P. 1
T-(Mpi)-Evaluasi Implementasi Standar Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional

T-(Mpi)-Evaluasi Implementasi Standar Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional

|Views: 194|Likes:
Published by Andre Prilianto

More info:

Published by: Andre Prilianto on Oct 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/30/2014

pdf

text

original

Sections

EVALUASI IMPLEMENTASI STANDAR RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (R-SMA-BI

)

( Studi Kasus di SMA Negeri 1 Baleendah Kabupaten Bandung )

TESIS

Oleh: MOHAMMAD ARIFIN NIM. 08710047/S2

PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2010

ii

PERNYATAAN PERTANGGUNG JAWABAN PENULISAN TESIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya: Nama NIM Alamat : Mohammad Arifin : 08710047/S2 : Jalan Raya Banjaran N0. 18 Pameungpeuk Kab. Bandung Menyatakan bahwa “Tesis” yang Islam saya buat untuk memenuhi Ibrahim

persyaratan kelulusan pada Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Program Pascasarjana Malang Universitas Negeri Maulana Malik dengan judul: EVALUASI IMPLEMENTASI STANDAR

RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (Studi Kasus di SMA Negeri 1 Baleendah Kabupaten Bandung) adalah hasil karya saya sendiri bukan “duplikasi” dari karya orang lain. Selanjutnya apabila dikemudian hari ada “claim” dari pihak lain, bukan menjadi tanggung jawab dosen pembimbing dan atau pengelola Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, tetapi menjadi tanggung jawab saya sendiri. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan tanpa paksaan dari pihak manapun.

Malang, 16 Juli 2010 Hormat saya,

Mohammad Arifin

iii

iv

v

ABSTRAK Mohammad Arifin, 2010, Evaluasi Implementasi Standar Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional: Studi Kasus di SMA Negeri 1 Baleendah, Tesis Jurusan Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Islam Negeri Maliki Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sugeng Listiyo Prabowo, (2) Slamet,MM. Phd. Kata Kunci: Evaluasi Implementasi Standar R-SMA-BI . R-SMA-BI merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sekolah di Indonesia supaya mampu menghadapi di era global. Pelaksanaan programnya sendiri dilaksanakan dengan tiga tahapan, pertama tahap pengembangan yaitu untuk tiga tahun pertama, kedua tahap konsolidasi untuk tahun ke empat dan kelima ketiga tahap kemandirian yaitu tahun ke enam dan tujuh. SMA Negeri 1 Baleendah sejak tahun pelajaran 2007-2008 telah ditunjuk Departemen Pendidikan Nasional untuk menjadi rintisan sekolah bertaraf internasional , sehingga saat ini sudah masuk tahun ketiga. Banyak hal yang sudah dilakukan dalam tiga tahun terakhir ini dari mulai pengelolaan, pengembangan kurikulum, merumuskan kompetensi lulusan, membenahi proses pembelajaran, mebenahi sistem penilaian, meningkatkan standar kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan, membenahi sarana arasarana dan membenahi standar pembiayaan. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan perubahan yang penting dilakukan oleh SMA Negeri 1 Baleendah untuk menuju sekolah yang bertaraf internasional.(2) Mendeskripsikan tingkat ketercapaian R-SMA-BI di SMA Negeri 1 Baleendah (3) Mendeskripsikan berbagai hambatan dalam Implementasi standar R-SMA-BI di SMA Negeri 1 Baleendah dan (4) Merumuskan strategi percepatan pencapaian SBI. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Baleendah, metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus, teknik pengumpulan data meliputi:(1)wawancara mendalam, (2) observas,dan(3)studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) perubahan yang telah dilakukan sekolah meliputi perubahan visi-misi, mengadopsi serta mengadaptasi ISO 9001/12000/14000. Untuk manjemen kurikulum sampai saat ini masih menggunakan KTSP .Untuk peningkatan SDM sekolah melakukan pelatihan bahasa Inggris, komputer untuk semua tenaga pendidik dan tenaga kependidikan serta memberikan dorongan dan bantuan secara finansial kepada guru supaya melanjutkan penndidikannya ke S2. Sedangkan dalam manajemen sarana prasarana sekolah telah melakukan banyak perubahan terutama untuk kegiatan belajar mengajar di kelas dengan berbasis information comunication technology.(ICT). (2)Adapun ketercapaian standar R-SMA-BI sampai saat ini baru mencapai74,4%.(3) Hambatan yang dihadapi adalah masih terkendala rendahnya SDM sekolah untuk hubungan internasional human relation, (4) strategi untuk mempercepat pencapaian standar R-SMA-BI ada tiga hal yang dinilai sangat strategis yaitu, (1) Seluruh aktivitas pendidikan di sekolah beporors pada visi-misi (2) Peningkatan manajemen mutu pengelolaan sekolah, (3) Peningkatan manajemen mutu pembelajaran Dari hasil penelitian, saran-saran yang diajukan yaitu: (1).Peningkatan sumber daya pendidik dan tenaga kependidikan secara menyeluruh dan berkelanjutan,(2) Mengoptimalkan peran serta komite sekolah dalam memberdayakan stakeholders sekolah secara maksimal dalam kontribusinya ke sekolah. (3) Khusus bagi pemerintah daerah kabupaten Bandung supaya berperan lebih aktif dalam mengembangkan rintisan sekolah bertaraf internasional.
vi

ABSTRACT Mohammad Arifin, 2010, the evaluation of Implementation for pioneering standard of international school: Case study in SMA N 1 Baleendah, Thesis for department of Islamic Education Management, the State Islamic University of Maulana Malik Ibrahim Malang. Advisor: (1) Dr. Sugeng Listiyo Prabowo (2) Slamet, MM. Phd. Keywords: Evaluation of standard implementation R-SMA-BI R-SMA-BI is one of government program that aim to increase the quality of school in Indonesia in order that is able to face this global era. The implementation of it program has been done in three steps, firstly the step of development which is for the first three years, secondly the step of consolidation for the fourth and fifth, thirdly the step of autonomous that is the sixth and seventh. Since of 2007-2008 the Senior high school of 1 Baleedah has showed by the Department of National Education for being the pioneering school of international standard, so that up to now it has been in the third years. There are many things has been done in the recent three years from the management, developing of curriculum, formulating the graduation competency, refinement of learning process, refinement of values system, improving the standard competency of educator and the personnel of educational, refinement of infrastructure and the refinement of defrayal standard. The purposes of research are: (1) to describe the important change that has done by SMA N 1 Bleendah to reach the school of international standard. (2) to describe the level of achievement of R-SMA-BI in SMA N 1 Baleendah (3) to describe a variety of obstacles in the implementation of standard of R-SMA-BI in SMA N 1 Bleendah and (4) to formulate the strategy of achievement process for SBI. The research has done in SMA N 1 Baleendah , and the method that used is qualitative approach by planning of case study, the technique of data collection included: (1) in-depth interview, (2) observation, (3) study of documentation. Based on the research is showed that (1) the change has been done by the school are including the change of vision-mission, and adopted and adapted ISO / 9001/12000/14000. For the management of curriculum until this time is still using KTSP. For the improving of Human Resource of school has been making the training of English language, computer and financial supporting for the teacher in order that they are continued their study in the Post-Graduate. Whereas in the management of infrastructure of school has make many changes particularly for the study leaning in the class by the based on information communication technology (ICT). (2) The achievement of standard for R-SMA-BI until this time is only reach 74, 4%. (3) the obstacle that faced is it low quality of Human Resource of school for having international of human relation, (4) strategy of achievement standard process for R-SMA-BI are three things that judged very strategic that are; (1) all of education community of school are focused on the visionmission (2) improving the management of school quality process, (3) improving the management of learning quality. Based on the result of research has suggested that: (1) improving the educator resource and the personnel of education entirely and continuously (2) having the optimal purpose for the participant of school committee in the functioning of stakeholder as maximum in the contribution of school (3) special for the regional government of Bandung regency in order to play role more active in the development of pioneering school of international standard.

vii

‫ﺧﻼﺻﺔ اﻟﺒﺤﺚ‬ ‫ﻣﺤﻤﺪ ﻋﺎرﻓﻴﻦ, ٠١٠٢, ﺗﻘﺪیﺮ ﺗﻨﻔﻴﺬ ﺗﻘﻴﻴﺲ ﺗﻤﻬﻴﺪ اﻟﻤﺪرﺳﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﺴﺘﻮى دوﻟﻲ:‬ ‫اﻟﺒﺤﺚ ﻓﻲ اﻟﻤﺪرﺳﺔ اﻟﺜﺎﻥﻮیﺔ اﻟﻌﻠﻴﺎ اﻟﺤﻜﻮﻣﻴﺔ ١ ﺏﺎﻟﻨﺪة, اﻟﺒﺤﺚ اﻟﻌﻠﻤﻲ‬ ‫ﻟﺘﺨﺼﺺ ﺗﺪﺏﻴﺮ اﻟﺘﺮﺏﻴﺔ اﻹﺳﻼﻣﻴﺔ ﺏﺠﺎﻣﻌﺔ اﻹﺳﻼﻣﻴﺔ اﻟﺤﻜﻮﻣﻴﺔ ﻣﻮﻻﻥﺎ‬ ‫ﻣﺎﻟﻚ إﺏﺮاهﻴﻢ ﻣﺎﻟﻨﺞ , ﺗﺤﺖ اﻹﺷﺮاف: )١( دآﺘﻮر ﺳﻮآﻎ ﻟﺴﺘﻴﻮ ﺏﺮاﺏﻮو‬ ‫)٢( ﺳﻼﻣﺖ اﻟﻤﺎﺝﺴﺘﻴﺮ اﻟﻔﻠﺴﻔﻴﺔ.‬ ‫ﻣﻔﺘﺎح اﻟﻜﻠﻤﺎت : ﺗﻘﺪیﺮ ﺗﻨﻔﻴﺬ ﺗﻘﻴﻴﺲ ﺗﻤﻬﻴﺪ اﻟﻤﺪرﺳﺔ ‪R-SMA-BI‬‬ ‫‪ R-SMA-BI‬هﻮ ﻣﻦ ﺏﺮاﻣﺞ اﻟﺤﻜﻮﻣﺔ اﻟﺘﻲ ﺗﻬﺪف إﻟﻰ ﺗﺤﺴﻴﻦ ﻥﻮﻋﻴﺔ‬ ‫اﻟﻤﺪارس ﻓﻲ اﻥﺪوﻥﻴﺴﻴﺎ ﻣﻦ أﺝﻞ ان یﻜﻮن ﻗﺎدرا ﻋﻠﻰ ﻣﻮاﺝﻬﺔ هﺬا اﻟﻌﺼﺮ اﻟﻌﺎﻟﻤﻲ.‬ ‫ﺗﻨﻔﻴﺬ ﺏﺮاﻣﺠﻬﺎ ﺗﻌﻘﺪ ﺏﺜﻼﺙﺔ ﺥﻄﻮات. أوﻻ : اﻟﻄﺒﻘﺔاﻟﺘﻄﻮیﺮیﺔ هﻲ ﻓﻲ اﻟﺴﻨﺔ اﻟﺜﺎﻟﺜﺔ‬ ‫اﻷوﻟﻰ. ﺙﺎﻥﻴﺎ: اﻟﻄﺒﻘﺔ اﻻﺗﺤﺎدیﺔ هﻲ ﻟﻠﺴﻨﺔ اﻟﺮاﺏﻌﺔ واﻟﺨﺎﻣﺴﺔ ﺙﺎﻟﺜﺎ: اﻟﻄﺒﻘﺔ‬ ‫اﻹﺳﺘﻘﺎﻟﻴﺔ ﺏﺎﻟﻨﻔﺲ هﻲ ﻟﻠﺴﻨﺔ اﻟﺴﺎدﺳﺔ واﻟﺴﺎﺏﻌﺔ. اﻟﻤﺪرﺳﺔ اﻟﺜﺎﻥﻮیﺔ اﻟﻌﻠﻴﺎ اﻟﺤﻜﻮﻣﻴﺔ‬ ‫١ ﺏﺎﻟﻨﺪة ﻣﻨﺬ ﺳﻨﺔ اﻟﺪراﺳﺔ ٨٠٠٢/٩٠٠٢ ﻗﺪ اﺥﺘﺎرهﺎ وزارة اﻟﺸﺆون اﻟﺘﺮﺏﻴﺔ‬ ‫اﻟﻮﻃﻨﻴﺔ ﻟﺘﻜﻮن ﺗﻤﻬﻴﺪ اﻟﻤﺪرﺳﺔ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﺴﺘﻮى اﻟﻌﺎﻟﻲ, اﻟﻰ اﻵن ﺗﺠﺮي اﻟﻰ اﻟﺴﻨﺔ‬ ‫اﻟﺜﺎﻟﺜﺔ . آﺜﻴﺮ ﻣﺎ ﻣﻦ اﻷﺡﻮال اﻟﺘﻲ ﻥ ّﺬت ﻓﻲ اﻟﺜﻼﺙﺔ اﻷواﺥﺮ ﻣﻦ اﻟﺘﺪﺏﻴﺮ, وﺗﻄﻮیﺮ‬ ‫ﻔ‬ ‫ﻣﻨﻬﺞ اﻟﺘﺪریﺲ, وﺗﺤﺴﻴﻦ آﻔﺎﺋﺔ اﻟﺨ ّﺝﻴﻦ, وﺗﺤﺴﻴﻦ ﻣﻨﻮال اﻟﺘﺪریﺲ, وﺗﺤﺴﻴﻦ‬ ‫ﺮ‬ ‫آﻴﻔﻴﺔ اﻹﻥﺘﻴﺎﺝﺔ, وﺗﻄﻮیﺮ آﻔﺎﺋﺔ اﻟﻤﺪ ّﺳﻴﻦ واﻟﺪراﺳﺔ, وﺗﺤﺴﻴﻦ اﻟﻮﺳﺎﺋﻞ, وﺗﺤﺴﻴﻦ‬ ‫ر‬ ‫اﻟﺘﻨﻔﻴﺬ اﻟﻤﺎﻟﻲ.‬ ‫ﻣﻘﺼﻮد هﺬااﻟﺒﺤﺚ هﻮ )١( اﺷﺮاح اﻟﺘﻔﺴﻴﺮ اﻟﻤﻬﻢ ُﻌﻘﺪ ﻓﻲ اﻟﻤﺪرﺳﺔ‬ ‫ّ ی‬ ‫اﻟﺜﺎﻥﻮیﺔ اﻟﻌﻠﻴﺎ اﻟﺤﻜﻮﻣﻴﺔ ١ ﺏﺎﻟﻨﺪة ﻟﺘﻜﻮن اﻟﻤﺪرﺳﺔ ﻣﺪرﺳﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﺴﺘﻮى دوﻟﻲ )٢(‬ ‫‪ R-SMA-BI‬ﻓﻲ اﻟﻤﺪرﺳﺔ اﻟﺜﺎﻥﻮیﺔ اﻟﻌﻠﻴﺎ اﻟﺤﻜﻮﻣﻴﺔ ١‬ ‫اﺷﺮاح ﻃﺒﻘﺔ اﻟﺤﺼﻮل‬ ‫ﺏﺎﻟﻨﺪة )٣( اﺷﺮاح أﻥﻮاع اﻟﻌﻮاﺋﻖ ﻋﻨﺪ ﺗﻨﻔﻴﺬ اﻟﺪرﺝﺔ ‪ R-SMA-BI‬ﻓﻲ اﻟﻤﺪرﺳﺔ‬ ‫اﻟﺜﺎﻥﻮیﺔ اﻟﻌﻠﻴﺎ اﻟﺤﻜﻮﻣﻴﺔ ١ ﺏﺎﻟﻨﺪة )٤( ﺗﺮﻣﻴﺰ ﺳﻴﺎﺳﺔ ﺗﺴﺮیﻊ اﻟﺤﺼﻮل ‪. SBI‬‬ ‫هﺬااﻟﺒﺤﺚ ُﻌﻘﺪ ﻓﻲ اﻟﻤﺪرﺳﺔ اﻟﺜﺎﻥﻮیﺔ اﻟﻌﻠﻴﺎ اﻟﺤﻜﻮﻣﻴﺔ ١ ﺏﺎﻟﻨﺪة, واﻟﻄﺮیﻘﺔ‬ ‫ی‬ ‫اﻟﻤﺴﺘﺨﺪﻣﺔ هﻲ ﺗﻘﺮیﺐ اﻟﻜ ّﻴﺔ, واﻗﺘﺮاح اﻟﺒﺤﺚ, و ﺳﻴﺎﺳﺔ ﺗﺠﻤﻴﻊ اﻟﻮﺙﺎﺋﻖ هﻲ: -١‬ ‫ﻤ‬ ‫اﻟﻤﺤﺎدﺙﺔ و اﻟﻤﻘﺎﺏﻠﺔ اﻟﻤﺘﻌﻤﻘﺔ. ٢-واﻟﻤﺮاﻗﺒﺔ. ٣- ودرس ﺗﻮﺙﻴﻖ اﻟﻮﺙﺎﺋﻖ.‬ ‫واﺳﺘﻨﺎدا إﻟﻰ اﻟﺒﺤﻮث اﻇﻬﺮت ان )١( اﻟﺘﻐﻴﻴﺮ ﻥﻔﺬﺗﻪ اﻟﻤﺪرﺳﺔ هﻮ ﺗﻐﻴﻴﺮ‬ ‫اﻟﺒﻌﺜﺔ واﻟﻄﻴﻒ اﻗﺘﺒﺎﺳﺎ و ﺗﻜﻴﻴﻔﺎ ﻣﻊ ﺏﻴﺌﺔ ‪ 14000/12000/9001 ISO‬ﻟﺘﺪﺏﻴﺮ‬ ‫اﻟﻤﻨﻬﺞ ﺡﺘﻰ اﻵن ﻻﺗﺰال اﻟﻤﺪرﺳﺔ ﺗﺴﺘﺨﺪم ﻣﻨﻬﺞ ‪ , KTSP‬وﻟﺘﻄﻮیﺮ اﻟﺜﺮوة‬ ‫اﻹﻥﺴﺎﻥﻴﺔ ﻥﻔﺬت ﺝﻬﺔ اﻟﻤﺪرﺳﺔ اﻟﺮیﺎﺿﺔ اﻹﻥﺠﻠﻴﺰیﺔ, وآﻤﺒﻴﻮﺗﺮ ﻟﺠﻤﻴﻊ اﻟﻤﺪرﺳﻴﻦ‬ ‫وأﻋﻄﺖ اﻟﺘﺸﺠﻴﻊ ﺏﺎﻟﻤﺴﺎﻋﺪة اﻟﻤﺎﻟﻴﺔ ﻟﻬﻢ ﻟﻴﻮاﺹﻠﻮا دراﺳﺘﻬﻢ اﻟﻰ اﻟﺪراﺳﺎت اﻟﻌﻠﻴﺎ‬ ‫)٢‪ , (S‬ﻣﻊ أن ذاﻟﻚ ﻓﻲ ﺗﺪﺏﻴﺮ وﺳﺎﺋﻞ اﻟﻤﺪرﺳﺔ ﻗﺪ ﻋﻘﺪت آﺜﻴﺮا ﻣﻦ اﻟﺘﻐﻴﺮات‬ ‫ﻓﻀﻼ ﻓﻲ أﻥﺸﻄﺔ اﻟﺪراﺳﺔ ﻓﻲ اﻟﻔﺼﻞ ﺏﺄﺳﺎس اﻹﻋﻼﻣﺎت واﻟﻤﺒﻠﻐﺔ اﻟﺘﺠﻨﻮﻟﻮﺝﻴﺔ‬ ‫)‪ (٢) ,(ICT‬أﻣﺎ ﺡﺼﻮل اﻟﺘﻤﻬﻴﺪ ‪ R-SMA-BI‬اﻟﻰ اﻵن یﺤﺼﻞ 47 ، 4 ٪ . )٣(‬ ‫واﻟﻌﻮاﺋﻖ هﻲ ﺿﻌﻒ اﻟﺜﺮوة اﻹﻥﺴﺎﻥﻴﺔ ﻓﻲ اﻟﻤﺪرﺳﺔ ﻟﻼﺗﺼﺎل اﻟﻌﺎﻟﻤﻴﺔ ﻟﻌﻼﻗﺔ‬ ‫اﻹﻥﺴﺎن )٤( اﻟﻄﺮیﻘﺔ ﻟﺘﺴﺮیﻊ ﺡﺼﻮل ﺗﻤﻬﻴﺪ ‪ R-SMA-BI‬ﺙﻼﺙﺔ أﺷﻴﺎء هﻲ: ١-آﻞ‬ ‫أﻥﺸﻄﺔ اﻟﺘﺮﺏﻴﺔ ﻣﺤﻮر ﻓﻲ اﻟﺒﻌﺜﺔ و اﻟﻄﻴﻒ ٢-ﺗﻄﺒﻴﻖ ﺗﺪﺏﻴﺮ ﺳﺠﻴﺔ اﻟﻤﺪرﺳﺔ ٣-‬ ‫ﺗﻄﺒﻴﻖ ﺗﺪﺏﻴﺮ ﺳﺠﻴﺔ اﻟﺪراﺳﺔ.‬ ‫واﺳﺘﻨﺎدا إﻟﻰ ﻥﺘﺎﺋﺞ اﻟﺒﺤﻮث اﻟﻌﻠﻤﻴﺔ واﻗﺘﺮح ﻣﺎ یﻠﻲ : ١- ﺗﻄﺒﻴﻖ ﺙﺮوة‬ ‫اﻟﻤﺪرس آﻠﻴﺎ واﺳﺘﻤﺮارا. ٢-اآﻤﺎل دور ﻟﺠﻨﺔ اﻟﻤﺪرﺳﺔ ﻓﻲ ﻋﺮﻓﺔ ﻣﻮﻗﺪ اﻟﻤﺪرﺳﺔ‬ ‫ﺗﻤﺎﻣﺎ. ٣- أآﺜﺮ ﻥﺸﺎﻃﺎ ﻓﻲ ﺗﻄﻮیﺮ اﻟﻤﺪارس اﻟﺮاﺋﺪة ﻋﻠﻰ ﻣﺴﺘﻮى دوﻟﻲ‬

‫‪viii‬‬

KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah saya panjatkan kepada Allah SWT. Semoga sholawat dan salam senantiasa terlimpahkan keharibaan Rasulullah SAW, Amien. Dan karena limpahan rahmat serta hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul

“Implementasi Evaluasi Standar Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (Studi Kasus: SMA Negeri 1 Baleendah Kabupaten Bandung) Tesis ini diajukan guna memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar Manajemen Pendidikan Islam (M.Pd) Program Studi Magister Manajemen

Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Tesis ini dapat terselesaikan tidak lepas dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat kepada: 1. Ayahanda dan bunda (almrhmh) Bapak / ibu mertua yang senantiasa memberikan kasih sayang dengan tulus ikhlas sehingga penulis dapat menyelesaikan program studi S2 di UIN MALIKI Malang 2. Prof. Dr. H Imam Suprayogo, sebagai Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.atas segala pelayanan dan fasilitas yang telah diberikan selama penulis menempuh studi. 3. Prof. Dr. H. Muhaimin,MA, Direktur Program Pascasarjana Universitasi Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dan para asiten direktur, ketua program studi serta staf/karyawan atas segala fasilitas dan pelayanan yang telah diberikan selama penulis menempuh studi di UIN Maliki Malang.

ix

4. Dr. Sugeng Listiyo Parbowo selaku pembimbing I dalam penulisan tesis ini yang selalu sabar dan tekun membimbing penulis dan tak henti-hentinya selalu memberikan dorongan agar tesis ini cepat diselesaikan. 5. Slamet, MM. PHd. selaku pembimbing II dalam penulisan tesis ini yang sangat telaten membimbing penulis, memberikan arahan dan selalu motivasi agar segera menyelesaikan penulisan tesis ini 6. Drs. Aa Sudaya MPd. Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Baleendah Kabupaten Bandung atas kesediaannya mengizinkan dan membantu penulis untuk melakukan penelitian di lembaga yang dipimpinnya. 7. Seluruh dewan guru, dan civitas akademika SMA Negeri 1 Baleendah yang telah membantu penulis memberikan informasi dalam upaya penyelesaian tesis ini. 8. Semua sahabat mahasiswa program studi Manajemen Pendidikan Islam angkatan 2008, yang banyak memberikan inspirasi dan motivasi dalam penyelesaian Tesis ini. Penulis berharap semoga budi baik semua pihak tersebut diatas mendapat balasan bahwa dari Allah SWT berupa pahala yang berlipat ganda. Penulis menyadari tesis ini masih sederhana dan penuh keterbatasan. Untuk

menyempurnakannya, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca yang budiman. Akhirnya semoga kita dapat menganmbil manfaat dari karya tulis ini dan semoga Allah SWT. senatiasa memberikan hidayah dan petunjuk-Nya kepada kita semua. Amin Malang, 16 Juli 2010 Penulis, (Mohammad Arifin) x

DAFTAR ISI
Halaman Halaman Sampul .................................................................................................................... i Halaman Judul ....................................................................................................................... ii Lembar Pernyataan ……………………………………………………………………….. . iii Lembar Persetujuan .............................................................................................................. iv Lembar Pengesahan .............................................................................................................. v Abstrak ……………………………………………………………………………………. . vi Kata Pengantar ....................................................................................................................... ix Daftar Isi ................................................................................................................................ xi Daftar Tabel ........................................................................................................................... xiv Daftar Gambar ....................................................................................................................... xv Daftar Lampiran .................................................................................................................... xvi Motto...................................................................................................................................... xvii Persembahan ……………………………………………………………………………… . xviii BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian ……………………………………………………………… B. Fokus Penelitian ……………………………………………………………….. C. Tujuan Penelitian .................................................................................................. D. Manfaat Penelitian ................................................................................................ E. Originalitas Penelitian …………………………………………………………. F. Definisi Istilah ...................................................................................................... G. Sitimatika Pembahasan ………………………………………………………… BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Konsep Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional 1. Pengertian ………………………………………………………………… 2. Visi dan Misi SMA Bertaraf Internasional……………..…………………. B. Evaluasi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional 1 . Pengertian ………………………………………………………………… . 2. Tujuan ........................................................................................................... C. Teori dan Kebijakan Standar Nasional Pendidikan SMA xi 20 23 15 18 1 7 7 7 8 12 13

1. Standar Pengelolaan ……………………………………………………... 2. Standar Isi ………………………………………………………………… 3. Standar Kompetensi Lulusan …………………………………………….. 4. Standar Proses …………………………………………………………… 5. Standar Penilaian Pendidikan …………………………………………….. 6. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan …………………………….. 7. Standar Sarana dan Prasarana ……….…………………………………… 8. Standar Pembiayaan ……………………………………………………… BAB III, Metode Penelitian A. Jenis dan Pendekatan Penelitian .......................................................................... B. Data dan Sumbe Data …………………………………………………………. C. Teknik Pengumpulan Data …………………………………………………….. D. Analisis Data …………………………………………………………………… E. Pengecekan Keabsahan Temuan ………………………………………………. BAB IV. PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A. Paparan Data 1. Perubahan-Perubahan yang Penting dilakukan dalam Upaya Menuju SBI ……… a. Perubahan Visi-Misi …………………………………………………………... b. Pengembangan Kurikulum ……………………………………………………. c. Proses Pembelajaran …………………………………………………………... d. Penilaian ………………………………………………………………………. e. Pengembangan SDM …………………………………………………………. f. Sarana Prasarana ……………………………………………………………… 2. Tingkat Ketrcapaian Program R-SMA-BI di SMA Negeri 1 Baleendah ………… a. Standar Pengelolaan ………………………………………………………….. b. Standar Isi / Kurikulum ………………………………………………………. c. Standar Kompetensi Lulusan …………………………………………………. d. Standar Proses ………………………………………………………………… e. Standar Penilaian ……………………………………………………………… f. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan ..……………………….............. g. Standar Sarana Prasarana ……………………………………………………… xii

26 42 55 64 73 77 91 104

111 112 113 122 124

127 128. 129 134 135 136 136 138 139 140 140 142 143 144 147

h. Standar Pembiayaan …………………………………………………………… 3. Hambatan-Hambatan yang dihadapi dalam Penyelenggaraan R-SMA-BI ……… 4. Strategi untuk Mempercepat Pencapaian R-SMA-BI …………………………… B. Temuan Penelitian ........................................................................................ BAB V. PEMBAHASAN PENELITIAN A. Perubahan-Perubahan yang Penting dilakukan dalam Upaya Menuju SBI 1. Perubahan Visi-Misi …………………………………………………………….. 2. Pengembangan Kurikulum ………………………………………………………. 3. Proses Pembelajaran ………………..…………………………………………… 4. Penilaian …………………………………………………………………………. 5. Pengembangan SDM …………………..………………………………………... 6. Sarana Prasarana ………………………..……………………………………….. B. Tingkat Ketrcapaian Program R-SMA-BI di SMA Negeri 1 Baleendah 1. Standar Pengelolaan ……………………………………………………………... 2. Standar Isi / Kurikulum ………………………………………………………… 3. Standar Kompetensi Lulusan ……………………………………………………. 4. Standar Proses …………………………………………………………………… 5. Standar Penilaian ………………………………………………………………... 6. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan ..………………………................... 7. Standar Sarana Prasarana ……………………………………………………….. 8. Standar Pembiayaan ………..……………………………………………………. C. Hambatan-Hambatan yang Dihadapi ………………………………………….…… D. Strategi untuk Mempercepat Pencapaian R-SMA-BI ………………………….…… BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Daftar Pustaka Lampiran-Lampiran ………………………………………………………………………

148 149 152 156

160. 165 166 167 168 169 172. 172 173 174 174 175 176 177 177 179

184 186.

B. Saran –Saran ………………………………………………………………………

xiii

DAFTAR TABEL
Halaman Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel 1.1 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2.8 2.9 2.10 2.11 2.12 2.13 2.14 2.15 2.16 2.17 3.1 3.2 4.1 4.2 4.3. 4.4. 4.5 4.6 4.7. 4.8. 4.9. 4.10 Originalitas Penelitian Indikator Operasional Visi Misi Bercirikan Keunggulan Upaya Menjalankan Indikator Keunggulan Tahapan Untuk Mewujudkan Visi Indikator Standar RKJM dan RKT Mengadopsi dan Mengadaptasi Standar ISO Alokasi Waktu Pada Kalender Pendidikan Indikator Operasional Penerapan KTSP Pemenuhan Standar Isi Pemenuhan Standar Kompetensi Lulusan Standar Akademik Berbasis TIK Indikator Operasional Standar Proses Indikator Operasional Standar Penilaian Indikator Operasional Standar Pendidik Indikator Operasional Standar Tenaga Kependidikan Indikator Operasional Standar Kepala Sekolah Indikator Operasional Standar Sarana Prasarana Indikator Operasional Standar Pembiayaan Materi dan Informan Evaluasi Kode Informan dan Teknik Pengumpulan Data Rekapitulasi Scor per Komponen evaluasi R-SMA-BI Skor Hasil Evalausi Kinerja Pengelolaan Skor Hasil Evalausi Kinerja Kurikulum Skor Hasil Evalausi Kinerja Kompetensi Lulusan Skor Hasil Evalausi Kinerja Proses Pembelajaran Skor Hasil Evalausi Kinerja Penilaian Skor Hasil Evalausi Kinerja Pendidik &Tenaga Kependidikan Skor Hasil Evalausi Kinerja Sarana Prasarana Skor Hasil Evalausi Kinerja Pembiayaan Faktor Penghambat dan Kegiatan yang Belum Terlaksana 11 30 32 34 34 37 49 50 52 58 62 67 75 85 87 89 96 109 118 122 138 144 140 140 142 143 144 147 148 155

xiv

DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 2.1 : Macam-macam Sekolah …………………………………………... 16 Gambar 4.1 : Pembelajaran dengan Teaching Assistant dari Prancis ……………. 130 Gambar 4.2 : Pembelajaran di Lab. komputer …………………………………... 131 Gambar 4.3 : Pembinaan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) …………………….. 133 Gambar 4.4 : Pembelajaran di Lab. Bahasa ……………………………………... 137 Gambar 4.5 : Pembelajaran di Lab. IPA …………………………………………. 137 Gambar 5.1 : Perubahan yang dilakukan dalam upaya Mencapai R-SMA-BI …. 159 Gambar 5.2 : Ketercapaian Standar R-SMA-BI ………………………………… 170 Gambar 5.3 : Sub-sub Komponen yang Menjadi Penghambat R-SMA-Bi …….. 178

xv

DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 2.1 : Macam-macam Sekolah …………………………………………... 16 Gambar 4.1 : Pembelajaran dengan Teaching Assistant dari Prancis ……………. 130 Gambar 4.2 : Pembelajaran di Lab. komputer …………………………………... 131 Gambar 4.3 : Pembinaan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) …………………….. 133 Gambar 4.4 : Pembelajaran di Lab. Bahasa ……………………………………... 137 Gambar 4.5 : Pembelajaran di Lab. IPA …………………………………………. 137 Gambar 5.1 : Perubahan yang dilakukan dalam upaya Mencapai R-SMA-BI …. 159 Gambar 5.2 : Ketercapaian Standar R-SMA-BI ………………………………… 170 Gambar 5.3 : Sub-sub Komponen yang Menjadi Penghambat R-SMA-Bi …….. 178

xv

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran Instrumen Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran 1. Surat mohon idzin penelitian 2. Surat keterangan melaksanakan penelitian 3. Surat Penunjukan menjadi sekolah rintisan sekolah bertaraf internasional R-SMA-BI) dari Direktur Pembinaan SMA 4 Surat Pernyataan dukungan dari Komite sekolah menjadi R-SMA-BI 5. Dokumen Pelaksanaan Anggaran Sekolah (DPAS) 6. Komposisi instrument evaluasi kinerja 7 Instrumen Evaluasi penyelenggaraan R-SMA-BI 8. Rekapitulasi Hasil evaluasi kinerja Penyelenggaraan R-SMA-BI 9. Brosur Penerimaan siswa baru 10 Denah SMA Negeri 1 Baleendah 11. Struktur Organisasi SMA Negeri 1 Baleendah 12. Sertifikat Akreditasi dari BAN-S/M 13. SK pembagian tugas guru dan tugas tambahan lainnya dalam proses belajar mengajar tahun pelajaran 2009-2010 14. SK pembagian tugas staf tata usaha tahun 2009-2010 15. Tata tertib guru dan karyawan SMA Negeri 1 Baleendah 16. Kebijakan mutu SMA Negeri 1 Baleendah 17. Daftar urut kepangkatan (DUK) guru 18. Daftar urut kepangkatan tata usaha dan karyawan 19 Tatatertib Siswa

xvi

MOTTO
óΟÎγÏù=yz ôÏΒ (#θä.ts? öθs9 šÏ%©!$# |·÷‚u‹ø9uρ ©!$# (#θà)−Gu‹ù=sù öΝÎγøŠn=tæ (#θèù%s{ $¸≈yèÅÊ Zπ−ƒÍh‘èŒ #´‰ƒÏ‰y™ Zωöθs% (#θä9θà)u‹ø9uρ
dan hendaklah takut kepada Allah orangorang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.

xvii

PERSEMBAHAN Kupersembahkan Buah Karya Sederhana Ini Kepada Kedua Orang Tuaku, Hanya Dengan Peluh Dan doanyalah Penulis Sampai Pada Kondisi Saat Ini Kepada Istri Tercinta, Yang Senantiasa Mendampingi Penulis Dalam Suka Dan Duka Dalam Menjalani Sisa Hidup Dan Kehidupan Teruntuk Buah Cinta Kami Ulwan Dhiaul Haq , Risalatul haq, Azmi Filhaq Inka Farihalhaq Gantungkanlah Cita-Citamu Setinggi Bintang Di Langit Semoga Kelak Kalian Menjadi Insan yang sholeh dan sholehah dan Berguna untuk masyarakat

xviii

BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian SMA Negeri 1 Baleendah sebagai salah satu sekolah dengan keunggulan layanan pendidikan terbaik di kabupaten Bandung. Hal ini bisa dilihat dari trend pendaftar ketika Penerimaan Siswa Baru (PSB) dari tahun ketahun”1.Sejak tahun ajaran 2007/ 2008 sudah berperan aktif dalam mempersiapkan sumberdaya manusia yang mempunyai keunggulan global dengan cara merintis pengembangan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (R-SMA-BI).2 Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMA Negeri 1 Baleendah diselenggarakan dengan landasan: 1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5 ayat 4: “Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus”.3 2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 50 ayat 3: ”Pemerintah dan atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional”.4 3. Surat Keputusan Direktorat Pembinaan SMA Dirjen Mandikdasmen Depdiknas nomor: 697/C4/MN/2007 tentang Penetapan Penyelenggara Program Rintisan SMA Bertaraf Internasional (SMA BI)5

1 2

Dokumen sekolah tentang PSB dari tahun 2000 s.d. 2009. SK Direktorat jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah nomor 622/C4/MN/2007. 3 Undang-undang N0. 20 tahun 003 tentang sistem Pendidikan Nsional, Asa Mandiri, 2009, hlm.24. 4 Undang-undang N0.20 tahun 2003, “Sistem Pendidikan”, hlm.70. 5 Dokumen sekolah tentang penetapan SMA Negeri 1 Baleendah sebagai R SMA BI.

1

2

4. Surat Diretorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah nomor 622/C4/MN/2007 tangal 29 Juni 2007 perihal keikutsertaan SMAN 1 Baleendah pada worshop penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional.6 5. Pernyataan dukungan Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat cq Kasubdis Dikmenti melalui surat nomor 008/82-Dikmenti/2007.7 6. Pernyataan dukungan penyelenggaraan program rintisan SBI dari komite SMA Negeri 1 Baleendah nomor: 004/Komite-SMA.BE/2007.8 Penunjukan dari pemerintah baik pusat maupun daerah dan dukungan komite sekolah adalah suatu penghargaan yang cukup prestise yang besar bagi sekolah. Sebab tidak semua sekolah mendapatkan kesempatan tersebut, bahkan hanya satu-satunya sekolah di kabupaten Bandung yang memiliki kesempatan dari 25 SMA Negeri dan 74 SMA Swasta yang ditunjuk menjadi sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (R-SMA-BI). Penunjukan itu bukan tanpa alasan bagi pemerintah sebab nama besar SMA Negeri 1 Baleendah dengan prestasinya, baik akademik maupun non akademik di tingkat kabupaten maupun propinsi sudah sering diraihnya. Misalnya dalam prestasi keikutsertaan pada olimpiade MIPA,9 bahasa Inggris, seni, olahraga, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.10 Berdasarkan hasil studi awal melalui observasi11 penunjukan itu menjadi

tantangan yang sangat berat bagi sekolah, sebab penunjukan itu tidak didasarkan pada studi kelayakan yang ketat dan akurat yang merujuk pada standar yang harus dipenuhi oleh R-SMA-BI. Sebagaimana syarat yang harus dipenuhi dalam penyelenggaraan
Dokumen sekolah tentang surat penetapan mengikuti workshop penyelenggaraan R SMA BI Dokumen sekolah tentang surat dukungan penyelenggaraan R SMA BI untuk SMANegeri 1 Baleendah 8 Dokumen sekolah tentang dukungan atas penyelenggaraan R SMA BI untuk SMA Negeri 1 Baleendah 9 Dokumen sekolah tentang keikut sertaan siswa SMA Negeri 1 Baleendah di olimpiade tingkat kabupaten dan propinsi 10 Piala –piala dalam keikutsertaan pada kejuaraan antar sekolah tingkat kabupaten dan propinsi 11 Hasil Observasi penulis januari 2010
7 6

3

R-SMA-BI, sebagaimana dalam panduan penyelenggaraan R SMA BI yaitu: bebarapa syarat sudah terpenuhi namun ada yang belum terpenuhi. Adapun syarat yang dimaksud adalah sebagai berikut 12 1. Sekolah menengah atas negeri atau swasta yang telah memenuhi standar Nasional dan terakrediatasi A. 2. Kepala sekolah memenuhi standar nasional pendidikan berkompeten dalam pengelolaaan manajemen mutu pendidikan serta mampu mengoperasikan komputer dan dapat berkompetensi dalam bahasa inggris 3. Memiliki tenaga pengajar , fisika, kimia, biologi, matematika dan mata pelajaran lainnya yang berkompeten dalam menggunakan ICT dan pengantar bahasa Inggris. 4. Tersedia sarana prasarana yang memenuhi standar untuk menunjang proses pembelajaran bertaraf internasional. antara lain : a. Memiliki tiga laboratorium IPA ( Fisika, Kimia, Biologi) b. Memiliki perpustakaan yang memadai c. Memiliki laboratorium komputer d. Tersedia akses internet e. Memiliki Web sekolah f. Memiliki kultur sekolah yang kondusif (bersih, bebas asap rokok, bebas kekerasan, indah dan rindang) 5. Memiliki dana yang cukup untuk membiayai pengembangan program rintisan SMA bertaraf internasional. 6. Penyelenggaraan sekolah dalam satu shift (tidak double shift) 7. Jumlah rombongan belajar pada satu satuan pendidikan minimal 9 (sembilan ) atau setara dengan 288 siswa . 8. Memiliki lahan minimal 10. 000m2. 9. Memiliki jalan akses masuk yang mudah dilalui oleh kendaraan roda empat Merujuk buku panduan tantangan yang dihadapi oleh SMA Negri 1 Baleendah ini antara lain adalah “13: Pertama, Masih lemahnya kemampuan guru menyusun kurikulum sekolah menyebabkan terbatasnya ketersediaan dokumentasi kurikulum panduan pelaksanaan kegiatan pembelajaran ( kurikulum sekolah ) secara lengkap untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan

12

Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah, Diektorat Pembinan Sekolah Menengah Atas, Panduan Penyelenggaraan Program Rintisan SMA Betaraf Internasional (R‐SM‐BI), 2009, hlm. 8 Dokumen program sekolah tahun 2007, tentang kesiapan sekolah menuju sekolah kategori mandiri

13

4

Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kedua, kurangnya alat penunjang sarana prasarana pendidikan seperti buku pegangan guru, buku pegangan siswa dan buku referensi lainnya termasuk kelengkapan laboratorium, baik laboratorium IPA, laboratorium komputer, laboratorium bahasa, laboratorium IPS, pusat pengembangan akhlak mulia, kebun botani dan multimedia berdampak pada peningkatan mutu pembelajaran yang sangat berat untuk mencapai sekolah yang unggul dan mandiri. Pesatnya perkembangan media masa elektronik dan media cetak selain mengandung dampak positip dalam meningkatkan pengetahuan juga berdampak negatip yang dapat mempengaruhi moralitas yang tidak sesuai dengan moral bangsa, sehingga perlu dijaga moralitasnya dengan baik . Ketiga, Kondisi guru dalam penguasaan teknologi informasi berdasarkan angket yang dialakukan oleh sekolah adalah14 75% guru SMAN 1 Baleendah masih kurang mengenal dengan baik terhadap teknologi informatika, 20 % mengenal teknologi

informatika dengan baik dan 5% menguasai informatika dengan baik . Keempat, rendahnya penghasilan orangtua dalam mendukung pelaksanaan program kurikulum dalam menjadikan SMA Negeri 1 Baleendah sebagai sekolah yang unggul dalam prestasi dan berbudaya untuk menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dengan berlandaskan nilai-nilai religius, kultural dan berwawasan lingkungan sangatlah berat membutuhkan kemampuan guru untuk mendorong peserta didik menjadi mandiri dan bangga terhadap bangsanya. Kelima, beratnya beban kurikulum yang harus ditempuh oleh siswa karena banyaknya mata pelajaran yang harus diterima siswa. Oleh sebab itu dibutuhkan

14

Dokumen sekolah tentang kesiapan guru dalam penguasaan teknologi informasi. Tahun 2007

5

kecerdasan dalam mensiasati kesulitan siswa, sehingga siswa tidak merasa terlalu berat dalam menyelesaikan pembelajaran. Dari uraian di atas nampak jelas ada ketidak sesuaian antara konsep penyelenggaraan R SMA BI dengan kenyataan di lapangan. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mengangkat masalah ini menjadi bahan atau obyek penelitian. Sebab esensi dari kebijakan penyelenggaraan R SMA BI adalah untuk peningkatan mutu pendidikan supaya bisa bersaing di tingkat internasional. Akan tetapi dalam proses peningkatan mutu pendidikan itu harus berdasarkan pada konsep atau terori yang jelas dan bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah atau akademis. Seperti yang dikemukakan oleh Husaini Usman
15

“ada tiga faktor yang dapat

menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu pendidikan selama ini kurang atau tidak berhasil. .Pertama strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Kedua pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah). Dengan kata lain bahwa kompleksitas cakupan permasalahan pendidikan seringkali tidak dapat dipikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi pusat; Ketiga peran serta masyarakat khususnya orang tua peserta didik dalam penyelenggaraan pendidikan sangat minim. Hal ini akan berpengaruh pada rendahnya mutu lulusan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah merupakan

permasalahan pendidikan yang harus segera dicarikan solusi16.

15

Husaini Usman, Peran Baru Administrasi Pendidikan dari Sistem Sentralistik Menuju Sistem Desentralistik, dalam Jurnal Ilmu Pendidikan, Februari 2001, Jilid 8, Nomor 1. 16 Depdiknas., Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah Buku I Konsep danPelaksanaan, (Dirjen. Dikdasmen.Direktur SLTP, 2001), hlm., 1

6

Merujuk Tilaar bahwa pengelolaan Pendidikan Nasional mengemukakan bahwa “manajemen sistem pendidikan nasional merupakan suatu proses sosial yang direkayasa untuk mencapai tujuan pendidikan nasional secara efektif dan efisien dengan mengikutsertakan, kerjasama dan partisipasi seluruh masyarakat, dan dari sinilah konsep MBS lahir. MBS merupakan suatu model kebijakan yang ditempuh oleh pendididkan Indoneia pada maing-masing satuan pendidikan sehingga tercermin MBS sebagai model manajemen pendidikan yang otonomi, lebih besar kepada sekolah memberikan fleksibiitas (keluwesan) kepada sekolah dan mendorong partisipasi secara langsung setakeholders untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”17 Walaupun demikian, penyelenggaraan R SMA BI di SMA Negeri 1 Baleendah terus berjalan dengan upaya yang keras oleh para pengelolanya untuk diwujudkan sesuai dengan visi dan misinya. Saat ini sudah sampai tahun ketiga atau telah sampai pada tahap pengembangan (3 tahun pertama). Pada tahun pertama ( tahun ajaran 2007-2008) menerima hanya satu kelas, tahun kedua (tahun ajaran 2008-2009) menerima dua kelas (R SMA BI by class) dan mulai tahun ajaran 20092010 menerima sepuluh kelas ( R SMA BI by school). Menyimak gambaran proses penyelenggaraan R SMA BI di SMA Negeri 1 Baleendah maka penulis tertraik untuk diangkat menjadi kajian dalam bentuk penelitian, Oleh sebab tesis ini diberi judul EVALUASI IMPLEMENTASI STANDAR SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (SBI) ( Studi Kasus di SMA Negeri 1 Baleendah Kabupaten Bandung )

17

HAR Tilaar, Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam Era Globalisasi, Visidan Misi dan Program Aksi Pendidikan dan Pelatihan menuju 2020, jakarta, Grasindo, 1994, hlm. 11

7

B. Fokus Penelitian Berdasarkan konteks penelitian di atas, maka Peneliti memfokuskan penelitian ini pada evaluasi kesiapan sekolah untuk menjadi Sekolah yang Bertaraf Internasional ( R-SMA-BI ) . Fokus tersebut dijabarkan dalam beberapa sub fokus sebagai berikut : 1. Perubahan apa yang penting dilakukan SMA Negeri 1 Baleendah dalam upaya menuju R SMA BI.? 2. Bagaimankah tingkat ketercapaian program R-SMA-BI di SMA Negeri 1 Baleendah? 3. Faktor apa yang menjadi hambatan program R-SMA-BI di SMA Negeri 1 Baleendah? 4. Bagaimankah Strategi SMA Negeri 1 Baleendah dalam mempercepat pencapaian SBI ? C. Tujuan Penelitian Sejalan dengan fokus Penelitian di atas, penelitian ini bertujuan untuk : 1. Mendeskripsikan perubahan yang dilakukan oleh SMA Negri 1 Baleendah untuk menuju sekolah yang bertaraf internasional 2. Mendeskripsikan tingkat ketercapaian RSMABI di SMA Negeri 1 Baleendah 3. Mendeskripsikan berbagai hambatan Implementasi standar SBI di SMA Negeri 1 Baleendah 4. Mendeskripsikan strategi SMA Negeri 1 Baleendah dalam mempercepat pencapaian SBI D. Manfaat Penelitian Sebagai suatu kegiatan, maka sudah barang tentu penulisan ini mempuyai kegunan. Adapun kegunaannya sebagai berikut : a. Kegunaan Teoritis

8

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu tambahan hazanah ilmu pengetahuan khususnya yang menyangkut tentang penyelenggaraan manajemen rintisan sekolah bertaraf internasional 2. Diharapkan hasil penelitian ini memberikan sumbangan pemikiran bagi peneliti lain yang berminat melakukan penelitian mengenai pentingnya manajemen

penyelenggaraan rintisan sekolah bertaraf internasiona ( RSBI ) dalam meningkatkan mutu pendidikan. b. Kegunaan Praktis 1. Penelitian ini akan dapat memberikan konstribusi bagi lembaga yang bersangkutan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan agar tujuan yang diharapkan dapat dicapai secara maksimal. 2. Menjadi sumber informasi bagi peneliti lain dari sernua pihak yang berkepentingan. 3. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan bagi pengelola pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. c. Kegunaan bagi Peneliti. 1. Menmabah ilmu dan pengalaman penulis dalam mengembangkan R-SMA-BI 2. Menumbuhkan motivasi dalam keikutsertaan peneliti dalam mengembangkan R-

SMA-BI di SMA Negeri 1 Baleendah. 3. Untuk menyelesaikan studi MPI di UIN Maliki Malang. E. Originalitas Penelitian Penelitian tentang rintisan sekolah bertaraf internasional ( R SMA BI ) belum begitu banyak dilakukan orang, sebab keberadaan sekolah tersebut tergolong masih baru. Akan tetapi penelitian yang menjadikan R SMA BI sebagai obyek dan fokus kajian penelitian, sudah penulis temukan antara lain :

9

Pertama penelitian yang dilakukan oleh Abu Tholib dengann judul, Implementasi Kebijakan Manajemen Peningkatan mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dengan pendekatan Manajemen Mutu Terpadu Pada Sekolah Menengah Pertama ( Studi deskriptif pada SMP rintisan, potensial, unggulan, sekolah standar nasional (SSN) dan sekolah bertaraf internasional (SBI) di kabupaten Indramayu tahun 2006-2007) . Adapun yang menjadi focus penelitiannya adalah merumuskan strategi manajemen mutu terpadu (MMT) pada sekolah rintisan, potensial, unggulan, sekolah standar nasional (SSN) dan sekolah bertaraf internasional (SBI). Kedua, penelitian yang dilakukan oleh, Hariman Lucan Wahyu18, dengan judul: Penjaminan Mutu Proses Pembelajaran di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional ( studi kasus SMA Negeri 3 Malang). Adapun fokus kajian dari penelitian ini adalah (1). Penjaminan mutu perencanaan proses pembelajaran, (2). Penjaminan mutu pelaksanaan proses pembelajaran, (3). Penjaminan mutu penilaian proses dan hasil pembelajaran, (4). Penjaminan mutu pengawasan proses pembelajaran dan (5). Pencapaian indikator tambahan . Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Desi Dwi Juliana19, dengan ,judul: Implementasi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional . (Studi kasus di SMP Negeri 3 Tulungagung). Adapun yang menjadi fokus penelitiannya adalah kesiapan untuk menuju sekolah bertaraf internasional dari segi : (1).Manajemen kurikulum, (2). Manajemen peserta didik, (3).Manajemen sumber daya manusia, dan (4). Manajemen sarana prasarana.

18

Lucan Wahyu, Penjaminan mutu Pembelajaran di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (studi kasus di SMA Negeri 3 Malang. (Universitas Negeri Malang , 2009) 19 Desi Dwi Juliana, Implementyasi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional ( studi kasus di SMP Negeri 3 Tulungagung . ( Universitas Negeri Malang, 2009)

10

Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Putri Septikasari20, dengan mengambil judul: Proses Penerimaan Siswa Baru ( studi kasus di rintisan sekolah bertaraf internasional SMP Negeri 2 Pare Kabupaten Kediri.). Adapun fokus penelitiannya adalah: (1). Kebijakan sekolah dalam penerimaan siswa baru, (2). Sistem penerimaan siswa baru, dan (3). Prosedur penerimaan siswa baru. Kelima, penelitian yang dilakukan oleh Dewi Wahyuningtyas21, dengan judul Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan di rintisan sekolah bertaraf internasional. ( studi kasus: di SMP negeri 1 Bojonegoro). Adapun yang menjadi fokus penelitiannya adadalah : (1). Perencanaan proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan, (2). Pelaksanaan proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan, (3). Penililaian pembelajaran pendidikan kewarganegaraan, dan (4). Pengawasan proses pembelajaran pendidikan kewearganegaraan. Keenam, penelitian yang dilakukan oleh Lilasari Riza Novita, dengan judul Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) (studi kasus di Unit Pelaksanan Teknis (UPTD) SMP Negeri 1 Nganjuk). Adapun yang menjadi fokus penelitiannya adalah, kepemimpinan kepala sekolah dalam mengembangkan KTSP . Ketujuh, penelitian yang dilakukan oleh Sukarji, dengan judul: Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengimplementasikan Rintisan Sekolah Sekolah Bertaraf Internasional ( Studi kasus, multi situs di SMA Negeri 3 Malang dan SMA Negeri 5 Malang). Adapun fukus penilaiannya adalah tentang kepemimpinan kepala sekolah dalam menggerakan personil dan mengimplementasikan R-SMA-BI. Serta dibahas pula

20

Putri septikasari, Proses Penerimaan Siswa Baru ( studi kasus di Rintisan sekolah bertaraf Internasional SMP Negeri 2 Pare. (Universitas Negeri Malang, 2009) 21 Dewi Wahyuningtyas, Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional ( studi kasus di SMP Negeri 1 Bojonegoro), (Universitas Negeri Malang, 2009)

11

tentang upaya kepala sekolah dalam membudayakan sekolah bertaraf internasional dan mengatasi kendala-kendalanya. Untuk lebih jelasnya penulis paparkan dalam bentuk tabel. Tabel 1.1 Originalitas penelitian Nama & Tahun Penelitian Drs. H. Abdul Tholib, M.Pd. 2007.

N0 1

Persamaan Strategi peningkatan mutu pendidikan di sekolah rintisan bertaraf internasional

Orisinalitas Penelitian 1.Perubahan sekolah Obyeknya tidak yang harus hanya RSBI saja tapi dilakukan untuk Multi situs, dan menuju SBI jenjang sekolah 2.Penelitian ini SMP. memfokuskan kepada, Evaluasi ketercapaian standar sekolah SBI, 3.faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam Pengembangan RSBI dan strategi mempercepat ketercapaian SBI . 4.Perumusan strategi untuk mempercepat ketercapaian SBI

Perbedaan

2.

Hariman Lucan Wahyu, 2009

Obyek penelitian rintisan sekolah bertaraf Internasional

Fokus penelitian ini pada proses penjaminan mutu pembelajaran pada, perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan proses pengawasan

12

Nama & N0 Tahun Persamaan Penelitian 3 Desi Dwi 1.Penelitian ini Juliana obyeknya sama pada rintisan sekolah bertaraf internasional 2.Fokus peneletian pada implementasi kesiapan menuju RSBI 4 Septi 1.Penelitian ini Septikasari obyeknya sama pada rintisan sekolah bertaraf internasional 2. Kebijakan khusus tentang penerimaan siswa baru 5 1.Penelitian ini Dwi Wahyuning obyeknya sama pada rintisan Tyas sekolah bertaraf internasional 2.Pada standar pemebelajaran SBI Lilasari Riza Novita 1.Penelitian ini obyeknya sama pada rintisan sekolah bertaraf internasional 2. Pada kajian kepemimpinan dan KTSP 1.Penelitian ini obyeknya sama pada rintisan sekolah bertaraf internasional 2.Pada pengkajian kendala mengimplementasi ka R-SMA-BI

Perbedaan Fokus penelitian ini pada kesiapan , manajemen kurikulum, manajemen peserta didik, sumber daya manusia dan manajemen sarana prasarana. Fokus penelitian hanya seputar masalah penerimaan siswa baru.

Orisinalitas Penelitian

Fokus penelitian ini hanya seputar maslah perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan pengawasan proses pembelajaran Pada penelitian ini fokus kajiannya hanya pada kepemimpinan kepala sekolah

6

7

Sukarji

Penelitian ini fokus pada peran kepemimpinan kepala sekolah dalam mengimplmentasikan R-SMA-BI.

13

F. Definisi Istilah 1. Evaluasi Implementasi adalah suatu penilaian kesiapan pemenuhan atau

ketercapaian standar rintisan sekolah bertaraf internasional yang memasuki tahun ke tiga. 2. Standar Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) adalah, SMA nasional yang telah memenuhi seluruh standar nasional pendidikan dan mengembangkan keunggulan yang mengacu pada peningkatan daya saing yang setara dengan mutu sekolahsekolah unggul tingkat internasional. E. Sitimatika Pembahasan Dalam penulisan tesis ini penulis menyusun sistematika pembahsan sebagai berikut: Bab 1 Pendahuluan, yang berisi tentang, konteks penelitian, fokus masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, originalitas penelitian, definisi istilah dan sistematika pembahasan. Bab II. Kajian Pustaka, yang berisi kajian teori yang berkaitan dengan, Konsep tenatang penyelenggaraan R SMA BI. Evaluasi Rintisan Sekolah Bertarap Internasional (R-SMA-BI),teori tentang evaluasi dan teori dan kebijakan Standar Nasional Pendidikan, Bab III. Metode penelitian yang berisi tantang, pendekatan dan jenis penelitian, Data dan sumber data, metode, Strategi pengumpulan data, analisis data dan pengecekan keabsahan temuan.. Bab. IV. Papaparan data dan hasil temuan, yang meliputi, Perubahan yang telah

dilakukan sekolah dalam upaya menuju R-SMA-BI, Tingkat Ketercapaian R-SMA-BI di SMA Negeri 1 Baleendah, Hambatan yang dihadapai dalam penyelenggaraan R-SMA-BI dan perumusan strategis dalam mempercepat ketercapaian Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)

14

Bab V. Pembahsan hasil Penelitian, yang meliputi, Pembahasan perubahan yang telah dilakukan sekolah dalam upaya menuju R-SMA-BI, Analisis tingkat Ketercapaian R-SMA-BI di SMA Negeri 1 Baleendah, Pembahasan hambatan yang dihadapai dalam penyelenggaraan R-SMA-BI dan Perumusan strategis dalam mempercepat ketercapaian Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) Bab VI. Kesimpulan dan Saran-Saran.yang meliputi perubahan yang penting dilakukan, tingkat ketercapaian standar R-SMA-BI, Faktor yang menjadi penghambat dan strategi sekolah dalam mempercepat pencapaian SBI. Adapun saran-saran ditujukan kepada manajemen sekolah, komite sekolah dan pemerintah kabupaten Bandung.

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Konsep Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional 1. Pengertian Sekolah Menengah Atas Bertaraf Internasional adalah SMA nasional yang telah memenuhi seluruh standar nasional pendidikan dan mengembangkan keunggulan yang mengacu pada peningkatan daya saing yang setara dengan mutu sekolah-sekolah unggul tingkat internasional1 Sedangkan sekolah rintisan Bertaraf Internasional (R-SMA-BI) adalah “program peningkatan mutu SMA menuju standar SBI yang ditetapkan oleh Depdiknas. Masa perintisan untuk tiap sekolah diperkirakan lima tahun dan tiap tahun dilakukan evaluasi”2 Pencapaian kualitas pendidikan nasional selaras dengan kategori sekolah formal yang ada, yaitu: Sekolah Kategori Standar, Sekolah Kategori Mandiri, dan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Sekolah yang berkategori mandiri didorong menuju sekolah bertaraf internasional. Sekolah kategori mandiri adalah sekolah yang hampir atau telah memenuhi delapan komponen SNP. Untuk pengembangan program rintisan SMA bertaraf internasional, pencapaian standar nasional pendidikan merupakan syarat utama yang harus dipenuhi terlebih dahulu. SMA Bertaraf Internasional perlu menjalin kerjasama (networking) dengan sekolah lain, baik di dalam maupun luar negeri yang telah memiliki reputasi internasional sebagai bentuk kegiatan perujukan (benchmarking). Bentuk kerjasama lain
1 2

Departemen Pendidikan Nsional Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar, Panduan, hlm. 1. Djufri Thlib, Subdirektorat Kelembagaan Direktorat Pembinaan SMA Peningkatan Kualitas Pendidikan Melalui Pengembangan Sekolah Bertaraf Internasional, disampaikan dalam Workshop Asosiasi SBI Provinsi Jawa Barat di Hotel Sofyan Betawi, Menteng Jakarta Pusat, tanggal 29 Maret 2007 .

15

16

dapat berupa kolaborasi dengan lembaga pendidikan tinggi sebagai pengguna lulusan. SMA bertaraf internasional juga harus mengembangkan program sertifikasi,

meningkatkan daya saing dalam lomba tingkat internasional, dan mempersiapkan calon tenaga kerja yang dapat bekerja pada lembaga bertaraf internasional. Konsep SMA bertaraf internasional dapat dirumuskan sebagai berikut: 3

SMA Bertaraf Internasional = SNP + X
SNP (Standar Nasional Pendidikan) adalah standar minimal yang harus dipenuhi oleh satuan pendidikan meliputi standar: kompetensi lulusan, isi, proses, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pembertaraf internasionalayaan, pengelolaan, dan penilaian. Sedangkan ”X” dapat berupa penguatan, pengayaan, pengembangan, perluasan, dan pendalaman pada peningkatan mutu pendidikan yang mengacu pada standar mutu pendidikan bertaraf internasional pada negara-negara OECD dan negaranegara maju lainnya yang memiliki keunggulan tertentu dalam didang pindidikan. Di Indonesia secara empirik terdapat beberapa jenis SMA yang dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 2.1 Macam-Macam Sekolah Menengah Atas4
3

Djufri Thlib, Subdirektorat Kelembagaan Direktorat Pembinaan SMA “Peningkatan Kualitas” 29 Maret 2007 4 http://gurupembaharu.com panduan_rsmabi_2008.,(dikutip kamis, 11Pebruari 2010 )

17

SMA Mandiri merupakan sekolah yang telah memenuhi standar nasional pendidikan, mampu menerapkan dan mengelola pembelajaran dengan sistem SKS, dan tidak dicampuri dengan kurikulum asing. Rintisan SMA Bertaraf Internasional adalah SMA nasional yang telah memenuhi seluruh standar nasional pendidikan, menerapkan sistem kredit semester dan dalam proses menuju SMA bertaraf internasional (hanya salah satu strategi menyiapkan SBI SMA Asing merupakan sekolah yang diselenggarakan oleh lembaga/negara asing, memberlakukan kurikulum asing, dan diperuntukkan bagi warga negara asing yang berada di Indonesia dan wajib mengajarkan pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan kepada peserta didik warga negara Indonesia. SMA Franchise merupakan sekolah yang diselenggarakan warga negara Indonesia, memberlakukan kurikulum asing dan wajib mengajarkan pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan kepada peserta didik warga negara Indonesia. Untuk mewujudkan SMA bertaraf internasional, Direktorat Pembinaan SMA mengembangkan program rintisan SMA bertaraf internasional dengan menerapkan beberapa strategi utama.5 Pertama, pengembangan kemampuan sumber daya manusia, modernisasi manajemen dan kelembagaan. Kedua, melakukan konsolidasi untuk menemukan praktek yang baik dan pelajaran yang dapat dipetik baik melalui diskusi fokus secara terbatas maupun diskusi fokus secara luas melalui lokakarya atau seminar dalam meningkatkan mutu pembelajaran.

5

http://gurupembaharu.com panduan_rsmabi_2008.,(dikutip kamis, 11 pebruari 2010 )

18

2. Visi dan Misi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional R-SMA BI adalah tahap awal untuk menuju SMA bertaraf internasional. Oleh karena itu perlu dipahami terlebih dahulu visi dan misi SMA bertaraf internasional. Mengacu pada visi Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas ) visi SMA bertaraf internasional perlu dirancang agar mencirikan wawasan kebangsaan, memberdayakan seluruh potensi kecerdasan dan meningkatkan daya saing global. Contoh visi yang mencakup komponen tersebut misalnya, ”Mewujudkan insan Indonesia yang berkepribadian Pancasila, cerdas dalam hal intelegensi (IQ), emosi (EQ), dan rohani (SQ) agar mampu bersaing secara global”.6 Visi tersebut memiliki implikasi bahwa penyiapan manusia bertaraf internasional memerlukan upaya-upaya yang dilakukan secara intensif, terarah, terencana, dan sistematik agar dapat mewujudkan bangsa yang maju, sejahtera, damai, dihormati, dan diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain. Visi SMA bertaraf internasional, yaitu7 mencirikan wawasan kebangsaan, memberdayakan seluruh potensi kecerdasan dan meningkatkan daya saing global perlu dijabarkan ke dalam misi SMA bertaraf internasional. Contoh misi yang menjabarkan visi tersebut di atas misalnya berbunyi ”Berdasarkan visi tersebut di atas maka (nama sekolah) memiliki komitmen untuk (1) menjaga keutuhan NKRI, (2) membekali dan membina siswa dalam hal budi pekerti luhur dan terpuji sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, (3) memberdayakan potensi kecerdasan siswa baik dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS) maupun iman dan taqwa (IMTAQ) serta

6 7

Departemen Pendidikan Nasional, “Panduan Penyelenggaaraan”, hlm. 12. http://gurupembaharu.com, “panduan” _rsmabi_2008.

19

kecerdasan sosial-emosional, (4) meningkatkan kemampuan daya saing secara internasional. Misi yang telah dijabarkan tersebut akan dijadikan dasar rujukan dalam menyusun dan mengembangkan rencana program kegiatan yang memiliki indikator SMART, yaitu spesifik (Specific), dapat diukur (Measurable), dapat dicapai (Achievable), realistik (Realistic), dan memiliki kurun waktu jangkauan yang jelas (Time Bound). Misi ini direalisasikan melalui kebijakan, rencana, program, dan kegiatan SMA bertaraf internasional yang disusun secara cermat, tepat, futuristik, dan berbasis demanddriven. 8 Penyelenggaraan SMA bertaraf internasional bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang berstandar nasional dan internasional sekaligus. Lulusan yang berstandar nasional secara jelas telah dirumuskan dalam UU Nomor 20/2003 dan dijabarkan dalam PP Nomor 19/2005, dan lebih dirincikan lagi dalam Permendiknas N0. 78 tahun 2009 pada pasal 2 dijelaskan bahwa tujuan penyelenggaraan SBI adalah untuk menghasilkan

lulusan yang memiliki:

a. kompetensi sesuai standar kompetensi lulusan dan diperkaya dengan standar kompetensi pada salah satu sekolah terakreditasi di negara anggota OECD atau negara maju lainnya, b. daya saing komparatif tinggi yang dibuktikan dengan kemampuan

menampilkan keunggulan lokal ditingkat internasional; c. kemampuan bersaing dalam berbagai lomba internasional yang

dibuktikan dengan perolehan medali emas, perak, perunggu dan bentuk penghargaan intemasional lainnya;
8

http://gurupembaharu.com, “panduan” _rsmabi_2008

20

d. kemampuan

bersaing

kerja

di

luar

negeri

terutama

bagi

lulusan

sekolah menengah kejuruan e. kemampuan 7,5 < berkomunikasi dalam bahasa Inggris (skor TOEFL Test

dalam skala intemet based test bagi SMA, skor TOEIC 450

bagi SMK), dan/atau bahasa asing lainnya; f. kemampuan berperan aktif secara intenasional dalam menjaga kelangsungan hidup dan perkembangan dunia dari perspektif”9 B. Evaluasi Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional 1. Pengertian Evaluasi Evaluasi adalah salah satu dari fungsi manajemen, sebagaia mana yang

dikatakan oleh para ahli antara lain GR. Terry fungsi-fungsi manajemen meliputi : planning, organizing, actuating dan controlling. Sedangkan John F. Mee berpendapat bahwa fungsi-fungsi manajemen adalah planning, organizing, motivating dan controlling. Louis A. Allen berpendapat bahwa fungsi-fungsi manajemen adalah terdiri dari : leading, planning, organizing dan controlling. Sementara itu Henry Fayol berpendapat fungsi-fungsi manajemen adalah meliputi :planning, organizing,

commanding, coordinating, dan controlling.10 Pendapat beragam tentang fungsi manajemen di atas menunjukan banayaknya asfek yang harus dikerjakan oleh seorang manajer . Dari beberapa pendapat tersebut terlihat adanya beberapa aspek utama yaitu, planning, organizing, actuating, commanding dan evaluating.

9

Permen Diknas N0. 78, tahun 2009 tentang, Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional Pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah .
Ahmad Fadli HS, Organisasi dan Administrasi ( Kediri : Manhalun Nasiin Press, 2002), Cet. III, hlm. 26

10

21

Dalam kegiatan evaluasi tersebut sebagai fungsi manajemen , terdapat beberapa istilah yang mempunyai keterkaiatan dengan evaluasi tetapi memiliki penekanan pada aspek tertentu. Evaluasi merupakan terjemahan bahasa inggris evaluation yang identik dengan penilaian. Istilah lain yang mempunyai makna yang hampir sama dengan

evaluasi adalah, assessment dan measurement (pengukuran). Membahas evaluasi tidak akan terlepas dari pengukuran dan penilaian. Adapun dari segi istilah, merujuk apa yang dikemukakan oleh Edwind Wandt dan Gerald W.Brown (1977), Evaluation refer to the act or process to determining the value of something. Menurut definisi ini, maka istilah evaluasi menunjuk kepada atau mengandung pengertian suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.11 Pengertian evaluasi menerangkan secara langsung hubungan evaluasi dengan tujuan suatu kegiatan yang mengukur derajat, dimana suatu tujuan dapat dicapai. Evaluasi juga merupakan proses memahami, memberi arti, mendapatkan dan mengomunikasikan suatu informasi bagi keperluan pengambil keputusan.12 Evaluasi juga dapat diartikan sebagai proses menyediakan informasi untuk membuat keputusan. Atau sebagai suatu proses menetapkan pertimbangan nilai berdasarkan pada peristiwa tentang suatu program atau produk13. Sedangkan menurut Nhertzer dan Stone14 Evaluation consists of making syistematic judgment of yhe relative evectiveness with gools are attained in relation to special standard”

11

Edwind Wandt dan Gerald, Essentials of Educational Evaluation ( New York , Holt Rinehart and Winston,1977),hlm.46 12 Sukardi, Evaluasi Pendidikan, Prinsip & Operasionalnya (Yogyakarta: Bumi Aksara,2008), hlm.1 13 Mary Lee Smith & Glass GeneV. Resecarch and Evaluation in Education and the Social Science, (Englewood Cliffs New Jersey; Prentice Hall.Inc. 1987) 14 Bruce Shertezer&Shelley Stone, Fundamential of Guidance, Fout Edition, (USA:1981 Purdue Univewrsity), hlm. 464.

22

Evaluasi diartikan sebagai proses menentukan kesesuaian pada produk, tujuan, prosedur, program, pendekatan dan fungsi. Jadi evaluasi merupakan suatu proses yang dilakukan terhadap suatu kegiatan. Kegiatan dapat berupa sutau program yang sudah direncanakan, sehingga untuk mengetahui suatu keberhasilan dan manfaatnya dilakukan proses penilaian. Evaluasi sebagai suatu proses hanya menyiapkan data kepada pengambil keputusan. Data yang disediakan mengandung nilai yang dapat memberikan arti tergantung pada pertimbangan yang dilakukan oleh pengambil keputusan. Assessment merupakan prosedur yang digunakan untuk mendeskripsikan tingkahlaku. Measurement/ pengukuran sebagai upaya membandingkan sesuatu dengan ukuran tertentu; biasanya berkaitan dengan kuantitatif. Sedangkan menurut Ebel15 dalam murtadlo, menyebutkan pengukuran merupakan suatu set aturan mengenai pemberian angka terhadap hasil suatu kegiatan. Beberapa konsep ini mempunyai pengertian yang berbeda tetapi ada kesamaannya terutama dalam tujuannya, yaitu menyediakan data. Merujuk Arikunto,16 menyimpulkan pengertian evaluasi dari beberapa pendapat bahwa, Eval;uasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan. Sedangkan apabila dikaitkan dengan program, maka evaluasi program didefinisikan sebagai suatu unit atau suatu kegiatan yang merupakan realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekolompok orang. Ada tiga pengertian penting dan perlu ditekankan dalam menentukan

Murtadlo, Peningkatan Kinerja Guru Sekolah Luar Biasa melalui Supervisi kelompok, ( Disertasi, Malang , Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. 2007). Hlm.42 16 Suharsimi Arikunto, Cepi Safruddin Abdul Jabar, . Evaluasi Program Pendidikan, (Jakarta Bumi Aksara, 2004). Hlm.1‐2.

15

23

program, yaitu (1). Realisasi atu implementasi suatu kebijakan, (2). Terjadi dalam waktu relatif lama, bukan kegiatan tunggal tetapi jamak dan berkesinamobungan dan (3) Terjadi dalam organisasi yang melibatkan sekelompok orang. Dengan demikian R-SMA BI sebagai sebuah kebijakan dalam sutau organisasi atau lembaga yang belum tentu dapat diimplementasikan atau direalisasikan dengan baik sesuai dengan jiwa kebijakan . Evaluasi tersebut dimaksudkan untuk mengetahui

sebarapa jauh dan bagian mana dari tujuan yang sudah tercapai, dan bagian mana yang belum tercapai serta apa, penyebabnya, maka perlu adanya evaluasi program,tanpa adanya evaluasi, keberhasilan dan kegagalan program tidak dapat diketahui. . Oleh sebab bisa ditarik benang merah bahwa yang dimaksud dengan evaluasi program adalah “ Upaya untuk mengetahui tingkat keterlaksanaan suatu kebijakan secara cermat dengan cara mengetahui efektifitas masing-masing komponennya17 2. Tujuan Evaluasi R SMA BI Setiap kegiatan yang dilaksanakan mempunyai tujuan tertentu. demikian juga dengan evaluasi. tujuan evaluasi ada dua yaitu, tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum diarahkan kepada program secara keseluruhan sedangkan tujuan khusus lebih difokuskan pada masing-masing komponen. Implementasi program harus senantiasa di evaluasi untuk melihat sejauh mana program tersbut telah berhasil mencapai maksud pelaksanaan program yang telah ditetapkan sebelumnya. Tanpa adanya evaluasi, program-program yang berjalan tidak akan dapat dilihat efektifitasnya. Dengan demikian, kebijakan-kebijakan baru sehubungan dengan program itu tidak akan didukung oleh data. Karenanya, evaluasi program bertujuan untuk menyediakan data dan informasi serta memberikan saran-saran
17

Arikunto, Evaluasi program pendidikan, hlm. 7.

24

atau rekomendasi bagi pengambil kebijakan (decision maker) untuk memutuskan apakah akan melanjutkan, memperbaiki atau menghentikan sebuah program. Adapun tujuan evaluasi dari R SMA BI adalah : a. Menginventarisasi keterlaksanaan program RSBI di SMA, yang mencakup:
1) Perolehan nilai akreditasi 2) Pemenuhan standar isi dan SKL 3) Pemenuhan standar proses 4) Pemenuhan standar pendidik dan tenaga kependidikan 5) Pemenuhan standar sarana dan prasarana 6) Pemenuhan standar pengelolaan 7) Pemenuhan standar pembiayaan 8) Pemenuhan standar penilaian 9) Pemenuhan standar kesetaraan mutu pada konteks global.

b. Mengidentifikasi ketercapaian program R-SMA-BI. c. Mengidentifikasi hambatan, kelemahan, dan keberhasilan keterlaksanaan program RSBI. C. Teori dan Kebijakan Standar Nasional Pendidikan SMA Pendidikan merupakan suatu proses yang bertujuan, setiap proses yang bertujuan memiliki parameter sejauhmana proses itu mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan mutu pendidikannya diarahkan untuk pengembangan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta

25

bertanggungjawab18. Pencapaian orientasi tersebut diperlukan suatu kerangka logis dan strategis dalam mencapai tujuan pendidikan nasional, hal ini berarti perlu perumusan proses pendidikan yang jelas, terarah, dan fisible dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Langkah strategis pelaksanaan pendidikan SMA dirumuskan melalui kebijakan pendidikan nasional, diantaranya; UU NO. 20 Tahun 2003 sebagai perangkat sistem pendidikan nasional memberikan petunjuk mutu pendidikan yang bersifat teoritis. Pada tataran implementasinya terdapat dalam PP No. 19 Tahun 2005 sebagai penjabaran dari mutu pendidikan nasional melalui standar nasional pendidikan19. Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan ditingkat lembaga dan berlaku di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia20. Standar Nasional Pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional termasuk SMA. Fungsi standar nasional pendidikan sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan SMA yang bermutu. Berikut dibawah ini dideskripsikan teori dan kebijakan standar nasional pendidikan pada SMA. Merujuk pada kerangka pemikiran dan uraian di atas, maka struktur deskripsi teori dan kebijakan standar nasional pendidikan 1. Standar pengelolaan 2. Standar kompetensi lulusan, 3. Standar penilaian ,4. Standar isi, 5. Standar pendidik dan tenaga

18

LEKDIS Standar Nasional Pendidikan PP RI NO. 19 TAHUN 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Penjelasan Pasal 3, hlm. 73. 19 Lihat: dalam rangka melaksanakan ketentuan pasal 35 ayat (4), pasal 36 ayat (4), pasal 37 ayat (3), psal 42 ayat (3), pasal 43 ayat (2), pasal 59 ayat (3), pasal 60 ayat (4), dan pasal 61 ayat (4) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan NAsional, perlu menetapkan peraturan pemerintah tentang Standar Nasional Pendidikan. 20 LEKDIS, Standar Nasional, hlm. 14.

26

kependidikan, 6. Standar proses, 7. Standar sarana dan prasarana, 8. Standar pembiayaan. Maka struktur deskripsinya dapat digambarkan sebagai berikut: 1. Standar Pengelolaan Istilah administrasi, manajemen, pengelolaan, penataan, memimpin, atau pengaturan memiliki arti yang hampir sama. Oleh karena itu istilah-istilah tersebut tidak perlu didebatkan yang paling esensi adalah bagaimana agar suatu organisasi atau intuisi dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien dengan sumber daya yang ada. Menurut Wayne K. Hoy dan Miskel dalam bukunya “educational administration : teory research and practice”, menyatakan bahwa pendekatan manajemen dapat dilihat dari tiga bagian, yaitu: (1) Pendekatan organisasi (1900-1930) klasik, (2) Pendekatan manusiawi (19301950), dan (3) Pendekatan prilaku (1950-sekarang)21. Pengelolaan merupakan ilmu, kiat, seni dan profesi. Dikatakan sebagai ilmu, menurut Gullick karena pengelolaan dipandang sebagai suatu bidang pengetahuan yang secara sistematis berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerjasama22. Menurut Seligman mengemukakan bahwa “management is simulating organizing, and directing of human effort to effectively materials and favilities to attain and objective.” Batasan ini lebih menekankan pada fungsi-fungsi pengelolaan melalui perangsangan, perorganisasian dan pengarahan usaha manusia dalam rangka pemanfaatan fasilitas secara efektif untuk mencapai tujuan. Kalau diaplikasikan dalam pengelolaan SMA, berarti berbagai upaya pimpinan SMA untuk memperoleh hasil (prestasi) dalam rangka mencapai tujuan program SMA melalui kerjasama dengan orang lain, dengan proses dan

21 22

K, Hoy Wayne and Cecil G. Miskel, Educational Administration,hlm. 342. Djam’an dan Udin S. Saefuddin, Masalah Kontemporer Pengelolaan Sistem Pendidkan 51 Nasional Indonesia, Bandung: Jurusan Adpen, hlm 35.

27

prosedur,

perangsangan,

pengorganisasian,

pengarahan

dan

pembinaan

untuk

mewujudkan visi dan misi SMA yang sudah ditetapkan bersama. Dalam konteks Islam , pengertian pengelolaan selaras al-tadbir (Pengaturan atau pengelolaan). Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara (mengatur) yang banyak terdapat di dalam Al Qur’an, diantaranya surat (As Sajdah ayat: 5). Sedangkan Pengelolaan disekolah harus dimanisfestasikan dalam bentuk aktivitas –aktivitas kongkret. Fungsi utama pengelolaan adalah mencapai tujuan pendidikan yang efektif dan efisien. Gambaran tentang keefektifan yang berorientasi pada hasil atau nilai guna dan efisiensi digambarkan dalam (Q.S. Al Baqoroh ayat 261) Dalam Hadits dinyatakan nilai keefektifan hidup itu selalu menjadi lebih baik, Rasulallah bersabda: Barang siapa yang keadaannya hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia beruntung “23. Dari beberapa pendapat tersebut, maka keefektifan aktivitas manajemen dapat dipahami dari keefektifan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan, manajemen sebagai suatu proses yang khas. Menurut Terry (1964) terdiri atas tindakantindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan yang

dilaksanakan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia serta sumber daya (resource) lainnya. Pengelolaan merupakan proses yang mengintegrasikan sumber-sumber yang semula tidak berhubungan satu dengan yang lainnya menjadi suatu sistem yang menyeluruh untuk mencapai tujuan organisasi yang efektif. Pengelolaan pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan. Hasil penelitian Balitbang Dikbud (1991) menunjukan bahwa manajemen
23

H.R. Bukhori

28

sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan. Kriteria atau ukuran keberhasilan administrasi pendidikan adalah produktivitas pendidikan yang merupakan kombinasi efektifitas dan efisiensi. Hal ini senada dengan Engkoswara Ia menyatakan bahwa mutu pendidikan berkaitan dengan konteks produktivitas dan proses pendidikan. Produktivitas pendidikan diukur dari prestasi yang meliputi : (a) Masukan yang merata, (b) Pengeluaran yang banyak dan bermutu tinggi, (c) Ilmu dan keluaran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, dan (d) Pendapatan lulusan atau keluaran memadai. Kebermutuan proses pendidikan dapat diamati dari : (a) Motivasi dan kegairahan belajar tinggi (b) Semangat bekerja yang besar (c) Kepercayaan berbagai pihak (d) Penggunaan tenaga, pembiayaan, waktu dan fasilitas24. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 tentang dewan Pendidikan dan Komite Sekolah memberi konsekwensi pada model pengelolaan ditingkat lembaga pendidikan SMA. Manajemen berbasis sekolah (MBS) merupakan upaya inovasi di bidang pendidikan yang relatif memadai sebagai suatu pilihan antisipatif dan berbagai konsekwensi logis. Sebagai akibat diberlakukannya sistem desentralisasi, khususnya didalam bidang pendidikan. Gagasan otonomi pendidikan ini semakin mengemuka setelah dikeluarkannya kebijakan pengelolaan pendidikan. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan PP No. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan pusat dan provinsi sebagai otonom. Produk hukum tersebut mengisyaratkan terjadinya pergeseran kewenangan dalam pengelolaan pendidikan dan melahirkan wacana akuntabilitas pendidikan25.

24 25

Nanang Fatah, Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan, (Bandung: Rosdakarya, 1966), hil. 41-43. http://yukbelajar.blogspot.com/2007/12/kaji-ulang-kebijakan-mbs_19.html

29

Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan SMA, yang secara teknis pengelolaan ini dijabarkan sampai pada

Permendiknas No. 19 Tahun 2007. Adapun cakupan dari standar nasional pendidikan dipaparkan meliputi : a. Penanggung jawab : standar jumlah satuan pendidikan sebagai penanggung jawab satuan pendidikan. b. Pengambilan Keputusan : pengambil keputusan untuk bidang akademik adalah dewan pendidikan (dipimpin kepala satuan pendidikan) dan non akademik oleh komite sekolah (dihadiri kepala satuan pendidikan) c. Pedoman Pengelolaan : pedoman yang mengatur kurikulum, kalender pendidikan, kategori aktivitas, struktur organisasi, pembagian tugas diantara pendidik dan tenaga kependidikan, peraturan akademik, tata tertib, penggunaan dan pemelharaan sarana dan prasarana, kode etik hubungan antara sesame warga di dalam lingkungan satuan pendidikan dan hubungan antara warga satuan pendidikan dengan masyarakat, biaya satuan operasional pendidikan. d. Rencana kerja tahunan : penjabaran rinci dari rencana kerja jangka menengah satuan pendidikan yang meliputi masa 4 (empat) tahun. e. Pengawasan : meliputi pemantauan, supervise, evaluasi, pelaporan dan tindak lanjut hasil pengawasan26. Pada standar pengelolaan R-SMA-BI sekolah harus memiliki : Visi- misi yang bercirikan keunggulan, disertai program jangka menengah, program jangka pendek .Selain itu harus mengadaptasi dan mengadopsi ISO 9001/12000-14000 .
26

. LEKDIS, Standar Nasional, Hlm. 14.

30

a. Indikator Operasional Visi-Misi Bercirikan Keunggulan Untuk mengukur visi-misi yang bercirikan keunggulan mempunyai beberapa komponen, bukti fisik, indikator operasional dan sekaligus alat ukurnya. Secara terperinci disajikan dalam tabel berikut : Tabel 2.1 Indikator Operasional Visi-Misi Bercirikan Keunggulan
No. Komponen SNP Visi dan misi sekolah Bukti Fisik/ Dokumen Rumusan visimisi sekolah Indikator Operasional Sekolah menunjukkan data kesesuaian visi - misi dengan kondisi sekolah 1 2 Alat Ukur Menunjukkan visi-misi Visi dan misi dibangun dan dipahami bersama Menunjukkan indikator pencapaian Menunjukkan kesesuaian tujuan dengan visi-misi Visi dan misi menjadi tercermin pada penampilan sekolah Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Standar Isi Standar Proses Standar Penilaian Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan Standar Sarana dan Prasarana Standar Pengelolaan Pendidikan Standar Pembiayaan

3

1

4

5

2

Visi-misi tercermin pada strategi mewujudkan keunggulan dalam menerapkan 8 standar nasional pendidikan

Dokumen strategi dalam mencapai target pada 8 standar nasional pendidkan

Sekolah menerapkan strategi dalam mencapai target pada 8 standar nasional pendidkan

1 2 3 4 5 6 7 8

31

No. 3

Komponen SNP Indikator keunggulan mengenai simbol-simbol pembinaan wawasan kebangsaan

Bukti Fisik/ Dokumen Simbol-simbol kebangsaan di kelas dan lingkungan sekolah

Indikator Operasional Sekolah memasang atribut-atribut kebangsaan di lingkungan sekolah 1 2 3 4 5

Alat Ukur Memasang bendera merah putih Memasang gambar burung Garuda Memasang peta Republik Indonesia Memasang foto presiden dan wakil presiden Memasang gambar pahlawan nasional Melaksanakan upacara bendera & membina paskibra Mengembangkan kegiatan kepramukaan Mengembangkan kegiatan PMR-UKS Mengembangkan kegiatan social Memiliki dokumen/rekaman lagulagu wajib Mengelola majalah dinding Menunjukkan karya kreatif bidang seni Menunjukkan karya kreatif bidang akademik Sekolah sebagai media pamer karya kreatif Mempublikasikan karya kreatif melalui internet

4

Realisasi keunggulan wawasan kebangsaan

Dokumen program, pelaksanaan dan hasil kegiatan membina semangat kebangsaan

Sekolah membangun kultur sekolah yang berwawasan kebangsaan

1 2 3 4 5

5

Bukti-bukti pengembanga n keunggulan melalui pembinaan kreativitas siswa

Bukti sekolah mengembangka n kreativitas siswa

Sekolah memamerkan kebolehan siswa dalam mengembangka n daya kreasi dan inovasi

1 2 3 4 5

b. Tujuan Beruraikan Upaya Menjalankan Indikator Keunggulan Untuk mengukur visi-misi yang berkaitan menjalankan indicator keunggulan Visi-Misi mempunyai beberapa komponen, bukti fisik, indikator operasional dan sekaligus alat ukurnya. Secara terperinci disajikan dalam tabel berikut :

32

Tabel 2.2 Upaya Menjalankan Indikator Keunggulan27 N0
1 Komponen SNP Realisasi tujuan sekolah sesuai indikator keunggulan penerapan misi Bukti/Fisik dokumen Data kinerja sekolah Indikator operasional Sekolah menunjukkan data hasil evaluasi kinerja sebagai dasar penetapan program 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Uraian tugas dan target kinerja pada struktur organisasi sekolah Sekolah mendeskripsik an struktur organisasi sekolah serta sistem uraian tugas dan target pada setiap tugas dan fungsi Sekolah menunjukkan dokumen perkembanga n prestasi akademik bertaraf internasional 1 2 3 4 5 Alat Ukur Menunjukkan hasil evaluasi kinerja pelaksanaan RKAS/RKT Menunjukkan data kinerja kepala sekolah Menunjukkan data kinerja guru Menunjukkan data kinerja siswa Menunjukkan data kinerja tenaga kependidikan Memiliki sistem infomasi hasil analisis evaluasi kinerja Memiliki instrumen evaluasi Melaksanakan pemantauan kinerja proses Melaksanakan pemantauan pencapaian target output Menunjukkan dokumen tindak lanjut perbaikan mutu Menetapkan uraian tugas setiap fungsi Menetapkan target kinerja sekolah Menetapkan target kinerja kepala sekolah Menetapkan target kinerja pendidik Menetapkan target kinerja tenaga kependidikan lainnya Menunjukkan dokumen pengembangan prestasi akademik bertaraf internasional Menetapkan target mutu akademik bertaraf internasional Mengembangkan mutu SDM sesuai target mutu akademik Melaksanakan kegiatan peningkatan mutu akademik sesuai rencana Menunjukkan data perkembangan mutu bidang akademik

2

Penerapan langkahlangkah penjaminan mutu dalam menerapkan 8 standar nasional pendidikan

Dokumen penjaminan mutu

Sekolah melaksanakan penjaminan mutu dalam menerapkan standar nasional pendidikan.

3

Deskripsi uraian tugas dan target kinerja kepala sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan lainnya Peningkatan keunggulan mutu bidang akademik

4

Dokumen program peningkatan mutu akademik

1

2 3 4 5

27

Studi dokumentasi, Instrumen Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan R-SMA BI tahun ke 3.

33

No. 5

Komponen SNP Peningkatan keunggulan pembinaan bidang seni

Bukti Fisik/ Dokumen Dokumen sistem pembinaan prestasi siswa dalam bidang seni

Indikator Operasional Sekolah melakukan pembinaan prestasi siswa dalam bidang seni bertaraf internasional 1 2 3 4 5

Alat Ukur Menunjukkan rencana pembinaan prestasi seni bertaraf internasional Menetapkan target prestasi seni bertaraf internasional Mengembangkan struktur organisasi kesenian Melaksanakan kegiatan pembinaan sesuai rencana Memonitor pelaksanaan kegiatan Menunjukkan dokumen pembinaan mutu pendidik Menetapkan target mutu pendidik bertaraf internasional Melaksanakan kegiatan pembinaan sesuai rencana Melaksanakan penjaminan mutu pembinaan pendidik Mengevaluasi pencapaian target peningkatan mutu Menunjukkan dokumen pembinaan tenaga kependidikan sesuai kebutuhan sekolah Menetapkan target mutu bertaraf internasional Melaksanakan kegiatan peningkatan mutu tenaga kependidikan Melakukan pengukuran ketercapaian target Mendokumentasikan hasil pengukuran pencapaian standar Menerapkan POS pengelolaan administasi kesiswaan Menerapkan POS pengelolaan administrasi kepegawaian Menerapkan POS pengelolaan administrasi persuratan Menerapkan POS pengelolaan administrasi keuangan Menerapkan POS pengelolaan administrasi sarana dan prasarana

6

Peningkatan keunggulan dalam standar pengelolaan pendidik

Dokumen pengembanga n keunggulan mutu pendidik dalam pelayanan belajar bertaraf internasional Dokumen pengembanga n keunggulan mutu tenaga kependidikan dalam pelayanan pendidikan bertaraf internasional Dokumen Prosedur Operasional Standar (POS) dalam meningkatkan kinerja pelayanan sistem administrasi

Sekolah memiliki dokumen program peningkatan mutu pendidik

1 2 3 4 5

7

Peningkatan keunggulan standar pengelolaan tenaga kependidikan

Sekolah mengembang kan program peningkatan mutu tenaga kependidikan bertaraf internasional

1 2 3 4 5

8

Peningkatan keunggulan melalui penerapan Prosedur Operasional Standar (POS) dalam pengelolaan administrasi

Sekolah menerapkan POS (Prosedur Operasional Standar) pengelolaan sistem informasi manajemen sekolah

1 2 3 4 5

34

c. Tujuan Berkaiatan dengan Tahapan untuk Mewujudkan Visi-Misi Untuk mengukur visi-misi yang bercirikan keunggulan mempunyai beberapa komponen, bukti fisik, indikator operasional dan sekaligus alat ukurnya. Secara terperinci disajikan dalam tabel berikut : Tabel 2.3 Tahapan untuk mewujudkan Visi-Misi
No. 1 Komponen SNP Penetapan target pencapaian tujuan sekolah dalam memenuhi standar isi Bukti Fisik/ Dokumen Data target pencapaian standar isi Indikator Operasional Sekolah memetakan pentahapan pencapaian target dalam memenuhi standar isi Alat Ukur 1 2 3 4 5 2 Penetapan target pencapaian tujuan sekolah dalam memenuhi standar proses Data target pencapaian standar proses Sekolah memiliki dokumen target sekolah dalam memenuhi standar proses Sekolah menunjukkan dokumen target mutu dalam memenuhi standar kompetensi lulusan Sekolah menetapkan target dalam memenuhi standar kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Menetapkan indikator pencapaian Menetapkan target dalam memenuhi standar Menetapkan instrumen pengukuran Melaksanakan pengukuran Melakukan perbaikan berkelanjutan Menetapkan indikator pencapaian Menetapkan target dalam memenuhi standar Menetapkan instrumen pengukuran Melaksanakan pengukuran Melakukan perbaikan berkelanjutan Menetapkan indikator pencapaian Menetapkan target dalam memenuhi standar Menetapkan instrumen pengukuran Melaksanakan pengukuran Melakukan perbaikan berkelanjutan Menetapkan indikator pencapaian Menetapkan target dalam memenuhi standar Menetapkan instrumen pengukuran Melaksanakan pengukuran Melakukan perbaikan berkelanjutan

3

Penetapan target pencapaian tujuan sekolah dalam memenuhi standar kompetensi lulusan Penetapan target pencapaian tujuan sekolah dalam memenuhi standar pendidik dan tenaga kependidikan

Data target pencapaian standar kompetensi lulusan

4

Data target pencapaian standar pendidik dan tenaga kependidikan

35

No. 5

Komponen SNP Penetapan target pencapaian tujuan sekolah dalam memenuhi standar sarana dan prasarana

Bukti Fisik/ Dokumen Data target pencapaian standar sarana dan prasarana

Indikator Operasional Sekolah menetapkan target sekolah dalam memenuhi standar sarana prasarana Sekolah menetapkan target dalam memenuhi standar pengelolaan 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

Alat Ukur Menetapkan indikator pencapaian Menetapkan target dalam memenuhi standar Menetapkan instrumen pengukuran Melaksanakan pengukuran Melakukan perbaikan berkelanjutan Menetapkan indikator pencapaian Menetapkan target dalam memenuhi standar Menetapkan instrumen pengukuran Melaksanakan pengukuran Melakukan perbaikan berkelanjutan Menetapkan indikator pencapaian Menetapkan target dalam memenuhi standar Menetapkan instrumen pengukuran Melaksanakan pengukuran Melakukan perbaikan berkelanjutan Menetapkan indikator pencapaian Menetapkan target dalam memenuhi standar Menetapkan instrumen pengukuran Melaksanakan pengukuran Melakukan perbaikan berkelanjutan

6

Penetapan target pencapaian tujuan sekolah dalam memenuhi standar pengelolaan

Data target pencapaian standar pengelolaan

7

Penetapan target pencapaian tujuan sekolah dalam memenuhi standar pembiayaan

Data target pencapaian standar pembiayaan

Sekolah menetapkan target sekolah dalam memenuhi standar pembiayaan

1 2 3 4 5

8

Penetapan target pencapaian tujuan sekolah dalam memenuhi standar penilaian

Data target pencapaian standar penilaian

Sekolah menetapkan target sekolah dalam memenuhi standar penilaian

1 2 3 4 5

d. Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) Untuk mengukur rencana kerja jangka menengah (RKJM) mempunyai beberapa

komponen, bukti fisik, indikator operasional dan sekaligus alat ukurnya. Secara terperinci disajikan dalam tabel berikut :

36

Tabel 2.4 Indikator Standar RKJM dan RKT28
N0 1 Komponen SNP Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM/RPS) Bukti Fisik/Dokumen Program Kerja Jangka Menengah Indikator Operasional Sekolah memiliki dokumen RKJM/RPS Alat ukur 1 2 3 4 5 2 Program Kerja Tahunan (RKT/RKAS) Program Kerja Tahunan Sekolah memiliki dokumen RKT/RKAS 1 2 3 4 5 3 Pelaksanaan Rencana Anggaran Tahunan Dokumen Rencana Kerja Tahunan Sekolah menyelaraskan rencana dengan pelaksanaan kegiatan 1 2 3 4 5 4 Evaluasi Rencana Kerja Tahunan Dokumen Hasil Kegiatan Evaluasi Diri Sekolah melaksanakan kegiatan evaluasi dan refleksi atas realisasi program RKT 1 2 3 4 5 Menunjukkan program jangka menengah Meliputi 8 standar nasional pendidikan Menetapkan prioritas peningkatan mutu Menetapkan indikator dan kriteria mutu bertaraf internasional Menunjukkan pentahapan kegiatan tahunan Menunjukkan program kerja tahunan tingkat satuan pendidikan Meliputi 8 standar nasional pendidikan Menetapkan prioritas peningkatan mutu Menetapkan indikator dan kriteria mutu bertaraf internasional Menetapkan anggaran tahunan Melaksanakan kegiatan sesuai tujuan Melaksanakan kegiatan tepat waktu Melaksanakan kegiatan tepat sasaran Melaksanakan kegiatan sesuai pembiayaan Melaksanakan monitoring Memiliki instrumen monitoring/supervise Memiliki dokumen pelaksanaan monitoring/ supervise dokumen proses pengolahan data monitoring /supervise Menunjukkan data hasil pengolahan Terdapat tindak lanjut perbaikan mutu

28

Studi dokumentasi, Instrumen Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan R-SMA BI tahun ke 3

37

e. Mengadopsi dan Mengadaptasi ISO 9001/12000/14000 Untuk mengukur mengadopsi dan mengadaptasi ISO 9001/12000/14000 mempunyai beberapa komponen, bukti fisik, indikator operasional dan sekaligus alat ukurnya. Secara terperinci disajikan dalam tabel berikut : Tabel 2.5 Mengadaptasi dan Mengadopsi Standar ISO 9001/12000/1400029

N0 1

Komponen SNP Adopsi standar ISO dalam sistem pengelolaan sekolah

Bukti Fisik / Dokumen Dokumen perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan rekomendasi tindak lanjut perbaikan program.

Indikator Operasional Sekolah mengadopsi dokumen tahaptahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan rekomendasi tindak lanjut perbaikan program 1

Alat Ukur Memiliki data profil sekolah hasil evaluasi Menyusun perencanaan berdasarkan data hasil evaluasi Menentukan target mutu Memonitor pelaksanaan peningkatan mutu Melaksanakan perbaikan mutu berkelanjutan Memiliki panduan pelaksanaan penerapan ISO Meningkatkan kegiatan pemahaman Terdapat bukti rancangan model adaptasi Terdapat model penerapan konsep Terdapat evaluasi dan perbaikan berkelanjutan

2

3 4

5

2

Adaptasi standar ISO dalam sistem pengelolaan sekolah

Dokumen perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan rekomendasi tindak lanjut perbaikan program

Sekolah mengadaptasi dokumen tahaptahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan rekomendasi tindak lanjut perbaikan program

1

2 3

4 5

29

Studi dokumentasi, Instrumen Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan R-SMA BI tahun ke 3

38

No. 3

Komponen SNP Penerapan standar ISO dalam peningkatan dan penjaminan mutu sekolah sesuai dengan 8 SNP

Bukti Fisik/ Dokumen Model adaptasi yang dibuktikan dengan adanya dokumen rujukan, model adaptasi dan evaluasi kegiatan

Indikator Operasional Sekolah menerapkan manajemen mutu berstandar ISO (efektivitas proses) 1

Alat Ukur Menunjukkan dokumen perencanaan Melaksanakan program sesuai rencana Melaksanakan audit mutu internal Menunjukkan dokumen kerja sama dalam penerapan ISO Memperoleh sertifikat ISO Memberi peluang kepada siswa kurang mampu dalam ekonomi dan lulus seleksi PSB Memberi peluang belajar kepada siswa dari berbagai etnis, ras dan agama Memberikan pelayanan belajar yang sama kepada semua peserta didik Menyediakan beasiswa kepada yang berprestasi Memberi peluang mengikuti kegiatan untuk meraih prestasi secara kompetitif Target mutu kepala sekolah bertaraf nasional dan internasional Target mutu guru bertaraf nasional dan internasional Target mutu TU bertaraf nasional dan internasional Target mutu siswa bertaraf nasional dan internasional Target mutu komite bertaraf nasional dan internasional

2

3 4

5 4 Perlakuan belajar berlandaskan peluang yang adil kepada seluruh siswa serta didasari dengan nilai demokratis Data pemerataan layanan fasilitas sekolah bagi seluruh siswa Sekolah menunjukkan data adanya pemerataan penggunaan layanan fasilitas bagi seluruh siswa. 1

2

3

4

5

5

Tingkat keyakinan sekolah dalam mewujudkan mutu terbaik

Dokumen target mutu pengelolaan dan pembelajaran yang berkeunggulan pada taraf nasional dan internasional

Sekolah menunjukkan keyakinan dengan target pencapaian kinerja yang sesuai dengan kriteria persaingan mutu bertaraf nasional dan internasional

1

2

3

4

5

39

No. 6

Komponen SNP Peningkatan kerja sama bertaraf internasional melalui kolaborasi global

Bukti Fisik/ Dokumen Dokumen pendukung kolaborasi dan produk kegiatan kolaborasi internasional

Indikator Operasional Sekolah mengembangkan kompetensi pendidik, tenaga kependidikan, dan siswa melalui kolaborasi dengan lembaga-lembaga internasional 1 2

Alat Ukur Mengikutsertakan kegiatan pertukaran pelajar Mengikutsertakan pendidik dan tenaga kependidikan pada kegiatan bertaraf nasional dan internasional Melakukan kunjungan studi di dalam dan ke luar negeri Melakukan kolaborasi siswa pada taraf nasional dan internasional Berpartisipasi dalam kegiatan internasional melalui internet Kerjasama dalam peningkatan mutu guru Kerjasama dalam peningkatan kompetensi siswa bidang akademik Kerjasama dalam bidang seni budaya Kerjasama dalam bidang olahraga Kerjasama dalam bidang teknologi Bidang kerja sama tercantum pada dokumen Menunjukkan target yang terukur Menunjukkan aktivitas kerja sama Menunjukkan bukti manfaat kerja sama Mendokumentasikan hasil yang dicapai

3

4

5

7

Pengembangan kerja sama sister school dengan sekolah bertaraf internasional

Data program kerja sama

Sekolah melaksanakan kerjasama dengan sekolah bertaraf internasional

1 2

3 4 5 8 Kerja sama dengan sekolah mitra luar negeri Dokumen kerja sama sister school dengan sekolah mitra di luar negeri dari negara OECD Sekolah menunjukkan dokumen pelaksanaan kerja sama sister school dengan sekolah mitra di luar negeri 1 2 3 4 5

40

No. 9

Komponen SNP Kerja sama dengan sekolah mitra dalam negeri

Bukti Fisik/ Dokumen Dokumen kerja sama sister school dalam rangka meningkatkan keunggulan sekolah

Indikator Operasional Sekolah menunjukkan dokumen pelaksanaan kerja sama sister school dengan sekolah mitra di dalam negeri 1 2

Alat Ukur Menunjukkan dokumen kerja sama Bidang kerja sama tercantum pada dokumen Menunjukkan target yang terukur Menunjukkan aktivitas kerja sama Menunjukkan bukti hasil kerjasama Larangan-sanksi membawa dan menghisap rokok Larangan-sanksi membawa dan menggunakan narkoba Larangan-sanksi membawa dan meminum minuman keras Terdapat slogan bebas rokok di lingkungan sekolah Terdapat slogan bebas narkoba Terdapat aturan pendidik dan tenaga kependidikan dilarang merokok di sekolah Terdapat slogan bebas rokok di ruang guru Bebas penjualan rokok di sekolah Bebas sarana merokok Bebas asap rokok di ruang sekolah

3 4 5

10

Penerapan aturan dan sanksi yang jelas serta tegas dalam mencegah siswa menjadi perokok, pengguna narkoba, minuman keras, tawuran dan melakukan kekerasan

Tata tertib siswa

Sekolah memiliki aturan bebas rokok dan narkoba, menerapkan sanksi bagi siswa yang melanggarnya

1

2

3

4 5 11 Penerapan aturan dan sanksi yang jelas serta tegas bagi pendidik dan tenaga kependidikan yang merokok di lingkungan sekolah Tata tertib pendidik dan tenaga kependidikan Sekolah memiliki aturan larangan merokok dan menerapkan sanksi bagi pendidik dan tenaga kependidikan yang melanggarnya 1

2

3 4 5

41

No. 12

Komponen SNP Penerapan sistem kendali untuk mencegah anggota komunitas sekolah melakukan tindak kekerasan

Bukti Fisik/ Dokumen Tata tertib siswa

Indikator Operasional Sekolah memiliki tata tertib siswa sesuai dengan perkembangan kehidupan di sekolah dan masyarakat 1

Alat Ukur Larangan dan sanksi melakukan tawuran Larangan dan sanksi melakukan pelecehan Larangan dan sanksi melakukan penghinaan Larangan dan sanksi membawa senjata tajam Larangan sanksi mengungkapkan kata-kata kasar Larangan dan sanksi melakukan tindak kekerasan Larangan dan sanksi memberikan hukuman fisik Adanya beasiswa untuk putra dan putrid Memimpin organisasi kesiswaan Kegiatan ekstrakurikuler Menjadi delegasi perlombaan Delegasi sekolah pada pertemuan ilmiah Meraih nilai > 98 Meraih nilai 97 97,99 Meraih nilai 9696,99 Meraih nilai 9595,99 Meraih nilai < 95

2

3

4

5

6

7

13

Pemberian peluang yang sama kepada siswa putra dan putri berprestasi

Dokumen kegiatan siswa

Sekolah mengembangkan sikap kesetaraan gender

1

2 3 4 5

14

Akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional – Sekolah/Madrasa h (BAN-S/M)

Nilai akreditasi di atas 95

Nilai akreditasi yang telah sekolah raih

1 2 3 4 5

42

No. 15

Komponen SNP Adopsi standar pengelolaan dari penjaminan mutu negara maju

Bukti Fisik/ Dokumen Konsep rujukan bersumber dari negara maju dan model aplikasi pada tingkat satuan pendidikan

Indikator Operasional Sekolah mengadopsi model penerapan standar pengelolaan dari negara maju 1 2 3 4 5

Alat Ukur Menerapkan standar pengelolaan Menerapkan PAS atau sistem basis data Menggunakan sistem administrasi berbasis internet Memiliki lembaga monev internal Melakukan perbaikan berkelanjutan Menerapkan pembelajaran siswa aktif Menerapkan pembelajaran konstruktivistik Menerapkan pembelajaran kontekstual Menerapkan pembelajaran inkuiri Mengembangkan model-model pembelajaran secara berkelanjutan

16

Adopsi standar pembelajaran dari penjaminan mutu negara maju

Konsep rujukan bersumber dari negara maju dan model aplikasi pada tingkat satuan pendidikan

Sekolah mengadopsi model penerapan standar pembelajaran dari negara maju

1 2 3 4 5

2.. Standar Isi Dalam epistimologi Islam dinyatakan bahwa semua ilmu itu bersumber dari Allah dan meliputi segala sesuatu, sebagaimana firman Allah (Q.S Kahfi:29 ) Merujuk Mac Donald and Popham,kurikulum itu adalah pernyataan mengenai tujuan, Tanner menyatakan kurikulum adalah rencana tertulis, adapun Saylor dan Alexander mendefinisikan kurikulum sebagai pengalaman nyata yang dialami peserta didik30. definisi tersebut hanya berkenaan dengan salah satu dimensi

kurikulum.Sedangkan menurut Said Hamid Hasan idealnya kurikulum itu memiliki
30

P.F. Oliva, Developing the Curriculum, (New York: Longman, 1997), hlm 34.

43

empat dimensi, yaitu; dimensi ide dalam arti tujuan, dokumen tertulis arti luasnya sebagai perencanaan pembelajaran, dimensi implementasi sebagai pelaksanaan pembelajaran, dan dimensi hasil31. Pengertian kurikulum diatas juga dianut dalam pengertian standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu32. Pada standar isi mengindikasikan lembaga SMA dituntut untuk mengembangkan kurikulum, pengembangan standar isi yang dikemukakan oleh Said Hasan Hamid adalah keseluruhan proses pengembangan kurikulum berkenaan dengan pengembangan empat dimensi yaitu: a. Dimensi ide, dimensi ini berkenaan dengan landasan filosofis dan teoritis kurikulum. Landasan filosofis kurikulum berkenaan dengan filosofis pendidikan yang digunakan untuk mengembangkan arah dan orientasi kurikulum. Aspek filosofi menentukan permasalahan kurikulum yang diidentifiasi dan merumuskn jawabannya. Dari dimensi ide juga dapat dikenal teori belajar, model dan desain kurikulum yang digunakan. Secara logika kurikulum dikembangkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional dan kontribusi lembaga pendidikan terhadap tujuan pendidikan. Dengan demikian filosofi dan teori kurikulum yang digunakan harus disesuaikan

31 32

Said Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum, (Bandung: UPI University Press, 2006), hlm. 477. LEKDIS, Standar Nasional Pendidikan , hlm. 14-16.

44

dengan tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan suatu jenjang pendididkan33. b. Kurikulum sebagai dimensi dokumen maka kurikulum berisikan komponen seperti tujuan, konten, proses, dan assement. Berbagai literature kurikulm menyebutkan dimensi dokumen ini dengan sebutan intention/intended atau planned. Pengertian kurikulum yang dikemukakan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 dan berkenaan dengan dimensi dokumen. c. Kurikulum dalam dimensi proses adalah implementasi dari apa yang direncanakan dalam dimensi dokumen. Pelaksanaan atau implementasi itu mungkin sama tapi mungkin juga berbeda dari apa yang direncanakan dalam dokumen. Dimensi proses juga sering disebut dengan istilah implemented, observed, atau reality. Pengertian kurikulum yang diemukakan dalam PP RI 19 Tahun 2005 dan dilaksanakan pada SMA berkenaan dengan dimensi proses. d. Kurikulum sebagai dimensi hasil adalah apa yang dimiliki oleh peserta didik. Dmensi ini merupakan suatu pembuktian apakah tujuan kurikulum tercapai. Dimensi ini sangat kritikal dalam menentukan keberhasilan suatu kurikulum dan oleh karena itu alat evaluasi hasil yang digunakan haruslah memiliki tingkat validitas kurikulum (curriculum validity) yang tinggi bukan validitas konten. Validitas kurikulum menunjukan tingkat kesesuaian ruang lingkup tujuan kurikulum (pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap, nilai dan kebiasaan) dengan ruang lingkup alat evaluasi yang digunakan. Validitas konten menunjukan tingkat kesesuaian ruang

33

Said Hamid Hasan, Ilmu dan Aplikasi n, hlm. 482.

45

lingkup suatu konten (konsep, teori, nilai, kebebasan) dengan ruang lingkup butirbutir pertanyaan dari suatu tes34. Lembaga SMA kini bebas mengembangkan kuriulum pendidikan masing-masing. Namun, pengembangan kurikulum tersebut harus tetap mengacu kepada standar isi dan kompetensi nasional. Hal itu tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22 Tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Semenjak diberlakukan Permendiknas tersebut tidak ada lagi sebutan kurikulum

nasional. Setiap SMA bebas mengembangkan kurikulum. Tentunya, ini tergantung kemauan sekolah, konsekwensi dari Permendiknas No 22 Tahun 2006 yang baru

diharapkan pendidikan di Indonesia makin beragam dan maju. Tentunya tidak ada lagi sebutan kurikulum nasional. Yang ada hanya standar minimum mengenai isi kurikulum dan setiap Lembaga Pendidikan SMA mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi, sumber daya, serta ciri khasnya. Secara formal standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kuriulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik35. a. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kurikulum yang pernah berlaku selama ini adalah kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984, kurikulum 1994, dan mulai tahun ajaran 2006/2007 diberlakukan

34 35

Said Hamid Hasan, Ilmu dan Aplikasi hlm. 488. LEKDIS Standar Nasional hlm. 14-16.

46

kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kebijakan ini berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Peraturan Menteri No. 22/2006 tentang standar isi untu satuan pendidikan dasar dan menengah. Pada tahun 2010 seluruh sekolah dan madrasah harus sudah melaksanakan KTSP. Pelaksanaan KTSP secara penuh diharapkan mulai tahun ajaran 201136. KTSP merupakan penyempurnaan dari kurikulum 2004 (KBK), KTSP sebagai suatu sistem kurkulum nasional mengakomodasi berbagai perbedaan budaya dan mengsinergikan; 1) standar kompetensi dan hasil belajar, dan 2) mendesentralisasikan pengembangan silabus dan pelaksanaannya. Kedua inovasi ini sesuai dengan prinsip “kesatuan dalam kebijakan dan keragaman dalam pelaksanaannya”. Prinsip pertama terlihat pada adanya penetapan standar kompetensi dan hasil belajar oleh pemerintah pusat, sedangakan prinsip kedua ditandai oleh adanya pengembangan silabus oleh pemerintah daerah dan SMA sesuai dengan potensinya37. KTSP menganut prinsip fleksibilitas. Setiap SMA diberi kebebasan menambah empat jam pelajaran tambahan per minggu, yang bisa diisi dengan apa saja baik yang wajib atau muatan lokal. Namun fleksibilitas ini mesti diimbangi dengan potensi sekolah masing-masing serta pemenuhan standar isi seperti digariskan Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP). KTSP membutuhkan pemahaman dan keinginan SMA untuk mengubah kebiasaan lama yakni ketergantungan pada birokrat. Peluang bagi SMA untuk mandiri secara manaemen dan akademis, karena KTSP dikembangkan melalui

36 37

http://www.depdiknas.go.id/sejarahkurikulumindonesia/press. E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung: Rosdakarya), hlm. 32.

47

kesesuaian dengan satuan pendidikan, potensi daerah, kondisi social budaya masyarakat setempat, dan peserta didik. Hal ini menuntut guru lebih kreatif.38 KTSP model kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Penyusunan KTSP oleh SMA dimulai tahun ajaran 2006/2007 dengan mengacu pada standar isi (SI) dan standar kompetensi lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta panduan pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP. Dengan kata lain, pemberlakuan KTSP sepenuhnya diserahkan kepada SMA, dalam arti tidak ada intervensi dari Dinas Pendidikan. Penyusunan KTSP selain melibatkan guru dan karyawan juga melibatkan komite sekolah serta bila perlu para ahli dari perguruan tinggi setempat. Dengan keterlibatan komite sekolah dalam penyusunan KTSP, maka KTSP yang disusun akan sesuai dengan aspirasi masyarakat, situasi dan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat. b. Kalender Pendidikan SMA Faktor penting dalam keefektifan kegiatan pembelajaran di SMA adalah masalah waktu. Pembahasan tentang waktu pembelajaran mengenai karakteristik lingkungan diluar sekolah dan proses pencapaian tujuan pendidikan, sehingga hal ini mempengaruhi siklus kalender akademik SMA. Pertimbangan tentang penggunaan waktu dalam

38

Masnur Muslich, KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007). Cet ke-1, hlm. 2001.

48

kalender pendidikan di SMA memegang potensi besar, kesalahan menentukan kalender akademik akan mengakibatkan krisis pembelajaran, merusak sistem pendidikan dan mengurangi pencapaian tujuan. Dimensi waktu dalam suatu model keefektifan organisasi dapat terkonsep dengan jangka kesuksesan yang berkelanjutan dari jangka pendek, jangka panjang untuk SMA, indikator jangka pendeknya adalah nilai siswa dalam tes pencapaian dan kepuasan kerja. Pengaruh lain dari waktu adalah bahwa kriteria keefektifan lembaga pendidikan tidak selalu konstan. Seperti; masyarakat (steak holders) menyediakan waktu pembelajaran di sekolah, konstituen yang merubah preferensinya tentang pencapaian tujuan pendidikan, dan lain-lain.39 Pada standar isi kalender pendidikan mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur. Hari libur berbentuk jeda tengah semester selama-lamanya satu minggudan jeda antar semester. Kurikulum satuan pendidikan pada SMA mengikuti kalender pendidkan pada setiap tahun ajaran. Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahu ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur40. Untuk lebih jelasnya dideskripsikan dalam bentuk table dibawah ini;

39

K, Hoy Wayne and Cecil G. Miskel, Educational Administration, Teory, Research, and Practice, (New York: Random House, 1978), hlm. 665. 40 LEKDIS Standar Nasional .hlm. 14-15.

49

Tabel: 2.6 Alokasi Waktu pada Kalender Pendidikan

No 1

Kegiatan Minggu efektif belajar Jeda tengah semester Jeda antar semester Libur akhir tahun pelajaran

Alokasi Waktu Minimum 34 minggu dan Maksimum 38 minggu Maksimum 2 minggu Maksimum 2 minggu Maksimum 3 minggu

Keterangan Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan Satu minggu setiap semester Antara semester I dan II Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif Disesuaikan dengan peraturan pemerintah Untuk satuan pendidikan dengan cirri kekhususan masing-masing

2 3 4

5 Hari libur keagamaan 2-4 minggu

6 7

Hari libur umum/nasional Hari libur khusus

Maksimum 2 minggu Maksimum 1 minggu

c. Standar Penerapan KTSP R-SMA BI Untuk mengukur penerapan standar KTSP R-SMA-BI , mempunyai beberapa komponen, bukti fisik, indikator operasional dan sekaligus alat ukurnya. Secara terperinci disajikan dalam tabel berikut : Untuk lebih jelasnya penulis paparkan dalam bentuk tabel berikut :

50

Tabel 2.7 Indikator Operasional Penerapan KTSP 41
No. 1 Komponen SNP Bukti Fisik/ Dokumen Indikator Operasional 1 2 3 4 Alat Ukur Menetapkan indikator keimanan dan akhlak mulia Menetapkan target nilai UN Menetapkan target lulusan diterima di PT Menetapkan target kompetensi berbahasa Inggris Merumuskan indikator mutu lulusan bertaraf internasional Merumuskan standar kompetensi siswa untuk lulus UN di atas standar nasional Merumuskan standar kompetensi siswa agar dapat diterima di perguruan tinggi favorit Merumuskan standar kompetensi siswa untuk berkompetisi pada taraf internasional Menentukan indikator pembelajaran sesuai kebutuhan kompetensi SKL Melakukan analisis kesesuaian KTSP dengan kebutuhan siswa melanjutkan dan hidup mandiri Keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia Potensi kecerdasan dan minat sesuai perkembangan peserta didik Keragaman potensi daerah dan lingkungan Pembangunan daerah, nasional Tuntutan global

Perumusan profil mutu lulusan di atas standar nasional

Dokumen Kebijakan Standar Mutu Lulusan

Sekolah menunjukkan dokumen kebijakan penetapan standar mutu lulusan

5

2

1

2 Peningkatan mutu kurikulum merujuk pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Sekolah menunjukkan adanya hasil penetapan standar kompetensi lulusan yang menjadi dasar penyempurnaan KTSP

Dokumen Silabus & RPP

3

4

5

3

1

Penggunaan rujukan Operasional KTSP

Dokumen KTSP

Sekolah merumuskan KTSP merujuk pada petunjuk operasional penyusunan.

2

3 4 5

41

Studi dokumentasi, Instrumen Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan R-SMA BI tahub ke 3.

51

No. 4

Komponen SNP Penyempurnaan KTSP

Bukti Fisik/ Dokumen Dokumen program dan dokumen KTSP hasil penyempurnaan

Indikator Operasional Sekolah merencanakan dan melaksanakan KTSP hasil penyempurnaan

Alat Ukur Menyempurnakan KTSP 1 dengan rujukan kurikulum negara maju Memperbaharui materi ajar sesuai kebutuhan 2 siswa bersaing pada taraf internasional Menggunakan metode pembelajaran sesuai 3 dengan perkembangan teknologi Mengadaptasikan sistem 4 penilaian otentik dari sekolah di negara maju 5 Menggunakan multimedia Memiliki kriteria kenaikan 1 kelas Kriteria minimal nilai 2 semester sesuai dengan KKM Kriteria pencapaian 3 minimal nilai kelulusan > 75 Kriteria penjurusan sesuai 4 dengan KKM dan karakteristik siswa Dokumen yang disahkan 5 rapat dewan pendidik (notula rapat)

5

Penyusunan sistem kenaikan kelas, kelulusan, penjurusan

Terdapat aturan kenaikan kelas, kelulusan dan penjurusan

Sekolah menetapkan aturan kenaikan kelas, kelulusan, dan penjurusan

d. Pemenuhan standar isi Untuk mengukur pemenuhan standar isi mempunyai beberapa komponen, bukti fisik, indikator operasional dan sekaligus alat ukurnya. Secara terperinci disajikan dalam tabel berikut :

52

Tabel 2.8 Pemenuhan Standar Isi

N0 1

Komponen SNP

Bukti Fisik/Dokumen

Indikator Operasional

Alat Ukur 1 Internasional

Pemenuhan komponen standar isi

Kesesuaian kandungan isi

Sekolah memenuhi kandungan isi materi pelajaran memenuhi kriteria standar lokal, nasional, dan internasional

2 Nasional 3 Lokal 4 Life Skill 5 Pengembangan diri Memiliki dokumen isi 1 sekolah lain di dalam dan luar negeri

2

Pemenuhan standar isi

Dokumen KTSP

Sekolah memiliki dokumen KTSP yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan pembelajaran

2

Menyelaraskan isi dengan SK dan KD

3 Penyusunan muatan lokal 4 Menyusun muatan internasional Mengatur penyebaran beban belajar

5

3 Pengembangan KTSP/Substans KTSP Dokumen KTSP hasil pengembangan

Sekolah mengembangkan KTSP

Melakukan evaluasi diri dan analisis kebutuhan 1 sebagai dasar pengembangan KTSP 2 Memiliki dokumen KTSP yang dibuat sendiri

Meningkatkan keunggulan KTSP dengan mengadopsi 3 keunggulan kurikulum negara maju 4 5 Melakukan perbaikan KTSP Mengevaluasi pelaksanaan KTSP tiap akhir tahun

53

No.

Komponen SNP

Bukti Fisik/ Dokumen

Indikator Operasional

Alat Ukur Menyesuaikan tujuan 1 pendidikan sekolah dengan tujuan nasional

4 Penyempurnaan Muatan KTSP/Substansi KTSP Dokumen KTSP hasil penyempur naan Sekolah menyempurnakan muatan KTSP

Menyelaraskan tujuan 2 sekolah dengan tujuan pendidikan internasional Menyetarakan standar materi pelajaran sekolah 3 dengan standar materi pelajaran di negara maju Menyelaraskan mulok 4 dengan nilai-nilai universal Penyempurnaan 5 pengaturan beban belajar

5

1

Melakukan analisis kekuatan sekolah

Menentukan bidang 2 kekhasan dan keunggulan sekolah Materi pendidikan kecakapan hidup Sekolah menentukan jenis kecakapan diri siswa Menerapkan strategi pencapaian kekhasan 3 dan keunggulan sekolah Memiliki prestasi 4 keunggulan lokal dan nasional Memamerkan prestasi 5 keunggulan internasional 6 Pengembanga n pendidikan berbasis keunggulan lokal, nasional, dan global Sekolah menentukan keunggulan khas tingkat satuan pendidikan 1 Berbasis potensi siswa 2 Keunggulan khas sekolah

Dokumen KTSP

Dokumen KTSP pada tiap mata pelajaran

3 Keunggulan khas lokal 4 Keunggulan nasional 5 Keunggulan global

54

No.

Komponen SNP

Bukti Fisik/ Dokumen

Indikator Operasional

Alat Ukur Memiliki dokumen 1 rencana kalender pendidikan Menyempurnakan 2 menjelang awal tahun ajaran Menggunakan kalender sebagai dasar 3 meningkatkan efektivitas waktu Memastikan kegiatan mengacu pada waktu 4 yang ditentukan dalam kalender Mengevaluasi 5 efektivitas pengelolaan waktu

7

Penyusunan kalender pendidikan tingkat satuan pendidikan

Dokumen kalender pendidikan

Sekolah menggunakan kalender pendidikan yang berfungsi sebagai basis penentuan kegiatan

8

Perumusan target mutu

SK Kepala Sekolah tentang KKM

Sekolah menentukan target KKM di atas standar nasional

1 2 3 4 5

Mempertimbangkan kompleksitas SK/KD Menganalisis indikator SK/KD Mempertimbangkan kemampuan rata-rata peserta didik Menetapkan target KKM >75% Pencapaian kriteria ketuntasan ideal 100%

9

Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal mata pelajaran pada kelompok mata pelajaran (diambil dari kelas 12, kecuali mapel yang tidak ada diambil dari kelas sebelumnya) Penetapan kriteria Ketuntasan Minimal mata pelajaran pada jurusan IPA (Kelas 12)

1 Agama 2 PPKN Sekolah menentukan standar KKM minimal 7,5 dan mengevaluasi tingkat ketuntasan minimal 3 Bahasa Indonesia 4 Penjaskes 5 Kesenian

SK Kepala Sekolah tentang KKM

6 TIK

10

SK Kepala Sekolah tentang KKM

Sekolah menentukan standar KKM minimal 7,5 dan mengevaluasi tingkat ketuntasan minimal jurusan IPA

1 Matematika 2 Kimia 3 Fisika 4 Biologi 5 Bahasa Inggris

55

No. 11

Komponen SNP Penetapan kriteria Ketuntasan Minimal mata pelajaran pada jurusan IPS (Kelas 12)

Bukti Fisik/ Dokumen

Indikator Operasional Sekolah menentukan standar KKM minimal 7,5 dan mengevaluasi tingkat ketuntasan minimal jurusan IPS Sekolah menentukan standar dan mengevaluasi tingkat ketuntasan minimal

Alat Ukur 1 Sejarah 2 Ekonomi – Akuntansi 3 Sosiologi - Antropologi 4 Geografi 5 Bahasa Inggris Terdapat program pengembangan Pelaksanaan workshop 2 pengembangan 3 Laporan kegiatan 1 4 Sumber dana Terdapat dokumen 5 silabus dan RPP untuk seluruh mata pelajaran

SK Kepala Sekolah tentang KKM

12 Penyempurnaa n Silabus dan RPP Dokumen program, data pelaksanaan kegiatan, dan laporan kegiatan.

3. Stadar Kompetensi Lulusan Indikasi utama dari paradigma baru dalam pendidikan nasional yaitu; pendidikan berbasis kompetensi. Pada tataran praktis kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. McAshan (1981) mengemukakan bahwa kompetensi: “… is a knowledge, wich become part of his or her being to the exerat he or she can satisfaktorily perform particular cognitive, affective, psychomotor behavior.” 42 Dalam hal ini, kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dimiliki dan dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya. Sejalan dengan itu, Frinch dan Crunkilton

42

Dikutip oleh E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung: Rosdakarya, 2002), hlm 32.

56

(1979:22) mengartikan kompetensi sebagai penguasaan dari suatu tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan43. Menurut Ahmad Tafsir konsep kompetensi berawal dari konsep kebermaknaan, Genesis kompetensi ini dilahirkan dari filsafat yunani kuno yang menegaskan

kebermaknaan hidup manusia. Kompetensi adalah suatu metode atau cara agar manusia mempunyai fungsi dan berguna bagi manusia dan lingkungannya. Dalam konsep kompetensi tinggi rendahnya derajat manusia tergantung pada kemampuan seseorang berdaya guna bagi komunitas44. Dalam pandangan Islam kebermaknaan manusia dipandang dari jabatannya sebagai Kholifatul fil Ardh, dalam Al Qur’an manusia menempati kedudukan istimewa di alam semesta ini yaitu sebagai kholifah di muka bumi, sebagaimana firman Allah (Q.S. Al Baqoroh ayat: 30) Standar kompetensi lulusan merupakan output dari proses pendidikan, penjelmaan dari lulusan lembaga pendidikan merupakan suatu kepribadian manusia yang diusahakan dalam proses pendidikan, sehingga profil kepribadian yang telah ditetapkan sebagai pencapai tujuan pendidikan merupakan usaha atau kegiatan pendidikan yang akan dilaksanakan untuk mengarahkan kepribadian manusia yang sesuai dengan profil kepribadian yang telah ditetapkan untuk dicapai pada masa peserta didik lulus kelak di lembaga tersebut Standar kompetensi lulusan berkedudukan sebagai tujuan operatif dari tujuan ideal pendidikan. Dalam suatu model organisasi yang efektif, input dan transformasi (proses) harus didasari antara tujuan lembaga dan tujuan operatifnya45. Dari teori keefektifan ini menggambarkan keefektifan SMA dapat diukur apabila kegiatan dan
43 44

Dikutip oleh E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung: Rosdakarya, 2002), hlm 36. Ahmad Tafsir, seminar Pendidikan pada Jurusan Kependidikan Islam, 2009 45 K, Hoy Wayne and Cecil G. Miskel, Educational hlm. 318.

57

poses pendidikannya mengacu pada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan yaitu pada standar kompetensi lulusan. Menurut Sterrs tujuan operatif atau standar kompetensi lulusan merupakan tolak ukur tugas-tugas dan kegiatan lembaga tersebut. Tujuan berfungsi sebagai pembanding dan kritik terhadap proses dari input pendidikan, apabila proses atau kegiatan yang berlangsung dan input (sumber daya manusia) tidak mencerminkan pencapaian tujuan maka kegiatan pendidikan tersebut tidak efektif46. Standar kompetensi lulusan menuntut profil lulusan yang mempunyai kualifikasi kemampuan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Standar kompetensi lulusan digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Adapun kompetensi yang harus dimiliki peserta didik sebagai berikut dibawah ini: a. Standar kompetensi lulusan meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran. b. Kompetensi lulusan untuk mata pelajaran bahasa menekankan pada kemampuan membaca dan menulis yang sesuai denagn jenjang pendidikan. c. Standar kompetensi lulusan pada satuan meningkatkan kecerdasan, pengetehuan, pendidikan SMA bertujuan untuk kepribadian, akhlak mulia, serta

keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut47. Penjabaran dari kebijakan peraturan pemerinta Nomor 1 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dilanjutkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 21 Tahun 2006 bahwa pendidikan SMA bertujuan: meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan

46 47

K, Hoy Wayne and Cecil G. Miskel, Educational hlm. 317. LEKDIS, Standar Nasional hlm. 25.

58

mengikuti pendidikan lebih lanjut. Penjabaran dari tujuan SMA ini diindikatorkan dengan 23 kompetensi yang harus dimiliki oleh lulusan SMA.48 a. Pemenuhan Standar Kompetensi Lulusan Untuk mengukur kompetensi lulusan , mempunyai beberapa komponen, bukti fisik, indikator operasional dan sekaligus alat ukurnya. Secara terperinci disajikan dalam tabel berikut : Tabel: 2.9 Pemenuhan Standar Kompetensi Lulusan

No. 1

Komponen SNP Prestasi dalam pengembangan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia (SKL)

Bukti Fisik/ Dokumen Siswa berprestasi dalam pengembangan keimanan, ketakwaaan dan akhlak mulia.

Indikator Operasional Sekolah menunjukkan bukti-bukti prestasi dalam pengembangan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia (SKL) Sekolah menunjukkan bukti-bukti prestasi dalam bidang matematika Sekolah menunjukkan bukti-bukti prestasi dalam bidang kimia

Alat Ukur 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Tingkat Sekolah Tingkat Kabupaten/Kota Tingkat Provinsi Tingkat Nasional Tingkat Internasional Tingkat Sekolah Tingkat Kabupaten/Kota Tingkat Provinsi Tingkat Nasional Tingkat Internasional Tingkat Sekolah Tingkat Kabupaten/Kota Tingkat Provinsi Tingkat Nasional Tingkat Internasional Tingkat Sekolah Tingkat Kabupaten/Kota Tingkat Provinsi Tingkat Nasional Tingkat Internasional

2

Prestasi dalam bidang matematika

Siswa berprestasi dalam bidang matematika

3

Prestasi dalam bidang kimia

Siswa berprestasi dalam bidang kimia

4

Prestasi dalam bidang biologi

Siswa berprestasi dalam bidang biologi

Sekolah menunjukkan bukti-bukti prestasi dalam bidang biologi

1 2 3 4 5

48

http://www.depdiknas.co.id/produk_hukum/permen/permen_23_2006.pdf

59

No. 5

Komponen SNP

Bukti Fisik/ Dokumen

Indikator Operasional 1 Sekolah menunjukkan bukti-bukti prestasi dalam bidang fisika Sekolah menunjukkan bukti-bukti prestasi dalam bidang bahasa Inggris Sekolah menunjukkan bukti-bukti prestasi dalam bidang sosial dan ekonomi Sekolah menunjukkan bukti-bukti prestasi dalam bidang olahraga Sekolah menunjukkan bukti-bukti prestasi dalam bidang bahasa Indonesia Sekolah menunjukkan bukti-bukti prestasi dalam bidang astronomi dan kebumian

Alat Ukur Tingkat Sekolah Tingkat Kabupaten/Kota Tingkat Provinsi Tingkat Nasional Tingkat Internasional Tingkat Sekolah Tingkat Kabupaten/Kota Tingkat Provinsi Tingkat Nasional Tingkat Internasional Tingkat Sekolah Tingkat Kabupaten/Kota Tingkat Provinsi Tingkat Nasional Tingkat Internasional Tingkat Sekolah Tingkat Kabupaten/Kota Tingkat Provinsi Tingkat Nasional Tingkat Internasional Tingkat Sekolah Tingkat Kabupaten/Kota Tingkat Provinsi Tingkat Nasional Tingkat Internasional Tingkat Sekolah Tingkat Kabupaten/Kota Tingkat Provinsi Tingkat Nasional Tingkat Internasional Tingkat Sekolah Tingkat Kabupaten/Kota Tingkat Provinsi Tingkat Nasional Tingkat Internasional

Prestasi dalam bidang fisika

Siswa berprestasi dalam bidang fisika

2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1

6 Prestasi siswa dalam bidang bahasa Inggris Siswa berprestasi dalam bidang bahasa Inggris

7 Prestasi siswa dalam bidang sosial dan ekonomi 8 Prestasi siswa dalam bidang olahraga Siswa berprestasi dalam bidang olahraga Siswa berprestasi dalam bidang sosial dan ekonomi

9 Prestasi dalam bidang bahasa Indonesia Siswa berprestasi dalam bidang bahasa Indonesia

10 Prestasi dalam bidang astronomi Siswa berprestasi dalam bidang astronomi dan kebumian

11 Prestasi siswa dalam bidang karya ilmiah Siswa berprestasi dalam bidang karya ilmiah Sekolah menunjukkan bukti-bukti dalam bidang karya ilmiah

2 3 4 5

60

No. 12

Komponen SNP Prestasi siswa dalam bidang penerapan teknologi

Bukti Fisik/ Dokumen Siswa berprestasi dalam bidang penerapan teknologi

Indikator Operasional Sekolah menunjukkan bukti-bukti prestasi dalam bidang penerapan teknologi Sekolah menunjukkan bukti-bukti prestasi dalam bidang seni 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1

Alat Ukur Tingkat Sekolah Tingkat Kabupaten/Kota Tingkat Provinsi Tingkat Nasional Tingkat Internasional Tingkat Sekolah Tingkat Kabupaten/Kota Tingkat Provinsi Tingkat Nasional Tingkat Internasional Tingkat Sekolah Tingkat Kabupaten/Kota Tingkat Provinsi Tingkat Nasional Tingkat Internasional Tingkat Sekolah Tingkat Kabupaten/Kota Tingkat Provinsi Tingkat Nasional Tingkat Internasional Memberi penghargaan kepada siswa terbaik di sekolah Memperoleh prestasi tingkat kab./kota Memperoleh prestasi tingkat provinsi Memperoleh presatasi tingkat nasional Mendokumenkan hasil dengan tertib Memiliki dokumen KKM di atas 7,5 Menghimpuan data pencapaian Membahas permasalahan Menentukan solusi pemecahan masalah Melaksanakan perbaikan kinerja

13

Prestasi siswa di bidang seni

Siswa berprestasi dalam bidang seni

14

Prestasi dalam mengikuti program pendidikan atau pelatihan

Siswa meraih prestasi dalam program pendidikan/ pelatihan

Sekolah menunjukkan bukti-bukti prestasi dalam program pendidikan/ pelatihan Sekolah menunjukkan bukti-bukti karya kreatif dan inovatif yang dipamerkan Sekolah menunjukkan bukti-bukti prestasi hasil UN

15

Karya inovatif sebagai produk belajar

Siswa menghasilkan karya kreatif dan inovatif yang dipamerkan

16

Prestasi dalam memperoleh nilai UN

Meraih prestasi terbaik hasil UN

2 3 4 5

17

Prestasi dalam mewujudkan target ketuntasan belajar

Meraih Kriteria Ketuntasan Minimal di atas 7,5

Sekolah menunjukkan bukti-bukti peraihan Kriteria Ketuntasan Minimal di atas 7,5

1 2 3 4 5

61

No. 18

Komponen SNP

Bukti Fisik/ Dokumen

Indikator Operasional 1

Alat Ukur Menunjukkan rencana pembinaan Menunjukkan pelaksanaan pembinaan Menunjukkan dokumen pengembangan Menunjukkan produk kegiatan pengembangan Menunjukkan manfaat Memiliki mitra kerja dalam meningkatkan daya kolaborasi pada taraf internasional Memiliki tujuan dan indikator mutu dalam meningkatkan daya kolaborasi siswa Kerja sama dalam pengembangan kompetensi akademik dan nonakademik. Memiliki dokumen produk kerja sama bertaraf internasional Mempublikasikan produk kerja sama siswa bertaraf internasional Mewujudkan standar lulusan di atas SNP Menunjukkan data bahwa lebih dari 50% lulusan berkomunikasi dalam bahasa Inggris Menunjukkan seluruh lulusan mengakses internet sebagai sumber belajar Menunjukkan bahwa 40% lulusan diterima di PTN dan PTS favorit Menunjukkan bahwa tiap angkatan/tahun meraih prestasi bertaraf internasional

Prestasi dalam meningkatakan kompetensi di bidang TIK

Mewujudkan prestasi dalam penerapan teknologi informasi dan komunikasi

Sekolah menunjukkan bukti-bukti dalam penerapan teknologi informasi dan komunikasi

2 3 4

5 19 Pengembangan kompetensi siswa dalam berkolaborasi pada taraf internasional Data program dan produk belajar siswa dalam berkolaborasi pada taraf internasional Sekolah menghasilkan lulusan yang mampu berkolaborasi pada taraf internasional 1

2

3

4

5

20

Pencapaian standar kompetensi lulusan setara dengan standar kompetensi lulusan sekolah unggul di negara OECD atau negara maju lainnya

Dokumen analisis standar kompetensi lulusan yang setara dengan luluan negara OECD

Sekolah mewujudkan lulusan yang setara dengan sekolah unggul

1 2

3

4

5

62

No. 21

Komponen SNP Daya kompetitif dalam mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi unggul di dalam negeri

Bukti Fisik/ Dokumen Data statistik lulusan yang diterima di PTN dalam dua tahun terakhir

Indikator Operasional Persentase lulusan yang diterima di perguruan tinggi 1 2 3 4 5

Alat Ukur > 80 % 60,1 - 80% 40,1 -60% 20,1 -40% 0 - 20%

b. Standar sistem administrasi akademik berdasarkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Dan muatan pelajaran setara Negara OECD atau Negara yang maju lainnya. Untuk mengukur sistem administrasi akademik berdasarkan teknologi informasi dan komunikasi dan muatan pelajaran setara Negara OECD atau Negara maju lainnya, mempunyai beberapa komponen, bukti fisik, indikator operasional dan sekaligus alat ukurnya. Secara terperinci disajikan dalam tabel berikut : Tabel: 2.10 Standar Akademik Berbasis TIK
No. 1 Komponen SNP Rencana pengembangan implementasi TIK jangka menengah Bukti Fisik/ Dokumen Program dan implementasi program TIK Indikator Operasional Sekolah merencanakan aplikasi TIK pendukung manajemen pembelajaran jangka menengah Alat Ukur 1 2 3 4 5 2 Sistem pengelolaan administrasi akademik siswa berbasis TIK Dokumen administrasi akademik Sekolah mengaplikasikan sistem pengelolaan administrasi akademik 1 2 3 4 5 Memiliki program aplikasi TIK Menetapkan pentahapan Indikator keberhasilan yg terukur Memiliki tim pengembang Memiliki alat ukur pencapaian Sistem administrasi penilaian (raport) Sistem administrasi daftar hadir siswa Sistem pengllan jdwl gru dan maple Sistem layanan info akademik berbasis web Sistem layanan info akademik via SMS

63

No. 3

Komponen SNP Aplikasi program digital dalam peningkatan efektivitas belajar siswa

Bukti Fisik/ Dokumen Produk aktivitas siswa pada dokumen web sekolah

Indikator Operasional Sekolah mengelola web sebagai pendukung efektivitas belajar siswa 1 2

Alat Ukur Siswa berpartisipasi pada web sekolah Siswa menyebarluaskan informasi melalui web sekolah Siswa berinteraksi dengan sekolah melalui web Siswa berintegrasi dengan guru melalui email Sekolah aktif mengisi web dengan materi pelajaran untuk siswa Matematika IPA Ilmu sosial B. Inggris TIK Matematika IPA Ilmu sosial TIK Bahasa Inggris Sekolah menetapkan SKL berdasarkan hasil penelusuran awal siswa Sekolah mensosialisasikan SKL kepada guru dan siswa Sekolah menetapkan strategi pencapaian SKL Sekolah memonitor pencapaian SKL Sekolah mengevaluasi ketercapaian SKL

3

4

5

4

Pengembangan materi belajar yang menyesuaikan pada standar sekolah unggul di negara OECD atau negara maju lainnya Penggunaan standar materi bertaraf internasional sebagai rujukan dalam meningkatkan mutu pembelajaran Pelaksanaan kegiatan penelusuran kemampuan awal siswa (prasyarat pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa)

Ada kegiatan analisis komparatif materi pelajaran KTSP dengan kurikulum negara OECD Kumpulan soal olimpiade dijadikan rujukan utk peningkatan kompetensi siswa Himpunan data uji bekal ajar awal siswa

5

Sekolah menyetarakan materi sekolah unggul di salah satu negara OECD /negara maju lainnya pada MIPA, ilmu sosial, B.Inggris dan TIK Sekolah mengadopsi sistem evaluasi belajar yang relevan dari sekolah unggul negara maju Sekolah melaksanakan kegiatan penelusuran kemampuan awal siswa

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1

6

2

3

4 5

64

No. 7

Komponen SNP Penetapan target rata-rata pencapaian kompetensi lulusan di atas standar nasional

Bukti Fisik/ Dokumen Dokumen target kompetensi lulusan yang sekolah tetapkan

Indikator Operasional Sekolah menerapkan strategi bertaraf internasional dalam meningkatkan target kompetensi lulusan 1 2 3 4 5

Alat Ukur Rata-rata nilai UN MIPA di atas standar nasional Rata-rata Nilai UN IPS di atas standar nasional Nilai rata-rata UN B.Inggris di atas standar nasional Nilai rata-rata UN B.Indonesia di atas standar nasional Nilai rata-rata US TIK di atas standar nasional

4. Standar Proses Perubahan kurikulum pendidikan nasional saat ini yang disebut dengan KTSP yang berbasis pada pencapaian kompetensi berekses terhadap kegiatan belajar. Suatu perubahan paradigma yang fundamental dari akar filosofis belajar dengan menggunakan kontruktivisme dan pendekatan konstektual diterapkan dalam pembelajaran. Kesadaran perlunya pendekatan konstektual dalam pembelajaran didasarkan adanya kenyataan bahwa sebagian murid tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pemanfaatannya dalam kehidupan nyata. Landasan filosofis konstruktivisme yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghapal, tetapi mengkonstruksikanya atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau preposisi yang mereka alami dalam kehidupannya. Pendekatan ini selaras dengan KTSP yang sedang diberlakukan saat ini. Kehadiran KTSP juga dilandasi dengan pemikiran bahwa berbagai kompetensi akan terbangun secara mantap dan maksimal apabila pembelajaran dilakukan ecara kontekstual, yaitu pembelajaran yang didukung situasi dalam kehidupan nyata.

65

Komponen pembelajaran dengan pendekatan kontekstual mempunyai ciri utama minimalnya tujuh komponen, yaitu: 1) constructivism (membangun atau membentuk), 2) Questioning (bertanya), 3) Inquiry (menyelidiki), 4) Learning Community (Masyarakat Belajar), 5) Modelling (pemodelan), 6) Reflection (Refleksi atau umpan balik), 7) Authentic Assesment (penilaian yang sebenarnya)49. Apabila ketujuh komponen ini diterapkan dalam pembelajaran, maka akan terlihat pada realitas berikut; a. Kegiatan belajar yang mengembangkan pikiran bahwa pembelajaran lebih bermakna apabila siswa mandiri, menemukan, dan membangun sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. b. Kegiatan belajar yang mendorong sikap keingin tahuan siswa lewat bertanya melalui sumber belajar tantang topik atau permasalahan yang dipelajari. c. Kegiatan belajar yang mengkondisikan siswa untuk mengamati, menyelidiki, menganalisis topik atau permasalahan yang dihadapi sehingga ia menemukan sesuatu. d. Penciptaan suasana belajar bersama atau berkelompok sehingga siswa dapat berdiskusi, curah pendapat, bekerjasama, dan saling membantu terhadap teman lainnya. e. Belajar melalui pengrekayasa model yang bisa dipakai rujukan atau panutan siswa dalam bentuk penampilan tokoh, demonstrasi kegiatan, penampilan hasil karya, cara mengoperasikan sesuatu, dan sebagainya. f. Belajar yang memberikan refleksi atau umpan balik dalam bentuk Tanya jawab dengan siswa tentang kesulitan yang dihadapi dan pemecahannya, merekontruksi

49

R. S. Zais, Curriculum Priciples and Foundation, (New York: Harper and Row Publisher, 1976), hlm.223.

66

kegiatan yang dilakukan, kesan siswa selama melakukan kegiatan dan saran atau harapan siswa. g. Penilaian kegiatan siswa yang bisa diamati secara periodik tentang perkembangan kompetensi siswa melalui kegiatan-kegiatan nyata ketika pembelajaran berlangsung. John A. Zaborik dalam Cotruktivist Taching mencatat lima elemen yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran konstektual, yaitu: a. Activiting Knowledge, pengaktifan pengetahuan yang sudah ada. b. Acquirin knowledge, pemerolehan pengetahuan baru dengan cara mempelajari secara keseluruhan, memperhatikan esensi dan detailnya. c. Understanding knowledge, pemahaman pengetahuan dengan cara menyusun; a) konsep sementara (hipotesis), b) melakukan sharing kepada teman sejawat agar mendapatkan validasi, dan atas tangapan itu, c) konsep tersebut direvisi atau dikembangkan. d. Applying knowledge, mempraktekan pengetahuan dan pengalaman tersebut. e. Reflecting knowledge, melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut50. Penertian proses yang dimaksud pada standar ini adalah proses implementasi standar isi atau pembelajaran. Lebih jelasnya sebagaimana definisi dalam PP RI No. 19 tahun 2005 mengemukakan standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pembelajaran pada satu satuan pendidikan SMA untuk mencapai standar kompetensi lulusan51, setiap satuan pendidikan SMA melakukan perencanaan

50

Masnur Muslich, KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 85-98. 51 LEKDIS Standar Nasional Hlm. 14.

67

proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran. Sedangkan proses pembelajaran yang menjadi standar R-SMA-BI adalah harus lebih tinggi dari standar nasional. Oleh karena itu untuk mengukur ketercapaiannya. Standar proses mempunyai beberapa komponen, bukti fisik, indikator operasional dan sekaligus alat ukurnya. Secara terperinci disajikan dalam tabel berikut : Tabel: 2.11 Indikator Operasional Standar Proses52
N0 1 Komponen SNP Pemenuhan standar proses pembelajaran Bukti Fisik/Dokumen Kesesuaian dengan standar proses Indikator Operasional Guru memenuhi prosedur pemenuhan standar proses pembelajaran 1 2 3 4 5 2 Perangkat pembelajaran Sampel dokumen RPP yang guru miliki Guru memenuhi standar komponen perangkat pembelajaran pada RPP 1 2 3 4 5 6 3 Pelaksanaan proses pembelajaran Hasil observasi KBM di kelas Guru mengembangkan mutu proses pembelajaran dalam siklus perbaikan berkelanjutan 1 2 3 4 5 Alat Ukur Pendekatan tatap muka Kegiatan mandiri terstruktur Kegiatan mandiri tidak terstruktur Pengelolaan sistem moving class Layanan konsultasi mata pelajaran Kompetensi dasar Indikator belajar Materi belajar Kegiatan pembelajaran Sumber belajar Evaluasi belajar Melaksanakan evaluasi sebagai dasar perbaikan Melaksanakan kegiatan eksplorasi Melaksanakan kegiatan elaborasi Melaksanakan kegiatan konfirmasi Melakukan perbaikan berkelanjutan

52

Studi dokumentasi, Instrumen Evaluasi KinerjaPenyelenggaraan R‐SMA‐BI tahun ke 3.

68

No. 4

Komponen SNP Penggunaan dokumen bahan ajar

Bukti Fisik/ Dokumen Hasil observasi KBM di kelas

Indikator Operasional Guru memiliki variasi model bahan ajar 1 2 3 4 5

Alat Ukur Resume Handout Lembar kerja siswa Buku teks Dokumen digital Naskah RPP tersedia dlm bhs Indonesia dan Inggris Disahkan kepala sekolah RPP direview oleh fasilitator maple RPP dapat dibaca oleh siswa melalui web Memiliki backup/arsip Sesuai dengan kebutuhan siswa

5

Penggunaan dokumen RPP

Hasil observasi KBM di kelas

Sekolah menunjukkan naskah RPP yang digunakan guru dalam pelaksanaan pembelajaran dalam kelas Guru menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa belajar

1 2 3 4 5 1

6

Penggunaan metode pembelajaran sesuai dengan RPP

Hasil observasi KBM di kelas

2 3 4 5 6

Sesuai dengan karakteristik materi Sesuai dengan daya dukung sarana dan prasarana Mendorong siswa aktif dan kreatif Meningkatkan mutu produk belajar Sesuai dengan konsep Persiapan pembelajaran Silabus dan RPP Buku nilai Agenda kegiatan Sumber belajar Media belajar manual/digital Perangkat evaluasi Melakukan tegur sapa dengan siswa Mendata siswa yang tidak hadir Mengaitkan materi sebelumnya Mengungkap pokok materi Menjelaskan tujuan mengajar Menjelaskan indikator hasil belajar

7

Peningkatan kesiapan guru menyediakan perangkat pengajaran

Hasil observasi KBM di kelas

Guru menyiapkan dan menggunakan perangkat pembelajaran

1 2 3 4 5 6 7

8

Pelaksanaan kegiatan pendahuluan pembelajaran

Hasil observasi KBM di kelas

Guru melakukan kegiatan pendahuluan pembelajaran

1

2 3 4 5 6

69

No. 9

Komponen SNP Penyesuaian indikator pada RPP dengan pelaksanaan pembelajaran

Bukti Fisik/ Dokumen Hasil observasi KBM di kelas

Indikator Operasional Guru mengelola kegiatan belajar sesuai dengan uraian pada RPP 1

Alat Ukur Sesuai dengan kompetensi dasar

2 3 4 5 6 10 Penyajian bahan ajar pada pelaksanaan pembelajaran oleh guru Hasil observasi KBM di kelas Guru menguasai materi pelajaran yang disajikannya 1 2 3 4 5 11 Penggunaan TIK dalam pelaksanaan pembelajaran Hasil observasi KBM di kelas Guru menggunakan TIK dalam pelaksanaan kegiatan mengajar 1 2 3 4 5 12 Penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar Hasil observasi KBM di kelas Guru menggunakan bahasa Inggris pada proses pembelajaran 1 2 3 4 5 13 Peningkatan mutu budaya baca tulis Karya siswa dalam dua tahun terakhir Guru mengembangkan kompetensi menulis siswa 1 2 3 4 5 6

Sesuai dengan indicator Sesuai dengan materi belajar Sesuai dengan kegiatan pembelajaran Sesuai dengan sumber belajar Sesuai dengan evaluasi belajar Mencantumkan sumber belajar Terdiri atas beberapa sumber belajar Sesuai dengan KD Membangun pengalaman belajar siswa Dikaitkan dengan konteks Power point Mendayagunakan e-mail Menggunakan infomasi digital Mendayagunakan flash, video, CD Menggunakan animasi pembelajaran Menggunakan sumber belajar berbahasa Inggris Menggunakan soal berbahasa Inggris Menghasilkan tulisan dalam bahasa Inggris Berkomunikasi dalam bahasa Inggris Mejelaskan materi pelajaran dalam bahasa Inggris Karya tulis ilmiah Penerbitan bulletin Karya sastra Makalah Handout Kliping

70

No. 14

Komponen SNP Penggunaan sumber belajar yang setara dengan siswa sekolah unggul di negara anggota OECD Pelaksanaan pengayaan dengan materi ajar bertaraf internasional

Bukti Fisik/ Dokumen Hasil observasi KBM di kelas

Indikator Operasional Guru menggunakan sumber belajar berbahasa Inggris 1 2 3 4 5 Jurnal E-book

Alat Ukur

Web site Text book Referensi perpustakaan Terdapat agenda pengayaan Terdapat dokumen pelaksanaan Materi pengayaan Terdapat data peserta dan pelaksana Data hasil pengayaan Terprogram dalam RPP Program disahkan dalam rapat dewan pendidik Memiliki standar prosedur operasional Jelas targetnya Relevan dengan SKL Agama MIPA B. Inggris B. Indonesia Ilmu sosial Menetapkan tujuan Menetapkan indikator dan kriteria mutu bertaraf internasional Mengembangkan instrumen penjaminan Melakukan proses penjaminan dan pengolahan data Melakukan perbaikan berkelanjutan > 98 % 97,1 - 98 % 96,1 - 97 % 95,1 - 96 % < 95 %

15

Program pengayaan dari guru

Guru melaksanakan kegiatan pengayaan

1 2 3 4 5

16

Pengembangan kegiatan mandiri tidak terstruktur

Produk belajar siswa

Sekolah melaksanakan kegiatan belajar mandiri tidak terstruktur

1 2 3 4 5

17

18

Perbaikan kinerja mengajar melalui pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Perbaikan kinerja mengajar melalui penjaminan mutu pembelajaran

Dokumen laporan penelitian

Guru melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

1 2 3 4 5

Dokumen aktivitas peneletian pendidik

Sekolah melaksanakan penjaminan mutu proses pembelajaran

1 2

3 4 5

19

Tenaga pendidik menunjukkan keteladanan

Data kehadiran pendidik dan tenaga kependidikan

Persentase tingkat kehadiran pendidik dan tenaga kependidikan dlm menunaikan tugas.

1 2 3 4 5

71

No. 20

Komponen SNP Penerapan tata tertib guru yang ditetapkan sekolah

Bukti Fisik/ Dokumen Dokumen tata tertib yang telah disahkan sekolah

Indikator Operasional Sekolah memiliki tata tertib guru 1 2 3 4 5

Alat Ukur Terdapat dokumen tata tertib yang disahkan sekolah Terdapat sanksi pelanggaran Terdapat reward atas prestasi Guru tidak menerima gratifikasi Terdapat komisi disiplin Terdapat dokumen tata tertib yang disahkan sekolah Terdapat bukti efektif data pelanggaran Terdapat reward atas prestasi Terdapat sanksi pelanggaran Terdapat komisi disiplin Memiliki koperasi siswa Memiliki koperasi guru Memiliki toko koperasi Terdapat kegiatan usaha produksi Terdapat kegiatan usaha layanan jasa lain Pertukaran informasi Pertukaran siswa Pertukaran guru Peningkatan mutu profesi Pengembangan kurikulum Kemampuan komunikasi Memecahkan masalah Menggunakan teknologi Bekerja sama dalam tim kerja Berpikir kreatif Pertukaran informasi Pertukaran siswa Pertukaran guru Peningkatan mutu profesi Pengembangan kurikulum

N o .

21

Penerapan tata tertib siswa yang ditetapkan sekolah

Dokumen tata tertib yang telah disahkan sekolah

Sekolah memiliki tata tertib siswa

1 2 3 4 5

22

Pengembangan usaha kewirausahaan

Adanya lembaga usaha yang beroperasi

Sekolah memiliki lembaga atau kegiatan usaha

1 2 3 4 5

23

24

Pengembangan kerja sama peningkatan mutu pembelajaran dengan sekolah unggul tingkat nasional Pengembangan kompetensi siswa bertaraf internasional melalui proses pembelajaran Kerja sama pembelajaran dengan sekolah unggul pada negara OECD atau negara maju lainnya

Adanya dokumen hasil kerja sama

Sekolah mengembangkan kerjasama dengan sekolah unggul tingkat nasional

1 2 3 4 5

Produk kegiatan belajar

Guru menunjukkan bukti pembelajaran mengembangkan kecakapan Sekolah mengembangkan kerjasama dengan sekolah unggul dari negara OECD atau negara maju lainnya

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

25

Adanya dokumen hasil kerja sama

72

No. 26

Komponen SNP Pembangunan web sebagai media promosi sekolah yang komunikatif, adaptif dan media inovasi pembelajaran Pendayagunaan TIK dalam kegiatan PBM pada semua mata pelajaran

Bukti Fisik/ Dokumen Materi Web

Indikator Operasional Sekolah mengembangkan web yang berfungsi sesuai tujuan 1 2 3 4 5

Alat Ukur Memiliki web Web dapat diakses Web sebagai media belajar interaktif Web sebagai forum online warga sekolah Informasi web terbaharui secara berkelanjutan Siswa diberi tugas mencari informasi lewat internet Siswa mengupload hasil belajar ke web Siswa mengumpulkan tugas melalui email Siswa melakukan diskusi di forum web sekolah Siswa memiliki networking internasional Guru dapat menggunakan komputer/laptop Guru membuat media pembelajaran Meningkatkan kemampuan menggunakan alat peraga Bertukar alat peraga Memiliki dokumen atau menyimpan alat peraga Bahasa Inggris Matematika Biologi Kimia Fisika Ilmu sosial Matematika Biologi Kimia Fisika

N o .

27

Aktivitas siswa dalam penggunaan TIK

Siswa menggunakan TIK pada kegiatan belajar

1 2 3 4 5

28

29

Pengembangan alat peraga pembelajaran berbasis TIK yang setara dengan sekolah unggul di negara OECD atau negara maju lainnya Penggunaan referensi sumber belajar siswa berbahasa Inggris Pelaksanaan pembelajaran sains, matematika dengan bahasa pengantar bahasa Inggris.

Alat peraga digital

Guru mengelola alat peraga pembelajaran berbasis TIK secara aktif

1 2 3 4 5

Sumber belajar pada RPP guru

Siswa menggunakan sumber belajar berbahasa Inggris dalam pembelajaran Guru melaksanakan pembelajaran berpengantar bahasa Inggris

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

30

Penggunaan bahasa Inggris oleh guru

73

5. Standar Penilaian Pendidikan Penilaian adalah proses menilai suatu objek dengan menampilkan hubungan sebab akibat diantara faktor yang mempengaruhi objek tersebut, Stufflebeam mengatakan bahwa penilaian adalah proses menggambarkan, memperoleh dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan, 1) Perbaikan sistem pembelajaran, 2) Pertanggungjawaban kepada pemerintah dan masyarakat, dan 3) Penentuan tindak lanjut pengembanhan53. Pangertian dan cakupan evaluasi diatas sesuai dengan standar penilaian sebagaimana yang terdapat dalam Permendiknas No. 20 Tahun 2007 Tentang Standar Peenilaian, penilaian digunakan dalam konteks yang lebih luas dan bisa dilaksanakan oleh pihak eksternal (oleh pihak yang berada diluar sistem), seperti: pemerintah, badan akreditasi, dan lain-lain. Istilah evaluasi atau penilaian mempunyai makna; we used the world evaluation to designate summing-up process in wich value judgement play a large part, as in grading and promoting students (Stanley and Hopkins, 1978)54. Evaluasi mempunyai pengertian sebagai suatu kegiatan yang menetukan keberadaan nilai, seperti baik-buruk atau efektif-tidak efektif, terhadap objek yang dievaluasi sesuai dengan tolak ukur tertentu, berdasarkan informasi atau data yang dikumpulkan dengan menggunakan cara-cara secara ilmiah yang dianggap sahih. Informasi atau data yang digunakan dalam penilaian mempunyai peran besar terhadap ketepatan pemberian nilai. Penilaian yang menggunakan data yang mencakup berbagai aspek (komperhensif) akan menghasilkan penggambaran tenang keberadaan nilai objek yang penilaian secara lebih tepat. Dalam penilaian ada lima faktor yang

53 54

Dikutip dari Stufflebeam (1972) oleh: Suharsimi Arikunto, ibid., 49. Dikutip oleh: R. Ibrahim dan Mohammad Ali, Evaluasi Pendidikan, (Bandung: Pedagogiana Press, 2007), hlm. 104.

74

harus diperhatikan. a. Penilaian berkaitan dengan kegiatan pemberian nilai (value), yaitu derajat kebaikan atau mutu dari objek yang dinilai. b. Pemberian nilai seadanya digunakan untuk kepentingan sumatif, yaitu untuk mencari bahan-bahan umpan balik yang akan digunakan untuk melakukan perbaikan terhadap proses. c. Nilai yang diberikan mengacu pada suatu patokan tertentu, dengan pilihan a) kriteria ditetapkan terlebih dahulu, b) norma yang bersifat relatif disesuaikan dengan data yang diperoleh, c) gabungan kedua patokan tersebut. d. Pemberian nilai didasarkan atas data yang dikumpulkan melalui teknik-teknik, seperti: pengujian, pengamatan, wawncara, dan hasil pekerjaan. e. Hasil secara tepat menggambarkan keadaan yang sebenarnya (akurat dan objektif)55. Tujuan dan fokus penilaian terdiri dari empat macam, yaitu: penilaian program, penilaian proses, penilaian hasil, dan penilaian dampak. 1) penilaian program difokuskan pada program pendidikan berupa program yang dirancang untuk mencapai tujuan tertentu, seperti: kurikulum, tata tertib, dan lain-lain. 2) penilaian proses difokuskan kepada proses pendidikan yang dilaksanakan serta berbagai variable yang terlibat dalam proses pendidkan tersebut, seperti: interaksi edukatif, sarana prasarana, budaya, dan sebagainya. 3) penilaian hasil, fokus utama penilaian pendidikan pada hasil belajar peserta didik. Penilaian hasil ini sering juga disebut penilain outcomes. Penilaian ini akan diketahui setelah peserta didik memanfaatkan hasil belajar dalam
55

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi, (Bandung: Angkasa, 1987), hlm 49.

75

berbagai aktifitas dan konteks56. Sedangkan standar peniaian R-SMA-BI harus memiliki kriteria yang lenih tinggi dari standar penilaian PPRI N0. 19 thn 2005. Oleh karena itu untuk mengukur standar penilaian mempunyai beberapa komponen, bukti fisik, indikator operasional dan sekaligus alat ukurnya. Secara terperinci disajikan dalam tabel berikut : Tabel: 2.12 Indikator Operasional Standar Penilaian57
No. 1 Komponen SNP Perumusan instrumen penilaian sesuai dengan indikator keberhasilan belajar siswa Bukti Fisik/ Dokumen RPP Indikator Operasional Sekolah merumuskan instrumen penilaian yang termuat atau terlampir dalam RPP Guru melaksanakan penilaian proses 1 2 3 4 5 Alat Ukur Tes objektif Tes uraian Tes unjuk kerja Portofolio Non tes (anecdotal record, event sampling, check list, etc.) Terdapat buku nilai Terdapat hasil penilaian Pengolahan nilai Adanya tindak lanjut remedial Adanya tindak lanjut pengayaan Ulangan harian Ulangan tengah semester Ulangan akhir semester Ulangan kenaikan kelas Ujian sekolah Melakukan analisis hasil ulangan Menyusun kegiatan tindak lanjut Melakukan tindak lanjut (pengayaan, remedial) Menganalisis kesulitan belajar siswa Memberi bantuan belajar siswa

2

Pelaksanaan standar penilaian proses

Dokumen administrasi pengelolaan penilaian proses

1 2 3 4 5

3

Pelaksanaaan penilaian hasil belajar siswa

Dokumen administrasi pengelolaan penilaian proses Notula rapat dewan pendidik

Guru melaksanakan penilaian hasil belajar siswa

1 2 3 4 5

4

Penggunaan hasil penilaian belajar untuk perbaikan proses pembelajaran dalam rapat dewan pendidik

Sekolah melaksanakan perbaikan proses pembelajaran berdasarkan hasil penilaian belajar

1 2 3 4 5

56

R. Ibrahim dan Mohammad Ali, Evaluasi Pendidikan, (Bandung: Pedagogiana Press, 2007), hlm. 104. Studi dokumentasi, Instrumen Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan R-SMA BI tahub ke 3.

57

76

No. 5

Komponen SNP Penyelenggaraan supervisi secara terprogram

Bukti Fisik/ Dokumen Program dan laporan pelaksanaan supervisi

Indikator Operasional Sekolah memprogram dan melaksanakan supervisi 1 2 3 4 5

Alat Ukur Terprogram Terlaksana Terdapat catatan hasil Terdapat catatan refleksi Terdapat catatan tindak lanjut Terdapat program supervise Terdapat hasil supervise Melibatkan guru senior Terdapat rumusan tindak lanjut Terdapat pelaksanaan tindak lanjut Memiliki dokumen soal Melakukan kajian kesesuaian soal dengan kurikulum Mengembangkan penilaian sesuai standar masuk perguruan tinggi Memiliki dokumen perkembangan hasil penilaian Melakukan perbaikan berkelanjutan Memiliki dokumen model soal Mengembangkan kompetensi pendidik menguasai soal-soal bertaraf internasional Bekerja sama dengan tenaga ahli dlm sains Meningkatkan kemampuan siswa menjawab soal-soal bertaraf nasional dan internasional. Mengevaluasi kinerja siswa dalm menjawab soal Memiliki program Terdapat dokumen kesepakatan Adanya dokumen pelaksanaan kegiatan Adanya penjaminan mutu dalam penilaian Adanya produk kegiatan

6

Penggunaan hasil supervisi untuk perbaikan pelaksanaan pembelajaran

Catatan tindak lanjut supervisi

Kepala sekolah menentukan tindak lanjut dari hasil pelaksanaan supervisi

1 2 3 4 5

7

Pengembangan model penilaian dengan menggunakan soalsoal seleksi masuk perguruan tinggi bertaraf internasional

Himpunan soal-soal seleksi masuk perguruan tinggi bertaraf internasional

Sekolah menghimpun informasi tentang soal-soal yang digunakan dalam seleksi masuk perguruan tinggi

1 2 3

4 5

8

Pengembangan model penilaian dengan soal-soal dari lembaga penyelenggara olimpiade internasional

Himpunan soal-soal olimpiade sains internasional yang digunakan sebagai rujukan

Sekolah menggunakan soal olimpiade sebagai rujukan mutu tingkat internasional yang ditulis dalam bahasa Inggris

1 2

3 4

5 9 Pelaksanaan kerjasama dalam meningkatkan standar penilaian bertaraf internasional Dokumen kerja sama dalam melakukan peingkatan standar penilaian Melakukan kerjasama dalam meningkatkan standar penilaian belajar yang setara dengan sekolah unggul / lembaga dari negara OECD 1 2 3 4 5

77

No. 10

Komponen SNP Pelaksanaan perbaikan mutu melalui kegiatan penjaminan mutu dalam meningkatkan standar penilaian bertaraf internasional

Bukti Fisik/ Dokumen Dokumen perbaikan mutu dalam melakukan peningkatan standar penilaian

Indikator Operasional Sekolah memanfaatkan tenaga ahli dalam penjaminan mutu untuk meningkatkan standar penilaian belajar yang setara dengan sekolah unggul bertaraf intenasional 1 2 3 4 5

Alat Ukur Bekerja sama dengan tenaga ahli Terdapat rujukan mutu bertaraf internasional Adanya dokumen pelaksanaan kegiatan Adanya penjaminan mutu dalam penilaian Adanya produk kegiatan

N o .

6. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan a. pendidik Gambaran tentang pendidik secara umum memiliki arti orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan seluruh potensi anak didik, senada dengan ini Fadhil al Jamili mengartikan pendidik adalah orang yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang lebih baik sehinga terangkat derajat kemanusiannya sesuai dengan kemampuan dasar yang dimilik manusia. Marimba mengartikan pendidik sebagai orang yang memikul pertangung jawaban sebagai pendidik,yaitu manusia dewasa yang karena hak dan kewajibannya bertangung jawab tentang pendidikan peserta didik58. Dari definisi di atas tentang pendidik mengindikasikan bahwa pendidik adalah suatu profesi dimana profesi tersebut memiliki kemampuan (kompetensi), mempunyai tugas, mengarahkan dan untuk mendidik peserta didik. Berdasarkan dari definisi pendidik pula, maka profesi guru menuntun akan adanya tanggung jawab, kompetensi, dan tugas yang harus dimiliki dan dijalani oleh pendidik, sehingga kualitas dan mutu pendidik ditentukan oleh kemampuannya,
58

H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2004), hlm. 125-128.

78

menjalankan tugas sebagai pendidik, dan memiliki tanggung jawab untuk tercapainya tujuan pendidikan. Maka dari sinilah melahirkan kriteria dan persyaratan profesi pendidik, hal ini digunakan untuk kualias dan mutu kemampuan pendidik dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Guru mempunyai tugas ganda yang luas, baik di sekolah, di keluarga maupun di masyarakat. Guru yang baik dan efektif ialah guru yang dapat memainkan semua perannya dengan baik. Menurut Amstrong dalam bukunya Secondary Education peranan guru ada 659, yaitu: 1) Guru sebagai instruktur. Tanggung jawa instrusional guru ialah berlangsunnya interaksi belajar mengajar60. 2) Guru sebagai manajer. Dalam menjalankan tugasnya sehari-hari, guru sebagai pendidk dalam proses belajar-mengajar sangat dituntut kemampunya dalam merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, dan mengawasi seluruh kegiatannya. Dengan demikianguru sebagai manajer bertanggung jawab untuk mengatur semua tugas-tugasnya dalam mendidik anak di kelas. 3) Guru sebagai pembimbing. Dalam keseluruhan proses pendidikan, guru merupakan faktor utama. Sehubungan dengan perannya sebagai pembimbing, seorang guru harus: a) Mengumpulkan data tentang siswa b) Mengamati tingah laku siswa c) Mengenal para siswa yang memerlukan bantuan khusus d) Mengadakan pertemuan atau hubungan dengan orang tua siswa, baik secara
59

David G. Amstrong dan Tom V. Savage, secondary Education, (New York: Macmillan Publishing, 1983), hlm 91. 60 David G. Amstrong dan Tom V. Savage, secondary.hlm 98.

79

individy maupun secara kelompok untuk memperoleh saling pengertian tentang perkembangan pendidikan anaknya e) Bekerjasama dengan masyarakat dan lembaga-lembaga lainnya untuk membantu memecahkn masalah siswa. f) Membuat catatan pribadi siswa g) Menyelenggarakan bimbingan kelompok atau individu61. 4) Guru sebagai evaluator, penilaian merupakan suatu keharusan bagi seorang guru, untuk mengukur berapa jauh ketercapaian tujuan pembelajaran. Seorang guru dalam menjalankantuges kesehariannya, yaitu mendidik, tidak akan luput dari penilaian, baik aspek kognitif, psikomotori maupun afetif. Ketiga aspek ini dapat terwujud dengan baik jika seorang guru selama menjalankan tugasnya melakukan penilaian dengan baik62. 5) Guru sebagai angota organisasi profesi. Tujuan utama dari organisasi profesi adalah membantu para guru untuk meningkatkan profesinya, karena bagaimanapun juga persoalan pendidikan yang begitu kompleks tidak akan bisa diselesaikan dengan beberapa guru tanpa melalui organisasi profesi. Dengan ini peranan dan tanggungjawab guru akan semakin jelas dan terarah. 6) Guru sebagai spesialis hubungan masyarakat, guru harus mampu memainkan peran sebagai spesialis hubungan masyarakat, terutama dalam bekerja sama dengan orang tua siswa. Pandangan-pandangan masyarakat yang bersifat positif dan bersifat negative terhadap sekolah cenderung tergantung pada bagaimana masyarakat tersebut memandang sekolah. oleh karena itu, para guru harus tetap menjaga
61

Udin Saefuddin Sa’ud dan Mulyani Sumantri, Pendidikan Dasar dan Menengah, dalam Ilmu dan Apikasi Pendidikan, (Bandung: Pedagogiana Press, 2007), hlm. 1113. 62 Udin Saefuddin Sa’ud dan Mulyani Sumantri, Pendidikan Dasar dan Menengah,), hlm. 1118.

80

hubungan yang terbuka dan positif dengan para orangtua siswa di mana anak-anak mereka bersekolah63. b. Tenaga Kependidikan pada aspek tenaga kependidikan hal yang esensial ada pada kepemimpinan SMA atau kepala SMA. Kepemimpinan dalam manajemen pendidikan merupakan faktor kunci keberhasilan suatu organisasi. Kepemimpinan merupakan inti dalam manajemen kependidikan. Maju mundurnya suatu organisasi banyak dipengaruhi oleh faktor kepemimpinan, kepemimpinan akan berjalan secara efektif dan efisien apabila dilaksanakan oleh seorang pemimpin yang jujur, bertangung jawab, transparan, cerdas, memahami tugas dan kewajibannnya, memahami anggota, mampu memotivasi, dan berbagai sifat yang baik dalam diri seorang pemimpin. Ada tiga pendekatan tentang studi kepemimpinan. Pertama, studi

kepemimpinan yang mencoba mengadakan identifikasi berbagai sifat para pemimpin, yakni dalam usaha menjawab pertanyaan “How one becomes a leader”. Kedua, studi kepemimpinan yang menekankan pada berbagai perilaku pemimpin, yaitu untuk memberikan jawaban atau pertanyaan “How leader behave”. Dan ketiga, studi kepemimpinan kontingensi, yaitu studi kepemimpinan yang hakikatnya berusaha untuk memenuhi jawaban atas pertanyaan “What makes the leader effective”64. Menurut Hemhiel dan Coons (1957:7) bahwa kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang akan dicapai bersama (shared goal). Sedangkan menurut Raum dan Behling (1984:46) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi

63 64

David G. Amstrong dan Tom V. Savage, hlm. 98. Wahjosumidjo, Motivasi dan Kepemimpinan, (Jakarta Bumi Aksara , 1993, hlm. 12.

81

aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasikan kearah pencapaian tujuan. Kepemimpinan adalah sebuah proses member arti (pengarahan berarti) terhada usaha kolektif, dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakuan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran (Jacobs and Jacques, 1990: 281). Lebih lanjut ditegaskan Kuozes dan Posner (1993: 11) menyatakan “Leadership is a relationship, one between constituent and leader that is based in mutual needs and interest.” Sebagai hubungan antara anggota-anggota organisasi dan pemimpin, maka kepemimpinan berlangsung atas dasar adanya saling membutuhkan dan mnat yang sama dalam rangka mencapai tujuan65. Wahdjo Sumidjo menjelaskan bahwa butir-butir pengertian dari berbagai kepemimpinan pada haketnya memberikan makna: 1) Kepemimpinan adalah suatu yang melekat pada diri seorang pemimpin yang berupa sifat-sifat tertentu seperti kepribadian (personality), kemampuan (ability) dan kesanggupan (capability). 2) Kepemimpinan adalah rangkaian kegiatan (activity) pemimpin yang tidak dapat dipisahkan dengan kedudukan (posisi) serta gaya atau perilaku pemimpin itu sendiri. 3). Kepemimpinan adalah sebagai proses antar hubungan atau nteraksi antara pemimpin, pengikut dan situasi66. Memahami pengertian kepemimpinan dari sudut para pakar akan memberikan gambaran bahwa kepemimpinan merupakan suatu peran yang sangat penting dalam manajemen pendidikan. Berbagai pengertian, konsep, teori dan praktik kepemimpinan dalam manajemen pendidikan bertujuan agar pendidikan dapat mencapai tujuan
65 66

Wahdjo Sumidjo, Motivasi dan hlm. 122-138 Wahdjo Sumidjo, Motivasi dan , hlm. 147

82

pendidikan secara efektif dan efisien. Semakin pesatnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta tuntutan masyarakat tehadap mutu pendidikan menuntut

kepemimpinan yang efektif. Tantangan bagi seorang pemimpin pendidikan adalah bagaimana ia mampu berperan secara efektif dalam mendorong dan pelopor perusahaan organisasi menuju organisasi yang bermutu. Upaya memperbaiki mutu dalam suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh mutu kepemimpinan yang efektif. Dukungan dari anggota akan uncul secara berkelanjutan ketika pimpinannya benar-benar bermutu atau unggul. Sekolah hanya akan maju apabila dipimpin oleh kepala sekolah yang visioner, memiliki keterampilan manajerial, serta integritas kepribadian dalam melaksanakan perbaikan mutu. Kepemimpinan kepala sekolah tentu menjalankan manajemen sesuai dengan iklim organisasinya67. Kepala sekolah akan dapat memainkan perannya secara efektif apabila memaami dbudaya sekolah yang dipimpinnya. Perubahan budaya yang berorientasi kepada mutu harus dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah. kepala sekolah harus memainkan kepemimpinan yang demokratis, transparan, jujur, bertanggungjawab, menghargai guru dan staf, bersikap adil, dan bersikap terpuji lainnya yang tertanam dalam diri dan dirasaka oleh warga sekolahnya. Kepala sekolah terbuka menerima kritik dan masukan dari guru, staf TU, para siswa dan orang tua tentang budaya yang berkembang di sekolah. Kepemimpinan mutu pendidikan akan mampu menggerakan organisasi agar program dan tujuan yang telah ditetapkan bersama dapat tecapai. Demikan pula dengan gerakan utu (quality movement) pada lembaga pendidikan atau menumbuh kembangkan budaya mutu (quality culture) harus ditopang oleh peran kepemimpinan
67

Syarafuddin, Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2002), hlm. 50.

83

yang bermutu. Dalam pandangan Peters dan Austins menyatakan bahwa kepemimpinan untuk meraih mutu dalam sekolah unggul yang harus diperhatikan oleh pemimpin pendidikan meliputi hal-hal berikut: 1) Vision and Symbolic. Kepala sekolah harus mengkomunikasikan nilai-nilai lembaga terhadap staf, pelajar-pelajar, dan masyarakat luas. 2) Management by Walking about (MBWA), yaitu suatu cara bagi pemimpin untuk memahami, berkomunikasi dan mendiskusikan proses yang berkembang dalam lembaga dengan tidak hanya duduk di meja kerjanya. 3) For the kids, yaitu perhatian yang sungguh-sungguh kepada semua anggota lembaganya, baik pelajar (primary customer) maupun pelanggan lain. 4) Autonomy, experimrntations and support for failure, yaitu memiliki autonomi, suka mencoba hal baru, dan memberikan dukungan bagi sikap inisiatif dan inovatif untuk memperbaiki kegagalan. 5) Create a sense of family, yaitu cara untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan diantara sesama guru, pelajar, karyawan, dan setiap pemimpin lainnya. 6) Sense of the whole, rhytme passion, intensity, and enthusias, yaitu menumbuhkan rasa kebersamaan, keinginan, semangat, potensi diri setiap staf.68 Dalam mewujudkan perbaikan mutu pendidikan berkelanjutan, maka yang diperlukan adalah pemimpin yang hanya tidak berhasil (success), tetapi juga yang efektif (effective). Pemimpin yang efektif dalam organisasi pendidikan adalah mereka yang memberikan pengaruhnya dan orang lain bergerak kearah tujuan secara sukarela dan senag tanpa merasa terpaksa. Pengaruh ini berkelanjutan untuk mewujudkan mutu
68

Dikutip ole Syaparuddin, Manajemen terpadu, hlm. 57.

84

pendidikan, sehingga kinerja sekolah dapat dirasakan para pelangan pendidikan dari lulusan yang bermutu. Dalam pandangan Hoy dan Miskel menyatakan bahwa pendekatan kontingensi melihat keefektifan pemimpin terletak pada antara kesesuaian karakteristik kepribadian pemimpin dengan variable situasional yang meliputi tugas, posisi kekuasaan, keterampilan dan sikap bawahan. Oleh sebab itu menurut teori ini tidak ada satu pun gaya kepemimpinan yang terbaik. Lebih lanjut menegaskan bahwa menjadi seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh kepribadiannya. Seorang menjadi pemimpin karena keadaan yang bersangkutan berada pada tempat dan situasi yang tepat atau karena berbagai faktor seperti umur, pendidikan, pengalaman, serta latar belakang keluarga dan kekayaan69. Kajian tentang efektivitas kepemimpinan telah menarik perhatian para pakar organisasi dan para pemimpin khususnya. Para pakar ataupun peneliti mencoba melihat faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pemimpin dalam memimpin. Reitz menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi eetivitas pemimpin meliputi: (1) kepribadian (personality), pengalaman masa lalu dan harapan, (2) harapan dan perilaku atasan, (3) karakteristik, harapan, dan perilaku bawahan, (4) kebutuhan tugas, (5) iklim dan kebijakan organisasi, dan (6) harapan dan perilaku rekan70. Menurut Covey (1997: 26) dalam bukunya “The Principle Centered Leadership”, seorang pemimpin yang efektif memiliki prinsip-prinsip dalam membangun organisasinya. Prinsip adalah bagian dari kondisi, kesadaran, dan suara hati. Prinsip dapat menimbulkan kepercayaan dan merupakan kompas yang

69 70

K, Hoy Wayne and Cecil G. Miskel, Educational , hlm. 465. K, Hoy Wayne and Cecil G. Miskel, Educational , hlm. 479.

85

menunjukan arah, panduan yang tidak berubah. Prinsip muncul dalam bentuk ide, nilai, norma dan ajaran yang meninggikan, memuliakan, memberdayakan, dan member inspirasi kepada manusia. Prinsip juga merupakan pusat atau sumber utama sistem penunjang hidup yang ditunjukan oleh empat dimensi dasar yaitu rasa aman, panduan, sikap bijak dan kekuatan. Standar pendidik dan tenaga kependidikan dalam pengembangan R-SMA-BI harus memiliki standar yang lebih tinggi dari standar sekolah standar nasional. Oleh karena itu, untuk mengukur standar pendidik dan tenaga kependidikan mempunyai beberapa komponen, bukti fisik, indikator operasional dan sekaligus alat ukurnya. Secara terperinci disajikan dalam tabel berikut : Tabel, 2.13 Indikator Operasional Standar Pendidik 71
No. 1 Komponen SNP Kesesuaian tugas mengajar dengan latar belakang bidang studinya Bukti Fisik/ Dokumen Dokumen data pegawai Indikator Operasional Persentase relevansi latar belakang pendidikan dengan bidang studi yang diampunya (data kepegawaian) Sekolah melaksanakan kegiatan peningkatan kompetensi guru 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Alat Ukur > 80 % 60,1 - 80 % 40,1 - 60 % 20,1 - 40 % 0 - 20 % Penguasaan materi pelajaran Penguasaan metode pembelajaran Pengembangan peraga pembelajaran Pendayagunaan sumber belajar Pelaksanaan evaluasi pembelajaran

2

Program pelatihan peningkatan kompetensi profesi dalam pembelajaran (penguasaan materi, metode, peraga, sumber belajar dan teknik evaluasi)

Dokumen program peningkatan kompetensi guru

71

Studi dokumentasi, Instrumen Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan R-SMA BI tahub ke 3.

86

No. 3

Komponen SNP Penerapan model Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Bukti Fisik/ Dokumen Program Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Indikator Operasional Guru melaksanakan PTK 1 2 3 4 5

Alat Ukur Pengembangan PTK terprogram Terlaksana, tiap tahun terdapat hasil kegiatan Terdapat catatan hasil Terdapat catatan refleksi Terdapat perbaikan mutu pembelajaran > 80 % 60,1 - 80 % 40,1 - 60 % 20,1 - 40 % 0 - 20 % Indikator kompetensi professional Indikator kompetensi pedagodik Indikator kompetensi kepribadian Indikator kompetensi social Indikator kompetensi kepemimpinan > 80 % 60,1 - 80% 40,1 -60% 20,1 -40% 0 - 20% > 80 % 60,1 - 80% 40,1 -60% 20,1 -40% 0 - 20% Mengakses materi ajar dari internet Menggunakan soal dari internet Merumuskan masalah dari internet Menghimpun alternatif pemecahan masalah dari internet Mengembangkan inovasi dengan menggunakan internet

4

Penerapan model lesson study

Dokumen laporan pelaksanaan

Persentase Guru yang telah melaksanakan model perbaikan mengajar melalui lesson studi Sekolah menunjukkan bukti kinerja pembinaan pada berbagai ranah kompetensi

5

Peningkatan kompetensi guru

Sistem dokumen yang menunjukkan pelaksanaan dan hasil pembinaan

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

7

8

Peningkatan kompetensi guru dalam pemberdayaan TIK untuk kegiatan pembelajaran Penyampaian materi pelajaran dengan dukungan komputer dan LCD Pemberdayaan akses informasi melalui jaringan internet

Program peningkatan kompetensi guru dalam penggunaan TIK Materi belajar yang dikelola dalam dokumen digital

Persentase guru yang terlatih menggunakan TIK aplikasi TIK dalam pembelajaran Persentase guru yg menyajikan materi pelajaran berbaisis TIK

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

9

Materi belajar pada RPP

Guru memberdayakan materi pelajaran berbahasa Inggris dari internet

87

No. 10

Komponen SNP Penggunaan sumber belajar guru berbahasa Inggris

Bukti Fisik/ Dokumen Buku, jurnal, artikel, majalah, web

Indikator Operasional Guru mapel meningkatkan kompetensinya dengan menggunakan sumber belajar berbahasa Inggris Persentase guru yang melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dan S3 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

Alat Ukur Matematika Biologi Kimia Fisika Ilmu sosial > 15,1 % 10,1 -15 % 5,1- 10 % 0-5% 0

11

12

Peningkatan fasilitas guru untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana (untuk meraih S2/S3) pada perguruan tinggi dengan program studi berakreditasi A Kriteria minimal 30% guru memiliki ijazah pascasarjana dari program studi berakreditasi A Kriteria minimal 75% guru mengikuti pelatihan pendalaman materi pada bidang studi yang relevan

Data guru yang telah melanjutkan pendidikan S2/S3

Data ijasah pascasarjana pada program studi berakreditasi A Data guru yang mengikuti pelatihan

Persentase guru yang memiliki ijazah pascasarjana dari program studi berakreditasi A Persentase guru yang telah mengikuti diklat pendalaman materi dalam 2 tahun terakhir

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

> 15,1 % 10,1 -15 % 5,1- 10 % 0-5% 0 > 80 % 60,1 - 80% 40,1 -60% 20,1 -40% 0 - 20%

13

Tabel: 2.14 Indikator Operasional Standar Tenaga Kependidikan 72
N0 1 Komponen SNP Ijazah S-1 Kepala TAS dalam bidang administrasi pendidikan atau bidang yang relevan Bukti fisik/ Dokumen Data pendidikan pegawai Indikator operasional Sekolah memiliki Kepala Tata Administrasi Sekolah yang berijazah S-1 di bidang administrasi pendidikan pendidikan Kepala TU 1 2 3 4 5 Alat Ukur S1 atau S2 Diploma 3 Diploma 2 Diploma 1 SLTA

72

Studi dokumentasi, Instrumen Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan R-SMA BI tahub ke 3.

88
Bukti Fisik/ Dokumen Data pendidikan pegawai Indikator Operasional Persentase tenaga kependidikan berdasarkan latar belakang pendidikan S1 Sekolah mengelola administrasi berbasis TIK

No. 2

Komponen SNP Latar belakang pendidikan tenaga kependidikan

Alat Ukur 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 60,1 - 80% 40,1 - 60% 20,1 - 40% 0 - 20% 0 Administrasi umum Keuangan Ketenagaan Sarana dan prasarana Kesiswaan lima orang atau lebih empat orang tiga orang dua orang satu orang Microsoft word Microsoft excel Microsoft power point Operator PAS / SIM l E-mail Microsoft word Microsoft excel Microsoft power point Operator PAS (SIM) E-mail/searching internet Microsoft word Microsoft excel Microsoft power point Web site E-mail/searching internet Microsoft word Microsoft excel Microsoft power point Aplikasi flash/GIF E-mail/ internet Microsoft word Microsoft excel Microsoft power point Pengelolaan web E-mail/searching internet

3

Penggunaan TIK dalam mengelola administrasi

Aplikasi sistem administrasi sekolah (contoh PAS)

4

Pemahaman bahasa Inggris dalam pelaksanaan tugas

Kemampuan berbahasa Inggris staf TU

Jumlah staf Tata Usaha yang memahami bahasa Inggris

5

Kompetensi tenaga administrasi

Program yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan tugas Program yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan tugas Ada tidak adanya teknisi sumber belajar

Memiliki tenaga administrasi yang mampu menggunakan perangkat lunak TIK Sekolah memiliki tenaga kepustakaan yang mampu menggunakan perangkat lunak TIK Sekolah memiliki tenaga teknis pengelola sumber belajar yang berkompeten

6

Kompetensi tenaga kepustakaan

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

7

Teknisi sumber belajar yang berkompeten

8

Tenaga laboran yang berkompeten

Adanya penggunaan TIK tenaga laboran

Sekolah memiliki tenaga laboran yang menggunakan perangkat lunak TIK Sekolah memiliki tenaga konselor yang mampu menggunakan perangkat lunak TIK

9

Tenaga konselor yang berkompeten

Penggunaan TIK di ruang bimbingan konseling

89

Tabel: 2.15 Indikator Operasional Standar Kepala Sekolah 73
N0 10 Komponen SNP Ijazah kepala sekolah dari pascasarjana program studi yang berakreditasi A Bukti Fisik/ Dokumen Copy ijazah Indikator Operasional Berijasah S2/S3 dari lembaga pendidikan berakreditasi A Alat Ukur 1 2 3 4 5 11 Nilai TOEFL minimal 500 Sertifikat TOEFL/TOEIC kepala sekolah dalam dua tahun terakhir Sertifikat ujian TOEFL/TOEIC dalam dua tahun terakhir 1 2 3 4 5 12 Kompetensi berkomunikasi dalam bahasa Inggris secara aktif Daya komunikasi kepala sekolah dalam berbahasa Inggris Kepala sekolah memiliki kemampuan berbahasa Inggris aktif 1 2 3 4 5 13 Pengalaman mengikuti kegiatan dinegara anggota OECD atau negara maju lainnya Bukti kunjungan (contoh : foto, dokumen surat) Kepala sekolah melakukan kunjungan ke sekolah negara OECD atau negara maju lainnya Melakukan kunjungan dlm 2 thn terkhir ke sekolah unggul di negara OECD utk peningkatan profrsinya 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 S3 pendidikan S3 non-pendidikan S2 pendidikan S2 non-pendidikan S1 > 500 476 – 500 451 – 475 425 – 450 < 425 Bercakap menggunakan bahasa Inggris Mengirim surat berbahasa Inggris Mendapat surat-surat berbahasa Inggris Menyampaikan ide dalam bahasa Inggris Menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris 4 kali atau lebih 3 kali 2 kali 1 kali belum pernah 4 kali atau lebih 3 kali 2 kali 1 kali Belum pernah

14

Pengelolaan sumber daya pendidik dan kependidikan untuk mewujudkan tujuan sekolah

Dokumen program

73

Studi dokumentasi, Instrumen Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan R-SMA BI tahub ke 3.

90

No. 15

Komponen SNP Penguatan keyakinan seluruh anggota komunitas dapat mewujudkan target pembaharuan

Bukti Fisik/ Dokumen Keunggulan kompetitif sekolah yang sedang ditingkatkan mutunya.

Indikator Operasional Kepala Sekolah meyakinkan komunitas sekolah dapat mewujudkan target 1 2 3 4 5 6

Alat Ukur Meyakinkan kepada orangtua Meyakinkan kepada siswa Meyakinkan kepada guru Meyakinkan komite sekolah Meyakinkan kepada masyarakat Meyakinkan lembaga eksternal Mengkomunikasikan hasil pelatihan Mensosialisasikan hasil studi banding Memakai rujukan teori dalam bekerja Pengguna internet Menjadi nara sumber guru dan siswa > 3,1 % 2,1 - 3 % 1, 1 - 2 % 0 -1 % 0 Membiayai guru 100% Membiayai guru 75% Membiayai guru 50% d Membiayai guru 25% Mengeluarkan surat ijin LAN ke ruang guru Perangkat computer Akses internet SIM administrasi pembelajaran CD/VCD pembelajaran/flash disk Penyediaan sarana olahraga Penyediaan sarana kesenian Penyediaan sumber belajar Mengirim siswa pada pertemuan ilmiah Menyelenggarakan kegiatan ekstra kurikuler

16

Penunjukan diri sebagai model pembelajar

Bukti fisik produk kegiatan belajar kepsek

Kepala sekolah menunjukkan diri sebagai model pembelajar

1 2 3 4 5

17

Pengembangan kewirausahaan dalam pengelolaan sekolah

Adanya dokumen hasil kegiatan usaha

Persentase kontribusi dari produk kewirausahaaan pada RAPBS per tahun Sekolah memfasilitasi guru dalam melanjutkan pendidikan Sekolah memfasilitasi guru dengan sarana dan prasarana TIK

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

18

Kemudahan guru dalam melanjutkan pendidikan

Bentuk dukungan kepala sekolah terhadap guru dan tenaga kependidikan Adanya perangkat keras untuk guru

19

20

Kemudahan guru dalam menggunakan sarana dan prasarana TIK untuk mengoptimalkan kinerja pembelajaran Pemenuhan fasilitas belajar siswa untuk mengembangkan potensi diri secara optimal

Sarana belajar yang siswa gunakan

Sekolah menyediakan sarana pengembangan potensi siswa

1 2 3 4 5

91

No. 21

Komponen SNP Pelaksanaan supervisi akademik secara berkala

Bukti Fisik/ Dokumen Dokumen program supervise

Indikator Operasional Kepala sekolah melaksanakan supervise 1 2 3 4 5

Alat Ukur Melakukan supervisi kelas secara berkala Memeriksa perencanaan belajar Memantau permasalahan dalam pelaksanaan pembelajaran Memantau pemberdayaan sarana Memantau hasil belajar siswa Tingkat internasional Tingkat nasional Tingkat provinsi Tingkat kabupaten/kota Tingkat sekolah Penyusunan/ penetapan rencana kerja jangka menengah Penyusunan/ pengesahan RAPBS Rapat kerja sekolah Menggali sumber dana Pengawasan pengelolaan keuangan

22

Publikasi karya tulis atau hasil penelitian

Dokumen karya tulis

Dokumen karya tulis atau hasil penelitian yang dipublikasikan

1 2 3 4 5

23

Kerja sama yang produktif dengan komite sekolah

Adanya dokumen kegiatan rapat dengan komite sekolah

Sekolah melaksanakan kerjasama bersama komite dalam mengambil keputusan

1 2 3 4 5

7. Standar Sarana dan Prasarana Sarana pendidikan umumnya mencakup semua peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang dalam proses pendidikan, seperti gedung, ruang belajar/kelas, alat media pendidikan, meja, kursi, dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan prasarana adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan, seperti halaman, kebun, taman sekolah, jalan menuju sekolah74. dengan demikian dapat ditarik satu kesimpulan fungsi sarana dan prasarana pendidikan itu adalah semua barang yang secara langsung maupun tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan untuk mencapai tujuan
74

Afifudin, Administrasi Pendidikan, (Bandung: Insan Mandiri, 2004), hlm. 192.

92

dalam pendidikan. Keberlngsungan proses pembelajaran akan sangat terbantu dengan kelengkapan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pembelajaran, maka sarana dan prasarana membutuhkan pengelolaan yang baik agar sarana dan prasarana dapat dipakai dan sesuai kebutuhan pembelajaran. Pada hakikatnya tidak ada sarana dan prasarana yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan belajar, maka peran pendidik dan tenaga kependidikan dituntut dalam proses pencapaian tujuan pembelajaraan diperlukan kesiapan mental, kemauan dan kemampuan untuk menjelajahi aneka ragam sarana dan prasarana yang ada dan mungkin ada. Kreatifitas pendidik dan tenaga pendidik sangat dibutuhkan dalam menyediakan dan menggunakan sarana bukan hanya sekedar canggih dan mewah, akan tetapi yang terpenting adalah kebermaknaan dan kesesuaian dengan kebutuhan pencapaian tujuan pendidkan dan pencapaian tujuan pembelajaran. Diadaptasi dari konsep sumber belajar teori tentang sarana dan prasarana meliputi; perancangan, fungsi, strategi pemanfaatan, prosedur penggunaan, dan evaluasi pemanfaatan. Dibawah ini dideskripsikan setiap komponennya75. a. Perancangan Sarana Prasarana Dilihat dari segi Perancangannya, secara garis besar sarana dan prasarana dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: 1) Sarana prasarana yang dirancang (learning resource by design) yakni sumbersumber yang secara khusus dirancang atau dikembangkan sebagai “komponen sistem instruksional” untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal. 2) Sarana prasarana yang dimanfaatkan (learning resources by utililization) yakni
75

AECT, The Definition of Educational Technologi, (Washington DC, 1977), hlm. 122.

93

sarana prasarana yang tidak didesain khusus untuk untuk keperluan pembelajaran atau keberadaanya dapat ditemukan, diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sarana prasarana yang dimanfaatkan ini adalah sarana prasarana yang ada di masyarakat seperti: museum, pasar, toko-toko, dan lainnya yang ada di lingkungan sekitar76. b. Fungsi Sarana Prasarana Sarana prasarana mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Sarana prasarana memiliki fungsi sebagai berikut: 1) Meningkatkan produktivitas pembelajaran 2) Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifetnya lebih individual 3) Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran 4) Lebih memantapkan pembelajaran 5) Memungkinkan pembelajaran secara seketika 6) Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas77. c. Strategi Pemanfaatan Sarana Prasarana Strategi dalam menggunakan sarana prasarana, pendidik dan tenaga kependidikan harus mampu mengidentifikasi karakteristik dari sarana prasarana yang digunakan. Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah: 1) Mengidentifikasi karakteristik sarana prasarana yang digunakan. Sarana prasarana yang ada sangatlah banyak, untuk itu guru harus mampu mengidentifikasi karakteristik dari masing-masing sarana prasarana yang digunakan. Apakah sarana prasarana yang digunakan sesuai dengan
76

Rudi Susilana, Teknologi Pendidikan, dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, (Bandung: Pedagodiana Press, 2007), hlm. 453. 77 Rudi Susilana, teknologi Pendidikan hlm. 459-462.

94

karakteristik materi pelajaran yang diberikan. Arinya, sarana prasarana tersebut dapat menunjang kelancaran proses pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran, sehingga siswa dapat mengikuti pembelajaran tersebut dengan lancar (bermakna). 2) Sarana prasarana yang digunakan disesuaikan denagn tujuan pendidikan dan pembelajaran. Sarana prasarana yang digunakan dapat mengoptimalkan pencapaian suatu kompetensi. 3) Sarana prasarana yang digunakan disesuaikan dengan kemampuan guru. Seorang guru harus memahami kemampuannya dalam hal menggunakan sarana prasarana. Tanpa memahami karakteristik dan penggunaan sarana prasarana, proses pembelajaran tidak akan berjalan secara optimal. 4) Sarana prasarana yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Pemilihan sarana prasarana yang dibutuhkan bermakna dan yang akan menarik perhatian siswa sehingga diharapkan pembelajaran dapat berjalan optimal78. d. Evaluasi pemanfaatan Sarana Prasarana Langkah-langkah yang dilakukan dalam evaluasi pemanfaatan sarana prasarana antara lain: 1) Analisis kebutuhan, analisis difokuskan pada kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan dalam pencapaian tujuan pendidikan lebih praktisnya dalam tujuan pembelajaran. 2) Penetapan sarana dan prasarana, berdasarkan analisis kebutuhan yang dilakukan langkah selanjutnya adalah menetapkan sarana dan prasarana yang akan digunakan. Kegiatan ini dilakukan melalui konsep dan konstruk yang tersusun
78

E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung: Rosdakarya), hlm. 157.

95

untuk dijadikan rujukan dalam menetapkan sarana dan prasarana. 3) Pengembangan sarana dan prasarana, kegiatan pengambangan dilakukan dengan cara mengkaji dan meneliti berbagai masukan yang berasal dari penetapan sarana dan prasarana. Selanjutnya hasil dari pengembangan tersebut dapat dijadikan bahan bagi kegiatan revisi penggunaan sarana prasarana. Hasil revisi ini akan digunakan sebagai rujukan pengembangan sarana dan prasarana79. Dalam standar nasional pendidikan sarana prasarana merupakan perhatian yang urgen, kesadaran ini diakibatkan karena untuk memenuhi standar mutu pendidikan yang lebih baik, hal ini berkonsekwensi pada penyediaan sarana dan prasarana yang memadai untuk mencapai tujuan pendidikan, pada kebijakan pendidikan nasional standar sarana dan prasarana berkaitan dengan: 1) Sarana prasarana sebagai penunjang proses pembelajaran 2) Keragaman jenis peralatan laboratorium ilmu pengetahuan alam (IPA), laboratorium bahasa, laboratorium computer, dan peralatan pembelajaran lain. 3) Letak lahan pendidikan mempertimbangkan kenyamanan, kecukupan,

keselamatan, kesehatan bagi lembaga pendidikan danlingkungan diluar lembaga pendidikan. 4) Pemeliharaan sarana dan prasarana dilakukan secara berkala dan

berkesinambungan dengan memperhatikan masa pakai80. Sedangkan dalam standar sarana prasarana R-SMA-BI harus melibihi srandar sekolah nasional . Oleh karena itu untuk mengukur
79

standar sarana prasarana

Romiszowski, The Selection and Use of Intruksional Media, (New York: Nicholas Pub, 1988), hlm. 144148. 80 http://www.depdiknas.go.id/produk_hukum/permen/permen_24_2007.pdf

96

mempunyai beberapa komponen, bukti fisik, indikator operasional dan sekaligus alat ukurnya. Secara terperinci disajikan dalam tabel berikut : Tabel: 2.16 Indikator Operasional Standar Sarana Prasarana 81
No. 1 Komponen SNP Pemenuhan standar luas lahan Bukti Fisik/ Dokumen Sertifikat lahan sekolah Indikator Operasional Pemenuhan standar luas lahan sekolah dalam ukuran dalam m2 1 2 3 4 5 2 Pemenuhan standar luas lantai bangunan terhadap peserta didik. Data inventaris bangunan Total Luas Bangunan 1 2 3 4 5 3 Pemenuhan standar keamanan gedung Fisik bangunan Sekolah memenuhi kriteria standar keamanan gedung 1 2 3 4 5 6 7 8 4 Luas ruang kelas Data inventaris bangunan Sekolah memenuhi kriteria standar luas ruang kelas : Ukuran ruang kelas 1 2 3 4 5 Alat Ukur ≥ 15000 m2 10000 m2 - 14999 m2 7500 m2 - 9999 m2 6240 m2 - 7449 m2 ≤ 6239 m2 ≥ 8509 m2 7800 m2 - 8508 m2 7090 m2 - 7799 m2 6381 m2 - 7089 m2 ≤ 6380 m2 Tralis Pagar Hidran Pos jaga Penangkal petir Alarm kebakaran Pintu / tangga darurat Ppemadam kebakaran ≥ 81 m 76 m2 - 80 m2 71 m2 - 75 m2 64 m2 - 70 m2 ≤ 63 m2

81

Studi dokumentasi, Instrumen Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan R-SMA BI tahub ke 3.

97

No. 5

Komponen SNP Kondisi ruang kelas

Bukti Fisik/ Dokumen Fisik bangunan

Indikator Operasional Sekolah memiliki ruang kelas dengan kondisi yang memadai 1 2 3 4 5

Alat Ukur Jumlah ruang kelas sesuai dengan rombongan belajar Memiliki simbol-simbol kenegaraan Kapasitas maksimum 32 orang Lampu 4 titik, cahaya cukup untuk membaca Pintu, kunci dan pengamanan ruangan memadai Kelengkapan meja, kursi, lemari, papan tulis Memiliki kelengkapan kebersihan Kebersihan terjaga > 80 % 60,1 - 80 % 40,1 - 60 % 20,1 - 40 % 0 - 20 % Ruangan tidak bising Meja sirkulasi Ruang baca Lemari referensi Perangkat TIK Sumber belajar lain 30 judul 1 eks buku panduan /matpel/guru Buku pengayaan 870 judul Buku referensi 30 judul Buku teks 1 eks./matpel/peserta didik ditambah 10 eks/mata pelajaran cadangan ≥ 10 8–9 6–7 4–5 ≤3

6 7 8 6 Ruang kelas yang dilengkapi dengan perangkat TIK Fisik bangunan/uji coba perangkat internet Jumlah ruang kelas dilengkapi dengan akses internet, komputer, LCD proyektor Sekolah memiliki ruang perpustakaan dengan kualitas yang memadai 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

7

Kelengkapan ruang perpustakaan

Fisik bangunan

8

Tingkat pemberdayaan perpustakaan sekolah

Dokumen jadwal perpustakaan sekolah dan daftar hadir pengunjung

Jumlah jam pelayanan perpustakaan sekolah per hari (1 jam = 60 menit)

1 2 3 4 5

98

No. 2

Komponen SNP Perabot laboratorium biologi

Bukti Fisik/ Dokumen Blangko Instrumen

Indikator Operasional Sekolah melengkapi laboratorium biologi dengan perabot yang memadai 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Alat Ukur Listrik Bak cuci Kursi siswa Lemari alat Lemari bahan Ketersediaan air Meja kerja siswa Meja demonstrasi Ruang persiapan Alat peraga Media pendidikan Bahan habis pakai Alat dan bahan percobaan Peralatan berfungsi untuk membantu belajar siswa Listrik Bak cuci Kursi siswa Lemari alat Lemari bahan Ketersediaan air Meja kerja siswa Meja demonstrasi Ruang persiapan Alat peraga Alat percobaan Bahan percobaan Media pendidikan Peralatan berfungsi untuk belajar siswa Listrik Bak cuci Lemari alat Lemari bahan Lemari asam Kursi siswa Meja kerja siswa Meja demonstrasi Ruang persiapan Ketersediaan air

10

Peralatan pendidikan laboratorium biologi

Blangko Instrumen

Sekolah memiliki ruang laboratorium biologi yang memenuhi kriteria standar Sekolah melengkapi laboratorium fisika dengan perabot yang memadai

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 7 8 9

11

Perabot laboratorium fisika

Blangko Instrumen

12

Peralatan pendidikan laboratorium fisika

Blangko Instrumen

Sekolah memiliki ruang laboratorium fisika yang memenuhi kriteria standar Sekolah melengkapi laboratorium kimia dengan perabot yang memadai

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

13

Perabot laboratorium kimia

Blangko Instrumen

99

No. 14

Komponen SNP Peralatan pendidikan laboratorium kimia

Bukti Fisik/ Dokumen Blangko Instrumen

Indikator Operasional Sekolah memiliki ruang laboratorium kimia yang memenuhi kriteria standar 1 2 3 4 5

Alat Ukur Alat peraga Alat percobaan Bahan percobaan Media pendidikan Peralatan berfungsi untuk membantu belajar siswa LCD projector CD-DVD pembelajaran Komputer pendukung program Aplikasi program lab bahasa Modul pembelajaran Headset minimal 20 unit Penerangan minimum 4 titik lampu Peralatan kebersihan Soundsistem / pengeras suara Perlengkapan berfungsi untuk belajar siswa Komputer Printer Scanner Akses intenet LAN Server Stabilizer LCD projector CD-DVD pembelajaran Handycam Kamera digital Soundsistem Kelengkapan multimedia (headset, microphone, web camera) Modul praktek Ruang dilengkapi AC

15

Peralatan pendidikan laboratorium bahasa

Blangko Instrumen

Sekolah melengkapi laboratorium bahasa dengan peralatan yang memadai

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

16

Peralatan pendidikan laboratorium computer

Data peralatan ruang computer

Sekolah melengkapi laboratorium komputer dengan peralatan yang memadai

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

14 15

100

No. 17

Komponen SNP Ruang pimpinan

Bukti Fisik/ Dokumen Data peralatan ruang pimpinan

Indikator Operasional Sekolah memiliki ruang pimpinan yang memenuhi kriteria standar 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Alat Ukur Tersedia meja pertemuan Dilengkapi CCTV (alat monitor kelas) Tersedia ruang tamu Penerangan minimum 2 titik lampu Tersedia toilet Tersedia komputer dan akses internet Lemari dokumen Simbol-simbol kenegaraan Papan statistic Tersedia alat komunikasi Tersedia meja pertemuan Terdapat kamera CCTV Tersedia ruang tamu Penerangan minimum 6 titik lampu Tersedia toilet Tersedia komputer dan akses internet Locker guru Simbol-simbol kenegaraan Papan statistic Sentral soundsistem Tersedia alat komunikasi Terdapat kamera CCTV Tersedia ruang tamu Penerangan minimum 4 titik lampu Perangkat administrasi kehadiran Tersedia komputer dan akses internet Lemari arsip Simbol-simbol kenegaraan Papan statistic Tersedia alat komunikasi Terdapat penanda waktu (bel)

18

Ruang guru

Data peralatan ruang guru

Sekolah memiliki ruang guru yang memenuhi kriteria standar

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

19

Ruang tata usaha

Data perlengkapan

Sekolah memiliki ruang tata usaha yang memenuhi kriteria standar

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

101

No. 20

Komponen SNP Ruang konseling

Bukti Fisik/ Dokumen Data perlengkapan

Indikator Operasional Sekolah memiliki ruang konseling yang memenuhi kriteria standar 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Alat Ukur Ada meja pertemuan Terdapat kamera CCTV Tersedia ruang tamu Lampu minimum 4 titik Ruang bimbingan pribadi Ruang bimbingan kelompok Lemari dokumen Simbol-simbol kenegaraan Komp. akses internet Instrumen konseling Buku sumber Media pengembangan kepribadian Papan statistic Kotak saran / pendapat Tersedia alat komunikasi Tersedia meja layanan Tempat tidur pasien Penerangan minimum 2 titik lampu Lemari obat Alat ukur tingi badan dan berat badan Lemari dokumen Wastafel Obat-obatan Papan statistic Tabung oksigen Termometer Tensimeter Tandu / kursi roda Tersedia alat komunikasi Terdapat kamera CCTV Penerangan minimum 2 titik lampu Komputer Struktur organisasi Lemari arsip Simbol-simbol kenegaraan Meja rapat Papan pengumuman

21

Ruang UKS

Data Perlengkapan UKS

Sekolah memiliki ruang UKS yang memenuhi kriteria standar

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

22

Ruang OSIS

Data perlengkapan ruang OSIS

Sekolah memiliki ruang oraganisasi kesiswaan yang memenuhi kriteria standar

1 2 3 4 5 6 7 8

102

No. 23

Komponen SNP Ruang serbaguna

Bukti Fisik/ Dokumen Data perlengkapan ruang serba guna

Indikator Operasional Sekolah memiliki ruang serba guna yang memenuhi kriteria standar 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Alat Ukur Podium Sarana pendukung pertunjukan seni Sarana pendukung pertunjukan film Kursi minimum 80 Panggung Ruang ganti Memiliki langit-langit yang tinggi Kedap suara Kedap cahaya/memiliki gorden penutup Penerangan minimum 10 titik Soundsistem LCD projekctor Terdapat kamera CCTV Pintu minimal 2 buah Jauh/tidak menggangu kegiatan belajar Tidak digunakan untuk parker Permukaan datar Lingkungan bersih Terdapat ruang ganti pakaian Terdapat peralatan kesenian Kedap suara Penerangan minimal 4 titik Pencahayaan memadai Soundsistem Aman Bersih Rindang Tertata / rapih Terdapat taman Terdapat bangku taman Tersedia tempat sampah yang cukup

24

Tempat bermain olahraga yang memenuhi (tersedia dan berfungsi)

Data lapangan

Sekolah memiliki tempat olahraga yang memenuhi kriteria standar

1 2 3 4 5

25

Ruang kesenian

Data kondisi ruangan

Sekolah memiliki ruang kesenian yang memenuhi kriteria standar

1 2 3 4 5

26

Lingkungan sekolah rindang, bersih, dan nyaman

Data kondisi lingkungan

Sekolah memenuhi kriteria standar lingkungan

1 2 3 4 5 6 7

103

No. 27

Komponen SNP Penyediaan daya listrik

Bukti Fisik/ Dokumen Copy kuitansi pembayaran listrik

Indikator Operasional Sekolah memiliki daya listrik yang sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraa n kegiatan belajar (waat jam) Sekolah memiliki jamban yang sesuai dengan kriteria standar 1 2 3 4 5

Alat Ukur ≥ 30,000 10,000 - 30,000 6600 - 10,000 4600 - 6,600 ≤ 4600

28

Penyediaan jamban

Data kondisi WC

1

Ruangan bersih

2 3 4 5 6 7 8 9 29 Pengembangan LAN Data kondisi jaringan Sekolah memiliki jaringan internet yang mendukung kegiatan belajar 1 2 3 4 5 30 Pemenuhan standar rasio (perbandingan) jumlah komputer yang tersedia disekolah dengan jumlah siswa. Data jumlah komputer dan data jumlah siswa Sekolah memiliki komputer dengan jumlah yang memenuhi standar rasio perbandingan. -BI harus us uter : jumlah siswa : 1 2 3 4 5

Ventilasi memadai Ruangan tidak berbau Berfungsi dengan baik Air bersih tersedia cukup Minimal sesuai jumlah rombel Saluran pembuangan tertutup Memisahkan jamban putra dan putrid Penerangan minimum 1 titik /per ruang Tersedia akses ke setiap ruang kelas Jaringan berfungsi optimal Sistem penataan jaringan rapih Mengakses informasi dengan cepat Terdapat bukti-bukti berupa hasil kegiatan 1:10 1:20 1:30 1:40 1: ≥ 50

104

No. 31

Komponen SNP Penerapan sistem perangkat lunak TIK dalam mendukung kinerja pelayanan perpustakaan

Bukti Fisik/ Dokumen Data aplikasi program

Indikator Operasional Sekolah menerapkan TIK dalam mendukung pelayanan perpustakaan 1 2 3 4

Alat Ukur Katalog digital Layanan online database Memiliki dokumen tingkat pemanfaatan Memiliki koleksi kepustakaan digital dalam bentuk jurnal, e-books, majalah Siswa dapat memanfaatkan bahan pustaka dari luar ruang perpustakaan sekolah AC Televisi Komputer Akses internet LCD projector Handycam Soundsistem Web camera VCD/DVD Player Radio/tape recorder Kamera CCTV/ Kamera Digital AC Printer Scanner Komputer Handycam Akses internet Buku referensi LCD Projector Lemari dokumen VCD/DVD Player CD-R/DVD-R

5 32 Ruang multimedia Adanya ruang multi media Sekolah melengkapi ruang multimedia dengan sarana yang memenuhi kriteria standar 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

34

Ruang penelitian dan rujukan guru ( Teacher Research and Reference Center)

Adanya ruang TRRC

Sekolah melengkapi ruang TRRC dengan sarana yang memenuhi kriteria standar

8. Standar Pembiayaan Pendidikan sebagai investasi, yaitu menanamkan modal (jasa atau materi) hari ini untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dikemudian hari. Dalam Al

Qur’an nilai-nilai investasi banyak diisiratkan diantaranya dalam (Q.S. Al Baqoroh :261)

105

Pengertian menafakahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk pendidikan, kepentingan jihad, pembngunan pendidikan, rumah sakit, usahab penyelidikan ilmiah dan lain-lain”82 Pendidikan juga diartikan jihad yang mempunyai makna sejumlah pengorbanan harta, waktu dan tenaga. . Sedangkan teori pembiayaan pendidikan selama ini bermuara dari teori

ekonomi dan teori pendidikan. Menurut Elchanan Cohn identifikasi nilai ekonomi dari pendidikan pada dasarnya menelusuri “investment in human capital”. Penggunaan kata “investment” mengandung arti bahwa ada keuntungan bagi masyarakat sama dengan keuntungan yang diperoleh dari keuntungan fisik yaitu pendidikan mempunyai fungsi untuk menciptakan tenaga kerja yang produktif. Doktrin-doktrin ekonomi sebagaimana yang dikemukakan oleh ahli ekonom menunjukan bahwa “human capital” dapat dipandang sebagai unsur kemakmuran (wealth) yang dapat disamakan dengan “material capital”. Peranan pendidikan dalam kerangka pembangunan ekonomi berupa “human capital” dalam arti menyediakan tenaga-tenaga terdidik yang mempunyai “skill capital” dalam arti menyediakan tenaga-tenaga terdidik yang mempunyai skills tertentu, karena dalam penentuan investment pengetahuan dan skills merupakan variable investment yang kritis dalam penentuan “rate of economic growth”83. Lebih lanjutnya Elchanan Cohn mengemukakan ekonomi pendidikan pada dasarnya berkenaan dengan produktivitas pendidikan, distribusi pendidikan bagi kelompok dan individu dan persoalan berapa banyak biaya yang seyogyanya dikeluarkan untuk pendidikan dan jenis pendidikan apa yang dipilih oleh masyarakat. Pendidikan melibatkan banyak orang dan uang, baik dilihat dari jumlah siswa maupun
82 83

Departemen agama, Al Qur’an dan terjemahnya, Semarang, PT CiptaAfihar, 1993) hlm.1145 Elchanan Cohn, The Economic of Education an Introduction, (Massachussets: Ballinger Publishing Company, 1979), hlm. 8.

106

tenaga pendidikan yang terlibat, demikian juga dilihat dari jumlah anggarannya84. Pembiayaan pendidikan merupakan upaya pendistribusian benefit pendidikan dan beban yang harus ditanggung masyarakat. Secara terperinci Nanang Fatah mengartikan bahwa pembiayaan pendidikan merupakan jumlah uang yang dihasilkan dan dibelanjakan untuk berbagai keperluan penyelenggaraan pendidikan yang mencakup: gaji guru, peningkatan professional guru, pengadaan sarana belajar, perbaikan ruangan, pengadaan peralatan/mobiler, pengadaan alat-alat dan buku pelajaran, alat tulis kantor, kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan pengelolaan pendidikan dan supervisi pendidikan85. Cakupan dari pembiayaan pendidikan tidak hanya menyangkut analisa sumbersumber saja tetapi juga penggunaan dan secara efisien, makin efisien dana pada sistem pendidikan itu maka berkurang pula dana yangdiperlukan untuk mencapai tujuantujuannya. Oleh karena itu dengan efisiensi akan lebih banyak tujuan program yang dicapai dengan anggaran yang tersedia. Dari definisi pembiayaan pendidikan yang diuraikan, tentang data dsimpulkan bahwa pembiayaan pendidikan adalah suatu analisa (revenue) dan penggunaan biaya (expenditure)yang

sumber-sumber

diperuntukkan unutk pengelolaan pendidikan secara efisien untuk mencapai tujuan. Besaran biaya pendidikan hal yang paling utama ditentukan oleh tujuan pendidikan yang akan dicapai oleh lembaga pendidikan tersebut. Pencapaian tujuan tersebut tentulah membutuhkan proses yang diaplikasikan dalam bentuk kegiatan pendidikan meliputi pengadaan sarana dan prasarana dan biaya satuan, hal inilah dalam pendekatan sistem biaya merupakan suatu unsure yang menentukan dalam mekanisme

84 85

Elchanan Cohn, The Economic hlm. 13-25. Nanang Fattah, Ekonomi & Pembiayaan ), hlm. 112.

107

penganggaran. Penentuan biaya akan mempengaruhi tingkat efisiensi dan efektifitas kegiatan dalam suatu lembaga pendidikan yang akan mencapai suatu tujuan tertentu. Kegiatan yang dilaksanakan dengan biaya yang rendah dan hasilnya mempunyai kualitas yang baik, maka akan dapat dikatakan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan secara efisien dan efektif. Arti pembiayaan dalam standar nasional pendidikan direduksi dalam konsep biaya, biaya (cost) secara tradisional didefinisikan sebagai jumlah nilai uang yang dibelanjakan atau jasa pelayanan yang diserahkan pada siswa. Hal yang penting dalam pembiayaan pendidikan adalah berapa besar uang yang harus dibelanjakan, dari mana sumber uang diperoleh dan kepada siapa uang harus dibelanjakan86. Konsep biaya menurut Tilaar merupakan keseluruhan dana dan upaya yang diserahkan oleh masyarakat untuk mendapatkan pendidikan dan dalam kenyataan bahwa kegiatan pendidikan merupakan bentuk dari pada pelayanan masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa biaya pendidika adalah beban masyarakat dalam perluasan dan fungsi sistem pendidikan. Produsen, penjual dan konsumen pendidikan akan menyatukan diri kedalam satu transaksi ekonomi dibidang pendidikan87. Standar pembiayaan sebagai standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan biaya personal, sebagaimana dijelaskan dibawh ini; a. Biaya investasi satuan pendidikan meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumber daya manusia, dan modal kerja tetap.
86

Thomas H. Jones, School Finance: Technique and Sosial Policy, (London: Collier MacMilian Publisher, 1985), hlm. 12. 87 H. A. R. Tilaar, Manajemen Pendidikan Nasional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), hlm. 7.

108

b. Biaya personal meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. c. Biaya operasi satuan pendidikan, meliputi; 1). Gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji. 2). Bahan atau peralatan pendidikan habis pakai. 3). Biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekmunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya.88 Adapun pembiayaan di R-SMA-BI harus memnuhi standar lebih tinggi dari standar nasional. Untuk mengukur standar pembiayaan mempunyai beberapa

komponen, bukti fisik, indikator operasional dan sekaligus alat ukurnya. Secara terperinci disajikan dalam tabel berikut :

88

Lekdis, Standar Nasional, hlm. 47.

109

Tabel: 2.17 Indikator Operasional Standar Pembiayaan 89
No. 1 Komponen SNP Perolehan biaya dari berbagai sumber pembiayaan (yang variatif) Bukti Fisik/ Dokumen Dokumen bendahara Indikator Operasional Sekolah memiliki bantuan pembiayaan dari berbagai sumber 1 3 4 5 6 2 Pengelolaan keuangan secara transparan dan akuntabel Notula Rapat Sekolah mengelola keuangan secara transparan dan akuntabel 1 Alat Ukur Komite sekolah Pemerintah provinsi Pemerintah Dunia usaha/masyarakat Wirausaha Terbuka pada rapat dewan pendidik dan tenaga kependidikan Anggaran diputuskan rapat dengan komite sekolah Penggunaan anggaran dikomunikasikan pada rapat dewan pendidik dan tenaga kependidikan Terdapat sistem pembukuan keuangan yang diketahui oleh pihak sekolah dan komite sekolah Laporan tepat waktu dan diketahui oleh pendidik dan tenaga kependidikan Layanan sistem keuangan online Layanan bank di sekolah Layanan bank umum di luar sekolah Layanan pembayaran berbasis computer Layanan manual di sekolah 16,1 - 18 % 14, 1 - 16 % 12, 1 - 14 % 10 - 12 % < 10 %

2 3

4

5

3

Penerapan model sistem informasi keuangan yang efisien

Data aplikasi sistem pengelolaan keuangan

Sekolah menerapkan model sistem informasi keuangan yang efisien

1 2 3 4 5

4

Pengalokasikan anggaran untuk bantuan kepada siswa kurang mampu

Data penerima beasiswa yang berasal dari siswa kurang mampu

Mengalokasik an dan mendistribusik an anggaran kepada siswa kurang mampu . Prosentase alokasi anggaran untuk beasiswa

1 2 3 4 5

89

Studi dokumentasi, Instrumen Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan R-SMA BI tahub ke 3.

110

No. 5

Komponen SNP Pembiayaan sarana dan prasarana, pengembangan mutu SDM, dan modal kerja tetap. Pengelolaan biaya operasional sekolah

Bukti Fisik/ Dokumen Data perencanaan anggaran

Indikator Operasional Sekolah memiliki rencana alokasi biaya investasi sekolah 1 2 3 4 5

Alat Ukur Penyediaan sarana belajar Penyediaan prasarana belajar Peningkatan mutu pendidik Peningkatan mutu tenaga kependidikan Peningkatan kualifikasi tenaga pendidik dan kependidikan Gaji Pajak Asuransi Konsumsi Transportasi Telepon, air dan listrik (TAL) ATK dan bahan ajar habis pakai Pemeliharaan sarana prasarana Beasiswa untuk siswa kurang mampu

6

Data perencanaan anggaran

Sekolah memiliki rencana alokasi biaya operasional sekolah

1 2 3 4 5 6 7 8 9

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian Karakteristik obyek studi ini berpijak pada paradigma Fenomenologi. Pandangan fenoimenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya (pola hubungan) terhadap sesuatu dalam situasi-situasi tertentu. Fenomenolis pada dasarnya sangat

berpengaruh oleh Edmund Hussel dan Alfred Schultz, pengaruh lainnya berasal dari Max Weber yang memberi tekanan pada pengertian iterpretatif terhadap pemahaman manusia (verstehen)1 Dengan demikian sifat kualitatif studi ini terletak pada penedekatan metodologis serta pada teknis analisis, untuk obyek sefesifiknya menggunakan “ teknis analisis domain,, taksonomi dan komponen Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi kasus, dipilihnya studi kasus sebagai rancangan penelitian karena peneliti beranggapan bahwa penelitian ini akan lebih mudah dijawab dengan studi kasus, dengan alasan: (1) studi kasus dapat memberikan informasi penting mengenai hubungan antara variabel serta proses-proses yang memerlukan penjelasan dan pemahaman yang lebih luas, (2) studi kasus memberikan kesempatan untuk memperoleh wawancara mengenai konsep-konsep dasar prilaku manusia, dengan melalui penyelidikan intensif peneliti dapat menemukan karakteristik dan hubungan-hubungan yang mungkin tidak di duga sebelumnya, (3) studi kasus dapat menyajikan data-data dan temuan yang sangat berguna sebagai dasar untuk

1

Lexy J. Moleong. Methodologi Penelitian Kualitatif (Bandung, Rosda Karya, 2004). hlm. 8-9.

111

112

membangun latar permasalahan bagi perencanaan penelitian yang mendalam dalam rangka pengembangan ilmu-ilmu sosial2. Dalam studi kasus ini peneliti menggunakan penelitian dengan menggunakan studi kasus tunggal. Studi kasus tunggal yang peneliti maksud adalah menyajikan uji kritis suatu teori yang signifikan, dalam rancangan . Studi kasus tunggal ini, seperti yang diungkapkan oleh Neal Gross memfokuskan pada sebuah sekolah dalam bukunya implementing organizational innovations (1971). Sekolah tersebut dipilih karena memiliki sejarah inovasi.3 Sedangkan dalam penelitian ini memfokuskan pada evaluasi tingkat ketercapaian standar Sekolah Betaraf Internasional ( SBI ) di SMA Negeri 1 Baleendah . B. Data dan Sumber Data Data yang dikumpulkan tersebut dapat bersifat deskriptif dalam bentuk kata-kata atau gambar. Data bisa didapat dari hasil interview, catatan pengamatan lapangan, potret, tape video, dokumen perorangan, memorandum dan dokumen resmi.4 Data adalah

keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian (analisis atau kesimpulan).5 Sumber data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh.6 Jadi, sumber data itu menunjukkan asal informasi. Data itu harus diperoleh dari sumber data yang tepat, jika sumber data tidak tepat, maka mengakibatkan data yang terkumpul tidak relevan dengan masalah yang diteliti.
2 3

4

5

6

Abdul Aziz, Memahami Fenomena Sosial Melalui Studi Kasus: Kumpulan Materi Pelatihan Metode Kuatitatif (BMPTSI Wilayah VII Jawa Timur, Surabaya, 1998),hlm. 6 Robert K.Yin diterjemah oleh Djauzi Muzakir, Studi Kasus Desain dan Metode (Jakarta: PT'. Rajagrapindo Persada, 2002),hlm. 48. Robertl C. Bogdan dan Sari R. Biklen (Qualitalive Research for education : An lntruduction to Theory and Methods (Boston Allyn and Bacon, 1982), hlm. 2‐3. Wahid murni, Menulis Proposal don Laporan Penelitian Lapangan Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif Skripsi, Tesis, dan Desertasi (Progam Pascasarjana UIN Malang, 2008), hlm. 31 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), hlm. 107.

113

Sumber data dalam penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu manusia/orang.dan bukan manusia. Sumber data manusia berfungsi sebagai subjek atau informan, adapun kunci informannya (key informant). adalah kepala sekolah

Sedangkan sumber data bukan manusia berupa dokumen yang relevan dengan fokus penelitian, seperti gambar, foto, catatan rapat atau tuiisan-tulisan yang. ada kaitannya dengan fokus penelitian. Sehubungan dengan wilayah sumber data yang dijadikan sebagai subjek penelitian ini adalah semuanya diajdikan sumber data primer, yaitu: sumber data yang diperoleh secara langsung dari lapangan. Sumber primer juga merupakan sumber-sumber dasar yang mcrupakan bukti atau saksi utama dari kejadian yang lalu. Contoh dari data atau sumber primer adalah: catatan resmi yang dibuat pada suatu acara atau upacara, suatu keterangan oleh saksi mata, keputusan-keputusan rapat, dan sebagainya.7 Data primer juga dapat dipcrolch dalam bcntuk verbal atau kata-kata serta ucapan lisan dan prilaku dari subjek (informan). Data yang akan dikumpulkan melalui penelitian ini adalah data yang sesuai dengan fokus penelitian, yaitu tentang perubahan yang dilakukan dalam upaya menuju R-SMA-BI, evaluasi ketercapaian standar R-SMA-BI, faktor yang menjadi penghambat dan strategi dalam mempercepat ketercapaian program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional ( R-SMA-BI ) ,di SMA Negeri 1 Baleendah . C. Teknik Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tiga metode yaitu wawancara, observasi , dan dokumentasi.

7

Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003), h1m.50

114

1. Wawancara Wawancara merupakan teknik utama dalam metodologi kualitatif, demikian pula dalam penelitian ini, teknik wawancara digunakan untuk menangkap makna secara mendasar dalam interaksi yang spesifik. Menurut Sutrisno Hadi, metode interview adalah metode untuk megumpulkan data data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan pada penyelidikan.. Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data mengenai evaluasi manajemen pengembangan sekolah menuju SBI Dalam memilih informan pertama, yang dipilih adalah yang mempunyai kriteria (1) subjek cukup lama dan intensif menyatu dengan medan aktifitas yang menjadi sasaran peneliti, (2) subyek yang masih aktif terlibat di lingkungan aktifitas yang menjadi sasaran penelitian, (3) subyek yang masih mempunyai waktu untuk dimintai informasi, . Informannya adalah kepala sekolah sebagai informan kunci dan sebagai informan tambahan adalah para guru, karyawan, dan siwa. Data yang akan dicari dari metode wawancara ini diantaranya adalah, rencana pengembangan sekolah yang bertaraf internasional dan implikasinya seperti pengelolaan SDM dalam penguasaan pembelajaran berbahasa inggris dan pembelajaran melalui akses internet dan sikap stakeholders sekolah dalam program R-SMA-BI, serta pengangaran program pengembangan R-SMA-BI dalam anggaran tahunan. 2. Observasi Observasi sebagai alat pengumpul data yang dimaksud adalah dengan melakukan observasi secara sistematis bukan sekedarnya saja. Dalam observasi ini diusahakan

115

mengamati hal yang wajar dan yang sebenarnya terjadi tanpa usaha yang disengaja untuk memperbaharui, mengatur, atau memanipulasikannya8. Mengadakan observasi hendaknya dilakukan sesuai kenyataan, melukiskannnya secara tepat dan cermat terhadap apa yang diarnati, mencatatnya, dan kemudian mengolahnya dengan baik. Observasi adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki9. Observasi juga dapat diartikan dengan pengamatan dan pencatatan dengan sisternatik fenornena-fenomena yang diteliti10. Salah satu teknik observasi yang digunakan adalah observasi menggunakan checklist tersetandar tentang R-SMA-BI. yang dikembangkan oleh Depdiknas, dalam hal ini Dirjen Mendikdasmen, Direktorat Pembinaan SMA, yaitu meliputi 200 standar keterapaian dan sudah terprogram dalam sofware program aplikasi evaluasi. Adapun standar ketercapaian itu adalah terlampir Metode observasi juga penulis gunakan untuk memperoleh data tentang keadaan sarana dan prasarana, kegiatan kependidikan serta keadaan dan proses pengelolaan rintisan sekolah bertaraf internasional( R SMA BI ) 3. Dokumentasi Dokumentasi berasal dari kata asalnya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Didalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis, seperti buku-buku, majalah, notulen rapat dan catatan harian.11 Metode dokumentasi adalah cara pengumpulan informasi atau data-data melalui pengujian arsip dan dokumen-dokumen.12 Strategi dokumentasi juga merupakan teknik
8 9

S. Nasution, Metode Research: Penelitian Ilrniah (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007), hlm. 106 Cholid Narkubo, ct.ul., Metodologi Penelilinn (Jakarta; Bumi Aksara, 2003), hlm. 70. 10 Mantra, Ida Bagoes, Filsafat Penelitian dan Metode P'enelitian Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004),hlm. 82 11 Suharsini Ari kunto, Prosedur Penelitian Sua1u Pendekatan Praklik, (Jakarta: Rieneka Cipta, 2006) hlm.. 158

116

pengumpulan data yang ditujukan kepada subyek penelitian13. Metode pengumpulan data dengan menggunakan metode dokumentasi ini dilakukan untuk mendapatkan data tentang keadaan lembaga (obyek penelitian) yaitu keberadaan kepala sekolah, keadaan guru, dan sekolah itu sendiri. Menurut Suharsimi Arikunto bahwa Metode dokumenter adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya14. Adapun dalam penelitian ini metode dokumenter digunakan untuk mencari data tentang profil, visi misi, program-proram, agenda-agenda, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan penelitian ini. Informan dari penelitian adalah Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, Kesiswaan, Sarana dan Prasarana, Humas; Koordinator Pelaksana Program, Guru, Tata Usaha, Bendahara, Laboran, Pustakawan, Teknisi, dan Siswa. Teknik pemilihan informan tersebut, penulis menggunakan teknik sampling purfosif dimana peneliti cenderung memilih informan yang memenuhi kriteria-kriteria tertentu dan dianggap tahu dan dapat dipercaya untuk menjadi sumber data yang akurat serta mengetahui masalahnya secara mendalam15 . Teknik sampel purpusif tersebut relevan dengan persyaratan pada penelitian kualitatif yang didalamnya tidak terdapat sampel acak namun sampel bertujuan (sampling purposif)16 sampel bertujuan adalah sampel yang diambil berdasarkan adanya tujuan, dan biasanya diambil berdasarkan beberapa pertimbangan (disebabkan keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya) sehingga tidak bisa mengambil sampel yang lebih luas.
12

Sevilla Consuelo G, Pengantar rLfetode Penelitian (terjemahan), (Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press), 1993),hlm. 85 13 Sukan dan rumidi, Metodologi Penelitian (Yogyakarta: Ga_jah Mada Univercity Press, 2004), hlm. 100 14 Suharsimi Arikk.mto, Prosedur Penelitian. Sucrm Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), 236. 15 S. Nasution, Metode Research (Penelitian ilmiah), Jakarta: Bumi Aksara, 2007, hlm. 98 16 Nasution, Metode Research, hlm. 224

117

Penentuan informan-informan tersebut di atas didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut : 1. Kepala sekolah, dapat memberikan informasi tentang segala kebijakan tentang R-SMA-BI 2. Wakil kepala sekolah bidang kurikulum, dapat memberikan informasi tentang segala hal yang berkaitan dengan pengembangan kurikulum R-SMA-BI dan teknis pelaksanaannya dilapangan. 3. Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dapat memberikan informasi tentang segala hal yang terkait dengan kesiswaan, khususnya yang berkaitan dengan pembinaan pengembangan diri siswa R-SMA-BI 4. Wakil Kepala sekolah bidang sarana prasarana dapat membrikan informasi tentang pengembangan standar sarana prasarana R-SMA-BI 5. Wakil kepala sekolah bidang humas, dapat memberikan informasi tentang segala hal yang berkaitan dengan hubungan kemitraan dengan sekolah unggul. 6. Wakil kepala sekolah / Koordinator program R-SMA-BI, dapat mengetahui tentang segala hal yang berkaiatan dengan segala program R-SMA-BI, khusunya yng berhubungan dengan pendalaman, peluasan, pengayaan dan penambahan dari sekolah standar. 7. Kepala urusan tata usaha dapat memeberikan iformasi yang berkaitan dengan seputar akreditasi sekolah, peningkatan pendidikan guru ke S2. Dan tentang degala hal yang berkaitan dengan tenaga kependidikan. 8. Guru dapat memberikan informasi tentang segala hal yang berkaiatan tentang proses pembelajaran di kelas 9. Laboran, dapat memberikan informasi tentang segala hal kondisi laboratorium IPA dan TIK

118

10. Pustakawan, dapat memberikan informasi tentang segala hal yang berkaitan dengan kondisi perputkaan sekolah 11. Bendahara, dapat memebrikan segala hal yang berkaiatan sumber dana sekolah dan pengalokasiannya (RAPBS) 12. Pengelola TIK sekaligus teknisi, dapat memberikan informasi rencana

pengembangan program aplikasi TIK untuk efektivitas belajar siswa di kelas 13. Siswa dapat memberikan informasi tentang fasilitas yang diberikan sekolah untuk pengembangan diri siswa. Untuk lebih jelasnya penulis paparkan dalam bentuk tabel mengenai informan dan materinya sebagai berikut berikut : Tabel: 3.1 Materi dan Informan Evaluasi penyelenggaraan pelaksanan program RSBI

NO

KOMPONEN

ASPEK

INFORMAN

1

Standar Pengelolaan 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8 Memenuhi standar pengelolaan Kepsek/Wakasek Sarana/Wakasek Kesis. Wakasek Humas

Meraih sertifikat ISO 9001 versi 2000 atau sesudahnya dan ISO 14000. Merupakan sekolah. multi-kultural. Wakasek Kesiswaan Menjalin hubungan "sister school" dengan sekolah bertaraf internasional di luar negeri. Bebas narkoba dan rokok. Bebas kekerasan (bullying). Menerapkan prinsip kesetaraan gender dalam segala aspek pengelolaan sekolah Meraih medali tingkat internasional pada berbagai kompetisi sains, matematika, teknologi, seni, dan olahraga. Wakasek Humas Wakasek Kesis Wakasek Kesis Wakasek Kesis Wakasek Kesis

119

2

Akreditasi 2.1 2.2 Berakreditasi minimal A Beraktreditasi dari salah satu negara OECD Kepsek Kepsek/Koordinator RSBI

3

Standar Kurikulum dan SKL 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 Menerapkan KTSP Memenuhi Standar Isi Memenuhi Standar Kompetensi Lulusan Menerapkan sistem administrasi akademik berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Memberikan muatan mata pelajaran setara atau lebih tinggi dari muatan pelajaran yang sama pada sekolah unggul dari salah satu negara OECD Menerapkan SKS Wakasek Kur Wakasek Kur/ Koordinator Pengelola RSBI Wakasek Kur Pengelola TIK Koord. Pengelolaan RSBI

3.6 4

Wakasek Kur Wakasek Kur.

Standar Kompetensi Lulusan Menerapkan standar kelulusan dari sekolah yang lebih tinggi dari Standar Kompetensi Lulusan Standar Proses Pembelajaran 5.1 5.2 Memenuhi Standar Proses Proses pembelajaran pada semua mata pelajaran menjadi teladan bagi sekolah lain dalam pengembangan akhlak mulia, budi pekerti luhur, kepribadian unggul, kepemimpinan, jiwa entrepreneural, jiwa patriot, dan jiwa inovator Memperkaya denga model proses pembelajaran sekolah unggul dari negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan. Menerapkan pembelajaran berbasis TIK pada semua mata pelajaran

5

Wakasek Kur./Guru Wakasek Kur./Wakasek Kesis./Koord. Pengelola RSBI/ Guru/ Siswa

5.3

Wakasek Kurikulum/ Koord. Pengelola RSBI

5.4

Wakasek Kur./ Wakasek Kesiswaan/ Guru/ Siswa

120

6

Menggunakan bahasa Inggris untuk kelompok sains, matematika, dan inti kejuruan. Pembelajaran mata pelajaran lainnya, kecuali bahasa asing, menggunakan bahasa Indonesia. Standar Penilaian Pendidikan 6.1 6.2 Memenuhi Standar Penilaian Diperkaya dengan model proses pembelajaran sekolah unggul dari negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan Standar Tenaga Kependidikan 7.1 7.2 7.3 Memenuhi standar pendidik Semua guru mampu memfasilitasi pembelajaran berbasis TIK Guru mata pelajaran kelompok sains, matematika dan ini kejuruan mampu menggunakan pembelajaran berbahasa Inggris Minimal 30% guru berpendidikan S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A untuk SMA/SMK/MA/MAK Memenuhi Standar Tenaga Kependidikan Kepala Sekolah berpendidikan minimal S2 dari Perguruan Tinggi yang program studinya berakreditasi A dan telah menempuh pelatihan Kepala Sekolah dari lembaga pelatihan kepala sekolah yang diakui oleh pemerintah. Kepala Sekolah mampu berbahasa Inggris secara aktif. 7.8

5.5

Guru/siswa

Guru Kepsek/Wakasek Kur/Koord. Pengelola RSBI

7

Wakasek Kur/ Guru/Ka Tas Wakasek Kur/ Guru/Siswa Guru/siswa

7.4

Wakasek Kur. / Ka TU

7.5 7.6

Ka Tas KaTas/ Putakawan/ Teknisi Sumber Belajar /Laboran/Konselor/ Pelatih

7.7

Kepsek/Guru/Siswa

Kepsek/Wakasek Kepala Sekolah bervisi internasional, mampu membangun Sarana/Wakasek jejaring internasional, memiliki kompetensi manajerial, jiwa Hum/guru/siswa kepemimpinan dan entrepreneural yang kuat.

121

8

Standar Sarana dan Prasarana 8.1 Memenuhi standar sarana dan prasarana Kepsek/ Wakasek Sarana/ Ka Tas/ Pustakawan/ laboran/ Guru BK/ Pembina UKS/ siswa 8.2 8.3 Setiap ruang kelas dilengkapi dengan sarana pembelajaran berbasis TIK. Perpustakaan dilengkapi dengan sarana digital yang memberikan akses ke sumber pembelajaran berbasis TIK di seluruh dunia. Wakasek Sarana/Teknisi Wakasek Sarana/Pustakawan/ Teknisi TIK Wakasek Sarana/ Pengelola Teknisi TIK

9

Dilengkapi dengan ruang multimedia, ruang unjuk seni budaya, fasilitas olahraga, klinik, dan lain sebagainya. Standar Pembiayaan 9.1 9.2 Memenuhi standar pembiayaan Menerapkan model pembiayaan yang efisien untuk mencapai berbagai target Indikator Kunci Tambahan

8.4

Kepsek/ Bendahara Kepsek/ Bendahara.

Keterangan: Lebih lengkapnya lihat lampiran: 7

Sedangkan untuk memudahkan pemahman dari hasil penelitian ini penulis paparkan pengkodean dalam tehnik pengumpulan data sekialigus pengkodean informannya .

122

Tabel:3.2 Kode Informan dan Tehnik Pengumpulan Data N0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 12 13 14 15 15 D. INFORMAN / TEHNIK PENGUMPULAN DATA Kepala sekolah Wakil Kepala Sekolah Bidang kurikulum Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana Kepala Tatalaksana Wakil Kepala Sekolah Penjamin Mutu Koordinator Program Pengelola Teknologi Informasi dan Komunkasi Pengelola R-SMA-BI Pengelola Lab Wawancara Observasi Studi dokumentasi Lampiran KODE Kepsek Wakasek.Kur Waksek Kesis Wakasek.Hum Wakasek.Sarana Ka.Tas PM. Koor.Prog Pengelola TIK Pengelola RSBI Laboran Ww Observ Studi Dok Lamp.

Analisis Data Analisis data merupakan proses mencari dan mengatur secara sistematis transkrip

wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain yang di pahami oleh peneliti. Kegiatan analisis dilakukan dengan menelaah data, menata data, membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola, mensintesis, mencari pola, menemukan apa yang bermakna dan apa yang diteliti dan di laporkan secara sistematis. Dalam kaitan itu ada empat tahap analisis adalah : 1. Analisis Domain Analisi domain dilakukan untuk memperoleh gambaran yang bersifat umum dan relatif menyeluruh tentang apa yang terdapat difokus penelitian. Contoh tentang perubahan-perubahan yang penting dilakukan dalam upaya menuju R-SMA-BI. maka

123

kita temukan domainnya adalah, pengembangan kurikulum yang dilakukan oleh SMA Negeri 1 Baleendah. 2. Analisis Taksonomi Setelah selesai analisis domain dialukan pengamatan dan wawancara terfokus berdasarkan fokus penelitian . Contoh : perubahan-perubahan yang penting dilakukan dalam upaya menuju R-SMA-BI. maka kita temukan domainnya adalah, pengembangan kurikulum. Maka dari hasil wawancara dan observasi dapat dikembangkan lagi secara luas bahwa pengembangan kurikulum itu dapat dibedakan menjadi tiga bagaian: 1) Program Kurikuler, 2) Program Ekstrakurikuler dan 3) Program pengembangan diri. 3. Analsis Komponen Setelah analsis taksonomi, dilakukan wawancara atau pengamatan terpilih untuk memperdalam data yang telah ditemukan melalui pengajuan sejumlah pertanyaan kontras17 . Contoh untuk pengembangan program kurikuler bagi sekolah R-SMA-BI untuk mata pelajaran matematika dan IPA (MIPA) perlu adanya penguatan, pengayaan, pengembangan, perluasan, dan pendalaman pada peningkatan mutu pendidikan yang mengacu pada standar mutu pendidikan bertaraf internasional pada negara-negara OECD dan negara-negara maju lainnya yang memiliki keunggulan tertentu yang bertaraf internasional dalam pendidikan. Sedangkan untuk mata pelajaran yang lainnya disesuaikan dengan sekolah standar nasional (SSN). 4. Analisis Tema Analisis tema merupakan upaya mencari benang merah yang mengintegrasikan lintas domain yang ada18.

17 18

Moleong Methodologi Penelitian Kualitatif, hlm. 146. Sanapaih Faisal, Penelitian Kualitatif dasar-dasar dan aplikasi ( Malang:Asih Asah Asuh, 1990), hlm. 106).

124

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dalam 2 (dua) tahap, yaitu analisis data selama dilapangan dan analisis data setelah data terkumpul. Analisis data selama dilapangan tidak dikerjakan setelah pengumpulan data selesai melainkan selama pengumpulan data berlangsung dan dikerjakan terus menerus sehingga penyusunan laporan penelitian selesai. Sebagai langkah awal, data yang merupakan hasil wawancara dengan informan kunci (key informan) dipilih dan diberi kode berdasarkan kesamaan isu, tema dan masalah yang terkandung didalamnya dengan terus mencari data-data baru. Sedangkan analisis data setelah terkumpul atau data yang baru diperoleh setelah pelaksanaan pengumpulan data, maka dianalisis dengan cara membandingkannya dengan data yang terdahulu.. Dalam hal ini peneliti juga memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut : a. Analisis selama pengumpulan data, meliputi pengembalian keputusan untuk membatasi lingkup kajian, pengembalian pertanyaan-pertanyaan analisis,

merencanakan tahapan pengumpulan data dengan hasil pengamatan sebelumnya, menulis komentar pengamat mengenai gagasan yang muncul, menulis memo bagi diri sendiri mengenai hal yang dikaji dan menggali sumber-sumber perpustakaan yang relevan selama penelitian berlangsung b. Analisis setelah pengumpulan data, adalah mengembangkan kategori koding, dengan sistem koding yang ditetapkan dan mekanisme kerja terhadap data yang telah dikumpulkan. E. Pengecekan Keabsahan Temuan Pengecekan keabsahan data sangat perlu dilakukan agar data yang dihasilkan dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pengecekan keabsahan data merupakan suatu langkah untuk mengurangi kesalahan dalam proses perolehan data penelitian yang tentunya akan berimbas terhadap hasil akhir dari suatu penelitian. Dalam

125

proses pengecekan keabsahan data pada penelitian ini harus melalui beberapa teknik pengujian data. Adapun teknik pengecekan keabsahan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu: 1. Perpanjangan Keikutsertaan Dalam penelitian kualitatif, peneliti terjun ke lapangan dan ikut serta dalam kegiatan-kegiatan subjek penelitian. Keikutsertaan tersebut tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat, akan tetapi memerlukan waktu yang lebih lama dari sekedar untuk rnelihat dan mengetahui subjek penelitian. Dengan perpanjangan keikutsertaan ini berarti peneliti tinggal di lapangan penelitian sampai data yang dikumpulkan jenuh19. 2. Ketekunan Pengamatan Ketekunan pengamatan dimaksudkan untuk menentukan data dan informasi yang relevan dengan persoalan yang sedang dicari oleh peneliti, kernudian peneliti memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci. 3. Trianggulasi Triangulasi dilakukan dengan cara membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh dari informan yang satu ke informan lainnya. Misalnya dari guru yang satu ke guru lainnya, dari kepala sekolah ke wakil sekolah, dan lain sebagainya. Dalam pengecekan keabsahan data pada penelitian ini, peneliti juga menggunakan trianggulasi, yaitu teknik pemeriksaan data memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data tersebut bagi keperluan pengecekan atau sebagaian bahan pembanding terhadap data tersebut. Untuk pengecekan keabsahan data melalui triangulasi data digunakan dua jenis pendekatan yaitu triangulasi sumber dan triangulasi metode:

19

Lexy. J. Meloeng, “Metod”e …hlm.. 327

126

a. Triangulasi sumber data yaitu dimana penliti berupaya untuk mengecek keabsahan data yang didapatkan dari salah satu sumber dengan sumber yang lain . Misalnya peneliti menggali data tentang fokus pertama, yaitu Perubahan perubahan yang penting dilakukan dalam upaya menuju R-SMA-BI . Selanjutnya data tersebut dicek keabsahannya kepada wakasek kurikulum, Wakasek sarana prasarana, pengelola R-SMA-BI dan dokumen, sehingga sampai ditemukan tingkat akurasi data. Demikian juga dilakukan terhadap sub fokus penelitian lainnya, atau untuk mencocokan perolehan data tersebut, peneliti melakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1). Membandingkan dta hasil pengamatan dengan hasil data wawancara 2). Membandingkan hasil wawancara dengan dokumentasi terkait 3). Membandingkan persepektif seseorang dengan pendapat dan pandangan orang lain. b. Triangulasi metode adalah upaya untuk mengecek keabsahan data melalui pengecekan kembali apakah prosedur dan proses pengumpulan data sesuai dengan metode yang absah. Disamping itu pengecekan data dilakukan secara berulang-ulang . melalui beberapa metode pengumpulan data.

BAB IV PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A. Paparan Data 1. Perubahan-Perubahan yang Penting dilakukan dalam Upaya Menuju R-SMA-BI Untuk data fokus pertama ini penulis melakukan penelitian melalui wawancara dan studi dokumentasi. Wawancara penulis lakukan dengan kepala sekolah dan wakasek penjaminan mutu sekolah. Hasil wawancara dengan kepala sekolah yang dilakukan tanggal 5 juni 2010 adalah sebagai berikut”1 : “Memang untuk menuju sekolah SBI ini banyak sekali yang harus dilakukan terutama di internal sekolah, semua aspek harus harus dilakukan perubahan yang sangat mendasar dan perubahan itu mengacu pada 8 standar pendidikan, seperti yang tertuang dalam PP RI N0. 19 tahun 2005. (ww.Kepsek. 5 Juni 2010 ) Lebih teknisnya wawancara dengan wakasek wawancaranya antara lain sebagai berikut2 : “Perubahan itu kami berpedoman pada buku panduan R-SMA-BI. kami merumuskannya dalam rapat kerja tentang pengemabangan R-SMA-BI dengan pimpinan serta dengan team pengembangan/pengelola R-SMA-BI. Pengembanagan itu meliputi, perubahan visi misi, pengembangan kurikulum, proses pembelajaran, penilaian, pengembangan SDM, sarana prasarana, pembiayaan, manajemen sekolah, , pengembangan kultur sekolah.” (ww/wakasek PM/ 5, juni, 2010) Adapun untuk mendapatkan data tersebut, dengan yang lebih lengkap, penulis mengadakan studi dokumentasi3. Dan hasilnya adalah sebagai berikut : penjaminan mutu, hasil

1

Hasil wawancara dengan kepala sekolah mengnai perubahan-perubahan program sekolah dalam menuju R-SMA-Bi, pada tanggal, 5 Juni 2010. 2 Hasil wawancara dengan Wakasek Penjamin Mutu , mengnai perubahan-perubahan program sekolah dalam menuju R-SMA-Bi, pada tanggal, 5 Juni 2010 3 Hasil studi dokumentasi mengnai perubahan-perubahan program sekolah dalam menuju R-SMA-Bi, pada tanggal, 5 Juni 2010

127

128

a. Perubahan Visi-Misi Perubahan yang telah dilakukan oleh sekolah untuk menuju R-SMA-BI meliputi: 1) Perubahan Visi-Misi Sejak penunjukan menjadi rintisan sekolah bertaraf internasional,

SMA Negeri 1 Baleendah telah melakukan perubahan visi-misi sekolah. a. ) Visi (1). Sekolah yang berkualitas dan mandiri dalam mewujudkan insan yang berbudi pekerti luhur (2) Sekolah berprestasi dengan peringkat unggul di Jawa Barat b). Misi (1) Menyelenggarakan proses belajar dan mengajar yang paripurna , bermutu dan efisien (2) Menjadi sekolah yang mampu mengelola pendanaannya secara sefektif dan efisien . (3) Tempat pendidikan guna mewujudkan anak didik yang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi disertai budi pekerti yang luhur (studi dok, dan Obsrv, Tgl. 6 April 2010) Sedangkan visi misi stelah perubahan adalah : a) Visi : Terwujudnya sekolah bertaraf Internasional, unggul dalam prestasi dan berbudaya untuk menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dengan berlandaskan nilai-nilai religius, dan berwawasan lingkungan. b) Misi : 1) 2) 3) 4) 5) Peningkatan mutu pendidikan dan pengajaran Peningkatan pembinaan kesiswaan dan kegiatan ektrakurikuler Meningkatkan pelayanan kepada seluruh pengguna jasa Mengoptimalkan pemanfaatan sarana prasarana sekolah Peningkatan pengamalan nilai-nilai agama Islam dalam kehidupan di sekolah 6) Menumbuhkan kesadaran kehidupan demokrasi 7) Peningkatan hubungan dengan masyarakat melalui konsep manajemen berbasis sekolah (MBS) (Studi.Dok dan Obsrv, Tgl. 6 April 2010)

129

Perubahan visi-misi ini

sesuai dengan tuntutan standar rintisan

sekolah

bertaraf internasional yaitu harus memiliki visi-misi sekolah yang dirancang agar mencirikan wawasan kebangsaan, memberdayakan seluruh potensi kecerdasan dan meningkatkan daya saing global. b. Pengembangan Kurikulum Program pengembangan kurikulum meliputi program kurikuler dan program ekstrakurikuler. 1) Program Kurikuler a) Mata Pelajaran Matematika dan IPA (MIPA) Mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi ditambah, diperluas, diperkaya dan diperdalam melalui : (1) Penambahan content pembelajaran pada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan dalam Standar Isi berdasarkan Permendiknas nomor 22 tahun 2006. (2) Pemanfaatan TIK dalam mendukung kegiatan pembelajaran didalam dan diluar kelas, antara lain dengan: (a) Mengembangkan penggunaan bahan ajar elektronik, interaktif maupun non interaktif. (b) Memanfaatkan penggunaan internet sebagai salahsatu sumber belajar. (c) Memanfaatkan e-mail sebagai sarana kontak komunikasi guru-siswa diluar kelas/sekolah, termasuk penyampaian tugas-tugas mata pelajaran oleh siswa. (d) Memanfaatkan situs sekolah sebagai sarana penyampaian bahan ajar tambahan/perluasan dan diskusi interaktif jarak jauh antara siswa dengan siswa maupun dengan guru. (3) Mengembangkan pembelajaran dan penilaian autentik yang menekankan pada penguasaan implementasi hasil belajar dalam kehidupan nyata sehari-hari. Dalam hal ini, penilaian dalam bentuk project dan portfolio serta memberikan pelaporan berbentuk karya tulis menjadi keutamaan penilaian standar kompetensi. (4) Mengutamakan penguasaan kompetensi hasil belajar melalui pengembangan pengalaman belajar dengan pendekatan eksperimentatif yang mengarahkan siswa mendapatkan dan menemukan pengetahuan yang dipelajarinya. (5) Pembelajaran mengupayakan penggunaan Bahasa Inggris lisan dan tertulis secara bertahap yang mengarah pada penggunaan bahasa pengantar Bahasa Inggris. (6) Untuk mendukung keempat hal diatas, pembelajaran IPA (Fisika, Kimia, Biologi) ditambah 1 (satu) jam pelajaran, sedangkan pembelajaran Matematika ditambah 2 (dua) jam pelajaran.

130

b) Mata Pelajaran Bahasa Inggris Pembelajaran mata pelajaran Bahasa Inggris diarahkan pada penguasaan komunikasi internasional, lisan maupun tulisan. Mata pelajaran bahasa Inggris diperluas, diperkaya dan diperdalam dengan menambah 2 (dua) jam pelajaran yang menekankan pada: (1) Peningkatan kemampuan bercakap yang internationally accepted dengan mengembangkan pengalaman belajar yang menekankan pada pengalaman penggunaan Bahasa Inggris secara real. Penguasaan kompetensi yang menekankan pada kompetensi lisan (oral) berbahasa Inggris ini ditekankan pada tahun pertama, yakni ketika siswa berada dikelas X (sepuluh). (2) Peningkatan kemampuan memahami teks tertulis dalam bentuk scientific texts maupun manuals dalam rangka mendukung penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang ditulis dalam bahasa Inggris. Penguasaan kompetensi yang menekankan pada kompetensi tulis (written) berbahasa Inggris ini ditekankan pada tahun kedua, yakni pada saat siswa berada dikelas XI (sebelas). (3) Peningkatan kemampuan berkomunikasi lisan dan tulis Academic English yang digunakan dalam events seperti lecture (perkuliahan), seminar, maupun presentasi bertaraf internasional. Penguasaan kompetensi yang menekankan pada kompetensi academic english ini ditekankan pada tahun ketiga, yakni pada saat siswa berada dikelas XII (duabelas). (4) Pengembangan pembelajaran dan penilaian autentik yang menekankan pada penguasaan implementasi hasil belajar dalam kehidupan nyata (real) yang sepenuhnya menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris. (Studi Dok,dan Observ, tanggal 5 juni 2010)

Gambar4.1 Pembelajaran dgn Teaching Assistant dari Prancis

131

c) Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Pembelajaran mata pelajaran TIK diarahkan pada penguasaan teknologi informasi dan komunikasi modern. Mata pelajaran TIK diperluas, diperkaya dan diperdalam dengan menambah 1 (satu) jam pelajaran yang menekankan pada programprogram terapan TIK (TIK)

Gambarr 4.2 Pembelajaran di Lab. Komputer

(Studi Dok,dan Observ, tanggal 5 juni 2010) d) Mata Pelajaran lain Mata pelajaran lain dikembangkan sesuai dengan standar isi sesuai dengan standar nasional pendidikan (SNP) tanpa tambahan jam pelajaran. Pada program rintisan R-SMA-BI, pengembangan bahan ajar secara lisan dan tulis mengupayakan penggunaan Bahasa Inggris secara bertahap dan mengarah pada penggunaan bahasa pengantar Bahasa Inggris.Untuk tiga pengembangan selama tiga tahun ini diharapkan penggunaan bahsa Inggris di kalangan siswa mencapai 30% dari bahasa percakapannya sehari-hari baik dikelas maupun diluar kelas. Sedangkan untuk guru mata pelajaran dikelas diprioritaskan untuk guru mata pelajaran matematika dan IPA

132

(MIPA) dan bahasa Inggris. Sedangkan untuk mata pelajaran selain MIPA dan bahasa Inggris tidak diproritaskan. (Ww.guru, siswa dan studi dok, 5 juni 2010) e) Mata Pelajaran Seni Budaya Mata pelajaran seni budaya diarahkan pada penguasaan apresiasi, wawasan dan kompetensi seni budaya lokal (Sunda) yang menekankan pengenalan mendalam terhadap jatidiri dan nilai-nilai budaya urang sunda dengan tetap menghargai keragaman budaya bangsa Indonesia dan budaya bangsa-bangsa lain pada umumnya. Mata pelajaran seni budaya merupakan salah satu pendukung utama ke-khas-an program SBI di SMAN 1 Baleendah yakni menghasilkan lulusan yang cerdas dan kompeten dalam berfikir global dengan tetap berbudaya lokal. (Studi Dok,dan Observ, tanggal 5 juni 2010) f) Muatan Lokal Bahasa Sunda Muatan lokal diarahkan pada penguasaan bahasa Sunda sebagai bahasa daerah yang akan mengentalkan pendalaman wawasan akan jatidiri sebagai urang sunda. Muatan lokal mengembangkan pembelajaran dalam bentuk pengalaman belajar yang meningkatkan penguasaan kompetensi pengetahuan, wawasan dan penerapan budaya sunda.Hal ini diharapkan supaya di era globalisasi ini siswa tidak lupa akan budaya dan bahasanya sendiri sebagai urang sunda sehingga penyelenggaraan program RSMA-BI ini tidak menjadi malapetaka bagi lingkungan sendiri. (Studi Dok,dan Observ, tanggal 5 juni 2010) g). Program Ekstra Kurikuler Program ekstrakurikuler merupakan program pengembangan diri yang dikembangkan guna mendukung tujuan penyelenggaraan rintisan program Sekolah Bertaraf Internasional. Program ekstrakurikuler diikuti oleh seluruh siswa SBI sesuai

133

dengan minat dan bakatnya masing-masing. Program ekstra kurikuler (ekskul) terdiri dari 2 (dua) kelompok yakni: a) Program Ekstrakurikuler Wajib Program ekstrakulikuler yang wajib diikuti oleh siswa SBI terdiri dari kegiatankegiatan sebagai berikut: (1) (2) (3) (4) Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Kelompok Debat Bahasa Inggris (English Debating Society) Komunitas Remaja Berbasis IT (KARBIT) Sanggar Seni Budaya Sunda (Studi Dok,dan Observ, tanggal 5 juni 2010) Setiap siswa R-SMA-BI wajib mengikuti kegiatan ekstrakurikuler KIR dan minimal salah satu dari kegiatan ekstrakurikuler diatas setiap semesternya.penilaian terhadap peserta kegiatan ekstrakurikuler dilakukan selama proses pembelajaran dan diakhiri dengan expose penguasaan kompetensi pada setiap akhir tahun pelajaran dalam bentuk pameran pendidikan.

\

Gamabar 4.3 : Pembinaan ekstra kurikuler (KIR) (Studi Dok dan Oberv. Tanggal 5 juni 2010)

134

b) Program Ekstrakurikuler Pilihan Program ekstra kurikuler pilihan adalah program ekstrakulikuler selain program ekstrakulikuler wajib yang diselenggarakan oleh SMAN 1 Baleendah. Kegiatan ekskul pilihan seperti: Basket, Paduan Suara, Paskibra, Pramuka, dll. dapat diikuti oleh siswa R-SMA-BI sebagai kegiatan pilihan. Siswa R-SMA-BI tidak wajib mengikuti kegiatan ekstrakulikuler pilihan. (Studi Dok tanggal 5 April, 2010) c) Program Pengembangan Diri Program Pendidkian Lingkungan Hidup (PKLH) merupakan program titipan dari pemerintah supaya masuk dan menjadi program pembelajaran siswa baik di kelas maupun di luar kelas dan program ini di SMA Negeri 1 Baleendah menjadi bagian dari program pengembangan diri. Sehingga pelaksanaannya diluar kelas atau menjadi kegiatan ekstra kulikuler . Adapun alokasi waktunya dihitung setara dengan dua jam pelajaran perminggu. (Studi.Dok dan Obsrv, Tgl. 5 Juni2010) c. Proses Pembelajaran Dalam menyelenggarakan proses pembelajaran, program rintisan R-SMA-BI SMA Negeri 1 Baleendah menggunakan konsep belajar tuntas (mastery learning) dan menganut prinsip-prinsip pembelajaran sebagai berikut: 1) Mengembangkan berbagai pendekatan dan metoda pembelajaran yang dikuatkan melalui penambahan jam pelajaran pada mata pelajaran-mata pelajaran tertentu dan penyesuaian waktu belajar dalam rangka memberikan penguatan, pengayaan, perluasan, pendalaman, penambahan, dan pengembangan terhadap Standar Nasional Pendidikan. 2) Pro-perubahan: mampu menumbuhkan dan mengembangkan daya kreasi, inovasi, nalar dan eksperimentasi untuk menemukan kemungkinan baru (Joy of Discovery) yang tidak tertambat pada tradisi/kebiasaan proses belajar yang lebih mementingkan ingatan (recall). 3) Menggunakan media pendidikan yang bervariasi dan melibatkan teknologi TIK (Information and Communication Technology) canggih dan mutakhir.

135

4) Mengembangkan proses pembelajaran yang menganut prinsip konstruktivisme yang mendorong: a) keingintahuan (sense of curiosity and wonder). b) keterbukaan pada kemungkinan-kemungkinan baru. c) prioritas pada fasilitas kebebasan dan kreativitas dalam mencari jawaban atau pengetahuan baru. 5) Menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris (bilingual) yang dirintis secara bertahap. 6) Menggunakan bahan ajar, buku teks, modul, dan lembar kerja siswa (students worksheet) berbahasa Inggris, sebagian atau seluruhnya. 7) Mengembangkan program remedial untuk menjamin ketuntasan belajar peserta didik pada setiap jenjang/kelas. 8) (Studi.Dok dan Obsrv, Tgl. 5 Juni2010) d. Penilaian Sistem penilaian yang dikembangkan pada program rintisan R-SMA-BI di SMAN 1 Baleendah adalah sistem penilaian berbasis kompetensi. Sistem penilaian dikembangkan berdasarkan konsep mastery (ketuntasan) yang menekankan

penguasaan kompetensi oleh individu pembelajar. Peserta didik secara individual dituntut menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar berdasarkan indikator hasil belajar dan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan pada masing-masing matapelajaran. Peserta didik yang belum mencapai ketuntasan minimal mendapatkan layanan remedial hingga mencapai KKM. Secara teknis penilaian dikembangkan menggunakan berbagai instrumen penilaian baik dalam bentuk paper and pencil test maupun non test seperti penggunaan teknik wawancara, kuis, performen dan portofolio. Selama proses pembelajaran, setiap mata pelajaran menekankan penggunaan teknik non test sebagai alat penilaian. Termasuk dalam teknik ini adalah tes performen, portofolio dan penugasan projek. Sedangkan teknik penilaian paper and pencil lebih digunakan pada penilaian melalui ulangan.

136

Jenis penilaian yang diselenggarakan pada program rintisan SBI meliputi: ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. (Studi.Dok dan Obsrv, Tgl. 5 Juni2010) e. Pengembangan SDM Untuk mendukung keterlaksanaan program rintisan SBI di SMAN 1 Baleendah, upaya pengembangan SDM dilakukan secara bertahap dan

berkesinambungan melalui: 1) Pelatihan TIK bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilingkungan SMAN 1 Baleendah. Yang meliputi penggunaan TIK dalam pembelajaran, pemanfaatan internet sebagai sumber belajar, dan penggunaan jaringan local area network (LAN) dalam sistem informasi manajemen. 2) Pelatihan Bahasa Inggris bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilingkungan SMAN 1 Baleendah, yang diselenggarakan melalui kerjasama dengan pihak Dinas Pendidikan Kabupaten maupun Propinsi dan juga lembaga konsultan pendidikan asing Global Partner. 3) Pelatihan pengembangan pembelajaran dalam bentuk In House Training yang diselenggarakan secara berkala. (Studi.Dok dan Obsrv, Tgl. 5 Juni2010) f. Sarana prasarana Dalam rangka perintisan R-SMA-BI, di SMAN 1 Baleendah terus berusaha melengkapi berbagai sarana dan prasarana penunjang penyelenggaraan SBI secara bertahap. Sarana :prasarana yang telah tersedia dan secara bertahap terus dikembangkan dan ditingkatkan kualitasnya adalah: 1) Setiap ruang kelas SBI dilengkapi dengan: a) b) c) d) e) f) g) h) i) 1 unit komputer canggih berfasilitas internet Wireless Router untuk layanan hot spot 1 unit pesawat televisi 29 inch 1 unit VCD/DVD player 1 unit LCD projector (permanen) 1 unit big screen projector Unit-unit kursi lipat bermeja Lemari mini library untuk printed maupun electronic references. Locker pribadi siswa

137

j) Dispenser k) Kipas angin 2) Dua unit laboratorium komputer. 3) Ruang multi media. 4) Laboratorium bahasa. 5) Laboratorium IPA (fisika) 6) Laboratorium IPA (biologi dan kimia). 7) Cyber Plasa 8) Perpustakaan. 9) Bahan ajar dalam bahasa Indonesia dan Inggris. 10) Bahan ajar elektronik (CD/Software pembelajaran). 11) Layanan web site melalui situs sekolah. (Studi.Dok dan Obsrv, Tgl. 5 Juni2010)

Gambar4.4. Pembelajaran di Lab. Bahasa

Gambar 4.5. Pembelajaran di Lab. IPA

138

2. Tingkat Ketercapaian Program R-SMA- BI di SMA Negeri 1 Baleendah Berdasarkan hasil penelitian di SMAN1 Baleendah . dengan memakai

instrumen standar evaluasi ketercapaian R-SMA-BI yang dikembangkan oleh Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, yang berbentuk software. Adapun Struktur

temuan penelitian dimulai dari ; standar pengelolaan, standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses, standar penilaian, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana prasarana dan standar pembiayaan. Berdasarkan hasil penelitian evaluasi kinerja program R-SMA-BI SMAN 1 Baleendah diperoleh skor hasil penilaian 744 dari total skor maksimum 1000. Hasil selengkapnya dapat dilihat dalam tabel rekapitulasi berikut: Tabel: 4.1 Rekapitulasi skor per komponen evaluasi kinerja R-SMA-BI No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Komponen Penilaian Pengelolaan Kurikulum Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Proses Pembelajaran Penilaian Pendidik dan Tenaga Kependidikan Sarana dan Prasarana Pembiayaan Total nilai Nilai Perolehan Nilai Selisih Keterangan Maks % 205 172 33 84 Tabel 4.2 85 70 15 82 Tabel 4.3 140 150 50 175 165 30 1000 61 106 41 140 130 24 744 79 44 9 35 35 8
Rerat:

44 71 82 80 79 80
74,4 %

Tabel 4.4 Tabel 4.5 Tabel 4.6 Tabel 4.7 Tabel 4.8 Tabel 4.9

Sumber: diolah dari program aplikasi software evalauasi R-SMA-BI Data hasil evaluasi di atas, apabila diakitkan dengan kriteria mutu R-SMA-BI. Maka SMA Negeri 1 Baleendah sebagai sekolah rintisan yang bertaraf internasional tingkat ketercapaiannya masih sangat minim. Hal ini bisa dilihat dari scor perolehan

139

pada masing-masing standar yang belum satupun mendapatkan nilai A4. ( lihat tabel: 4.1 dan gambar: 5.2). Untuk itu penulis akan paparkan penyebab ketidak tercapaian setiap sub-sub komponen berdasarkan indikator standar ketercapaian R-SMA-BI yang dikembangkan oleh Depdiknas. Sebagai berikut : a. Skor Standar Pengelolaaan Tabel: 4.2 . Skor Hasil Evaluasi Kinerja Pengelolaan No. 1 1.1 1.1.1 1.1.2 1.1.3 1.1.4 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8 1.9 Komponen Penilaian Pengelolaan Memenuhi Standar Pengelolaan Visi - Misi Bercirikan Keunggulan Visi - Misi Beruraikan Indikator Keunggulan Tujuan dan Tahapan Mewujudkan Visi-Misi Memiliki RKJM, RKT, dan Pelaksanaannya Mengadopsi dan Mengadaptasi ISO Merupakan Sekolah Multi-Kultural Menjalin Hubungan “Sister School” . Bebas Narkoba dan Rokok Bebas kekerasan (bullying) Menerapkan Prinsip Kesetaraan Gender Berakreditasi A Merujuk pada Standar Mutu dari Negara Maju Nilai Maks 205 125 25 40 40 20 15 15 15 10 5 5 5 10 Nilai 172 117 24 33 40 20 12 11 4 10 5 5 2 6

% 84 94 96 83 100 100 80 73 27 100 100 100 40 60

Sumber: diolah dari program aplikasi software evalauasi R-SMA-BI Standar pengelolaan sudah hampir mmenuhi standar mutu R-SMA-BI. Akan tetapi ada dua sub komponen pengelolaan yang memiliki kontribusi cukup signifikan terhadap belum tercapainya standar R-SMA-BI yaitu (a) menjalin hubungan dengan sekolah unggul di negara yang tergabung dalam OECD dan atau negara maju lainnya dalam bentuk sisters school, (b) merujuk pada standar mutu dari Negara maju .

4

Berdasarkan Kriteria Badan Akreditasi Nasional (BAN) nilai A itu = ≥85 .

140

b. Skor Standar Isi (Kurikulum) Tabel: 4.3 Skor Hasil Evaluasi Kinerja Kurikulum No. 2 2.1 2.2 Komponen Penilaian Kurikulum Menerapkan KTSP Memenuhi Standar Isi Nilai Nilai Maks 85 25 60 70 19 51 % 82 76 85

Sumber: diolah dari program aplikasi software evalauasi R-SMA-BI Standar isi/kurikulum tidak ada satupun sub-sub komponponen yang sudah mencapai nilai A. Hal ini disebabkan oleh penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan belum dilengkapi dengan rujukan kurikulum Negara maju, dan juga Sekolah belum memenuhi kandungan isi materi pelajaran memenuhi kriteria standar internasional c. Skor Standar Kompetensi Lulusan Tabel: 4.4 Skor Hasil Evaluasi Kinerja Standar Kompetensi Lulusan No. 3 3.1 3.2 3.3 3.4 Komponen Penilaian Standar Kompetensi Lulusan Memenuhi Standar Kompetensi Lulusan Menerapkan Sistem Administrasi Akademik BerbasisTIK Memberikan Muatan Mata Pelajaran Setara atau Lebih Tinggi dari Sekolah Unggul Negara OECD Menerapkan Standar Kelulusan Lebih Tinggi Daripada Standar Kompetensi Lulusan Nilai Maks 140 105 15 10 10 Nilai 61 44 10 0 7 % 44 42 67 0 70

Sumber: diolah dari program aplikasi software evalauasi R-SMA-BI Standar kompetensi lulusan tidak ada satupun susb-sub komponen yang sudah mencapai nilai A. Hal ini disebabkan oleh : 1) Sekolah belum menunjukan prestasi dalam pengembangan keimanan, tetakwaan dan akhlak mulia pada tingkat provinsi, nasional dan internasional;

141

2) Sekolah belum menunjukan prestasi dalam bidang matematika, kimia, fisika, biologi, bahasa Inggris dan ekonomi ditingkat provinsi, nasional dan

internasional; 3) Sekolah belum menunjukan prestasi dalam bidang olahraga ditingkat nasional dan internasional; 4) Sekolah belum menunjukan prestasi dalam bidang bahasa Indonesia, astronomi dan kebumian, karya ilmiah dan prestasi dalam penerapan teknologi ditingkat kabupaten, provinsi, nasional dan internasional; 5) Sekolah belum menunjukan prestasi dibidang karya kreatif dan inovatif yang dipamerkan ditingkat kabupaten, provinsi, nasional dan internasional; 6) Sekolah belum menghasilkan lulusan yang mampu berkolaborasi pada taraf internasional;. 7) Sekolah belum menunjukan lulusan yang setara dengan sekolah unggul; 8) Presentase lulusan yang diterima di perguruan tinggi negeri masih rendah; 9) Sekolah belum mengaflikasikan sistem pengelolaan berbasis TIK dalam administrasi akademik; 10) Sekolah belum menyatarakan materi sekolah unggul di sekolah salah satu Negara OECD atau Negara maju lainnya pada bidang MIPA, sosial, Bahasa Inggris dan TIK; 11) Sekolah belum mengadopsi sistem evaluasi belajar yang relevan dari sekolah unggul Negara maju; 12) Sekolah belum menunjukan prestasi pada ujian nasioanal dengan nilai rata-rata diatas standar nasional.

142

d. Skor Standar Proses Tabel: 4.5 Skor Hasil Evaluasi Kinerja Standar Proses Pembelajaran No. 4 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 Komponen Penilaian Proses Pembelajaran Memenuhi Standar Proses Menjadi teladan bagi sekolah pada pengembangan akhlak mulia, budi pekerti luhur, kepribadian unggul, jiwa kepemimpinan, jiwa entrepreneurship, patriotis, dan innovator Menerapkan Model Sekolah Unggul dari Negara Anggota OECD dan/atau Negara Maju Lainnya Menerapkan Pembelajaran Berbasis TIK pada Semua Mata Pelajaran Menggunakan bahasa Inggris dalam Pembelajaran , kecuali bahasa asing, menggunakan bahasa Indonesia. Nilai Maks 150 90 20 15 15 10 Nilai 106 75 15 6 `10 0 %
71 83 70

40 67 0

Sumber: diolah dari program aplikasi software evalauasi R-SMA-BI Standar proses tidak ada satu pun sub-sub komponen yang sudah mencapai nilai A . hal disebabkan oleh : 1) Sekolah belum menerapakan pengelolaan sistem moving class 2) Sekolah belum menerapkan layanan konsultasi mata pelajaran 3) Sekolah belum mempublikasikan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang bisa dibaca oleh sluruh siswa melalui Web. 4) Guru belum bisa menghasilkan tulisan dalam bahasa Inggris 5) Sekolah belum melaksanakan kegiatan belajar mandiri tidak terstruktur, dengan programnya yang disahkan dalam rapat dewan pendidik . 6) Sekolah belum memiliki standar prosuder operasional tentang kegiatan mandiri tidak terstruktur 7) Guru belum melaksanakan penelitian tindakan kelas (PTK) 8) Sekolah belum melaksanakan penjaminan mutu proses pembelajaran

143

9) Guru tidak menerima gratifikasi 10) Sekolah belum memiliki komisi disiplin guru 11) Sekolah belum memiliki komisi disiplin siswa 12) Sekolah belum memaksimalkan koperasi siswa 13) Sekolah belum memiliki kegiatan usaha produksi 14) Sekolah belum mengembangkan kerjasama dengan sekolah unggul tingkat nasional melalui kegiatan pertukaran siswa, pertukaran guru, peningkatan mutu profesi dan pengemabngan kurikulum 15) Sekolah belum mengembangkan kerjasama dengan sekolah unggul dari Negara OECD atau Negara maju lainnya 16) Sekolah belum menerapkan pembelajaran berbasis TIK pada semua mata pelajaran. 17) Siswa belum optimal menggunakan sumber belajar berbahasa Inggris dalam pembelajaran 18) Guru belum melaksanakan pembelajaran berbahasa Inggris secara optimal e. Skor Standar Penilaian Tabel: 4.6 Skor Hasil Evaluasi Kinerja Standar Penilaian No. 5 5.1 5.2 Komponen Penilaian Penilaian Memenuhi Standar Penilaian Menggunakan Model Penilaian Sekolah Unggul dari Negara Maju yang Mempunyai Keunggulan Tertentu dalam Bidang Pendidikan Nilai Maks 50 30 20 Nilai 41 30 11 % 82 100 55

Sumber: diolah dari program aplikasi software evalauasi R-SMA-BI Standar penilaian sub komponen yang sudah mencapai nilai A adalah

memenuhi standar penilaian dengan sempurna 100%. . Sedangkan sub-sub komponen

144

yang belum mencapai nilai A adalah, menggunakan model penilaian sekolah unggul dari negara maju yang unggul dalam bidang pendidikan. Hal ini disebabkan oleh: 1) Sekolah belum mengembangkan instrumen penilaian sesuai dengan kebutuhan siswa masuk perguruan tinggi 2) Sekolah belum melakukan kerjasama dalam meningkatkan standar penilaian belajar yang setara dengan sekolah unggul/ lembaga dari Negara OECD 3) Sekolah belum memanfaatkan tenaga ahli dalam penjaminan mutu untuk meningkatkan standar penilaian belajar yang setara dengan sekolah unggul bertaraf internasional f. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan Tabel: 4.7 Skor Hasil Evaluasi Kinerja Tenaga Pendidik dan Kependidikan No. 6 6.1 6.2 6.3 6.4 6.5 Komponen Penilaian Pendidik dan Tenaga Kependidikan Memenuhi Standar Kompetensi Tenaga Pendidik Memfasilitasi Pembelajaran Berbasis TIK Mengampu Pembelajaran Berbahasa Inggris Untuk Mata Pelajaran Kelompok Sains dan Matematika Minimal 30% Guru Berpendidikan S2/S3 dari Perguruan Tinggi yang Program Studinya Berakreditasi A Memenuhi Standar Tenaga Kependidikan Kepala Sekolah Berpendidikan Minimal S2 dari Perguruan Tinggi yang Program Studinya Berakreditasi A dan Telah Menempuh Pelatihan Kepala Sekolah dari Lembaga Pelatihan Kepala Sekolah yang Diakui Oleh Pemerintah Kepala Sekolah Mampu Berbahasa Inggris Secara Aktif Kepala Sekolah Bervisi Internasional, Mampu Membangun Jejaring Internasional, Memiliki Kompetensi Manajerial, Serta Jiwa Kepemimpinan dan Entrepreneurship yang Kuat Nilai Maks 175 25 10 10 15 45 Nilai 140 17 10 9 12 37 % 80 68 100 90 80 82

6.6

5

3

60

6.7 6.8

10 55

7 45

70 82

Sumber: diolah dari program aplikasi software evalauasi R-SMA-BI

145

Standar pendidik dan tenaga kependidikan ada sub-sub komponen yang sudah mencapai nilai A yaitu, guru sudah memfasilitasi pembelajaran dengan berbasis TIK. Sedangkan yang sub-sub yang lainnya belum memenuhi standar tenaga pendidik. adalah : 1) Belum memenuhi Standar Kompetensi Tenaga Pendidik. Hal ini disebabkan: a) Guru belum melaksanakan penelitian tindakan kelas (PTK) terprogram b) Prosentase guru yang telah melakukan model perbaikan mengajar melalui studi program R-SMA-BI masih sangat rendah 2) Belum mencapai 30% Guru Berpendidikan S2/S3 dari Perguruan Tinggi yang Program Studinya Berakreditasi A. Hal ini disebabkan oleh : a) Prosentase guru yang memiliki ijazah pasca sarjana dari program studi yang berakreditasi A. masih sangat rendah b) Belum seluruh guru mengikuti diklat pendalaman materi dalam 2 tahun terakhir. 3) Belum memenuhi Standar Tenaga Kependidikan. Hal ini disebabkan oleh : a) Prosentase tenaga kependidikan yang berlatar belakang pendidikan masih sangat rendah. b) Jumlah tata usaha yang memahami bahasa Inggris sangat rendah, (2 orang). c) Sekolah belum memiliki tenaga administrasi yang mampu menggunakan perangkat TIK. Paket aplikasi sekolah (PAS). d) Sekolah belum memiliki tenaga administrasi yang mampu menggunakan perangkat TIK. Flash e) Sekolah belum memiliki tenaga administrasi yang mampu menggunakan pengelolaan Web

146

4) Kepala Sekolah Berpendidikan Minimal S2/S3 dari Perguruan Tinggi yang Program Studinya Berakreditasi A dan Telah Menempuh Pelatihan Kepala Sekolah dari Lembaga Pelatihan Kepala Sekolah yang Diakui Oleh Pemerintah. Sub komponen ini belum mencapai nilai A sebab pendidikan kepala sekolah belum S.3. 5) Kepala Sekolah Mampu Berbahasa Inggris Secara Aktif Sub komponen ini belum mencapai nilai A. sebab kemampuan berbahasa Inggris melalui tes TOEFL baru mencapai nilai 451-475. Dan kemampuan surat menyurat dalam bahasa Inggris belum maksimal. 6) Kepala Sekolah Bervisi Internasional, Mampu Membangun Jejaring Internasional, Memiliki Kompetensi Manajerial, Serta Jiwa Kepemimpinan dan

Entrepreneurship yang Kuat. Sub komponen ini belum mencapai nilai disebabkan oleh : a) Prosentase kontribusi dari produk kewirausahaan pada RAPBS pertahun hanya 2%. b) Sekolah baru 50% dari kebutuhan dalam membiayai guru melanjutkan pendidikan. c) Sekolah belum memfasiltasi guru dalam sarana dan prasarana SIM administrasi pembelajaran d) Sekolah belum mempublikasikan karya tulis atau hasil penelitian guru

147

g. Skor Standar Sarana Prasarana Tabel: 4.8 Skor Hasil Evaluasi Kinerja Standar Sarana Prasarana No. 7 7.1 7.2 7.3 7.4 Komponen Penilaian Sarana dan Prasarana Memenuhi Standar Sarana dan Prasarana Setiap Ruang Kelas Dilengkapi dengan Sarana Pembelajaran Berbasis TIK Perpustakaan Dilengkapi dengan Sarana Digital yang Memberikan Akses ke Sumber Pembelajaran Berbasis TIK Di Seluruh Dunia Dilengkapi dengan Ruang Multimedia, Ruang Unjuk Seni Budaya, Fasilitas Olahraga, Klinik, dan Lain Sebagainya Nilai Maks 165 140 10 5 10 Nilai 130 111 9 1 9 % 79 79 90 20 90

Sumber: diolah dari program aplikasi software evalauasi R-SMA-BI Standar sarana prasarana yang sudah memenuhi standar nilai A adalah Setiap Ruang Kelas Dilengkapi dengan Sarana Pembelajaran Berbasis TIK, Sedangkan sub-sub komponen yang belum mencapai nilai A adalah : 1) Memenuhi Standar Sarana dan Prasarana Hal ini disebabkan oleh: a) Luas tanah hanya 1000 m² – 14999 m² b) Luas bangunan 6381m² – 7089m² c) Belum dilengkapi hydran d) Belum dilengkapi pintu darurat e) Luas ruang kelas 71m² – 75m² f) Jumlah layanan perpustakaan 8-9 jam g) Lab fisika tidak dilengkapi bak cuci, kran air dan bahan percobaan h) Lab bahasa tidak dilengkapi LCD Proyektor i) Lab computer tidak dilengkapi scener dan printer j) Ruang kepala sekolah tidak dilengkapi meja pertemuan dan CCTV k) Ruang guru tidak dilengkapi meja pertemuan dan CCTV

148

l) Ruang tatausaha tidak dilengkapi meja pertemuan dan CCTV m) Ruang konseling tidak dilengkapi meja pertemuan dan CCTV n) Ruang usaha kesehatan sekolah tidak dilengkapi lemari dokumen, wastafel, papan statisti dan alat komunikasi o) Ruang OSIS tidak dilengkapi dengan CCTV p) Ruang serba guna tidak dilengkapi dengan kedap suara dan CCTV q) Tempat olahraga siswa berdekatan dengan kelas / ruang belajar r) Ruang kesenian tidak dilengkapi dengan kedap suara s) Sekolah hanya memiliki daya listrik 10.000-30.000 waat jam t) WC siswa tidak sesuai dengan jumlah rombel 2) Perpustakaan Dilengkapi dengan Sarana Digital yang Memberikan Akses ke Sumber Pembelajaran Berbasis TIK Di Seluruh Dunia. Hal ini disebabkan oleh : a) Belum dilengkapi dengan katalog digital b) Belum dilengkapi layanan online database c) Belum memiliki koleksi kepustakaan digital dalam bentuk jurnal, e-book d) Siswa belum dapat memanfaatkan bahan pustaka dari luar ruangan perpustakaan sekolah. h. Skor Standar Pembiayaan Tabel: 4.9 Skor Hasil Evaluasi Kinerja Standar Pembiayaan No. 8 8.1 8.2 Komponen Penilaian Pembiayaan Memenuhi Standar Pembiayaan Menerapkan Model Pembiayaan yang Efisien Untuk Mencapai Berbagai Target Indikator Kunci Tambahan Nilai Maks 30 10 20 Nilai 24 9 15 % 80 90 75

Sumber: diolah dari program aplikasi software evalauasi R-SMA-BI

149

Standar pembiayaan yang belum mencapai nilai A adalah dalam menerapkan model pembiayaan yang efisien untuk mencapai beragai target indikator kunci tambahan. Hal ini disaebabkan oleh : 1) Sekolah belum menerapkan model system layanan online 2) Belum ada layanan bank di sekolah 3) Belum menerapkan layanan pembayaran berbasis computer 4) Sekolah baru mengalokasikan dana bantuan beasiswa sebesar 10 – 12% 3. Hamabatan-hambatan yang dihadapi dalam penyelenggaraan R SMA BI Berdasarkan hasil evaluasi tentang ketercapaian R SMA BI selama pengembangan tiga tahun yang dumulai dari tahun ajaran 2007-2008 dan dari 200 indikator operasional evaluasi kinerja , diketahui bahwa penyelenggaraan program RSMA-BI di SMAN 1 Baleendah mendapatkan skor nilai 744 dari total skor maksimum 1000. Berarti ada selisih 256 yang belum tercapai, hal ini bisa diinterpretasikan bahwa ada hambatan dalam penyelenggaraan R SMA BI di SMAN 1 Baleendah . Berdasarkan hasil observasi, wawancara dan studi dokumentasi, wawancara penulis lakukan dengan kepala sekolah wakasek penjaminan mutu yang sekaligus sebagai pengelola. Adalah sebagai berikut”5 : Hambatan sudah jelas ada dan kami hadapi sesuai kemampuan SDM yang ada disekolah, dan hambatan itu merata di setiap aspek delapan komponen Standar nasional pendidikan itu ada, walaupun sekolah kami sudah SSN, tapi karena harus disesuaikan dengan standar R-SMA-BI. maka hambatan-hambatan jelas kelihatan secara kasat mata anatara lain dari sarana, kemampuan berbahasa inggris. (Ww.Kepsek, tanggal 5 April, 2010)

5

Ww.Kesek, Mmengenai hambatan penyelengaraan R-SMA-BI, pada tanggal, 5 April, 2010.

150

Lebih lanjut kepala sekolah menjelaskan6 : Yang paling nampak hambatan-hambatan itu, disamping pada aspek biaya, juga pada sumber daya manusia sekolah pendidik dan tenaga kependidikan yang dituntut untuk memiliki kompetensi tambahan, seperti, penggunaan bahasa bahasa inggris pada saat mengajar, kemampuan information comunication technologi (TIK) dalam pembelajaran dan lemahnya sumber daya manusia untuk hubungan luar negeri, (Ww.Kepsek, tanggal 5 April, 2010) Selanjutnya untuk menggali data ini dengan data yang lebih rinci penulis melakukan wawancara dengan wakasek penjaminan mutu, hasil wawancara anatara lain sebagai berikut7 : Aspek-aspek yang masih minim tingkat ketercapaiannya adalah sebagai berikut: yang paling menonjol adalah, pada aspek standar pengelolaan dan aspek sumber daya manusia sekolah untuk mengimplementasikan standar-standar internasional, seperti melakukan hubungan dengan sekolah unggul dari Negara OECD atau Negara maju lainnya, terus mengadakan kerja sama dengan sekolah itu untuk melakukan MoU menjadi sister school dan merujuk pada sekolah unggul dari Negara maju bidang pendidikan, baik standar pembelajarannya, standar penilaiannya ataupun standar yang lainnya. (Ww.Wakasek.PM, tanggal 5 April, 2010) Dari hasil wawancara, observasi dan studi dokumentasi, maka diperoleh data bahwa hambatan-hambatan dalam penyelenggaraan R-SMA-BI di SMA Baleendah ringkasannya adalah sebagai berikut:”8 Pada standar pengelolaan masih banyak hambatan yang dihadapi hal ini terbukti dengan banyaknya yang belum tercapai kegiatan antara lain dalam merealisasikan : a. Menjalin hubungan dengan dengan sekolah bertaraf internasional di luar negeri atau mengembangkan sister school

6

Hasil wawancara dengan kepala sekolah, mengenai hambatan penyelengaraan R-SMA-BI, pada tanggal, 5 April, 2010 7 Hasil wawancara dengan wakasek bidang penjamin mutu , mengenai hambatan penyelengaraan RSMA-BI, pada tanggal, 5 April, 2010 8 Hasil wawancara, studi dokumentasi dan observasi, tanggal, 5 april, 2010

151

b. Merujuk pada standar mutu dari salah satu negara maju c. Minimal 30% guru berpendidikan S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya berakreditasi A d. Sekolah belum mendapatkan akreditasi dari sekolah unggul /lembaga pendidikan dari negara OECD e. Sekolah belum tersertifikasi dari sekolah unggul atau lembaga pendidikan tingkat internasional. (Lihat Lmp. 7 dan 8) (Ww.Wakasek. PM, Wakasek Hum dan Obsrv, Tgl. 5 April 2010) Pada standar proses hambatan yang dihadapi adalah pada proses pembelajaran dalam memperkaya dengan model proses pembelajaran sekolah unggul dari negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan. (Lihat Lmp. 7 dan 8 ) (Studi.Dok. tanggal 5 April 2010) Pada standar penilaian, hambatan yang dihadapi dalam merealisasikan sistem penilaian atau memperkaya model proses penilaian yang mengacu pada penilaian sekolah unggul dari negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan. (Lihat Lmp 7 dan 8) (Ww.Wakasek PM, Wakasek kur dan Obsrv, Tgl. 5 April 2010) Pada bidang standar pendidik adalah penggunaan lesson study. Dalam

pembelajaran untuk mencari solusi dari kesulitan-kesulitan dalam pembelajaran . Dalam hal ini Guru di SMA Negeri 1 Baleendah mengalami kesulitan dalam

menerapkan model pembelajaran lesson studi. Disamping itu guru masih mengalami kesulitan dalam penggunaan bahasa inggris secara maksimal dalam pembelajaran di dalam kelas. (Lihat Lmp. 7 dan 8) (Ww. Ka Tas, Wakasek Kur. dan Obsrv, Tgl. 5 April 2010)

152

Pada standar sarana prasarana hambatan yang paling menonjol adalah meralisasikan perpustakaan.yang memenuhi standar R-SMA-BI. Dalam hal ini Dirjen Mandikdasmen Direktorat Pembinaan SMA menstandarkan perpustakaan harus dilengkapi dengan sarana digital yang memberikan akses ke sumber pembelajaran berbasis TIK di seluruh dunia. Dalam hal ini SMA Negeri 1 Baleendah belum dilengkapi dengan perpustakaan (digital Library) (Lihat Lmp. 7 dan 8). (Ww. Wakasek Sar dan Obsrv, Tgl. 5 April 2010) Hambatan yang dihadapi adalah memenuhi dana pengembangan R SMA BI secara maksimal. Di luar bantuan pemerintah pusat dan daerah . Dalam hal ini komite sekolah belum bisa menggali sumber keuangan selain dari orang tua siswa. Misalnya dunia usaha donatur, alumni yang sudah berhasil dan sumber-sumber lainnya. Disamping itu masalah yang dihadapi dalam pengadministrasian keuangan belum menerapkan manajemen keuangan yang efektis dan efisien .(Lihat Lmp. 7 dan 8 ) (Ww. Bendahara dan Obsrv, Tgl. 5 April 2010) 4. Strategi untuk mempercepat pencapaian Baleendah R-SMA-BI di SMA Negeri 1

Untuk mendapatkan data tersebut di atas, maka penulis melakukan wawancara, dan studi dokumentasi. Wawancara penuulis lakukan dengan kepala sekolah dan wakasek penjamin mutu . sedangkan studi dokumentasi penulis menelusuri dokumen yang berkaitan dengan strategi percepatan menyelenggarakan R-SMA-BI. Adapun hasil wawancara dengan kepala sekolah adalah sebagai berikut :

153

Dalam mempercepat ketercapaian standar R-SMA-BI maka kami melakukan berbagai hal antara lain: a) Melakukan sosialisasi tentang R-SMA-BI kepada seluruh stkeholders sekolah terutama kepada guru, karyawan, siswa, komite sekolah dan orang tua siswa bahwa SMA Negeri 1 Baleendah telah ditunjuk untuk menjadi sekolah rintisan bertaraf internasional.2) Seluruh aktivitas pendidikan berporos pada visi dan misi, 3) Meningkatkan efektivitas pengelolaan/manajemen pembelajaran, melalui jangkah menengah dan tahunan. (Ww. Kepsek, Tgl 8 Juli 2010) Sedangkan wawancara dengan Wakasek penjamin mutu adalah sebagai berikut: Untuk mempercepat ketercapaian standar R-SMA-BI kami melakukan :1) Peningkatan manajemen mutu pengelolaan sekolah dengan cara, penysunan referensi peningkatan mutu pengelolaan, peningkatan standar mutu perencanaan, peningkatan standar mutu proses, peningkatan standar mutu supervisi, evaluasi dan perbaikan mutu pengelolaan. 2) Meningkatkan manajemen mutu pembelajaran, melalui. Peningkatan standar sumber belajar untuk pendidik dan siswa, peningkatan standar mutu perencanaan, standar mutu pelaksanaan pembelajaran, peningkatan standar mutu evaluasi pembelajaran, dan meningkatkan kesiapan sekolah dalam menggunakan sistem kredit semester pada pelaklsanaan KTSP. (Ww.Wakasek./tgl 8 juli, 2010) Dari hasil wawancara dari kedua sumber tersebut nampak bahwa usaha sekolah dalam mengoptimalkan untuk mempercepat ketercapaian standar mengarah pada pembelajaran. Sedangkan hasil dari studi dokumentasi, penulis mendapatkan dokumen yang berkaitan dengan strategi penyelenggaraan R-SMA-BI adalah sebagai berikut: a. Optimalisasi kinerja pendidik yang memenuhi Standar Pendidik, mampu memfasilitasi pembelajaran berbasis TIK, serta mengampu pembelajaran sains dengan pengantar Bahasa Inggris dan atau bilingual. b. Pelaksanaan kinerja kepemimpinan sekolah secara profesional sebagai pemimpin manajerial-administratif dan pemimpin manajerial-edukatif serta memenuhi Standar Kepala Sekolah. c. Penyelenggaraan Proses Belajar Mengajar yang didukung sarana dan prasarana yang memenuhi Standar Sarana Prasarana. d. Penerapan manajemen berbasis sekolah yang memenuhi Standar Pengelolaan. R-SMA-BI

peningkatan manajemen atau pengelolaan dan peningkatan mutu

154

e. Penyelenggaraan pembiayaan pendidikan yang sekurang-kurangnya terdiri atas biaya investasi, biaya operasional, dan biaya personal. yang memenuhi Standar Pembiayaan. f. Pencapaian perolehan sertifikat akreditasi “predikat A” dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-SM) serta hasil akreditasi baik dari salah satu negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dan/atau negara maju lainnya. g. Pelaksanaan kurikulum secara tuntas melalui penerapkan KTSP, pemenuhan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan melalui pelaksanaan sistem administrasi akademik berbasis TIK dan pemberian muatan mata pelajaran setara negara anggota OECD atau negara maju lainnya. h. Pelaksanaan proses pembelajaran yang efektif dan efisien yang memenuhi Standar Proses. i. Pelaksanaan penilaian kinerja pendidikan yang memenuhi Standar Penilaian (Studi dokumentasi, tgl 5 April, 2010) Di bawah ini akan penulis paparkan dalam bentuk tabel mengenai kegiatan yang belum terlaksana atau dalam proses perencanaan dan yang menjadi penghambatnya. Sebagai berikut :

155

Tabel: 4.10 Faktor-faktor Penghambat Kegiatan yang Belum Terlaksana N0 1 Kegiatan Hambatan

Menjalin hubungan dengan dengan Kemampuan SDM dibidang human sekolah bertaraf internasional di relation terutama ke luar negeri masih luar negeri atau mengembangkan sangat minimal sister school Merujuk pada standar mutu dari Belum terjalin hubungan secara formal salah satu negara maju dengan sekolah salah satu negara maju (sister school) Minimal 30% guru berpendidikan Keterbatasan dana pendidik untuk S2/S3 dari perguruan tinggi yang melanjutkan masih sangat terbatas dan program studinya berakreditasi A keterbatasan dana sekolah untuk memberi beasiswa masih sangat minim Sekolah belum mendapatkan Kemampuan SDM sekolah dan team akreditasi dari sekolah unggul khusus untuk mengurus program itu /lembaga pendidikan dari negara belum ada . OECD Penilaian belum diperkaya dengan Keterbatasan sumber daya manusia standar penilaian sekolah unggul (SDM) yang masih kurang untuk dari negara anggota OECD mengoptimalkan program tersebut dan/atau negara maju lainnya Guru belum terbiasa menerapkan Kemampuan SDM guru belum di model lesson studi dan penggunaan maksimal bahasa inggris belum maksimal digunakan di dalam kelas. Perpustakaan belum dilengkapi Fasilitas masih belum memadai dan dengan sarana digital library yang budaya baca teks bahasa inggris di memberikan akses ke sumber guru dan siswa belum tinggi pembelajaran berbasis TIK di seluruh dunia.

2

3

4

5

6

7

156

B. Temuan Penelitian . 1. Perubahan yang penting dilakukan dalam upaya mencapai R-SMA-BI a. Perubahan Visi-Misi yang bercirikan keunggulan sebagaimana yang distandarkan oleh Depdiknas, Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas. b. Pengembangan kurikulum yang diarahkan pada penguatan, pengayaan,

pengembangan, perluasan dan pendalaman pada peningkatan mutu pendidikan bertaraf internasional pada negara-negara OECD dan negara-negara maju lainnya yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan . c. Pengembangan penilaian dengan berbasis kompetensi dengan memanfaatkan instrumen penilaian baik pada ranah, kognitif, afektif dan psikomotor d. Pengembangan sumber daya manusia (SDM) diarahkan pada peningkatan kompetensi guru pada bidang TIK, bahasa Inggris dan pembelajaran. e. Pengembangan sarana prasarana kelas yang berbasis TIK dan peningkatan dan penambahan laboratorium 2. Ketercapaian R-SMA-BI f. Ketercapaiam standar pengelolaan baru mencapai 84 % g. Ketercapaian standar isi baru mencapai 82 % h. Ketercapaian standar kompetensi lulusan (SKL) baru mencapai 44% i. Ketercapaian standar proses baru mencapai 71% j. Ketercapaian standar penilaian baru mencapai 82% k. Ketercapaian standar tenaga pendidik dan kependidikan baru mencapai 80% l. Ketercapaian sarana dan prasarana baru mencapai 79% m. Ketercapaian pembiayaan baru mencapai 80%

157

Dengan demikian; ketercapaian standar rintisan sekolah bertaraf internasional (R-SMA-BI) di SMA Negeri 1 Baleendah mencapai 74,4%. 3. Faktor-Faktor yang Menjadi Penghambat dalam Penyelenggaraan R-SMA-BI a. Sumber daya manusia (SDM) sekolah yang masih rendah untuk penyelenggaraan rintisan sekolah yang bertaraf internasional (R-SMA-BI) b. Fasilitas pembelajaran masih belum memadai untuk layanan pembelajaran rinstisan sekolah yang bertaraf internasional (R-SMA-BI) 4. Strategi Untuk Mempercepat Pencapaian SBI f. Seluruh aktivitas pendidikan di sekolah beporors pada visi-misi g. Peningkatan manajemen mutu pengelolaan sekolah h. Peningkatan manajemen mutu pembelajaran

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 pada pasal 50 menyatakan bahwa Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Merujuk pada UNESCO (2002) menyatakan bahwa secara universal mutu pendidikan mencakup 5 komponen kunci yaitu, (1) apa yang siswa peroleh (2) lingkungan pendidikan (3) isi (4) proses (5) outcome. Idealnya dalam mengembangkan sekolah bertaraf internasional mampu menjawab tantangan untuk menghasilkan produk bermutu sehingga jelas perbedaan antara lulusan SBI dan bukan SBI. Oleh sebab itu supaya para pengelola pendidikan dalam pengembangan sekolah bertaraf internasional lebih terarah. perlu merumuskan aspek-aspek berikut ini. 1. Profil lulusan yang diharapkannya disertai dengan indikator dan kriteria mutu. 2. Profil kompetensi pengetahuan dan keterampilan yang akan diberikan kepada siswa. 3. Profil manusia pada strata sosial yang hendak sekolah wujudkan. 4. Kompetensi guru yang dibutuhkan sekolah. 5. Proses pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan pengembangan. 6. Model latihan atau penilaian yang dapat menantang siswa agar mencapai seperti yang sekolah harapkan. 7. Profil lingkungan yang mendukung terselenggaranya pembelajaran

158

159

A. Perubahan yang Penting Dilakukan dalam Upaya Menuju R-SMA-BI SMA Negeri 1 Baleendah dalam kondisinya saat ini sedang menuju R-SMA-BI melakukan perubahan-perubahan penting yang meliputi : a) perubahan visi-Misi sekolah b) pengembangan kurikulum c) proses pembelajaran, d) penilaian, e) pengembangan sumber daya manusia (SDM), f) sarana prasarana, Sebagaimana yang penulis tunjukan pada gambar di bawah ini, tampak bahwa perubahan-perubahan yang penting dilakukan dalam upaya menuju R-SMA-BI yaitu :

Perubahan Visi‐Misi Pengembangan Kurikulum Pengembangan Proses Pembelajaran SMA N1 BALEENDA H Pengembangan Penilaian

R-SMA-BI

Pengembangan SDM

Pengembangan Sarana Prasarana Gambar : 5.1 Perubahan-perubahan yang Penting Dilakukan dalam Upaya Menuju R-SMA-BI

160

Enam perubahan yang penting dilakukan sekolah dalam upaya mengembangkan sekolah menuju rintisan sekolah bertaraf internasional (R-SMA-BI) akan penulis paparkan sebagai berikut : 1. Perubahan visi-Misi sekolah Perumusan visi-misi sekolah hendaklah tidak terlepas dari visi-misi pendidikan nasional, merujuk Sugeng1” Visi harus dikembangkan dengan memperhatikan kebutuhan dan harapan stakeholders potensial dan kegiatan utama lembaga. artinya visi-misi

pendidikan nasional harus dijadikan pedoman untuk penyusunan visi-misi suatu sekolah . Adapun visi-misi pendidikan nasional adalah Terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Sedangkan misi pendidikan nasional antara lain: a. Meningkatkan mutu pendidikan sehingga memiliki daya saing di tingkat nasional, regional, dan internasional; b. Meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global; c. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar; d. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global Mengacu pada visi pendidikan nasional dan visi Depdiknas, visi SMA rintisan sekolah bertaraf internasional perlu dirancang agar mencirikan wawasan kebangsaan, memberdayakan seluruh potensi kecerdasan dan meningkatkan daya saing global. Visi tersebut memiliki implikasi bahwa penyiapan manusia bertaraf internasional memerlukan upaya-upaya yang dilakukan secara intensif, terarah, terencana, dan

11

Sugeng Listyo Praboowo, Manajemen Pengembangan Mutu Sekolah/Madrasah, Uin pres, 2008, hlm.173

161

sistematik agar dapat mewujudkan bangsa yang maju, sejahtera, damai, dihormati, dan diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain Selanjutnya visi perlu dijabarkan ke dalam misi SMA bertaraf internasional. misalnya misi yang menjabarkan visi tersebut di atas misalnya berbunyi ”Berdasarkan visi tersebut di atas maka sekolah memiliki komitmen untuk (1) menjaga keutuhan NKRI, (2) membekali dan membina siswa dalam hal budi pekerti luhur dan terpuji sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, (3) memberdayakan potensi kecerdasan siswa baik dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS) maupun iman dan taqwa (IMTAQ) serta kecerdasan sosial-emosional, (4) meningkatkan kemampuan daya saing secara internasional. Misi yang telah dijabarkan tersebut akan dijadikan dasar rujukan dalam menyusun dan mengembangkan rencana program kegiatan yang memiliki indikator2 SMART, yaitu spesifik (Specific), dapat diukur (Measurable), dapat dicapai (Achievable), realistik (Realistic), dan memiliki kurun waktu jangkauan yang jelas (Time Bound). Misi ini direalisasikan melalui kebijakan, rencana, program, dan kegiatan SMA bertaraf internasional yang disusun secara cermat, tepat dan futuristik. Penyelenggaraan SMA bertaraf internasional bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang berstandar nasional dan internasional sekaligus. lulusan yang berstandar nasional secara jelas telah dirumuskan dalam UU Nomor 20/2003 dan dijabarkan dalam PP Nomor 19/2005, dan lebih dirincikan lagi dalam Permendiknas no. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Adapun Visi SMA Negeri 1 Baleendah adalah setelah dilakukan revisi dari visimisi yng yang sebelumnya adalah sebagai berikut:
2

Departemen Pendidikan Nasional Panduan penyelenggaraan, hlm. 13

162

Terwujudnya sekolah bertarap Internasional, unggul dalam prestasi dan berbudaya untuk menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dengan berlandaskan nilai-nilai religius, dan berwawasan lingkungan. Dalam visi SMA Negeri 1 Baleendah terdapat 2 ( dua ) buah kata kunci yakni; Sekolah Yang Unggul dan Sekolah Yang Berbudaya. Penjelasan kata kunci tersebut diuraikan sebagai berikut: a. Sekolah Yang Unggul Yang dimaksud dengan sekolah yang unggul adalah: 1) Sekolah yang mampu memberikan layanan optimal kepada seluruh anak dengan berbagai perbedaan bakat, minat kebutuhan belajar; 2) Mampu meningkatkan secara signifikan kapabilitas yang dimiliki anak didik menjadi aktualisasi diri yang memberikan kebanggaan; 3) Mampu membangun karakter kepribadian yang kuat, kokoh dan mantap dalam diri siswa. Adapun ciri sekolah yang unggul adalah: 1) Mampu memberikan layanan pendidikan yg efektif, mampu mengoptimalkan dan menumbuhkembangkan bakat, minat dan potensi siswa; 2) Mampu membangun karakteristik kepribadian yang kokoh; 3) Mampu menjadi tempat penyemaian nilai-nilai baru bagi berkembangnya masyarakat masa depan ; b. Sekolah Yang Berbudaya Unsur penting budaya sekolah, sebagai berikut: 1) Seperangkat norma di sekolah yang menekankan nilai upaya dan prestasi akademik;

163

2) Terlaksannya seperangkat harapan yang menekankan kepada pentingnya anggota staf yang bersemangat meraih keunggulan dan murid yang menampilkan potensinya; 3) Sistem aktifitas simbolik dan sangsi yang mendorong dan upaya penghargaan, perbaikan, dan pelaksanaan pada saat ketidakteraturan. Mengingat pentingnya kontribusi budaya sekolah terhadap peningkatan kinerja sekolah, maka pengembangan budaya sekolah dapat diarahkan kepada prinsip-prinsip berikut: a) Adanya penekanan terhadap upaya dan prestasi akademik; b) Adanya keyakinan bahwa semua murid dapat berprestasi; c) Pengembangan dan inovasi guru secara terus-menerus; d) Penciptaan lingkungan belajar yang nyaman dan aman. Dalam rangka mewujudkan visi tersebut, SMA Negeri 1 Baleendah

mengembangkan misi sebagai berikut: 1) Peningkatan mutu pendidikan dan pengajaran; 2) Peningkatan pembinaan kesiswaan dan kegiatan ektrakurikuler; 3) Meningkatkan pelayanan kepada seluruh pengguna jasa; 4) Mengoptimalkan pemanfaatan sarana prasarana sekolah; 5) Peningkatan pengamalan nilai-nilai Agama Islam dalam kehidupan di sekolah; 6) Menumbuhkan kesadaran kehidupan demokrasi; 7) Peningkatan hubungan dengan masyarakat melalui konsep mangement berbasis sekolah (MBS). Strategi yang digunakan dalam mewujudkan misi tersebut di atas adalah sebagai berikut:

164

a.. Penataan Kelembagaan 1) Mewujudkan keteladanan dan kejujuran kepemimpinan; 2) Meningkatkan pembinaan seluruh personal sekolah dalam menegakan disiplin yang dilandasi keikhlasan dan penuh tanggung jawab;. 3) Pembinaan dan pemberdayaan personal sekolah untuk meningkatkan

profesionalisme kerja; 4) Optimalisasi penggunaan sumber daya pendidikan secara jujur dan transparan sesuai dengan aturan; 5) Menumbuhkan partisipasi aktif dalam menjabarkan program sekolah; 6) Meningkatkan kesejahteraan dan penghargaan kepada guru, karyawan dan siswa berprestasi; 7) Miningkatkan fungsi kehumasan untuk membangun citra sekolah sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan.. b.. Peningkatan Mutu KBM 1) Meningkatkan PBM yang bermuatan IMTAQ.; 2) Meningkatkan partisipasi aktif dalam PBM; 3) Memberdayakan MGMP dan BP/BK untuk meningkatkan profesionalisme dalam pelayanan pendidikan;. 4) Optimalisasi sarana dan prasarana KBM untuk meningkatkan sistem dan proses belajar menuju kelas unggulan;. 5) Meningkatkan pembinaan kesiswaan sesuai Visi, Misi dan Strategi sekolah. c.. Peningkatan Penampilan Fisik Sekolah 1) Mengembangkan penampilan sekolah yang bersih, indah, tertib, aman dan ramah;

165

2) Pengembangan dan penataan sarana/prasarana sekolah untuk meningkatkan kegairahan dalam bekerja dan belajar; 3) Pengembangan program pemeliharaan dan pengamanan sarana dan prasarana sekolah; 4) Mengoptimalkan penggunaan sarana dan prasarana. d.. Peningkatan Profesi Tenaga Kependidikan 1) Peningkatan efisiensi dan efektivitas supervisi; 2) Mendorong dan memberi kesempatan kepada guru dan tata laksana untuk

melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi; 3) Pengembangan wawasan kependidikan melalui MGMP, Seminar, Lokakarya, Penataran, Pendidikan dan latihan, Karya Tulis Ilmiah serta studi banding; 4) Pemberdayaan BP/BK Melalui pembinaan, memberi kesempatan yang seluasluasnya kepada semua personal sekolah untuk meningkatkan karir berdasarkan potensi dan prestasi kerja;. Berdasarkan visi-misi tersebut berarti SMA Negeri 1 Baleendah, telah berusaha untuk menyesuaikan dengan visi-misi yang distandarkan oleh Depdiknas sebagai standar sekolah rintisan bertaraf internasional (R-SMA-BI) yaitu bercirikan keunggulan dan memiliki prestasi internasional.(tabel 2.1) 2. Pengembangan kurikulum Dari hasil temuan penulis pengembangan kurikulum yang telah dilakukan meliputi: penguatan, pengayaan, pengembangan perluasan dan pendalaman mata

pelajaran sins dan teknologi yang tergabung dalam mata pelajaran MIPA. bahasa Ingris dan teknologi informasi komputer (TIK) .sedangkan untuk mata pelajaran lainnya

166

disesuaikan dengan standar nasional sesuai dengan PP.19 tahun2005. yaitu pada standar isi dan standar kompetensi lulusan. Akan tetapi sekolah belum melakukan secara maksimal yang sesuai dengan standar R-SMA-BI yaitu perangkat kurikulum satuan pendidikan (KTSP) yang ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Disamping itu kurikulum yang digunakan diperkaya dengan cara mengadopsi dan/ atau mengadaptasi kurikulum sekolah pada Negara maju yang memiliki keunggulan dalam bidang pendidikan.dan menerapkan

standar kelulusan dari sekolah yang lebih tinggi dari Standar Kompetensi Lulusan. Mengembangkan muatan mata pelajaran setara atau lebih tinggi dari muatan pelajaran sekolah unggul dari salah satu negara OECD atau negara maju lainnya dalam bentuk3 sumber belajar, buku teks siswa, buku pegangan guru, LKS (student worksheet), dan bahan ajar elektronik dalam bentuk e-learning, video cassette, compact disc, audio cassette, dan digital video disc. Menerapkan sistem administrasi akademik berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta mengembangkan kesiapan sekolah dalam menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS). 3. Proses pembelajaran, Dari hasil temuan penulis dilapangan apa yang dilakukan sekolah dalam proses pembelajaran sudah mengadakan perubahan dan pengembangan secara mendasar antara lain menggunakan pendekatan mastery learning, mengembangkan proses pembelajaran yang menganut prinsip kontruksivisme, menggunakan media pendidikan yang bervariasi dan melibatkan teknologi Information and Comunication Technology (ICT) Akan tetapi sekolah belum melakukan proses pembelajaran yang maksimal sesuai dengan standar R-SMA-BI yaitu proses pembelajaran yang diperkaya dengan model

3

Departemen Pendidikan Nasional Panduan penyelenggaraan, hlm. 19

167

pembelajaran sekolah unggul dari negara anggota OECD atau negara maju lainnya (seperti penerapan standar belajar, standar mengajar: persiapan pembelajaran, pemilihan bahan ajar, strategi pembelajaran, pengelolaan kelas, pemilihan alat peraga pembelajaran, dan pemilihan sumber belajar). Proses pembelajaran diperkaya pula dengan, menggunakan bahasa Inggris untuk kelompok sains dan matematika. Pembelajaran mata pelajaran lainnya kecuali bahasa asing, menggunakan bahasa Indonesia. 4. Pengemabangan Penilaian Hasil temuan dilapangan pengembangan penilaian diarahkan pada sistem penilaian berbasis kompetensi, sitem penilaian berdasarkan konsep mastery (ketuntasan) yang ditekankan pada penguasaan kompetensi siswa. dengan indikator hasil belajar dan kriteria ketuntasan minimal (KKM). Dan juga sekolah sudah mengembangkan instrumen penilaian autentik yaitu penilaian yang diperoleh dari proses pembelajaran yang mengukur tiga ranah penilaian, yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif, termasuk penilaian portofolio. Akan tetapi sekolah belum mengembangkan penilaian standar penilaian R-SMA-BI yaitu4 penilaian hasil belajar siswa yang dapat diukur melalui ujian internasional, yang diperkaya dengan model penilaian sekolah unggul dari negara anggota OECD atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan. Ujian sekolah dan ujian nasional bersifat wajib. Ujian internasional bersifat pilihan, namun sekolah harus memfasilitasi siswa yang ingin mengikuti ujian internasional tersebut untuk mendapatkan sertifikat internasional.

4

Departemen Pendidikan Nasional Panduan penyelenggaraan, hlm. 33

168

5. Pengembangan sumber daya manusia (SDM), Hasil temuan penulis dilapangan menunjukan bahwa, untuk mendukung

penyelenggaraan R-SMA-BI sekolah melakukan pengembangan sumber daya manusia (SDM) seperti; pelatihan ICT untuk pembelajaran, pelatihan bahasa Inggris dan pengembangan pembelajaran dalam bentuk In House Training dan sebagainya . Akan tetapi sekolah belum maksimal dalam mengembangkan SDM sesuai standar R-SMA-BI yaitu,5 meningkatkan mutu SDM sekolah harus mengembangkan program peningkatan kompetensi guru melalui peningkatan kualifikasi pendidikan guru minimal 30% guru berpendidikan S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A. Selain itu kompetensi guru dalam pengelolaan sistem pembelajaran ditingkatkan untuk menuju pada proses pembelajaran yang setara dengan proses pembelajaran pada sekolah unggul bertaraf internasional. Untuk itu sekolah perlu mengembangkan pula kompetensi bahasa inggris guru dan kompetensi pada bidang TIK terutama untuk guru kelompok sains dan matematika. Peningkatan mutu SDM melalui kegiatan pelatihan dalam bentuk, pemagangan, studi banding, workshop (on the job training atau off the job training) dan seminar yang dilakukan oleh masing-masing sekolah atau bekerjasama dengan lembaga pendidikan di luar sekolah yang memiliki kewenangan dan kompetensi yang relevan. Kepala sekolah belum mempunyai visi internasional, yang mampu membangun jejaring internasional dan entrepreneurship yang kuat dalam memfasilitasi seluruh anggota komunitas sekolah untuk mengembangkan keunggulan kompetitif dan komparatif bertaraf internasional.
5

Departemen Pendidikan Nasional Panduan penyelenggaraan, hlm. 36

169

6. Pengembangan Sarana prasarana, Hasil temuan dilapangan menunjukan bahwa sekolah telah banyak melakukan perombakan sarana prasarana belajar seperti melengkapi sarana prasaran belajar siswa di kelas yang berbasis ICT. Akan tetapi sekolah belum maksimal dalam pemenuhan sarana prasarana tersebut sesuai dengan standar R-SMA-BI yaitu6 perpustakaan yang dilengkapi dengan buku-buku pelajaran berbahasa Inggris, buku referensi, jurnal nasional dan internasional, buletin, koran, majalah, serta perangkat audio visual.diharapkan perpustakaan dapat membantu siswa mengasah otak, memperluas dan memperdalam pengetahuan, melahirkan kreativitas, serta membantu kegiatan kurikuler dan

ekstrakurikuler. Kecanggihan teknologi dewasa ini, mengharuskan perpustakaan dilengkapi dengan fasilitas sistem on line public acses catalog (OPAC) dalam mencari katalog buku. Ruang perpustakaan harus nyaman, sebaiknya dilengkapi dengan alat pendingin (AC) yang memadai. B. Tingkat Ketercapaian R-SMA-BI di SMA Negeri 1 Baleendah Temuan penelitian ini berdasarkan hasil penelitian di SMAN1 Baleendah .

dengan memakai instrumen terstandar evaluasi ketercapaian R-SMA-BI yang dikembangkan oleh Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, yang berbentuk software. Adapun

Struktur temuan penelitian dimulai dari ; standar pengelolaan, standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses, standar penilaian, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana prasarana dan standar pembiayaan.

6

Departemen Pendidikan Nasional Panduan penyelenggaraan, hlm. 40

170

Berdasarkan hasil penelitian evaluasi kinerja program R-SMA-BI SMAN 1 Baleendah diperoleh skor hasil penilaian 744 dari total skor maksimum 1000. Hasil selengkapnya dapat dilihat dalam diagram berikut:

Standar Pengelolaan (84%) Standar Isi/Kurikulum (82%) Standar Kmp.Lulusan (44%) Standar Proses (71%) Standar Pendidik dan Tng.Kepend.(79%) Standar Penilaian (82%) Standar Sarana Prasarana (79%) Standar Pembiayaan (80%)

Tingkat Ketercapaian Standar R-SMA-BI

74.4%

Gambar: 5.2 Ketercapaian Standar R-SMA-BI

171

Undang-undang Sistem Pendidikan nasional menyatakan bahwa standar adalah kriteria minimal. Pengertian itu sama dengan definisi menurut kamus7 the free dictionary.com , standar adalah An acknowledged measure of comparison for quantitative or qualitative value; a criterion. Menerapkan standar sesuai dengan maknanya berarti menerapkan kriteria. Definisi itu mengisyaratkan bahwa dalam mengukur mutu terdapat proses membandingkan nilai sehingga substansi penerapan standar hendaknya memenuhi dua kata kunci yaitu kriteria dan pengukuran. Berdasarkan konsep rintisan sekolah bertaraf internasional (R-SMA-BI), dalam menerapkan standar nasional pendidikan sekolah perlu menetapkan kriteria mutu, minimal pada 8 standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan dalam peraturan yaitu standar (1) Pengelolaan (2) isi (3) Kompetensi lulusan , (4) Proses (5) Penilaian (6) Pendidik dan tenaga Kependidikan (7) Sarana Prasarana (8) pembiayaan. Dalam penyelenggaraan program R-SMA-BI, selain 8 standar di atas, masih ditambah pula dengan beberapa standar sesuai dengan Pedoman Penjaminan Mutu Depdiknas, di antaranya, (9) pengunaan bahasa Inggris sebagai pengantar (10) penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam pengelolaan dan pembelajaran (11) penerapan standar ISO dalam sistem pengelolaan, (12) kolaborasi antar sekolah dalam bentuk sister school, (13) meraih prestasi pada kompetisi bertaraf internasional (14) mengadopsi dan mengadaptasi kurikulum dari negara OECD. Menerapkan berbagai komponen di atas merupakan sejumlah kriteria minimal yang wajib sekolah penuhi. Namun demikian, sekolah dapat menambah komponen lain

7

http://www.mdrc.org/publications, Teknis Administratif Penetapan Standar Pendidikan, Ditulis 28 November 2009 .

172

yang masih mungkin sekolah tambahkan sepanjang sekolah dapat melaksanakan. Artinya semakin banyak kriteria sekolah terapkan dan berhasil diwujudkannya semakin tinggi nilainya. Adapun ketercapaian standar rintisan sekolah bertaraf internasional (R-SMA-BI) di SMA Negeri1 Baleendah,dari delapan komponen menunjukan adanya kecenderungan ketidak tercapaian berada pada standar tambahan yang menjadikan sekolah itu disebut RSMA-BI. Oleh karena itu untuk lebih jelasnya penulis paparkan analisis dari kedelapan standar sebagai berikut : 1. Standar Pengelolaan Pada standar pengelolaan sub komponen yang terendah pada scoree perolehan adalah pada menjalin hubungan dengan sekolah yang lebih unggul, baik dalam dan luar negeri atau yang disebut siter school. Sesuai dengan standar sekolah rintisan bertaraf internasional kegiatan sub komponen ini harus ada sebagaiamana tabel 2.6 Faktor penyebab dari ketidak tercapaian pada sub komponen ini sebagaimana dari hasil observasi dan wawancara adalah kemampuan sumber daya manusia (SDM) dibidang human relation terutama ke luar negeri masih sangat rendah. Kondisi ini menunjukan

perlunya meningkatkan kefektifan manajemen pengelolaan sumber daya manusia di sekolah. Merujuk Terry (1964) bahwa manajemen sebagai suatu proses terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan yang dilaksanakan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya mansuia serta sumber daya (resources) lainnya. 2. Standar isi Pada standar isi/kurikulum standar R-SMA-BI yang belum tercapai adalah pada penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) belum dilengkapi dengan

173

rujukan kurikulum Negara maju, dan juga sekolah belum memenuhi kandungan isi materi pelajaran memenuhi kriteria standar internasional sebagaimana tabel 2.9. Pengembangan standar isi kurikulum tersebut sangat memungkinkan untuk dilakukan oleh lemabaga pendidikan akan tetapi tetap harus mengacu kepada standar isi dan kempetensi nasional . seperti tertuang pada Permendiknas N0.22 tahun 2006 . Untuk sekolah rintisan bertaraf internasional perlu pengembangan standar isi/kurikulum dari sekolah unggul dari Negara OECD. Akan tetapi peluang ini belum terlaksana secara maksimal sebab belum adanya sekolah unggul dari Negara OECD atau Negara maju lainnya yang dijadikan rujukan atau dijadikan sisters school sehingga sekolah

mengalami kesulitan untuk mengadaptasi dan mengadopsi standar isi/kurikulum sekolah unggul . 3. Standar Kompetensi Lulusan Merujuk pada standar kompetensi lulusan R-SMA-BI (tabel: 2.10) Kondisi saat ini SMA Negeri 1 Baleendah dalam kapasatisnya sebagai sekolah rintisan bertaraf internasional belum mencapai standar kompetensi lulusan setara dengan kompetensi lulusan sekolah unggul di Negara OECD dan atau Negara maju lainnya. Hal ini

disebabkan oleh banyak faktor yang mempengaruhi ketidak tercapaian suatu tujuan pendidikan. Akan tetapi bisa ditarik benang merah dengan analisis keefktifan dengan menggunakan alur, output, transpormasi, dan input8 faktor output suatu sekolah terkait dengan input dan proses. Faktor input sekolah meliputi ,(a) pembiayaan pendidikan, (b) peserta didik, (c) sumber daya manusia, (d) sumber daya alam, (e) kebijakan pendidikan, (f) teori pendidikan. Dan lain-lain. Sedangkan faktor proses atau transpormasi meliputi,

8

Nanang Fatah, Manajemen Berbasis Sekolah, ( Bandung Rosdakarya, 2000) cet.1 hlm.8

174

(a) kurikulum standar isi, (b)pembelajaran (standar proses) (c) pendidik dan tenaga kependidikan, (d) pengelolaan, (e) sarana prasarana, (f) penilaian. Dan lain-lain. Dengan demikian, kefektifan kompetensi lulusan yang sudah ditetapkan akan tercapai kalau faktor input dan transpormasi sudah berjalan secara efektif. 4. Standar Proses Merujuk pada standar proses R-SMA-BI (tabel: 2.12) Kondisi saat ini SMA Negeri 1 Baleendah dalam kapasatisnya sebagai sekolah rintisan bertaraf internasional belum mencapai standar proses setara dengan standar proses sekolah unggul di Negara OECD dan atau Negara maju lainnya. dan belum menggunakan bahasa Inggris dalam pembelajaran .Hal lain yang menonjol yang belum dilakukan dalam standar proses ini adalah pembelajaran dengan menggunakan moving class. Guru belum melakukan

penelitian tindakan kelas (PTK) dalam mencari solusi ketika menghadapi kesulitan dalam pembelajaran. Untuk bisa keluar dari permasalahan di atas, maka perlunya adanya tenaga pendampingan yang professional dari luar, yang tujuannya untuk pemeberdayaan sumber daya manusia (SDM) sekolah yang sesuai dengan standar R-SMA-BI. Tenaga pendampingan ini akan berfungsi sebagai tenaga professional yang akan melakukan monitoring dan evaluasi”9 yang antara lain memonitor proses pembelajaran bilingual bertaraf internasional yang bertujuan untuk mengetahui kemungkinan adanya masalah/kendala dalam pembelajaran. 5. Standar Penilaian Pada standar penilaian R-SMA-BI di SMA Negeri 1 Baleendah, yang belum tercapai secara maksimal anatara lain adalah sekolah belum melakukan kerjasama dalam

9

Depdiknas, Panduan. Hlm. 85

175

meningkatkan standar penilaian belajar yang setara dengan sekolah unggul/ lembaga dari Negara OECD. Ketidak tercapaian standar penilaian ini karena sekolah sama sekali belum melakukan kerjasama dengan sekolah unggul dan sekolah juga belum menggunakan tenaga ahli dalam penjaminan mutu untuk meningkatkan standar penilaian belajar yang setara dengan sekolah unggul bertaraf internasional. Berdasarkan analisis penulis ketidak berjalannya suatu program lebih disebabkan karena kurangnya sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan sepesifik suatu program atau sumber daya yang ada tidak memiliki kompeten sesuai dengan yang dibutuhkan. Untuk itu perlunya menata ulang pengelolaan sekolah dengan menjalankan fungsi-fungsi manajamen secara benar, yaitu dengan memanfaatkan sumber daya yang lain sebagaimana yang dikemukakan Terry (1964) bahwa manajemen sebagai suatu proses terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan yang dilaksanakan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia serta sumber daya (resources) lainnya.Sumber daya yang lain dimaksudkan,untuk menggantikan kelemahan sumber daya yang ada di sekolah. Yaitu menggunakan tenaga ahli penjamin mutu dari luar SDM sekolah. 6. Standar Pendidik dan Tenaga Pendidik Pada standar pendidik tingkat ketercapaian sesuai standar R-SMA-BI masih sangat rendah, sub komponen yang signifikan ada pada belum terbiasanya guru dalam melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) untuk perbaikan pembelajaran dan mayoritas guru belum memiliki stratra pendidikan S.2 . Sedangkan pada standar tenaga kependidikan (tatalaksana) kontribusi terbesar ada pada sub komponen kompetensi yang masih rendah terutama pada penerapan adminstrasi yang mampu mengelola Web, dan

176

belum mampu mengaplikasikan paket aplikasi sekolah (PAS) secara maksimal. Faktor lain yang cukup memberikan kontribusi terhadap ketidak tercapaian standar R-SMA-BI adalah kepemimpinan kepala sekolah yang belum maksimal, antara lain belum mampu membangun jejaring internasional, serta jiwa kepemimpinan dan entrepreneurship yang kuat. Persoalan di atas adalah menyangkut sumber daya manusia (SDM) yang masih rendah dalam kaitannya dengan standar R-SMA-BI yang belum tercapai seperti di atas. Akan tetapi kalau Merujuk Deming10 80% dari masalah mutu lebih disebabkan oleh manajemen dan sisanya 20% disebabkan oleh SDM.11 Hal ini membuktikan bahwa mutu yang kurang optimal berawal dari manajemen yang tidak profesional. Sedangkan manajemen sekolah seluruhnya bermuara kepada kepemimpina kepala sekolah. Oleh sebab itu, perlu adanya reorientasi kepemimpinan kepala sekolah sesuai dengan

langkah-langkah yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin kepala sekolah yang dikemukakan oleh Peters dan Austins,12 . 7. Standar Sarana Parasarana Pada standar sarana prasarana R-SMA-BI ada tiga hal yang di jadikan standar pengembangan yaitu (a) stiap ruang kelas dilengkapi dengan saran pembelajaran berbasis TIK, (b) Perpustakaan dilengkapi dengan sarana digital yang memberikan akses ke sumber pembelajaran berbasis TIK diseluruh dunia, (c) dilengkapi dengan ruang multi media, ruang unjuk seni budaya, fasilitas olahraga, klinik dan lain sebagainya. Ruang kelas yang berbasis TIK dan sarana pendukung seperti ruang multi media, ruang unjuk seni budaya, fasilitas olahraga telah memenuhi standar mnimal
10 11

Veithzal Rivai dan Sylviana Murni, Education Management, hal. 494 Eti Rochaety, Pontjorini Rahayuningsih dan Prima Gusti Yanti, Sistem Informasi Manajemen Pendidikan, Jakarta, bumi Aksara, Cet.2, 2006, hal. 124. 12 Syafarudin, Manajemen mutu terpadu, hlm. 57

177

R-SMA-BI seperti pada tabel 4.7.Akan tetapi untuk sarana parasarana perpustakaan masih jauh di bawah standar. Hal ini disebabkan oleh fasilitas yang belum memadai. Dengan demikian perlu adanya upaya untuk melengkapi fasilatas tersebut dengan segera sebab sarana prasarana atau fasiltas pendidikan seperti perpustakaan akan berdampak yang sangat sigfnifikan terhadap hasil belajar, seperti yang dikemukakan oleh Rudi Susilana13. Akan tetapi dalam pengadaan sarana prasarana harus melalui analisis kebutuhan tujuan pembelajaran sebagaimana yang diekemukakan oleh Romiszowski14 tentang langkah-langkah evaluasi sarana prasarana. 8. Standar Pembiayaan Standar layanan pembiayaan yang belum tercapai adalah, penerapan sistem informasi keuangan yang efisien yang indikatornya adalah, (a) sistem layanan online, (b) layan bank di sekolah, (c) layanan pembayaran berbasis komputer. Sistem layanan pembiayaan seperti di atas nampaknya harus segera direalisasikan, untuk efisiensi dan mengurangi kebocoran keuangan sekolah, disamping itu untuk mempermudah pengontrolan keuangan yang masuk. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Thomah H. Jones. Bahwa, hal yang penting dalam pembiayaan adalah berapa besar uang yang harus dibelanjakan, dari mana sumber uang diperoleh dan kepada siapa uang harus dibelanjakan”15. Disamping itu biaya pendidikan itu adalah amanah dari masyarakat yang harus digunakan sesuai dengan peruntukannya. C. Faktor yang Menjadi Penghambat dalam Penyelenggaraan R-SMA-BI Dari hasil temuan penulis ada tujuh (7) faktor yang menjadi faktor penghambat dalam penyelenggaraan R-SMA-BI. Sebagaimana tabel 4.10 Keseluruhan faktor

13 14

Rudi Susilana, teknologi pendidikan, hlm. 459-462. Romiszowski, The Selection and use, hlm. 144-1448 15 Thomas H Jone, School Finance. hlm. 12

178

penghambat tersebut mengarah pada komponen tambahan dari standar nasional pendidikan dan dari tujuh tujuh faktor tersebut penulis gambar melalui diagram berikut :

R-SMA-BI SNP+X

8 STANDAR PENDIDIKAN 1.Pengelolaan 2.Isi 3.Proses 4.Kompetensi Lulusan 5.Penilaian 6.Pendidik&Tng. Kepend. 7.Sarana Prasarana 8.Pembiayaan

X
1. Pengunaan bahasa Inggris sebagai pengantar 2. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam pengelolaan dan pembelajaran 3. Penerapan standar ISO dalam sistem pengelolaan, 4. Kolaborasi antar sekolah dalam bentuk sister school, 5. Meraih prestasi pada kompetisi bertaraf internasional 6. Mmengadopsi dan mengadaptasi kurikulum dari negara OECD.

FAKTOR PENGHAMBAT 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Menjalin hubungan dgn sekolah internasional dan mengembangkan Sisters School Merujuk pada mutu Standar negara maju Guru 30% Berijazah S2//S3 dari perguruan tinggi berakreditasi A Mendapatkan Akreditasi dari sekolah unggul dari Negara anggota OECD Penilaian belum diperkaya dengan standar penilaian sekolah unggul Negara OECD Guru belum terbiasa menerapkan Lesson studi dan menggunakan bhs inggris di kelas 7. Perpustakaan belum dilengkapi dengan sarana digital library Gambar: 5.3 Sub-sub Komponen yang Menjadi Faktor Penghambat

179

Merujuk pada diagram di atas bahwa yang menjadi faktor penghambat dalam pemenuhan standar R-SMA-BI adalah faktor X yang berupa penguatan, pengayaan, pengembangan, perluasan, dan pendalaman pada peningkatan mutu pendidikan yang mengacu pada standar mutu pendidikan bertaraf internasional pada negara-negara OECD atau negara-negara maju lainnya. Hal ini ada korelasi yang signifikan dengan hasil evaluasi, bahwa sub-sub komponen yang sudah mencapai standar R-SMA-BI adalah sub-sub komponen SNP. Sedangkan pada sub-sub komponen tambahan (X) belum mencapai standar R-SMA-BI. Dengan demikian kondisi di atas sesuai dengan landasan teori bahwa syarat menjadi rintisan sekolah bertaraf internasional (R-SMA-BI) itu adalah sekolah yang sudah memenuhi standar pendidikan nasional atau sudah menjadi sekolah standar nasional (SSN).16 Sedangkan kriteria Sekolah bertaraf Internasional (R-SMA-SBI), belum memenuhi standar . Hal ini sesuai dengan teori bahwa sekolah rintisan bertaraf internasional adalah sekolah nasional yang diperkaya dengan standar salah satu negara anggota organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dan atau negara maju lainnya17. D. Perumusan Strategis Dari hasil temuan penelitian yang berkaitan dengan strategi dalam mempercepat pencapaian SBI adalah, sebaiknya sekolah dalam hal ini kepala sekolah mengaplikasikan dan merumuskan manajemen strategis dalam konteks pendidikan. Manajemen strategis dalam konteks pendidikan .

16 17

Departemen Pendidikan Nasional Panduan penyelenggaraan, hlm. 8 Departemen Pendidikan Nasional Panduan penyelenggaraan, hlm. 9

180

1. Konsep Strategik dalam Pendidikan Manajemn strategis adalah suatu proses yang berkesinambungan, komponen yang ada dalam satu sama lain saling berkaitan. Oleh sebab itu dalam perencanaan, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan tindakan yang menentukan arahan strategis lembaga pendidikan diarahkan demi pemenuhan tujuan dan sasaran organisasi dalam lingkungan yang dinamis merupakan dasar manajemen strategi sebuah kelembagaan pendidikan. Kepala sekolah dalam tinjauan manajemen strategis merupakan kunci dasar yang dapat mengarah pada tingkat keberhasilan yang salah satunya dilakukan melalui berbagai aktivitas efektif, efisien, dan inovatif. Peran utama pemimpin dalam dunia persekolahan merupakan aktivitas sinergik yang di dalamnya meliputi pengambilan keputusan, mengelola informasi dan mengelola orang-orang yang ada dalam sekolah, hal itu perlu perencanaan yang matang . Menurut M. Fakry18 bahwa; perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan sebagai keputusan yang akan dilaksanakan pada masa yang akan datang untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. 2. Manajemen Strategis dalam Proses Pendidikan. Tahapan-tahapan proses sebagai pendekatan model dapat diuraikan sebagai berikut:19 a. Merumuskan visi-misi yang melibatkan seluruh unsur stakeholders sekolah baik internal mapun eskternal. baik primer, skunder ataupun tersier dengan dipimpin oleh pucuk pimpinan sekolah .

18

Abdul Tholib, Strategi Implementasi Kebijakan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah(MPMBS) dengan Pendekatan Manajemen Mutu Terpadu pada Sekolah Menengah Pertama, Disertasi UPI Bandung, 2007. 19 Diadopsi dari Abdul Tholib, Strategi Implementasi Kebijakan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis, hlm. 51-52.

181

b. Menyusun analisis SWOT . untuk menentukan masalah serta peluang lingkungan dan kekuatan serta kelemahan internal dan faktor-faktor lingkungan umum seperti ekonomi, teknologi, serta kondisi pemerintah yang menimbulkan ancaman dan peluang bagi sekolah. c. Analisis kebutuhan mendatang dan lingkungan eksternal sekolah. d. Analisis kebutuhan mendatang dan lingkungan eksternal serta menetapkan suatu alat untuk membantu mengikhtisarkan diagnosa lingkungan e. Analisis kondisi internal yang memberikan kekuatan yang dapat digunakan perencanaan startegis dan kelemahan yang menghambat strategi atau yang perlu ditanggulangi f. Menggambarkan sejumlah alternatif strategis g. Memperluas pembahasan untuk menguraikan cara-cara pelaksanaan strategi. h. Menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi cara mengajar dalam memilih alternatif strategi i. Menguraikan alokasi sumber daya, struktur organisasi dan proses perencanaan pendidikan dan pengajaran j. Membahas kebijakan yang harus disusun bagi bidang-bidang fungsionaal dan asfek-asfek kepemimpinan dalam pelaksanaannya k. Melakukan umpan balik untuk menentukan apakah strategi itu berjalan dan mengambil langkah-langkah agar strategi itu berjalan. 3. Kepala sekolah Sekolah merupakan suatu institusi penyelenggaraan pendidikan tujuannya adalah tercapainya proses dan output (keluaran) yang dihasilkan bertumpu pada nilai-nilai dan dan peluang bagi

182

transformasi kependidikan . Oleh karena itu dalam penyelenggaraannya diperlukan suatu kondisi yang bernuansa kependidikan, termasuk dalam pengelolaan. Pengelolaan sekolah sangat kompleks dan khas, kompleks berkaitan dengan keterlibatan personal maupun kelompok baik secara internal maupun eksternal. Adapun khasnya yakni tujuan yang ingin dicapai berkenaan dengan tuntutan kebutuhan terhadap pendidikan. Dengan demikian, diperlukan manajerial, diperlukan manajerial selaras dengan perkembangan tuntutan masyarakat secara umum. Salah satu komponen strategis dalam sekolah adalah kepala sekolah. Dalam struiktur organisasi sekolah negeri, kepala sekolah merupakan jabatan formal. Dalam menghadapi kompleksitas pada organisasi sekolah, diperlukan personil yang mempunyai kemampuan untuk meminimalkan kompleksitas maslah. Salah satu komponen personil yang menjadi tumpuan sekolah adalah kepala sekolah. Kepala sekolah dituntut mempunyai kemampuan, (a) mencurahkan banyak waktu untuk

pengelolaan dan koordinasi proses belajar mengajar dan (c) berkomunikasi secara teratur dengan staf, orang tua, siswa dan anggota masyarakat disekitarnya. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan inti dari manajemen sekolah sebagaimana Siagian”20 Kepemimpinan adalah motor penggerak dari semua sumbersumber dan alat-alat (resources) yang tersedia bagi suatu organisasi . Resurces ini digolongkan kepada dua golongan besar yakni (1) human resources, (2) resources non human

Tugas pimpinan adalah membentuk dan memelihara lingkungan diamana

manusia bekerja sama dalam suatu kelompok yang terorgansisir dengan baik , menyelesaikan tugas, mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

20

Siagian Sondang P, Teori dan Praktik Kepemimpinan, (Jakarta, Rieka Cipata 2003) hlm. 6

183

Merujuk Stoner dalam Wahjusumijo menyatakan bahwa:21 Terdapat delapan macam fungsi seorang manajer yang perlu dilakukan dalam suatu organisasi yaitu : 1. Bekerja dengan dan melalui orang lain 2. Bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan 3. Dengan waktu dan sumber yang terbatas mampu menghadapi berbagai persoalan 4. Berfikir secara realistik dan konseptual 5. Sebagai juru pengarah 6. Sebagai seorang politisi 7. Sebagai seorang diplomat 8. Pengambil keputusan Kedelapan fungsi manajer yang dikemukakan oleh Stoner tersebut tentu saja berlaku bagi setiap manajer dari organisasi apapun, termasuk kepala sekolah. Sehingga kepala sekolah yang berperan mengelola kegiatan sekolah harus mampu mewujudkan kedelapan fungsi dalam perilaku sehari-hari. Walaupun pada pelaksanaannya sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sumber daya manusia seperti para guru, staf, siswa, orang tua siswa dan sarana prasarana serta suasana dan lingkungan dimana sekolah itu berada. Dengan demikian kepala sekolah merupakan pemain utama dalam proses manajemen strategis di lingkungan persekolahan dan menjadi kunci dasar yang dapat mengarah pada tingkat keberhasilan. Dari hasil temuan dan pembahasan dapat ditarik benang merah secara umum bahwa, Pengembangan rintisan sekolah bertaraf Internasional (R-SMA-BI) meningkatkan derajat mutu setiap standar R-SMA-BI dan perlu

membenahi manajemen

sekolah, sebab masalah mutu 80% lebih disebabkan oleh manajemen dan sisanya 20%

21

Whjosumijo, Kepemimpinan dan Motivasi, (Bandung , Ghalia Indonesia) 2003, hlm. 96.

184

disebabkan oleh SDM.22

Hal ini membuktikan bahwa mutu yang kurang optimal

berawal dari manajemen yang tidak profesional

22

Eti Rochaety, Pontjorini Rahayuningsih dan Prima Gusti Yanti, Sistem Informasi Manajemen Pendidikan, Jakarta, bumi Aksara, Cet.2, 2006, hal. 124.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Pada bagian ini, akan dibahas kesimpulan dan saran berkaitan dengan temuan penelitian. Kesimpulan diuraikan secara berturut-turut sesuai dengan fokus masalah, yaitu perubahan-perubahan yang penting dilakukan oleh sekolah, tingkat ketercapaian R-SMA-BI, hambatan-hambatan penyelenggaraan R-SMA-BI dan perumusan strategi mempercepat pencapaian SBI. dan saran-saran . A. Kesimpulan
1. Perubahan -perubahan yang penting dilakukan oleh sekolah dalam mencapai sekolah

bertaraf internasional adalah perubahan pada 8 standar pendidikan nasional yang disesuaikan dengan standar sekolah internasional, yaitu pengembangan kurikulum, proses pembelajaran, penilaian, pengembangan SDM, sarana prasarana, pembiayaan, manajemen sekolah, pembinaan kesiswaan, pengembangan kultur sekolah. Prioritas utama yang harus perhatikan dalam pengemabngan sekolah menuju SBI ini adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM) sekolah, yang disamping memiliki kompetensi profesional juga harus memiliki kompetensi human relation Hal ini dibutuhkan dibutuhkan untuk bisa mengakses ke dunia internasional, khusunya ke Negara-negara yang memiliki kemajuan atau unggul dibidang pendidikan. 2. SMA Negeri 1 Baleendah telah mencapai Standar Nasional Pendidikan (SNP) Sedangkan komponen tambahan (X) yang berupa penguatan, pengayaan, pengembangan, perluasan, dan pendalaman pada peningkatan mutu pendidikan yang mengacu pada standar mutu pendidikan bertaraf internasional pada negara-negara OECD dan negara-negara maju lainnya yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang pindidikan standar Ketercapaiannya masih sangat rendah.
185

186

3. Hambatan hambatan penyelenggaraan R-SMA-BI di SMA Negeri 1 Baleendah pada setiap sub komponenn mengalami hambatan-hambatan, seperti pada standar pengelolaan, hambatan yang dihadapai adalah, mengimplementasikan menjalin hubungan dengan sekolah bertaraf internasional di luar negeri atau mengembangkan sister schoo. merujuk pada standar mutu dari salah satu negara maju,meningkatkan tingkat pendidikan pendidik minimal 30% guru berpendidikan S2/S3dari perguruan tinggi yang program studinya berakreditasi A, mengimplementasikan akreditasi dari sekolah unggul /lembaga pendidikan dari negara OECD atau negara maju lainnya, dan sekolah belum bisa mengimplementasikan sertifikasi dari sekolah unggul atau lembaga pendidikan tingkat internasional. Sedangkan pada standar penilaian, hambatan yang dihadapi yaitu, penilaiann belum diperkaya dengan model proses penilaian sekolah unggul dari negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan. pendidik guru belum terbiasa menerapkan Pada standar

model lesson studi dan penggunaan

bahasa inggris belum maksimal digunakan di dalam kelas. Pada standar sarana prasarana hambatan yang paling menonjol adalah perpustakaan belum dilengkapi dengan sarana digital yang memberikan akses ke sumber pembelajaran berbasis TIK di seluruh dunia. Pada standar pembiayaan hambatan yang dihadapi adalah belum tepenuhinya dana pengembangan R SMA BI secara maksimal. Disamping itu

masalah yang dihadapi dalam pengadministrasian keuangan belum menerapkan manajemen keuangan yang efektis dan efisien. Dari seluruh hambatan-hambatan yanga dihadapai intinya hambatan itu ada pada kemampuan sumber daya manusia yang masih belum sesuai dengan tuntutan standar kompetensi sekolah bertaraf internasional (SBI).

187

4. Strategi yang perlu dilakukan

sekolah untuk mempercepat pencapaian sekolah

bertaraf internasioal (SBI) adalah, (1) Sekolah perlunya dengan segera dan berkelanjutan melakukan pengembangan sumber daya manusia, yang berupa peningkatan kompetensi yang dibutuhkan saat ini seperti, penguasaan bahasa inggris, penguasaan ICT, kemampuan melakukan hubungan internasional. (2).

Pengembangan kompetensi untuk masa yang akan datang dan menghabiskan waktu yang cukup lama, seperti, peningkatan sumber daya pendidik atau tenaga kependidikan kejenjang yang lebih tinggi yaitu, S2 / S3. B. Saran – Saran Penulis menemukan bahwa sekolah belum maksimal mendapatkan dukungan stakeholders sekolah baik stakeholders internal seperti pendidk dan tenaga kependidikan maupun eksternal. Seperti siswa, orang tua siswa, komite sekolah, pemerintah daerah dan dunia usaha dan pergurua tinggi sebagai pemakai jasa sekolah. Kondisi itu merupakan faktor kelemahan yang harus direkayasa oleh sekolah supaya kelemahan tersebut bukan menjadi faktor ancaman, tetapi menjadi tantangan yang harus dihadapi sehingga menjadi peluang untuk sekolah dalam mencapai sekolah yang bertaraf internasional. Oleh karena itu, pada bagian ini penulis menyarankan kepada pihak manajemen sekolah untuk memaksimalkan seluruh stakeholders sekolah dijadikan sebagai faktor kekuatan yang akhirnya menjadi peluang yang besar untuk mencapai sekolah yang

bermutu dan sekolah yang bertaraf internasioal. Anatara lain Dengan cara : 1. Peningkatan sumber daya manusia pendidik dan tenaga kependidikan secara menyeluruh dan berkelanjutan baik peningkatan kemampuan atau kompetensi yang dibutuhkan saat ini, spserti pelatihan bahasa inggris, meningkatkan kemampuan TIK, kemampuan melakukan hubungan ke lauar negeri (human relation) ataupun

188

peningkatan kemampuan jangka panjang seperti meningkatan stratra pendidikan bagi pendidik atu tenaga kependidikan kejenjang yang lebih tinggi yaitu S.2 /S.3 2. Memperluas dan meningkatkan peran dan fungsi komite sekolah menjadi fasilitator untuk memberdayakan stakeholders secara maksimal dan simultan baik siswa, orang tua siswa , tetapi stakeholders yang lainnya juga seperti dunia usaha dan perguruan tinggi, untuk diajak bekerja sama mendukung dengan kapasitas dan kamampuannya masing-masing. 3. Khusus bagi pemerintah daerah kabupaten Bandung yang dalam hal ini dinas pendidikan dan kebudayaan , diharapkan dukungan yang nyata dan maksimal baik materi atau non materi, sebab SMA Negeri 1 Baleendah adalah satu-satunya sekolah rintisan yang bertaraf internasional kabupaten Bandung

DAFTAR RUJUKAN Abdul Aziz, 1998, Memahami Fenomena Sosial Melalui Studi Kasus: Kumpulan Materi Pelatihan Metode Kuatitatif , BMPTSI Wilayah VII Jawa Timur, Surabaya AECT, 1977, The Definition of Educational Technologi, Washington DC. AECT, 1977, The Definition of Educational Technologi, Washington DC. Afifudin, 2004 Administrasi Pendidikan, Bandung: Insan Mandiri Ahmad Fadli HS, 2002 Organisasi dan Administrasi Kediri : Manhalun Nasiin Press Ahmad Tafsir, 2009 seminar Pendidikan pada Jurusan Kependidikan Islam. Bruce Shertezer&Shelley Stone, 1981 Fundamential of Guidance, Fout Edition, USA:1981 Purdue Univewrsity. Cholid Narkubo, ct.ul. 2003, Metodologi Penelilinn , Jakarta; Bumi Aksara, 2003. Dasar Dan Menengah, Diektorat Pembinan Sekolah Menengah Atas, 2009, Panduan Penyelenggaraan Program Rintisan SMA Betaraf Internasional (R-SM-BI). David G. Amstrong dan Tom V. Savage, 1983, secondary Education, New York: Macmillan Publishing. Departemen agama, Al Qur’an dan terjemahnya, 1993, Semarang, PT Cipta Tasik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2002, Jakarta:Balai Pustaka, cet. Ke II. Kamus Besar Bahasa Indonesia,

Depdiknas., 2001, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah Buku I Konsep danPelaksanaan, Dirjen. Dikdasmen.Direktur SLTP. Djam’an dan Udin S. Saefuddin,___________ Masalah Kontemporer Sistem Pendidkan Nasional Indonesia, Bandung: Jurusan Adpen. Pengelolaan

Djufri Thlib, 2007, Subdirektorat Kelembagaan Direktorat Pembinaan SMA Peningkatan Kualitas Pendidikan Melalui Pengembangan Sekolah Bertaraf Internasional, disampaikan dalam Workshop Asosiasi SBI Provinsi Jawa Barat di Hotel Sofyan Betawi, Menteng Jakarta Pusat, tanggal 29 Maret 2007. Dokumen program sekolah 2007, tentang kesiapan sekolah menuju sekolah kategori mandiri. Dokumen sekolah 2007, tentang dukungan dari Komite Sekolah, atas penyelenggaraan R SMA BI untuk SMA Negeri 1 Baleendah.
189

190

Dokumen sekolah 2007, tentang surat penetapan mengikuti workshop penyelenggaraan R SMA BI. Dokumen sekolah 2008, tentang keikutsertaan siswa SMA Negeri 1 Baleendah di olimpiade tingkat kabupaten dan propinsi. Dokumen sekolah 2008, tentang kesiapan guru dalam penguasaan teknologi informasi. Tahun 2007. Dokumen sekolah, 2000- 2009, tentang Penerimaan Siswa Baru (PSB) Siswa SMAN 1 Baleendah. Dokumen sekolah, 2997, R-SMA-BI. tentang penetapan SMA Negeri 1 Baleendah sebagai

E. Mulyasa, 2002 Kurikulum Berbasis Kompetensi, Bandung: Rosdakarya. Edward Sallis, Total Quality, 2002, Management In Education, Kogan Page. London: Place of Publication. Edwind Wandt dan Gerald, 1977 Essentials of Educational Evaluation New York , Holt Rinehart and Winston. Elchanan Cohn, 1979 The Economic of Education an Introduction, Massachussets: Ballinger Publishing Company. H. A. R. Tilaar, 1994, Manajemen Pendidikan Nasional, Bandung, Remaja Rosdakarya. H. Ramayulis, 2004, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia. H.R Bukhori Muslim Hodge.B.J. William P.A. & L. Gales. 1996, Organizational Strategy. NewJersey:Fifth Edition, Prentice Hall. Englewood Clitts. http://gurupembaharu.com 2008, panduan_rsmabi. http://setje.diknas.go.id, 2008, produk hukum/3192008144159 permendiknas 2008.pdf http://ww.iso.org/iso/home.htm. http://www, Permendiknas, _20_2006. http://www, Permendiknas, _20_2006. http://www.depdiknas.co.id/produk_hukum/permen/permen_23_2006.pdf. 3-

191

http://www.depdiknas.go.id/produk_hukum/permen/permen_3_2008.pdf. http://www.depdiknas.go.id/sejarah kurikulum indonesia/press. http://www.permendiknas.go.idproduk_hukum/permen/permen_20_2006.pdf. http://www.permendiknas.go.idproduk_hukum/permen/permen_22_2006.pdf. http://yukbelajar.blogspot.com/2007/12/kaji-ulang-kebijakan-mbs_19.html. Husaini Usman, 2001, Peran Baru Administrasi Pendidikan dari Sistem Sentralistik Menuju Sistem Desentralistik, dalam Jurnal Ilmu Pendidikan. K, Hoy Wayne and Cecil G. Miskel, 1978, Educational Administration, Teory, Research, and Practice, , New York: Random House. LEKDIS Standar Nasional Pendidikan PP RI NO. 19 TAHUN 2005. Lexy J. Moleong, 2004 Methodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, Rosda Karya. Mary Lee Smith & Glass GeneV.1987 Resecarch and Evaluation in Education and the Social Science, Englewood Cliffs New Jersey. Masnur Muslich, 2007, KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual, Jakarta, Bumi Aksara, 2007. Murtadlo, 2007 Peningkatan Kinerja Guru Sekolah Luar Biasa melalui Supervisi kelompok, Disertasi, Malang , Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Nanang Fatah, 1996, Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan, Bandung: Rosdakarya. P.F. Oliva, Developing the Curriculum,1997, New York, Longman. Permendiknas thn 2006 Tentang SI & SKL, Jakarta: Sinar Grafika, R. Ibrahim dan Mohammad Ali, 2007 Evaluasi Pendidikan, Bandung: Pedagogiana Press. R. S. Zais, Curriculum Priciples and Foundation, 1976, New York, Harper and Row Publisher. Robert K.Yin diterjemah oleh Djauzi Muzakir, 2002, Studi Kasus Desain dan Metode , Jakarta: PT'. Rajagrapindo Persada, 2002.

192

Robert C. Bogdan dan Sari R. Biklen, 1982, Qualitalive Research for education An lntruduction to Theory and Methods, Boston Allyn and Bacon. Romiszowski, ________The Selection and Use of Intruksional Media, New York Nicholas Pub. S. Nasution, 2007, Metode Research: Penelitian Ilrniah Jakarta: PT. Bumi Aksara. Said Hamid Hasan, 2006, Evaluasi Kurikulum, Bandung: UPI University Press, 2006. Sanapaih Faisal, 1990 Penelitian Kualitatif dasar-dasar dan aplikasi, Malang Asih Asah Asuh. Sevilla Consuelo G,1993, Pengantar Metode Penelitian (terjemahan), Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press). SMAN 1 Baleendah, 2009, Kabupaten Bandung. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Baleendah

Standar Nasional Pendidikan PP RI N0. NO. 19 TAHUN 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Sugeng Listyo Praboowo,2008 Manajemen Pengembangan Mutu Sekolah/Madrasah, Uin pres. Suharsimi Ari kunto, 1997, Prosedur Penelitian. Suatu Pendekatan Praktek Jakarta: Rineka Cipta. Suharsimi Arikunto, Cepi Safruddin Abdul Jabar, 2004 Evaluasi Program Pendidikan, Jakarta Bumi Aksara. Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi,1987, Bandung Angkasa. Sukan dan rumidi, Metodologi Penelitian, 2004,Yogyakarta, Gajah Mada Univercity Press. Sukardi, 2008 Evaluasi Pendidikan, Prinsip & Operasionalnya Yogyakarta: Bumi Aksara. Syarafuddin,2002, Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan, Jakarta, Grasindo. Thomas H. Jones, 1985 School Finance: Technique and Sosial Policy, London: Collier MacMilian Publisher. Thomas L. Friedman, 2005, The World is Flat, New York.

193

Tilaar H.A,R. 1994, Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam Era Globalisasi, Visidan Misi dan Program Aksi Pendidikan dan Pelatihan menuju 2020, jakarta, Grasindo. Udin Saefuddin Sa’ud dan Mulyani Sumantri, 2007 Pendidikan Dasar dan Menengah, dalam Ilmu dan Apikasi Pendidikan, Bandung: Pedagogiana. Undang-undang N0. 20 tahun 2003, 2006 tentang sistem Pendidikan Nsional, Bandung, Citra Umbara. Wahdjo Sumidjo, 1993, Motivasi dan Kepemimpinan, Jakarta, Bumi Aksara. Wahid murni, 2008, Menulis Proposal don Laporan Penelitian Lapangan Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif Skripsi, Tesis, dan Desertasi Progam Pascasarjana UIN Malang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->