P. 1
2 Resonansi Listrik

2 Resonansi Listrik

|Views: 255|Likes:

More info:

Published by: Saya Icha Municha Orgil on Oct 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/13/2015

pdf

text

original

MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Tujuan 1) 2) Mampu mengamati adanya gejala resonansi dalam rangkaian arus Mampu menentukan besar tahanan dan induksi dari induktor bolaik-balik. (kumparan pemadam). 1.2 Alat dan Bahan 1) Induktor (kumparan pemadam) dan hambatan (R) 2) Sumber tegangan (transformator/AC) 3) Multimeter 4) Bangku kapasitor 5) Miliampermeter AC 6) Kabel-kabel penghubung

[19]

MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Resonansi Arus AC Arus AC atau kepanjangan dari Alternating Curren adalah arus yang sipatnya mempunya dua arah atau lebih di kenal dengan sebutan arus bolakbalik yang tidak memiliki sisi negatif, dan hanya mempunya ground (bumi). Arus AC biasa di gunakan untuk tegangan listrik PLN sebesar misalnya 220 Volt 50 hertz, ini adalah tegangan standard untuk Indonesia. Pada dasarnya, di setiap rangkaian arus AC pasti mempunyai nilai induktansi, hambatan dan kapasitas. Akan tetapi nilai hambatan, kapasitas dan induktansi tergantung pada jenis komponen di dalam rangkaian tersebut, yang dalam keadaan tertentu nilainya dapat diabaikan sedangkan pada kondisi lain tidak dapat diabaikan. Dalam arus AC, terdapat hambatan yang disebut impedansi (Z) yang terdiri dari : (1) Hambatan Murni (R) : : (2) Hambatan Induktif (XL) : (3) Hambatan Kapasitor (XC) :

Pada rangkaian R-L-C, terdapat 3 kemungkinan impedansi Z dengan sudut fase, yaitu : XL > XC : rangkaian bersifat induktif, arus tertinggal dari π tegangan sebesar (0 ≤ ϕ ≤ ) 2 (2) XL < XC : rangkaian bersifat kapasitif, arus tertinggal dari tegangan sebesar (0 ≤ ϕ ≤ π ) 2 (3) XL = XC : rangkaian bersifat resistif (terjadi resonansi), arus
(1)

sefase dengan tegangan.

[20]

Hambatan (R) dan sebuah miliamperemeter (mA). Jika E adalah besarnya tegangan efektif dan ω besarnya frekuensi sudut dari sumber tegangan arus bolak-balik.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK 1) Rangkaian seri K C R L T Rangkaian Listrik dengan Hubungan Seri Gambar di atas menunjukan sebuah rangkaian listrik dengan arus bolak-balik dengan susunan seri yang terdiri dari T sebuah tegangan arus bolak-balik. Induktor (L). bangku kapasitor (C). maka besarnya arus efektif (I) yang mengalir melalui rangkaian tersebut adalah : I= E R2 + ( X L − X C ) 2 (1) dimana : R = besarnya tahanan (Ohm) L = besarnya induktansi dari konduktor (Henry) C = besarnya kapasitansi dari kapasitor (Farad) I = kuat arus (Ampere) E = tegangan (Volt) ω = frekuensi sudut (radian per detik) [21] .

Jika E tegangan efektif dari sumber tegangan. maka kuat arus efektifnya adalah : I= E ω 2 C 2 + 1 − 2ω 2 LC R 2 + ω 2 L2 (4) [22] . 2) Rangkaian paralel K R L T C Rangkaian Listrik dengan Hubungan Paralel Gambar menunjukkan sebuah rangkaian arus bolak-balik dengan susunan paralel dengan induktor (termasuk hambatannya) dengan kapasitor kemudian disusun seri dengan miliamparemeter ke sumber tegangan arus bolak-balik. maka akan terdapat harga I yang mencapai harga maksimum. Harga arus maksimum itu dicapai pada saat harga : C= 1 ω2L E R 1 ω2L Dan besarnya kuat arus : I max = Rangkaian listrik dimana I mencapai maksimum dan harga C = disebut : dalam keadaan resonansi seri.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK Jika nilai C diubah-ubah besarnya.

MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK Jika C diubah-ubah besarnya. selalu digunakan batas ukur yang terbesar kemudian berturut-turut dikecilkan. Pada setiap pengukuran baik arus searah maupun arus bolak-balik. melainkan R diambil dari kumparan konduktornya (induktor terdiri dari kuparan kawat dan besi). maka rangkaian tersebut : dalam keadaan resonansi paralel. Rangkaian bangku kapasitor biasanya seperti : C1 C2 C3 C4 Rangkaian Bangku Kapasitor Jadi dengan menyususn paralel kapasitansinya dijumlahkan dari masing-masing kapasitor yang terpakai. 2. Harga arus minimum itu dapat dicapai pada saat harga : C= 1  R2 ω2L +   L  ER R + ω 2 L2 2     (5) dan besar kuat arus : I= Seperti halnya pada rangkaian seri.2 Frekuensi Resonansi [23] . Catatan : Pada percobaan ini tidak dipakai hambatan R khusus. Demikian pula untuk tegangan. Adapun bangku kapasitor geser dimana kapasitansinya adalah jumlah langsung dari tiap-tiap penunjukkan gesernya. maka pada saat arus mencapai hargga minimum. maka akan terdapat harga I yang mencapai harga minimum.

akan menurun jika frekuensi meningkat. Resonansi pada rangkaian AC (Alternating Curren) merupakan keadaan dimana reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif memiliki nilai yang sama (XL = XC ).006879 Fr = 145. Untuk menghitung nilai frekuensi referensi menggunakan rumus diatas. Berapakah frekuensi resonansi (Fr) pada rangkaian resonansi seri di atas? Fr = 1 / (2π √(LC)) Fr = 1 / (2 ∙ 3.14 √(0.12 ∙ 10-5)) Fr = 1 / 0. Reaktansi induktif akan meningkat seiring meningkat-nya frekuensi sedangkan reaktansi kapasitif justru sebaliknya. Frekuensi resonansi dapat dihitung menggunakan persamaan matematika berikut ini : 1) Rangkaian seri Rangkaian resonansi seri merupakan kombinasi rangkaian induktor dan kapasitor yang disusun secara seri. hal ini terjadi karena suatu benda bergetar pada frekuensi yang sama dengan frekuensi benda yang terpengaruhi. Jadi hanya akan ada satu nilai frekuensi dimana keadaan kedua reaktanssi tersebut bernilai sama. Contoh : Pada rangkaian di atas kapasitor C1 memiliki nilai kapasitansi 10uF dan induktor L1 memiliki nilai induktansi 120mH.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK Resonansi adalah proses bergetarnya suatu benda dikarenakan ada benda lain yang bergetar.36 Hz [24] .

[25] . Ini menandakan bahwa rangkaian resonansi seri memiliki impedansi yang sangat rendah pada kondisi resonansi. bahkan pada rangkaian ideal nilai impedansi rangkaian akan sama dengan ‘0’ (Nol). 2) Rangkaian paralel (Tank Circuit) Kombinasi rangkaian induktor dan kapasitor yang dapat menghasilkan keadaan resonansi lainnya adalah dengan merangkai induktor dan kapasitor secara paralel atau disebut juga sebagai ‘Tank Circuit’. arus yang mengalir pada rangkaian mencapai nilai maksimumnya. Bentuk kurva untuk rangkaian resonansi seri pada saat keadaan resonansi.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK Jika disimulasikan menggunakan software simulasi dan kita plot nilai arus terhadap frekuensi. rangkaian resonansi seri akan menghasilkan bentuk kurva seperti terlihat berikut ini. Contoh : Cara menghitung frekuensi resonansi (Fr) pada rangkaian paralel sama dengan menghitung frekuensi resonansi pada rangkaian seri.

[26] .3 Anti Resonansi Pada suatu rangkaian resonansi paralel yang hanya terdiri dari induktor (L) dan kapasitor (C) jika ditambahkan resistor (R) secara seri pada salah satunya akan mengakibatkan bergeser-nya frekuensi resonansi. Hal ini juga berimbas menjadi tidak relevan-nya persamaan frekuensi resonansi (Fr) yang telah dijelaskan sebelumnya. arus yang mengalir pada rangkaian mencapai nilai minimum-nya bahkan hampir mendekati ‘0’ (Nol). Berdasarkan pada kurva di atas. Ini menandakan bahwa impedansi rangkaian sangat tinggi bahkan pada kondisi ideal impedansi rangkaian memiliki nilai yang tak terhingga. pada keadaan resonansi. 2.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK Bentuk kurva yang dihasilkan oleh rangkaian resonansi paralel melalui simulasi elektronika diperlihatkan pada gambar berikut ini.

Pada hasil perhitungan Fr = 145.36 Hz menjadi 165. Fr = 144. hasilnya frekuensi resonansi bergeser ke atas dari 145. Kemudian bagaimana dengan rangkaian resonansi seri yang hanya terdiri dari induktor (L) dan kapasitor (C) jika ditambahkan resistor (R) secara seri? Ternyata pergeseran frekuensi resonansi tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan hasil perhitungan menggunakan persamaan Fr.96 Hz.54 Hz dan hal ini masih bisa di toleransi. Hasilnya frekuensi resonansi bergeser ke bawah dari 145.36 Hz sedangkan jika ditambahkan R1 (100 Ω). 2. Pergeseran nilai frekuensi resonansi (Fr) ketika suatu rangkaian resonansi paralel yang terdiri dari L dan C ditambahkan pada salah satu-nya sebuah R dengan nilai yang cukup besar.36 Hz menjadi 131.83 Hz. Berdasarkan pada hal tersebut. Jika resistor di tambahkan secara seri pada C1 yakni RC (100 Ω). dinamakan sebagai Anti Resonansi.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK Pada rangkaian resonansi paralel di atas ditambahkan RL (100Ω) yang disusun secara seri dengan induktor L1. dapat disimpulkan bahwa anti resonansi tidak terjadi pada rangkaian resonansi seri.4 Faktor Q dan Bandwidth [27] .

sedangkan jika nilai faktor Q rendah maka rangkaian resonansi memiliki bandwidth yang lebar.44 mA.707 (70. Hubungan antara faktor Q dan bandwidth pada suatu rangkaian resonansi ditulis dalam persamaan matematika berikut ini.38 Hz dengan amplitudo arus 993.36 mA. Nilai faktor Q yang tinggi berarti rangkaian resonansi memiliki bandwidth atau lebar frekuensi yang sempit. BW = ∆F = F2 – F1 ∆F merupakan 0. diketahui Fr = 502. Jika ditarik garis horizontal pada amplitudo 702.7%) dari 993.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK Faktor Q (Faktor Kualitas) pada suatu rangkaian resonansi merupakan ukuran dari seberapa baiknya rangkaian resonansi tersebut.36 mA sehingga memotong kurva frekuensi resonansi didapatkan nilai F1 [28] .44 mA (Fr) adalah 702.7%) dari amplitudo frekuensi resonansi (Fr) Pada contoh kurva rangkaian resonansi seri di atas. BW =Fr / Q Q =Fr / BW Dimana: BW = Bandwidth (Hz) Fr = Frekuensi resonansi (Hz) Q = Faktor Q Bandwidth atau lebar frekuensi didapat dengan cara menghitung selisih antara F2 (frekuensi tinggi) dengan F1 (frekuensi rendah). sehingga 0.707 (70.

nilai faktor Q yang tinggi berarti rangkaian resonansi memiliki bandwidth yang sempit. [29] . sedangkan jika nilai faktor Q rendah maka rangkaian resonansi memiliki bandwidth yang lebar.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK dan F2 yakni F1 = 492 Hz dan F2 = 512 Hz. Dengan nilai faktor Q : Q = Fr / BW = 502. Jadi rangkaian resonansi seri memiliki bandwidth: BW = F2 – F1 = 512 – 492 = 20 Hz.38 / 20 Q = 25 Kurva di atas merupakan gambaran dari variasi nilai faktor Q dengan besar bandwidth yang dihasilkan. Pada kurva tersebut terbukti seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa.

1 s/d 5. 5) Disusun rangkaian seperti gambar hubungan paralel.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK BAB III PROSEDUR PERCOBAAN 1) Diukur dengan multimeter hambatan dari induktor. Diulangi langkah percobaan No. sebelum dihubungkan dengan jala-jala PLN. [30] . 6) Diamati dan dicatat kuat arus I untuk beberapa harga C dimulai dari nol sampai C terbesar. 4) Pada suatu harga I tertentu. 3) Diamati dan dicatat kuat arus I untuk beberapa harga C dimulai dari nol sampai C terbesar. 2) Disusun rangkaian seperti hubungan seri. diamati Tegangan bolak-balik tiap komponen dan tegangan output (keluaran) transformator.

176. 11. 6. 76.2 8 . 1 2 . 21. 1 Kapasitor (C) µF .2 7 .2 5 .2 3 .2 6 .L? No. 43.. 3.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK BAB IV HASIL DAN ANALISA 4.2 Kuat Arus (I) mA 0 5 5 19 60 139 262 245 [31] ..1 Data Hasil Percobaan Tegangan sumber Hambatan Frekuensi Induktif 1) Hubungan seri : : : : 6 Volt 2 Ohm 50 Hz .5 4 .

2 5 . 76.5 4 .2 7 . 176. 21.2 3 .MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK 2) Hubungan paralel No.2 8 . 1 Kapasitor (C) µF . 1 2 .2 Kuat Arus (I) mA 162 160 162 158 159 145 172 400 4.2 6 . 43. 3.2 Analisa Matematis XL = XC ωL = L= [32] . 11. 6.

2 µF (diambil dari nilai I minimum) = 43.14 C = 43..2 x 10-6 F Dit : L = .2348 Henry [33] .? Jawab : L = L= L = 0.1331 Henry 2) Hubungan Paralel Dik : f = 50 Hz π = 3.14 C = 76.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK 1) Hubungan Seri Dik : f = 50 Hz π = 3.2 x 10-6 F Dit : L = ..? Jawab : L = L= L = 0.2 µF (diambil dari nilai I maksimum) = 76...

3 Analisa Teoritis Pada percobaan resonansi seri. Kesalahan yang mungkin terjadi pada saat percobaan adalah pembacaan skala amperemeter yang kurang teliti.13 Henry. sedangkan pada resonansi paralel L = 0. data kapasitor (C) yang digunakan adalah data pada saat I minimum. maka secara matematis nilai induktif dapat diketahui. hal ini dikarenakan resonansi pada rangkaian seri terjadi ketika impedansi (Z) minimum (bahkan nol).23 Henry. Nilai induktif pada resonansi seri sebesar 0. data kapasitior (C) yang digunakan adalah data pada saat arus (I) maksimum.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK 4. [34] . E Z E I= 0 I =∞ I= Sedangkan pada percobaan rangkaian paralel. hal ini dikarenakan resonansi paralel terjadi saat impedansi (Z) maksimum (bahkan ∞) E Z E I= ∞ I =0 I= Dengan mengetahui nilai kapasitif pada saat resonansi.

tetapi saling meniadakan satu sama lain karena beda fasa nya 180o.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK BAB V TUGAS 5. X = X L − XC X =0 XL = XC ωL = 1 ωC 1 C= 2 ω L ( 2) [35] . C dan R yang dihubungkan secara seri. VL = IXL XL-Xc V = IR Z R Vc = IXc Z = impedansi (hambatan total) E = IZ I= I= E Z E R2 + ( X L − X C ) 2 Z = R2 + ( X L − X c ) 2 (1) 2) Turunkan rumus (2) dan (3) dari persamaan (1).1 Tugas Pendahuluan 1) Turunkan rumus (1) dengan pertolongan diagram vektor beda tegangan pada L. oleh karena itu nilai reaktansi (X) sama dengan “0” (nol). I= E R2 + ( X L − X C ) 2 Pada keadaan resonansi reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif sama besar.

Apabila C = 0. harga C besar sekali. [36] . bagaimanakah harga kuat arus I? Bagaimana pula untuk rangkaian paralel? V = IR V I= R Q = CV Q V = C Q / C QR = R C I= Untuk rangkaian seri : 1 1 =∑ C S i =1 C i Untuk rangkaian paralel : C P = ∑ Ci i =1 Apabila harga C besar maka harga I pada rangkaian seri besar pula. maka I = 0 (untuk rangkaian seri).MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK I= E R + ( X L − XC ) 2 2 I= I= I= E R 2 + ( 0) E R2 E R (3) 2 3) Jika pada hubungan seri. sedangkan pada rangkaian paralel bila harga C besar maka harga I kecil. 4) Jika harga C=0 bagaimana harga I pada rangkaian seri dan bagaimana pula pada rangkaian paralel? Berdasarkan rumus diatas: Apabila C = 0. maka I = tak terhingga.

Ic Xc-XL IR Z R IL 1 = Z 1 = Z 1 = Z 1 = Z 1 = Z 1  1 1  + 2 X − X   R L   C 1  X L − XC + R2  X C X L  2 2     2 X − 2X L X C + X C 1 + L 2 2 2 R XC X L 2 1 1 2 1 + − + 2 2 X L X C X L2 R XC 1 + R2 1 2 1 − + 2 2 1 1 ωL ω L 2 2 ωc ω c 1 = Z C 2 1 ω 2c 2 1 + − L + 2 2 2 1 1 R ω L 1 ω 2 c 2 + 1 − 2ω 2 LC = Z R 2 + ω 2 L2 1 Z= 2 2 ω c + 1 − 2ω 2 LC R 2 + ω 2 L2 I= E Z I =E ω 2c 2 + 1 − 2ω 2 LC R 2 + ω 2 L2 [37] . C.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK 5) Turunkan rumus (4) dengan pertolongan diagam vektor kuat arus untuk rangkaian paralel dan beda potensialnya untuk rangkaian seri R. L.

XL dan XC berpengaruh terhadap impedansi (Z). sehingga semakin besar nilai impedansi maka tegangan akan semakin turun.2 Tugas Akhir 1) Hitunglah besar hambatan searah dari konduktor? Dik : E = 6 volt I = 262 mA = 262 x 10-3 A Dit : .. Sedangkan impedansi berbanding terbalik dengan tegangan.90 Ω 2) Pada tiap-tiap pengukuran selalu terjadi penurunan tegangan.. 3) Buatlah grafik kuat arus I terhadap kapasitor C untuk rangkaian seri! [38] . R=0 ωC − ωL =0 R + ω 2 L2 2 ωC = ωL R + ω 2 L2 L C= 2 R + ω 2 L2 1 C= 2 R    + ω 2L  L    2 (5) 5.R ? Jawab : R= = E I 6 262 ×10 −3 = 22 . Terangkan bagaimana ini dapat terjadi? Penurunan tegangan terjadi karena perubahan reaktansi kapasitif (XC) dan reaktansi induktif (XL).MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK 6) Turunkan rumus (5) dan (6) dari rumus (4).

2 5 .2 3 . 6.2. 43.2 6 . 1 2 . 262 100 C(µF ) 150 200 [39] . 1 Kapasitor (C) µF . 11.5 4 .2 8 .2 Kuat Arus (I) mA 0 5 5 19 60 139 262 245 GrafikKuat Arus I terhadap K apas itor C Rang kaian S eri 300 250 200 I (mA) 150 100 50 0 0 50 76. 76. 3.2 7 . 21.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK No. 176.

6.2 8 .5 4 .MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK 4) Buatlah grafik kuat arus I terhadap kapasitor C untuk rangkaian paralel! No. 11.2 400 172 145 159 158 162 160 162 Kapasitor (C) µF Kuat Arus (I) mA [40] .2 6 .2 5 . 76. 3. 1 . 43.2 7 . 176. 1 2 . 21.2 3 .

. Imin = 145 mA.2 µF.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK 5) Berdasarkan grafik di atas tentukanlah harga-harga C resonansi dan I resonansi! Pada rangkaian seri.. R. Imax = 262 mA. Hambatan (R) [41] .2 µF = 76. Berdasarkan grafik. Berdasarkan grafik. resonansi terjadi pada saat I minimum. 6) Hitunglah hambatan dan induksi L dari induktor dengan mempergunakan rumus (1) dan (3). terjadi pada C = 43.? b.. juga dengan rumus (2) dan (3). Jawab : a. L. terjadi pada C = 76.2 x 10-6 F Imax = 262 mA = 262 x 10-3 A Dit : a.1331 Henry b. Induksi (L) C= L= L= L= L = 0. resonansi terjadi pada saat I maksimum. Pada rangkaian paralel.2 µF.. Dik : E=6V f = 50 Hz (sumber listrik yang digunakan standar PLN) C = 76...

2 × 10 −6 = 41.L = 2.90 Ω 7) Bandingkanlah harga R yang diperoleh dari pernyataan No. 3.14. 50. 0.14. yaitu 22.79 ) 6 2 R 2 + 02 6 R= 262 × 10 − 3 R = 22.C 1 2.1 sama besarnya dengan harga R pada perhitungan No.90 Ω.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK XC = 1 ωC 1 = 2πf .1 dan No. 50. [42] . Hal ini menunjukan bahwa hambatan searah sama dengan hambatan total rangkaian.1331 = 41.6.79 − 41.79 Ω = X L = ωL = 2πf .79 Ω I= 262 × 10 − 3 = 262 × 10 − 3 = E R + ( X L − XC ) 2 2 220 R 2 + ( 41.6! Harga R pada perhitungan No. 3. 76. karena pada saat resonansi hambatan kapasitif (XC) dan hambatan induktif (XL) bernilai sama tetapi saling meniadakan (0) karena beda fasa 180o atau berlawanan arah.

[43] . didapat nilai induktif (L) pada rangkaian seri sebesar 0. Kesalahan yang mungkin terjadi pada saat percobaan adalah kekurangtelitian dalam membaca skala amperemeter. resonansi terjadi ketika arus maksimum dan impedansi minimum.23 Henry. resonansi terjadi ketika arus minimum dan impedansi maksimum.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK BAB IV KESIMPULAN Resonansi listrik terjadi ketika reaktansi indukstif sama dengan reaktansi kapasitif. sehingga menyebabkan pemilihan data kapasitor yang kurang akurat. Berdasarkan hasil analisa. Pada rangkaian seri. Sedangkan pada rangkaian paralel.13 Henry. sedangkan pada rangkaian paralel L = 0.

diakses 16 Juni 2011 19.56). U.C. diakses 15 Juni 2011 20.35).Petunjuk Praktikum Fisika Dasar untuk Jurusan Kimia S1. Third Edition. F.Cimahi : Laboratorium Fisika Dasar. Volume II . Lesson In Electric Circuits.gsu.blogspot. Georgia State University.UNJANI.gsu. D. 2007. Kuphaldt. (http://hyperphysics. (http://hyperphysics. (Online).html#c1. DOE Fundamentals Handbook Electrical Science Volume 3 of 4.html#c1. (Online). Department of Physics and Astronomy. Elsevier Ltd.phy- astr. 20585. Parallel Resonance.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK DAFTAR PUSTAKA Anonim. (http://powerelectrical.phy- astr. 2007. Anonim.edu/hbase/electric/parres. [44] . Resonance.edu/hbase/electric/serres. Electrical and Electronic Principles and Technology.MIPA.AC. (Online). Anonim. Parallel and Series Resonance.2010. diakses 15 Juni 2011 20. Georgia State University. Department of Energy Washington. Tony R.com/2007/03/parallel-and-seriesresonance.05).html. Department of Physics and Astronomy. John Bird.S.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->