Modul 4 # Populasi dan Sampel

Dalam penelitian kuantitatif, apalagi jika dirancang sebagai sebuah penelitian survei (survey research), keberadaan populasi dan sampel penelitian nyaris tak dapat dihindarkan. Populasi dan sampel merupakan sumber utama untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam mengungkapkan fenomena atau realitas yang dijadikan fokus penelitian kita.

Demi mencapai keakuratan dan validitas data yang dihasilkan, populasi dan sampel yang dijadikan objek penelitian harus memiliki kejelasan baik dari segi scope, ukuran, maupun karakteristiknya. Dengan kata lain, kejelasan populasi dan ketepatan pengambilan sampel dalam penelitian akan menentukan validitas proses dan hasil penelitian kita.

Apa itu populasi penelitian? Apa itu sampel dan bagaimana kaitan antara populasi dan sampel dalam sebuah penelitian? Simak uraian-uraian di bawah ini.

KONSEP DASAR Populasi atau sering juga disebut universe adalah keseluruhan atau totalitas objek yang diteliti yang ciri-cirinya akan diduga atau ditaksir (estimated). Ciri-ciri populasi disebut parameter. Oleh karena itu, populasi juga sering diartikan sebagai kumpulan objek penelitian dari mana data akan dijaring atau dikumpulkan. Populasi dalam penelitian (penelitian komunikasi) bisa berupa orang (individu, kelompok, organisasi, komunitas, atau masyarakat) maupun benda, misalnya jumlah terbitan media massa, jumlah artikel dalam media massa, jumlah rubrik, dan sebagainya (terutama jika penelitian kita menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Populasi penelitian terdiri dari populasi sampling dan populasi sasaran.

Populasi sampling adalah keseluruhan objek yang diteliti, sedangkan populasi sasaran adalah populasi yang benar-benar dijadikan sumber data. Sebagai contoh, misalnya kita akan meneliti bagaimana rata-rata tingkat prestasi akademik mahasiswa STBA-JIA, kita hanya akan memokuskan penelitian kita pada mahasiswa yang aktif di lembaga-lembaga kemahasiswaan, maka seluruh mahasiswa STBA JIA adalah populasi sampling, sedangkan seluruh mahasiswa yang aktif dalam lembaga kemahasiswaan adalah pogram populasi sasaran.

Konsep lainnya yang harus dipahami-dan tidak boleh dikelirukan- adalah jumlah populasi (population numbers) dan ukuran populasi (population size). Jumlah populasi adalah banyaknya kategori populasi yang dijadikan objek penelitian yang dinotasikan dengan huruf K.

Misalnya. Sementara itu. Oleh karena itu. yang dilambangkan dengan huruf N. Mengapa kita harus benar-benar memahami (tidak mengelirukan) pengertian istilah jumlah sampel dengan ukuran sampel. Sama halnya dengan populasi. maka yang akan kita peroleh adalah ciri-ciri sampel bukan ciri-ciri populasi. bila dikaitkan dengan fokus penelitian. yang jumlahnya selalui lebih kecil daripada ukuran populasi (n). jika kita meneliti sikap sivitas akademika STBA JIA terhadap kebijakan rektor dalam menaikkan biaya pendidikan. Namun demikian. dosen. Jika kita menggunakan seluruh unsur populasi sebagai sumber data. ketika kita meneliti bagaimana rata-rata tingkat prestasi akademik mahasiswa STBA JIA maka jumlah populasinya adalah satu dan ukuran populasinya 300 orang (sesuai dengan jumlah mahasiswa yang terdaftar resmi di STBA JIA). maka jumlah populasinya adalah satu. tenaga.Misalnya. Sensus merupakan penelitian yang dianggap dapat mengungkapkan ciri-ciri populasi (parameter) secara akurat dan komprehensif. sebaik-baiknya penelitian adalah penelitian sensus. misalnya terdiri dari kategori mahasiswa. Ukuran populasi adalah banyaknya unsur atau unit yang terkandung dalam sebuah kategori populasi tertentu. jumlah populasinya ada tiga. keterbatasan waktu. Sebagian unsur populasi yang dijadikan objek penelitian itu disebut sampel. yakni kategori mahasiswa. maka gambaran tentang populasi tersebut secara utuh dan menyeluruh akan diperoleh. sebab dengan menggunakan seluruh unsur populasi sebagai sumber data. Sampel atau juga sering disebut contoh adalah wakil dari populasi yang ciri-cirinya akan diungkapkan dan akan digunakan untuk menaksir ciri-ciri populasi. sebab jumlah sampel dan sifat sampel yang diteliti (terutama untuk penelitian eksplanatif. maka jumlah populasinya sebanyak kategori yang terkandung dalam konsep sivitas akademika. Sedangkan ukuran sampel (dilambangkan dengan huruf n) adalah besarnya unsur populasi yang dijadikan sampel. misalnya penelitian korelasional) akan sangat menentukan uji statistik inferensial yang mana yang harus digunakan untuk menguji hipotesis yang dirumuskan dalam . dan biaya yang dimiliki oleh peneliti. yang jumlahnya sama dengan jumlah populasi (k=K). dalam sampel pun ada konsep jumlah sampel dan ukuran sampel. dan staf administratif. maka penelitian kita disebut sensus. Oleh karena itu. jika kita menggunakan sampel sebagai sumber data. terutama jika dihubungkan dengan ketersedian sumber daya yang ada pada peneliti. Dalam keadaan peneliti tidak memungkinkan untuk melakukan sensus. Jadi. Misalnya. ketika kita meneliti tingkat rata-rata prestasi akademik mahasiswa STBA JIA Bekasi. tetapi ciri-ciri sampel itu harus dapat digunakan untuk menaksir populasi. Jumlah sampel adalah banyaknya kategori sampel yang diteliti yang dilambangkan dengan huruf k. maka peneliti boleh mengambil sebagian saja dari unsur populasi untuk dijadikan objek penelitiannya atau sumber data. dalam batas-batas tertentu sensus kadang-kadang tidak efektif dan tidak efisien. Ciri-ciri sampel disebut statistik.

dua sampel berhubungan. UKURAN SAMPEL Ukuran sampel atau besarnya sampel yang diambil dari populasi. buku-buku metodologi penelitian menyebut angka lima persen hingga 10 persen untuk menegaskan berapa ukuran sampel yang harus diambil dari sebuah populasi tertentu dalam penelitian sosial. ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan yaitu: . Pertanyaannya. merupakan salah satu faktor penentu tingkat kerepresentatifan sampel yang digunakan. dan sebagainya (Silakan baca buku Statistik Nonparametrik untuk Ilmu-Ilmu Sosial tulisan Sidney Siegel). misalnya. sehingga ilmu itu bisa terus berproses dan berkembang). Sampel representatif adalah sampel yang memiliki ciri karakteristik yang sama atau relatif sama dengan ciri karakteristik populasinya. sebab dalam dunia ilmu yang ada adalah sepakat untuk tidak sepakat asal masing-masing konsisten dengan rujukan yang digunakannya.penelitian kita. ada uji statistik inferensial yang hanya berlaku untuk menguji satu sampel. Metode Penelitian Survai (1989). Cara atau prosedur yang digunakan untuk mengambil sampel dari populasi tertentu disebut teknik sampling. maka dalam mengambil sampel dari populasi tertentu kita harus benar-benar bisa mengambil sampel yang dapat mewakili populasinya atau disebut sampel representatif. menyatakan bahwa sebelum kita menentukan berapa besar ukuran sampel yang harus diambil dari populasi tertentu. Dalam menguji korelasi di antara variabel-variabel yang diteliti. tidak ada kesepakatan bulat di antara para ahli metodolologi penelitian (hal ini wajar. Pada umumnya. Ketepatan dalam memilih uji statistik inferensial itu merupakan salah satu unsur penentu validitas atau kesahihan penelitian kita. Karena data yang diperoleh dari sampel harus dapat digunakan untuk menaksir populasi. sebagaimana diungkapkan di atas. Pendapat ini tentu saja sulit untuk dijelaskan apa alasannya jika ditinjau dari aspek metodologi penelitian. ukuran sampel yang diambil. dua sampel independen. dan k sampel independen atau k sampel berhubungan. Tingkat kerepresentatifan sampel yang diambil dari populasi tertentu sangat tergantung pada jenis sampel yang digunakan. I Gusti Bagoes Mantra dan Kasto dalam buku yang ditulis oleh Masri Singarimbun dan Sofian Effendi. berapa besar sampel harus diambil dari populasi agar memenuhi syarat kerepresentatifan? Dalam menentukan menentukan ukuran sampel (n) yang harus diambil dari populasi agar memenuhi persyaratan kerepresentatifan. Sehubungan dengan hal itu. dan cara pengambilannya.

Rumus Slovin: N n = ——— . Misalnya. 3. Rancangan analisis yang dimaksud adalah sesuatu yang berkaitan dengan pengolahan data. Jika kita menggunakan rancangan analisisnya hanya menggunakan analisis statistik inferensial. Dengan kata lain. sebab hal ini lebih berkaitan dengan pertimbangan peneliti (tanpa akhiran an) dan bukan pertimbangan penelitian (metodologi).05 (5%) atau 0. sehingga tidak layak untuk dianalisis dengan asumsi-asumsi kotingensi. Jika ukuran populasinya diketahui dengan pasti. Selain mempertimbangkan faktor-faktor di atas. Derajat Keseragaman Populasi (degree of homogenity). Rumus Slovin di bawah ini dapat digunakan. kita akan menggunkan teknik analisis data dengan statistik deskripti. penyajian data menggunakan tabel-tabel distribusi frekuensi silang (tabel silang) atau tabel kontingensi dengan ukuran 3X3 atau lebih dimana pasti mengandung sel sebanyak 9 buah.1. Alasan-alasan tertentu yang berkaitan dengan keterbatasan-keterbatasn yang ada pada peneliti. yakni suatu pernyataan peneliti tentang tingkat keakuratan hasil penelitian yang diinginkannya. misalnya keterbatasan waktu.05. (Catatan: Alasan ke-4 ini jangan digunakan sebagai pertimbangan utama dalam menentukan ukuran sampel. dan lain-lain. penyajian data. 2. terutama digunkan dalam penelitian eksplanatif. Jika tinggi tingkat homogenitas populasinya tinggi atau bahkan sempurna. maka ukuran sampel yang diambil boleh kecil.01 maka ukuran sampel yang diambil harus lebih besar daripada ukuran sampel jika kita menggunakan taraf signifikansi 0. tenaga. maka ukuran sampelnya harus besar.01 (1%). maka ukuran sampelnya boleh lebih kecil dibandingkan apabila kita menggunakan rancangan analisis statistik deskriptif saja. Hal ini untuk menghindarkan adanya sel dalam tabel tersebut yang datanya nol (kosong). biaya. Tingkat presisi biasanya dinyatakan dengan taraf signifikansi (α) yang dalam penelitian sosial biasa berkisar 0. misalnya penelitian korelasional. sehingga keakuratan hasil penelitiannya (selang kepercayaannya) 1–α yakni bisa 95% atau 99%. Tingkat Presisi (level of precisions) yang digunakan. sebaliknya jika tingkat homogenitas populasinya rendah (tingkat heterogenitasnya tinggi) maka ukuran sampel yang diambil harus besar. Untuk menentukan tingkat homogenitas populasi sebaiknya dilakukan uji homogenitas dengan menggunakan uji statistik tertentu. Tingkat presisi. beberapa buku metode penelitian menyarankan digunakannya rumus tertentu untuk menentukan berapa besar sampel yang harus diambil dari populasi. pengupasan data. dan penafsiran data yang akan ditempuh dalam penelitian. Jika kita menggunakan taraf signifikansi 0. rancangan penelitian deskriptif membutuhkan ukuran sampel yang lebih besar daripada rancangan penelitian eksplanatif. 4. Rancangan Analisis.

Di antara teknik-teknik sampling tersebut. maka Rumus Yamane yang harus digunakan. JENIS SAMPEL DAN TEKNIK SAMPLING . 3%. Kerangka sampling (sampling frame) adalah sebuah daftar yang memuat data mengenai seluruh unit atau unsur sampling yang terdapat pada populasi sampling.5%. misalnya 5%. Batas kesalahan yang ditolelir ini untuk setiap populasi tidak sama. ada yang mempersyaratkan tersedianya kerangka sampling.05)² + 1 KERANGKA SAMPLING (SAMPLING FRAME) Di atas sudah ditegaskan. bahwa tingkat krepresentatifan sampel selain ditentukan oleh ukuran sampel yang diambil juga ditentukan oleh teknik sampling yang digunakan. atau 10%. Presisi ditetapkan di antara 5% dengan tingkat kepercayaan 95%. maka besarnya sampel adalah: 4000 n = ————————. Jika ukuran populasinya besar yang didapat dari pendugaan proporsi populasi. dalam penggunaannya. 2%. N n = ———– Nd² + 1 d = batas toleransi kesalahan pengambilan sampel yang digunakan. ada yang 1%. kerangka sampling adalah daftar nama-nama yang kerkandung dalam populasi penelitian. kita ingin menduga proporsi pembaca koran dari populasi 4.1 + Ne² Keterangan. Secara gampang orang sering mengatakan. n = ukuran sampel N = ukuran populasi e = kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang ditololerir.= 364 4000 x (0. Misalnya. 4%.000 orang.

sampel nonprobabilitas atau sampel nonrandom (sampel tak acak) adalah sampel yang pengambilannya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu (bisa pertimbangan penelitian maupun pertimbangan peneliti). yakni pertimbangan-pertimbangan tertentu. Harus tersedia kerangka sampling atau memungkinkan untuk dibuatkan kerangka samplingnya (dalam kerangka sampling tidak boleh ada unsur sampel yang dihitung dua kali atau lebih). antara lain (Singarimbun dan Effendy. kita dapat mengidentifikasi dua jenis sampel.Berdasarkan prosedur atau cara yang digunakan dalam mengambil sampel dari populasi (teknik sampling). jika tidak. Sebaliknya. Sampel probabilitas atau disebut juga sampel random (sampel acak) adalah sampel yang pengambilannya berlandaskan pada prinsip teori peluang. yaitu: sampel probabilitas (probability sampling) dan sampel nonprobabilitas (nonprobability sampling). Teknik Sampling Random Sederhana (Simple Random Sampling) Sampel acak sederhana adalah sebuah sampel yang diambil sedemikian rupa sehingga setiap unit penelitian atau satuan elementer dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. 3. Ukuran populasinya tidak tak terbatas. 4. yakni: 1. Teknis pelaksanaannya ada dua cara. yakni ukuran sampel yang dikehendaki dibagi dengan ukuran populasi. Sampel probabilitas cenderung memiliki tingkat representasi yang lebih tinggi daripada sampel nonprobabilitas. artinya harus pasti berapa ukuran populasinya. Dalam menggunakan Teknik Sampling Random Sederhana ini ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Sifat populasinya harus homogen. 1989): 1. sedangkan untuk mengambil sampel nonprobabilitas atau sampel nonrandom digunakan teknik sampling nonprobabilitas. 2. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menyusun semua unit penelitian atau unit elementer ke . Sampel probabilitas diambil dengan menggunakan teknik sampling probabilitas atau teknik sampling random. kemungkinan akan terjadi bias. Peluang yang dimiliki oleh setiap unit penelitian untuk dipilh sebagai sampel sebesar n/N. Teknik Sampling Probabilitas (Teknik Sampling Random) a. Keadaan populasinya tidak terlalu tersebar secara geografis. yakni prinsip memberikan peluang yang sama kepada seluruh unit populasi untuk dipilih sebagai sampel. Dengan mengundi unsur-unsur penelitian atau satuan-satuan elementer dalam populasi.

dan populasinya mempunyai pola beraturan yang memungkinkan untuk diberikan nomor urut serta bersifat homogen. Dalam keadaan populasi yang demikian. ada kecenderungan kita untuk tergoda memilih angkaangka tertentu. akan dipilih 50 satuan elementer sebagai sampel (n). terutama apabila ukuran populasinya relatif besar. Karena angka-angka yang yang terdapat dalam Tabel Bilangan Random itu disusun secara kebetulan (randomly assorted). yakni tersedianya kerangka sampling (ukuran populasinya diketahui dengan pasti). oleh karena itu dalam kerangka sampling satuan elementernya diberi nomor mulai dari 001 sampai 500. Persyaratan yang harus dipenuhi agar teknik sampling ini dapat digunakan. maka pemakai tabel tersebut dapat mulai melihatnya dari baris dan kolom mana saja. dan kedua.dalam kerangka sampling. Angka random yang terkena oleh mata pensil tadi adalah unsur sampel pertama yang kita pilih. 2. Cara ini dipilih karena selain meringankan pekerjaan. Selanjutnya. Di samping itu. Nomor-nomr yang terambil itu menjadi unit elementer yang terpilih sebagai sampel. mulai dari nomor terkecil hingga nomor ke-n (tergantung berapa besar ukuran populasinya). Lalu lakukan pengocokan secara merata. Pengundian juga dapat dilakukan seperti halnya ibu-ibu anggota kelompok arian menentukan pemenang arisannya. hingga tidak memungkinkan dilakukan pemilihan sampel dengan cara pengundian. Selanjutnya lihat Tabel Angka Random atau Tabel Bilangan Random yang selalu ada pada lampiran buku-buku metodologi penelitian atau buku-buku metode statistika. digulung. Dengan menggunakan Tabel Angka Random. Caranya adalah sebagai berikut: misalnya. atau cara apa saja yang dianggap mudah. b. gunakanlah teknik sampling random sistematik. dari satuan elementer dlam populasi (N) yang besarnya 500 orang. sama dengan persyaratan untuk sampel random sederhana. dimasukkan ke dalam toples yang diberi tutup dengan lubang sebesar kira-kira dapat dilalui oleh setiap gulungan kertas yang ada di dalamnya. maka teknik sampling random sederhana tidaklah tepat untuk digunakan. dengan cara menjatuhkan pensil dengan mata pensil mengarah ke bawah pada lembaran kertas yang di dalamnya terdapat tabel bilangan random yang kita gunakan. ia dapat juga mengikutinya ke arah mana saja. juga lebih memberikan jaminan yang lebih besar bahwa setiap unit elementer mempunyai peluang yang sama untuk terpilih sebagai sampel. gunakan teknik kedua. Bilangan 500 ini terdiri dari tiga dijit (digit). atau ke samping mengikuti baris. Selanjutnya masing-masing nomor unsur populasi itu ditulsikan dalam secarik kertas. Dalam keadaan yang demikian. hampir tidak mungkin kita dapat melakukan pengocokan secara saksama dan merata seluruh gulungan kertas undian. dan dimasukkan ke dalam sebuah kotak atau toples. Penentuan angka pertama dapat dilakukan. sebab: pertama. Teknik Sampling Random Sistematik (Systematic Random Sampling) Apabila ukuran populasinya sangat besar. Gulungan kertas yang di dalamnya sudah berisi nomor unit elementer. misalnya. yakni dengan mengundi Tabel Angka Random. ke bawah mengikuti kolom. kita dapat menentukan unsur sampel lainnya dengan cara berjalan ke atas mengikuti kolom yang sama. Penggunaan cara ini (cara pengundian) seringkali tidak praktis. . dan ambil sejumlah gulungan kertas tersebut sebanyak ukuran sampel yang dikehendaki. Lalu kocok berulang-ulang hingga keluar sejumlah gulungan kertas sesuai dengan ukuran sampel yang direncanakan.

Bedanya. 035. dan dari setiap strata dapat diambil sampel secara random (acak). 025. Padahal.Cara penggunaan teknik sampling random sistematik ini mirip dengan cara sampling random sederhana. 055. 045. maka populasi yang bersangkutan harus dibagi-bagi kedalam lapisan-lapisan (strata) yang seragam atau homogen. Penentuan unsur sampling selanjutnya ditempuh dengan cara memanfaatkan interval sampel. Makin heterogen suatu populasi. Teknik Sampling Random Berstrata (Stratified Random Sampling) Teknik sampling ini digunakan apabila populasinya tidak homogen (heterogen). maka unsur-unsur selanjunya yang harus diambil adalah nomor 015. Andaikan saja unsur sampel pertama yang terpilih adalah nomor urut 005. . Andaikan yang terpilih sebagai unsur sampling pertama adalah satuan elementer yang bernomor s. 075. maka pasti k = 10. pada teknik sampling sistematik perandoman atau pengundian hanya dilakukan satu kali. makin besar pula perbedaan sifat-sifat antara lapisan tersebut. Misalnya ukuran populasinya 500 (N=500) dan ukuran sampel yang akan diambil sebesar 50 (n=50). Untuk dapat menggambarkan secara tepat tentang sifat-sifat populasi yang heterogen. Misalnya. Interval sampel atau juga disebut sampling rasio diperoleh dengan cara membagi ukuran populasi dengan ukuran sampel yang dikehendaki (N/n). dan seterusnya dengan berpatokan pada penambahan angka 10 dari nomor urut terakhir. 065. Interval sampel adalah angka yang menunjukkan jarak antara nomor-nomor urut yang terdapat dalam kerangka sampling yang akan dijadikan patokan dalam menentukan atau memilih unsur-unsur sampling kedua dan seterusnya hingga unsur ke-n. maka penentuan unsur-unsur sampel berikutnya adalah: * Unsur pertama = s * Unsur kedua = s + k * Unsur ketiga = s + 2k * Unsur keempat = s + 3k. presisi dan tingkat kerepresentatifan sampel yang diambil dari suatu populasi antara lain dipengaruhi oleh derajat keseragaman (tingkat homogenitas) populasi yang bersangkutan. di bawah ini diberikan contoh konkret. sebagaimana telah diungkapkan di atas. Interval sampel biasanya dilambangkan dengan huruf k. c. dari populasi (N) berukuran 500 kita akan mengambil sampel (n) berkuran 50. Untuk lebih jelasnya. maka interval samplingnya adalah 500/50=10 atau k =10. dan seterusnya hingga unsur ke-n. yakni ketika menentukan unsur pertama dari sampling yang akan diambil.

Dalam sampel strata proporsional. Jumlah satuan elementer dari setiap strata (ukuran setiap subpopulasi) harus diketahui dengan pasti. Teknik sampling random strata proporsional digunakan apabila proporsi ukuran subpopulasi atau jumlah satuan elementer dalam setiap strata relatif seimbang atau relatif sama besar. Pecahan sampling adalah angka yang menunjukkan persentase ukuran sampel yang akan diambil dari ukuran populasi tertentu. sehingga ukuran populasinya 25. yang dapat dijadikan kriteria untuk pembagian strata itu ialah variabel-variabel yang akan diteliti atau variabel-variabel yang menurut peneliti mempunyai hubungan yang erat dengan variabel-variabel yang hendak diteliti itu. sampel yang harus diambil sebesar 2. Hal ini diperlukan agar peneliti dapat membuat kerangka sampling untuk setiap subpopulasi atau strata yang akan dijadikan sumber dalam menentukan sampel atau responden. dan S3 yang tentu saja karakteristik (terutama karakteristik akademisnya) berbeda-beda. bahwa teknik sampling random strata ini baru efektif dalam menentukan ukuran sampel yang harus diambil dari setiap strata dan belum mampu menentukan siapa saja sampel yang harus diambil untuk dijadikan responden penelitian).000. ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Sebagai contoh. tingkat motivasi belajar mahasiswa erat kaitannya dengan jenjang pendidikan yang diikutinya. 3. jumlah keseluruhan mahasiswa Unpad ada 25. (Harap dicatat.10 (10%) yang diperoleh dengan cara membagi ukuran sampel yang dikehendaki dengan ukuran populasinya (n/N). Jadi.Untuk dapat menggunakan teknik sampling random strata. misalnya kita menggunakan Rumus Slovin. Sebagai contoh. Harus ada kriteria yang jelas yang akan dipergunakan sebagai dasar untuk menstratifikasi populasi ke dalam lapisan-lapisan. Sampel strata terdiri dari dua macam.500 orang mahasiswa. Secara teoretis. dan mahasiswa S3. Misalnya.000 orang. Dalam kenyataannya karakteristik mahasiswa Unpad tidak sama (tidak homogen) sebab di Unpad terdapat program pendidikan jenjang D3. 2. Maka dalam keadaan populasi yang demikian. maka dari setiap lapisan populasi . S1. dari setiap strata diambil sampel yang sebanding dengan besar setiap strata dengan berpatokan pada pecahan sampling (sampling fraction) yang sama yang digunakan. mahasiswa Unpad sebagai populasi harus dibagi kedalam strata (subpopulasi) mahasiswa D3. Misalnya. Berdasarkan perhitungan tertentu. jenjang pendidikan dijadikan dasar dalam menentukan strata populasi. Dengan demikian. Harus ada data pendahuluan dari populasi mengenai kriteria yang dipergunakan untuk menstratifikasi. mahasiswa S1. setelah sebelumnya dibuatkan kerangka sampling untuk setiap subpopulasinya. mahasiswa S2. dalam penelitian tentang motivasi belajar mahasiswa (misalnya). Untuk menentukan saampel sasaran atau responden masih perlu dilanjutkan dengan menggunakan teknik sampling random sederhana atau teknik sampling random sistematik. maka pecahan samplingnya adalah 0. antara lain (Singarimbun dan Effendi. data mengenai pembagian jenjang pendidikan pada mahasiswa Unpad didasarkan pada kenyataan bahwa di Unpad memang terdapat berbagai jenjang pendidikan. yakni sampel strata proporsional dan sampel strata disproporsional. 1989:162-163): 1. populasi penelitian Anda adalah seluruh mahasiswa Unpad. S2.

10 500 20% S3 2. ukuran sampel yang diambil dari setiap subpopulasi (strata) sama besarnya. gunakanlah Teknik Sampling Random Strata Disproporsional.000 20% 0. ada yang jumlahnya besar ada pula yang jumlahnya kecil. yang berbeda adalah pecahan samplingnya. dalam keadaan populasi yang demikian.000 = 0.500 100% Keterangan: * Ditentukan ukuran sampel 2.10 200 8% _______ ______ ______ _____ 25. perhatikan tabel di bawah ini.000 32% 0.10 800 32% S2 5. Untuk lebih jelasnya. .10 * Setiap jenjang pendidikan diwakili dalam sampel proporsinya dalam populasi. Penggunaan Teknik Sampling Random Strata Proporsional agak kurang tepat jika proporsi ukuran subpopulasinya (jumlah satuan elementer pada strata) tidak seimbang. Padahal.000 8% 0. sehingga kalau digunakan teknik sampling strata proporsional dapat kejadian ukuran subpopulasinya sama dengan ukuran sampelnya.500/25.000 100% 2. Oleh karena itu. jika menggunakan teknik sampling ini.000 40% S1 8.(strata) harus diambil sampel sebesar 10 % sehingga akhirnya diperoleh ukuran sampel secara keseluruhan yang merepresentasikan populasi. jika ukuran sampelnya sama dengan ukuran populasinya (total sampling atau sensus) maka data yang diperoleh dari sampel tersebut tidak bisa diolah atau dianalisis dengan menggunakan analisis statistik inferensial.10 1. Satu hal yang perlu dicatat dan diingat. Pada Sampel Strtata Disproporsional. data yang diperoleh dari sampel masing-masing strata harus dikalikan dengan bobot yang disesuaikan pada strata tersebut. nanti pada waktu analisis data.000 40% 0.500 * Pecahan sampling 2. Tabel 1 Sampel Berstrata Proporsional untuk Penelitian Motivasi Belajar di Kalangan Mahasiswa Universitas Padjadjaran Jenjang Ukuran % dalam Pecahan n % dalam Pendidikan Populasi Populasi Sampling Sampel Sampel D3 10.

kelurahan. kelas. Jika dirasakan masih terlalu banyak jumlahnya. kecamatan. Teknik Sampling Nonprobabilitas (Teknik Sampling Nonrandom) Dalam menentukan sampel dengan menggunakan taknik sampling nonrandom. maka pengambilan sampel tidak cukup hanya satu tahap.d. tidak menggunakan prinsip kerandoman (prinsip teori peluang). Dalam keadaan yang demikian gunakanlah teknik sampling klaster banyak tahap (multistage cluster sampling). misalnya. dan Bandung Utara. misalnya RW. yang terdiri dari 10 RW. lalu ambil secara random. maka kita dapat memilih beberapa RW secara random untuk dijadikan wilayah penelitian dengan konsekuensi seluruh penduduk sasaran di RW itu harus dijadikan sampel (responden). Apabila klaster itu bersifat wilayah geografis yang kecil. Dari setiap wilayah itu kita jabarkan lagi pada kecamatan-kecamatan. Misalnya. Apabila kita berhenti sampai di sini. Misalnya. melainkan harus beberapa tahap. RW. maka seluruh ibu rumah tangga yang berdomisi di delapan kecamatan terpilih itu adalah sampel penelitian kita. Teknik Sampling Random Klaster (Cluster Random Sampling) Teknik ini digunakan apabila ukuran populasinya tidak diketahui dengan pasti. kita ambil dua kelurahan dri setiap kecamatan terpilih. Tidak mungkin kita dapat menghimpun semua data anak SD dalam sebuah daftar yang akurat. Barat. desa. sehingga kita memiliki 16 kelurahan sebagai wilayah penelitian dengan konsekuensi seluruh ibu rumah tangga di 16 kelurahan itu harus dijadikan responden. Tetapi jika kita merasa jumlahnya masih terlalu besar. maka pengambilan sampelnya dapat dilakukan satu tahap (simple cluster sampling). Bandung Selatan. sehingga wilayah kecamatan tadi kita jadikan populasi sampling. pasti daftar itu akan sangat panjang dan memerlukan waktu serta biaya yang tidak sedikit untuk menyusunnya. kalaupun mungkin. RT. misalnya. Kelompok anak SD itu disebut klaster. dan seterusnya dengan cara yang sama. populasi puah penelitian kita adalah seluruh murid Sekolah Dasar (SD) yang ada di Wilayah Kota Bandung. Dasar penentuannya adalah pertimbanganpertimbangan tertentu dari peneliti atau dari penelitian. sehingga tidak memungkinkan untuk dibuatkan kerangka samplingnya. Misalnya kita akan meneliti pendapat seluruh ibu rumah tangga yang ada di wilayah Kota Bandung tentang konversi bahan bakar minyak tanah ke gas elpiji. wilayah penelitian kita ada di Kelurahan Gunung Sampah. dan keberadaannya tersebar secara geografis atau terhimpun dalam klaster-klaster yang berbeda-beda. Klaster dapat berupa sekolah. teknik sampling nonrandom ini tidak dapat digunakan apabila penelitian kita dirancang sebagai sebuah penelitian . kita diperbolehkan untuk menurunkan lagi wilayah penelitian pada wilayah yang lebih kecil. dan sebagainya. maka kita boleh menjabarkan wilayah kecamatan terpilih itu menjadi kelurahan-kelurahan. Dari situ secara random. dua kecamatan dari setiap wilayah sehingga diperoleh delapan kecamatan. Maka kelompok siswa SD itu kita buat berdasarkan nama sekolahnya. Sebagai konsekuensinya. Kota Bandung kita bagi dulu ke dalam Wilayah Bandung Timur. Akan tetapi jika klasternya besar atau wilayah geografisnya besar. Bandung. Populasi penelitiannya adalah seluruh ibu rumah tangga yang ada di Kota Bandung.

Dasar penetuan sampelnya adalah tujuan penelitian. . Sampel Aksidental (accidental sampling). di antaranya adalah: 1. misalnya penelitian korelasional. tergantung pada sifat penelitian itu sendiri. Sampel ini sering disebut sebagai sampel kebetulan yang pengambilannya didasarkan pada pertimbangan kemudahan bagi peneliti (bukan penelitian). para dosen produksi film. hindari untuk menggunakan sampel ini. ada kemungkinan timbul dua macam penyimpangan. jika kesimpulan penelitian kita ingin memperoleh kemampuan generalisasi yang tepat 2. Sebisa mungkin. Caranya. Besarnya penyimpangan yang dapat ditoleransi dalam suatu penelitian. Sampel ini digunakan jika dalam upaya memperoleh data tentang fenomena atau masalah yang diteliti memerlukan sumber data yang memilki kualifikasi spesifik atau kriteria khusus berdasarkan penilaian tertentu. definisi operasinal variabel. Teknik sampling ini secara luas sering digunakan untuk penelitian-penelitian eksploratif atau penelitian deskriptif. Sampel Purposif (purposeful sampling). Perbedaannya adalah ketika mengambil sampel dari setiap strata tidak menggunakan cara-cara random. Orang-orang ilmu statistika bahkan menyebutnya sebagai sampel kecelakaan. tentukan ukuran sampel dari masing-masing strata lalu teliti siapa sejumlah orang yang sesuai dengan ukuran sampel yang ditentukan tadi. sebab penyimpangan yang besar dapat menimbulkan kesimpulan yang salah. dan sebagainya. satuan-satuan ukuran. tetapi menggunakan cara-cara kemudahan (convenience). Ada penelitian yang dapat mentolerannsikan penyimpangan yang besar. Maka sampelnya adalah para kritikus film. yaitu: 1. dan lain-lain. tidak tertutup kemungkinan untuk terjadi permasalahan atau penyimpangan. tingkat signifikansi tertentu. Beberapa Masalah dalam Penelitian yang Berkaitan dengan Sampel Dalam setiap penelitian. siapa saja asal berasal dari strata tersebut. Misalnya. Ada beberapa jenis sampel nonrandom yang sering digunakan dalam penelitian sosial/penelitian komunikasi.eksplanatif yang akan menguji hipotesis tertentu. karena rumus uji statistik inferensial tidak dapat diterapkan untuk data yang berasal dari sampel nonrandom. pengolahan data. para ahli sinematografi. Dalam suatu penelitian. Penyimpangan karena Pemakaian Sampel (Sampling Error)Seandainya tidak ada kesalahan pada pengamatan. sebaliknya ada juga penelitian yang menghendaki penyimpangan yang kecil. 3. Teknik ini disebut juga judgemental sampling atau sampel pertimbangan bertujuan. Teknik sampling kuota merupakan teknik sampling yang sejenis dengan teknik sampling strata. karena saking tidak representatifnya sampel tersebut. untuk meneliti kualitas cerita Film Ayatayat Cinta kita memerlukan reponden yang memiliki kualifikasi komptensi dalam bidang perfilman atau bidang komunikasi. Sampel Kuota (quota sampling). sehingga sampel ini sering kali disebut convenience sampling atau sampel keenakan.

memberikan peluang penyimpangan atau kesalahan pada hasil penelitian. * Penyimpangan karena salah tafsir dari petugas pengumpulan data maupun responden. 2. * Penyimpangan karena Penggantian Sampel. sehingga terjadi orang yang sudah terpilih sebagai sampel tidak ditemui di lapangan. Hal ini dapat terjadi jika responden merasa curiga terhadap maksud dan tujuan penelitian. * Penyimpangan karena salah tafsir responden. Mudah dimengerti bahwa semakin besar sampelnyang diambil. seseorang mahasiswa yang telah ditetapkan sebagai sampel tidak bisa dihubungi pada waktu akan diwawancarai atau diminta untuk mengisi kuesioner. Misalnya karena tidak tepatnya definisi operasional variabel. dan sebagainya. semakin kecil pula terjadi penyimpangan. dan sebagainya. Apabila sampel itu sudah sama besar dengan populasi. Hal ini disebabkan mungkin karena pendataannya yang tidak akurat atau datanya sudah kadaluarsa. Sementara itu.maka perbedaan itu hanya disebabkan oleh pemakaian sampel. maka penyimpangan oleh pemakaian sampel pasti akan hilang. yang dapat menyebabkan jawaban yang diperoleh dari responden menyimpang dari yang sebenarnya. masalah yang dihadapi dalam Pembuatan Kerangka Sampling. . Biasanya disebabkan karena responden sudah lupa akan masalah yang ditanyakan. lalu kita menggantinya dengan mahasiswa yang lain. di antaranya adalah: * Penyimpangan karena kesalahan perencanaan. mengalikan. * Penyimpangan karena responden sengaja salah dalam menjawab pertanyaan. misalnya salah dalam menambahkan. di antaranya adalah sebagai berikut: * Blank Foreign Elements Yakni jika data populasi yang diperoleh dari sesuatu sumber tidak sesuai dengan kenyataannya di lapangan. Hal ini berkaitan dengan adanya perbedaan antara sampel yang diteliti dengan sampel yang ditetapkan. Misalnya. atau mungkin juga responden mempunyai maksud-maksud tertentu secara terselubung. * Penyimpangan karena kesalahan pengolahan data. Penyimpangan Bukan oleh Pemakaian Sampel (Non-Sampling Error) Jenis penyimpangan ini dapat ditimbulkan oleh berbagai hal. kriteria satuan-satuan ukuran.

kita tidak akan memperoleh daftarnya. jika kita ingin meneliti pelajar sekolah dasar yang bertempat tinggal di Kota A. * Cluster of Elements Kerangka sampling yang kita miliki tidak selamanya sama dengan yang kita butuhkan.* Incomplete Frame Ketidaklengkapan kerangka sampling terjadi karena ada unsur populasi (orang) yang seharusnya masuk di dalamnya. justeru tidak tercatat. yang kita temukan hanyalah daftar nama sekolah dasar yang ada di Kota A. . Misalnya.