P. 1
Asuhan Keperawatan Dengan Anak Hiperbilirubin

Asuhan Keperawatan Dengan Anak Hiperbilirubin

|Views: 77|Likes:
Published by tiara_tri91

More info:

Published by: tiara_tri91 on Oct 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/22/2013

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN ANAK HIPERBILIRUBIN

1. Latar Belakang Meningkatnya kadar bilirubin dapat disebabkan produksi yang berlebihan. Sebagian besar bilirubin berasala dari destruksi eritrosit yang menua. Pada neonates 75%bilirubin berasal dari mekanisme ini. Satu gram hemoglobin dapat menghasilkan 35 mg bilirubin indirect ( free bilirubin) dan inilah yang dapat masuk kejaringan otak dan menyebabkan kernikterus. Sumber lain kemungkinan besar dari sum-sum tulang dan hepar, yang terdiri dari 2 komponen, yaitu komponen non-eritrosit dan komponen eritrosit yang terbentuk dari eritropoiesis yang tidak sempurna. Pembentukkan bilirubin diawali dengan proses oksidasi yang menghasilkan biliverdin . Setelah mengalami reduksi bilverdin menjadi bilirubin bebas, yaitu zat yang larut dalm lemak dan sulit larut dalam air.Bilirubin ini mempunyai sifat lipofilik yang sulit di ekskresi dan mudah melewati membrane biologic seperti plasenta dan sawar otak. Didalam plasma bilirubin bebas tersebut terikat/ bersenyawa dengan albumin dan kemudian dibawa kehepar. Dalam hepar terjadi mekanisme ambilan sehingga bilirubin terikat oleh reseptor membrane sel hepar dan masuk kedalam hepatosit. Didalam sel bilirubin akan terikat dan bersenyawa dengan ligandin( protein Y ), protein Z dan glutation S-transferase membawa bilirubin ke reticulum endoplasma hati. Di dalm sel hepar berkat adanya enzim glukorinil transferase, t erjadi proses konjugasi bilirubin yang menghasilkan bilirubin direk, yaitu bilirubin yang larut dalam air dan pada kadar tertentu dapat diekskresi melalui ginjal. Sebagian besar bilirubin yang terkonjugasi di ekskresi melalui duktus hepatikus kedalam saluran pencernaan. Selanjutnya menjadi urobilinogen dan keluar bersama feses sebagai sterkobilin. Didalam usus terjadi proses absorpsi enterohepatik , yaitu sebagian kecil bilirubin direk dihidrolisis menjadi bilirubin indirek dan direarbsorbsi kembali oleh mukosa usus. Peningkatan kadar bilirubin pada hari-hari pertama kehidupan dapat terjadi pada sebagian besar neonates. Hal ini disebabkan karena tingginya kadar eritrosit neonatus dan umur ertrosit yang lebih pendek 30-90 hari, dan fungsi hepar yang belum matang. Hal ini merupakan keadaan fisiologis. Pada liquor amnion yang normal dapat ditemukan bilitubin pada kehamilan 12 munggu, kemudian menghilang pada kehamilan 36-37 minggu. Pada inkompatibilitas darah Rh, kadar bilirubin amnion dapt dipakai untuk memperkirakan beratnya hemolisis. Peningkatan bilirubin amnion juga terdapat

kemungkinan besar melalui mukosa saluran nafas dan saluran cerna . Produksi bilirubin pada janin dan neonatus diduga sama besarnya. maka tugas ini langsung diambil alih oleh hati. maka terkadang memerlukan beberapa minggu untuk penyesuaian. Akan tetapi. misalnya pada inkompalibilitas yang terjadi bila terdapat ketidaksesuaian golongan darah dan anak pada penggolongan rhesus dan ABO. Pada sebagian neonatus. 3. hampir semua bilirubin pada janin dalam bentuk bilirubin indirek dan mudah melalui plasenta ke sirkulasi ibu dan dan diekskresi oleh heparnya ibu. tetapi kesanggupan hepar mengambil bilirubin dari sirkulasi sangat terbatas . Dengan demikian. Perdarahan tertutup misalnya pada trauma kelahiran Ikatan bilirubin dengan protein terganggu seperti gangguan metabolic yang terdapat pada bayi hipoksia atau asidosis Defisiensi G6PD (Glukosa 6 Phostat Dehidrogenase) . ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. Ketika bayi sudah lahir. Sebagaimana bilirubin sampai ke cairan amnion belum diketahui dengan jelas. Dikemukakan bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan pada 80% bayi kurang bulan. Definisi Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah melebihi batas atas nilai normal bilirubin serum yaitu ≥ 13 mg/dL2.pada obstruksi usus janin. Sewaktu bayi janin berada dalam rahim maka tugas membuang bilirubin dari darah janin dilakukan oleh plasenta. jumlah bilirubin yang tersisa akan terus menumpuk di tubuhnya. Karena hati bayi belum terbiasa melakukannya. Selama hati bayi bekerja keras untuk menghilangkan bilirubin dari darahnya. Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah. Etiologi Etiologi hiperbilirubin antara lain : a. Sehingga menimbulkan ikterus pada bayi. Demikian pula kesanggupan untuk mengonjugasi. Peningkatan produksi Hemolisis. 2. Hati/liver si janin tidak perlu membuang bilirubin.

terjadinya ikterus akibat pengendapan bilirubin indirect pada kulit yang cenderung tampak kuning terang atau orange. Gangguan konjugasi. Feses bewarna dempul e.reflek morro lemah atau tidak sama sekali d. Nafsu makan menurun. diol (steroid) - Kurangnya enzim glukoronil transferase. letargi. b. . Billirubin mulai meningkat secara normal setelah 24 jam. Billirubin pada neonatus meningkat akibat terjadinya pemecahan eritrosit. Gangguan neurologic. Patofisiologi Bertambahnya beban hepar mengakibatkan pengahancuran yang meningkat sehingga menimbulkan ketidakcocokan pada Rh dan golongan A.O. g. h. kadar bilirubin dalam plasma meningkat sehingga terjadi difusi pada jaringan dan terlihat kuning. warna urine gelap. Muntah nausea. opistotonus. infeksi hepar. 4. Perut membuncit b. Tampak ikterus : sclera. Badan terasa lemah.dan puncaknya pada hari ke 3-5.- Breast milk jaundice yang disebabkan oleh kekurangannya pregnan 3 (alfa). sehingga kadar bilirubin indirek meningkat misalnya pada BBLR - Kelainan congenitalGangguan fungsi hepar disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksin yang dapat langsung merusak sel hati dan sel darah merah. Dengan demikian mengakibatkan bilirubin tak terkonjugasi. ikterus pada type obstruksi 9 bilirubin direct) kulit tampak bewarna kuning kehijauan atau keruh f. kejang. 5.B. 20 (beta). kuku/ kulit dan membrane mukosa . Gangguan transportasi. Manifestasi Klinis a. Pembesaran hati c. tidak mau minum. akibat panurunan kapasitas pengangkutan misalnya hypoalbuminea pada bayi prematur atau karena pengaruh obat-obat tertentu. c. hepatitis neonatus dan obstruksi bilier. Gangguan ekskresi bilirubin/ obstruksi. Setelah itu perlahan-lahan akan turun mendekati nilai normal dalam beberapa minggu. misalnya immaturitas hepar pada bayi premature. juga akan menurunkan glucoronil trasaferasi.

Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang.Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Toksisitas terutama ditemukan pada bilirubin indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. asidosis. Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama b. atau pada bayi hipoksia. penghancuran eritrosit.5 mg % pada premature c. Ikterus menghilang pada hari ke 10 f. Timbul pada hari ke 2 dan ke 3 b. Ciri-ciri ikterus patologis a. Gangguan pemecahan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar bilirubin tubuh.5 mg % pada premature c. Tidak terbukti adanya hubungan dengan keadaan patologis. polisitemia. . Mudah tidaknya kadar bilirubin melewati sawar darah otak tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus. Kadar bilirubin lebih dari 10 mg % pada neonates aterm dan lebih dari 12. Hipoksia. Pada derajat tertentu bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan. Kadar bilirubin direk lebih dari 1 mg % f. Peningkatan kadar bilirubin lebih dari 5 mg % per hari d. Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban bilirubin pada sel hepar yang berlebihan. Ciri-ciri ikterus fisiologis a. Ikterus mempunyai hubungan dengan proses hemolitik dan proses patologi lainnya. Kadar bilirubin indirek kurang dari 10 mg % pada neonatus cukup bulan dan 12. Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama e. Kadar bilirubin direk kurang dari 1 mg % e. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Hipoglikemia. Bilirubin indirek akan mudah melewati sawar darah otak apabila bayi terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin kurang dari 5 mg % per hari d.

penurunan (kurang dari 45%) dengan hemolisis dan anemia berlebihan. Kadar indirek (tak terkonjugasi) tidak boleh melebihi peningkatan 5mg/dl dalam 24 jam. g. Tes bedke-kleihauer: evaluasi smear darah maternal terhadap eritrosit janin. Hasil positif dari tes coomb direk menandakan adanya sentisisasi (Rh-positif. anti-B) SDM dari neonates. k. 7.5mg/dl. Smear darah perifer: dapat menunjukan SDM abnormal atau imatur. Daya ikat karbon dioksida: penurunan kadar menunjukan hemolisis. eritroblastosis pada penyakit Rh.0g/dlmenandakan penurunan kapasitas ikatan. Hematokrit mungkin meningkat (lebih besar dari 65%) pada polisitemia. e. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada bayi dengan hiperbilirubin adalah sebagai berikut: a. Tes coomb pada tali pusat bayi baru lahir: hasil positif tes coomb indirek menandakan adanya antibody Rh-positif. anti-A. Golongan darah bayi dan ibu: mengidentifikasi inkompatibilitas ABO. h. c. i. Protein serum total: kadar kurang dari 3. Meter ikterik transkutan: mengidentifikasi bayi yang memerlukan penentuan bilirubin serum. Glukosa: kadar dextrostix mungkin kurang dari 45% glukosa darah lengkap kurang dari 30 mg/dl. Bilirubin total: kadar direk (terkonjugasi bermakna jika melebihi 1. Hitung darah lengkap: hemoglobin mungkin rendah (kurang dari 14g/dl) karena hemolisis. anti-A.6. d. atau tidak boleh lebih dari 20mg/dl pada bayi cukup bulan atau 15mg/dl pada bayi praterm (tergantung pada berat badan. Penatalaksanaan Berdasarkan pada penyebabnya maka manajemen bayi dengan hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah anemia dan membatasi efek dari hiperbilirubinemia. terutama pada bayi paterm. atau sferositis pada inkompabilitas ABO. j. Jumlah retikulosit: peningkatan retikulosit menandakan peningkatan produksi SDM dalam respons terhadap hemolisis yang berkenaan dengan penyakit RH. yang mungkin dihubungkan dengan sepsis. f.0-1. atau anti-B dalam darah ibu. atau tes glukosa serum kurang dari 40mg/dl bila bayi baru lahir hepoglikemi dan mulai menggunakan simpanan lemak dan melepaskan asam lemak. b. Pengobatan mempunyai tujuan : Menghilangkan anemia .

Di dalam darah fotobilirubin berikatan dengan albumin dan di kirim ke hati. infuse albumin dan therapi obat. Hasil fotodegradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine. Beberapa ilmuwan mengarahkan untuk memberikan fototerapi profilaksasi pada 24 jam pertama pada bayi resiko tinggi dan berat badan lahir rendah. Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorpsi jaringan merubah bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang disebut fotobilirubin. Fototerapi menurunkan kadar bilirubin dengan cara memfasilitasi ekskresi bilirubin tak terkonjugasi. Fototherapi Fototerapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan transfuse pengganti untuk menurunkan bilirubin. tetapi tidak dapat mengubah penyebab kekuningan dan hemolisis dapat menyebabkan anemia. transfuse pangganti. Fotobilirubin kemudian bergerak ke empedu dan di ekskresikan kedalam duodenum untuk di buang bersama feses tanpa proses konjugasi oleh hati. Secara umum fototerapi harus diberikan pada kadar bilirubin indirek 4-5 mg/dl. Fototerapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan kadar bilirubin. a.5 mg/dl di minggu pertama Serum bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl pada 48 jam pertama Hemoglobin kurang dari 12 gr/dl Bayi pada resiko terjadi kern Ikterus . b. Noenatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram harus difototerapi dengan konsentrasi bilirubin 5 mg/dl. Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darah melalui mekanisme difusi.- Menghilangkan antibody maternal dan eritrosit teresensitisasi Meningkatkan badan serum albumin Menurunkan serum bilirubin Metode terapi hiperbilirubinemia meliputi : fototerapi. Memaparkan neonatus pada cahaya dengan intensitas yang tinggi akan menurunkan bilirubin dalam kulit. Transfusi Pengganti Transfuse pengganti atau imediat didindikasikan adanya faktor-faktor : Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu Penyakit hemolisis berat pada bayi baru lahir Penyakit hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama Kadar bilirubin direk labih besar 3.

O). Coloistrin dapat mengurangi bilirubin dengan mengeluarkannya lewat urine sehingga menurunkan siklus enterohepatika.infeksi. setiap 4 -8 jam kadar bilirubin harus di cek. Therapi Obat Phenobarbital dapat menstimulus hati untuk menghasilkan enzim yang meningkatkan konjugasi bilirubin dan mengekskresikannya. b.B. Riwayat Persalinan Lahir prematur / kurang bulan. Pengkajian a. Riwayat Kehamilan Kurangnya antenatal care yang baik.gangguan metabolisme hepar obstruksi saluran pencernaan ibu menderita DM. Penggunaan Phenobarbital pada post natal masih menjadi pertentangan karena efek sampingnya (letargi).hematoma. Darah yang dipilih tidak mengandung antigen A dan antigen B. Riwayat Postnatal Adanya kelainan darah tapi kadar bilirubin meningkat. Obat ini efektif baik diberikan pada ibu hamil untuk beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum melahirkan. d.Transfusi pengganti digunakan untuk: a) Mengatasi anemia sel darah merah yang tidak susceptible (rentan) terhadap sel darah merah terhadap antibody maternal b) Menghilangkan sel darah merah untuk yang tersensitisasi (kepekaan) c) Menghilangkan serum bilirubin d) Meningkatkan albumin bebas bilirubin dan meningkatkan keterikatan dangan bilirubin Pada Rh Inkomptabilitas diperlukan transfuse darah golongan O segera (kurang dari 2 hari). Rh negative whole blood. riwayat trauma persalinan. sehingga kulit bayi tampak kuning. 8. Polisistemia. Contoh: salisilat sulkaturosic oxitosin yang dapat mempercepat proses kon jungasi sebelum ibu partus. Hemoglobin harus diperiksa setiap hari sampai stabil c. Riwayat Penyakit Terdapat riwayat gangguan hemolisis darah (ketidaksesuaian golongan Rh atau golongan darah A. Penggunaan obat – obat yang meningkatkan ikterus. c. .

Riwayat Pikososial Kurangnya kasih sayang karena perpisahan. perubahan peran orang tua g. dehidrasi k. Kerusakan intregitas kulit berhubungan dengan ikterus dan diare d. pemeriksaan tonus otot ( kejang /tremor ). Diare berhubungan dengan efek fototerapi e. i. Kulit tampak kuning dan mengelupas. Laboratorium Rh darah ibu dan janin berlainan. Hipertermi berhubungan dengan paparan lingkungan panas (efek fototerapi). Intervensi Dx 1: Resiko tinggi injury berhubungan dengan efek fototerapi Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien tidak mengalami komplikasi atau cedera karena fototerapi. Reflek hisap pada bayi menurun. keadaan umum lemah. TTV tidak stabil terutama suhu tubuh ( hipo / hipertemi ). tremor. j.prematur lebih dari 15 mg\dl. Diagnosa Keperawatan Adapun diagnosa yang dapat diangkat dari hiperbilirubin adalah: a.e. sclera mata kuning (kadang – kadang terjadi kerusakan pada retina) perubahan warna urine dan feses. kejang. Riwayat Kesehatan Keluarga Seperti ketidak cocokan darah ibu dan anak Polycythenia. refleks menghisap kurang. hipotonus. gangguan saluran cerna dan hati ( hepatitis ) f. Selain itu. Pengetahuan Keluarga Penyebab perawatan pengobatan dan pemahaman orang tua pada bayi yang ikterus h.5 mg\dl. Resiko tinggi injury berhubungan dengan efek fototerapi. Pemeriksaan Fisik Ikterus terlihat pada sklera selaput lendir. letargi. Potensial ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan tranfusi tukar c. Hidrasi bayi mengalami penurunan. b. peka rangsang. tangisan melengking. . Kadar bilirubin bayi aterm lebih dari 12.urin pekat seperti teh. BB turun.

Kolaborasikan pemberian cairan intravena 5. Pada waktu menutup mata bayi. pantau asupan. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat 2. Buka penutup mata waktu memberi makan bayi. suhu tubuh dalam batas normal Tidak ada tanda-tanda dehidrasi. Atur kemungkinan transfuse 6. HT normal Tekanan darah. membran mukosa lembab. turgor kulit. 5. Monitor vitall sign dan status hidrasi 3. nadi. pastikan bahwa penutup tidak menutupi hidung. BJ urine normal. . pantau haluaran dan turgor kulit. Matikan lampu dan buka penutup mata bayi setiap 8 jam. Tutup mata dengan kain yang dapat menyerap cahaya dan dapat memproteksi mata dari sumber cahaya. 6.KH : Tidak ada iritasi mata. Letakkan bayi dekat sumber cahaya. berikan minum dengan frekuensi sering. 4. 4. bila perlu tingkatkan 25% dari kebutuhan normal. tidak ada tasa haus yang berlebihan Intervensi 1. Tidak ada tanda – tanda dehidrasi. Suhu stabil Tidak terjadi kerusakan kulit Intervensi: 1. 2. Ajak bicara bayi selama perawatan. 3. lakukan inspeksi warna sklera. Dx2: Potensial ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan tranfusi tukar Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan keseimbangan cairan dan elektrolit bayi terpelihara dalam batas normal KH: Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB. Kolaborasi dengan Dokter jika tanda cairan berlebih muncul memburuk. Monitor status nutrisi dan dorong masukan oral. elastisitas.

catat warna kondisi kulit tiap 8 jam dan pada saat perawatan 3. Monitor kulit adanya kemerahan 4. Identifikasi faktor penyebab diare. Instruksikan pada keluarga agar pasien makan rendah serat. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering. Berikan minum dengan frekuensi sering 5. Observasi turgor kulit secara rutin 4. Evaluasi intake makanan yang masuk 3. Elastisitas dalam batas normal. Keutuhan kulit. Oleskan lotion atau minyak atau baby oil pada daerah yang tertekan 5. Pigmentasi dalam batas normal NIC : Pengawasan Kulit 1. ukur diare atau keluaran BAB 2.Dx 3: Kerusakan intregitas kulit berhubungan dengan ikterus dan diare Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan integritas kulit baik/utuh KH : Suhu dalam rentang yang diharapkan ( 36 – 37 C ) Hidrasi dalam batas normal. Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat 6.tinggi protein dan tinngi kalori jika memungkinkan . KH: Feses berbentuk BAB sehari sekali sampai tiga kali Menjaga daerah sekitar rectal dari iritasi Tidak mengalami diare Menjelaskan penyebab diare dan rasional tindakan Mempertahankan turgor kulit : Diarhea Management NIC 1. Pantau area bokong dan feses Dx 4: Diare berhubungan dengan efek fototerapi Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan diare berhenti atau sembuh. Anjurkan pasien untuk menggunkan pakaian yang longgar 2.

6. 7. Monitur suhu sesering mungkin minimal 2 jam sekali 2. Berikan antipiretik jika perlu. dan RR 4. . nadi. Fever treatment 1. Kompres pasien dengan air hangat pada daerah lipat paha. usahakan jangan terlalu tebal. dehidrasi Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatn selama proses keperawatan diharapkan suhu badan pasien turun(normal) KH: Suhu tubuh dalam rentang normal Tak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing Nadi dan RR dalam rentang normal NIC . 6. Monitor warna dan suhu kulit 3. Monitor persiapan makanan yang aman Dx 5: Hipertermi berhubungan dengan paparan lingkungan panas (efek fototerapi). dan aksila. Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh. Monitor TD. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi 5.

Bayi kecil masa kehamilan ( KMK ) : bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir kurang dari persentie ke-10 kurva pertumbuhan janin. DEFINISI Bayi berat lahir rendah ( BBLR ) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram ( berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir ). radiasi. Faktor Ibu: Umur ibu pada dibawah 20 tahun dan diatas 35 th Perdarahan antepartum Bahan teratogonik ( alcohol.ASUHAN KEPERAWATAN BAYI LAHIR RENDAH (BBLR) 1. hipertensi. paru. ETIOLOGI a. ginjal. Sedangkan Bayi dengan berat lahir kurang dari 1500 gram disebut bayi berat lahir sangat rendah ( BBLSR ). obat ) Penyakit kronis Keadaan penyebab Infusifiensi plasenta (penyakit jantung. b. Ada dua macam BBLR yaitu : a. dll) Malnutris Kelainan uterus Hidramnion Trauma Jarak kehamilan terlalu dekat Pekerjaan berat semasa hamil. Faktor Plasenta Penyakit Vaskuler Kehamilan ganda Malformasi . 2. Bayi yang kurang bulan ( KB / SMK ) : bayi yang dilahirkan dengan umur kurang dari 37 minggu. b. c.

d. . b. Panjang badan kurang dari 46 cm. TANDA – TANDA KLINIS Gambaran klinis BBLR secara umum adalah : a. c. k. e. l. d. sendi lutut / kaki fleksi-lurus Kepala tidak mampu tegak Pernapasan 40 – 50 kali / menit Nadi 100 – 140 kali / menit Bayi Prematur Tanda-tanda Bayi Prematur: a. f. Rambut belum panjang dan luas. Faktor Janin Kelainan kromosom Malformasi Infeksi congenital ( missal : rubella ) Kehamilan ganda Ketuban pecah dini 3. g. Kulit kemerah-merahan tipis mengkilap. g. h. Berat kurang dari 2500 gram Panjang kurang dari 45 cm Lingkar dada kurang dari 30 cm Lingkar kepala kurang dari 33 cm Umur kehamilan kurang dari 37 minggu Kepala lebih besar Kulit tipis. lemak kurang Otot hipotonik lemah Pernapasan tak teratur dapat terjadi apnea Eksremitas : paha abduksi.- Tumor Plasenta privea c. j. Kepala relatif lebih besar jika dibanding badannya. b. Berat badan kurang dan 2500 gram c. Kuku belum sampai keujung jari. Rambut lanugo rnasih banyak terutama di daerah kuduk dan kuping f. transparan. i. e. m. rambut lanugo banyak.

Kelainan uterus kongenital. Pada bayi wanita labia mayora belum menutupi labia minor. Hidramnion c. . Tindakan operatif f. d. Kelainan kongenital. Pemberian minum/nutrisi yang cukup. Tindakan Keperawatan Bayi Prematur (BBLR). e. Mencegah kedinginan. Infeksi akut c. A P B (Ante Partum Blooding). j. Tangis sangat lemah daya hisap sangat kuat.h. e. pada bayi laki-laki testis belum turun. Kulit ditutupi verniks kaseosa. Status perkawinan Sebab dari janin a. c. Kelainan servik. Prinsip perawatan bayi prematur (BBLR): b. Sosial ekonomi rendah. Trauma fisik e. Toksemia gravidarum d. Kulit di telapak tangan dan kaki tampak licin dan belum terlihat garis-garis tranversal. b. k. i. Diabetes mellitus. c. b. Keadaan ibu pada waktu hamil a. Ibu muda kurang dan 16 tahun atau ibu berumur atau lebih dari 35 tahun. Istirahat cukup. d. Penyakit jantung. Penyebab Kelahiran Prematur: Keadaan ibu sebelum hamil a. b. Kehamilan ganda. a. Mencegah Infeksi. f.

Hipertensi Kelainan pembuluh darah ibu. Penanganan bayi Semakin kecil bayi dan semakin premature bayi. Kelainan ganda. Faktor ibu Preeklampsia.Bayi Dismatur Tanda-tanda bayi dismatur: Panjang badan lebih dan 45 cm. Ibu perokok b. maka semakin besar perawatan yang diperlukan. karena kemungkinan terjadi serangan sianosis lebih besar. Kuku sudah melewati ujung jari. Pemeriksaan sinar X sesuai kebutuhan ( missal : foto thorax ) 5. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK a. PENATALAKSANAAN a. Rambut panjang dan banyak. Kulit kering dan keriput. Faktor plasenta (kelainan plasenta) 4. Pemeriksaan kromosom sesuai indikasi e. Pemantauan elektrolit f. Tangis dan daya hisap lebih kuat Penyebab Kelahiran Bayi Dismatur a. Faktor bayi Infeksi kronis Kelainan kongenital. c. bat badan lebih dan 2500 gr. Pemeriksaan glucose darah terhadap hipoglikemia b. Titer Torch sesuai indikasi d. Pemantauan gas darah sesuai kebutuhan c. Semua perawatan bayi harus dilakukan didalam incubator .

Untuk mencegah infeksi.20C untuk bayi yang lebih kecil. lepaskan semua asessoris dan tidak boleh masuk kekamar bayi dalam keadaan infeksi dan sakit kulit. konsentrasi o2 yang tinggi dalam masa yang panjang akan menyebabkan kerusakan pada jaringan retina bayi yang dapat menimbulkan kebutaan e. memakai masker. cuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi.50 C s/d 370 C. Sebelum memasukkan bayi kedalam incubator. Bayi berat rendah harus diasuh dalam suatu suhu lingkungan dimana suhu normal tubuhnya dipertahankan dengan usaha metabolic yang minimal. Pemberian oksigen Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi preterm BBLR. Pencegahan infeksi Bayi preterm dengan berat rendah. Pemberian makanan Pemberian makanan secara dini dianjurkan untuk membantu mencegah terjadinya hipoglikemia dan hiperbillirubin. ia mempunyai sedikit atau tidak memiliki ketahanan terhadap infeksi. Konsentrasi O2yang diberikan sekitar 3035 % dengan menggunakan head box. dapat diberikan melalui kateter ( sonde ). asal suhu rectal dipertahankan antara 35. Bayi dirawat dalam keadaan telanjang. mempunyai system imunologi yang kurang berkembang. bagi bayi yang berat sekitar 2000 gram. Suhu perawatan harus diatas 25 0 C. mempunyai kesulitan dalam mempertahankan suhu tubuh. incubator terlebih dahulu dihangatkan. Bayi akan berkembang secara memuaskan. terutama pada bayi yang reflek hisap dan menelannya .b. akibat tidak adanya alveoli dan surfaktan. perawat harus menggunakan gaun khusus. d. Prosedur perawatan dapat dilakukan melalui “jendela“ atau “lengan baju“. bayi dapat bergerak tanpa dibatasi pakaian. observasi terhadap pernafasan lebih mudah d.4 0 C. gunakan gaun/jas.7 kg dan 32. ASI merupakan pilihan pertama. hal ini memungkinkan pernafasan yang adekuat. sampai sekitar 29. Inkubator Bayi dengan berat badan lahir rendah. juga memerlukan pengendalian lingkungan secara seksama. Bayi berat rendah yang dirawat dalam suatu tempat tidur terbuka. untuk bayi dengan berat 1. dan sampai 300 C untuk bayi dengan berat kurang dari 2000 gram c. dirawat didalam incubator. Pelestarian suhu tubuh Bayi dengan berat lahir rendah.

Makanan/cairan Berat badan kurang 2500(5lb 8 oz). dan bernafas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke 32. dibandingkan dengan bayi preterm. Refleks tergantung pada usia gestasi . Mur-mur jantung yang dapat didengar dapat menandakan duktusarteriosus paten(PDA) b. . Bayi berat lahir rendah secara relative memerlukan lebih banyak kalori. koordinasi refleks untuk menghisap. lemas dengan perut agak gendut. kurus. tidak teratur Menangis kuat PENGKAJIAN a. rooting terjadi dengan baik pada gestasi minggu 32. Neuroensori Tubuh panjang. Sirkulasi : Nadi apikal mungkin cepat dan atau tidak teratur dalam batas normal(120-160 dpm). ekstremitas biruTubuh dan esktremitas kemerahan P: Pulse (heart rate) (denyut nadi)Tidak ada <100 x /i> 100x/I G: Grimace (Reflex irritability inresponse to stimulation of sole of foot ( refieks)Tidak ada Gerakan sedikit Menangis A: Activity (Muscletone (tonus otot)Lumpuh Eksterimitas fleksi sedikit Gerakan aktif R: Respiration (respiratory effect) (pernapasan)Tidak ada Lambat. Ukuran kepala besar dalam hubungannya dengan tubuh. mata mungkin merapat(tergantung usia gestasi). komponen keduaa(fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar) tampak pada gestasi minggu ke 32. Edema kelopak mata umum terjadi. komponen pertama dari refleks Moro(ekstensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan)tampak pada gestasi minggu ke 28. sutura mungkin mudah digerakan.lemah. Apgar Score Tanda O12 A: Appearance (color (warma kulit Biru /pucatTubuh kemerahan. fontanel mungkin besar atau terbuka lebar. Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara minggu 24 dan 37. c. menelan.

pernafasan diafragmatik intermiten atau periodik(40-60x/mt). DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL Ø Resiko tinggi pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kelemahan otot pernafasan. irama. Lakukan auskultasi bunyi nafas tiap 4 jam 1. frekuensi ) 1. atau sianosis/pucat. Keamanan Suhu berfluktuasi dengan mudah. Kuku mungkin pendek. dengan klitoris menonjol . Menangis mungkin lemah. pernafasan cuping hidung. Mengorok. Garis telapak kaki mungkin tidak ada pada semua atau sebagian telapak.d. Perthankan pemberian O2 . muda/kebiruan.1. Monitor pernafasan (kedalaman. rugae mungkin banyak atau tidak ada pada skrotum. warna mungkin merah. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN NO 1. menandakan adaya sindrom distress pernafasan (RDS) e.2. akrosianosis. Seksualitas Genetalia : Labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayora. Kulit kemerahan atau tembus pandang.3. f. Pernafasan Skor apgar mungkin rendah. atau berbagai derajat sianosis mungkin ada.4. Atur posisi kepala lebih tinggi 1. Ø Resiko tinggi infeksi sekunder berhubungan dengan immaturitas fungsi imunologik. Adanya bunyi “ampelas” pada auskultasi. Pernafasan mungkin dangkal. Lanugo terdistribusi secara luas diseluruh tubuh. Ekstremitas mungkin tampak edema. testis pria mungkin tidak turun. kalau kerlu lakukan suction. 1. tidak teratur. Monitor keefektifan jalan nafas.5. Ø Resiko tinggi tidak efektifnya terumoregulasi : hipotermi berhubungan dengan mekanisme pengaturan suhu tubuh immatur. TUJUAN Setelah mendapat tindakan keparawatan 3x24 jam tidak terjadi gangguan pola nafas(nafas efektif) Kriteria Hasil : § Akral hangat § Tidak ada sianosis § Tangisan aktif dan kuat INTERVENSI 1. Ø Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan lemahnya daya cerna dan absorbsi makanan. mungkin ada kaput suksedoneum. Wajah mungkin memar. retraksi suprasternal dan substernal.

rubor. Barikan gizi (ASI/PASI) secara adekuat 3.5-37oC) 3.7. Timbang BB tiap hari.calor.5-37oC 2.3.2. Monitor tanda-tanda infeksi(tumor. Berikan minum sesuai program sonde/spin 4.5.5.7.dolor. Monitor input dan output 4.rubor. Atur suhu ruangan dengan panas yang stabil 3. Beri popok dan selimut sesuai kondisi 2.fungsiolaesa) § Suhu tubuh normal (36. Lakukan perawatan tali pusat setiap hari 4. Sendawakan bayi sehabis minum 4.2. Ganti segera popok yang basah oleh urine atau faeces 2. Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi 3. Setelah tindakan keperawatan 3x24 jam tidak terjadi gangguan nutrisi Kriteria Hasil : § Diet yang diberikan habis tidak ada residu § Reflek menghisap dan menelan kuat § BB meningkat 100 gr/3hr. Setelah mendapat tindakan keperawatan 3x24 jam tidak terjadi infeksi Kriteria Hasil : § Tidak ada tanda-tanda infeksi(tumor.4.1.§ RR : 30-40x/mt § Tidak ada retraksi otot pernafasan 1. lewat .6.dolor. Pertahankan bayi pada inkubator dengan kehangatan 37oC 2. Berikan antibiotika sesuai program 3. Pertahankan bayi pada inkubator dengan penghangat 1.1. Setelah mendapatkan tindakan keperawatan 3x24 jam tidak terjadi gangguan terumoregulasi Kriteria Hasil : § Badan hangat § Suhu : 36.4. Pastikan alat yang kontak dengan bayi bersih/steril 3. Hindarkan untuk sering membuka penutup karena akan menyebabkan fluktuasi suhu dan peningkatan laju metabolisme 2.6.fungsiolaes a) 3.3.5. 4.4.1.3. Kaji refleks menghisap dan menelan 4.calor. Kolaborasii untuk X foto thorax 2.2. Anjurkan kepada ibu bayi untuk memakai jas saat masuk ruang bayi dan sebelum dan/sesudah kontak cuci tangan 3.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->