P. 1
Hegemon i

Hegemon i

|Views: 183|Likes:
Published by AhSya Achmad

More info:

Published by: AhSya Achmad on Oct 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/27/2013

pdf

text

original

BAHASA DAN HEGEMONI KEKUASAAN

(Telaah at as Kekerasan Simbolik di dalam Media)


Ol eh Ai nur Rahman Hidayat


(Penulis adalah dosen tetap pada Jurusan Tarbiyah STAIN Pamekasan
dan lulusan program Magister Filsafat UGM.)


Abst rak;
A r t i kel i ni ber usaha unt uk mendapat kan pemahaman ker angka hubungan ant ar a bahasa dan
keker asan si mbol i k, yang t er akt ual i sasi mel al ui pol i t i sasi medi a. H asi l kaj i an dal am ar t i kel i ni
di t emukan, bahwa bent uk domi nasi bahasa mel al ui medi a t er nyat a t el ah memuncul kan keker asan
si mbol i k. Keker asan si mbol i k mer upakan upaya dar i pi hak “ kel as hegemoni ” unt uk mer ai h
si mpat i publ i k. H egemoni sebuah si st em kekuasaan di per t ahankan dengan menci pt akan si mbol -
si mbol , dan pemaknaan yang ser ba t unggal .


Kat a kunci :
keker asan si mbol i k, pol i t i sasi medi a, hegemoni



Pendahuluan
Bahasa menjadi pusat perhati an
yang begi tu penti ng terutama memasuki
abad ke-20. Perti mbangan yang bi sa
di ajukan untuk menjel askan fenomena
tersebut, adal ah bahwa abad ke-20 tel ah
menyaksi kan l ahi r dan berkembangnya
i l mu bahasa secara ekspl osi f. Isti l ah
ekspl osi f sengaja di pi l i h untuk
menggambarkan mel edaknya suatu i l mu
yang menggunakan pendekatan
l i ngui sti k i ni .
Il mu bahasa muncul dari sejuml ah
proses reduksi dengan pendekatan yang
sal i ng berl awanan dan di bel a ol eh al i ran-
al i ran yang sal i ng berseberangan. Ada
kaum struktural i s yang mengi kuti
pemi ki ran Bl oomfi el d, ada pul a para
pendukung teori transformasi onal yang
mengi kuti Chomsky, dan ada juga kaum
formal i s.
Ketertari kan para pemi ki r abad
ke-20 terhadap bahasa di fokuskan pada
persoal an makna. Perhati an terhadap
persoal an makna sebenarnya hendak
menunjuk pada sebagi an besar makna
yang ti dak terarti kul asi kan dari di ri
sendi ri , namun sangat menyebar l uas
pada abad ke-20 i ni .
Bukankah kehi dupan manusi a i tu
sel al u bersi fat i ntensi onal , sel al u terarah
kepada sesuatu yang berada di l uar
di ri nya. Mari perhati kan i l ustrasi beri kut.
Keti ka seseorang berkomuni kasi dengan
orang l ai n--posi si orang l ai n sebagai
real i tas yang membahasa kepada
seseorang i tu--banyak sekal i makna yang
membentur seseorang tersebut, dan dari
seki an banyak makna yang menerpa
Bahasa Dan Hegemoni Kekuasaan
Ainur Rahman Hidayat
KARSA, Vol. IX No. 1 April 2006
872
di ri nya, tentu ti dak semuanya
terarti kul asi kan, entah ter (di )
sembunyi kan. Untuk mengungkapkan
makna yang di (ter) sembunyi kan
tersebut akan di coba di rumuskan dal am
dua dal i l yang sal i ng berkai tan.
Pertama, masal ah bahasa bersi fat
strategi s terhadap masal ah haki kat
manusi a, karena manusi a i tu sendi ri
adal ah makhl uk yang memi l i ki bahasa.
Kedua, bahasa seri ngkal i sangat
membi ngungkan, dan akan tetap
demi ki an, ji ka bahasa di pahami dal am
makna yang l uas hi ngga mencakup
sel uruh ti ngkatan medi a yang bermakna.
Hal i tu bi sa di pahami dengan
memetakan sel uruh potensi
pembahasaan ol eh manusi a, mul ai dari
bahasa l i san, bahasa tul i s, sampai bahasa
tubuh (body l anguage). Apal agi ji ka
di kai tkan dengan berbagai medi a yang
mewadahi nya, mul ai dari medi a cetak,
medi a el ektroni k audi o-vi sual , medi a
musi k, sampai medi a teater dan masi h
banyak yang l ai n.
Bagai mana proses pembahasaan
ti dak membi ngunkan, ji ka sel uruh
potensi pembahasaan ol eh manusi a
tersebut di padu dengan keragaman
medi a yang mungki n di gunakan ol eh
manusi a. Bahkan Gadamer menyatakan,
bahwa sel uruh akti vi tas yang di l akukan
manusi a menyesuai kan di ri dengan
“ cara-cara bahasa” .
Li hat saja peri l aku seseorang yang
berusaha menghi ndar dari stereotype
tradi si onal !. Di a akan mel engkapi
kehi dupannya dengan barang-barang
yang punya i mage modern. Mul ai dari
model baju, al at transportasi , makanan,
sampai al at komuni kasi dan sebagai nya,
di usahakan untuk di mi l i ki .
Ol eh karena i tu sangatl ah penti ng
untuk menel aah secara mendal am
persoal an bahasa dal am kai tannya
dengan persoal an haki kat manusi a.

Bahasa dan Hakikat Manusia
Pertanyaan pertama yang perl u
di ketengahkan sebel um memasuki
pembahasan l ebi h l anjut mengenai
hubungan antara bahasa, pi ki ran dan
real i tas, adal ah apa pemi ki ran (t hought )
i tu ? Pemi ki ran merupakan kumpul an
i de-i de, tepatnya kumpul an i de-i de yang
terang dan khas, dan sesuai dengan cara
komponen-komponen i tu di kumpul kan.
1

Hobbes memberi defi ni si l ai n dengan
mengatakan, bahwa pemi ki ran adal ah
sebuah di skursus mental . Itu berarti
pemi ki ran ti dak l agi berfungsi
mengarti kul asi kan, dan menjel askan
persoal an-persoal an yang mengendap
dal am memori manusi a. Akan tetapi ,
pemi ki ran berfungsi seperti sejeni s
pencerai -berai an, dan penataan kembal i .
2

Apa peran bahasa ji ka pemi ki ran
di pahami , dan di maknai sebagai
di skursus mental ? Mencermati dengan
seksama tul i san-tul i san pemi ki ran abad
ke-17 dan ke-18 terkadang akan tampak,
bahwa peran bahasa i tu negati f dan juga
posi ti f.
3
Kata-kata di anggap bi sa
menyesatkan, dan mengesampi ngkan
perhati an kepada i de-i de. Bahasa
di pandang sebagai penggoda besar,
membujuk manusi a sehi ngga terpuaskan
hanya dengan rekreasi kata-kata.

1
R.Paryana Suryadi pura, Al am Pi ki r an, (Djakarta-
Bandung : Nei jenhui s & Co. N.V., 1950), hl m. 54-59
2
Roger Scruton, Sej ar ah Si ngkat Fi l safat M oder n dar i
D escar t es sampai Wi t t genst ei n, (Jakarta: Pantja Si mpati ,
1986), hl m.235-237
3
Bernard Del fgaauw, Fi l safat Abad 20, ( Yogyakarta :
Ti ara Wacana, 1988 ), hl m.128-131
Bahasa Dan Hegemoni Kekuasaan
Ainur Rahman Hidayat
KARSA, Vol. IX No. 1 April 2006
873
Bahasa di posi si kan ti dak l ebi h
sebagai ajang “ permai nan kata-kata” .
Ajang retori ka yang hanya mengejar
keunggul an dal am berdebat, seperti yang
di l akukan ol eh kaum Sophi st di Athena
Yunani , pada abad Yunani Kuno.
Kesadaran manusi a di bel okkan begi tu
saja, sehi ngga l upa untuk memfokuskan
di ri pada i de-i de yang di tunjuk ol eh kata-
kata i tu.
Para pemi ki r abad ke-17 dan ke-18
masi h ada yang beranggapan, bahwa
manusi a bi sa berakti vi tas dal am hi dup
i ni tanpa bantuan bahasa sama sekal i .
4

Pendapat tersebut jel as sul i t di teri ma dan
di pahami , apal agi untuk di i kuti . Seti ap
rancang bangun konsep yang kompl eks
pasti memerl ukan kata-kata. Semua
pemi ki r ti dak bi sa mengel ak dari
pernyataan i ni , bahkan semua manusi a
harus meneri ma tanpa perti mbangan
apapun. Hal tersebut sungguh ti dak
hanya jel as secara i ntui ti f, tetapi juga
i mpl i si t dal am ti ti k berangkatnya yang
nomi nal i sti k.
5

Kata-kata yang di pergunakan,
dan di susun ol eh manusi a dal am batas
tertentu mampu merepresentasi kan i de-
i de manusi a. Manusi a dengan
menggunakan kata-kata kemudi an
mengel ompokkan i de-i de ke dal am satu
hal , dan ti dak ke dal am hal l ai n. Kata-
kata juga memungki nkan manusi a
menjel askan seti ap hal secara general i tas,
dan bukan satu per satu.
Peran bahasa yang begi tu penti ng,
dan mul ai di l i ri k sebagai bahan kaji an
yang sejajar dengan i l mu yang l ai n, tel ah

4
Ibi d., hl m.139.
5
W. Poespoprodjo, I nt er pr et asi : Beber apa Cat at an
Pendekat an Fi l safat i nya, (Bandung : Remadja Karya,
1987), hl m. 195-198

di tampakkan dal am abad l ogosentri sme.
Kata-kata yang di susun ol eh manusi a
dal am memformul asi kan i de-i de, guna
mengonstruksi pemahaman tentang
real i tas, bukan secara parsi al , tetapi
menggeneral i sasi kannya ke dal am
kel ompok dan kel as.
6

Pemahaman di atas i tul ah yang
sejal an dengan doktri n Hobbes, keti ka i a
menyamakan konsep r easoni ng dengan
r eckoni ng. Doktri n tersebut tel ah
mendapatkan hasi l pemahaman secara
uni versal , dengan membuang sejuml ah
hal parsi al , dan ti dak dengan
menghi tung satu demi satu.
7
Konsep
tersebut sesungguhnya i ngi n
menyatakan, bahwa pengenal an dengan
akal hanya mempunyai fungsi mekani s
semata-mata, sebab pengenal an dengan
akal mewujudkan suatu proses
penjuml ahan dan pengurangan. Codi l l ac
pun memi l i ki i de yang pada dasarnya
sama keti ka i a mengatakan, bahwa
bahasa memberi manusi a “ kerajaan” , dan
“ kerajaan” tersebut berada di dal am
i maji nasi manusi a.
8
Proses i maji nasi
memungki nkan manusi a mengetahui
haki kat suatu objek, atau seti daknya
dapat berpi ki r tentang haki kat tersebut.
Manusi a juga dapat memahami haki kat
benda yang di ketahui . Ol eh sebab i tu
proses i maji nasi membawa manusi a
mengenal benda dal am bentuk
i ndi vi dual -konkri t maupun haki katnya
sekal i gus. Pengenal an manusi a terhadap
real i tas dengan proses i maji nasi tentu

6
Loui s Leahy, Si apakah M anusi a ?, (Yogyakarta
Kani si us, 2001), hl m. 45
7
Henry J. Schmandt, Fi l safat Pol i t i k Kaj i an H i st or i es dar i
Z aman Yunani Kuno sampai Z aman M oder n, (Yogyakarta
: Pustaka Pel ajar, 2002), hl m. 307-308
8
Robert C. Sol omon & Kathl een M. Hi ggi ns, Sej ar ah
Fi l safat , (Yogyakarta : Bentang Budaya, 2002), hl m. 566

Bahasa Dan Hegemoni Kekuasaan
Ainur Rahman Hidayat
KARSA, Vol. IX No. 1 April 2006
874
saja membuat manusi a berada pada
pengembaraan ti ada bertepi . Itul ah
“ kerajaan” yang di maksudkan Codi l l ac.
Peran bahasa yang tel ah di bahas
di atas, memungki nkan manusi a dapat
memahami mengapa kata-kata begi tu
berbahaya. Sol usi jangka pendek yang
bi sa di muncul kan adal ah keti ka manusi a
menggunakan kata-kata untuk
menyusun i de, kata-kata i tu harus
transparan. Seti ap pengguna dan
peni kmat bahasa harus dapat memahami
secara jel as apa yang di si mbol kan ol eh
kata.
Begi tu pul a hal nya keti ka manusi a
berpi ki r, berarti manusi a tersebut sedang
menghi mpun i de-i de untuk memotret
real i tas. Manusi a keti ka berpi ki r
sebenarnya sedang menata rancang
bangun i l usi , ataukah menyusun sebuah
absurdi tas ? Instrumen kemanusi aan
manusi a (bahasa) akan mengambi l -al i h
proses rancang bangun si stem pemi ki ran,
dan manusi a bukannya mengontrol
i nstrumen tersebut, tetapi justru manusi a
i tu sendi ri yang akan di kontrol nya.
9

Mi sal nya kata terori s. Makna kata
tersebut tel ah mempengaruhi sebagi an
besar kehi dupan masyarakat di sel uruh
duni a. Perhati kan saja, hampi r seti ap
orang, organi sasi , masyarakat bahkan
negarapun berl omba-l omba untuk
menghi ndari sebutan terori s dal am
kehi dupannya. Sungguh suatu
kenyataan, bahwa bahasa tel ah
mengontrol kehi dupan manusi a, bai k
perorangan maupun kel ompok.
Bahasa dal am perspekti f abad
l ogosentri sme i ni adal ah sebuah
i nstrumen kontrol untuk mengumpul kan

9
Loui s Leahy, Si apakah M anusi a ?, ( Yogyakarta :
Kani si us, 2001 ), hl m. 56
i de-i de berupa pemi ki ran, atau di skursus
mental . Bahasa menjadi sebuah
i nstrumen kontrol untuk memperol eh
pengetahuan mengenai real i tas sebagai
proses objekti f. Bahasa secara i nheren
pasti l ah sangat transparan, sebab bahasa
ti dak bi sa menjadi sesuatu yang
mi steri us, yang tak dapat di reduksi
menjadi objekti vi tas.
1
0

Makna kata-kata hanya dapat
tersusun dari i de-i de yang kemudi an
di tunjukkan kembal i menggunakan kata-
kata. Koneksi desi gnati f memberi makna
pada sebuah kata, dan manusi a
menegakkan koneksi desi gnati f i ni
seri ngkal i dal am suatu defi ni si . Itul ah
sebabnya mengapa para pemi ki r abad i ni
secara konstan, bahkan obsesi onal ,
menekankan penti ngnya untuk sel al u
kembal i kepada defi ni si . Para pemi ki r
sel al u mengecek untuk memasti kan,
bahwa kata-kata tel ah terdefi ni si kan
dengan bai k, arti nya menggunakan kata-
kata secara konsi sten.
11

Pendapat John Locke tentang hal
tersebut penti ng di apresi asi . Di a
mengatakan bahwa seti ap orang
memi l i ki kebebasan yang tak dapat
di l anggar, yakni kebebasan untuk
memaknai kata-kata sesuai dengan i de-
i de yang i a konstruksi . Bahkan John
Locke mengatakan, “ Sekal i pun sang
kai sar Augustus Agung i a ti dak berhak
memi l i ki kebebasan saya” .
12
Sub bab i ni
akan di akhi ri dengan sebuah pernyataan

1
0
Mi chael T. Gi bbons (ed.), Tafsi r Pol i t i k Tel aah
H er meneut i s Wacana Sosi al -Pol i t i k Kont empor er ,
(Yogyakarta : Qal am, 2002), hl m. 138-139.
11
Noam Chomsky, Cakr awal a Bar u Kaj i an Bahasa dan
Pi ki r an, (Jakarta : Logos, 2000), hl m. 33-35.

12
Kael an, Fi l asafat Bahasa masal ah dan per kembangannya,
(Yogyakarta:Paradi gma, 1998 ), hl m. 61-63
Bahasa Dan Hegemoni Kekuasaan
Ainur Rahman Hidayat
KARSA, Vol. IX No. 1 April 2006
875
yang perl u di renungkan bersama.
Persoal an bahasa ti dak bol eh di abai kan,
sebab mengkaji bahasa sama dengan
mempel ajari bagai mana menjadi
manusi a.
Sal ah satu persoal an bahasa yang
perl u mendapatkan perhati an seri us
adal ah kaji an mengenai hubungan antara
bahasa, pi ki ran dan real i tas. Sal ah satu
tokoh yang berbi cara seri us tentang
masal ah tersebut adal ah Hans Georg
Gadamer.

Bahasa, Pikiran dan Realitas
Hubungan antara bahasa dengan
pi ki ran dal am kenyataan sehari -hari
seri ngkal i terasakan dengan jel as, apal agi
kal au mencoba untuk memahami apa
yang di katakan ol eh Hans Georg
Gadamer. Ia mengatakan bahwa ada
(sei n) yang dapat di pahami adal ah
bahasa. Ungkapan yang di l ontarkan
Gadamer tersebut i ngi n menjel askan
bahwa real i tas (yang Ada) dapat
di tangkap, di mengerti sejauh
di bahasakan atau terbahasakan.
13

Bahasa dal am pandangan fi l suf
jerman tersebut merupakan keterbukaan
manusi a terhadap real i tas, ol eh karena
i tu bahasa, real i tas dan pi ki ran adal ah
tempat terjadi nya geschehen (peri sti wa)
real i tas.
Bahasa, menurut Gadamer
sesungguhnya bukan merupakan tanda,
dan bentuk si mbol i k ci ptaan manusi a,
tetapi kata adal ah mi l i k real i tas (das sei n).
Pemahaman bahasa seperti i tu jel as
membawa konsekuensi , bahwa das sei n
sel bst (real i tas i tu sendi ri ) yang mengkata.

13
Josef Bl ei cher, H er meneut i ka Kont empor er H er meneut i ka
Sebagai M et ode, Fi l safat dan Kr i t i k, (Yogyakarta : Fajar
Pustaka Baru, 2003), hl m. 168-169
Real i tas i tu sendi ri yang mengungkapkan
di ri dal am kata-kata.
Manusi a dengan demi ki an
ti dakl ah menci pta, atau mereka-reka
kata-kata tersebut, tetapi hanya
mendengarkan. Gadamer menandaskan,
sebuah konsep yang mel ahi rkan
pemahaman, bahwa manusi a membuat
kata, dan kemudi an memberi nya makna,
ti dak l ai n hanya konstruksi teori
l i ngui sti k yang ti dak benar.
14

Gadamer justru berkeyaki nan,
bahwa pemahaman, pi ki ran, pengal aman
sebenarnya bersi fat kebahasaan. Sebuah
kata pada haki katnya bukan hasi l
pemi ki ran refl ekti f. D as sei n mengkata,
membahasa di dal am pengal aman,
pemahaman, dan pi ki ran. Al asan l ai n
yang di kemukakan Gadamer, i a
menemukan dal am kenyataan akti vi tas
pembentukan kata terjadi tanpa kegi atan
perenungan. Kata, ol eh karenanya ti dak
mengungkapkan pi ki ran atau ji wa, tetapi
mewakl i l i si tuasi atau real i tas yang
di maksud.
15

Ti ti k tol ak dan ti ti k akhi r
pembentukan kata bukan hasi l
kontempl asi , tetapi das sei n yang
menampakkan di ri ke dal am kata-kata.
Hubungan antara das sei n dan kata begi tu
mesra, sehi ngga de fact o kontempl asi dan
manusi a i tu sendi ri yang mengi kuti
gerak bahasa, dan kata-kata. Memandang
bahasa dan kata-kata sebagai al at
perenungan, dan al at kei ndi vi duan-
manusi a adal ah sebuah konsep yang
tampaknya perl u di pi ki rkan ul ang.
Gadamer mempertegas
argumentasi tentang ti dak memadai nya

14
Poespoprodjo, I nt er pr et asi , hl m. 111-112

15
Kael an, Fi l asafat Bahasa masal ah dan per kembangannya,
(Yogyakarta:Paradi gma,1998), hl m. 211- 212.
Bahasa Dan Hegemoni Kekuasaan
Ainur Rahman Hidayat
KARSA, Vol. IX No. 1 April 2006
876
pendapat yang mengatakan, bahwa
bahasa adal ah al at perenungan, dengan
mengatakan, bahwa bahasa ti dak dapat
di pi sahkan dari pi ki ran. Bahasa juga
mel i puti segal a pemahaman,
pengal aman, dan pi ki ran. Seti ap manusi a
yang mengi nterpretasi teks begi tu l arut
bersenyawa dengan proses berpi ki r.
Bahasa juga begi tu l arut berpadu dengan
i nterpretasi , sehi ngga manusi a hanya
akan memperol eh sedi ki t pengetahuan,
manakal a manusi a berpal i ng dari apa
yang di wari skan bahasa, dan hanya mau
memi ki rkan bahasa sebagai bentuk.
16

Bahasa dal am pi ki ran Gadamer
merupakan perantara tempat peri sti wa
real i tas tersembunyi , dan di wari skan.
Kebahasaan pengal aman yang di rasakan
dal am kehi dupan sehari -hari
menyi ratkan, bahwa pengal aman ti dak
mendahul ui bahasa, tetapi pengal aman
terjadi di dal am dan mel al ui bahasa.
Manusi a adal ah bagi an dari bahasa, atau
juga manusi a mengambi l bagi an di
dal am bahasa. Manusi a secara de fact o
ti dak memi l i ki dan ti dak mengendal i kan
bahasa, tetapi mempel ajari dan
menyesuai kan di ri pada cara-cara
bahasa.
17

Persoal an yang mengi ri ngi
pemahaman bahasa seperti konsep di
atas, bukan terl etak pada persoal an
kekakuan bahasa, tetapi karena memang
das sei n sel bst yang ni scaya
mengungkapkan di ri mel al ui kata-kata.
Pi ki ran manusi a ni scaya di sesuai kan
pada das sei n sel bst , dan manusi a
membahasa juga sebagai mana tuntutan
das sei n sel bst .

16
Poespoprodjo, I nt er pr et asi , hl m. 113-114 .
17
Ibi d., hl m. 115

Bahasa dal am konteks pi ki ran
meni scayakan manusi a, bahwa bahasa
bukan sesuatu yang membel enggu
manusi a. Akan tetapi , suatu transparansi
di dal am das sei n yang memungki nkan
manusi a mengadakan perl uasan secara
ti dak terbatas. Hal i tupun bergantung
pada keterbukaan seseorang terhadap
tradi si yang di wari skan bahasa. Sel uruh
pemahaman tentang bahasa, real i tas dan
pi ki ran di atas, sekal i l agi membawa
pada pernyataan Gadamer yang terkenal ,
“ Ada yang dapat di pahami adal ah
bahasa” (“ Sei n, das ver st anden war den
kann, i st Spr ache” ).
18

Akti vi tas berpi ki r yang di l akukan
ol eh seti ap i ndi vi du-manusi a seti daknya
dapat membantu menyel esai kan seti ap
peri sti wa real i tas. Akti vi tas berpi ki r pada
dasarnya membi arkan real i tas terjadi
sebagai peri sti wa bahasa, karena real i tas
merupakan sumber dan asal -mul a
pi ki ran, wal aupun manusi a senanti asa
sudah berada di dal am si tuasi
i nterpretasi tertentu.
Al ur berpi ki r seperti di atas
membawa konsekuensi bahwa seorang
pemi ki r, atau i l muwan seharusnya
berfungsi untuk menjaga terjadi nya
geschehen secara apa adanya. Hal i ni
berarti seti ap pemi ki r atau manusi a pada
umumnya keti ka berhadapan dengan
real i tas bukanl ah berti ndak sebagai
penguasa, tetapi menjadi pengawal
real i tas. Peran tersebut akan dapat
di jal ankan dengan bai k manakal a ada
kesamaan asumsi , bahwa berpi ki r
sesungguhnya merupakan suatu respon
terhadap real i tas yang menerpa di ri
manusi a seti ap saat.

18
Ibi d., hl m. 94
Bahasa Dan Hegemoni Kekuasaan
Ainur Rahman Hidayat
KARSA, Vol. IX No. 1 April 2006
877
Sel uruh urai an mengenai bahasa,
real i tas dan pi ki ran dal am perspekti f
Gadamer, tampaknya perl u di jel askan
mel al ui contoh beri kut i ni . Keti ka
Presi den Cl i nton berkuasa, i a pernah
mel akukan kunjungan ke suatu desa di
negara bagi an Ameri ka seri kat. Ada satu
peri sti wa menari k untuk di cermati di
sel a-sel a kunjungannya di suatu desa
tersebut. Seorang nenek ti ba-ti ba
mendekati Presi den Cl i nton, dan tanpa
di duga sebel umnya, si nenek tersebut
l angsung menci um pi pi Cl i nton.
Mendapat ci uman spontan tersebut
Cl i nton seketi ka i tu juga hanya terpaku,
terperanjat, dan ti dak mel akukan reaksi
apapun. Beberapa meni t kemudi an
Cl i nton baru bereaksi dengan
menyunggi ngkan senyum, dan memel uk
sang nenek dengan penuh keharuan, dan
keakraban.
Pengal aman Cl i nton
sesungguhnya merupakan contoh yang
sangat bai k untuk mengi l ustrasi kan
hubungan antara bahasa, real i tas dan
pi ki ran. Keti ka Cl i nton terpaku, dan
ti dak mel akukan reaksi apapun pada saat
di ci um si nenek, i tul ah yang
di maksudkan Gadamer, bahwa akti vi tas
pertama manusi a sebenarnya adal ah
mendengarkan, memahami apa kata
suara real i tas (peri l aku si nenek). Cl i nton
memberi kan senyum dan memel uk sang
nenek, i tu juga yang di maksudkan
Gadamer, bahwa kegi atan membahasa
manusi a pada haki katnya untuk
menjawab panggi l an raeal i tas. Ol eh
karenanya akti vi tas berpi ki r, dan
berkata-kata seharusnya untuk
mengkatakan real i tas, sebagai mana
tuntutan real i tas i tu sendi ri , yang seti ap
saat menerpa di ri manusi a.
Model berpi ki r objek mengarah
pada subjek yang tel ah di jel askan di
atas― realitas terarah pada sang subjek―
tel ah di perkenal kan dengan sangat bai k
ol eh Immanuel Kant. Revol usi pemi ki ran
yang di hasi l kan Kant di sebutnya sebagai
revol usi koper ni kan. Isti l ah tersebut
teri nspi rasi ol eh revol usi yang di l akukan
ol eh Coperni cus, suatu perubahan di
bi dang astronomi , bahwa bumi l ah yang
berputar mengel i l i ngi matahari dan
bukan sebal i knya. Demi ki an pul a hal nya
dengan Kant, i a mau memahami real i tas
dengan berpangkal dari asumsi , bahwa
objekl ah yang mengarahkan di ri pada si
subjek, dan bukan sebal i knya seperti
yang di pahami ol eh para fi l suf sebel um
Kant.
19

Revol usi koper ni kan di mungki nkan
terjadi dengan di temukannya “ 12 ant ene”
akal yang bi sa mewadahi segal a
peri sti wa real i tas (geschehen). Itu berarti
bahwa berpi ki r dengan skema objek-
subjek bukanl ah hal pertama perbuatan
manusi a, tetapi justru sesuatu yang
menerpa di ri manusi a i tul ah sebagai hal
pertamanya, keti ka real i tas
mengungkapkan di ri kepada di ri
manusi a.
20

Skema berpi ki r al a Kanti an i ni
sebenarnya membawa konsekuensi
bahwa real i tas bukanl ah hasi l pi ki ran.
Akti vi tas berpi ki r ti dakl ah sal ah kal au
kemudi an di katakan, bahwa
sesungguhnya merupakan respon bal i k
terhadap ungkapan di ri -real i tas.
Kegi atan membahasa yang
di l akukan manusi a juga dal am rangka

19
Howard Wi l l i ams, Fi l safat Pol i t i k Kant , (Surabaya -
Jakarta : JP-Press dengan DPP IMM, 2003), hl m.5-6.
20
Ri zal Mustansyi r, Fi l safat Anal i t i k Sej ar ah,
Per kembangan, dan Per anan par a Tokohnya, (Jakarta : Raja
Grafi ndo Persada , 1987), hl m. 29-30
Bahasa Dan Hegemoni Kekuasaan
Ainur Rahman Hidayat
KARSA, Vol. IX No. 1 April 2006
878
memberi kan jawaban terhadap panggi l an
real i tas, sehi ngga akti vi tas berpi ki r dan
berkata-kata jel as untuk meng-kata-kan
real i tas. Real i tas dengan demi ki an dapat
tampi l ke permukaan, dan di pahami
keti ka tel ah terjadi peng-kata-an real i tas
ol eh manusi a. Ti ada pi ki ran dan bahasa
tanpa real i tas dan ti ada real i tas tanpa
pi ki ran dan bahasa.
21

Model berpi ki r al a Kanti an, yai tu
objek terarah kepada subjek, atau juga
real i tas terarah kepada sang subjek.
Real i tas keti ka terarah kepada sang
subjek, semesti nya si subjek merespons
dengan membahasakan real i tas apa
adanya, sebagai mana real i tas
mengungkapkan di ri kepada sang subjek.
Persoal an membahasakan real i tas ol eh
sang subjek seri ngkal i terjadi di storsi ,
antara real i tas yang mengkatakan di ri
kepada subjek dengan pembahasaan si
subjek sebagai jawaban terhadap
pengungkapan di ri real i tas tersebut.
Di storsi yang di maksud acapkal i terjadi
di dal am medi a, atau tel ah terjadi
pol i ti sasi medi a.

Hegemoni dan Politisasi Media
Di skursus tentang medi a hampi r
pasti ti dak dapat di pi sahkan dari
kepenti ngan yang ada di bal i k medi a
tersebut. Kepenti ngan yang
menggel ayuti sepak terjang medi a pal i ng
ti dak ada dua faktor, yai tu kepenti ngan
ekonomi (economi c i nt er est ) dan
kepenti ngan kekuasaan (power i nt er est ).
Dua kepenti ngan i tul ah yang i kut
menentukan i si medi a, i nformasi yang

21
Khai di r Anwar, Fungsi dan Per anan Bahasa sebuah
Pengant ar , (Yogyakarta : Gadjah Mada Uni versi ty Press,
1990), hl m. 85-87

di saji kan, dan makna yang di tawarkan
ol eh suatu medi a.
Kuatnya cengkeraman
kepenti ngan ekonomi dan kekuasaan
di si nyal i r ol eh banyak pengamat tel ah
menjadi kan medi a sul i t untuk bersi kap
jujur, adi l , objekti f, dan terbuka.
Informasi yang di suguhkan pun
berpotensi meni mbul kan persoal an
objekti vi tas pengetahuan yang seri us
pada medi a i tu sendi ri .
Kepenti ngan ekonomi dan
kekuasaan pol i ti k betul -betul
menentukan apakah i nformasi yang
di si arkan ol eh sebuah medi a
mengandung kebenaran (t r ut h), atau
kebenaran pal su (pseudo-t r ut h). Apakah
i nformasi yang di saji kan memuat unsur
objekti vi tas, atau subjekti vi tas. Apakah
komuni kasi yang coba di bangun ol eh
sebuah medi a bersi fat adi l , atau berpi hak.
Apakah i nformasi yang tersaji
merepresentasi kan fakta, atau sebal i knya
memel i nti r fakta. Apakah
menggambarkan real i tas atau justru
mensi mul asi real i tas.
22

Kehi dupan masyarakat keti ka
bersi nggungan dengan suatu medi a
sangat sul i t menghi ndar dari kepungan
dua kepenti ngan utama medi a tersebut.
Masyarakat seri ngkal i di (ter) posi si kan
sebagai komuni tas yang pasi f, yang ti dak
mempunyai kekuasaan dal am
membangun, dan menentukan i nformasi
di ranah publ i k (publ i c spher e) mi l i k
mereka sendi ri .
Medi a, di satu pi hak akan
menjel ma menjadi perpanjangan tangan
suatu rezi m tertentu dengan menguasai

22
Yasraf Ami r Pi l i ang, Posr eal i t as: Real i t as Kebudayaan
dal am Er a Posmet afi si ka, (Yogyakarta : Jal asutra, 2004),
hl m. 133-134 .
Bahasa Dan Hegemoni Kekuasaan
Ainur Rahman Hidayat
KARSA, Vol. IX No. 1 April 2006
879
ruang publ i k. Hal i ni akan terjadi keti ka
ranah publ i k di kuasai ol eh pol i ti k
i nformasi , atau pol i ti sasi i nformasi , yang
menjadi kan i nformasi sebagai al at
kekuasaan pol i ti k. Medi a, di l ai n pi hak
keti ka di kuasai ol eh kekuatan ekonomi ,
medi a akan menjadi al at kepenti ngan
mencari keuntungan yang sebesar-
besarnya, dengan cara mengekspl oi tasi
ruang publ i k, sebagai satu pri nsi p dasar
dari kapi tal i sme.
Medi a sebagai sebuah di scour se
tentu akan membahas pul a bahasa yang
di gunakan di dal amnya, pengetahuan
yang mel andasi nya, serta bentuk
kepenti ngan, dan kekuasaan yang
bermai n di bal i k bahasa, dan
pengetahuan tersebut. Penel aahan medi a,
dengan demi ki an berarti akan menguak
pul a i deol ogi yang membentuknya, dan
pada gi l i rannya mempengaruhi bahasa
(gaya, ungkapan, kosakata, tanda) yang
di gunakan, dan pengetahuan (keadi l an,
kebenaran, real i tas) yang di hasi l kannya.
23

Wacana mengenai medi a dal am
konteks kepenti ngan yang
mengi ri ngi nya, susah mel epaskan di ri
dari berbagai paradoks pengetahuan
yang di hasi l kannya. Paradoks-paradoks
tersebut acapkal i bermuara pada
persoal an objekti vi tas - subjekti vi tas,
kebenaran -kepal suan, real i tas -
si mul akra, fakta - rekayasa, transparansi -
kekaburan, kejujuran - kepal suan,
keadi l an - keberpi hakan.
Berbagai paradoks pengetahuan
i ni muncul keti ka medi a menjadi bagi an
dari sebuah si stem i deol ogi , (i deol ogi
ekonomi ataupun pol i ti k) dan si stem
kekuasaan. Kedua si stem i tul ah yang
sangat menentukan arah perkembangan

23
Ibi d., hl m. 134
suatu medi a, yang acapkal i mengabai kan
kepenti ngan publ i k yang l ebi h l uas.
Medi a dengan berbagai macam
bentuk yang di tawarkan sesungguhnya
grafi k perkembangannya di kendal i kan
ol eh dua kepenti ngan utama di atas
(kepenti ngan ekonomi dan pol i ti k). Dua
kepenti ngan tersebut tel ah mengubur
dal am-dal am makna objekti vi tas,
kebenaran, keadi l an.
Untai an makna sebagai bagi an
kepenti ngan publ i k tel ah di kal ahkan ol eh
subjekti vi tas, kesemuan, dan permai nan
bahasa (l anguage game). Medi a bol eh jadi
mencoba untuk merepresentasi kan
peri sti wa secara objekti f, jujur, adi l ,
transparan. Akan tetapi , berbagai bentuk
tekanan dan kepenti ngan i deol ogi s
tersebut di atas, tel ah menyebabkan
medi a terperangkap ke dal am pol i ti sasi
medi a (subjekti vi tas, kepal suan,
keti dakadi l an, dan keberpi hakan).
24


Konsep Hegemoni
Pembahasan mengenai pol i ti k
medi a, atau pol i ti sasi medi a terkai t erat
dengan konsep dasar i deol ogi yang
mewarnai suatu medi a, terutama konsep
hegemoni . Hegemoni dal am pengerti an
tradi si onal , memi l i ki arti sebagai si stem
kekuasaan, atau domi nasi pol i ti k.
Isti l ah tersebut dal am tradi si
Marxi sme di perl uas ke arah pengerti an
hubungan kekuasaan di antara kel as-
kel as sosi al , khususnya kel as berkuasa
(r ul i ng cl ass). Pemahaman dan penerapan
konsep hegemoni tampak jel as
bahwa,―baik dalam Marxisme maupun
tradisi sebelumnya―istil ah tersebut

24
Ibi d., hl m. 135.
Bahasa Dan Hegemoni Kekuasaan
Ainur Rahman Hidayat
KARSA, Vol. IX No. 1 April 2006
880
di gunakan untuk menjel askan fenomena
kekuasaan pol i ti k.
25

Antonio Gramsci ― seorang
pemikir Italia ― mengembangkan
pengerti an hegemoni secara l ebi h l uas
dan mendal am. Kata hegemoni dal am
perspekti f Gramsci ti dak hanya
di gunakan untuk menjel askan rel asi
antar kel as pol i ti k (r ul i ng cl ass), tetapi
juga mengungkapkan rel asi sosi al yang
l ebi h l uas, termasuk rel asi komuni kasi
dan medi a. Konsep hegemoni di sampi ng
menjel askan domi nasi pol i ti k l ewat
kekuatan, tetapi yang l ebi h penti ng
mel al ui kepemi mpi nan i ntel ektual dan
moral .
26

Gramsci berpendapat bahwa
domi nasi kekuasaan di perjuangkan di
sampi ng dengan kekuatan senjata, juga
mel al ui peneri maan publ i k. Peneri maan
publ i k yang di maksud Gramsci , yai tu
di teri manya i de kel as berkuasa ol eh
masyarakat l uas, yang di ekspresi kan
mel al ui apa yang di sebut sebagai
mekanisme opini publik―khususnya
l ewat medi a massa (koran, tel evi si dan
sebagai nya).
27

Pembentukan opi ni publ i k, ol eh
sebab i tu merupakan hal yang sangat
sentral dal am pri nsi p hegemoni , yang
memerl ukan medi asi berupa ruang
publ i k. Dal am kai tannya dengan
penci ptaan ruang publ i k i ni , Gramsci
menganggap penti ng adanya i nsti tusi ,
yang berperan dal am mengembangkan
dan menyebarl uaskan hegemoni

25
John C. Rai nes, M ar x Tent ang Agama, (Jakarta : Teraju,
2003), hl m. xxvi i -xxvi i i

26
Peter Bei l harz, Teor i -Teor i Sosi al Obser vasi Kr i t i s
t er hadap Par a Fi l osof Ter kemuka, (Yogyakarta : Pustaka
Pel ajar, 2002), hl m. 205-206.
27
Ibi d., hl m. 207
i deol ogi . Gramsci menyebut i nsti tusi dan
strukturnya sebagai al at hegemoni ,
seperti sekol ah, masji d, gereja, medi a
massa. Sesuai dengan namanya, al at
hegemoni i ni dapat di gunakan untuk
mensosi al i sasi kan dan mempertahankan
i de-i de, atau i deol ogi hegemoni k.
28

Media massa― sebagai sebuah
bagi an dari ruang publ i k, yang di
dal amnya bahasa dan si mbol -si mbol
diproduksi dan disebarluaskan―tidak
di l i hat ol eh Gramsci sebagai sebuah al at
hegemoni yang bersi fat pasi f semata.
Medi a massa membentuk sebuah ruang
tempat berl angsungnya perang bahasa,
atau perang si mbol untuk
memperebutkan peneri maan publ i k atas
gagasan i deol ogi s yang di perjuangkan.
Suatu i de hegemoni k pasti akan
mendapatkan tantangan dari berbagai
hegemoni tandi ngan l ai nnya.
29

Dal am upaya memperebutkan
peneri maan publ i k, kekuatan bahasa dan
kekuatan si mbol mempunyai peranan
yang sangat penti ng di dal am pri nsi p
hegemoni . Gramsci mel i hat bahwa,
makna (meani ng) dan ni l ai (val ue)
domi nan yang di hasi l kan (l ewat berbagai
medi a), sangat menentukan
pembentukan proses domi nasi sosi al i tu
sendi ri . Meski pun demi ki an di dal am
pri nsi p hegemoni , bahasa, makna, dan
ni l ai domi nan tersebut ti dak pernah
berada dal am kondi si stabi l . Ia sel al u
di pertanyakan, di gugat, di tentang dan

28
Ami r Pi l i ang, Posr eal i t as, hl m. 136.
29
Peter Bei l harz, Teor i -Teor i Sosi al obser vasi kr i t i s
t er hadap par a fi l osof t er kemuka, (Yogyakarta : Pustaka
Pel ajar, 2002), hl m. 203.

Bahasa Dan Hegemoni Kekuasaan
Ainur Rahman Hidayat
KARSA, Vol. IX No. 1 April 2006
881
di l awan l ewat berbagai bentuk
perjuangan pol i ti k pertandaan.
30

Pri nsi p hegemoni , dengan
demi ki an, di bangun di atas sebuah
l andasan demokrasi yang terbentuk
antara kel ompok berkuasa, dan
kel ompok yang di kuasai , sehi ngga
terci ptal ah sebuah masyarakat si pi l .
Pandangan hi dup kel as yang di kuasai , di
dal am masyarakat si pi l tersebut,
bukanl ah pandangan hi dup kel as
hegemoni yang di paksakan secara pasi f
(coer si ve). Akan tetapi , merupakan
arti kul asi dari berbagai pandangan hi dup
yang ada dari berbagai kel ompok sosi al ,
kemudi an di satukan ol eh sebuah pri nsi p
arti kul asi , yang konduktornya adal ah
kel as hegemoni .
Pri nsi p hegemoni yang
berl andaskan pada masyarakat si pi l yang
demokrati s, ti dak pernah berhenti
membentuk di ri nya. Hal i ni di sebabkan
karena berbagai kel ompok sosi al yang
tersubordi nasi secara konti nyu, menol ak
l uki san di ri mereka yang di gambarkan
ol eh i deol ogi domi nan. Tujuannya sudah
pasti terbayang, bahwa kel as hegemoni
mengi ngi nkan agar sel al u dapat
memenangkan peneri maan publ i k.
Media massa―sebagai bagian dari
alat hegemoni―dengan bercermin pada
konsep hegemoni tersebut di atas,
membentuk sebuah ruang bersama
dengan alat hegemoni tandingan―yang
di dal amnya terjadi perebutan hegemoni
yang ti ada henti , dengan gagasan
i deol ogi di menangkan, di tentang, atau
di rubah dal am sebuah proses persai ngan
yang demokrati s. Itu berarti medi a

30
Ri si eri Frondi zi , Pengant ar Fi l safat N i l ai , (Yogyakarta :
Pustaka Pel ajar, 2001), hl m. 129

mempunyai tugas untuk sel al u
menyerap, dan mengarti kul asi kan
berbagai kepenti ngan, dan i deol ogi l ai n
yang ada di dal am masyarakat, agar
medi a mendapatkan peneri maan publ i k
yang l ebi h l uas. Ji ka ti dak, medi a akan
di anggap sebagai al at kekuasaan semata,
bukan sebagai al at hegemoni yang
demokrati s.
Proses perebutan hegemoni secara
demokrati s, khususnya l ewat medi a,
seperti yang di katakan Gramsci ,
tampaknya akan menjadi sebuah si tuasi
i deal , bi sa pul a utopi s. Apa yang
di bayangkan Gramsci dal am
kenyataannya sul i t untuk di capai di
dal am pol i ti k medi a, dan pol i ti k
i nformasi tanpa menggunakan
pemaksaan atau kekerasan. Seti daknya
pemaksaan atau kekerasan (berupa tri k,
rekayasa) yang hal us dan tak tampak,
yang di sebut kekerasan si mbol i k.

Kekerasan Simbolik
Kepenti ngan i deol ogi s medi a
muncul keti ka segal a i nformasi yang
di sampai kan medi a (duni a representasi ),
tatkal a di kai tkan dengan kenyataan
sosi al (duni a nyata), memuncul kan
berbagai probl emati ka i deol ogi s dal am
kehi dupan sosi al dan budaya.
Pertanyaan yang perl u di ajukan
sehubungan dengan pernyataan di atas,
apakah medi a merupakan cermi n atau
refl eksi dari real i tas ? Atau, apakah
medi a menjadi cermi n dari separuh
real i tas, dan menjadi topeng bagi
separuh real i tas l ai nnya ? Apakah medi a
mel uki skan real i tas, atau sebal i knya
mendi storsi real i tas ?
Medi a keti ka di kendal i kan ol eh
berbagai kepenti ngan i deol ogi s di
bal i knya, maka medi a seri ngkal i
Bahasa Dan Hegemoni Kekuasaan
Ainur Rahman Hidayat
KARSA, Vol. IX No. 1 April 2006
882
di posi si kan sebagai perumus real i tas
sesuai dengan i deol ogi yang
mewarnai nya. Beroperasi nya i deol ogi di
bal i k medi a, ti dak dapat di pi sahkan dari
mekani sme ketersembunyi an dan
keti daksadaran, yang merupakan
keberhasi l an dari suatu i deol ogi . Dengan
perkataan l ai n sebuah i deol ogi i tu
menyusup, dan menanamkan
pengaruhnya vi a medi a secara
tersembunyi , dan i deol ogi merubah
pandangan seti ap orang secara ti dak
sadar. Berbagai mekani sme
beroperasi nya i deol ogi di dal am medi a,
dapat di petakan sebagai beri kut:
Pertama, mekani sme oposi si bi ner,
yai tu mekani sme penci ptaan di stri busi
makna si mbol i k berdasarkan si stem
kategori pasangan, yang bersi fat
pol ari sti k dan kaku. Seti ap hal
di general i si r dan di redusi r sedemi ki an
rupa, sehi ngga hanya dapat berada pada
satu kutub (makna si mbol i k) yang
ekstri m, atau pada kutub ekstri m yang
l ai n. Pi l i han tanda, kode, makna, dan
bahasa ti dak akan pernah ada. Yang ada
hanya pi l i han hi tam-puti h.
31

Mesi n-mesi n bi ner i ni , bi asanya
di gunakan ol eh sebuah si stem kekuasaan
yang represi f dan total i ter. Tujuannya
menci ptakan segmentasi kul tural secara
kaku, dengan berbagai cara. Mesi n bi ner
i ni memproduksi berbagai oposi si bi ner.
Oposi si bi ner kel as sosi al (penguasa-
rakyat); oposi si bi ner seks (wani ta-pri a);
oposi si bi ner i deol ogi (pancasi l a-
anti pancasi l a); oposi si bi ner ras (kul i t
puti h-kul i t hi tam); dan sebagai nya.
32

Mesi n-mesi n bi ner i ni dul u
di terapkan dal am si stem pol i ti k medi a,

31
Ami r Pi l i ang, Posr eal i t as, hl m. 138
32
Ibi d., hl m. 139.
dan pol i ti k i nformasi orde baru. Mi sal nya
pancasi l a - anti pancasi l a; pembangunan
- anti pembangunan; komponen bangsa -
kel ompok ti dak bertanggung jawab;
nasi onal i s - si sa-si sa G 30 S PKI;
demokrati s - fundamental i s; negara
kesatuan - organi sasi tanpa bentuk;
aparat negara - gerakan pengacau
keamanan.
Kedua, mesi n-mesi n oposi si bi ner
menghasi l kan resi du berupa mekani sme
paral ogi sme, dan kekerasan si mbol i k di
dal am medi a. Hal i ni di sebabkan kel as
domi nan sel al u mengi denti fi kasi di ri
mereka sebagai mul i a, bai k, benar.
Sementara orang-orang yang di kuasai
atau di musuhi sebagai buruk, jahat,
bersal ah, subversi f, kri mi nal .
Kecenderungan pembenaran di ri sendi ri
semacam i ni keti ka di arti kul asi kan di
dal am medi a, mel ahi rkan sebuah medi a
yang dal am teori pol i ti k i nformasi
di sebut sebagai kekerasan simbolik.
Sebuah bentuk kekerasan yang hal us dan
tak tampak, yang menyembunyi kan
suatu pemaksaan domi nasi .
33

Kekerasan si mbol i k ti dak saja
di l i hat sebagai bentuk domi nasi bahasa
vi a medi a, tetapi suatu bentuk domi nasi
yang ti dak di akui ol eh publ i k, meski pun
secara de fact o di akui secara l egi t i mat e.
Mekani sme kekerasan si mbol i k
memuncul kan rel asi komuni kasi yang
sal i ng bertautan dengan rel asi
kekuasaan. Hegemoni sebuah si stem
kekuasaan di pertahankan dengan
mendomi nasi produksi , dan i nterpretasi
terhadap medi a, bahasa, dan makna yang
beroperasi di dal amnnya. Babak akhi r
dari i tu semua adal ah menci ptakan

33
Ibi d., hl m. 139-140

Bahasa Dan Hegemoni Kekuasaan
Ainur Rahman Hidayat
KARSA, Vol. IX No. 1 April 2006
883
pertandaan, dan pemaknaan yang serba
tunggal .
Kekerasan, tri k dan rekayasa
dal am suatu medi a acapkal i berl angsung
secara sembunyi , dan memang jarang
tampi l di permukaan, sehi ngga publ i k
ti dak merasakannya sebagai sebuah
kekerasan si mbol i k.

Penutup
Bahasa merupakan keterbukaan
manusi a terhadap real i tas, ol eh karena
i tu hal pertama perbuatan manusi a
adal ah memahami apa kata real i tas.
Kegi atan membahasa yang di l akukan
manusi a sesungguhnya dal am rangka
merespons panggi l an real i tas, sehi ngga
akti vi tas berpi ki r, dan berkata-kata jel as
untuk meng-kata-kan real i tas.
Medi a sebagai sal ah satu wahana
meng-kata-kan real i tas secara objekti f,
jujur, adi l , transparan, acapkal i terbentur
ol eh berbagai bentuk tekanan, dan
kepenti ngan i deol ogi s. Hal i ni
menyebabkan medi a terperangkap ke
dal am pol i ti sasi medi a (subjekti vi tas,
kepal suan, keti dakadi l an, dan
keberpi hakan).
Domi nasi kekuasaan
di perjuangkan di sampi ng dengan
kekuatan senjata, juga mel al ui
peneri maan publ i k. Kekuatan bahasa dan
kekuatan si mbol dal am pri nsi p hegemoni
vi a medi a mempunyai peranan yang
sangat penti ng dal am upaya
memperebutkan peneri maan publ i k.
Bentuk domi nasi bahasa vi a medi a
i tul ah yang memuncul kan kekerasan
si mbol i k yang seri ngkal i ti dak di sadari
ol eh publ i k, tetapi justru, de fact o di akui
secara l egi t i mat e. Hegemoni sebuah
si stem kekuasaan, ol eh karenanya
di pertahankan dengan menci ptakan
pertandaan, dan pemaknaan yang serba
tunggal . Wa Allāh a’lam bi al-sawāb




You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->