MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Tujuan 1) 2) Mampu mengamati adanya gejala resonansi dalam rangkaian arus Mampu menentukan besar tahanan dan induksi dari induktor bolaik-balik. (kumparan pemadam). 1.2 Alat dan Bahan 1) Induktor (kumparan pemadam) dan hambatan (R) 2) Sumber tegangan (transformator/AC) 3) Multimeter 4) Bangku kapasitor 5) Miliampermeter AC 6) Kabel-kabel penghubung

[19]

MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Resonansi Arus AC Arus AC atau kepanjangan dari Alternating Curren adalah arus yang sipatnya mempunya dua arah atau lebih di kenal dengan sebutan arus bolakbalik yang tidak memiliki sisi negatif, dan hanya mempunya ground (bumi). Arus AC biasa di gunakan untuk tegangan listrik PLN sebesar misalnya 220 Volt 50 hertz, ini adalah tegangan standard untuk Indonesia. Pada dasarnya, di setiap rangkaian arus AC pasti mempunyai nilai induktansi, hambatan dan kapasitas. Akan tetapi nilai hambatan, kapasitas dan induktansi tergantung pada jenis komponen di dalam rangkaian tersebut, yang dalam keadaan tertentu nilainya dapat diabaikan sedangkan pada kondisi lain tidak dapat diabaikan. Dalam arus AC, terdapat hambatan yang disebut impedansi (Z) yang terdiri dari : (1) Hambatan Murni (R) : : (2) Hambatan Induktif (XL) : (3) Hambatan Kapasitor (XC) :

Pada rangkaian R-L-C, terdapat 3 kemungkinan impedansi Z dengan sudut fase, yaitu : XL > XC : rangkaian bersifat induktif, arus tertinggal dari π tegangan sebesar (0 ≤ ϕ ≤ ) 2 (2) XL < XC : rangkaian bersifat kapasitif, arus tertinggal dari tegangan sebesar (0 ≤ ϕ ≤ π ) 2 (3) XL = XC : rangkaian bersifat resistif (terjadi resonansi), arus
(1)

sefase dengan tegangan.

[20]

Hambatan (R) dan sebuah miliamperemeter (mA). maka besarnya arus efektif (I) yang mengalir melalui rangkaian tersebut adalah : I= E R2 + ( X L − X C ) 2 (1) dimana : R = besarnya tahanan (Ohm) L = besarnya induktansi dari konduktor (Henry) C = besarnya kapasitansi dari kapasitor (Farad) I = kuat arus (Ampere) E = tegangan (Volt) ω = frekuensi sudut (radian per detik) [21] . bangku kapasitor (C).MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK 1) Rangkaian seri K C R L T Rangkaian Listrik dengan Hubungan Seri Gambar di atas menunjukan sebuah rangkaian listrik dengan arus bolak-balik dengan susunan seri yang terdiri dari T sebuah tegangan arus bolak-balik. Induktor (L). Jika E adalah besarnya tegangan efektif dan ω besarnya frekuensi sudut dari sumber tegangan arus bolak-balik.

Harga arus maksimum itu dicapai pada saat harga : C= 1 ω2L E R 1 ω2L Dan besarnya kuat arus : I max = Rangkaian listrik dimana I mencapai maksimum dan harga C = disebut : dalam keadaan resonansi seri.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK Jika nilai C diubah-ubah besarnya. maka kuat arus efektifnya adalah : I= E ω 2 C 2 + 1 − 2ω 2 LC R 2 + ω 2 L2 (4) [22] . maka akan terdapat harga I yang mencapai harga maksimum. Jika E tegangan efektif dari sumber tegangan. 2) Rangkaian paralel K R L T C Rangkaian Listrik dengan Hubungan Paralel Gambar menunjukkan sebuah rangkaian arus bolak-balik dengan susunan paralel dengan induktor (termasuk hambatannya) dengan kapasitor kemudian disusun seri dengan miliamparemeter ke sumber tegangan arus bolak-balik.

2. melainkan R diambil dari kumparan konduktornya (induktor terdiri dari kuparan kawat dan besi). maka rangkaian tersebut : dalam keadaan resonansi paralel. selalu digunakan batas ukur yang terbesar kemudian berturut-turut dikecilkan. Harga arus minimum itu dapat dicapai pada saat harga : C= 1  R2 ω2L +   L  ER R + ω 2 L2 2     (5) dan besar kuat arus : I= Seperti halnya pada rangkaian seri. Rangkaian bangku kapasitor biasanya seperti : C1 C2 C3 C4 Rangkaian Bangku Kapasitor Jadi dengan menyususn paralel kapasitansinya dijumlahkan dari masing-masing kapasitor yang terpakai. Catatan : Pada percobaan ini tidak dipakai hambatan R khusus. maka akan terdapat harga I yang mencapai harga minimum.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK Jika C diubah-ubah besarnya. Demikian pula untuk tegangan. maka pada saat arus mencapai hargga minimum. Adapun bangku kapasitor geser dimana kapasitansinya adalah jumlah langsung dari tiap-tiap penunjukkan gesernya. Pada setiap pengukuran baik arus searah maupun arus bolak-balik.2 Frekuensi Resonansi [23] .

Berapakah frekuensi resonansi (Fr) pada rangkaian resonansi seri di atas? Fr = 1 / (2π √(LC)) Fr = 1 / (2 ∙ 3. Untuk menghitung nilai frekuensi referensi menggunakan rumus diatas. Resonansi pada rangkaian AC (Alternating Curren) merupakan keadaan dimana reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif memiliki nilai yang sama (XL = XC ). hal ini terjadi karena suatu benda bergetar pada frekuensi yang sama dengan frekuensi benda yang terpengaruhi. Contoh : Pada rangkaian di atas kapasitor C1 memiliki nilai kapasitansi 10uF dan induktor L1 memiliki nilai induktansi 120mH. Reaktansi induktif akan meningkat seiring meningkat-nya frekuensi sedangkan reaktansi kapasitif justru sebaliknya.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK Resonansi adalah proses bergetarnya suatu benda dikarenakan ada benda lain yang bergetar.006879 Fr = 145.14 √(0. Jadi hanya akan ada satu nilai frekuensi dimana keadaan kedua reaktanssi tersebut bernilai sama.12 ∙ 10-5)) Fr = 1 / 0. akan menurun jika frekuensi meningkat. Frekuensi resonansi dapat dihitung menggunakan persamaan matematika berikut ini : 1) Rangkaian seri Rangkaian resonansi seri merupakan kombinasi rangkaian induktor dan kapasitor yang disusun secara seri.36 Hz [24] .

Ini menandakan bahwa rangkaian resonansi seri memiliki impedansi yang sangat rendah pada kondisi resonansi. rangkaian resonansi seri akan menghasilkan bentuk kurva seperti terlihat berikut ini. arus yang mengalir pada rangkaian mencapai nilai maksimumnya. [25] . 2) Rangkaian paralel (Tank Circuit) Kombinasi rangkaian induktor dan kapasitor yang dapat menghasilkan keadaan resonansi lainnya adalah dengan merangkai induktor dan kapasitor secara paralel atau disebut juga sebagai ‘Tank Circuit’. Contoh : Cara menghitung frekuensi resonansi (Fr) pada rangkaian paralel sama dengan menghitung frekuensi resonansi pada rangkaian seri. bahkan pada rangkaian ideal nilai impedansi rangkaian akan sama dengan ‘0’ (Nol).MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK Jika disimulasikan menggunakan software simulasi dan kita plot nilai arus terhadap frekuensi. Bentuk kurva untuk rangkaian resonansi seri pada saat keadaan resonansi.

MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK Bentuk kurva yang dihasilkan oleh rangkaian resonansi paralel melalui simulasi elektronika diperlihatkan pada gambar berikut ini. pada keadaan resonansi. 2. Ini menandakan bahwa impedansi rangkaian sangat tinggi bahkan pada kondisi ideal impedansi rangkaian memiliki nilai yang tak terhingga. arus yang mengalir pada rangkaian mencapai nilai minimum-nya bahkan hampir mendekati ‘0’ (Nol). [26] .3 Anti Resonansi Pada suatu rangkaian resonansi paralel yang hanya terdiri dari induktor (L) dan kapasitor (C) jika ditambahkan resistor (R) secara seri pada salah satunya akan mengakibatkan bergeser-nya frekuensi resonansi. Hal ini juga berimbas menjadi tidak relevan-nya persamaan frekuensi resonansi (Fr) yang telah dijelaskan sebelumnya. Berdasarkan pada kurva di atas.

36 Hz menjadi 131. Fr = 144. Berdasarkan pada hal tersebut. Pergeseran nilai frekuensi resonansi (Fr) ketika suatu rangkaian resonansi paralel yang terdiri dari L dan C ditambahkan pada salah satu-nya sebuah R dengan nilai yang cukup besar. dinamakan sebagai Anti Resonansi. dapat disimpulkan bahwa anti resonansi tidak terjadi pada rangkaian resonansi seri.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK Pada rangkaian resonansi paralel di atas ditambahkan RL (100Ω) yang disusun secara seri dengan induktor L1. Jika resistor di tambahkan secara seri pada C1 yakni RC (100 Ω).36 Hz menjadi 165. 2. hasilnya frekuensi resonansi bergeser ke atas dari 145.54 Hz dan hal ini masih bisa di toleransi. Hasilnya frekuensi resonansi bergeser ke bawah dari 145.4 Faktor Q dan Bandwidth [27] .83 Hz.96 Hz. Kemudian bagaimana dengan rangkaian resonansi seri yang hanya terdiri dari induktor (L) dan kapasitor (C) jika ditambahkan resistor (R) secara seri? Ternyata pergeseran frekuensi resonansi tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan hasil perhitungan menggunakan persamaan Fr. Pada hasil perhitungan Fr = 145.36 Hz sedangkan jika ditambahkan R1 (100 Ω).

Nilai faktor Q yang tinggi berarti rangkaian resonansi memiliki bandwidth atau lebar frekuensi yang sempit. BW = ∆F = F2 – F1 ∆F merupakan 0.7%) dari 993. diketahui Fr = 502.7%) dari amplitudo frekuensi resonansi (Fr) Pada contoh kurva rangkaian resonansi seri di atas.707 (70. sehingga 0.36 mA sehingga memotong kurva frekuensi resonansi didapatkan nilai F1 [28] .38 Hz dengan amplitudo arus 993.44 mA.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK Faktor Q (Faktor Kualitas) pada suatu rangkaian resonansi merupakan ukuran dari seberapa baiknya rangkaian resonansi tersebut. Jika ditarik garis horizontal pada amplitudo 702. sedangkan jika nilai faktor Q rendah maka rangkaian resonansi memiliki bandwidth yang lebar.36 mA. BW =Fr / Q Q =Fr / BW Dimana: BW = Bandwidth (Hz) Fr = Frekuensi resonansi (Hz) Q = Faktor Q Bandwidth atau lebar frekuensi didapat dengan cara menghitung selisih antara F2 (frekuensi tinggi) dengan F1 (frekuensi rendah).707 (70. Hubungan antara faktor Q dan bandwidth pada suatu rangkaian resonansi ditulis dalam persamaan matematika berikut ini.44 mA (Fr) adalah 702.

Dengan nilai faktor Q : Q = Fr / BW = 502.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK dan F2 yakni F1 = 492 Hz dan F2 = 512 Hz. nilai faktor Q yang tinggi berarti rangkaian resonansi memiliki bandwidth yang sempit.38 / 20 Q = 25 Kurva di atas merupakan gambaran dari variasi nilai faktor Q dengan besar bandwidth yang dihasilkan. Pada kurva tersebut terbukti seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa. [29] . Jadi rangkaian resonansi seri memiliki bandwidth: BW = F2 – F1 = 512 – 492 = 20 Hz. sedangkan jika nilai faktor Q rendah maka rangkaian resonansi memiliki bandwidth yang lebar.

4) Pada suatu harga I tertentu. 6) Diamati dan dicatat kuat arus I untuk beberapa harga C dimulai dari nol sampai C terbesar. diamati Tegangan bolak-balik tiap komponen dan tegangan output (keluaran) transformator. 3) Diamati dan dicatat kuat arus I untuk beberapa harga C dimulai dari nol sampai C terbesar. [30] . sebelum dihubungkan dengan jala-jala PLN. 5) Disusun rangkaian seperti gambar hubungan paralel.1 s/d 5. 2) Disusun rangkaian seperti hubungan seri. Diulangi langkah percobaan No.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK BAB III PROSEDUR PERCOBAAN 1) Diukur dengan multimeter hambatan dari induktor.

2 6 .2 7 .5 4 .1 Data Hasil Percobaan Tegangan sumber Hambatan Frekuensi Induktif 1) Hubungan seri : : : : 6 Volt 2 Ohm 50 Hz .2 Kuat Arus (I) mA 0 5 5 19 60 139 262 245 [31] . 3.2 8 . 1 2 . 11. 1 Kapasitor (C) µF ..L? No. 6. 76. 43. 21.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK BAB IV HASIL DAN ANALISA 4.2 5 ..2 3 . 176.

2 8 . 3. 21.2 5 . 6. 1 Kapasitor (C) µF . 176. 43. 1 2 .5 4 .MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK 2) Hubungan paralel No.2 3 .2 6 . 76.2 Kuat Arus (I) mA 162 160 162 158 159 145 172 400 4.2 7 . 11.2 Analisa Matematis XL = XC ωL = L= [32] .

1331 Henry 2) Hubungan Paralel Dik : f = 50 Hz π = 3.2 µF (diambil dari nilai I minimum) = 43.14 C = 76....2 µF (diambil dari nilai I maksimum) = 76.2 x 10-6 F Dit : L = .? Jawab : L = L= L = 0.2348 Henry [33] .2 x 10-6 F Dit : L = .? Jawab : L = L= L = 0..MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK 1) Hubungan Seri Dik : f = 50 Hz π = 3.14 C = 43.

hal ini dikarenakan resonansi paralel terjadi saat impedansi (Z) maksimum (bahkan ∞) E Z E I= ∞ I =0 I= Dengan mengetahui nilai kapasitif pada saat resonansi.13 Henry. E Z E I= 0 I =∞ I= Sedangkan pada percobaan rangkaian paralel.3 Analisa Teoritis Pada percobaan resonansi seri. data kapasitior (C) yang digunakan adalah data pada saat arus (I) maksimum. [34] .MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK 4. Kesalahan yang mungkin terjadi pada saat percobaan adalah pembacaan skala amperemeter yang kurang teliti. Nilai induktif pada resonansi seri sebesar 0. sedangkan pada resonansi paralel L = 0. maka secara matematis nilai induktif dapat diketahui. data kapasitor (C) yang digunakan adalah data pada saat I minimum.23 Henry. hal ini dikarenakan resonansi pada rangkaian seri terjadi ketika impedansi (Z) minimum (bahkan nol).

MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK BAB V TUGAS 5. tetapi saling meniadakan satu sama lain karena beda fasa nya 180o. VL = IXL XL-Xc V = IR Z R Vc = IXc Z = impedansi (hambatan total) E = IZ I= I= E Z E R2 + ( X L − X C ) 2 Z = R2 + ( X L − X c ) 2 (1) 2) Turunkan rumus (2) dan (3) dari persamaan (1). oleh karena itu nilai reaktansi (X) sama dengan “0” (nol). I= E R2 + ( X L − X C ) 2 Pada keadaan resonansi reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif sama besar. X = X L − XC X =0 XL = XC ωL = 1 ωC 1 C= 2 ω L ( 2) [35] . C dan R yang dihubungkan secara seri.1 Tugas Pendahuluan 1) Turunkan rumus (1) dengan pertolongan diagram vektor beda tegangan pada L.

[36] . harga C besar sekali. maka I = 0 (untuk rangkaian seri). sedangkan pada rangkaian paralel bila harga C besar maka harga I kecil.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK I= E R + ( X L − XC ) 2 2 I= I= I= E R 2 + ( 0) E R2 E R (3) 2 3) Jika pada hubungan seri. maka I = tak terhingga. bagaimanakah harga kuat arus I? Bagaimana pula untuk rangkaian paralel? V = IR V I= R Q = CV Q V = C Q / C QR = R C I= Untuk rangkaian seri : 1 1 =∑ C S i =1 C i Untuk rangkaian paralel : C P = ∑ Ci i =1 Apabila harga C besar maka harga I pada rangkaian seri besar pula. 4) Jika harga C=0 bagaimana harga I pada rangkaian seri dan bagaimana pula pada rangkaian paralel? Berdasarkan rumus diatas: Apabila C = 0. Apabila C = 0.

C. Ic Xc-XL IR Z R IL 1 = Z 1 = Z 1 = Z 1 = Z 1 = Z 1  1 1  + 2 X − X   R L   C 1  X L − XC + R2  X C X L  2 2     2 X − 2X L X C + X C 1 + L 2 2 2 R XC X L 2 1 1 2 1 + − + 2 2 X L X C X L2 R XC 1 + R2 1 2 1 − + 2 2 1 1 ωL ω L 2 2 ωc ω c 1 = Z C 2 1 ω 2c 2 1 + − L + 2 2 2 1 1 R ω L 1 ω 2 c 2 + 1 − 2ω 2 LC = Z R 2 + ω 2 L2 1 Z= 2 2 ω c + 1 − 2ω 2 LC R 2 + ω 2 L2 I= E Z I =E ω 2c 2 + 1 − 2ω 2 LC R 2 + ω 2 L2 [37] . L.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK 5) Turunkan rumus (4) dengan pertolongan diagam vektor kuat arus untuk rangkaian paralel dan beda potensialnya untuk rangkaian seri R.

Terangkan bagaimana ini dapat terjadi? Penurunan tegangan terjadi karena perubahan reaktansi kapasitif (XC) dan reaktansi induktif (XL). XL dan XC berpengaruh terhadap impedansi (Z)..R ? Jawab : R= = E I 6 262 ×10 −3 = 22 . sehingga semakin besar nilai impedansi maka tegangan akan semakin turun. 3) Buatlah grafik kuat arus I terhadap kapasitor C untuk rangkaian seri! [38] .MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK 6) Turunkan rumus (5) dan (6) dari rumus (4).2 Tugas Akhir 1) Hitunglah besar hambatan searah dari konduktor? Dik : E = 6 volt I = 262 mA = 262 x 10-3 A Dit : .. Sedangkan impedansi berbanding terbalik dengan tegangan.90 Ω 2) Pada tiap-tiap pengukuran selalu terjadi penurunan tegangan. R=0 ωC − ωL =0 R + ω 2 L2 2 ωC = ωL R + ω 2 L2 L C= 2 R + ω 2 L2 1 C= 2 R    + ω 2L  L    2 (5) 5.

11. 21.2 Kuat Arus (I) mA 0 5 5 19 60 139 262 245 GrafikKuat Arus I terhadap K apas itor C Rang kaian S eri 300 250 200 I (mA) 150 100 50 0 0 50 76. 1 2 .5 4 .2 6 .2 3 . 43. 1 Kapasitor (C) µF . 176. 3. 6.2.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK No.2 8 .2 7 . 262 100 C(µF ) 150 200 [39] .2 5 . 76.

43.2 400 172 145 159 158 162 160 162 Kapasitor (C) µF Kuat Arus (I) mA [40] .2 6 .2 5 . 11. 1 .2 7 . 1 2 . 76.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK 4) Buatlah grafik kuat arus I terhadap kapasitor C untuk rangkaian paralel! No. 3.2 8 . 6. 176.2 3 . 21.5 4 .

. Dik : E=6V f = 50 Hz (sumber listrik yang digunakan standar PLN) C = 76. Imin = 145 mA.. Berdasarkan grafik. R..2 µF. resonansi terjadi pada saat I maksimum.2 µF = 76.MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK 5) Berdasarkan grafik di atas tentukanlah harga-harga C resonansi dan I resonansi! Pada rangkaian seri. Jawab : a.1331 Henry b. Hambatan (R) [41] .. terjadi pada C = 43.2 µF. L. resonansi terjadi pada saat I minimum. Pada rangkaian paralel. Berdasarkan grafik. terjadi pada C = 76..2 x 10-6 F Imax = 262 mA = 262 x 10-3 A Dit : a.. juga dengan rumus (2) dan (3).? b. Induksi (L) C= L= L= L= L = 0. Imax = 262 mA. 6) Hitunglah hambatan dan induksi L dari induktor dengan mempergunakan rumus (1) dan (3).

MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK XC = 1 ωC 1 = 2πf . yaitu 22.C 1 2. 0.6.1 sama besarnya dengan harga R pada perhitungan No.79 Ω = X L = ωL = 2πf .1 dan No. Hal ini menunjukan bahwa hambatan searah sama dengan hambatan total rangkaian.2 × 10 −6 = 41.L = 2. 3. 50.1331 = 41. 76.14. [42] .79 − 41.90 Ω.79 Ω I= 262 × 10 − 3 = 262 × 10 − 3 = E R + ( X L − XC ) 2 2 220 R 2 + ( 41. karena pada saat resonansi hambatan kapasitif (XC) dan hambatan induktif (XL) bernilai sama tetapi saling meniadakan (0) karena beda fasa 180o atau berlawanan arah.14.6! Harga R pada perhitungan No. 3.90 Ω 7) Bandingkanlah harga R yang diperoleh dari pernyataan No. 50.79 ) 6 2 R 2 + 02 6 R= 262 × 10 − 3 R = 22.

MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK BAB IV KESIMPULAN Resonansi listrik terjadi ketika reaktansi indukstif sama dengan reaktansi kapasitif. Sedangkan pada rangkaian paralel. Berdasarkan hasil analisa. Pada rangkaian seri. [43] . resonansi terjadi ketika arus minimum dan impedansi maksimum.23 Henry. Kesalahan yang mungkin terjadi pada saat percobaan adalah kekurangtelitian dalam membaca skala amperemeter. sedangkan pada rangkaian paralel L = 0.13 Henry. resonansi terjadi ketika arus maksimum dan impedansi minimum. didapat nilai induktif (L) pada rangkaian seri sebesar 0. sehingga menyebabkan pemilihan data kapasitor yang kurang akurat.

Lesson In Electric Circuits. D. Anonim. Parallel Resonance. diakses 15 Juni 2011 20.edu/hbase/electric/parres.2010. Third Edition. 2007. Anonim. (http://hyperphysics. Tony R. 2007. [44] .MIPA. (Online). (http://hyperphysics. Georgia State University.com/2007/03/parallel-and-seriesresonance.edu/hbase/electric/serres. Kuphaldt. DOE Fundamentals Handbook Electrical Science Volume 3 of 4. John Bird.phy- astr.html. (http://powerelectrical. 20585. (Online).AC. Department of Physics and Astronomy. Georgia State University. Electrical and Electronic Principles and Technology.UNJANI. Department of Physics and Astronomy. Parallel and Series Resonance. F. U.56).blogspot.gsu. Department of Energy Washington.05).MODUL 2 – RESONANSI LISTRIK DAFTAR PUSTAKA Anonim. Resonance.phy- astr.S.35).Petunjuk Praktikum Fisika Dasar untuk Jurusan Kimia S1. diakses 16 Juni 2011 19. diakses 15 Juni 2011 20.Cimahi : Laboratorium Fisika Dasar.gsu.C.html#c1. Elsevier Ltd. Volume II .html#c1. (Online).