PENURUNAN FOSFAT DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME), TAWAS DAN FILTRASI ZEOLIT PADA LIMBAH CAIR

( STUDI KASUS RS BETHESDA YOGYAKARTA )

Tesis
Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana S-2 pada Program Studi Ilmu Lingkungan

Sudi Setyo Budi L4K003013

PROGRAM MAGISTER ILMU LINGKUNGAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2006

TESIS PENURUNAN FOSFAT DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME), TAWAS DAN FILTRASI ZEOLIT PADA LIMBAH CAIR
( STUDI KASUS RS BETHESDA YOGYAKARTA )

Disusun oleh

Sudi Setyo Budi L4K 003 013

Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Pada tanggal 21 Pebruari 2006 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

Menyetujui , Pembimbing I Pembimbing II

Ir. Danny Sutrisnanto, M.Eng

Dr. Ir. Setia Budi Sasongko, DEA

Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan ,

Prof. Dr. Sudharto. P. Hadi, MES.

LEMBAR PENGESAHAN PENURUNAN FOSFAT DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME), TAWAS DAN FILTRASI ZEOLIT PADA LIMBAH CAIR
( STUDI KASUS RS BETHESDA YOGYAKARTA ) Disusun oleh

Sudi Setyo Budi L4K 003 013
Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Pada tanggal 21 Pebruari 2006 Dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

Ketua

Tanda Tangan

Ir. Danny Sutrisnanto, M.Eng

………………………….

Anggota 1. Dr.Ir. Setia Budi Sasongko,DEA …………………………

2.

Ir. Sumarno, M.Si

…………………………

3.

Ir.Agus Hadiyarto.MT

…………………………

Semarang. Aapbila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian tesisi ini bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu.PERNYATAAN Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang saya susun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Program Magister Ilmu Lingkungan seluruhnya merupakan hasil karya saya sendiri. Maret 2006 Penulis Sudi Setyo Budi L4K 004 013 . kaidah dan etika penulisan ilmiah. saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan yang berlaku. Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan tesis yang saya kutip dari hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma.

Ir.Judul Tesis : Kinetika Biodegradasi Koprostanol Oleh Bakteri Terseleksi Dari Air Dan Sedimen Pada Lingkungan Sungai. Prof. M. Siti Harnina Bintari. . Dr. P.Sc. Penguji I Dr. Dr. Purwanto. Penguji II Dra.Sc. M. MES. Ir.S. Dan Perairan Pantai (Studi Kasus: Jakarta. M. Muara. Tonny Bachtiar. Semarang. Dan Jepara) Nama Mahasiswa Nomor Mahasiswa Program Studi Konsentrasi : : : : AMELYA NILA ANDINI L4K003001 Magister Ilmu Lingkungan Managemen Lingkungan Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Pada tanggal – Juli 2005 Dan dinyatakan memenuhi syarat untuk diterima Menyetujui: Pembimbing I Pembimbing II Dr. Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan . Hadi. DEA Mengetahui . Agus Sabdono. Sudharto.

BIODATA PENULIS Sudi Setyo Budi.Tesis dengan judul “Penurunan Kadar Fosfat dengan Penambahan Kapur. Jawa Tengah Sampai sekarang dan melanjutkan pendidikan pasca sarjana (S2) di Program Magister ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang . . telah berhasil diselesaikan pada tahun 2006. lahir di Pati pada tanggal 5 Pebruari 1972.Tawas dan Filtrasi Zeolit” ( Studi Kasus Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta ). Selama menempuh pendidikan S1 penulis aktif didalam kegiatan Organisasi Kemahasiswaan.lulus SMA tahun 1991 dan melanjutkan pendidikan Sarjana Strata Satu (S1) pada Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (UNTAG) Semarang selesai pada tahun 2001. Pada tahun 1998 Penulis menjabat sebagai Kepala Desa (Lurah) pada pemilihan kepala Desa di Kabupaten Pati.

DEA sebagai dosen pembimbing II. Teman-teman Magister Ilmu Lingkungan angkatan 2003 kelas reguler memberikan kenangan. MES sebagai Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan. Untuk itu pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat : 1. Ir. 5. P. 3.Hadi. Bapak.Eng sebagai dosen pembimbing I. koreksi dan penyempurnaan. Para dosen. Tesis ini merupakan rangkaian akhir dari persyaratan dalam mencapai gelar kesarjanaan Program Pasca Sarjana (S2) yang telah diseminarkan dan mendapatkan tanggapan. telah mendapatkan bimbingan serta arahan guna penyempurnaan isi dan tulisan sekaligus persetujuan dari dosen pembimbing dan penguji. Amien. 7. Semoga segala kebaikan dan ketulusan Bapak/Ibu/Saudara dalam membantu penyelesaian tesis ini mendapatkan imbalan dari Allah SWT. Prof. 2.KATA PENGANTAR Tesis ini disusun untuk memenuhi tugas akhir pada Program Pasca Sarjana Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang. pengelola dan karyawan Program Magister Ilmu Lingkungan yang membimbing dan memberikan bantuan dan saran dalam menyelesaikan penelitian ini. Tesis yang berjudul Penurunan Fosfat Dengan Penambahan Kapur (Lime) Tawas Dan Filtrasi Zeolit Pada Limbah Cair ( Studi Kasus Rs Bethesda Yogyakarta ). Dr. Setia Budi Sasongko. 6. semangat dan dorongan dalam penyelesaian tesis ini. M. ibu dan semua saudaraku tercinta untuk semua doa. Serta rekan-rekan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang memberikan semangat dan bantuan dalam penyelesaian tesis ini. Dr. Sudharto. Penulis. yang telah Sudi Setyo Budi . Ir. kesabaran. Danny Sutrisnanto. 4.

0015 ppm = 0.0020 ppml = = 0. yaitu pada sistem pengolahan dan pengelolaan pencemaran Rumah Sakit Bethesda. Sedangkan nilai R pada masing-masing konsentrasi setelah filtrasi adalah R0. jadi dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 0.0015 ppm dan hubungan tertinggi pada konsentrasi 0. R0. kapur. Kadar bahan pencemaran fosfat dari limbah cair rumah sakit yang melebihi baku mutu yang ditetapkan.0015 ppm dan hubungan tertinggi pada konsentrasi 25 ml. tawas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan analisa design pre test and post test design dan hasilnya akan diuji secara diskriptif analitis dengan korelasi.975. Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah rumah sakit yang mengandung fosfat tinggi melebihi melebihi baku mutu yang ditetapkan akan menyebabkan problem lingkungan hidup.979. Kata Kunci: fosfat.992. R0. jadi dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 0.990. untuk itu perlu dilakukan penanganan bahan pencemar fosfat limbah cair rumah agat tidak mencemari lingkungan.INTISARI Rumah sakit dalam kegiatannya banyak menggunakan bahan-bahan yang berpotensi mencemari lingkungan. zeolit. Hubungan terendah pada konsentrasi 0.0025 ppm.895.0015 0.0025 ppm yang paling efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai R pada masing-masing konsentrasi setelah flokulasi dan koagulasi adalah R0. R0.0025 ppm ppm = 0. Penelitian dilakukan pada limbah cair Rumah Sakit Bethesda dan uji laboratorium dilaksanakan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pembrantasan penyakit menular (BBTKL-PPM) Yogyakarta. R0. limbah cair .0025 ppm yang paling efektif. Hubungan terendah pada konsentrasi 0.0020 ppml = 0.0025 ppm = 0.981. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektifitas penurunan kadar fosfat limbah cair rumah sakit Bethesda Yogyakarta sebelum dan setelah melalui perlakuan penambahan larutan kapur dan larutan tawas serta filtrasi zeolit. meliputi sanitasi rumah sakit.

981. R0.975. Method in this research is eksperimental with analysis of pre test design and post test design which is its result will test by diskriptif analytical with correlation.992.0025 ppm. . level of efektifitas degradation of liquid waste phosphate rate of Bethesda Yogyakarta hospital before and after passing treatment of condensation calcify addition and alum condensation and also zeolite filtration.ABSTRACT Hospital in its activity using many materials which potentialy contaminate environment. This research aim to know storey. While R value at each concentration after filtrasi is R0.979. zeolite.990. Lowest link at concentration of 0. Contamination which because of consist hospital waste of phosphate will cause environment problem.0015 ppm = 0.0025 ppm.0015 ppm = 0. liquid waste. R0.0025 ppm = 0. For that require to be conducted by handling of contamination materials of house liquid waste phosphate in order not to contaminate environment.0025 ppm = 0. can be concluded that concentration of 0. become can be concluded that concentration of 0.0020 ppml = 0. alum. Phosphate contamination materials rate of hospital liquid waste have exceeded standard quality of which is specified. covering hospital sanitation. Result of research indicate that R value at each concentration after of flokulasi and koagulasi is R0. R0.895.0020 ppml = 0. R0.0015 ppm and highest link at concentration of 0.0025 ppm is most effective. Lowest link at concentration of 0.0025 ppm is most effective. chalk.0015 ppm and highest link at concentration of 0. that is at processing system and management of Bethesda Hospital contamination. Keyword: phosphate. Research have been done at liquid waste of Bethesda Hospital and laboratory test executed in The mayor technical center of Environment Health and Epidemic control (BBTKLPPM Yogyakarta.

....2.. 2........... Kapur .1......... Zeolit ..1.....................................................................................................................2..................................... Tujuan Penelitian .................1....................................................................................... Pemisahan Fosfat ............................2.................................................................... Rumah Sakit ......................2................ 1................... Identifikasi dan Perumusan Masalah...................... 2.........................................................................5.........DAFTAR ISI Halaman HALAMAN PENGESAHAN .... HALAMAN PERNYATAAN ...............3.....1.................................................................................... 2..1...................................................................... 2..........................................................6.................................................. ABSTRAK / INTISARI .........4............... BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................1...................6........................... BAB I PENDAHULUAN .... DAFTAR LAMPIRAN ........1......................3............ 1........ DAFTAR ISI ......1.............................4....................... Koagulasi dan Flokulasi ....... Karakteristik Limbah Cair Rumah Sakit ......................... Pengertian Limbah Cair Rumah Sakit .....................................3.... 2................................................ Flokulasi... KATA PENGANTAR . Sifat Zeolit ... Unit-Unit Pengolahan Air Limbah RS Bethesda ..... Sifat-Sifat Tawas Dan Penggunaannya ................................. i ii iii iv vi vii viii ix 1 1 4 4 4 5 5 9 9 10 11 13 16 16 18 18 19 19 22 23 25 .............. 2............ 2......... 2...3.... Fosfat ....................1......3....................4.. Kegunaan Penelitian ................ 2........................... 1............................ Sumber Limbah Cair Rumah Sakit ... 2.... 2................................. 1......... 2.................................. 2............................. Klasifikasi Rumah Sakit .........................1..1...... DAFTAR TABEL...................................... DAFTAR GAMBAR .......... 2......5......................................................... Koagulasi ......... Latar Belakang Masalah....... 2.........2....

......... 4....7................ 3........ Pengambilan Sampel....5...... BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 3.............................. 3.. 3.........3..............1.......... 4........................................................7.......................................... 3....2............ 5..6............... 5....... Originalitas Penelitian ............... DAFTAR PUSTAKA ................... Rancangan Penelitian .............................................7..................... 3................ Analisa Data ... Pemeriksaan Sampel ...... 3.....8.......6............. 3. Lokasi Penelitian .......................................... Teknik Pengambilan Sampel .......... 4.. 3................ 3........................ Alat ..................................................................1....................... 3..................3........................................................2........................... 3......................... BAB III METODE PENELITIAN . Teknik Analisa Data .......2..............................................................1.......................... 3.... Hasil Penelitian dan Analisis Hasil ....................... 3.... Jenis Zeolit ........... BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............. 3.................9..6............................ 26 29 29 30 30 31 31 31 31 31 31 32 33 33 33 33 33 34 34 34 36 36 40 43 44 44 44 45 .................... Teknik Pengumpulan Data .................................................................................................................................................................................. 2.................6....................................6... Tahapan Persiapan ............... Periode Pengambilan Sampel ...... 3.... Ruang Lingkup .........7.........3........................... Pelaksanaan Penelitian ......................2............... Instrumen Pebelitian .... Variabel Penelitian .......6.2.............. Jenis dan Sumber Data.....3...................6..........4............................ 2...........7...........................2......................... Kesimpulan .....1... Bahan .4... Pembahasan ............. Saran .............2.3... Aktivasi Zeolit ............................1.................

............................................. 17 26 28 36 4..................Perbedaan Mineral Alam dan Zeolit Sintetik ................................................................... 2...................................................................... 5.....Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi ..................................................... 7...............................Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi .......................DAFTAR TABEL Halaman 1.................................Keadaan Limbah cair RS Bethesda Yogyakarta sebelum Pengolahan ................................... 8..........Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi ................. 3..........................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi / Flokulasi 36 38 43 43 6... (Asli) ............Klasifikasi Zeolit ...................Klasifikasi Fosfat..........

................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0...............Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0..............................Pola Klasifikasi Fosfat . 7.......0025 ppm ........... 3.......Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0..........0020 ppm . 2............................................................ 0.....................0025 ppm . 0.....Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0..0020 ppm....... 0...............0020 ppm .....Rancangan Penelitian ......0015 ppm ..................... 6.......0015 ppm. 9....................0025 ppm .............0015 ppm....................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0.............0020 ppm........... 0......Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0.........................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda YogyaKarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0..Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0.......0025 ppm........................... 5...... 8..DAFTAR GAMBAR Halaman 1...... 40 40 39 39 38 38 37 37 17 29 .................................. 10.......... 4.........................0015 ppm ...........

. dan 0.0025 ppm) 3....DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1..... Penambahan Tawas (Kadar Fosfat sebelum Filtrasi ) Regression (Konsentrasi 0.... 0.... dan 0......0020 ppm. Penambahan Tawas (Kadar Fosfat setelah Filtrasi ) Regression (Konsentrasi 0.......... 47 2.... 0... Peta Yogyakarta 60 57 51 .......0015 ppm. Hasil Pengolahan Penurunan Kadar Fosfat Limbah Cair Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta ...........0020 ppm.0015 ppm........ Foto-foto Penelitian 4..0025 ppm)...

Akibatnya. racun dan bahan berbahaya bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya maupun dalam lingkungan rumah sakit itu sendiri. Rumah sakit Bethesda merupakan rumah sakit dengan type B berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman N0. Menyadari bahwa fosfatlah yang menjadi penyebab terjadinya eutrofikasi.Limbah rumah sakit yang mengandung fosfat akan menyebabkan problem lingkungan hidup yaitu menyebabkan Eutrofikasi. Ada kelompok yang condong memilih cara-cara penanggulangan melalui pengolahan limbah cair yang mengandung fosfat. asrama dll. . dan Fosfor (P) didalam proses eutrofikasi. Problem eutrofikasi baru disadari pada dekade awal abad ke-20 saat algae banyak tumbuh di ekosistem air. Hal ini bisa dikenali dengan warna air menjadi kehijauan. Sebenarnya jumlhah fosfat yang diperlukan oleh blue-green algae makhluk hidup air penyebab algae bool untuk tumbuh ternyata hanya dengan konsentrasi 10 ppb (part perbillion) fosfor saja blue-green algae sudah bisa tumbuh. maka perhatian para saintis dan kelompok masyarakat pecinta lingkungan hidup semakin meningkat terhadap masalah ini. laundry. ruang operasi .1 Latar Belakang Masalah Rumah sakit dalam kegiatannya banyak menggunakan bahan-bahan yang berpotensi mencemari lingkungan. Di samping itu kegiatan rumah sakit juga menghasikan limbah cair yang bersifat infeksius. Melalui penelitian panjang di AS para peneliti akhirnya bisa menyimpulkan bahwa fosfor merupakan elemen kunci diantara nutrient utama lainnya seperti: Carbon (C). Problem ini disinyalir akibat langsung dari aliran limbah yang mengandung fosfat tinggi. Banyaknya enceng gondok yang bertebaran dimanamana juga disebabkan dari fosfat yang sangat berlebihan ini. kamar mayat. rawat inap.70 Yogyakarta. laboratorium. Tidak heran jika algae bloom terjadi di banyak ekosistem air.BAB I PENDAHULUAN 1. Dalam waktu 24 jam saja populasi algae bisa berkembang dua kali lipat dengan ketersediaan fosfor yang berlebihan akibat limbah fosfat diatas. Sumber-sumber pencemaran yang terdapat di rumah sakit berasal dari kegiatan dapur. ada juga yang melarang secara tegas keberadaan fosfat dalam detergen. Air dikatakan eutrofik jika konsentrasi phosphorus (TP) dalam air berada pada rentang 35-100 g/l. kualitas air di banyak ekosistem air menjadi sangat menurun. Kondisi eutrofik sangat memungkinkan algae tumbuh berkembang biak dengan pesat (blooming) akibat dari ketersediaan fosfat berlebihan serta kondisi lain yang memadai. Definisi dasarnya adalah pencemaran air yang disebabkan munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air. Nitrogen (N).seperti: detergen. berbau tidak sedap dan kekeruhan menjadi sangat meningkat.

Mereka juga memilki jurnal ilmiah European Water Pollution Control. Rumah sakit itu befungsi sebagai sarana kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan. saintis. Pada saat ini rumah-rumah sakit yang ada melakukan pengolahan limbahnya pada Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) tetapi ada juga yang hanya secara konvensional (septic tank dan peresapan) dan bahkan tanpa pengolahan (langsung dibuang ke lingkungan). ini yang sangat dikhawatirkan . Negara-negara kawasan Eropa juga memiliki komite khusus dengan nama Scientific Committee on Fosfates in Europe yang memberlakukan The Urban Waste Water Treatment Directive yang berfungsi untuk menangani problem fosfat dari limbah cair dan cara penanggulangannya. yang perlu kita waspadai adalah zat-zat kimia yang bersifat peresisten (yang tidak dapat untuk jangka waktu yang lama didalam lingkungan). Pemecahan problem ini di Indonesia sangat menuntut peran serta masyarakat. Kaitannya dengan kesehatan. Untuk itu perlu pengelolaan lingkungan rumah sakit secara cermat sehingga output tidak menimbulkan dampak terhadap masyarakat. Karena itu perlu upaya secara terus menerus untuk meningkatkan budaya dan pola pikir agar faktor lingkungan menjadi prioritas utama dalam melakukan pengelolaan rumah sakit. disamping Environmental Protection Agency/EPA yang memberlakukan peraturan dan pengawasan ketat terhadap pencemaran lingkungan.Dewasa ini persoalan eutrofikasi tidak hanya dikaji secara lokal dan temporal. Eutrofikasi merupakan contoh kasus dari problem yang menuntut pendekatan lintas disiplin ilmu dan lintas sektoral. Karena kita ketahui bahwa limbah rumah sakit merupakan bahan dan sumber pencemar yang sangat kompleks karena limbahnya bisa mengandung kuman ksius. tetapi juga menjadi persoalan global yang rumit untuk diatasi sehingga menuntut perhatian serius banyak pihak secara terus-menerus. Oleh karena Itu untuk pennganan limbah rumah sakit yang dihasilkan harus dikelola sesuai dengan karakteristik dan volume limbah sehingga dapat meminimalkan dampak negatif yang dihasilkan sehingga lingkungan dapat menerima dan diuraikan (self purification). logam berat (karsinogenik) maupun radioaktif. praktisi dan pemerintah menjadi tugas yang mendesak untuk menyelamatkan sumber daya air dari bencana eutrofikasi serta memelihara dan mengolahnya untuk kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang. justru menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat disekitarnya maupun masyarakat yang menggunakannya (nosokomial). tempat mencetak tenaga kesehatan dan sarana penelitian. akumulasi di dalam organisme dan lingkungan serta terjadinya biomagnifikasi/rantai makanan. Karena tidak dapat terurai secara alamiah maka terjadi karena berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Jangan sampai rumah sakit yang dianggap sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

obsteriginekologin. bak Pre treatment bak laundry. bedah ortopedi dan bedah rekonstruksi. pengolahan. kamar operasi. bedah ortopedi dan bedah rekonstruksi. syaraf. bak equalisasi . pengering lumpur. bak an aerob . radiologi. rehabilitasi sistem pernafasan. penimbunan hasil pengolahan. 2. Pelayanan gawat darurat 4. Sub spesialistik (bedah syaraf. syaraf. Poliklinik (umum. haimodialisa. Rehabilitasi mental spiritual c. kulit dan kelamin serta rehabilitasi medik.Pengolahan limbah cair yang sekarang dilakukan rumah sakit Bethesda meliputi penangkap lemak. CT-Scan. THT. Unit-unit yang ada di rumah sakit 1. paru. rehabilitasi sistem neuromuskuler dan lekomotor. bedah obsterigine. bedah orkologi. instalasi pemeliharaan saran. mata. bedah urologi dan bedah digestik). bedah orkologi. paru. farmasi. Prothese dan ortotik 5. Spesialistik (penyakit dalam. kesehatan anak. Penanganan IPAL rumah sakit Bethesda belum sempurna oleh karena itu. c. Rawat Jalan a. Spesialistik (penyakit dalam. USG. Perawatan Umum b. maka rumah sakit Bethesda sangat membutuhkan sarana instalasi limbah cair tersebut agar parameter limbah cair yang melebihi baku mutu khususnya fosfat dapat ditangani. mata kulit dan kelamin. digester. pelayanan sterilisasi. sand filter. Pelayanan penunjang Yaitu laboratorium.bak penampung awal. c. b. kesehatan jiwa. bedah. kesehatan jiwa. THT. dan rehabilitasi medik). KIA dan KB) b. bak penampung awal terpadu. Rawat inap a. bedah urologi dan bedah digestik). kologin. Sub spesialistik (bedah syaraf. 6. pengumpulan. bak pengendapan. gigi. Fisik (rehabilitasi sistem radiovaskuler. kolam ikan. kesehatan anak. Pelayanan rehabilitasi medik a. bedah plastik. Penunjang umum Yaitu administrasi. kamar bersalin dan beddah sentral. 3. Pengelolaan yang dilakukan mencakup penyimpanan. . bedah plastik. pendidikan dan penelitian dan informasi. pengolahan makanan dan gizi.

4 Kegunaaan Penelitian Untuk membantu pihak pengelola rumah sakit dalam rangka penanganan limbah cair khusus parameter fosfat sehingga tidak mencemari lingkungan.1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah Identifikasi Limbah cair Rumah Sakit mengandung bahan pencemar yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat sekitarnya Parameter fosfat yang terkandung dalam limbah cair Rumah sakitmelebihi baku mutu yang ditetapkan. Dari latar belakang dan identifikasi maka dapat dirumuskan sebagai berikut : Apakah kadar bahan pencemar yang fosfat yang terkandung dalam limbah rumah sakit dapat diturunkan sehingga memenuhi baku mutu yang ditetapkan ? 1. BAB II TINJAUAN PUSTAKA . 1.3 Tujuan Penelitian Meneliti tingkat efektifitas larutan kapur. larutan tawas dan zeolit untuk menurunkan kadar fosfat dalam limbah cair Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.

pasien-pasien Petronella dipindahkan ke rumah sakit darurat di Pingit (sekarang asrama Polisi) dan Rumah Sakit Petronella dipindahkan kembali ke Gondokusuman dan berganti nama menjadi Jogjakarta Tjuo Bjoin (Rumah Sakit Pusat Jogyakarta) dan dipimpin oleh orang Jepang.Scheurer kembali ke Belanda pada tahun 1906 dan kepemimpinan RS Petronella selama 36 tahun berikutnya dibagi rata oleh tiga orang dokter. Rumah sakit merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh. sering dikenal sebagai bentuk pelayanan yang berorientasi pada pelayanan kuratif saja. Setelah proklamasi kemerdekaan.Offringa. Salah satu upaya penyehatan lingkungan rumah sakit teresbut adalah peraturan pemerintah tentang adanya suatu satuan kerja yang bertanggungjawab terhadap penyehatan lingkungan rumah sakit yaitu Instalasi Sanitasi melaui SK Menkes No. K. toxic dan radioaktif dalam melakukan kegiatannya sehingga perlu adanya upaya penyehatan lingkungan rumah sakit. tetapi untuk mencapai tujuan pembangunan bidang kesehatan. semasa kepemimpinan dr. pencegahan. Ketika menerima subsidi dari pemerintah.Groot. Pada tahun 1899 dr. Rumah sakit akan menghasilkan limbah yang bersifat infeksius.J. Rumah Sakit Jogjakarta Tjuo Bjoin direbut dari Jepang dan berganti nama menjadi Rumah Sakit Pusat.G. Rumah Sakit Petronellapun bernama resmi Het Zendingsziekenhuis Petronella Voor on en minvermogenden (Rumah Sakit Petronella untuk orang-orang yang kurang dan tidak mampu). dr. Pruys.P. Rumah Sakit Rumah Sakit adalah integrasi organisasi sosial dan kesehatan yang berfungsi melayani masyarakat dengan pelayanan kesehatan secara menyeluruh baik kuratif maupun preventif serta pelayanan penderita berobat jalan mencakup lingkungan keluarga. kapasitas rmah sakit yang semula 150 tempat tidur ditingkatkan menjadi 475 tempat tidur. Dalam kurun waktu 1924-1925. Rumah Sakit Petronella disebut juga sebagai rumah sakit Dokter Tulung/Pitulung karena tidak memungut biaya perawatan rumah sakit.Scheurer mendirikan Rumah Sakit Petronella di kampung Gondokusuman. dengan dr.2.1. maka rumah sakit diharapkan berangsur akan berkembang kearah pelayanan kesehatan paripurna yang mencakup upaya peningkatan. disamping juga merupakan pusat latihan tenaga kesehatan dan tempat untuk mengadakan pelatihan medis. Tujuannya untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari bahan buangan atau limbah rumah sakit serta mencegah meningkatnya infeksi nosokomial di lingkungan rumah sakit. pengobatan dan pelayanan kesehatan. J. Lucas Gerard Johannes Samallo sebagai dokter . 548/Menkes/VI/1994 tanggal 13 Juni 1994. Offringa dan dr. yaitu dr. dengan kapasitas awal 150 tempat tidur dan dikelola sepenuhnya oleh gerejagereja Gereformed di Amsterdam.J. Sewaktu terjadi perang antara Sekutu dan Jepang. dr.

70.966/1997 tanggal 22 Juli 1997 tentang organisasi dan tata kerja RS Bethesda Yogyakarta yang terdiri dari: • • • • • • • • • • • • • Direktur Wakil Direktur Pelayanan Medik Wakil Direktur Penunjang Medik Wakil Direktur Keuangan Wakil Direktur Personalia dan Umum Bidang Satuan Pengawasan Intern Bidang Sekretariat Bidang Perencanaan. Penelitian dan Pengembangan Bidang Pelayanan Keluarga Berencana RS Bethesda Bidang Sosial Pastoral Bidang usaha Peningkatan Kesehatan Masyarakat (UPKM) Bidang Pendidikan SPK dan Bidan Bidang Pelayanan Kesehatan (YANKES) Lempuyangwangi .423 m2 . Supaya umum mengetahuinya bahwa Rumah Sakit Kristen. 1714 / K. tanggal 28 Juni 1949. Lokasi Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta terletak pada sebidang tanah yang mempunyai luas 61.pertama berbangsa Indonesia yang memimpinnya. Kotamadya Yogyakarta. rumah sakit secara resmi berdiri dan beroperasi di Yogyakarta dengan nama Rumah Sakit Bethesda.412 m2 dan tanah kosong dalam komplek 36.3880/K.935 m2 dengan luas bangunan mencapai 25. Wahidin : Jalan Johar Norhadi Struktur Organisasi Rumah Sakit Bethesda Struktur organisasi RS Bethesda Yogyakarta sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Pimpinan Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (DP-YAKKUM) No.uk RS BETH /1996 tanggal 23 Maret 1996 dan kemudian diberlakukan di RS Bethesda dengan Surat Keputusan Direktur No. Rumah Sakit Bethesda terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di jalan Jenderal Sudirman No. maka berdasarkan hasil rapat Dewan Pimpinan YAKKUM (Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum) selaku pengawas yang berpusat di Surakarta. dengan batas-batas: • • • • Utara Selatan Timur Barat : Jalan Jenderal Sudirman : Universitas Kristen Duta Wacana dan Komplek DKT : Jalan Dr.

Bahan Polutan Rumah Sakit Bethesda Bahan polutan yang ada dapat diamati dengan jelas dari setiap kegiatan yang dilakukan RS Bethesda Yogyakarta. alkohol. asam sulfat (merupakan specimen laboratorium). Limbah gas berupa: . Limbah padat berupa: 3. Limbah cair berupa: • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Darah. dan wastafel. Bahan polutan yang ada merupakan hasil dari berbagai aktivitas yang menimbulkan dampak dan kemungkinan bahan polutan yang ada antara lain: 1. Mengingat bahwa rumah sakit merupakan tempat tindakan pelayanan dan perawatan orang sakit. maka kualitas dan kuantitas air yang digunakan untuk 2. Air buangan dari kamar mandi. Kotoran lemak Deterjen Specimen laboratorium padatan Perban/kasa Spet suntikan Kapas darah Sisa makanan Kertas Plastik Kaca Sisa amputasi Sisa persalinan Sisa operasi Sisa outopsi Sisa insenerasi Gas dari sisa pembakaran di Instalasi Gizi Asap dari pembakaran di Instalasi Incenerator Uap air atau kondensat dari Instalasi Laundry Utilitas 1. WC. Pengadaan Air Air bersih merupakan kebutuan mutlak yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan setiap rumah sakit dimanapun juga.

a. taman dan untuk pelayanan penerangan umum lainnya. RS Bethesda juga menggunakan 2 buah genset yang mempunyai daya 500 kVa dan 375 kVa. Pengadaan listrik di RS Bethesda berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebesar 5500 kVa. demikian juga untuk ruang tidur pasien atau bangsal. Jumlah dari kebutuhan air bersih untuk RS Bethesda diperkirakan ± 875 m3 per harinya. 2.kebutuhan rumah sakit harus selalu dipertahankan agar tidak dapat mengakibatkan sumber infeksi baru bagi penderita . 2. Tabung pemadam kebakaran sejumlah 64 buah Pihak RS Bethesda juga bekerjasama dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kodya dan KODAM IV/Diponegoro.1. untuk itu pihak RS Bethesda menggunakan 5 (lima) buah pompa dengan daya 10 pk dan 7. Yang kemudian di pompa water tower yang berjumlah 2 buah. yang diletakkan di dalam sumur berkedalaman30 sampai 40 meter. yang ditempatkan di 16 titik yang dianggap dapat mewakili seluruh areal bangunan RS Bethesda. Pengertian Limbah Cair Rumah Sakit Pengadaan fasilitas untuk pemadam kebakaran berupa: . Selain menggunakan sumber listrik PLN. Pengadaan Listrik Pencahayaan atau listrik digunakan di semua ruangan yang ad. Fasilitas Pemadam Kebakaran Hydrant. • • • • • • • Pengadaan Transportasi Pengadaan mobil operasional terdiri dari: Mobil ambulance Mobil jenazah Mobil kijang Mikrobus Minibus Sedan Open Cup : 4 buah : 1 buah : 3 buah : 2 buah : 1 buah : 2 buah : 1 buah Dengan tenaga sopir 11 orang 4. dengan sistem otomatis. 3. pengunjung dan karyawan. Genset beroperasi secara otomatis apabila suplai listrik dari PLN tidak berjalan atau padam.5 pk. b. baik untuk bekerja maupun untuk penyimpanan barang atau peralatan elektronik.1.

b. Berdasarkan macam/jenis penyakit yang ditangani a. yang dikelola oleh Depkes dan merupakan milik pemerintah (pusat atau daerah). 2. Limbah tersebut dapat berupa sisa darah. ruang bedah dan runag lain dalam bnagunan kecuali limbah cair radiologi. 2. RSU masih dibagi lagi menjadi beberapa type/kelas RSUP (RSU Pemerintah) dapat diklasifikasikan menjadi RSU type A. yang dikelola oleh yayasan. kamar mandi.1. ruang operasi dan lainnya. dan Pratama. dapur. RSU Type B atau Kelas Utama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan subspesialistik terbatas. 2.1.3. urine. sisa bahan kimia/radiologi. Rumah Sakit Negeri/ Pemerintah. yaitu. b.Sedangkan RSU Swasta dibagi atas Kelas Utama. RSU Type C atau Kelas Madya adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik dasar. Rumah Sakit Swasta. tempat pencucian pakaian. Keputusan Menkes RI No. 983/SK/Menkes/XI/92 menyebutkan bahwa RSU Type A adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan subspesialistik luas. 1. Type C dan Kelas Madya serta Type D dan Kelas Pratama. yang menangani hanya 1 (satu) atau beberapa jenis penyakit tertentu.Limbah cair rumah sakit merupakan limbah cair dari semua sumber pembuangan misalnya kloset. Rumah Sakit Umum (RSU). B. Sumber Limbah Cair Rumah Sakit . air bekas pencucian dan lain-lain. C dan D. yang menangani hampir semua penyakit/memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar. Departemen Hankam dan BUMN. sisa obat. Sedangkan Rumah Sakit Bethesda tergolong RSU Kelas Utama. Rumah Sakit khusus. tinja. Macam jumlah dan kadar zat pencemar yang dihasilkan dari setiap sumber tersebut bervariasi tergantung kegiatan/aktivitasnya dan bahan yang digunakan. Berdasarkan status kepemilikan /pengelolaan a. ruang pasien. Klasifikasi Rumah Sakit Secara umum industri rumah sakit dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian. Limbah cair rumah sakit adalah limbha cair yang berasal dari rumah sakit baik ynag berasal dari dapur. ruang laboratorium. Madya. spesialistik dan subspesialistik. Benang merah yang menghubungkan RSUP DAN RSU Swasta adalah paralelisasi antara Type B dan Kelas Utama. Terakhir RSU Type D atau Kelas Pratama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis dasar.2.

Untuk mengetahui jenis limbah yang dihasilkan yang digunakan sebagai dasar cara pengolahannya maka perlu diketahui sumber-sumber yang menghasilkan limbah rumah sakit. 3. buangan dari pembilas mesin cuci. Ruang Rawat Jalan: Kamar mandi. tempat wudlu. Fasilitas Sosial (Kafetaria. urinoir. floor drain. urinoir. urinoir. Spoelhock. Wastafel. Wastafel. tempat cuci instrumen medik. kamar mandi. Sumber-sumber limbah rumah sakit meliputi: 1. Unit Perkantoran/Perpustakaan: Kamar mandi.Dalam melakukan kegiatan pelayanan kesehatan rumah sakit akan menghasilkan limbah cair. 4. 12. wastafel) dan di tambah buangan dari asrama putra AKPER RS Bethesda. tempat cuci instrumen medik. Asrama): Kamar mandi. 10. tempat buang exudat pasien. Spoelhock. tempat mencuci jenazah. tempat cuci sayur/buah. parasit. Limbah cair alur barat Limbah cair dari alur barat lebih didominasi oleh air buangan yang berasal dari ruang-ruang rawat inap (kamar mandi/WC. tempat cuci alat-alat dapur. tempat cuci perabot makan. Ruang Rawat Darurat: Kamar mandi. Adapun sumber-sumbernya adalah sebagai berikut: 1. Wastafel. buangan pembilas air panas. yang disalurkan melalui assenering baik assenering DKP maupun assenering pihak RS Bethesda sendiri menuju instalasi pengolahan air limbah. tempat buang exudat pasien. Ruang Operasi: Kamar mandi. tempat pembedahan mayat/autopsi. 11. Sumber Penghasil Limbah RS Bethesda Limbah rumah sakit adalah semua air buangan yang berasal dari aktivitas instalasiinstalasi rumah sakit yang kemungkinan besar mengandung mikroorganisma. Spoelhock. 8. tempat buang exudat pasien. Wastafel. urinoir. Spoelhock. pantry. Air limbah ini mengalir . Unit Radiologi: wastafel. floor drain. urinoir. Ruang Laundry: tempat rendaman linen kotor. 13. tempat cuci preparat. tempat cuci instrumen medik. 9. Wastafel. Ruang Perawatan berasal dari: Kamar mandi. 2. Ruang Dapur: Kamar mandi. Masjid): Kamar mandi. 6. urinoir. tempat cuci instrumen medik. Pemukiman (Rumah Dinas. tempat cuci film. Ruang Haemodialisa: Kamar mandi. bahan kimia beracun dan radio aktif. tempat cuci instrumen medik. Wastafel. tempat cuci instrumen medik. tempat cuci beras. floor drain. 5. Instalasi Laboratorium Klinik/Patologi Anatomi: Kamar mandi. pantry. pantry. Ruang Kamar Jenazah/Autopsi: Kamar mandi. Wastafel. wastafel. Wastafel. tempat cuci perabot makan. 7.

3. warna dan temperatur. kimia dan biologis.1 %. Adapun sifat fisik yang penting adalah kandungan zat padat sebgaai efek estetika. Dari laundry ini dihasilkan limbah cair dengan kandungan detergen yang tinggi sehingga memilki pH dan suhu yang tinggi. karena selruh kegiatan RS Bethesda yang berada di bagian timur seperti ruang rawat inap. Laundry Laundry juga merupakan salah satu instalasi penting yang umum dimiliki oleh setiap rumah sakit tidak terkecuali RS Bethesda. bau. 4.secara gravitasi dengan 13 bak kontrol di titik-titik tertentu guna mengawasi lancar tidaknya aliran. menyalurkan air buangannya ke saluran assenering alur timur baik secara gravitasi maupun dengan bantuan pompa. Zat organik tersebut sebagian besar mudah terurai (degradabel) yang merupakan sumber makanan dan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme yang lainnya. kantor.4. a. Partikel-partikel padat terdiri dari zat organik 70 % dan anorganik 30 %. ruang farmasi. lemak dan detergen untuk kemudian diolah secara bertingkat. Limbah cair alur timur Limbah cair alur timur memilki karakteristik pencemar yang lebih kompleks. 2. Zat organik terdiri dari 65 % protein. laboratorium. kejernihan.9 % dan sisanya terdiri dari partikel-partikel tidak terlarut 0. 2. Komposisi limbah cair rumah sakit sebagian besar terdiri dari 99. . Karakteristik Limbah Cair Rumah Sakit Air limbah pada intinya dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu sifat fisik. Instalasi gizi (dapur) Kegiatan instalasi gizi yaitu melayani kebutuhan makanan pasien maupun karyawan sehingga dari kegiatan ini juga dihasilkan limbah cair.1. Sifat Fisik Penentuan derajat kekotoran air limbah sangat dipengaruhi oleh adanya sifat fisik yang mudah dilihat. ruang radiologi dan lain-lain yang menghasilkan limbah. 25 % karbohidrat dan 10 % lemak. yang mengandung minyak.

Fe dan Hg Metan Hidrogen Fosfor Gas seperti NH3. Bahan Organik Air limbah dengan pengotoran sedang.5. jamur. Pb. Mikrooganisme yang penting dalam air limbah dan air permukaan dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu: 1. Mg. Unit-unit Pengolahan Air Limbah RS Bethesda .1. O3 c. Adapun zat kimia yang penting dalam air limbah pada umumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. 2. 2. Cu. Cr. CH4. Cd. protozoa dan algae Binatang dan tanaman Dari klasifikasi tersebut diatas.b. protozoa dan algae sangat penting di dalam proses dekomposisi atau stabilisasi bahan-bahan organik 2. 25-50 % berupa karbohidrat serta 10 % lainnya berupa lemak. Bahan Anorganik Sedangkan zat organik yang penting peranannya di dalam mengontrol air limbah adalah: pH Kadar Khlor Alkalinitas Kadar Sulfur Zat beracun Logam berat seperti: Ni. Zn. Sifat Kimia Sifat kimia dalam air limbah dapat diketahui dengan adanya zat kimia air buangan. maka sekitar 75 % dari benda-benda tercampur dan 40 % dari zat yang dapat disaring adalah berupa bahan organik. Protista. Sifat Bakteriologis Sifat bakteriogis pada air buangan perlu diketahui untuk menaksir tingkat kekotoran air limbah sebelum dibuang ke badan air. meliputi: bakteri. yang dijumpai dalam air limbah bersisikan 40-60 % adalah protein.

1. Instalasi penampung awal Instalasi penampung awal berfungsi untuk menampung keseluruhan limbah dari RS Bethesda yang berasal dari cucian, dapur mauun rawat inap. 2. Bak ekualisasi Bak ekualisasi berfungsi untuk mencampur limbah dari berbagai sumber sehingga menjadi limbah yang homogen dengan waktu tinggal 27 jam. 3. Instalasi anaerob biofilter Instalasi anaerob biofilter berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana dengan bantuan bakteri yang ada pada biofilter. Waktu tinggal dalam bak ini 16 jam. 4. Instalasi aerob Instalasi aerob berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks yang lolos dari pengolahan sebelumnya menjadi senyawa yang lebih sederhana, pada proses ini penambahan oksigen dilakukan dengan bantuan blower. Waktu tinggal dalam bak 8 jam. 5. Instalasi pengendapan (settling) Instalasi pengendapan (settling) berfungsi untuk memberi kesempatan lumpur agar mengendap. Waktu tinggal dalam bak pengendspan 7 jam. 6. Instalasi penampung hasil Instalasi penampung hasil berfungsi untuk menampung limbah yang telah mengalami pengolahan (limbah terolah). Limbah ini dipompakan ke instalasi sand filter dan sebelumnya jam. 7. Instalasi sand filter Instalasi sand filter berfungsi untuk menyaring limbah sehingga diperoleh kualitas yang lebih baik lagi. 8. Instalasi fish pond Instalasi fish pond atau kolam ikan berfungsi untuk tempat penampungan limbah terolah yang telah tersaring di sand filter. Kolam ikan ini dilengkapi dengan pancuran air. 9. Instalasi digester dan biogas Instalasi digester dan biogas berfungsi untuk menaqmpung semua lumpur yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah. 10.Instalasi pengering lumpur (drying bed) Instalasi pengering lumpur befungsi untuk menampung endapan lumpur dari digester untuk dikeringkan. dilakukan disinfeksi dengan memberikan kaporit melalui sistem injeksi/suntikan dengan tujuan membunuh bakteri patogen. Waktu tinggal dalam bak 7

2.2. Fosfat Fosfat berada dalam air limbah dalam bentuk organik. Sebagai ortophosfat anorganik atau sebagai fosfat-fosfat kompleks. Fosfat kompleks mewakili kira-kira separuh dari fosfat air limbah perkotaan dan berasal dari penggunaan bahan-bahan detergen sintetis. Fosfat kompleks mengalami hidrolisa selama pengolahan biologis menjadi bentuk ortofosfat (PO43-) Dari konsentrasi rata-rata fosfor keseluruhan sebanyak 10 mg/l berada dalam air limbah perkotaan , kira-kira 10 % dibunag sebagai bahan tak terpakai selama pengendapan primer dan 10 % hingga 20 % lainnya digabungkan ke dalm sel-sel bakteri selam apengolhan biologis. Sisa yang 70 % dari fosfor yang masuk pada umumnya dilepaskan bersama bunagan instalasi sekunder. Bentuk-bentuk penting fosfat dalam air limbah adalah pospor organik, polyphosfat dan orthophospat. Poyfosfat banyak digunakan dalam pembuatan detergen sintetis. Komponen fosfat dipergunakan untuk membuat sabun sebagai pembentuk buih. Dan adanya fosfat dalam air limbah dapat menghambat penguraian pada proses biologis. Sedangkan menurut Juli Sumirat, detergen dapat mempermudah absorbsi racun pada ikan melalui insang dan bersifat persisten sehingga terjadi akumulasi. Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut, tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air. Dalam air limbah senyawa fosfat dapat berasal dari limbah penduduk, industri dan pertanian. Di daerah pertanian ortofophosfat berasal dari bahan pupuk, yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan. Poliphosfat dapat memasuki sungai melalui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan detergen yang mengandung fosfat seperti industri pencucian, industri logam dan sebagainya. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat bagi pertumbuhannya. Bermacam-macam jenis fosfat juga dipakai untuk penngolahan anti karat dan anti kerak pada pemanas air (boiler). Bila kadar fosfat pada air alam sangat rendah (<0,01 mg/l), pertumbuhan tanaman dan ganggang akan terhalang, keadaan ini dinamakan “oligotrop”. Pembuangan limbah yang banyak mengandung fosfat ke dalam badan air dapat menyebabkan pertumbuhan lumut dan mikroalgae yang berlebih yang disebut “eutrophication” , sehingga air menjadi keruh dan berbau karena pembusukan lumut-lumut yang mati. Pada keadaan “eutrotop” tanaman dapat menghabiskan oksigen dalam sungai atau kolam pada malam hari atau bila tanaman tersebut mati dan dalam keadaan sedang mencerna (digest) dan pada siang hari pancaran sinar matahari kedalam air akan berkurang, sehingga proses fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen juga berkurang.

Banyak metode yang telah diusulkan untuk pembuangan kelebihan fosfat. Metode ynag paling efektif meliputi pengendapan kimiawi. Senyawa-senyawa fosfat dapat dibuang dengan penambahan koagulan, misalnya alum, kapur, ferrichlorida atau ferrous sulfat. Bahan-bahan kimia itu dapat ditambahkan sebelum pengendapan primer, alum dan garam-garam besi dapat dimasukkan ke dalm tanki aerasi selama proses lumpur diaktifkan atau bahan-bahan kimia itu dapat dimasukkan pada suatu tahap pengolhan primer. Sebagian besar dari bahan organik tersebut dibuang, begitu pula fosfatnya, sehingga dihasilkan pengurangan beban pada proses pengolahan biologis. Walaupun demikian, lumpur yang diproduksi jumlahnya lebih besar. Bila bahan-bahan kimia dimasukkan langsung ke dalam tangki aerasi dari suatu instalasi lumpur yang diaktifkan, maka pengolahan kimiawi dan biologis terjadi bersama-sama, sehingga hanya sedikit peralatan tambahan yang dibutuhkan. Pengendapan kimiawi, terutama yang menggunakan kapur, kadang-kadang dikerjakan pada tahap ketiga setelah pengolahan biologis guna pembuangan fosfat serta peningkatan pH buangan dalam persiapan bagi proses pembuangan ammonia-nitrogen. Reaksi kimia dari proses pengendapan secara kimiawi antara fosfat dengan alum, garam besi dan kapur adalah sebagai berikut: Pengendapan dengan alum: AL2(SO)3 + 2HPO4
–2

2AlPO4

+ 3SO4-2

+ 2H

Pengendapan dengan garam besi: FeCl3 + HPO4
–2

FePO4

+

H+

+ 3Cl-

Pengendapan dengan kapur: 5Ca(OH)2 + 3HPO4
–2

Ca5(PO4)3OH

+

3H2O

+ 6OH-

2.2.1. Pemisahan Fosfat Secara umum analisa fosfat meliputi 2 (dua) langkah : a. Merubah bentuk fosfor menjadi ortofosfat yang larut. b. Menentukan secara kolorimetris ortofosfat yang larut. Pemisahan fosfor kedalam berbagai bentuk telah luas didefinisikan secara analitis, tetapi telah dipilih pembedaan analisa, sehingga dapat diperguakan untuk tujuan interpretasi. Pemisahan “yang dapat disaring” (atau “terlarut”) dari “partikel” fosfat tergantung filter membran 0,45 µm yang dipergunakan. Pemilihan filtrasi dengan membran melebihi ketebalan filtrasi dilakukan karena kemungkinan diperoleh lebih besar atau pemisahan ukuran partikel dengan tekinik pemisahan membran. Penyaringan pendahulluan dengan filter serat gelas dapat dilakukan untuk mempercepat proses penyaringan. Tidak dapat dituntut bahwa penyaringan

Total fosfat organik terlarut dan partikel FISIK Terlarut e. d. Tetapi perlu diingat bahwa sebagian kecil dari fosfat terikat yang ada tidak dapat menghindari cara hidrolisa ini dan dilaporkan sebagai bagian dari ortofosfat. Fosfat organik terlarut. Fosfat partikel yang dapat dihidrolisa oleh asam l. menguraikan bentuk fosfat yang ditentukan dalam filtrat yang melalui membran 0. dan tersuspensi) dan masing-masing secara analisis dibagi menjadim tiga tipe kimiawi seperti telah diuraikan diatas yaitu ortofosfat fosfat yang dapat dihidrolisa dengan asam fosfat organik . k. Bagian-bagian fosfat yang diubah menjadi ortofosfat hanya dengan perombakan oksidatif terhadap bahan organik disebut fosfat organik/terikat secara organik. Total fosfat yang dapat dihidrolisa oleh asam. Dua belas fosfat tersebut dapat dilihat pada tabel 1. Ortofosfat terdapat dalam bentuk terlarut dan partikel. Kekuatan oksidasi yang diperlukan untuk konversi tergantung pada bentuk dan jumlah dari fosfat organik yang ada. Fosfat partikel organik. g. Biasanya terdapat sedikit variasi. Ortofosfat terlarut. terlarut. fosfat total yang dapat dalam sampel dapat dipisahkan pada analisa dengan penyaringan kedalam bagian yang disaring dan partikel. terlarut dan partikel. yang tergantung pada fosfat terlarut dan tersuspensi. Total fosfat terlarut dan tidak terlarut. Total ortofosfat terlarut dan partikel c. Ortofosfat partikel. Keseluruhannya ada tiga bagian (total. Klasifikasi Fosfat Tipe Kimiawi Total Orto Yang dapat dihidolisa oleh asam.melalui filter membran Penggunaan 0. fosfat organik terdapat dalam larutan dan partikel. Organik Total a. Total fosfat terlarut . Hidrolisa dengan asam pada temperatur mendidih untuk mengubah fosfat dalam bentuk terlarut dan partikel menjadi ortofosfat yang dapat disaring. Didalam praktek.45 µm.45 µm dapat memisahkan dengan sebenarnya antara fosfat yang istilah “yang dapat disaring” (lebih baik “yang larut”) untuk tersuspensi dengan yang terlarut. Fosfat yang dapat langsung diperiksa secara kolorimetris tanpa hidrolisa pendahuluan atau perombakan secara oksidatif dan dianggap sebagai “ortofosfat”. Total fosfat partikel j. Partikel i. Tabel 1. b. tetapi faktor ini telah dikurangi seminimum mungkin (sangat sesuai untuk hidrolisa fosfat terikat) dengan bijaksana memilih kekuatan asam lebih disukai terhadap “fosfat terikat” pada teknik ini. f. Seperti ortofosfat dan fosfat dari hidrolisa asam. Sampel Tanpa penyaringan . Hidrolisa tidak dapat dihindrakan untuk membebaskan fosfat dari senyawa organik. Total fosfat terlarut yang dapat dihidrolisa h.

Suhu air Suhu air yang rendah mempunyai pengaruh terhadap efisiensi proses koagulasi. Bila suhuair diturunkan . Koagulasi dan Flokulasi 2. Derajat Keasaman (pH) .3.Gambar 1. Pola Klasifikasi Fosfat 2. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi sebagai berikut : a.1 Koagulasi Koagulasi adalah dicampurkannya koagulan dengan pengadukan secara cepat guna mendistabilisasi koloid dan solid tersuspensi yang halus. maka besarnya daerah pH yang optimum pada proses kagulasi akan berubah dan merubah pembubuhan dosis koagulan. kemudian membentuk jonjot mikro (mikro flok). b. dan masa inti partikel.3.

3.Proses koagulasi akan berjalan dengan baik bila berada pada daerah pH yang optimum. 2. 19920. Kadar ion terlarut Pengaruh ion-ion yang terlarut dalam air terhadap proses koagulasi yaitu : pengaruh anion lebih bsar daripada kation. c. Alkalinitas dalam air dapat membentuk flok dengan menghasil ion hidroksida pada reaksihidrolisa koagulan. g. kalsium dan magnesium tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap proses koagulasi. Sebaliknya pada tingkat kekeruhan air yang tinggi maka proses destabilisasi akan berlangsung cepat. sehingga semua koagulan yang dibubuhkan dapat bereaksi dengan partikel-partikel atauion-ion yang berada dalam air. Kecepatan pengadukan sangat berpengaruh terhadap pembentukan flok bila pengadukan terlalu lambat mengakibaykan lambatnyaflok terbantuk dan sebaliknya apabila pengadukan terlalu cepat berakibat pecahnya flok yang terbentuk h. 1995). f. Untuk tiap jenis koagulan mempunyai pH lainnya.2. Dengan demikian ion natrium. Dosis koagulan Untuk menghasilkan inti flok yang lain dari proses koagulasi dan flokulasi sangat tergantung dari dosis koagulasi yang dibutuhkan Bila pembubuhan koagulan sesuai dengan dosisyang dibutuhkan maka proses pembentukan inti flok akan berjalan dengan baik. Tingkat kekeruhan Pada tingkat kekeruhan yang rendahproses destibilisasi akan sukar terjadi. Tetapi apabila kondisi tersebut digunakan dosis koagulan yang rendah maka pembentukan flok kurang efektif. Alkalinitas Alkalinitas dalam air ditentukan oleh kadar asam atau basa yang terjadi dalam air (Tjokrokusumo. e. d. Ada dua jenis proses flokulasi yaitu : optimum yang berbeda satu sama . Dalam pengadukan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengadukan harus benar-benar merata. Kecepatan pengadukan Tujuan pengadukan adalah untuk mencampurkan koagulan ke dalam air. Koagulan dalam bentuk larutan lebih efektif dibanding koagulan dalam bentuk serbukatau butiran. Flokulasi Flokulasi adalah pengadukan perlahan terhadap larutan jonjot mikro yang menghasilkan jonjot besar dan kemudian mengendap secara cepat (Tjokrokusumo. Jenis Koagulan Pemilihan jenis koagulan didasarkan pada pertimbangan segi ekonomis dan daya efektivitas daripadakoagulan dalam pembentukan flok.

3 g/gm3 d. Proses pengendapan ini akan berjalan secara efektif apabila pH air antara 6 – 8 (Considine). e.K. Flokulasi orthokinetik Flokulasi orthokinetik adalah suatu proses terbentuknya flok yang diakibatkan oleh terbentuknya gerak media (air) misalnya pengadukan (Sank R. Hydrate lime siap bereaksi dengan asam dan gas sehingga tentu saja berkemampuan menetralisasi asam. Kalsium Hydrated lime memiliki tingkat kepadatan kira-kira 2. sebagian besar umumnya berwarna putih dan pada tinhkat tinggi dapat berwarna abu-abu. Hydrate lime dihasilkan dari reaksi quickime (CaO) dengan air. sehingga terbentuk Ca(OH)2. Bentuk kristal. Perubahan kecepatan dari satu titik ke titik lainnya dikeal sebagai gradien kecepatan. penggunaan dari kapur antara lain dibidang kesehatan lingkungan untuk pengolahan air kotor.7 g/l pada suhu 1000C.85 Ca(OH)2/l air pada suhu 00C sampai0. 1986). powder b. yang bersifat basa dan disertai keluarnya panas yang tinggi. Menurut Tarmiji. 2. prosesnya disebut flokulasi perikinetik. kapur dapat mengurangi kandungan bahan-bahan organik. air limbah maupun industri lainnya. b. Pada pengolahan air kotor. Netralisasi asam .K. Sifat-sifat fisik dan kimia Hydrate lime : a. CaO adalah bahan mudah larut dalam air dan menghasilkan gugus hidroksil yaitu Ca(OH)2. 1986. akan mengakibatkan terjadinya gabungan antar partikellebih sangat kecil 1 < 100 milimikron (Sank R. 1986). Cara kerjanya adalah kapur ditambahkan untuk mereaksikan alkalibikarbonat serta mengatur pH air sampai sehingga menyebabkan pengendapan.4. Dengan adanya perbedaan kecepatan aliran media cair akan mempunyai aliran kecepatan yang berbeda pula akibatnya akan terjadi tumbukan atau kontak antar partikel. Kepadatan. dengan notasi G.a. Warna. . Flokulasi perikinetik Flok yang diakibatkan oleh adanya gerak thermal (panas) yang dikenal sebagai gerak Brown. c. Pada umumnya kecepatan aliran cairan akan berubah terhadap tempat dan waktu. Kelarutan. Sifat-Sifat Kapur (lime) dan Penggunaan nya. tingkat kelarutan dari kira-kira 1. Gerak acak dari partikel-partikel koloid yang ditimbulkan karena adanya tumbuhan molekul-molekul air. Kapur (lime) secara umum terdapat dalam dua bentuk yaitu CaO dan Ca(OH)2.

mangan. karena kalsium hidroksida adalah termasuk basa kuat. Pada larutan 250C. menetralisasi keasaman.7. konsentrasi 0. Selain itu. dan lainlainnya. reaksi antara CaO dan air akan menghasilkan gugus hidroksil Ca(OH)2 yang bersifat basa dengan reaksi sebagai berikut: CaO + H2O Ca(OH)2 + heat Ca(OH)2 Ca++ + 2OH- Karena sifat-sifat kapur dapat digunakan sebagai pengendap terhadap fosfat maka reaksi yang terjadi adalah 3 Ca2+ + 2PO43Ca3 (PO4)2 Penggunaan Kapur Kapur telah diikenal sebagai bahan yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan diantaranya dipakai pada bidang-bidang industri misalnya industri kimia. memperkecil kadar silika.3 pada suhu 250C.8/l memberikan pH sebesar 12.10 g Ca(OH)2/l dapat memberi pH kira-kira 11. pertanian dan lain-lain. Contoh reaksi yang terjadi pada proses “calcination” ini apabila batuan kapur dari alam berkomposisi sebagai kombinasi dari kalsium dan Magnesium Karbonat adalah sebagai berikut: CaCO3Mg CO3 CaOMgO + 2CO2 Calcim Oxide (CaO) adalah merupakan bahan yang mudah larut dalam air dengan mengeluarkan panas yang tinggi (Highleyexotermically). Proses pengolahan air. kertas. Hasil dari proses ini antara lain adalah CaO ditambah CO2 yang keluar sebagai gas. Selain itu dapat juga mengurangi kadar BOD dengan cara menyerap antara 40% sampai 50 % bahan organik terlarut maupun tidak terlarut. pH. air kapur dapat berguna sebagai bahan penurun kesadahan. Selain CaO juga MgO serta molekul-molekul lainnya tergantung pada batuan kapur yang asli dari alam. sebagai bahan bangunan.f. . Penggunaan berbagai keperluan maka batuan kapur dari alam biasanya akan mengalami proses pembakaran terlebih dahulu yang disebut “calcination”. fluorida dan bahan-bahan organik. kandungan 1. Khusus di sektor lingkungan kapur dapat berguna dalam: a.

2. sudah dikenal bangsa Mesir pada awal tahun 2000 SM. Proses pengolahan air bekas. Reaksi tersebut antara ion Al dengan ion OH. Alum atau tawas merupakan bahan koagulan. Range pH untuk jenis koagulan alum adalah sebesar 5. Proses pengolahan buangan industri besi/baja. Kapur juga dapat dipergunakan sebagai penghilang fosfor dalam air. penyerapan bau (deodorant) dan sebagai desinfektan.79-4. Sifat-Sifat Tawas dan Penggunaan nya Persenyawaan Alumunium Sulfat (Al2(SO4)3) atau sering disebut tawas adalah suatu jenis koagulan yang sangat populer secara luas digunakan.5. Kapur dapat digunakan untuk mengurangi gas SO2 yang keluar dari pembakaran batu bara atau minyak yang mengandung sulfur yang tinggi melalui suatu proses yang disebut “wet scrubing”. yaitu terjadi proses hidrolisis. reaksi yang kan terjadi reaksi hipotik. yang sangat dipengaruhi oleh nilai pH yang bersangkutan.5 sampai 7. Alum yang dilarutkan ke dalam air akan bereaksi dengan kapur atau bahan lain seperti Soda Abu atau Natrium Bikarbonat (Na2CO3). Pada peternakan ayam.65 m2) lantai yang mengandung kotoran ayam. disini kapur berfungsi sebagai bahan koagulan. c.b.+ 4 H2O Ionisasi dai air sendiri akan terbentuk ion hidroksida sebagai berikut: . Dosis yang biasa dipakai pada peternakan ayam adalah sekitar 1 lb (0. kapur digunakan untuk menetralisir asam sulfat bebas (free sulfuric acid ) dan mengendapkan garam-garam besi yang terdapat pada limbah industri tersebut. Alum tersebut akan larut di dalam air dengan reaksi sebagai berikut: AL2(SO4)3 . karena salah satu cara penghilangan fosfor dalam air adalah pengendapan kimiawi. kapur dapat digunkan untuk mengeringkan serta mengurangi bau kotoran ayam yang berceceran di laniat kandang. Reaksi yang terjadi jika alum dimasukkan ke dalm air. mudah didapatkan di pasaran serta mudah penyimpanannya. kapur dapat befungsi antara lain dalam pengendalian keasaman digester. yang paling banyak digunkan karena bahan ini paling ekonomis 9murah). Alum atau tawas sebagai penjernih air mulai diproduksi oleh pabrik pada awal abad 1500. d. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai “geomedical” untuk mencegah parasit-parasit dan bnayak penyakit ayam.45 kg) Hydrates Lime [Ca(OH)2] pada setiap 3-5 ft2 (2. e. 14H2O 2Al3+ + 3SO42.8.

1985 ) menjelaskan bahwa: Kecepatan pertukaran kation dalam zeolit dipengaruhi oleh besar butiran zeolit.Struktur yang paling stabil adalah zeolit yang perbandingan Si dan Al nya adalah 1:1.3 . Zeolit Zeolit adalah suatu alumnosilikat yang mempunyai struktur berpori dengan saluran dalam rangka kristal. Ksp AlPO4 sebesar 6.Dengan sifat di atas maka zeolit dapat bekerja sebagai penukar ion dan sebagai penyaring melalui adsorpsi selektif atau penolakan molekul karena adanya penolakan molekul karena adanya perbedaan dalam ukuran molekul dan faktor lainnya Selanjutnya dari hasil pengujian terhadap beberapa aspek yang ada kaitannya dengan pertukaran ion pada zeolit ( Komar bersama rekan .Unit dasar pembentuk zeolit adalah SiO4 dan AlO4 yang membentuk tetra hedral. 2. yang di dalamnya ditempati oleh molekul air dan ion ion logam alkali.Perbandingan antara Si dan Al berkisar antara 1:1 sampai 100:1.10-19 .H2O H+ + OH- Kemudian terjadi reaksi antara ion Al3+ dengan ion hidroksida sebagai berikut: 2Al3+ + 6 OH2Al(OH)2 Pengikatan ion hidroksida tersebut di dalam air akan menurunkan alkalinitas air sehingga sebaiknya digunkan bahan tambahan yang dpat meningkatkan nilai alkalinitas seperti kapur.Unit unit tersebut saling berikatan membentuk jaringan anionik dalam tiga dimensi.sehingga terjadi reaksi Al3+ + PO43AlPO4 Pengendapan dapat terjadi apabila hasil kali { Al3+ }dan { PO43 -} lebih besar dari Ksp AlPO4 . .6. soda abu atau soda kaustik (Natrium Oksida) Reaksi yang terjadi: AL2(SO4)3 + 3Ca(OH)2 2Al(OH)3 + 3CaSO4 AL2(SO4)3 + 3Na2CO3 + H2O 2Al(OH)3 + 3Na2SO4 + 3CO2 Oleh karena tawas /alum mempunyai sifat koagulan dalam larutan maka bila tawas bersenyawa dengan limbah yang mengandung unsur fosfat . Dengan demikian supaya terjadi pengendapan hasil kali konsentrasi yang bereaksi harus lebih besar dari pada Ksp nya.

yaitu material seperti zeolit tetapi bukan senyawa alumino-silikat. gypsum. Hal itu menjadikan zeolit dengan warna dan tekstur yang sama mungkin berbeda komposisi kimianya bila diambil dari lokasi yang berbeda disebabkan karena kombinasi mineral yang berupa partikel halus dengan impurities lainnya. feldspar dan kuarsa dan ditemukan di daerah sekitar gunung berapi atau mengendap pada daerah sumber air panas (hot spiring). Ion-ion logam tersebut dapat diganti oleh kation lain tanpa merusak struktur zeolit dan dapat menyerap air secara reversible. Pemanfaatan zeolit masih belum banyak diketahui secara luas. filipsit. Struktur kristal zeolit dimana semua atom Si dan Al dalam bentuk tetrahedral (TO4) disebut unit bangun primer.- Zeolit yang diaktifkan maupun yang tidak diaktifkan menyerap ion amonium dari air buangan lebih kecil dari pada larutan NH4Cl. zeolit hanya dapat diidentifikasi berdasarkan unit bangun sekunder. Berdasarkan UBS semua zeolit baik dalam bentuk alami atau sintetik.Zeolit juga ditemukan sebagai batuan endapan pada bagian tanah jenis basalt dan komposisi kimianya tergantung pada kondisi hidrotermal lingkungan lokal. zeolit merupakan mineral yang terdiri dari kristal alumino silikat terhidrasi yang mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam kerangka tiga dimensi.Zeolit biasanya ditulis dengan rumus kimia oksida atau berdasarkan satuan sel kristal. Y. grup ZSM/AlPO4 (Zeolite Sielving Marerials/Aluminium Fosfate) dan bahkan akhir-akhir ini dikenal grup zeotip. Pada tahun 1954 zeolit diklasifikasi sebagai golongan mineral tersendiri. kabarsit dan erionit. mordernit. melainkan harus dianalisa strukturnya. meskipun yang mempunyai nilai komersial ada sekitar 12 jenis. K+ dan lain-lain. Pada saat ini dikenal sekitar 40 jenis zeolit alam. Dengan demikian. - Kapasitas penyerap zeolit akan bertambah dengan bertambah nya berat zeolit. Mineral alam zeolit biasanya masih tercampur dengan mineral lainnya seperti kalsit. seperti suhu. X. Hal ini dikarenakan dalam air buangan zeolit selain menyerap ion amonium juga menyerapion ion lain seperti Ag+. Mineral zeolit telah dikenal sejak tahun 1756 oleh Cronstedt ketika menemukan Stilbit yang bila dipanaskan seperti batuan mendidih (boiling stone) karena dehindrasi molekul air yang dikandungnya. tekanan uap air setempat dan komposisi air tanah lokasi kejadiannya. ICI dan mobil Oil dan lebih dari 100 jenis telah dikenal strukturnya antara lain zeolit A. diantaranya klinoptilolit. Zeolit sintetik dihasilkan dari beberapa perusahaan seperti Union Carbide. Zeolit tidak dapat diidentifikasi hanya berdasarkan analisa komposisi kimianya saja. yang pada saat ini zeolit di Indonesia dipasarkan masih dalam bemtuk alam terutama pada pemupukan bidang pertanian. yang saat itu dikenal sebagai molecular materials. Kemampuan pertukaran ion (adakalanya dengan istilah kemampuan penyerapan ion atau sorpsi) zeolit merupakan parameter utama dalam menentukan kualitas zeolit yang akan .

biasanya dikenal sebagai KTK (Kemampuan Tukar Kation). Dehidrasi. 2. Ion-ion ini dapat bergerak bebas sehingga pertukaran ion yang terjadi tergantung dari ukuran dan muatan maupun jenis zeolitnya. sifat adsorbsi dan aktifitas katalis.6.50 meq/g) dan vermikulit (11. Zeolit dengan struktur “framework” mempunyai luas permukaan yang besar dan mempunyai saluran yang dapat menyaring ion/molekul. penyerap bahan dan katalisator. Sifat zeolit meliput i : 1. seperti kaolinit (0. Oleh karena itu zeolit dapat dimanfaatkan sebagai : penyaring molekuler. Bila atom Al dinetralisir dengan ion polivalen. dimana untuk molekul yang tidak jenuh atau bersifat polar akan lebih mudah lolos daripada molekul yang jenuh atau tidak polar.1 Sifat Zeolit Zeolit mempunyai struktur berongga dan biasanya rongga ini diisi oleh air dan kation yang bisa dipertukarkan serta memilki ukuran pori yang tertentu. Adsorbsi Zeolit juga mampu memisahkan molekul zat berdasarkan ukuran dan kepolarannya. penukar ion. Penukar ion Ion-ion pada rongga atau kerangka elektrolit berguna untuk menjaga kenetralan zeolit.03-0.digunakan. Zeolit dapat melepaskan molekul air dari dalam rongga permukaan yang menyebabkan medan listrik meluas ke dalam ronggs utama dan akan efektif terinteraksi dengan molekul yang akan diabsorbsi. bentonit (0. Sifat sebagai penukar ion dari zeolit antara lain tergantung dari : sifat kation. dan jenis anion.50 meq/g). KTK dari zeolit bervariasi dari 1. zeolit dapat berfungsi sebagai katalis yang banyak digunakan pada reaksi petrokimia. Cu dsb. yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan KTK batuan lempung. Nilai KTK zeolit ini banyak bergantung pada jumlah atom Al dalam struktur zeolit.80-1. 2. suhu. KTK adalah jumlah meq ion logam yang dapat diserap maksimum oleh 1 g zeolit dalam kondisi kesetimbangan. Katalis Zeolit merupakan katalisator yang baik karena mempunyai pori-pori yang besar dengan permukaan yang maksimum. misalnya logam Pt. Penukaran kation dapat menyebabkan perubahan beberapa sifat zeolit seperti stabilitas terhadap panas. Sifat dehidrasi dari zeolit akan berpengaruh terhadap sifat adsorpsinya. Jumlah molekul air sesuai dengan jumlah pori-pori atau volume ruang hampa yang akan terbentuk bila unit sel kristal zeolit terus dipanaskan. 3.15 meq/g). .5 – 6 meq/g. 4.

volume pori 74. Analisis lebih lanjut terhadap zeolit alam Wonosari menunjukkan bahwa zeolit mempunyai rasio Si/Al 4. 2.2. Dari jumlah tersebut hanya 20 jenis yang terdapat dalam batuan sedimen terutama sedimen piroklastik yang berbutir halus (tuf) Komposisi dan struktur zeolit kebanyakan terdiri dari mineral mordernit dan klinoptillit. daya tukar ion maupun daya katalis dari zeolit tersebut belum maksimal.5. Klasifikasi zeolit Zeolit Grup Analsim Analsim Wairakit Grup Natrolit Natrolit Thomsonit Grup Heulandit Na16[Al16Si24O31]6H2O Na16 Ca8 [Al20Si24O80]24H2O T5O10 (4-1) T5O10 Na16[Al16Si31O96]6H2O Ca16[Al16Si31O96]6H2O S4R S4R Rumus Kimia UBS . 2. Zeolit Alam Zeolit alam terbentuk karena adanya proses perubahan alam (zeolitisasi) dari batuan vulkanik tuf.34 %.6. Tabel 2. Telah diketahui lebih dari 40 jenis mineral zeolit di alam.39 mmol/g. K. Molekul ynag berukuran kecil dapat melintas sedangkan yang berukuran besar dari ruang hampa akan ditahan atau ditolak. Jenis Zeolit Menurut proses pembentukannya zeolit dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu : 1. aktivasi dan modifikasi.13 m2/g. Untuk memperoleh zeolit dengan kemapuan yang tinggi diperlukan beberapa perlakuan antara lain.04 %. Penyaring atau pemisah Volume dan ukuran garis tengah ruang hampa dalam kisi-kisi kristal menjadi dasar kemampuan zeolit untuk bertindak sebagai penyaring molekul.25 x 10-3 cc/g.29 %. Akan tetapi daya serap. keasaman sebesar 2. Dari uji pendahuluan terhadap zeoiit alam Wonosari dengan menggunakan difraksi sinar x diketahui bahwa sebagian besar penyusunnya adalah mordernit.75. Ca dan Fe masing-masing sebesar 4. 1. Zeolit yang diperoleh dari alam telah dapat digunakan untuk berbagai keperluan. luas permukaan 24.54 dan memilki kandungan logam Na.39 5 dan 1. rerata jejari pori 60.

atau mengumpulkan tungku putar dengan pemanasan secara penghamparan selama 3 jam atau tanpa penghamparan selama 5-6 jam (skala besar). Zeolit yang dipanaskan pada temperatur tinggi menyebabkan molekul air yang ada dalam zeolit mengalami dehidrasi. S6R. S8R S4R. a. S8R 5 –1 S4R. D6R D4R.5 [Al16Si10O32]12H2O Na8 [Al31SiO16]16H2O Na8 [Al8Si40O96]24H2O NaCa0. S6R. S6R Proses aktivasi zeolit alam dapat dilakukan dalam 2 cara yaitu secara fisis dan kimiawi. Pemanasan dilakukan dalam oven biasa pada suhu 300-400 0C (untuk skala laboratorium). D6R S4R. Pemanasan modernit pada suhu 300 0C –1000 0C menyebabkan destruksi struktur kristal. Sifat dehidrasi zeolit ini berpengaruh terhadap sifat adsorbsinya.Heulandit Klinoptilolit Grup Filipsit Filipsit Zeolit Na-P-1 Grup Mordernit Mordernit Ferrierit Grup Kabazit Kabazit Zeolit L Grup Faujasit Faujasit Zeolit A Grup Laumontit Laumontit Grup Pentasil ZSM-5 Grup Zeotype AlPO4-5 Ca4 [Al8Si28O72]24H2O Na6 [Al6Si30O72]24H2O K2 Ca1. . sehingga luas permukaan poripori bertambah. Aktivasi Fisis Aktivasi fisis biasanya dilakukan dengan pemanasan yang bertujuan untuk menguapkan air yang terperangkap tinggi dalam pori-pori kristal zeolit. kandungan modernit berkurang hampir 25 % pada suhu 700 0C.5 Mg2 [Al6Si30O72]24H2O Ca2 [Al4Si8O24]13H2O K6 Na3 [Al9Si27O72]21H2O Na12 Ca12 Mg11 [Al58Si134O384]235H2O Na12 [Al12Si12O48]27H2O Ca4 [Al8Si16O46]16H2O NaN [AlnSi96O192]16H2O [Al12P2O48] (C3H7)4NaOH q H2O T10O20 (4-4-1) T10O20 S4R S4R T8O16 (5-1) T8O16 D4R.

yaitu zeolit kadar Si rendah. Dealuminasi dapat digunkan untuk mengontrol aktivasi keasaman dan untuk mengontrol ukuran poripori zeolit. Penggunaan zeolit sintetis pada dasarnya sama dengan zeolit alam. maka para peneliti berupaya untuk membuat zeolit sintetis yang mempunyai sifat khusus sesuai dengan keperluannya. dan mengatur kembali letak atom yang dapat dipertukarkan. zeolit kadar Si sedang. Sangat terbatas. Zeolit Sintetis Zeolit mempunyai sifat yang unik yaitu susunan atom maupun komposisinya dapat dimodifikasikan. HNO3. alam terdiri dari terutama campuran besi. Aktivasi zeolit dengan asam menyebabkan ternetralisasinya muatan negatif pada permukaan zeolit hidrogen. dibuat mineral zeolit berderajat kemurnian . Mineral zeolit sintetis masing-masing mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Berdasarkan perbandingan kadar komponen Si and Al. Aktivasi secara kimia dilakukan dengan larutan asam atau basa. Asam-asam yang dapat digunakan untuk aktivasi adalah HCl4. Ini karena persamaan sifat fisik dan kimia yang dimiliki oleh kedua jenis mineral tersebut. yang terbesar Garis tengah pori hanya terdapat pada mineral khabasit dan erionit Dapat dibuat mineral zeolit yang ruang kosong bergaris tengah Mineral zeolit Sintetis Dapat sintetis tinggi. Aktivasi Kimiawi Pada aktivasi kimia. Perbedaan Mineral alam dan zeolit sintetik Macam Perbedaan Derajat Kemurnian Mineral Zeolit Alam Umumnya banyak mengandung pengotor. Hal ini sangat penting terutama berhubungan dengan fungsi zeolit sebagai adsorben. Atom-atom Al yang masih tersisa dalam zeolit masih terkoordinasi dalam rangkaian tetrahedaral dengan empat atom oksigen. zeolit kadar Si tinggi dan zeolit Si. membuang senyawa pengotor. dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori. H2SO4.b.Kebanyakan endapan zeolit beberapa jenis mineral zeolit. dan H3PO4. Tabel 3. zeolit sintetis dikelompokkan menjadi empat. Diantara asam-asam tersebut yang paling efektif untuk dealuminasi adalah HCl. Perbedaan utama antara kedua jenis mineral zeolit alam dan sintetis . dealuminasi adalah yang paling penting dan dominan. 2.

Selanjutnya zeolit direndam NH4Cl konsentrasi 0.00 N (perbandingan b/v 1:2) sambil dipanaskan sampai agak kering .7. kemudian dicuci sampai netral dan dikeringkan pada suhu 120 0C selama 3 jam.00 M selama satu minggu sambil diaduk 3 kali sehari.05 M. dicici sampai netral dan dikeringkan pada suhu 130 0 C selama 3 jam.00 M.50 M. dan 2. tawas dan filtrasi zeolit belum pernah dilakukan. Zeolit ini kemudian dikalsinasi pada variasi suhu 300 0C. Zeolit selanjutnya dipanaskan dengan HCl pada konsentrasi 0.lalu disaring dan dikeringkan pada suhu 110 0C selama 3 jam. 1987 2. khabasit Daya Serap hanya dan erionit mineral yang dari 3 A hingga 8 A Dapat menyerap hingga 50 % dari volumunya. dinetralkan dan dikeringkan pada suhu 130 0C selama 3 jam.00 M pada suhu 90 0C selama 60 menit. Kemudian zeolit disaring. BAB III . 0. Zeolit kemudian direndam dengan HF 2. 1. sambil diaduk dengan pengaduk magnetik.Terbatas. dan 500 0C selama 5 jam. Originalitas Penelitian Penelitian tentang penurunan fosfat dengan kapur (lime). 0. lalu disaring.3 Aktivasi Zeolit Zeolit alam direndam dengan akuades selam 24 jam. 2.10 M.00 M DAN 2.. 400 0C.6.50 M. 1. mempunyai daya serap baik Sumber : Harjanto.

METODE PENELITIAN 3. Sample air limbah Kapur Aduk Tawas Endapan Pemisahan Periksa PO4 Filtrasi Zeolit Periksa PO4 Hasil Filtrasi Gambar 2. Rancangan Penelitian 3. Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini merupakan “Penelitian Eksperimen” dengan “design pre test and post test design “yang hasil akan diuji secara diskriptif analitis dengan korelasi.1.2 Ruang Lingkup .

Kualitas limbah cair RS Bethesda sangat fluktuatif.4 Variabel Penelitian a. 3. 3.1 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari bahan untuk pengolahan dan bahan atau reagen untuk pemeriksaan parameter pencemar terdiri dari: Bahan untuk Pengolahan 1.6. c.kadar ion terlarut. sehingga waktu pengambilan sampel perlu diperhatikan agar mendapatkan kualitas yang sama pada setiap perlakuan.3 Lokasi Penelitian Lokasi Penelitian yang dipilih yaitu limbah cair Rumah Sakit Bethesda dan uji laboratorium dilaksanakan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pembrantasan penyakit menular (BBTKL-PPM) Yogyakarta. Air limbah RS Bethesda . kemurnian tawas. Variabel pengganggu Waktu kontak. proses pengadukan. Variabel bebas Dosis pemakaian bahan kimia larutan kapur dan tawas.suhu limbah . kemurnian kapur tohor. yang berbeda pada sampel perlakuan akan mengganggu proses pengendapan begitu pula dengan kemurnian kapur tohor dan kemurnian tawas serta proses pengadukan pada saat perlakuan apabila tidak dikendalikan / tidak disamakan pada setiap perlakuan akan didapatkan hasil tidak seperi yang diharapkan.5 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam analisis berupa data kuantitatif yang diperoleh dari perlakuan di lapangan dan pengamatan percobaan di laboratorium. 3.6 Instrumen Penelitian 3.kekeruhan. Variabel terikat Parameter yang diperiksa pada limbah cair adalah fosfat masing-masing pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/ pengolahan. sehingga perlu adanya pengendalian terhadap variabel-variabel tersebut diatas agar penelitian ini mendapatkan hasil yang dapat dipertanggung jawabkan. 3.Meliputi semua limbah cair yang dihasilkan dari seluruh kegiatan Rumah Sakit Bethesda. b. Parameter pH. waktu pengambilan sampel.

Pipet ukur 7. Mixing Flokulator 11. Standart fosfat 0. Timbangan Sartorius 5. Labu erlenmeyer 4. Tabung nessler 9.1 ppm 4.1 ppm 3. Amonium Molibdat 10.3 Tahapan Persiapan 1. Larutan tawas 0.6. Zeolit 3. Karet penghisap 3. Air suling 16.6. Persiapan bahan dan alat serta pembuatan rangkaian dengan stop kran .2. Larutan kapur 0. Labu ukur 2. SnCl2 7. Larutan standar EDTA 0. Beker glass 3. Larutan Buffer pH 10 11.2 Alat Alat Pengolahan 1. alat filtrasi yang dilengkapi . Indikator PP 5. NaOH 1 N 14. Indikator Phenol Red 9. H2SO4 4 N 6. Cuvet 12.01 ppm 8. Pipet tetes 6. Larutan pH 4 12. Indikator Murexid 15.01 M 13. pH meter 8. Buret tetes 13. Spektofotometer 10.

0010 ppm yang akan digunakan sebagai bahan pengolahan . 3. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode grab sampling (sesaat) selama periode tertentu.0015 ppm.1 Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan pada bak penampung awal karena sudah mewakili semua limbah cair Rumah Sakit tersebut .00075 ppm ml. 0.00125 ppm.0025 ppm.00100 ppm . Siapkan deretan beaker glass sebanyak 3 buah masing-masing volume 1000 ml. 7.00150 ppm dan 0.0020 ppm. Siapkan sampel limbah cair asli sebelum diolah kemudian diperiksa pH. 0. 9. 3.2 Periode pengambilan sampel Pengambilan sampel diusahakan sekali dalam jumlah yang dibutuhkan agar homogenitas. diamkan selama 15 menit agar terjadi pengendapan. 4. Penyiapan larutan kapur 0.6. dan 0. aduk lambat selama 5 menit. Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan zeolit terhadap filtrat tersebut 10.00050 ppm. Membuat larutan-larutan siap pakai untuk pemeriksaan parameter fosfat.3 Pemeriksaan Sampel . Isi beaker glass tersebut dengan limbah asli masing-masing sebanyak 800 ml. fosfat setelah koagulasi tersebut.7.0010 ppm dan tawas 0. kemudian diberi nomor 1 s/d 3. 0. 3. detergen dan fosfat 2.7 Teknik Pengambilan Sampel 3. Pisahkan filtrat dari endapan.0010 ppm dengan volume berturutturut 0. 3. 0.4 Pelaksanaan Penelitian 1. Periksa filtrat masing-masing beker glass parameter pH. Masing-masing beker glass ditambahkan larutan tawas yaitu 0.7. 0.2. Aduk cepat masing-masing selama 3 menit. Ulangi prosedur 4 s/d 10 dengan variasi kapur 0.7. 5. 8.kuantitas dan kualitas sampel tetap terjaga. Tambahkan larutan kapur pada masing-masing beker glass volume 1 ml. 3.00200 ppm. 3. 6.

Teknik Analisa Data Perhitungan statistik untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini menggunakan uji Regresi Linier Sederhana. Koefisien determinasi diperoleh dari mengkalikan koefisien korelasi Pearson atau biasa disebut Pearson Product Moment. 3. Nilai yang mendekati satu berarti variabel- . hubungan antara kedua variabel disebut analisis regresi sederhana. Parameter limbah cair yang dianalisis adalah fosfat pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/pengolahan.Semua sampel diperiksa berdasarkan metode baku standard Method for examination. Rumusan matematisnya adalah sebagai berikut : R= n(ΣXY ) − (ΣX )(ΣY ) nΣX 2 − (ΣX ) 2 nΣY 2 − (ΣY ) 2 = Koefisien korelasi (Pearson Correlation) = variabel penambahan kapur = variabel kadar fosfat = jumlah sampel Dimana : R X Y n Nilai koefisien determinasi (R2) yang kecil berarti kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat sangat terbatas. Persamaan matematik yang memungkinkan untuk meramalkan nilai-nilai satu atau lebih peubah acak bebas disebut persamaan regresi. Bentuk matematisnya adalah sebagai berikut : Y = a . 3. yang disimbolkan dengan huruf R.9. Xb Dimana : Y X a b = Variabel terikat = variabel bebas = titik potong (intercept) = koefisien regresi (elastisitas/slope) Koefisien determinasi pada intinya adalah untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat. Maksud dari hubungan regresi yaitu untuk mengetahui suatu variabel dapat dipergunakan untuk memprediksi atau meramal variabelvariabel lain. Jika suatu variabel tak bebas (dependent variable) tergantung pada satu variabel bebas (independent variable). selanjutnya data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.8 Teknik Pengumpulan Data Data yang diperoleh dari hasil penelitian dikelompokkan agar memudahkan dalam analisis. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu.

2. maka Ho diterima 2. Bila probabilitas F > 0. maka Ho ditolak atau Ha diterima BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. maka Ho ditolak atau Ha diterima. Bila Fhitung < Ftabel.05. Uji F Untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Sampel diambil di bak equalisasi dengan tujuan untuk mencari kadar Fosfat yang mewakili seluruh aliran limbah cair.05. Atau 1. berdasarkan pemeriksaan kadar Fosfate selama 24 jam pada inlet dan pada bak kontak. Sedangkan waktu pengambilan sampel dilakukan pada jam 09. artinya tidak ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Karena pada jam . maka digunakan uji F.00 Wib. artinya ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Bila probabilitas F < 0. maka Ho diterima. Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur prosentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dilihat dengan rumus R2 x 100%. Bila Fhitung > Ftabel.variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel terikat. Fhitung = ( R2 / k 1 − R 2 / (n − k − 1) ) Keterangan: R2 k n = = = Koefisien determinan Banyaknya perubahan bebas Jumlah data Dasar Pengambilan Keputusan 1. Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian mengenai efektifitas dosis dengan menggunakan campuran kapur tohor [Ca(OH)2] dan tawas [Al2(SO4)3] serta filtrasi zeolit terhadap penurunan kadar Fosfat air limbah RS Bethesda Yogyakarta telah dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2005.

0015 Kapur (ppm) 0.06 0.0025 Bethesda Yogyakarta Pada tabel 5 terlihat semakin tinggi larutan tawas 0.53 mg/l.15 1. 1 2 Parameter pH PO4- Satuan mg/l Keterangan Sumber: Data Primer 2005 Dari hasil pengukuran diatas.49 1.29 1.17 1.53 0.tersebut kadar Fosfat limbah cair RS Bethesda Yogyakarta pada bak equalisasi adalah yang tertinggi.21 1.4.66 1.37 1.melebihi yang ditentukan. berikut: Tabel 5.56 1. Hasil pengukuran kadar limbah RS Bethesda pada bak equalisasi secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4.1 ppm dan larutan kapur 0.81 1.00200 Sumber: Data Primer 2005 2.62 1.00075 0.0020 0.06 0. Hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dilihat pada gambar 3.82 1.5 dan 6 berikut: .6404 No.00150 0. Keadaan Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Sebelum Pengolahan (Asli) No.00050 0. Pada penambahan larutan kapur 0.0020 ppm dan tawas 0.19 1.5 25.1 ppm yang ditambahkan.62 1. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Setelah Koagulasi/Flokulasi Tawas (ppm) 0. Selanjutnya limbah yang diambil di bak equalisasi tersebut dilakukan pengolahan dengan cara koagulasi dan flokulasi.22 0.00125 0. hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 5.00100 0.Lab / Hasil Analisa 56 7.0025 ppm memberikan hasil fosfat terbaik yaitu sebesar 0. maka parameter PO4.96 0. berikut: Tabel 4.maka kadar fosfat semakin menurun.

00 0.0015 ppm 2.00 2.00 0 0.0005 0.0055x-0.6999 Kapur (ppm) Gambar 4.001 0.5 0 0 0.5 Fosfat (ppm) 2 1.5 1 0.002 0.50 0.951 0.0097x R2 = 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.0025 Kapur (ppm) Gambar 3.0015 0.3.50 1.0005 0.0015 0.50 2.00 1.8 R2 = 0.002 0.001 Fosfat (ppm) y = 0.0025 y = 0.0020 ppm .961 -0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.

00100 0.00075 0.98 0.64 0.66 Sumber: Data Primer 2005 .32 1.0015 ppm.0020 ppm dan 0.0025 ppm 3 Fosfat (ppm) 2 1 0 0 0.002 0.0020 Tawas 0.0015 Tawas 0.0061x R2 = 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.0005 0.002 0.01 mg/ml Kapur 0.90 1.0015 0.985 -0.28 0.00150 0.00200 0.30 0.0025 y = 0.0015 0.5 0 0 0.01 1.00 0.0015 1. tawas 0.00125 0.0020 1.001 0.18 1.0025 Gambar 6.0005 0.01 mg/ml 0.23 1.78 0.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi Pada Penambahan tawas 0.06 0.03 0.70 0.06 1.001 0.26 1.0025 Kapur (ppm) Tawas 0.81 0.2 Fosfat (ppm) 1.5 1 0.0025 1.0025 ppm Selanjutnya limbah hasil perlakuan koagulasi dan flokukasi dilewatkan pada unit filtrasi zeolit diperoleh hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut: Tabel 6.00050 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Tawas 0.7557 Kapur (ppm) Gambar 5.

6708 R2 = 0.0025 y = 0.0025 ppm.002 0.0015 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.5 0 0 0.5 1 0. 0. 0.0016x -0.1 ppm.958 Kapur (ppm) Gambar 8.Dari tabel 6. Secara empiris.001 0.9147 2 R = 0.hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan pembubuhan larutan kapurdan larutan tawas setelah filtrasi zeolit dapat dilihat pada gambar 7.5 0 0 0.0025 y = 0. terlihat semakin tinggi larutan kapur dan larutan tawas yang ditambahkan .0015 0.1 ppm.8.0005 0.001 0.0020 ppm . 9 dan 10.011x -0.dan tawas 0.5 1 0. berikut: 2 Fosfat (ppm) 1.0005 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.0015 0.801 Kapur (ppm) Gambar 7.002 0.maka kadar fosfat setelah filtrasi zeolit semakin kecil nilai fosfat optimal dicapai pada penambahan larutan kapur 0.0020 ppm . Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.

002 0. dan filtarasi zeolit sangat berpengaruh dalam menurunkan kadar Fosfat. Biaya 2.0025 y = 0.0012x -0.0015 0. kapur.5 1 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0. ferrichlorida atau ferrous sulfat. Dari beberapa referensi bahwa keberadaan Fosfat dalam air limbah dapat diturunkan dengan jalan pengendapan secara kimiawi. Senyawa-senyawa Fosfate dapat dihilangkan dengan penambahan bahan koagulan misalnya alum.5 1 0.2. Pada penelitian ini pemakaian dosis kapur.2 Fosfat (ppm) 1.0015 0.0015 Taw as 0.0025 Kapur (ppm) Taw as 0.001 0.0025 Gambar 10. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi 4.5 0 0 0.0020 Taw as 0. Pembahasan Limbah cair di lingkungan RS Bethesda Yogyakarta dilakukan pengolahan dengan menggunakan sistem aerob dan anerob. tawas.001 0.0005 0. Efektifitas bahan kimia .0005 0.002 0.5 0 0 0. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan kimia sebagai penghilang Fosfat adalah sebagai berikut: 1.0025 ppm Fosfat (ppm) 2 1.980 Kapur (ppm) Gambar 9.9343 R2 = 0.

0020 ppm. tapi juga aman terhadap lingkungan.8047 Gambar 4 dengan persamaan empiris y = 0. PO43-. dan mudah didapatkan di pasaran. Dosis dan perlengkapan untuk pengadukan 6. Kesesuaian dengan proses pengolahan lain 5. belum melalui perlakuan pengolahan sama sekali.6999 Gambar 5 dengan persamaan empiris y = 0.3. Hasil analisa No lab 56 menunjukkan hasil pH = 7.0097x-0. Selanjutnya limbah dari Bak Equalisasi dikategorikan sebagai limbah asli. Pembentukan flok akan berjalan baik pada range pH 5.00 pagi saat fluktuasi kualitas terjadi. Limbah cair RS Bethesda yang digunakan sebagai bahan untuk penelitian penurunan kadar fosfat diambil pada Bak Equalisasi dengan pertimbangan limbah tersebut sudah merupakan gabungan dari semua sumber limbah yang dihasilkan. Limbah asli diambil dalam jumlah yang cukup pada jam 09. Pengaruh penambahan kapur akan menaikkan diluar pH tersebut maka pembentukan flok sempurna. karena proses pembentukan flok pada proses koagulasi sangat dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia seperti kondisi pengadukan. maka kami pilih kapur dan tawas sebagai bahan koagulan.6404 mg/l. Limbah asli dianalisa di laboratorium dengan parameter pH.0061x-0.7557 Dimana : x = penambahan kapur (ml) Y = penurunan kadar fosfat (mg/l) Secara keseluruhan hasil pemeriksaan kadar fosfat dengan koagulasi dan flokulasi pada konsentrasi tawas 0. kualitas dan kuantitas limbahnya serba sama.0025 ppm ditunjukkan pada Gambar 6. 0. alkalinitas. Perpaduan dari dua jenis koagulan. dan 0.awal = 25. dengan pertimbangan keduanya akan saling mengkoreksi pH. sedangkan konsentrasi PO43.0015 ppm.0055x-0. karena disamping harganya relatif murah.9 memenuhi syarat. pH. Pertimbangan lumpur yang dihasilkan 4. tidak memenuhi baku mutu. suhu. Dari hasil koagulasi / flokulasi pada Tabel 4 terlihat kecenderungan penurunan fosfat yang terjadi sebanding dengan penambahan kapur yang ditunjukkan pada : Gambar 3 dengan persamaan empiris y = 0. Efek terhadap lingkungan Dari beberapa pertimbangan diatas.4 . pH dan bereaksi dengan bikarbonat membentuk CaCO3 sebagai basa.8-7.5 Baku Mutu pH = 6 . kekeruhan. Pada Bak Equalisasi.

nilai P semua variasi di atas 0.Berdasarkan hasil pengukuran terhadap limbah asli tersebut.0020 ppm. diperoleh nilai R2 semua di atas 0.0025 ppm setelah filtrasi adalah yang paling efektif.0025 ppm. Hasil penurunan dengan filtrasi zeolit secara keseluruhan terlihat pada Tabel 6 dan Gambar 7. Jika dilihat dari uji statistik pendistribusian data dengan uji Kolmogorov Smirnov.05 maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini berdistribusi normal. dimana konsentrasinya fosfatnya melebihi baku mutu yang ditetapkan.70 – 1.0020 ppm. 0. 9 dan 10.8047 pada penambahan tawas 0.0015 ppm.0055 0.0025 ppm. Pada proses koagulasi dan flokulasi kadar fosfat (PO43-) diharapkan mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan penambahan larutan kapur dan tawas menjadi endapan Ca3 (PO4)2 ↓ dan Al (PO4) ↓.0025 ppm. yaitu 0.990 pada konsentrasi penambahan tawas 0. dan 0. Diharapkan pada proses filtrasi ini terjadi pemisahan yang lebih sempurna dari flocculant terhadap cairannya. Selanjutnya dicari nilai R dari variasi tawas 0. jadi dapat disimpulkan penurunan kadar fosfat pada penambahan tawas 0.0020 ppm dan formula y = 0.0016 x-0.0061 x-0.0025 ppm adalah yang paling efektif.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat paling efektif. diperoleh nilai p value pada masing-masing sampel lebih besar dari 0.0015 ppm.70 dimana nilai R antara 0. dan 0. 5.9147 pada penambahan tawas x-0.0025 ppm. Semua flok yang terbentuk tidak ada lagi yang terikat pada cairan limbah terolah. x-0. Penurunan PO4 secara rinci terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 3.0015 ppm. formula y = 0. maka perlu dilakukan penelitian penurunan kadar fosfat dengan koagulasi-flokulasi dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan zeolit.0012 x-0. didapat nilai R2 tertinggi. 0. 4. 8. Maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini terdistribusi normal. Ternyata diperoleh dari data statistik variasi penambahan tawas 0. Jika ditinjau dari uji statistik. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula y = 0.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat. sedangkan dari uji korelasi atau uji kekuatan hubungan antara dua variabel diperoleh nilai R2 di atas 0.70. 0.9343 pada penambahan tawas 0. dimana nilai R2 antara 0.7557 pada penambahan tawas 0.011 0. dan formula y = 0.0025 ppm.0097 x-0. maka diperoleh hasil dari masing-masing variasi tawas. Dari hasil analisa data setelah filtrasi. dan 6.6999 pada penambahan tawas . formula y = 0. Pada penurunan fosfat yang dilakukan dengan filtrasi zeolit setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi terlihat kadar fosfat cenderung mengalami penurunan lagi.992.05.6708 pada penambahan tawas 0.0025 ppm adalah yang tertinggi dengan nilai R = 0.0020 ppm.0015 ppm. Jadi dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar fosfat pada konsentrasi penambahan tawas 0. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula : y = 0. sedangkan dari uji regresi .70 – 1.

394 193.5% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.985 F hitung 78.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0. Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi No.7086 7.7086 Keterangan 95. Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi No.0025 ppm R2 0.735 260.0015 ppm 0.8% pengaruh kapur 98.1% pengaruh kapur 95. kapur berpengaruh sebesar 98.0025 ppm. df2 = 4) 7. Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian mengenai efektifitas dosis dengan menggunakan campuran kapur tohor [Ca(OH)2] dan tawas [Al2(SO4)3] serta filtrasi zeolit terhadap penurunan kadar Fosfat air limbah .951 0. Tabel 8. 1 2 3 Tawas 0.1% pengaruh kapur 98.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat.980 F hitung 16.795 F tabel (df1 = 1.7086 7.7086 7.0% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.7086 Keterangan 80.061 90. 1 2 3 Tawas 0.3.0% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0. kapur berpengaruh sebesar 98.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.7086 7.958 0.0020 ppm 0.1% pengaruh kapur 96.5% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0. df2 = 4) 7. Analisa Data Tabel 7.0020 ppm 0.801 0.0025 ppm R2 0.271 99.3.4.0025 ppm.961 0.0015 ppm 0.784 F tabel (df1 = 1.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.

Sampel diambil di bak equalisasi dengan tujuan untuk mencari kadar Fosfat yang mewakili seluruh aliran limbah cair.17 1.5 25.53 0.Lab / Hasil Analisa 56 7.62 1.melebihi yang ditentukan.00200 Sumber: Data Primer 2005 2.0015 Kapur (ppm) 0.56 1. maka parameter PO4.RS Bethesda Yogyakarta telah dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2005. Karena pada jam tersebut kadar Fosfat limbah cair RS Bethesda Yogyakarta pada bak equalisasi adalah yang tertinggi.21 1.22 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Tawas (ppm) 0.00050 0.00 Wib.81 1.82 1.37 1.00150 0.66 1.96 0. Selanjutnya limbah yang diambil di bak equalisasi tersebut dilakukan pengolahan dengan cara koagulasi dan flokulasi. Keadaan Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Sebelum Pengolahan (Asli) No.29 1.0020 0.19 1. hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 5. berikut: Tabel 5.06 0.00100 0. berdasarkan pemeriksaan kadar Fosfate selama 24 jam pada inlet dan pada bak kontak.15 1. Hasil pengukuran kadar limbah RS Bethesda pada bak equalisasi secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4. Sedangkan waktu pengambilan sampel dilakukan pada jam 09.62 1. berikut: Tabel 4.0025 .06 0.6404 Keterangan Sumber: Data Primer 2005 Dari hasil pengukuran diatas.49 1. 1 2 Parameter pH PO4Satuan mg/l No.00075 0.00125 0.

maka kadar fosfat semakin menurun.0015 0.0025 y = 0.001 0.0025 Kapur (ppm) Gambar 3.0015 ppm 2.50 1.50 0.0055x-0.002 0. Hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dilihat pada gambar 3.00 0.1 ppm yang ditambahkan.0097x R2 = 0.5 0 0 0.951 2 0.Pada tabel 5 terlihat semakin tinggi larutan tawas 0.5 Fosfat (ppm) 2 1. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.5 1 0.00 0 0.5 dan 6 berikut: 3.53 mg/l.6999 Kapur (ppm) Gambar 4.002 0. Pada penambahan larutan kapur 0.00 1.1 ppm dan larutan kapur 0.0020 ppm .0025 ppm memberikan hasil fosfat terbaik yaitu sebesar 0.0020 ppm dan tawas 0.0015 0.00 2. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.8 R = 0.4.0005 0.961 -0.50 2.0005 0.001 Fosfat (ppm) y = 0.

06 1.18 1.0020 Tawas 0.90 1.0025 Gambar 6.7557 Kapur (ppm) Gambar 5.0005 0.0025 y = 0. tawas 0.0015 1.00075 0.985 -0.0005 0.0061x R2 = 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.03 0.001 0.00 0.0025 Kapur (ppm) Tawas 0.00125 0.81 0.32 1.01 1.5 1 0.23 1.0025 ppm 3 Fosfat (ppm) 2 1 0 0 0.002 0.0020 ppm dan 0.70 .0020 1.0025 ppm Selanjutnya limbah hasil perlakuan koagulasi dan flokukasi dilewatkan pada unit filtrasi zeolit diperoleh hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut: Tabel 6.0015 0.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi Pada Penambahan tawas 0.26 1.00100 0.2 Fosfat (ppm) 1.0015 ppm.0015 Tawas 0.00050 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Tawas 0.0025 1.01 mg/ml 0.06 0.01 mg/ml Kapur 0.001 0.002 0.0015 0.5 0 0 0.

0015 0. 0.64 0. 9 dan 10.dan tawas 0.002 0.30 0.maka kadar fosfat setelah filtrasi zeolit semakin kecil nilai fosfat optimal dicapai pada penambahan larutan kapur 0.002 0.0.00200 0. terlihat semakin tinggi larutan kapur dan larutan tawas yang ditambahkan .66 Sumber: Data Primer 2005 Dari tabel 6. 0.011x -0.0005 0.5 1 0.001 0.5 0 0 0.0016x -0.0025 y = 0.1 ppm.0015 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.28 0.0020 ppm .958 Kapur (ppm) Gambar 8.801 Kapur (ppm) Gambar 7.78 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.001 0.1 ppm.0020 ppm .98 0.0015 0.0025 ppm.0025 y = 0.6708 R2 = 0.5 0 0 0.5 1 0.9147 2 R = 0.00150 0.0005 0. berikut: 2 Fosfat (ppm) 1.8. Secara empiris. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan pembubuhan larutan kapurdan larutan tawas setelah filtrasi zeolit dapat dilihat pada gambar 7.

0005 0. Senyawa-senyawa Fosfate dapat dihilangkan dengan penambahan bahan koagulan misalnya alum. tawas. Pembahasan Limbah cair di lingkungan RS Bethesda Yogyakarta dilakukan pengolahan dengan menggunakan sistem aerob dan anerob.002 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.5 1 0.002 0.9343 R2 = 0. dan filtarasi zeolit sangat berpengaruh dalam menurunkan kadar Fosfat.0020 Taw as 0. ferrichlorida atau ferrous sulfat.0025 Gambar 10.4.0005 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi 4.0025 Kapur (ppm) Taw as 0.0015 0.0015 0.5 0 0 0.001 0. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan kimia sebagai penghilang Fosfat adalah sebagai berikut: .0015 Taw as 0.2 Fosfat (ppm) 1.0025 y = 0. Dari beberapa referensi bahwa keberadaan Fosfat dalam air limbah dapat diturunkan dengan jalan pengendapan secara kimiawi.001 0.5 0 0 0.0012x -0.980 Kapur (ppm) Gambar 9. Pada penelitian ini pemakaian dosis kapur. kapur.5 1 0.0025 ppm Fosfat (ppm) 2 1.

0055x-0. kualitas dan kuantitas limbahnya serba sama. Dosis dan perlengkapan untuk pengadukan 6. pH. karena proses pembentukan flok pada proses koagulasi sangat dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia seperti kondisi pengadukan. dan 0. Limbah cair RS Bethesda yang digunakan sebagai bahan untuk penelitian penurunan kadar fosfat diambil pada Bak Equalisasi dengan pertimbangan limbah tersebut sudah merupakan gabungan dari semua sumber limbah yang dihasilkan. Kesesuaian dengan proses pengolahan lain 5.1. maka kami pilih kapur dan tawas sebagai bahan koagulan. Pengaruh penambahan kapur akan menaikkan diluar pH tersebut maka pembentukan flok sempurna. 0. alkalinitas.0020 ppm. Limbah asli diambil dalam jumlah yang cukup pada jam 09. Pada Bak Equalisasi. Efek terhadap lingkungan Dari beberapa pertimbangan diatas. tapi juga aman terhadap lingkungan. pH dan bereaksi dengan bikarbonat membentuk CaCO3 sebagai basa.4 .00 pagi saat fluktuasi kualitas terjadi. Pertimbangan lumpur yang dihasilkan 4. Biaya 2.6999 Gambar 5 dengan persamaan empiris y = 0. suhu.0025 ppm ditunjukkan pada Gambar 6. belum melalui perlakuan pengolahan sama sekali. Efektifitas bahan kimia 3. kekeruhan. Pembentukan flok akan berjalan baik pada range pH 5.0061x-0.0097x-0. dengan pertimbangan keduanya akan saling mengkoreksi pH. Perpaduan dari dua jenis koagulan.7557 Dimana : x = penambahan kapur (ml) Y = penurunan kadar fosfat (mg/l) Secara keseluruhan hasil pemeriksaan kadar fosfat dengan koagulasi dan flokulasi pada konsentrasi tawas 0. Selanjutnya limbah dari Bak Equalisasi dikategorikan sebagai limbah asli. karena disamping harganya relatif murah. dan mudah didapatkan di pasaran.0015 ppm.8-7.8047 Gambar 4 dengan persamaan empiris y = 0. Dari hasil koagulasi / flokulasi pada Tabel 4 terlihat kecenderungan penurunan fosfat yang terjadi sebanding dengan penambahan kapur yang ditunjukkan pada : Gambar 3 dengan persamaan empiris y = 0.

tidak memenuhi baku mutu. Selanjutnya dicari nilai R dari variasi tawas 0. formula y = 0.0061 x-0.0025 ppm.0025 ppm.6708 pada penambahan tawas 0.Limbah asli dianalisa di laboratorium dengan parameter pH.7557 pada penambahan tawas 0. sedangkan konsentrasi PO43. diperoleh nilai p value pada masing-masing sampel lebih besar dari 0.5 Baku Mutu pH = 6 . formula y = 0.awal = 25. Pada penurunan fosfat yang dilakukan dengan filtrasi zeolit setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi terlihat kadar fosfat cenderung mengalami penurunan lagi. jadi dapat disimpulkan penurunan kadar fosfat pada penambahan tawas 0.0025 ppm.992. 8.0025 ppm. Ternyata diperoleh dari data statistik variasi penambahan tawas 0. Maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini terdistribusi normal. Jika dilihat dari uji statistik pendistribusian data dengan uji Kolmogorov Smirnov. 4. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula y = 0. Pada proses koagulasi dan flokulasi kadar fosfat (PO43-) diharapkan mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan penambahan larutan kapur dan tawas menjadi endapan Ca3 (PO4)2 ↓ dan Al (PO4) ↓.9 memenuhi syarat. Diharapkan pada proses filtrasi ini terjadi pemisahan yang lebih sempurna dari flocculant terhadap cairannya.05 maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini berdistribusi normal.0020 ppm. nilai P semua variasi di atas 0.70 – 1.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat paling efektif. dimana nilai R2 antara 0. yaitu 0. 9 dan 10. Berdasarkan hasil pengukuran terhadap limbah asli tersebut.05. didapat nilai R2 tertinggi. maka perlu dilakukan penelitian penurunan kadar fosfat dengan koagulasi-flokulasi dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan zeolit. Dari hasil analisa data setelah filtrasi.6404 mg/l. maka diperoleh hasil dari masing-masing variasi tawas.8047 pada penambahan tawas 0. sedangkan dari uji korelasi atau uji kekuatan hubungan antara dua variabel diperoleh nilai R2 di atas 0.70 dimana nilai R antara 0. Jadi dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar x-0. Jika ditinjau dari uji statistik. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula : y = 0. 0.0020 ppm dan formula y = 0. sedangkan dari uji regresi . Hasil analisa No lab 56 menunjukkan hasil pH = 7.0016 x-0. 0. Hasil penurunan dengan filtrasi zeolit secara keseluruhan terlihat pada Tabel 6 dan Gambar 7.9343 pada penambahan tawas 0.70 – 1.0020 ppm.6999 pada penambahan tawas .0025 ppm adalah yang tertinggi dengan nilai R = 0.011 0.70. 0.0020 ppm.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat.9147 pada penambahan tawas x-0.0097 x-0. Semua flok yang terbentuk tidak ada lagi yang terikat pada cairan limbah terolah.0025 ppm adalah yang paling efektif.0015 ppm. dan 6. Penurunan PO4 secara rinci terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 3.0055 0.0015 ppm. PO43-.0015 ppm.0015 ppm. 5. diperoleh nilai R2 semua di atas 0. dimana konsentrasinya fosfatnya melebihi baku mutu yang ditetapkan. dan formula y = 0.990 pada konsentrasi penambahan tawas 0.0025 ppm. dan 0. dan 0.0012 x-0.

df2 = 4) 7.0% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0. 1 2 3 Tawas 0.784 F tabel (df1 = 1. Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi No.fosfat pada konsentrasi penambahan tawas 0.7086 7.0025 ppm setelah filtrasi adalah yang paling efektif.7086 7.795 F tabel (df1 = 1. kapur berpengaruh sebesar 98.958 0.801 0. Analisa Data Tabel 7. Tabel 8.0020 ppm 0.735 260.985 F hitung 78.961 0. 4.1% pengaruh kapur 98.5% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.394 193. kapur berpengaruh sebesar 98.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.8% pengaruh kapur 98.0015 ppm 0.951 0.3.1% pengaruh kapur 95.0% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0. 1 2 3 Tawas 0.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat BAB V .0025 ppm R2 0.5% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.0025 ppm.0025 ppm R2 0.0015 ppm 0.7086 Keterangan 95.061 90.0020 ppm 0.7086 Keterangan 80. df2 = 4) 7. Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi No.0025 ppm.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.7086 7.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat.1% pengaruh kapur 96.7086 7.980 F hitung 16.271 99.

maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. .0061 x 0. agar penambahan koagulan dapat dilakukan setepat mungkin.2. Perlu melakukan pemeriksaan kadar fosfat secara berulang-ulang. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian.KESIMPULAN DAN SARAN 5. Terhadap RS Bethesda Supaya memilih detergen yang digunakan dengan kadar fosfat rendah. 2.92 %. Larutan kapur dan larutan tawas efektif menurunkan kadar fosfat dalam limbah cair RS Bethesda dengan prosentase 97. Saran 1. 2.0025 ppm. Bagi peneliti lain Untuk dapat meneliti penurunan kadar fosfat dengan menggunakan metode yang lain. 5.1.7557 diperoleh pada konsentrasi larutan kapur 0.0020 ppm dan konsentrasi larutan tawas 0. Efektifitas penurunan kadar fosfat limbah cair RS Bethesda dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dinyatakan dengan rumus empiris y=0. kemurnian bahan dan ketelitian alat sangat mempengaruhi hasil penelitian selanjutnya.

Offringa dan dr. dengan kapasitas awal 150 tempat tidur dan dikelola sepenuhnya oleh gerejagereja Gereformed di Amsterdam.Scheurer kembali ke Belanda pada tahun 1906 dan kepemimpinan RS Petronella selama 36 tahun berikutnya dibagi rata oleh tiga orang dokter.J. . Tujuannya untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari bahan buangan atau limbah rumah sakit serta mencegah meningkatnya infeksi nosokomial di lingkungan rumah sakit. pencegahan. K. Rumah sakit akan menghasilkan limbah yang bersifat infeksius.1.Groot. disamping juga merupakan pusat latihan tenaga kesehatan dan tempat untuk mengadakan pelatihan medis. sering dikenal sebagai bentuk pelayanan yang berorientasi pada pelayanan kuratif saja. 548/Menkes/VI/1994 tanggal 13 Juni 1994. dr. Rumah Sakit Petronellapun bernama resmi Het Zendingsziekenhuis Petronella Voor on en minvermogenden (Rumah Sakit Petronella untuk orang-orang yang kurang dan tidak mampu). dr. pengobatan dan pelayanan kesehatan. Ketika menerima subsidi dari pemerintah. Salah satu upaya penyehatan lingkungan rumah sakit teresbut adalah peraturan pemerintah tentang adanya suatu satuan kerja yang bertanggungjawab terhadap penyehatan lingkungan rumah sakit yaitu Instalasi Sanitasi melaui SK Menkes No.Offringa. Rumah sakit merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh. yaitu dr.G. Rumah Sakit Petronella disebut juga sebagai rumah sakit Dokter Tulung/Pitulung karena tidak memungut biaya perawatan rumah sakit. J. kapasitas rmah sakit yang semula 150 tempat tidur ditingkatkan menjadi 475 tempat tidur.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Dalam kurun waktu 1924-1925.J. tetapi untuk mencapai tujuan pembangunan bidang kesehatan.P. Pruys. Pada tahun 1899 dr. maka rumah sakit diharapkan berangsur akan berkembang kearah pelayanan kesehatan paripurna yang mencakup upaya peningkatan. Rumah Sakit Rumah Sakit adalah integrasi organisasi sosial dan kesehatan yang berfungsi melayani masyarakat dengan pelayanan kesehatan secara menyeluruh baik kuratif maupun preventif serta pelayanan penderita berobat jalan mencakup lingkungan keluarga. toxic dan radioaktif dalam melakukan kegiatannya sehingga perlu adanya upaya penyehatan lingkungan rumah sakit.Scheurer mendirikan Rumah Sakit Petronella di kampung Gondokusuman. semasa kepemimpinan dr.

Sewaktu terjadi perang antara Sekutu dan Jepang. rumah sakit secara resmi berdiri dan beroperasi di Yogyakarta dengan nama Rumah Sakit Bethesda. Setelah proklamasi kemerdekaan.3880/K.412 m2 dan tanah kosong dalam komplek 36. 70. Lucas Gerard Johannes Samallo sebagai dokter pertama berbangsa Indonesia yang memimpinnya. Kotamadya Yogyakarta.uk RS BETH /1996 tanggal 23 Maret 1996 dan kemudian diberlakukan di RS Bethesda dengan Surat Keputusan Direktur No. dengan dr. 1714 / K. Rumah Sakit Bethesda terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di jalan Jenderal Sudirman No. Lokasi Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta terletak pada sebidang tanah yang mempunyai luas 61.935 m2 dengan luas bangunan mencapai 25. tanggal 28 Juni 1949. Rumah Sakit Jogjakarta Tjuo Bjoin direbut dari Jepang dan berganti nama menjadi Rumah Sakit Pusat. Supaya umum mengetahuinya bahwa Rumah Sakit Kristen.423 m2 . Wahidin : Jalan Johar Norhadi Struktur Organisasi Rumah Sakit Bethesda Struktur organisasi RS Bethesda Yogyakarta sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Pimpinan Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (DP-YAKKUM) No. pasien-pasien Petronella dipindahkan ke rumah sakit darurat di Pingit (sekarang asrama Polisi) dan Rumah Sakit Petronella dipindahkan kembali ke Gondokusuman dan berganti nama menjadi Jogjakarta Tjuo Bjoin (Rumah Sakit Pusat Jogyakarta) dan dipimpin oleh orang Jepang. dengan batas-batas: • • • • Utara Selatan Timur Barat : Jalan Jenderal Sudirman : Universitas Kristen Duta Wacana dan Komplek DKT : Jalan Dr. maka berdasarkan hasil rapat Dewan Pimpinan YAKKUM (Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum) selaku pengawas yang berpusat di Surakarta.966/1997 tanggal 22 Juli 1997 tentang organisasi dan tata kerja RS Bethesda Yogyakarta yang terdiri dari: • • • • • • • Direktur Wakil Direktur Pelayanan Medik Wakil Direktur Penunjang Medik Wakil Direktur Keuangan Wakil Direktur Personalia dan Umum Bidang Satuan Pengawasan Intern Bidang Sekretariat .

Bahan polutan yang ada merupakan hasil dari berbagai aktivitas yang menimbulkan dampak dan kemungkinan bahan polutan yang ada antara lain: 4. Penelitian dan Pengembangan Bidang Pelayanan Keluarga Berencana RS Bethesda Bidang Sosial Pastoral Bidang usaha Peningkatan Kesehatan Masyarakat (UPKM) Bidang Pendidikan SPK dan Bidan Bidang Pelayanan Kesehatan (YANKES) Lempuyangwangi Bahan Polutan Rumah Sakit Bethesda Bahan polutan yang ada dapat diamati dengan jelas dari setiap kegiatan yang dilakukan RS Bethesda Yogyakarta. Limbah cair berupa: • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Darah. asam sulfat (merupakan specimen laboratorium). dan wastafel. Kotoran lemak Deterjen Specimen laboratorium padatan Perban/kasa Spet suntikan Kapas darah Sisa makanan Kertas Plastik Kaca Sisa amputasi Sisa persalinan Sisa operasi Sisa outopsi Sisa insenerasi Gas dari sisa pembakaran di Instalasi Gizi Asap dari pembakaran di Instalasi Incenerator Uap air atau kondensat dari Instalasi Laundry 5. WC. alkohol. Limbah padat berupa: 6. Limbah gas berupa: .• • • • • • Bidang Perencanaan. Air buangan dari kamar mandi.

Selain menggunakan sumber listrik PLN. maka kualitas dan kuantitas air yang digunakan untuk kebutuhan rumah sakit harus selalu dipertahankan agar tidak dapat mengakibatkan sumber infeksi baru bagi penderita . Fasilitas Pemadam Kebakaran .5 pk. Yang kemudian di pompa water tower yang berjumlah 2 buah. dengan sistem otomatis. Jumlah dari kebutuhan air bersih untuk RS Bethesda diperkirakan ± 875 m3 per harinya. • • • • • • • Pengadaan Transportasi Pengadaan mobil operasional terdiri dari: Mobil ambulance Mobil jenazah Mobil kijang Mikrobus Minibus Sedan Open Cup : 4 buah : 1 buah : 3 buah : 2 buah : 1 buah : 2 buah : 1 buah Dengan tenaga sopir 11 orang 8. Pengadaan Listrik Pencahayaan atau listrik digunakan di semua ruangan yang ad. Genset beroperasi secara otomatis apabila suplai listrik dari PLN tidak berjalan atau padam. yang diletakkan di dalam sumur berkedalaman30 sampai 40 meter. Pengadaan listrik di RS Bethesda berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebesar 5500 kVa. untuk itu pihak RS Bethesda menggunakan 5 (lima) buah pompa dengan daya 10 pk dan 7. pengunjung dan karyawan. 7. Pengadaan Air Air bersih merupakan kebutuan mutlak yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan setiap rumah sakit dimanapun juga. RS Bethesda juga menggunakan 2 buah genset yang mempunyai daya 500 kVa dan 375 kVa. Mengingat bahwa rumah sakit merupakan tempat tindakan pelayanan dan perawatan orang sakit. 6. baik untuk bekerja maupun untuk penyimpanan barang atau peralatan elektronik. demikian juga untuk ruang tidur pasien atau bangsal.Utilitas 5. taman dan untuk pelayanan penerangan umum lainnya.

Berdasarkan status kepemilikan /pengelolaan a. sisa bahan kimia/radiologi. Departemen Hankam dan BUMN. Sedangkan Rumah Sakit Bethesda tergolong RSU Kelas Utama. Rumah Sakit Negeri/ Pemerintah. Klasifikasi Rumah Sakit Secara umum industri rumah sakit dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian. Keputusan Menkes RI No. spesialistik dan subspesialistik. air bekas pencucian dan lain-lain. yang dikelola oleh Depkes dan merupakan milik pemerintah (pusat atau daerah). Berdasarkan macam/jenis penyakit yang ditangani a. 983/SK/Menkes/XI/92 menyebutkan bahwa RSU Type A adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan . 4. yang menangani hanya 1 (satu) atau beberapa jenis penyakit tertentu. ruang operasi dan lainnya. b. Madya. yang menangani hampir semua penyakit/memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar. Limbah tersebut dapat berupa sisa darah. b. sisa obat. ruang pasien.1. yang ditempatkan di 16 titik yang dianggap dapat mewakili seluruh areal bangunan RS Bethesda. Rumah Sakit Swasta. yaitu. ruang bedah dan runag lain dalam bnagunan kecuali limbah cair radiologi. Rumah Sakit khusus. RSU masih dibagi lagi menjadi beberapa type/kelas RSUP (RSU Pemerintah) dapat diklasifikasikan menjadi RSU type A. ruang laboratorium. Tabung pemadam kebakaran sejumlah 64 buah Pihak RS Bethesda juga bekerjasama dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kodya dan KODAM IV/Diponegoro.2. Type C dan Kelas Madya serta Type D dan Kelas Pratama. kamar mandi. yang dikelola oleh yayasan. Pengertian Limbah Cair Rumah Sakit Limbah cair rumah sakit merupakan limbah cair dari semua sumber pembuangan misalnya kloset.1. Hydrant. b. Limbah cair rumah sakit adalah limbha cair yang berasal dari rumah sakit baik ynag berasal dari dapur. tempat pencucian pakaian. dan Pratama. C dan D. Benang merah yang menghubungkan RSUP DAN RSU Swasta adalah paralelisasi antara Type B dan Kelas Utama. 3. 2. B. 2. Macam jumlah dan kadar zat pencemar yang dihasilkan dari setiap sumber tersebut bervariasi tergantung kegiatan/aktivitasnya dan bahan yang digunakan. urine.Pengadaan fasilitas untuk pemadam kebakaran berupa: a.Sedangkan RSU Swasta dibagi atas Kelas Utama. dapur.1. tinja. Rumah Sakit Umum (RSU).

Ruang Haemodialisa: Kamar mandi. Masjid): Kamar mandi. tempat cuci instrumen medik. tempat buang exudat pasien. Spoelhock. tempat cuci instrumen medik. Ruang Kamar Jenazah/Autopsi: Kamar mandi. kamar mandi. tempat cuci instrumen medik. 19. tempat cuci sayur/buah. tempat cuci film. tempat cuci instrumen medik. Sumber-sumber limbah rumah sakit meliputi: 14. Wastafel. pantry. Ruang Perawatan berasal dari: Kamar mandi. buangan dari pembilas mesin cuci. tempat buang exudat pasien. urinoir.1. RSU Type B atau Kelas Utama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan subspesialistik terbatas. Wastafel. urinoir. 2. 24. tempat cuci preparat. Untuk mengetahui jenis limbah yang dihasilkan yang digunakan sebagai dasar cara pengolahannya maka perlu diketahui sumber-sumber yang menghasilkan limbah rumah sakit. buangan pembilas air panas. Instalasi Laboratorium Klinik/Patologi Anatomi: Kamar mandi. Ruang Rawat Darurat: Kamar mandi. Asrama): Kamar mandi. Spoelhock. tempat cuci instrumen medik. floor drain. urinoir. 22. pantry. 23.3. wastafel. urinoir. 15. Wastafel. Spoelhock. Sumber Limbah Cair Rumah Sakit Dalam melakukan kegiatan pelayanan kesehatan rumah sakit akan menghasilkan limbah cair. 16. tempat pembedahan mayat/autopsi. 20. pantry. urinoir. tempat cuci perabot makan. 21. floor drain. tempat cuci perabot makan. urinoir. Ruang Laundry: tempat rendaman linen kotor. Wastafel. tempat wudlu.subspesialistik luas. tempat cuci instrumen medik. Unit Perkantoran/Perpustakaan: Kamar mandi. Wastafel. Fasilitas Sosial (Kafetaria. 25. Wastafel. Wastafel. Ruang Dapur: Kamar mandi. Sumber Penghasil Limbah RS Bethesda . Pemukiman (Rumah Dinas. Unit Radiologi: wastafel. Terakhir RSU Type D atau Kelas Pratama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis dasar. Ruang Rawat Jalan: Kamar mandi. tempat buang exudat pasien. tempat mencuci jenazah. RSU Type C atau Kelas Madya adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik dasar. 26. Wastafel. tempat cuci alat-alat dapur. Spoelhock. tempat cuci beras. floor drain. 18. Ruang Operasi: Kamar mandi. 17.

kantor. Adapun sumber-sumbernya adalah sebagai berikut: 5. laboratorium. 8. Sifat Fisik . wastafel) dan di tambah buangan dari asrama putra AKPER RS Bethesda. Air limbah ini mengalir secara gravitasi dengan 13 bak kontrol di titik-titik tertentu guna mengawasi lancar tidaknya aliran. yang disalurkan melalui assenering baik assenering DKP maupun assenering pihak RS Bethesda sendiri menuju instalasi pengolahan air limbah.Limbah rumah sakit adalah semua air buangan yang berasal dari aktivitas instalasiinstalasi rumah sakit yang kemungkinan besar mengandung mikroorganisma. bahan kimia beracun dan radio aktif. karena selruh kegiatan RS Bethesda yang berada di bagian timur seperti ruang rawat inap. Instalasi gizi (dapur) Kegiatan instalasi gizi yaitu melayani kebutuhan makanan pasien maupun karyawan sehingga dari kegiatan ini juga dihasilkan limbah cair. menyalurkan air buangannya ke saluran assenering alur timur baik secara gravitasi maupun dengan bantuan pompa. 2. parasit. Limbah cair alur timur Limbah cair alur timur memilki karakteristik pencemar yang lebih kompleks. kimia dan biologis.1. yang mengandung minyak. d. Karakteristik Limbah Cair Rumah Sakit Air limbah pada intinya dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu sifat fisik.4. Limbah cair alur barat Limbah cair dari alur barat lebih didominasi oleh air buangan yang berasal dari ruang-ruang rawat inap (kamar mandi/WC. ruang radiologi dan lain-lain yang menghasilkan limbah. lemak dan detergen untuk kemudian diolah secara bertingkat. 6. ruang farmasi. Laundry Laundry juga merupakan salah satu instalasi penting yang umum dimiliki oleh setiap rumah sakit tidak terkecuali RS Bethesda. Dari laundry ini dihasilkan limbah cair dengan kandungan detergen yang tinggi sehingga memilki pH dan suhu yang tinggi. 7.

CH4. 25-50 % berupa karbohidrat serta 10 % lainnya berupa lemak. 25 % karbohidrat dan 10 % lemak. e. Cd. Fe dan Hg Metan Hidrogen Fosfor Gas seperti NH3. yang dijumpai dalam air limbah bersisikan 40-60 % adalah protein. Zn. Mg.Penentuan derajat kekotoran air limbah sangat dipengaruhi oleh adanya sifat fisik yang mudah dilihat. Bahan Organik Air limbah dengan pengotoran sedang. Cr. Partikel-partikel padat terdiri dari zat organik 70 % dan anorganik 30 %. Komposisi limbah cair rumah sakit sebagian besar terdiri dari 99. Sifat Kimia Sifat kimia dalam air limbah dapat diketahui dengan adanya zat kimia air buangan. kejernihan. O3 f. Cu. bau. Adapun sifat fisik yang penting adalah kandungan zat padat sebgaai efek estetika. Zat organik tersebut sebagian besar mudah terurai (degradabel) yang merupakan sumber makanan dan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme yang lainnya. Sifat Bakteriologis . Pb. Bahan Anorganik Sedangkan zat organik yang penting peranannya di dalam mengontrol air limbah adalah: pH Kadar Khlor Alkalinitas Kadar Sulfur Zat beracun Logam berat seperti: Ni. Adapun zat kimia yang penting dalam air limbah pada umumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Zat organik terdiri dari 65 % protein. warna dan temperatur.9 % dan sisanya terdiri dari partikel-partikel tidak terlarut 0. maka sekitar 75 % dari benda-benda tercampur dan 40 % dari zat yang dapat disaring adalah berupa bahan organik.1 %. 2.

12.Instalasi penampung awal Instalasi penampung awal berfungsi untuk menampung keseluruhan limbah dari RS Bethesda yang berasal dari cucian. Limbah ini dipompakan ke instalasi sand filter dan sebelumnya jam. 18. Waktu tinggal dalam bak 7 .Instalasi aerob Instalasi aerob berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks yang lolos dari pengolahan sebelumnya menjadi senyawa yang lebih sederhana. Waktu tinggal dalam bak pengendspan 7 jam. Waktu tinggal dalam bak 8 jam. 15. protozoa dan algae sangat penting di dalam proses dekomposisi atau stabilisasi bahan-bahan organik 2. 16.Instalasi sand filter Instalasi sand filter berfungsi untuk menyaring limbah sehingga diperoleh kualitas yang lebih baik lagi.Instalasi fish pond dilakukan disinfeksi dengan memberikan kaporit melalui sistem injeksi/suntikan dengan tujuan membunuh bakteri patogen. Mikrooganisme yang penting dalam air limbah dan air permukaan dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu: 1.Sifat bakteriogis pada air buangan perlu diketahui untuk menaksir tingkat kekotoran air limbah sebelum dibuang ke badan air.Instalasi anaerob biofilter Instalasi anaerob biofilter berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana dengan bantuan bakteri yang ada pada biofilter.Instalasi pengendapan (settling) Instalasi pengendapan (settling) berfungsi untuk memberi kesempatan lumpur agar mengendap. meliputi: bakteri. Protista. jamur. protozoa dan algae Binatang dan tanaman Dari klasifikasi tersebut diatas. pada proses ini penambahan oksigen dilakukan dengan bantuan blower.1. dapur mauun rawat inap. 14. Waktu tinggal dalam bak ini 16 jam.5. 2.Instalasi penampung hasil Instalasi penampung hasil berfungsi untuk menampung limbah yang telah mengalami pengolahan (limbah terolah).Bak ekualisasi Bak ekualisasi berfungsi untuk mencampur limbah dari berbagai sumber sehingga menjadi limbah yang homogen dengan waktu tinggal 27 jam. Unit-unit Pengolahan Air Limbah RS Bethesda 11. 13. 17.

Instalasi pengering lumpur (drying bed) Instalasi pengering lumpur befungsi untuk menampung endapan lumpur dari digester untuk dikeringkan. Fosfat kompleks mengalami hidrolisa selama pengolahan biologis menjadi bentuk ortofosfat (PO43-) Dari konsentrasi rata-rata fosfor keseluruhan sebanyak 10 mg/l berada dalam air limbah perkotaan . Fosfat kompleks mewakili kira-kira separuh dari fosfat air limbah perkotaan dan berasal dari penggunaan bahan-bahan detergen sintetis. Sisa yang 70 % dari fosfor yang masuk pada umumnya dilepaskan bersama bunagan instalasi sekunder. Bentuk-bentuk penting fosfat dalam air limbah adalah pospor organik. Poyfosfat banyak digunakan dalam pembuatan detergen sintetis. Fosfat Fosfat berada dalam air limbah dalam bentuk organik.2. industri logam dan sebagainya. Poliphosfat dapat memasuki sungai melalui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan detergen yang mengandung fosfat seperti industri pencucian. Kolam ikan ini dilengkapi dengan pancuran air. Bermacam-macam jenis fosfat juga dipakai untuk penngolahan anti karat dan anti kerak pada pemanas air (boiler). 2. Komponen fosfat dipergunakan untuk membuat sabun sebagai pembentuk buih. detergen dapat mempermudah absorbsi racun pada ikan melalui insang dan bersifat persisten sehingga terjadi akumulasi. Sebagai ortophosfat anorganik atau sebagai fosfat-fosfat kompleks. industri dan pertanian. 19. Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut. Dan adanya fosfat dalam air limbah dapat menghambat penguraian pada proses biologis. kira-kira 10 % dibunag sebagai bahan tak terpakai selama pengendapan primer dan 10 % hingga 20 % lainnya digabungkan ke dalm sel-sel bakteri selam apengolhan biologis. yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan. . Di daerah pertanian ortofophosfat berasal dari bahan pupuk. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat bagi pertumbuhannya. Sedangkan menurut Juli Sumirat. polyphosfat dan orthophospat. Dalam air limbah senyawa fosfat dapat berasal dari limbah penduduk.Instalasi fish pond atau kolam ikan berfungsi untuk tempat penampungan limbah terolah yang telah tersaring di sand filter.Instalasi digester dan biogas Instalasi digester dan biogas berfungsi untuk menaqmpung semua lumpur yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah. tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air. 20.

Metode ynag paling efektif meliputi pengendapan kimiawi. Pada keadaan “eutrotop” tanaman dapat menghabiskan oksigen dalam sungai atau kolam pada malam hari atau bila tanaman tersebut mati dan dalam keadaan sedang mencerna (digest) dan pada siang hari pancaran sinar matahari kedalam air akan berkurang. garam besi dan kapur adalah sebagai berikut: Pengendapan dengan alum: AL2(SO)3 + 2HPO4 –2 2AlPO4 + 3SO4-2 + 2H Pengendapan dengan garam besi: FeCl3 + HPO4 –2 FePO4 + H+ + 3Cl- Pengendapan dengan kapur: 5Ca(OH)2 + 3HPO4 –2 Ca5(PO4)3OH + 3H2O + 6OH- 2. sehingga dihasilkan pengurangan beban pada proses pengolahan biologis. Banyak metode yang telah diusulkan untuk pembuangan kelebihan fosfat. alum dan garam-garam besi dapat dimasukkan ke dalm tanki aerasi selama proses lumpur diaktifkan atau bahan-bahan kimia itu dapat dimasukkan pada suatu tahap pengolhan primer. Sebagian besar dari bahan organik tersebut dibuang. Pemisahan Fosfat Secara umum analisa fosfat meliputi 2 (dua) langkah : . keadaan ini dinamakan “oligotrop”.1. kadang-kadang dikerjakan pada tahap ketiga setelah pengolahan biologis guna pembuangan fosfat serta peningkatan pH buangan dalam persiapan bagi proses pembuangan ammonia-nitrogen.Bila kadar fosfat pada air alam sangat rendah (<0. Bahan-bahan kimia itu dapat ditambahkan sebelum pengendapan primer. sehingga hanya sedikit peralatan tambahan yang dibutuhkan. Walaupun demikian. Reaksi kimia dari proses pengendapan secara kimiawi antara fosfat dengan alum. maka pengolahan kimiawi dan biologis terjadi bersama-sama. pertumbuhan tanaman dan ganggang akan terhalang. ferrichlorida atau ferrous sulfat. lumpur yang diproduksi jumlahnya lebih besar. misalnya alum. sehingga air menjadi keruh dan berbau karena pembusukan lumut-lumut yang mati.01 mg/l). kapur.2. begitu pula fosfatnya. Pengendapan kimiawi. Senyawa-senyawa fosfat dapat dibuang dengan penambahan koagulan. Bila bahan-bahan kimia dimasukkan langsung ke dalam tangki aerasi dari suatu instalasi lumpur yang diaktifkan. Pembuangan limbah yang banyak mengandung fosfat ke dalam badan air dapat menyebabkan pertumbuhan lumut dan mikroalgae yang berlebih yang disebut “eutrophication” . terutama yang menggunakan kapur. sehingga proses fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen juga berkurang.

sehingga dapat diperguakan untuk tujuan interpretasi. Pemisahan fosfor kedalam berbagai bentuk telah luas didefinisikan secara analitis. Menentukan secara kolorimetris ortofosfat yang larut.45 µm dapat memisahkan dengan sebenarnya antara fosfat yang istilah “yang dapat disaring” (lebih baik “yang larut”) untuk tersuspensi dengan yang terlarut.45 µm. Biasanya terdapat sedikit variasi. dan tersuspensi) dan masing-masing secara analisis dibagi menjadim tiga tipe kimiawi seperti telah diuraikan diatas yaitu ortofosfat fosfat yang dapat dihidrolisa dengan asam fosfat organik . Keseluruhannya ada tiga bagian (total. Kekuatan oksidasi yang diperlukan untuk konversi tergantung pada bentuk dan jumlah dari fosfat organik yang ada. Tetapi perlu diingat bahwa sebagian kecil dari fosfat terikat yang ada tidak dapat menghindari cara hidrolisa ini dan dilaporkan sebagai bagian dari ortofosfat. Merubah bentuk fosfor menjadi ortofosfat yang larut. Dua belas fosfat tersebut dapat dilihat pada tabel 1. tetapi telah dipilih pembedaan analisa.c. d. Tidak dapat dituntut bahwa penyaringan melalui filter membran Penggunaan 0.45 µm yang dipergunakan. Bagian-bagian fosfat yang diubah menjadi ortofosfat hanya dengan perombakan oksidatif terhadap bahan organik disebut fosfat organik/terikat secara organik. yang tergantung pada fosfat terlarut dan tersuspensi. Seperti ortofosfat dan fosfat dari hidrolisa asam. menguraikan bentuk fosfat yang ditentukan dalam filtrat yang melalui membran 0. fosfat total yang dapat dalam sampel dapat dipisahkan pada analisa dengan penyaringan kedalam bagian yang disaring dan partikel. Fosfat yang dapat langsung diperiksa secara kolorimetris tanpa hidrolisa pendahuluan atau perombakan secara oksidatif dan dianggap sebagai “ortofosfat”. terlarut. Pemilihan filtrasi dengan membran melebihi ketebalan filtrasi dilakukan karena kemungkinan diperoleh lebih besar atau pemisahan ukuran partikel dengan tekinik pemisahan membran. Hidrolisa tidak dapat dihindrakan untuk membebaskan fosfat dari senyawa organik. Hidrolisa dengan asam pada temperatur mendidih untuk mengubah fosfat dalam bentuk terlarut dan partikel menjadi ortofosfat yang dapat disaring. fosfat organik terdapat dalam larutan dan partikel. Ortofosfat terdapat dalam bentuk terlarut dan partikel. Penyaringan pendahulluan dengan filter serat gelas dapat dilakukan untuk mempercepat proses penyaringan. Klasifikasi Fosfat Tipe Kimiawi Total FISIK Terlarut Partikel . tetapi faktor ini telah dikurangi seminimum mungkin (sangat sesuai untuk hidrolisa fosfat terikat) dengan bijaksana memilih kekuatan asam lebih disukai terhadap “fosfat terikat” pada teknik ini. Tabel 1. Didalam praktek. Pemisahan “yang dapat disaring” (atau “terlarut”) dari “partikel” fosfat tergantung filter membran 0.

Hidrolisa H2S04 2. terlarut dan partikel.3. Sampel Tanpa penyaringan Kolorimetri langsung A. Total Fosfat terlarut Gambar 1. Pola Klasifikasi Fosfat 2. k. Total ortofosfat terlarut dan partikel c. Total fosfat yang dapat dihidrolisa oleh asam. d. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi sebagai berikut : . Total terhidrolisa ortofosfat C. Hidrolisa H2S04 2. Fosfat partikel yang dapat dihidrolisa oleh asam l. Kolorimetri B. Kolorimetri B. Kolorimetri 1 Perombakan 2. Total fosfat partikel j.4. Ortofosfat terlarut dan yang dapat dihidrolisa dengan asam C. Fosfat organik terlarut. Organik a. Kolorimetri 1 Perombakan 2. i. b. Total fosfat terlarut .Total Orto Yang dapat dihidolisa oleh asam. Total Ortofosfat 2. Fosfat partikel organik. Ortofosfat partikel. Ortofosfat terlarut. g. f. Koagulasi dan Flokulasi 2. Total Ortofosfat 2. Total fosfat terlarut yang dapat dihidrolisa h. Total fosfat organik terlarut dan partikel e. kemudian membentuk jonjot mikro (mikro flok). Total fosfat terlarut dan tidak terlarut.1 Koagulasi Koagulasi adalah dicampurkannya koagulan dengan pengadukan secara cepat guna mendistabilisasi koloid dan solid tersuspensi yang halus. Total Fosfat Partikel Fosfat filtrat Kolorimetri langsung A. dan masa inti partikel.

Kecepatan pengadukan sangat berpengaruh terhadap pembentukan flok bila pengadukan terlalu lambat mengakibaykan lambatnyaflok terbantuk dan sebaliknya apabila pengadukan terlalu cepat berakibat pecahnya flok yang terbentuk p. Dalam pengadukan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengadukan harus benar-benar merata. Tetapi apabila kondisi tersebut digunakan dosis koagulan yang rendah maka pembentukan flok kurang efektif.i. maka besarnya daerah pH yang optimum pada proses kagulasi akan berubah dan merubah pembubuhan dosis koagulan. l. Tingkat kekeruhan Pada tingkat kekeruhan yang rendahproses destibilisasi akan sukar terjadi. Dosis koagulan Untuk menghasilkan inti flok yang lain dari proses koagulasi dan flokulasi sangat tergantung dari dosis koagulasi yang dibutuhkan Bila pembubuhan koagulan sesuai dengan dosisyang dibutuhkan maka proses pembentukan inti flok akan berjalan dengan baik. Koagulan dalam bentuk larutan lebih efektif dibanding koagulan dalam bentuk serbukatau butiran. Kadar ion terlarut Pengaruh ion-ion yang terlarut dalam air terhadap proses koagulasi yaitu : pengaruh anion lebih bsar daripada kation. Dengan demikian ion natrium. 19920. Suhu air Suhu air yang rendah mempunyai pengaruh terhadap efisiensi proses koagulasi. Derajat Keasaman (pH) Proses koagulasi akan berjalan dengan baik bila berada pada daerah pH yang optimum. Untuk tiap jenis koagulan mempunyai pH lainnya. Alkalinitas dalam air dapat membentuk flok dengan menghasil ion hidroksida pada reaksihidrolisa koagulan. Jenis Koagulan Pemilihan jenis koagulan didasarkan pada pertimbangan segi ekonomis dan daya efektivitas daripadakoagulan dalam pembentukan flok. n. optimum yang berbeda satu sama k. sehingga semua koagulan yang dibubuhkan dapat bereaksi dengan partikel-partikel atauion-ion yang berada dalam air. o. j. kalsium dan magnesium tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap proses koagulasi. Sebaliknya pada tingkat kekeruhan air yang tinggi maka proses destabilisasi akan berlangsung cepat. Kecepatan pengadukan Tujuan pengadukan adalah untuk mencampurkan koagulan ke dalam air. Bila suhuair diturunkan . . m. Alkalinitas Alkalinitas dalam air ditentukan oleh kadar asam atau basa yang terjadi dalam air (Tjokrokusumo.

K. 1986).3. akan mengakibatkan terjadinya gabungan antar partikellebih sangat kecil 1 < 100 milimikron (Sank R. kapur dapat mengurangi kandungan bahan-bahan organik.2. 1986. Bentuk kristal. Dengan adanya perbedaan kecepatan aliran media cair akan mempunyai aliran kecepatan yang berbeda pula akibatnya akan terjadi tumbukan atau kontak antar partikel. Sifat-sifat fisik dan kimia Hydrate lime : g. 2. Kapur (lime) secara umum terdapat dalam dua bentuk yaitu CaO dan Ca(OH)2. Sifat-Sifat Kapur (lime) dan Penggunaan nya. Proses pengendapan ini akan berjalan secara efektif apabila pH air antara 6 – 8 (Considine). Flokulasi Flokulasi adalah pengadukan perlahan terhadap larutan jonjot mikro yang menghasilkan jonjot besar dan kemudian mengendap secara cepat (Tjokrokusumo. sehingga terbentuk Ca(OH)2. Pada umumnya kecepatan aliran cairan akan berubah terhadap tempat dan waktu. dengan notasi G. prosesnya disebut flokulasi perikinetik. Menurut Tarmiji. CaO adalah bahan mudah larut dalam air dan menghasilkan gugus hidroksil yaitu Ca(OH)2. Flokulasi orthokinetik Flokulasi orthokinetik adalah suatu proses terbentuknya flok yang diakibatkan oleh terbentuknya gerak media (air) misalnya pengadukan (Sank R. Cara kerjanya adalah kapur ditambahkan untuk mereaksikan alkalibikarbonat serta mengatur pH air sampai sehingga menyebabkan pengendapan.4. Warna.K. 1995). powder h. Perubahan kecepatan dari satu titik ke titik lainnya dikeal sebagai gradien kecepatan. yang bersifat basa dan disertai keluarnya panas yang tinggi. Ada dua jenis proses flokulasi yaitu : c. .2. Pada pengolahan air kotor. Hydrate lime dihasilkan dari reaksi quickime (CaO) dengan air. d. sebagian besar umumnya berwarna putih dan pada tinhkat tinggi dapat berwarna abu-abu. 1986). penggunaan dari kapur antara lain dibidang kesehatan lingkungan untuk pengolahan air kotor. Gerak acak dari partikel-partikel koloid yang ditimbulkan karena adanya tumbuhan molekul-molekul air. Flokulasi perikinetik Flok yang diakibatkan oleh adanya gerak thermal (panas) yang dikenal sebagai gerak Brown. air limbah maupun industri lainnya.

Selain itu.85 Ca(OH)2/l air pada suhu 00C sampai0. Contoh reaksi yang terjadi pada proses “calcination” ini apabila batuan kapur dari alam berkomposisi sebagai kombinasi dari kalsium dan Magnesium Karbonat adalah sebagai berikut: CaCO3Mg CO3 CaOMgO + 2CO2 Calcim Oxide (CaO) adalah merupakan bahan yang mudah larut dalam air dengan mengeluarkan panas yang tinggi (Highleyexotermically). Kalsium Hydrated lime memiliki tingkat kepadatan kira-kira 2. tingkat kelarutan dari kira-kira 1. Hasil dari proses ini antara lain adalah CaO ditambah CO2 yang keluar sebagai gas. k. pH. Netralisasi asam . karena kalsium hidroksida adalah termasuk basa kuat.10 g Ca(OH)2/l dapat memberi pH kira-kira 11. Kepadatan. konsentrasi 0.3 g/gm3 Kelarutan.7. reaksi antara CaO dan air akan menghasilkan gugus hidroksil Ca(OH)2 yang bersifat basa dengan reaksi sebagai berikut: CaO + H2O Ca(OH)2 + heat Ca(OH)2 Ca++ + 2OH- Karena sifat-sifat kapur dapat digunakan sebagai pengendap terhadap fosfat maka reaksi yang terjadi adalah 3 Ca2+ + 2PO43Ca3 (PO4)2 Penggunaan Kapur . Hydrate lime siap bereaksi dengan asam dan gas sehingga tentu saja berkemampuan menetralisasi asam. Selain CaO juga MgO serta molekul-molekul lainnya tergantung pada batuan kapur yang asli dari alam. l. j.3 pada suhu 250C. kandungan 1.i. Pada larutan 250C. Penggunaan berbagai keperluan maka batuan kapur dari alam biasanya akan mengalami proses pembakaran terlebih dahulu yang disebut “calcination”.8/l memberikan pH sebesar 12.7 g/l pada suhu 1000C.

yang paling banyak digunkan karena bahan ini paling ekonomis 9murah). karena salah satu cara penghilangan fosfor dalam air adalah pengendapan kimiawi. j. kapur digunakan untuk menetralisir asam sulfat bebas (free sulfuric acid ) dan mengendapkan garam-garam besi yang terdapat pada limbah industri tersebut. Kapur juga dapat dipergunakan sebagai penghilang fosfor dalam air. Alum atau tawas sebagai penjernih air mulai diproduksi oleh pabrik pada awal abad 1500. mudah didapatkan di pasaran serta mudah penyimpanannya. Kapur dapat digunakan untuk mengurangi gas SO2 yang keluar dari pembakaran batu bara atau minyak yang mengandung sulfur yang tinggi melalui suatu proses yang disebut “wet scrubing”. sebagai bahan bangunan. mangan.5. Proses pengolahan buangan industri besi/baja. i. menetralisasi keasaman. kapur dapat befungsi antara lain dalam pengendalian keasaman digester. . Khusus di sektor lingkungan kapur dapat berguna dalam: f. kertas. memperkecil kadar silika. h. air kapur dapat berguna sebagai bahan penurun kesadahan. Dosis yang biasa dipakai pada peternakan ayam adalah sekitar 1 lb (0. Selain itu dapat juga mengurangi kadar BOD dengan cara menyerap antara 40% sampai 50 % bahan organik terlarut maupun tidak terlarut. dan lainlainnya. sudah dikenal bangsa Mesir pada awal tahun 2000 SM. Pada peternakan ayam.65 m2) lantai yang mengandung kotoran ayam. 2. penyerapan bau (deodorant) dan sebagai desinfektan.45 kg) Hydrates Lime [Ca(OH)2] pada setiap 3-5 ft2 (2.79-4. Proses pengolahan air bekas. Alum atau tawas merupakan bahan koagulan. kapur dapat digunkan untuk mengeringkan serta mengurangi bau kotoran ayam yang berceceran di laniat kandang. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai “geomedical” untuk mencegah parasit-parasit dan bnayak penyakit ayam. Sifat-Sifat Tawas dan Penggunaan nya Persenyawaan Alumunium Sulfat (Al2(SO4)3) atau sering disebut tawas adalah suatu jenis koagulan yang sangat populer secara luas digunakan. pertanian dan lain-lain. disini kapur berfungsi sebagai bahan koagulan. Proses pengolahan air. g.Kapur telah diikenal sebagai bahan yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan diantaranya dipakai pada bidang-bidang industri misalnya industri kimia. fluorida dan bahan-bahan organik.

reaksi yang kan terjadi reaksi hipotik. 2. Alum yang dilarutkan ke dalam air akan bereaksi dengan kapur atau bahan lain seperti Soda Abu atau Natrium Bikarbonat (Na2CO3). Range pH untuk jenis koagulan alum adalah sebesar 5.7.5 sampai 7. Alum tersebut akan larut di dalam air dengan reaksi sebagai berikut: AL2(SO4)3 .10-19 . yang sangat dipengaruhi oleh nilai pH yang bersangkutan. 14H2O 2Al3+ + 3SO42. Reaksi tersebut antara ion Al dengan ion OH. yang di dalamnya ditempati oleh molekul air dan ion ion logam alkali. soda abu atau soda kaustik (Natrium Oksida) Reaksi yang terjadi: AL2(SO4)3 + 3Ca(OH)2 2Al(OH)3 + 3CaSO4 AL2(SO4)3 + 3Na2CO3 + H2O 2Al(OH)3 + 3Na2SO4 + 3CO2 Oleh karena tawas /alum mempunyai sifat koagulan dalam larutan maka bila tawas bersenyawa dengan limbah yang mengandung unsur fosfat . Ksp AlPO4 sebesar 6.sehingga terjadi reaksi Al3+ + PO43AlPO4 Pengendapan dapat terjadi apabila hasil kali { Al3+ }dan { PO43 -} lebih besar dari Ksp AlPO4 . Dengan demikian supaya terjadi pengendapan hasil kali konsentrasi yang bereaksi harus lebih besar dari pada Ksp nya. yaitu terjadi proses hidrolisis.Reaksi yang terjadi jika alum dimasukkan ke dalm air.Unit . Zeolit Zeolit adalah suatu alumnosilikat yang mempunyai struktur berpori dengan saluran dalam rangka kristal.3 .8.+ 4 H2O Ionisasi dai air sendiri akan terbentuk ion hidroksida sebagai berikut: H2O H+ + OH- Kemudian terjadi reaksi antara ion Al3+ dengan ion hidroksida sebagai berikut: 2Al3+ + 6 OH2Al(OH)2 Pengikatan ion hidroksida tersebut di dalam air akan menurunkan alkalinitas air sehingga sebaiknya digunkan bahan tambahan yang dpat meningkatkan nilai alkalinitas seperti kapur.

Hal ini dikarenakan dalam air buangan zeolit selain menyerap ion amonium juga menyerapion ion lain seperti Ag+.Zeolit juga ditemukan sebagai batuan endapan pada bagian tanah jenis basalt dan komposisi kimianya tergantung pada kondisi hidrotermal lingkungan lokal. Pada tahun 1954 zeolit diklasifikasi sebagai golongan mineral tersendiri.Struktur yang paling stabil adalah zeolit yang perbandingan Si dan Al nya adalah 1:1.Perbandingan antara Si dan Al berkisar antara 1:1 sampai 100:1. zeolit merupakan mineral yang terdiri dari kristal alumino silikat terhidrasi yang mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam kerangka tiga dimensi. Mineral alam zeolit biasanya masih tercampur dengan mineral lainnya seperti kalsit.dasar pembentuk zeolit adalah SiO4 dan AlO4 yang membentuk tetra hedral. tekanan uap air setempat dan komposisi air tanah lokasi kejadiannya. K+ dan lain-lain. Mineral zeolit telah dikenal sejak tahun 1756 oleh Cronstedt ketika menemukan Stilbit yang bila dipanaskan seperti batuan mendidih (boiling stone) karena dehindrasi molekul air yang dikandungnya. Hal itu menjadikan zeolit dengan warna dan tekstur yang sama mungkin berbeda komposisi kimianya bila diambil dari lokasi yang berbeda disebabkan karena kombinasi mineral yang berupa partikel halus dengan impurities lainnya. gypsum. seperti suhu. yang saat itu dikenal sebagai molecular materials.Zeolit biasanya ditulis dengan rumus kimia oksida atau berdasarkan satuan sel kristal. Pemanfaatan zeolit masih belum banyak diketahui secara luas.Unit unit tersebut saling berikatan membentuk jaringan anionik dalam tiga dimensi. Kapasitas penyerap zeolit akan bertambah dengan bertambah nya berat zeolit. Zeolit yang diaktifkan maupun yang tidak diaktifkan menyerap ion amonium dari air buangan lebih kecil dari pada larutan NH4Cl. Ion-ion logam tersebut dapat diganti oleh kation lain tanpa merusak struktur zeolit dan dapat menyerap air secara reversible. yang pada saat ini zeolit di Indonesia dipasarkan masih dalam bemtuk alam terutama pada pemupukan bidang pertanian. Zeolit tidak dapat diidentifikasi hanya berdasarkan analisa komposisi kimianya saja. Struktur kristal zeolit dimana semua atom Si dan Al dalam bentuk . feldspar dan kuarsa dan ditemukan di daerah sekitar gunung berapi atau mengendap pada daerah sumber air panas (hot spiring). melainkan harus dianalisa strukturnya.Dengan sifat di atas maka zeolit dapat bekerja sebagai penukar ion dan sebagai penyaring melalui adsorpsi selektif atau penolakan molekul karena adanya penolakan molekul karena adanya perbedaan dalam ukuran molekul dan faktor lainnya Selanjutnya dari hasil pengujian terhadap beberapa aspek yang ada kaitannya dengan pertukaran ion pada zeolit ( Komar bersama rekan . Dengan demikian.1985 ) menjelaskan bahwa: Kecepatan pertukaran kation dalam zeolit dipengaruhi oleh besar butiran zeolit.

zeolit hanya dapat diidentifikasi berdasarkan unit bangun sekunder. Zeolit dapat melepaskan molekul air dari dalam rongga permukaan yang menyebabkan medan listrik meluas ke dalam ronggs utama dan akan efektif terinteraksi dengan molekul yang akan diabsorbsi. Sifat zeolit meliput i : 6. biasanya dikenal sebagai KTK (Kemampuan Tukar Kation). diantaranya klinoptilolit. penukar ion.15 meq/g).80-1. meskipun yang mempunyai nilai komersial ada sekitar 12 jenis. yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan KTK batuan lempung.6. kabarsit dan erionit. Nilai KTK zeolit ini banyak bergantung pada jumlah atom Al dalam struktur zeolit. Dehidrasi. Berdasarkan UBS semua zeolit baik dalam bentuk alami atau sintetik. Pada saat ini dikenal sekitar 40 jenis zeolit alam. filipsit. Zeolit sintetik dihasilkan dari beberapa perusahaan seperti Union Carbide. ICI dan mobil Oil dan lebih dari 100 jenis telah dikenal strukturnya antara lain zeolit A.5 – 6 meq/g. KTK adalah jumlah meq ion logam yang dapat diserap maksimum oleh 1 g zeolit dalam kondisi kesetimbangan. penyerap bahan dan katalisator.03-0. X. Zeolit dengan struktur “framework” mempunyai luas permukaan yang besar dan mempunyai saluran yang dapat menyaring ion/molekul. seperti kaolinit (0. zeolit dapat berfungsi sebagai katalis yang banyak digunakan pada reaksi petrokimia. Jumlah molekul air sesuai dengan jumlah pori-pori atau volume ruang hampa yang akan terbentuk bila unit sel kristal zeolit terus dipanaskan. mordernit. grup ZSM/AlPO4 (Zeolite Sielving Marerials/Aluminium Fosfate) dan bahkan akhir-akhir ini dikenal grup zeotip.50 meq/g). bentonit (0. KTK dari zeolit bervariasi dari 1.2 Sifat Zeolit Zeolit mempunyai struktur berongga dan biasanya rongga ini diisi oleh air dan kation yang bisa dipertukarkan serta memilki ukuran pori yang tertentu. Bila atom Al dinetralisir dengan ion polivalen. misalnya logam Pt. Adsorbsi . yaitu material seperti zeolit tetapi bukan senyawa alumino-silikat. Sifat dehidrasi dari zeolit akan berpengaruh terhadap sifat adsorpsinya. Y. 7. Oleh karena itu zeolit dapat dimanfaatkan sebagai : penyaring molekuler.tetrahedral (TO4) disebut unit bangun primer. Kemampuan pertukaran ion (adakalanya dengan istilah kemampuan penyerapan ion atau sorpsi) zeolit merupakan parameter utama dalam menentukan kualitas zeolit yang akan digunakan. 2.50 meq/g) dan vermikulit (11. Cu dsb.

2.25 x 10-3 cc/g. Ion-ion ini dapat bergerak bebas sehingga pertukaran ion yang terjadi tergantung dari ukuran dan muatan maupun jenis zeolitnya. Penyaring atau pemisah Volume dan ukuran garis tengah ruang hampa dalam kisi-kisi kristal menjadi dasar kemampuan zeolit untuk bertindak sebagai penyaring molekul. Telah diketahui lebih dari 40 jenis mineral zeolit di alam. Ca dan Fe masing-masing sebesar 4.39 mmol/g. volume pori 74.Zeolit juga mampu memisahkan molekul zat berdasarkan ukuran dan kepolarannya. 8.13 m2/g. Katalis Zeolit merupakan katalisator yang baik karena mempunyai pori-pori yang besar dengan permukaan yang maksimum.04 %. 1. . suhu. 9. dimana untuk molekul yang tidak jenuh atau bersifat polar akan lebih mudah lolos daripada molekul yang jenuh atau tidak polar. Molekul ynag berukuran kecil dapat melintas sedangkan yang berukuran besar dari ruang hampa akan ditahan atau ditolak. K. Dari uji pendahuluan terhadap zeoiit alam Wonosari dengan menggunakan difraksi sinar x diketahui bahwa sebagian besar penyusunnya adalah mordernit.54 dan memilki kandungan logam Na.34 %. rerata jejari pori 60.6. 10. Penukaran kation dapat menyebabkan perubahan beberapa sifat zeolit seperti stabilitas terhadap panas. Analisis lebih lanjut terhadap zeolit alam Wonosari menunjukkan bahwa zeolit mempunyai rasio Si/Al 4.29 %.39 5 dan 1. luas permukaan 24. Sifat sebagai penukar ion dari zeolit antara lain tergantung dari : sifat kation. keasaman sebesar 2. 2.2. Dari jumlah tersebut hanya 20 jenis yang terdapat dalam batuan sedimen terutama sedimen piroklastik yang berbutir halus (tuf) Komposisi dan struktur zeolit kebanyakan terdiri dari mineral mordernit dan klinoptillit.75. Jenis Zeolit Menurut proses pembentukannya zeolit dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu : 3. dan jenis anion. sifat adsorbsi dan aktifitas katalis. Penukar ion Ion-ion pada rongga atau kerangka elektrolit berguna untuk menjaga kenetralan zeolit. Zeolit Alam Zeolit alam terbentuk karena adanya proses perubahan alam (zeolitisasi) dari batuan vulkanik tuf.

Tabel 2. S6R.Zeolit yang diperoleh dari alam telah dapat digunakan untuk berbagai keperluan.5 [Al16Si10O32]12H2O Na8 [Al31SiO16]16H2O S4R S4R Ca4 [Al8Si28O72]24H2O Na6 [Al6Si30O72]24H2O T10O20 (4-4-1) T10O20 Na16[Al16Si24O31]6H2O Na16 Ca8 [Al20Si24O80]24H2O T5O10 (4-1) T5O10 Na16[Al16Si31O96]6H2O Ca16[Al16Si31O96]6H2O S4R S4R Rumus Kimia UBS . Untuk memperoleh zeolit dengan kemapuan yang tinggi diperlukan beberapa perlakuan antara lain. D6R D4R. aktivasi dan modifikasi. Akan tetapi daya serap. S8R Ca2 [Al4Si8O24]13H2O K6 Na3 [Al9Si27O72]21H2O D4R. D6R Na8 [Al8Si40O96]24H2O NaCa0. S8R Na12 Ca12 Mg11 [Al58Si134O384]235H2O Na12 [Al12Si12O48]27H2O S4R. S6R NaN [AlnSi96O192]16H2O 5 –1 Ca4 [Al8Si16O46]16H2O S4R. Klasifikasi zeolit Zeolit Grup Analsim Analsim Wairakit Grup Natrolit Natrolit Thomsonit Grup Heulandit Heulandit Klinoptilolit Grup Filipsit Filipsit Zeolit Na-P-1 Grup Mordernit Mordernit Ferrierit Grup Kabazit Kabazit Zeolit L Grup Faujasit Faujasit Zeolit A Grup Laumontit Laumontit Grup Pentasil ZSM-5 Grup Zeotype AlPO4-5 [Al12P2O48] (C3H7)4NaOH q H2O S4R. S6R. daya tukar ion maupun daya katalis dari zeolit tersebut belum maksimal.5 Mg2 [Al6Si30O72]24H2O T8O16 (5-1) T8O16 K2 Ca1.

4. dan H3PO4. dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori. c. Ini karena persamaan sifat fisik dan kimia yang dimiliki oleh kedua jenis mineral tersebut. maka para peneliti berupaya untuk membuat zeolit sintetis yang mempunyai sifat khusus sesuai dengan keperluannya. Sifat dehidrasi zeolit ini berpengaruh terhadap sifat adsorbsinya. Mineral . Aktivasi Kimiawi Pada aktivasi kimia. atau mengumpulkan tungku putar dengan pemanasan secara penghamparan selama 3 jam atau tanpa penghamparan selama 5-6 jam (skala besar). Zeolit Sintetis Zeolit mempunyai sifat yang unik yaitu susunan atom maupun komposisinya dapat dimodifikasikan. HNO3. yaitu zeolit kadar Si rendah. H2SO4. d. sehingga luas permukaan poripori bertambah. Zeolit yang dipanaskan pada temperatur tinggi menyebabkan molekul air yang ada dalam zeolit mengalami dehidrasi. dan mengatur kembali letak atom yang dapat dipertukarkan. zeolit sintetis dikelompokkan menjadi empat. Berdasarkan perbandingan kadar komponen Si and Al. kandungan modernit berkurang hampir 25 % pada suhu 700 0C. zeolit kadar Si sedang. zeolit kadar Si tinggi dan zeolit Si. membuang senyawa pengotor. Pemanasan modernit pada suhu 300 0C –1000 0C menyebabkan destruksi struktur kristal. Dealuminasi dapat digunkan untuk mengontrol aktivasi keasaman dan untuk mengontrol ukuran poripori zeolit. dealuminasi adalah yang paling penting dan dominan. Hal ini sangat penting terutama berhubungan dengan fungsi zeolit sebagai adsorben. Asam-asam yang dapat digunakan untuk aktivasi adalah HCl4. Atom-atom Al yang masih tersisa dalam zeolit masih terkoordinasi dalam rangkaian tetrahedaral dengan empat atom oksigen. Aktivasi zeolit dengan asam menyebabkan ternetralisasinya muatan negatif pada permukaan zeolit hidrogen. Pemanasan dilakukan dalam oven biasa pada suhu 300-400 0C (untuk skala laboratorium). Penggunaan zeolit sintetis pada dasarnya sama dengan zeolit alam.Proses aktivasi zeolit alam dapat dilakukan dalam 2 cara yaitu secara fisis dan kimiawi. Aktivasi Fisis Aktivasi fisis biasanya dilakukan dengan pemanasan yang bertujuan untuk menguapkan air yang terperangkap tinggi dalam pori-pori kristal zeolit. Diantara asam-asam tersebut yang paling efektif untuk dealuminasi adalah HCl. Aktivasi secara kimia dilakukan dengan larutan asam atau basa.

3 Aktivasi Zeolit Zeolit alam direndam dengan akuades selam 24 jam. Zeolit kemudian direndam dengan HF 2. 0.10 M. Zeolit ini kemudian dikalsinasi pada variasi suhu 300 C.50 M.7.lalu disaring dan dikeringkan pada suhu 110 0C selama 3 jam. dan 500 C selama 5 jam.00 N (perbandingan b/v 1:2) sambil dipanaskan sampai agak kering . lalu disaring. alam terdiri dari terutama campuran besi.6.00 M pada suhu 90 0C selama 60 menit.zeolit sintetis masing-masing mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Zeolit selanjutnya dipanaskan dengan HCl pada konsentrasi 0. tawas dan filtrasi zeolit belum pernah dilakukan. Sangat terbatas.Kebanyakan endapan zeolit beberapa jenis mineral zeolit. kemudian dicuci sampai netral dan dikeringkan pada suhu 120 0C selama 3 jam. 2.00 M. dicici sampai netral dan dikeringkan pada suhu 130 0 0 0 0 C selama 3 jam. 1987 2. 1. 0. Kemudian zeolit disaring. dinetralkan dan dikeringkan pada suhu 130 0C selama 3 jam.. 400 C. Originalitas Penelitian Penelitian tentang penurunan fosfat dengan kapur (lime). Selanjutnya zeolit direndam NH4Cl konsentrasi 0. khabasit Daya Serap hanya dan erionit mineral yang Dapat dibuat mineral zeolit yang ruang kosong bergaris tengah dari 3 A hingga 8 A Dapat menyerap hingga 50 % dari volumunya.05 M. dan 2. Mineral zeolit Sintetis Dapat sintetis tinggi. Perbedaan utama antara kedua jenis mineral zeolit alam dan sintetis . 1. sambil diaduk dengan pengaduk magnetik. . Perbedaan Mineral alam dan zeolit sintetik Macam Perbedaan Derajat Kemurnian Mineral Zeolit Alam Umumnya banyak mengandung pengotor.00 M DAN 2.00 M selama satu minggu sambil diaduk 3 kali sehari. dibuat mineral zeolit berderajat kemurnian mempunyai daya serap baik Sumber : Harjanto.50 M. Tabel 3. yang terbesar Garis tengah pori hanya terdapat pada mineral khabasit dan erionit Terbatas.

Sample air limbah Kapur Aduk Tawas Endapan Pemisahan Periksa PO4 Filtrasi Zeolit Periksa PO4 Hasil Filtrasi Gambar 2.1. Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini merupakan “Penelitian Eksperimen” dengan “design pre test and post test design “yang hasil akan diuji secara diskriptif analitis dengan korelasi.BAB III METODE PENELITIAN 3. Rancangan Penelitian .

kadar ion terlarut. f. proses pengadukan.1 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari bahan untuk pengolahan dan bahan atau reagen untuk pemeriksaan parameter pencemar terdiri dari: Bahan untuk Pengolahan 17.2 Ruang Lingkup Meliputi semua limbah cair yang dihasilkan dari seluruh kegiatan Rumah Sakit Bethesda. Variabel pengganggu Waktu kontak.suhu limbah .5 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam analisis berupa data kuantitatif yang diperoleh dari perlakuan di lapangan dan pengamatan percobaan di laboratorium. 3.3 Lokasi Penelitian Lokasi Penelitian yang dipilih yaitu limbah cair Rumah Sakit Bethesda dan uji laboratorium dilaksanakan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pembrantasan penyakit menular (BBTKL-PPM) Yogyakarta. Variabel terikat Parameter yang diperiksa pada limbah cair adalah fosfat masing-masing pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/ pengolahan. Parameter pH. Kualitas limbah cair RS Bethesda sangat fluktuatif. 3. Larutan tawas 0.4 Variabel Penelitian d. Larutan kapur 0.1 ppm 19. kemurnian kapur tohor.1 ppm . waktu pengambilan sampel.6. 3.3. sehingga waktu pengambilan sampel perlu diperhatikan agar mendapatkan kualitas yang sama pada setiap perlakuan.kekeruhan. 3. sehingga perlu adanya pengendalian terhadap variabel-variabel tersebut diatas agar penelitian ini mendapatkan hasil yang dapat dipertanggung jawabkan. Dosis pemakaian bahan kimia larutan kapur dan tawas. Air limbah RS Bethesda 18.6 Instrumen Penelitian 3. Variabel bebas e. kemurnian tawas. yang berbeda pada sampel perlakuan akan mengganggu proses pengendapan begitu pula dengan kemurnian kapur tohor dan kemurnian tawas serta proses pengadukan pada saat perlakuan apabila tidak dikendalikan / tidak disamakan pada setiap perlakuan akan didapatkan hasil tidak seperi yang diharapkan.

Timbangan Sartorius 18.6. Spektofotometer 23. Cuvet 25. Mixing Flokulator 24. Penyiapan larutan kapur 0.2 Alat Alat Pengolahan 14. Larutan Buffer pH 10 27. 3.4 Pelaksanaan Penelitian . Membuat larutan-larutan siap pakai untuk pemeriksaan parameter fosfat. Persiapan bahan dan alat serta pembuatan rangkaian alat filtrasi yang dilengkapi dengan stop kran . 2. Karet penghisap 3. Indikator Phenol Red 25. 4. Amonium Molibdat 26.6. Pipet tetes 19. Larutan pH 4 28.0010 ppm yang akan digunakan sebagai bahan pengolahan .01 ppm 24. NaOH 1 N 30.0010 ppm dan tawas 0.01 M 29. Beker glass 16.6. Air suling 32. Labu erlenmeyer 17. Larutan standar EDTA 0. H2SO4 4 N 22. Indikator PP 21. Tabung nessler 22. Pipet ukur 20.20. Buret tetes 26. pH meter 21.3 Tahapan Persiapan 1. Zeolit 3. Indikator Murexid 31. Standart fosfat 0. SnCl2 23. Labu ukur 15.

19. 18.7 Teknik Pengambilan Sampel 3. Periksa filtrat masing-masing beker glass parameter pH. 14. 17.2 Periode pengambilan sampel Pengambilan sampel diusahakan sekali dalam jumlah yang dibutuhkan agar homogenitas.3 Pemeriksaan Sampel Semua sampel diperiksa berdasarkan metode baku standard Method for examination. 16. 0. 3. Tambahkan larutan kapur pada masing-masing beker glass volume 1 ml.7.00075 ppm ml. 0. 3.00100 ppm . Isi beaker glass tersebut dengan limbah asli masing-masing sebanyak 800 ml. kemudian diberi nomor 1 s/d 3. 0. Pisahkan filtrat dari endapan. detergen dan fosfat 12. dan 0. Masing-masing beker glass ditambahkan larutan tawas yaitu 0. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode grab sampling (sesaat) selama periode tertentu.0020 ppm. Teknik Analisa Data . fosfat setelah koagulasi tersebut.00150 ppm dan 0. selanjutnya data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.7.0025 ppm.00050 ppm.0010 ppm dengan volume berturutturut 0. 0. diamkan selama 15 menit agar terjadi pengendapan. 3. aduk lambat selama 5 menit. Parameter limbah cair yang dianalisis adalah fosfat pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/pengolahan.7. Aduk cepat masing-masing selama 3 menit. Siapkan sampel limbah cair asli sebelum diolah kemudian diperiksa pH.9. 3. Siapkan deretan beaker glass sebanyak 3 buah masing-masing volume 1000 ml. 3.00200 ppm. 0. 15.kuantitas dan kualitas sampel tetap terjaga.11.00125 ppm.1 Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan pada bak penampung awal karena sudah mewakili semua limbah cair Rumah Sakit tersebut . Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan zeolit terhadap filtrat tersebut 20.0015 ppm. 13.8 Teknik Pengumpulan Data Data yang diperoleh dari hasil penelitian dikelompokkan agar memudahkan dalam analisis. Ulangi prosedur 4 s/d 10 dengan variasi kapur 0.

Koefisien determinasi diperoleh dari mengkalikan koefisien korelasi Pearson atau biasa disebut Pearson Product Moment. Jika suatu variabel tak bebas (dependent variable) tergantung pada satu variabel bebas (independent variable). Xb Dimana : Y X a b = Variabel terikat = variabel bebas = titik potong (intercept) = koefisien regresi (elastisitas/slope) Koefisien determinasi pada intinya adalah untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat.Perhitungan statistik untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini menggunakan uji Regresi Linier Sederhana. Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur prosentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dilihat dengan rumus R2 x 100%. hubungan antara kedua variabel disebut analisis regresi sederhana. Maksud dari hubungan regresi yaitu untuk mengetahui suatu variabel dapat dipergunakan untuk memprediksi atau meramal variabelvariabel lain. Rumusan matematisnya adalah sebagai berikut : R= n(ΣXY ) − (ΣX )(ΣY ) n Σ X 2 − ( Σ X ) 2 nΣ Y 2 − ( Σ Y ) 2 = Koefisien korelasi (Pearson Correlation) = variabel penambahan kapur = variabel kadar fosfat = jumlah sampel Nilai koefisien determinasi (R2) yang kecil berarti kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel terikat. Persamaan matematik yang memungkinkan untuk meramalkan nilai-nilai satu atau lebih peubah acak bebas disebut persamaan regresi. yang disimbolkan dengan huruf R. Bentuk matematisnya adalah sebagai berikut : Y = a . Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Uji F Dimana : R X Y n .

maka Ho ditolak atau Ha diterima. Bila Fhitung > Ftabel.05. artinya tidak ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. maka Ho diterima. Bila Fhitung < Ftabel. Atau 3. 4. artinya ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. maka Ho ditolak atau Ha diterima .05. Bila probabilitas F < 0.Untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Fhitung R2 / k = 1 − R 2 / (n − k − 1) ( ) Keterangan: R2 k n = = = Koefisien determinan Banyaknya perubahan bebas Jumlah data Dasar Pengambilan Keputusan 3. maka digunakan uji F. Bila probabilitas F > 0. maka Ho diterima 4.

Selanjutnya limbah yang diambil di bak equalisasi tersebut dilakukan pengolahan dengan cara koagulasi dan flokulasi.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. 1 2 Parameter pH PO4Satuan mg/l No. berikut: Tabel 4. berdasarkan pemeriksaan kadar Fosfate selama 24 jam pada inlet dan pada bak kontak.5. Keadaan Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Sebelum Pengolahan (Asli) No. Sedangkan waktu pengambilan sampel dilakukan pada jam 09.00 Wib. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi . maka parameter PO4.melebihi yang ditentukan.6404 Keterangan Sumber: Data Primer 2005 Dari hasil pengukuran diatas. hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 5. Hasil pengukuran kadar limbah RS Bethesda pada bak equalisasi secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4.5 25. Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian mengenai efektifitas dosis dengan menggunakan campuran kapur tohor [Ca(OH)2] dan tawas [Al2(SO4)3] serta filtrasi zeolit terhadap penurunan kadar Fosfat air limbah RS Bethesda Yogyakarta telah dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2005. Karena pada jam tersebut kadar Fosfat limbah cair RS Bethesda Yogyakarta pada bak equalisasi adalah yang tertinggi. berikut: Tabel 5. Sampel diambil di bak equalisasi dengan tujuan untuk mencari kadar Fosfat yang mewakili seluruh aliran limbah cair.Lab / Hasil Analisa 56 7.

0020 0.06 0.00 1.19 1.81 1.06 0.37 1.maka kadar fosfat semakin menurun.00050 0.49 1.00200 Sumber: Data Primer 2005 2.53 0.50 1.0025 ppm memberikan hasil fosfat terbaik yaitu sebesar 0.22 0.0025 Kapur (ppm) Gambar 3.0015 0.0025 Pada tabel 5 terlihat semakin tinggi larutan tawas 0.8 R2 = 0. Hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dilihat pada gambar 3.001 Fosfat (ppm) y = 0.0005 0.951 0.62 1.4.15 1.00 2.17 1.62 1.00 0.29 1.53 mg/l.00150 0.0015 Kapur (ppm) 0.50 2.82 1.00 0 0.21 1. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.0015 ppm .0055x-0.66 1.00100 0.5 dan 6 berikut: 3.00075 0.0020 ppm dan tawas 0. Pada penambahan larutan kapur 0.Tawas (ppm) 0.002 0.50 0.56 1.1 ppm yang ditambahkan.96 0.00125 0.1 ppm dan larutan kapur 0.

002 0.0005 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.6999 Kapur (ppm) Gambar 4.961 -0.0020 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.0025 y = 0.5 0 0 0.5 Fosfat (ppm) 2 1.5 1 0.001 0.0025 y = 0.0061x R2 = 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.0015 0.0005 0.7557 Kapur (ppm) Gambar 5.5 1 0.0025 ppm .002 0.5 0 0 0.0015 0.0097x R2 = 0.985 -0.2.001 0.

00100 0.3 Fosfat (ppm) 2 1 0 0 0.23 1.06 1. terlihat semakin tinggi larutan kapur dan larutan tawas yang ditambahkan . Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Tawas 0.64 0. Secara empiris.70 0.78 0.18 1.0015 Tawas 0.00075 0.03 0.28 0.0015 0.0020 Tawas 0.002 0.00150 0.00200 0.00 0.0025 ppm.0015 1.0025 1.30 0. 0.001 0. 0.66 Sumber: Data Primer 2005 Dari tabel 6.81 0.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi Pada Penambahan tawas 0.0025 ppm Selanjutnya limbah hasil perlakuan koagulasi dan flokukasi dilewatkan pada unit filtrasi zeolit diperoleh hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut: Tabel 6.maka kadar fosfat setelah filtrasi zeolit semakin kecil nilai fosfat optimal dicapai pada penambahan larutan kapur 0.26 1.hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan pembubuhan larutan kapurdan larutan tawas setelah filtrasi zeolit dapat dilihat pada gambar 7.0015 ppm.0020 ppm .01 mg/ml Kapur 0.1 ppm.0005 0.0020 1.0025 Kapur (ppm) Tawas 0. berikut: .98 0. 9 dan 10.06 0.90 1.00125 0.01 1.00050 0.01 mg/ml 0.0020 ppm dan 0.8.0025 Gambar 6.1 ppm.dan tawas 0. tawas 0.32 1.

0025 y = 0.958 Kapur (ppm) Gambar 8.5 1 0.2 Fosfat (ppm) 1.0015 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.0015 0.801 Kapur (ppm) Gambar 7.9147 R2 = 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.001 0.001 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.0016x -0.011x -0.0005 0.5 0 0 0.0005 0.6708 R2 = 0.0025 y = 0.002 0.0015 0.5 1 0.0020 ppm .002 0.5 0 0 0.

002 0.9343 R2 = 0. Pertimbangan lumpur yang dihasilkan 10.0012x -0.0025 Kapur (ppm) Taw as 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi 4.980 Kapur (ppm) Gambar 9. Dari beberapa referensi bahwa keberadaan Fosfat dalam air limbah dapat diturunkan dengan jalan pengendapan secara kimiawi. ferrichlorida atau ferrous sulfat.5 1 0. Pada penelitian ini pemakaian dosis kapur.001 0.5 0 0 0. Biaya 8.5 0 0 0. Pembahasan Limbah cair di lingkungan RS Bethesda Yogyakarta dilakukan pengolahan dengan menggunakan sistem aerob dan anerob. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan kimia sebagai penghilang Fosfat adalah sebagai berikut: 7. Kesesuaian dengan proses pengolahan lain .2 Fosfat (ppm) 1. Efektifitas bahan kimia 9.001 0.5 1 0.0025 y = 0.0005 0. dan filtarasi zeolit sangat berpengaruh dalam menurunkan kadar Fosfat.0015 0.0005 0. Senyawa-senyawa Fosfate dapat dihilangkan dengan penambahan bahan koagulan misalnya alum.0020 Taw as 0.0015 0.0015 Taw as 0.0025 ppm Fosfat (ppm) 2 1. kapur. tawas.0025 Gambar 10.6.002 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.

Efek terhadap lingkungan Dari beberapa pertimbangan diatas.11. alkalinitas.0025 ppm ditunjukkan pada Gambar 6. dengan pertimbangan keduanya akan saling mengkoreksi pH.0055x-0. belum melalui perlakuan pengolahan sama sekali. Dari hasil koagulasi / flokulasi pada Tabel 4 terlihat kecenderungan penurunan fosfat yang terjadi sebanding dengan penambahan kapur yang ditunjukkan pada : Gambar 3 dengan persamaan empiris y = 0. pH. Selanjutnya limbah dari Bak Equalisasi dikategorikan sebagai limbah asli. Perpaduan dari dua jenis koagulan. kekeruhan.0061x-0. Pengaruh penambahan kapur akan menaikkan diluar pH tersebut maka pembentukan flok sempurna.8047 Gambar 4 dengan persamaan empiris y = 0. dan 0.0015 ppm. tapi juga aman terhadap lingkungan. karena disamping harganya relatif murah. Limbah cair RS Bethesda yang digunakan sebagai bahan untuk penelitian penurunan kadar fosfat diambil pada Bak Equalisasi dengan pertimbangan limbah tersebut sudah merupakan gabungan dari semua sumber limbah yang dihasilkan.0020 ppm. Limbah asli dianalisa di laboratorium dengan parameter pH. Dosis dan perlengkapan untuk pengadukan 12. karena proses pembentukan flok pada proses koagulasi sangat dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia seperti kondisi pengadukan. Pembentukan flok akan berjalan baik pada range pH 5.8-7. tidak memenuhi baku mutu. Hasil analisa No lab 56 menunjukkan hasil pH = 7. Limbah asli diambil dalam jumlah yang cukup pada jam 09.00 pagi saat fluktuasi kualitas terjadi. dan mudah didapatkan di pasaran. PO43-.5 Baku Mutu pH = 6 . 0. sedangkan konsentrasi PO43.awal = 25. Pada Bak Equalisasi.6404 mg/l. Berdasarkan hasil pengukuran terhadap limbah asli tersebut.6999 Gambar 5 dengan persamaan empiris y = 0. maka kami pilih kapur dan tawas sebagai bahan koagulan. pH dan bereaksi dengan bikarbonat membentuk CaCO3 sebagai basa. maka perlu dilakukan penelitian penurunan kadar fosfat dengan koagulasi-flokulasi dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan zeolit. suhu. kualitas dan kuantitas limbahnya serba sama. dimana konsentrasinya fosfatnya melebihi baku mutu yang ditetapkan.9 memenuhi syarat.0097x-0.7557 Dimana : x = penambahan kapur (ml) Y = penurunan kadar fosfat (mg/l) Secara keseluruhan hasil pemeriksaan kadar fosfat dengan koagulasi dan flokulasi pada konsentrasi tawas 0.4 .

Pada proses koagulasi dan flokulasi kadar fosfat (PO43-) diharapkan mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan penambahan larutan kapur dan tawas menjadi endapan Ca3 (PO4)2 ↓ dan Al (PO4) ↓. Penurunan PO4 secara rinci terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 3, 4, 5, dan 6. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula : y = 0.0055 0.0020 ppm dan formula y = 0.0061 x-0,7557 pada penambahan tawas 0.0025 ppm. Jika dilihat dari uji statistik pendistribusian data dengan uji Kolmogorov Smirnov, diperoleh nilai p value pada masing-masing sampel lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini berdistribusi normal, sedangkan dari uji regresi , diperoleh nilai R2 semua di atas 0,70, dimana nilai R2 antara 0,70 – 1,00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat. Selanjutnya dicari nilai R dari variasi tawas 0.0015 ppm, 0.0020 ppm, dan 0.0025 ppm. Ternyata diperoleh dari data statistik variasi penambahan tawas 0.0025 ppm adalah yang tertinggi dengan nilai R = 0,992. jadi dapat disimpulkan penurunan kadar fosfat pada penambahan tawas 0.0025 ppm adalah yang paling efektif. Pada penurunan fosfat yang dilakukan dengan filtrasi zeolit setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi terlihat kadar fosfat cenderung mengalami penurunan lagi. Diharapkan pada proses filtrasi ini terjadi pemisahan yang lebih sempurna dari flocculant terhadap cairannya. Semua flok yang terbentuk tidak ada lagi yang terikat pada cairan limbah terolah. Hasil penurunan dengan filtrasi zeolit secara keseluruhan terlihat pada Tabel 6 dan Gambar 7, 8, 9 dan 10. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula y = 0.011 0.0020 ppm, dan formula y = 0.0012 x-0,9343 pada penambahan tawas 0.0025 ppm. Jika ditinjau dari uji statistik, maka diperoleh hasil dari masing-masing variasi tawas, 0.0015 ppm, 0.0020 ppm, dan 0.0025 ppm, nilai P semua variasi di atas 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini terdistribusi normal, sedangkan dari uji korelasi atau uji kekuatan hubungan antara dua variabel diperoleh nilai R2 di atas 0,70 dimana nilai R antara 0,70 – 1,00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat paling efektif. Dari hasil analisa data setelah filtrasi, didapat nilai R2 tertinggi, yaitu 0,990 pada konsentrasi penambahan tawas 0.0025 ppm. Jadi dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar fosfat pada konsentrasi penambahan tawas 0.0025 ppm setelah filtrasi adalah yang paling efektif. 4.3. Analisa Data Tabel 7. Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi No. Tawas R2 F hitung F tabel Keterangan x-0,6708 pada penambahan tawas 0.0015 ppm; formula y = 0.0016 x-0,9147 pada penambahan tawas x-0,8047 pada penambahan tawas 0.0015 ppm, formula y = 0.0097 x-0,6999 pada penambahan tawas

1 2 3

0.0015 ppm 0.0020 ppm 0.0025 ppm

0,951 0,961 0,985

78,271 99,735 260,795

(df1 = 1; df2 = 4) 7,7086 7,7086 7,7086

95,1% pengaruh kapur 96,1% pengaruh kapur 98,5% pengaruh kapur

Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.0025 ppm, kapur berpengaruh sebesar 98,5% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat. Tabel 8. Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi No. 1 2 3 Tawas 0.0015 ppm 0.0020 ppm 0.0025 ppm R2 0,801 0,958 0,980 F hitung 16,061 90,394 193,784 F tabel (df1 = 1; df2 = 4) 7,7086 7,7086 7,7086 Keterangan 80,1% pengaruh kapur 95,8% pengaruh kapur 98,0% pengaruh kapur

Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.0025 ppm, kapur berpengaruh sebesar 98,0% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 3. 4. Larutan kapur dan larutan tawas efektif menurunkan kadar fosfat dalam limbah cair RS Bethesda dengan prosentase 97,92 %. Efektifitas penurunan kadar fosfat limbah cair RS Bethesda dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dinyatakan dengan rumus empiris y=0,0061 x 0,7557 diperoleh pada konsentrasi larutan kapur 0,0020 ppm dan konsentrasi larutan tawas 0,0025 ppm. 5.2. Saran 1. Bagi peneliti lain Untuk dapat meneliti penurunan kadar fosfat dengan menggunakan metode yang lain, kemurnian bahan dan ketelitian alat sangat mempengaruhi hasil penelitian selanjutnya. 2. Terhadap RS Bethesda Supaya memilih detergen yang digunakan dengan kadar fosfat rendah. Perlu melakukan pemeriksaan kadar fosfat secara berulang-ulang, agar penambahan koagulan dapat dilakukan setepat mungkin.

S. 1992.. Kerjasama PPKSI dan HKTI. Baku Mutu Limbah Cair SK Men KLH No. Depkes RI. Kumpulan Seminar Zeo Industri. . Hartono . 1985. Rancngan Percobaan Teori dan Aplikasi. fifth ED. Pedomen Teknis Perbaikan Kualitas Air. Jakarta. Rineka Cipta. Lokakarya Nasional tentang Sanitasi RS. Yogyakarta.S Soemirat. Kesehatan Lingkungan. 03/MenKLH/II/1991. SK Men KLH No.Dirjen P2M & PLM. Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Rajawali Pers. 1992. 1985. Sebaran Endapan Zeolit dan Kegunaannya.W. 1993. J. 1998. Yogyakarta. 1994. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Kep 58/Men. Considine. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Jakarta. Douglass M. G. Makalah Pelatihan Petugas Sanitasi Rumah Sakit. 1992. Universitas Padjajaran. Hartiningsih. Telaah Kualitas Air. Pengelolaan Limbah Rumah Sakit. Jakarta. . Graw-Hill Book Company. 23 tentang Kesehatan. Jakarta. 1975. Mc. Pengelolaan Limbah Cair Rumah Sakit. J. Jakarta. Arikunto. 1994.LH/12/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit. Stell. Darsoprajitno. . BTKL Yogyakarta. 1991. 1995. . Howard S. 1992. Jakarta. Chemical and Technology Lime and Limestone. Depdikbud. Budiharjo.2003. Jakarta. Fardiaz S. 02/MenKLH/I/1988 Tentang Baku Mutu Air Pada Sumber Air. Peavy. Jakarta. Kanisius. 1974. Depkes RI. Bandung. Jakarta. Pedoman Sanitasi Rumah Sakit. Polusi Air dan Udara. Water Supply and Severage. 1993. 1992. Agustjik R. Effendi H. Depkes RI. Speet S. Yogyakarta. Hanafiah K. Jakarta . Almanak Kesehatan RI. . 1993. USA E. 1988.A. Depkes RI.Jakarta. New York.DAFTAR PUSTAKA Anonim. DKK. Environmental Engineering. 1990. Undang-Undang No. New York.Kanisius. Manajemen Penelitian.

Jakarta. Ann Arbor Science Publisher. Reksosoebroto S. 1991. E. Ilmu Hygien dan Sanitasi. Jakarta. 1992. Liberty.W. Semarang. Metodologi Penelitian Kesehatan. Singarimbun Masri. 1975. . Kesehatan Lingkungan. 1983.2003. Inc Tokyo. MC Graw-Hill Koyoleusa Ltd. Jakarta Sugiharto. 1981.. Carty. 1989. Kumpulan Makalah. R.. Universitas Indonesia. 1986. Komponen Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia. 1992. LP3ES. 1995. Jakarta. Metodologi Penelitian.. dkk.. Water Supply and Severage. Sank. Pengantar Konsep Teknologi Bersih Khusus Pengelolaan dan Pengolahan Air. Third ed. FKM Universitas Indonesia. ICH. Rajawali Press. Stell. Wirakusumah. dkk. Boynten. Jakarta. Yogyakarta. Volume A. Jakarta. Sawyer and Mc. FKM UNDIP. 1907. 1987. Suryabrata S. Michigan. Chemistry for Environmental Engeenering. Ulman’s Encyclopedia of Industrial Chemistry.Kusumanto. Notoatmojo S. Water Treatment Plant Design For The Practising Engineer.K. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah. Jakarta. Statistik Induktif. Universitas Indonesia. USA. Sanropie. New York. Inc . Pengelolaan Limbah Rumah Sakit. 1980. Fifth ED. Rineka Cipta. Metodologi Penelitian Survei. H. 1993. PPLH Universitas Gajah Mada. 1995. Penuntun Praktikm Laboratorium Air. Raharjo Mursid. Yogyakarta. STTL “YLH”. Robert S. Chemistry and Tecnology Lime and Limestone. Dasar-Dasar Ekologi Menopang Pengetahuan Ilmu-Ilmu Lingkungan. Jakarta. Koesnopoetranto H. Saleh Samsubar.. Tjokrokusumo. Tony Gates. 1988. Yogyakarta.