P. 1
psikologi kritis

psikologi kritis

4.67

|Views: 2,222|Likes:
Published by aef wahyudin

More info:

Published by: aef wahyudin on Jan 20, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

04/14/2011

KRITIK TEORI PSIKOLOGI

Ditulis pada 6 Januari 2009 oleh wangmuba <!--[if gte mso 9]> Normal 0 MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]--> Audith M Turmudhi (Dimuat di majalah ilmiah “Kalam”, Yogyakarta, nomor 5 vol. III tahun 1993; kemudian dimuat di buku “Membangun Paradigma Psikologi Islami”, editor: Fuat Nashori, Yogyakarta: penerbit Sipress, 1994) Kalau kita amati sepintas teori-teori psikologi kontemporer yang tersedia di dunia akademik kita, boleh jadi akan timbul kesan bahwa semuanya baik-baik saja. Kesan ini akan membawa sikap lanjutan, yaitu bahwa yang penting untuk kita lakukan adalah sekedar menerimanya dan mengoperasikannya di lapangan. Akan tetapi, jika teori-teori itu kita cermati secara kritis, sangat boleh jadi kesan baik tersebut akan buyar. Kritisisme – kiranya kita semua sepakat – sangat diperlukan agar suatu karya budaya apapun, termasuk psikologi, menjadi dinamik: tumbuh dan berkembang menuju penyehatan dan penyempurnaan. Lebih-lebih lagi bagi kita, masyarakat akademik negara dunia ketiga, sikap kritis bukan saja akan mengantarkan kita menjadi konsumen ilmu yang baik, akan tetapi juga menjadi prasyarat utama bagi tumbuhnya kreativitas penciptaan teori-teori baru (theoriebuilding) atau bahkan teori-teori psikologi berparadigma baru. Relevansi dan urgensi untuk hal yang disebut terakhir itu kiranya jelas dengan sendirinya, yaitu mengingat psikologi adalah ilmu yang sangat sentral dan sarat nilai, yakni menyangkut pemahaman dan perlakuan terhadap kehidupan kejiwaan manusia. Sementara kita tahu, bahwa psikologi yang kita hadapi saat ini adalah psikologi Barat dengan segala muatan nilai-nilai kulturalnya.

Berikut ini kita akan dicoba-kemukakan kritik teori psikologi atau kritik terhadap teori-teori psikologi, yang akan meliputi kritik empiris, kritik epistemologis, dan kritik ideologis. Kritik teori ini diharapkan dapat menyingkap cacat-cacat sistemik yang melekat pada (beberapa) teori psikologi. Dengan kritisisme ini, dan selanjutnya dengan tetap memelihara sikap arif, yakni tetap mengapresiasi dan memanfaatkan (apa yang kita anggap sebagai) kebenaran-kebenaran yang terkandung dalam psikologi Barat tersebut, diharapkan akan memunculkan sikap progresif. Yang dimaksud dengan sikap progresif adalah keberanian melakukan upaya-upaya inisiasi untuk membangun paradigma atau teori-teori psikologi alternatif yang lebih sesuai dengan keyakinan akal dan jiwa sehat kita, yang diharapkan dapat memainkan peran besar dalam upaya menyehatkan dan memanusiawikan peradaban, dan yang integratif dengan pandangan ideologis kita. Kritik Empiris Teori adalah abstraksi yang bersifat umum dan formal dari hasil-hasil temuan lapangan. Dalam psikologi, teori-teori itu sering merupakan abstraksi dan generalisasi dari suatu sampel penelitian terhadap perilaku sejumlah manusia di suatu masyarakat dan kebudayaan tertentu. Suatu teori juga dibangun di atas landasan postulat dan asumsi-asumsi tertentu yang seringkali berbeda antara satu dan lain teori (Suriasumantri, 1984). Dengan demikian pada gilirannya kita bisa mempersoalkan apakah suatu teori mampu menjelaskan suatu kenyataan lapangan tertentu atau dapat berlaku dalam kenyataan lapangan dengan setting budaya yang berbeda dari budaya asal teori tersebut dirumuskan. Demikian juga terhadap konsep-konsep yang mendasari teori tersebut, dan metode penerapan teori tersebut. Untuk contoh kritik empiris ini dapat dikemukakan temuan antropolog Margaret Mead (1928) di masyarakat Samoa, yaitu bahwa anak-anak remaja

Samoa ternyata tidak mengalami apa yang dikenal sebagai storm and stress dalam masa perkembangan mereka. Padahal konsep storm and stress yang merupakan hasil temuan pada anak-anak remaja di Amerika Serikat waktu itu dianggap sebagai konsep yang universal, berlaku di mana saja. Kultur di Samoa, rupanya berbeda dengan di Amerika, memungkinkan masa remaja – yang merupakan peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa – berlangsung secara mulus saja, tanpa storm and stress. Contoh lain adalah temuan antropolog Ruth Benedict, bahwa dorongan berkompetisi yang oleh para ahli psikologi semula dianggap sebagai insting, dus bersifat universal, ternyata juga sangat tergantung pada sistem kebudayaan. Pada masyarakat suku Indian Zuni ternyata tidak ditemukan adanya semangat kompetisi. Yang ada adalah semangat untuk selalu membantu orang lain yang mengalami kesulitan. Di sana masyarakat tidak melihat perlunya bersaing untuk mengalahkan orang lain. Demikian juga pada suku Hopi, Arapesh, dan Pueblo. Contoh lain lagi adalah kritik empiris terhadap konsep-konsep

psikoanalisa (Sigmund Freud) dan teori-teori yang mendasarkan diri pada konsep-konsep tersebut. Betapapun kaburnya konsep-konsep psikoanalisa tersebut, sejumlah ahli telah berhasil melakukan studi empirik yang dalam keseluruhan hasilnya ternyata menyangkal kebenaran konsep-konsep dan teoriteori itu. Branislav Malinowski (1927) tidak memperoleh bukti adanya apa yang dinamakan konflik oedipal di antara penduduk pulau Torbiand. Prothro (1961) dalam studinya terhadap praktik-praktik pendidikan anak di Libanon memperoleh bukti bahwa karakter anal sesungguhnya tak berhubungan dengan toilet training seperti yang diteorikan Freud. Dan, Victor E. Frankl (1964) lewat serangkaian penelitiannya memperoleh kesimpulan bahwa tak ada hubungan antara citra ayah positif dangan keyakinan agama seseorang dan sikapnya terhadap Tuhan. Kritik Epistemologis

Epistemologi (filsafat pengetahuan) adalah pembahasan logis tentang apa yang mungkin diketahui oleh manusia, dan bagaimana cara manusia mendapatkan pengetahuan. Epistemologi, yang merupakan inti sentral setiap pandangan dunia (world view) ini menyibukkan diri dengan pertanyaanpertanyaan mengenai apa sumber-sumber pengetahuan; apa hakekat, jangkauan, dan wilayah pengetahuan; bahkan tentang apakah memang dimungkinkan manusia memperoleh pengetahuan; dan kalau iya sampai pada tahap mana pengetahuan yang dapat dianggap manusia (Sahakin & Sahakin, 1965). Tercakup di dalam epistemologi adalah pembahasan mengenai filsafat ilmu yang secara spesifik mengaji hakekat pengetahuan ilmiah. Karena semua pembahasan filsafati itu bersendikan logika, maka yang dimaksud dengan kritik epistemologis adalah pengujian apakah suatu teori mengandung kontradiksi tertentu dalam konstruknya, atau apakah dalam diri teori itu memiliki konsistensi logis atau tidak. Hal yang sama dilakukan terhadap konsep-konsep yang mendasari suatu teori. Berikut ini beberapa contohnya. Pandangan statistikal atau pendekatan grafik-kurva-normal adalah salah satu norma untuk menjawab pertanyaan: siapakah yang normal dan siapakah yang abnormal secara psikologis? Berdasarkan konsep ini disimpulkan bahwa orang-orang yang normal adalah orang-orang yang berperilaku psikologis sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Mereka, yang normal, adalah yang terkumpul di tengah grafik yang berbentuk lonceng itu. Pandangan seperti ini mengandung kesulitan logis, dikarenakan konsekuensinya kita harus menganggap orang-orang yang emosinya luar biasa stabil, misalnya, sebagai orang-orang abnormal, sama seperti orang-orang sub-normal yang mengalami gangguan emosional gawat atau orang-orang neurotik. Norma lain, dari sudut pandangan kultural, konsep keabnormalan jauh lebih kabur lagi. Ini disebabkan karena pandangan tersebut memberikan kewenangan menimbang kenormalan dan keabnormalan seseorang pada

lingkungan sosio-kultural orang tersebut. Karena itu tingkah laku yang dianggap abnormal pada suatu masyarakat atau suatu kelompok tertentu, bisa saja dianggap normal jika orang itu pindah ke kelompok lain. Malik B. Badri (1986) memberi contoh sebuah adat istiadat Sudan (yang non-Islam) di daerah Gezira, di mana pada upacara-upacara perkawinan, pengatin pria mencambuki beberapa orang laki-laki, yaitu teman-temannya, yang dengan sangat suka rela menjadi memar-memar tubuhnya, seolah dalam trance hipnotik. Sementara itu, para penonton wanita bersorak-sorai memberi semangat dan menikmati peristiwa yang dipandang sangat “normal” tersebut. Menyaksikan peristiwa itu, psikolog Amerika penganut Freudianisme mungkin akan menganggap pengatin pria atau teman-temannya yang dicambuki itu sebagai pengidap kelainan seksual. Si pengantin pria akan dicap sebagai seorang sadistik yang mendapatkan kenikmatan erotik dengan menyakiti orang lain, dan yang dicambuki adalah orang-orang masokhis yang terpuasi nafsu erotiknya dengan disakiti. Kritik Ideologis Kritik ideologis bertujuan menyingkap dan mengungkap segi-segi ideologis, nilai-nilai, pandangan-pandangan dasar tentang manusia dan semesta yang mendasari atau menyusup dalam suatu teori atau juga ikut membonceng dalam penerapan suatu teori. Anggapan bahwa ilmu tidak memberikan penilaian (evaluation), tapi hanya mau mengemukakan fakta apa adanya dengan cara objektif sebagaimana yang bisa disimpulkan dari suatu kumpulan data dan fakta empiris, telah disangkal keras oleh Gunnar Myrdal (1969). Dalam semua usaha ilmiah tidak bisa dihindarkan adanya suatu unsur apriori. Oleh sebab itu, unsur-unsur apriori yang berupa asumsi-asumsi dasar, faham-faham ideologis yang mendasari suatu teori hendaknya tidak disembunyikan, melainkan harus dirumuskan dengan jelas agar dapat secara terbuka didiskusikan. Jelaslah bahwa fakta-fakta tidak mengoganisir diri menjadi konsep-konsep dan teori-teori hanya karena

diamati. Fakta-fakta dapat diorganisasi menjadi konsep atau teori hanya setelah diolah dengan menggunakan kerangka konseptual tertentu yang tentunya sudah ada dalam benak sang teoritisi atau dipilih secara apriori. Bahkan apa yang dinamakan fakta-fakta ilmiah pun hanya akan tampak jika dilihat dengan kerangka gagasan atau teori tertentu yang tentunya dipilih secara subjektif, dan tidak tampak kalau kita memakai kerangka gagasan atau teori yang lain. Bagi orang yang hanya percaya pada empirisme, misalnya, adalah berarti ia sudah berpihak kepada empirisme dan tidak pada intuisionalisme. Dus, sudah tidak netral lagi. Maka bagi seorang empiristik, objektivitas sudah diredusir maknanya menjadi kepastian empiris belaka (Myrdal,1969). Jadi, seorang psikolog yang memandang manusia sebagai seekor binatang materialistik yang bermotivasi tunggal untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan fisik dan sosialnya “di sini dan saat ini” (here and now), dengan sendirinya – dalam hal ini, setidak-tidaknya – berpandangan atheis. Manusia dianggap tidak memiliki jiwa, orientasi dan kerinduan terhadap hal-hal yang tinggi dan metafisis sifatnya. B.F. Skinner yang dengan tegar tidak mau mengakui adanya apa yang dimaksud dengan kehendak bebas (free will) dalam perilaku manusia, dan yang memandang manusia bagai mesin belaka (Hjelle & Ziegler, 1981), maka tentunya di dalam sistem psikologinya berkonsekuensi menonsenskan tanggung jawab manusia. Kenapa manusia harus bertanggung jawab jika ia tidak lebih dari mesin yang bertingkah laku semata atas dasar stimulus-respons? Sama pula dalam psikoanalisa Freud, pertanggungjawaban mustahil diminta karena manusia hanyalah binatang yang bergerak atas dorongan insting: eros dan thanatos. Memang, psikoanalisa tidak terlepas dari pandangan Freud bahwa konsep Tuhan tidak lain adalah sebuah delusi ciptaan manusia. Dan, Freud menyesali kenapa manusia masih menyembah apa yang dianggapnya sebagai ilusi palsu yang diciptakan karena kebutuhan-kebutuhan masa kecil. Begitulah, dalam pandangan psikologi tadi, manusia hanyalah sekedar makhluk psiko-fisikal-sosial belaka, tak ada jiwa atau ruh yang menautkan manusia dengan Tuhan.

DAFTAR PUSTAKA: Badri, Malik B., Dilema Psikolog Muslim, (Terjemahan Siti Zaenab Luxfiati), Jakarta: Penerbit Firdaus, 1986 Hjelle, Larry A. & Ziegler, Daniel J., Personality Theories: basic Assumtions, Research, and Aplications, Auckland: McGraw-Hill International Book Company, 1981 Myrdal, Gunnar, Objectivity in Social Research, New York: Pantheon Books, 1969 Sahakin, William S. & Sahakin, Mabel L., Realm of Philosophy, Cambridge: Schenkman, 1965 Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu, Jakarta: Penerbit Sinar Harapan, 1984 http://wangmuba.wordpress.com/2009/01/06/kritik-teori-psikologi/

Membangun Psikologi Islami
MEMBANGUN PSIKOLOGI ISLAMI Oleh: Rahmat Aziz, M.Si Dipublikasikan pada jurnal: Psikoislamika, Jurnal Psikologi dan Keislaman, Vol 1, No 1, Januari 2004

Abstract. It is the fact, that the thought of western psychology has expand speedy, and adopted by many scholars, include us. However, it does not mean that there is no flawed in western psychology. For instance, Freud’s psychoanalysis is considered over simplified and cannot explain some problems such as fitrah in Islam, John Lock’s behaviorist did not admit human intrinsic potencies which empirically cannot be denied, in addition, humanistic of Maslow have ignored factor and the role of God in the human life. Islamic psychology comes into being to respond for the lack of western psychology theories. There are two ways in developing Islamic psychology; praxis and theoretic. Praxis method means developing Islamic psychology based on what have been developed by western psychology then we filter it and search the legitimacy for it; meanwhile, theoretic method means developing Islamic psychology based on the teaching and resources of Islamic knowledge itself. Keyword: Psychology, Western, and Islam.

Pengantar Ada perbedaan cukup tajam antara Ziauddin Sardar dan Ismail Raji alFaruqi tentang gerakan Islamisasi ilmu. Menurut Sardar, islamisasi harus berangkat dari pandangan dunia (world view) yang Islami dan paradigma keilmuannya, sedang bagi Faruqi gerakan Islamisasi dimulai dari adanya kritik terhadap ilmu-ilmu modern dengan menggunakan Islam sebagai analisisnya, setelah itu baru diadakan sintesis. Kedua pandangan diatas mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri. Pandangan pertama sangat ideal dalam tatanan teoritis tapi lemah dalam aplikasi karena memerlukan waktu yang sangat lama, sedangkan pandangan kedua unggul dalam aplikasi karena bisa langsung menjawab persoalan-persoalan umat saat ini tapi lemah dalam dataran teoritis karena bisa terjebak dalam gerakan westernisasi ilmu. Menurut Djamaluddin Ancok & Fuad Nashori, dari kedua pandangan

diatas diperkirakan pandangan kedualah yang akan memenangkan pertarungan. Hal ini bisa terlihat dari banyaknya kalangan ilmuwan yang sudah melakukan seperti saran Faruqi. Salah satu diantaranya adalah kalangan ilmuwan psikologi. Para ilmuwan psikologi saat ini merasakan adanya beberapa kelemahan mendasar dari teori-teori psikologi modern sehingga perlu mengajukan satu alternatif psikologi. inilah yang kemudian memuncul alternatif psikologi Islami. Kritik Terhadap Psikologi Modern Kritik merupakan bagian dari sikap ilmiah yang melekat pada diri ilmuwan. Ilmuwan sebagai penemu, penguasa, pengembang, pengendali, dan peramal sains, tidak boleh tidak harus membuka diri untuk di kritisi sekaligus mengkritisi. Ilmuwan sebenarnya sudah kehilangan makna keilmuwannya jika sudah tidak memiliki semangat mengkritisi atau tidak tahan dikritisi. Begitu juga teori sebuah ilmu, termasuk teori psikologi modern, akan kehilangan dinamikanya ketika menutup diri dari kritikan. Dalam sejarah perkembangan psikologi terlihat bahwa lahirnya teori psikologi yang kemudian disusul teori psikologi yang lain adalah karena semangat mengkritik, yaitu mengkritik teori psikologi yang lama untuk kemudian membangun teori psikologi yang baru. Ini sesuai dengan pendapat Kuhn bahwa gelombang revolusi ilmu pengetahuan selalu ditandai oleh pergeseran dan penggantian dominasi paradigma ilmu yang berlaku. Karena itu, menjadi suatu hal yang sangat urgen untuk segera melakukan kritik terhadap teori-teori psikologi modern kemudian memberikan solusi alternatif. Kerlinger menyatakan bahwa salah satu fungsi sebuah teori adalah sebagai penjelas. Artinya teori tersebut diharapkan mampu memberikan penjelasan terhadap suatu fenomena yang ada, baik berupa hubungan sebab-akibat (kausalitas) atau hubungan yang non sebab-akibat (nir-kausalitas). Suatu teori akan runtuh ketika ia tidak mampu lagi memberikan penjelasan terhadap fenomena yang ada. Demikian juga dalam bidang psikologi. Saat ini banyak fenomena yang tidak mampu lagi dijelaskan dari sudut pandang teori psikologi modern. Untuk menjawab kenyataan diatas, keberadaan teori psikologi yang baru menjadi mutlak diperlukan.

Berbicara tentang psikologi modern, setidaknya ada tiga aliran besar yang biasa dijadikan rujukan. Semua aliran itu lahir di Barat, sehingga menurut Nashori, pola pikir (mode of thought) yang digunakannya juga adalah masyarakat Barat. Jika teori-teori tersebut digunakan untuk menganalisis masyarakat non-Barat (Islam), adanya bias-bias menjadi tidak terelakkan. Kritis atas kelemahan psikologi Barat seprti itu sudah banyak disampaikan, baik oleh kalangan mereka sendiri seperti Ruth Benedict, atau dari kalangan lain. Kritik Atas Aliran Psikoanalisis. Aliran psikoanalisis dipelopori oleh Sigmund Freud. Menurutnya, kehidupan manusia ditentukan oleh adanya dorongan-dorongan id (ego) yang bertujuan untuk memuaskan kesenangan (the principle of pleasure). Ego ini sangat ditentukan oleh masa lalunya, khususnya ketika masih balita, sedang hati nurani (super ego) muncul karena adanya interaksi individu dengan lingkungan sosialnya. Teori Freud tentang dorongan id (libido sexual) termasuk salah satu teori yang mendapat kritik keras karena dianggap terlalu menyederhanakan kompleksitas hidup seseorang. Apalagi jika dilihat dari perspektif Islam, teori ini tidak akan mampu menjelaskan kebutuhan manusia untuk beragama yang dalam ajaran Islam diyakini bahwa manusia punya kecenderungan untuk beragama (fithrah) sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi, Setiap manusia yang lahir ke dunia membawa bekal fithrah (sikap bertauhid), (HR. Bukhari). Pandangan Freud yang menyatakan bahwa manusia sangat dipengaruhi masa lalunya juga perlu dikritik. Menurut Freud, untuk memahami perilaku seseorang pada saat ini, kita harus merujuk kehidupannya di masa kecil. Pendapat ini mempunyai kelemahan yang sangat mendasar karena hidup seseorang berarti menjadi determinist yang akhirnya meyebabkan fatalism. Jika kehidupan masa kecilnya tidak baik, maka masa depannya tidak akan jauh berbeda, sehingga seolah-olah tidak ada lagi harapan pada manusia untuk berkembang kearah yang lebih baik. Islam sangat berbeda dengan pandangan diatas. Meski Islam menekankan arti pentingnya masa kanak-kanak, tapi itu bukan segalanya karena masih ada proses yang terus berlangsung untuk menuju kesempurnaan hidup. Islam adalah suatu

agama yang memberikan kebebasan pada manusia untuk berbuat sesuai dengan kehendaknya, dengan catatan bahwa semua itu akan diminta pertanggung jawaban. Kritik Atas Aliran Behavioristik. Tokoh aliran behavioris diantaranya adalah Watson, Pavlov, Skinner dan Thorndike. Aliran ini dipengaruhi oleh filsafat empiris yang disponsori oleh John Lock. Aliran ini memandang bahwa manusia dilahirkan bagaikan sebuah kertas putih yang tidak ada tulisan apapun. lingkunganlah yang mengisi bentuk dan corak dari kertas tersebut. Berdasarkan pandangan ini kaum behavioris berpendapat bahwa manusia dalam kehidupannya akan berkembang sesuai dengan stimulus yang diterima dari lingkungannya. Kritik yang diajukan atas aliran ini adalah hilangnya potensi manusia yang ada pada tiap individu. Kenyataanya, manusia lahir dengan potensi ciri khasnya sendiri yang berbeda antara yang satu dengan yang lain, dan inilah yang dilupakan oleh kaum behavioris. Kritik lain adalah kecenderungannya untuk mereduksi nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini terlihat dari cara kaum behavioris memperlakukan seorang anak. Mereka beranggapan bahwa seorang anak akan berperilaku (memberikan respon) sesuai dengan stimulus yang diberikan. Ini berarti manusia dianggap sebagai sebuah mesin sehingga teorinya bersifat mekanistis. Kritik Atas Aliran Humanistik Aliran humanistik muncul karena adanya ketidak percayaan terhadap kaum psikoanalisis dan behavioristik. Tokoh yang dianggap sebagai figur aliran ini adalah Maslow, Rogers, dan lain-lain. Dalam beberapa hal, aliran ini tampak sesuai dengan ajaran Islam karena sangat apresiatif terhadap keunikan pribadi, penghayatan subjektifitas, adanya rasa tanggung jawab dan yang paling penting adanya kemampuan pada manusia untuk melakukan aktualisasi diri. Salah satu aliran humanistik yang dikembangkan Victor Frankl dianggap sebagai aliran yang sesuai dengan ajaran Islam. Namun, itu tidak berarti bahwa aliran ini lepas dari kritik. Kelemahan utama aliran ini justeru terletak pada pandangannya yang terlalu

optimistik terhadap manusia itu sendiri yang keadaan ini pada gilirannya akan menyebabkan manusia dianggap menjadi penentu terhadap kehidupannya. Ini bertentangan dengan ajaran Islam yang menyatakan bahwa Tuhanlah yang Maha menentukan, meski manusia mempunyai kuasa usaha. Dengan demikian, perbedaan mendasar antara aliran humanistik dengan Islam terletak pada pandangannya terhadap manusia. Humanistik beranggapan over optimistik dalam memandang manusia sedang Islam memandang manusia dengan optimist proportional, yang berarti bahwa selain mempunyai kemampuan luhur manusia juga mempunyai keterbatasan sehingga selalu ada tempat kembali dalam hidupnya. Psikologi Islami Sebagai Alternatif Uraian diatas menunjukkan bahwa aliran psikologi dewasa ini mempunyai kelemahan mendasar sehingga jika digunakan untuk menjelaskan masalah yang muncul kemungkinan terjadi bias. Keadaan seperti ini tentu harus dicarikan alternatif yang bisa menggantikan kedudukannya, yaitu Psikologi Islami. Kenapa psikologi Islami dan bukan psikologi yang lain? Hal ini sangat tergantung pada siapa pengguna dari ilmu tersebut. Mungkin akan lahir psikologi-psikologi yang lain, Psikologi Kristiani, misalnya. Hal ini sah secara keilmuan. Hanya saja, Psikologi Islami lahir didasarkan atas kenyataan bahwa Islam mempunyai konsep-konsep tersendiri dan berbeda dari yang lainnya. Menurut Kuntowijaya, konsep ini bersumber dari al-Quran, alHadits, dan khasanah keilmuan Islam yang lain. Ada dua pendapat tentang pengertian dari Psikologi Islami itu sendiri. Pendapat pertama mengatakan bahwa psikologi Islami adalah suatu corak (aliran) psikologi yang dihasilkan dari filterisasi terhadap teoriteori psikologi modern, sementara pandangan kedua menyatakan bahwa psikologi Islami adalah suatu aliran psikologi yang dibangun atas dasar konsep-konsep yang ada dalam sumber-sumber ajaran Islam. Cara pertama, punya keuntungan yang sangat praktis dan bisa digunakan dalam waktu yang singkat, karena hanya dengan mengkritisi teori-teori yang ada (menambah, membuang,

mencocokkan) dengan teori-teori yang bersumber dari ajaran Islam, maka jadilah konsep psikologi Islami. Kelemahannya, kemungkinan akan terjadi bias dalam proses pembentukan konsep-konsep yang baru. Cara kedua, punya keuntungan dalam kematangan suatu konsep karena memang berawal dari sumber utama dari ajaran Islam. Caranya adalah dengan menghadirkan suatu konsep baru dari ajaran Islam kemudian melakukan penelitian ilmiah. Cara ini butuh waktu untuk segera menemukan konsep baru, padahal konsep tersebut sudah sangat urgen untuk segera ditampilkan . Karena itu, akhirnya diambil perpaduan antara keduanya, sehingga yang disebut psikologi Islami adalah suatu corak psikologi dalam pengertian pertama untuk jangka pendek, dan pengertian kedua kedua untuk jangka waktu panjang. Untuk membangun sebuah Psikologi Islami sebagai sebuah disiplin keilmuan tentu masih banyak yang harus dilakukan dan diperjuangkan, karena adanya tantangan eksternal (para ahli psikologi yang bukan beragama Islam) dan internal (para ahli psikologi yang beragama Islam) yang belum tentu sepakat dengan faham ini. Namun, terlepas dari polemik diatas, penulis beranggapan bahwa psikologi Islami sangat mungkin bisa dimunculkan ke permukaan dengan catatan ada usaha dan komitmen dari para ahli psikologi dan ahli agama untuk terus mengembangkannya sehingga psikologi islami benar-benar lahir sebagai rahamatan lil’alamin. Pustaka Ancok, D., & Nashori, F., 1994, Psikologi Islami, Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruqi, I.R., 1982, Islamization of Knowledge, General Principles & Workplan, Virginia: International Institute of Islamic Thought Kuhn, T., 1970, The Structure of Scientific Revolution, Chicago: The University of Chicago Press Kuntowijoyo, 1991, Paradigma Islam, Interpretasi Untuk Aksi, Bandung: Mizan Nashori, F., 1994, Membangun Paradigma Psikologi Islami, Yogyakarta: Sipress

Sardar, Z., 1986, Masa Depan Islam, (terjemahan), Bandung: Pustaka Salman http://azirahma.blogspot.com/2008/12/membangun-psikologi-islami-oleh-rahmat.html

Psikologi Islam, "Istana" yang Belum Berdiri
Psikologi Islam, "Istana" yang Belum Berdiri By Ghozali Belum genap lima belas tahun usia Psikologi Islam di Indonesia berdiri. Sejak kelahirannya pada simposium tahun 1994 di Solo yang dibidani oleh Psikologpsikolog muslim yang genial dan terampil dengan semangat li i`lai kalimatillah, telah menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Betapa tidak, sekitar 40-an lebih, buku-buku referensi telah diterbitkan plus membludaknya animo ilmuwan maupun akademisi yang telah menjadikan material psikologi keislaman sebagai obyek dalam penelitian mereka, seperti berupa jurnal maupun hasil penelitian untuk internal kampus (skripsi, tesis bahkan disertasi) dan lain-lain, baik di PTN maupun PTS yang ada. Namun, di sisi yang lain, tidak sedikit kalangan yang mencibir kemampuan dan keilmiahan Psikologi Islam, baik dari kalangan psikologi arus utama (istilah Dennis Fox --mengacu pada Psikologi Modern) dengan alasan tidak bisa diverifikasi secara ilmiah. Atau adanya kecurigaan sebagian kalangan bahwa disiplin Psikologi Islam kelak dapat menimbulkan kekhawatiran akan munculnya “sengketa lahan”. Benarkah demikian? Jawabnya, bisa ya dan bisa tidak. Jika jawabnya “iya” karena banyak intelektual Islam sendiri, ketika mereka menyoroti dasar-dasar keislaman yang dijadikan landasan teori Psikologi Islam, masih terkesan rapuh dan cenderung asal comot, bahkan lebih parahnya lagi, ada sebagian yang menganggap kehadiran tokoh-tokoh Psikologi Islam ini karena “aji mumpung” atau diuntungkan oleh “peluang”. Bahkan, pada tahap anggapan yang menyedihkan, ada seorang ilmuan agama yang hanya karena menyusun buku-buku kejiwaan islam yang nyaris “garing” kajian psikologinya dijadikan sebagai “imam” Psikologi Islam Indonesia. Bisa jadi, hal tersebut karena faktor sedikitnya ilmuwan serupa sebagai pesaing yang intens dan mau ambil bagian dalam proyek Islamisasi psikologi di nusantara ini. Padahal kalau dikritisi secara mendalam, ilmuan yang “terlanjur” dijadikan kiblat tersebut ternyata belum, atau bahkan tidak mampu membangun karakter sebuah teori keilmuan dalam Psikologi Islam, seperti bangunan epistemologi dan metodologinya. Namun, jika jawabnya “tidak”, langkah bijak untuk menyikapi tuduhan dan kecurigaan diatas, setidaknya ada dua hal yang perlu kita ambil langkah. Pertama; defensif-proaktif yaitu sebuah langkah bertahan-berkreasi dengan menciptakan karya ilmiah, tidak patah semangat dan kalau perlu menganggap “angin lalu” atas tuduhan dan kecuriagaan tersebut. Tentu saja karya ilmiah yang kita akan bangun harus memiliki kekokohan teori yang tahan banting dari goncangan dan terjangan ombak kritik dan tuduhan. Memang, untuk mewujudkan upaya tersebut, tugas ilmuwan Psikologi Islam dalam menformulasi ajaran agama “yang terserak” yang bersumber dari Alqur`an, Hadits maupun dari khazanah (turrats) keilmuwan seperti filsafat maupun tasawuf hingga menjadi sebuah teori yang kokoh bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi kemudian bangunan teori tersebut dituntut tidak hanya utuh, namun juga bersifat praksis sehingga merangsang adanya tindak lanjut penelitian bagi pengembangan landasan Psikologi Islam yang bisa dirasakan

manfaatnya oleh peradaban manusia di planet bumi ini. Demikian juga bukan tugas yang ringan, yaitu upaya mereformulasi teori-teori Psikologi Barat sehingga sesuai, paling tidak mampu memberikan “suntikan” nilai-nilai idealisme Islam. Dalam sejarah perkembangan modern Indonesia, sebenarnya langkah-langkah tersebut telah dilakukan oleh “tokoh-tokoh” Psikologi Islam, seperti Hanna Djumhana dan Fuad Nashori, yang pernah mencoba mereformulasikan melalui karya-karyanya yang berjudul “Integrasi Psikologi dengan Islam” dan “Paradigma Psikologi Islam”. Kemudian diikuti oleh beberapa tokoh lain yang datang kemudian. Namun, mereformulasikan bangunan “Psikologi Islam” memang membutuhkan kemampuan ekstra, setidaknya kemampuan ilmu alat seperti ilmu mantiq (logika) dan Bahasa Arab yang kuat untuk dapat mengakses khazanah Islam klasik seperti yang dilakukan oleh Abdul Mujib. Langkah kreatif Abdul Mujib tersebut patut diapresiasi dengan segala kelemahannya. Sebagai contoh, teori kepribadian (personality) coba ditariknya dari pendulum dasar teori psikologi Barat yang bersifat das sein ke titik ekstrem yang berlawanan das solen. Meskipun upaya tersebut tidak lepas dari kelemahan sebagai hal yang tidak realistis yang belum menawarkan sebuah konsep tentang manusia seutuhnya berlandaskan pada coidentia oppositorum, tetapi sebagai proses “ijtihad intelektual” yang mencoba mendayung dari bentangan paradigma Barat dan Islam, perlu kita berikan ruang apresiasi yang layak. Tanpa bermaksud menggurui para ilmuan muslim yang berupaya keras membangun Psikologi Islam, analog sederhana antara psikologi modern dan Psikologi Islam diibaratkan seperti tender sebuah proyek bangunan (rumah) yang memiliki karakter perbedaan yang besar. Psikologi modern (Barat) seperti bangunan rumah yang berarsitektur amatiran (tokoh/teoritikus Barat), dan bahan material (teori-teori) bukan dari bahan yang bermutu, namun mereka memiliki banyak tukang (ilmuwan konstruktif) yang berpengalaman dan profesional serta beberapa gelintir mandor (ilmuwan tukang kritik). Sehingga “bangunan rumah” tersebut dalam waktu 1 x 24 jam dapat diselesaikan meski hanya berukuran kecil dan kurang kokoh. Walaupun kecil, rumah itu sudah mampu memberikan manfaat bagi segelintir orang, yang melindunginya dari terik matahari dan dinginnya malam ketika hujan tiba. Sementara Psikologi Islam ibarat rumah yang berarsitektur paling profesional (konsepsi Alquran dan Hadist seperti tentang hakikat manusia) dengan rancangan maket (miniatur) sebuah istana yang kokoh yang dapat menampung ribuan orang, dengan bermodalkan bahan-bahan material pilihan dan berkualitas tinggi. Namun hingga saat ini, bangunan itu masih belum bisa berdiri, bahkan para Mandor masih sibuk berwacana tentang fondasi (epistemologi dan metodologinya). Hal ini disebabkan karena rasio antara mandor (ilmuwan + tukang kritik) dan tukangnya (ilmuwan konstruktif) lebih banyak mandornya. Sehingga tidak mengherankan apabila tender-tender yang ada selama ini selalu dimenangkan oleh Psikologi Modern. Sebagai orang yang pernah mengenyam studi Psikologi Modern di S-1 dan menganalisisnya dengan berbagai konsepsi keislaman, saya optimistis bahwa pada saatnya nanti, ketika “tukang” yang ada mulai berpengalaman, diikuti dengan munculnya “tukang-tukang” baru yang profesional serta didukung oleh mandormandor yang kooperatif dan realistis, maka tidak lama lagi istana megah nan kokoh itu akan berdiri tegak dengan taman yang indah, dilengkapi dengan paku bumi anti gempa, kawat penangkal petir yang kuat dan mampu menampung ribuan orang serta fasilitas yang mewah dan sarana yang lengkap. Kedua, menjadikan kritikan tersebut sebagai bahan refleksi untuk mengidentifikasi kelemahan-kelemahan yang ada sebagai acuan untuk perbaikan dan pengembangan di masa mendatang. Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan terhambatnya perkembangan Psikologi Islam sehingga terkesan “jalan ditempat”, dapat diuraikan

sebagai berikut: Pertama; masih adanya kesenjangan antara teori dan praktek. Sekitar delapan tahun lalu, Riyono mengidentifikasi kelemahan ini, meski selama itu banyak perkembangan namun masih belum mencapai taraf cukup, apalagi ideal. Menurutnya, perbincangan Psikologi Islam selama ini baru menyentuh tataran filosofis dan belum masuk dalam metodologi ilmiah (sains). Jika wacana ini mandeg dalam kancah perdebatan filosofis, maka sulit diharapkan manfaat praktisnya. Apalagi metodologi ilmiah adalah jembatan yang mampu menerjemahkan filosofi ke ajang praktik dan amalan keseharian. Hanya dengan jalan itulah, ilmu Psikologi Islam bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat banyak (Riyono, 1998). Kedua, adanya polarisasi kemampuan dan keahlian ilmuwan Psikologi Islam, Di satu sisi mereka mewakili ilmuwan psikologi murni, umumnya mereka sangat expert dibidangnya, menguasai teori-teori psikologi dan sangat berpengalaman dalam wilayah praksisnya, namun kurang memiliki atau bahkan sama sekali tidak memiliki basis pengetahuan keagamaan yang kuat. Akibatnya, kalangan ini sangat menggelikan sekali ketika mereka mengomentari atau memberi penilaian tentang aspek-aspek material dalam keislaman. Disisi lain, ilmuan agama murni seperti mereka yang memiliki latar belakang pendidikan agama, namun mereka tidak memiliki pengetahuan psikologi yang memadai. Akibatnya pula, seringkali ide-ide kajian keislamannya yang dikaitkan dengan kajian psikologi tidak memiliki relevansi (tidak nyambung), kalupun ada, analisa psikologinya tidak detail dan kurang menyentuh persoalan yang diangkat. Sehingga distingsi tersebut terkesan sangat kaku, parsial bahkan jauh dari idealisme Islamsasi sains. Idealnya, paling tidak menurut pengamatan penulis, ilmuwan yang memiliki basis pengetahuan psikologi harus diimbangi dengan penguasaan wawasan keagamaan yang memadai. Sebaliknya, ilmuwan agama yang concern dengan disiplin filsafat dan tasawuf seharusnya dilengkapi dengan penguasaan pisau analisis psikologi Barat yang tajam. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, mungkinkah hal tersebut bisa diraih? Jawabannya bisa saya tegaskan: why not gitu loch!!! Paling tidak, kehadiran Program Studi Timur Tengah dan Islam (PSTTI) Universitas Indonesia yang membuka jurusan Kajian Islam dan Psikologi (KIP) menjadi ”sumbu” obor Psikologi Islam yang suatu saat dapat menyala dan menerangi gelapnya psikologi Barat. Wallah a`lamu bish -shawab. posted by Psikologi Qurani @ 11:28 AM

http://www.acehforum.or.id/psikologi-islam-istanat13247.html?s=acc7e2a8bad8067885c865d9ff94c1fc&amp;

Refleksi Psikologi Islami
Artikel Psikologi Islami | 12/2008 | Psikologi Islami

Penulis
H. Fuad Nashori Ahli Psikologi Islami, Sehari-hari sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta Biodata Fuad Nashori

Puasa Bicara
Pengantar Urutan Pengembangan Psikologi Islami Dibutuhkan Akumulasi Modal: Manusia, Waktu, Usaha Metode-metode Pengembangan Psikologi Islami Apa yang Diperjuangkan Psikologi Islami? Penutup

INTISARI Tulisan ini bertujuan untuk mengomentari sejumlah isu yang berkembang dalam pergumulan pengembangan wacana psikologi Islami. Penulis berpandangan bahwa sekalipun terbuka terhadap urutan kerja pengembangan psikologi Islami, yang paling direkomendasikannya adalah melakukan perumusan teori dulu, merisetnya dan baru setelah itu mengaplikasikannya. Isu berikutnya yang ditanggapinya adalah upaya-upaya mensinkronkan antara ayatayat qauliyah (wahyu, al-Qur’an dan al-Hadits) dengan ayat-ayat kauniyah (pengalaman empiris). Menurutnya, pengembangan psikologi Islami hendaknya tetap memprioritaskan pengembangan ilmu yang berdasarkan ayat-ayat qauliyah, tetapi tetap memberi peluang untuk melakukan pola-pola pengembangan psikologi dengan bertitik tolak dari isu-isu yang berkembang dalam dunia psikologi. Kata Kunci: Psikologi Islami, refleksi

Pengantar ^ Penulis memperoleh berbagai pertanyaan dari banyak kalangan berkaitan dengan pengembangan psikologi Islami. Ada sekian banyak isu, mulai dari yang bersifat teoritis-paradigmatis, alasan pengembangan psikologi Islami, ciri khas psikologi Islami, teori-teori khusus psikologi Islami, aplikasi psikologi Islami hingga ke pengembangan kurikulum dan bahkan pengembangan organisasi yang berkomitmen pada psikologi Islami. Di antara berbagai isu yang sampai ke penulis, ada beberapa hal yang ingin penulis tanggapi, di antaranya urutan pengembangan psikologi Islami, perlunya mengakumulasi berbagai modal untuk mengoptimumkan pengembangan psikologi Islami, langkah-langkah akomodatif untuk pengembangan psikologi Islami. Pertimbangan penulis dalam menanggapi isu-isu tersebut adalah intensitas isu dan kemampuan penulis untuk menanggapinya.

Urutan Pengembangan Psikologi Islami ^ Salah satu persoalan penting dalam setiap mazhab psikologi adalah temuan apa yang bisa disumbangkan dalam memahami dan mengembangkan diri manusia. Kemampuan memahami diri

manusia secara baru dapat diperoleh melalui perumusan teori dan penelitian terhadap realitas empiris. Pengembangan diri manusia dilakukan dengan berbagai upaya aplikasi dari teori-teori yang telah dirumuskan dan diriset, yang dilakukan dengan training, konseling, terapi, dan seterusnya. Penulis memahami sepenuhnya bahwa di tengah kehidupan yang sangat pragmatis seperti saat ini, tuntutan akan adanya aplikasi psikologi Islami sungguh sangat besar. Penulis mendengar ungkapan semacam itu, baik dari generasi tua dan terutama generasi muda. Ungkapan ini ternyata antara lain dicermati oleh Hanna Djumaha Bastaman (2005) dalam tulisan yang berjudul “Dari KALAM Sampai Ke API”. Beliau bermaksud mengangkat kembali keresahan yang terjadi pada sekelompok generasi muda peminat psikologi Islami. “Mengapa perkembangan psikologi Islami sangat lambat?” Demikian ungkapan yang disampaikan sejumlah peminat psikologi Islami dari kalangan generasi muda. Lebih lanjut mereka mempertanyakan: “mengapa lebih banyak berputar pada dataran teoritis dan kurang menggarap wilayah aplikatif?” Betul adanya, jangan sampai teori melulu. Arahkan psikologi Islami ke aplikasi! Tuntutan semacam itu, semestinya kita dukung dan kita perjuangkan bersama-sama. Suatu kajian atau suatu mazhab memang harus menunjukkan nilai aplikasi dari wacana yang dikembangkannya. Kalau tidak, ia akan jadi wacana yang tidak membumi. Dalam pemahaman penulis, gerakan pengembangan psikologi Islami adalah usaha bersama dari banyak orang yang memiliki komitmen untuk menghadirkan sumbangan Islam bagi kemanusiaan. Pengembangan psikologi Islami perlu melibatkan banyak orang di mana orang-orang yang berminat terhadapnya bekerja, berjalin berkelindan, dalam mengembangkan psikologi Islami sesuai dengan minat dan kemampuannya. Harus ada orang yang bekerja dalam aplikasi, tapi juga harus ada yang berupaya dalam merumuskan teori-teori, dan menelitinya. Penulis sepenuhnya sadar bahwa sebagaimana ilmu-ilmu atau mazhab-mazhab ilmu yang lainnya, psikologi Islami harus didukung seperangkat teori yang kuat. Teori yang kuat menandakan adanya fondasi keilmuan yang kuat. Oleh karena itu, tidak bisa tidak, psikologi Islami harus menguatkan aspek teoritisnya. Penulis sendiri, dalam beberapa tahun terakhir, berupaya melakukan peran tersebut. Penulis sendiri juga berupaya melakukan riset, beberapa di antaranya adalah tentang mimpi dan kreativitas, dengan harapan teori yang dirumuskan lebih kokoh. Sementara orang lain yang lebih canggih dalam aplikasi, diharapkan memperkuat barisan pengembang psikologi Islami lewat berbagai jalan praktis seperti training, konseling, terapi, dan sejenisnya. Urutan kerja yang penulis pernah sampaikan dalam berbagai macam kesempatan adalah merumuskan teori, menelitinya, dan setelah itu mengaplikasikannya. Bila urutan kerja ini dipakai, maka pengembang psikologi Islami terlebih dahulu merumuskan toeri, yang ciri-cirinya adalah logis dan objektif (bisa diukur). Setelah teori dirumuskan sesuai dengan ciri-ciri di atas, maka ia siap untuk diriset. Di sini peneliti membuat hipotesis. Bila hasil penelitian sesuai dengan teori yang dibangun, maka jadilah ilmu yang kokoh dan selanjutnya siap untuk diaplikasikan. Urutan kerja di atas tidaklah bersifat mutlak. Bila ada kesesuaian antara teori dan hasil riset, maka hasil riset itu membenarkan teori atau mengukuhkan kebenaran teori, dan selanjutnya siap diaplikasikan. Namun, bila ternyata tidak ada kesinkronan di antara keduanya, yaitu hasil penelitian berbeda dengan teori/hipotesis yang dirumuskan, maka sebagaimana disarankan oleh Noeng Muhadjir (1997), yang mestinya kita lakukan adalah gerak mondar-mandir antara perumusan teori dan riset. Cek lagi teorinya, bila perlu dirumuskan ulang terhadap teori yang sudah dirumuskan, lalu digunakan untuk memahami realitas yang terjadi dalam kehidupan. Dari sini pengembang psikologi Islami melakukan penggalian data empiris hingga ditemukan ilmu yang kokoh bangunannya. Setelah teori dan hasil riset selaras, saatnya untuk mengaplikasikannya. Seorang pengembang psikologi Islami bisa juga mengembangkan psikologi Islami dengan berangkat terlebih dahulu dari penelitian. Dalam hal ini, pengembang psikologi Islami melakukan penelitian tanpa membuat hipotesis terlebih dahulu. Ia melakukan apa yang biasa dilakukan para peneliti kualitatif. Ia hadir, bertanya dan mengamati perilaku responden, sampai ke ceruk-ceruknya, tanpa membuat perkiraan-perkiraan terlebih dahulu. Kalau pilihan ini ditempuh, penulis mengusulkan agar yang diteliti bukan hanya responden-reponden pada umumnya, tapi perlu juga untuk dicari responden khusus yang memiliki keimanan yang kuat. Pertimbangan yang utama adalah keimanan merupakan unsur yang amat penting yang mampu membedakan seseorang dari yang lain. Tidak kurang dari itu, seorang pengembang psikologi Islami juga bisa memulai pengembangan

psikologi Islami dari aplikasi. Dengan aplikasi yang sudah diterjuninya, seseorang dapat memotret dan menghayati realitas kehidupan. Dengan berbagai pengalaman mengaplikasikan suatu pandangan, maka ia akan memperoleh insight apa yang penting dan tidak penting yang berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Agar aplikasi ini terarah, ada baiknya bila seorang pengembang psikologi Islami terlebih membuka diri untuk menerima kritik teori atas rancanganrancangan/modul-modul aplikatifnya. Hal ini ditempuh agar aplikasi memang memiliki paradigma psikologi Islami. Dengan sikap akomodatif sebagaimana yang telah penulis sampaikan di atas, penulis tetap merekomendasikan langkah berupa pengembangan psikologi Islami dengan terlebih dahulu melakukan perumusan teori, dilanjutkan riset, dan baru aplikasi. Urutan kerja yang lain dimungkinkan, dengan tetap berpegangan pada prinsip bahwa setiap langkah didahului atau dibingkai oleh paradigma psikologi Islami, yaitu meletakkan pandangan dunia Islam tentang manusia sebagai landasannya.

Dibutuhkan Akumulasi Modal: Manusia, Waktu, Usaha ^ Berkaitan dengan pengembangan psikologi Islami menjadi paradigma keilmuan yang kokoh, penulis berpendapat bahwa memang dibutuhkan waktu yang cukup, usaha yang keras, dan tetap mengharap pertolongan Allah ‘Azza wa jalla supaya wacana psikologi Islami terus berkembang maju. Perlu dipahami bahwa perkembangan suatu konsep atau suatu aliran berpikir mensyaratkan adanya akumulasi hasil pemikiran, hasil penelitian, dan hasil penerapan yang dilakukan banyak orang. Aliran-aliran psikologi moderen (psikoanalisis, behaviorisme, humanistik, transpersonal) membutuhkan waktu lima puluh hingga seratus tahun untuk bisa diterima sebagai aliran utama dalam psikologi. Secara alamiah psikologi Islami harus berada dalam jalur sunnatullah (hukum Allah), yaitu ia tumbuh dan berkembang dengan membutuhkan waktu. Psikologi Islami sendiri memiliki nama psikologi Islami “baru” sekitar sebelas tahun lalu, saat terbitnya buku Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi (Djamaludin Ancok & Fuad Nashori, 1994) yang segera disusul oleh Simposium Nasional Psikologi Islami di Surakarta (1994) atau --sebagaimana dijelaskan oleh Bastaman (2005-a)—baru tiga belas tahun yang lalu yaitu saat diterbitkan Jurnal Pemikiran Psikologi Islami KALAM (1992),. Sebelumnya, memang telah dilakukan upaya menghasilkan psikologi Islami, yaitu dengan dilakukannya International Symposium on Islam and Psychology di Riyadh (1978) dan terbitnya The Dilemma of Muslim Psychologist karya Malik B. Badri (1979). Itu pun isunya tidak benar-benar kuat sehingga sebagai gerakan ia belum mampu melibatkan banyak orang untuk mengkaji dan mengembangkannya lebih lanjut. Itu artinya psikologi Islami lengkap dengan namanya baru berusia sepuluh tahun lebih sedikit. Menurut kami, dibutuhkan waktu sekitar 10-20 tahun lagi agar aliran psikologi yang diproklamasikan sebagai mazhab kelima di Jombang (1997) ini benar-benar diakui oleh “masyarakat psikologi di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya.” Lebih dari sekadar waktu, yang lebih utama adalah usaha dengan sungguh-sungguh. Dengan usaha yang sungguh-sungguh insya Allah hasilnya akan nyata. Suatu keadaan akan berubah (tepatnya diubah oleh Tuhan) bila manusia berupaya mengubahnya. Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali bila mereka berupaya mengubah keadaan mereka. Masih menurut-Nya, setiap urusan semestinya ditangani dengan kesungguhan atau dalam bahasa sekarang secara profesional. Allah berfirman: Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (Alam Nasyroh, 94, ayat 7). Dari sini kami berpandangan bahwa menjadi tuntutan bagi kita yang selama ini memilih psikologi Islami sebagai minat kajian untuk secara bersungguh-sungguh melakukan upaya terobosan untuk mengembangkan terus wacana psikologi Islami. Langkah yang dapat ditempuh bermacam-macam, seperti mengadakan dan mengikuti kegiatan ilmiah (seminar, simposium, lokakarya, konferensi, temu ilmiah), terlibat atau menangani lembaga yang bergerak dalam pengembangan psikologi Islami (misalnya Asosiasi Psikolog Muslim Internasional, Asosiasi Psikologi Islami Indonesia, Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia), terlibat dalam penelitian psikologi Islami, ikut serta menulis pemikiran psikologi Islami dalam bentuk artikel, karya tulis ilmiah, maupun buku. Tentu juga sampai mengaplikasikan ilmu yang dimiliki dan menyebarkannya ke masyarakat. Penjelasan yang lebih komprehensif tentang apa yang

perlu dilakukan untuk pengembangan psikologi Islami, dapat dibaca dalam buku Agenda Psikologi Islami (Fuad Nashori, 2002). Bila kesungguhan ini ada di hati kita, insya Allah perkembangan dan perbaikan berjalan secara lancar. Siapa yang harus melakukannya? Terhadap pertanyaan ini, sepandapat dengan Bastaman (2005) penulis berpandangan bahwa generasi muda, dengan rentang masa depannya yang lebih panjang, diharapkan dapat berperan lebih aktif dalam pengembangan psikologi Islami, baik pada fase perumusan teori, penelitian, maupun fase penerapan. Dengan semangat yang lebih berkobar, dengan tenaga yang lebih penuh, generasi muda peminat psikologi Islami diharapkan terlibat dalam berbagai fase pengembangan psikologi Islami. Sekalipun demikian, baik generasi muda, generasi tengah baya, maupun generasi yang lebih tua, diharapkan melakukan peran yang dapat dimainkan. Penulis percaya bahwa ilmu –dalam hal psikologi Islami, dapat mencapai bentuknya yang lebih sempurna, dengan mengakumulasi berbagai pemikiran, penelitian, dan aplikasi.

Metode-metode Pengembangan Psikologi Islami ^ Berkaitan dengan pengembangan teori psikologi Islami, kita berhadapan dengan tuntutan agar pengetahuan yang didasarkan pada pandangan dunia Islam (yang berasal dari kitab suci, alam semesta, maupun diri manusia) dikonstruksi sehingga dapat digolongkan sebagai ilmu yang kokoh. Contoh realitas yang patut dikonstruksi adalah orang-orang yang dekat dengan baitullah merasa tentram dan ingin lagi mengunjunginya. Bagaimana meneorikan fakta ini? Menurut penulis, tantangan pengembangan teori ini sangat berat, karena lemahnya kreativitas di kalangan akademisi psikologi khususnya dan akademisi dunia ketiga umumnya serta belum adanya usaha untuk keluar tradisi lemah di atas. Sepemahaman kami, sangat jarang (kalau tidak boleh dikatakan tidak ada) dosen atau mahasiswa psikologi yang menunjukkan teorinya yang orisinal. Hampir semuanya mengatakan menurut ini menurut itu. Saatnya telah tiba untuk merumuskan teori psikologi Islami. Berkaitan dengan pengembangan teori psikologi Islami ini, ada satu hal yang sebenarnya menjadi sejenis kesepemahaman antar pengkaji psikologi Islami, yaitu meletakkan kitab suci atau wahyu (al-Qur’an dan al-Hadits) sebagai sumber pengembangan ilmu. Perbedaan utama antara sains Islam atau studi Islam dengan sains sekuler adalah posisi kitab suci. Sains Islam jelas-jelas meletakkan wahyu (al-Qur’an dan al-hadits) sebagai sumber untuk perumusan ilmu. Baik Abdul Mujib (2005) maupun Hanna Djumhana Bastaman (2005-a) berpandangan sepaham bahwa ayat-ayat kauniyah, wahyu, atau al-Qur’an dan al-Hadists adalah sumber penting bagi pengembangan psikologi Islami. Penulis sendiri --walaupun dilihat dari latar belakang keilmuan lebih dekat dengan sudut pandang Hanna Djumhana Bastaman (2005-a)-- tetap meletakkan wahyu sebagai sumber utama pengembangan ilmu. Oleh karena dalam berbagai kesempatan penulis mengusulkan agar dikembangkan pola objektivikasi teori dan rekonstruksi teori dalam pengembangan psikologi Islami. Penjelasan tentang dua hal ini penulis sampaikan dalam buku Potensi-potensi Manusia (Nashori, 2005). Objektivikasi adalah usaha untuk menjadikan pandangan yang berasal dari al-Qur’an dan alhadits sebagai pandangan bersama manusia, yang diwujudkan dalam suatu rumusan teori yang dapat diukur. Sebagai contoh adalah tafakkur, yaitu berpikir mendalam tentang segala sesuatu yang ditandai usaha untuk mengkaitkan seluruh keadaan dan kejadian dengan Sang Pencipta. Rekonstruksi teori adalah usaha untuk menata ulang berbagai pandangan yang berasal dari pemahaman terhadap wahyu dengan apa yang ditemukan dari berbagai pemikiran dan temuan ilmu pengetahuan moderen. Sebagai contoh, dalam konsep psikologi Barat, tidur yang berkualitas adalah tidur yang nyenyak dengan waktu yang cukup. Pandangan ini kalau direkonstruksi akan menghasilkan pandangan bahwa seseorang akan tidur dengan berkualitas bila ia memperoleh kesempatan untuk berada dalam naungan Tuhan, yang ditandai oleh diperolehnya mimpi-mimpi yang benar. Dalam tulisannya yang berjudul “Pengembangan Psikologi Islami dengan Pendekatan Studi Islam”, Abdul Mujib (2005) berpandangan bahwa pola-pola yang sejauh ini direkomendasikan Hanna Djumhana Bastaman (2005-b), di antaranya similarisasi, paralelisasi, komplementasi dan komparasi, ditinggalkan. Penulis sendiri berpandangan bahwa pola-pola sebagaimana yang

direkomendasikan oleh Bastaman tetap kita perlukan sebagai proses mengakrabkan para peminat psikologi Islami dengan wacana integrasi Islam dan psikologi. Dalam pandangan penulis, langkahlangkah berupa kritik teori terhadap psikologi Barat, ayatisasi (atau similarisasi), pararelisasi, komplementasi, dan komparasi berguna untuk mengantarkan kita pada terwujudnya psikologi Islami. Dengan keimanan yang dimilikinya, penulis yakin bahwa hal semacam ini akan menghadirkan adanya ilham atau insight bagi peminat psikologi Islami untuk bertanya tentang bagaimana pandangan Islam tentang manusia. Sekalipun demikian, para pengguna pola similarisasi, paralelisasi, komplementasi dan komparasi, hendaknya menyadari sejak awal bahwa pola-pola tersebut adalah pola antara, bukan pola ideal.

Apa yang Diperjuangkan Psikologi Islami? ^ Salah satu isu yang sering disampaikan oleh sejumlah orang kepada penulis adalah untuk apa psikologi Islami dimunculkan? Apa psikologi yang ada selama ini tidak cukup untuk menjadikan manusia lebih mengenal dan mengembangkan dirinya? Secara garis besar, psikologi Islami dimaksudkan untuk melakukan pemberda-yaan manusia sehingga kualitas hidup manusia meningkat. Psikologi Islami akan mengingatkan kepada kita bahwa manusia harus dipahami sebagai makhluk yang multi dimensi. Hanya dengan mengerti hal inilah dimungkinkan bagi kita untuk mengembangkan manusia. Dalam perspektif psikologi Islami, manusia bukan semata makhluk fisik, psikologis (kognitif, afektif), social, tapi juga moral-spiritual. Sejauh ini alat yang digunakan psikologi moderen untuk memahami kebenaran tentang siapa sesungguhnya manusia adalah indra, akal budi, dan belum menggunakan alat yang melekat pada manusia, yaitu qalbu dan yang lurus dengan fitrah manusia dan berada di luar diri manusia, yaitu wahyu. Resiko dari tidak digunakannya wahyu dan qalbu adalah kegagalan dalam memahami manusia. Dalam perspektif psikologi Barat moderen pada umumnya, hal-hal yang bersifat spiritual kurang mendapat perhatian yang memadai. Padahal dalam perspektif Islam, manusia tidak terlepas dari hal-hal yang bersifat spiritual (Allah, malaikat, jin, setan/iblis). Jelas bahwa manusia diciptakan Allah sang penentu hidup manusia. Hal-hal semacam ini diabaikan sehingga ketika muncul gejalagejala spiritual, aliran psikologi Barat gagal untuk memahaminya dan karenanya gagal dalam menanganinya. Sebagai contoh apa yang dikatakan psikologi Barat bila ada seorang pemikir besar yang sangat populer kemudian memilih jalan sufi dengan hidup di desa yang jauh dari keramaian? Fenomena ini akan sulit dijelaskan oleh psikologi Barat secara spiritualistik. Dalam pandangan mereka hal itu dilakukan karena adanya kepuasan dengan hidup secara baru. Dalam perspektif Islam, semua itu dilakukan untuk memperoleh derajat yang lebih tinggi dalam hal hubungan mereka dengan Allah ‘Azza wa jalla. Contoh yang lain lagi adalah fenomena senyum Amrozi. Bagaimana mungkin seseorang yang menerima vonis dihukum mati bisa tersenyum. Senyum Amrozi ini sering ditafsirkan sebagai senyum orang yang sudah tidak dapat mengendalikan kesadarannya. Dalam perspektif psikologi Islami, sebagaimana diungkapkan Achmad Mubarok (2005), senyum Amrozi berdimensi spiritual, berdimensi vertikal. Ia adalah ungkapan kemenangan atas perjuangan membela kebenaran melawan terorisme kuat Amerika Selanjutnya, alat yang melekat pada diri manusia yang perlu diberdayakan adalah qalbu. Dengan qalbu yang bersih, tajam, dan bercahaya dimungkinkan bagi seseorang untuk memahami kebenaran-kebenaran atau pengetahuan yang bersifat hakiki maupun yang tak tampak oleh mata. Dengan qalbu yang tajam dimungkinkan bagi profesional psikologi untuk memahami kondisi psikologis klien atau mitranya secara efektif. Pertemuan/proses konseling dalam upaya memahami keadaan mereka tidak harus dilakukan dalam beberapa kali. Dengan menembus dada atau jantung mereka terbentang pengetahuan tentang mereka melalui satu dua kali pertemuan. Dengan ketajaman qalbu yang tingkat tinggi berkembang kemampuan-kemam-puan yang lebih tinggi, di antaranya adalah pengetahuan parapsikologis (prekognisi, retrokognisi, clairvoyance) maupun kekuatan parapsikologis (psikokinetik, bilocation, dsb). Muhammad SAW dan Khidhir adalah contoh manusia yang sangat intuitif! Yang menjadi persoalan adalah peradaban moderen sangat ini tidak kondusif untuk mengembangkan kemampuan qalbu itu. Lembaga-lembaga pendidikan yang ada di peradaban milenium ketiga ini selalu mengasah kemampuan akal budi dan melupakan pengasahan intuisi. Kami yakin bahwa apabila qalbu dihidup-hidupkan dalam diri manusia, maka manusia akan

berkembang lebih baik dan lebih optimal. Dengan cara inilah pemberdayaan manusia dapat lebih dioptimalkan. Persoalan yang lain berkaitan dengan tidak berkembangnya hati nurani atau qalbu manusia adalah adanya penghalang yang sengaja dilakukan manusia sehingga menjadikan hati nurani tidak atau kurang berfungsi secara optimal. Secara spiritual, hal ini dijelaskan oleh Ibnu Katsir. Ahli tafsir ini berpandangan bahwa hati nurani tidak berfungsi karena hati kita diselubungi oleh bintik-bintik atau noda-noda hitam. Noda hitam ini adalah dosa-dosa yang dilakukan manusia terhadap sesamanya maupun terhadap Allah. Bila bintik hitam ini terus bertambah, maka hati nurani semakin tidak berfungsi. Ia seperti barang bening dan bercahaya, namun karena cahayanya dihalangi oleh bintik hitam, maka ia tidak memancar keluar. Bila seseorang menginginkan cahaya itu menampak keluar, maka proses pertama adalah menghilangkan bintik hitam; dan selanjutnya mempertajam cahaya itu dengan perbuatan baik terhadap Allah dan sesama. Alat di luar diri manusia yang lurus dengan fitrah manusia adalah wahyu Allah. Wahyu berisi potret tentang siapa manusia. Lebih dari itu, ia pun berisi petunjuk bagaimana kita memperlakukan manusia. Dengan wahyu kita juga memperoleh pengetahuan tentang rentang perkembangan hidup manusia, sifat asal manusia, kemungkinan-kemungkinan manusia (fujur dan takwa), hal-hal yang dapat menja-dikannya melenceng dari sifat aslinya, dan tentu cara-cara untuk tetap berada dalam jalur yang lurus dan benar.

Penutup ^ Penjelasan-penjelasan di atas adalah beberapa pokok pikiran yang dimaksudkan untuk merespon sejumlah isu yang berkembang berkaitan dengan pengambangan wacana psikologi Islami. Sebagian isu-isu yang ditanggapi telah dibicarakan oleh Hanna Djumhana Bastaman dan Abdul Mujib yang ditulis dalam Jurnal Psikologi Islami edisi 1 (2005). Demikian. Bagaimana menurut Anda? [FN]

Daftar Pustaka Ancok, Djamaludin & Suroso, Fuad Nashori. 1994. “Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi”. (Pustaka Pelajar, Yogyakarta). Bastaman, Hanna Djumhana. 2005-a. Dari KALAM Sampai Ke API. Jurnal Psikologi Islami, I, (i), hal. 5-15. Bastaman, Hanna Djumhana. 2005-b. Integrasi Psikologi dengan Islam. Cetakan Keempat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Badri, Malik B. “Dilema Psikolog Muslim”. (Al-Kautsar, Jakarta, 1985). Mubarok, Achmad. 2005. Pencegahan Terorisme dengan Islamic Indigenous Psychology. Jurnal Psikologi Islami, I, (i), hal. …….. Muhadjir, Noeng. “Metodologi Riset Psikologi Islami”. Dalam Rendra Krestyawan (ed.), Metodologi Penelitian Psikologi Islami” (Pustaka Pelajar, Yogya, 2000). Mujib, Abdul. Pengembangan Psikologi Islam Melui Pendekatan Studi Islam. Jurnal Psikologi Islami, I, (i), hal. 1630. Nashori, H. Fuad. “Agenda Psikologi Islami” (Pustaka Pelajar, Yogya, 2002). Nashori, H. Fuad. “Potensi-potensi Manusia” (Pustaka Pelajar, Yogya, 2003). Nashori, H. Fuad. “Proses Kreatif Penulis Muslim” (Laporan Penelitian, LP, UII, Yogyakarta, 2004).

Nashori, H. Fuad. “Hubungan antara Kualitas Tidur dan Kualitas Mimpi dengan Prestasi Belajar Mahasiswa” (Laporan Penelitian, LP & Ditjen Dikti Depdiknas, Yogyakarta, 2004).

http://www.pikirdong.org/psikologi-islami/sos06rpsi.php
Kritik Epistemologis Terhadap Sigmund Freud By” Pizaro Mahasiwa Bimbingan dan Penyuluhan Islam Ketua Umum Forum Komunikasi MahasiswaBimbngan dan Penyuluhan Islam/ BK Islam Se Indonesia Epistemologi atau teori pengetahuanmembahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperolehpengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentuyang dinamakan metode keilmuan. Metode inilah yang membedakan ilmu dengan buahpemikiran yang lainnya.[1] Namun kita tidak mengetahuisampai di mana potensi akal dalam mengetahui kebenaran? Sekalipun mampumencapainya, tentu ada konsekuensi batasan. Dalam tradisi Islam, problemepistemologi didamaikan dengan menyertakan aspek transenden sebagai pemilikilmu. Ikhwan al-Safa, misalnya, menyatakan bahwa sumber ilmu pengetahuan ituada tiga. Pertama, sudah tentu panca indera, akan tetapi pengetahuan inderawiterbatas pada objek-objek materil. Kedua, akal, tanpa bantuan pancaindera akaltidak dapat berbuat banyak. Karena itu, lanjut Ikhwan al-Safa, ilmu pengetahuanbutuh sumber yang membimbing, yakni Allah.[2] Karena pembahasan filsafatibersendikan logika, maka yang dimaksud dengan kritik epistemologis adalahpengujian apakah teori mengandung kontradiksi tertentu dalam konstruknya, atauapakah dalam diri teori itu memiliki konsistensi logis atau tidak.[3] 1. Spekulasi Teori danTaklid Walaupun Sigmund Freuddibilang bapaknya psikologi, namun, kajian beliau turut mendapat kritikan dariahli-ahli psikologi lain. Satu kritikan tajam ialah ketika Freud selalumengumpulkan data kajiannya secara spekulatif. Model riset seperti ini dinilaitidak objektif dan bagaimanapun suatu teori tidak boleh digeneralisasikan.Selain itu, pengkaji-pengkaji mendapati rata-rata konsep Freud seperti id, ego,superego, naluri mati, libido dan kerisauan, tidak dapat dibuktikan dengankaedah eksperimen. Sekiranya Freud seperti menelanludah sendiri. Suatu kali Freud mengakui bahwa okultisme atau ilmu gaibdianggap sebagai klenik. Ironisnya, justru Jung menangkap sinyal yang samadalam teori seksulitas Freud, karena teori Freud seperti hipotesis yang belumterbukti dan pandangan-pandangan spekulatif Freud lainnya. Jung menambahkanbahwa “...Kebenaran ilmiah adalah suatu hipotesis yang mungkin telah cukupuntuk masa itu namun tidak perlu dilestarikan sebagai panutan segala zaman....”[4] Darwin sebagai materialistelah berhasil menyihir Freud untuk mengakui deterministiknya, di sinilahbanyak kaum muslim berpandangan bahwa Freud tidak menyaring kembali apa yang dikatakanDarwin. Akhirnya, menurut Purwanto, kaum

Freudian menganggap bahwa perilakumanusia layaknya binatang yang diiisi insting-insting.[5] Terlebih materialismeDarwin sudah dianggap miring oleh umat Islam. Spekulasi teori yang tidakdilandasi oleh dimensi ketuhanan hanya akan membawa kekeliruan fatal. Padahalmenurut al-Qaradhawi, Allah memuliakan manusia dengan akal dan kemampuan untukbelajar dan menjadikan ilmu sebagai penunjang kepemimpinan manusia di bumi.Islam datang dengan anjuran agar manusia berpikir, melakukan analisis, danmelarang untuk sekedar ikut-ikutan atau taklid.[6] 2. Kriteria Psikopatologis Badri memberikan contoh sebuahadat istiadat Sudan yang non Islam. Di mana pada upacara-upacara perkawinan,pengantin pria mencambuki beberapa orang laki-laki, yaitu teman-temannya, yang dengansangat suka rela menjadi memar-memar tubuhnya, seolah dalam trance hipnotik.Sementara itu, para penonton wanita bersorak sorai memberi semangat dan menikmatiperistiwa yang dipandang “normal” tersebut. Menyaksikan peristiwa itu, seorangpsikolog Amerika penganut Freudianisme mungkin memandang pengantin pria atauteman-temannya yang dicambuki itu sebagai pengidap kelainan seksual. Pengantin priaitu akan dicap sebagai seorang sadistik yang mendapatkan kenikmatan erotik denganmenyakiti orang lain, dan yang dicambuki adalah orang-orang masokhis yangterpuasi nafsu erotiknya.[7] Kriteria psikopatologis Freudjuga dibilang absurd ketika menjelaskan motivasi bom bunuh diri dan majelisdzikir dalam tradisi muslim. Jika dikatakan itu adalah bentuk neurosis, namunbisa jadi Freud yang psikopatologis dalam hal ini. Freud dibilang tidak fairjika hanya menjelaskan konsep neurosis dengan mengambil sample “Barat”untuk menjelaskan “Timur”. Dalam Asy-Syab, al-Baihaqimeriwayatkan dari Umar bin Khaththab bahwa Rasulullah Saw. bersabda “...Allahberfirman, orang yang menyibukkan diri dengan berdzikir mengingat-Ku, maka Akuakan memberinya anugerah terbaik yang diminta manusia....”[8] Menurut Mubarok, motif matisyahid berbeda dengan insting mati, karena karakter insting mati itu agresifyang bersifat destruktif. Sementara motif mati syahid, walaupun sama-samamenekankan agresif tetapi tidak destruktif. Ia berlandasakan semangat muliayang bertujuan menghancurkan kebatilan di dunia yang menginjak harkat martabatmanusia. Akan tetapi, insting mati dalam termin Freud, semata-mata dilakukandengan dasar kebencian.[9] Selain itu, dalam instingmati, individu menjadi sedih akan perbuatannya ketika orang yang dibencimeninggal dunia. Sementara dalam konteks mati syahid atau jihad yang ada adalahkebanggaan. Kemudian jika dibilang tasawufadalah bentuk psikopatologis, Freud sulit menyangkal ketika tasawuf efektifsebagai jalan terapi mengobati derita manusia. Seperti terapi tobat terhadappenderita penyakit psikosomatis. Uraian ini bertolak belakang dari pemikiranbahwa sumber psikosomatik dapat disebabkan oleh gangguan yang sifatnya psikisatau dapat juga disebabkan oleh gangguan yang sifatnya organis.[10] Atau do’a yang dipandang buktiketidakpercayaandiri manusia, justru dijadikan Charless Shedd sebagai terapi psikologismengatasi marah untuk meredakan intensitas emotif.[11] Atau Freud yang seriusdengan peradaban, mau mengatakan

bahwa transaksi zakat, infak, dan sedekahdalam tradisi muslim yang dilandasi kecintaan sesama umat dalam membantu segi kehidupandapat dicap paranoia atau delusi doktrinal agama, ketika bayangan tentangpahala dari Tuhan memotivasi para muzakki? Yang ada menurut Djarot Sentosaadalah pemberdayaan kecerdasan melalui pendekatan amaliah.[12] 3. Metode Penelitian Freud Cara dari metode asosiasibebas Freud juga diragukan. Pertama dari sisi Freud sendiri yang tidak langsungmencatat ucapan-ucapan dari mulut pasien, namun hanya mengingatnya saja, dengandalih akan mengganggu kosentrasi. Kedua pada ingatan pasien itu sendiri, kitatentu bertanya seberapa kuatkah ingatan pasien tentang memori masa kecilnya.Sekalipun akan mengingat tentu sulit untuk mengidentifikasi apakah yang diingatpasien benar-benar merujuk pada kejadian serupa. Padahal menurut Sumantri, pancainderakita bukan hanya terbatas, tapi dapat menyesatkan. Karena itu ini tidak hanyamenjadi problem Freud an sich, tapi keilmuan secara menyeluruh, di manaimbuh Sumantri kekurangan-kekurangan epistemologi ilmu adalah ketika ingatankurang bisa dipercaya sebagai cara untuk menemukan kebenaran.[13] Maka itu al-Ghazali pernahapatis kepada monopoli akal dalam epistemologi. Contohnya ketika bermimpi,orang melihat hal-hal yang sepertinya kebenaran, namun setelah ia bangun iasadar bahwa apa yang ia lihat benar itu ternyata salah.[14] Dan keraguan ini jugasekaligus sebagai kritik kepada tafsir mimpi yang mengabaikan peran serta Zat Suci..Berbeda dengan Ibnu Hazm yang tidak dapat menampik akan kekuatan di luarmanusia yang membentuk mimpi, yaitu Allah.[15] Pada sisi yang lain, ilmu memangdibenturkan kepada doktrin selfish sebagai sumber mendapatkankesimpulan.. Ini terjadi pada konsep analisis diri Freud yang dapat menimbulkandualisme. Di satu sisi Freud meyakini bahwa analisis diri perlu bagi penelitianalam bawah sadar. Namun di sisi lain jika analisis diri dipakai oleh psikologlain, dan hasilnya berbeda, mana yang harus diyakini sebagai suatu kebenaran?Jika yang dikatakan adalah analisis dirinya Freud, bukankah itu adalah tindakotoritarian atas nama keilmuan? Dan yang lebih penting lagi adalah apa tolakukurnya? Sekiranya Freud alpa dalam merumuskan ini. Sutrisno Hadi menilai pengalaman-pengalamanpribadi tidak dapat berdiri sendiri, banyak faktor yang mempengaruhi.Faktor-faktor yang sifatnya sangat subyektif menyebabkan pengalaman manusiamempunyai sifat-sifat terbatas. Pertama-tama pengalaman yang sangat pribaditidak ada atau sedikit sekali yang mempunyai derajat generalisasi yang luas.Kedua, keadaan orang yang bersangkutan menentukan corak dan isi pengamatan danpengalamannya. Sutrisno Hadi kemudian menilai “keunikan” pengalaman umumnya dapatmembawa problem serius. 1.. Mengabaikan hal-hal yang tidak sesuai denganpendapat pribadi. 2. Kurang tepat atau kurang cermat dalammengamati hal-hal yang penting tentang sesuatu persoalan. 3. Menggunakan alat-alat pengukuran yangpenilaiannya sangat subyektif. 4. Kurang fakta-fakta sudah menarikkesimpulan. 5. Mengambil suatu kesimpulan yang salahkarena telah mempunyai prasangka-prasangka. 6. Peranan faktor-faktor yang tidak disadari.Misalnya dalam apa yang

disebut proyeksi, orang merasa mengenal orang lain,tetapi sebenarnya apa yang ia sangka menjadi sifat-sifat orang lain adalahsifatnya.[16]

Dari butir-butir di atas,benar adanya dalam teori seksualitas Freud, sekaligus menjadi rumusan pentinguntuk menyibak pribadi Freud yang selalu bertahan dalam komitmen teorinya.Freud tidak open-minded dalam menerima opini lain yang membuat koleganyamenjadi tidak betah. Jangankan dengan kritik dari para pemuka agama, denganorang yang telah dianggap bak anak sendiri, seperti Jung saja, Freud engganmendengarkannya. Friksi anatara Jung dengan Freud berawal kepada monopoliseksualitas yang sudah dianggap tuhan oleh Freud. Namun perlawanan gigih Freudkepada Jung juga kuat.[17] Sekiranya ini pernah terbuktikanketika Jung benar-benar mengalami ketakutan atas pandangan orisinalnya tentanginses, hingga ia selama dua bulan tidak menyentuh pena. Ia tahu betul Freudtidak mau menerima opininya. Dan apa yang dicemaskan Jung menjadi nyata,hubungan antara mereka merenggang dan tak lama kemudian terputus.[18] Ingatan-ingatan daripengalaman dari abad 19 sebenarnya membawa kita pada suatu pelajaran bahwakerendahan hati adalah kunci menuju keagungan ilmu. Mekanika klasika, misalnya,mengalami kejayaan hebat yang tidak disangaka para ilmuwan, sayangnya kejadianini sontak membuat kaum ilmuwan mengeluarkan sikap sombongnya, seolah-olahmereka memegang kunci khazanah seluruh rahasisa alam. Padahal seperti dikatakanRabonowitch bahwa “...Hal itu merupakan kesan keliru tentang kemegahan, yangsegera lenyap....”[19] Wilardjo kemudian merincisejak 1900 tonggak-tonggak keilmuan seperti teori kenisbian, teori kuantum,asas ketidakpastian, dan lainnya, telah mengajarkan ilmuwan untuk bersikaprendah hati, terbuka, kritis, dan toleran. Michael Polanyi malah dengan optimismelihat harapan yang mekar dengan subur karena para ilmuwan belajar salingmempercayai dan mencampakkkan sinisme yang lahir dari kesyakwasangkaan antarasatu sama lain.[20] Wacana klasik menegaskan bahwaanalisis diri dapat dijadikan muara keyakinan, sekaligus terapi, tentunyadengan subordinasi ketuhanan dan kerendahan hati. Ibnu Hazm suatu waktu memakaibentuk analisis diri untuk merangkum wacana di atas. Dia menyebutkan pengalamanpribadi yang dialaminya sendiri untuk mengatasi rasa bangga diri (ujub). Dia menyarankandengan cara individu harus mau melihat aib sendiri dengan akal sehat,menugaskan diri sendiri untuk menghina kemampuannya secara total, sertamemanfaatkan sikap rendah hati sehingga terbebas dari penyakit ujub. Ibnu Hazm melakukan terapiujub dengan menggunakan lawan ujub, yaitu rendah hati. Di satu sisi, diamencari dan mengungkapkan aib sendiri, tapi di sisi lain, dia mengharuskanuntuk menghina diri sendiri dan bersikap rendah hati yang merupakankontraproduksi dengan sikap berbangga diri. Model Ibnu Hazm ini berlawanan asasdengan teori seksualitas Freud, ketika yang terjadi pada Ibnu Hazm adalah sikaptidak tinggi hati untuk menggeneralisir analisis dirinya sebagai kebenaranmutlak.[21]

[1] Jujun S. Suriasumantri, “Hakikat Ilmu:Sebuah Pengantar Redaksi”, dalam Jujun S. Suriasumanteri, ed., Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakikat Ilmu (Jakarta: YayasanObor Inodnesia dan LEKNAS-LIPI, 1985), Cet. ke-6, h. 9. [2] C.AQadir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam. Penerjemah Hasan Basari (Jakarta: Obor, 2002), h. 60. [3] Turmudhi, “Kritik Teori Psikologi”, h. 53. [4] Jung, Memories, Dreams, Reflections, h. 207. [5] Purwanto, Epistemologi psikologi Islami,h. 82. [6] Yusuf al-Qaradhawi, Konsep Islam: Solusi utama bagi Umat. Penerjemah M. Wahib Azis, Lc (Jakarta: SenayanAbadi, 2004), h. 31-32, [7] Turmudhi, “Kritik Teori Psikologi”, h. 54. [8] Abdul Halim Mahmud, Terapi dengan Zikir: Mengusir Kegelisahan dan Merengkuh Ketenangan Jiwa. PenerjemahLuqman Djunaidi (Jakarta: Misykat, 2004), h. 70. Amin an-Najr ketika mengutip al-Muhasibiberpendapat pikiran was-was atau obsesif dalam terminologi modern dapat dipalingkandengan zikir. Namun jika individu membiarkannya dengan kelalaian, maka ia akanmenjadi musuh yang paling membahayakan. al-Muhasibi selanjutnya menegaskanapapun yang diciptakan oleh Allah pasti memiliki antonim dan sinonim. Sebagaicontoh, persamaan jiwa adalah setan dan lawan keduanya ruh. Amin an-Najr, Mengobati Gangguan Jiwa. Penerjemah Ija Suntana (Jakarta: Hikmah, 2004), h. 148. [9] Achmad Mubarok, Solusi Krisis Keruhanian Manusia Modern: Jiwa dalam Al Qur’an (Jakarta: Paramadina,2000), h. 191. [10] Pembahasan terapi tobat bagi penderitapenyakit psikosomatis ini diilhami oleh penelitian Ani Andayani dari jurusan Tasawufdan Psikoterapi UIN Sunan Gunung Djati Bandung tahun 2002. M. Solihin, Terapi Sufistik: Penyembuhan Penyakit Kejiwaan Perspektif Tasawuf, (Bandung:Pustaka Setia, 2004), h. 123.

[11] Rahmat Mulyono, Terapi Marah: Mengendalikan Amarah dengan Pendekatan Psikoterapi Islami (Jakarta: Studia Press, 2005), h. 85. [12] Muhammad Djarot Sentosa, Quranic Quotient: Kecerdasan-kecerdasan Bentukan al-Qur’an (Jakarta: Hikmah, 2004),Cet. ke-2, h. 301. Sebelumnya Djarot sentosa mengurai bahwa kecerdasan dapatdiberdayakan dalam dua bentuk, yaitu ruhani dan amaliah. Pendekatan melaluiruhani meliputi peningkatan keimanan, bertakwa dengan sebenarnya, berdoa tanpahenti, dan berzikir tanpa batas. Sedangkan pendekatan amaliah meliputipengkajian terhadap al-Qur’an dan menyampaikan kandungannya, salat, puasa,zakat, infak, sedekah, dan haji. Terakhir melalui tafakur terhadap alamsemesta. [13] Suriasumanteri, “Hakikat Ilmu: Sebuah Pengantar Redaksi” h. 17. [14] Dr Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam(Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002), h. 80. [15] Ibnu Hazm yang berbicara tentangmimpi dengan filsafat Islam menjelaskan jenis-jenis mimpi yangterklasifikasikan menjadi tiga jenis. Pertama, ada yang berasal dari setan,yaitu sesuatu yang berasal kerancuan dan kebingungan yang tidak sewajarnya.Kedua, ada yang mimpi berasal dari kata jiwa, yaitu mimpi yang menyibukkanseseorang pada saat terjaga sehingga ia melihatnya dalam mimpi, baik karenatakut terhadap musuh atau bertemu sang kekasih atau bebas dari ketakutan, atauyang sejenisnya. Ketiga mimpi yang terjadi karena dominasi karakteristiktertentu, semisal mimpi berlumuran darah karena dominasi warna merah. Dan terakhir,mimpi yang langsung datangnya dari Allah yang jiwanya bersih dari noda badandan bebas pikiran-pikiran yang kotor, sehingga Allah memberikan petunjuk atasberbagai misteri yang belum terjadi. Muhammad Utsman Najati, Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim. Penerjemah Gazi Shaloom S.Psi (Bandung:Pustaka Hidayah, 2002), h. 186. [16] Hadi, Metodologi Research, h. 36. [17] Jungpernah menceritakan tentang mayat-mayat berlumpur pada suatu makan malambersama di Bremen.Tentu saja Freud menjadi jijik mendengar itu semua, dan tiba-tiba dia pingsan.Dalam hal ini Freud “seakan-akan” menunjukkan bahwa insting mati memang ada.Selanjutnya, setelah Freud sadar, ia mengatakan kepada Jung bahwa obrolannyatentang mayat-mayat itu, adalah sebentuk harapan kematian kepada Freud. Mendengarhal itu, Jung sangat terkejut pada kuatnya intensitas

fantasi Freud padaprinsip seksualitas. Freudmemang mempunyai riwayat gangguang pingsan mendadak. Temuan mengutarakan, gangguan ini hampir menghiasidirinya selama penyelenggraan Kongres Psikoanalitik di Munich pada tahun 1912. Jung,Memories, h. 215. [18] Ibid., h. 229-230. [19] L. Wilardjo, “Ilmu dan Humaniora”, dalamJujun S. Suriasumanteri, ed., Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakikat Ilmu (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia danLEKNAS-LIPI, 1985), Cet. ke-6, h. 240-241. [20] Ibid.,h. 241. [21] Najati,Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim,h. 197. Bandingkan juga dengan intensitas paradoksal Frankl. Suatu bentukterapi yang menertawai diri sendiri untuk memecahkan gangguan jiwa. Koeswara, Logoterapi, h. 129-132. http://health.groups.yahoo.com/group/psikologiislami_uin/message/1292

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->