Limbah Dengan Menggunakan Kapur

PENURUNAN FOSFAT DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME), TAWAS DAN FILTRASI ZEOLIT PADA LIMBAH CAIR

( STUDI KASUS RS BETHESDA YOGYAKARTA )

Tesis
Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana S-2 pada Program Studi Ilmu Lingkungan

Sudi Setyo Budi L4K003013

PROGRAM MAGISTER ILMU LINGKUNGAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2006

TESIS PENURUNAN FOSFAT DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME), TAWAS DAN FILTRASI ZEOLIT PADA LIMBAH CAIR
( STUDI KASUS RS BETHESDA YOGYAKARTA )

Disusun oleh

Sudi Setyo Budi L4K 003 013

Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Pada tanggal 21 Pebruari 2006 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

Menyetujui , Pembimbing I Pembimbing II

Ir. Danny Sutrisnanto, M.Eng

Dr. Ir. Setia Budi Sasongko, DEA

Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan ,

Prof. Dr. Sudharto. P. Hadi, MES.

LEMBAR PENGESAHAN PENURUNAN FOSFAT DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME), TAWAS DAN FILTRASI ZEOLIT PADA LIMBAH CAIR
( STUDI KASUS RS BETHESDA YOGYAKARTA ) Disusun oleh

Sudi Setyo Budi L4K 003 013
Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Pada tanggal 21 Pebruari 2006 Dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

Ketua

Tanda Tangan

Ir. Danny Sutrisnanto, M.Eng

………………………….

Anggota 1. Dr.Ir. Setia Budi Sasongko,DEA …………………………

2.

Ir. Sumarno, M.Si

…………………………

3.

Ir.Agus Hadiyarto.MT

…………………………

Semarang. Maret 2006 Penulis Sudi Setyo Budi L4K 004 013 . Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan tesis yang saya kutip dari hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma. Aapbila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian tesisi ini bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu. kaidah dan etika penulisan ilmiah.PERNYATAAN Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang saya susun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Program Magister Ilmu Lingkungan seluruhnya merupakan hasil karya saya sendiri. saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Dr. Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan .Judul Tesis : Kinetika Biodegradasi Koprostanol Oleh Bakteri Terseleksi Dari Air Dan Sedimen Pada Lingkungan Sungai. M. Ir. DEA Mengetahui . M. Tonny Bachtiar. Siti Harnina Bintari. . Dr. Penguji II Dra. Muara.S. Ir. Penguji I Dr. MES. Semarang. Hadi.Sc. Sudharto. P.Sc. Dan Perairan Pantai (Studi Kasus: Jakarta. Dan Jepara) Nama Mahasiswa Nomor Mahasiswa Program Studi Konsentrasi : : : : AMELYA NILA ANDINI L4K003001 Magister Ilmu Lingkungan Managemen Lingkungan Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Pada tanggal – Juli 2005 Dan dinyatakan memenuhi syarat untuk diterima Menyetujui: Pembimbing I Pembimbing II Dr. Purwanto. Agus Sabdono. M. Prof.

BIODATA PENULIS Sudi Setyo Budi. .Tesis dengan judul “Penurunan Kadar Fosfat dengan Penambahan Kapur.Tawas dan Filtrasi Zeolit” ( Studi Kasus Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta ).lulus SMA tahun 1991 dan melanjutkan pendidikan Sarjana Strata Satu (S1) pada Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (UNTAG) Semarang selesai pada tahun 2001. telah berhasil diselesaikan pada tahun 2006. Selama menempuh pendidikan S1 penulis aktif didalam kegiatan Organisasi Kemahasiswaan. lahir di Pati pada tanggal 5 Pebruari 1972. Pada tahun 1998 Penulis menjabat sebagai Kepala Desa (Lurah) pada pemilihan kepala Desa di Kabupaten Pati. Jawa Tengah Sampai sekarang dan melanjutkan pendidikan pasca sarjana (S2) di Program Magister ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang .

Prof. telah mendapatkan bimbingan serta arahan guna penyempurnaan isi dan tulisan sekaligus persetujuan dari dosen pembimbing dan penguji.Hadi. Ir. Tesis yang berjudul Penurunan Fosfat Dengan Penambahan Kapur (Lime) Tawas Dan Filtrasi Zeolit Pada Limbah Cair ( Studi Kasus Rs Bethesda Yogyakarta ). koreksi dan penyempurnaan. 6. Semoga segala kebaikan dan ketulusan Bapak/Ibu/Saudara dalam membantu penyelesaian tesis ini mendapatkan imbalan dari Allah SWT. kesabaran. semangat dan dorongan dalam penyelesaian tesis ini. Penulis.KATA PENGANTAR Tesis ini disusun untuk memenuhi tugas akhir pada Program Pasca Sarjana Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang. yang telah Sudi Setyo Budi . 2. Bapak. Sudharto. Tesis ini merupakan rangkaian akhir dari persyaratan dalam mencapai gelar kesarjanaan Program Pasca Sarjana (S2) yang telah diseminarkan dan mendapatkan tanggapan. M. DEA sebagai dosen pembimbing II. 3. Teman-teman Magister Ilmu Lingkungan angkatan 2003 kelas reguler memberikan kenangan. Untuk itu pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat : 1. Danny Sutrisnanto. Ir. P. Dr. Dr. Serta rekan-rekan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang memberikan semangat dan bantuan dalam penyelesaian tesis ini. 7. MES sebagai Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan. 4. ibu dan semua saudaraku tercinta untuk semua doa.Eng sebagai dosen pembimbing I. Amien. Para dosen. pengelola dan karyawan Program Magister Ilmu Lingkungan yang membimbing dan memberikan bantuan dan saran dalam menyelesaikan penelitian ini. Setia Budi Sasongko. 5.

Hubungan terendah pada konsentrasi 0. untuk itu perlu dilakukan penanganan bahan pencemar fosfat limbah cair rumah agat tidak mencemari lingkungan.981. R0.990.0015 0. jadi dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 0.979.0015 ppm dan hubungan tertinggi pada konsentrasi 25 ml.0020 ppml = = 0. limbah cair .0015 ppm dan hubungan tertinggi pada konsentrasi 0. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektifitas penurunan kadar fosfat limbah cair rumah sakit Bethesda Yogyakarta sebelum dan setelah melalui perlakuan penambahan larutan kapur dan larutan tawas serta filtrasi zeolit.0015 ppm = 0.0025 ppm ppm = 0. Hubungan terendah pada konsentrasi 0.0025 ppm.975. Kata Kunci: fosfat.0025 ppm = 0. kapur. Kadar bahan pencemaran fosfat dari limbah cair rumah sakit yang melebihi baku mutu yang ditetapkan.INTISARI Rumah sakit dalam kegiatannya banyak menggunakan bahan-bahan yang berpotensi mencemari lingkungan. jadi dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai R pada masing-masing konsentrasi setelah flokulasi dan koagulasi adalah R0. meliputi sanitasi rumah sakit.895. R0.0025 ppm yang paling efektif. Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah rumah sakit yang mengandung fosfat tinggi melebihi melebihi baku mutu yang ditetapkan akan menyebabkan problem lingkungan hidup. zeolit. tawas. R0.0020 ppml = 0. R0. Penelitian dilakukan pada limbah cair Rumah Sakit Bethesda dan uji laboratorium dilaksanakan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pembrantasan penyakit menular (BBTKL-PPM) Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan analisa design pre test and post test design dan hasilnya akan diuji secara diskriptif analitis dengan korelasi.0025 ppm yang paling efektif. yaitu pada sistem pengolahan dan pengelolaan pencemaran Rumah Sakit Bethesda.992. Sedangkan nilai R pada masing-masing konsentrasi setelah filtrasi adalah R0.

that is at processing system and management of Bethesda Hospital contamination. .990. Research have been done at liquid waste of Bethesda Hospital and laboratory test executed in The mayor technical center of Environment Health and Epidemic control (BBTKLPPM Yogyakarta.0020 ppml = 0. Phosphate contamination materials rate of hospital liquid waste have exceeded standard quality of which is specified. This research aim to know storey.0015 ppm = 0. Method in this research is eksperimental with analysis of pre test design and post test design which is its result will test by diskriptif analytical with correlation. become can be concluded that concentration of 0.ABSTRACT Hospital in its activity using many materials which potentialy contaminate environment. level of efektifitas degradation of liquid waste phosphate rate of Bethesda Yogyakarta hospital before and after passing treatment of condensation calcify addition and alum condensation and also zeolite filtration. R0. covering hospital sanitation. Lowest link at concentration of 0. R0. While R value at each concentration after filtrasi is R0. zeolite.0025 ppm is most effective.0025 ppm = 0. Result of research indicate that R value at each concentration after of flokulasi and koagulasi is R0.0025 ppm = 0.981.0015 ppm and highest link at concentration of 0. R0.0025 ppm. alum.975. R0.0025 ppm. can be concluded that concentration of 0. Lowest link at concentration of 0.0015 ppm and highest link at concentration of 0.0020 ppml = 0.0025 ppm is most effective.979.0015 ppm = 0.895.992. liquid waste. For that require to be conducted by handling of contamination materials of house liquid waste phosphate in order not to contaminate environment. Contamination which because of consist hospital waste of phosphate will cause environment problem. Keyword: phosphate. chalk.

...... Unit-Unit Pengolahan Air Limbah RS Bethesda ..........................1......... 2............. DAFTAR GAMBAR .......................6...........2........................................ Kapur ......................................................1. Latar Belakang Masalah.2...................... Flokulasi...........................1..........6......... Pengertian Limbah Cair Rumah Sakit ........... DAFTAR ISI ............................................................................ HALAMAN PERNYATAAN ......................... 2............................................................ 1... 2.... DAFTAR LAMPIRAN ...........3... Karakteristik Limbah Cair Rumah Sakit ..............................3.... Sumber Limbah Cair Rumah Sakit ..... KATA PENGANTAR .......... BAB I PENDAHULUAN ........... 2........................... 2...3...................1................................... 2........................ Fosfat ................1..................................................................3........2........................5........................3........... Koagulasi ..................1.. Zeolit .... 2............................................................................ Kegunaan Penelitian .......................................................... Tujuan Penelitian ....4........................................ Klasifikasi Rumah Sakit .................................. 2.............1... DAFTAR TABEL.............. i ii iii iv vi vii viii ix 1 1 4 4 4 5 5 9 9 10 11 13 16 16 18 18 19 19 22 23 25 ..........................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN PENGESAHAN ............. 1...1.............................. Identifikasi dan Perumusan Masalah....................................... Rumah Sakit ..... 2......... 2............................................................................................... Sifat Zeolit ...................1................................................ 2... 2... 2......... 2........... Koagulasi dan Flokulasi ....... Sifat-Sifat Tawas Dan Penggunaannya ................ ABSTRAK / INTISARI ... 1...4...................................................................... 2......... Pemisahan Fosfat ......................................5...4........................................................2....................1.............1.................... 1.2................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..........

6.. 3........... Alat .6.. 2..7. 3.......3........................1................ BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .........7... 26 29 29 30 30 31 31 31 31 31 31 32 33 33 33 33 33 34 34 34 36 36 40 43 44 44 44 45 .. 3.................... Rancangan Penelitian ... Instrumen Pebelitian ....... 3............................................9..................................2.2......................... 3..........4................................................. Analisa Data ................................................1..............6..... Aktivasi Zeolit ... Tahapan Persiapan ......4..7.................................6...2................................................................. Pemeriksaan Sampel ............... BAB III METODE PENELITIAN ... Ruang Lingkup .................................. Pelaksanaan Penelitian ....................... 3....................3..... Kesimpulan ............................................................. Pembahasan ................... 3.... Lokasi Penelitian ......................................6.1.................6.. 3............. Jenis dan Sumber Data.. 5.......... 2.................. 3...............................3............... Pengambilan Sampel..........................................2..... Teknik Analisa Data ........................3........................................................................ Variabel Penelitian ...........................2...................2.... 3.. Teknik Pengambilan Sampel ................ BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............ Originalitas Penelitian ......... DAFTAR PUSTAKA .............7...................... 4.................... 5...1................... Saran ......................... 3.............6............ 3................................... 3.............................7....... 4. Periode Pengambilan Sampel ......................1............... Teknik Pengumpulan Data .......................................... 3.........................8.................................. 3................. Jenis Zeolit ..........2.... 4.......5............... Bahan .................... 3........................................3..................................... Hasil Penelitian dan Analisis Hasil .........

...................Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi .................... 7.....................................................Keadaan Limbah cair RS Bethesda Yogyakarta sebelum Pengolahan ............................ 8............Perbedaan Mineral Alam dan Zeolit Sintetik ............................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi / Flokulasi 36 38 43 43 6.... 3.............Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi ......Klasifikasi Fosfat..........................................................Klasifikasi Zeolit .........................................................................DAFTAR TABEL Halaman 1.................................. 2.................................................................................... (Asli) ......Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi .................. 5. 17 26 28 36 4....................

8.......Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0........... 0. 3.......................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0......0025 ppm .....Pola Klasifikasi Fosfat ....... 5....................0025 ppm .......................... 0..0015 ppm ...0015 ppm. 0.......Rancangan Penelitian . 9.DAFTAR GAMBAR Halaman 1.......0015 ppm ......... 10.....................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0........... 2.......... 0.............0025 ppm ................0020 ppm ......... 4............0025 ppm... 40 40 39 39 38 38 37 37 17 29 .......................................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0..... 6.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda YogyaKarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0.........0020 ppm.....................0020 ppm......0015 ppm................................0020 ppm ...Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0....................... 7.....................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0...............................................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0................................................

............0015 ppm... Hasil Pengolahan Penurunan Kadar Fosfat Limbah Cair Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta .0025 ppm) 3..DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1.. 0..........0020 ppm. Penambahan Tawas (Kadar Fosfat sebelum Filtrasi ) Regression (Konsentrasi 0.0020 ppm.... Penambahan Tawas (Kadar Fosfat setelah Filtrasi ) Regression (Konsentrasi 0.... Foto-foto Penelitian 4............. dan 0..... 47 2. dan 0..0025 ppm)... Peta Yogyakarta 60 57 51 .0015 ppm......... 0..

. ada juga yang melarang secara tegas keberadaan fosfat dalam detergen. Definisi dasarnya adalah pencemaran air yang disebabkan munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air. Banyaknya enceng gondok yang bertebaran dimanamana juga disebabkan dari fosfat yang sangat berlebihan ini. Rumah sakit Bethesda merupakan rumah sakit dengan type B berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman N0. Hal ini bisa dikenali dengan warna air menjadi kehijauan. Menyadari bahwa fosfatlah yang menjadi penyebab terjadinya eutrofikasi.seperti: detergen. racun dan bahan berbahaya bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya maupun dalam lingkungan rumah sakit itu sendiri. Air dikatakan eutrofik jika konsentrasi phosphorus (TP) dalam air berada pada rentang 35-100 g/l. Melalui penelitian panjang di AS para peneliti akhirnya bisa menyimpulkan bahwa fosfor merupakan elemen kunci diantara nutrient utama lainnya seperti: Carbon (C). Problem eutrofikasi baru disadari pada dekade awal abad ke-20 saat algae banyak tumbuh di ekosistem air. laundry.70 Yogyakarta. laboratorium. kualitas air di banyak ekosistem air menjadi sangat menurun. ruang operasi . berbau tidak sedap dan kekeruhan menjadi sangat meningkat. Kondisi eutrofik sangat memungkinkan algae tumbuh berkembang biak dengan pesat (blooming) akibat dari ketersediaan fosfat berlebihan serta kondisi lain yang memadai. Dalam waktu 24 jam saja populasi algae bisa berkembang dua kali lipat dengan ketersediaan fosfor yang berlebihan akibat limbah fosfat diatas. Problem ini disinyalir akibat langsung dari aliran limbah yang mengandung fosfat tinggi. Sebenarnya jumlhah fosfat yang diperlukan oleh blue-green algae makhluk hidup air penyebab algae bool untuk tumbuh ternyata hanya dengan konsentrasi 10 ppb (part perbillion) fosfor saja blue-green algae sudah bisa tumbuh. kamar mayat. rawat inap. Nitrogen (N). Akibatnya. Sumber-sumber pencemaran yang terdapat di rumah sakit berasal dari kegiatan dapur.1 Latar Belakang Masalah Rumah sakit dalam kegiatannya banyak menggunakan bahan-bahan yang berpotensi mencemari lingkungan. Di samping itu kegiatan rumah sakit juga menghasikan limbah cair yang bersifat infeksius.BAB I PENDAHULUAN 1. Tidak heran jika algae bloom terjadi di banyak ekosistem air. dan Fosfor (P) didalam proses eutrofikasi. Ada kelompok yang condong memilih cara-cara penanggulangan melalui pengolahan limbah cair yang mengandung fosfat.Limbah rumah sakit yang mengandung fosfat akan menyebabkan problem lingkungan hidup yaitu menyebabkan Eutrofikasi. maka perhatian para saintis dan kelompok masyarakat pecinta lingkungan hidup semakin meningkat terhadap masalah ini. asrama dll.

ini yang sangat dikhawatirkan . tetapi juga menjadi persoalan global yang rumit untuk diatasi sehingga menuntut perhatian serius banyak pihak secara terus-menerus. Kaitannya dengan kesehatan. Eutrofikasi merupakan contoh kasus dari problem yang menuntut pendekatan lintas disiplin ilmu dan lintas sektoral. Karena itu perlu upaya secara terus menerus untuk meningkatkan budaya dan pola pikir agar faktor lingkungan menjadi prioritas utama dalam melakukan pengelolaan rumah sakit. Mereka juga memilki jurnal ilmiah European Water Pollution Control.Dewasa ini persoalan eutrofikasi tidak hanya dikaji secara lokal dan temporal. tempat mencetak tenaga kesehatan dan sarana penelitian. Rumah sakit itu befungsi sebagai sarana kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan. logam berat (karsinogenik) maupun radioaktif. justru menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat disekitarnya maupun masyarakat yang menggunakannya (nosokomial). praktisi dan pemerintah menjadi tugas yang mendesak untuk menyelamatkan sumber daya air dari bencana eutrofikasi serta memelihara dan mengolahnya untuk kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang. Karena tidak dapat terurai secara alamiah maka terjadi karena berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Pada saat ini rumah-rumah sakit yang ada melakukan pengolahan limbahnya pada Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) tetapi ada juga yang hanya secara konvensional (septic tank dan peresapan) dan bahkan tanpa pengolahan (langsung dibuang ke lingkungan). disamping Environmental Protection Agency/EPA yang memberlakukan peraturan dan pengawasan ketat terhadap pencemaran lingkungan. Oleh karena Itu untuk pennganan limbah rumah sakit yang dihasilkan harus dikelola sesuai dengan karakteristik dan volume limbah sehingga dapat meminimalkan dampak negatif yang dihasilkan sehingga lingkungan dapat menerima dan diuraikan (self purification). Negara-negara kawasan Eropa juga memiliki komite khusus dengan nama Scientific Committee on Fosfates in Europe yang memberlakukan The Urban Waste Water Treatment Directive yang berfungsi untuk menangani problem fosfat dari limbah cair dan cara penanggulangannya. Untuk itu perlu pengelolaan lingkungan rumah sakit secara cermat sehingga output tidak menimbulkan dampak terhadap masyarakat. Jangan sampai rumah sakit yang dianggap sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemecahan problem ini di Indonesia sangat menuntut peran serta masyarakat. yang perlu kita waspadai adalah zat-zat kimia yang bersifat peresisten (yang tidak dapat untuk jangka waktu yang lama didalam lingkungan). Karena kita ketahui bahwa limbah rumah sakit merupakan bahan dan sumber pencemar yang sangat kompleks karena limbahnya bisa mengandung kuman ksius. akumulasi di dalam organisme dan lingkungan serta terjadinya biomagnifikasi/rantai makanan. saintis.

kesehatan jiwa. paru. c. radiologi. kulit dan kelamin serta rehabilitasi medik. Perawatan Umum b. Sub spesialistik (bedah syaraf. THT. pengumpulan. Sub spesialistik (bedah syaraf. haimodialisa. dan rehabilitasi medik). Penunjang umum Yaitu administrasi. Unit-unit yang ada di rumah sakit 1. paru. kologin. bedah obsterigine. Rehabilitasi mental spiritual c. Pelayanan gawat darurat 4. syaraf. penimbunan hasil pengolahan. bedah urologi dan bedah digestik). bak penampung awal terpadu. Spesialistik (penyakit dalam. digester. pengolahan makanan dan gizi. bedah orkologi. 3.bak penampung awal. bak equalisasi . maka rumah sakit Bethesda sangat membutuhkan sarana instalasi limbah cair tersebut agar parameter limbah cair yang melebihi baku mutu khususnya fosfat dapat ditangani. Rawat inap a. Pengelolaan yang dilakukan mencakup penyimpanan. Pelayanan penunjang Yaitu laboratorium. mata kulit dan kelamin. c. bak pengendapan. pengolahan. kolam ikan. bedah plastik.Pengolahan limbah cair yang sekarang dilakukan rumah sakit Bethesda meliputi penangkap lemak. Prothese dan ortotik 5. farmasi. . bedah orkologi. CT-Scan. USG. Poliklinik (umum. bak Pre treatment bak laundry. bak an aerob . bedah ortopedi dan bedah rekonstruksi. instalasi pemeliharaan saran. pengering lumpur. pelayanan sterilisasi. b. sand filter. THT. Rawat Jalan a. Penanganan IPAL rumah sakit Bethesda belum sempurna oleh karena itu. pendidikan dan penelitian dan informasi. bedah urologi dan bedah digestik). gigi. bedah ortopedi dan bedah rekonstruksi. kamar bersalin dan beddah sentral. kesehatan jiwa. KIA dan KB) b. Spesialistik (penyakit dalam. Fisik (rehabilitasi sistem radiovaskuler. mata. bedah plastik. syaraf. rehabilitasi sistem pernafasan. kesehatan anak. rehabilitasi sistem neuromuskuler dan lekomotor. 6. bedah. kesehatan anak. obsteriginekologin. Pelayanan rehabilitasi medik a. kamar operasi. 2.

2 Identifikasi dan Perumusan Masalah Identifikasi Limbah cair Rumah Sakit mengandung bahan pencemar yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat sekitarnya Parameter fosfat yang terkandung dalam limbah cair Rumah sakitmelebihi baku mutu yang ditetapkan. larutan tawas dan zeolit untuk menurunkan kadar fosfat dalam limbah cair Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.4 Kegunaaan Penelitian Untuk membantu pihak pengelola rumah sakit dalam rangka penanganan limbah cair khusus parameter fosfat sehingga tidak mencemari lingkungan. 1. Dari latar belakang dan identifikasi maka dapat dirumuskan sebagai berikut : Apakah kadar bahan pencemar yang fosfat yang terkandung dalam limbah rumah sakit dapat diturunkan sehingga memenuhi baku mutu yang ditetapkan ? 1. BAB II TINJAUAN PUSTAKA .1.3 Tujuan Penelitian Meneliti tingkat efektifitas larutan kapur.

548/Menkes/VI/1994 tanggal 13 Juni 1994. maka rumah sakit diharapkan berangsur akan berkembang kearah pelayanan kesehatan paripurna yang mencakup upaya peningkatan. K. Rumah Sakit Petronellapun bernama resmi Het Zendingsziekenhuis Petronella Voor on en minvermogenden (Rumah Sakit Petronella untuk orang-orang yang kurang dan tidak mampu). dr. Sewaktu terjadi perang antara Sekutu dan Jepang. kapasitas rmah sakit yang semula 150 tempat tidur ditingkatkan menjadi 475 tempat tidur. pengobatan dan pelayanan kesehatan. tetapi untuk mencapai tujuan pembangunan bidang kesehatan. Rumah Sakit Petronella disebut juga sebagai rumah sakit Dokter Tulung/Pitulung karena tidak memungut biaya perawatan rumah sakit. Rumah sakit merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh.Scheurer mendirikan Rumah Sakit Petronella di kampung Gondokusuman. toxic dan radioaktif dalam melakukan kegiatannya sehingga perlu adanya upaya penyehatan lingkungan rumah sakit. Setelah proklamasi kemerdekaan. Pruys.J. J. Rumah sakit akan menghasilkan limbah yang bersifat infeksius. Dalam kurun waktu 1924-1925. yaitu dr. disamping juga merupakan pusat latihan tenaga kesehatan dan tempat untuk mengadakan pelatihan medis. sering dikenal sebagai bentuk pelayanan yang berorientasi pada pelayanan kuratif saja. Lucas Gerard Johannes Samallo sebagai dokter .G. pasien-pasien Petronella dipindahkan ke rumah sakit darurat di Pingit (sekarang asrama Polisi) dan Rumah Sakit Petronella dipindahkan kembali ke Gondokusuman dan berganti nama menjadi Jogjakarta Tjuo Bjoin (Rumah Sakit Pusat Jogyakarta) dan dipimpin oleh orang Jepang.P. Ketika menerima subsidi dari pemerintah. pencegahan. dengan kapasitas awal 150 tempat tidur dan dikelola sepenuhnya oleh gerejagereja Gereformed di Amsterdam.Offringa. Salah satu upaya penyehatan lingkungan rumah sakit teresbut adalah peraturan pemerintah tentang adanya suatu satuan kerja yang bertanggungjawab terhadap penyehatan lingkungan rumah sakit yaitu Instalasi Sanitasi melaui SK Menkes No.Groot. semasa kepemimpinan dr.1.Scheurer kembali ke Belanda pada tahun 1906 dan kepemimpinan RS Petronella selama 36 tahun berikutnya dibagi rata oleh tiga orang dokter. Tujuannya untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari bahan buangan atau limbah rumah sakit serta mencegah meningkatnya infeksi nosokomial di lingkungan rumah sakit. Offringa dan dr. Pada tahun 1899 dr. dengan dr. dr.J.2. Rumah Sakit Rumah Sakit adalah integrasi organisasi sosial dan kesehatan yang berfungsi melayani masyarakat dengan pelayanan kesehatan secara menyeluruh baik kuratif maupun preventif serta pelayanan penderita berobat jalan mencakup lingkungan keluarga. Rumah Sakit Jogjakarta Tjuo Bjoin direbut dari Jepang dan berganti nama menjadi Rumah Sakit Pusat.

uk RS BETH /1996 tanggal 23 Maret 1996 dan kemudian diberlakukan di RS Bethesda dengan Surat Keputusan Direktur No.412 m2 dan tanah kosong dalam komplek 36. Wahidin : Jalan Johar Norhadi Struktur Organisasi Rumah Sakit Bethesda Struktur organisasi RS Bethesda Yogyakarta sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Pimpinan Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (DP-YAKKUM) No. maka berdasarkan hasil rapat Dewan Pimpinan YAKKUM (Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum) selaku pengawas yang berpusat di Surakarta.pertama berbangsa Indonesia yang memimpinnya. Lokasi Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta terletak pada sebidang tanah yang mempunyai luas 61. rumah sakit secara resmi berdiri dan beroperasi di Yogyakarta dengan nama Rumah Sakit Bethesda. tanggal 28 Juni 1949. 1714 / K. 70.3880/K. Kotamadya Yogyakarta. Penelitian dan Pengembangan Bidang Pelayanan Keluarga Berencana RS Bethesda Bidang Sosial Pastoral Bidang usaha Peningkatan Kesehatan Masyarakat (UPKM) Bidang Pendidikan SPK dan Bidan Bidang Pelayanan Kesehatan (YANKES) Lempuyangwangi . dengan batas-batas: • • • • Utara Selatan Timur Barat : Jalan Jenderal Sudirman : Universitas Kristen Duta Wacana dan Komplek DKT : Jalan Dr. Supaya umum mengetahuinya bahwa Rumah Sakit Kristen.935 m2 dengan luas bangunan mencapai 25. Rumah Sakit Bethesda terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di jalan Jenderal Sudirman No.423 m2 .966/1997 tanggal 22 Juli 1997 tentang organisasi dan tata kerja RS Bethesda Yogyakarta yang terdiri dari: • • • • • • • • • • • • • Direktur Wakil Direktur Pelayanan Medik Wakil Direktur Penunjang Medik Wakil Direktur Keuangan Wakil Direktur Personalia dan Umum Bidang Satuan Pengawasan Intern Bidang Sekretariat Bidang Perencanaan.

dan wastafel. asam sulfat (merupakan specimen laboratorium). Mengingat bahwa rumah sakit merupakan tempat tindakan pelayanan dan perawatan orang sakit. alkohol. Pengadaan Air Air bersih merupakan kebutuan mutlak yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan setiap rumah sakit dimanapun juga. Air buangan dari kamar mandi. maka kualitas dan kuantitas air yang digunakan untuk 2. Bahan polutan yang ada merupakan hasil dari berbagai aktivitas yang menimbulkan dampak dan kemungkinan bahan polutan yang ada antara lain: 1. Limbah padat berupa: 3. Limbah gas berupa: . WC.Bahan Polutan Rumah Sakit Bethesda Bahan polutan yang ada dapat diamati dengan jelas dari setiap kegiatan yang dilakukan RS Bethesda Yogyakarta. Kotoran lemak Deterjen Specimen laboratorium padatan Perban/kasa Spet suntikan Kapas darah Sisa makanan Kertas Plastik Kaca Sisa amputasi Sisa persalinan Sisa operasi Sisa outopsi Sisa insenerasi Gas dari sisa pembakaran di Instalasi Gizi Asap dari pembakaran di Instalasi Incenerator Uap air atau kondensat dari Instalasi Laundry Utilitas 1. Limbah cair berupa: • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Darah.

demikian juga untuk ruang tidur pasien atau bangsal. untuk itu pihak RS Bethesda menggunakan 5 (lima) buah pompa dengan daya 10 pk dan 7. 3. Tabung pemadam kebakaran sejumlah 64 buah Pihak RS Bethesda juga bekerjasama dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kodya dan KODAM IV/Diponegoro. dengan sistem otomatis. a. • • • • • • • Pengadaan Transportasi Pengadaan mobil operasional terdiri dari: Mobil ambulance Mobil jenazah Mobil kijang Mikrobus Minibus Sedan Open Cup : 4 buah : 1 buah : 3 buah : 2 buah : 1 buah : 2 buah : 1 buah Dengan tenaga sopir 11 orang 4.1. baik untuk bekerja maupun untuk penyimpanan barang atau peralatan elektronik. 2. Pengertian Limbah Cair Rumah Sakit Pengadaan fasilitas untuk pemadam kebakaran berupa: . Jumlah dari kebutuhan air bersih untuk RS Bethesda diperkirakan ± 875 m3 per harinya. yang ditempatkan di 16 titik yang dianggap dapat mewakili seluruh areal bangunan RS Bethesda.1. Fasilitas Pemadam Kebakaran Hydrant. RS Bethesda juga menggunakan 2 buah genset yang mempunyai daya 500 kVa dan 375 kVa. b. taman dan untuk pelayanan penerangan umum lainnya. 2.5 pk. Pengadaan listrik di RS Bethesda berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebesar 5500 kVa. Selain menggunakan sumber listrik PLN. yang diletakkan di dalam sumur berkedalaman30 sampai 40 meter. Pengadaan Listrik Pencahayaan atau listrik digunakan di semua ruangan yang ad. pengunjung dan karyawan.kebutuhan rumah sakit harus selalu dipertahankan agar tidak dapat mengakibatkan sumber infeksi baru bagi penderita . Yang kemudian di pompa water tower yang berjumlah 2 buah. Genset beroperasi secara otomatis apabila suplai listrik dari PLN tidak berjalan atau padam.

Sedangkan Rumah Sakit Bethesda tergolong RSU Kelas Utama. Terakhir RSU Type D atau Kelas Pratama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis dasar. Departemen Hankam dan BUMN. dan Pratama. Madya. b. B. yang menangani hampir semua penyakit/memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar. RSU masih dibagi lagi menjadi beberapa type/kelas RSUP (RSU Pemerintah) dapat diklasifikasikan menjadi RSU type A. Keputusan Menkes RI No. Berdasarkan status kepemilikan /pengelolaan a.Sedangkan RSU Swasta dibagi atas Kelas Utama. 2.1. spesialistik dan subspesialistik. Benang merah yang menghubungkan RSUP DAN RSU Swasta adalah paralelisasi antara Type B dan Kelas Utama. Rumah Sakit Umum (RSU). Sumber Limbah Cair Rumah Sakit . air bekas pencucian dan lain-lain. yang dikelola oleh yayasan. Type C dan Kelas Madya serta Type D dan Kelas Pratama. ruang operasi dan lainnya. Rumah Sakit Negeri/ Pemerintah. sisa bahan kimia/radiologi. ruang bedah dan runag lain dalam bnagunan kecuali limbah cair radiologi. sisa obat. Rumah Sakit khusus. Limbah cair rumah sakit adalah limbha cair yang berasal dari rumah sakit baik ynag berasal dari dapur. 983/SK/Menkes/XI/92 menyebutkan bahwa RSU Type A adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan subspesialistik luas. 2. Rumah Sakit Swasta. RSU Type C atau Kelas Madya adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik dasar. tempat pencucian pakaian. urine. ruang laboratorium. ruang pasien. b. kamar mandi.1. Limbah tersebut dapat berupa sisa darah.2. yaitu. 1. dapur.Limbah cair rumah sakit merupakan limbah cair dari semua sumber pembuangan misalnya kloset. yang menangani hanya 1 (satu) atau beberapa jenis penyakit tertentu. 2. RSU Type B atau Kelas Utama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan subspesialistik terbatas. Macam jumlah dan kadar zat pencemar yang dihasilkan dari setiap sumber tersebut bervariasi tergantung kegiatan/aktivitasnya dan bahan yang digunakan. C dan D. yang dikelola oleh Depkes dan merupakan milik pemerintah (pusat atau daerah). Klasifikasi Rumah Sakit Secara umum industri rumah sakit dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian. tinja. Berdasarkan macam/jenis penyakit yang ditangani a.3.

Air limbah ini mengalir . Spoelhock. tempat cuci perabot makan. Sumber Penghasil Limbah RS Bethesda Limbah rumah sakit adalah semua air buangan yang berasal dari aktivitas instalasiinstalasi rumah sakit yang kemungkinan besar mengandung mikroorganisma. Adapun sumber-sumbernya adalah sebagai berikut: 1. Fasilitas Sosial (Kafetaria. Ruang Rawat Darurat: Kamar mandi. pantry. Ruang Laundry: tempat rendaman linen kotor. Spoelhock. tempat wudlu. 11. Sumber-sumber limbah rumah sakit meliputi: 1. Wastafel. tempat cuci preparat. Wastafel. 5. Asrama): Kamar mandi. 4. Untuk mengetahui jenis limbah yang dihasilkan yang digunakan sebagai dasar cara pengolahannya maka perlu diketahui sumber-sumber yang menghasilkan limbah rumah sakit. Wastafel. 9. urinoir. Unit Radiologi: wastafel. Spoelhock. tempat cuci instrumen medik. tempat cuci perabot makan. kamar mandi. Wastafel. urinoir. 13. tempat buang exudat pasien. Wastafel. buangan dari pembilas mesin cuci. tempat mencuci jenazah. tempat cuci beras. Wastafel. Ruang Operasi: Kamar mandi. Spoelhock. urinoir. tempat pembedahan mayat/autopsi. wastafel. buangan pembilas air panas. tempat buang exudat pasien. Wastafel. floor drain. Wastafel. tempat buang exudat pasien. Ruang Dapur: Kamar mandi. Instalasi Laboratorium Klinik/Patologi Anatomi: Kamar mandi. 7. tempat cuci instrumen medik. tempat cuci instrumen medik. 8. tempat cuci film. Pemukiman (Rumah Dinas. tempat cuci instrumen medik. Ruang Kamar Jenazah/Autopsi: Kamar mandi. Ruang Haemodialisa: Kamar mandi. pantry. Unit Perkantoran/Perpustakaan: Kamar mandi.Dalam melakukan kegiatan pelayanan kesehatan rumah sakit akan menghasilkan limbah cair. Ruang Rawat Jalan: Kamar mandi. 2. Limbah cair alur barat Limbah cair dari alur barat lebih didominasi oleh air buangan yang berasal dari ruang-ruang rawat inap (kamar mandi/WC. Masjid): Kamar mandi. pantry. bahan kimia beracun dan radio aktif. tempat cuci alat-alat dapur. yang disalurkan melalui assenering baik assenering DKP maupun assenering pihak RS Bethesda sendiri menuju instalasi pengolahan air limbah. tempat cuci instrumen medik. wastafel) dan di tambah buangan dari asrama putra AKPER RS Bethesda. urinoir. tempat cuci instrumen medik. floor drain. urinoir. Ruang Perawatan berasal dari: Kamar mandi. 12. tempat cuci sayur/buah. floor drain. parasit. 3. 10. 6. urinoir.

bau. karena selruh kegiatan RS Bethesda yang berada di bagian timur seperti ruang rawat inap. menyalurkan air buangannya ke saluran assenering alur timur baik secara gravitasi maupun dengan bantuan pompa. 2. Karakteristik Limbah Cair Rumah Sakit Air limbah pada intinya dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu sifat fisik. ruang farmasi. Sifat Fisik Penentuan derajat kekotoran air limbah sangat dipengaruhi oleh adanya sifat fisik yang mudah dilihat. Instalasi gizi (dapur) Kegiatan instalasi gizi yaitu melayani kebutuhan makanan pasien maupun karyawan sehingga dari kegiatan ini juga dihasilkan limbah cair. . Partikel-partikel padat terdiri dari zat organik 70 % dan anorganik 30 %. Adapun sifat fisik yang penting adalah kandungan zat padat sebgaai efek estetika. warna dan temperatur.4.9 % dan sisanya terdiri dari partikel-partikel tidak terlarut 0.secara gravitasi dengan 13 bak kontrol di titik-titik tertentu guna mengawasi lancar tidaknya aliran. a. Dari laundry ini dihasilkan limbah cair dengan kandungan detergen yang tinggi sehingga memilki pH dan suhu yang tinggi. kejernihan. ruang radiologi dan lain-lain yang menghasilkan limbah. Zat organik tersebut sebagian besar mudah terurai (degradabel) yang merupakan sumber makanan dan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme yang lainnya.1. kantor.1 %. Laundry Laundry juga merupakan salah satu instalasi penting yang umum dimiliki oleh setiap rumah sakit tidak terkecuali RS Bethesda. 3. Komposisi limbah cair rumah sakit sebagian besar terdiri dari 99. kimia dan biologis. Limbah cair alur timur Limbah cair alur timur memilki karakteristik pencemar yang lebih kompleks. 25 % karbohidrat dan 10 % lemak. 2. laboratorium. yang mengandung minyak. 4. Zat organik terdiri dari 65 % protein. lemak dan detergen untuk kemudian diolah secara bertingkat.

Protista. Sifat Bakteriologis Sifat bakteriogis pada air buangan perlu diketahui untuk menaksir tingkat kekotoran air limbah sebelum dibuang ke badan air. 2. Unit-unit Pengolahan Air Limbah RS Bethesda . Bahan Anorganik Sedangkan zat organik yang penting peranannya di dalam mengontrol air limbah adalah: pH Kadar Khlor Alkalinitas Kadar Sulfur Zat beracun Logam berat seperti: Ni. O3 c. 2. protozoa dan algae Binatang dan tanaman Dari klasifikasi tersebut diatas. Adapun zat kimia yang penting dalam air limbah pada umumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. protozoa dan algae sangat penting di dalam proses dekomposisi atau stabilisasi bahan-bahan organik 2. Cd. CH4. Mikrooganisme yang penting dalam air limbah dan air permukaan dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu: 1.1. Bahan Organik Air limbah dengan pengotoran sedang. Cu. Cr. Zn. Mg. meliputi: bakteri.5. Fe dan Hg Metan Hidrogen Fosfor Gas seperti NH3. yang dijumpai dalam air limbah bersisikan 40-60 % adalah protein. 25-50 % berupa karbohidrat serta 10 % lainnya berupa lemak. Sifat Kimia Sifat kimia dalam air limbah dapat diketahui dengan adanya zat kimia air buangan.b. maka sekitar 75 % dari benda-benda tercampur dan 40 % dari zat yang dapat disaring adalah berupa bahan organik. Pb. jamur.

1. Instalasi penampung awal Instalasi penampung awal berfungsi untuk menampung keseluruhan limbah dari RS Bethesda yang berasal dari cucian, dapur mauun rawat inap. 2. Bak ekualisasi Bak ekualisasi berfungsi untuk mencampur limbah dari berbagai sumber sehingga menjadi limbah yang homogen dengan waktu tinggal 27 jam. 3. Instalasi anaerob biofilter Instalasi anaerob biofilter berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana dengan bantuan bakteri yang ada pada biofilter. Waktu tinggal dalam bak ini 16 jam. 4. Instalasi aerob Instalasi aerob berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks yang lolos dari pengolahan sebelumnya menjadi senyawa yang lebih sederhana, pada proses ini penambahan oksigen dilakukan dengan bantuan blower. Waktu tinggal dalam bak 8 jam. 5. Instalasi pengendapan (settling) Instalasi pengendapan (settling) berfungsi untuk memberi kesempatan lumpur agar mengendap. Waktu tinggal dalam bak pengendspan 7 jam. 6. Instalasi penampung hasil Instalasi penampung hasil berfungsi untuk menampung limbah yang telah mengalami pengolahan (limbah terolah). Limbah ini dipompakan ke instalasi sand filter dan sebelumnya jam. 7. Instalasi sand filter Instalasi sand filter berfungsi untuk menyaring limbah sehingga diperoleh kualitas yang lebih baik lagi. 8. Instalasi fish pond Instalasi fish pond atau kolam ikan berfungsi untuk tempat penampungan limbah terolah yang telah tersaring di sand filter. Kolam ikan ini dilengkapi dengan pancuran air. 9. Instalasi digester dan biogas Instalasi digester dan biogas berfungsi untuk menaqmpung semua lumpur yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah. 10.Instalasi pengering lumpur (drying bed) Instalasi pengering lumpur befungsi untuk menampung endapan lumpur dari digester untuk dikeringkan. dilakukan disinfeksi dengan memberikan kaporit melalui sistem injeksi/suntikan dengan tujuan membunuh bakteri patogen. Waktu tinggal dalam bak 7

2.2. Fosfat Fosfat berada dalam air limbah dalam bentuk organik. Sebagai ortophosfat anorganik atau sebagai fosfat-fosfat kompleks. Fosfat kompleks mewakili kira-kira separuh dari fosfat air limbah perkotaan dan berasal dari penggunaan bahan-bahan detergen sintetis. Fosfat kompleks mengalami hidrolisa selama pengolahan biologis menjadi bentuk ortofosfat (PO43-) Dari konsentrasi rata-rata fosfor keseluruhan sebanyak 10 mg/l berada dalam air limbah perkotaan , kira-kira 10 % dibunag sebagai bahan tak terpakai selama pengendapan primer dan 10 % hingga 20 % lainnya digabungkan ke dalm sel-sel bakteri selam apengolhan biologis. Sisa yang 70 % dari fosfor yang masuk pada umumnya dilepaskan bersama bunagan instalasi sekunder. Bentuk-bentuk penting fosfat dalam air limbah adalah pospor organik, polyphosfat dan orthophospat. Poyfosfat banyak digunakan dalam pembuatan detergen sintetis. Komponen fosfat dipergunakan untuk membuat sabun sebagai pembentuk buih. Dan adanya fosfat dalam air limbah dapat menghambat penguraian pada proses biologis. Sedangkan menurut Juli Sumirat, detergen dapat mempermudah absorbsi racun pada ikan melalui insang dan bersifat persisten sehingga terjadi akumulasi. Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut, tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air. Dalam air limbah senyawa fosfat dapat berasal dari limbah penduduk, industri dan pertanian. Di daerah pertanian ortofophosfat berasal dari bahan pupuk, yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan. Poliphosfat dapat memasuki sungai melalui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan detergen yang mengandung fosfat seperti industri pencucian, industri logam dan sebagainya. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat bagi pertumbuhannya. Bermacam-macam jenis fosfat juga dipakai untuk penngolahan anti karat dan anti kerak pada pemanas air (boiler). Bila kadar fosfat pada air alam sangat rendah (<0,01 mg/l), pertumbuhan tanaman dan ganggang akan terhalang, keadaan ini dinamakan “oligotrop”. Pembuangan limbah yang banyak mengandung fosfat ke dalam badan air dapat menyebabkan pertumbuhan lumut dan mikroalgae yang berlebih yang disebut “eutrophication” , sehingga air menjadi keruh dan berbau karena pembusukan lumut-lumut yang mati. Pada keadaan “eutrotop” tanaman dapat menghabiskan oksigen dalam sungai atau kolam pada malam hari atau bila tanaman tersebut mati dan dalam keadaan sedang mencerna (digest) dan pada siang hari pancaran sinar matahari kedalam air akan berkurang, sehingga proses fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen juga berkurang.

Banyak metode yang telah diusulkan untuk pembuangan kelebihan fosfat. Metode ynag paling efektif meliputi pengendapan kimiawi. Senyawa-senyawa fosfat dapat dibuang dengan penambahan koagulan, misalnya alum, kapur, ferrichlorida atau ferrous sulfat. Bahan-bahan kimia itu dapat ditambahkan sebelum pengendapan primer, alum dan garam-garam besi dapat dimasukkan ke dalm tanki aerasi selama proses lumpur diaktifkan atau bahan-bahan kimia itu dapat dimasukkan pada suatu tahap pengolhan primer. Sebagian besar dari bahan organik tersebut dibuang, begitu pula fosfatnya, sehingga dihasilkan pengurangan beban pada proses pengolahan biologis. Walaupun demikian, lumpur yang diproduksi jumlahnya lebih besar. Bila bahan-bahan kimia dimasukkan langsung ke dalam tangki aerasi dari suatu instalasi lumpur yang diaktifkan, maka pengolahan kimiawi dan biologis terjadi bersama-sama, sehingga hanya sedikit peralatan tambahan yang dibutuhkan. Pengendapan kimiawi, terutama yang menggunakan kapur, kadang-kadang dikerjakan pada tahap ketiga setelah pengolahan biologis guna pembuangan fosfat serta peningkatan pH buangan dalam persiapan bagi proses pembuangan ammonia-nitrogen. Reaksi kimia dari proses pengendapan secara kimiawi antara fosfat dengan alum, garam besi dan kapur adalah sebagai berikut: Pengendapan dengan alum: AL2(SO)3 + 2HPO4
–2

2AlPO4

+ 3SO4-2

+ 2H

Pengendapan dengan garam besi: FeCl3 + HPO4
–2

FePO4

+

H+

+ 3Cl-

Pengendapan dengan kapur: 5Ca(OH)2 + 3HPO4
–2

Ca5(PO4)3OH

+

3H2O

+ 6OH-

2.2.1. Pemisahan Fosfat Secara umum analisa fosfat meliputi 2 (dua) langkah : a. Merubah bentuk fosfor menjadi ortofosfat yang larut. b. Menentukan secara kolorimetris ortofosfat yang larut. Pemisahan fosfor kedalam berbagai bentuk telah luas didefinisikan secara analitis, tetapi telah dipilih pembedaan analisa, sehingga dapat diperguakan untuk tujuan interpretasi. Pemisahan “yang dapat disaring” (atau “terlarut”) dari “partikel” fosfat tergantung filter membran 0,45 µm yang dipergunakan. Pemilihan filtrasi dengan membran melebihi ketebalan filtrasi dilakukan karena kemungkinan diperoleh lebih besar atau pemisahan ukuran partikel dengan tekinik pemisahan membran. Penyaringan pendahulluan dengan filter serat gelas dapat dilakukan untuk mempercepat proses penyaringan. Tidak dapat dituntut bahwa penyaringan

Seperti ortofosfat dan fosfat dari hidrolisa asam. Hidrolisa tidak dapat dihindrakan untuk membebaskan fosfat dari senyawa organik.45 µm. f. Tabel 1. Dua belas fosfat tersebut dapat dilihat pada tabel 1. b. g. Ortofosfat partikel. Sampel Tanpa penyaringan . terlarut. Keseluruhannya ada tiga bagian (total. k. fosfat total yang dapat dalam sampel dapat dipisahkan pada analisa dengan penyaringan kedalam bagian yang disaring dan partikel. Total ortofosfat terlarut dan partikel c. Total fosfat organik terlarut dan partikel FISIK Terlarut e. Biasanya terdapat sedikit variasi. Total fosfat partikel j. terlarut dan partikel. Total fosfat terlarut yang dapat dihidrolisa h. Total fosfat yang dapat dihidrolisa oleh asam. Fosfat organik terlarut. Total fosfat terlarut . Kekuatan oksidasi yang diperlukan untuk konversi tergantung pada bentuk dan jumlah dari fosfat organik yang ada. d.melalui filter membran Penggunaan 0. Organik Total a. Klasifikasi Fosfat Tipe Kimiawi Total Orto Yang dapat dihidolisa oleh asam. Didalam praktek. Fosfat partikel organik. Fosfat partikel yang dapat dihidrolisa oleh asam l. Fosfat yang dapat langsung diperiksa secara kolorimetris tanpa hidrolisa pendahuluan atau perombakan secara oksidatif dan dianggap sebagai “ortofosfat”. Partikel i. fosfat organik terdapat dalam larutan dan partikel. dan tersuspensi) dan masing-masing secara analisis dibagi menjadim tiga tipe kimiawi seperti telah diuraikan diatas yaitu ortofosfat fosfat yang dapat dihidrolisa dengan asam fosfat organik . Tetapi perlu diingat bahwa sebagian kecil dari fosfat terikat yang ada tidak dapat menghindari cara hidrolisa ini dan dilaporkan sebagai bagian dari ortofosfat. tetapi faktor ini telah dikurangi seminimum mungkin (sangat sesuai untuk hidrolisa fosfat terikat) dengan bijaksana memilih kekuatan asam lebih disukai terhadap “fosfat terikat” pada teknik ini. menguraikan bentuk fosfat yang ditentukan dalam filtrat yang melalui membran 0. yang tergantung pada fosfat terlarut dan tersuspensi.45 µm dapat memisahkan dengan sebenarnya antara fosfat yang istilah “yang dapat disaring” (lebih baik “yang larut”) untuk tersuspensi dengan yang terlarut. Ortofosfat terlarut. Hidrolisa dengan asam pada temperatur mendidih untuk mengubah fosfat dalam bentuk terlarut dan partikel menjadi ortofosfat yang dapat disaring. Ortofosfat terdapat dalam bentuk terlarut dan partikel. Total fosfat terlarut dan tidak terlarut. Bagian-bagian fosfat yang diubah menjadi ortofosfat hanya dengan perombakan oksidatif terhadap bahan organik disebut fosfat organik/terikat secara organik.

Gambar 1. Suhu air Suhu air yang rendah mempunyai pengaruh terhadap efisiensi proses koagulasi. Bila suhuair diturunkan . kemudian membentuk jonjot mikro (mikro flok).3. Koagulasi dan Flokulasi 2. b. dan masa inti partikel. Derajat Keasaman (pH) . Pola Klasifikasi Fosfat 2.3. maka besarnya daerah pH yang optimum pada proses kagulasi akan berubah dan merubah pembubuhan dosis koagulan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi sebagai berikut : a.1 Koagulasi Koagulasi adalah dicampurkannya koagulan dengan pengadukan secara cepat guna mendistabilisasi koloid dan solid tersuspensi yang halus.

sehingga semua koagulan yang dibubuhkan dapat bereaksi dengan partikel-partikel atauion-ion yang berada dalam air. Alkalinitas Alkalinitas dalam air ditentukan oleh kadar asam atau basa yang terjadi dalam air (Tjokrokusumo. Koagulan dalam bentuk larutan lebih efektif dibanding koagulan dalam bentuk serbukatau butiran. Alkalinitas dalam air dapat membentuk flok dengan menghasil ion hidroksida pada reaksihidrolisa koagulan. Jenis Koagulan Pemilihan jenis koagulan didasarkan pada pertimbangan segi ekonomis dan daya efektivitas daripadakoagulan dalam pembentukan flok. Tingkat kekeruhan Pada tingkat kekeruhan yang rendahproses destibilisasi akan sukar terjadi. Flokulasi Flokulasi adalah pengadukan perlahan terhadap larutan jonjot mikro yang menghasilkan jonjot besar dan kemudian mengendap secara cepat (Tjokrokusumo. Dalam pengadukan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengadukan harus benar-benar merata. e. f. c. Kecepatan pengadukan Tujuan pengadukan adalah untuk mencampurkan koagulan ke dalam air. d. kalsium dan magnesium tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap proses koagulasi. Dengan demikian ion natrium.Proses koagulasi akan berjalan dengan baik bila berada pada daerah pH yang optimum. Untuk tiap jenis koagulan mempunyai pH lainnya. Kadar ion terlarut Pengaruh ion-ion yang terlarut dalam air terhadap proses koagulasi yaitu : pengaruh anion lebih bsar daripada kation. g. Sebaliknya pada tingkat kekeruhan air yang tinggi maka proses destabilisasi akan berlangsung cepat. 19920.3. Dosis koagulan Untuk menghasilkan inti flok yang lain dari proses koagulasi dan flokulasi sangat tergantung dari dosis koagulasi yang dibutuhkan Bila pembubuhan koagulan sesuai dengan dosisyang dibutuhkan maka proses pembentukan inti flok akan berjalan dengan baik. 2. Tetapi apabila kondisi tersebut digunakan dosis koagulan yang rendah maka pembentukan flok kurang efektif. Kecepatan pengadukan sangat berpengaruh terhadap pembentukan flok bila pengadukan terlalu lambat mengakibaykan lambatnyaflok terbantuk dan sebaliknya apabila pengadukan terlalu cepat berakibat pecahnya flok yang terbentuk h.2. Ada dua jenis proses flokulasi yaitu : optimum yang berbeda satu sama . 1995).

Kapur (lime) secara umum terdapat dalam dua bentuk yaitu CaO dan Ca(OH)2. 2. Kalsium Hydrated lime memiliki tingkat kepadatan kira-kira 2. Perubahan kecepatan dari satu titik ke titik lainnya dikeal sebagai gradien kecepatan. prosesnya disebut flokulasi perikinetik. penggunaan dari kapur antara lain dibidang kesehatan lingkungan untuk pengolahan air kotor. Kelarutan. 1986). sehingga terbentuk Ca(OH)2. Kepadatan. kapur dapat mengurangi kandungan bahan-bahan organik. Pada pengolahan air kotor. Flokulasi perikinetik Flok yang diakibatkan oleh adanya gerak thermal (panas) yang dikenal sebagai gerak Brown. tingkat kelarutan dari kira-kira 1.4. Dengan adanya perbedaan kecepatan aliran media cair akan mempunyai aliran kecepatan yang berbeda pula akibatnya akan terjadi tumbukan atau kontak antar partikel. b. c. Gerak acak dari partikel-partikel koloid yang ditimbulkan karena adanya tumbuhan molekul-molekul air. Menurut Tarmiji. air limbah maupun industri lainnya. Sifat-Sifat Kapur (lime) dan Penggunaan nya.3 g/gm3 d. Pada umumnya kecepatan aliran cairan akan berubah terhadap tempat dan waktu. Proses pengendapan ini akan berjalan secara efektif apabila pH air antara 6 – 8 (Considine). . CaO adalah bahan mudah larut dalam air dan menghasilkan gugus hidroksil yaitu Ca(OH)2. Cara kerjanya adalah kapur ditambahkan untuk mereaksikan alkalibikarbonat serta mengatur pH air sampai sehingga menyebabkan pengendapan. Bentuk kristal. Sifat-sifat fisik dan kimia Hydrate lime : a. powder b. e.85 Ca(OH)2/l air pada suhu 00C sampai0. 1986. Netralisasi asam . sebagian besar umumnya berwarna putih dan pada tinhkat tinggi dapat berwarna abu-abu. yang bersifat basa dan disertai keluarnya panas yang tinggi. 1986).a. Flokulasi orthokinetik Flokulasi orthokinetik adalah suatu proses terbentuknya flok yang diakibatkan oleh terbentuknya gerak media (air) misalnya pengadukan (Sank R.K. Hydrate lime dihasilkan dari reaksi quickime (CaO) dengan air. Hydrate lime siap bereaksi dengan asam dan gas sehingga tentu saja berkemampuan menetralisasi asam. Warna.7 g/l pada suhu 1000C.K. dengan notasi G. akan mengakibatkan terjadinya gabungan antar partikellebih sangat kecil 1 < 100 milimikron (Sank R.

fluorida dan bahan-bahan organik. Selain itu. sebagai bahan bangunan. Hasil dari proses ini antara lain adalah CaO ditambah CO2 yang keluar sebagai gas. pertanian dan lain-lain.10 g Ca(OH)2/l dapat memberi pH kira-kira 11. mangan.3 pada suhu 250C. karena kalsium hidroksida adalah termasuk basa kuat. Pada larutan 250C. air kapur dapat berguna sebagai bahan penurun kesadahan. .8/l memberikan pH sebesar 12. dan lainlainnya. pH. Selain CaO juga MgO serta molekul-molekul lainnya tergantung pada batuan kapur yang asli dari alam. kandungan 1.7. Proses pengolahan air. Penggunaan berbagai keperluan maka batuan kapur dari alam biasanya akan mengalami proses pembakaran terlebih dahulu yang disebut “calcination”. reaksi antara CaO dan air akan menghasilkan gugus hidroksil Ca(OH)2 yang bersifat basa dengan reaksi sebagai berikut: CaO + H2O Ca(OH)2 + heat Ca(OH)2 Ca++ + 2OH- Karena sifat-sifat kapur dapat digunakan sebagai pengendap terhadap fosfat maka reaksi yang terjadi adalah 3 Ca2+ + 2PO43Ca3 (PO4)2 Penggunaan Kapur Kapur telah diikenal sebagai bahan yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan diantaranya dipakai pada bidang-bidang industri misalnya industri kimia. Selain itu dapat juga mengurangi kadar BOD dengan cara menyerap antara 40% sampai 50 % bahan organik terlarut maupun tidak terlarut. memperkecil kadar silika. Khusus di sektor lingkungan kapur dapat berguna dalam: a.f. kertas. konsentrasi 0. menetralisasi keasaman. Contoh reaksi yang terjadi pada proses “calcination” ini apabila batuan kapur dari alam berkomposisi sebagai kombinasi dari kalsium dan Magnesium Karbonat adalah sebagai berikut: CaCO3Mg CO3 CaOMgO + 2CO2 Calcim Oxide (CaO) adalah merupakan bahan yang mudah larut dalam air dengan mengeluarkan panas yang tinggi (Highleyexotermically).

yaitu terjadi proses hidrolisis. Proses pengolahan air bekas. 14H2O 2Al3+ + 3SO42. penyerapan bau (deodorant) dan sebagai desinfektan. Alum tersebut akan larut di dalam air dengan reaksi sebagai berikut: AL2(SO4)3 .8. Kapur juga dapat dipergunakan sebagai penghilang fosfor dalam air. Reaksi tersebut antara ion Al dengan ion OH. mudah didapatkan di pasaran serta mudah penyimpanannya. Alum atau tawas sebagai penjernih air mulai diproduksi oleh pabrik pada awal abad 1500. kapur dapat befungsi antara lain dalam pengendalian keasaman digester.79-4. sudah dikenal bangsa Mesir pada awal tahun 2000 SM. Sifat-Sifat Tawas dan Penggunaan nya Persenyawaan Alumunium Sulfat (Al2(SO4)3) atau sering disebut tawas adalah suatu jenis koagulan yang sangat populer secara luas digunakan. kapur dapat digunkan untuk mengeringkan serta mengurangi bau kotoran ayam yang berceceran di laniat kandang.65 m2) lantai yang mengandung kotoran ayam. Dosis yang biasa dipakai pada peternakan ayam adalah sekitar 1 lb (0. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai “geomedical” untuk mencegah parasit-parasit dan bnayak penyakit ayam.45 kg) Hydrates Lime [Ca(OH)2] pada setiap 3-5 ft2 (2. reaksi yang kan terjadi reaksi hipotik. kapur digunakan untuk menetralisir asam sulfat bebas (free sulfuric acid ) dan mengendapkan garam-garam besi yang terdapat pada limbah industri tersebut. disini kapur berfungsi sebagai bahan koagulan. d. Reaksi yang terjadi jika alum dimasukkan ke dalm air. Range pH untuk jenis koagulan alum adalah sebesar 5. Proses pengolahan buangan industri besi/baja.+ 4 H2O Ionisasi dai air sendiri akan terbentuk ion hidroksida sebagai berikut: . yang paling banyak digunkan karena bahan ini paling ekonomis 9murah). karena salah satu cara penghilangan fosfor dalam air adalah pengendapan kimiawi. Kapur dapat digunakan untuk mengurangi gas SO2 yang keluar dari pembakaran batu bara atau minyak yang mengandung sulfur yang tinggi melalui suatu proses yang disebut “wet scrubing”. Alum yang dilarutkan ke dalam air akan bereaksi dengan kapur atau bahan lain seperti Soda Abu atau Natrium Bikarbonat (Na2CO3).b.5.5 sampai 7. Pada peternakan ayam. yang sangat dipengaruhi oleh nilai pH yang bersangkutan. 2. Alum atau tawas merupakan bahan koagulan. c. e.

Dengan sifat di atas maka zeolit dapat bekerja sebagai penukar ion dan sebagai penyaring melalui adsorpsi selektif atau penolakan molekul karena adanya penolakan molekul karena adanya perbedaan dalam ukuran molekul dan faktor lainnya Selanjutnya dari hasil pengujian terhadap beberapa aspek yang ada kaitannya dengan pertukaran ion pada zeolit ( Komar bersama rekan . Ksp AlPO4 sebesar 6.Struktur yang paling stabil adalah zeolit yang perbandingan Si dan Al nya adalah 1:1.3 .10-19 . yang di dalamnya ditempati oleh molekul air dan ion ion logam alkali.Perbandingan antara Si dan Al berkisar antara 1:1 sampai 100:1.sehingga terjadi reaksi Al3+ + PO43AlPO4 Pengendapan dapat terjadi apabila hasil kali { Al3+ }dan { PO43 -} lebih besar dari Ksp AlPO4 . soda abu atau soda kaustik (Natrium Oksida) Reaksi yang terjadi: AL2(SO4)3 + 3Ca(OH)2 2Al(OH)3 + 3CaSO4 AL2(SO4)3 + 3Na2CO3 + H2O 2Al(OH)3 + 3Na2SO4 + 3CO2 Oleh karena tawas /alum mempunyai sifat koagulan dalam larutan maka bila tawas bersenyawa dengan limbah yang mengandung unsur fosfat .Unit dasar pembentuk zeolit adalah SiO4 dan AlO4 yang membentuk tetra hedral. . Zeolit Zeolit adalah suatu alumnosilikat yang mempunyai struktur berpori dengan saluran dalam rangka kristal. 2.6. Dengan demikian supaya terjadi pengendapan hasil kali konsentrasi yang bereaksi harus lebih besar dari pada Ksp nya.1985 ) menjelaskan bahwa: Kecepatan pertukaran kation dalam zeolit dipengaruhi oleh besar butiran zeolit.Unit unit tersebut saling berikatan membentuk jaringan anionik dalam tiga dimensi.H2O H+ + OH- Kemudian terjadi reaksi antara ion Al3+ dengan ion hidroksida sebagai berikut: 2Al3+ + 6 OH2Al(OH)2 Pengikatan ion hidroksida tersebut di dalam air akan menurunkan alkalinitas air sehingga sebaiknya digunkan bahan tambahan yang dpat meningkatkan nilai alkalinitas seperti kapur.

Kemampuan pertukaran ion (adakalanya dengan istilah kemampuan penyerapan ion atau sorpsi) zeolit merupakan parameter utama dalam menentukan kualitas zeolit yang akan . meskipun yang mempunyai nilai komersial ada sekitar 12 jenis. feldspar dan kuarsa dan ditemukan di daerah sekitar gunung berapi atau mengendap pada daerah sumber air panas (hot spiring). seperti suhu. K+ dan lain-lain. Hal itu menjadikan zeolit dengan warna dan tekstur yang sama mungkin berbeda komposisi kimianya bila diambil dari lokasi yang berbeda disebabkan karena kombinasi mineral yang berupa partikel halus dengan impurities lainnya. ICI dan mobil Oil dan lebih dari 100 jenis telah dikenal strukturnya antara lain zeolit A. gypsum. Ion-ion logam tersebut dapat diganti oleh kation lain tanpa merusak struktur zeolit dan dapat menyerap air secara reversible. filipsit. kabarsit dan erionit. Pada saat ini dikenal sekitar 40 jenis zeolit alam. zeolit hanya dapat diidentifikasi berdasarkan unit bangun sekunder. Berdasarkan UBS semua zeolit baik dalam bentuk alami atau sintetik. Dengan demikian. - Kapasitas penyerap zeolit akan bertambah dengan bertambah nya berat zeolit. diantaranya klinoptilolit. Pemanfaatan zeolit masih belum banyak diketahui secara luas. Y. Pada tahun 1954 zeolit diklasifikasi sebagai golongan mineral tersendiri. tekanan uap air setempat dan komposisi air tanah lokasi kejadiannya. melainkan harus dianalisa strukturnya. yang saat itu dikenal sebagai molecular materials. zeolit merupakan mineral yang terdiri dari kristal alumino silikat terhidrasi yang mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam kerangka tiga dimensi.- Zeolit yang diaktifkan maupun yang tidak diaktifkan menyerap ion amonium dari air buangan lebih kecil dari pada larutan NH4Cl. Mineral zeolit telah dikenal sejak tahun 1756 oleh Cronstedt ketika menemukan Stilbit yang bila dipanaskan seperti batuan mendidih (boiling stone) karena dehindrasi molekul air yang dikandungnya. Zeolit tidak dapat diidentifikasi hanya berdasarkan analisa komposisi kimianya saja. grup ZSM/AlPO4 (Zeolite Sielving Marerials/Aluminium Fosfate) dan bahkan akhir-akhir ini dikenal grup zeotip.Zeolit juga ditemukan sebagai batuan endapan pada bagian tanah jenis basalt dan komposisi kimianya tergantung pada kondisi hidrotermal lingkungan lokal. yaitu material seperti zeolit tetapi bukan senyawa alumino-silikat. Zeolit sintetik dihasilkan dari beberapa perusahaan seperti Union Carbide.Zeolit biasanya ditulis dengan rumus kimia oksida atau berdasarkan satuan sel kristal. mordernit. Struktur kristal zeolit dimana semua atom Si dan Al dalam bentuk tetrahedral (TO4) disebut unit bangun primer. X. Mineral alam zeolit biasanya masih tercampur dengan mineral lainnya seperti kalsit. yang pada saat ini zeolit di Indonesia dipasarkan masih dalam bemtuk alam terutama pada pemupukan bidang pertanian. Hal ini dikarenakan dalam air buangan zeolit selain menyerap ion amonium juga menyerapion ion lain seperti Ag+.

Oleh karena itu zeolit dapat dimanfaatkan sebagai : penyaring molekuler. Jumlah molekul air sesuai dengan jumlah pori-pori atau volume ruang hampa yang akan terbentuk bila unit sel kristal zeolit terus dipanaskan. yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan KTK batuan lempung. Penukaran kation dapat menyebabkan perubahan beberapa sifat zeolit seperti stabilitas terhadap panas. Adsorbsi Zeolit juga mampu memisahkan molekul zat berdasarkan ukuran dan kepolarannya. penyerap bahan dan katalisator. dan jenis anion.6. 4.1 Sifat Zeolit Zeolit mempunyai struktur berongga dan biasanya rongga ini diisi oleh air dan kation yang bisa dipertukarkan serta memilki ukuran pori yang tertentu. Dehidrasi. KTK adalah jumlah meq ion logam yang dapat diserap maksimum oleh 1 g zeolit dalam kondisi kesetimbangan. Nilai KTK zeolit ini banyak bergantung pada jumlah atom Al dalam struktur zeolit. .50 meq/g) dan vermikulit (11. Cu dsb.5 – 6 meq/g. suhu. Ion-ion ini dapat bergerak bebas sehingga pertukaran ion yang terjadi tergantung dari ukuran dan muatan maupun jenis zeolitnya. Penukar ion Ion-ion pada rongga atau kerangka elektrolit berguna untuk menjaga kenetralan zeolit. misalnya logam Pt. KTK dari zeolit bervariasi dari 1. 2. 3. biasanya dikenal sebagai KTK (Kemampuan Tukar Kation). Sifat sebagai penukar ion dari zeolit antara lain tergantung dari : sifat kation. Sifat dehidrasi dari zeolit akan berpengaruh terhadap sifat adsorpsinya. Sifat zeolit meliput i : 1. dimana untuk molekul yang tidak jenuh atau bersifat polar akan lebih mudah lolos daripada molekul yang jenuh atau tidak polar. sifat adsorbsi dan aktifitas katalis. Katalis Zeolit merupakan katalisator yang baik karena mempunyai pori-pori yang besar dengan permukaan yang maksimum.03-0.15 meq/g).50 meq/g). Zeolit dengan struktur “framework” mempunyai luas permukaan yang besar dan mempunyai saluran yang dapat menyaring ion/molekul.digunakan.80-1. 2. seperti kaolinit (0. bentonit (0. penukar ion. Bila atom Al dinetralisir dengan ion polivalen. Zeolit dapat melepaskan molekul air dari dalam rongga permukaan yang menyebabkan medan listrik meluas ke dalam ronggs utama dan akan efektif terinteraksi dengan molekul yang akan diabsorbsi. zeolit dapat berfungsi sebagai katalis yang banyak digunakan pada reaksi petrokimia.

29 %.25 x 10-3 cc/g.54 dan memilki kandungan logam Na. Jenis Zeolit Menurut proses pembentukannya zeolit dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu : 1.04 %. daya tukar ion maupun daya katalis dari zeolit tersebut belum maksimal.6. Tabel 2. 1. Molekul ynag berukuran kecil dapat melintas sedangkan yang berukuran besar dari ruang hampa akan ditahan atau ditolak. K.34 %. Zeolit yang diperoleh dari alam telah dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Dari uji pendahuluan terhadap zeoiit alam Wonosari dengan menggunakan difraksi sinar x diketahui bahwa sebagian besar penyusunnya adalah mordernit. rerata jejari pori 60. Zeolit Alam Zeolit alam terbentuk karena adanya proses perubahan alam (zeolitisasi) dari batuan vulkanik tuf. Dari jumlah tersebut hanya 20 jenis yang terdapat dalam batuan sedimen terutama sedimen piroklastik yang berbutir halus (tuf) Komposisi dan struktur zeolit kebanyakan terdiri dari mineral mordernit dan klinoptillit. Analisis lebih lanjut terhadap zeolit alam Wonosari menunjukkan bahwa zeolit mempunyai rasio Si/Al 4. Ca dan Fe masing-masing sebesar 4. aktivasi dan modifikasi.5. Klasifikasi zeolit Zeolit Grup Analsim Analsim Wairakit Grup Natrolit Natrolit Thomsonit Grup Heulandit Na16[Al16Si24O31]6H2O Na16 Ca8 [Al20Si24O80]24H2O T5O10 (4-1) T5O10 Na16[Al16Si31O96]6H2O Ca16[Al16Si31O96]6H2O S4R S4R Rumus Kimia UBS . 2. luas permukaan 24.75. keasaman sebesar 2. Penyaring atau pemisah Volume dan ukuran garis tengah ruang hampa dalam kisi-kisi kristal menjadi dasar kemampuan zeolit untuk bertindak sebagai penyaring molekul.39 mmol/g.2. Untuk memperoleh zeolit dengan kemapuan yang tinggi diperlukan beberapa perlakuan antara lain.13 m2/g. 2. Akan tetapi daya serap. Telah diketahui lebih dari 40 jenis mineral zeolit di alam. volume pori 74.39 5 dan 1.

5 [Al16Si10O32]12H2O Na8 [Al31SiO16]16H2O Na8 [Al8Si40O96]24H2O NaCa0. Aktivasi Fisis Aktivasi fisis biasanya dilakukan dengan pemanasan yang bertujuan untuk menguapkan air yang terperangkap tinggi dalam pori-pori kristal zeolit. D6R D4R. S6R. S8R 5 –1 S4R. sehingga luas permukaan poripori bertambah. atau mengumpulkan tungku putar dengan pemanasan secara penghamparan selama 3 jam atau tanpa penghamparan selama 5-6 jam (skala besar). S6R. Sifat dehidrasi zeolit ini berpengaruh terhadap sifat adsorbsinya. Pemanasan dilakukan dalam oven biasa pada suhu 300-400 0C (untuk skala laboratorium). a. . S8R S4R.5 Mg2 [Al6Si30O72]24H2O Ca2 [Al4Si8O24]13H2O K6 Na3 [Al9Si27O72]21H2O Na12 Ca12 Mg11 [Al58Si134O384]235H2O Na12 [Al12Si12O48]27H2O Ca4 [Al8Si16O46]16H2O NaN [AlnSi96O192]16H2O [Al12P2O48] (C3H7)4NaOH q H2O T10O20 (4-4-1) T10O20 S4R S4R T8O16 (5-1) T8O16 D4R.Heulandit Klinoptilolit Grup Filipsit Filipsit Zeolit Na-P-1 Grup Mordernit Mordernit Ferrierit Grup Kabazit Kabazit Zeolit L Grup Faujasit Faujasit Zeolit A Grup Laumontit Laumontit Grup Pentasil ZSM-5 Grup Zeotype AlPO4-5 Ca4 [Al8Si28O72]24H2O Na6 [Al6Si30O72]24H2O K2 Ca1. Pemanasan modernit pada suhu 300 0C –1000 0C menyebabkan destruksi struktur kristal. S6R Proses aktivasi zeolit alam dapat dilakukan dalam 2 cara yaitu secara fisis dan kimiawi. Zeolit yang dipanaskan pada temperatur tinggi menyebabkan molekul air yang ada dalam zeolit mengalami dehidrasi. D6R S4R. kandungan modernit berkurang hampir 25 % pada suhu 700 0C.

Berdasarkan perbandingan kadar komponen Si and Al. Tabel 3. Mineral zeolit sintetis masing-masing mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan.b. Aktivasi secara kimia dilakukan dengan larutan asam atau basa. zeolit kadar Si tinggi dan zeolit Si. dibuat mineral zeolit berderajat kemurnian . dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori. Perbedaan utama antara kedua jenis mineral zeolit alam dan sintetis . Aktivasi zeolit dengan asam menyebabkan ternetralisasinya muatan negatif pada permukaan zeolit hidrogen. zeolit sintetis dikelompokkan menjadi empat. Asam-asam yang dapat digunakan untuk aktivasi adalah HCl4. dan H3PO4. Dealuminasi dapat digunkan untuk mengontrol aktivasi keasaman dan untuk mengontrol ukuran poripori zeolit. Aktivasi Kimiawi Pada aktivasi kimia. zeolit kadar Si sedang.Kebanyakan endapan zeolit beberapa jenis mineral zeolit. yang terbesar Garis tengah pori hanya terdapat pada mineral khabasit dan erionit Dapat dibuat mineral zeolit yang ruang kosong bergaris tengah Mineral zeolit Sintetis Dapat sintetis tinggi. Hal ini sangat penting terutama berhubungan dengan fungsi zeolit sebagai adsorben. Perbedaan Mineral alam dan zeolit sintetik Macam Perbedaan Derajat Kemurnian Mineral Zeolit Alam Umumnya banyak mengandung pengotor. dealuminasi adalah yang paling penting dan dominan. Penggunaan zeolit sintetis pada dasarnya sama dengan zeolit alam. Zeolit Sintetis Zeolit mempunyai sifat yang unik yaitu susunan atom maupun komposisinya dapat dimodifikasikan. H2SO4. dan mengatur kembali letak atom yang dapat dipertukarkan. maka para peneliti berupaya untuk membuat zeolit sintetis yang mempunyai sifat khusus sesuai dengan keperluannya. membuang senyawa pengotor. yaitu zeolit kadar Si rendah. Diantara asam-asam tersebut yang paling efektif untuk dealuminasi adalah HCl. HNO3. 2. Atom-atom Al yang masih tersisa dalam zeolit masih terkoordinasi dalam rangkaian tetrahedaral dengan empat atom oksigen. alam terdiri dari terutama campuran besi. Sangat terbatas. Ini karena persamaan sifat fisik dan kimia yang dimiliki oleh kedua jenis mineral tersebut.

6. 1. lalu disaring. BAB III .00 M. dinetralkan dan dikeringkan pada suhu 130 0C selama 3 jam. mempunyai daya serap baik Sumber : Harjanto.00 N (perbandingan b/v 1:2) sambil dipanaskan sampai agak kering . 0. 2.50 M. Selanjutnya zeolit direndam NH4Cl konsentrasi 0.lalu disaring dan dikeringkan pada suhu 110 0C selama 3 jam.10 M.00 M DAN 2. 1. dan 2. sambil diaduk dengan pengaduk magnetik.Terbatas. Zeolit ini kemudian dikalsinasi pada variasi suhu 300 0C. kemudian dicuci sampai netral dan dikeringkan pada suhu 120 0C selama 3 jam. 0. tawas dan filtrasi zeolit belum pernah dilakukan. 400 0C.7.05 M..00 M pada suhu 90 0C selama 60 menit. 1987 2. Originalitas Penelitian Penelitian tentang penurunan fosfat dengan kapur (lime). khabasit Daya Serap hanya dan erionit mineral yang dari 3 A hingga 8 A Dapat menyerap hingga 50 % dari volumunya. dan 500 0C selama 5 jam.00 M selama satu minggu sambil diaduk 3 kali sehari. dicici sampai netral dan dikeringkan pada suhu 130 0 C selama 3 jam. Zeolit kemudian direndam dengan HF 2.50 M.3 Aktivasi Zeolit Zeolit alam direndam dengan akuades selam 24 jam. Kemudian zeolit disaring. Zeolit selanjutnya dipanaskan dengan HCl pada konsentrasi 0.

Rancangan Penelitian 3.1.METODE PENELITIAN 3. Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini merupakan “Penelitian Eksperimen” dengan “design pre test and post test design “yang hasil akan diuji secara diskriptif analitis dengan korelasi. Sample air limbah Kapur Aduk Tawas Endapan Pemisahan Periksa PO4 Filtrasi Zeolit Periksa PO4 Hasil Filtrasi Gambar 2.2 Ruang Lingkup .

suhu limbah . Variabel pengganggu Waktu kontak. 3. 3.4 Variabel Penelitian a.kekeruhan. Kualitas limbah cair RS Bethesda sangat fluktuatif. yang berbeda pada sampel perlakuan akan mengganggu proses pengendapan begitu pula dengan kemurnian kapur tohor dan kemurnian tawas serta proses pengadukan pada saat perlakuan apabila tidak dikendalikan / tidak disamakan pada setiap perlakuan akan didapatkan hasil tidak seperi yang diharapkan.5 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam analisis berupa data kuantitatif yang diperoleh dari perlakuan di lapangan dan pengamatan percobaan di laboratorium. sehingga perlu adanya pengendalian terhadap variabel-variabel tersebut diatas agar penelitian ini mendapatkan hasil yang dapat dipertanggung jawabkan.3 Lokasi Penelitian Lokasi Penelitian yang dipilih yaitu limbah cair Rumah Sakit Bethesda dan uji laboratorium dilaksanakan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pembrantasan penyakit menular (BBTKL-PPM) Yogyakarta. 3. b.kadar ion terlarut. 3.Meliputi semua limbah cair yang dihasilkan dari seluruh kegiatan Rumah Sakit Bethesda. kemurnian tawas. Parameter pH. c. kemurnian kapur tohor. waktu pengambilan sampel.6. Variabel bebas Dosis pemakaian bahan kimia larutan kapur dan tawas.6 Instrumen Penelitian 3. Air limbah RS Bethesda . Variabel terikat Parameter yang diperiksa pada limbah cair adalah fosfat masing-masing pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/ pengolahan.1 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari bahan untuk pengolahan dan bahan atau reagen untuk pemeriksaan parameter pencemar terdiri dari: Bahan untuk Pengolahan 1. sehingga waktu pengambilan sampel perlu diperhatikan agar mendapatkan kualitas yang sama pada setiap perlakuan. proses pengadukan.

Larutan pH 4 12. Pipet ukur 7.6. Larutan standar EDTA 0. Cuvet 12.01 M 13.2 Alat Alat Pengolahan 1. Air suling 16. H2SO4 4 N 6. Mixing Flokulator 11. Indikator Phenol Red 9. pH meter 8.6. Labu erlenmeyer 4. alat filtrasi yang dilengkapi . SnCl2 7. Amonium Molibdat 10. Persiapan bahan dan alat serta pembuatan rangkaian dengan stop kran . Indikator Murexid 15.1 ppm 4. Tabung nessler 9. Spektofotometer 10. Standart fosfat 0. Larutan tawas 0.01 ppm 8. NaOH 1 N 14. Larutan Buffer pH 10 11.3 Tahapan Persiapan 1. Larutan kapur 0. Karet penghisap 3. Zeolit 3. Buret tetes 13. Beker glass 3.2. Pipet tetes 6. Indikator PP 5. Timbangan Sartorius 5. Labu ukur 2.1 ppm 3.

00150 ppm dan 0.7. 3. aduk lambat selama 5 menit. diamkan selama 15 menit agar terjadi pengendapan.00200 ppm. Isi beaker glass tersebut dengan limbah asli masing-masing sebanyak 800 ml.0010 ppm dengan volume berturutturut 0. fosfat setelah koagulasi tersebut.7. 3. 8.00125 ppm. Ulangi prosedur 4 s/d 10 dengan variasi kapur 0.4 Pelaksanaan Penelitian 1. Pisahkan filtrat dari endapan.kuantitas dan kualitas sampel tetap terjaga. 7.7. 4. detergen dan fosfat 2. kemudian diberi nomor 1 s/d 3. Siapkan sampel limbah cair asli sebelum diolah kemudian diperiksa pH.0015 ppm. 0. Penyiapan larutan kapur 0. 6.3 Pemeriksaan Sampel . Periksa filtrat masing-masing beker glass parameter pH.00100 ppm .0025 ppm. Membuat larutan-larutan siap pakai untuk pemeriksaan parameter fosfat. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode grab sampling (sesaat) selama periode tertentu. 9. 0.00050 ppm.2. 5. Tambahkan larutan kapur pada masing-masing beker glass volume 1 ml.2 Periode pengambilan sampel Pengambilan sampel diusahakan sekali dalam jumlah yang dibutuhkan agar homogenitas.0010 ppm dan tawas 0.0020 ppm. Aduk cepat masing-masing selama 3 menit. dan 0.0010 ppm yang akan digunakan sebagai bahan pengolahan . 3. 0. Masing-masing beker glass ditambahkan larutan tawas yaitu 0. Siapkan deretan beaker glass sebanyak 3 buah masing-masing volume 1000 ml.1 Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan pada bak penampung awal karena sudah mewakili semua limbah cair Rumah Sakit tersebut . 3. 0. Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan zeolit terhadap filtrat tersebut 10.6. 0. 3. 3.00075 ppm ml.7 Teknik Pengambilan Sampel 3.

Xb Dimana : Y X a b = Variabel terikat = variabel bebas = titik potong (intercept) = koefisien regresi (elastisitas/slope) Koefisien determinasi pada intinya adalah untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat.Semua sampel diperiksa berdasarkan metode baku standard Method for examination. Maksud dari hubungan regresi yaitu untuk mengetahui suatu variabel dapat dipergunakan untuk memprediksi atau meramal variabelvariabel lain.9. 3. hubungan antara kedua variabel disebut analisis regresi sederhana. Persamaan matematik yang memungkinkan untuk meramalkan nilai-nilai satu atau lebih peubah acak bebas disebut persamaan regresi.8 Teknik Pengumpulan Data Data yang diperoleh dari hasil penelitian dikelompokkan agar memudahkan dalam analisis. Jika suatu variabel tak bebas (dependent variable) tergantung pada satu variabel bebas (independent variable). Nilai yang mendekati satu berarti variabel- . Bentuk matematisnya adalah sebagai berikut : Y = a . 3. selanjutnya data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Parameter limbah cair yang dianalisis adalah fosfat pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/pengolahan. Teknik Analisa Data Perhitungan statistik untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini menggunakan uji Regresi Linier Sederhana. Rumusan matematisnya adalah sebagai berikut : R= n(ΣXY ) − (ΣX )(ΣY ) nΣX 2 − (ΣX ) 2 nΣY 2 − (ΣY ) 2 = Koefisien korelasi (Pearson Correlation) = variabel penambahan kapur = variabel kadar fosfat = jumlah sampel Dimana : R X Y n Nilai koefisien determinasi (R2) yang kecil berarti kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat sangat terbatas. yang disimbolkan dengan huruf R. Koefisien determinasi diperoleh dari mengkalikan koefisien korelasi Pearson atau biasa disebut Pearson Product Moment.

Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur prosentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dilihat dengan rumus R2 x 100%. Atau 1. Karena pada jam . berdasarkan pemeriksaan kadar Fosfate selama 24 jam pada inlet dan pada bak kontak. 2. Bila probabilitas F < 0.05.variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel terikat. Uji F Untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. maka digunakan uji F.05. maka Ho diterima 2. Fhitung = ( R2 / k 1 − R 2 / (n − k − 1) ) Keterangan: R2 k n = = = Koefisien determinan Banyaknya perubahan bebas Jumlah data Dasar Pengambilan Keputusan 1. artinya ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Sampel diambil di bak equalisasi dengan tujuan untuk mencari kadar Fosfat yang mewakili seluruh aliran limbah cair. Bila Fhitung < Ftabel. Bila probabilitas F > 0. Sedangkan waktu pengambilan sampel dilakukan pada jam 09. maka Ho ditolak atau Ha diterima BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. maka Ho ditolak atau Ha diterima.00 Wib. artinya tidak ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian mengenai efektifitas dosis dengan menggunakan campuran kapur tohor [Ca(OH)2] dan tawas [Al2(SO4)3] serta filtrasi zeolit terhadap penurunan kadar Fosfat air limbah RS Bethesda Yogyakarta telah dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2005. Bila Fhitung > Ftabel.1. maka Ho diterima.

37 1.49 1.66 1.6404 No.21 1.maka kadar fosfat semakin menurun. berikut: Tabel 5.melebihi yang ditentukan.1 ppm yang ditambahkan.53 0.06 0.4.0025 Bethesda Yogyakarta Pada tabel 5 terlihat semakin tinggi larutan tawas 0.53 mg/l.62 1. berikut: Tabel 4.96 0.82 1. maka parameter PO4. hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 5. Keadaan Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Sebelum Pengolahan (Asli) No.56 1.29 1.06 0.81 1.22 0.00100 0.62 1.0020 ppm dan tawas 0.00125 0. Selanjutnya limbah yang diambil di bak equalisasi tersebut dilakukan pengolahan dengan cara koagulasi dan flokulasi.17 1.tersebut kadar Fosfat limbah cair RS Bethesda Yogyakarta pada bak equalisasi adalah yang tertinggi.5 dan 6 berikut: . Pada penambahan larutan kapur 0.0020 0.00050 0.00200 Sumber: Data Primer 2005 2.5 25.19 1.0015 Kapur (ppm) 0.00075 0.0025 ppm memberikan hasil fosfat terbaik yaitu sebesar 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Setelah Koagulasi/Flokulasi Tawas (ppm) 0. Hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dilihat pada gambar 3.00150 0.1 ppm dan larutan kapur 0. 1 2 Parameter pH PO4- Satuan mg/l Keterangan Sumber: Data Primer 2005 Dari hasil pengukuran diatas.Lab / Hasil Analisa 56 7.15 1. Hasil pengukuran kadar limbah RS Bethesda pada bak equalisasi secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4.

0015 0.8 R2 = 0.0005 0.50 2.5 1 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.3.001 Fosfat (ppm) y = 0.5 Fosfat (ppm) 2 1.001 0.5 0 0 0.0097x R2 = 0.0025 y = 0.00 0 0.951 0.6999 Kapur (ppm) Gambar 4.00 1.00 0.0055x-0.50 1.0005 0.002 0.0025 Kapur (ppm) Gambar 3.961 -0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.50 0.0015 ppm 2.0015 0.002 0.00 2.0020 ppm .

5 1 0.64 0.01 mg/ml Kapur 0.002 0.78 0.0020 1.03 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Tawas 0.0025 1.0020 ppm dan 0.00125 0.7557 Kapur (ppm) Gambar 5.06 1.0015 Tawas 0.70 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.30 0.00 0.0025 y = 0.06 0.002 0.00100 0.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi Pada Penambahan tawas 0. tawas 0.0025 ppm 3 Fosfat (ppm) 2 1 0 0 0.32 1.0005 0.0015 0.5 0 0 0.00075 0.26 1.985 -0.90 1.01 mg/ml 0.0025 Gambar 6.66 Sumber: Data Primer 2005 .18 1.0015 0.001 0.0015 1.0025 Kapur (ppm) Tawas 0.98 0.00050 0.23 1.0020 Tawas 0.28 0.00200 0.81 0.2 Fosfat (ppm) 1.01 1.001 0.0025 ppm Selanjutnya limbah hasil perlakuan koagulasi dan flokukasi dilewatkan pada unit filtrasi zeolit diperoleh hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut: Tabel 6.0061x R2 = 0.0005 0.0015 ppm.00150 0.

Secara empiris.5 0 0 0.1 ppm.801 Kapur (ppm) Gambar 7.0015 0.0025 ppm.0025 y = 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.0015 0.0020 ppm .hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan pembubuhan larutan kapurdan larutan tawas setelah filtrasi zeolit dapat dilihat pada gambar 7. berikut: 2 Fosfat (ppm) 1.0015 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.5 1 0.0016x -0. 9 dan 10.002 0.5 1 0.0005 0.9147 2 R = 0.5 0 0 0.0025 y = 0.001 0.002 0.Dari tabel 6. 0.1 ppm.001 0.011x -0.0020 ppm .0005 0.958 Kapur (ppm) Gambar 8.dan tawas 0. terlihat semakin tinggi larutan kapur dan larutan tawas yang ditambahkan .8.maka kadar fosfat setelah filtrasi zeolit semakin kecil nilai fosfat optimal dicapai pada penambahan larutan kapur 0.6708 R2 = 0. 0.

Efektifitas bahan kimia .5 0 0 0.001 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.5 0 0 0.0005 0.0015 0.0015 Taw as 0. ferrichlorida atau ferrous sulfat.0012x -0.002 0.5 1 0.9343 R2 = 0.0015 0.002 0.980 Kapur (ppm) Gambar 9. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan kimia sebagai penghilang Fosfat adalah sebagai berikut: 1.0025 Kapur (ppm) Taw as 0.0005 0.5 1 0. Pada penelitian ini pemakaian dosis kapur.0025 y = 0. Dari beberapa referensi bahwa keberadaan Fosfat dalam air limbah dapat diturunkan dengan jalan pengendapan secara kimiawi. kapur. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi 4.0025 Gambar 10. Pembahasan Limbah cair di lingkungan RS Bethesda Yogyakarta dilakukan pengolahan dengan menggunakan sistem aerob dan anerob.2 Fosfat (ppm) 1.001 0. Biaya 2. dan filtarasi zeolit sangat berpengaruh dalam menurunkan kadar Fosfat.0020 Taw as 0.0025 ppm Fosfat (ppm) 2 1. Senyawa-senyawa Fosfate dapat dihilangkan dengan penambahan bahan koagulan misalnya alum.2. tawas.

8047 Gambar 4 dengan persamaan empiris y = 0. alkalinitas. Selanjutnya limbah dari Bak Equalisasi dikategorikan sebagai limbah asli. Pengaruh penambahan kapur akan menaikkan diluar pH tersebut maka pembentukan flok sempurna. Pertimbangan lumpur yang dihasilkan 4.0055x-0. tidak memenuhi baku mutu.5 Baku Mutu pH = 6 . Pada Bak Equalisasi.6404 mg/l. Kesesuaian dengan proses pengolahan lain 5. dan mudah didapatkan di pasaran. Limbah cair RS Bethesda yang digunakan sebagai bahan untuk penelitian penurunan kadar fosfat diambil pada Bak Equalisasi dengan pertimbangan limbah tersebut sudah merupakan gabungan dari semua sumber limbah yang dihasilkan. belum melalui perlakuan pengolahan sama sekali. dengan pertimbangan keduanya akan saling mengkoreksi pH.3. Perpaduan dari dua jenis koagulan. PO43-. Efek terhadap lingkungan Dari beberapa pertimbangan diatas. tapi juga aman terhadap lingkungan.4 . kekeruhan. Limbah asli diambil dalam jumlah yang cukup pada jam 09. Dosis dan perlengkapan untuk pengadukan 6. Hasil analisa No lab 56 menunjukkan hasil pH = 7.8-7.awal = 25. dan 0. pH. maka kami pilih kapur dan tawas sebagai bahan koagulan. karena disamping harganya relatif murah.00 pagi saat fluktuasi kualitas terjadi. 0. Dari hasil koagulasi / flokulasi pada Tabel 4 terlihat kecenderungan penurunan fosfat yang terjadi sebanding dengan penambahan kapur yang ditunjukkan pada : Gambar 3 dengan persamaan empiris y = 0.0061x-0.0025 ppm ditunjukkan pada Gambar 6.6999 Gambar 5 dengan persamaan empiris y = 0.7557 Dimana : x = penambahan kapur (ml) Y = penurunan kadar fosfat (mg/l) Secara keseluruhan hasil pemeriksaan kadar fosfat dengan koagulasi dan flokulasi pada konsentrasi tawas 0. karena proses pembentukan flok pada proses koagulasi sangat dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia seperti kondisi pengadukan.0015 ppm. sedangkan konsentrasi PO43. Limbah asli dianalisa di laboratorium dengan parameter pH. Pembentukan flok akan berjalan baik pada range pH 5. pH dan bereaksi dengan bikarbonat membentuk CaCO3 sebagai basa.0097x-0.9 memenuhi syarat. kualitas dan kuantitas limbahnya serba sama.0020 ppm. suhu.

0. Pada penurunan fosfat yang dilakukan dengan filtrasi zeolit setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi terlihat kadar fosfat cenderung mengalami penurunan lagi. Jika dilihat dari uji statistik pendistribusian data dengan uji Kolmogorov Smirnov. Dari hasil analisa data setelah filtrasi.0020 ppm.70.8047 pada penambahan tawas 0.0025 ppm adalah yang tertinggi dengan nilai R = 0.0012 x-0. 8.Berdasarkan hasil pengukuran terhadap limbah asli tersebut. diperoleh nilai R2 semua di atas 0. didapat nilai R2 tertinggi.9147 pada penambahan tawas x-0.7557 pada penambahan tawas 0.0020 ppm.0015 ppm.0025 ppm.0025 ppm. Penurunan PO4 secara rinci terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 3. formula y = 0. Diharapkan pada proses filtrasi ini terjadi pemisahan yang lebih sempurna dari flocculant terhadap cairannya. Selanjutnya dicari nilai R dari variasi tawas 0. 0. dan formula y = 0.70 – 1.6999 pada penambahan tawas . 5. 0. dan 0. diperoleh nilai p value pada masing-masing sampel lebih besar dari 0.0020 ppm. formula y = 0. dimana konsentrasinya fosfatnya melebihi baku mutu yang ditetapkan. sedangkan dari uji regresi . Maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini terdistribusi normal.0015 ppm. Jika ditinjau dari uji statistik. Hasil penurunan dengan filtrasi zeolit secara keseluruhan terlihat pada Tabel 6 dan Gambar 7.9343 pada penambahan tawas 0. jadi dapat disimpulkan penurunan kadar fosfat pada penambahan tawas 0.6708 pada penambahan tawas 0. Semua flok yang terbentuk tidak ada lagi yang terikat pada cairan limbah terolah. Pada proses koagulasi dan flokulasi kadar fosfat (PO43-) diharapkan mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan penambahan larutan kapur dan tawas menjadi endapan Ca3 (PO4)2 ↓ dan Al (PO4) ↓.0025 ppm.05 maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini berdistribusi normal.0015 ppm.05. x-0. Ternyata diperoleh dari data statistik variasi penambahan tawas 0. maka diperoleh hasil dari masing-masing variasi tawas. maka perlu dilakukan penelitian penurunan kadar fosfat dengan koagulasi-flokulasi dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan zeolit.70 dimana nilai R antara 0. sedangkan dari uji korelasi atau uji kekuatan hubungan antara dua variabel diperoleh nilai R2 di atas 0. dan 0.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat.990 pada konsentrasi penambahan tawas 0.992. dan 6.0020 ppm dan formula y = 0.0055 0. nilai P semua variasi di atas 0. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula : y = 0. yaitu 0. Jadi dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar fosfat pada konsentrasi penambahan tawas 0.0061 x-0.0025 ppm. dimana nilai R2 antara 0.0025 ppm adalah yang paling efektif.70 – 1. 9 dan 10. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula y = 0.0025 ppm.0025 ppm setelah filtrasi adalah yang paling efektif.011 0.0016 x-0. 4.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat paling efektif.0015 ppm.0097 x-0.

7086 7.0020 ppm 0. kapur berpengaruh sebesar 98. 1 2 3 Tawas 0.1% pengaruh kapur 98.5% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.7086 Keterangan 80.0015 ppm 0.735 260. df2 = 4) 7.1% pengaruh kapur 96. kapur berpengaruh sebesar 98.801 0.0% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0. 1 2 3 Tawas 0.5% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0. Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian mengenai efektifitas dosis dengan menggunakan campuran kapur tohor [Ca(OH)2] dan tawas [Al2(SO4)3] serta filtrasi zeolit terhadap penurunan kadar Fosfat air limbah .3.7086 7.0025 ppm.1% pengaruh kapur 95.784 F tabel (df1 = 1.3.7086 7.0025 ppm.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.958 0.795 F tabel (df1 = 1.8% pengaruh kapur 98.951 0.0025 ppm R2 0.0015 ppm 0.980 F hitung 16.4.0020 ppm 0. df2 = 4) 7.394 193.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat. Tabel 8. Analisa Data Tabel 7. Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi No.061 90.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.7086 Keterangan 95.0025 ppm R2 0.7086 7.0% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0. Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi No.271 99.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.985 F hitung 78.961 0.

62 1. hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 5.0020 0.0025 .RS Bethesda Yogyakarta telah dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2005. berikut: Tabel 5.81 1. Keadaan Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Sebelum Pengolahan (Asli) No.5 25.00050 0.49 1.Lab / Hasil Analisa 56 7. Sedangkan waktu pengambilan sampel dilakukan pada jam 09.00125 0.66 1. berdasarkan pemeriksaan kadar Fosfate selama 24 jam pada inlet dan pada bak kontak.00100 0.56 1. 1 2 Parameter pH PO4Satuan mg/l No.06 0.6404 Keterangan Sumber: Data Primer 2005 Dari hasil pengukuran diatas. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Tawas (ppm) 0.82 1.29 1. Hasil pengukuran kadar limbah RS Bethesda pada bak equalisasi secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4. Karena pada jam tersebut kadar Fosfat limbah cair RS Bethesda Yogyakarta pada bak equalisasi adalah yang tertinggi.62 1.00200 Sumber: Data Primer 2005 2.22 0.21 1.0015 Kapur (ppm) 0. Sampel diambil di bak equalisasi dengan tujuan untuk mencari kadar Fosfat yang mewakili seluruh aliran limbah cair. berikut: Tabel 4.06 0.96 0.00 Wib.melebihi yang ditentukan.00150 0. maka parameter PO4.37 1.53 0.19 1.00075 0.17 1. Selanjutnya limbah yang diambil di bak equalisasi tersebut dilakukan pengolahan dengan cara koagulasi dan flokulasi.15 1.

001 Fosfat (ppm) y = 0.5 1 0.0015 ppm 2.0055x-0.0020 ppm .0097x R2 = 0.50 2.002 0. Pada penambahan larutan kapur 0.5 Fosfat (ppm) 2 1.002 0.50 1.0015 0.0020 ppm dan tawas 0.1 ppm dan larutan kapur 0.0015 0.53 mg/l.001 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.0025 Kapur (ppm) Gambar 3.5 dan 6 berikut: 3. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0. Hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dilihat pada gambar 3.1 ppm yang ditambahkan.Pada tabel 5 terlihat semakin tinggi larutan tawas 0.0025 ppm memberikan hasil fosfat terbaik yaitu sebesar 0.00 1.50 0.961 -0.00 2.951 2 0.5 0 0 0.0005 0.6999 Kapur (ppm) Gambar 4.maka kadar fosfat semakin menurun.00 0.0005 0.00 0 0.0025 y = 0.8 R = 0.4.

0025 Gambar 6.0020 1.01 mg/ml 0.70 .001 0.002 0.0061x R2 = 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Tawas 0.01 1.985 -0.18 1.0005 0. tawas 0.01 mg/ml Kapur 0.00050 0.001 0.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi Pada Penambahan tawas 0.00100 0.0020 Tawas 0.0015 ppm.0005 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.0025 1.90 1.7557 Kapur (ppm) Gambar 5.0015 0.0015 0.002 0.26 1.0025 Kapur (ppm) Tawas 0.00075 0.0025 ppm Selanjutnya limbah hasil perlakuan koagulasi dan flokukasi dilewatkan pada unit filtrasi zeolit diperoleh hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut: Tabel 6.5 0 0 0.0025 ppm 3 Fosfat (ppm) 2 1 0 0 0.00125 0.0015 Tawas 0.81 0.06 1.00 0.0025 y = 0.0020 ppm dan 0.0015 1.5 1 0.32 1.2 Fosfat (ppm) 1.03 0.06 0.23 1.

Secara empiris.dan tawas 0.maka kadar fosfat setelah filtrasi zeolit semakin kecil nilai fosfat optimal dicapai pada penambahan larutan kapur 0.78 0. 0.801 Kapur (ppm) Gambar 7.001 0. terlihat semakin tinggi larutan kapur dan larutan tawas yang ditambahkan . 0.002 0.0005 0.0015 0.00200 0.5 0 0 0.958 Kapur (ppm) Gambar 8.9147 2 R = 0.001 0. berikut: 2 Fosfat (ppm) 1.8.30 0.98 0.64 0.0.0025 ppm.66 Sumber: Data Primer 2005 Dari tabel 6.002 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.1 ppm.5 1 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.0015 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.0015 0.0025 y = 0.0020 ppm .0016x -0.00150 0.6708 R2 = 0.hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan pembubuhan larutan kapurdan larutan tawas setelah filtrasi zeolit dapat dilihat pada gambar 7.5 1 0.1 ppm. 9 dan 10.0020 ppm .5 0 0 0.0005 0.0025 y = 0.011x -0.28 0.

0012x -0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.0020 Taw as 0. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan kimia sebagai penghilang Fosfat adalah sebagai berikut: .0015 0.5 0 0 0.980 Kapur (ppm) Gambar 9. Senyawa-senyawa Fosfate dapat dihilangkan dengan penambahan bahan koagulan misalnya alum.2 Fosfat (ppm) 1.0025 Gambar 10. Pada penelitian ini pemakaian dosis kapur.002 0.5 1 0.4. ferrichlorida atau ferrous sulfat. dan filtarasi zeolit sangat berpengaruh dalam menurunkan kadar Fosfat.0015 Taw as 0.0015 0.0025 y = 0.002 0.001 0. Dari beberapa referensi bahwa keberadaan Fosfat dalam air limbah dapat diturunkan dengan jalan pengendapan secara kimiawi. kapur. Pembahasan Limbah cair di lingkungan RS Bethesda Yogyakarta dilakukan pengolahan dengan menggunakan sistem aerob dan anerob.0005 0.0005 0.0025 ppm Fosfat (ppm) 2 1. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi 4.9343 R2 = 0.001 0.5 0 0 0.5 1 0.0025 Kapur (ppm) Taw as 0. tawas.

Pengaruh penambahan kapur akan menaikkan diluar pH tersebut maka pembentukan flok sempurna. maka kami pilih kapur dan tawas sebagai bahan koagulan. Efektifitas bahan kimia 3. Pada Bak Equalisasi. karena proses pembentukan flok pada proses koagulasi sangat dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia seperti kondisi pengadukan. Pembentukan flok akan berjalan baik pada range pH 5. Kesesuaian dengan proses pengolahan lain 5.7557 Dimana : x = penambahan kapur (ml) Y = penurunan kadar fosfat (mg/l) Secara keseluruhan hasil pemeriksaan kadar fosfat dengan koagulasi dan flokulasi pada konsentrasi tawas 0. pH dan bereaksi dengan bikarbonat membentuk CaCO3 sebagai basa. tapi juga aman terhadap lingkungan. 0. dan mudah didapatkan di pasaran.0020 ppm.00 pagi saat fluktuasi kualitas terjadi.0025 ppm ditunjukkan pada Gambar 6. pH. dengan pertimbangan keduanya akan saling mengkoreksi pH.6999 Gambar 5 dengan persamaan empiris y = 0. Perpaduan dari dua jenis koagulan. Limbah cair RS Bethesda yang digunakan sebagai bahan untuk penelitian penurunan kadar fosfat diambil pada Bak Equalisasi dengan pertimbangan limbah tersebut sudah merupakan gabungan dari semua sumber limbah yang dihasilkan. Efek terhadap lingkungan Dari beberapa pertimbangan diatas.0015 ppm. suhu.4 .0061x-0.8047 Gambar 4 dengan persamaan empiris y = 0. kualitas dan kuantitas limbahnya serba sama. kekeruhan. Dari hasil koagulasi / flokulasi pada Tabel 4 terlihat kecenderungan penurunan fosfat yang terjadi sebanding dengan penambahan kapur yang ditunjukkan pada : Gambar 3 dengan persamaan empiris y = 0. alkalinitas. Limbah asli diambil dalam jumlah yang cukup pada jam 09. Dosis dan perlengkapan untuk pengadukan 6. Biaya 2.0055x-0. belum melalui perlakuan pengolahan sama sekali.1. karena disamping harganya relatif murah. dan 0. Pertimbangan lumpur yang dihasilkan 4.8-7. Selanjutnya limbah dari Bak Equalisasi dikategorikan sebagai limbah asli.0097x-0.

8.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat.9147 pada penambahan tawas x-0. Berdasarkan hasil pengukuran terhadap limbah asli tersebut.5 Baku Mutu pH = 6 . diperoleh nilai p value pada masing-masing sampel lebih besar dari 0. nilai P semua variasi di atas 0.0015 ppm.70.0025 ppm.0025 ppm. formula y = 0.6999 pada penambahan tawas . dan 6.0020 ppm dan formula y = 0. Hasil analisa No lab 56 menunjukkan hasil pH = 7. formula y = 0.992.0097 x-0. 0. Dari hasil analisa data setelah filtrasi. 9 dan 10.8047 pada penambahan tawas 0. Jika ditinjau dari uji statistik.awal = 25.0025 ppm.0016 x-0. didapat nilai R2 tertinggi.0020 ppm. Semua flok yang terbentuk tidak ada lagi yang terikat pada cairan limbah terolah.05. Pada proses koagulasi dan flokulasi kadar fosfat (PO43-) diharapkan mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan penambahan larutan kapur dan tawas menjadi endapan Ca3 (PO4)2 ↓ dan Al (PO4) ↓. Selanjutnya dicari nilai R dari variasi tawas 0.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat paling efektif.70 – 1.0020 ppm.0061 x-0.0025 ppm.7557 pada penambahan tawas 0. dan 0. maka perlu dilakukan penelitian penurunan kadar fosfat dengan koagulasi-flokulasi dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan zeolit.70 – 1. dimana nilai R2 antara 0. jadi dapat disimpulkan penurunan kadar fosfat pada penambahan tawas 0. 4. 0. Pada penurunan fosfat yang dilakukan dengan filtrasi zeolit setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi terlihat kadar fosfat cenderung mengalami penurunan lagi. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula y = 0.011 0.0015 ppm. dimana konsentrasinya fosfatnya melebihi baku mutu yang ditetapkan. Ternyata diperoleh dari data statistik variasi penambahan tawas 0. Maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini terdistribusi normal. sedangkan dari uji regresi . PO43-. sedangkan konsentrasi PO43.0025 ppm adalah yang tertinggi dengan nilai R = 0. 5. sedangkan dari uji korelasi atau uji kekuatan hubungan antara dua variabel diperoleh nilai R2 di atas 0. dan formula y = 0.Limbah asli dianalisa di laboratorium dengan parameter pH.0025 ppm. Diharapkan pada proses filtrasi ini terjadi pemisahan yang lebih sempurna dari flocculant terhadap cairannya.0015 ppm.9 memenuhi syarat.05 maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini berdistribusi normal.0012 x-0. Hasil penurunan dengan filtrasi zeolit secara keseluruhan terlihat pada Tabel 6 dan Gambar 7. tidak memenuhi baku mutu.0055 0. dan 0. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula : y = 0. Penurunan PO4 secara rinci terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 3. diperoleh nilai R2 semua di atas 0.990 pada konsentrasi penambahan tawas 0. 0.6708 pada penambahan tawas 0. Jika dilihat dari uji statistik pendistribusian data dengan uji Kolmogorov Smirnov.6404 mg/l. Jadi dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar x-0.0015 ppm.0020 ppm.0025 ppm adalah yang paling efektif.70 dimana nilai R antara 0. yaitu 0.9343 pada penambahan tawas 0. maka diperoleh hasil dari masing-masing variasi tawas.

0020 ppm 0.0025 ppm R2 0. 4.795 F tabel (df1 = 1.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.7086 7.0% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.7086 Keterangan 95.735 260.7086 7. 1 2 3 Tawas 0.0015 ppm 0. df2 = 4) 7.784 F tabel (df1 = 1.958 0.fosfat pada konsentrasi penambahan tawas 0.980 F hitung 16.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0. df2 = 4) 7.0015 ppm 0. Tabel 8.271 99. Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi No.1% pengaruh kapur 96.985 F hitung 78. Analisa Data Tabel 7.801 0. kapur berpengaruh sebesar 98.1% pengaruh kapur 95.5% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.0025 ppm.8% pengaruh kapur 98.0025 ppm.0025 ppm R2 0.951 0.7086 Keterangan 80. 1 2 3 Tawas 0.5% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.3.0025 ppm setelah filtrasi adalah yang paling efektif.961 0.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat.1% pengaruh kapur 98.0% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.061 90.394 193.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat BAB V .7086 7.7086 7. kapur berpengaruh sebesar 98. Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi No.0020 ppm 0.

Saran 1. .0020 ppm dan konsentrasi larutan tawas 0. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian.KESIMPULAN DAN SARAN 5. Larutan kapur dan larutan tawas efektif menurunkan kadar fosfat dalam limbah cair RS Bethesda dengan prosentase 97.2.92 %.7557 diperoleh pada konsentrasi larutan kapur 0. maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1.1. Terhadap RS Bethesda Supaya memilih detergen yang digunakan dengan kadar fosfat rendah. 5.0061 x 0. kemurnian bahan dan ketelitian alat sangat mempengaruhi hasil penelitian selanjutnya.0025 ppm. 2. Efektifitas penurunan kadar fosfat limbah cair RS Bethesda dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dinyatakan dengan rumus empiris y=0. 2. agar penambahan koagulan dapat dilakukan setepat mungkin. Bagi peneliti lain Untuk dapat meneliti penurunan kadar fosfat dengan menggunakan metode yang lain. Perlu melakukan pemeriksaan kadar fosfat secara berulang-ulang.

Rumah sakit akan menghasilkan limbah yang bersifat infeksius. Tujuannya untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari bahan buangan atau limbah rumah sakit serta mencegah meningkatnya infeksi nosokomial di lingkungan rumah sakit.1.G. kapasitas rmah sakit yang semula 150 tempat tidur ditingkatkan menjadi 475 tempat tidur. Rumah Sakit Petronella disebut juga sebagai rumah sakit Dokter Tulung/Pitulung karena tidak memungut biaya perawatan rumah sakit. Offringa dan dr. Dalam kurun waktu 1924-1925. Salah satu upaya penyehatan lingkungan rumah sakit teresbut adalah peraturan pemerintah tentang adanya suatu satuan kerja yang bertanggungjawab terhadap penyehatan lingkungan rumah sakit yaitu Instalasi Sanitasi melaui SK Menkes No. .Offringa. semasa kepemimpinan dr.Scheurer mendirikan Rumah Sakit Petronella di kampung Gondokusuman. K. Pruys.P. J.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Rumah sakit merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh.Groot. dengan kapasitas awal 150 tempat tidur dan dikelola sepenuhnya oleh gerejagereja Gereformed di Amsterdam. toxic dan radioaktif dalam melakukan kegiatannya sehingga perlu adanya upaya penyehatan lingkungan rumah sakit. pencegahan. Rumah Sakit Petronellapun bernama resmi Het Zendingsziekenhuis Petronella Voor on en minvermogenden (Rumah Sakit Petronella untuk orang-orang yang kurang dan tidak mampu). 548/Menkes/VI/1994 tanggal 13 Juni 1994. tetapi untuk mencapai tujuan pembangunan bidang kesehatan. disamping juga merupakan pusat latihan tenaga kesehatan dan tempat untuk mengadakan pelatihan medis.J.Scheurer kembali ke Belanda pada tahun 1906 dan kepemimpinan RS Petronella selama 36 tahun berikutnya dibagi rata oleh tiga orang dokter. Rumah Sakit Rumah Sakit adalah integrasi organisasi sosial dan kesehatan yang berfungsi melayani masyarakat dengan pelayanan kesehatan secara menyeluruh baik kuratif maupun preventif serta pelayanan penderita berobat jalan mencakup lingkungan keluarga. pengobatan dan pelayanan kesehatan. dr. maka rumah sakit diharapkan berangsur akan berkembang kearah pelayanan kesehatan paripurna yang mencakup upaya peningkatan. sering dikenal sebagai bentuk pelayanan yang berorientasi pada pelayanan kuratif saja. Pada tahun 1899 dr. dr. yaitu dr. Ketika menerima subsidi dari pemerintah.J.

Lucas Gerard Johannes Samallo sebagai dokter pertama berbangsa Indonesia yang memimpinnya. Rumah Sakit Jogjakarta Tjuo Bjoin direbut dari Jepang dan berganti nama menjadi Rumah Sakit Pusat.935 m2 dengan luas bangunan mencapai 25. Supaya umum mengetahuinya bahwa Rumah Sakit Kristen. 70. Lokasi Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta terletak pada sebidang tanah yang mempunyai luas 61. tanggal 28 Juni 1949. Rumah Sakit Bethesda terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di jalan Jenderal Sudirman No. dengan dr.Sewaktu terjadi perang antara Sekutu dan Jepang.uk RS BETH /1996 tanggal 23 Maret 1996 dan kemudian diberlakukan di RS Bethesda dengan Surat Keputusan Direktur No. rumah sakit secara resmi berdiri dan beroperasi di Yogyakarta dengan nama Rumah Sakit Bethesda.966/1997 tanggal 22 Juli 1997 tentang organisasi dan tata kerja RS Bethesda Yogyakarta yang terdiri dari: • • • • • • • Direktur Wakil Direktur Pelayanan Medik Wakil Direktur Penunjang Medik Wakil Direktur Keuangan Wakil Direktur Personalia dan Umum Bidang Satuan Pengawasan Intern Bidang Sekretariat . Kotamadya Yogyakarta. Setelah proklamasi kemerdekaan. dengan batas-batas: • • • • Utara Selatan Timur Barat : Jalan Jenderal Sudirman : Universitas Kristen Duta Wacana dan Komplek DKT : Jalan Dr.3880/K. pasien-pasien Petronella dipindahkan ke rumah sakit darurat di Pingit (sekarang asrama Polisi) dan Rumah Sakit Petronella dipindahkan kembali ke Gondokusuman dan berganti nama menjadi Jogjakarta Tjuo Bjoin (Rumah Sakit Pusat Jogyakarta) dan dipimpin oleh orang Jepang.423 m2 . Wahidin : Jalan Johar Norhadi Struktur Organisasi Rumah Sakit Bethesda Struktur organisasi RS Bethesda Yogyakarta sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Pimpinan Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (DP-YAKKUM) No. maka berdasarkan hasil rapat Dewan Pimpinan YAKKUM (Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum) selaku pengawas yang berpusat di Surakarta.412 m2 dan tanah kosong dalam komplek 36. 1714 / K.

Bahan polutan yang ada merupakan hasil dari berbagai aktivitas yang menimbulkan dampak dan kemungkinan bahan polutan yang ada antara lain: 4. dan wastafel. alkohol. asam sulfat (merupakan specimen laboratorium). Kotoran lemak Deterjen Specimen laboratorium padatan Perban/kasa Spet suntikan Kapas darah Sisa makanan Kertas Plastik Kaca Sisa amputasi Sisa persalinan Sisa operasi Sisa outopsi Sisa insenerasi Gas dari sisa pembakaran di Instalasi Gizi Asap dari pembakaran di Instalasi Incenerator Uap air atau kondensat dari Instalasi Laundry 5. Air buangan dari kamar mandi. Limbah cair berupa: • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Darah.• • • • • • Bidang Perencanaan. Penelitian dan Pengembangan Bidang Pelayanan Keluarga Berencana RS Bethesda Bidang Sosial Pastoral Bidang usaha Peningkatan Kesehatan Masyarakat (UPKM) Bidang Pendidikan SPK dan Bidan Bidang Pelayanan Kesehatan (YANKES) Lempuyangwangi Bahan Polutan Rumah Sakit Bethesda Bahan polutan yang ada dapat diamati dengan jelas dari setiap kegiatan yang dilakukan RS Bethesda Yogyakarta. Limbah padat berupa: 6. Limbah gas berupa: . WC.

5 pk. dengan sistem otomatis. Pengadaan Listrik Pencahayaan atau listrik digunakan di semua ruangan yang ad. baik untuk bekerja maupun untuk penyimpanan barang atau peralatan elektronik. untuk itu pihak RS Bethesda menggunakan 5 (lima) buah pompa dengan daya 10 pk dan 7. Pengadaan listrik di RS Bethesda berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebesar 5500 kVa. 6. Mengingat bahwa rumah sakit merupakan tempat tindakan pelayanan dan perawatan orang sakit. Pengadaan Air Air bersih merupakan kebutuan mutlak yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan setiap rumah sakit dimanapun juga. RS Bethesda juga menggunakan 2 buah genset yang mempunyai daya 500 kVa dan 375 kVa.Utilitas 5. Selain menggunakan sumber listrik PLN. demikian juga untuk ruang tidur pasien atau bangsal. Yang kemudian di pompa water tower yang berjumlah 2 buah. maka kualitas dan kuantitas air yang digunakan untuk kebutuhan rumah sakit harus selalu dipertahankan agar tidak dapat mengakibatkan sumber infeksi baru bagi penderita . Jumlah dari kebutuhan air bersih untuk RS Bethesda diperkirakan ± 875 m3 per harinya. Genset beroperasi secara otomatis apabila suplai listrik dari PLN tidak berjalan atau padam. pengunjung dan karyawan. • • • • • • • Pengadaan Transportasi Pengadaan mobil operasional terdiri dari: Mobil ambulance Mobil jenazah Mobil kijang Mikrobus Minibus Sedan Open Cup : 4 buah : 1 buah : 3 buah : 2 buah : 1 buah : 2 buah : 1 buah Dengan tenaga sopir 11 orang 8. 7. yang diletakkan di dalam sumur berkedalaman30 sampai 40 meter. Fasilitas Pemadam Kebakaran . taman dan untuk pelayanan penerangan umum lainnya.

Limbah cair rumah sakit adalah limbha cair yang berasal dari rumah sakit baik ynag berasal dari dapur. 983/SK/Menkes/XI/92 menyebutkan bahwa RSU Type A adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan . Klasifikasi Rumah Sakit Secara umum industri rumah sakit dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian. ruang laboratorium. 2. b. urine. yaitu. Sedangkan Rumah Sakit Bethesda tergolong RSU Kelas Utama. ruang pasien. Pengertian Limbah Cair Rumah Sakit Limbah cair rumah sakit merupakan limbah cair dari semua sumber pembuangan misalnya kloset. ruang bedah dan runag lain dalam bnagunan kecuali limbah cair radiologi.1. Tabung pemadam kebakaran sejumlah 64 buah Pihak RS Bethesda juga bekerjasama dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kodya dan KODAM IV/Diponegoro. Type C dan Kelas Madya serta Type D dan Kelas Pratama. Hydrant. tinja. kamar mandi. Berdasarkan macam/jenis penyakit yang ditangani a. Madya. sisa bahan kimia/radiologi. Macam jumlah dan kadar zat pencemar yang dihasilkan dari setiap sumber tersebut bervariasi tergantung kegiatan/aktivitasnya dan bahan yang digunakan. yang dikelola oleh yayasan. dan Pratama. spesialistik dan subspesialistik. Keputusan Menkes RI No.2. b. Rumah Sakit Swasta. Limbah tersebut dapat berupa sisa darah. ruang operasi dan lainnya.1. yang menangani hampir semua penyakit/memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar. Rumah Sakit khusus. Rumah Sakit Negeri/ Pemerintah. tempat pencucian pakaian. C dan D. 4. Benang merah yang menghubungkan RSUP DAN RSU Swasta adalah paralelisasi antara Type B dan Kelas Utama. dapur. yang dikelola oleh Depkes dan merupakan milik pemerintah (pusat atau daerah). air bekas pencucian dan lain-lain.Sedangkan RSU Swasta dibagi atas Kelas Utama. B. yang ditempatkan di 16 titik yang dianggap dapat mewakili seluruh areal bangunan RS Bethesda. sisa obat. RSU masih dibagi lagi menjadi beberapa type/kelas RSUP (RSU Pemerintah) dapat diklasifikasikan menjadi RSU type A.Pengadaan fasilitas untuk pemadam kebakaran berupa: a. Departemen Hankam dan BUMN. 3. b. Berdasarkan status kepemilikan /pengelolaan a.1. 2. yang menangani hanya 1 (satu) atau beberapa jenis penyakit tertentu. Rumah Sakit Umum (RSU).

pantry. floor drain. Ruang Dapur: Kamar mandi. floor drain. 24. Ruang Rawat Darurat: Kamar mandi. pantry. 20. buangan pembilas air panas. tempat buang exudat pasien. urinoir. tempat cuci alat-alat dapur. urinoir. Untuk mengetahui jenis limbah yang dihasilkan yang digunakan sebagai dasar cara pengolahannya maka perlu diketahui sumber-sumber yang menghasilkan limbah rumah sakit. kamar mandi. tempat cuci instrumen medik. urinoir. Ruang Laundry: tempat rendaman linen kotor. Wastafel. tempat cuci instrumen medik. tempat cuci instrumen medik. tempat cuci sayur/buah. floor drain. wastafel. 15. Wastafel. Terakhir RSU Type D atau Kelas Pratama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis dasar. Ruang Haemodialisa: Kamar mandi. 2. Fasilitas Sosial (Kafetaria. 25. Wastafel. Sumber-sumber limbah rumah sakit meliputi: 14. 19. tempat mencuci jenazah. 26. Ruang Kamar Jenazah/Autopsi: Kamar mandi. Spoelhock. Wastafel. tempat cuci perabot makan. buangan dari pembilas mesin cuci. tempat cuci instrumen medik. Ruang Rawat Jalan: Kamar mandi. 17. Spoelhock. RSU Type C atau Kelas Madya adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik dasar. Sumber Limbah Cair Rumah Sakit Dalam melakukan kegiatan pelayanan kesehatan rumah sakit akan menghasilkan limbah cair. Pemukiman (Rumah Dinas. Sumber Penghasil Limbah RS Bethesda . Ruang Operasi: Kamar mandi. RSU Type B atau Kelas Utama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan subspesialistik terbatas. Wastafel. Wastafel. tempat cuci preparat. tempat cuci beras. urinoir. Unit Radiologi: wastafel. tempat buang exudat pasien. Unit Perkantoran/Perpustakaan: Kamar mandi. Wastafel. Asrama): Kamar mandi. 18. pantry.3. Instalasi Laboratorium Klinik/Patologi Anatomi: Kamar mandi. urinoir.subspesialistik luas. Ruang Perawatan berasal dari: Kamar mandi. tempat cuci perabot makan. Masjid): Kamar mandi. tempat buang exudat pasien. tempat pembedahan mayat/autopsi. tempat cuci instrumen medik. 22. 23. Wastafel. urinoir. tempat wudlu. 21.1. tempat cuci instrumen medik. 16. Spoelhock. tempat cuci film. Spoelhock.

Laundry Laundry juga merupakan salah satu instalasi penting yang umum dimiliki oleh setiap rumah sakit tidak terkecuali RS Bethesda. 2. 8. lemak dan detergen untuk kemudian diolah secara bertingkat. kimia dan biologis. menyalurkan air buangannya ke saluran assenering alur timur baik secara gravitasi maupun dengan bantuan pompa. wastafel) dan di tambah buangan dari asrama putra AKPER RS Bethesda. karena selruh kegiatan RS Bethesda yang berada di bagian timur seperti ruang rawat inap. bahan kimia beracun dan radio aktif. Adapun sumber-sumbernya adalah sebagai berikut: 5. yang mengandung minyak. Sifat Fisik . laboratorium. Air limbah ini mengalir secara gravitasi dengan 13 bak kontrol di titik-titik tertentu guna mengawasi lancar tidaknya aliran. d.1. kantor. ruang farmasi. yang disalurkan melalui assenering baik assenering DKP maupun assenering pihak RS Bethesda sendiri menuju instalasi pengolahan air limbah. Karakteristik Limbah Cair Rumah Sakit Air limbah pada intinya dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu sifat fisik. parasit. ruang radiologi dan lain-lain yang menghasilkan limbah.Limbah rumah sakit adalah semua air buangan yang berasal dari aktivitas instalasiinstalasi rumah sakit yang kemungkinan besar mengandung mikroorganisma. 7. Instalasi gizi (dapur) Kegiatan instalasi gizi yaitu melayani kebutuhan makanan pasien maupun karyawan sehingga dari kegiatan ini juga dihasilkan limbah cair. Dari laundry ini dihasilkan limbah cair dengan kandungan detergen yang tinggi sehingga memilki pH dan suhu yang tinggi. 6. Limbah cair alur timur Limbah cair alur timur memilki karakteristik pencemar yang lebih kompleks.4. Limbah cair alur barat Limbah cair dari alur barat lebih didominasi oleh air buangan yang berasal dari ruang-ruang rawat inap (kamar mandi/WC.

Pb. Sifat Bakteriologis . Cd. Zat organik tersebut sebagian besar mudah terurai (degradabel) yang merupakan sumber makanan dan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme yang lainnya.Penentuan derajat kekotoran air limbah sangat dipengaruhi oleh adanya sifat fisik yang mudah dilihat. e. Bahan Organik Air limbah dengan pengotoran sedang. Cr. O3 f.9 % dan sisanya terdiri dari partikel-partikel tidak terlarut 0. Adapun sifat fisik yang penting adalah kandungan zat padat sebgaai efek estetika. Cu. 25 % karbohidrat dan 10 % lemak. Fe dan Hg Metan Hidrogen Fosfor Gas seperti NH3. 2. yang dijumpai dalam air limbah bersisikan 40-60 % adalah protein. Mg. CH4. Zn. maka sekitar 75 % dari benda-benda tercampur dan 40 % dari zat yang dapat disaring adalah berupa bahan organik.1 %. Komposisi limbah cair rumah sakit sebagian besar terdiri dari 99. 25-50 % berupa karbohidrat serta 10 % lainnya berupa lemak. bau. kejernihan. Zat organik terdiri dari 65 % protein. Sifat Kimia Sifat kimia dalam air limbah dapat diketahui dengan adanya zat kimia air buangan. warna dan temperatur. Partikel-partikel padat terdiri dari zat organik 70 % dan anorganik 30 %. Bahan Anorganik Sedangkan zat organik yang penting peranannya di dalam mengontrol air limbah adalah: pH Kadar Khlor Alkalinitas Kadar Sulfur Zat beracun Logam berat seperti: Ni. Adapun zat kimia yang penting dalam air limbah pada umumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1.

18. protozoa dan algae Binatang dan tanaman Dari klasifikasi tersebut diatas.Sifat bakteriogis pada air buangan perlu diketahui untuk menaksir tingkat kekotoran air limbah sebelum dibuang ke badan air.Instalasi aerob Instalasi aerob berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks yang lolos dari pengolahan sebelumnya menjadi senyawa yang lebih sederhana. Limbah ini dipompakan ke instalasi sand filter dan sebelumnya jam.Bak ekualisasi Bak ekualisasi berfungsi untuk mencampur limbah dari berbagai sumber sehingga menjadi limbah yang homogen dengan waktu tinggal 27 jam.Instalasi fish pond dilakukan disinfeksi dengan memberikan kaporit melalui sistem injeksi/suntikan dengan tujuan membunuh bakteri patogen. Waktu tinggal dalam bak 8 jam.1. 15.Instalasi pengendapan (settling) Instalasi pengendapan (settling) berfungsi untuk memberi kesempatan lumpur agar mengendap. 16. Protista. 14.Instalasi sand filter Instalasi sand filter berfungsi untuk menyaring limbah sehingga diperoleh kualitas yang lebih baik lagi. 13.Instalasi penampung awal Instalasi penampung awal berfungsi untuk menampung keseluruhan limbah dari RS Bethesda yang berasal dari cucian. Waktu tinggal dalam bak 7 . pada proses ini penambahan oksigen dilakukan dengan bantuan blower. Unit-unit Pengolahan Air Limbah RS Bethesda 11. Waktu tinggal dalam bak ini 16 jam. protozoa dan algae sangat penting di dalam proses dekomposisi atau stabilisasi bahan-bahan organik 2.5. jamur.Instalasi penampung hasil Instalasi penampung hasil berfungsi untuk menampung limbah yang telah mengalami pengolahan (limbah terolah). 12. 17. meliputi: bakteri. 2. Waktu tinggal dalam bak pengendspan 7 jam. dapur mauun rawat inap.Instalasi anaerob biofilter Instalasi anaerob biofilter berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana dengan bantuan bakteri yang ada pada biofilter. Mikrooganisme yang penting dalam air limbah dan air permukaan dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu: 1.

Fosfat Fosfat berada dalam air limbah dalam bentuk organik. Sedangkan menurut Juli Sumirat. polyphosfat dan orthophospat.Instalasi fish pond atau kolam ikan berfungsi untuk tempat penampungan limbah terolah yang telah tersaring di sand filter. tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air. Di daerah pertanian ortofophosfat berasal dari bahan pupuk. Poyfosfat banyak digunakan dalam pembuatan detergen sintetis. Fosfat kompleks mewakili kira-kira separuh dari fosfat air limbah perkotaan dan berasal dari penggunaan bahan-bahan detergen sintetis. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat bagi pertumbuhannya. Sisa yang 70 % dari fosfor yang masuk pada umumnya dilepaskan bersama bunagan instalasi sekunder. Fosfat kompleks mengalami hidrolisa selama pengolahan biologis menjadi bentuk ortofosfat (PO43-) Dari konsentrasi rata-rata fosfor keseluruhan sebanyak 10 mg/l berada dalam air limbah perkotaan . .Instalasi digester dan biogas Instalasi digester dan biogas berfungsi untuk menaqmpung semua lumpur yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah. Bentuk-bentuk penting fosfat dalam air limbah adalah pospor organik. industri dan pertanian. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan. Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut.2. industri logam dan sebagainya. 20. kira-kira 10 % dibunag sebagai bahan tak terpakai selama pengendapan primer dan 10 % hingga 20 % lainnya digabungkan ke dalm sel-sel bakteri selam apengolhan biologis. Dan adanya fosfat dalam air limbah dapat menghambat penguraian pada proses biologis. Poliphosfat dapat memasuki sungai melalui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan detergen yang mengandung fosfat seperti industri pencucian. Dalam air limbah senyawa fosfat dapat berasal dari limbah penduduk. Komponen fosfat dipergunakan untuk membuat sabun sebagai pembentuk buih. 19. Sebagai ortophosfat anorganik atau sebagai fosfat-fosfat kompleks. Kolam ikan ini dilengkapi dengan pancuran air.Instalasi pengering lumpur (drying bed) Instalasi pengering lumpur befungsi untuk menampung endapan lumpur dari digester untuk dikeringkan. Bermacam-macam jenis fosfat juga dipakai untuk penngolahan anti karat dan anti kerak pada pemanas air (boiler). 2. detergen dapat mempermudah absorbsi racun pada ikan melalui insang dan bersifat persisten sehingga terjadi akumulasi. yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan.

kadang-kadang dikerjakan pada tahap ketiga setelah pengolahan biologis guna pembuangan fosfat serta peningkatan pH buangan dalam persiapan bagi proses pembuangan ammonia-nitrogen. garam besi dan kapur adalah sebagai berikut: Pengendapan dengan alum: AL2(SO)3 + 2HPO4 –2 2AlPO4 + 3SO4-2 + 2H Pengendapan dengan garam besi: FeCl3 + HPO4 –2 FePO4 + H+ + 3Cl- Pengendapan dengan kapur: 5Ca(OH)2 + 3HPO4 –2 Ca5(PO4)3OH + 3H2O + 6OH- 2. sehingga air menjadi keruh dan berbau karena pembusukan lumut-lumut yang mati. Reaksi kimia dari proses pengendapan secara kimiawi antara fosfat dengan alum. lumpur yang diproduksi jumlahnya lebih besar. Pemisahan Fosfat Secara umum analisa fosfat meliputi 2 (dua) langkah : . Bahan-bahan kimia itu dapat ditambahkan sebelum pengendapan primer. ferrichlorida atau ferrous sulfat. misalnya alum. Bila bahan-bahan kimia dimasukkan langsung ke dalam tangki aerasi dari suatu instalasi lumpur yang diaktifkan. Pada keadaan “eutrotop” tanaman dapat menghabiskan oksigen dalam sungai atau kolam pada malam hari atau bila tanaman tersebut mati dan dalam keadaan sedang mencerna (digest) dan pada siang hari pancaran sinar matahari kedalam air akan berkurang. sehingga dihasilkan pengurangan beban pada proses pengolahan biologis. alum dan garam-garam besi dapat dimasukkan ke dalm tanki aerasi selama proses lumpur diaktifkan atau bahan-bahan kimia itu dapat dimasukkan pada suatu tahap pengolhan primer. sehingga hanya sedikit peralatan tambahan yang dibutuhkan.1. kapur. Sebagian besar dari bahan organik tersebut dibuang.01 mg/l). Banyak metode yang telah diusulkan untuk pembuangan kelebihan fosfat. Senyawa-senyawa fosfat dapat dibuang dengan penambahan koagulan. Walaupun demikian. begitu pula fosfatnya. Metode ynag paling efektif meliputi pengendapan kimiawi. pertumbuhan tanaman dan ganggang akan terhalang. sehingga proses fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen juga berkurang.Bila kadar fosfat pada air alam sangat rendah (<0. terutama yang menggunakan kapur. maka pengolahan kimiawi dan biologis terjadi bersama-sama. keadaan ini dinamakan “oligotrop”. Pengendapan kimiawi.2. Pembuangan limbah yang banyak mengandung fosfat ke dalam badan air dapat menyebabkan pertumbuhan lumut dan mikroalgae yang berlebih yang disebut “eutrophication” .

tetapi faktor ini telah dikurangi seminimum mungkin (sangat sesuai untuk hidrolisa fosfat terikat) dengan bijaksana memilih kekuatan asam lebih disukai terhadap “fosfat terikat” pada teknik ini. terlarut. Seperti ortofosfat dan fosfat dari hidrolisa asam. dan tersuspensi) dan masing-masing secara analisis dibagi menjadim tiga tipe kimiawi seperti telah diuraikan diatas yaitu ortofosfat fosfat yang dapat dihidrolisa dengan asam fosfat organik . Pemisahan “yang dapat disaring” (atau “terlarut”) dari “partikel” fosfat tergantung filter membran 0. tetapi telah dipilih pembedaan analisa. Dua belas fosfat tersebut dapat dilihat pada tabel 1. Bagian-bagian fosfat yang diubah menjadi ortofosfat hanya dengan perombakan oksidatif terhadap bahan organik disebut fosfat organik/terikat secara organik. Tetapi perlu diingat bahwa sebagian kecil dari fosfat terikat yang ada tidak dapat menghindari cara hidrolisa ini dan dilaporkan sebagai bagian dari ortofosfat. Klasifikasi Fosfat Tipe Kimiawi Total FISIK Terlarut Partikel . d. Penyaringan pendahulluan dengan filter serat gelas dapat dilakukan untuk mempercepat proses penyaringan.45 µm yang dipergunakan. Hidrolisa tidak dapat dihindrakan untuk membebaskan fosfat dari senyawa organik. Didalam praktek.c. Menentukan secara kolorimetris ortofosfat yang larut. yang tergantung pada fosfat terlarut dan tersuspensi.45 µm. Tidak dapat dituntut bahwa penyaringan melalui filter membran Penggunaan 0.45 µm dapat memisahkan dengan sebenarnya antara fosfat yang istilah “yang dapat disaring” (lebih baik “yang larut”) untuk tersuspensi dengan yang terlarut. Pemisahan fosfor kedalam berbagai bentuk telah luas didefinisikan secara analitis. Pemilihan filtrasi dengan membran melebihi ketebalan filtrasi dilakukan karena kemungkinan diperoleh lebih besar atau pemisahan ukuran partikel dengan tekinik pemisahan membran. Hidrolisa dengan asam pada temperatur mendidih untuk mengubah fosfat dalam bentuk terlarut dan partikel menjadi ortofosfat yang dapat disaring. Kekuatan oksidasi yang diperlukan untuk konversi tergantung pada bentuk dan jumlah dari fosfat organik yang ada. Fosfat yang dapat langsung diperiksa secara kolorimetris tanpa hidrolisa pendahuluan atau perombakan secara oksidatif dan dianggap sebagai “ortofosfat”. sehingga dapat diperguakan untuk tujuan interpretasi. Ortofosfat terdapat dalam bentuk terlarut dan partikel. Tabel 1. fosfat organik terdapat dalam larutan dan partikel. fosfat total yang dapat dalam sampel dapat dipisahkan pada analisa dengan penyaringan kedalam bagian yang disaring dan partikel. menguraikan bentuk fosfat yang ditentukan dalam filtrat yang melalui membran 0. Merubah bentuk fosfor menjadi ortofosfat yang larut. Keseluruhannya ada tiga bagian (total. Biasanya terdapat sedikit variasi.

Ortofosfat partikel. Total ortofosfat terlarut dan partikel c.4. kemudian membentuk jonjot mikro (mikro flok). Total fosfat yang dapat dihidrolisa oleh asam. b. g. Organik a. Total fosfat terlarut dan tidak terlarut. Kolorimetri 1 Perombakan 2. Pola Klasifikasi Fosfat 2. k. Fosfat partikel organik. Total Ortofosfat 2. Fosfat partikel yang dapat dihidrolisa oleh asam l. Total fosfat organik terlarut dan partikel e. Sampel Tanpa penyaringan Kolorimetri langsung A. Total Ortofosfat 2. Fosfat organik terlarut.Total Orto Yang dapat dihidolisa oleh asam. Kolorimetri B. Total fosfat terlarut yang dapat dihidrolisa h. d. i. Hidrolisa H2S04 2. Total terhidrolisa ortofosfat C. f. Total fosfat terlarut . terlarut dan partikel. Hidrolisa H2S04 2.3. Ortofosfat terlarut dan yang dapat dihidrolisa dengan asam C. Total Fosfat terlarut Gambar 1. Total Fosfat Partikel Fosfat filtrat Kolorimetri langsung A. Kolorimetri 1 Perombakan 2. Total fosfat partikel j. dan masa inti partikel. Kolorimetri B. Koagulasi dan Flokulasi 2. Ortofosfat terlarut. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi sebagai berikut : .1 Koagulasi Koagulasi adalah dicampurkannya koagulan dengan pengadukan secara cepat guna mendistabilisasi koloid dan solid tersuspensi yang halus.

Jenis Koagulan Pemilihan jenis koagulan didasarkan pada pertimbangan segi ekonomis dan daya efektivitas daripadakoagulan dalam pembentukan flok. kalsium dan magnesium tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap proses koagulasi. Alkalinitas dalam air dapat membentuk flok dengan menghasil ion hidroksida pada reaksihidrolisa koagulan. Kadar ion terlarut Pengaruh ion-ion yang terlarut dalam air terhadap proses koagulasi yaitu : pengaruh anion lebih bsar daripada kation. l. Koagulan dalam bentuk larutan lebih efektif dibanding koagulan dalam bentuk serbukatau butiran. Dosis koagulan Untuk menghasilkan inti flok yang lain dari proses koagulasi dan flokulasi sangat tergantung dari dosis koagulasi yang dibutuhkan Bila pembubuhan koagulan sesuai dengan dosisyang dibutuhkan maka proses pembentukan inti flok akan berjalan dengan baik. Suhu air Suhu air yang rendah mempunyai pengaruh terhadap efisiensi proses koagulasi. Derajat Keasaman (pH) Proses koagulasi akan berjalan dengan baik bila berada pada daerah pH yang optimum. . n. Sebaliknya pada tingkat kekeruhan air yang tinggi maka proses destabilisasi akan berlangsung cepat. Bila suhuair diturunkan . m. Untuk tiap jenis koagulan mempunyai pH lainnya.i. o. Alkalinitas Alkalinitas dalam air ditentukan oleh kadar asam atau basa yang terjadi dalam air (Tjokrokusumo. Dengan demikian ion natrium. 19920. optimum yang berbeda satu sama k. Tingkat kekeruhan Pada tingkat kekeruhan yang rendahproses destibilisasi akan sukar terjadi. Tetapi apabila kondisi tersebut digunakan dosis koagulan yang rendah maka pembentukan flok kurang efektif. Dalam pengadukan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengadukan harus benar-benar merata. Kecepatan pengadukan Tujuan pengadukan adalah untuk mencampurkan koagulan ke dalam air. Kecepatan pengadukan sangat berpengaruh terhadap pembentukan flok bila pengadukan terlalu lambat mengakibaykan lambatnyaflok terbantuk dan sebaliknya apabila pengadukan terlalu cepat berakibat pecahnya flok yang terbentuk p. sehingga semua koagulan yang dibubuhkan dapat bereaksi dengan partikel-partikel atauion-ion yang berada dalam air. j. maka besarnya daerah pH yang optimum pada proses kagulasi akan berubah dan merubah pembubuhan dosis koagulan.

. d. 1986). 1995). Ada dua jenis proses flokulasi yaitu : c. Pada umumnya kecepatan aliran cairan akan berubah terhadap tempat dan waktu.4. yang bersifat basa dan disertai keluarnya panas yang tinggi. CaO adalah bahan mudah larut dalam air dan menghasilkan gugus hidroksil yaitu Ca(OH)2. prosesnya disebut flokulasi perikinetik. powder h.K. 1986. Flokulasi Flokulasi adalah pengadukan perlahan terhadap larutan jonjot mikro yang menghasilkan jonjot besar dan kemudian mengendap secara cepat (Tjokrokusumo. Flokulasi perikinetik Flok yang diakibatkan oleh adanya gerak thermal (panas) yang dikenal sebagai gerak Brown. air limbah maupun industri lainnya. 2. Sifat-sifat fisik dan kimia Hydrate lime : g. sebagian besar umumnya berwarna putih dan pada tinhkat tinggi dapat berwarna abu-abu. Dengan adanya perbedaan kecepatan aliran media cair akan mempunyai aliran kecepatan yang berbeda pula akibatnya akan terjadi tumbukan atau kontak antar partikel. Kapur (lime) secara umum terdapat dalam dua bentuk yaitu CaO dan Ca(OH)2. Cara kerjanya adalah kapur ditambahkan untuk mereaksikan alkalibikarbonat serta mengatur pH air sampai sehingga menyebabkan pengendapan. sehingga terbentuk Ca(OH)2. Proses pengendapan ini akan berjalan secara efektif apabila pH air antara 6 – 8 (Considine).2. dengan notasi G. Bentuk kristal. Sifat-Sifat Kapur (lime) dan Penggunaan nya. Menurut Tarmiji. kapur dapat mengurangi kandungan bahan-bahan organik. penggunaan dari kapur antara lain dibidang kesehatan lingkungan untuk pengolahan air kotor. Hydrate lime dihasilkan dari reaksi quickime (CaO) dengan air. Gerak acak dari partikel-partikel koloid yang ditimbulkan karena adanya tumbuhan molekul-molekul air. Flokulasi orthokinetik Flokulasi orthokinetik adalah suatu proses terbentuknya flok yang diakibatkan oleh terbentuknya gerak media (air) misalnya pengadukan (Sank R. akan mengakibatkan terjadinya gabungan antar partikellebih sangat kecil 1 < 100 milimikron (Sank R. Warna. 1986).3. Perubahan kecepatan dari satu titik ke titik lainnya dikeal sebagai gradien kecepatan.2. Pada pengolahan air kotor.K.

Hydrate lime siap bereaksi dengan asam dan gas sehingga tentu saja berkemampuan menetralisasi asam. Selain CaO juga MgO serta molekul-molekul lainnya tergantung pada batuan kapur yang asli dari alam. Penggunaan berbagai keperluan maka batuan kapur dari alam biasanya akan mengalami proses pembakaran terlebih dahulu yang disebut “calcination”. Hasil dari proses ini antara lain adalah CaO ditambah CO2 yang keluar sebagai gas. karena kalsium hidroksida adalah termasuk basa kuat.10 g Ca(OH)2/l dapat memberi pH kira-kira 11. Contoh reaksi yang terjadi pada proses “calcination” ini apabila batuan kapur dari alam berkomposisi sebagai kombinasi dari kalsium dan Magnesium Karbonat adalah sebagai berikut: CaCO3Mg CO3 CaOMgO + 2CO2 Calcim Oxide (CaO) adalah merupakan bahan yang mudah larut dalam air dengan mengeluarkan panas yang tinggi (Highleyexotermically).7.8/l memberikan pH sebesar 12. j. l. kandungan 1. Selain itu.i. pH. Kalsium Hydrated lime memiliki tingkat kepadatan kira-kira 2. konsentrasi 0.3 pada suhu 250C.85 Ca(OH)2/l air pada suhu 00C sampai0. Pada larutan 250C. Kepadatan. reaksi antara CaO dan air akan menghasilkan gugus hidroksil Ca(OH)2 yang bersifat basa dengan reaksi sebagai berikut: CaO + H2O Ca(OH)2 + heat Ca(OH)2 Ca++ + 2OH- Karena sifat-sifat kapur dapat digunakan sebagai pengendap terhadap fosfat maka reaksi yang terjadi adalah 3 Ca2+ + 2PO43Ca3 (PO4)2 Penggunaan Kapur . tingkat kelarutan dari kira-kira 1.3 g/gm3 Kelarutan.7 g/l pada suhu 1000C. Netralisasi asam . k.

Proses pengolahan buangan industri besi/baja. fluorida dan bahan-bahan organik. Proses pengolahan air bekas.65 m2) lantai yang mengandung kotoran ayam. Alum atau tawas merupakan bahan koagulan. air kapur dapat berguna sebagai bahan penurun kesadahan. j. kapur dapat befungsi antara lain dalam pengendalian keasaman digester. . Sifat-Sifat Tawas dan Penggunaan nya Persenyawaan Alumunium Sulfat (Al2(SO4)3) atau sering disebut tawas adalah suatu jenis koagulan yang sangat populer secara luas digunakan. disini kapur berfungsi sebagai bahan koagulan. memperkecil kadar silika. sebagai bahan bangunan.Kapur telah diikenal sebagai bahan yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan diantaranya dipakai pada bidang-bidang industri misalnya industri kimia. sudah dikenal bangsa Mesir pada awal tahun 2000 SM. Kapur dapat digunakan untuk mengurangi gas SO2 yang keluar dari pembakaran batu bara atau minyak yang mengandung sulfur yang tinggi melalui suatu proses yang disebut “wet scrubing”. Khusus di sektor lingkungan kapur dapat berguna dalam: f. i. menetralisasi keasaman. yang paling banyak digunkan karena bahan ini paling ekonomis 9murah). kapur dapat digunkan untuk mengeringkan serta mengurangi bau kotoran ayam yang berceceran di laniat kandang. Pada peternakan ayam. mudah didapatkan di pasaran serta mudah penyimpanannya. dan lainlainnya. h. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai “geomedical” untuk mencegah parasit-parasit dan bnayak penyakit ayam. Dosis yang biasa dipakai pada peternakan ayam adalah sekitar 1 lb (0. pertanian dan lain-lain. Selain itu dapat juga mengurangi kadar BOD dengan cara menyerap antara 40% sampai 50 % bahan organik terlarut maupun tidak terlarut.5. kertas. mangan. penyerapan bau (deodorant) dan sebagai desinfektan. Proses pengolahan air. Kapur juga dapat dipergunakan sebagai penghilang fosfor dalam air.45 kg) Hydrates Lime [Ca(OH)2] pada setiap 3-5 ft2 (2. 2. g. karena salah satu cara penghilangan fosfor dalam air adalah pengendapan kimiawi. kapur digunakan untuk menetralisir asam sulfat bebas (free sulfuric acid ) dan mengendapkan garam-garam besi yang terdapat pada limbah industri tersebut. Alum atau tawas sebagai penjernih air mulai diproduksi oleh pabrik pada awal abad 1500.79-4.

2. Dengan demikian supaya terjadi pengendapan hasil kali konsentrasi yang bereaksi harus lebih besar dari pada Ksp nya.sehingga terjadi reaksi Al3+ + PO43AlPO4 Pengendapan dapat terjadi apabila hasil kali { Al3+ }dan { PO43 -} lebih besar dari Ksp AlPO4 . yang sangat dipengaruhi oleh nilai pH yang bersangkutan.7.3 .5 sampai 7.+ 4 H2O Ionisasi dai air sendiri akan terbentuk ion hidroksida sebagai berikut: H2O H+ + OH- Kemudian terjadi reaksi antara ion Al3+ dengan ion hidroksida sebagai berikut: 2Al3+ + 6 OH2Al(OH)2 Pengikatan ion hidroksida tersebut di dalam air akan menurunkan alkalinitas air sehingga sebaiknya digunkan bahan tambahan yang dpat meningkatkan nilai alkalinitas seperti kapur.Reaksi yang terjadi jika alum dimasukkan ke dalm air. Alum tersebut akan larut di dalam air dengan reaksi sebagai berikut: AL2(SO4)3 . Ksp AlPO4 sebesar 6. Zeolit Zeolit adalah suatu alumnosilikat yang mempunyai struktur berpori dengan saluran dalam rangka kristal. soda abu atau soda kaustik (Natrium Oksida) Reaksi yang terjadi: AL2(SO4)3 + 3Ca(OH)2 2Al(OH)3 + 3CaSO4 AL2(SO4)3 + 3Na2CO3 + H2O 2Al(OH)3 + 3Na2SO4 + 3CO2 Oleh karena tawas /alum mempunyai sifat koagulan dalam larutan maka bila tawas bersenyawa dengan limbah yang mengandung unsur fosfat .10-19 . yaitu terjadi proses hidrolisis. yang di dalamnya ditempati oleh molekul air dan ion ion logam alkali. Range pH untuk jenis koagulan alum adalah sebesar 5. 14H2O 2Al3+ + 3SO42.8. reaksi yang kan terjadi reaksi hipotik. Alum yang dilarutkan ke dalam air akan bereaksi dengan kapur atau bahan lain seperti Soda Abu atau Natrium Bikarbonat (Na2CO3). Reaksi tersebut antara ion Al dengan ion OH.Unit .

Unit unit tersebut saling berikatan membentuk jaringan anionik dalam tiga dimensi. Ion-ion logam tersebut dapat diganti oleh kation lain tanpa merusak struktur zeolit dan dapat menyerap air secara reversible. feldspar dan kuarsa dan ditemukan di daerah sekitar gunung berapi atau mengendap pada daerah sumber air panas (hot spiring). Dengan demikian.dasar pembentuk zeolit adalah SiO4 dan AlO4 yang membentuk tetra hedral. Zeolit tidak dapat diidentifikasi hanya berdasarkan analisa komposisi kimianya saja.1985 ) menjelaskan bahwa: Kecepatan pertukaran kation dalam zeolit dipengaruhi oleh besar butiran zeolit.Dengan sifat di atas maka zeolit dapat bekerja sebagai penukar ion dan sebagai penyaring melalui adsorpsi selektif atau penolakan molekul karena adanya penolakan molekul karena adanya perbedaan dalam ukuran molekul dan faktor lainnya Selanjutnya dari hasil pengujian terhadap beberapa aspek yang ada kaitannya dengan pertukaran ion pada zeolit ( Komar bersama rekan . melainkan harus dianalisa strukturnya. Mineral alam zeolit biasanya masih tercampur dengan mineral lainnya seperti kalsit.Perbandingan antara Si dan Al berkisar antara 1:1 sampai 100:1. yang pada saat ini zeolit di Indonesia dipasarkan masih dalam bemtuk alam terutama pada pemupukan bidang pertanian. Hal ini dikarenakan dalam air buangan zeolit selain menyerap ion amonium juga menyerapion ion lain seperti Ag+. yang saat itu dikenal sebagai molecular materials. Struktur kristal zeolit dimana semua atom Si dan Al dalam bentuk . tekanan uap air setempat dan komposisi air tanah lokasi kejadiannya. gypsum.Struktur yang paling stabil adalah zeolit yang perbandingan Si dan Al nya adalah 1:1. K+ dan lain-lain.Zeolit biasanya ditulis dengan rumus kimia oksida atau berdasarkan satuan sel kristal. Mineral zeolit telah dikenal sejak tahun 1756 oleh Cronstedt ketika menemukan Stilbit yang bila dipanaskan seperti batuan mendidih (boiling stone) karena dehindrasi molekul air yang dikandungnya. Hal itu menjadikan zeolit dengan warna dan tekstur yang sama mungkin berbeda komposisi kimianya bila diambil dari lokasi yang berbeda disebabkan karena kombinasi mineral yang berupa partikel halus dengan impurities lainnya. Pada tahun 1954 zeolit diklasifikasi sebagai golongan mineral tersendiri. zeolit merupakan mineral yang terdiri dari kristal alumino silikat terhidrasi yang mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam kerangka tiga dimensi. Pemanfaatan zeolit masih belum banyak diketahui secara luas.Zeolit juga ditemukan sebagai batuan endapan pada bagian tanah jenis basalt dan komposisi kimianya tergantung pada kondisi hidrotermal lingkungan lokal. Kapasitas penyerap zeolit akan bertambah dengan bertambah nya berat zeolit. Zeolit yang diaktifkan maupun yang tidak diaktifkan menyerap ion amonium dari air buangan lebih kecil dari pada larutan NH4Cl. seperti suhu.

Jumlah molekul air sesuai dengan jumlah pori-pori atau volume ruang hampa yang akan terbentuk bila unit sel kristal zeolit terus dipanaskan.50 meq/g) dan vermikulit (11. Cu dsb. KTK dari zeolit bervariasi dari 1. X.50 meq/g).2 Sifat Zeolit Zeolit mempunyai struktur berongga dan biasanya rongga ini diisi oleh air dan kation yang bisa dipertukarkan serta memilki ukuran pori yang tertentu. 7. Y.03-0. seperti kaolinit (0. zeolit hanya dapat diidentifikasi berdasarkan unit bangun sekunder. grup ZSM/AlPO4 (Zeolite Sielving Marerials/Aluminium Fosfate) dan bahkan akhir-akhir ini dikenal grup zeotip. Zeolit sintetik dihasilkan dari beberapa perusahaan seperti Union Carbide. 2. yaitu material seperti zeolit tetapi bukan senyawa alumino-silikat. penyerap bahan dan katalisator.5 – 6 meq/g. meskipun yang mempunyai nilai komersial ada sekitar 12 jenis. Berdasarkan UBS semua zeolit baik dalam bentuk alami atau sintetik. diantaranya klinoptilolit. zeolit dapat berfungsi sebagai katalis yang banyak digunakan pada reaksi petrokimia. Zeolit dengan struktur “framework” mempunyai luas permukaan yang besar dan mempunyai saluran yang dapat menyaring ion/molekul. filipsit.tetrahedral (TO4) disebut unit bangun primer. Zeolit dapat melepaskan molekul air dari dalam rongga permukaan yang menyebabkan medan listrik meluas ke dalam ronggs utama dan akan efektif terinteraksi dengan molekul yang akan diabsorbsi.6. Bila atom Al dinetralisir dengan ion polivalen. Oleh karena itu zeolit dapat dimanfaatkan sebagai : penyaring molekuler. Dehidrasi. Nilai KTK zeolit ini banyak bergantung pada jumlah atom Al dalam struktur zeolit. penukar ion.80-1. mordernit. Sifat dehidrasi dari zeolit akan berpengaruh terhadap sifat adsorpsinya. Sifat zeolit meliput i : 6. Pada saat ini dikenal sekitar 40 jenis zeolit alam. biasanya dikenal sebagai KTK (Kemampuan Tukar Kation). yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan KTK batuan lempung. ICI dan mobil Oil dan lebih dari 100 jenis telah dikenal strukturnya antara lain zeolit A. misalnya logam Pt.15 meq/g). Kemampuan pertukaran ion (adakalanya dengan istilah kemampuan penyerapan ion atau sorpsi) zeolit merupakan parameter utama dalam menentukan kualitas zeolit yang akan digunakan. kabarsit dan erionit. KTK adalah jumlah meq ion logam yang dapat diserap maksimum oleh 1 g zeolit dalam kondisi kesetimbangan. Adsorbsi . bentonit (0.

K. 9. Penukar ion Ion-ion pada rongga atau kerangka elektrolit berguna untuk menjaga kenetralan zeolit.34 %. Analisis lebih lanjut terhadap zeolit alam Wonosari menunjukkan bahwa zeolit mempunyai rasio Si/Al 4. Zeolit Alam Zeolit alam terbentuk karena adanya proses perubahan alam (zeolitisasi) dari batuan vulkanik tuf.39 5 dan 1. dan jenis anion. . volume pori 74.Zeolit juga mampu memisahkan molekul zat berdasarkan ukuran dan kepolarannya. rerata jejari pori 60.6. Penukaran kation dapat menyebabkan perubahan beberapa sifat zeolit seperti stabilitas terhadap panas. Sifat sebagai penukar ion dari zeolit antara lain tergantung dari : sifat kation. Dari jumlah tersebut hanya 20 jenis yang terdapat dalam batuan sedimen terutama sedimen piroklastik yang berbutir halus (tuf) Komposisi dan struktur zeolit kebanyakan terdiri dari mineral mordernit dan klinoptillit.13 m2/g. 2.54 dan memilki kandungan logam Na. keasaman sebesar 2.2. luas permukaan 24. dimana untuk molekul yang tidak jenuh atau bersifat polar akan lebih mudah lolos daripada molekul yang jenuh atau tidak polar. Telah diketahui lebih dari 40 jenis mineral zeolit di alam. 1.39 mmol/g. Penyaring atau pemisah Volume dan ukuran garis tengah ruang hampa dalam kisi-kisi kristal menjadi dasar kemampuan zeolit untuk bertindak sebagai penyaring molekul.25 x 10-3 cc/g. suhu. 8.04 %. Ion-ion ini dapat bergerak bebas sehingga pertukaran ion yang terjadi tergantung dari ukuran dan muatan maupun jenis zeolitnya. Molekul ynag berukuran kecil dapat melintas sedangkan yang berukuran besar dari ruang hampa akan ditahan atau ditolak. Dari uji pendahuluan terhadap zeoiit alam Wonosari dengan menggunakan difraksi sinar x diketahui bahwa sebagian besar penyusunnya adalah mordernit. 10. 2. Jenis Zeolit Menurut proses pembentukannya zeolit dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu : 3. sifat adsorbsi dan aktifitas katalis.75. Ca dan Fe masing-masing sebesar 4. Katalis Zeolit merupakan katalisator yang baik karena mempunyai pori-pori yang besar dengan permukaan yang maksimum.29 %.

5 [Al16Si10O32]12H2O Na8 [Al31SiO16]16H2O S4R S4R Ca4 [Al8Si28O72]24H2O Na6 [Al6Si30O72]24H2O T10O20 (4-4-1) T10O20 Na16[Al16Si24O31]6H2O Na16 Ca8 [Al20Si24O80]24H2O T5O10 (4-1) T5O10 Na16[Al16Si31O96]6H2O Ca16[Al16Si31O96]6H2O S4R S4R Rumus Kimia UBS . Akan tetapi daya serap.Zeolit yang diperoleh dari alam telah dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Tabel 2. S8R Ca2 [Al4Si8O24]13H2O K6 Na3 [Al9Si27O72]21H2O D4R. Untuk memperoleh zeolit dengan kemapuan yang tinggi diperlukan beberapa perlakuan antara lain. S6R NaN [AlnSi96O192]16H2O 5 –1 Ca4 [Al8Si16O46]16H2O S4R.5 Mg2 [Al6Si30O72]24H2O T8O16 (5-1) T8O16 K2 Ca1. aktivasi dan modifikasi. D6R D4R. D6R Na8 [Al8Si40O96]24H2O NaCa0. daya tukar ion maupun daya katalis dari zeolit tersebut belum maksimal. S6R. S6R. Klasifikasi zeolit Zeolit Grup Analsim Analsim Wairakit Grup Natrolit Natrolit Thomsonit Grup Heulandit Heulandit Klinoptilolit Grup Filipsit Filipsit Zeolit Na-P-1 Grup Mordernit Mordernit Ferrierit Grup Kabazit Kabazit Zeolit L Grup Faujasit Faujasit Zeolit A Grup Laumontit Laumontit Grup Pentasil ZSM-5 Grup Zeotype AlPO4-5 [Al12P2O48] (C3H7)4NaOH q H2O S4R. S8R Na12 Ca12 Mg11 [Al58Si134O384]235H2O Na12 [Al12Si12O48]27H2O S4R.

Dealuminasi dapat digunkan untuk mengontrol aktivasi keasaman dan untuk mengontrol ukuran poripori zeolit. sehingga luas permukaan poripori bertambah. Zeolit yang dipanaskan pada temperatur tinggi menyebabkan molekul air yang ada dalam zeolit mengalami dehidrasi. Sifat dehidrasi zeolit ini berpengaruh terhadap sifat adsorbsinya.Proses aktivasi zeolit alam dapat dilakukan dalam 2 cara yaitu secara fisis dan kimiawi. Pemanasan dilakukan dalam oven biasa pada suhu 300-400 0C (untuk skala laboratorium). Mineral . membuang senyawa pengotor. Aktivasi Fisis Aktivasi fisis biasanya dilakukan dengan pemanasan yang bertujuan untuk menguapkan air yang terperangkap tinggi dalam pori-pori kristal zeolit. Pemanasan modernit pada suhu 300 0C –1000 0C menyebabkan destruksi struktur kristal. Aktivasi Kimiawi Pada aktivasi kimia. H2SO4. dan H3PO4. 4. atau mengumpulkan tungku putar dengan pemanasan secara penghamparan selama 3 jam atau tanpa penghamparan selama 5-6 jam (skala besar). Hal ini sangat penting terutama berhubungan dengan fungsi zeolit sebagai adsorben. HNO3. zeolit sintetis dikelompokkan menjadi empat. c. zeolit kadar Si tinggi dan zeolit Si. Zeolit Sintetis Zeolit mempunyai sifat yang unik yaitu susunan atom maupun komposisinya dapat dimodifikasikan. dealuminasi adalah yang paling penting dan dominan. Aktivasi zeolit dengan asam menyebabkan ternetralisasinya muatan negatif pada permukaan zeolit hidrogen. dan mengatur kembali letak atom yang dapat dipertukarkan. Berdasarkan perbandingan kadar komponen Si and Al. kandungan modernit berkurang hampir 25 % pada suhu 700 0C. zeolit kadar Si sedang. Diantara asam-asam tersebut yang paling efektif untuk dealuminasi adalah HCl. maka para peneliti berupaya untuk membuat zeolit sintetis yang mempunyai sifat khusus sesuai dengan keperluannya. Asam-asam yang dapat digunakan untuk aktivasi adalah HCl4. yaitu zeolit kadar Si rendah. Penggunaan zeolit sintetis pada dasarnya sama dengan zeolit alam. Atom-atom Al yang masih tersisa dalam zeolit masih terkoordinasi dalam rangkaian tetrahedaral dengan empat atom oksigen. Aktivasi secara kimia dilakukan dengan larutan asam atau basa. d. dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori. Ini karena persamaan sifat fisik dan kimia yang dimiliki oleh kedua jenis mineral tersebut.

10 M. khabasit Daya Serap hanya dan erionit mineral yang Dapat dibuat mineral zeolit yang ruang kosong bergaris tengah dari 3 A hingga 8 A Dapat menyerap hingga 50 % dari volumunya. 0. tawas dan filtrasi zeolit belum pernah dilakukan. sambil diaduk dengan pengaduk magnetik. kemudian dicuci sampai netral dan dikeringkan pada suhu 120 0C selama 3 jam.zeolit sintetis masing-masing mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan.3 Aktivasi Zeolit Zeolit alam direndam dengan akuades selam 24 jam. Zeolit kemudian direndam dengan HF 2.50 M. 1.00 N (perbandingan b/v 1:2) sambil dipanaskan sampai agak kering . yang terbesar Garis tengah pori hanya terdapat pada mineral khabasit dan erionit Terbatas. Tabel 3. 1. 2.50 M.7.00 M.. 1987 2. Kemudian zeolit disaring. 400 C. dicici sampai netral dan dikeringkan pada suhu 130 0 0 0 0 C selama 3 jam.lalu disaring dan dikeringkan pada suhu 110 0C selama 3 jam. 0.Kebanyakan endapan zeolit beberapa jenis mineral zeolit. dinetralkan dan dikeringkan pada suhu 130 0C selama 3 jam. Selanjutnya zeolit direndam NH4Cl konsentrasi 0.00 M DAN 2. .00 M selama satu minggu sambil diaduk 3 kali sehari. Originalitas Penelitian Penelitian tentang penurunan fosfat dengan kapur (lime). alam terdiri dari terutama campuran besi. Perbedaan utama antara kedua jenis mineral zeolit alam dan sintetis . dan 500 C selama 5 jam. Zeolit ini kemudian dikalsinasi pada variasi suhu 300 C.6.00 M pada suhu 90 0C selama 60 menit.05 M. Sangat terbatas. Zeolit selanjutnya dipanaskan dengan HCl pada konsentrasi 0. dibuat mineral zeolit berderajat kemurnian mempunyai daya serap baik Sumber : Harjanto. Perbedaan Mineral alam dan zeolit sintetik Macam Perbedaan Derajat Kemurnian Mineral Zeolit Alam Umumnya banyak mengandung pengotor. dan 2. Mineral zeolit Sintetis Dapat sintetis tinggi. lalu disaring.

Rancangan Penelitian . Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini merupakan “Penelitian Eksperimen” dengan “design pre test and post test design “yang hasil akan diuji secara diskriptif analitis dengan korelasi.BAB III METODE PENELITIAN 3. Sample air limbah Kapur Aduk Tawas Endapan Pemisahan Periksa PO4 Filtrasi Zeolit Periksa PO4 Hasil Filtrasi Gambar 2.1.

6 Instrumen Penelitian 3. 3. Parameter pH. f.kadar ion terlarut.3. Larutan kapur 0. Larutan tawas 0.1 ppm . kemurnian tawas.1 ppm 19. sehingga waktu pengambilan sampel perlu diperhatikan agar mendapatkan kualitas yang sama pada setiap perlakuan. proses pengadukan.3 Lokasi Penelitian Lokasi Penelitian yang dipilih yaitu limbah cair Rumah Sakit Bethesda dan uji laboratorium dilaksanakan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pembrantasan penyakit menular (BBTKL-PPM) Yogyakarta. Variabel terikat Parameter yang diperiksa pada limbah cair adalah fosfat masing-masing pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/ pengolahan. 3. Kualitas limbah cair RS Bethesda sangat fluktuatif.1 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari bahan untuk pengolahan dan bahan atau reagen untuk pemeriksaan parameter pencemar terdiri dari: Bahan untuk Pengolahan 17. yang berbeda pada sampel perlakuan akan mengganggu proses pengendapan begitu pula dengan kemurnian kapur tohor dan kemurnian tawas serta proses pengadukan pada saat perlakuan apabila tidak dikendalikan / tidak disamakan pada setiap perlakuan akan didapatkan hasil tidak seperi yang diharapkan.kekeruhan. 3.4 Variabel Penelitian d. Variabel bebas e.5 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam analisis berupa data kuantitatif yang diperoleh dari perlakuan di lapangan dan pengamatan percobaan di laboratorium. Variabel pengganggu Waktu kontak.6. waktu pengambilan sampel. Air limbah RS Bethesda 18. kemurnian kapur tohor. Dosis pemakaian bahan kimia larutan kapur dan tawas. 3.suhu limbah . sehingga perlu adanya pengendalian terhadap variabel-variabel tersebut diatas agar penelitian ini mendapatkan hasil yang dapat dipertanggung jawabkan.2 Ruang Lingkup Meliputi semua limbah cair yang dihasilkan dari seluruh kegiatan Rumah Sakit Bethesda.

Larutan Buffer pH 10 27. Labu ukur 15. SnCl2 23. Beker glass 16. Tabung nessler 22. Membuat larutan-larutan siap pakai untuk pemeriksaan parameter fosfat. Pipet tetes 19.6. Karet penghisap 3. Larutan standar EDTA 0. Zeolit 3.3 Tahapan Persiapan 1. Spektofotometer 23. H2SO4 4 N 22.0010 ppm dan tawas 0. pH meter 21. Timbangan Sartorius 18.6.6. Air suling 32. Buret tetes 26. Labu erlenmeyer 17. Cuvet 25.0010 ppm yang akan digunakan sebagai bahan pengolahan . Amonium Molibdat 26. Indikator Phenol Red 25. Mixing Flokulator 24. Indikator Murexid 31. 2.4 Pelaksanaan Penelitian .2 Alat Alat Pengolahan 14. Larutan pH 4 28. 3. Standart fosfat 0. Penyiapan larutan kapur 0.20.01 ppm 24. 4. Persiapan bahan dan alat serta pembuatan rangkaian alat filtrasi yang dilengkapi dengan stop kran . Indikator PP 21. NaOH 1 N 30. Pipet ukur 20.01 M 29.

00100 ppm . 3. 3. Teknik Analisa Data . 0.11. Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan zeolit terhadap filtrat tersebut 20. Pisahkan filtrat dari endapan.00150 ppm dan 0.7.00200 ppm. 3.8 Teknik Pengumpulan Data Data yang diperoleh dari hasil penelitian dikelompokkan agar memudahkan dalam analisis.1 Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan pada bak penampung awal karena sudah mewakili semua limbah cair Rumah Sakit tersebut .7 Teknik Pengambilan Sampel 3. 16. Periksa filtrat masing-masing beker glass parameter pH. Isi beaker glass tersebut dengan limbah asli masing-masing sebanyak 800 ml.0020 ppm.0010 ppm dengan volume berturutturut 0. diamkan selama 15 menit agar terjadi pengendapan. 0. 3.0015 ppm. 15. detergen dan fosfat 12.0025 ppm. fosfat setelah koagulasi tersebut. dan 0. aduk lambat selama 5 menit.2 Periode pengambilan sampel Pengambilan sampel diusahakan sekali dalam jumlah yang dibutuhkan agar homogenitas. selanjutnya data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode grab sampling (sesaat) selama periode tertentu. kemudian diberi nomor 1 s/d 3.00050 ppm. Ulangi prosedur 4 s/d 10 dengan variasi kapur 0. 0.00075 ppm ml. Masing-masing beker glass ditambahkan larutan tawas yaitu 0.3 Pemeriksaan Sampel Semua sampel diperiksa berdasarkan metode baku standard Method for examination. 19. 14. Siapkan sampel limbah cair asli sebelum diolah kemudian diperiksa pH. 17. 18. Tambahkan larutan kapur pada masing-masing beker glass volume 1 ml. 13. Aduk cepat masing-masing selama 3 menit.7. Siapkan deretan beaker glass sebanyak 3 buah masing-masing volume 1000 ml. 3. 0. 0.9.7.kuantitas dan kualitas sampel tetap terjaga.00125 ppm. Parameter limbah cair yang dianalisis adalah fosfat pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/pengolahan.

Bentuk matematisnya adalah sebagai berikut : Y = a . Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur prosentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dilihat dengan rumus R2 x 100%. Uji F Dimana : R X Y n . Xb Dimana : Y X a b = Variabel terikat = variabel bebas = titik potong (intercept) = koefisien regresi (elastisitas/slope) Koefisien determinasi pada intinya adalah untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat.Perhitungan statistik untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini menggunakan uji Regresi Linier Sederhana. Koefisien determinasi diperoleh dari mengkalikan koefisien korelasi Pearson atau biasa disebut Pearson Product Moment. Maksud dari hubungan regresi yaitu untuk mengetahui suatu variabel dapat dipergunakan untuk memprediksi atau meramal variabelvariabel lain. Rumusan matematisnya adalah sebagai berikut : R= n(ΣXY ) − (ΣX )(ΣY ) n Σ X 2 − ( Σ X ) 2 nΣ Y 2 − ( Σ Y ) 2 = Koefisien korelasi (Pearson Correlation) = variabel penambahan kapur = variabel kadar fosfat = jumlah sampel Nilai koefisien determinasi (R2) yang kecil berarti kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel terikat. yang disimbolkan dengan huruf R. hubungan antara kedua variabel disebut analisis regresi sederhana. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Persamaan matematik yang memungkinkan untuk meramalkan nilai-nilai satu atau lebih peubah acak bebas disebut persamaan regresi. Jika suatu variabel tak bebas (dependent variable) tergantung pada satu variabel bebas (independent variable).

Untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Bila probabilitas F > 0. maka digunakan uji F. artinya ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Bila Fhitung > Ftabel. 4. artinya tidak ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Fhitung R2 / k = 1 − R 2 / (n − k − 1) ( ) Keterangan: R2 k n = = = Koefisien determinan Banyaknya perubahan bebas Jumlah data Dasar Pengambilan Keputusan 3.05. maka Ho ditolak atau Ha diterima. maka Ho diterima.05. maka Ho ditolak atau Ha diterima . Bila probabilitas F < 0. maka Ho diterima 4. Bila Fhitung < Ftabel. Atau 3.

hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 5. Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian mengenai efektifitas dosis dengan menggunakan campuran kapur tohor [Ca(OH)2] dan tawas [Al2(SO4)3] serta filtrasi zeolit terhadap penurunan kadar Fosfat air limbah RS Bethesda Yogyakarta telah dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2005.melebihi yang ditentukan. berikut: Tabel 5. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi . Karena pada jam tersebut kadar Fosfat limbah cair RS Bethesda Yogyakarta pada bak equalisasi adalah yang tertinggi. berikut: Tabel 4. berdasarkan pemeriksaan kadar Fosfate selama 24 jam pada inlet dan pada bak kontak. Sedangkan waktu pengambilan sampel dilakukan pada jam 09.00 Wib. 1 2 Parameter pH PO4Satuan mg/l No.5 25.5. Selanjutnya limbah yang diambil di bak equalisasi tersebut dilakukan pengolahan dengan cara koagulasi dan flokulasi.Lab / Hasil Analisa 56 7. Keadaan Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Sebelum Pengolahan (Asli) No. Hasil pengukuran kadar limbah RS Bethesda pada bak equalisasi secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.6404 Keterangan Sumber: Data Primer 2005 Dari hasil pengukuran diatas. maka parameter PO4. Sampel diambil di bak equalisasi dengan tujuan untuk mencari kadar Fosfat yang mewakili seluruh aliran limbah cair.

Pada penambahan larutan kapur 0.1 ppm dan larutan kapur 0.1 ppm yang ditambahkan.53 0.0025 Kapur (ppm) Gambar 3.00150 0.00125 0.15 1.19 1.002 0. Hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dilihat pada gambar 3.49 1.0020 0.06 0.21 1.53 mg/l.81 1.17 1.0015 ppm .0025 ppm memberikan hasil fosfat terbaik yaitu sebesar 0.00 2.50 2.Tawas (ppm) 0.00100 0.56 1.00200 Sumber: Data Primer 2005 2.22 0.00050 0.5 dan 6 berikut: 3.0025 Pada tabel 5 terlihat semakin tinggi larutan tawas 0.8 R2 = 0.06 0.0055x-0.0020 ppm dan tawas 0.50 0.0015 Kapur (ppm) 0.62 1.37 1. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.50 1.66 1.0015 0.00 0.0005 0.951 0.4.82 1.96 0.00 1.00 0 0.maka kadar fosfat semakin menurun.00075 0.29 1.62 1.001 Fosfat (ppm) y = 0.

0025 y = 0.0020 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.961 -0.0025 y = 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.001 0.0015 0.0061x R2 = 0.7557 Kapur (ppm) Gambar 5.002 0.2.5 0 0 0.6999 Kapur (ppm) Gambar 4.0005 0.5 Fosfat (ppm) 2 1.0025 ppm .002 0.5 1 0.5 0 0 0.5 1 0.985 -0.001 0.0097x R2 = 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.0015 0.0005 0.

66 Sumber: Data Primer 2005 Dari tabel 6.00075 0.00 0.78 0.0025 Gambar 6. Secara empiris.002 0.01 1.32 1.0015 1. 0.1 ppm. 9 dan 10.001 0.1 ppm.00150 0.01 mg/ml 0.18 1. berikut: .0015 0.hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan pembubuhan larutan kapurdan larutan tawas setelah filtrasi zeolit dapat dilihat pada gambar 7.0025 Kapur (ppm) Tawas 0.3 Fosfat (ppm) 2 1 0 0 0.0020 Tawas 0.81 0.0015 ppm. 0.01 mg/ml Kapur 0.70 0.maka kadar fosfat setelah filtrasi zeolit semakin kecil nilai fosfat optimal dicapai pada penambahan larutan kapur 0.0015 Tawas 0.0020 ppm dan 0.00125 0.8.30 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Tawas 0.0025 1.0020 1.dan tawas 0.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi Pada Penambahan tawas 0.98 0.06 0.23 1.03 0. tawas 0.00050 0.28 0.00200 0.06 1.0025 ppm.64 0.00100 0.0025 ppm Selanjutnya limbah hasil perlakuan koagulasi dan flokukasi dilewatkan pada unit filtrasi zeolit diperoleh hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut: Tabel 6.26 1. terlihat semakin tinggi larutan kapur dan larutan tawas yang ditambahkan .0005 0.0020 ppm .90 1.

5 1 0.0025 y = 0.2 Fosfat (ppm) 1.0015 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.001 0.011x -0.002 0.5 0 0 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.001 0.9147 R2 = 0.801 Kapur (ppm) Gambar 7.5 0 0 0.0016x -0.6708 R2 = 0.958 Kapur (ppm) Gambar 8.002 0.0025 y = 0.0015 0.0020 ppm . Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.0015 0.0005 0.0005 0.5 1 0.

0015 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi 4.002 0.2 Fosfat (ppm) 1. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan kimia sebagai penghilang Fosfat adalah sebagai berikut: 7. Kesesuaian dengan proses pengolahan lain .0015 0. kapur. Biaya 8.0015 Taw as 0.6. Pertimbangan lumpur yang dihasilkan 10.0005 0. Senyawa-senyawa Fosfate dapat dihilangkan dengan penambahan bahan koagulan misalnya alum.0025 Kapur (ppm) Taw as 0. tawas.980 Kapur (ppm) Gambar 9.0025 y = 0.5 1 0. dan filtarasi zeolit sangat berpengaruh dalam menurunkan kadar Fosfat.0012x -0. Efektifitas bahan kimia 9.5 0 0 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.9343 R2 = 0.002 0.0020 Taw as 0.5 1 0.001 0.5 0 0 0. Pada penelitian ini pemakaian dosis kapur.0025 ppm Fosfat (ppm) 2 1.0025 Gambar 10.0005 0. ferrichlorida atau ferrous sulfat. Pembahasan Limbah cair di lingkungan RS Bethesda Yogyakarta dilakukan pengolahan dengan menggunakan sistem aerob dan anerob. Dari beberapa referensi bahwa keberadaan Fosfat dalam air limbah dapat diturunkan dengan jalan pengendapan secara kimiawi.001 0.

Efek terhadap lingkungan Dari beberapa pertimbangan diatas. PO43-. tapi juga aman terhadap lingkungan. karena proses pembentukan flok pada proses koagulasi sangat dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia seperti kondisi pengadukan. Pada Bak Equalisasi. karena disamping harganya relatif murah.0025 ppm ditunjukkan pada Gambar 6. sedangkan konsentrasi PO43. alkalinitas. Limbah asli dianalisa di laboratorium dengan parameter pH.0097x-0. dan 0.4 . suhu. Hasil analisa No lab 56 menunjukkan hasil pH = 7. Pengaruh penambahan kapur akan menaikkan diluar pH tersebut maka pembentukan flok sempurna. kualitas dan kuantitas limbahnya serba sama.8-7. Pembentukan flok akan berjalan baik pada range pH 5.9 memenuhi syarat. kekeruhan.11. Limbah asli diambil dalam jumlah yang cukup pada jam 09. maka kami pilih kapur dan tawas sebagai bahan koagulan. Dari hasil koagulasi / flokulasi pada Tabel 4 terlihat kecenderungan penurunan fosfat yang terjadi sebanding dengan penambahan kapur yang ditunjukkan pada : Gambar 3 dengan persamaan empiris y = 0. Limbah cair RS Bethesda yang digunakan sebagai bahan untuk penelitian penurunan kadar fosfat diambil pada Bak Equalisasi dengan pertimbangan limbah tersebut sudah merupakan gabungan dari semua sumber limbah yang dihasilkan. Perpaduan dari dua jenis koagulan.6999 Gambar 5 dengan persamaan empiris y = 0.0020 ppm.0055x-0. belum melalui perlakuan pengolahan sama sekali.8047 Gambar 4 dengan persamaan empiris y = 0.7557 Dimana : x = penambahan kapur (ml) Y = penurunan kadar fosfat (mg/l) Secara keseluruhan hasil pemeriksaan kadar fosfat dengan koagulasi dan flokulasi pada konsentrasi tawas 0. dengan pertimbangan keduanya akan saling mengkoreksi pH.0015 ppm. dan mudah didapatkan di pasaran.0061x-0. 0. pH. Berdasarkan hasil pengukuran terhadap limbah asli tersebut. pH dan bereaksi dengan bikarbonat membentuk CaCO3 sebagai basa. maka perlu dilakukan penelitian penurunan kadar fosfat dengan koagulasi-flokulasi dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan zeolit.6404 mg/l. tidak memenuhi baku mutu.00 pagi saat fluktuasi kualitas terjadi.awal = 25. Selanjutnya limbah dari Bak Equalisasi dikategorikan sebagai limbah asli. dimana konsentrasinya fosfatnya melebihi baku mutu yang ditetapkan. Dosis dan perlengkapan untuk pengadukan 12.5 Baku Mutu pH = 6 .

Pada proses koagulasi dan flokulasi kadar fosfat (PO43-) diharapkan mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan penambahan larutan kapur dan tawas menjadi endapan Ca3 (PO4)2 ↓ dan Al (PO4) ↓. Penurunan PO4 secara rinci terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 3, 4, 5, dan 6. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula : y = 0.0055 0.0020 ppm dan formula y = 0.0061 x-0,7557 pada penambahan tawas 0.0025 ppm. Jika dilihat dari uji statistik pendistribusian data dengan uji Kolmogorov Smirnov, diperoleh nilai p value pada masing-masing sampel lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini berdistribusi normal, sedangkan dari uji regresi , diperoleh nilai R2 semua di atas 0,70, dimana nilai R2 antara 0,70 – 1,00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat. Selanjutnya dicari nilai R dari variasi tawas 0.0015 ppm, 0.0020 ppm, dan 0.0025 ppm. Ternyata diperoleh dari data statistik variasi penambahan tawas 0.0025 ppm adalah yang tertinggi dengan nilai R = 0,992. jadi dapat disimpulkan penurunan kadar fosfat pada penambahan tawas 0.0025 ppm adalah yang paling efektif. Pada penurunan fosfat yang dilakukan dengan filtrasi zeolit setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi terlihat kadar fosfat cenderung mengalami penurunan lagi. Diharapkan pada proses filtrasi ini terjadi pemisahan yang lebih sempurna dari flocculant terhadap cairannya. Semua flok yang terbentuk tidak ada lagi yang terikat pada cairan limbah terolah. Hasil penurunan dengan filtrasi zeolit secara keseluruhan terlihat pada Tabel 6 dan Gambar 7, 8, 9 dan 10. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula y = 0.011 0.0020 ppm, dan formula y = 0.0012 x-0,9343 pada penambahan tawas 0.0025 ppm. Jika ditinjau dari uji statistik, maka diperoleh hasil dari masing-masing variasi tawas, 0.0015 ppm, 0.0020 ppm, dan 0.0025 ppm, nilai P semua variasi di atas 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini terdistribusi normal, sedangkan dari uji korelasi atau uji kekuatan hubungan antara dua variabel diperoleh nilai R2 di atas 0,70 dimana nilai R antara 0,70 – 1,00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat paling efektif. Dari hasil analisa data setelah filtrasi, didapat nilai R2 tertinggi, yaitu 0,990 pada konsentrasi penambahan tawas 0.0025 ppm. Jadi dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar fosfat pada konsentrasi penambahan tawas 0.0025 ppm setelah filtrasi adalah yang paling efektif. 4.3. Analisa Data Tabel 7. Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi No. Tawas R2 F hitung F tabel Keterangan x-0,6708 pada penambahan tawas 0.0015 ppm; formula y = 0.0016 x-0,9147 pada penambahan tawas x-0,8047 pada penambahan tawas 0.0015 ppm, formula y = 0.0097 x-0,6999 pada penambahan tawas

1 2 3

0.0015 ppm 0.0020 ppm 0.0025 ppm

0,951 0,961 0,985

78,271 99,735 260,795

(df1 = 1; df2 = 4) 7,7086 7,7086 7,7086

95,1% pengaruh kapur 96,1% pengaruh kapur 98,5% pengaruh kapur

Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.0025 ppm, kapur berpengaruh sebesar 98,5% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat. Tabel 8. Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi No. 1 2 3 Tawas 0.0015 ppm 0.0020 ppm 0.0025 ppm R2 0,801 0,958 0,980 F hitung 16,061 90,394 193,784 F tabel (df1 = 1; df2 = 4) 7,7086 7,7086 7,7086 Keterangan 80,1% pengaruh kapur 95,8% pengaruh kapur 98,0% pengaruh kapur

Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.0025 ppm, kapur berpengaruh sebesar 98,0% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 3. 4. Larutan kapur dan larutan tawas efektif menurunkan kadar fosfat dalam limbah cair RS Bethesda dengan prosentase 97,92 %. Efektifitas penurunan kadar fosfat limbah cair RS Bethesda dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dinyatakan dengan rumus empiris y=0,0061 x 0,7557 diperoleh pada konsentrasi larutan kapur 0,0020 ppm dan konsentrasi larutan tawas 0,0025 ppm. 5.2. Saran 1. Bagi peneliti lain Untuk dapat meneliti penurunan kadar fosfat dengan menggunakan metode yang lain, kemurnian bahan dan ketelitian alat sangat mempengaruhi hasil penelitian selanjutnya. 2. Terhadap RS Bethesda Supaya memilih detergen yang digunakan dengan kadar fosfat rendah. Perlu melakukan pemeriksaan kadar fosfat secara berulang-ulang, agar penambahan koagulan dapat dilakukan setepat mungkin.

1995. Universitas Padjajaran. 1992. Mc. Makalah Pelatihan Petugas Sanitasi Rumah Sakit. Chemical and Technology Lime and Limestone. 03/MenKLH/II/1991. Pedoman Sanitasi Rumah Sakit. . Hartiningsih. Manajemen Penelitian. J. Water Supply and Severage. Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. 1975. 1993. Jakarta. Rineka Cipta. Yogyakarta. 1993.. 1992. Jakarta. Kep 58/Men. Jakarta . 1992. Jakarta. Pengelolaan Limbah Rumah Sakit. 1994. Kumpulan Seminar Zeo Industri. Yogyakarta. Douglass M. 02/MenKLH/I/1988 Tentang Baku Mutu Air Pada Sumber Air. Jakarta. 1992. Hanafiah K. Polusi Air dan Udara. 1985. Environmental Engineering.2003.S Soemirat. New York. Graw-Hill Book Company. G. 1985. Kanisius. Almanak Kesehatan RI. USA E. 23 tentang Kesehatan. Lokakarya Nasional tentang Sanitasi RS. Rajawali Pers. 1992. J. Considine.W. Rancngan Percobaan Teori dan Aplikasi. Jakarta. SK Men KLH No. Kesehatan Lingkungan. Budiharjo. Baku Mutu Limbah Cair SK Men KLH No. 1998. Peavy. 1993. Yogyakarta. 1994. Jakarta. Sebaran Endapan Zeolit dan Kegunaannya.A. . Gadjah Mada University Press. DKK. Depkes RI.Jakarta. .DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1974. New York. Jakarta. Pengelolaan Limbah Cair Rumah Sakit. S. Bandung. Effendi H. Depkes RI. Jakarta. Jakarta. Depkes RI. Yogyakarta. . Speet S. Kerjasama PPKSI dan HKTI. Arikunto.Kanisius. 1991. Pedomen Teknis Perbaikan Kualitas Air. Agustjik R. Darsoprajitno. Hartono . 1988. Depdikbud.LH/12/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 1990. fifth ED. Fardiaz S. Stell. Depkes RI. Undang-Undang No. Telaah Kualitas Air.Dirjen P2M & PLM. Howard S. . BTKL Yogyakarta.

Saleh Samsubar.. Wirakusumah. Volume A. Water Supply and Severage. Rajawali Press. Boynten. 1975. Yogyakarta.K. Chemistry and Tecnology Lime and Limestone.. Reksosoebroto S. Robert S. Jakarta. Yogyakarta. Metodologi Penelitian Survei. FKM Universitas Indonesia.. 1995. 1988. Metodologi Penelitian. USA. 1981. dkk. Singarimbun Masri. 1983. Sanropie. Dasar-Dasar Ekologi Menopang Pengetahuan Ilmu-Ilmu Lingkungan. Liberty.Kusumanto.. 1995. Statistik Induktif. H. Water Treatment Plant Design For The Practising Engineer. Notoatmojo S. Stell. Jakarta. Inc . R. LP3ES. Inc Tokyo. Chemistry for Environmental Engeenering.W. Raharjo Mursid. 1986. Michigan. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah. 1907. Ann Arbor Science Publisher. New York. E. Tony Gates. Fifth ED. Jakarta. 1992. Third ed. Jakarta. Sank. PPLH Universitas Gajah Mada.. Semarang. Jakarta. 1989. Komponen Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia. Tjokrokusumo. Rineka Cipta. Koesnopoetranto H. Sawyer and Mc. Yogyakarta. Pengelolaan Limbah Rumah Sakit. Jakarta. ICH. Ulman’s Encyclopedia of Industrial Chemistry. 1987. Kumpulan Makalah. Ilmu Hygien dan Sanitasi. Kesehatan Lingkungan. . 1992. Universitas Indonesia. Universitas Indonesia.2003. 1993. MC Graw-Hill Koyoleusa Ltd. Metodologi Penelitian Kesehatan. FKM UNDIP. Carty. 1991. 1980. Jakarta. Suryabrata S. Penuntun Praktikm Laboratorium Air. dkk. Pengantar Konsep Teknologi Bersih Khusus Pengelolaan dan Pengolahan Air. Jakarta Sugiharto. STTL “YLH”.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful