem Ketahanan Energi mengacu

pada Kebijakan Pengembangan Energi sesuai Undang-Undang Energi Nomor 30 Tahun 2007, energi memiliki peran bagi peningkatan Kegiatan Ekonomi dan Ketahanan Nasional. Sampai tahun 2000, Indonesia merupakan produsen minyak terbesar di ASEAN. Namun seiring berjalannya waktu, terjadi penurunan produksi di Indonesia dari hari ke hari. Puncak produksi ASEAN yang dicapai pada tahun 2000 kini mulai menurun. Pada tahun 2008, produksi kawasan ini mencapai 2,6 juta barel per hari. Namun sampai tahun 2030 produksi negara-negara ASEAN diperkirakan akan terus melemah sampai hamper separuhnya, atau menjadi sekitar 1,4 juta barel per hari. Sampai saat ini, produksi minyak Indonesia belum menunjukkan kenaikan. Dengan upaya keras, produksi hanya dapat distabilkan pada tingkat 950 ribu barel per hari. Menurut kajian Indonesia Energy Outlook 2008, produksi nasional menurun dengan laju 4,4% per tahun. Kalau skenario itu benar-benar terjadi, maka produksi minyak nasional pada tahun 2030 hanya akan tinggal sekitar 354 ribu barel per hari, sebuah jumlah yang sangat minim tatkala kebutuhan minyak semakin membengkak. Dengan pertumbuhan ekonomi yang terus menerus bertumbuh, Indonesia membutuhkan energi dalam jumlah yang besar untuk memenuhi kinerja perekonomiannya dewasa ini. Kebutuhan total energi Indonesia sebagian besar berasal dari minyak bumi atau bahan bakar minyak (sebesar 54,04%) dan gas alam (sebesar 21,94%). Patut dicatat bahwa Indonesia saat ini masih melakukan impor Crude Oil sebesar 400.000 barel/hari dan juga impor BBM rata-rata sekitar 400.000 barel/hari, dengan jumlah mayoritas impor dari Timur Tengah. Cadangan minyak dan gas dunia terpusat hanya di segelintir negara. Saat ini kurang lebih seperempat dari keseluruhan pemakaian minyak di Indonesia berasal hanya dari negara-negara Timur Tengah. Di samping itu, harga minyak di Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Dengan adanya kebutuhan semakin besar atas kedua sumber energi yang ada, lonjakan kenaikan harga di masa yang akan datang nampaknya tidak akan dapat dihindari. bahwa stok BBM Indonesia yang ratarata hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri selama 20 hari saja rawan ketahanan energi. Angka tersebut jauh di bawah stok minyak Singapura yang mencapai 120 hari dan Jepang 107 hari. Padahal kita tahu kedua negara maju itu tidak memiliki deposit minyak bumi. Rendahnya stok BBM ini jika tidak diantisipasi dan dicarikan solusinya dapat menimbulkan pelemahan ketahanan energi dan ketahanan nasional.

Kondisi diatas tentunya mampu menimbulkan kekhawatiran jangka panjang karena masih tinggginya tingkat ketergantungan pada pihak lain. Pelemahan-pelemahan ini dapat saja terjadi secara lebih luas lagi jika kecurangana-kecurangan yang terjadi dalaam manajemen energy nasional masih sangat lemah. Pelemahan ketahanan energi biasanya muncul karena berbagai bentuk ancaman seperti ancaman non fisik dan fisik. 1. Ancaman non-fisik seperti harga minyak mentah yang berfluktuatif diluar perkiraan, pemborosan atau inefisensi energi (BBM), management BBM yang kacau (mismanagement) dan perdagangan gelap (black market) BBM. Karena posisi kita sebagai net importer maka kita tidak dapat lagi ikut menentukan harga minyak sehingga negara kita dapat menjadi korban fluktuatifnya harga minyak. Managemen BBM yang buruk termasuk distribusinya berpotensi memicu tumbuhnya perdangan gelap, penimbunan dan sebagainya yang mengganggu ketahanan energi. Untuk Indonesia produk pertamax dari Pertamina akan bersaing ketat dengan pertamax yang dikelola oleh SPBU-SPBU asing, kecurangan-kecurangan di SPBU seperti pemilik kendaran pribadi menyuap petugas SPBU untuk bisa memperoleh premium, menjamurnya black market atau pedagang-pedagang premium eceran di jalanan yang mengakibatkan pemilik kendaraan pribadi membeli premium di black market atau pedagang eceran.

2. Ancaman fisik seperti sabotase terhadap infra struktur BBM dan sumber-sumber energi lain non BBM, jumlah kendaraan bermotor (alat transportasi) yang meningkat tajam, tidak ditemukan lagi sumur-sumur minyak baru, jumlah kilang-kilang BBM yang semakin menua dan produksinya tidak mencukupi kebutuhan BBM yang terus meningkat, stok bahan BBM yang terbatas

Upaya penguatan ketahanan energi Nasional

Secara konseptual, Terdapat tiga pilar management energi secara nasional yaitu : (1). Intensifikasi,(2) Diversifikasi, dan (3) konservasi. Intensifikasi artinya negara melakukan ekploitasi sebesar-besarnya dari sumber energi yang dimiliki. minyak disedot sebanyakbanyaknya, batubara dikeruk sebanyak-banyaknya dan lainnya begitu juga. Langkah ini cenderung tak terkendali karena godaan keuntungan yang besar didepan mata, apalagi adanya permainan pejabat pemilik ijin dengan komisi dan pungli serta korupsi.seharusnya intensifikasi yang membabi buta bisa diredam dengan lebih mengedepankan diversifikasi sebagai upaya

menyeragamkan bauran pemakaian energi (energi mix). Namun selama ini, proses intensifiaksi cenderung keblablasan dan mempercepat proses pengurasan kekayaan alam di Indonesia, Selain itu, konvervasi juga cenderung dinomorduakan dibandingkan 2 proses diatas karena minimnya kesadaran terhadap kondisi lingkungan. Hal ini dapat dibuttikan pada berbagai kasus keracunan, serta berbagai bentuk damapk negative yang diteriama oleh masyarakat dan lingkungan sekitar akbibat proses penambangan yang mengabaikan aspek normatif Untuk menjaga ketersediaan energy dalam jangka panjang, diperlukan peran berbagai pihak. Keamanan energi global sangat ditentukan oleh peran dan fungsi tiga utama, yaitu negara (state), pasar (market), dan masyarakat (society). kelembagaan formal. negara melalui lembaga eksekutif berperan dalam mengatur sektor energi secara nasional, seperti Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Indonesia. Sehubungan dengan isu perubahan iklim global, Menteri ESDM menyampaikan konsep mengenai konsumsi energi, ·Kebijakan akan energi nasional, langkah-langkah untuk mengurangi emisi gas rumah di Indonesia, dan kerjasama lndonesia-lnggris dalam pengurangan emisi 2. Di tingkat nasional, Pemerintah Indonesia mengembangkan program-program antara lain biofuel dan CNG untuk menggantikan bahan bakar minyak. Di sektor transportasi, penggunaan lampu hemat energi, konversi minyak tanah menjadi gas elpiji untuk rumah tangga, serta mengembangkan Desa Mandiri Energi dengan 'memanfaatkan tenaga angin, matahari, mikrohidro dan sebagainya. Selanjutnya, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen pada 2020.

Indonesia sebagai negara berkembang yang terus melakukan industrialisasi embutuhkan energi sebagai kebutuhan pokok. Ketimpangan energi yang terjadi dengan besamya ketergantungan pada energi fosil, terutama minyak bumi, menyebabkan Indonesia berada pada posisi rawan. Keguncangan :ersebut tidak saja melonjakan anggaran belanja negara, namun juga menekan • 1ngkat kehidupan masyarakat di berbagai lapisan ekonomi. Kondisi ini -nenjadikan energi sebagai faktor penting bagi stabilitas nasional. .Arah pengembangan kebijakan energi nasional masih menempatkan energi fosil sebagai sumber utama emasok energi nasional.

Minyak bumi, gas alam, dan batubara masih menempati posisi sumber utama pasokan energi dalam proyeksi Blueprint PEN. Proyeksi 2025 sebagai business as usual dibandingkan dengan

skenario optimalisasi mendorong penggunaan gas bumi sebagai sumber energi utama. Sektor energi terbarukan didorong hingga ke tingkat kisaran 4% dari total bauran energi.

Daftar Pustaka
Syarifuddin, Fery. Oil Dependency and Energy Policy in Indonesia, Working Paper WP/10/2006, Bank Indonesia, 2006

E, Ronald.2011Peran Diplomasi Indonesia untuk Ketahanan Energi Nasional. Diakses melalui www.ronal.wordpress.com tanggal 11 April 2012 Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, Kebijakan Energi Nasional 2003-2020, Jakarta 2004 Anonim.2011.Implikasi Globalisasi Pasar Finansial Terhadap Ketahanan Indonesia.Diakses melalui www.mediaessay.com pada tangga 12 April 2012 Energi

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->