P. 1
Sintaksis

Sintaksis

|Views: 29|Likes:
Published by Badriyadi

More info:

Published by: Badriyadi on Oct 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/27/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Batasan Sintaksis
  • 1.2.1 Kata: Ciri dan Klasifikasi
  • 1.2.2 Frasa: Ciri dan Klasifikasi
  • 1.2.3 Klausa : Ciri dan Klasifikasi
  • 1.2.4 Kalimat: Ciri dan Klasifikasi
  • 1.3.1 Hubungan Sintagmatis
  • 1.3.2 Hubunagn Paradigmatis
  • 1.7 Parafrasa
  • 1.8 Permutasi
  • 2.1 Pengantar
  • 2.2.1 Frasa Eksosentris Direktif (Frasa Preposisional)
  • 2.2.2 Frasa Eksosentris Nondirektif
  • 2.3.1 Frasa Endosentris Berinduk Tunggal (Frasa Modifikasi)
  • 2.3.2 Frasa Endosentris Berinduk Banyak
  • 2.4 Frasa dan Kata Majemuk
  • 2.5 Kolokasi Kata
  • 3.1 Pengantar
  • 3.2 Klausa Berdasarkan Distribusi Satuan
  • 3.3.1 Subjek
  • 3.3.2 Objek
  • 3.3.3 Klausa Keterangan
  • 3.4.1 Klausa Verbal
  • 3.4.2 Klausa Nonverbal
  • 3.5.1.1 Hubungan Aditif (jumlah)
  • 3.5.1.2 Hubungan Adversatif (pertentangan)
  • 3.5.1.3 Hubungan Alternatif (pilihan)
  • 3.5.2.1 Hubungan Sebab
  • 3.5.2.2 Hubungan Akibat
  • 3.5.2.3 Hubungan Tujuan
  • 3.5.2.4 Hubungan Syarat
  • 3.5.2.5 Hubungan Waktu
  • 3.5.2.6 Hubungan Kosesif
  • 3.5.2.7 Hubungan Cara
  • 3.5.2.8 Hubungan Kenyataan
  • 3.5.2.9 Hubungan Alat
  • 3.5.2.10 Hubungan Perbandingan
  • 3.5.2.11 Hubungan Hasil
  • 3.5.2.12 Hubungan Atributif
  • 3.5.2.13 Hubungan Andaian
  • 3.5.2.14 Hubungn Optatif (Berharap)
  • 4.1 Apakah Kalimat?
  • 4.2 Strategi Pengenalan Kalimat
  • 4.4.1 Kalimat Tunggal
  • 4.4.2 Perluasan Kalimat Tunggal
  • 4.4.3.1 Kalimat Majemuk Setara
  • 4.4.3.2 Kalimat Majemuk Bertingkat (taksetara)
  • 4.4.3.3 Kalimat majemuk taksetara Rapatan
  • 4.4.3.4 Penghilangan Kata Penghubung pada Kalimat Majemuk
  • 4.4.4 Jenis Kalimat menurut Bentuk dan Gaya
  • 4.5 Kalimat menurut Fungsi
  • 4.6.1 Kesepadanan Struktur
  • 4.6.2 Keparalelan Bentuk
  • 4.6.3 Ketegasan Makna
  • 4.6.4 Kehematan Kata
  • 5.1 Definisi Paragraf
  • 5.2 Keruntutan Paragraf
  • 5.3 Simpulan
  • 6.1 Pendahuluan
  • 6.2.1 Aspek Semantis
  • 6.2.2 Aspek gramatikal
  • 7.1 Pengantar
  • 7.2.1 Teori Linguistik Tradisional
  • 7.2.2 Teori Linguistik Transformasi Generatif
  • 7.2.3 Teori Linguistik Stratifikasi
  • 7.2.4 Teori Linguistik Tagmemik
  • 7.2.5 Teori Linguistik Kasus
  • 7.2.6 Teori Linguistik Fungsional
  • 7.2.7.1 Pemikiran Saussure
  • 7.2.7.3 Pemikiran John Lyons
  • 7.2.7.4 Pemikiran Sapir-Whorf
  • 7.2.7.5 Pemikiran Grice dan Leech
  • 7.3 Hubungan Teori dan Metode dalam Linguistik

Sintaksis: Sebuah Intisari

BAB 1 APAKAH SINTAKSIS? 1.1 Batasan Sintaksis Sintaksis adalah cabang linguistik yang membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech). Unsur bahasa yang termasuk dalam lingkup sintaksis adalah frasa, klausa dan kalimat. Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonprediktif, misalnya rumah mewah. Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, yang sekurang-kurangnya memiliki sebuah predikat, dam berpotensi menjadi kalimat. Kalimat adalah satuan bahasa yang relatif berdiri sendiri, yang sekurang-kurangnya memiliki sebuah subjek dan predikat. 1.2 Aspek-Aspek Sintaksis 1.2.1 Kata: Ciri dan Klasifikasi Kata dapat dilihat dari berbagai segi. Pertama,kata dilihat dari pemakai bahasa. Menurut pemakai bahasa salah satuan gramatikal yang diujarkan, bersifat berulang-ulang, dan secara potensial ujaran itu dapat berdiri sendiri. Kedua, kata dilihat secara bahasa. Secara linguistis kata dapat dibedakan atas satuan pembentuknya. Oleh karena itu, kata dapat dibedakan atas: 1) Kata sebagai satuan fonologis Ciri fonologis kata bahasa Indonesia, misalnya: a. b. c. d. mempunyai pola fonotatik suku kata, bukan bahasa vokalik, tidak ada gugus konsonan pada posisi akhir, batas kata tidak ditentukan oleh fonem suprasegmental.

2) Kata sebagai satuan gramatikal Menurut Lyons(1971) dan Dik (1976), secara gramatikal kata bebas bergerak, dapat dipindah-pindahkan letaknya, tetapi identitasnya tetap. 3) Kata sebagai satuan ortografis Secara ortografis, kata ditentukanoleh sistem aksara yang berlaku dalam bahasa itu. Bahasa Indonesia misalnya menggunakan aksara latin jadi sebuah kata dituliskan terpisah dari kata lainnya, misalnya terima kasih dan kerja sama. 1.2.2 Frasa: Ciri dan Klasifikasi Frasa dalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif (Rusyana dan Samsuri, 1976) atau satu kata konstruksi ketatabahasaan yang terdiri atas dua kata atau lebih. 1.2.3 Klausa : Ciri dan Klasifikasi Klausa dalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat. Klausa dapat dibedakan berdasarkan distribusi satuannya dan berdasarkan fungsinya. Berdasarkan distribusi satuannya, klausa dibedakan atas klausa bebas dan klausa terikat. Berdasarkan fungsinya, klausa dibedakan menjadi klausa subjek, klausa objek, klausa keterangan, dan klausa pemerlengkapan. 1.2.4 Kalimat: Ciri dan Klasifikasi Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relative berdiri sendiri, mempunyai intonasi final (kalimat lisan), dan secara actual ataupun potensial terdiri atas klausa. Dilihat dari fungsinya, unsur kalimat berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Menurut bentuknya, kalimat dibedakan menjadi kalimat tunggal, kalimat tunggal dan perluasannya, serta kalimat majemuk. 1.3 Hubungan Sintagmatis dan Paradigmatis

1.3.1 Hubungan Sintagmatis Hubungan sintagmatis adalah hubungan linier antara unsur bahasa yang satu dan unsur bahasa yang lain dalam tataran tertentu. Hubungan itu dapat diuji dengan permutasi atau perubahan urutan satuan unsur-unsur bahasa. Contoh: a. Dengan penuh disiplin dan tanggung jawab, saya bekerja keras. b. Saya// bekerja keras// dengan penuh disiplin// dan tanggung jawab. 1.3.2 Hubunagn Paradigmatis Hubungan paradigmatis adalah hubungan sistematis antarunsur bahasa yang memiliki kesesuaian. 1) Tataran Fonemis Fonem /s/ pada kata sarang mempunyai hubungan paradigmatis dengan fonem yang dapat menggantikannya asalkan penggantian itu menghasilkan kata dalam kategori dan fungsi yang sama, misalnya fonem /s/, /b/, /p/, dan /k/ pada kata /s/arang, /b/arang, /p/arang, dan /k/arang karena kata-kata itu berkelas nomina dan sama-sama dapat mengisi fungsi subjek atau objek. 2) Tataran Morfologis Pada umumnya, urutan morfem dalam sebuah kata tidak dapat diubah-ubah menurut keinginan seseorang, misalnya sebagai pembentuk kata kerja, awalan meng- dan diselalu terletak pada awal kata, seperti pada menulis dan melancong serta ditempuh dan dijual. 3) Tataran Sintaksis Ada kalanya kata di dalam sebuah kalimat dapat diubah-ubah letaknya tanpa mengubah arti. Yang berubah akaibat perubahan letak itu hanya pengutamaan informasi, sepaerti

a. Saya dan adik pergi kemarin b. Kemarin saya dan adik pergi c. Saya dan adik kemarin pergi 1.4 Kategori, Fungsi, dan Peran Beberapa jenis kategori yang dapat menjadi unsur kalimat adalah nomina (kata benda), adjektiva(kata sifat), numeralia(kata bilangan), adverbial, dan kata tugas, seperti preposisi(kata depan), konjungsi(kata penghubung), dan partikel, seperti kah, lah, tah, pun. Berdasarkan fungsinya, unsur-unsur kalimat ada yang disebut subjek, predikat, objek, pelengkap, serta keterangan. Peran semantis yang lazim terdapat dalam suatu kalimat adalah pengalam atau penanggap (experiencer), pelaku (agent), pokok,cirri, sasaran, hasil, peruntung atau pemaslahatbeneficiary), dkk.1998) 1.5 Kegramatikalan, Kebermaknaan, dan Keberterimaan Kegramatikalan atau keapika gramatikal (grammatical wellformedness) adalah konsep yang mengacu pada satuan bahasa yang mengikuti kaidah tata bahasa yang meliputi beberapa tingkatan, yaitu menyangkut kegramatikalan bentuk kata, bentuk klausa, atau bentuk kalimat (cf. Lycons, 1981:101) Kebermaknaan meliputi kebermaknaan kata, frasa, dan kalimat. Selanjutnya, suatu tuturan, mungkin dapat gramatikal dan bermakana, tetapi tuturan lain mungkin tak gramatikal dan tak bermakna Lycins, 1996:132) keberterimaan (acceptability) berkaitan denga sistem bahasa yang tepat atau keapikan semantis (semantic well-formedness). Sebaliknya, ketakberterimaan (unacceptability) berkaitan dengan sistem bahasa yang tidak tepat atau kerantakan semantis (semanticill-formedness) (Lycons, 1979:379) 1.6 Tafsir Ganda ukuran(measure), alat(instrument), tempat(place),

sumber(source), jangkauan(range), penyerta, waktu dan asal (Kridalaksana 1991; Alwi

bahkan bermacam-macam makna karena penyusunan ungkapan atau pernyataan tersebut kurang tertib. 1. Agar tidak menimbulkan tafsir ganda maka kalimat tersebut direvisi menjadi (1a) Rumah aneh milik sang jutawan aka dijual dan (1b) Rumah milik sang jutawan aneh akan dijual. 1. Misalnya. kalimat pada hari Senin minggu depan Menteri Pembangunan Daerah Tertinngal akan mengumumkan jumlah desa tertinggal di Indonesia dapat dipermutasi menjadi Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal akan mengumumkan jumlah desa tertinggal di Indonesia Senin minggu depan. Tafsir pertama rumahnya yang aneh dan tafsir kedua sang jutawannya yang aneh.7 Parafrasa Parafrasa berarti (1) pengungkapan kembali suatu tuturan dari sebuah tingkatan atau macam bahasa menjadi yang lain dengan tidak mengubah arti. Misalnya. 1. Contohnya: a.Bantuan Likuiditas Banh Indonesia yang dibawa kabur oleh konglomerat ke Singapura dan Cina sulit diselesaikan karena banyak hambatan. antara lain.Ada beberapa kendala dalam penyelesaian BLBI.Suatu ungkapan atau pernyataan kadang-kadang bisa ditafsirkan menjadi dua makna. 2. belum dimilikinya perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Negara tersebut. BAB 2 KLASIFIKASI FRASA . kalimat (1) Rumah sang jutawan aneh akan dijual menimbulkan tafsir ganda.8 Permutasi Permutasi adalah perubahan deretan atau urutan unsur-unsur kalimat. (2) penguraian kembali suatu teks (karangan dalam bentuk (susunan kata-kata) yang lain dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi.

si terdakwa. 2. o. seperti ke Lampung. e. seperti sejak kemarin penyamaan. i. j. baik dengan sumbu maupun dengan preposisi. frasa preposisional menunjukkkan makna berikut: a. tempat. l. d. m. seperti karena. seperti selaras dengan perbandingan. seperti oleh karena itu kesertaan. f.1 Pengantar Frasa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif (Rusyana dan samsuri 1976) atau satu konstruksi ketatabahasaan yang terdiri atas dua kata atau lebih. 2. ke Kampus menunjukkkan peralihan. buatmu sebab. seperti untukmu. seperti dengan cangkul keberlangsungan. seperti dari kampong. para hakim’ (b)frasa yang seluruhnya berperilaku sama dengan salah satu . k. seperti seperti dia 2. dari sekolah asal bahan.2 Frasa Eksosentris Frasa eksosentris adalah frasa yang sebagian atau seluruhnya tidak memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan semua komponennya. c.2. seperti dengan baik alat.2. b.2 Frasa Eksosentris Nondirektif Frasa eksosentris nondirektif dapat dibedakan menjadi (a) frasa yang sebagian atau seluruhnya memiliki perilaku yang samadengan bagian-bagiannya.2. g. seperti denganmu cara.1 Frasa Eksosentris Direktif (Frasa Preposisional) Frasa preposisional pada umumnya berfungsi sebagai keterangan. seperti si kancil. seperti kepada saya perihal. n. seperti tentang ekonomi tujuan. lantaran penjadian. Pada dasarnya. ke rumah asal arah. h. seperti cincin( dari emas) tujuan arah. seperti di pasar.

1 Frasa Endosentris Berinduk Tunggal (Frasa Modifikasi) Frasa endosentris berinduk tunggal terdiri atas induk yang menjadi penanda kategorinya dan modifikaror yang menjadi pemerinya. orang yang dicintainya. atau frasa lain. konstruksi dengan yang…-nya. 2) Frasa Pronominal Frasa pronominal adalah frasa yang terdiri atas gabungan pronominal dan pronominal atau gabungan pronimina dan adjektiva. 1) Frasa nominal adalah frasa yang terdiri atas nomina (sebagai pusat) dan unsur lain yang berupa adjektiva. hati yang luka. batu bertulis. dan demonstrativa. . 3) Frasa Verbal Frasa verbal adalah frasa yang tediri atas gabungan verba dan verba atau gabungan verba dengan adverbial atau gabungan verba dan preposisi gabungan. terdakwa dan kekasih memiliki perilaku sama dengan si terdakwa dan sang kekasih. hadiah untuk ibuku. 2. nasi berbakul-bakul. anak mereka. peristiwa yang amat penting yang terjadi kemarin. mereka itu. numeralia. sang raja.unsurnya. adverbial. kolam yang jernih. Contoh:meja batu. politisi yang ditinngal di Jakarta itu. anak manis. kamu dengan dia. Contoh: kami berdua. frasa dengan yang. pronominal. Artinya. frasa preposisional. kulit kuning langsat.3. uang itu. teman separtai. demonstrativa. lagi-lagi saya. 2. dua buah rumah. numeralia. verba.3 Frasa Endosentris Frasa endosentris adalah frasa yang seluruhnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan perilaku salah satu komponennya. banyak mahasiswa.

pulang pergi. cetakan pertama. gagah berani. makin tua makin bermutu. entah suka entah tidak. masuk desa. dua atau tiga. 5) Frasa Numeral Frasa numeral adalah frasa yang terdiri atas numeralia sebagai induk dan unsur perluasan lain yang mempunyai hubungan subordinatif dengan nomina penggolong bilangan. dating ke. beristri dua. dapat diketahui. 2) Frasa Apositif Frasa apositif adalah frasa endosentris berinduk banyak yang secara luar bahasa komponennya menunjuk pada maujud yang sama. kuat iman. masih belum pasti. makan dengan lahap. Contohnya: sedikit masam. panas terik. mati kartu. baik merah maupun biru.3. agak nakal juga. yang secara potensial komponennya dapat dihubungkan dengan partikel. dan nomina ukuran. 2. jalan tanpa arah. Contoh: kaya atau miskin. coba baca buku. Contoh: sembilan belas. dua lusin. asalkan seluruhnya berperilaku sebagai adjektiva.2 Frasa Endosentris Berinduk Banyak 1) Frasa Koordinatif Frasa kooordinatif adalah frasa endosentris berinduk banyak. cantik benar. 4) Frasa Adjektival Frasa adjektival adalah frasa yang terdiri atas gabungan beberapa kata atau yang terdiri atas induk berkategori apa pun. untuk dan atas nama klien. masuk ke dalam. .Contoh: pergi kerja. ribuan penduduk.

sebagai berikut: a. yaitu kolokasi yang berkonstruksi [N+A].Contohnya: Ria. Kolokasi tipe I B dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani. 1982). orag sabar. a. -konkret. terbagi menjadi dua belas tipe.5 Kolokasi Kata Kolokasi disebut juga sanding kata. kata majemuk merupakan konsep sintaksis. 2. +waktu. anak kakakku yang tinggal di Lampung. -bernyawa. Idiom merupakan konstruksi dari unsur-unsur kata yang saling memilih atau konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna anggota-anggotanya. +terbilang. Megawati Soekarno Putri. kata majemuk bukan frasa. bukan konsep semantic. yaitu: A. +terbilang. . misalnya panjang tangan berarti pencopet atu pencuri. Kolokasi dibedakan dengan idiom. Kolokasi kelompok I. kata majemuk. dan frasa karena sanding kata dilihat dari kemungkinan adanya beberapa kata dalam lingkungan yang sama atau perasosiasian yang tetap antara kata dan katakata tertentu (Kridalaksaan. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantik +watak atau +perbuatan. Kolokasi tipe I A dibentuk oleh nomina yang berciri semantis +insani. Secara garis besar kolokasi dalam bahasa Indonesia dibedakan diklasifikasi menjadi dua.4 Frasa dan Kata Majemuk Harimurti Kridalaksana (1985) mengemukakan bahwa: 1. salah satu mantan Presiden Republik Indonesia. Contoh: anak cerdas. +konkret. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan. 2. kata majemuk harus berstatus kata. 2. gadis lincah.

ibu anggun. +konkret. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan diri. malam aman. Contoh: bapak gagah. a. +terbilang. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +ukuran. hari panas. a. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +usia. Kolokasi tipe I E dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani. kertas kuning. +terbilang. +konkret. Kolokasi tipe I J dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani. +konkret. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +warna. -bernyawa. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan. tanah subur. -terbilang. +kelompok. Contoh: wajah bulat. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan. hati lembut. a. gadis manis. Contoh: angsa putih. Contoh: janda muda. Kolokasi tipe I I dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani. cerita pendek. -konkret. karya baru. pemuda ganteng. -bernyawa. +terbilang. . +konkret. a. a. +konkret. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +kualitas. Kolokasi tipe I G dibentuk oleh nomina yang berciri semantis +insani. -bernyawa. sungai lebar. +terbilang. -konkret. Contoh: nasib buruk. Kolokasi tipe I F dibentuk oleh nomina yang berciri semantis +insani. Kolokasi tipe I D dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani. kotak hijau. -bernyawa. a.Contoh: iklan penting. +bagian tubuh. Contoh: barang berat. orang tua. a. negara makmur. +terbilang. a. +konkret. Kolokasi tipe I H dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani. Kolokasi tipe I C dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani. -bernyawa. bangku panjang. gidung mancung. +terbilang. +terbilang. Contoh: masyarakat sejahtera.

dada bidang. klausa dapat dibagi menjadi klausa bebas dan klausa terikat. jendela bekas. laut luas. 3. cahaya redup.1 Pengantar Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +lingkungan. Kolokasi lelompok II memiliki konstruksi adjektiva ditambah nomina atau [A+N]. Contoh: pintu baru. -terbilang. a. sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan. +konkret. Kolokasi tipe I L dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani. A.2 Klausa Berdasarkan Distribusi Satuan Berdasarkan potensinya untuk dibentuk menjadi kalimat. a. Contoh: [A] + [N] Hangat-hangat kuku Kuning langsat Merah darah bab3 KLASIaFIKASI KLAUSA 3. -bernyawa. Kolokasi tipe I K dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani. bernyawa. +terbilang. jari lentik.Contoh: bibir sumbing. . Contoh: awan mendung. -konkret. yang pada dasarnya kolokasi tipe ini merupakan kebalikan dari kolokasi kelompok I. cuaca buruk.

b. klausa dapat menduduki fungsi subjek.3. c. objek. dan pelengkap.3. d. Contoh: Kami sekeluarga bulan lalu berlibur ke Bali. Contoh objek langsung: bibi sedang menanak nasi. keterangan.4 Klausa Pelengkap . yang berfungsi meluaskan atau membatasi makna subjek atau makna predikat. 3. Objek dapat dibagi menjadi dua yaitu objek langsung dan objek tak langsung. ia tidak jadi ikut keterangan jimlah: bagai pinang dibelah dua keterangan alat: dinaikkan dengan mesin pengangkat 3.3. Contoh objek tak langsung : bibi sedang menanak nasi untuk kita semua. keteranga akibat: penjahat itu dihukum mati keterangan sebab: karena sakit.3.1 Subjek Subjek adalah bagian klausa yang berwujud nomina atau frasa nominal yang menandai apa yang dinyatakan oleh pembicara. Contoh: a.3.3 Klausa Berdasarkan Fungsi Berdasarkan fungsinya.3 Klausa Keterangan Klausa keterangan adalah klausa yang menjadi bagian luar inti. 3.2 Objek Objek adalah bagian klausa yang berwujud nomona atau frasa nomina yang melengkapi verba transitif.(kami sekeluarga merupakan subjek) 3.

Contoh: Ia berpandangan dengan ibunya. dan lain-lain. kami bermain bola c. Klausa verbal aktif transitif resiprokal adalah klausa yang subjeknya melakukan pekerjaan yang disebutkan predikat verbalnya. aku mengirimkan surat. dan lain-lain.Klausa pelengkap adalah klausa yang terdiri atas nomina. abangku menjadi pilot b. Contoh: saya makan.Contoh: Bibi menjual makanan. adik mandi. atau frasa adjektival yang merupakan bagian dari predikat verbal.4 Klausa Berdasarkan Struktur 3. aku dianggap patung 3.1 Klausa Verbal Klausa verbal adalah lausa yang predikatnya verba. Klusa verbal pasif adalah klausa yang menunjukkan bahwa subjek dikenai pekerjaan atau sasaran perbuatan seperti yang disebutkan dalam predikat verbalnya. Klausa verbal aktif taktransitif adalah klausa yang predikat verbalnya tidak mempunyai sasaran dan tidak mempunyai onjek. Contoh: korban ditembak. kami kehujanan. adjektiva. Klausa verbal terdiri atas klausa verbal aktif transitif dan klausa verbal aktif taktransitif. tetapi secara berbalasan atau klausa yang subjeknya saling melakukan pekerjaan yang disebutkan predikat verbalnya. Klausa verbal aktif transitif adalah klausa yang predikat verbalnya mempunyai sasaran dan atau mempunyai objek. frasa nomina.4. . seperti: a.

dan lain-lain.2 Klausa Nonverbal Klausa nonverbal adalah klausa yang predikatnya berupa nomina. 3. 3. Hubungan pertetangan yang menyatakan implikasi .5.5 Hubungan Antarklausa 3.5.5. pengetahuan kita bertambah. atau frasa preposisional.1 Hubungan Aditif (jumlah) Hubungan jumlah ditunjukkan oleh klausa kedua berisikan informasi yang menambahkan isi informasi pada klausa pertama. Saya mencintai dan memahami pekerjaan saya selam ini.Contoh: kelakuannya menjadi-jadi. 1. b. numeralia. Contoh: adik ke Bandung. 3. ayahku nelayan. adjektiva. tetapi juga teliti dan rendah hati.4. Contoh: a. Contoh: 1. Saya bersama beberapa orang teman ingin mendirikan perpustakaan. dan lain-lain.1. dia sedang sakit.1. 3. pronomina. Hubungan pertentangan yang menyatakan penguatan Contoh: Ia tidak hanya rajin dan pandai.1 Hubungan Antarklausa yang Koordinatif Hubungan koordinatif menunjukkan hubungan yang setara.2 Hubungan Adversatif (pertentangan) Hubungan pertentangan biasanya ditunjukkan oleh klausa kedua yang berisikan informasi yang bertentangan dengan isi informasi pada klausa pertama.

.2. Contoh: a. 3.5.5. akibatnya. Hubungan pertentangan yang menyatakan perluasan Contoh: Budaya daerah harus dijaga. dan oleh karena. 3. Saya tidak tahu apa sebab dia tidak mau datang ke pertemuan itu. dan hasilnya. lalu mencari uang.3 Hubungan Alternatif (pilihan) Hubungan pilihan adalah hubungan yang menyatakan pilihan diantara berbagai kemungkinan yang ada yang ditunjukkan oleh klausa yang dihubungkan itu. 3.1.2 Hubungan Akibat Kata hubung yang digunakan adalah akibat.5.1 Hubungan Sebab Kata hubung yang digunakan adalah sebab. karena. Mereka berkelahi karena salah paham b. tetapi belum juga punya uang banyak. 2) Hubungan pilihan yang tidak menyatakan pertentangan Dia duduk merenungkan masa lalu ataukah sedang merancang masa depan? 3. 1) Hubungan pilihan yang menyatakan pertentangan Aku harus bersekolah dengan sengsara atau berhenti. 1.Contoh: Aku sudah lama berdagang.2 Hubungan Antarklausa Subordinatif Hubungan antarklausa subordinatif menunjukkan hubungan yang hierarkis. tetapi budaya luar baik jangan ditolak.5.2.

3 Hubungan Tujuan Kata hubung yang digunakan adalah untuk. seusai. semantara.2. seraya. supaya. Contoh: Kami terbiasa hidup sederhana sedari kami masih baru saja menikah. dan asalkan. dan tatkala. 2) Waktu Bersamaan Ditandai dengan kata hubung ketika. dia membantu orang tuanya bekerja di ladang. kalau. 3) Waktu Berurutan Ditandai dengan kata hubung sebelum. dan begitu. (se)waktu. selagi.5.4 Hubungan Syarat Kata hubung yang digunakan adalah jika. sambil.2. serta. 3. Contoh: Saya bekerja keras demi membesarkan anak-anak saya. Contoh: Sesudah pulang sekolah. Contoh: Mereka datang ketika kami sedang duduk-duduk di teras rumah sore hari. pada waktu.5 Hubungan Waktu 1) Waktu Batas Permulaan Ditandai dengan kata hubung sejak atau sedari.5.Contoh: Kebakaran itu terjadi akibat kelalaian petugas pada bagian mesin. 3. setelah.5. jikalau.2. demi. sehabis. 3. 4) Waktu Batas Permulaan . Contoh: Saya mau datang ke pertemuan penting itu jika anda datang juga. selam. sesudah. agar. dan biar.

3.5. 3.2. tidak dengan. 3. Contoh: Aku harus belajar dan berjuang keras sampai cita-citaku tercapai.5.6 Hubungan Kosesif Ditandai dengan kata hubung sungguh (pun).2. 3.2.5.5.9 Hubungan Alat Ditandai dengan kata hubung dengan.7 Hubungan Cara Ditandai dengan kata hubung dengan atau tanpa. dan menggunakan.2.10a Hubungan Ekuatif .Ditandai dengan kata hubung sampai dan kepada. memakai.5.10 Hubungan Perbandingan 3. Contoh: Dia rela anaknya pergi belajar walaupun harus jauh dari kampung halaman.2. Contoh: Petani membalik tanah dengan cangkul.8 Hubungan Kenyataan Klausa subordinatif pada hubungan kenyataan atau hubungan komplementatif bertugas melengkapi verba atau melengkapi nomina subjek. 3.2. Contoh: Sekarang aku baru tahu (bahwa) anak itu ternyata sangat rajin. Contoh: Petinju itu menang dengan cara mengelakkan setiap pukulan yang datang. dan kendati (pun). sekalipun.5.

5.00 3.Hubungan ekuatif mempersyaratkan persamaan taraf antara klausa utama dan klausa subordinatif. seperti: Sekarang penghasilan anak-anakku sama banyak dengan penghasilanku. 1) Hubungan Atributif Restriktif Hubungan seperti ini mewatasi makna nomina yang diterangkannya. 3. Contoh: Semburan Lumpur panas itu makin lama makin besar sehingga kami hampir tidak mampu lagi mengatasinya.2. sampai-sampai. Bentuk persamaan yang digunakan adalah lebih/kurang +dari atau lebih/kurang + adjektiva +daripada.2.5.5. Akibatnya. . dan maka. Bentuk persamaan yang digunakan adalah sama + adjektiva +dengan atau se-+adjektiva. 3.000.10b Hubungan Komparatif Hubungan komparatif mempersyaratkan perbedaan taraf antara klausa utama dan klausa subordinatif.11 Hubungan Hasil Ditandai dengan kata hubung sampai. Contoh: Istrinya yang tinggal di Bogor berjualan telur.2.000. sehingga.12 Hubungan Atributif Ditandai dengan kata hubung subordinatif yang. 2) Hubungan Atributif Takrestriktif Klausa relatif pada hubungan atributif takrestriktif hanya memberikan tambahan informasi pada nomina yang diterangkannya. seperti: Pesta itu telah menghabiskan biaya lebih dari/kurang dari Rp 50. keterangan pewatas itu menjadi bagian integral dari nomina yang diterangkannya.

Contoh: Kita berdoa sajalah.14 Hubungn Optatif (Berharap) Kata hubung yang digunakan adalah agar. Contoh: Mengapa ayah diam saja sejak tadi? Jangan-jangan ayah marah kepada kita. ikalau.5.13 Hubungan Andaian Klausa subordinatif pada hubungan pengandaian berisikan andaian atas sesuatu yang terdapat pada klausa utama. berjualan telur.2. izin perusahaan tersebut dapat dicabut.5.Contoh: Istrinya. dan mudah-mudahan. 3) Andaian yang menggambarka kekhawatiran Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung jangan-jangan. tentu sudah aku terbangi laut yang luas itu. 1) Andaian yang tidak mungkin terjadi Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung andaikata dan andaikan.2. 4) Andaian yang berhubungan dengan ketidakpastian Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung kalau-kalau. 3. moga-moga. . Contoh: Andaikata saya merpati. yang tinggal di Bogor. 3. kalau. kalau-kalau ia juga datang pada hari ini. apabila. Contoh:Jika suatu perusahaan melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud Pasal 6. 2) Andaian yang mungkin terjadi Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung jika. dan bilamana. semoga.

3 Fungsi Sunjek. mempunyai intonasi final (kalimat lisan).1 Kalimat Tunggal Kalimat tunggal adalah kalimat yang mempunyai satu subjek dan satu predikat. a) Kalimat tunggal adalah kalimat murni Contoh: Rupiah menguat. Objek. apa yang……. Misal. kita dapat mengajukan pertanyaan dengan menggunakan unsur predikat sebagai tumpuan.1 Apakah Kalimat? Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri.? atau siapa yang…….? 4. Semua kalimat dasar adalah kalimat tunggal. 4. Contoh: Wisatawan asing berkunjung ke Indonesia. BAB 4 KLASIFIKASI KALIMAT 4. Predikat.. dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa. dan Fungsi Lain Untuk mengetahui subjek sebuah kalimat.4 Kalimat Menurut Bentuk 4. 4. b) Kalimat tunggal adalah kalimat dasar yang diperluas dengan berbagai keterangan. Jadi kalimat dasar adalah kalimat yang belum mengalami perluasan.4.2 Strategi Pengenalan Kalimat Kalimat dasar adalah kalimat yang terdiri atas unsur-unsur pokok.Contoh: Kami memohon semoga bapak mau memaafkannya. . Kalimat tunggal sapat diperoleh dari beberapa segi.

c) Kalimat tunggal adalah kalimat dasar yang berubah susunannya. enam pola kalimat dasar di atas dapat diperluas atau dipermutasikan unsur-unsurnya. Pola 3 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat verba. Pola 1 adalah pola kalimat yang hanya mengandung unsur subjek nomina dan unsur predikat verba. Contoh: Berdiri aku di senja senyap. Contoh: Kami mencairkan dana. Dalam Bahasa Indonesia terdapat enam pola kalimat: 1) Subjek (KB) + Predikat (KK) : pakar politik berdiskusi 2) Subjek (KB) + Predikat (KK) +Objek (KB) : Mahasiswa mengikuti ujian 3) Subjek (KB) + Predikat (KK) +Objek (KB) +Objek (KB) saya buku Biologi 4) Subjek (KB) + Predikat (KS) : Harga kertas mahal 5) Subjek (KB) + Predikat (K. Pola 2 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat verba. Contoh: Surat kabar memberikan saya kepintaran. Contoh: Kami berjuang.Bil) : Komputernya dua buah 6) Subjek (KB) + Predikat (KB) : Temanku guru SMU 1 Untuk menciptakan beragam kalimat tunggal. dan berobjek kedua nomina. dan berobjek nomina. osen membawakan .

dengan keris.3. ninggu ketiga.4.4.2 Perluasan Kalimat Tunggal Keenam pola kalimat dasar itu dapat diperluas dengan unsure keterangan. 4. atau.4. seperti di sini. b.3.4.3 Kalimat majemuk taksetara Rapatan Kalimat majemuk taksetara atau kalinat majemuk bertingkat dapat juga dirapatkan jika terdapat unsure subjek yang sama. a. 4. Keterangan waktu. sekitar kota. Keteranga cara.3 Kalimat Majemuk 4. c.1 Kalimat Majemuk Setara Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang terdiri atas dua kalimat tunggal atau lebih yang digabungkan dengan kata hubung yang menunjukkan kesetaraan. seperti dengan pensil.Pola 4 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat adjektiva. Pola 5 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat numeralia. Contoh: Panjang mobil itu empat meter. Contoh: Suku bunga bank sangat tinngi. seperti dan.2 Kalimat Majemuk Bertingkat (taksetara) Kalimat majemuk taksetara terdiri atas unsur anak kalimat dan induk kalimat. Contoh: Mereka sudah menyelesaikan tugas . dalam ruangan.4. Keterangan alat. 4.3. seperti tiap tahun. seperti dengan berhati-hati. 4. dan tetapi. dan berbagai jenis keteranga lainnya. sedangkan. Ketarangan tempat. d. Contoh: Saya akan sulit sampai di kantor jika pagi-pagi sekali hari sudah hujan.

mereka boleh mengambil tanda terima. gaya penyajian tersebut disebut gaya penyajian berklimaks. Kalimat yang Berklimaks Jika kalimat majemuk diawali anak kalimat dan didikuti induk kalimat.4 Penghilangan Kata Penghubung pada Kalimat Majemuk Contoh: Dibandingkan dengan pendapatan pegawai negeri.4. b.3. pendapatan pegawai swasta jauh lebih besar. kami terpaksa bekerja sampai malam dan melakukan pembagian kerja dengan lebih baik lagi.4. 4. . 4. lalu diikuti oleh unsur tambahan (induk kalimat diikuti anak kalimat).(benar) 4.Mereka boleh mengambil tanda terima Dapat dirapatkan menjadi Karena mereka sudah menyelesaikan tugas.4 Jenis Kalimat menurut Bentuk dan Gaya a. Contoh: Kemunduran perekonomian kita harus diatasi sebelum masyarakat menderita kelaparan total.3 Kalimat Majemuk Campuran Terdiri atas kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat.3.4. Kalimat yang Melepas Jika kalimat majemuk diawali oleh unsure utama. gaya penyajian tersebut disebut gaya penyajian melepas. (salah) Jika dibandingkan dengan pendapatan pegawai negeri. pendapatan pegawai swasta jauh lebih besar. Contoh: Karena pembicaraan mengenai pemecahan atom belum rampung.

Contoh: Di mana mereka melakukan latihan? c. c. Contoh: Dilarang merokok di ruangan ini! e. Contoh: Tidak semua nasabah bank memperoleh kredit lunak. petugas keamanan tidak dapat mengenali para penjarah tersebut. Kalimat Pertanyaan (Interogatif) Dipakai jika penutur ingin memperoleh informasi atau reaksi yang diharapkan.Kalimat Seruan Dipakai jika penutur ingin mengungkapkan perasaan yang kuat atau yang mendadak.5 Kalimat menurut Fungsi a. Kalimat Pertanyaan (deklaratif) Dipakai jika penutur ingin menyatakan sesuatu dengan lengkap ketika ia ingin menyampaikan informasi kepada lawan bicaranya. Kalimat yang Berimbang Jika kalmiat disusun dalam bebtuk kalimat mejemuk campuran. 4. b. masyarakat dapat bekerja dengan leluasa. Contoh: Stabilitas nasional mantap. Contoh: Bukan main sulitnya soal ini.Contoh: Karena penjarah berbaju hitam. Kalimat Perintah atau Permintaan (Imperatif) Dipakai jika penutur ingin menyuruh atau melarang orang melakukan perbuatan. dan masyarakat dapat beribadah dengan tenang. .

Kalimat tersebut tidak efektif karena yang dimaksudkan adalah menayangkan di televisi wajah koruptor yang menjadi buronan. (salah) . Tidak Hadirnya Kata Penghubung Intrakalimat pada Kalima Tunggal Kata penghubung intrakalimat yang dimaksudkan adalah sedangkan dan sehingga.6 Kalimat Efektif Adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk memunculkan gagasan pada pemikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran penulis.4. (salah) Patung Dewi Sri terletak di dalam lemari kaca. Hadirnya subjek dan predikat Contoh: Bagi mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah pada akhir bulan September. Contoh: Kami datang agak terlambat. a.6. Contoh: Kejaksaan Agung akan menayangkan wajah para koruptor yang menjadi buronan di televisi. Tidak Hadirnta Subjek ganda Contoh: Patung Dewi Sri terletak lemari kaca. a.(benar) a. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama. 4.1 Kesepadanan Struktur Yang dimaksudkan kesepadanan struktur adalah kesepadanan antara pikiran dan struktur bahasa yang digunakan. (salah) Mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah pada akhir bulan September.

Unsur yang ditegaskan dalam kalimat itu aslah harapan Presiden.6. frasa. Tidak Hadirnya Kata yang di Depan Predikat Contoh: Bahasa Indonesia yanf berasal dari bahasa Melayu.2 Keparalelan Bentuk Yang dimaksud adalah kesejajaran atau kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. atau bentuk lain dan tidak menggunakan apa pun yang dianggap tidak perlu. Penghilangan Subjek yang Sama pada Anak Kalimat Contoh: karena dia tidak diundang.(salah) Karena tidak diundang.6.Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama. dia tidak dating ke pesta perpisahan itu. . bentuk kedua dan seterusnya juga harus menggunakan nomona. (salah) Kebobrokan perusahaan itu tersembunyi dengan rapat dan tertutup dengan cermat.4 Kehematan Kata Yang dimaksud dengan penghematan kata adalah hemat dalam menggunakan kata.6.(salah) Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. 4. 4.3 Ketegasan Makna Ketegasan makna kalimat ditentukan oleh beberapa unsur. a. Contoh: Kebobrokan perusahaan itu tersembunyi dengan rapat dan penutupannya dengan sangat cermat.(benar) a. Contoh: Harapan Presiden ialah agar kita semua membangun bangsa dan negara ini dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Kalau bentuk pertama menggunakan nomina. dia tidak dating ke pesta itu. 4.

5. Penanda hubungan antarkalimat .2 Keruntutan Paragraf Keruntutan paragraf ditampilkan melalui hubungan formalitas (hubungan secara bahasa) diantara kalimat yang membentuk paragraf. yang menjadi tumpuan berpikir bagi penulis untuk memunculkan gagasan berikutnya. Gagasan utama adalah gagasan dasar tentang sesuatu. artinya jika dilepaskan dari teks. sebuah paragraf sudah memiliki satu gagasan yang utuh dan jelas. (salah) Ia memakai baju merah muda.(benar) BAB 5 SYARAT-SYARAT PARAGRAF 5. a.1 Definisi Paragraf Sebuah paragraph harus memiliki sebuah gagasan utama. Penghindaran Pemakaian Superordinat pada Hiponimi Contoh: Ia memakai baju warna merah muda. Paragraf yang disusun dengan padu (koherensif) ditandai oleh berpadunya gagasan yang tedapat dalam setiap kalimat yang membangunnya. Sebuah paragraf harus merupakan satu gagasan yang utuh. Penghindaran Pemakaian Sinonim pada Satu Kalimat Ontoh: Anda dipersilakan naik ke atas untuk beristirahat.a. Paragraf yang disusun dengan runtut (kohesif) ditandai oleh berpautnya kalimat yang satu dengan kalimat yang lain yamg ada di dalamnya.(salah) Anda dipersilakan naik untuk beristirahat. (benar) a. diperlukan alat penghubung antarkalimatagar keterpautan itu terlihat jelas. Untuk itu.

(a) Hubungan Pengacuan dengan itu Pengangkatan anak wajib dilaksanakan berdasarkan penetapan pengadilan di tempat tinggal sah pemohon. Terdapat lima penanda hubunhan antar kalimat . Hasil yang seperti itu……… . (c) Hubungan Pengacuan dengan begitu itu Hasil yang optimum itu memerlukan proses yang panjang dan waktu yang lama serta ketelitian yan tinggi.Berfungsi memadukan hubungan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain dalam sebuah paragraf. hubungan pelesapan (ellipsis). (b) Hubungan Pengacuan dengan begitu Unit Konteks kalimat dinilai dengan UKBI yang terbatas. perangkaian(conjunction). yaitu teknik pengacuan(reference).. Begitu pula halnya dengan penilaian unit kerja lapangan. Analisis yang demikian itu………….. Hasil yang begitu (bagus) itu……… (d) Hubungan Pengacuan dengan demikian itu Analisis kompetensi yang komprehensif merupakan langkah utama untuk menyusun standar kompetensi kerja yang dibutuhkan si bidang tertentu. dan hubungan leksikal(lexical cohesion) a. (e) Hubungan Pengacuan dengan seperti itu Telah dinyatakan berulang-ulang bahwa hasil yang optimum memerlukan proses yang panjang. penggantian(substitution). Hubungan dengan Teknik Pengacuan 1) Hubungan Ensoforis Dapat dibedakan menjadi hubungan anaforis dan hubungan kataforis. Penetapan itu….

3) Hubungan Pelesapan Ditandai oleh lesapnya unsur kalimat karena tidak dinyatakan secara tesurat atau tidak diucapkan pada kalimat berikutnya. Saya tidak tahu entah dari mana (saya) akan dapat makan. bahan makanan di rumah sudah tidak ada lagi. kura-kura. Bu?” 2) Hubungan Penggantian Ria dan Eka kemarin siang bersama-sama pulang ke Bogor. b) Hubungan Eksoforis Hubungan eksoforis dapat disebut juga hubungan luar bahasa.(f) Hubungan Pengacuan dengan tersebut Setiap orang dilarang membunuh gajah. lalu ia bertanya. (g) Hubungan Pengacuan dengan tersebut itu Untuk menjaga kelestarian hidup gajah dan kura-kuara hijau. pelanggar dapat dihukum. Mereka berdua naik kereta api. 4) Hubungan Kata Perangkai . setip orang dilarang membunuh gajah dan kura-kura tersebut itu. Kalau ada yang melanggar laranga tersebut. Sementara itu. dan burung. (h) Hubungan Pengacuan dengan –nya Untuk menjaga kelestarian gajah. setiap orang dilarang membunuhnya. Contoh: Hafid melihat ada makanan di atas meja makan. “Makanan siapa ini? Boleh saya makan . “Sudah dua hari saya sakit dan sudah dua hari pula (saya) tidak masuk kerja.

. (c) Penggunaan kata hubung intrakalimat Contoh: Jika terjadi kematian warga Negara. setiap calon terpilih harus mengucapkan sumpah dan janji setia. akan tetapi. dengan demikian. termasuk mamatuhi Undang-Undang Lalu Lintas di Jalan Raya. namun. instansi yang ditunjuk wajib mencatat kematian warga Negara itu. diperlukan keseriusan dan kecermatan yang tinngi dari pihak-pihak yang berkepentingan. jadi. Untuk itu. padahal. (b) Pengucapan sumpah dan janji setia tersebut……. b. akibatnya. Contoh ungkapan penghubung antarkalimat: a. Bahkan. Hubungan sebab akibat: oleh karena itu. 5) Hubungan dengan Penanda Leksikal Contoh: Setiap warga negara garus mematuhi perundang-undangan yang berlaku di negeri ini. (b) Penominalan (a) Sebelum memangku jabatannya. Hubungan pertentangan: sebaliknya.Siti Hawa selalu dipercaya sebagai manusia kedua karena ia diciptakan setelah Tuhan menciptakan adam. (d) Penggunaan ungkapan penghubung antarkalimat Contoh: Catatan peristiwa itu amat penting untuk penyelidikan. Anak-anak itu harus segera diberi tahu mengenai ketentuan itu agar mereka bias menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan anak itu. Siti Hawa (ia) diciptakan dari tulang rusuk manusia pertama itu. meskipun demikian dsb. 6) Pengulangan Misalnya: Ketentuan untuk menggunakan baju seragam putih-putih pada hari Senin hanya berlaku bagi anak-anak sekolah dasar di Kecamatan Ciluer.

Hubungan syarat: kalu begitu. dsb. BAB 6 SATUAN-SATUAN DALAM WACANA 6. jika begitu dsb.1 Hubungan sebab atau hubungan alasan . 3. berkaitan dengan itu. Pada umumnya. Dugaan itu salah sebab sebuah kalimat bagaimanapun bentuknya pasti menjadi bagian dari sebuah wacana. atu sebaliknya. h. tengah. Hubungan urutan waktu: kemudian.2. atau akhir paragraf biasanya merupakan perincian lebih lanjut atau penjelasan atas tema. a. 2. dsb. lain dari itu. kalimat koordinatif. baik wacana lisan maupun wacana tertulis. dsb. yang biasanya diletakkan pada bagian awal. i.c. lalu. Kalimat yang terdapat di dalam sebuah paragraf dapat berurutan atas kalimat tunggal. setelah itu. Paragraf juga dapat memiliki bagian pengantar. 5. paragraf memiliki kalimat tema. Hubungan perangkaian: akhirnya. Hubungan penjumlahan: lagi pula.3 Simpulan Paragraf dapat dikenali lewat ciri sebagai berikut: 1. g. 4. dengan itu. Hubungan lebih: bahkan. f. e.2 Aspek-Aspek Wacana 6. di samping itu. Hubungan pertalian untuk menandai manfaat: untuk itu. atau akhir paragraf. tengah. kalau demikian. malah. Kalimat yang diletakkan pada bagian awal. dsb.1 Pendahuluan Banyak orang menduga bahwa satuan bahasa yang terlengkap adalah kalimat. d. dan kalimat subordinatif.1 Aspek Semantis a. 6. Hubungan semantis antarbagian wacana ditandai oleh hubungan antara proposisi dan proposisi bagian-bagian wacana itu. dsb. Hubungan cara: dengan demikian. dengan kata lain. lebih-lebih.

Anna : Ma. luas tanah 1. petani mengeluh tak ad air. Konjungsi Di dalam bahasa Indonasia.2 Hubungan di antara peserta tuturan Contoh: Ketika telepon berdering. klausa dengan klausa. Aku lagi mandi. Hubungan latar belakang semantis wacana b.2 Aspek gramatikal a. Butuh uang tunai segera. Peminat yang serius harap menghubungi kami. tolong terima sebentar. Na.2 Hubungan sarana-tujuan b. dsb. Kami tidak mempunyai waktu untuk melayani perantara. Sebuah rumah tua.500 meter persegi dan luas bangunan 200 meter persegi. b. Di mana-mana terjadi kekeringan. seorang ibu berkata kepada anaknya: Ibu : Ada telepon untuk kamu.1 Kesatuan topik Contoh: “ Dijual. kalimat dengan kalimat. a. Musim tanam terlambat. a.2. konjungsi dapat bertugas menyambungkan frasa dengan frasa. Elipsis (pelesapan) Biasanya apa yang dilesapkan di dalam salah satu bagian merupakan ulangan dari bagian yang lain.Contoh: Musim kemarau tahun ini amat panjang. 6. Contoh: Di mukamu ada sebuah rongga (di mukamu) ada giginya ada lidahnya .

6.3 Satuan Satuan di Dalam Wacana .1 Penggantian Anaforis Penggantian anaforis selalu menggunakan pronominal persona ketiga. saya yakin kelak Ahmad dapat menjadi seorang peneliti ulung yang berhasil. mereka tampak sangat gembira. Paralelisme Paralelisme atau kesejajaran bentuk dalam wacana mengikuti pola di antara bagian di dalam wacana itu. Contoh: “ Berhadapan dengan struktur teks sajak kadang-kadang seperti berhadapan dengan ayat-ayat atau yanda-tanda kebesaran Tuhan.2 Penggantian Kataforis Pronomina persona-nya dapat juga digunakan untuk penggantian kataforis.” a. seperti: Kami pergi berjalan-jalan ke kota bersama sebagian penduduk desa kami.Lewat rongga itu semua bias Kumasukkan ke dalam perutmu a. Penggantian (substitusi) Dapat bersifat anaforis atau pun kataforis. seperti: Dengan kecerdasan yang luar biasa serta dilengkapi dengan kecermatan dan ketelitiannya yang tinggi. Pendek kata kita membaca alam. d. Mereka banyak yang memang sama sekali belum pernah melihat keramaian kota. d. Oleh karena itu.

Teori linguistik modern memulai analisis bahasa dari kalimat. dan fonem yang mendasari struktur kalimat tersebut (disebut teori linguistik struktural). . yaitu klausa. Teori linguistik tradisional berangggapan bahwa semua bahasa di dunia ini memiliki struktur kalimat yang sama. yaitu teori linguistik tradisional dan teori linguistik modern. Plato (436-33 SM). kemudian beralih ke unsur yang lebih kecil.Satuan terbesar di dalam wacana bukan kalimat. ada dua macam teori linguistik yang pernah berkembang di Indonesia. secara garis besarnya. kata. frasa.2 Teori Linguistik yang Berkembang di Indonesia 7. jika dilihat dari segi teknik analisis suatu kalimat. kemudian sampai pada struktur kalimat. utuh. Teori linguistik tradisional memulai analisis bahasa dengan kata dan bentuk kata.2. telah memberikan prinsip-prinsip dasar linguistik kemudian. Perbedaan yang mendasar di antara kedua teori tersebut terletak pada titik tolak memandang.1 Pengantar Pada dasarnya. paragraf sudah merupakan suatu kesatuan informasi yang lengkap. dan (3) penelitian bahasa dapat dilakukan secara diakronis ataupun sikronis (Kridalaksana. Ciri menonjol dari teori linguistik modern atau teori linguistik struktural adalah (1) pandangan tentang pentingnya hubungan antarunsur bahasa lebih daripada unsur-unsur itu sendiri. Socrates (46939 SM). melainkan paragraf. dan cara mengajarkan bahasa. BAB 7 TEORI DAN PEMIKIRAN LINGUISTIK YANG BERKEMBANG DI INDONESIA 7. dan selesai.1 Teori Linguistik Tradisional Perintis linguistik pada masa Yunani Kuno. 1991:7) 7. morfem. (2) satu-satunya objek linguistik yang benar adalah sistem bahasa (langue). cara menganalisis. perintis linguistik berikutnya. Jika dilepaskan dari sebuah wacana. melanjutkan ide-ide Plato dan Socrates yang berpandangan tentang bahasa.

2 Teori Linguistik Transformasi Generatif Teori sintaksis struktural dimulai dengan diterbitkannya buku Language oleh Leonard Bloemfield pada tahun 1933. Socrates. dan antibehaviorisme.S..2. Dalam teori linguistik transformasi generatif terdapat struktur dalam (deep structure) dalam pikiran manusia dan strukrur luar (surface structure) dalam wujud bahasa. Chomsky. Pada tahun 1957 Chomsky menerbitkan buku yang berasal dari disertasinya yang berjudul Syntactic Structure. Hani’ah dkk. bertujuan menemukan apa yang semesta dan teratur dalam memahami dan menghasilkan kalimat yang gramatikal. (cf. Linguis Indonesia yang menggunakan teori tradisional dalam analisis penelitian mereka seperti Sutan Takdir Alisjahbana dan J. 1991:16) . b. Pengikut Bloemfield yang brilian adalah Noam Chomsky. J. bersifat rasionalistis. Ciri linguistik transformasional. Badudu.McCawley. Aristoteles. d. Panini. c.N. memakai konsep-konsep competence dan performance. dan G. Aristoteles dianggap sebagai orang yang memperkenalkan kategori kata (distinct parts of speech). membedakan struktur lahir dan struktur batin. yang banyak menulis buku tentang logika dan linguistik. Lakoff (Kridalaksana. 7.Perintis lai pada masa Yunani Kuno adalah aristoteles (384-322 SM).2006) Linguis yang tergolong kelompok ini m. Tahun 1957 itulah dianggap tonggak awal berkembangnya aliran baru dalam linguistik. Ia melahirkan suatun teori yang disebut teori linguistik transformasi generatif. Tokoh-tokoh teori linguistik transformasi generatif adalah A.isalnya Plato. Pemikiran para perintis linguistik itu hingga sekarang diyakini kebenarannya oleh para linguis di Indonesia. antara lain: a.

Tokoh teori linguistik tagmemik adalah K. R. Ciri teori linguistik stratifikasi: a. Evelyn Pike. b.Lookwood. .L. dan A. b. Lamb.2. 1991:15) 7. b.Gleason. satuan dasar berupa tagmen. strata morfem. Makkai (Kridalaksana. Tokoh dari linguistik stratifikasi adalah S. H. ada strata fonem. tetapi sampai ke wacana. bahasa dipandang sebagai sistem hubungan-hubungan dan bukan sistem unsurunsur.7.A. d. dan lainlain (Kridalaksana. mendapat pengaruh dari Pike.G. D.2. analisis gramatika tidak hanya terbatas pada kalimat. Longacre. membedakan satuan etik dan satuan emik.3 Teori Linguistik Stratifikasi Teori linguistik stratifikasi dilontarkan dan dikembangkan oleh Sidney Lamb dari Universitas California. c. Menerbitkan buku pengantar tatabahasa stratifikasi yang berjudul Outline of Stratificational Grammar tatabahasa stratifikasi mengambil nama dari aneka ragam strata ‘lapisan’ yang terdapat dalam suatu bahasa. bersifat generatif. 1991:13) 7. bahasa dianggap sebagai sistem jaringan dan kaidah-kaidah realisasi yang menghubungkan bagian-bagian struktur yang disebut strata. Pike.2. jadi menentang konsep-konsep yang menggambarkan proses. bersifat fungsionalitas. c.4 Teori Linguistik Tagmemik Ciri-ciri teori linguistik tagmemik: a.5 Teori Linguistik Kasus Ciri-ciri teori linguistik kasus: a. ada strata leksem. bahasa dianggap sebagai sistem statis.

c. teori ini memberi tempat kepada tiga lapisan fungsi. c. Tampubolon dan Soenjono Dardjowidjojo (Kridalaksana. A. Swiss.2.34) 7. Tahun 1916 dipandang sebagai tahun kelahiran linguistik modern dan de Saussure dijuliki sebagai Bapak Linguistik Modern. Chafe. 1991:18. filter. Tokoh teori linguistik kasus adalah W.6 Teori Linguistik Fungsional Ciri-ciri teori linguistik fungsional: a. sedangkan parole adalah realisasi individual atas sistem bahasa. 7. Libguis Indonesia yang pernah menerapkan teori ini dalam penelitian linguistik adalah D. 28. b. yakni fungsi semantik. Saussure memiliki pemukiran yang sangat brilian. seperti kasus pelaku. Saussure berprinsip bahwa ujaran (parole) tidak boleh dikacaukan dengan langue.2.7 Beberapa Pemikiran tentang Linguistik 7. Teori linguistik fungsional dipelopori oleh Selain oleh simon Dik.P. juga danes. fungsi sintaktis. tidak mengenal transformasi.7. dan Susumu Kuno (Kridalaksana. Martinet. dalam semantik dianggap bahwa nomina berhubungan dengan verba dalam struktur batin berupa berbagai kasus.1 Pemikiran Saussure Mongin-Ferdinand de Saussure (1857-1913) adalah tokoh linguistik modern kelahiran Geneva. dan fungsi pragmatis. d.7. Langue merupakan sistem yang dimiliki bersama yang secara taksadar kita pergunakan sebagai alat komunikasi. penderita.2. yang berupa kalimat-kalimat atau ucapan-ucapan seseorang dalam komunikasi sehari-hari.2. yaitu dibedakannya dua aspek tanda bahasa. yaitu significant dan signifie. 1991:16-17. penerima. dan sebagainya. dekomposisi leksikal.2 Pemikiran Odgan dan Richard . pengungkapan bahasa berjalan dari semantik ke sintaksis terus ke pragmatik dan berakhir pada apa yang disebutnya expression rules. dan 35) 7. deskripsi ungkapan bahasa dimulai dengan pembebtukan predikasi dasar yang dilakukan dengan penyisipan ungkapan ke dalam kerangka predikat. Halliday.

(e) . 7. Pemahaman implikatur yang dilontarkan Grice dan Leech (1975) berguna untuk menerangkan apa yang mungkin diartikan. bahasa mempengaruhi cara berpikir masyarakat pengguna bahasa yang bersangkutan. Dia.K. Mereka juga berbicara tentang acuan.3 Pemikiran John Lyons Lyons (1996:72) tergolong ahli semantik yang sangat berpengaruh. atau dimaksudkan oleh penutur.yang berbeda dari apa yang sebenarnya dikatakan oleh penutur.2. 7.7.7.A. khususnya di wilayah makna kata dan makna kalimat. Tindakan lokusi adalah tindakan mengatakan sesuatu atau tindakan membuat suatu tuturan. 7. Odgan dan Richard berbicara tentang kodrat kalimat. ilokusi. 7. yang menyatakan bahwa setiap tutur yang bermakna dalam kalimat tentulah mempunyai acuan. (d) meminta maaf. (c) mengakui. menguraikan hubungan antara kegramatikalan (grammaticality) dan kebermaknaan (meaningfulness) serta keberterimaan (acceptability).4 Pemikiran Sapir-Whorf Edward Sapir(1884-1937) dan Benjamin Lee Whorf(1897-1941) berpendapat bahwa pandangan manusia tentang dunia luar dibentuk oleh bahasa yang dipakai.5 Pemikiran Austin Austin (1968) memperkenalkan konsep tindak bahasa (speech act). Dengan kata lain. yaitu tindakan lokusi. disarankan. yang dikategorikan sebagai tindakan ilokusi.7.2. Ilokusi adalah tindakan yang dilakukan dalam mengatakan sesuatu atau membuat pernyataan. (b) menuduh.Pada kurun berikutnya. C.2.5 Pemikiran Grice dan Leech Grice dan Leech memunculkan konsep implikatur.7. Secara konvensional. dan perlokusi. adalah tindakan (a) menyapa. Richard dalam The Meaning of Meaning (1923) membuat langkah yang lebih menentukan dalam membangkitkan minat bidang linguistik. antaralain.2. Odgan dan I. Ia membedakan tiga jenis tindakan dalam konsep tindak bahasa.

1993: 81) . Metode induktif mencangkup empat langkah. Dalam tataran bahasa terdapat bahasan tentang morfologi dan sintaksis. (q) berjanji. (t) bersulang (Huurfordv dan Heasley. (o) menawarkan. (h) mengucapkan selamat. (i) menyesalkan. dan kalimat. perumusan hipotesis. dan pengujian hipotesis (Kridalaksana: 1991:11) TINJAUAN PENULIS Secara umum. (f) mengeluh. yakni: frasa. klausa. (s) berterima kasih. dan dari metode deduktif kembali ke metode induktif. klausa. yaitu berupa siklus empiris. 7. sebagaimana dalam ilmu-ilmu lain. Sintaksis berasal dari bahasa Yunani (sun + tattein = mengatur bersama-sama) adalah bagian dari tatabahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa. adalah metode ilmiah. Sintaksis membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech). yaitu tataran fonologi dan tataran gramatika atau tataran bahasa.menantang. Kaswanti Purwo 1984:19-20) Perlokusi adalah tindak bahasa yang mengakibatkan kawan bicara melakukan suatu tindakan dalam mengatakan sesuatu itu. wawasan atas struktur data. dan kalimat (Suparno. (n) memberi nama. Menurut aliran struktural. Unsur bahasa yang termasuk di dalam lingkup sintaksis adalah frasa. (g) berdukacita. yaitu pengamatan data. (p) memuji. cf. (j) mengizinkan. 1994:244. (k) memberi salam. (r) memprotes. (m) menghina. (l) meminta diri. yakni proses yang berlangsung dari metode induktif ke metode deduktif. Dengan demikian ada tiga tataran gramatikal yang menjadi garapan sintaksis. sintaksis diartikan sebagai subdisiplin linguistik yang mempelajari tata susun frasa sampai kalimat. ilmu linguistik (ilmu bahasa) memiliki dua tataran.3 Hubungan Teori dan Metode dalam Linguistik Metode dalam linguistik.

dan kalimat itu merupakan kontruksi. (Suparno. klasifikasi klausa. Atas dasar pemikiran itu dikenal konstruksi frase. frase. tata susun klausa. konstruksi klausa. mempunyai intonasi final (kalimat final). buku ini bisa dijadikan sebagai salah satu referensi belajar sintaksis Buku karya: Prof. Zaenal Arifin . klausa. DR. Pada buku ini telah digambarkan secara jelas mengenai pengertian sintaksis dan hal-hal apa saja yang dipelajari di dalamnya mulai dari pengertian sintaksis. dan secara actual ataupun potensial terdiri atas klausa. Dilihat dari tatanan unsur-unsur pembentuknya. buku ini juga dikemas dalam bentuk pembahasan per bab sehingga memudahkan pembaca dalam mempelajari isi buku. dan kalimat adalah satuan bahasa. Klausa adalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat. Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relative berdiri sendiri. Untuk keperluan belajar Sintaksis tataran Mahasiswa Strata Satu Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. dan konstruksi kalimat. Konstruksinya disebut konstruksi sintaksis. satuan-satuan dalam wacana hingga teori dan pemikiran linguistic yang berkembang di Indonesia. dan tata susun kalimat dalam suatu bahasa. syarat-syarat paragraph. Buku ini dikemas dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga pembaca memperoleh kemudahan dalam menelaah maksud penulis. klasifikasi frasa. yang secara khas disebut sintaksis karena konstruksi-konstruksi itu dibahas dan dikaji dalam subdisiplin sintaksis. 1976) atau satu konstruksi ketatabahasaan yang terdiri atas dua kata atu lebih. klausa. Berdasarkan uraian-uraian dan pendapat-pendapat di atas maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sintaksis adalah bidang subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan antarkata dalam tuturan yang meliputi tata susun frase. E. Selain itu. klasifikasi kalimat. 1987: 7) Frasa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nenprediktif (Rusyana dan Samsuri.Frase.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->