PETA KONSEP TITE-TIPE BUDAYA POLITIK Parodikal

Alomond dan Verba

Kaula/Subjek

Abangan

Tipe Budaya Politk

Geeart 2

Santri

Priyayi

Tradisional

Di Indonesia

Islam

Modern

1

yaitu komponen kognitif. Kedua adalah pribadi sebagai aktor politik. Budaya politik suatu masyarakat berkembang dan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang ada dalam masyarakat itu. Pertama adalah sistem politik secara umum. Perbedaan terletak pada objeknya.Tipe – Tipe Budaya Politik A. tampaknya konsepsi budaya politik lebih sempit dan lebih terfokus daripada pengertian budaya secara antropologis. Menurut Almon dan Verba Menurut Almond dan Verba pembicaraan mengenai budaya atau kebudayaan politik persis sama dengan kebudayaan ekonomi dan kebudayaan religius (keagamaan). eksekutif dan yudikatif. objek kebudayaan ekonomi adalah sistem dan proses ekonomi. pemegang jabatan. perasaan dan sikap manusia atau yang oleh Almond dan Verba disebut orientasi. objek-objek input. baik subjeknya yang hanya menekankan pada segi pikirian. Sedangkan objek orientasi politik dapat digolongkan dalam beberapa objek. dan pribadi sebagai objek. yakni sistem sebagai objek umum. Almond dan Verba mengatakan di dalam objek yang berfokus pada sistem politik terdapat tiga komponen yang saling menunjang. maupun objeknya yang berfokus pada sistem politik dan bagianbagiannya serta proses politik. afektif dan evaluatif. Bahkan dapat dikatakan bahwa kehidupan bermasyarakat dipenuhi oleh interaksi antar orientasi dan antar nilai. Ketiga bagian-bagian dari sistem politik yang dibedakan atas tiga golongan objek. objek kebudayaan politik adalah sistem dan proses politik. sedangkan objek kebudayaan religius adalah sistem dan proses religi. melalui pengukuran terhadap sejumlah sampel atau 2 . Jadi budaya politik dalam masyarakat atau bangsa dapat diketahui melalui tipe-tipe budaya politik yang ada. • Tipe-tipe Budaya Politik Tipe budaya politik suatu masyarakat atau bangsa akan dapat terlihat setelah terlebih dahulu dilakukan survei terhadap individu-individu anggota masyarakat atau bangsa itu. objek-objek output. yakni struktur khusus yang meliputi lembaga legislatif. Secara sederhana objek-objek politik ini dibagi atas empat objek. dan proses input dan outut politik. Dengan kata lain. Menyimak penjelasan di atas.

subjek. yaitu frekuensi (tingkat kognisi atau afeksi atau evaluasi terhadap objek-objek politik dari sejumlah sample atau anggota masyarakat) pada tiap-tiap sel sesuai dengan aspek dan objek politik yang ada. struktur dan proses politik serta administrative (objek-objek input dan output). Contoh masyarakat yang memiliki budaya politik demikian adalah masyarakat suku-suku di Afrika atau komunitas-komunitas lokal yang otonom (kerajaan sentralistis) di Afrika atau di benua lain di dunia. Demikian pula anggota-anggota pemerintahan yang partisipatif secara menyenangkan atau sebaliknya diarahkan kepada berbagai objek politik yang serba ragam. Budaya politik parokial yang murni terdapat pada masyarakat yang memiliki sistem tradisional yang sederhana dengan tingkat spesialisaisi politik yang sangat minim. Budaya politik partisipan adalah satu bentuk budaya yang anggota-anggota masyarakatnya cenderung memiliki orientasi yang nyata terhadap sistem secara keseluruhan. Secara konseptual ada tiga bentuk budaya politik campuran. Berdasarkan frekuensi atau tingkat orientasi politik anggota masyarakat. Orientasi subjek dalam sistem politik yang telah mengembangkan pranata-pranata demokrasi lebih bersifat afektif dan normatif dari pada kognitif. 3. 1. dalam hal ini tingkat kognisi. Tipe-tipe budaya politik itu terlihat dari karakteristiknya. yaitu parokial. 2. Budaya politik subjek yang murni terdapat pada masyarakat yang tidak memiliki struktur yang didiferensiasikan. yaitu: 3 . dan partisipan. Mereka sangat menyadari akan adanya institusi demokrasi. tetapi secara sederhana hal ini tidak memberi keabsahan pada mereka. Kombinasi antara tipe-tipe budaya politik tersebut diatas dapat membentuk tipe-tipe budaya politik campuran. afeksi. Contoh dari tipe orientasi ini adalah golongan bangsawan Perancis.responden dari masyarakat atau bangsa akan diketahui tipe-tipe budaya politik masyarakat atau bangsa itu. Terdapat tiga tipe budaya politik. dan evaluasinya terhadap objek-objek politik.

2. Budaya subjek-parokial Adalah tipe budaya politik yang sebagian besar penduduknya menolak tuntutan-tuntutan ekslusif (khusus) masyarakat kesukuan atau desa atau otoritas feodal dan telah mengembangkan kesetiaan terhadap sistem politik yang lebih kompleks dengan strukturstruktur pemerintahan pusat yang bersifat khusus. Bentuk budaya campuran ini merupakan peralihan atau perubahan dari pola budaya parokial (parokialisme lokal) menuju pola budaya subjek (pemerintahan yang sentralistis). pusat kekuasaan parokial dan lokal turut mendukung pembangunan infrastruktur demokratis. praktik pengobatan tradisional. Menurut Geerz Menurut Geertz pembagian masyarakat yang ditelitinya ke dalam tiga tipe budaya ini didasarkan atas perbedaan pendangan hidup di antara mereka. Sedangkan norma-norma struktural yang diperkenalkan biasanya bersifat partisipan B. Subtradisi santri yang ditandai oleh ketaatan pada ajaran agama Islam serta 4 . Subtradisi abangan yang menurut Geertz didwarnai berbagai upacara selamatan. Budaya parokial-partisipan Banyak terdapat pada negara-negara berkembang yang melaksanakan pembangunan politik. 4.1. Dalam proses peralihan ini. Cara-cara yang berlangsung dalam proses peralihan dari budaya parokial menuju budaya subjek turut berpengaruh pada proses ini. Di sejumlah negara ini pada umumnya budaya politik yang dominan adalah budaya parokial. serta kepercayaan kepada mahluk halus dan kekuatan gaib itu terkait pada kehidupan di pedesaan. Budaya subjek-partisipan Merupakan peralihan atau perubahan dari budaya subjek (pemerintahan yang sentralistis) menuju budaya partisipan (demokratis).

keterlibatan dalam berbagai organisasi sosial dan politik yang bernafaskan Islam dijumpai di kalangan pengusaha yang banyak bergerak di pasar maupun di desa selaku pemuka agama. Masyumi. Budaya politik Santri : Budaya politik santri adalah budaya politik masyarakat yang menekankan aspek-aspek keagamaan. Dengan demikian Geertz melihat adanya keterkaitan erat antara ketiga subtradisi ini –abangan. Subtradisi ketiga. Yang menarik ialah bahwa pola aliran tersebut kemudian dikaitkan dengan ketiga subtradisi Geertz. Di Jawa Geertz mengidentifikasikan empat aliran: PNI. ditandai pengaruh mistik Hindu-Budha prokolonial maupun pengaruh kebudayaan Barat dan dijumpai pada kelompok elite kerah putih (white collar elite) yang merupakan bagian dari birokrasi pemerintah. Budaya politik Priyayi :Budaya politik priyayi adalah budaya politik masyarakat yang menekankan keluhuran tradisi. dan birokrasi pemerintahan. PKI.khususnya agama islam. dan priayi— dengan tiga lingkungan –desa. Budaya politik Abangan : Budaya politik Abangan adalah budaya politik masyarakat yang menekankan aspek-aspek animisme atau kepercayaan terhadap adanya roh halus yang dapat mempengaruhi hidup manusia. dan NU. Menurut pendapat ini aliran berhaluan Islam (Masyumi dan NU) didukung oleh kaum santri. priayi. PNI berintikan kaum priayi. C. Budaya Politik yang berkembang di Indonesia 5 . dan PKI didukung oleh kaum abangan. muncul pandangan bahwa ketiga subtradisi tersebut melandasi pengelompokan aliran. santri. Di tahun 50-an dan 60-an dijumpai suatu pengelompokan yang terdiri atas partai politik yang masing-masing mempunyai organisasi massa sendiri –suatu pengelompokan yang oleh Geertz dinamakan aliran. pasar.

masa Repubik Indonesia I (1945-1959) atau yang lebih dikenal dengan era Demokrasi Liberal atau Demokrasi Parlementer. Ada dua kerangka kerja yang sering digunakan oleh para pengamat politik untuk melihat bagaimana kinerja sistem politik suatu negara. diperlukan suatu kerangka kerja yang dapat digunakan untuk menjelaskan kehidupan ketatanegaraan. Perkembangan demokrasi di Indonesia telah mengalami pasang surut dari setiap masa ke masa. Karena salah satu sifat penting sistem politik adalah kemampuannya untuk dibedakan dengan sistem politik lainnya. dalam hal ini adalah elite maupun massanya (Budi Winarno. masa Republik Indonesia III (1965-1998) atau yang lebih dikenal dengan era Orde Baru atau Demokrasi Pancasila. maka dalam tulisan kali ini saya akan mencoba sedikit mengulas mengenai perkembangan sistem politik Indonesia dari mulai era Demokrasi Parlementer. Perkembangan demokrasi tersebut mempengaruhi pula stabilitas sistem politik Indonesia. masa Republik Indonesia II (1959-1965) atau yang lebih dikenal dengan era Orde Lama atau Demokrasi Terpimpin.ejak negara Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 sampai era reformasi saat ini dipandang dari sudut perkembangan demokrasi sejarah Indonesia. 2008: 18). seperti organisme dan individu misalnya. Dalam kajian ini adalah terkait dengan kehidupan politiknya. negara kita dalam menjalankan roda pemerintahan dengan menggunakan demokrasi dibagi dalam empat masa. Pertama. Karena pentingnya mempelajari perkembangan sistem politik di negara kita ini. era 6 . Karena itu sangat penting untuk mengkaji berhasil atau tidaknya suatu rezim yang sedang atau telah berkuasa. Ketiga. Kedua. Dengan pendekatan struktural-fungsional akan dapat diketahui bagaimana struktur-struktur maupun fungi-fungsi politik suatu sistem politik bekerja. Kedua kerangka kerja tersebut adalah pendekatan strukturalfungsional dan pendekatan budaya politik. Dan yang terakhir yang berlaku sampai saat ini adalah masa Republik Indonesia IV (1998sekarang) atau yang lebih dikenal dengan era Reformasi. Sedangkan dengan pendekatan budaya politik akan dapat diketahui bagaimana perilaku aktor-aktor politik dalam menjalankan sistem politik yang dianut oleh negara masing-masing.

Para elite Indonesia yang disebut penghimpun solidaritas (solidarity maker) lebih nampak dalam periode demokrasi parlementer ini. Selain itu. 2006: 190). Percobaan kudeta dan pemberontakan. menjadi cenderung melayani kepentingan golongan menurut ikatan primordial. Selain itu. atau mereka hanya terbawa-bawa oleh pola-pola aliran yang ada ketika itu. dan PRRI pada tahun 1958 (Rusadi Kantaprawira. Kulminasi krisis politik akibat pertentangan antar-elite mulai terjadi sejak terbentuknya Dewan Banteng. Dewan Gajah. Era Demokrasi Parlementer (1945-1950) Budaya politik yang berkembang pada era Demokrasi Parlementer sangat beragam. Dengan tingginya partisipasi massa dalam menyalurkan tuntutan mereka. Walaupun demikian.Demokrasi Terpimpin. dengan gaya politik yang ideologis pada masing-masing partai politik menyebabkan tumbuhnya budaya paternalistik. era Demokrasi Pancasila. 2. 1. Era Demokrasi Terpimpin (Dimulai Pada 5 Juli 1959-1965) Budaya politik yang berkembang pada era ini masih diwarnai dengan sifat primordialisme seperti pada era sebelumnya. dan yang terakhir adalah era Reformasi dengan menggunakan kerangka kerja pendekatan budaya politik. Anggapan bahwa rakyat mengenal hak-haknya dan dapat melaksanakan kewajibannya menyebabkan tumbuhnya deviasi penilaian terhadap peristiwa-peristiwa politik yang timbul ketika itu (Rusadi Kantaprawira. 7 Tahun 1959 tentang Syarat7 . 2006: 191). orientasi pragmatis juga senantiasa mengiringi budaya poltik pada era ini. di mana dibelakangnya sedikit banyak tergambar adanya keterlibatan/keikutsertaan rakyat. Adanya ikatan dengan kekuatan-kekuatan politik yang berbeda secara ideologis mengakibatkan fungsi aparatur negara yang semestinya melayani kepentingan umum tanpa pengecualian. walaupun sudah dibatasi secara formal melalui Penpres No. Ideologi masih tetap mewarnai periode ini. menimbulkan anggapan bahwa seluruh lapisan masyarakat telah berbudaya politik partisipan. dapat diberi arti bahwa kelompok rakyat yang bersangkutan memang telah sadar. waktu itu terlihat pula munculnya kabinet-kabinet yang terbentuk dalam suasana keselang-selingan pergantian kepemimpinan yang mana kelompok adminitrators memegang peranan.

besarnya partisipasi berupa tuntutan yang diajukan kepada pemerintah juga masih melebihi kapasitas sistem yang ada. 2006: 197). Era Demokrasi Pancasila (Tahun 1966-1998) Gaya politik yang didasarkan primordialisme pada era Orde Baru sudah mulai ditinggalkan. paternalisme juga bahkan dapat hidup lebih subur di kalangan elit-elit politiknya. dan Komunisme (Nasakom). baik dengan sukarela maupun dengan paksaan. Agama. Pengaturan soal-soal kemasyaraktan lebih cenderung dilakukan secara paksaan. Dari masyarakatnya sendiri. Hal ini bisa dilihat dari adanya teror mental yang dilakukan kepada kelompok-kelompok atau orang-orang yang kontra revolusi ataupun kepada aliran-aliran yang tidak setuju dengan nilai-nilai mutlak yang telah ditetapkan oleh penguasa (Rusadi Kantaprawira. 2006: 196). Yang lebih menonjol adalah gaya intelektual yang pragmatik dalam penyaluran tuntutan. Sedangkan pihak yang lebih kuat akan merajai/menguasai arena politik. yaitu hanya melalui Front Nasional. karena diciptakan atas usaha dari rezim. akan tersingkir dari gelanggang politik. penyaluran tuntutan lebih dikendalikan oleh koalisi besar (cardinal coalition) antara Golkar dan ABRI. Tokoh politik memperkenalkan gagasan Nasionalisme. melainkan menujukkan tingkat budaya politik kaula. Dalam kondisi tersebut tokoh politik dapat memelihara keseimbangan politik (Rusadi Kantaprawira. Namun.syarat dan Penyederhanaan Kepartaian. saluran inputnya dibatasi. yang pada hakekatnya berintikan 8 . Adanya sifat kharismatik dan paternalistik yang tumbuh di kalangan elit politik dapat menengahi dan kemudian memperoleh dukungan dari pihak-pihak yang bertikai. yang tidak dapat menghimpun solidaritas di arena politik. 3. Rakyat dalam rapat-rapat raksasa tidak dapat dianggap memiliki budaya politik sebagai partisipan. Dengan demikian muncul dialektika bahwa pihak yang kurang kemampuannya. Selain itu. Input-input yang masuk melalui Front Nasional tersebut menghasilkan output yang berupa output simbolik melalui bentuk rapat-rapat raksasa yang hanya menguntungkan rezim yang sedang berkuasa. Dimana pada era ini secara material. Gagasan tersebut menjadi patokan bagi partai-partai yang berkembang pada era Demorasi Terpimpin.

teknokrat dan perwira-perwira yang telah kenal teknologi modern (Rusadi Kantaprawira. Anak pejabat memegang posisi strategis baik di pemerintahan maupun politik. b. d. Di masa Orde Baru kekuasaan patrimonialistik telah menyebabkan kekuasaan tak terkontrol sehingga negara menjadi sangat kuat sehingga peluang tumbuhnya civil society terhambat. Era Reformasi (Tahun 1998-Sekarang) 9 . 4. Dimana semua keputusan dibuat oleh pemerintah. sedangkan rakyat hanya bisa tunduk di bawah pemerintahan otoriterianisme Soeharto. Sifat birokrasi yang bercirikan patron-klien melahirkan tipe birokrasi patrimonial. mengindikasikan bahwa budaya politik yang berkembang pada era Orde Baru adalah budaya politik subjek. c. proses pengambilan keputusan kebijakan publik yang hanya diformulasikan dalam lingkaran elit birokrasi dan militer yang terbatas sebagaimanaa terjadi dalam tipologi masyarakat birokrasi. Kalaupun ada proses pengambilan keputusan hanya sebagai formalitas karena yang keputusan kebijakan publik yang hanya diformulasikan dalam lingkaran elit birokrasi dan militer. Proyek di pegang pejabat. baik intern maupun ekstern adalah hubungan antar patron dan klien yang sifatnya sangat pribadi dan khas. Kultur ABS (asal bapak senang) juga sangat kuat dalam era ini. Promosi jabatan tidak melalui prosedur yang berlaku (surat sakti). Anak pejabat menjadi pengusaha besar. Akibatnya masyarakat hanya menjadi objek mobilisasi kebijakan para elit politik karena segala sesuatu telah diputuskan di tingkat pusat dalam lingkaran elit terbatas. 2006: 200). Sementara itu. Contoh budaya politik Neo Patrimonialistik adalah : a. memanfaatkan kekuasaan orang tuanya dan mendapatkan perlakuan istimewa. yakni suatu birokrasi dimana hubungan-hubungan yang ada. Dari penjelasan diatas.

Kekuatan orientasi individu yang berkembang untuk meraih kekuasaan dibandingkan sebagai pelayan publik di kalangan elit merupakan salah satu pengaruh budaya politik Jawa yang kuat. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Agus Dwiyanto dkk dalam Budi Winarno (2008) mengenai kinerja birokrasi di beberapa daerah. Relasi antara pemimpin dan pengikutnya pun menciptakan pola hubungan patron-klien (bercorak patrimonial). terdapat lima preposisi tentang perubahan politik dan budaya politik yang berlangsung sejak reformasi 1998. akan tetapi tidak diimbangi dengan para elit politik karena mereka masih memiliki mentalitas budaya politik sebelumnya. Walaupun rakyat mulai peduli dengan input-input politik. namun tidak pada budaya politiknya. Walaupun struktur dan fungsi-fungsi sistem politik Indonesia mengalami perubahan dari era yang satu ke era selanjutnya. Sehingga budaya politik yang berkembang cenderung merupakan budaya politik subjek-partisipan. namun kuatnya budaya politik patrimonial dan otoriterianisme politik yang masih berkembang di kalangan elit politik dan penyelenggara pemerintahan masih senantiasa mengiringi. Menurut Karl D. Menurut Ignas Kleden dalam Budi Winarno (2008). budaya Jawa telah mempunyai peran yang cukup besar dalam mempengaruhi budaya politik yang berkembang di Indonesia. masyarakat lebih cenderung mengejar status dibandingkan dengan kemakmuran. bahwa birokrasi publik masih mempersepsikan dirinya sebagai penguasa daripada sebagai abdi yang bersedia melayani masyarakat dengan baik. antara lain: 1. Dengan menguatnya budaya paternalistik. Hal ini dapat dilihat dari perilaku para pejabat dan elit politik yang lebih memperjuangkan kepentingan kelompoknya dibandingkan dengan kepentingan rakyat secara keseluruhan. Budaya seperti itu telah membuat struktur politik demokrasi tidak dapat berjalan dengan baik. Jackson dalam Budi Winarno (2008). Orientasi Terhadap kekuasaan 10 .Budaya politik yang berkembang pada era reformasi ini adalah budaya politik yang lebih berorientasi pada kekuasaan yang berkembang di kalangan elit politik. Reformasi pada tahun 1998 telah memberikan sumbangan bagi berkembangnya budaya poltik partisipan.

struktur politik. masyarakat. dsb. 1. 1. civil society. Bebas dari kemiskinan dan kebebasan beragama 2. Hal ini menurut Soetandyo Wignjosoebroto dalam Budi Winarno (2008) karena adopsi sistem politik hanya menyentuh pada dimensi struktur dan fungsi-fungsi politiknya. namun tidak pada budaya politik yang melingkupi pendirian sistem politik tersebut. Desentralisasi politik Pada kenyataannya yang terjadi bukanlah desentralisasi politik. berorientasi pada kekuasaan dan kekayaan.Misalnya saja dalam partai politik. yang terbatas pada tukarmenukar kepentingan politik. bersifat sangat paternalistik. Sedangkan pada politik makro tidak terlalu diperhatikan dimana merupakan tempat terjadinya tukar-menukar kekuatankekuatan sosial seperti negara. Dengan demikian. Soal 11 . budaya politik era reformasi tetap masih bercorak patrimonial. Politik mikro vs politik makro Politik Indonesia sebagian besar lebih berkutat pada politik mikro yang terbatas pada hubungan-hubungan antara aktor-aktor politik. sistem hukum. melainkan lebih pada berpindahnya sentralisme politik dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. 1. orientasi pengejaran kekuasaan yang sangat kuat dalam partai politik telah membuat partai-partai politik era reformasi lebih bersifat pragmatis. Kepentingan negara vs kepentingan masyarakat Realitas politik lebih berorientasi pada kepentingan negara dibandingkan kepentingan masyarakat. 1. dan pragmatis.

karena Negara kita Negara yang masih berkembang.Tipe budaya politik apa yang ada di indoneisa ? jelaskan Jawab Negara kita saat ini memakai system budaya politik modern. dengan itu membuat warga Negara kita mencoba untuk melupakan atau meninggalkan kebiasaan daerah dan landasan pada agama. lalu mereka mencoba bergerak lebih maju dari masa sekarang . 12 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful