PENGARUH KECEPATAN ALIRAN UDARA TERHADAP EFEKTIFITAS RADIATOR

Skripsi

Diajukan Dalam Rangka Menyelesaikan Studi Strata 1 Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh:
Lukman Bani Adam 5201401048

JURUSAN TEKNIK MESIN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2006

HALAMAN PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan didepan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang pada: tanggal :

PANITIA UJIAN Ketaua Sekertaris

Drs. Pramono NIP. 131 474 226 TIM PENGUJI

Drs. Supraptono, M.Pd. NIP 131 125 645

Pembimbing I

Ketua Penguji I

Drs. M. Burhan R.W, M.Pd. NIP.131 764 025 Pembimbing II

Drs. M. Burhan R.W, M.Pd. NIP.131 764 025 Anggota Penguji II

Hadromi S.Pd., M.T NIP.132 093 201

Hadromi S.Pd., M.T NIP.132 093 201 Anggota Penguji III

Drs. Winarno D R, M.Pd. NIP. 130 914 969 Mengetahui Dekan Fakultas Teknik. UNNES

Prof. Dr. Susanto NIP. 130 875 753 ii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari hasil karya orang lain, baik sebagian maupun seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Februari 2006

Lukman Bani Adam NIM. 5201401048

iii

Ayah dan Ibu tercinta atas segala do’a. PERSEMBAHAN Karya ini aku persembahkan untuk : 1. Erick dan Adikku yang telah menjadi inspirasiku. Orang-orang yang berhasil di dunia ini adalah orang-orang yang bangkit dan mencari keadaan yang mereka inginkan dan jika tidak menemukanya. Orang yang sukses membekali hidupnya dengan syukur dan sabar. Sahabat – sahabatku di IMTIHAN kost. Abdllah Gymnastiar)..H. mereka akan membuatnya sendiri ...H. 3. (K. kasih sayang serta pengorbanan yang tak pernah mampu ananda balas. Yang tersayang Endah Setya N.. Abdullah Gymnastiar).(Khalil Gibran) Konsep pertama yang harus kita miliki kalau ingin unggul di dunia dan akherat adalah mempunyai keunggulan dzikir kepada Allah sehingga kita selalu dalam ketentraman.MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto: Hidup adalah perpindahan dari satu cobaan ka cobaan lain... Kakakku tersayang.. 2. (K. Yayan. 4. iv ..

(2) Seberapa besar pengaruh kecepatan aliran udara terhadap efektifitas radiator. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah pengaruh dan seberapa besar pengaruh kecepatan aliran udara terhadap efektifitas radiator. Radiator bekerja berdasarkan hembusan udara dari kipas pendingin yang menumbuk radiator.ABSTRAK Lukman Bani Adam. Dalam penelitian ini banyak mengalami kesulitan dikarenakan material yang digunakan untuk membuat radiator tester terbuat dari pipa PVC sehingga seringnya mengalami kebocoran dan tidak tahan digunakan pada suhu yang tinggi. suhu air pendingin dan Efektifitas bahwa nilai Efektifitas Radiator akan meningkat sebanding dengan kecepatan aliran udara. mengukur suhu udara sebelum dan setelah menumbuk radiator dan mengukur suhu air pendingin sebelum masuk dan setelah keluar dari radiator. Berdasarkan uraian yang telah disampaikan dapat ditarik simpulan. baik itu mesin engine stand maupun pada mesin mobil yang sesungguhnya. pendinginan dan aliran udara v . Alat ini dapat mudah dipasangkan pada setiap mesin. Metode penelitian ini menggunakan teknik analisa data Diskriptif. dimana radiator sebagai alat untuk menurunkan temperatur air pendingin. Pengaruh Kecepatan Aliran Udara Terhadap Efektifitas Radiator. Hal ini dapat dibuktikan bahwa nilai Efektifitas Radiator akan meningkat seiring dengan kenaikan kecepatan aliran udara begitu pula sebaliknya nilai efektifitas radiator cenderung turun seiring dengan penurunan kecepatan aliran udara. Sistem pendingin pada mobil berfungsi untuk menurunkan temperatur pada mesin yang terjadi akibat pembakaran dari ruang bakar. Penelitian ini menggunakan suatu alat penelitian yang diberi nama radiator tester. Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) Adakah pengaruh besarnya kecepatan aliran udara terhadap efektifitas radiator. Efektifitas. ada pengaruh antara kecepatan aliran udara dengan Efektifitas Radiator. untuk menyempurnakan penelitian ini sebaiknya menggunakan pipa kuningan. Penelitian yang dilakukan dengan jalan memvariasikan kecepatan aliran udara. Kata kunci : Radiator. 2006. Sistem pendingin pada mesin menggunakan suatu alat yang berupa Radiator. Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Semarang. Berdasarkan analisa dengan menggunakan grafik hubungan laju aliran udara.

.................................................... iv KATA PENGANTAR..................................................................................................................................... i ABSTRAK .................... Sistematika Skripsi...................................... 8 E. Identifikasi dan Perumusan Masalah .............................................................................................................................................................................................................................................................. xi BAB I PENDAHULUAN .................................. 12 B........................................................................................................... Kerangka Berpikir.......... Landasan Teori.................................................................... Penegasan Istilah ........................................ ii HALAMAN PENGESAHAN....... 1 A... 32 vi ..................................... 6 C..................................................... Alasan Pemilihan Judul................................... 8 F................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .......... 30 BAB III METODE PENELITIAN .......................................................................................................................................................................... v DAFTAR ISI............................. 7 D...................... vii DAFTAR TABEL ......................... Manfaat Penelitian . 10 BAB II LANDASAN TEORI ...... iii MOTTO DAN PERSEMBAHAN.............................................................................. 1 B.......................... ix DAFTAR GAMBAR............................................................................................................................... x DAFTAR LAMPIRAN ............................... 12 A................................................................................ Tujuan Penelitian .................................................................

...... 50 C.......................................................................................................................................... Hasil Penelitian ........................ Simpulan .......... 33 D.......................................................................... Pendekatan Penelitian ..................................................................................................................................... 33 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN..................................................................................... 55 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. Variabel Penelitian .................. 57 vii ...... 44 A....... Pembahasan Hasil Penelitian ......... 32 B........................ Saran.................................................................................A. 56 LAMPIRAN. 44 B....................... 54 A....... Prosedur Penelitian ....................................................... 32 C....................................................................................... Keterbatasan Penelitian........................ 54 B........................................... 53 BAB V SIMPULAN DAN SARAN.............. Waktu dan Tempat Penelitian ...............................

... 43 Data rata-rata Eksperimen pada kecepatan aliran udara 4.......................................................... 43 Data rata-rata Eksperimen pada kecepatan aliran udara 5 m/s ...................................................................................................... 45 Data rata-rata eksperimen dengan penahanan pada kecepatan aliran udara 4... 13 Data rata-rata Eksperimen pada kecepatan aliran udara 3 m/s ........................................5 m/s . 46 Tabel 8 Tabel 9 viii .....5 m/s ......................... 42 Data rata-rata Eksperimen pada kecepatan aliran udara 4 m/s .5 m/s .................................DAFTAR TABEL Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Konduktifitas termal berbagai bahan ... 46 Data rata-rata eksperimen dengan penahanan pada kecepatan aliran udara 5 m/s ............ 42 Data rata-rata Eksperimen pada kecepatan aliran udara 3....... 43 Data rata-rata eksperimen dengan penahanan pada kecepatan aliran udara 4 m/s ..

................................................................... 14 Perpindahan kalor menyeluruh .............................. 35 Anemometer.................................................................... 17 Perpindahan kalor gabungan melalui dinding datar............................................................................................................................................................................................................................................. 36 Pemasangan alat uji pada engine ......... 46 Grafik hubungan kecepatan aliran udara terhadap efektifitas Radiator ................................................ 16 Pendinginan air dengan tekanan pada mesin ..................... 25 Pompa air ........................................ 18 Contoh-contoh konfigurasi penukar kalor kompak...............................DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7 Gambar 8 Gambar 9 Gambar 10 Gambar 11 Gambar 12 Gambar 13 Gambar 14 Gambar 15 Perpindahan kalor konveksi dari suatu plat ........................................................ 27 Katup Thermostat.................................................................................. suhu air pendingin dan Efektifitas Radiator ........................ 34 Regulator ................................. 26 Konstruksi kipas pada mesin (fan) .. 49 Gambar 16 ix ................. 28 Thermometer dan Flowmeter.......................................... 43 Grafik hubungan laju aliran udara........................................................ 19 Konstruksi radiator..... 25 Kipas pendingin .......................................

6. Susanto. petunjuk dan saran dalam penyusunan skripsi. Drs. Ari Tri Sugito. Dekan FT Universitas Negeri Semarang. Drs. Universitas Negeri Semarang..Pd. Burhan R W.KATA PENGANTAR Dengan mengucap syukur kehadirat Allh SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-nya. Prof. Hadromi. Drs. 2.T. Drs. M. penulis memperoleh bantuan.. Rektor Universitas Negeri Semarang. selaku Dosen penguji 7. 4.H. S. penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. x . Dosen pembimbing II yang telah memberikan arahan dan petunjuk dalam penulisan Skripsi. M. bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak. oleh karena itu dengan kerendahan hati. 3. Widi Widayat.. selaku Dosen pembimbing lapangan yang telah memberikan bimbingan. Winarno. M.Pd. Drs. 5. M. Dosen pembimbing I yang penuh perhatian dan kesabaran dalam memberikan bimbingan.M. sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “pengaruh kecepatan aliran udara terhadap efektifitas radiator” Maksud dari penyusunan skripsi ini adalah untuk memenuhi dan melengkapi salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan pada program studi Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Dr. Selaku Ketua Jurusan Teknik Mesin. H. Dalam menyusun skripsi ini. Pramono. Drs.M.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati yang tulus penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan pihak-pihak yang bersangkutan. Februari 2006. 9. 11.8. Semarang. 10. Bapak-bapak Dosen. semua pihak yang terkait yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Teknik Mesin ’01 yang telah memberikan motivasi dalam pembuatan skripsi ini. Ayah dan ibu serta kakak-kakak ku yang telah memberikan dorongan baik moril maupun spirituil untuk menyelesaikan skripsi ini. Penulis xi . yang telah memberikan bekal ilmu yang tidak ternilai harganya selama belajar. kawanku semua di kelas Pend.

namun demikian kedua sistem ini mempunyai 1 . Sistem Pelumasan 4. Sistem–sistem tersebut antara lain : 1. Kedua sistem ini bukanlah sistem utama yang menjadi dasar suatu mesin (engine) untuk melakukan kerja dan usaha. Suatu mesin didalamnya terdapat beberapa sistem pendukung yang bekerja sekaligus. Mesin dapat digambarkan secara sederhana sebagai sebuah sistem yang terdiri dari beberapa sistem pendukung yang bekerja secara simultan dan terintegrasi. Sistem pelumasan dan pendinginan merupakan sistem pendukung dari kerja mesin. sehingga apabila salah satu dari sistem tersebut mengalami kerusakan. ALASAN PEMILIHAN JUDUL Kemajuan teknologi bidang otomotif berkembang sangat pesat mendorong manusia untuk selalu mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. Sistem Kelistrikan 2. maka mesin mobil akan mengalami kerusakan. Sistem-sistem tersebut bekerja saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya.BAB I PENDAHULUAN A. Sistem Pendinginan Sistem–sistem tersebut melakukan kerja secara bersamaan sehingga menghasilkan kerja mesin yang merupakan output dari mesin itu sendiri. Dalam dunia otomotif khususnya pada mesin motor bakar dikenal berbagai macam sistem yang bekerja. Sistem Bahan Bakar 3.

Mesin akan dapat bekerja apabila komponen–komponen pendukung didalamnya bergerak (moving part). sehingga kinerjanya dapat dipertahankan dalam jangka waktu yang relatif lebih lama. Sistem pendinginan berfungsi sebagai absorber panas yang dihasilkan oleh mesin yang berasal dari proses pembakaran dalam silinder. panas ini tentunya sangat mengganggu jika dibiarkan begitu saja karena akan menimbulkan over heating. Proses pembakaran selanjutnya akan menghasilkan tenaga mekanis yang kemudian akan menggerakkan mesin. Sistem pendingin pada mobil berfungsi untuk menurunkan temperatur pada mesin yang terjadi akibat pembakaran dari ruang bakar. Sistem pelumasan merupakan sistem yang berfungsi sebagai media pelumasan bagian–bagian mesin (engine) yang bergerak sebagai pendukung kerja. hal tersebut menjadi suatu perhatian karena temperatur yang berlebihan akan cenderung merubah sifat-sifat serta bentuk dari komponen mesin tersebut. Keausan tersebut pada akhirnya mengurangi kinerja mesin. Sistem ini secara garis besar sebagai pelindung kerja mesin. Gerakan–gerakan komponen tersebut menghasilkan gesekan yang pada akhirnya menimbulkan keausan pada komponen–komponen mesin. Sistem pendinginan (cooling sistem) adalah suatu rangkaian untuk mengatasi terjadinya over heating pada mesin agar mesin dapat bekerja secara optimal. Bila sifat serta bentuk komponen telah berubah dipastikan kinerja mesin . Akibat lain dari proses pembakaran adalah adanya panas yang apabila tidak didinginkan akan merusak komponen dari mesin itu sendiri.2 fungsi yang sangat vital.

Panas mesin dihasilkan dari pembakaran bahan bakar dalam silinder. Sistem pendinginan udara. (Maleev. 2. Panas tersebut selanjutnya diserap udara luar yang bersirkulasi dengan temperatur yang lebih rendah dari temperatur sirip pendingin. 1982 : 374). (Maleev. Udara yang menyerap panas dari siripsirip pendingin harus berbentuk aliran atau dengan kata lain udaranya harus mengalir agar temperatur udara sekitar sirip tetap rendah sehingga penyerapan panas berlangsung sempurna.3 akan terganggu sehingga kinerja mesin tidak akan bekerja secara maksimal. Panas tersebut merupakan suatu hal yang sengaja diciptakan untuk menghasilkan tenaga. Panas yang berlebihan itu menjadi penyebab berubahnya sifat–sifat mekanis serta bentuk dari komponen mesin. Sistem Pendinginan Udara. Sifat serta komponen mesin bila telah berubah akan menyebabkan kinerja mesin terganggu dan mengurangi usia mesin. yang pada giliranya usia mesin tidak akan lama. yaitu : 1. . 1. 1982 : 385). Sistem Pendinginan Air. Sistem pendinginan yang biasa digunakan pada mesin ada 2 macam. Sistem pendinginan pada mesin berfungsi sebagai pelindung mesin dengan cara menyerap panas. Proses perambatannya menggunakan sirip–sirip yang dipasangkan dibagian luar dari silinder dan ruang bakar. namun jika dibiarkan akan menimbulkan panas yang berlebihan (over heating effect). Pada sistem ini panas yang dihasilkan dari pembakaran gas dalam silinder dirambatkan keluar.

Sistem pendinginan mesin terdiri dari beberapa bagian penting antara lain: 1. Pompa air 5. Saluran pipa air pendingin 3. sistem ini berjalan terus . Motor kipas pendingin Sistem pendingin ini bekerja berdasarkan heat changer dimana panas yang berasal dari ruang bakar dan silinder diambil/diserap oleh air pendingin yang bersirkulasi. Proses pelepasan panas ke udara sekitar. Panas hasil pembakaran akan diserap oleh air pendingin yang bersirkulasi.4 2. Air pendingin tersebut kemudian didinginkan oleh udara luar yang bertekanan yang dihembuskan oleh blower radiator. Pada sistem ini panas dari pembakaran gas dalam silinder sebagian diserap oleh air pendingin. Sistem pendinginan air. Secara prinsip dapat dikatakan bahwa sistem ini bekerja berdasarkan prinsip pertukaran panas. Radiator 2. terjadi melalui kontak langsung antara udara dengan pipa yang dilengkapi dengan perangkat sirip setelah pipa tersebut menerima panas dari air yang sebelumnya membawa panas dari proses pembakaran yang terjadi diruang bakar yang bertemperatur kurang lebih 700º C. Thermostat 4. kemudian air pendingin tersebut didinginkan oleh udara yang bertekanan yang dihembuskan oleh blower radiator.

semakin tinggi putaran mesin semakin tinggi pula kecepatan aliran udara yang menumbuk radiator.5 menerus/kontinyu. sehingga kinerja dari sistem pendinginan lebih optimal. jika dapat diasumsikan bahwa udara yang dihembuskan tersebut sebagai laju (kecepatan udara tiap satuan waktu). Mesin bekerja pada putaran tinggi. Debit aliran air yang bersirkulasi pada sistem pendingin. semakin tinggi putaran motor listrik semakin tinggi pula kecepatan aliran udara yang menumbuk radiator. Putaran kipas yang relatif lebih cepat dengan sendirinya akan mempengaruhi kecepatan udara yang dihembuskan (kerja kipas) sehingga dapat digambarkan bahwa semakin cepat putaran kipas. hal ini dapat diimbangi dengan putaran kipas yang tinggi pula dengan demikian panas yang tinggi dapat didinginkan dengan proses pendinginan yang relatif lebih cepat. tentunya panas pembakaran yang dihasilkan juga sangatlah tinggi. jadi kecepatan aliran udara tergantung berapa besarnya putaran mesin. yaitu : 1. Putaran mesin. semakin cepat pula udara yang dihembuskan. jadi kecepatan aliran udara tergantung berapa besarnya putaran motor listrik yang mengerakkan kipas. maka penulis bermaksud . Kecepatan aliran udara yang mendinginkan air pada radiator tergantung dua hal yaitu putaran motor listrik. 2. Kecepatan aliran udara yang mendinginkan air pada radiator. Pada sistem ini terdapat dua komponen penting yang sangat berkaitan dengan pertukaran panas ini. Hal ini dapat terjadi dikarenakan kipas tersebut digerakkan oleh mesin dengan bantuan tali kipas (V Belt) dengan demikian kinerja kipas akan simultan dengan tingkatan kinerja mesin.

kemudian air pendingin tersebut didinginkan oleh udara yang bertekanan yang dihembuskan oleh blower radiator. yang didalamnya terdapat beberapa alat instrument pengukur. Sistem pendingin ini bekerja berdasarkan heat exchanger dimana panas yang berasal dari ruang bakar dan silinder diambil/diserap oleh air pendingin yang bersirkulasi. Alat ini dapat mudah dipasangkan pada setiap mesin. juga untuk mempertahankan temperatur mesin pada suhu kerja yang ideal. sehingga apabila salah satu dari sistem tersebut mengalami kerusakan. maka mesin mobil akan mengalami kerusakan. Sistem pendingin pada mobil selain berfungsi untuk menurunkan temperatur pada mesin yang terjadi akibat pembakaran dari ruang bakar. penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui “PENGARUH KECEPATAN ALIRAN UDARA TERHADAP EFEKTIFITAS RADIATOR” B. IDENTIFIKASI DAN PERUMUSAN MASALAH Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa pada mesin mobil terdapat bermacam sistem yang bekerja. sistem ini berjalan terus menerus/kontinyu.6 mengadakan penelitian mengenai kecepatan aliran udara pendinginan radiator. Dari alasan tersebut diatas. Pada sistem ini . terhadap efektifitas Radiator tester merupakan alat bantu pengukuran yang terintegrasi. Sistem-sistem tersebut bekerja saling berkaitan antara satu dengan yang lainya. Alat ini dibuat untuk melakukan pengukuran sebagai langkah dalam proses penelitian ini. baik itu mesin engine stand maupun pada mesin mobil yang sesungguhnya.

yaitu : 1. Debit aliran air yang bersirkulasi pada sistem pendingin. Kecepatan aliran udara yang mendinginkan air pada radiator. Putaran mesin. 2. semakin tinggi putaran mesin semakin tinggi pula kecepatan aliran udara yang menumbuk radiator. jadi kecepatan aliran udara tergantung berapa besarnya putaran mesin. jadi kecepatan aliran udara tergantung berapa besarnya putaran motor listrik yang mengerakkan kipas. Kecepatan aliran udara yang mendinginkan air pada radiator tergantung dua hal yaitu putaran motor listrik. C.7 terdapat dua komponen penting yang sangat berkaitan dengan pertukaran panas ini. Beberapa permasalahan yang dapat diangkat dari uraian diatas adalah sebagai berikut: 1. Hal ini dapat terjadi dikarenakan kipas tersebut digerakkan oleh mesin dengan bantuan tali kipas (V Belt) dengan demikian kinerja kipas akan simultan dengan tingkatan kinerja mesin. Seberapa besarkah pengaruh kecepatan aliran udara terhadap efektifitas radiator pada mesin. penelitian ini bertujuan untuk: . TUJUAN PENELITIAN Berdasarkan permasalahan dan kenyataan yang terjadi. Adakah pengaruh kecepatan aliran udara terhadap efektifitas radiator pada mesin 2. semakin tinggi putaran motor listrik semakin tinggi pula kecepatan aliran udara yang menumbuk radiator.

Penegasan istilah dalam skripsi ini adalah sebagai berikut: . Bagi perusahaan ataupun industri otomotif. PENEGASAN ISTILAH Untuk menghindari salah penafsiran tentang judul skripsi ini. maka diperlukan penegasan istilah. Bagi jurusan Teknik Mesin Unnes. D. MANFAAT PENELITIAN 1.8 1. Mengetahui ada tidaknya pengaruh antara kecepatan aliran udara dari kipas pendingin terhadap efektifitas radiator pada mesin. Hasil dari penelitian dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk penelitian lebih lanjut dan pengukur efektifitas radiator sebagai alat eksperimen yang dapat dijadikan sarana praktik analisa fenomena dasar mesin ataupun perpindahan kalor. sebagai bahan acuan dan perbandingan dalam usaha penyempurnaan dan peningkatan kinerja sistem pendingin motor bakar. E. 2. Mengetahui seberapa besar pengaruh kecepatan aliran udara terhadap efektifitas radiator pada mesin. Bagi peneliti. Sebagai penerapan ilmu dan teori-teori yang diperoleh selama masa perkuliahan dan membandingkan dengan kenyataan yang ada didunia otomotif 2. 3. Hasil dari penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran yang bermanfaat bagi perusahaan ataupun industri yang bergerak dibidang otomotif.

Udara Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai arti campuran berbagai gas yang tidak berwarna dan tidak berbau (Oksigen/Nitrogen) yang memenuhi ruangan diatas bumi. 2. Kecepatan Mempunyai arti waktu yang diperlukan oleh fluida yang mengalir untuk melintasi jarak tertentu. Dalam penelitian ini pengaruh mempunyai arti ada akibatnya antara kecepatan aliran udara dan efektifitas radiator. . Efektifitas Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai arti: Ada pengaruhnya terhadap suatu hal. Kecepatan aliran udara adalah waktu yang diperlukan oleh fluida gas untuk menempuh suatu jarak tertentu. Aliran Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai arti suatu zat/fluida yang mengalir. Dalam penelitian ini efektifitas mempunyai arti seberapa besar radiator mampu menurunkan temperatur air pendingin. 3. Kecepatan aliran udara.9 1. Pengaruh Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai arti daya yang ada atau timbul dari sesuatu hal (benda atau orang) yang ikut membentuk watak atau perbuatan seseorang.

dan . pernyataan. kata pengantar. Radiator mesin Adalah alat yang berfungsi untuk mendinginkan air yang telah menyerap panas dari mesin dengan cara membuang panas air tesebut melalui sirip . halaman motto dan persembahan. pengesahan kelulusan. daftar isi. dan hipotesis penelitian.sirip pendinginnya F.tujuan penelitian. daftar tabel. sistematika skripsi. kerangka berpikir penelitian. persetujuan pembimbing. daftar gambar. BAB II : LANDASAN TEORI Terdiri dari landasan teori/tinjauan pustaka. BAB III : METODE PENELITIAN perumusan penegasan istilah. dan daftar lampiran. Bagian kedua dari skripsi ini adalah isi skripsi yang terdiri dari. manfaat penelitian. Bagian Isi Skripsi.sebagai berikut: 1. Bagian pertama dari skripsi ini adalah bagian pendahuluan dari skripsi yang berisi halaman judul.10 4. identifikasi dan masalah. SISTEMATIKA SKRIPSI Dalam penulisan skripsi ini penulis membagi penulisan hasil penelitian menjadi tiga bagian. abstrak. 2. Bagian Pendahuluan. BAB I : PENDAHULUAN Terdiri dari latar belakang masalah.

Bagian ketiga atau bagian akhir dari skripsi ini adalah daftar pustaka dan lampiran–lampiran.11 Terdiri dari deskripsi peralatan pengujian. perencanaan alat uji. . BAB V : PENUTUP Berisi simpulan keterbatasan dan saran 3. teknik pengambilan data dan dan teknik analisis data. BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini mengemukakan tentang hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian. Penyusunan sistematika skripsi ini dimaksudkan untuk mempermudah pemahaman dan memberikan gambaran sekilas tentang isi skripsi dan bagian–bagianya. Bagian Penutupan Skripsi. variabel penelitian.

Konduksi Merupakan perpindahan panas dari tempat yang bertemperatur tinggi ketempat yang bertemperatur lebih rendah didalam medium yang bersinggungan langsung.BAB II LANDASAN TEORI A. c. b. Konveksi Merupakan proses perpindahan energi panas dengan kerja gabungan dari konduksi panas. cair dan gas. penyimpanan energi dan proses mencampur. LANDASAN TEORI 1. maka akan terjadi perpindahan panas serta energi dari bagian yang bersuhu 12 . Perpindahan Panas Perpindahan panas (heat transfer) adalah proses berpindahnya energi dari suatu tempat ke tempat yang lain dikarenakan adanya perbedaaan suhu diantara benda atau material. Proses ini terjadi pada permukaan padat.1997:13) a. Perpindahan panas konduksi Jika pada suatu benda terdapat gradien suhu (temperature gradient).(Holman. Radiasi Merupakan proses pepindahan panas dari tempat yang bersuhu tinggi ke tempat yang bersuhu yang rendah bila kedua tempat itu terpisah dalam ruangan bahkan ruang hampa sekalipun. Perpindahan panas terdapat tiga jenis. yaitu : a.

sehingga dapat dikatakan bahwa energi akan berpindah secara konduksi (conduction) atau hantaran dan bahwa laju perpindahan kalor itu berbanding dengan gradien suhu normal: q ~ ∂ T/ ∂ x A Jika dimasukkan konstanta proporsionalitas (proporsionality constant) Laju perpindahan kalornya dinyatakan sebagai : q= .k.A.3 Logam Perak (murni) tembaga (murni) alumunium (murni) nikel (murni) besi (murni) baja karbon (murni) timbal (murni) .1 ) q = laju perpindahan kalor ∂ T / ∂ x = gradien suhu perpindahan kalor k = konduktifitas termal bahan A = luas bidang perpindahan kalor (Holman. Dimana : ∂ T / ∂ x …………………………………………………. °F 237 223 117 54 42 25 20.13 tinggi ke bagian yang bersuhu rendah.1997 : 2) Tabel 1 Konduktifitas termal berbagai bahan. Konduktifitas termal berbagai bahan pada 0°C (k) Bahan W/m.°C 410 385 202 93 73 43 35 Btu/h.ft.

Kecepatan udara yang ditiupkan ke plat panas ini akan mempengaruhi laju perpindahan kalor. besaran h disebut koefisien perpindahan kalor konfeksi (confection heat transfer coeficient). akan tetapi bila fluida diatas plat bergerak dengan kecapatan tertentu.. Laju perpindahan kalor dipengaruhi oleh luas permukaan perpindahan kalor (A) dan beda menyeluruh antara permukaan bidang dengan fluida. yang dapat dirumuskan sebagai berikut : q=h. dimana gradien suhu bergantung dari laju fluida pembawa kalor.A( Tw. Perpindahan panas konveksi Aliran Tx q Arus bebas Dinding Tw Gambar. maka disini kalor hanya dapat berpindah secara konduksi saja. 1997 : 11) Secara umum sudah diketahui bahwa plat logam panas akan menjadi lebih cepat dingin bila ditaruh didepan kipas angin dibandingkan bilamana ditempatkan di udara tenang. Seperti pada gambar 1 diatas. Apabila kecepatan di atas plat adalah nol.1 Perpindahan kalor konveksi dari suatu plat (Holman.Tx )…………………………………………………. Tw adalah suhu suatu plat dan Tx adalah suhu fluida.14 b.2 ) . maka kalor berpindah secara konveksi.

maka udara itu akan begerak sebagai akibat terjadinya gradien densitas didekat plat itu. dan densitas. Perpindahan panas konveksi tergantung pada viskositas fluida. Jika suatu plat panas dibiarkan berada diudara sekitar tanpa adanya sumber gerakan dari luar. kalor spesifik. apabila densitas fluida didekat permukaan perpindahan kalor berkurang sebagai akibat . terjadi karena gaya apung yang alami. (Holman. sedangkan untuk keadaan yang rumit harus diperhitungkan dengan cara eksperimen atau percobaan. Koefisien perpindahan kalor dapat disebut juga dengan konduktifitas film (film conductance) karena hubunganya dengan proses konduksi pada lapisan fluida diam yang tipis pada muka dinding. seperti: konduktivitas termal. berubah densitasnya sehingga fluida bergerak. Perpindahan panas konveksi alam (natural convection) Fenomena ini terjadi karena fluida yang karena pemanasan.1997 : 12) Ada dua sistem konveksi.15 dimana : h = koefisien perpindahan panas konveksi Tw = suhu suatu plat Tx = suhu suatu fluida Untuk keadaan yang sederhana. disamping ketergantungan terhadap sifat–sifat termal fluida. yaitu : 1). Gerakan fluida dalam koveksi bebas. baik fluida gas maupun cair. koefisien perpindahan panas konveksi (h) dapat diperhitungkan secara analitis. Hal ini disebabkan karena viskositas mempengaruhi profil kecepatan dan oleh sebab itu mempengaruhi laju perpindahan energi didaerah dinding.

.. . Sebagai gambaran adalah fenomena perpindahan panas aliran didalam pipa yang dinyatakan sebagai: (Holman. 1997 : 252) dp = m. 2). Fenomena ini terjadi apabila sistem dimana fluida didorong oleh permukaan perpindahan kalor.dTb = h. Pada umumnya peralatan untuk memindahkan panas pada industri maupun otomotif menggunakan sistem konveksi paksa.2Л.16 dari proses pemanasan.r. walaupun grafitasi bukan satu-satunya gaya luar yang dapat menghasilkan arus konveksi bebas. Sistem konveksi paksa Konveksi paksa disebabkan karena adanya gaya pemaksa yang menyebabkan fluida bergerak dan mempunyai kecepatan.Tb) …………………………………….(Tw . Gaya apung ini tidak akan terjadi apabila fluida itu tidak mengalami suatu gaya dari luar seperti gaya grafitasi..3 ) Gambar 2 Perpindahan kalor menyeluruh dinyatakan dengan beda suhu limbak.cp..

........ A... 4 ) ..... Untuk radiasi antar dua benda... Fg. 3 Pendinginan air dengan tekanan pada mesin c... dapat dirumuskan : q = Fe.. σ ( T14 – T24 )………………………….17 Gambar. Perpindahan panas radiasi Merupakan perpindahan panas dari benda yang bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah bila benda–benda tersebut terpisah dalam satu ruangan bahkan bila terdapat ruang hampa diantara benda–benda tersebut......

.18 Dimana q = Fe = Fg = A = laju perpindahan kalor Fungsi emisitas Fungsi geometri Luas permukaan bidang konstanta Stefan Boltzman (5...) .. 1997 : 13) σ = d...5 ) Proses perpindahan kalor dapat digambarkan dengan jaringan tahanan seperti pada gambar dibawah... A ( T2 .... Perpindahan kalor dinyatakan dengan: q = h1 ..Tb) = h2 .A+ 1/h2 ..6. A …………………………....... 669 x 10-8 W/m2K4 ) (Holman..A+ ∆x/k.perpindahan kalor gabungan dihitung dengan jalan membagi beda suhu mnyeluruh dengan jumlah tahanan termal...... A (TA – T1 )=k.. Perpindahan Panas Gabungan Dinding datar seperti gambar dibawah dimana bila pada suatu sisinya terdapat fluida panas A....TB ) )………………………….... (Holman..A / ∆ x( T 2 . dan pada sisi lainya fluida yang lebih dingin B....... 1997 : 32) q= TA – TB 1/h1..

4 Perpindahan kalor gabungan melalui dinding datar... 1997 : 33) q = U. Aliran kalor menyeluruh sebagai hasil gabungan proses konduksi dan konveksi bisa dinyatakan dengan koefisien perpindahan kalor menyeluruh U..A digunakan untuk menunjukkan tahanan konveksi. Nilai 1/h. Dalam penerapanya penukar kalor air silang.... maka akan memungkinkan terjadinya kontak langsung dengan udara secara lebih luas. gas dan air....A...... banyak dipakai pada pemanasan dan pendinginan udara.∆T menyeluruh………………………………………. fluida yang mengalami pertukaran panas berjalan secara menyilang satu sama lain..7.... Sebagai contoh radiator yang konstruksinya menggunakan saluran diantara sirip–sirip..) Dimana A adalah luas bidang aliran kalor. U= .. Dengan luas permukaan yang sangat besar persatuan volume yang diwujudkan dalam bentuk konstruksi pipa dan sirip..8. yang dirumuskan dalam hubungan : (Holman.. koefisien perpindahan kalor menyeluruh adalah: 1 ………………………………………..19 Gambar.) 1/h1 +∆x/k + 1/h2 Sedangkan pada penukar kalor aliran silang..

20 Gambar. 5 Contoh-contoh konfigurasi penukar kalor kompak 2. Bila kita harus menentukan suhu masuk atau suhu keluar. Efektifitas penukar kalor (Heat Exchange Effectiveness ) didefinisikan sebagai berikut : ε= Perpindahan kalor nyata ……………………. Efektifitas mempunyai beberapa keuntungan untuk menganalisa perbandingan berbagai jenis penukar kalor dalam memilih jenis yang terbaik untuk melaksanakan pemindahan kalor tertentu. dan aliran kalor luas permukaan dan koefisien perpindahan kalor menyeluruh dapat ditentukan. 1997 : 498) ...9 ) Perpindahan kalor maksimum yang mungkin (Holman.. sehingga LMTD dapat dengan mudah dihitung. Metode Perhitungan Metode Number of Transfer Unit / NTU Efektifitas Pendekatan LMTD (log mean temperature difference) dalam analisis berguna bila suhu masuk dan suhu keluar diketahui atau dapat ditentukan dengan mudah. analisis kita akan melibatkan prosedur pendekatan LMTD.

.... syarat keseimbangan energi bahwa energi yang diterima oleh fluida yang satu mesti sama dengan energi yang dilepas oleh fluida yang lain.. dan ini tidak dimungkinkan..Th2 ) = mc Cc ( Tc2 ....... Fluida yang mungkin mengalami beda suhu maksimum ini ialah yang mc-nya minimum................Tc1 ). Jadi perpindahan kalor yang mungkin dinyatakan : .. Jika fluida yang mengalami nilai mc yang lebih besar yang dibuat mengalami beda suhu yang lebih besar dari maksimum....21 Perpindahan kalor yang sebenarnya (actual) dapat dihitung dari energi yang dilepaskan oleh fluida panas/energi yang diterima oleh fluida dingin untuk penukar kalor aliran lawan arah q = mh Ch ( Th1 . yaitu selisih suhu masuk fluida panas dan fluida dingin.......10) Dimana : q = laju perpindahan panas mh = massa heat mc = massa cool Ch = kalor spesifik fluida Panas Cc = kalor spesifik fluida dingin Th1= suhu masuk fluida panas Th2= suhu keluar fluida panas Tc1= suhu masuk fluida dingin Tc2= suhu keluar fluida dingin Untuk menentukan perpindahan kalor maksimum bagi penukar kalor itu harus dipahami bahwa nilai maksimum akan didapat bila salah satu fluida mengalami perubahan suhu sebesar beda suhu maksimum yang terdapat dalam penukar kalor itu.......

.14 ) Th1 − Tc1 (Holman... bergantung dari laju aliran masa dan kalor spesifik.... dalam Radiator terjadi pelepasan panas ke udara sekitar dengan demikian terjadi heating effect...Tc masuk )…………………………………... Sistem Pendinginan Mesin Motor bakar dalam operasionalnya menghasilkan panas yang berasal dari pembakaran bahan bakar dalam silinder.........................12) mc c c (Th1 − Tc1 ) Th1 − Tc1 secara umum evektifitas dapat dinyatakan sebagai ε= ΔT ( Fluida Minimum) ........ 1997 : 499) 3........13) Beda Suhu Maksimum Didalam Penukar Kalor jika fluida dingin ialah fluida minimum........ Panas yang dihasilkan tadi tidak dibuang akibatnya komponen mesin yang berhubungan dengan panas pembakaran akan mengalami kenaikan temperatur yang berlebihan dan merubah sifat-sifat serta bentuk dari komponen mesin tersebut..........11 ) fluida minimum boleh yang panas dan boleh pula yang dingin.. maka : ε = Tc 2 − Tc1 ……………………………………………………...... Sistem pendinginan yang biasa digunakan pada motor bakar ada dua macam........22 qmak=(mc)min (Th masuk . yaitu : ........ εc = mc cc (Tc 2 − Tc1 ) Tc 2 − Tc1 = .. Sistem pendinginan diperlukan untuk mencegah terjadinya perubahan tersebut...........

23 a. hal ini dimaksudkan agar temperatur udara sekitar sirip lebih rendah sehingga penyerapan panas tetap berlangsung secara baik. Ada dua kemungkinan. Keadaan ini dapat ditempuh dengan cara menggerakkan sirip pendingin atau udaranya. Untuk mesin-mesin yang secara konstruksi diam/stasioner dan mesin-mesin yang penempatannya sedemikian rupa sehingga sukr untuk mendapatkan aliran udara. 1982 : 374) a. Untuk menciptakan keadaan itu maka aliran udara harus dibuat dengan jalan menciptakan gerakan relatif antara sirip dengan udara. Udara yang berfungsi menyerap panas dari sirip-sirip pendingin harus berbentuk aliran atau dengan kata lain harus mengalir. apabila sirip pendingin yang digerakkan berarti mesinnya bergerak seperti mesin -mesin yang dipakai pada sepeda motor secara umum. udara yang dibutuhkan .sirip pendingin yang dipasangkan dibagian luar dari silinder dan ruang bakar. panas yang dihasilkan dari pembakaran gas dalam ruang bakar dan silinder sebagian dirambatkan keluar dengan menggunakan sirip . Sistem pendinginan air (Water Cooling System) (Maleev. pada bagian mesin yang memiliki temperatur tinggi memiliki sirip pendingin yang lebih panjang daripada sirip pendingin yang terdapat disekitar silinder yang temperaturnya lebih rendah. Sistem pendinginan udara (Air Cooling System) b. Sistem Pendinginan Udara (Air Cooling System) Sistem pendinginan jenis udara. Panas yang dihasilkan ini selanjutnya diserap oleh udara luar yang memiliki temperatur yang jauh lebih rendah dari temperatur pada sirip pendingin.

yaitu : a) Sirkulasi Alam (Natural Circulation) Sistem pendinginan pada sirkulasi jenis ini. akan terjadi dengan sendirinya yang mengakibatkan perbedaan berat jenis air panas dengan yang masih dingin. Hal tersebut sangat merugikan. jika air pendingin itu tetap berada pada water jacket maka air itu cenderung akan mendidih dan menguap. dimana air yang telah panas berat jenisnya lebih rendah dari . keadaan ini dapat terjadi karena adanya mantel air pendingin (water jacket). (Maleev. Sirkulasi Pendingin Air Sirkulasi Pendingin Air secara garis besar ada 2 macam. Air yang memiliki temperatur yang masih dingin dialirkan mengganti air yang memiliki temperatur lebih panas dengan kata lain air yang lebih panas dialirkan keluar. 1982 : 393) b. Penghembusan udara oleh blower hasil putaran poros engkol juga akan menciptakan aliran udara yang sebanding dengan kecepatan mesin sehingga pendinginan sempurna dapat terjadi pada mesin tersebut. oleh karena itu untuk menghindarinya air tersebut disirkulasikan. panas yang diserap oleh air pendingin pada mantel-mantel air selanjutnya akan menaikkan temperatur air pendingin tersebut.24 diciptakan dengan cara dihembuskan oleh blower yang dihubungkan langsung dengan poros engkol hasil putaran akibat langkah kerja siklus motor bakar. Sistem pendinginan Air (Water Cooling System) Sistem pendinginan air panas yang berasal dari pembakaran gas dalam ruang bakar dan silinder sebagian diserap oleh air pendingin yang bersirkulasi melalui dinding silinder dan ruang bakar.(Maleev. 1982 : 381) 1).

maka sebagai pembuang panas air yang berada di dalam mantel-mantel air dipanaskan oleh hasil pembakaran didalam ruang bakar dan silinder sehingga air tadi akan menyerap panas dan temperaturnya akan naik mengakibatkan turunnya berat jenis sehingga air tadi akan didesak ke atas oleh air yang masih dingin dari radiator. 1982 : 387) Air yang berada di dalam tangki pada mesin disamakan dengan air yang berada pada mantel-mantel air. Turunnya air akan mendesak air yang telah panas dari mesin keradiator bagian atas. (Maleev. 1982 : 387) b) Sirkulasi dengan tekanan Sirkulasi jenis ini hampir sama dengan sirkulasi jenis aliran hanya saja pada sirkulasi ini ditambahkan tekanan untuk mempercepat terjadinya sirkulasi air pendingin. Radiator dipakai untuk mengubah temperatur air pendingin yang panas menjadi lebih dingin.25 pada air yang masih dingin. Pada saat air dalam tangki dipanaskan. pada sistem ini ditambahkan pompa air. maka air yang telah panas akan menempati bagian atas dari tangki dan mendesak air yang berada diatasnya segera mengalir ke pipa. Pompa air ini ada yang ditempatkan pada saluran antara radiator dengan mesin dimana air . (Maleev. Air yang panas akan mengalir dengan sendirinya kebagian atas radiator dimana selanjutnya temperaturnya akan turun karena telah dibuang sebagian oleh radiator. Panas diambil dari panas hasil pembakaran didalam silinder. Pada saat yang bersamaan dengan turunnya air pada radiator juga terjadi pembuangan panas yang besar sehingga mempercepat turunnya air pada radiator. air yang mengalir memasuki bagian bawah dari tangki dimana setelah dipanaskan air akan mengalir keatas.

Sirkulasi jenis ini kecenderungan air untuk mendidih sangatlah kecil sekali karena tekanannya melebihi tekanan atmosfir yang berarti titik didihnya akan berada jauh diatas 100o. komponen-komponen tersebut akan bekerja untuk mendukung kerja sistem pendinginan air. Komponen . 1999 : 25) Konstruksi radiator terdiri dari : a) Tangki atas b) Inti radiator (Radiator Core) c) Tangki Bawah d) Tutup Radiator . antara lain : 1).komponen sistem pendinginan air Sistem pendinginan air memiliki bagian-bagian yang bekerja secara integrasi satu dengan yang lainnya. (Suprapto.26 yang mengalir ke mesin ditekan oleh pompa. ada juga yang ditempatkan pada saluran antara mesin dengan radiator. Sirkulasi jenis ini banyak digunakan pada mesin-mesin mobil karena dapat berlangsung dengan sempurna dan air yang berada didalam mantelmantel air tetap dalam keadaan penuh tanpa ada gelembung udara. (Maleev. c. Radiator Adalah alat yang berfungsi sebagai alat untuk mendinginkan air yang telah menyerap panas dari mesin dengan cara membuang panas air tesebut melalui sirip-sirip pendinginnya. 1982 : 388).

Pompa Air (Water pump). Jenis pompa air yang digunakan ialah pompa air sentrifugal. Pompa ini dapat berputar karena digerakkan oleh mesin melalui tali kipas (V . 1999 : 27) Gambar 7 pompa air . 6 Konstruksi Radiator 2). (Suprapto.27 Gambar. Alat ini berfungsi untuk mensirkulasikan air pendingin dengan jalan membuat perbedaan tekanan antara saluran isap dengan saluran tekan yang terdapat pada pompa.Belt).

1981 : 828) Kipas pada konstruksi yang lain adakalanya digerakkan menggunakan motor listrik. (Remling. Kerja dari motor listrik ini tergantung dari temperatur air pendingin yang mengatur aliran arus listrik dari baterai ke motor.28 3). Aliran udara pada mesin-mesin kendaraan selalu paralel dengan gerakan kendaraan. (Suprapto. Cara kerja dari sistem ini ialah apabila temperatur air pendingin naik mencapai 93o maka arus listrik akan mengalir yang mengakibatkan kipas akan berputar. hal ini untuk mencegah terjadinya over cooling. dalam proses kerjanya sistem ini dilengkapi dengan relay dan water temperatur switch sebagai kontrol pengendalinya. Untuk menyesuaikan antara kecepatan putar dari mesin dengan kecepatan pengaliran udara yang dapat menyerap panas dari radiator. Pemasangan kipas biasanya dibagian depan dari poros pompa air sehingga putaran dari kipas sama dengan putaran pompa air yang selanjutnya menyebabkan aliran udara sesuai dengan putaran mesin. maka besar dan jumlah daun kipas dibuat sesuai dengan kebutuhan mesin. tetapi arahnya berlawanan. Kipas (Fan) Kipas berfungsi untuk mengalirkan udara pada inti radiator agar panas yang terdapat pada inti radiator dapat dirambatkan dengan mudah ke udara. 1999 : 30) .

dengan kata lain apabila air pendingin dibuat bersirkulasi pada suhu masih rendah maka suhu air pendingin sukar mencapai idealnya. Katup Thermostat Secara ideal air pendingin bersirkulasi apabila suhu ideal mesin telah dicapai.29 Gambar 8 Kipas pendingin Gambar 9 Konstruksi kipas pada mesin (fan) 4). Untuk mengatasi tekanan air yang berlebihan pada saat . Cara kerja dari katup thermostat ini ialah pada saat air pendingin suhunya masih rendah katup akan tetap pada posisi tertutup apabila temperatur air pendingin mulai naik sekitar 80oC sampai dengan 90oC lilin di dalam katup thermostat akan memuai dan menekan karet. Pemasangan katup ini biasanya pada saluran air keluar dari mesin ke radiator yang dimaksudkan agar lebih mudah untuk melakukan proses kerjanya. keadaan ini akan mengubah bentuk dan menekan poros katup sehingga akan membuat posisi katup menjadi terbuka. Untuk tujuan tersebut maka pada sistem pendingin dilengkapi dengan katup thermostat yang berfungs sebagai penahan air pendingin pada suhu rendah dan membuka saluran air pendingin dari mesin ke radiator dan ke mesin pada saat mesin telah mencapai suhu idealnya.

air ini mempunyai beberapa efek yang merugikan. Mantel Pendingin (Water jacket) Mantel pendingin dapat digambarkan secara sederhana sebagai sebuah ruangan yang berada disekeliling silinder mesin dan kepala silinder mesin. antara lain: .30 katup thermostat masih tertutup. Proses pertukaran panas berlangsung pada bagian ini. 5). maka dibuatkan saluran pintas (by pass passage) ke saluran pompa air. Namun sebagai media penyerap panas. 1982: 386) 6). Mantel pendingin ini secara konstruksi behubungan dengan tangki radiator. 1981 : 824) Gambar 10 Katup thermostat. Cairan Pendingin Fluida atau cairan pendingin yang biasa dipakai ialah air. (Remling. dimana panas yang berada pada silinder dan kepala silinder mesin akan diserap air yang bersirkulasi melewati bagian mantel air ini. (Maleev. Fluida ini dalam proses pendinginan akan bergerak atau disirkulasikan untuk mengambil panas yang berasal dari pembakaran bahan bakar dalam silinder mesin yang kemudian akan didinginkan pada radiator. Keberadaan bagian ini berfungsi untuk mendinginkan silinder dan kepala silinder mesin.

kerusakan itu dapat berbentuk korosi/karat yang dalam jangka waktu yang relatif lama akan menimbulkan kerusakan 2. B. Panas ini memang penting untuk dikendalikan karena panas yang berlebihan tentunya akan dapat mengganggu jalannya proses mekanisme dari mesin. keadaan ini tentunya akan menyebabkan sirkulasi mengalami gangguan atau masalah 3. Panas juga akan mengubah komponen kendaraan mesin baik itu secara struktur metalurginya maupun secara dimensinya. Air mempunyai sifat akan membeku pada temperatur yang rendah. Keadaan ini tentunya akan mengakibatkan penyumbatan pipa–pipa tersebut. Proses pengambilan panas ini akan menyebabkan turunnya temperatur air pendingin (cooling effect). Air nantinya akan menimbulkan endapan kotoran pada saluran pendingin dan water jacket. Pengambilan panas oleh udara yang dihembuskan/disirkulasikan terjadi pada komponen radiator. . sedangkan pada udara yang dihembuskan akan mengalami kenaikan suhu (heating effect). Air pendingin akan meningkat suhunya dikarenakan mengambil panas yang berasal dari panas hasil pembakaran gas dalam ruang bakar. Air juga berpotensi mengandung kapur yang dapat menyebabkan endapan dalam pipa–pipa radiator. Kerangka Berpikir Proses pendinginan pada mesin secara prinsip didasari proses pertukaran panas.31 1. Pertukaran panas ini dari air sebagai media pendingin dengan udara yang dihembuskan.

32 Proses sirkulasi air pendingin di layani oleh pompa air yang digerakkan oleh putaran mesin melalui mekanisme pulley dan van belt. . Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat membuktikan adanya pengaruh kecepatan aliran udara terhadap efektifitas pendinginan radiator. Berdasarkan uraian di atas berarti hubungan antara kecepatan aliran udara terhadap efektifitas pendinginan radiator. Jumlah udara/fluida yang dihembuskan dapat diartikan sebagai kecepatan fluida yang menumbuk penampang dalam satuan waktu tertentu. sehingga jumlah udara/fluida yang menumbuk radiator semakin banyak. Putaran mesin yang tinggi dengan sendirinya akan menyebabkan putaran kipas pendingin menjadi semakin tinggi pula.

Skripsi ini menggunakan metode penelitian jenis eksperimen. Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian ialah metode yang digunakan untuk mendekatkan permasalahan yang diteliti sehingga dapat menjelaskan dan membahas permasalahan secara tepat. B. Variabel Bebas Variabel bebas pada penelitian ini ialah : 33 . Variabel Penelitian 1. dimana tersedianya subjek penelitian sesuai dengan apa yang diinginkan peneliti. 2002: 90). waktu dan dana yang tersedia. Pada penelitian ini menggunakan pendekatan “one shot” model. Eksperimen yang dilakukan yaitu mengadakan percobaan tentang pengaruh kecepatan aliran udara terhadap efektifitas pendinginan radiator. Ekperimen ialah penelitian dengan memanipulasi suatu variabel yang sengaja dilakukan oleh peneliti untuk melihat efek yang terjadi dari tindakan tersebut (Suharsimi. yaitu model pendekatan yang menggunakan satu kali pengumpulan data pada “suatu saat”.BAB III METODE PENELITIAN A. Pemilihan pendekatan ini berdasarkan tujuan penelitian. (Suharsimi. 1988: 9). Variabel Terikat Variabel terikat pada penelitian ini ialah efektifitas radiator 2.

Alat ini dapat mudah dipasangkan pada setiap mesin.5 ). 3. Simulator Penelitian (Radiator tester) Pada bab terdahulu terdapat penjelasan awal bahwa radiator tester merupakan alat bantu pengukuran yang terintegrasi. Waktu dan Tempat Penelitian 1.34 • Kecepatan aliran udara pada : {( 5 ). yang didalamnya terdapat beberapa alat instrument pengukur. Alat ini dibuat untuk melakukan pengukuran sebagai langkah dalam proses penelitian ini. Alat ini nantinya yang akan digunakan oleh penulis untuk melakukan pengambilan data penelitian Alat ini merupakan kumpulan komponen dan beberapa alat (instrumen) yang didalamnya. Pelaksanaan Penelitian dilakukan bulan Desember 2005 Tempat pelaksanaan ekperimen dilakukan di laboratorium Community College Teknik Mesin Universitas Negeri Semarang. ( 3. ( 4. komponen-komponen itu saling berhubungan untuk dapat . ( 3 )} m/s • Suhu Air sebelum masuk dan setelah keluar Radiator. Prosedur Penelitian 1. Variabel kontrol Variabel kontrol pada penelitian ini ialah • Putaran kipas pendingin • Debit aliran air pendingin C. ( 4 ). baik itu mesin engine stand maupun pada mesin mobil yang sesungguhnya. D.5 ).

Kipas (Fan) Kipas ini berukuran diameter 30 cm dengan jumlah daun kipas 4 buah. Flowmeter Flowmeter berfungsi untuk mengukur debit air yang keluar dari radiator. komponen–komponen dan ukur tersebut antara lain : a. terletak diantara radiator dan mesin dan dihubungkan dengan menggunakan pipa berdiameter 0. .75 inchi. yang merupakan produksi ADR RADIATOR b. Flowmeter ini merupakan pengukur debit aliran air standar yang dipakai oleh para pengguna jasa PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum). Radiator Radiator yang digunakan disini ialah radiator berjenis untuk kendaraan Toyota Kijang. Gambar.11 Thermometer dan Flowmeter c.35 menghasilkan berupa data hasil pengukuran.

12 Regulator . Regulator Regulator (supervol) yang digunakan buatan YAMABISHI ELECTRONIC. digunakan untuk mengukur suhu masuk dan keluar aliran air radiator. : 50 – 300 V Gambar. Thermometer Thermometer digunakan untuk mengukur temperatur air pendingin ini dipasang pada aliran masuk dan aliran keluar radiator masing–masing 1 buah. CO. LTD.5 KVA : 50 – 130 V/160 – 240 V : 50 – 60 Hz. dengan spesifikasi : • • • Jenis Thermometer Jangkauan skala (range) Merk : Raksa : 0o sampai dengan 150o C : Silver Brand (Jerman) e.36 d. Dengan spesifikasi • • • • Capacity Input Frekwensi Out put : 0.

4 Amper .00 : 80 .25 HP : 2.4 – 108. Motor Listrik Motor ini digunakan untuk menggerakkan kipas pendingin air pada radiator. Anemometer Anemometer yang digunakan ialah Anemometer bermerk LUTORN yang juga dilengkapi Thermometer dengan udara.5910 : 1. 13 Anemometer f. dengan spesifikasi : • • • Putaran : 1400 rpm Daya Arus : 0.00 Gambar.3 : 0. – 30.8 – 58. sedangkan spesifikasi untuk kecepatan pengukuran Data sepesifikasi Knot Meter / sekon Feet / minutes Km / hour : 0.37 f.

Persiapan Pengujian Sebelum melakukan pelaksanaan pengujian. peralatan serta komponen tadi harus diperiksa dan di setting agar dapat dioperasikan dengan baik. Pasangkan instrumen radiator tester pada engine stand d. Periksa volume air yang bersirkulasi 3. Set instrumen pada radiator tester 1) Periksa air dalam radiator 2) Periksa tegangan listrik 3) Periksa motor listrik penggerak kipas 4) Periksa komponen regulator Hidupkan motor listrik Atur putaran kipas motor listrik dengan menggunakan regulator 5) Periksa komponen anemometer Ukur kecapatan aliran udara kipas radiator 6) Periksa komponen pengukur flowmeter c. Pengambilan Data Awal 1) Hidupkan mesin . Hal–hal yang perlu dilakukan sebelum pengujian adalah sebagai berikut : a. Pelaksanaan Pengujian a. Set mesin pengujian sesuai dengan spesifikasi 1) Takanan Kompresi 2) Celah Platina 3) Pengapian b.38 2.

5). 6) Ukur temperatur/suhu air pendingin Th1 =………………. b. .ºC Tc2 =………………….ºC 7) Ukur temperatur/suhu aliran udara yang menumbuk radiator Tc1 =……………… . ( 4 ). 8) Semua data yang diambil dimasukkan kedalam tabel data (check sheet) 9) Matikan mesin 10) Lakukan langkah 2 sampai dengan 8 untuk tiap kali pengambilan data pada masing-masing kenaikkan kecepatan aliran udara.ºC Th2 = ………………….5). Pengambilan Data Pengujian 1) Hidupkan mesin 2) Naikkan putaran mesin 3) Set Debit aliran mesin pada 24 liter / menit.5 ). (4.5 ).39 2) Ambil data pengukuran kecepatan aliran udara pada: {(5). ( 3 )} m/s 5) Pengambilan data dilakukan pada saat temperatur air pendingin mencapai 70°. (3)} m/s. (3. (4). 85° dan 90° Celcius.ºC. ( 4. 75°. 80°. 4) Set kecepatan aliran udara pada : {( 5 ). ( 3.

5). (3.40 4. (4. (3)} m/s Ukur temperatur air pendingin dan temperatur udara yang menumbuk radiator Tabulasi data Hasil Simpulan .5). Diagram Alir Penelitian Desain simulator Simulator -------------------------------------------------------------------------------------------------Pengaruh kecepatan aliran udara terhadap efektifitas Penelitian radiator Set kecepatan aliran udara pada: {(5). (4).

5). (4. 75° .41 5.85° dan 90°) C dengan putaran mesin pada 2000 RPM atau untuk debit . Rancangan Percobaan Penelitian ini akan mencari hubungan antara kecepatan aliran udara terhadap efektifitas pendinginan radiator pada radiator tester.85° dan 90°.80° .5). Data-data yang diperoleh dari hasil penelitian selanjutnya digunakan untuk menghitung efektifitas radiator dengan formula atau rumus: ε = Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 Pengambilan data dilakukan dengan dua cara yaitu: • Pengambilan data pada suhu-suhu yang telah ditentukan pada (70°. Penelitian ini menggunakan lima tingkat kecepatan aliran udara : {(5). (4).80° . dengan tiga pengulangan pada masing masing tingkat kecepatan aliran udara. 75° . sedangkan pengukuran suhu pada Tc1 dan Tc2 thermometer digital yang merupakan fasilitas tambahan pada anemometer digital. Pengambilan data dalam eksperimen ini dilakukan dengan cara mengukur suhu-suhu yang bekerja pada instrument radiator tester suhu-suhu tersebut adalah: Th1 Th2 Tc1 Tc2 = suhu air sebelum masuk ke radiator = suhu air setelah keluar dari radiator = suhu udara sebelum menumbuk radiator = suhu udara setelah melewati radiator Pengukuran suhu pada Th1 dan Th2 menggunakan thermometer tabung. (3. Pengukuran dilakukan saat temperatur air 70°. (3) m/s}.

25. (3)} m/s. (3) m/s. (4).5). (3.5). (4. • Pengambilan data dengan penahanan (holding time) pada penelitian ini selama 30 menit dengan rincian pembagian (1. 6. 30) menit untuk putaran mesin pada 2000 RPM atau untuk debit aliran air pendingin pada 0. (4.5). Tabel Data ( Pada tiap kenaikkan kecepatan aliran udara).024 m³/menit dan dengan variasi kecepatan aliran udara pada {(5). 10. 20. 15.42 aliran air pendingin pada 0. (3. V Udara ( m/s ) No 1 2 3 4 5 Q Air ( Lt/ min ) Th1 (°C ) Th2 (°C ) Tc1 (°C ) Tc2 (°C ) ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 • • • • • • • V udara: Kecepatan udara yang menumbuk radiator Q Air : Debit air yang bersirkulasi Th1 Th2 Tc1 Tc2 : suhu air yang keluar dari heater masuk radiator : suhu air yang keluar radiator masuk reservoir : suhu udara di depan radiator : suhu udara di belakang radiator : Nilai efaktivitas radiator ε . (4).024 m³/menit dan dengan variasi kecepatan aliran udara pada {(5).5). 5.

Mengetahui hubungan pengaruh antara kecepatan aliran udara terhadap efektifitas radiator b. Mengetahui seberapa besar pengaruh kecepatan aliran udara tersebut terhadap efektifitas radiator.43 7. . Teknik analisa data. teknik analisa ini untuk mengetahui hubungan sebagai berikut: a. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik analisa diskriptif.

024 0.024 Th1 70 75 80 85 90 Th2 67 72.66667 32.066667 0. Data rata – rata hasil penelitian efektifitas radiator untuk pengambilan suhu-suhu yang telah ditentukan yaitu pada suhu {70°.5 m/s No 1 2 3 4 5 V 3.042424 0.066667 0.5 3.33333 33.33333 76.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.5). (3) m/s} adalah sebagai berikut: Tabel 2. Data rata-rata penelitian pada kecepatan aliran udara 4 m/s 44 .33333 87.5 3. (3.33333 77. Data rata-rata penelitian pada kecepatan aliran udara 3 m/s No 1 2 3 4 5 V 3 3 3 3 3 Debit 0.33333 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.024 0.024 0.85° dan 90°} dengan putaran mesin pada 2000 RPM atau untuk debit aliran air pendingin pada 0.5).80° .038889 Tabel 3.024 0. Data rata-rata penelitian pada kecepatan aliran udara 3. (4).051852 0.5 Debit 0.33333 32.33333 Tc1 30 30 30 30 30 Tc2 32.066667 0.66667 73.024 0.33333 Tc1 30 30 30 30 30 Tc2 33 33 33.075 0.060606 0.024 0. HASIL PENELITIAN Hasil penelitian yang telah dilakukan dengan eksperimen pada mesin DAIHATSU CLASSY didapat data sebagai berikut: 1.046667 0.055556 Tabel 4.5 3.024 0.024 m³/menit dan dengan variasi kecepatan aliran udara pada {(5).33333 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.33333 32 32.33333 33.66667 82 86. (4.024 0.66667 83.024 Th1 70 75 80 85 90 Th2 67.5 3. 75° .

5 Debit 0.15 • • • • • • V Th1 Th2 Tc1 Tc2 : Kecepatan udara yang menumbuk radiator : suhu air yang keluar dari heater masuk radiator : suhu air yang keluar radiator masuk reservoir : suhu udara di depan radiator : suhu udara di belakang radiator : Nilai efaktivitas radiator ε .093333 0.66667 34. No 1 2 3 4 5 V 5 5 5 5 5 Debit 0.113333 0.33333 69.024 0.024 0.17037 0. Data rata-rata penelitian pada kecepatan aliran udara 5 m/s.33333 37.5 4.024 Th1 70 75 80 85 90 Th2 64.024 0.66667 35.024 0.66667 36 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.024 0.024 0.66667 79.10303 0.024 Th1 70 75 80 85 90 Th2 64.024 Th1 70 75 80 85 90 Th2 66.024 0.5 m/s No 1 2 3 4 5 V 4.125 0.33333 75 79 84 Tc1 30 30 30 30 30 Tc2 37.66667 80.45 No 1 2 3 4 5 V 4 4 4 4 4 Debit 0.33333 71.024 0.66667 85 Tc1 30 30 30 30 30 Tc2 35 35.66667 70.083333 Tabel 5.66667 38. Data rata-rata penelitian pada kecepatan aliran udara 4.166667 0.66667 75.024 0.024 0.118519 0.5 4.66667 35 35 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.66667 39 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.33333 Tc1 30 30 30 30 30 Tc2 33.157576 0.33333 35.66667 85.090909 0.5 4.108333 0.183333 0.33333 34.1 Tabel 6.024 0.33333 38.66667 75.5 4.024 0.096296 0.

hal ini dikarenakan semakin tinggi kecepatan aliran udara yang menumbuk radiator maka semakin banyak pula kalor dari fluida pendingin yang bersirkulasi dipindahkan dari sistem ke udara sekitar. (4. karena parameter suhu Tc1 merupakan suhu udara luar sebelum menumbuk radiator.5). dengan demikian akan terjadi selisih panas cukup besar antara Tc1 dengan Tc2. Sehingga panas dari pembakaran dalam silinder bisa diserap fluida pendingin dan melepaskanya ke udara sekitar.5). 90º). (5)} m/s dan debit airan air pemdingin pada 0. Berdasarkan uraian hasil penelitian pada grafik 1 untuk kecepatan aliran udara secara keseluruhan terlihat bahwa semakin tinggi kecepatan aliran udara maka nilai efektivitas radiator semakin tinggi.46 Proses pengambilan data yang pertama dilakukan pada berbagai variasi kecepatan aliran udara {(3). (3. 80º. Besaran suhu Tc1 tidak mengalami perubahan yang cukup signifikan. sedangkan Tc2 merupakan suhu udara setelah menumbuk radiator dengan demikian terjadi perbedaan suhu yang cukup mencolok antara Tc1 dengan Tc2. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pengambilan data pada menit pertama semakin tinggi kecepatan aliran udara semakin banyak pula udara yang . jadi bila indikator pada Th1 menunjukkan angka 60ºC dan pengambilan data dilakukan pada suhu Th1 mencapai suhu tertentu yaitu pada: (70º. Suhu 60º sebagai mulai / acuan untuk menghidupkan mesin. 85º. 75º. (4).024 m³/menit tanpa adanya penahanan (holding time). Penyerapan kalor yang sesungguhnya akan terjadi pada radiator dimana air akan didinginkan udara oleh hembusan dari blower (heating effect). Begitu pula sebaliknya semakin rendah kecepatan aliran udara semakin rendah pula nilai efektivitas radiator.

5 4.579235 0.33333 57.66667 Tc1 30 30 30 30 30 30 30 Tc2 37.525714 0. Data rata-rata penelitian pada kecepatan aliran udara 4 m/s No 1 2 3 4 5 6 7 Waktu 1 5 10 15 20 25 30 V 4 4 4 4 4 4 4 Debit 0.604554 Tabel 49.624976 .024 Th1 70 81.33333 64.66667 87.024 0.573964 0.595376 0. (4) m/s} adalah sebagai berikut: Tabel 49. Data rata-rata penelitian pada kecepatan aliran udara 5 m/s No 1 2 3 4 5 6 7 Waktu 1 5 10 15 20 25 30 V 5 5 5 5 5 5 5 Debit 0.66667 88.024 Th1 70 83.33333 60.563953 0.024 0.66667 60.183333 0. 20.024 0.33333 82.33333 56.66667 56.024 0. dengan demikian kalor yang diserap semakin besar dan nilai efektivitas semakin besar.024 0.024 0.33333 87.33333 66.dengan demikian bertambahnya nilai efektivitas radiator akan meningkat seiring dengan meningkatnya kecepatan aliran udara.33333 84.66667 79.33333 56.33333 85.116667 0.5 4.66667 65.33333 85.33333 76.5 4.66667 84.538462 0.66667 ε 0.024 0.024 0.66667 78.5).66667 58.66667 76.548193 0.024 0.024 0.33333 64.66667 Th2 64.66667 81.024 0. putaran mesin pada 2000 RPM atau untuk debit aliran air pendingin pada 0.33333 62.66667 91.33333 76.33333 60.66667 78.33333 85.47 menumbuk radiator sedangkan debit aliran konstan.540541 0.521472 0.66667 ε 0.5 m/s No 1 2 3 4 5 6 7 Waktu 1 5 10 15 20 25 30 V 4.66667 Th2 64. 5.497006 0.024 0. (4.33333 84.33333 Tc1 30 30 30 30 30 30 30 Tc2 34.66667 62.5 4.108333 0. 25.5 4.66667 58.585227 0.66667 90.490683 0.33333 66.66667 82.33333 Tc1 30 30 30 30 30 30 30 Tc2 34.54491 0.66667 83.024 Th1 70 79.33333 66. 30). Data rata – rata hasil penelitian efektifitas radiator untuk pengambilan suhu ukur dengan penahanan (holding time) selama 30 menit dengan pengambilan data pada menit ke (1.33333 88.33333 90.024 0.66667 81.33333 Th2 66.66667 77.024 m³/menit dan dengan variasi kecepatan aliran udara pada {(5). 15.5 4.33333 86.024 0.33333 62.33333 85.66667 88.33333 85.66667 ε 0.024 0.597832 Tabel 49.024 0. Data rata-rata penelitian pada kecepatan aliran udara 4.66667 85.541401 0.024 0.33333 74.5 Debit 0.33333 91.516129 0.024 0.66667 80. 10. 2.

Kesetabilan nilai efektivitas ini merupakan suatu hal yang wajar karena bila diamati kenaikan suhu ukur terjadi merata pada parameter suhu Th1. karena pengambilan data dilakukan sesaat dan secara bersamaan pada saat Th1 menunjukkan pada suhu acuan yaitu pada: {70°. sehingga menyebabkan nilai efektivitas radiator akan cenderung stabil .48 Berdasarkan uraian hasil penelitian didapatkan kenyataan bahwa nilai efektivitas akan meningkat cukup tinggi antara menit pertama sampai menit kelima. Th2 dan Tc2.5). Keadaan ini berlaku untu ketiga variasi kecepatan aliran udara {(4). Peningkatan suhu ukur Tc2 akan mengkibatkan nilai efektivitas meningkat dengan tajam hal ini didasarkan pada rumus bahwa parameter suhu Tc2 sebagai pembilang.ah yang tidak terdeteksi atau tidak terpantau pada saat pengambilan waktu sesaat (pada menit pertama). hal ini dikarenakan semakin lamanya waktu penahanan semakin banyak pula kalor yang dipindahkan dari radiatror selama lima menit. sehingga apabila besaran Tc2 meningkat akan menyebabkan hasil yang berupa nilai efektivitas Radiator akan meningkat pula. (4. Hal ini dimungkinkan pada saat pengambilan data untuk besarnya suhu Tc2 akan meningkat sebanding dengan lamanya waktu penahanan. 75° .85° dan 90°}C. Hal ini. Pengambilan data untuk eksperimen dengan penahanan (hoding time) pada menit kelima sampai menit ketiga puluh terdapat kesetabilan nilai efektivitas Radiator. walaupun jika diamati pada grafik 2 tterdapat adanya peningkatan namun peningkatan tersebut tidak terlalu signifikan sehingga dapat ditarik kesimpulan nilai efektivitas cendeung setabil. (5) m/s}.80° .

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan di laboratorium COMMUNITY COLLEGE teknik mesin UNNES. 15 dan 30). . Penelitian ini menggunakan rumus: ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc 2 = Suhu air sebelum masuk ke radiator = Suhu air setelah keluar dari radiator = Suhu udara sebelum menumbuk radiator = Suhu udara setelah melewati radiator = Nilai efektivitas Th1 Th2 Tc1 Tc2 ε Pengambilan data dengan menggunakan penahanan (holding time) selama 30 menit didasari adanya keinginan untuk melihat adanya tren bahwa penggunaan radiator yang sesungguhnya untuk waktu yang cukup lama. 15. Keadaan ini merupakan pengembangan percobaan lebih lanjut dari pengambilan data pada menit pertama (sesaat) pengambilan data pada percobaan ini diamati pada tiap kelipatan lima menit yaitu pada: (1. Didapatkan pengaruh yang cukup signifikan. 10. tentang pengaruh kecepatan aliran udara terhadap efektivitas radiator dengan menggunakan sampel penelitian pada mesin DAIHATSU CHARADE.. . 20.49 B. 5. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN.

keterbatasan penelitian ini dengan sendirinya akan menyebabkan data hasil penelitian ini hanya berlaku untuk ketentuan yang telah diuraikan diatas. 3. sehingga dengan sendirinya penelitian inimempunyai banyak keterbatasan diantaranya: 1. peralatan pengukur (instrumen) simulator mempunyai keterbatasan/rentan terhadap suhu tinggi sehingga dibatasi sampai suhu kerja pengambilan data maksimal pada 91ºC. lamanya waktu penahanan terbatas hanya sampai 30 menit 4. . 2. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kecepatan aliran udara terhadap efektivitae radiator dengan mengambil sampel penelitian dari engine stand DAIHATSU CHARADE dengan penahanan selama 30 menit. Hasil penelitian hanya berlaku untuk mesin DAIHATSU CHARADE dengan jenis pengujian tanpa beban.93ºC.50 C. penelitian hanya berlaku pada radiator kijang merk ADR Radiator.

624976 Untuk interval waktu 1 sampai dengan 30 menit. maka didapatkan harga efektifitas radiator tertinggi pada menit ke-30 dengan laju aliran udara 5 m/s dengan nilai efektifitas = 0. maka saran yang dapat penulis berikan adalah sebagai berikut: 1. maka didapatkan harga efektifitas radiator terendahi pada menit ke-1 dengan laju aliran udara 4 m/s dengan nilai efektifitas = 0. 2.BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Dari data hasil pengujian dan analisa data yang dilakukan. Untuk percobaan dengan penahanan pada interval waktu 1 sampai dengan 30 menit. maka didapatkan nilai Efektifitas Radiator tertinggi pada suhu air pendingin 70ºC = 0. maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Untuk interval 70ºC sampai dengan 90ºC.038889. B.108333. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan.18333 dengan laju aliran udara 5 m/s dan Efektifitas tertinggi pada interval 70ºC sampai dengan 90ºC maka didapatkan Efektifitas terendah pada suhu air pendingin 90ºC dengan laju aliran udara 3 m/s dengan nilai 0. Pada percobaan pengambilan data ini penulis membutuhkan waktu yang cukup lama dikarenakan material yang digunakan untuk aliran air pendingin 51 .

52 menggunakan pipa PVC sehingga tidak tahan digunakan pada temperatur yang tinggi dan seringnya mengalami masalah. . 2. 3. maka untuk mempermudah pengambilan data disarankan menggunakan pipa kuningan. Penulis menyadari banyaknya kekurangan dalam penelitian ini. Melakukan penelitian dengan memvariasikan berbagai engine baik itu engine stand ataupun mesin yang ada pada mobil. dengan demikian diharapkan adanya penelitian lebih lanjut untuk menyempurnakan penelitian yang penulis lakukan diantaranya: • • Melakukan penelitian dengan memvariasikan berbagai jenis radiator. Pada percobaan pengambilan data ini hendaknya dilakukan dengan bantuan beberapa orang untuk melakukan tugas-tugas pengukuran tertentu. dikarenakan perlu ketepatan dalam pengukuran.

0600 0.1400 Efektivitas 0.0000 70º 75º 80º 85 º 90º 3 m/s 3.1800 0.5 m/s 5 m/s Suhu Air Pendingin (º C ) .0400 0.º 0.1600 0.1000 0.2000 0.1200 0.0800 0.5 m/s 4 m/s 4.0200 0.

Grafik hubungan laju aliran udara , waktu penahanan dan efektivitas
0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 1 5 10 15 20 25 30 Waktu Waktu (menit)
Gambar 16 Grafik Hubungan kecepatan aliran udara terhadap efektivitas radiator

Efektivitas

v = 4 m/s v = 4,5 m/s v = 5 m/s

LAMPIRAN

58

DAFTAR TABEL UJI COBA PENELITIAN Data percobaan pada kecepatan aliran udara 3 m/s dengan debit aliran air pada 0,024 m³/menit
No 1 2 3 V 3 3 3 Debit
0,024 0,024 0,024

Th1 70 70 70 70

Th2 67 68 68 67.66667

Tc1 30 30 30 30

Tc2 32 33 33 32.66667

ε=

Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1

rata-rata

0.05 0.075 0.075 0.066667

Tabel, suhu air pendingin pada 70°

Tabel, suhu air pendingin pada 75°
No 1 2 3 V 3 3 3 Debit
0,024 0,024 0,024

Th1 75 75 75 75

Th2 73 73 74 73.33333

Tc1 30 30 30 30

Tc2 32 32 33 32.33333

ε=

Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1

rata-rata

0.044444 0.044444 0.066667 0.051852

Tabel suhu air pendingin pada 80°
No 1 2 3 V 3 3 3 Debit
0,024 0,024 0,024

Th1 80 80 80 80

Th2 77 77 78 77.66667

Tc1 30 30 30 30

Tc2 32. 32. 32 32

ε=

Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1

rata-rata

0.05 0.05 0.04 0.046667

Tabel, suhu air pendingin pada 85°
No 1 2 3 V 3 3 3 Debit
0,024 0,024 0,024

Th1 85 85 85 85

Th2 83 84 83 83.33333

Tc1 30 30 30 30

Tc2 32 33 32 32.33333

ε=

Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1

rata-rata

0.036364 0.054545 0.036364 0.042424

LAMPIRAN

59

Tabel, suhu air pendingin pada 90°
No 1 2 3 V 3 3 3 Debit
0,024 0,024 0,024

Th1 90 90 90 90

Th2 87 88 87 87.33333

Tc1 30 30 30 30

Tc2 32 33 32 32.33333

ε=

Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1

rata-rata

0.033333 0.05 0.033333 0.038889

Data Percobaan Pada Kecepatan Aliran Udara 3,5 M/S Dengan Debit Aliran Air Pada 0,024 M³/Menit Tabel, suhu air pendingin pada 70°
No 1 2 3 V 3.5 3.5 3.5 Debit 0,024 0,024 0,024 rata-rata Th1 70 70 70 70 Th2 67 67 67 67 Tc1 30 30 30 30 Tc2 33 33 33 33

ε=

Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1
0.075 0.075 0.075 0.075

Tabel, suhu air pendingin pada 75°
No 1 2 3 V 3.5 3.5 3.5 Debit
0,024 0,024 0,024

Th1 75 75 75 75

Th2 72 72 73 72.33333

Tc1 30 30 30 30

Tc2 33 33 33 33

ε=

Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1

rata-rata

0.066667 0.066667 0.066667 0.066667

Tabel, suhu air pendingin pada 80°
No 1 2 3 V 3.5 3.5 3.5 Debit
0,024 0,024 0,024

Th1 80 80 80 80

Th2 77 76 77 76.66667

Tc1 30 30 30 30

Tc2 33 34 33 33.3333

ε=

Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1

rata-rata

0.06 0.08 0.06 0.066667

024 0.1083 rata-rata Tabel.024 m³/menit Tabel.024 0.33333 Tc1 30 30 30 30 Tc2 34 34 35 33.111111 0.088889 0.055556 Data percobaan pada kecepatan aliran udara 4 m/s dengan debit aliran air pada 0.088889 0.072727 0.33333 Tc1 30 30 30 30 Tc2 33 34 33 33. suhu air pendingin pada 70° No 1 2 3 V 4 4 4 Debit 0.33333 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 rata-rata 0.024 0.5 3.024 0.33333 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.5 3.096296 .024 0.05 0.66667 Tc1 30 30 30 30 Tc2 34 34 35 34.LAMPIRAN 60 Tabel.024 0.1 0.33333 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 rata-rata 0.05 0.6666 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.024 0.5 Debit 0.024 Th1 70 70 70 70 Th2 66 66 67 66.125 0. suhu air pendingin pada 85° No 1 2 3 V 3. suhu air pendingin pada 75° No 1 2 3 V 4 4 4 Debit 0.024 Th1 75 75 75 75 Th2 71 72 72 71.5 3.1 0.066667 0.5 Debit 0.5 3.054545 0.054545 0. suhu air pendingin pada 90° No 1 2 3 V 3.024 rata-rata Th1 90 90 90 90 Th2 86 87 86 86.024 Th1 85 85 85 85 Th2 82 82 82 82 Tc1 30 30 30 30 Tc2 33 34 33 33.060606 Tabel.024 0.

024 0.66667 Tc1 30 30 30 30 Tc2 35 35 35 35 Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.024 0.024 rata-rata Th1 70 70 70 70 Th2 64 65 65 64.024 0.66667 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 rata-rata 0.024 Th1 90 90 90 90 Th2 85 86 85 85.125 Tabel.024 0.5 4.024 0.024 0.024 Th1 80 80 80 80 Th2 76 75 76 75.093333 Tabel.125 0.024 Th1 75 75 75 75 Th2 71 70 71 70.083333 Data percobaan pada kecepatan aliran udara 4.5 4. suhu air pendingin pada 75° No 1 2 3 V 4. suhu air pendingin pada 85° No 1 2 3 V 4 4 4 Debit 0.090909 0.024 0.66667 Tc1 30 30 30 30 Tc2 35 36 35 35.333 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 rata-rata 0.090909 0. suhu air pendingin pada 80° No 1 2 3 V 4 4 4 Debit 0.024 0.024 Th1 85 85 85 85 Th2 81 81 80 80.5 m/s dengan debit aliran air pada 0.118519 . suhu air pendingin pada 70° ε= No 1 2 3 V 4.090909 0.083333 0.024 m³/menit Tabel.5 4.66667 Tc1 30 30 30 30 Tc2 35 34 35 34.133333 0.024 0.LAMPIRAN 61 Tabel.090909 Tabel.5 Debit 0.1 0.08 0.083333 0.125 0.33333 Tc1 30 30 30 30 Tc2 35 35 35 35 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 rata-rata 0.125 0.5 4.111111 0.5 Debit 0.024 0.66667 Tc1 30 30 30 30 Tc2 35 35 35 35 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 rata-rata 0. suhu air pendingin pada 90° No 1 2 3 V 4 4 4 Debit 0.111111 0.083333 0.1 0.

155556 0.66667 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 rata-rata 0.024 Th1 80 80 80 80 Th2 76 76 75 75.12 0.183333 Tabel.024 0.109091 0.024 0.024 Th1 85 85 85 85 Th2 80 80 79 79.177778 0. suhu air pendingin pada 75° ε= No 1 2 3 V 5 5 5 Debit 0. suhu air pendingin pada 90° No 1 2 3 V 4.1 0.33333 Tc1 30 30 30 30 Tc2 37 38 38 37.1 0. suhu air pendingin pada 85° No 1 2 3 V 4.024 rata-rata Th1 75 75 75 75 Th2 69 69 70 69.024 Th1 70 70 70 70 Th2 64 64 65 64.024 0.12 0.33333 Tc1 30 30 30 30 Tc2 37 37 38 37. suhu air pendingin pada 70° No 1 2 3 V 5 5 5 Debit 0.5 4.113333 Tabel.33333 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 rata-rata 0.2 0.175 0.5 Debit 0.024 0.5 4.024 m³/menit Tabel.024 0.5 4.17037 . suhu air pendingin pada 80° No 1 2 3 V 4.090909 0.1 rata-rata Data percobaan pada kecepatan aliran udara 5 m/s dengan debit aliran air pada 0.024 0.1 0.LAMPIRAN 62 Tabel.5 4.66667 Tc1 30 30 30 30 Tc2 36 36 35 35.175 0.5 Debit 0.024 0.6666 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 rata-rata 0.177778 0.5 Debit 0.024 0.66667 Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.109091 0.5 4.024 0.1 0.5 4.66667 Tc1 30 30 30 30 Tc2 36 36 35 35.10303 Tabel.024 0.024 Th1 90 90 90 90 Th2 85 85 85 85 Tc1 30 30 30 30 Tc2 36 36 36 36 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.

157576 Tabel.145455 0.16 0.024 0. suhu air pendingin pada 90° No 1 2 3 V 5 5 5 Debit 0.024 0.15 0.024 Th1 90 90 90 90 Th2 84 84 84 84 Tc1 30 30 30 30 Tc2 39 39 39 39 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.024 0.16 0.024 Th1 85 85 85 85 Th2 79 79 79 79 Tc1 30 30 30 30 Tc2 38 39 39 38.024 0.163636 0.LAMPIRAN 63 Tabel. suhu air pendingin pada 85° No 1 2 3 V 5 5 5 Debit 0. suhu air pendingin pada 80° ε= No 1 2 3 V 5 5 5 Debit 0.18 0.66667 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 rata-rata 0.024 rata-rata Th1 80 80 80 80 Th2 74 75 76 75 Tc1 30 30 30 30 Tc2 38 38 39 38.15 rata-rata .024 0.15 0.15 0.33333 Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.166667 Tabel .024 0.163636 0.

538462 . menit ke-15 No 1 2 3 Waktu 15 15 15 V 4 4 4 Debit 0.LAMPIRAN 64 DAFTAR TABEL UJI COBA PENELITIAN PENAHANAN a.525424 0.024 Rata-rata Th1 90 91 91 90.526316 0.66667 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.024 0.540984 0.482143 0.024 0. Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 4 m/s.024 0.33333 Tc1 30 30 30 30 Tc2 34 34 35 34.024 0.024 Rata-rata Th1 87 89 89 88. Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 4 m/s.497006 Tabel.108333 Tabel.66667 Th2 79 79 78 78.024 0.66667 Th2 77 76 77 76. Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 4 m/s.482143 0.33333 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0. menit ke-10 No 1 2 3 Waktu 10 10 10 V 4 4 4 Debit 0.024 0.125 0.024 Rata-rata Th1 85 86 86 85.024 0.024 m³/ menit Tabel.66667 Tc1 30 30 30 30 Tc2 57 56 56 56.525714 Tabel.024 0.66667 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.525424 0.5 0.33333 Tc1 30 30 30 30 Tc2 62 63 63 62.533333 0.1 0.024 0.66667 Tc1 30 30 30 30 Tc2 59 57 57 57. menit ke-5 No 1 2 3 Waktu 5 5 5 V 4 4 4 Debit 0.024 Rata-rata Th1 70 70 70 70 Th2 66 66 67 66. menit ke-1 No 1 2 3 Waktu 1 1 1 V 4 4 4 Debit 0.540984 0.481481 0.024 0.490683 Tabel.66667 Th2 85 85 86 85. Pada kecepatan aliran udara 4 m/s dan debit aliran 0.527273 0. data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 4 m/s. Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 4 m/s.33333 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.33333 Tc1 30 30 30 30 Tc2 60 61 61 60. menit ke-20 No 1 2 3 Waktu 20 20 20 V 4 4 4 Debit 0.33333 Th2 80 82 82 81.1 0.490566 0.024 Rata-rata Th1 84 83 84 83.66667 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.

116667 Tabel.5 4.024 Rata-rata Th1 82 82 81 81. Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 4.024 m³/ menit Tabel.5 m/s dan debit aliran 0. menit ke-10 No 1 2 3 Waktu 10 10 10 V 4.518519 0.66667 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.024 0. menit ke-30 No 1 2 3 Waktu 30 30 30 V 4 4 4 Debit 0.024 0.66667 Th2 77 76 77 76.519231 0.639344 66.5 m/s.57377 0.33333 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.521472 .5 Debit 0.1 0.579235 Tabel. menit ke-25 No 1 2 3 Waktu 25 25 25 V 4 4 4 Debit 0.597832 b.622951 0.66667 Tc1 30 30 30 30 Tc2 57 57 56 56.024 0.33333 Tc1 30 30 30 30 Tc2 35 34 35 34. Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 4. Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 4 m/s.5 4.518519 0.66667 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.33333 Th2 85 86 85 85. menit ke-1 NO 1 2 3 Waktu 1 1 1 V 4.024 Rata-rata Th1 84 85 84 84.33333 Tc1 30 30 30 30 Tc2 68 69 69 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.5 4. Pada kecepatan aliran udara 4.33333 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0. menit ke-5 No 1 2 3 Waktu 5 5 5 V 4.024 0.519231 0.024 0.509804 0.33333 Th2 79 79 78 78.125 0.629032 0.590164 0.5 m/s.57377 0.024 Rata-rata TH1 70 70 70 70 TH2 64 64 65 64.5 Debit 0.66667 Tc1 30 30 30 30 Tc2 58 59 58 58.024 0.125 0. Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 4 m/s.024 0.527273 0.024 0.516129 Tabel.66667 0.5 m/s.024 0.LAMPIRAN 65 Tabel.5 4.5 4.024 Rata-rata Th1 91 92 91 91.5 Debit 0.024 Rata-rata Th1 91 91 91 91 Th2 85 85 85 85 Tc1 30 30 30 30 Tc2 65 65 66 65.024 0.5 4. Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 4.

menit ke-30 No 1 2 3 Waktu 30 30 30 V 4.553571 0.024 Rata-rata Th1 91 90 91 90.578947 0.024 0. Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 4.66667 Th2 84 85 84 84.535714 0.576271 0.024 Rata-rata Th1 70 70 70 70 Th2 64 64 65 64.175 0.024 0.175 0.5 4. Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 5 m/s.024 0.5 Debit 0.633333 0.024 0.33333 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.33333 Tc1 30 30 30 30 Tc2 66 68 66 66.024 0.561404 0.5 m/s dan debit aliran 0. menit ke-1 No 1 2 3 Waktu 1 1 1 V 5 5 5 Debit 0.66667 Th2 80 81 81 80.5 4.024 0.66667 Tc1 30 30 30 30 Tc2 60 61 60 60.024 0.024 Rata-rata Th1 88 87 87 87. menit ke-20 No 1 2 3 Waktu 20 20 20 V 4. Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 4. menit ke-15 No 1 2 3 Waktu 15 15 15 V 4. Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 4. Pada kecepatan aliran udara 4.5 4.5 Debit 0.024 0.563953 Tabel.5 Debit 0.5 m/s.585227 Tabel.5 4.5 4.5 4.5 m/s.5 Debit 0.2 0.LAMPIRAN 66 Tabel.024 m³/ menit Tabel.590164 0.586207 0.5 4.66667 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.33333 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.33333 Tc1 30 30 30 30 Tc2 64 64 65 64.604554 c.5 m/s.024 0.590164 0.66667 Th2 85 84 84 84. Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 4.024 0.183333 .33333 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.024 Rata-rata Th1 86 86 85 85.54491 Tabel.551724 0.5 m/s.59322 0.33333 Th2 83 82 82 82.33333 Tc1 30 30 30 30 Tc2 62 63 62 62.5 4.33333 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.33333 Tc1 30 30 30 30 Tc2 37 37 38 37.024 Rata-rata Th1 89 88 89 88.545455 0. menit ke-25 No 1 2 3 Waktu 25 25 25 V 4.

33333 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.024 0.54 0.024 0.541401 Tabel.33333 Th2 75 74 75 74.024 Rata-rata Th1 82 82 83 82. menit ke-25 No 1 2 3 Waktu 25 25 25 V 5 5 5 Debit 0.024 0.595376 . menit ke-10 No 1 2 3 Waktu 10 10 10 V 5 5 5 Debit 0.66667 Tc1 30 30 30 30 Tc2 62 63 62 62. Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 5 m/s.024 0.66667 Tc1 30 30 30 30 Tc2 60 61 60 60.LAMPIRAN 67 Tabel Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 5 m/s.024 Rata-rata Th1 86 86 87 86.024 0.545455 0.586207 0.557692 0.589286 0.52 0.535714 0.33333 Th2 80 80 79 79.66667 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.614035 0.024 0.5625 0. Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 5 m/s. menit ke-15 No 1 2 3 Waktu 15 15 15 V 5 5 5 Debit 0.024 Rata-rata Th1 88 88 87 87.66667 Tc1 30 30 30 30 Tc2 64 64 65 64.573964 Tabel.024 Rata-rata Th1 80 78 80 79.561404 0.33333 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.528302 0. Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 5 m/s.33333 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.563636 0.024 0.024 0. menit ke-5 No 1 2 3 Waktu 5 5 5 V 5 5 5 Debit 0.548193 Tabel.571429 0.586207 0.66667 Tc1 30 30 30 30 Tc2 58 59 58 58.66667 Th2 81 82 82 81. Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 5 m/s.024 0.540541 Tabel.33333 Th2 77 76 77 76.33333 Th2 78 78 77 77.024 Rata-rata Th1 86 85 85 85. menit ke-20 No 1 2 3 Waktu 20 20 20 V 5 5 5 Debit 0.33333 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0.024 0.66667 Tc1 30 30 30 30 Tc2 57 57 56 56.538462 0.

624976 .66667 Th2 85 83 83 83.LAMPIRAN 68 Tabel.024 0.66667 ε= Tc 2 − Tc1 Th1 − Tc1 0. menit ke-30 No 1 2 3 Waktu 30 30 30 V 24 24 24 Debit 0.610169 0.024 0.66667 Tc1 30 30 30 30 Tc2 66 68 66 66. Data Eksperimen pada kecepatan aliran udara 5 m/s.644068 0.62069 0.024 Rata-rata Th1 89 89 88 88.

LAMPIRAN 69 DAFTAR GAMBAR SELAMA PENGUJIAN Gambar Radiator Tester Gambar mesin Daihatsu classy Gambar thermometer dan flowmeter .

LAMPIRAN 70 Gambar Engine yang terangkai dengan Radiator Tester Gambar pengukuran kecepatan aliran udara menggunakan Anemometer digital Gambar Regulator .

LAMPIRAN 71 Gambar Thermometer yang terpasang pada Radiator Tester Gambar Motor Listrik .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful