PENURUNAN FOSFAT DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME), TAWAS DAN FILTRASI ZEOLIT PADA LIMBAH CAIR

( STUDI KASUS RS BETHESDA YOGYAKARTA )

Tesis
Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana S-2 pada Program Studi Ilmu Lingkungan

Sudi Setyo Budi L4K003013

PROGRAM MAGISTER ILMU LINGKUNGAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2006

TESIS PENURUNAN FOSFAT DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME), TAWAS DAN FILTRASI ZEOLIT PADA LIMBAH CAIR
( STUDI KASUS RS BETHESDA YOGYAKARTA )

Disusun oleh

Sudi Setyo Budi L4K 003 013

Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Pada tanggal 21 Pebruari 2006 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

Menyetujui , Pembimbing I Pembimbing II

Ir. Danny Sutrisnanto, M.Eng

Dr. Ir. Setia Budi Sasongko, DEA

Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan ,

Prof. Dr. Sudharto. P. Hadi, MES.

LEMBAR PENGESAHAN PENURUNAN FOSFAT DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME), TAWAS DAN FILTRASI ZEOLIT PADA LIMBAH CAIR
( STUDI KASUS RS BETHESDA YOGYAKARTA ) Disusun oleh

Sudi Setyo Budi L4K 003 013
Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Pada tanggal 21 Pebruari 2006 Dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

Ketua

Tanda Tangan

Ir. Danny Sutrisnanto, M.Eng

………………………….

Anggota 1. Dr.Ir. Setia Budi Sasongko,DEA …………………………

2.

Ir. Sumarno, M.Si

…………………………

3.

Ir.Agus Hadiyarto.MT

…………………………

Aapbila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian tesisi ini bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu. Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan tesis yang saya kutip dari hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma. kaidah dan etika penulisan ilmiah. saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan yang berlaku.PERNYATAAN Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang saya susun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Program Magister Ilmu Lingkungan seluruhnya merupakan hasil karya saya sendiri. Semarang. Maret 2006 Penulis Sudi Setyo Budi L4K 004 013 .

Penguji I Dr. Hadi. Tonny Bachtiar.Sc. Ir. Purwanto.S. Sudharto. Ir. DEA Mengetahui . Dr. Siti Harnina Bintari. M. MES. Agus Sabdono.Sc. Dan Jepara) Nama Mahasiswa Nomor Mahasiswa Program Studi Konsentrasi : : : : AMELYA NILA ANDINI L4K003001 Magister Ilmu Lingkungan Managemen Lingkungan Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Pada tanggal – Juli 2005 Dan dinyatakan memenuhi syarat untuk diterima Menyetujui: Pembimbing I Pembimbing II Dr. Semarang. Penguji II Dra. Prof. P. . Dan Perairan Pantai (Studi Kasus: Jakarta.Judul Tesis : Kinetika Biodegradasi Koprostanol Oleh Bakteri Terseleksi Dari Air Dan Sedimen Pada Lingkungan Sungai. Dr. Muara. M. M. Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan .

Tesis dengan judul “Penurunan Kadar Fosfat dengan Penambahan Kapur. . telah berhasil diselesaikan pada tahun 2006. Jawa Tengah Sampai sekarang dan melanjutkan pendidikan pasca sarjana (S2) di Program Magister ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang .lulus SMA tahun 1991 dan melanjutkan pendidikan Sarjana Strata Satu (S1) pada Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (UNTAG) Semarang selesai pada tahun 2001. lahir di Pati pada tanggal 5 Pebruari 1972.Tawas dan Filtrasi Zeolit” ( Studi Kasus Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta ).BIODATA PENULIS Sudi Setyo Budi. Pada tahun 1998 Penulis menjabat sebagai Kepala Desa (Lurah) pada pemilihan kepala Desa di Kabupaten Pati. Selama menempuh pendidikan S1 penulis aktif didalam kegiatan Organisasi Kemahasiswaan.

ibu dan semua saudaraku tercinta untuk semua doa. Sudharto. 5. Amien. Setia Budi Sasongko. MES sebagai Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan. Bapak. M.Eng sebagai dosen pembimbing I. DEA sebagai dosen pembimbing II. P. 2. kesabaran. 6.Hadi. koreksi dan penyempurnaan. 4. yang telah Sudi Setyo Budi . Serta rekan-rekan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang memberikan semangat dan bantuan dalam penyelesaian tesis ini. Dr. Teman-teman Magister Ilmu Lingkungan angkatan 2003 kelas reguler memberikan kenangan.KATA PENGANTAR Tesis ini disusun untuk memenuhi tugas akhir pada Program Pasca Sarjana Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang. Penulis. semangat dan dorongan dalam penyelesaian tesis ini. pengelola dan karyawan Program Magister Ilmu Lingkungan yang membimbing dan memberikan bantuan dan saran dalam menyelesaikan penelitian ini. 3. 7. telah mendapatkan bimbingan serta arahan guna penyempurnaan isi dan tulisan sekaligus persetujuan dari dosen pembimbing dan penguji. Tesis ini merupakan rangkaian akhir dari persyaratan dalam mencapai gelar kesarjanaan Program Pasca Sarjana (S2) yang telah diseminarkan dan mendapatkan tanggapan. Semoga segala kebaikan dan ketulusan Bapak/Ibu/Saudara dalam membantu penyelesaian tesis ini mendapatkan imbalan dari Allah SWT. Ir. Tesis yang berjudul Penurunan Fosfat Dengan Penambahan Kapur (Lime) Tawas Dan Filtrasi Zeolit Pada Limbah Cair ( Studi Kasus Rs Bethesda Yogyakarta ). Prof. Dr. Para dosen. Ir. Danny Sutrisnanto. Untuk itu pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat : 1.

Sedangkan nilai R pada masing-masing konsentrasi setelah filtrasi adalah R0. jadi dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 0. Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah rumah sakit yang mengandung fosfat tinggi melebihi melebihi baku mutu yang ditetapkan akan menyebabkan problem lingkungan hidup. Hubungan terendah pada konsentrasi 0. meliputi sanitasi rumah sakit.INTISARI Rumah sakit dalam kegiatannya banyak menggunakan bahan-bahan yang berpotensi mencemari lingkungan.895.0020 ppml = = 0. limbah cair .0015 ppm dan hubungan tertinggi pada konsentrasi 25 ml. Kadar bahan pencemaran fosfat dari limbah cair rumah sakit yang melebihi baku mutu yang ditetapkan. tawas. R0.0025 ppm.0015 0.981.0015 ppm = 0.992. zeolit.0025 ppm yang paling efektif.0025 ppm yang paling efektif.979.0020 ppml = 0. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektifitas penurunan kadar fosfat limbah cair rumah sakit Bethesda Yogyakarta sebelum dan setelah melalui perlakuan penambahan larutan kapur dan larutan tawas serta filtrasi zeolit. Hubungan terendah pada konsentrasi 0. R0.0015 ppm dan hubungan tertinggi pada konsentrasi 0. Penelitian dilakukan pada limbah cair Rumah Sakit Bethesda dan uji laboratorium dilaksanakan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pembrantasan penyakit menular (BBTKL-PPM) Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan analisa design pre test and post test design dan hasilnya akan diuji secara diskriptif analitis dengan korelasi. kapur. R0. jadi dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 0.975. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai R pada masing-masing konsentrasi setelah flokulasi dan koagulasi adalah R0. R0.0025 ppm = 0. untuk itu perlu dilakukan penanganan bahan pencemar fosfat limbah cair rumah agat tidak mencemari lingkungan.990.0025 ppm ppm = 0. yaitu pada sistem pengolahan dan pengelolaan pencemaran Rumah Sakit Bethesda. Kata Kunci: fosfat.

Result of research indicate that R value at each concentration after of flokulasi and koagulasi is R0. zeolite. Contamination which because of consist hospital waste of phosphate will cause environment problem. can be concluded that concentration of 0. alum.0020 ppml = 0.0015 ppm and highest link at concentration of 0.0015 ppm = 0.0025 ppm. become can be concluded that concentration of 0. R0. chalk. that is at processing system and management of Bethesda Hospital contamination. covering hospital sanitation. This research aim to know storey. Phosphate contamination materials rate of hospital liquid waste have exceeded standard quality of which is specified. While R value at each concentration after filtrasi is R0.992. R0.979. Method in this research is eksperimental with analysis of pre test design and post test design which is its result will test by diskriptif analytical with correlation. Lowest link at concentration of 0. For that require to be conducted by handling of contamination materials of house liquid waste phosphate in order not to contaminate environment. R0.895.0025 ppm = 0.981. Keyword: phosphate. level of efektifitas degradation of liquid waste phosphate rate of Bethesda Yogyakarta hospital before and after passing treatment of condensation calcify addition and alum condensation and also zeolite filtration.0025 ppm = 0. liquid waste.ABSTRACT Hospital in its activity using many materials which potentialy contaminate environment.0015 ppm and highest link at concentration of 0.0025 ppm is most effective. Research have been done at liquid waste of Bethesda Hospital and laboratory test executed in The mayor technical center of Environment Health and Epidemic control (BBTKLPPM Yogyakarta.0025 ppm is most effective. Lowest link at concentration of 0. R0. .990.0015 ppm = 0.0020 ppml = 0.975.0025 ppm.

................................ KATA PENGANTAR ................. Kapur ................................ 2........................................ 2........................ DAFTAR GAMBAR ............... DAFTAR ISI ... Latar Belakang Masalah.................... Fosfat .........................................4.. Pengertian Limbah Cair Rumah Sakit ....5. 1............. 2.......2....... 2............... DAFTAR TABEL........................ Klasifikasi Rumah Sakit .... 2................... 2.............. 2..... 1.......................................1..1...... 1............................................6................................ Karakteristik Limbah Cair Rumah Sakit ................................. Sifat-Sifat Tawas Dan Penggunaannya ....................... 2......... 2.................... 2.. 2.................................. Sumber Limbah Cair Rumah Sakit .... Rumah Sakit ................................................................................................................ Koagulasi dan Flokulasi ........2........ Unit-Unit Pengolahan Air Limbah RS Bethesda ................1...........................................3.1..............................3..........................................3..............1..................................... 2............ Koagulasi ................................................................................................................................5..............................6........... 2.....................2................ DAFTAR LAMPIRAN ..................................... Identifikasi dan Perumusan Masalah.................................................. Sifat Zeolit ........3.... 2............... 1...............2.. BAB I PENDAHULUAN ... Flokulasi...................................................................... Tujuan Penelitian ............................................................. i ii iii iv vi vii viii ix 1 1 4 4 4 5 5 9 9 10 11 13 16 16 18 18 19 19 22 23 25 .............. HALAMAN PERNYATAAN ... BAB II TINJAUAN PUSTAKA .........1..4.1.............................. ABSTRAK / INTISARI ... Zeolit .......1..1......... 2.....................1....4............................. Kegunaan Penelitian ........ Pemisahan Fosfat ...............1..................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN PENGESAHAN ..............3..2.........................................................................

........... Teknik Pengambilan Sampel ...............2.2. 2...... Tahapan Persiapan ..........2................................................................................................4..................... 3... 3......... Periode Pengambilan Sampel . 3...................8....1.......6.......... Teknik Analisa Data .............................. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................. 3....................... 26 29 29 30 30 31 31 31 31 31 31 32 33 33 33 33 33 34 34 34 36 36 40 43 44 44 44 45 .................6.................... BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................... Pengambilan Sampel.................................. BAB III METODE PENELITIAN ..................6...................................................3.......1.................................. 3............. 3........ Saran ........................... 4.....7.3.1.. 3...... 3... Originalitas Penelitian ................................. 3..................................... Teknik Pengumpulan Data ............... Jenis Zeolit ..............3............................. Aktivasi Zeolit .... Pemeriksaan Sampel .........1... Pembahasan ................. Analisa Data ... 5.................... DAFTAR PUSTAKA ...................... Kesimpulan .3............. Lokasi Penelitian ..................... Ruang Lingkup ........7.............. Hasil Penelitian dan Analisis Hasil .......6........ Jenis dan Sumber Data................... 2..2...................... 5......................................................6......3............................. 3....... 3..................... 3........... 3.....9............. Instrumen Pebelitian .....................2. 3..7................................................. 4.........5......... 3............. 3..................4....7............................6.............................................. Pelaksanaan Penelitian ...............................1........................................................... Rancangan Penelitian . Bahan ................................................................2......................................7.............2........ 4........6...... Variabel Penelitian ........ Alat ........

.....Perbedaan Mineral Alam dan Zeolit Sintetik ..................................Keadaan Limbah cair RS Bethesda Yogyakarta sebelum Pengolahan .........................Klasifikasi Fosfat.............................................................. 7................................................... 8........................................ 3............................ 17 26 28 36 4.................................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi .................DAFTAR TABEL Halaman 1....................................................... (Asli) ....Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi ...... 2........................Klasifikasi Zeolit ..........................................Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi ..Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi / Flokulasi 36 38 43 43 6................... 5..............................

...................0020 ppm ......0020 ppm.........0025 ppm........ 6. 0...0015 ppm ......................DAFTAR GAMBAR Halaman 1..................................Rancangan Penelitian ......Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0............0015 ppm..................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0.........0025 ppm .................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0......0025 ppm ...................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0....... 8.............. 7..............0020 ppm .......... 2.......................... 0.......... 0.................... 5..........Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0.............................. 4............ 10.Pola Klasifikasi Fosfat .Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0.................... 40 40 39 39 38 38 37 37 17 29 ..0020 ppm........................... 0......0015 ppm............. 3....................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0.......................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda YogyaKarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0.....0025 ppm .......0015 ppm ................. 9...

0015 ppm.....DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1........... dan 0.......... Hasil Pengolahan Penurunan Kadar Fosfat Limbah Cair Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta .... Penambahan Tawas (Kadar Fosfat setelah Filtrasi ) Regression (Konsentrasi 0.... Peta Yogyakarta 60 57 51 . 0...... 47 2.0025 ppm) 3.. Penambahan Tawas (Kadar Fosfat sebelum Filtrasi ) Regression (Konsentrasi 0... 0.0025 ppm)....0020 ppm....0015 ppm.... Foto-foto Penelitian 4. dan 0.0020 ppm..............

1 Latar Belakang Masalah Rumah sakit dalam kegiatannya banyak menggunakan bahan-bahan yang berpotensi mencemari lingkungan.BAB I PENDAHULUAN 1.70 Yogyakarta. Kondisi eutrofik sangat memungkinkan algae tumbuh berkembang biak dengan pesat (blooming) akibat dari ketersediaan fosfat berlebihan serta kondisi lain yang memadai.Limbah rumah sakit yang mengandung fosfat akan menyebabkan problem lingkungan hidup yaitu menyebabkan Eutrofikasi. Problem eutrofikasi baru disadari pada dekade awal abad ke-20 saat algae banyak tumbuh di ekosistem air. kamar mayat. Definisi dasarnya adalah pencemaran air yang disebabkan munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air. Banyaknya enceng gondok yang bertebaran dimanamana juga disebabkan dari fosfat yang sangat berlebihan ini. Nitrogen (N). Problem ini disinyalir akibat langsung dari aliran limbah yang mengandung fosfat tinggi. berbau tidak sedap dan kekeruhan menjadi sangat meningkat. Dalam waktu 24 jam saja populasi algae bisa berkembang dua kali lipat dengan ketersediaan fosfor yang berlebihan akibat limbah fosfat diatas. racun dan bahan berbahaya bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya maupun dalam lingkungan rumah sakit itu sendiri.seperti: detergen. rawat inap. kualitas air di banyak ekosistem air menjadi sangat menurun. . Menyadari bahwa fosfatlah yang menjadi penyebab terjadinya eutrofikasi. laboratorium. Melalui penelitian panjang di AS para peneliti akhirnya bisa menyimpulkan bahwa fosfor merupakan elemen kunci diantara nutrient utama lainnya seperti: Carbon (C). Sumber-sumber pencemaran yang terdapat di rumah sakit berasal dari kegiatan dapur. Tidak heran jika algae bloom terjadi di banyak ekosistem air. Hal ini bisa dikenali dengan warna air menjadi kehijauan. dan Fosfor (P) didalam proses eutrofikasi. asrama dll. ruang operasi . Di samping itu kegiatan rumah sakit juga menghasikan limbah cair yang bersifat infeksius. Air dikatakan eutrofik jika konsentrasi phosphorus (TP) dalam air berada pada rentang 35-100 g/l. maka perhatian para saintis dan kelompok masyarakat pecinta lingkungan hidup semakin meningkat terhadap masalah ini. Rumah sakit Bethesda merupakan rumah sakit dengan type B berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman N0. Ada kelompok yang condong memilih cara-cara penanggulangan melalui pengolahan limbah cair yang mengandung fosfat. Sebenarnya jumlhah fosfat yang diperlukan oleh blue-green algae makhluk hidup air penyebab algae bool untuk tumbuh ternyata hanya dengan konsentrasi 10 ppb (part perbillion) fosfor saja blue-green algae sudah bisa tumbuh. laundry. ada juga yang melarang secara tegas keberadaan fosfat dalam detergen. Akibatnya.

Karena kita ketahui bahwa limbah rumah sakit merupakan bahan dan sumber pencemar yang sangat kompleks karena limbahnya bisa mengandung kuman ksius. Pada saat ini rumah-rumah sakit yang ada melakukan pengolahan limbahnya pada Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) tetapi ada juga yang hanya secara konvensional (septic tank dan peresapan) dan bahkan tanpa pengolahan (langsung dibuang ke lingkungan). Negara-negara kawasan Eropa juga memiliki komite khusus dengan nama Scientific Committee on Fosfates in Europe yang memberlakukan The Urban Waste Water Treatment Directive yang berfungsi untuk menangani problem fosfat dari limbah cair dan cara penanggulangannya. Mereka juga memilki jurnal ilmiah European Water Pollution Control. justru menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat disekitarnya maupun masyarakat yang menggunakannya (nosokomial). Oleh karena Itu untuk pennganan limbah rumah sakit yang dihasilkan harus dikelola sesuai dengan karakteristik dan volume limbah sehingga dapat meminimalkan dampak negatif yang dihasilkan sehingga lingkungan dapat menerima dan diuraikan (self purification). Pemecahan problem ini di Indonesia sangat menuntut peran serta masyarakat. Kaitannya dengan kesehatan. tempat mencetak tenaga kesehatan dan sarana penelitian. disamping Environmental Protection Agency/EPA yang memberlakukan peraturan dan pengawasan ketat terhadap pencemaran lingkungan. yang perlu kita waspadai adalah zat-zat kimia yang bersifat peresisten (yang tidak dapat untuk jangka waktu yang lama didalam lingkungan). logam berat (karsinogenik) maupun radioaktif. Untuk itu perlu pengelolaan lingkungan rumah sakit secara cermat sehingga output tidak menimbulkan dampak terhadap masyarakat. ini yang sangat dikhawatirkan . Rumah sakit itu befungsi sebagai sarana kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan. tetapi juga menjadi persoalan global yang rumit untuk diatasi sehingga menuntut perhatian serius banyak pihak secara terus-menerus. saintis. akumulasi di dalam organisme dan lingkungan serta terjadinya biomagnifikasi/rantai makanan. praktisi dan pemerintah menjadi tugas yang mendesak untuk menyelamatkan sumber daya air dari bencana eutrofikasi serta memelihara dan mengolahnya untuk kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang. Karena tidak dapat terurai secara alamiah maka terjadi karena berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Karena itu perlu upaya secara terus menerus untuk meningkatkan budaya dan pola pikir agar faktor lingkungan menjadi prioritas utama dalam melakukan pengelolaan rumah sakit. Eutrofikasi merupakan contoh kasus dari problem yang menuntut pendekatan lintas disiplin ilmu dan lintas sektoral. Jangan sampai rumah sakit yang dianggap sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Dewasa ini persoalan eutrofikasi tidak hanya dikaji secara lokal dan temporal.

2. maka rumah sakit Bethesda sangat membutuhkan sarana instalasi limbah cair tersebut agar parameter limbah cair yang melebihi baku mutu khususnya fosfat dapat ditangani. bedah plastik. Pelayanan rehabilitasi medik a. pelayanan sterilisasi. Rawat Jalan a. . bak pengendapan. Spesialistik (penyakit dalam. Perawatan Umum b. rehabilitasi sistem neuromuskuler dan lekomotor. paru. pengolahan. mata. kesehatan anak. instalasi pemeliharaan saran. haimodialisa. USG. bedah urologi dan bedah digestik). gigi. obsteriginekologin. kolam ikan. b. bak Pre treatment bak laundry. mata kulit dan kelamin. kesehatan jiwa. bedah orkologi. farmasi. Pengelolaan yang dilakukan mencakup penyimpanan. kamar operasi. syaraf. syaraf. pengering lumpur. sand filter. Pelayanan penunjang Yaitu laboratorium. c. Rehabilitasi mental spiritual c. kesehatan anak. pengolahan makanan dan gizi. bak equalisasi . 6. bak penampung awal terpadu. paru. Pelayanan gawat darurat 4. Penunjang umum Yaitu administrasi. Spesialistik (penyakit dalam. Unit-unit yang ada di rumah sakit 1. bedah plastik.bak penampung awal. kesehatan jiwa. bedah orkologi. KIA dan KB) b. Poliklinik (umum. penimbunan hasil pengolahan. digester. bedah. Penanganan IPAL rumah sakit Bethesda belum sempurna oleh karena itu. pengumpulan. bedah ortopedi dan bedah rekonstruksi. c. Rawat inap a. THT. kulit dan kelamin serta rehabilitasi medik. CT-Scan. Fisik (rehabilitasi sistem radiovaskuler. rehabilitasi sistem pernafasan. bedah urologi dan bedah digestik). Sub spesialistik (bedah syaraf. Sub spesialistik (bedah syaraf. 3. Prothese dan ortotik 5.Pengolahan limbah cair yang sekarang dilakukan rumah sakit Bethesda meliputi penangkap lemak. pendidikan dan penelitian dan informasi. bedah ortopedi dan bedah rekonstruksi. radiologi. bak an aerob . bedah obsterigine. dan rehabilitasi medik). kamar bersalin dan beddah sentral. kologin. THT.

3 Tujuan Penelitian Meneliti tingkat efektifitas larutan kapur. BAB II TINJAUAN PUSTAKA .1. Dari latar belakang dan identifikasi maka dapat dirumuskan sebagai berikut : Apakah kadar bahan pencemar yang fosfat yang terkandung dalam limbah rumah sakit dapat diturunkan sehingga memenuhi baku mutu yang ditetapkan ? 1.4 Kegunaaan Penelitian Untuk membantu pihak pengelola rumah sakit dalam rangka penanganan limbah cair khusus parameter fosfat sehingga tidak mencemari lingkungan. 1. larutan tawas dan zeolit untuk menurunkan kadar fosfat dalam limbah cair Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah Identifikasi Limbah cair Rumah Sakit mengandung bahan pencemar yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat sekitarnya Parameter fosfat yang terkandung dalam limbah cair Rumah sakitmelebihi baku mutu yang ditetapkan.

Scheurer mendirikan Rumah Sakit Petronella di kampung Gondokusuman. disamping juga merupakan pusat latihan tenaga kesehatan dan tempat untuk mengadakan pelatihan medis. Dalam kurun waktu 1924-1925. semasa kepemimpinan dr.Offringa. Rumah sakit akan menghasilkan limbah yang bersifat infeksius. Rumah Sakit Petronellapun bernama resmi Het Zendingsziekenhuis Petronella Voor on en minvermogenden (Rumah Sakit Petronella untuk orang-orang yang kurang dan tidak mampu). dengan dr. pencegahan. J. dr. yaitu dr. Ketika menerima subsidi dari pemerintah. dengan kapasitas awal 150 tempat tidur dan dikelola sepenuhnya oleh gerejagereja Gereformed di Amsterdam. toxic dan radioaktif dalam melakukan kegiatannya sehingga perlu adanya upaya penyehatan lingkungan rumah sakit. maka rumah sakit diharapkan berangsur akan berkembang kearah pelayanan kesehatan paripurna yang mencakup upaya peningkatan.G. pengobatan dan pelayanan kesehatan. Salah satu upaya penyehatan lingkungan rumah sakit teresbut adalah peraturan pemerintah tentang adanya suatu satuan kerja yang bertanggungjawab terhadap penyehatan lingkungan rumah sakit yaitu Instalasi Sanitasi melaui SK Menkes No. Pada tahun 1899 dr. Rumah Sakit Rumah Sakit adalah integrasi organisasi sosial dan kesehatan yang berfungsi melayani masyarakat dengan pelayanan kesehatan secara menyeluruh baik kuratif maupun preventif serta pelayanan penderita berobat jalan mencakup lingkungan keluarga. Tujuannya untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari bahan buangan atau limbah rumah sakit serta mencegah meningkatnya infeksi nosokomial di lingkungan rumah sakit. Offringa dan dr. Sewaktu terjadi perang antara Sekutu dan Jepang.Groot. Setelah proklamasi kemerdekaan. Pruys.1. kapasitas rmah sakit yang semula 150 tempat tidur ditingkatkan menjadi 475 tempat tidur. Rumah Sakit Jogjakarta Tjuo Bjoin direbut dari Jepang dan berganti nama menjadi Rumah Sakit Pusat. Lucas Gerard Johannes Samallo sebagai dokter . K. Rumah sakit merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh.P. Rumah Sakit Petronella disebut juga sebagai rumah sakit Dokter Tulung/Pitulung karena tidak memungut biaya perawatan rumah sakit. dr.2. 548/Menkes/VI/1994 tanggal 13 Juni 1994.Scheurer kembali ke Belanda pada tahun 1906 dan kepemimpinan RS Petronella selama 36 tahun berikutnya dibagi rata oleh tiga orang dokter.J. tetapi untuk mencapai tujuan pembangunan bidang kesehatan. pasien-pasien Petronella dipindahkan ke rumah sakit darurat di Pingit (sekarang asrama Polisi) dan Rumah Sakit Petronella dipindahkan kembali ke Gondokusuman dan berganti nama menjadi Jogjakarta Tjuo Bjoin (Rumah Sakit Pusat Jogyakarta) dan dipimpin oleh orang Jepang.J. sering dikenal sebagai bentuk pelayanan yang berorientasi pada pelayanan kuratif saja.

966/1997 tanggal 22 Juli 1997 tentang organisasi dan tata kerja RS Bethesda Yogyakarta yang terdiri dari: • • • • • • • • • • • • • Direktur Wakil Direktur Pelayanan Medik Wakil Direktur Penunjang Medik Wakil Direktur Keuangan Wakil Direktur Personalia dan Umum Bidang Satuan Pengawasan Intern Bidang Sekretariat Bidang Perencanaan. Rumah Sakit Bethesda terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di jalan Jenderal Sudirman No. Penelitian dan Pengembangan Bidang Pelayanan Keluarga Berencana RS Bethesda Bidang Sosial Pastoral Bidang usaha Peningkatan Kesehatan Masyarakat (UPKM) Bidang Pendidikan SPK dan Bidan Bidang Pelayanan Kesehatan (YANKES) Lempuyangwangi . 70. tanggal 28 Juni 1949. Kotamadya Yogyakarta. dengan batas-batas: • • • • Utara Selatan Timur Barat : Jalan Jenderal Sudirman : Universitas Kristen Duta Wacana dan Komplek DKT : Jalan Dr.3880/K. Wahidin : Jalan Johar Norhadi Struktur Organisasi Rumah Sakit Bethesda Struktur organisasi RS Bethesda Yogyakarta sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Pimpinan Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (DP-YAKKUM) No. Supaya umum mengetahuinya bahwa Rumah Sakit Kristen.935 m2 dengan luas bangunan mencapai 25.uk RS BETH /1996 tanggal 23 Maret 1996 dan kemudian diberlakukan di RS Bethesda dengan Surat Keputusan Direktur No. 1714 / K.412 m2 dan tanah kosong dalam komplek 36.pertama berbangsa Indonesia yang memimpinnya. rumah sakit secara resmi berdiri dan beroperasi di Yogyakarta dengan nama Rumah Sakit Bethesda. maka berdasarkan hasil rapat Dewan Pimpinan YAKKUM (Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum) selaku pengawas yang berpusat di Surakarta. Lokasi Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta terletak pada sebidang tanah yang mempunyai luas 61.423 m2 .

WC. Limbah cair berupa: • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Darah. Kotoran lemak Deterjen Specimen laboratorium padatan Perban/kasa Spet suntikan Kapas darah Sisa makanan Kertas Plastik Kaca Sisa amputasi Sisa persalinan Sisa operasi Sisa outopsi Sisa insenerasi Gas dari sisa pembakaran di Instalasi Gizi Asap dari pembakaran di Instalasi Incenerator Uap air atau kondensat dari Instalasi Laundry Utilitas 1. maka kualitas dan kuantitas air yang digunakan untuk 2. alkohol. Air buangan dari kamar mandi. dan wastafel. Bahan polutan yang ada merupakan hasil dari berbagai aktivitas yang menimbulkan dampak dan kemungkinan bahan polutan yang ada antara lain: 1. Limbah padat berupa: 3.Bahan Polutan Rumah Sakit Bethesda Bahan polutan yang ada dapat diamati dengan jelas dari setiap kegiatan yang dilakukan RS Bethesda Yogyakarta. Pengadaan Air Air bersih merupakan kebutuan mutlak yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan setiap rumah sakit dimanapun juga. Mengingat bahwa rumah sakit merupakan tempat tindakan pelayanan dan perawatan orang sakit. asam sulfat (merupakan specimen laboratorium). Limbah gas berupa: .

pengunjung dan karyawan.1. Yang kemudian di pompa water tower yang berjumlah 2 buah. 2. baik untuk bekerja maupun untuk penyimpanan barang atau peralatan elektronik. Tabung pemadam kebakaran sejumlah 64 buah Pihak RS Bethesda juga bekerjasama dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kodya dan KODAM IV/Diponegoro. demikian juga untuk ruang tidur pasien atau bangsal.1. Selain menggunakan sumber listrik PLN. dengan sistem otomatis. Fasilitas Pemadam Kebakaran Hydrant. Pengadaan listrik di RS Bethesda berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebesar 5500 kVa. Pengadaan Listrik Pencahayaan atau listrik digunakan di semua ruangan yang ad. b. 3. taman dan untuk pelayanan penerangan umum lainnya.kebutuhan rumah sakit harus selalu dipertahankan agar tidak dapat mengakibatkan sumber infeksi baru bagi penderita . 2. untuk itu pihak RS Bethesda menggunakan 5 (lima) buah pompa dengan daya 10 pk dan 7.5 pk. Genset beroperasi secara otomatis apabila suplai listrik dari PLN tidak berjalan atau padam. yang diletakkan di dalam sumur berkedalaman30 sampai 40 meter. • • • • • • • Pengadaan Transportasi Pengadaan mobil operasional terdiri dari: Mobil ambulance Mobil jenazah Mobil kijang Mikrobus Minibus Sedan Open Cup : 4 buah : 1 buah : 3 buah : 2 buah : 1 buah : 2 buah : 1 buah Dengan tenaga sopir 11 orang 4. a. yang ditempatkan di 16 titik yang dianggap dapat mewakili seluruh areal bangunan RS Bethesda. Jumlah dari kebutuhan air bersih untuk RS Bethesda diperkirakan ± 875 m3 per harinya. Pengertian Limbah Cair Rumah Sakit Pengadaan fasilitas untuk pemadam kebakaran berupa: . RS Bethesda juga menggunakan 2 buah genset yang mempunyai daya 500 kVa dan 375 kVa.

Sumber Limbah Cair Rumah Sakit . Rumah Sakit Umum (RSU). air bekas pencucian dan lain-lain. urine. tinja.Limbah cair rumah sakit merupakan limbah cair dari semua sumber pembuangan misalnya kloset. RSU masih dibagi lagi menjadi beberapa type/kelas RSUP (RSU Pemerintah) dapat diklasifikasikan menjadi RSU type A. Terakhir RSU Type D atau Kelas Pratama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis dasar. 2. yang dikelola oleh Depkes dan merupakan milik pemerintah (pusat atau daerah).1. 2.Sedangkan RSU Swasta dibagi atas Kelas Utama. Madya.3. ruang operasi dan lainnya. ruang bedah dan runag lain dalam bnagunan kecuali limbah cair radiologi. Benang merah yang menghubungkan RSUP DAN RSU Swasta adalah paralelisasi antara Type B dan Kelas Utama. C dan D. Rumah Sakit khusus. Keputusan Menkes RI No. dapur.1. ruang pasien. Berdasarkan status kepemilikan /pengelolaan a. Departemen Hankam dan BUMN. B. sisa bahan kimia/radiologi. Macam jumlah dan kadar zat pencemar yang dihasilkan dari setiap sumber tersebut bervariasi tergantung kegiatan/aktivitasnya dan bahan yang digunakan. Type C dan Kelas Madya serta Type D dan Kelas Pratama. yang menangani hampir semua penyakit/memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar. RSU Type B atau Kelas Utama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan subspesialistik terbatas. 1. ruang laboratorium. Limbah tersebut dapat berupa sisa darah. tempat pencucian pakaian. sisa obat. 983/SK/Menkes/XI/92 menyebutkan bahwa RSU Type A adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan subspesialistik luas. spesialistik dan subspesialistik. Rumah Sakit Swasta. RSU Type C atau Kelas Madya adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik dasar. Limbah cair rumah sakit adalah limbha cair yang berasal dari rumah sakit baik ynag berasal dari dapur.2. b. Sedangkan Rumah Sakit Bethesda tergolong RSU Kelas Utama. Rumah Sakit Negeri/ Pemerintah. Berdasarkan macam/jenis penyakit yang ditangani a. 2. yaitu. b. Klasifikasi Rumah Sakit Secara umum industri rumah sakit dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian. dan Pratama. yang menangani hanya 1 (satu) atau beberapa jenis penyakit tertentu. kamar mandi. yang dikelola oleh yayasan.

tempat cuci instrumen medik. Wastafel. 2. 4. buangan pembilas air panas. urinoir. Wastafel. tempat cuci sayur/buah. Spoelhock. Limbah cair alur barat Limbah cair dari alur barat lebih didominasi oleh air buangan yang berasal dari ruang-ruang rawat inap (kamar mandi/WC. Wastafel. 3. tempat wudlu. 9. Ruang Rawat Jalan: Kamar mandi. Untuk mengetahui jenis limbah yang dihasilkan yang digunakan sebagai dasar cara pengolahannya maka perlu diketahui sumber-sumber yang menghasilkan limbah rumah sakit. Wastafel. tempat mencuci jenazah. tempat cuci instrumen medik. Unit Perkantoran/Perpustakaan: Kamar mandi. tempat cuci perabot makan. tempat cuci alat-alat dapur. tempat buang exudat pasien. Wastafel. Wastafel. urinoir. Wastafel. tempat cuci instrumen medik. Pemukiman (Rumah Dinas. parasit. Spoelhock. tempat cuci instrumen medik. Ruang Kamar Jenazah/Autopsi: Kamar mandi. Ruang Rawat Darurat: Kamar mandi. pantry. 12. pantry. Sumber Penghasil Limbah RS Bethesda Limbah rumah sakit adalah semua air buangan yang berasal dari aktivitas instalasiinstalasi rumah sakit yang kemungkinan besar mengandung mikroorganisma. kamar mandi. tempat buang exudat pasien. yang disalurkan melalui assenering baik assenering DKP maupun assenering pihak RS Bethesda sendiri menuju instalasi pengolahan air limbah. 10. Adapun sumber-sumbernya adalah sebagai berikut: 1. tempat cuci preparat. Unit Radiologi: wastafel.Dalam melakukan kegiatan pelayanan kesehatan rumah sakit akan menghasilkan limbah cair. Fasilitas Sosial (Kafetaria. tempat cuci instrumen medik. Air limbah ini mengalir . tempat buang exudat pasien. buangan dari pembilas mesin cuci. 8. Sumber-sumber limbah rumah sakit meliputi: 1. floor drain. Spoelhock. tempat pembedahan mayat/autopsi. Ruang Perawatan berasal dari: Kamar mandi. Ruang Haemodialisa: Kamar mandi. Ruang Operasi: Kamar mandi. 13. Instalasi Laboratorium Klinik/Patologi Anatomi: Kamar mandi. floor drain. tempat cuci beras. urinoir. urinoir. 5. Ruang Dapur: Kamar mandi. Spoelhock. Ruang Laundry: tempat rendaman linen kotor. Asrama): Kamar mandi. Wastafel. tempat cuci film. tempat cuci instrumen medik. bahan kimia beracun dan radio aktif. floor drain. 6. urinoir. tempat cuci perabot makan. wastafel. 7. urinoir. wastafel) dan di tambah buangan dari asrama putra AKPER RS Bethesda. Masjid): Kamar mandi. pantry. 11.

Instalasi gizi (dapur) Kegiatan instalasi gizi yaitu melayani kebutuhan makanan pasien maupun karyawan sehingga dari kegiatan ini juga dihasilkan limbah cair. warna dan temperatur. lemak dan detergen untuk kemudian diolah secara bertingkat. 2.1.9 % dan sisanya terdiri dari partikel-partikel tidak terlarut 0. ruang radiologi dan lain-lain yang menghasilkan limbah. kimia dan biologis. a. bau. Zat organik tersebut sebagian besar mudah terurai (degradabel) yang merupakan sumber makanan dan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme yang lainnya. Sifat Fisik Penentuan derajat kekotoran air limbah sangat dipengaruhi oleh adanya sifat fisik yang mudah dilihat. Dari laundry ini dihasilkan limbah cair dengan kandungan detergen yang tinggi sehingga memilki pH dan suhu yang tinggi. Limbah cair alur timur Limbah cair alur timur memilki karakteristik pencemar yang lebih kompleks. Adapun sifat fisik yang penting adalah kandungan zat padat sebgaai efek estetika. 25 % karbohidrat dan 10 % lemak. Laundry Laundry juga merupakan salah satu instalasi penting yang umum dimiliki oleh setiap rumah sakit tidak terkecuali RS Bethesda. 3. ruang farmasi. 4. Zat organik terdiri dari 65 % protein. kantor. Karakteristik Limbah Cair Rumah Sakit Air limbah pada intinya dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu sifat fisik.secara gravitasi dengan 13 bak kontrol di titik-titik tertentu guna mengawasi lancar tidaknya aliran. laboratorium.1 %. Partikel-partikel padat terdiri dari zat organik 70 % dan anorganik 30 %. . kejernihan. Komposisi limbah cair rumah sakit sebagian besar terdiri dari 99. karena selruh kegiatan RS Bethesda yang berada di bagian timur seperti ruang rawat inap. 2.4. menyalurkan air buangannya ke saluran assenering alur timur baik secara gravitasi maupun dengan bantuan pompa. yang mengandung minyak.

protozoa dan algae Binatang dan tanaman Dari klasifikasi tersebut diatas. yang dijumpai dalam air limbah bersisikan 40-60 % adalah protein.b. Unit-unit Pengolahan Air Limbah RS Bethesda .5. maka sekitar 75 % dari benda-benda tercampur dan 40 % dari zat yang dapat disaring adalah berupa bahan organik. Sifat Kimia Sifat kimia dalam air limbah dapat diketahui dengan adanya zat kimia air buangan. CH4. Bahan Anorganik Sedangkan zat organik yang penting peranannya di dalam mengontrol air limbah adalah: pH Kadar Khlor Alkalinitas Kadar Sulfur Zat beracun Logam berat seperti: Ni. O3 c. Zn. Fe dan Hg Metan Hidrogen Fosfor Gas seperti NH3. Adapun zat kimia yang penting dalam air limbah pada umumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. 25-50 % berupa karbohidrat serta 10 % lainnya berupa lemak. Bahan Organik Air limbah dengan pengotoran sedang. 2. Sifat Bakteriologis Sifat bakteriogis pada air buangan perlu diketahui untuk menaksir tingkat kekotoran air limbah sebelum dibuang ke badan air. 2. protozoa dan algae sangat penting di dalam proses dekomposisi atau stabilisasi bahan-bahan organik 2. Mg. meliputi: bakteri. Cd. Cu. Pb. Cr. jamur.1. Protista. Mikrooganisme yang penting dalam air limbah dan air permukaan dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu: 1.

1. Instalasi penampung awal Instalasi penampung awal berfungsi untuk menampung keseluruhan limbah dari RS Bethesda yang berasal dari cucian, dapur mauun rawat inap. 2. Bak ekualisasi Bak ekualisasi berfungsi untuk mencampur limbah dari berbagai sumber sehingga menjadi limbah yang homogen dengan waktu tinggal 27 jam. 3. Instalasi anaerob biofilter Instalasi anaerob biofilter berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana dengan bantuan bakteri yang ada pada biofilter. Waktu tinggal dalam bak ini 16 jam. 4. Instalasi aerob Instalasi aerob berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks yang lolos dari pengolahan sebelumnya menjadi senyawa yang lebih sederhana, pada proses ini penambahan oksigen dilakukan dengan bantuan blower. Waktu tinggal dalam bak 8 jam. 5. Instalasi pengendapan (settling) Instalasi pengendapan (settling) berfungsi untuk memberi kesempatan lumpur agar mengendap. Waktu tinggal dalam bak pengendspan 7 jam. 6. Instalasi penampung hasil Instalasi penampung hasil berfungsi untuk menampung limbah yang telah mengalami pengolahan (limbah terolah). Limbah ini dipompakan ke instalasi sand filter dan sebelumnya jam. 7. Instalasi sand filter Instalasi sand filter berfungsi untuk menyaring limbah sehingga diperoleh kualitas yang lebih baik lagi. 8. Instalasi fish pond Instalasi fish pond atau kolam ikan berfungsi untuk tempat penampungan limbah terolah yang telah tersaring di sand filter. Kolam ikan ini dilengkapi dengan pancuran air. 9. Instalasi digester dan biogas Instalasi digester dan biogas berfungsi untuk menaqmpung semua lumpur yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah. 10.Instalasi pengering lumpur (drying bed) Instalasi pengering lumpur befungsi untuk menampung endapan lumpur dari digester untuk dikeringkan. dilakukan disinfeksi dengan memberikan kaporit melalui sistem injeksi/suntikan dengan tujuan membunuh bakteri patogen. Waktu tinggal dalam bak 7

2.2. Fosfat Fosfat berada dalam air limbah dalam bentuk organik. Sebagai ortophosfat anorganik atau sebagai fosfat-fosfat kompleks. Fosfat kompleks mewakili kira-kira separuh dari fosfat air limbah perkotaan dan berasal dari penggunaan bahan-bahan detergen sintetis. Fosfat kompleks mengalami hidrolisa selama pengolahan biologis menjadi bentuk ortofosfat (PO43-) Dari konsentrasi rata-rata fosfor keseluruhan sebanyak 10 mg/l berada dalam air limbah perkotaan , kira-kira 10 % dibunag sebagai bahan tak terpakai selama pengendapan primer dan 10 % hingga 20 % lainnya digabungkan ke dalm sel-sel bakteri selam apengolhan biologis. Sisa yang 70 % dari fosfor yang masuk pada umumnya dilepaskan bersama bunagan instalasi sekunder. Bentuk-bentuk penting fosfat dalam air limbah adalah pospor organik, polyphosfat dan orthophospat. Poyfosfat banyak digunakan dalam pembuatan detergen sintetis. Komponen fosfat dipergunakan untuk membuat sabun sebagai pembentuk buih. Dan adanya fosfat dalam air limbah dapat menghambat penguraian pada proses biologis. Sedangkan menurut Juli Sumirat, detergen dapat mempermudah absorbsi racun pada ikan melalui insang dan bersifat persisten sehingga terjadi akumulasi. Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut, tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air. Dalam air limbah senyawa fosfat dapat berasal dari limbah penduduk, industri dan pertanian. Di daerah pertanian ortofophosfat berasal dari bahan pupuk, yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan. Poliphosfat dapat memasuki sungai melalui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan detergen yang mengandung fosfat seperti industri pencucian, industri logam dan sebagainya. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat bagi pertumbuhannya. Bermacam-macam jenis fosfat juga dipakai untuk penngolahan anti karat dan anti kerak pada pemanas air (boiler). Bila kadar fosfat pada air alam sangat rendah (<0,01 mg/l), pertumbuhan tanaman dan ganggang akan terhalang, keadaan ini dinamakan “oligotrop”. Pembuangan limbah yang banyak mengandung fosfat ke dalam badan air dapat menyebabkan pertumbuhan lumut dan mikroalgae yang berlebih yang disebut “eutrophication” , sehingga air menjadi keruh dan berbau karena pembusukan lumut-lumut yang mati. Pada keadaan “eutrotop” tanaman dapat menghabiskan oksigen dalam sungai atau kolam pada malam hari atau bila tanaman tersebut mati dan dalam keadaan sedang mencerna (digest) dan pada siang hari pancaran sinar matahari kedalam air akan berkurang, sehingga proses fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen juga berkurang.

Banyak metode yang telah diusulkan untuk pembuangan kelebihan fosfat. Metode ynag paling efektif meliputi pengendapan kimiawi. Senyawa-senyawa fosfat dapat dibuang dengan penambahan koagulan, misalnya alum, kapur, ferrichlorida atau ferrous sulfat. Bahan-bahan kimia itu dapat ditambahkan sebelum pengendapan primer, alum dan garam-garam besi dapat dimasukkan ke dalm tanki aerasi selama proses lumpur diaktifkan atau bahan-bahan kimia itu dapat dimasukkan pada suatu tahap pengolhan primer. Sebagian besar dari bahan organik tersebut dibuang, begitu pula fosfatnya, sehingga dihasilkan pengurangan beban pada proses pengolahan biologis. Walaupun demikian, lumpur yang diproduksi jumlahnya lebih besar. Bila bahan-bahan kimia dimasukkan langsung ke dalam tangki aerasi dari suatu instalasi lumpur yang diaktifkan, maka pengolahan kimiawi dan biologis terjadi bersama-sama, sehingga hanya sedikit peralatan tambahan yang dibutuhkan. Pengendapan kimiawi, terutama yang menggunakan kapur, kadang-kadang dikerjakan pada tahap ketiga setelah pengolahan biologis guna pembuangan fosfat serta peningkatan pH buangan dalam persiapan bagi proses pembuangan ammonia-nitrogen. Reaksi kimia dari proses pengendapan secara kimiawi antara fosfat dengan alum, garam besi dan kapur adalah sebagai berikut: Pengendapan dengan alum: AL2(SO)3 + 2HPO4
–2

2AlPO4

+ 3SO4-2

+ 2H

Pengendapan dengan garam besi: FeCl3 + HPO4
–2

FePO4

+

H+

+ 3Cl-

Pengendapan dengan kapur: 5Ca(OH)2 + 3HPO4
–2

Ca5(PO4)3OH

+

3H2O

+ 6OH-

2.2.1. Pemisahan Fosfat Secara umum analisa fosfat meliputi 2 (dua) langkah : a. Merubah bentuk fosfor menjadi ortofosfat yang larut. b. Menentukan secara kolorimetris ortofosfat yang larut. Pemisahan fosfor kedalam berbagai bentuk telah luas didefinisikan secara analitis, tetapi telah dipilih pembedaan analisa, sehingga dapat diperguakan untuk tujuan interpretasi. Pemisahan “yang dapat disaring” (atau “terlarut”) dari “partikel” fosfat tergantung filter membran 0,45 µm yang dipergunakan. Pemilihan filtrasi dengan membran melebihi ketebalan filtrasi dilakukan karena kemungkinan diperoleh lebih besar atau pemisahan ukuran partikel dengan tekinik pemisahan membran. Penyaringan pendahulluan dengan filter serat gelas dapat dilakukan untuk mempercepat proses penyaringan. Tidak dapat dituntut bahwa penyaringan

terlarut dan partikel. Hidrolisa dengan asam pada temperatur mendidih untuk mengubah fosfat dalam bentuk terlarut dan partikel menjadi ortofosfat yang dapat disaring. Tabel 1. Fosfat organik terlarut. g. Total fosfat yang dapat dihidrolisa oleh asam. Ortofosfat partikel. k. Organik Total a.melalui filter membran Penggunaan 0. Ortofosfat terdapat dalam bentuk terlarut dan partikel. Total fosfat terlarut dan tidak terlarut. Biasanya terdapat sedikit variasi. f. Fosfat partikel yang dapat dihidrolisa oleh asam l. Partikel i. Fosfat yang dapat langsung diperiksa secara kolorimetris tanpa hidrolisa pendahuluan atau perombakan secara oksidatif dan dianggap sebagai “ortofosfat”. Bagian-bagian fosfat yang diubah menjadi ortofosfat hanya dengan perombakan oksidatif terhadap bahan organik disebut fosfat organik/terikat secara organik. Seperti ortofosfat dan fosfat dari hidrolisa asam. Tetapi perlu diingat bahwa sebagian kecil dari fosfat terikat yang ada tidak dapat menghindari cara hidrolisa ini dan dilaporkan sebagai bagian dari ortofosfat. Dua belas fosfat tersebut dapat dilihat pada tabel 1. Total fosfat terlarut yang dapat dihidrolisa h. fosfat organik terdapat dalam larutan dan partikel. Keseluruhannya ada tiga bagian (total. Klasifikasi Fosfat Tipe Kimiawi Total Orto Yang dapat dihidolisa oleh asam. Total ortofosfat terlarut dan partikel c. terlarut. fosfat total yang dapat dalam sampel dapat dipisahkan pada analisa dengan penyaringan kedalam bagian yang disaring dan partikel.45 µm dapat memisahkan dengan sebenarnya antara fosfat yang istilah “yang dapat disaring” (lebih baik “yang larut”) untuk tersuspensi dengan yang terlarut. Total fosfat organik terlarut dan partikel FISIK Terlarut e. Sampel Tanpa penyaringan . yang tergantung pada fosfat terlarut dan tersuspensi. Total fosfat partikel j. Didalam praktek. Total fosfat terlarut . d.45 µm. dan tersuspensi) dan masing-masing secara analisis dibagi menjadim tiga tipe kimiawi seperti telah diuraikan diatas yaitu ortofosfat fosfat yang dapat dihidrolisa dengan asam fosfat organik . Hidrolisa tidak dapat dihindrakan untuk membebaskan fosfat dari senyawa organik. Fosfat partikel organik. Kekuatan oksidasi yang diperlukan untuk konversi tergantung pada bentuk dan jumlah dari fosfat organik yang ada. Ortofosfat terlarut. b. tetapi faktor ini telah dikurangi seminimum mungkin (sangat sesuai untuk hidrolisa fosfat terikat) dengan bijaksana memilih kekuatan asam lebih disukai terhadap “fosfat terikat” pada teknik ini. menguraikan bentuk fosfat yang ditentukan dalam filtrat yang melalui membran 0.

3. dan masa inti partikel. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi sebagai berikut : a. Koagulasi dan Flokulasi 2. b.3.1 Koagulasi Koagulasi adalah dicampurkannya koagulan dengan pengadukan secara cepat guna mendistabilisasi koloid dan solid tersuspensi yang halus. kemudian membentuk jonjot mikro (mikro flok). Pola Klasifikasi Fosfat 2. Bila suhuair diturunkan . Derajat Keasaman (pH) . Suhu air Suhu air yang rendah mempunyai pengaruh terhadap efisiensi proses koagulasi. maka besarnya daerah pH yang optimum pada proses kagulasi akan berubah dan merubah pembubuhan dosis koagulan.Gambar 1.

Alkalinitas Alkalinitas dalam air ditentukan oleh kadar asam atau basa yang terjadi dalam air (Tjokrokusumo. Ada dua jenis proses flokulasi yaitu : optimum yang berbeda satu sama . f. Untuk tiap jenis koagulan mempunyai pH lainnya. Flokulasi Flokulasi adalah pengadukan perlahan terhadap larutan jonjot mikro yang menghasilkan jonjot besar dan kemudian mengendap secara cepat (Tjokrokusumo. Dalam pengadukan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengadukan harus benar-benar merata. Sebaliknya pada tingkat kekeruhan air yang tinggi maka proses destabilisasi akan berlangsung cepat. Jenis Koagulan Pemilihan jenis koagulan didasarkan pada pertimbangan segi ekonomis dan daya efektivitas daripadakoagulan dalam pembentukan flok. Kecepatan pengadukan sangat berpengaruh terhadap pembentukan flok bila pengadukan terlalu lambat mengakibaykan lambatnyaflok terbantuk dan sebaliknya apabila pengadukan terlalu cepat berakibat pecahnya flok yang terbentuk h. c. Dosis koagulan Untuk menghasilkan inti flok yang lain dari proses koagulasi dan flokulasi sangat tergantung dari dosis koagulasi yang dibutuhkan Bila pembubuhan koagulan sesuai dengan dosisyang dibutuhkan maka proses pembentukan inti flok akan berjalan dengan baik. 2.2. e. Alkalinitas dalam air dapat membentuk flok dengan menghasil ion hidroksida pada reaksihidrolisa koagulan. sehingga semua koagulan yang dibubuhkan dapat bereaksi dengan partikel-partikel atauion-ion yang berada dalam air. Dengan demikian ion natrium. Kecepatan pengadukan Tujuan pengadukan adalah untuk mencampurkan koagulan ke dalam air. kalsium dan magnesium tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap proses koagulasi. Tetapi apabila kondisi tersebut digunakan dosis koagulan yang rendah maka pembentukan flok kurang efektif. d.3. Koagulan dalam bentuk larutan lebih efektif dibanding koagulan dalam bentuk serbukatau butiran. 1995). Kadar ion terlarut Pengaruh ion-ion yang terlarut dalam air terhadap proses koagulasi yaitu : pengaruh anion lebih bsar daripada kation. g. Tingkat kekeruhan Pada tingkat kekeruhan yang rendahproses destibilisasi akan sukar terjadi. 19920.Proses koagulasi akan berjalan dengan baik bila berada pada daerah pH yang optimum.

1986). Flokulasi perikinetik Flok yang diakibatkan oleh adanya gerak thermal (panas) yang dikenal sebagai gerak Brown. prosesnya disebut flokulasi perikinetik. CaO adalah bahan mudah larut dalam air dan menghasilkan gugus hidroksil yaitu Ca(OH)2. Flokulasi orthokinetik Flokulasi orthokinetik adalah suatu proses terbentuknya flok yang diakibatkan oleh terbentuknya gerak media (air) misalnya pengadukan (Sank R. kapur dapat mengurangi kandungan bahan-bahan organik. Warna. sebagian besar umumnya berwarna putih dan pada tinhkat tinggi dapat berwarna abu-abu.7 g/l pada suhu 1000C. tingkat kelarutan dari kira-kira 1. penggunaan dari kapur antara lain dibidang kesehatan lingkungan untuk pengolahan air kotor. Kepadatan. Perubahan kecepatan dari satu titik ke titik lainnya dikeal sebagai gradien kecepatan.K.4. Sifat-sifat fisik dan kimia Hydrate lime : a. Pada pengolahan air kotor. 1986). b. 2. Kalsium Hydrated lime memiliki tingkat kepadatan kira-kira 2. akan mengakibatkan terjadinya gabungan antar partikellebih sangat kecil 1 < 100 milimikron (Sank R. Hydrate lime siap bereaksi dengan asam dan gas sehingga tentu saja berkemampuan menetralisasi asam. Kapur (lime) secara umum terdapat dalam dua bentuk yaitu CaO dan Ca(OH)2. .3 g/gm3 d. sehingga terbentuk Ca(OH)2.a. Netralisasi asam . c. 1986. Hydrate lime dihasilkan dari reaksi quickime (CaO) dengan air.85 Ca(OH)2/l air pada suhu 00C sampai0. Cara kerjanya adalah kapur ditambahkan untuk mereaksikan alkalibikarbonat serta mengatur pH air sampai sehingga menyebabkan pengendapan. dengan notasi G. Menurut Tarmiji. Sifat-Sifat Kapur (lime) dan Penggunaan nya. air limbah maupun industri lainnya. Kelarutan.K. Bentuk kristal. Dengan adanya perbedaan kecepatan aliran media cair akan mempunyai aliran kecepatan yang berbeda pula akibatnya akan terjadi tumbukan atau kontak antar partikel. e. Gerak acak dari partikel-partikel koloid yang ditimbulkan karena adanya tumbuhan molekul-molekul air. Pada umumnya kecepatan aliran cairan akan berubah terhadap tempat dan waktu. powder b. Proses pengendapan ini akan berjalan secara efektif apabila pH air antara 6 – 8 (Considine). yang bersifat basa dan disertai keluarnya panas yang tinggi.

f.8/l memberikan pH sebesar 12. kandungan 1. Proses pengolahan air. Pada larutan 250C. sebagai bahan bangunan. konsentrasi 0. kertas. pertanian dan lain-lain.10 g Ca(OH)2/l dapat memberi pH kira-kira 11. dan lainlainnya. memperkecil kadar silika. air kapur dapat berguna sebagai bahan penurun kesadahan. fluorida dan bahan-bahan organik. reaksi antara CaO dan air akan menghasilkan gugus hidroksil Ca(OH)2 yang bersifat basa dengan reaksi sebagai berikut: CaO + H2O Ca(OH)2 + heat Ca(OH)2 Ca++ + 2OH- Karena sifat-sifat kapur dapat digunakan sebagai pengendap terhadap fosfat maka reaksi yang terjadi adalah 3 Ca2+ + 2PO43Ca3 (PO4)2 Penggunaan Kapur Kapur telah diikenal sebagai bahan yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan diantaranya dipakai pada bidang-bidang industri misalnya industri kimia. Khusus di sektor lingkungan kapur dapat berguna dalam: a. Hasil dari proses ini antara lain adalah CaO ditambah CO2 yang keluar sebagai gas. mangan. . Selain itu. Penggunaan berbagai keperluan maka batuan kapur dari alam biasanya akan mengalami proses pembakaran terlebih dahulu yang disebut “calcination”.7. pH. menetralisasi keasaman. karena kalsium hidroksida adalah termasuk basa kuat. Selain CaO juga MgO serta molekul-molekul lainnya tergantung pada batuan kapur yang asli dari alam. Selain itu dapat juga mengurangi kadar BOD dengan cara menyerap antara 40% sampai 50 % bahan organik terlarut maupun tidak terlarut.3 pada suhu 250C. Contoh reaksi yang terjadi pada proses “calcination” ini apabila batuan kapur dari alam berkomposisi sebagai kombinasi dari kalsium dan Magnesium Karbonat adalah sebagai berikut: CaCO3Mg CO3 CaOMgO + 2CO2 Calcim Oxide (CaO) adalah merupakan bahan yang mudah larut dalam air dengan mengeluarkan panas yang tinggi (Highleyexotermically).

Reaksi yang terjadi jika alum dimasukkan ke dalm air. kapur dapat befungsi antara lain dalam pengendalian keasaman digester.b. yang sangat dipengaruhi oleh nilai pH yang bersangkutan. Alum atau tawas merupakan bahan koagulan. mudah didapatkan di pasaran serta mudah penyimpanannya. e. Pada peternakan ayam. Alum yang dilarutkan ke dalam air akan bereaksi dengan kapur atau bahan lain seperti Soda Abu atau Natrium Bikarbonat (Na2CO3). sudah dikenal bangsa Mesir pada awal tahun 2000 SM.8.65 m2) lantai yang mengandung kotoran ayam.45 kg) Hydrates Lime [Ca(OH)2] pada setiap 3-5 ft2 (2. Kapur juga dapat dipergunakan sebagai penghilang fosfor dalam air. Reaksi tersebut antara ion Al dengan ion OH. Range pH untuk jenis koagulan alum adalah sebesar 5. 14H2O 2Al3+ + 3SO42.5. penyerapan bau (deodorant) dan sebagai desinfektan. Proses pengolahan air bekas. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai “geomedical” untuk mencegah parasit-parasit dan bnayak penyakit ayam. Alum tersebut akan larut di dalam air dengan reaksi sebagai berikut: AL2(SO4)3 .+ 4 H2O Ionisasi dai air sendiri akan terbentuk ion hidroksida sebagai berikut: . karena salah satu cara penghilangan fosfor dalam air adalah pengendapan kimiawi.79-4. Kapur dapat digunakan untuk mengurangi gas SO2 yang keluar dari pembakaran batu bara atau minyak yang mengandung sulfur yang tinggi melalui suatu proses yang disebut “wet scrubing”. c. yaitu terjadi proses hidrolisis. reaksi yang kan terjadi reaksi hipotik. Proses pengolahan buangan industri besi/baja. d.5 sampai 7. 2. kapur digunakan untuk menetralisir asam sulfat bebas (free sulfuric acid ) dan mengendapkan garam-garam besi yang terdapat pada limbah industri tersebut. kapur dapat digunkan untuk mengeringkan serta mengurangi bau kotoran ayam yang berceceran di laniat kandang. disini kapur berfungsi sebagai bahan koagulan. Alum atau tawas sebagai penjernih air mulai diproduksi oleh pabrik pada awal abad 1500. Sifat-Sifat Tawas dan Penggunaan nya Persenyawaan Alumunium Sulfat (Al2(SO4)3) atau sering disebut tawas adalah suatu jenis koagulan yang sangat populer secara luas digunakan. Dosis yang biasa dipakai pada peternakan ayam adalah sekitar 1 lb (0. yang paling banyak digunkan karena bahan ini paling ekonomis 9murah).

Zeolit Zeolit adalah suatu alumnosilikat yang mempunyai struktur berpori dengan saluran dalam rangka kristal.Struktur yang paling stabil adalah zeolit yang perbandingan Si dan Al nya adalah 1:1.3 . . Dengan demikian supaya terjadi pengendapan hasil kali konsentrasi yang bereaksi harus lebih besar dari pada Ksp nya.6.Perbandingan antara Si dan Al berkisar antara 1:1 sampai 100:1.10-19 .sehingga terjadi reaksi Al3+ + PO43AlPO4 Pengendapan dapat terjadi apabila hasil kali { Al3+ }dan { PO43 -} lebih besar dari Ksp AlPO4 . Ksp AlPO4 sebesar 6.1985 ) menjelaskan bahwa: Kecepatan pertukaran kation dalam zeolit dipengaruhi oleh besar butiran zeolit.Dengan sifat di atas maka zeolit dapat bekerja sebagai penukar ion dan sebagai penyaring melalui adsorpsi selektif atau penolakan molekul karena adanya penolakan molekul karena adanya perbedaan dalam ukuran molekul dan faktor lainnya Selanjutnya dari hasil pengujian terhadap beberapa aspek yang ada kaitannya dengan pertukaran ion pada zeolit ( Komar bersama rekan .H2O H+ + OH- Kemudian terjadi reaksi antara ion Al3+ dengan ion hidroksida sebagai berikut: 2Al3+ + 6 OH2Al(OH)2 Pengikatan ion hidroksida tersebut di dalam air akan menurunkan alkalinitas air sehingga sebaiknya digunkan bahan tambahan yang dpat meningkatkan nilai alkalinitas seperti kapur. soda abu atau soda kaustik (Natrium Oksida) Reaksi yang terjadi: AL2(SO4)3 + 3Ca(OH)2 2Al(OH)3 + 3CaSO4 AL2(SO4)3 + 3Na2CO3 + H2O 2Al(OH)3 + 3Na2SO4 + 3CO2 Oleh karena tawas /alum mempunyai sifat koagulan dalam larutan maka bila tawas bersenyawa dengan limbah yang mengandung unsur fosfat .Unit unit tersebut saling berikatan membentuk jaringan anionik dalam tiga dimensi.Unit dasar pembentuk zeolit adalah SiO4 dan AlO4 yang membentuk tetra hedral. 2. yang di dalamnya ditempati oleh molekul air dan ion ion logam alkali.

Zeolit sintetik dihasilkan dari beberapa perusahaan seperti Union Carbide. seperti suhu. yang pada saat ini zeolit di Indonesia dipasarkan masih dalam bemtuk alam terutama pada pemupukan bidang pertanian. Mineral zeolit telah dikenal sejak tahun 1756 oleh Cronstedt ketika menemukan Stilbit yang bila dipanaskan seperti batuan mendidih (boiling stone) karena dehindrasi molekul air yang dikandungnya. Hal ini dikarenakan dalam air buangan zeolit selain menyerap ion amonium juga menyerapion ion lain seperti Ag+. Hal itu menjadikan zeolit dengan warna dan tekstur yang sama mungkin berbeda komposisi kimianya bila diambil dari lokasi yang berbeda disebabkan karena kombinasi mineral yang berupa partikel halus dengan impurities lainnya. feldspar dan kuarsa dan ditemukan di daerah sekitar gunung berapi atau mengendap pada daerah sumber air panas (hot spiring). X. Dengan demikian. diantaranya klinoptilolit. Ion-ion logam tersebut dapat diganti oleh kation lain tanpa merusak struktur zeolit dan dapat menyerap air secara reversible. K+ dan lain-lain. Zeolit tidak dapat diidentifikasi hanya berdasarkan analisa komposisi kimianya saja. Kemampuan pertukaran ion (adakalanya dengan istilah kemampuan penyerapan ion atau sorpsi) zeolit merupakan parameter utama dalam menentukan kualitas zeolit yang akan . yaitu material seperti zeolit tetapi bukan senyawa alumino-silikat. Pada saat ini dikenal sekitar 40 jenis zeolit alam. yang saat itu dikenal sebagai molecular materials. - Kapasitas penyerap zeolit akan bertambah dengan bertambah nya berat zeolit. Pada tahun 1954 zeolit diklasifikasi sebagai golongan mineral tersendiri. ICI dan mobil Oil dan lebih dari 100 jenis telah dikenal strukturnya antara lain zeolit A. meskipun yang mempunyai nilai komersial ada sekitar 12 jenis. filipsit. kabarsit dan erionit. melainkan harus dianalisa strukturnya. zeolit merupakan mineral yang terdiri dari kristal alumino silikat terhidrasi yang mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam kerangka tiga dimensi. gypsum. Mineral alam zeolit biasanya masih tercampur dengan mineral lainnya seperti kalsit. grup ZSM/AlPO4 (Zeolite Sielving Marerials/Aluminium Fosfate) dan bahkan akhir-akhir ini dikenal grup zeotip.Zeolit juga ditemukan sebagai batuan endapan pada bagian tanah jenis basalt dan komposisi kimianya tergantung pada kondisi hidrotermal lingkungan lokal. tekanan uap air setempat dan komposisi air tanah lokasi kejadiannya.- Zeolit yang diaktifkan maupun yang tidak diaktifkan menyerap ion amonium dari air buangan lebih kecil dari pada larutan NH4Cl.Zeolit biasanya ditulis dengan rumus kimia oksida atau berdasarkan satuan sel kristal. zeolit hanya dapat diidentifikasi berdasarkan unit bangun sekunder. Struktur kristal zeolit dimana semua atom Si dan Al dalam bentuk tetrahedral (TO4) disebut unit bangun primer. Pemanfaatan zeolit masih belum banyak diketahui secara luas. Berdasarkan UBS semua zeolit baik dalam bentuk alami atau sintetik. Y. mordernit.

penukar ion.50 meq/g) dan vermikulit (11. KTK adalah jumlah meq ion logam yang dapat diserap maksimum oleh 1 g zeolit dalam kondisi kesetimbangan.6. Sifat sebagai penukar ion dari zeolit antara lain tergantung dari : sifat kation. KTK dari zeolit bervariasi dari 1. Penukaran kation dapat menyebabkan perubahan beberapa sifat zeolit seperti stabilitas terhadap panas.5 – 6 meq/g. 2.03-0. 3. misalnya logam Pt.50 meq/g). Dehidrasi. Oleh karena itu zeolit dapat dimanfaatkan sebagai : penyaring molekuler. Katalis Zeolit merupakan katalisator yang baik karena mempunyai pori-pori yang besar dengan permukaan yang maksimum. .15 meq/g). biasanya dikenal sebagai KTK (Kemampuan Tukar Kation). Sifat zeolit meliput i : 1. dimana untuk molekul yang tidak jenuh atau bersifat polar akan lebih mudah lolos daripada molekul yang jenuh atau tidak polar. Zeolit dengan struktur “framework” mempunyai luas permukaan yang besar dan mempunyai saluran yang dapat menyaring ion/molekul. Jumlah molekul air sesuai dengan jumlah pori-pori atau volume ruang hampa yang akan terbentuk bila unit sel kristal zeolit terus dipanaskan. Bila atom Al dinetralisir dengan ion polivalen.1 Sifat Zeolit Zeolit mempunyai struktur berongga dan biasanya rongga ini diisi oleh air dan kation yang bisa dipertukarkan serta memilki ukuran pori yang tertentu. penyerap bahan dan katalisator. Ion-ion ini dapat bergerak bebas sehingga pertukaran ion yang terjadi tergantung dari ukuran dan muatan maupun jenis zeolitnya. dan jenis anion. 4. yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan KTK batuan lempung. sifat adsorbsi dan aktifitas katalis. Penukar ion Ion-ion pada rongga atau kerangka elektrolit berguna untuk menjaga kenetralan zeolit. zeolit dapat berfungsi sebagai katalis yang banyak digunakan pada reaksi petrokimia. bentonit (0. seperti kaolinit (0. Adsorbsi Zeolit juga mampu memisahkan molekul zat berdasarkan ukuran dan kepolarannya.80-1. 2. Zeolit dapat melepaskan molekul air dari dalam rongga permukaan yang menyebabkan medan listrik meluas ke dalam ronggs utama dan akan efektif terinteraksi dengan molekul yang akan diabsorbsi.digunakan. suhu. Cu dsb. Sifat dehidrasi dari zeolit akan berpengaruh terhadap sifat adsorpsinya. Nilai KTK zeolit ini banyak bergantung pada jumlah atom Al dalam struktur zeolit.

Akan tetapi daya serap. K.2. Analisis lebih lanjut terhadap zeolit alam Wonosari menunjukkan bahwa zeolit mempunyai rasio Si/Al 4. Klasifikasi zeolit Zeolit Grup Analsim Analsim Wairakit Grup Natrolit Natrolit Thomsonit Grup Heulandit Na16[Al16Si24O31]6H2O Na16 Ca8 [Al20Si24O80]24H2O T5O10 (4-1) T5O10 Na16[Al16Si31O96]6H2O Ca16[Al16Si31O96]6H2O S4R S4R Rumus Kimia UBS .39 5 dan 1. Zeolit Alam Zeolit alam terbentuk karena adanya proses perubahan alam (zeolitisasi) dari batuan vulkanik tuf.54 dan memilki kandungan logam Na. 2. volume pori 74. Penyaring atau pemisah Volume dan ukuran garis tengah ruang hampa dalam kisi-kisi kristal menjadi dasar kemampuan zeolit untuk bertindak sebagai penyaring molekul.25 x 10-3 cc/g. Dari uji pendahuluan terhadap zeoiit alam Wonosari dengan menggunakan difraksi sinar x diketahui bahwa sebagian besar penyusunnya adalah mordernit. daya tukar ion maupun daya katalis dari zeolit tersebut belum maksimal.29 %. Telah diketahui lebih dari 40 jenis mineral zeolit di alam. aktivasi dan modifikasi. luas permukaan 24.75.34 %.13 m2/g. Zeolit yang diperoleh dari alam telah dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Molekul ynag berukuran kecil dapat melintas sedangkan yang berukuran besar dari ruang hampa akan ditahan atau ditolak. Dari jumlah tersebut hanya 20 jenis yang terdapat dalam batuan sedimen terutama sedimen piroklastik yang berbutir halus (tuf) Komposisi dan struktur zeolit kebanyakan terdiri dari mineral mordernit dan klinoptillit.6. Ca dan Fe masing-masing sebesar 4. keasaman sebesar 2. Jenis Zeolit Menurut proses pembentukannya zeolit dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu : 1. rerata jejari pori 60. 2. Untuk memperoleh zeolit dengan kemapuan yang tinggi diperlukan beberapa perlakuan antara lain. 1.04 %.39 mmol/g. Tabel 2.5.

5 Mg2 [Al6Si30O72]24H2O Ca2 [Al4Si8O24]13H2O K6 Na3 [Al9Si27O72]21H2O Na12 Ca12 Mg11 [Al58Si134O384]235H2O Na12 [Al12Si12O48]27H2O Ca4 [Al8Si16O46]16H2O NaN [AlnSi96O192]16H2O [Al12P2O48] (C3H7)4NaOH q H2O T10O20 (4-4-1) T10O20 S4R S4R T8O16 (5-1) T8O16 D4R. S8R 5 –1 S4R. Pemanasan modernit pada suhu 300 0C –1000 0C menyebabkan destruksi struktur kristal. S6R Proses aktivasi zeolit alam dapat dilakukan dalam 2 cara yaitu secara fisis dan kimiawi. S8R S4R. S6R. Zeolit yang dipanaskan pada temperatur tinggi menyebabkan molekul air yang ada dalam zeolit mengalami dehidrasi. Aktivasi Fisis Aktivasi fisis biasanya dilakukan dengan pemanasan yang bertujuan untuk menguapkan air yang terperangkap tinggi dalam pori-pori kristal zeolit. D6R D4R. Pemanasan dilakukan dalam oven biasa pada suhu 300-400 0C (untuk skala laboratorium). atau mengumpulkan tungku putar dengan pemanasan secara penghamparan selama 3 jam atau tanpa penghamparan selama 5-6 jam (skala besar). kandungan modernit berkurang hampir 25 % pada suhu 700 0C. Sifat dehidrasi zeolit ini berpengaruh terhadap sifat adsorbsinya. sehingga luas permukaan poripori bertambah. S6R. a.5 [Al16Si10O32]12H2O Na8 [Al31SiO16]16H2O Na8 [Al8Si40O96]24H2O NaCa0. D6R S4R.Heulandit Klinoptilolit Grup Filipsit Filipsit Zeolit Na-P-1 Grup Mordernit Mordernit Ferrierit Grup Kabazit Kabazit Zeolit L Grup Faujasit Faujasit Zeolit A Grup Laumontit Laumontit Grup Pentasil ZSM-5 Grup Zeotype AlPO4-5 Ca4 [Al8Si28O72]24H2O Na6 [Al6Si30O72]24H2O K2 Ca1. .

dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori. Penggunaan zeolit sintetis pada dasarnya sama dengan zeolit alam. Aktivasi Kimiawi Pada aktivasi kimia. Ini karena persamaan sifat fisik dan kimia yang dimiliki oleh kedua jenis mineral tersebut. Dealuminasi dapat digunkan untuk mengontrol aktivasi keasaman dan untuk mengontrol ukuran poripori zeolit. Aktivasi zeolit dengan asam menyebabkan ternetralisasinya muatan negatif pada permukaan zeolit hidrogen. Diantara asam-asam tersebut yang paling efektif untuk dealuminasi adalah HCl. Tabel 3. maka para peneliti berupaya untuk membuat zeolit sintetis yang mempunyai sifat khusus sesuai dengan keperluannya. Perbedaan Mineral alam dan zeolit sintetik Macam Perbedaan Derajat Kemurnian Mineral Zeolit Alam Umumnya banyak mengandung pengotor. alam terdiri dari terutama campuran besi. Aktivasi secara kimia dilakukan dengan larutan asam atau basa. yaitu zeolit kadar Si rendah.b. Hal ini sangat penting terutama berhubungan dengan fungsi zeolit sebagai adsorben. Sangat terbatas. Perbedaan utama antara kedua jenis mineral zeolit alam dan sintetis . Berdasarkan perbandingan kadar komponen Si and Al. zeolit kadar Si sedang. zeolit sintetis dikelompokkan menjadi empat. H2SO4. Atom-atom Al yang masih tersisa dalam zeolit masih terkoordinasi dalam rangkaian tetrahedaral dengan empat atom oksigen. dibuat mineral zeolit berderajat kemurnian . dealuminasi adalah yang paling penting dan dominan. Mineral zeolit sintetis masing-masing mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. dan H3PO4. HNO3. dan mengatur kembali letak atom yang dapat dipertukarkan. Asam-asam yang dapat digunakan untuk aktivasi adalah HCl4. membuang senyawa pengotor. yang terbesar Garis tengah pori hanya terdapat pada mineral khabasit dan erionit Dapat dibuat mineral zeolit yang ruang kosong bergaris tengah Mineral zeolit Sintetis Dapat sintetis tinggi. zeolit kadar Si tinggi dan zeolit Si.Kebanyakan endapan zeolit beberapa jenis mineral zeolit. 2. Zeolit Sintetis Zeolit mempunyai sifat yang unik yaitu susunan atom maupun komposisinya dapat dimodifikasikan.

1. Kemudian zeolit disaring.lalu disaring dan dikeringkan pada suhu 110 0C selama 3 jam.50 M. 400 0C. Zeolit kemudian direndam dengan HF 2. lalu disaring. tawas dan filtrasi zeolit belum pernah dilakukan. dicici sampai netral dan dikeringkan pada suhu 130 0 C selama 3 jam. kemudian dicuci sampai netral dan dikeringkan pada suhu 120 0C selama 3 jam. dan 2.7.6.. Originalitas Penelitian Penelitian tentang penurunan fosfat dengan kapur (lime).00 M pada suhu 90 0C selama 60 menit. 2.50 M. mempunyai daya serap baik Sumber : Harjanto.00 N (perbandingan b/v 1:2) sambil dipanaskan sampai agak kering . Zeolit selanjutnya dipanaskan dengan HCl pada konsentrasi 0. Selanjutnya zeolit direndam NH4Cl konsentrasi 0.00 M selama satu minggu sambil diaduk 3 kali sehari. Zeolit ini kemudian dikalsinasi pada variasi suhu 300 0C. BAB III .Terbatas. khabasit Daya Serap hanya dan erionit mineral yang dari 3 A hingga 8 A Dapat menyerap hingga 50 % dari volumunya.10 M.3 Aktivasi Zeolit Zeolit alam direndam dengan akuades selam 24 jam. sambil diaduk dengan pengaduk magnetik. 1987 2. 1. dan 500 0C selama 5 jam.00 M DAN 2. 0.05 M. 0. dinetralkan dan dikeringkan pada suhu 130 0C selama 3 jam.00 M.

Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini merupakan “Penelitian Eksperimen” dengan “design pre test and post test design “yang hasil akan diuji secara diskriptif analitis dengan korelasi. Sample air limbah Kapur Aduk Tawas Endapan Pemisahan Periksa PO4 Filtrasi Zeolit Periksa PO4 Hasil Filtrasi Gambar 2.METODE PENELITIAN 3. Rancangan Penelitian 3.2 Ruang Lingkup .1.

c. 3. 3. kemurnian kapur tohor. 3. Air limbah RS Bethesda . 3. sehingga waktu pengambilan sampel perlu diperhatikan agar mendapatkan kualitas yang sama pada setiap perlakuan. Variabel terikat Parameter yang diperiksa pada limbah cair adalah fosfat masing-masing pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/ pengolahan. sehingga perlu adanya pengendalian terhadap variabel-variabel tersebut diatas agar penelitian ini mendapatkan hasil yang dapat dipertanggung jawabkan.Meliputi semua limbah cair yang dihasilkan dari seluruh kegiatan Rumah Sakit Bethesda. Kualitas limbah cair RS Bethesda sangat fluktuatif.kadar ion terlarut.5 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam analisis berupa data kuantitatif yang diperoleh dari perlakuan di lapangan dan pengamatan percobaan di laboratorium.4 Variabel Penelitian a.3 Lokasi Penelitian Lokasi Penelitian yang dipilih yaitu limbah cair Rumah Sakit Bethesda dan uji laboratorium dilaksanakan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pembrantasan penyakit menular (BBTKL-PPM) Yogyakarta. Variabel bebas Dosis pemakaian bahan kimia larutan kapur dan tawas.1 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari bahan untuk pengolahan dan bahan atau reagen untuk pemeriksaan parameter pencemar terdiri dari: Bahan untuk Pengolahan 1. b.kekeruhan. yang berbeda pada sampel perlakuan akan mengganggu proses pengendapan begitu pula dengan kemurnian kapur tohor dan kemurnian tawas serta proses pengadukan pada saat perlakuan apabila tidak dikendalikan / tidak disamakan pada setiap perlakuan akan didapatkan hasil tidak seperi yang diharapkan.6 Instrumen Penelitian 3. kemurnian tawas. waktu pengambilan sampel. Parameter pH. Variabel pengganggu Waktu kontak.6. proses pengadukan.suhu limbah .

Zeolit 3. Tabung nessler 9. Larutan pH 4 12.01 ppm 8. pH meter 8. Larutan standar EDTA 0. Buret tetes 13. Larutan kapur 0. Amonium Molibdat 10. Indikator PP 5. Timbangan Sartorius 5.2 Alat Alat Pengolahan 1.1 ppm 3. Labu erlenmeyer 4.2. Mixing Flokulator 11. H2SO4 4 N 6. Standart fosfat 0. Pipet ukur 7. Beker glass 3. Cuvet 12.6. Larutan tawas 0. alat filtrasi yang dilengkapi . Persiapan bahan dan alat serta pembuatan rangkaian dengan stop kran . Pipet tetes 6. NaOH 1 N 14. Air suling 16. Karet penghisap 3. Indikator Murexid 15. Indikator Phenol Red 9.6.01 M 13. Larutan Buffer pH 10 11.1 ppm 4.3 Tahapan Persiapan 1. Spektofotometer 10. SnCl2 7. Labu ukur 2.

detergen dan fosfat 2. 0.7. 6. 0. fosfat setelah koagulasi tersebut.2.7. 3.00125 ppm.00050 ppm.00200 ppm. dan 0. 7.7 Teknik Pengambilan Sampel 3.2 Periode pengambilan sampel Pengambilan sampel diusahakan sekali dalam jumlah yang dibutuhkan agar homogenitas. 3. Aduk cepat masing-masing selama 3 menit.7. Membuat larutan-larutan siap pakai untuk pemeriksaan parameter fosfat.0010 ppm dengan volume berturutturut 0. diamkan selama 15 menit agar terjadi pengendapan. aduk lambat selama 5 menit. 0. 3. Siapkan deretan beaker glass sebanyak 3 buah masing-masing volume 1000 ml. 3. Masing-masing beker glass ditambahkan larutan tawas yaitu 0.6.0025 ppm.kuantitas dan kualitas sampel tetap terjaga. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode grab sampling (sesaat) selama periode tertentu. Penyiapan larutan kapur 0. 3. 8. 0. Siapkan sampel limbah cair asli sebelum diolah kemudian diperiksa pH. Isi beaker glass tersebut dengan limbah asli masing-masing sebanyak 800 ml. 3.3 Pemeriksaan Sampel .00100 ppm . Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan zeolit terhadap filtrat tersebut 10.00075 ppm ml. Ulangi prosedur 4 s/d 10 dengan variasi kapur 0.0010 ppm yang akan digunakan sebagai bahan pengolahan . Periksa filtrat masing-masing beker glass parameter pH. 5.00150 ppm dan 0. 4. 9. 0. Pisahkan filtrat dari endapan.0020 ppm.1 Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan pada bak penampung awal karena sudah mewakili semua limbah cair Rumah Sakit tersebut . Tambahkan larutan kapur pada masing-masing beker glass volume 1 ml.0015 ppm.4 Pelaksanaan Penelitian 1.0010 ppm dan tawas 0. kemudian diberi nomor 1 s/d 3.

hubungan antara kedua variabel disebut analisis regresi sederhana. Jika suatu variabel tak bebas (dependent variable) tergantung pada satu variabel bebas (independent variable). Parameter limbah cair yang dianalisis adalah fosfat pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/pengolahan. Persamaan matematik yang memungkinkan untuk meramalkan nilai-nilai satu atau lebih peubah acak bebas disebut persamaan regresi. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Teknik Analisa Data Perhitungan statistik untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini menggunakan uji Regresi Linier Sederhana. Rumusan matematisnya adalah sebagai berikut : R= n(ΣXY ) − (ΣX )(ΣY ) nΣX 2 − (ΣX ) 2 nΣY 2 − (ΣY ) 2 = Koefisien korelasi (Pearson Correlation) = variabel penambahan kapur = variabel kadar fosfat = jumlah sampel Dimana : R X Y n Nilai koefisien determinasi (R2) yang kecil berarti kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel- .8 Teknik Pengumpulan Data Data yang diperoleh dari hasil penelitian dikelompokkan agar memudahkan dalam analisis. Maksud dari hubungan regresi yaitu untuk mengetahui suatu variabel dapat dipergunakan untuk memprediksi atau meramal variabelvariabel lain. yang disimbolkan dengan huruf R. Xb Dimana : Y X a b = Variabel terikat = variabel bebas = titik potong (intercept) = koefisien regresi (elastisitas/slope) Koefisien determinasi pada intinya adalah untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat.Semua sampel diperiksa berdasarkan metode baku standard Method for examination. selanjutnya data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Bentuk matematisnya adalah sebagai berikut : Y = a .9. 3. 3. Koefisien determinasi diperoleh dari mengkalikan koefisien korelasi Pearson atau biasa disebut Pearson Product Moment.

artinya ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Uji F Untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian mengenai efektifitas dosis dengan menggunakan campuran kapur tohor [Ca(OH)2] dan tawas [Al2(SO4)3] serta filtrasi zeolit terhadap penurunan kadar Fosfat air limbah RS Bethesda Yogyakarta telah dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2005. Atau 1. Fhitung = ( R2 / k 1 − R 2 / (n − k − 1) ) Keterangan: R2 k n = = = Koefisien determinan Banyaknya perubahan bebas Jumlah data Dasar Pengambilan Keputusan 1. Bila Fhitung > Ftabel. Bila Fhitung < Ftabel. maka Ho diterima 2.variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel terikat.05. Karena pada jam . maka Ho ditolak atau Ha diterima. Sedangkan waktu pengambilan sampel dilakukan pada jam 09. Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur prosentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dilihat dengan rumus R2 x 100%. Bila probabilitas F > 0. maka Ho ditolak atau Ha diterima BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.05. maka digunakan uji F.1. maka Ho diterima. Bila probabilitas F < 0. berdasarkan pemeriksaan kadar Fosfate selama 24 jam pada inlet dan pada bak kontak.00 Wib. 2. Sampel diambil di bak equalisasi dengan tujuan untuk mencari kadar Fosfat yang mewakili seluruh aliran limbah cair. artinya tidak ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat.

melebihi yang ditentukan.00125 0.6404 No.tersebut kadar Fosfat limbah cair RS Bethesda Yogyakarta pada bak equalisasi adalah yang tertinggi.00200 Sumber: Data Primer 2005 2.81 1.15 1.00075 0.0025 Bethesda Yogyakarta Pada tabel 5 terlihat semakin tinggi larutan tawas 0.00050 0.19 1.37 1.0025 ppm memberikan hasil fosfat terbaik yaitu sebesar 0.53 0. berikut: Tabel 5. Hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dilihat pada gambar 3.06 0.5 dan 6 berikut: .66 1. maka parameter PO4. Selanjutnya limbah yang diambil di bak equalisasi tersebut dilakukan pengolahan dengan cara koagulasi dan flokulasi.maka kadar fosfat semakin menurun.1 ppm yang ditambahkan.0020 ppm dan tawas 0.62 1. Pada penambahan larutan kapur 0.56 1. hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 5.1 ppm dan larutan kapur 0.00150 0. berikut: Tabel 4.06 0.0015 Kapur (ppm) 0.82 1. Hasil pengukuran kadar limbah RS Bethesda pada bak equalisasi secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4.4.21 1. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Setelah Koagulasi/Flokulasi Tawas (ppm) 0.5 25.22 0. Keadaan Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Sebelum Pengolahan (Asli) No.29 1. 1 2 Parameter pH PO4- Satuan mg/l Keterangan Sumber: Data Primer 2005 Dari hasil pengukuran diatas.00100 0.62 1.17 1.53 mg/l.Lab / Hasil Analisa 56 7.96 0.49 1.0020 0.

961 -0.001 0.00 1.50 2.0020 ppm .0005 0.6999 Kapur (ppm) Gambar 4. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.0025 y = 0.00 0.002 0.951 0.5 1 0.0005 0.50 0.0025 Kapur (ppm) Gambar 3.001 Fosfat (ppm) y = 0.00 2.0055x-0.0015 0.0097x R2 = 0.0015 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.00 0 0.3.50 1.0015 ppm 2.8 R2 = 0.002 0.5 Fosfat (ppm) 2 1.5 0 0 0.

00200 0.002 0.23 1.0020 1.5 1 0.00100 0.70 0.0015 0.985 -0.78 0.32 1.00150 0.28 0.0005 0.64 0.0025 Kapur (ppm) Tawas 0.26 1.0015 0.0020 ppm dan 0.06 0.00050 0.0025 ppm 3 Fosfat (ppm) 2 1 0 0 0.66 Sumber: Data Primer 2005 .00125 0.7557 Kapur (ppm) Gambar 5.00075 0.0025 ppm Selanjutnya limbah hasil perlakuan koagulasi dan flokukasi dilewatkan pada unit filtrasi zeolit diperoleh hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut: Tabel 6.5 0 0 0.81 0.0015 Tawas 0.01 1. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.18 1.0025 y = 0.01 mg/ml 0.90 1.06 1.01 mg/ml Kapur 0.98 0.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi Pada Penambahan tawas 0.2 Fosfat (ppm) 1. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Tawas 0.03 0.002 0.001 0.001 0.0061x R2 = 0.0015 ppm.0020 Tawas 0.0005 0.0025 1.30 0. tawas 0.00 0.0025 Gambar 6.0015 1.

801 Kapur (ppm) Gambar 7.8.001 0.958 Kapur (ppm) Gambar 8.maka kadar fosfat setelah filtrasi zeolit semakin kecil nilai fosfat optimal dicapai pada penambahan larutan kapur 0. berikut: 2 Fosfat (ppm) 1.0020 ppm .0016x -0.002 0.0015 ppm 2 Fosfat (ppm) 1. 0.011x -0. 0.hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan pembubuhan larutan kapurdan larutan tawas setelah filtrasi zeolit dapat dilihat pada gambar 7. terlihat semakin tinggi larutan kapur dan larutan tawas yang ditambahkan .0025 y = 0.5 0 0 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.6708 R2 = 0.0015 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.0025 y = 0.Dari tabel 6.001 0.1 ppm.5 1 0.9147 2 R = 0.0005 0.002 0. Secara empiris.0005 0.0025 ppm.0015 0.dan tawas 0.5 0 0 0.0020 ppm .5 1 0.1 ppm. 9 dan 10.

980 Kapur (ppm) Gambar 9. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi 4. Dari beberapa referensi bahwa keberadaan Fosfat dalam air limbah dapat diturunkan dengan jalan pengendapan secara kimiawi.001 0. Pada penelitian ini pemakaian dosis kapur. Efektifitas bahan kimia .0025 y = 0.0015 0.0025 ppm Fosfat (ppm) 2 1.001 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0. dan filtarasi zeolit sangat berpengaruh dalam menurunkan kadar Fosfat. Pembahasan Limbah cair di lingkungan RS Bethesda Yogyakarta dilakukan pengolahan dengan menggunakan sistem aerob dan anerob. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan kimia sebagai penghilang Fosfat adalah sebagai berikut: 1.0005 0. kapur.0015 0. tawas.002 0.0025 Gambar 10.0015 Taw as 0.5 1 0.5 0 0 0.0020 Taw as 0.0025 Kapur (ppm) Taw as 0. Senyawa-senyawa Fosfate dapat dihilangkan dengan penambahan bahan koagulan misalnya alum.5 1 0.9343 R2 = 0.0005 0. Biaya 2.002 0. ferrichlorida atau ferrous sulfat.0012x -0.2.2 Fosfat (ppm) 1.5 0 0 0.

sedangkan konsentrasi PO43. kekeruhan. Efek terhadap lingkungan Dari beberapa pertimbangan diatas.00 pagi saat fluktuasi kualitas terjadi. Limbah asli dianalisa di laboratorium dengan parameter pH. karena disamping harganya relatif murah.8-7. dan 0. suhu. Dari hasil koagulasi / flokulasi pada Tabel 4 terlihat kecenderungan penurunan fosfat yang terjadi sebanding dengan penambahan kapur yang ditunjukkan pada : Gambar 3 dengan persamaan empiris y = 0.7557 Dimana : x = penambahan kapur (ml) Y = penurunan kadar fosfat (mg/l) Secara keseluruhan hasil pemeriksaan kadar fosfat dengan koagulasi dan flokulasi pada konsentrasi tawas 0.0097x-0. kualitas dan kuantitas limbahnya serba sama.0020 ppm. Limbah cair RS Bethesda yang digunakan sebagai bahan untuk penelitian penurunan kadar fosfat diambil pada Bak Equalisasi dengan pertimbangan limbah tersebut sudah merupakan gabungan dari semua sumber limbah yang dihasilkan. Kesesuaian dengan proses pengolahan lain 5. Pembentukan flok akan berjalan baik pada range pH 5. maka kami pilih kapur dan tawas sebagai bahan koagulan. Pada Bak Equalisasi. karena proses pembentukan flok pada proses koagulasi sangat dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia seperti kondisi pengadukan.0061x-0.9 memenuhi syarat.3. pH.0025 ppm ditunjukkan pada Gambar 6. tapi juga aman terhadap lingkungan. dengan pertimbangan keduanya akan saling mengkoreksi pH. belum melalui perlakuan pengolahan sama sekali. 0. Perpaduan dari dua jenis koagulan. dan mudah didapatkan di pasaran. Pengaruh penambahan kapur akan menaikkan diluar pH tersebut maka pembentukan flok sempurna. Dosis dan perlengkapan untuk pengadukan 6. Selanjutnya limbah dari Bak Equalisasi dikategorikan sebagai limbah asli. tidak memenuhi baku mutu.8047 Gambar 4 dengan persamaan empiris y = 0.awal = 25.6404 mg/l. Pertimbangan lumpur yang dihasilkan 4.0015 ppm. alkalinitas.5 Baku Mutu pH = 6 . pH dan bereaksi dengan bikarbonat membentuk CaCO3 sebagai basa. PO43-.0055x-0.6999 Gambar 5 dengan persamaan empiris y = 0. Limbah asli diambil dalam jumlah yang cukup pada jam 09. Hasil analisa No lab 56 menunjukkan hasil pH = 7.4 .

0015 ppm. yaitu 0.70. Diharapkan pada proses filtrasi ini terjadi pemisahan yang lebih sempurna dari flocculant terhadap cairannya.9147 pada penambahan tawas x-0.7557 pada penambahan tawas 0.0015 ppm.0020 ppm. 0. 0. didapat nilai R2 tertinggi. Jika dilihat dari uji statistik pendistribusian data dengan uji Kolmogorov Smirnov.0061 x-0. jadi dapat disimpulkan penurunan kadar fosfat pada penambahan tawas 0.0025 ppm. Pada proses koagulasi dan flokulasi kadar fosfat (PO43-) diharapkan mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan penambahan larutan kapur dan tawas menjadi endapan Ca3 (PO4)2 ↓ dan Al (PO4) ↓.0025 ppm adalah yang tertinggi dengan nilai R = 0. maka diperoleh hasil dari masing-masing variasi tawas.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat paling efektif.0020 ppm dan formula y = 0. 4. Semua flok yang terbentuk tidak ada lagi yang terikat pada cairan limbah terolah. Ternyata diperoleh dari data statistik variasi penambahan tawas 0. Maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini terdistribusi normal. dan 6. Penurunan PO4 secara rinci terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 3. dan formula y = 0. dimana nilai R2 antara 0.70 – 1. Pada penurunan fosfat yang dilakukan dengan filtrasi zeolit setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi terlihat kadar fosfat cenderung mengalami penurunan lagi.0025 ppm.0097 x-0. Selanjutnya dicari nilai R dari variasi tawas 0.8047 pada penambahan tawas 0. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula y = 0.0025 ppm.9343 pada penambahan tawas 0.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat. 0. formula y = 0. 9 dan 10. Jika ditinjau dari uji statistik.70 dimana nilai R antara 0. 8.0025 ppm setelah filtrasi adalah yang paling efektif.0055 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini berdistribusi normal.0012 x-0. Jadi dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar fosfat pada konsentrasi penambahan tawas 0.6708 pada penambahan tawas 0.Berdasarkan hasil pengukuran terhadap limbah asli tersebut. diperoleh nilai p value pada masing-masing sampel lebih besar dari 0.0025 ppm. sedangkan dari uji regresi .992. dan 0. formula y = 0.0015 ppm.0025 ppm.0020 ppm.70 – 1. dimana konsentrasinya fosfatnya melebihi baku mutu yang ditetapkan.0016 x-0. Hasil penurunan dengan filtrasi zeolit secara keseluruhan terlihat pada Tabel 6 dan Gambar 7. maka perlu dilakukan penelitian penurunan kadar fosfat dengan koagulasi-flokulasi dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan zeolit. Dari hasil analisa data setelah filtrasi.0015 ppm. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula : y = 0. sedangkan dari uji korelasi atau uji kekuatan hubungan antara dua variabel diperoleh nilai R2 di atas 0.0025 ppm adalah yang paling efektif.6999 pada penambahan tawas . diperoleh nilai R2 semua di atas 0. x-0.990 pada konsentrasi penambahan tawas 0.05.011 0.0020 ppm. nilai P semua variasi di atas 0. 5. dan 0.

0020 ppm 0.061 90.1% pengaruh kapur 96.7086 7.8% pengaruh kapur 98.3. Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi No. Tabel 8.961 0.951 0.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.4. Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian mengenai efektifitas dosis dengan menggunakan campuran kapur tohor [Ca(OH)2] dan tawas [Al2(SO4)3] serta filtrasi zeolit terhadap penurunan kadar Fosfat air limbah .0025 ppm R2 0.985 F hitung 78.0% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.958 0.7086 7.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat.5% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0. df2 = 4) 7.1% pengaruh kapur 95.394 193. kapur berpengaruh sebesar 98.801 0.0% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.0025 ppm.0020 ppm 0. Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi No. df2 = 4) 7.7086 7.980 F hitung 16.7086 Keterangan 95.7086 Keterangan 80.0025 ppm.3.1% pengaruh kapur 98.0015 ppm 0.735 260.795 F tabel (df1 = 1.5% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0. 1 2 3 Tawas 0.271 99.0025 ppm R2 0. Analisa Data Tabel 7.7086 7. 1 2 3 Tawas 0. kapur berpengaruh sebesar 98.784 F tabel (df1 = 1.0015 ppm 0.

00150 0.49 1.00100 0.0015 Kapur (ppm) 0. maka parameter PO4.62 1. Sampel diambil di bak equalisasi dengan tujuan untuk mencari kadar Fosfat yang mewakili seluruh aliran limbah cair.37 1.62 1. hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 5. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Tawas (ppm) 0.29 1. berikut: Tabel 5.00200 Sumber: Data Primer 2005 2.19 1.00075 0.00050 0. Selanjutnya limbah yang diambil di bak equalisasi tersebut dilakukan pengolahan dengan cara koagulasi dan flokulasi. berdasarkan pemeriksaan kadar Fosfate selama 24 jam pada inlet dan pada bak kontak.06 0.56 1.66 1.00125 0. Karena pada jam tersebut kadar Fosfat limbah cair RS Bethesda Yogyakarta pada bak equalisasi adalah yang tertinggi.96 0.Lab / Hasil Analisa 56 7.15 1. berikut: Tabel 4. Sedangkan waktu pengambilan sampel dilakukan pada jam 09.06 0.53 0.00 Wib.5 25.82 1.melebihi yang ditentukan.22 0.21 1. 1 2 Parameter pH PO4Satuan mg/l No.0025 .0020 0.81 1.17 1.6404 Keterangan Sumber: Data Primer 2005 Dari hasil pengukuran diatas. Hasil pengukuran kadar limbah RS Bethesda pada bak equalisasi secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4. Keadaan Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Sebelum Pengolahan (Asli) No.RS Bethesda Yogyakarta telah dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2005.

maka kadar fosfat semakin menurun.5 0 0 0.0015 ppm 2.5 Fosfat (ppm) 2 1.0015 0.1 ppm dan larutan kapur 0.5 1 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.53 mg/l.00 0 0.50 2.001 0.5 dan 6 berikut: 3.0025 ppm memberikan hasil fosfat terbaik yaitu sebesar 0.50 1.0025 y = 0.0005 0.0025 Kapur (ppm) Gambar 3.Pada tabel 5 terlihat semakin tinggi larutan tawas 0.0097x R2 = 0.951 2 0.00 1.0055x-0.0020 ppm dan tawas 0.0005 0.00 0.001 Fosfat (ppm) y = 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.1 ppm yang ditambahkan.6999 Kapur (ppm) Gambar 4.50 0.4.0015 0.00 2.961 -0.002 0. Pada penambahan larutan kapur 0. Hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dilihat pada gambar 3.0020 ppm .002 0.8 R = 0.

06 1.0025 y = 0.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi Pada Penambahan tawas 0.0005 0.0025 1.01 1.03 0.5 0 0 0.90 1. tawas 0.0025 ppm Selanjutnya limbah hasil perlakuan koagulasi dan flokukasi dilewatkan pada unit filtrasi zeolit diperoleh hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut: Tabel 6.00125 0.2 Fosfat (ppm) 1.18 1.002 0.32 1.00 0.0015 0.0020 ppm dan 0.81 0.0020 1.06 0.70 .01 mg/ml 0.00075 0.985 -0.00050 0.00100 0.0025 Gambar 6.0015 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.5 1 0.0061x R2 = 0.0025 ppm 3 Fosfat (ppm) 2 1 0 0 0.26 1.001 0.001 0.0005 0.0015 ppm.0025 Kapur (ppm) Tawas 0.01 mg/ml Kapur 0.0015 1.23 1.0020 Tawas 0.002 0.0015 Tawas 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Tawas 0.7557 Kapur (ppm) Gambar 5.

002 0.5 0 0 0.0005 0. terlihat semakin tinggi larutan kapur dan larutan tawas yang ditambahkan . berikut: 2 Fosfat (ppm) 1.0025 ppm.0025 y = 0.5 1 0.0015 0.5 0 0 0.001 0.9147 2 R = 0.maka kadar fosfat setelah filtrasi zeolit semakin kecil nilai fosfat optimal dicapai pada penambahan larutan kapur 0. 0.002 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.011x -0.0015 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.801 Kapur (ppm) Gambar 7.00200 0.1 ppm.dan tawas 0.hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan pembubuhan larutan kapurdan larutan tawas setelah filtrasi zeolit dapat dilihat pada gambar 7.78 0.64 0.00150 0. 0.30 0.1 ppm.0015 0.0020 ppm .98 0.5 1 0.0020 ppm .0005 0.958 Kapur (ppm) Gambar 8.001 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.0.28 0.0016x -0.6708 R2 = 0. 9 dan 10.8.66 Sumber: Data Primer 2005 Dari tabel 6.0025 y = 0. Secara empiris.

Pada penelitian ini pemakaian dosis kapur.001 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.2 Fosfat (ppm) 1.0025 ppm Fosfat (ppm) 2 1.0025 y = 0.5 1 0.9343 R2 = 0. Senyawa-senyawa Fosfate dapat dihilangkan dengan penambahan bahan koagulan misalnya alum.5 0 0 0.4.980 Kapur (ppm) Gambar 9. ferrichlorida atau ferrous sulfat.001 0.5 0 0 0.0025 Gambar 10.0020 Taw as 0.0015 0. tawas.0015 0. kapur. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi 4.0015 Taw as 0.002 0.0005 0.0025 Kapur (ppm) Taw as 0. Dari beberapa referensi bahwa keberadaan Fosfat dalam air limbah dapat diturunkan dengan jalan pengendapan secara kimiawi.5 1 0.002 0.0012x -0.0005 0. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan kimia sebagai penghilang Fosfat adalah sebagai berikut: . Pembahasan Limbah cair di lingkungan RS Bethesda Yogyakarta dilakukan pengolahan dengan menggunakan sistem aerob dan anerob. dan filtarasi zeolit sangat berpengaruh dalam menurunkan kadar Fosfat.

belum melalui perlakuan pengolahan sama sekali.4 . 0. pH. dan mudah didapatkan di pasaran. Pembentukan flok akan berjalan baik pada range pH 5. alkalinitas. Efek terhadap lingkungan Dari beberapa pertimbangan diatas.0097x-0.7557 Dimana : x = penambahan kapur (ml) Y = penurunan kadar fosfat (mg/l) Secara keseluruhan hasil pemeriksaan kadar fosfat dengan koagulasi dan flokulasi pada konsentrasi tawas 0. Perpaduan dari dua jenis koagulan. karena disamping harganya relatif murah.0025 ppm ditunjukkan pada Gambar 6. Pengaruh penambahan kapur akan menaikkan diluar pH tersebut maka pembentukan flok sempurna. kekeruhan.0015 ppm. tapi juga aman terhadap lingkungan.8047 Gambar 4 dengan persamaan empiris y = 0.00 pagi saat fluktuasi kualitas terjadi. Dosis dan perlengkapan untuk pengadukan 6. dengan pertimbangan keduanya akan saling mengkoreksi pH. Biaya 2.1. Pertimbangan lumpur yang dihasilkan 4. Pada Bak Equalisasi. suhu. karena proses pembentukan flok pada proses koagulasi sangat dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia seperti kondisi pengadukan. dan 0.6999 Gambar 5 dengan persamaan empiris y = 0. pH dan bereaksi dengan bikarbonat membentuk CaCO3 sebagai basa.0061x-0. kualitas dan kuantitas limbahnya serba sama. maka kami pilih kapur dan tawas sebagai bahan koagulan.0055x-0. Limbah asli diambil dalam jumlah yang cukup pada jam 09. Selanjutnya limbah dari Bak Equalisasi dikategorikan sebagai limbah asli.8-7. Efektifitas bahan kimia 3. Kesesuaian dengan proses pengolahan lain 5. Limbah cair RS Bethesda yang digunakan sebagai bahan untuk penelitian penurunan kadar fosfat diambil pada Bak Equalisasi dengan pertimbangan limbah tersebut sudah merupakan gabungan dari semua sumber limbah yang dihasilkan.0020 ppm. Dari hasil koagulasi / flokulasi pada Tabel 4 terlihat kecenderungan penurunan fosfat yang terjadi sebanding dengan penambahan kapur yang ditunjukkan pada : Gambar 3 dengan persamaan empiris y = 0.

0025 ppm. Hasil penurunan dengan filtrasi zeolit secara keseluruhan terlihat pada Tabel 6 dan Gambar 7.Limbah asli dianalisa di laboratorium dengan parameter pH. 0.0020 ppm. sedangkan konsentrasi PO43. Diharapkan pada proses filtrasi ini terjadi pemisahan yang lebih sempurna dari flocculant terhadap cairannya.9147 pada penambahan tawas x-0. Ternyata diperoleh dari data statistik variasi penambahan tawas 0.0097 x-0. 8.6999 pada penambahan tawas . Berdasarkan hasil pengukuran terhadap limbah asli tersebut.0025 ppm. dimana nilai R2 antara 0. Hasil analisa No lab 56 menunjukkan hasil pH = 7.0025 ppm.70 dimana nilai R antara 0.0012 x-0.0025 ppm. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula : y = 0.70.0025 ppm. dan 0. Pada proses koagulasi dan flokulasi kadar fosfat (PO43-) diharapkan mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan penambahan larutan kapur dan tawas menjadi endapan Ca3 (PO4)2 ↓ dan Al (PO4) ↓. didapat nilai R2 tertinggi. Semua flok yang terbentuk tidak ada lagi yang terikat pada cairan limbah terolah.70 – 1. Jadi dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar x-0. Jika ditinjau dari uji statistik. sedangkan dari uji regresi . jadi dapat disimpulkan penurunan kadar fosfat pada penambahan tawas 0.990 pada konsentrasi penambahan tawas 0. diperoleh nilai R2 semua di atas 0. Dari hasil analisa data setelah filtrasi.0020 ppm dan formula y = 0. dan 0. 0.awal = 25.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat.0015 ppm. diperoleh nilai p value pada masing-masing sampel lebih besar dari 0.8047 pada penambahan tawas 0.0055 0.011 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini berdistribusi normal. tidak memenuhi baku mutu. 9 dan 10. maka diperoleh hasil dari masing-masing variasi tawas.6708 pada penambahan tawas 0. yaitu 0. dan 6. formula y = 0.5 Baku Mutu pH = 6 .992. Pada penurunan fosfat yang dilakukan dengan filtrasi zeolit setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi terlihat kadar fosfat cenderung mengalami penurunan lagi.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat paling efektif.0025 ppm adalah yang tertinggi dengan nilai R = 0.7557 pada penambahan tawas 0.70 – 1.0061 x-0. formula y = 0. Maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini terdistribusi normal.6404 mg/l. Jika dilihat dari uji statistik pendistribusian data dengan uji Kolmogorov Smirnov. 4. Selanjutnya dicari nilai R dari variasi tawas 0. maka perlu dilakukan penelitian penurunan kadar fosfat dengan koagulasi-flokulasi dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan zeolit. 5. Penurunan PO4 secara rinci terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 3. PO43-. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula y = 0.05. dan formula y = 0.0015 ppm.9 memenuhi syarat. dimana konsentrasinya fosfatnya melebihi baku mutu yang ditetapkan. sedangkan dari uji korelasi atau uji kekuatan hubungan antara dua variabel diperoleh nilai R2 di atas 0. nilai P semua variasi di atas 0.0016 x-0.0015 ppm.9343 pada penambahan tawas 0.0015 ppm.0025 ppm adalah yang paling efektif.0020 ppm. 0.0020 ppm.

df2 = 4) 7.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat. Analisa Data Tabel 7.7086 7.0025 ppm R2 0.951 0.0025 ppm.061 90.1% pengaruh kapur 96. 1 2 3 Tawas 0.735 260.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat BAB V .801 0.980 F hitung 16.7086 7. kapur berpengaruh sebesar 98.0020 ppm 0.7086 Keterangan 95.7086 Keterangan 80.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.1% pengaruh kapur 95.3.0025 ppm R2 0.0% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.7086 7.0020 ppm 0.271 99.394 193.0015 ppm 0.5% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.0% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.985 F hitung 78. 4.958 0. df2 = 4) 7.5% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.7086 7.0015 ppm 0. Tabel 8. Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi No.8% pengaruh kapur 98.795 F tabel (df1 = 1.784 F tabel (df1 = 1. 1 2 3 Tawas 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.961 0. kapur berpengaruh sebesar 98.0025 ppm setelah filtrasi adalah yang paling efektif.1% pengaruh kapur 98.0025 ppm.fosfat pada konsentrasi penambahan tawas 0. Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi No.

. Saran 1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian. maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. 5. Larutan kapur dan larutan tawas efektif menurunkan kadar fosfat dalam limbah cair RS Bethesda dengan prosentase 97.1. agar penambahan koagulan dapat dilakukan setepat mungkin.0061 x 0. Perlu melakukan pemeriksaan kadar fosfat secara berulang-ulang.92 %.KESIMPULAN DAN SARAN 5.7557 diperoleh pada konsentrasi larutan kapur 0.0020 ppm dan konsentrasi larutan tawas 0. Terhadap RS Bethesda Supaya memilih detergen yang digunakan dengan kadar fosfat rendah. Bagi peneliti lain Untuk dapat meneliti penurunan kadar fosfat dengan menggunakan metode yang lain. 2. 2. Efektifitas penurunan kadar fosfat limbah cair RS Bethesda dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dinyatakan dengan rumus empiris y=0.2.0025 ppm. kemurnian bahan dan ketelitian alat sangat mempengaruhi hasil penelitian selanjutnya.

Salah satu upaya penyehatan lingkungan rumah sakit teresbut adalah peraturan pemerintah tentang adanya suatu satuan kerja yang bertanggungjawab terhadap penyehatan lingkungan rumah sakit yaitu Instalasi Sanitasi melaui SK Menkes No.1.J.J. toxic dan radioaktif dalam melakukan kegiatannya sehingga perlu adanya upaya penyehatan lingkungan rumah sakit.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.G. kapasitas rmah sakit yang semula 150 tempat tidur ditingkatkan menjadi 475 tempat tidur. sering dikenal sebagai bentuk pelayanan yang berorientasi pada pelayanan kuratif saja.Scheurer kembali ke Belanda pada tahun 1906 dan kepemimpinan RS Petronella selama 36 tahun berikutnya dibagi rata oleh tiga orang dokter. dr. Ketika menerima subsidi dari pemerintah. Dalam kurun waktu 1924-1925. pencegahan. Rumah sakit merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh. pengobatan dan pelayanan kesehatan. Offringa dan dr. yaitu dr. . Rumah Sakit Petronellapun bernama resmi Het Zendingsziekenhuis Petronella Voor on en minvermogenden (Rumah Sakit Petronella untuk orang-orang yang kurang dan tidak mampu). tetapi untuk mencapai tujuan pembangunan bidang kesehatan. dengan kapasitas awal 150 tempat tidur dan dikelola sepenuhnya oleh gerejagereja Gereformed di Amsterdam. Tujuannya untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari bahan buangan atau limbah rumah sakit serta mencegah meningkatnya infeksi nosokomial di lingkungan rumah sakit.Offringa. Rumah Sakit Petronella disebut juga sebagai rumah sakit Dokter Tulung/Pitulung karena tidak memungut biaya perawatan rumah sakit. maka rumah sakit diharapkan berangsur akan berkembang kearah pelayanan kesehatan paripurna yang mencakup upaya peningkatan.P. Rumah Sakit Rumah Sakit adalah integrasi organisasi sosial dan kesehatan yang berfungsi melayani masyarakat dengan pelayanan kesehatan secara menyeluruh baik kuratif maupun preventif serta pelayanan penderita berobat jalan mencakup lingkungan keluarga. Pada tahun 1899 dr. Rumah sakit akan menghasilkan limbah yang bersifat infeksius.Groot. semasa kepemimpinan dr. Pruys. 548/Menkes/VI/1994 tanggal 13 Juni 1994. disamping juga merupakan pusat latihan tenaga kesehatan dan tempat untuk mengadakan pelatihan medis. dr. K.Scheurer mendirikan Rumah Sakit Petronella di kampung Gondokusuman. J.

935 m2 dengan luas bangunan mencapai 25. maka berdasarkan hasil rapat Dewan Pimpinan YAKKUM (Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum) selaku pengawas yang berpusat di Surakarta. 1714 / K. rumah sakit secara resmi berdiri dan beroperasi di Yogyakarta dengan nama Rumah Sakit Bethesda.uk RS BETH /1996 tanggal 23 Maret 1996 dan kemudian diberlakukan di RS Bethesda dengan Surat Keputusan Direktur No. 70. Wahidin : Jalan Johar Norhadi Struktur Organisasi Rumah Sakit Bethesda Struktur organisasi RS Bethesda Yogyakarta sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Pimpinan Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (DP-YAKKUM) No.Sewaktu terjadi perang antara Sekutu dan Jepang. dengan dr. tanggal 28 Juni 1949.3880/K. Supaya umum mengetahuinya bahwa Rumah Sakit Kristen.412 m2 dan tanah kosong dalam komplek 36. dengan batas-batas: • • • • Utara Selatan Timur Barat : Jalan Jenderal Sudirman : Universitas Kristen Duta Wacana dan Komplek DKT : Jalan Dr. Setelah proklamasi kemerdekaan. Kotamadya Yogyakarta. Lokasi Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta terletak pada sebidang tanah yang mempunyai luas 61. Rumah Sakit Jogjakarta Tjuo Bjoin direbut dari Jepang dan berganti nama menjadi Rumah Sakit Pusat.423 m2 . pasien-pasien Petronella dipindahkan ke rumah sakit darurat di Pingit (sekarang asrama Polisi) dan Rumah Sakit Petronella dipindahkan kembali ke Gondokusuman dan berganti nama menjadi Jogjakarta Tjuo Bjoin (Rumah Sakit Pusat Jogyakarta) dan dipimpin oleh orang Jepang.966/1997 tanggal 22 Juli 1997 tentang organisasi dan tata kerja RS Bethesda Yogyakarta yang terdiri dari: • • • • • • • Direktur Wakil Direktur Pelayanan Medik Wakil Direktur Penunjang Medik Wakil Direktur Keuangan Wakil Direktur Personalia dan Umum Bidang Satuan Pengawasan Intern Bidang Sekretariat . Lucas Gerard Johannes Samallo sebagai dokter pertama berbangsa Indonesia yang memimpinnya. Rumah Sakit Bethesda terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di jalan Jenderal Sudirman No.

• • • • • • Bidang Perencanaan. Limbah padat berupa: 6. Air buangan dari kamar mandi. Limbah gas berupa: . Penelitian dan Pengembangan Bidang Pelayanan Keluarga Berencana RS Bethesda Bidang Sosial Pastoral Bidang usaha Peningkatan Kesehatan Masyarakat (UPKM) Bidang Pendidikan SPK dan Bidan Bidang Pelayanan Kesehatan (YANKES) Lempuyangwangi Bahan Polutan Rumah Sakit Bethesda Bahan polutan yang ada dapat diamati dengan jelas dari setiap kegiatan yang dilakukan RS Bethesda Yogyakarta. Kotoran lemak Deterjen Specimen laboratorium padatan Perban/kasa Spet suntikan Kapas darah Sisa makanan Kertas Plastik Kaca Sisa amputasi Sisa persalinan Sisa operasi Sisa outopsi Sisa insenerasi Gas dari sisa pembakaran di Instalasi Gizi Asap dari pembakaran di Instalasi Incenerator Uap air atau kondensat dari Instalasi Laundry 5. alkohol. Bahan polutan yang ada merupakan hasil dari berbagai aktivitas yang menimbulkan dampak dan kemungkinan bahan polutan yang ada antara lain: 4. asam sulfat (merupakan specimen laboratorium). WC. dan wastafel. Limbah cair berupa: • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Darah.

pengunjung dan karyawan. yang diletakkan di dalam sumur berkedalaman30 sampai 40 meter. Yang kemudian di pompa water tower yang berjumlah 2 buah. untuk itu pihak RS Bethesda menggunakan 5 (lima) buah pompa dengan daya 10 pk dan 7. Genset beroperasi secara otomatis apabila suplai listrik dari PLN tidak berjalan atau padam. Mengingat bahwa rumah sakit merupakan tempat tindakan pelayanan dan perawatan orang sakit. Jumlah dari kebutuhan air bersih untuk RS Bethesda diperkirakan ± 875 m3 per harinya. Pengadaan Listrik Pencahayaan atau listrik digunakan di semua ruangan yang ad. Fasilitas Pemadam Kebakaran . 6. dengan sistem otomatis. • • • • • • • Pengadaan Transportasi Pengadaan mobil operasional terdiri dari: Mobil ambulance Mobil jenazah Mobil kijang Mikrobus Minibus Sedan Open Cup : 4 buah : 1 buah : 3 buah : 2 buah : 1 buah : 2 buah : 1 buah Dengan tenaga sopir 11 orang 8. maka kualitas dan kuantitas air yang digunakan untuk kebutuhan rumah sakit harus selalu dipertahankan agar tidak dapat mengakibatkan sumber infeksi baru bagi penderita . 7. RS Bethesda juga menggunakan 2 buah genset yang mempunyai daya 500 kVa dan 375 kVa. baik untuk bekerja maupun untuk penyimpanan barang atau peralatan elektronik. demikian juga untuk ruang tidur pasien atau bangsal. Pengadaan Air Air bersih merupakan kebutuan mutlak yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan setiap rumah sakit dimanapun juga. Selain menggunakan sumber listrik PLN.5 pk.Utilitas 5. taman dan untuk pelayanan penerangan umum lainnya. Pengadaan listrik di RS Bethesda berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebesar 5500 kVa.

Macam jumlah dan kadar zat pencemar yang dihasilkan dari setiap sumber tersebut bervariasi tergantung kegiatan/aktivitasnya dan bahan yang digunakan. sisa bahan kimia/radiologi. b. kamar mandi. dapur. Type C dan Kelas Madya serta Type D dan Kelas Pratama. B. 983/SK/Menkes/XI/92 menyebutkan bahwa RSU Type A adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan . Berdasarkan macam/jenis penyakit yang ditangani a. Hydrant.1. RSU masih dibagi lagi menjadi beberapa type/kelas RSUP (RSU Pemerintah) dapat diklasifikasikan menjadi RSU type A. yang dikelola oleh yayasan. yang menangani hanya 1 (satu) atau beberapa jenis penyakit tertentu. Madya. Departemen Hankam dan BUMN. Limbah tersebut dapat berupa sisa darah. 4.1. air bekas pencucian dan lain-lain. Keputusan Menkes RI No. Benang merah yang menghubungkan RSUP DAN RSU Swasta adalah paralelisasi antara Type B dan Kelas Utama.1. b.Pengadaan fasilitas untuk pemadam kebakaran berupa: a. urine. 2. C dan D. Berdasarkan status kepemilikan /pengelolaan a. yang dikelola oleh Depkes dan merupakan milik pemerintah (pusat atau daerah). Tabung pemadam kebakaran sejumlah 64 buah Pihak RS Bethesda juga bekerjasama dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kodya dan KODAM IV/Diponegoro. Klasifikasi Rumah Sakit Secara umum industri rumah sakit dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian.Sedangkan RSU Swasta dibagi atas Kelas Utama. ruang bedah dan runag lain dalam bnagunan kecuali limbah cair radiologi. yang ditempatkan di 16 titik yang dianggap dapat mewakili seluruh areal bangunan RS Bethesda. yaitu. Rumah Sakit Umum (RSU). ruang laboratorium. yang menangani hampir semua penyakit/memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar. ruang pasien. Rumah Sakit Swasta. Rumah Sakit Negeri/ Pemerintah. b. Sedangkan Rumah Sakit Bethesda tergolong RSU Kelas Utama. Pengertian Limbah Cair Rumah Sakit Limbah cair rumah sakit merupakan limbah cair dari semua sumber pembuangan misalnya kloset. spesialistik dan subspesialistik. Rumah Sakit khusus. Limbah cair rumah sakit adalah limbha cair yang berasal dari rumah sakit baik ynag berasal dari dapur. ruang operasi dan lainnya. tinja.2. dan Pratama. 2. tempat pencucian pakaian. sisa obat. 3.

23. Spoelhock. Wastafel. 20. Terakhir RSU Type D atau Kelas Pratama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis dasar. Spoelhock. urinoir. Ruang Rawat Jalan: Kamar mandi. Ruang Perawatan berasal dari: Kamar mandi. tempat buang exudat pasien. pantry. tempat cuci instrumen medik. RSU Type B atau Kelas Utama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan subspesialistik terbatas. 19. 24. 15. Wastafel. Wastafel. tempat cuci perabot makan. Ruang Dapur: Kamar mandi. tempat cuci preparat. Sumber-sumber limbah rumah sakit meliputi: 14. Wastafel. pantry. urinoir. Masjid): Kamar mandi. tempat cuci sayur/buah. tempat buang exudat pasien. floor drain. tempat cuci instrumen medik. Asrama): Kamar mandi. tempat cuci instrumen medik. Untuk mengetahui jenis limbah yang dihasilkan yang digunakan sebagai dasar cara pengolahannya maka perlu diketahui sumber-sumber yang menghasilkan limbah rumah sakit. kamar mandi. 18. Wastafel. Ruang Kamar Jenazah/Autopsi: Kamar mandi. 16. Spoelhock. floor drain. Sumber Penghasil Limbah RS Bethesda . Ruang Rawat Darurat: Kamar mandi. tempat buang exudat pasien. tempat cuci film. wastafel. 26. tempat cuci alat-alat dapur. tempat cuci perabot makan.3.1. floor drain. tempat cuci beras. 25. 21. Instalasi Laboratorium Klinik/Patologi Anatomi: Kamar mandi. Wastafel. tempat cuci instrumen medik. urinoir. 22. urinoir. Ruang Laundry: tempat rendaman linen kotor. buangan dari pembilas mesin cuci. Unit Perkantoran/Perpustakaan: Kamar mandi. 2. pantry. tempat wudlu. Spoelhock. Unit Radiologi: wastafel. Ruang Haemodialisa: Kamar mandi. tempat pembedahan mayat/autopsi. tempat cuci instrumen medik. Sumber Limbah Cair Rumah Sakit Dalam melakukan kegiatan pelayanan kesehatan rumah sakit akan menghasilkan limbah cair. Wastafel.subspesialistik luas. urinoir. tempat cuci instrumen medik. Pemukiman (Rumah Dinas. 17. Ruang Operasi: Kamar mandi. buangan pembilas air panas. urinoir. RSU Type C atau Kelas Madya adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik dasar. Fasilitas Sosial (Kafetaria. Wastafel. tempat mencuci jenazah.

Limbah rumah sakit adalah semua air buangan yang berasal dari aktivitas instalasiinstalasi rumah sakit yang kemungkinan besar mengandung mikroorganisma. laboratorium. 6. Limbah cair alur barat Limbah cair dari alur barat lebih didominasi oleh air buangan yang berasal dari ruang-ruang rawat inap (kamar mandi/WC. parasit. lemak dan detergen untuk kemudian diolah secara bertingkat. kimia dan biologis. yang mengandung minyak. ruang farmasi. Limbah cair alur timur Limbah cair alur timur memilki karakteristik pencemar yang lebih kompleks.1. Sifat Fisik . menyalurkan air buangannya ke saluran assenering alur timur baik secara gravitasi maupun dengan bantuan pompa. Karakteristik Limbah Cair Rumah Sakit Air limbah pada intinya dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu sifat fisik. karena selruh kegiatan RS Bethesda yang berada di bagian timur seperti ruang rawat inap. Dari laundry ini dihasilkan limbah cair dengan kandungan detergen yang tinggi sehingga memilki pH dan suhu yang tinggi. 2. wastafel) dan di tambah buangan dari asrama putra AKPER RS Bethesda. 7. Laundry Laundry juga merupakan salah satu instalasi penting yang umum dimiliki oleh setiap rumah sakit tidak terkecuali RS Bethesda. Adapun sumber-sumbernya adalah sebagai berikut: 5. kantor. Air limbah ini mengalir secara gravitasi dengan 13 bak kontrol di titik-titik tertentu guna mengawasi lancar tidaknya aliran. Instalasi gizi (dapur) Kegiatan instalasi gizi yaitu melayani kebutuhan makanan pasien maupun karyawan sehingga dari kegiatan ini juga dihasilkan limbah cair. yang disalurkan melalui assenering baik assenering DKP maupun assenering pihak RS Bethesda sendiri menuju instalasi pengolahan air limbah.4. ruang radiologi dan lain-lain yang menghasilkan limbah. d. bahan kimia beracun dan radio aktif. 8.

Bahan Anorganik Sedangkan zat organik yang penting peranannya di dalam mengontrol air limbah adalah: pH Kadar Khlor Alkalinitas Kadar Sulfur Zat beracun Logam berat seperti: Ni.Penentuan derajat kekotoran air limbah sangat dipengaruhi oleh adanya sifat fisik yang mudah dilihat. e. Pb. Zat organik terdiri dari 65 % protein. Adapun zat kimia yang penting dalam air limbah pada umumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Mg. Cu. CH4. O3 f. Zat organik tersebut sebagian besar mudah terurai (degradabel) yang merupakan sumber makanan dan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme yang lainnya. maka sekitar 75 % dari benda-benda tercampur dan 40 % dari zat yang dapat disaring adalah berupa bahan organik. kejernihan. Bahan Organik Air limbah dengan pengotoran sedang. Zn. yang dijumpai dalam air limbah bersisikan 40-60 % adalah protein. Cd. Sifat Kimia Sifat kimia dalam air limbah dapat diketahui dengan adanya zat kimia air buangan. 25-50 % berupa karbohidrat serta 10 % lainnya berupa lemak. 25 % karbohidrat dan 10 % lemak.1 %. warna dan temperatur. bau. Adapun sifat fisik yang penting adalah kandungan zat padat sebgaai efek estetika. Sifat Bakteriologis . Fe dan Hg Metan Hidrogen Fosfor Gas seperti NH3. Komposisi limbah cair rumah sakit sebagian besar terdiri dari 99.9 % dan sisanya terdiri dari partikel-partikel tidak terlarut 0. 2. Cr. Partikel-partikel padat terdiri dari zat organik 70 % dan anorganik 30 %.

2.5. 16.Instalasi fish pond dilakukan disinfeksi dengan memberikan kaporit melalui sistem injeksi/suntikan dengan tujuan membunuh bakteri patogen. Waktu tinggal dalam bak ini 16 jam. pada proses ini penambahan oksigen dilakukan dengan bantuan blower.Bak ekualisasi Bak ekualisasi berfungsi untuk mencampur limbah dari berbagai sumber sehingga menjadi limbah yang homogen dengan waktu tinggal 27 jam. jamur. Waktu tinggal dalam bak 7 . 14. meliputi: bakteri.Sifat bakteriogis pada air buangan perlu diketahui untuk menaksir tingkat kekotoran air limbah sebelum dibuang ke badan air.Instalasi sand filter Instalasi sand filter berfungsi untuk menyaring limbah sehingga diperoleh kualitas yang lebih baik lagi. Waktu tinggal dalam bak 8 jam. Protista.Instalasi anaerob biofilter Instalasi anaerob biofilter berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana dengan bantuan bakteri yang ada pada biofilter.Instalasi pengendapan (settling) Instalasi pengendapan (settling) berfungsi untuk memberi kesempatan lumpur agar mengendap. 15.1. 17. Mikrooganisme yang penting dalam air limbah dan air permukaan dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu: 1. 18. Waktu tinggal dalam bak pengendspan 7 jam. protozoa dan algae Binatang dan tanaman Dari klasifikasi tersebut diatas. 13. 12.Instalasi aerob Instalasi aerob berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks yang lolos dari pengolahan sebelumnya menjadi senyawa yang lebih sederhana. Limbah ini dipompakan ke instalasi sand filter dan sebelumnya jam.Instalasi penampung awal Instalasi penampung awal berfungsi untuk menampung keseluruhan limbah dari RS Bethesda yang berasal dari cucian. Unit-unit Pengolahan Air Limbah RS Bethesda 11. dapur mauun rawat inap. protozoa dan algae sangat penting di dalam proses dekomposisi atau stabilisasi bahan-bahan organik 2.Instalasi penampung hasil Instalasi penampung hasil berfungsi untuk menampung limbah yang telah mengalami pengolahan (limbah terolah).

19. Dan adanya fosfat dalam air limbah dapat menghambat penguraian pada proses biologis.2. Fosfat kompleks mewakili kira-kira separuh dari fosfat air limbah perkotaan dan berasal dari penggunaan bahan-bahan detergen sintetis. yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan. . Kolam ikan ini dilengkapi dengan pancuran air. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat bagi pertumbuhannya. Sisa yang 70 % dari fosfor yang masuk pada umumnya dilepaskan bersama bunagan instalasi sekunder. Poliphosfat dapat memasuki sungai melalui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan detergen yang mengandung fosfat seperti industri pencucian. Dalam air limbah senyawa fosfat dapat berasal dari limbah penduduk. Fosfat kompleks mengalami hidrolisa selama pengolahan biologis menjadi bentuk ortofosfat (PO43-) Dari konsentrasi rata-rata fosfor keseluruhan sebanyak 10 mg/l berada dalam air limbah perkotaan . Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan. 20. tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air.Instalasi digester dan biogas Instalasi digester dan biogas berfungsi untuk menaqmpung semua lumpur yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah. industri logam dan sebagainya. detergen dapat mempermudah absorbsi racun pada ikan melalui insang dan bersifat persisten sehingga terjadi akumulasi. kira-kira 10 % dibunag sebagai bahan tak terpakai selama pengendapan primer dan 10 % hingga 20 % lainnya digabungkan ke dalm sel-sel bakteri selam apengolhan biologis. Sedangkan menurut Juli Sumirat. industri dan pertanian. Poyfosfat banyak digunakan dalam pembuatan detergen sintetis.Instalasi pengering lumpur (drying bed) Instalasi pengering lumpur befungsi untuk menampung endapan lumpur dari digester untuk dikeringkan. 2. Di daerah pertanian ortofophosfat berasal dari bahan pupuk. Fosfat Fosfat berada dalam air limbah dalam bentuk organik. Komponen fosfat dipergunakan untuk membuat sabun sebagai pembentuk buih. Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut. Sebagai ortophosfat anorganik atau sebagai fosfat-fosfat kompleks. Bermacam-macam jenis fosfat juga dipakai untuk penngolahan anti karat dan anti kerak pada pemanas air (boiler).Instalasi fish pond atau kolam ikan berfungsi untuk tempat penampungan limbah terolah yang telah tersaring di sand filter. Bentuk-bentuk penting fosfat dalam air limbah adalah pospor organik. polyphosfat dan orthophospat.

maka pengolahan kimiawi dan biologis terjadi bersama-sama. sehingga proses fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen juga berkurang. sehingga dihasilkan pengurangan beban pada proses pengolahan biologis. alum dan garam-garam besi dapat dimasukkan ke dalm tanki aerasi selama proses lumpur diaktifkan atau bahan-bahan kimia itu dapat dimasukkan pada suatu tahap pengolhan primer. Bila bahan-bahan kimia dimasukkan langsung ke dalam tangki aerasi dari suatu instalasi lumpur yang diaktifkan. Sebagian besar dari bahan organik tersebut dibuang.2. begitu pula fosfatnya. Pengendapan kimiawi. kadang-kadang dikerjakan pada tahap ketiga setelah pengolahan biologis guna pembuangan fosfat serta peningkatan pH buangan dalam persiapan bagi proses pembuangan ammonia-nitrogen. misalnya alum. ferrichlorida atau ferrous sulfat.Bila kadar fosfat pada air alam sangat rendah (<0.1. Banyak metode yang telah diusulkan untuk pembuangan kelebihan fosfat. Pada keadaan “eutrotop” tanaman dapat menghabiskan oksigen dalam sungai atau kolam pada malam hari atau bila tanaman tersebut mati dan dalam keadaan sedang mencerna (digest) dan pada siang hari pancaran sinar matahari kedalam air akan berkurang. Pembuangan limbah yang banyak mengandung fosfat ke dalam badan air dapat menyebabkan pertumbuhan lumut dan mikroalgae yang berlebih yang disebut “eutrophication” . Pemisahan Fosfat Secara umum analisa fosfat meliputi 2 (dua) langkah : . Walaupun demikian. Reaksi kimia dari proses pengendapan secara kimiawi antara fosfat dengan alum. sehingga air menjadi keruh dan berbau karena pembusukan lumut-lumut yang mati. Metode ynag paling efektif meliputi pengendapan kimiawi. lumpur yang diproduksi jumlahnya lebih besar. terutama yang menggunakan kapur.01 mg/l). pertumbuhan tanaman dan ganggang akan terhalang. kapur. garam besi dan kapur adalah sebagai berikut: Pengendapan dengan alum: AL2(SO)3 + 2HPO4 –2 2AlPO4 + 3SO4-2 + 2H Pengendapan dengan garam besi: FeCl3 + HPO4 –2 FePO4 + H+ + 3Cl- Pengendapan dengan kapur: 5Ca(OH)2 + 3HPO4 –2 Ca5(PO4)3OH + 3H2O + 6OH- 2. keadaan ini dinamakan “oligotrop”. Senyawa-senyawa fosfat dapat dibuang dengan penambahan koagulan. sehingga hanya sedikit peralatan tambahan yang dibutuhkan. Bahan-bahan kimia itu dapat ditambahkan sebelum pengendapan primer.

Klasifikasi Fosfat Tipe Kimiawi Total FISIK Terlarut Partikel . menguraikan bentuk fosfat yang ditentukan dalam filtrat yang melalui membran 0.45 µm dapat memisahkan dengan sebenarnya antara fosfat yang istilah “yang dapat disaring” (lebih baik “yang larut”) untuk tersuspensi dengan yang terlarut. Pemisahan fosfor kedalam berbagai bentuk telah luas didefinisikan secara analitis. Pemilihan filtrasi dengan membran melebihi ketebalan filtrasi dilakukan karena kemungkinan diperoleh lebih besar atau pemisahan ukuran partikel dengan tekinik pemisahan membran. Fosfat yang dapat langsung diperiksa secara kolorimetris tanpa hidrolisa pendahuluan atau perombakan secara oksidatif dan dianggap sebagai “ortofosfat”. Keseluruhannya ada tiga bagian (total.45 µm yang dipergunakan. terlarut. Tetapi perlu diingat bahwa sebagian kecil dari fosfat terikat yang ada tidak dapat menghindari cara hidrolisa ini dan dilaporkan sebagai bagian dari ortofosfat. Bagian-bagian fosfat yang diubah menjadi ortofosfat hanya dengan perombakan oksidatif terhadap bahan organik disebut fosfat organik/terikat secara organik. Merubah bentuk fosfor menjadi ortofosfat yang larut. Seperti ortofosfat dan fosfat dari hidrolisa asam. fosfat total yang dapat dalam sampel dapat dipisahkan pada analisa dengan penyaringan kedalam bagian yang disaring dan partikel. Tabel 1. Menentukan secara kolorimetris ortofosfat yang larut. Pemisahan “yang dapat disaring” (atau “terlarut”) dari “partikel” fosfat tergantung filter membran 0. Hidrolisa dengan asam pada temperatur mendidih untuk mengubah fosfat dalam bentuk terlarut dan partikel menjadi ortofosfat yang dapat disaring. Ortofosfat terdapat dalam bentuk terlarut dan partikel. fosfat organik terdapat dalam larutan dan partikel. Hidrolisa tidak dapat dihindrakan untuk membebaskan fosfat dari senyawa organik. yang tergantung pada fosfat terlarut dan tersuspensi.45 µm. dan tersuspensi) dan masing-masing secara analisis dibagi menjadim tiga tipe kimiawi seperti telah diuraikan diatas yaitu ortofosfat fosfat yang dapat dihidrolisa dengan asam fosfat organik .c. tetapi telah dipilih pembedaan analisa. Tidak dapat dituntut bahwa penyaringan melalui filter membran Penggunaan 0. Biasanya terdapat sedikit variasi. d. Dua belas fosfat tersebut dapat dilihat pada tabel 1. tetapi faktor ini telah dikurangi seminimum mungkin (sangat sesuai untuk hidrolisa fosfat terikat) dengan bijaksana memilih kekuatan asam lebih disukai terhadap “fosfat terikat” pada teknik ini. sehingga dapat diperguakan untuk tujuan interpretasi. Penyaringan pendahulluan dengan filter serat gelas dapat dilakukan untuk mempercepat proses penyaringan. Didalam praktek. Kekuatan oksidasi yang diperlukan untuk konversi tergantung pada bentuk dan jumlah dari fosfat organik yang ada.

Total Fosfat terlarut Gambar 1. Ortofosfat terlarut dan yang dapat dihidrolisa dengan asam C. f. Total fosfat terlarut dan tidak terlarut. Total fosfat terlarut yang dapat dihidrolisa h. Total fosfat partikel j. terlarut dan partikel. Koagulasi dan Flokulasi 2. k. Organik a. Total Ortofosfat 2. Kolorimetri 1 Perombakan 2. Hidrolisa H2S04 2. Sampel Tanpa penyaringan Kolorimetri langsung A. Total fosfat organik terlarut dan partikel e. Kolorimetri B. Pola Klasifikasi Fosfat 2. i. Total ortofosfat terlarut dan partikel c. Ortofosfat partikel.1 Koagulasi Koagulasi adalah dicampurkannya koagulan dengan pengadukan secara cepat guna mendistabilisasi koloid dan solid tersuspensi yang halus. kemudian membentuk jonjot mikro (mikro flok). d. Total fosfat yang dapat dihidrolisa oleh asam. Total Ortofosfat 2. Total terhidrolisa ortofosfat C. Kolorimetri B. Total Fosfat Partikel Fosfat filtrat Kolorimetri langsung A. Fosfat organik terlarut. Ortofosfat terlarut. Hidrolisa H2S04 2. Fosfat partikel yang dapat dihidrolisa oleh asam l.Total Orto Yang dapat dihidolisa oleh asam. dan masa inti partikel. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi sebagai berikut : . Total fosfat terlarut . Fosfat partikel organik.4.3. Kolorimetri 1 Perombakan 2. b. g.

Koagulan dalam bentuk larutan lebih efektif dibanding koagulan dalam bentuk serbukatau butiran. Dosis koagulan Untuk menghasilkan inti flok yang lain dari proses koagulasi dan flokulasi sangat tergantung dari dosis koagulasi yang dibutuhkan Bila pembubuhan koagulan sesuai dengan dosisyang dibutuhkan maka proses pembentukan inti flok akan berjalan dengan baik. Derajat Keasaman (pH) Proses koagulasi akan berjalan dengan baik bila berada pada daerah pH yang optimum. . Kecepatan pengadukan sangat berpengaruh terhadap pembentukan flok bila pengadukan terlalu lambat mengakibaykan lambatnyaflok terbantuk dan sebaliknya apabila pengadukan terlalu cepat berakibat pecahnya flok yang terbentuk p. maka besarnya daerah pH yang optimum pada proses kagulasi akan berubah dan merubah pembubuhan dosis koagulan. Alkalinitas dalam air dapat membentuk flok dengan menghasil ion hidroksida pada reaksihidrolisa koagulan. l. Alkalinitas Alkalinitas dalam air ditentukan oleh kadar asam atau basa yang terjadi dalam air (Tjokrokusumo.i. kalsium dan magnesium tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap proses koagulasi. Dengan demikian ion natrium. Tingkat kekeruhan Pada tingkat kekeruhan yang rendahproses destibilisasi akan sukar terjadi. Sebaliknya pada tingkat kekeruhan air yang tinggi maka proses destabilisasi akan berlangsung cepat. Kadar ion terlarut Pengaruh ion-ion yang terlarut dalam air terhadap proses koagulasi yaitu : pengaruh anion lebih bsar daripada kation. Suhu air Suhu air yang rendah mempunyai pengaruh terhadap efisiensi proses koagulasi. Kecepatan pengadukan Tujuan pengadukan adalah untuk mencampurkan koagulan ke dalam air. 19920. m. Untuk tiap jenis koagulan mempunyai pH lainnya. Tetapi apabila kondisi tersebut digunakan dosis koagulan yang rendah maka pembentukan flok kurang efektif. sehingga semua koagulan yang dibubuhkan dapat bereaksi dengan partikel-partikel atauion-ion yang berada dalam air. optimum yang berbeda satu sama k. o. Dalam pengadukan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengadukan harus benar-benar merata. Bila suhuair diturunkan . n. Jenis Koagulan Pemilihan jenis koagulan didasarkan pada pertimbangan segi ekonomis dan daya efektivitas daripadakoagulan dalam pembentukan flok. j.

K. powder h. Perubahan kecepatan dari satu titik ke titik lainnya dikeal sebagai gradien kecepatan. akan mengakibatkan terjadinya gabungan antar partikellebih sangat kecil 1 < 100 milimikron (Sank R. Menurut Tarmiji. Pada umumnya kecepatan aliran cairan akan berubah terhadap tempat dan waktu. sehingga terbentuk Ca(OH)2. Flokulasi orthokinetik Flokulasi orthokinetik adalah suatu proses terbentuknya flok yang diakibatkan oleh terbentuknya gerak media (air) misalnya pengadukan (Sank R. Bentuk kristal. kapur dapat mengurangi kandungan bahan-bahan organik. Cara kerjanya adalah kapur ditambahkan untuk mereaksikan alkalibikarbonat serta mengatur pH air sampai sehingga menyebabkan pengendapan. Flokulasi perikinetik Flok yang diakibatkan oleh adanya gerak thermal (panas) yang dikenal sebagai gerak Brown. 2.2. Flokulasi Flokulasi adalah pengadukan perlahan terhadap larutan jonjot mikro yang menghasilkan jonjot besar dan kemudian mengendap secara cepat (Tjokrokusumo.3. 1986. sebagian besar umumnya berwarna putih dan pada tinhkat tinggi dapat berwarna abu-abu. Hydrate lime dihasilkan dari reaksi quickime (CaO) dengan air.4. Warna. Dengan adanya perbedaan kecepatan aliran media cair akan mempunyai aliran kecepatan yang berbeda pula akibatnya akan terjadi tumbukan atau kontak antar partikel. CaO adalah bahan mudah larut dalam air dan menghasilkan gugus hidroksil yaitu Ca(OH)2. yang bersifat basa dan disertai keluarnya panas yang tinggi. Sifat-Sifat Kapur (lime) dan Penggunaan nya. 1986). Ada dua jenis proses flokulasi yaitu : c. Gerak acak dari partikel-partikel koloid yang ditimbulkan karena adanya tumbuhan molekul-molekul air.K. 1995). d. Pada pengolahan air kotor. Sifat-sifat fisik dan kimia Hydrate lime : g. 1986). . Proses pengendapan ini akan berjalan secara efektif apabila pH air antara 6 – 8 (Considine). Kapur (lime) secara umum terdapat dalam dua bentuk yaitu CaO dan Ca(OH)2. air limbah maupun industri lainnya. prosesnya disebut flokulasi perikinetik. penggunaan dari kapur antara lain dibidang kesehatan lingkungan untuk pengolahan air kotor. dengan notasi G.2.

3 g/gm3 Kelarutan. Contoh reaksi yang terjadi pada proses “calcination” ini apabila batuan kapur dari alam berkomposisi sebagai kombinasi dari kalsium dan Magnesium Karbonat adalah sebagai berikut: CaCO3Mg CO3 CaOMgO + 2CO2 Calcim Oxide (CaO) adalah merupakan bahan yang mudah larut dalam air dengan mengeluarkan panas yang tinggi (Highleyexotermically). kandungan 1.3 pada suhu 250C. pH. Kepadatan. tingkat kelarutan dari kira-kira 1. Kalsium Hydrated lime memiliki tingkat kepadatan kira-kira 2. karena kalsium hidroksida adalah termasuk basa kuat. Penggunaan berbagai keperluan maka batuan kapur dari alam biasanya akan mengalami proses pembakaran terlebih dahulu yang disebut “calcination”. k. konsentrasi 0. Pada larutan 250C.8/l memberikan pH sebesar 12.7 g/l pada suhu 1000C.i.7. Hasil dari proses ini antara lain adalah CaO ditambah CO2 yang keluar sebagai gas. Hydrate lime siap bereaksi dengan asam dan gas sehingga tentu saja berkemampuan menetralisasi asam. Selain CaO juga MgO serta molekul-molekul lainnya tergantung pada batuan kapur yang asli dari alam. Netralisasi asam . j. Selain itu. l.85 Ca(OH)2/l air pada suhu 00C sampai0. reaksi antara CaO dan air akan menghasilkan gugus hidroksil Ca(OH)2 yang bersifat basa dengan reaksi sebagai berikut: CaO + H2O Ca(OH)2 + heat Ca(OH)2 Ca++ + 2OH- Karena sifat-sifat kapur dapat digunakan sebagai pengendap terhadap fosfat maka reaksi yang terjadi adalah 3 Ca2+ + 2PO43Ca3 (PO4)2 Penggunaan Kapur .10 g Ca(OH)2/l dapat memberi pH kira-kira 11.

i. mudah didapatkan di pasaran serta mudah penyimpanannya. fluorida dan bahan-bahan organik.79-4. penyerapan bau (deodorant) dan sebagai desinfektan. Kapur dapat digunakan untuk mengurangi gas SO2 yang keluar dari pembakaran batu bara atau minyak yang mengandung sulfur yang tinggi melalui suatu proses yang disebut “wet scrubing”. Alum atau tawas sebagai penjernih air mulai diproduksi oleh pabrik pada awal abad 1500. h. . karena salah satu cara penghilangan fosfor dalam air adalah pengendapan kimiawi. menetralisasi keasaman.65 m2) lantai yang mengandung kotoran ayam.45 kg) Hydrates Lime [Ca(OH)2] pada setiap 3-5 ft2 (2. j. Proses pengolahan buangan industri besi/baja.Kapur telah diikenal sebagai bahan yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan diantaranya dipakai pada bidang-bidang industri misalnya industri kimia. dan lainlainnya. sudah dikenal bangsa Mesir pada awal tahun 2000 SM. Selain itu dapat juga mengurangi kadar BOD dengan cara menyerap antara 40% sampai 50 % bahan organik terlarut maupun tidak terlarut. Khusus di sektor lingkungan kapur dapat berguna dalam: f. kapur digunakan untuk menetralisir asam sulfat bebas (free sulfuric acid ) dan mengendapkan garam-garam besi yang terdapat pada limbah industri tersebut. Sifat-Sifat Tawas dan Penggunaan nya Persenyawaan Alumunium Sulfat (Al2(SO4)3) atau sering disebut tawas adalah suatu jenis koagulan yang sangat populer secara luas digunakan. 2. kertas. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai “geomedical” untuk mencegah parasit-parasit dan bnayak penyakit ayam. air kapur dapat berguna sebagai bahan penurun kesadahan. Proses pengolahan air. g. Pada peternakan ayam. kapur dapat digunkan untuk mengeringkan serta mengurangi bau kotoran ayam yang berceceran di laniat kandang. pertanian dan lain-lain. Kapur juga dapat dipergunakan sebagai penghilang fosfor dalam air. disini kapur berfungsi sebagai bahan koagulan. Alum atau tawas merupakan bahan koagulan. memperkecil kadar silika.5. Dosis yang biasa dipakai pada peternakan ayam adalah sekitar 1 lb (0. mangan. kapur dapat befungsi antara lain dalam pengendalian keasaman digester. Proses pengolahan air bekas. yang paling banyak digunkan karena bahan ini paling ekonomis 9murah). sebagai bahan bangunan.

Dengan demikian supaya terjadi pengendapan hasil kali konsentrasi yang bereaksi harus lebih besar dari pada Ksp nya.sehingga terjadi reaksi Al3+ + PO43AlPO4 Pengendapan dapat terjadi apabila hasil kali { Al3+ }dan { PO43 -} lebih besar dari Ksp AlPO4 .Unit . Range pH untuk jenis koagulan alum adalah sebesar 5. 2. yang sangat dipengaruhi oleh nilai pH yang bersangkutan. yang di dalamnya ditempati oleh molekul air dan ion ion logam alkali. soda abu atau soda kaustik (Natrium Oksida) Reaksi yang terjadi: AL2(SO4)3 + 3Ca(OH)2 2Al(OH)3 + 3CaSO4 AL2(SO4)3 + 3Na2CO3 + H2O 2Al(OH)3 + 3Na2SO4 + 3CO2 Oleh karena tawas /alum mempunyai sifat koagulan dalam larutan maka bila tawas bersenyawa dengan limbah yang mengandung unsur fosfat . Ksp AlPO4 sebesar 6.3 . Alum yang dilarutkan ke dalam air akan bereaksi dengan kapur atau bahan lain seperti Soda Abu atau Natrium Bikarbonat (Na2CO3).Reaksi yang terjadi jika alum dimasukkan ke dalm air.7.5 sampai 7.+ 4 H2O Ionisasi dai air sendiri akan terbentuk ion hidroksida sebagai berikut: H2O H+ + OH- Kemudian terjadi reaksi antara ion Al3+ dengan ion hidroksida sebagai berikut: 2Al3+ + 6 OH2Al(OH)2 Pengikatan ion hidroksida tersebut di dalam air akan menurunkan alkalinitas air sehingga sebaiknya digunkan bahan tambahan yang dpat meningkatkan nilai alkalinitas seperti kapur. Zeolit Zeolit adalah suatu alumnosilikat yang mempunyai struktur berpori dengan saluran dalam rangka kristal.8. 14H2O 2Al3+ + 3SO42.10-19 . reaksi yang kan terjadi reaksi hipotik. Alum tersebut akan larut di dalam air dengan reaksi sebagai berikut: AL2(SO4)3 . Reaksi tersebut antara ion Al dengan ion OH. yaitu terjadi proses hidrolisis.

feldspar dan kuarsa dan ditemukan di daerah sekitar gunung berapi atau mengendap pada daerah sumber air panas (hot spiring). tekanan uap air setempat dan komposisi air tanah lokasi kejadiannya. gypsum. Pada tahun 1954 zeolit diklasifikasi sebagai golongan mineral tersendiri.Dengan sifat di atas maka zeolit dapat bekerja sebagai penukar ion dan sebagai penyaring melalui adsorpsi selektif atau penolakan molekul karena adanya penolakan molekul karena adanya perbedaan dalam ukuran molekul dan faktor lainnya Selanjutnya dari hasil pengujian terhadap beberapa aspek yang ada kaitannya dengan pertukaran ion pada zeolit ( Komar bersama rekan . yang saat itu dikenal sebagai molecular materials. Mineral zeolit telah dikenal sejak tahun 1756 oleh Cronstedt ketika menemukan Stilbit yang bila dipanaskan seperti batuan mendidih (boiling stone) karena dehindrasi molekul air yang dikandungnya. Zeolit yang diaktifkan maupun yang tidak diaktifkan menyerap ion amonium dari air buangan lebih kecil dari pada larutan NH4Cl.Zeolit juga ditemukan sebagai batuan endapan pada bagian tanah jenis basalt dan komposisi kimianya tergantung pada kondisi hidrotermal lingkungan lokal. Hal itu menjadikan zeolit dengan warna dan tekstur yang sama mungkin berbeda komposisi kimianya bila diambil dari lokasi yang berbeda disebabkan karena kombinasi mineral yang berupa partikel halus dengan impurities lainnya. Pemanfaatan zeolit masih belum banyak diketahui secara luas.dasar pembentuk zeolit adalah SiO4 dan AlO4 yang membentuk tetra hedral.Zeolit biasanya ditulis dengan rumus kimia oksida atau berdasarkan satuan sel kristal. yang pada saat ini zeolit di Indonesia dipasarkan masih dalam bemtuk alam terutama pada pemupukan bidang pertanian. seperti suhu.Struktur yang paling stabil adalah zeolit yang perbandingan Si dan Al nya adalah 1:1.Unit unit tersebut saling berikatan membentuk jaringan anionik dalam tiga dimensi. melainkan harus dianalisa strukturnya. Dengan demikian. K+ dan lain-lain. zeolit merupakan mineral yang terdiri dari kristal alumino silikat terhidrasi yang mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam kerangka tiga dimensi. Zeolit tidak dapat diidentifikasi hanya berdasarkan analisa komposisi kimianya saja. Mineral alam zeolit biasanya masih tercampur dengan mineral lainnya seperti kalsit.Perbandingan antara Si dan Al berkisar antara 1:1 sampai 100:1. Struktur kristal zeolit dimana semua atom Si dan Al dalam bentuk . Ion-ion logam tersebut dapat diganti oleh kation lain tanpa merusak struktur zeolit dan dapat menyerap air secara reversible. Hal ini dikarenakan dalam air buangan zeolit selain menyerap ion amonium juga menyerapion ion lain seperti Ag+. Kapasitas penyerap zeolit akan bertambah dengan bertambah nya berat zeolit.1985 ) menjelaskan bahwa: Kecepatan pertukaran kation dalam zeolit dipengaruhi oleh besar butiran zeolit.

zeolit hanya dapat diidentifikasi berdasarkan unit bangun sekunder.50 meq/g) dan vermikulit (11. 7. Sifat dehidrasi dari zeolit akan berpengaruh terhadap sifat adsorpsinya. yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan KTK batuan lempung.2 Sifat Zeolit Zeolit mempunyai struktur berongga dan biasanya rongga ini diisi oleh air dan kation yang bisa dipertukarkan serta memilki ukuran pori yang tertentu. KTK adalah jumlah meq ion logam yang dapat diserap maksimum oleh 1 g zeolit dalam kondisi kesetimbangan. misalnya logam Pt.03-0. biasanya dikenal sebagai KTK (Kemampuan Tukar Kation). Bila atom Al dinetralisir dengan ion polivalen.tetrahedral (TO4) disebut unit bangun primer. Kemampuan pertukaran ion (adakalanya dengan istilah kemampuan penyerapan ion atau sorpsi) zeolit merupakan parameter utama dalam menentukan kualitas zeolit yang akan digunakan. kabarsit dan erionit. yaitu material seperti zeolit tetapi bukan senyawa alumino-silikat. penukar ion.5 – 6 meq/g.6. Y. Sifat zeolit meliput i : 6. KTK dari zeolit bervariasi dari 1. Nilai KTK zeolit ini banyak bergantung pada jumlah atom Al dalam struktur zeolit. Jumlah molekul air sesuai dengan jumlah pori-pori atau volume ruang hampa yang akan terbentuk bila unit sel kristal zeolit terus dipanaskan. Pada saat ini dikenal sekitar 40 jenis zeolit alam. Zeolit sintetik dihasilkan dari beberapa perusahaan seperti Union Carbide. Zeolit dengan struktur “framework” mempunyai luas permukaan yang besar dan mempunyai saluran yang dapat menyaring ion/molekul. penyerap bahan dan katalisator. Berdasarkan UBS semua zeolit baik dalam bentuk alami atau sintetik. diantaranya klinoptilolit. Zeolit dapat melepaskan molekul air dari dalam rongga permukaan yang menyebabkan medan listrik meluas ke dalam ronggs utama dan akan efektif terinteraksi dengan molekul yang akan diabsorbsi.15 meq/g). Oleh karena itu zeolit dapat dimanfaatkan sebagai : penyaring molekuler. seperti kaolinit (0.50 meq/g). 2. Cu dsb. Adsorbsi . bentonit (0. zeolit dapat berfungsi sebagai katalis yang banyak digunakan pada reaksi petrokimia. X. filipsit. grup ZSM/AlPO4 (Zeolite Sielving Marerials/Aluminium Fosfate) dan bahkan akhir-akhir ini dikenal grup zeotip. mordernit. Dehidrasi. ICI dan mobil Oil dan lebih dari 100 jenis telah dikenal strukturnya antara lain zeolit A.80-1. meskipun yang mempunyai nilai komersial ada sekitar 12 jenis.

Telah diketahui lebih dari 40 jenis mineral zeolit di alam. Ca dan Fe masing-masing sebesar 4. Penukaran kation dapat menyebabkan perubahan beberapa sifat zeolit seperti stabilitas terhadap panas. Jenis Zeolit Menurut proses pembentukannya zeolit dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu : 3. volume pori 74. 2. Analisis lebih lanjut terhadap zeolit alam Wonosari menunjukkan bahwa zeolit mempunyai rasio Si/Al 4.29 %. Zeolit Alam Zeolit alam terbentuk karena adanya proses perubahan alam (zeolitisasi) dari batuan vulkanik tuf.2. 2. keasaman sebesar 2. rerata jejari pori 60.75. Dari uji pendahuluan terhadap zeoiit alam Wonosari dengan menggunakan difraksi sinar x diketahui bahwa sebagian besar penyusunnya adalah mordernit.39 mmol/g. suhu. .13 m2/g. 9. 10. K. Penyaring atau pemisah Volume dan ukuran garis tengah ruang hampa dalam kisi-kisi kristal menjadi dasar kemampuan zeolit untuk bertindak sebagai penyaring molekul. 1. Katalis Zeolit merupakan katalisator yang baik karena mempunyai pori-pori yang besar dengan permukaan yang maksimum.34 %. Dari jumlah tersebut hanya 20 jenis yang terdapat dalam batuan sedimen terutama sedimen piroklastik yang berbutir halus (tuf) Komposisi dan struktur zeolit kebanyakan terdiri dari mineral mordernit dan klinoptillit. dimana untuk molekul yang tidak jenuh atau bersifat polar akan lebih mudah lolos daripada molekul yang jenuh atau tidak polar. Molekul ynag berukuran kecil dapat melintas sedangkan yang berukuran besar dari ruang hampa akan ditahan atau ditolak. Sifat sebagai penukar ion dari zeolit antara lain tergantung dari : sifat kation. luas permukaan 24.39 5 dan 1.Zeolit juga mampu memisahkan molekul zat berdasarkan ukuran dan kepolarannya.04 %. Penukar ion Ion-ion pada rongga atau kerangka elektrolit berguna untuk menjaga kenetralan zeolit. dan jenis anion. sifat adsorbsi dan aktifitas katalis. 8.6.25 x 10-3 cc/g. Ion-ion ini dapat bergerak bebas sehingga pertukaran ion yang terjadi tergantung dari ukuran dan muatan maupun jenis zeolitnya.54 dan memilki kandungan logam Na.

Zeolit yang diperoleh dari alam telah dapat digunakan untuk berbagai keperluan. aktivasi dan modifikasi. S6R. S8R Ca2 [Al4Si8O24]13H2O K6 Na3 [Al9Si27O72]21H2O D4R. Akan tetapi daya serap. S8R Na12 Ca12 Mg11 [Al58Si134O384]235H2O Na12 [Al12Si12O48]27H2O S4R. Untuk memperoleh zeolit dengan kemapuan yang tinggi diperlukan beberapa perlakuan antara lain. Tabel 2. D6R D4R. daya tukar ion maupun daya katalis dari zeolit tersebut belum maksimal.5 [Al16Si10O32]12H2O Na8 [Al31SiO16]16H2O S4R S4R Ca4 [Al8Si28O72]24H2O Na6 [Al6Si30O72]24H2O T10O20 (4-4-1) T10O20 Na16[Al16Si24O31]6H2O Na16 Ca8 [Al20Si24O80]24H2O T5O10 (4-1) T5O10 Na16[Al16Si31O96]6H2O Ca16[Al16Si31O96]6H2O S4R S4R Rumus Kimia UBS . Klasifikasi zeolit Zeolit Grup Analsim Analsim Wairakit Grup Natrolit Natrolit Thomsonit Grup Heulandit Heulandit Klinoptilolit Grup Filipsit Filipsit Zeolit Na-P-1 Grup Mordernit Mordernit Ferrierit Grup Kabazit Kabazit Zeolit L Grup Faujasit Faujasit Zeolit A Grup Laumontit Laumontit Grup Pentasil ZSM-5 Grup Zeotype AlPO4-5 [Al12P2O48] (C3H7)4NaOH q H2O S4R.5 Mg2 [Al6Si30O72]24H2O T8O16 (5-1) T8O16 K2 Ca1. S6R NaN [AlnSi96O192]16H2O 5 –1 Ca4 [Al8Si16O46]16H2O S4R. S6R. D6R Na8 [Al8Si40O96]24H2O NaCa0.

Asam-asam yang dapat digunakan untuk aktivasi adalah HCl4. Berdasarkan perbandingan kadar komponen Si and Al. d. yaitu zeolit kadar Si rendah. dan H3PO4. 4. Pemanasan modernit pada suhu 300 0C –1000 0C menyebabkan destruksi struktur kristal. Aktivasi secara kimia dilakukan dengan larutan asam atau basa. Hal ini sangat penting terutama berhubungan dengan fungsi zeolit sebagai adsorben. atau mengumpulkan tungku putar dengan pemanasan secara penghamparan selama 3 jam atau tanpa penghamparan selama 5-6 jam (skala besar). Atom-atom Al yang masih tersisa dalam zeolit masih terkoordinasi dalam rangkaian tetrahedaral dengan empat atom oksigen. Ini karena persamaan sifat fisik dan kimia yang dimiliki oleh kedua jenis mineral tersebut. membuang senyawa pengotor. Dealuminasi dapat digunkan untuk mengontrol aktivasi keasaman dan untuk mengontrol ukuran poripori zeolit. Pemanasan dilakukan dalam oven biasa pada suhu 300-400 0C (untuk skala laboratorium). zeolit kadar Si sedang. Zeolit yang dipanaskan pada temperatur tinggi menyebabkan molekul air yang ada dalam zeolit mengalami dehidrasi. Zeolit Sintetis Zeolit mempunyai sifat yang unik yaitu susunan atom maupun komposisinya dapat dimodifikasikan. zeolit kadar Si tinggi dan zeolit Si. c. kandungan modernit berkurang hampir 25 % pada suhu 700 0C.Proses aktivasi zeolit alam dapat dilakukan dalam 2 cara yaitu secara fisis dan kimiawi. dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori. dan mengatur kembali letak atom yang dapat dipertukarkan. H2SO4. Aktivasi Kimiawi Pada aktivasi kimia. zeolit sintetis dikelompokkan menjadi empat. Aktivasi zeolit dengan asam menyebabkan ternetralisasinya muatan negatif pada permukaan zeolit hidrogen. HNO3. Mineral . Aktivasi Fisis Aktivasi fisis biasanya dilakukan dengan pemanasan yang bertujuan untuk menguapkan air yang terperangkap tinggi dalam pori-pori kristal zeolit. Penggunaan zeolit sintetis pada dasarnya sama dengan zeolit alam. dealuminasi adalah yang paling penting dan dominan. Diantara asam-asam tersebut yang paling efektif untuk dealuminasi adalah HCl. sehingga luas permukaan poripori bertambah. Sifat dehidrasi zeolit ini berpengaruh terhadap sifat adsorbsinya. maka para peneliti berupaya untuk membuat zeolit sintetis yang mempunyai sifat khusus sesuai dengan keperluannya.

6. 0.00 M selama satu minggu sambil diaduk 3 kali sehari. dan 500 C selama 5 jam. sambil diaduk dengan pengaduk magnetik.00 M.00 M DAN 2..05 M. 2. Selanjutnya zeolit direndam NH4Cl konsentrasi 0. Zeolit selanjutnya dipanaskan dengan HCl pada konsentrasi 0. .50 M. lalu disaring.lalu disaring dan dikeringkan pada suhu 110 0C selama 3 jam.50 M. 1987 2. dibuat mineral zeolit berderajat kemurnian mempunyai daya serap baik Sumber : Harjanto.zeolit sintetis masing-masing mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Sangat terbatas. dicici sampai netral dan dikeringkan pada suhu 130 0 0 0 0 C selama 3 jam. dinetralkan dan dikeringkan pada suhu 130 0C selama 3 jam.00 N (perbandingan b/v 1:2) sambil dipanaskan sampai agak kering . 1. tawas dan filtrasi zeolit belum pernah dilakukan. Kemudian zeolit disaring. Originalitas Penelitian Penelitian tentang penurunan fosfat dengan kapur (lime). khabasit Daya Serap hanya dan erionit mineral yang Dapat dibuat mineral zeolit yang ruang kosong bergaris tengah dari 3 A hingga 8 A Dapat menyerap hingga 50 % dari volumunya. Perbedaan utama antara kedua jenis mineral zeolit alam dan sintetis . 1. Zeolit kemudian direndam dengan HF 2. Tabel 3. Perbedaan Mineral alam dan zeolit sintetik Macam Perbedaan Derajat Kemurnian Mineral Zeolit Alam Umumnya banyak mengandung pengotor. 0.7.Kebanyakan endapan zeolit beberapa jenis mineral zeolit. Mineral zeolit Sintetis Dapat sintetis tinggi. yang terbesar Garis tengah pori hanya terdapat pada mineral khabasit dan erionit Terbatas.10 M. 400 C. dan 2.3 Aktivasi Zeolit Zeolit alam direndam dengan akuades selam 24 jam. alam terdiri dari terutama campuran besi. kemudian dicuci sampai netral dan dikeringkan pada suhu 120 0C selama 3 jam.00 M pada suhu 90 0C selama 60 menit. Zeolit ini kemudian dikalsinasi pada variasi suhu 300 C.

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini merupakan “Penelitian Eksperimen” dengan “design pre test and post test design “yang hasil akan diuji secara diskriptif analitis dengan korelasi. Sample air limbah Kapur Aduk Tawas Endapan Pemisahan Periksa PO4 Filtrasi Zeolit Periksa PO4 Hasil Filtrasi Gambar 2. Rancangan Penelitian .

3.2 Ruang Lingkup Meliputi semua limbah cair yang dihasilkan dari seluruh kegiatan Rumah Sakit Bethesda.1 ppm . Dosis pemakaian bahan kimia larutan kapur dan tawas. proses pengadukan.6 Instrumen Penelitian 3. Air limbah RS Bethesda 18. Parameter pH. waktu pengambilan sampel. Kualitas limbah cair RS Bethesda sangat fluktuatif.suhu limbah . Variabel terikat Parameter yang diperiksa pada limbah cair adalah fosfat masing-masing pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/ pengolahan. sehingga waktu pengambilan sampel perlu diperhatikan agar mendapatkan kualitas yang sama pada setiap perlakuan. Variabel bebas e.1 ppm 19. yang berbeda pada sampel perlakuan akan mengganggu proses pengendapan begitu pula dengan kemurnian kapur tohor dan kemurnian tawas serta proses pengadukan pada saat perlakuan apabila tidak dikendalikan / tidak disamakan pada setiap perlakuan akan didapatkan hasil tidak seperi yang diharapkan.kadar ion terlarut.3.kekeruhan.4 Variabel Penelitian d. Larutan tawas 0. 3. 3.1 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari bahan untuk pengolahan dan bahan atau reagen untuk pemeriksaan parameter pencemar terdiri dari: Bahan untuk Pengolahan 17.5 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam analisis berupa data kuantitatif yang diperoleh dari perlakuan di lapangan dan pengamatan percobaan di laboratorium. Larutan kapur 0.3 Lokasi Penelitian Lokasi Penelitian yang dipilih yaitu limbah cair Rumah Sakit Bethesda dan uji laboratorium dilaksanakan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pembrantasan penyakit menular (BBTKL-PPM) Yogyakarta. kemurnian tawas. 3. f. Variabel pengganggu Waktu kontak. kemurnian kapur tohor. sehingga perlu adanya pengendalian terhadap variabel-variabel tersebut diatas agar penelitian ini mendapatkan hasil yang dapat dipertanggung jawabkan.6.

Standart fosfat 0.20. Membuat larutan-larutan siap pakai untuk pemeriksaan parameter fosfat.6. NaOH 1 N 30. Buret tetes 26. Persiapan bahan dan alat serta pembuatan rangkaian alat filtrasi yang dilengkapi dengan stop kran . Tabung nessler 22.4 Pelaksanaan Penelitian .6. 4.3 Tahapan Persiapan 1. Larutan standar EDTA 0. 2.2 Alat Alat Pengolahan 14. Air suling 32. pH meter 21. Indikator PP 21. Labu erlenmeyer 17. Spektofotometer 23.0010 ppm dan tawas 0. Cuvet 25. 3. Mixing Flokulator 24. Larutan Buffer pH 10 27. Beker glass 16. SnCl2 23.6. Zeolit 3. Labu ukur 15. H2SO4 4 N 22. Amonium Molibdat 26. Indikator Phenol Red 25.01 M 29. Indikator Murexid 31. Pipet ukur 20. Larutan pH 4 28. Karet penghisap 3. Pipet tetes 19.01 ppm 24.0010 ppm yang akan digunakan sebagai bahan pengolahan . Timbangan Sartorius 18. Penyiapan larutan kapur 0.

0. detergen dan fosfat 12. 3. 0. fosfat setelah koagulasi tersebut. Siapkan deretan beaker glass sebanyak 3 buah masing-masing volume 1000 ml.1 Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan pada bak penampung awal karena sudah mewakili semua limbah cair Rumah Sakit tersebut . Teknik Analisa Data . dan 0. 13.00100 ppm . Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan zeolit terhadap filtrat tersebut 20. 18. 3.0020 ppm. selanjutnya data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. 3.7. Periksa filtrat masing-masing beker glass parameter pH. Tambahkan larutan kapur pada masing-masing beker glass volume 1 ml.0010 ppm dengan volume berturutturut 0. aduk lambat selama 5 menit.00075 ppm ml. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode grab sampling (sesaat) selama periode tertentu.7 Teknik Pengambilan Sampel 3. Isi beaker glass tersebut dengan limbah asli masing-masing sebanyak 800 ml. Masing-masing beker glass ditambahkan larutan tawas yaitu 0. Aduk cepat masing-masing selama 3 menit. 17. Pisahkan filtrat dari endapan.00050 ppm.7. 15.0025 ppm. 16.8 Teknik Pengumpulan Data Data yang diperoleh dari hasil penelitian dikelompokkan agar memudahkan dalam analisis.00200 ppm. 0.9. diamkan selama 15 menit agar terjadi pengendapan.00150 ppm dan 0.kuantitas dan kualitas sampel tetap terjaga. 0.0015 ppm.3 Pemeriksaan Sampel Semua sampel diperiksa berdasarkan metode baku standard Method for examination. 0. 3. Siapkan sampel limbah cair asli sebelum diolah kemudian diperiksa pH. 14.11. Parameter limbah cair yang dianalisis adalah fosfat pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/pengolahan. Ulangi prosedur 4 s/d 10 dengan variasi kapur 0. 3.7. kemudian diberi nomor 1 s/d 3.2 Periode pengambilan sampel Pengambilan sampel diusahakan sekali dalam jumlah yang dibutuhkan agar homogenitas. 19.00125 ppm.

Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur prosentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dilihat dengan rumus R2 x 100%. Maksud dari hubungan regresi yaitu untuk mengetahui suatu variabel dapat dipergunakan untuk memprediksi atau meramal variabelvariabel lain. Xb Dimana : Y X a b = Variabel terikat = variabel bebas = titik potong (intercept) = koefisien regresi (elastisitas/slope) Koefisien determinasi pada intinya adalah untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat.Perhitungan statistik untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini menggunakan uji Regresi Linier Sederhana. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel terikat. Jika suatu variabel tak bebas (dependent variable) tergantung pada satu variabel bebas (independent variable). Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Persamaan matematik yang memungkinkan untuk meramalkan nilai-nilai satu atau lebih peubah acak bebas disebut persamaan regresi. Bentuk matematisnya adalah sebagai berikut : Y = a . Koefisien determinasi diperoleh dari mengkalikan koefisien korelasi Pearson atau biasa disebut Pearson Product Moment. Uji F Dimana : R X Y n . yang disimbolkan dengan huruf R. hubungan antara kedua variabel disebut analisis regresi sederhana. Rumusan matematisnya adalah sebagai berikut : R= n(ΣXY ) − (ΣX )(ΣY ) n Σ X 2 − ( Σ X ) 2 nΣ Y 2 − ( Σ Y ) 2 = Koefisien korelasi (Pearson Correlation) = variabel penambahan kapur = variabel kadar fosfat = jumlah sampel Nilai koefisien determinasi (R2) yang kecil berarti kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat sangat terbatas.

maka Ho ditolak atau Ha diterima . Bila Fhitung < Ftabel. Bila probabilitas F < 0. Atau 3. maka Ho ditolak atau Ha diterima.05. Bila probabilitas F > 0. artinya ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. maka digunakan uji F. artinya tidak ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Bila Fhitung > Ftabel. maka Ho diterima 4. maka Ho diterima. 4. Fhitung R2 / k = 1 − R 2 / (n − k − 1) ( ) Keterangan: R2 k n = = = Koefisien determinan Banyaknya perubahan bebas Jumlah data Dasar Pengambilan Keputusan 3.05.Untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.

Lab / Hasil Analisa 56 7. hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 5. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi .melebihi yang ditentukan. Selanjutnya limbah yang diambil di bak equalisasi tersebut dilakukan pengolahan dengan cara koagulasi dan flokulasi. berikut: Tabel 5.5 25. Hasil pengukuran kadar limbah RS Bethesda pada bak equalisasi secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4. Karena pada jam tersebut kadar Fosfat limbah cair RS Bethesda Yogyakarta pada bak equalisasi adalah yang tertinggi. berikut: Tabel 4. 1 2 Parameter pH PO4Satuan mg/l No. berdasarkan pemeriksaan kadar Fosfate selama 24 jam pada inlet dan pada bak kontak. Sedangkan waktu pengambilan sampel dilakukan pada jam 09. Sampel diambil di bak equalisasi dengan tujuan untuk mencari kadar Fosfat yang mewakili seluruh aliran limbah cair.00 Wib. maka parameter PO4.6404 Keterangan Sumber: Data Primer 2005 Dari hasil pengukuran diatas.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian mengenai efektifitas dosis dengan menggunakan campuran kapur tohor [Ca(OH)2] dan tawas [Al2(SO4)3] serta filtrasi zeolit terhadap penurunan kadar Fosfat air limbah RS Bethesda Yogyakarta telah dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2005. Keadaan Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Sebelum Pengolahan (Asli) No.5.

17 1. Pada penambahan larutan kapur 0.0020 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.951 0.001 Fosfat (ppm) y = 0.0055x-0.0005 0.4.0015 0.0025 Pada tabel 5 terlihat semakin tinggi larutan tawas 0.53 0.00075 0.0025 ppm memberikan hasil fosfat terbaik yaitu sebesar 0.82 1.00125 0.53 mg/l.15 1.06 0.5 dan 6 berikut: 3.maka kadar fosfat semakin menurun.00 2.1 ppm dan larutan kapur 0.00150 0.56 1.0025 Kapur (ppm) Gambar 3.0020 ppm dan tawas 0.00 0.49 1.Tawas (ppm) 0. Hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dilihat pada gambar 3.002 0.50 1.22 0.1 ppm yang ditambahkan.00100 0.00 0 0.06 0.62 1.96 0.37 1.00050 0.00200 Sumber: Data Primer 2005 2.29 1.00 1.66 1.0015 Kapur (ppm) 0.21 1.50 0.0015 ppm .62 1.8 R2 = 0.19 1.81 1.50 2.

Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.001 0.0015 0.5 1 0.985 -0.0020 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.0061x R2 = 0.0097x R2 = 0.7557 Kapur (ppm) Gambar 5.5 0 0 0.0025 y = 0.5 0 0 0.001 0.002 0.0025 ppm .5 1 0.961 -0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.0005 0.5 Fosfat (ppm) 2 1.0025 y = 0.002 0.6999 Kapur (ppm) Gambar 4.0005 0.0015 0.2.

03 0.64 0.0015 Tawas 0.30 0.0025 1.01 mg/ml 0.3 Fosfat (ppm) 2 1 0 0 0.0020 ppm dan 0.32 1. 0.00150 0.0025 ppm.06 0.0015 1.002 0.1 ppm.maka kadar fosfat setelah filtrasi zeolit semakin kecil nilai fosfat optimal dicapai pada penambahan larutan kapur 0.8. 0.1 ppm.01 mg/ml Kapur 0. terlihat semakin tinggi larutan kapur dan larutan tawas yang ditambahkan . Secara empiris.70 0.26 1.01 1.18 1.hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan pembubuhan larutan kapurdan larutan tawas setelah filtrasi zeolit dapat dilihat pada gambar 7.0020 ppm .0025 Gambar 6.28 0.0015 0.0025 Kapur (ppm) Tawas 0.dan tawas 0.0025 ppm Selanjutnya limbah hasil perlakuan koagulasi dan flokukasi dilewatkan pada unit filtrasi zeolit diperoleh hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut: Tabel 6. berikut: .00 0.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi Pada Penambahan tawas 0.00050 0.001 0. 9 dan 10.81 0.23 1.90 1.0020 Tawas 0.00100 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Tawas 0.00075 0.06 1.00200 0.0015 ppm.0005 0. tawas 0.66 Sumber: Data Primer 2005 Dari tabel 6.78 0.98 0.0020 1.00125 0.

0015 0.001 0.002 0.801 Kapur (ppm) Gambar 7.0020 ppm .011x -0.5 1 0.001 0.0005 0.9147 R2 = 0.0005 0.5 0 0 0.0015 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.5 1 0.5 0 0 0.2 Fosfat (ppm) 1.0025 y = 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.6708 R2 = 0.0025 y = 0.0016x -0.0015 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.958 Kapur (ppm) Gambar 8.002 0.

002 0.001 0. dan filtarasi zeolit sangat berpengaruh dalam menurunkan kadar Fosfat.0012x -0. Pertimbangan lumpur yang dihasilkan 10.5 1 0. ferrichlorida atau ferrous sulfat.001 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0. Senyawa-senyawa Fosfate dapat dihilangkan dengan penambahan bahan koagulan misalnya alum. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan kimia sebagai penghilang Fosfat adalah sebagai berikut: 7.9343 R2 = 0. Efektifitas bahan kimia 9.0005 0.0025 ppm Fosfat (ppm) 2 1.002 0. Pada penelitian ini pemakaian dosis kapur. Pembahasan Limbah cair di lingkungan RS Bethesda Yogyakarta dilakukan pengolahan dengan menggunakan sistem aerob dan anerob.0025 Gambar 10.0005 0. Dari beberapa referensi bahwa keberadaan Fosfat dalam air limbah dapat diturunkan dengan jalan pengendapan secara kimiawi.5 0 0 0.0015 0. Kesesuaian dengan proses pengolahan lain .0025 y = 0.2 Fosfat (ppm) 1.6.0025 Kapur (ppm) Taw as 0.0020 Taw as 0.0015 0.5 0 0 0. kapur. Biaya 8.5 1 0.0015 Taw as 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi 4.980 Kapur (ppm) Gambar 9. tawas.

0055x-0. Dosis dan perlengkapan untuk pengadukan 12. dan mudah didapatkan di pasaran. tapi juga aman terhadap lingkungan.9 memenuhi syarat. dan 0. suhu.0061x-0. karena proses pembentukan flok pada proses koagulasi sangat dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia seperti kondisi pengadukan. pH dan bereaksi dengan bikarbonat membentuk CaCO3 sebagai basa. maka perlu dilakukan penelitian penurunan kadar fosfat dengan koagulasi-flokulasi dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan zeolit. dengan pertimbangan keduanya akan saling mengkoreksi pH. pH. Limbah asli dianalisa di laboratorium dengan parameter pH. karena disamping harganya relatif murah.8-7. Pengaruh penambahan kapur akan menaikkan diluar pH tersebut maka pembentukan flok sempurna. Hasil analisa No lab 56 menunjukkan hasil pH = 7.0020 ppm. Pembentukan flok akan berjalan baik pada range pH 5. sedangkan konsentrasi PO43. maka kami pilih kapur dan tawas sebagai bahan koagulan. Limbah cair RS Bethesda yang digunakan sebagai bahan untuk penelitian penurunan kadar fosfat diambil pada Bak Equalisasi dengan pertimbangan limbah tersebut sudah merupakan gabungan dari semua sumber limbah yang dihasilkan.0097x-0. PO43-. Selanjutnya limbah dari Bak Equalisasi dikategorikan sebagai limbah asli.6999 Gambar 5 dengan persamaan empiris y = 0. 0. dimana konsentrasinya fosfatnya melebihi baku mutu yang ditetapkan. Dari hasil koagulasi / flokulasi pada Tabel 4 terlihat kecenderungan penurunan fosfat yang terjadi sebanding dengan penambahan kapur yang ditunjukkan pada : Gambar 3 dengan persamaan empiris y = 0. tidak memenuhi baku mutu.00 pagi saat fluktuasi kualitas terjadi.6404 mg/l. alkalinitas.awal = 25.4 . belum melalui perlakuan pengolahan sama sekali. Pada Bak Equalisasi.0025 ppm ditunjukkan pada Gambar 6.0015 ppm. Berdasarkan hasil pengukuran terhadap limbah asli tersebut.8047 Gambar 4 dengan persamaan empiris y = 0.11. Efek terhadap lingkungan Dari beberapa pertimbangan diatas.5 Baku Mutu pH = 6 . kekeruhan. Limbah asli diambil dalam jumlah yang cukup pada jam 09. Perpaduan dari dua jenis koagulan.7557 Dimana : x = penambahan kapur (ml) Y = penurunan kadar fosfat (mg/l) Secara keseluruhan hasil pemeriksaan kadar fosfat dengan koagulasi dan flokulasi pada konsentrasi tawas 0. kualitas dan kuantitas limbahnya serba sama.

Pada proses koagulasi dan flokulasi kadar fosfat (PO43-) diharapkan mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan penambahan larutan kapur dan tawas menjadi endapan Ca3 (PO4)2 ↓ dan Al (PO4) ↓. Penurunan PO4 secara rinci terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 3, 4, 5, dan 6. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula : y = 0.0055 0.0020 ppm dan formula y = 0.0061 x-0,7557 pada penambahan tawas 0.0025 ppm. Jika dilihat dari uji statistik pendistribusian data dengan uji Kolmogorov Smirnov, diperoleh nilai p value pada masing-masing sampel lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini berdistribusi normal, sedangkan dari uji regresi , diperoleh nilai R2 semua di atas 0,70, dimana nilai R2 antara 0,70 – 1,00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat. Selanjutnya dicari nilai R dari variasi tawas 0.0015 ppm, 0.0020 ppm, dan 0.0025 ppm. Ternyata diperoleh dari data statistik variasi penambahan tawas 0.0025 ppm adalah yang tertinggi dengan nilai R = 0,992. jadi dapat disimpulkan penurunan kadar fosfat pada penambahan tawas 0.0025 ppm adalah yang paling efektif. Pada penurunan fosfat yang dilakukan dengan filtrasi zeolit setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi terlihat kadar fosfat cenderung mengalami penurunan lagi. Diharapkan pada proses filtrasi ini terjadi pemisahan yang lebih sempurna dari flocculant terhadap cairannya. Semua flok yang terbentuk tidak ada lagi yang terikat pada cairan limbah terolah. Hasil penurunan dengan filtrasi zeolit secara keseluruhan terlihat pada Tabel 6 dan Gambar 7, 8, 9 dan 10. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula y = 0.011 0.0020 ppm, dan formula y = 0.0012 x-0,9343 pada penambahan tawas 0.0025 ppm. Jika ditinjau dari uji statistik, maka diperoleh hasil dari masing-masing variasi tawas, 0.0015 ppm, 0.0020 ppm, dan 0.0025 ppm, nilai P semua variasi di atas 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini terdistribusi normal, sedangkan dari uji korelasi atau uji kekuatan hubungan antara dua variabel diperoleh nilai R2 di atas 0,70 dimana nilai R antara 0,70 – 1,00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat paling efektif. Dari hasil analisa data setelah filtrasi, didapat nilai R2 tertinggi, yaitu 0,990 pada konsentrasi penambahan tawas 0.0025 ppm. Jadi dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar fosfat pada konsentrasi penambahan tawas 0.0025 ppm setelah filtrasi adalah yang paling efektif. 4.3. Analisa Data Tabel 7. Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi No. Tawas R2 F hitung F tabel Keterangan x-0,6708 pada penambahan tawas 0.0015 ppm; formula y = 0.0016 x-0,9147 pada penambahan tawas x-0,8047 pada penambahan tawas 0.0015 ppm, formula y = 0.0097 x-0,6999 pada penambahan tawas

1 2 3

0.0015 ppm 0.0020 ppm 0.0025 ppm

0,951 0,961 0,985

78,271 99,735 260,795

(df1 = 1; df2 = 4) 7,7086 7,7086 7,7086

95,1% pengaruh kapur 96,1% pengaruh kapur 98,5% pengaruh kapur

Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.0025 ppm, kapur berpengaruh sebesar 98,5% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat. Tabel 8. Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi No. 1 2 3 Tawas 0.0015 ppm 0.0020 ppm 0.0025 ppm R2 0,801 0,958 0,980 F hitung 16,061 90,394 193,784 F tabel (df1 = 1; df2 = 4) 7,7086 7,7086 7,7086 Keterangan 80,1% pengaruh kapur 95,8% pengaruh kapur 98,0% pengaruh kapur

Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.0025 ppm, kapur berpengaruh sebesar 98,0% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 3. 4. Larutan kapur dan larutan tawas efektif menurunkan kadar fosfat dalam limbah cair RS Bethesda dengan prosentase 97,92 %. Efektifitas penurunan kadar fosfat limbah cair RS Bethesda dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dinyatakan dengan rumus empiris y=0,0061 x 0,7557 diperoleh pada konsentrasi larutan kapur 0,0020 ppm dan konsentrasi larutan tawas 0,0025 ppm. 5.2. Saran 1. Bagi peneliti lain Untuk dapat meneliti penurunan kadar fosfat dengan menggunakan metode yang lain, kemurnian bahan dan ketelitian alat sangat mempengaruhi hasil penelitian selanjutnya. 2. Terhadap RS Bethesda Supaya memilih detergen yang digunakan dengan kadar fosfat rendah. Perlu melakukan pemeriksaan kadar fosfat secara berulang-ulang, agar penambahan koagulan dapat dilakukan setepat mungkin.

G. Jakarta. Chemical and Technology Lime and Limestone. Telaah Kualitas Air. Stell. Jakarta. Jakarta. Water Supply and Severage.Kanisius. 1992. 23 tentang Kesehatan. USA E. Yogyakarta. Depdikbud. Howard S. Kerjasama PPKSI dan HKTI. Undang-Undang No. J. Jakarta . Fardiaz S. Jakarta. . Hartiningsih. Universitas Padjajaran. 1988. Almanak Kesehatan RI.LH/12/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit.Jakarta. Rineka Cipta. Pedoman Sanitasi Rumah Sakit. 1975. Depkes RI. Depkes RI.DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1993. J. BTKL Yogyakarta. Speet S. fifth ED. S. Polusi Air dan Udara. Hartono . SK Men KLH No. 1991. Kanisius. Gadjah Mada University Press. Makalah Pelatihan Petugas Sanitasi Rumah Sakit. Pengelolaan Limbah Cair Rumah Sakit. 1998. Jakarta. Kesehatan Lingkungan. . Jakarta. Yogyakarta. Agustjik R.. . Pengelolaan Limbah Rumah Sakit. Pedomen Teknis Perbaikan Kualitas Air. Kumpulan Seminar Zeo Industri. Depkes RI. 1990. Yogyakarta. Yogyakarta. 1985. Manajemen Penelitian. Hanafiah K. Kep 58/Men. Considine. Budiharjo. Graw-Hill Book Company. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. . 1985. 1995. Depkes RI.Dirjen P2M & PLM. 02/MenKLH/I/1988 Tentang Baku Mutu Air Pada Sumber Air. Arikunto. Sebaran Endapan Zeolit dan Kegunaannya. 1994.S Soemirat. Douglass M. Jakarta. 1992. 1994. New York. Lokakarya Nasional tentang Sanitasi RS. Peavy. 1992. 03/MenKLH/II/1991. 1992. Bandung.A. Jakarta. New York. DKK. 1993. Environmental Engineering.2003. Rajawali Pers. 1992. Darsoprajitno.W. Effendi H. Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Rancngan Percobaan Teori dan Aplikasi. Jakarta. Baku Mutu Limbah Cair SK Men KLH No. 1974. 1993. Mc. .

Tony Gates. Water Treatment Plant Design For The Practising Engineer. Pengelolaan Limbah Rumah Sakit. Michigan. Metodologi Penelitian. USA. Chemistry and Tecnology Lime and Limestone. Yogyakarta. Metodologi Penelitian Survei. Kesehatan Lingkungan. Saleh Samsubar. Inc Tokyo. Ulman’s Encyclopedia of Industrial Chemistry.2003. Tjokrokusumo. Kumpulan Makalah. Koesnopoetranto H. Wirakusumah. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah.K. 1986. MC Graw-Hill Koyoleusa Ltd. Yogyakarta. Jakarta. 1975.. Boynten. Universitas Indonesia. 1995. Carty. Reksosoebroto S. Robert S. Jakarta. 1992. FKM Universitas Indonesia. Jakarta. Sank.Kusumanto. Sanropie. ICH. New York. Suryabrata S. 1907. Jakarta. Komponen Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia. dkk.. Penuntun Praktikm Laboratorium Air. Rajawali Press. Semarang. FKM UNDIP.W. 1981. Ilmu Hygien dan Sanitasi. Statistik Induktif. LP3ES. Singarimbun Masri. Jakarta.. Chemistry for Environmental Engeenering. Ann Arbor Science Publisher. Stell.. Yogyakarta. PPLH Universitas Gajah Mada. Sawyer and Mc. Raharjo Mursid. Dasar-Dasar Ekologi Menopang Pengetahuan Ilmu-Ilmu Lingkungan. 1987. . Water Supply and Severage. 1980. Inc . Jakarta. H. Notoatmojo S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Fifth ED. Third ed. Liberty. Pengantar Konsep Teknologi Bersih Khusus Pengelolaan dan Pengolahan Air. 1988. 1992.. 1991. Rineka Cipta. Jakarta. Volume A. E. Jakarta Sugiharto. 1995. R. 1983. Universitas Indonesia. 1989. 1993. dkk. STTL “YLH”.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful