P. 1
Seminar 07

Seminar 07

|Views: 93|Likes:
Published by Kartini Idris

More info:

Published by: Kartini Idris on Oct 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/10/2013

pdf

text

original

PERBANDINGAN HASIL PERHITUNGAN FLOOD DESIGN

DI DAERAH ALIRAN SUNGAI LANDAK DENGAN
METODE HIDROGRAF SATUAN SINTETIK
SNYDER, NAKAYASU dan GAMA I
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2008
Usulan Skripsi

DI Seminarkan Jum’at, Tanggal 15 Agustus 2008
Oleh :

IGNASIUS WIDY ARIANTO
NIM. D11104048
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Permasalahan
1.2.1 Pemilihan Masalah
1.2.2 Identifikasi Masalah
Banjir merupakan genangan air yang terjadi pada permukaan tanah ataupun permukaan air seperti sungai
sampai melebihi batas tinggi tertentu yang mengakibatkan kerugian. Banjir saat ini menjadi suatu masalah
yang sangat diperhatikan, karena dampak yang ditimbulkannya tidak hanya dari segi materi tetapi juga korban
jiwa yang mungkin terjadi. Hal ini karena banjir yang terjadi dari tahun ke tahun semakin besar, dan proses
terjadinya banjir sangat berpengaruh terhadap keadaan alam dan kegiatan manusia. Akumulasi dari akibat
pengaruh kondisi alam yang berubah seperti hutan yang gundul dan kegiatan manusia yang ikut berperan
dalam perusakan alam yang berakibat terjadinya pemanasan global, yang mempengaruhi besarnya
banjir yang terjadi di seluruh dunia. Sehingga perlu adanya usaha untuk mencegah atau mengurangi dampak
yang terjadi akibat dari banjir.
Skripsi ini berisikan kajian mengenai debit banjir di DPS Landak untuk memberikan informasi guna
mengendalikan banjir di wilayah tersebut, sehingga mampu mengurangi dan mencegah dampak yang
ditimbulkan akibat dari banjir. Serta untuk keperluan pengolahan dan pengembangan sumberdaya air di
Kalimantan Barat.
Masalah yang diteliti untuk skripsi ini adalah mengenai penerapan metode perhitungan debit banjir rencana
(flood design) baik dengan metode HSS Snyder, HSS Nakayasu dan HSS Gama I, yang kemudian akan di-
bandingkan dengan data debit terukur untuk menentukan metode mana yang sesuai untuk sungai Kalimantan
Barat.
Oleh karena di DAS Ngabang dan DAS Serimbu merupakan salah satu daerah rawan banjir di Kalimantan
Barat, maka perlu diketahui debit banjir yang terjadi pada daerah tersebut.
1.2.4 Pembatasan Masalah
1.3 Tujuan
1.4 Manfaat
1.2.3 Rumusan Masalah
Dari uraian masalah diatas, dapat merumuskan masalah penulisan ini sebagai berikut :
1.Bagaimana hasil perhitungan debit puncak banjir dengan menggunakan data curah hujan untuk
metode Hidrograf Satuan Sintetis Snyder, Nakayasu dan Gama I.
2.Bagaimana hasil perhitungan debit puncak banjir dengan menggunakan data debit terukur.
Agar penulisan ini dapat lebih terarah, maka perlu adanya pembatasan masalah, adapun pembatasan
masalahnya adalah sebagai berikut :
DPS yang ditinjau adalah DPS Ngabang (SC-06) dan DPS Serimbu (PTK -07).
Perhitungan yang dilakukan adalah untuk mendapatkan perbandingan perbandingan Flood Design.
Data yang digunakan yaitu data debit dan Curah Hujan Ngabang (SC-06) dari tahun 1982-2007, dan
DPS Serimbu (PTK-07) tahun 1983-2007.
Metode yang digunakan yaitu; metode Hidrograf Satuan Sintetik Snyder, Nakayasu dan HSS Gama I.
Dan perkiranan banjir rencana dengan meodel satistik menggunakan data debit terukur dari stasiun
pencatat debit.
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menerapkan metode HSS Snyder, HSS Nakayasu dan HSS Gama I
dalam memperkirakan debit banjir (flood design) pada kawasan rawan banjir di Kalimantan Barat, khusus-
nya di daerah aliran sungai Landak
Manfaat dari hasil perhitungan debit banjir adalah sangat banyak di bidang sumber daya air terutama untuk
perancanaan bangunan air, serta untuk keperluan-keperluan lain terutama bagi perencana di bidang
hidrologi yaitu :
- Memperkirakan banjir perencanaan (design flood).
- Memperkirakan banjir jangka pendek yang didasarkan atas curah hujan tercatat (recorded rainfall).
BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI
2.1. Keadaaan Umum Daerah
2.2. Keadaan Jenis Tanah
2.3. Tata Guna Lahan, Pertanian, Perkebunan dan Pertenakan
Kabupaten Landak yang membawahi 10 kecamatan memiliki luas sebesar 9.909,10 km2 atau sekitar 6,75
persen dari luas wilayah Propinsi Kalimantan Barat dan merupakan Kabupaten dengan luas wilayah terkecil
setelah Kota Pontianak dan Kabupaten Pontianak.
Kota Ngabang merupakan ibukota Kabupaten Landak, propinsi Kalimantan Barat. Dengan batas Administrasi
sebagai berikut :
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bengkayang.


2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pontianak.

3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Pontianak .


4. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sanggau.

Adapun jenis tanah yang terdapat di kota Ngabang adalah Aluvial. Tanah jenis tersebut mempunyai ciri-ciri sebagai
beikut :
Jenis tanah ini terbentuk dari endapan bermacam-macam bahan yang terbawa oleh arus air pada waktu banjir
dimusim hujan, sehingga endapan yang sudah tua dan terdiferensiasi tidak termasuk tanah aluvial.
Oleh karena itu jenis tanah Aluvial terbentuk akibat banjir, maka sifat bahan-bahannya tergantung dari kekuatan
banjir, serta asal dan macam bahan yang diangkut, sehingga menampakan formologi yang berlain-lainan
karena bukan saja berasal dari bahan asalnya.
Ngabang merupakan ibukota Kabupaten Landak, secara umum jenis-jenis lahan di kabupaten Landak terbagi
dua jenis, yaitu tanah sawah dan tanah kering. Luas tanah sawah di kabupaten Landak akhir tahun 2006
meliputi 139.412 ha (14,07%) dan luas tanah kering seluas 843,953 ha (85,93%).
Luas tanah sawah kalau dirinci menurut jenisnya yaitu , tanah sawah pengairan teknis seluas 50 ha, setengah
teknis yaitu seluas 7,856 ha, pengairan sederhana 35,222 ha, pengairan tadah hujan 23,946 ha, sawah lainnya
2,632 ha dan lahan sementara tidak diusahakan 981 ha
2.4. Topografi, iklim dan Klimatologi
2.5. Kondisi Curah Hujan di Lokasi Studi
Untuk lahan kering meliputi perkarangan, tegal/kebun, ladang/huma, pengembalaan, hutan rakyat, hutan negara,
perkebunan, rawa-rawa, tambak, kolam dan lain-lain.
2.3. Tata Guna Lahan, Pertanian, Perkebunan dan Pertenakan
Secara topografi kota Ngabang berada pada ketinggian antara 14,6-51,7 m diatas permukaan laut dengan kemiring-
an laut dengan kemiringan bervariasi antara 0-25%.
Keadaan iklim dilokasi studi dapat dikatakan hampir tidak memiliki bulan kering dalam setahun. Kota ngabang
secara umum berilkim tropis dengan suhu di kota Ngabang umumnya berkisar 22,5oC-32,2oC dengan tingkat
kelembaban rata-rata 61-96%. Penyinaran matahari rata-rata 5 jam, penguapan rata-rata 4,4 mm/hari dan kecepat-
an anginnya adalah 1,5 km/jam.
Kabupaten Landak dapat dikatakan sebagai daerah hujan dengan intensitas tinggi. Secara umum curah hujan rata-
rata bulanan di tahun 2004 sebesar 247 mm, yang berarti tidak jauh berbeda dengan keadaan di tahun 2003 dan
2002 yaitu sebesar 311 mm dan 285 mm. Intensitas curah hujan yang cukup tinggi ini memungkinkan dipengaruhi
oleh daerahnya yang berhutan tropis.
Rata-rata curah hujan tertinggi terjadi pada bulan September yang mencapai 526 mm dengan jumlah hari hujan 14
hari. Dilihat dari hari hujan menurut kecamatan yang tertinggi selama setahun untuk tahun 2004, yaitu Kecamatan
Sengah Temila 105 hari diikuti Kecamatan Ngabang dan Menjalin 70.
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Umum
Menurut Sri Harto, 2000, hidrologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang kejadian, perputaran dan
penyebaran air baik di atmosfir, di permukaan bumi maupun di bawah permukaan bumi.
Pergerakan air di bumi, secara umum dapat dinyatakan sebagai suatu rangkaian kejadian yang biasa disebut siklus hidrologi
yang merupakan suatu sistem tertutup, dalam arti bahwa pergerakan air pada sistem tersebut selalu tetap berada pada
siklusnya.
Menurut Soewarno, 2000, siklus hodrologi adalah suatu siklus air yang terjadi akibat adanya pengaruh dari radiasi matahari
yang mengakibatkan sebagian volume air permukaan dan bawah permukaan menguap.
Siklus Hidrologi
3.2 Hidrograf Satuan
Hidrograf satuan menunjukan bagaimana hujan efektif yang jatuh merata di atas watershed ditransformasikan menjadi limpasan
langsung disertai anggapan berlakunya proses linear.
Prinsip-prinsip hidrograf satuan dapat diterapkan untuk :
- Memperkirakan banjir rencana
- Mengisi data banjir yang hilang
- Memperkirakan banjir jangka pendek yang didasarkan atas curah hujan yang tercatat (recorded rainfall).
3.3 Hidrograf Satuan Sintetik
Debit banjir rencana (Qn) adalah debit terbesar dari grafik (maksimum) hidrograf dari suatu aliran sungai. Hidrograf adalah
suatu grafik yang memperlihatkan hubungan antara debit dengan waktu Q F(t). Hasil dari penurunan hidrograf satuan
dinamakan hidrograf satuan sintetis (HSS). Ada tiga jenis hidrograf satuan sintetis , yaitu :
3.3 Hidrograf Satuan Sintetik
1. Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) yang mengaitkan karakteristik DAS ; (Snyder, 1938; Gray 1961), (Nakayasu)
dan (Gama I).
2. Hidrograf Satuan Sintetis berdasarkan hidrograf satuan tak berdimensi (SCS, 1972).
3. Hidrograf Satuan Sintetis berdasarkan tabel simpanan DAS (Clark, 1943).
Dalam skripsi ini, debit maksimum akibat curah hujan dianalisa dengan menggunakan metode hidrograf Satuan
Sintetis Snyder (1938), Nakayasu (1950) dan HSS Gama I.
3.3.1. Metode HSS Snyder
Snyder (1938) mengembangkan model dengan koefisien-koefisien empirik yang menghubungkan unsur hidrograf
satuan dengan karakteristik DAS.
Hidrograf satuan tersebut ditentukan dengan unsur yang antara lain adalah waktu puncak (Tp)(jam), debit
puncak (Qp)(m³/det), waktu kelambatan (tp)(jam), dan waktu rencana (tr)(jam).
Unsur-unsur hidrograf tersebut dihubungkan dengan:
A = luas DAS (km²)
L = panjang aliran sungai (km)
Lc = panjang sungai utama diukur dari tempat pengukuran (pelepasan) sampai titik di sungai utama yang ter-
dekat dengan titik berat DAS (km).
Dengan unsur-unsur tersebut diatas Snyder membuat model hidrograf satuan sintesis sebagai berikut:
( )
3 , 0
c t p
LxL C t =
p
p
p
t
C
q 75 , 2 =
Dimana :
t p = time lag/waktu kelambatan (jam), yaitu waktu antara titik berat hujan dan titik berat hidrograf.
L = panjang sungai (km).
Lc = panjang sungai dari cek point sampai titik di sungai yang terdekat dengan titik berat daerah
pengaliran (km).
qp = puncak unit hidrograf yang diakibatkan oleh hujan setinggi 1 inci dengan durasi tr dinyatakan
dalam (L/det).
Cp dan Ct = koefisien yang tergantung dari basic karakteristik.
3.3.2 Metode HSS Nakayasu
3.3.3 Metode HSS Gama I
Nakayasu (1950) telah menyelidiki hidrograf satuan di Jepang dan memberikan serangkaian persamaan untuk
membentuk suatu hidrograf satuan sebagai berikut (Van de Griend, 1979).
Waktu kelambatan (time lag) tg dihitung dengan persamaan :
tg = 0,4 + 0,058 L, untuk L < 15 km
tg = 0,21 L0,7, untuk L > 15 km
dimana :
tg = waktu kelambatan (jam)
L = panjang sungai utama (km)
Waktu puncak dan debit puncak hidrograf sintetis satuan adalah :
tp = tg + 0,8 tr
Qp =
) 3 , 0 (
1
. .
36
1
3 , 0
t tp
R A
o
+

dimana :
tp = waktu puncak
Qp = debit puncak (m3/det)
A = luas DPS (km2)
tr = satuan lama hujan, 0,5 tg – 1 tg
R0 = satuan kedalaman hujan (mm)
Hidrograf Satuan Sintetik Gama I (HSS Gama I) ini dikembangkan berdasar prilaku hidrologik 30 DAS di pulau
Jawa. Dengan tidak mengabaikan parameter-parameter DAS yang telah dikembangkan sebelumnya dan juga
sejumlah parameter seperti yang ditunjukan oleh Strahler(1964)
HSS Gama I terdiri dari empat variabel pokok, yaitu waktu-naik (time of rise,TR), debit puncak (QP), waktu-dasar
(TB) dan sisi-resesi yang ditentukan oleh nilai koefisien-tampung (storage coefficient,K), dalam kaitan pendekatan
ini HSS Gama I digambarkan sebagai berikut (Sri harto,2000) :
Untuk sisi resesi mengikuti persamaan eksponensial sebagai berikut :
Qt = QP.e-t/K
Dalam pengujian selanjutnya diperoleh persamaan-persamaan berikut :
2775 , 1 . 0665 , 1
100
. 43 , 0
3
+ + |
.
|

\
|
= SIM
SF
L
TR


2381 , 0 4008 , 0 5886 , 0
. . 1836 , 0 JN TR A QP
÷
=
2574 , 0 7344 , 0 0986 , 0 1457 , 0
. . . . 4132 , 27 RUA Sn S TR TB
÷
=
0452 , 0 0897 , 1 1446 , 0 1798 , 0
. . . . 5617 , 0 D SF S A K
÷ ÷
=
Keterangan :

TR = waktu naik, dalam jam
QP = debit-puncak, dalam m3/detik
TB = waktu-dasar, dalam jam
K = koefisien-tampung, dalam jam
t = waktu yang dihitung dari saaat debit puncak, dalam jam
BAB IV
METODOLOGI
4.1 Prosedur Penelitian
4.2 Persiapan Pendahuluan
Menurut Sugiyono, 2001, Metodologi adalah suatu cara yang tersususn secara terstruktur dan teratur dalam
melakukan penelitian terhadap suatu objek. Metodologi akan menuntun penulis tentang tahap-tahap atau
langkah-langkah dalam melakukan suatu penelitian sehingga penelitian tersebut akan memiliki suatu
keteraturan dan akan mudah di pahami bagi pihak lain selain penulis.
Yang dilakukan dalam persiapan pendahuluan adalah mengidentifikasikan masalah dan melakukan pemilihan
terhadap masalah. Hal ini dimaksudkan agar penelitian dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.Persiapan
pendahulaun yang dilakukan adalah sebagai berikut :
- Pemilihan Masalah
Pemilihan masalah merupakan langkah awal yang harus diperhatikan dalam menetapkan dasar penelitian,
karena masalah yang diambil harus mempunyai hubungan dengan persoalan yang diteliti. Penelitian ini
mengangkat tentang perbandingan hasil perhitungan akan debit banjir rencana dengan metode hidrograf
satuan sintetis Snyder, Nakayasu dan HSS Gama I, pada sub DPS Landak, antara lain DPS Ngabang dan
DPS Serimbu.
- Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah yang dilakukan disesuaikan dengan masalah yang telah dipilih. Identifikasi masalah
dalam skripsi ini adalah melakukan analisa debit banjir menggunakan metode unit hidrograf satuan sintetis
Snyder, Nakayasu dan Gama I.
Diagram Alir
4.3. Studi Pendahuluan dan Studi Pustaka
4.4. Analisa Data
4.5 Kesimpulan dan Saran
Dalam studi pendahuluan, sumber pengumpulan data dan informasi yang akan sangat membatu dalam proses penelitian ini,
tahapannya yaitu :
 Observasi Pendahuluan.
Observasi pendahuluan dilakukan untuk mementukan lokasi penelitian, ,elihat kondisi dan mencari informasi mengenai
lokasi penelitian. Hal ini dilakukan agar dalam penelitian tidak mengalami kesulitan dan kajian dapat berjalan sesuai yang
diharapkan.
 Inventarisasi Data Sekunder
Inventasisasi data sekunder dilakukan dengan cara mengumpulkan atau data-data masukan yang diperlukan untuk
mendukung penelitian yang dilakukan dari beberapa instasi. Data sekunder digunakan dalam penelitian ini di dapat dari
beberapa instansi pemerintah, yaitu data dari Sub Dinas Perairan Dinas Pekerjaan Umum Kalimantan Barat dan Instasi
Pemukiman dan Prasarana Wilayah kota Pontianak, berupa :
 data curah hujan dari stasiun pencatat curah hujan (ARR), yaitu stasiun SC-06 Nagabang dan Stasiun PTK-07 Serimbu.
 data debit terukur dari stasiun pencatat duga (AWLR), yaitu stasiun 3-441-04 Ngabang dan 3-44-1-02 Serimbu.
 peta wilayah yang berkaitan dengan masalah studi.
Setelah dilakukan pengumpulan data-data sekunder, selanjutnya dilakukan suatu analisa untuk mendapatkan nilai debit
maksimum terhadap data tersebut. Data-data yang digunakan dalam analisa ini adalah data curah hujan dan data debit
terukur dari beberapa stasiun pengukur. Dalam analisa debit tersebut akan digunakan metode :
 Perhitungan debit banjir rencana dengan metode hidrograf satuan sintetis Snyder, Nakayasu dan Gama I.
 Analisa data dengan perhitungan debit terukur.
Dari hasil analisa data dan pembahasan akan dibuat suatu kesimpulan atas hasil penelitian yang dilaksanakan dan diberikan
saran agar penelitian ini dapat lebih disempurnakan.
Dalam kesimpulan dan saran juga diberikan rangkuman terhadap hasil penelitian yang dilakukan, perbandingan hasil
perhitungan dengan metode hidrograf satuan sintetis Snyder, Nakayasu dan Gama I, dengan hasil analisa debit terukur.
BAB V
RENCANA SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Permasalahan
1.2.1. Pemilihan Masalah
1.2.2. Identifikasi Masalah
1.2.3. Rumusan Masalah
1.2.4. Pembatasan Masalah
1.3. Tujuan
1.4. Manfaat
BAB II. GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI
2.1. Keadaan Umum Daerah
2.2. Penduduk
2.2.1. Pertumbuhan Penduduk
2.2.2. Struktur Mata Pencaharian
2.2.3. Sarana dan Prasarana
2.3. Keadaan Jenis Tanah
2.4. Tata Guna Lahan, Pertanian, Perkebunan dan Perternakan
2.5. Topografi, Iklim dan Klimatologi
2.6. Kondisi Curah Hujan Di Lokasi Studi
BAB III. TINJAUAN PUSTAKA
3.1. Umum
3.2. Debit
3.2.1. Debit Maksimum
3.2.2. Debit Banjir Rancangan
3.3. Hidrograf Aliran
3.3.1. Hidrograf Satuan
3.3.2. Hidrograf Satuan Sintetik
3.3.2.1 Metode HSS Snyder
3.3.2.2 Metode HSS Nakayasu
3.3.2.3 Metode HSS Gama I
3.5. Analisa Frekwensi dan Analisa Probabilitas
3.5.1 Metode Normal
3.5.2 Metode Gumbell (Gumbell Tipe I)
3.5.3 Metode Log Pearson Tipe III
3.5.4 Metode Log Normal 2 Parameter

3.6.Intensitas Curah Hujan
3.6.1 Analisa Intensitas Curah Hujan
BAB IV. METODOLOGI
4.1. Prosedur Penelitian
4.2. Persiapan Pendahuluan
4.3. Persiapan Pendahuluan
4.4. Studi Pendahuluan dan Studi Pustaka
4.5. Analisa Data
4.6. Kesimpulan dan Saran
BAB V. ANALISA DATA dan PEMBAHASAN
Berisikan data hasil perhitungan dan pembahasan berdasarkan metode-metode yang digunakan yaitu
Hidrograf Satuan Sintetik Snyder, Nakayasu dan Gama I.
BAB VI. PENUTUP
Berisikan Kesimpulan dan Saran
MULAI
PERSIAPAN PENDAHULUAN
- Pemilihan Masalah
- Identifikasi Masalah
INVENTARISASI DATA
1 .Data curah Hujan Stasiun
Ngabang dan Serimbu.
2. Data Debit Terukur Stasiun
Ngabang dan Serimbu.
3. Data Karakteristik DAS : Luas
DAS, Panjang Sungai, Topografi.

ANALISA HIDROGRAF
SATUAN SINTETIS :
a.HSS Snyder
b.HSS Nakayasu
c.HSS Gama I
ANALISA DEBIT TERUKUR
1Debit Maksimum HSS Snyder
2Debit Maksimum HSS Nakayasu.
3Debit Maksimum HSS Gama I.
4Hidrograf Debit Maksimum
Berdasarkan Data Debit.
PENUTUP
- Kesimpulan
- Saran
SELESAI

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->