P. 1
Homo Seks

Homo Seks

|Views: 2,431|Likes:
Published by Ratadiajo Manullang
Definisi homoseksual sendiri adalah kelainan terhadap orientasi seksual yang ditandai dengan timbulnya rasa suka terhadap orang lain yang mempunyai kelamin sejenis atau identitas gender yang sama.
Definisi homoseksual sendiri adalah kelainan terhadap orientasi seksual yang ditandai dengan timbulnya rasa suka terhadap orang lain yang mempunyai kelamin sejenis atau identitas gender yang sama.

More info:

Published by: Ratadiajo Manullang on Oct 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/11/2014

pdf

text

original

Apa itu Homoseksual?

Pendahuluan
Dalam sebuah konperensi para gembala, seorang gembala berbicara dengan tenang tentang meningkatnya jumlah perceraian dalam gerejanya. Ketika ditanyakan bagaimana ia menempatkan homoseksual dalam gerejanya; ia menjawab, “Saya yakin sepenuhnya Tuhan dapat mengubah hatihati yang hancur dalam hubungan seksual.” Bagaimana kita mengembangkan Kerajaan Allah bagi homoseksual? Tidak berbeda banyak dengan kita yang juga orang-orang berdosa. Anugerah Tuhan Yesus, kebenaran-Nya dan kuasa pemulihan-Nya kepada orang-orang yang bergumul dalam hubungan heteroseksual juga dicurahkan kepada mereka yang tertarik pada jenis kelamin yang sama. Definisi homoseksual sendiri adalah kelainan terhadap orientasi seksual yang ditandai dengan timbulnya rasa suka terhadap orang lain yang mempunyai kelamin sejenis atau identitas gender yang sama. Istilah yang sudah umum dikenal masyarakat untuk orang yang termasuk homoseksual adalah gay (untuk lelaki) dan lesbian (untuk wanita). Homoseksualitas adalah suatu naluri dasar yang terbawa sejak lahir, walaupun pada umumnya kesadaran akan hal itu baru dirasakan dalam usia remaja atau dewasa. Perlu dibedakan antara orientasi homoseksual sebagai suatu naluri yang bersifat netral, dengan perilaku homoseksual yang berkaitan erat dengan nilai.

Penelitian mutakhir memberi petunjuk bahwa orientasi (naluri) homoseksual pada pria erat kaitannya dengan faktor biologik, yaitu:

Faktor genetik, kemungkinan besar pada segmen kromosom X yang diturunkan pihak ibu. Bagian hipotalamus yang pada pria homoseksual berbeda secara struktural dari pria heteroseksual.

Orientasi homoseksual pada wanita besar kemungkinannya dipengaruhi oleh hormon androgen yang berlebihan terhadap otak janin selama dalam kandungan. Faktor pengaruh lingkungan, pendidikan serta sosial budaya yang tadinya dianggap sebagai faktor penyebab primer, kini besar petunjuknya bahwa hal itu berperan dalam terjadinya: Kondisi homoseksualitas yang egodistonik atau yang egosintonik, tergantung dari seberapa jauh individu homoseksual itu menginternalisasi sikap homofobik dari masyarakat, sehingga menimbulkan ada atau tidaknya konflik dalam dirinya.
1

Penatalaksanaan kini tidak ditujukan terhadap upaya mengubah orientasi homoseksual menjadi heteroseksual, melainkan:
• •

Membantu mengubah kondisi egodistonik menjadi egosintonik. Membantu mengubah (apabila ada) perilaku yang membahayakan kesehatan (misalnya penularan AIDS) menjadi perilaku yang lebih aman, bertanggung jawab bagi diri sendiri dan (kalau ada) terhadap pasangannya, serta (bila perlu) disesuaikan dengan nilai pribadi dari pasien, bukan berdasarkan nilai pribadi terapis.

Dalam skala luas, mengubah persepsi dan sikap homofobik dalam masyarakat (termasuk dalam sebagian kalangan terapis Kelainan seksual ini telah melanda lapisan masyarakat. Bahkan teroganisir dengan kuat dan

rapi. Jutaan masyarakat maju seperti di Amerika, Eropa sampai masyarakat miskin di berbagai kawasan kumuh terkena kelainan seksual ini. Kelainan seksual ini bercirikan masing-masing jenis merasa cukup dengan jenisnya sendiri. Maksudnya laki-laki senang mengadakan hubungan dengan laki-laki. Perempuan puas dengan perempuan. Homoseksual dapat didefinisikan sebagai suatu keinginan membina hubungan romantis atau hasrat seksual dengan sesama jenis, jika sesama pria dinamakan gay sedangkan sesama wanita sebut saja lesbian. Sebenarnya pengertian homoseksual itu meliputi 3 dimensi yaitu orientasi seksualnya yang ke sesama jenis, perilaku seksual dan juga tentang identitas seksualitas diri. Jadi masalah homoseksual bukan semata perkara hubungan seksual dengan sesama jenis semata. Hal inilah yang seringkali membuat kita merasa najis dengan kaum homoseksual, karena berpikiran bahwa di dalam otak mereka hanya berisikan semata nafsu birahi dengan sesama jenis saja, padahal homoseksualitas itu mencangkup identitas diri sekaligus perilaku mereka juga. Itu semua bukan dapatan semata dari faktor lingkungan, melainkan faktor genetik-lah yang membuat perkara ini menjadi sangat sulit. Memang ada jenis homoseksual yang terjadi karena dipicu faktor lingkungan semata, misalnya suasana dalam penjara yang merupakan populasi homogen serta di biara seperti skandal sodomi dalam gereja di USA. Homoseksual semacam ini sesungguhnya jauh lebih mudah ditangani karena hal tersebut tercangkup dalam segi perilaku semata, sementara segi identitas diri relatif masih normal (homoseksual situasional).

2

Dalam ilmu psikiatri, homoseksual yang dianggap sebagai suatu bentuk gangguan jiwa hanyalah homoseksual egodistonik. Homoseksual jenis ini bercirikan pribadi tersebut yang merasa tidak nyaman dengan dirinya dan tidak dapat menerima kenyataan orientasi seksualnya yang abnormal tersebut. Akibatnya pribadi semacam ini dihantui kecemasan dan konflik psikis baik internal maupun eksternal dirinya. Homoseksual distonik memberikan suatu distress (ketegangan psikis) dan disability (hendaya, gangguan produktivitas sosial) sehingga digolongkan sebagai suatu bentuk gangguan jiwa. Pribadi homoseksual tipe ini seringkali dekat depresi berat, akibatnya seringkali mereka mengucilkan diri dari pergaulan, pendiam, mudah marah dan dendam, aktivitas kuliah terbengkalai dan sebagainya. Homoseksual jenis inilah yang dicap sakit mentalnya dan memang harus diterapi. Di negara dengan budaya dan agama yang kuat seperti di negara kita, celakanya homoseksual jenis inilah yang mendominasi. Kaum homoseksual di tanah air sulit untuk menerima kenyataan dirinya sebagai kaum abnormal seperti demikian, maka mereka sering menyembunyikan orientasi yang dicap salah dalam masyarakat tersebut. Represi semacam demikian akan berakibat gejolak negatif dalam dirinya sehingga tampil ke permukaan sebagai stress, depresi dan gangguan dalam relasi sosial. Mereka sering gagal dalam menemukan identitas dirinya ditengah ancaman cambuk agama dan budaya yang sedemikian kuat. Kaum homoseksual lain justru dapat menerima apa yang ada di dirinya sebagai suatu bentuk hal yang hakiki. Pribadi semacam ini berani coming out atau menyatakan identitas dirinya yang sesungguhnya sehingga konflik internal dalam dirinya lepas. Kaum homoseksual ini dinamakan egosintonik, tidak dikatakan sebagai kelompok gangguan jiwa karena mereka tidak mengalami distress maupun disability dalam kehidupan mereka. Bahkan mereka yang sukses dengan coming out seperti demikian seringkali lebih produktif dan sukses dalam profesi mereka seperti misalnya perancang baju, penata rias dan rambut,dll. Menjadi seorang dengan orientasi seksual ke sesama jenis sesungguhnya bukan semata pilihan pribadi homoseksual, melainkan itu merupakan kesalahan genetik. Kecenderungan itu sesungguhnya sudah ada sejak lahir namun baru naik ke permukaan setelah seorang individu masuk ke dalam fase sosial dalam tahap perkembangannya.
3

Bahkan seorang Sigmund Freud berani mengatakan bahwa pada setiap diri kita sebenarnya ada bakat untuk homoseksual, dan proses interaksi sosial dalam perkembangan selanjutnyalah yang menyebabkan bakat itu dapat muncul atau tertahankan. Permasalahan jiwa pada pribadi homoseksual sebenarnya jauh lebih banyak terkait faktor eksternal dirinya atau berupa tekanan dari masyarakat. Mereka yang tidak berani coming out ke masyarakat akan dihantui konflik identitas diri seumur hidupnya sedangakn mereka yang memberanikan coming out tetap menghadapi resiko dicibir atau malah dikucilkan masyarakat.Jadi sebenarnya homoseksual itu lebih berupa ‘penyakit masyarakat’ ketimbang penyakit jiwa karena memang yang menimbulkan penyakit itu adalah perlakuan dari masyarakat sendiri. Kaum homoseksual di Indonesia jumlahnya tidak sedikit, mereka ada di sekitar kita namun seringkali kita memang tidak tahu karena umumnya mereka termasuk yang memilih untuk non coming out karena takut akan ancaman sosial-agama dari masyarakat. Sebagai catatan dari suatu survey dari Yayasan Priangan beberapa tahun yang lalu menyebutkan bahwa ada 21% pelajar SMP dan 35% SMU yang pernah terlibat dalam perilaku homoseksual. Data lain menyebutkan kaum homoseksual di tanah air memiliki sekitar 221 tempat pertemuan di 53 kota kota di Indonesia. Hal di atas menggambarkan bahwa jumlah kaum homoseksual tidaklah sedikit. Bagaimanapun kita sebagai pribadi yang terpelajar hendaknya mau mengerti latar belakang kaum homoseksual, tidak semata merasa jijik atau malah menolak mereka. Tentunya Anda tidak bisa mengucilkan teman Anda yang berambut ikal karena memang gen-nya membawa sifat ikal seperti itu bukan? Begitu pula homoseksual, bukan kemauan mereka untuk menjadi homoseksual, namun bedanya gen orientasi seksual semacam itu mencangkup pula segi perilaku social, bukan semata penampilan fisik seperti halnya rambut ikal. Dukungan sosial justru sangat dibutuhkan oleh kaum homoseksual, dengan demikian mereka dapat menemukan dan mengaktualisasikan identitas dirinya serta terbebas dari distress, dengan demikian mereka dapat tetap produktif dalam masyarakat. Homoseksual harus dibedakan dengan gangguan transeksual (banci). Transeksual masih termasuk dalam gangguan jiwa jenis preferensi seksual. Bedanya yang mudah diantara keduanya adalah bahwa kaum homoseksual tidak pernah ingin mengganti jenis kelaminnya (misal dengan
4

operasi plastik), tidak pernah berhasrat mengenakan pakaian lawan jenis (melainkan kebanyakan gay berpenampilan macho dan necis). Selain itu kaum transeksual terutama memiliki dorongan untuk menolak jenis kelaminnya, dan mengingini jenis kelamin lawan jenisnya. Jadi pengertian transeksual lebih ke arah penolakan akan identitas dirinya sebagai seorang pria atau wanita, bukan menekankan kepada orientasi seksual (keinginan dengan siapa berhubungan seksual/membina relasi romantis). Definisi yang lebih luas Apa homoseksual itu? Pertama, perhatikan kecenderungan homoseksual. Ini adalah perasaan yang sangat besar terhadap daya tarik seksual dan emosi dari seseorang dengan sesama jenis kelamin. Berpikirlah mengenai perasaanmu sendiri terhadap lawan jenis, baik secara menetap dan intensitasnya. Hal seperti itulah yang dialami seorang kecenderungan homoseksual terhadap jenis kelamin mereka sendiri. Puncak perasaan ini biasanya pada usia remaja (usia belasan tahun atau sebelumnya). Seseorang tidak memilih memiliki perasaan seperti ini. Banyak keluhan mereka yang bergumul, bahwa perasaan itu hadir begitu saja. Sifat dasar yang sudah berjalan lama terhadap kecenderungan ini adalah kunci untuk membedakan apakah seseorang benar-benar tertarik dengan sesama jenis. Kita harus membedakan antara mereka dengan kecenderungan heteroseksual yang mencoba bertindak homoseksual dan mereka yang kecenderungan tetap tertarik sesama jenis. Jangan mengulangi kesalahan penelitian seks Alfred Kinsey selama 50 tahun, ia mengecap semua orang yang pernah berlaku homoseksual sebagai orang homoseksual. Itulah sebabnya gambaran statistik membengkak yaitu 10% populasi Amerika adalah homoseksual. Sebenarnya gambaran statistik lebih mendekati 1,5% hingga 3%. Ada lagi yang menambah kebingungan hari ini yaitu banyak orang-orang muda yang mencoba biseksual. Dalam beberapa lingkungan terdapat ketidakleluasaan meninggalkan jenis kelamin mereka, yang mana dianggap sebagai kesenangan. Jadi kita akan bertemu dengan orangorang yang bersetubuh dengan dua jenis kelamin. Namun demikian homoseksual memiliki riwayat perasaan homoseksual dalam waktu lama dengan sediti hingga tidak ada sama sekali ketertarikan heteroseksual.

Bab II Mengenali Pria Homosek

5

2.1 Kenali Pria Homoseksual Dari Wajahnya 1
Hanya dalam hitungan detik, hampir setiap orang dapat mengenali apakah seseorang di depannya homoseksual atau bukan hanya dari wajahnya. Temuan ini memperkuat pendapat bahwa pikiran bawah sadar manusia berperan penting dalam memandu perilakunya. Manusia dikenal sebagai makhluk paling pintar dan cepat menilai sesamanya. Hal tersebut telah disimpulkan sebagai hasil penelitian yang dilakukan duo psikolog, Nalini Ambady dan Rovert Rosenthal, tahun 1994. Saat itu, mereka menghadapkan orang-orang pada video seorang profesor yang sedang mengajar berdurasi dua detik saja kemudian diminta memberikan opini mengenai kemampuan mengajarnya. Hasil penilaian tersebut ternyata mirip benar dengan penilaian para mahasiswa profesor tersebut yang diajar selama satu semester. Temuan ini tidak hanya mengejutkan tapi membuat penasaran para pakar perilaku untuk menguak rahasia kemampuan manusia menilai sesamanya dalam waktu sangat singkat. Ambady kemudian bersama koleganya, Nicholas Rule, sama-sama dari Universitas Tufts, Massachusets, AS meneliti apakah hal tersebut juga berlaku untuk menilai orientasi seksual. Sukarelawan pria maupun wanita dihadapkan 90 lembar foto wajah pria homoseksual dan pria normal secara acak, masing-masing antara 33 milidetik hingga 10 detik. Saat diberikan waktu 100 milidetik atau lebih, mereka dapat mendeteksi foto pria mana yang homoseksual dengan tingkat ketepatan 70 persen. Jika waktunya kurang dari itu, mereka kesulitan. Namun, jika diberikan waktu lebih lama, peluangnya tidak semakain baik. "Apa yang paling menarik adalah tambahan waktu tidak meningkatkan hasil," ujar Ambady yang melaporkan penelitian ini dalam Journal of Experimental Social Psychology edisi terbaru. Jadi, mungkin ada benarnya juga semboyan cinta pada pandangan pertama

2.2 Ciri-ciri Gay
Gay bukan berarti bencong, kalau bencong itu cowok yang merangkap menjadi wanita, sedangkan gay adalah pria namun hati mereka perempuan. Jangan anggap remeh keberadaan mereka karena hadirnya mereka bisa membawa bencana bagi diri sendiri dan orang lain. Sebaiknya kita mengenal cirri-ciri mereka karena bisa jadi teman anda gay. Mari simak ciri-ciri mereka berikut ini :
1

http://spirit-zone.blogspot.com/2008/04/kenali-pria-homoseksual-dari-wajahnya.html. Gambar ini adalah jepretan laman seperti yang ditampilkan pada tanggal 22 Okt 2009 .

6

1. Tubuh atletis

Gay biasanya atletis, berotot sana sini, bagi mereka otot yang nimbul ditubuh sama seperti wanita yang menonjolkan payudaranya. Semakin kencang dan besar otot-otot mereka, ia akan percaya diri. 2. Wangi Wangi disini bukan wangi kembang. Tubuh gay memiliki wangi parfum yang eksotik, keringatnya bagaikan setetes parfum armani mahal, ketek mereka tak pernah tercium bau bangke cicak. Bagi mereka wangi-wangian adalah segalanya. 3. Tampang Teduh Biasanya gay memiliki tampang teduh, diwajahnya sepertinya terdapat pepohonan yang rindang, bila kita melihat dirinya seakan dia tak pernah punya beban masalah. Tampak ceria dan mudah senyum. Sorot matanya tajam, seakan matanya berbicara banyak hal. 4. Suka Belanja Belanja sudah menjadi hal rutin selain fitnes, berbagai pakaian bermerek pastilah dia punyai. Bagi gay yang pas-pasan biasanya hobi nongkrong di pasar uler, taman puring atau di parkit untuk nyari koleksi terbaik musim ini. 5. Jago Bicara Bila gay menemukan pasangannya ia akan pandai bicara. Ia bagaikan koran yang selalu memuat berita aktual seputar bangsa ini. Bila kehabisan topik ia akan mengomentari fisik anda, hati-hati ini adalah awal dia menilai sebuah benda dibalik celana dalam anda. 6. Tatapan dan Colek Gay akan selalu berkelakuan ekstrim, ketika melihat pria yang ia sukai ia akan menatap tajam dan langsung tertuju pada pantat atau kelamin. Dan jika bersentuhan biasanya sering menyentuh pantat atau paha dan sekitarnya. Gay paling suka menatap pantat korban, pantat yang berisi adalah hal yang paling mereka sukai. Ia ibarat laki-laki normal melihat dada wanita yang menggoda. Ketika berada dekat dengan korban ia suka mencolek bokong, bokong sesama jenisnya, dan berucap “hai gay’s”.
7

7. Perilakunya Jika orang seperti ini sudah merasa nyaman di dekat anda, dia akan berusaha menjadi lembut, halus dan suka menyilangkan kakinya ketika duduk berdua dengan anda. Atau berbaring. Jarak anda dan dia menjadi hanya 1cm saja, siap-siap anda mendapatkan perlakuan khusus darinya. Seperti di elus-elus dan dimanjakan. 8. Lebih suka menyendiri Kalau sedang berjalan-jalan di Mall dan melihat seorang pria duduk sembari memainkan gadgetnya, itu bisa saja gay, tandai saja dulu, kalau ia beranjak dari duduknya dan menghampiri anda jangan coba-coba anda meludahinya. Anggap saja anda kedatangan sales penjual dildo. Biasanya gay suka tempat-tempat yang remang dan sedikit musik jazz. 9. Suka film romantis Salah satu film favorit gay adalah film romantis, seperti titanic, dan romero and juliadi. Dia akan menangis terharu bila ada adegan sedih yang bukan main, air matanya menetes hingga membuat ia mencari lawan main untuk dipeluknya. 10. Akrab dengan wanita Gay paling akrab dengan wanita, seperti wanita berteman dengan wanita. Bila ia bergaul bersama laki-laki, ia akan canggung, suka nelen ludah dan menatap pantat. Segala jenis mode yang sedang eksis di dunia fashion ia sangat paham, lebih paham dari wanita manapun sekelas Paris hilton.

2.3 Mengenal mereka lebih dalam dari sudut biologis 2
Pastilah semua orang, baik laki-laki maupun wanita pernah suatu waktu mengagumi atau menyukai seseorang yang satu gender dengannya, semisal seorang wanita mengagumi wanita lain yang cantik dan seksi atau seorang laki-laki yang suka melihat laki-laki lain yang berotot dan “body perfect”. Dan percayakah anda bahwa dengan berpikiran seperti itu anda berpotensi untuk menjadi seorang homoseksual?

2

http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/biokimia/homoseksual_tinjauan_dari_perspektif_ilmiah/. Gambar ini adalah jepretan laman seperti yang ditampilkan pada tanggal 4 Nov 2009 .

8

Tetapi jangan dahulu menjustifikasi yang macam-macam. Berdasarkan informasi ilmiah harus diakui bahwa sesunguhnya setiap individu mempunyai potensi untuk menjadi seorang homoseksual. Namun kecenderungan ini mempunyai tingkatan yang berbeda. Dan karena kecenderungannya sangat kecil sehingga kita tidak merasakannya. Tetapi jika kecenderungan itu bisa mengakibatkan anda setelah mengagumi lalu tertarik dan terangsang terhadap sesama jenis, maka anda dapat dikatakan sebagai homoseksual. Berikut adalah tingkatan orientasi seksual berdasarkan skala Kinsey :

Orientasi Seksual Keterangan

Keterangan

Heteroseksual eksklusif Heteroseksual predominan Heteroseksual predominan Heteroseksual dan homoseksual Homoseksual predominan Homoseksual predominan Homoseksual eksklusif

Homoseksualnya cuma kadang-kadang Homoseksualnya lebih jarang-jarang Seimbang (biseksual) Heteroseksualnya lebih dari kadang-kadang Heteroseksualnya cuma kadang-kadang -

Berdasarkan kajian ilmiah, beberapa faktor penyebab orang menjadi homoseksual dapat dilihat dari : Susunan Kromosom. Perbedaan homoseksual dan heteroseksual dapat dilihat dari susunan kromosomnya yang berbeda. Seorang wanita akan mendapatkan satu kromosom x dari ibu dan satu kromosom x dari ayah. Sedangkan pada pria mendapatkan satu kromosom x dari ibu dan satu kromosom y dari ayah. Kromosom y adalah penentu seks pria. Jika terdapat kromosom y, sebanyak apapun kromosom x, dia tetap berkelamin pria. Seperti yang terjadi pada pria penderita sindrom Klinefelter yang memiliki tiga kromosom seks yaitu xxy. Dan hal ini dapat terjadi pada 1 diantara 700 kelahiran bayi. Misalnya pada pria yang mempunyai kromosom 48xxy. Orang tersebut tetap berjenis kelamin pria, namun pada pria tersebut mengalami kelainan pada alat kelaminnya.
9

Ketidakseimbangan Hormon. Seorang pria memiliki hormon testoteron, tetapi juga mempunyai hormon yang dimiliki oleh wanita yaitu estrogen dan progesteron. Namun kadar hormon wanita ini sangat sedikit. Tetapi bila seorang pria mempunyai kadar hormon esterogen dan progesteron yang cukup tinggi pada tubuhnya, maka hal inilah yang menyebabkan perkembangan seksual seorang pria mendekati karakteristik wanita. Struktur Otak. Struktur otak pada straight females dan straight males serta gay females dan gay males terdapat perbedaan. Otak bagian kiri dan kanan dari straight males sangat jelas terpisah dengan membran yang cukup tebal dan tegas. Straight females, otak antara bagian kiri dan kanan tidak begitu tegas dan tebal. Dan pada gay males, struktur otaknya sama dengan straight females, serta pada gay females struktur otaknya sama dengan straight males, dan gay females ini biasa disebut lesbian. Kelainan susunan syaraf. Berdasarkan hasil penelitian terakhir, diketahui bahwa kelainan susunan syaraf otak dapat mempengaruhi prilaku seks heteroseksual maupun homoseksual. Kelainan susunan syaraf otak ini disebabkan oleh radang atau patah tulang dasar tengkorak. Faktor lain. Faktor lain yang dapat menyebabkan orang menjadi homoseksual, sebagaimana diungkapkan oleh Prof. DR. Wimpie Pangkahila (Pakar Andrologi dan Seksologi) selain faktor biologis (kelainan otak dan genetik), adalah faktor psikodinamik, yaitu adanya ganguan perkembangan psikseksual pada masa anak-anak, faktor sosiokultural, yaitu adanya adat-istiadat yang memberlakukan hubungan homoseksual dengan alasan yang tidak benar, dan terakhir adalah faktor lingkungan, dimana memungkinkan dan mendorong hubungan para pelaku homoseksual menjadi erat. Dari keempat faktor tersebut, penderita homoseksual yang disebabkan oleh faktor biologis dan psikodinamik memungkinkan untuk tidak dapat disembuhkan menjadi heteroseksual. Namun jika seseorang menjadi homoseksual karena faktor sosiokultural dan lingkungan, maka dapat disembuhkan menjadi heteroseksual, asalkan orang tersebut mempunyai tekad dan keinginan kuat untuk menjauhi lingkungan tersebut. Sebagaimana manusia lainnya, para homoseksual ini memiliki rasa yang sama dengan manusia normal lainnya. Rasa cemburu pun dimiliki oleh kaum ini, bahkan rasa cemburu yang berlebihan bisa timbul jika mengetahui kekasihnya berselingkuh dengan orang lain. Dan karena rasa cemburu yang dimilikinya terlalu besar, ada yang sampai tega membunuh pasangannya dan kejadian ini biasa dialami oleh seorang gay. Dan satu yang perlu diingat menjadi homoseksual
10

adalah suatu PILIHAN bukanlah suatu TAKDIR. Kecenderungan besar manusia untuk kembali ke kehidupan normal adalah kekuatan terpenting untuk sembuh dan keluar dari jurang tersebut. Dan kaum homoseksual dari dulu sampai masa yang akan datang akan selalu ada, berkeliaran disekitar kita, terlihat jelas atau kasat mata, dan kita pun berpotensi menjadi bagian dari mereka, tinggal bagaimana kita menyikapinya dan memilih tetap menjadi “normal” atau menyerah pada potensi tersebut.

2. 4 Mengenal dari sudu Psikologis 2.4.1 Stimulasi Seksual3
Tiga dekade riset terhadap stimulasi seksual pria telah menunjukkan pola orientasi seksual yang jelas. Pria gay lebih mudah terstimulasi secara seksual terhadap foto pria dan pria heteroseksual terhadap foto perempuan. Dengan kata lain, pola stimulasi seksual pria seakan sudah jelas. Namun penemuan dari riset Northwestern University telah memperluas riset terbatas pada seksualitas perempuan dengan adanya penemuan berbeda terkait dengan stimulasi seksual perempuan. Sangat berbeda dengan pria, baik perempuan lesbian dan heteroseksual cenderung terstimulasi secara seksual oleh stimulasi erotik pria dan perempuan, oleh karena itu memiliki pola stimulasi biseksual. “Temuan ini mewakili perbedaan mendasar antara otak pria dan perempuan, dan memiliki implikasi penting untuk memahami perbedaan pengembangan orientasi seksual antara pria dan perempuan”, demikian kata J. Michael Bailey, Profesor Psikologi pada Northwestern dan peneliti senior pada riset “ Perbedaan seks pada spesifisitas stimulasi seksual.” Riset ini telah diterbitkan pada journal of Psychological Science. Fokus utama Riset Bailey adalah genetika dan pengaruh lingkungan pada orientasi seksual, dan dia adalah salah satu peneliti kunci pada riset yang sering diacu mengenai adanya pengaruh genetika pada homoseksualitas pria. 2.4.2 Orientasi Seksual Seperti pada banyak kajian mengenai seksualitas, riset terhadap pola stimulasi seksual perempuan jauh tertinggal dibanding pada pria, namun riset mutakhir pada subjek tersebut telah memberi petunjuk, bahwa dibandingkan dengan pria, pola stimulasi seksual perempuan ternyata tidak terlalu
3

http://www.sciencedaily.com/releases/2003/06/030613075252.htm
11

berhubungan dengan orientasi seksual mereka. Riset dari Northwestern membuktikan bahwa hal ini benar. Peneliti Northwestern mengukur stimulasi seksual secara psikologis dan fisiologis/faal pada pria dan perempuan homoseksual dan heteroseksual, selama mereka menonton film erotik. Ada tiga tipe film erotik: Melibatkan hanya pria, Melibatkan hanya perempuan, dan melibatkan kedua jenis kelamin. Sama dengan riset sebelumnya, peneliti menemukan bahwa respon pria konsisten dengan orientasi seksual. Sebagai kontras, baik perempuan homoseksual dan heteroseksual menunjukkan pola biseksual secara psikologis dan juga secara stimulasi genital. Faktanya, perempuan heteroseksual mengalami stimulasi seksual dengan menonton stimulasi erotik perempuan, sama halnya dengan menonton stimulasi erotik pria, walaupun mereka lebih suka berhubungan seks dengan pria daripada dengan perempuan. “Faktanya, mayoritas mutlak perempuan pada masyarakat barat kontemporer hanya berhubungan seks secara eksklusif dengan pria.” kata Meredith Chivers, Kandidat doktor Psikologi klinis pada Northwestern University, Intern psikologi pada Centre for Addiction and Mental Health dan pengarang pertama pada riset. “ Namun saya sudah lama mencurigai bahwa seksualitas perempuan sangat berbeda dengan pria, dan riset ini menunjukkan bahwa memang secara saintifik demikian.” Menurut Chivers, Hasil riset ini menunjukkan bahwa seksualitas perempuan cenderung memiliki fleksibilitas lebih tinggi daripada pria dia area lain diluar orientasi seksual. “Jika dikumpulkan bersama, hasil ini menunjukkan bahwa seksualitas perempuan berbeda dengan pria, dan diperlukannya model pengembangan dan organisasi dari seksualitas perempuan secara independen dari model seksualitas pria.” Demikian kata dia. Alasan Berbeda Riset ini melibatkan empat pengarang, termasuk Bailey dan tiga mahasiswa pasca sarjana di departemen psikologi Northwester, Chivers, Gerulf Rieger dan Elizabeth Latty. “ Sebagian besar perempuan seperti bisa mengalami stimulasi seksual dari kedua jenis keamin. Mengapa mereka memilih satu dari yang lain?”. Tanya Bailey. “Mungkin karena alasan lain dari stimulasi seksual.” Sejak awal 1960an pria homoseksual dan heteroseksual menunjukkan respon secara spesifik terhadap stimulasi seksual dari pria dan perempuan. Film yang meprovokasi respons seksual terbesar, dan film dari pria berhubungan seksual dengan pria, atau perempuan berhubungan seks dengan perempuan memprovokasi perbedaan terbesar antara pria homoseksual dan heteroseksual. Menonton hubungan seks heteroseksual dapat menarik pada pria homoseksual dan heteroseksual, namun dengan alasan berbeda.

12

Biasanya, pria mengalami stimulasi genital dan psikologis ketika mereka menonton film yang sesuai dengan orientasi seksual mereka, namun tidak demikian jika berbeda orientasi seksual. Pola spesifik pria terhadap stimulasi seksual adalah fakta yang sangat jelas, bahwa stimulasi genital dapat digunakan untuk mengevaluasi preferensi seksual pria. Bahkan pria gay yang menolak homoseksualitas mereka akan lebih terstimulasi secara seksual dengan stimuli pria daripada stimuli perempuan. “ Fakta bahwa pola stimulasi seksual perempuan yang tidak bisa diprediksi dari orientasi seksual menunjukkan bahwa pria dan perempuan memiliki pikiran dan otak yang sangat berbeda.” Demikian kata Bailey.

2. 5 Gaya Hidup dan Identitas Homoseksual
Tetapi kecenderungan tidak menciptakan “homoseksual”! Banyak orang memiliki

kelemahan ini tetapi tidak berusaha mengidentifikasikan diri mereka menurut kelemahan ini. Hal ini menolong kita dan mereka yang kita layani untuk membedakan antara kecenderungan dan komponen-komponen lain yang menciptakan “seorang homoseksual.” Komponen pertama adalah identitas homoseksual. Ini terjadi ketika seseorang

mengidentifikasikan dirinya sendiri sebagai homoseksual. Seksualitasnya sekarang terikat pada, “Aku adalah seksualitasku.” Komponen kedua adalah perilaku homoseksual. Seseorang bertindak atas keinginannya yang biasanya memperkuat daya tarik dan mengkonfirmasikan identitasnya: “Inilah sebenarnya siapa aku!” Komponen ketiga adalah identifikasi dengan kebiasaan atau gaya hidup para homoseksual. Di sini seseorang mencari identifikasi primer dengan homoseksual lain untuk tujuan seksual dan sosiopolitis. Ini adalah usaha kelompok bersama untuk melindungi, merayakan dan mengembangkan homoseksual itu sendiri.

Bab III SEBAB DAN AKIBAT HOMOSEKSUAL Mungkin pembicaraan tentang homoseksual merupakan pembicaraan yang tidak populer. kebanyakan masyarakat mempunyai anggapan yang negatif terhadap kaum ini. seperti yang kita dengar belum lama ini berita tentang kasus mutilasi yang dilakukan homoseksual. dan kejadian itu menambah pembenaran terhadap anggapan negatif kaum homoseksual. namun mereka juga manusia seperti kita yang tidak terlepas dari masalah yang juga memerlukan solusi untuk terbebas
13

dari masalah homoseksual. para ahli sediri masil belum tahu penyebab dari homoseksual.

3. 1 Penyebab
Apa yang menyebabkan kecenderungan homoseksual? Di sini kita harus melihat berbagai faktor yang berperan terhadap sumber-sumbernya. Berbagai faktor tersebut yaitu: ketidakseimbangan hormon prenatal, sumber keluarga, pola generasi yang tidak diturunkan, urutan kelahiran, kepribadian, pengenalan seks dewasa, terlalu dini, dan pengaruh kebudayaan sekitar. Akibat pengaruh-pengaruh ini sangat jelas, yaitu munculnya perasaan orang-orang muda yang tidak kuat dalam pengenalan identitas diri sendiri sebagai laki-laki atau sebagai perempuan. Pada sebagian orang hal ini diperkuat dengan perlakuan lawan jenis (seringkali melalui pelecehan seksual di masa anak-anak). Tetapi bagi sebagian besar dengan ketertarikan sesama jenis, terdapat hasrat yang besar terhadap perhatian dan kasih saying sesama jenis yang menetap. Perasaan ini keluar dari keterasingan yang mendalam yaitu seseorang merasakan dirinya tidak memadai sebagai laki-laki atau sebagai perempuan. Bila rasa rendah diri terhadap jenis kelamin merupakan akar penyebab homoseksual, maka ketertarikan pada sesama jenis nampak lebih jelas ekspresinya. Sejak Anda hadir di dunia ini, perkembangan pribadi Anda terbuka melalui hubungan Anda dengan ibu dan ayah Anda. Kendati salah satu di antara keduanya tidak hadir dalam kehidupan Anda, misalnya, fakta ini tetap merupakan bagian dari proses perkembangan Anda. Apabila perkembangan masa kanak-kanak terjadi di dalam keluarga yang sehat, di mana seorang anak laki-laki merasakan kasih yang seimbang mengalir dari seorang ayah dan seorang ibu, fondasi yang diletakkan dalam dirinya ialah heteroseksualitas. Jika ayah Anda hadir di dalam kehidupan Anda dan ia berperan sebagai tokoh panutan yang mencurahkan kasihnya bagi Anda, Anda akan mendapatkan suatu perasaan aman dan sebuah identitas yang utuh dalam memasuki masa dewasa. Dengan demikian, sejauh menyangkut keberadaan Anda sebagai laki-laki, Anda merasa lengkap. Wilayah di mana Anda merasa tidak lengkap adalah segala sesuatu yang ada sangkutpautnya dengan keberadaan seorang perempuan. Untuk mengalami perasaan lengkap, Anda akan tertarik kepada sesuatu yang tidak Anda miliki, sesuatu yang akan melengkapi Anda – dan itu adalah seorang lawan jenis. Tentu saja, ini merupakan penyederhanaan yang berlebihan, namun sebuah penjelasan yang akurat tentang ketertarikan laki-laki kepada perempuan.

14

Jika Anda dibesarkan oleh seorang ayah yang secara emosional jauh, atau seorang laki-laki yang kejam, suka menyiksa, atau tidak hadir di rumah, pengertian Anda mengenai diri Anda bisa berkembang berbeda. Anda mungkin tidak punya perasaan yang aman mengenai identitas Anda dan sifat-sifat Anda sebagai pria sejati. Jika tidak ada pria lain di dalam hidup Anda yang mampu memberikan semua itu, misalnya paman atau kakek, atau pelatih, maka Anda akan merasakan ketidaklengkapan yang tanpa Anda sadari sebetulnya ada di dalam diri Anda. Hasilnya, Anda tertarik kepada apa yang akan memberi Anda perasaan lengkap, dan itu adalah seorang pria lain. Reaksi dari anak-anak lelaki lain bisa membuat pengertian “kurang” ini menjadi pelik di dalam hidup Anda. Misalnya, jika Anda tidak berminat pada olahraga yang kompetitif dan lebih menyukai seni dan drama, Anda bisa merasa seakan-akan Anda adalah orang yang terbuang. Anak-anak lelaki seusia Anda mungkin tidak ingin membina pertalian dengan Anda. Faktanya, bahkan, mereka menolak untuk bergaul dengan Anda karena mereka ingin menjamin bahwa mereka adalah pria sejati. Ada anak-anak lelaki yang suka bermain dengan boneka ketimbang dengan tentaratentaraan. Jika Anda termasuk yang seperti ini, maka itu adalah awal dari suatu kondisi di mana Anda akan ditolak oleh anak-anak lelaki lain dan kemudian oleh para pria. Jadi, adalah alami kalau Anda merindukan apa yang Anda tidak miliki, yaitu perasaan sebagai laki-laki dan pertalian dengan pria-pria lain. Jika ada orang yang homoseksual memperkosa Anda, maka Anda merasa, paling tidak, diterima dan mempunyai pertalian yang Anda rindukan. Ketertarikan kepada pria dapat juga diperkuat kalau yang bersangkutan ditolak oleh wanita. Jika Anda dibesarkan atau diasuh oleh ibu atau perempuan yang tidak sehat jiwanya, yang memanjakan Anda atau bersikap kejam terhadap Anda oleh karena kebejatan moralnya, perkembangan ketertarikan Anda kepada wanita akan terganggu. Yang paling tidak ingin Anda miliki dalam suatu hubungan ialah hubungan dengan seseorang yang mirip wanita yang Anda tidak sukai itu. Anda merasa sangat tidak nyaman ketika bersama wanita tersebut. Landasan ini membuat Anda menjadi target empuk jika Anda didekati pria lain. Sejak bertahun-tahun kita sudah mengetahui bahwa homoseksualitas adalah semacam tanggapan seseorang terhadap luka batin di masa lalu dan akibat kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi. Seorang anak perempuan terluka akibat perlakuan seorang laki-laki dan ia pun mulai bertumbuh dengan banyak kebutuhan dalam dirinyaa, antara lain untuk dilindungi, merasa diterima serta juga untuk mengalami keintiman. Namun ia tidak bisa mendapatkan semua ini dari pihak
15

laki-laki – mengingat laki-laki adalah seseorang yang sudah memperlakukannya secara tidak senonoh – maka si anak perempuan ini terdorong untuk tertarik pada pihak sesama jenisnya. Seorang anak laki-laki terluka akibat perasaan tertolak oleh sang ayah dan dari laki-laki lain, sehingga ia merasa tertarik pada laki-laki lain yang bisa memuji dia atau menunjukkan bahwa ia berharga. Atau seorang anak laki-laki kurang bisa mengembangkan sikap kemaskulinannya, sehingga ia merasa tertarik pada laki-laki yang lebih gagah/maskulin. Di usia dini, kebutuhan-kebutuhan tersebut mulai membaur dengan kebutuhan seksual. Saat ini terjadi, maka garis antara kebutuhan non-seksual dan ketertarikan seksual akan membaur, sehingga sulit untuk memisahkan antara keduanya. Hal ini jelas terlihat dalam sesi konseling dalam pelayanan kami. Seorang laki-laki pernah mengatakan pada saya, “Tahukah anda, bahwa sebetulnya bukan seks yang saya inginkan? Yang saya inginkan sebenarnya adalah seorang laki-laki yang bisa mencintai saya.” Kami temukan hal ini seringkali terjadi di kalangan orang-orang yang kami konsel. Kebutuhan untuk diterima, dipuji dan akan harga diri di kalangan homoseksual jauh melebihi jika dibandingkan dengan mereka yang heteroseksual. Walaupun kebutuhan dasar dan cara mengekspresikan kebutuhan tersebut sungguh dekat dan mungkin rasanya hampir tidak terpisah, namun bukan berarti kedua hal ini tidak bisa dipisahkan sama sekali. Malah sebaliknya, memisahkan kebutuhan dasar dan keinginan seksual bisa jadi merupakan langkah terpenting dalam proses penyembuhan seorang homoseksual. Biasanya dalam sesi konseling pertama saya untuk menolong seorang laki-laki yang bergumul dengan homoseksualitas, saya akan menerangkan teori Dr Elizabeth Moberly mengenai asal usul homoseksualitas, penjauhan anak dari sang ayah secara defensif, kebutuhan akan sesama jenis yang tidak terpenuhi, dan ketidakmampuan sang anak untuk mengembangkan identitas dirinya sebagai laki-laki akibat terputusnya hubungan dengan sesama jenis yang bisa menjadi panutannya. Seringkali saya lihat air mata yang tertahan di wajah orang-orang yang saya konsel karena mereka sungguh bisa mengerti apa yang saya maksud. Akhirnya, setelah sekian lama mereka bingung dan merasa terdakwa, mereka mulai mengerti diri mereka sendiri dan mungkin untuk pertama kalinya mereka menyadari bahwa mereka berada dalam proses penyembuhan tingkat pertama. Bagi banyak laki-laki dan perempuan yang sedang berada dalam proses penyembuhan, sangatlah penting bagi mereka untuk mendapat pengertian yang mendalam mengenai penyebab masalah mereka. Hal ini tidak akan menyembuhkan mereka, namun akan memulai proses tersebut, lewat dua cara: Pertama, dengan mengerti penyebab masalah mereka, mereka dapat mengetahui
16

langkah-langkah spiritual yang harus mereka ambil; antara lain dengan mengampuni orang tua mereka, bertobat karena selama ini mereka menolak diri mereka sendiri seperti yang Tuhan sudah ciptakan, atau memutuskan sumpah yang tidak sengaja mereka ucapkan waktu kecil bahwa mereka tidak mau untuk terbuka lagi terhadap siapapun. Kedua, dengan mengerti penyebab masalah mereka, mereka mulai mengetahui hubungan antara luka atau kebutuhan tidak terpenuhi dengan keinginan seksual mereka sehingga kedua hal ini bisa terpisahkan. Saat mereka mulai mengerti kebutuhan mereka yang sebenarnya, mereka akan mulai mampu untuk mencari jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan cara yang benar (non-seksual). Saat mereka mulai bisa memisahkan kedua hal tersebut, sesungguhnya mereka akan menghadapi bukan hanya satu, melainkan dua masalah. Tapi menghadapi dua masalah yang berbeda ini akan terasa lebih ringan dibandingkan menghadapi satu masalah tanpa mengerti dasardasar penyebab masalah tersebut.

Selama bertahun-tahun, mungkin mereka mencoba memenuhi kebutuhan mereka lewat seks – dan hal ini mungkin sudah menjadi kebiasaan bagi mereka. Namun sekarang, karena mereka mengerti bahwa sebenarnya kebutuhan tersebut tidak harus dipenuhi lewat seks, maka kita dapat menolong mereka secara lebih efektif. Masalah pertama – kebutuhan atau luka mereka – perlu kesembuhan. Masalah kedua mereka – ketertarikan seksual yang kuat terhadap sesama jenis – perlu dianggap/ diselesaikan sebagai suatu perilaku. Misalnya, seorang laki-laki yang benar-benar tidak mempunyai/mengetahui arti kemaskulinan, mungkin sudah bertahun-tahun merasa tertarik kepada laki-laki lain yang kuat, gagah dan yang “memilki segala-galanya”. Dengan melihat laki-laki semacam itu sudah membuahkan perasaan seksual tersendiri. Kami temukan bahwa bahkan sesudah ia memenuhi kebutuhannya dan sudah benar-benar menerima dan bersukacita dalam identitas dirinya sebagai laki-laki, ia masih bisa diam-diam dua atau tiga kali mencuri lirikan laki-laki lain yang ia anggap gagah tadi. Atau, ia mungkin masih bermimpi hal-hal yang berbau homoseksual saat tidur. Sebenarnya hal ini tidak apa-apa, karena justru ia sebenarnya sedang berusaha mengatasi kebiasaan lamanya. Mungkin selama bertahun-tahun ia selalu menanggapi masalahnya dengan melakukan perilaku tertentu. Seorang wanita, yang selama bertahun-tahun seringkali jatuh dalam
17

“penyembahan berhala” terhadap wanita lain, mungkin akan menyadari bahwa walaupun ia sudah mengalami banyak penyembuhan, namun masih ada beberapa jenis wanita yang masih bisa “menariknya” kembali. Problem-problem seksual perlu ditanggulangi sebagaimana kita menanggulangi semua kebiasaan buruk, yaitu dengan mematikannya. Pornografi, bepergian ke tempat-tempat tertentu untuk mencari “mangsa”, masturbasi, semua ini harus diberantas. Ini bisa menjadi bagian yang tersulit dalam proses penyembuhan. Kita harus berperang tiap-tiap hari sampai suatu saat kebiasaan-kebiasaan lama ini terberantas. Bagi banyak orang, hal ini tidak mungkin dilakukan sendiri. Kedagingan memang lemah. Kita perlu memanggil Yesus setiap kali kebiasaan-kebiasaan lama ini timbul. Bagi beberapa orang, kalau masalah ini sudah menjadi semacam ketergantungan, mungkin mereka memerlukan sesuatu yang lebih, semacam program 12 langkah (Program 12 langkah adalah semacam kelompok yang berkumpul bersama tiap minggu, umumnya mereka yang mengalami masalah yang sama, dan mereka akan berbagi pengalaman masing-masing dalam menghadapi masalah tersebut).

Problem kedua yang bersifat seksual ini akan memerlukan kombinasi antara kegigihan dan kemampuan untuk bersandar akan kekuatan Tuhan. Kebutuhan akan kasih yang tidak terpenuhi, penolakan terhadap identitas kita baik sebagai laki-laki maupun perempuan, semuanya ini bukan memerlukan usaha yang lebih keras, melainkan memerlukan penyembuhan dan pertumbuhan. Hal ini sungguh nyata dalam proses penyembuhan, kalau kita mau menanggulangi masalah ini secara efektif. Mengetahui kedua jenis problem seperti yang diuraikan di atas juga penting bagi mereka yang sudah mengalami penyembuhan namun masih memiliki kebiasaan-kebiasaan lama yang masih sering timbul. Ini bukanlah untuk mematahkan semangat, tapi justru untuk memberikan pujian bagi Tuhan karena kekuatan di balik masalah ini sudah dipatahkan dan suatu saat nanti kebiasaan-kebiasaan lama tersebut juga akan hilang. Rantai lama yang berbau seksual sudah dipatahkan, dan rantai baru sudah diciptakan, yaitu rantai kesembuhan dan kepatuhan akan Tuhan yang membuat kita semakin dekat dengan Yesus Kristus. Homoseksual adalah ketertarikan seksual dan emosional yang konsisten, termasuk fantasi, minat, dan keinginan pada seseorang dengan jenis yang sama. Walaupun penyebab homoseksual tidak secara pasti diketahui, menurut para ahli kemungkinan adalah kombinasi dari faktor genetic,

18

biologi, psikologi dan faktor sosial. Penelitian juga menyimpulkan bahwa orientasi seksual dipengaruhi juga saat masa kecil. Namun kami sebagai praktisi EFT melihat penyebab homoseksual pada hal yang tidak terpikir oleh para ahli bahwa faktor emosional mempunyai peran penting pada terbentuknya behavior ini. faktor emosional yang kami maksud bisa termasuk kehilangan kasih sayang seorang ayah, kehilangan figur seorang ayah, atau emosional abuse seorang ayah pada anak, atau trauma masa kecil. masalah emosional yang terbentuk karena faktor di atas akan membuat seorang anak laki-laki mencari figur kasih sayang dari kaum laki-laki. Dan bila mereka terjebak dalam pergaulan sesama jenis dapat dipastikan mereka akan membentuk kebiasaan perilaku homoseksual. Bila memang perubahan perilaku seseorang ke arah homoseksual disebabkan karena faktor emosional dan trauma masa kecil, kami yakin treatment dapat dilakukan pada seseorang untuk dapat meninggalkan perilaku homoseksual dan kembali hidup normal.

Namun permasalahan terbesar adalah terletak pada rasa malu untuk mengungkapkan masalah mereka. diperlukan keberanian untuk mereka dapat membuka diri dalam mencari kesembuhan. Tingkah laku homoseks adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan normal dalam mendapatkan kasih sayang, penerimaan dan identitas, melalui keintiman seksual dengan orang yang berjenis kelamin sama. Walaupun faktor-faktor yang menentukan perkembangan orientasi seksual merupakan hal yang kompleks dan terselubung, pengalaman kami menunjukkan bahwa salah satu akar utama dari homoseksualitas adalah hancurnya ikatan hubungan pada masa kecil seseorang. Hubungan yang terputus ini mengganggu kemampuan perkembangan dirinya untuk dengan sehat dapat berhubungan dengan orang lain sepanjang hidupnya. Rasa aman seorang anak bergantung pada tiga hubungan; hubungan dengan ibunya, hubungan dengan ayahnya, dan hubungan antara kedua orang tuanya. Segala sesuatu yang mengganggu hubungan ini dapat menimbulkan perasaan tidak aman pada anak, yang pada akhirnya menghilangkan perasaan dibutuhkan dan didukung yang sebenarnya sangat vital bagi perkembangan identitas sebagai laki-laki atau perempuan. Bila anak tidak mendapatkan atau bahkan tidak punya hubungan emosional dengan ayah atau ibunya, anak itu akan mengalami perasaan tidak aman – ia merindukan kedekatan dan perlindungan yang tidak didapatkannya dari orang tuanya. Atau akan lebih buruk lagi bila ia pernah mengalami pelecehan seksual. Ia akan semakin tidak mampu untuk membangun ikatan dengan orang lain.
19

Seorang anak bisa saja memisahkan diri dari orang tuanya atau orang dewasa lain demi menghindarkan dirinya dari penderitaan atau kekecewaan. Keadaan ini mungkin akan membuat ia takut akan keintiman, atau mengisolasikan diri dari orang lain, atau iri hati akan hal-hal yang tak dimilikinya; dan ini akan semakin menambah perasaan tidak berharga dan tertolak yang sebelumnya sudah tersimpan di dalam dirinya. Semua situasi ini menimbulkan kebutuhan yang sangat besar akan dukungan (afirmasi) dan kasih sayang. Biasanya ketertarikan dengan seks sejenis mulai terjadi pada usia sepuluh tahun; hal ini karena emosi, bukan karena keinginan seks dan tidak terjadi secara sukarela juga. Ketika telah dewasa secara seksual, kebutuhan ini semakin menggebu dan erotis; keintiman seksual menjadi sarana utama untuk mendapatkan perasaan dicintai dan didukung.

Akibatnya, perbuatan seks memberikan rasa semu bahwa dia benar-benar diterima dan aman. Semua yang mendatangkan kasih sayang diterima, orang yang memberikan kasih sayang dijadikan idola, perasaan yang sakit ditutupi dengan kesenangan, dan konsep diri sementara dibangkitkan – menjadi kelegaan sesaat dari kebingungan atas identitas diri. Mendapatkan Kelengkapan Jadi, keadaan homoseksual merupakan sebuah akibat dari begitu banyaknya luka, baik yang nyata atau pun hanya menurut persepsinya saja, yang dialami anak karena adanya hubungan yang hancur. Tingkah laku homoseks adalah tindakan yang muncul karena “anak yang sakit hati” ini ingin memenuhi kebutuhan kasihnya. Mungkin orang itu tidak menyadari bahwa hubungan seksual tidak akan dapat memenuhi kebutuhan akan kelengkapan dan keakraban antar sesama, yang merupakan kebutuhan yang paling mendalam pada jiwa manusia. Hasil dari usaha untuk memenuhi kebutuhan dengan cara hubungan homoseksual adalah kesepian; orang itu akan semakin terpisah dan hancur dalam kesakitan. Akibat lainnya adalah kebingungan emosi, menyalahkan Tuhan karena perasaan terluka dan telah “menciptakan dirinya sebagai homoseksual”. Semua ini menghalangi kemampuan orang yang mengalaminya untuk dapat mempercayai Sang Pencipta dan merasakan keakraban yang telah disediakan olehNya untuk memberikan kenyamanan dan perlindungan atas kebutuhan terdalam yang belum terpenuhi. Kami sudah berbicara mengenai ketertarikan seksual kepada wanita-wanita. Namun, sementara Anda membaca Every Young Man’s Battle, Anda mungkin berpikir bagaimana temanya bisa diterapkan kalau Anda tertarik kepada pria. Jika dugaan kami benar, kami cukup percaya
20

bahwa tidak banyak orang yang dapat Anda ajak bicara menyangkut ketertarikan kepada sesama jenis. Dan, ketakutan kalau-kalau diketahui atau ditolak tak ayal lagi membuat Anda membisu. Namun ketertarikan itu memang ada. Anda tidak memilih untuk tertarik kepada pria, tapi Anda memang tertarik kepada mereka. Anda mungkin pernah dilecehkan ketika Anda masih kecil, dan peristiwa itu mulai menumbuhkan perasaan tertarik kepada sesama jenis. Kendati itu sebuah pelecehan, Anda tidak dapat membayangkan mengapa itu membuat Anda merasa tertarik kepada pelaku. Dan, manakala itu dikaitkan dengan gereja, barangkali yang Anda dengar hanyalah kutukan. Banyak teori tentang mengapa timbul perasaan seperti yang Anda miliki. Ada yang masuk akal, dan ada yang tidak. Namun, izinkan kami memberitahukan apa yang kami percayai sebagai yang paling masuk akal. Kami ingin menolong Anda untuk memahami mengapa Anda merasa seperti yang Anda rasakan, dan kami akan menyodorkan sejumlah harapan bagi Anda.

Jika Anda menemukan semua gambaran itu di dalam hidup Anda, Anda adalah salah satu dari ribuan pria-pria kebingungan yang sedang mencari-cari cinta dan ingin sekali mengetahui apa yang normal dan bagaimana mengalami yang normal itu. Di sini terpapar sejumlah pilihan bagi Anda, karena tersedia banyak harapan bagi Anda, jika Anda memilihnya.

BAB IV MENGATASI HOMOSEKS DAN MENGUBAH Dunia mengatakan kepada Anda bahwa Anda harus bertindak berdasarkan perasaan: Anda membayangkan Anda sedang bersanggama dengan gadis-gadis itu, baru saat itulah Anda merasa utuh. Mereka mengatakan bahwa sekalipun keluarga atau gereja Anda menolak Anda, perasaan lengkap itu akan Anda temukan di sebuah dunia di mana homoseksual dinilai baik dan perhatian yang Anda selalu dambakan itu tersedia. Anda dapat berpaling kepada bisikan dunia, atau kepada sebuah suara yang terdengar lebih lembut namun terdengar makin kuat setiap hari. Gerakan pria homo yang berkembang di tahun 1970-an, bersamaan dengan terbentuknya psikiatri liberal, adalah bagian dari perubahan besar di dalam pola pikir mengenai homo seksualitas. Keduanya berhasil membuat homo seksualitas dihapuskan dari daftar kelainan mental yang dikeluarkan oleh American Psychological Society. Dr. Robert Spitzer berperan sebagai pemimpin kampanye itu, dan ini membuat dia menjadi pahlawan di dalam komunitas pria homo

21

pada kurun waktu itu. Akan tetapi, baru-baru ini Spitzer menerbitkan hasil dari risetnya yang terakhir – hasil-hasil yang membuat dia kurang populer di kalangan mereka yang dulu memuji dia. “Bertolak-belakang dengan hikmat konvensional,” tulisnya, “sejumlah individu yang sangat termotivasi, yang menggunakan aneka upaya untuk mengubah, dapat membuat perubahan yang substansial di dalam indikator-indikator ganda menyangkut orientasi seksual.” Pada hakikatnya, Spitzer menulis bahwa jika Anda merasa tertarik kepada sesama jenis, dan Anda sangat termotivasi untuk berubah, maka Anda betul-betul punya pilihan di dalam diri Anda yang sekarang, diri Anda setelah berubah, dan bagaimana perasaan Anda tentang diri Anda sendiri. Kesimpulan-kesimpulan yang ditarik Spitzer didasarkan pada wawancara dengan dua ratus orang pria dan wanita yang berubah, yang tadinya tertarik kepada sesama jenis, kemudian tertarik kepada lawan jenis dan tetap berada dalam kondisi terakhir sampai lima tahun berikutnya. Alasan mereka termotivasi untuk berubah ialah, mereka sudah penat dengan gaya hidup mereka yang sembrono secara seksual, hubungan-hubungan yang tidak stabil, keinginan untuk menikah, dan hal-hal yang menyangkut iman mereka. Setelah tidak lagi menjalani gaya hidup homo seksual atau lesbianisme, tiga perempat dari pria-pria dan setengah dari wanita-wanitanya menikah.

4.1 Tindakan yang dipilih
Kalimat ini harus berarti : kendati Anda tidak memilih untuk merasa tertarik kepada sesama jenis, Anda dapat memilih apa yang Anda lakukan terhadap perasaan tertarik itu. Sekalipun banyak suara di dunia ini yang mengatakan bahwa tidak ada pilihan di dalam hal ini, ditemukan banyak bukti bahwa Anda sebetulnya punya pilihan dan Anda dapat membuat perubahan terhadap perasaan Anda mengenai diri Anda sendiri maupun tentang orang lain. Jadi, jika impian-impian Anda sendiri atas selingan seksual dengan pria, jika Anda mengkhayalkan hubungan seks dengan pria, dan jika Anda ingin sekali bersama pria dan menginginkan pria, Anda dapat mengubah semua keinginan itu, sama seperti pria yang menginginkan wanita dapat mengubah pikiran maupun hatinya. Ini tidak akan mudah, namun dapat dilakukan. Setiap hari kami membaca e-mail dari banyak pria, pemuda, dan remaja yang sudah berjuang selama bertahun-tahun dan menemukan pengharapan untuk pertama kalinya – heteroseksual dan homo seksual. Para penganut homo seksual maupun heteroseksual tengah melakukan hal-hal yang kami sarankan, dan mereka menemukan kemenangan yang belum pernah mereka alami.

22

Anda dapat mempercayai kami apabila kami mengatakan bahwa ada jalan keluar. Anda memang punya pilihan, dan pilihan itu akan mengantar Anda kepada apa yang Tuhan inginkan bagi Anda dan kepada hubungan-hubungan yang sudah Ia persiapkan bagi Anda. Jalur yang Anda pilih adalah keputusan Anda, dan kami berharap bahwa isi buku ini akan memotivasi Anda. Anda dapat melakukan apa yang dilakukan oleh banyak pria lain yang mempunyai perasaan seperti Anda. Anda dapat mengubah hidup Anda dan berhasil dalam mengembangkan sebuah hidup yang baru.

4.2 Penyembuhan
Adalah harapan untuk disembuhkan? Homoseksualitas nyata sekali merupakan sebuah kondisi yang berlipat ganda. Dunia yang rusak menimbulkan luka, ketakutan, kebingungan identitas dan keterasingan. Orang-orang bereaksi dengan mengambil pilihan yang berdosa sebagai usaha untuk pulih dari kehancuran dan untuk mendapatkan penghiburan di tengah deraan rasa sakit dan tekanan kebutuhan. Sayang tujuannya tetap tidak tercapai; yang semula menjanjikan, ternyata berakhir pada kenyataan yang sangat mengerikan. Yesus Kristus adalah sebuah pilihan jalan keluar. Yesus menyatakan permasalahannya – yaitu manusia terbatas pada dirinya sendiri – dan Yesus menawarkan sebuah jalan di mana kita bisa mendapatkan pemenuhan di dalam Tuhan dan umatNya. Dengan melepaskan kita dari belenggu masa lalu, Yesus membebaskan kita untuk hidup sebagai suatu ciptaan baru, dan Roh Suci yang menjalankan semua perubahan yang terjadi dalam hidup kita itu. Perubahan Budaya Pernyataan Thomas Schmidt kini terbukti benar, yaitu, “Homoseksual adalah medan perang untuk semua kekuatan yang berusaha membentuk dunia abad ini.” Mempertimbangkan hal ini, Presiden Clinton telah mengumumkan bahwa homoseksual adalah medan perang besar untuk hak-hak penduduk di Amerika. Banyak wakil rakyat saat ini sedang menimbang hak-hak para homoseksual untuk diakui dan menikahi pasangannya.

Lebih dari 17 orang homoseksual menjadi bagian dari pertunjukan TV saat ini. Program-program pendidikan berjalan menuju penghapusan penghakiman moral yang terselubung. Programprogram pendidikan seperti ini sedang meluas di sekolah-sekolah di seluruh Amerika Serikat.
23

Asosiasi Psikologi Amerika saat ini menyatakan salah terhadap usaha konseling menolong seorang homoseksual yang berusaha berubah.

Rahmat Yesus Kristus adalah cukup bagi kita, kekuatanNya sangat sesuai dengan kelemahan kita. Ia menyediakan sebuah dasar yang kuat bagi identitas kita yang baru – menjadi sebuah pusat yang benar-benar nyata dan dapat dirasakan. Semakin kita dekat denganNya, kita semakin dimampukan untuk memancarkan gambaranNya atas kemanusiaan kita dan terus-menerus bertumbuh. Tujuan dari pertumbuhan kita adalah kemerdekaan untuk mengasihi dengan benar: Suatu hubungan yang intim namun bukan erotis (non-seksual) terhadap manusia lain yang berjenis kelamin sejenis dengan kita, dan agar mampu berhadapan dengan lawan jenis kelamin kita tanpa rasa ketakutan atau ketidaksukaan. Sebagaimana kami di Pelayanan Desert Stream yakin bahwa Yesus memberikan kasihNya kepada kita, kami merasakan juga kekuatanNya mengalir dalam hidup kita dan dalam hidup mereka yang merindukan kebebasan dari homoseksualitas.

BAB V HOMOSEKS, TUHAN DAN KITAB SUCI4
Apakah yang diajarkan oleh Alkitab tentang praktek homoseks? Ada dalam Alkitab,”Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin. Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka” (Roma 1:25-27). Apakah praktek homoseks adalah suatu dosa? Ada dalam Alkitab,”Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian” (Imamat 18:22). “Homoseks itu dilarang sama sekali, karena homoseks adalah dosa yang sangat besar” (TLB).
4

http://www.bibleinfo.com/id/topics/homoseks. Gambar ini adalah jepretan laman seperti yang ditampilkan pada tanggal 13 Nov 2009.

24

Dapatkah seorang homoseks masuk surga? Ada dalam Alkitab, ”Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci (homoseks), orang pemburit” (1 Korintus 6:9). Seperti semua orang berdosa lainnya, orang homoseks dipanggil untuk bertobat. Ada dalam Alkitab, ”Tentunya harus diingat bahwa hukum dibuat bukan terhadap orang baik, melainkan terhadap para pelanggar hukum, para penjahat, orang bejat, terhadap orang berdosa, orang tidak beragama, orang duniawi, terhadap orang yang membunuh ayah atau ibunya, para pembunuh pada umumnya, terhadap orang-orang cabul, homoseks, penculik, pembohong; saksi-saksi dusta, dan siapa saja yang membuat hal-hal yang bertentangan dengan ajaran yang benar. Ajaran itu terdapat di dalam Kabar Baik yang penyebarannya dipercayakan kepada saya, yaitu Kabar Baik dari Allah yang agung dan patut dipuji” (1 Timotius 1:10-11, BIS). Pola berdosa dari segala jenis harus dihentikan, dan perlu pengampunan Allah. Ada dalam Alkitab,”Beberapa di antaramu dahulu berkelakuan seperti itu. Tetapi sekarang kalian dinyatakan bersih dari dosa. Kalian sudah menjadi milik Allah yang khusus. Kalian sudah berbaik kembali dengan Allah, karena kalian percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan karena kuasa Roh dari Allah kita” (1 Korintus 6:11, BIS). Ada pengharapan untuk orang-orang homoseks. Ada dalam Alkitab, ”Setiap cobaan yang Saudara alami adalah cobaan yang lazim dialami manusia. Tetapi Allah setia pada janji-Nya. Ia tidak akan membiarkan Saudara dicoba lebih daripada kesanggupanmu. Pada waktu Saudara ditimpa oleh cobaan, Ia akan memberi jalan kepadamu untuk menjadi kuat supaya Saudara dapat bertahan” (1 Korintus 10:13, BIS).

5. 1 Homoseks sebuah pergumulan dengan Tuhan
Pergumulan dengan homoseksualitas dapat menusuk jauh ke dalam jiwa dan lubuk hati orang Kristen. Hal ini bisa mempengaruhi pandangan orang tentang dirinya dan Tuhan – yang nantinya menentukan seluruh jalan hidupnya. Oleh karena dampaknya yang jangkauannya panjang ini, maka kita perlu mengetahui pandangan Alkitab mengenai homoseksualitas. Pandangan yang jelas dan akademis sangatlah penting, karena penemuan-penemuan ilmiah bisa memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap orang Kristen dalam pergumulan homoseksualitasnya. Yang saya maksudkan dengan ini adalah bahwa banyak orang Kristen yang memiliki keinginan homoseksualitas yang tidak sadar menginginkannya. Kecenderungan homoseks tampaknya dimulai pada umur yang sangat muda yang kemudian ditambahi oleh pengaruh-pengaruh lainnya dalam hidupnya di kemudian hari, bisa membuat seseorang untuk
25

condong mencari penyatuan emosi dan seks dengan sesama jenis. Tujuan daripada makalah ini bukanlah untuk membuat penghakiman – namun bertujuan untuk melihat bagaimana orang bisa membuat pilihan-pilihan yang bertanggung jawab berdasarkan adanya keinginan-keinginan ini. Untuk itu kita perlu mengetahui pandangan Alkitabiah mengenai hal ini. Ini tidak semudah seperti kedengarannya. Buku-buku dan artikel-artikel yang telah ditulis mengenai pandangan Alkitabiah tentang homoseksualitas memberikan pandangan yang beragam. Ada berbagai ayat-ayat yang relevan yang bisa dilihat dari berbagai sudut, tergantung dari kacamata yang dipergunakan untuk melihatnya. Seorang penulis feminis berpendapat bahwa homoseksualitas merupakan minoritas yang tertekan yang harus dibebaskan untuk menjelajah keinginan-keinginan mereka, penulis yang lain membela homoseksualitas dengan menekankan bahwa beberapa ayat Alkitab dipengaruhi budaya dan tidak relevan untuk masa kini. Penulis yang lainnya melihat adanya penyatuan homoseksualitas antara Jonatan dan Daud, juga antara Rut dan Naomi, merupakan pandangan yang sangat kontras dengan penulis lainnya yang memiliki pandangan yang keras dan menakutkan tentang homoseksualitas. Untuk menghindari pandangan yang berlebihan, kita harus mulai dengan pandangan yang se-objektif mungkin dan kesediaan untuk menggali Alkitab secara lebih mendalam. Konteks budaya, bahasa asli yang dipergunakan dan arti logis yang dimaksud oleh penulis semuanya merupakan pertimbangan yang akan menerangi kebenaran pandangan Alkitab mengenai homoseksualitas. Kita bisa menemukan rentangan benang merah yang melandasi Alkitab dan menghubungkannya dengan ayat-ayat yang relevan dengan homoseksualitas. Benang merah ini sejajar dengan tema Alkitab yang lebih luas mengenai penciptaan, kejatuhan dan penebusan. Dimulai dengan Kejadian 1 dan 2, kita bisa menemukan rancangan mula-mula Tuhan – laki-laki sebagai laki-laki dan perempuan sebagai perempuan. Kejatuhan manusia ke dalam dosa mengakibatkan penyimpangan daripada rancangan Tuhan untuk seksualitas manusia – Kejadian 3 dan 19 – dan peraturan-peraturan dibuat sebagai tanggapan terhadap penyimpangan ini, sebagaimana dicerminkan dalam hukum Taurat, perintah Allah yang ke sepuluh dan kode etika Imamat. Akhirnya, dalam Perjanjian Baru, peraturan-peraturan tampak sebagai sarana rekonsiliasi – Roma 1:1, Korintus 6:9, 1 Timotius 1:10 – yang mengarahkan manusia yang berdosa kepada Kristus. Landasan untuk mengawali adalah kehendak Tuhan untuk seksualitas manusia. Ini didasari secara kuat oleh hubungan laki-laki dengan perempuan di mana, dengan kerangka kerja adanya komitmen untuk bersama-sama seumur hidup, membuat kasih seksualitas diperhadapkan pada sanksi ilahi. Sangatlah penting bagi kita untuk memahami kehendak Tuhan, karena kita harus senantiasa melandasi pemahaman kita di dalam terang rancangan Tuhan atas penciptaan untuk
26

dapat menelaah variasi-variasi seperti homoseksualitas.1

Pertama, beberapa informasi yang

melatar belakangi, Kejadian 1 menjelaskan adanya Pencipta yang memerintah dunia menurut rencana-Nya yang sempurna, yang memisahkan terang dari kegelapan, langit dari bumi, air dari samudera menjadi daratan. Oleh Firman-Nya, bumi dipenuhi tetumbuhan dan binatang; laut dipenuhi ikan. Ayat 26 menguraikan ciptaan-Nya yang paling utama – penciptaan manusia. Tidak seperti ciptaan-ciptaan Tuhan yang sebelumnya, manusia dibuat menurut rupa dan kesamaan-Nya, mengikuti Tuhan dalam hakiki-

5. 2 Persoalan kodrat
Apakah “mereka” memang lahir begitu? Kitab Suci mengajarkan bahwa Tuhan menginginkan laki-laki dan perempuan mengalami hubungan yang utuh – yang menghindarkan dari kesepian – melalui kesatuan dengan pasangan yang berlainan jenis dan merupakan penolong yang sejati dan pasangan seumur hidup. “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya…laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka…TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.’” (Kejadian 1:27, 2:18) Homoseksualitas adalah hubungan yang salah, seperti dinyatakan dalam Kitab Suci, bertentangan dengan tujuan kreatif Tuhan atas seksualitas manusia. Dengan demikian kita bisa pastikan bahwa homoseksualitas bukan hasil dari penciptaan yang dilakukan oleh Tuhan. Benarkah terbentuk sebelum dilahirkan? Sangat banyak penelitian telah dilakukan untuk melihat potensi genetis maupun peran hormon sebagai penyebab homoseksualitas. Tidak satu pun yang terbukti. Penelitian masih berlanjut, dan hampir semua ahli menunjukkan bahwa berbagai hal yang mempengaruhi itu adalah budaya, asal muasal keluarga, faktor biologis, dan reaksi seseorang terhadap pengaruh-pengaruh yang ada.

5. 3 Anugerah dan Kebenaran
Dalam pertimbangan respon kami kepada mereka dengan ketertarikan seks yang sama, kita harus berusaha menanamkan kepenuhan anugerah dan kebenaran seperti Kristus menyatakan keduanya. Gereja kita harus menjadi tempat yang menyambut para pencari Tuhan dari titik awal manapun. Dalam kumpulan orang-orang kudus yang beribadah kepada Allah yang hidup, semua pencari kasih yang tak berkesudahan, akan mulai merasakan suatu kasih yang tidak seorangpun atau jenis kelamin apapun yang dapat memenuhi. Yesus mencontohkan pengembangan anugerah yang menenangkan dalam respon-Nya kepada perempuan Samaria dalam Yohanes 4.
27

Perempuan Samaria ini dikucilkan dari kehidupan beragama dikarenakan jenis kelaminnya, etnisnya dan kondisi seksual yang tak bermoral. Perempuan ini melambangkan orang-orang berdosa yang benar-benar terkejut menemukan bahwa Tuhan mengasihinya. Yesus menawarkan dengan bebas kepadanya air hidup yang Tuhan Yesus nyatakan memiliki kuasa memuaskan kerinduan terdalamnya untuk selamanya! Saya yakin bahwa gereja-gereja kita harus menyediakan jalan yang lebar dengan rintangan-rintangan sekecil-kecilnya untuk semua yang mencari-Nya, sehingga orang-orang ini dapat masuk ke dalam genggaman kuasa kasih Yesus yang lebih jelas dan benar. Bagaikan air di atas tanah kering, ini mulai membangkitkan dalam diri orang-orang berdosa kehausan yang dalam terhadap kasih yang melampaui kehausan seksual. Ini meletakkan dasar-dasar bagi respon orang-orang berdosa untuk berkomitmen mengasihi Dia.

Selanjutnya kita pasti akan menemui pertanyaan mengenai kebenaran. Yesus tidak ikut dengan orang-orang berdosa, begitu juga seharusnya dengan kita. Setelah memenangkannya dengan air hidup, Ia kemudian memintanya “memanggil suaminya.” Ia gemetar ketakutan sejenak dan mengakuinya ia tidak memiliki seorangpun, hanya kepada Kristus yang menyingkapkan suaminya yang dahulu dan sekarang ia hidup dengan laki-laki lain. Yesus menyingkapkan sumur yang ia telah timba terus dari sumber air umum yaitu kasih yang bersifat kedagingan. Untuk menghadapkannya kepada dosa-dosanya, Yesus mengundangnya untuk masuk ke tujuan-Nya yang lebih tinggi dari tujuan hidupnya. Ini termasuk prospeknya menjadi penyembah-penyembah yang baru dan benar yang akan menyerahkan diri mereka secara keseluruhan kepada Tuhan “dalam Roh dan dalam kebenaran.” Yesus mengubah nafsu yang salah arah kepada penyerahan yang kudus.

Kami di Pelayanan Desert Stream (di Amerika Serikat) percaya bahwa faktor-faktor biologis memang mempengaruhi pembentukan kepribadian seseorang. Kepribadian kita kemudian menentukan sebagian dari bagaimana dan mengapa kita menanggapi pengaruh yang ada di sekitar kita. Pada beberapa kepribadian, ditambah faktor-faktor lain yang ada, mungkin memang ada kecenderungan untuk sedikit lebih mudah berkembang ke arah homoseksual.

Jika anda adalah seorang homoseks, apakah yang seharusnya anda perbuat?

28

Pertama, akuilah dosamu. Ada dalam Alkitab, ”Kasihanilah aku ya Allah, karena Engkau tetap mengasihi, hapuskanlah dosaku karena belas kasih-Mu yang besar. Basuhlah segala kejahatanku; bersihkanlah aku dari dosaku. Sebab kuakui kesalahan-kesalahanku, dosaku selalu kuingat-ingat” (Mazmur 51:3-4, BIS). Kedua, mintalah pengampunan terhadap dosamu – Allah berkata anda dapat memulai hidup baru lagi. Ada dalam Alkitab,”Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali! Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh. Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela (untuk mentaati-Mu, TLB)!” (Mazmur 51:7-12). Ketiga, percayalah bahwa Allah sesungguhnya telah mengampuni engkau dan berhentilah merasa bersalah. Ada dalam Alkitab, ”(Mzm 32:1) Dari Daud. Nyanyian pengajaran. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku” (Mzm 32:1-5). “Sekarang aku berkata agar setiap orang beriman hendaknya mengakui dosa-dosa mereka kepada Allah, sementara ada kesempatan untuk diampuni. Penghukum akan menyentuh dia jika hal itu dilakukannya. Engkaulah tempat perlindunganku dari setiap badai kehidupan; Engkau bahkan menjaga aku dari kesukaran! Engkau mengelilingi aku dengan nyanyian-nyanyian kemenangan. “(Mazmur 32:6-7, BIS).

BAB VI KAUM HOMOSEK DALAM GEREJA

29

6. 1 Vatikan Keluarkan Dokumen Resmi Melarang Homoseksual untuk Pentahbisan Imam5
Vatikan mengeluarkan peraturan yang melarang homoseksual ditahbiskan sebagai pastor. Namun, naskah panduan yang telah lama dinantikan memperlakukan homoseksualitas sebagai "tendensi", bukannya orientasi, dan menyatakan, mereka yang telah mengatasinya boleh mulai menjalani pendidikan untuk menjadi pastur. Sedikitnya tiga tahun harus berlalu antara "mengatasi masalah peralihan" dan pengukuhan sebagai samas, kata panduan itu. Semua pastor Katholik harus mengangkat sumpah, apa pun orientasi mereka. Panduan tersebut tidak menyinggung pastur yang aktif saat ini, tapi mengacu ke mereka yang hendak masuk ke seminari. Kardinal Zenon Grocholewski, kepala dari Kongregasi untuk Pendidikan Katolik, dengan tegas membela dokumen itu dalam sebuah wawancara dengan Radio Vatikan tanggal 29 Nopember, hari di mana dokumen itu dikeluarkan dengan resmi di Vatikan. Radio Vatikan melampirkan rekaman dari wawancara itu. Kardinal Grocholewski berkata bahwa perbedaan pengertian dalam dokumen antara berakar-dalam dan tendensi homoseksual sesaat, penting. "Tentu saja, jika kita berbicara tentang tendensi yang berakar-dalam, ini berarti bahwa di pihak lain terdapat juga tendensi sesaat atau kasus-kasus sesaat yang bukan merupakan sebuah halangan," katanya. "Contohnya, beberapa keingintahuan selama keremajaan; atau keadaankeadaan tak sengaja dalam keadaan mabuk; atau keadaan-keadaan tertentu, seperti seseorang yang berada di penjara untuk beberapa tahun." Atau, di beberapa situasi, katanya, tindakan-tindakan homoseksual dapat menjadi sebuah jalan untuk memuaskan seseorang dengan maksud mendapatkan pertolongan. "Dalam kasus-kasus seperti itu, tindakan-tindakan ini tidak berasal dari sebuah tendensi berakar-dalam namun ditentukan oleh keadaan-keadaan sesaat lainnya, dan mereka bukan merupakan sebuah halangan untuk diterima ke dalam seminari atau serikat-serikat kudus. Namun demikian, dalam kasus-kasus itu, mereka harus berhenti paling tidak tiga tahun sebelum pentahbisan diakonal," katanya.

5

http://www.christianpost.co.id/africa/general/20051130/2164/Vatikan-Keluarkan-Dokumen-Resmi-Melarang-Homoseksual-untuk-PentahbisanImam/index.html. Gambar ini adalah jepretan laman seperti yang ditampilkan pada tanggal 12 Nov 2009 .

30

Kardinal Grocholewski berkata bahwa norma-norma itu dirancang untuk membantu melihat pelayanan-pelayanan masa depan dan tidak berlaku bagi imam-imam homoseksual yang sudah ditahbiskan. "Jelas, bahwa pentahbisan-pentahbisan ini adalah sah, karena kami tidak menegaskan mereka tidak sah," katanya. Ia juga mengatakan bahwa seseorang yang menemukan dirinya homoseksual setelah pentahbisan imamat harus "mengisi kehidupan imamatnya dan berusaha untuk hidup dalam kesucian." "Mungkin ia akan membutuhkan bantuan rohani yang lebih banyak dari orang lain, namun saya pikir ia harus menjalankan kehidupan imamatnya dalam cara terbaik yang memungkinkan," katanya. Gereja mengajarkan bahwa tindakan-tindakan homoseksual adalah pelanggaran yang berdosa berat terhadap hukum alami, katanya. "Hak itu berbeda dari kecenderungan homoseksual atau tendensi berakar-dalam. Namun tendensi ini dianggap, dalam 'Katekismus Gereja Katolik', sebagai sebuah kecenderungan yang secara obyektif tidak teratur (disorder)," katanya. "Mengapa? Sebuah kecenderungan seperti itu sudah pasti adalah sebuah dosa, namun itu adalah sebuah tendensi yang kurang lebih kuat menuju pada sebuah tingkah laku yang pada hakekatnya buruk dari sebuah pandangan moral," katanya. Mereka dengan sebuah kecenderungan homoseksual menemukan diri mereka menghadapi sebuah percobaan dan berhak mendapatkan pengertian, katanya. Mereka seharusnya tidak didiskriminasi dengan cara apapun, katanya. Namun pengecualian mereka dari kehidupan imamat seharusnya tidak dilihat sebagai diskriminasi, katanya. Masyarakat harus mengerti bahwa Gereja memiliki sebuah hak suci untuk memilih laki-laki yang tepat untuk pentahbisan imamat. "Bukanlah diskriminasi, contohnya, jika seseorang tidak menerima seorang lainnya yang menderita sakit kepala vertigo masuk sekolah astronot," katanya. Penerbitan panduan baru ini dipicu oleh skandal pelecehan seksual di kalangan rohaniawan Amerika Serikat. Dokumen berisi 18 paragraf itu diterbitkan tanpa mengundang perhatian hari Selasa pagi. Vatikan juga tidak memberikan penjelasan lebih terperinci kali ini. Naskah tersebut bocor pekan lalu dan diterbitkan di Internet oleh situs berita Katolik Italia, Adista.

31

Dokumen, yang rancangannya disusun oleh Kongregasi untuk Pendidikan Katholik Vatikan dan disetujui oleh Paus Benediktus pada 31 Agustus, menggambarkan perilaku homoseksual sebagai "dosa besar" yang tidak bisa dibenarkan dalam keadaan apa pun. "Jika seorang calon mempraktikkan homoseksualitas, atau menunjukkan tendensi homoseksual mendalam, pengarah spiritualnya maupun penerima pengakuannya memiliki hak untuk benar-benar meminta dia agar tidak berlanjut menuju pentahbisan," kata dokumen itu. "Orang semacam itu sebenarnya berada dalam situasi yang menimbulkan kendala besar terhadap hubungan yang benar antara pria dan wanita," menurut panduan itu. Namun, dokumen itu menekankan penghormatan mendalam Gereja kepada homoseksual, yang menurutnya, tidak boleh didiskriminasi. Homoseksual telah dicekal dari kepasturan dalam dokumen yang dikeluarkan tahun 1961. Pakar hukum agama mencatat bahwa panduan baru ini tidak diterbitkan dalam forma specifica. Artinya, Paus tidak secara resmi mengukuhkan dengan kewenangan pribadinya, kata National Catholic Reporter. Ini bisa bermakna ada peluang bagi interpretasi lebih lanjut atau peninjauan di masa datang. Panduan terbaru itu sendiri merupakan hasil peninjauan yang diperintahkan oleh mendiang Paus Yohanes Paulus II pasca skandal pelecehan yang sangat menghancurkan di Amerika, di mana sejumlah pria menuduh pastur telah melecehkan mereka saat mereka masih berusia belasan tahun.

6. 2 Identitas Kristen
Sebagai pemimpin-pemimpin Kristen, kita harus hati-hati untuk tidak menerima jalan-jalan duniawi yang mengarahkan persetujuan terhadap ketertarikan sesama jenis. Untuk alasan ini saya tidak percaya bahwa pemberian label homoseksual atau lesbian akan menolong mereka (sekalipun mereka mengharapkan label ini). Anda lebih dari seksualitas Anda begitu juga mereka. Kita lebih baik mengarahkan mereka dalam kesempurnaan kemanusiaan mereka. Hal ini bukan menurunkan kemampuan ketertarikan mereka. Seperti disebutkan awal, kita perlu mendorong keterbukaan yang tepat terhadap mereka. Menyangkali berarti mematikan! Tetapi kita harus menerima identitas berdasarkan seksualitas mereka yang sebenarnya. Saya menyarankan Anda memandang mereka yang tertarik sesama jenis sebagai sesama manusia. Hal ini menghancurkan dinding pemisah yang tegas terhadap dualisme homoseks. Di samping itu juga akan menghancurkan
32

Tidak seperti banyak komentar terhadap penyimpangan heteroseksual, homoseksual telah menimbulkan perselisihan besar dalam gereja saat ini. Kita dibingungkan dengan berbagai pertanyaan seperti: Apakah itu salah? Apakah itu dari lahir dan tidak dapat diubahkan? Dapatkah Anda menjadi orang Kristen gay? Kebanyakan ketagihan dan pelecehan seksual tetap dianggap tidak bermoral. Tetapi terhadap homoseksual banyak penghakiman yang salah seperti tidak ada toleransi, kasar dan tidak sesuai budaya sekarang. Melalui buku ini, kita akan memaparkan cara-cara terbaik memahami orang-orang yang berjuang dengan homoseksual: Apa yang menyebabkan perjuangan dimulai dan apa yang terjadi terhadap orang-orang dengan ketertarikan sesama jenis ketika menemukan hubungan seks mereka saat ini seperti yang didukung dunia. Kita akan melihat maksud penciptaan Tuhan bagi pria dan wanita. Baik Yesus dan kitab Kejadian mencatat banyak hal mengenai orang-orang yang bergumul dengan homoseksual dan gembala mereka. Dalam terang Firman Tuhan mengenai seksual dan homoseksual, kita akan mendiskusikan cara terbaik menyatakan Injil kasih Allah kepada orang-orang demikian, yaitu dengan memperhatikan masalah seksual mereka, hindarkan menarik diri dan tidak memberi perhatian kepada mereka. Dan kita akan mengarahkan isu-isu tersebut kepada para gembala, masyarakat dan orang-orang yang terlibat. Tujuan kita adalah memfasilitasi bentuk komunitas gereja, sehingga dapat memahami dan menyikapi pergumulan homoseksual dengan belas kasihan dan anugerah yang benar sesuai kebenaran. Perubahan Gereja Gereja-gereja di seluruh Amerika terpecah dalam masalah ini, khususnya denominasi utama Protestan. Hampir setiap kumpulan orang-orang Kristen terlibat dalam perdebatan panas mengenai homoseksual. Bahkan beberapa denominasi dihadapkan pada ujian para pelayan yang mempersoalkan ortodoksi gereja mengenai pemberkatan atau pernikahan praktek homoseksual. Homoseksual memisahkan orang-orang Kristen konservatif dan liberal lebih dari berbagai topik termasuk aborsi dan jabatan wanita dalam gereja. Apa tanggapan kita sebagai pemimpin-pemimpin gereja? Bagaimana kita memahami Kerajaan Allah datang untuk masalah homoseksual? Pertama harus diingat bahwa kita sebagai gembala dipanggil untuk orang-orang, bukan untuk masalah sosial. Menjauhkan isu homoseksual adalah menjauhkan diri kita sendiri dari konflik nyata yang dihadapi orang-orang yang kita layani. Setiap orang suatu saat harus memilih untuk menerima dan masuk ke Kerajaan Allah. Ini adalah sebuah pelayanan bagi kita untuk melayani Tuhan dalam karya agung-Nya.

33

Bagaimanapun perhatian kita yang terus tertuju pada kondisi nasional adalah penting bagi kita bila kita ingin meraih tantangan yang sangat nyata yang dihadapi masyarakat kita. Menempa identitas seksual bukan tugas yang mudah dalam kebudayaan yang memberikan kita banyak pilihan. Tidak lama lagi kita menganggap bahwa mereka yang mencari Yesus termasuk kita, menerima homoseksual sebagai hal yang normal dan benar. Dua puluh tahun lalu, seorang bergumul dengan konflik ketertarikan sejenis. Sekarang menjadi pertanyaan, “Mengapa tidak aku rayakan diriku yang sebenarnya?”

Orang-orang kini lebih terbuka mengenai homoseksual mereka daripada waktu lalu. Ini mengisyaratkan tantangan bagi semua. Anda dan jemaat Anda harus siap memberikan respon yang jelas terhadap pernyataan diri seperti itu. Tidak lama lagi kita boleh berdiam atau sementara menuju pergumulan mengenai homoseksual. Dan tidak lama lagi orang-orang Kristen yang bergumul tersebut dapat melakukannya dengan diam-diam. Diam adalah kematian; pengakuan adalah syarat permulaan hidup baru. Kebudayaan saat ini dengan segenap kekuatan menarik setiap pribadi memeluk homoseksual mereka. Ini harus dihadapi secara efektif dengan pemberitaan Kerajaan Allah bahwa Yesus menerima semua orang berdosa.

Ciri-ciri Cowok yang Diincar Homoseksual6
Anda pria yang digilai lelaki homoseksual? Atau barangkali anda pria yang pernah jadi objek seks pria-pria homo itu? Jika benar anda punya pengalaman tersebut, berarti anda termasuk lelaki yang menarik secara seksual di mata mereka. Nah, seperti apakah rupa lelaki pemicu birahi pria homeksual? * Lelaki berwajah feminim lebih disenangi, lantaran rupa pria tersebut dinilai punya karakter yang tak kasar. Disamping itu pria berwajah 'perempuan' sengaja jadi pilihan, sebab secara psikis bisa diposisikan sebagai wanita saat berduaan.

6

http://helda.info/2009/03/kaum-homoseks-bagaimana-kita-menyikapinya/. Gambar ini adalah jepretan laman seperti yang ditampilkan pada tanggal 17 Nov 2009 .

34

* Lelaki kere (miskin). Mengapa keberadaan materi jadi ukuran? Kerap kondisi miskin itulah yang jadi peluang bagi pria homo untuk menguasai pria idamannya (materi dan seksual). * Lelaki dengan gaya berjalan agak membungkuk. Di kalangan wanita ada mitos tentang pria yang cara berjalannya agak membungkuk. Pria tersebut mampu memuaskan kebutuhan seks pasangannya. Mitos ini juga lumayan tersanjung dikalangan homoseksual. * Lelaki lugu (bukan bego). Lelaki berkarakter lugu jadi incaran, karena bisa dikendalikan semaunya. Baik itu saat beraktivitas seks, maupun dalam pola hidup keseharian. Begitulah ciri-ciri lelaki yang disukai para homoseksual. Bila anda salah satu diantaranya, saya mohon ditambahkan beberapa poin kriteria pria yang diidolakan kaum homoseksual. Buat teman-teman homo, maju terus pantang mundur. Jangan maju mundur melulu.

Ciri-ciri Remaja Bergejala Homo7
Kelainan seksual ini telah melanda lapisan masyarakat. Bahkan teroganisir dengan kuat dan rapi. Jutaan masyarakat maju seperti di Amerika, Eropa sampai masyarakat miskin di berbagai kawasan kumuh terkena kelainan seksual ini. Kelainan seksual ini bercirikan masing-masing jenis merasa cukup dengan jenisnya sendiri. Maksudnya laki-laki senang mengadakan hubungan dengan laki-laki. Perempuan puas dengan perempuan lain. Ciri-ciri Remaja Bergejala Homo; 1. Remaja ini lebih senang bergaul dengan anak-anak berjenis kelamin sama dan berusia di bawahnya. 2. Biasanya anak ini takut berbicara dengan lawan jenisnya. 3. Sebagian besar remaja pria senang memakai anting pada satu telinga atau dua. Memakai pakaian yang feminin, dan kurang menyukai kegiatan-kegiatan kelelaki-lakian. 4. Remaja putri berpakaian seperti atau menyenangi kegiatan yang biasa dikerjakan laki-laki. Kenapa anak bisa menjadi homoseksual? Kelainan seksual yang sudah berumur tua ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya: 1. Anak-anak, khususnya remaja homo biasanya memiliki ayah yang dingin. Ayah secara fisik dan kejiwaan biasanya kaku dalam mengungkapkan perasaannya. Jarang terlibat dalam kehidupan anaknya.

7

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2608183. Gambar ini adalah jepretan laman seperti yang ditampilkan pada tanggal 19 Okt 2009.

35

2. Remajanya ini biasanya memiliki ibu yang terlalu besar pengaruhnya dalam keluarga. Dalam keseharian terlalu mengingat dan pengambilan segala keputusan. lbu sering tidur dengan anak laki-lakinya dan mengabaikan ayah. 3. lbu atau kakak parempuan biasanya tidak malu-malu mengganti pakaian/buka baju di depan anak atau adiknya. Mareka menganggap anak laki-laki seperti anak perempuan. 4. Baik ayah atau ibu jarang mendorong anak laki-lakinya untuk melakukan kegiatan kelaki-lakian atau sikap kelaki-lakian dalam diri anak. 5. Bagaimana perasaan ayah atau ibu terhadap jenis kelaminnya sendiri akan mempengaruhi identitas seksual anak. Misalnya jika ibu merasa bangga menjadi wanita, maka demikian anak perempuan kita. 6. Perlakuan dan sikap rnasing-masing orang tua pada jenis kelamin anak. Misalnya ada ayah yang lebih sayang pada anak perempuannya dan keras pada anak laki-lakinya. Remaja akan menangkap kesan bahwa jenis kelamin wanita lebih disukai di rumah ini dibanding laki-laki. Hal ini membuat anak akan berpikir ingin menjadi anak perempuan supaya disayang ayah. Yang Sudah Terlanjur Meski tedambat, bagi orang tua yang mempunyai anak homo jangan putus asa. Lebih baik berbuat daripada tidak sama sekali. Berikut ini beberapa kiat : 1. Ayah harus lebih banyak bergaul dengan anak laki-laki. Pengalaman menunjukkan jika anak belum terlibat jauh kegiatan homo seksual, masih bisa disembuhkan. 2. Berikan dan lakukan kegiatan kelaki-lakian. Ini bukan berarti anak-anak tidak boleh bermain dengan kegiatan kewanitaan. 3. Batasi pengaruh ibu dalam kegiatan sehari-hari. Ingatkan pada ibu bahwa dia tidak harus memonopoli pengambil keputusan dan kebijakan keluarga. 4. Bicaralah secara terbuka dan terarah dengan anak-anak. Kita harus mempersiapkan anak menghadapi masa depannya. Kita harus kompak dan mau mendengar anak. Jangan hentikan pembicaraan anak dengan titik tapi koma. Maksudnya, tutuplah pembicaraan dergan "Ingatlah nak, ayah dan ibu senang sekali jika kamu mau meneruskan pembicaraan kita. Ayah dan ibu akan memberikan jawaban yang sejujurnya.” Pendeketan ini menunjukan orang tua peduli pada anaknya. 5. Gunakanlah pendekatan agama. Artinya, secara dini anak sudah ditanamkan nilai-nilai dasar keagamaan. Sehingga ketika tumbuh besar, nilai-nilai agama masih menjadi pegangannya lain.

Bagaimana Memahami dan Menolong Kaum Homoseksual?8
8

36

Tidak mudah bagi kita untuk bisa melakukan sesuatu yang berbeda bagi orang lain, terlebih lagi kepada kaum homoseksual. Masyarakat sudah terbiasa memperlakukan mereka sebagai orangorang yang harus dihindari, ditakuti bahkan harus dikucilkan dari pergaulan. Jika demikian, bagaimana kita bisa memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda dengan orang lain? Simak tanya jawab berikut ini. Bagaimana tahapan-tahapan seseorang menjadi homoseks? Biasanya seseorang menyadari identitas seksualnya pada usia 3 atau 4 tahun. Namun seseorang akan menyadari seksualitasnya, ketertarikannya, gairah, dan dorongan-dorongan seksualnya pada waktu mereka menginjak usia remaja. Pada masa ini pulalah, seseorang yang memang orientasinya homoseksual menyadari bahwa dia tidak tertarik kepada lawan jenisnya, dia jauh lebih tertarik secara seksual dengan sesama jenis. Saat dia menyadari itu, mulailah dia masuk ke dalam FASE KEBINGUNGAN. Kebingungan dalam pengertian mereka bertanya-tanya mengapa saya begini dan mengapa saya berbeda. Dia tidak merasakan bisa pas masuk ke dalam kelompoknya karena teman-temannya pasti membicarakan tentang lawan jenisnya, sedangkan dia tidak bisa bicara seperti itu. Dia mulai merasa berbeda dengan teman- temannya. Fase ini akan membawa dia ke FASE PENYANGKALAN. Saya tidak mau menjadi seperti ini, saya normal, saya sama seperti orang lain, saya heteroseksual, saya tidak ada bedanya dengan teman-teman saya. Dia akan terus menggumuli dan melawannya, itulah sebabnya kita perlu berempati, dan menyadari bahwa tidak ada satu anak remaja pun yang akan dengan senang hati menyambut bahwa dia itu seorang homoseksual. Mereka akan merasa ketakutan, bingung, dan tertekan sekali sebab mereka tidak mau menjadi orang yang berbeda dengan orang lain, mereka ingin menjadi sama seperti teman- temannya, ini adalah suatu penderitaan tersendiri bagi mereka. Akhirnya, mereka menyadari bahwa mereka memang berbeda dan mereka tidak bisa mengatasinya. Masuklah dia ke dalam FASE MENCARI. Ada suatu kerinduan mereka untuk bertemu dengan orang yang sama atau senasib seperti dirinya. Ini adalah kerinduan untuk dimengerti, untuk mendapatkan teman yang sama, yang bisa memahami dilemanya. Tanpa disadari, mulailah dia mencari. Akhirnya mereka bertemu dengan yang sama sebab memang akan ada yang sama dalam lingkungan mereka. Waktu bertemu, mulailah terjalin suatu hubungan yang akrab karena mungkin sekali temannya itu menghadapi dilema yang sama dan juga sedang mencari teman-teman yang
37

sama sepertinya. Mereka menceritakan bahwa inilah yang mereka alami, ketertarikan- ketertarikan kepada sesama jenis. Setelah itu, kemungkinan besar yang terjadi adalah eksperimen seksual. Ini seringkali menjadi suatu titik berangkat dimana mereka sekarang akan lebih dicenderungkan untuk mengembangkan bukan saja orientasi homoseksual namun juga perilaku seksual, yaitu ingin terus berhubungan seksual dengan sesama jenisnya. Meskipun sudah tahu dan mereka menyadari bahwa mereka adalah homoseksual dan tidak bisa lagi menghilangkannya, biasanya setelah eksperimen seksual itu terjadi akan ada pergumulan. Fase ini disebut FASE PERGUMULAN. Sekarang pergumulannya lebih dalam lagi, yaitu mereka menyadari bahwa ini bukan saja keinginan tapi sudah menjadi tindakan. Jadi ada keinginan untuk tidak seperti itu, saya ingin kembali lagi sama, saya ingin mencoba lagi menjadi orang yang sama. Tidak jarang ada homoseksual yang akhirnya bertekad menikah, bukan untuk menipu pasangannya, bukan untuk mengelabui orang lain, melainkan karena mereka ingin mengalahkan dorongan itu dan mereka berpikir bahwa dengan menikah mereka berharap mudah-mudahan dorongan seksual ini akhirnya bisa hilang. Bisa atau tidak memang tergantung dengan siapa kita berbicara. Seseorang yang memang ingin membela keyakinan bahwa ia dilahirkan sebagai homoseksual, dan tidak ada salahnya dengan diri seorang homoseksual, akan berkata terimalah itu, mengapa mesti memikirkan berubah. Tapi kita memiliki suatu titik berangkat, yaitu firman Tuhan yang tidak mengizinkan seseorang melakukan hubungan seksual dengan sesama jenisnya. Jadi, memang ada orang yang memasuki FASE PENERIMAAN, menerima apa adanya, tidak usah lagi melawan saya, dan menikmati hidup sebagai seorang homoseksual. Tapi Tuhan menghendaki kita TIDAK MEMASUKI FASE PENERIMAAN itu, seyogyanyalah kita terus berjalan di dalam fase pergumulan. Sebagai teman sepersekutuan atau teman segereja, bagaimana sikap kita menghadapi kenyataan seperti itu? Kita mesti menekankan cara Tuhan menghadapi manusia, yaitu Tuhan sebagaimana Tuhan Yesus pernah berkata: "Aku datang bukan untuk menghakimi tapi menyelamatkan manusia dari dosa." Jadi Tuhan selalu menggunakan cara pendekatan cinta kasih, Tuhan melihat kita berdosa, Tuhan terus memanggil kita, Tuhan terus menantikan kita. Demikian pula dalam menghadapi teman kita yang homoseksual. Respon kita haruslah tidak menjauhinya, tidak mengejeknya, tidak menghinanya, tidak memberi dia label-label tertentu. Justru kita harus bersimpati terhadap dia dan tetap berteman dengannya. Kita harus menyadari bahwa seseorang menjadi homoseksual, biasanya setelah mengalami pergumulan yang luar biasa beratnya, mereka juga ingin sama seperti orang
38

lain. Jadi kita mesti memahami sisi penderitaan itu, selain itu kita juga mesti memahami bahwa mungkin sekali ada pengaruh genetik di dalam orientasi itu sehingga mereka lebih cenderung seperti itu. Kalaupun misalkan faktor genetiknya tidak sekuat dengan faktor lingkungan, kita tetap harus mengakui bahwa jika kita dibesarkan dalam lingkungan seperti itu, kita mempunyai kecenderungan yang sama dengan dia. Jadi kita tidak boleh mempunyai sikap benar sendiri, mempunyai sikap sombong, saya ini suci, engkau ini tidak suci atau saya ini bersih engkau ini kotor, kita tidak bisa mempunyai sikap seperti itu. Kita mesti menyadari bahwa dia mengalami suatu penderitaan yang berat dan kita mau menolongnya, itu yang harus kita lakukan, kita mau menolongnya. Sebab saya kira kalau kita datang dengan sikap mau menolong, mau membantu, dia akan lebih terbuka untuk membuka diri dan membiarkan dirinya ditolong oleh kita. Lalu apa yang bisa dilakukan untuk menolong mereka sampai tuntas? Yang paling praktis adalah membentuk suatu kelompok, di mana kalau bisa, terdiri dari orang-orang yang mempunyai pergumulan tentang homoseksualitas. Di sana kita adakan kelompok tumbuh bersama, berdoa bersama, dan menguatkan satu sama lain. Jadi tujuan yang PERTAMA untuk mengubah orientasi mereka sehingga mereka menjadi heteroseksual. Tujuan yang KEDUA, selama belum menjadi heteroseksual, hiduplah kudus di hadapan Tuhan sebagai seorang yang single yang tidak menikah. Kaum homoseksual juga bisa hidup selibat, mempersembahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan dan itu akan menjadi persembahan yang akan Tuhan terima asalkan dia tidak melakukan hubungan seksual dengan orang lain. Jadi orientasi itu mungkin tetap ada di dalam dirinya dan masih dalam pergumulan untuk hilang dari dalam dirinya, tapi dia tidak melakukan hubungan seksual dengan orang lain. Dia menjaga dirinya kudus dan untuk ini mungkin perlu kelompok yang saling mendukung, saling menguatkan dan saling mendoakan

Apa Penyebabnya?9
Penyebab homoseksual juga tdk hanya satu, melainkan multifaktor; mulai dr bawaan lahir hingga pengaruh lingkungan.Bagi kebykkan org,orientasi seksual muncul pd masa remaja tanpa ada pengalaman seksual sebelumnya.Bahkan ada sebgn org yg gagal mengubah orientasi seksual mereka dr homoseksual ke heteroseksual stlh berusaha keras selama berthn2.Atas kenyataan tsb para psikolog tdk menggangap orientasi seksual sbg pilihan yg diambil secara sadar dan dapat diubah bila mau.

9

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=2796.35;wap2. Gambar ini adalah jepretan laman seperti yang ditampilkan pada tanggal 29 Okt 2009.

39

Mengapa seorang laki-laki atau perempuan bisa tertarik pada sesama jenisnya (homoseksual / lesbian) ? Pertanyaannya cukup menarik karena homoseksual merupakan gejala yang pada akhir-akhir ini semakin menonjol dan dampaknya semakin mengkhawatirkan. Ditemukan dimana-mana terutama pada kota-kota besar dan jumlahnya semakin cenderung semakin bertambah banyak. Di negara-negara penganut sistem liberalisme yang sangat mengagung-agungkan hak asasi manusia (HAM), kelompok ini menjadi semakin kuat. Mereka bahkan punya wakil-wakil di DPR / MPR nya, bisa kawin/nikah secara resmi di antara kelompoknya dan gereja "terpaksa" harus melayani "pemberkatan nikah" antara mereka. Banyak pertanyaan muncul bersamaan dengan timbulnya gejala ini. Apakah penyebabnya ? Seseorang memiliki perangai homoseksual/lesbian disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu : 1. Faktor keturunan (akibat kelainan gen); misalnya akibat kelebihan atau kekurangan cromosom X atau Cromosom Y. seperti: 45 XO, 47 XXY, 47 XYY atau 47 XXX. Angka kejadian kelainankelainan ini tidak terlalu banyak diantara kelompok homoseksual. Bahkan tidak semua individu dengan kelainan ini menunjukan gejala homoseksual. 2. Faktor hormon (akibat pengaruh hormon laki/wanita yang dihasilkannya); misalnya akibat kelebihan atau kekurangan hormon testoteron, ekstrogen atau progesteron. Oleh sebab itu, tidak jarang pengobatan homoseksual yang diberikan adalah hormon pengganti untuk mengimbangi kelebihan atau kekurangan hormonnya. Biasanya kelompok ini disebabkan oleh karena kelainan genetik juga seperti yang tersebut diatas. 3. Faktor lingkungan atau pendidikan/asuhan dimasa kecilnya. Misalnya, jenis permainan, pakaian yang digunakan, pemilihan teman bermain, dan lain-lain. Faktor ini sangat berpengaruh, bahkan sangat menentukan kejadian homoseksual. Pada salah satu penelitian, ditemukan bahwa lebih dari 90% kalangan homoseksual, tidak ditemukan kelainan genetika atau kelainan hormonal. Faktor lingkungan pergaulan/ trend/ mode, dan sebagainya di duga sangat berpengaruh untuk menjadikan seseorang menjadi berperangai homoseksual. Kini film-film terutama dari Hollywood telah banyak menampilkan pasangan homoseks dengan bebas sehingga gejala ini mulai di terima di seluruh dunia karena pengaruh media. Pada saat ini, tidak jarang kita melihat sesorang pemuda dengan anting-anting di telinganya. Mungkin ini tidak punya arti sesuatu dan si pemuda itu hanya menganggap dia sedang mengikuti trend atau arus mode saat ini atau agar tidak dianggap 'kuper' atau kurang gaul dan dapat di terima di kelompok/ lingkungannya. Mereka tidak atau mungkin sudah tahu ? bahwa sebetulnya
40

pada awalnya penggunaan anting di telinga (kiri atau kanan) merupakan tanda/ciri khas suatu kelompok penganut homoseksual agar dapat saling mengenal dan berkomunikasi di antara sesama kelompoknya. Tidak jarang juga ditemukan orang dengan perangai 'biseksual', orang ini memiliki istri atau suami sendiri (heteroseksual), namun juga melakukan praktek/ kegiatan seksual dengan pasangan yang sama jenis kelaminnya (homoseksual). Penyebab seorang wanita menjadi homoseksual adalah: 1. Lingkungan yang menolak nilai-nilai atau hal-hal yang bersifat feminin itu, misalkan ia dibesarkan di rumah atau di keluarga dan di lingkungan di mana harus bersikap seperti laki-laki karena mungkin tuntutan hidup yang sangat keras sejak kecilnya sehingga dia harus benar-benar bertingkah laku seperti pria. 2. Mengalami kepahitan atau trauma dalam kehidupan

Apakah Homoseksual itu Gangguan Jiwa?10
“Jadi orang tuh jangan setengah-setengah!”, kata teman yang duduk di samping saya sewaktu kami sedang makan malam bersama.”Jangan mau jadi amfibi seperti seperti kepiting ini!”, lanjutnya sambil mengacungkan capit kepiting saos padang di tangannya yang sebentar lagi akan bergabung dalam adonan asam lambungnya. “Iye, jangan mau juga jadi manusia yang setengah mateng, ga cowok maupun cewek!”, timpal teman saya yang lain sembari disambut ketawa riuh dari kami semua. “ Telor kaleee..!”, sahut saya tidak ketinggalan. Seloroh di belakang meja makan itulah yang memberi saya inspirasi menuliskan tentang “manusia setengah matang tadi”, maksud saya tentang komunitas homoseksual dan banci.

Bagaimana homoseksualitas dalam Sejarah? 11
Sejak zaman India kuno ini bisa dibaca di buku Kamasutra. Penolakan yang paling umum di dalam masyarakat adalah karena homoseksualitas tidaklah alami dan melanggar hukum alam. Miriam Rothschild, seorang ahli biologi ternama, telah menunjukkan bahwa perilaku homoseksualitas juga telah ditemukan dalam hampir semua jenis spesies hewan. Kedua, walaupun bisa disanggah bahwa funsi biologis dari seks adalah reproduksi, kebanyakan hubungan seksual

10 11

http://www.wikimu.com/News/Print.aspx?id=10049. Gambar ini adalah jepretan laman seperti yang ditampilkan pada tanggal 24 Okt 2009

http://www.freelists.org/post/nasional_list/ppiindia-Mang-Ucup-love-Gay-Lesbian. Gambar ini adalah jepretan laman seperti yang ditampilkan pada tanggal 8 Sep 2009.

41

dewasa ini bukanlah untuk tujuan reproduksi, melainkan sebagai hiburan dan pemuasan emosi, dan bahwa ini juga merupakan fungsi sah dari hubungan seksual. Dengan demikian, walaupun hubunga homoseksual tidaklah alami dalam arti tidak bisa menghasilkan fungsi reproduksi, hubungan ini adalah alami karena bisa memberikan pemuasan fisik dan emosi bagi pelakunya. Kita seringkali mendengar,? Jika homoseksual bukanlah illegal, akan banyak orang, termasuk kaum muda, akan menjadi Gay? Pernyataan seperti ini menggambarkan kesalahpahaman yang serius terhadap homoseksualitas, atau mungkin suatu potensi homoseksualitas dalam diri orang yang membuat pernyataan tersebut. Orientasi ini adalah hasil bawaan lahir atau berkembagan sejak dini dalam diri seseorang, sama halnya dengan heteroseksualitas. Mengubah hukum yang berlaku tidaklah bisa mengubah orientasi seksual seseorang. Bahkan telah terbuktikan bahwa orang menjadi homo atau lesbis itu karena adanya pembawaan Gen Homo yg terdapat pada X-Chromosom hal inilah yg diungkapkan oleh peneliti Amerika Dean Hamer. Walaupun demikian dalam bukunya "Brain Sex" (Brain Sex : The Real Difference Between Men and Women von Anne Moir (Ph.D), David Jessel, Dell Publishing, New York, 1992) diungkapkan tidaklah benar bahwa pria menjadi homo karena sudah ada bawaan jadi bencong atau memiliki sifat femininin yg berlebihan ataupun kebalikannya dimana dinyatakan bahwa wanita jadi lesbis disebabkan karena adanya sifat kelaki-lakian yg berlebihan. Menurut Dr Magnus Hirschfeld (1868-1935) seorang Dr kandungan dari Jerman yg merangkap sebagai peneliti sex orang homo maupun lesbis itu memiliki "kelamin ketiga". Ajaran resmi gereja selalu melihat homoseksualitas sebagai menyalahi hukum alam, yang menyia-nyiakan tata abadi dunia. Sesuai ajaran Kitab Injil, menjalankan homoseksualitas, dilihat sebagai berdosa, tidak bermoral dan cenderung melawan alam. Mereka melarang kaum homo untuk menjadi Pastor dgn alasan adanya pelbagai skandal pedofili atau pelecehan seksual anak-anak, yang melibatkan para rohaniwan Katolik di Amerika Serikat, Austria dan Polandia. Perlu ditegaskan bahwa pedofili dan homoseksualitas adalah dua hal yang berbeda, tetapi korban mereka kebanyakan anak-anak laki muda. Tetapi untuk kalangan muda yang punya kecenderungan homoseksual masih ada harapan. Kalau misalnya itu berkaitan dengan kecenderungan puber yang segera berlalu, maka mereka masih bisa ditahbiskan menjadi Pastor. Syaratnya mereka harus berhasil menekan kecenderungan yang tidak alami itu paling sedikit selama tiga tahun.
42

Sedangkan para pastor yang sudah jelas homoseksualitasnya, juga tidak perlu putus asa. Koran Italia Corriere della Sera melaporkan bahwa di kota Barretos, Brasil, ada sebuah biara yang menangani para rohaniwan homoseksual ini. Para Pastor Italia yang melakukan perawatan di situ menyatakan hanya butuh waktu enam sampai tujuh bulan saja untuk menyembuhkan seorang pastor yang homoseksual. Pendapat mang Ucup sendiri, bukankah ajaran utama dari Gereja adalah Kasih, dimana letak kesalahannya apabila saya mengasihi sesama manusia. Kenapa saya dianggap berdosa apabila saya mengasihi sesama jenis? Apakah dgn saya mengasihi sesama jenis kelamin ada pihak yang merasa dirugikan ? Sang Pencipta memberikan hak kepada kita untuk memilih, tetapi kenapa pada saat saya menentukan apa yg terbaik bagi tubuh diri saya sendiri ini dinilai sebagai dosa ? Indonesia menghalalkan poligami, tetapi melarang perkawinan homo & lesbis ! Dgn memiliki istri lebih dari satu sudah jelas ada pihak yg dirugikan ialah istri pertamanya, tetapi dgn menikahi sesama jenis kelamin, saya yakin tidak ada satupun yg akan merasa dirugikan. Aneh bin nyata di Indonesia banyak orang yg merasa jijaa..ay terhadap kaum homo maupun lesbis, tetapi korupsi maupun kekerasan dihalalkan, siapa yg seharusnya lebih dibenci kaum koruptor yg jelas2 merugikan rakyat apakah kaum homo/lesbis ?

Sikap Vatikan bagaimana?12
Baru-baru ini Vatikan melalui Konggregasi untuk Pendidikan, yang membawahi seminari, mengeluarkan suatu dokumen penting. Dokumen ini berkaitan dengan orang yang homoseksual dan kemungkinannnya masuk seminari dan ditahbiskan. Dokumen itu sendiri tertanggal 4 November 2005 (pesta St.Carolus Boromeus, pelindung para seminaris), disetujui oleh Paus Benediktus XVI pada tanggal 31 Agustus 2005 namun baru dikeluarkan secara resmi pada tanggal 29 November 2005. Instruksi Vatikan setebal 6 halaman ini sebenarnya tidak berbicara tentang homoseksualitas secara keseluruhan. Homoseksualitas dibicarakan dalam kaitan dengan seleksi penerimaan, pendidikan dan tahbisan para frater.

12

Heri Kartono,OSC. (Dimuat di Majalah MENJEMAAT, awal 2006).

43

Homoseksual adalah orang yang mempunyai ketertarikan seksual terhadap jenis kelamin yang sama. Perlu dibedakan antara tendensi homoseksual dan tindakan homoseksual. Tendensi homoseksual ialah orang yang mempunyai kecenderungan tertarik secara seksual terhadap jenis kelamin yang sama. Sedangkan tindakan homoseksual adalah tindakan hubungan seksual yang terjadi antara sesama jenis. Dokumen Vatikan ini membedakan homoseksualitas menjadi dua kelompok: Yang “Deep-seated homosexual tendencies” dan Yang “Only the expression of a transitory problem”(artikel 10). Yang dimaksud dengan Deep-Seated homosexual tendencies adalah mereka yang memiliki kecenderungan kuat/berurat-akar dalam pribadinya. Tendensi jenis ini digolongkan sebagai ‘objectively disordered’, secara objektif tidak beres alias menyimpang. Orang yang memiliki kecenderungan semacam ini akan sulit untuk berelasi secara benar, baik dengan lelaki ataupun perempuan. Gereja menghormati pribadi ybs namun dengan tegas melarang ybs untuk diterima di seminari atau masuk suatu tarekat/konggregasi kudus. Selain itu, dokumen ini juga melarang dengan tegas mereka yang melakukan tindakan homoseksual dan mereka yang menyokong “gay culture” untuk diterima masuk seminari. Adapun tendensi yang disebut “Only the expression of a transitory problem” adalah kecenderungan homoseksualitas yang hanya merupakan masalah transisi perkembangan jiwa. Bila ada calon yang memiliki tendensi jenis ini, maka harus sudah beres (sudah sembuh betul) sekurang-kurangnya 3 tahun sebelum tahbisan diakon. Jika kecenderungan tersebut sudah dianggap hilang/sembuh, barulah sang calon dapat ditahbiskan sebagai diakon untuk kelak juga tahbisan imam. Dokumen Vatikan ini sebenarnya berbicara tentang kesiapan calon imam dalam jenjang pendidikan. Tentang pendidikan yang bermutu, dikatakan dalam instruksi ini, para pendidik dan pembina calon imam di seminari harus memperhatikan 4 dimensi penting dalam membentuk calon imam, agar kelak menjadi imam yang berkualitas. Ke-empat dimensi tersebut adalah dimensi kepribadian, kerohanian, pengetahuan dan pastoral. Singkat kata, seorang calon imam haruslah orang yang sehat dan matang secara afektif. Hanya orang yang matang secara afektif, dapat berelasi secara benar. Dokumen ini terutama ditujukan kepada para Uskup, para pembesar Tarekat dan para pendidik di Seminari yang bertanggung-jawab langsung atas penerimaan para calon imam.

44

Banyak orang menduga bahwa latar belakang munculnya dokumen ini adalah adanya pelbagai skandal pedofili (=pelecehan seksual terhadap anak-anak) yang melibatkan para rohaniwan katolik, khususnya di Amerika Serikat, Austria dan Polandia. Dokumen ini langsung mendapat banyak reaksi, baik reaksi positif maupun negative, khususnya di Barat. Seorang pakar Hukum Gereja, Dr. Alexander Pytlik menyambut baik kehadiran dokumen tersebut. Menurutnya, instruksi ini mengingatkan kembali tanggung jawab uskup, pembesar tarekat maupun para pembina di Seminari dalam membimbing calon imam serta dalam memutuskan apakah seorang calon layak atau tidak untuk ditahbiskan. Dr.Heike Sturm dosen teologi moral di Bonn, Jerman, menyatakan bahwa Vatikan bersikap diskriminatif dalam menyikapi persoalan homoseksual. “Dokumen tersebut menyudutkan kaum homoseksual dan masih tetap memandang kaum homoseksual secara negatif dan di sisi lain memberi keleluasaan bagi yang heteroseksual atau biseksual”, paparnya. Sementara itu, Pater Hermann Kugler SJ, ahli psikoterapi dari Munchen mengkritik sikap Vatikan yang melihat homoseksual masih seperti “penyakit psikis”. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa pada tingkat praksis, dokumen tersebut sulit dipraktekkan. Misalnya, tidak mudah melihat dan menilai seseorang memiliki kecenderungan homoseksual. Bila seseorang tidak mengakui dirinya homoseksual atau kedapatan melakukan tindakan homoseksual, bagaimana bisa diketahui ia seorang homo? Pater Timothy Radcliffe, mantan Jenderal Dominikan, dalam artikelnya di majalah Tablet menulis bahwa ada imam-imam homo yang hebat dan mereka juga jelas mendapat panggilan dari Allah. Konteks Indonesia. Skandal para imam di Indonesia dalam hal homoseksualitas atau pedofilia nyaris tidak pernah terdengar di Mass Media. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa tidak pernah terjadi kasus semacam itu. Selain itu, apakah tidak ada imam atau religius di Indonesia yang homoseksualitas? Itupun tidak ada yang berani menjamin. Dr.CB.Kusmaryanto,SCJ, dosen Pascasarjana Gajah Mada, yang dihubungi via E-mail, menulis bahwa dokumen ini tidak menjadi bahan polemik di Indonesia. Dalam khasanah umum (surat kabar dan majalah) nampaknya juga tidak ada reaksi. “Dalam perbincangan dengan
45

beberapa orang, saya tidak mendapat orang yang opisisi dengan pendirian Vatikan ini. Sebaliknya, banyak orang yang mendukungnya”, papar doktor moral lulusan Roma ini. . Peter Aman,OFM yang sedang study S3 bidang Moral menyatakan bahwa dokumen Vatikan tersebut baik dan bisa diterima, apalagi dalam konteks Indonesia. Di Barat, makna perkawinan dan keluarga sudah mulai bergeser. Demikian juga pandangan masyarakat Barat tentang kehidupan, termasuk masalah homoseksualitas sangat berbeda. Seorang imam yang diharapkan mengabdikan seluruh hidupnya demi Tuhan dalam bentuk hidup selibat, haruslah orang yang sungguh sehat dan matang pribadinya. Sejalan dengan Peter, Sr.Rina Rosalina MC mengemukakan pendapat yang hampir sama. “Saya setuju sekali dengan dokumen Vatikan ini. Seorang imam itu dituntut untuk menjadi panutan umatnya. Lha kalau imamnya homo, bagaimana dengan umatnya?”. Lebih lanjut suster kelahiran Bandung ini menambahkan, “Masyarakat di Indonesia menganggap homoseksualitas sebagai sesuatu yang tidak normal, tidak umum. Pandangan umum masyarakat ini harus dihargai, tidak bisa diremehkan begitu saja”, tandas suster yang lama bertugas di Roma ini. Pendapat yang sedikit berbeda disampaikan Anton Subianto,OSC. Ketika diminta pendapatnya, dosen filsafat Unpar ini mengatakan: “Saya sangat setuju bahwa calon imam atau religius haruslah seorang yang sehat secara jasmani dan rohani dan harus matang kepribadiannya seperti ditulis dalam instruksi Vatikan itu. Namun demikian, rasanya tidak adil bahwa orang homoseksualitas secara otomatis dianggap ‘objectively disordered’, dianggap tidak beres. Menurut saya, tidak ada jaminan bahwa orang yang heteroseksual pasti sehat rohaninya. Imam atau calon imam heteroseksual juga mempunyai kemungkinan berbuat tidak benar dalam hal seksualitas. Karenanya, masalah utama bukanlah soal homoseksual atau heterokseksual namun soal pembinaan yang baik. Bila seorang homoseksual bersedia dan berkomitmen untuk hidup selibat dan menghargai ajaran gereja, mengapa harus dihalangi menjadi imam?” papar mahasiswa Universitas Lateran program doktorat ini. Lepas dari pro-kontra atas dokumen, kita perlu menghargai niat baik Vatikan. Vatikan berharap agar gereja di masa depan tidak lagi disibukkan kasus-kasus homoseksualitas di kalangan para imamnya. Munculnya pelbagai kasus pedofilia di pelbagai tempat, sungguh telah membawa akibat buruk bagi gereja. Meskipun demikian, suatu dialog yang jujur tentang homoseksualitas kiranya perlu tetap terbuka lebar-lebar.

46

Tanya jawab seputar homoseks13
(1): Beberapa waktu yang lalu kita bicara untuk mencoba memahami orang yang berperilaku homoseksual, memang waktu itu kita banyak bicara tentang pria yang berperilaku seperti itu. Tapi kita juga mengenal istilah lesbi, apakah itu prosesnya sama? Jwb; Tidak sama. Jadi kalau kita membicarakan dari sudut bentukan keluarga ternyata memang ada perbedaan. Dalam kasus wanita yang akhirnya menjadi homoseksual, yang umumnya terjadi adalah penolakan terhadap kefemininannya atau feminitasnya. Feminitas adalah segala sesuatu yang membentuk dia menjadi seorang yang feminin atau wanita, nah apa yang terjadi, misalkan lingkunganlah yang menolak nilai-nilai feminin itu atau halhal yang bersifat feminin itu, ia dibesarkan di rumah atau di keluarga dan di lingkungan di mana harus bersikap seperti laki-laki karena mungkin tuntutan hidup yang sangat keras sejak kecilnya sehingga dia harus benar-benar bertingkah laku seperti pria. Nah pada saat-saat seperti itu yang terjadi adalah hilangnya atau kurangnya hal-hal yang feminin ke dalam dirinya itu, hal ini tidak terlalu dipengaruhi oleh faktor yang tadi kita bahas tentang hubungan antara anak laki dan ibu. Waktu kita membahas masalah itu kita mempelajari bahwa anak laki itu harus mengalihkan identifikasi dirinya yang sebelumnya kepada mama sebagai perawatnya sekarang pada usia 4, 5 tahun kepada ayahnya, nah wanita tak perlu melakukan hal itu, sebab dia telah mengidentifikasi diri dengan mamanya, ia dirawat oleh mama. Namun tatkala dia mulai besar di mana lingkungan menolak sifat-sifat feminin dia terpaksa akhirnya mengembangkan perilaku-perilaku maskulin dalam dirinya. Sehingga yang terjadi adalah akhirnya dia melepaskan diri dari feminitasnya itu dan mengadopsi sifat-sifat yang maskulin, itu kemungkinan yang pertama. (2)) Kalau kita melihat anak yang tomboi, rambutnya pendek, lalu lebih sering memakai celana panjang daripada rok dan sebagainya apakah kecenderungan seperti itu bisa disebut sebagai tandatandanya? Jwb: Kalau perilaku tersebut bertahan sampai usia dewasa kemungkinan sekali ya, dia akhirnya akan bertumbuh menjadi seorang homoseksual. Saya mempunyai pengamatan bahwa kalau wanita menjadi omoseksual pada umumnya tidaklah separah pria, jadi lebih mudah untuk membawa
13

http://www.angelfire.com/anime/elishaerick/Artikel10.html. Gambar ini adalah jepretan laman seperti yang ditampilkan pada tanggal 30 Okt 2009.

47

wanita kembali ke perilaku atau orientasi heteroseksual dibandingkan membawa pria kembali ke orientasi heteroseksual. Sebabnya adalah karena penolakan atau pengidentifikasian proses tadi yang akhirnya mencenderungkan pria menjadi homoseksual. Sedangkan wanita kalaupun dia mulai mengembangkan perilaku homoseksualnya, biasanya itu terjadi pada usia yang lebih lanjut. Misalkan yang lain juga tentang lingkungan di mana tadi saya katakan lingkungan seolah-olah menolak feminitasnya. Misalkan dia adalah seorang wanita yang normal seperti biasanya heteroseksual dia berkeluarga mempunyai anak, kemudian pada usia dewasanya dia mengalami kepahitan akibat suaminya yang jahat akhirnya dia hidup sendirian. Nah, mungkin sekali pada masa dia sedang sengsara, dibuat susah oleh suaminya ini dia berkenalan dengan sesama wanita yang memang sudah punya kecenderungan homoseksual, karena mendapatkan kasih sayang yang begitu berbeda dari seorang wanita, dia akhirnya masuk ke dalam perilaku homoseksual dan menjadi seorang homoseksual itu yang juga bisa terjadi pada kaum wanita. (3) Berarti itu tahapan-tahapan atau suatu perkembangan yang terjadi baik pada pria maupun pada wanita? Jwb: Ya jadi kalau pria biasanya berawal lebih dini, wanita pada umumnya berawal lebih besar dan kalau boleh saya gunakan istilah internal/eksternal, yang pria lebih internal, lebih ke dalam yang wanita itu pengaruhnya lebih eksternal. Meskipun bisa juga akibat hubungan antara dia dan ibunya, nah ini juga lebih mengarah ke internal tapi meskipun demikian menurut saya tidaklah seinternal hubungan yang tadi yang dalam kasus anak pria. Maksud saya dengan ibu adalah begini, dia itu juga mengalami penolakan feminitas dari pihak ibu, misalkan ibunya tidak dekat dengan dia, ibunya agak jauh dari dia dan di rumah itu misalkan banyak anak-anak lakinya, dan yang dihargai di rumah itu adalah sifat laki-laki itu. Nah, si ibu memang tidak menghargai sifat-sifat kewanitaan sebab ada ibu-ibu yang memang tidak suka menjadi wanita, melihat dirinya menjadi korban pria dan dirugikan oleh pria sehingga dia lebih menghargai yang namanya laki-laki dibandingkan dengan wanita. Nah, penolakan yang memang tidak langsung ini bisa dialami dan dirasakan oleh si anak sejak kecil, karena dia tidak mendapatkan yang feminin itu dari mamanya akhirnya dia lebih mendapatkan atau lebih menyerap yang maskulin atau sifat-sifat yang pria dari orang-orang lain di rumahnya. Itu bisa juga menjadi faktor pencenderung.
48

(4) Nah, kalau mereka itu dikatakan lesbian, mereka itu bisa juga punya anak, punya keluarga, itu bagaimana hubungan dengan partnernya sendiri. Apakah mereka itu bisa harmonis menikmati hubungan sebagaimana adanya? Jwb: Pada umumnya tidak, pada umumnya kaum homoseksual yang terpaksa harus menikah tidak menikmati hubungan dengan suami atau istrinya. Namun ada kemungkinan mereka masih bisa menunaikan kewjiban seksual mereka dengan melakukan hubungan itu. Tapi saya kira dalam pengertian menikmati sekali saya rasa ya tidak itu yang saya dengar dari pengakuan orang yang akhirnya melakukan hubungan dengan lawan jenis dalam pernikahan. (5) Juga perhatiannya pasti juga kurang dengan pasangannya sendiri? Jwb: Betul, sebab ada kecenderungan mereka tetap mencari-cari kemungkinan, supaya bisa berhubungan dengan sesama jenis. Otomatis karena terus mencari-cari kemungkinan tersebut sehingga tidaklagi memberikan perhatian yang seharusnya kepada pasangan hidupnya itu, (6) Tapi apakah dengan menyangkal itu dia lalu selesai masalahnya, 'kan tidak, itu sudah menjadi bagian di dalam kehidupannya. Jwb: Justru itu, mereka terus manyangkali, mereka mencoba melawan dorongan-dorongan ini, tapi akhirnya mereka menyadari, bahwa mereka memang tidak bisa berbeda dan mereka tidak bsa mengatasinya, dorongan itu tetap ada dalam dirinya tidak bisa dihilangkan. Nah masuklah dia ke dalam fase mencari, mencari apa, sebetulnya ada suatu kerinduan mereka bertemu dengan orang yang sama seperti dirinya atau orang yang senasib. Ini belum masuk ke dalam hubungan seksual, jadi ini adalah kerinduan untuk dimengerti untuk mendapatkan teman yang sama yang bisa memahami dilemanya. Tanpa disadari mulailah dia mencari, maka pada tahap ini kecenderungan remaja ini akhirnya mereka bertemu dengan yang sama sebab memang akan ada yang sama dalam lingkungan mereka. Nah waktu bertemu mulailah terjalin suatu hubungan yang akrab karena mungkin sekali temannya itu menghadapi dilema yang sama dan sedang mencari-cari juga teman-teman yang sama sepertinya. (7) Tapi sebenarnya pergaulan seperti itu 'kan makin memperkuat kondisi dia sebagai seorang yang homoseksual Pak? Jwb: Sering kali begitu, akhirnya mereka bercerita bahwa inilah yang mereka alami ketertarikanketertarikan kepada sesama jenis. Nah, setelah itu kemungkinan besar yang terjadi adalah
49

ekspermen seksual, anak-anak remaja cenderung melakukan eksperimen seksual, pegang-pegang alat kelamin sesama pria dan sebagainya. Tapi itu tidak menjadikan mereka homoseksual, namun kalau memang orientasi ini berlangsung terus kemudian bereksperimen secara seksual, maksudnya berhubungan seksual dengan sesama jenis, nah hubungan ini sering kali menjadi suatu titik berangkat, suatu rel yang akan mereka jalani yaitu mereka sekarang akan lebih dicenderungkan untuk akhirnya mengembangkan bukan saja orientasi homoseksual namun juga perilaku seksual yaitu ingin Namun yang paling penting adalah kita mengerti jelas posisi kita sebagai orang Kristen, memang ada orang-orang yang memanggil diri Kristen dan mungkin sekali Kristen, saya tidak berani menghakimi mereka dan mereka berkata tidak apa-apa di mata Tuhan, karena Tuhanlah yang menciptakan saya apa adanya. Jadi kalau Tuhan menciptakan saya homoseks ya saya menerima kodrat ini sebagai pemberian Tuhan. Masalahnya adalah kalau saya membuka dan mempelajari firman Tuhan dengan jelas misalnya di Perjanjian Lama, di Kejadian jelas waktu Tuhan menghukum Sodom dan Gomora, salah satu dosa yang Tuhan sebut adalah yaitu perilaku homoseksual di mana orang-orang di sana berhubungan seksual dengan sesama jenisnya. Maka waktu malaikat-malaikat datang ke rumah Lot ingin memberitahukan Lot untuk pergi dari Sodom dan Gomora, orang di Sodom dan Gomora mau berhubungan seksual dengan para malaikat itu, sebab mereka melihat para malaikat itu adalah pria-pria yang ganteng. Jadi Tuhan menghukum mereka karena perbuatan itu dan di Korintuspun ditekankan kembali, tidak bisa masuk ke Surga karena salah satunya disebut homoseksual juga. Dan di Roma pasal 1 yang nanti mungkin saya akan baca lagi ditegaskan bahwa tidak, ini adalah orang-orang yang telah meninggalkan naluri naturalnya dan berhubungan dengan sesama jenis yang Tuhan tidak kehendaki pula. Di kitab Imamat dikatakan perilaku seksual yang tidak boleh adalah misalnya berhubungan dengan binatang atau mempunyai hubungan seksual dengan wanita yang sedang menstruasi dan sebagainya. Salah satunya yang juga disebut oleh Alkitab di kitab Imamat adalah hubungan seksual dengan sesama jenis. Jadi kalau orang berkata Alkitab membolehkan, saya kira ya terpaksa orang itu mendistorsi Alkitab, sebab saya kira terlalu jelas untuk kita itu mendistorsikannya. Tapi di pihak lain saya juga secara pribadi mau mengatakan saya mengerti ya penderitaan ini meskipun tidak bisa mengerti sepenuhnya, tapi saya kira orang Kristen perlu dengan cinta kasih menghadapi mereka. Tuhan menentang perilakunya tetapi Tuhan menerima orangnya.
50

*******

51

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->