Kecelakaan Kerja

Ferry Afero Tanama
Mahasiswa, Fakultas Kedokteran UKRIDA

I. Pendahuluan
Di seluruh dunia, terdapat lebih dari 2,6 milyar pekerja dan tenaga kerja yang terusmenerus berkembang. Sekitar 75% nya merupakan pekerja di negara sedang berkembang yang risiko di tempat kerjanya jauh lebih parah. Setiap tahun terdapat sekitar 250 juta kasus cedera akibat kerja yang mengakibatkan 330.000 kematian.1 Jika kita masukkan juga kasus penyakit akibat pekerjaan, kira-kira 1,1 juta orang di seluruh dunia meningeal setiap tahunnya. Setiap tahun sekitar 160 juta kasus baru penyakit terkait pekerjaan terjadi di seluruh dunia. Semua perkiraan itu tentu saja berada di bawah angka sebenarnya karena laporan dari berabgai wilayah di dunia tidak dapat reliabel.1 Tenaga manusia sebagai salah satu faktor produksi di perusahaan, merupakan satu kesatuan biologis yang mempunyai peran sama dengan faktor produksi lainnya (dana permodalan, alat produksi, dan sebagainya). Karena itu pemeliharaan dan pengembangan tenaga manusia, memerlukan perhatian khusus di samping perhatian terhadap faktor produksi lainnya. Tanpa pemeliharaan dan pengembangan tenaga manusia, pemeliharaan dan pengembangan faktor produksi lainnya, tidak akan punya arti apa-apa ditinjau dari produktivitas kerja di perusahaan.2 Kecelakaan kerja pada manusia bukan terjadi, tapi disebabkan oleh kelemahan di sisi majikan, pekerja, atau keduanya. Akibat yang ditimbulkannya dapat memunculkan trauma bagi keduanya: bagi pekerja, cedera dapat berpengaruh terhadap pribadi, keluarga, dan kualitas hidupnya, sedangkan bagi majikan, berupa kerugian produksi, waktu terbuang untuk penyelidikan, dan yang terburuk biaya untuk proses hukum.3

II. Pembahasan
Seorang pekerja laki-laki usia 35 tahun sedang memperbaiki dinding gedung lantai 2. Pada saat memperbaiki, stager yang dipijak patah dan terjatuh . Saat itu pekerja tidak memakai tali pengaman. la mengalami patah paha kanan dan memerlukan tindakan operasi. Dokter perusahaan membuat laporan kejadian untuk mengurus klaim kepada JAMSOSTEK.

Ferry Afero Tanama

Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat fe_12_y@yahoo.com

1. Definisi Kecelakaan Kerja
Yang dimaksud kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak disengaja seperli kejadiankejadian yang tidak diharapkan dan tidak terkontrol. Kecelakaan tidak selalu berakhir dengan luka fisik dan kematian. Kecelakaan yang menyebabkan kerusakan peralatan dan material dan khususnya yang menyebabkan luka perlu mendapat perhatian terbesar. Semua kecelakaan tanpa melihat apakah itu menyebabkan kerusakan ataupun tidak perlu mendapatkan perhatian. Kecelakaan yang tidak menyebabkan kerusakan peralatan, material dan kecelakaan fisik dari personil kerja dapat menyebabkan kecelakaan lebih lanjut.4 Dalam peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 3 Tahun 1998 tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan, kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan atau harta benda. Dan tempat kerja merupakan tiap ruangan atau lapangan tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber cahaya.5 Definisi kecelakaan kerja lainnya adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. Tidak terduga maksudnya tidak dilatar belakangi unsur kesengajaan, dan tidak direncanakan, karenanya peristiwa sabotase ataupun kriminalitas adalah di luar niang lingkup keeelakaan. Tidak diharapkan, sebab peristiwa kecelakaan disertai oleh kerugian material ataupun penderitaan dari yang paling ringan sampai yang paling berat. Kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan yang ada hubungannya dengan kerja, dalam kecelakaan terjadi karena pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan. Dengan demikian muncul dua permasalahan: a. Kecelakaan sebagai akibat langsung dari pekerjaan atau; b. Kecelakaan terjadi saat mclakukan pekerjaan. Adakalanya ruang lingkup keeelakaan kerja diperluas, sehingga meliputi kecelakaan tenaga kerja pada saat perjalanan dari dan ke tempat kerja. Kecelakaan di rumah, atau pada waktu rekreasi dan cuti berada di luar makna kecelakaan kcrja, sekalipun pencegahannya sering disertakan dalam program keselamatan kerja/kesclamatan perusahaan. Keeelakaan demikian, termasuk kecelakaan umum yang mcnimpa tenaga kcrja di luar pekerjaannya.2

2. Teori Kecelakaan Kerja
a. Teori Domino Heinrich Heinrich (1931) dalam risetnya menemukan sebuah teori yang dinamainya Teori Domino. Teori itu menyebutkan bahwa pada setiap kecelakaan yang menimbulkan cidera, terdapat lima

2

yaitu: kebiasaan/situasi. Misalnya. dengan membuang hazard.standar kerja yang minim . perbuatan dan kondisi tak aman (hazard).6 Gambar. Praktek di bawah standar atau unsafe acts dan kondisi di bawah standar atau unsafe conditions merupakan penyebab langsung suatu kecelakaan. dan penyebab utama dari kesalahan manajemen.masalah fisik atau mental . dan kerugian. untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Birds (1967) memodifikasi teori domino Heinrich dengan mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan yaitu: manajemen. kontak.pengendalian manajemen yang kurang . 13 Beberapa contoh tipikal penyebabnya adalah:  Situasi kerja .faktor secara berurutan yang digambarkan sebagai lima domino yang berdiri sejajar. kecelakaan. satu domino di antaranya. Heinrich mengemukakan.  Kesalahan orang .tidak memenuhi standar perlengkapan yang gagal atau tempat kerja yang tidak mencukupi. Birds itu mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan mulai memperbaiki manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.keterampilan dan pengetahuan yang minim . gejala. sumbcr penyebab dasar. Dalam teorinya.perhatian yang kurang  Tindakan tidak aman 3 . kuncinya adalah dengan memutuskan rangkaian sebab-akibat. serta cidera.motive yang minim atau salah pencrnpatan . kesalahan seseorang.

Teori tersebut merupakan pengembangan dari Teori Heinrich yang menunjukkan bahwa manajemen juga ikut berpengaruh terhadap terjadinya kecelakaan kerja.7 4 . Teori Domino Terbaru Teori Domino yang terbaru berkembang sekitar tahun 1969. untuk lebih memahami mengenai penyebab terjadinya kecelakaan.2 b. Untuk itu. Dalam teori tersebut diungkapkan bahwa penyebab terjadinya kecelakaan adalah adanya ketimpangan manajemen.. Teori Multiple Causation Teori ini menyebutkan bahwa kecelakaan kerja terjadi karena adanya banyak penyebab. kemungkinan proses pengadilan. Teori Reason Reason menyatakan bahwa kecelakaan terjadi karena adanya lubang dalam system pertahanan.7 e.7 c.menyingkirkan atau tidak menggunakan perlengkapan keselamatan kerja.tidak mengikuti metode kerja yang telah disetujui . Kecelakaan terjadi karena adanya kontak diantara 3 (tiga) hal yaitu korban kecelakaan.terhantam mesin atau material yang jatuh.  Cedera/kerusakan .  Kecelakaan .terjatuh . pembayaran kompensasi kerugian produksi. perantara terjadinya kecelakaan dan lingkungan yang kompleks.mengambil jalan pintas .kejadian yang tidak terduga . Sistem pertahanan yang dimaksud adalah pelatihan dan prosedur yang mengatur kelamatan dan kesehatan kerja. perantara dan lingkungan secara detail. Teori Gordon Menurut Gordon (1949).terhadap majikan: kerusakan pabrik.terhadap pekerja: sakit dan penderitaan & kehilangan pendapatan kehilangan kualitas hidup . harus diketahui karakteristik dari korban kecelakaan.akibat kontak dengan mesin atau listrik yang berbahaya . Penyebab kecelakaan tersebut adalah kondisi yang tidak aman (unsafe condition) dan tindakan yang tidak aman (unsafe action). dan sebagainya.7 d.

. Contoh dari perbuatan yang tidak aman seperti misalnya : . kinetic. Selanjutnya teori ini dikembangkan oleh Derek Viner (1998) melalui Konsep Energi. Penyebab Kecelakaan Kerja Kecelakaan akibat kerja terjadi tanpa disangka-sangka dalam waktu sekejap mata. peralatan. b) faktor bahaya.f.Kondisi penataan lokasi yang salah. Namun ada kesamaan umum.Metode kerja yang salah.Kondisi fisik. mekanik.Kondisi permukaan tempat berjalan dan bekerja. c) faktor peralatan dan perlengkapan. yakni a) faktor lingkungan.Contoh kondisi yang tidak aman : . . Seperti kita ketahui bersama bahwa energy di ala mini tersaji dalam beberapa bentuk misalnya mekanis. dan d) faktor manusia. Penyebab langsung (1) Perbuatan yang tidak aman (unsafe acts). kimia.Salah menggunakan alat yang telah disediakan.Kondisi penerangan. kimia. antara lain:3 a. . Teori Frank E Bird Peterson Kecelakaan terjadi karena adanya kontak dengan suatu sumber energy seperti mekanis. yaitu kecelakaan disebabkan oleh dua golongan penyebab. . didefinisikan sebagai segala tindakan manusia yang dapat memungkinkan tejadinya kecelakaan pada diri sendiri maupun orang lain. empat faktor bergerak dalam satu kesatuan berantai. alat maupun lingkungan.Tidak mengikuti prosedur keselamatan kerja. (2) Kondisi yang tidak aman (unsafe condition). didefinisikan sebagai suatu kondisi lingkungan kerja yang dapat memungkinkan terjadinya kecelakaan. kinetic. Bennett (1991) mengemukakan bahwa di dalam setiap kejadian kecelakaan kerja.Menggunakan alat yang sudah msak. fisis yang dapat mengakibatkan cedera pada manusia. Cedera terjadi karena energy yang mengenai penerima melebihi ambang batas kemampuan penerima. . suara dan getaran. 5 . . .7 3. radiasi. ventilasi. . dan lain-lain. Cara penggolongan sebab-sebab kecelakaan di berbagai Negara tidak sama.Tidak menggunakan alat yang telah disediakan. Konsep ini menyebutkan bahwa kecelakaan terjadi akibat energi yang lepas dan mengenai si penerima.

maka semakin kecil kemungkinan terjadinya kecelakaan akibat kerja. (2) Kondisi pekerja4 a. Secara umum. Hal ini disebabkan karena ciri-ciri yanga ada dalam pribadi yang bersangkutan (ILO. Jenis Kelamin Tingkat kecelakaan akibat kerja pada perempuan akan lebih tinggi daripada pada laki-laki. tetapi tingkat keparahan cedera dan penyembuhannya lebih serius. Tugas yang berkaitan dengan gerak berpindah. laki-laki mempunyai waktu reaksi lebih cepat daripada perempuan. Kecenderungan Celaka Konsep popular dalam penyebab kecelakaan adalah “accident prone theory”. 6 . Koordinasi Otot Koordinasi otot berpengaruh terhadap keselamatan pekerja. Perbedaan kekuatan fisik antara perempuan dengan kekuatan fisik laki-laki adalah 65%. Diperkirakan kekakuan dan reaksi yang lambat berperan dalam terjadinya kecelakaan kerja.b. Pengkajian usia dan kecelakaan akibat kerja menunjukkan angka kecelakaan pada umumnya lebih rendah dengan bertambahnya usia. Faktor Manusia5 Umur/usia usia muda relative lebih mudah terkena kecelakaan kerja dibandingkan dengan usia lanjut yang mungkin dikarenakan sikap ceroboh dan tergesa-gesa. Penyebab tidak langsung (1) Fungsi manajeinen proyek. Teori ini didasarkan pada pengamatan bahwa ada pekerja yang lebih besar mengalami kecelakaan dibandingkan pekerja lainnya.1979) Pengalaman Kerja Semakin banyak pengalaman kerja dari seseorang. Pengalaman untuk kewaspadaan terhadap kecelakaan kerja bertambah baik sesuai dengan usia. maka kerja atau lamanya bekerrja di tempat yang bersangkutan. kapasitas kerja perempuan rata-rata sekitar 30% lebih rendah dari laki-laki.

antara lain: 1. 2. Kelelahan Kelelahan dapat menimbulkan kecelakaan kerja pada suatu industri. 3. Bagian-bagian fungsional 2. Peralatan/perlengkapan yang menimbulkan kebisingan. Pengetahuan (pengetahuan dasar dan spesifik tentang pekerjaan). 2. Langkah penting dalam perencanaan adalah memilih peralatan dan perlengkapan yang efektif sesuai dengan apa yang diproduksinya. lingkungan kerja yang buruk serta adanya konflik. Fungsional (keterampilan dasar dan spesifik dalam mengerjakan suatu pekerjaan). dan kemungkinan adanya bahaya kerja di tempat itu. Pada dasarnya peralatan/perlengkapan mempunyai bagian-bagian kritis yang dapat menimbulkan keadaan bahaya.Tingkat Pendidikan Pensisikan formal dan pendidikan non-formal akan mempengaruhi peningkatan pengetahuan pekerja dalam menerima informasi dan perubahan. yaitu: 1. Faktor lingkungan5 Lokasi/tempat kerja Tempat kerja adalah tempat dilakukannya pekerjaan bagi suatu usaha. Kelelahan ini ditandai dengan adanya penurunan fungsi-fungsi kesadaran otak dan perubahan pada organ di luar kesadaran. dimana terdapat tenaga kerja yang bekerja. 7 . pekerjaan rutin tanpa variasi. Afektif (kemampuan dasar dan spesifikasi dalam suatu pekerjaan). Kelelahan disebabkan oleh berbagai hal. antara lain kurang istirahat. Perlatan dan perlengkapan Proses produksi adalah bagian dari perencanaan produksi. Peralatan/perlengkapan dengan penerangan yang tidak efektif. terlalu lama bekerja. Kelelahan merupakan suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup lagi untuk melakukan aktivitasnya. Disain di lokasi kerja yang tidak ergonomis dapat menimbulkan kecelakaan kerja. b. Tempat kerja yang baikapabila lingkungan kerja aman dan sehat. Bagian-bagian operasional Bagian-bagian mesin yang berbahaya harus ditiadakan denga jalan mengubah konstruksi. baik secara langsung maupun tidak langsung. Peralatan dan perlengkapan yang dominan menyebabkan kecelakaan kerja. member alat perlindungan. Tuntutan pekerjaan atau job requirements pada seorang pekerja adalah: 1.

5. yang aman bagi tcnaga kerja. berawal dari faktor human error. dll. Peralatan/perlengkapan dengan temperature tinggi ataupun terlalu rendah.3. Hal ini dikarenakan 8 . lingkungan kerja dan cara-cara melakukan pekerjaan tersebut. Unit ksclamatan kerja merupakan suatu unit yang bertanggung jawab atas tempat. dari Senin sampai Jumat termasuk hari libur dan bekerja mulai dari jam 07. landasan tempat kerja. bahan dan proses pengola-hannya. Tujuan keselamatan kerja. dan sesuai dengan kondisi kerja. Peralatan/perlengkapan dengan efek radiasi yang tinggi.  Mcnjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja. tetapi shift kerja pagi-pagi tidak menutup kemungkinan dalam menimbulkan kecelakaan akibat kerja.  Memelihara sumber produksi serta menggunakannya dengan amat dan ber-dayaguna (efisien)2 Selain itu. Shift kerja malam biasanya lebih banyak menimbulkan kecelakaan kerja dibandingkan dengan shift kerja siang. 4. juga bertanggung jawab dalam penyediaan alat keselamatan/pengaman/pelindung yang cocok serta menycnangkan bagi tenaga kerja. shift kerja adalah bekerja di luar jam kerja normal. sehingga menimbulkan kecelakaan kerja. antara lain:  Melindungi hak keselamatan tenaga kerja dalam/selama melakukan pekerjaan untuk kesejahtcraan hidup serta peningkatan produksi dan produktivitas nasional. Shift kerja Menurut National Occupational Health and Safety Committee. ada beberapa alasan pentingnya memperhatikan masalah keselamatan dalam bekerja.00 sampai dengan jam 19. pesawat. Keselamatan Kerja Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan hubungan tenaga kerja dengan mesin. 4. 6. mesin.00 atau lebih. bisa berawal dari jenis perlatan/perlengkapannya. Peralatan/perlengkapan yang tidak dilengkapi dengan pelindung. alat kerja. Peralatan/perlengkapan yang mengandung bahan-bahan kimia berbahaya. pesawat. alat. dimana sumber dari jenis kecelakaan merambat ke tempat-tempat lain. yaitu :  Kemanusiaan Membiarkan terjadinya kecelakaan keja tanpa berusaha melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan merupakan suatu tindakan yang tidak manusiawi. Sumber kecelakaan Sumber kecelakaan merupakan asal dari timbulnya kecelakaan.

serta atas tuntutan dari masyarakat sekitar. Dampak kecelakaan kerja Kecelakaan dapat menimbulkan akibat yang sangat merugikan baik bagi pekerja maupun bagi pengusaha. santunan kematian. Bagi pekerja. kontraktor juga dapat menghemat biaya yang hams dikeluarkan. peralatan. atau kerusakaan properti. biaya santunan kecelakaan dan sebagainya. luka/cedera berat maupun ringan. biaya tambahan karena pekerjaan terhenti.  UU dan peraturan UU dan peraturan dikeluarkan oleh pemerintah atau suatu organisasi bidang kesehatan kerja dengan pertimbangan bahwa masih banyak kecelakaan yang terjadi. maupun penderitaan bagi keluarga mereka bila pekerja meninggal dunia atau cacat. biaya pengobatan. 1992). serta premi asuransi yang dikenakan atas kebakaran. misalnya kematian. kecelakaan yang terjadi dapat mengakibatkan penderitaan baik merupakan kematian. karena berhubungan dengan kepercayaan dari pemberi tugas/pemilik proyek (Christiawan. makin meningkatnya pembangunan dengan penggunaan teknologi modern.  Nama baik perusahaan Suatu perusahaan yang mempunyai reputasi yang baik dapat empengaruhi kemampuannya dalam bersaing dengan perusahaan lain. Sedangkan bagi pengusaha. biaya perawatan medis dan rumah sakit. biaya yang timbul karena waktu yang 9 . Biaya langsung terdiri dari biaya kompensasi pekerja.4 5. Oleh karena itu. reputasi atau citra perusahaan juga merupakan sumber daya penting terutama bagi industri jasa. dengan melakukan langkah-langkah pencegahan kecelakaan maka selain dapat mencegah terjadinya cedera pada pekerja. Prestasi keselainatan kerja perusahaan mendukung reputasi perusahaan itu. Oleh karena itu. santunan untuk pekerja yang menderita cacat. kecelakaan yang terjadi dapat menimbulkan kerugian berupa biaya langsung dan biaya tak langsung. bahan dan bangunan. luka/cidera berat maupun ringan. Menururt Ir Christiawan.kecelakaan yang terjadi tidak hanya menimbulkan penderitaan bagi korbannya. tetapi juga mengakibatkan penderitaan bagi keluarga korban jika korban meninggal atau cacat. pengusaha mempunyai kewajiban untuk melindungi pekerjanya dengan cara menyediakan lapangan kerja yang aman. Sedangkan biaya tak langsung misalnya biaya untuk mengganti peralatan yang rusak.  Ekonomi Setiap kecelakaan kerja yang terjadi akan menimbulkan kerugian ekonomi seperti kerusakan mesin. kehilangan. sehingga dapat dikatakan bahwa prestasi keselainatan kerja yang baik akan memberikan keuntungan pada perusahaan secaratidak langsung.

5 Penerapan Manajemen Resiko5 Penerapan manajemen resiko dilakukan dengan beberapa komponen dengan urutan yang sistematis. Manajemen dan Penilaian Resiko Manajemen resiko adalah proses manajemen dimana kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan dan kerugian yang berhubungan aktifitas diidentifikasi. b) Identifikasi risiko Kegiatan identifikasi risiko dilakukan dengan identifikasi terhadap risiko yang akan dikelola. Manajemen ini bertujuan untuk meminimalkan atau bahkan menghindari risiko sama sekali. dan sebagainya. dengan mempertimbangkan upaya pengendalian risiko yang telah dilakukan. Komitmen harus diinyatakan oleh manajemen puncak dan disosialisasikan kepada seluruh karyawan. dievaluasi dan dikendalikan dan atau penerapan kebijakan-kebijakan manajemen dan prosedur untuk memaksimumkan kesempatan dalam mendapatkan keuntungan dalam meminimumkan kerugian.terbuang untuk mencari tenaga kerja pengganti. yaitu. Besarnya biaya tak langsung dapat mencapai 4-7 kali biaya langsung. a) Komitmen Merupakan kebijakan perusahaan yang melibatkan keseluruhan organisasi dimulai dari manajemen puncak hingga karyawan dalam melaksanakan K3. Selain itu biaya tak langsung yang timbul juga dapat berupa penurunan kualitas pekerjaan. terlihat bahwa kecelakaan kerja berpengaruh terhadap biaya. c) Analisis risiko Analisis risiko dilakukan untuk memperkirakan risiko dengan mengkombinasikan faktor probabilitas atau likehood dan konsekuensi. produktivitas pekerja dan nama baik perusahaan. Oleh karena itu. waktu. Pelaksanaan manajemen risiko haruslah menjadi bagian integral dari pelaksanaan sistem manajemen perusahaan/organisasi. bagaimana dan kenapa risiko tersebut bisa muncul. mencari tahu jenis bahaya apa saja yang mungkin menimbulkan risiko. dan penurunan nama baik perusahaan. penurunan produktivitas pekerja.4 6. mutu pekerjaan. untuk membersihkan lokasi pekerjaan dan untuk memberikan pertolongan. Komitmen merupakan komponen terpenting dalam penerapan sistem manajemen K3 karena komitmen menunjukkan pernyataan kesiapan untuk memperhatikan masalah K3. 10 .

11 . • Melakukan penilaian risiko yang 'sesuai dan mencukupi' terhadap bahaya yang teridentifikasi. • Memutuskan apa yang 'sesuai dan mencukupi' itu berdasarkan situasi dan kondisi operasinya. dan mereka yang datang karena tugas seperti tukang pos.yang mempunyai pengetahuan tentang : * proses-proses kerja * perundang-undangan kesehatan dan keselamatan kerja * standar kesehatan dan keselamatan kerja terbaru untuk industri. • Mengangkat seorang penilai: . g) Komunikasi dan Konsultasi Komunikasi antara manajemen dan pekerja untuk mendapatkan masukan mengenai implementasi pengelolaan risiko di tempat kerja guna perbaikan sistem pengelolaan risiko tersebut. • Menentukan lingkup penilaian: ‐ semua perlengkapan. tamu.d) Evaluasi risiko Evaluasi risiko dilakukan untuk membandingkan tingkat risiko yang didapat dalam proses analisi risiko dengan criteria evaluasi sesuai dengan model analisis yang digunakan. • Mempertimbangkan segala risiko dari kegiatan operasional yang dapat mempengaruhi orang yang bukan pekerja seperti agen dan para pekerja kontrak. Regulasi Manajemen (Management Regulations) menempatkan tanggung jawab khusus di pundak majikan untuk : • Mengidentifikasikan bahaya yang berisiko terhadap kesehatan dan keselamatan kerja pekerjanya. kontraktor. baik yang sedang dipakai maupun yang baru ‐ material dan substansi. supir pengantar. penilaian risiko adalah cara-cara yang digunakan majikan untuk dapat mengelola dengan baik risiko yang dihadapi oleh pekerjanya dan memastikan bahwa kesehatan dan keselamatan mereka tidak terkena risiko pada saat bekerja. • Lebih memprioritaskan perlindungan terhadap seluruh angkatan kerja ketimbang perorangan. f) Monitoring dan review Monitoring dilakukan dengan mengkaji ulang tingkat risiko serta efektifitas program penanganan risiko yang telah dilakukan. Penilaian Resiko8 Pada dasarnya. karyawan perusahaan utilitas.untuk melakukan penilaian-penilaian . e) Penanganan risiko Penanganan atau pengendalian risiko dilakukan dengan mempertimbangkan aspek efektifitas dan efisiensi. dan sebagainya.

7. 4. Menjalankan pelatihan metode-metode kerja yang baru. (Penilai bisa merupakan penyelia atau penanggung jawab yang sudah mendapatkan pelatihan kesehatan dan keselamatan kerja. Langkahlangkah berikut merupakan pendekatan yang logis dan sistematis: 1. Mengidentifikasi bahaya. Mengimplementasikan upaya-upaya pencegahan. atau mengendalikannya sebelum terjadi kecelakaan yang dapat menyebabkan cedera atau kerusakan.03/MEN/1998 BAB II tentang tata cara pelaporan kecelakaan. • Tingkat risiko (extent of risk) . Melakukan kajian ulang secara berkala dan membuat revisi jika perlu. 8. 5. 3. Investigasi Kecelakaan Menurut peraturan menteri tenaga kerja PER.• Memberikan waktu kepada penilai untuk melakukan penilaian selama jam kerja.keadaan yang berisiko. Strategi Sasaran penilaian risiko adalah mengidentifikasi bahaya sehingga tindakan dapat diambil untuk menghilangkan. Istilah-istilah tertentu yang digunakan dalam penilaian risiko: • Bahaya (hazard) . 2. kita perlu mclakukan pendekatan yang sistematis.) • Jika mempekerjakan lima pekerja atau lebih. Mengembangkan strategi-strategi pencegahan. Menghilangkan atau mengurangi bahaya hingga minimum. 7. pasal 2 ayat 1 mnyebutkan bahwa pengurus atau pengusaha wajib 12 . Memonitor kinerja. 9. perpaduan antara probabilitas dan tingkat keparahan kerusakan atau kerugian/kelukaan • Berbahaya (danger) . yaitu berupa konsekuensi. catatlah hasil penilaian risiko tersebut. 6. Untuk mencapai sasaran tersebut dan untuk mengefektifkan serta dapat menjalankan menjalankan penilaian risiko. Mengevaluasi risiko dari bahaya residual. Mendefinisikan tugas atau proses yang akan dinilai.sesuatu yang berpotensi menyebabkan kerugian/kelukaan. mengurangi. • Probabilitas • Risiko kemungkinan bahwa bahaya dapat menyebabkan kerusakan atau kerugian/kelukaan.ukuran jumlah orang yang mungkin terkena pengaruh dan tingkat keparahan kerusakan atau kerugian/kelukaan.

Perwakilan keselamatan kerja . Penyebab kecelakaan3 Adalah kejadian atau keadaan sebelum insiden yang menyebabkan cedera atau kerusakan. .9 Sasaran3 • Menentukan penyebab kecelakaan sehingga kejadian serupa dapat dicegah.membantu penyelesaian atau penolakan proses pengadilan sehubungan dengan klaim yang diajukan korban .catat hak mereka. Penyebab cedera atau kerusakan adalah tindakan atau proses yang menyebabkan cedera atau kerusakan aktual. kebakaran atau peledakan atau bahaya pembuangan limbah san kejadian berbahaya lainnya.Surveyor/tenaga ahli dari pihak asuransi jika klaim terhadap majikan mungkin atau sudah dibuat.Inspektur yang berwenang jika cedera atau kecelakaan harus dilaporkan kepada pihak berwenang. • Akar penyebab—tindakan atau kegiatan yang menyebabkan kontak dengan penyebab langsung. Penyelidikan3  Oleh siapa? . . • Penyebab langsung—bagian atau komponen yang secara aktual menyebabkan cedera atau kerusakan.Penasehat keselamatan kerja. . • Mendapatkan informasi untuk pihak asuransi yang entah itu: . Analisis akar penyebab kecelakaan melibatkan pemeriksaan urut-urutan kejadian dan pengambilan keputusan yang mengarah ke kecelakaan dan pengidentifikasian tindakan yang tak langsung yang memicu rangkaian kejadian tersebut. perlengkapan. • Mendapatkan informasi untuk laporan ke pihak yang berwenang. • Mendapatkan informasi untuk badan-badan hukum lainnya. .melaporkan kecelakaan kerja yang dimaksud terdiri dari kecelakaan kerja. 13 .Diawali penyelia yang memberitahukan kepada penasehat keselamatan kerja.untuk mengajukan klaim atas kerusakan pabrik. misalnya manfaat jaminan sosial. . dan sebagainya. • Tidak untuk mencari kambing hitam.Polisi jika terjadi korban jiwa.

Segera setelah orang yang terluka kembaii dari klinik P3K atau dipindahkan untuk menjalani perawatan medis.Memeriksa kondisi pabrik dan perlengkapan . sural pernyataan bisa dimintakan dari para saksi. . ‐ Mengukur bagian dan area yang relevan.menyiapkan pengujian jika diperlukan . departemen/seksi/bengkel ‐ Proses atau operasi yang bersangkutan.  Informasi yang akan dikumpulkan ‐ Rincian tapak—pemilik. termasuk rincian setiap pabrik yang terlibat 14 .Menanyai korban sesegera mungkin tanpa menimbulkan tekanan. polisi melakukan penyelidikan untuk menentukan penyebab kematian dan apakah telah terjadi tindakan kriminal sebelumnya.Menganalisis informasi dan menyiapkan laporan. termasuk korban. .Jika penyelidikan dilakukan oleh inspektur yang berwenang. misalnya untuk menentukan penyebab kecelakaan ‐ Laporan permintaan keterangan ini diberikan untuk majikan maupun pekerja sehingga 'tidak ditutup-tutupi' pada saat terjadi gugatan ‐ Jika sasaran permintaan keterangan ini adalah untuk menolak klaim. ‐ Mengambil gambar/foto.Dalam kasus korban jiwa. . .  Meminta keterangan ‐ Jika diperlukan untuk meminta keterangan. tatkala catatan dan laporan menjadi 'rahasia'. . alamat. .Memeriksa catatan pelatihan yang pernah diberikan kepada pekerja yang menjadi korban.Jika klaim sudah masuk.Sebelum lokasi kecelakaan dimasuki orang lain. ini harus jelas dinyatakan dan dipahami oleh orang-orang yang terlibat.  Prosedur ‐ Mendatangi lokasi dan mencatat detail-detail yang penting. Kapan? . arahnya harus ditetapkan dengan jelas.Menanyai para saksi * idealnya sendirian namun boleh disertai perwakilannya saja jika diminta * menekankan bahwa sasaran penyelidikan ialah pada pengungkapan penyebab kecelakaan * bukti-bukti harus didapat langsung dan bukan menurut penuturan . . pihak asuransi akan menyelidiki dan menanyai para saksi namun tidak menanyai pihak penuntut.

10 8. • Melihat kecukupan prosedur dan program pengendalian yang sudah ada • Merekomendasikan tindakan pencegahan dan perbaikan. ‐ Melakukan penilaian risiko residual. dll ‐ Rincian cedera yang dialami. Tujuan Investigasi Tujuan investigasi kecelakaan kerja menurut ICAM Investigation Guidline adalah sebagai berikut.‐ Tanggal dan waktu kecelakaan ‐ Data rinci pribadi korban (mungkin didapat dari data personalia) ‐ Informasi pelatihan yang pernah diberikan kepada korban ‐ Pekerjaan yang sedang dilaksanakan pada saat kecelakaan * Apakah sudah mendapat izin? * Apakah prosedur yang benar sudah diikuti? * Apakah alat Pelindung terpasang di tempat?.  Laporan ‐ Menganalisis hasil penyelidikan dan informasi yang diperoleh ‐ Mempersiapkan laporan yang menggambarkan keadaan kecelakaan dan kemungkinan penyebab-penyebabnya ‐ Membuat saran agar kejadian serupa tidak terulang. ‐ Menghilangkan bahaya. mencegahnya agar tidak terulang kembali. dan juga jika kecelakaan terjadi. ‐ Mengendalikan risiko residual. • Tidak menyalahkan satu pihak. ‐ Mengidentifikasi bahaya. ‐ Mengurangi bahaya hingga seminim mungkin jika penghilangan bahaya tidak dapat dilakukan. Prosedurnya antara lain. • Melaporkan temuan dalam rangka untuk membagi pelajaran dari kecelakaan. • Mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi dan penyebab dasar kecelakaan. Pencegahan dan Perbaikan Kecelakaan Kerja Prinsip-prinsip pencegahan kecelakaan sasarannya adalah mencegah terjadinya kecelakaan. 15 . • Menentukan fakta di sekitar lokasi kejadian.

menerapkan prosedur pelaporan kecelakaan yang nyaris terjadi. penyelidikan kecelakaan (lihat sebelumnya) • Nyaris. mengganti material maupun teknologi yang digunakan dengan material atau teknologi lain yang lebih aman bagi pekerja dan lingkungan. 16 . trining dan penerapan prosedur. 2. ‐ Kecelakaan .3 Membuat Rekomendasi Investigasi kecelakaan harus mengidentifikasi rekomendasi tindakan pencegahan dan perbaikan. Pengendalian Administrasi (Administratif Control) Yaitu pengendalian bahaya dengan kegiatan yang bersifat adminisrasi seperti pemberian penghargaan.sebuah kejadian takterduga yang menyebabkan cedera atau kerusakan. yaitu mengurangi jumlahpaparan bahaya yang ada di tempat kerja. Definisi ‐ Bahaya . • Setelah kejadian.9 Hierarchy Control atau Urutan Pengendalian Resiko9 Menurut Permenaker No. 5/MEN/1996 pengendalian kecelakaan kerja bisa dilakukan melalui 3 metode pengendalian kecelakaan kerja. yaitu: 1. ‐ Isolasi. ‐ Risiko .sebuah kejadian yang nyaris menyebabkan cedera atau kerusakan. Pengendalian teknis atau rekayasa (Engineering Control) Adalah melakukan rekayasa pada bahan dengan cara.Identifikasi potensi bahaya • Sebelum kejadian. yaitu dengan cara menghilangkan sumber bahaya secara total.kemungkinan kecelakaan akan terjadi dan dapat mengakibatkan kerusakan. Pengendalian teknis atau rekayasa diperkirakan dapat memberikan hasil atau efektifitas penurunan risiko sebesar 70%-90% (perubahan disain atau penggantian mesin dan 40%-70% pemberian batas atau barier). ‐ Eliminasi. ‐ Minimalisasi. memisahkan antara sumber bahaya dengan pekerja. penilaian risiko (lihat sebelumnya) dan inspeksi keselamatan kerja. Ini bisa dilaksanakan dengan mengelompokkan semua kegagalan dan kekurangan yang sudah diidentifikasi menggunakan teori analisa penyebab kecelakaan yang sudah ditetapkan. ‐ Substitusi. ‐ Nyaris .sesuatu yang berpotensi menyebabkan cedera/luka.

Untuk dapat membangun tenaga kerja yamg produktif. Sebagai alat uniuk mencapai dcrajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi-tingginya. baik buruh. Penggunaan alat pelindung diri (APD) Yaitu alat yang digunakan untuk melindungi pekerja agar dapat memproteksi dirinya sendiri. memelihara. salah satunya adalah sumber daya manusia (SDM). Terutama dalam mewujudkan kesejahteraan para buruh. Selain ilu. 17 . dan perlindungan masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan olch produk-produk indusiri. Padahal. Sebagai upaya untuk mencegah dnn memberantas penyakit dan kecelakaan-kecelakaan akibat kerja. petani. merawat dan meningkatkan efisiensi dan daya produktifitas tenaga manusia. fase produktivitas kerja. penerapan manajemen K3 sangat penting untuk dij alankan dengan baik dan terarah. dan berkualitas perlu adanya manajemen yang baik. Pengalaman di negara-negara lain menunjukkan bahwa tren suatu pertumbuhan dari sistem K3 adalah melalui fase-fase. nelayan. Proses industrialisasi merupakan 'syarat mutlak' untuk membangun negeri ini.3. Pengendalian ini adalah alternatif terakhir yang dapat dilakukan bila kedua pengendalian sebelumnya belum dapat mengurangi bahaya dan dampak yang mungkin timbul. yaitu fase kesejahteraan. Lebih jauh sistem ini dapat mcmberikan perlindungan bagi masyarakat sekitar suatu perusahaan agar terhindar dari bahaya pengotoran bahan-bahan proses industrialisasi yang bcrsangkutan. dan meningkatkan kesehatan dan gizi para tenaga kerja. dengan penerapan K3 yang baik dan dan terarah dalam suatu wadah industry tentunya akan memberikan dampak lain. K3 mcmpunyai tujuan pokok dalam upaya memajukan dan mengembangkan proses induslrialisasi. K3 merupakan modal utama kesejahteraan para buruh/tenaga kerja sccara keseluruhan. dan fase toksikologi industri. sehat. pegawai negeri atau pekerja-pekerja bebas 2. Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja (SMK3) Maju mundumya suatu industri sangat diitunjang oleh peranan tenaga kerja. 9. Tujuan dari Sistem Manajemen K3 adalah: 1. terutama yang terkait dengan masalah Kesclamatan dan Kesehatan kerja (K3).10 Manajemen K310 Dalam pasar bebas yang marak dengan berbagai persaingan. K3 yang termasuk dalam suatu wadah higiene perusahaan dan kesehatan kerja (hipcrkes) terkadang terlupakan oleh para pengusaha. memberantas kekelahan kerja dan melipatgandakan gairah serta kenikmatan bekerja.

dan beban tambahan akibat lingkungan kerja dan kapasitas kerja. seperti pekerja bongkar dan muat barang di pelabuhan. tekanan udara. baik dari golongan hewan maupun dari tumbuh-tumbuhan. pemeliharaan kerja. uap. mungkin beban mentalnya relatif lebih besar. Keselamatan dan Kesehatan kerja yang disesuaikan dengan 'sistem ergonomi' (penyesuaian beban kerja/alat kerja dengan kemampuan dan fisik pekerja). Sistem Manajemen K3 tersebut harus dipraktekkan dalam semua bidang/divisi dalam organisasi. Seorang pekerja berat. cepat lambatnya dicapai tergantung kepada kemampuan untuk mengembangkan perindustrian pada umumnya. tentu lebih menghadapi beban-beban sosialnya. seperti konstruksi mesin. seorang pengusaha. cairan. Beban yang dimaksud mungkin fisik.  Faktor mental-psikologis.Sekarang ini. yaitu berupa gas.  Faktor fisiologis. sikap. faktor-faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja. yang meliputi penerangan. radiasi. Agar para buruh (buruh pabrik. kelembaban. dan benda-benda padat. dan ekonomi. baik dari aspek penyakit akibat kerja maupun kecelakaan kerja. Setiap pekerjaan bisa menjadi beban bagi pelakunya. terutama umumnya para buruh. Langkah-Langkah Penerapan SMK310 Setiap jenis Sistem Manajemen K3 mempunyai elemen atau persyaratan tertentu yang harus dibangun dalam suatu organisasi. sedang berada pada fase 'kesejahteraan'. merupakan salah satu usaha untuk mencetak para buruh yang produktif dengan peningkatan SDM yang profesional dan andal. kita bisa memulai menginjakkan kaki ke fase produkti vitas kerja. K3 sebagaimana halnya aspek-aspek tentang pengaturan tenaga kerja. yaitu susunan kerja. tentu lebih banyak beban fisiknya dari pada beban mental atau sosial. debu. di antaranya:  Faktor fisik. hubungan di antara pekerja atau dengan pengusaha. cepat ranibat udara.  Faktor biologi. dan sebagainya. suhu udara. awan. dan cara kerja. maka mereka perlu mendapatkan keseimbangan yang menguntungkan dari faktor beban kerja. misalnya) berada dalam kondisi kesehatan dan produktivitas kerja yang setinggi-tingginya. dipengaruhi beberapa faktor. suara. Sistem Manajemen K3 harus dijaga dalam 18 . Sebaliknya. Dalam konteks ini.  Faktor kimia. vibrasi mekanis. Sedang fase toksikologi industri. dan lain-lain. asap. kabut. mental atau sosial. Mungkin setelah tercapainya kestabilan politik. hukum. Begitu pula petugas sosial. Penerapan pengaturan perundang-undangan dan pengawasan serta perlindungan para buruh merupakan prinsip dasar dalam sistem manajemen ini.

antara lain: ‐ Komitmen manajemen puncak ‐ Menentukan ruang lingkup ‐ Menetapkan cara penerapan ‐ Membentuk kelompok penerapan ‐ Menetapkan sumber daya yang diperlukan 2. berikut ini dijelaskan mengenai tahapan-tahapan dan langkah-langkahnya.operasinya untuk menjamin bahwa sistem itu punya peranan dan fungsi dalam manajemen perusahaan. Langkah ini melibatkan lapisan manajemen dan sejumlah personel. Penerapan Sistem Manajemen K3 tidak akan berjalan tanpa adanya komitmen terhadap sistem manajemen tersebut. Adapun. Berikut ini langkah-lagkah spesifik dalam menerapkan Sistem Manajemen K3 dalam suatu perusahaan. Tahap pengembangan dan penerapan Sistem dalam tahapan ini berisi langkah-langkah yang hams dilakukan oleh organisasi/perusahaan dengan melibatkan banyak personal. Manajemen harus benar-benar menyadari bahwa merekalah yang paling bertanggung jawab terhadap keberhasilan atau kegagalan penerapan Sistem Manajemen K3. mulai dari menyatakan komitmen sampai dengan menetapkan kebutuhan sumber daya yang diperlukan. mulai dari menyelenggarakan penyuluhan dan melaksanakan sendtri kegiatan audit internal serta tindakan perbaikannya sampai dengan melakukan sertifikasi. 1) Menyatakan komitmen Pernyataan koniitmen dan penetapan kebijakan untuk menerapkan sebuah Sistem Manajemen K3 dalam organisasi/manajemen harus dilakukan oleh manajemen puncak. Tahap Persiapan Merupakan tahapan atau langkah awal yang hams dilakukan suatu organisasi/perusahaan. Tahapan dan langkah-langkah tersebut dibagi menjadi dua bagian besar: 1. 19 .Namun dapat juga tidak menggunakan jasa konsultan jika organisasi yang bersangkutan memiliki personel yang cukup mampu untuk mengorganisasikan dan mengarahkan orang. 2) Menetapkan cara penerapan Perusahaan dapat menggunakan jasa konsultan untuk menerapkan Sistem Manajemen K3. tahap persiapan ini. Untuk lebih memudahkan penerapan standar Sistem Manajemen K3.

Misalnya sucofindo melakukan sertifikasi terhadap Permenaker 05/Men/1996. penulisan manual Sistem Manajemen K3. 6) Peninjauan sistem Kelompok kerja penerapan yang telah dibentuk kemudian mulai bekerja untuk meninjau sistem yang sedang berlangsung dan kemudian dibandingkan dengan persyaratan yang ada da lam Sistem Manajemen K3. waktu dan dana. 7) Penyusunan Jadwal Kegiatan Setelah melakukan peninjauan sistem maka kelompok kerja dapat menyusun suatu jadwal kegiatan. pembagian kelompok. Peninjauan ini dapat dilakukan melatui dua cara yaitu dengan meninjau dokumen prosedur dan meninjau pelaksanaannya.12 20 . biasanya manajer unit kerja. 4) Menetapkan sumber daya yang diperlukan Sumber daya di sini mencakup orang/persone!. maka setiap anggota kelompok kerja kembali ke masing-masing untuk menerapkan sistem yang telah ditulis. penyusunan bagan alir. Kegiatan penyuluhan Penerapan Sistem Manajemen K3 adalah kegiatan dari dan untuk kebutuhan personal perusahaan. perlengkapan. 9) Penerapan sistem Setelah semua dokumen selesai dibuat. 8) Pengembangan Sistem Manajemen K3 Beberapa kegiatan yang perlu dilakukan dalam tahap pengembangan Sistem Manajemen K3 antara lain mencakup dokumentasi.3) Membentuk kelompok keija penerapan Jika perusahaan akan membentuk kelompok kerja sebaiknya anggota kelompok kerja tersebut terdiri atas seorang wakil dari setiap unit kerja. prosedur dan instruksi kerja. 5) Langkah 5. Oleh karena itu perlu dibangun rasa adanya keikutsertaan dari seluruh karyawan dalam perusahaan melalui program penyuluhan. Hal ini penting karena merekalah yang tentunya paling bertanggung jawab terhadap unit kerja yang bersangkutan. Namun untuk OHSAS 18001:1999 organisasi bebas menentukan lembaga sertifikasi manapun yang diinginkan. Orang yang dimaksud adalah beberapa orang yang diangkat secara resmi di luar tugas-tugas pokoknya dan terlibat penuh dalam proses penerapan. 10) Proses sertifikasi Ada sejumlah lembaga sertifikasi Sistem Manajemen K3.

Keputusan Menteri Tenaga Kerja R. Peraturan Perundangan K3 Berikut ini peraturan-peraturan yang mengatur Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang berlaku khususnya di Indonesia: Keputusan Menteri Tentang K311 1. : Kep. No.:Kep.: Kep.10..186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja 8.: Kep.333/MEN/1989 tentang Diagnosis dan Pelaporan Penyakit Akibat Kerja 5. No. 155/MEN/1984 Tentang Penyempurnaan Keputusan Menteri Tenaga Dan Transmigrasi Nomor Kep. Dewan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Wilayah Dan Panitia Pembina Keselamatan Dan Kesehatan Kerja 2.: KEPTS.197/MEN/1999 tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya 9. No. Keputusan Menteri Tenaga Kerja R. No. Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I.235/MEN/2003 Tentang Jenis-Jenis Pekerjaan Yang Membahayakan Kesehatan.: Kep. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Keselamatan Atau Moral Anak 11. 1135/MEN/1987 tentang Bendera Keselamatan Dan Kesehatan Kerja 4. Kep.174/MEN/1986.I. Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja Dan Menteri Pekerjaan Umum No. No.I. Keputusan Menteri Tenaga Kerja R. No.I.68/MEN/IV/2004 Tentang Pencegahan Dan Penanggulangan HIV/AIDS di Tempat Kerja 21 .125/MEN/82. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No.245/MEN/1990 tentang Hari Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Nasional 6. Kep. Susunan Dan Tata Kerja Dewan Keselamatan Dan Kesehtan Kerja Nasional. No. Tentang Pembentukan.: Kep.. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. Kep.: 104/KPTS/1986 tentang Keselamatan Dan Kesehatan Kerja pada Tempat Kegiatan Konstruksi 3.I. Kep.51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja 7. Keputusan Menteri Tenaga Kerja R. SMI-04-0225-2000 Mengenai Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000) di Tempat Kerja 10.-75/MEN/2002 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) No.I. Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi R. Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia No. No.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja R. Peraturan Menteri Tenaga Kerja R.: KEPTS.333/MEN/1989 tentang Diagnosis dan Pelaporan Penyakit Akibat Kerja 5.I. Surat Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial Dan Pengawasan Ketenagakerjaan Departemen Tenaga Kerja R. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No. 2. Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.68/MEN/IV/2004 Tentang Pencegahan Dan Penanggulangan HIV/AIDS di Tempat Kerja Hubungan OHSAS 18001 dan PERMENAKER 05/MEN/199610 Pada tahun 1991 BSI (British Standart Institution) dengan badan-badan sertifikasi dunia meluncurkan sebuah Standart Sistem Manajemen K3 yang diberi nama Occupational Health and 22 . 1135/MEN/1987 tentang Bendera Keselamatan Dan Kesehatan Kerja 3. Undang-undang No.. Keputusan Menteri Tenaga Kerja R. : Kep.Mengenai K3 Umum dan SMK311 1. Kep.02/MEN/1980 Tentang: Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja Dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja.: Kep.I.. Per.: Kep.245/MEN/1990 tentang Hari Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Nasional 4. : Per. No. No.03/MEN/1982 Tentang Pelayanan Kesehatan Tenaga Kerja 4.I. No.I. Per. Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I. No. Keputusan Menteri Tenaga Kerja R. No.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Mengenai Kecelakaan Kerja11 1. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No.. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja 2. Kep. No. No.I.: Per. 84/BW/1998 Tentang Cara Pengisian Formulir Laporan dan Analisis Statistik Kecelakaan Mengenai Kesehatan Kerja11 1. Per. No. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No.51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi R.I.I.01/MEN/1981 Tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja 3.03/MEN/1998 tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan 2.

Perbedaan lain dari OHSAS 18001 dan Permenaker 05/Men/1996 adalah Permenaker 0S/Men/1996 memiliki pembagian jumlah/jenis elemen untuk jenis perusahaan yang tergantung pada besar kecil perusahaan yang bersangkutan. Singapore Productivity and Standards Board 18. Indonesia sendiri juga telah mengembangkan Sistem Manajemen K3 sejenis yang dikenal Permenaker 05/Men/1996. Association Espanola de Normalization y Certification 12. Instituto Mexicano de Normalization y Certification OHSAS 18000 yang sekarang kita kenal memiliki struktur yang rnirip dengan ISO 14001:1996. maka khusus untuk Permenaker OS/Men/ 1996 yang merupakan penilaian penilaian kinerja hanya bisa diaudit oleh Sucofindo. The Engineering Employers Federation 17. OHSAS 18000 diterbitkan atas kerjasama organisasi-organisasi dunia. Berbeda dengan OHSAS 18000 yang sistem auditnya hampir sama dengan ISO 14000 atau ISO 9000 yang diaudit oleh badan sertifikasi manapun. walau dapat juga diintegrasikan dengan ISO 9000. antara lain: 1. South African Bureau of Standards 3. Sedang persyaratan untuk OHSAS 18001 berlaku untuk semua jenis organisasi tanpa mempcrhatikan besar kecilnya perusahaan itu.Safety Management Systems (AHSAS 18001). National Quality Assurance 9. Bureaus Veritas Quality International 6. SGS Yarsley International Certification Services 11. Det Norske Veritas 7. International Certification Services 15. British Standards Institution 5. Lyoyds Register Quality Assurance 8. The High Pressure Gas Safety Intitute of Japan 16. Dengan demikian OHSAS 18001 lebih mudah diintegrasikan dengan ISO 14000. 23 . National Standards Authority of Ireland 2. Japanese Standards Association 4. International Safety Management Organization Ltd 13. SFS Certification 10. SIRIM QAS Sdn Bdn 14.

Perusahaan sedang atau perusahaan dengan tingkat risiko menengah hams menerapkan sebanyak 122 kriteria. Kesimpulan Berdasarkan apa yang telah dijabarkan diatas. Oleh sebab itu. 24 . 2. Keberhasilan pcnerapan Permenaker 05/Men/1996 di tempat kerja diukur sebagai berikut: 1. 3. berdasarkan hasil pembelajaran diatas maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima. Untuk tingkat pencapaian penerapan 60-84 % diberikan sertifikat dan bendera perak. yaitu memakai tali pengaman. Untuk tingkat pencapaian penerapan 85-100% diberikan sertifikat dan bendera emas. Untuk tingkat pencapaian penerapan 0-59 % dan pelanggaran peraturan perundangan (nonconformance) dikenai tindakan hukum. dapat kia ketahui bahwa salah satu faktor terjadinya kecelakaan kerja pada pria yang disebutkan dalam skenario tersebut adalah tidak mengikuti prosedur kerja yang seharusnya. Perusahaan besar atau perusahaan dengan tingkat risiko tinggi hums menerapkan sebanyak 166 kriteria. III. Yang mana prosedurprosedur tersebut sudah tentu tertulis dalam sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada setiap perusahaan.Penerapan Permenaker 05/Men/1996 dibagi menjadi tiga tingkatan: 1. 3. Perusahaan kecil atau perusahaan dengan tingkat risiko rendah hanis menerapkan sebanyak 64 kriteria. 2.

23-34 11. Suardi R.com 25 . Jakarta: PortalK3. h. 1995. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Himpunan Peraturan Perundang Keselamatan dan Kesehatan Kerja. 25 Oktober 2011. Higine perusahaan.tulungagung. Editor: Jonathan Oswari. Alih bahasa. kesehatan dan keselamatan kerja (hiperkes) dalam Materi-materi Pokok Ilmu Kesehatan Masyarakat.go.4. McKenzie. Lestari MI. Tanggung jawab manajemen dalam Ikhtisar Kesehatan dan Keselamatan Kerja.3. h. h. Editor bahasa Indonesia. Sistem manajemen K3 dan manfaat penerapannya dalam Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatam Kerja.71-2.DAFTAR PUSTAKA 1. 2011 8. 75-8 3. Jakarta: Erlangga. Jakarta: Erlangga. Teori Kecelakaan Kerja. 2008 6. Kecelakaan Kerja. Kecelakaan Kerja dan Penerapan K-3 Dalam Pengoperasian Tower Crane pada Proyek Industri. Jakarta: EGC. Mengapa kesehatan dan keselamatan kerja (K3) penting? dalam Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatam Kerja. Kecelakaan dalam Ikhtisar Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta: FKM Universitas Indonesia. Atik Utami. 113-8 4.dinsosnakertrans. Ed. Jakarta: Penerbit PPM. Chundawan E. Efendi Y. 2007. Dainur. 2007. Jakarta: FKM Universitas Indonesia. 2007. Diunduh dari: www. h. Okti FP.3-8 7. Jakarta: Widya Medika. Mayendra O. 2009 10.3. 2007.615 2. Surabaya: Universitas Kristen Petra. F James. Kesehatan dan keselamatan di tempat kerja dalam Kesehatan Masyarakat: Suatu Pengantar. et all. 5. Ridley John. Ed. Palupi Widyastuti. h. Jakarta: Penerbit PPM. 2007.id. Suardi R. 113-8 9. Ed.15-6. h. Ridley John.

26 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful