P. 1
Limbah Dengan Menggunakan Kapur

Limbah Dengan Menggunakan Kapur

|Views: 428|Likes:

More info:

Published by: Akhsal Boedax'n Soreanx on Oct 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/22/2015

pdf

text

original

PENURUNAN FOSFAT DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME), TAWAS DAN FILTRASI ZEOLIT PADA LIMBAH CAIR

( STUDI KASUS RS BETHESDA YOGYAKARTA )

Tesis
Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana S-2 pada Program Studi Ilmu Lingkungan

Sudi Setyo Budi L4K003013

PROGRAM MAGISTER ILMU LINGKUNGAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2006

TESIS PENURUNAN FOSFAT DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME), TAWAS DAN FILTRASI ZEOLIT PADA LIMBAH CAIR
( STUDI KASUS RS BETHESDA YOGYAKARTA )

Disusun oleh

Sudi Setyo Budi L4K 003 013

Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Pada tanggal 21 Pebruari 2006 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

Menyetujui , Pembimbing I Pembimbing II

Ir. Danny Sutrisnanto, M.Eng

Dr. Ir. Setia Budi Sasongko, DEA

Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan ,

Prof. Dr. Sudharto. P. Hadi, MES.

LEMBAR PENGESAHAN PENURUNAN FOSFAT DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME), TAWAS DAN FILTRASI ZEOLIT PADA LIMBAH CAIR
( STUDI KASUS RS BETHESDA YOGYAKARTA ) Disusun oleh

Sudi Setyo Budi L4K 003 013
Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Pada tanggal 21 Pebruari 2006 Dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

Ketua

Tanda Tangan

Ir. Danny Sutrisnanto, M.Eng

………………………….

Anggota 1. Dr.Ir. Setia Budi Sasongko,DEA …………………………

2.

Ir. Sumarno, M.Si

…………………………

3.

Ir.Agus Hadiyarto.MT

…………………………

kaidah dan etika penulisan ilmiah.PERNYATAAN Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang saya susun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Program Magister Ilmu Lingkungan seluruhnya merupakan hasil karya saya sendiri. Semarang. saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan yang berlaku. Aapbila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian tesisi ini bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu. Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan tesis yang saya kutip dari hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma. Maret 2006 Penulis Sudi Setyo Budi L4K 004 013 .

Purwanto. . Penguji I Dr. Prof. Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan . Muara. Dan Jepara) Nama Mahasiswa Nomor Mahasiswa Program Studi Konsentrasi : : : : AMELYA NILA ANDINI L4K003001 Magister Ilmu Lingkungan Managemen Lingkungan Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Pada tanggal – Juli 2005 Dan dinyatakan memenuhi syarat untuk diterima Menyetujui: Pembimbing I Pembimbing II Dr.S. Sudharto. Ir. Dan Perairan Pantai (Studi Kasus: Jakarta. Semarang. Hadi. Ir. M. Siti Harnina Bintari. Agus Sabdono. Dr. Tonny Bachtiar. M. M.Judul Tesis : Kinetika Biodegradasi Koprostanol Oleh Bakteri Terseleksi Dari Air Dan Sedimen Pada Lingkungan Sungai.Sc.Sc. DEA Mengetahui . P. MES. Dr. Penguji II Dra.

telah berhasil diselesaikan pada tahun 2006. Selama menempuh pendidikan S1 penulis aktif didalam kegiatan Organisasi Kemahasiswaan. . Jawa Tengah Sampai sekarang dan melanjutkan pendidikan pasca sarjana (S2) di Program Magister ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang .Tesis dengan judul “Penurunan Kadar Fosfat dengan Penambahan Kapur. Pada tahun 1998 Penulis menjabat sebagai Kepala Desa (Lurah) pada pemilihan kepala Desa di Kabupaten Pati. lahir di Pati pada tanggal 5 Pebruari 1972.BIODATA PENULIS Sudi Setyo Budi.lulus SMA tahun 1991 dan melanjutkan pendidikan Sarjana Strata Satu (S1) pada Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (UNTAG) Semarang selesai pada tahun 2001.Tawas dan Filtrasi Zeolit” ( Studi Kasus Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta ).

Teman-teman Magister Ilmu Lingkungan angkatan 2003 kelas reguler memberikan kenangan. MES sebagai Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan. Para dosen. kesabaran. 2. Dr. Sudharto. Semoga segala kebaikan dan ketulusan Bapak/Ibu/Saudara dalam membantu penyelesaian tesis ini mendapatkan imbalan dari Allah SWT. Ir. Amien. 3. Prof.KATA PENGANTAR Tesis ini disusun untuk memenuhi tugas akhir pada Program Pasca Sarjana Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang. Ir. semangat dan dorongan dalam penyelesaian tesis ini. P. Serta rekan-rekan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang memberikan semangat dan bantuan dalam penyelesaian tesis ini. DEA sebagai dosen pembimbing II. Tesis ini merupakan rangkaian akhir dari persyaratan dalam mencapai gelar kesarjanaan Program Pasca Sarjana (S2) yang telah diseminarkan dan mendapatkan tanggapan. Untuk itu pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat : 1. Danny Sutrisnanto. 6. telah mendapatkan bimbingan serta arahan guna penyempurnaan isi dan tulisan sekaligus persetujuan dari dosen pembimbing dan penguji. M. Penulis. Dr. 5.Eng sebagai dosen pembimbing I. koreksi dan penyempurnaan. 4. 7. pengelola dan karyawan Program Magister Ilmu Lingkungan yang membimbing dan memberikan bantuan dan saran dalam menyelesaikan penelitian ini. Bapak. yang telah Sudi Setyo Budi .Hadi. Setia Budi Sasongko. Tesis yang berjudul Penurunan Fosfat Dengan Penambahan Kapur (Lime) Tawas Dan Filtrasi Zeolit Pada Limbah Cair ( Studi Kasus Rs Bethesda Yogyakarta ). ibu dan semua saudaraku tercinta untuk semua doa.

Hubungan terendah pada konsentrasi 0.981. R0.0015 ppm dan hubungan tertinggi pada konsentrasi 25 ml.895. R0.0015 0. yaitu pada sistem pengolahan dan pengelolaan pencemaran Rumah Sakit Bethesda. untuk itu perlu dilakukan penanganan bahan pencemar fosfat limbah cair rumah agat tidak mencemari lingkungan. R0. Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah rumah sakit yang mengandung fosfat tinggi melebihi melebihi baku mutu yang ditetapkan akan menyebabkan problem lingkungan hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai R pada masing-masing konsentrasi setelah flokulasi dan koagulasi adalah R0. R0. meliputi sanitasi rumah sakit. Kata Kunci: fosfat.0025 ppm = 0.0025 ppm.975. limbah cair .0025 ppm yang paling efektif.0020 ppml = 0.INTISARI Rumah sakit dalam kegiatannya banyak menggunakan bahan-bahan yang berpotensi mencemari lingkungan.0020 ppml = = 0. Hubungan terendah pada konsentrasi 0.992.0015 ppm dan hubungan tertinggi pada konsentrasi 0. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan analisa design pre test and post test design dan hasilnya akan diuji secara diskriptif analitis dengan korelasi.990. zeolit. tawas. jadi dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 0.0015 ppm = 0. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektifitas penurunan kadar fosfat limbah cair rumah sakit Bethesda Yogyakarta sebelum dan setelah melalui perlakuan penambahan larutan kapur dan larutan tawas serta filtrasi zeolit. jadi dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 0. Penelitian dilakukan pada limbah cair Rumah Sakit Bethesda dan uji laboratorium dilaksanakan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pembrantasan penyakit menular (BBTKL-PPM) Yogyakarta. kapur.0025 ppm ppm = 0.979. Kadar bahan pencemaran fosfat dari limbah cair rumah sakit yang melebihi baku mutu yang ditetapkan. Sedangkan nilai R pada masing-masing konsentrasi setelah filtrasi adalah R0.0025 ppm yang paling efektif.

R0.0025 ppm = 0. alum.0015 ppm and highest link at concentration of 0. Result of research indicate that R value at each concentration after of flokulasi and koagulasi is R0.0020 ppml = 0.0025 ppm. For that require to be conducted by handling of contamination materials of house liquid waste phosphate in order not to contaminate environment.895. . Lowest link at concentration of 0. that is at processing system and management of Bethesda Hospital contamination. R0. Contamination which because of consist hospital waste of phosphate will cause environment problem.992. Keyword: phosphate.0025 ppm = 0. chalk. can be concluded that concentration of 0.0015 ppm and highest link at concentration of 0. While R value at each concentration after filtrasi is R0. zeolite.0015 ppm = 0. Method in this research is eksperimental with analysis of pre test design and post test design which is its result will test by diskriptif analytical with correlation.990.0020 ppml = 0. R0. Phosphate contamination materials rate of hospital liquid waste have exceeded standard quality of which is specified.0025 ppm is most effective. This research aim to know storey.979. R0.975. Lowest link at concentration of 0. liquid waste.0025 ppm. become can be concluded that concentration of 0. covering hospital sanitation.981.0025 ppm is most effective.0015 ppm = 0.ABSTRACT Hospital in its activity using many materials which potentialy contaminate environment. level of efektifitas degradation of liquid waste phosphate rate of Bethesda Yogyakarta hospital before and after passing treatment of condensation calcify addition and alum condensation and also zeolite filtration. Research have been done at liquid waste of Bethesda Hospital and laboratory test executed in The mayor technical center of Environment Health and Epidemic control (BBTKLPPM Yogyakarta.

. BAB I PENDAHULUAN ..................... Kegunaan Penelitian .3. BAB II TINJAUAN PUSTAKA .....4.................. DAFTAR TABEL...............................................................2.................1............................. HALAMAN PERNYATAAN ..........1............................. Koagulasi dan Flokulasi . 1........... Kapur .........................5........................................................................................................1.. 2...........1...............................1........................ 1........... Sifat-Sifat Tawas Dan Penggunaannya ........ 2.............................. Koagulasi .........................................4.. 2..........................4...............1...... 2.............................................. ABSTRAK / INTISARI ......................................3...............................................5................ Zeolit .. 2............ 2....................................................... Karakteristik Limbah Cair Rumah Sakit ...........6............................... Flokulasi............ DAFTAR ISI .............................................. 2.................................. 1......... 2................... Latar Belakang Masalah.... 2... Klasifikasi Rumah Sakit ..........1............. Unit-Unit Pengolahan Air Limbah RS Bethesda . Pengertian Limbah Cair Rumah Sakit ............................................ 2.. Sumber Limbah Cair Rumah Sakit ..... 1................................................................3..... 2.......................... Fosfat ............ Identifikasi dan Perumusan Masalah........................... Rumah Sakit ...............................3.............. Sifat Zeolit ............2.......................................... 2....... Tujuan Penelitian .......................................................... DAFTAR GAMBAR ................................................. 2...............1.... i ii iii iv vi vii viii ix 1 1 4 4 4 5 5 9 9 10 11 13 16 16 18 18 19 19 22 23 25 ........2................ 2..2... Pemisahan Fosfat ...... DAFTAR LAMPIRAN .............................. KATA PENGANTAR .................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN PENGESAHAN .......1.................................2.3...................1..........................6................................ 2...................................................1.........................

..................... Tahapan Persiapan ......................................... 3..........................2.... 3.............4............................ Saran . BAB III METODE PENELITIAN ..............6.................................. Alat .. 4..7...3.............................9....... 2....7.......1...................1............. 3.............. Rancangan Penelitian ....2.2.. 3...............3............................. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................6....... 3... 4......................... Instrumen Pebelitian .........3.7.................................... Jenis Zeolit ............1........... 3........ Originalitas Penelitian ................................................... BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................... 26 29 29 30 30 31 31 31 31 31 31 32 33 33 33 33 33 34 34 34 36 36 40 43 44 44 44 45 ..........................................................7........................................................2.....6................................. 2..... 3.................................2............. Jenis dan Sumber Data......6.............. Ruang Lingkup ... Pengambilan Sampel..........3............................................... Pemeriksaan Sampel .......5...... Teknik Analisa Data ... Teknik Pengumpulan Data ............................................................................................................................ 5.7.......... 3..........................6...................3........ Lokasi Penelitian ............. 3.......................2.... Kesimpulan .................................... 5........1.......1.8..6........................... 3.......... Hasil Penelitian dan Analisis Hasil ......... 3........................... 4.............. Bahan ............ 3............................................... Analisa Data .4... Pelaksanaan Penelitian ........................................................... Pembahasan ......... 3. DAFTAR PUSTAKA ...... Periode Pengambilan Sampel ............. Variabel Penelitian ............. 3.......................6... 3................. Aktivasi Zeolit ....... 3......... Teknik Pengambilan Sampel ...2........................

...............Klasifikasi Fosfat............................DAFTAR TABEL Halaman 1......................................................... (Asli) .................................................Keadaan Limbah cair RS Bethesda Yogyakarta sebelum Pengolahan ....................................................... 8..............Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi .....................Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi ...Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi / Flokulasi 36 38 43 43 6...................... 7...............Klasifikasi Zeolit .......Perbedaan Mineral Alam dan Zeolit Sintetik ........................... 17 26 28 36 4............................................... 2..........................................Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi ................................. 3.......... 5................................

..............................0020 ppm...............Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0........... 9.......... 8.......0015 ppm ................................. 5........ 40 40 39 39 38 38 37 37 17 29 .....0025 ppm ..........Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0........................ 4. 0.....................................DAFTAR GAMBAR Halaman 1..0025 ppm...... 0.............. 0........0015 ppm .....Rancangan Penelitian ............Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0..... 0..........0015 ppm...Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0...............................0020 ppm .............0025 ppm ............................................... 2. 6....Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0.... 3...0025 ppm ..... 7.....Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0..0020 ppm....Pola Klasifikasi Fosfat .......0015 ppm..Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0.....0020 ppm .................................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda YogyaKarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0......................... 10........................................

..0015 ppm.. 0.. Foto-foto Penelitian 4...0020 ppm...... dan 0.0015 ppm. 47 2. Penambahan Tawas (Kadar Fosfat setelah Filtrasi ) Regression (Konsentrasi 0......DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1....0025 ppm)....0020 ppm......... 0....... Hasil Pengolahan Penurunan Kadar Fosfat Limbah Cair Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta .0025 ppm) 3..... Penambahan Tawas (Kadar Fosfat sebelum Filtrasi ) Regression (Konsentrasi 0......... Peta Yogyakarta 60 57 51 .... dan 0.........

70 Yogyakarta. . Sebenarnya jumlhah fosfat yang diperlukan oleh blue-green algae makhluk hidup air penyebab algae bool untuk tumbuh ternyata hanya dengan konsentrasi 10 ppb (part perbillion) fosfor saja blue-green algae sudah bisa tumbuh. Menyadari bahwa fosfatlah yang menjadi penyebab terjadinya eutrofikasi. laundry. berbau tidak sedap dan kekeruhan menjadi sangat meningkat.1 Latar Belakang Masalah Rumah sakit dalam kegiatannya banyak menggunakan bahan-bahan yang berpotensi mencemari lingkungan. Melalui penelitian panjang di AS para peneliti akhirnya bisa menyimpulkan bahwa fosfor merupakan elemen kunci diantara nutrient utama lainnya seperti: Carbon (C). Definisi dasarnya adalah pencemaran air yang disebabkan munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air.seperti: detergen. maka perhatian para saintis dan kelompok masyarakat pecinta lingkungan hidup semakin meningkat terhadap masalah ini. asrama dll. Problem eutrofikasi baru disadari pada dekade awal abad ke-20 saat algae banyak tumbuh di ekosistem air. Di samping itu kegiatan rumah sakit juga menghasikan limbah cair yang bersifat infeksius. Tidak heran jika algae bloom terjadi di banyak ekosistem air. kualitas air di banyak ekosistem air menjadi sangat menurun. Rumah sakit Bethesda merupakan rumah sakit dengan type B berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman N0.Limbah rumah sakit yang mengandung fosfat akan menyebabkan problem lingkungan hidup yaitu menyebabkan Eutrofikasi. laboratorium. ruang operasi . Problem ini disinyalir akibat langsung dari aliran limbah yang mengandung fosfat tinggi. ada juga yang melarang secara tegas keberadaan fosfat dalam detergen. Akibatnya. rawat inap. Sumber-sumber pencemaran yang terdapat di rumah sakit berasal dari kegiatan dapur. Nitrogen (N). Kondisi eutrofik sangat memungkinkan algae tumbuh berkembang biak dengan pesat (blooming) akibat dari ketersediaan fosfat berlebihan serta kondisi lain yang memadai. Hal ini bisa dikenali dengan warna air menjadi kehijauan. kamar mayat. dan Fosfor (P) didalam proses eutrofikasi.BAB I PENDAHULUAN 1. Air dikatakan eutrofik jika konsentrasi phosphorus (TP) dalam air berada pada rentang 35-100 g/l. Dalam waktu 24 jam saja populasi algae bisa berkembang dua kali lipat dengan ketersediaan fosfor yang berlebihan akibat limbah fosfat diatas. Banyaknya enceng gondok yang bertebaran dimanamana juga disebabkan dari fosfat yang sangat berlebihan ini. racun dan bahan berbahaya bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya maupun dalam lingkungan rumah sakit itu sendiri. Ada kelompok yang condong memilih cara-cara penanggulangan melalui pengolahan limbah cair yang mengandung fosfat.

yang perlu kita waspadai adalah zat-zat kimia yang bersifat peresisten (yang tidak dapat untuk jangka waktu yang lama didalam lingkungan). Jangan sampai rumah sakit yang dianggap sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. tempat mencetak tenaga kesehatan dan sarana penelitian. logam berat (karsinogenik) maupun radioaktif. Karena itu perlu upaya secara terus menerus untuk meningkatkan budaya dan pola pikir agar faktor lingkungan menjadi prioritas utama dalam melakukan pengelolaan rumah sakit. Pemecahan problem ini di Indonesia sangat menuntut peran serta masyarakat. justru menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat disekitarnya maupun masyarakat yang menggunakannya (nosokomial). Oleh karena Itu untuk pennganan limbah rumah sakit yang dihasilkan harus dikelola sesuai dengan karakteristik dan volume limbah sehingga dapat meminimalkan dampak negatif yang dihasilkan sehingga lingkungan dapat menerima dan diuraikan (self purification). Rumah sakit itu befungsi sebagai sarana kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan.Dewasa ini persoalan eutrofikasi tidak hanya dikaji secara lokal dan temporal. Karena kita ketahui bahwa limbah rumah sakit merupakan bahan dan sumber pencemar yang sangat kompleks karena limbahnya bisa mengandung kuman ksius. praktisi dan pemerintah menjadi tugas yang mendesak untuk menyelamatkan sumber daya air dari bencana eutrofikasi serta memelihara dan mengolahnya untuk kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang. Negara-negara kawasan Eropa juga memiliki komite khusus dengan nama Scientific Committee on Fosfates in Europe yang memberlakukan The Urban Waste Water Treatment Directive yang berfungsi untuk menangani problem fosfat dari limbah cair dan cara penanggulangannya. Karena tidak dapat terurai secara alamiah maka terjadi karena berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Eutrofikasi merupakan contoh kasus dari problem yang menuntut pendekatan lintas disiplin ilmu dan lintas sektoral. saintis. disamping Environmental Protection Agency/EPA yang memberlakukan peraturan dan pengawasan ketat terhadap pencemaran lingkungan. Untuk itu perlu pengelolaan lingkungan rumah sakit secara cermat sehingga output tidak menimbulkan dampak terhadap masyarakat. Mereka juga memilki jurnal ilmiah European Water Pollution Control. akumulasi di dalam organisme dan lingkungan serta terjadinya biomagnifikasi/rantai makanan. tetapi juga menjadi persoalan global yang rumit untuk diatasi sehingga menuntut perhatian serius banyak pihak secara terus-menerus. Kaitannya dengan kesehatan. Pada saat ini rumah-rumah sakit yang ada melakukan pengolahan limbahnya pada Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) tetapi ada juga yang hanya secara konvensional (septic tank dan peresapan) dan bahkan tanpa pengolahan (langsung dibuang ke lingkungan). ini yang sangat dikhawatirkan .

farmasi. Unit-unit yang ada di rumah sakit 1. Sub spesialistik (bedah syaraf. 3. rehabilitasi sistem neuromuskuler dan lekomotor. bedah obsterigine. kulit dan kelamin serta rehabilitasi medik. bedah ortopedi dan bedah rekonstruksi. haimodialisa.bak penampung awal. paru. KIA dan KB) b. Pelayanan rehabilitasi medik a. Spesialistik (penyakit dalam. Pelayanan gawat darurat 4. pengolahan makanan dan gizi. rehabilitasi sistem pernafasan. bak an aerob . bedah plastik. Pengelolaan yang dilakukan mencakup penyimpanan. kesehatan anak. digester. penimbunan hasil pengolahan. Penunjang umum Yaitu administrasi. bak pengendapan. bedah. obsteriginekologin. pelayanan sterilisasi. Sub spesialistik (bedah syaraf. Spesialistik (penyakit dalam. kesehatan jiwa. mata. c. instalasi pemeliharaan saran. Prothese dan ortotik 5. kesehatan anak. kesehatan jiwa. 6. bedah ortopedi dan bedah rekonstruksi. kolam ikan. gigi. bak equalisasi . b. CT-Scan. Fisik (rehabilitasi sistem radiovaskuler. pengolahan. bak Pre treatment bak laundry. mata kulit dan kelamin. bedah orkologi. syaraf. Rawat inap a. bedah urologi dan bedah digestik). THT. Rehabilitasi mental spiritual c. dan rehabilitasi medik). Perawatan Umum b. syaraf. sand filter. Penanganan IPAL rumah sakit Bethesda belum sempurna oleh karena itu. maka rumah sakit Bethesda sangat membutuhkan sarana instalasi limbah cair tersebut agar parameter limbah cair yang melebihi baku mutu khususnya fosfat dapat ditangani. Poliklinik (umum. pendidikan dan penelitian dan informasi. kamar operasi. . 2. THT. USG. radiologi. bedah plastik. kologin. pengering lumpur. Rawat Jalan a.Pengolahan limbah cair yang sekarang dilakukan rumah sakit Bethesda meliputi penangkap lemak. pengumpulan. kamar bersalin dan beddah sentral. paru. Pelayanan penunjang Yaitu laboratorium. bak penampung awal terpadu. bedah orkologi. bedah urologi dan bedah digestik). c.

3 Tujuan Penelitian Meneliti tingkat efektifitas larutan kapur. larutan tawas dan zeolit untuk menurunkan kadar fosfat dalam limbah cair Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.4 Kegunaaan Penelitian Untuk membantu pihak pengelola rumah sakit dalam rangka penanganan limbah cair khusus parameter fosfat sehingga tidak mencemari lingkungan.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah Identifikasi Limbah cair Rumah Sakit mengandung bahan pencemar yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat sekitarnya Parameter fosfat yang terkandung dalam limbah cair Rumah sakitmelebihi baku mutu yang ditetapkan. 1. Dari latar belakang dan identifikasi maka dapat dirumuskan sebagai berikut : Apakah kadar bahan pencemar yang fosfat yang terkandung dalam limbah rumah sakit dapat diturunkan sehingga memenuhi baku mutu yang ditetapkan ? 1. BAB II TINJAUAN PUSTAKA .1.

Scheurer kembali ke Belanda pada tahun 1906 dan kepemimpinan RS Petronella selama 36 tahun berikutnya dibagi rata oleh tiga orang dokter. Setelah proklamasi kemerdekaan.J. yaitu dr. 548/Menkes/VI/1994 tanggal 13 Juni 1994. pengobatan dan pelayanan kesehatan. dengan dr.G. Rumah sakit merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh. pasien-pasien Petronella dipindahkan ke rumah sakit darurat di Pingit (sekarang asrama Polisi) dan Rumah Sakit Petronella dipindahkan kembali ke Gondokusuman dan berganti nama menjadi Jogjakarta Tjuo Bjoin (Rumah Sakit Pusat Jogyakarta) dan dipimpin oleh orang Jepang. tetapi untuk mencapai tujuan pembangunan bidang kesehatan. disamping juga merupakan pusat latihan tenaga kesehatan dan tempat untuk mengadakan pelatihan medis. Offringa dan dr.P. dr. kapasitas rmah sakit yang semula 150 tempat tidur ditingkatkan menjadi 475 tempat tidur. Rumah sakit akan menghasilkan limbah yang bersifat infeksius. Dalam kurun waktu 1924-1925. Rumah Sakit Petronella disebut juga sebagai rumah sakit Dokter Tulung/Pitulung karena tidak memungut biaya perawatan rumah sakit. Pruys. Lucas Gerard Johannes Samallo sebagai dokter . dengan kapasitas awal 150 tempat tidur dan dikelola sepenuhnya oleh gerejagereja Gereformed di Amsterdam. Rumah Sakit Rumah Sakit adalah integrasi organisasi sosial dan kesehatan yang berfungsi melayani masyarakat dengan pelayanan kesehatan secara menyeluruh baik kuratif maupun preventif serta pelayanan penderita berobat jalan mencakup lingkungan keluarga. Pada tahun 1899 dr. maka rumah sakit diharapkan berangsur akan berkembang kearah pelayanan kesehatan paripurna yang mencakup upaya peningkatan. Tujuannya untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari bahan buangan atau limbah rumah sakit serta mencegah meningkatnya infeksi nosokomial di lingkungan rumah sakit.1. toxic dan radioaktif dalam melakukan kegiatannya sehingga perlu adanya upaya penyehatan lingkungan rumah sakit.2.Offringa. K. J. Rumah Sakit Petronellapun bernama resmi Het Zendingsziekenhuis Petronella Voor on en minvermogenden (Rumah Sakit Petronella untuk orang-orang yang kurang dan tidak mampu).Groot. semasa kepemimpinan dr.Scheurer mendirikan Rumah Sakit Petronella di kampung Gondokusuman. Sewaktu terjadi perang antara Sekutu dan Jepang. Rumah Sakit Jogjakarta Tjuo Bjoin direbut dari Jepang dan berganti nama menjadi Rumah Sakit Pusat. sering dikenal sebagai bentuk pelayanan yang berorientasi pada pelayanan kuratif saja. pencegahan. Salah satu upaya penyehatan lingkungan rumah sakit teresbut adalah peraturan pemerintah tentang adanya suatu satuan kerja yang bertanggungjawab terhadap penyehatan lingkungan rumah sakit yaitu Instalasi Sanitasi melaui SK Menkes No. dr. Ketika menerima subsidi dari pemerintah.J.

423 m2 . tanggal 28 Juni 1949. rumah sakit secara resmi berdiri dan beroperasi di Yogyakarta dengan nama Rumah Sakit Bethesda.935 m2 dengan luas bangunan mencapai 25. dengan batas-batas: • • • • Utara Selatan Timur Barat : Jalan Jenderal Sudirman : Universitas Kristen Duta Wacana dan Komplek DKT : Jalan Dr. Penelitian dan Pengembangan Bidang Pelayanan Keluarga Berencana RS Bethesda Bidang Sosial Pastoral Bidang usaha Peningkatan Kesehatan Masyarakat (UPKM) Bidang Pendidikan SPK dan Bidan Bidang Pelayanan Kesehatan (YANKES) Lempuyangwangi . Rumah Sakit Bethesda terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di jalan Jenderal Sudirman No. 1714 / K. Lokasi Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta terletak pada sebidang tanah yang mempunyai luas 61. 70.966/1997 tanggal 22 Juli 1997 tentang organisasi dan tata kerja RS Bethesda Yogyakarta yang terdiri dari: • • • • • • • • • • • • • Direktur Wakil Direktur Pelayanan Medik Wakil Direktur Penunjang Medik Wakil Direktur Keuangan Wakil Direktur Personalia dan Umum Bidang Satuan Pengawasan Intern Bidang Sekretariat Bidang Perencanaan.3880/K. Wahidin : Jalan Johar Norhadi Struktur Organisasi Rumah Sakit Bethesda Struktur organisasi RS Bethesda Yogyakarta sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Pimpinan Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (DP-YAKKUM) No.uk RS BETH /1996 tanggal 23 Maret 1996 dan kemudian diberlakukan di RS Bethesda dengan Surat Keputusan Direktur No. maka berdasarkan hasil rapat Dewan Pimpinan YAKKUM (Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum) selaku pengawas yang berpusat di Surakarta.pertama berbangsa Indonesia yang memimpinnya.412 m2 dan tanah kosong dalam komplek 36. Kotamadya Yogyakarta. Supaya umum mengetahuinya bahwa Rumah Sakit Kristen.

maka kualitas dan kuantitas air yang digunakan untuk 2. alkohol. Mengingat bahwa rumah sakit merupakan tempat tindakan pelayanan dan perawatan orang sakit. Bahan polutan yang ada merupakan hasil dari berbagai aktivitas yang menimbulkan dampak dan kemungkinan bahan polutan yang ada antara lain: 1. Pengadaan Air Air bersih merupakan kebutuan mutlak yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan setiap rumah sakit dimanapun juga. Limbah gas berupa: . Kotoran lemak Deterjen Specimen laboratorium padatan Perban/kasa Spet suntikan Kapas darah Sisa makanan Kertas Plastik Kaca Sisa amputasi Sisa persalinan Sisa operasi Sisa outopsi Sisa insenerasi Gas dari sisa pembakaran di Instalasi Gizi Asap dari pembakaran di Instalasi Incenerator Uap air atau kondensat dari Instalasi Laundry Utilitas 1. Limbah padat berupa: 3. WC. Limbah cair berupa: • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Darah.Bahan Polutan Rumah Sakit Bethesda Bahan polutan yang ada dapat diamati dengan jelas dari setiap kegiatan yang dilakukan RS Bethesda Yogyakarta. asam sulfat (merupakan specimen laboratorium). Air buangan dari kamar mandi. dan wastafel.

pengunjung dan karyawan. Pengertian Limbah Cair Rumah Sakit Pengadaan fasilitas untuk pemadam kebakaran berupa: . • • • • • • • Pengadaan Transportasi Pengadaan mobil operasional terdiri dari: Mobil ambulance Mobil jenazah Mobil kijang Mikrobus Minibus Sedan Open Cup : 4 buah : 1 buah : 3 buah : 2 buah : 1 buah : 2 buah : 1 buah Dengan tenaga sopir 11 orang 4.kebutuhan rumah sakit harus selalu dipertahankan agar tidak dapat mengakibatkan sumber infeksi baru bagi penderita .5 pk. Jumlah dari kebutuhan air bersih untuk RS Bethesda diperkirakan ± 875 m3 per harinya. baik untuk bekerja maupun untuk penyimpanan barang atau peralatan elektronik. b. demikian juga untuk ruang tidur pasien atau bangsal. Fasilitas Pemadam Kebakaran Hydrant.1. Pengadaan listrik di RS Bethesda berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebesar 5500 kVa. a. 2. untuk itu pihak RS Bethesda menggunakan 5 (lima) buah pompa dengan daya 10 pk dan 7. taman dan untuk pelayanan penerangan umum lainnya. Genset beroperasi secara otomatis apabila suplai listrik dari PLN tidak berjalan atau padam. 2. Selain menggunakan sumber listrik PLN. dengan sistem otomatis. 3. Yang kemudian di pompa water tower yang berjumlah 2 buah. yang ditempatkan di 16 titik yang dianggap dapat mewakili seluruh areal bangunan RS Bethesda. Tabung pemadam kebakaran sejumlah 64 buah Pihak RS Bethesda juga bekerjasama dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kodya dan KODAM IV/Diponegoro. RS Bethesda juga menggunakan 2 buah genset yang mempunyai daya 500 kVa dan 375 kVa. Pengadaan Listrik Pencahayaan atau listrik digunakan di semua ruangan yang ad. yang diletakkan di dalam sumur berkedalaman30 sampai 40 meter.1.

2. Keputusan Menkes RI No. spesialistik dan subspesialistik. dapur. Madya. RSU Type B atau Kelas Utama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan subspesialistik terbatas. tempat pencucian pakaian. Rumah Sakit khusus. yang dikelola oleh yayasan. sisa obat. urine. Limbah cair rumah sakit adalah limbha cair yang berasal dari rumah sakit baik ynag berasal dari dapur.2. ruang bedah dan runag lain dalam bnagunan kecuali limbah cair radiologi. Rumah Sakit Umum (RSU). Macam jumlah dan kadar zat pencemar yang dihasilkan dari setiap sumber tersebut bervariasi tergantung kegiatan/aktivitasnya dan bahan yang digunakan. Limbah tersebut dapat berupa sisa darah. yang dikelola oleh Depkes dan merupakan milik pemerintah (pusat atau daerah). ruang laboratorium. 2. Terakhir RSU Type D atau Kelas Pratama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis dasar. Rumah Sakit Swasta. dan Pratama. air bekas pencucian dan lain-lain.Sedangkan RSU Swasta dibagi atas Kelas Utama. Berdasarkan status kepemilikan /pengelolaan a. b. Sumber Limbah Cair Rumah Sakit . ruang operasi dan lainnya. B. b.1. 983/SK/Menkes/XI/92 menyebutkan bahwa RSU Type A adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan subspesialistik luas. sisa bahan kimia/radiologi. yang menangani hampir semua penyakit/memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar. Rumah Sakit Negeri/ Pemerintah. Klasifikasi Rumah Sakit Secara umum industri rumah sakit dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian. yang menangani hanya 1 (satu) atau beberapa jenis penyakit tertentu.1. C dan D.Limbah cair rumah sakit merupakan limbah cair dari semua sumber pembuangan misalnya kloset. Type C dan Kelas Madya serta Type D dan Kelas Pratama. Berdasarkan macam/jenis penyakit yang ditangani a. RSU Type C atau Kelas Madya adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik dasar.3. 1. Sedangkan Rumah Sakit Bethesda tergolong RSU Kelas Utama. 2. kamar mandi. Departemen Hankam dan BUMN. tinja. Benang merah yang menghubungkan RSUP DAN RSU Swasta adalah paralelisasi antara Type B dan Kelas Utama. ruang pasien. RSU masih dibagi lagi menjadi beberapa type/kelas RSUP (RSU Pemerintah) dapat diklasifikasikan menjadi RSU type A. yaitu.

Wastafel. 2. 7. Adapun sumber-sumbernya adalah sebagai berikut: 1. bahan kimia beracun dan radio aktif. 5. tempat cuci preparat. 12. urinoir. tempat cuci instrumen medik. parasit. Ruang Rawat Darurat: Kamar mandi. Wastafel. tempat cuci instrumen medik. Spoelhock. urinoir. Spoelhock. Wastafel. Masjid): Kamar mandi. wastafel. urinoir. Wastafel. Limbah cair alur barat Limbah cair dari alur barat lebih didominasi oleh air buangan yang berasal dari ruang-ruang rawat inap (kamar mandi/WC. Sumber Penghasil Limbah RS Bethesda Limbah rumah sakit adalah semua air buangan yang berasal dari aktivitas instalasiinstalasi rumah sakit yang kemungkinan besar mengandung mikroorganisma. yang disalurkan melalui assenering baik assenering DKP maupun assenering pihak RS Bethesda sendiri menuju instalasi pengolahan air limbah. tempat cuci beras. Wastafel. Ruang Laundry: tempat rendaman linen kotor. tempat cuci perabot makan.Dalam melakukan kegiatan pelayanan kesehatan rumah sakit akan menghasilkan limbah cair. Ruang Kamar Jenazah/Autopsi: Kamar mandi. Air limbah ini mengalir . Wastafel. Fasilitas Sosial (Kafetaria. tempat cuci alat-alat dapur. buangan pembilas air panas. tempat cuci instrumen medik. Untuk mengetahui jenis limbah yang dihasilkan yang digunakan sebagai dasar cara pengolahannya maka perlu diketahui sumber-sumber yang menghasilkan limbah rumah sakit. 13. Spoelhock. tempat cuci instrumen medik. 9. Ruang Perawatan berasal dari: Kamar mandi. urinoir. tempat cuci instrumen medik. floor drain. pantry. tempat cuci instrumen medik. Spoelhock. pantry. tempat cuci perabot makan. Wastafel. 3. Asrama): Kamar mandi. floor drain. Unit Perkantoran/Perpustakaan: Kamar mandi. tempat wudlu. Pemukiman (Rumah Dinas. wastafel) dan di tambah buangan dari asrama putra AKPER RS Bethesda. 10. tempat buang exudat pasien. tempat mencuci jenazah. Instalasi Laboratorium Klinik/Patologi Anatomi: Kamar mandi. Ruang Dapur: Kamar mandi. 6. kamar mandi. Wastafel. Ruang Operasi: Kamar mandi. tempat buang exudat pasien. tempat pembedahan mayat/autopsi. 4. pantry. urinoir. Sumber-sumber limbah rumah sakit meliputi: 1. tempat cuci sayur/buah. urinoir. 8. tempat cuci film. Unit Radiologi: wastafel. tempat buang exudat pasien. Ruang Rawat Jalan: Kamar mandi. Ruang Haemodialisa: Kamar mandi. floor drain. buangan dari pembilas mesin cuci. 11.

kantor. bau. Laundry Laundry juga merupakan salah satu instalasi penting yang umum dimiliki oleh setiap rumah sakit tidak terkecuali RS Bethesda. menyalurkan air buangannya ke saluran assenering alur timur baik secara gravitasi maupun dengan bantuan pompa. Partikel-partikel padat terdiri dari zat organik 70 % dan anorganik 30 %. Komposisi limbah cair rumah sakit sebagian besar terdiri dari 99.4. Limbah cair alur timur Limbah cair alur timur memilki karakteristik pencemar yang lebih kompleks. Adapun sifat fisik yang penting adalah kandungan zat padat sebgaai efek estetika. 3. Instalasi gizi (dapur) Kegiatan instalasi gizi yaitu melayani kebutuhan makanan pasien maupun karyawan sehingga dari kegiatan ini juga dihasilkan limbah cair. Karakteristik Limbah Cair Rumah Sakit Air limbah pada intinya dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu sifat fisik. ruang farmasi. ruang radiologi dan lain-lain yang menghasilkan limbah. yang mengandung minyak. karena selruh kegiatan RS Bethesda yang berada di bagian timur seperti ruang rawat inap. . kejernihan. Sifat Fisik Penentuan derajat kekotoran air limbah sangat dipengaruhi oleh adanya sifat fisik yang mudah dilihat.1. 2. Dari laundry ini dihasilkan limbah cair dengan kandungan detergen yang tinggi sehingga memilki pH dan suhu yang tinggi.1 %. kimia dan biologis. 2. Zat organik terdiri dari 65 % protein. 25 % karbohidrat dan 10 % lemak. 4. lemak dan detergen untuk kemudian diolah secara bertingkat. laboratorium. Zat organik tersebut sebagian besar mudah terurai (degradabel) yang merupakan sumber makanan dan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme yang lainnya.secara gravitasi dengan 13 bak kontrol di titik-titik tertentu guna mengawasi lancar tidaknya aliran.9 % dan sisanya terdiri dari partikel-partikel tidak terlarut 0. warna dan temperatur. a.

Mikrooganisme yang penting dalam air limbah dan air permukaan dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu: 1. meliputi: bakteri. CH4.b.1. Bahan Organik Air limbah dengan pengotoran sedang. 25-50 % berupa karbohidrat serta 10 % lainnya berupa lemak. maka sekitar 75 % dari benda-benda tercampur dan 40 % dari zat yang dapat disaring adalah berupa bahan organik. Cd. protozoa dan algae sangat penting di dalam proses dekomposisi atau stabilisasi bahan-bahan organik 2. Adapun zat kimia yang penting dalam air limbah pada umumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Sifat Bakteriologis Sifat bakteriogis pada air buangan perlu diketahui untuk menaksir tingkat kekotoran air limbah sebelum dibuang ke badan air. Mg. Unit-unit Pengolahan Air Limbah RS Bethesda . Zn. yang dijumpai dalam air limbah bersisikan 40-60 % adalah protein. Cr. 2. Sifat Kimia Sifat kimia dalam air limbah dapat diketahui dengan adanya zat kimia air buangan. Protista. protozoa dan algae Binatang dan tanaman Dari klasifikasi tersebut diatas. Fe dan Hg Metan Hidrogen Fosfor Gas seperti NH3.5. Pb. Cu. 2. O3 c. jamur. Bahan Anorganik Sedangkan zat organik yang penting peranannya di dalam mengontrol air limbah adalah: pH Kadar Khlor Alkalinitas Kadar Sulfur Zat beracun Logam berat seperti: Ni.

1. Instalasi penampung awal Instalasi penampung awal berfungsi untuk menampung keseluruhan limbah dari RS Bethesda yang berasal dari cucian, dapur mauun rawat inap. 2. Bak ekualisasi Bak ekualisasi berfungsi untuk mencampur limbah dari berbagai sumber sehingga menjadi limbah yang homogen dengan waktu tinggal 27 jam. 3. Instalasi anaerob biofilter Instalasi anaerob biofilter berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana dengan bantuan bakteri yang ada pada biofilter. Waktu tinggal dalam bak ini 16 jam. 4. Instalasi aerob Instalasi aerob berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks yang lolos dari pengolahan sebelumnya menjadi senyawa yang lebih sederhana, pada proses ini penambahan oksigen dilakukan dengan bantuan blower. Waktu tinggal dalam bak 8 jam. 5. Instalasi pengendapan (settling) Instalasi pengendapan (settling) berfungsi untuk memberi kesempatan lumpur agar mengendap. Waktu tinggal dalam bak pengendspan 7 jam. 6. Instalasi penampung hasil Instalasi penampung hasil berfungsi untuk menampung limbah yang telah mengalami pengolahan (limbah terolah). Limbah ini dipompakan ke instalasi sand filter dan sebelumnya jam. 7. Instalasi sand filter Instalasi sand filter berfungsi untuk menyaring limbah sehingga diperoleh kualitas yang lebih baik lagi. 8. Instalasi fish pond Instalasi fish pond atau kolam ikan berfungsi untuk tempat penampungan limbah terolah yang telah tersaring di sand filter. Kolam ikan ini dilengkapi dengan pancuran air. 9. Instalasi digester dan biogas Instalasi digester dan biogas berfungsi untuk menaqmpung semua lumpur yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah. 10.Instalasi pengering lumpur (drying bed) Instalasi pengering lumpur befungsi untuk menampung endapan lumpur dari digester untuk dikeringkan. dilakukan disinfeksi dengan memberikan kaporit melalui sistem injeksi/suntikan dengan tujuan membunuh bakteri patogen. Waktu tinggal dalam bak 7

2.2. Fosfat Fosfat berada dalam air limbah dalam bentuk organik. Sebagai ortophosfat anorganik atau sebagai fosfat-fosfat kompleks. Fosfat kompleks mewakili kira-kira separuh dari fosfat air limbah perkotaan dan berasal dari penggunaan bahan-bahan detergen sintetis. Fosfat kompleks mengalami hidrolisa selama pengolahan biologis menjadi bentuk ortofosfat (PO43-) Dari konsentrasi rata-rata fosfor keseluruhan sebanyak 10 mg/l berada dalam air limbah perkotaan , kira-kira 10 % dibunag sebagai bahan tak terpakai selama pengendapan primer dan 10 % hingga 20 % lainnya digabungkan ke dalm sel-sel bakteri selam apengolhan biologis. Sisa yang 70 % dari fosfor yang masuk pada umumnya dilepaskan bersama bunagan instalasi sekunder. Bentuk-bentuk penting fosfat dalam air limbah adalah pospor organik, polyphosfat dan orthophospat. Poyfosfat banyak digunakan dalam pembuatan detergen sintetis. Komponen fosfat dipergunakan untuk membuat sabun sebagai pembentuk buih. Dan adanya fosfat dalam air limbah dapat menghambat penguraian pada proses biologis. Sedangkan menurut Juli Sumirat, detergen dapat mempermudah absorbsi racun pada ikan melalui insang dan bersifat persisten sehingga terjadi akumulasi. Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut, tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air. Dalam air limbah senyawa fosfat dapat berasal dari limbah penduduk, industri dan pertanian. Di daerah pertanian ortofophosfat berasal dari bahan pupuk, yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan. Poliphosfat dapat memasuki sungai melalui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan detergen yang mengandung fosfat seperti industri pencucian, industri logam dan sebagainya. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat bagi pertumbuhannya. Bermacam-macam jenis fosfat juga dipakai untuk penngolahan anti karat dan anti kerak pada pemanas air (boiler). Bila kadar fosfat pada air alam sangat rendah (<0,01 mg/l), pertumbuhan tanaman dan ganggang akan terhalang, keadaan ini dinamakan “oligotrop”. Pembuangan limbah yang banyak mengandung fosfat ke dalam badan air dapat menyebabkan pertumbuhan lumut dan mikroalgae yang berlebih yang disebut “eutrophication” , sehingga air menjadi keruh dan berbau karena pembusukan lumut-lumut yang mati. Pada keadaan “eutrotop” tanaman dapat menghabiskan oksigen dalam sungai atau kolam pada malam hari atau bila tanaman tersebut mati dan dalam keadaan sedang mencerna (digest) dan pada siang hari pancaran sinar matahari kedalam air akan berkurang, sehingga proses fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen juga berkurang.

Banyak metode yang telah diusulkan untuk pembuangan kelebihan fosfat. Metode ynag paling efektif meliputi pengendapan kimiawi. Senyawa-senyawa fosfat dapat dibuang dengan penambahan koagulan, misalnya alum, kapur, ferrichlorida atau ferrous sulfat. Bahan-bahan kimia itu dapat ditambahkan sebelum pengendapan primer, alum dan garam-garam besi dapat dimasukkan ke dalm tanki aerasi selama proses lumpur diaktifkan atau bahan-bahan kimia itu dapat dimasukkan pada suatu tahap pengolhan primer. Sebagian besar dari bahan organik tersebut dibuang, begitu pula fosfatnya, sehingga dihasilkan pengurangan beban pada proses pengolahan biologis. Walaupun demikian, lumpur yang diproduksi jumlahnya lebih besar. Bila bahan-bahan kimia dimasukkan langsung ke dalam tangki aerasi dari suatu instalasi lumpur yang diaktifkan, maka pengolahan kimiawi dan biologis terjadi bersama-sama, sehingga hanya sedikit peralatan tambahan yang dibutuhkan. Pengendapan kimiawi, terutama yang menggunakan kapur, kadang-kadang dikerjakan pada tahap ketiga setelah pengolahan biologis guna pembuangan fosfat serta peningkatan pH buangan dalam persiapan bagi proses pembuangan ammonia-nitrogen. Reaksi kimia dari proses pengendapan secara kimiawi antara fosfat dengan alum, garam besi dan kapur adalah sebagai berikut: Pengendapan dengan alum: AL2(SO)3 + 2HPO4
–2

2AlPO4

+ 3SO4-2

+ 2H

Pengendapan dengan garam besi: FeCl3 + HPO4
–2

FePO4

+

H+

+ 3Cl-

Pengendapan dengan kapur: 5Ca(OH)2 + 3HPO4
–2

Ca5(PO4)3OH

+

3H2O

+ 6OH-

2.2.1. Pemisahan Fosfat Secara umum analisa fosfat meliputi 2 (dua) langkah : a. Merubah bentuk fosfor menjadi ortofosfat yang larut. b. Menentukan secara kolorimetris ortofosfat yang larut. Pemisahan fosfor kedalam berbagai bentuk telah luas didefinisikan secara analitis, tetapi telah dipilih pembedaan analisa, sehingga dapat diperguakan untuk tujuan interpretasi. Pemisahan “yang dapat disaring” (atau “terlarut”) dari “partikel” fosfat tergantung filter membran 0,45 µm yang dipergunakan. Pemilihan filtrasi dengan membran melebihi ketebalan filtrasi dilakukan karena kemungkinan diperoleh lebih besar atau pemisahan ukuran partikel dengan tekinik pemisahan membran. Penyaringan pendahulluan dengan filter serat gelas dapat dilakukan untuk mempercepat proses penyaringan. Tidak dapat dituntut bahwa penyaringan

menguraikan bentuk fosfat yang ditentukan dalam filtrat yang melalui membran 0. fosfat organik terdapat dalam larutan dan partikel. f. Keseluruhannya ada tiga bagian (total. Bagian-bagian fosfat yang diubah menjadi ortofosfat hanya dengan perombakan oksidatif terhadap bahan organik disebut fosfat organik/terikat secara organik. Total fosfat terlarut . Ortofosfat partikel. Didalam praktek. b. Total fosfat terlarut dan tidak terlarut. yang tergantung pada fosfat terlarut dan tersuspensi. Biasanya terdapat sedikit variasi. Partikel i.melalui filter membran Penggunaan 0. Seperti ortofosfat dan fosfat dari hidrolisa asam. Total fosfat organik terlarut dan partikel FISIK Terlarut e. Ortofosfat terlarut. d. Kekuatan oksidasi yang diperlukan untuk konversi tergantung pada bentuk dan jumlah dari fosfat organik yang ada. terlarut.45 µm. Fosfat partikel yang dapat dihidrolisa oleh asam l. Fosfat partikel organik. tetapi faktor ini telah dikurangi seminimum mungkin (sangat sesuai untuk hidrolisa fosfat terikat) dengan bijaksana memilih kekuatan asam lebih disukai terhadap “fosfat terikat” pada teknik ini. terlarut dan partikel. Sampel Tanpa penyaringan . Total ortofosfat terlarut dan partikel c. Tabel 1. Fosfat organik terlarut. Tetapi perlu diingat bahwa sebagian kecil dari fosfat terikat yang ada tidak dapat menghindari cara hidrolisa ini dan dilaporkan sebagai bagian dari ortofosfat. Total fosfat terlarut yang dapat dihidrolisa h. Fosfat yang dapat langsung diperiksa secara kolorimetris tanpa hidrolisa pendahuluan atau perombakan secara oksidatif dan dianggap sebagai “ortofosfat”. Hidrolisa tidak dapat dihindrakan untuk membebaskan fosfat dari senyawa organik. g. k. Total fosfat yang dapat dihidrolisa oleh asam. Dua belas fosfat tersebut dapat dilihat pada tabel 1. Total fosfat partikel j. Hidrolisa dengan asam pada temperatur mendidih untuk mengubah fosfat dalam bentuk terlarut dan partikel menjadi ortofosfat yang dapat disaring.45 µm dapat memisahkan dengan sebenarnya antara fosfat yang istilah “yang dapat disaring” (lebih baik “yang larut”) untuk tersuspensi dengan yang terlarut. fosfat total yang dapat dalam sampel dapat dipisahkan pada analisa dengan penyaringan kedalam bagian yang disaring dan partikel. Klasifikasi Fosfat Tipe Kimiawi Total Orto Yang dapat dihidolisa oleh asam. Ortofosfat terdapat dalam bentuk terlarut dan partikel. Organik Total a. dan tersuspensi) dan masing-masing secara analisis dibagi menjadim tiga tipe kimiawi seperti telah diuraikan diatas yaitu ortofosfat fosfat yang dapat dihidrolisa dengan asam fosfat organik .

maka besarnya daerah pH yang optimum pada proses kagulasi akan berubah dan merubah pembubuhan dosis koagulan.1 Koagulasi Koagulasi adalah dicampurkannya koagulan dengan pengadukan secara cepat guna mendistabilisasi koloid dan solid tersuspensi yang halus.Gambar 1.3. Koagulasi dan Flokulasi 2. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi sebagai berikut : a. Pola Klasifikasi Fosfat 2.3. b. Derajat Keasaman (pH) . Bila suhuair diturunkan . dan masa inti partikel. Suhu air Suhu air yang rendah mempunyai pengaruh terhadap efisiensi proses koagulasi. kemudian membentuk jonjot mikro (mikro flok).

kalsium dan magnesium tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap proses koagulasi. c. 2.2. sehingga semua koagulan yang dibubuhkan dapat bereaksi dengan partikel-partikel atauion-ion yang berada dalam air. Alkalinitas Alkalinitas dalam air ditentukan oleh kadar asam atau basa yang terjadi dalam air (Tjokrokusumo. d. Tetapi apabila kondisi tersebut digunakan dosis koagulan yang rendah maka pembentukan flok kurang efektif. Kecepatan pengadukan Tujuan pengadukan adalah untuk mencampurkan koagulan ke dalam air. Dalam pengadukan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengadukan harus benar-benar merata. Tingkat kekeruhan Pada tingkat kekeruhan yang rendahproses destibilisasi akan sukar terjadi. Ada dua jenis proses flokulasi yaitu : optimum yang berbeda satu sama . Koagulan dalam bentuk larutan lebih efektif dibanding koagulan dalam bentuk serbukatau butiran. Flokulasi Flokulasi adalah pengadukan perlahan terhadap larutan jonjot mikro yang menghasilkan jonjot besar dan kemudian mengendap secara cepat (Tjokrokusumo. Kecepatan pengadukan sangat berpengaruh terhadap pembentukan flok bila pengadukan terlalu lambat mengakibaykan lambatnyaflok terbantuk dan sebaliknya apabila pengadukan terlalu cepat berakibat pecahnya flok yang terbentuk h. e. Alkalinitas dalam air dapat membentuk flok dengan menghasil ion hidroksida pada reaksihidrolisa koagulan. Kadar ion terlarut Pengaruh ion-ion yang terlarut dalam air terhadap proses koagulasi yaitu : pengaruh anion lebih bsar daripada kation. Dengan demikian ion natrium. Sebaliknya pada tingkat kekeruhan air yang tinggi maka proses destabilisasi akan berlangsung cepat. Jenis Koagulan Pemilihan jenis koagulan didasarkan pada pertimbangan segi ekonomis dan daya efektivitas daripadakoagulan dalam pembentukan flok. g. 19920.3. f.Proses koagulasi akan berjalan dengan baik bila berada pada daerah pH yang optimum. Dosis koagulan Untuk menghasilkan inti flok yang lain dari proses koagulasi dan flokulasi sangat tergantung dari dosis koagulasi yang dibutuhkan Bila pembubuhan koagulan sesuai dengan dosisyang dibutuhkan maka proses pembentukan inti flok akan berjalan dengan baik. Untuk tiap jenis koagulan mempunyai pH lainnya. 1995).

Perubahan kecepatan dari satu titik ke titik lainnya dikeal sebagai gradien kecepatan. Proses pengendapan ini akan berjalan secara efektif apabila pH air antara 6 – 8 (Considine).a. Sifat-Sifat Kapur (lime) dan Penggunaan nya. b.4. .K. Flokulasi perikinetik Flok yang diakibatkan oleh adanya gerak thermal (panas) yang dikenal sebagai gerak Brown. e.85 Ca(OH)2/l air pada suhu 00C sampai0. Pada umumnya kecepatan aliran cairan akan berubah terhadap tempat dan waktu. 1986). Cara kerjanya adalah kapur ditambahkan untuk mereaksikan alkalibikarbonat serta mengatur pH air sampai sehingga menyebabkan pengendapan. Kelarutan. Pada pengolahan air kotor. dengan notasi G. CaO adalah bahan mudah larut dalam air dan menghasilkan gugus hidroksil yaitu Ca(OH)2. akan mengakibatkan terjadinya gabungan antar partikellebih sangat kecil 1 < 100 milimikron (Sank R. sebagian besar umumnya berwarna putih dan pada tinhkat tinggi dapat berwarna abu-abu.K. Bentuk kristal. Gerak acak dari partikel-partikel koloid yang ditimbulkan karena adanya tumbuhan molekul-molekul air. Sifat-sifat fisik dan kimia Hydrate lime : a. Kepadatan. Kapur (lime) secara umum terdapat dalam dua bentuk yaitu CaO dan Ca(OH)2. Dengan adanya perbedaan kecepatan aliran media cair akan mempunyai aliran kecepatan yang berbeda pula akibatnya akan terjadi tumbukan atau kontak antar partikel. c. kapur dapat mengurangi kandungan bahan-bahan organik. air limbah maupun industri lainnya. 1986). Kalsium Hydrated lime memiliki tingkat kepadatan kira-kira 2. yang bersifat basa dan disertai keluarnya panas yang tinggi.7 g/l pada suhu 1000C. 2. Warna. powder b.3 g/gm3 d. tingkat kelarutan dari kira-kira 1. Menurut Tarmiji. Flokulasi orthokinetik Flokulasi orthokinetik adalah suatu proses terbentuknya flok yang diakibatkan oleh terbentuknya gerak media (air) misalnya pengadukan (Sank R. prosesnya disebut flokulasi perikinetik. Netralisasi asam . Hydrate lime dihasilkan dari reaksi quickime (CaO) dengan air. 1986. penggunaan dari kapur antara lain dibidang kesehatan lingkungan untuk pengolahan air kotor. Hydrate lime siap bereaksi dengan asam dan gas sehingga tentu saja berkemampuan menetralisasi asam. sehingga terbentuk Ca(OH)2.

sebagai bahan bangunan. pH. Khusus di sektor lingkungan kapur dapat berguna dalam: a.f. Selain itu. menetralisasi keasaman. konsentrasi 0. Selain itu dapat juga mengurangi kadar BOD dengan cara menyerap antara 40% sampai 50 % bahan organik terlarut maupun tidak terlarut.8/l memberikan pH sebesar 12. . memperkecil kadar silika.3 pada suhu 250C. reaksi antara CaO dan air akan menghasilkan gugus hidroksil Ca(OH)2 yang bersifat basa dengan reaksi sebagai berikut: CaO + H2O Ca(OH)2 + heat Ca(OH)2 Ca++ + 2OH- Karena sifat-sifat kapur dapat digunakan sebagai pengendap terhadap fosfat maka reaksi yang terjadi adalah 3 Ca2+ + 2PO43Ca3 (PO4)2 Penggunaan Kapur Kapur telah diikenal sebagai bahan yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan diantaranya dipakai pada bidang-bidang industri misalnya industri kimia. fluorida dan bahan-bahan organik.10 g Ca(OH)2/l dapat memberi pH kira-kira 11. karena kalsium hidroksida adalah termasuk basa kuat. Pada larutan 250C. dan lainlainnya. Proses pengolahan air.7. mangan. kertas. air kapur dapat berguna sebagai bahan penurun kesadahan. Contoh reaksi yang terjadi pada proses “calcination” ini apabila batuan kapur dari alam berkomposisi sebagai kombinasi dari kalsium dan Magnesium Karbonat adalah sebagai berikut: CaCO3Mg CO3 CaOMgO + 2CO2 Calcim Oxide (CaO) adalah merupakan bahan yang mudah larut dalam air dengan mengeluarkan panas yang tinggi (Highleyexotermically). kandungan 1. Hasil dari proses ini antara lain adalah CaO ditambah CO2 yang keluar sebagai gas. Selain CaO juga MgO serta molekul-molekul lainnya tergantung pada batuan kapur yang asli dari alam. pertanian dan lain-lain. Penggunaan berbagai keperluan maka batuan kapur dari alam biasanya akan mengalami proses pembakaran terlebih dahulu yang disebut “calcination”.

Reaksi yang terjadi jika alum dimasukkan ke dalm air. c. disini kapur berfungsi sebagai bahan koagulan. Dosis yang biasa dipakai pada peternakan ayam adalah sekitar 1 lb (0. Kapur dapat digunakan untuk mengurangi gas SO2 yang keluar dari pembakaran batu bara atau minyak yang mengandung sulfur yang tinggi melalui suatu proses yang disebut “wet scrubing”. Reaksi tersebut antara ion Al dengan ion OH. Alum tersebut akan larut di dalam air dengan reaksi sebagai berikut: AL2(SO4)3 . Selain itu juga dapat berfungsi sebagai “geomedical” untuk mencegah parasit-parasit dan bnayak penyakit ayam. yang sangat dipengaruhi oleh nilai pH yang bersangkutan.79-4.b.+ 4 H2O Ionisasi dai air sendiri akan terbentuk ion hidroksida sebagai berikut: . Alum atau tawas merupakan bahan koagulan. d. e. Alum atau tawas sebagai penjernih air mulai diproduksi oleh pabrik pada awal abad 1500. kapur dapat digunkan untuk mengeringkan serta mengurangi bau kotoran ayam yang berceceran di laniat kandang. sudah dikenal bangsa Mesir pada awal tahun 2000 SM.5 sampai 7. Sifat-Sifat Tawas dan Penggunaan nya Persenyawaan Alumunium Sulfat (Al2(SO4)3) atau sering disebut tawas adalah suatu jenis koagulan yang sangat populer secara luas digunakan. reaksi yang kan terjadi reaksi hipotik. mudah didapatkan di pasaran serta mudah penyimpanannya. Pada peternakan ayam. Proses pengolahan air bekas. penyerapan bau (deodorant) dan sebagai desinfektan.5. Proses pengolahan buangan industri besi/baja. yang paling banyak digunkan karena bahan ini paling ekonomis 9murah). kapur dapat befungsi antara lain dalam pengendalian keasaman digester. 2. Range pH untuk jenis koagulan alum adalah sebesar 5. 14H2O 2Al3+ + 3SO42.45 kg) Hydrates Lime [Ca(OH)2] pada setiap 3-5 ft2 (2. yaitu terjadi proses hidrolisis. karena salah satu cara penghilangan fosfor dalam air adalah pengendapan kimiawi. Alum yang dilarutkan ke dalam air akan bereaksi dengan kapur atau bahan lain seperti Soda Abu atau Natrium Bikarbonat (Na2CO3).65 m2) lantai yang mengandung kotoran ayam. Kapur juga dapat dipergunakan sebagai penghilang fosfor dalam air.8. kapur digunakan untuk menetralisir asam sulfat bebas (free sulfuric acid ) dan mengendapkan garam-garam besi yang terdapat pada limbah industri tersebut.

yang di dalamnya ditempati oleh molekul air dan ion ion logam alkali. 2. Dengan demikian supaya terjadi pengendapan hasil kali konsentrasi yang bereaksi harus lebih besar dari pada Ksp nya.Unit dasar pembentuk zeolit adalah SiO4 dan AlO4 yang membentuk tetra hedral. Zeolit Zeolit adalah suatu alumnosilikat yang mempunyai struktur berpori dengan saluran dalam rangka kristal.Unit unit tersebut saling berikatan membentuk jaringan anionik dalam tiga dimensi.Struktur yang paling stabil adalah zeolit yang perbandingan Si dan Al nya adalah 1:1.Perbandingan antara Si dan Al berkisar antara 1:1 sampai 100:1. Ksp AlPO4 sebesar 6.sehingga terjadi reaksi Al3+ + PO43AlPO4 Pengendapan dapat terjadi apabila hasil kali { Al3+ }dan { PO43 -} lebih besar dari Ksp AlPO4 .H2O H+ + OH- Kemudian terjadi reaksi antara ion Al3+ dengan ion hidroksida sebagai berikut: 2Al3+ + 6 OH2Al(OH)2 Pengikatan ion hidroksida tersebut di dalam air akan menurunkan alkalinitas air sehingga sebaiknya digunkan bahan tambahan yang dpat meningkatkan nilai alkalinitas seperti kapur.6. soda abu atau soda kaustik (Natrium Oksida) Reaksi yang terjadi: AL2(SO4)3 + 3Ca(OH)2 2Al(OH)3 + 3CaSO4 AL2(SO4)3 + 3Na2CO3 + H2O 2Al(OH)3 + 3Na2SO4 + 3CO2 Oleh karena tawas /alum mempunyai sifat koagulan dalam larutan maka bila tawas bersenyawa dengan limbah yang mengandung unsur fosfat .1985 ) menjelaskan bahwa: Kecepatan pertukaran kation dalam zeolit dipengaruhi oleh besar butiran zeolit. .3 .Dengan sifat di atas maka zeolit dapat bekerja sebagai penukar ion dan sebagai penyaring melalui adsorpsi selektif atau penolakan molekul karena adanya penolakan molekul karena adanya perbedaan dalam ukuran molekul dan faktor lainnya Selanjutnya dari hasil pengujian terhadap beberapa aspek yang ada kaitannya dengan pertukaran ion pada zeolit ( Komar bersama rekan .10-19 .

Zeolit juga ditemukan sebagai batuan endapan pada bagian tanah jenis basalt dan komposisi kimianya tergantung pada kondisi hidrotermal lingkungan lokal. Zeolit sintetik dihasilkan dari beberapa perusahaan seperti Union Carbide. grup ZSM/AlPO4 (Zeolite Sielving Marerials/Aluminium Fosfate) dan bahkan akhir-akhir ini dikenal grup zeotip. diantaranya klinoptilolit. feldspar dan kuarsa dan ditemukan di daerah sekitar gunung berapi atau mengendap pada daerah sumber air panas (hot spiring). kabarsit dan erionit. Mineral alam zeolit biasanya masih tercampur dengan mineral lainnya seperti kalsit. Berdasarkan UBS semua zeolit baik dalam bentuk alami atau sintetik. Hal ini dikarenakan dalam air buangan zeolit selain menyerap ion amonium juga menyerapion ion lain seperti Ag+. Kemampuan pertukaran ion (adakalanya dengan istilah kemampuan penyerapan ion atau sorpsi) zeolit merupakan parameter utama dalam menentukan kualitas zeolit yang akan . Pada tahun 1954 zeolit diklasifikasi sebagai golongan mineral tersendiri. filipsit.- Zeolit yang diaktifkan maupun yang tidak diaktifkan menyerap ion amonium dari air buangan lebih kecil dari pada larutan NH4Cl. zeolit merupakan mineral yang terdiri dari kristal alumino silikat terhidrasi yang mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam kerangka tiga dimensi. melainkan harus dianalisa strukturnya. Dengan demikian. Struktur kristal zeolit dimana semua atom Si dan Al dalam bentuk tetrahedral (TO4) disebut unit bangun primer. ICI dan mobil Oil dan lebih dari 100 jenis telah dikenal strukturnya antara lain zeolit A. seperti suhu. Ion-ion logam tersebut dapat diganti oleh kation lain tanpa merusak struktur zeolit dan dapat menyerap air secara reversible. Hal itu menjadikan zeolit dengan warna dan tekstur yang sama mungkin berbeda komposisi kimianya bila diambil dari lokasi yang berbeda disebabkan karena kombinasi mineral yang berupa partikel halus dengan impurities lainnya. tekanan uap air setempat dan komposisi air tanah lokasi kejadiannya. yaitu material seperti zeolit tetapi bukan senyawa alumino-silikat. mordernit. meskipun yang mempunyai nilai komersial ada sekitar 12 jenis.Zeolit biasanya ditulis dengan rumus kimia oksida atau berdasarkan satuan sel kristal. gypsum. Zeolit tidak dapat diidentifikasi hanya berdasarkan analisa komposisi kimianya saja. - Kapasitas penyerap zeolit akan bertambah dengan bertambah nya berat zeolit. K+ dan lain-lain. zeolit hanya dapat diidentifikasi berdasarkan unit bangun sekunder. Y. Mineral zeolit telah dikenal sejak tahun 1756 oleh Cronstedt ketika menemukan Stilbit yang bila dipanaskan seperti batuan mendidih (boiling stone) karena dehindrasi molekul air yang dikandungnya. Pemanfaatan zeolit masih belum banyak diketahui secara luas. yang saat itu dikenal sebagai molecular materials. yang pada saat ini zeolit di Indonesia dipasarkan masih dalam bemtuk alam terutama pada pemupukan bidang pertanian. Pada saat ini dikenal sekitar 40 jenis zeolit alam. X.

suhu.80-1. dimana untuk molekul yang tidak jenuh atau bersifat polar akan lebih mudah lolos daripada molekul yang jenuh atau tidak polar. Penukaran kation dapat menyebabkan perubahan beberapa sifat zeolit seperti stabilitas terhadap panas.15 meq/g).50 meq/g) dan vermikulit (11. Zeolit dapat melepaskan molekul air dari dalam rongga permukaan yang menyebabkan medan listrik meluas ke dalam ronggs utama dan akan efektif terinteraksi dengan molekul yang akan diabsorbsi. sifat adsorbsi dan aktifitas katalis.digunakan. Sifat sebagai penukar ion dari zeolit antara lain tergantung dari : sifat kation. KTK dari zeolit bervariasi dari 1. Ion-ion ini dapat bergerak bebas sehingga pertukaran ion yang terjadi tergantung dari ukuran dan muatan maupun jenis zeolitnya. Dehidrasi. Cu dsb. Bila atom Al dinetralisir dengan ion polivalen. yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan KTK batuan lempung. Adsorbsi Zeolit juga mampu memisahkan molekul zat berdasarkan ukuran dan kepolarannya. 4. KTK adalah jumlah meq ion logam yang dapat diserap maksimum oleh 1 g zeolit dalam kondisi kesetimbangan. Sifat dehidrasi dari zeolit akan berpengaruh terhadap sifat adsorpsinya. Zeolit dengan struktur “framework” mempunyai luas permukaan yang besar dan mempunyai saluran yang dapat menyaring ion/molekul. . 2.5 – 6 meq/g. 3. zeolit dapat berfungsi sebagai katalis yang banyak digunakan pada reaksi petrokimia. penukar ion. seperti kaolinit (0. dan jenis anion. 2.6. Sifat zeolit meliput i : 1. Katalis Zeolit merupakan katalisator yang baik karena mempunyai pori-pori yang besar dengan permukaan yang maksimum. Nilai KTK zeolit ini banyak bergantung pada jumlah atom Al dalam struktur zeolit. misalnya logam Pt. biasanya dikenal sebagai KTK (Kemampuan Tukar Kation). bentonit (0. Penukar ion Ion-ion pada rongga atau kerangka elektrolit berguna untuk menjaga kenetralan zeolit.50 meq/g). Jumlah molekul air sesuai dengan jumlah pori-pori atau volume ruang hampa yang akan terbentuk bila unit sel kristal zeolit terus dipanaskan. Oleh karena itu zeolit dapat dimanfaatkan sebagai : penyaring molekuler.1 Sifat Zeolit Zeolit mempunyai struktur berongga dan biasanya rongga ini diisi oleh air dan kation yang bisa dipertukarkan serta memilki ukuran pori yang tertentu. penyerap bahan dan katalisator.03-0.

1.75. Ca dan Fe masing-masing sebesar 4.5. Penyaring atau pemisah Volume dan ukuran garis tengah ruang hampa dalam kisi-kisi kristal menjadi dasar kemampuan zeolit untuk bertindak sebagai penyaring molekul. rerata jejari pori 60.13 m2/g. 2.04 %. Analisis lebih lanjut terhadap zeolit alam Wonosari menunjukkan bahwa zeolit mempunyai rasio Si/Al 4. Klasifikasi zeolit Zeolit Grup Analsim Analsim Wairakit Grup Natrolit Natrolit Thomsonit Grup Heulandit Na16[Al16Si24O31]6H2O Na16 Ca8 [Al20Si24O80]24H2O T5O10 (4-1) T5O10 Na16[Al16Si31O96]6H2O Ca16[Al16Si31O96]6H2O S4R S4R Rumus Kimia UBS . Telah diketahui lebih dari 40 jenis mineral zeolit di alam. K. Zeolit Alam Zeolit alam terbentuk karena adanya proses perubahan alam (zeolitisasi) dari batuan vulkanik tuf. Untuk memperoleh zeolit dengan kemapuan yang tinggi diperlukan beberapa perlakuan antara lain. Dari uji pendahuluan terhadap zeoiit alam Wonosari dengan menggunakan difraksi sinar x diketahui bahwa sebagian besar penyusunnya adalah mordernit. daya tukar ion maupun daya katalis dari zeolit tersebut belum maksimal. Molekul ynag berukuran kecil dapat melintas sedangkan yang berukuran besar dari ruang hampa akan ditahan atau ditolak. aktivasi dan modifikasi. 2.54 dan memilki kandungan logam Na. Jenis Zeolit Menurut proses pembentukannya zeolit dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu : 1. Akan tetapi daya serap.39 mmol/g.2. Dari jumlah tersebut hanya 20 jenis yang terdapat dalam batuan sedimen terutama sedimen piroklastik yang berbutir halus (tuf) Komposisi dan struktur zeolit kebanyakan terdiri dari mineral mordernit dan klinoptillit. Tabel 2.29 %. volume pori 74. Zeolit yang diperoleh dari alam telah dapat digunakan untuk berbagai keperluan.39 5 dan 1.25 x 10-3 cc/g. luas permukaan 24. keasaman sebesar 2.6.34 %.

kandungan modernit berkurang hampir 25 % pada suhu 700 0C. . atau mengumpulkan tungku putar dengan pemanasan secara penghamparan selama 3 jam atau tanpa penghamparan selama 5-6 jam (skala besar). D6R D4R. D6R S4R. Aktivasi Fisis Aktivasi fisis biasanya dilakukan dengan pemanasan yang bertujuan untuk menguapkan air yang terperangkap tinggi dalam pori-pori kristal zeolit. a. sehingga luas permukaan poripori bertambah. S8R 5 –1 S4R. S6R Proses aktivasi zeolit alam dapat dilakukan dalam 2 cara yaitu secara fisis dan kimiawi. Pemanasan modernit pada suhu 300 0C –1000 0C menyebabkan destruksi struktur kristal. Sifat dehidrasi zeolit ini berpengaruh terhadap sifat adsorbsinya. S8R S4R.Heulandit Klinoptilolit Grup Filipsit Filipsit Zeolit Na-P-1 Grup Mordernit Mordernit Ferrierit Grup Kabazit Kabazit Zeolit L Grup Faujasit Faujasit Zeolit A Grup Laumontit Laumontit Grup Pentasil ZSM-5 Grup Zeotype AlPO4-5 Ca4 [Al8Si28O72]24H2O Na6 [Al6Si30O72]24H2O K2 Ca1. Pemanasan dilakukan dalam oven biasa pada suhu 300-400 0C (untuk skala laboratorium). Zeolit yang dipanaskan pada temperatur tinggi menyebabkan molekul air yang ada dalam zeolit mengalami dehidrasi. S6R. S6R.5 [Al16Si10O32]12H2O Na8 [Al31SiO16]16H2O Na8 [Al8Si40O96]24H2O NaCa0.5 Mg2 [Al6Si30O72]24H2O Ca2 [Al4Si8O24]13H2O K6 Na3 [Al9Si27O72]21H2O Na12 Ca12 Mg11 [Al58Si134O384]235H2O Na12 [Al12Si12O48]27H2O Ca4 [Al8Si16O46]16H2O NaN [AlnSi96O192]16H2O [Al12P2O48] (C3H7)4NaOH q H2O T10O20 (4-4-1) T10O20 S4R S4R T8O16 (5-1) T8O16 D4R.

H2SO4. Mineral zeolit sintetis masing-masing mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. zeolit kadar Si sedang. Aktivasi secara kimia dilakukan dengan larutan asam atau basa. Asam-asam yang dapat digunakan untuk aktivasi adalah HCl4. yaitu zeolit kadar Si rendah. Diantara asam-asam tersebut yang paling efektif untuk dealuminasi adalah HCl. dan mengatur kembali letak atom yang dapat dipertukarkan.b. Aktivasi zeolit dengan asam menyebabkan ternetralisasinya muatan negatif pada permukaan zeolit hidrogen. Zeolit Sintetis Zeolit mempunyai sifat yang unik yaitu susunan atom maupun komposisinya dapat dimodifikasikan. membuang senyawa pengotor. Aktivasi Kimiawi Pada aktivasi kimia. Sangat terbatas. dibuat mineral zeolit berderajat kemurnian . 2. alam terdiri dari terutama campuran besi. Ini karena persamaan sifat fisik dan kimia yang dimiliki oleh kedua jenis mineral tersebut.Kebanyakan endapan zeolit beberapa jenis mineral zeolit. dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori. HNO3. Penggunaan zeolit sintetis pada dasarnya sama dengan zeolit alam. Tabel 3. zeolit sintetis dikelompokkan menjadi empat. Atom-atom Al yang masih tersisa dalam zeolit masih terkoordinasi dalam rangkaian tetrahedaral dengan empat atom oksigen. Perbedaan utama antara kedua jenis mineral zeolit alam dan sintetis . zeolit kadar Si tinggi dan zeolit Si. dan H3PO4. maka para peneliti berupaya untuk membuat zeolit sintetis yang mempunyai sifat khusus sesuai dengan keperluannya. dealuminasi adalah yang paling penting dan dominan. Hal ini sangat penting terutama berhubungan dengan fungsi zeolit sebagai adsorben. yang terbesar Garis tengah pori hanya terdapat pada mineral khabasit dan erionit Dapat dibuat mineral zeolit yang ruang kosong bergaris tengah Mineral zeolit Sintetis Dapat sintetis tinggi. Dealuminasi dapat digunkan untuk mengontrol aktivasi keasaman dan untuk mengontrol ukuran poripori zeolit. Perbedaan Mineral alam dan zeolit sintetik Macam Perbedaan Derajat Kemurnian Mineral Zeolit Alam Umumnya banyak mengandung pengotor. Berdasarkan perbandingan kadar komponen Si and Al.

. tawas dan filtrasi zeolit belum pernah dilakukan. 400 0C. 1. dinetralkan dan dikeringkan pada suhu 130 0C selama 3 jam. khabasit Daya Serap hanya dan erionit mineral yang dari 3 A hingga 8 A Dapat menyerap hingga 50 % dari volumunya.lalu disaring dan dikeringkan pada suhu 110 0C selama 3 jam. dan 500 0C selama 5 jam.00 N (perbandingan b/v 1:2) sambil dipanaskan sampai agak kering .00 M DAN 2. Kemudian zeolit disaring.10 M.6.00 M. lalu disaring. 0.05 M. 1. BAB III . dan 2. Originalitas Penelitian Penelitian tentang penurunan fosfat dengan kapur (lime). 1987 2.3 Aktivasi Zeolit Zeolit alam direndam dengan akuades selam 24 jam. Selanjutnya zeolit direndam NH4Cl konsentrasi 0.7. dicici sampai netral dan dikeringkan pada suhu 130 0 C selama 3 jam. Zeolit ini kemudian dikalsinasi pada variasi suhu 300 0C.50 M. Zeolit selanjutnya dipanaskan dengan HCl pada konsentrasi 0.50 M. mempunyai daya serap baik Sumber : Harjanto. 0.Terbatas. 2. Zeolit kemudian direndam dengan HF 2. sambil diaduk dengan pengaduk magnetik. kemudian dicuci sampai netral dan dikeringkan pada suhu 120 0C selama 3 jam.00 M pada suhu 90 0C selama 60 menit.00 M selama satu minggu sambil diaduk 3 kali sehari.

Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini merupakan “Penelitian Eksperimen” dengan “design pre test and post test design “yang hasil akan diuji secara diskriptif analitis dengan korelasi.1. Sample air limbah Kapur Aduk Tawas Endapan Pemisahan Periksa PO4 Filtrasi Zeolit Periksa PO4 Hasil Filtrasi Gambar 2.METODE PENELITIAN 3.2 Ruang Lingkup . Rancangan Penelitian 3.

3. 3. c. sehingga perlu adanya pengendalian terhadap variabel-variabel tersebut diatas agar penelitian ini mendapatkan hasil yang dapat dipertanggung jawabkan. proses pengadukan.3 Lokasi Penelitian Lokasi Penelitian yang dipilih yaitu limbah cair Rumah Sakit Bethesda dan uji laboratorium dilaksanakan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pembrantasan penyakit menular (BBTKL-PPM) Yogyakarta. sehingga waktu pengambilan sampel perlu diperhatikan agar mendapatkan kualitas yang sama pada setiap perlakuan. waktu pengambilan sampel.Meliputi semua limbah cair yang dihasilkan dari seluruh kegiatan Rumah Sakit Bethesda. kemurnian tawas. 3.suhu limbah . Kualitas limbah cair RS Bethesda sangat fluktuatif. 3.6. b. Variabel pengganggu Waktu kontak. Parameter pH. Variabel terikat Parameter yang diperiksa pada limbah cair adalah fosfat masing-masing pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/ pengolahan.kekeruhan.4 Variabel Penelitian a.5 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam analisis berupa data kuantitatif yang diperoleh dari perlakuan di lapangan dan pengamatan percobaan di laboratorium. Variabel bebas Dosis pemakaian bahan kimia larutan kapur dan tawas.6 Instrumen Penelitian 3.1 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari bahan untuk pengolahan dan bahan atau reagen untuk pemeriksaan parameter pencemar terdiri dari: Bahan untuk Pengolahan 1. Air limbah RS Bethesda . yang berbeda pada sampel perlakuan akan mengganggu proses pengendapan begitu pula dengan kemurnian kapur tohor dan kemurnian tawas serta proses pengadukan pada saat perlakuan apabila tidak dikendalikan / tidak disamakan pada setiap perlakuan akan didapatkan hasil tidak seperi yang diharapkan. kemurnian kapur tohor.kadar ion terlarut.

6. Cuvet 12. Larutan standar EDTA 0. Indikator PP 5. Karet penghisap 3. Larutan Buffer pH 10 11.6. Labu erlenmeyer 4.1 ppm 3. Beker glass 3. Indikator Phenol Red 9. H2SO4 4 N 6. Zeolit 3. Amonium Molibdat 10.2.1 ppm 4. Labu ukur 2. Pipet tetes 6. Standart fosfat 0. Pipet ukur 7. Air suling 16. Timbangan Sartorius 5. Larutan tawas 0. SnCl2 7. Tabung nessler 9.01 ppm 8.3 Tahapan Persiapan 1. Mixing Flokulator 11. alat filtrasi yang dilengkapi . Spektofotometer 10. Persiapan bahan dan alat serta pembuatan rangkaian dengan stop kran . Larutan pH 4 12. pH meter 8. Larutan kapur 0.01 M 13.2 Alat Alat Pengolahan 1. Indikator Murexid 15. Buret tetes 13. NaOH 1 N 14.

0010 ppm dan tawas 0. diamkan selama 15 menit agar terjadi pengendapan. 0. 0. Masing-masing beker glass ditambahkan larutan tawas yaitu 0. Periksa filtrat masing-masing beker glass parameter pH.0010 ppm yang akan digunakan sebagai bahan pengolahan . Isi beaker glass tersebut dengan limbah asli masing-masing sebanyak 800 ml. dan 0.4 Pelaksanaan Penelitian 1.00150 ppm dan 0.7. 3.0020 ppm. 9. 0. Penyiapan larutan kapur 0.kuantitas dan kualitas sampel tetap terjaga.2 Periode pengambilan sampel Pengambilan sampel diusahakan sekali dalam jumlah yang dibutuhkan agar homogenitas.00075 ppm ml.7.7.1 Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan pada bak penampung awal karena sudah mewakili semua limbah cair Rumah Sakit tersebut . Pisahkan filtrat dari endapan.0015 ppm. Tambahkan larutan kapur pada masing-masing beker glass volume 1 ml. 7. 0. detergen dan fosfat 2.0010 ppm dengan volume berturutturut 0. 6. Membuat larutan-larutan siap pakai untuk pemeriksaan parameter fosfat. 0. Ulangi prosedur 4 s/d 10 dengan variasi kapur 0. kemudian diberi nomor 1 s/d 3.0025 ppm.00200 ppm. 4. fosfat setelah koagulasi tersebut. 8. 3. Siapkan deretan beaker glass sebanyak 3 buah masing-masing volume 1000 ml. 3.7 Teknik Pengambilan Sampel 3. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode grab sampling (sesaat) selama periode tertentu. 5.00050 ppm. 3. 3.6.2. 3.00125 ppm. Aduk cepat masing-masing selama 3 menit. aduk lambat selama 5 menit.00100 ppm . Siapkan sampel limbah cair asli sebelum diolah kemudian diperiksa pH.3 Pemeriksaan Sampel . Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan zeolit terhadap filtrat tersebut 10.

Teknik Analisa Data Perhitungan statistik untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini menggunakan uji Regresi Linier Sederhana. Parameter limbah cair yang dianalisis adalah fosfat pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/pengolahan. Jika suatu variabel tak bebas (dependent variable) tergantung pada satu variabel bebas (independent variable). Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. yang disimbolkan dengan huruf R. 3. Koefisien determinasi diperoleh dari mengkalikan koefisien korelasi Pearson atau biasa disebut Pearson Product Moment.8 Teknik Pengumpulan Data Data yang diperoleh dari hasil penelitian dikelompokkan agar memudahkan dalam analisis. Maksud dari hubungan regresi yaitu untuk mengetahui suatu variabel dapat dipergunakan untuk memprediksi atau meramal variabelvariabel lain. 3. hubungan antara kedua variabel disebut analisis regresi sederhana. selanjutnya data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Persamaan matematik yang memungkinkan untuk meramalkan nilai-nilai satu atau lebih peubah acak bebas disebut persamaan regresi.Semua sampel diperiksa berdasarkan metode baku standard Method for examination. Bentuk matematisnya adalah sebagai berikut : Y = a . Rumusan matematisnya adalah sebagai berikut : R= n(ΣXY ) − (ΣX )(ΣY ) nΣX 2 − (ΣX ) 2 nΣY 2 − (ΣY ) 2 = Koefisien korelasi (Pearson Correlation) = variabel penambahan kapur = variabel kadar fosfat = jumlah sampel Dimana : R X Y n Nilai koefisien determinasi (R2) yang kecil berarti kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat sangat terbatas. Xb Dimana : Y X a b = Variabel terikat = variabel bebas = titik potong (intercept) = koefisien regresi (elastisitas/slope) Koefisien determinasi pada intinya adalah untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat.9. Nilai yang mendekati satu berarti variabel- .

Uji F Untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Bila Fhitung > Ftabel.00 Wib. maka Ho ditolak atau Ha diterima BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian mengenai efektifitas dosis dengan menggunakan campuran kapur tohor [Ca(OH)2] dan tawas [Al2(SO4)3] serta filtrasi zeolit terhadap penurunan kadar Fosfat air limbah RS Bethesda Yogyakarta telah dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2005. Bila Fhitung < Ftabel.1. 2. Karena pada jam .variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel terikat. maka Ho diterima 2.05. maka digunakan uji F. maka Ho ditolak atau Ha diterima. Atau 1. Fhitung = ( R2 / k 1 − R 2 / (n − k − 1) ) Keterangan: R2 k n = = = Koefisien determinan Banyaknya perubahan bebas Jumlah data Dasar Pengambilan Keputusan 1. Bila probabilitas F > 0. Sedangkan waktu pengambilan sampel dilakukan pada jam 09.05. Bila probabilitas F < 0. berdasarkan pemeriksaan kadar Fosfate selama 24 jam pada inlet dan pada bak kontak. artinya ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur prosentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dilihat dengan rumus R2 x 100%. maka Ho diterima. artinya tidak ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Sampel diambil di bak equalisasi dengan tujuan untuk mencari kadar Fosfat yang mewakili seluruh aliran limbah cair.

Lab / Hasil Analisa 56 7. Selanjutnya limbah yang diambil di bak equalisasi tersebut dilakukan pengolahan dengan cara koagulasi dan flokulasi.22 0.81 1.37 1. 1 2 Parameter pH PO4- Satuan mg/l Keterangan Sumber: Data Primer 2005 Dari hasil pengukuran diatas. Hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dilihat pada gambar 3. berikut: Tabel 5. berikut: Tabel 4.62 1.tersebut kadar Fosfat limbah cair RS Bethesda Yogyakarta pada bak equalisasi adalah yang tertinggi. maka parameter PO4. hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 5.06 0.5 25.21 1. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Setelah Koagulasi/Flokulasi Tawas (ppm) 0.82 1.00075 0.6404 No.66 1.96 0.1 ppm yang ditambahkan.4. Pada penambahan larutan kapur 0.1 ppm dan larutan kapur 0.0015 Kapur (ppm) 0.56 1.0025 ppm memberikan hasil fosfat terbaik yaitu sebesar 0.00100 0.00125 0.29 1.00200 Sumber: Data Primer 2005 2.49 1.00150 0.06 0. Hasil pengukuran kadar limbah RS Bethesda pada bak equalisasi secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4.53 0. Keadaan Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Sebelum Pengolahan (Asli) No.00050 0.melebihi yang ditentukan.19 1.maka kadar fosfat semakin menurun.15 1.0020 ppm dan tawas 0.62 1.17 1.0020 0.53 mg/l.0025 Bethesda Yogyakarta Pada tabel 5 terlihat semakin tinggi larutan tawas 0.5 dan 6 berikut: .

0005 0.0097x R2 = 0.6999 Kapur (ppm) Gambar 4.0055x-0.5 0 0 0.0020 ppm .0015 ppm 2.001 0.00 0 0.50 2.961 -0.0025 Kapur (ppm) Gambar 3.5 1 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.00 1.5 Fosfat (ppm) 2 1.3.002 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.0015 0.00 0.0005 0.50 1.002 0.00 2.50 0.001 Fosfat (ppm) y = 0.0015 0.0025 y = 0.8 R2 = 0.951 0.

30 0.0020 1.01 1.0061x R2 = 0.26 1.64 0.0025 ppm Selanjutnya limbah hasil perlakuan koagulasi dan flokukasi dilewatkan pada unit filtrasi zeolit diperoleh hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut: Tabel 6.7557 Kapur (ppm) Gambar 5.0025 Gambar 6.0015 0.5 0 0 0.00075 0.0025 ppm 3 Fosfat (ppm) 2 1 0 0 0.18 1.0015 0.5 1 0.23 1.00150 0.98 0.0025 y = 0.06 1.00050 0.00200 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.66 Sumber: Data Primer 2005 .0025 Kapur (ppm) Tawas 0.01 mg/ml Kapur 0.06 0.28 0.0005 0.0025 1.001 0.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi Pada Penambahan tawas 0.81 0.0020 ppm dan 0.002 0.00100 0.00125 0.0020 Tawas 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Tawas 0.985 -0.0015 Tawas 0.03 0. tawas 0.001 0.0015 1.0005 0.00 0.002 0.01 mg/ml 0.2 Fosfat (ppm) 1.78 0.32 1.90 1.0015 ppm.70 0.

berikut: 2 Fosfat (ppm) 1.001 0.0005 0.5 1 0.0015 0.dan tawas 0.6708 R2 = 0.9147 2 R = 0.0015 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan pembubuhan larutan kapurdan larutan tawas setelah filtrasi zeolit dapat dilihat pada gambar 7.1 ppm.002 0.0015 0.maka kadar fosfat setelah filtrasi zeolit semakin kecil nilai fosfat optimal dicapai pada penambahan larutan kapur 0.8. Secara empiris.958 Kapur (ppm) Gambar 8.0025 y = 0.5 1 0. 9 dan 10.1 ppm.0025 y = 0. 0.801 Kapur (ppm) Gambar 7.Dari tabel 6.001 0.0020 ppm .011x -0.0005 0.0020 ppm . 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.002 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.5 0 0 0.0016x -0.5 0 0 0. terlihat semakin tinggi larutan kapur dan larutan tawas yang ditambahkan .0025 ppm.

0025 Kapur (ppm) Taw as 0.001 0.0005 0.0025 y = 0. Efektifitas bahan kimia .5 0 0 0. Dari beberapa referensi bahwa keberadaan Fosfat dalam air limbah dapat diturunkan dengan jalan pengendapan secara kimiawi.980 Kapur (ppm) Gambar 9.0025 Gambar 10. dan filtarasi zeolit sangat berpengaruh dalam menurunkan kadar Fosfat. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.0015 0. kapur.0025 ppm Fosfat (ppm) 2 1. Pada penelitian ini pemakaian dosis kapur.0015 Taw as 0. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan kimia sebagai penghilang Fosfat adalah sebagai berikut: 1.002 0.5 1 0.0012x -0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi 4.002 0.0005 0.0015 0.9343 R2 = 0. Biaya 2. Senyawa-senyawa Fosfate dapat dihilangkan dengan penambahan bahan koagulan misalnya alum.5 0 0 0. tawas.001 0. ferrichlorida atau ferrous sulfat.2.2 Fosfat (ppm) 1. Pembahasan Limbah cair di lingkungan RS Bethesda Yogyakarta dilakukan pengolahan dengan menggunakan sistem aerob dan anerob.5 1 0.0020 Taw as 0.

3.9 memenuhi syarat.7557 Dimana : x = penambahan kapur (ml) Y = penurunan kadar fosfat (mg/l) Secara keseluruhan hasil pemeriksaan kadar fosfat dengan koagulasi dan flokulasi pada konsentrasi tawas 0. PO43-. Dosis dan perlengkapan untuk pengadukan 6. Efek terhadap lingkungan Dari beberapa pertimbangan diatas. sedangkan konsentrasi PO43. karena proses pembentukan flok pada proses koagulasi sangat dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia seperti kondisi pengadukan.4 . Limbah asli diambil dalam jumlah yang cukup pada jam 09. tidak memenuhi baku mutu. 0. Limbah cair RS Bethesda yang digunakan sebagai bahan untuk penelitian penurunan kadar fosfat diambil pada Bak Equalisasi dengan pertimbangan limbah tersebut sudah merupakan gabungan dari semua sumber limbah yang dihasilkan.5 Baku Mutu pH = 6 . Pada Bak Equalisasi. Kesesuaian dengan proses pengolahan lain 5. maka kami pilih kapur dan tawas sebagai bahan koagulan. Hasil analisa No lab 56 menunjukkan hasil pH = 7. Pertimbangan lumpur yang dihasilkan 4. karena disamping harganya relatif murah.0055x-0. dan 0.6999 Gambar 5 dengan persamaan empiris y = 0. Dari hasil koagulasi / flokulasi pada Tabel 4 terlihat kecenderungan penurunan fosfat yang terjadi sebanding dengan penambahan kapur yang ditunjukkan pada : Gambar 3 dengan persamaan empiris y = 0.8047 Gambar 4 dengan persamaan empiris y = 0. alkalinitas. pH dan bereaksi dengan bikarbonat membentuk CaCO3 sebagai basa.0061x-0. pH. dengan pertimbangan keduanya akan saling mengkoreksi pH. Pembentukan flok akan berjalan baik pada range pH 5.6404 mg/l. Pengaruh penambahan kapur akan menaikkan diluar pH tersebut maka pembentukan flok sempurna. kualitas dan kuantitas limbahnya serba sama. Perpaduan dari dua jenis koagulan. kekeruhan.8-7.0020 ppm. Selanjutnya limbah dari Bak Equalisasi dikategorikan sebagai limbah asli.awal = 25.0025 ppm ditunjukkan pada Gambar 6. suhu.00 pagi saat fluktuasi kualitas terjadi. Limbah asli dianalisa di laboratorium dengan parameter pH. belum melalui perlakuan pengolahan sama sekali. tapi juga aman terhadap lingkungan.0097x-0. dan mudah didapatkan di pasaran.0015 ppm.

0025 ppm.0097 x-0. dan 6. x-0.70 dimana nilai R antara 0.0025 ppm.011 0. dan 0. Jadi dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar fosfat pada konsentrasi penambahan tawas 0. jadi dapat disimpulkan penurunan kadar fosfat pada penambahan tawas 0. Selanjutnya dicari nilai R dari variasi tawas 0. formula y = 0. Pada penurunan fosfat yang dilakukan dengan filtrasi zeolit setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi terlihat kadar fosfat cenderung mengalami penurunan lagi.0055 0.0025 ppm. dimana nilai R2 antara 0. Maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini terdistribusi normal. 0. 5.Berdasarkan hasil pengukuran terhadap limbah asli tersebut.9147 pada penambahan tawas x-0. Ternyata diperoleh dari data statistik variasi penambahan tawas 0.0025 ppm adalah yang tertinggi dengan nilai R = 0. Pada proses koagulasi dan flokulasi kadar fosfat (PO43-) diharapkan mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan penambahan larutan kapur dan tawas menjadi endapan Ca3 (PO4)2 ↓ dan Al (PO4) ↓. maka diperoleh hasil dari masing-masing variasi tawas.0012 x-0.0061 x-0. yaitu 0. 0.05. 9 dan 10. sedangkan dari uji regresi .0025 ppm.0015 ppm.0020 ppm. 8.0020 ppm. nilai P semua variasi di atas 0.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat paling efektif.05 maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini berdistribusi normal. 0. Diharapkan pada proses filtrasi ini terjadi pemisahan yang lebih sempurna dari flocculant terhadap cairannya.0015 ppm. Dari hasil analisa data setelah filtrasi. Penurunan PO4 secara rinci terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 3. maka perlu dilakukan penelitian penurunan kadar fosfat dengan koagulasi-flokulasi dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan zeolit. Jika dilihat dari uji statistik pendistribusian data dengan uji Kolmogorov Smirnov.6999 pada penambahan tawas . Jika ditinjau dari uji statistik. didapat nilai R2 tertinggi. formula y = 0. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula y = 0.8047 pada penambahan tawas 0. dimana konsentrasinya fosfatnya melebihi baku mutu yang ditetapkan. dan 0.6708 pada penambahan tawas 0.0016 x-0. dan formula y = 0. diperoleh nilai p value pada masing-masing sampel lebih besar dari 0.0025 ppm setelah filtrasi adalah yang paling efektif.0015 ppm.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat. Semua flok yang terbentuk tidak ada lagi yang terikat pada cairan limbah terolah. 4.70 – 1.992.0025 ppm. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula : y = 0. Hasil penurunan dengan filtrasi zeolit secara keseluruhan terlihat pada Tabel 6 dan Gambar 7.990 pada konsentrasi penambahan tawas 0.0015 ppm.9343 pada penambahan tawas 0. sedangkan dari uji korelasi atau uji kekuatan hubungan antara dua variabel diperoleh nilai R2 di atas 0.70. diperoleh nilai R2 semua di atas 0.70 – 1.0025 ppm adalah yang paling efektif.0020 ppm.7557 pada penambahan tawas 0.0020 ppm dan formula y = 0.

784 F tabel (df1 = 1.1% pengaruh kapur 98.0015 ppm 0.7086 7.4.8% pengaruh kapur 98.3.951 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.0025 ppm.961 0.980 F hitung 16. kapur berpengaruh sebesar 98.394 193. df2 = 4) 7. 1 2 3 Tawas 0.0% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.985 F hitung 78.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.0025 ppm R2 0. df2 = 4) 7.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.1% pengaruh kapur 95.0% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.735 260. Analisa Data Tabel 7. Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian mengenai efektifitas dosis dengan menggunakan campuran kapur tohor [Ca(OH)2] dan tawas [Al2(SO4)3] serta filtrasi zeolit terhadap penurunan kadar Fosfat air limbah .5% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.0015 ppm 0.7086 7.271 99.0025 ppm.0025 ppm R2 0.3.7086 Keterangan 80.1% pengaruh kapur 96.0020 ppm 0. Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi No. Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi No.0020 ppm 0.5% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.795 F tabel (df1 = 1.7086 Keterangan 95.7086 7.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat. kapur berpengaruh sebesar 98.801 0.958 0.7086 7. 1 2 3 Tawas 0. Tabel 8.061 90.

56 1.RS Bethesda Yogyakarta telah dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2005. berikut: Tabel 5. Hasil pengukuran kadar limbah RS Bethesda pada bak equalisasi secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4.82 1. Keadaan Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Sebelum Pengolahan (Asli) No.00075 0.62 1. berdasarkan pemeriksaan kadar Fosfate selama 24 jam pada inlet dan pada bak kontak.00 Wib. Sedangkan waktu pengambilan sampel dilakukan pada jam 09.66 1. Sampel diambil di bak equalisasi dengan tujuan untuk mencari kadar Fosfat yang mewakili seluruh aliran limbah cair.21 1.29 1.00100 0.06 0. maka parameter PO4.62 1.81 1.53 0.06 0.49 1. hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 5. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Tawas (ppm) 0.22 0.00200 Sumber: Data Primer 2005 2.5 25.19 1. Karena pada jam tersebut kadar Fosfat limbah cair RS Bethesda Yogyakarta pada bak equalisasi adalah yang tertinggi.6404 Keterangan Sumber: Data Primer 2005 Dari hasil pengukuran diatas.0020 0. 1 2 Parameter pH PO4Satuan mg/l No.96 0. Selanjutnya limbah yang diambil di bak equalisasi tersebut dilakukan pengolahan dengan cara koagulasi dan flokulasi.00050 0.37 1.00150 0.0015 Kapur (ppm) 0.00125 0.melebihi yang ditentukan.15 1.0025 .Lab / Hasil Analisa 56 7. berikut: Tabel 4.17 1.

001 Fosfat (ppm) y = 0.0005 0.002 0.4.002 0.0015 0.0025 Kapur (ppm) Gambar 3.00 0 0.50 2. Pada penambahan larutan kapur 0.961 -0.8 R = 0.50 1.0015 0.00 0.Pada tabel 5 terlihat semakin tinggi larutan tawas 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.53 mg/l.00 2.001 0. Hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dilihat pada gambar 3.0055x-0.0097x R2 = 0.951 2 0.5 dan 6 berikut: 3.0025 y = 0.maka kadar fosfat semakin menurun.1 ppm yang ditambahkan.0005 0.50 0.1 ppm dan larutan kapur 0.5 0 0 0.00 1.0020 ppm .5 Fosfat (ppm) 2 1.0020 ppm dan tawas 0.0015 ppm 2.5 1 0.6999 Kapur (ppm) Gambar 4. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.0025 ppm memberikan hasil fosfat terbaik yaitu sebesar 0.

70 .0015 1.7557 Kapur (ppm) Gambar 5.0025 y = 0.0015 ppm.0015 Tawas 0.0020 1.5 1 0.002 0.5 0 0 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Tawas 0.0025 Gambar 6.18 1.26 1.0061x R2 = 0.00 0.90 1.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi Pada Penambahan tawas 0.81 0.985 -0.0020 Tawas 0.001 0.03 0.00050 0.00100 0.0020 ppm dan 0.001 0.0025 ppm Selanjutnya limbah hasil perlakuan koagulasi dan flokukasi dilewatkan pada unit filtrasi zeolit diperoleh hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut: Tabel 6. tawas 0.2 Fosfat (ppm) 1. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.0005 0.0025 1.06 0.01 1.06 1.00125 0.01 mg/ml 0.32 1.002 0.01 mg/ml Kapur 0.0025 Kapur (ppm) Tawas 0.00075 0.0015 0.23 1.0005 0.0025 ppm 3 Fosfat (ppm) 2 1 0 0 0.0015 0.

0020 ppm . 0.maka kadar fosfat setelah filtrasi zeolit semakin kecil nilai fosfat optimal dicapai pada penambahan larutan kapur 0.1 ppm.64 0.0015 0.0.98 0. 9 dan 10.28 0. berikut: 2 Fosfat (ppm) 1.0005 0.66 Sumber: Data Primer 2005 Dari tabel 6.5 1 0.0015 0.958 Kapur (ppm) Gambar 8. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan pembubuhan larutan kapurdan larutan tawas setelah filtrasi zeolit dapat dilihat pada gambar 7.0025 y = 0.6708 R2 = 0.5 1 0.0016x -0.0005 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.0020 ppm .002 0.1 ppm.dan tawas 0. 0.5 0 0 0. terlihat semakin tinggi larutan kapur dan larutan tawas yang ditambahkan .001 0.002 0.00200 0.011x -0.9147 2 R = 0.5 0 0 0.30 0.801 Kapur (ppm) Gambar 7.00150 0.0025 y = 0.8.0015 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.78 0.001 0. Secara empiris.0025 ppm.

0015 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.0025 y = 0.002 0.0012x -0.0025 Gambar 10.001 0.2 Fosfat (ppm) 1. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan kimia sebagai penghilang Fosfat adalah sebagai berikut: .0020 Taw as 0.5 1 0.0015 Taw as 0.4.001 0.002 0.0005 0. ferrichlorida atau ferrous sulfat. tawas.0005 0. dan filtarasi zeolit sangat berpengaruh dalam menurunkan kadar Fosfat. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi 4.980 Kapur (ppm) Gambar 9.5 0 0 0.5 1 0. Dari beberapa referensi bahwa keberadaan Fosfat dalam air limbah dapat diturunkan dengan jalan pengendapan secara kimiawi.5 0 0 0. Senyawa-senyawa Fosfate dapat dihilangkan dengan penambahan bahan koagulan misalnya alum. Pembahasan Limbah cair di lingkungan RS Bethesda Yogyakarta dilakukan pengolahan dengan menggunakan sistem aerob dan anerob. kapur.9343 R2 = 0. Pada penelitian ini pemakaian dosis kapur.0025 ppm Fosfat (ppm) 2 1.0025 Kapur (ppm) Taw as 0.0015 0.

suhu. belum melalui perlakuan pengolahan sama sekali. Perpaduan dari dua jenis koagulan. maka kami pilih kapur dan tawas sebagai bahan koagulan. Limbah asli diambil dalam jumlah yang cukup pada jam 09.4 .0055x-0.8-7.6999 Gambar 5 dengan persamaan empiris y = 0. Efektifitas bahan kimia 3.00 pagi saat fluktuasi kualitas terjadi. dan 0. Pertimbangan lumpur yang dihasilkan 4. Dari hasil koagulasi / flokulasi pada Tabel 4 terlihat kecenderungan penurunan fosfat yang terjadi sebanding dengan penambahan kapur yang ditunjukkan pada : Gambar 3 dengan persamaan empiris y = 0. Pada Bak Equalisasi. Biaya 2. karena disamping harganya relatif murah.0097x-0.0061x-0.0020 ppm. kualitas dan kuantitas limbahnya serba sama.7557 Dimana : x = penambahan kapur (ml) Y = penurunan kadar fosfat (mg/l) Secara keseluruhan hasil pemeriksaan kadar fosfat dengan koagulasi dan flokulasi pada konsentrasi tawas 0. alkalinitas.0015 ppm.8047 Gambar 4 dengan persamaan empiris y = 0. Limbah cair RS Bethesda yang digunakan sebagai bahan untuk penelitian penurunan kadar fosfat diambil pada Bak Equalisasi dengan pertimbangan limbah tersebut sudah merupakan gabungan dari semua sumber limbah yang dihasilkan.0025 ppm ditunjukkan pada Gambar 6. dan mudah didapatkan di pasaran. kekeruhan. Selanjutnya limbah dari Bak Equalisasi dikategorikan sebagai limbah asli. pH dan bereaksi dengan bikarbonat membentuk CaCO3 sebagai basa. Kesesuaian dengan proses pengolahan lain 5. 0. tapi juga aman terhadap lingkungan.1. Dosis dan perlengkapan untuk pengadukan 6. Pembentukan flok akan berjalan baik pada range pH 5. karena proses pembentukan flok pada proses koagulasi sangat dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia seperti kondisi pengadukan. dengan pertimbangan keduanya akan saling mengkoreksi pH. Pengaruh penambahan kapur akan menaikkan diluar pH tersebut maka pembentukan flok sempurna. pH. Efek terhadap lingkungan Dari beberapa pertimbangan diatas.

990 pada konsentrasi penambahan tawas 0.70 dimana nilai R antara 0. Diharapkan pada proses filtrasi ini terjadi pemisahan yang lebih sempurna dari flocculant terhadap cairannya. diperoleh nilai p value pada masing-masing sampel lebih besar dari 0. 8.0097 x-0.0055 0.0016 x-0. Pada proses koagulasi dan flokulasi kadar fosfat (PO43-) diharapkan mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan penambahan larutan kapur dan tawas menjadi endapan Ca3 (PO4)2 ↓ dan Al (PO4) ↓. formula y = 0. Hasil penurunan dengan filtrasi zeolit secara keseluruhan terlihat pada Tabel 6 dan Gambar 7. yaitu 0.0020 ppm.0020 ppm. Dari hasil analisa data setelah filtrasi. Jika ditinjau dari uji statistik. Penurunan PO4 secara rinci terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 3.992. sedangkan dari uji regresi . formula y = 0. Hasil analisa No lab 56 menunjukkan hasil pH = 7.0015 ppm.011 0.0020 ppm.9147 pada penambahan tawas x-0. dan 0. tidak memenuhi baku mutu.8047 pada penambahan tawas 0. nilai P semua variasi di atas 0. Jika dilihat dari uji statistik pendistribusian data dengan uji Kolmogorov Smirnov. dan 0. dan formula y = 0.0015 ppm.0020 ppm dan formula y = 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini berdistribusi normal. Berdasarkan hasil pengukuran terhadap limbah asli tersebut.0015 ppm. Jadi dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar x-0. sedangkan konsentrasi PO43.0025 ppm adalah yang paling efektif. PO43-.0025 ppm.70. 0. 5.05. 4. diperoleh nilai R2 semua di atas 0. maka perlu dilakukan penelitian penurunan kadar fosfat dengan koagulasi-flokulasi dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan zeolit.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat. sedangkan dari uji korelasi atau uji kekuatan hubungan antara dua variabel diperoleh nilai R2 di atas 0. jadi dapat disimpulkan penurunan kadar fosfat pada penambahan tawas 0. Semua flok yang terbentuk tidak ada lagi yang terikat pada cairan limbah terolah.6404 mg/l. dimana nilai R2 antara 0.0025 ppm.0012 x-0. 0.0061 x-0.9343 pada penambahan tawas 0. 9 dan 10.6999 pada penambahan tawas . 0.5 Baku Mutu pH = 6 . Persamaan empiris ditunjukkan pada formula : y = 0.Limbah asli dianalisa di laboratorium dengan parameter pH.0025 ppm adalah yang tertinggi dengan nilai R = 0. maka diperoleh hasil dari masing-masing variasi tawas. Pada penurunan fosfat yang dilakukan dengan filtrasi zeolit setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi terlihat kadar fosfat cenderung mengalami penurunan lagi. dimana konsentrasinya fosfatnya melebihi baku mutu yang ditetapkan. Selanjutnya dicari nilai R dari variasi tawas 0. didapat nilai R2 tertinggi.70 – 1.0025 ppm.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat paling efektif.0025 ppm.9 memenuhi syarat. Maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini terdistribusi normal. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula y = 0. dan 6.awal = 25.7557 pada penambahan tawas 0.0015 ppm.70 – 1. Ternyata diperoleh dari data statistik variasi penambahan tawas 0.0025 ppm.6708 pada penambahan tawas 0.

kapur berpengaruh sebesar 98.0% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.7086 7.795 F tabel (df1 = 1. Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi No.0025 ppm R2 0.0025 ppm setelah filtrasi adalah yang paling efektif.0020 ppm 0.951 0.0025 ppm R2 0. Tabel 8.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat BAB V .5% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.5% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0. 4.0025 ppm.394 193.784 F tabel (df1 = 1.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.061 90.7086 Keterangan 80.961 0. df2 = 4) 7.7086 7.0% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.8% pengaruh kapur 98.1% pengaruh kapur 96.1% pengaruh kapur 95.735 260. kapur berpengaruh sebesar 98.0015 ppm 0.7086 Keterangan 95.980 F hitung 16.1% pengaruh kapur 98. Analisa Data Tabel 7.958 0.3.801 0.0025 ppm. df2 = 4) 7.0015 ppm 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.0020 ppm 0.271 99.7086 7. 1 2 3 Tawas 0.985 F hitung 78. Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi No.7086 7. 1 2 3 Tawas 0.fosfat pada konsentrasi penambahan tawas 0.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat.

Larutan kapur dan larutan tawas efektif menurunkan kadar fosfat dalam limbah cair RS Bethesda dengan prosentase 97.0020 ppm dan konsentrasi larutan tawas 0. agar penambahan koagulan dapat dilakukan setepat mungkin. maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. 5. . 2.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian. Bagi peneliti lain Untuk dapat meneliti penurunan kadar fosfat dengan menggunakan metode yang lain.0061 x 0.7557 diperoleh pada konsentrasi larutan kapur 0. Saran 1. Terhadap RS Bethesda Supaya memilih detergen yang digunakan dengan kadar fosfat rendah. Efektifitas penurunan kadar fosfat limbah cair RS Bethesda dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dinyatakan dengan rumus empiris y=0. 2.KESIMPULAN DAN SARAN 5. kemurnian bahan dan ketelitian alat sangat mempengaruhi hasil penelitian selanjutnya.92 %.2.0025 ppm. Perlu melakukan pemeriksaan kadar fosfat secara berulang-ulang.

J. sering dikenal sebagai bentuk pelayanan yang berorientasi pada pelayanan kuratif saja. dengan kapasitas awal 150 tempat tidur dan dikelola sepenuhnya oleh gerejagereja Gereformed di Amsterdam.P.G. pencegahan.Groot. Salah satu upaya penyehatan lingkungan rumah sakit teresbut adalah peraturan pemerintah tentang adanya suatu satuan kerja yang bertanggungjawab terhadap penyehatan lingkungan rumah sakit yaitu Instalasi Sanitasi melaui SK Menkes No. yaitu dr. pengobatan dan pelayanan kesehatan. Rumah Sakit Rumah Sakit adalah integrasi organisasi sosial dan kesehatan yang berfungsi melayani masyarakat dengan pelayanan kesehatan secara menyeluruh baik kuratif maupun preventif serta pelayanan penderita berobat jalan mencakup lingkungan keluarga. Rumah Sakit Petronella disebut juga sebagai rumah sakit Dokter Tulung/Pitulung karena tidak memungut biaya perawatan rumah sakit. tetapi untuk mencapai tujuan pembangunan bidang kesehatan. 548/Menkes/VI/1994 tanggal 13 Juni 1994. maka rumah sakit diharapkan berangsur akan berkembang kearah pelayanan kesehatan paripurna yang mencakup upaya peningkatan.Offringa. Ketika menerima subsidi dari pemerintah. kapasitas rmah sakit yang semula 150 tempat tidur ditingkatkan menjadi 475 tempat tidur. semasa kepemimpinan dr. Rumah Sakit Petronellapun bernama resmi Het Zendingsziekenhuis Petronella Voor on en minvermogenden (Rumah Sakit Petronella untuk orang-orang yang kurang dan tidak mampu). dr. Rumah sakit merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh. dr. Pada tahun 1899 dr. Offringa dan dr. Rumah sakit akan menghasilkan limbah yang bersifat infeksius.J. toxic dan radioaktif dalam melakukan kegiatannya sehingga perlu adanya upaya penyehatan lingkungan rumah sakit. K.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.Scheurer mendirikan Rumah Sakit Petronella di kampung Gondokusuman. disamping juga merupakan pusat latihan tenaga kesehatan dan tempat untuk mengadakan pelatihan medis. . J. Dalam kurun waktu 1924-1925. Pruys.Scheurer kembali ke Belanda pada tahun 1906 dan kepemimpinan RS Petronella selama 36 tahun berikutnya dibagi rata oleh tiga orang dokter.1. Tujuannya untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari bahan buangan atau limbah rumah sakit serta mencegah meningkatnya infeksi nosokomial di lingkungan rumah sakit.

1714 / K. Supaya umum mengetahuinya bahwa Rumah Sakit Kristen. Wahidin : Jalan Johar Norhadi Struktur Organisasi Rumah Sakit Bethesda Struktur organisasi RS Bethesda Yogyakarta sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Pimpinan Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (DP-YAKKUM) No. Rumah Sakit Jogjakarta Tjuo Bjoin direbut dari Jepang dan berganti nama menjadi Rumah Sakit Pusat.423 m2 . Lucas Gerard Johannes Samallo sebagai dokter pertama berbangsa Indonesia yang memimpinnya.Sewaktu terjadi perang antara Sekutu dan Jepang. maka berdasarkan hasil rapat Dewan Pimpinan YAKKUM (Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum) selaku pengawas yang berpusat di Surakarta. Setelah proklamasi kemerdekaan.935 m2 dengan luas bangunan mencapai 25. 70. dengan dr. Kotamadya Yogyakarta. dengan batas-batas: • • • • Utara Selatan Timur Barat : Jalan Jenderal Sudirman : Universitas Kristen Duta Wacana dan Komplek DKT : Jalan Dr.412 m2 dan tanah kosong dalam komplek 36. Rumah Sakit Bethesda terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di jalan Jenderal Sudirman No. tanggal 28 Juni 1949.uk RS BETH /1996 tanggal 23 Maret 1996 dan kemudian diberlakukan di RS Bethesda dengan Surat Keputusan Direktur No.3880/K. Lokasi Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta terletak pada sebidang tanah yang mempunyai luas 61. rumah sakit secara resmi berdiri dan beroperasi di Yogyakarta dengan nama Rumah Sakit Bethesda. pasien-pasien Petronella dipindahkan ke rumah sakit darurat di Pingit (sekarang asrama Polisi) dan Rumah Sakit Petronella dipindahkan kembali ke Gondokusuman dan berganti nama menjadi Jogjakarta Tjuo Bjoin (Rumah Sakit Pusat Jogyakarta) dan dipimpin oleh orang Jepang.966/1997 tanggal 22 Juli 1997 tentang organisasi dan tata kerja RS Bethesda Yogyakarta yang terdiri dari: • • • • • • • Direktur Wakil Direktur Pelayanan Medik Wakil Direktur Penunjang Medik Wakil Direktur Keuangan Wakil Direktur Personalia dan Umum Bidang Satuan Pengawasan Intern Bidang Sekretariat .

dan wastafel. Penelitian dan Pengembangan Bidang Pelayanan Keluarga Berencana RS Bethesda Bidang Sosial Pastoral Bidang usaha Peningkatan Kesehatan Masyarakat (UPKM) Bidang Pendidikan SPK dan Bidan Bidang Pelayanan Kesehatan (YANKES) Lempuyangwangi Bahan Polutan Rumah Sakit Bethesda Bahan polutan yang ada dapat diamati dengan jelas dari setiap kegiatan yang dilakukan RS Bethesda Yogyakarta. Limbah gas berupa: . WC.• • • • • • Bidang Perencanaan. asam sulfat (merupakan specimen laboratorium). Kotoran lemak Deterjen Specimen laboratorium padatan Perban/kasa Spet suntikan Kapas darah Sisa makanan Kertas Plastik Kaca Sisa amputasi Sisa persalinan Sisa operasi Sisa outopsi Sisa insenerasi Gas dari sisa pembakaran di Instalasi Gizi Asap dari pembakaran di Instalasi Incenerator Uap air atau kondensat dari Instalasi Laundry 5. Limbah padat berupa: 6. Air buangan dari kamar mandi. Bahan polutan yang ada merupakan hasil dari berbagai aktivitas yang menimbulkan dampak dan kemungkinan bahan polutan yang ada antara lain: 4. Limbah cair berupa: • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Darah. alkohol.

untuk itu pihak RS Bethesda menggunakan 5 (lima) buah pompa dengan daya 10 pk dan 7. demikian juga untuk ruang tidur pasien atau bangsal. baik untuk bekerja maupun untuk penyimpanan barang atau peralatan elektronik. Pengadaan Air Air bersih merupakan kebutuan mutlak yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan setiap rumah sakit dimanapun juga. Jumlah dari kebutuhan air bersih untuk RS Bethesda diperkirakan ± 875 m3 per harinya. 7. Genset beroperasi secara otomatis apabila suplai listrik dari PLN tidak berjalan atau padam. Pengadaan Listrik Pencahayaan atau listrik digunakan di semua ruangan yang ad. Mengingat bahwa rumah sakit merupakan tempat tindakan pelayanan dan perawatan orang sakit. pengunjung dan karyawan.5 pk. Fasilitas Pemadam Kebakaran . Selain menggunakan sumber listrik PLN. maka kualitas dan kuantitas air yang digunakan untuk kebutuhan rumah sakit harus selalu dipertahankan agar tidak dapat mengakibatkan sumber infeksi baru bagi penderita .Utilitas 5. yang diletakkan di dalam sumur berkedalaman30 sampai 40 meter. Yang kemudian di pompa water tower yang berjumlah 2 buah. dengan sistem otomatis. 6. • • • • • • • Pengadaan Transportasi Pengadaan mobil operasional terdiri dari: Mobil ambulance Mobil jenazah Mobil kijang Mikrobus Minibus Sedan Open Cup : 4 buah : 1 buah : 3 buah : 2 buah : 1 buah : 2 buah : 1 buah Dengan tenaga sopir 11 orang 8. Pengadaan listrik di RS Bethesda berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebesar 5500 kVa. RS Bethesda juga menggunakan 2 buah genset yang mempunyai daya 500 kVa dan 375 kVa. taman dan untuk pelayanan penerangan umum lainnya.

Berdasarkan macam/jenis penyakit yang ditangani a. sisa obat. 983/SK/Menkes/XI/92 menyebutkan bahwa RSU Type A adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan . b. Sedangkan Rumah Sakit Bethesda tergolong RSU Kelas Utama. 2. dapur. air bekas pencucian dan lain-lain. Rumah Sakit Umum (RSU).1. Rumah Sakit khusus. Departemen Hankam dan BUMN. dan Pratama. tinja. Madya. kamar mandi. Keputusan Menkes RI No. Limbah tersebut dapat berupa sisa darah. 4. tempat pencucian pakaian. Tabung pemadam kebakaran sejumlah 64 buah Pihak RS Bethesda juga bekerjasama dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kodya dan KODAM IV/Diponegoro.Pengadaan fasilitas untuk pemadam kebakaran berupa: a. 2. yang menangani hanya 1 (satu) atau beberapa jenis penyakit tertentu. Klasifikasi Rumah Sakit Secara umum industri rumah sakit dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian. ruang bedah dan runag lain dalam bnagunan kecuali limbah cair radiologi. ruang pasien. b. RSU masih dibagi lagi menjadi beberapa type/kelas RSUP (RSU Pemerintah) dapat diklasifikasikan menjadi RSU type A.2. yaitu. yang dikelola oleh yayasan.Sedangkan RSU Swasta dibagi atas Kelas Utama. Macam jumlah dan kadar zat pencemar yang dihasilkan dari setiap sumber tersebut bervariasi tergantung kegiatan/aktivitasnya dan bahan yang digunakan. C dan D. ruang operasi dan lainnya. spesialistik dan subspesialistik. Pengertian Limbah Cair Rumah Sakit Limbah cair rumah sakit merupakan limbah cair dari semua sumber pembuangan misalnya kloset. ruang laboratorium.1. Hydrant. b. B.1. Benang merah yang menghubungkan RSUP DAN RSU Swasta adalah paralelisasi antara Type B dan Kelas Utama. 3. Type C dan Kelas Madya serta Type D dan Kelas Pratama. sisa bahan kimia/radiologi. yang dikelola oleh Depkes dan merupakan milik pemerintah (pusat atau daerah). Rumah Sakit Swasta. yang menangani hampir semua penyakit/memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar. Limbah cair rumah sakit adalah limbha cair yang berasal dari rumah sakit baik ynag berasal dari dapur. Rumah Sakit Negeri/ Pemerintah. yang ditempatkan di 16 titik yang dianggap dapat mewakili seluruh areal bangunan RS Bethesda. Berdasarkan status kepemilikan /pengelolaan a. urine.

Spoelhock. Terakhir RSU Type D atau Kelas Pratama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis dasar. Wastafel. Ruang Rawat Jalan: Kamar mandi. 15. Spoelhock. tempat wudlu. urinoir. 21. Fasilitas Sosial (Kafetaria. wastafel. tempat cuci perabot makan. Wastafel. buangan dari pembilas mesin cuci. Wastafel. tempat cuci instrumen medik. Spoelhock. tempat buang exudat pasien. pantry. Asrama): Kamar mandi. 23. urinoir. floor drain. Ruang Perawatan berasal dari: Kamar mandi. tempat cuci preparat. Pemukiman (Rumah Dinas. Wastafel. tempat cuci instrumen medik. RSU Type C atau Kelas Madya adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik dasar. Unit Radiologi: wastafel. Sumber Penghasil Limbah RS Bethesda . 26. 18. Ruang Kamar Jenazah/Autopsi: Kamar mandi. Ruang Dapur: Kamar mandi. Ruang Haemodialisa: Kamar mandi. urinoir. tempat cuci instrumen medik. Spoelhock. kamar mandi. 2. Instalasi Laboratorium Klinik/Patologi Anatomi: Kamar mandi.1. 22. Untuk mengetahui jenis limbah yang dihasilkan yang digunakan sebagai dasar cara pengolahannya maka perlu diketahui sumber-sumber yang menghasilkan limbah rumah sakit. Ruang Operasi: Kamar mandi. tempat cuci instrumen medik. 17. Wastafel. floor drain. urinoir. tempat mencuci jenazah. tempat buang exudat pasien. pantry. 16. tempat cuci film. 20. Wastafel. urinoir. Ruang Rawat Darurat: Kamar mandi. pantry.3. tempat cuci sayur/buah. 19. Ruang Laundry: tempat rendaman linen kotor. tempat cuci instrumen medik. Wastafel. Sumber Limbah Cair Rumah Sakit Dalam melakukan kegiatan pelayanan kesehatan rumah sakit akan menghasilkan limbah cair. Wastafel. Masjid): Kamar mandi. tempat cuci perabot makan. 25. tempat cuci instrumen medik. tempat pembedahan mayat/autopsi. RSU Type B atau Kelas Utama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan subspesialistik terbatas.subspesialistik luas. buangan pembilas air panas. 24. Unit Perkantoran/Perpustakaan: Kamar mandi. tempat buang exudat pasien. tempat cuci alat-alat dapur. Sumber-sumber limbah rumah sakit meliputi: 14. tempat cuci beras. floor drain. urinoir.

Instalasi gizi (dapur) Kegiatan instalasi gizi yaitu melayani kebutuhan makanan pasien maupun karyawan sehingga dari kegiatan ini juga dihasilkan limbah cair. yang mengandung minyak. 6. Adapun sumber-sumbernya adalah sebagai berikut: 5. 7. Sifat Fisik . lemak dan detergen untuk kemudian diolah secara bertingkat. bahan kimia beracun dan radio aktif. ruang farmasi. Karakteristik Limbah Cair Rumah Sakit Air limbah pada intinya dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu sifat fisik. parasit. kantor. 8. Dari laundry ini dihasilkan limbah cair dengan kandungan detergen yang tinggi sehingga memilki pH dan suhu yang tinggi. ruang radiologi dan lain-lain yang menghasilkan limbah. d. wastafel) dan di tambah buangan dari asrama putra AKPER RS Bethesda. Air limbah ini mengalir secara gravitasi dengan 13 bak kontrol di titik-titik tertentu guna mengawasi lancar tidaknya aliran. Limbah cair alur barat Limbah cair dari alur barat lebih didominasi oleh air buangan yang berasal dari ruang-ruang rawat inap (kamar mandi/WC.Limbah rumah sakit adalah semua air buangan yang berasal dari aktivitas instalasiinstalasi rumah sakit yang kemungkinan besar mengandung mikroorganisma.1. karena selruh kegiatan RS Bethesda yang berada di bagian timur seperti ruang rawat inap. yang disalurkan melalui assenering baik assenering DKP maupun assenering pihak RS Bethesda sendiri menuju instalasi pengolahan air limbah. menyalurkan air buangannya ke saluran assenering alur timur baik secara gravitasi maupun dengan bantuan pompa. 2. Limbah cair alur timur Limbah cair alur timur memilki karakteristik pencemar yang lebih kompleks. kimia dan biologis. Laundry Laundry juga merupakan salah satu instalasi penting yang umum dimiliki oleh setiap rumah sakit tidak terkecuali RS Bethesda. laboratorium.4.

1 %. Adapun sifat fisik yang penting adalah kandungan zat padat sebgaai efek estetika. Fe dan Hg Metan Hidrogen Fosfor Gas seperti NH3. 25 % karbohidrat dan 10 % lemak. Adapun zat kimia yang penting dalam air limbah pada umumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Cu.9 % dan sisanya terdiri dari partikel-partikel tidak terlarut 0. 25-50 % berupa karbohidrat serta 10 % lainnya berupa lemak. Pb. O3 f. Partikel-partikel padat terdiri dari zat organik 70 % dan anorganik 30 %. Zn. yang dijumpai dalam air limbah bersisikan 40-60 % adalah protein. Sifat Kimia Sifat kimia dalam air limbah dapat diketahui dengan adanya zat kimia air buangan. Zat organik tersebut sebagian besar mudah terurai (degradabel) yang merupakan sumber makanan dan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme yang lainnya. bau. e. warna dan temperatur. CH4. Sifat Bakteriologis . 2. Cd. Bahan Organik Air limbah dengan pengotoran sedang. maka sekitar 75 % dari benda-benda tercampur dan 40 % dari zat yang dapat disaring adalah berupa bahan organik. kejernihan.Penentuan derajat kekotoran air limbah sangat dipengaruhi oleh adanya sifat fisik yang mudah dilihat. Zat organik terdiri dari 65 % protein. Cr. Komposisi limbah cair rumah sakit sebagian besar terdiri dari 99. Mg. Bahan Anorganik Sedangkan zat organik yang penting peranannya di dalam mengontrol air limbah adalah: pH Kadar Khlor Alkalinitas Kadar Sulfur Zat beracun Logam berat seperti: Ni.

dapur mauun rawat inap.Instalasi anaerob biofilter Instalasi anaerob biofilter berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana dengan bantuan bakteri yang ada pada biofilter.Instalasi penampung hasil Instalasi penampung hasil berfungsi untuk menampung limbah yang telah mengalami pengolahan (limbah terolah). Waktu tinggal dalam bak 7 .Instalasi fish pond dilakukan disinfeksi dengan memberikan kaporit melalui sistem injeksi/suntikan dengan tujuan membunuh bakteri patogen. Waktu tinggal dalam bak pengendspan 7 jam. 14.1. 15. meliputi: bakteri. 13. 18. pada proses ini penambahan oksigen dilakukan dengan bantuan blower.5.Instalasi pengendapan (settling) Instalasi pengendapan (settling) berfungsi untuk memberi kesempatan lumpur agar mengendap. Unit-unit Pengolahan Air Limbah RS Bethesda 11. Limbah ini dipompakan ke instalasi sand filter dan sebelumnya jam. Mikrooganisme yang penting dalam air limbah dan air permukaan dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu: 1.Sifat bakteriogis pada air buangan perlu diketahui untuk menaksir tingkat kekotoran air limbah sebelum dibuang ke badan air. 12. protozoa dan algae Binatang dan tanaman Dari klasifikasi tersebut diatas. Waktu tinggal dalam bak 8 jam.Bak ekualisasi Bak ekualisasi berfungsi untuk mencampur limbah dari berbagai sumber sehingga menjadi limbah yang homogen dengan waktu tinggal 27 jam.Instalasi aerob Instalasi aerob berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks yang lolos dari pengolahan sebelumnya menjadi senyawa yang lebih sederhana. Waktu tinggal dalam bak ini 16 jam. Protista. protozoa dan algae sangat penting di dalam proses dekomposisi atau stabilisasi bahan-bahan organik 2.Instalasi sand filter Instalasi sand filter berfungsi untuk menyaring limbah sehingga diperoleh kualitas yang lebih baik lagi. jamur. 17. 2.Instalasi penampung awal Instalasi penampung awal berfungsi untuk menampung keseluruhan limbah dari RS Bethesda yang berasal dari cucian. 16.

Dalam air limbah senyawa fosfat dapat berasal dari limbah penduduk. Sebagai ortophosfat anorganik atau sebagai fosfat-fosfat kompleks. 2. Poliphosfat dapat memasuki sungai melalui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan detergen yang mengandung fosfat seperti industri pencucian. industri dan pertanian. detergen dapat mempermudah absorbsi racun pada ikan melalui insang dan bersifat persisten sehingga terjadi akumulasi. Bermacam-macam jenis fosfat juga dipakai untuk penngolahan anti karat dan anti kerak pada pemanas air (boiler). Di daerah pertanian ortofophosfat berasal dari bahan pupuk. Sisa yang 70 % dari fosfor yang masuk pada umumnya dilepaskan bersama bunagan instalasi sekunder. kira-kira 10 % dibunag sebagai bahan tak terpakai selama pengendapan primer dan 10 % hingga 20 % lainnya digabungkan ke dalm sel-sel bakteri selam apengolhan biologis. Fosfat kompleks mengalami hidrolisa selama pengolahan biologis menjadi bentuk ortofosfat (PO43-) Dari konsentrasi rata-rata fosfor keseluruhan sebanyak 10 mg/l berada dalam air limbah perkotaan . Sedangkan menurut Juli Sumirat.Instalasi pengering lumpur (drying bed) Instalasi pengering lumpur befungsi untuk menampung endapan lumpur dari digester untuk dikeringkan. Fosfat Fosfat berada dalam air limbah dalam bentuk organik. Bentuk-bentuk penting fosfat dalam air limbah adalah pospor organik. Fosfat kompleks mewakili kira-kira separuh dari fosfat air limbah perkotaan dan berasal dari penggunaan bahan-bahan detergen sintetis. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat bagi pertumbuhannya. Poyfosfat banyak digunakan dalam pembuatan detergen sintetis. 19. 20. tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air. Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut. Komponen fosfat dipergunakan untuk membuat sabun sebagai pembentuk buih. industri logam dan sebagainya. polyphosfat dan orthophospat.Instalasi digester dan biogas Instalasi digester dan biogas berfungsi untuk menaqmpung semua lumpur yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah. Dan adanya fosfat dalam air limbah dapat menghambat penguraian pada proses biologis.Instalasi fish pond atau kolam ikan berfungsi untuk tempat penampungan limbah terolah yang telah tersaring di sand filter.2. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan. Kolam ikan ini dilengkapi dengan pancuran air. . yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan.

Bila bahan-bahan kimia dimasukkan langsung ke dalam tangki aerasi dari suatu instalasi lumpur yang diaktifkan. terutama yang menggunakan kapur. alum dan garam-garam besi dapat dimasukkan ke dalm tanki aerasi selama proses lumpur diaktifkan atau bahan-bahan kimia itu dapat dimasukkan pada suatu tahap pengolhan primer. Metode ynag paling efektif meliputi pengendapan kimiawi. Sebagian besar dari bahan organik tersebut dibuang. lumpur yang diproduksi jumlahnya lebih besar. kapur. Pada keadaan “eutrotop” tanaman dapat menghabiskan oksigen dalam sungai atau kolam pada malam hari atau bila tanaman tersebut mati dan dalam keadaan sedang mencerna (digest) dan pada siang hari pancaran sinar matahari kedalam air akan berkurang.1. misalnya alum. Senyawa-senyawa fosfat dapat dibuang dengan penambahan koagulan. garam besi dan kapur adalah sebagai berikut: Pengendapan dengan alum: AL2(SO)3 + 2HPO4 –2 2AlPO4 + 3SO4-2 + 2H Pengendapan dengan garam besi: FeCl3 + HPO4 –2 FePO4 + H+ + 3Cl- Pengendapan dengan kapur: 5Ca(OH)2 + 3HPO4 –2 Ca5(PO4)3OH + 3H2O + 6OH- 2. ferrichlorida atau ferrous sulfat. Walaupun demikian. kadang-kadang dikerjakan pada tahap ketiga setelah pengolahan biologis guna pembuangan fosfat serta peningkatan pH buangan dalam persiapan bagi proses pembuangan ammonia-nitrogen.Bila kadar fosfat pada air alam sangat rendah (<0. Pemisahan Fosfat Secara umum analisa fosfat meliputi 2 (dua) langkah : .01 mg/l). Reaksi kimia dari proses pengendapan secara kimiawi antara fosfat dengan alum. sehingga dihasilkan pengurangan beban pada proses pengolahan biologis. Bahan-bahan kimia itu dapat ditambahkan sebelum pengendapan primer. sehingga air menjadi keruh dan berbau karena pembusukan lumut-lumut yang mati. pertumbuhan tanaman dan ganggang akan terhalang. sehingga hanya sedikit peralatan tambahan yang dibutuhkan.2. sehingga proses fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen juga berkurang. keadaan ini dinamakan “oligotrop”. Pengendapan kimiawi. Pembuangan limbah yang banyak mengandung fosfat ke dalam badan air dapat menyebabkan pertumbuhan lumut dan mikroalgae yang berlebih yang disebut “eutrophication” . Banyak metode yang telah diusulkan untuk pembuangan kelebihan fosfat. maka pengolahan kimiawi dan biologis terjadi bersama-sama. begitu pula fosfatnya.

Pemisahan fosfor kedalam berbagai bentuk telah luas didefinisikan secara analitis.45 µm. dan tersuspensi) dan masing-masing secara analisis dibagi menjadim tiga tipe kimiawi seperti telah diuraikan diatas yaitu ortofosfat fosfat yang dapat dihidrolisa dengan asam fosfat organik . Klasifikasi Fosfat Tipe Kimiawi Total FISIK Terlarut Partikel . Bagian-bagian fosfat yang diubah menjadi ortofosfat hanya dengan perombakan oksidatif terhadap bahan organik disebut fosfat organik/terikat secara organik. yang tergantung pada fosfat terlarut dan tersuspensi. Pemisahan “yang dapat disaring” (atau “terlarut”) dari “partikel” fosfat tergantung filter membran 0. Tetapi perlu diingat bahwa sebagian kecil dari fosfat terikat yang ada tidak dapat menghindari cara hidrolisa ini dan dilaporkan sebagai bagian dari ortofosfat. Didalam praktek. Menentukan secara kolorimetris ortofosfat yang larut. Hidrolisa dengan asam pada temperatur mendidih untuk mengubah fosfat dalam bentuk terlarut dan partikel menjadi ortofosfat yang dapat disaring.c. Tidak dapat dituntut bahwa penyaringan melalui filter membran Penggunaan 0. Biasanya terdapat sedikit variasi. Hidrolisa tidak dapat dihindrakan untuk membebaskan fosfat dari senyawa organik.45 µm dapat memisahkan dengan sebenarnya antara fosfat yang istilah “yang dapat disaring” (lebih baik “yang larut”) untuk tersuspensi dengan yang terlarut. Seperti ortofosfat dan fosfat dari hidrolisa asam. tetapi faktor ini telah dikurangi seminimum mungkin (sangat sesuai untuk hidrolisa fosfat terikat) dengan bijaksana memilih kekuatan asam lebih disukai terhadap “fosfat terikat” pada teknik ini. Tabel 1. Keseluruhannya ada tiga bagian (total. Kekuatan oksidasi yang diperlukan untuk konversi tergantung pada bentuk dan jumlah dari fosfat organik yang ada. menguraikan bentuk fosfat yang ditentukan dalam filtrat yang melalui membran 0. terlarut. sehingga dapat diperguakan untuk tujuan interpretasi. Penyaringan pendahulluan dengan filter serat gelas dapat dilakukan untuk mempercepat proses penyaringan. Ortofosfat terdapat dalam bentuk terlarut dan partikel. Dua belas fosfat tersebut dapat dilihat pada tabel 1. Pemilihan filtrasi dengan membran melebihi ketebalan filtrasi dilakukan karena kemungkinan diperoleh lebih besar atau pemisahan ukuran partikel dengan tekinik pemisahan membran. Fosfat yang dapat langsung diperiksa secara kolorimetris tanpa hidrolisa pendahuluan atau perombakan secara oksidatif dan dianggap sebagai “ortofosfat”. fosfat total yang dapat dalam sampel dapat dipisahkan pada analisa dengan penyaringan kedalam bagian yang disaring dan partikel. fosfat organik terdapat dalam larutan dan partikel. Merubah bentuk fosfor menjadi ortofosfat yang larut.45 µm yang dipergunakan. tetapi telah dipilih pembedaan analisa. d.

Koagulasi dan Flokulasi 2. Total fosfat terlarut dan tidak terlarut. Total fosfat partikel j. Kolorimetri B. i. Total ortofosfat terlarut dan partikel c. Fosfat partikel yang dapat dihidrolisa oleh asam l. b. g. Ortofosfat partikel. Fosfat organik terlarut. kemudian membentuk jonjot mikro (mikro flok). Fosfat partikel organik. Kolorimetri B. Hidrolisa H2S04 2. Pola Klasifikasi Fosfat 2. terlarut dan partikel. Total Ortofosfat 2. Sampel Tanpa penyaringan Kolorimetri langsung A. Total fosfat terlarut . k. Total fosfat terlarut yang dapat dihidrolisa h. Total fosfat organik terlarut dan partikel e. Ortofosfat terlarut. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi sebagai berikut : . Kolorimetri 1 Perombakan 2. dan masa inti partikel.1 Koagulasi Koagulasi adalah dicampurkannya koagulan dengan pengadukan secara cepat guna mendistabilisasi koloid dan solid tersuspensi yang halus. Total terhidrolisa ortofosfat C. Total Ortofosfat 2. Ortofosfat terlarut dan yang dapat dihidrolisa dengan asam C. Kolorimetri 1 Perombakan 2.4.Total Orto Yang dapat dihidolisa oleh asam. f. d. Total Fosfat Partikel Fosfat filtrat Kolorimetri langsung A. Total fosfat yang dapat dihidrolisa oleh asam. Organik a.3. Total Fosfat terlarut Gambar 1. Hidrolisa H2S04 2.

Kadar ion terlarut Pengaruh ion-ion yang terlarut dalam air terhadap proses koagulasi yaitu : pengaruh anion lebih bsar daripada kation. Jenis Koagulan Pemilihan jenis koagulan didasarkan pada pertimbangan segi ekonomis dan daya efektivitas daripadakoagulan dalam pembentukan flok. Kecepatan pengadukan sangat berpengaruh terhadap pembentukan flok bila pengadukan terlalu lambat mengakibaykan lambatnyaflok terbantuk dan sebaliknya apabila pengadukan terlalu cepat berakibat pecahnya flok yang terbentuk p. Dosis koagulan Untuk menghasilkan inti flok yang lain dari proses koagulasi dan flokulasi sangat tergantung dari dosis koagulasi yang dibutuhkan Bila pembubuhan koagulan sesuai dengan dosisyang dibutuhkan maka proses pembentukan inti flok akan berjalan dengan baik. Untuk tiap jenis koagulan mempunyai pH lainnya. Kecepatan pengadukan Tujuan pengadukan adalah untuk mencampurkan koagulan ke dalam air. Bila suhuair diturunkan . Alkalinitas Alkalinitas dalam air ditentukan oleh kadar asam atau basa yang terjadi dalam air (Tjokrokusumo. Dalam pengadukan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengadukan harus benar-benar merata. n. Suhu air Suhu air yang rendah mempunyai pengaruh terhadap efisiensi proses koagulasi. . j. Tingkat kekeruhan Pada tingkat kekeruhan yang rendahproses destibilisasi akan sukar terjadi. Tetapi apabila kondisi tersebut digunakan dosis koagulan yang rendah maka pembentukan flok kurang efektif. kalsium dan magnesium tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap proses koagulasi. Alkalinitas dalam air dapat membentuk flok dengan menghasil ion hidroksida pada reaksihidrolisa koagulan. optimum yang berbeda satu sama k. l. sehingga semua koagulan yang dibubuhkan dapat bereaksi dengan partikel-partikel atauion-ion yang berada dalam air. 19920. Derajat Keasaman (pH) Proses koagulasi akan berjalan dengan baik bila berada pada daerah pH yang optimum. maka besarnya daerah pH yang optimum pada proses kagulasi akan berubah dan merubah pembubuhan dosis koagulan. Sebaliknya pada tingkat kekeruhan air yang tinggi maka proses destabilisasi akan berlangsung cepat. m. Dengan demikian ion natrium. Koagulan dalam bentuk larutan lebih efektif dibanding koagulan dalam bentuk serbukatau butiran.i. o.

yang bersifat basa dan disertai keluarnya panas yang tinggi. 1986). 2.2. 1986. akan mengakibatkan terjadinya gabungan antar partikellebih sangat kecil 1 < 100 milimikron (Sank R. 1986).3. Ada dua jenis proses flokulasi yaitu : c.4. Warna. Bentuk kristal. Pada umumnya kecepatan aliran cairan akan berubah terhadap tempat dan waktu. Cara kerjanya adalah kapur ditambahkan untuk mereaksikan alkalibikarbonat serta mengatur pH air sampai sehingga menyebabkan pengendapan. Flokulasi Flokulasi adalah pengadukan perlahan terhadap larutan jonjot mikro yang menghasilkan jonjot besar dan kemudian mengendap secara cepat (Tjokrokusumo. Menurut Tarmiji. sehingga terbentuk Ca(OH)2. Pada pengolahan air kotor. Gerak acak dari partikel-partikel koloid yang ditimbulkan karena adanya tumbuhan molekul-molekul air. kapur dapat mengurangi kandungan bahan-bahan organik. sebagian besar umumnya berwarna putih dan pada tinhkat tinggi dapat berwarna abu-abu.K. Sifat-sifat fisik dan kimia Hydrate lime : g. Flokulasi orthokinetik Flokulasi orthokinetik adalah suatu proses terbentuknya flok yang diakibatkan oleh terbentuknya gerak media (air) misalnya pengadukan (Sank R. air limbah maupun industri lainnya. Perubahan kecepatan dari satu titik ke titik lainnya dikeal sebagai gradien kecepatan. Proses pengendapan ini akan berjalan secara efektif apabila pH air antara 6 – 8 (Considine). Sifat-Sifat Kapur (lime) dan Penggunaan nya. Flokulasi perikinetik Flok yang diakibatkan oleh adanya gerak thermal (panas) yang dikenal sebagai gerak Brown.K. CaO adalah bahan mudah larut dalam air dan menghasilkan gugus hidroksil yaitu Ca(OH)2. . Dengan adanya perbedaan kecepatan aliran media cair akan mempunyai aliran kecepatan yang berbeda pula akibatnya akan terjadi tumbukan atau kontak antar partikel. prosesnya disebut flokulasi perikinetik. 1995). Kapur (lime) secara umum terdapat dalam dua bentuk yaitu CaO dan Ca(OH)2. dengan notasi G.2. penggunaan dari kapur antara lain dibidang kesehatan lingkungan untuk pengolahan air kotor. powder h. d. Hydrate lime dihasilkan dari reaksi quickime (CaO) dengan air.

8/l memberikan pH sebesar 12.10 g Ca(OH)2/l dapat memberi pH kira-kira 11. j. kandungan 1. Hydrate lime siap bereaksi dengan asam dan gas sehingga tentu saja berkemampuan menetralisasi asam. reaksi antara CaO dan air akan menghasilkan gugus hidroksil Ca(OH)2 yang bersifat basa dengan reaksi sebagai berikut: CaO + H2O Ca(OH)2 + heat Ca(OH)2 Ca++ + 2OH- Karena sifat-sifat kapur dapat digunakan sebagai pengendap terhadap fosfat maka reaksi yang terjadi adalah 3 Ca2+ + 2PO43Ca3 (PO4)2 Penggunaan Kapur .7 g/l pada suhu 1000C. Hasil dari proses ini antara lain adalah CaO ditambah CO2 yang keluar sebagai gas. Penggunaan berbagai keperluan maka batuan kapur dari alam biasanya akan mengalami proses pembakaran terlebih dahulu yang disebut “calcination”. Contoh reaksi yang terjadi pada proses “calcination” ini apabila batuan kapur dari alam berkomposisi sebagai kombinasi dari kalsium dan Magnesium Karbonat adalah sebagai berikut: CaCO3Mg CO3 CaOMgO + 2CO2 Calcim Oxide (CaO) adalah merupakan bahan yang mudah larut dalam air dengan mengeluarkan panas yang tinggi (Highleyexotermically). Kepadatan. Netralisasi asam . Pada larutan 250C.7. l. Selain CaO juga MgO serta molekul-molekul lainnya tergantung pada batuan kapur yang asli dari alam. pH.85 Ca(OH)2/l air pada suhu 00C sampai0. karena kalsium hidroksida adalah termasuk basa kuat.3 g/gm3 Kelarutan. k. Kalsium Hydrated lime memiliki tingkat kepadatan kira-kira 2. Selain itu.i.3 pada suhu 250C. konsentrasi 0. tingkat kelarutan dari kira-kira 1.

h. i. kapur dapat digunkan untuk mengeringkan serta mengurangi bau kotoran ayam yang berceceran di laniat kandang.79-4. sebagai bahan bangunan. sudah dikenal bangsa Mesir pada awal tahun 2000 SM. Alum atau tawas merupakan bahan koagulan. Selain itu dapat juga mengurangi kadar BOD dengan cara menyerap antara 40% sampai 50 % bahan organik terlarut maupun tidak terlarut. menetralisasi keasaman.65 m2) lantai yang mengandung kotoran ayam. kapur dapat befungsi antara lain dalam pengendalian keasaman digester.Kapur telah diikenal sebagai bahan yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan diantaranya dipakai pada bidang-bidang industri misalnya industri kimia. air kapur dapat berguna sebagai bahan penurun kesadahan. g. j. Pada peternakan ayam. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai “geomedical” untuk mencegah parasit-parasit dan bnayak penyakit ayam. disini kapur berfungsi sebagai bahan koagulan. Kapur juga dapat dipergunakan sebagai penghilang fosfor dalam air. . penyerapan bau (deodorant) dan sebagai desinfektan. Khusus di sektor lingkungan kapur dapat berguna dalam: f.5.45 kg) Hydrates Lime [Ca(OH)2] pada setiap 3-5 ft2 (2. Kapur dapat digunakan untuk mengurangi gas SO2 yang keluar dari pembakaran batu bara atau minyak yang mengandung sulfur yang tinggi melalui suatu proses yang disebut “wet scrubing”. kertas. memperkecil kadar silika. pertanian dan lain-lain. mudah didapatkan di pasaran serta mudah penyimpanannya. Sifat-Sifat Tawas dan Penggunaan nya Persenyawaan Alumunium Sulfat (Al2(SO4)3) atau sering disebut tawas adalah suatu jenis koagulan yang sangat populer secara luas digunakan. karena salah satu cara penghilangan fosfor dalam air adalah pengendapan kimiawi. Proses pengolahan buangan industri besi/baja. dan lainlainnya. Dosis yang biasa dipakai pada peternakan ayam adalah sekitar 1 lb (0. Proses pengolahan air. kapur digunakan untuk menetralisir asam sulfat bebas (free sulfuric acid ) dan mengendapkan garam-garam besi yang terdapat pada limbah industri tersebut. 2. fluorida dan bahan-bahan organik. yang paling banyak digunkan karena bahan ini paling ekonomis 9murah). Alum atau tawas sebagai penjernih air mulai diproduksi oleh pabrik pada awal abad 1500. Proses pengolahan air bekas. mangan.

3 . Alum tersebut akan larut di dalam air dengan reaksi sebagai berikut: AL2(SO4)3 . Range pH untuk jenis koagulan alum adalah sebesar 5. yang di dalamnya ditempati oleh molekul air dan ion ion logam alkali. soda abu atau soda kaustik (Natrium Oksida) Reaksi yang terjadi: AL2(SO4)3 + 3Ca(OH)2 2Al(OH)3 + 3CaSO4 AL2(SO4)3 + 3Na2CO3 + H2O 2Al(OH)3 + 3Na2SO4 + 3CO2 Oleh karena tawas /alum mempunyai sifat koagulan dalam larutan maka bila tawas bersenyawa dengan limbah yang mengandung unsur fosfat . Dengan demikian supaya terjadi pengendapan hasil kali konsentrasi yang bereaksi harus lebih besar dari pada Ksp nya. yaitu terjadi proses hidrolisis. 2. Alum yang dilarutkan ke dalam air akan bereaksi dengan kapur atau bahan lain seperti Soda Abu atau Natrium Bikarbonat (Na2CO3).10-19 .+ 4 H2O Ionisasi dai air sendiri akan terbentuk ion hidroksida sebagai berikut: H2O H+ + OH- Kemudian terjadi reaksi antara ion Al3+ dengan ion hidroksida sebagai berikut: 2Al3+ + 6 OH2Al(OH)2 Pengikatan ion hidroksida tersebut di dalam air akan menurunkan alkalinitas air sehingga sebaiknya digunkan bahan tambahan yang dpat meningkatkan nilai alkalinitas seperti kapur.Unit .7. Reaksi tersebut antara ion Al dengan ion OH. reaksi yang kan terjadi reaksi hipotik.5 sampai 7. Zeolit Zeolit adalah suatu alumnosilikat yang mempunyai struktur berpori dengan saluran dalam rangka kristal. Ksp AlPO4 sebesar 6.sehingga terjadi reaksi Al3+ + PO43AlPO4 Pengendapan dapat terjadi apabila hasil kali { Al3+ }dan { PO43 -} lebih besar dari Ksp AlPO4 .Reaksi yang terjadi jika alum dimasukkan ke dalm air.8. yang sangat dipengaruhi oleh nilai pH yang bersangkutan. 14H2O 2Al3+ + 3SO42.

yang saat itu dikenal sebagai molecular materials. Pada tahun 1954 zeolit diklasifikasi sebagai golongan mineral tersendiri. feldspar dan kuarsa dan ditemukan di daerah sekitar gunung berapi atau mengendap pada daerah sumber air panas (hot spiring). seperti suhu.Perbandingan antara Si dan Al berkisar antara 1:1 sampai 100:1. Pemanfaatan zeolit masih belum banyak diketahui secara luas. Kapasitas penyerap zeolit akan bertambah dengan bertambah nya berat zeolit. tekanan uap air setempat dan komposisi air tanah lokasi kejadiannya.1985 ) menjelaskan bahwa: Kecepatan pertukaran kation dalam zeolit dipengaruhi oleh besar butiran zeolit. Mineral zeolit telah dikenal sejak tahun 1756 oleh Cronstedt ketika menemukan Stilbit yang bila dipanaskan seperti batuan mendidih (boiling stone) karena dehindrasi molekul air yang dikandungnya.Struktur yang paling stabil adalah zeolit yang perbandingan Si dan Al nya adalah 1:1. zeolit merupakan mineral yang terdiri dari kristal alumino silikat terhidrasi yang mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam kerangka tiga dimensi. Hal ini dikarenakan dalam air buangan zeolit selain menyerap ion amonium juga menyerapion ion lain seperti Ag+. Ion-ion logam tersebut dapat diganti oleh kation lain tanpa merusak struktur zeolit dan dapat menyerap air secara reversible. Zeolit yang diaktifkan maupun yang tidak diaktifkan menyerap ion amonium dari air buangan lebih kecil dari pada larutan NH4Cl. melainkan harus dianalisa strukturnya. gypsum. Hal itu menjadikan zeolit dengan warna dan tekstur yang sama mungkin berbeda komposisi kimianya bila diambil dari lokasi yang berbeda disebabkan karena kombinasi mineral yang berupa partikel halus dengan impurities lainnya. yang pada saat ini zeolit di Indonesia dipasarkan masih dalam bemtuk alam terutama pada pemupukan bidang pertanian.Zeolit biasanya ditulis dengan rumus kimia oksida atau berdasarkan satuan sel kristal. K+ dan lain-lain.Unit unit tersebut saling berikatan membentuk jaringan anionik dalam tiga dimensi.dasar pembentuk zeolit adalah SiO4 dan AlO4 yang membentuk tetra hedral. Mineral alam zeolit biasanya masih tercampur dengan mineral lainnya seperti kalsit.Dengan sifat di atas maka zeolit dapat bekerja sebagai penukar ion dan sebagai penyaring melalui adsorpsi selektif atau penolakan molekul karena adanya penolakan molekul karena adanya perbedaan dalam ukuran molekul dan faktor lainnya Selanjutnya dari hasil pengujian terhadap beberapa aspek yang ada kaitannya dengan pertukaran ion pada zeolit ( Komar bersama rekan . Dengan demikian.Zeolit juga ditemukan sebagai batuan endapan pada bagian tanah jenis basalt dan komposisi kimianya tergantung pada kondisi hidrotermal lingkungan lokal. Struktur kristal zeolit dimana semua atom Si dan Al dalam bentuk . Zeolit tidak dapat diidentifikasi hanya berdasarkan analisa komposisi kimianya saja.

filipsit. Y. Dehidrasi. Berdasarkan UBS semua zeolit baik dalam bentuk alami atau sintetik. Sifat zeolit meliput i : 6.tetrahedral (TO4) disebut unit bangun primer. Zeolit sintetik dihasilkan dari beberapa perusahaan seperti Union Carbide. biasanya dikenal sebagai KTK (Kemampuan Tukar Kation). KTK adalah jumlah meq ion logam yang dapat diserap maksimum oleh 1 g zeolit dalam kondisi kesetimbangan. 7. diantaranya klinoptilolit.6. Kemampuan pertukaran ion (adakalanya dengan istilah kemampuan penyerapan ion atau sorpsi) zeolit merupakan parameter utama dalam menentukan kualitas zeolit yang akan digunakan. Oleh karena itu zeolit dapat dimanfaatkan sebagai : penyaring molekuler. penyerap bahan dan katalisator.80-1. bentonit (0. misalnya logam Pt. kabarsit dan erionit.03-0. yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan KTK batuan lempung. mordernit. Sifat dehidrasi dari zeolit akan berpengaruh terhadap sifat adsorpsinya. penukar ion. ICI dan mobil Oil dan lebih dari 100 jenis telah dikenal strukturnya antara lain zeolit A. seperti kaolinit (0. 2. Nilai KTK zeolit ini banyak bergantung pada jumlah atom Al dalam struktur zeolit.2 Sifat Zeolit Zeolit mempunyai struktur berongga dan biasanya rongga ini diisi oleh air dan kation yang bisa dipertukarkan serta memilki ukuran pori yang tertentu.50 meq/g) dan vermikulit (11. zeolit dapat berfungsi sebagai katalis yang banyak digunakan pada reaksi petrokimia. Zeolit dengan struktur “framework” mempunyai luas permukaan yang besar dan mempunyai saluran yang dapat menyaring ion/molekul. Adsorbsi . Jumlah molekul air sesuai dengan jumlah pori-pori atau volume ruang hampa yang akan terbentuk bila unit sel kristal zeolit terus dipanaskan. Pada saat ini dikenal sekitar 40 jenis zeolit alam. KTK dari zeolit bervariasi dari 1. yaitu material seperti zeolit tetapi bukan senyawa alumino-silikat. grup ZSM/AlPO4 (Zeolite Sielving Marerials/Aluminium Fosfate) dan bahkan akhir-akhir ini dikenal grup zeotip. zeolit hanya dapat diidentifikasi berdasarkan unit bangun sekunder. Bila atom Al dinetralisir dengan ion polivalen.50 meq/g).15 meq/g). Zeolit dapat melepaskan molekul air dari dalam rongga permukaan yang menyebabkan medan listrik meluas ke dalam ronggs utama dan akan efektif terinteraksi dengan molekul yang akan diabsorbsi. Cu dsb. meskipun yang mempunyai nilai komersial ada sekitar 12 jenis.5 – 6 meq/g. X.

25 x 10-3 cc/g.13 m2/g.54 dan memilki kandungan logam Na. Penukaran kation dapat menyebabkan perubahan beberapa sifat zeolit seperti stabilitas terhadap panas. keasaman sebesar 2. . Ion-ion ini dapat bergerak bebas sehingga pertukaran ion yang terjadi tergantung dari ukuran dan muatan maupun jenis zeolitnya. Penukar ion Ion-ion pada rongga atau kerangka elektrolit berguna untuk menjaga kenetralan zeolit. 10. Ca dan Fe masing-masing sebesar 4. 1. rerata jejari pori 60. Penyaring atau pemisah Volume dan ukuran garis tengah ruang hampa dalam kisi-kisi kristal menjadi dasar kemampuan zeolit untuk bertindak sebagai penyaring molekul.34 %. volume pori 74.6. Zeolit Alam Zeolit alam terbentuk karena adanya proses perubahan alam (zeolitisasi) dari batuan vulkanik tuf. Katalis Zeolit merupakan katalisator yang baik karena mempunyai pori-pori yang besar dengan permukaan yang maksimum.75.29 %. luas permukaan 24. 2.39 mmol/g. Molekul ynag berukuran kecil dapat melintas sedangkan yang berukuran besar dari ruang hampa akan ditahan atau ditolak.Zeolit juga mampu memisahkan molekul zat berdasarkan ukuran dan kepolarannya.39 5 dan 1.04 %. sifat adsorbsi dan aktifitas katalis. K. 2. 8. Dari jumlah tersebut hanya 20 jenis yang terdapat dalam batuan sedimen terutama sedimen piroklastik yang berbutir halus (tuf) Komposisi dan struktur zeolit kebanyakan terdiri dari mineral mordernit dan klinoptillit. Analisis lebih lanjut terhadap zeolit alam Wonosari menunjukkan bahwa zeolit mempunyai rasio Si/Al 4. Sifat sebagai penukar ion dari zeolit antara lain tergantung dari : sifat kation.2. Jenis Zeolit Menurut proses pembentukannya zeolit dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu : 3. dan jenis anion. dimana untuk molekul yang tidak jenuh atau bersifat polar akan lebih mudah lolos daripada molekul yang jenuh atau tidak polar. suhu. Dari uji pendahuluan terhadap zeoiit alam Wonosari dengan menggunakan difraksi sinar x diketahui bahwa sebagian besar penyusunnya adalah mordernit. Telah diketahui lebih dari 40 jenis mineral zeolit di alam. 9.

S8R Ca2 [Al4Si8O24]13H2O K6 Na3 [Al9Si27O72]21H2O D4R. S6R NaN [AlnSi96O192]16H2O 5 –1 Ca4 [Al8Si16O46]16H2O S4R. D6R Na8 [Al8Si40O96]24H2O NaCa0. S8R Na12 Ca12 Mg11 [Al58Si134O384]235H2O Na12 [Al12Si12O48]27H2O S4R. Untuk memperoleh zeolit dengan kemapuan yang tinggi diperlukan beberapa perlakuan antara lain. S6R.Zeolit yang diperoleh dari alam telah dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Tabel 2. S6R. Akan tetapi daya serap. daya tukar ion maupun daya katalis dari zeolit tersebut belum maksimal.5 [Al16Si10O32]12H2O Na8 [Al31SiO16]16H2O S4R S4R Ca4 [Al8Si28O72]24H2O Na6 [Al6Si30O72]24H2O T10O20 (4-4-1) T10O20 Na16[Al16Si24O31]6H2O Na16 Ca8 [Al20Si24O80]24H2O T5O10 (4-1) T5O10 Na16[Al16Si31O96]6H2O Ca16[Al16Si31O96]6H2O S4R S4R Rumus Kimia UBS . Klasifikasi zeolit Zeolit Grup Analsim Analsim Wairakit Grup Natrolit Natrolit Thomsonit Grup Heulandit Heulandit Klinoptilolit Grup Filipsit Filipsit Zeolit Na-P-1 Grup Mordernit Mordernit Ferrierit Grup Kabazit Kabazit Zeolit L Grup Faujasit Faujasit Zeolit A Grup Laumontit Laumontit Grup Pentasil ZSM-5 Grup Zeotype AlPO4-5 [Al12P2O48] (C3H7)4NaOH q H2O S4R.5 Mg2 [Al6Si30O72]24H2O T8O16 (5-1) T8O16 K2 Ca1. D6R D4R. aktivasi dan modifikasi.

zeolit kadar Si tinggi dan zeolit Si. atau mengumpulkan tungku putar dengan pemanasan secara penghamparan selama 3 jam atau tanpa penghamparan selama 5-6 jam (skala besar). zeolit sintetis dikelompokkan menjadi empat. maka para peneliti berupaya untuk membuat zeolit sintetis yang mempunyai sifat khusus sesuai dengan keperluannya. Penggunaan zeolit sintetis pada dasarnya sama dengan zeolit alam. dan H3PO4. Pemanasan dilakukan dalam oven biasa pada suhu 300-400 0C (untuk skala laboratorium). Aktivasi Fisis Aktivasi fisis biasanya dilakukan dengan pemanasan yang bertujuan untuk menguapkan air yang terperangkap tinggi dalam pori-pori kristal zeolit.Proses aktivasi zeolit alam dapat dilakukan dalam 2 cara yaitu secara fisis dan kimiawi. sehingga luas permukaan poripori bertambah. Sifat dehidrasi zeolit ini berpengaruh terhadap sifat adsorbsinya. Aktivasi secara kimia dilakukan dengan larutan asam atau basa. dan mengatur kembali letak atom yang dapat dipertukarkan. d. Zeolit Sintetis Zeolit mempunyai sifat yang unik yaitu susunan atom maupun komposisinya dapat dimodifikasikan. HNO3. membuang senyawa pengotor. Ini karena persamaan sifat fisik dan kimia yang dimiliki oleh kedua jenis mineral tersebut. H2SO4. 4. Atom-atom Al yang masih tersisa dalam zeolit masih terkoordinasi dalam rangkaian tetrahedaral dengan empat atom oksigen. Hal ini sangat penting terutama berhubungan dengan fungsi zeolit sebagai adsorben. Aktivasi zeolit dengan asam menyebabkan ternetralisasinya muatan negatif pada permukaan zeolit hidrogen. Dealuminasi dapat digunkan untuk mengontrol aktivasi keasaman dan untuk mengontrol ukuran poripori zeolit. Pemanasan modernit pada suhu 300 0C –1000 0C menyebabkan destruksi struktur kristal. kandungan modernit berkurang hampir 25 % pada suhu 700 0C. yaitu zeolit kadar Si rendah. dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori. Mineral . Asam-asam yang dapat digunakan untuk aktivasi adalah HCl4. c. dealuminasi adalah yang paling penting dan dominan. Zeolit yang dipanaskan pada temperatur tinggi menyebabkan molekul air yang ada dalam zeolit mengalami dehidrasi. Aktivasi Kimiawi Pada aktivasi kimia. Diantara asam-asam tersebut yang paling efektif untuk dealuminasi adalah HCl. zeolit kadar Si sedang. Berdasarkan perbandingan kadar komponen Si and Al.

yang terbesar Garis tengah pori hanya terdapat pada mineral khabasit dan erionit Terbatas.3 Aktivasi Zeolit Zeolit alam direndam dengan akuades selam 24 jam. kemudian dicuci sampai netral dan dikeringkan pada suhu 120 0C selama 3 jam.zeolit sintetis masing-masing mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Selanjutnya zeolit direndam NH4Cl konsentrasi 0.Kebanyakan endapan zeolit beberapa jenis mineral zeolit.. Zeolit selanjutnya dipanaskan dengan HCl pada konsentrasi 0. Mineral zeolit Sintetis Dapat sintetis tinggi.50 M. . Sangat terbatas. dan 500 C selama 5 jam. dibuat mineral zeolit berderajat kemurnian mempunyai daya serap baik Sumber : Harjanto. Perbedaan Mineral alam dan zeolit sintetik Macam Perbedaan Derajat Kemurnian Mineral Zeolit Alam Umumnya banyak mengandung pengotor. 400 C. 1987 2. 1.7. Zeolit ini kemudian dikalsinasi pada variasi suhu 300 C.05 M.lalu disaring dan dikeringkan pada suhu 110 0C selama 3 jam. tawas dan filtrasi zeolit belum pernah dilakukan. 1. dan 2.00 N (perbandingan b/v 1:2) sambil dipanaskan sampai agak kering . Perbedaan utama antara kedua jenis mineral zeolit alam dan sintetis .00 M DAN 2. Zeolit kemudian direndam dengan HF 2. sambil diaduk dengan pengaduk magnetik.50 M. Kemudian zeolit disaring.00 M. khabasit Daya Serap hanya dan erionit mineral yang Dapat dibuat mineral zeolit yang ruang kosong bergaris tengah dari 3 A hingga 8 A Dapat menyerap hingga 50 % dari volumunya.10 M. Tabel 3.00 M pada suhu 90 0C selama 60 menit. 0. 0.6.00 M selama satu minggu sambil diaduk 3 kali sehari. 2. Originalitas Penelitian Penelitian tentang penurunan fosfat dengan kapur (lime). alam terdiri dari terutama campuran besi. lalu disaring. dinetralkan dan dikeringkan pada suhu 130 0C selama 3 jam. dicici sampai netral dan dikeringkan pada suhu 130 0 0 0 0 C selama 3 jam.

Sample air limbah Kapur Aduk Tawas Endapan Pemisahan Periksa PO4 Filtrasi Zeolit Periksa PO4 Hasil Filtrasi Gambar 2. Rancangan Penelitian . Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini merupakan “Penelitian Eksperimen” dengan “design pre test and post test design “yang hasil akan diuji secara diskriptif analitis dengan korelasi.BAB III METODE PENELITIAN 3.1.

Variabel bebas e. f. Air limbah RS Bethesda 18.6 Instrumen Penelitian 3.kadar ion terlarut. Variabel terikat Parameter yang diperiksa pada limbah cair adalah fosfat masing-masing pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/ pengolahan.1 ppm 19.5 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam analisis berupa data kuantitatif yang diperoleh dari perlakuan di lapangan dan pengamatan percobaan di laboratorium.2 Ruang Lingkup Meliputi semua limbah cair yang dihasilkan dari seluruh kegiatan Rumah Sakit Bethesda.1 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari bahan untuk pengolahan dan bahan atau reagen untuk pemeriksaan parameter pencemar terdiri dari: Bahan untuk Pengolahan 17.1 ppm .3. 3. kemurnian kapur tohor. Parameter pH. 3. Larutan kapur 0.4 Variabel Penelitian d.kekeruhan. Kualitas limbah cair RS Bethesda sangat fluktuatif. sehingga waktu pengambilan sampel perlu diperhatikan agar mendapatkan kualitas yang sama pada setiap perlakuan.6. kemurnian tawas. 3. sehingga perlu adanya pengendalian terhadap variabel-variabel tersebut diatas agar penelitian ini mendapatkan hasil yang dapat dipertanggung jawabkan. Larutan tawas 0. Dosis pemakaian bahan kimia larutan kapur dan tawas.3 Lokasi Penelitian Lokasi Penelitian yang dipilih yaitu limbah cair Rumah Sakit Bethesda dan uji laboratorium dilaksanakan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pembrantasan penyakit menular (BBTKL-PPM) Yogyakarta.suhu limbah . waktu pengambilan sampel. yang berbeda pada sampel perlakuan akan mengganggu proses pengendapan begitu pula dengan kemurnian kapur tohor dan kemurnian tawas serta proses pengadukan pada saat perlakuan apabila tidak dikendalikan / tidak disamakan pada setiap perlakuan akan didapatkan hasil tidak seperi yang diharapkan. Variabel pengganggu Waktu kontak. proses pengadukan. 3.

Buret tetes 26. Standart fosfat 0. 3. Cuvet 25. H2SO4 4 N 22. Amonium Molibdat 26.6. NaOH 1 N 30. Spektofotometer 23. Air suling 32. Zeolit 3. Indikator PP 21. 2. Tabung nessler 22.6. Pipet ukur 20.2 Alat Alat Pengolahan 14. Membuat larutan-larutan siap pakai untuk pemeriksaan parameter fosfat. Beker glass 16. Mixing Flokulator 24.0010 ppm yang akan digunakan sebagai bahan pengolahan . Labu ukur 15.4 Pelaksanaan Penelitian . pH meter 21. Labu erlenmeyer 17. Karet penghisap 3. Penyiapan larutan kapur 0. Pipet tetes 19.3 Tahapan Persiapan 1. SnCl2 23. Persiapan bahan dan alat serta pembuatan rangkaian alat filtrasi yang dilengkapi dengan stop kran .0010 ppm dan tawas 0.01 ppm 24. Indikator Murexid 31. Larutan pH 4 28. Indikator Phenol Red 25.20. Larutan standar EDTA 0. 4.01 M 29. Timbangan Sartorius 18. Larutan Buffer pH 10 27.6.

16.kuantitas dan kualitas sampel tetap terjaga.7. kemudian diberi nomor 1 s/d 3. dan 0.00075 ppm ml.00125 ppm.00150 ppm dan 0.7. 14. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode grab sampling (sesaat) selama periode tertentu. 3. Tambahkan larutan kapur pada masing-masing beker glass volume 1 ml.0025 ppm.7 Teknik Pengambilan Sampel 3. 19. 3. 3. Periksa filtrat masing-masing beker glass parameter pH. Isi beaker glass tersebut dengan limbah asli masing-masing sebanyak 800 ml. Teknik Analisa Data . 3. diamkan selama 15 menit agar terjadi pengendapan. 15.7. 18. Siapkan sampel limbah cair asli sebelum diolah kemudian diperiksa pH. 0. Ulangi prosedur 4 s/d 10 dengan variasi kapur 0. Aduk cepat masing-masing selama 3 menit. Parameter limbah cair yang dianalisis adalah fosfat pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/pengolahan.0010 ppm dengan volume berturutturut 0. 13.9. 3. selanjutnya data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.2 Periode pengambilan sampel Pengambilan sampel diusahakan sekali dalam jumlah yang dibutuhkan agar homogenitas. Masing-masing beker glass ditambahkan larutan tawas yaitu 0.0020 ppm.00200 ppm.8 Teknik Pengumpulan Data Data yang diperoleh dari hasil penelitian dikelompokkan agar memudahkan dalam analisis. 0. Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan zeolit terhadap filtrat tersebut 20.00100 ppm . Siapkan deretan beaker glass sebanyak 3 buah masing-masing volume 1000 ml. 17. 0.3 Pemeriksaan Sampel Semua sampel diperiksa berdasarkan metode baku standard Method for examination.0015 ppm.00050 ppm. Pisahkan filtrat dari endapan.1 Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan pada bak penampung awal karena sudah mewakili semua limbah cair Rumah Sakit tersebut . aduk lambat selama 5 menit. 0. 0. fosfat setelah koagulasi tersebut.11. detergen dan fosfat 12.

Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Jika suatu variabel tak bebas (dependent variable) tergantung pada satu variabel bebas (independent variable). Maksud dari hubungan regresi yaitu untuk mengetahui suatu variabel dapat dipergunakan untuk memprediksi atau meramal variabelvariabel lain. Rumusan matematisnya adalah sebagai berikut : R= n(ΣXY ) − (ΣX )(ΣY ) n Σ X 2 − ( Σ X ) 2 nΣ Y 2 − ( Σ Y ) 2 = Koefisien korelasi (Pearson Correlation) = variabel penambahan kapur = variabel kadar fosfat = jumlah sampel Nilai koefisien determinasi (R2) yang kecil berarti kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat sangat terbatas. hubungan antara kedua variabel disebut analisis regresi sederhana. Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur prosentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dilihat dengan rumus R2 x 100%. yang disimbolkan dengan huruf R. Persamaan matematik yang memungkinkan untuk meramalkan nilai-nilai satu atau lebih peubah acak bebas disebut persamaan regresi.Perhitungan statistik untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini menggunakan uji Regresi Linier Sederhana. Uji F Dimana : R X Y n . Koefisien determinasi diperoleh dari mengkalikan koefisien korelasi Pearson atau biasa disebut Pearson Product Moment. Bentuk matematisnya adalah sebagai berikut : Y = a . Xb Dimana : Y X a b = Variabel terikat = variabel bebas = titik potong (intercept) = koefisien regresi (elastisitas/slope) Koefisien determinasi pada intinya adalah untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel terikat.

05. artinya ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Fhitung R2 / k = 1 − R 2 / (n − k − 1) ( ) Keterangan: R2 k n = = = Koefisien determinan Banyaknya perubahan bebas Jumlah data Dasar Pengambilan Keputusan 3. Bila probabilitas F < 0.05. Atau 3. maka digunakan uji F. Bila Fhitung > Ftabel. 4. Bila Fhitung < Ftabel. maka Ho diterima 4. artinya tidak ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. maka Ho diterima. Bila probabilitas F > 0. maka Ho ditolak atau Ha diterima.Untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. maka Ho ditolak atau Ha diterima .

Selanjutnya limbah yang diambil di bak equalisasi tersebut dilakukan pengolahan dengan cara koagulasi dan flokulasi. 1 2 Parameter pH PO4Satuan mg/l No. Karena pada jam tersebut kadar Fosfat limbah cair RS Bethesda Yogyakarta pada bak equalisasi adalah yang tertinggi. hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 5. maka parameter PO4.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.5.5 25. berikut: Tabel 5.melebihi yang ditentukan. Sedangkan waktu pengambilan sampel dilakukan pada jam 09. Sampel diambil di bak equalisasi dengan tujuan untuk mencari kadar Fosfat yang mewakili seluruh aliran limbah cair. Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian mengenai efektifitas dosis dengan menggunakan campuran kapur tohor [Ca(OH)2] dan tawas [Al2(SO4)3] serta filtrasi zeolit terhadap penurunan kadar Fosfat air limbah RS Bethesda Yogyakarta telah dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2005. berikut: Tabel 4. Hasil pengukuran kadar limbah RS Bethesda pada bak equalisasi secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4.00 Wib. berdasarkan pemeriksaan kadar Fosfate selama 24 jam pada inlet dan pada bak kontak. Keadaan Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Sebelum Pengolahan (Asli) No.Lab / Hasil Analisa 56 7. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi .6404 Keterangan Sumber: Data Primer 2005 Dari hasil pengukuran diatas.

06 0.002 0.53 0.56 1.00 0.19 1.00100 0.21 1.maka kadar fosfat semakin menurun.8 R2 = 0. Pada penambahan larutan kapur 0.0005 0.00200 Sumber: Data Primer 2005 2.0020 ppm dan tawas 0.00150 0.62 1.001 Fosfat (ppm) y = 0.Tawas (ppm) 0.0025 Kapur (ppm) Gambar 3.00125 0.1 ppm dan larutan kapur 0.66 1.37 1.17 1.0025 ppm memberikan hasil fosfat terbaik yaitu sebesar 0.0015 Kapur (ppm) 0.82 1.0015 ppm .0025 Pada tabel 5 terlihat semakin tinggi larutan tawas 0.0015 0.4.50 1.951 0.0055x-0.00050 0.49 1.53 mg/l.96 0.22 0.81 1.0020 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0. Hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dilihat pada gambar 3.50 0.00 0 0.1 ppm yang ditambahkan.29 1.00 1.62 1.00075 0.15 1.5 dan 6 berikut: 3.06 0.50 2.00 2.

002 0.0025 ppm .985 -0.0025 y = 0.0020 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.5 Fosfat (ppm) 2 1.0061x R2 = 0.5 1 0.0015 0.5 1 0.2.0005 0.6999 Kapur (ppm) Gambar 4. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.0005 0.7557 Kapur (ppm) Gambar 5.0025 y = 0.5 0 0 0.001 0.001 0.0015 0.0097x R2 = 0.002 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.961 -0.5 0 0 0.

0015 1.dan tawas 0.70 0.0025 1.001 0. berikut: .0020 1. 0.00075 0.0015 Tawas 0.0015 ppm.01 mg/ml Kapur 0.06 0.64 0.3 Fosfat (ppm) 2 1 0 0 0.00200 0.01 mg/ml 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Tawas 0.00 0.81 0.0025 ppm.32 1.06 1.18 1.00050 0.66 Sumber: Data Primer 2005 Dari tabel 6.28 0.90 1.0020 ppm .23 1.0025 ppm Selanjutnya limbah hasil perlakuan koagulasi dan flokukasi dilewatkan pada unit filtrasi zeolit diperoleh hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut: Tabel 6.0025 Gambar 6. terlihat semakin tinggi larutan kapur dan larutan tawas yang ditambahkan .0020 Tawas 0.00125 0. 0.8.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi Pada Penambahan tawas 0.30 0.maka kadar fosfat setelah filtrasi zeolit semakin kecil nilai fosfat optimal dicapai pada penambahan larutan kapur 0.03 0. tawas 0.0020 ppm dan 0.0025 Kapur (ppm) Tawas 0.78 0.00150 0.002 0.1 ppm.01 1. Secara empiris.0005 0.98 0.1 ppm.00100 0.hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan pembubuhan larutan kapurdan larutan tawas setelah filtrasi zeolit dapat dilihat pada gambar 7.26 1. 9 dan 10.0015 0.

0015 0.001 0.0025 y = 0.0005 0.0025 y = 0.0020 ppm .0005 0.0015 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.801 Kapur (ppm) Gambar 7.002 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.001 0.6708 R2 = 0.5 0 0 0.0016x -0.0015 0.011x -0.2 Fosfat (ppm) 1. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.002 0.5 1 0.5 1 0.5 0 0 0.958 Kapur (ppm) Gambar 8.9147 R2 = 0.

ferrichlorida atau ferrous sulfat. dan filtarasi zeolit sangat berpengaruh dalam menurunkan kadar Fosfat. Biaya 8.0020 Taw as 0.0025 Gambar 10.0015 0. Pertimbangan lumpur yang dihasilkan 10.5 1 0.0015 0.0025 ppm Fosfat (ppm) 2 1. Efektifitas bahan kimia 9.5 1 0.0025 y = 0. Kesesuaian dengan proses pengolahan lain .001 0.0005 0.002 0.0025 Kapur (ppm) Taw as 0.001 0. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan kimia sebagai penghilang Fosfat adalah sebagai berikut: 7.5 0 0 0.980 Kapur (ppm) Gambar 9. tawas.5 0 0 0. Dari beberapa referensi bahwa keberadaan Fosfat dalam air limbah dapat diturunkan dengan jalan pengendapan secara kimiawi. Senyawa-senyawa Fosfate dapat dihilangkan dengan penambahan bahan koagulan misalnya alum. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.002 0.9343 R2 = 0.0005 0. Pembahasan Limbah cair di lingkungan RS Bethesda Yogyakarta dilakukan pengolahan dengan menggunakan sistem aerob dan anerob. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi 4. kapur.2 Fosfat (ppm) 1.0015 Taw as 0.6.0012x -0. Pada penelitian ini pemakaian dosis kapur.

Limbah asli diambil dalam jumlah yang cukup pada jam 09.5 Baku Mutu pH = 6 . pH. Dosis dan perlengkapan untuk pengadukan 12.4 . Perpaduan dari dua jenis koagulan.8047 Gambar 4 dengan persamaan empiris y = 0. Pada Bak Equalisasi. kualitas dan kuantitas limbahnya serba sama. tidak memenuhi baku mutu. Hasil analisa No lab 56 menunjukkan hasil pH = 7. maka perlu dilakukan penelitian penurunan kadar fosfat dengan koagulasi-flokulasi dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan zeolit. karena proses pembentukan flok pada proses koagulasi sangat dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia seperti kondisi pengadukan. dengan pertimbangan keduanya akan saling mengkoreksi pH. karena disamping harganya relatif murah.6999 Gambar 5 dengan persamaan empiris y = 0.00 pagi saat fluktuasi kualitas terjadi.0020 ppm. Pengaruh penambahan kapur akan menaikkan diluar pH tersebut maka pembentukan flok sempurna. pH dan bereaksi dengan bikarbonat membentuk CaCO3 sebagai basa.0055x-0. dimana konsentrasinya fosfatnya melebihi baku mutu yang ditetapkan. 0. suhu.6404 mg/l. belum melalui perlakuan pengolahan sama sekali. Dari hasil koagulasi / flokulasi pada Tabel 4 terlihat kecenderungan penurunan fosfat yang terjadi sebanding dengan penambahan kapur yang ditunjukkan pada : Gambar 3 dengan persamaan empiris y = 0. maka kami pilih kapur dan tawas sebagai bahan koagulan.0097x-0.7557 Dimana : x = penambahan kapur (ml) Y = penurunan kadar fosfat (mg/l) Secara keseluruhan hasil pemeriksaan kadar fosfat dengan koagulasi dan flokulasi pada konsentrasi tawas 0.awal = 25. dan 0.0061x-0. PO43-. Pembentukan flok akan berjalan baik pada range pH 5. Selanjutnya limbah dari Bak Equalisasi dikategorikan sebagai limbah asli. kekeruhan. sedangkan konsentrasi PO43.0015 ppm. dan mudah didapatkan di pasaran. Limbah cair RS Bethesda yang digunakan sebagai bahan untuk penelitian penurunan kadar fosfat diambil pada Bak Equalisasi dengan pertimbangan limbah tersebut sudah merupakan gabungan dari semua sumber limbah yang dihasilkan. Berdasarkan hasil pengukuran terhadap limbah asli tersebut.11. Efek terhadap lingkungan Dari beberapa pertimbangan diatas. Limbah asli dianalisa di laboratorium dengan parameter pH. tapi juga aman terhadap lingkungan.8-7.0025 ppm ditunjukkan pada Gambar 6.9 memenuhi syarat. alkalinitas.

Pada proses koagulasi dan flokulasi kadar fosfat (PO43-) diharapkan mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan penambahan larutan kapur dan tawas menjadi endapan Ca3 (PO4)2 ↓ dan Al (PO4) ↓. Penurunan PO4 secara rinci terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 3, 4, 5, dan 6. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula : y = 0.0055 0.0020 ppm dan formula y = 0.0061 x-0,7557 pada penambahan tawas 0.0025 ppm. Jika dilihat dari uji statistik pendistribusian data dengan uji Kolmogorov Smirnov, diperoleh nilai p value pada masing-masing sampel lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini berdistribusi normal, sedangkan dari uji regresi , diperoleh nilai R2 semua di atas 0,70, dimana nilai R2 antara 0,70 – 1,00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat. Selanjutnya dicari nilai R dari variasi tawas 0.0015 ppm, 0.0020 ppm, dan 0.0025 ppm. Ternyata diperoleh dari data statistik variasi penambahan tawas 0.0025 ppm adalah yang tertinggi dengan nilai R = 0,992. jadi dapat disimpulkan penurunan kadar fosfat pada penambahan tawas 0.0025 ppm adalah yang paling efektif. Pada penurunan fosfat yang dilakukan dengan filtrasi zeolit setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi terlihat kadar fosfat cenderung mengalami penurunan lagi. Diharapkan pada proses filtrasi ini terjadi pemisahan yang lebih sempurna dari flocculant terhadap cairannya. Semua flok yang terbentuk tidak ada lagi yang terikat pada cairan limbah terolah. Hasil penurunan dengan filtrasi zeolit secara keseluruhan terlihat pada Tabel 6 dan Gambar 7, 8, 9 dan 10. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula y = 0.011 0.0020 ppm, dan formula y = 0.0012 x-0,9343 pada penambahan tawas 0.0025 ppm. Jika ditinjau dari uji statistik, maka diperoleh hasil dari masing-masing variasi tawas, 0.0015 ppm, 0.0020 ppm, dan 0.0025 ppm, nilai P semua variasi di atas 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini terdistribusi normal, sedangkan dari uji korelasi atau uji kekuatan hubungan antara dua variabel diperoleh nilai R2 di atas 0,70 dimana nilai R antara 0,70 – 1,00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat paling efektif. Dari hasil analisa data setelah filtrasi, didapat nilai R2 tertinggi, yaitu 0,990 pada konsentrasi penambahan tawas 0.0025 ppm. Jadi dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar fosfat pada konsentrasi penambahan tawas 0.0025 ppm setelah filtrasi adalah yang paling efektif. 4.3. Analisa Data Tabel 7. Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi No. Tawas R2 F hitung F tabel Keterangan x-0,6708 pada penambahan tawas 0.0015 ppm; formula y = 0.0016 x-0,9147 pada penambahan tawas x-0,8047 pada penambahan tawas 0.0015 ppm, formula y = 0.0097 x-0,6999 pada penambahan tawas

1 2 3

0.0015 ppm 0.0020 ppm 0.0025 ppm

0,951 0,961 0,985

78,271 99,735 260,795

(df1 = 1; df2 = 4) 7,7086 7,7086 7,7086

95,1% pengaruh kapur 96,1% pengaruh kapur 98,5% pengaruh kapur

Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.0025 ppm, kapur berpengaruh sebesar 98,5% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat. Tabel 8. Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi No. 1 2 3 Tawas 0.0015 ppm 0.0020 ppm 0.0025 ppm R2 0,801 0,958 0,980 F hitung 16,061 90,394 193,784 F tabel (df1 = 1; df2 = 4) 7,7086 7,7086 7,7086 Keterangan 80,1% pengaruh kapur 95,8% pengaruh kapur 98,0% pengaruh kapur

Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.0025 ppm, kapur berpengaruh sebesar 98,0% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 3. 4. Larutan kapur dan larutan tawas efektif menurunkan kadar fosfat dalam limbah cair RS Bethesda dengan prosentase 97,92 %. Efektifitas penurunan kadar fosfat limbah cair RS Bethesda dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dinyatakan dengan rumus empiris y=0,0061 x 0,7557 diperoleh pada konsentrasi larutan kapur 0,0020 ppm dan konsentrasi larutan tawas 0,0025 ppm. 5.2. Saran 1. Bagi peneliti lain Untuk dapat meneliti penurunan kadar fosfat dengan menggunakan metode yang lain, kemurnian bahan dan ketelitian alat sangat mempengaruhi hasil penelitian selanjutnya. 2. Terhadap RS Bethesda Supaya memilih detergen yang digunakan dengan kadar fosfat rendah. Perlu melakukan pemeriksaan kadar fosfat secara berulang-ulang, agar penambahan koagulan dapat dilakukan setepat mungkin.

Universitas Padjajaran. 1992. Effendi H. Darsoprajitno.S Soemirat. Rineka Cipta. Hanafiah K. 03/MenKLH/II/1991. Jakarta. Depkes RI.. 1993. Speet S. Arikunto. Yogyakarta. USA E. Depdikbud. Environmental Engineering.Kanisius. Kanisius. Peavy. 1992. 1993.W. Jakarta . Pengelolaan Limbah Cair Rumah Sakit. 1985. .DAFTAR PUSTAKA Anonim. Hartiningsih. . Gadjah Mada University Press. 1985. Hartono . Graw-Hill Book Company. Stell. 1992. Makalah Pelatihan Petugas Sanitasi Rumah Sakit. 1975.2003.A. S. SK Men KLH No. Mc. New York. Yogyakarta. Budiharjo. Howard S. Considine. Telaah Kualitas Air. . Sebaran Endapan Zeolit dan Kegunaannya. Bandung. Undang-Undang No. 23 tentang Kesehatan. 1991. G. Pedoman Sanitasi Rumah Sakit.LH/12/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit. Jakarta. Depkes RI. Agustjik R. Rajawali Pers. Kumpulan Seminar Zeo Industri. Pengelolaan Limbah Rumah Sakit. J. New York. Kep 58/Men. Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Pedomen Teknis Perbaikan Kualitas Air. J. Jakarta. Jakarta. 1974. fifth ED. 02/MenKLH/I/1988 Tentang Baku Mutu Air Pada Sumber Air. Jakarta. Baku Mutu Limbah Cair SK Men KLH No. Water Supply and Severage. Douglass M. Yogyakarta. 1994.Jakarta. Kesehatan Lingkungan. Jakarta. Jakarta. Depkes RI. . Fardiaz S. Jakarta. 1993. Depkes RI. 1992. 1994. DKK. 1998. . Yogyakarta.Dirjen P2M & PLM. 1990. Polusi Air dan Udara. Manajemen Penelitian. Rancngan Percobaan Teori dan Aplikasi. Almanak Kesehatan RI. Lokakarya Nasional tentang Sanitasi RS. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. BTKL Yogyakarta. 1992. Jakarta. Chemical and Technology Lime and Limestone. Kerjasama PPKSI dan HKTI. 1988. 1995.

FKM UNDIP.. Notoatmojo S. Rineka Cipta. Universitas Indonesia. Volume A. Suryabrata S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Tjokrokusumo. Stell.. Chemistry for Environmental Engeenering. Jakarta. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah. Tony Gates. Kesehatan Lingkungan. 1975. Water Supply and Severage. 1983. Water Treatment Plant Design For The Practising Engineer. Yogyakarta.. Michigan. Liberty. ICH. Sanropie. New York. Inc Tokyo. 1988.W.Kusumanto. dkk. H. Jakarta. PPLH Universitas Gajah Mada. 1989. Wirakusumah. Singarimbun Masri. 1993. Komponen Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia. Dasar-Dasar Ekologi Menopang Pengetahuan Ilmu-Ilmu Lingkungan. Metodologi Penelitian Survei. Ulman’s Encyclopedia of Industrial Chemistry. Penuntun Praktikm Laboratorium Air. 1987. Third ed. 1991. Boynten. 1907. Pengelolaan Limbah Rumah Sakit. 1995. . Ann Arbor Science Publisher. Rajawali Press. Jakarta. Jakarta. 1992. Saleh Samsubar. 1986. R. dkk. 1995. Jakarta. Yogyakarta. 1981. Universitas Indonesia. Carty. 1980. Koesnopoetranto H. Sawyer and Mc. Jakarta Sugiharto. Yogyakarta. Reksosoebroto S. Statistik Induktif.. Fifth ED.. Inc . Pengantar Konsep Teknologi Bersih Khusus Pengelolaan dan Pengolahan Air. Semarang. Robert S. Metodologi Penelitian. Kumpulan Makalah. USA. Chemistry and Tecnology Lime and Limestone.2003. STTL “YLH”. MC Graw-Hill Koyoleusa Ltd. E. Ilmu Hygien dan Sanitasi. Jakarta. FKM Universitas Indonesia. Sank. Raharjo Mursid. 1992. LP3ES.K. Jakarta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->