PENURUNAN FOSFAT DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME), TAWAS DAN FILTRASI ZEOLIT PADA LIMBAH CAIR

( STUDI KASUS RS BETHESDA YOGYAKARTA )

Tesis
Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana S-2 pada Program Studi Ilmu Lingkungan

Sudi Setyo Budi L4K003013

PROGRAM MAGISTER ILMU LINGKUNGAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2006

TESIS PENURUNAN FOSFAT DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME), TAWAS DAN FILTRASI ZEOLIT PADA LIMBAH CAIR
( STUDI KASUS RS BETHESDA YOGYAKARTA )

Disusun oleh

Sudi Setyo Budi L4K 003 013

Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Pada tanggal 21 Pebruari 2006 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

Menyetujui , Pembimbing I Pembimbing II

Ir. Danny Sutrisnanto, M.Eng

Dr. Ir. Setia Budi Sasongko, DEA

Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan ,

Prof. Dr. Sudharto. P. Hadi, MES.

LEMBAR PENGESAHAN PENURUNAN FOSFAT DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME), TAWAS DAN FILTRASI ZEOLIT PADA LIMBAH CAIR
( STUDI KASUS RS BETHESDA YOGYAKARTA ) Disusun oleh

Sudi Setyo Budi L4K 003 013
Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Pada tanggal 21 Pebruari 2006 Dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

Ketua

Tanda Tangan

Ir. Danny Sutrisnanto, M.Eng

………………………….

Anggota 1. Dr.Ir. Setia Budi Sasongko,DEA …………………………

2.

Ir. Sumarno, M.Si

…………………………

3.

Ir.Agus Hadiyarto.MT

…………………………

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan tesis yang saya kutip dari hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma.PERNYATAAN Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang saya susun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Program Magister Ilmu Lingkungan seluruhnya merupakan hasil karya saya sendiri. saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan yang berlaku. Maret 2006 Penulis Sudi Setyo Budi L4K 004 013 . Aapbila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian tesisi ini bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu. kaidah dan etika penulisan ilmiah. Semarang.

Siti Harnina Bintari. Sudharto. Ir. MES. Dan Perairan Pantai (Studi Kasus: Jakarta. Penguji II Dra. Semarang. Dr.S. Dan Jepara) Nama Mahasiswa Nomor Mahasiswa Program Studi Konsentrasi : : : : AMELYA NILA ANDINI L4K003001 Magister Ilmu Lingkungan Managemen Lingkungan Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Pada tanggal – Juli 2005 Dan dinyatakan memenuhi syarat untuk diterima Menyetujui: Pembimbing I Pembimbing II Dr.Sc. Muara.Sc. Agus Sabdono. Purwanto. Tonny Bachtiar. M. Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan . Hadi. Dr.Judul Tesis : Kinetika Biodegradasi Koprostanol Oleh Bakteri Terseleksi Dari Air Dan Sedimen Pada Lingkungan Sungai. Ir. P. Penguji I Dr. DEA Mengetahui . M. Prof. M. .

Pada tahun 1998 Penulis menjabat sebagai Kepala Desa (Lurah) pada pemilihan kepala Desa di Kabupaten Pati. .lulus SMA tahun 1991 dan melanjutkan pendidikan Sarjana Strata Satu (S1) pada Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (UNTAG) Semarang selesai pada tahun 2001. Jawa Tengah Sampai sekarang dan melanjutkan pendidikan pasca sarjana (S2) di Program Magister ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang . lahir di Pati pada tanggal 5 Pebruari 1972.BIODATA PENULIS Sudi Setyo Budi. Selama menempuh pendidikan S1 penulis aktif didalam kegiatan Organisasi Kemahasiswaan.Tawas dan Filtrasi Zeolit” ( Studi Kasus Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta ).Tesis dengan judul “Penurunan Kadar Fosfat dengan Penambahan Kapur. telah berhasil diselesaikan pada tahun 2006.

Prof. ibu dan semua saudaraku tercinta untuk semua doa. Danny Sutrisnanto. Semoga segala kebaikan dan ketulusan Bapak/Ibu/Saudara dalam membantu penyelesaian tesis ini mendapatkan imbalan dari Allah SWT. Para dosen. Sudharto. M. Ir. semangat dan dorongan dalam penyelesaian tesis ini. 5. DEA sebagai dosen pembimbing II. pengelola dan karyawan Program Magister Ilmu Lingkungan yang membimbing dan memberikan bantuan dan saran dalam menyelesaikan penelitian ini. P. Untuk itu pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat : 1. Teman-teman Magister Ilmu Lingkungan angkatan 2003 kelas reguler memberikan kenangan. Penulis. Ir. Dr. Bapak. 3. koreksi dan penyempurnaan. Dr. Tesis yang berjudul Penurunan Fosfat Dengan Penambahan Kapur (Lime) Tawas Dan Filtrasi Zeolit Pada Limbah Cair ( Studi Kasus Rs Bethesda Yogyakarta ). Tesis ini merupakan rangkaian akhir dari persyaratan dalam mencapai gelar kesarjanaan Program Pasca Sarjana (S2) yang telah diseminarkan dan mendapatkan tanggapan.Eng sebagai dosen pembimbing I.KATA PENGANTAR Tesis ini disusun untuk memenuhi tugas akhir pada Program Pasca Sarjana Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang. kesabaran. MES sebagai Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan. Serta rekan-rekan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang memberikan semangat dan bantuan dalam penyelesaian tesis ini. 6. 7. 2.Hadi. Amien. Setia Budi Sasongko. 4. yang telah Sudi Setyo Budi . telah mendapatkan bimbingan serta arahan guna penyempurnaan isi dan tulisan sekaligus persetujuan dari dosen pembimbing dan penguji.

jadi dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 0. R0. R0. meliputi sanitasi rumah sakit.0015 ppm = 0.0020 ppml = 0.895. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektifitas penurunan kadar fosfat limbah cair rumah sakit Bethesda Yogyakarta sebelum dan setelah melalui perlakuan penambahan larutan kapur dan larutan tawas serta filtrasi zeolit.979. tawas.0015 ppm dan hubungan tertinggi pada konsentrasi 0.0025 ppm yang paling efektif. Sedangkan nilai R pada masing-masing konsentrasi setelah filtrasi adalah R0. zeolit. untuk itu perlu dilakukan penanganan bahan pencemar fosfat limbah cair rumah agat tidak mencemari lingkungan. R0. Penelitian dilakukan pada limbah cair Rumah Sakit Bethesda dan uji laboratorium dilaksanakan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pembrantasan penyakit menular (BBTKL-PPM) Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai R pada masing-masing konsentrasi setelah flokulasi dan koagulasi adalah R0.975. Kadar bahan pencemaran fosfat dari limbah cair rumah sakit yang melebihi baku mutu yang ditetapkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan analisa design pre test and post test design dan hasilnya akan diuji secara diskriptif analitis dengan korelasi. R0.981. limbah cair .0020 ppml = = 0.INTISARI Rumah sakit dalam kegiatannya banyak menggunakan bahan-bahan yang berpotensi mencemari lingkungan.0025 ppm. Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah rumah sakit yang mengandung fosfat tinggi melebihi melebihi baku mutu yang ditetapkan akan menyebabkan problem lingkungan hidup. yaitu pada sistem pengolahan dan pengelolaan pencemaran Rumah Sakit Bethesda. kapur.0015 ppm dan hubungan tertinggi pada konsentrasi 25 ml. jadi dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 0. Hubungan terendah pada konsentrasi 0.0025 ppm = 0. Hubungan terendah pada konsentrasi 0.0025 ppm yang paling efektif.990.0015 0.992. Kata Kunci: fosfat.0025 ppm ppm = 0.

Keyword: phosphate. that is at processing system and management of Bethesda Hospital contamination. become can be concluded that concentration of 0. Method in this research is eksperimental with analysis of pre test design and post test design which is its result will test by diskriptif analytical with correlation. While R value at each concentration after filtrasi is R0. covering hospital sanitation.0025 ppm.981.0025 ppm = 0. Contamination which because of consist hospital waste of phosphate will cause environment problem. chalk. zeolite.0025 ppm is most effective. alum. R0. Research have been done at liquid waste of Bethesda Hospital and laboratory test executed in The mayor technical center of Environment Health and Epidemic control (BBTKLPPM Yogyakarta.0015 ppm and highest link at concentration of 0. Phosphate contamination materials rate of hospital liquid waste have exceeded standard quality of which is specified. R0. R0. liquid waste.0025 ppm is most effective.0025 ppm.0015 ppm = 0. R0. This research aim to know storey.979.0020 ppml = 0.ABSTRACT Hospital in its activity using many materials which potentialy contaminate environment. Lowest link at concentration of 0. For that require to be conducted by handling of contamination materials of house liquid waste phosphate in order not to contaminate environment.0020 ppml = 0.0025 ppm = 0. can be concluded that concentration of 0. Lowest link at concentration of 0. Result of research indicate that R value at each concentration after of flokulasi and koagulasi is R0. .992. level of efektifitas degradation of liquid waste phosphate rate of Bethesda Yogyakarta hospital before and after passing treatment of condensation calcify addition and alum condensation and also zeolite filtration.0015 ppm and highest link at concentration of 0.0015 ppm = 0.990.975.895.

..... 1............2...... Fosfat ........................................... Pengertian Limbah Cair Rumah Sakit .... Sifat Zeolit ..2.......................................................... Rumah Sakit ................ Sumber Limbah Cair Rumah Sakit ........ 2...............3........3..........................1........... 2............. Koagulasi dan Flokulasi ................................... 2...... 2.. Kapur .................................................. i ii iii iv vi vii viii ix 1 1 4 4 4 5 5 9 9 10 11 13 16 16 18 18 19 19 22 23 25 .. Tujuan Penelitian ...1.............. 2....................... Identifikasi dan Perumusan Masalah........... 2....4................... 2........ KATA PENGANTAR ..........................................5...2...........................5..1............2.................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA .... Kegunaan Penelitian ....3.......................1........1....................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN PENGESAHAN ....................................................... Karakteristik Limbah Cair Rumah Sakit .... Pemisahan Fosfat ......................4........................... ABSTRAK / INTISARI ....2...................................6........................................6...................................................... Unit-Unit Pengolahan Air Limbah RS Bethesda . 2. DAFTAR ISI .................................................4................... 1.....................................3.........................................................1.... 2............... HALAMAN PERNYATAAN ....................... DAFTAR GAMBAR ....1........................................................................................................................... DAFTAR TABEL....................................... Sifat-Sifat Tawas Dan Penggunaannya .......................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ..............3.............................. Klasifikasi Rumah Sakit ... Flokulasi...................... 2............ 2..............................1.................... 1........... BAB I PENDAHULUAN .............1. 2....... 2............ 2............................. Zeolit ...................................................................... Koagulasi ................................... 1...............1..1.................................. 2.......... Latar Belakang Masalah...

........... BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...... Jenis Zeolit .........................................7............ 3.........7..................................... Pemeriksaan Sampel ....... Teknik Pengambilan Sampel ................ Hasil Penelitian dan Analisis Hasil ....................................3...............................................1.. DAFTAR PUSTAKA ........................ Rancangan Penelitian . BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...................... 3............8........2.......2....1. Pengambilan Sampel.... Lokasi Penelitian .................................... Tahapan Persiapan ............................4........3.......... Pelaksanaan Penelitian .............. BAB III METODE PENELITIAN .... Kesimpulan ...........................................3........ Jenis dan Sumber Data...... Originalitas Penelitian ............................................... 3..... 3.................... 4............... Variabel Penelitian ........ 3......... Saran ....................... Aktivasi Zeolit ......................................7.... 3.. 5............................ Analisa Data ........... 5.....................4...............6.......... 4..... Teknik Analisa Data ..... 3..................................................................................6........2..6......1................................. 3.................................. 26 29 29 30 30 31 31 31 31 31 31 32 33 33 33 33 33 34 34 34 36 36 40 43 44 44 44 45 ............................... 3........................ Teknik Pengumpulan Data ... 3...............................9............. Alat ..........6................................ Instrumen Pebelitian ...........1........7.. 2....... 3............ Pembahasan ................ 3...... 3.......2..................... Ruang Lingkup ....... 3..........................6................1... 4........................5. 3............................................................................. 2........7..................................6...2............ Bahan ..............................6..............................2.................................................. Periode Pengambilan Sampel ....3.......... 3..3.......................2......................

. 8....................................Klasifikasi Fosfat......Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi ............ 5............................. 7........... 2............... 3.........DAFTAR TABEL Halaman 1......................................................................................................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi ......................................Perbedaan Mineral Alam dan Zeolit Sintetik .................... 17 26 28 36 4............................................................................ (Asli) ..........Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi ........................................................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi / Flokulasi 36 38 43 43 6............................Keadaan Limbah cair RS Bethesda Yogyakarta sebelum Pengolahan ....................Klasifikasi Zeolit ........

. 7.0020 ppm...........................0025 ppm .Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0....... 8..Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0.........Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0.....Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0....................... 2.. 3.......... 6................DAFTAR GAMBAR Halaman 1...........0015 ppm................0015 ppm...................0015 ppm ....Pola Klasifikasi Fosfat ...........................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0...................0020 ppm ...... 4.................................................... 40 40 39 39 38 38 37 37 17 29 ....... 0...............................Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Pada Tawas 0... 5......0025 ppm ......................................... 0....Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0.................0020 ppm .... 0.. 9............................0020 ppm..............................0015 ppm .................0025 ppm .. 0.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda YogyaKarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Pada Tawas 0...0025 ppm..............Rancangan Penelitian ............. 10......

........... 0.0015 ppm... dan 0..0025 ppm)..0020 ppm. Hasil Pengolahan Penurunan Kadar Fosfat Limbah Cair Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta .0020 ppm.. 0.. Peta Yogyakarta 60 57 51 . Penambahan Tawas (Kadar Fosfat setelah Filtrasi ) Regression (Konsentrasi 0..0015 ppm.... Penambahan Tawas (Kadar Fosfat sebelum Filtrasi ) Regression (Konsentrasi 0............DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Foto-foto Penelitian 4.... dan 0........0025 ppm) 3.... 47 2...............

Problem ini disinyalir akibat langsung dari aliran limbah yang mengandung fosfat tinggi. Akibatnya. Melalui penelitian panjang di AS para peneliti akhirnya bisa menyimpulkan bahwa fosfor merupakan elemen kunci diantara nutrient utama lainnya seperti: Carbon (C). asrama dll. Sebenarnya jumlhah fosfat yang diperlukan oleh blue-green algae makhluk hidup air penyebab algae bool untuk tumbuh ternyata hanya dengan konsentrasi 10 ppb (part perbillion) fosfor saja blue-green algae sudah bisa tumbuh. Menyadari bahwa fosfatlah yang menjadi penyebab terjadinya eutrofikasi.70 Yogyakarta. . laundry. dan Fosfor (P) didalam proses eutrofikasi. Problem eutrofikasi baru disadari pada dekade awal abad ke-20 saat algae banyak tumbuh di ekosistem air.seperti: detergen. Sumber-sumber pencemaran yang terdapat di rumah sakit berasal dari kegiatan dapur. Hal ini bisa dikenali dengan warna air menjadi kehijauan. Rumah sakit Bethesda merupakan rumah sakit dengan type B berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman N0. racun dan bahan berbahaya bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya maupun dalam lingkungan rumah sakit itu sendiri. Dalam waktu 24 jam saja populasi algae bisa berkembang dua kali lipat dengan ketersediaan fosfor yang berlebihan akibat limbah fosfat diatas. Kondisi eutrofik sangat memungkinkan algae tumbuh berkembang biak dengan pesat (blooming) akibat dari ketersediaan fosfat berlebihan serta kondisi lain yang memadai. ruang operasi . Tidak heran jika algae bloom terjadi di banyak ekosistem air.1 Latar Belakang Masalah Rumah sakit dalam kegiatannya banyak menggunakan bahan-bahan yang berpotensi mencemari lingkungan.Limbah rumah sakit yang mengandung fosfat akan menyebabkan problem lingkungan hidup yaitu menyebabkan Eutrofikasi.BAB I PENDAHULUAN 1. laboratorium. Ada kelompok yang condong memilih cara-cara penanggulangan melalui pengolahan limbah cair yang mengandung fosfat. rawat inap. kamar mayat. Definisi dasarnya adalah pencemaran air yang disebabkan munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air. kualitas air di banyak ekosistem air menjadi sangat menurun. ada juga yang melarang secara tegas keberadaan fosfat dalam detergen. Air dikatakan eutrofik jika konsentrasi phosphorus (TP) dalam air berada pada rentang 35-100 g/l. Nitrogen (N). Di samping itu kegiatan rumah sakit juga menghasikan limbah cair yang bersifat infeksius. maka perhatian para saintis dan kelompok masyarakat pecinta lingkungan hidup semakin meningkat terhadap masalah ini. berbau tidak sedap dan kekeruhan menjadi sangat meningkat. Banyaknya enceng gondok yang bertebaran dimanamana juga disebabkan dari fosfat yang sangat berlebihan ini.

Negara-negara kawasan Eropa juga memiliki komite khusus dengan nama Scientific Committee on Fosfates in Europe yang memberlakukan The Urban Waste Water Treatment Directive yang berfungsi untuk menangani problem fosfat dari limbah cair dan cara penanggulangannya. tempat mencetak tenaga kesehatan dan sarana penelitian. Pemecahan problem ini di Indonesia sangat menuntut peran serta masyarakat. Karena itu perlu upaya secara terus menerus untuk meningkatkan budaya dan pola pikir agar faktor lingkungan menjadi prioritas utama dalam melakukan pengelolaan rumah sakit. logam berat (karsinogenik) maupun radioaktif. Untuk itu perlu pengelolaan lingkungan rumah sakit secara cermat sehingga output tidak menimbulkan dampak terhadap masyarakat. Jangan sampai rumah sakit yang dianggap sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Eutrofikasi merupakan contoh kasus dari problem yang menuntut pendekatan lintas disiplin ilmu dan lintas sektoral. saintis. tetapi juga menjadi persoalan global yang rumit untuk diatasi sehingga menuntut perhatian serius banyak pihak secara terus-menerus. Karena kita ketahui bahwa limbah rumah sakit merupakan bahan dan sumber pencemar yang sangat kompleks karena limbahnya bisa mengandung kuman ksius. Karena tidak dapat terurai secara alamiah maka terjadi karena berdampak terhadap kesehatan masyarakat. praktisi dan pemerintah menjadi tugas yang mendesak untuk menyelamatkan sumber daya air dari bencana eutrofikasi serta memelihara dan mengolahnya untuk kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang. Pada saat ini rumah-rumah sakit yang ada melakukan pengolahan limbahnya pada Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) tetapi ada juga yang hanya secara konvensional (septic tank dan peresapan) dan bahkan tanpa pengolahan (langsung dibuang ke lingkungan). ini yang sangat dikhawatirkan . Oleh karena Itu untuk pennganan limbah rumah sakit yang dihasilkan harus dikelola sesuai dengan karakteristik dan volume limbah sehingga dapat meminimalkan dampak negatif yang dihasilkan sehingga lingkungan dapat menerima dan diuraikan (self purification). Kaitannya dengan kesehatan. disamping Environmental Protection Agency/EPA yang memberlakukan peraturan dan pengawasan ketat terhadap pencemaran lingkungan. justru menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat disekitarnya maupun masyarakat yang menggunakannya (nosokomial).Dewasa ini persoalan eutrofikasi tidak hanya dikaji secara lokal dan temporal. Mereka juga memilki jurnal ilmiah European Water Pollution Control. akumulasi di dalam organisme dan lingkungan serta terjadinya biomagnifikasi/rantai makanan. Rumah sakit itu befungsi sebagai sarana kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan. yang perlu kita waspadai adalah zat-zat kimia yang bersifat peresisten (yang tidak dapat untuk jangka waktu yang lama didalam lingkungan).

bak an aerob . kesehatan anak. digester. pengering lumpur. c. Pelayanan gawat darurat 4. Prothese dan ortotik 5. mata kulit dan kelamin. bak pengendapan. penimbunan hasil pengolahan.bak penampung awal. Unit-unit yang ada di rumah sakit 1. . Rawat Jalan a. pelayanan sterilisasi. 3. farmasi. bedah plastik. bedah orkologi. radiologi. kesehatan jiwa. bedah orkologi. Rehabilitasi mental spiritual c. THT. mata. Sub spesialistik (bedah syaraf. 6. bak penampung awal terpadu. Sub spesialistik (bedah syaraf. Spesialistik (penyakit dalam. maka rumah sakit Bethesda sangat membutuhkan sarana instalasi limbah cair tersebut agar parameter limbah cair yang melebihi baku mutu khususnya fosfat dapat ditangani. dan rehabilitasi medik). Fisik (rehabilitasi sistem radiovaskuler. kesehatan anak. kulit dan kelamin serta rehabilitasi medik. bak Pre treatment bak laundry. c. bak equalisasi . CT-Scan. Pengelolaan yang dilakukan mencakup penyimpanan. pengolahan. rehabilitasi sistem neuromuskuler dan lekomotor. paru. Perawatan Umum b. Penanganan IPAL rumah sakit Bethesda belum sempurna oleh karena itu. obsteriginekologin. kologin. rehabilitasi sistem pernafasan. KIA dan KB) b. bedah ortopedi dan bedah rekonstruksi. kesehatan jiwa. THT. bedah obsterigine. sand filter. syaraf. pendidikan dan penelitian dan informasi. bedah. Penunjang umum Yaitu administrasi. pengumpulan. instalasi pemeliharaan saran. 2. USG. bedah ortopedi dan bedah rekonstruksi. bedah plastik. Rawat inap a. pengolahan makanan dan gizi. b.Pengolahan limbah cair yang sekarang dilakukan rumah sakit Bethesda meliputi penangkap lemak. bedah urologi dan bedah digestik). paru. Poliklinik (umum. gigi. bedah urologi dan bedah digestik). Pelayanan rehabilitasi medik a. kamar operasi. Spesialistik (penyakit dalam. haimodialisa. kamar bersalin dan beddah sentral. Pelayanan penunjang Yaitu laboratorium. syaraf. kolam ikan.

4 Kegunaaan Penelitian Untuk membantu pihak pengelola rumah sakit dalam rangka penanganan limbah cair khusus parameter fosfat sehingga tidak mencemari lingkungan. Dari latar belakang dan identifikasi maka dapat dirumuskan sebagai berikut : Apakah kadar bahan pencemar yang fosfat yang terkandung dalam limbah rumah sakit dapat diturunkan sehingga memenuhi baku mutu yang ditetapkan ? 1.1. BAB II TINJAUAN PUSTAKA . 1.3 Tujuan Penelitian Meneliti tingkat efektifitas larutan kapur.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah Identifikasi Limbah cair Rumah Sakit mengandung bahan pencemar yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat sekitarnya Parameter fosfat yang terkandung dalam limbah cair Rumah sakitmelebihi baku mutu yang ditetapkan. larutan tawas dan zeolit untuk menurunkan kadar fosfat dalam limbah cair Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.

Dalam kurun waktu 1924-1925.2. Rumah Sakit Petronellapun bernama resmi Het Zendingsziekenhuis Petronella Voor on en minvermogenden (Rumah Sakit Petronella untuk orang-orang yang kurang dan tidak mampu).Scheurer mendirikan Rumah Sakit Petronella di kampung Gondokusuman. Pada tahun 1899 dr. Tujuannya untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari bahan buangan atau limbah rumah sakit serta mencegah meningkatnya infeksi nosokomial di lingkungan rumah sakit. K. dr. Salah satu upaya penyehatan lingkungan rumah sakit teresbut adalah peraturan pemerintah tentang adanya suatu satuan kerja yang bertanggungjawab terhadap penyehatan lingkungan rumah sakit yaitu Instalasi Sanitasi melaui SK Menkes No.P. Rumah sakit merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh. Ketika menerima subsidi dari pemerintah. semasa kepemimpinan dr. dr.1.J. Setelah proklamasi kemerdekaan. J. disamping juga merupakan pusat latihan tenaga kesehatan dan tempat untuk mengadakan pelatihan medis.G.Groot. Sewaktu terjadi perang antara Sekutu dan Jepang. dengan dr. dengan kapasitas awal 150 tempat tidur dan dikelola sepenuhnya oleh gerejagereja Gereformed di Amsterdam.Offringa. yaitu dr. tetapi untuk mencapai tujuan pembangunan bidang kesehatan. Pruys.J. pasien-pasien Petronella dipindahkan ke rumah sakit darurat di Pingit (sekarang asrama Polisi) dan Rumah Sakit Petronella dipindahkan kembali ke Gondokusuman dan berganti nama menjadi Jogjakarta Tjuo Bjoin (Rumah Sakit Pusat Jogyakarta) dan dipimpin oleh orang Jepang. maka rumah sakit diharapkan berangsur akan berkembang kearah pelayanan kesehatan paripurna yang mencakup upaya peningkatan.Scheurer kembali ke Belanda pada tahun 1906 dan kepemimpinan RS Petronella selama 36 tahun berikutnya dibagi rata oleh tiga orang dokter. kapasitas rmah sakit yang semula 150 tempat tidur ditingkatkan menjadi 475 tempat tidur. 548/Menkes/VI/1994 tanggal 13 Juni 1994. pengobatan dan pelayanan kesehatan. pencegahan. Rumah sakit akan menghasilkan limbah yang bersifat infeksius. Lucas Gerard Johannes Samallo sebagai dokter . Rumah Sakit Petronella disebut juga sebagai rumah sakit Dokter Tulung/Pitulung karena tidak memungut biaya perawatan rumah sakit. Rumah Sakit Jogjakarta Tjuo Bjoin direbut dari Jepang dan berganti nama menjadi Rumah Sakit Pusat. Rumah Sakit Rumah Sakit adalah integrasi organisasi sosial dan kesehatan yang berfungsi melayani masyarakat dengan pelayanan kesehatan secara menyeluruh baik kuratif maupun preventif serta pelayanan penderita berobat jalan mencakup lingkungan keluarga. toxic dan radioaktif dalam melakukan kegiatannya sehingga perlu adanya upaya penyehatan lingkungan rumah sakit. sering dikenal sebagai bentuk pelayanan yang berorientasi pada pelayanan kuratif saja. Offringa dan dr.

3880/K. rumah sakit secara resmi berdiri dan beroperasi di Yogyakarta dengan nama Rumah Sakit Bethesda. 1714 / K. tanggal 28 Juni 1949.935 m2 dengan luas bangunan mencapai 25. Rumah Sakit Bethesda terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di jalan Jenderal Sudirman No.uk RS BETH /1996 tanggal 23 Maret 1996 dan kemudian diberlakukan di RS Bethesda dengan Surat Keputusan Direktur No.412 m2 dan tanah kosong dalam komplek 36. Penelitian dan Pengembangan Bidang Pelayanan Keluarga Berencana RS Bethesda Bidang Sosial Pastoral Bidang usaha Peningkatan Kesehatan Masyarakat (UPKM) Bidang Pendidikan SPK dan Bidan Bidang Pelayanan Kesehatan (YANKES) Lempuyangwangi .pertama berbangsa Indonesia yang memimpinnya. 70. dengan batas-batas: • • • • Utara Selatan Timur Barat : Jalan Jenderal Sudirman : Universitas Kristen Duta Wacana dan Komplek DKT : Jalan Dr. Supaya umum mengetahuinya bahwa Rumah Sakit Kristen. Lokasi Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta terletak pada sebidang tanah yang mempunyai luas 61. Wahidin : Jalan Johar Norhadi Struktur Organisasi Rumah Sakit Bethesda Struktur organisasi RS Bethesda Yogyakarta sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Pimpinan Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (DP-YAKKUM) No. Kotamadya Yogyakarta. maka berdasarkan hasil rapat Dewan Pimpinan YAKKUM (Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum) selaku pengawas yang berpusat di Surakarta.423 m2 .966/1997 tanggal 22 Juli 1997 tentang organisasi dan tata kerja RS Bethesda Yogyakarta yang terdiri dari: • • • • • • • • • • • • • Direktur Wakil Direktur Pelayanan Medik Wakil Direktur Penunjang Medik Wakil Direktur Keuangan Wakil Direktur Personalia dan Umum Bidang Satuan Pengawasan Intern Bidang Sekretariat Bidang Perencanaan.

Limbah gas berupa: . asam sulfat (merupakan specimen laboratorium). Bahan polutan yang ada merupakan hasil dari berbagai aktivitas yang menimbulkan dampak dan kemungkinan bahan polutan yang ada antara lain: 1. Limbah padat berupa: 3.Bahan Polutan Rumah Sakit Bethesda Bahan polutan yang ada dapat diamati dengan jelas dari setiap kegiatan yang dilakukan RS Bethesda Yogyakarta. Pengadaan Air Air bersih merupakan kebutuan mutlak yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan setiap rumah sakit dimanapun juga. Limbah cair berupa: • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Darah. dan wastafel. Air buangan dari kamar mandi. WC. alkohol. maka kualitas dan kuantitas air yang digunakan untuk 2. Mengingat bahwa rumah sakit merupakan tempat tindakan pelayanan dan perawatan orang sakit. Kotoran lemak Deterjen Specimen laboratorium padatan Perban/kasa Spet suntikan Kapas darah Sisa makanan Kertas Plastik Kaca Sisa amputasi Sisa persalinan Sisa operasi Sisa outopsi Sisa insenerasi Gas dari sisa pembakaran di Instalasi Gizi Asap dari pembakaran di Instalasi Incenerator Uap air atau kondensat dari Instalasi Laundry Utilitas 1.

Genset beroperasi secara otomatis apabila suplai listrik dari PLN tidak berjalan atau padam. pengunjung dan karyawan. Tabung pemadam kebakaran sejumlah 64 buah Pihak RS Bethesda juga bekerjasama dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kodya dan KODAM IV/Diponegoro. • • • • • • • Pengadaan Transportasi Pengadaan mobil operasional terdiri dari: Mobil ambulance Mobil jenazah Mobil kijang Mikrobus Minibus Sedan Open Cup : 4 buah : 1 buah : 3 buah : 2 buah : 1 buah : 2 buah : 1 buah Dengan tenaga sopir 11 orang 4.1. Pengadaan listrik di RS Bethesda berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebesar 5500 kVa. Fasilitas Pemadam Kebakaran Hydrant. Pengertian Limbah Cair Rumah Sakit Pengadaan fasilitas untuk pemadam kebakaran berupa: . Selain menggunakan sumber listrik PLN. 2. yang diletakkan di dalam sumur berkedalaman30 sampai 40 meter. yang ditempatkan di 16 titik yang dianggap dapat mewakili seluruh areal bangunan RS Bethesda. Pengadaan Listrik Pencahayaan atau listrik digunakan di semua ruangan yang ad. Jumlah dari kebutuhan air bersih untuk RS Bethesda diperkirakan ± 875 m3 per harinya. taman dan untuk pelayanan penerangan umum lainnya. a. dengan sistem otomatis. Yang kemudian di pompa water tower yang berjumlah 2 buah. demikian juga untuk ruang tidur pasien atau bangsal. b. baik untuk bekerja maupun untuk penyimpanan barang atau peralatan elektronik. RS Bethesda juga menggunakan 2 buah genset yang mempunyai daya 500 kVa dan 375 kVa. 2.1. untuk itu pihak RS Bethesda menggunakan 5 (lima) buah pompa dengan daya 10 pk dan 7.5 pk. 3.kebutuhan rumah sakit harus selalu dipertahankan agar tidak dapat mengakibatkan sumber infeksi baru bagi penderita .

b. Rumah Sakit Swasta. Sumber Limbah Cair Rumah Sakit . yang dikelola oleh yayasan. tinja.Sedangkan RSU Swasta dibagi atas Kelas Utama. B. Benang merah yang menghubungkan RSUP DAN RSU Swasta adalah paralelisasi antara Type B dan Kelas Utama. Macam jumlah dan kadar zat pencemar yang dihasilkan dari setiap sumber tersebut bervariasi tergantung kegiatan/aktivitasnya dan bahan yang digunakan. 2. ruang pasien. ruang laboratorium. spesialistik dan subspesialistik. dapur. Berdasarkan macam/jenis penyakit yang ditangani a. yaitu. Madya. Klasifikasi Rumah Sakit Secara umum industri rumah sakit dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian. Rumah Sakit Umum (RSU). RSU Type C atau Kelas Madya adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik dasar. tempat pencucian pakaian. Terakhir RSU Type D atau Kelas Pratama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis dasar. Limbah tersebut dapat berupa sisa darah. Departemen Hankam dan BUMN. air bekas pencucian dan lain-lain. sisa bahan kimia/radiologi. 983/SK/Menkes/XI/92 menyebutkan bahwa RSU Type A adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan subspesialistik luas. Berdasarkan status kepemilikan /pengelolaan a.3.2. urine. Type C dan Kelas Madya serta Type D dan Kelas Pratama. RSU Type B atau Kelas Utama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan subspesialistik terbatas. b. yang menangani hanya 1 (satu) atau beberapa jenis penyakit tertentu. yang dikelola oleh Depkes dan merupakan milik pemerintah (pusat atau daerah). kamar mandi. C dan D. dan Pratama. yang menangani hampir semua penyakit/memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar. Rumah Sakit Negeri/ Pemerintah. ruang bedah dan runag lain dalam bnagunan kecuali limbah cair radiologi. RSU masih dibagi lagi menjadi beberapa type/kelas RSUP (RSU Pemerintah) dapat diklasifikasikan menjadi RSU type A. Rumah Sakit khusus.Limbah cair rumah sakit merupakan limbah cair dari semua sumber pembuangan misalnya kloset. ruang operasi dan lainnya.1.1. sisa obat. Limbah cair rumah sakit adalah limbha cair yang berasal dari rumah sakit baik ynag berasal dari dapur. Keputusan Menkes RI No. Sedangkan Rumah Sakit Bethesda tergolong RSU Kelas Utama. 1. 2. 2.

Air limbah ini mengalir . 6. 9. floor drain. Spoelhock. tempat cuci film. bahan kimia beracun dan radio aktif. urinoir. Wastafel. Wastafel. Ruang Dapur: Kamar mandi. Sumber Penghasil Limbah RS Bethesda Limbah rumah sakit adalah semua air buangan yang berasal dari aktivitas instalasiinstalasi rumah sakit yang kemungkinan besar mengandung mikroorganisma. tempat cuci instrumen medik. tempat cuci instrumen medik. tempat pembedahan mayat/autopsi. 3. Spoelhock. pantry. Ruang Laundry: tempat rendaman linen kotor. urinoir. 13. tempat mencuci jenazah. wastafel) dan di tambah buangan dari asrama putra AKPER RS Bethesda. Spoelhock. Masjid): Kamar mandi. floor drain. 7. Wastafel. 11. tempat cuci preparat. tempat cuci alat-alat dapur. tempat cuci perabot makan. tempat wudlu. tempat cuci beras. Wastafel. Sumber-sumber limbah rumah sakit meliputi: 1. wastafel. Ruang Operasi: Kamar mandi. Wastafel. Asrama): Kamar mandi. parasit. tempat buang exudat pasien. tempat cuci instrumen medik. tempat cuci instrumen medik. urinoir. Pemukiman (Rumah Dinas. Ruang Kamar Jenazah/Autopsi: Kamar mandi. pantry. 4. kamar mandi. Untuk mengetahui jenis limbah yang dihasilkan yang digunakan sebagai dasar cara pengolahannya maka perlu diketahui sumber-sumber yang menghasilkan limbah rumah sakit. buangan pembilas air panas. Unit Radiologi: wastafel. 2. urinoir. Adapun sumber-sumbernya adalah sebagai berikut: 1. Spoelhock. buangan dari pembilas mesin cuci. urinoir. Unit Perkantoran/Perpustakaan: Kamar mandi. Ruang Haemodialisa: Kamar mandi. floor drain.Dalam melakukan kegiatan pelayanan kesehatan rumah sakit akan menghasilkan limbah cair. tempat buang exudat pasien. urinoir. Ruang Rawat Darurat: Kamar mandi. tempat cuci instrumen medik. Ruang Perawatan berasal dari: Kamar mandi. 10. tempat cuci perabot makan. 12. Fasilitas Sosial (Kafetaria. Limbah cair alur barat Limbah cair dari alur barat lebih didominasi oleh air buangan yang berasal dari ruang-ruang rawat inap (kamar mandi/WC. pantry. tempat cuci instrumen medik. Instalasi Laboratorium Klinik/Patologi Anatomi: Kamar mandi. Wastafel. Ruang Rawat Jalan: Kamar mandi. 8. Wastafel. tempat cuci sayur/buah. Wastafel. 5. yang disalurkan melalui assenering baik assenering DKP maupun assenering pihak RS Bethesda sendiri menuju instalasi pengolahan air limbah. tempat buang exudat pasien.

25 % karbohidrat dan 10 % lemak. Komposisi limbah cair rumah sakit sebagian besar terdiri dari 99. 4.secara gravitasi dengan 13 bak kontrol di titik-titik tertentu guna mengawasi lancar tidaknya aliran. 3. Adapun sifat fisik yang penting adalah kandungan zat padat sebgaai efek estetika. laboratorium.1 %. Laundry Laundry juga merupakan salah satu instalasi penting yang umum dimiliki oleh setiap rumah sakit tidak terkecuali RS Bethesda. Karakteristik Limbah Cair Rumah Sakit Air limbah pada intinya dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu sifat fisik.1. ruang farmasi. menyalurkan air buangannya ke saluran assenering alur timur baik secara gravitasi maupun dengan bantuan pompa. ruang radiologi dan lain-lain yang menghasilkan limbah. kantor. Dari laundry ini dihasilkan limbah cair dengan kandungan detergen yang tinggi sehingga memilki pH dan suhu yang tinggi. yang mengandung minyak. kejernihan. kimia dan biologis. warna dan temperatur. Partikel-partikel padat terdiri dari zat organik 70 % dan anorganik 30 %. 2. lemak dan detergen untuk kemudian diolah secara bertingkat. bau. . Zat organik terdiri dari 65 % protein. 2.4.9 % dan sisanya terdiri dari partikel-partikel tidak terlarut 0. karena selruh kegiatan RS Bethesda yang berada di bagian timur seperti ruang rawat inap. Instalasi gizi (dapur) Kegiatan instalasi gizi yaitu melayani kebutuhan makanan pasien maupun karyawan sehingga dari kegiatan ini juga dihasilkan limbah cair. Limbah cair alur timur Limbah cair alur timur memilki karakteristik pencemar yang lebih kompleks. a. Zat organik tersebut sebagian besar mudah terurai (degradabel) yang merupakan sumber makanan dan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme yang lainnya. Sifat Fisik Penentuan derajat kekotoran air limbah sangat dipengaruhi oleh adanya sifat fisik yang mudah dilihat.

2. protozoa dan algae sangat penting di dalam proses dekomposisi atau stabilisasi bahan-bahan organik 2. Unit-unit Pengolahan Air Limbah RS Bethesda .1. CH4. Mg. Cd. Bahan Anorganik Sedangkan zat organik yang penting peranannya di dalam mengontrol air limbah adalah: pH Kadar Khlor Alkalinitas Kadar Sulfur Zat beracun Logam berat seperti: Ni. meliputi: bakteri.b. Adapun zat kimia yang penting dalam air limbah pada umumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Cr. yang dijumpai dalam air limbah bersisikan 40-60 % adalah protein. Cu. Sifat Kimia Sifat kimia dalam air limbah dapat diketahui dengan adanya zat kimia air buangan. Fe dan Hg Metan Hidrogen Fosfor Gas seperti NH3. Sifat Bakteriologis Sifat bakteriogis pada air buangan perlu diketahui untuk menaksir tingkat kekotoran air limbah sebelum dibuang ke badan air. Mikrooganisme yang penting dalam air limbah dan air permukaan dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu: 1. jamur. Pb. maka sekitar 75 % dari benda-benda tercampur dan 40 % dari zat yang dapat disaring adalah berupa bahan organik. Bahan Organik Air limbah dengan pengotoran sedang.5. 2. Zn. 25-50 % berupa karbohidrat serta 10 % lainnya berupa lemak. protozoa dan algae Binatang dan tanaman Dari klasifikasi tersebut diatas. O3 c. Protista.

1. Instalasi penampung awal Instalasi penampung awal berfungsi untuk menampung keseluruhan limbah dari RS Bethesda yang berasal dari cucian, dapur mauun rawat inap. 2. Bak ekualisasi Bak ekualisasi berfungsi untuk mencampur limbah dari berbagai sumber sehingga menjadi limbah yang homogen dengan waktu tinggal 27 jam. 3. Instalasi anaerob biofilter Instalasi anaerob biofilter berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana dengan bantuan bakteri yang ada pada biofilter. Waktu tinggal dalam bak ini 16 jam. 4. Instalasi aerob Instalasi aerob berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks yang lolos dari pengolahan sebelumnya menjadi senyawa yang lebih sederhana, pada proses ini penambahan oksigen dilakukan dengan bantuan blower. Waktu tinggal dalam bak 8 jam. 5. Instalasi pengendapan (settling) Instalasi pengendapan (settling) berfungsi untuk memberi kesempatan lumpur agar mengendap. Waktu tinggal dalam bak pengendspan 7 jam. 6. Instalasi penampung hasil Instalasi penampung hasil berfungsi untuk menampung limbah yang telah mengalami pengolahan (limbah terolah). Limbah ini dipompakan ke instalasi sand filter dan sebelumnya jam. 7. Instalasi sand filter Instalasi sand filter berfungsi untuk menyaring limbah sehingga diperoleh kualitas yang lebih baik lagi. 8. Instalasi fish pond Instalasi fish pond atau kolam ikan berfungsi untuk tempat penampungan limbah terolah yang telah tersaring di sand filter. Kolam ikan ini dilengkapi dengan pancuran air. 9. Instalasi digester dan biogas Instalasi digester dan biogas berfungsi untuk menaqmpung semua lumpur yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah. 10.Instalasi pengering lumpur (drying bed) Instalasi pengering lumpur befungsi untuk menampung endapan lumpur dari digester untuk dikeringkan. dilakukan disinfeksi dengan memberikan kaporit melalui sistem injeksi/suntikan dengan tujuan membunuh bakteri patogen. Waktu tinggal dalam bak 7

2.2. Fosfat Fosfat berada dalam air limbah dalam bentuk organik. Sebagai ortophosfat anorganik atau sebagai fosfat-fosfat kompleks. Fosfat kompleks mewakili kira-kira separuh dari fosfat air limbah perkotaan dan berasal dari penggunaan bahan-bahan detergen sintetis. Fosfat kompleks mengalami hidrolisa selama pengolahan biologis menjadi bentuk ortofosfat (PO43-) Dari konsentrasi rata-rata fosfor keseluruhan sebanyak 10 mg/l berada dalam air limbah perkotaan , kira-kira 10 % dibunag sebagai bahan tak terpakai selama pengendapan primer dan 10 % hingga 20 % lainnya digabungkan ke dalm sel-sel bakteri selam apengolhan biologis. Sisa yang 70 % dari fosfor yang masuk pada umumnya dilepaskan bersama bunagan instalasi sekunder. Bentuk-bentuk penting fosfat dalam air limbah adalah pospor organik, polyphosfat dan orthophospat. Poyfosfat banyak digunakan dalam pembuatan detergen sintetis. Komponen fosfat dipergunakan untuk membuat sabun sebagai pembentuk buih. Dan adanya fosfat dalam air limbah dapat menghambat penguraian pada proses biologis. Sedangkan menurut Juli Sumirat, detergen dapat mempermudah absorbsi racun pada ikan melalui insang dan bersifat persisten sehingga terjadi akumulasi. Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut, tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air. Dalam air limbah senyawa fosfat dapat berasal dari limbah penduduk, industri dan pertanian. Di daerah pertanian ortofophosfat berasal dari bahan pupuk, yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan. Poliphosfat dapat memasuki sungai melalui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan detergen yang mengandung fosfat seperti industri pencucian, industri logam dan sebagainya. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat bagi pertumbuhannya. Bermacam-macam jenis fosfat juga dipakai untuk penngolahan anti karat dan anti kerak pada pemanas air (boiler). Bila kadar fosfat pada air alam sangat rendah (<0,01 mg/l), pertumbuhan tanaman dan ganggang akan terhalang, keadaan ini dinamakan “oligotrop”. Pembuangan limbah yang banyak mengandung fosfat ke dalam badan air dapat menyebabkan pertumbuhan lumut dan mikroalgae yang berlebih yang disebut “eutrophication” , sehingga air menjadi keruh dan berbau karena pembusukan lumut-lumut yang mati. Pada keadaan “eutrotop” tanaman dapat menghabiskan oksigen dalam sungai atau kolam pada malam hari atau bila tanaman tersebut mati dan dalam keadaan sedang mencerna (digest) dan pada siang hari pancaran sinar matahari kedalam air akan berkurang, sehingga proses fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen juga berkurang.

Banyak metode yang telah diusulkan untuk pembuangan kelebihan fosfat. Metode ynag paling efektif meliputi pengendapan kimiawi. Senyawa-senyawa fosfat dapat dibuang dengan penambahan koagulan, misalnya alum, kapur, ferrichlorida atau ferrous sulfat. Bahan-bahan kimia itu dapat ditambahkan sebelum pengendapan primer, alum dan garam-garam besi dapat dimasukkan ke dalm tanki aerasi selama proses lumpur diaktifkan atau bahan-bahan kimia itu dapat dimasukkan pada suatu tahap pengolhan primer. Sebagian besar dari bahan organik tersebut dibuang, begitu pula fosfatnya, sehingga dihasilkan pengurangan beban pada proses pengolahan biologis. Walaupun demikian, lumpur yang diproduksi jumlahnya lebih besar. Bila bahan-bahan kimia dimasukkan langsung ke dalam tangki aerasi dari suatu instalasi lumpur yang diaktifkan, maka pengolahan kimiawi dan biologis terjadi bersama-sama, sehingga hanya sedikit peralatan tambahan yang dibutuhkan. Pengendapan kimiawi, terutama yang menggunakan kapur, kadang-kadang dikerjakan pada tahap ketiga setelah pengolahan biologis guna pembuangan fosfat serta peningkatan pH buangan dalam persiapan bagi proses pembuangan ammonia-nitrogen. Reaksi kimia dari proses pengendapan secara kimiawi antara fosfat dengan alum, garam besi dan kapur adalah sebagai berikut: Pengendapan dengan alum: AL2(SO)3 + 2HPO4
–2

2AlPO4

+ 3SO4-2

+ 2H

Pengendapan dengan garam besi: FeCl3 + HPO4
–2

FePO4

+

H+

+ 3Cl-

Pengendapan dengan kapur: 5Ca(OH)2 + 3HPO4
–2

Ca5(PO4)3OH

+

3H2O

+ 6OH-

2.2.1. Pemisahan Fosfat Secara umum analisa fosfat meliputi 2 (dua) langkah : a. Merubah bentuk fosfor menjadi ortofosfat yang larut. b. Menentukan secara kolorimetris ortofosfat yang larut. Pemisahan fosfor kedalam berbagai bentuk telah luas didefinisikan secara analitis, tetapi telah dipilih pembedaan analisa, sehingga dapat diperguakan untuk tujuan interpretasi. Pemisahan “yang dapat disaring” (atau “terlarut”) dari “partikel” fosfat tergantung filter membran 0,45 µm yang dipergunakan. Pemilihan filtrasi dengan membran melebihi ketebalan filtrasi dilakukan karena kemungkinan diperoleh lebih besar atau pemisahan ukuran partikel dengan tekinik pemisahan membran. Penyaringan pendahulluan dengan filter serat gelas dapat dilakukan untuk mempercepat proses penyaringan. Tidak dapat dituntut bahwa penyaringan

Total ortofosfat terlarut dan partikel c. tetapi faktor ini telah dikurangi seminimum mungkin (sangat sesuai untuk hidrolisa fosfat terikat) dengan bijaksana memilih kekuatan asam lebih disukai terhadap “fosfat terikat” pada teknik ini. Hidrolisa dengan asam pada temperatur mendidih untuk mengubah fosfat dalam bentuk terlarut dan partikel menjadi ortofosfat yang dapat disaring. Bagian-bagian fosfat yang diubah menjadi ortofosfat hanya dengan perombakan oksidatif terhadap bahan organik disebut fosfat organik/terikat secara organik. Total fosfat terlarut dan tidak terlarut. f. Tabel 1.melalui filter membran Penggunaan 0. Total fosfat terlarut yang dapat dihidrolisa h. Ortofosfat terlarut. Kekuatan oksidasi yang diperlukan untuk konversi tergantung pada bentuk dan jumlah dari fosfat organik yang ada. menguraikan bentuk fosfat yang ditentukan dalam filtrat yang melalui membran 0. Fosfat partikel organik. terlarut. Fosfat organik terlarut. Didalam praktek. yang tergantung pada fosfat terlarut dan tersuspensi. Sampel Tanpa penyaringan . Fosfat partikel yang dapat dihidrolisa oleh asam l. g. d. fosfat total yang dapat dalam sampel dapat dipisahkan pada analisa dengan penyaringan kedalam bagian yang disaring dan partikel.45 µm dapat memisahkan dengan sebenarnya antara fosfat yang istilah “yang dapat disaring” (lebih baik “yang larut”) untuk tersuspensi dengan yang terlarut. fosfat organik terdapat dalam larutan dan partikel. Ortofosfat partikel.45 µm. b. Ortofosfat terdapat dalam bentuk terlarut dan partikel. Fosfat yang dapat langsung diperiksa secara kolorimetris tanpa hidrolisa pendahuluan atau perombakan secara oksidatif dan dianggap sebagai “ortofosfat”. dan tersuspensi) dan masing-masing secara analisis dibagi menjadim tiga tipe kimiawi seperti telah diuraikan diatas yaitu ortofosfat fosfat yang dapat dihidrolisa dengan asam fosfat organik . terlarut dan partikel. Klasifikasi Fosfat Tipe Kimiawi Total Orto Yang dapat dihidolisa oleh asam. Tetapi perlu diingat bahwa sebagian kecil dari fosfat terikat yang ada tidak dapat menghindari cara hidrolisa ini dan dilaporkan sebagai bagian dari ortofosfat. Dua belas fosfat tersebut dapat dilihat pada tabel 1. Organik Total a. Hidrolisa tidak dapat dihindrakan untuk membebaskan fosfat dari senyawa organik. Total fosfat yang dapat dihidrolisa oleh asam. Partikel i. Seperti ortofosfat dan fosfat dari hidrolisa asam. Total fosfat organik terlarut dan partikel FISIK Terlarut e. Keseluruhannya ada tiga bagian (total. Total fosfat partikel j. Biasanya terdapat sedikit variasi. Total fosfat terlarut . k.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi sebagai berikut : a. Koagulasi dan Flokulasi 2. kemudian membentuk jonjot mikro (mikro flok). Pola Klasifikasi Fosfat 2.3. Bila suhuair diturunkan . Suhu air Suhu air yang rendah mempunyai pengaruh terhadap efisiensi proses koagulasi.Gambar 1. maka besarnya daerah pH yang optimum pada proses kagulasi akan berubah dan merubah pembubuhan dosis koagulan.3.1 Koagulasi Koagulasi adalah dicampurkannya koagulan dengan pengadukan secara cepat guna mendistabilisasi koloid dan solid tersuspensi yang halus. Derajat Keasaman (pH) . b. dan masa inti partikel.

Dosis koagulan Untuk menghasilkan inti flok yang lain dari proses koagulasi dan flokulasi sangat tergantung dari dosis koagulasi yang dibutuhkan Bila pembubuhan koagulan sesuai dengan dosisyang dibutuhkan maka proses pembentukan inti flok akan berjalan dengan baik. 2. Jenis Koagulan Pemilihan jenis koagulan didasarkan pada pertimbangan segi ekonomis dan daya efektivitas daripadakoagulan dalam pembentukan flok. Koagulan dalam bentuk larutan lebih efektif dibanding koagulan dalam bentuk serbukatau butiran. c. Tingkat kekeruhan Pada tingkat kekeruhan yang rendahproses destibilisasi akan sukar terjadi. Alkalinitas dalam air dapat membentuk flok dengan menghasil ion hidroksida pada reaksihidrolisa koagulan. Dalam pengadukan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengadukan harus benar-benar merata.Proses koagulasi akan berjalan dengan baik bila berada pada daerah pH yang optimum. Dengan demikian ion natrium. kalsium dan magnesium tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap proses koagulasi. Sebaliknya pada tingkat kekeruhan air yang tinggi maka proses destabilisasi akan berlangsung cepat. Alkalinitas Alkalinitas dalam air ditentukan oleh kadar asam atau basa yang terjadi dalam air (Tjokrokusumo. f. e. d. sehingga semua koagulan yang dibubuhkan dapat bereaksi dengan partikel-partikel atauion-ion yang berada dalam air. 19920. Flokulasi Flokulasi adalah pengadukan perlahan terhadap larutan jonjot mikro yang menghasilkan jonjot besar dan kemudian mengendap secara cepat (Tjokrokusumo. Kecepatan pengadukan sangat berpengaruh terhadap pembentukan flok bila pengadukan terlalu lambat mengakibaykan lambatnyaflok terbantuk dan sebaliknya apabila pengadukan terlalu cepat berakibat pecahnya flok yang terbentuk h. Tetapi apabila kondisi tersebut digunakan dosis koagulan yang rendah maka pembentukan flok kurang efektif. Kecepatan pengadukan Tujuan pengadukan adalah untuk mencampurkan koagulan ke dalam air. Kadar ion terlarut Pengaruh ion-ion yang terlarut dalam air terhadap proses koagulasi yaitu : pengaruh anion lebih bsar daripada kation. Ada dua jenis proses flokulasi yaitu : optimum yang berbeda satu sama . 1995).2.3. g. Untuk tiap jenis koagulan mempunyai pH lainnya.

Proses pengendapan ini akan berjalan secara efektif apabila pH air antara 6 – 8 (Considine).4. Kapur (lime) secara umum terdapat dalam dua bentuk yaitu CaO dan Ca(OH)2. Flokulasi orthokinetik Flokulasi orthokinetik adalah suatu proses terbentuknya flok yang diakibatkan oleh terbentuknya gerak media (air) misalnya pengadukan (Sank R. Sifat-Sifat Kapur (lime) dan Penggunaan nya. Pada pengolahan air kotor.85 Ca(OH)2/l air pada suhu 00C sampai0. Cara kerjanya adalah kapur ditambahkan untuk mereaksikan alkalibikarbonat serta mengatur pH air sampai sehingga menyebabkan pengendapan. Bentuk kristal. b. Kelarutan. Perubahan kecepatan dari satu titik ke titik lainnya dikeal sebagai gradien kecepatan. Kalsium Hydrated lime memiliki tingkat kepadatan kira-kira 2. penggunaan dari kapur antara lain dibidang kesehatan lingkungan untuk pengolahan air kotor. . 1986). Hydrate lime dihasilkan dari reaksi quickime (CaO) dengan air. sehingga terbentuk Ca(OH)2. Warna. yang bersifat basa dan disertai keluarnya panas yang tinggi. Menurut Tarmiji. c. sebagian besar umumnya berwarna putih dan pada tinhkat tinggi dapat berwarna abu-abu. 1986. dengan notasi G.3 g/gm3 d. Netralisasi asam .a.K. 2.7 g/l pada suhu 1000C.K. Sifat-sifat fisik dan kimia Hydrate lime : a. powder b. Kepadatan. 1986). prosesnya disebut flokulasi perikinetik. Dengan adanya perbedaan kecepatan aliran media cair akan mempunyai aliran kecepatan yang berbeda pula akibatnya akan terjadi tumbukan atau kontak antar partikel. akan mengakibatkan terjadinya gabungan antar partikellebih sangat kecil 1 < 100 milimikron (Sank R. Hydrate lime siap bereaksi dengan asam dan gas sehingga tentu saja berkemampuan menetralisasi asam. Flokulasi perikinetik Flok yang diakibatkan oleh adanya gerak thermal (panas) yang dikenal sebagai gerak Brown. Pada umumnya kecepatan aliran cairan akan berubah terhadap tempat dan waktu. tingkat kelarutan dari kira-kira 1. CaO adalah bahan mudah larut dalam air dan menghasilkan gugus hidroksil yaitu Ca(OH)2. e. air limbah maupun industri lainnya. Gerak acak dari partikel-partikel koloid yang ditimbulkan karena adanya tumbuhan molekul-molekul air. kapur dapat mengurangi kandungan bahan-bahan organik.

8/l memberikan pH sebesar 12. sebagai bahan bangunan. kertas. karena kalsium hidroksida adalah termasuk basa kuat. Selain itu. memperkecil kadar silika.f. dan lainlainnya. Penggunaan berbagai keperluan maka batuan kapur dari alam biasanya akan mengalami proses pembakaran terlebih dahulu yang disebut “calcination”. air kapur dapat berguna sebagai bahan penurun kesadahan. pH. konsentrasi 0. Contoh reaksi yang terjadi pada proses “calcination” ini apabila batuan kapur dari alam berkomposisi sebagai kombinasi dari kalsium dan Magnesium Karbonat adalah sebagai berikut: CaCO3Mg CO3 CaOMgO + 2CO2 Calcim Oxide (CaO) adalah merupakan bahan yang mudah larut dalam air dengan mengeluarkan panas yang tinggi (Highleyexotermically).7. kandungan 1. Proses pengolahan air.10 g Ca(OH)2/l dapat memberi pH kira-kira 11. pertanian dan lain-lain. Hasil dari proses ini antara lain adalah CaO ditambah CO2 yang keluar sebagai gas. Selain CaO juga MgO serta molekul-molekul lainnya tergantung pada batuan kapur yang asli dari alam. reaksi antara CaO dan air akan menghasilkan gugus hidroksil Ca(OH)2 yang bersifat basa dengan reaksi sebagai berikut: CaO + H2O Ca(OH)2 + heat Ca(OH)2 Ca++ + 2OH- Karena sifat-sifat kapur dapat digunakan sebagai pengendap terhadap fosfat maka reaksi yang terjadi adalah 3 Ca2+ + 2PO43Ca3 (PO4)2 Penggunaan Kapur Kapur telah diikenal sebagai bahan yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan diantaranya dipakai pada bidang-bidang industri misalnya industri kimia. fluorida dan bahan-bahan organik. . menetralisasi keasaman.3 pada suhu 250C. mangan. Khusus di sektor lingkungan kapur dapat berguna dalam: a. Pada larutan 250C. Selain itu dapat juga mengurangi kadar BOD dengan cara menyerap antara 40% sampai 50 % bahan organik terlarut maupun tidak terlarut.

Kapur dapat digunakan untuk mengurangi gas SO2 yang keluar dari pembakaran batu bara atau minyak yang mengandung sulfur yang tinggi melalui suatu proses yang disebut “wet scrubing”. Proses pengolahan buangan industri besi/baja. e. Alum atau tawas sebagai penjernih air mulai diproduksi oleh pabrik pada awal abad 1500. Alum tersebut akan larut di dalam air dengan reaksi sebagai berikut: AL2(SO4)3 . sudah dikenal bangsa Mesir pada awal tahun 2000 SM. Alum yang dilarutkan ke dalam air akan bereaksi dengan kapur atau bahan lain seperti Soda Abu atau Natrium Bikarbonat (Na2CO3). Pada peternakan ayam.8. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai “geomedical” untuk mencegah parasit-parasit dan bnayak penyakit ayam. mudah didapatkan di pasaran serta mudah penyimpanannya. kapur digunakan untuk menetralisir asam sulfat bebas (free sulfuric acid ) dan mengendapkan garam-garam besi yang terdapat pada limbah industri tersebut.79-4. yang sangat dipengaruhi oleh nilai pH yang bersangkutan. disini kapur berfungsi sebagai bahan koagulan. yaitu terjadi proses hidrolisis. Range pH untuk jenis koagulan alum adalah sebesar 5. c.b. Alum atau tawas merupakan bahan koagulan. 14H2O 2Al3+ + 3SO42. kapur dapat befungsi antara lain dalam pengendalian keasaman digester. Dosis yang biasa dipakai pada peternakan ayam adalah sekitar 1 lb (0. d. reaksi yang kan terjadi reaksi hipotik.+ 4 H2O Ionisasi dai air sendiri akan terbentuk ion hidroksida sebagai berikut: . penyerapan bau (deodorant) dan sebagai desinfektan.65 m2) lantai yang mengandung kotoran ayam. Sifat-Sifat Tawas dan Penggunaan nya Persenyawaan Alumunium Sulfat (Al2(SO4)3) atau sering disebut tawas adalah suatu jenis koagulan yang sangat populer secara luas digunakan. yang paling banyak digunkan karena bahan ini paling ekonomis 9murah). Kapur juga dapat dipergunakan sebagai penghilang fosfor dalam air. 2.5. Reaksi tersebut antara ion Al dengan ion OH. karena salah satu cara penghilangan fosfor dalam air adalah pengendapan kimiawi. kapur dapat digunkan untuk mengeringkan serta mengurangi bau kotoran ayam yang berceceran di laniat kandang.45 kg) Hydrates Lime [Ca(OH)2] pada setiap 3-5 ft2 (2. Proses pengolahan air bekas. Reaksi yang terjadi jika alum dimasukkan ke dalm air.5 sampai 7.

Struktur yang paling stabil adalah zeolit yang perbandingan Si dan Al nya adalah 1:1.10-19 . yang di dalamnya ditempati oleh molekul air dan ion ion logam alkali.1985 ) menjelaskan bahwa: Kecepatan pertukaran kation dalam zeolit dipengaruhi oleh besar butiran zeolit.Perbandingan antara Si dan Al berkisar antara 1:1 sampai 100:1.Unit unit tersebut saling berikatan membentuk jaringan anionik dalam tiga dimensi.Dengan sifat di atas maka zeolit dapat bekerja sebagai penukar ion dan sebagai penyaring melalui adsorpsi selektif atau penolakan molekul karena adanya penolakan molekul karena adanya perbedaan dalam ukuran molekul dan faktor lainnya Selanjutnya dari hasil pengujian terhadap beberapa aspek yang ada kaitannya dengan pertukaran ion pada zeolit ( Komar bersama rekan .3 .sehingga terjadi reaksi Al3+ + PO43AlPO4 Pengendapan dapat terjadi apabila hasil kali { Al3+ }dan { PO43 -} lebih besar dari Ksp AlPO4 . soda abu atau soda kaustik (Natrium Oksida) Reaksi yang terjadi: AL2(SO4)3 + 3Ca(OH)2 2Al(OH)3 + 3CaSO4 AL2(SO4)3 + 3Na2CO3 + H2O 2Al(OH)3 + 3Na2SO4 + 3CO2 Oleh karena tawas /alum mempunyai sifat koagulan dalam larutan maka bila tawas bersenyawa dengan limbah yang mengandung unsur fosfat . Zeolit Zeolit adalah suatu alumnosilikat yang mempunyai struktur berpori dengan saluran dalam rangka kristal.6. Ksp AlPO4 sebesar 6. .H2O H+ + OH- Kemudian terjadi reaksi antara ion Al3+ dengan ion hidroksida sebagai berikut: 2Al3+ + 6 OH2Al(OH)2 Pengikatan ion hidroksida tersebut di dalam air akan menurunkan alkalinitas air sehingga sebaiknya digunkan bahan tambahan yang dpat meningkatkan nilai alkalinitas seperti kapur. Dengan demikian supaya terjadi pengendapan hasil kali konsentrasi yang bereaksi harus lebih besar dari pada Ksp nya.Unit dasar pembentuk zeolit adalah SiO4 dan AlO4 yang membentuk tetra hedral. 2.

Hal ini dikarenakan dalam air buangan zeolit selain menyerap ion amonium juga menyerapion ion lain seperti Ag+. Mineral alam zeolit biasanya masih tercampur dengan mineral lainnya seperti kalsit.Zeolit juga ditemukan sebagai batuan endapan pada bagian tanah jenis basalt dan komposisi kimianya tergantung pada kondisi hidrotermal lingkungan lokal. Zeolit tidak dapat diidentifikasi hanya berdasarkan analisa komposisi kimianya saja. yaitu material seperti zeolit tetapi bukan senyawa alumino-silikat. zeolit hanya dapat diidentifikasi berdasarkan unit bangun sekunder. diantaranya klinoptilolit. Pada saat ini dikenal sekitar 40 jenis zeolit alam. feldspar dan kuarsa dan ditemukan di daerah sekitar gunung berapi atau mengendap pada daerah sumber air panas (hot spiring). Ion-ion logam tersebut dapat diganti oleh kation lain tanpa merusak struktur zeolit dan dapat menyerap air secara reversible. Mineral zeolit telah dikenal sejak tahun 1756 oleh Cronstedt ketika menemukan Stilbit yang bila dipanaskan seperti batuan mendidih (boiling stone) karena dehindrasi molekul air yang dikandungnya. Pemanfaatan zeolit masih belum banyak diketahui secara luas. ICI dan mobil Oil dan lebih dari 100 jenis telah dikenal strukturnya antara lain zeolit A. melainkan harus dianalisa strukturnya. Pada tahun 1954 zeolit diklasifikasi sebagai golongan mineral tersendiri. zeolit merupakan mineral yang terdiri dari kristal alumino silikat terhidrasi yang mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam kerangka tiga dimensi. kabarsit dan erionit. meskipun yang mempunyai nilai komersial ada sekitar 12 jenis.Zeolit biasanya ditulis dengan rumus kimia oksida atau berdasarkan satuan sel kristal. yang saat itu dikenal sebagai molecular materials. seperti suhu. Berdasarkan UBS semua zeolit baik dalam bentuk alami atau sintetik. Struktur kristal zeolit dimana semua atom Si dan Al dalam bentuk tetrahedral (TO4) disebut unit bangun primer. X. Y. tekanan uap air setempat dan komposisi air tanah lokasi kejadiannya. Kemampuan pertukaran ion (adakalanya dengan istilah kemampuan penyerapan ion atau sorpsi) zeolit merupakan parameter utama dalam menentukan kualitas zeolit yang akan . Zeolit sintetik dihasilkan dari beberapa perusahaan seperti Union Carbide. yang pada saat ini zeolit di Indonesia dipasarkan masih dalam bemtuk alam terutama pada pemupukan bidang pertanian. mordernit. - Kapasitas penyerap zeolit akan bertambah dengan bertambah nya berat zeolit. K+ dan lain-lain. grup ZSM/AlPO4 (Zeolite Sielving Marerials/Aluminium Fosfate) dan bahkan akhir-akhir ini dikenal grup zeotip. gypsum. Dengan demikian. filipsit.- Zeolit yang diaktifkan maupun yang tidak diaktifkan menyerap ion amonium dari air buangan lebih kecil dari pada larutan NH4Cl. Hal itu menjadikan zeolit dengan warna dan tekstur yang sama mungkin berbeda komposisi kimianya bila diambil dari lokasi yang berbeda disebabkan karena kombinasi mineral yang berupa partikel halus dengan impurities lainnya.

Jumlah molekul air sesuai dengan jumlah pori-pori atau volume ruang hampa yang akan terbentuk bila unit sel kristal zeolit terus dipanaskan. . Cu dsb. Zeolit dapat melepaskan molekul air dari dalam rongga permukaan yang menyebabkan medan listrik meluas ke dalam ronggs utama dan akan efektif terinteraksi dengan molekul yang akan diabsorbsi. suhu.1 Sifat Zeolit Zeolit mempunyai struktur berongga dan biasanya rongga ini diisi oleh air dan kation yang bisa dipertukarkan serta memilki ukuran pori yang tertentu.50 meq/g). zeolit dapat berfungsi sebagai katalis yang banyak digunakan pada reaksi petrokimia. dan jenis anion. Bila atom Al dinetralisir dengan ion polivalen. yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan KTK batuan lempung. Penukaran kation dapat menyebabkan perubahan beberapa sifat zeolit seperti stabilitas terhadap panas. Ion-ion ini dapat bergerak bebas sehingga pertukaran ion yang terjadi tergantung dari ukuran dan muatan maupun jenis zeolitnya.digunakan. Sifat zeolit meliput i : 1. Nilai KTK zeolit ini banyak bergantung pada jumlah atom Al dalam struktur zeolit. Adsorbsi Zeolit juga mampu memisahkan molekul zat berdasarkan ukuran dan kepolarannya. KTK adalah jumlah meq ion logam yang dapat diserap maksimum oleh 1 g zeolit dalam kondisi kesetimbangan. biasanya dikenal sebagai KTK (Kemampuan Tukar Kation). KTK dari zeolit bervariasi dari 1. 3. 2.5 – 6 meq/g. 4. seperti kaolinit (0. bentonit (0.03-0. Sifat dehidrasi dari zeolit akan berpengaruh terhadap sifat adsorpsinya.50 meq/g) dan vermikulit (11.6. Katalis Zeolit merupakan katalisator yang baik karena mempunyai pori-pori yang besar dengan permukaan yang maksimum. Oleh karena itu zeolit dapat dimanfaatkan sebagai : penyaring molekuler. 2. penukar ion. misalnya logam Pt. Zeolit dengan struktur “framework” mempunyai luas permukaan yang besar dan mempunyai saluran yang dapat menyaring ion/molekul. dimana untuk molekul yang tidak jenuh atau bersifat polar akan lebih mudah lolos daripada molekul yang jenuh atau tidak polar. Penukar ion Ion-ion pada rongga atau kerangka elektrolit berguna untuk menjaga kenetralan zeolit. sifat adsorbsi dan aktifitas katalis. Sifat sebagai penukar ion dari zeolit antara lain tergantung dari : sifat kation.80-1. Dehidrasi.15 meq/g). penyerap bahan dan katalisator.

aktivasi dan modifikasi. Telah diketahui lebih dari 40 jenis mineral zeolit di alam. rerata jejari pori 60.39 5 dan 1. Analisis lebih lanjut terhadap zeolit alam Wonosari menunjukkan bahwa zeolit mempunyai rasio Si/Al 4.04 %. volume pori 74. K.34 %.13 m2/g. Tabel 2. Untuk memperoleh zeolit dengan kemapuan yang tinggi diperlukan beberapa perlakuan antara lain. daya tukar ion maupun daya katalis dari zeolit tersebut belum maksimal. luas permukaan 24.29 %. 2.75. Akan tetapi daya serap. Klasifikasi zeolit Zeolit Grup Analsim Analsim Wairakit Grup Natrolit Natrolit Thomsonit Grup Heulandit Na16[Al16Si24O31]6H2O Na16 Ca8 [Al20Si24O80]24H2O T5O10 (4-1) T5O10 Na16[Al16Si31O96]6H2O Ca16[Al16Si31O96]6H2O S4R S4R Rumus Kimia UBS . Zeolit Alam Zeolit alam terbentuk karena adanya proses perubahan alam (zeolitisasi) dari batuan vulkanik tuf. keasaman sebesar 2. Zeolit yang diperoleh dari alam telah dapat digunakan untuk berbagai keperluan.39 mmol/g. Molekul ynag berukuran kecil dapat melintas sedangkan yang berukuran besar dari ruang hampa akan ditahan atau ditolak. Dari jumlah tersebut hanya 20 jenis yang terdapat dalam batuan sedimen terutama sedimen piroklastik yang berbutir halus (tuf) Komposisi dan struktur zeolit kebanyakan terdiri dari mineral mordernit dan klinoptillit.5. Ca dan Fe masing-masing sebesar 4.54 dan memilki kandungan logam Na. 1.6.25 x 10-3 cc/g. 2. Jenis Zeolit Menurut proses pembentukannya zeolit dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu : 1. Dari uji pendahuluan terhadap zeoiit alam Wonosari dengan menggunakan difraksi sinar x diketahui bahwa sebagian besar penyusunnya adalah mordernit. Penyaring atau pemisah Volume dan ukuran garis tengah ruang hampa dalam kisi-kisi kristal menjadi dasar kemampuan zeolit untuk bertindak sebagai penyaring molekul.2.

