P. 1
Makalah Sunda

Makalah Sunda

5.0

|Views: 1,681|Likes:
Published by Dian Cahya

More info:

Published by: Dian Cahya on Oct 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/22/2014

pdf

text

original

Sistem peralatan hidup dan teknologi

:

Masalah pendidikan dan teknologi di dalam masyarakat suku Sunda sudah bisa dibilang berkembang baik.Ini terlihat dari peran dari pemerintah Jawa Barat. Pemerintah Jawa Barat memiliki tugas dalam memberikan pelayanan pembangunan pendidikan bagi warganya, sebagai hak warga yang harus dipenuhi dalam pelayanan pemerintahan. Visi Pemerintah Jawa Barat, yakni “Dengan Iman dan Takwa Jawa Barat sebagai Provinsi Termaju di Indonesia dan Mitra Terdepan Ibukota Negara Tahun 2010″ merupakan kehendak, harapan, komitmen yang menjadi arah kolektif pemerintah bersama seluruh warga Jawa Barat dalam mencapai tujuan pembangunannya. Pembangunan pendidikan merupakan salah satu bagian yang sangat vital dan fundamental untuk mendukung upaya-upaya pembangunan Jawa Barat di bidang lainnya. Pembangunan pendidikan merupakan dasar bagi pembangunan lainnya, mengingat secara hakiki upaya pembangunan pendidikan adalah membangun potensi manusia yang kelak akan menjadi pelaku pembangunan. Dalam setiap upaya pembangunan, maka penting untuk senantiasa mempertimbangkan karakteristik dan potensi setempat. Dalam konteks ini, masyarakat Jawa Barat yang mayoritas suku Sunda memiliki potensi, budaya dan karakteristik tersendiri. Secara sosiologis-antropologis, falsafah kehidupan masyarakat Jawa Barat yang telah diakui memiliki makna mendalam adalah cageur, bageur, bener, pinter, tur singer. Dalam kaitan ini, filosofi tersebut harus dijadikan pedoman dalam mengimplementasikan setiap rencana pembangunan, termasuk di bidang pendidikan. Cageur mengandung makna sehat jasmani dan rohani. Bageur berperilaku baik, sopan santun, ramah, bertata krama. Bener yaitu jujur, amanah, penyayang dan takwa. Pinter, memiliki ilmu pengetahuan. Singer artinya kreatif dan inovatif.Sebagai sebuah upaya mewujudkan pembangunan pendidikan berfalsafahkan cageur, bageur, bener, pinter, tur singer tersebut, ditempuh pendekatan social cultural heritage approach. Melalui pendekatan ini diharapkan akan lahir peran aktif masyarakat dalam menyukseskan program pembangunan pendidikan yang digulirkan pemerintah Didalam kehidupan masyarakat sunda saat ini, terutama dalam kehidupan masyarakat perkotaan sudah jarang sekali atau mungkin kita tidak akan dapat menemukan suatu sosok individu atau kelompok masyarakat sunda yang melakukan proses sosialisasi terhadap keluarganya mengenai budayanya sendiri. Sehingga wajar apabila terjadi dalam kehidupan generasi muda saat ini yang hidup diperkotaan ada yang tidak mengenal tentang adapt istiadat sunda, sejarah, bahasa, kesenian dan teknologi peralatannya, justru yang mereka kenal adalah budaya llllain yang diadopsidalm kehidupan sehari-hari seperti musik barat yang beraliran keras, pakaian model barat yang serba buka-bukaan, makanan produk barat yang mengandung lemak, perabot rumah tangga yang serba modern dan canggih, bahasa yang digunakan tidak lagi bahasa ibu ( bahasa daerah ) tetapi bahasa campuran yang tidak dimengerti oleh orang lain, rasa sopan santun sudah tidak, baik terhadap orang tua maupun orang lain dan lain sebagainya. Judistira K.Garna (1992 : 1) mengatakan bahwa suatu atau sejumlah perubahan selalu berlaku pada semua masyarakat manusia, setiap saat dimanapun mereka hidup dan berada. Kadangkala perubahan itu berlangsung secara tiba-tiba dan serentak. Menurut Astrid perubahan masyarakat dalam arti luas, diartikan sebagai perubahan atau perkembangan dalam arti positif maupun negative. Dari kedua pendapat diatas jelas sekali bahwa tidak ada suatu budaya pun didunia ini yang bersifat statis, namun perubahan itu tentunya akan mengarah kepada suatu perunahanyang sifatnya positif atau negative. Selama perubahan itu positif tentunya akan banyak bermanfaat bagi kehidupan pendukungnya dari kebudayaan tersebut, akan tetapi sebaliknya jika perubahan tersebut bersifat negative maka akan merusak terhadap kehidupan pendukungnya dari suatu kebudayaan itu. Sebagaimana halnya dengan masalah teknologi peralatan masyarakat sunda yang saat ini kurang diminati oleh masyarakat sunda sendiri di dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan masyarakat sunda yang berada diperkotaan, mereka lebih senang dan bangga terhadap teknologi peralatan ytang serba modern, yang lebih praktis pemakaiannya. Mereka yang biasa hidup dikota merasa gengsi atau malu apabila membeli atau menggunakan teknologi peralatan tradisional sunda, yang menurut anggapan mereka sudah

tidak layak lagi dalam kehidupan modern ini. Sesuai dengan uraian Ahmad Hadi ( 1994:61-128) bahwa teknologi peralatan masyarakat sunda dapat dibagi kedalam empat bagian : 1) Teknologi peralatan rumah tangga 2) Teknologi peralatan berburu 3) Teknologi peralatan pertanian 4) Teknologi poeralatan transportasi 1) Teknologi Peralatan Rumah Tangga Teknologi peralatan rumah tangga dalam kehidupan masyarakat sunda diantaranya : ¬ Aseupan, terbuat dari bambu gunanya untuk menanak nasi. ¬ Ayakan, terbuat dari bambu gunanya untuk mencuci sayuran atau untuk menangkap ikan. ¬ Baki, terbuat dari kayu gunanya untuk tempat gelas atau keler. ¬ Bakul, terbuat dari bambu gunanya untuk beras atau nasi. ¬ Baskom, terbuat dari alumunium gunanya untuk tempat beras, nasi, makanan, sayuran dll ¬ Boboko, terbuat dari bambu gunanya untuk beras atau nasi. ¬ Cecempeh, terbuat dari bambu gunanya untuk membersihkan beras atau menjemur makanan. ¬ Centong, terbuat dari kayu gunanya untuk mengambil nasi. ¬ Centing, terbuat dari tanah gunanya untuk menyimpan garam. ¬ Cewo, terbuat dari tanah merah gunanya untuk membakar garam batu supaya halus. ¬ Coet jeung mutu, coet terbuat dari tanah atau batu, mutu terbuat dari kayu atau batu gunanya untuk membuat bumbu masak atau sambel. ¬ Cukil, terbuat dari kayu atau bambu gunanya untuk mengambil nasi. ¬ Cumbung, terbuat dari bambu gunanya untuk tempat nasi pada waktu kendurian. ¬ Didingklik/jojodog, terbuat dari kayu gunanya untuk tempat duduk. ¬ Dingkul, boboko besar terbuat dari bamboo gunanya untuk tempat nasi atau tempat beras. ¬ Hihid, terbuat dari bambu gunanya untuk mengipasi nasi panas. ¬ Dulang, terbuat dari kayu gunanya untuk menghaluskan nasi atau membuat ulen. ¬ Emuk, terbuat dari seng atau kaleng gunanya untuk tempat air minum. ¬ Cangkir, terbuat dari seng atau kaleng gunanya untuk tempat air minum. ¬ Gayung, terbuat dari batok kelapa gunanya untuk mengambil air dari buyung. ¬ Gentong butung, terbuat dari tanah gunaynya untuk tempat air atau tempat beras. ¬ Halu, terbuat dari kayu gunanya untuk menumbuk padi. ¬ Hawu, terbuat dari tanah atau semen gunanya untuk memasak. ¬ Jodang, ayakan besar terbuat dari bambu gunanya untuk menjemur makanan seperti opak atau rengginang. ¬ Jubleg, semacam lisung terbuat dari kayu atau batu gunanya untuk membuat tepung. ¬ Jubung, terbuat dari bambu gunanya untuk menyimpan aseupan yang berisi nasi. ¬ Kalo, terbuat dari anyaman kawat atau bambu gunanya untuk menyaring tepung. ¬ Kameuti/kameron, terbuat dari anyaman daun pandan atau daun gebang gunanya untuk tempat makanan kalau bepergian kehutan. ¬ Kastrol, terbuat dari besi gunanya untuk menanak nasi atau memasak air. ¬ Katel, terbuat dari besi gunanya untuk menggoreng. ¬ Kele, terbuat dari ruas bambu gunanya untuk mengambil air. ¬ Kekeb, terbuat dari bambu gunanya untuk menutupi aseupan kalau menanak nasi atau memasak masakan. ¬ Kekeba/ tingkeb, terbuat dari anyaman bambu gunanya untuk membawa oleh-oleh. ¬ Kempis/korang, terbuat dari anyaman bambu gunanya untuk tempat ikan pada waktu memancing. ¬ Kendi, terbuat dari tanah gunanya untuk menyimpan air. ¬ Koja, terbuat dari anyaman rotan gunanya untuk membawa makanan kalau pergi kehutan. ¬ Kolanding, terbuat dari ruas bambu gunanya untuk mengambil lahang. ¬ Nyiru, terbuat dari anyaman bambu gunanya untuk membersihkan gabah, beras dll. ¬ Parako, terbuat dari palupuh mamakai tanah gunanya untuk menyimpan hawu supaya tidak kebakaran. ¬ Parud, terbuat dari kayu memakai seng atau kawat gunanya untuk memarut kelapa.

¬ Piring, terbuat dari kaleng atau porselen gunanya untuk makan atau tempat makan. ¬ Poci, terbuat dari tanah atau kaleng gunanya untuk meneduh air the. ¬ Rampadan, terbuat dari kuningan gunanya untuk mengantarkan hidangan pada tamu. ¬ Ranggap, terbuat dari bambu gunanya untuk mengurung ayam. ¬ Rantang, terbuat dari kaleng untuk membawa makanan . ¬ Sair, terbuat dari bambu gunanya untuk menagkap ikan. ¬ Sangrayan, terbuat dari tanah gunaya untuk memasak kacang tanpa menggunakan minyak ¬ Seserok, terbuat dari seng atau kaleng gunanya untuk mengankat gorengan. ¬ Teko, terbuat dari dari kaleng atau aluminium gunanya tempat air. ¬ Tolombong, terbuat dari anyaman bambu gunanya untuk mengambil buah-buahan atau ubi-ubian dari kebun. 2) Teknologi Peralatan Berburu Teknologi peralatan untuk menangkap binatang dalam kehidupan masyarakat sunda diantaranya : ¬ Bandring, terbuat dari kayu dan karet gunanya untuk melemparkan batu dalam menangkap burung. ¬ Bedog, terbuat dari besi gunanya untuk menyembelih binatang buruan atau untuk memotong pohon. ¬ Burang, terbuat dari bambu runcing gunanya untuk ranjau dalam menagkap binatang. ¬ Panah, terbuat dari bambu memaki besi gunanya untuk melukai binatangt. ¬ Sumpit, terbuat dari bambu kecil dengan peluru terbuat adri harupat kawung memakai kapuk atau kapas gunanya untuk menangkap burung. ¬ Tumbak, terbuat dari kayu memaki besi gunanya untuk menusuk binatang buruan. 3) Teknologi Peralatan Pertanian. Teknologi peralatan pertanian dalam kehidupan masyarakat sunda dibagi kedalam dua kelompok masyarakat yaitu: a. Masyarakat sawah, peralatan yang digunakan diantaranya adalah : ¬ pacul, terbuat dari tipis dan lebar memakai gagang guannya untuk menggali lobang untuk menggali lobang atau menggemburkan tanah. ¬ Etem, terbuat dari besi semacam silet besar memakai kayu gunanya untuk memotong padi. ¬ Garu, terbuat dari kayu seperti sisir gunanya untuki menghaluskan tanah yang sudah dicangkul atau setelah diwuluku. ¬ Arit, terbuat dari besi berbentuk berbentuk bulan sapasi gunanya untuk memotong rumput. ¬ Parang, terbuat dari besi besar keujung memakai gagang kayu gunanya untuk membersihkan rumput dipematang sawah. ¬ Gacok, terbuat dari besi dan kayu seperti garpu, memakai ngagang seperti cangkul gunanya untuk menggaruk rumput atau sampah. ¬ Susurung, terbuat dari kayu panjang memakai gagang gunanya untuk meratakan tanah sawah sebelum ditanami padi. ¬ Caplak, terbuat dari kayu seperti sisir dengan jarak 20 centimeter gunanya untuk mengatur jarak menanam padi b. Masyarakat ladang, peralatan yang digunakan diantaranya adalah : ¬ Bedog, terbuat dari besi gunanya untuk memotong kayu atau pohon. ¬ Arit, terbuat dari besi berbentuk bulan sepasi gunanya untuk memotong rumput. ¬ Baliung, terbuat dari besi berbentuk patik tetapi bisa diputar gunaya untuk membelah atau mengupas kayu. ¬ Congkrang, terbuat dari besi dan kayu gunanya untuk mengambil kayu baker atau membersihkan rumput dan ranting. ¬ Gacok, terbuat dari besi dan kayu seperti garpu, mamakai gagang seperti cangkul gunanya untuk menggaruk rumput atau sampah. ¬ Gaet, terbuat dari besi semacam arit yang bentuknya lebih kecil dengan memakai pegangan yang panjang gunanya untuk mengambil daun pisang. ¬ Gobang, terbuat dari besi bentuknya seperti golok tapi panjang gunanya untuk memotong

kayu atau senjata perang jaman dulu. ¬ Kampak, terbuat dari gigi berbentuk gigi mamakai kayu gunanya untuk membelah kayu atau memotong kayu. ¬ Kored, terbuat dari besi bentuknya kecil gunanya untuk membersihkan rumput. ¬ Pacul, terbuat dari besi tipis dan lebar memakai gagang (doran) gunanya untuk menggali lobang atau menggemburkan tanah. ¬ Patik, terbuat dari besi seperti kapak besar gagangnya panjang gunanya untuk memotong atau membelah kayu. ¬ Aseuk, terbuat dari kayu bulat panjang, ujungnya runcing gunanya untuk membuat lubang pada tanah yang akan ditanami. 4) Teknologi Peralatan Transportasi Teknologi peralatan transportasi dalam kehidupan masyarakat sunda diantaranya adalah: ¬ Delman, kretek, alat transportasi yang terbuat dari kayu dan besi dengan tutup atas plastik atau terpal, kapasitas penumpang enam orang termasuk kusir dan ditarik oleh kuda dan kondisi kendaraan agak tinggi dari dokar dan sado. ¬ Dokar, sado, alat transportasi yang terbuat dari kayu dan besi dari tutup atas plastik atau terpal, kapasitas penumpang enam orang ditarik oleh kuda kondisi kendaraan agak pendek dari delman dan kretek. ¬ Padati, alat transportasi yang terbuat dari kayu dan besi berbentuk persegi empat dengan tutup atas plastik atau terpal, untuk mengangkut barang dan ditarik oleh sapi. ¬ Gorobag, terbuat dari kayu dan besi dengan ukuran berbentuk persegi empat lebih besar dari pedati dengan tutup atas plastik atau terpal, untuk mengangkut barang dan ditarik oleh dua ekor sapi. ¬ Parahu, terbuat dari kayu dengan ukuran kecil atau besar gunanya untuk mengankut barang atau oarang dalam menyebrang sungai. ¬ Rakit, terbuat dari susunan bambu yang diikat dengan menggunakan tali pegangan dati kawat yang membentang diantara dua tepi sungai atau dengan menggunakan tongkat sebagai alat penekan supaya maju, gunanya sebagai alat penyebrangan orang atau barang dan kendaraan kecil. Teknologi peralatan tradisisonal masyarakat sunda ini, tentunya masih ada dan digunakan oleh sebagian kecil masyarakat sunda yang masih hidup dalam kesederhanaannya terutama di pedesaan. Mereka senantiasa bersatu dengan alamkarena kehidupan kesehariannya pada umumnya adalah berladang dan bersawah, anak-anak desa setiap harinya mempunyai pekerjaan membantu orang tua setelah pulang sekolah, mereka pergi keladang atau kesawah memotong rumput untuk ternaknya, setelah selesai baru mereka bermain, menjelang sore mereka mengaji dam pulang mengaji mereka belajar. Begitulah kiranya keseharian mereka dalam menjalani kehidupan di pedesaan. Bagaimana kehidupan dikota tentunya sangatlah derbeda dengan kebiasaan hidup dipedesaan. Dikota mereka sangat dimanjakan dengan berbagai suasana yang serba santai, tempat hiburan yang mengundang kebebasan, tanggung jawab membantu orang tua setelah pulang sekolah tidak ada, akhirnya mereka bergaul dengan bebas dalam kehidupan lingkungan kota yang menjanjikan kesenangan lahiriyah saja.

MATA PENCAHARIAN

:

Suku Sunda umumnya hidup bercocok tanam. Kebanyakan tidak suka merantau atau hidup berpisah dengan orang-orang sekerabatnya. Kebutuhan orang Sunda terutama adalah hal meningkatkan taraf hidup. Menurut data dari Bappenas (kliping Desember 1993) di Jawa Barat terdapat 75% desa miskin. Secara umum kemiskinan di Jawa Barat disebabkan oleh kelangkaan sumber daya manusia. Maka yang dibutuhkan adalah pengembangan sumber daya manusia yang berupa pendidikan, pembinaan, dll.

SISTEM KEKERABATAN

:

Sistem keluarga dalam suku Sunda bersifat parental, garis keturunan ditarik dari pihak ayah dan ibu bersama. Dalam keluarga Sunda, ayah yang bertindak sebagai kepala keluarga. Ikatan kekeluargaan yang kuat dan peranan agama Islam yang sangat mempengaruhi adat istiadat mewarnai seluruh sendi kehidupan suku Sunda.Dalam suku Sunda dikenal adanya pancakaki yaitu sebagai istilah-istilah untuk menunjukkan hubungan kekerabatan. Dicontohkannya, pertama, saudara yang berhubungan langsung, ke bawah, dan vertikal. Yaitu anak, incu (cucu), buyut (piut), bao, canggahwareng atau janggawareng, udeg-udeg, kaitsiwur atau gantungsiwur. Kedua, saudara yang berhubungan tidak langsung dan horizontal seperti anak paman, bibi, atau uwak, anak saudara kakek atau nenek, anak saudara piut. Ketiga, saudara yang berhubungan tidak langsung dan langsung serta vertikal seperti keponakan anak kakak, keponakan anak adik, dan seterusnya. Dalam bahasa Sunda dikenal pula kosa kata sajarah dan sarsilah (salsilah, silsilah) yang maknanya kurang lebih sama dengan kosa kata sejarah dan silsilah dalam bahasa Indonesia. Makna sajarah adalah susun galur/garis keturunan.

BAHASA

:

Bahasa yang digunakan oleh suku ini adalah bahasa Sunda. Bahasa Sunda adalah bahasa yang diciptakan dan digunakan sebagai alat komunikasi oleh Suku Sunda, dan sebagai alat pengembang serta pendukung kebudayaan Sunda itu sendiri. Selain itu bahasa Sunda merupakan bagian dari budaya yang memberi karakter yang khas sebagai identitas Suku Sunda yang merupakan salah satu Suku dari beberapa Suku yang ada di Indonesia. Contoh perendaharaan kata Bahasa sunda : hiji dua tilu opat lima genep tujuh dalapan salapan sapuluh(1,2,3,4,5,6,7,8,9,10)

SEJARAH PENGGUNAAN BAHASA SUNDA DI TATAR SUNDA
Bahasa Sunda merupakan bahasa yang diciptakan dan digunakan oleh orang Sunda dalam berbagai keperluan komunikasi kehidupan mereka. Tidak diketahui kapan bahasa ini lahir, tetapi dari bukti tertulis yang merupakan keterangan tertua, berbentuk prasasti berasal dari abad ke-14. Prasasti dimaksud di temukan di Kawali Ciamis, dan ditulis pada batu alam dengan menggunakan aksara dan Bahasa Sunda (kuno). Diperkirakan prasasti ini ada beberapa buah dan dibuat pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana (1397-1475). Salah satu teks prasasti tersebut berbunyi “Nihan tapak walar nu siya mulia, tapak inya Prabu Raja Wastu mangadeg di Kuta Kawali, nu mahayuna kadatuan Surawisésa, nu marigi sakuliling dayeuh, nu najur sakala désa. Ayama nu pandeuri pakena gawé rahayu pakeun heubeul jaya dina buana” (inilah peninggalan mulia, sungguh peninggalan Prabu Raja Wastu yang bertakhta di Kota Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan sekeliling ibukota, yang menyejahterakan seluruh negeri. Semoga ada yang datang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia). Dapat dipastikan bahwa Bahasa Sunda telah digunakan secara lisan oleh masyarakat Sunda jauh sebelum masa itu. Mungkin sekali Bahasa Kw’un Lun yang disebut oleh Berita Cina dan digunakan sebagai bahasa percakapan di wilayah Nusantara sebelum abad ke-10 pada masyarakat Jawa Barat kiranya adalah Bahasa Sunda (kuno), walaupun tidak diketahui wujudnya. Bukti penggunaan Bahasa Sunda (kuno) secara tertulis, banyak dijumpai lebih luas dalam bentuk naskah, yang ditulis pada daun (lontar, enau, kelapa, nipah) yang berasal dari zaman

abad ke-15 sampai dengan 180. Karena lebih mudah cara menulisnya, maka naskah lebih panjang dari pada prasasti. Sehingga perbendaharaan katanya lebih banyak dan struktur bahasanya pun lebih jelas. Contoh bahasa Sunda yang ditulis pada naskah adalah sebagai berikut: (1) Berbentuk prosa pada Kropak 630 berjudul Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518) “Jaga rang héés tamba tunduh, nginum twak tamba hanaang, nyatu tamba ponyo, ulah urang kajongjonan. Yatnakeun maring ku hanteu” (Hendaknya kita tidur sekedar penghilang kantuk, minum tuak sekedar penghilang haus, makan sekedar penghilang lapar, janganlah berlebih-lebihan. Ingatlah bila suatu saat kita tidak memiliki apa-apa!) (2) Berbentuk puisi pada Kropak 408 berjudul Séwaka Darma (abad ke-16) “Ini kawih panyaraman, pikawiheun ubar keueung, ngaranna pangwereg darma, ngawangun rasa sorangan, awakaneun sang sisya, nu huning Séwaka Darma” (Inilah Kidung nasihat, untuk dikawihkan sebagai obat rasa takut, namanya penggerak darma, untuk membangun rasa pribadi, untuk diamalkan sang siswa, yang paham Sewaka Darma). Tampak sekali bahwa Bahasa Sunda pada masa itu banyak dimasuki kosakata dan dipengaruhi struktur Bahasa Sanskerta dari India. Setelah masyarakat Sunda mengenal, kemudian menganut Agama Islam, dan menegakkan kekuasaan Agama Islam di Cirebon dan Banten sejak akhir abad ke-16. Hal ini merupakan bukti tertua masuknya kosakata Bahasa Arab ke dalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda. Di dalam naskah itu terdapat 4 kata yang berasal dari Bahasa Arab yaitu duniya, niyat, selam (Islam), dan tinja (istinja). Seiring dengan masuknya Agama Islam kedalam hati dan segala aspek kehidupan masyarakat Sunda, kosa kata Bahasa Arab kian banyak masuk kedalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda dan selanjutnya tidak dirasakan lagi sebagai kosakata pinjaman. Kata-kata masjid, salat, magrib, abdi, dan saum, misalnya telah dirasakan oleh orang Sunda, sebagaimana tercermin pada perbendaharaan bahasanya sendiri. Pengaruh Bahasa Jawa sebagai bahasa tetangga dengan sesungguhnya sudah ada sejak Zaman Kerajaan Sunda, sebagaimana tercermin pada perbendaharaan bahasanya. Paling tidak pada abad abad ke-11 telah digunakan Bahasa dan Aaksara Jawa dalam menuliskan Prasasti Cibadak di Sukabumi. Begitu pula ada sejumlah naskah kuno yang ditemukan di Tatar Sunda ditulis dalam Bahasa Jawa, seperti Siwa Buda, Sanghyang Hayu. Namun pengaruh Bahasa Jawa dalam kehidupan berbahasa masyarakat Sunda sangat jelas tampak sejak akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19 sebagai dampak pengaruh Mataram memasuki wilayah ini. Pada masa itu fungsi Bahasa Sunda sebagai bahasa tulisan di kalangan kaum elit terdesak oleh Bahasa Jawa, karena Bahasa Jawa dijadikan bahasa resmi dilingkungan pemerintahan. Selain itu tingkatan bahasa atau Undak Usuk Basa dan kosa kata Jawa masuk pula kedalam Bahasa Sunda mengikuti pola Bahasa Jawa yang disebut Unggah Ungguh Basa. Dengan penggunaan penggunaan tingkatan bahasa terjadilah stratifikasi social secara nyata. Walaupun begitu Bahasa Sunda tetap digunakan sebagai bahasa lisan, bahasa percakapan sehari-hari masyarakat Sunda. Bahkan di kalangan masyarakat kecil terutama masyarakat pedesaan, fungsi bahasa tulisan dan bahasa Sunda masih tetap keberadaannya, terutama untuk menuliskan karya sastera WAWACAN dengan menggunakan Aksara Pegon. Sejak pertengahan abad ke 19 Bahasa Sunda mulai digunakan lagi sebagai bahasa tulisan di berbagai tingkat sosial orang Sunda, termasuk penulisan karya sastera. Pada akhir abad ke 19 mulai masuk pengaruh Bahasa Belanda dalam kosakata maupun ejaan menuliskannya dengan aksara Latin sebagai dampak dibukanya sekolah-sekolah bagi rakyat pribumi oleh pemerintah. Pada awalnya kata BUPATI misalnya, ditulis boepattie seperti ejaan Bahasa Sunda dengan menggunakan Aksara Cacarakan (1860) dan Aksara Latin (1912) yang dibuat oleh orang Belanda. Selanjutnya, masuk pula kosakata Bahasa Belanda ke dalam Bahasa Sunda, seperti sepur, langsam, masinis, buku dan kantor.

Dengan diajarkannya di sekolah-sekolah dan menjadi bahasa komunikasi antar etnis dalam pergaulan masyarakat, Bahasa Melayu juga merasuk dan mempengaruhi Bahasa Sunda. Apalagi setelah dinyatakan sebagai bahasa persatuan dengan nama Bahasa Indonesia pada Tahun 1928. Sejak tahun 1920-an sudah ada keluhan dari para ahli dan pemerhati Bahasa Sunda, bahwa telah terjadi Bahasa Sunda Kamalayon, yaitu Bahasa Sunda bercampur Bahasa Melayu. Sejak tahun 1950-an keluhan demikian semakin keras karena pemakaian Bahasa Sunda telah bercampur (direumbeuy) dengan Bahasa Indonesia terutama oleh orang-orang Sunda yang menetap di kota-kota besar, seperti Jakarta bahkan Bandung sekalipun. Banyak orang Sunda yang tinggal di kota-kota telah meninggalkan pemakaian Bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari di rumah mereka. Walaupun begitu, tetap muncul pula di kalangan orang Sunda yang dengan gigih memperjuangkan keberadaan dan fungsionalisasi Bahasa Sunda di tengah-tengah masyarakatnya dalam hal ini Sunda dan Jawa Barat. Dengan semakin banyaknya orang dari keluarga atau suku bangsa lain atau etnis lain yang menetap di Tatar Sunda kemudian berbicara dengan Bahasa Sunda dalam pergaulan sehari-harinya. Karena itu, kiranya keberadaan Bahasa Sunda optimis bakal terus berlanjut.

Kesenian
SISTEM BUDAYA

:

Kesalahan politik yang paling terkenal yang dilakukan Belanda dimulai pada tahun 1830. Kesalahan politik ini disebut sebagai Sistem Budaya namun sebenarnya lebih tepat jika disebut sistem perbudakan. Sistem ini mengintensifkan usaha-usaha pemerintah untuk menguras hasil bumi yang lebih banyak yang dihasilkan dari tanah ini. Sistem budaya ini memeras seperlima hasil tanah petani sebagai pengganti pajak. Dengan mengadakan hasil panen yang baru seperti gula, kopi dan teh, maka lebih besar lagi tanah pertanian yang diolahnya. Pengaruh ekonomi ke pedesaan bersifat dramatis dan percabangan sosialnya penting. Melewati pertengahan abad, investasi swasta di tanah Jawa Barat mulai tumbuh dan mulai muncul perkebunan-perkebunan. Tanah diambil dari tangan petani dan diberikan kepada para tuan tanah besar. Menjelang 1870, hukum agraria dipandang perlu untuk melindungi hak-hak rakyat atas tanah. A. KEBUDAYAAN SUKU SUNDA Kebudayaan Sunda merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu dilestarikan. Kebudayaankebudayaan tersebut akan dijabarkan sebagai berikut :. KIRAB HELARAN Kirap helaran atau yang disebut sisingaan adalah suatu jenis kesenian tradisional atau seni pertunjukan rakyat yang dilakukan dengan arak-arakan dalam bentuk helaran. Pertunjukannya biasa ditampilkan pada acara khitanan atau acara-acara khusus seperti ; menyambut tamu, hiburan peresmian, kegiatan HUT Kemerdekaan RI dan kegiatan harihari besar lainnya. Seperti yang diikuti ratusan orang dari perwakilan seluruh kelurahan di Cimahi, yang berupa arak-arakan yang pernah digelar pada saat Hari Jadi ke-6 Kota Cimahi. Kirap ini yang bertolak dari Alun-alun Kota Cimahi menuju kawasan perkantoran Pemkot Cimahi, Jln. Rd. Demang Hardjakusumah itu, diikuti oleh kelompok-kelompok masyarakat yang menyajikan seni budaya Sunda, seperti sisingaan, gotong gagak, kendang rampak, calung, engrang, reog, barongsai, dan klub motor.

Seni rupa
KARYA SASTRA

:

Di bawah ini disajikan daftar karya sastra dalam bahasa Jawa yang berasal dari daerah kebudayaan Sunda. 1. Babad Cerbon 2. Cariosan Prabu Siliwangi 3. Carita Ratu Galuh 4. Carita Purwaka Caruban Nagari 5. Carita Waruga Guru 6. Kitab Waruga Jagat 7. Layang Syekh Gawaran 8. Pustaka Raja Purwa 9. Sajarah Banten 10. Suluk Wuyung Aya 11. Wahosan Tumpawarang 12. Wawacan Angling Darma 13. Wawacan Syekh Baginda Mardan 14. Kitab Pramayoga/jipta Sara

Seni pahat
Seni ukir meninggalkan jejak pada bangunan, terutama keraton di Cirebon, dan peralatan rumah tangga, seperti meja, kursi, hiasan dinding. Ragam hias yang menjadi objek seni ukit umumnya berupa flora dan fauna, alam dan kaligrafi. Selain itu, wayang merupakan hasil karya ukir, baik wayang golek maupun wayang kulit.

SENI TARI
A.TARI JAIPONGAN Tanah Sunda (Priangan) dikenal memiliki aneka budaya yang unik dan menarik, Jaipongan adalah salah satu seni budaya yang terkenal dari daerah ini. Jaipongan atau Tari Jaipong sebetulnya merupakan tarian yang sudah moderen karena merupakan modifikasi atau pengembangan dari tari tradisional khas Sunda yaitu Ketuk Tilu.Tari Jaipong ini dibawakan dengan iringan musik yang khas pula, yaitu Degung. Musik ini merupakan kumpulan beragam alat musik seperti Kendang, Go’ong, Saron, Kacapi, dsb. Degung bisa diibaratkan ‘Orkestra’ dalam musik Eropa/Amerika. Ciri khas dari Tari Jaipong ini adalah musiknya yang menghentak, dimana alat musik kendang terdengar paling menonjol selama mengiringi tarian. Tarian ini biasanya dibawakan oleh seorang, berpasangan atau berkelompok. Sebagai tarian yang menarik, Jaipong sering dipentaskan pada acara-acara hiburan, selamatan atau pesta pernikahan. b.TARI MERAK

c. TARI TOPENG 1. KETUK TILU Ketuk Tilu adalah suatu tarian pergaulan dan sekaligus hiburan yang biasanya diselenggarakan pada acara pesta perkawinan, acara hiburan penutup kegiatan atau diselenggrakan secara khusus di suatu tempat yang cukup luas. Pemunculan tari ini di masyarakat tidak ada kaitannya dengan adat tertentu atau upacara sakral tertentu tapi murni sebagai pertunjukan hiburan dan

pergaulan. Oleh karena itu tari ketuk tilu ini banyak disukai masyarakat terutama di pedesaan yang jarang kegiatan hiburan.

4. SENI BANGRENG Seni Bangreng adalah pengembangan dari seni “Terbang” dan “Ronggeng”. Seni terbang itu sendiri merupakan kesenian yang menggunakan “Terbang”, yaitu semacam rebana tetapi besarnya tiga kali dari alat rebana. Dimainkan oleh lima pemain dan dua orang penabu gendang besar dan kecil.

2. RENGKONG Rengkong adalah salah satu kesenian tradisional yang diwariskan oleh leluhur masyarakat Sunda. Muncul sekitar tahun 1964 di daerah Kabupaten Cianjur dan orang yang pertama kali memunculkan dan mempopulerkannya adalah H. Sopjan. Bentuk kesenian ini sudah diambil dari tata cara masyarakat sunda dahulu ketika menanam padi sampai dengan menuainya

6. KUDA RENGGONG Kuda Renggong atau Kuda Depok ialah salah satu jenis kesenian helaran yang terdapat di Kabupaten Sumedang, Majalengka dan Karawang. Cara penyajiannya yaitu, seekor kuda atau lebih di hias warna-warni, budak sunat dinaikkan ke atas punggung kuda tersebut, Budak sunat tersebut dihias seperti seorang Raja atau Satria, bisa pula meniru pakaian para Dalem Baheula, memakai Bendo, takwa dan pakai kain serta selop.

D. PENCAK SIALAT CIKALONG Pencak silat Cikalong tumbuh dikenal dan menyebar, penduduk tempatan menyebutnya “Maempo Cikalong”. Khususnya di Jawa Barat dan diseluruh Nusantara pada umumnya, hampir seluruh perguruan pencak silat melengkapi teknik perguruannya dengan aliran ini. Daerah Cianjur sudah sejak dahulu terkenal sebagai daerah pengembangan kebudayaan Sunda seperti; musik kecapi suling Cianjuran, klompen cianjuran, pakaian moda Cianjuran yang sampai kini dipergunakan dll.

SENI MUSIK DAN SUARA

:

Selain seni tari, tanah Sunda juga terkenal dengan seni suaranya. Dalam memainkan Degung biasanya ada seorang penyanyi yang membawakan lagu-lagu Sunda dengan nada

dan alunan yang khas. Penyanyi ini biasanya seorang wanita yang dinamakan Sinden. Tidak sembarangan orang dapat menyanyikan lagu yang dibawakan Sinden karena nada dan ritme-nya cukup sulit untuk ditiru dan dipelajari.Dibawah ini salah salah satu musik/lagu daerah Sunda : 1. 2. 3. 4. 5. Bubuy Bulan Es Lilin Manuk Dadali Tokecang Warung Pojok

ALAT MUSIK 1. Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan mepukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).

2. Angklung adalah sebuah alat atau waditra kesenian yang terbuat dari bambu khusus yang ditemukan oleh Bapak Daeng Sutigna sekitar tahun 1938. Ketika awal penggunaannya angklung masih sebatas kepentingan kesenian local atau tradisional

7. KECAPI SULING Kacapi Suling adalah salah satu jenis kesenian Sunda yang memadukan suara alunan Suling dengan Kacapi (kecapi), iramanya sangat merdu yang biasanya diiringi oleh mamaos (tembang) Sunda yang memerlukan cengkok/ alunan tingkat tinggi khas Sunda. Kacapi Suling berkembang pesat di daerah Cianjur dan kemudian

menyebar kepenjuru Parahiangan Jawa Barat dan seluruh dunia.

Seni Peran
WAYANG GOLEK

:

Jepang boleh terkenal dengan ‘Boneka Jepangnya’, maka tanah Sunda terkenal dengan kesenian Wayang Golek-nya. Wayang Golek adalah pementasan sandiwara boneka yang terbuat dari kayu dan dimainkan oleh seorang sutradara merangkap pengisi suara yang disebut Dalang. Seorang Dalang memiliki keahlian dalam menirukan berbagai suara manusia. Seperti halnya Jaipong, pementasan Wayang Golek diiringi musik Degung lengkap dengan Sindennya. Wayang Golek biasanya dipentaskan pada acara hiburan, pesta pernikahan atau acara lainnya. Waktu pementasannya pun unik, yaitu pada malam hari (biasanya semalam suntuk) dimulai sekitar pukul 20.00 – 21.00 hingga pukul 04.00 pagi. Cerita yang dibawakan berkisar pada pergulatan antara kebaikan dan kejahatan (tokoh baik melawan tokoh jahat). Ceritanya banyak diilhami oleh budaya Hindu dari India, seperti Ramayana atau Perang Baratayudha. Tokoh-tokoh dalam cerita mengambil nama-nama dari tanah India.Dalam Wayang Golek, ada ‘tokoh’ yang sangat dinantikan pementasannya yaitu kelompok yang dinamakan Purnakawan, seperti Dawala dan Cepot. Tokoh-tokoh ini digemari karena mereka merupakan tokoh yang selalu memerankan peran lucu (seperti pelawak) dan sering memancing gelak tawa penonton. Seorang Dalang yang pintar akan memainkan tokoh tersebut dengan variasi yang sangat menarik.

Sistem pengetahuan

:

Pada prinsipnya,masyarakat belajar mengenai bercocok tanam dengan cara uji coba, pengalaman, bahkan juga dari kosmologi atau hukum adat yang ada. Sistem pengelolaan pertanian pun memerlukan manajemen SDA dan SDM yang baik. Untuk mencapai hasil panen yang baik, diperlukan pengetahuan yang mendalam mengenai karakter dan jenis tanah, pemilihan jenis tanaman pangan apa yang cocok untuk ditanam, berapa jarak tanam yang diperlukan, dan seberapa luas lahan yang harus ditanami untuk memenuhi kebutuhan pangan warga. Adanya pergantian musim antara musim hujan dan musim kemarau juga banyak mempengaruhi pengetahuan local mengenai musim tanam, musim panen, waktu penyiraman tanaman, seberapa banyak air yang diperlukan untuk menyiram jenis tanaman tertentu, bagaimana cara mengembalikan kesuburan tanah, jenis hama yang akan menyerang pada musim tertentu, dan lain sebagainya. Batasan Lingkup Batasan lingkup pembahasan pada tulisan ini adalah pada sisi sumber daya masyarakat Sunda yangmenjadi latar belakang, sejarah, dan tata nilai masyarakat dalam menata dan mengolah lahan bercocok tanam.Selanjutnya juga akan dibahas mengenai metoda pengolahan apa yang dipergunakan untuk mencapai target hasilpanen, teknologi dan tahapan pengelolaan pertanian, serta aplikasi yang dilakukan oleh masyarakat yang akandibahas pada bagian studi kasus. Pada bagian pembahasan akan diurai mengenai segi positif dan negatif carabercocok tanam yang dilakukan pada masyarakat tradisional Sunda hingga aplikasi dan dampaknya pada masakini.

Religi
SISTEM KEPERCAYAAN MULA-MULA

:

Suku Sunda tidak seperti kebanyakan suku yang lain, dimana suku Sunda tidak mempunyai mitos tentang penciptaan atau catatan mitos-mitos lain yang menjelaskan asal mula suku ini. Tidak seorang pun tahu dari mana mereka datang, juga bagaimana mereka menetap di Jawa Barat. Agaknya pada abad-abad pertama Masehi, sekelompok kecil suku Sunda menjelajahi hutan-hutan pegunungan dan melakukan budaya tebas bakar untuk membuka hutan. Semua mitos paling awal mengatakan bahwa orang Sunda lebih sebagai pekerjapekerja di ladang daripada petani padi. Kepercayaan mereka membentuk fondasi dari apa yang kini disebut sebagai agama asli orang Sunda. Meskipun tidak mungkin untuk mengetahui secara pasti seperti apa kepercayaan tersebut, tetapi petunjuk yang terbaik ditemukan dalam puisi-puisi epik kuno (Wawacan) dan di antara suku Badui yang terpencil. Suku Badui menyebut agama mereka sebagai Sunda Wiwitan [orang Sunda yang paling mula-mula]. Bukan hanya suku Badui yang hampir bebas sama sekali dari elemen- elemen Islam (kecuali mereka yang ditentukan ada lebih dari 20 tahun yang lalu), tetapi suku Sunda juga memperlihatkan karakteristik Hindu yang sedikit sekali. Beberapa kata dalam bahasa Sansekerta dan Hindu yang berhubungan dengan mitos masih tetap ada. Dalam monografnya, Robert Wessing mengutip beberapa sumber yang menunjukkan suku Sunda secara umum, "The Indian belief system did not totally displace the indigenous beliefs, even at the court centers."[1] Berdasarkan pada sistem tabu, agama suku Badui bersifat animistik. Mereka percaya bahwa roh-roh yang menghuni batu-batu, pepohonan, sungai dan objek tidak bernyawa lainnya. Roh-roh tersebut melakukan hal-hal yang baik maupun jahat, tergantung pada ketaatan seseorang kepada sistem tabu tersebut. Ribuan kepercayaan tabu digunakan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari 1. SISTEM KEPERCAYAAN Hampir semua orang Sunda beragama Islam. Hanya sebagian kecil yang tidak beragama Islam, diantaranya orang-orang Baduy yang tinggal di Banten Tetapi juga ada yang beragama Katolik, Kristen, Hindu, Budha. Selatan. Praktek-praktek sinkretisme dan mistik masih dilakukan. Pada dasarnya seluruh kehidupan orang Sunda ditujukan untuk memelihara keseimbangan alam semesta.Keseimbangan magis dipertahankan dengan upacara-upacara adat, sedangkan keseimbangan sosial dipertahankan dengan kegiatan saling memberi (gotong royong). Hal yang menarik dalam kepercayaan Sunda, adalah lakon pantun Lutung Kasarung, salah satu tokoh budaya mereka, yang percaya adanya Allah yang Tunggal (Guriang Tunggal) yang menitiskan sebagian kecil diriNya ke dalam

dunia untuk memelihara kehidupan manusia (titisan Allah ini disebut Dewata). Ini mungkin bisa menjadi jembatan untuk mengkomunikasikan Kabar Baik kepada mereka. MANTERA-MANTERA MAGIS Dalam penyembahan kepada ilah-ilah ini, sistem mantera magis juga memainkan peran utama berkaitan dengan kekuatan-kekuatan roh. Salah satu sistem tersebut adalah Ngaruat Batara Kala yang dirancang untuk memperoleh kemurahan dari dewa Batara Kala dalam ribuan situasi pribadi. Rakyat juga memanggil roh-roh yang tidak terhitung banyaknya termasuk arwah orang yang telah meninggal dan juga menempatkan roh-roh (jurig) yang berbeda jenisnya. Banyak kuburan, pepohonan, gunung- gunung dan tempat-tempat serupa lainnya dianggap keramat oleh rakyat. Di tempat-tempat ini, seseorang dapat memperoleh kekuatan-kekuatan supernatural untuk memulihkan kesehatan, menambah kekayaan, atau meningkatkan kehidupan seseorang dalam berbagai cara. DUKUN-DUKUN Untuk membantu rakyat dalam kebutuhan spiritual mereka, ada pelaksana- pelaksana ilmu magis yang disebut dukun. Dukun-dukun ini aktif dalam menyembuhkan atau dalam praktek-praktek mistik seperti numerology (penomoran). Mereka mengadakan kontak dengan kekuatan-kekuatan supernatural yang melakukan perintah para dukun ini. Beberapa dukun ini akan melakukan black magic tetapi banyaknya adalah jika dianggap sangat bermanfaat bagi orang Sunda. Sejak lahir hingga mati hanya sedikit keputusan penting yang dibuat tanpa meminta pertolongan dukun. Kebanyakan orang mengenakan jimat-jimat di tubuh mereka serta meletakkannya pada tempat-tempat yang menguntungkan dalam harta milik mereka. Beberapa orang bahkan melakukan mantera atau jampi-jampi sendiri tanpa dukun. Kebanyakan aktivitas ini terjadi di luar wilayah Islam dan merupakan oposisi terhadap Islam. Tetapi orang-orang ini tetap dianggap sebagai Muslim.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->