P. 1
Makalah Pancasila

Makalah Pancasila

|Views: 280|Likes:
Published by masbidin
Makalah Pancasila masbidin
Makalah Pancasila masbidin

More info:

Published by: masbidin on Oct 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/20/2014

pdf

text

original

MAKALAH

“MEMAHAMI SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA”

OLEH : MOHAMMAD ZAENAL ABIDIN NIM : 2011470171 S1-TEKNIK INFORMATIKA DOSEN : Ir. DENI ALMANDA MT,

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa karena atas karunia dan penyertaan-Nya, makalah yang berjudul “Memahami Sila Ketuhanan Yang Maha Esa” ini dapat terselesaikan meskipun masih terdapat kekurangan di dalamnya. Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang penulis peroleh dari internet yang berkaitan dengan Pancasila, serta infomasi dari media massa yang berhubungan dengan falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia, tak lupa penyusun ucapkan terima kasih kepada pengajar matakuliah Pancasila atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini. Juga kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah mendukung sehingga dapat diselesaikannya makalah ini. Penulis harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua. Dalam hal dapat menambah wawasan kita mengenai Pancasila yang ditinjau dari aspek filsafat atau falsafah, khususnya bagi penulis. Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.

Jakarta, 16 April 2012

Penulis

INTISARI
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sila pertama dalam Pancasila. Dimana sila ini telah menjiwai sila ke-2 sampai sila ke-5. Karena berkaitan dengan moralitas dan norma-norma dalam kehidupan. Sehingga sila ini menjadi sila terpenting sebagai kunci dasar untuk menjalankan sila-sila selanjutnya. Untuk mencapai tujuan bangsa maka sila Ketuhanan Yang Maha Esa haruslah ditekankan kepada setiap individu. Supaya setiap individu menjalani kehidupan sehari-hari sesuai dengan agama yang telah diyakininya. Memang di negara kita terdapat berbagai macam agama. Tetapi kita tidak boleh memaksakan seseorang untuk memeluk agama yang kita anut. Karena dalam hal ini negara telah memberikan jaminan kepada semua umat untuk beribadah sesuai dengan agama masing-masing. Sehingga sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sumber inspiratif negara untuk lebih kreatif, inovatif dan berkembang. Misalnya kemajuan dalam hal IPTEK haruslah didasarkan pada sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Agar tidak disalah gunakan dan berdampak positif bagi negara.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Di zaman yang semakin modern ini banyak sekali yang mengabaikan kewajiban seorang hamba untuk menyembah Tuhannya. Benarkah ? Memang saat ini banyak yang telah disibukkan dengan aktivitas perkuliahan, pekerjaan, dan hal hal lainnya. Sehingga mereka lupa kewajibannya sebagai seorang hamba. Dan bahkan agama hanya dianggap sebagai status, padahal agama dapat menuntun mereka untuk kembali kepada arti pancasila yang sebenarnya. Agama merupakan landasan dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebenarnya hal ini mudah untuk di hindari asalkan kita benar benar percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga kewajiban untuk menyembah Tuhan itu menjadi suatu kebutuhan yang harus dilaksanakan. Bukan malah menjadi kewajiban yang memberatkan.

BATASAN MATERI
Banyak sekali materi tentang sila Ketuhanan Yang Maha Esa sehingga penulis membatasinya sebagai berikut : 1. Maksud sebenarnya dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Mengapa sila Ketuhanan Yang Maha Esa berada pada sila pertama dalam Pancasila ?

3. Bagaimana pelaksanaan Ibadah Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ?
4. Bagaimana keselarasan pemanfaatan IPTEK dengan pengamalan sila Ketuhanan Yang

Maha Esa ?

PEMBAHASAN
1. Maksud sebenarnya dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa Sila pertama dari Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Kalimat pada sila pertama ini menggunakan istilah dalam bahasa Sanskerta. Dalam sudut pandang bahasa sansekerta makna Ketuhanan Ketuhanan Yang Maha Esa bukanlah Tuhan Yang Satu. Lalu apa makna sebenarnya ? Mari kita bahas satu persatu kata dari kalimat dari sila pertama ini. Ketuhanan berasal dari kata Tuhan yang diberi imbuhan berupa awalan ke- dan akhiran – an. Penambahan awalan ke- dan akhiran -an dapat memberi perubahan makna menjadi antara lain : mengalami hal, sifat-sifat. Kata Ketuhanan yang berasal dari kata Tuhan yang diberi imbuhan kedan –an yang bermakna sifat-sifat Tuhan atau sifat-sifat yang berhubungan dengan Tuhan. Kata “maha” berasal dari bahasa Sanskerta / Pali yang bisa berarti mulia atau besar (bukan dalam pengertian bentuk). Kata “maha” bukan berarti “sangat”. Jadi adalah salah jika penggunaan kata “maha” dipersandingkan dengan kata seperti besar menjadi maha besar yang berarti sangat besar. Kata “esa” juga berasal dari bahasa Sanskerta / Pali. Kata “esa” bukan berarti satu atau tunggal dalam jumlah. Kata “esa” berasal dari kata “etad” yang lebih mengacu pada pengertian keberadaan yang mutlak atau mengacu pada kata “ini” (this – Inggris). Sedangkan kata “satu” dalam pengertian jumlah dalam bahasa Sanksertamaupun bahasa Pali adalah kata “eka”. Jika yang dimaksud dalam sila pertama adalah jumlah Tuhan yang satu, maka kata yang seharusnya digunakan adalah “eka”, bukan kata “esa”. Dari penjelasan yang telah disampaikan di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa arti dari Ketuhanan Yang Maha Esa bukanlah berarti Tuhan Yang Hanya Satu, bukan mengacu pada suatu individual yang kita sebut Tuhan yang jumlahnya satu. Tetapi sesungguhnya, Ketuhanan Yang Maha Esa berarti Sifat-sifat Luhur / Mulia Tuhan yang mutlak harus ada. Jadi yang ditekankan pada sila pertama dari Pancasila ini adalah sifat-sifat luhur / mulia, bukan Tuhannya. Ini yang menjadi dasar mengapa bangsa Indonesia memiliki lima agama yang telah diakui. Tetapi hal ini sangat berbeda dalam pandangan Islam yang dipercaya oleh mayoritas penduduk Indonesia. Karena dalam agama Islam diarjarkan ilmu tauhid yaitu mengesakan Tuhan yang berarti Tuhan itu satu. Dan ajaran ini hanya diajarkan dalam agama Islam.

2. Mengapa sila Ketuhanan Yang Maha Esa berada pada sila pertama dalam Pancasila ? Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian gagasan seperti ini adalah sebagian di jadikan pedoman untuk sila pertama.

Di karenakan setiap warga wajib memeluk agama sesuai kepercayaan mereka masing – masing. Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Setiap agama memiliki kepercayaan tersendiri mengenai tuhan mereka dalam menjalankan agama mereka. Dalam beragama dapat membina kerukunan hidup di antara - sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada ketersangkutan agama dengan menghubungkan agama terhadap suatu kepercayaan hingga kepercayaan itu melebihkan agama. Indonesia yang terkenal dengan berbagaimacam agama, karena itu maka warga negara indonesia harus saling Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaanya masing masing. Dengan adanya perbedaan bukan berarti warga negara indonesia menjadi terpecah belah dan saling meninggikan agama merak masing – masing. Perlu di sadari dasar agama adalah suatu cara bagaimana manusia bisa berkomunikasi dengan sang pencipta. Setiap agama dalam melakukan komunikasi ke pada tuhan mereka melalui cara dan keyakinan masing – masing. Dalam sila pertama ini dapat di sebut sebagai hubungan horizontal atau hubungan atas dan bawah. Dengan manusia sebagai hamba dalam menjalankan setiap perintah dan larangan yang sudah tertulis atau di atur dalam setiap agama yang mereka yakini. Oleh karena itu penduduk indonesia tidak boleh memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain. Karena itu akan melanggar hak atas setiap orang memeluk agama yang mereka yakini. Karena itulah Ketuhanan Yang Maha Esa berada pada sila pertama. Sila tersebut telah menjiwai sila di bawahnya dan setiap sila di bawahnya mencerminkan dari sila pertama. Yakni dengan warga negara harus bertindak baik dan patuh dalam aturan Pemerintah Indonesia serta mengamalkan Pancasila.

3. Bagaimana pelaksanaan Ibadah Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ? Ada beberapa faktor yang memberikan pengaruh adanya kehidupan yang selaras, serasi dan seimbang antara pemeluk agama diantaranya:
• •

Latar belakang sejarah dan kehidupan masyarakat Indonesia Landasan moral/hukum yang meliputi: Pancasila, UUD 1945 serta ketetapan MPR dan peraturan lainnya.

a. Latar belakang sejarah dan kehidupan masyarakat Indonesia dapat kita lihat dimana sejak dahulu keanekaragaman ada pada bangsa Indonesia. Hal ini terjadi karena masyarakat Indonesia tinggal dipulau yang berbeda, masing-masing memiliki ciri sendiri. Oleh karena itu bangsa kita menjadi bangsa yang majemuk, walaupun berasal dari nenek moyang yang sama, dan sejak zaman dahulu bangsa Indonesia mempunyai keyakinan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Didasari unsur-unsur kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa maka dengan mudah dan damai bangsa kita menerima agama dari luar, karena: 1. Bangsa Indonesia sudah sejak dahulu kala mempunyai kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2. Bangsa Indonesia memiliki sikap yang ramah ,toleran dan terbuka terhadap bangsa lain yang membawa ajaran agamanya. 3. Ajaran agama itu semuanya mengajarkan manusia untuk berbuat baik, kasih sayang, persaudaraan dan perdamaian sesama manusia.

Nenek moyang kita akhirnya memeluk salah satu agama sesuai dengan keyakinan masingmasing, hal ini berlangsung terus menerus secara turun temurun sampai sekarang. b. Landasan moral/hukum bangsa Indonesia dalam melaksanakan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa memiliki landasan yang dapat menjamin kehidupan beragama, diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Pancasila, dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan didasari oleh sila-sila lainnya. 2. Pembukaan UUD 1945: pada alenea ke tiga: Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan yang luhur.... Alenea ke empat: Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa .... Pasal 29 ayat (1) UUD 1945: Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. 3. Ketetapan MPR No IV/MPR/1999 tentang GBHN. Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Dalam ketetapan tersebut dicantumkan bahwa salah satu arah kebijakan bidang agama adalah meningkatkan dan memantapkan kerukunan hidup antar umat beragama sehingga tercipta suasana kehidupan yang harmonis dan saling menghormati dalam semangat kemajemukan melalui dialog antar umat beragama dan pelaksanaan pendidikan agama secara deskriptif yang tidak dogmatis untuk tingkat perguruan tinggi. Dari beberapa uraian di atas kita dapat menyimpulkan pelaksanaan Ibadah Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa antara lain: 1. Negara kita adalah negara yang berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. 2. Negara memberikan jaminan kebebasan kepada warga negara untuk memeluk salah satu agama atau kepercayaan sesuai dengan keyakinan masing-masing. 3. Kita tidak boleh memaksakan seseorang untuk memeluk agama kita atau memaksa seseorang pindah dari satu agama ke agama yang lain. 4. Dalam hal ibadah negara memberikan jaminan seluas-luasnya kepada semua umat beragama dan penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa untuk melaksanakan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. 5. Setiap warga negara Indonesia harus percaya dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Setiap agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa mengajarkan kepada pemeluk dan penganutnya, tentang perintah-perintah dan larangan-larangan Tuhan, bagaimana harus bersikap dan bertindak dalam hubungannya dengan Tuhan maupun dalam hubungannya dengan sesama manusia dan alam sekitarnya. Sehingga agama banyak fungsi penting, diantaranya : Agama sebagai sumber inspirasi. Bagi bangsa indonesia, agama dapat menjadi sumber inspirasi dalam berbudaya baik yang berupa fisik maupun non fisik. • Sumber Moral. Agama di Indonesia dapat memberikan dorongan batin maupun moral atau akhlak yang baik bagi manusia. Pembangunan berjalan dengan baik karena dilakukan dengan semangat ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. • Sumber Motovasi dan Inovasi. Agama dapat memberikan semangat dalam bekerja dan lebih kreatif serta produktif. Pada gilirannya dapat pula mendorong tumbuhnya pembaharuan dan penyempurnaan. • Sumber penyatuan dalam melaksanakan pembangunan Nasional. Agama dapat mengintegrasikan/menyatukan dan menyerasikan segenap aktifitas manusia baik individual maupun sebagai anggota masyarakat. Dengan adanya kesamaan dalam katakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa maupun kebersamaan sebagai mahluk sosial, timbul rasa persatuan sebagai makhluk sosial dengan demikian rasa persatuan sebagai bangsa Indonesia akan terjadi dengan sendirinya. 4. Bagaimana keselarasan pemanfaatan IPTEK dengan pengamalan sila Ketuhanan Yang Maha Esa ?

IPTEK merupakan kebutuhan pokok pembangunan, akan tetapi kita harus dapat memilih dan memanfaatkan ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk mencapai tujuan pembangunan tanpa menimbulkan efek samping. Manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang tertinggi derajat dan martabatnya, karena manusia dibekali akal pikiran dan paling sempurna diantara makhluk lainnya. Dengan akal pikirannya manusia dapat berkehendak, dapat memenuhi kebutuhannya, dan mampu mengatasi berbagai masalah dalam kehidupannya. Di samping itu, manusia mempunyai sifat ingin tahu dan memiliki rasa puas yang bersifat sementara. Apa saja yang sudah diketahuinya, ingin dikembangkan atau ditingkatkan lagi, yang membuat manusia cenderung terus berkembang, terus mengembangkan akal dan kemampuannya. Perubahan cara hidup masyarakat diikuti pula perubahan pengetahuan atau yang kita kenal dengan istilah Teknologi. Dengan perkataan lain, ilmu pengetahuan dan Teknologi berkembang seirama dengan perkembangan manusia. Pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia tidak hanya mengejar kemajuan lahiriah saja, melainkan terciptanya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara lahiriah dan batiniah. Kemudahan yang diperoleh dari peningkatan penguasaan Ilmu pengetahuan dan Teknologi cenderung mengarah pada kemajuan lahiriah. Oleh karena itu, penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi harus diimbangi dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nilai nilai agama akan memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan dan pemanfaatan IPTEK, sedang IPTEK akan memberikan dukungan kepada manusia dalam usaha meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Benar apabila dikatakan Ilmu Pengetahuan tanpa agama menjadi buta. Oleh karena itu perlu diingat bahwa dalam pengembangan, pemanfaatan,dan penguasaan IPTEK hendaknya diperhatikan nilai-nilai agama, sehingga keberhasilan dalam pemanfaatan, pengembangan dan penguasaan IPTEK akan membawa peningkatan kesejahteraan umat manusia, bukan merugikan atau menyengsarakan. Penggunaan IPTEK diharapkan dapat menunjang proses pengembangan agama. Agama apapun menganjurkan agar umatnya dapat hidup maju, tidak bodoh dan terbelakang, segala anugerah yang dikaruniakan oleh Tuhan kepada kita harus dapat kita olah dan kita manfaatkan. Pemanfaatan IPTEK berdampak positif terhadap kemajuan di bidang informasi dalam penyebaran nilai nilai agama. Dengan demikian benarlah pendapat yang mengatakan bahwa agama tanpa Ilmu Pengetahuan akan lumpuh. Keselarasan pemanfataan IPTEK dengan nilai nilai agama harus diperhatikan dalam setiap aspek pembangunan Nasional. Kita harus selalu waspada terhadap pengembangan dan pemanfataan IPTEK, karena hal tersebut di samping mempunyai dampak positif, juga mempunyai dampak negatif yang dapat merugikan manusia, misalnya kemajuan IPTEK di bidang kedokteran, yaitu dengan ditemukannya alat kontrasepsi. Hal itu dapat disalahgunakan oleh orang-orang tertentu untuk berbuat zina.

ANALISIS
Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Esensinya adalah Tuhan. Berhubungan dengan agama. Bagaimana agama memandang Ahmadiyah? 1. Ahmadiyah bukan beda dalam masalah furu’ (khilafiyah) tapi sudah beda dalam hal aqidah. Sedangkan dalam hal aqidah itu mutlak harus diikuti. Barangsiapa yang berbeda, berarti dia telah murtad atau kafir. 2. Ahmadiyah tidak memiliki platform ajaran sendiri, tidak seperti agama lain yang memiliki platform ajarannya masing-masing. Jadi lebih baik Ahmadiyah mendirikan agama sendiri, tanpa membawa-bawa Islam beserta segala atributnya. 3. Kitab-kitab karangan Mirza Ghulam Ahmad beserta tadzkirahnya menyebutkan bahwa setiap orang yang mengingkari kenabian Mirza Ghulam Ahmad (tidak mengakuinya) dianggap kafir oleh kalangan Ahmadiyah. Jadi bagi setiap umat Islam yang membela Ahmadiyah, pelajarilah dulu semuanya. Padahal jelas-jelas mereka menganggap setiap orang yang tidak mengakui kenabian Mirza Ghulam Ahmad dianggap kafir. 4. Setiap umat beragama yang mempelajari agamanya dengan baik dan benar, dia akan merasakan nikmatnya beribadah dan menjalani ajaran agama tersebut. Dan akan menjadi sakit sekali bila agamanya itu dinodai. jadi bila ada umat Islam yang justru malah membela Ahmadiyah, berarti dia tidak mempelajari Islam dengan baik dan benar (lihat juga poin-poin di atas). 5. Ahmadiyah juga telah membajak kitab suci Al-Qur’an. Tapi dibiarkan oleh pemerintah dan para aparatnya. Tapi bila lagu ‘Indonesia Raya’ dibajak atau ‘Indonesia’ dinodai langsung ditangkap dan ditindak tegas. 6. Dalam buku karangan nabi palsu tersebut juga ada yang isinya menghina Nabi Isa as. 7. Mirza Ghulam Ahmad tidak hanya mengaku dirinya nabi, tapi juga mengaku di-rinya itu malaikat, juga mengaku sebagai tuhan pencipta langit dan bumi (baca tadzkirah). Jadi sudah jelas bahwa Ahmadiyah itu tidak sesuai dengan ajaran agama Islam yang telah diakui, tidak pantas menganggap diri-nya Islam. Wajar bila banyak umat Islam yang melakukan berbagai aksi. Ini karena agama mereka telah dinodai. Dan juga dipandang dari Pancasila, Ahmadiyah jelas melanggar karena setiap umat beragama yang mempelajari agamanya dengan baik dan benar, dia akan merasakan nikmatnya beribadah dan menjalani ajaran agama tersebut. Dan akan menjadi sakit sekali bila agamanya itu dinodai, seperti yang dijelaskan diatas. Hal ini bertentangan dengan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan juga Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

DAFTAR PUSTAKA
Irham Roi, Agama Dalam Pandangan Pancasila, UPP AMP YKPN,1995 http://forumm.wgaul.com/archive/index.php/t-22759.html http://www.menu.sman3-kag.sch.id/onnet/onnet2/content2/ppkn1.htm http://lets-belajar.blogspot.com/2007/09/sila-ketuhanan-yang-maha-esa.html

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->