BUDIDAYA ARTEMIA UNTUK PAKAN ALAMI IKAN PENDAHULUAN1.1.

Latar BelakangArtemia merupakan salah satu makanan hidup yang sampai saat ini palingbanyak digunakan dalam usaha budidaya udang, khususnya dalam pengelolaanpembenihan. Sebagai makanan hidup, Artemia tidak hanya dapat digunakan dalambentuk nauplius, tetapi juga dalam bentuk dewasanya. Bahkan jika dibandingkandengan naupliusnya, nilai nutrisi Artemia dewasa mempunyai keunggulan, yaknikandungan proteinnya meningkat dari ratarata 47 % pada nauplius menjadi 60 %pada Artemia dewasa yang telah dikeringkan. Selain itu kualitas protein Artemiadewasa juga meningkat, karena lebih kaya akan asam-asam amino essensial.Demikian pula jika dibandingkan dengan makanan udang lainnya, keunggulanArtemia dewasa tidak hanya pada nilai nutrisinya, tetapi juga karena mempunyaikerangka luar (eksoskeleton) yang sanga tipis,sehingga dapat dicerna seluruhnyaoleh hewan pemangsa. Melihat keunggulan nutrisi Artemia dewasa dibandingkandengan naupliusnya dan juga jenis makanan lainnya, maka Artemia dewasamerupakan makanan udang yang sangat baikjika digunakan sebagai makanan hidupmaupun sumber protein utama makanan buatan. Untuk itulah kultur massal Artemiamemegang peranan sangat penting dan dapat dijadikan usaha industri tersendiridalam kaitannya dengan suplai makanan hidup maupun bahan dasar utama makananbuatan. Untuk dapat diperoleh biomassa Artemia dalam jumlah cukup banyak, harusdilakukan kultur terlebih dahulu. Produksi biomassa Artemia dapat dilakukan secaraekstensif pada tambak bersalinitas cukup tinggi yang sekaligus memproduksi Cyst(kista) dan dapat dilakukan secara terkendali pada bak-bak dalam kultur massal ini.(Ir. Sri Umiyati Sumeru )Pernah ditemukan kista tertua oleh suatu prusahaan pemboran yang bekerjadisekitar Danau “ Salt Great “. Kista tersebut diduga berusia sekitar lebih dari 10.000tahunb ( berdasarkan metode carbon dating ). Setelah diuji, ternyata kista-kistatersebutvmasih bias menetas walaupun usianya 10.000 tahun .( Anonymous, 2008 Beberapa sifat artemia yang menunjang antara lain a) Mudah dalam penanganan, karena tahan dalam bentuk kista untuk waktuyang lama(b) Mudah berada ptasi dalam kisaran salinitas lingkungan yang lebar.(c) Makan dengan cara menyaring, sehingga memper mudah dalam penyedianpakannya.(d) Dapat tumbuh dengan baik pada tingkat padat penebaran tinggi. .(e) Mempunyai nilai nutrisi tinggi, yaitu kandungan protein 40 – 60%.(f)Sekarang banyak pembudidaya ikan dan udang memakai pakan alamiArtaemia dalam pemberian pakan. Artemia sangat mudah untuk ditetaskan menjadilarva sampai dewasa, tapi harga artemia sangat mahal bagi pembudidaya ikanmaupun udang. Biasanya artemia diberikan pada ikan pada saat ikan berumur 12-30hari. Menurut INVE Aquaculture Belgia Artemia mengandung 56% protein yangbiasanya pada udang diberikan pada PL5 dan PL25. ( Anonymous, 2008 )Gambar 1.1 Artemi salina 1.2 Tujuan Makalah ini bertujuan untuk mengetahui proses reproduksi Artemia dariberbentuk kista sampai dewasa. Selain itu juga sebagai bahan informasi bagi

parapembudidaya ikan dan udang untuk mengetahui pakan alami yang baik diberikan untuk ikanmaupun udang yang akan dibudidayakan. Bagi para mahasiswa agar mengetahui apa ituArtemia dan bagaimana proses reproduksinya dari mulai kista sampa dewasa TINJAUAN PUSTAKAArtemia atau “brine shrimp” merupakan salah satu jenis pakan alami yang sangatdiperlukan dalam kegiatan pembenihan udang dan ikan. Beberapa sifat artemia yangmenunjang antara lain a) Mudah dalam penanganan, karena tahan dalambentuk kista untuk waktu yang lama.(b) Mudah berada ptasi dalam kisaran salinitaslingkungan yang lebar.(c) Makan dengan cara menyaring, sehingga mempermudah dalam penyedian pakannya(d) Dapat tumbuh dengan baik pada tingkat padatpenebaran tinggi .(e) Mempunyai nilai nutrisi tinggi, yaitu kandunganprotein 40 – 60%Klasifikasi dari Artemia:Kingdom : Animalia.Phylum : ArthropodaSubphylum : CrustaceaClass : BranchiopodaOrder : AnostracaFamily : ArtemiidaeGrochowski, 1895Genus : ArtemiaLeach, 1819( Anonymous, 2008 ) Bagian-bagian dari dari tubuh Artemia yaitu terlihat dari gambar 1.2 yangh terdapat dibawah ini:Gambar 1.2 bagian-bagian tubuh Artemia( Anonymous, 2008 )Proses reproduksi dari Artemia Siklus hidup Artemia bisa dimulai dari saat menetasnya kista atau telur. Setelah 15-20 jam pada suhu 25 derajat celcius kista akan menetas menjadi embrio. Dalam waktu beberapa jam embrio ini masih akan tetap menempel pada kulit kista. Pada fase ini embrio akan tetapmenyelesaikan perkembanganya kemudian berubah menjadi naupli yang akan bisa berenangbebas. Pada awalnya naupli aka berwarna orange kecoklatan akibat masih mengandungkuning telur. Artemia yang baru menetas tidak akan makan, karena mulut dan anusnyabelum terbentuk dengan sempurna. Setelah 12 jam mereka akan ganti kulit dan memasukitahap larva kedua. Dalam fase ini mereka akan mulai makan, dengan pakan berupa mikroalga, bakteri, dan detritus organic lainya. Pada dasarnya mereka tidak akan peduli (tidakmemilih) jenis pakan yang dikonsumsinya selama bahan tersebut tersedia dalam air denganukuran yang sesuai. Naupli akan berganti kulit sebanyak 15 kali sebelum menjadi dewasadalam kurun waktu. 8 hari. Artemia dewasa ratarata berukuran sekitar 8 cm, meskipun demikian pada kondisi yang tepat mereka dapat mencapai ukuran sampai dengan 20 mm.pada kondisi demikian biomasnya akan mencapai 500 kali dibandingkan biomas pada fasenaupli..Gambar 1.2 siklus hidup ArtemiaDalam tingkat salinitas rendah dan pakan yang optimal, betina Artemia bisamenghasilkan naupli sebanyak 75 ekor perhari. Selama masa hidupnya (sekitar 50 hari)mereka bisa memproduksi naupli rata-rata sebanyak 10-11 kali. Dalam kondisi super ideal,Artemia dewasa bisa hidup selama 3 bulan dan memproduksi naupli atau kista sebanyak 300ekor(butir) per 4 hari. Kista akan terbentuk apabila lingkungnya berubah menjadi sangat salindan bahan pakan sangat kurang dengan fluktuasi oksigen sangat tinggi antara siang danmalam. Artemia dewasa toleran

terhadap selang -18 derajat hingga 40 derajat.. sedangkantemperature optimal untuk penetasan kista dan pertumbuhan adalah 25-30 o C. Meskipundemikian hal ini akan ditentukan oleh strain masing-masing. Artemia menghendaki kadarsalinitas antara 30-35 ppt, dan mereka dapat hidup dalam air tawar selama 5 jam sebelumakhirnya mati. Variable lain yang penting adalah pH, cahaya, dan oksigen. pH dengan selang8-9 merupakan selang yang paling baik, sedangkan pH di bawah 5 atau lebih tinggi dari 10dapat membunuh Artemia. Cahaya minimal diperlukan dalam proses penetasan dan akansangat menguntungkan bagi perumbuhan mereka. Lampu standar grow-lite sudah cukupuntuk keperluan hidup Artemia. Kadar oksigen harus dijaga dengan baik untuk pertumbuhan artemia. Artemia dengan supply oksigen yang baik, Artemia akan berwarna kuning ataumerah jambu. Warna ini bisa berubah menjadi kehijauan apabila mereka banyakmengkonsumsi mikro algae.pada kondisi yang ideal seperti ini, Artemia akan tumbuh dahberanak-pinak dengan cepat. Sehingga supply Artemia untuk ikan yang kita pelihara bisaterus berlanjut secara kontinyu. Apabila kadar oksigen dalam air rendah dan air banyakmengandung bahan organic, atau apabila salinitas meningkat, artemia akan memakanbacteria, detritus, dan sel-sel kamir (yeast). Pada kondisi demikian mereka akan berwarnamerah atau orange. Apabila keadaan ini terus berlanjut mereka akan mulai memproduksikista. ( Anonymous, 2008 ). PEMBAHASAN1.1. Desain dan konstruksi TambakPetakan tambak untuk budidaya artemia umumnya terdiri atas 4 fungsi, yaitu petakanreservoir, evaporasi, distribusi dan petakan budidaya. Selain itu ada pula petak kulturplankton sebagai pelengkap. Petakan reservoir ada dua, petakan reservoir 1 sedalam 60 – 100 cm untuk menampung air laut dengan salinitas 30 – 35 permil, sedangkan petakanreservoir 2 sebagai penampung air bersalinitas tinggi (80 – 120 permil) dari petak evaporasiuntuk kemudian dialirkan kedalam petakan distribusi. Petakan evaporasi dibuat dangkal(kedalaman 5 – 7 cm) dengan dasar petakan rata, padat dan miring kesalah satu sisi. Hal iniuntuk mempermudah proses evaporasi dan mempercepat aliran air. Dalam petakan inidiharapkan salinitas meningkat sampai dengan 120 permil atau lebih. Petakan distribusiberupa kanal keliling, berfungsi untuk memasok air bersalinitas tinggi (>120 permil) kedalampetakan budidaya. Petakan distribusi dibuat dangkal ( ±5 cm ) untuk memungkinkan salinitasair semakin tinggi. Petakan budidaya merupakan petakanpetakan seluas masing-masing1.000 – 1.500 M2dengan kedalaman sekitar 60 cm, dan dilengkapi dengan caren keliling sebagai tempatbelindung artemia dalam keadaan ektrim. Pada petakan budidaya inilah kegiatan produksikista artemia dilakukan dengan memanfaatkan sifat reproduksi ovivar. ( Dijen Perikanan,2003 )1.2. Pengelolaan BudidayaPersiapan tambak dilakukan dengan maksud menghindari adanya kebocoranpematang dan untuk penyediaan pakan alami (fitoplankton).Kegiatan persiapan tambak terdiri atas :1. Pengeringan dasar dan pemadatan pematang2. Pengapuran 300 – 500 kg/Ha3. Pemupukan dasar dengan pupuk organik 1.000

kg/ha, TSP 150 kg/ha, dan urea 300 kg/ha4. Pengisian air salinitas tinggi hingga kedalaman mencapai 40 -50 cm.5. Pemberantasan hama dengan saponin 10-20 ppm.Penetasan Nauplii artemia yang ditebarkan berasal dari kista yang telah diteteskandengan cara dekapsulasi. Untuk penebaran sebaiknya digunakan nauplii instar I, karenainstar yang lebih tinggi lebih peka terhadap perubahan salinitas Umumnya penebaran dilakukan sore hari dengan kepadatan 200 nauplii/liter dilakukan sore hari dengan kepadatan200 nauplii/liter. ( Dirjen Perikanan, 2003 ). 1.5 Prosedur PemeliharaanUntuk mendapatkan biomassa Artemia, nauplius Artemia dikultur dalam beberapahari. Lama pemeliharaan tergantung pada ukuran Artemia yang dikehendaki. Jika Artemiadigunakan sebagai makanan juvenil udang, maka lama pemeliharaan sekitar 7 hari,sedangkan jika digunakan sebagai makanan udang dewasa maupun untuk diproses sebagaibahan baku makanan buatan, maka lama pemeliharaan sekurang-kurangnya 15 hari.Prosedur produksi Naupli Artemia inkubasi cyst dalam air laut Cyst Artemia dilarutkan dalam air laut dan diaerasi Suhu air untuk penetasan 30 C, pH : 8-9, DO dalam kondisi, kepadatan cyst < 10 g/L Pemanenan awal : qualitas terbaik, kandungan kalori tertinggi, ukuran nauplii sesuai Setelah moulting kedua (24 jam setelah menetas) : nilai kalori Artemia berkuranghingga 27 % Pemanenan dengan net ukuran 150 µm, dicuci untuk meghilangkan bahan organikterlarut dan bakteri Desinfektan : 100 ppm Iodin selama 10 menit.Biomassa Artemia dapat langsung diberikan kepada udang yang disesuaikan denganukurannya atau disimpan dalam bentuk segar (dalam freezer) maupun dikeringkan untukdibuat tepung Artemia.( Ir. Sri Umiyati Sumeru)1.4 PemeliharaanPemberian makan Artemia adalah dengan menyaring ( Filter feeder ), maka diperlukanmakanan dengan ukuran partikel khusus, yaitu lebih kecil dari 60 mikron. Makanan yangdiberikan dapat berupa makanan buatan maupun makanan hidup atau plankton. Makananbuatan yang memberikan hasil cukup baik dan mudah didapat adalah dedak halus. Carapemberiannya harus disaring terlebih dahulu dengan saringan 60 mikron. Sedangkanplankton yang dapat digunakan sebagai makanan. Selain itu pakan buatan lain yang dapatdiberikan selama masa pemeliharaan adalah campuran bungkil kelapa dan tepung ikandengan perbandingan 1:1 dalam dosis 10 gr/ton/hari.

Artemia adalah jenis plankton yang juga digunakan sebagai makanan larva udang,seperti Tetraselmis sp, Chaetoceros sp, Skeletonema sp. Oleh karena itu kultur Artemiadengan plankton sebagai makanan alami lebih mudah dilakukan dalam suatu unit usahapembenihan udang.( Ir. Sri Umiyati Sumeru )1.6 Pemungutan HasilPemanenan kista diharapkan mulai berlangsung pada akhir minggu ketiga setelahpenebaran. Kista yang telah dilepaskan dan mengumpul di tepi petakan, dipanen denganmenggunakan seser dari bahan nilon berukuran mata 150 mikron. Pemanenan dapatdilakukan setiap hari, kista hasil pemanenan tersebut direndam dalam air bersalinitas tinggiselama beberapa jam, kemudian dibersihkan untuk tujuanpengeringan.( Dirjen Perikanan, 2003 )1.6 Penanganan Pasca PanenPenanganan pasca panen terdiri atas pencucian, penyimpanan pengepakan danpengangkutan. Untuk pencucian dan pembersihan dari kotoran, kista artemia dilewatkan tigaseri saringan bermata 700; 350 dan 100 mikron. Saringan 700 mikron ditujukan untukmemisahkan kotoran berukuran besar, sedangkan saringan 350 mikron untuk kotoran yanglebih kecil. Pencucian tersebut dapat dilakukan di lapangan sehingga kotoran yang berukuranlebih dari 350 mikron dan kurang dari 100 mikron dapat terbuang. Pencucian kemudiandilanjutkan dengan merendam kista artemia dalam larutan garam jenuh untuk membersihkandari kotoran yang masih tinggal. Kotoran yang tertinggal (biasanya lumpur) akan tenggelam,sementara kista artemia mengapung dalam larutan larutan garam, sehinggga mudahmemisahkannya. Kista artemia kemudian disimpan dengan cara merendamnya dalam larutangaram jenuh yang bersih (salinitas 150 permil). dan disimpan dalam wadah tertutup. Padatahap ini, kista artemia akan terdehidrasi, yaitu mengganti sisa air dengan air garam. Setelah24 jam, air garam diganti dan kista dapat disimpan selama sebulan. Disarankan, air garamdiganti setelah dua minggu, dan kista diaduk beberapa kali selama penyimpanan. Untuktujuan yang tidak terlalu jauh , artemia dapat didistribusikan secara basah dalam larutangaram jenuh seperti ini. Pengepakan dapat dilakukan secara sederhana menggunakankantong plastic kapasitas 1 kg. Setelah kista dimasukkan kedalam kantong, udara dalam kantong dikeluarkan dengan cara meremasnya keluar, kemudian kantong diikat erat dengankaret. Kantong plastik dirangkap dengan cara yang sama. ( Dirjen Perikanan, 2003 ).

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL………………………………………………………… KATA PENGANTAR………………………………………………………. DAFTAR ISI…………………………………………………………………. BAB 1 Pendahuluan………………………………………………………….. 1.1 Latar Belakang………………………………………………… 1.2 Tujuan Penelitian……………………………………………… 1.3 Manfaat Penelitian…………………………………………….. BAB 11 TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………….. 2.1 Taksonomi Artemia……………………………………………. 2.2 Morfologi artemia……………………………………………… 2.3 artemia………………………………………….. 2.4 Kerangka Pemikiran…………………………………………... 2.5 Hipotesis………………………………………………………. BAB 111 METODOLOGI…………………………………………………... 3.1 Waktu Dan Tempat…………………………………………… 3.2 Materi penelitian……………………………………………… 3.2.1 Organisme uji………………………………………………… 3.2.2 Alat dan bahan……………………………………………….. 3.3 Metode penelitian……………………………………………. 3.3.1 Perlakuan……………………………………………………… 3.3.2 Cara kerja……………………………………………………... 3.4 Parameter yang di amati……………………………………... Analisa data……………………………………………………. 3.41 Daya tetas…………………………………………………….. 3.5 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………. Siklus Hidup

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pakan merupakan salah satu faktor pembatas dalam budidaya terutama dalam usaha pembenihan. Pakan hidup di alam sudah tersedia, baik berupa phytoplankton, zooplankton maupun benthos untuk dapat dimanfaatkan oleh organisme perairan. Namun, dalam lingkungan budidaya, pakan harus diupayakan keberadaannya agar dapat memenuhi kebutuhan organisme budidaya. Terdapat dua golongan pakan ikan yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami sebagaimana dikemukakan di atas adalah berupa pakan hidup. Sedangkan pakan buatan adalah pakan yang dibuat dari beberapa macam bahan yang kemudian diolah sesuai dengan yang dikehendaki. Artemia sp. atau “brine shrimp” adalah jasad renik berupa plankton hewani (zooplankton) yang merupakan makanan bernilai gizi tinggi untuk larva ikan maupun udang. Hingga sekarang, Indonesia masih mengimpor Artemia sp. untuk memenuhi kebutuhan Balai Pembenihan Ikan dan Udang karena persediannya terbatas sedangkan permintaan terus meningkat. Artemia sp. merupakan pakan

yang banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan pembenihan udang dan ikan (hatchery) karena memiliki kandungan nutrisi cukup tinggi baik karbohidrat, lemak, protein maupun asam-asam aminonya. Benih ikan dan udang pada stadium awal mempunyai saluran pencernaan yang masih sangat sederhana, sehingga memerlukan nutrisi pakan jasad renik yang mengandung nilai gizi tinggi. Nauplius Artemia mempunyai kandungan protein hingga 63 % dari berat keringnya (Mudjiman,1989 dan Bandol,2004. Selain itu Artemia juga sangat baik untuk pakan ikan hias karena banyak mengandung pigmen warna yang diperlukan untuk variasi dan kecerahan warna pada ikan hias tersebut agar lebih menarik. Artemia tidak hanya dapat digunakan dalam bentuk nauplius, tetapi juga dalam

bentuk dewasanya. Bahkan jika dibandingkan dengan naupliusnya, nilai nutrisi Artemia dewasa mempunyai keunggulan, yakni kandungan proteinnya meningkat dari rata-rata 47 % pada nauplius menjadi 63 % pada Artemia dewasa yang telah dikeringkan. Selain itu kualitas protein Artemia dewasa juga meningkat, karena lebih kaya akan asam-asam amino essensial. Demikian pula jika dibandingkan dengan makanan ikan atau udang lainnya, keunggulan Artemia dewasa tidak hanya pada nilai nutrisinya, tetapi juga karena mempunyai kerangka luar (eksoskeleton) yang sanga tipis, sehingga dapat dicerna seluruhnya oleh hewan pemangsa. Komposisi kandungan gizi Artemia

sp. bervariasi tergantung strain, makanan dan kondisi lingkungan media hidup. Salah satu faktor yang berhubungan dengan kondisi di lingkungan media hidup adalah salinitas. Diketahui bahwa Artemia sp dapat di pijahkan pada salinitas yang berbeda sehingga kemungkinan kuat, protein dan lemaknya juga

bervariasi. Oleh kerana itu, perlu dilakukan penelitian ini agar mendapatkan salinitas yang optimum bagi tingkat penetasan Artemia sp Menurut Harefa (1996), salah satu keunggulan jasad renik ini adalah kemampuannya dalam beradaptasi terhadap berbagai kondisi lingkungan, khususnya terhadap salinitas. Hewan ini mampu hidup pada rentang salinitas 5 -150 ppt. Beberapa jenis bahkan mampu hidup di perairan dengan salinitas sampai 350 ppt. Tetapi, Mudjiman (2004) menyarankan salinitas uptimum untuk penetasan artemia adalah 30 ppt, 1.2 Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh perbedaan salinitas terhadap waktu penetasan artemia dan daya tetasnya yang cepat. 1.3 Manfaat Di harapkan setelah melakukan penelitian ini dapat menghasilkan waktu penetasan artemia yang lebih baik dan keefektifan tetasnya cepat.

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Taksonomi Artemia adalah jenis Crustacea tingkat rendah dari phyilum Arthropoda yang banyak mengandung nutrisi terutama protein dan asam-asam amino. Artemia merupakan pakan larva udang dan ikan yang banyak digunakan di pantipanti benih udang dan ikan baik air laut maupun air tawar di seluruh Indonesia. Mudjiman (1989) dan Bandol (2004), yang menyebutkan bahwa saluran pencernaan benih ikan dan udang pada stadia awal masih sederhana sehingga memerlukan pakan jasad renik yang sesuai dengan bukaan mulutnya, pergerakannya lambat dan mengandung nilai gizi tinggi untuk pertumbuhannya. Nauplius Artemia adalah merupakan pilihan yang tepat karena mempunyai ukuran relatif kecil dengan panjang sekitar 400 μm atau 0,4 mm, berat 15 μg dan kandungan protein sekitar 63 % dari berat keringnya. Artemia memiliki beberapa sifat yang menguntungkan sebagai pakan alami, diantaranya adalah mudah dalam penangananya karena kista Artemia dapat disimpan dan ditetaskan sewaktu-waktu bilamana diperlukan, mudah beradaptasi terhadap kondisi lingkungan pada kisaran salinitas 5-300 o/oo, dapat hidup pada kondisi kepadatan tinggi dan mempunyai nilai nutrisi tinggi dengan kadar protein sekitar 40-60 % dari berat keringmya (Yunus dan Sugama, 1998). Dalam dunia hewan Artemia atau brine shrimp adalah merupakan makrozooplankton yang diklasifikasikan dalam : Philum : Arthropoda Kelas : Crustacea

Sub kelas : Branchiopoda Ordo Famili : Anostraca : Artemiidae

Genus

: Artemia

Species : Artemia salina Leach 1819 Selain Artemia salina Leach yang terdapat di Limyngton-Inggris (sekarang sudah punah), diantara Artemia biseksual telah ditemukan speciesspecies : 28 Artemia franciscana Kellog (di Amerika Utara), Artemia tunisiana Bowen (diAfrika Utara dan Sardinia), Artemia urmiana Gunther (di Iran), Artemia persimilis Prosdocimi dan Piccinelli dan Artemia odessensis (di Odessa-Rusia). Sedangkan jenis yang tidak kawin (partenogenesis) hanya dikenal satu species saja, yaitu Artemia parthenogenetica (Mudjiman, 1989). Di dunia terdapat lebih dari 50 strain Artemia yang berbeda karakteristiknya karena berasal dari berbagai daerah yang berbeda (Vos dan Rosa, 1980).

2.2. Morfologi Artemia

Menurut Van Stappen G. (2006), dalam lingkungan alaminya Artemia akan menghasilkan kista yang mengapung dipermukaan air dan menepi karena adanya angin dan gelombang. Kista ini berada pada fase dorman (metabolism tidak aktif) sepanjang dijaga dalam kondisi kering. Ketika ditetaskan dalam air laut metabolisme embryo mulai aktif, 20 jam kemudian cangkang atau korion kista akan retak dan embryo mulai keluar (Ilustrasi 5). Perkembangan berikutnya embryo menggantungkan di bawah cangkang kosong yang disebut fase payung dan selanjutnya nauplius mulai bebas berenang menjadi instar. Larva stadia pertama disebut instar 1 dengan panjang 400-500 μm, pada stadia ini larva akan berwarna orange kecoklatan akibat masih mengandung kuning telur. Stadia instar 1 dilengkapi dengan sebuah mata nauplius dibagian kepala, sepasang antenula yang berfungsi sebagai alat peraba, sepasang antenna yang berfungsi sebagai alat gerak dan menyaring makanan dan sepasang mandibula (rahang) yang berfungsi untuk mengambil makanan (Ilustrasi 6 a). Bagian samping perut ditutupi oleh labrum (bibir atas) yang besar untuk mengambil makanan dan memindahkan partikel dari setae penyaring ke dalam mulut (Ilustrasi 6 b). Tetapi larva stadia instar 1 belum bisa mengambil makanan

dari luar karena pencernaannya belum berfungsi dengan baik sehingga untuk pertumbuhanya masih mengandalkan dari cadangan kuning telur. Setelah 8 jam larva akan berganti kulit menjadi larva stadia kedua (instar 2). Umur stadia instar 2 adalah ±24 jam. Pada stadia ini partikel makanan yang kecil seperti mikro algae, bakteri dan detritus yang berukuran 1-50 μm akan disaring oleh sepasang antena dan dicerna oleh saluran pecernaan yang telah berfungsi. Larva Artemia akan tumbuh dengan 15 kali moulting. Pada stadia intar 5 mulai berkembang mata majemuk, thoracopods dan bagian belakang yang menyerupai belalai (Ilustrasi 7). Sedangkan mulai stadia instar 10, akan terjadi perubahan morfologi yang penting seperti hilangnya fungsi antena sebagai alat gerak dan mulai adanya perbedaan jenis kelamin. Pada Artemia jantan, antenna akan membengkok yang berfungsi sebagai alat pengait (Ilustrasi 9, 12 dan 15) sedangkan pada Artemia betina antena akan mengalami penyusutan menjadi lebih kecil yang berfungsi sebagai alat peraba tambahan, thoracopods (bagian dada) terdiri dari tiga bagian yaitu telopodite dan endopodite yang berfungsi sebagai alat gerak dan filter feeding dan selaput eksopodite yang berfungsi sebagai insang.

2.3 Siklus Hidup Artemia

Purwakusuma (2002), menyebutkan bahwa siklus hidup Artemia dimulai pada saat menetasnya kista atau telur, dimana setelah 15 - 20 jam diinkubasi pada suhu 25 °C kista akan menetas manjadi embrio. Selanjutnya dalam waktu beberapa jam embrio ini masih akan tetap menempel pada cangkang kista. Pada fase ini embrio akan menyelesaikan perkembangannya kemudian berubah menjadi nauplius yang sudah akan bisa berenang bebas. Nauplius yang baru menetas pada stadia instar 1 belum membutuhkan makanan dari luar karena mulut dan anusnya belum terbentuk sempurna. Setelah 8 jam menetas nauplius akan berganti kulit dan memasuki tahap larva kedua . Pada stadia ini larva mulai makan berupa mikro algae, bakteri dan detritus(Van Stappen G, 2006). Sedangkan menurut Mudjiman ( 1989 ) dan Mai Soni ( 2004 ), jika kondisimedia hidup ( perairan ) normal dengan salinitas yang rendah ( < 60 o/oo )

dan kandungan oksigen cukup maka induk betina akan melahirkan/mengeluarkan burayak atau larva yang lebih dikenal dengan nauplius pada stadia instar 1 yang bentuknya lonjong dengan panjang sekitar 0,4 mm dan beratnya 15 μg yang berwarna kemerahan dengan membawa cadangan kuning telur sehingga larva ini belum memerlukan makanan. Larva

akan membebaskan diri dari induknya dengan bebas berenang di dalam air. Larva - larva ini akan berganti kulit sampai 15 kali untuk menjadi individu dewasa yang siap berkembang biak lagi. Setiap pergantian kulit disebut stadia instar yang dimulai pada saat baru menetas dengan sebutan instar 1 dan seterusnya sampai menjadi instar 15 yang jika kondisi makanan dalam perairan cukup akan memebutuhkan waktu kurang lebih 14 hari.

2.4 Kerangka Pemikiran Berdasarkan cara perkembangbiakannya, Artemia dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu biseksual dan partenogenetik. Jenis biseksual tidak dapat berkembang biak secara partenogenetik dan juga sebaliknya. Perkembangbiakan pada jenis biseksual harus melalui proses perkawinan antara induk jantan dengan induk betina. Pada jenis partenogenetik, perkembangbiakan tidak melalui proses perkawinan. Jenis ini, induk betina akan beranak dengan sendirinya tanpa kawin. Apabila betina partenogenetik dijodohkan dengan pejantan biseksual maka induk betina . Untuk memproduksi telur, keadaan lingkungan pemeliharaan diusahakan supaya dapat merangsang Artemia untuk berkembang biak secara ovipar (mengeluarkan telur). Langkah-langkah tersebut antara lain berupa peningkatan kadar garam oksigen. Cara-cara pemeliharaan Artemia untuk produksi telur sama seperti usaha pembesaran, begitu juga dengan padat penebarannuya.(Mudjamin, 1988). Pada kegiatan penetasan diperlukan wadah dan perangkat suplai oksigen. Salinitas merupakan konsentrasi total dari semua ion yang larut dalam air, dan dinyatakan dalam bagian perseribu (ppt) yang setara dengan tersebut tetap tidak mau kawin.(Mudjamin, 1988)

gram per liter (Boyd, 1990 dalam Faidar, 2005). Menurut Hutabarat dan Evans (1984), salinitas merupakan konsentrasi rata-rata seluruh garam yang terdapat di dalam air laut. Salinitas diduga berpengaruh terhadap pertumbuhan Artemia sp, makanya perlu dilakukan penelitian dengan salinitas yang berbeda terhadap waktu penetasan artemia sp.

2.5

Hipotesis Apabila peningkatan salinitas diatur dengan tepat waktu pada saat

penetasan Artemia, maka dapat meningkatkan efisiensi tetas tinggi serta keefektifan tetas yang cepat

METODOLOGI

3.1

Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan. . . . . . . . . . sampai dengan. . . . . . .

bertempat di. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3.2 3.2.1 Materi Penelitian Organisme Uji

Organisme uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah Artemia sp. dalam bentuk kista yang diperoleh di pasaran, kemudian ditetaskan dalam media kultur sesuai kebutuhan.

3.2.2 Alat dan Bahan Alat dan bahan yang di gunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut : A. Alat :  Empat buah galon air berkapasitas 10 Liter (berfungsi sebagai wadah penetasan)  Timbangan neolitik (fungsinya untuk menimbang kista artemia sesuai dengan jumlah yang di butuhkan)  Selang dan batu aerasi (sebagai sumber aerasi)  Refaktometer (alat untuk mengukur salinitas)  Termometer (untuk mengukur suhu) B. Bahan  Kista artemia (sebagai organism yang di uji)  Air (sebagai media penetasan)  Garam (fungsinya untuk menambah salinitas pada media penetasan) 3.3 Metode Penelitian 3.3.1 Perlakuan Rancangan percobaan yang di gunakan pada penelitian ini adalah dengan empat macam perlakuan dan tiga kali ulangan, dengan salinitas yang berbeda.  Perlakuan A : Salinitas 20 ppt  Perlakuan B : Salinitas 25 ppt  Perlakuan C : Salinitas 30 ppt  Perlakuan D : Salinitas 35 ppt

P1 P2

P3

P4

P2 P1

P4

P3

P3 P4 P2 P1

Gambar : Tata letak wadah perlakuan ( P : Perlakuan, U : Ulangan )

3.3.2 Cara Kerja Langkah kerja dalam penetasan Artemia adalah sebagai berikut : 1. Alat dan bahan untuk penetasan artemia, di siapkan terlebih dahulu sebelum dilakukan penetasan. 2. Wadah yang di gunakan pada penelitian ini adalah galon dengan kapasitas 10 liter sebanyak empat buah. 3. Bersihkan wadah dengan menggunakan sikat dan disiram dengan air bersih, kemudian lakukan pensucihamaan wadah dengan menggunkan desinfektan sesuai dengan dosisnya. 4. Wadah yang telah dibersihkan dibilas dengan menggunakan air bersih. 5. Pasanglah peralatan aerasi dengan merangkaikan antara aerator, selang aerasi dan batu aerasi, masukkan kedalam wadah budidaya. Ceklah keberfungsian peralatan tersebut dengan memasukkan kedalam arus listrik.d

6. Media penetasan cyst artemia adalah air laut buatan dengan dosis : 20, 25, 30, dan 35 gram perliter, Sesuai dengan perlakuan yang akan di amati. 7. Buatlah larutan garam untuk media penetasan cyst artemia dengan melarutkan

garam dapur (NaCl) kedalam air tawar dengan dosis 20 gram perliter. Caranya timbang garam dapur sebanyak 20 gram masukan ke dalam air tawar ber kapasitas perliter dan dilarutkan sampai pada salinitas yang diinginkan, cara ini di lakukan apabila salinitas yang di uji adalah 20 ppt. 8. Ukurlah salinitas media penetasan dengan menggunakan alat refraktometer, catat. Jika salinitas media tidak sesuai dengan yang diinginkan tambahkan garam atau air tawar kedalam media sampai diperoleh salinitas media sesuai perlakuan. 9. Artemia di tebar pada wadah penetasan selanjutnya amati proses penetasan cyst Artemia dengan menghitung percentage penetasannya penetasan N ( Hatching Persentase ) = X 100% C Dimana : N : jumlah nauplius yang menetas C : jumlah cyst yang ditebar 3.4 Parameter yang di Amati 3.4.1 Daya Tetas Efisiensi tetas atau hatching percentage (HP). Nilai efisiensi tetas ini dinyatakan oleh nilai nisbah antara jumlah nauplius Artemia yang dihasilkan dalam jangka waktu tertentu dengan jumlah kista yang ditetaskan. Perhitungan efisiensi tetas ditentukan pada masa inkubasi 20 jam (Purwakusuma, 2002 dan Van Stappen, 2006). Efisiensi tetas dihitung dengan rumus (Anggoro, 1992) sebagai berikut : N20
HP = K Keterangan : = X100%

Persentase

HP : hatching persentase atau efisiensi tetas (%). N 20 : jumlah nauplius Artemia yang dihasilkan setelah telur diinkubasi selama 20 jam

K : jumlah kista yang diinkubasi 100 : konstanta untuk menyatakan HP dalam persen Keefektifan tetas atau hatching rate (HR), untuk menentukan nilai keefektifan tetas tersebut diperlukan pengamatan dan penghitungan terhadap jumlah nauplius Artemia instar 1 pada awal terjadinya penetasan kista pada masa inkubasi 15, 16, 17, 18, 19 dan 20 jam. Hal ini mengacu pendapat Purwakusuma (2002), bahwa setelah 15-20 jam pada suhu 25 °C kista akan menetas manjadi embrio dan Van Stappen (2006), bahwa ketika kista Artemia ditetaskan dalam air laut, metabolisme embrio mulai aktif, 20 jam kemudian cangkang atau korion kista akan retak dan embrio mulai keluar. Nilai HR ditentukan berdasarkan lama waktu tetas dan hasil tetasan kista Artemia dengan rumus (Anggoro, 1992) sebagai berikut ∑ Ni x ti HR = ∑N Keterangan : HR : hatching rate atau keefektifan tetas (jam) Ni : jumlah nauplius Artemia instar 1 (hasil tetasan) pada jam ke-i

Ni : jumlah nauplius Artemia instar 1 yang dihasilkan selama 20 jam
masa inkubasi ti : waktu pengamatan (jam ke-i) 3.5 Analisa Data Mengacu pada tujuan dan hipotesis yang telah ditentukan maka ditetapkan analisis data pengaruh berbagai pengaturan waktu peningkatan salinitas terhadapkualitas produksi kista Artemia dengan variabel utama yang di analisis adalah : (1) efisiensi tetas atau hatcing percentage (HP), (2) keefektifan tetas atau hatching rate (HR)

DAFTAR PUSTAKA

Adisukresno, A. 1983. Mengenal Artemia. Balai Budidaya Air Payau., Jepara. 83 hlm. Anonimous, 2006. Oseanografi: Salinitas Air Lau http://oseanografi.blogspot.com/2005/07/salinitas-air-laut.html(down load19 Januari 2006). Anggoro, S., 1992. Efek Osmotik Berbagai Tingkat Salinitas Media Terhadap Daya Tetas Telur dan Vitalitas Larva Udang Windu (Penaeus monodon Fabricius). Disertasi. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Bandol Utomo, B.S., 2004. Penanganan dan Pengolahan Artemia. Makalah Temu Koordinasi Pengembangan Budidaya Artemia di Indonesia, Cisarua - Bogor. Direktorat Jenderal Perikanan. 1997. Pengelolaan Air Pada Budidaya Udang. Direktorat Perbenihan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2004. Pengembangan Budidaya Artemia di Indonesia. Makalah pada Temu Koordinasi Pengembangan Budidaya Artemia di Indonesia, Cisarua Bogor.102 Direktorat Perbenihan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2004. Laporan Temu Koordinasi Pengembangan Budidaya Artemia di Indonesia. Anggoro S., 1992. Efek Osmotik Berbagai Tingkat Salinitas Media Terhadap Daya tetas Telur dan Vitalitas Larva Udang Windu (Panaeus monodon). IPB, Bogor. Cahyaningsih, S. C., Mei, S., Joko, K. Indah., Pujianti, A., Haryono., Slamet., dan Asniar, 2006. Petunjuk Teknis Produksi Pakan Alami. Departemen kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Faidar. 2005. Pengaruh Pemberian Pakan yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan dan Sintasan Larva Rajungan (Portunus pelagicus Linnaeus ). Skripsi. Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah, Makassar. Di Akses 19 Maret 2010. Gasperz 1991. Metode Rancangan Percobaann (Untuk Ilmu-Ilmu Pertanian, Ilmu-Ilmu Teknik dan Biologi). CV. Armico, Bandung. Harefa F, 1996. Permbudidayaan Artemia Untuk Pakan Udang Dan Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta.

Hutabarat, S. S.M. Evans. 1984. Pengantar Oseanografi. Universitas Indonesia Press, Di Akses 19 Maret 2010. Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995. Teknik Kultur Phytoplankton dan Zooplankton. Pakan Alami Untuk Pembenihan Organisme Laut. Kanasius, Yogyakarta. Khairuman dan Amri, 2005. Membuat Pakan Ikan Konsumsi. Agromedia Pustaka, Jakarta.

BUDIDAYA ARTEMIA UNTUK PAKAN ALAMI IKAN PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Artemia merupakan salah satu makanan hidup yang sampai saat ini paling banyak digunakan dalam usaha budidaya udang, khususnya dalam pengelolaan pembenihan. Sebagai makanan hidup, Artemia tidak hanya dapat digunakan dalam bentuk nauplius, tetapi juga dalam bentuk dewasanya. Bahkan jika dibandingkan dengan naupliusnya, nilai nutrisi Artemia dewasa mempunyai keunggulan, yakni kandungan proteinnya meningkat dari rata-rata 47 % pada nauplius menjadi 60 % pada Artemia dewasa yang telah dikeringkan. Selain itu kualitas protein Artemia dewasa juga meningkat, karena lebih kaya akan asamasam amino essensial. Demikian pula jika dibandingkan dengan makanan udang lainnya, keunggulan Artemia dewasa tidak hanya pada nilai nutrisinya, tetapi juga karena mempunyai kerangka luar (eksoskeleton) yang sanga tipis,sehingga dapat dicerna seluruhnya oleh hewan pemangsa. Melihat keunggulan nutrisi Artemia dewasa dibandingkan dengan naupliusnya dan juga jenis makanan lainnya, maka Artemia dewasa merupakan makanan udang yang sangat baikjika digunakan sebagai makanan hidup maupun sumber protein utama makanan buatan. Untuk itulah kultur massal Artemia memegang peranan sangat penting dan dapat dijadikan usaha industri tersendiri dalam kaitannya dengan suplai makanan hidup maupun bahan dasar utama makanan buatan. Untuk dapat diperoleh biomassa Artemia dalam jumlah cukup banyak, harus dilakukan kultur terlebih dahulu. Produksi biomassa Artemia dapat dilakukan secara ekstensif pada tambak bersalinitas cukup tinggi yang sekaligus memproduksi Cyst (kista) dan dapat dilakukan secara terkendali pada bak-bak dalam kultur massal ini. (Ir. Sri Umiyati Sumeru) Pernah ditemukan kista tertua oleh suatu prusahaan pemboran yang bekerja disekitar Danau “ Salt Great “. Kista tersebut diduga berusia sekitar lebih dari 10.000 tahun ( berdasarkan metode carbon dating ). Setelah diuji, ternyata kista-kista tersebutvmasih bias menetas walaupun usianya 10.000 tahun .( Anonymous, 2008 Beberapa sifat artemia yang menunjang antara lain (a) Mudah dalam penanganan, karena tahan dalam bentuk kista untuk waktu yang lama (b) Mudah berada ptasi dalam kisaran salinitas lingkungan yang lebar. (c)Makan dengan cara menyaring, sehingga memper mudah dalam penyedian pakannya. (d) Dapat tumbuh dengan baik pada tingkat padat penebaran tinggi. . (e) Mempunyai nilai nutrisi tinggi, yaitu kandungan protein 40 – 60%. Sekarang banyak pembudidaya ikan dan udang memakai pakan alami Artaemia dalam pemberian pakan. Artemia sangat mudah untuk ditetaskan menjadi larva sampai dewasa, tapi harga artemia sangat mahal bagi pembudidaya ikan maupun udang. Biasanya artemia diberikan pada ikan pada saat ikan berumur 12-30 hari.

Menurut INVE Aquaculture Belgia Artemia mengandung 56% protein yang biasanya pada udang diberikan pada PL5 dan PL25. ( Anonymous, 2008 ) 1.2 Tujuan Makalah ini bertujuan untuk mengetahui proses reproduksi Artemia dari berbentuk kista sampai dewasa. Selain itu juga sebagai bahan informasi bagi para pembudidaya ikan dan udang untuk mengetahui pakan alami yang baik diberikan untuk ikan maupun udang yang akan dibudidayakan. Bagi para mahasiswa agar mengetahui apa itu Artemia dan bagaimana proses reproduksinya dari mulai kista sampa dewasa TINJAUAN PUSTAKA Artemia atau “brine shrimp” merupakan salah satu jenis pakan alami yang sangat diperlukan dalam kegiatan pembenihan udang dan ikan. Beberapa sifat artemia yang menunjang antara lain : 1. Mudah dalam penanganan, karena tahan dalam bentuk kista untuk waktu yang lama. 2. Mudah berada ptasi dalam kisaran salinitas lingkungan yang lebar. 3. Makan dengan cara menyaring, sehingga memper mudah dalam penyedian pakannya 4. Dapat tumbuh dengan baik pada tingkat padat penebaran tinggi . 5. Mempunyai nilai nutrisi tinggi, yaitu kandunganprotein 40 – 60%Klasifikasi dari Artemia: 6. Kingdom: Animalia. Phylum : Arthropoda Subphylum : Crustacea Class : Branchiopoda Order : Anostraca Family:Artemiidae Grochowski,1895 Genus: Artemia Leach, 1819 ( Anonymous, 2008 ) Bagian-bagian dari dari tubuh Artemia yaitu terlihat dari gambar 1.2 yangh terdapat di bawah ini

` Proses

(Anonymous, 2008 ) reproduksi dari Artemia Siklus hidup Artemia bisa dimulai dari saat menetasnya kista atau telur. Setelah 15-20 jam pada suhu 25 derajat celcius kista akan menetas menjadi embrio. Dalam waktu beberapa jam embrio ini masih akan tetap menempel pada

kulit kista. Pada fase ini embrio akan tetap menyelesaikan perkembanganya kemudian berubah menjadi naupli yang akan bisa berenang bebas. Pada awalnya naupli aka berwarna orange kecoklatan akibat masih mengandung kuning telur. Artemia yang baru menetas tidak akan makan, karena mulut dan anusnya belum terbentuk dengan sempurna. Setelah 12 jam mereka akan ganti kulit dan memasuki tahap larva kedua. Dalam fase ini mereka akan mulai makan, dengan pakan berupa mikro alga, bakteri, dan detritus organic lainya. Pada dasarnya mereka tidak akan peduli (tidak memilih) jenis pakan yang dikonsumsinya selama bahan tersebut tersedia dalam air dengan ukuran yang sesuai. Naupli akan berganti kulit sebanyak 15 kali sebelum menjadi dewasa dalam kurun waktu. 8 hari. Artemia dewasa rata-rata berukuran sekitar 8 cm, meskipun demikian pada kondisi yang tepat mereka dapat mencapai ukuran sampai dengan 20 mm. pada kondisi demikian biomasnya akan mencapai 500 kali dibandingkan biomas pada fase naupli Dalam tingkat salinitas rendah dan pakan yang optimal, betina Artemia bisa menghasilkan naupli sebanyak 75 ekor perhari. Selama masa hidupnya (sekitar 50 hari) mereka bisa memproduksi naupli rata-rata sebanyak 10-11 kali. Dalam kondisi super ideal, Artemia dewasa bisa hidup selama 3 bulan dan memproduksi naupli atau kista sebanyak 300 ekor(butir) per 4 hari. Kista akan terbentuk apabila lingkungnya berubah menjadi sangat salin dan bahan pakan sangat kurang dengan fluktuasi oksigen sangat tinggi antara siang dan malam. Artemia dewasa toleran terhadap selang -18 derajat hingga 40 derajat.. sedangkan temperature optimal untuk penetasan kista dan pertumbuhan adalah 25-30oC. Meskipun demikian hal ini akan ditentukan oleh strain masing-masing. Artemia menghendaki kadar salinitas antara 30-35 ppt, dan mereka dapat hidup dalam air tawar selama 5 jam sebelum akhirnya mati. Variable lain yang penting adalah pH, cahaya, dan oksigen. pH dengan selang 8-9 merupakan selang yang paling baik, sedangkan pH di bawah 5 atau lebih tinggi dari 10 dapat membunuh Artemia. Cahaya minimal diperlukan dalam proses penetasan dan akan sangat menguntungkan bagi perumbuhan mereka. Lampu standar grow-lite sudah cukup untuk keperluan hidup Artemia. Kadar oksigen harus dijaga dengan baik untuk pertumbuhan artemia. Artemia dengan supply oksigen yang baik, Artemia akan berwarna kuning atau merah jambu. Warna ini bisa berubah menjadi kehijauan apabila mereka banyak mengkonsumsi mikro algae.pada kondisi yang ideal seperti ini, Artemia akan tumbuh dan beranak-pinak dengan cepat. Sehingga supply Artemia untuk ikan yang kita pelihara bisa terus berlanjut secara kontinyu. Apabila kadar oksigen dalam air rendah dan air banyak mengandung bahan organic, atau apabila salinitas meningkat, artemia akan memakan bacteria, detritus, dan sel-sel kamir (yeast). Pada kondisi demikian mereka akan berwarna merah atau orange. Apabila keadaan ini terus berlanjut mereka akan mulai memproduksi kista. ( Anonymous, 2008 ). PEMBAHASAN

1.1.

Desain dan konstruksi Tambak Petakan tambak untuk budidaya artemia umumnya terdiri atas 4 fungsi, yaitu petakan reservoir, evaporasi, distribusi dan petakan budidaya. Selain itu ada pula petak kultu plankton sebagai pelengkap. Petakan reservoir ada dua, petakan reservoir 1 sedalam 60 – 100 cm untuk menampung air laut dengan salinitas 30 – 35 permil, sedangkan petakan reservoir 2 sebagai penampung air bersalinitas tinggi (80 – 120 permil) dari petak evaporasi untuk kemudian dialirkan kedalam petakan distribusi. Petakan evaporasi dibuat dangkal (kedalaman 5 – 7 cm) dengan dasar petakan rata, padat dan miring kesalah satu sisi. Hal ini untuk mempermudah proses evaporasi dan mempercepat aliran air. Dalam petakan ini diharapkan salinitas meningkat sampai dengan 120 permil atau lebih. Petakan distribusi berupa kanal keliling, berfungsi untuk memasok air bersalinitas tinggi (>120 permil) kedalam petakan budidaya. Petakan distribusi dibuat dangkal ( ±5 cm ) untuk memungkinkan salinitas air semakin tinggi. Petakan budidaya merupakan petakanpetakan seluas masing-masing 1.000 – 1.500 M2 dengan kedalaman sekitar 60 cm, dan dilengkapi dengan caren keliling sebagai tempat belindung artemia dalam keadaan ektrim. Pada petakan budidaya inilah kegiatan produksi kista artemia dilakukan dengan memanfaatkan sifat reproduksi ovivar. ( Dijen Perikanan, 2003 ) 1.2. Pengelolaan Budidaya Persiapan tambak dilakukan dengan maksud menghindari adanya kebocoran pematang dan untuk penyediaan pakan alami (fitoplankton). Kegiatan persiapan tambak terdiri atas : 1. Pengeringan dasar dan pemadatan pematang 2. Pengapuran 300 – 500 kg/Ha 3. Pemupukan dasar dengan pupuk organic 1.000 kg/ha, TSP 150 kg/ha, dan urea 300 kg/ha 4. Pengisian air salinitas tinggi kedalaman mencapai 40 – 50 cm. 5. pemberantasan hama dengan saponin 10 – 20 ppm. Penetasan Nauplii artemia yang ditebarkan berasal dari kista yang telah diteteskan dengan cara dekapsulasi. Untuk penebaran sebaiknya digunakan nauplii instar I, karena instar yang lebih tinggi lebih peka terhadap perubahan salinitas Umumnya penebaran dilakukan sore hari dengan kepadatan 200 nauplii/liter dilakukan sore hari dengan kepadatan 200 nauplii/liter. ( Dirjen Perikanan, 2003 ) 1.3 Prosedur Pemeliharaan Untuk mendapatkan biomassa Artemia, nauplius Artemia dikultur dalam beberapa hari. Lama pemeliharaan tergantung pada ukuran Artemia yang dikehendaki. Jika Artemia digunakan sebagai makanan juvenil udang, maka lama pemeliharaan sekitar 7 hari, sedangkan jika digunakan sebagai makanan udang dewasa maupun untuk diproses sebagai bahan baku makanan buatan, maka lama pemeliharaan sekurang-kurangnya 15 hari. Prosedur produksi Naupli Artemia inkubasi cyst dalam air laut

1. Cyst Artemia dilarutkan dalam air laut dan diaerasi 2. Suhu air untuk penetasan 30 C, pH : 8-9, DO dalam kondisi, kepadatan cyst < 10 g/L 3. Pemanenan awal : qualitas terbaik, kandungan kalori tertinggi, ukuran nauplii sesuai 4. Setelah moulting kedua (24 jam setelah menetas) : nilai kalori Artemia berkurang hingga 27 % 5. Pemanenan dengan net ukuran 150 µm, dicuci untuk meghilangkan bahan organik terlarut dan bakteri 6. Desinfektan : 100 ppm Iodin selama 10 menit. Biomassa Artemia dapat langsung diberikan kepada udang yang disesuaikan dengan ukurannya atau disimpan dalam bentuk segar (dalam freezer) maupun dikeringkan untuk dibuat tepung Artemia.( Ir. Sri Umiyati Sumeru) 1.4 Pemeliharaan Pemberian makan Artemia adalah dengan menyaring (Filter feeder), maka diperlukan makanan dengan ukuran partikel khusus, yaitu lebih kecil dari 60 mikron. Makanan yang diberikan dapat berupa makanan buatan maupun makanan hidup atau plankton. Makanan buatan yang memberikan hasil cukup baik dan mudah didapat adalah dedak halus. Cara pemberiannya harus disaring terlebih dahulu dengan saringan 60 mikron. Sedangkan plankton yang dapat digunakan sebagai makanan. Selain itu pakan buatan lain yang dapat diberikan selama masa pemeliharaan adalah campuran bungkil kelapa dan tepung ikan dengan perbandingan 1:1 dalam dosis 10 gr/ton/hari. Artemia adalah jenis plankton yang juga digunakan sebagai makanan larva udang, seperti Tetraselmis sp, Chaetoceros sp, Skeletonema sp. Oleh karena itu kultur Artemia dengan plankton sebagai makanan alami lebih mudah dilakukan dalam suatu unit usaha pembenihan udang.( Ir. Sri Umiyati Sumeru ) 1.6 Pemungutan Hasil Pemanenan kista diharapkan mulai berlangsung pada akhir minggu ketiga setelah penebaran. Kista yang telah dilepaskan dan mengumpul di tepi petakan, dipanen dengan menggunakan seser dari bahan nilon berukuran mata 150 mikron. Pemanenan dapat dilakukan setiap hari, kista hasil pemanenan tersebut direndam dalam air bersalinitas tinggi selama beberapa jam, kemudian dibersihkan untuk tujuan pengeringan.( Dirjen Perikanan, 2003 ) 1.5 Penanganan Pasca Panen Penanganan pasca panen terdiri atas pencucian, penyimpanan pengepakan dan pengangkutan. Untuk pencucian dan pembersihan dari kotoran, kista artemia dilewatkan tiga seri saringan bermata 700; 350 dan 100 mikron. Saringan 700 mikron ditujukan untuk memisahkan kotoran berukuran besar, sedangkan saringan 350 mikron untuk kotoran yang lebih kecil. Pencucian tersebut dapat dilakukan di lapangan sehingga kotoran yang berukuran lebih dari

350 mikron dan kurang dari 100 mikron dapat terbuang. Pencucian kemudian dilanjutkan dengan merendam kista artemia dalam larutan garam jenuh untuk membersihkan dari kotoran yang masih tinggal. Kotoran yang tertinggal (biasanya lumpur) akan tenggelam, sementara kista artemia mengapung dalam larutan larutan garam, sehinggga mudah memisahkannya. Kista artemia kemudian disimpan dengan cara merendamnya dalam larutan garam jenuh yang bersih (salinitas 150 permil). dan disimpan dalam wadah tertutup. Pada tahap ini, kista artemia akan terdehidrasi, yaitu mengganti sisa air dengan air garam. Setelah 24 jam, air garam diganti dan kista dapat disimpan selama sebulan. Disarankan, air garam diganti setelah dua minggu, dan kista diaduk beberapa kali selama penyimpanan. Untuk tujuan yang tidak terlalu jauh , artemia dapat didistribusikan secara basah dalam larutan garam jenuh seperti ini. Pengepakan dapat dilakukan secara sederhana menggunakan kantong plastic kapasitas 1 kg. Setelah kista dimasukkan kedalam kantong, udara dalam kantong dikeluarkan dengan cara meremasnya keluar, kemudian kantong diikat erat dengan karet. Kantong plastik dirangkap dengan cara yang sama. ( Dirjen Perikanan, 2003 ). PENUTUP Kesimpulan Kesimpulan yang kami dapatkan dari makalah yang kami susun ini yaitu bahwa budidaya Artemia dikalangan para pembudidaya harus ditingkatkan lagi sebab permintaan akan Artemia sangat tinggi. Budidaya Artemia hanya bisa dilaksanakan pada lahan yang mengandung kadar garam yang tinggi antara 30-35 ppt selain itu juga pH, cahaya, dan oksigen antara 8-9. Budidaya Artemia harus dilaksanakan secara intensif. Saran Dalam malakukan budidaya artemia harus secra intensif dan harus memperhatikan prosedur budidaya. Semoga makalah ini bermnafaat dan bisa diterapkan oleh pembudidaya Artemia.

Artemia merupakan pakan alami yang banyak digunakan dalam usaha pembenihan ikan dan udang, karena kandungan nutrisinya baik. Akan tetapi di perairan Indonesia tidak atau belum ditemukan Artemia, sehingga sampai saat ini Indonesia masih mengimpor Artemia sebanyak 50 ton/ tahun, dimana harganya dalam bentuk kista/ telur antara Rp 400.000 – 500.000/ kg (Suara Merdeka, 2002). Walaupun pakan buatan dalam berbagai jenis telah berhasil dikembangkan dan cukup tersedia untuk larva ikan dan udang, namun Artemia masih tetap merupakan bagian yang esensial sebagai pakan larva ikan dan udang diunit pembenihan. Keberhasilan pembenihan ikan bandeng, kakap dan kerapu juga memerlukaan ketersediaan Artemia sebagai pakan alami esensialnya, serta dengan adanya kenyataan bahwa kebutuhan Artemia untuk larva ikan kakap dan kerapu 10 kali lebih banyak dibandingkan dengan larva udang, maka kebutuhan cyste Artemia pada tahun-tahun mendatang akan semakin meningkat (Raymakers dalam Yunus, dkk., 1994). Secara umum terdapat dua alasan mengapa penggunaan pakan hidup alami sepertihalnya Artemia lebih mengutungkan dibandingkan pakan buatan (pellet, dll) dalam pemeliharaan larva-larva hewan air (ikan dan crustacean), yaitu : 1. Buruknya kualitas air mengakibatkan disintegrasi micropelet yang biasanya pemberian pakan tersebut cenderung berlebihan dengan tujuan pertumbuhan yang sempurna. 2. Tingginya tingkat mortalitas, mengakibatkan malnutrisi dan atau penyerapan komponen-komponen nutrisi pakan pellet yang tidak komplit(http://www.aquafauna.com/, 2004). Cyste Artemia yang dibutuhkan sebagian besar masih diimpor, umumnya dari Amerika Serikat dan hanya sebagian dari China (Yap et.al. dalam Yunus, dkk., 1994). Tetapi kebanyakan cyste impor yang ada di Indonesia kualitasnya masih rendah. Sehingga menyebabkan produksi yang beragam dan kematian masal larva udang. Untuk itu ditempuh jalan untuk dapat membudidayakan Artemia di tambak secara lokal. Dari hasil budidaya Artemia secara lokal ini diperoleh beberapa keuntungan yaitu waktu transportasi dan penyimpanan lebih singkat, pengawasan kualitas pada proses produksi dan pengawasan terhadap pengelolaan lingkungan tambak budidaya mengarah pada produksi cyste Artemia lokal yang berkualitas dan aman. Lebih jauh lagi, produksi Artemia lokal dapat menunjang penghematan devisa melalui subtitusi impor. Jenis pakan secara umum yang dapat dikonsumsi oleh ikan terdiri atas 2 jenis, yakni pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami adalah jasad-jasad hidup yang biasanya dari jenis plankton baik fito maupun zooplankton yang sengaja dibudidayakan untuk diberikan kepada ikan sesuai dengan kebutuhannya. Ketersediaan pakan alami merupakan faktor yang berperan penting dalam mata rantai budidaya ikan terutama pada fase benih. Kepentingan pakan alami sebagai sumber makanan ikan dapat dilihat antara lain: (a) nilai nutrisinya yang relatif tinggi, (b) mudah dibudidayakan, (c) memiliki ukuran yang relatif sesuai dengan bukaan mulut ikan terutama pada stadia benih, (d) memiliki pergerakan yang memberikan rangsangan pada ikan untuk memangsanya,

(e) memiliki kemampuan berkembangbiak dengan cepat dalam waktu yang relative singkat, sehingga ketersediaannya dapat terjamin sepanjang waktu, (f) memerlukan biaya usaha yang relativ murah (Priyamboko, 2001). Jenis pakan alami yang diberikan pada ikan seharusnya disesuaikan dengan stadia yang berhubungan dengan ukuran ikan. Dengan demikian maka akan terdapat klasifikasi jenis pakan alami yang diberikan.

Klasifikasi Artemia atau brine shrimp adalah sejenis udang-udangan primitive. Menurut Vos and De La Rosa dalam Sambali (1990); Sorgeloos dan Kulasekarapandian (1987); Cholik dan Daulay (1985); Tunsutapanich (1979), Artemia termasuk dalam: Phylum : Arthropoda Klass : Crustacea Subklass : Branchiopoda Ordo : Anostraca Genus : Artemia Spesies : Artemia sp. Famili : Artemiidae Oleh Linnaeus, pada tahun 1778, Artemia diberi nama Cancer salinus. Kemudian pada tahun 1819 diubah menjadi Artemia salina oleh Leach. Artemia salina terdapat di Inggris tapi spesies ini telah punah (Sorgeloos dan Kulasekarapandian, 1987). Dalam perkembangan dewasa ini, secara taksonomis nama Artemia salina Leach sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa diantara kelompok-kelompok Artemia terdapat dinding pemisah perkawinan silang. Dua kelompok Artemia yang tidak dapat melakukan perkawinan silang dinamakan sibling spesies. Untuk Artemia hingga saat ini telah ada 20 kelompok yang berkembang biak dengan kawin yang diklasifikasikan ke dalam beberapa sibling spesies. Disamping itu ada juga jenis Artemia yang berkembang biak tanpa kawin. Beberapa contoh jenis Artemia antara lain Artemia fransiscana, A. tunisana, A. urmiana, A. persimilis, A. monica, A. odessensis, sedangkan yang tanpa kawin Artemia partogenetica (Mudjiman, 1983). Untuk menghindari kebingungan dalam penamaan, maka Artemia dinamakan dengan Artemia sp. Saja. Artemia merupakan dalam pembenihan ikan laut, krustacea, ikan konsumsi air tawar dan ikan hias air tawar karena ukurannya yang sangat kecil. Disamping ukurannya yang kecil, nilai gizi Artemia juga sangat tinggi dan sesuai dengan kebutuhan gizi untuk larva ikan dan krustacea yang tumbuh dengan sangat cepat. saat Artemia pakan alami belum dapat digantikan oleh lainnya. Artemia biasanya diperjual belikan dalam bentuk kista/cyste, yang mudah dan praktis, karena hanya tinggal menetaskan kista saja. Dapat dilakukan oleh setiap orang. Sebab membutuhkan suatu keterampilan dan pengetahuan tentang penetasan itu sendiri. Kegagalan dalam menetaskan kista Artemia barakibat fatal terhadap larva ikan yang sedang dipelihara. Penetasan Artemia dapat dilakukan, baik pada skala kecil

skala besar. Penetasan Artemia dikerjakan di daratan maupun di daerah pantai. Morfologi 1. telur Telur Artemia atau cyste berbentuk bulat berlekuk dalam keadaan kering dan bulat penuh dalam keadaan basah. Warnanya coklat yang diselubungi oleh cangkang yang tebal dan kuat (Cholik dan daulay, 1985). Cangkang ini berguna untuk melindungi embrio terhadap pengaruh kekeringan, benturan keras, sinar ultraviolet dan mempermudah pengapungan (Mudjiman, 1983). Cangkang telur Artemia dibagi dalam dua bagian yaitu korion (bagian luar) dan kutikula embrionik (bagian dalam). Diantara kedua lapisan tersebut terdapat lapisan ketiga yang dinamakan selaput kutikuler luar. Korion dibagi lagi dalam dua bagian yaitu lapisan yang paling luar yang disebut lapisan peripheral (terdiri dari selaput luar dan selaput kortikal) dan lapisan alveolar yang berada di bawahnya. Kutikula embrionik dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu lapisan fibriosa dibagian atas dan selaput kutikuler dalam di bawahnya. Selaput ini merupakan selaput penetasan yang membungkus embrio. Diameter telur Artemia berkisar antara 200 – 300 μ (0.2-0.3 mm). Sedangkan berat kering berkisar 3.65 μg, yang terdiri dari 2.9 μg embrio dan 0.75 μg cangkang (Mudjiman, 1983). 2.Larva Apabila telur-telur Artemia yang kering direndam dalam air laut dengan suhu 25oC, maka akan menetas dalam waktu 24 – 36 jam. Dari dalam cangkang akan keluar larva yang dikenal dengan nama nauplius, seperti yang terlihat pada gambar 1. dalam perkembangan selanjutnya nauplius akan mengalami 15 kali perubahan bentuk. Nauplius tingkat I = instar I, tingkat II = instar II, tingkat III = instar III, demikian seterusnya sampai instar XV. Setelah itu nauplius berubah menjadi Artemia dewasa, seperti yang terlihat pada gambar

Nauplius dan perubahan bentuknya

Artemia dewasa

Siklus hidup Artemia

Bioenkapsulasi Untuk meningkatkan mutu pakan alami dapat dilakukan pengkayaan , istilah pengkayaan bisa juga disebut dengan bioenkapsulasi. Pengkayaan terhadap pakan alami ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas nutrisi dari pakan tersebut. Jenis pakan alami yang dapat dilakukan pengkayaan adalah dari kelompok zooplankton misalnya artemia, rotifer, daphnia, moina dan tigriopus. Semua jenis zooplankton tersebut biasanya diberikan kepada larva dan benih ikan air tawar, payau dan laut. Dengan meningkatkan mutu dari pakan alami dari kelompok ini dapat meningkatkan mutu dari larva dan benih ikan yang mengkonsumsi pakan tersebut. Peningkatan mutu pakan alami dapat dilihat dari meningkatkan kelangsungan hidup/sintasan larva dan benih yang dipelihara, meningkatkan pertumbuhan larva dan benih ikan serta meningkatkan daya tahan tubuh larva dan benih ikan. Penampang luar dari cyste Artemia sering dikontaminasi dengan bakteri, jamur dan organisme pengganggu lainnya. Dekapsulasi sangat direkomendasikan sebagai prosedur disinfektan sebelum melakukan penetasan telur Artemia. Cangkang bagian luar yang disebut chorion tidak dapat dicerna dan sukar

dipisahkan dari nauplii hanya dengan bilasan air. Jika tidak dilakukan, maka hal ini dapat mengakibatkan kematian larva dan benih ikan dan crustacean (Warland et.al., 2001). Menurut Daulay (1993) cara melakukan decapsulasi sebagai berikut (gambar 4): Telur direndam di air tawar dengan perbandingan 12 ml air tawar untuk 1 gram cyste Artemia. Perendaman dilakukan dalam tabung berbentuk corong yang bagian dasar bisa dibuka. Maksud penggunaan tabung tersebut agar pembuangan air dapat dilakukan dengan mudah tanpa mengganggu cyste. Sementara itu, pada bagian dasar corong diberi aerasi. Setelah 1 jam suhu air diturunkan hingga 15oC, dengan penambahan es. Setelah suhu turun baru ditambahkan NaHOCl 5,25% sebanyak 10 ml untuk 1gram cyste. Setelah 15 menit, larutan NaHOCl dibuang, kemudian cyste dicuci dengan air laut dan dibilas 6 – 10 kali hingga pengaruh NaHOCl benar-benar hilang. Selama decapsulasi telur yang semula berwarna coklat akan berubah menjadi putih, lalu kemudian berubah lagi menjadi orange. Setelah decapsulasi, telur ini dapat disimpan untuk ditetaskan, atau bisa langsung diberikan sebagai pakan alami pada benih ikan dan atau larva udang.

skema cara melakukan decapsulasi (Daulay)

Wadah penetasan Artemia dapat dilakukan dengan wadah kaca, polyetilen (ember plastik)atau fiber glass. Ukuran wadah dapat disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari volume 1l sampai dengan volume 1 ton bahkan 40 ton. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam penetasan Artemia adalah bentuk dari wadah. Bentuk wadah penetasan Artemia sebaiknya bulat. Hal ini dikarenakan jika diaerasi tidak ditemukan titik mati, yaitu suatu titik dimana Artemia akan mengendap dan tidak teraduk secara merata. Artemia yang tidak teraduk pada umumnya kurang baik derajat penetasannya, atau walaupun menetas membutuhkan waktu yang lebih lama. Sebelum diisi air dimedia penetasan, wadah Artemia dicuci terlebih dahulu dengan menggunakan sikat sampai bersih. Agar sisa lemak atau lendir dapat dihilangkan, pada waktu mencuci gunakanlah deterjen. Media untuk penetasan Artemia dapat menggunakan air laut yang telah difilter. Hal ini ditujukan agar cyste dari jamur atau parasit tersaring. Penyaringan dapat dilakukan dengan menggunakan filter pasir atau filter yang dijual secara komersial seperti catridge filter misalnya. Disamping dengan air laut, media penetasan Artemia juga dapat dilakukan dengan menggunakan air laut buatan. Air laut ini dibuat dengan jalan menambahkan garam yang tidak beriodium ke air tawar. Garam yang digunakan harus bebas dari kotoran. Jumlah Penetasan Artemia garam yang dibutuhkan berkisar antara 25-30 g/liter air tawar, sehingga memiliki kadar garam 25-30 ppt. Setelah garam dimasukkan maka media harus diaerasi secara kuat agar garam tercampur merata.Wadah penetasan Artemia untuk skala besar.

volume air 100 liter dapat digunakan untuk menetas 1-3 kaleng Artemia sekaligus

wadah penetasan Artemia terbuat dari galon air minum bekas, volume 15 liter

Penetasan kista Artemia adalah suatu proses inkubasi kista Artemia di media penetasan (air laut ataupun air laut buatan) sampai menetas.Proses penetasan terdiri dari beberapa tahapan yang membutuhkan waktu sekitar 18-24 jam. a. Proses penyerapan air b. Pemecahan dinding cyste oleh embrio c. Embrio terlihat jelas masih diselimuti membran d. Menetas dimana nauplius berenang bebas Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menetaskan cyste Artemia adalah: Aerasi Suhu Kadar garam Kepadatan cyste Cahaya Agar diperoleh hasil penetasan yang baik maka oksigen terlarut di dalam air harus lebih dari 5 ppm. Untuk mencapai nilai tersebut dapat dilakukan dengan pengaerasian yang kuat. Disamping untuk meningkatkan oksigen, pengaerasian juga berguna agar cyste yang sedang ditetaskan tidak mengendap. Suhu sangat mempengaruhi lamanya waktu penetasan dan suhu optimal untuk penetasan Artemia adalah 26-29oC. Pada suhu dibawah 25oC Artemia akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menetas dan pada suhu diatas 33oC dapat menyebabkan kematian cyste. Kadar garam optimal untuk penetasan adalah antara 5 – 35 ppt, namun untuk keperluan praktis biasanya digunakan air laut (kadar garam antara 25–35 ppt). Nilai pH air harus dipertahankan pada nilai 8 agar diperoleh penetasan yang optimal. Adapun iluminasi pada saat penetasan sebaiknya 2000 lux.

Hal lain yang menentukan derajat penetasan cyste adalah kepadatan cyste yang akan ditetaskan. Pada penetasan skala kecil (volume < 20l) kepadatan cyste dapat mencapai 5 g per liter air. Akan tetapi pada skala yang lebih besar agar diperoleh daya tetas yang baik maka kepadatan harus diturunkan menjadi 2 g per liter air. Artemia akan menetas setelah 18-24 jam. Artemia yang sudah menetas dapat diketahui secara sederhana yakni dengan melihat perubahan warna di media penetasan. Artemia yang belum menetas pada umumnya berwarna cokelat muda, akan tetapi setelah menetas warna media berubah menjadi oranye. Warna orange belum menjamin Artemia sudah menetas sempurna, oleh karena itu untuk meyakinkan bahwa Artemia sudah menetas secara sempurna disamping melihat perubahan warna juga dengan mengambil contohArtemia dengan menggunakan beaker glass. Jika seluruh nauplius Artemia sudah berenang bebas maka itu menunjukkan penetasan selesai. Akan tetapi jika masih banyak yang terbungkus membran, maka harus ditunggu 1-2 jam agar semua Artemia menetas secara sempurna.

perkembangan artemia pada inkubasi dalam air laut, dari kysta sampai Nauplius Kista menetas menjadi Artemia stadia nauplius. Setelah menetas sempurna, secara visual dapat terlihat terjadinya perubahan warna dari coklat muda menjadi oranye. Hal yang penting yang perlu diperhatikan dalam pemanenan nauplius Artemia adalah jangan sampai tercampur antara Artemia dan cangkang. Hal ini perlu dihindari mengingat cangkang Artemia tersebut mengandung bahan organik yang dapat menjadi substrat perkembangbiakan bakteri. Setelah 18 jam dimasukan dalam bak penetasan maka pengecekan apakah Artemia dalam wadah penetasan sudah menetas atau belum. Pengecekan dilakukan dengan cara mematikan aerasi.Sesaat setelah aerasi dimatikan, jika secara kasat mata keseluruhan nauplius sudah berenang bebas maka pemanenan dapat dilakukan dan aerasi tetap dimatikan. Jika sebagian besar nauplius masih terbungkus membran dan belum berenang bebas maka aerasi dihidupkan kembali. Selanjutnya 1 atau 2 jam kemudian dilakukan pengecekan ulang. Langkah awal pemanenan Artemia dengan mematikan aerasi bagian atas dengan bahan yang tidak tembus cahaya. Hal dengan tujuan antara nauplius dan cangkang Artemia. Cangkang Artemia akan mengambang berkumpul di permukaan air. Nauplius Artemia akan berenang menuju ke arah cahaya. Karena bagian bawah wadah tranparan dan ditembus cahaya maka nauplius Artemia akan berkumpul di dasar wadah penetasan. Oleh karena itu pada saat pemanenan nauplius, sebaiknya bagian dasar wadah disinari lampu dari arah samping. Selain nauplius, di dasar wadah juga akan terkumpul kista yang tidak menetas. Aerasi

tetap dimatikan selama 10 menit. Setelah semua cangkang berkumpul di atas permukaan air dan terpisah dengan nauplius yang berada di dasar wadah maka pemanenan dapat dilakukan dengan cara membuka kran pada dasar wadah (jika ada) atau dengan cara menyipon dasar. Sebelum kran dibuka atau disipon, ujung kran atau selang kecil dibungkus saringan yang berukuran 125 mikron dan dibawah saringan disimpan wadah agar nauplius Artemia tetap berada dalam media air. Setelah semua nauplius terpanen, kran ditutup atau penyiponan dihentikan. Pada saat pemanenan hindarilah terbawanya cangkang. Artemia yang tersaring kemudian dibilas dengan air laut bersih dan siap diberikan ke larva ikan atau udang. Selanjutnya air dan cangkang yang tersisa di wadah penetasan dibuang dan dibersihkan.

cara memanen artemia Menurut Watanabe (1988) zooplankton dapat ditingkatkan mutunya dengan teknik bioenkapsulasi dengan mengguna-an teknik omega yeast (ragi omega). Omega tiga merupakan salah satu jenis asam lemak tidak jenuh tinggi yaitu asam lemak yang mengandung satu atau lebih ikatan rangkap. Asam lemak ini tidak dapat disintesis di dalam tubuh dan merupakan salah satu dari asam lemak essensial. Ada dua metode yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pakan alami yaitu : 1. Indirect Method yaitu metode tidak langsung. Metode pengkayaan zooplankton secara tidak langsung dilakukan dengan cara memelihara zooplankton dengan media Chlorella dan ragi roti Saccharomyces cerevisiae, dengan dosis sebanyak 1 gram yeast/106 sel/ml air alut perhari. 2. Direct Method yaitu metode langsung. Metode pengkayaan zooplankton secra tidak langsung adalah dengan cara membuat emulsi lipid. Lipids yang mengandung ω 3 HUFA di homogenisasi

dengan sedikit kuning telur mentah dan air yang akan menghasilkan emulsi dan secara langsung diberikan kepada pakan alami dicampur dengan ragi roti. Tahapannya adalah sebagai berikut : - Pembuatan emulsi lipid (mayonnaise) - Pengecekkan ke Homo-enisasi emulsi dibawah mikroskop - Pencampuran dengan ragi roti - Pemasukan emulsi kedalam media pakan alami - Pemberian pakan alami langsung ke larva ikan Pengayaan terhadap Artemia salina sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kualitas nutrisi dari pakan tersebut. Artemia salina merupakan salah satu jenis pakan alami dari kelompok zooplankton yang dapat diberikan kepada larva ikan konsumsi atau ikan hias. Pada stadia larva semua jenis ikan sangat membutuhkan nutrisi yang lengkap agar pertumbuhan larva sempurna sesuai dengan kebutuhannya. Pengkayaan terhadap pakan alami ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Jepang dapat meningkatkan pertumbuhan. Pemenuhan kebutuhan akan asam lemak essensial oleh larva ikan dapat dipenuhi dengan pemberian sumber pakan yang tepat yang berasal dari hewani dan nabati pada pengkayaan pakan alami seperti minyak ikan dan minyak jagung. Pada umumnya komposisi minyak ikan laut lebih komplek dan mengandung asam lemak tak jenuh berantai panjang pada minyak ikan laut terdiri dari asam lemak C18, C20 dan C22 dengan kandungan C20 dan C22 yang tinggi dan kandungan C16 dan C18 yang rendah. Sedangkan kandungan asam lemak ikan air tawar mengandung C16 dan C18 yang tinggi serta C20 dan C22 yang rendah. Komposisi lain yang terkandung dalam minyak ikan adalah lilin ester, diasil gliserol eter, plasmalogen netral dan fosfolipid. Terdapat pula sejumlah kecil fraksi yang tak tersabunkan, antara lain adalah : vitamin, sterol, hidrokarbon dan pigmen, dimana komponen-komponen ini banyak ditemukanpada minyak hati ikan bertulang rawan. Bahan yang kaya akan asam lemak n-6 umumnya banyak dikandung oleh minyak yang berasal dari tumbuhan. Minyak jagung mengandung asam lemak linoleat (n6) sekitar 53% (Stickney, 1979). Minyak jagung diperoleh dengan jalan ekstraksi bagian lembaga, baik dengan tekanan tinggi maupun dengan jalan ekstraksi menggunakan pelarut. Dalam pembuatan bahan emulsi untuk memperkaya Daphnia sp dapat ditambahkan juga kuning telur ayam mentah dan ragi roti (Saccharomyces cerevisiae ). Kandungan asam lemak dari beberapa bahan yang dapat dipergunakan untuk membuat emulsi bioenkapsulasi.

BUDIDAYA ARTEMIA UNTUK PAKAN ALAMI IKAN

1.1. Latar Belakang Artemia merupakan salah satu makanan hidup yang sampai saat ini paling banyak digunakan dalam usaha budidaya udang, khususnya dalam pengelolaan pembenihan. Sebagai makanan hidup, Artemia tidak hanya dapat digunakan dalam bentuk nauplius, tetapi juga dalam bentuk dewasanya. Bahkan jika dibandingkan dengan naupliusnya, nilai nutrisi Artemia dewasa mempunyai keunggulan, yakni kandungan proteinnya meningkat dari rata-rata 47 % pada nauplius menjadi 60 % pada Artemia dewasa yang telah dikeringkan. Selain itu kualitas protein Artemia dewasa juga meningkat, karena lebih kaya akan asam-asam amino essensial. Demikian pula jika dibandingkan dengan makanan udang lainnya, keunggulan Artemia dewasa tidak hanya pada nilai nutrisinya, tetapi juga karena mempunyai kerangka luar (eksoskeleton) yang sanga tipis,sehingga dapat dicerna seluruhnya oleh hewan pemangsa. Melihat keunggulan nutrisi Artemia dewasa dibandingkan dengan naupliusnya dan juga jenis makanan lainnya, maka Artemia dewasa merupakan makanan udang yang sangat baikjika digunakan sebagai makanan hidup maupun sumber protein utama makanan buatan. Untuk itulah kultur massal Artemia memegang peranan sangat penting dan dapat dijadikan usaha industri tersendiri dalam kaitannya dengan suplai makanan hidup maupun bahan dasar utama makanan buatan. Untuk dapat diperoleh biomassa Artemia dalam jumlah cukup banyak, harus dilakukan kultur terlebih dahulu. Produksi biomassa Artemia dapat dilakukan secara ekstensif pada tambak bersalinitas cukup tinggi yang sekaligus memproduksi Cyst (kista) dan dapat dilakukan secara terkendali pada bak-bak dalam kultur massal ini. (Ir. Sri Umiyati Sumeru )

Pernah ditemukan kista tertua oleh suatu prusahaan pemboran yang bekerja disekitar Danau “ Salt Great “. Kista tersebut diduga berusia sekitar lebih dari 10.000 tahunb ( berdasarkan metode carbon dating ). Setelah diuji, ternyata kista-kista tersebutvmasih bias menetas walaupun usianya 10.000 tahun .( Anonymous, 2008 Beberapa sifat artemia yang menunjang antara lain : (a) Mudah dalam penanganan, karena tahan dalam bentuk kista untuk waktu yang lama (b) Mudah berada ptasi dalam kisaran salinitas lingkungan yang lebar. (c) Makan dengan cara menyaring, sehingga memper mudah dalam penyedian pakannya. (d) Dapat tumbuh dengan baik pada tingkat padat penebaran tinggi. . (e) Mempunyai nilai nutrisi tinggi, yaitu kandungan protein 40 – 60%. (f) Sekarang banyak pembudidaya ikan dan udang memakai pakan alami Artaemia dalam pemberian pakan. Artemia sangat mudah untuk ditetaskan menjadi larva sampai dewasa, tapi harga artemia sangat mahal bagi pembudidaya ikan maupun udang. Biasanya artemia diberikan pada ikan pada saat ikan berumur 12-30 hari. Menurut INVE Aquaculture Belgia Artemia mengandung 56% protein yang biasanya pada udang diberikan pada PL5 dan PL25. ( Anonymous, 2008 ) Gambar 1.1 Artemi salina 1.2 Tujuan Makalah ini bertujuan untuk mengetahui proses reproduksi Artemia dari berbentuk kista sampai dewasa. Selain itu juga sebagai bahan informasi bagi para pembudidaya ikan dan udang untuk mengetahui pakan alami yang baik diberikan untuk ikan maupun udang yang akan dibudidayakan. Bagi para mahasiswa agar mengetahui apa itu Artemia dan bagaimana proses reproduksinya dari mulai kista sampa dewasa TINJAUAN PUSTAKA Artemia atau “brine shrimp” merupakan salah satu jenis pakan alami yang sangat diperlukan dalam kegiatan pembenihan udang dan ikan. Beberapa sifat artemia yang menunjang antara lain : (a) Mudah dalam penanganan, karena tahan dalam bentuk kista untuk waktu yang lama. (b) Mudah berada ptasi dalam kisaran salinitas

lingkungan yang lebar. (c) Makan dengan cara menyaring, sehingga memper mudah dalam penyedian pakannya (d) Dapat tumbuh dengan baik pada tingkat padat penebaran tinggi . (e) Mempunyai nilai nutrisi tinggi, yaitu kandungan protein 40 – 60% (b) Proses reproduksi dari Artemia

(c) Siklus hidup Artemia bisa dimulai dari saat menetasnya kista atau telur. Setelah 1520 jam pada suhu 25 derajat celcius kista akan menetas menjadi embrio. Dalam waktu beberapa jam embrio ini masih akan tetap menempel pada kulit kista. Pada fase ini embrio akan tetap menyelesaikan perkembanganya kemudian berubah menjadi naupli yang akan bisa berenang bebas. Pada awalnya naupli aka berwarna orange kecoklatan akibat masih mengandung kuning telur. Artemia yang baru menetas tidak akan makan, karena mulut dan anusnya belum terbentuk dengan sempurna. Setelah 12 jam mereka akan ganti kulit dan memasuki tahap larva kedua. Dalam fase ini mereka akan mulai makan, dengan pakan berupa mikro alga, bakteri, dan detritus organic lainya. Pada dasarnya mereka tidak akan peduli (tidak memilih) jenis pakan yang dikonsumsinya selama bahan tersebut tersedia dalam air dengan ukuran yang sesuai. Naupli akan berganti kulit sebanyak 15 kali sebelum menjadi dewasa dalam kurun waktu. 8 hari. Artemia dewasa rata-rata berukuran sekitar 8 cm, meskipun (d) demikian pada kondisi yang tepat mereka dapat mencapai ukuran sampai dengan 20 mm. pada kondisi demikian biomasnya akan mencapai 500 kali dibandingkan biomas pada fase naupli. (e) .Gambar 1.2 siklus hidup Artemia

Dalam tingkat salinitas rendah dan pakan yang optimal, betina Artemia bisa menghasilkan naupli sebanyak 75 ekor perhari. Selama masa hidupnya (sekitar 50 hari) mereka bisa memproduksi naupli rata-rata sebanyak 10-11 kali. Dalam kondisi super ideal, Artemia dewasa bisa hidup selama 3 bulan dan memproduksi naupli atau kista sebanyak 300 ekor(butir) per 4 hari. Kista akan terbentuk apabila lingkungnya berubah menjadi sangat salin dan bahan pakan sangat kurang dengan fluktuasi oksigen sangat tinggi antara siang dan malam. Artemia dewasa toleran terhadap selang -18 derajat hingga 40 derajat.. sedangkan temperature optimal untuk penetasan kista dan pertumbuhan adalah 25-30oC. Meskipun demikian hal ini akan ditentukan oleh strain masing-masing. Artemia menghendaki kadar salinitas antara 30-35 ppt, dan mereka dapat hidup dalam air tawar selama 5 jam sebelum akhirnya mati. Variable lain yang penting adalah pH, cahaya, dan oksigen. pH dengan selang 8-9 merupakan selang yang paling baik, sedangkan pH di bawah 5 atau lebih tinggi dari 10 dapat membunuh Artemia. Cahaya minimal diperlukan dalam proses penetasan dan akan sangat menguntungkan bagi perumbuhan mereka. Lampu standar grow-lite sudah cukup untuk keperluan hidup Artemia. Kadar oksigen harus dijaga dengan baik untuk pertumbuhan artemia. Artemia dengan supply oksigen yang baik, Artemia akan berwarna kuning atau merah jambu. Warna ini bisa berubah menjadi kehijauan apabila mereka banyak mengkonsumsi mikro algae.pada kondisi yang ideal seperti ini, Artemia akan tumbuh dah beranak-pinak dengan cepat. Sehingga supply Artemia untuk ikan yang kita pelihara bisa terus berlanjut secara kontinyu. Apabila kadar oksigen dalam air rendah dan air banyak mengandung bahan organic, atau apabila salinitas meningkat, artemia akan memakan bacteria, detritus, dan sel-sel kamir (yeast). Pada kondisi demikian mereka akan berwarna merah atau orange. Apabila keadaan ini terus berlanjut mereka akan mulai memproduksi kista. ( Anonymous, 2008 ).

PEMBAHASAN 1.1. Desain dan konstruksi Tambak Petakan tambak untuk budidaya artemia umumnya terdiri atas 4 fungsi, yaitu petakan reservoir, evaporasi, distribusi dan petakan budidaya. Selain itu ada pula petak kultur plankton sebagai pelengkap. Petakan reservoir ada dua, petakan reservoir 1 sedalam 60 – 100 cm untuk menampung air laut dengan salinitas 30 – 35 permil, sedangkan petakan reservoir 2 sebagai penampung air bersalinitas tinggi (80 – 120 permil) dari petak evaporasi untuk kemudian dialirkan kedalam petakan distribusi. Petakan evaporasi dibuat dangkal (kedalaman 5 – 7 cm) dengan dasar petakan rata, padat dan miring kesalah satu sisi. Hal ini untuk mempermudah proses evaporasi dan mempercepat aliran air. Dalam petakan ini diharapkan salinitas meningkat sampai dengan 120 permil atau lebih. Petakan distribusi berupa kanal keliling, berfungsi untuk memasok air bersalinitas tinggi (>120 permil) kedalam petakan budidaya. Petakan distribusi dibuat dangkal ( ±5

cm ) untuk memungkinkan salinitas air semakin tinggi. Petakan budidaya merupakan petakanpetakan seluas masing-masing 1.000 – 1.500 M2 dengan kedalaman sekitar 60 cm, dan dilengkapi dengan caren keliling sebagai tempat belindung artemia dalam keadaan ektrim. Pada petakan budidaya inilah kegiatan produksi kista artemia dilakukan dengan memanfaatkan sifat reproduksi ovivar. ( Dijen Perikanan, 2003 ) 1.2. Pengelolaan Budidaya Persiapan tambak dilakukan dengan maksud menghindari adanya kebocoran pematang dan untuk penyediaan pakan alami (fitoplankton). Kegiatan persiapan tambak terdiri atas : 1. Pengeringan dasar dan pemadatan pematang 2. Pengapuran 300 – 500 kg/Ha 3. Pemupukan dasar dengan pupuk organik 1.000 kg/ha, TSP 150 kg/ha, dan urea 300 kg/ha 4. Pengisian air salinitas tinggi hingga kedalaman mencapai 40 -50 cm. 5. Pemberantasan hama dengan saponin 10-20 ppm. Penetasan Nauplii artemia yang ditebarkan berasal dari kista yang telah diteteskan dengan cara dekapsulasi. Untuk penebaran sebaiknya digunakan nauplii instar I, karena instar yang lebih tinggi lebih peka terhadap perubahan salinitas Umumnya penebaran PEMBAHASAN 1.1. Desain dan konstruksi Tambak Petakan tambak untuk budidaya artemia umumnya terdiri atas 4 fungsi, yaitu petakan reservoir, evaporasi, distribusi dan petakan budidaya. Selain itu ada pula petak kultur plankton sebagai pelengkap. Petakan reservoir ada dua, petakan reservoir 1 sedalam 60 – 100 cm untuk menampung air laut dengan salinitas 30 – 35 permil, sedangkan petakan reservoir 2 sebagai penampung air bersalinitas tinggi (80 – 120 permil) dari petak evaporasi untuk kemudian dialirkan kedalam petakan distribusi. Petakan evaporasi dibuat dangkal (kedalaman 5 – 7 cm) dengan dasar petakan rata, padat dan miring kesalah satu sisi. Hal ini untuk mempermudah proses evaporasi dan mempercepat aliran air. Dalam petakan ini diharapkan salinitas meningkat sampai dengan 120 permil atau lebih. Petakan distribusi berupa kanal keliling, berfungsi untuk memasok air bersalinitas tinggi (>120 permil) kedalam petakan budidaya. Petakan distribusi dibuat dangkal ( ±5 cm ) untuk memungkinkan salinitas air semakin tinggi. Petakan budidaya merupakan petakanpetakan seluas masing-masing 1.000 – 1.500 M2

dengan kedalaman sekitar 60 cm, dan dilengkapi dengan caren keliling sebagai tempat belindung artemia dalam keadaan ektrim. Pada petakan budidaya inilah kegiatan produksi kista artemia dilakukan dengan memanfaatkan sifat reproduksi ovivar. ( Dijen Perikanan, 2003 ) 1.2. Pengelolaan Budidaya Persiapan tambak dilakukan dengan maksud menghindari adanya kebocoran pematang dan untuk penyediaan pakan alami (fitoplankton). Kegiatan persiapan tambak terdiri atas : 1. Pengeringan dasar dan pemadatan pematang 2. Pengapuran 300 – 500 kg/Ha 3. Pemupukan dasar dengan pupuk organik 1.000 kg/ha, TSP 150 kg/ha, dan urea 300 kg/ha 4. Pengisian air salinitas tinggi hingga kedalaman mencapai 40 -50 cm. 5. Pemberantasan hama dengan saponin 10-20 ppm. Penetasan Nauplii artemia yang ditebarkan berasal dari kista yang telah diteteskan dengan cara dekapsulasi. Untuk penebaran sebaiknya digunakan nauplii instar I, karena instar yang lebih tinggi lebih peka terhadap perubahan salinitas Umumnya penebaran PENUTUP

Pakan alami adalah organisme hidup baik tumbuhan ataupun hewan yang dapat dikonsumsi oleh ikan. Pakan alami juga mengandung arti segala bahan makanan yang tersaji dan berasal langsung dari alam. Contoh: Silase atau daun-daunan adalah makanan alaminya ternak (di darat). Fitoplankton dan zooplankton adalah makanan alaminya ikan (di air). Pakan alami dalam budidaya laut biasanya menghuni wilayah perairan laut yang merupakan sumber makanan utama untuk larva dan juvenile ikan laut. Pakan alami dapat bergerak aktif dan sehingga mengundang larva ikan untuk memakannya. Dalam budidaya air laut pakan alami bisa didapat dengan jalan budidaya maupun menangkap di alam. Hasil tangkapan pakan alami dari alam sangat brgantung dengan musim dan kualitasnya sangat beragam. Karena itulah pakan alami perlu di budidayakan. Pakan alami, terdiri atas : 1). Pakan Segar (fresh feed atau frozen feed). Adalah pakan segar dan beku dari freezer dimana bentuknya tidak berubah seperti keadaan hidup. Misalnya fito maupun zooplankton beku serta ikan atau udangudangan beku dll. 2).Pakan Hidup (live food). Adalah pakan yang diberika dalam keadaan masih hidup ketika diberikan kepada hewan kultivan. Pakan ini bias dibiakkan bersama-sama dengan kultur kultivan tapi juga bias dibiakkan terpisah. Misal: fitoplankton Chlorella sp atau zooplankton Brachionus sp atau Artemia sp sebagai pakan yang dibiakkan bersama-sama dengan larva ikan laut dan udang. Artemia sp merupakan salah satu pakan alami dalam budidaya laut. Pemenuhan artemia sp sebagai kebutuhan pakan alami dilakukan dengan melakukan kultur artemia. Secara taksonomis, klasifikasi sistematika Artemia adalah sebagai berikut: Phyllum : Arthropoda Class : Crustacea Subclass : Branchiopoda Order : Anostraca Family : Artemiidae Genus : Artemia, Leach 1819 Populasi Artemia ditemukan di lebih dari 300 danau air asin baik alamiah maupun buatan di seluruh dunia ((Sorgeloos et al., 1986). Kemampuan beradaptasi secara fisiologis artemia di kadar garam yang tinggi menjadikan hewan ini satu satunya yang paling efisien pada system osmoregulasinya di kerajaan binatang (Croghan, 1958). Apalagi hewan ini juga mampu mensintesa secara efisien pigmen-pigmen respirasi (haemoglobin) untuk mengatasi rendahnya kadar oksigen di media hidupnya dimana konsentrasi kadar garamnya sangat

tinggi (Gilchrist,1954) dan akhirnya dapat memproduksi kista dormannya ketika kondisi lingkungan membahayakan kelangsunganhidupnya. Sehingga Artemia hanya akan ditemukan di perairan dengan kadar garam dimana predatornya tidak bias hidup di dalamnya,yaitu pada 70 ppt (Sorgeloos, et al., 1986). Pada kondisi dimana tidak ada predator dan kompetitor Artemia dapat sering berkembang dalam kultur tunggal (monokultur) yang skala besar, dengan densitas yang terkontrol terutama oleh makanan yang terbatas. Reproduksi ovoviviparous (nauplii sebagai keturunan langsungnya) terjadi biasanya pada tingkat kadar garam yang rendah, sementara kista sebagai hasil reproduksi oviparous diproduksi pada salinitas diatas 150 ppt (Sorgeloos, et. al., 1986). Kista kering diambil di tambak-tambak garam atau danau-danau garam dan di produksi pada Artemia yang diberi makan fitoplankton alami. Perkembangan terkini menunjukkan bahwa mengkultur nauplii Artemia hingga dewasa sebagai pakan langsung bagi larvae yang lebih besar merupakan sumber protein bagi pakan hewan bahkan untuk manusia(Sorgeloos, 1980). Semenjak munculnya ekspansi lavikultur secara komersial dan mendunia pada ikan laut dan udang dangan yang membutuhkan kista Artemia dalam jumlah banyak, dimana kista kemudian akan ditetaskan menjadi nauplii sebagai pakan larvae, kebutuhan akan adanya Artemia menjadi sangat krusial di industry marikultur. Kemudahan pemanfaatan Artemia terletak pada keseterdiaan kista kering kemasan yang memuaskan konsumen seperti para akuaris, akuakulturis, ahli ekologi perairan, dan ahli toksikologi lingkungan yang memanfaatkan Artemia sebagai hewan standard di laboratorium. Menurut Kinne (1977) lebih dari 85% hewan laut yang dikultivasi sejauh ini telah diberi Artemia sebagai sumber makanannya baik secara single maupun kombinasi dengan sumber makanan yang lain. Walau di alam Artemia hanya tumbuh baik pada kadar garam lebih dari 100 ppt, namun Artemia juga masih hidup pada air laut normal. Kenyataannya, batas salinitas terendah dimana Artemia masih ditemukan di alam merupakan batas salinitas tertinggi dimana ikan sebagai predator ditemukan. Berdasarkan penelitian, performa fisiologi seperti laju pertumbuhan dan efisiensi konversi makanan justru paling bagus pada salinitas rendah yaitu pada salinitas air laut 35 ppt (Reeve, 1963). Sehingga, kultur Artemia dalam air laut secara tertutup dari predator baik dari air sendiri maupun udara (insekta) kemudian dikembangkan. Secara umum, kultur Artemia dilakukan pada beberapa cara : 1). Konstruksi Wadah Bahan : fibre glass, kayu berlapis plastik, semen Bentuk: conical, persegi tanpa sudut (lengkung) Depth : < 100 cm

Size : variatif 2). Sistem Pemeliharaan Raceway System (air berputar) Flow Through System (air mengalir) Batch System without water renewal (Kultur dalam wadah tanpa ganti air) 3). Pakan Alga, tepung kedelai, dedak, bungkil kelapa, copepoda, rotifera, silase ikan, ragi, microcapsulated diets dll 4). Media Air (20-35 ppt): danau air asin, tambak garam Secara umum teknik kultur Artemia dengan densitas tinggi memerlukan beberapa factor pendukung diantaranya sbb: 5). Pengadukan secara terus-menerus dengan aerasi sehingga semua volume media tercampur dan Artemianya terdistribusi di semua kolom

Sebagai kesimpulan dari uraian diatas, maka ada beberapa pertimbangan mengapa praktisi budidaya mempergunakan Artemia sebagai sumber pakan alami. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa: 1. Artemia telah secara intensif dimanfaatkan sebagai pakan di industry aquakultur secara luas, dan kistanya telah tersedia di pasaran di pelbagai sumber yang bias dipercaya kualitasnya. 2. Teknologi untuk memproduksi larvae nauplii dari materi kista Artemia telah

diketahui secara baik 3. Artemia telah dikenal sebagai sumber pakan alami dengan kandungan nutrisi lengkah bagi pelbagai kelompok kultifan krustasea dan ikan baik yang hidup pada media air laut maupun tawar 4. Artemia ditemukan di lebih dari 300 danau air asin dan di tambak-tambak garam di seluruh dunia. Pemanfaatan terbesar Artemia berda di Asia Tenggara yang berasal dari the Great Salt Lake di Utah, U.S.A dimana pemanenan (harvesting), pengeringan (drying), dan pengalengan (canning) dilakukan dibawah lisensi Pemerintah Amerika. 5. Di hampir semua system akuakultur, Artemia disajikan dalam bentuk nauplii segar yang baruI menetas. Namun beberapa praktisi lebih memilih Artemia dewasa yang nilai nutrisi dipercaya lebih baik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful