P. 1
Kelas Kata

Kelas Kata

|Views: 31|Likes:
Published by Bunda Seni Asiati

More info:

Published by: Bunda Seni Asiati on Oct 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/23/2013

pdf

text

original

Dra. Seni Asiati Basin,M.

Pd

Kelas kata terdiri dari seperangkat kategori morfologis yang tersusun dalam kerangka sistem tertentu yang berbeda dan sistem kategori morfologis kelas kata lain.
Kategori morfologis adalah sederetan kata yang memiliki bentuk gramatikal dan makna gramatikal yang sama. Setiap kategori morfologis itu terbentuk oleh prosede morfologis tertentu. Prosede morfologis adalah pembentukan kata secara sinkronis. Prosede morfologis itu ada dua macam yaitu derivasi dan intleksi. Derivasi adalah prosede morfologis yang menghasilkan katakata yang makna leksikalnya berbeda dari kata pangkal pembentuknya. Infleksi menghasilkan kata-kata yang bentuk gramatikalnya berbeda-beda, tetapi leksemnya tetap seperti pada kata pangkalnya.

KATA BENDA/ NOMINA
Untuk menentukan suatu kata termasuk nomina, digunakan penanda valensi sintaktis karena perangkat kategori morfologis pembangun kerangka sistem morfologi nomina itu ditandai oleh valensi sintaktis yang sama, yaitu (1) mempunyai potensi berkombinasi dengan kata bukan, (2) mempunyai potensi didahului oleh kata di, ke, dari, pada. Kelas nomina yang ditemukan dan data terdiri dan: (1) nomina murni, yakni nomina yang tidak berasal dari kelas kata lain,

(2) nomina deverbal, yakni nomina yang terbentuk dari verba.
Dari segi sintaksisnya, nomina mempunyai ciri-ciri tertentu. a) Dalam kalimat yang predikatnya verba, nomina cenderung menduduki fungsi subyek, objek, atau pelengkap. b) Nomina tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak. Kata pengingkarnya ialah bukan. c) Nomina umumnya dapat diikuti oleh adjektiva, baik secara langsung maupun dengan diantarai oleh kata yang.

d) Mempunyai potensi untuk didahului oleh partikel dari.

NOMINA TURUNAN
Nomina dapat diturunkan melalui afiksasi, perulangan, atau pemajemukan. A. Afiksasi nomina adalah suatu proses pembentukan nomina dengan menambahkan afiks tertentu pada kata dasar. Ada tujuh macam afiksasi dalam penurunan nomina: 1) kecontoh: ketua, kehendak, kekasih dan kerangka. 2) pel-, per-, dan pecontoh: pelajar, pertapa, persegi, petani, perdagangan. 3) penga. orang atau hal yang melakukan perbuatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh: pembeli, pendobrag, pengawas, pemilih, pengirim, pengetes. b. orang yang pekerjaannya melakukan kegiatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh: penyanyi, pelaut, pemulung, pengemis, penyiar. c. orang yang memiliki sifat yang dinyatakan oleh adjektiva dasarnya. Contoh: pemarah, penakut, pelupa, pemalas, periang. d. alat untuk melakukan kegiatan yang dilakukan oleh verba. Contoh: penggali, penghapus, pembersih, pendorong, penopang. 4) –an a. hasil tindakan atau sesuatu yang dinyatakan oleh verba. Contoh: anjuran, kiriman, asinan, kiloan. b. Makna lokasi. Contoh: tepian, belokan, awalan, akhiran. c. Waktu yang berkala. Contoh: harian, mingguan, bulanan, tahunan. d. Buah-buahan. Contoh: durian, rambutan. e. Kumpulan dari nomina. Contoh: sayuran, lautan.

5) peng-an a. perbuatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh: pemberontakan, pendaftaran, pengunduran, penyajian, pelampiasan. b. hasil perbuatan; hal yang dinyatakan verba. Contoh: pengakuan, penghargaan, penyelesaian, pengumuman, pemberitaan. c. maknanya unik sehingga harus ditentukan sendiri-sendiri. Contoh: pendirian, pendapatan, pemandangan, pendengaran. 6) per-an a. diturunkan dari verba taktransitif dan berawalan ber-. Contoh: perjanjian, pergerakan, perjalanan, pertemuan, perpindahan. b. Berkaitan dengan verba meng- atau memper- yang berstatus transitif.

Contoh: perlawanan, permintaan, percobaan, pergelaran, perjuangan. c. Hal, keadaan, atau hasil yang dinyatakan oleh verba.
Contoh: pergerakan, perdagangan, pertanian, perjuangan. d. Perbuatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh: perkelahian, perzinaan, percakapan,ercobaan, perlawanan. e. Hal yang berkaitan dengan kata dasar. Contoh: perikanan, perkapalan, perbukuan, perburuhan, persuratkabaran. f. Tempat yang dirujuk oleh verba atau kata dasar. Contoh: perapian, perkotaan, perkampungan, perkemahan, perguruan.

7) Ke-an a. hal atau keadaan yang berhubungan dengan yang dinyatakan verba. Contoh: kepergian, kedatangan, kehadiran, keberangkatan, keputusan, ketetapan. b. Hal atau keadaan yang berhubungan dengan yang dinyatakan adjektiva. Contoh: kekosongan, keberanian, kebimbangan, kemalasan, kekecewaan. c. Keabstrakan. Contoh: kebangsaan, kemanusiaan, kerakyatan, kekeluargaan. d. Kantor atau wilayah kekuasaan. Contoh: kedutaan, kelurahan, kecamatan. e. Kumpulan dari kata dasar. Contoh: kepulauan. B. Perulangan atau reduplikasi adalah proses penurunan kata dengan perulangan, baik secara utuh maupun secara sebagian. a. Ketaktunggalan Makna Keanekaan. Contoh: bangun-bangunan, coret-coret, desas-desus, warna- warni, teka-teki. Makna Kekolektifan. Contoh: dedaunan, pepohonan, biji-bijian, daun-daunan, rumput- rumputan. b. Kemiripan Makna Kemiripan Rupa. Contoh: bapak-bapak, kakek-kakek, mata-mata, kudakuda, jarijari. Makna Kemiripan Cara. Contoh: kucing-kucingan, angina-anginan, kebelandabelandaan, kekanak-kanakan, kegila-gilaan.

KATA KERJA/ VERBA
 Segala macam kata yang dapat dilakukan oleh makhluk hidup.  Untuk menentukan suatu kata termasuk verba, digunakan valensi sintaktis karena perangkat kategoripembangun kerangka sisteni morfologi verba itu ditandai oleh valensi sintaktis yang sama, yaitu mempunya; potensi berkomhinasi dengan kata: tidak, sudah, sedang, akan, baru, telah, belum, mau, hendak, Kelas verba yang ditemukan pada data terdiri dari : (1) verba murni, yakni verba yang tidak berasal dari kelas kata lain, (2) verba denominal, yakni verba yang terbentuk dari nomina, (3) verba deadjektival, yakni verba yang terbentuk dan adjektiva, (4) verba denumeral, yakni verba yang terbentuk dari numeralia,

a. Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain. Contoh: 1. Pencuri itu lari. 2. Mereka sedang belajar di kamar. 3. Bom itu seharusnya tidak meledak. Bagian yang dicetak miring dalam kalimat di atas adalah predikat, yaitu bagian yang menjadi pengikat bagian lain dalam kalimat itu. b. Verba mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas.

c.

Verba, khususnya yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti ―paling‖. Verba seperti mati atau suka, misalnya, tidak dapat diubah menjadi termati atau tersuka.

d. Pada umumnya verba tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna kesangatan. Tidak ada bentuk seperti agak belajar, sangat pergi, dan bekerja sekali

VERBA TRANSITIF
Verba transitif yaitu verba yang memerlukan nomina sbagai objek dalam kalimat aktif, dan objek itu dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. Contoh: 1. a. Ibu sedang membersihkan kamar. b. Kamar itu sedang dibersihkan oleh ibu. 2. a. Rakyat pasti mencintai pemimpin yang jujur. b. Pemimpin yang jujur pasti dicintai oleh rakyat. 3. a. Polisi harus memperlancar arus lalu lintas. b. Arus lalu lintas harus diperlancar oleh polisi. 4. a. Pemerintah akan memberlakukan peraturan itu segera. b. Peraturan itu segera akan diberlakukan oleh pemerintah. 5. a. Sekarang orang sukar mencari pekerjaan. b. Sekarang pekerjaan sukar dicari orang.

VERBA TRANSITIF DAPAT DIBEDAKAN MENJADI.
1) Verba ekstransitif adalah verba transitif yang diikuti oleh satu objek. Contoh: saya sedang mencari pekerjaan. subyek obyek Objek dalam kalimat yang mengandung verba ekatransitif dapat diubah fungsinya sebagai subyek dalam kalimat pasif. 2) Verba dwitransitif adalah verba yang dalam kalimat aktif dapat diikuti oleh dua nomina, satu sebagai objek dan satunya lagi sebagai pelengkap. Contoh: saya sedang mencarikan adik saya pekerjaan, ibu akan membelikan kakak baju baru.

Sejumlah verba dwitransitif memiliki ciri semantis yang ―membedakan fungsi objek dari pelengkap yang berupa nama, julukan, gelar, atau kedudukan.
Contoh: mereka menamai bayi itu Sarah, masyarakat menuduh dia pencuri, dia memanggil saudaranya Alan. Bila kalimat ini dijadikan kalimat pasif, maka pelengkapnya bisa berada di belakang verba, di muka verba, kata tugas oleh umumnya tidak dipakai, kecuali bila ditempatkan di muka. Ada pula verba yang dapat bersifat dwitransitif dan ekatransitif . Contoh: mereka memanggil kamu si Botak dan mereka memanggil kamu. 3) Verba semi transitif ialah verba yang objeknya boleh ada dan boleh tidak. Contoh: ayah sedang membaca koran, ayah sedang membaca.

VERBA TAK TRANSITIF
Verba taktransitif adalah verba yang tidak memiliki nomina di belakangnya yang dapat berfungsi sebagai subyek dalam kalimat pasif. Contoh: 1. Maaf, Pak, Ayah sedang mandi. 2. Kami harus bekerja keras untuk membangun negara. 3. Petani di pegunungan bertanam jagung. Verba taktransitif dibagi menjadi 1) Verba berpelengkap. Jika pelengkap itu tidak hadir maka kalimat tidak sempurna dan tidak berterima. Contoh: Rumah orang kaya itu berjumlah lima puluh buah, yang dikemukakan adalah suatu dugaan, dia sudah mulai bekerja, nasi telah menjadi bubur,

2) Verba taktransitif berpelengkap manasuka. Pelengkap tidak selalu hadir. Di antara verba seperti itu ada yang diikuti oleh kata atau frasa tertentu yang kelihatannya seperti pelengkap, tetapi sebenarnya adalah keterangan. Contoh: makin tua makin menjadi, pikiran yang dikemukakannya bernilai, film itu berwarna, bibit kelapa itu tumbuh subur
3) Verba Berpreposisi Verba berpreposisi ialah verba taktransitif yang selalu diikuti oleh preposisi tertentu. Contoh: 1. Kami belum tahu akan/tentang hal itu. 2. Saya sering berbicara tentang hal ini. 3. Sofyan berminat pada musik. 4. Keberhasilan pembangunan banyak bergantung pada mentalitas para pelaksananya.. Di antara verba berpreposisi, ada yang sama artinya dengan verba ransitif. Contoh: berbicara tentang = membicarakan, cinta pada/akan = mencintai, suka akan = menyukai, tahu akan/tentang = mengetahui, bertemu dengan = menemui.

VERBA TRANSPOSISI
Verba Denominal Verba denominal yang ditemukan pada data meliputi enam kategori morfologis, yaitu. 1) Kategori meng-D Kategori ini diderivasikan dari nomina kategori D melalui derivasi zero sehingga terbentuk verba kategori D yang menyatakan makna ‗tindakan yang disengaja berfokus pelaku‘. Contoh: menutup, meningkat à verba I 2) Kategori meng-(D-i) Kategori ini berasal dari nomina kategon D kemudian dMenvasikan verba kategori D-i yang maknanya ‗lokatif. Contoh. menangani à verba 2 3) Kategori di-(D-i) Kategori ini berasal dari nomina kategori D kemudiun diderivasikan menjadi verba kategori D-i yang mempunyai makna ‗kausatif. Contoh: ditandatangani à verba 2 4) Kategori meng-(D-kan) Kategori ini berasal dari nomina kategori D kemudian diderivasikan menjadi verba kategori D-kan yang menyatakan makna ‗kausatif. Contoh: rnerupakan à verba 2 5). Kategori di-(D-kan) Kategori berasal dari nomina kategori D kemudian diderivasikan menjadi verba kategori D-kan yang menyatakan makna ‗kausatif. Contoh: disebutkan, dimanfaatkan, disimpulkan, dilaksanakan, dilakukan à verba 2 6) Kategori ber-D Kategori ini diderivasikan dari nomina kategori D dan menyatakan makna ‗tindakan berlangsung lama‘. Contoh: bertekad àverba 2

Ø Verba Deadjektival

Verba deadjektival yang ditemukan pada data, meliputi dim macam kategori morfologis, yaitu:
1) Kategori meng-(D-i) Kategori ini berasal dari adjektiva kategori D kemudian diderivasikan menjadi verba kategori D-i yang menyatakan makna ‗kausatif. Contoh: menjiwai, menghargai, menanggapi à verba 2 2) Kategori meng-(D-kan) Kategori ini berasal dari adjektiva kategori D kemuadian diderivasikan menjadi verba kategori Dkan, yang menyatakan makna ‗kausatif. Contoh: melaksanakan menyenangkan, melanjutkan à verba 2

Ø Verba Demimeral
Dari data hanya ditemukan salu kalegori morfologis verba denumeral, yaitu kategori meng-D, yang diderivasikan dari numeralia bentuk dasar yang menyatakan makna ‗proses/keadaan‘. Contoh: menyeluruh -» verba 2 Ø Verba Depronominal Dari data hanya ditemukan satu kategori morfologis verba depronominal, yaitu kategori meng(D-i), yang berasal dari pronomina bentuk dasar kemudian diderivasikan menjadi verba kategori D-i yang menyatakan makna ‗repetitif. Contoh: mengakui —>• verba 1

KATA SIFAT/ ADJEKTIVA
kata yang merupakan watak makhluk hidup, warna, keadaan alam Untuk menentukan suatu kata termasuk adjektiva, digunakan valensi sintaktis karena perangkat kategori morfologis pembangun kerangka sistem morfologi adjektiva itu ditandai oleh valensi sintaktis yang sama yaitu mempunyai potensi berkombinasi dengan kata: sangat, agak, paling, amat, sekali, Kelas adjektiva yang ditemukan pada data hanya satu kategori morfologis, yaitu berupa adjektiva bentuk dasar yang terdiri dari: Contoh: apes, aman, akrab, takut, basah, banyak, baik, bodoh, cukup, kerdil, salam, suka, sudah, tersinggung, berwibawa, terlalu, spona, serius, sering, cantik, tenang,

KATA BILANGAN/ NUMERALIA
Numeralia adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya ujud (orang, binatang, atau brang) dan konsep. Numeralia adalah kategori yang dapat

(1) mendampingi nomina dalam konstruksi sintaksis, (
2) mempunyai potensi untuk mendamping numeralia lain, dan (3) tidak dapat bergabung dengan tidak atau dengan sangat. Numeralia mewakili bilangan yang terdapat dalam alam diluar bahasa.

Untuk menentukan suatu kata lermasuk numeralia, digunakan valensi sintaktis karena perangkat kategori morfologis pembangun kerangka sistem morfologis numeralia itu ditandai oleh valensi: sintaktis yang sama yaitu dapat bergabung dengan nomina.
Kelas numeralia yang ditemukan pada data hanya ada satu macam yaitu numeralia murni. Adapun yang dimaksud numeralia murni adalah numeralia yang tidak berasal dari kelas kata lain. Numeralia murni ini terdiri dari numeralia dasar monomorfemis) dan numeralia tunman (polimortemis). Numeralia turunan yang terbentuk dari kata-kata numeralia disebut niimeralia denumeral.

NUMERALIA POKOK
1. Numeralia pokok tentu, mengacu pada bilangan pokok, yakni 0(nol), 1(satu), 2(dua), sampai 9(Sembilan).Ada pula numeralia yang merupakan gugus yaitu diantara sepuluh dan dua puluh dipakai gugus yang berkomponen belas. Bilangan di atas bilangan sembilan belas dinyatakan dengan menganggap seolah olah bilangan itu terdiri atas beberapa gugus dan bilangan. Contoh : 7.859 =Tujuh ribu delapan ratus lima puluh Sembilan. Dalam bahasa Indonesia baku, numeralia pokok ditempatkan di muka nomina dan dapat diselingi oleh kata penggolong seperti orang, ekor, dan buah. Contoh: majalah kami memerlukan tiga orang penyunting, pak hasan mempunyai dua ekor burung merak. Numeralia pokok kolektif, dibentuk dengan prefiks ke- yang ditempatkan dimuka nomina yang diperankan. Contoh: ketiga pemain, kedua gedung, kesepuluh anggota. Jika tidak diikuti oleh nomina, biasanya bentuk itu diulang dan dilengkapi dengan -nya. Contoh: kedua-duanya, ketiga-tiganya. Numeralia kolektif dibentuk dengan cara a. Penambahan prefiks ber- atau se- pada nomina tertentu setelah numeralia. Contoh: tiga bersaudara, empat beranak, tiga sekawan, tiga serangkai, dua sejoli. b. Penambahan prefiks ber- pada numeralia pokok dan hasilnya diletakkan sesudah pronominal persona. Contoh: (kamu) berlima, (kami) berenam. C. Pemakain numeralia yang berprefiks ber- dan yang diulang. Contoh: beribu- ribu, berjuta-juta. D. Pemakaian gugus numeralia yang bersufiks –an. Contoh: puluhan, ratusan.

2.

1. Numeralia pokok distributif, dapat dibentuk dengan cara mengulang kata bilangan. Artinya ialah ‗demi‘ dan ‗masing-masing‘. Contoh: satu-satu, dua-dua. 2. Numeralia pokok tak tentu, mengacu pada jumlah yang tidak pasti dan sebagian besar numeralia ini tidak dapat menjadi jawaban atas peranyaan yang memakai kata tanya berapa, ditempatkan di muka nomina yang diterangkannya. Contoh: banyak orang, berbagai masalah, pelbagai budaya, sedikit air, semua jawaban, seluruh rakyat, segala penjuru, segenap anggota. 3. Numeralia pokok klitika, yaitu numeralia lain yang dipungut dari bahasa Jawa Kuna, diletakkan di muka nomina yang bersangkutan. Contoh: triwulan, caturwulan, pancasila, saptamarga, dasalomba. 4. Numeralia ukuran. Contoh: lusin, kodi, meter, liter, atau gram.

NUMERALIA TINGKAT Numeralia pokok dapat diubah menjadi numeralia tingkat. Cara mengubahnya adalah dengan menambahkan ke- di muka bilangan yang bersangkutan. Contoh: kesatu atau pertama, kesepuluh, pemain ketiga, jawaban kedua itu, suara pertama. NUMERALIA PECAHAN Tiap bilangan pokok dapat dipecah menjadi bagian yang lebih kecil yang dinamakan numeralia pecahan. Cara membentuknya dengan memakai kata per- diantara bilangan pembagi dan penyebut. Bilangan pecahan dapat mengikuti bilangan pokok. Bilangan campuran dapat ditulis desimal. Contoh: 1/2 = seperdua, setengah, separuh; 1/10 = sepersepuluh; 3/5 = tiga perlima; 9,75 = sembilan tigaperempat atau sembilan koma tujuh lima. FRASA NUMERALIA Umumnya dibentuk dengan menambahkan kata penggolong. Contoh: dua ekor (kerbau), lima orang (penjahat), tiga buah (rumah).

KELAS ADVERBIA
Untuk menentukan suatu kata termasuk adverbia, digunakan valensi sintaktis karena perangkat kategori morfologis pembangun kerangka sistem morfologi adverbia itu ditandai oleh valensi sintaktis yang sama yaitu dapat bergabung dengan verba.

Kelas adverbia yang ditemukan pada data hanya ada satu kategori morfologis, yaitu berupa adverbia bentuk dasar yang terdiri dari:
Contoh: tak, telah, akan, baru, sudah, sedang, saja, juga, Dalam tataran frasa, Adverbia adalah kata yang menjelaskan verba, adjektiva, atau adverbia lain. Adverbia adalah kategori yang dapat mendampingi adjektiva, numeralia, atau proposisi dalam konstruksi sintaksis. Sekalipun banyak adverbial dapat mendampingi verba dalam konstruksi sintaksis, namun adanya verba itu bukan menjadi ciri adverbia. Adverbia tidak boleh dikacaukan dengan keterangan, karena adverbia merupakan konsep kategori; sedangkan keterangan merupakan konsep fungsi. Adverbia dapat ditemui dalam bentuk dasar dan bentuk turunan. Bentuk turunan itu terwujud melalui afiksasi, reduplikasi, gabungan proses, gabungan morfem. Dalam tataran klausa, adverbia mewatasi atau menjelaskan fungsi-fungsi sintaksis. Umumnya kata atau bagian kalimat yang dijelaskan adverbia itu berfungsi sebagai predikat. Contoh: ▪ ia sangat mencintai istrinya. ▪ Guru saja tidak dapat menjawab pertanyaan itu. ▪ Melihat penampilannya, ia pasti seorang guru. ▪ Hanya petani yang menanam jagung. ▪ Tampaknya dia tidak menyetujui usul itu.

KATA GANTI /KELAS PRONOMINA
Pronomina yang ditemukan pada data meliputi tiga macam, yaitu: a. Pronomina persona: Contoh aku, saya,, anda, mereka. b. Pronomina penunjuk: Contoh: itu, itu, disana , disini, adalah c. Pronomina penanya:

Contoh: bila, kapan, mengapa, siapa, berapa, apa

KELAS KATA ADVERBIA/ KATA KETERANGAN
Adverbia atau kata keterangan (Bahasa Latin: ad, "untuk" dan verbum, "kata") adalah kelas kata yang memberikan keterangan kepada kata lain, seperti verba (kata kerja) danadjektiva (kata sifat), yang bukan nomina (kata benda). Contoh adverbia misalnya sangat, amat, tidak.

Dari data yang ada ditemukan adverbia meliputi:
1. Preposisi: Contoh: pada, kepada, di, terhadap, olch karena. 2. Konjungsi: Contoh: lalu, serta, yang, bahkan, sebelum, kulau, karena, tetapi, muku, ketika. kemudian, scakan-akan.

Baca teks berikut! Sudah dua minggu dia terbaring sakit. Tidak satu orang pun yang mengetahui kalau ia terpapar HIV AIDS. Tingkah lakunya yang santun selama ini tidak mencerminkan kalau sebenarnya ia seorang yang sering berganti-ganti pasangan. Kini, ia tinggal menunggu panggilan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Klasifikasikan teks di atas berdasarkan kelas kata! Contoh :
No . 1 2. 3. ds t. Nomina Verba Adjektiva Numeralia adverbi Pronomina a sakit ................. .......... ................. ........ Dua ………… ………… ………… ……….. Dia yang .............. ........... .............. ...........

Orang ................. ........ ................. ........

terbaring ................. ......... ................. ........

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->