S6R Proses aktivasi zeolit alam dapat dilakukan dalam 2 cara yaitu secara fisis dan kimiawi.5 [Al16Si10O32]12H2O Na8 [Al31SiO16]16H2O Na8 [Al8Si40O96]24H2O NaCa0.5 Mg2 [Al6Si30O72]24H2O Ca2 [Al4Si8O24]13H2O K6 Na3 [Al9Si27O72]21H2O Na12 Ca12 Mg11 [Al58Si134O384]235H2O Na12 [Al12Si12O48]27H2O Ca4 [Al8Si16O46]16H2O NaN [AlnSi96O192]16H2O [Al12P2O48] (C3H7)4NaOH q H2O T10O20 (4-4-1) T10O20 S4R S4R T8O16 (5-1) T8O16 D4R. atau mengumpulkan tungku putar dengan pemanasan secara penghamparan selama 3 jam atau tanpa penghamparan selama 5-6 jam (skala besar). Sifat dehidrasi zeolit ini berpengaruh terhadap sifat adsorbsinya. kandungan modernit berkurang hampir 25 % pada suhu 700 0C. S8R S4R. a. sehingga luas permukaan poripori bertambah. D6R D4R. S6R.Heulandit Klinoptilolit Grup Filipsit Filipsit Zeolit Na-P-1 Grup Mordernit Mordernit Ferrierit Grup Kabazit Kabazit Zeolit L Grup Faujasit Faujasit Zeolit A Grup Laumontit Laumontit Grup Pentasil ZSM-5 Grup Zeotype AlPO4-5 Ca4 [Al8Si28O72]24H2O Na6 [Al6Si30O72]24H2O K2 Ca1. . S8R 5 –1 S4R. Pemanasan modernit pada suhu 300 0C –1000 0C menyebabkan destruksi struktur kristal. Aktivasi Fisis Aktivasi fisis biasanya dilakukan dengan pemanasan yang bertujuan untuk menguapkan air yang terperangkap tinggi dalam pori-pori kristal zeolit. D6R S4R. Pemanasan dilakukan dalam oven biasa pada suhu 300-400 0C (untuk skala laboratorium). S6R. Zeolit yang dipanaskan pada temperatur tinggi menyebabkan molekul air yang ada dalam zeolit mengalami dehidrasi.

Mineral zeolit sintetis masing-masing mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Aktivasi secara kimia dilakukan dengan larutan asam atau basa. Sangat terbatas. maka para peneliti berupaya untuk membuat zeolit sintetis yang mempunyai sifat khusus sesuai dengan keperluannya. Dealuminasi dapat digunkan untuk mengontrol aktivasi keasaman dan untuk mengontrol ukuran poripori zeolit. Berdasarkan perbandingan kadar komponen Si and Al. Hal ini sangat penting terutama berhubungan dengan fungsi zeolit sebagai adsorben. HNO3. Diantara asam-asam tersebut yang paling efektif untuk dealuminasi adalah HCl. dibuat mineral zeolit berderajat kemurnian . Perbedaan utama antara kedua jenis mineral zeolit alam dan sintetis .b. Tabel 3. Aktivasi Kimiawi Pada aktivasi kimia. alam terdiri dari terutama campuran besi. 2. Penggunaan zeolit sintetis pada dasarnya sama dengan zeolit alam. yang terbesar Garis tengah pori hanya terdapat pada mineral khabasit dan erionit Dapat dibuat mineral zeolit yang ruang kosong bergaris tengah Mineral zeolit Sintetis Dapat sintetis tinggi. zeolit kadar Si sedang. Atom-atom Al yang masih tersisa dalam zeolit masih terkoordinasi dalam rangkaian tetrahedaral dengan empat atom oksigen. Zeolit Sintetis Zeolit mempunyai sifat yang unik yaitu susunan atom maupun komposisinya dapat dimodifikasikan. membuang senyawa pengotor. Perbedaan Mineral alam dan zeolit sintetik Macam Perbedaan Derajat Kemurnian Mineral Zeolit Alam Umumnya banyak mengandung pengotor.Kebanyakan endapan zeolit beberapa jenis mineral zeolit. dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori. yaitu zeolit kadar Si rendah. zeolit sintetis dikelompokkan menjadi empat. Aktivasi zeolit dengan asam menyebabkan ternetralisasinya muatan negatif pada permukaan zeolit hidrogen. H2SO4. dan mengatur kembali letak atom yang dapat dipertukarkan. dealuminasi adalah yang paling penting dan dominan. Asam-asam yang dapat digunakan untuk aktivasi adalah HCl4. Ini karena persamaan sifat fisik dan kimia yang dimiliki oleh kedua jenis mineral tersebut. dan H3PO4. zeolit kadar Si tinggi dan zeolit Si.

0. lalu disaring. Selanjutnya zeolit direndam NH4Cl konsentrasi 0.10 M. Zeolit ini kemudian dikalsinasi pada variasi suhu 300 0C. dicici sampai netral dan dikeringkan pada suhu 130 0 C selama 3 jam. kemudian dicuci sampai netral dan dikeringkan pada suhu 120 0C selama 3 jam. 1.05 M. 400 0C..7.00 N (perbandingan b/v 1:2) sambil dipanaskan sampai agak kering . dan 2. Zeolit kemudian direndam dengan HF 2.00 M DAN 2. mempunyai daya serap baik Sumber : Harjanto.50 M. dan 500 0C selama 5 jam.00 M pada suhu 90 0C selama 60 menit.6. Originalitas Penelitian Penelitian tentang penurunan fosfat dengan kapur (lime).3 Aktivasi Zeolit Zeolit alam direndam dengan akuades selam 24 jam. 1987 2. 0.00 M selama satu minggu sambil diaduk 3 kali sehari.00 M. dinetralkan dan dikeringkan pada suhu 130 0C selama 3 jam. 2. khabasit Daya Serap hanya dan erionit mineral yang dari 3 A hingga 8 A Dapat menyerap hingga 50 % dari volumunya.Terbatas. BAB III . tawas dan filtrasi zeolit belum pernah dilakukan.50 M. sambil diaduk dengan pengaduk magnetik. Zeolit selanjutnya dipanaskan dengan HCl pada konsentrasi 0. 1.lalu disaring dan dikeringkan pada suhu 110 0C selama 3 jam. Kemudian zeolit disaring.

1.2 Ruang Lingkup . Sample air limbah Kapur Aduk Tawas Endapan Pemisahan Periksa PO4 Filtrasi Zeolit Periksa PO4 Hasil Filtrasi Gambar 2. Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini merupakan “Penelitian Eksperimen” dengan “design pre test and post test design “yang hasil akan diuji secara diskriptif analitis dengan korelasi.METODE PENELITIAN 3. Rancangan Penelitian 3.

kekeruhan. Variabel pengganggu Waktu kontak.kadar ion terlarut.3 Lokasi Penelitian Lokasi Penelitian yang dipilih yaitu limbah cair Rumah Sakit Bethesda dan uji laboratorium dilaksanakan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pembrantasan penyakit menular (BBTKL-PPM) Yogyakarta. yang berbeda pada sampel perlakuan akan mengganggu proses pengendapan begitu pula dengan kemurnian kapur tohor dan kemurnian tawas serta proses pengadukan pada saat perlakuan apabila tidak dikendalikan / tidak disamakan pada setiap perlakuan akan didapatkan hasil tidak seperi yang diharapkan. 3. Variabel terikat Parameter yang diperiksa pada limbah cair adalah fosfat masing-masing pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/ pengolahan. Air limbah RS Bethesda . waktu pengambilan sampel. Kualitas limbah cair RS Bethesda sangat fluktuatif. b. kemurnian tawas.4 Variabel Penelitian a.suhu limbah . 3.1 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari bahan untuk pengolahan dan bahan atau reagen untuk pemeriksaan parameter pencemar terdiri dari: Bahan untuk Pengolahan 1. sehingga perlu adanya pengendalian terhadap variabel-variabel tersebut diatas agar penelitian ini mendapatkan hasil yang dapat dipertanggung jawabkan.6 Instrumen Penelitian 3. 3. Variabel bebas Dosis pemakaian bahan kimia larutan kapur dan tawas.5 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam analisis berupa data kuantitatif yang diperoleh dari perlakuan di lapangan dan pengamatan percobaan di laboratorium. proses pengadukan. 3. sehingga waktu pengambilan sampel perlu diperhatikan agar mendapatkan kualitas yang sama pada setiap perlakuan. Parameter pH.Meliputi semua limbah cair yang dihasilkan dari seluruh kegiatan Rumah Sakit Bethesda. kemurnian kapur tohor.6. c.

SnCl2 7. alat filtrasi yang dilengkapi . Labu ukur 2. Labu erlenmeyer 4. Standart fosfat 0. Indikator Phenol Red 9. Air suling 16. Zeolit 3. Pipet ukur 7.1 ppm 4.01 ppm 8. Indikator Murexid 15. Larutan standar EDTA 0. Tabung nessler 9. Spektofotometer 10.01 M 13. Timbangan Sartorius 5. Larutan kapur 0.1 ppm 3. Beker glass 3. Persiapan bahan dan alat serta pembuatan rangkaian dengan stop kran . Larutan tawas 0. Mixing Flokulator 11.6. Amonium Molibdat 10. Karet penghisap 3.6. Cuvet 12. Pipet tetes 6. pH meter 8. Indikator PP 5. NaOH 1 N 14.2 Alat Alat Pengolahan 1. Larutan pH 4 12. Buret tetes 13.2. Larutan Buffer pH 10 11.3 Tahapan Persiapan 1. H2SO4 4 N 6.

Siapkan deretan beaker glass sebanyak 3 buah masing-masing volume 1000 ml.00075 ppm ml. Ulangi prosedur 4 s/d 10 dengan variasi kapur 0. Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan zeolit terhadap filtrat tersebut 10.7.00050 ppm.4 Pelaksanaan Penelitian 1. Isi beaker glass tersebut dengan limbah asli masing-masing sebanyak 800 ml. 3. Periksa filtrat masing-masing beker glass parameter pH. 3. 5. Tambahkan larutan kapur pada masing-masing beker glass volume 1 ml. 3. 3.0015 ppm.0010 ppm dan tawas 0. 8. aduk lambat selama 5 menit. 3.00200 ppm.0020 ppm. 0. 6. Membuat larutan-larutan siap pakai untuk pemeriksaan parameter fosfat. 9.0025 ppm.0010 ppm yang akan digunakan sebagai bahan pengolahan . 0.1 Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan pada bak penampung awal karena sudah mewakili semua limbah cair Rumah Sakit tersebut .7.00150 ppm dan 0. dan 0. 3.2. 0. fosfat setelah koagulasi tersebut. 7. 4. 0. 0.7. Penyiapan larutan kapur 0. Pisahkan filtrat dari endapan. diamkan selama 15 menit agar terjadi pengendapan.kuantitas dan kualitas sampel tetap terjaga.0010 ppm dengan volume berturutturut 0.2 Periode pengambilan sampel Pengambilan sampel diusahakan sekali dalam jumlah yang dibutuhkan agar homogenitas.6. Siapkan sampel limbah cair asli sebelum diolah kemudian diperiksa pH.00125 ppm. kemudian diberi nomor 1 s/d 3.7 Teknik Pengambilan Sampel 3. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode grab sampling (sesaat) selama periode tertentu.00100 ppm . Aduk cepat masing-masing selama 3 menit. Masing-masing beker glass ditambahkan larutan tawas yaitu 0.3 Pemeriksaan Sampel . detergen dan fosfat 2.

Koefisien determinasi diperoleh dari mengkalikan koefisien korelasi Pearson atau biasa disebut Pearson Product Moment. Bentuk matematisnya adalah sebagai berikut : Y = a . hubungan antara kedua variabel disebut analisis regresi sederhana.9. Jika suatu variabel tak bebas (dependent variable) tergantung pada satu variabel bebas (independent variable). Nilai yang mendekati satu berarti variabel- . Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. selanjutnya data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.8 Teknik Pengumpulan Data Data yang diperoleh dari hasil penelitian dikelompokkan agar memudahkan dalam analisis. yang disimbolkan dengan huruf R. Xb Dimana : Y X a b = Variabel terikat = variabel bebas = titik potong (intercept) = koefisien regresi (elastisitas/slope) Koefisien determinasi pada intinya adalah untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat.Semua sampel diperiksa berdasarkan metode baku standard Method for examination. 3. 3. Maksud dari hubungan regresi yaitu untuk mengetahui suatu variabel dapat dipergunakan untuk memprediksi atau meramal variabelvariabel lain. Parameter limbah cair yang dianalisis adalah fosfat pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/pengolahan. Persamaan matematik yang memungkinkan untuk meramalkan nilai-nilai satu atau lebih peubah acak bebas disebut persamaan regresi. Teknik Analisa Data Perhitungan statistik untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini menggunakan uji Regresi Linier Sederhana. Rumusan matematisnya adalah sebagai berikut : R= n(ΣXY ) − (ΣX )(ΣY ) nΣX 2 − (ΣX ) 2 nΣY 2 − (ΣY ) 2 = Koefisien korelasi (Pearson Correlation) = variabel penambahan kapur = variabel kadar fosfat = jumlah sampel Dimana : R X Y n Nilai koefisien determinasi (R2) yang kecil berarti kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat sangat terbatas.

Bila Fhitung < Ftabel. maka Ho ditolak atau Ha diterima. artinya ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Bila Fhitung > Ftabel. Sampel diambil di bak equalisasi dengan tujuan untuk mencari kadar Fosfat yang mewakili seluruh aliran limbah cair. Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian mengenai efektifitas dosis dengan menggunakan campuran kapur tohor [Ca(OH)2] dan tawas [Al2(SO4)3] serta filtrasi zeolit terhadap penurunan kadar Fosfat air limbah RS Bethesda Yogyakarta telah dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2005.05. 2.00 Wib. artinya tidak ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Bila probabilitas F < 0. maka digunakan uji F. Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur prosentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dilihat dengan rumus R2 x 100%. Karena pada jam . maka Ho ditolak atau Ha diterima BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. berdasarkan pemeriksaan kadar Fosfate selama 24 jam pada inlet dan pada bak kontak. Bila probabilitas F > 0. Atau 1. Fhitung = ( R2 / k 1 − R 2 / (n − k − 1) ) Keterangan: R2 k n = = = Koefisien determinan Banyaknya perubahan bebas Jumlah data Dasar Pengambilan Keputusan 1. maka Ho diterima.variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel terikat.05. Sedangkan waktu pengambilan sampel dilakukan pada jam 09. Uji F Untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. maka Ho diterima 2.1.

berikut: Tabel 5. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Setelah Koagulasi/Flokulasi Tawas (ppm) 0.53 0.37 1. hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 5. 1 2 Parameter pH PO4- Satuan mg/l Keterangan Sumber: Data Primer 2005 Dari hasil pengukuran diatas.00050 0.21 1.Lab / Hasil Analisa 56 7.17 1. Hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dilihat pada gambar 3.62 1.15 1.1 ppm yang ditambahkan. Hasil pengukuran kadar limbah RS Bethesda pada bak equalisasi secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4.29 1.00075 0.tersebut kadar Fosfat limbah cair RS Bethesda Yogyakarta pada bak equalisasi adalah yang tertinggi.82 1.0025 ppm memberikan hasil fosfat terbaik yaitu sebesar 0.96 0.6404 No.62 1.06 0.00100 0.06 0.53 mg/l.0015 Kapur (ppm) 0. Selanjutnya limbah yang diambil di bak equalisasi tersebut dilakukan pengolahan dengan cara koagulasi dan flokulasi.1 ppm dan larutan kapur 0.00150 0.5 dan 6 berikut: . berikut: Tabel 4.81 1.0020 0. maka parameter PO4.0020 ppm dan tawas 0.maka kadar fosfat semakin menurun.00125 0.4.5 25.19 1. Keadaan Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Sebelum Pengolahan (Asli) No.22 0.0025 Bethesda Yogyakarta Pada tabel 5 terlihat semakin tinggi larutan tawas 0.melebihi yang ditentukan. Pada penambahan larutan kapur 0.00200 Sumber: Data Primer 2005 2.49 1.66 1.56 1.

3. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.951 0.6999 Kapur (ppm) Gambar 4.00 0 0.00 0.002 0.50 2.002 0.0097x R2 = 0.00 1.0055x-0.50 0.0015 ppm 2.5 0 0 0.0015 0.5 1 0.961 -0.0020 ppm .001 Fosfat (ppm) y = 0.0025 Kapur (ppm) Gambar 3.0015 0.0025 y = 0.8 R2 = 0.5 Fosfat (ppm) 2 1.0005 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.50 1.0005 0.00 2.001 0.

64 0.00050 0.00125 0.0015 1.0025 Kapur (ppm) Tawas 0.00150 0.0015 ppm.81 0.0015 0.98 0.90 1.06 1.32 1.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi Pada Penambahan tawas 0.0005 0.0020 ppm dan 0.5 1 0.06 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.03 0.0005 0.0061x R2 = 0.01 mg/ml 0.0015 0.7557 Kapur (ppm) Gambar 5.002 0.01 mg/ml Kapur 0.0020 Tawas 0.5 0 0 0.26 1.70 0.00200 0.28 0.0025 Gambar 6.001 0. tawas 0.2 Fosfat (ppm) 1.30 0.00075 0.0020 1.985 -0.18 1.0025 ppm 3 Fosfat (ppm) 2 1 0 0 0.23 1.001 0.002 0.00100 0.78 0.0025 ppm Selanjutnya limbah hasil perlakuan koagulasi dan flokukasi dilewatkan pada unit filtrasi zeolit diperoleh hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut: Tabel 6.01 1.0015 Tawas 0.0025 1. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Tawas 0.00 0.0025 y = 0.66 Sumber: Data Primer 2005 .

011x -0.1 ppm.0016x -0.1 ppm. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.5 0 0 0.002 0. berikut: 2 Fosfat (ppm) 1.801 Kapur (ppm) Gambar 7. Secara empiris.0025 ppm.0025 y = 0.0005 0.5 1 0.Dari tabel 6.hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan pembubuhan larutan kapurdan larutan tawas setelah filtrasi zeolit dapat dilihat pada gambar 7. 9 dan 10.958 Kapur (ppm) Gambar 8.001 0.0020 ppm .0015 0.5 1 0.5 0 0 0.dan tawas 0. terlihat semakin tinggi larutan kapur dan larutan tawas yang ditambahkan .002 0.6708 R2 = 0.8.0015 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.0025 y = 0.maka kadar fosfat setelah filtrasi zeolit semakin kecil nilai fosfat optimal dicapai pada penambahan larutan kapur 0.0015 0.0020 ppm . 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.0005 0.001 0. 0.9147 2 R = 0.

Dari beberapa referensi bahwa keberadaan Fosfat dalam air limbah dapat diturunkan dengan jalan pengendapan secara kimiawi. Pada penelitian ini pemakaian dosis kapur.0015 0. Biaya 2.2 Fosfat (ppm) 1.0005 0.002 0.0025 Kapur (ppm) Taw as 0.0005 0.002 0.0025 y = 0.0025 ppm Fosfat (ppm) 2 1.980 Kapur (ppm) Gambar 9. Senyawa-senyawa Fosfate dapat dihilangkan dengan penambahan bahan koagulan misalnya alum. Efektifitas bahan kimia .0020 Taw as 0. kapur.5 1 0.5 0 0 0.0015 Taw as 0. dan filtarasi zeolit sangat berpengaruh dalam menurunkan kadar Fosfat. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.5 0 0 0.001 0. Pembahasan Limbah cair di lingkungan RS Bethesda Yogyakarta dilakukan pengolahan dengan menggunakan sistem aerob dan anerob. tawas.001 0.9343 R2 = 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi 4.0015 0. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan kimia sebagai penghilang Fosfat adalah sebagai berikut: 1.5 1 0. ferrichlorida atau ferrous sulfat.2.0012x -0.0025 Gambar 10.

Pertimbangan lumpur yang dihasilkan 4.0097x-0.7557 Dimana : x = penambahan kapur (ml) Y = penurunan kadar fosfat (mg/l) Secara keseluruhan hasil pemeriksaan kadar fosfat dengan koagulasi dan flokulasi pada konsentrasi tawas 0. karena disamping harganya relatif murah.0025 ppm ditunjukkan pada Gambar 6. PO43-. Pada Bak Equalisasi. Pengaruh penambahan kapur akan menaikkan diluar pH tersebut maka pembentukan flok sempurna. Perpaduan dari dua jenis koagulan. tidak memenuhi baku mutu.awal = 25.4 .6404 mg/l. alkalinitas. Kesesuaian dengan proses pengolahan lain 5. Efek terhadap lingkungan Dari beberapa pertimbangan diatas.0015 ppm.0061x-0. Limbah asli dianalisa di laboratorium dengan parameter pH. Dosis dan perlengkapan untuk pengadukan 6. karena proses pembentukan flok pada proses koagulasi sangat dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia seperti kondisi pengadukan. Hasil analisa No lab 56 menunjukkan hasil pH = 7. Pembentukan flok akan berjalan baik pada range pH 5. suhu. tapi juga aman terhadap lingkungan. kualitas dan kuantitas limbahnya serba sama.8047 Gambar 4 dengan persamaan empiris y = 0. dengan pertimbangan keduanya akan saling mengkoreksi pH. pH.6999 Gambar 5 dengan persamaan empiris y = 0. sedangkan konsentrasi PO43. Selanjutnya limbah dari Bak Equalisasi dikategorikan sebagai limbah asli.00 pagi saat fluktuasi kualitas terjadi. kekeruhan. maka kami pilih kapur dan tawas sebagai bahan koagulan. Dari hasil koagulasi / flokulasi pada Tabel 4 terlihat kecenderungan penurunan fosfat yang terjadi sebanding dengan penambahan kapur yang ditunjukkan pada : Gambar 3 dengan persamaan empiris y = 0. 0.0055x-0.3.0020 ppm. belum melalui perlakuan pengolahan sama sekali.5 Baku Mutu pH = 6 . Limbah asli diambil dalam jumlah yang cukup pada jam 09.9 memenuhi syarat. dan 0.8-7. Limbah cair RS Bethesda yang digunakan sebagai bahan untuk penelitian penurunan kadar fosfat diambil pada Bak Equalisasi dengan pertimbangan limbah tersebut sudah merupakan gabungan dari semua sumber limbah yang dihasilkan. dan mudah didapatkan di pasaran. pH dan bereaksi dengan bikarbonat membentuk CaCO3 sebagai basa.

Persamaan empiris ditunjukkan pada formula : y = 0. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula y = 0.0025 ppm. nilai P semua variasi di atas 0.70 – 1. 5.0020 ppm dan formula y = 0. Ternyata diperoleh dari data statistik variasi penambahan tawas 0. maka perlu dilakukan penelitian penurunan kadar fosfat dengan koagulasi-flokulasi dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan zeolit. formula y = 0.0020 ppm. yaitu 0. x-0.05 maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini berdistribusi normal.0025 ppm adalah yang tertinggi dengan nilai R = 0.9147 pada penambahan tawas x-0. Jika dilihat dari uji statistik pendistribusian data dengan uji Kolmogorov Smirnov.0061 x-0. Hasil penurunan dengan filtrasi zeolit secara keseluruhan terlihat pada Tabel 6 dan Gambar 7. Maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini terdistribusi normal.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat paling efektif. Pada penurunan fosfat yang dilakukan dengan filtrasi zeolit setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi terlihat kadar fosfat cenderung mengalami penurunan lagi.0016 x-0.0055 0. dan formula y = 0.0015 ppm. dan 6.70 – 1. Penurunan PO4 secara rinci terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 3. sedangkan dari uji korelasi atau uji kekuatan hubungan antara dua variabel diperoleh nilai R2 di atas 0. dan 0.011 0.0020 ppm. diperoleh nilai p value pada masing-masing sampel lebih besar dari 0. Pada proses koagulasi dan flokulasi kadar fosfat (PO43-) diharapkan mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan penambahan larutan kapur dan tawas menjadi endapan Ca3 (PO4)2 ↓ dan Al (PO4) ↓. formula y = 0.6708 pada penambahan tawas 0. Dari hasil analisa data setelah filtrasi. 0.0025 ppm adalah yang paling efektif. Selanjutnya dicari nilai R dari variasi tawas 0.8047 pada penambahan tawas 0. sedangkan dari uji regresi .9343 pada penambahan tawas 0. 0.0015 ppm. Diharapkan pada proses filtrasi ini terjadi pemisahan yang lebih sempurna dari flocculant terhadap cairannya.6999 pada penambahan tawas . diperoleh nilai R2 semua di atas 0. Jika ditinjau dari uji statistik. 0.Berdasarkan hasil pengukuran terhadap limbah asli tersebut.992. 9 dan 10. dimana nilai R2 antara 0.0025 ppm.0025 ppm.70.05. maka diperoleh hasil dari masing-masing variasi tawas.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat.0025 ppm.0015 ppm. Jadi dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar fosfat pada konsentrasi penambahan tawas 0.7557 pada penambahan tawas 0.0020 ppm. dimana konsentrasinya fosfatnya melebihi baku mutu yang ditetapkan.0015 ppm. didapat nilai R2 tertinggi. jadi dapat disimpulkan penurunan kadar fosfat pada penambahan tawas 0. 4.0025 ppm.0097 x-0. Semua flok yang terbentuk tidak ada lagi yang terikat pada cairan limbah terolah. 8.70 dimana nilai R antara 0.990 pada konsentrasi penambahan tawas 0. dan 0.0012 x-0.0025 ppm setelah filtrasi adalah yang paling efektif.

5% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.7086 7.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0. kapur berpengaruh sebesar 98.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.1% pengaruh kapur 96. Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi No. kapur berpengaruh sebesar 98.4.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi No.394 193.0015 ppm 0.961 0. 1 2 3 Tawas 0.985 F hitung 78. 1 2 3 Tawas 0.3.735 260.0015 ppm 0.958 0.0025 ppm.0025 ppm.1% pengaruh kapur 95.8% pengaruh kapur 98. Analisa Data Tabel 7. df2 = 4) 7.0% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.7086 Keterangan 80.7086 7.1% pengaruh kapur 98.061 90.5% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.951 0. df2 = 4) 7.980 F hitung 16.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat.7086 7.0020 ppm 0.271 99.801 0. Tabel 8.784 F tabel (df1 = 1.7086 Keterangan 95.3.0025 ppm R2 0. Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian mengenai efektifitas dosis dengan menggunakan campuran kapur tohor [Ca(OH)2] dan tawas [Al2(SO4)3] serta filtrasi zeolit terhadap penurunan kadar Fosfat air limbah .0% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.7086 7.0020 ppm 0.795 F tabel (df1 = 1.0025 ppm R2 0.

21 1.RS Bethesda Yogyakarta telah dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2005.00 Wib. 1 2 Parameter pH PO4Satuan mg/l No. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi Tawas (ppm) 0. Keadaan Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Sebelum Pengolahan (Asli) No. Karena pada jam tersebut kadar Fosfat limbah cair RS Bethesda Yogyakarta pada bak equalisasi adalah yang tertinggi. Sampel diambil di bak equalisasi dengan tujuan untuk mencari kadar Fosfat yang mewakili seluruh aliran limbah cair.melebihi yang ditentukan.56 1. Sedangkan waktu pengambilan sampel dilakukan pada jam 09.96 0.00200 Sumber: Data Primer 2005 2. Hasil pengukuran kadar limbah RS Bethesda pada bak equalisasi secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4.53 0.00100 0.49 1. Selanjutnya limbah yang diambil di bak equalisasi tersebut dilakukan pengolahan dengan cara koagulasi dan flokulasi. berikut: Tabel 5.06 0. maka parameter PO4.66 1.5 25.62 1.29 1.22 0.15 1.06 0. berikut: Tabel 4.37 1. berdasarkan pemeriksaan kadar Fosfate selama 24 jam pada inlet dan pada bak kontak.62 1.17 1.Lab / Hasil Analisa 56 7.00050 0.81 1.0015 Kapur (ppm) 0.00150 0.00125 0.6404 Keterangan Sumber: Data Primer 2005 Dari hasil pengukuran diatas.19 1.0020 0.00075 0.82 1. hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 5.0025 .

0015 0.0015 ppm 2.0020 ppm .00 0.002 0.0025 ppm memberikan hasil fosfat terbaik yaitu sebesar 0.001 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.50 1.50 0.5 Fosfat (ppm) 2 1.001 Fosfat (ppm) y = 0.00 2.8 R = 0.50 2.0015 0.53 mg/l.951 2 0.0097x R2 = 0.maka kadar fosfat semakin menurun.1 ppm dan larutan kapur 0.5 1 0.5 0 0 0.961 -0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.0020 ppm dan tawas 0.0005 0.1 ppm yang ditambahkan.0025 y = 0.002 0.0055x-0.00 1. Hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dilihat pada gambar 3.5 dan 6 berikut: 3.0005 0.6999 Kapur (ppm) Gambar 4. Pada penambahan larutan kapur 0.0025 Kapur (ppm) Gambar 3.Pada tabel 5 terlihat semakin tinggi larutan tawas 0.4.00 0 0.

03 0.001 0.0015 1.0020 1.0025 Kapur (ppm) Tawas 0.0020 ppm dan 0.00075 0.23 1.01 1.0025 ppm Selanjutnya limbah hasil perlakuan koagulasi dan flokukasi dilewatkan pada unit filtrasi zeolit diperoleh hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut: Tabel 6. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.81 0.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi Pada Penambahan tawas 0.01 mg/ml Kapur 0.06 0.90 1.0025 Gambar 6.18 1.0025 1.01 mg/ml 0.002 0.0015 ppm.0005 0.00 0.002 0.5 1 0.7557 Kapur (ppm) Gambar 5.0020 Tawas 0.985 -0.0025 y = 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Tawas 0.001 0.0005 0.0061x R2 = 0.06 1.0015 Tawas 0.2 Fosfat (ppm) 1.0015 0.70 .0025 ppm 3 Fosfat (ppm) 2 1 0 0 0.00100 0.00050 0.00125 0.0015 0.32 1.5 0 0 0.26 1. tawas 0.

terlihat semakin tinggi larutan kapur dan larutan tawas yang ditambahkan .0015 0. 9 dan 10.9147 2 R = 0.0016x -0.0005 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.00200 0.5 1 0. 0.0020 ppm .6708 R2 = 0.0015 0. berikut: 2 Fosfat (ppm) 1.0025 y = 0. 0.0025 ppm.0005 0.011x -0.002 0.hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan pembubuhan larutan kapurdan larutan tawas setelah filtrasi zeolit dapat dilihat pada gambar 7.5 1 0.8.0025 y = 0.002 0.28 0.0.5 0 0 0.958 Kapur (ppm) Gambar 8.001 0.5 0 0 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.30 0.98 0.maka kadar fosfat setelah filtrasi zeolit semakin kecil nilai fosfat optimal dicapai pada penambahan larutan kapur 0.001 0.0015 ppm 2 Fosfat (ppm) 1. Secara empiris.64 0.0020 ppm .1 ppm.66 Sumber: Data Primer 2005 Dari tabel 6.78 0.00150 0.801 Kapur (ppm) Gambar 7.dan tawas 0.1 ppm.

0015 Taw as 0. Dari beberapa referensi bahwa keberadaan Fosfat dalam air limbah dapat diturunkan dengan jalan pengendapan secara kimiawi.0025 Kapur (ppm) Taw as 0. Pada penelitian ini pemakaian dosis kapur.0025 ppm Fosfat (ppm) 2 1.980 Kapur (ppm) Gambar 9.2 Fosfat (ppm) 1.0005 0.0015 0.9343 R2 = 0.0020 Taw as 0.5 1 0.0025 y = 0.001 0. tawas. kapur. Senyawa-senyawa Fosfate dapat dihilangkan dengan penambahan bahan koagulan misalnya alum. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi 4. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan kimia sebagai penghilang Fosfat adalah sebagai berikut: . ferrichlorida atau ferrous sulfat. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0. Pembahasan Limbah cair di lingkungan RS Bethesda Yogyakarta dilakukan pengolahan dengan menggunakan sistem aerob dan anerob.0005 0.002 0.5 1 0.001 0.5 0 0 0.002 0. dan filtarasi zeolit sangat berpengaruh dalam menurunkan kadar Fosfat.0025 Gambar 10.5 0 0 0.4.0012x -0.0015 0.

0055x-0. Limbah asli diambil dalam jumlah yang cukup pada jam 09.1. kekeruhan.0097x-0. dan 0. pH dan bereaksi dengan bikarbonat membentuk CaCO3 sebagai basa.4 .0025 ppm ditunjukkan pada Gambar 6.8047 Gambar 4 dengan persamaan empiris y = 0. tapi juga aman terhadap lingkungan.0020 ppm.00 pagi saat fluktuasi kualitas terjadi. kualitas dan kuantitas limbahnya serba sama. 0. karena proses pembentukan flok pada proses koagulasi sangat dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia seperti kondisi pengadukan. Efektifitas bahan kimia 3. belum melalui perlakuan pengolahan sama sekali. Limbah cair RS Bethesda yang digunakan sebagai bahan untuk penelitian penurunan kadar fosfat diambil pada Bak Equalisasi dengan pertimbangan limbah tersebut sudah merupakan gabungan dari semua sumber limbah yang dihasilkan. Dosis dan perlengkapan untuk pengadukan 6. Efek terhadap lingkungan Dari beberapa pertimbangan diatas. dan mudah didapatkan di pasaran.0015 ppm.8-7. Pengaruh penambahan kapur akan menaikkan diluar pH tersebut maka pembentukan flok sempurna. karena disamping harganya relatif murah. Kesesuaian dengan proses pengolahan lain 5. alkalinitas.0061x-0. Perpaduan dari dua jenis koagulan. suhu.6999 Gambar 5 dengan persamaan empiris y = 0. Pertimbangan lumpur yang dihasilkan 4.7557 Dimana : x = penambahan kapur (ml) Y = penurunan kadar fosfat (mg/l) Secara keseluruhan hasil pemeriksaan kadar fosfat dengan koagulasi dan flokulasi pada konsentrasi tawas 0. dengan pertimbangan keduanya akan saling mengkoreksi pH. Pembentukan flok akan berjalan baik pada range pH 5. pH. Pada Bak Equalisasi. Biaya 2. Dari hasil koagulasi / flokulasi pada Tabel 4 terlihat kecenderungan penurunan fosfat yang terjadi sebanding dengan penambahan kapur yang ditunjukkan pada : Gambar 3 dengan persamaan empiris y = 0. Selanjutnya limbah dari Bak Equalisasi dikategorikan sebagai limbah asli. maka kami pilih kapur dan tawas sebagai bahan koagulan.

sedangkan dari uji korelasi atau uji kekuatan hubungan antara dua variabel diperoleh nilai R2 di atas 0. nilai P semua variasi di atas 0. Diharapkan pada proses filtrasi ini terjadi pemisahan yang lebih sempurna dari flocculant terhadap cairannya.0025 ppm. dan 0. Semua flok yang terbentuk tidak ada lagi yang terikat pada cairan limbah terolah. dan formula y = 0. formula y = 0.0016 x-0.6404 mg/l.9 memenuhi syarat. diperoleh nilai R2 semua di atas 0.0025 ppm. Jadi dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar x-0. 5.992.9147 pada penambahan tawas x-0. 8.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat. Jika dilihat dari uji statistik pendistribusian data dengan uji Kolmogorov Smirnov. 0. diperoleh nilai p value pada masing-masing sampel lebih besar dari 0. didapat nilai R2 tertinggi. dan 6. PO43-.0025 ppm. Ternyata diperoleh dari data statistik variasi penambahan tawas 0.0012 x-0.70 – 1.990 pada konsentrasi penambahan tawas 0.0015 ppm. Hasil penurunan dengan filtrasi zeolit secara keseluruhan terlihat pada Tabel 6 dan Gambar 7. Pada penurunan fosfat yang dilakukan dengan filtrasi zeolit setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi terlihat kadar fosfat cenderung mengalami penurunan lagi. dimana nilai R2 antara 0. dan 0.0020 ppm. Selanjutnya dicari nilai R dari variasi tawas 0.0020 ppm dan formula y = 0.6999 pada penambahan tawas .70 – 1.6708 pada penambahan tawas 0. dimana konsentrasinya fosfatnya melebihi baku mutu yang ditetapkan. tidak memenuhi baku mutu.0015 ppm.011 0.00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat paling efektif. formula y = 0. Penurunan PO4 secara rinci terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 3. Hasil analisa No lab 56 menunjukkan hasil pH = 7.0025 ppm adalah yang paling efektif. Jika ditinjau dari uji statistik.5 Baku Mutu pH = 6 . Pada proses koagulasi dan flokulasi kadar fosfat (PO43-) diharapkan mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan penambahan larutan kapur dan tawas menjadi endapan Ca3 (PO4)2 ↓ dan Al (PO4) ↓.0020 ppm. yaitu 0.0015 ppm.8047 pada penambahan tawas 0. 0.70 dimana nilai R antara 0.0015 ppm.0097 x-0. maka perlu dilakukan penelitian penurunan kadar fosfat dengan koagulasi-flokulasi dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan zeolit. Berdasarkan hasil pengukuran terhadap limbah asli tersebut.0025 ppm adalah yang tertinggi dengan nilai R = 0.0061 x-0. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula y = 0.Limbah asli dianalisa di laboratorium dengan parameter pH. sedangkan konsentrasi PO43.0020 ppm. 0. Maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini terdistribusi normal.05.0025 ppm.0055 0. 4. Dari hasil analisa data setelah filtrasi. sedangkan dari uji regresi .70. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula : y = 0. jadi dapat disimpulkan penurunan kadar fosfat pada penambahan tawas 0.awal = 25.0025 ppm.9343 pada penambahan tawas 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini berdistribusi normal.7557 pada penambahan tawas 0. maka diperoleh hasil dari masing-masing variasi tawas. 9 dan 10.

kapur berpengaruh sebesar 98.7086 7.958 0.061 90.7086 7.0015 ppm 0.1% pengaruh kapur 96. df2 = 4) 7.795 F tabel (df1 = 1.961 0.980 F hitung 16.5% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.1% pengaruh kapur 95.7086 7. kapur berpengaruh sebesar 98.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat.271 99. 1 2 3 Tawas 0.0020 ppm 0. df2 = 4) 7.3.0025 ppm R2 0.0025 ppm.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0. Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi No.7086 Keterangan 95. 4.394 193.1% pengaruh kapur 98.735 260.7086 7.985 F hitung 78.0% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.5% pengaruh kapur Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.7086 Keterangan 80.0% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat BAB V .801 0.0020 ppm 0. Tabel 8. Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi No. 1 2 3 Tawas 0. Analisa Data Tabel 7.fosfat pada konsentrasi penambahan tawas 0.0015 ppm 0.784 F tabel (df1 = 1.0025 ppm R2 0.8% pengaruh kapur 98.951 0.0025 ppm setelah filtrasi adalah yang paling efektif.0025 ppm.

92 %. Perlu melakukan pemeriksaan kadar fosfat secara berulang-ulang.7557 diperoleh pada konsentrasi larutan kapur 0. .0020 ppm dan konsentrasi larutan tawas 0. kemurnian bahan dan ketelitian alat sangat mempengaruhi hasil penelitian selanjutnya. Larutan kapur dan larutan tawas efektif menurunkan kadar fosfat dalam limbah cair RS Bethesda dengan prosentase 97.0061 x 0. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian. Saran 1. 2.1. 2.KESIMPULAN DAN SARAN 5. 5. maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Terhadap RS Bethesda Supaya memilih detergen yang digunakan dengan kadar fosfat rendah.2. Bagi peneliti lain Untuk dapat meneliti penurunan kadar fosfat dengan menggunakan metode yang lain. Efektifitas penurunan kadar fosfat limbah cair RS Bethesda dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dinyatakan dengan rumus empiris y=0.0025 ppm. agar penambahan koagulan dapat dilakukan setepat mungkin.

Rumah Sakit Petronella disebut juga sebagai rumah sakit Dokter Tulung/Pitulung karena tidak memungut biaya perawatan rumah sakit. yaitu dr. 548/Menkes/VI/1994 tanggal 13 Juni 1994.Scheurer kembali ke Belanda pada tahun 1906 dan kepemimpinan RS Petronella selama 36 tahun berikutnya dibagi rata oleh tiga orang dokter.Scheurer mendirikan Rumah Sakit Petronella di kampung Gondokusuman. Ketika menerima subsidi dari pemerintah. Pruys.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. disamping juga merupakan pusat latihan tenaga kesehatan dan tempat untuk mengadakan pelatihan medis. semasa kepemimpinan dr. dengan kapasitas awal 150 tempat tidur dan dikelola sepenuhnya oleh gerejagereja Gereformed di Amsterdam. Offringa dan dr. K. tetapi untuk mencapai tujuan pembangunan bidang kesehatan. Rumah Sakit Rumah Sakit adalah integrasi organisasi sosial dan kesehatan yang berfungsi melayani masyarakat dengan pelayanan kesehatan secara menyeluruh baik kuratif maupun preventif serta pelayanan penderita berobat jalan mencakup lingkungan keluarga. J.J.J. Tujuannya untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari bahan buangan atau limbah rumah sakit serta mencegah meningkatnya infeksi nosokomial di lingkungan rumah sakit. pencegahan. Rumah sakit akan menghasilkan limbah yang bersifat infeksius. Rumah sakit merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh.Groot. Dalam kurun waktu 1924-1925.G. maka rumah sakit diharapkan berangsur akan berkembang kearah pelayanan kesehatan paripurna yang mencakup upaya peningkatan. toxic dan radioaktif dalam melakukan kegiatannya sehingga perlu adanya upaya penyehatan lingkungan rumah sakit. dr. sering dikenal sebagai bentuk pelayanan yang berorientasi pada pelayanan kuratif saja.Offringa. pengobatan dan pelayanan kesehatan.P.1. Salah satu upaya penyehatan lingkungan rumah sakit teresbut adalah peraturan pemerintah tentang adanya suatu satuan kerja yang bertanggungjawab terhadap penyehatan lingkungan rumah sakit yaitu Instalasi Sanitasi melaui SK Menkes No. Pada tahun 1899 dr. Rumah Sakit Petronellapun bernama resmi Het Zendingsziekenhuis Petronella Voor on en minvermogenden (Rumah Sakit Petronella untuk orang-orang yang kurang dan tidak mampu). . dr. kapasitas rmah sakit yang semula 150 tempat tidur ditingkatkan menjadi 475 tempat tidur.

Lucas Gerard Johannes Samallo sebagai dokter pertama berbangsa Indonesia yang memimpinnya. Supaya umum mengetahuinya bahwa Rumah Sakit Kristen. pasien-pasien Petronella dipindahkan ke rumah sakit darurat di Pingit (sekarang asrama Polisi) dan Rumah Sakit Petronella dipindahkan kembali ke Gondokusuman dan berganti nama menjadi Jogjakarta Tjuo Bjoin (Rumah Sakit Pusat Jogyakarta) dan dipimpin oleh orang Jepang.Sewaktu terjadi perang antara Sekutu dan Jepang. Lokasi Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta terletak pada sebidang tanah yang mempunyai luas 61. dengan batas-batas: • • • • Utara Selatan Timur Barat : Jalan Jenderal Sudirman : Universitas Kristen Duta Wacana dan Komplek DKT : Jalan Dr. 1714 / K. Wahidin : Jalan Johar Norhadi Struktur Organisasi Rumah Sakit Bethesda Struktur organisasi RS Bethesda Yogyakarta sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Pimpinan Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (DP-YAKKUM) No.3880/K. maka berdasarkan hasil rapat Dewan Pimpinan YAKKUM (Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum) selaku pengawas yang berpusat di Surakarta. Kotamadya Yogyakarta. Rumah Sakit Bethesda terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di jalan Jenderal Sudirman No. Setelah proklamasi kemerdekaan. dengan dr. Rumah Sakit Jogjakarta Tjuo Bjoin direbut dari Jepang dan berganti nama menjadi Rumah Sakit Pusat.412 m2 dan tanah kosong dalam komplek 36. tanggal 28 Juni 1949.uk RS BETH /1996 tanggal 23 Maret 1996 dan kemudian diberlakukan di RS Bethesda dengan Surat Keputusan Direktur No.935 m2 dengan luas bangunan mencapai 25.423 m2 . rumah sakit secara resmi berdiri dan beroperasi di Yogyakarta dengan nama Rumah Sakit Bethesda.966/1997 tanggal 22 Juli 1997 tentang organisasi dan tata kerja RS Bethesda Yogyakarta yang terdiri dari: • • • • • • • Direktur Wakil Direktur Pelayanan Medik Wakil Direktur Penunjang Medik Wakil Direktur Keuangan Wakil Direktur Personalia dan Umum Bidang Satuan Pengawasan Intern Bidang Sekretariat . 70.

Kotoran lemak Deterjen Specimen laboratorium padatan Perban/kasa Spet suntikan Kapas darah Sisa makanan Kertas Plastik Kaca Sisa amputasi Sisa persalinan Sisa operasi Sisa outopsi Sisa insenerasi Gas dari sisa pembakaran di Instalasi Gizi Asap dari pembakaran di Instalasi Incenerator Uap air atau kondensat dari Instalasi Laundry 5. Penelitian dan Pengembangan Bidang Pelayanan Keluarga Berencana RS Bethesda Bidang Sosial Pastoral Bidang usaha Peningkatan Kesehatan Masyarakat (UPKM) Bidang Pendidikan SPK dan Bidan Bidang Pelayanan Kesehatan (YANKES) Lempuyangwangi Bahan Polutan Rumah Sakit Bethesda Bahan polutan yang ada dapat diamati dengan jelas dari setiap kegiatan yang dilakukan RS Bethesda Yogyakarta. asam sulfat (merupakan specimen laboratorium). Limbah cair berupa: • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Darah. Air buangan dari kamar mandi.• • • • • • Bidang Perencanaan. Limbah gas berupa: . Limbah padat berupa: 6. dan wastafel. Bahan polutan yang ada merupakan hasil dari berbagai aktivitas yang menimbulkan dampak dan kemungkinan bahan polutan yang ada antara lain: 4. WC. alkohol.

RS Bethesda juga menggunakan 2 buah genset yang mempunyai daya 500 kVa dan 375 kVa.5 pk.Utilitas 5. Fasilitas Pemadam Kebakaran . taman dan untuk pelayanan penerangan umum lainnya. Pengadaan listrik di RS Bethesda berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebesar 5500 kVa. demikian juga untuk ruang tidur pasien atau bangsal. Yang kemudian di pompa water tower yang berjumlah 2 buah. Pengadaan Air Air bersih merupakan kebutuan mutlak yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan setiap rumah sakit dimanapun juga. 7. Jumlah dari kebutuhan air bersih untuk RS Bethesda diperkirakan ± 875 m3 per harinya. Mengingat bahwa rumah sakit merupakan tempat tindakan pelayanan dan perawatan orang sakit. maka kualitas dan kuantitas air yang digunakan untuk kebutuhan rumah sakit harus selalu dipertahankan agar tidak dapat mengakibatkan sumber infeksi baru bagi penderita . pengunjung dan karyawan. Selain menggunakan sumber listrik PLN. Genset beroperasi secara otomatis apabila suplai listrik dari PLN tidak berjalan atau padam. untuk itu pihak RS Bethesda menggunakan 5 (lima) buah pompa dengan daya 10 pk dan 7. • • • • • • • Pengadaan Transportasi Pengadaan mobil operasional terdiri dari: Mobil ambulance Mobil jenazah Mobil kijang Mikrobus Minibus Sedan Open Cup : 4 buah : 1 buah : 3 buah : 2 buah : 1 buah : 2 buah : 1 buah Dengan tenaga sopir 11 orang 8. dengan sistem otomatis. Pengadaan Listrik Pencahayaan atau listrik digunakan di semua ruangan yang ad. 6. yang diletakkan di dalam sumur berkedalaman30 sampai 40 meter. baik untuk bekerja maupun untuk penyimpanan barang atau peralatan elektronik.

Madya. Rumah Sakit Negeri/ Pemerintah. dan Pratama. b. sisa obat. Hydrant. 2. tempat pencucian pakaian.1. Limbah tersebut dapat berupa sisa darah. ruang pasien. Limbah cair rumah sakit adalah limbha cair yang berasal dari rumah sakit baik ynag berasal dari dapur.2. 4.Pengadaan fasilitas untuk pemadam kebakaran berupa: a. ruang laboratorium. Berdasarkan status kepemilikan /pengelolaan a. Departemen Hankam dan BUMN. Rumah Sakit Umum (RSU). yang menangani hampir semua penyakit/memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar. Rumah Sakit Swasta. yang dikelola oleh yayasan. Pengertian Limbah Cair Rumah Sakit Limbah cair rumah sakit merupakan limbah cair dari semua sumber pembuangan misalnya kloset. yaitu. ruang operasi dan lainnya. yang ditempatkan di 16 titik yang dianggap dapat mewakili seluruh areal bangunan RS Bethesda. RSU masih dibagi lagi menjadi beberapa type/kelas RSUP (RSU Pemerintah) dapat diklasifikasikan menjadi RSU type A.1. Keputusan Menkes RI No. b. b. urine. yang menangani hanya 1 (satu) atau beberapa jenis penyakit tertentu. 983/SK/Menkes/XI/92 menyebutkan bahwa RSU Type A adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan . air bekas pencucian dan lain-lain. Sedangkan Rumah Sakit Bethesda tergolong RSU Kelas Utama. Rumah Sakit khusus. ruang bedah dan runag lain dalam bnagunan kecuali limbah cair radiologi. Benang merah yang menghubungkan RSUP DAN RSU Swasta adalah paralelisasi antara Type B dan Kelas Utama. Macam jumlah dan kadar zat pencemar yang dihasilkan dari setiap sumber tersebut bervariasi tergantung kegiatan/aktivitasnya dan bahan yang digunakan. spesialistik dan subspesialistik. Type C dan Kelas Madya serta Type D dan Kelas Pratama. dapur. Berdasarkan macam/jenis penyakit yang ditangani a. C dan D. 3.1. 2. B. tinja. Tabung pemadam kebakaran sejumlah 64 buah Pihak RS Bethesda juga bekerjasama dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kodya dan KODAM IV/Diponegoro. yang dikelola oleh Depkes dan merupakan milik pemerintah (pusat atau daerah).Sedangkan RSU Swasta dibagi atas Kelas Utama. sisa bahan kimia/radiologi. Klasifikasi Rumah Sakit Secara umum industri rumah sakit dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian. kamar mandi.

23. urinoir. Wastafel. tempat buang exudat pasien. Ruang Haemodialisa: Kamar mandi. buangan pembilas air panas. 20. tempat mencuci jenazah. Instalasi Laboratorium Klinik/Patologi Anatomi: Kamar mandi. Terakhir RSU Type D atau Kelas Pratama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis dasar. tempat cuci instrumen medik. urinoir. Unit Perkantoran/Perpustakaan: Kamar mandi. urinoir. pantry. Ruang Kamar Jenazah/Autopsi: Kamar mandi. Pemukiman (Rumah Dinas. tempat cuci preparat. tempat cuci instrumen medik. tempat cuci instrumen medik. Spoelhock. tempat cuci perabot makan. Sumber-sumber limbah rumah sakit meliputi: 14. Wastafel. 16. 18. Spoelhock. Wastafel. Sumber Penghasil Limbah RS Bethesda . Ruang Rawat Darurat: Kamar mandi. Ruang Rawat Jalan: Kamar mandi. Ruang Perawatan berasal dari: Kamar mandi. tempat cuci instrumen medik. Spoelhock. floor drain. tempat cuci instrumen medik. tempat cuci alat-alat dapur. Fasilitas Sosial (Kafetaria. Asrama): Kamar mandi. kamar mandi. Wastafel. 19.subspesialistik luas. 2. floor drain. 22. tempat cuci perabot makan. wastafel. tempat wudlu. tempat cuci sayur/buah. floor drain. urinoir. Wastafel. Ruang Dapur: Kamar mandi. urinoir. Wastafel. 21. pantry. Ruang Operasi: Kamar mandi. pantry. tempat cuci film. Untuk mengetahui jenis limbah yang dihasilkan yang digunakan sebagai dasar cara pengolahannya maka perlu diketahui sumber-sumber yang menghasilkan limbah rumah sakit. Ruang Laundry: tempat rendaman linen kotor. 25. RSU Type C atau Kelas Madya adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik dasar. 17. Wastafel. buangan dari pembilas mesin cuci.3. 15. 24. urinoir.1. tempat buang exudat pasien. tempat cuci beras. 26. tempat cuci instrumen medik. RSU Type B atau Kelas Utama adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan subspesialistik terbatas. Masjid): Kamar mandi. Sumber Limbah Cair Rumah Sakit Dalam melakukan kegiatan pelayanan kesehatan rumah sakit akan menghasilkan limbah cair. tempat buang exudat pasien. tempat pembedahan mayat/autopsi. Unit Radiologi: wastafel. Wastafel. Spoelhock.

parasit. lemak dan detergen untuk kemudian diolah secara bertingkat. kimia dan biologis. laboratorium. Limbah cair alur barat Limbah cair dari alur barat lebih didominasi oleh air buangan yang berasal dari ruang-ruang rawat inap (kamar mandi/WC. wastafel) dan di tambah buangan dari asrama putra AKPER RS Bethesda. ruang farmasi. yang mengandung minyak.Limbah rumah sakit adalah semua air buangan yang berasal dari aktivitas instalasiinstalasi rumah sakit yang kemungkinan besar mengandung mikroorganisma. 8. kantor. bahan kimia beracun dan radio aktif.4. menyalurkan air buangannya ke saluran assenering alur timur baik secara gravitasi maupun dengan bantuan pompa. Laundry Laundry juga merupakan salah satu instalasi penting yang umum dimiliki oleh setiap rumah sakit tidak terkecuali RS Bethesda. d. Limbah cair alur timur Limbah cair alur timur memilki karakteristik pencemar yang lebih kompleks.1. ruang radiologi dan lain-lain yang menghasilkan limbah. yang disalurkan melalui assenering baik assenering DKP maupun assenering pihak RS Bethesda sendiri menuju instalasi pengolahan air limbah. Dari laundry ini dihasilkan limbah cair dengan kandungan detergen yang tinggi sehingga memilki pH dan suhu yang tinggi. Sifat Fisik . Adapun sumber-sumbernya adalah sebagai berikut: 5. 7. karena selruh kegiatan RS Bethesda yang berada di bagian timur seperti ruang rawat inap. 6. 2. Air limbah ini mengalir secara gravitasi dengan 13 bak kontrol di titik-titik tertentu guna mengawasi lancar tidaknya aliran. Karakteristik Limbah Cair Rumah Sakit Air limbah pada intinya dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu sifat fisik. Instalasi gizi (dapur) Kegiatan instalasi gizi yaitu melayani kebutuhan makanan pasien maupun karyawan sehingga dari kegiatan ini juga dihasilkan limbah cair.

1 %. yang dijumpai dalam air limbah bersisikan 40-60 % adalah protein. Mg. Bahan Organik Air limbah dengan pengotoran sedang.9 % dan sisanya terdiri dari partikel-partikel tidak terlarut 0. Komposisi limbah cair rumah sakit sebagian besar terdiri dari 99. e. 25-50 % berupa karbohidrat serta 10 % lainnya berupa lemak. Cu. Bahan Anorganik Sedangkan zat organik yang penting peranannya di dalam mengontrol air limbah adalah: pH Kadar Khlor Alkalinitas Kadar Sulfur Zat beracun Logam berat seperti: Ni. maka sekitar 75 % dari benda-benda tercampur dan 40 % dari zat yang dapat disaring adalah berupa bahan organik. CH4. 25 % karbohidrat dan 10 % lemak. Cr. Adapun zat kimia yang penting dalam air limbah pada umumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. 2. Pb. Cd. Adapun sifat fisik yang penting adalah kandungan zat padat sebgaai efek estetika. bau. Fe dan Hg Metan Hidrogen Fosfor Gas seperti NH3. Zat organik terdiri dari 65 % protein. O3 f. Zat organik tersebut sebagian besar mudah terurai (degradabel) yang merupakan sumber makanan dan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme yang lainnya.Penentuan derajat kekotoran air limbah sangat dipengaruhi oleh adanya sifat fisik yang mudah dilihat. Sifat Bakteriologis . warna dan temperatur. Partikel-partikel padat terdiri dari zat organik 70 % dan anorganik 30 %. Sifat Kimia Sifat kimia dalam air limbah dapat diketahui dengan adanya zat kimia air buangan. kejernihan. Zn.

Waktu tinggal dalam bak ini 16 jam. 13.Bak ekualisasi Bak ekualisasi berfungsi untuk mencampur limbah dari berbagai sumber sehingga menjadi limbah yang homogen dengan waktu tinggal 27 jam. 2.1. 16. Protista. Unit-unit Pengolahan Air Limbah RS Bethesda 11. 17. protozoa dan algae Binatang dan tanaman Dari klasifikasi tersebut diatas. 18.Instalasi penampung hasil Instalasi penampung hasil berfungsi untuk menampung limbah yang telah mengalami pengolahan (limbah terolah). Waktu tinggal dalam bak pengendspan 7 jam. pada proses ini penambahan oksigen dilakukan dengan bantuan blower. meliputi: bakteri. 14.Instalasi penampung awal Instalasi penampung awal berfungsi untuk menampung keseluruhan limbah dari RS Bethesda yang berasal dari cucian.Instalasi fish pond dilakukan disinfeksi dengan memberikan kaporit melalui sistem injeksi/suntikan dengan tujuan membunuh bakteri patogen.Instalasi anaerob biofilter Instalasi anaerob biofilter berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana dengan bantuan bakteri yang ada pada biofilter.Sifat bakteriogis pada air buangan perlu diketahui untuk menaksir tingkat kekotoran air limbah sebelum dibuang ke badan air.5.Instalasi sand filter Instalasi sand filter berfungsi untuk menyaring limbah sehingga diperoleh kualitas yang lebih baik lagi. Waktu tinggal dalam bak 7 .Instalasi aerob Instalasi aerob berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks yang lolos dari pengolahan sebelumnya menjadi senyawa yang lebih sederhana. dapur mauun rawat inap.Instalasi pengendapan (settling) Instalasi pengendapan (settling) berfungsi untuk memberi kesempatan lumpur agar mengendap. Mikrooganisme yang penting dalam air limbah dan air permukaan dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu: 1. 15. Limbah ini dipompakan ke instalasi sand filter dan sebelumnya jam. jamur. 12. protozoa dan algae sangat penting di dalam proses dekomposisi atau stabilisasi bahan-bahan organik 2. Waktu tinggal dalam bak 8 jam.

2. Komponen fosfat dipergunakan untuk membuat sabun sebagai pembentuk buih. industri dan pertanian. Fosfat kompleks mengalami hidrolisa selama pengolahan biologis menjadi bentuk ortofosfat (PO43-) Dari konsentrasi rata-rata fosfor keseluruhan sebanyak 10 mg/l berada dalam air limbah perkotaan . Bentuk-bentuk penting fosfat dalam air limbah adalah pospor organik. Di daerah pertanian ortofophosfat berasal dari bahan pupuk.Instalasi pengering lumpur (drying bed) Instalasi pengering lumpur befungsi untuk menampung endapan lumpur dari digester untuk dikeringkan. Bermacam-macam jenis fosfat juga dipakai untuk penngolahan anti karat dan anti kerak pada pemanas air (boiler). Sisa yang 70 % dari fosfor yang masuk pada umumnya dilepaskan bersama bunagan instalasi sekunder. Dan adanya fosfat dalam air limbah dapat menghambat penguraian pada proses biologis. Poliphosfat dapat memasuki sungai melalui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan detergen yang mengandung fosfat seperti industri pencucian. polyphosfat dan orthophospat. 20.Instalasi digester dan biogas Instalasi digester dan biogas berfungsi untuk menaqmpung semua lumpur yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah. . yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan.2. Kolam ikan ini dilengkapi dengan pancuran air. kira-kira 10 % dibunag sebagai bahan tak terpakai selama pengendapan primer dan 10 % hingga 20 % lainnya digabungkan ke dalm sel-sel bakteri selam apengolhan biologis.Instalasi fish pond atau kolam ikan berfungsi untuk tempat penampungan limbah terolah yang telah tersaring di sand filter. Fosfat Fosfat berada dalam air limbah dalam bentuk organik. Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut. Sebagai ortophosfat anorganik atau sebagai fosfat-fosfat kompleks. Poyfosfat banyak digunakan dalam pembuatan detergen sintetis. Fosfat kompleks mewakili kira-kira separuh dari fosfat air limbah perkotaan dan berasal dari penggunaan bahan-bahan detergen sintetis. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan. detergen dapat mempermudah absorbsi racun pada ikan melalui insang dan bersifat persisten sehingga terjadi akumulasi. Dalam air limbah senyawa fosfat dapat berasal dari limbah penduduk. Sedangkan menurut Juli Sumirat. 19. industri logam dan sebagainya. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat bagi pertumbuhannya. tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air.

lumpur yang diproduksi jumlahnya lebih besar.Bila kadar fosfat pada air alam sangat rendah (<0. Reaksi kimia dari proses pengendapan secara kimiawi antara fosfat dengan alum. Sebagian besar dari bahan organik tersebut dibuang. kadang-kadang dikerjakan pada tahap ketiga setelah pengolahan biologis guna pembuangan fosfat serta peningkatan pH buangan dalam persiapan bagi proses pembuangan ammonia-nitrogen.2. kapur. garam besi dan kapur adalah sebagai berikut: Pengendapan dengan alum: AL2(SO)3 + 2HPO4 –2 2AlPO4 + 3SO4-2 + 2H Pengendapan dengan garam besi: FeCl3 + HPO4 –2 FePO4 + H+ + 3Cl- Pengendapan dengan kapur: 5Ca(OH)2 + 3HPO4 –2 Ca5(PO4)3OH + 3H2O + 6OH- 2. begitu pula fosfatnya. Pada keadaan “eutrotop” tanaman dapat menghabiskan oksigen dalam sungai atau kolam pada malam hari atau bila tanaman tersebut mati dan dalam keadaan sedang mencerna (digest) dan pada siang hari pancaran sinar matahari kedalam air akan berkurang. Walaupun demikian. sehingga hanya sedikit peralatan tambahan yang dibutuhkan. terutama yang menggunakan kapur.1. sehingga air menjadi keruh dan berbau karena pembusukan lumut-lumut yang mati. Senyawa-senyawa fosfat dapat dibuang dengan penambahan koagulan. alum dan garam-garam besi dapat dimasukkan ke dalm tanki aerasi selama proses lumpur diaktifkan atau bahan-bahan kimia itu dapat dimasukkan pada suatu tahap pengolhan primer. ferrichlorida atau ferrous sulfat. misalnya alum. Pemisahan Fosfat Secara umum analisa fosfat meliputi 2 (dua) langkah : . pertumbuhan tanaman dan ganggang akan terhalang. Pengendapan kimiawi. Banyak metode yang telah diusulkan untuk pembuangan kelebihan fosfat. Bila bahan-bahan kimia dimasukkan langsung ke dalam tangki aerasi dari suatu instalasi lumpur yang diaktifkan. maka pengolahan kimiawi dan biologis terjadi bersama-sama. sehingga proses fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen juga berkurang. keadaan ini dinamakan “oligotrop”. sehingga dihasilkan pengurangan beban pada proses pengolahan biologis. Bahan-bahan kimia itu dapat ditambahkan sebelum pengendapan primer.01 mg/l). Metode ynag paling efektif meliputi pengendapan kimiawi. Pembuangan limbah yang banyak mengandung fosfat ke dalam badan air dapat menyebabkan pertumbuhan lumut dan mikroalgae yang berlebih yang disebut “eutrophication” .

sehingga dapat diperguakan untuk tujuan interpretasi. Tetapi perlu diingat bahwa sebagian kecil dari fosfat terikat yang ada tidak dapat menghindari cara hidrolisa ini dan dilaporkan sebagai bagian dari ortofosfat. Kekuatan oksidasi yang diperlukan untuk konversi tergantung pada bentuk dan jumlah dari fosfat organik yang ada. Menentukan secara kolorimetris ortofosfat yang larut. Penyaringan pendahulluan dengan filter serat gelas dapat dilakukan untuk mempercepat proses penyaringan. dan tersuspensi) dan masing-masing secara analisis dibagi menjadim tiga tipe kimiawi seperti telah diuraikan diatas yaitu ortofosfat fosfat yang dapat dihidrolisa dengan asam fosfat organik . terlarut. d. Didalam praktek. Pemisahan fosfor kedalam berbagai bentuk telah luas didefinisikan secara analitis. tetapi telah dipilih pembedaan analisa. Pemisahan “yang dapat disaring” (atau “terlarut”) dari “partikel” fosfat tergantung filter membran 0. Keseluruhannya ada tiga bagian (total. menguraikan bentuk fosfat yang ditentukan dalam filtrat yang melalui membran 0. fosfat organik terdapat dalam larutan dan partikel. tetapi faktor ini telah dikurangi seminimum mungkin (sangat sesuai untuk hidrolisa fosfat terikat) dengan bijaksana memilih kekuatan asam lebih disukai terhadap “fosfat terikat” pada teknik ini. Pemilihan filtrasi dengan membran melebihi ketebalan filtrasi dilakukan karena kemungkinan diperoleh lebih besar atau pemisahan ukuran partikel dengan tekinik pemisahan membran. Tidak dapat dituntut bahwa penyaringan melalui filter membran Penggunaan 0. Tabel 1.45 µm yang dipergunakan. Hidrolisa dengan asam pada temperatur mendidih untuk mengubah fosfat dalam bentuk terlarut dan partikel menjadi ortofosfat yang dapat disaring. Seperti ortofosfat dan fosfat dari hidrolisa asam.c. Dua belas fosfat tersebut dapat dilihat pada tabel 1. Klasifikasi Fosfat Tipe Kimiawi Total FISIK Terlarut Partikel .45 µm dapat memisahkan dengan sebenarnya antara fosfat yang istilah “yang dapat disaring” (lebih baik “yang larut”) untuk tersuspensi dengan yang terlarut. fosfat total yang dapat dalam sampel dapat dipisahkan pada analisa dengan penyaringan kedalam bagian yang disaring dan partikel. Hidrolisa tidak dapat dihindrakan untuk membebaskan fosfat dari senyawa organik. Fosfat yang dapat langsung diperiksa secara kolorimetris tanpa hidrolisa pendahuluan atau perombakan secara oksidatif dan dianggap sebagai “ortofosfat”. Biasanya terdapat sedikit variasi. yang tergantung pada fosfat terlarut dan tersuspensi. Ortofosfat terdapat dalam bentuk terlarut dan partikel. Bagian-bagian fosfat yang diubah menjadi ortofosfat hanya dengan perombakan oksidatif terhadap bahan organik disebut fosfat organik/terikat secara organik. Merubah bentuk fosfor menjadi ortofosfat yang larut.45 µm.

Total ortofosfat terlarut dan partikel c. Total fosfat terlarut . Kolorimetri 1 Perombakan 2. Kolorimetri 1 Perombakan 2. dan masa inti partikel. Total fosfat partikel j. Total terhidrolisa ortofosfat C. Pola Klasifikasi Fosfat 2. b. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi sebagai berikut : . Total Fosfat Partikel Fosfat filtrat Kolorimetri langsung A. Total fosfat terlarut yang dapat dihidrolisa h. d. Total Ortofosfat 2. Koagulasi dan Flokulasi 2.1 Koagulasi Koagulasi adalah dicampurkannya koagulan dengan pengadukan secara cepat guna mendistabilisasi koloid dan solid tersuspensi yang halus. Fosfat organik terlarut. kemudian membentuk jonjot mikro (mikro flok). f. Total Fosfat terlarut Gambar 1. Total fosfat organik terlarut dan partikel e.Total Orto Yang dapat dihidolisa oleh asam. Total fosfat terlarut dan tidak terlarut. Ortofosfat terlarut dan yang dapat dihidrolisa dengan asam C. Organik a. k. Ortofosfat partikel. Hidrolisa H2S04 2. i. Total Ortofosfat 2. Sampel Tanpa penyaringan Kolorimetri langsung A. Fosfat partikel organik. Kolorimetri B. Hidrolisa H2S04 2.3. terlarut dan partikel. Total fosfat yang dapat dihidrolisa oleh asam. g. Ortofosfat terlarut.4. Fosfat partikel yang dapat dihidrolisa oleh asam l. Kolorimetri B.

i. j. Kecepatan pengadukan Tujuan pengadukan adalah untuk mencampurkan koagulan ke dalam air. Suhu air Suhu air yang rendah mempunyai pengaruh terhadap efisiensi proses koagulasi. Kadar ion terlarut Pengaruh ion-ion yang terlarut dalam air terhadap proses koagulasi yaitu : pengaruh anion lebih bsar daripada kation. Derajat Keasaman (pH) Proses koagulasi akan berjalan dengan baik bila berada pada daerah pH yang optimum. sehingga semua koagulan yang dibubuhkan dapat bereaksi dengan partikel-partikel atauion-ion yang berada dalam air. Sebaliknya pada tingkat kekeruhan air yang tinggi maka proses destabilisasi akan berlangsung cepat. 19920. Dosis koagulan Untuk menghasilkan inti flok yang lain dari proses koagulasi dan flokulasi sangat tergantung dari dosis koagulasi yang dibutuhkan Bila pembubuhan koagulan sesuai dengan dosisyang dibutuhkan maka proses pembentukan inti flok akan berjalan dengan baik. o. . Jenis Koagulan Pemilihan jenis koagulan didasarkan pada pertimbangan segi ekonomis dan daya efektivitas daripadakoagulan dalam pembentukan flok. l. Tingkat kekeruhan Pada tingkat kekeruhan yang rendahproses destibilisasi akan sukar terjadi. Untuk tiap jenis koagulan mempunyai pH lainnya. Tetapi apabila kondisi tersebut digunakan dosis koagulan yang rendah maka pembentukan flok kurang efektif. m. Bila suhuair diturunkan . Alkalinitas dalam air dapat membentuk flok dengan menghasil ion hidroksida pada reaksihidrolisa koagulan. optimum yang berbeda satu sama k. maka besarnya daerah pH yang optimum pada proses kagulasi akan berubah dan merubah pembubuhan dosis koagulan. Alkalinitas Alkalinitas dalam air ditentukan oleh kadar asam atau basa yang terjadi dalam air (Tjokrokusumo. Dalam pengadukan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengadukan harus benar-benar merata. Kecepatan pengadukan sangat berpengaruh terhadap pembentukan flok bila pengadukan terlalu lambat mengakibaykan lambatnyaflok terbantuk dan sebaliknya apabila pengadukan terlalu cepat berakibat pecahnya flok yang terbentuk p. Dengan demikian ion natrium. Koagulan dalam bentuk larutan lebih efektif dibanding koagulan dalam bentuk serbukatau butiran. n. kalsium dan magnesium tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap proses koagulasi.

Warna. Sifat-sifat fisik dan kimia Hydrate lime : g. Ada dua jenis proses flokulasi yaitu : c. dengan notasi G. Sifat-Sifat Kapur (lime) dan Penggunaan nya.K. prosesnya disebut flokulasi perikinetik. 2. sebagian besar umumnya berwarna putih dan pada tinhkat tinggi dapat berwarna abu-abu. Perubahan kecepatan dari satu titik ke titik lainnya dikeal sebagai gradien kecepatan. kapur dapat mengurangi kandungan bahan-bahan organik. Dengan adanya perbedaan kecepatan aliran media cair akan mempunyai aliran kecepatan yang berbeda pula akibatnya akan terjadi tumbukan atau kontak antar partikel. air limbah maupun industri lainnya. 1986). Gerak acak dari partikel-partikel koloid yang ditimbulkan karena adanya tumbuhan molekul-molekul air. Flokulasi orthokinetik Flokulasi orthokinetik adalah suatu proses terbentuknya flok yang diakibatkan oleh terbentuknya gerak media (air) misalnya pengadukan (Sank R. d. 1986. Pada pengolahan air kotor.3. Menurut Tarmiji.K. Flokulasi Flokulasi adalah pengadukan perlahan terhadap larutan jonjot mikro yang menghasilkan jonjot besar dan kemudian mengendap secara cepat (Tjokrokusumo. Kapur (lime) secara umum terdapat dalam dua bentuk yaitu CaO dan Ca(OH)2. Hydrate lime dihasilkan dari reaksi quickime (CaO) dengan air. 1995). akan mengakibatkan terjadinya gabungan antar partikellebih sangat kecil 1 < 100 milimikron (Sank R.4. penggunaan dari kapur antara lain dibidang kesehatan lingkungan untuk pengolahan air kotor. Flokulasi perikinetik Flok yang diakibatkan oleh adanya gerak thermal (panas) yang dikenal sebagai gerak Brown. yang bersifat basa dan disertai keluarnya panas yang tinggi.2.2. . 1986). CaO adalah bahan mudah larut dalam air dan menghasilkan gugus hidroksil yaitu Ca(OH)2. Proses pengendapan ini akan berjalan secara efektif apabila pH air antara 6 – 8 (Considine). Bentuk kristal. Pada umumnya kecepatan aliran cairan akan berubah terhadap tempat dan waktu. powder h. sehingga terbentuk Ca(OH)2. Cara kerjanya adalah kapur ditambahkan untuk mereaksikan alkalibikarbonat serta mengatur pH air sampai sehingga menyebabkan pengendapan.

konsentrasi 0.85 Ca(OH)2/l air pada suhu 00C sampai0. Selain CaO juga MgO serta molekul-molekul lainnya tergantung pada batuan kapur yang asli dari alam.i. Pada larutan 250C. pH. j. Hasil dari proses ini antara lain adalah CaO ditambah CO2 yang keluar sebagai gas. tingkat kelarutan dari kira-kira 1. k. Penggunaan berbagai keperluan maka batuan kapur dari alam biasanya akan mengalami proses pembakaran terlebih dahulu yang disebut “calcination”. l. Contoh reaksi yang terjadi pada proses “calcination” ini apabila batuan kapur dari alam berkomposisi sebagai kombinasi dari kalsium dan Magnesium Karbonat adalah sebagai berikut: CaCO3Mg CO3 CaOMgO + 2CO2 Calcim Oxide (CaO) adalah merupakan bahan yang mudah larut dalam air dengan mengeluarkan panas yang tinggi (Highleyexotermically). Selain itu. Hydrate lime siap bereaksi dengan asam dan gas sehingga tentu saja berkemampuan menetralisasi asam. Kalsium Hydrated lime memiliki tingkat kepadatan kira-kira 2. Kepadatan. karena kalsium hidroksida adalah termasuk basa kuat.3 pada suhu 250C. reaksi antara CaO dan air akan menghasilkan gugus hidroksil Ca(OH)2 yang bersifat basa dengan reaksi sebagai berikut: CaO + H2O Ca(OH)2 + heat Ca(OH)2 Ca++ + 2OH- Karena sifat-sifat kapur dapat digunakan sebagai pengendap terhadap fosfat maka reaksi yang terjadi adalah 3 Ca2+ + 2PO43Ca3 (PO4)2 Penggunaan Kapur .3 g/gm3 Kelarutan. Netralisasi asam .7 g/l pada suhu 1000C. kandungan 1.8/l memberikan pH sebesar 12.10 g Ca(OH)2/l dapat memberi pH kira-kira 11.7.

menetralisasi keasaman. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai “geomedical” untuk mencegah parasit-parasit dan bnayak penyakit ayam. Alum atau tawas merupakan bahan koagulan.79-4.Kapur telah diikenal sebagai bahan yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan diantaranya dipakai pada bidang-bidang industri misalnya industri kimia. disini kapur berfungsi sebagai bahan koagulan. Dosis yang biasa dipakai pada peternakan ayam adalah sekitar 1 lb (0. fluorida dan bahan-bahan organik. kapur dapat befungsi antara lain dalam pengendalian keasaman digester. Kapur dapat digunakan untuk mengurangi gas SO2 yang keluar dari pembakaran batu bara atau minyak yang mengandung sulfur yang tinggi melalui suatu proses yang disebut “wet scrubing”. i. h. kertas.5. Kapur juga dapat dipergunakan sebagai penghilang fosfor dalam air. mudah didapatkan di pasaran serta mudah penyimpanannya. karena salah satu cara penghilangan fosfor dalam air adalah pengendapan kimiawi. Selain itu dapat juga mengurangi kadar BOD dengan cara menyerap antara 40% sampai 50 % bahan organik terlarut maupun tidak terlarut. 2. Sifat-Sifat Tawas dan Penggunaan nya Persenyawaan Alumunium Sulfat (Al2(SO4)3) atau sering disebut tawas adalah suatu jenis koagulan yang sangat populer secara luas digunakan. j. sebagai bahan bangunan. memperkecil kadar silika. Alum atau tawas sebagai penjernih air mulai diproduksi oleh pabrik pada awal abad 1500. Proses pengolahan buangan industri besi/baja. sudah dikenal bangsa Mesir pada awal tahun 2000 SM. . yang paling banyak digunkan karena bahan ini paling ekonomis 9murah). Proses pengolahan air. penyerapan bau (deodorant) dan sebagai desinfektan. pertanian dan lain-lain. kapur digunakan untuk menetralisir asam sulfat bebas (free sulfuric acid ) dan mengendapkan garam-garam besi yang terdapat pada limbah industri tersebut. g.65 m2) lantai yang mengandung kotoran ayam. air kapur dapat berguna sebagai bahan penurun kesadahan. dan lainlainnya. Pada peternakan ayam. Proses pengolahan air bekas. mangan.45 kg) Hydrates Lime [Ca(OH)2] pada setiap 3-5 ft2 (2. kapur dapat digunkan untuk mengeringkan serta mengurangi bau kotoran ayam yang berceceran di laniat kandang. Khusus di sektor lingkungan kapur dapat berguna dalam: f.

yaitu terjadi proses hidrolisis. soda abu atau soda kaustik (Natrium Oksida) Reaksi yang terjadi: AL2(SO4)3 + 3Ca(OH)2 2Al(OH)3 + 3CaSO4 AL2(SO4)3 + 3Na2CO3 + H2O 2Al(OH)3 + 3Na2SO4 + 3CO2 Oleh karena tawas /alum mempunyai sifat koagulan dalam larutan maka bila tawas bersenyawa dengan limbah yang mengandung unsur fosfat .Reaksi yang terjadi jika alum dimasukkan ke dalm air.10-19 . Alum yang dilarutkan ke dalam air akan bereaksi dengan kapur atau bahan lain seperti Soda Abu atau Natrium Bikarbonat (Na2CO3).+ 4 H2O Ionisasi dai air sendiri akan terbentuk ion hidroksida sebagai berikut: H2O H+ + OH- Kemudian terjadi reaksi antara ion Al3+ dengan ion hidroksida sebagai berikut: 2Al3+ + 6 OH2Al(OH)2 Pengikatan ion hidroksida tersebut di dalam air akan menurunkan alkalinitas air sehingga sebaiknya digunkan bahan tambahan yang dpat meningkatkan nilai alkalinitas seperti kapur. 2. 14H2O 2Al3+ + 3SO42.8. Reaksi tersebut antara ion Al dengan ion OH. Ksp AlPO4 sebesar 6.7. Alum tersebut akan larut di dalam air dengan reaksi sebagai berikut: AL2(SO4)3 . reaksi yang kan terjadi reaksi hipotik. Range pH untuk jenis koagulan alum adalah sebesar 5.Unit . Zeolit Zeolit adalah suatu alumnosilikat yang mempunyai struktur berpori dengan saluran dalam rangka kristal. Dengan demikian supaya terjadi pengendapan hasil kali konsentrasi yang bereaksi harus lebih besar dari pada Ksp nya. yang di dalamnya ditempati oleh molekul air dan ion ion logam alkali. yang sangat dipengaruhi oleh nilai pH yang bersangkutan.3 .5 sampai 7.sehingga terjadi reaksi Al3+ + PO43AlPO4 Pengendapan dapat terjadi apabila hasil kali { Al3+ }dan { PO43 -} lebih besar dari Ksp AlPO4 .

melainkan harus dianalisa strukturnya. Struktur kristal zeolit dimana semua atom Si dan Al dalam bentuk .Unit unit tersebut saling berikatan membentuk jaringan anionik dalam tiga dimensi. Pemanfaatan zeolit masih belum banyak diketahui secara luas. Zeolit tidak dapat diidentifikasi hanya berdasarkan analisa komposisi kimianya saja. tekanan uap air setempat dan komposisi air tanah lokasi kejadiannya. yang pada saat ini zeolit di Indonesia dipasarkan masih dalam bemtuk alam terutama pada pemupukan bidang pertanian.1985 ) menjelaskan bahwa: Kecepatan pertukaran kation dalam zeolit dipengaruhi oleh besar butiran zeolit. Dengan demikian. Zeolit yang diaktifkan maupun yang tidak diaktifkan menyerap ion amonium dari air buangan lebih kecil dari pada larutan NH4Cl. Mineral zeolit telah dikenal sejak tahun 1756 oleh Cronstedt ketika menemukan Stilbit yang bila dipanaskan seperti batuan mendidih (boiling stone) karena dehindrasi molekul air yang dikandungnya. yang saat itu dikenal sebagai molecular materials.Dengan sifat di atas maka zeolit dapat bekerja sebagai penukar ion dan sebagai penyaring melalui adsorpsi selektif atau penolakan molekul karena adanya penolakan molekul karena adanya perbedaan dalam ukuran molekul dan faktor lainnya Selanjutnya dari hasil pengujian terhadap beberapa aspek yang ada kaitannya dengan pertukaran ion pada zeolit ( Komar bersama rekan . seperti suhu.Zeolit juga ditemukan sebagai batuan endapan pada bagian tanah jenis basalt dan komposisi kimianya tergantung pada kondisi hidrotermal lingkungan lokal.Perbandingan antara Si dan Al berkisar antara 1:1 sampai 100:1.dasar pembentuk zeolit adalah SiO4 dan AlO4 yang membentuk tetra hedral. K+ dan lain-lain. Hal itu menjadikan zeolit dengan warna dan tekstur yang sama mungkin berbeda komposisi kimianya bila diambil dari lokasi yang berbeda disebabkan karena kombinasi mineral yang berupa partikel halus dengan impurities lainnya. zeolit merupakan mineral yang terdiri dari kristal alumino silikat terhidrasi yang mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam kerangka tiga dimensi.Struktur yang paling stabil adalah zeolit yang perbandingan Si dan Al nya adalah 1:1. Hal ini dikarenakan dalam air buangan zeolit selain menyerap ion amonium juga menyerapion ion lain seperti Ag+. Kapasitas penyerap zeolit akan bertambah dengan bertambah nya berat zeolit. Pada tahun 1954 zeolit diklasifikasi sebagai golongan mineral tersendiri.Zeolit biasanya ditulis dengan rumus kimia oksida atau berdasarkan satuan sel kristal. Mineral alam zeolit biasanya masih tercampur dengan mineral lainnya seperti kalsit. Ion-ion logam tersebut dapat diganti oleh kation lain tanpa merusak struktur zeolit dan dapat menyerap air secara reversible. feldspar dan kuarsa dan ditemukan di daerah sekitar gunung berapi atau mengendap pada daerah sumber air panas (hot spiring). gypsum.

Pada saat ini dikenal sekitar 40 jenis zeolit alam.50 meq/g). ICI dan mobil Oil dan lebih dari 100 jenis telah dikenal strukturnya antara lain zeolit A. 2.5 – 6 meq/g. Cu dsb. diantaranya klinoptilolit. penyerap bahan dan katalisator. penukar ion. zeolit dapat berfungsi sebagai katalis yang banyak digunakan pada reaksi petrokimia. zeolit hanya dapat diidentifikasi berdasarkan unit bangun sekunder. KTK adalah jumlah meq ion logam yang dapat diserap maksimum oleh 1 g zeolit dalam kondisi kesetimbangan.50 meq/g) dan vermikulit (11. Kemampuan pertukaran ion (adakalanya dengan istilah kemampuan penyerapan ion atau sorpsi) zeolit merupakan parameter utama dalam menentukan kualitas zeolit yang akan digunakan. 7.tetrahedral (TO4) disebut unit bangun primer. Y.80-1. X. yaitu material seperti zeolit tetapi bukan senyawa alumino-silikat. meskipun yang mempunyai nilai komersial ada sekitar 12 jenis. Bila atom Al dinetralisir dengan ion polivalen. Nilai KTK zeolit ini banyak bergantung pada jumlah atom Al dalam struktur zeolit. biasanya dikenal sebagai KTK (Kemampuan Tukar Kation). Sifat dehidrasi dari zeolit akan berpengaruh terhadap sifat adsorpsinya. KTK dari zeolit bervariasi dari 1.2 Sifat Zeolit Zeolit mempunyai struktur berongga dan biasanya rongga ini diisi oleh air dan kation yang bisa dipertukarkan serta memilki ukuran pori yang tertentu. Oleh karena itu zeolit dapat dimanfaatkan sebagai : penyaring molekuler. Sifat zeolit meliput i : 6. grup ZSM/AlPO4 (Zeolite Sielving Marerials/Aluminium Fosfate) dan bahkan akhir-akhir ini dikenal grup zeotip. kabarsit dan erionit. Dehidrasi. filipsit. Berdasarkan UBS semua zeolit baik dalam bentuk alami atau sintetik. misalnya logam Pt. Zeolit dapat melepaskan molekul air dari dalam rongga permukaan yang menyebabkan medan listrik meluas ke dalam ronggs utama dan akan efektif terinteraksi dengan molekul yang akan diabsorbsi. Zeolit sintetik dihasilkan dari beberapa perusahaan seperti Union Carbide. seperti kaolinit (0. Jumlah molekul air sesuai dengan jumlah pori-pori atau volume ruang hampa yang akan terbentuk bila unit sel kristal zeolit terus dipanaskan. Zeolit dengan struktur “framework” mempunyai luas permukaan yang besar dan mempunyai saluran yang dapat menyaring ion/molekul. yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan KTK batuan lempung. Adsorbsi .6.15 meq/g). mordernit.03-0. bentonit (0.

suhu.29 %. 2. Penukar ion Ion-ion pada rongga atau kerangka elektrolit berguna untuk menjaga kenetralan zeolit. Katalis Zeolit merupakan katalisator yang baik karena mempunyai pori-pori yang besar dengan permukaan yang maksimum. . Ca dan Fe masing-masing sebesar 4. Ion-ion ini dapat bergerak bebas sehingga pertukaran ion yang terjadi tergantung dari ukuran dan muatan maupun jenis zeolitnya. Analisis lebih lanjut terhadap zeolit alam Wonosari menunjukkan bahwa zeolit mempunyai rasio Si/Al 4. rerata jejari pori 60.39 mmol/g. K. volume pori 74. Telah diketahui lebih dari 40 jenis mineral zeolit di alam.13 m2/g.39 5 dan 1.6. Dari uji pendahuluan terhadap zeoiit alam Wonosari dengan menggunakan difraksi sinar x diketahui bahwa sebagian besar penyusunnya adalah mordernit.75.04 %. dan jenis anion. Penyaring atau pemisah Volume dan ukuran garis tengah ruang hampa dalam kisi-kisi kristal menjadi dasar kemampuan zeolit untuk bertindak sebagai penyaring molekul. 1. 9. 2. Jenis Zeolit Menurut proses pembentukannya zeolit dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu : 3.34 %. Molekul ynag berukuran kecil dapat melintas sedangkan yang berukuran besar dari ruang hampa akan ditahan atau ditolak.54 dan memilki kandungan logam Na. keasaman sebesar 2. Penukaran kation dapat menyebabkan perubahan beberapa sifat zeolit seperti stabilitas terhadap panas. sifat adsorbsi dan aktifitas katalis. Zeolit Alam Zeolit alam terbentuk karena adanya proses perubahan alam (zeolitisasi) dari batuan vulkanik tuf.Zeolit juga mampu memisahkan molekul zat berdasarkan ukuran dan kepolarannya.2. 10. Sifat sebagai penukar ion dari zeolit antara lain tergantung dari : sifat kation. Dari jumlah tersebut hanya 20 jenis yang terdapat dalam batuan sedimen terutama sedimen piroklastik yang berbutir halus (tuf) Komposisi dan struktur zeolit kebanyakan terdiri dari mineral mordernit dan klinoptillit. 8.25 x 10-3 cc/g. luas permukaan 24. dimana untuk molekul yang tidak jenuh atau bersifat polar akan lebih mudah lolos daripada molekul yang jenuh atau tidak polar.

D6R Na8 [Al8Si40O96]24H2O NaCa0. S6R. daya tukar ion maupun daya katalis dari zeolit tersebut belum maksimal.5 [Al16Si10O32]12H2O Na8 [Al31SiO16]16H2O S4R S4R Ca4 [Al8Si28O72]24H2O Na6 [Al6Si30O72]24H2O T10O20 (4-4-1) T10O20 Na16[Al16Si24O31]6H2O Na16 Ca8 [Al20Si24O80]24H2O T5O10 (4-1) T5O10 Na16[Al16Si31O96]6H2O Ca16[Al16Si31O96]6H2O S4R S4R Rumus Kimia UBS . S8R Na12 Ca12 Mg11 [Al58Si134O384]235H2O Na12 [Al12Si12O48]27H2O S4R. S6R. S8R Ca2 [Al4Si8O24]13H2O K6 Na3 [Al9Si27O72]21H2O D4R. Tabel 2. S6R NaN [AlnSi96O192]16H2O 5 –1 Ca4 [Al8Si16O46]16H2O S4R. Akan tetapi daya serap. aktivasi dan modifikasi. Klasifikasi zeolit Zeolit Grup Analsim Analsim Wairakit Grup Natrolit Natrolit Thomsonit Grup Heulandit Heulandit Klinoptilolit Grup Filipsit Filipsit Zeolit Na-P-1 Grup Mordernit Mordernit Ferrierit Grup Kabazit Kabazit Zeolit L Grup Faujasit Faujasit Zeolit A Grup Laumontit Laumontit Grup Pentasil ZSM-5 Grup Zeotype AlPO4-5 [Al12P2O48] (C3H7)4NaOH q H2O S4R. D6R D4R.Zeolit yang diperoleh dari alam telah dapat digunakan untuk berbagai keperluan.5 Mg2 [Al6Si30O72]24H2O T8O16 (5-1) T8O16 K2 Ca1. Untuk memperoleh zeolit dengan kemapuan yang tinggi diperlukan beberapa perlakuan antara lain.

yaitu zeolit kadar Si rendah. Pemanasan modernit pada suhu 300 0C –1000 0C menyebabkan destruksi struktur kristal. Pemanasan dilakukan dalam oven biasa pada suhu 300-400 0C (untuk skala laboratorium). 4. d. Zeolit yang dipanaskan pada temperatur tinggi menyebabkan molekul air yang ada dalam zeolit mengalami dehidrasi. dan H3PO4. membuang senyawa pengotor. Aktivasi zeolit dengan asam menyebabkan ternetralisasinya muatan negatif pada permukaan zeolit hidrogen. zeolit sintetis dikelompokkan menjadi empat. Ini karena persamaan sifat fisik dan kimia yang dimiliki oleh kedua jenis mineral tersebut. Sifat dehidrasi zeolit ini berpengaruh terhadap sifat adsorbsinya. zeolit kadar Si tinggi dan zeolit Si.Proses aktivasi zeolit alam dapat dilakukan dalam 2 cara yaitu secara fisis dan kimiawi. Diantara asam-asam tersebut yang paling efektif untuk dealuminasi adalah HCl. Atom-atom Al yang masih tersisa dalam zeolit masih terkoordinasi dalam rangkaian tetrahedaral dengan empat atom oksigen. Penggunaan zeolit sintetis pada dasarnya sama dengan zeolit alam. Mineral . Aktivasi secara kimia dilakukan dengan larutan asam atau basa. sehingga luas permukaan poripori bertambah. c. Hal ini sangat penting terutama berhubungan dengan fungsi zeolit sebagai adsorben. dealuminasi adalah yang paling penting dan dominan. Aktivasi Kimiawi Pada aktivasi kimia. Aktivasi Fisis Aktivasi fisis biasanya dilakukan dengan pemanasan yang bertujuan untuk menguapkan air yang terperangkap tinggi dalam pori-pori kristal zeolit. zeolit kadar Si sedang. Zeolit Sintetis Zeolit mempunyai sifat yang unik yaitu susunan atom maupun komposisinya dapat dimodifikasikan. dan mengatur kembali letak atom yang dapat dipertukarkan. Asam-asam yang dapat digunakan untuk aktivasi adalah HCl4. atau mengumpulkan tungku putar dengan pemanasan secara penghamparan selama 3 jam atau tanpa penghamparan selama 5-6 jam (skala besar). maka para peneliti berupaya untuk membuat zeolit sintetis yang mempunyai sifat khusus sesuai dengan keperluannya. HNO3. dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori. kandungan modernit berkurang hampir 25 % pada suhu 700 0C. H2SO4. Dealuminasi dapat digunkan untuk mengontrol aktivasi keasaman dan untuk mengontrol ukuran poripori zeolit. Berdasarkan perbandingan kadar komponen Si and Al.

Kebanyakan endapan zeolit beberapa jenis mineral zeolit.10 M.50 M. 2. kemudian dicuci sampai netral dan dikeringkan pada suhu 120 0C selama 3 jam. 1. tawas dan filtrasi zeolit belum pernah dilakukan. Zeolit kemudian direndam dengan HF 2. Sangat terbatas.7.00 M. Originalitas Penelitian Penelitian tentang penurunan fosfat dengan kapur (lime). .00 M DAN 2. alam terdiri dari terutama campuran besi.50 M. Perbedaan utama antara kedua jenis mineral zeolit alam dan sintetis . dan 500 C selama 5 jam. sambil diaduk dengan pengaduk magnetik. 0. Tabel 3. khabasit Daya Serap hanya dan erionit mineral yang Dapat dibuat mineral zeolit yang ruang kosong bergaris tengah dari 3 A hingga 8 A Dapat menyerap hingga 50 % dari volumunya. 0. Kemudian zeolit disaring. Mineral zeolit Sintetis Dapat sintetis tinggi.zeolit sintetis masing-masing mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan.lalu disaring dan dikeringkan pada suhu 110 0C selama 3 jam. dicici sampai netral dan dikeringkan pada suhu 130 0 0 0 0 C selama 3 jam. Zeolit ini kemudian dikalsinasi pada variasi suhu 300 C. 1987 2.00 N (perbandingan b/v 1:2) sambil dipanaskan sampai agak kering . yang terbesar Garis tengah pori hanya terdapat pada mineral khabasit dan erionit Terbatas. lalu disaring. Selanjutnya zeolit direndam NH4Cl konsentrasi 0. dinetralkan dan dikeringkan pada suhu 130 0C selama 3 jam. Zeolit selanjutnya dipanaskan dengan HCl pada konsentrasi 0. 400 C.00 M selama satu minggu sambil diaduk 3 kali sehari.3 Aktivasi Zeolit Zeolit alam direndam dengan akuades selam 24 jam. dan 2. dibuat mineral zeolit berderajat kemurnian mempunyai daya serap baik Sumber : Harjanto. 1..6.05 M. Perbedaan Mineral alam dan zeolit sintetik Macam Perbedaan Derajat Kemurnian Mineral Zeolit Alam Umumnya banyak mengandung pengotor.00 M pada suhu 90 0C selama 60 menit.

Sample air limbah Kapur Aduk Tawas Endapan Pemisahan Periksa PO4 Filtrasi Zeolit Periksa PO4 Hasil Filtrasi Gambar 2.1. Rancangan Penelitian . Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini merupakan “Penelitian Eksperimen” dengan “design pre test and post test design “yang hasil akan diuji secara diskriptif analitis dengan korelasi.BAB III METODE PENELITIAN 3.

1 ppm . sehingga waktu pengambilan sampel perlu diperhatikan agar mendapatkan kualitas yang sama pada setiap perlakuan. Larutan tawas 0. kemurnian kapur tohor.3.kadar ion terlarut. 3. proses pengadukan.6. f.3 Lokasi Penelitian Lokasi Penelitian yang dipilih yaitu limbah cair Rumah Sakit Bethesda dan uji laboratorium dilaksanakan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pembrantasan penyakit menular (BBTKL-PPM) Yogyakarta.1 ppm 19. sehingga perlu adanya pengendalian terhadap variabel-variabel tersebut diatas agar penelitian ini mendapatkan hasil yang dapat dipertanggung jawabkan. 3.4 Variabel Penelitian d. 3.kekeruhan.2 Ruang Lingkup Meliputi semua limbah cair yang dihasilkan dari seluruh kegiatan Rumah Sakit Bethesda. kemurnian tawas. 3. Dosis pemakaian bahan kimia larutan kapur dan tawas. Variabel pengganggu Waktu kontak.5 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam analisis berupa data kuantitatif yang diperoleh dari perlakuan di lapangan dan pengamatan percobaan di laboratorium. yang berbeda pada sampel perlakuan akan mengganggu proses pengendapan begitu pula dengan kemurnian kapur tohor dan kemurnian tawas serta proses pengadukan pada saat perlakuan apabila tidak dikendalikan / tidak disamakan pada setiap perlakuan akan didapatkan hasil tidak seperi yang diharapkan. Variabel terikat Parameter yang diperiksa pada limbah cair adalah fosfat masing-masing pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/ pengolahan.6 Instrumen Penelitian 3. Kualitas limbah cair RS Bethesda sangat fluktuatif.suhu limbah . Parameter pH. Variabel bebas e. waktu pengambilan sampel. Air limbah RS Bethesda 18. Larutan kapur 0.1 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari bahan untuk pengolahan dan bahan atau reagen untuk pemeriksaan parameter pencemar terdiri dari: Bahan untuk Pengolahan 17.

Larutan pH 4 28. Pipet tetes 19.6. Membuat larutan-larutan siap pakai untuk pemeriksaan parameter fosfat.01 ppm 24.4 Pelaksanaan Penelitian .20.3 Tahapan Persiapan 1. Persiapan bahan dan alat serta pembuatan rangkaian alat filtrasi yang dilengkapi dengan stop kran .6. Beker glass 16. SnCl2 23. Amonium Molibdat 26. Pipet ukur 20. Larutan Buffer pH 10 27. Timbangan Sartorius 18. Buret tetes 26. Air suling 32. 2. 4. Larutan standar EDTA 0. pH meter 21.2 Alat Alat Pengolahan 14. Cuvet 25. Zeolit 3.6.01 M 29. 3. Karet penghisap 3. NaOH 1 N 30. Labu ukur 15. Penyiapan larutan kapur 0. Standart fosfat 0. Mixing Flokulator 24. Labu erlenmeyer 17. Indikator PP 21. Indikator Murexid 31.0010 ppm dan tawas 0.0010 ppm yang akan digunakan sebagai bahan pengolahan . H2SO4 4 N 22. Spektofotometer 23. Indikator Phenol Red 25. Tabung nessler 22.

diamkan selama 15 menit agar terjadi pengendapan.kuantitas dan kualitas sampel tetap terjaga. 0.00075 ppm ml. Masing-masing beker glass ditambahkan larutan tawas yaitu 0.7. Teknik Analisa Data .00050 ppm. fosfat setelah koagulasi tersebut. 0. 15. 18.00100 ppm . detergen dan fosfat 12.3 Pemeriksaan Sampel Semua sampel diperiksa berdasarkan metode baku standard Method for examination.8 Teknik Pengumpulan Data Data yang diperoleh dari hasil penelitian dikelompokkan agar memudahkan dalam analisis. dan 0. 3. Pisahkan filtrat dari endapan. 13.00150 ppm dan 0.7. 3. 17.2 Periode pengambilan sampel Pengambilan sampel diusahakan sekali dalam jumlah yang dibutuhkan agar homogenitas.1 Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan pada bak penampung awal karena sudah mewakili semua limbah cair Rumah Sakit tersebut .9. 3. 19. 0. Siapkan sampel limbah cair asli sebelum diolah kemudian diperiksa pH. Siapkan deretan beaker glass sebanyak 3 buah masing-masing volume 1000 ml. 16.11. 3. Aduk cepat masing-masing selama 3 menit.0025 ppm. aduk lambat selama 5 menit. selanjutnya data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.0020 ppm. Parameter limbah cair yang dianalisis adalah fosfat pada sampel sebelum dan setelah perlakuan/pengolahan. Ulangi prosedur 4 s/d 10 dengan variasi kapur 0.00200 ppm.7. 0. kemudian diberi nomor 1 s/d 3. Tambahkan larutan kapur pada masing-masing beker glass volume 1 ml. Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan zeolit terhadap filtrat tersebut 20.0010 ppm dengan volume berturutturut 0. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode grab sampling (sesaat) selama periode tertentu. 3. Isi beaker glass tersebut dengan limbah asli masing-masing sebanyak 800 ml.00125 ppm. 0. Periksa filtrat masing-masing beker glass parameter pH.0015 ppm. 14.7 Teknik Pengambilan Sampel 3.

Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel terikat. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Maksud dari hubungan regresi yaitu untuk mengetahui suatu variabel dapat dipergunakan untuk memprediksi atau meramal variabelvariabel lain. Persamaan matematik yang memungkinkan untuk meramalkan nilai-nilai satu atau lebih peubah acak bebas disebut persamaan regresi. Jika suatu variabel tak bebas (dependent variable) tergantung pada satu variabel bebas (independent variable).Perhitungan statistik untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini menggunakan uji Regresi Linier Sederhana. Koefisien determinasi diperoleh dari mengkalikan koefisien korelasi Pearson atau biasa disebut Pearson Product Moment. yang disimbolkan dengan huruf R. hubungan antara kedua variabel disebut analisis regresi sederhana. Uji F Dimana : R X Y n . Bentuk matematisnya adalah sebagai berikut : Y = a . Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur prosentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dilihat dengan rumus R2 x 100%. Xb Dimana : Y X a b = Variabel terikat = variabel bebas = titik potong (intercept) = koefisien regresi (elastisitas/slope) Koefisien determinasi pada intinya adalah untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat. Rumusan matematisnya adalah sebagai berikut : R= n(ΣXY ) − (ΣX )(ΣY ) n Σ X 2 − ( Σ X ) 2 nΣ Y 2 − ( Σ Y ) 2 = Koefisien korelasi (Pearson Correlation) = variabel penambahan kapur = variabel kadar fosfat = jumlah sampel Nilai koefisien determinasi (R2) yang kecil berarti kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat sangat terbatas.

artinya ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Atau 3. maka Ho ditolak atau Ha diterima. Bila Fhitung < Ftabel.05. maka digunakan uji F. artinya tidak ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat.Untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Bila probabilitas F < 0. maka Ho ditolak atau Ha diterima .05. maka Ho diterima. Bila probabilitas F > 0. Bila Fhitung > Ftabel. maka Ho diterima 4. 4. Fhitung R2 / k = 1 − R 2 / (n − k − 1) ( ) Keterangan: R2 k n = = = Koefisien determinan Banyaknya perubahan bebas Jumlah data Dasar Pengambilan Keputusan 3.

berikut: Tabel 4.melebihi yang ditentukan. Selanjutnya limbah yang diambil di bak equalisasi tersebut dilakukan pengolahan dengan cara koagulasi dan flokulasi. berikut: Tabel 5. Sedangkan waktu pengambilan sampel dilakukan pada jam 09. hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 5.5. Sampel diambil di bak equalisasi dengan tujuan untuk mencari kadar Fosfat yang mewakili seluruh aliran limbah cair. Keadaan Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Sebelum Pengolahan (Asli) No. Karena pada jam tersebut kadar Fosfat limbah cair RS Bethesda Yogyakarta pada bak equalisasi adalah yang tertinggi. Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian mengenai efektifitas dosis dengan menggunakan campuran kapur tohor [Ca(OH)2] dan tawas [Al2(SO4)3] serta filtrasi zeolit terhadap penurunan kadar Fosfat air limbah RS Bethesda Yogyakarta telah dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2005.Lab / Hasil Analisa 56 7.6404 Keterangan Sumber: Data Primer 2005 Dari hasil pengukuran diatas.00 Wib.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. Hasil pengukuran kadar limbah RS Bethesda pada bak equalisasi secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4. berdasarkan pemeriksaan kadar Fosfate selama 24 jam pada inlet dan pada bak kontak. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Koagulasi/Flokulasi .5 25. maka parameter PO4. 1 2 Parameter pH PO4Satuan mg/l No.

8 R2 = 0.82 1.00100 0.1 ppm yang ditambahkan.50 2.0020 ppm dan tawas 0. Hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dilihat pada gambar 3.53 mg/l.15 1.49 1.Tawas (ppm) 0.1 ppm dan larutan kapur 0.0020 0.00075 0.81 1.002 0.0015 0.5 dan 6 berikut: 3.06 0.22 0.0015 Kapur (ppm) 0.62 1.00125 0.0025 ppm memberikan hasil fosfat terbaik yaitu sebesar 0.06 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.maka kadar fosfat semakin menurun.19 1.951 0.00 2.0015 ppm .00 1.00200 Sumber: Data Primer 2005 2.00 0.17 1.0025 Kapur (ppm) Gambar 3.62 1.0055x-0.96 0.66 1.21 1.0005 0.00050 0.37 1.50 1.00 0 0.00150 0. Pada penambahan larutan kapur 0.56 1.50 0.53 0.001 Fosfat (ppm) y = 0.4.0025 Pada tabel 5 terlihat semakin tinggi larutan tawas 0.29 1.

0005 0.0015 0.001 0.0005 0.002 0.0025 y = 0.6999 Kapur (ppm) Gambar 4.5 1 0.001 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.002 0.961 -0.0097x R2 = 0.7557 Kapur (ppm) Gambar 5.0061x R2 = 0.5 0 0 0.985 -0.5 0 0 0.5 1 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi pada penambahan tawas 0.0025 ppm .2.0020 ppm 2 Fosfat (ppm) 1.0025 y = 0.5 Fosfat (ppm) 2 1.0015 0.

01 mg/ml 0.0015 1. tawas 0. Secara empiris. 0.90 1.0025 ppm Selanjutnya limbah hasil perlakuan koagulasi dan flokukasi dilewatkan pada unit filtrasi zeolit diperoleh hasil secara lengkap dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut: Tabel 6.18 1.00075 0.26 1.0005 0. terlihat semakin tinggi larutan kapur dan larutan tawas yang ditambahkan .01 mg/ml Kapur 0.01 1.0020 Tawas 0.8.0025 1.64 0.78 0.00 0.Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Koagulasi/ Flokulasi Pada Penambahan tawas 0.70 0.28 0.00050 0. 9 dan 10.1 ppm.0015 0.3 Fosfat (ppm) 2 1 0 0 0.03 0.0020 ppm .81 0.0020 ppm dan 0.98 0.32 1.002 0.dan tawas 0.1 ppm.hubungan antara penurunan kadar fosfat dengan pembubuhan larutan kapurdan larutan tawas setelah filtrasi zeolit dapat dilihat pada gambar 7.maka kadar fosfat setelah filtrasi zeolit semakin kecil nilai fosfat optimal dicapai pada penambahan larutan kapur 0.06 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Limbah Cair RS Bethesda Yogyakarta Setelah Filtrasi Tawas 0.00125 0.0025 ppm.0015 ppm.00200 0.00150 0. 0.0020 1.0015 Tawas 0.001 0.0025 Kapur (ppm) Tawas 0.66 Sumber: Data Primer 2005 Dari tabel 6.06 1.0025 Gambar 6.23 1. berikut: .30 0.00100 0.

958 Kapur (ppm) Gambar 8.0005 0.0005 0.0015 0.002 0.011x -0.2 Fosfat (ppm) 1.002 0.001 0.0015 ppm 2 Fosfat (ppm) 1. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.5 0 0 0.0020 ppm .5 0 0 0.0025 y = 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0.6708 R2 = 0.5 1 0.5 1 0.9147 R2 = 0.0016x -0.801 Kapur (ppm) Gambar 7.0025 y = 0.0015 0.001 0.

980 Kapur (ppm) Gambar 9.5 1 0.5 0 0 0.9343 R2 = 0.0015 0. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan kimia sebagai penghilang Fosfat adalah sebagai berikut: 7. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi pada penambahan tawas 0. Senyawa-senyawa Fosfate dapat dihilangkan dengan penambahan bahan koagulan misalnya alum.001 0. Pada penelitian ini pemakaian dosis kapur.6.0025 Kapur (ppm) Taw as 0.001 0.002 0.0025 Gambar 10.0005 0. Pertimbangan lumpur yang dihasilkan 10. Kesesuaian dengan proses pengolahan lain .5 0 0 0. Hasil Pemeriksaan Kadar Fosfat Setelah Filtrasi 4. dan filtarasi zeolit sangat berpengaruh dalam menurunkan kadar Fosfat.2 Fosfat (ppm) 1.0020 Taw as 0.0012x -0.0015 0. Biaya 8.0005 0.0025 y = 0. kapur. Efektifitas bahan kimia 9. Dari beberapa referensi bahwa keberadaan Fosfat dalam air limbah dapat diturunkan dengan jalan pengendapan secara kimiawi.0025 ppm Fosfat (ppm) 2 1. tawas.002 0. Pembahasan Limbah cair di lingkungan RS Bethesda Yogyakarta dilakukan pengolahan dengan menggunakan sistem aerob dan anerob.5 1 0.0015 Taw as 0. ferrichlorida atau ferrous sulfat.

dan mudah didapatkan di pasaran. pH. belum melalui perlakuan pengolahan sama sekali. pH dan bereaksi dengan bikarbonat membentuk CaCO3 sebagai basa. kualitas dan kuantitas limbahnya serba sama. maka perlu dilakukan penelitian penurunan kadar fosfat dengan koagulasi-flokulasi dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan zeolit. Perpaduan dari dua jenis koagulan. dan 0.6999 Gambar 5 dengan persamaan empiris y = 0. karena disamping harganya relatif murah. Pembentukan flok akan berjalan baik pada range pH 5. Dari hasil koagulasi / flokulasi pada Tabel 4 terlihat kecenderungan penurunan fosfat yang terjadi sebanding dengan penambahan kapur yang ditunjukkan pada : Gambar 3 dengan persamaan empiris y = 0. Hasil analisa No lab 56 menunjukkan hasil pH = 7. dimana konsentrasinya fosfatnya melebihi baku mutu yang ditetapkan.0097x-0.9 memenuhi syarat. Berdasarkan hasil pengukuran terhadap limbah asli tersebut.0015 ppm.6404 mg/l.4 . 0. Limbah asli diambil dalam jumlah yang cukup pada jam 09.11. sedangkan konsentrasi PO43. alkalinitas. Dosis dan perlengkapan untuk pengadukan 12. dengan pertimbangan keduanya akan saling mengkoreksi pH. Pada Bak Equalisasi.0061x-0. Pengaruh penambahan kapur akan menaikkan diluar pH tersebut maka pembentukan flok sempurna.0020 ppm. Selanjutnya limbah dari Bak Equalisasi dikategorikan sebagai limbah asli.00 pagi saat fluktuasi kualitas terjadi. suhu. PO43-. karena proses pembentukan flok pada proses koagulasi sangat dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia seperti kondisi pengadukan.0055x-0. tapi juga aman terhadap lingkungan. tidak memenuhi baku mutu. Efek terhadap lingkungan Dari beberapa pertimbangan diatas.awal = 25. kekeruhan.8-7.5 Baku Mutu pH = 6 . maka kami pilih kapur dan tawas sebagai bahan koagulan.8047 Gambar 4 dengan persamaan empiris y = 0. Limbah asli dianalisa di laboratorium dengan parameter pH.0025 ppm ditunjukkan pada Gambar 6.7557 Dimana : x = penambahan kapur (ml) Y = penurunan kadar fosfat (mg/l) Secara keseluruhan hasil pemeriksaan kadar fosfat dengan koagulasi dan flokulasi pada konsentrasi tawas 0. Limbah cair RS Bethesda yang digunakan sebagai bahan untuk penelitian penurunan kadar fosfat diambil pada Bak Equalisasi dengan pertimbangan limbah tersebut sudah merupakan gabungan dari semua sumber limbah yang dihasilkan.

Pada proses koagulasi dan flokulasi kadar fosfat (PO43-) diharapkan mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan penambahan larutan kapur dan tawas menjadi endapan Ca3 (PO4)2 ↓ dan Al (PO4) ↓. Penurunan PO4 secara rinci terlihat pada Tabel 5 dan Gambar 3, 4, 5, dan 6. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula : y = 0.0055 0.0020 ppm dan formula y = 0.0061 x-0,7557 pada penambahan tawas 0.0025 ppm. Jika dilihat dari uji statistik pendistribusian data dengan uji Kolmogorov Smirnov, diperoleh nilai p value pada masing-masing sampel lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini berdistribusi normal, sedangkan dari uji regresi , diperoleh nilai R2 semua di atas 0,70, dimana nilai R2 antara 0,70 – 1,00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat. Selanjutnya dicari nilai R dari variasi tawas 0.0015 ppm, 0.0020 ppm, dan 0.0025 ppm. Ternyata diperoleh dari data statistik variasi penambahan tawas 0.0025 ppm adalah yang tertinggi dengan nilai R = 0,992. jadi dapat disimpulkan penurunan kadar fosfat pada penambahan tawas 0.0025 ppm adalah yang paling efektif. Pada penurunan fosfat yang dilakukan dengan filtrasi zeolit setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi terlihat kadar fosfat cenderung mengalami penurunan lagi. Diharapkan pada proses filtrasi ini terjadi pemisahan yang lebih sempurna dari flocculant terhadap cairannya. Semua flok yang terbentuk tidak ada lagi yang terikat pada cairan limbah terolah. Hasil penurunan dengan filtrasi zeolit secara keseluruhan terlihat pada Tabel 6 dan Gambar 7, 8, 9 dan 10. Persamaan empiris ditunjukkan pada formula y = 0.011 0.0020 ppm, dan formula y = 0.0012 x-0,9343 pada penambahan tawas 0.0025 ppm. Jika ditinjau dari uji statistik, maka diperoleh hasil dari masing-masing variasi tawas, 0.0015 ppm, 0.0020 ppm, dan 0.0025 ppm, nilai P semua variasi di atas 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa semua data pada penelitian ini terdistribusi normal, sedangkan dari uji korelasi atau uji kekuatan hubungan antara dua variabel diperoleh nilai R2 di atas 0,70 dimana nilai R antara 0,70 – 1,00 menunjukkan pengaruh yang sangat kuat paling efektif. Dari hasil analisa data setelah filtrasi, didapat nilai R2 tertinggi, yaitu 0,990 pada konsentrasi penambahan tawas 0.0025 ppm. Jadi dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar fosfat pada konsentrasi penambahan tawas 0.0025 ppm setelah filtrasi adalah yang paling efektif. 4.3. Analisa Data Tabel 7. Hasil Analisis Regresi Sebelum Filtrasi No. Tawas R2 F hitung F tabel Keterangan x-0,6708 pada penambahan tawas 0.0015 ppm; formula y = 0.0016 x-0,9147 pada penambahan tawas x-0,8047 pada penambahan tawas 0.0015 ppm, formula y = 0.0097 x-0,6999 pada penambahan tawas

1 2 3

0.0015 ppm 0.0020 ppm 0.0025 ppm

0,951 0,961 0,985

78,271 99,735 260,795

(df1 = 1; df2 = 4) 7,7086 7,7086 7,7086

95,1% pengaruh kapur 96,1% pengaruh kapur 98,5% pengaruh kapur

Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.0025 ppm, kapur berpengaruh sebesar 98,5% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat. Tabel 8. Hasil Analisis Regresi Setelah Filtrasi No. 1 2 3 Tawas 0.0015 ppm 0.0020 ppm 0.0025 ppm R2 0,801 0,958 0,980 F hitung 16,061 90,394 193,784 F tabel (df1 = 1; df2 = 4) 7,7086 7,7086 7,7086 Keterangan 80,1% pengaruh kapur 95,8% pengaruh kapur 98,0% pengaruh kapur

Dari tabel di atas tampak bahwa pada tawas 0.0025 ppm, kapur berpengaruh sebesar 98,0% lebih besar daripada pengaruh kapur pada konsentrasi tawas 0.0015 ppm dan konsentrasi tawas 0.0020 ppm terhadap penurunan kadar fosfat

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 3. 4. Larutan kapur dan larutan tawas efektif menurunkan kadar fosfat dalam limbah cair RS Bethesda dengan prosentase 97,92 %. Efektifitas penurunan kadar fosfat limbah cair RS Bethesda dengan penambahan larutan kapur dan larutan tawas dapat dinyatakan dengan rumus empiris y=0,0061 x 0,7557 diperoleh pada konsentrasi larutan kapur 0,0020 ppm dan konsentrasi larutan tawas 0,0025 ppm. 5.2. Saran 1. Bagi peneliti lain Untuk dapat meneliti penurunan kadar fosfat dengan menggunakan metode yang lain, kemurnian bahan dan ketelitian alat sangat mempengaruhi hasil penelitian selanjutnya. 2. Terhadap RS Bethesda Supaya memilih detergen yang digunakan dengan kadar fosfat rendah. Perlu melakukan pemeriksaan kadar fosfat secara berulang-ulang, agar penambahan koagulan dapat dilakukan setepat mungkin.

Depdikbud. Jakarta.A. . Douglass M. 1990. Undang-Undang No.2003. Chemical and Technology Lime and Limestone. 1991.DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1994. Yogyakarta. Effendi H. Yogyakarta. 23 tentang Kesehatan.Kanisius. .. Jakarta. USA E. Kumpulan Seminar Zeo Industri. 1992. 1993.S Soemirat. 02/MenKLH/I/1988 Tentang Baku Mutu Air Pada Sumber Air. Jakarta. BTKL Yogyakarta. . Agustjik R. Arikunto. Jakarta. Peavy. Hanafiah K. Lokakarya Nasional tentang Sanitasi RS. Polusi Air dan Udara. Pedoman Sanitasi Rumah Sakit.Dirjen P2M & PLM. 1988. Jakarta . Considine.W. Manajemen Penelitian. Kesehatan Lingkungan. Hartono . New York. Gadjah Mada University Press. Graw-Hill Book Company. Rineka Cipta. Baku Mutu Limbah Cair SK Men KLH No. Jakarta. 1993. Rancngan Percobaan Teori dan Aplikasi. Stell. 03/MenKLH/II/1991. 1992. 1993. Kerjasama PPKSI dan HKTI. Makalah Pelatihan Petugas Sanitasi Rumah Sakit. Environmental Engineering. DKK. J. Rajawali Pers. Pengelolaan Limbah Rumah Sakit. . Sebaran Endapan Zeolit dan Kegunaannya. 1998. Depkes RI.LH/12/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit. 1974. 1992. Pengelolaan Limbah Cair Rumah Sakit. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Yogyakarta. fifth ED. Kep 58/Men. Yogyakarta.Jakarta. Depkes RI. 1975. S. Budiharjo. Universitas Padjajaran. Jakarta. Water Supply and Severage. 1994. Speet S. Kanisius. Howard S. Almanak Kesehatan RI. G. Hartiningsih. Bandung. Jakarta. SK Men KLH No. New York. Mc. Fardiaz S. 1992. . Depkes RI. 1985. Darsoprajitno. 1995. 1985. Pedomen Teknis Perbaikan Kualitas Air. Depkes RI. 1992. Telaah Kualitas Air. Jakarta. J. Jakarta.

MC Graw-Hill Koyoleusa Ltd. Saleh Samsubar. Universitas Indonesia. Jakarta Sugiharto. Penuntun Praktikm Laboratorium Air. Sanropie. Water Supply and Severage. Suryabrata S.Kusumanto. Sank. Ilmu Hygien dan Sanitasi. Robert S. Koesnopoetranto H. Singarimbun Masri. Liberty. Jakarta.. Inc . Pengantar Konsep Teknologi Bersih Khusus Pengelolaan dan Pengolahan Air.. Rajawali Press. 1983. Kesehatan Lingkungan. LP3ES. Ann Arbor Science Publisher. . Raharjo Mursid. Chemistry and Tecnology Lime and Limestone. 1988. Third ed. Water Treatment Plant Design For The Practising Engineer. Pengelolaan Limbah Rumah Sakit. Yogyakarta. Carty. Universitas Indonesia. R.. Jakarta. Rineka Cipta. 1980. 1975. Dasar-Dasar Ekologi Menopang Pengetahuan Ilmu-Ilmu Lingkungan. FKM Universitas Indonesia. Michigan. USA. Wirakusumah. Komponen Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia.2003. Jakarta. Jakarta. STTL “YLH”.K. 1907. 1995. Tjokrokusumo. H. 1993. Tony Gates.W. 1986. 1992. Inc Tokyo. 1981. dkk. 1991.. 1987. E.. Boynten. New York. 1995. Notoatmojo S. Statistik Induktif. dkk. Stell. FKM UNDIP. Semarang. Metodologi Penelitian. Chemistry for Environmental Engeenering. ICH. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah. Fifth ED. Volume A. Kumpulan Makalah. Ulman’s Encyclopedia of Industrial Chemistry. Metodologi Penelitian Kesehatan. 1989. Yogyakarta. Metodologi Penelitian Survei. Jakarta. Jakarta. Reksosoebroto S. Jakarta. Yogyakarta. PPLH Universitas Gajah Mada. 1992. Sawyer and Mc.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful