P. 1
Teori-Konflik

Teori-Konflik

|Views: 30|Likes:
Published by ftware

More info:

Published by: ftware on Oct 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/31/2013

pdf

text

original

TEORI SOSIOLOGI MODERN

SOSIOLOGI, III
Husnul Muttaqin

TEORI KONFLIK

sementara yang lainnya tidak memperoleh sama sekali. Asumsi ini menempati posisi sentral dalam perspektif teori konflik. Ideologi ini merupakan salah satu dari kepentingan kelompok . melainkan juga sebagai sesuatu yang bersifat memaksa (coercive). Kekuasaan dipandang sebagai inti dari hubungan sosial.   Ideologi dan nilai-nilai dipandang sebagai senjata yang digunakan oleh berbagai kelompok yang berbeda untuk meraih tujuan dan kepentingan mereka masing-masing. Analisa ini pada gilirannya memusatkan perhatian pada masalah distribusi sumber-sumber kekuasaan. sehingga merupakan sumber konflik.ASUMSI UTAMA  Manusia memiliki kepentingan-kepentingan asasi dan mereka berusaha merealisasikan kepentingan-kepentingannya itu Kekuasaan (power) bukanlah sekedar barang langka dan terbagi secara tak merata. Sebagian orang memperoleh atau menguasai sumber.

mungkin bukanlah terutama cerminan kebencian pribadi antara mereka. Misalnya.Konflik ada dalam Struktur Sosial Teori konflik menekankan kenyataan sosial di tingkat struktur sosial daripada tingkat individual. antar pribadi atau budaya. termasuk yang terjadi secara tatap muka. Walaupun implikasi teori konflik membentang ke berbagai tingkat kenyataan sosial lainnya seperti konflik individu dalam tingkat mikro. melainkan lebih sebagai cerminan ketidaksesuaian atau oposisi antara kepentingan-kepentingan mereka seperti yang ditentukan oleh posisi mereka masing-masing dalam perusahaan itu . namun tekanannya adalah pada konflik-konflik sosial yang bersumber pada struktur sosial. konflik yang mungkin terjadi antar seorang buruh kelas pekerja dan seorang mandor dalam suatu perusahaan yang diorganisir secara birokratis.

bahkan dituduh “berkolusi” dengan kelompok dominan Anggota masyarakat terikat secara informal oleh nilai-nilai.FUNGSIONALISME STRUKTURAL DAN KONFLIK Fungsionalisme Struktural Teori Konflik Masyarakat berada dalam kondisi statis atau tepatnya bergerak dalam kondisi keseimbangan Setiap elemen atau setiap institusi memberikan dukungan terhadap stabilitas Adanya saling ketergantungan dan kesatuan di dalam masyarakat Masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang ditandai oleh pertentangan yang terus-menerus di antara unsur-unsurnya Setiap elemen memberikan sumbangan terhadap disintegrasi sosial Masyarakat merupakan arena dimana satu kelompok dengan yang lain saling bertarung untuk memperebutkan power dan mengontrol bahkan melakukan penekanan bagi saingansaingan mereka Sangat peka dengan praktik dominasi satu kelompok terhadap kelompok yang lain Dinilai mengabaikan praktik dominasi satu kelompok terhadap kelompok yang lain. norma-norma dan moralitas umum Hukum dan undang-undang sebagai sarana untuk meningkatkan integrasi sosial Keteraturan yang terdapat dalam masyarakat itu hanyalah disebabkan oleh adanya tekanan atau paksaan kekuasaan dari atas oleh golongan yang berkuasa Undang-undang itu tidak lain merupakan cara yang digunakan untuk menegakkan dan memperkokoh suatu ketentuan yang menguntungkan kelompok-kelompok tertentu di atas pengorbanan kelompok-kelompok lainnya .

Konsensus normatif mencerminkan komitmen moral individu yang bersifat suka rela Teori Konflik Melihat nilai dan norma budaya sebagai ideologi yang mencerminkan usaha kelompok-kelompok dominan untuk membenarkan berlangsung-terusnya dominasi mereka.Lanjutan …… Fungsionalisme Struktural Nilai dan norma adalah sarana untuk menuju konsensus. para ahli teori konflik akan menaruh curiga bahwa konsensus itu mencerminkan kontrol dari kelompok dominan dalam masyarakat terhadap berbagai media komunikasi (seperti lembaga pendidikan dan media massa) yang membentuk kesadaran individu dan komitmen ideologi . Apabila terdapat konsensus terhadap nilai dan norma.

Perspektif Dahrendorf .

Distribusi kekuasaan dan wewenang secara tidak merata tanpa kecuali menjadi faktor yang menentukan konflik sosial secara sistematis. Dahrendorf menganalisa konflik dengan mengidentifikasi berbagai peranan dan kekuasaan dalam masyarakat. .Konsep Sentral     Konsep sentral teorinya adalah “wewenang” dan “posisi”. Perbedaan wewenang adalah suatu tanda adanya perbedaan posisi dalam masyarakat.

dimana pemegang peran tertentu memiliki kekuasaan untuk menuntut kepatuhan dari yang lain. merepresentasikan organisasi pembagian peran. Relasi kuasa dalam ICAs ini cenderung dilegitimasi dan oleh karenanya dapat dilihat sebagai relasi otoritas dimana posisi-posisi tertentu mempunyai hak yang bersifat normatif dan dapat diterima untuk mendominasi posisi-posisi lain. dilestarikan melalui proses penciptaan relasi otoritas dalam berbagai macam ICAs yang ada dalam semua tingkat sistem sosial. . Organisasi ini dicirikan dengan relasi kuasa. termasuk penciptaan ICAs. maka setiap individu yang tidak tunduk pada wewenang akan terkena sanksi. dengan demikian. Institusionalisasi.ICAs (Imperatively Coordinated Associations )      ICAs menggambarkan struktur masyarakat yang selalu terdiri dari posisi atas dan posisi bawah akibat perbedaan kekuasaan dan wewenang. Keteraturan sosial. Karena wewenang adalah sah.

Konflik Kepentingan    Masing-masing golongan dalam masyarakat dipersatukan oleh ikatan kepentingan nyata yang bertentangan secara substansial dan secara langsung di antara golongan-golongan itu Pertentangan terjadi karena golongan yang berkuasa berusaha mempertahankan status quo. sedangkan golongan yang dikuasai berusaha untuk mengadakan perubahan-perubahan. kekuasaan yang sah selalu berada dalam keadaan terancam bahaya dari golongan yang anti status quo . Karena itu.

program. tujuan serta anggota yang jelas. organisasi. Kelompok kepentingan ini mempunyai struktur. Kelompok kepentingan inilah yang menjadi sumber nyata munculnya konflik dalam masyarakat .Dua Tipe Kelompok    Dahrendorf membedakan golongan yang terlibat konflik itu atas dua tipe: kelompok semu (quasi group) dan kelompok kepentingan (interest group). Kelompok semu (quasi group) merupakan kumpulan para pemegang kekuasaan atau jabatan dengan kepentingan yang sama Sedangkan kelompok kepentingan (interest group) yang terdiri dari kelompok semu yang lebih luas.

Konflik memimpin ke arah perubahan sosial. Dalam situasi konflik.Konflik dan Perubahan      Teori konflik Dahrendorf adalah mata rantai antara konflik dan perubahan sosial. Kalau konfliknya hebat maka yang terjadi adalah perubahan sosial secara radikal. pihak-pihak yang terlibat konflik melakukan tindakan perubahan dalam struktur sosial. Jika konfliknya disertai kekerasan maka perubahan struktur akan efektif. Dahrendorf melihat masyarakat selalu berada dalam situasi konflik dengan mengabaikan norma-norma dan nilai yang berlaku umum yang menjamin terciptanya keseimbangan dalam masyarakat .

maka kekerasan dalam konflik akan semakin besar. maka semakin besar pula tingkat perubahan dan reorganisasi struktural . maka konflik akan semakin intens. Semakin kurang mobilitas (perpindahan kelompok) antara kelompok penguasa dan yang dikuasai. Semakin berkurang kemampuan pihak-pihak yang terlibat konflik untuk membangun kesepakatan bersama. politis dan sosial dari sebuah organisasi ditemukan maka intensitas konflik akan semakin besar.Proposisi Teori Konflik Dahrendorf        Semakin banyak anggota dari quasi group dalam ICAs dapat menjadi sadar dengan kepentingan-kepentingan obyektifnya dan kemudian membentuk kelompok konflik. maka intensitas konflik akan semakin besar. Semakin intens sebuah konflik. maka kemungkinan terjadinya konflik semakin besar Semakin banyak kondisi teknis. Semakin banyak distribusi kekuasaan dan kelebihan-kelebihan lain diantara pihak-pihak yang terlibat konflik. maka semakin besar perubahan dan reorganisasi akan terjadi Semakin banyak kekerasan dalam konflik.

Teori Pertukaran     Teori Pertukaran berakar pada sosiologi behavioris. Atau juga sering disebut memaksimalkan profit dan meminimalkan loss. . Sosiologi perilaku memusatkan perhatian pada hubungan antara pengaruh perilaku seorang aktor terhadap lingkungan dan dampak lingkungan terhadap perilaku aktor. dua orang individu yang mengadakan interaksi akan selalu mementingkan keuntungan dan meminimalkan kerugian. Sosiologi perilaku menyatakan bahwa akibat masa lalu perilaku tertentu menentukan perilaku masa kini. Dalam teori pertukaran.

Proposisi George Homans       Proposisi sukses (The Success Proposition) Proposisi Stimulus (The Stimulus Proposition) Proposisi Nilai (The Value Proposition) Proposisi Deprivasi-Kejemuan (The Deprivation-Satiation Proposition) Proposisi Restu-agresi (The ApprovalAggression Proposition) Proposisi Rasionalitas (The Rationality Proposition) .

maka kian kerap ia akan melakukan tindakan itu Ada beberapa hal yang ditetapkan Homans mengenai proposisi sukses. Kedua. makin pendek jarak waktu antara perilaku dan hadiah. semakin sering suatu tindakan tertentu memperoleh ganjaran. individu benar-benar tidak dapat bertindak seperti itu sesering mungkin. sedangkan hadiah dalam jarak waktu yang tidak teratur (seperti dalam perjudian) sangat mungkin menimbulkan perulangan perilaku . meski umumnya benar bahwa makin sering hadiah diterima. pemberian hadiah secara intermiten lebih besar kemungkinannya menimbulkan perulangan perilaku daripada pemberian hadiah secara teratur. maka makin sering tindakan dilakukan.    Pertama.Proposisi Sukses (The Success Proposition)   Dalam tiap tindakan. makin besar kemungkinan orang mengulangi perilaku. Hadiah yang teratur menimbulkan kebosanan dan kejenuhan. namun hal ini tidak dapat berlangsung tanpa batas. Ketiga. Di saat tertentu.

atau seperangkat stimuli. maka semakin mirip stimuli yang ada sekarang ini dengan yang lalu itu akan semakin memungkinkan seseorang melakukan tindakan serupa atau yang agak sama . merupakan peristiwa dimana tindakan seseorang memperoleh ganjaran.Proposisi Stimulus (The Stimulus Proposition) Jika dimasa lalu terjadinya stimulus yang khusus.

Proposisi Nilai (The Value Proposition) Semakin tinggi nilai suatu tindakan bagi dirinya. maka kian senang seseorang melakukan tindakan itu .

maka semakin kurang bernilai baginya setiap unit hadiah berikutnya .Proposisi Deprivasi-Kejemuan (The Deprivation-Satiation Proposition) Semakin sering di masa lalu seseorang menerima sesuatu hadiah tertentu.

dan hasil demikian akan lebih bernilai hasilnya baginya.Proposisi Restu-agresi (The Approval-Aggression Proposition) Bila tindakan seseorang tidak memperoleh ganjaran yang diharapkannya. dia menjadi sangat cenderung agresif. atau menerima hukuman yang tidak diinginkannya. . maka dia akan merasa senang. dia akan lebih mungkin melaksanakan perilaku yang disenanginya. atau tidak memperoleh hukuman yang diharapkannya. yang diharapkannya. dan hasil dari perilaku yang demikian akan menjadi lebih bernilai lagi. Bila seseorang memperoleh ganjaran. khususnya ganjaran yang lebih besar dari yang diperkirakan. maka dia akan marah.

untuk mendapatkan hasil yang lebih besar . yang dia anggap saat itu mempunyai nilai. sebagai hasil. seseorang akan memilih satu diantaranya. dikalikan dengan probabilitas.Proposisi Rasionalitas (The Rationality Proposition) Dalam memilih diantara berbagai tindakan alternatif.

Disarikan dari Doyle Paul Johnson. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jil 2 Surabaya 15 Januari 2009 Lab Sosiologi .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->