Modul 4 # Populasi dan Sampel

Dalam penelitian kuantitatif, apalagi jika dirancang sebagai sebuah penelitian survei (survey research), keberadaan populasi dan sampel penelitian nyaris tak dapat dihindarkan. Populasi dan sampel merupakan sumber utama untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam mengungkapkan fenomena atau realitas yang dijadikan fokus penelitian kita.

Demi mencapai keakuratan dan validitas data yang dihasilkan, populasi dan sampel yang dijadikan objek penelitian harus memiliki kejelasan baik dari segi scope, ukuran, maupun karakteristiknya. Dengan kata lain, kejelasan populasi dan ketepatan pengambilan sampel dalam penelitian akan menentukan validitas proses dan hasil penelitian kita.

Apa itu populasi penelitian? Apa itu sampel dan bagaimana kaitan antara populasi dan sampel dalam sebuah penelitian? Simak uraian-uraian di bawah ini.

KONSEP DASAR Populasi atau sering juga disebut universe adalah keseluruhan atau totalitas objek yang diteliti yang ciri-cirinya akan diduga atau ditaksir (estimated). Ciri-ciri populasi disebut parameter. Oleh karena itu, populasi juga sering diartikan sebagai kumpulan objek penelitian dari mana data akan dijaring atau dikumpulkan. Populasi dalam penelitian (penelitian komunikasi) bisa berupa orang (individu, kelompok, organisasi, komunitas, atau masyarakat) maupun benda, misalnya jumlah terbitan media massa, jumlah artikel dalam media massa, jumlah rubrik, dan sebagainya (terutama jika penelitian kita menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Populasi penelitian terdiri dari populasi sampling dan populasi sasaran.

Populasi sampling adalah keseluruhan objek yang diteliti, sedangkan populasi sasaran adalah populasi yang benar-benar dijadikan sumber data. Sebagai contoh, misalnya kita akan meneliti bagaimana rata-rata tingkat prestasi akademik mahasiswa STBA-JIA, kita hanya akan memokuskan penelitian kita pada mahasiswa yang aktif di lembaga-lembaga kemahasiswaan, maka seluruh mahasiswa STBA JIA adalah populasi sampling, sedangkan seluruh mahasiswa yang aktif dalam lembaga kemahasiswaan adalah pogram populasi sasaran.

Konsep lainnya yang harus dipahami-dan tidak boleh dikelirukan- adalah jumlah populasi (population numbers) dan ukuran populasi (population size). Jumlah populasi adalah banyaknya kategori populasi yang dijadikan objek penelitian yang dinotasikan dengan huruf K.

misalnya terdiri dari kategori mahasiswa. dosen. maka jumlah populasinya sebanyak kategori yang terkandung dalam konsep sivitas akademika. Misalnya. bila dikaitkan dengan fokus penelitian. terutama jika dihubungkan dengan ketersedian sumber daya yang ada pada peneliti. yakni kategori mahasiswa. Ukuran populasi adalah banyaknya unsur atau unit yang terkandung dalam sebuah kategori populasi tertentu. Ciri-ciri sampel disebut statistik. jika kita menggunakan sampel sebagai sumber data. yang jumlahnya sama dengan jumlah populasi (k=K). yang dilambangkan dengan huruf N. sebab jumlah sampel dan sifat sampel yang diteliti (terutama untuk penelitian eksplanatif. maka gambaran tentang populasi tersebut secara utuh dan menyeluruh akan diperoleh. dan biaya yang dimiliki oleh peneliti. tetapi ciri-ciri sampel itu harus dapat digunakan untuk menaksir populasi. jika kita meneliti sikap sivitas akademika STBA JIA terhadap kebijakan rektor dalam menaikkan biaya pendidikan. sebab dengan menggunakan seluruh unsur populasi sebagai sumber data. maka peneliti boleh mengambil sebagian saja dari unsur populasi untuk dijadikan objek penelitiannya atau sumber data. Sampel atau juga sering disebut contoh adalah wakil dari populasi yang ciri-cirinya akan diungkapkan dan akan digunakan untuk menaksir ciri-ciri populasi. ketika kita meneliti tingkat rata-rata prestasi akademik mahasiswa STBA JIA Bekasi. yang jumlahnya selalui lebih kecil daripada ukuran populasi (n). jumlah populasinya ada tiga.Misalnya. ketika kita meneliti bagaimana rata-rata tingkat prestasi akademik mahasiswa STBA JIA maka jumlah populasinya adalah satu dan ukuran populasinya 300 orang (sesuai dengan jumlah mahasiswa yang terdaftar resmi di STBA JIA). Sebagian unsur populasi yang dijadikan objek penelitian itu disebut sampel. misalnya penelitian korelasional) akan sangat menentukan uji statistik inferensial yang mana yang harus digunakan untuk menguji hipotesis yang dirumuskan dalam . Sama halnya dengan populasi. maka jumlah populasinya adalah satu. sebaik-baiknya penelitian adalah penelitian sensus. tenaga. maka penelitian kita disebut sensus. Sedangkan ukuran sampel (dilambangkan dengan huruf n) adalah besarnya unsur populasi yang dijadikan sampel. dan staf administratif. dalam batas-batas tertentu sensus kadang-kadang tidak efektif dan tidak efisien. Jadi. Oleh karena itu. Misalnya. keterbatasan waktu. maka yang akan kita peroleh adalah ciri-ciri sampel bukan ciri-ciri populasi. Namun demikian. dalam sampel pun ada konsep jumlah sampel dan ukuran sampel. Jumlah sampel adalah banyaknya kategori sampel yang diteliti yang dilambangkan dengan huruf k. Oleh karena itu. Dalam keadaan peneliti tidak memungkinkan untuk melakukan sensus. Sementara itu. Jika kita menggunakan seluruh unsur populasi sebagai sumber data. Mengapa kita harus benar-benar memahami (tidak mengelirukan) pengertian istilah jumlah sampel dengan ukuran sampel. Sensus merupakan penelitian yang dianggap dapat mengungkapkan ciri-ciri populasi (parameter) secara akurat dan komprehensif.

ada uji statistik inferensial yang hanya berlaku untuk menguji satu sampel. Pada umumnya. dan sebagainya (Silakan baca buku Statistik Nonparametrik untuk Ilmu-Ilmu Sosial tulisan Sidney Siegel). ukuran sampel yang diambil. Dalam menguji korelasi di antara variabel-variabel yang diteliti. merupakan salah satu faktor penentu tingkat kerepresentatifan sampel yang digunakan. menyatakan bahwa sebelum kita menentukan berapa besar ukuran sampel yang harus diambil dari populasi tertentu. UKURAN SAMPEL Ukuran sampel atau besarnya sampel yang diambil dari populasi. maka dalam mengambil sampel dari populasi tertentu kita harus benar-benar bisa mengambil sampel yang dapat mewakili populasinya atau disebut sampel representatif. dua sampel independen. sebab dalam dunia ilmu yang ada adalah sepakat untuk tidak sepakat asal masing-masing konsisten dengan rujukan yang digunakannya. Metode Penelitian Survai (1989). sebagaimana diungkapkan di atas. Tingkat kerepresentatifan sampel yang diambil dari populasi tertentu sangat tergantung pada jenis sampel yang digunakan. Sehubungan dengan hal itu. Ketepatan dalam memilih uji statistik inferensial itu merupakan salah satu unsur penentu validitas atau kesahihan penelitian kita. Karena data yang diperoleh dari sampel harus dapat digunakan untuk menaksir populasi. dua sampel berhubungan. Pertanyaannya. sehingga ilmu itu bisa terus berproses dan berkembang). Sampel representatif adalah sampel yang memiliki ciri karakteristik yang sama atau relatif sama dengan ciri karakteristik populasinya. Cara atau prosedur yang digunakan untuk mengambil sampel dari populasi tertentu disebut teknik sampling. buku-buku metodologi penelitian menyebut angka lima persen hingga 10 persen untuk menegaskan berapa ukuran sampel yang harus diambil dari sebuah populasi tertentu dalam penelitian sosial.penelitian kita. tidak ada kesepakatan bulat di antara para ahli metodolologi penelitian (hal ini wajar. misalnya. dan cara pengambilannya. Pendapat ini tentu saja sulit untuk dijelaskan apa alasannya jika ditinjau dari aspek metodologi penelitian. I Gusti Bagoes Mantra dan Kasto dalam buku yang ditulis oleh Masri Singarimbun dan Sofian Effendi. berapa besar sampel harus diambil dari populasi agar memenuhi syarat kerepresentatifan? Dalam menentukan menentukan ukuran sampel (n) yang harus diambil dari populasi agar memenuhi persyaratan kerepresentatifan. ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan yaitu: . dan k sampel independen atau k sampel berhubungan.

Dengan kata lain. kita akan menggunkan teknik analisis data dengan statistik deskripti. sehingga keakuratan hasil penelitiannya (selang kepercayaannya) 1–α yakni bisa 95% atau 99%. Tingkat presisi biasanya dinyatakan dengan taraf signifikansi (α) yang dalam penelitian sosial biasa berkisar 0. misalnya keterbatasan waktu. Jika ukuran populasinya diketahui dengan pasti. beberapa buku metode penelitian menyarankan digunakannya rumus tertentu untuk menentukan berapa besar sampel yang harus diambil dari populasi. dan penafsiran data yang akan ditempuh dalam penelitian. Tingkat presisi.05. pengupasan data. sehingga tidak layak untuk dianalisis dengan asumsi-asumsi kotingensi. Misalnya. 3. Hal ini untuk menghindarkan adanya sel dalam tabel tersebut yang datanya nol (kosong). Rancangan analisis yang dimaksud adalah sesuatu yang berkaitan dengan pengolahan data. Rancangan Analisis. Rumus Slovin: N n = ——— . Derajat Keseragaman Populasi (degree of homogenity). 4. sebaliknya jika tingkat homogenitas populasinya rendah (tingkat heterogenitasnya tinggi) maka ukuran sampel yang diambil harus besar. maka ukuran sampelnya boleh lebih kecil dibandingkan apabila kita menggunakan rancangan analisis statistik deskriptif saja. yakni suatu pernyataan peneliti tentang tingkat keakuratan hasil penelitian yang diinginkannya. Jika tinggi tingkat homogenitas populasinya tinggi atau bahkan sempurna.01 (1%). Tingkat Presisi (level of precisions) yang digunakan. Untuk menentukan tingkat homogenitas populasi sebaiknya dilakukan uji homogenitas dengan menggunakan uji statistik tertentu. (Catatan: Alasan ke-4 ini jangan digunakan sebagai pertimbangan utama dalam menentukan ukuran sampel. penyajian data menggunakan tabel-tabel distribusi frekuensi silang (tabel silang) atau tabel kontingensi dengan ukuran 3X3 atau lebih dimana pasti mengandung sel sebanyak 9 buah. penyajian data. Jika kita menggunakan rancangan analisisnya hanya menggunakan analisis statistik inferensial. biaya. rancangan penelitian deskriptif membutuhkan ukuran sampel yang lebih besar daripada rancangan penelitian eksplanatif. 2. terutama digunkan dalam penelitian eksplanatif. Jika kita menggunakan taraf signifikansi 0. Rumus Slovin di bawah ini dapat digunakan. sebab hal ini lebih berkaitan dengan pertimbangan peneliti (tanpa akhiran an) dan bukan pertimbangan penelitian (metodologi).01 maka ukuran sampel yang diambil harus lebih besar daripada ukuran sampel jika kita menggunakan taraf signifikansi 0. misalnya penelitian korelasional.1. dan lain-lain.05 (5%) atau 0. Alasan-alasan tertentu yang berkaitan dengan keterbatasan-keterbatasn yang ada pada peneliti. tenaga. maka ukuran sampelnya harus besar. maka ukuran sampel yang diambil boleh kecil. Selain mempertimbangkan faktor-faktor di atas.

2%. atau 10%. ada yang 1%. 4%.5%. JENIS SAMPEL DAN TEKNIK SAMPLING . Di antara teknik-teknik sampling tersebut. maka Rumus Yamane yang harus digunakan.000 orang. maka besarnya sampel adalah: 4000 n = ————————. N n = ———– Nd² + 1 d = batas toleransi kesalahan pengambilan sampel yang digunakan. Presisi ditetapkan di antara 5% dengan tingkat kepercayaan 95%. ada yang mempersyaratkan tersedianya kerangka sampling. n = ukuran sampel N = ukuran populasi e = kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang ditololerir.05)² + 1 KERANGKA SAMPLING (SAMPLING FRAME) Di atas sudah ditegaskan. Misalnya. kerangka sampling adalah daftar nama-nama yang kerkandung dalam populasi penelitian. Jika ukuran populasinya besar yang didapat dari pendugaan proporsi populasi. Secara gampang orang sering mengatakan. Batas kesalahan yang ditolelir ini untuk setiap populasi tidak sama.= 364 4000 x (0. dalam penggunaannya. misalnya 5%. bahwa tingkat krepresentatifan sampel selain ditentukan oleh ukuran sampel yang diambil juga ditentukan oleh teknik sampling yang digunakan. kita ingin menduga proporsi pembaca koran dari populasi 4. 3%. Kerangka sampling (sampling frame) adalah sebuah daftar yang memuat data mengenai seluruh unit atau unsur sampling yang terdapat pada populasi sampling.1 + Ne² Keterangan.

artinya harus pasti berapa ukuran populasinya. jika tidak. antara lain (Singarimbun dan Effendy. 3. Keadaan populasinya tidak terlalu tersebar secara geografis. 2. yakni ukuran sampel yang dikehendaki dibagi dengan ukuran populasi. Harus tersedia kerangka sampling atau memungkinkan untuk dibuatkan kerangka samplingnya (dalam kerangka sampling tidak boleh ada unsur sampel yang dihitung dua kali atau lebih). Teknik Sampling Probabilitas (Teknik Sampling Random) a. Teknik Sampling Random Sederhana (Simple Random Sampling) Sampel acak sederhana adalah sebuah sampel yang diambil sedemikian rupa sehingga setiap unit penelitian atau satuan elementer dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel.Berdasarkan prosedur atau cara yang digunakan dalam mengambil sampel dari populasi (teknik sampling). Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menyusun semua unit penelitian atau unit elementer ke . yakni: 1. Teknis pelaksanaannya ada dua cara. Sampel probabilitas cenderung memiliki tingkat representasi yang lebih tinggi daripada sampel nonprobabilitas. yaitu: sampel probabilitas (probability sampling) dan sampel nonprobabilitas (nonprobability sampling). Sampel probabilitas atau disebut juga sampel random (sampel acak) adalah sampel yang pengambilannya berlandaskan pada prinsip teori peluang. 4. kita dapat mengidentifikasi dua jenis sampel. Peluang yang dimiliki oleh setiap unit penelitian untuk dipilh sebagai sampel sebesar n/N. Dengan mengundi unsur-unsur penelitian atau satuan-satuan elementer dalam populasi. sedangkan untuk mengambil sampel nonprobabilitas atau sampel nonrandom digunakan teknik sampling nonprobabilitas. Ukuran populasinya tidak tak terbatas. Dalam menggunakan Teknik Sampling Random Sederhana ini ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. 1989): 1. Sampel probabilitas diambil dengan menggunakan teknik sampling probabilitas atau teknik sampling random. Sebaliknya. yakni pertimbangan-pertimbangan tertentu. sampel nonprobabilitas atau sampel nonrandom (sampel tak acak) adalah sampel yang pengambilannya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu (bisa pertimbangan penelitian maupun pertimbangan peneliti). kemungkinan akan terjadi bias. Sifat populasinya harus homogen. yakni prinsip memberikan peluang yang sama kepada seluruh unit populasi untuk dipilih sebagai sampel.

dimasukkan ke dalam toples yang diberi tutup dengan lubang sebesar kira-kira dapat dilalui oleh setiap gulungan kertas yang ada di dalamnya. dan dimasukkan ke dalam sebuah kotak atau toples. Penentuan angka pertama dapat dilakukan. dan ambil sejumlah gulungan kertas tersebut sebanyak ukuran sampel yang dikehendaki. Selanjutnya lihat Tabel Angka Random atau Tabel Bilangan Random yang selalu ada pada lampiran buku-buku metodologi penelitian atau buku-buku metode statistika. maka pemakai tabel tersebut dapat mulai melihatnya dari baris dan kolom mana saja. juga lebih memberikan jaminan yang lebih besar bahwa setiap unit elementer mempunyai peluang yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Selanjutnya masing-masing nomor unsur populasi itu ditulsikan dalam secarik kertas. dengan cara menjatuhkan pensil dengan mata pensil mengarah ke bawah pada lembaran kertas yang di dalamnya terdapat tabel bilangan random yang kita gunakan. kita dapat menentukan unsur sampel lainnya dengan cara berjalan ke atas mengikuti kolom yang sama. b. Selanjutnya. . hampir tidak mungkin kita dapat melakukan pengocokan secara saksama dan merata seluruh gulungan kertas undian. Angka random yang terkena oleh mata pensil tadi adalah unsur sampel pertama yang kita pilih. Caranya adalah sebagai berikut: misalnya. dan kedua. Persyaratan yang harus dipenuhi agar teknik sampling ini dapat digunakan. Pengundian juga dapat dilakukan seperti halnya ibu-ibu anggota kelompok arian menentukan pemenang arisannya. gunakanlah teknik sampling random sistematik. Dalam keadaan populasi yang demikian. sama dengan persyaratan untuk sampel random sederhana. Dalam keadaan yang demikian. digulung. Gulungan kertas yang di dalamnya sudah berisi nomor unit elementer. Nomor-nomr yang terambil itu menjadi unit elementer yang terpilih sebagai sampel. atau ke samping mengikuti baris. Cara ini dipilih karena selain meringankan pekerjaan.dalam kerangka sampling. yakni dengan mengundi Tabel Angka Random. 2. mulai dari nomor terkecil hingga nomor ke-n (tergantung berapa besar ukuran populasinya). akan dipilih 50 satuan elementer sebagai sampel (n). Di samping itu. sebab: pertama. atau cara apa saja yang dianggap mudah. misalnya. oleh karena itu dalam kerangka sampling satuan elementernya diberi nomor mulai dari 001 sampai 500. Teknik Sampling Random Sistematik (Systematic Random Sampling) Apabila ukuran populasinya sangat besar. Lalu kocok berulang-ulang hingga keluar sejumlah gulungan kertas sesuai dengan ukuran sampel yang direncanakan. dan populasinya mempunyai pola beraturan yang memungkinkan untuk diberikan nomor urut serta bersifat homogen. Penggunaan cara ini (cara pengundian) seringkali tidak praktis. gunakan teknik kedua. Bilangan 500 ini terdiri dari tiga dijit (digit). terutama apabila ukuran populasinya relatif besar. ia dapat juga mengikutinya ke arah mana saja. yakni tersedianya kerangka sampling (ukuran populasinya diketahui dengan pasti). dari satuan elementer dlam populasi (N) yang besarnya 500 orang. maka teknik sampling random sederhana tidaklah tepat untuk digunakan. hingga tidak memungkinkan dilakukan pemilihan sampel dengan cara pengundian. Lalu lakukan pengocokan secara merata. ada kecenderungan kita untuk tergoda memilih angkaangka tertentu. Dengan menggunakan Tabel Angka Random. Karena angka-angka yang yang terdapat dalam Tabel Bilangan Random itu disusun secara kebetulan (randomly assorted). ke bawah mengikuti kolom.

Untuk lebih jelasnya. yakni ketika menentukan unsur pertama dari sampling yang akan diambil. Penentuan unsur sampling selanjutnya ditempuh dengan cara memanfaatkan interval sampel. maka penentuan unsur-unsur sampel berikutnya adalah: * Unsur pertama = s * Unsur kedua = s + k * Unsur ketiga = s + 2k * Unsur keempat = s + 3k. maka unsur-unsur selanjunya yang harus diambil adalah nomor 015. di bawah ini diberikan contoh konkret. Andaikan saja unsur sampel pertama yang terpilih adalah nomor urut 005. 045. Makin heterogen suatu populasi. Interval sampel atau juga disebut sampling rasio diperoleh dengan cara membagi ukuran populasi dengan ukuran sampel yang dikehendaki (N/n). presisi dan tingkat kerepresentatifan sampel yang diambil dari suatu populasi antara lain dipengaruhi oleh derajat keseragaman (tingkat homogenitas) populasi yang bersangkutan. Bedanya. 065. maka pasti k = 10. 025. Interval sampel adalah angka yang menunjukkan jarak antara nomor-nomor urut yang terdapat dalam kerangka sampling yang akan dijadikan patokan dalam menentukan atau memilih unsur-unsur sampling kedua dan seterusnya hingga unsur ke-n. 055. Teknik Sampling Random Berstrata (Stratified Random Sampling) Teknik sampling ini digunakan apabila populasinya tidak homogen (heterogen). makin besar pula perbedaan sifat-sifat antara lapisan tersebut. maka interval samplingnya adalah 500/50=10 atau k =10. Padahal. Andaikan yang terpilih sebagai unsur sampling pertama adalah satuan elementer yang bernomor s. dari populasi (N) berukuran 500 kita akan mengambil sampel (n) berkuran 50. 075. Interval sampel biasanya dilambangkan dengan huruf k. Misalnya ukuran populasinya 500 (N=500) dan ukuran sampel yang akan diambil sebesar 50 (n=50). maka populasi yang bersangkutan harus dibagi-bagi kedalam lapisan-lapisan (strata) yang seragam atau homogen. c. pada teknik sampling sistematik perandoman atau pengundian hanya dilakukan satu kali. 035. . dan seterusnya dengan berpatokan pada penambahan angka 10 dari nomor urut terakhir. dan seterusnya hingga unsur ke-n. dan dari setiap strata dapat diambil sampel secara random (acak). sebagaimana telah diungkapkan di atas. Misalnya.Cara penggunaan teknik sampling random sistematik ini mirip dengan cara sampling random sederhana. Untuk dapat menggambarkan secara tepat tentang sifat-sifat populasi yang heterogen.

Jumlah satuan elementer dari setiap strata (ukuran setiap subpopulasi) harus diketahui dengan pasti. dari setiap strata diambil sampel yang sebanding dengan besar setiap strata dengan berpatokan pada pecahan sampling (sampling fraction) yang sama yang digunakan. Dalam kenyataannya karakteristik mahasiswa Unpad tidak sama (tidak homogen) sebab di Unpad terdapat program pendidikan jenjang D3. yang dapat dijadikan kriteria untuk pembagian strata itu ialah variabel-variabel yang akan diteliti atau variabel-variabel yang menurut peneliti mempunyai hubungan yang erat dengan variabel-variabel yang hendak diteliti itu. 2. Dengan demikian. mahasiswa S2. Dalam sampel strata proporsional. ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pecahan sampling adalah angka yang menunjukkan persentase ukuran sampel yang akan diambil dari ukuran populasi tertentu. (Harap dicatat. Sebagai contoh. Jadi. Hal ini diperlukan agar peneliti dapat membuat kerangka sampling untuk setiap subpopulasi atau strata yang akan dijadikan sumber dalam menentukan sampel atau responden. Secara teoretis. misalnya kita menggunakan Rumus Slovin. maka dari setiap lapisan populasi . maka pecahan samplingnya adalah 0.Untuk dapat menggunakan teknik sampling random strata. 1989:162-163): 1. 3. mahasiswa Unpad sebagai populasi harus dibagi kedalam strata (subpopulasi) mahasiswa D3. yakni sampel strata proporsional dan sampel strata disproporsional. S2. sampel yang harus diambil sebesar 2. Untuk menentukan saampel sasaran atau responden masih perlu dilanjutkan dengan menggunakan teknik sampling random sederhana atau teknik sampling random sistematik.000 orang. dalam penelitian tentang motivasi belajar mahasiswa (misalnya). Berdasarkan perhitungan tertentu.000. Harus ada data pendahuluan dari populasi mengenai kriteria yang dipergunakan untuk menstratifikasi. Maka dalam keadaan populasi yang demikian.500 orang mahasiswa. dan mahasiswa S3. sehingga ukuran populasinya 25. Sampel strata terdiri dari dua macam. S1. Teknik sampling random strata proporsional digunakan apabila proporsi ukuran subpopulasi atau jumlah satuan elementer dalam setiap strata relatif seimbang atau relatif sama besar. antara lain (Singarimbun dan Effendi. Misalnya. dan S3 yang tentu saja karakteristik (terutama karakteristik akademisnya) berbeda-beda. tingkat motivasi belajar mahasiswa erat kaitannya dengan jenjang pendidikan yang diikutinya. mahasiswa S1. Sebagai contoh.10 (10%) yang diperoleh dengan cara membagi ukuran sampel yang dikehendaki dengan ukuran populasinya (n/N). data mengenai pembagian jenjang pendidikan pada mahasiswa Unpad didasarkan pada kenyataan bahwa di Unpad memang terdapat berbagai jenjang pendidikan. setelah sebelumnya dibuatkan kerangka sampling untuk setiap subpopulasinya. bahwa teknik sampling random strata ini baru efektif dalam menentukan ukuran sampel yang harus diambil dari setiap strata dan belum mampu menentukan siapa saja sampel yang harus diambil untuk dijadikan responden penelitian). jumlah keseluruhan mahasiswa Unpad ada 25. jenjang pendidikan dijadikan dasar dalam menentukan strata populasi. Harus ada kriteria yang jelas yang akan dipergunakan sebagai dasar untuk menstratifikasi populasi ke dalam lapisan-lapisan. Misalnya. populasi penelitian Anda adalah seluruh mahasiswa Unpad.

yang berbeda adalah pecahan samplingnya. ukuran sampel yang diambil dari setiap subpopulasi (strata) sama besarnya. jika ukuran sampelnya sama dengan ukuran populasinya (total sampling atau sensus) maka data yang diperoleh dari sampel tersebut tidak bisa diolah atau dianalisis dengan menggunakan analisis statistik inferensial. Pada Sampel Strtata Disproporsional.000 = 0. perhatikan tabel di bawah ini. gunakanlah Teknik Sampling Random Strata Disproporsional.500/25. data yang diperoleh dari sampel masing-masing strata harus dikalikan dengan bobot yang disesuaikan pada strata tersebut.000 20% 0.(strata) harus diambil sampel sebesar 10 % sehingga akhirnya diperoleh ukuran sampel secara keseluruhan yang merepresentasikan populasi. ada yang jumlahnya besar ada pula yang jumlahnya kecil. Penggunaan Teknik Sampling Random Strata Proporsional agak kurang tepat jika proporsi ukuran subpopulasinya (jumlah satuan elementer pada strata) tidak seimbang.10 * Setiap jenjang pendidikan diwakili dalam sampel proporsinya dalam populasi. dalam keadaan populasi yang demikian.10 800 32% S2 5. . Oleh karena itu.000 40% S1 8.500 100% Keterangan: * Ditentukan ukuran sampel 2. Tabel 1 Sampel Berstrata Proporsional untuk Penelitian Motivasi Belajar di Kalangan Mahasiswa Universitas Padjadjaran Jenjang Ukuran % dalam Pecahan n % dalam Pendidikan Populasi Populasi Sampling Sampel Sampel D3 10. nanti pada waktu analisis data.10 1. sehingga kalau digunakan teknik sampling strata proporsional dapat kejadian ukuran subpopulasinya sama dengan ukuran sampelnya. Satu hal yang perlu dicatat dan diingat. Padahal.10 500 20% S3 2. Untuk lebih jelasnya.000 32% 0.000 100% 2.000 8% 0.10 200 8% _______ ______ ______ _____ 25.000 40% 0. jika menggunakan teknik sampling ini.500 * Pecahan sampling 2.

wilayah penelitian kita ada di Kelurahan Gunung Sampah. Kelompok anak SD itu disebut klaster. Apabila kita berhenti sampai di sini. dua kecamatan dari setiap wilayah sehingga diperoleh delapan kecamatan. dan seterusnya dengan cara yang sama. Misalnya. Misalnya kita akan meneliti pendapat seluruh ibu rumah tangga yang ada di wilayah Kota Bandung tentang konversi bahan bakar minyak tanah ke gas elpiji. desa. maka pengambilan sampelnya dapat dilakukan satu tahap (simple cluster sampling). Sebagai konsekuensinya. dan keberadaannya tersebar secara geografis atau terhimpun dalam klaster-klaster yang berbeda-beda. Dasar penentuannya adalah pertimbanganpertimbangan tertentu dari peneliti atau dari penelitian. Bandung. teknik sampling nonrandom ini tidak dapat digunakan apabila penelitian kita dirancang sebagai sebuah penelitian . Bandung Selatan. sehingga kita memiliki 16 kelurahan sebagai wilayah penelitian dengan konsekuensi seluruh ibu rumah tangga di 16 kelurahan itu harus dijadikan responden. lalu ambil secara random. melainkan harus beberapa tahap. populasi puah penelitian kita adalah seluruh murid Sekolah Dasar (SD) yang ada di Wilayah Kota Bandung. maka pengambilan sampel tidak cukup hanya satu tahap. Dalam keadaan yang demikian gunakanlah teknik sampling klaster banyak tahap (multistage cluster sampling).d. RT. Apabila klaster itu bersifat wilayah geografis yang kecil. Teknik Sampling Random Klaster (Cluster Random Sampling) Teknik ini digunakan apabila ukuran populasinya tidak diketahui dengan pasti. yang terdiri dari 10 RW. kalaupun mungkin. misalnya. misalnya RW. kita diperbolehkan untuk menurunkan lagi wilayah penelitian pada wilayah yang lebih kecil. kita ambil dua kelurahan dri setiap kecamatan terpilih. Dari situ secara random. sehingga tidak memungkinkan untuk dibuatkan kerangka samplingnya. maka seluruh ibu rumah tangga yang berdomisi di delapan kecamatan terpilih itu adalah sampel penelitian kita. maka kita dapat memilih beberapa RW secara random untuk dijadikan wilayah penelitian dengan konsekuensi seluruh penduduk sasaran di RW itu harus dijadikan sampel (responden). dan Bandung Utara. dan sebagainya. Jika dirasakan masih terlalu banyak jumlahnya. Tidak mungkin kita dapat menghimpun semua data anak SD dalam sebuah daftar yang akurat. maka kita boleh menjabarkan wilayah kecamatan terpilih itu menjadi kelurahan-kelurahan. Populasi penelitiannya adalah seluruh ibu rumah tangga yang ada di Kota Bandung. kelas. Akan tetapi jika klasternya besar atau wilayah geografisnya besar. misalnya. Maka kelompok siswa SD itu kita buat berdasarkan nama sekolahnya. RW. sehingga wilayah kecamatan tadi kita jadikan populasi sampling. Kota Bandung kita bagi dulu ke dalam Wilayah Bandung Timur. Tetapi jika kita merasa jumlahnya masih terlalu besar. kelurahan. Barat. Teknik Sampling Nonprobabilitas (Teknik Sampling Nonrandom) Dalam menentukan sampel dengan menggunakan taknik sampling nonrandom. Klaster dapat berupa sekolah. tidak menggunakan prinsip kerandoman (prinsip teori peluang). pasti daftar itu akan sangat panjang dan memerlukan waktu serta biaya yang tidak sedikit untuk menyusunnya. Misalnya. Dari setiap wilayah itu kita jabarkan lagi pada kecamatan-kecamatan. kecamatan.

Dasar penetuan sampelnya adalah tujuan penelitian. Beberapa Masalah dalam Penelitian yang Berkaitan dengan Sampel Dalam setiap penelitian. definisi operasinal variabel. 3. Dalam suatu penelitian. Ada penelitian yang dapat mentolerannsikan penyimpangan yang besar. Sampel Aksidental (accidental sampling). Penyimpangan karena Pemakaian Sampel (Sampling Error)Seandainya tidak ada kesalahan pada pengamatan. para dosen produksi film. Teknik sampling kuota merupakan teknik sampling yang sejenis dengan teknik sampling strata. jika kesimpulan penelitian kita ingin memperoleh kemampuan generalisasi yang tepat 2. sebaliknya ada juga penelitian yang menghendaki penyimpangan yang kecil. misalnya penelitian korelasional. di antaranya adalah: 1. siapa saja asal berasal dari strata tersebut. Sebisa mungkin. Sampel Kuota (quota sampling). dan lain-lain. tergantung pada sifat penelitian itu sendiri. sebab penyimpangan yang besar dapat menimbulkan kesimpulan yang salah. Sampel Purposif (purposeful sampling). Ada beberapa jenis sampel nonrandom yang sering digunakan dalam penelitian sosial/penelitian komunikasi. . ada kemungkinan timbul dua macam penyimpangan. dan sebagainya. karena rumus uji statistik inferensial tidak dapat diterapkan untuk data yang berasal dari sampel nonrandom. sehingga sampel ini sering kali disebut convenience sampling atau sampel keenakan. Teknik sampling ini secara luas sering digunakan untuk penelitian-penelitian eksploratif atau penelitian deskriptif. tetapi menggunakan cara-cara kemudahan (convenience). Sampel ini sering disebut sebagai sampel kebetulan yang pengambilannya didasarkan pada pertimbangan kemudahan bagi peneliti (bukan penelitian). yaitu: 1. pengolahan data.eksplanatif yang akan menguji hipotesis tertentu. para ahli sinematografi. tingkat signifikansi tertentu. Orang-orang ilmu statistika bahkan menyebutnya sebagai sampel kecelakaan. untuk meneliti kualitas cerita Film Ayatayat Cinta kita memerlukan reponden yang memiliki kualifikasi komptensi dalam bidang perfilman atau bidang komunikasi. satuan-satuan ukuran. Misalnya. Teknik ini disebut juga judgemental sampling atau sampel pertimbangan bertujuan. Caranya. tidak tertutup kemungkinan untuk terjadi permasalahan atau penyimpangan. Sampel ini digunakan jika dalam upaya memperoleh data tentang fenomena atau masalah yang diteliti memerlukan sumber data yang memilki kualifikasi spesifik atau kriteria khusus berdasarkan penilaian tertentu. karena saking tidak representatifnya sampel tersebut. hindari untuk menggunakan sampel ini. Besarnya penyimpangan yang dapat ditoleransi dalam suatu penelitian. Perbedaannya adalah ketika mengambil sampel dari setiap strata tidak menggunakan cara-cara random. tentukan ukuran sampel dari masing-masing strata lalu teliti siapa sejumlah orang yang sesuai dengan ukuran sampel yang ditentukan tadi. Maka sampelnya adalah para kritikus film.

mengalikan. di antaranya adalah: * Penyimpangan karena kesalahan perencanaan. yang dapat menyebabkan jawaban yang diperoleh dari responden menyimpang dari yang sebenarnya. masalah yang dihadapi dalam Pembuatan Kerangka Sampling. atau mungkin juga responden mempunyai maksud-maksud tertentu secara terselubung. Apabila sampel itu sudah sama besar dengan populasi. dan sebagainya. * Penyimpangan karena salah tafsir responden. memberikan peluang penyimpangan atau kesalahan pada hasil penelitian. Misalnya. Hal ini disebabkan mungkin karena pendataannya yang tidak akurat atau datanya sudah kadaluarsa. Misalnya karena tidak tepatnya definisi operasional variabel. Penyimpangan Bukan oleh Pemakaian Sampel (Non-Sampling Error) Jenis penyimpangan ini dapat ditimbulkan oleh berbagai hal. kriteria satuan-satuan ukuran. dan sebagainya. lalu kita menggantinya dengan mahasiswa yang lain. maka penyimpangan oleh pemakaian sampel pasti akan hilang. Biasanya disebabkan karena responden sudah lupa akan masalah yang ditanyakan. * Penyimpangan karena salah tafsir dari petugas pengumpulan data maupun responden. di antaranya adalah sebagai berikut: * Blank Foreign Elements Yakni jika data populasi yang diperoleh dari sesuatu sumber tidak sesuai dengan kenyataannya di lapangan. misalnya salah dalam menambahkan. seseorang mahasiswa yang telah ditetapkan sebagai sampel tidak bisa dihubungi pada waktu akan diwawancarai atau diminta untuk mengisi kuesioner.maka perbedaan itu hanya disebabkan oleh pemakaian sampel. . Mudah dimengerti bahwa semakin besar sampelnyang diambil. semakin kecil pula terjadi penyimpangan. * Penyimpangan karena Penggantian Sampel. 2. sehingga terjadi orang yang sudah terpilih sebagai sampel tidak ditemui di lapangan. * Penyimpangan karena kesalahan pengolahan data. * Penyimpangan karena responden sengaja salah dalam menjawab pertanyaan. Sementara itu. Hal ini berkaitan dengan adanya perbedaan antara sampel yang diteliti dengan sampel yang ditetapkan. Hal ini dapat terjadi jika responden merasa curiga terhadap maksud dan tujuan penelitian.

. yang kita temukan hanyalah daftar nama sekolah dasar yang ada di Kota A. * Cluster of Elements Kerangka sampling yang kita miliki tidak selamanya sama dengan yang kita butuhkan.* Incomplete Frame Ketidaklengkapan kerangka sampling terjadi karena ada unsur populasi (orang) yang seharusnya masuk di dalamnya. kita tidak akan memperoleh daftarnya. Misalnya. jika kita ingin meneliti pelajar sekolah dasar yang bertempat tinggal di Kota A. justeru tidak tercatat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful