PENURUNAN FOSFAT DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME), TAWAS DAN FILTRASI ZEOLIT PADA LIMBAH CAIR

( STUDI KASUS RS BETHESDA YOGYAKARTA )

Tesis
Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana S-2 pada Program Studi Ilmu Lingkungan

Sudi Setyo Budi L4K003013

PROGRAM MAGISTER ILMU LINGKUNGAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2006

TESIS PENURUNAN FOSFAT DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME), TAWAS DAN FILTRASI ZEOLIT PADA LIMBAH CAIR
( STUDI KASUS RS BETHESDA YOGYAKARTA )

Disusun oleh

Sudi Setyo Budi L4K 003 013

Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Pada tanggal 21 Pebruari 2006 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

Menyetujui , Pembimbing I Pembimbing II

Ir. Danny Sutrisnanto, M.Eng

Dr. Ir. Setia Budi Sasongko, DEA

Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan ,

Prof. Dr. Sudharto. P. Hadi, MES.

LEMBAR PENGESAHAN PENURUNAN FOSFAT DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME), TAWAS DAN FILTRASI ZEOLIT PADA LIMBAH CAIR
( STUDI KASUS RS BETHESDA YOGYAKARTA ) Disusun oleh

Sudi Setyo Budi L4K 003 013
Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Pada tanggal 21 Pebruari 2006 Dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

Ketua

Tanda Tangan

Ir. Danny Sutrisnanto, M.Eng

………………………….

Anggota 1. Dr.Ir. Setia Budi Sasongko,DEA …………………………

2.

Ir. Sumarno, M.Si

…………………………

3.

Ir.Agus Hadiyarto.MT

…………………………

kaidah dan etika penulisan ilmiah. Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan tesis yang saya kutip dari hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma. Aapbila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian tesisi ini bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu. Maret 2006 Penulis Sudi Setyo Budi L4K 004 013 . Semarang.PERNYATAAN Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang saya susun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Program Magister Ilmu Lingkungan seluruhnya merupakan hasil karya saya sendiri. saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Prof. Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan . Dr. Purwanto. Ir. Dan Perairan Pantai (Studi Kasus: Jakarta. M.S. Hadi. Semarang. Dr. Ir. Agus Sabdono. Sudharto. Tonny Bachtiar. Dan Jepara) Nama Mahasiswa Nomor Mahasiswa Program Studi Konsentrasi : : : : AMELYA NILA ANDINI L4K003001 Magister Ilmu Lingkungan Managemen Lingkungan Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Pada tanggal – Juli 2005 Dan dinyatakan memenuhi syarat untuk diterima Menyetujui: Pembimbing I Pembimbing II Dr. MES. P. Siti Harnina Bintari.Judul Tesis : Kinetika Biodegradasi Koprostanol Oleh Bakteri Terseleksi Dari Air Dan Sedimen Pada Lingkungan Sungai. M.Sc. DEA Mengetahui . . M. Muara. Penguji II Dra.Sc. Penguji I Dr.

Tesis dengan judul “Penurunan Kadar Fosfat dengan Penambahan Kapur. lahir di Pati pada tanggal 5 Pebruari 1972. Pada tahun 1998 Penulis menjabat sebagai Kepala Desa (Lurah) pada pemilihan kepala Desa di Kabupaten Pati. telah berhasil diselesaikan pada tahun 2006. Jawa Tengah Sampai sekarang dan melanjutkan pendidikan pasca sarjana (S2) di Program Magister ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang . .Tawas dan Filtrasi Zeolit” ( Studi Kasus Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta ). Selama menempuh pendidikan S1 penulis aktif didalam kegiatan Organisasi Kemahasiswaan.lulus SMA tahun 1991 dan melanjutkan pendidikan Sarjana Strata Satu (S1) pada Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (UNTAG) Semarang selesai pada tahun 2001.BIODATA PENULIS Sudi Setyo Budi.

3. Prof. semangat dan dorongan dalam penyelesaian tesis ini. Bapak. MES sebagai Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan. M.KATA PENGANTAR Tesis ini disusun untuk memenuhi tugas akhir pada Program Pasca Sarjana Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang. Untuk itu pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat : 1. Semoga segala kebaikan dan ketulusan Bapak/Ibu/Saudara dalam membantu penyelesaian tesis ini mendapatkan imbalan dari Allah SWT. Ir. Amien. Ir. Dr.Eng sebagai dosen pembimbing I. DEA sebagai dosen pembimbing II. ibu dan semua saudaraku tercinta untuk semua doa. Para dosen. 7. kesabaran. Tesis yang berjudul Penurunan Fosfat Dengan Penambahan Kapur (Lime) Tawas Dan Filtrasi Zeolit Pada Limbah Cair ( Studi Kasus Rs Bethesda Yogyakarta ). P. Serta rekan-rekan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang memberikan semangat dan bantuan dalam penyelesaian tesis ini. 5. yang telah Sudi Setyo Budi . Teman-teman Magister Ilmu Lingkungan angkatan 2003 kelas reguler memberikan kenangan. 2. Sudharto. 4.Hadi. Danny Sutrisnanto. Penulis. Setia Budi Sasongko. telah mendapatkan bimbingan serta arahan guna penyempurnaan isi dan tulisan sekaligus persetujuan dari dosen pembimbing dan penguji. Dr. Tesis ini merupakan rangkaian akhir dari persyaratan dalam mencapai gelar kesarjanaan Program Pasca Sarjana (S2) yang telah diseminarkan dan mendapatkan tanggapan. pengelola dan karyawan Program Magister Ilmu Lingkungan yang membimbing dan memberikan bantuan dan saran dalam menyelesaikan penelitian ini. koreksi dan penyempurnaan. 6.

R0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai R pada masing-masing konsentrasi setelah flokulasi dan koagulasi adalah R0.990. tawas. yaitu pada sistem pengolahan dan pengelolaan pencemaran Rumah Sakit Bethesda. R0. R0.0020 ppml = 0.0020 ppml = = 0.992. meliputi sanitasi rumah sakit. jadi dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 0. limbah cair .979. zeolit. untuk itu perlu dilakukan penanganan bahan pencemar fosfat limbah cair rumah agat tidak mencemari lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektifitas penurunan kadar fosfat limbah cair rumah sakit Bethesda Yogyakarta sebelum dan setelah melalui perlakuan penambahan larutan kapur dan larutan tawas serta filtrasi zeolit. R0.0015 ppm dan hubungan tertinggi pada konsentrasi 25 ml.0015 ppm = 0. Sedangkan nilai R pada masing-masing konsentrasi setelah filtrasi adalah R0. kapur.0025 ppm.0015 ppm dan hubungan tertinggi pada konsentrasi 0.0015 0.0025 ppm ppm = 0. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan analisa design pre test and post test design dan hasilnya akan diuji secara diskriptif analitis dengan korelasi. Penelitian dilakukan pada limbah cair Rumah Sakit Bethesda dan uji laboratorium dilaksanakan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pembrantasan penyakit menular (BBTKL-PPM) Yogyakarta.INTISARI Rumah sakit dalam kegiatannya banyak menggunakan bahan-bahan yang berpotensi mencemari lingkungan. jadi dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 0.0025 ppm yang paling efektif.975.0025 ppm = 0. Kata Kunci: fosfat.0025 ppm yang paling efektif. Kadar bahan pencemaran fosfat dari limbah cair rumah sakit yang melebihi baku mutu yang ditetapkan.895. Hubungan terendah pada konsentrasi 0. Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah rumah sakit yang mengandung fosfat tinggi melebihi melebihi baku mutu yang ditetapkan akan menyebabkan problem lingkungan hidup. Hubungan terendah pada konsentrasi 0.981.

zeolite. alum. . Phosphate contamination materials rate of hospital liquid waste have exceeded standard quality of which is specified.895. Research have been done at liquid waste of Bethesda Hospital and laboratory test executed in The mayor technical center of Environment Health and Epidemic control (BBTKLPPM Yogyakarta. Keyword: phosphate.0025 ppm.0025 ppm = 0.0025 ppm. chalk.0025 ppm = 0. covering hospital sanitation. Contamination which because of consist hospital waste of phosphate will cause environment problem. level of efektifitas degradation of liquid waste phosphate rate of Bethesda Yogyakarta hospital before and after passing treatment of condensation calcify addition and alum condensation and also zeolite filtration. For that require to be conducted by handling of contamination materials of house liquid waste phosphate in order not to contaminate environment. R0. Lowest link at concentration of 0. This research aim to know storey.0020 ppml = 0.0015 ppm and highest link at concentration of 0. While R value at each concentration after filtrasi is R0.0020 ppml = 0.0025 ppm is most effective. can be concluded that concentration of 0.0015 ppm = 0. liquid waste.0015 ppm and highest link at concentration of 0.975. that is at processing system and management of Bethesda Hospital contamination.979.992.990. Method in this research is eksperimental with analysis of pre test design and post test design which is its result will test by diskriptif analytical with correlation. R0.981. become can be concluded that concentration of 0. Lowest link at concentration of 0.ABSTRACT Hospital in its activity using many materials which potentialy contaminate environment.0025 ppm is most effective. R0.0015 ppm = 0. Result of research indicate that R value at each concentration after of flokulasi and koagulasi is R0. R0.

... 2..................... Rumah Sakit .......................................................................... Koagulasi ............................................... 1................................. Kapur .. 2.................5............................................3................4....6......... 1........................ i ii iii iv vi vii viii ix 1 1 4 4 4 5 5 9 9 10 11 13 16 16 18 18 19 19 22 23 25 .......1.......1......................... KATA PENGANTAR ............................... 2........... Identifikasi dan Perumusan Masalah................. Klasifikasi Rumah Sakit .......... Unit-Unit Pengolahan Air Limbah RS Bethesda ................. DAFTAR ISI .........DAFTAR ISI Halaman HALAMAN PENGESAHAN ...........................1......................5.. Latar Belakang Masalah......................... 2.................................1...3.. Tujuan Penelitian ............................................ 2..... 2...............................................................................4........... 2......... Fosfat .........................1...............3........................... DAFTAR GAMBAR ..........2...................... Kegunaan Penelitian .... 2...................................................................... HALAMAN PERNYATAAN ................. Flokulasi............3............ Sifat-Sifat Tawas Dan Penggunaannya ...............................1............... Sifat Zeolit ......................................................... 1............. Sumber Limbah Cair Rumah Sakit ... BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......... Koagulasi dan Flokulasi .................................................................................. 2.................1.......................................2.......................................................1........3............. 2.............2...................... 1......1. Pengertian Limbah Cair Rumah Sakit . DAFTAR TABEL................................... 2..1....... Zeolit .........6........................ 2................................................................................ ABSTRAK / INTISARI . DAFTAR LAMPIRAN ................................ BAB I PENDAHULUAN ............................................................. 2.......... Pemisahan Fosfat ............. 2...4.... Karakteristik Limbah Cair Rumah Sakit ...2............................................1............... 2.........2....

.................. Saran ................ Alat ...6. Bahan ....7............................... Tahapan Persiapan .1................................... 3.......... BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................ Pelaksanaan Penelitian ........................6.............................. 4......................................................2.. 26 29 29 30 30 31 31 31 31 31 31 32 33 33 33 33 33 34 34 34 36 36 40 43 44 44 44 45 .........6..........................6........................... Rancangan Penelitian ... 3........................ 3........2................................................. 3...................... 3. 3.......................7....3... Teknik Analisa Data ....... 2.................. Analisa Data ................ Teknik Pengumpulan Data .... Variabel Penelitian ..... Aktivasi Zeolit ............. Pengambilan Sampel.................................................................................................. Lokasi Penelitian .....7.................. Originalitas Penelitian ...............2. Teknik Pengambilan Sampel ................................ 3...8..... 5...... 3................................ 3.........4..........................4...... 3.................. 3..................... Ruang Lingkup .. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .......................3.... Instrumen Pebelitian .................1................ Hasil Penelitian dan Analisis Hasil ...................................3........5........1..........6. 3............................6......3... 4....7.................................................. Pemeriksaan Sampel .......2........... 3.................................2....... 3.......................... BAB III METODE PENELITIAN ...............3...6........................................... Jenis dan Sumber Data.............9..... DAFTAR PUSTAKA ............... Periode Pengambilan Sampel ............................................2............ Pembahasan .........7........................................................... 3............ 2............ 3............2....... 4............................1...................................... 5...... Jenis Zeolit ... Kesimpulan ...1.......................................

..............................................................Perbedaan Mineral Alam dan Zeolit Sintetik ........................................................... 5.....................Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi .......Klasifikasi Fosfat....................... 7..........................................Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi ......................... 3..... 2.....DAFTAR TABEL Halaman 1.. 17 26 28 36 4............................................ 8.Klasifikasi Zeolit ..............................................................Keadaan Limbah cair RS Bethesda Yogyakarta sebelum Pengolahan ........................................................................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi / Flokulasi 36 38 43 43 6. (Asli) .......................................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi .......

..... 2....... 5...Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0... 9........Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0.......................................0025 ppm................................. 0.........0015 ppm ................................................... 8...Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda YogyaKarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0.. 6.......................................Rancangan Penelitian ......0015 ppm . 0...0020 ppm ........0020 ppm....... 4..............................................................0020 ppm ................DAFTAR GAMBAR Halaman 1........Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0....................... 40 40 39 39 38 38 37 37 17 29 ........Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0......Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0.......Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0.0025 ppm ..0015 ppm.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0............ 0. 0.... 3.........0025 ppm .......................... 10............... 7..0015 ppm............0020 ppm.........Pola Klasifikasi Fosfat ......................0025 ppm ..............

Penambahan Tawas (Kadar Fosfat sebelum Filtrasi ) Regression (Konsentrasi 0.0025 ppm).............. Hasil Pengolahan Penurunan Kadar Fosfat Limbah Cair Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta ...DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1.....0020 ppm. dan 0..... 47 2. Penambahan Tawas (Kadar Fosfat setelah Filtrasi ) Regression (Konsentrasi 0.0025 ppm) 3........0020 ppm...0015 ppm... dan 0.0015 ppm......... Foto-foto Penelitian 4........ Peta Yogyakarta 60 57 51 ... 0.... 0......

Ada kelompok yang condong memilih cara-cara penanggulangan melalui pengolahan limbah cair yang mengandung fosfat. kamar mayat. Menyadari bahwa fosfatlah yang menjadi penyebab terjadinya eutrofikasi. kualitas air di banyak ekosistem air menjadi sangat menurun. Kondisi eutrofik sangat memungkinkan algae tumbuh berkembang biak dengan pesat (blooming) akibat dari ketersediaan fosfat berlebihan serta kondisi lain yang memadai. Melalui penelitian panjang di AS para peneliti akhirnya bisa menyimpulkan bahwa fosfor merupakan elemen kunci diantara nutrient utama lainnya seperti: Carbon (C). Tidak heran jika algae bloom terjadi di banyak ekosistem air. dan Fosfor (P) didalam proses eutrofikasi. laboratorium. Nitrogen (N). Problem ini disinyalir akibat langsung dari aliran limbah yang mengandung fosfat tinggi.Limbah rumah sakit yang mengandung fosfat akan menyebabkan problem lingkungan hidup yaitu menyebabkan Eutrofikasi. Sebenarnya jumlhah fosfat yang diperlukan oleh blue-green algae makhluk hidup air penyebab algae bool untuk tumbuh ternyata hanya dengan konsentrasi 10 ppb (part perbillion) fosfor saja blue-green algae sudah bisa tumbuh. racun dan bahan berbahaya bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya maupun dalam lingkungan rumah sakit itu sendiri. maka perhatian para saintis dan kelompok masyarakat pecinta lingkungan hidup semakin meningkat terhadap masalah ini. laundry. Akibatnya. Banyaknya enceng gondok yang bertebaran dimanamana juga disebabkan dari fosfat yang sangat berlebihan ini.70 Yogyakarta. ada juga yang melarang secara tegas keberadaan fosfat dalam detergen. asrama dll. Di samping itu kegiatan rumah sakit juga menghasikan limbah cair yang bersifat infeksius. Hal ini bisa dikenali dengan warna air menjadi kehijauan.1 Latar Belakang Masalah Rumah sakit dalam kegiatannya banyak menggunakan bahan-bahan yang berpotensi mencemari lingkungan. ruang operasi .BAB I PENDAHULUAN 1. Dalam waktu 24 jam saja populasi algae bisa berkembang dua kali lipat dengan ketersediaan fosfor yang berlebihan akibat limbah fosfat diatas. Problem eutrofikasi baru disadari pada dekade awal abad ke-20 saat algae banyak tumbuh di ekosistem air. berbau tidak sedap dan kekeruhan menjadi sangat meningkat. Sumber-sumber pencemaran yang terdapat di rumah sakit berasal dari kegiatan dapur. rawat inap. Rumah sakit Bethesda merupakan rumah sakit dengan type B berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman N0.seperti: detergen. Definisi dasarnya adalah pencemaran air yang disebabkan munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air. Air dikatakan eutrofik jika konsentrasi phosphorus (TP) dalam air berada pada rentang 35-100 g/l. .

Dewasa ini persoalan eutrofikasi tidak hanya dikaji secara lokal dan temporal. yang perlu kita waspadai adalah zat-zat kimia yang bersifat peresisten (yang tidak dapat untuk jangka waktu yang lama didalam lingkungan). Pemecahan problem ini di Indonesia sangat menuntut peran serta masyarakat. Pada saat ini rumah-rumah sakit yang ada melakukan pengolahan limbahnya pada Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) tetapi ada juga yang hanya secara konvensional (septic tank dan peresapan) dan bahkan tanpa pengolahan (langsung dibuang ke lingkungan). Untuk itu perlu pengelolaan lingkungan rumah sakit secara cermat sehingga output tidak menimbulkan dampak terhadap masyarakat. praktisi dan pemerintah menjadi tugas yang mendesak untuk menyelamatkan sumber daya air dari bencana eutrofikasi serta memelihara dan mengolahnya untuk kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang. tempat mencetak tenaga kesehatan dan sarana penelitian. Negara-negara kawasan Eropa juga memiliki komite khusus dengan nama Scientific Committee on Fosfates in Europe yang memberlakukan The Urban Waste Water Treatment Directive yang berfungsi untuk menangani problem fosfat dari limbah cair dan cara penanggulangannya. Mereka juga memilki jurnal ilmiah European Water Pollution Control. ini yang sangat dikhawatirkan . Karena kita ketahui bahwa limbah rumah sakit merupakan bahan dan sumber pencemar yang sangat kompleks karena limbahnya bisa mengandung kuman ksius. Eutrofikasi merupakan contoh kasus dari problem yang menuntut pendekatan lintas disiplin ilmu dan lintas sektoral. Rumah sakit itu befungsi sebagai sarana kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan. Jangan sampai rumah sakit yang dianggap sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. saintis. Kaitannya dengan kesehatan. justru menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat disekitarnya maupun masyarakat yang menggunakannya (nosokomial). disamping Environmental Protection Agency/EPA yang memberlakukan peraturan dan pengawasan ketat terhadap pencemaran lingkungan. tetapi juga menjadi persoalan global yang rumit untuk diatasi sehingga menuntut perhatian serius banyak pihak secara terus-menerus. Karena itu perlu upaya secara terus menerus untuk meningkatkan budaya dan pola pikir agar faktor lingkungan menjadi prioritas utama dalam melakukan pengelolaan rumah sakit. Oleh karena Itu untuk pennganan limbah rumah sakit yang dihasilkan harus dikelola sesuai dengan karakteristik dan volume limbah sehingga dapat meminimalkan dampak negatif yang dihasilkan sehingga lingkungan dapat menerima dan diuraikan (self purification). Karena tidak dapat terurai secara alamiah maka terjadi karena berdampak terhadap kesehatan masyarakat. logam berat (karsinogenik) maupun radioaktif. akumulasi di dalam organisme dan lingkungan serta terjadinya biomagnifikasi/rantai makanan.

syaraf. Pelayanan rehabilitasi medik a. pengumpulan. CT-Scan. bedah orkologi. penimbunan hasil pengolahan. kologin. pengering lumpur. bak an aerob . rehabilitasi sistem pernafasan. bak penampung awal terpadu. b. 2. KIA dan KB) b. haimodialisa. Rawat Jalan a.Pengolahan limbah cair yang sekarang dilakukan rumah sakit Bethesda meliputi penangkap lemak. THT. paru. farmasi. obsteriginekologin. Poliklinik (umum. gigi. 3. kamar bersalin dan beddah sentral. bedah plastik. kulit dan kelamin serta rehabilitasi medik. Spesialistik (penyakit dalam. Spesialistik (penyakit dalam. pelayanan sterilisasi. . Sub spesialistik (bedah syaraf. bak Pre treatment bak laundry. radiologi. bedah. bedah urologi dan bedah digestik). digester. pengolahan makanan dan gizi. instalasi pemeliharaan saran. Penunjang umum Yaitu administrasi. kesehatan jiwa. sand filter. Sub spesialistik (bedah syaraf. paru. bedah ortopedi dan bedah rekonstruksi. syaraf. Pelayanan gawat darurat 4.bak penampung awal. kesehatan anak. mata kulit dan kelamin. bedah plastik. dan rehabilitasi medik). bedah orkologi. Penanganan IPAL rumah sakit Bethesda belum sempurna oleh karena itu. USG. Unit-unit yang ada di rumah sakit 1. Prothese dan ortotik 5. bak equalisasi . Rawat inap a. bak pengendapan. c. 6. mata. Pengelolaan yang dilakukan mencakup penyimpanan. pendidikan dan penelitian dan informasi. bedah ortopedi dan bedah rekonstruksi. bedah obsterigine. maka rumah sakit Bethesda sangat membutuhkan sarana instalasi limbah cair tersebut agar parameter limbah cair yang melebihi baku mutu khususnya fosfat dapat ditangani. Fisik (rehabilitasi sistem radiovaskuler. kolam ikan. THT. kesehatan jiwa. bedah urologi dan bedah digestik). Pelayanan penunjang Yaitu laboratorium. Perawatan Umum b. Rehabilitasi mental spiritual c. kesehatan anak. c. kamar operasi. pengolahan. rehabilitasi sistem neuromuskuler dan lekomotor.

1.3 Tujuan Penelitian Meneliti tingkat efektifitas larutan kapur. 1.4 Kegunaaan Penelitian Untuk membantu pihak pengelola rumah sakit dalam rangka penanganan limbah cair khusus parameter fosfat sehingga tidak mencemari lingkungan. larutan tawas dan zeolit untuk menurunkan kadar fosfat dalam limbah cair Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah Identifikasi Limbah cair Rumah Sakit mengandung bahan pencemar yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat sekitarnya Parameter fosfat yang terkandung dalam limbah cair Rumah sakitmelebihi baku mutu yang ditetapkan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA . Dari latar belakang dan identifikasi maka dapat dirumuskan sebagai berikut : Apakah kadar bahan pencemar yang fosfat yang terkandung dalam limbah rumah sakit dapat diturunkan sehingga memenuhi baku mutu yang ditetapkan ? 1.

pasien-pasien Petronella dipindahkan ke rumah sakit darurat di Pingit (sekarang asrama Polisi) dan Rumah Sakit Petronella dipindahkan kembali ke Gondokusuman dan berganti nama menjadi Jogjakarta Tjuo Bjoin (Rumah Sakit Pusat Jogyakarta) dan dipimpin oleh orang Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan.Scheurer kembali ke Belanda pada tahun 1906 dan kepemimpinan RS Petronella selama 36 tahun berikutnya dibagi rata oleh tiga orang dokter. 548/Menkes/VI/1994 tanggal 13 Juni 1994. kapasitas rmah sakit yang semula 150 tempat tidur ditingkatkan menjadi 475 tempat tidur. semasa kepemimpinan dr. dengan kapasitas awal 150 tempat tidur dan dikelola sepenuhnya oleh gerejagereja Gereformed di Amsterdam. yaitu dr. J.Scheurer mendirikan Rumah Sakit Petronella di kampung Gondokusuman. Dalam kurun waktu 1924-1925. Rumah Sakit Rumah Sakit adalah integrasi organisasi sosial dan kesehatan yang berfungsi melayani masyarakat dengan pelayanan kesehatan secara menyeluruh baik kuratif maupun preventif serta pelayanan penderita berobat jalan mencakup lingkungan keluarga.1. Pruys. Offringa dan dr. Rumah Sakit Petronella disebut juga sebagai rumah sakit Dokter Tulung/Pitulung karena tidak memungut biaya perawatan rumah sakit. Pada tahun 1899 dr. disamping juga merupakan pusat latihan tenaga kesehatan dan tempat untuk mengadakan pelatihan medis.Offringa.Groot.J. sering dikenal sebagai bentuk pelayanan yang berorientasi pada pelayanan kuratif saja. Rumah sakit akan menghasilkan limbah yang bersifat infeksius. dr. pencegahan.J. dr. pengobatan dan pelayanan kesehatan. Sewaktu terjadi perang antara Sekutu dan Jepang. maka rumah sakit diharapkan berangsur akan berkembang kearah pelayanan kesehatan paripurna yang mencakup upaya peningkatan.G. tetapi untuk mencapai tujuan pembangunan bidang kesehatan. Rumah sakit merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh. Rumah Sakit Petronellapun bernama resmi Het Zendingsziekenhuis Petronella Voor on en minvermogenden (Rumah Sakit Petronella untuk orang-orang yang kurang dan tidak mampu). Tujuannya untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari bahan buangan atau limbah rumah sakit serta mencegah meningkatnya infeksi nosokomial di lingkungan rumah sakit. Ketika menerima subsidi dari pemerintah. Lucas Gerard Johannes Samallo sebagai dokter . Rumah Sakit Jogjakarta Tjuo Bjoin direbut dari Jepang dan berganti nama menjadi Rumah Sakit Pusat. toxic dan radioaktif dalam melakukan kegiatannya sehingga perlu adanya upaya penyehatan lingkungan rumah sakit. K.2. Salah satu upaya penyehatan lingkungan rumah sakit teresbut adalah peraturan pemerintah tentang adanya suatu satuan kerja yang bertanggungjawab terhadap penyehatan lingkungan rumah sakit yaitu Instalasi Sanitasi melaui SK Menkes No.P. dengan dr.

Wahidin : Jalan Johar Norhadi Struktur Organisasi Rumah Sakit Bethesda Struktur organisasi RS Bethesda Yogyakarta sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Pimpinan Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (DP-YAKKUM) No.935 m2 dengan luas bangunan mencapai 25. Supaya umum mengetahuinya bahwa Rumah Sakit Kristen. Penelitian dan Pengembangan Bidang Pelayanan Keluarga Berencana RS Bethesda Bidang Sosial Pastoral Bidang usaha Peningkatan Kesehatan Masyarakat (UPKM) Bidang Pendidikan SPK dan Bidan Bidang Pelayanan Kesehatan (YANKES) Lempuyangwangi . dengan batas-batas: • • • • Utara Selatan Timur Barat : Jalan Jenderal Sudirman : Universitas Kristen Duta Wacana dan Komplek DKT : Jalan Dr. Rumah Sakit Bethesda terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di jalan Jenderal Sudirman No. maka berdasarkan hasil rapat Dewan Pimpinan YAKKUM (Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum) selaku pengawas yang berpusat di Surakarta. tanggal 28 Juni 1949.3880/K.412 m2 dan tanah kosong dalam komplek 36. 70. rumah sakit secara resmi berdiri dan beroperasi di Yogyakarta dengan nama Rumah Sakit Bethesda.966/1997 tanggal 22 Juli 1997 tentang organisasi dan tata kerja RS Bethesda Yogyakarta yang terdiri dari: • • • • • • • • • • • • • Direktur Wakil Direktur Pelayanan Medik Wakil Direktur Penunjang Medik Wakil Direktur Keuangan Wakil Direktur Personalia dan Umum Bidang Satuan Pengawasan Intern Bidang Sekretariat Bidang Perencanaan.423 m2 . Lokasi Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta terletak pada sebidang tanah yang mempunyai luas 61. 1714 / K. Kotamadya Yogyakarta.pertama berbangsa Indonesia yang memimpinnya.uk RS BETH /1996 tanggal 23 Maret 1996 dan kemudian diberlakukan di RS Bethesda dengan Surat Keputusan Direktur No.

dan wastafel. maka kualitas dan kuantitas air yang digunakan untuk 2. alkohol. Limbah gas berupa: . asam sulfat (merupakan specimen laboratorium). Mengingat bahwa rumah sakit merupakan tempat tindakan pelayanan dan perawatan orang sakit. Limbah padat berupa: 3. Kotoran lemak Deterjen Specimen laboratorium padatan Perban/kasa Spet suntikan Kapas darah Sisa makanan Kertas Plastik Kaca Sisa amputasi Sisa persalinan Sisa operasi Sisa outopsi Sisa insenerasi Gas dari sisa pembakaran di Instalasi Gizi Asap dari pembakaran di Instalasi Incenerator Uap air atau kondensat dari Instalasi Laundry Utilitas 1. Limbah cair berupa: • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Darah.Bahan Polutan Rumah Sakit Bethesda Bahan polutan yang ada dapat diamati dengan jelas dari setiap kegiatan yang dilakukan RS Bethesda Yogyakarta. Air buangan dari kamar mandi. Pengadaan Air Air bersih merupakan kebutuan mutlak yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan setiap rumah sakit dimanapun juga. WC. Bahan polutan yang ada merupakan hasil dari berbagai aktivitas yang menimbulkan dampak dan kemungkinan bahan polutan yang ada antara lain: 1.

Jumlah dari kebutuhan air bersih untuk RS Bethesda diperkirakan ± 875 m3 per harinya. Genset beroperasi secara otomatis apabila suplai listrik dari PLN tidak berjalan atau padam. taman dan untuk pelayanan penerangan umum lainnya.5 pk.kebutuhan rumah sakit harus selalu dipertahankan agar tidak dapat mengakibatkan sumber infeksi baru bagi penderita . Pengadaan Listrik Pencahayaan atau listrik digunakan di semua ruangan yang ad. pengunjung dan karyawan. 3. RS Bethesda juga menggunakan 2 buah genset yang mempunyai daya 500 kVa dan 375 kVa. baik untuk bekerja maupun untuk penyimpanan barang atau peralatan elektronik. dengan sistem otomatis. a. Yang kemudian di pompa water tower yang berjumlah 2 buah. Fasilitas Pemadam Kebakaran Hydrant. b. yang diletakkan di dalam sumur berkedalaman30 sampai 40 meter. demikian juga untuk ruang tidur pasien atau bangsal. 2.1. Tabung pemadam kebakaran sejumlah 64 buah Pihak RS Bethesda juga bekerjasama dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kodya dan KODAM IV/Diponegoro. Pengertian Limbah Cair Rumah Sakit Pengadaan fasilitas untuk pemadam kebakaran berupa: .1. 2. Pengadaan listrik di RS Bethesda berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebesar 5500 kVa. • • • • • • • Pengadaan Transportasi Pengadaan mobil operasional terdiri dari: Mobil ambulance Mobil jenazah Mobil kijang Mikrobus Minibus Sedan Open Cup : 4 buah : 1 buah : 3 buah : 2 buah : 1 buah : 2 buah : 1 buah Dengan tenaga sopir 11 orang 4. yang ditempatkan di 16 titik yang dianggap dapat mewakili seluruh areal bangunan RS Bethesda. untuk itu pihak RS Bethesda menggunakan 5 (lima) buah pompa dengan daya 10 pk dan 7. Selain menggunakan sumber listrik PLN.

sisa obat. Limbah tersebut dapat berupa sisa darah. ruang bedah dan runag lain dalam bnagunan kecuali limbah cair radiologi. RSU masih dibagi lagi menjadi beberapa type/kelas RSUP (RSU Pemerintah) dapat diklasifikasikan menjadi RSU type A. spesialistik dan subspesialistik. Terakhir RSU Type D atau Kelas Pratama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis dasar. B. ruang laboratorium.Limbah cair rumah sakit merupakan limbah cair dari semua sumber pembuangan misalnya kloset. Rumah Sakit khusus. b.2. Rumah Sakit Umum (RSU). yang menangani hampir semua penyakit/memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar. 2. Macam jumlah dan kadar zat pencemar yang dihasilkan dari setiap sumber tersebut bervariasi tergantung kegiatan/aktivitasnya dan bahan yang digunakan.1. Klasifikasi Rumah Sakit Secara umum industri rumah sakit dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian. 1. 2. 983/SK/Menkes/XI/92 menyebutkan bahwa RSU Type A adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan subspesialistik luas. air bekas pencucian dan lain-lain. Rumah Sakit Negeri/ Pemerintah.1. yang dikelola oleh Depkes dan merupakan milik pemerintah (pusat atau daerah). Berdasarkan status kepemilikan /pengelolaan a. Sumber Limbah Cair Rumah Sakit . RSU Type B atau Kelas Utama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan subspesialistik terbatas. RSU Type C atau Kelas Madya adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik dasar. ruang pasien. yaitu. Rumah Sakit Swasta. tempat pencucian pakaian. Keputusan Menkes RI No. ruang operasi dan lainnya. Berdasarkan macam/jenis penyakit yang ditangani a. C dan D. Madya. dan Pratama. Limbah cair rumah sakit adalah limbha cair yang berasal dari rumah sakit baik ynag berasal dari dapur. Departemen Hankam dan BUMN. b. Sedangkan Rumah Sakit Bethesda tergolong RSU Kelas Utama.3. Benang merah yang menghubungkan RSUP DAN RSU Swasta adalah paralelisasi antara Type B dan Kelas Utama. 2. yang dikelola oleh yayasan. sisa bahan kimia/radiologi. dapur. Type C dan Kelas Madya serta Type D dan Kelas Pratama. tinja. urine. yang menangani hanya 1 (satu) atau beberapa jenis penyakit tertentu.Sedangkan RSU Swasta dibagi atas Kelas Utama. kamar mandi.

urinoir. Ruang Perawatan berasal dari: Kamar mandi. urinoir. tempat buang exudat pasien. tempat cuci instrumen medik. tempat cuci alat-alat dapur. tempat cuci instrumen medik.Dalam melakukan kegiatan pelayanan kesehatan rumah sakit akan menghasilkan limbah cair. Wastafel. tempat cuci perabot makan. Limbah cair alur barat Limbah cair dari alur barat lebih didominasi oleh air buangan yang berasal dari ruang-ruang rawat inap (kamar mandi/WC. Spoelhock. Ruang Dapur: Kamar mandi. 7. urinoir. 10. Spoelhock. 3. urinoir. 4. Wastafel. wastafel) dan di tambah buangan dari asrama putra AKPER RS Bethesda. Ruang Haemodialisa: Kamar mandi. 13. yang disalurkan melalui assenering baik assenering DKP maupun assenering pihak RS Bethesda sendiri menuju instalasi pengolahan air limbah. Fasilitas Sosial (Kafetaria. urinoir. floor drain. 2. tempat cuci instrumen medik. Sumber-sumber limbah rumah sakit meliputi: 1. tempat cuci perabot makan. pantry. Wastafel. 9. 11. tempat cuci instrumen medik. Wastafel. tempat pembedahan mayat/autopsi. tempat cuci beras. tempat cuci instrumen medik. tempat cuci film. Unit Radiologi: wastafel. Adapun sumber-sumbernya adalah sebagai berikut: 1. tempat cuci sayur/buah. Ruang Operasi: Kamar mandi. Instalasi Laboratorium Klinik/Patologi Anatomi: Kamar mandi. Untuk mengetahui jenis limbah yang dihasilkan yang digunakan sebagai dasar cara pengolahannya maka perlu diketahui sumber-sumber yang menghasilkan limbah rumah sakit. pantry. tempat cuci instrumen medik. tempat mencuci jenazah. Wastafel. parasit. Spoelhock. 5. kamar mandi. floor drain. urinoir. pantry. Spoelhock. Ruang Kamar Jenazah/Autopsi: Kamar mandi. Ruang Rawat Jalan: Kamar mandi. tempat wudlu. Unit Perkantoran/Perpustakaan: Kamar mandi. tempat cuci preparat. Pemukiman (Rumah Dinas. Sumber Penghasil Limbah RS Bethesda Limbah rumah sakit adalah semua air buangan yang berasal dari aktivitas instalasiinstalasi rumah sakit yang kemungkinan besar mengandung mikroorganisma. 6. Masjid): Kamar mandi. Wastafel. bahan kimia beracun dan radio aktif. 12. wastafel. Wastafel. buangan pembilas air panas. buangan dari pembilas mesin cuci. Asrama): Kamar mandi. Wastafel. 8. tempat buang exudat pasien. floor drain. tempat buang exudat pasien. Air limbah ini mengalir . Ruang Laundry: tempat rendaman linen kotor. Ruang Rawat Darurat: Kamar mandi.

2. Zat organik terdiri dari 65 % protein. Zat organik tersebut sebagian besar mudah terurai (degradabel) yang merupakan sumber makanan dan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme yang lainnya. 2. lemak dan detergen untuk kemudian diolah secara bertingkat. warna dan temperatur. Dari laundry ini dihasilkan limbah cair dengan kandungan detergen yang tinggi sehingga memilki pH dan suhu yang tinggi. kimia dan biologis. ruang radiologi dan lain-lain yang menghasilkan limbah. laboratorium. Komposisi limbah cair rumah sakit sebagian besar terdiri dari 99. Limbah cair alur timur Limbah cair alur timur memilki karakteristik pencemar yang lebih kompleks. Partikel-partikel padat terdiri dari zat organik 70 % dan anorganik 30 %. kantor. a. bau. karena selruh kegiatan RS Bethesda yang berada di bagian timur seperti ruang rawat inap.1. kejernihan.9 % dan sisanya terdiri dari partikel-partikel tidak terlarut 0.1 %. menyalurkan air buangannya ke saluran assenering alur timur baik secara gravitasi maupun dengan bantuan pompa. 3. Karakteristik Limbah Cair Rumah Sakit Air limbah pada intinya dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu sifat fisik. .4. Instalasi gizi (dapur) Kegiatan instalasi gizi yaitu melayani kebutuhan makanan pasien maupun karyawan sehingga dari kegiatan ini juga dihasilkan limbah cair. Laundry Laundry juga merupakan salah satu instalasi penting yang umum dimiliki oleh setiap rumah sakit tidak terkecuali RS Bethesda. Adapun sifat fisik yang penting adalah kandungan zat padat sebgaai efek estetika. ruang farmasi. 4. yang mengandung minyak. 25 % karbohidrat dan 10 % lemak. Sifat Fisik Penentuan derajat kekotoran air limbah sangat dipengaruhi oleh adanya sifat fisik yang mudah dilihat.secara gravitasi dengan 13 bak kontrol di titik-titik tertentu guna mengawasi lancar tidaknya aliran.

2. Cd.b. yang dijumpai dalam air limbah bersisikan 40-60 % adalah protein. maka sekitar 75 % dari benda-benda tercampur dan 40 % dari zat yang dapat disaring adalah berupa bahan organik. Bahan Organik Air limbah dengan pengotoran sedang. Mikrooganisme yang penting dalam air limbah dan air permukaan dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu: 1. Unit-unit Pengolahan Air Limbah RS Bethesda . jamur. Fe dan Hg Metan Hidrogen Fosfor Gas seperti NH3. Pb.1. O3 c. Protista. CH4.5. Adapun zat kimia yang penting dalam air limbah pada umumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. 25-50 % berupa karbohidrat serta 10 % lainnya berupa lemak. meliputi: bakteri. Bahan Anorganik Sedangkan zat organik yang penting peranannya di dalam mengontrol air limbah adalah: pH Kadar Khlor Alkalinitas Kadar Sulfur Zat beracun Logam berat seperti: Ni. Sifat Bakteriologis Sifat bakteriogis pada air buangan perlu diketahui untuk menaksir tingkat kekotoran air limbah sebelum dibuang ke badan air. protozoa dan algae sangat penting di dalam proses dekomposisi atau stabilisasi bahan-bahan organik 2. Zn. Cu. Mg. protozoa dan algae Binatang dan tanaman Dari klasifikasi tersebut diatas. 2. Sifat Kimia Sifat kimia dalam air limbah dapat diketahui dengan adanya zat kimia air buangan. Cr.

1. Instalasi penampung awal Instalasi penampung awal berfungsi untuk menampung keseluruhan limbah dari RS Bethesda yang berasal dari cucian, dapur mauun rawat inap. 2. Bak ekualisasi Bak ekualisasi berfungsi untuk mencampur limbah dari berbagai sumber sehingga menjadi limbah yang homogen dengan waktu tinggal 27 jam. 3. Instalasi anaerob biofilter Instalasi anaerob biofilter berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana dengan bantuan bakteri yang ada pada biofilter. Waktu tinggal dalam bak ini 16 jam. 4. Instalasi aerob Instalasi aerob berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks yang lolos dari pengolahan sebelumnya menjadi senyawa yang lebih sederhana, pada proses ini penambahan oksigen dilakukan dengan bantuan blower. Waktu tinggal dalam bak 8 jam. 5. Instalasi pengendapan (settling) Instalasi pengendapan (settling) berfungsi untuk memberi kesempatan lumpur agar mengendap. Waktu tinggal dalam bak pengendspan 7 jam. 6. Instalasi penampung hasil Instalasi penampung hasil berfungsi untuk menampung limbah yang telah mengalami pengolahan (limbah terolah). Limbah ini dipompakan ke instalasi sand filter dan sebelumnya jam. 7. Instalasi sand filter Instalasi sand filter berfungsi untuk menyaring limbah sehingga diperoleh kualitas yang lebih baik lagi. 8. Instalasi fish pond Instalasi fish pond atau kolam ikan berfungsi untuk tempat penampungan limbah terolah yang telah tersaring di sand filter. Kolam ikan ini dilengkapi dengan pancuran air. 9. Instalasi digester dan biogas Instalasi digester dan biogas berfungsi untuk menaqmpung semua lumpur yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah. 10.Instalasi pengering lumpur (drying bed) Instalasi pengering lumpur befungsi untuk menampung endapan lumpur dari digester untuk dikeringkan. dilakukan disinfeksi dengan memberikan kaporit melalui sistem injeksi/suntikan dengan tujuan membunuh bakteri patogen. Waktu tinggal dalam bak 7

2.2. Fosfat Fosfat berada dalam air limbah dalam bentuk organik. Sebagai ortophosfat anorganik atau sebagai fosfat-fosfat kompleks. Fosfat kompleks mewakili kira-kira separuh dari fosfat air limbah perkotaan dan berasal dari penggunaan bahan-bahan detergen sintetis. Fosfat kompleks mengalami hidrolisa selama pengolahan biologis menjadi bentuk ortofosfat (PO43-) Dari konsentrasi rata-rata fosfor keseluruhan sebanyak 10 mg/l berada dalam air limbah perkotaan , kira-kira 10 % dibunag sebagai bahan tak terpakai selama pengendapan primer dan 10 % hingga 20 % lainnya digabungkan ke dalm sel-sel bakteri selam apengolhan biologis. Sisa yang 70 % dari fosfor yang masuk pada umumnya dilepaskan bersama bunagan instalasi sekunder. Bentuk-bentuk penting fosfat dalam air limbah adalah pospor organik, polyphosfat dan orthophospat. Poyfosfat banyak digunakan dalam pembuatan detergen sintetis. Komponen fosfat dipergunakan untuk membuat sabun sebagai pembentuk buih. Dan adanya fosfat dalam air limbah dapat menghambat penguraian pada proses biologis. Sedangkan menurut Juli Sumirat, detergen dapat mempermudah absorbsi racun pada ikan melalui insang dan bersifat persisten sehingga terjadi akumulasi. Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut, tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air. Dalam air limbah senyawa fosfat dapat berasal dari limbah penduduk, industri dan pertanian. Di daerah pertanian ortofophosfat berasal dari bahan pupuk, yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan. Poliphosfat dapat memasuki sungai melalui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan detergen yang mengandung fosfat seperti industri pencucian, industri logam dan sebagainya. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat bagi pertumbuhannya. Bermacam-macam jenis fosfat juga dipakai untuk penngolahan anti karat dan anti kerak pada pemanas air (boiler). Bila kadar fosfat pada air alam sangat rendah (<0,01 mg/l), pertumbuhan tanaman dan ganggang akan terhalang, keadaan ini dinamakan “oligotrop”. Pembuangan limbah yang banyak mengandung fosfat ke dalam badan air dapat menyebabkan pertumbuhan lumut dan mikroalgae yang berlebih yang disebut “eutrophication” , sehingga air menjadi keruh dan berbau karena pembusukan lumut-lumut yang mati. Pada keadaan “eutrotop” tanaman dapat menghabiskan oksigen dalam sungai atau kolam pada malam hari atau bila tanaman tersebut mati dan dalam keadaan sedang mencerna (digest) dan pada siang hari pancaran sinar matahari kedalam air akan berkurang, sehingga proses fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen juga berkurang.

Banyak metode yang telah diusulkan untuk pembuangan kelebihan fosfat. Metode ynag paling efektif meliputi pengendapan kimiawi. Senyawa-senyawa fosfat dapat dibuang dengan penambahan koagulan, misalnya alum, kapur, ferrichlorida atau ferrous sulfat. Bahan-bahan kimia itu dapat ditambahkan sebelum pengendapan primer, alum dan garam-garam besi dapat dimasukkan ke dalm tanki aerasi selama proses lumpur diaktifkan atau bahan-bahan kimia itu dapat dimasukkan pada suatu tahap pengolhan primer. Sebagian besar dari bahan organik tersebut dibuang, begitu pula fosfatnya, sehingga dihasilkan pengurangan beban pada proses pengolahan biologis. Walaupun demikian, lumpur yang diproduksi jumlahnya lebih besar. Bila bahan-bahan kimia dimasukkan langsung ke dalam tangki aerasi dari suatu instalasi lumpur yang diaktifkan, maka pengolahan kimiawi dan biologis terjadi bersama-sama, sehingga hanya sedikit peralatan tambahan yang dibutuhkan. Pengendapan kimiawi, terutama yang menggunakan kapur, kadang-kadang dikerjakan pada tahap ketiga setelah pengolahan biologis guna pembuangan fosfat serta peningkatan pH buangan dalam persiapan bagi proses pembuangan ammonia-nitrogen. Reaksi kimia dari proses pengendapan secara kimiawi antara fosfat dengan alum, garam besi dan kapur adalah sebagai berikut: Pengendapan dengan alum: AL2(SO)3 + 2HPO4
–2

2AlPO4

+ 3SO4-2

+ 2H

Pengendapan dengan garam besi: FeCl3 + HPO4
–2

FePO4

+

H+

+ 3Cl-

Pengendapan dengan kapur: 5Ca(OH)2 + 3HPO4
–2

Ca5(PO4)3OH

+

3H2O

+ 6OH-

2.2.1. Pemisahan Fosfat Secara umum analisa fosfat meliputi 2 (dua) langkah : a. Merubah bentuk fosfor menjadi ortofosfat yang larut. b. Menentukan secara kolorimetris ortofosfat yang larut. Pemisahan fosfor kedalam berbagai bentuk telah luas didefinisikan secara analitis, tetapi telah dipilih pembedaan analisa, sehingga dapat diperguakan untuk tujuan interpretasi. Pemisahan “yang dapat disaring” (atau “terlarut”) dari “partikel” fosfat tergantung filter membran 0,45 µm yang dipergunakan. Pemilihan filtrasi dengan membran melebihi ketebalan filtrasi dilakukan karena kemungkinan diperoleh lebih besar atau pemisahan ukuran partikel dengan tekinik pemisahan membran. Penyaringan pendahulluan dengan filter serat gelas dapat dilakukan untuk mempercepat proses penyaringan. Tidak dapat dituntut bahwa penyaringan

yang tergantung pada fosfat terlarut dan tersuspensi. Total ortofosfat terlarut dan partikel c. d.45 µm dapat memisahkan dengan sebenarnya antara fosfat yang istilah “yang dapat disaring” (lebih baik “yang larut”) untuk tersuspensi dengan yang terlarut. Fosfat partikel yang dapat dihidrolisa oleh asam l. Partikel i. Tetapi perlu diingat bahwa sebagian kecil dari fosfat terikat yang ada tidak dapat menghindari cara hidrolisa ini dan dilaporkan sebagai bagian dari ortofosfat. f. Hidrolisa tidak dapat dihindrakan untuk membebaskan fosfat dari senyawa organik. terlarut dan partikel. Ortofosfat terlarut. Biasanya terdapat sedikit variasi. Total fosfat organik terlarut dan partikel FISIK Terlarut e. Hidrolisa dengan asam pada temperatur mendidih untuk mengubah fosfat dalam bentuk terlarut dan partikel menjadi ortofosfat yang dapat disaring. Kekuatan oksidasi yang diperlukan untuk konversi tergantung pada bentuk dan jumlah dari fosfat organik yang ada. Seperti ortofosfat dan fosfat dari hidrolisa asam. Total fosfat terlarut dan tidak terlarut. Sampel Tanpa penyaringan . Ortofosfat terdapat dalam bentuk terlarut dan partikel. Dua belas fosfat tersebut dapat dilihat pada tabel 1. fosfat organik terdapat dalam larutan dan partikel.melalui filter membran Penggunaan 0. terlarut. Fosfat organik terlarut. Fosfat partikel organik. Total fosfat terlarut yang dapat dihidrolisa h. Ortofosfat partikel. Organik Total a. k. Bagian-bagian fosfat yang diubah menjadi ortofosfat hanya dengan perombakan oksidatif terhadap bahan organik disebut fosfat organik/terikat secara organik. Klasifikasi Fosfat Tipe Kimiawi Total Orto Yang dapat dihidolisa oleh asam.45 µm. Tabel 1. Keseluruhannya ada tiga bagian (total. Total fosfat terlarut . Total fosfat partikel j. Fosfat yang dapat langsung diperiksa secara kolorimetris tanpa hidrolisa pendahuluan atau perombakan secara oksidatif dan dianggap sebagai “ortofosfat”. dan tersuspensi) dan masing-masing secara analisis dibagi menjadim tiga tipe kimiawi seperti telah diuraikan diatas yaitu ortofosfat fosfat yang dapat dihidrolisa dengan asam fosfat organik . fosfat total yang dapat dalam sampel dapat dipisahkan pada analisa dengan penyaringan kedalam bagian yang disaring dan partikel. menguraikan bentuk fosfat yang ditentukan dalam filtrat yang melalui membran 0. Total fosfat yang dapat dihidrolisa oleh asam. Didalam praktek. g. tetapi faktor ini telah dikurangi seminimum mungkin (sangat sesuai untuk hidrolisa fosfat terikat) dengan bijaksana memilih kekuatan asam lebih disukai terhadap “fosfat terikat” pada teknik ini. b.

Suhu air Suhu air yang rendah mempunyai pengaruh terhadap efisiensi proses koagulasi. Pola Klasifikasi Fosfat 2. Derajat Keasaman (pH) . Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi sebagai berikut : a. b.Gambar 1.3. dan masa inti partikel. Bila suhuair diturunkan . Koagulasi dan Flokulasi 2.1 Koagulasi Koagulasi adalah dicampurkannya koagulan dengan pengadukan secara cepat guna mendistabilisasi koloid dan solid tersuspensi yang halus. maka besarnya daerah pH yang optimum pada proses kagulasi akan berubah dan merubah pembubuhan dosis koagulan.3. kemudian membentuk jonjot mikro (mikro flok).

1995). Dosis koagulan Untuk menghasilkan inti flok yang lain dari proses koagulasi dan flokulasi sangat tergantung dari dosis koagulasi yang dibutuhkan Bila pembubuhan koagulan sesuai dengan dosisyang dibutuhkan maka proses pembentukan inti flok akan berjalan dengan baik. Kadar ion terlarut Pengaruh ion-ion yang terlarut dalam air terhadap proses koagulasi yaitu : pengaruh anion lebih bsar daripada kation. c. f. Ada dua jenis proses flokulasi yaitu : optimum yang berbeda satu sama . Alkalinitas dalam air dapat membentuk flok dengan menghasil ion hidroksida pada reaksihidrolisa koagulan.3. 2. Kecepatan pengadukan Tujuan pengadukan adalah untuk mencampurkan koagulan ke dalam air. 19920. sehingga semua koagulan yang dibubuhkan dapat bereaksi dengan partikel-partikel atauion-ion yang berada dalam air. d. Jenis Koagulan Pemilihan jenis koagulan didasarkan pada pertimbangan segi ekonomis dan daya efektivitas daripadakoagulan dalam pembentukan flok. Untuk tiap jenis koagulan mempunyai pH lainnya.Proses koagulasi akan berjalan dengan baik bila berada pada daerah pH yang optimum. kalsium dan magnesium tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap proses koagulasi. Koagulan dalam bentuk larutan lebih efektif dibanding koagulan dalam bentuk serbukatau butiran. Sebaliknya pada tingkat kekeruhan air yang tinggi maka proses destabilisasi akan berlangsung cepat. Tingkat kekeruhan Pada tingkat kekeruhan yang rendahproses destibilisasi akan sukar terjadi. e. Dengan demikian ion natrium. Tetapi apabila kondisi tersebut digunakan dosis koagulan yang rendah maka pembentukan flok kurang efektif. Alkalinitas Alkalinitas dalam air ditentukan oleh kadar asam atau basa yang terjadi dalam air (Tjokrokusumo. Flokulasi Flokulasi adalah pengadukan perlahan terhadap larutan jonjot mikro yang menghasilkan jonjot besar dan kemudian mengendap secara cepat (Tjokrokusumo. Kecepatan pengadukan sangat berpengaruh terhadap pembentukan flok bila pengadukan terlalu lambat mengakibaykan lambatnyaflok terbantuk dan sebaliknya apabila pengadukan terlalu cepat berakibat pecahnya flok yang terbentuk h. g.2. Dalam pengadukan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengadukan harus benar-benar merata.

. Kalsium Hydrated lime memiliki tingkat kepadatan kira-kira 2. prosesnya disebut flokulasi perikinetik. penggunaan dari kapur antara lain dibidang kesehatan lingkungan untuk pengolahan air kotor. Netralisasi asam .K. sebagian besar umumnya berwarna putih dan pada tinhkat tinggi dapat berwarna abu-abu. 1986). akan mengakibatkan terjadinya gabungan antar partikellebih sangat kecil 1 < 100 milimikron (Sank R. Cara kerjanya adalah kapur ditambahkan untuk mereaksikan alkalibikarbonat serta mengatur pH air sampai sehingga menyebabkan pengendapan. CaO adalah bahan mudah larut dalam air dan menghasilkan gugus hidroksil yaitu Ca(OH)2.a. c. kapur dapat mengurangi kandungan bahan-bahan organik. Dengan adanya perbedaan kecepatan aliran media cair akan mempunyai aliran kecepatan yang berbeda pula akibatnya akan terjadi tumbukan atau kontak antar partikel. Flokulasi perikinetik Flok yang diakibatkan oleh adanya gerak thermal (panas) yang dikenal sebagai gerak Brown.3 g/gm3 d. Kepadatan. powder b. Hydrate lime siap bereaksi dengan asam dan gas sehingga tentu saja berkemampuan menetralisasi asam. Gerak acak dari partikel-partikel koloid yang ditimbulkan karena adanya tumbuhan molekul-molekul air. Hydrate lime dihasilkan dari reaksi quickime (CaO) dengan air. Perubahan kecepatan dari satu titik ke titik lainnya dikeal sebagai gradien kecepatan. e.85 Ca(OH)2/l air pada suhu 00C sampai0. yang bersifat basa dan disertai keluarnya panas yang tinggi. Bentuk kristal. tingkat kelarutan dari kira-kira 1. Kelarutan.4. Flokulasi orthokinetik Flokulasi orthokinetik adalah suatu proses terbentuknya flok yang diakibatkan oleh terbentuknya gerak media (air) misalnya pengadukan (Sank R. Menurut Tarmiji. Sifat-Sifat Kapur (lime) dan Penggunaan nya. Warna. 2. sehingga terbentuk Ca(OH)2.7 g/l pada suhu 1000C. Proses pengendapan ini akan berjalan secara efektif apabila pH air antara 6 – 8 (Considine). Pada pengolahan air kotor. Sifat-sifat fisik dan kimia Hydrate lime : a. b. Kapur (lime) secara umum terdapat dalam dua bentuk yaitu CaO dan Ca(OH)2. air limbah maupun industri lainnya. Pada umumnya kecepatan aliran cairan akan berubah terhadap tempat dan waktu. 1986). 1986.K. dengan notasi G.

pertanian dan lain-lain. mangan. Selain CaO juga MgO serta molekul-molekul lainnya tergantung pada batuan kapur yang asli dari alam. Khusus di sektor lingkungan kapur dapat berguna dalam: a. pH. sebagai bahan bangunan. Selain itu.3 pada suhu 250C. . Proses pengolahan air.f. konsentrasi 0. memperkecil kadar silika.8/l memberikan pH sebesar 12. menetralisasi keasaman. air kapur dapat berguna sebagai bahan penurun kesadahan. kandungan 1. Penggunaan berbagai keperluan maka batuan kapur dari alam biasanya akan mengalami proses pembakaran terlebih dahulu yang disebut “calcination”. Pada larutan 250C.7. fluorida dan bahan-bahan organik. reaksi antara CaO dan air akan menghasilkan gugus hidroksil Ca(OH)2 yang bersifat basa dengan reaksi sebagai berikut: CaO + H2O Ca(OH)2 + heat Ca(OH)2 Ca++ + 2OH- Karena sifat-sifat kapur dapat digunakan sebagai pengendap terhadap fosfat maka reaksi yang terjadi adalah 3 Ca2+ + 2PO43Ca3 (PO4)2 Penggunaan Kapur Kapur telah diikenal sebagai bahan yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan diantaranya dipakai pada bidang-bidang industri misalnya industri kimia. kertas. dan lainlainnya. Hasil dari proses ini antara lain adalah CaO ditambah CO2 yang keluar sebagai gas. karena kalsium hidroksida adalah termasuk basa kuat. Contoh reaksi yang terjadi pada proses “calcination” ini apabila batuan kapur dari alam berkomposisi sebagai kombinasi dari kalsium dan Magnesium Karbonat adalah sebagai berikut: CaCO3Mg CO3 CaOMgO + 2CO2 Calcim Oxide (CaO) adalah merupakan bahan yang mudah larut dalam air dengan mengeluarkan panas yang tinggi (Highleyexotermically).10 g Ca(OH)2/l dapat memberi pH kira-kira 11. Selain itu dapat juga mengurangi kadar BOD dengan cara menyerap antara 40% sampai 50 % bahan organik terlarut maupun tidak terlarut.

Kapur dapat digunakan untuk mengurangi gas SO2 yang keluar dari pembakaran batu bara atau minyak yang mengandung sulfur yang tinggi melalui suatu proses yang disebut “wet scrubing”. yang paling banyak digunkan karena bahan ini paling ekonomis 9murah). Pada peternakan ayam. sudah dikenal bangsa Mesir pada awal tahun 2000 SM. kapur dapat befungsi antara lain dalam pengendalian keasaman digester.+ 4 H2O Ionisasi dai air sendiri akan terbentuk ion hidroksida sebagai berikut: . Sifat-Sifat Tawas dan Penggunaan nya Persenyawaan Alumunium Sulfat (Al2(SO4)3) atau sering disebut tawas adalah suatu jenis koagulan yang sangat populer secara luas digunakan. disini kapur berfungsi sebagai bahan koagulan. Reaksi yang terjadi jika alum dimasukkan ke dalm air. penyerapan bau (deodorant) dan sebagai desinfektan. 14H2O 2Al3+ + 3SO42.65 m2) lantai yang mengandung kotoran ayam. Proses pengolahan buangan industri besi/baja.79-4. Range pH untuk jenis koagulan alum adalah sebesar 5. reaksi yang kan terjadi reaksi hipotik. 2. Alum yang dilarutkan ke dalam air akan bereaksi dengan kapur atau bahan lain seperti Soda Abu atau Natrium Bikarbonat (Na2CO3). Alum tersebut akan larut di dalam air dengan reaksi sebagai berikut: AL2(SO4)3 . yang sangat dipengaruhi oleh nilai pH yang bersangkutan. Alum atau tawas sebagai penjernih air mulai diproduksi oleh pabrik pada awal abad 1500.5.5 sampai 7. yaitu terjadi proses hidrolisis. Reaksi tersebut antara ion Al dengan ion OH. Proses pengolahan air bekas. e. kapur digunakan untuk menetralisir asam sulfat bebas (free sulfuric acid ) dan mengendapkan garam-garam besi yang terdapat pada limbah industri tersebut. c.8. Kapur juga dapat dipergunakan sebagai penghilang fosfor dalam air. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai “geomedical” untuk mencegah parasit-parasit dan bnayak penyakit ayam. Alum atau tawas merupakan bahan koagulan.45 kg) Hydrates Lime [Ca(OH)2] pada setiap 3-5 ft2 (2. Dosis yang biasa dipakai pada peternakan ayam adalah sekitar 1 lb (0.b. mudah didapatkan di pasaran serta mudah penyimpanannya. karena salah satu cara penghilangan fosfor dalam air adalah pengendapan kimiawi. d. kapur dapat digunkan untuk mengeringkan serta mengurangi bau kotoran ayam yang berceceran di laniat kandang.

.10-19 . yang di dalamnya ditempati oleh molekul air dan ion ion logam alkali. Ksp AlPO4 sebesar 6. Zeolit Zeolit adalah suatu alumnosilikat yang mempunyai struktur berpori dengan saluran dalam rangka kristal.H2O H+ + OH- Kemudian terjadi reaksi antara ion Al3+ dengan ion hidroksida sebagai berikut: 2Al3+ + 6 OH2Al(OH)2 Pengikatan ion hidroksida tersebut di dalam air akan menurunkan alkalinitas air sehingga sebaiknya digunkan bahan tambahan yang dpat meningkatkan nilai alkalinitas seperti kapur.Unit unit tersebut saling berikatan membentuk jaringan anionik dalam tiga dimensi.6.1985 ) menjelaskan bahwa: Kecepatan pertukaran kation dalam zeolit dipengaruhi oleh besar butiran zeolit.Perbandingan antara Si dan Al berkisar antara 1:1 sampai 100:1. 2.sehingga terjadi reaksi Al3+ + PO43AlPO4 Pengendapan dapat terjadi apabila hasil kali { Al3+ }dan { PO43 -} lebih besar dari Ksp AlPO4 .3 .Dengan sifat di atas maka zeolit dapat bekerja sebagai penukar ion dan sebagai penyaring melalui adsorpsi selektif atau penolakan molekul karena adanya penolakan molekul karena adanya perbedaan dalam ukuran molekul dan faktor lainnya Selanjutnya dari hasil pengujian terhadap beberapa aspek yang ada kaitannya dengan pertukaran ion pada zeolit ( Komar bersama rekan . Dengan demikian supaya terjadi pengendapan hasil kali konsentrasi yang bereaksi harus lebih besar dari pada Ksp nya.Struktur yang paling stabil adalah zeolit yang perbandingan Si dan Al nya adalah 1:1.Unit dasar pembentuk zeolit adalah SiO4 dan AlO4 yang membentuk tetra hedral. soda abu atau soda kaustik (Natrium Oksida) Reaksi yang terjadi: AL2(SO4)3 + 3Ca(OH)2 2Al(OH)3 + 3CaSO4 AL2(SO4)3 + 3Na2CO3 + H2O 2Al(OH)3 + 3Na2SO4 + 3CO2 Oleh karena tawas /alum mempunyai sifat koagulan dalam larutan maka bila tawas bersenyawa dengan limbah yang mengandung unsur fosfat .

Mineral alam zeolit biasanya masih tercampur dengan mineral lainnya seperti kalsit. gypsum. Struktur kristal zeolit dimana semua atom Si dan Al dalam bentuk tetrahedral (TO4) disebut unit bangun primer. kabarsit dan erionit. melainkan harus dianalisa strukturnya. yang saat itu dikenal sebagai molecular materials. Y. Dengan demikian. Zeolit tidak dapat diidentifikasi hanya berdasarkan analisa komposisi kimianya saja. Ion-ion logam tersebut dapat diganti oleh kation lain tanpa merusak struktur zeolit dan dapat menyerap air secara reversible. Berdasarkan UBS semua zeolit baik dalam bentuk alami atau sintetik. mordernit.Zeolit biasanya ditulis dengan rumus kimia oksida atau berdasarkan satuan sel kristal. Pemanfaatan zeolit masih belum banyak diketahui secara luas. tekanan uap air setempat dan komposisi air tanah lokasi kejadiannya. Mineral zeolit telah dikenal sejak tahun 1756 oleh Cronstedt ketika menemukan Stilbit yang bila dipanaskan seperti batuan mendidih (boiling stone) karena dehindrasi molekul air yang dikandungnya. diantaranya klinoptilolit. meskipun yang mempunyai nilai komersial ada sekitar 12 jenis. K+ dan lain-lain. Hal ini dikarenakan dalam air buangan zeolit selain menyerap ion amonium juga menyerapion ion lain seperti Ag+.- Zeolit yang diaktifkan maupun yang tidak diaktifkan menyerap ion amonium dari air buangan lebih kecil dari pada larutan NH4Cl. - Kapasitas penyerap zeolit akan bertambah dengan bertambah nya berat zeolit. Pada saat ini dikenal sekitar 40 jenis zeolit alam. Hal itu menjadikan zeolit dengan warna dan tekstur yang sama mungkin berbeda komposisi kimianya bila diambil dari lokasi yang berbeda disebabkan karena kombinasi mineral yang berupa partikel halus dengan impurities lainnya. grup ZSM/AlPO4 (Zeolite Sielving Marerials/Aluminium Fosfate) dan bahkan akhir-akhir ini dikenal grup zeotip. yang pada saat ini zeolit di Indonesia dipasarkan masih dalam bemtuk alam terutama pada pemupukan bidang pertanian. filipsit. feldspar dan kuarsa dan ditemukan di daerah sekitar gunung berapi atau mengendap pada daerah sumber air panas (hot spiring). seperti suhu. zeolit hanya dapat diidentifikasi berdasarkan unit bangun sekunder. zeolit merupakan mineral yang terdiri dari kristal alumino silikat terhidrasi yang mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam kerangka tiga dimensi.Zeolit juga ditemukan sebagai batuan endapan pada bagian tanah jenis basalt dan komposisi kimianya tergantung pada kondisi hidrotermal lingkungan lokal. Zeolit sintetik dihasilkan dari beberapa perusahaan seperti Union Carbide. yaitu material seperti zeolit tetapi bukan senyawa alumino-silikat. Kemampuan pertukaran ion (adakalanya dengan istilah kemampuan penyerapan ion atau sorpsi) zeolit merupakan parameter utama dalam menentukan kualitas zeolit yang akan . Pada tahun 1954 zeolit diklasifikasi sebagai golongan mineral tersendiri. ICI dan mobil Oil dan lebih dari 100 jenis telah dikenal strukturnya antara lain zeolit A. X.

KTK dari zeolit bervariasi dari 1. Oleh karena itu zeolit dapat dimanfaatkan sebagai : penyaring molekuler. biasanya dikenal sebagai KTK (Kemampuan Tukar Kation).80-1. Dehidrasi.15 meq/g).1 Sifat Zeolit Zeolit mempunyai struktur berongga dan biasanya rongga ini diisi oleh air dan kation yang bisa dipertukarkan serta memilki ukuran pori yang tertentu. Penukar ion Ion-ion pada rongga atau kerangka elektrolit berguna untuk menjaga kenetralan zeolit. dimana untuk molekul yang tidak jenuh atau bersifat polar akan lebih mudah lolos daripada molekul yang jenuh atau tidak polar.digunakan.6. Zeolit dengan struktur “framework” mempunyai luas permukaan yang besar dan mempunyai saluran yang dapat menyaring ion/molekul. misalnya logam Pt. Adsorbsi Zeolit juga mampu memisahkan molekul zat berdasarkan ukuran dan kepolarannya. suhu. 3. 2. Sifat sebagai penukar ion dari zeolit antara lain tergantung dari : sifat kation. Nilai KTK zeolit ini banyak bergantung pada jumlah atom Al dalam struktur zeolit. 4. KTK adalah jumlah meq ion logam yang dapat diserap maksimum oleh 1 g zeolit dalam kondisi kesetimbangan. zeolit dapat berfungsi sebagai katalis yang banyak digunakan pada reaksi petrokimia.50 meq/g) dan vermikulit (11. bentonit (0. Zeolit dapat melepaskan molekul air dari dalam rongga permukaan yang menyebabkan medan listrik meluas ke dalam ronggs utama dan akan efektif terinteraksi dengan molekul yang akan diabsorbsi. Katalis Zeolit merupakan katalisator yang baik karena mempunyai pori-pori yang besar dengan permukaan yang maksimum. 2. sifat adsorbsi dan aktifitas katalis. Jumlah molekul air sesuai dengan jumlah pori-pori atau volume ruang hampa yang akan terbentuk bila unit sel kristal zeolit terus dipanaskan. penyerap bahan dan katalisator. Cu dsb. Sifat zeolit meliput i : 1. Bila atom Al dinetralisir dengan ion polivalen. . Penukaran kation dapat menyebabkan perubahan beberapa sifat zeolit seperti stabilitas terhadap panas.5 – 6 meq/g. penukar ion.50 meq/g). seperti kaolinit (0. yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan KTK batuan lempung. dan jenis anion.03-0. Ion-ion ini dapat bergerak bebas sehingga pertukaran ion yang terjadi tergantung dari ukuran dan muatan maupun jenis zeolitnya. Sifat dehidrasi dari zeolit akan berpengaruh terhadap sifat adsorpsinya.

29 %. 2.54 dan memilki kandungan logam Na.25 x 10-3 cc/g. Akan tetapi daya serap. keasaman sebesar 2. Zeolit yang diperoleh dari alam telah dapat digunakan untuk berbagai keperluan. aktivasi dan modifikasi.34 %. Telah diketahui lebih dari 40 jenis mineral zeolit di alam. Dari jumlah tersebut hanya 20 jenis yang terdapat dalam batuan sedimen terutama sedimen piroklastik yang berbutir halus (tuf) Komposisi dan struktur zeolit kebanyakan terdiri dari mineral mordernit dan klinoptillit. 2. Tabel 2. Analisis lebih lanjut terhadap zeolit alam Wonosari menunjukkan bahwa zeolit mempunyai rasio Si/Al 4. Dari uji pendahuluan terhadap zeoiit alam Wonosari dengan menggunakan difraksi sinar x diketahui bahwa sebagian besar penyusunnya adalah mordernit. daya tukar ion maupun daya katalis dari zeolit tersebut belum maksimal. Penyaring atau pemisah Volume dan ukuran garis tengah ruang hampa dalam kisi-kisi kristal menjadi dasar kemampuan zeolit untuk bertindak sebagai penyaring molekul. volume pori 74. Jenis Zeolit Menurut proses pembentukannya zeolit dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu : 1. K.39 mmol/g.39 5 dan 1. Ca dan Fe masing-masing sebesar 4.13 m2/g. luas permukaan 24. Klasifikasi zeolit Zeolit Grup Analsim Analsim Wairakit Grup Natrolit Natrolit Thomsonit Grup Heulandit Na16[Al16Si24O31]6H2O Na16 Ca8 [Al20Si24O80]24H2O T5O10 (4-1) T5O10 Na16[Al16Si31O96]6H2O Ca16[Al16Si31O96]6H2O S4R S4R Rumus Kimia UBS . Zeolit Alam Zeolit alam terbentuk karena adanya proses perubahan alam (zeolitisasi) dari batuan vulkanik tuf.5.2. Molekul ynag berukuran kecil dapat melintas sedangkan yang berukuran besar dari ruang hampa akan ditahan atau ditolak.04 %. 1.75.6. rerata jejari pori 60. Untuk memperoleh zeolit dengan kemapuan yang tinggi diperlukan beberapa perlakuan antara lain.

atau mengumpulkan tungku putar dengan pemanasan secara penghamparan selama 3 jam atau tanpa penghamparan selama 5-6 jam (skala besar). Zeolit yang dipanaskan pada temperatur tinggi menyebabkan molekul air yang ada dalam zeolit mengalami dehidrasi. sehingga luas permukaan poripori bertambah. a.5 Mg2 [Al6Si30O72]24H2O Ca2 [Al4Si8O24]13H2O K6 Na3 [Al9Si27O72]21H2O Na12 Ca12 Mg11 [Al58Si134O384]235H2O Na12 [Al12Si12O48]27H2O Ca4 [Al8Si16O46]16H2O NaN [AlnSi96O192]16H2O [Al12P2O48] (C3H7)4NaOH q H2O T10O20 (4-4-1) T10O20 S4R S4R T8O16 (5-1) T8O16 D4R. Pemanasan modernit pada suhu 300 0C –1000 0C menyebabkan destruksi struktur kristal. Pemanasan dilakukan dalam oven biasa pada suhu 300-400 0C (untuk skala laboratorium). kandungan modernit berkurang hampir 25 % pada suhu 700 0C. D6R S4R. Aktivasi Fisis Aktivasi fisis biasanya dilakukan dengan pemanasan yang bertujuan untuk menguapkan air yang terperangkap tinggi dalam pori-pori kristal zeolit. S6R Proses aktivasi zeolit alam dapat dilakukan dalam 2 cara yaitu secara fisis dan kimiawi. D6R D4R. S8R S4R. Sifat dehidrasi zeolit ini berpengaruh terhadap sifat adsorbsinya.5 [Al16Si10O32]12H2O Na8 [Al31SiO16]16H2O Na8 [Al8Si40O96]24H2O NaCa0. S8R 5 –1 S4R. S6R. .Heulandit Klinoptilolit Grup Filipsit Filipsit Zeolit Na-P-1 Grup Mordernit Mordernit Ferrierit Grup Kabazit Kabazit Zeolit L Grup Faujasit Faujasit Zeolit A Grup Laumontit Laumontit Grup Pentasil ZSM-5 Grup Zeotype AlPO4-5 Ca4 [Al8Si28O72]24H2O Na6 [Al6Si30O72]24H2O K2 Ca1. S6R.

yang terbesar Garis tengah pori hanya terdapat pada mineral khabasit dan erionit Dapat dibuat mineral zeolit yang ruang kosong bergaris tengah Mineral zeolit Sintetis Dapat sintetis tinggi.b. H2SO4. Diantara asam-asam tersebut yang paling efektif untuk dealuminasi adalah HCl. zeolit kadar Si tinggi dan zeolit Si. Hal ini sangat penting terutama berhubungan dengan fungsi zeolit sebagai adsorben. Penggunaan zeolit sintetis pada dasarnya sama dengan zeolit alam. Atom-atom Al yang masih tersisa dalam zeolit masih terkoordinasi dalam rangkaian tetrahedaral dengan empat atom oksigen. dan H3PO4. zeolit kadar Si sedang. Tabel 3. membuang senyawa pengotor. dibuat mineral zeolit berderajat kemurnian . Sangat terbatas. dan mengatur kembali letak atom yang dapat dipertukarkan. Aktivasi Kimiawi Pada aktivasi kimia. dealuminasi adalah yang paling penting dan dominan. zeolit sintetis dikelompokkan menjadi empat. maka para peneliti berupaya untuk membuat zeolit sintetis yang mempunyai sifat khusus sesuai dengan keperluannya. Perbedaan utama antara kedua jenis mineral zeolit alam dan sintetis . Zeolit Sintetis Zeolit mempunyai sifat yang unik yaitu susunan atom maupun komposisinya dapat dimodifikasikan. Asam-asam yang dapat digunakan untuk aktivasi adalah HCl4. Aktivasi secara kimia dilakukan dengan larutan asam atau basa. Dealuminasi dapat digunkan untuk mengontrol aktivasi keasaman dan untuk mengontrol ukuran poripori zeolit. Mineral zeolit sintetis masing-masing mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori.Kebanyakan endapan zeolit beberapa jenis mineral zeolit. Ini karena persamaan sifat fisik dan kimia yang dimiliki oleh kedua jenis mineral tersebut. Perbedaan Mineral alam dan zeolit sintetik Macam Perbedaan Derajat Kemurnian Mineral Zeolit Alam Umumnya banyak mengandung pengotor. Berdasarkan perbandingan kadar komponen Si and Al. HNO3. 2. Aktivasi zeolit dengan asam menyebabkan ternetralisasinya muatan negatif pada permukaan zeolit hidrogen. alam terdiri dari terutama campuran besi. yaitu zeolit kadar Si rendah.

3 Aktivasi Zeolit Zeolit alam direndam dengan akuades selam 24 jam. Zeolit ini kemudian dikalsinasi pada variasi suhu 300 0C. BAB III .6. 1. dan 500 0C selama 5 jam. 0.10 M.. khabasit Daya Serap hanya dan erionit mineral yang dari 3 A hingga 8 A Dapat menyerap hingga 50 % dari volumunya. 0. 1. mempunyai daya serap baik Sumber : Harjanto. Zeolit kemudian direndam dengan HF 2. 400 0C.00 M DAN 2. Zeolit selanjutnya dipanaskan dengan HCl pada konsentrasi 0.lalu disaring dan dikeringkan pada suhu 110 0C selama 3 jam.50 M. dinetralkan dan dikeringkan pada suhu 130 0C selama 3 jam.00 M selama satu minggu sambil diaduk 3 kali sehari.7. 2.05 M. lalu disaring. sambil diaduk dengan pengaduk magnetik. kemudian dicuci sampai netral dan dikeringkan pada suhu 120 0C selama 3 jam. Kemudian zeolit disaring.00 M.00 M pada suhu 90 0C selama 60 menit.50 M.Terbatas. 1987 2. dan 2. tawas dan filtrasi zeolit belum pernah dilakukan. Selanjutnya zeolit direndam NH4Cl konsentrasi 0. dicici sampai netral dan dikeringkan pada suhu 130 0 C selama 3 jam. Originalitas Penelitian Penelitian tentang penurunan fosfat dengan kapur (lime).00 N (perbandingan b/v 1:2) sambil dipanaskan sampai agak kering .

Rancangan Penelitian 3. Sample air limbah Kapur Aduk Tawas Endapan Pemisahan Periksa PO4 Filtrasi Zeolit Periksa PO4 Hasil Filtrasi Gambar 2.1.2 Ruang Lingkup .METODE PENELITIAN 3. Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini merupakan “Penelitian Eksperimen” dengan “design pre test and post test design “yang hasil akan diuji secara diskriptif analitis dengan korelasi.

suhu limbah . 3.5 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam analisis berupa data kuantitatif yang diperoleh dari perlakuan di lapangan dan pengamatan percobaan di laboratorium. Parameter pH. waktu pengambilan sampel. 3. Variabel bebas Dosis pemakaian bahan kimia larutan kapur dan tawas.4 Variabel Penelitian a.6. sehingga waktu pengambilan sampel perlu diperhatikan agar mendapatkan kualitas yang sama pada setiap perlakuan. kemurnian kapur tohor.kekeruhan. sehingga perlu adanya pengendalian terhadap variabel-variabel tersebut diatas agar penelitian ini mendapatkan hasil yang dapat dipertanggung jawabkan. Air limbah RS Bethesda . Variabel pengganggu Waktu kontak. c. Kualitas limbah cair RS Bethesda sangat fluktuatif. yang berbeda pada sampel perlakuan akan mengganggu proses pengendapan begitu pula dengan kemurnian kapur tohor dan kemurnian tawas serta proses pengadukan pada saat perlakuan apabila tidak dikendalikan / tidak disamakan pada setiap perlakuan akan didapatkan hasil tidak seperi yang diharapkan. proses pengadukan. kemurnian tawas. Variabel terikat Parameter yang diperiksa pada limbah cair adalah fosfat masing-masing pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/ pengolahan. 3.Meliputi semua limbah cair yang dihasilkan dari seluruh kegiatan Rumah Sakit Bethesda. b.kadar ion terlarut.3 Lokasi Penelitian Lokasi Penelitian yang dipilih yaitu limbah cair Rumah Sakit Bethesda dan uji laboratorium dilaksanakan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pembrantasan penyakit menular (BBTKL-PPM) Yogyakarta.1 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari bahan untuk pengolahan dan bahan atau reagen untuk pemeriksaan parameter pencemar terdiri dari: Bahan untuk Pengolahan 1.6 Instrumen Penelitian 3. 3.

Cuvet 12.6. Labu erlenmeyer 4. Pipet ukur 7. Beker glass 3.01 M 13. Indikator Phenol Red 9. Zeolit 3. Labu ukur 2. Standart fosfat 0. Mixing Flokulator 11. Larutan kapur 0. H2SO4 4 N 6. Karet penghisap 3. Spektofotometer 10. SnCl2 7. Indikator PP 5. alat filtrasi yang dilengkapi .2 Alat Alat Pengolahan 1. NaOH 1 N 14.6.1 ppm 4.01 ppm 8. Persiapan bahan dan alat serta pembuatan rangkaian dengan stop kran . Larutan pH 4 12. Tabung nessler 9. Larutan standar EDTA 0. Pipet tetes 6. pH meter 8. Larutan tawas 0. Air suling 16. Indikator Murexid 15.3 Tahapan Persiapan 1. Timbangan Sartorius 5.1 ppm 3. Larutan Buffer pH 10 11. Buret tetes 13.2. Amonium Molibdat 10.

diamkan selama 15 menit agar terjadi pengendapan. Membuat larutan-larutan siap pakai untuk pemeriksaan parameter fosfat. 3.kuantitas dan kualitas sampel tetap terjaga.1 Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan pada bak penampung awal karena sudah mewakili semua limbah cair Rumah Sakit tersebut . 3. 0.6. kemudian diberi nomor 1 s/d 3. 6. Tambahkan larutan kapur pada masing-masing beker glass volume 1 ml.00050 ppm. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode grab sampling (sesaat) selama periode tertentu. 0. 3.0010 ppm yang akan digunakan sebagai bahan pengolahan . 0. 9. 0. Periksa filtrat masing-masing beker glass parameter pH. 3. aduk lambat selama 5 menit.4 Pelaksanaan Penelitian 1.3 Pemeriksaan Sampel . Aduk cepat masing-masing selama 3 menit.00100 ppm . dan 0. Pisahkan filtrat dari endapan. 8. fosfat setelah koagulasi tersebut.00075 ppm ml.0010 ppm dengan volume berturutturut 0. Siapkan deretan beaker glass sebanyak 3 buah masing-masing volume 1000 ml.0020 ppm.0010 ppm dan tawas 0.2. 0.0015 ppm. 5. detergen dan fosfat 2. Siapkan sampel limbah cair asli sebelum diolah kemudian diperiksa pH.7.7 Teknik Pengambilan Sampel 3.00150 ppm dan 0.00200 ppm. Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan zeolit terhadap filtrat tersebut 10.0025 ppm.00125 ppm.7. 3. Penyiapan larutan kapur 0.2 Periode pengambilan sampel Pengambilan sampel diusahakan sekali dalam jumlah yang dibutuhkan agar homogenitas.7. Isi beaker glass tersebut dengan limbah asli masing-masing sebanyak 800 ml. 7. 4. Ulangi prosedur 4 s/d 10 dengan variasi kapur 0. Masing-masing beker glass ditambahkan larutan tawas yaitu 0. 3.

Koefisien determinasi diperoleh dari mengkalikan koefisien korelasi Pearson atau biasa disebut Pearson Product Moment. Xb Dimana : Y X a b = Variabel terikat = variabel bebas = titik potong (intercept) = koefisien regresi (elastisitas/slope) Koefisien determinasi pada intinya adalah untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat. yang disimbolkan dengan huruf R. hubungan antara kedua variabel disebut analisis regresi sederhana. Persamaan matematik yang memungkinkan untuk meramalkan nilai-nilai satu atau lebih peubah acak bebas disebut persamaan regresi. Nilai yang mendekati satu berarti variabel- . Parameter limbah cair yang dianalisis adalah fosfat pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/pengolahan. Rumusan matematisnya adalah sebagai berikut : R= n(ΣXY ) − (ΣX )(ΣY ) nΣX 2 − (ΣX ) 2 nΣY 2 − (ΣY ) 2 = Koefisien korelasi (Pearson Correlation) = variabel penambahan kapur = variabel kadar fosfat = jumlah sampel Dimana : R X Y n Nilai koefisien determinasi (R2) yang kecil berarti kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat sangat terbatas. Teknik Analisa Data Perhitungan statistik untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini menggunakan uji Regresi Linier Sederhana. 3. Jika suatu variabel tak bebas (dependent variable) tergantung pada satu variabel bebas (independent variable). selanjutnya data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.9.Semua sampel diperiksa berdasarkan metode baku standard Method for examination.8 Teknik Pengumpulan Data Data yang diperoleh dari hasil penelitian dikelompokkan agar memudahkan dalam analisis. Bentuk matematisnya adalah sebagai berikut : Y = a . Maksud dari hubungan regresi yaitu untuk mengetahui suatu variabel dapat dipergunakan untuk memprediksi atau meramal variabelvariabel lain. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. 3.

Bila Fhitung < Ftabel. 2. Sampel diambil di bak equalisasi dengan tujuan untuk mencari kadar Fosfat yang mewakili seluruh aliran limbah cair. Atau 1. Bila probabilitas F < 0. maka Ho diterima 2.05. maka digunakan uji F. artinya tidak ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Sedangkan waktu pengambilan sampel dilakukan pada jam 09. Bila Fhitung > Ftabel. Uji F Untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.00 Wib.05. maka Ho diterima.1.variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel terikat. Karena pada jam . Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian mengenai efektifitas dosis dengan menggunakan campuran kapur tohor [Ca(OH)2] dan tawas [Al2(SO4)3] serta filtrasi zeolit terhadap penurunan kadar Fosfat air limbah RS Bethesda Yogyakarta telah dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2005. artinya ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Fhitung = ( R2 / k 1 − R 2 / (n − k − 1) ) Keterangan: R2 k n = = = Koefisien determinan Banyaknya perubahan bebas Jumlah data Dasar Pengambilan Keputusan 1. maka Ho ditolak atau Ha diterima BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur prosentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dilihat dengan rumus R2 x 100%. maka Ho ditolak atau Ha diterima. berdasarkan pemeriksaan kadar Fosfate selama 24 jam pada inlet dan pada bak kontak. Bila probabilitas F > 0.

00075 0.00200 Sumber: Data Primer 2005 2.1 ppm yang ditambahkan.00150 0.62 1.66 1. berikut: Tabel 4.0025 Bethesda Yogyakarta Pada tabel 5 terlihat semakin tinggi larutan tawas 0.1 ppm dan larutan kapur 0.82 1.00100 0.melebihi yang ditentukan.0020 ppm dan tawas 0.29 1.6404 No.22 0.06 0.maka kadar fosfat semakin menurun.53 mg/l.17 1.37 1. Hasil pengukuran kadar limbah RS Bethesda pada bak equalisasi secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4.0020 0. berikut: Tabel 5. Selanjutnya limbah yang diambil di bak equalisasi tersebut dilakukan pengolahan dengan cara koagulasi dan flokulasi.21 1.00125 0.4.19 1. maka parameter PO4. Hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dilihat pada gambar 3.tersebut kadar Fosfat limbah cair RS Bethesda Yogyakarta pada bak equalisasi adalah yang tertinggi.Lab / Hasil Analisa 56 7.06 0.5 dan 6 berikut: .62 1. Keadaan Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Sebelum Pengolahan (Asli) No.5 25.0025 ppm memberikan hasil fosfat terbaik yaitu sebesar 0.15 1. Pada penambahan larutan kapur 0.00050 0.81 1. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Setelah Koagulasi/Flokulasi Tawas (ppm) 0.0015 Kapur (ppm) 0. hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 5.53 0.56 1. 1 2 Parameter pH PO4- Satuan mg/l Keterangan Sumber: Data Primer 2005 Dari hasil pengukuran diatas.49 1.96 0.

6999 Kapur (ppm) Gambar 4.5 1 0.0005 0.951 0.001 Fosfat (ppm) y = 0.00 0 0.50 0.8 R2 = 0.002 0.0055x-0.001 0.3. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.50 1.0015 0.0015 0.0025 Kapur (ppm) Gambar 3.00 2.002 0.00 1.00 0.0097x R2 = 0.0005 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.50 2.0020 ppm .5 Fosfat (ppm) 2 1.961 -0.0025 y = 0.5 0 0 0.0015 ppm 2.

7557 Kapur (ppm) Gambar 5.0025 1.0015 0.0025 Gambar 6.06 0.0015 0.0025 Kapur (ppm) Tawas 0.002 0.00050 0.0015 ppm.0025 ppm Selanjutnya limbah hasil perlakuan koagulasi dan flokukasi dilewatkan pada unit filtrasi zeolit diperoleh hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut: Tabel 6.0020 1.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi Pada Penambahan tawas 0.0020 Tawas 0.001 0.70 0.03 0.0061x R2 = 0.06 1.18 1.26 1.00125 0.5 0 0 0.00100 0.81 0.78 0.01 mg/ml Kapur 0.002 0.0005 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Tawas 0.64 0.0015 1.01 1.5 1 0.66 Sumber: Data Primer 2005 .28 0. tawas 0.0005 0.0025 y = 0.23 1.01 mg/ml 0.001 0.00150 0.0025 ppm 3 Fosfat (ppm) 2 1 0 0 0.90 1.98 0.00075 0.32 1.0015 Tawas 0.00200 0.30 0.985 -0.0020 ppm dan 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.00 0.2 Fosfat (ppm) 1.

0015 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.0025 y = 0.Dari tabel 6.0005 0. berikut: 2 Fosfat (ppm) 1.002 0.0005 0.8.002 0.hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan pembubuhan larutan kapurdan larutan tawas setelah filtrasi zeolit dapat dilihat pada gambar 7.1 ppm.0025 ppm.0020 ppm .001 0.0015 0. 0.5 0 0 0.0015 0.5 1 0.maka kadar fosfat setelah filtrasi zeolit semakin kecil nilai fosfat optimal dicapai pada penambahan larutan kapur 0.5 1 0.011x -0.6708 R2 = 0. terlihat semakin tinggi larutan kapur dan larutan tawas yang ditambahkan .dan tawas 0.0020 ppm .0025 y = 0. Secara empiris. 9 dan 10. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.001 0.9147 2 R = 0.1 ppm.5 0 0 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0. 0.801 Kapur (ppm) Gambar 7.0016x -0.958 Kapur (ppm) Gambar 8.

Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi 4.5 0 0 0.2.001 0. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan kimia sebagai penghilang Fosfat adalah sebagai berikut: 1.0015 0.5 1 0.0015 Taw as 0.5 0 0 0. Dari beberapa referensi bahwa keberadaan Fosfat dalam air limbah dapat diturunkan dengan jalan pengendapan secara kimiawi. Efektifitas bahan kimia .002 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.001 0.0005 0.0025 Kapur (ppm) Taw as 0. Senyawa-senyawa Fosfate dapat dihilangkan dengan penambahan bahan koagulan misalnya alum.0015 0.2 Fosfat (ppm) 1. kapur.0025 y = 0.980 Kapur (ppm) Gambar 9. ferrichlorida atau ferrous sulfat. dan filtarasi zeolit sangat berpengaruh dalam menurunkan kadar Fosfat.0020 Taw as 0.0005 0. tawas. Biaya 2. Pada penelitian ini pemakaian dosis kapur.0025 ppm Fosfat (ppm) 2 1.002 0.0012x -0.9343 R2 = 0.0025 Gambar 10.5 1 0. Pembahasan Limbah cair di lingkungan RS Bethesda Yogyakarta dilakukan pengolahan dengan menggunakan sistem aerob dan anerob.

Limbah asli diambil dalam jumlah yang cukup pada jam 09.awal = 25.9 memenuhi syarat. dan mudah didapatkan di pasaran.5 Baku Mutu pH = 6 .0020 ppm.0055x-0. kualitas dan kuantitas limbahnya serba sama. Hasil analisa No lab 56 menunjukkan hasil pH = 7. pH.0025 ppm ditunjukkan pada Gambar 6. Efek terhadap lingkungan Dari beberapa pertimbangan diatas. Limbah cair RS Bethesda yang digunakan sebagai bahan untuk penelitian penurunan kadar fosfat diambil pada Bak Equalisasi dengan pertimbangan limbah tersebut sudah merupakan gabungan dari semua sumber limbah yang dihasilkan.0015 ppm. pH dan bereaksi dengan bikarbonat membentuk CaCO3 sebagai basa. Pada Bak Equalisasi.7557 Dimana : x = penambahan kapur (ml) Y = penurunan kadar fosfat (mg/l) Secara keseluruhan hasil pemeriksaan kadar fosfat dengan koagulasi dan flokulasi pada konsentrasi tawas 0. Selanjutnya limbah dari Bak Equalisasi dikategorikan sebagai limbah asli. sedangkan konsentrasi PO43. karena proses pembentukan flok pada proses koagulasi sangat dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia seperti kondisi pengadukan. Dosis dan perlengkapan untuk pengadukan 6.8-7. Pertimbangan lumpur yang dihasilkan 4.6999 Gambar 5 dengan persamaan empiris y = 0. dengan pertimbangan keduanya akan saling mengkoreksi pH. Dari hasil koagulasi / flokulasi pada Tabel 4 terlihat kecenderungan penurunan fosfat yang terjadi sebanding dengan penambahan kapur yang ditunjukkan pada : Gambar 3 dengan persamaan empiris y = 0. kekeruhan.0097x-0. belum melalui perlakuan pengolahan sama sekali. 0. tapi juga aman terhadap lingkungan.6404 mg/l. Pembentukan flok akan berjalan baik pada range pH 5. maka kami pilih kapur dan tawas sebagai bahan koagulan.4 . Kesesuaian dengan proses pengolahan lain 5. karena disamping harganya relatif murah. tidak memenuhi baku mutu.8047 Gambar 4 dengan persamaan empiris y = 0. dan 0. Limbah asli dianalisa di laboratorium dengan parameter pH. Perpaduan dari dua jenis koagulan.00 pagi saat fluktuasi kualitas terjadi.3. alkalinitas. suhu. PO43-.0061x-0. Pengaruh penambahan kapur akan menaikkan diluar pH tersebut maka pembentukan flok sempurna.

maka diperoleh hasil dari masing-masing variasi tawas.0025 ppm adalah yang paling efektif.0025 ppm. Pada penurunan fosfat yang dilakukan dengan filtrasi zeolit setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi terlihat kadar fosfat cenderung mengalami penurunan lagi. maka perlu dilakukan penelitian penurunan kadar fosfat dengan koagulasi-flokulasi dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan zeolit. diperoleh nilai R2 semua di atas 0.0020 ppm dan formula y = 0.9343 pada penambahan tawas 0. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula : y = 0.9147 pada penambahan tawas x-0.70 dimana nilai R antara 0.70 – 1. formula y = 0. dimana nilai R2 antara 0.70. Ternyata diperoleh dari data statistik variasi penambahan tawas 0. dimana konsentrasinya fosfatnya melebihi baku mutu yang ditetapkan. 0.0025 ppm. jadi dapat disimpulkan penurunan kadar fosfat pada penambahan tawas 0. Maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini terdistribusi normal.0020 ppm.0025 ppm adalah yang tertinggi dengan nilai R = 0.0025 ppm. sedangkan dari uji regresi .0016 x-0.0061 x-0.0020 ppm.70 – 1.7557 pada penambahan tawas 0. Pada proses koagulasi dan flokulasi kadar fosfat (PO43-) diharapkan mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan penambahan larutan kapur dan tawas menjadi endapan Ca3 (PO4)2 ↓ dan Al (PO4) ↓. 8. Jika ditinjau dari uji statistik. sedangkan dari uji korelasi atau uji kekuatan hubungan antara dua variabel diperoleh nilai R2 di atas 0.0020 ppm. 0.0015 ppm.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat.05.0097 x-0. Semua flok yang terbentuk tidak ada lagi yang terikat pada cairan limbah terolah. nilai P semua variasi di atas 0. dan 0. Jika dilihat dari uji statistik pendistribusian data dengan uji Kolmogorov Smirnov.6708 pada penambahan tawas 0. yaitu 0. 0. diperoleh nilai p value pada masing-masing sampel lebih besar dari 0. Diharapkan pada proses filtrasi ini terjadi pemisahan yang lebih sempurna dari flocculant terhadap cairannya. Selanjutnya dicari nilai R dari variasi tawas 0. Penurunan PO4 secara rinci terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 3. 5.990 pada konsentrasi penambahan tawas 0.992.0025 ppm. didapat nilai R2 tertinggi.05 maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini berdistribusi normal. formula y = 0. Jadi dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar fosfat pada konsentrasi penambahan tawas 0.0025 ppm.0015 ppm.0025 ppm setelah filtrasi adalah yang paling efektif.0055 0. dan 6.Berdasarkan hasil pengukuran terhadap limbah asli tersebut.0012 x-0. 9 dan 10.6999 pada penambahan tawas .011 0. x-0.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat paling efektif.8047 pada penambahan tawas 0. Dari hasil analisa data setelah filtrasi. dan formula y = 0.0015 ppm. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula y = 0.0015 ppm. Hasil penurunan dengan filtrasi zeolit secara keseluruhan terlihat pada Tabel 6 dan Gambar 7. 4. dan 0.

0020 ppm 0.394 193.0020 ppm 0. df2 = 4) 7.0025 ppm. 1 2 3 Tawas 0.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat. Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi No. Tabel 8.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. Analisa Data Tabel 7.1% pengaruh kapur 98.985 F hitung 78. 1 2 3 Tawas 0.7086 Keterangan 80.5% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.7086 7.8% pengaruh kapur 98.5% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.1% pengaruh kapur 95.735 260.061 90.1% pengaruh kapur 96.795 F tabel (df1 = 1.0015 ppm 0.3. Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi No.0% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.784 F tabel (df1 = 1.958 0.801 0.4.951 0. Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian mengenai efektifitas dosis dengan menggunakan campuran kapur tohor [Ca(OH)2] dan tawas [Al2(SO4)3] serta filtrasi zeolit terhadap penurunan kadar Fosfat air limbah .7086 7.7086 Keterangan 95. kapur berpengaruh sebesar 98.0025 ppm R2 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.0% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.271 99.0015 ppm 0.980 F hitung 16.0025 ppm.7086 7.961 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0. df2 = 4) 7.7086 7. kapur berpengaruh sebesar 98.3.0025 ppm R2 0.

00075 0.29 1.15 1.0025 .62 1. Karena pada jam tersebut kadar Fosfat limbah cair RS Bethesda Yogyakarta pada bak equalisasi adalah yang tertinggi. Keadaan Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Sebelum Pengolahan (Asli) No.56 1.melebihi yang ditentukan. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Tawas (ppm) 0.06 0.82 1.RS Bethesda Yogyakarta telah dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2005.19 1. Sampel diambil di bak equalisasi dengan tujuan untuk mencari kadar Fosfat yang mewakili seluruh aliran limbah cair.Lab / Hasil Analisa 56 7.00100 0.00050 0.06 0. maka parameter PO4. Sedangkan waktu pengambilan sampel dilakukan pada jam 09.17 1.00200 Sumber: Data Primer 2005 2.00 Wib.37 1. berikut: Tabel 5. berikut: Tabel 4. Selanjutnya limbah yang diambil di bak equalisasi tersebut dilakukan pengolahan dengan cara koagulasi dan flokulasi.66 1.49 1.00125 0.96 0.6404 Keterangan Sumber: Data Primer 2005 Dari hasil pengukuran diatas.22 0.81 1.21 1.53 0. 1 2 Parameter pH PO4Satuan mg/l No.62 1.00150 0.0015 Kapur (ppm) 0. hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 5. berdasarkan pemeriksaan kadar Fosfate selama 24 jam pada inlet dan pada bak kontak.5 25. Hasil pengukuran kadar limbah RS Bethesda pada bak equalisasi secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4.0020 0.

0005 0. Hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dilihat pada gambar 3.0097x R2 = 0.6999 Kapur (ppm) Gambar 4.00 0.0015 0.8 R = 0.0015 0.001 Fosfat (ppm) y = 0.0015 ppm 2.0025 y = 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.5 0 0 0.0005 0.00 2.0020 ppm . Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.53 mg/l.50 2.50 1.5 Fosfat (ppm) 2 1.951 2 0.002 0.0020 ppm dan tawas 0.0025 Kapur (ppm) Gambar 3. Pada penambahan larutan kapur 0.961 -0.1 ppm dan larutan kapur 0.002 0.1 ppm yang ditambahkan.Pada tabel 5 terlihat semakin tinggi larutan tawas 0.0025 ppm memberikan hasil fosfat terbaik yaitu sebesar 0.maka kadar fosfat semakin menurun.5 dan 6 berikut: 3.00 1.0055x-0.50 0.5 1 0.00 0 0.001 0.4.

tawas 0.18 1.0061x R2 = 0.00 0.81 0.00075 0.0015 ppm.0020 ppm dan 0.01 mg/ml 0.0015 1.90 1.001 0.00100 0.985 -0.0020 Tawas 0.0005 0.002 0.2 Fosfat (ppm) 1.0025 1.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi Pada Penambahan tawas 0.5 0 0 0.0025 ppm Selanjutnya limbah hasil perlakuan koagulasi dan flokukasi dilewatkan pada unit filtrasi zeolit diperoleh hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut: Tabel 6.03 0.23 1.06 0.0025 Gambar 6.7557 Kapur (ppm) Gambar 5.01 1. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.0015 0.002 0.0025 ppm 3 Fosfat (ppm) 2 1 0 0 0.00050 0.32 1.0005 0.70 .01 mg/ml Kapur 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Tawas 0.00125 0.0020 1.5 1 0.0015 Tawas 0.0025 y = 0.001 0.0015 0.0025 Kapur (ppm) Tawas 0.06 1.26 1.

001 0.66 Sumber: Data Primer 2005 Dari tabel 6.0025 y = 0.002 0. 0.5 1 0.0015 0.28 0.958 Kapur (ppm) Gambar 8.001 0.maka kadar fosfat setelah filtrasi zeolit semakin kecil nilai fosfat optimal dicapai pada penambahan larutan kapur 0.0025 ppm.0020 ppm .801 Kapur (ppm) Gambar 7.5 1 0.011x -0.30 0.0005 0.1 ppm.98 0.hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan pembubuhan larutan kapurdan larutan tawas setelah filtrasi zeolit dapat dilihat pada gambar 7. Secara empiris.0005 0.5 0 0 0.00200 0.0025 y = 0.1 ppm. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.5 0 0 0.0.9147 2 R = 0.0016x -0.002 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0. 0.dan tawas 0.00150 0.78 0.6708 R2 = 0.0020 ppm .0015 0. terlihat semakin tinggi larutan kapur dan larutan tawas yang ditambahkan .0015 ppm 2 Fosfat (ppm) 1. 9 dan 10. berikut: 2 Fosfat (ppm) 1.64 0.8.

002 0.0025 y = 0.002 0. Pembahasan Limbah cair di lingkungan RS Bethesda Yogyakarta dilakukan pengolahan dengan menggunakan sistem aerob dan anerob. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi 4. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan kimia sebagai penghilang Fosfat adalah sebagai berikut: .0025 Gambar 10. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.5 0 0 0.0015 Taw as 0.9343 R2 = 0.001 0.2 Fosfat (ppm) 1.0020 Taw as 0.4.0005 0.980 Kapur (ppm) Gambar 9.5 1 0. tawas. kapur.0025 Kapur (ppm) Taw as 0.0005 0.0015 0.0025 ppm Fosfat (ppm) 2 1. dan filtarasi zeolit sangat berpengaruh dalam menurunkan kadar Fosfat. Pada penelitian ini pemakaian dosis kapur.0015 0.0012x -0. Dari beberapa referensi bahwa keberadaan Fosfat dalam air limbah dapat diturunkan dengan jalan pengendapan secara kimiawi.5 0 0 0. Senyawa-senyawa Fosfate dapat dihilangkan dengan penambahan bahan koagulan misalnya alum.001 0. ferrichlorida atau ferrous sulfat.5 1 0.

4 . tapi juga aman terhadap lingkungan. pH. Pengaruh penambahan kapur akan menaikkan diluar pH tersebut maka pembentukan flok sempurna. dan mudah didapatkan di pasaran.0020 ppm.8047 Gambar 4 dengan persamaan empiris y = 0. alkalinitas. Kesesuaian dengan proses pengolahan lain 5. dan 0. kekeruhan. Selanjutnya limbah dari Bak Equalisasi dikategorikan sebagai limbah asli. Pada Bak Equalisasi.0055x-0.8-7. Limbah asli diambil dalam jumlah yang cukup pada jam 09. dengan pertimbangan keduanya akan saling mengkoreksi pH. Limbah cair RS Bethesda yang digunakan sebagai bahan untuk penelitian penurunan kadar fosfat diambil pada Bak Equalisasi dengan pertimbangan limbah tersebut sudah merupakan gabungan dari semua sumber limbah yang dihasilkan. Efek terhadap lingkungan Dari beberapa pertimbangan diatas. belum melalui perlakuan pengolahan sama sekali.0061x-0. karena disamping harganya relatif murah. Pertimbangan lumpur yang dihasilkan 4. maka kami pilih kapur dan tawas sebagai bahan koagulan. 0. Efektifitas bahan kimia 3. Perpaduan dari dua jenis koagulan. karena proses pembentukan flok pada proses koagulasi sangat dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia seperti kondisi pengadukan. pH dan bereaksi dengan bikarbonat membentuk CaCO3 sebagai basa.0015 ppm.6999 Gambar 5 dengan persamaan empiris y = 0.00 pagi saat fluktuasi kualitas terjadi. Dosis dan perlengkapan untuk pengadukan 6.7557 Dimana : x = penambahan kapur (ml) Y = penurunan kadar fosfat (mg/l) Secara keseluruhan hasil pemeriksaan kadar fosfat dengan koagulasi dan flokulasi pada konsentrasi tawas 0.1. Dari hasil koagulasi / flokulasi pada Tabel 4 terlihat kecenderungan penurunan fosfat yang terjadi sebanding dengan penambahan kapur yang ditunjukkan pada : Gambar 3 dengan persamaan empiris y = 0. Biaya 2.0025 ppm ditunjukkan pada Gambar 6. kualitas dan kuantitas limbahnya serba sama. suhu.0097x-0. Pembentukan flok akan berjalan baik pada range pH 5.

8047 pada penambahan tawas 0.0020 ppm. 0.9147 pada penambahan tawas x-0.0015 ppm.0020 ppm.0025 ppm.70.0097 x-0. Maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini terdistribusi normal.7557 pada penambahan tawas 0.Limbah asli dianalisa di laboratorium dengan parameter pH. Pada proses koagulasi dan flokulasi kadar fosfat (PO43-) diharapkan mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan penambahan larutan kapur dan tawas menjadi endapan Ca3 (PO4)2 ↓ dan Al (PO4) ↓. Selanjutnya dicari nilai R dari variasi tawas 0. 9 dan 10. PO43-. formula y = 0. jadi dapat disimpulkan penurunan kadar fosfat pada penambahan tawas 0.6404 mg/l.05.5 Baku Mutu pH = 6 .00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat paling efektif. didapat nilai R2 tertinggi.992. dan 0.0016 x-0.70 dimana nilai R antara 0. diperoleh nilai p value pada masing-masing sampel lebih besar dari 0. Hasil penurunan dengan filtrasi zeolit secara keseluruhan terlihat pada Tabel 6 dan Gambar 7. formula y = 0.0025 ppm. 5. Jika ditinjau dari uji statistik.70 – 1. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula : y = 0.9343 pada penambahan tawas 0. sedangkan konsentrasi PO43. Ternyata diperoleh dari data statistik variasi penambahan tawas 0. dan formula y = 0. dan 0.0061 x-0.0025 ppm adalah yang tertinggi dengan nilai R = 0. Dari hasil analisa data setelah filtrasi.011 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini berdistribusi normal.0015 ppm. 8. Diharapkan pada proses filtrasi ini terjadi pemisahan yang lebih sempurna dari flocculant terhadap cairannya. sedangkan dari uji korelasi atau uji kekuatan hubungan antara dua variabel diperoleh nilai R2 di atas 0.0025 ppm. 0. dimana konsentrasinya fosfatnya melebihi baku mutu yang ditetapkan.990 pada konsentrasi penambahan tawas 0. sedangkan dari uji regresi .0025 ppm.0015 ppm.0055 0.9 memenuhi syarat. nilai P semua variasi di atas 0.6708 pada penambahan tawas 0. maka perlu dilakukan penelitian penurunan kadar fosfat dengan koagulasi-flokulasi dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan zeolit. 0.70 – 1. Jadi dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar x-0. Hasil analisa No lab 56 menunjukkan hasil pH = 7. Berdasarkan hasil pengukuran terhadap limbah asli tersebut.0020 ppm dan formula y = 0.awal = 25. Jika dilihat dari uji statistik pendistribusian data dengan uji Kolmogorov Smirnov. Penurunan PO4 secara rinci terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 3. dan 6.6999 pada penambahan tawas .0015 ppm. Semua flok yang terbentuk tidak ada lagi yang terikat pada cairan limbah terolah.0012 x-0. yaitu 0. Pada penurunan fosfat yang dilakukan dengan filtrasi zeolit setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi terlihat kadar fosfat cenderung mengalami penurunan lagi.0025 ppm. tidak memenuhi baku mutu.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat.0025 ppm adalah yang paling efektif.0020 ppm. maka diperoleh hasil dari masing-masing variasi tawas. dimana nilai R2 antara 0. 4. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula y = 0. diperoleh nilai R2 semua di atas 0.

7086 7.7086 7.0025 ppm setelah filtrasi adalah yang paling efektif.fosfat pada konsentrasi penambahan tawas 0. kapur berpengaruh sebesar 98. 1 2 3 Tawas 0.7086 Keterangan 80.0025 ppm R2 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat.1% pengaruh kapur 96. Tabel 8.8% pengaruh kapur 98.0025 ppm R2 0.961 0.7086 7. Analisa Data Tabel 7.0015 ppm 0.784 F tabel (df1 = 1.061 90.0020 ppm 0.985 F hitung 78. Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi No. Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi No.1% pengaruh kapur 95.980 F hitung 16.951 0.0025 ppm.5% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.795 F tabel (df1 = 1.1% pengaruh kapur 98.7086 Keterangan 95. df2 = 4) 7.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat BAB V .5% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0. 1 2 3 Tawas 0.7086 7.3.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.0015 ppm 0.0% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.394 193.0% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.958 0.801 0. 4.0020 ppm 0.0025 ppm.271 99. df2 = 4) 7. kapur berpengaruh sebesar 98.735 260.

2. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian. 2. kemurnian bahan dan ketelitian alat sangat mempengaruhi hasil penelitian selanjutnya. 2.1.KESIMPULAN DAN SARAN 5.0025 ppm. Perlu melakukan pemeriksaan kadar fosfat secara berulang-ulang. maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Larutan kapur dan larutan tawas efektif menurunkan kadar fosfat dalam limbah cair RS Bethesda dengan prosentase 97.0061 x 0.0020 ppm dan konsentrasi larutan tawas 0. Efektifitas penurunan kadar fosfat limbah cair RS Bethesda dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dinyatakan dengan rumus empiris y=0. 5. Terhadap RS Bethesda Supaya memilih detergen yang digunakan dengan kadar fosfat rendah. . Saran 1.7557 diperoleh pada konsentrasi larutan kapur 0.92 %. Bagi peneliti lain Untuk dapat meneliti penurunan kadar fosfat dengan menggunakan metode yang lain. agar penambahan koagulan dapat dilakukan setepat mungkin.

maka rumah sakit diharapkan berangsur akan berkembang kearah pelayanan kesehatan paripurna yang mencakup upaya peningkatan.1. toxic dan radioaktif dalam melakukan kegiatannya sehingga perlu adanya upaya penyehatan lingkungan rumah sakit.Scheurer mendirikan Rumah Sakit Petronella di kampung Gondokusuman. Rumah sakit merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh. Dalam kurun waktu 1924-1925. dengan kapasitas awal 150 tempat tidur dan dikelola sepenuhnya oleh gerejagereja Gereformed di Amsterdam.Scheurer kembali ke Belanda pada tahun 1906 dan kepemimpinan RS Petronella selama 36 tahun berikutnya dibagi rata oleh tiga orang dokter. dr. Tujuannya untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari bahan buangan atau limbah rumah sakit serta mencegah meningkatnya infeksi nosokomial di lingkungan rumah sakit. disamping juga merupakan pusat latihan tenaga kesehatan dan tempat untuk mengadakan pelatihan medis. J. pengobatan dan pelayanan kesehatan. dr.J. Pruys. Rumah Sakit Rumah Sakit adalah integrasi organisasi sosial dan kesehatan yang berfungsi melayani masyarakat dengan pelayanan kesehatan secara menyeluruh baik kuratif maupun preventif serta pelayanan penderita berobat jalan mencakup lingkungan keluarga. K. Ketika menerima subsidi dari pemerintah. semasa kepemimpinan dr.G.Offringa.Groot. sering dikenal sebagai bentuk pelayanan yang berorientasi pada pelayanan kuratif saja. . Rumah Sakit Petronellapun bernama resmi Het Zendingsziekenhuis Petronella Voor on en minvermogenden (Rumah Sakit Petronella untuk orang-orang yang kurang dan tidak mampu). Pada tahun 1899 dr. Salah satu upaya penyehatan lingkungan rumah sakit teresbut adalah peraturan pemerintah tentang adanya suatu satuan kerja yang bertanggungjawab terhadap penyehatan lingkungan rumah sakit yaitu Instalasi Sanitasi melaui SK Menkes No. tetapi untuk mencapai tujuan pembangunan bidang kesehatan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. pencegahan. kapasitas rmah sakit yang semula 150 tempat tidur ditingkatkan menjadi 475 tempat tidur. Offringa dan dr. Rumah Sakit Petronella disebut juga sebagai rumah sakit Dokter Tulung/Pitulung karena tidak memungut biaya perawatan rumah sakit. 548/Menkes/VI/1994 tanggal 13 Juni 1994. Rumah sakit akan menghasilkan limbah yang bersifat infeksius.J.P. yaitu dr.

Sewaktu terjadi perang antara Sekutu dan Jepang.3880/K.423 m2 . Lokasi Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta terletak pada sebidang tanah yang mempunyai luas 61. Kotamadya Yogyakarta. dengan dr. pasien-pasien Petronella dipindahkan ke rumah sakit darurat di Pingit (sekarang asrama Polisi) dan Rumah Sakit Petronella dipindahkan kembali ke Gondokusuman dan berganti nama menjadi Jogjakarta Tjuo Bjoin (Rumah Sakit Pusat Jogyakarta) dan dipimpin oleh orang Jepang. dengan batas-batas: • • • • Utara Selatan Timur Barat : Jalan Jenderal Sudirman : Universitas Kristen Duta Wacana dan Komplek DKT : Jalan Dr. Supaya umum mengetahuinya bahwa Rumah Sakit Kristen. Wahidin : Jalan Johar Norhadi Struktur Organisasi Rumah Sakit Bethesda Struktur organisasi RS Bethesda Yogyakarta sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Pimpinan Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (DP-YAKKUM) No. Rumah Sakit Jogjakarta Tjuo Bjoin direbut dari Jepang dan berganti nama menjadi Rumah Sakit Pusat.935 m2 dengan luas bangunan mencapai 25. Setelah proklamasi kemerdekaan. rumah sakit secara resmi berdiri dan beroperasi di Yogyakarta dengan nama Rumah Sakit Bethesda. Rumah Sakit Bethesda terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di jalan Jenderal Sudirman No. tanggal 28 Juni 1949.966/1997 tanggal 22 Juli 1997 tentang organisasi dan tata kerja RS Bethesda Yogyakarta yang terdiri dari: • • • • • • • Direktur Wakil Direktur Pelayanan Medik Wakil Direktur Penunjang Medik Wakil Direktur Keuangan Wakil Direktur Personalia dan Umum Bidang Satuan Pengawasan Intern Bidang Sekretariat .uk RS BETH /1996 tanggal 23 Maret 1996 dan kemudian diberlakukan di RS Bethesda dengan Surat Keputusan Direktur No.412 m2 dan tanah kosong dalam komplek 36. 1714 / K. 70. Lucas Gerard Johannes Samallo sebagai dokter pertama berbangsa Indonesia yang memimpinnya. maka berdasarkan hasil rapat Dewan Pimpinan YAKKUM (Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum) selaku pengawas yang berpusat di Surakarta.

Kotoran lemak Deterjen Specimen laboratorium padatan Perban/kasa Spet suntikan Kapas darah Sisa makanan Kertas Plastik Kaca Sisa amputasi Sisa persalinan Sisa operasi Sisa outopsi Sisa insenerasi Gas dari sisa pembakaran di Instalasi Gizi Asap dari pembakaran di Instalasi Incenerator Uap air atau kondensat dari Instalasi Laundry 5. Penelitian dan Pengembangan Bidang Pelayanan Keluarga Berencana RS Bethesda Bidang Sosial Pastoral Bidang usaha Peningkatan Kesehatan Masyarakat (UPKM) Bidang Pendidikan SPK dan Bidan Bidang Pelayanan Kesehatan (YANKES) Lempuyangwangi Bahan Polutan Rumah Sakit Bethesda Bahan polutan yang ada dapat diamati dengan jelas dari setiap kegiatan yang dilakukan RS Bethesda Yogyakarta. WC. Air buangan dari kamar mandi. asam sulfat (merupakan specimen laboratorium). Limbah padat berupa: 6. Limbah cair berupa: • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Darah. dan wastafel.• • • • • • Bidang Perencanaan. Limbah gas berupa: . alkohol. Bahan polutan yang ada merupakan hasil dari berbagai aktivitas yang menimbulkan dampak dan kemungkinan bahan polutan yang ada antara lain: 4.

Genset beroperasi secara otomatis apabila suplai listrik dari PLN tidak berjalan atau padam. Mengingat bahwa rumah sakit merupakan tempat tindakan pelayanan dan perawatan orang sakit. maka kualitas dan kuantitas air yang digunakan untuk kebutuhan rumah sakit harus selalu dipertahankan agar tidak dapat mengakibatkan sumber infeksi baru bagi penderita . yang diletakkan di dalam sumur berkedalaman30 sampai 40 meter. Pengadaan listrik di RS Bethesda berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebesar 5500 kVa. • • • • • • • Pengadaan Transportasi Pengadaan mobil operasional terdiri dari: Mobil ambulance Mobil jenazah Mobil kijang Mikrobus Minibus Sedan Open Cup : 4 buah : 1 buah : 3 buah : 2 buah : 1 buah : 2 buah : 1 buah Dengan tenaga sopir 11 orang 8. RS Bethesda juga menggunakan 2 buah genset yang mempunyai daya 500 kVa dan 375 kVa. 6. pengunjung dan karyawan. dengan sistem otomatis. 7. baik untuk bekerja maupun untuk penyimpanan barang atau peralatan elektronik. taman dan untuk pelayanan penerangan umum lainnya.5 pk. Fasilitas Pemadam Kebakaran . untuk itu pihak RS Bethesda menggunakan 5 (lima) buah pompa dengan daya 10 pk dan 7. demikian juga untuk ruang tidur pasien atau bangsal. Selain menggunakan sumber listrik PLN. Jumlah dari kebutuhan air bersih untuk RS Bethesda diperkirakan ± 875 m3 per harinya. Yang kemudian di pompa water tower yang berjumlah 2 buah.Utilitas 5. Pengadaan Air Air bersih merupakan kebutuan mutlak yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan setiap rumah sakit dimanapun juga. Pengadaan Listrik Pencahayaan atau listrik digunakan di semua ruangan yang ad.

4. yang dikelola oleh yayasan. Berdasarkan status kepemilikan /pengelolaan a. Madya. Limbah cair rumah sakit adalah limbha cair yang berasal dari rumah sakit baik ynag berasal dari dapur. Limbah tersebut dapat berupa sisa darah.1. yang ditempatkan di 16 titik yang dianggap dapat mewakili seluruh areal bangunan RS Bethesda. ruang operasi dan lainnya. kamar mandi. 983/SK/Menkes/XI/92 menyebutkan bahwa RSU Type A adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan . ruang bedah dan runag lain dalam bnagunan kecuali limbah cair radiologi.1. Departemen Hankam dan BUMN.Pengadaan fasilitas untuk pemadam kebakaran berupa: a. ruang laboratorium. 2. C dan D. b. Macam jumlah dan kadar zat pencemar yang dihasilkan dari setiap sumber tersebut bervariasi tergantung kegiatan/aktivitasnya dan bahan yang digunakan. yang dikelola oleh Depkes dan merupakan milik pemerintah (pusat atau daerah). sisa bahan kimia/radiologi. dan Pratama. sisa obat. Benang merah yang menghubungkan RSUP DAN RSU Swasta adalah paralelisasi antara Type B dan Kelas Utama. Rumah Sakit Negeri/ Pemerintah. spesialistik dan subspesialistik. Pengertian Limbah Cair Rumah Sakit Limbah cair rumah sakit merupakan limbah cair dari semua sumber pembuangan misalnya kloset. 3. Klasifikasi Rumah Sakit Secara umum industri rumah sakit dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian. Rumah Sakit Swasta. tinja. RSU masih dibagi lagi menjadi beberapa type/kelas RSUP (RSU Pemerintah) dapat diklasifikasikan menjadi RSU type A. Hydrant. Rumah Sakit khusus.Sedangkan RSU Swasta dibagi atas Kelas Utama.2. Tabung pemadam kebakaran sejumlah 64 buah Pihak RS Bethesda juga bekerjasama dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kodya dan KODAM IV/Diponegoro. tempat pencucian pakaian. dapur. air bekas pencucian dan lain-lain. Type C dan Kelas Madya serta Type D dan Kelas Pratama. yang menangani hampir semua penyakit/memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar. b. B. Keputusan Menkes RI No. ruang pasien. Rumah Sakit Umum (RSU). urine. yang menangani hanya 1 (satu) atau beberapa jenis penyakit tertentu.1. 2. Berdasarkan macam/jenis penyakit yang ditangani a. yaitu. Sedangkan Rumah Sakit Bethesda tergolong RSU Kelas Utama. b.

tempat mencuci jenazah. RSU Type C atau Kelas Madya adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik dasar. Wastafel. Wastafel. Sumber Penghasil Limbah RS Bethesda . Ruang Laundry: tempat rendaman linen kotor. urinoir. urinoir. floor drain. Pemukiman (Rumah Dinas. Instalasi Laboratorium Klinik/Patologi Anatomi: Kamar mandi. tempat cuci instrumen medik. Ruang Operasi: Kamar mandi. Wastafel. pantry. Ruang Rawat Jalan: Kamar mandi. Ruang Rawat Darurat: Kamar mandi. Asrama): Kamar mandi. tempat wudlu. 25. Unit Radiologi: wastafel. buangan dari pembilas mesin cuci. pantry. tempat buang exudat pasien.1. 18. 20. 19. kamar mandi. floor drain. 15. RSU Type B atau Kelas Utama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan subspesialistik terbatas. tempat cuci instrumen medik. tempat pembedahan mayat/autopsi. Spoelhock. tempat cuci instrumen medik. 22. Masjid): Kamar mandi. Wastafel. Wastafel. Sumber Limbah Cair Rumah Sakit Dalam melakukan kegiatan pelayanan kesehatan rumah sakit akan menghasilkan limbah cair. Wastafel. Spoelhock. Ruang Haemodialisa: Kamar mandi. wastafel. Unit Perkantoran/Perpustakaan: Kamar mandi. 16. Sumber-sumber limbah rumah sakit meliputi: 14.3. floor drain. Fasilitas Sosial (Kafetaria. Wastafel. tempat cuci sayur/buah. urinoir. Spoelhock. 24. tempat cuci instrumen medik. 26. urinoir. tempat cuci perabot makan. tempat cuci instrumen medik. 23. Terakhir RSU Type D atau Kelas Pratama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis dasar. urinoir. 21. tempat buang exudat pasien. Spoelhock. Untuk mengetahui jenis limbah yang dihasilkan yang digunakan sebagai dasar cara pengolahannya maka perlu diketahui sumber-sumber yang menghasilkan limbah rumah sakit. buangan pembilas air panas. 17. tempat cuci alat-alat dapur. tempat cuci perabot makan. tempat cuci film. Ruang Perawatan berasal dari: Kamar mandi. tempat cuci beras. tempat cuci preparat. urinoir. tempat cuci instrumen medik. Ruang Dapur: Kamar mandi.subspesialistik luas. pantry. tempat buang exudat pasien. Wastafel. 2. Ruang Kamar Jenazah/Autopsi: Kamar mandi.

2. 7. Adapun sumber-sumbernya adalah sebagai berikut: 5. Air limbah ini mengalir secara gravitasi dengan 13 bak kontrol di titik-titik tertentu guna mengawasi lancar tidaknya aliran. ruang radiologi dan lain-lain yang menghasilkan limbah. 6. yang disalurkan melalui assenering baik assenering DKP maupun assenering pihak RS Bethesda sendiri menuju instalasi pengolahan air limbah. 8.4. menyalurkan air buangannya ke saluran assenering alur timur baik secara gravitasi maupun dengan bantuan pompa. kimia dan biologis. parasit. kantor. karena selruh kegiatan RS Bethesda yang berada di bagian timur seperti ruang rawat inap.Limbah rumah sakit adalah semua air buangan yang berasal dari aktivitas instalasiinstalasi rumah sakit yang kemungkinan besar mengandung mikroorganisma. laboratorium. bahan kimia beracun dan radio aktif. Dari laundry ini dihasilkan limbah cair dengan kandungan detergen yang tinggi sehingga memilki pH dan suhu yang tinggi. ruang farmasi. d. Limbah cair alur barat Limbah cair dari alur barat lebih didominasi oleh air buangan yang berasal dari ruang-ruang rawat inap (kamar mandi/WC.1. Laundry Laundry juga merupakan salah satu instalasi penting yang umum dimiliki oleh setiap rumah sakit tidak terkecuali RS Bethesda. Karakteristik Limbah Cair Rumah Sakit Air limbah pada intinya dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu sifat fisik. lemak dan detergen untuk kemudian diolah secara bertingkat. yang mengandung minyak. Sifat Fisik . Instalasi gizi (dapur) Kegiatan instalasi gizi yaitu melayani kebutuhan makanan pasien maupun karyawan sehingga dari kegiatan ini juga dihasilkan limbah cair. Limbah cair alur timur Limbah cair alur timur memilki karakteristik pencemar yang lebih kompleks. wastafel) dan di tambah buangan dari asrama putra AKPER RS Bethesda.

Mg. Zat organik tersebut sebagian besar mudah terurai (degradabel) yang merupakan sumber makanan dan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme yang lainnya. 25 % karbohidrat dan 10 % lemak. Bahan Anorganik Sedangkan zat organik yang penting peranannya di dalam mengontrol air limbah adalah: pH Kadar Khlor Alkalinitas Kadar Sulfur Zat beracun Logam berat seperti: Ni. Bahan Organik Air limbah dengan pengotoran sedang. Sifat Kimia Sifat kimia dalam air limbah dapat diketahui dengan adanya zat kimia air buangan. Fe dan Hg Metan Hidrogen Fosfor Gas seperti NH3. bau. maka sekitar 75 % dari benda-benda tercampur dan 40 % dari zat yang dapat disaring adalah berupa bahan organik. O3 f. 25-50 % berupa karbohidrat serta 10 % lainnya berupa lemak. Adapun sifat fisik yang penting adalah kandungan zat padat sebgaai efek estetika.Penentuan derajat kekotoran air limbah sangat dipengaruhi oleh adanya sifat fisik yang mudah dilihat. e.9 % dan sisanya terdiri dari partikel-partikel tidak terlarut 0. yang dijumpai dalam air limbah bersisikan 40-60 % adalah protein. warna dan temperatur. Partikel-partikel padat terdiri dari zat organik 70 % dan anorganik 30 %. Adapun zat kimia yang penting dalam air limbah pada umumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Cd. Pb. Cu. Zat organik terdiri dari 65 % protein. Komposisi limbah cair rumah sakit sebagian besar terdiri dari 99. 2. Cr.1 %. Zn. CH4. Sifat Bakteriologis . kejernihan.

17. 16.Instalasi fish pond dilakukan disinfeksi dengan memberikan kaporit melalui sistem injeksi/suntikan dengan tujuan membunuh bakteri patogen. Limbah ini dipompakan ke instalasi sand filter dan sebelumnya jam. 18.Instalasi penampung hasil Instalasi penampung hasil berfungsi untuk menampung limbah yang telah mengalami pengolahan (limbah terolah). 2. jamur. meliputi: bakteri. Waktu tinggal dalam bak 7 . protozoa dan algae sangat penting di dalam proses dekomposisi atau stabilisasi bahan-bahan organik 2.Instalasi penampung awal Instalasi penampung awal berfungsi untuk menampung keseluruhan limbah dari RS Bethesda yang berasal dari cucian. 12.Sifat bakteriogis pada air buangan perlu diketahui untuk menaksir tingkat kekotoran air limbah sebelum dibuang ke badan air. Waktu tinggal dalam bak 8 jam. 13. Waktu tinggal dalam bak ini 16 jam. Protista. Unit-unit Pengolahan Air Limbah RS Bethesda 11.5. Mikrooganisme yang penting dalam air limbah dan air permukaan dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu: 1.Bak ekualisasi Bak ekualisasi berfungsi untuk mencampur limbah dari berbagai sumber sehingga menjadi limbah yang homogen dengan waktu tinggal 27 jam. dapur mauun rawat inap.Instalasi anaerob biofilter Instalasi anaerob biofilter berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana dengan bantuan bakteri yang ada pada biofilter.Instalasi pengendapan (settling) Instalasi pengendapan (settling) berfungsi untuk memberi kesempatan lumpur agar mengendap.Instalasi sand filter Instalasi sand filter berfungsi untuk menyaring limbah sehingga diperoleh kualitas yang lebih baik lagi. 15. protozoa dan algae Binatang dan tanaman Dari klasifikasi tersebut diatas. pada proses ini penambahan oksigen dilakukan dengan bantuan blower.1.Instalasi aerob Instalasi aerob berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks yang lolos dari pengolahan sebelumnya menjadi senyawa yang lebih sederhana. 14. Waktu tinggal dalam bak pengendspan 7 jam.

Di daerah pertanian ortofophosfat berasal dari bahan pupuk. Dan adanya fosfat dalam air limbah dapat menghambat penguraian pada proses biologis. Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut. yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan. Bentuk-bentuk penting fosfat dalam air limbah adalah pospor organik. 20. Kolam ikan ini dilengkapi dengan pancuran air. Poyfosfat banyak digunakan dalam pembuatan detergen sintetis. tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air.Instalasi fish pond atau kolam ikan berfungsi untuk tempat penampungan limbah terolah yang telah tersaring di sand filter. Sebagai ortophosfat anorganik atau sebagai fosfat-fosfat kompleks. 2. Sisa yang 70 % dari fosfor yang masuk pada umumnya dilepaskan bersama bunagan instalasi sekunder. Komponen fosfat dipergunakan untuk membuat sabun sebagai pembentuk buih. . polyphosfat dan orthophospat. Poliphosfat dapat memasuki sungai melalui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan detergen yang mengandung fosfat seperti industri pencucian.Instalasi digester dan biogas Instalasi digester dan biogas berfungsi untuk menaqmpung semua lumpur yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah.2. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat bagi pertumbuhannya. Fosfat kompleks mengalami hidrolisa selama pengolahan biologis menjadi bentuk ortofosfat (PO43-) Dari konsentrasi rata-rata fosfor keseluruhan sebanyak 10 mg/l berada dalam air limbah perkotaan . detergen dapat mempermudah absorbsi racun pada ikan melalui insang dan bersifat persisten sehingga terjadi akumulasi. industri dan pertanian.Instalasi pengering lumpur (drying bed) Instalasi pengering lumpur befungsi untuk menampung endapan lumpur dari digester untuk dikeringkan. industri logam dan sebagainya. Sedangkan menurut Juli Sumirat. Dalam air limbah senyawa fosfat dapat berasal dari limbah penduduk. Fosfat kompleks mewakili kira-kira separuh dari fosfat air limbah perkotaan dan berasal dari penggunaan bahan-bahan detergen sintetis. Bermacam-macam jenis fosfat juga dipakai untuk penngolahan anti karat dan anti kerak pada pemanas air (boiler). Fosfat Fosfat berada dalam air limbah dalam bentuk organik. kira-kira 10 % dibunag sebagai bahan tak terpakai selama pengendapan primer dan 10 % hingga 20 % lainnya digabungkan ke dalm sel-sel bakteri selam apengolhan biologis. 19. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan.

Reaksi kimia dari proses pengendapan secara kimiawi antara fosfat dengan alum. Bahan-bahan kimia itu dapat ditambahkan sebelum pengendapan primer. Sebagian besar dari bahan organik tersebut dibuang. terutama yang menggunakan kapur. maka pengolahan kimiawi dan biologis terjadi bersama-sama. kapur. Pada keadaan “eutrotop” tanaman dapat menghabiskan oksigen dalam sungai atau kolam pada malam hari atau bila tanaman tersebut mati dan dalam keadaan sedang mencerna (digest) dan pada siang hari pancaran sinar matahari kedalam air akan berkurang. garam besi dan kapur adalah sebagai berikut: Pengendapan dengan alum: AL2(SO)3 + 2HPO4 –2 2AlPO4 + 3SO4-2 + 2H Pengendapan dengan garam besi: FeCl3 + HPO4 –2 FePO4 + H+ + 3Cl- Pengendapan dengan kapur: 5Ca(OH)2 + 3HPO4 –2 Ca5(PO4)3OH + 3H2O + 6OH- 2. alum dan garam-garam besi dapat dimasukkan ke dalm tanki aerasi selama proses lumpur diaktifkan atau bahan-bahan kimia itu dapat dimasukkan pada suatu tahap pengolhan primer. Senyawa-senyawa fosfat dapat dibuang dengan penambahan koagulan. pertumbuhan tanaman dan ganggang akan terhalang. Walaupun demikian. Pemisahan Fosfat Secara umum analisa fosfat meliputi 2 (dua) langkah : . Banyak metode yang telah diusulkan untuk pembuangan kelebihan fosfat. Bila bahan-bahan kimia dimasukkan langsung ke dalam tangki aerasi dari suatu instalasi lumpur yang diaktifkan. sehingga hanya sedikit peralatan tambahan yang dibutuhkan. keadaan ini dinamakan “oligotrop”. misalnya alum.2. sehingga proses fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen juga berkurang. begitu pula fosfatnya.Bila kadar fosfat pada air alam sangat rendah (<0.1. Metode ynag paling efektif meliputi pengendapan kimiawi. Pembuangan limbah yang banyak mengandung fosfat ke dalam badan air dapat menyebabkan pertumbuhan lumut dan mikroalgae yang berlebih yang disebut “eutrophication” .01 mg/l). sehingga air menjadi keruh dan berbau karena pembusukan lumut-lumut yang mati. lumpur yang diproduksi jumlahnya lebih besar. Pengendapan kimiawi. ferrichlorida atau ferrous sulfat. sehingga dihasilkan pengurangan beban pada proses pengolahan biologis. kadang-kadang dikerjakan pada tahap ketiga setelah pengolahan biologis guna pembuangan fosfat serta peningkatan pH buangan dalam persiapan bagi proses pembuangan ammonia-nitrogen.

yang tergantung pada fosfat terlarut dan tersuspensi. Penyaringan pendahulluan dengan filter serat gelas dapat dilakukan untuk mempercepat proses penyaringan. Klasifikasi Fosfat Tipe Kimiawi Total FISIK Terlarut Partikel . fosfat organik terdapat dalam larutan dan partikel. d. tetapi telah dipilih pembedaan analisa. dan tersuspensi) dan masing-masing secara analisis dibagi menjadim tiga tipe kimiawi seperti telah diuraikan diatas yaitu ortofosfat fosfat yang dapat dihidrolisa dengan asam fosfat organik . Merubah bentuk fosfor menjadi ortofosfat yang larut. Pemilihan filtrasi dengan membran melebihi ketebalan filtrasi dilakukan karena kemungkinan diperoleh lebih besar atau pemisahan ukuran partikel dengan tekinik pemisahan membran.45 µm yang dipergunakan. Tidak dapat dituntut bahwa penyaringan melalui filter membran Penggunaan 0. Fosfat yang dapat langsung diperiksa secara kolorimetris tanpa hidrolisa pendahuluan atau perombakan secara oksidatif dan dianggap sebagai “ortofosfat”. Biasanya terdapat sedikit variasi. Keseluruhannya ada tiga bagian (total. Hidrolisa dengan asam pada temperatur mendidih untuk mengubah fosfat dalam bentuk terlarut dan partikel menjadi ortofosfat yang dapat disaring. Dua belas fosfat tersebut dapat dilihat pada tabel 1.45 µm. Seperti ortofosfat dan fosfat dari hidrolisa asam. menguraikan bentuk fosfat yang ditentukan dalam filtrat yang melalui membran 0. fosfat total yang dapat dalam sampel dapat dipisahkan pada analisa dengan penyaringan kedalam bagian yang disaring dan partikel. Didalam praktek. terlarut.c. tetapi faktor ini telah dikurangi seminimum mungkin (sangat sesuai untuk hidrolisa fosfat terikat) dengan bijaksana memilih kekuatan asam lebih disukai terhadap “fosfat terikat” pada teknik ini. sehingga dapat diperguakan untuk tujuan interpretasi. Ortofosfat terdapat dalam bentuk terlarut dan partikel. Menentukan secara kolorimetris ortofosfat yang larut.45 µm dapat memisahkan dengan sebenarnya antara fosfat yang istilah “yang dapat disaring” (lebih baik “yang larut”) untuk tersuspensi dengan yang terlarut. Bagian-bagian fosfat yang diubah menjadi ortofosfat hanya dengan perombakan oksidatif terhadap bahan organik disebut fosfat organik/terikat secara organik. Kekuatan oksidasi yang diperlukan untuk konversi tergantung pada bentuk dan jumlah dari fosfat organik yang ada. Pemisahan “yang dapat disaring” (atau “terlarut”) dari “partikel” fosfat tergantung filter membran 0. Tabel 1. Pemisahan fosfor kedalam berbagai bentuk telah luas didefinisikan secara analitis. Tetapi perlu diingat bahwa sebagian kecil dari fosfat terikat yang ada tidak dapat menghindari cara hidrolisa ini dan dilaporkan sebagai bagian dari ortofosfat. Hidrolisa tidak dapat dihindrakan untuk membebaskan fosfat dari senyawa organik.

Kolorimetri 1 Perombakan 2.1 Koagulasi Koagulasi adalah dicampurkannya koagulan dengan pengadukan secara cepat guna mendistabilisasi koloid dan solid tersuspensi yang halus. Fosfat partikel yang dapat dihidrolisa oleh asam l. d. Total fosfat terlarut yang dapat dihidrolisa h. Total fosfat yang dapat dihidrolisa oleh asam. terlarut dan partikel. Ortofosfat terlarut dan yang dapat dihidrolisa dengan asam C. Total Ortofosfat 2. Total Fosfat terlarut Gambar 1. f. Total fosfat organik terlarut dan partikel e. Kolorimetri B. Kolorimetri 1 Perombakan 2. i. Total Ortofosfat 2. Organik a. Fosfat organik terlarut. b. Total terhidrolisa ortofosfat C. Ortofosfat terlarut. Total fosfat partikel j.4. k. kemudian membentuk jonjot mikro (mikro flok). Total ortofosfat terlarut dan partikel c. Kolorimetri B. Fosfat partikel organik. Hidrolisa H2S04 2. Ortofosfat partikel. Sampel Tanpa penyaringan Kolorimetri langsung A. Hidrolisa H2S04 2. Total fosfat terlarut . Pola Klasifikasi Fosfat 2.3. g. Total Fosfat Partikel Fosfat filtrat Kolorimetri langsung A. Koagulasi dan Flokulasi 2. dan masa inti partikel. Total fosfat terlarut dan tidak terlarut. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi sebagai berikut : .Total Orto Yang dapat dihidolisa oleh asam.

optimum yang berbeda satu sama k. Alkalinitas dalam air dapat membentuk flok dengan menghasil ion hidroksida pada reaksihidrolisa koagulan. n. l. Jenis Koagulan Pemilihan jenis koagulan didasarkan pada pertimbangan segi ekonomis dan daya efektivitas daripadakoagulan dalam pembentukan flok. Dosis koagulan Untuk menghasilkan inti flok yang lain dari proses koagulasi dan flokulasi sangat tergantung dari dosis koagulasi yang dibutuhkan Bila pembubuhan koagulan sesuai dengan dosisyang dibutuhkan maka proses pembentukan inti flok akan berjalan dengan baik. maka besarnya daerah pH yang optimum pada proses kagulasi akan berubah dan merubah pembubuhan dosis koagulan. Dengan demikian ion natrium. Derajat Keasaman (pH) Proses koagulasi akan berjalan dengan baik bila berada pada daerah pH yang optimum. Tingkat kekeruhan Pada tingkat kekeruhan yang rendahproses destibilisasi akan sukar terjadi. Kecepatan pengadukan sangat berpengaruh terhadap pembentukan flok bila pengadukan terlalu lambat mengakibaykan lambatnyaflok terbantuk dan sebaliknya apabila pengadukan terlalu cepat berakibat pecahnya flok yang terbentuk p.i. Kadar ion terlarut Pengaruh ion-ion yang terlarut dalam air terhadap proses koagulasi yaitu : pengaruh anion lebih bsar daripada kation. m. Alkalinitas Alkalinitas dalam air ditentukan oleh kadar asam atau basa yang terjadi dalam air (Tjokrokusumo. Koagulan dalam bentuk larutan lebih efektif dibanding koagulan dalam bentuk serbukatau butiran. . kalsium dan magnesium tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap proses koagulasi. Tetapi apabila kondisi tersebut digunakan dosis koagulan yang rendah maka pembentukan flok kurang efektif. Sebaliknya pada tingkat kekeruhan air yang tinggi maka proses destabilisasi akan berlangsung cepat. sehingga semua koagulan yang dibubuhkan dapat bereaksi dengan partikel-partikel atauion-ion yang berada dalam air. 19920. o. Untuk tiap jenis koagulan mempunyai pH lainnya. j. Kecepatan pengadukan Tujuan pengadukan adalah untuk mencampurkan koagulan ke dalam air. Bila suhuair diturunkan . Dalam pengadukan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengadukan harus benar-benar merata. Suhu air Suhu air yang rendah mempunyai pengaruh terhadap efisiensi proses koagulasi.

penggunaan dari kapur antara lain dibidang kesehatan lingkungan untuk pengolahan air kotor. sehingga terbentuk Ca(OH)2. 1986). 1986). Menurut Tarmiji. Sifat-Sifat Kapur (lime) dan Penggunaan nya. Flokulasi perikinetik Flok yang diakibatkan oleh adanya gerak thermal (panas) yang dikenal sebagai gerak Brown. powder h. Flokulasi orthokinetik Flokulasi orthokinetik adalah suatu proses terbentuknya flok yang diakibatkan oleh terbentuknya gerak media (air) misalnya pengadukan (Sank R. Cara kerjanya adalah kapur ditambahkan untuk mereaksikan alkalibikarbonat serta mengatur pH air sampai sehingga menyebabkan pengendapan. Dengan adanya perbedaan kecepatan aliran media cair akan mempunyai aliran kecepatan yang berbeda pula akibatnya akan terjadi tumbukan atau kontak antar partikel.2. yang bersifat basa dan disertai keluarnya panas yang tinggi. Gerak acak dari partikel-partikel koloid yang ditimbulkan karena adanya tumbuhan molekul-molekul air.4. air limbah maupun industri lainnya. Pada umumnya kecepatan aliran cairan akan berubah terhadap tempat dan waktu. Hydrate lime dihasilkan dari reaksi quickime (CaO) dengan air. Sifat-sifat fisik dan kimia Hydrate lime : g. Warna. kapur dapat mengurangi kandungan bahan-bahan organik. Pada pengolahan air kotor. dengan notasi G. 2. 1986. Proses pengendapan ini akan berjalan secara efektif apabila pH air antara 6 – 8 (Considine). 1995). . prosesnya disebut flokulasi perikinetik.3.K. Bentuk kristal. sebagian besar umumnya berwarna putih dan pada tinhkat tinggi dapat berwarna abu-abu. d. Ada dua jenis proses flokulasi yaitu : c.2. CaO adalah bahan mudah larut dalam air dan menghasilkan gugus hidroksil yaitu Ca(OH)2. Perubahan kecepatan dari satu titik ke titik lainnya dikeal sebagai gradien kecepatan. Kapur (lime) secara umum terdapat dalam dua bentuk yaitu CaO dan Ca(OH)2.K. akan mengakibatkan terjadinya gabungan antar partikellebih sangat kecil 1 < 100 milimikron (Sank R. Flokulasi Flokulasi adalah pengadukan perlahan terhadap larutan jonjot mikro yang menghasilkan jonjot besar dan kemudian mengendap secara cepat (Tjokrokusumo.

kandungan 1. Hydrate lime siap bereaksi dengan asam dan gas sehingga tentu saja berkemampuan menetralisasi asam. j.3 pada suhu 250C. Hasil dari proses ini antara lain adalah CaO ditambah CO2 yang keluar sebagai gas. Kalsium Hydrated lime memiliki tingkat kepadatan kira-kira 2. konsentrasi 0.85 Ca(OH)2/l air pada suhu 00C sampai0. Penggunaan berbagai keperluan maka batuan kapur dari alam biasanya akan mengalami proses pembakaran terlebih dahulu yang disebut “calcination”.7 g/l pada suhu 1000C. pH. Kepadatan. Netralisasi asam . k.7. karena kalsium hidroksida adalah termasuk basa kuat. reaksi antara CaO dan air akan menghasilkan gugus hidroksil Ca(OH)2 yang bersifat basa dengan reaksi sebagai berikut: CaO + H2O Ca(OH)2 + heat Ca(OH)2 Ca++ + 2OH- Karena sifat-sifat kapur dapat digunakan sebagai pengendap terhadap fosfat maka reaksi yang terjadi adalah 3 Ca2+ + 2PO43Ca3 (PO4)2 Penggunaan Kapur . l.i. Contoh reaksi yang terjadi pada proses “calcination” ini apabila batuan kapur dari alam berkomposisi sebagai kombinasi dari kalsium dan Magnesium Karbonat adalah sebagai berikut: CaCO3Mg CO3 CaOMgO + 2CO2 Calcim Oxide (CaO) adalah merupakan bahan yang mudah larut dalam air dengan mengeluarkan panas yang tinggi (Highleyexotermically). tingkat kelarutan dari kira-kira 1. Selain CaO juga MgO serta molekul-molekul lainnya tergantung pada batuan kapur yang asli dari alam. Pada larutan 250C.10 g Ca(OH)2/l dapat memberi pH kira-kira 11.3 g/gm3 Kelarutan.8/l memberikan pH sebesar 12. Selain itu.

karena salah satu cara penghilangan fosfor dalam air adalah pengendapan kimiawi. Dosis yang biasa dipakai pada peternakan ayam adalah sekitar 1 lb (0. menetralisasi keasaman. fluorida dan bahan-bahan organik. Proses pengolahan air. Khusus di sektor lingkungan kapur dapat berguna dalam: f. Kapur juga dapat dipergunakan sebagai penghilang fosfor dalam air.5. mangan. Alum atau tawas merupakan bahan koagulan. disini kapur berfungsi sebagai bahan koagulan. sebagai bahan bangunan. pertanian dan lain-lain. Kapur dapat digunakan untuk mengurangi gas SO2 yang keluar dari pembakaran batu bara atau minyak yang mengandung sulfur yang tinggi melalui suatu proses yang disebut “wet scrubing”.Kapur telah diikenal sebagai bahan yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan diantaranya dipakai pada bidang-bidang industri misalnya industri kimia.65 m2) lantai yang mengandung kotoran ayam. . air kapur dapat berguna sebagai bahan penurun kesadahan. Proses pengolahan air bekas. kapur dapat befungsi antara lain dalam pengendalian keasaman digester. Pada peternakan ayam.45 kg) Hydrates Lime [Ca(OH)2] pada setiap 3-5 ft2 (2. 2. i. Proses pengolahan buangan industri besi/baja. penyerapan bau (deodorant) dan sebagai desinfektan. Selain itu dapat juga mengurangi kadar BOD dengan cara menyerap antara 40% sampai 50 % bahan organik terlarut maupun tidak terlarut. memperkecil kadar silika. h. sudah dikenal bangsa Mesir pada awal tahun 2000 SM. mudah didapatkan di pasaran serta mudah penyimpanannya. dan lainlainnya. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai “geomedical” untuk mencegah parasit-parasit dan bnayak penyakit ayam. Alum atau tawas sebagai penjernih air mulai diproduksi oleh pabrik pada awal abad 1500. g. Sifat-Sifat Tawas dan Penggunaan nya Persenyawaan Alumunium Sulfat (Al2(SO4)3) atau sering disebut tawas adalah suatu jenis koagulan yang sangat populer secara luas digunakan.79-4. kertas. kapur dapat digunkan untuk mengeringkan serta mengurangi bau kotoran ayam yang berceceran di laniat kandang. yang paling banyak digunkan karena bahan ini paling ekonomis 9murah). kapur digunakan untuk menetralisir asam sulfat bebas (free sulfuric acid ) dan mengendapkan garam-garam besi yang terdapat pada limbah industri tersebut. j.

7. Dengan demikian supaya terjadi pengendapan hasil kali konsentrasi yang bereaksi harus lebih besar dari pada Ksp nya. Reaksi tersebut antara ion Al dengan ion OH.Unit .8. 2. Zeolit Zeolit adalah suatu alumnosilikat yang mempunyai struktur berpori dengan saluran dalam rangka kristal. yang sangat dipengaruhi oleh nilai pH yang bersangkutan. Alum yang dilarutkan ke dalam air akan bereaksi dengan kapur atau bahan lain seperti Soda Abu atau Natrium Bikarbonat (Na2CO3). Ksp AlPO4 sebesar 6. Range pH untuk jenis koagulan alum adalah sebesar 5. yang di dalamnya ditempati oleh molekul air dan ion ion logam alkali.+ 4 H2O Ionisasi dai air sendiri akan terbentuk ion hidroksida sebagai berikut: H2O H+ + OH- Kemudian terjadi reaksi antara ion Al3+ dengan ion hidroksida sebagai berikut: 2Al3+ + 6 OH2Al(OH)2 Pengikatan ion hidroksida tersebut di dalam air akan menurunkan alkalinitas air sehingga sebaiknya digunkan bahan tambahan yang dpat meningkatkan nilai alkalinitas seperti kapur. yaitu terjadi proses hidrolisis.Reaksi yang terjadi jika alum dimasukkan ke dalm air. soda abu atau soda kaustik (Natrium Oksida) Reaksi yang terjadi: AL2(SO4)3 + 3Ca(OH)2 2Al(OH)3 + 3CaSO4 AL2(SO4)3 + 3Na2CO3 + H2O 2Al(OH)3 + 3Na2SO4 + 3CO2 Oleh karena tawas /alum mempunyai sifat koagulan dalam larutan maka bila tawas bersenyawa dengan limbah yang mengandung unsur fosfat .5 sampai 7.3 . 14H2O 2Al3+ + 3SO42. Alum tersebut akan larut di dalam air dengan reaksi sebagai berikut: AL2(SO4)3 .sehingga terjadi reaksi Al3+ + PO43AlPO4 Pengendapan dapat terjadi apabila hasil kali { Al3+ }dan { PO43 -} lebih besar dari Ksp AlPO4 .10-19 . reaksi yang kan terjadi reaksi hipotik.

yang pada saat ini zeolit di Indonesia dipasarkan masih dalam bemtuk alam terutama pada pemupukan bidang pertanian. K+ dan lain-lain.dasar pembentuk zeolit adalah SiO4 dan AlO4 yang membentuk tetra hedral.Unit unit tersebut saling berikatan membentuk jaringan anionik dalam tiga dimensi.1985 ) menjelaskan bahwa: Kecepatan pertukaran kation dalam zeolit dipengaruhi oleh besar butiran zeolit. Struktur kristal zeolit dimana semua atom Si dan Al dalam bentuk . Dengan demikian. yang saat itu dikenal sebagai molecular materials. seperti suhu. Kapasitas penyerap zeolit akan bertambah dengan bertambah nya berat zeolit.Struktur yang paling stabil adalah zeolit yang perbandingan Si dan Al nya adalah 1:1. Hal itu menjadikan zeolit dengan warna dan tekstur yang sama mungkin berbeda komposisi kimianya bila diambil dari lokasi yang berbeda disebabkan karena kombinasi mineral yang berupa partikel halus dengan impurities lainnya. Mineral alam zeolit biasanya masih tercampur dengan mineral lainnya seperti kalsit.Perbandingan antara Si dan Al berkisar antara 1:1 sampai 100:1. feldspar dan kuarsa dan ditemukan di daerah sekitar gunung berapi atau mengendap pada daerah sumber air panas (hot spiring). Hal ini dikarenakan dalam air buangan zeolit selain menyerap ion amonium juga menyerapion ion lain seperti Ag+. Mineral zeolit telah dikenal sejak tahun 1756 oleh Cronstedt ketika menemukan Stilbit yang bila dipanaskan seperti batuan mendidih (boiling stone) karena dehindrasi molekul air yang dikandungnya. Ion-ion logam tersebut dapat diganti oleh kation lain tanpa merusak struktur zeolit dan dapat menyerap air secara reversible. Zeolit tidak dapat diidentifikasi hanya berdasarkan analisa komposisi kimianya saja. Pada tahun 1954 zeolit diklasifikasi sebagai golongan mineral tersendiri. Zeolit yang diaktifkan maupun yang tidak diaktifkan menyerap ion amonium dari air buangan lebih kecil dari pada larutan NH4Cl. melainkan harus dianalisa strukturnya.Zeolit biasanya ditulis dengan rumus kimia oksida atau berdasarkan satuan sel kristal. Pemanfaatan zeolit masih belum banyak diketahui secara luas.Zeolit juga ditemukan sebagai batuan endapan pada bagian tanah jenis basalt dan komposisi kimianya tergantung pada kondisi hidrotermal lingkungan lokal. zeolit merupakan mineral yang terdiri dari kristal alumino silikat terhidrasi yang mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam kerangka tiga dimensi.Dengan sifat di atas maka zeolit dapat bekerja sebagai penukar ion dan sebagai penyaring melalui adsorpsi selektif atau penolakan molekul karena adanya penolakan molekul karena adanya perbedaan dalam ukuran molekul dan faktor lainnya Selanjutnya dari hasil pengujian terhadap beberapa aspek yang ada kaitannya dengan pertukaran ion pada zeolit ( Komar bersama rekan . gypsum. tekanan uap air setempat dan komposisi air tanah lokasi kejadiannya.

5 – 6 meq/g. Jumlah molekul air sesuai dengan jumlah pori-pori atau volume ruang hampa yang akan terbentuk bila unit sel kristal zeolit terus dipanaskan. Zeolit sintetik dihasilkan dari beberapa perusahaan seperti Union Carbide.tetrahedral (TO4) disebut unit bangun primer. biasanya dikenal sebagai KTK (Kemampuan Tukar Kation). meskipun yang mempunyai nilai komersial ada sekitar 12 jenis. Pada saat ini dikenal sekitar 40 jenis zeolit alam. yaitu material seperti zeolit tetapi bukan senyawa alumino-silikat. Bila atom Al dinetralisir dengan ion polivalen. zeolit dapat berfungsi sebagai katalis yang banyak digunakan pada reaksi petrokimia.50 meq/g). filipsit. Zeolit dapat melepaskan molekul air dari dalam rongga permukaan yang menyebabkan medan listrik meluas ke dalam ronggs utama dan akan efektif terinteraksi dengan molekul yang akan diabsorbsi. Nilai KTK zeolit ini banyak bergantung pada jumlah atom Al dalam struktur zeolit.2 Sifat Zeolit Zeolit mempunyai struktur berongga dan biasanya rongga ini diisi oleh air dan kation yang bisa dipertukarkan serta memilki ukuran pori yang tertentu. kabarsit dan erionit. misalnya logam Pt. penukar ion. 2.03-0. Kemampuan pertukaran ion (adakalanya dengan istilah kemampuan penyerapan ion atau sorpsi) zeolit merupakan parameter utama dalam menentukan kualitas zeolit yang akan digunakan. ICI dan mobil Oil dan lebih dari 100 jenis telah dikenal strukturnya antara lain zeolit A. Sifat zeolit meliput i : 6.50 meq/g) dan vermikulit (11. KTK adalah jumlah meq ion logam yang dapat diserap maksimum oleh 1 g zeolit dalam kondisi kesetimbangan. Oleh karena itu zeolit dapat dimanfaatkan sebagai : penyaring molekuler. X. KTK dari zeolit bervariasi dari 1.6. 7. Berdasarkan UBS semua zeolit baik dalam bentuk alami atau sintetik.15 meq/g). Cu dsb. Sifat dehidrasi dari zeolit akan berpengaruh terhadap sifat adsorpsinya. penyerap bahan dan katalisator. Adsorbsi .80-1. bentonit (0. yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan KTK batuan lempung. zeolit hanya dapat diidentifikasi berdasarkan unit bangun sekunder. seperti kaolinit (0. grup ZSM/AlPO4 (Zeolite Sielving Marerials/Aluminium Fosfate) dan bahkan akhir-akhir ini dikenal grup zeotip. mordernit. diantaranya klinoptilolit. Y. Zeolit dengan struktur “framework” mempunyai luas permukaan yang besar dan mempunyai saluran yang dapat menyaring ion/molekul. Dehidrasi.

1. rerata jejari pori 60. Penukar ion Ion-ion pada rongga atau kerangka elektrolit berguna untuk menjaga kenetralan zeolit. Telah diketahui lebih dari 40 jenis mineral zeolit di alam. suhu. keasaman sebesar 2. K. Sifat sebagai penukar ion dari zeolit antara lain tergantung dari : sifat kation. . Ca dan Fe masing-masing sebesar 4.13 m2/g. dan jenis anion. Ion-ion ini dapat bergerak bebas sehingga pertukaran ion yang terjadi tergantung dari ukuran dan muatan maupun jenis zeolitnya. 8. Penukaran kation dapat menyebabkan perubahan beberapa sifat zeolit seperti stabilitas terhadap panas. 2. volume pori 74. Katalis Zeolit merupakan katalisator yang baik karena mempunyai pori-pori yang besar dengan permukaan yang maksimum. Molekul ynag berukuran kecil dapat melintas sedangkan yang berukuran besar dari ruang hampa akan ditahan atau ditolak. 9. dimana untuk molekul yang tidak jenuh atau bersifat polar akan lebih mudah lolos daripada molekul yang jenuh atau tidak polar. Zeolit Alam Zeolit alam terbentuk karena adanya proses perubahan alam (zeolitisasi) dari batuan vulkanik tuf.25 x 10-3 cc/g.29 %. 10. Dari uji pendahuluan terhadap zeoiit alam Wonosari dengan menggunakan difraksi sinar x diketahui bahwa sebagian besar penyusunnya adalah mordernit.Zeolit juga mampu memisahkan molekul zat berdasarkan ukuran dan kepolarannya.04 %. Dari jumlah tersebut hanya 20 jenis yang terdapat dalam batuan sedimen terutama sedimen piroklastik yang berbutir halus (tuf) Komposisi dan struktur zeolit kebanyakan terdiri dari mineral mordernit dan klinoptillit. luas permukaan 24.2. sifat adsorbsi dan aktifitas katalis. Penyaring atau pemisah Volume dan ukuran garis tengah ruang hampa dalam kisi-kisi kristal menjadi dasar kemampuan zeolit untuk bertindak sebagai penyaring molekul. Analisis lebih lanjut terhadap zeolit alam Wonosari menunjukkan bahwa zeolit mempunyai rasio Si/Al 4. Jenis Zeolit Menurut proses pembentukannya zeolit dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu : 3.34 %.75. 2.39 mmol/g.6.54 dan memilki kandungan logam Na.39 5 dan 1.

5 Mg2 [Al6Si30O72]24H2O T8O16 (5-1) T8O16 K2 Ca1. S8R Na12 Ca12 Mg11 [Al58Si134O384]235H2O Na12 [Al12Si12O48]27H2O S4R. S6R. aktivasi dan modifikasi. Akan tetapi daya serap. daya tukar ion maupun daya katalis dari zeolit tersebut belum maksimal. S6R. Untuk memperoleh zeolit dengan kemapuan yang tinggi diperlukan beberapa perlakuan antara lain. D6R Na8 [Al8Si40O96]24H2O NaCa0. S6R NaN [AlnSi96O192]16H2O 5 –1 Ca4 [Al8Si16O46]16H2O S4R.5 [Al16Si10O32]12H2O Na8 [Al31SiO16]16H2O S4R S4R Ca4 [Al8Si28O72]24H2O Na6 [Al6Si30O72]24H2O T10O20 (4-4-1) T10O20 Na16[Al16Si24O31]6H2O Na16 Ca8 [Al20Si24O80]24H2O T5O10 (4-1) T5O10 Na16[Al16Si31O96]6H2O Ca16[Al16Si31O96]6H2O S4R S4R Rumus Kimia UBS . Klasifikasi zeolit Zeolit Grup Analsim Analsim Wairakit Grup Natrolit Natrolit Thomsonit Grup Heulandit Heulandit Klinoptilolit Grup Filipsit Filipsit Zeolit Na-P-1 Grup Mordernit Mordernit Ferrierit Grup Kabazit Kabazit Zeolit L Grup Faujasit Faujasit Zeolit A Grup Laumontit Laumontit Grup Pentasil ZSM-5 Grup Zeotype AlPO4-5 [Al12P2O48] (C3H7)4NaOH q H2O S4R. D6R D4R. S8R Ca2 [Al4Si8O24]13H2O K6 Na3 [Al9Si27O72]21H2O D4R. Tabel 2.Zeolit yang diperoleh dari alam telah dapat digunakan untuk berbagai keperluan.

HNO3. membuang senyawa pengotor. dan H3PO4. kandungan modernit berkurang hampir 25 % pada suhu 700 0C. Zeolit Sintetis Zeolit mempunyai sifat yang unik yaitu susunan atom maupun komposisinya dapat dimodifikasikan.Proses aktivasi zeolit alam dapat dilakukan dalam 2 cara yaitu secara fisis dan kimiawi. Atom-atom Al yang masih tersisa dalam zeolit masih terkoordinasi dalam rangkaian tetrahedaral dengan empat atom oksigen. maka para peneliti berupaya untuk membuat zeolit sintetis yang mempunyai sifat khusus sesuai dengan keperluannya. zeolit sintetis dikelompokkan menjadi empat. sehingga luas permukaan poripori bertambah. Ini karena persamaan sifat fisik dan kimia yang dimiliki oleh kedua jenis mineral tersebut. Aktivasi Fisis Aktivasi fisis biasanya dilakukan dengan pemanasan yang bertujuan untuk menguapkan air yang terperangkap tinggi dalam pori-pori kristal zeolit. dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori. yaitu zeolit kadar Si rendah. atau mengumpulkan tungku putar dengan pemanasan secara penghamparan selama 3 jam atau tanpa penghamparan selama 5-6 jam (skala besar). Asam-asam yang dapat digunakan untuk aktivasi adalah HCl4. Hal ini sangat penting terutama berhubungan dengan fungsi zeolit sebagai adsorben. Aktivasi secara kimia dilakukan dengan larutan asam atau basa. Aktivasi Kimiawi Pada aktivasi kimia. c. Mineral . H2SO4. dan mengatur kembali letak atom yang dapat dipertukarkan. Penggunaan zeolit sintetis pada dasarnya sama dengan zeolit alam. d. Aktivasi zeolit dengan asam menyebabkan ternetralisasinya muatan negatif pada permukaan zeolit hidrogen. Pemanasan modernit pada suhu 300 0C –1000 0C menyebabkan destruksi struktur kristal. Zeolit yang dipanaskan pada temperatur tinggi menyebabkan molekul air yang ada dalam zeolit mengalami dehidrasi. zeolit kadar Si tinggi dan zeolit Si. Dealuminasi dapat digunkan untuk mengontrol aktivasi keasaman dan untuk mengontrol ukuran poripori zeolit. 4. Sifat dehidrasi zeolit ini berpengaruh terhadap sifat adsorbsinya. Diantara asam-asam tersebut yang paling efektif untuk dealuminasi adalah HCl. Pemanasan dilakukan dalam oven biasa pada suhu 300-400 0C (untuk skala laboratorium). zeolit kadar Si sedang. dealuminasi adalah yang paling penting dan dominan. Berdasarkan perbandingan kadar komponen Si and Al.

400 C. Perbedaan Mineral alam dan zeolit sintetik Macam Perbedaan Derajat Kemurnian Mineral Zeolit Alam Umumnya banyak mengandung pengotor. sambil diaduk dengan pengaduk magnetik.6.00 M pada suhu 90 0C selama 60 menit.00 M. kemudian dicuci sampai netral dan dikeringkan pada suhu 120 0C selama 3 jam.3 Aktivasi Zeolit Zeolit alam direndam dengan akuades selam 24 jam. dinetralkan dan dikeringkan pada suhu 130 0C selama 3 jam.50 M. tawas dan filtrasi zeolit belum pernah dilakukan. Tabel 3. Zeolit ini kemudian dikalsinasi pada variasi suhu 300 C. yang terbesar Garis tengah pori hanya terdapat pada mineral khabasit dan erionit Terbatas. dan 2. 2. Selanjutnya zeolit direndam NH4Cl konsentrasi 0. dan 500 C selama 5 jam.00 M selama satu minggu sambil diaduk 3 kali sehari. 1. 0.Kebanyakan endapan zeolit beberapa jenis mineral zeolit. Zeolit kemudian direndam dengan HF 2. 1987 2.lalu disaring dan dikeringkan pada suhu 110 0C selama 3 jam.zeolit sintetis masing-masing mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan.7.10 M.00 N (perbandingan b/v 1:2) sambil dipanaskan sampai agak kering . Mineral zeolit Sintetis Dapat sintetis tinggi. . Kemudian zeolit disaring. 0. lalu disaring.05 M. khabasit Daya Serap hanya dan erionit mineral yang Dapat dibuat mineral zeolit yang ruang kosong bergaris tengah dari 3 A hingga 8 A Dapat menyerap hingga 50 % dari volumunya. Originalitas Penelitian Penelitian tentang penurunan fosfat dengan kapur (lime). alam terdiri dari terutama campuran besi. dibuat mineral zeolit berderajat kemurnian mempunyai daya serap baik Sumber : Harjanto. Zeolit selanjutnya dipanaskan dengan HCl pada konsentrasi 0. dicici sampai netral dan dikeringkan pada suhu 130 0 0 0 0 C selama 3 jam.50 M. Sangat terbatas. 1..00 M DAN 2. Perbedaan utama antara kedua jenis mineral zeolit alam dan sintetis .

Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini merupakan “Penelitian Eksperimen” dengan “design pre test and post test design “yang hasil akan diuji secara diskriptif analitis dengan korelasi.1. Sample air limbah Kapur Aduk Tawas Endapan Pemisahan Periksa PO4 Filtrasi Zeolit Periksa PO4 Hasil Filtrasi Gambar 2.BAB III METODE PENELITIAN 3. Rancangan Penelitian .

1 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari bahan untuk pengolahan dan bahan atau reagen untuk pemeriksaan parameter pencemar terdiri dari: Bahan untuk Pengolahan 17. waktu pengambilan sampel. 3. Dosis pemakaian bahan kimia larutan kapur dan tawas.5 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam analisis berupa data kuantitatif yang diperoleh dari perlakuan di lapangan dan pengamatan percobaan di laboratorium.6. f.3. Larutan tawas 0. 3.1 ppm 19.3 Lokasi Penelitian Lokasi Penelitian yang dipilih yaitu limbah cair Rumah Sakit Bethesda dan uji laboratorium dilaksanakan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pembrantasan penyakit menular (BBTKL-PPM) Yogyakarta.suhu limbah . 3.2 Ruang Lingkup Meliputi semua limbah cair yang dihasilkan dari seluruh kegiatan Rumah Sakit Bethesda. kemurnian kapur tohor. proses pengadukan.6 Instrumen Penelitian 3.1 ppm . sehingga waktu pengambilan sampel perlu diperhatikan agar mendapatkan kualitas yang sama pada setiap perlakuan.kekeruhan. Variabel bebas e. sehingga perlu adanya pengendalian terhadap variabel-variabel tersebut diatas agar penelitian ini mendapatkan hasil yang dapat dipertanggung jawabkan.4 Variabel Penelitian d. Kualitas limbah cair RS Bethesda sangat fluktuatif. Air limbah RS Bethesda 18. Variabel pengganggu Waktu kontak. yang berbeda pada sampel perlakuan akan mengganggu proses pengendapan begitu pula dengan kemurnian kapur tohor dan kemurnian tawas serta proses pengadukan pada saat perlakuan apabila tidak dikendalikan / tidak disamakan pada setiap perlakuan akan didapatkan hasil tidak seperi yang diharapkan. kemurnian tawas. 3.kadar ion terlarut. Parameter pH. Larutan kapur 0. Variabel terikat Parameter yang diperiksa pada limbah cair adalah fosfat masing-masing pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/ pengolahan.

Timbangan Sartorius 18. 2. Amonium Molibdat 26. 4.6. Karet penghisap 3.20.0010 ppm yang akan digunakan sebagai bahan pengolahan .6. 3. Zeolit 3. pH meter 21.01 M 29. Tabung nessler 22.4 Pelaksanaan Penelitian . Labu erlenmeyer 17. Indikator Phenol Red 25. Beker glass 16. Cuvet 25. Larutan pH 4 28. Membuat larutan-larutan siap pakai untuk pemeriksaan parameter fosfat. NaOH 1 N 30. Larutan standar EDTA 0. Indikator PP 21. Standart fosfat 0. Persiapan bahan dan alat serta pembuatan rangkaian alat filtrasi yang dilengkapi dengan stop kran . Labu ukur 15.3 Tahapan Persiapan 1. Indikator Murexid 31.2 Alat Alat Pengolahan 14. Mixing Flokulator 24. Spektofotometer 23.6. Pipet ukur 20.01 ppm 24. H2SO4 4 N 22.0010 ppm dan tawas 0. Buret tetes 26. Larutan Buffer pH 10 27. SnCl2 23. Penyiapan larutan kapur 0. Air suling 32. Pipet tetes 19.

Tambahkan larutan kapur pada masing-masing beker glass volume 1 ml. aduk lambat selama 5 menit. 17.00200 ppm. 19.7. 0.7 Teknik Pengambilan Sampel 3.kuantitas dan kualitas sampel tetap terjaga. 15.1 Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan pada bak penampung awal karena sudah mewakili semua limbah cair Rumah Sakit tersebut . fosfat setelah koagulasi tersebut.00075 ppm ml. Parameter limbah cair yang dianalisis adalah fosfat pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/pengolahan.0020 ppm. 0.00050 ppm.7. 3. 13.00125 ppm. detergen dan fosfat 12. 14.8 Teknik Pengumpulan Data Data yang diperoleh dari hasil penelitian dikelompokkan agar memudahkan dalam analisis. diamkan selama 15 menit agar terjadi pengendapan. Masing-masing beker glass ditambahkan larutan tawas yaitu 0. 0. 3. Teknik Analisa Data . Siapkan deretan beaker glass sebanyak 3 buah masing-masing volume 1000 ml. 0.2 Periode pengambilan sampel Pengambilan sampel diusahakan sekali dalam jumlah yang dibutuhkan agar homogenitas. 16. 3.00100 ppm . Siapkan sampel limbah cair asli sebelum diolah kemudian diperiksa pH.3 Pemeriksaan Sampel Semua sampel diperiksa berdasarkan metode baku standard Method for examination. Pisahkan filtrat dari endapan. Ulangi prosedur 4 s/d 10 dengan variasi kapur 0.00150 ppm dan 0. 3. 3. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode grab sampling (sesaat) selama periode tertentu.0010 ppm dengan volume berturutturut 0. Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan zeolit terhadap filtrat tersebut 20. kemudian diberi nomor 1 s/d 3. dan 0.9.0025 ppm.7.11. Periksa filtrat masing-masing beker glass parameter pH. 18. Aduk cepat masing-masing selama 3 menit. selanjutnya data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.0015 ppm. Isi beaker glass tersebut dengan limbah asli masing-masing sebanyak 800 ml. 0.

yang disimbolkan dengan huruf R. Xb Dimana : Y X a b = Variabel terikat = variabel bebas = titik potong (intercept) = koefisien regresi (elastisitas/slope) Koefisien determinasi pada intinya adalah untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat. Bentuk matematisnya adalah sebagai berikut : Y = a . Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur prosentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dilihat dengan rumus R2 x 100%. Rumusan matematisnya adalah sebagai berikut : R= n(ΣXY ) − (ΣX )(ΣY ) n Σ X 2 − ( Σ X ) 2 nΣ Y 2 − ( Σ Y ) 2 = Koefisien korelasi (Pearson Correlation) = variabel penambahan kapur = variabel kadar fosfat = jumlah sampel Nilai koefisien determinasi (R2) yang kecil berarti kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat sangat terbatas. Persamaan matematik yang memungkinkan untuk meramalkan nilai-nilai satu atau lebih peubah acak bebas disebut persamaan regresi. Uji F Dimana : R X Y n . hubungan antara kedua variabel disebut analisis regresi sederhana. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel terikat.Perhitungan statistik untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini menggunakan uji Regresi Linier Sederhana. Maksud dari hubungan regresi yaitu untuk mengetahui suatu variabel dapat dipergunakan untuk memprediksi atau meramal variabelvariabel lain. Koefisien determinasi diperoleh dari mengkalikan koefisien korelasi Pearson atau biasa disebut Pearson Product Moment. Jika suatu variabel tak bebas (dependent variable) tergantung pada satu variabel bebas (independent variable). Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu.

4.Untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Bila probabilitas F > 0.05. Bila probabilitas F < 0.05. maka Ho diterima. maka Ho ditolak atau Ha diterima. maka digunakan uji F. Bila Fhitung > Ftabel. artinya tidak ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. maka Ho ditolak atau Ha diterima . Atau 3. Bila Fhitung < Ftabel. maka Ho diterima 4. Fhitung R2 / k = 1 − R 2 / (n − k − 1) ( ) Keterangan: R2 k n = = = Koefisien determinan Banyaknya perubahan bebas Jumlah data Dasar Pengambilan Keputusan 3. artinya ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat.

Karena pada jam tersebut kadar Fosfat limbah cair RS Bethesda Yogyakarta pada bak equalisasi adalah yang tertinggi.5 25.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. berdasarkan pemeriksaan kadar Fosfate selama 24 jam pada inlet dan pada bak kontak.Lab / Hasil Analisa 56 7. Selanjutnya limbah yang diambil di bak equalisasi tersebut dilakukan pengolahan dengan cara koagulasi dan flokulasi. Sampel diambil di bak equalisasi dengan tujuan untuk mencari kadar Fosfat yang mewakili seluruh aliran limbah cair. maka parameter PO4. Keadaan Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Sebelum Pengolahan (Asli) No.melebihi yang ditentukan. Sedangkan waktu pengambilan sampel dilakukan pada jam 09. berikut: Tabel 5. 1 2 Parameter pH PO4Satuan mg/l No. hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 5.5. berikut: Tabel 4. Hasil pengukuran kadar limbah RS Bethesda pada bak equalisasi secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi .6404 Keterangan Sumber: Data Primer 2005 Dari hasil pengukuran diatas.00 Wib. Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian mengenai efektifitas dosis dengan menggunakan campuran kapur tohor [Ca(OH)2] dan tawas [Al2(SO4)3] serta filtrasi zeolit terhadap penurunan kadar Fosfat air limbah RS Bethesda Yogyakarta telah dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2005.

8 R2 = 0.00075 0.06 0.06 0.17 1.001 Fosfat (ppm) y = 0.00100 0.56 1.22 0.1 ppm dan larutan kapur 0.00 1.62 1.62 1.0015 0.Tawas (ppm) 0.49 1.002 0.00125 0.50 1.maka kadar fosfat semakin menurun.0020 0.0005 0.00200 Sumber: Data Primer 2005 2. Hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dilihat pada gambar 3.00 2.50 2.5 dan 6 berikut: 3.19 1. Pada penambahan larutan kapur 0.951 0.00050 0.37 1.96 0.29 1. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.0015 ppm .0015 Kapur (ppm) 0.53 mg/l.0025 Pada tabel 5 terlihat semakin tinggi larutan tawas 0.0020 ppm dan tawas 0.15 1.82 1.21 1.81 1.50 0.0025 ppm memberikan hasil fosfat terbaik yaitu sebesar 0.53 0.00 0.00150 0.0025 Kapur (ppm) Gambar 3.0055x-0.1 ppm yang ditambahkan.66 1.00 0 0.4.

5 Fosfat (ppm) 2 1.6999 Kapur (ppm) Gambar 4.001 0.985 -0.961 -0.5 0 0 0.5 1 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.0061x R2 = 0.0097x R2 = 0.0015 0.0020 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.0015 0.2.0005 0.0025 y = 0.001 0.5 1 0.0025 y = 0.002 0.0025 ppm .0005 0.002 0.7557 Kapur (ppm) Gambar 5.5 0 0 0.

0025 ppm Selanjutnya limbah hasil perlakuan koagulasi dan flokukasi dilewatkan pada unit filtrasi zeolit diperoleh hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut: Tabel 6.0015 0.26 1.06 1.1 ppm.00 0.28 0.0020 ppm .0005 0.maka kadar fosfat setelah filtrasi zeolit semakin kecil nilai fosfat optimal dicapai pada penambahan larutan kapur 0.70 0.01 mg/ml Kapur 0.00125 0.30 0. terlihat semakin tinggi larutan kapur dan larutan tawas yang ditambahkan .0020 1. berikut: .00150 0.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi Pada Penambahan tawas 0.03 0.00050 0.0015 1.0020 Tawas 0. 0.0025 Kapur (ppm) Tawas 0.23 1.66 Sumber: Data Primer 2005 Dari tabel 6.01 mg/ml 0.1 ppm.06 0.0015 ppm.hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan pembubuhan larutan kapurdan larutan tawas setelah filtrasi zeolit dapat dilihat pada gambar 7.8.81 0.01 1.0020 ppm dan 0.002 0.32 1. 0.90 1.0025 ppm.18 1.98 0. Secara empiris.00100 0.dan tawas 0.64 0.001 0. 9 dan 10.78 0. tawas 0.3 Fosfat (ppm) 2 1 0 0 0.0015 Tawas 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Tawas 0.0025 1.0025 Gambar 6.00075 0.00200 0.

0015 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.0015 0.0015 0.0016x -0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.2 Fosfat (ppm) 1.0025 y = 0.001 0.5 0 0 0.5 1 0.6708 R2 = 0.011x -0.958 Kapur (ppm) Gambar 8.0020 ppm .002 0.9147 R2 = 0.002 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.5 1 0.001 0.801 Kapur (ppm) Gambar 7.0025 y = 0.5 0 0 0.0005 0.0005 0.

0005 0. kapur. dan filtarasi zeolit sangat berpengaruh dalam menurunkan kadar Fosfat.0015 0.0025 ppm Fosfat (ppm) 2 1.6.5 0 0 0.001 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0. Efektifitas bahan kimia 9. tawas.5 1 0.5 1 0. Biaya 8. Dari beberapa referensi bahwa keberadaan Fosfat dalam air limbah dapat diturunkan dengan jalan pengendapan secara kimiawi.0025 Gambar 10.5 0 0 0. ferrichlorida atau ferrous sulfat.0015 0. Pada penelitian ini pemakaian dosis kapur.2 Fosfat (ppm) 1. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi 4.0025 Kapur (ppm) Taw as 0.0025 y = 0.0005 0.0012x -0.001 0.9343 R2 = 0. Pembahasan Limbah cair di lingkungan RS Bethesda Yogyakarta dilakukan pengolahan dengan menggunakan sistem aerob dan anerob. Pertimbangan lumpur yang dihasilkan 10.002 0.0020 Taw as 0. Kesesuaian dengan proses pengolahan lain .0015 Taw as 0.980 Kapur (ppm) Gambar 9.002 0. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan kimia sebagai penghilang Fosfat adalah sebagai berikut: 7. Senyawa-senyawa Fosfate dapat dihilangkan dengan penambahan bahan koagulan misalnya alum.

Limbah cair RS Bethesda yang digunakan sebagai bahan untuk penelitian penurunan kadar fosfat diambil pada Bak Equalisasi dengan pertimbangan limbah tersebut sudah merupakan gabungan dari semua sumber limbah yang dihasilkan. Limbah asli diambil dalam jumlah yang cukup pada jam 09.0061x-0. pH dan bereaksi dengan bikarbonat membentuk CaCO3 sebagai basa. Pengaruh penambahan kapur akan menaikkan diluar pH tersebut maka pembentukan flok sempurna. tapi juga aman terhadap lingkungan. karena proses pembentukan flok pada proses koagulasi sangat dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia seperti kondisi pengadukan. Pada Bak Equalisasi.00 pagi saat fluktuasi kualitas terjadi. maka kami pilih kapur dan tawas sebagai bahan koagulan.7557 Dimana : x = penambahan kapur (ml) Y = penurunan kadar fosfat (mg/l) Secara keseluruhan hasil pemeriksaan kadar fosfat dengan koagulasi dan flokulasi pada konsentrasi tawas 0. dimana konsentrasinya fosfatnya melebihi baku mutu yang ditetapkan.8047 Gambar 4 dengan persamaan empiris y = 0.11. Perpaduan dari dua jenis koagulan. sedangkan konsentrasi PO43. karena disamping harganya relatif murah. tidak memenuhi baku mutu. belum melalui perlakuan pengolahan sama sekali. suhu. Hasil analisa No lab 56 menunjukkan hasil pH = 7.0020 ppm. Limbah asli dianalisa di laboratorium dengan parameter pH. maka perlu dilakukan penelitian penurunan kadar fosfat dengan koagulasi-flokulasi dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan zeolit.9 memenuhi syarat. Dosis dan perlengkapan untuk pengadukan 12. Dari hasil koagulasi / flokulasi pada Tabel 4 terlihat kecenderungan penurunan fosfat yang terjadi sebanding dengan penambahan kapur yang ditunjukkan pada : Gambar 3 dengan persamaan empiris y = 0.5 Baku Mutu pH = 6 .6404 mg/l. Pembentukan flok akan berjalan baik pada range pH 5. Berdasarkan hasil pengukuran terhadap limbah asli tersebut.8-7.0015 ppm. Efek terhadap lingkungan Dari beberapa pertimbangan diatas. dan mudah didapatkan di pasaran. pH.0055x-0. dan 0. PO43-. kualitas dan kuantitas limbahnya serba sama. 0.0025 ppm ditunjukkan pada Gambar 6. Selanjutnya limbah dari Bak Equalisasi dikategorikan sebagai limbah asli.6999 Gambar 5 dengan persamaan empiris y = 0. alkalinitas. dengan pertimbangan keduanya akan saling mengkoreksi pH. kekeruhan.0097x-0.4 .awal = 25.

Pada proses koagulasi dan flokulasi kadar fosfat (PO43-) diharapkan mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan penambahan larutan kapur dan tawas menjadi endapan Ca3 (PO4)2 ↓ dan Al (PO4) ↓. Penurunan PO4 secara rinci terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 3, 4, 5, dan 6. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula : y = 0.0055 0.0020 ppm dan formula y = 0.0061 x-0,7557 pada penambahan tawas 0.0025 ppm. Jika dilihat dari uji statistik pendistribusian data dengan uji Kolmogorov Smirnov, diperoleh nilai p value pada masing-masing sampel lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini berdistribusi normal, sedangkan dari uji regresi , diperoleh nilai R2 semua di atas 0,70, dimana nilai R2 antara 0,70 – 1,00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat. Selanjutnya dicari nilai R dari variasi tawas 0.0015 ppm, 0.0020 ppm, dan 0.0025 ppm. Ternyata diperoleh dari data statistik variasi penambahan tawas 0.0025 ppm adalah yang tertinggi dengan nilai R = 0,992. jadi dapat disimpulkan penurunan kadar fosfat pada penambahan tawas 0.0025 ppm adalah yang paling efektif. Pada penurunan fosfat yang dilakukan dengan filtrasi zeolit setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi terlihat kadar fosfat cenderung mengalami penurunan lagi. Diharapkan pada proses filtrasi ini terjadi pemisahan yang lebih sempurna dari flocculant terhadap cairannya. Semua flok yang terbentuk tidak ada lagi yang terikat pada cairan limbah terolah. Hasil penurunan dengan filtrasi zeolit secara keseluruhan terlihat pada Tabel 6 dan Gambar 7, 8, 9 dan 10. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula y = 0.011 0.0020 ppm, dan formula y = 0.0012 x-0,9343 pada penambahan tawas 0.0025 ppm. Jika ditinjau dari uji statistik, maka diperoleh hasil dari masing-masing variasi tawas, 0.0015 ppm, 0.0020 ppm, dan 0.0025 ppm, nilai P semua variasi di atas 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini terdistribusi normal, sedangkan dari uji korelasi atau uji kekuatan hubungan antara dua variabel diperoleh nilai R2 di atas 0,70 dimana nilai R antara 0,70 – 1,00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat paling efektif. Dari hasil analisa data setelah filtrasi, didapat nilai R2 tertinggi, yaitu 0,990 pada konsentrasi penambahan tawas 0.0025 ppm. Jadi dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar fosfat pada konsentrasi penambahan tawas 0.0025 ppm setelah filtrasi adalah yang paling efektif. 4.3. Analisa Data Tabel 7. Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi No. Tawas R2 F hitung F tabel Keterangan x-0,6708 pada penambahan tawas 0.0015 ppm; formula y = 0.0016 x-0,9147 pada penambahan tawas x-0,8047 pada penambahan tawas 0.0015 ppm, formula y = 0.0097 x-0,6999 pada penambahan tawas

1 2 3

0.0015 ppm 0.0020 ppm 0.0025 ppm

0,951 0,961 0,985

78,271 99,735 260,795

(df1 = 1; df2 = 4) 7,7086 7,7086 7,7086

95,1% pengaruh kapur 96,1% pengaruh kapur 98,5% pengaruh kapur

Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.0025 ppm, kapur berpengaruh sebesar 98,5% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat. Tabel 8. Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi No. 1 2 3 Tawas 0.0015 ppm 0.0020 ppm 0.0025 ppm R2 0,801 0,958 0,980 F hitung 16,061 90,394 193,784 F tabel (df1 = 1; df2 = 4) 7,7086 7,7086 7,7086 Keterangan 80,1% pengaruh kapur 95,8% pengaruh kapur 98,0% pengaruh kapur

Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.0025 ppm, kapur berpengaruh sebesar 98,0% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 3. 4. Larutan kapur dan larutan tawas efektif menurunkan kadar fosfat dalam limbah cair RS Bethesda dengan prosentase 97,92 %. Efektifitas penurunan kadar fosfat limbah cair RS Bethesda dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dinyatakan dengan rumus empiris y=0,0061 x 0,7557 diperoleh pada konsentrasi larutan kapur 0,0020 ppm dan konsentrasi larutan tawas 0,0025 ppm. 5.2. Saran 1. Bagi peneliti lain Untuk dapat meneliti penurunan kadar fosfat dengan menggunakan metode yang lain, kemurnian bahan dan ketelitian alat sangat mempengaruhi hasil penelitian selanjutnya. 2. Terhadap RS Bethesda Supaya memilih detergen yang digunakan dengan kadar fosfat rendah. Perlu melakukan pemeriksaan kadar fosfat secara berulang-ulang, agar penambahan koagulan dapat dilakukan setepat mungkin.

Depkes RI.LH/12/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit.Kanisius.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Kumpulan Seminar Zeo Industri. Depkes RI. Chemical and Technology Lime and Limestone. 1994. Telaah Kualitas Air. Darsoprajitno. Budiharjo. 1992. Bandung. BTKL Yogyakarta. Almanak Kesehatan RI. G.Dirjen P2M & PLM. Depkes RI. USA E. . Kerjasama PPKSI dan HKTI. 1998. Mc. 23 tentang Kesehatan. 1992. 1995. J. Rineka Cipta. 1975. Undang-Undang No. Hanafiah K. New York. Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.S Soemirat. 1994. 02/MenKLH/I/1988 Tentang Baku Mutu Air Pada Sumber Air. Yogyakarta. Considine. Pedomen Teknis Perbaikan Kualitas Air. Stell. Hartiningsih.W. Depkes RI. fifth ED. Universitas Padjajaran. Jakarta. 1992.. 1990.A. Graw-Hill Book Company. Pengelolaan Limbah Cair Rumah Sakit. Jakarta. 1985. 03/MenKLH/II/1991. 1993. Jakarta. Makalah Pelatihan Petugas Sanitasi Rumah Sakit. Arikunto. Water Supply and Severage. DKK. Yogyakarta. Depdikbud. Fardiaz S. . . Jakarta. 1992. Peavy. Howard S. Baku Mutu Limbah Cair SK Men KLH No. Douglass M. Jakarta.Jakarta. Rajawali Pers. Manajemen Penelitian. Kesehatan Lingkungan. Jakarta. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 1974. Jakarta. . Jakarta. Lokakarya Nasional tentang Sanitasi RS. Jakarta. Agustjik R. Gadjah Mada University Press. Polusi Air dan Udara. Sebaran Endapan Zeolit dan Kegunaannya.2003. Pedoman Sanitasi Rumah Sakit. Rancngan Percobaan Teori dan Aplikasi. Yogyakarta. 1993. SK Men KLH No. Speet S. Pengelolaan Limbah Rumah Sakit. Hartono . Environmental Engineering. 1991. Effendi H. J. Kanisius. Yogyakarta. 1985. S. . 1993. Kep 58/Men. 1988. Jakarta . New York. 1992.

. Water Treatment Plant Design For The Practising Engineer. Yogyakarta. Carty. 1991. Raharjo Mursid. Jakarta.2003. Metodologi Penelitian Kesehatan. Komponen Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia. Boynten. Rineka Cipta.. Metodologi Penelitian Survei.. Sawyer and Mc. Suryabrata S. Metodologi Penelitian. 1987. PPLH Universitas Gajah Mada. Jakarta. LP3ES. Reksosoebroto S. Ilmu Hygien dan Sanitasi. Jakarta. Liberty. Stell. Notoatmojo S. Michigan. Robert S. Inc . Yogyakarta. Saleh Samsubar. Kumpulan Makalah. Volume A. Kesehatan Lingkungan. Universitas Indonesia. 1993. Ulman’s Encyclopedia of Industrial Chemistry. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah. Pengantar Konsep Teknologi Bersih Khusus Pengelolaan dan Pengolahan Air. Sanropie. 1992. 1986. Universitas Indonesia.. Jakarta Sugiharto.W. 1983. R. Inc Tokyo. 1992. Jakarta. Statistik Induktif. Semarang. FKM UNDIP. 1975. MC Graw-Hill Koyoleusa Ltd. Fifth ED. dkk. Chemistry and Tecnology Lime and Limestone. dkk. STTL “YLH”. FKM Universitas Indonesia. ICH.. Rajawali Press. Chemistry for Environmental Engeenering. Tjokrokusumo. Sank. Penuntun Praktikm Laboratorium Air. 1980. 1988. 1907. Koesnopoetranto H. Third ed. 1995. Wirakusumah. 1981. . Singarimbun Masri. H. Jakarta.K. 1989. Jakarta. Yogyakarta. Tony Gates. Water Supply and Severage. Pengelolaan Limbah Rumah Sakit. Dasar-Dasar Ekologi Menopang Pengetahuan Ilmu-Ilmu Lingkungan. New York. Ann Arbor Science Publisher. USA.Kusumanto. 1995. E. Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful