BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Tujuan pembangunan kesehatan menuju indonesia sehat 2015 adalah meningkatkan kesadaran dan kemauan hidup sehat lagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui terciptanya masyarakat yang optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku dan lingkungan yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang optimal diseluruh wilayah Republik Indonesia, untuk mencapai tujuan tersebut maka didesa-desa oleh masyarakat telah dilambangkan oleh tenaga kesehatan diposyandu meliputi KIA, KB, IMUNISASI, perbaikan gizi dan penanggulangan diare. Dengan ada pengembangan posyandu yang berkembang cepat maka cangkupan pelayanan kesehatan bagi bayi dan anak balita meningkat dengan cepat pula, keadaan ini telah menyumbang penurunan angka kematian bayi dan balita dengan cukup bermakna. Namun keterbatasan diposyandu, maka pelayanan kesehatan pada ibu tidak dapat dilaksanakan dengan baik, oleh karena itu, sebagai bagian dari pelayanan KIA, perlu diupayakan peningkatan pelayanan kesehatan ibu, salah satu upaya tersebut adalah pelayanan melalui pondok bersalin (Depkes -1995) Menurut UU RI NO IV / Th 1997 tentang kesejahteraan anak menanyakan bahwa anak adalah seseorang yang belum mencapai usia 2 tahun dan belum pernah menikah dan merupakan potensi dan penerus bangsa yang dasar-dasarnya diletakkan oleh generasi sebelumnya. Begitu besarnya arti anak dalam kehidupan maka pada tahun 1923 di beneva, liga bangsa-bangsa telah memutuskan deklarasi hak-hak dan kemudian pada tanggal 20 November 1989 PBB menyetujui hak-hak anak yang berbunyi antara lain: hak untuk dicintai dan dilindungi, hak untuk mendapatkan kesempatan bermain.

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 KONSEP KELUARGA 2.1.1 Pengertian Keluarga adalah unit terkenal dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang kumpul dan tinggal disuatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Depkes RI : 1988, 22) Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan dan mereka hidup dalam satu rumah tangga interaksi satu sama lain, dan dalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan (Effendi. 1998: 32) Keluarga adalah unit utama dari masyarakat dan merupakan lembaga yang menyangkut kehidupan masyrakat (Depkes RI. 1989) 2.1.2 Struktur keluarga Struktur keluarga terdiri atas bermacam diantaranya adalah: a. Patrilineal Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah. b. Matrilineal Adalah keluarga sedarang yang terdiri anak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu. c. Matrilokal Adalah pasangan suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri. d. Patrilokal Adalah pasangan suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami. e. Keluarga kawinan Adalah hubungan suami istri sebagai dasar pembinaan keluarga dan beberapa saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan suami istri.

2.1.3 Ciri-ciri struktur keluarga

berperan sebagai mencari nafkah. Keluarga berkomposisi (composite family) Adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup bersama. Keluarga besar (exended family) Adalah keluarga inti ditambah sanak saudara misalnya nenek. b. b. pelindung.1.5 Peran keluarga a. Ada perbedaan dan kekhususan Setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsinya masing-masing.4 Bentuk keluarga a. pendidik. c. Peranan ayah Ayah sebagai suami dan ayah bagi anak-anak. e. f. b. 2. saudara paman. Keluarga inti (nuclear family) Adalah keluarga yang terdiri atas ayah. keponakan. saling ketergantungan antara anggota keluarga. Ada keterbatasan Semua anggota memiliki kebebasan tetapi mereka juga mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugas masing-masing. Peran ibu . c. Keluarga berantai (serial family) Adalah keluarga yang tirdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari 1 kali dan merupakan satuan dari keluarga inti. serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya. Keluarga duda/janda (single family) Adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian. anak-anak. d. Terorganisasi Saling berhubungan. Keluarga kabitas (cohabitation family) Adalah dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tapi tanpa membentuk keluarga. kakek. bibik dan sebagainya. 2. dan pemberi rasa aman.1.a. Ibu.

jaminan hari tua. 2. Fungsi sosialisasi Membina sosialisasi pada anak Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai tingkat perkembangan anak Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga d. ibu berperan sebagai pengurus rumah tangga sebagai pengasuh. Fungsi biologis Untuk meneruskan kerunan Memelihara dan membesarkan anak Memenuhi kebutuhan gizi keluarga Memelihara dan merawat anggota keluarga b. pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari lingkungannya. disamping itu juga sebagai pencari nafkah tambahan.Sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Fungsi psikologis Memberikan kasih sayang dan rasa aman Memberikan perhatian diantara anggota keluarga Memberi pendewasaan kepribadian anggota keluarga Memberikan identitas keluarga c. mental. dan sebagainya e. Fungsi pendidikan .6 Fungsi keluarga a. pendidik anak-anak. c. sosial dan spiritual.1. Fungsi ekonomi Mencari sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga Pengaturan pengguanaan pengahsilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga yang akan datang misalnya pendidikan anak-anak. Peranan anak Anak-anak melaksanakan peranan psikologis sesuai dengan tingkat perkembangan baik fisik.

Tahap masa tua Tahap ini termasuk ketahap lanjut usia dan kedua orang tua mempersiapkan diri untuk meninggalkan dunia yang fana ini. 2.2. KEP sedang bila hasil penimbangan BB pada KMS terletak pada pita garis merah (BEM) c. tinggalah suami istri berdua saja. dengan keluarga ini keluarga akan merasa sepi apabila tidak dapat menerima kenyataan dapat menimbulkan depresi. Tahap berdua kembali Setelah anak besar dan menempuh kehidupan sendiri-sendiri. .7 Tahap-tahap kehidupan keluarga a. a.- Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan.2 KONSEP TEORI KURANG ENERGI PROTEIN (KEP) 2. Macam-macam KEP adalah. b.2. KEP berat/gizi buruk bila hasil penimbangan BB <60% baku median WHO – NCHS.1 Pengertian KEP adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG) 2. ketrampilan.1.2 Klasifikasi KEP Untuk menentukan pukesmas penentuan KEP dilakukan dengan menimbang BB anak dibandingkan dengan umur dan menggunakan KMS dan tabel BB baku median WHO – NCHS. perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki - Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa - Mendidik anak sesuai dengan tingkat perkembanganya 2. KEP ringan bila hasil penimbangan BB pada KMS terletak pada pita garis kuning b. Pada KMS tidak ada garis pemisah KEP berat/gizi buruk KEP sedang.

Rambut tipis. apatis atau rewel 6. Diare kronik atau konstipasi/susah buang air besar. tinggal tulang terbungkus kulit 2. mudah di cabut 5. Otot mengecil (hipotorofi) lebih nyata bila diperiksa dengan berdiri 8. Iga gamblong 7. Wajah seperti tua 3. c.3 Gejala klinis KEP berat/gizi buruk Untuk KEP ringan dan sedang gejala klinis yang digunakan hanya anak tampak kurus.Sehingga untuk menentukan KEP berat digunakan tabel baku median WHO – NCHS. Gejala klinis KEP berat secara garis besar dapat dibedakan sebagai maramus. Wajah mebulat dan sebab 3. umumnya akut. Perut cekung 6. jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada 5. 2. a. anemia. terutama pada punggung kaki. Edema umumnya seluruh tubuh. Kulit keriput.2. rewel 4. Maramus 1. Pembesaran hati 7. Kwasiokor 1. Kelainan kulit berupa bercak merah muda meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas 9. Cengeng. Sering disertai penyakit infeksi. Perubahan status mental. kemerahan seperti rambut jagusng. Tampak sangat kurus. 2. kwasiokor. atau marasik kwasiokor tanpa mengukur/melihat BB bila disertai adema yang bukan karena penyakit lain adalah KEP berat tipe kwasiokor. Sering disertai penyakit infeksi 8. Marasik kwasiokor . diare. Pandangan mata sayup 4. b.

Rehidrasi bila ada dehidrasi g.2. kalori = 160-175 kalori d. Menimbang anaknya 2. Segera melapor petugas kesehatan .5 Mekanisme pelayanan gizi balita KEP berat a. Berikan ASI 0-2 tahun 3. Memberi MP-ASI sesuai usia ddan kondisi kesehatan anak sesuai anjuran 4. Terapi terhadap penyakit penyerta (antibiatik bila infeksi) 2. keadaan gizi kurang menjadi bertambah.1 gram f. Makanan mengandung protein 3-5 gr/kg BB.4 Kurang kalori dan protein bisa timbul dari 1. Tingkat rumah tangga 1. Pemberian tidak sekaligus banyak. Untuk membentuk otot-otot selama pertumbuhan Mineral = 3x/hari 0.5 gr kcl dan 0. Konsumsi makanan yang langsung Adanya ketidak seimbangan antara konsumsikalori dan zat gizi dalam makanan kwalitas maupun kualitas 2. Makanan TKTP dengan biologis meninggi diberikan terhadap (bentuk) mula-mula cair (susu). lunak-biasa b. Mineral (kalium dg mg) diberikan karena hilang oleh BB yang lunak e.2. pernafasan atau campak. Karena adanya anorexia sehingga timbul gangguan penyerapan dalam saluran pencernaan/peningkatan KEB gizi. Penatalaksanaan : a. sebaiknya penyakit-penyakit tersebut dapat menjadi pemula untuk KKP. Penyakit infeksi Penyakit saluran pencernaan.Gambaran klinik merupakan campuran beberapa gambaran klinik kwasiokor dan maramus dengan BB <60% baku median WHO – NCHS disertai edema yang tidak mencolok 2. mulai dari sedikit kemudian ditambahkan secara bertahap c.

Tingkat posyandu 1. Gerakan halus Menyusun menara dari balok/kubus kecil Membuka lembaran buku Memegang alat tulis dan mencoret-coret Melempar dan memasukkan bola kedalam wadah Menjepit benda dengan 2 jari d. Petugas melakukan kunjungan rumah memantau perkembangan kesehatan balita 2. Kader memberikan PMT (pemberian makanan tambahan) pemulihan bagi balita dengan berat badan tidak naik 5. Gerakan kasar Berjalan sendiri .5. Komunikasi aktif Mengucapkan kata-kata Mengucapkan kalimat yang terdiri dari dua kata. misalnya : ibu makan.2. Komunikasi pasif Memberikan reaksi yang tepat kalau ditangani Melakukan satu perintah yang diberikan Mengerti dua perintah sederhana yang saling berhubungan c. Petugas memberikan penyuluhan tentang MP-ASI sesuai dengan anjuran dan usianya 4. Petugas menimbang balita stiap bulan serta dicatat pada KMS 2. ibu minum. mana boneka Menyebut nama sendiri b. Petugas menganjurkan Ibu untuk memberikan Asi sampai usia 2 tahun 3.6 Stimulasi anak usia 1-2 tahun a. Petugas merujuk balita kepuskesmas bila ditemukan gizi buruk 6. Ibu menerapkan nasehat yang dianjurkan petugas b.

- Mengambil alat permainan dilantai tanpa jatuh Menarik dan mendorong alat permainan .

3 Genografi : Laki :Perempuan : Klien 1.2 Komposisi keluarga No Nama Tn “S” Ny “M” An “S” Jenis kelamin 1 2 3 L P P Hubungan Umur keluarga KK Istri Anak 40 38 26 SD SD Buruh IRT Pendidikan Pekerjaan Keadaan kesehatan Sehat Sehat KEP 1.00 WIB : YULIS SRI HARTATIK 1.4 Tipe keluarga .BAB III TINJAUAN KASUS I.1 Indentitas keluarga Nama kepala keluarga Umur Agama Suku bangsa Pendidikan Pekerjaan Alamat : Tn “S” : 40 Th : Islam : Madura : SD : Buruh tani : dusun patemon timur RT. PEKERJAAN Hari/tanggal Jam Oleh : Selasa. 22 November 2011 : 14.01 1.05/RW.

5 Latar belakang budaya   Keluarga Tn “S” berasal dari suku madura Lingkungan tempat tinggal Tn”S” mayoritas bersuku madura .Tipe keluarga Tn “S” termasuk tipe keluarga inti yang terdiri dari suami. istri dan 1 orang anak. 1.

pembagian tanggung jawab keluarga. 1. kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh kembang anak. dalam keluarga Tn “S” tidak ada perbedaan dalam praktek keagamaan dan dalam kepercayaan keluarga Tn“S” tidak ada pantangan yang mempengaruhi kesehatan Tn “S” mengikuti keagamaan yaitu mengikuti yasinan di lingkungan sekitarnya yang dilaksanakan pada hari jum‟at. hanya mengunjungi rumah sanak saudara dilain tempat pada waktu tertentu. 13. pasangan dan anak.   Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi saat ini Selama ini tahap perkembangan Tn”S” sudah terpenuhi dengan cukup baik Riwayat kesehatan keluarga inti Dalam keluarga Tn”S” tidak ada yang memiliki penyakit keturunan (hipertensi.7 Status sosial ekonomi Dalam keluarga Tn “S” yang menghasilkan nafkah adalah Tn “S” yang bekerja sebagai buruh tani berpenghasilan Rp.6 Agama  Agama yang dianut oleh keluarga Tn “S” ialah agama Islam.8 Aktifitas rekreasi Keluarga Tn”S” dalam melakukan kegiatan rekreasi tidak pernah pergi kesuatu tempat bersama-sama keluarga. Baik didalam maupun diluar keluarga. mempertahankan hubungan yang sehat. TAHAP PERKEMBANGAN DAN RIWAYAT KELUARGA  Tahap perkembangan keluarga saat ini Saat ini keluarga Tn”S” memasuki tahap perkembangan keluarga dengan 1 anak belum masuk sekolah dimana tugas keluarga adalah memenuhi kebutuhan anggota keluarga (kebutuhan tempat tinggal. pembagian waktu untuk individu.1.000/hari tetapi tidak menentu 1. DM) tetapi ada seorang anaknya yaitu An “S” yang menderita KEP sedang.  Riwayat Asal Keluarga Kepala keluarga Istri Anak : Tn”S” anak 3 dari 3 bersaudara : Ny”M” anak ke 2 dari 2 bersaudara : An”S” merupakan . privacy dan rasa aman) membantu anaak untuk bersosialusasi.

DATA LINGKUNGAN  Karakteristik Rumah Luas Tipe rumah Jumlah ruang Jendela Pemanfaatan ruangan Septic tank : 8 x 10m2 : Permanen berlantai semen : 3 ruangan : 2 jendela : Kurang efektif : Tidak mempunyai kamar mandi dan WC Sumber air yang digunakan : Dari sungai DENAH RUMAH D B A C Keterangan A : Ruang tamu B : Ruang keluarga C : Ruang tidur D : Dapur  Karakteristik keluarga Merupakan komunitas madura. serta tidak terdapat pengumpulan sampah. sehingga becek saat hujan turun. Jalannya masih berupa tanah liat. keadaan tempat tinggal keluarga Tn “S” belum terpelihara kesehatannya. tetapi terdapat posyandu balita dan manula yang diadakan setiap sebulan sekali.  Mobilitas Geografi Keluarga Keluarga Tn “S” hidup menetap di dusun patemon timur . lingkungan sekitar Tn “S” masih menggunakan sungai sebagai sarana mandi dan mck karena masih banyak yang belum mempunyai kamar mandi dan jamban sendiri.

tapi kadang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat yaitu Bps dan Postu  An “S” mengalami penurunan BB yang tidak sesuai dengan usianya saat ini terbukti dari pengkajian badan anak kurus dan beratnya hanya 9 kg pada usianya yang 26 bulan  STRUKTUR KELUARGA a.. Jaringan dukungan sosial keluarga  Keluarga Tn “S” jumlah anggota keluarga yang sehat berjumlah 2 orang dan yang KEP satu orang. Struktur kekuasaan Dalam mengambil keputusan dalam keluarga TN “S” sebagai penenti keputusan tentang keuangan serta pendidikan anak dan mengambil keputusan tentang pertolongan pertama dalam kesehatan jika ada keluarga yang sakit. maka cukup dengan membeli obat ditoko terdekat. FUNGSI-FUNGSI KELUARGA 1. b. bila anggota yang lain sakit. Fungsi efektif . c. Pola Komunikasi Pola komunikasi Tn “S” adalah menggunakan komunikasi dua arah menggunakan bahasa madura dan apabila ada masalah dibicarakan bersama dan diselesaikan dengan musyawarah sehingga tidak ada masalah komunikasi. Tn “S” mengenal pantangan makanan dalam kehamilan. sebagai pengasuh anak : Sebagai anak dari Tn “S” dan Ny “M” d. beragama islam dan mengikuti aturan adat istiadat yang berlaku dimasyarakat seperto selametan. Nilai dan norma Keluarga Tn “S” berasal dari suku madura. Struktur peran Tn “S” Ny “M” An “S” : Sebagai suami dan pencari nafkah dan kepala keluarga : Sebagai istri dan ibu dari anaknya.

3. Kebiasaan Menggunakan Obat . Pola makanan keluarga Tn “S” adalah pola mkana yang sederhana yang bertanggung jawab terhadap perencanaan. ikan dan sayur-sayuran. Fungsi ekonomi Kebutuhan sandang. belanja dan penyiapan makanan adalah Ny “M”. Kebiasaan olahraga dan rekreasi Keluarga sebenarnya menyadari bahwa rekreasi dan olah raga sangat baik untuk kesehatan. Perilaku kesehatan Dalam keluarga Tn “S” tidak ada yang mengkonsumsi alkohol. 4. saling bertanggung jawab untuk membesarkan anak serta fungsi sosialisasi juga dipikul bersama. d. Status kesehatan dan kerentangan terhadap penyakit Masalah yang serius (tentang kesehatan) tidak pernah terjadi pada keluarga Tn “S” keluarga biasanya menderita batuk. keluarga Tn “S” dalam penyajian makanan dengan cara digoreng dan direbus. dan mempunyai rasa saling memiliki antara satu sama lain dan keluarga saling mendukung apa yang dikerjakan anggota lainnya. f. papan tercukupi namun terkadang masih berkurang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. tempat keluarga tidur di kamar tidur dengan kasur dan diberi seprey atau alas. tempe. pilek aja. Fungsi perawatan kesehatan a. Fungsi sosialisasi Dalam keluarga Tn “S” terdapat sistem otonomi dan mereka saling ketergantungan antara satu dengan yang lain. pangan.Dalam keluarga Tn “S” hubungan antara anggota keluarga terjalin dengan baik terdapat rasa saling menghormati dan menghargai sama lain. Keyakinan dan pengertian tentang kesehatan Anggota keluarga belum menerapkan nilai-nilai kesehatan secara optimal b. e. tahu. hanya ada yang merokok c. 2. Kebiasaan tidur dan istirahat Keluarga Tn “S” tidur dengan cukup dan tidak terdapat anggota keluarga yang sulit untuk tidur. Praktek pemenuhan kebutuhan diit Menurut keluarga Tn “S” makanan yang sehat adalah makanan yang terdiri dari nasi. namun keluarga tidak sempat olahraga dan rekreasi g.

Sumber pembiayaan kebutuhan kesehatan Keluarga Tn “S” memiliki kartu askes sehingga semua pembayaran kesehatan bersumber dari kartu askes tersebut n. Riwayat kesehatan keluarga Dalam keluarga Tn “S” tidak ada yang menderita penyakit menular maupun keturunan seperti TBC maupun Hipertensi k. i. Cara preventife terhadap penyakit Keluarga Tn “S” jarang memeriksakan kesehatannya jika tidak sedang merasa sakit atau ada anggota keluarga yang sakit j. keluarga Tn “S” mengkonsumsi obat-obatan saat sakit saja h. Praktik dalam perawatan diri Jika ada anggota keluarga yang sakit cukup dibelikan obat di toko terdekat saja. namun jika dibutuhkan langsung dibawa kepuskesmas. Persepso keluarga terhadap layanan kesehatan Keluarga Tn “S” puas dan percaya terhadap layanan kesehatan. Dari suatu masalah dan berusaha hemat dalam bidang ekonomi kebutuhan sehari-hari. Strategi koping Keluarga menggunakan cara musyawarah keluarga dalam mencari jalan keluar. Pelayanan kesehatan yang biasa diterima keluarga Keluarga Tn “S” bisa datang ke puskesmas untuk mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan l.Tn “S” mengkonsumsi kopi. . adanya jenis layanan membantu masyarakat mudah dalam memeriksakan diri m. STRESOR   Maslaah yang dihadapi keluarga Tn “S” saat ini adalah berat badan anaknya yang menurun (kekurangan energi protein) KEP Stresor jangka panjang An “S”yang belum masuk sekolah b. Fungsi reproduksi KOPING KELUARGA a.

tipis. gatal-gatal maupun panas. saat ini tidak sedang sakit  Riwayat Penyakit Dahulu Klien tidak pernah masuk rumah sakit dan tidak mempunyai penyakit menular sepeti TBC  Riwayat Penyakit keluarga Dalam keluarga Tn “S” tidak terdapat yang menderita penyakit yang bersifat keturunan seperti hipertensi. jari lengkap Suhu = 35.  Observasi TTV Ndai = 78x/menit  Pengkajian Fisik Kepala = bentuk simetris. pilek. jari lengkap Bawah = ada kelainanpada kaki kanan. tidak ada kelainan Ekstremitas atas = ada kelainan pada tangan kanan. vena jugularis dan kelenjar limfe Thorax = simetris. tidak ada pernapasan cuping hidung Mulut = tidak ada stomatitis. konjungtiva merah muda.PEMERIKSAAN FISIK Nama Umur Jenis kelamin Hubungan dengan keluarga  Riwayat Penyakit Sekarang Klien sering menderita penyakit batuk. terkadang anak diajak ibu unutk main kerumah tetangga. tidak teraba massa Genetalia = bersih. kencing manis  Aktifitas sehari-hari Setiap hari anak hanya bermain dirumah. tidak ada pembesaran kelenjar tiroid. warna rambut agak kemerahan. tidak ada polip. tidak ada ronchi dan weezing Abdomen = abdomen datar. tidak ada serumen Leher = bersih.5 oC BB = 9 kg RR = 20x/ menit : An “S” : 26 Bulan : Perempuan : Anak . mukosa gigi agak kering. tidak ada benjolan Mata = bentuk mata simetris. tidak ada nyeri tekan. lidah bersih Telinga = simetris. seklera putih. tidak odema Hidung = simetris.

bisa melakukan perintah yang diberikan Gerakan halus => Anak bisa membuka lembar buku. bisa mengambil alat bermain tetapi dengan cara bergeser . bisa memegang alat tulis dan mencoret-coret Gerakan kasar => Anak bisa berjalan sendiri. tetapi masih belum lancar.Integumen = turgor kulit kembali  Stimulasi anak     Komunikasi aktif => anak sudah bisa mengucapkan kata jajan tetapi belum jelas menyebut namanya sendiri Komunikasi pasif => Anak selali memperhatikan apabila diajak bertanya.

Jelaskan pada Ibu untuk memberikan makanan tambahan (PMT) R/ untuk memperbaiki keadaan umum balitanya . Jelaskan pada Ibu mengenai efek samping dari gizi kurang R/ Ibu mengeti dan mau melaksanakan penjelasan nakes 5.II. Lakukan pendekatan pada Ibu dan keluarga R/ Ibu dan keluarga kooperatif dengan tindakan petugas 2. INTERVENSI DX Tujuan = Asuhan kebidanan komunitas pada Balita “S” dengan KEP sedang = Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 1 hari. IDENTIFIKASI MASALAH/DIAGNOSA DX DS DO : Asuhan kebidanan komunitas pada balita “S” dengan KEP sedang : Ibu mengatakan diusia anaknya saat ini mengalami penurunan BB : BB = 9 kg Tampak kurus BB berada pada warna kuning pada KMS\ Masalah = BB balita tidak sesuai umur/kurang gizi KEP sedang III. Jelaskan hasil pemeriksaan pada Ibu tentang keadaan balitanya R/ Ibu mengerti akan kebutuhannya 3. Jelaskan pada Ibu penyebab gizi kurang pada balita R/ agar Ibu tahu penyebab kurang gizi 4. ibu mengerti tentang penyuluhan yang diberikan Kreteria hasil = Ibu dan keluarga setuju atas pentingnya makanan seimbang Ibu dan keluarga setuju untuk memberikan makanan 2 x sehari Ibu setuju untuk membawa anaknya ke posyandu Ibu sudah mengontrol tumbuh kembang anaknya di PKM Berat badan anak sesuai dengan umur INTERVENSI 1. Jelaskan pada Ibu memberi makanan seimbang pada balitanya R/ agar kondisi BB balita meningkat 6.

Menganjurkan pada ibu untuk selalu menimbang balitanya keposyandu 8.7. IMPLEMENTASI DX = Asuhan kebidanan komunitas pada Balita “S” dengan KEP sedang 1. Menjelaskan pada Ibu tentang efeksamping dari gizi kurang dapat mempengaruhi tumbuh kembang.00 WIB DX = Asuhan kebidanan komunitas pada Balita “S” dengan KEP sedang S = Ibu mengerti penjelasan yang diberikan petugas O = kesadaran = composmentis Keadaan = baik TTV = nadi = 77 x/menit RR : 20 x/menit Suhu : 36. buah. Anjurkan pada Ibu untuk menimbangkan balitanya ke posyandu R/ untuk mengetahui BB balita secara rutin 8.5 oC BB : 9 kg A = maslah belum teratasi P = memberikan pesan pada Ibu tentang: . Menjelaskan pada ibu makanan seimbang pada balitanya yang terdiri dari nasi. Menganjurkan Ibu mengontrol tumbuh kembang balitanya dipuskesmas V. Ajnurkan Ibu kontrol tumbuh kembang anaknya ke puskesmas/nakes R/ untuk mengetahui perkembangan balita secara rutin IV. kurang protein dan energi 4. Melakukan pendekatan pada Ibu dan keluarga 2. Menjelaskan pada ibu untuk memberi makanan tambahan (PMT) 7. EVALUASI Tanggal : 24 November 2011 jam : 20. Menjelaskan hasil pemeriksaan pada Ibu tentang balitanya bahwa balitanya kurang energi protein (KEP) 3. lauk. Menjelaskan pada Ibu penyebab gizi kurang pada balitanya. terlalu banyak jajn. sayur 6. mempengaruhi kecerdasan balita. apabila terluka akan susah sembuh 5.

.- Pemberian makanan balita porsi sedikit tapi sering dengan gizi seimbang Pemberian makanan tambahan (PMT) balita Anjurkan pada Ibu untuk menimbang balitanya secara rutin keposyandu Anjuran mengontrol perkembangan balitanya dipuskesmas secara rutin sesuai dengan advis dokter.

serta dicatatkan buku KIA. Pada proses pengkajian. Pada pembahasan ini. Masalah balita KEP dapat teratasi. KEP adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak mencukupi angka kecukupan gizi. penulis mengungkapkan bahwa landasan teori dengan kasus Balita “S” tidak terjadi kesenjangan. Data subjektif diperoleh anamnese pada keluarga pasien. Pada pembahasan diperoleh analisa bahwa tidak ada kesenjangan antara teori dan pratek dilapangan. dilakukan untuk memperoleh data subjektif dan objektif. Dari hasil pengkajian diperoleh maslah/diagnosa hal itu ditunjang dengan data subjektif dan data objektif. sedangkan data objektif diperoleh dari hasil pemeriksaan (pemeriksaan umum.BAB IV PEMBAHASAN Setelah pemberian Asuhan Kebidanan Komunitas pada balita “S” dengan KEP sedang di Dusun Patoman Timur Desa Patoman Kecamatan Tlogosari Kabupaten Bondowoso. . pemeriksaan fisik). Maka dengan Asuhan Kebidanan yang baik dan tepat dapat memulihkan keadaan balita tersebut sesuai sedia kala.

status ekonomi. Bagi petugas kesehatan perlunya meningkatkan kerjasama yang baik antara keluarga balita. Dalam melakukan proses kebidanan perlu diperhatikan etika sopan santun dalam menghadapi keluarga balita agar sepenuhnya mempercayai petugas kesehatan .PENUTUP Kesimpulan Dari asuhan kebidanan komunitas pada balita „S” dengan KEP sedang di Dusun Patoman Timur Desa Patoman kecamatan tlogosari kabupaten bondowoso yang disahkan pda tanggal November 2011 ini. Dapat disimpulkan bahwa penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi. karena dengan mengikuti posyandu tumbuh kembang anak dapat dipantau melalui KMS (Kartu Menuju Sehat). Dalam melaksanakan Asuhan Kebidanan Pada Balita dengan KEP sedang di perlukan keterampilan dan kedisiplinan yang baik 2. dan tenaga medis dalam pemberian asuhan pelayanan kebidanan 3. Sehingga apabila ada penyimpangan dapat diatasi dengan segera dan tidak menimbulkan hal-hal yang buruk Saran 1. konsumsi maknan yang kurang Untuk mengetahui dan memantau tumbuh kembang balita harus rajinmengikuti kegiatan posyandu.

DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Prosedur Penelitian Jakarta Rineka Cipta Manuaba. Jakata = EGC JHPIEGO.R (1998). Ida Bagus Gd. Jakarta = EGC Moctor.S (2002).S (1998). (1998) Ilmu kebidanan penyakit kandungna dan keluarga berencana untuk pendidika Bidan. (2002) availeble from = http//situsbgm. Jakarta Rineka Cipta Arikunto. Asuhanantenatal. (203). Jakarta JHPIEGO Depkes RI.info/gendervaw . Prosedur Penelitian Pendekatan Praktek. Sinopsis Obstetri 1.