P. 1
Upaya Guru Bimbingan Konseling Dalam Mengatasi Bullying

Upaya Guru Bimbingan Konseling Dalam Mengatasi Bullying

|Views: 3,256|Likes:
Published by TehCici

More info:

Published by: TehCici on Oct 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/16/2013

pdf

text

original

UPAYA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENGATASI BULLYING (STUDI DI SMA NEGERI 8 BANDAR LAMPUNG TAHUN 2010

/2011)

(Skripsi)

Oleh SUCI CINTYA DEWI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2011

ABSTRAK

UPAYA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENGATASI BULLYING (STUDI DI SMA NEGERI 8 BANDAR LAMPUNG TAHUN 2010/2011)

Oleh SUCI CINTYA DEWI

Bullying merupakan perilaku agresif yang sangat berbahaya, guru bimbingan dan konseling dituntut agar dapat memberi perhatian dan penanganan yang mendalam bagi siswa yang terlibat bullying. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan upaya yang telah dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying oleh siswa di sekolah berdasarkan layanan bimbingan dan konseling, serta mengetahui faktor-faktor penyebab bullying dan melihat layanan yang paling efektif digunakan untuk mengatasi bullying. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni wawancara semiterstruktur dan dokumentasi. Subjek penelitian ini terdiri dari 3 orang guru bimbingan dan konseling dan 4 orang siswa yang pernah terlibat bullying. Penentuan partisipan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan bullying di SMAN 8 Bandar Lampung yaitu warga lingkungan sekolah yang biasa berbuat kasar, guru yang memberikan contoh tidak baik dan tidak menghargai siswa, senioritas yang tidak terselesaikan, karakter siswa yang agresif dan pendendam serta kurangnya komunikasi siswa dengan orang tua. Layanan bimbingan dan konseling yang diberikan oleh guru bimbingan dan konseling untuk mengatasi bullying antara lain layanan orientasi, layanan informasi, layanan penguasaan konten, layanan konseling individual, layanan mediasi dan layanan konsultasi. Layanan yang paling efektif untuk mengatasi bullying di SMAN 8 Bandar Lampung yaitu layanan konseling individual dan layanan konsultasi.

UPAYA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENGATASI BULLYING (STUDI DI SMA NEGERI 8 BANDAR LAMPUNG TAHUN 2010/2011)

Oleh SUCI CINTYA DEWI

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN Pada Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2011

MOTTO

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap” (Q.S Al-Insyirah:6-7)

PERSEMBAHAN

Dengan penuh rasa syukur pada Allah SWT, karya sederhana ini aku persembahkan untuk:

Bapak dan Mamah, yang selalu sabar menanti keberhasilanku.

Adik-Adikku tersayang, Masela Anggita Sari dan M. Rafa Arya Nugraha, motivasi besar untukku selalu melakukan yang tebaik.

Rendi Hartanto, teman hati yang selalu sabar mendampingi, memotivasi dan membantuku.

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Ciamis, Jawa Barat pada tanggal 24 Oktober 1988, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Aan S. dan Ibu Asniwaty.

Penulis menyelesaikan pendidikan di Taman Kanak-kanak (TK) Darma Wanita Natar pada tahun 1994. Pendidikan Sekolah Dasar diselesaikan di SD Negeri 4 Penengahan, Bandar Lampung pada tahun 2000, Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 22 Bandar Lampung pada tahun 2003, dan Sekolah Menengah Atas Negeri di SMA Negeri 9 Bandar Lampung pada tahun 2006. Pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung (FKIP Unila) melalui jalur Penelusuran Kemampuan Akademik dan Bakat (PKAB).

Selama masa perkuliahan, penulis aktif sebagai pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP Unila dimulai pada tahun 2007 sampai 2009. Penulis melaksanakan Praktek Layanan Bimbingan dan Konseling (PLBK) di SMP Negeri 22 Bandar Lampung pada tahun 2009. Pada bulan Januari 2010, penulis melakukan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ke Yogyakarta.

SANWACANA

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT karena hanya atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi dengan judul: “Upaya Guru Bimbingan dan Konseling dalam Mengatasi Bullying ( Studi di SMA Negeri 8 Bandar Lampung Tahun 2010/2011)” adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Universitas Lampung.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Hi. Bujang Rahman, M. Si., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 2. Bapak Drs. Baharudin Risyak, M. Pd., selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan. 3. Bapak Drs. Muswardi Rosra, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling. 4. Bapak Drs. Prof. Dr. Sudjarwo, M.S., selaku pembimbing pertama sekaligus pembimbing akademik, yang telah meluangkan waktunya untuk bimbingan selama penulisan skripsi ini. 5. Ibu Ratna Widiastuti, S.Psi,M.A.,Psi., selaku pembimbing kedua atas bimbingan dan arahan selama penulis menyelesaikan skripsi ini. 6. Ibu Diah Utaminingsih,S.Psi,M.A.,Psi., selaku dosen pembahas yang telah memberikan masukkan dan saran kepada penulis.

7. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Lampung yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat bagi saya. 8. Bapak dan Ibu staf dan karyawan Unila, terima kasih atas bantuannya dalam memenuhi segala urusan administrasi kami. 9. Bapak Drs. Banjir Sihite, selaku kepala sekolah SMA Negeri 8 Bandar Lampung, beserta guru, siswa, dan staf tata usaha SMA Negeri 8 Bandar Lampung. 10. Kedua orangtuaku, Bapak dan Mamah yang sangat aku sayangi, pendengar risau dan pendamai hatiku, terimakasih untuk semua doa, dukungan, nasehat, kasih sayang, dan kesabaran kalian dalam menanti keberhasilanku . 11. Kedua adikku, Masela Anggita Sari dan M. Rafa Arya Nugraha, motivasi terbesarku untuk selalu berbuat yang terbaik yang selalu membantu dan menghiburku saat jenuh. 12. Rendi Hartanto, ikhwan yang Insya Allah diamanahkan menjadi pendamping hidupku, terima kasih atas kesabaran, dukungan serta bantuan yang tiada henti. 13. Umi Rita yang selalu memberikan motivasi, berbagi ilmu dan pengalaman, serta pelajaran hidup yang sangat berarti. 14. Nenek Ilah, uwak-uwakku, om-tante, dan sepupu-sepupuku, terima kasih atas nasehat dan motivasi yang kalian berikan. 15. Ibu Warsini dan Bapak Yusuf Suhaimi yang selalu memberikan dukungan dan motivasi. 16. Sahabat-sahabatku, Eka yang selalu setia mendengar keluhkesahku, Meri yang selalu membuatku ingin belajar dan terus belajar, Araw yang selalu dapat membuatku tetap kuat dan tersenyum dalam menghadapi masalah, Ucy yang selalu sabar berbagi ilmu denganku, Juwi teman lama sahabat baruku, yang setia

menghiburku di titik jenuh detik-detik terakhir masa kuliahku. Terima kasih untuk semua kebersamaan yang telah kalian berikan. 17. Teman-teman seperjuanganku anak-anak BK’06: Dian, Desma, Rista, Masliyah, Meyta, Wulan Nani, Oky, Bundo, mba Maya, Wela, Rere, Penti, Cipy, Linda, Bude, Vivin, Nene, Wiwin, Wulan nisa, Encep, Madam, Macil , Ami, mbak Yuni, Nopay, Adel, Seri, Era, Kiki, mas Hendi, Qiay, Ridho, mas Roni, mas Aris, mas Dwi, om Panca, Dian co, Hendra. Terimakasih untuk kebersamaan dan bantuan kalian. Marah, tawa, canda bersama kalian pelajaran besar bagiku menuju pendewasaan. 18. Teman-teman di HIMAJIP: Idrus, Adhi, Fitri, Aulia, Yeni, Danil, kak Angga, kak Mpeb, terimakasih atas kepercayaan dan kesempatan belajar yang kalian berikan. Adik-adiku Isa, Rangga, Indra, Tomy, Ara, Rey dan lainnya terimakasih untuk kebersamaan kita, ‘Semangat Perubahan’ yang akan selalu ku teriakkan. 19. Semua pihak yang tak mungkin disebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan moral maupun material hingga terselesaikannya skripsi ini.

Demikian ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak, hanya Allah SWT yang dapat membalas dan memberi rahmat-Nya atas segala usaha dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis.

Bandar Lampung,

Februari 2011

Penulis

Suci Cintya Dewi

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL............................................................................... I. PENDAHULUAN ........................................................................ A. Latar Belakang dan Masalah .................................................... B. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ............................................. C. Perumusan Pertanyaan Penelitian ............................................ II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ A. Bullying .................................................................................. 1. Pengertian Bullying............................................................ 2. Bentuk Perilaku yang Dikategorikan Bullying .................... 3. Penyebab Bullying ............................................................. 4. Akibat Bullying.................................................................. 5. Mengatasi Bullying ........................................................... B. Profesi Guru Bimbingan dan Konseling .................................. 1. Pengertian Guru Bimbingan dan Konseling ...................... 2. Persyaratan Guru Bimbingan dan Konseling ...................... 3. Tugas Guru Bimbingan dan Konseling .............................. C. Upaya Guru Bimbingan dan Konseling dalam Mengatasi Bullying ................................................................................... 1. Layanan Orientasi .............................................................. 2. Layanan Informasi ............................................................. 3. Layanan Penguasaan Konten ............................................. 4. Layanan Penempatan dan Penyaluran ................................ 5. Layanan Konseling Individual ........................................... 6. Layanan Bimbingan Kelompok.......................................... 7. Layanan Konseling Kelompok ........................................... 8. Layanan Mediasi ............................................................... 9. Layanan Konsultasi ...........................................................

xii 1 1 9 10 12 12 12 13 15 19 21 22 22 23 26 28 33 35 37 38 39 41 42 43 44

III. METODOLOGI PENELITIAN..................................................... A. B. C. D. E. F. G. H. Tempat dan Waktu .................................................................. Alat Bantu Penelitian ............................................................... Tipe Penelitian ........................................................................ Karakteristik Informan ............................................................ Metode Pengumpulan Data ...................................................... Prosedur Penelitian .................................................................. Instrumen ................................................................................ Analisis Data ...........................................................................

47 47 47 48 48 49 50 53 54 56 57 57 58 58 59 59 60 61 61 62 72 91 96 96 98 99 101 101 102 103 122 125 138

IV. HASIL DAN ANALISIS .............................................................. A. Analisis Intra-Subjek ............................................................... 1. Informan 1 ......................................................................... 2. Informan 2 ......................................................................... 3. Informan 3 ......................................................................... 4. Informan 4 ......................................................................... 5. Informan 5 ......................................................................... 6. Informan 6 ......................................................................... 7. Informan 7 ......................................................................... B. Analisis Inter-Subjek ............................................................... 1. Faktor yang Menyebabkan Bullying ................................... 2. Upaya Guru Pembimbing dalam Mengatasi Bullying ......... 3. Layanan yang Paling Efektif digunakan untuk mengatasi Bullying di SMAN 8 Bandar Lampung .............................. V. KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................... A. Kesimpulan ............................................................................. B. Saran ....................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... LAMPIRAN ....................................................................................... Surat Izin Penelitian ............................................................................ Surat Keterangan Penelitian ................................................................ Tabel 3-4 ............................................................................................ Kisi-Kisi Wawancara .......................................................................... Pedoman Wawancara .......................................................................... Transkrip Verbatim .............................................................................

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kasus Bullying yang Terjadi di SMAN 8 Bandar Lampung pada tahun 2008/2009.............................................................. 2. Persentase Penanganan Kasus Bullying yang terjadi di SMAN 8 Bandar Lampung pada tahun 2008/2009 ...............................

Halaman

4

93

3. Ringkasan Perbandingan Antar Subjek Mengenai Faktor-Faktor Penyebab Bullying .................................................................. 4. Ringkasan Perbandingan Antar Subjek Mengenai Upaya Guru Pembimbing dalam Mengatasi Bullying ...................................

103

107

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Masalah Kata kekerasan sebenarnya sudah sangat sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, di rumah maupun di masyarakat. Begitu banyaknya kekerasan terjadi dalam masyarakat, muncul kekhawatiran bahwa kekerasan bisa dianggap sebagai hal yang normal dan wajar dalam keseharian bangsa Indonesia. Padahal berbagai kesepakatan internasional maupun hukum di Indonesia sendiri sudah jelas mengatakan bahwa kekerasan adalah tindakan pelanggaran hukum. Kekerasan pada anak merupakan bagian dari perlakuan yang salah terhadap anak. Sesuai dengan Piagam Hak Asasi Anak-Anak PBB, siswa memiliki hak untuk merasa aman dan untuk memperoleh pendidikan. Bangsa Indonesia sendiri telah meratifikasi Konvensi Hak Anak pada tahun 1990 dan merumuskan Undang Undang Nomor 23 tentang Perlindungan Anak pada tahun 2002. Produk hukum tersebut diharapkan mampu mengakomodir pemenuhan hak anak.

Kenyataan di lapangan masih terjadi kekerasan anak terutama di lingkungan sekolah. Fakta menunjukkan bahwa di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat pembelajaran bagi anak, justru menjadi tempat

terjadinya tindak kekerasan terhadap anak, seperti yang terjadi belum lama ini di salah satu SMA Negeri favorit di Jakarta. Liputan TRANS 7 (2010) mengungkap bahwa “terdapat siswi kelas X yang mengalami tindakan kekerasan dari kakak kelasnya hanya karena tidak memakai singlet”. Hal tersebut terjadi karena tingkat senioritas di sekolah tersebut memang tinggi. Selain itu, Raditya (2008) menyatakan bahwa “tindak kekerasan menimpa seorang siswa berusia 15 tahun kelas satu SMA yang berada di kawasan Jakarta Selatan”. Anak ini dipukul, disundut rokok dan dipatahkan tangannya oleh seniornya karena ia menolak untuk masuk ke dalam Genk Gezper yang berada di sekolah tersebut, hal tersebut tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh Genk Nero yang juga menganiaya juniornya. Banyak lagi pemberitaan tentang adanya korban akibat proses perpeloncoan yang terjadi pada penerimaan siswa baru. Akibat peristiwa tersebut biasanya sekolah tersebut memecat siswa senior yang terlibat serta akan berjanji lebih ketat dalam proses penerimaan siswa baru atau akan lebih baik bila hal tersebut ditiadakan.

Teror yang berupa kekerasan fisik atau mental, pengucilan, intimidasi, perpeloncoan, yang terjadi pada kasus-kasus di atas sebenarnya adalah contoh klasik dari apa yang biasanya disebut bullying. Bullying adalah perilaku agresif yang dilakukan secara langsung oleh seorang atau kelompok yang merasa lebih kuat sehingga mengakibatkan tekanan kepada orang lain baik secara fisik maupun psikologis. Pihak yang kuat di sini tidak hanya berarti kuat dalam ukuran fisik, tapi bisa juga kuat secara mental. Korban bullying tidak mampu membela atau mempertahankan dirinya karena lemah secara

fisik atau mental. Selain itu yang sangat penting kita perhatikan adalah bukan sekedar tindakan yang dilakukan, tetapi dampak tindakan tersebut bagi korban. Misalkan saja seorang siswa mendorong bahu temannya dengan kasar, bila yang didorong merasa terintimidasi, apalagi bila tindakan tersebut dilakukan berulang-ulang, maka perilaku bullying telah terjadi. Bila siswa yang didorong tidak merasa takut atau terintimidasi, maka tindakan tersebut belum tentu dikatakan bullying.

Di Indonesia penelitian tentang fenomena bullying masih baru. Nusantara (2008:6) mengungkapkan bahwa: “berdasarkan hasil survei oleh Yayasan Semai Jiwa Amini kepada 250 peserta yang mengikuti seminar antibullying yang berasal dari seluruh Indonesia, sebanyak 94,9% peserta menyatakan bahwa bullying terjadi di sekolah-sekolah di Indonesia”. Selain itu ahli intervensi bullying, Huneck (dalam Nusantara, 2008:6) mengungkapkan bahwa “10-60% siswa Indonesia melaporkan mendapat ejekan, cemoohan, pengucilan, pemukulan, tendangan, ataupun dorongan, sedikitnya sekali dalam seminggu”.

Kasus-kasus bullying tersebut terjadi di sekolah, kasus-kasus ini merupakan fenomena gunung es dari banyak kasus lainnya yang terjadi di sekolah yang tidak terekspos oleh media. Hal ini cendrung ditutupi oleh pihak sekolah sebab jika diketahui publik, mereka khawatir sekolahnya akan mendapat reputasi buruk. Perilaku ini seringkali dibiarkan oleh para guru selama tidak menimbulkan akibat fisik yang parah.

SMA Negeri 8 Bandar Lampung yang terletak di Jl. Laks. Malahayati No.10 Teluk Betung juga tidak terlepas dari praktek bullying yang dilakukan oleh para siswanya. Terdapat beberapa jenis dan wujud bullying. Kasus bullying yang terjadi di SMAN 8 Bandar Lampung salah satunya yaitu pemalakan yang dilakukan oleh kakak kelas kepada adik kelasnya. Pemalakan ini dilakukan oleh siswa yang merasa dirinya lebih kuat, selain korban adalah adik kelasnya pelaku juga adalah seorang atlet beladiri yang cukup berprestasi, sehingga dia merasa berkuasa dan berhak meminta uang kepada adik-adik kelasnya. Selain contoh kasus tersebut, masih banyak lagi kasus-kasus bullying yang tercatat oleh pihak bimbingan dan konseling SMAN 8 Bandar Lampung. Selain itu, berdasarkan wawancara kepada koordinator bimbingan dan konseling SMAN 8 Bandar Lampung diperoleh bahwa terdapat penurunan jumlah kasus bullying tiap tahunnya di sekolah tersebut. Data mengenai kasus bullying yang terjadi di SMAN 8 Bandar Lampung tahun 2008-2009 dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Kasus Bullying yang Terjadi di SMAN 8 Bandar Lampung pada tahun 2008-2009.
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Bentuk bullying Adik kelas diwajibkan menunduk ketika bertemu kakak kelasnya karena tradisi (pada saat MOS) Adik kelas yang mengeluarkan bajunya dimarahi oleh kakak kelasnya di depan anak-anak lain Seorang anak diolok-olok oleh sekelompok temannya sehingga ia khawatir untuk masuk sekolah Siswa menampar temannya tanpa alasan yang jelas Siswa menghasut agar temannya dijauhi Menyebar fitnah di internet atau telepon genggam mengenai murid yang tidak disenangi Pengeroyokan oleh sekelompok kakak kelas karena mereka tidak suka gaya adik kelas Siswa dipaksa masuk kelompok tertentu Menyindir teman dengan kata-kata yang tidak pantas Pemalakan Memelototi adik kelas, sehingga adik kelas merasa takut Jumlah kasus 17 5 9 3 9 15 11 3 17 10 11

Memberi cap/label/julukan pada anak Terdapat siswa yang dikucilkan Meneror lewat sms atau e-mail oleh temannya JUMLAH Sumber: Bimbingan dan Konseling SMAN 8 Bandar Lampung

12. 13. 14.

12 2 9 133

Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa tidak sedikit kasus bullying yang terjadi di SMAN 8 Bandar Lampung, dimana hal tersebut seharusnya tidak terjadi. Akibatnya, sekolah bukan lagi tempat yang menyenangkan bagi siswa, tapi justru menjadi tempat yang menakutkan dan membuat trauma. Berbagai tempat di lingkungan sekolah seakan menjadi tempat yang rawan bagi siswa untuk mendapat kekerasan. Sekolah sebagai suatu institusi pendidikan, sejatinya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa untuk mengembangkan dirinya, serta menjadikan siswa yang mandiri, berilmu, berprestasi dan berakhlak mulia. Hal tersebut tidak akan terwujud jika banyak kasus bullying yang terjadi di sekolah. Karena begitu banyak dampak negatif yang dapat timbul dari kasus-kasus bullying yang terjadi tersebut.

Kekerasan terhadap anak hampir tiap hari terjadi dalam berbagai bentuk di lingkungan sekolah yang dapat menyebabkan berbagai dampak baik bagi pelaku maupun bagi korban. Bagi korban akibat negatif dapat berbentuk fisik maupun psikis. Akibat fisik seperti memar, lebam, atau luka. Sedangkan dampak psikis seperti kepercayaan diri siswa menurun, malu, trauma, merasa sendri, serba salah, mengasingkan diri dari sekolah, mengalami ketakutan sosial, bahkan cendrung ingin bunuh diri. Akibat fisik cendrung dapat langsung terlihat, berbeda dengan dampak psikis yang pada awalnya akan terlihat wajar akan tetapi semakin memburuk jika didiamkan saja, sehingga menimbulkan dampak dalam jangka waktu yang panjang.

Bullying tidak dilakukan tanpa sebab, banyak faktor yang melatarbelakangi siswa-siswa tersebut melakukan bullying. faktor tersebut dapat berasal dari dalam ataupun dari luar diri siswa tersebut. Faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan dimana tempat siswa itu. Lingkungan yang mendorong siswa untuk melakukan bullying antara lain, lingkungan sekolah yang kurang baik seperti senioritas tidak pernah diselesaikan, dimana siswa yang melakukan tindakan senioritas pada adik kelasnya tidak ditindak dengan tegas sehingga senioritas menjadi budaya di sekolah tersebut. Selain itu sikap guru yang kurang baik juga dapat mendorong siswa melakukan bullying. Selain lingkungan sekolah, lingkungan keluarga juga dapat menjadi salah satu penyebab perilaku bullying, misalnya ketidakharmonisan dalam keluaga, ketidakhadiran ayah atau ibu, kurangnya komunikasi serta ketidakmampuan sosial ekonomi keluarga. Sedangkan faktor dari dalam diri yaitu karakter siswa itu sendiri, seperti agresif, pendendam, dan iri hati.

Berdasarkan hal tersebut tergambar bahwa bullying sebagai perilaku agresif tidak bisa didiamkan dan diabaikan begitu saja. Perlu ada upaya dari bebagai pihak untuk mengatasi bullying yang terjadi di sekolah, salah satunya yaitu guru bimbingan dan konseling. Layanan bimbingan konseling yang dilakukan di sekolah membuat guru bimbingan dan konseling mengetahui banyak permasalahan yang dihadapi siswa di sekolah, termasuk permasalahan bullying. Misalnya dari hasil sosiometri, diketahui bahwa penyebab salah satu satu atau beberapa siswa kurang disenangi temannya adalah karena sikap dan

perilaku teman yang kasar baik kata-kata maupun perbuatannya, bahkan ada yang suka menyakiti temannya.

Guru bimbingan dan konseling juga seringkali menjadi tempat siswa-siswa melaporkan masalah yang mereka alami di sekolah, termasuk diantaranya kasus bullying yang menimpa mereka. Siswa cendrung bercerita kepada guru bimbingan dan konseling guna mendapat penyelesaian dari masalahnya tersebut. Guru bimbingan dan konseling dituntut agar dapat memberi perhatian dan penanganan yang mendalam bagi siswa-siswa yang terlibat dalam kasus bullying. Berdasarkan fungsi dan layanan bimbingan dan konseling, guru bimbingan dan konseling juga dapat memberikan kontribusi nyata dalam mengatasi bullying.

Akan tetapi, terkait banyaknya kasus kekerasan yang terjadi di kalangan siswa, Argiati (2009) mengungkapkan kritik atas “peran guru bimbingan dan konseling yang dinilai belum optimal dalam berkomunikasi dengan siswa, yang mengakibatkan guru bimbingan dan konseling tidak dapat memberikan bimbingan dan solusi bagi siswa yang terlibat bullying”. Hal tersebut terjadi karena banyak guru bimbingan dan konseling yang tidak paham mengenai bullying dan bagaimana cara mengatasinya. Hal tersebut dapat disebabkan karena kurangnya sosialisasi mengenai bullying dan upaya apa saja yang dapat dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying. Selain itu, Sahputra (2009) mengemukakan bahwa “penelitian mengenai bullying di Indonesia masih sangat langka”. Hal tersebut berakibat pada semakin maraknya kasus bullying yang terjadi akibat ketidak pahaman

terhadap apa itu bullying dan dampak negatif yang disebabkan bullying. Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Upaya Guru Bimbingan dan konseling dalam Mengatasi Bullying (Studi di SMA Negeri 8 Bandar Lampung Tahun 2010/2011)”.

Fokus Penelitian Fokus penelitian merupakan hal yang penting dalam suatu penelitian yang bersifat kualitatif. Hal ini untuk membatasi studi pada bidang penelitian. Tanpa fokus penelitian, maka peneliti akan terjebak oleh banyaknya data yang diperoleh di lapangan. Oleh karena itu fokus penelitian memiliki peranan yang sangat penting untuk memandu dan mengarahkan jalannya penelitian. Azis (dalam Bungin, 2003:41) menyatakan bahwa “fokus penelitian adalah dimensi-dimensi yang menjadi pusat perhatian serta yang akan dibahas secara mendalam dan tuntas”.

Fokus penelitian dalam penelitian ini yaitu upaya guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying yang dilakukan oleh siswa di sekolah.

B. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini antara lain: a. Mendeskripsikan upaya yang telah dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying oleh siswa di sekolah berdasarkan layanan bimbingan dan konseling.

b. Mengetahui faktor-faktor penyebab siswa melakukan bullying. c. Mengetahui layanan bimbingan dan konseling yang paling efektif untuk mengatasi bullying yang dilakukan oleh siswa di sekolah.

2. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini memiliki kegunaan sebagai berikut: a. Secara teoritis i. Hasil penelitian ini berguna untuk mengembangkan konsep ilmu bimbingan dan konseling, khususnya dalam penanganan bullying di sekolah. ii. Mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan penulis dalam bidang penelitian. b. Secara praktis i. Bagi pihak sekolah, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam mengambil suatu kebijakan yang tepat sasaran dan efektif terhadap siswa yang terlibat bullying. ii. Bagi orang tua, penelitian ini dapat menambah wawasan untuk mengetahui tentang bahaya bullying terhadap anak, sehingga dapat melakukan usaha preventif agar tidak terdapat lagi korban akibat bullying. iii. Bagi siswa, sebagai informasi tentang bahaya yang ditimbulkan oleh perilaku bullying agar siswa dapat menghindarinya iv. Bagi guru bimbingan dan konseling, penelitian ini sebagai bahan pertimbangan terhadap pelaksanaan layanan bimbingan dan

konseling, khususnya yang berkaitan dengan upaya mengatasi bullying.

C. Perumusan Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan penelitian dalam penelitian kualitatif dikemukakan dalam dua bentuk, yaitu permasalahan umum ( grand tour question), dan beberapa sub permasalahan (subquestion) yang berguna untuk menggali informasi tentang isu-isu yang terkait dan dapat memperkaya penjelasan tentang pertanyaan umum.

Adapun pertanyaan umum dalam penelitian ini yaitu : “bagaimanakah upaya yang telah dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying oleh siswa di sekolah?”

Sedangkan sub pertanyaan dalam penelitian ini yaitu: a. Bagaimanakah pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying yang dilakukan oleh siswa di sekolah? b. Faktor-faktor apa yang menyebabkan siswa melakukan bullying? c. Layanan bimbingan dan konseling manakah yang paling efektif untuk mengatasi bullying yang dilakukan oleh siswa di sekolah?

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Bullying

1. Pengertian Bullying

Istilah bullying sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Masyarakat Indonesia sendiri belum begitu akrab dengan istilah bullying. Namun istilah bullying terkadang digunakan untuk bentuk-bentuk perilaku senioritas yang dilakukan oleh siswa senior kepada juniornya seperti menghina, memukul, mengumpat, dan lain-lain.

Randal (dalam Parson, 2009:9) merumuskan perilaku bullying sebagai “perilaku agresif yang muncul dari suatu maksud yang disengaja untuk mengakibatkan tekanan kepada orang lain secara fisik dan psikologis”. Sedangkan Rigby (dalam Astuti, 2008:3) mengemukakan bahwa: “Bullying adalah sebuah hasrat untuk menyakiti, hasrat ini diperlihatkan ke dalam aksi, menyebabkan seseorang menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seorang atau kelompok yang lebih kuat, tidak bertangung jawab, biasanya berulang-ulang, dan dilakukan dengan perasaan senang”. Selain itu, Nusantara (2008:2) mengungkapkan definisi yang tidak jauh berbeda mengenai bullying, “yaitu sebuah situasi dimana terjadinya

penyalahgunaan

kekuatan/kekuasaan

yang

dilakukan

oleh

seseorang/sekelompok”.

Berdasarkan pendapat beberapa definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa bullying adalah perilaku agresif yang dilakukan secara langsung oleh seorang atau kelompok yang merasa lebih kuat sehingga mengakibatkan tekanan kepada orang lain baik secara fisik maupun psikologis. Pihak yang kuat di sini tidak hanya berarti kuat dalam ukuran fisik, tapi bisa juga kuat secara mental. Korban bullying tidak mampu membela atau mempertahankan dirinya karena lemah secara fisik atau mental. Selain itu yang sangat penting diperhatikan adalah bukan sekedar tindakan yang dilakukan, tetapi dampak tindakan tersebut bagi korban.

2. Bentuk-bentuk Perilaku yang dikategorikan Bullying

Bullying merupakan tindakan agresif yang bertujuan untuk menyakiti orang lain baik sacara fisik maupun psikis. Pelaku akan menggunakan berbagai cara agar tujuannya itu tercapai. Oleh karena itu ada banyak perilaku yang dapat dikategorikan pada bullying, begitu luasnya hingga para ahli mengelompokkannya dalam beberapa bagian.

Parson (2009:25) mengelompokkan jenis-jenis perilaku bullying dalam tiga kelompok, yaitu “verbal/tertulis, fisik, dan sosial”. Verbal/tertulis meliputi perilaku mengatai, ledekan, menakut-nakuti lewat email, dan sms yang menyakitkan. Fisik meliputi perilaku yang termasuk yaitu memukul, menendang, menginjak, menyerang, mengancam dengan kekerasan dan

paksaan. Sosial meliputi perilaku yang termasuk yaitu merangkai rumor dan gosip, mengucilkan, mempermalukan, atau mencemooh.

Sedangkan Nusantara (2008:62) mengelompokkan dalam tiga kategori yaitu “bullying fisik, bullying verbal, bullying psikologis”. Bullying fisik meliputi perilaku menonjok, menampar, mendorong, menendang,

menggigit, mencubit, mencakar, dan lain-lain. Bullying verbal meliputi perilaku mengejek, menghina, mengolok-olok, menakuti lewat telepon, mencela, menyebarkan rumor, dan lain-lain. Bullying psikologis meliputi perilaku mengucilkan, mengisolir, mendiamkan, memfitnah, memandang dengan hina dan lain-lain.

Selain itu, Astuti (2008:22) mengelompokkan bullying dalam dua kategori yaitu “Bullying fisik dan bullying non-fisik”. Bullying fisik, meliputi perilaku menggigit, menarik, memukul, menendang, menonjok,

mendorong, dan lain-lain. Sedangkan bullying non-fisik, terbagi dalam bentuk verbal dan non-verbal. Verbal contohnya pemalakan, pemerasan, mengancam, atau mengintimidasi, menghasut, menyebarkan kejelekan korban, dan lain-lain. Nonverbal terbagi menjadi menjadi langsung yang meliputi manipulasi pertemanan, mengasingkan, tidak mengikutsertakan, mengirim pesan menghasut, curang dan sembunyi-sembunyi. Dan tidak langsung yang meliputi gerakan kasar mengancam, menatap, muka mengancam, menggeram, hentakan mengancam, atau menakuti.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, maka terdapat beberapa bentuk perilaku yang dikategorikan sebagai bentuk dari perilaku bullying diantaranya bullying fisik, bullying verbal, dan bullying psikologis. Bullying fisik meliputi perilaku yang menyerang fisik, bullying verbal meliputi perilaku yang berupa perkataan yang merendahkan korban, sedangkan bullying psikologis meliputi semua perilaku yang menyerang korban secara psikologis yang dapat berbentuk nonverbal tidak langsung atau intimidasi dalam kelompok sosial yang berdampak pada psikis korban.

3. Penyebab Bullying

Mellor dan Djuwita (dalam Astuti, 2008:50) mengemukakan bahwa “Bullying terjadi akibat faktor lingkungan, keluarga, sekolah, media, budaya, dan peer group”. Selain itu, Astuti (2008:51) mengungkapkan bahwa penyebab terjadinya bullying antara lain: lingkungan sekolah yang kurang baik, senioritas tidak pernah diselesaikan, guru memberikan contoh kurang baik pada siswa, ketidakharmonisan di rumah, dan karakter anak.

a. Lingkungan sekolah yang kurang baik

Lingkungan sekolah bisa menjadi salah satu faktor yang menyebabkan bullying. Lingkungan sekolah yang dapat mendukung terjadinya bullying mencakup lingkungan luar sekolah maupun lingkungan sekolah itu sendiri. Lingkungan luar sekolah yakni adanya kebiasaan orang-orang di sekitar sekolah seperti sering berkelahi atau

bermusuhan, serta berlaku tidak sesuai dengan norma yang ada. Ehan (2010:5) menyatakan bahwa hal yang mempengaruhi terjadinya perilaku bullying: “anak hidup pada lingkungan orang yang sering berkelahi atau bermusuhan,berlaku tidak sesuai dengan norma yang ada, maka anak akan mudah meniru perilaku lingkungan itu dan merasa tidak bersalah”.

Hal tersebut mengungkap bahwa salah satu faktor yang dapat mempengaruhi siswa untuk melakukan bullying yakni lingkungan sekitar tempat ia berada. Lingkungan dimana individu di dalamnya biasa melakukan kekerasan ataupun perbuatan melanggar norma lainnya dapat mendukung seseorang menjadi pelaku bullying. Hal tersebut membuat siswa mudah meniru perilaku lingkungan tersebut dan merasa tidak bersalah saat melakukannya, sehingga timbullah perilaku bullying. Selain itu, lingkungan di dalam sekolah juga dapat mempengaruhi timbulnya bullying, seperti kedisiplinan yang sangat kaku dan peraturan yang tidak konsisten.

b. Senioritas tidak pernah diselesaikan

Senioritas merupakan salah satu penyebab bullying yang cukup dominan. Senioritas yang tidak terselesaikan hanya akan menyuburkan perilaku bullying di sekolah. Hal ini terkait dengan bagaimana sekolah dan para guru menanggapi dan menindaklanjuti masalah senioritas di sekolah.

Astuti (2008:6) mengemukakan bahwa “perilaku bullying diperparah dengan tidak jelasnya tindakan dari para guru dan pengurus sekolah. Sebagian guru cendrung membiarkan, sementara sebagian guru lain melarangnya”. Guru seharusnya lebih peduli dengan bullying yang terjadi di sekolah, akan tetapi tidak semua peduli. Hal tersebut membuat siswa tidak jera dan terus melakukan bullying.

Guru dan pengurus sekolah seharusnya dapat membedakan antara senioritas yang dimaksudkan sebagai upaya pendisiplinan atau senioritas sebagai sebagai bentuk kesewenangan-wenangan senior terhadap juniornya berdasarkan tatacara atau peraturan sekolah. Guru yang membenarkan atau bahkan ikut melakukan bullying dengan alasan perbuatan itu untuk mendisiplinkan siswa, atau memacu murid agar tidak bodoh hanya akan mengakibatkan makin berkembangnya perilaku bullying.

c. Guru memberikan contoh kurang baik pada siswa

Guru sebagai pengajar di sekolah dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya bullying, terutama guru yang memberikan contoh perilaku yang tidak baik. Ehan (2010:5) mengemukakan bahwa salah satu hal yang mempengaruhi perilaku bullying yaitu: “guru yang berbuat kasar kepada siswa, guru yang kurang memperhatikan kondisi anak baik dalam sosial ekonomi maupun dalam prestasi anak atau perilaku sehari hari anak di kelas atau di luar kelas bagaimana dia bergaul dengan temantemannya”.

Perbuatan guru yang kurang baik dapat mendukung siswa melakukan bullying yakni guru yang berbuat kasar kepada siswa, guru yang kurang memperhatikan kondisi siswa baik dalam prestasi siswa atau perilaku sehari hari siswa di kelas atau di luar kelas serta bagaimana dia bergaul dengan teman-temannya.

d. Ketidakharmonisan di rumah

Keluarga juga berpengaruh terhadap perilaku bullying yang dilakukan oleh siswa. Astuti (2008:53) menyatakan bahwa “kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak merupakan faktor penyebab tindakan bullying”. Selain itu, Schwartz,dkk (dalam Papalia,dkk, 2008:514) menyatakan bahwa “Anak-anak yang menjad bullies seringkali berasal dari lingkungan keluarga kasar dan keras yang selanjutnya membiarkan mereka mendapat hukuman dan penolakan”.

Keluarga sebagai tempat tumbuh kembang anak sangat mempengaruhi perilaku individu dalam kesehariannya. Kompleksitas masalah dalam keluarga seperti ketidakhadiran ayah, kurangnya komunikasi antara orang tua, dan ketidakmampuan sosial ekonomi, merupakan faktor penyebab tindakan bullying yang dilakukan siswa.

e. Karakter anak

Karakter anak yang biasa menjadi pelaku bullying pada umumnya adalah anak yang selalu berperilaku agresif, baik secara fisikal

maupun verbal. Astuti (2008:53) menyatakan bahwa faktor penyebab

bullying yakni “karakter anak sebagai pelaku umumnya agresif, baik secara fisikal maupun verbal dan pendendam”. Anak yang ingin populer, anak yang tiba-tiba sering berbuat onar atau selalu mencari kesalahan orang lain dengan memusuhi umumnya termasuk dalam kategori ini.

Anak dengan perilaku agresif telah menggunakan kemampuannya untuk mengungkapkan ketidaksetujuannya pada kondisi tertentu korban, misalnya perbedaan etnis/ras, fisik, golongan/agama, atau jender. Selain itu, karakter siswa yang pendendam atau iri hati juga dapat menyebabkan seorang siswa melakukan bullying.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penyebab bullying lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan, meski tidak dipungkiri bahwa faktor dari dalam diri individupun ikut andil sebagai penyebab bullying. Lingkungan tempat tinggal individu menjadi hal yang sangat berpengaruh termasuk lingkungan sekolah dan keluarga. Lingkungan dapat

menyebabkan terbentuknya karakter individu yang rentan terhadap perilaku bullying. Budaya dan kebiasaan tidak baik yang berlaku pada suatu lingkungan juga dapat menyuburkan perilaku bullying.

4. Akibat Bullying

Bullying yang kerap kali terjadi di sekolah seringkali diabaikan, padahal bullying sangat perlu ditanggulangi. Hal tersebut karena bullying dapat menimbulkan akibat yang sangat besar bagi siswa yang terlibat, baik

sebagai korban ataupun pelaku. Banyak hal yang diakibatkan dari perilaku bullying yang terjadi, seperti Alexander (dalam Nusantara, 2008:9) yang menjelaskan bahwa: “bullying adalah masalah kesehatan publik yang patut menjadi perhatian. Orang-orang yang menjadi korban bullying semasa kecil, kemungkinan besar akan menderita depresi dan kurang percaya diri dalam masa dewasa. Sementara pelaku bullying, kemungkinan akan terlibat dalam tindakan kriminal di kemudian hari.”

Selain itu, Nusantara (2008:12) mengemukakan gejala-gejala akibat bullying yaitu: “mengurung diri, menangis, minta pindah sekolah, konsentrasi siswa berkurang, prestasi belajar menurun, tidak mau bermain/bersosialisasi, penakut, gelisah, berbohong, melakukan perilaku bullying terhadap orang lain, memar/lebam-lebam, tidak bersemangat, menjadi pendiam, menjadi rendah diri, suka menyendiri, menjadi kasar dan pedendam, tidak percaya diri, mudah cemas, cengeng, dan mudah tersinggung”.

Berdasarkan penjelasan mengenai akibat yang ditimbulkan bullying di atas, maka diketahui bahwa bullying dapat menimbulkan banyak akibat negatif baik bagi korban maupun bagi pelaku. Bagi korban akibat negatif dapat berbentuk fisik maupun psikis. Akibat fisik seperti memar, lebam, atau luka. Sedangkan dampak psikis seperti kepercayaan diri siswa menurun, malu, trauma, merasa sendri, serba salah, mengasingkan diri dari sekolah, mengalami ketakutan sosial, bahkan cendrung ingin bunuh diri. Akibat fisik cendrung dapat langsung terlihat, berbeda dengan dampak psikis yang pada awalnya akan terlihat wajar akan tetapi semakin memburuk jika didiamkan saja, sehingga menimbulkan dampak dalam jangka waktu yang panjang.

5. Mengatasi Bullying

Bullying yang terjadi tidak dapat didiamkan begitu saja. Setelah mengenali dan menyadari bahwa praktik bullying telah terjadi, maka perlu ada upaya untuk mengatasi bullying tersebut. Penanganan tidak hanya ditujukan kepada korban bullying, akan tetapi pelaku bullying juga perlu penanganan khusus agar tidak mengulangi tindakannya tersebut.

Nusantara (2008:31) menyatakan bahwa “Pelaku bullying harus ditangani dengan sabar dan tidak menyudutkannya dengan pertanyaan yang interogratif”. Karena Itu, jangan pernah menyalahkan pelaku bullying, tapi sebaliknya beri kepercayaan agar dapat memperbaiki dirinya. Tumbuhkan empatinya, agar pelaku dapat merasakan perasaan sang korban saat menerima perlakuan bullying. Angkatlah kelebihan atau bakat sang pelaku bullying di bidang yang positif, usahakan untuk mengalihkan energinya pada bidang yang positif.

Korban bullying juga memerlukan penangan khusus. Nusantara (2008:32) menyatakan bahwa “korban bullying mungkin lebih cendrung menutup diri, sehingga perlu ditumbuhkan rasa nyaman dan percaya diri agar dia mau lebih terbuka untuk menceritakan masalahnya”. Jika korban sudah mau terbuka maka hal selanjutnya yang harus dilakukan yaitu dengan menghormati pilihan dan membekalinya dengan cara-cara menghadapi pelaku bullying. Patut diingat bahwa bullying tidak dapat dihadapi dengan bullying, karenanya korban bullying harus diajari untuk menghadapi bullying dengan tegas tapi peduli. Korban bullying dapat menanggapi

ejekan dengan tegar dan kemungkinan besar tidak memasukkan ke dalam hati, sehingga pelaku bullying akan melihat dirinya sebagai pribadi yang kuat dan tidak akan mengganggunya lagi. Selain itu, Cowie dan Jennifer (2009:15) mengemukakan hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi bullying antara lain “pengawasan guru terhadap siswa, penerapan peraturan dan kode etik sekolah, membangun kesadaran dan pemahaman siswa tentang bullying, dan menciptakan kondisi sekolah yang ramah terhadap siswa”.

Berdasarkan uraian di atas, maka bullying harus ditangani tidak hanya bagi pelaku tapi juga bagi pihak korban. Hal ini merupakan tanggung jawab berbagai pihak dalam mengatasinya. Peranan sekolah sebagai institusi pendidikan sangat dibutuhkan, mengingat bahwa tindakan bullying sebagian besar terjadi di sekolah. Guru sebagai komponen utama dalam sekolah dapat berperan dalam mengatasi bullying

B. Profesi Guru Bimbingan dan Konseling

1. Pengertian Guru Bimbingan dan Konseling

Guru bimbingan dan konseling merupakan petugas fungsional yang secara resmi berwenang dalam pelaksaan layanan bimbingan dan konseling. SKB Mendikbud dan kepala BAKN No. 0433/P/1993 dan No. 25 tahun 1993 tentang petunjuk pelaksanaan dan angka kreditnya pasal 1 (dalam Prayitno, 1998:9) menyatakan bahwa ”guru bimbingan dan konseling adalah guru yang mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak

secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik”. Selain itu, Winkel (1991:167) menyatakan bahwa ”guru bimbingan dan koseling adalah tenaga profesional yang mencurahkan seluruh waktunya pada pelayanan bimbingan (full-time guidance counselor)”.

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa guru bimbingan dan konseling adalah tenaga profesional yang melakukan tugasnya secara menyeluruh sesuai dengan hak dan wewenangnya dalam melaksanakan bimbingan dan konseling kepada peserta didik atau konselee. 2. Persyaratan Guru Bimbingan dan konseling

Pekerjaan sebagai seorang guru bimbingan dan konseling tidak mudah dan ringan, sebab siswa yang dihadapai di sekolah berbeda-beda, masingmasing siswa mempunyai keunikan atau kekhasan baik dalam aspek tingkah laku, kepribadian maupun sikap-sikapnya. Sukardi (2008:22) menyatakan bahwa “guru bimbingan dan konseling harus memenuhi persyaratan tertentu, diantaranya persyaratan formal (pendidikan), kepribadian, dan sifat dan sikap”. Persyaratan formal yaitu persyaratan yang berhubungan dengan pendidikan, pengalaman, kecocokan pribadi. Persyaratan pendidikan yang harus dipenuhi oleh seorang guru bimbingan dan konseling adalah secara umum, guru bimbingan dan konseling

serendah-rendahnya harus memiliki ijazah sarjana muda dari suatu pendidikan yang sah dan memenuhi syarat untuk menjadi guru (memiliki sertifikat mengajar) dalam jenjang pendidikan. Secara profesional, guru

bimbingan dan konseling telah mencapai tingkat pendidikan sarjana bimbingan dan konseling. Seorang guru bimbingan dan konseling hendaknya memiliki pengalaman mengajar dan melaksanakan praktek konseling selama dua tahun.

Syarat yang kedua adalah kepribadian sebagai guru bimbingan dan konseling. Guru bimbingan dan konseling di dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling haruslah memiliki sifat-sifat kepribadian tertentu. Prayitno (1998:9) menyatakan bahwa “Ada sepuluh hal yang harus diperhatikan dalam kaitannya dengan kepribadian seorang guru bimbingan dan konseling yaitu: P E M B I M B I N G = Perangai = Emosi = Mandiri = Bobot = Integritas = Mawas = Berani = Intelegensi = Nalar = Gagasan”

Berdasarkan uraian di atas maka guru bimbingan dan konseling adalah individu terlatih yang memiliki kepribadian yang baik, yaitu berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan dan nilai yang dimiliki.

Guru bimbingan dan konseling akan menghadapi banyak variasi dalam berhadapan dengan siswa karena setiap siswa mempunyai masalah pribadi yang bersifat individual, Gunawan (2001:127-131) menyatakan prinsip-

prinsip umum yang dapat dipegang dalam menghadapi bermacam-macam siswa yaitu: 1. Guru bimbingan dan konseling harus membentuk hubungan baik dengan siswa. 2. Guru bimbingan dan konseling harus memberikan kebebasan kepada siswa untuk berbicara dan mengekspresikan dirinya. 3. Guru bimbingan dan konseling tidak memberikan kritik kepada siswa dalam suatu proses konseling. 4. Guru bimbingan dan konseling sebaiknya tidak menyanggah siswa, karena sanggahan dapat mengakibatkan rusaknya hubungan kepercayaan antara guru bimbingan dan konseling dan siswa. 5. Guru bimbingan dan konseling sebaiknya melayani siswa sebagai pendengar yang penuh perhatian dan penuh pengertian dan guru bimbingan dan konseling diharapkan tidak bersikap atau bertindak otoriter. 6. Guru bimbingan dan konseling harus dapat mengerti perasaan dan kebutuhan siswa. 7. Guru bimbingan dan konseling harus dapat menanggapi pembicaraan siswa dalam hubungannya dengan latar belakang kehidupan pribadinya dan pengalaman-pengalamannya pada masa lalu. 8. Guru bimbingan dan konseling sebaiknya memperhatikan setiap perbedaan pernyataan siswa, khususnya mengenai nilai-nilai dan nada perasaan siswa 9. Guru bimbingan dan konseling harus memperhatikan apa yang diharapkan oleh siswa dan apa yang dikatakan oleh siswa, tetapi siswa tidak dapat mengatakannya. 10. Guru bimbingan dan konseling sebaiknya berbicara dan bertanya pada saat yang tepat. 11. Guru bimbingan dan konseling harus memiliki sikap dasar acceptance (menerima) terhadap siswa.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa siswa memiliki beragam karakter dan memiliki masalah yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam memberikan bantuan juga tidak bisa disamaratakan, guru bimbingan dan konseling perlu menyesuaikan dengan perbedaan yang dimiliki siswa. Pekerjaan sebagai seorang guru bimbingan dan konseling tidaklah mudah karena harus menghadapi bermacam-macam karakter siswa dan untuk itu

guru bimbingan dan konseling harus menerapkan prinsip-prinsip di atas guna kelancaran layanan bimbingan dan konseling di sekolah.

3. Tugas Guru Bimbingan dan Konseling

Guru bimbingan dan konseling di sekolah memiliki tugas yang menjadi dasar dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling, sehingga pelaksanaan bimbingan dan konseling akan semakin efektif dan efisien.

Tugas-tugas yang akan dikemukakan berikut merupakan hal yang dapat menjadi pegangan dalam proses layanan bimbingan dan konseling yang berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan. Sukardi (2008:92) menyatakan bahwa tugas guru bimbingan dan konseling dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling adalah :

a. b. c. d. e.

Melaksanakan layanan bimbingan dan konseling. Memasyarakatkan layanan bimbingan dan konseling. Merencanakan program bimbingan dan konseling. Melaksanakan segenap program layanan bimbingan dan konseling. Mengevaluasi proses dan hasil pelaksanaan program layanan bimbingan dan konseling. f. Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil evaluasi program pelayanan bimbingan dan konseling. g. Mengadministrasi kegiatan layanan bimbingan dan konseling. h. Mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling kepada koordinator bimbingan dan konseling.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tugas guru bimbingan dan konseling adalah merencanakan, memasyarakatkan, melaksanakan,

mengevaluasi, menindaklanjuti, mengadministrasi program layanan BK,

dan mempertanggungjawabkan semuanya kepada pihak-pihak yang terkait.

Sesuai dengan ketentuan Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara Nomor: 0433/P/1993 dan Nomor 25 Tahun 1991 diharapkan pada setiap sekolah terdapat petugas yang melaksanakan layanan bimbingan yaitu guru bimbingan dan konseling/konselor dengan rasio satu orang guru bimbingan dan konseling/konselor untuk 150 orang siswa (Sukardi, 2008:97). Oleh karena kekhususan bentuk tugas dan tanggung jawab guru bimbingan dan konseling/konselor sebagai suatu profesi yang berbeda dengan bentuk tugas sebagai guru mata pelajaran, maka beban tugas atau penghargaan jam kerja guru bimbingan dan konseling ditetapkan 36 jam/minggu. Sukardi (2008:97) menyatakan beban tugas tersebut meliputi:

a. Kegiatan penyusunan program pelayanan dalam bidang bimbingan pribadi-sosial, bimbingan belajar, bimbingan karier, serta semua jenis layanan, termasuk kegiatan pendukung yang dihargai sebanyak 12 jam. b. Kegiatan melaksanakan pelayanan dalam bimbingan pribadi. bimbingan sosial, bimbingan belajar, bimbingan karier serta semua jenis layanan termasuk kegiatan pendukung yang dihargai sebanyak 18 jam. c. Kegiatan evaluasi pelaksanaan pelayanan dalam bidang bimbingan pribadi-sosial, bimbingan belajar, bimbingan karier, serta semua jenis layanan termasuk kegiatan pendukung yang dihargai sebanyak 6 jam. d. Sebagaimana guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling/konselor yang membimbing 150 orang siswa dihargai sebanyak 18 jam, selebihnya dihargai sebagai bonus dengan ketentuan sebagai berikut: 1. 10-15 siswa = 2 jam 2. 16-30 siswa = 4 jam 3. 31-45 siswa = 6 jam 4. 46-60 siswa = 8 jam 5. 61-75 siswa = 10 jam 6. 76-atau lebih = 12 jam

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa beban guru bimbingan dan konseling adalah 36 jam/minggu yang dibagi terbagi di setiap aspek kegiatan yang dilakukan dalam pemberian layanan bimbingan dan konseling.

C. Layanan Bimbingan dan Konseling

Tujuan bimbingan dan konseling yaitu untuk membantu siswa menjadi pribadi yang sehat dan dapat hidup bersama orang lain secara sehat. Hal ini menunjukkan bahwa guru bimbingan dan konseling bertanggung jawab agar siswa dapat membantu menyelesaikan masalah siswa dengan baik agar dapat mencapai perkembangan optimalnya termasuk diantaranya masalah sosial yang dialami oleh siswa.

Guru bimbingan dan konseling memiliki tanggung jawab yang besar terhadap perkembangan pribadi siswanya, oleh karena itu guru bimbingan dan konseling wajib melakukan berbagai upaya untuk mengatasi tindakan siswa yang mengarah pada perilaku bullying. Astuti (2008:14) mengemukakan

bahwa “penanganan masalah bullying merupakan bagian dari peraturan mengenai etika sekolah yang berada di bawah wewenang petugas atau guru bimbingan dan konseling”. Artinya melalui layanan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan oleh guru bimbingan dan konseling dapat membantu siswa yang terlibat dalam bullying.

Keefektifan layanan bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying telah banyak dibuktikan dalam berbagai penelitian, antara lain penelitian yang dilakukan oleh Kurniati (2007), penelitian ini bertujuan untuk

mengembangkan model layanan bimbingan dan konseling di sekolah terhadap siswa yang mengalami bullying, dari penelitian ini disimpulkan bahwa layanan bimbingan dan konseling dapat diberikan kepada siswa yang terlibat bullying sesuai dengan kebutuhan siswa.

Selain itu, terdapat juga penelitian yang dilakukan oleh Sari (2004) dengan judul “Upaya Sekolah dalam Mencegah dan Menanggulangi Kasus Pemerasan Serta Perkelahian antar Siswa”. Dalam penelitian ini Sari (2005:46) mengemukakan bahwa: “Peranan guru bimbingan dan konseling sama pentingnya dengan wali kelas karena setiap kasus penanganan yang paling tinggi terhadap siswa yang bermasalah adalah pada guru bimbingan dan konseling. Peranannya juga tidak hanya sebatas memberikan selebaran dan membacakan peraturan pada siswa yang bermasalah pada khususnya tetapi juga mereka memberi pembinaan terhadap siswa selain itu siswa selalu diingatkan tentang konsekuensi yang akan didapat oleh mereka yang melanggar.”

Berdasarkan hal tersebut guru bimbingan dan konseling memiliki peranan yang sangat penting terhadap penyelesaian masalah-masalah siswa, termasuk di dalamnya kasus bullying yang terjadi pada diri siswa. Penanganan tidak hanya terbatas pada pemberian informasi mengenai bullying, tapi lebih dalam dari itu guru bimbingan dan konseling dituntut untuk dapat memberikan pembinaan tidak hanya pada korban bullying tetapi juga pada pelaku bullying. Hal itu dapat diwujudkan melalui pemberian layanan-layanan bimbingan dan konseling oleh guru bimbingan dan konseling.

Menilik pentingnya peranan layanan bimbingan serta peranan guru bimbingan dan konseling dalam membantu siswa menuntaskan hambatan-hambatan yang dialami dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, maka perlu kiranya seorang guru bimbingan dan konseling memahami dan mendalami permasalahan bullying sebagai salah satu perilaku agresif terselubung yang saat ini sudah semakin meresahkan dunia pendidikan. Guru bimbingan dan konseling harus memahami bahwa siswa merupakan individu yang unik yang berbeda satu dengan lainnya, perbedaan ini tidak hanya bersifat fisik namun juga psikologis. Perbedaan inilah yang terkadang menimbulkan berbagai konflik beragam dalam setiap hubungan yang terjadi antara masing-masing individu yang satu dengan lainnya dalam situasi hubungan sosial yang terjadi di sekolah.

Sehubungan dengan upaya yang dapat dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling untuk mengatasi bullying Nusantara (2008:42) mengemukakan “bahwa guru bimbingan dan konseling dituntut agar dapat memberikan perhatian dan penanganan yang mendalam bagi siswa-siswa yang terlibat dalam kasus bullying”. Hal itu berarti bahwa sudah seharusnya guru bimbingan dan konseling lebih peka terhadap siswa-siswa yang menjadi korban bullying. Guru bimbingan dan konseling dapat memberikan konseling kepada korban bullying, karena seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa bullying sangat berbahaya terutama bagi perkembangan psikis siswa.

Kurniati (2007:11) mengemukakan bahwa “berdasarkan pada fungsi dan layanan bimbingan dan konseling, guru bimbingan dan konseling juga dapat

memberikan kontribusi nyata dalam mengatasi bullying”. Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh oleh guru bimbingan dan konseling di sekolah dalam mengatasi permasalahan bullying di sekolah sesuai dengan fungsi dari layanan bimbingan konseling itu sendiri. Langkah-langkah yang dapat dilakukan tersebut antara lain “pencegahan, pemahaman, pengentasan, dan advokasi”.

a. Langkah I : (Pencegahan) Dalam langkah ini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya masalah bullying di sekolah dan dalam diri siswa sehingga dapat menghambat perkembangannya. Untuk itu perlu dilakukan orientasi tentang layanan bimbingan dan konseling kepada setiap siswa. Guru bimbingan dan konseling juga dapat membuat program-program yang efektif dalam memberantas bullying.

b. Langkah II : (Pemahaman) Langkah ini dimaksudkan memberikan pemahaman kepada siswa tentang bullying dan segala hal yang terkait di dalamnya, termasuk konsekuensi yang akan diterima siswa dari sekolah jika ia terlibat dalam persoalan bullying. Sehingga siswa dapat memahami

bahayanya.

c. Langkah III : (Pengentasan) Jika guru bimbingan dan konseling mengetahui ada siswa yang terlibat dalam permasalahan bullying, maka guru bimbingan dan konseling harus segera menangani permasalahan ini hingga tuntas. Baik itu

penanganan terhadap bully, korban, dan reinforcer yang terlibat bullying. Termasuk juga pengentasan dalam masalah konsekuensi yang akan diterimanya dari sekolah, karena melanggar peraturan dan disiplin sekolah.

Setelah pengentasan maka perlu dilakukan pemeliharaan terhadap segala sesuatu yang positif dari diri siswa, agar tetap utuh, tidak rusak, dan tetap dalam keadaan semula, serta mengusahakan agar hal-hal tersebut bertambah lebih baik dan berkembang.

Bagi anak-anak yang sudah terlibat bullying maka sebagai proses rehabilitasi perlu dilakukan penyaluran minat dan bakat dengan tepat ke dalam berbagai kegiatan-kegiatan ekskul di sekolah, maupun di luar sekolah. Penyesuaian diri siswa dengan lingkungan sosial serta pengembangan diri dalam mengembangkan potensi positifnya juga perlu dilakukan dalam langkah pengentasan. Hal terpenting bagi pelaku bullying adalah perbaikan.

d. Langkah IV : (Advokasi) Artinya setiap permasalahan yang menyangkut perilaku bullying pada permasalahan tertentu jika memang perlu untuk dilaporkan ke pihak yang berwajib karena menyangkut masalah tindak pidana kriminal, maka hal tersebut perlu dilakukan.

Menganalisa dampak yang demikian besarnya yang dapat ditimbulkan oleh perilaku bullying di sekolah yang bisa berujung pada gangguan

psikologis bahkan kematian. Penting kiranya bagi guru bimbingan dan konseling untuk memberikan layanan yang maksimal dalam mengatasi perilaku bullying.

Prayitno dan Amti (1999:217) mengemukakan bahwa “layanan yang diberikan sebenarnya mengemban fungsi bimbingan dan konseling dalam

pelaksanaannya”. Artinya dengan memberikan layanan guru bimbingan dan konseling telah melaksanakan fungsi-fungsi bimbingan dan konseling. Kurniati (2007:12) menyatakan bahwa: “berdasarkan layanan yang diberikan, guru bimbingan dan konseling dapat mengatasi bullying dengan memberikan kesembilan layanan yang ada di bimbingan konseling yaitu layanan orientasi, layanan informasi, layanan penguasaan konten, layanan penempatan dan penyaluran, layanan konseling individual, layanan bimbingan kelompok, layanan konseling kelompok, layanan mediasi, dan layanan konsultasi”.

1. Layanan Orientasi

Prayitno dan Amti (1999:256) mengemukakan bahwa “siswa yang baru memasuki lingkungan baru perlu segera dan secepat mungkin memahami lingkungan barunya”. Hal-hal yang perlu diketahui salah satunya yaitu mengenai peraturan dan berbagai ketentuan lainnya (seperti disiplin, hak dan kewajiban), jenis personal yang ada, tugas masing-masing dan saling hubungan di antara mereka.

Pengenalan hal-hal di atas dapat membantu siswa agar terhindar dari indakan bullying. Seperti yang diungkapkan oleh Kurniati (2007:12), sehubungan dengan penanganan bullying maka “siswa perlu mendapatkan penjelasan bahwa di sekolah terdapat guru bimbingan dan konseling yang

memberikan layanan kepada siswa secara individual”. Hal ini bertujuan untuk mengajak siswa agar mau menyampaikan berbagai permasalahan yang dialaminya kepada guru bimbingan dan konseling, sehingga dapat membantu guru bimbingan dan konseling dalam mencegah terjadinya perilaku bullying lebih awal. Selain itu, Christin (2009:17) mengemukakan salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi bullying yakni “dengan memperketat peraturan sekolah dan memberikan sangsi kepada anak-anak yang terlibat dalam bullying”. Hal ini berarti bahwa

memperketat peraturan sekolah dan menjelaskan sangsi yang diberikan jika melakukan bullying merupakan hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi bullying. Pengenalan terhadap peraturan sekolah bisa menjadi langkah awal dalam memperketat peraturan sekolah dan mengenalkan sangsi yang diterima jika terjadi bullying.

Nusantara (2008:42) menyatakan bahwa “dalam menjalankan fungsinya guru bimbingan dan konseling perlu bekerjasama dengan bidang kesiswaan dan wali kelas untuk mencari jalan keluar kasus-kasus yang dihadapi siswa”. Berdasarkan hal tersebut, siswa juga harus tahu bahwa di sekolah juga terdapat wali kelas, wakil kepala bidang kesiswaan dan Kepala sekolah yang dapat bekerja sama untuk mengatasi tindakan bullying yang mungkin terjadi pada diri siswa. Siswa perlu diberitahu bahwa tindakan bullying mungkin saja terjadi dan sudah menjadi tanggung jawab sekolah untuk membantu siswa menyelesaikan kasus bullying yang terjadi padanya.

2. Layanan informasi

Secara umum layanan informasi bersama dengan layanan orientasi bermaksud memberikan pemahaman kepada siswa. Informasi yang diberikan bermaksud untuk mengenalkan siswa pada hal-hal yang berkaitan dengan sekolah, termasuk di dalamnya mengenai bullying. Prayitno (2004:6) mengungkapkan mengenai informasi yang dapat diberikan dalam layanan informasi dapat digolongkan ke dalam: a. b. c. d. e. f. g. Informasi pengembangan diri Informasi hubungan antar-pribadi, sosial, nilai dan moral Informasi pendidikan, kegiatan belajar, dan keilmuan-teknologi Informasi pekerjaan/karir dan ekonomi Informasi sosial-budaya, politik, dan kewarganegaraan Informasi kehidupan berkeluarga Informasi kehidupan beragama

Layanan informasi yang diberikan diupayakan dapat menumbuhkan pemahaman siswa mengenai bahaya dari perilaku bullying, karena bukan hanya orang tua yang menganggap itu sabagai kenakalan biasa. Kurniati, 2007:12) mengungkapkan bahwa “siswa pun pertama-tama menganggap bullying hanya kenakalan dan ejekan dari teman-teman semata”. Dimana lama-kelamaan persepsi ini akan membuat siswa merasa aman dan nyaman untuk melakukan kepada tingkat berikutnya. Hal tersebut dapat berakibat pada terus berkembangnya perilaku bullying, bahkan tidak menutup kemungkinan bullying akan menjadi suatu tradisi turun temurun di sekolah tersebut.

Prayitno dan Amti (1999:256) menyatakan bahwa salah satu informasi yang dapat diberikan dalam layanan informasi yaitu informasi “mengenai

sosial-budaya, khusunya pada bahasan “antarbudaya” manusia ditakdirkan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa”. Mereka dijadikan seperti itu bukan untuk saling bersaing dan bermusuhan, justru agar saling mengenal saling memberi dan menerima sehingga tercipta kondisi dinamis yang mendorong ke pada perubahan yang semakin baik. Hal tersebut perlu diinformasikan pada siswa karena seperti yang diungkapkan oleh Astuti (2008:54) bahwa “salah satu penyebab bullying yaitu perbedaan etnis/ras”. Melalui pemberian informasi mengenai sosial budaya maka diharapkan siswa mampu memahami perbedaan tersebut sebagai suatu kekuatan untuk dapat saling memberi dan berbagi bukan menjadi alasan untuk saling bermusuhan.

Guru bimbingan dan konseling juga dapat memberikan informasi kepada siswa tentang konsekuensi yang akan diterima siswa dari sekolah (hukuman) jika ia melakukan tindakan bullying. Kurniati (2007:12) menyatakan hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi bullying yakni: “Memberikan pemahaman terhadap siswa tentang bahaya dari perilaku bullying dan memberikan informasi kepada siswa tentang konsekuensi yang akan diterimanya dari sekolah (hukuman) jika ia melakukan tindakan bullying”. Dengan memberikan informasi yang jelas mengenai perilaku bullying serta akibat yang akan mereka terima jika terlibat bullying, maka diharapkan dapat mencegah siswa terlibat perilaku bullying di sekolah.

3. Layanan penguasaan konten

Layanan penguasaan konten merupakan layanan bantuan kepada individu untuk menguasai kemampuan atau kompetensi tertentu melalui kegiatan belajar. Tujuan umum layanan ini ialah dikuasainya suatu konten tertentu. Prayitno (2004:1-2) mengungkapkan bahwa : “penguasaan konten diperlukan bagi siswa untuk menambah wawasan dan pemahaman, mengarahkan penilaian dan sikap, menguasai cara-cara atau kebiasaan tertentu, untuk memenuhi kebutuhannya dan mengatasi masalah-masalahnya”.

Layanan penguasaan konten memungkinkan siswa untuk menguasai suatu materi melalui proses pembelajaran yang berguna untuk membantu siswa mengatasi masalah-masalahnya. Prayitno (2004:5-6) mengungkapkan materi layanan penguasaan konten dapat diangkat dari: a. b. c. d. e. f. Pengembangan kehidupan pribadi Pengembangan kemampuan hubungan sosial Pengembangan kegiatan belajar Pengembangan dan perencanaan karir Pengembangan kehidupan berkeluarga Pengembangan kehidupan beragama

Selain itu, Prayitno (2004:4) mengungkapkan bahwa “penguasaan konten yang tepat dan terarah memungkinkan individu membela diri sendiri terhadap ancaman ataupun pelanggaran-pelanggaran atas haknya”. Hal uitu berarti siswa yang mengalami masalah bullying dapat diberikan layanan penguasaan konten. Kurniati (2007:12) menyatakan bahwa “dengan layanan penguasaan konten guru bimbingan dan konseling bisa melatih siswa-siswa yang introvert (tertutup) untuk berkomunikasi dan mengungkapkan ide-idenya kepada orang lain”. Dengan begitu siswa bisa

berlatih berkata tidak dan menolak jika ada siswa lain yang berusaha menyakitinya atau mungkin mengajaknya untuk melakukan bullying. Kenapa siswa introvert? Karena merekalah yang berpeluang besar menjadi korban bullying.

Siswa introvert cendrung menjadi korban bullying karena mereka lebih memilih untuk diam jika mengalami suatu masalah. Hal tersebut membuat pelaku bullying dengan mudah terus melancarkan aksinya. Melalui layanan penguasaan konten diharapkan siswa mengalami proses belajar agar mampu berkomunikasi dengan baik, sehingga mampu

mengungkapkan perasaan dan berani untuk mengatakan tidak. Dengan begitu pelaku bullying tidak akan dapat bertindak semena-mena lagi terhadap dirinya, sehingga perilaku bullying dapat dihentikan.

4. Layanan penempatan dan penyaluran

Layanan penempatan dan penyaluran diberikan untuk menyalurkan potensi dan mengembangkan diri siswa. Prayitno (1999:272

mengungkapkan bentuk penempatan dan penyaluran yang dapat dilakukan di sekolah yaitu: a. Layanan penenempatan di dalam kelas b. Penempatan dan penyaluran ke dalam kelompok belajar c. Penempatan dan penyaluran ke dalam kegiatan ko/ekstra kurikuler d. Penempatan dan penyaluran ke jurusan/program studi

Nusantara (2008:13) mengemukakan bahwa “salah satu cara menangani pelaku bullying yaitu dengan mengangkat kelebihan atau bakat sang

pelaku bullying di bidang yang positif, dan mengusahakan untuk mengalihkan energinya pada bidang yang positif”. Hal tersebut dapat terwujud melalui layanan penempatan dan penyaluran. Melalui layanan ini guru bimbingan dan konseling dapat mengarahkan siswa untuk dapat menyalurkan potensi dan mengembangkan diri siswa.

Kurniati (2007:12) menyatakan bahwa “dengan layanan ini membantu siswa-siswa yang cenderung hiperaktif, diskruptif, impulsif dan over aktif untuk dapat menyalurkan energi ke dalam berbagai kegiatan sekolah”. Sehingga siswa dapat menjaga keseimbangan metabolisme tubuhnya serta mengarahkannya kepada kegiatan yang positif.

Guru bimbingan dan konseling dapat mengarahkan potensi siswa dengan menempatkan dan menyalurkan siswa ke dalam kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler yang sesuai dengan bakat dan minat siswa. Dengan begitu siswa dapat menyalurkan energinya ke arah yang positif, sehingga mereka tidak perlu melakukan hal-hal negatif untuk menyalurkan energinya yang kemudian berujung pada perilaku bullying.

5. Layanan Konseling Individual

Layanan konseling individual dilaksanakan dengan tujuan untuk mengatasi masalh yang ada pada diri siswa. Prayitno (204:1) mengungkapkan bahwa: “konseling perorangan merupakan layanan konseling yang diselenggarakan oleh seorang konselor terhadap klien dalam rangka pengentasan masalah pribadi klien yang dilaksanakan interaksi langsung antara klien dan konselor”.

Astuti (2008:14) mengemukakan bahwa “salah satu yang dapat dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying yaitu dengan mengefektifkan konseling”. Konseling merupakan upaya layanan yang paling utama dalam pelaksanaan fungsi pengentasan bagi siswa. Melalui layanan ini diharapkan siswa dapat menyelesaikan masalahnya secara mandiri, termasuk masalah bullying yang dialami siswa.

Kurniati (2007:12) mengungkapkan bahwa “layanan konseling sangat membantu sekali bagi siswa yang ingin curhat (istilah anak sekarang) berbagai macam permasalahannya kepada guru bimbingan dan

konselingnya”. Dengan layanan ini siswa tidak perlu merasa takut dikatakan mengadu atau melapor jika ia menjadi korban bullying, atau menyaksikan perilaku bullying.

Guru bimbingan dan konseling dituntut untuk dapat memahami berbagai gejolak yang secara potensial sering muncul dan cara-cara penanganannya. Guru bimbingan dan konseling harus mengetahui teknik-teknik konseling karena aplikasi pendekatan dan teknik konseling serta penyesuaiannya banyak tergantung pada keunikan siswa dan masalahnya. Hal itu berlaku pula pada siswa yang mengalami kasus bullying, mengingat bahwa kasuskasus bullying memiliki berbagai bentuk sehingga diperlukan teknik khusus untuk menanganinya.

6. Layanan bimbingan kelompok

Layanan bimbingan kelompok merupakan layanan yang diberikan kepada sekelompok individu. Layanan ini memanfaatkan dinamika kelompok untuk menyelesaikan masalah yang timbul. Gazda (dalam Prayitno dan Amti, 1999:309) mengemukakan bahwa: “layanan bimbingan kelompok merupakan kegiatan informasi kepada sekelompok siswa untuk membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat. Informasi yang diberikan merupakan materi topik-topik umum. Melalui dinamika kelompok yang intensif, pembahasan topik-topik itu mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang menunjang terwujudnya tingkah laku yang lebih efektif”.

Layanan bimbingan kelompok ditandai dengan ciri homogenitas dalam kelompok, seperti para anggota bimbingan kelompok yang homogen, permasalahn, tindak lanjut serta kegiatan yang dilakukan oleh anggota kelompokpun memiliki kesamaan. Hal ini sangat cocok untuk mengatasi bullying, seperti yang diungkapkan oleh Kurniati (2007:12) bahwa “layanan bimbingan kelompok sangat membantu siswa dalam

mengungkapkan berbagai permasalahan yang sifatnya umum yang dialami oleh semua siswa di sekolah”. Termasuk di dalamnya pembahasan persoalan bullying. Karena di dalam layanan bimbingan kelompok tujuan bersama menjadi komitmen bersama. Artinya jika semua siswa bertujuan mencegah dan memberantas bullying bersama maka semua siswa yang ikut di dalam kegiatan tersebut memiliki komitmen yang sama juga untuk melakukannya.

7. Layanan Konseling Kelompok

Prayitno dan Amti (1999:311) menyatakan bahwa “layanan konseling kelompok pada dasarnya adalah layanan konseling individual yang dilaksanakan di dalam suasana kelompok”. Sehingga dalam konseling kelompok terdapat pengungkapan dan pemahaman masalah siswa, penelusuran sebab-sebab timbulnya masalah, upaya pemecahan masalah, kegiatan evaluasi dan tindak lanjut.

Kurniati (2007:12) mengemukakan bahwa: “layanan konseling kelompok dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk membahas permasalahan yang sifatnya pribadi dalam dinamika kelompok. Sehingga siswa-siswa yang terkait dengan permasalahan bullying dapat menjadikan layanan ini sebagai media untuk mengentaskan permasalahannya dengan bantuan anggota kelompok yang lain”.

Melalui dinamika interaksi sosial yang terjadi di antara anggota kelompok, masalah yang dialami oleh masing-masing individu anggota kelompok dicoba untuk dientaskan, termasuk diantaranya masalah bullying yang dialami siswa. Peranan guru bimbingan dan konseling dapat diperkuat oleh peranan dinamika interaksi sosial dalam suasana kelompok. Dengan demikian, proses pengentasan masalah individu dalam konseling kelompok mendapatkan dimensi yang lebih luas. Dengan begitu konseling kelompok dapat menjadi cara yang baik untuk menangani konflik-konflik antar pribadi seperti yang kebanyakan terjadi pada kasus bullying, selain itu siswa juga dapat mengembangkan kemampuan pribadinya seperti

pengendalian diri, tenggang rasa, dan teposeliro. Hal-hal tersebut diharapkan dapat berguna bagi upaya pengentasan kasus bullying.

8. Layanan Mediasi

Layanan mediasi merupakan layanan yang dilaksanakan untuk mencapai kondisi hubungan yang positif dan kondusif di antara pihak-pihak yang berselisih. Prayitno (2004:1) mengemukakan bahwa: “layanan mediasi merupakan layanan konseling yang dilaksanakan konselor terhadap dua pihak (atau lebih) yang sedang dalam keadaan saling tidak menemukan kecocokan. Tujuan dari layanan ini yaitu untuk mencapai kondisi hubungan yang positif dan kondusif di antara para siswa yang berselisih.” Masalah yang dibahas di dalam layanan mediasi pada dasarnya adalah masalah hubungan yang terjadi di antara individu atau kelompokkelompok yang bertikai, yang memerlukan bantuan konselor untuk mengatasinya.

Astuti (2008:14) mengungkapkan bahwa “salah satu yang dapat dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying yaitu melalui mediasi”. Artinya layanan mediasi juga dapat menjadi salah satu alternatif untuk menyelesaikan masalah bullying. Mediasi dapat

dilaksanakan antara korban dan pelaku bullying. Pelaksanakan mediasi oleh guru bimbingan dan konseling tidak boleh menyalahkan salah satu pihak. Guru bimbingan dan konseling sebagai perencana dan

penyelenggara layanan mediasi harus memahami permasalahan yang terjadi dan mengupayakan membangun jembatan yang menganga di antara korban dan pelaku bullying. Hal tersebut sesuai dengan apa yang

diungkapkan oleh Kurniati (2007:12) bahwa “guru bimbingan dan konseling hendaknya dapat menjadi penghubung serta fasilitator dalam penyelesaian permasalahan bullying, karena memang persoalan ini bisa melibatkan banyak pihak yang terkait di dalamnya”.

9. Layanan Konsultasi

Layanan konsultasi merupakan layanan yang memungkinkan konselor untuk membantu menyelesaikan masalah sindividu melalui pihak ketiga. Prayitno (2004:2) mengemukakan bahwa: “layanan konsultasi merupakan layanan konseling yang dilaksanakan oleh konselor terhadap seorang konsulti yang memungkinkan konsulti memperoleh wawasan, pemahaman dan cara-cara yang perlu dilaksanakannya dalam menangani kondisi dan/atau permasalahan pihak ketiga”. Tujuan dilaksanakan layanan ini yaitu agar konsulti dengan

kemampuannya sendiri dapat menangani kondisi dan/atau permasalahan yang dialami pihak ketiga.

Kurniati (2007:12) mengemukakan bahwa “guru bimbingan dan konseling hendaknya menjadi tempat konsultasi berbagai pihak yang terkait dengan permasalahan bullying”. Selain itu, Astuti (2008:58) menyatakan bahwa “guru bimbingan dan konseling juga diharapkan dapat memberi data atau informasi mengenai pemahaman bullying yang terjadi di sekolah kepada semua pihak yang membutuhkan”.

Dalam upaya mengatasi bullying, layanan konsultasi dapat diberikan pada pihak-pihak terkait yang dapat berperan dalam membantu siswa-siswa

yang terlibat bullying. Nusantara (2008:37) mengungkapkan bahwa “pihak-pihak yang dapat berperan dalam mengatasi bullying antara lain kepala sekolah, guru, dan orang tua”. Kepala sekolah, guru, dan orang tua sebagai konsulti dapat meminta bantuan kepada guru bimbingan dan konseling agar mampu menangani kondisi/atau permasalahan pihak ketiga (korban/pelaku bullying) yang menjadi tanggung jawabnya.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa guru bimbingan dan konseling memiliki peranan penting dalam membantu menangani masalahmasalah yang dialami siswa termasuk di dalamnya masalah bullying yang dialami oleh siswa. Guru bimbingan dan konseling harus memberikan perhatian kepada siswa yang terlibat dalam bullying, tidak hanya pada siswa yang menjadi korban bullying, tapi juga pada pelaku bullying. Oleh karena itu, guru bimbingan dan konseling harus melakukan berbagai upaya untuk dapat menangani kasus-kasus bullying yang terjadi di sekolah. Upaya-upaya yang dilakukan harus sesuai dengan fungsi bimbingan dan konseling di

sekolah. Berdasarkan fungsi bimbingan dan konseling guru bimbingan dan konseling dapat mengatasi bullying disekolah melalui beberapa langkah yaitu pencegahan, pemahaman, pengentasan, dan advokasi. Langkah-langkah tersebut dapat terwujud melalui layanan yang ada di bimbingan dan konseling. Oleh karena itu, berdasarkan layanan yang diberikan, guru bimbingan dan konseling dapat mengatasi bullying dengan memberikan kesembilan layanan yang ada di bimbingan konseling yaitu layanan orientasi, layanan informasi, layanan penguasaan konten, layanan penempatan dan penyaluran, layanan

konseling individual, layanan bimbingan kelompok, layanan konseling kelompok, layanan mediasi, dan layanan konsultasi.

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 8 Bandar Lampung pada tahun 2010/2011. Penelitian berlangsung dari tanggal 1 November 2010 hingga 19 Januari 2011.

B. Alat Bantu Penelitian

Alat bantu dalam penelitian ini diperlukan untuk memperoleh transkrip yang lengkap dari wawancara yang dilakukan, dimana data yang terkumpul akan dilaporkan secara rinci dalam bentuk verbatim. Hal ini berguna untuk menanggulangi keterbatasan kecepatan peneliti untuk mencatat berbagai informasi yang dikemukakan oleh partisipan. Alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berupa handphone yang dilengkapi dengan fasilitas perekam suara. Alat bantu ini bermanfaat untuk merekam situasi yang relevan dalam memberikan gambaran yang lebih jelas tentang fenomena yang diteliti. Perekam suara digunakan untuk merekam keseluruhan wawancara agar

verbatim dapat dibuat dengan benar dan sesuai dengan yang diungkapkan oleh partisipan.

C. Tipe Penelitian

Penelitian ini meneliti mengenai upaya guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying, dimana hal tersebut merupakan masalah kompleks yang dinamis dan penuh makna sehingga tidak mungkin data pada situasi sosial tersebut dijaring dengan metode penelitian kuantitatif. Selain itu masalah yang diteliti juga merupakan masalah yang bersifat holistik, dimana masalah tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan akan tetapi harus mencangkup keseluruhan situasi sosial yang ada, sehingga penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Sugiyono (2009:1) mengungkapkan “bahwa penelitian kualitatif berusaha menggambarkan suatu gejala sosial”. Dengan kata lain penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat studi.

Sugiyono (2009:205) mengemukakan bahwa dengan “menggunakan metode kualitatif, maka data yang didapat akan lebih lengkap, lebih mendalam, kredibel, dan bermakna sehingga tujuan penelitian dapat dicapai”. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif.

D. Karakteristik Informan

Subyek penelitian dalam penelitian kualitatif disebut dengan istilah informan. informan dalam penelitian ini yaitu guru bimbingan dan konseling dan siswa yang terlibat bullying baik sebagai korban ataupun pelaku. Siswa dipilih karena dalam kasus bullying yang merasakan dampak dari upaya yang

diberikan oleh guru bimbingan dan konseling di sekolah dalam mengatasi

bullying adalah siswa. Penentuan informan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik snowball sampling, dimana informan dipilih pada awalnya jumlahnya sedikit, lama-lama menjadi besar. Pengambilan informasi diawali pada satu individu yang biasa disebut informan kunci, setelah itu baru didapatkan calon-calon informan lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan data yang cukup karena dari jumlah informan yang sedikit belum mampu memberikan data yang memuaskan sehingga dibutuhkan partisipan lebih banyak lagi.

E. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara semiterstruktur. Jenis wawancara ini termasuk dalam kategori wawancara mendalam (indepth interview), dimana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur, dimana peneliti menggunakan pedoman wawancara bersifat umum yang mencantumkan isu-isu yang harus diliput.

Wawancara dilakukan kepada guru bimbingan dan konseling untuk mendapatkan data mengenai upaya guru bimbingan dan konseling yang telah dilaksanakan dalam mengatasi bullying. Selain itu, wawancara juga dilakukan kepada siswa yang merasakan langsung upaya yang dilaksanakan guru

bimbingan dan konseling . Indikator yang akan diungkap dalam wawancara yaitu mengenai upaya guru bimbingan dan konseling yang meliputi sembilan layanan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan dalam upaya mengatasi bullying serta faktor-faktor yang menyebabkan siswa melakukan bullying.

Pengumpulan data dalam penelitian ini juga didukung dengan telaah dokumen. Dokumen digunakan untuk mendukung data-data yang diperoleh dari hasil wawancara. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih dapat dipercaya. Dokumen-dokumen yang dapat digunakan antara lain catatan pihak bimbingan dan konseling mengenai siswa seperti latar belakang keluarga, tingkat sosial ekonomi, prestasi, serta catatan-catatan lain yang berkaitan dengan data yang akan diungkap.

F. Prosedur Penelitian

Penelitian merupakan proses ilmiah dimana salah satu syaratnya yaitu harus sistematis. Sistematis artinya di dalam suatu penelitian harus terdapat prosedur yang jelas dalam pelaksanaanya. Prosedur penelitian harus jelas mulai dari persiapan hingga pelaksanaannya.

Prosedur dalam penelitian ini mengacu pada prosedur penelitian yang dikemukakan oleh Santoso dan Royanto (2009:65). Penelitian ini dimulai dari tahap persiapan, yakni peneliti mempersiapkan instrumen berupa pedoman wawancara. Setelah itu, peneliti terjun ke lapangan dengan berbekal surat izin penelitian dari fakultas. Setelah di lapangan peneliti mulai melaksanakan penelitian, dengan terlebih dahulu mencari calon partisipan. Partisipan yang

pertama dalam penelitian ini yaitu koordinator bimbingan dan konseling sekolah. Karena menggunakan teknik snowball sampling, maka dari koordinator bimbingan dan konseling di sekolah ini lah akan diperoleh partisipan lainnya yang terkait dengan masalah dalam penelitian ini, seperti siswa yang terlibat bullying serta guru bimbingan dan konseling yang ikut andil dalam mengatasi bullying yang terjadi di sekolah tersebut.

Hal lain yang harus diperhatikan dalam penelitian ini yaitu adanya isu etis, sehingga peneliti melakukan beberapa upaya agar hal tersebut dapat diminimalisir, yaitu antara lain dengan merahasiakan identitas partisipan. Sebab itu, dalam penelitian ini nama informan akan dirahasiakan yakni dengan mengunakan inisial huruf. Syarat lain dalam penelitian kualitatif yaitu informan memiliki hak untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh peneliti terhadap dirinya. Sehubungan dengan hal itu, maka peneliti akan mencoba menjelaskan secara lisan tujuan dilaksanakannya penelitian ini dan mengungkapkan peran informan tersebut sebagai sumber data yang relevan dalam penelitian ini. Selain itu, yang perlu diperhatikan dalam penelitian ini yaitu mengenai pengujian kredibilitas data yang diperoleh. Pengujian kredibilitas data penelitian dalam penelitian ini dilakukan dengan cara:

1. Perpanjangan pengamatan

Penelitian akan diperpanjang jika data yang diperoleh belum memadai dan belum kredibel. Peneliti kembali ke lapangan, melakukan pengamatan, dan wawancara lagi dengan nara sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru. Dengan perpanjangan pengamatan ini diharapakan hubungan

peneliti dengan nara sumber akan semakin membentuk rapport, semakin akrab, semakin terbuka, dan saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi.

2. Meningkatkan Ketekunan

Pengujian kredibilitas dengan meningkatkan ketekunan ini dilakukan dengan cara penelitian membaca seluruh catatan hasil penelitian secara cermat, sehingga dapat diketehui kesalahan dan kekurangannya. Demikian juga dengan meningkatkan ketekunan, maka peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis tentang apa yang diamati.

Sebagai bekal penelitian untuk meningkatkan ketekunan adalah dengan cara membaca sebagai refrensi buku maupun hasil penelitian atau dokumentasi-dokumentasi yang terkait dengan temuan yang diteliti. Dengan membaca ini maka wawasan penelitian akan semakin luas dan tajam, sehingga dapat digunakan untuk memeriksa data yang ditemukan itu benar/dipercaya atau tidak.

3. Triangulasi

Triangulasi dilakukan dengan cara triangulasi teknik, sumber data dan waktu. Tringulasi teknik dilakukuan dengan cara menanyakan hal yang sama dengan teknik yang berbeda, yaitu dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Triangulasi sumber, dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama melalui sumber yang berbeda, dalam hal ini sumber datanya adalah guru bimbingan dan konseling. Triangulasi waktu artinya

pengumpulan data dilakukan pada berbagai kesempatan, pagi, siang, dan sore hari. Dengan tringulasi dalam pengumpulan data tersebut, maka dapat diketahui apakah nara sumber memberi data yang sama atau tidak. Kalau nara sumber memberikan data yang berbeda maka berarti datanya belum kredibel.

4. Analisis kasus negatif

Kasus negatif adalah kasus yang tidak sesuai atau berbeda dengan hasil hingga pada saat tertentu. Melakukan analisis kasus negatif berarti penelitian mencari data yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan data yang telah ditemukan . Bila tidak ada lagi data yang berbeda atau bertentangan dengan temuan, berarti data yang ditemukan sudah dapat dipercaya. Tetapi bila diteliti masih mendapatkan data-data yang bertentangan dengan data yang ditemukan, maka peneliti mungkin akan merubah temuannya.

G. Instrumen

Instrumen penelitian yang utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Mengingat bahwa dalam penelitian kualitatif pada awalnya permasalahan belum jelas dan pasti, sehingga yang menjadi instrumen adalah peneliti sendiri. Keberhasilan penelitian sendiri terletak pada keterampilan peneliti untuk menggali informasi dan menginterprestasikannya serta membina kedekatan (rapport) dengan partisipan.

Pedoman wawancara juga diperlukan oleh peneliti sebagai alat bantu dalam mengumpulkan informasi yang dibutuhkan. Pedoman wawancara dalam penelitian ini akan membantu peneliti dalam mengungkap upaya-upaya yang telah dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying baik dari kacamata guru bimbingan dan konseling sebagai pelaksana layanan maupun dari siswa yang merasakan langsung upaya yang diberikan guru bimbingan dan konseling tersebut. Selain itu perlu diungkap juga mengenai faktor-faktor penyebab siswa melakukan bullying.

H. Analisis Data

Data yang diperoleh dari lapangan harus dianalisis agar dapat disimpulkan dan mendapatkan hasil sesuai tujuan penelitian, untuk itu dibutuhkan analisis data yang tepat. Analisis dilakukan pada semua data yang terkumpul, baik dalam bentuk coretan atau catatan, hasil wawancara dalam bentuk rekaman, dokumen, foto-foto dan sebagainya.

Hal pertama yang perlu dilakukan yaitu menuliskan hasil wawancara dalam bentuk transkrip verbatim secara lengkap. Hasil wawancara ditulis kata perkata sesuai dengan hasil rekaman wawancara. Selain itu, hal yang tidak kalah penting yakni dalam pengorganisasian data. Pengorganisasian data dalam penelitian ini akan dilakukan secara cross sectional, dimana data yang didapat diatur secara kronologis atau tematis, sehingga ketika dibutuhkan data dapat diperoleh dengan cepat dan efisien. Selanjutnya, untuk mempermudah pengorganisasian data maka dilakukan koding. Koding merupakan proses mengelompokkan dan memilah data. Kode yang digunakan berupa kata atau

serangkaian kata yang digunakan pada sebagian data yang diperoleh dari jawaban pertanyaan. Koding yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

koding analisis, dimana koding dilakukan dengan cara menyediakan kolom di lembar verbatim untuk membubuhkan kode-kode atau catatan-catatan tertentu. Tahapan dalam koding analisis yaitu inisial koding, yang merupakan proses dimana peneliti mencari apa yang dapat ditemukan dan dijelaskan dari data yang diperoleh. Lalu selanjutnya fokus koding, yang merupakan proses memilih dan memfokuskan sekelompok kode yang digunakan untuk meningkatkan kekayaan data.

Analisis data penelitian yang selanjutnya yaitu dengan membuat uraian tentang setiap partisipan (analisis intra-subyek) dan analisis antar partisipan (analisis inter-subyek). Analisis intra-subyek menguraikan secara rinci mengenai jenis kelamin, usia, pendidikan, keluarga, kebiasaan dan hal-hal yang terkait dengan topik penelitian. Selain itu, peneliti juga akan memaknai setiap informasi berkaitan dengan topik penelitian yang didapatkan dari partisipan.

Analisis data inter-subyek dilakukan karena dalam penelitian ini partisipan terdiri lebih dari satu orang. Analisis dilakukan dengan cara membandingkan satu partisipan dengan partisipan yang lain. Dengan begitu akan diperoleh pola atau konsistensi aspek yang diteliti. Selanjutnya, dalam penelitian ini akan digunakan teknik analisis data segmenting. Tesch (dalam Santoso dan Royanto, 2009:72) menyatakan bahwa segmenting merupakan “teknik analisis data dimana data yang diperoleh berupa transkrip diambil satu bagian tertentu,

kemudian bagian tersebut diinterprestasikan sesuai dengan teori atau konsep yang telah dikemukakan”. Artinya data yang diperoleh berupa transkrip dikutip langsung dan diinterprestasikan berdasarkan teori pendukung yang telah ada, tanpa mengurangi arti sesungguhnya dari apa yang diungkapkan oleh informan.

IV. HASIL DAN ANALISIS

Data yang diperoleh dari penelitian ini merupakan data kualitatif yang berbentuk catatan, rekaman wawancara, dan dokumen. Data tersebut dianalisis dengan membuat uraian tentang setiap partisipan yang disebut analisis intrasubyek. Analisis intra-subyek menguraikan secara rinci mengenai jenis kelamin, usia, pendidikan, keluarga, kebiasaan dan hal-hal yang terkait dengan topik penelitian. Selanjutnya, akan dijelaskan mengenai analisis data intersubyek. Analisis inter-subyek menguraikan tentang upaya guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying, faktor-faktor yan menyebabkan bullying, dan layanan yang paling efektif dalam mengatasi bullying. Hal tersebut dijelaskan berdasarkan pendapat informan yang dikutip langsung dan diinterprestasikan berdasarkan teori pendukung yang telah ada, tanpa mengurangi arti sesungguhnya dari apa yang diungkapkan oleh informan.

A. Analisis Intra-Subjek

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara di SMAN 8 Bandar Lampung, maka untuk mengetahui upaya yang telah dilakukan dalam mengatasi bullying di SMAN 8 Bandar Lampung didapat tiga orang guru bimbingan dan konseling sebagai informan. Selain itu, agar data yang diperoleh dapat lebih dipercaya dan untuk mengetahui layanan yang paling

efektif digunakan untuk mengatasi bullying berdasarkan faktor-faktor penyebabnya, maka penulis menambahkan informasi perwakilan dari siswa.

1. Informan 1

Informan

1 berinisial I berjenis kelamin perempuan berstatus lajang.

Wanita berumur 48 tahun ini beralamat di Jl. Dr. Sutomo Penengahan Bandar Lampung. Beliau menjabat sebagai koordinator bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung.

Proses wawancara dengan informan berlangsung di ruang BK SMAN 8 Bandar lampung. Informan bersikap terbuka dan sangat menerima kehadiran peneliti. Informan dapat bekerja sama dengan baik dengan memberikan semua informasi yang dibutuhkan peneliti.

2. Informan 2

Informan 2 berinisial M berjenis kelamin laki-laki. Beliau berstatus menikah dan memiliki 3 orang anak. Pria berumur 36 tahun ini berlamat di Jl. Laks. Malahayati Teluk Betung Bandar Lampung. Beliau menjabat sebagai guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung.

Proses wawancara berlangsung di ruang BK, dimana terdapat beberapa guru bimbingan dan konseling lainnya. Meskipun demikian proses wawancara tetap berjalan, informan pun dapat bekerjasama dengan baik hingga data yang dibutuhkan terpenuhi.

3. Informan 3

Informan 3 berinisial G berjenis kelamin perempuan. Beliau berstatus menikah dan memiliki 3 orang anak. Wanita berumur 37 tahun ini berlamat di Perum Permata Biru Sukarame Bandar Lampung. Beliau menjabat sebagai guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung.

Proses wawancara berlangsung di ruang BK, dimana terdapat beberapa guru bimbingan dan konseling lainnya serta terdapat beberapa siswa yang datang. Meskipun demikian proses wawancara tetap berjalan, informan pun dapat bekerjasama dengan baik hingga data yang dibutuhkan terpenuhi.

4. Informan 4

Informan 4 berinisial R berjenis kelamin laki-laki berusia 16 tahun. Siswa kelas XII IPS 3 ini beralamat di Jl. Beringin Raya Bakung Bandar Lampung.

Siswa menjalani wawancara di ruang BK. R dengan sukarela bersedia untuk diwawancara dan memberikan informasi yang dibutuhkan peneliti. Wawancara sempat terganggu karena terdapat guru lain yang masuk ke ruangan. Berdasarkan interaksi yang terjadi tersebut dapat diketahui bahwa R merupakan siswa yang cukup agresif dan kurang dapat mengendalikan emosinya. Informan R mengatakan:

“Orang ngelunjak geh bu, dia tu diem-diem tapi kalo ngeliat orang itu sinis aja, dari pertama tu saya dah kesel. Kebeneran ngata-ngatain temen saya. Ya udah gebukin aja”. Berdasarkan perkataan R tersebut dapat dilihat bahwa R merupakan siswa yang agresif dan suka mencari-cari kesalahan dari temannya. Hal tersebut juga mengungkap bahwa R pernah terlibat perilaku bullying secara fisik.

5. Informan 5

Informan 5 berinisial Y berjenis kelamin laki-laki. Informan Y berusia 18 tahun dan duduk di kelas XII IPS 2. Informan Y tinggal di Jl. Ikan Mujair No.16 kelurahan Talang Teluk betung selatan. Peneliti mewawancarai Y di ruang BK. Awalnya Y menolak saat wawancara yang dilakukan harus direkam, tapi peneliti memberikan pengertian ke Y hingga akhirnya Y bersedia untuk merekam proses wawancara yang dilakukan. Y merupakan siswa yang sering kali terlibat bullying, baik di dalam sekolah ataupun di luar sekolah. Y terlibat bullying secara fisik. “Selisih paham pas di lapangan itu, kalah gak terima. Pertama ribut kan di viva, di tempat futsalnya, udah itu gak jadi, ada yang misahin, selepas diorang pulang, diorang nunggu di jembatan, jembatan BW, kitorang pulang, kitorang di uber sama diorang masih deket SMA 8 juga digebukin”. Berdasarkan perkataannya tersebut dapat diketahui bahwa Y merupakan korban bullying. Selain itu, Y juga pernah menjadi pelaku bullying secara fisik, seperti yang diungkapkan olehnya berikut: “Permasalahannya sms, temen saya di sms sama dia bahasanya gak enak, udah itu kita gebukin”. Hal tersebut menunjukkan bahwa Y merupakan siswa yang agresif dan suka mencari-cari kesalahan temannya.

6. Informan 6 Informan 6 berinisial O berjenis kelamin perempuan. O berusia 16 tahun beralamat di Jl. Pulau Legundi No.7 Sukabumi Bandar Lampung. O terdaftar sebagai siswa kelas XII IPS 3. O merupakan siswa pindahan, ia bersekolah di SMAN 8 Bandar Lampung sejak kelas XI. Proses wawancara dengan O berlangsung di ruang BK. O dapat bekerjasama dengan baik dalam memberikan informasi yang berkaitan dengan permasalahan penelitian. Berdasarkan keterangan dari guru bimbingan dan konseling diketahui bahwa O pernah menjadi korban bullying, dimana ia mendapat ejekan berupa kata-kata kasar dari teman-temannya. Selain itu O juga pernah menjadi korban bullying secara fisik, seperti yang diungkapkan olehnya berikut ini: “Pas O lagi di kantin, cewek ini dateng dari arah berlawanan, terus dia ngomong ngapa lu nyolot ama gua, kan emosi jadi ngedorong”. Berdasarkan hal tersebut diketahui bahwa O merupakan siswa yang seringkali terlibat bullying, khususnya menjadi korban bullying dari teman-temannya.

7. Informan 7

Informan 7 berinisial A berjenis kelamin laki-laki. A berusia 17 tahun dan duduk di kelas XII IPS 1. A beralamat di Jl. Asrama Polisi No.3 Teluk betung Bandar Lampung. A menjalani proses wawancara di ruang BK. A dapat menerima kehadiran peneliti dengan baik. A bersikap terbuka dan tidak sungkan menceritakan semua kejadian yang terkait dengan masalah penelitian. Hingga data yang dibutuhkan peneliti terkumpul.

A merupakan siswa yang seringkali terlibat bullying di sekolahnya. A pernah menjadi pelaku bullying. Informan A mengatakan: “Biasa kenakalan remaja, berantem. Awalnya salah paham se, dia ngomongin A kan, pas A tanya dia gak mau ngaku, ya udah dia kurang suka A tanyain, ribut ujung-ujungnya”. Selain itu, A juga pernah menjadi korban bullying teman-temannya. “Pernah dikeroyok A, ama 10 orang A dikeroyok. Masalahnya gara-gara maen bola mba, A gak sengaja nginjek kaki dia kan, gak seneng dia kirain A maen rusuh, maen curangkan ama dia. Denger-denger ngajak A senggolan, iya A samperin, tau-tau temen-temen nyentangin dari belakang. Alhamdulillah gak papa”.

Berdasarkan perkataannya tersebut tampak bahwa bullying merupakan perilaku yang berkesinambungan, siswa yang pernah menjadi korban bullying cendrung akan bertindak kasar dan melakukan bullying kepada orang yang lebih lemah darinya.

B. Analisis Inter-Subjek

1. Upaya guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying

a. Layanan orientasi dalam mengatasi bullying

Layanan orientasi merupakan layanan bimbingan dan konseling yang berkaitan dengan fungsi pemahaman. Siswa perlu memahami berbagai hal penting dari suasana yang ditemuinya, begitu juga dengan siswa yang rentan terkena bullying. Layanan orientasi yang dapat diberikan kepada siswa agar terhindar dari bullying yakni mengenai pemahaman

tugas dan fungsi guru bimbingan dan konseling serta peranan personil sekolah lainnya dalam mengatasi bullying.

Guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung sendiri telah memberikan layanan orientasi guna mengatasi bullying. Informan I mengatakan: “Tapi andaikan kalian gak bisa mengatasi bicara aja dengan dewan guru, bisa guru bidang studi, bisa guru wali kelas bisa juga guru BK. Kalo masalah pribadi kalian bisa pilih guru yang kalian percaya. Mereka nyebutnya curhat sharing bukan konseling”. Informan perwakilan dari siswa, O juga mengatakan: “Iya disampein, pas pelajaran BK itu, setiap minggunya. Tugasnya untuk ngebimbing siswa yang terlibat”. Selain itu, informan R juga mengatakan: “Iya tau se, untuk mengatasi masalah. Taunya dari kalo kena masalah ngadepnya guru BK, untuk ngasi masukan-masukan. Pernah juga disampein di kelas”. Akan tetapi, terdapat informan yang berpendapat sedikit berbeda seperti informan Y: “Sedikit banyak nya tau lah, Cuma kan sepenuhnya gak ngertilah. Kalo kata saya se buat ngebimbing muridnya untuk lebih baik. Diingetin di kelas pas pelajaran dia”. Berdasarkan perkataan informan I diketahui bahwa guru bimbingan dan konseling telah berupaya mengenalkan pada siswa bahwa segala perilaku bullying yang terjadi di lingkungan sekolah dapat mereka laporkan kepada pihak sekolah agar dapat diselesaikan. Akan tetapi tidak semua siswa paham dan melakukan hal yang disarankan oleh guru bimbingan dan konselingnya tersebut. Hal itu sesuai dengan apa

yang

diungkapkan

Kurniati

(2007:12),

sehubungan

dengan

penanganan bullying maka “siswa perlu mendapatkan penjelasan bahwa di sekolah terdapat guru bimbingan dan konseling yang

memberikan layanan kepada siswa secara individual”. Selain itu, Nusantara (2008:42) menyatakan bahwa “dalam menjalankan

fungsinya guru bimbingan dan konseling perlu bekerjasama dengan bidang kesiswaan dan wali kelas untuk mencari jalan keluar kasuskasus yang dihadapi siswa”. Berdasarkan hal tersebut, pengenalan bahwa personil sekolah yang lain juga dapat berperan dalam mengatasi bullying perlu juga disampaikan.

Selain itu, guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung juga memberikan layanan orientasi berupa pengenalan peraturan sekolah mulai dari awal siswa memasuki sekolah dan berkelanjutan hingga ke keseharian siswa. Informan M mengatakan: “Kita sampaikan bahwa di sekolah ini punya aturan, punya tata tertib sehingga mereka bisa mengerti, dan juga cara kita menyampaikan tidak memaksa, tapi secara kesadaran mereka saja. Disampaikannya saat masuk kelas atau istirahat seperti ini, sering juga kami sampaikan satu per satu ke anaknya. Yang paling ini sekali waktu upacara, upacara hari senin itu kan disampaikan tata tertib sekolah, sopan santun, tata krama pada anak-anak itu”. Informan A juga mengatakan: “Dikasih tau lah bu, pas pertama masuk dikasih tau peraturanperaturan, pas di MOS itu. Ada Tri janji siswa juga dibaca tiap upacara”.

Berdasarkan perkataan informan tersebut dapat diketahui bahwa guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung juga memperkenalkan peraturan di sekolah agar diketahui oleh siswa sejak awal masuk sekolah melalui MOS. Pengenalan peraturan sekolah yang dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling tersebut sangat berguna untuk langkah awal pencegahan berkembangnya perilaku bullying.

Christin (2009:17) mengatakan salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi bullying yakni “dengan memperketat peraturan sekolah dan memberikan sangsi kepada anak-anak yang terlibat dalam bullying”. Hal ini berarti bahwa memperketat peraturan sekolah dan menjelaskan sangsi yang diberikan jika melakukan bullying

merupakan hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi bullying. Pengenalan terhadap peraturan sekolah bisa menjadi langkah awal dalam memperketat peraturan sekolah dan mengenalkan sanksi yang diterima jika terjadi bullying.

Berdasarkan hal tersebut diketahui bahwa di SMAN 8 Bandar Lampung pelaksanaan layanan orientasi dalam mengatasi bullying diberikan dalam bentuk pengenalan tugas dan fungsi guru bimbingan dan konseling dan peranan personil sekolah lainnya dalam mengatasi bullying serta pengenalan terhadap peraturan sekolah. Guru bimbingan dan konseling menyatakan telah mengenalkan tugas dan fungsi guru bimbingan dan konseling dan peranan personil sekolah lainnya dalam mengatasi bullying, akan tetapi tidak semua siswa memahami hal

tersebut. Hal ini terjadi karena guru bimbingan dan konseling menyampaikannya dengan tidak secara mendalam, sehingga siswa hanya sebatas mengetahui tanpa benar-benar memahami informasi yang telah diberikan tersebut. Pengenalan terhadap peraturan sekolah sendiri dapat menjadi langkah awal dalam memperketat peraturan sekolah dan mengenalkan sanksi yang diterima jika terjadi bullying, dimana hal tersebut dapat dilakukan untuk mengatasi bullying.

b. Layanan informasi dalam mengatasi bullying

Layanan informasi merupakan layanan bimbingan dan konseling yang bermaksud memberikan pemahaman kepada siswa mengenai berbagai hal. Penguasaan informasi tersebut diharapkan dapat digunakan untuk pemecahan masalah yang dialami siswa. Guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung telah berupaya memberikan layanan informasi untuk mengatasi bullying. Informan G mengatakan: “Layanan informasi ini yang kita berikan ke anak, kita kasih pengertian dulu tentang manfaat dari berantem itu apa, segi negatifnya apa positifnya apa. Terus kita tanya permasalahannya apa, akibatnya apa kalo mengadakan perkelahian itu kan, hukuman dari sekolah kan bermacam-macam. Kalo yang tidak fatal, kalo yang fatal kan dikeluarkan. Nah itu lah informasi yang kita berikan di kelas. Jadi kita kan dikasih waktu untuk BK 1 jam per kelas, dari situlah kita dapat berinteraksi dengan anak”. Informan perwakilan dari siswapun mengatakan hal yang tidak jauh berbeda, dimana R mengatakan: “Memberi masukan untuk mematuhi peraturan. Diingetin juga jangan berantem lagi, diingetin dampaknya, bisa dilaporin polisi”.

Berdasarkan perkataan informan di atas dapat diketahui bahwa layanan informasi untuk mengatasi bullying telah dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling. Kurniati (2007:12) menyatakan hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi bullying yakni: “Memberikan pemahaman terhadap siswa tentang bahaya dari perilaku bullying dan memberikan informasi kepada siswa tentang konsekuensi yang akan diterimanya dari sekolah (hukuman) jika ia melakukan tindakan bullying”. Dengan memberikan informasi yang jelas mengenai perilaku bullying serta akibat yang akan mereka terima jika terlibat bullying, maka diharapkan dapat mencegah siswa terlibat perilaku bullying di sekolah. Upaya tersebut telah dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung. Guru bimbingan dan konseling telah berupaya menyampaikan informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan bentuk nyata dari bullying yakni berkelahi. Guru bimbingan dan konseling telah menyampaikan pengertian dan dampak dari berkelahi.

Berkaitan dengan layanan informasi, Informan I juga mengatakan: “Iya, kaya gender gitu, kebersamaan antara pria dan wanita. Saling menghargai. Itu disampaikannya secara klasikal, kalo secara individu itu disampaikannya kalau sudah terjadi. Ada juga mengenai pergaulan, antara pria dan wanita, yang pertama paling pokok itu agama. Jadi kalo kita bergaul dimanapun, kalo kita beragama memegang ajaran agama maka gak akan terjadi hal-hal yang negatif”. Informan perwakilan dari siswapun mendukung perkataan dari informan guru saat ditanyakan mengenai materi apa saja yang diberikan mengenai layanan informasi. Informan R mengatakan:

“Cara bergaul, memilih teman disampaikan tapi selingan aja gak ada materi khusus”. Selain itu,informan Y juga mengatakan: “Kalo kelas 3 ini lagi diajarin materi kenakalan remaja”. Hal tersebut sesuai dengan Prayitno dan Amti (1999:256) yang menyatakan bahwa salah satu informasi yang dapat diberikan dalam layanan informasi yaitu informasi “mengenai sosial-budaya, khusunya pada bahasan “antarbudaya” manusia ditakdirkan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa”. Hal tersebut perlu diinformasikan pada siswa karena seperti yang diungkapkan oleh Astuti (2008:54) bahwa “salah satu penyebab bullying yaitu perbedaan etnis/ras”. Melalui pemberian informasi mengenai sosial budaya maka diharapkan siswa mampu memahami perbedaan tersebut sebagai suatu kekuatan untuk dapat saling memberi dan berbagi bukan menjadi alasan untuk saling bermusuhan. Hal serupa dilakukan guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung, dimana guru bimbingan dan konseling berupaya memberikan materi mengenai pergaulan, cara berteman, perbedaan gender pria dan wanita serta pemahaman agama guna mengatasi bullying yang dilakukan siswa di sekolah. Hal tersebut diberikan untuk menumbuhkan kesadaran dalam diri siswa agar dapat menerima perbedaan dan tidak menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk bermusuhan atau menindas seseorang.

Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung telah memberikan layanan

informasi dalam upaya mengatasi bullying yang dilakukan oleh siswa. Layanan informasi yang diberikan yakni pemberian informasi mengenai pengertian serta dampak dari berkelahi. Guru tidak menyampaikan mengenai bullying, karena berdasarkan pernyataan dari guru bimbingan dan konseling diketahui bahwa mereka belum begitu akrab dengan istilah bullying, meskipun diakui bahwa pada kenyataannya bullying juga terjadi di SMAN 8 Bandar Lampung. Selain itu, informasi yang diberikan juga mengenai kehidupan sosial budaya, dimana siswa diinformasikan mengenai pergaulan, cara berteman, perbedaan gender pria dan wanita serta pemahaman agama guna mengatasi bullying yang dilakukan siswa di sekolah. Akan tetapi, berdasarkan pernyataan siswa bahwa materi yang disampaikan oleh guru bimbingan dan konseling diberikan hanya berupa kilasan singkat tanpa materi khusus sehingga tidak banyak informasi yang diterima oleh siswa. Hal tersebut membuat layanan informasi yang diberikan menjadi kurang maksimal.

c. Layanan penguasaan konten dalam mengatasi bullying

Layanan penguasaan konten merupakan layanan bantuan kepada individu untuk menguasai kemampuan atau kompetensi tertentu melalui kegiatan belajar. Tujuan umum layanan ini ialah dikuasainya suatu konten tertentu. Guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung menyatakan telah memberikan layanan konten bagi siswa yang terlibat bullying. Informan I mengatakan:

“Ya, paling di kelas itu, saat di kelas atau saat kejadian, kan diciduk tu kalau kejadian, semua yang berkaitan, dikasih masukan, ditanyakan masalah itu, antisipasinya itu ya cepet lapor dengan guru bidang studi, atau BK. Tapi kalo memang untuk pertamanya pisah dulu, pegang temen masing-masing, tapi kalo memang gak bisa baru cepet lapor guru terdekat. Ya paling umi juga ngomong, kalo kalian melakukan perbuatan seperti itu, banyak manfaatnya apa mudorotnya, mereka bilang banyak mudorotnya, maka harus dihindari”. “Kalo untuk korbannya juga, kalo memang gak sesuai dengan diri kamu, kamu lapor ajalah dengan guru BK biar dipanggil biar ada penyelesaikan. Jadi intinya ngelapor secepatnya. Ngelapor itu kan biar mereka itu gak resah, sekolah besok gak resah, mereka juga gak akan ngulangi perbuatannya. Tapi kalo udah ke BK insya Allah berubah low, karena mereka mungkin takut dengan perjanjian itu. Tapi ada juga kalo yang saya tahu biar korbannya itu melawan jika ditindas, kalo memang tidak begitu berbahaya gak papa dibalas biar mereka gak mau mengulanginya lagi, tapi harus tetap sepengetahuan BK nya”. Informan M juga mengatakan: “Itu lebih ke tatakrama dia, kalian kan harus menghindari pekerjaan yang merugikan, contohnya apabila kamu diajak bertikai kenapa kamu harus ikut-ikutan, nah itu kamu harus bisa mencegah, harus bisa menolak, dan juga harus memberikan bimbingan kepada siswa itu. Itu disampaikan saat di kelas atau dipanggil per individu”. Selain itu, dari pihak siswa juga menyatakan hal tak jauh berbeda saat ditanyakan mengenai hal apa saja yang telah diajarkan pada mereka untuk menghadapi bullying. Informan O mengatakan: “Diajarin, misalnya kalo emang dia nya udah sangking ngelunjak, kalo udah keseringan gitu, dilawan aja”. “Iya, kan anak baru, beda nya gak punya banyak temen. Disaraninnya buat bisa beradaptasi aja, misalnya kalo lagi belajar gitu harus bisa buat diri itu nyaman, biar temennya nyaman temenan sama kita”.

Berdasarkan pernyataan informan di atas diketahui bahwa layanan penguasaan konten yang diberikan guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung meliputi kemampuan siswa untuk membela

diri dan cara bersosialisasi agar terhindar

dari bullying. Prayitno

(2004:5-6) mengungkapkan materi layanan penguasaan konten dapat diangkat dari “pengembangan kemampuan hubungan sosial dan pengembangan kehidupan pribadi”. Konten mengenai hubungan sosial diajarkan guru bimbingan dan konseling kepada siswa yang terlibat bullying yakni dengan mengajarkan siswa agar tidak sombong, dapat membela diri bagi korban bullying serta dapat menolak ajakan bullying. Seperti yang dikatakkan oleh A: “Diajari, gak usah dibawa dendamlah, pokoknya nasehatin biar masalahnya selesai disitu juga. Terus diajarin jangan sombong”. Berdasarkan pernyataan dari informan A tersebut, kita juga dapat mengetahui bahwa konten pengembangan kehidupan peribadi juga telah diajarkan oleh guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung antara lain mengenai kemampuan untuk tidak menaruh dendam. Selain itu informan G juga mengatakan: “Paling kita secara individual, misalnya mereka punya penampilan yang berlebihan kita kasih tahu “nak supaya tidak mengundang perhatian temen, kamu jangan bersikap seperti itu. Bukan nasehat ya, hanya informasi saja, masukan-masukan”. Berdasarkan perkataan informan G kita dapat mengetahui bahwa siswa yang memiliki kemungkinan terkena bullying juga diajarkan hal-hal yang berkaitan dengan cara bergaul dan berpenampilan agar terhindar dari bullying.

Kurniati (2007:12) menyatakan bahwa “dengan layanan penguasaan konten guru bimbingan dan konseling bisa melatih siswa-siswa yang introvert (tertutup) untuk berkomunikasi dan mengungkapkan ide-

idenya

kepada

orang

lain”.

Selain

itu,

Prayitno

(2004:4)

mengungkapkan bahwa “penguasaan konten yang tepat dan terarah memungkinkan individu membela diri sendiri terhadap ancaman ataupun pelanggaran-pelanggaran atas haknya”.

Hal tersebut sesuai dengan layanan penguasaan konten yang tengah diupayakan oleh guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung, dimana mereka mengajarkan pada siswa agar dapat membela diri ketika mendapatkan ancaman, seperti tegas mengatakan tidak dan menolak jika ada siswa lain yang berusaha menyakitinya atau mungkin mengajaknya untuk melakukan bullying, yakni dengan segera melaporkan ke guru bimbingan dan konseling jika terjadi bullying dan menjaga perilaku dalam pergaulan sehari-hari. Akan tetapi, pemberian layanan penguasaan konten oleh guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung seperti terintegrasi ke dalam layanan informasi, karena siswa hanya diajarkan secara lisan dan tidak ada format khusus seperti seharusnya. Hal tersebut membuat layanan penguasaan konten yang dimaksud kurang sesuai, sehingga siswa tidak dapat maksimal dalam penguasaan konten yang diharapkan.

d. Layanan penempatan dan penyaluran dalam mengatasi bullying Guru bimbingan dan konseling dapat mengarahkan potensi siswa

dengan menempatkan dan menyalurkan siswa ke dalam kegiatankegiatan ekstrakulikuler yang sesuai dengan bakat dan minat siswa. Dengan begitu siswa dapat menyalurkan energinya ke arah yang

positif, sehingga mereka tidak perlu melakukan hal-hal negatif untuk menyalurkan energinya yang kemudian berujung pada perilaku bullying. Akan tetapi di SMAN 8 Bandar Lampung ternyata tidak memanfaatkan layanan ini, seperti yang diungkapkan oleh informan I: “Itu kakak kelas saat MOS dipromosikan ekskulnya, jadi lebih pada keinginan mereka mau masuk mana. Kadang-kadang penyalurannya memang dari SMP sudah disalurin. Jadi sesuai hati nurani mereka”. Informan G juga mengatakan: “Enggak, anak kan memilih eskul sesuai keinginan mereka sendiri. Lebih pada bakat dan kesadaran mereka sendiri”.

Informan perwakilan dari siswa juga mengatakan hal serupa saat ditanyakan mengenai peranan guru bimbingan dan konseling dalam penempatan dan penyaluran. Informan R mengatakan: “Gak ada. Gak pernah di tanya-tanya juga bu”. Informan Y juga menjawab tidak jauh berbeda saat ditanyakan hal yang sama: “Gak, dari kelas 1, 2 emang gak ikut. Kalo kelas 3 ini kan harus fokus dengan ujian nasional”. Berdasarkan pernyataan para informan tersebut diketahui bahwa layanan penempatan dan penyaluran tidak dilaksanakan oleh guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung, khususnya dalam upaya mengatasi bullying.

e. Layanan konseling individual dalam mengatasi bullying

Layanan konseling individual dilaksanakan dengan tujuan untuk mengatasi masalah yang ada pada diri siswa, termasuk masalah bullying yang dialami siswa. Guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung sendiri mengatakan telah melakukan konseling individual guna membantu siswa yang terlibat bullying. Informan I mengatakan: “Kalo dateng sendiri biasanya setelah kejadian mereka suka curhat, jadi dikasih masukan-masukan. Kita jangan kaku harus fleksibel, kita juga harus menghargai siswa itu. Kalo mereka sudah merasa dihargai maka mereka akan mudah menerima masukan. Kalo PD nya udah dinaikin maka gak akan marah mau diapain juga. Diberitahu juga kekurangan dan kelebihan melakukan itu apa”. Informan G juga mengatakan: “Ada yang harus dipanggil, ada yang dengan kesadaran datang sendiri, tapi untuk kelas XI, kelas XII mereka sudah merasakan manfaat ke ruang BK, jadi mereka datang sendiri”. “Kalo yang berkelahi pas BK melihat, langsung kita bawa, kita tanya dulu penyebabnya apa, tidak kita pertemukan dulu antara 2 orang yang berselisih ini, kita tanya satu persatu baru kita selesaikan. Tapi kalo kita dapat laporan dari guru lain paling anaknya kita panggil. Lalu kita selesaikan”. Informan perwakilan siswa juga mendukung pernyataan dari informan guru. R mengatakan: “Iya, sempet kan ditanya kenapa se kamu ne ikut-ikutan. Saya kesel ,gini,gini,gini…sharing lah sama umi, kadang-kadang sama bu G”. Informan A juga mengatakan: “Kalo A lagi ada masalah sering sharing sama guru BK nya, curhat”.

Berdasarkan keterangan dari para informan diketahui bahwa layanan konseling telah dilaksanakan oleh guru bimbingan dan konseling di

SMAN 8 Bandar Lampung untuk membantu para siswa yang terlibat bullying. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Astuti (2008:14), yang mengemukakan bahwa “salah satu yang dapat dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying yaitu dengan mengefektifkan konseling”. Selain itu, Kurniati (2007:12) juga mengungkapkan bahwa “layanan konseling sangat membantu sekali bagi siswa yang ingin curhat (istilah anak sekarang) berbagai macam permasalahannya kepada guru bimbingan dan konselingnya”. Dengan layanan ini siswa tidak perlu merasa takut dikatakan mengadu atau melapor jika ia menjadi korban bullying, atau menyaksikan perilaku bullying.

Siswa SMAN 8 Bandar Lampung biasa menyebut konseling individual dengan istilah sharing atau curhat. Konseling individual biasa dilakukan setelah perilaku bullying terjadi. Konseling individual diberikan kepada siswa yang terlibat bullying baik sebagai korban ataupun pelaku. Proses pelaksanaan konseling individual dimulai dengan pemanggilan siswa yang terlibat bullying, lalu menggali akar permasalahan dan ditanyakan penyebabnya, baru setelah itu guru bimbingan dan konseling membantu siswa untuk dapat menyelesaikan masalahnya secara mandiri. Guru bimbingan dan konseling berusaha fleksibel dan tetap menghargai siswa yang terlibat bullying, termasuk dengan siswa pelaku bullying, dengan begitu diharapkan siswa tidak segan dan mau melakukan konseling agar masalah bullying yang menimpanya tidak terus berlanjut.

f. Layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok dalam mengatasi bullying Layanan bimbingan kelompok merupakan layanan yang diberikan kepada sekelompok individu. Layanan ini sangat membantu anak dalam mengungkapkan berbagai permasalahan yang sifatnya umum yang dialami oleh semua anak di sekolah. Termasuk di dalamnya pembahasan persoalan bullying, karena di dalam layanan bimbingan kelompok tujuan bersama menjadi komitmen bersama. Sedangkan layanan konseling kelompok pada dasarnya adalah layanan konseling individual yang dilaksanakan di dalam suasana kelompok. Konseling kelompok dapat menjadi cara yang baik untuk menangani konflikkonflik antar pribadi seperti yang kebanyakan terjadi pada kasus bullying, selain itu siswa juga dapat mengembangkan kemampuan pribadinya seperti pengendalian diri, tenggang rasa, dan teposiliro. Hal-hal tersebut diharapkan dapat berguna bagi upaya pengentasan kasus bullying.

Akan

tetapi di SMAN

8

Bandar

Lampung ternyata

tidak

memanfaatkan kedua layanan ini, seperti yang diungkapkan oleh informan I: “Tidak, karena memang kan konseling kelompok dan bimbingan itu harus ada tempat, sedangkan kita kondisi kelasnya tidak memadai”. Informan G juga mengatakan: “Gak ada, jadi memang hanya di kelas itu lah kita kasih informasinya”.

Guru bimbingan dan konseling mengaku tidak pernah memberikan layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok dengan alasan materi telah disampaikan secara klasikal dan karena keterbatasan tempat. Informan dari perwakilan siswa juga mengaku tidak pernah mendapatkan layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok, bahkan mereka tidak paham dengan kedua istilah tersebut meski telah dijelaskan. Berdasarkan hal tersebut diketahui bahwa layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok tidak dilaksanakan oleh guru bimbingan dan konseling termasuk dalam upaya mengatasi bullying. g. Layanan mediasi dalam mengatasi bullying Layanan mediasi merupakan layanan yang dilaksanakan untuk mencapai kondisi hubungan yang positif dan kondusif di antara pihakpihak yang berselisih. Layanan mediasi diberikan guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung untuk menyelesaikan kasus bullying yang terjadi. Informan G mengatakan: “Pertama itu kan, kita tanya kedua belah pihak ni, kalo memang masalahnya terlalu parah itu kita panggil orang tua. Orang tua kita panggil, wali kelas, dan wakil kesiswaan itu kita libatkan, tapi kalo memang masalahnya tidak terlalu parah ya cukup antara yang berkelahi saja, cukup diketahui guru BK dan wali kelas saja. Prosesnya yang berkelahi kita kumpulkan dulu, kita data dulu permasalahannya apa kejadiannya dimana waktunya kapan, terus terjadi korban atau tidak, terjadi pemukulan tidak, parah atau tidak”. “Anak yang berkelahi kan kita panggil kita damaikan, dan mereka mau berdamai dan tidak akan mengulanginya lagi maka cukup dengan perjanjian. Tapi dengan perjanjian, di lain waktu mereka mengulangi lagi maka orang tua kita panggil, biar oang tua juga tau posisi anak disekolah seperti apa, kondisi anaknya di sekolah itu sering berkelahi atau tidak”.

Informan M juga mengatakan: “Misalnya dia bertikai, dia sempat memukul kawannya, selain siswa di beri surat perjanjian kita memanggil ortu nya juga biar orangtuanya juga bisa mewanti-wanti anaknya dirumah, jangan semau-maunya gaplok anak orang jadi tau masalahnya. Jadi kerja sama antara guru dan orangtuanya itu perlu. Karena banyak kejadian anak itu di rumah manggut-manggut rajin, tapi di sekolah berantem”.

Berdasarkan pernyataan dari informan di atas dapat diketahui bahwa layanan mediasi telah dilakukan di SMAN 8 Bandar Lampung untuk mengatasi bullying yang terjadi. Hal tersebut sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Astuti (2008:14) bahwa “salah satu yang dapat dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying yaitu melalui mediasi”. Selain itu, Kurniati (2007:12) juga menyatakan bahwa “guru bimbingan dan konseling hendaknya dapat menjadi penghubung serta fasilitator dalam penyelesaian permasalahan bullying, karena memang persoalan ini bisa melibatkan banyak pihak yang terkait di dalamnya”. Layanan mediasi diberikan kepada korban dan pelaku bullying untuk mendamaikan pertikaian di antara mereka. Layanan mediasi juga diberikan kepada orang tua dan siswa yang terlibat bullying guna memberikan pemahaman mengenai bullying bagi keduanya agar perilaku bullying tidak lagi terjadi.

Guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung kerap kali memanggil siswa yang terlibat bullying, baik itu korban ataupun pelaku untuk mendamaikan mereka hingga bullying tidak terulang lagi. Informan R mengatakan:

“Pernah, dikumpulin, diomongin gimana baiknya, terus salaman”. Informan O juga mengatakan hal yang sama: “Dipanggil tiba-tiba, ke sini ternyata ada 2 cewek dari gank itu, jadi ngomonglah apa masalahnya, lama-lama baekan se, sampe cium pipi malah”.

Selain diberikan kepada korban dan pelaku bullying, layanan mediasi juga diberikan kepada orang tua siswa yang terlibat bullying. Informan A mengatakan: “Guru BK nya yang ngedamain, semuanya yang terlibat dikumpulin, orang tuanya juga dateng semuanya dari yang mukulin yang dipukul. Diselesaian di sini, sampe selesai semuanya, kalo bisa diluar gak usah diperpanjang lagi. Soalnya kalo abis berantem ya, buat perjanjian kalo ngulangin lagi bakal dikeluarin di skors”.

Layanan mediasi pada dasarnya adalah untuk menyelesaikan masalah hubungan yang terjadi di antara individu atau kelompok-kelompok yang bertikai, yang memerlukan bantuan guru bimbingan dan konseling untuk mengatasinya sehingga sangat tepat diberikan kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan kasus bullying yang terjadi. Berdasarkan pernyataan para informan jelas nampak bahwa guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung telah melaksanakan layanan mediasi dan menjadi fasilitator untuk menyelesaikan kasus bullying yang terjadi.

h. Layanan konsultasi dalam mengatasi bullying

Layanan konsultasi merupakan layanan yang memungkinkan konselor untuk membantu menyelesaikan masalah individu melalui pihak

ketiga. Guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung menggunakan bantuan dari orang tua untuk menyelesaikan

permasalahan bullying yang terjadi. Informan I mengatakan: “Setelah dipanggil orang tua. Jadi kita mohon juga pada orang tua itu mantau bukan hanya perilakunya, mungkin juga cara belajar, kamar dia, teman bergaulnya, jadi memang lebih utamanya orang tua”. Informan G juga mengatakan: “Yang pertama kita tanya dulu anak ke berapa, tinggal dimana, di rumah dia perilakunya seperti apa, suka keluar malem atau enggak, siapa temannya, paling itu informasi yang kita bisa gali dari orang tua. Informasi dari orang tua bisa menjadi satu tolak ukur bagi kita mengapa si anak dapat berperilaku seperti ini, berartikan latar belakang dia di rumah dulu”. “Setelah kita mengetahui informasi dari orang tua, baru kita memberikan informasi dari pihak sekolah, seperti absensi dia, tingkah laku dia di sekolah seperti apa, cara bergaul dia, sopan santun terhadap guru seperti apa, dengan teman seperti apa, baru di situ nanti ketemu. Kalo kita hanya informasinya dari anak , kadang-kadang anak itu di depan orang tuanya baik tapi di sekolah brutal. Kadang-kadangkan Orang tua taunya anaknya ini bagus, baik, nurut tapi ternyata di luar berontak. Lalu paling kita mengarahkan untuk memperhatikan anak ini dalam cara bergaul, waktu tidurnya di rumah dan aktivitasnya di luar. Orang tua harus tahu anaknya bergaul dengan siapa, lingkungan tempat bergaul bagaimana, intinya orang tua harus lebih perhatian”.

Berdasakan perkataan dari informan tersebut dapat diketahui bahwa di SMAN 8 Bandar Lampung orang tua siswa diikutsertakan dalam upaya mengatasi bullying. Layanan konsultasi bagi orang tua siswa ini dilakukan jika guru bimbingan dan konseling sudah berupaya mengatasi, namun belum juga berhasil sehingga diperlukan campur tangan orang tua siswa untuk menangani masalah bullying yang dilakukan siswa.

Nusantara (2008:37) mengungkapkan bahwa “pihak-pihak yang dapat berperan dalam mengatasi bullying antara lain kepala sekolah, guru, dan orang tua”. Hal itu berarti tindakan guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung yang mengikutsertakan orang tua dalam mengatasi bullying merupakan hal yang tepat, karena bagaimanapun juga perilaku anak tidak lepas dari tanggung jawab orangtuanya.

Kurniati (2007:12) mengemukakan bahwa “guru bimbingan dan konseling hendaknya menjadi tempat konsultasi berbagai pihak yang terkait dengan permasalahan bullying”. Selain itu, Astuti (2008:58) menyatakan bahwa “guru bimbingan dan konseling juga diharapkan dapat memberi data atau informasi mengenai pemahaman bullying yang terjadi di sekolah kepada semua pihak yang membutuhkan”. Hal itu sesuai dengan apa yang telah dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung, dimana orang tua siswa yang terlibat bullying dipanggil dan dimintai keterangan mengenai perilaku anaknya di luar sekolah, setelah itu baru guru bimbingan dan konseling menyampaikan perilaku siswa di sekolah dan upaya apa saja yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk membantu menyelesaikan masalah bullying yang dilakukan anaknya tersebut.

2. Faktor- faktor yang menyebabkan bullying

Maraknya aksi bullying di institusi pendidikan menggambarkan bahwa adanya penurunan moral di institusi pendidikan. Sebenarnya tindakan bullying memiliki motif tertentu dari pelakunya yang terkadang luput dari

perhatian masyarakat. Penyebab bullying lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan, meski tidak dipungkiri bahwa faktor dari dalam diri individupun ikut andil sebagai penyebab bullying. Lingkungan tempat tinggal individu menjadi hal yang sangat berpengaruh termasuk lingkungan sekolah dan keluarga. Lingkungan dapat menyebabkan terbentuknya karakter individu yang rentan terhadap perilaku bullying. Budaya dan kebiasaan tidak baik yang berlaku pada suatu lingkungan juga dapat menyuburkan perilaku bullying.

Astuti (2008:51) mengungkapkan bahwa penyebab terjadinya bullying antara lain: “lingkungan sekolah yang kurang baik, senioritas tidak pernah diselesaikan, guru memberikan contoh kurang baik pada siswa, ketidakharmonisan di rumah, dan karakter anak”. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada siswa yang terlibat bullying didapatkan faktor-faktor penyebab bullying di SMAN 8 Bandar Lampung.

a. Lingkungan sekolah yang kurang baik

Lingkungan sekolah bisa menjadi salah satu faktor yang menyebabkan bullying. Lingkungan sekolah yang dapat mendukung terjadinya bullying mencakup lingkungan luar sekolah maupun lingkungan sekolah itu sendiri. Lingkungan luar sekolah yakni adanya kebiasaan orang-orang di sekitar sekolah seperti sering berkelahi atau bermusuhan, serta berlaku tidak sesuai dengan norma yang ada. Hal tersebut membuat siswa mudah meniru perilaku lingkungan tersebut dan merasa tidak bersalah saat melakukannya, sehingga timbullah

perilaku bullying. Hal tersebut juga terjadi di SMAN 8 Bandar Lampung, seperti yang diungkapkan oleh informan R berikut:

“Anak sekolah sini kan pake bunga gitu kan, emang anak ini tempramen bu, jadi dikatain “alahh… gak pernah ke bali lu ya..!”. Gak terima mungkin bu, ditimpuk-timpukin mobilnya, ampe pecah kaca angkotnya. Pernah denger kabar aja. Anak sekolah SMA 8 dipalak di depan Gg itu, setiap pulangkan lewat situ, dipalakin, handphone nya diambil”. Perkataan informan R senada dengan perkataan informan O: “Pernah, ada kawan, dari SMA 8 juga malakin anak SMP”.

Berdasarkan pernyataan di atas dapat diketahui bahwa orang-orang sekitar lingkungan di SMAN 8 Bandar Lampung seringkali melakukan hal-hal yang melanggar norma, baik oleh warga sekitar ataupun siswa SMAN 8 Bandar Lampung sendiri. Hal–hal tersebut berkaitan dengan kekerasan seperti pemukulan, pengroyokan, dan pemalakan. Kondisi lingkungan seperti itu dapat mendukung terjadinya bullying, sesuai dengan yang diungkapkan oleh Ehan (2010:5) yang menyatakan bahwa hal yang mempengaruhi terjadinya perilaku bullying: “anak hidup pada lingkungan orang yang sering berkelahi atau bermusuhan, berlaku tidak sesuai dengan norma yang ada, maka anak akan mudah meniru perilaku lingkungan itu dan merasa tidak bersalah”.

Hal tersebut mengungkap bahwa salah satu faktor yang dapat mempengaruhi siswa untuk melakukan bullying yakni lingkungan sekitar tempat ia berada. Lingkungan dimana individu di dalamnya biasa melakukan kekerasan ataupun perbuatan melanggar norma lainnya dapat mendukung seseorang menjadi pelaku bullying. Begitu

pula dengan yang terjadi di SMAN 8 Bandar Lampung, dimana lingkungan sekitarnya kerap kali terjadi tindakan kekerasan yang mengarah pada perilaku bullying, sehingga siswa meniru dan merasa tidak bersalah saat melakukannya.

b. Senioritas tidak pernah diselesaikan

Senioritas merupakan salah satu penyebab bullying yang cukup dominan. Senioritas yang tidak terselesaikan hanya akan menyuburkan perilaku bullying di sekolah. Hal ini terkait dengan bagaimana sekolah dan para guru menanggapi dan menindaklanjuti masalah senioritas di sekolah. Senioritas juga terjadi di SMAN 8 Bandar Lampung. Hal ini seolah sudah menjadi tradisi di sekolah tersebut. Kakak kelas tidak segan berlaku kasar kepada adik kelasnya. Seperti yang diungkapkan oleh informan R berikut: “Ada bu, kemarin baru kejadian. Kelas XI nyerang kelas X. Digampar, handphonenya di banting, gara-gara cowok katanya bu”. Selain itu, pernyataan dari informan O juga mendukung pernyataan dari informan R, dimana siswa senior khususnya wanita sering kali melabrak adik kelasnya. “Ada, sering malah, banyak gara-gara cowok. Ceweknya itu menelmenel sok berkuasa gitu, cowok yang dia suka sama cewek, cewek ini yang dilabrak. Apalagi anak baru kaya O, kalo cewek pindahan pasti dimusuhin”.

Senioritas yang terjadi antar siswa laki-laki di SMAN 8 Bandar Lampung biasanya berupa kekerasan fisik seperti pemukulan dan pengroyokan, seperti yang diungkapkan oleh informan A.

“Paling-paling kalo adek kelas gak sopan. Awal-awal MOS kemaren tu banyak adek-adek kelas yang gak sopan. Kita kerjain di kamar mandi, kita mos juga. Kaya kemaren itu ada anak kelas 1 gak sopan ngomong ama kakak kelas, gayanya ngesok tengil. Kita bawa kamar mandi, tanyain bagus-bagus ngelawan, tonjokin rame-rame di situ, tapi BK gak tahu. Sering mba, kalo 8 ne hobi ribut. Istilahnya kalo 8 ne mbak, gaya kita tengil ngotak itu bakal dimusuhin di 8 ini”. Senioritas berupa pemukulan dimulai dari pertama kali siswa masuk ke sekolah, yakni saat MOS. Para senior mencari adik kelas yang tampak menonjol dan memperlakukan mereka dengan kasar. Senioritas terus berlanjut, tidak hanya pemukulan tapi pemalakanpun juga dilakukan oleh kakak kelas pada adik kelasnya, seperti yang diungkapkan oleh subjek Y. “Iya ada se, yang suka minta-mintain duit. Saya pernah dimintain. Cuma sekarang saya juga pernah mintai, gentian”. Hal tersebut menunjukkan bahwa senioritas sering kali terjadi di SMAN 8 Bandar Lampung. Senioritas yang terjadi antara lain pemukulan, pemalakan, pengeroyokan dan pelabrakan. Berdasarkan keterangan siswa tidak semua kejadian itu diketahui oleh pihak sekolah. Informan Y mengatakan:

“Ada yang pernah ketawan sama guru BK Pak M dan Pak E”. Informan R juga mengatakan hal senada: “Ada se, dikasi tegoran, itu biasanya guru-guru yang ngeliat aja bu”.

Pengawasan yang kurang tersebut membuat senioritas di SMAN 8 Bandar Lampung tidak pernah terselesaikan dengan tuntas. Astuti

(2008:6) mengemukakan bahwa “perilaku bullying diperparah dengan tidak jelasnya tindakan dari para guru dan pengurus sekolah. Sebagian

guru

cendrung

membiarkan,

sementara

sebagian

guru

lain

melarangnya”. Ketidakjelasan tindakan dari guru tersebut membuat senioritas di SMAN 8 Bandar Lampung tidak terselesaikan dengan tuntas, sehingga hal tersebut memicu siswa untuk terus melakukan bullying.

c. Guru memberikan contoh kurang baik pada siswa

Guru sebagai pengajar di sekolah dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya bullying, terutama guru yang memberikan contoh perilaku yang tidak baik. Hukuman secara fisik kerap kali dilakukan oleh guru di SMAN 8 Bandar lampung. Informan R mengatakan: “Ada yang suka mukul, suka nendang”. Informan Y juga mengatakan: “Iya, ada se pak E, dia tu keras, kalo mukul,mukul betulan, kalo salah pasti dipukul sama dia. saya pernah itu di jejek bu, karena bajunya gak masuk. Lumayan sakit”. Sependapat dengan kedua perkataan informan di atas, informan O juga mengatakan: “Ada pak E, untuk disiplin tapi terlalu lo. Kaya kemaren ada kawan pake sepatu putih, dipanggil di proses-proses, sepatunya diambil, trus dia ke kelas pake sandal. Pak E tau, digebukin dia di kelas ampe penggaris patah. Pake kaki nendang gitu”. Tidak jauh berbeda informan A juga mengatakan: “Kalo di gampar, dijewer biasalah mbak, suka nendang. Pake penggaris, A kemaren baru patah 1 penggaris. Pelajaran dia kan kosong, A ke kantin bentar pas balik ditanya “kenapa keluar-keluar?” megang penggaris dia, dipukul ampe patah”.

Berdasarkan perkataan para informan di atas, hukuman fisik sering kali diberikan oleh guru. Hukuman fisik yang diberikan antara lain memukul dan menendang. Hal tersebut memungkinkan siswa untuk melakukan hal serupa yang dilakukan oleh gurunya. Informan R mengatakan: “Pasti semua orang adalah pikiran kaya gitu bu. Dia aja seenak jidat ngelakuin, nanti kalo jadi guru saya juga mau kaya gitulah bu”. Perbuatan kasar yang dilakukan guru dengan dalih pendisiplinan membuat siswa menganggap hal tersebut benar dan ingin meniru perbuatan tersebut.

Guru di SMAN 8 Bandar Lampung juga sering mengabaikan kondisi prestasi siswanya. Informan R mengatakan: “Ada itu bu, pas kelas XI. Ceritanya kan saya ini telat ngerjain tugasnya. Trus kata dia “apa lagi kamu ini ngumpul-ngumpul tugas, udah gak usah dikumpul, gak akan saya nilai juga, bawa pulang lagi”. Besoknya saya udah ngerjain lagi bu, udah tepat bu, cuma kurang 1 nomor bu. Terus kata dia, “ini kurang 1, udah-udah” kayanya benci gitu sama saya bu, dari situ saya gak mau masuk kelas dia lagi, 1 semester saya gak masuk pelajaran dia”. Informan Y dan A juga mengaku pernah mengalami hal yang sama: “Pernah, waktu kelas 1, saya tu kan memang jarang masuk, saya buat tugas gak diterima”. “Ada, guru geografi, masalahnya pertama ama dia itu, pas pelajaran dia A maen basket, diliat ama dia kan. Minggu depannya A masuk pelajaran dia, nama A kan absennya pertamakan langsung dilangkahin gak pernah diabsen. Jadi A ngerjain tugas 1 semester itu gak dihargain sama dia. Udah minta maaf berulang-ulang. 1 tahun malah mbak semester 2 nya juga ia geh mbak”.

Tidak jauh berbeda informan O juga mengatakan pernah mengalami hal serupa dan sempat merasa sakit hati akibat perbuatan gurunya tersebut: “Oh iya, ada itu, ini ada, disuruh buat 18 jurnal umum, udah cape sampe ngantuk-ngantuk, ada 1 salah gak diterima “udah-udah gak jadi”, “ikhh… ibu ini lo dah capek-capek juga, gak dihargain bener, tandatanganin aja kek kan”, ya kaya gitu lah gak dihargain, jadi males, jijik bener geh, sakit hati saya”.

Selain itu guru juga terkadang tidak begitu memperhatikan perilaku siswa-siswanya. Informan Y mengatakan: “Gak ada yang ngawasin, wayahnya istirahat guru juga biasa duduk aja di kantor”. Perbuatan guru yang kurang baik, seperti suka berbuat kasar, mengabaikan prestasi siswa, dan tidak memperdulikan perilaku siswa sehari-hari tersebut dapat mendukung siswa melakukan bullying. Ehan (2010:5) mengemukakan bahwa salah satu hal yang

mempengaruhi perilaku bullying yaitu: “guru yang berbuat kasar kepada siswa, guru yang kurang memperhatikan kondisi anak baik dalam sosial ekonomi maupun dalam prestasi anak atau perilaku sehari hari anak di kelas atau di luar kelas bagaimana dia bergaul dengan temantemannya”. Guru yang berbuat kasar membuat siswa termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Guru yang seringkali mengabaikan siswa baik kondisi, prestasi maupun perilaku siswa sehari-hari membuat siswa kurang terpantau dan cendrung mengarah pada perilaku bullying. Hal serupa terjadi di SMAN 8 Bandar Lampung, sehingga para siswa memiliki kesempatan dan terdorong untuk melakukan bullying.

d. Ketidakharmonisan di rumah

Keluarga juga berpengaruh terhadap perilaku bullying yang dilakukan oleh siswa. Kompleksitas masalah dalam keluarga merupakan faktor penyebab tindakan bullying yang dilakukan siswa. Siswa SMAN 8 yang menjadi pelaku bullying mengaku jarang berkomunikasi dengan orangtuanya. Informan Y mengatakan: “Jarang, yang ada berantem. Minta duit kadang gak dikasih jadi marah”. Informan A juga mengatakan hal yang serupa: “Jarang, gak pernah juga. Kemaren kasus dimarah-marahin, handphone disita, gak dikasih uang jajan, motor gak dikasih”. Berdasarkan perkataan mereka tampak bahwa mereka jarang sekali mendiskusikan urusan sekolah pada kedua orang tua mereka. Astuti (2008:53) menyatakan bahwa “kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak merupakan faktor penyebab tindakan bullying”. Selain itu, Schwartz,dkk (dalam Papalia,dkk, 2008:514) menyatakan bahwa “Anak-anak yang menjad bullies seringkali berasal dari lingkungan keluarga kasar dan keras yang selanjutnya membiarkan mereka mendapat hukuman dan penolakan”.

Siswa yang kurang berkomunikasi dengan orang tua memiliki kemungkinan besar melakukan bullying, karena tanpa komunikasi orang tua tidak dapat mengontrol perilaku anaknya sehingga anak dapat berbuat semaunya termasuk berlaku kasar pada temannya. Selain itu orang tua yang suka memarahi dan membiarkan anak mendapatkan

hukuman dan penolakan membuat siswa terbiasa dengan perilaku kasar dan dengan mudah melakukannya. Siswa di SMAN 8 Bandar Lampung yang menjadi pelaku bullying mengaku jarang

berkomunikasi dengan orangtuanya dan seringkali mendapat hukuman dan perlakuan keras dari orangtuanya, sehingga mereka lebih mudah terjerumus menjadi pelaku bullying

e. Karakter anak

Karakter anak yang biasa menjadi pelaku bullying pada umumnya adalah anak yang selalu berperilaku agresif, baik secara fisikal

maupun verbal. Siswa SMAN 8 Bandar Lampung yang menjadi pelaku bullying pasti berlaku agresif baik secara fisikal maupun verbal. Informan R, Y, dan A mengaku pernah terlibat bullying khususnya secara fisik seperti pemukulan dan pengeroyokan. Astuti (2008:53) menyatakan bahwa faktor prnyebab bullying yakni “karakter anak sebagai pelaku umumnya agresif, baik secara fisikal maupun verbal dan pendendam”. Siswa pelaku bullying saat ditanya alasan yang mendasari mereka menindas temannya yakni karena rasa dendam. Informan R mengatakan: “Ya gak se bu, saya tu dari pertama ngeliatnya itu, gayanya tengil gitu, sok, jadi kesel saya”. “Saya ma lagi duduk aja bu, ngeliat dia digebukin udah gekh ikutan. Ngeliatin muka dia itu bingsal aja bu. Pokoknya dalam hati itu kalo ada yang berantem ama dia, saya pasti mau turun”.

Informan Y juga mengatakan hal yang tidak jauh berbeda saat ditanyakan pertanyaan yang sama: “dia tu kalo jalan ngengkeng, belagu, kalo bawa motor ketemu kebatkebut-kebatkebut”. Informan A juga mengatakan: “Kalo di luar pernah lah ribut mba, namanya juga cowok mbak. Masalahnya ponakan A, ponakan A cewekkan agak tomboy orangnya anak tamsis dicentang, masa cewek dicentang ama cowok. Pas pulang biru, pas A tanyain berantem ama cewek katanya, ya A biarin. Barang ma, kawan dia yang cewek bilang ama A, dia dicentang ama cowok, langsung emosi A. Langsung samperin ke sekolahnya bawa rombongan anak-anak 8 ini, tawuran”. Berdasarkan pernyataan dari ketiga informan dapat diketahui bahwa mereka melakukan bullying pada korban yang sebelumnya

menampakkan perbuatan yang tidak mereka suka, sehingga mereka menaruh dendam pada korbannya tersebut. Karakter siswa SMAN 8 Bandar Lampung yang pendendam dan suka bertindak agresif menjadi salah satu faktor yang mendorong mereka melakukan bullying.

3. Layanan yang paling efektif digunakan untuk mengatasi bullying di SMAN 8 Bandar Lampung

Bullying sebagai perilaku agresif tidak bisa didiamkan dan diabaikan begitu saja. Guru bimbingan dan konseling dituntut agar dapat memberi perhatian dan penanganan yang mendalam bagi siswa-siswa yang terlibat dalam kasus bullying. Melalui layanan bimbingan dan konseling, guru bimbingan dan konseling juga dapat memberikan kontribusi nyata dalam mengatasi bullying. Guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung telah menjalankan layanan bimbingan konseling yang dapat

berguna bagi siswa yang terlibat bullying. Akan tetapi, tidak semua layanan tersebut efektif untuk mengatasi bullying yang terjadi, meskipun tidak menutup kemungkinan layanan yang diberikan saling berkaitan dan menunjang satu sama lain.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada siswa dan guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung diketahui bahwa layanan yang dianggap paling efektif untuk mengatasi bullying di SMAN 8 Bandar Lampung yaitu layanan konseling individual dan layanan konsultasi. Ketika ditanyakan mengenai layanan mana yang paling efektif, Informan I mengatakan: “Setelah dipanggil orang tua. Jadi kita mohon juga pada orang tua itu mantau bukan hanya perilakunya, mungkin juga cara belajar, kamar dia, teman bergaulnya, jadi memang lebih utamanya orang tua”. Hal tersebut didukung oleh pernyataan dari informan R, yang mengatakan: “Pasti dari orang tua lah bu. Udah jangan kaya gitu lagi, malu katanya”. Akan tetapi, tidak semua sepakat bahwa layanan yang paling efektif adalah layanan konsultasi. Informan lainnya mengatakan bahwa layanan yang efektif adalah layanan konseling individual. Informan G mengatakan: “Konseling individual, kita berlaku sebagai teman”. Informan A juga mengatakan: “Lebih seneng share berdua, soalnya apa yang unek-unek di hati kita itu dikeluarin, kalo rame-ramekan gak enak”.

Selain itu, berdasarkan data yang diperoleh dari pihak bimbingan dan konseling SMAN 8 Bandar Lampung juga dapat diketahui layanan mana yang paling banyak digunakan dalam mengatasi bullying. Layanan yang

paling banyak digunakan merupakan layanan yang dinilai paling efektif untuk mengatasi bullying yang dilakukan oleh siswa di sekolah. Data mengenai layanan apa saja yang digunakan dalam mengatasi bullying di SMAN 8 Bandar Lampung dapat dilihat pada gambar 1.

50 45 P E R S E N T A S E 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Orientasi Informasi 2.26 7.5 11.28

45.1

22.56

11.3

Penguasaan Konseling Konten Individual

Mediasi

Konsultasi

Gambar 1. Persentase Penanganan Kasus Bullying yang Terjadi SMAN 8 Bandar Lampung pada Tahun 2008-2009

Berdasarkan gambar 1 dapat diketahui bahwa layanan orientasi digunakan sebanyak 2,26 % untuk mengatasi bullying, layanan informasi digunakan sebanyak 7,5 % untuk mengatasi bullying, layanan penguasaan konten digunakan sebanyak 11,28 % untuk mengatasi bullying, layanan konseling individual digunakan sebanyak 45,1 % untuk mengatasi bullying, layanan mediasi digunakan sebanyak 11,3 % untuk mengatasi bullying, dan layanan konsultasi digunakan sebanyak 22,56 % untuk mengatasi bullying.

Layanan yang paling banyak digunakan untuk mengatasi bullying merupakan layanan yang dianggap paling efektif untuk mengatasi bullying

di SMAN 8 Bandar Lampung. Layanan konseling individual merupakan layanan yang paling banyak digunakan untuk mengatasi bullying di

SMAN 8 Bandar Lampung dengan persentase sebesar 45,1 % dan layanan konsultasi berada diurutan kedua dengan persentase sebesar 22,56 %. Berdasarkan data persentase dan hasil wawancara dari para informan dapat disimpulkan bahwa layanan yang paling efektif digunakan untuk mengatasi bullying oleh siswa di SMAN 8 Bandar Lampung yaitu layanan konseling individual dan layanan konsultasi. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh Olweus (dalam Papalia, dkk, 2008: 514) bahwa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi bullying yakni dengan mengadakan “percakapan yang serius dengan para pelaku, korban dan orang tua”. Melalui layanan konsultasi dan konseling individual percakapan yang serius dengan siswa dan orang tua untuk menyelesaikan masalah bullying dapat terlaksana dengan baik.

Berdasarkan data dan wawancara dapat diketahui bahwa siswa merasa lebih efektif menyelesaikan masalahnya saat melakukan konseling individual, karena siswa dapat menjelaskan semua permasalahannya secara terbuka tanpa takut diketahui orang lain. Akan tetapi, itu semua tidak bisa lepas dari peran serta orang tua, karena bagaimanapun perilaku siswa merupakan tanggung jawab dari orang tua. Saat di luar sekolah guru bimbingan dan konseling tidak dapat mengontrol perilaku siswa, dan yang dapat melakukannya hanyalah orang tua siswa itu sendiri. Koordinasi yang baik harus terjalin antara guru bimbingan dan konseling dan orang tua siswa. Oleh karena itu, peran serta orang tua tidak dapat lepas dari upaya

mengatasi bullying yang dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa layanan yang paling efektif untuk mengatasi bullying di SMAN 8 Bandar Lampung adalah layanan konseling individual dan layanan konsultasi.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya yang telah dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying oleh siswa di sekolah berdasarkan layanan bimbingan dan konseling, serta melihat layanan yang paling efektif digunakan untuk mengatasi bullying berdasarkan faktorfaktor penyebab bullying. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa guru bimbingan dan konseling di SMAN 8 Bandar Lampung telah menjalankan layanan bimbingan dan konseling yang berguna bagi siswa yang terlibat bullying.

Faktor-faktor yang menyebabkan bullying di SMAN 8 Bandar Lampung yaitu warga lingkungan sekolah yang biasa berbuat kasar, guru yang memberikan contoh tidak baik dan tidak menghargai siswa, senioritas yang tidak terselesaikan, karakter siswa yang agresif dan pendendam serta kurangnya komunikasi dengan orang tua. Layanan bimbingan dan konseling yang diberikan oleh guru bimbingan dan konseling untuk mengatasi bullying antara lain layanan orientasi, layanan informasi, layanan penguasaan konten, layanan konseling individual, layanan mediasi dan layanan konsultasi.

Layanan orientasi yang diberikan dalam upaya mengatasi bullying berbentuk pengenalan pengaturan sekolah dan tugas dan fungsi guru bimbingan dan konseling serta personil sekolah lainnya dalam mengatasi bullying. Layanan informasi yang diberikan dalam upaya mengatasi bullying meliputi pemahaman sosial budaya khususnya mengenai pemahaman agama dan pergaulan, serta informasi mengenai bullying dan dampaknya. Layanan penguasaan konten yang disampaikan untuk membantu siswa yang terlibat bullying antara lain kemampuan untuk dapat membela diri ketika mendapatkan ancaman, seperti tegas mengatakan tidak dan menolak jika ada siswa lain yang berusaha menyakitinya atau mungkin mengajaknya untuk melakukan bullying, yakni dengan segera melaporkan ke guru bimbingan dan konseling jika terjadi bullying dan menjaga perilaku dalam pergaulan seharihari. Layanan konseling individual untuk mengatasi bullying diberikan baik bagi korban maupun pelaku bullying setelah terjadi bullying. Layanan mediasi untuk mengatasi bullying diberikan antara korban dan pelaku bullying, dan jika diperlukan antara siswa yang terlibat dan orang tuanya. Layanan konsultasi untuk mengatasi bullying diberikan kepada orang tua siswa yang terlibat bullying, hal ini dilakukan agar orang tua dapat ikut membantu anaknya yang terlibat bullying.

Layanan yang paling efektif untuk mengatasi bullying di SMAN 8 Bandar Lampung yaitu layanan konseling individual dan layanan konsultasi. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh Olweus (dalam Papalia, dkk, 2008: 514) bahwa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi bullying yakni dengan mengadakan “percakapan yang serius dengan para pelaku, korban dan

orang tua”. Melalui layanan konseling individual dan layanan konsultasi percakapan yang serius dengan siswa dan orang tua untuk menyelesaikan masalah bullying dapat terlaksana dengan baik.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka saran yang dapat diajukan yaitu: 1. Peneliti selanjutnya dapat melanjutkan penelitian serupa dengan

melibatkan kepala sekolah dan guru sebagai partisipan untuk memperoleh informasi mengenai bullying yang dilakukan oleh siswa dan guru. 2. Guru bimbingan dan konseling sebaiknya dapat memaksimalkan layanan konseling individual dan layanan konsultasi untuk mengatasi bullying di sekolah. 3. Pihak sekolah sebaiknya memberikan sosialisasi mengenai bullying dan pelatihan kepada pihak-pihak terkait untuk mengatasi bullying. 4. Siswa sebaiknya memahami perilaku bullying serta dampak negatif yang ditimbulkan sehingga dapat terhindar dari perilaku bullying. 5. Orang tua siswa sebaiknya memahami bullying dan bersedia menjalin kerjasama dengan pihak sekolah untuk mengatasi bullying yang terjadi di sekolah.

Tabel 2. Persentase Penanganan Kasus Bullying yang Terjadi di SMAN 8 Bandar Lampung pada tahun 2008-2009.
No 1. Bentuk Bullying Adik kelas diwajibkan menunduk ketika bertemu kakak kelasnya karena tradisi (pada saat MOS) Adik kelas yang mengeluarkan bajunya dimarahi oleh kakak kelasnya di depan anakanak lain Seorang anak diolok-olok oleh sekelompok temannya sehingga ia khawatir untuk masuk sekolah Siswa menampar temannya tanpa alasan yang jelas Siswa menghasut agar temannya dijauhi Menyebar fitnah di internet atau telepon genggam mengenai murid yang tidak disenangi Pengeroyokan oleh sekelompok kakak kelas karena mereka tidak suka gaya adik kelas Siswa dipaksa masuk kelompok tertentu Menyindir teman dengan kata-kata yang tidak pantas Pemalakan Memelototi adik kelas, sehingga adik kelas merasa takut Memberi cap/label/julukan pada anak Terdapat siswa yang dikucilkan Meneror lewat sms atau e-mail oleh temannya JUMLAH PERSENTASE (%) Jumlah kasus yang diselesaikan dengan layanan Penguasaan Konseling Informasi Mediasi Konten Individual 10 3 4

Orientasi

Konsultasi

2.

3

2

3.

9 3 5 2 9 4 4 2 1 12 6 4 6 5 6 1 9 60 45,1 2 1 15 11,3 30 22,56 2 9 2 3 4

4. 5. 6.

7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.

3 2,26

10 7,5

15 11,28

Sumber: Bimbingan dan Konseling SMAN 8 Bandar Lampung

Tabel 3. Ringkasan Perbandingan antar Subjek mengenai Faktor-Faktor Penyebab Bullying No 1 Faktor-Faktor Subjek R Penyebab Bullying Lingkungan sekolah “Anak sekolah sini kan yang kurang baik pake bunga gitu kan, emang anak ini tempramen bu, jadi dikatain “alahh… gak pernah ke bali lu ya..!”. Gak terima mungkin bu, ditimpuk-timpukin mobilnya, ampe pecah kaca angkotnya. “Pernah denger kabar aja. Anak sekolah SMA 8 dipalak di depan Gg itu, setiap pulangkan lewat situ, dipalakin, handphone nya diambil”. Subjek Y “Pernah anak sekolah, ribut masalah futsal. Saya waktu itu yang dipukulin dengan anak-anak taman siswa”. Subjek O “Pernah, ada kawan, dari SMA 8 juga malakin anak SMP”. Subjek A “Kalo di luar pernah lah ribut mba, namanya juga cowok mba. Masalahnya ponakan A, ponakan A cewekkan agak tomboy orangnya anak tamsis dicentang, masa cewek dicentang ama cowok. Pas pulang biru, pas A tanyain berantem ama cewek katanya, ya A biarin. Barang ma, kawan dia yang cewek bilang ama A, dia dicentang ama cowok, langsung emosi A. langsung samperin ke sekolahnya bawa rombongan anak-anak 8 ini, tawuran”. “Paling-paling kalo adek kelas gak sopan. Awalawal MOS kemaren tu banyak adek-adek kelas yang gak sopan. Kita kerjain di kamar mandi,

2

Senioritas tidak pernah diselesaikan

“Ada bu, kemarin baru kejadian. Kelas XI nyerang kelas X. Digampar, handphonenya di banting, gara-gara cowok katanya bu”.

“Iya ada se, yang suka minta-mintain duit. Saya pernah dimintain. Cuma sekarang saya juga pernah mintai,

“Ada, sering malah, banyak gara-gara cowok. Ceweknya itu menel-menel sok berkuasa gitu, cowok yang dia suka sama

“Ada se, dikasih tegoran, gentian”. itu biasanya guru-guru yang ngeliat aja bu”. “Ada yang pernah ketawan sama guru BK Pak M dan Pak E”.

cewek, cewek ini yang dilabrak. Apalagi anak baru kaya O, kalo cewek pindahan pasti dimusuhin”.

kita mos juga. Kaya kemaren itu ada anak kelas 1 gak sopan ngomong ama kakak kelas, gayanya ngesok tengil. Kita bawa kamar mandi, tanyain bagus-bagus ngelawan, tonjokin rame-rame di situ, tapi BK gak tahu. Sering mba, kalo 8 ne hobi ribut. Istilahnya kalo 8 ne mbak, gaya kita tengil ngotak itu bakal dimusuhin di 8 ini”. “Kalo di gampar,dijewer biasalah mbak,suka nendang. Pake penggaris, A kemaren baru patah 1 penggaris. Pelajaran dia kan kosong, A ke kantin bentar pas balik ditanya “kenapa keluar-keluar?” megang penggaris dia, dipukul ampe patah”.

3

Guru memberikan contoh kurang baik pada siswa

“Ada yang suka mukul, “Iya, ada se pak E, suka nendang”. dia tu keras, kalo mukul,mukul betulan, “Pasti semua orang kalo salah pasti adalah pikiran kaya gitu dipukul sama dia. bu. Dia aja seenak jidat saya pernah itu di ngelakuin, nanti kalo jadi jejek bu, karena guru saya juga mau kaya bajunya gak masuk. gitulah bu”. Lumayan sakit”. “Ada itu bu, pas kelas XI. Ceritanya kan saya ini telat ngerjain tugasnya. Trus kata dia “Pernah,waktu kelas 1, saya tu kan memang jarang masuk, saya buat

“Ada pak E, untuk disiplin tapi terlalu lo. Kaya kemaren ada kawan pake sepatu putih, dipanggil di proses-proses, sepatunya diambil, trus dia ke kelas pake sandal. Pak E tau, digebukin dia di kelas ampe penggaris patah. Pake kaki nendang gitu”.

“Ada, guru geografi, masalahnya pertama ama “Oh iya, ada itu, ini ada, dia itu, pas pelajaran dia A

“apa lagi kamu ini ngumpul-ngumpul tugas, udah gak usah dikumpul, gak akan saya nilai juga, bawa pulang lagi”. Besoknya saya udah ngerjain lagi bu, udah tepat bu, cuma kurang 1 nomor bu. Terus kata dia, “ini kurang 1, udahudah” kayanya benci gitu sama saya bu, dari situ saya gak mau masuk kelas dia lagi, 1 semester saya gak masuk pelajaran dia”.

tugas gak diterima”. “Gak ada yang ngawasin, wayahnya istirahat guru juga biasa duduk aja di kantor”.

disuruh buat 18 jurnal umum, udah cape sampe ngantuk-ngantuk, ada 1 salah gak diterima “udah-udah gak jadi”, ikhh… ibu ini lo dah capek-capek juga, gak dihargain bener, tandatanganin aja kek kan, ya kaya gitu lah gak dihargain, jadi males, jijik bener geh, sakit hati saya”.

maen basket, diliat ama dia kan. Minggu depannya A masuk pelajaran dia, nama A kan absennya pertamakan langsung dilangkahin gak pernah diabsen. Jadi A ngerjain tugas 1 semester itu gak dihargain sama dia. Udah minta maaf berulang-ulang. 1 tahun malah mbak semester 2 nya juga ia geh mbak”.

4

Ketidakharmonisan di rumah

“Ya kadang-kadang se bu, misalnya ada masalah di sekolah tu cerita. Kadang-kadang ada masalah saya cerita. Saya jadi jaga perilaku bu, tapi namanya kesel, kalo dah kesel sama orang susah lah bu”.

“Jarang, yang ada berantem. Minta duit kadang gak dikasih jadi marah”.

“Jarang, gak pernah juga. Kemaren kasus dimarahmarahin, handphone disita, gak dikasih uang jajan, motor gak dikasih”.

5

Karakter anak

“Orang ngelunjak geh bu, dia tu diem-diem tapi kalo ngeliat orang itu sinis aja, dari pertama tu saya dah kesel. Kebeneran ngata-ngatain temen saya. Ya udah gebukin aja”.

“Permasalahannya sms, temen saya di sms sama dia bahasanya gak enak, udah itu kita gebukin”.

“Biasa kenakalan remaja, berantem. Awalnya salah paham se, dia ngomongin A kan, pas A tanya dia gak mau ngaku, ya udah dia kurang suka A tanyain, ribut ujung-ujungnya”. “Kalo di luar pernah lah ribut mba, namanya juga cowok mba. Masalahnya ponakan A, ponakan A cewekkan agak tomboy orangnya anak tamsis dicentang, masa cewek dicentang ama cowok. Pas pulang biru, pas A tanyain berantem ama cewek katanya, ya A biarin. Barang ma, kawan dia yang cewek bilang ama A, dia dicentang ama cowok, langsung emosi A. langsung samperin ke sekolahnya bawa rombongan anak-anak 8 ini, tawuran”.

“dia tu kalo jalan ngengkeng, belagu, “Ya gak se bu, saya tu kalo bawa motor dari pertama ngeliatnya ketemu kebatkebutitu, gayanya tengil gitu, kebatkebut”. sok, jadi kesel saya”. “Saya ma lagi duduk aja bu, ngeliat dia digebukin udah gekh ikutan. Ngeliatin muka dia itu bingsal aja bu. Pokoknya dalam hati itu kalo ada yang berantem ama dia, saya pasti mau turun”.

Sumber: Wawancara dengan siswa SMAN 8 Bandar Lampung

Tabel 4. Ringkasan Perbandingan antar Subjek mengenai Upaya Guru Bimbingan dan konseling dalam Mengatasi Bullying Upaya Guru bimbinga n dan konseling Layanan orientasi Informan Perwakilan Guru Informan R “Iya tau se, untuk mengatasi masalah. Taunya dari kalo kena masalah ngadepnya guru BK, untuk ngasi masukan-masukan. Pernah juga disampein di kelas”. Informan Perwakilan Siswa Informan Y “Sedikit banyak nya tau lah, Cuma kan sepenuhny a gak ngertilah. Kalo kata saya se buat ngebimbin g muridnya untuk lebih baik. Diingetin di kelas pas pelajaran dia”. Informan A “Dikasih tau lah bu, pas pertama masuk dikasih tau peraturanperaturan, pas di MOS itu. Ada Tri janji siswa juga dibaca tiap upacara”.

No

Informan I “Tapi andaikan kalian gak bisa mengatasi bicara aja dengan dewan guru, bisa guru bidang studi, bisa guru wali kelas bisa juga guru BK. Kalo masalah pribadi kalian bisa pilih guru yang kalian percaya.

Informan G “Memang iya, setiap upacara kan memberikan,naseha t-nasehat, laranganlarangan dan peraturan-peraturan yang berlaku di sekolah. Tapi kadangkan anakanak ini masuk kuping kanan keluar kuping kiri, waktu upacara iya didengerin waktu kita masuk kelas iya, tapi setelah kita gak ada. Disinikan terjadinya bullying saat meraka

Informan M “Kita sampaikan bahwa di sekolah ini punya aturan, punya tata tertib sehingga mereka bisa mengerti, dan juga cara kita menyampaikan tidak memaksa, tapi secara kesadaran mereka saja. Disampaikanny a saat masuk kelas atau istirahat seperti ini, sering juga

Informan O “Iya disampein, pas pelajaran BK itu, setiap minggunya. Tugasnya untuk ngebimbing siswa yang terlibat”.

1

Mereka nyebutnya curhat sharing bukan konseling”.

istirahat dan di kantin, kan di situ interaksinya”.

kami sampaikan satu per satu ke anaknya. Yang paling ini sekali waktu upacara, upacara hari senin itu kan disampaikan tata tertib sekolah, sopan santun, tata krama pada anak-anak itu”. “Iya diajarkan itu, cara berkomunikasi dengan kawankawannya, sopan santun, dunia pergaulan juga, di dalam modulnya juga ada, sehingga mereka tahu “Memberi masukan untuk mematuhi peraturan. Diingetin juga jangan berantem lagi, diingetin dampaknya, bisa dilaporin polisi”. “Cara bergaul, memilih teman disampaikan tapi “Kalo kelas 3 ini lagi diajarin materi kenakalan remaja”. “Dijelasinlah , waktu kesini pas sendirian, kalo gak pas waktu gurunya ke kelas ngajar. Misalnya, kalo kaya lagi berantem itu. “Iya pasti diomongin gitulah, misalnya berantemny a tadi langsung dibawa

2

Layanan informasi

“Iya, kaya gender gitu, kebersamaan antara pria dan wanita. Saling menghargai. Itu disampaikann ya secara klasikal, kalo secara

“Layanan informasi ini yang kita berikan ke anak, kita kasih pengertian dulu tentang manfaat dari berantem itu apa, segi negatifnya apa positifnya apa. Terus kita tanya permasalahannya apa, akibatnya apa

individu itu disampaikann ya kalau sudah terjadi. Ada juga mengenai pergaulan, antara pria dan wanita, yang pertama paling pokok itu agama. Jadi kalo kita bergaul dimanapun, kalo kita beragama memegang ajaran agama maka gak akan terjadi hal-hal yang negatif”. 3 Layanan penguasaa n konten

kalo mengadakan perkelahian itu kan, hukuman dari sekolah kan bermacam-macam. Kalo yang tidak fatal, kalo yang fatal kan dikeluarkan. Nah itu lah informasi yang kita berikan di kelas. Jadi kita kan dikasih waktu untuk BK 1 jam per kelas, dari situlah kita dapat berinteraksi dengan anak”.

bergaul dengan siapa, tempattempat bersosialisasin y juga tentunya mereka bisa menyesuaikan diri”.

selingan aja gak ada materi khusus”.

Kata cewek kesini itu kan “gua diingetin”. gak suka liat lu itu, kalo lewat gua gak senyum” berarti kata gurunya kamu harus senyum setiap orang, jangan sombong, jalan tu yang bener, jangan angkuh”.

“Ya, paling di “Paling kita secara “Itu lebih ke “Diajarin, jangan kelas itu, saat individual, tatakrama dia, emosi,tahan aja di kelas atau misalnya mereka kalian kan gitu. Diingetin kalo

“Ya paling diajarin biar gak

“Diajarin, “Diajari, misalnya gak usah kalo emang dibawa

saat kejadian, kan diciduk tu kalau kejadian, semua yang berkaitan, dikasih masukan, ditanyakan masalah itu, antisipasinya itu ya cepet lapor dengan guru bidang studi, atau BK. Tapi kalo memang untuk pertamanya pisah dulu, pegang temen masingmasing, tapi kalo memang gak bisa baru cepet lapor guru terdekat. Ya paling

punya penampilan yang berlebihan kita kasih tahu “nak supaya tidak mengundang perhatian temen, kamu jangan bersikap seperti itu. Bukan nasehat ya, hanya informasi saja, masukanmasukan”.

harus menghindari pekerjaan yang merugikan, contohnya apabila kamu diajak bertikai kenapa kamu harus ikutikutan, nah itu kamu harus bisa mencegah, harus bisa menolak, dan juga harus memberikan bimbingan kepada siswa itu. Itu disampaikan saat di kelas atau dipanggil per individu”.

ada masalah mending sharing aja sama guru BK nya. Tu biasanya kalo lagi ada kasus diingetin jangan kaya gitu lagi”.

emosian, jangan cepet kepancing, terus langsung lapor kalo ada apaapa”.

dia nya udah sangking ngelunjak, kalo udah keseringan gitu, dilawan aja”. “Iya, kan anak baru, beda nya gak punya banyak temen. Disaraninny a buat bisa beradaptasi aja, misalnya kalo lagi belajar gitu harus bisa buat diri itu nyaman, biar temennya nyaman temenan sama kita”.

dendamlah, pokoknya nasehatin biar masalahnya selesai disitu juga. Terus diajarin jangan sombong”.

umi juga ngomong, kalo kalian melakukan perbuatan seperti itu, banyak manfaatnya apa mudorotnya, mereka bilang banyak mudorotnya, maka harus dihindari”. “Kalo untuk korbannya juga, kalo memang gak sesuai dengan diri kamu, kamu lapor ajalah dengan guru BK biar dipanggil biar ada penyelesaika n. Jadi

intinya ngelapor secepatnya. Ngelapor itu kan biar mereka itu gak resah, sekolah besok gak resah, mereka juga gak akan ngulangi perbuatannya. Tapi kalo udah ke BK insya Allah berubah low, karena mereka mungkin takut dengan perjanjian itu. Tapi ada juga kalo yang saya tahu biar korbannya itu melawan jika ditindas, kalo

memang tidak begitu berbahaya gak papa dibalas biar mereka gak mau mengulangin ya lagi, tapi harus tetap sepengetahua n BK nya”.

4

Layanan penempat an dan penyalura n

“Itu kakak kelas saat MOS dipromosikan ekskulnya, jadi lebih pada keinginan mereka mau masuk mana. Kadangkadang penyaluranny a memang

“Enggak, anak kan memilih eskul sesuai keinginan mereka sendiri. Lebih pada bakat dan kesadaran mereka sendiri”.

“Kadang kita “Gak ada. Gak kasih masukan- pernah di tanyamasukan aja. tanya juga bu”. kita tanya pada anak apa yang digemari, tapi itu cuma sebagian gak semuanya”.

“Gak, dari “Enggak”. kelas 1, 2 emang gak ikut. Kalo kelas 3 ini kan harus fokus dengan ujian nasional”.

“Karate doank, saya dari kelas 1 SD, dari masuk sini A emang udah ikut karate, udah jadi atlet”.

5

Layanan konseling individual

dari SMP sudah disalurin. Jadi sesuai hati nurani mereka”. “Kalo dateng sendiri biasanya setelah kejadian mereka suka curhat, jadi dikasih masukanmasukan. Kita jangan kaku harus fleksibel, kita juga harus menghargai siswa itu. Kalo mereka sudah merasa dihargai maka mereka akan mudah menerima

“Ada yang harus dipanggil, ada yang dengan kesadaran datang sendiri, tapi untuk kelas XI, kelas XII mereka sudah merasakan manfaat ke ruang BK, jadi mereka datang sendiri”. “Kalo yang berkelahi pas BK melihat, langsung kita bawa, kita tanya dulu penyebabnya apa, tidak kita pertemukan dulu antara 2 orang yang berselisih ini, kita tanya satu

“Kebanyakan kalo di SMAN 8 ini,itulah keuntungan kami tu kesadaran anak-anak itu datang sendirinya untuk sharing. Contohnya mereka punya masalah di luar, atau mereka punya masalah dengan kawan, kadang-kadang punya masalah dengan orang tua, mereka curhat. Jadi

“Iya, sempet kan ditanya kenapa se kamu ne ikutikutan. Saya kesel ,gini,gini,gini…shar ing lah sama umi, kadang-kadang sama bu G”.

“Pernah lah, pas kelas1, pas pelajaran saya ngomong saya ada masalah, terus pas ruang BK nya sepi saya datang curhat”.

“Pernah, itu tu gak sengajakan, jadi O tu dari kamar mandi, sama temen tu yang comel, jadi waktu itu salaman sama umi, terus ditanyain kenapa, terus kata temen itu dibilangin baru berantem, dah itu di suruh curhat sama umi”.

“Kalo A lagi ada masalah sering sharing sama guru BK nya, curhat”.

6

minta pendapat dari pihak kami, kami memberikan masukanmasukan agar mereka keluar dari masalah mereka itu. Kalo untuk pelaku kita panggil, kami tanya bagaimana ceritanya, lalu diberikan masukanmasukan agar mereka keluar dari kesulitan”. Layanan “Tidak, “Gak ada, jadi “Kalo bimbingan karena memang hanya di bimbingan dan kelompok memang kan kelas itu lah kita konseling dan konseling kasih kelompok itu , konseling kelompok informasinya”. enggak. Materi kelompok dan khususnya juga bimbingan itu gak ada , harus ada paling tentang

masukan. Kalo PD nya udah dinaikin maka gak akan marah mau diapain juga. Diberitahu juga kekurangan dan kelebihan melakukan itu apa”.

persatu baru kita selesaikan. Tapi kalo kita dapat laporan dari guru lain paling anaknya kita panggil. Lalu kita selesaikan”.

“Gak pernah”.

“Gak pernah”.

“enggak pernah”.

“Gak pernah”.

tempat, sedangkan kita kondisi kelasnya tidak memadai”. 7 Layanan mediasi Mediasi dalam mengatasi bullying dilakukan antara siswa dan orangtuanya “Pertama itu kan, kita tanya kedua belah pihak ni, kalo memang masalahnya terlalu parah itu kita panggil orang tua. Orang tua kita panggil, wali kelas, dan wakil kesiswaan itu kita libatkan, tapi kalo memang masalahnya tidak terlalu parah ya cukup antara yang berkelahi saja, cukup diketahui guru BK dan wali kelas saja. Prosesnya yang

emosi aja. Dampak negatif juga disampaikan tapi lebih ke klasikal saja”. “Misalnya dia bertikai, dia sempat memukul kawannya, selain siswa di beri surat perjanjian kita memanggil ortu nya juga biar orangtuanya juga bisa mewanti-wanti anaknya dirumah, jangan semaumaunya gaplok anak orang jadi tau masalahnya. “Pernah, dikumpulin, diomongin gimana baiknya, terus salaman”. “Dipanggil orang tua, semua orang tuanya dikumpuli n. Dibilangin kelakuan anaknya di sekolah”. “Dipanggil tiba-tiba, ke sini ternyata ada 2 cewek dari gank itu, jadi ngomonglah apa masalahnya, lama-lama baekan se, sampe cium pipi malah”. “Guru BK nya yang ngedamain, semuanya yang terlibat dikumpulin, orang tuanya juga dateng semuanya dari yang mukulin yang dipukul. Diselesaian di sini, sampe selesai semuanya, kalo bisa

berkelahi kita kumpulkan dulu, kita data dulu permasalahannya apa kejadiannya dimana waktunya kapan, terus terjadi korban atau tidak, terjadi pemukulan tidak, parah atau tidak”. “Anak yang berkelahi kan kita panggil kita damaikan, dan mereka mau berdamai dan tidak akan mengulanginya lagi maka cukup dengan perjanjian. Tapi dengan perjanjian, di lain waktu mereka mengulangi lagi maka orang tua kita panggil, biar oang tua juga tau posisi anak

Jadi kerja sama antara guru dan orangtuanya itu perlu. Karena banyak kejadian anak itu di rumah manggutmanggut rajin, tapi di sekolah berantem”.

diluar gak usah diperpanjan g lagi. Soalnya kalo abis berantem ya, buat perjanjian kalo ngulangin lagi bakal dikeluarin di skors”.

disekolah seperti apa, kondisi anaknya di sekolah itu sering berkelahi atau tidak”. 8 Layanan konsultasi “Setelah dipanggil orang tua. Jadi kita mohon juga pada orang tua itu mantau bukan hanya perilakunya, mungkin juga cara belajar, kamar dia, teman bergaulnya, jadi memang lebih utamanya orang tua”. “Yang pertama kita tanya dulu anak ke berapa, tinggal dimana, di rumah dia perilakunya seperti apa, suka keluar malem atau enggak, siapa temannya, paling itu informasi yang kita bisa gali dari orang tua. Informasi dari orang tua bisa menjadi satu tolak ukur bagi kita mengapa si anak dapat berperilaku seperti ini, berartikan latar belakang dia di rumah dulu”. “Menyampaika n sesuai dengan permasalahan anaknya sendiri, setelah disampaiakan masalah anakanya, jangan Cuma di sekolah dibinanya, tapi di rumah jug a agar dibina. Lalu, mengikat mereka dengan surat perjanjian tandatangan anak dan orang tuanya. Yang pertama cukup anaknya dan “Orang tua sempet dipanggil, dikasi tahu kejelekankejelekan saya di sekolah. Disuruh nanganin saya di rumah”. “Dipanggil orang tua, semua orang tuanya dikumpuli n. Dibilangin kelakuan anaknya di sekolah. Dikasih tau sama guru BK untuk lebih jagain. Waktu itu, orang tua saya dipanggil bu G, bicara 4 “Kalo guru BK nya curhat tentang kita juga se, disampein semua ke orang tua, tapi kita gak tahu itu kan dikhususin pas ngomong ke orang tuanya, siswa nya dipisah dulu”.

“Setelah kita mengetahui informasi dari orang tua, baru kita memberikan informasi dari pihak sekolah, seperti absensi dia, tingkah laku dia di sekolah seperti apa, cara bergaul dia, sopan santun terhadap guru seperti apa, dengan teman seperti apa, baru di situ nanti ketemu. Kalo kita hanya informasinya dari anak , kadangkadang anak itu di depan orang tuanya baik tapi di sekolah brutal. Kadangkadangkan Orang tua taunya anaknya ini bagus, baik, nurut tapi ternyata di luar berontak.

guru BK saja, baru yg selanjutnya orang tua, anak dan guru BK nya. Kita juga kadang memberi masukan, kadang juga kita mendapat masukan dari orang tua. Misalnya, bahwa anaknya tidak bisa dikerasin, lalu kita juga menjelaskan anaknya bagaimana disekolah. Jadi lebih ke sharing dengan orang tua. Kita juga sangatsangat

mata ngomong berdua aja mereka”.

Lalu paling kita mengarahkan untuk memperhatikan anak ini dalam cara bergaul, waktu tidurnya di rumah dan aktivitasnya di luar. Orang tua harus tahu anaknya bergaul dengan siapa, lingkungan tempat bergaul bagaimana, intinya orang tua harus lebih perhatian”.

mewanti-wanti orang tuanya agar anakanknya betulbetul dijaga dan diawasi, sebaliknya orang tua juga menitipkan anaknya kepada kami, tolong anakanak kami dibimbing. Kami juga perlu selalu komunikasi dengan orang tua, karena setiap saat kan, iya kalo anakanaknya baik terus suatu ketika anaknya punya masalah perlu kita kontek, makanya kita

minta no hp orang tua begitu juga orang tua kadang minta no hp kita untuk mempermudah memantau anaknya”. Sumber: Wawancara dengan siswa dan guru bimbingan dan konseling SMAN 8 Bandar Lampung

100

KISI-KISI PEDOMAN WAWANCARA UPAYA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENGATASI BULLYING A. Faktor-faktor yang menyebabkan bullying 1. Lingkungan sekolah yang kurang baik a. Kebiasaan orang-orang di sekitar sekolah yang sering berkelahi atau bermusuhan b. Kebiasaan orang-orang di sekitar sekolah yang sering berlaku tidak sesuai dengan norma yang ada c. Kedisiplinan sekolah yang sangat kaku d. Peraturan yang tidak konsisten 2. Senioritas tidak pernah diselesaikan a. Senioritas sebagai upaya pendisiplinan b. Senioritas sebagai sebagai bentuk kesewenangan-wenangan senior terhadap juniornya c. Guru yang membenarkan atau bahkan ikut melakukan bullying 3. Guru memberikan contoh kurang baik pada siswa
a. Guru yang berbuat kasar kepada siswa b. Guru yang kurang memperhatikan prestasi siswa c. Guru yang kurang memperhatikan perilaku sehari-hari siswa d. Guru yang kurang memperhatikan pergaulan siswa

4. Ketidakharmonisan di rumah a. Ketidakhadiran ayah b. Kurangnya komunikasi antara orang tua c. Ketidakmampuan sosial ekonomi, 5. Karakter anak a. Perilaku agresif baik secara fisikal maupun verbal b. Pendendam atau iri hati

101

B. Upaya Guru Bimbingan dan konseling dalam Mengatasi Bullying Bullying adalah perilaku agresif yang dilakukan secara langsung oleh seorang atau kelompok yang merasa lebih kuat sehingga mengakibatkan tekanan kepada orang lain baik secara fisik maupun psikologis. 1. Layanan orientasi a. Disiplin di sekolah b. Hak dan kewajiban siswa di sekolah c. Tugas dan fungsi guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying d. Peranan personal sekolah dalam mengatasi bullying

2. Layanan informasi a. Informasi mengenai pentingnya pemahaman sosial budaya kepada siswa b. Informasi mengenai apa itu bullying, penyebab, dan dampaknya 3. Layanan penguasaan konten a. Materi pengembangan kehidupan pribadi kepada siswa b. Materi pengembangan kemampuan hubungan sosial kepada siswa 4. Layanan penempatan dan penyaluran a. Menyalurkan bakat-bakat siswa b. Menyalurkan siswa yang terlibat bullying dalam kegiatan-kegiatan yang positif 5. Layanan konseling individual a. Konseling individual bagi korban bullying b. Konseling individual bagi pelaku bullying 6. Layanan bimbingan kelompok a. Bimbingan kelompok bagi siswa yang belum terlibat bullying b. Bimbingan kelompok bagi siswa yang pernah terlibat bullying 7. Layanan konseling kelompok a. Konseling kelompok bagi korban bullying b. Konseling kelompok bagi pelaku bullying 8. Layanan mediasi
a. Mediasi antara korban dan pelaku bullying

102

b. Mediasi antara korban/pelaku bullying dengan pihak lain yang

terlibat (teman, guru, atau orang tua) 9. Layanan konsultasi a. Layanan konsultasi mengenai bullying kepada kepala sekolah b. Layanan konsultasi mengenai bullying kepada guru c. Layanan konsultasi mengenai bullying kepada orang tua siswa d. Layanan konsultasi mengenai bullying kepada siswa

103

PEDOMAN WAWANCARA UPAYA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENGATASI BULLYING Informan: Guru Bimbingan dan konseling I. Identitas Informan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Nama/inisial Tempat tgl lahir Alamat Agama Pendidikan Status Jabatan : : : : : : menikah/ belum menikah :

II. Daftar Pertanyaan C. Faktor-faktor yang menyebabkan bullying 6. Lingkungan sekolah yang kurang baik e. Apakah siswa sering bergaul dengan warga sekitar lingkungan sekolah? f. Apakah pernah terjadi perkelahian di sekitar lingkungan sekolah? Apakah itu membuat siswa meniru tindakan tersebut? g. Apakah ada warga di sekitar sekolah yang sering berlaku tidak sesuai dengan norma yang ada (seperti memalak, mengganggu orang yang lewat)? Apakah itu membuat siswa meniru tindakan tersebut? h. Apakah penerapan disiplin di sekolah membuat siswa merasa terkekang dan ingin memberontak (dengan tidak mematuhi disiplin sekolah)? i. Apakah siswa siswa yang melanggar peraturan mendapatkan hukuman? Apakah hukuman yang diberikan sesuai dengan peraturan sekolah? 7. Senioritas tidak pernah diselesaikan d. Apakah ada siswa yang mendapat perlakuan sewenang-wenang dari kakak kelasnya? Apakah hal itu membuat siswa ingin

104

memperlakukan adik kelas anda sama seperti kakak kelas memperlakukannya? e. Apakah anda menegur kakak tingkat yang bertindak sewenangwenang kepada adik kelas? 8. Guru memberikan contoh kurang baik pada siswa
e. Apakah ada guru yang sering berbuat kasar kepada siswa f.

Apakah ada guru yang sering tidak menghargai apa yang telah dilakukan (prestasi) siswa? Apakah itu menurunkan motivasi siswa untuk berprestasi dan membuat siswa ingin berontak?

g. Apakah guru-guru di sekolah memperhatikan perilaku sehari-hari

siswa?
h. Apakah guru-guru di sekolah memperhatikan dengan siapa anda

bergaul? 9. Ketidakharmonisan di rumah d. Apa status pernikahan orang tua siswa (cerai atau tidak)? Apakah hal tersebut mempengaruhi siswa dalam berperilaku? e. Bagaimana status sosial siswa (pekerjaan orang tua) ? Apakah hal tersebut mempengaruhi siswa dalam bergaul dan berperilaku sehari-hari? 10. Karakter anak c. Apakah siswa suka berbuat onar dengan berkata-kata tidak baik? Apa alasan siswa? d. Apakah siswa suka mencari-cari kesalahan teman yang tidak anda suka lalu memusuhinya? Apa alasan siswa? e. Apa siswa sering merasa dendam dengan teman yang pernah menyakitinya? Apa alasan siswa? f. Apa siswa sering merasa iri dengan apa yang telah dimiliki/diraih oleh temannya? Apa alasan siswa?

105

D. Upaya Guru Bimbingan dan konseling dalam Mengatasi Bullying Bullying adalah perilaku agresif yang dilakukan secara langsung oleh seorang atau kelompok yang merasa lebih kuat sehingga mengakibatkan tekanan kepada orang lain baik secara fisik maupun psikologis. 10. Layanan orientasi e. Apakah anda mengenalkan peraturan-peraturan (termasuk disiplin) di sekolah? Bagaimana cara anda menyampaikannya? f. Apakah anda memberitahu mengenai hak dan kewajiban siswa di sekolah (seperti kewajiban mematuhi peraturan sekolah, hak anda untuk meminta pembelaan jika anda dirugikan)? Bagaimana cara anda menyampaikannya? g. Apakah anda memberitahu tugas dan fungsi guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying? Bagaimana cara anda menyampaikannya? h. Apakah anda memberitahu peranan personal (kepala sekolah, guru) sekolah dalam mengatasi bullying? Bagaimana cara anda menyampaikannya? 11. Layanan informasi c. Apakah anda menerangkan bahwa perbedaan antar manusia bukan untuk saling bersaing dan bermusuhan? Bagaimana cara anda menyampaikannya? d. Apakah anda memberi informasi mengenai apa itu bullying, penyebab, dan dampaknya? Bagaimana cara anda

menyampaikannya? 12. Layanan penguasaan konten c. Apakah anda mengajarkan siswa untuk dapat berkomunikasi khususnya dalam menolak ajakan melakukan bullying? Bagaimana cara anda mengajarkannya? d. Apakah anda mengajarkan siswa untuk dapat berkomunikasi khususnya dalam menolak jika siswa mendapat tindakan bullying? Bagaimana cara anda mengajarkannya?

106

e. Apakah anda mengajarkan siswa bagaimana mengatasi kekurangan yang ada pada diri siswa(berfisik kecil/lemah, sulit bergaul, kurang percaya diri, canggung, aksen yang berbeda, tidak cantik/ganteng, tidak kaya, kurang pandai, gagap)? Bagaimana cara anda mengajarkannya? f. Apakah anda mengajarkan siswa bagaimana mengatasi kekurangan yang ada pada diri siswa? Bagaimana cara guru anda

mengajarkannya? g. Apakah anda mengajarkan siswa bagaimana cara menunjukkan eksistensi diri secara positif? Bagaimana cara anda

mengajarkannya? 13. Layanan penempatan dan penyaluran c. Apakah anda menempatkan dan menyalurkan siswa ke dalam kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler yang sesuai dengan bakat dan minat siswa? Bagaimana cara anda melakukan hal tersebut? d. Apakah anda menempatkan dan menyalurkan siswa ke dalam kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler yang dapat membantu siswa jika terkena bullying (eksrakulikuler beladiri, ekstrakulikuler yang dapat meningkatkan kemampuan dalam berkomunikasi dan percaya diri seperti OSIS atau pramuka)? Bagaimana cara anda melakukan hal tersebut? 14. Layanan konseling individual c. Apakah anda memberikan konseling individual kepada siswa yang menjadi korban bullying? Bagaimana cara anda melakukan hal tersebut? Apakah hal tersebut berguna bagi siswa? d. Apakah anda memberikan konseling individual saat siswa menjadi pelaku bullying? Bagaimana cara anda melakukan hal tersebut? Apakah hal tersebut berguna bagi siswa? 15. Layanan bimbingan kelompok c. Apakah anda memberikan bimbingan kelompok kepada siswa yang belum terlibat bullying? Materi apa saja yang anda berikan?

107

d. Apakah anda memberikan bimbingan kelompok kepada siswa yang telah terlibat bullying? Materi apa saja yang anda berikan? 16. Layanan konseling kelompok a. Apakah anda memberikan konseling kelompok kepada siswa korban bullying? Bagaimana cara anda memberikannya? b. Apakah anda memberikan konseling kelompok kepada siswa pelaku bullying? Bagaimana cara anda memberikannya? 17. Layanan mediasi
c. Apakah anda memberikan mediasi antara korban dan pelaku

bullying? Bagaimana cara anda melaksanakannya?
d. Apakah anda memberikan mediasi antara korban/pelaku bullying

dengan pihak lain yang terlibat (teman, guru, atau orang tua)? Bagaimana cara anda melaksanakannya? 18. Layanan konsultasi e. Apakah anda memberikan layanan konsultasi mengenai bullying kepada kepala sekolah? Bagaimana cara anda melaksanakannya? f. Apakah anda memberikan layanan konsultasi mengenai bullying kepada guru? Bagaimana cara anda melaksanakannya? g. Apakah anda memberikan layanan konsultasi mengenai bullying kepada orang tua siswa? Bagaimana cara anda melaksanakannya? h. Apakah anda memberikan layanan konsultasi mengenai bullying kepada siswa? Bagaimana cara anda melaksanakannya?

108

PEDOMAN WAWANCARA UPAYA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENGATASI BULLYING Informan: Siswa pelaku bullying I. Identitas Informan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nama/inisial Tempat tgl lahir Alamat Agama Pendidikan Kelas : : : : : :

II. Daftar Pertanyaan A. Faktor-faktor yang menyebabkan bullying 1. Lingkungan sekolah yang kurang baik a. Apakah anda sering bergaul dengan warga sekitar lingkungan sekolah anda? b. Apakah pernah terjadi perkelahian di sekitar lingkungan sekolah anda? Apakah itu membuat anda ingin melakukan hal yang sama seperti mereka? c. Apakah ada warga di sekitar sekolah yang sering berlaku tidak sesuai dengan norma yang ada (seperti memalak, mengganggu orang yang lewat)? Apakah itu membuat anda ingin melakukan hal yang sama seperti mereka? d. Apa pendapat anda mengenai penerapan disiplin di sekolah? Apakah itu membuat anda merasa terkekang dan ingin

memberontak (dengan tidak mematuhi disiplin sekolah)? e. Apa pendapat anda mengenai pemberian hukuman yang berlebihan (tidak sesuai dengan peraturan) bagi siswa yang melanggar peraturan sekolah? 2. Senioritas tidak pernah diselesaikan a. Apa pendapat anda mengenai tindakan senioritas? Apakah anda pernah mendapat perlakuan sewenang-wenang dari kakak kelas

109

anda? Apakah hal itu membuat anda ingin memperlakukan adik kelas anda sama seperti kakak kelas memperlakukan anda? b. Apakah guru menegur kakak tingkat yang bertindak sewenangwenang kepada adik kelas? Apakah hal tersebut membuat anda ingin meniru apa yang dilakukan oleh kakak kelas anda? 3. Guru memberikan contoh kurang baik pada siswa a. Apa pendapat anda mengenai guru yang berbuat kasar kepada siswa? adakah guru anda yang seperti itu? Apakah menurut anda wajar jika anda juga berprilaku seperti guru anda tersebut? b. Apa pendapat anda mengenai guru yang tidak menghargai apa yang telah dilakukan (prestasi) siswa? Apakah itu menurunkan motivasi anda untuk berprestasi dan membuat anda ingin berontak? c. Apakah guru anda memperhatikan perilaku sehari-hari anda? Apakah hal tersebut membuat anda merasa perlu menjaga perilaku sehari-hari anda? d. Apakah guru anda memperhatikan dengan siapa anda bergaul? Apakah hal tersebut membuat anda merasa perlu menjaga pergaulan anda? 4. Ketidakharmonisan di rumah a. Apa status pernikahan orang tua anda (cerai atau tidak)? Apakah hal tersebut mempengaruhi anda dalam berperilaku? b. Apakah anda sering berdiskusi dengan orang tua mengenai aktivitas sekolah anda? Apakah hal tersebut membuat anda merasa perlu menjaga perilaku sehari-hari anda? c. Bagaimana status sosial anda (pekerjaan orang tua) ? Apakah hal tersebut mempengaruhi anda dalam bergaul dan berperilaku sehari-hari? 5. Karakter anak a. Apakah anda suka berbuat onar dengan berkata-kata tidak baik? Apa alasan anda?

110

b. Apakah anda suka mencari-cari kesalahan teman yang tidak anda suka lalu memusuhinya? Apa alasan anda? c. Apa anda sering merasa dendam dengan teman yang pernah menyakiti anda? Apa alasan anda? d. Apa anda sering merasa iri dengan apa dimiliki/diraih oleh teman anda? Apa alasan anda? yang telah

B. Upaya Guru Bimbingan dan konseling dalam Mengatasi Bullying Bullying adalah perilaku agresif yang dilakukan secara langsung oleh seorang atau kelompok yang merasa lebih kuat sehingga mengakibatkan tekanan kepada orang lain baik secara fisik maupun psikologis. 1. Layanan orientasi a. Apakah guru anda mengenalkan peraturan-peraturan (termasuk disiplin) di sekolah? Bagaimana cara guru anda

menyampaikannya? b. Apakah guru anda memberitahu mengenai kewajiban anda di sekolah (seperti kewajiban mematuhi peraturan sekolah)?

Bagaimana cara guru anda menyampaikannya? c. Apakah guru anda memberitahu tugas dan fungsi guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying? Bagaimana cara guru anda menyampaikannya? d. Apakah guru anda memberitahu peranan personal (kepala sekolah, guru) sekolah dalam mengatasi bullying? Bagaimana cara guru anda menyampaikannya? 2. Layanan informasi a. Apakah guru anda menerangkan bahwa perbedaan antar manusia bukan untuk saling bersaing dan bermusuhan? Bagaimana cara guru anda menyampaikannya? b. Apakah guru anda memberi informasi mengenai apa itu bullying, penyebab, dan dampaknya? Bagaimana cara guru anda

menyampaikannya?

111

3. Layanan penguasaan konten a. Apakah guru anda mengajarkan anda untuk dapat berkomunikasi khususnya dalam menolak ajakan melakukan bullying? Bagaimana cara guru anda mengajarkan anda? b. Apakah guru anda mengajarkan anda bagaimana mengatasi kekurangan yang ada pada diri anda? Bagaimana cara guru anda mengajarkan anda? c. Apakah guru anda mengajarkan anda bagaimana cara

menunjukkan eksistensi diri secara positif? Bagaimana cara guru anda mengajarkan anda? 4. Layanan penempatan dan penyaluran Apakah guru anda menempatkan dan menyalurkan anda ke dalam kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler yang sesuai dengan bakat dan minat anda? Bagaimana cara guru anda melakukan hal tersebut? 5. Layanan konseling individual Apakah guru anda memberikan konseling individual saat anda menjadi pelaku bullying? Bagaimana cara guru anda melakukan hal tersebut? Apakah hal tersebut berguna bagi anda? 6. Layanan bimbingan kelompok a. Apakah guru anda memberikan bimbingan kelompok sebelum anda terlibat bullying? Materi apa saja yang diberikan? b. Apakah guru anda memberikan bimbingan kelompok setelah anda terlibat bullying? Materi apa saja yang diberikan? 7. Layanan konseling kelompok Apakah guru anda memberikan konseling kelompok kepada anda ? Bagaimana cara guru anda memberikannya? 8. Layanan mediasi a. Apakah guru anda pernah mempertemukan anda dengan siswa yang anda bully guna menyelesaikan masalah bullying yang anda alami? Bagaimana guru anda melakukannya? b. Apakah guru anda pernah mempertemukan anda dengan pihak lain yang terlibat (teman, guru, atau orang tua) guna menyelesaikan

112

masalah bullying yang anda alami? Bagaimana guru anda melakukannya? 9. Layanan konsultasi a. Apakah guru anda pernah memberikan layanan konsultasi kepada orang tua anda terkait kasus bullying yang anda lakukan? Bagaimana cara guru anda melakukannya? b. Apakah guru anda pernah memberikan layanan konsultasi kepada teman anda yang terkait dengan kasus bullying yang anda lakukan? Bagaimana cara guru anda melakukannya?

113

PEDOMAN WAWANCARA UPAYA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENGATASI BULLYING Informan: Siswa korban bullying I. Identitas Informan 1. 2. 3. 4. 5. 6. II. Nama/inisial Tempat tgl lahir Alamat Agama Pendidikan Kelas Daftar Pertanyaan Upaya Guru Bimbingan dan konseling dalam Mengatasi Bullying Bullying adalah perilaku agresif yang dilakukan secara langsung oleh seorang atau kelompok yang merasa lebih kuat sehingga mengakibatkan tekanan kepada orang lain baik secara fisik maupun psikologis. 1. Layanan orientasi a. Apakah guru anda mengenalkan peraturan-peraturan (termasuk disiplin) di sekolah? Bagaimana cara guru anda : : : : : :

menyampaikannya? b. Apakah guru anda memberitahu mengenai hak anda di sekolah (seperti hak untuk meminta pembelaan jika anda dirugikan)? Bagaimana cara guru anda menyampaikannya? c. Apakah guru anda memberitahu tugas dan fungsi guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi bullying? Bagaimana cara guru anda menyampaikannya? d. Apakah guru anda memberitahu peranan personal (kepala sekolah, guru) sekolah dalam mengatasi bullying? Bagaimana cara guru anda menyampaikannya? 2. Layanan informasi a. Apakah guru anda menerangkan bahwa perbedaan antar manusia bukan untuk saling bersaing dan bermusuhan? Bagaimana cara guru anda menyampaikannya?

114

b. Apakah guru anda memberi informasi mengenai apa itu bullying, penyebab, dan dampaknya? Bagaimana cara guru anda

menyampaikannya? 3. Layanan penguasaan konten Apakah guru anda mengajarkan anda bagaimana mengatasi

kekurangan yang ada pada diri anda (berfisik kecil/lemah, sulit bergaul, kurang percaya diri, canggung, aksen yang berbeda, tidak cantik/ganteng, tidak kaya, kurang pandai, gagap)? Bagaimana cara guru anda mengajarkan anda? 4. Layanan penempatan dan penyaluran Apakah guru anda menempatkan dan menyalurkan anda ke dalam kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler yang dapat membantu anda jika terkena bullying (eksrakulikuler beladiri, ekstrakulikuler yang dapat meningkatkan kemampuan dalam berkomunikasi dan percaya diri seperti OSIS atau pramuka)? Bagaimana cara guru anda melakukan hal tersebut? 5. Layanan konseling individual Apakah guru anda memberikan konseling individual saat anda menjadi korban bullying? Bagaimana cara guru anda melakukan hal tersebut? Apakah hal tersebut berguna bagi anda? 6. Layanan bimbingan kelompok Apakah guru anda memberikan bimbingan kelompok yang terkait dengan bullying kepada anda? Materi apa saja yang diberikan? 7. Layanan konseling kelompok Apakah guru anda memberikan konseling kelompok kepada anda ? Bagaimana cara guru anda memberikannya? 8. Layanan mediasi a. Apakah guru anda pernah mempertemukan anda dengan siswa yang mem-bully anda guna menyelesaikan masalah bullying yang anda alami? Bagaimanakah guru anda melakukannya? b. Apakah guru anda pernah mempertemukan anda dengan pihak lain yang terlibat (teman, guru, atau orang tua) guna menyelesaikan

115

masalah bullying yang anda alami? Bagaimana guru anda melakukannya? 9. Layanan konsultasi a. Apakah guru anda pernah memberikan layanan konsultasi kepada orang tua anda terkait kasus bullying yang anda lakukan? Bagaimana cara guru anda melakukannya? b. Apakah guru anda pernah memberikan layanan konsultasi kepada teman anda yang terkait dengan kasus bullying yang anda terima? Bagaimana cara guru anda melakukannya?

116

TRANSKRIP VERBATIM A. Transkrip verbatim Subjek Tanggal Lokasi :I : 1 November 2010 : Ruang BK

Baris P/S 1 P: S:

P: S:

5

P: S:

Isi Wawancara Bagaimana layanan orientasi dalam mengatasi bullying? Layanan orientasi ini kan biasanya awal kelas X pertama masuk. Iya kita kenalkan, dalam setiap individu itu minimal harus menyadari mereka itu kan sekolah bukan untuk saling ego, jadi kita berikan tata krama. Itu diberikan pas masuk, pas MOS, yang menyampaikan itu guru BK. Mengenai hak dan kewajiban siswa itu dimasukkan ke dalam peraturan sekolah. Di dalam buku saku juga terdapat hak dan kewajiban siswa dan pelanggaranpelanggaran. Setiap upacara juga dibacain tri janji siswa. Dijelaskan gak mengenai tugas dan fungsi guru BK dalam mengatasi bullying? Iya, kita kan bilang ke anak-anak, ini permasalahan yang terjadi ama diri kalian baik itu masalah pribadi baik itu masalah sosial, masalah harga diri, kalo kalian masih bisa mengatasi dengan cara baik-baik mencoba mengatasi sendiri, silahkan. Tapi andaikan kalian gak bisa mengatasi bicara aja dengan dewan guru, bisa guru bidang studi, bisa guru wali kelas bisa juga guru BK. Kalo masalah pribadi kalian bisa pilih guru yang kalian percaya. Mereka nyebutnya curhat sharing bukan konseling. Tapi lebih banyak itu guru BK dibandingkan dengan guru-guru lain. Layanan informasi dalam mengatasi bullying, apakah diberikan? Iya, kaya gender gitu, kebersamaan antara pria dan wanita. Saling menghargai. Itu

Tema

Pengenalan peraturan sekolah saat MOS serta pembacaan tri janji siswa saat upacara sebagai bentuk layanan orientasi dalam upaya mengatasi bullying.

Pengenalan tugas dan fungsi guru dalam mengatasi bullying.

Pemberian materi mengenai

117

P: S:

disampaikannya secara klasikal, kalo secara individu itu disampaikannya kalau sudah terjadi. Ada juga mengenai pergaulan , antara pria dan wanita, yang pertama paling pokok itu agama. Jadi kalo kita bergaul dimanapun, kalo kita beragama memegang ajaran agama maka gak akan terjadi hal-hal yang negatif. Apakah dijelaskan mengenai apa itu bullying, dampak, dan penyebabnya? Nah, itu aku aja baru taunya dari suci jadi kita taunya kekerasan dalam sosial, kekerasan perilaku, entah sesama murid, atau guru sama murid, itu disampaikan. Karena kalo udah terjadi otomatis kita panggil tu orang tua mereka, perjanjian ada, kita kaya konfrensi kasus gitu, jadi semua pada tau dan diikat dengan perjanjian.

persamaan gender, pergaulan serta agama sebagai bentuk layanan informasi dalam mengatasi bullying.

Guru belum paham mengenai istilah bullying, sehingga tidak menyampaikan mengenai bullying kepada siswanya tetapi bentuk langsung dari perilaku bullying sendiri.

P:

10

S:

Untuk penguasaan konten apakah diajarkan kepada siswa bagaimana agar mereka tidak terlibat bullying? Ya, paling di kelas itu, saat di kelas atau saat kejadian, kan diciduk tu kalau kejadian, semua yang berkaitan, dikasih masukan, ditanyakan masalah itu, antisipasinya itu ya cepet lapor dengan guru bidang studi, atau BK. Tapi kalo memang untuk pertamanya pisah dulu, pegang temen masing-masing, tapi kalo memang gak bisa baru cepet lapor guru terdekat. Ya paling umi juga ngomong, kalo kalian melakukan perbuatan seperti itu, banyak manfaatnya apa mudorotnya, mereka bilang banyak mudorotnya, maka harus dihindari. Kalo untuk korbannya juga , kalo memang gak sesuai dengan diri kamu, kamu lapor ajalah dengan guru BK biar dipanggil biar ada penyelesaikan. Jadi intinya ngelapor secepatnya. Ngelapor itu kan biar mereka itu gak resah, sekolah besok gak resah,

Pemberian layanan penguasaan konten, dimana siswa diajarkan untuk segera memisahkan teman, dan melapor untuk terhindar menjadi pelaku bullying. Bagi korban untuk dapat melawan jika mendapat tindakan bullying.

118

P:

S:

P:

S:

mereka juga gak akan ngulangi perbuatannya. Tapi kalo udah ke BK insyaallah berubah low, karena mereka mungkin takut dengan perjanjian itu. Tapi ada juga kalo yang saya tahu biar korbannya itu melawan jika ditindas, kalo memang tidak begitu berbahaya gak papa dibalas biar mereka gak mau mengulanginya lagi, tapi harus tetap sepengetahuan BK nya. Untuk penempatan dan penyaluran bagaimana mi, apakah guru BK ikut berperan? Itu kakak kelas saat MOS dipromosikan ekskulnya, jadi lebih pada keinginan mereka mau masuk mana. Kadang-kadang penyalurannya memang dari SMP sudah disalurin. Jadi sesuai hati nurani mereka. Bagaimana dengan konseling kelompok dan bimbingan kelompok dalam mengatasi bullying, apakah dilaksanakan mi? Tidak, karena memang kan konseling kelompok dan bimbingan itu harus ada tempat, sedangkan kita kondisi kelasnya tidak memadai.

Guru BK tidak berperan dalam penempatan dan penyaluran siswa.

Bimbingan kelompok dan konseling kelompok tidak dilaksanakan karena alasan keterbatasan sarana.

15

P: S:

P:

Bagaimana dengan konseling individual, apakah diberikan, bagaimana prosesnya? Kalo untuk prosesnya, kalo untuk korban, kalo memang gak salah bener, jadi kita kasih langkah-langkahnya, cepet lapor, jangan takut kalo memang kamu bener, dalam arti cepet lapor ke BK jadi ada solusinya. Kalo dateng sendiri biasanya setelah kejadian mereka suka curhat, jadi dikasih masukan-masukan. Kita jangan kaku harus fleksibel, kita juga harus menghargai siswa itu. Kalo mereka sudah merasa dihargai maka mereka akan mudah menerima masukan. Kalo PD nya udah dinaikin maka gak akan marah mau diapain juga. Diberitahu juga kekurangan dan kelebihan melakukan itu apa. Bagaimana dengan mediasi mi, apa saja

Konseling individual dilakukan setelah terjadi tindakan bullying. Dalam melaksanakan konseling siswa harus tetap dihargai meski dia sebagai pelaku yang dinyatakan bersalah.

119

S:

P:

20

S:

P: 22 S:

yang dilakukan dalam upaya mengatasi bullying? Panggil orang tua pasti, apalagi kalo udah sampe cakar-cakaran. Tahapannya kita tanya satu-satu lalu kita kasih masukan. Lalu dibuat perjanjian untuk pelakunya, kalo korban gak perlu. Setelah itu baru dipanggil orang tua. Kita panggil kedua belah pihak, kita kasih masukan ke orang tua anaknya seperti apa. Jadi tolonglah sampe rumah anaknya diomongin, nanti orang tuanya juga dibuatin surat perjanjian juga. Lalu, saat orang tua nya datang apa saja yang dideritahukan pada orang tua siswa tersebut? Dikasih tau tentang perilaku anaknya, kejadian sebelumnya. Pokoknya kejadiankejadian yang memang pernah buat perjanjian di bundellah, jadi saat orang tua dateng kita tunjukin. Setelah itu kita tanya apa masukannya setelah ibu tau ini. Lalu kalo memang perlu saya kasih nomor handphone biar komunikasinya lebih mudah kalo ada masalah lagi. Lalu, menurut umi layanan mana yang paling efektif dalam mengatasi bullying? Setelah dipanggil orang tua. Jadi kita mohon juga pada orang tua itu mantau bukan hanya perilakunya, mungkin juga cara belajar, kamar dia, teman bergaulnya, jadi memang lebih utamanya orang tua.

Mediasi dalam mengatais bullying dilakukan antara siswa dan orangtuanya.

Layanan konsultasi dalam mengatasi bullying diberikan kepada orang tua siswa.

Layanan yang paling efektif dalam mengatasi bullying yakni konsultasi.

120

B. Transkrip verbatim Subjek Tanggal Lokasi :G : 2 November 2010 : Ruang BK

Baris P/S 1 P: S:

P: S:

5

P:

S:

Isi Wawancara Apakah siswa dikenalkan mengenai peraturan-peraturan di sekolah ? Memang iya, setiap upacara kan memberikan,nasehat-nasehat, laranganlarangan dan peraturan-peraturan yang berlaku di sekolah. Tapi kadangkan anakanak ini masuk kuping kanan keluar kuping kiri, waktu upacara iya didengerin waktu kita masuk kelas iya, tapi setelah kita gak ada. Disinikan terjadinya bullying saat meraka istirahat dan di kantin, kan di situ interaksinya. Apa yang dilakukan guru BK bila terjadi bullying? Kita tanya permasalahannya apa, pendekatannya apa, baru kita cari akar masalahnya, seperti berkelahi, kita kumpulin dulu, kita tanyain dulu satu persatu, jadi dari mereka ini kita ambil kesimpulannya. Bagaimana bentuk layanan informasi yang diberikan kepada siswa dalam upaya mengatasi bullying? Layanan informasi ini yang kita berikan ke anak, kita kasih pengertian dulu tentang manfaat dari berantem itu apa, segi negatifnya apa positifnya apa. Terus kita tanya permasalahannya apa, akibatnya apa kalo mengadakan perkelahian itu kan, hukuman dari sekolah kan bermacammacam. Kalo yang tidak fatal, kalo yang fatal kan dikeluarkan. Nah itu lah informasi yang kita berikan di kelas. Jadi kita kan dikasih waktu untuk BK 1 jam per kelas, dari situlah kita dapat berinteraksi dengan anak. Kita bisa lihat absensinya, tingkah

Tema

Layanan orientasi mengenai peraturan sekolah diberikan saat upacara.

Pemberian layanan mediasi kepada sesama siswa.

Layanan informasi dalam mengatasi bullying diberikan secara klasikal melalui materi yang berkaitan dengan bullying.

121

P: S:

P:

10

S:

P:

S:

P:

S:

lakunya, jadi kita bisa lihat anak ini, mana yang lebih dominan mana yang tidak. Kalo materi yang disampaikan itu berkaitan dengan perilaku sehari-hari, tidak melakukan penindasan, tidak egois. Apakah siswa diajarkan untuk dapat menolak ajakan bullying? Secara individual tadi, konseling individual, dari hati ke hati tadi. Kita tanya lagi kenapa kamu melakukan, apa sebabnya, dari situ kan nanti tergali apa yang dilakukan, dari situkan kita bisa kasih jalan keluarnya. Jadi kita preventif dulu. Bagaimana dengan korban, apakah diajarkan bagaimana cara terhindar dari perilaku bullying? Untuk korban, kita panggil dulu, terus kita tanya dulu kenapa bisa terjadi peristiwa seperti itu, setelah itu anak kita pertemukan, antara korban dan pelaku. Si pelaku mengutarakan pendapatnya, si korban mengutarakan pendapatnya , disitu kita satukan, kita damaikan pada saat penyelesaian masalah itu,dan si pelaku membuat surat perjanjian dengan tidak akan mengulanginya lagi. Bagi siswa yang mengalami kekurangan atau kelebihan yang dapat menyebabkan ia mengalami bullying,apakah anda mengajarkan cara untuk mengatasinya? Paling kita secara individual, misalnya mereka punya penampilan yang berlebihan kita kasih tahu “nak supaya tidak mengundang perhatian temen, kamu jangan bersikap seperti itu. Bukan nasehat ya, hanya informasi saja, masukan-masukan. Apakah ada bentuk penyaluran yang dilakukan kepada siswa untuk memilih ekstrakulikuler ? Enggak, anak kan memilih eskul sesuai keinginan mereka sendiri. Lebih pada bakat dan kesadaran mereka sendiri.

Penguasaan konten diberikan pada siswa yang terlibat bullying saat konseling individual.

Layanan mediasi antara korban dan pelaku bullying.

Layanan penguasaan konten bagi siswa bagi siswa yang berpeluang menjadi korban bullying.

Guru BK tidak berperan dalam penempatan dan

122

penyaluran siswa. 15 P: S: Apakah ada penyaluran bagi korban atau pelaku bullying? Kita gak nyampe situ ya, paling kita penyelesaiannya hanya pada saat mereka bermasalahnya saja. Kalo pengembangan diri itu lebih pada anaknya. Bagaimana proses konseling individual bagi siswa yang terlibat bullying? Ada yang harus dipanggil, ada yang dengan kesadaran datang sendiri,tapi untuk kelas XI ,kelas XII mereka sudah merasakan manfaat ke ruang BK, jadi mereka datang sendiri. Kalo yang berkelahi pas BK melihat, langsung kita bawa, kita tanya dulu penyebabnya apa, tidak kita pertemukan dulu antara 2 orang yang berselisih ini, kita tanya satu persatu baru kita selesaikan. Tapi kalo kita dapat laporan dari guru lain paling anaknya kita panggil. Lalu kita selesaikan, kalo memang perlu kita panggil orang tuanya, ya kita panggil orang tua, tapi kalo memang tidak perlu panggilan orang tua atau bisa kita selesaikan disini ya kita selesaikan disini. Bagaimana dengan layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok , apakah diberikan pada siswa? Gak ada, jadi memang hanya di kelas itu lah kita kasih informasinya.

Guru BK tidak memberikan penempatan dan penyaluran siswa bagi siswa yang terlibat bullying.

P: S:

Proses layanan konseling individual bagi siswa yang terlibat bullying.

P:

20

S:

Bimbingan kelompok dan konseling kelompok tidak dilaksanakan karena alasan telah memberikan materi secara klasikal.

P:

S:

Apakah layanan mediasi diberikan dalam upaya mengatasi bullying? Bagaimana prosesnya? Pertama itu kan, kita tanya kedua belah

Layanan mediasi diberikan pada

123

P: S:

pihak ni, kalo memang masalahnya terlalu parah itu kita panggil orang tua. Orang tua kita panggil, wali kelas, dan wakil kesiswaan itu kita libatkan, tapi kalo memang masalahnya tidak terlalu parah ya cukup antara yang berkelahi saja, cukup diketahui guru BK dan wali kelas saja. Prosesnya yang berkelahi kita kumpulkan dulu, kita data dulu permasalahannya apa kejadiannya dimana waktunya kapan, terus terjadi korban atau tidak, terjadi pemukulan tidak, parah atau tidak. Anak yang berkelahi kan kita panggil kita damaikan, dan mereka mau berdamai dan tidak akan mengulanginya lagi maka cukup dengan perjanjian. Tapi dengan perjanjian, di lain waktu mereka mengulangi lagi maka orang tua kita panggil, biar oang tua juga tau posisi anak disekolah seperti apa, kondisi anaknya di sekolah itu sering berkelahi atau tidak. Saat orang tua datang apa saja yang guru BK sampaikan? Yang pertama kita tanya dulu anak ke berapa, tinggal dimana, di rumah dia perilakunya seperti apa, suka keluar malem atau enggak, siapa temannya, paling itu informasi yang kita bisa gali dari orang tua. Informasi dari orang tua bisa menjadi satu tolak ukur bagi kita mengapa si anak dapat berperilaku seperti ini, berartikan latar belakang dia di rumah dulu. Setelah kita mengetahui informasi dari orang tua, baru kita memberikan informasi dari pihak sekolah, seperti absensi dia, tingkah laku dia di sekolah seperti apa , cara bergaul dia, sopan santun terhadap guru seperti apa, dengan teman seperti apa, baru di situ nanti ketemu. Kalo kita hanya informasinya dari anak , kadang-kadang anak itu di depan orang tuanya baik tapi di sekolah brutal. Kadang-kadangkan Orang

pelaku dan korban bullying. Jika diperlukan mediasi juga dilakukan antara siswa dan orangtuanya.

Layanan konsultasi dalam mengatasi bullying diberikan kepada orang tua siswa.

124

25 26

P: S:

tua taunya anaknya ini bagus, baik, nurut tapi ternyata di luar berontak. Lalu paling kita mengarahkan untuk memperhatikan anak ini dalam cara bergaul, waktu tidurnya di rumah dan aktivitasnya di luar. Orang tua harus tahu anaknya bergaul dengan siapa, lingkungan tempat bergaul bagaimana, intinya orang tua harus lebih perhatian. Lalu, menurut ibu layanan mana yang paling efektif dalam mengatasi bullying? Konseling individual, kita berlaku sebagai Layanan yang paling efektif dalam teman mengatasi bullying yakni konseling individual.

125

C. Transkrip verbatim Subjek Tanggal Lokasi :M : 2 November 2010 : Ruang BK

Baris P/S 1 P: S:

P:

S:

5

P:

S:

Isi Wawancara Layanan orientasi apa saja yang diberikan dalam mengatasi bullying? Itulah salah satunya pekerjaan guru BK itu, yang pertama memang ada jam di kelas, di saat ada jam itu selalu kita selipkan. Selain itu, kita sebagai guru BK juga melakukan pendekatan-pendekatan terutama siswasiswa yang arogan, kita sampaikan bahwa di sekolah ini punya aturan, punya tata tertib sehingga mereka bisa mengerti, dan juga cara kita menyampaikan tidak memaksa, tapi secara kesadaran mereka saja. Disampaikannya saat masuk kelas atau istirahat seperti ini,sering juga kami sampaikan satu per satu ke anaknya. Yang paling ini sekali waktu upacara, upacara hari senin itukan disampaikan tata tertib sekolah, sopan santun, tata krama pada anak-anak itu. Bagaimana mengenai tugas dan fungsi guru BK dalam mengatasi bullying, apakah diinformasikan kepada siswa? Itu kalo biasanya mereka punya buku saku mereka. Kalo pake buku saku,misalnya mereka bertikai dapet berapa point mereka, itu ditunjukkan ke mereka. Kedua untuk mengatasi itu dipanggil dua-duanya dibuat surat perjanjian, jika sampai terulang lagi maka akan dikembalikan ke orang tua atau mendapat sanksi selanjutnya. Apakah layanan informasi diberikan kepada siswa ? apa saja materi yang diajarkan? Iya diajarkan itu, cara berkomunikasi dengan kawan-kawannya, sopan santun, dunia pergaulan juga, di dalam modulnya juga ada, sehingga mereka tahu bergaul

Tema

Layanan orientasi mengenai peraturan sekolah disampaikan secara klasikal dan individu serta saat upacara.

Pengenalan terhadap peraturan dan peranan guru melalui buku saku.

Pemberian layanan informasi melalui materi-materi yang berkaitan dengan

126

P:

S:

P: 10 S:

dengan siapa, tempat-tempat bersosialisasiny juga tentunya mereka bisa menyesuaikan diri. Biasanya kan siswa diajak dalam melakukan bullying , untuk mencegah itu agar mereka bisa menolak bagaimana caranya? Itu lebih ke tatakrama dia, kalian kan harus menghindari pekerjaan yang merugikan, contohnya apabila kamu diajak bertikai kenapa kamu harus ikut-ikutan, nah itu kamu harus bisa mencegah, harus bisa menolak, dan juga harus memberikan bimbingan kepada siswa itu. Itu disampaikan saat di kelas atau dipanggil per individu. Secara umum di kelas itu disampaikan secar a individu itu perorangan. Contonya siswa yang bertikai kita panggil, sebelum orang tua dipanggil mereka juga sudah di nasehati dulu. Setelah itu tetap kita panggil orang tuanya bahwa masalah anaknya seperti ini sehingga mereka bertikai, jadi kita memberikan surat perjanjian ditandatangani wali kelas, BK dan ortunya sehingga jika diulangi lagi mereka akan mendapatkan sanksi lebih berat lagi seperti di skorsing, ataukah dikeluarkan dari sekolah dikembalikan ke orang tua sehingga mereka takut untuk mengulanginya lagi. Apakah guru BK membantu siswa dalam menyalurkan ke ekstrakulikuler? Kadang kita kasih masukan-masukan aja. kita tanya pada anak apa yang digemari, tapi itu cuma sebagian gak semuanya. Bagaimana dengan proses konseling individual yang dilaksanakan dalam mengatasi bullying? Kebanyakan kalo di SMAN 8 ini,itulah keuntungan kami tu kesadaran anak-anak

kehidupan sosial.

Layanan penguasaan konten bagi siswa yang terlibat bullying secara individual.

Guru BK tidak begitu berperan dalam penempatan dan penyaluran semua siswa.

P:

S:

Proses layanan konseling individual bagi

127

P: S:

itu datang sendirinya untuk sharing. Contohnya mereka punya masalah di luar, atau mereka punya masalah dengan kawan, kadang-kadang punya masalah dengan orang tua, mereka curhat. Jadi minta pendapat dari pihak kami, kami memberikan masukan-masukan agar mereka keluar dari masalah mereka itu. Kalo untuk pelaku kita panggil, kami tanya bagaimana ceritanya, lalu diberikan masukan-masukan agar mereka keluar dari kesulitan. Bagaimana dengan bimbingan dan konseling kelompok, apakah disampaikan? Kalo bimbingan dan konseling kelompok itu , enggak. Materi khususnya juga gak ada , paling tentang emosi aja. Dampak negatif juga disampaikan tapi lebih ke klasikal saja.

siswa yang terlibat bullying.

Bimbingan kelompok dan konseling kelompok tidak dilaksanakan karena alasan telah memberikan materi secara klasikal.

15

P:

S:

P: S:

Apakah layanan mediasi diberikan dalam upaya mengatasi bullying? Bagaimana prosesnya? Misalnya dia bertikai, dia sempat memukul kawannya, selain siswa di beri surat perjanjian kiat memanggil ortu nya juga biar orangtuanya juga bisa mewanti-wanti anaknya dirumah, jangan semau-maunya gaplok anak orang jadi tau masalahnya. Jadi kerja sama antara guru dan orangtuanya itu perlu. Karena banyak kejadian anak itu di rumah manggut-manggut rajin, tapi di sekolah berantem. Hal-hal apa saja yang disampaikan ke orang tua? Menyampaikan sesuai dengan permasalahan anaknya sendiri, setelah disampaiakan masalah anakanya, jangan Cuma di sekolah dibinanya, tapi di rumah jug a agar dibina. Lalu, mengikat mereka dengan surat perjanjian tandatangan anak

Layanan mediasi diberikan pada pelaku dan korban bullying. Jika diperlukan mediasi juga dilakukan antara siswa dan orangtuanya.

Layanan konsultasi dalam mengatasi bullying diberikan kepada orang tua siswa.

128

P: 20 S:

dan orang tuanya. Yang pertama cukup anaknya dan guru BK saja, baru yg selanjutnya orang tua, anak dan guru BK nya. Kita juga kadang memberi masukan, kadang juga kita mendapat masukan dari orang tua. Misalnya, bahwa anaknya tidak bisa dikerasin, lalu kita juga menjelaskan anaknya bagaimana disekolah. Jadi lebih ke sharing dengan orang tua. Kita juga sangatsangat mewanti-wanti orang tuanya agar anak-anknya betul-betul dijaga dan diawasi, sebaliknya orang tua juga menitipkan anaknya kepada kami, tolong anak-anak kami dibimbing. Kami juga perlu selalu komunikasi dengan orang tua, karena setiap saat kan, iya kalo anak-anaknya baik terus suatu ketika anaknya punya masalah perlu kita kontek, makanya kita minta no hp orang tua begitu juga orang tua kadang minta no hp kita untuk mempermudah memantau anaknya. Lalu ada juga homevisit, homevisit dilakukan kalo kita sudah mengadakat peringatan-peringatan kepada siswa, atau siswa sudah dipanggil orang tuanya di undang tapi tidak datang maka kita langsung homevisit. Lalu, menurut ibu layanan mana yang paling efektif dalam mengatasi bullying? Kita sebagai guru lebih bekerja sama dengan orang tuanya. Karna kalo kita Cuma menasehati saja tak kan ini, tapi kalo orang tua nya tau permasalahn anakny, di rumah diwanti-wanti di sekolah diwanti-wanti gurunya, sehingga dia sedikit peluang untuk berbuat, jadi kita harus lancar komunikasi berkoordinasi dengan orangtuanya.

Layanan yang paling efektif dalam mengatasi bullying yakni konsultasi.

129

D. Transkrip verbatim Subjek Tanggal Lokasi :R : 3 November 2010 : Ruang BK

Baris P/S 1 P: S: P: S:

5

P: S: P: S:

10

P: S:

P: S:

P: S:

Isi Wawancara Pernah terlibat perkelahian? Pernah bu, ngegebukin anak orang bu. Kenapa digebukin? Orang ngelunjak geh bu, dia tu diem-diem tapi kalo ngeliat orang itu sinis aja, dari pertama tu saya dah kesel.kebeneran ngatangatain temen saya. Yaudah gebukin aja. Pernah gak terjadi perkelahian di sekitar sekolah ini? Pernah se, anak sekolah sini sama supir angkot. Kasusnya apa itu? Anak sekolah sini kan pake bunga gitu kan, emang anak ini tempramen bu,jadi dikatain “alahh..gak pernah ke bali lu ya”. Gak terima mungkin bu, ditimpuk-timpukin mobilnya, ampe pecah kaca angkotnya. Ada gak kasus lain, seperti pemalakan? Pernah denger kabar aja. Anak sekolah SMA 8 dipalak di depan Gg itu, setiap pulangkan lewat situ, dipalakin, handphone nya diambil. Bagaimana dengan pemberian hukuman di SMA 8? Kalo salah ya dihukum bu, gak pilih kasih. Kalo salah pertama dikasih peringatan kalo besok gak dikerjain, suruh kerjain di lapangan trus dijewer. Ada tidak kakak kelas yang berbuat semena-mena dengan adik kelasnya? Ada bu, kemarin baru kejadian. Kelas XI nyerang kelas X. digampar, handphonenya di banting, gara-gara cowok katanya bu. Kalo ada tindakan seperti itu ditegor guru

Tema

Siswa pernah terlibat perilaku agresif secara fisik.

Kebiasaan orang sekitar sekolah yang sering melanggar norma.

Kebiasaan orang sekitar sekolah yang sering melanggar norma.

Bentuk pemberian hukuman di SMAN 8 Bandar Lampung.

Senioritas sebagai bentuk kesewenangan senior terhadap juniornya.

15

P:

130

S:

tidak? Ada se, dikasi tegoran, itu biasanya guruguru yang ngeliat aja bu. Ada gak guru yang suka berbuat kasar? Ada yang suka mukul, suka nendang. Ada pikiran gak untuk berbuat seperti itu juga? Pasti semua orang adalah pikiran kaya gitu bu. Dia aja seenak jidat ngelakuin, nanti kalo jadi guru saya juga mau kaya gitulah bu. Apakah ada guru yang tidak menghargai kamu? Ada itu bu, pas kelas XI. Ceritanya kan saya ini telat ngerjain tugasnya. Trus kata dia “apa lagi kamu ini ngumpul-ngumpul tugas,udah gak usah dikumpul, gak akan saya nilai juga, bawa pulang lagi”. Besoknya saya udah ngerjain lagi bu, udah tepat bu, cuma kurang 1 nomor bu. Terus kata dia, “ini kurang 1, udah-udah” kayanya benci gitu sama saya bu, dari situ saya gak mau masuk kelas dia lagi, 1 semester saya gak masuk pelajaran dia. Kelas XII juga ada se bu, guru akuntansi. Gak pernah ngehargain murid dia ini bu. Bagaimana dengan orang tua kamu, sering berdiskusi enggak mengenai aktivitas sekolah? Ya kadang-kadang se bu, misalnya ada masalah di sekolah tu cerita. Kadangkadang ada masalah saya cerita. Saya jadi jaga perilaku bu, tapi namanya kesel, kalo dah kesel sama orang susah lah bu.

Guru menindak siswa yang terlibat bullying. Guru berbuat kasar pada siswa.

P: S: P: 20 S:

Siswa termotivasi untuk ikut berperilaku kasar seperti gurunya.

P: S:

Guru tidak menghargai siswa.

P:

S:

Orang tua memberikan perhatian yang cukup, namun siswa sering kali tidak dapat menahan emosinya.

25

P: S:

Sebenernya temen yang kamu gebukin tu ada salah gak se? Ya gak se bu, saya tu dari pertama ngeliatnya itu, gayanya tengil gitu, sok, jadi kesel saya.

Siswa menaruh dendam pada teman yang menjadi korbannya.

131

P: S:

Darimana kamu tahu peraturan-peraturan yang berlaku di sekolah? Dikasih tau lah bu, pas pertama masuk dikasih tau peraturan-peraturan, pas di MOS itu. Ada Tri janji siswa juga dibaca tiap upacara.

Pengenalan peraturan sekolah saat MOS serta pembacaan tri janji siswa saat upacara sebagai bentuk layanan orientasi dalam upaya mengatasi bullying.

P: 30 S:

Apakah kamu paham tugas dan fungsi guru BK dalam mengatasi bullying? Iya tau se, untuk mengatasi masalah.taunya dari kalo kena masalah ngadepnya guru BK,untuk ngasi masukan-masukan. Pernah juga disampein di kelas. Bagaimana dengan kepala sekolah? Kepala sekolahnya kurang respect, kayanya dia tu mentingin diri sendiri. Biasanya guru BK memberi materi apa kalo masuk ke kelas? Memberi masukan untuk mematuhi peraturan, evaluasi absensi. Cara bergaul, memilih teman disampaikan tapi selingan aja gak ada materi khusus. Dingetin juga jangan berantem lagi, diingetin dampaknya, bisa dilaporin polisi. Saat kamu berkelahi seperti kata kamu tadi, itu di ajak atau hanya ikut-ikut? Saya ma lagi duduk aja bu, ngeliat dia digebukin udah gekh ikutan. Ngeliatin muka dia itu bingsal aja bu. Pokoknya dalam hati itu kalo ada yang berantem ama dia, saya pasti mau turun. Diajarin gak sama guru BK nya gimana cara nahan biar gak emosi kaya gitu? Diajarin, jangan emosi,tahan aja gitu. Diingetin kalo ada masalah mending sharing aja sama guru BK nya. Tu biasanya kalo lagi ada kasus diingetin jangan kaya

Pemahaman siswa terhadap tugas dan fungsi guru BK dalam mengatasi bullying. Kepala sekolah kurang berperan dalam mengatasi bullying di sekolah.

P: S:

P: S:

Pemberian layanan informasi melalui materi-materi yang berkaitan dengan kehidupan sosial serta dampak dari perilaku bullying.

35

P: S:

Siswa berperilaku agresif.

P: S:

Layanan penguasaan konten bagi siswa yang terlibat bullying

132

P:

40

S:

gitu lagi. Pernah merasa punya kekurangan pada diri kamu gak? Diajarin gak sama guru BK nya buat ngatasin itu? Pernah bu, 1 dari materi bu. Diajarin se, dinasehatin pas sharing, “udah apa adanya aja, jangan gak ada di ada-adain”.

secara individual.

Layanan penguasaan konten pengembangan kehidupan peribadi disisipkan dalam konseling individual bagi siswa.

P: S:

Pernah gak guru BK ngajarin hal yang positif biar dikenal? Iya ngajarin, yang pasti dari ini bu, belajar, prestasi dalam sekolah. Tapi saya belum pernah ada prestasi bu. Paling berantem itu biar eksis bu.

Siswa tidak memanfaatkan layanan konten dalam pengembangan kehidupan pribadi dalam kesehariannya.

P: S:

Guru BK nya ada yang menyarankan gak masuk ekstrakulikuler? Gak ada. Gak pernah di tanya-tanya juga bu.

Guru BK tidak berperan dalam penempatan dan penyaluran siswa.

45

P: S:

Pernah konseling dengan guru BK nya saat berantem? Iya, sempet kan ditanya kenapa se kamu ne ikut-ikutan. Saya kesel ,gini,gini,gini…sharinglah sama umi, kadang-kadang sama bu.G. Pernah gak bimbingan atau konseling kelompok? Gak pernah.

Konseling individual dilakukan setelah terjadi tindakan bullying.

P: S:

Siswa tidak pernah menerima layanan bimbingan kelompok dan

133

konseling kelompok. P: Bagaimana dengan layanan mediasi, apakah kamu dipertemukan dengan korban yang kamu pukulin? Pernah, dikumpulin, diomongin gimana Layanan mediasi baiknya, terus salaman. bagi korban dan pelaku bullying. Lalu, guru BK pernah nemuin kamu dengan orang tua gak? Orang tua sempet dipanggil, dikasi tahu Layanan mediasi kejelekan-kejelekan saya di sekolah. bagi siswa dan Disuruh nanganin saya di rumah. orang tuanya.serta layanan konsultasi bagi orang tua siswa. Menurut kamu dari semua itu, yang paling efektif, yang buat kamu sadar gak mau mengulangi lagi yang mana? Pasti dari orang tua lah bu. Udah jangan Layanan yang paling efektif dalam kaya gitu lagi, malu katanya. mengatasi bullying yakni mediasi.

50

S:

P: S:

P:

54

S:

134

E. Transkrip verbatim Subjek Tanggal Lokasi :Y : 8 November 2010 : Ruang BK

Baris P/S 1 P: S:

P: S:

5

P: S:

P: S:

P: 10 S:

P: S:

Isi Wawancara Apakah pernah terjadi perkelahian di sekitar sini? Pernah anak sekolah, ribut masalah futsal. Saya waktu itu yang dipukulin dengan anak-anak taman siswa. Bisa dijelaskan apa penyebabnya? Selisih paham pas di lapangan itu, kalah gak terima. Pertama ribut kan di viva, di tempat futsalnya, udah itu gak jadi, ada yang misahin, selepas diorang pulang, diorang nunggu di jembatan, jembatan BW, kitorang pulang, kitorang di uber sama diorang masih deket SMA 8 juga digebukin. Lalu, apakah kamu pernah memukul orang juga? Pernah, permasalahannya sms, temen saya di sms sama dia bahasanya gak enak, udah itu kita gebukin. Lalu, balik ke masalah tadi, ada gak masalah lain? Ada se, dia tu kalo jalan ngengkeng, belagu, kalo bawa motor ketemu kebatkebutkebatkebut. Ada gak kakak tingkatnya yang suka bertindak sewenang-wenang? Iya ada se, yang suka minta-mintain duit. Saya pernah dimintain. Cuma sekarang saya juga pernah mintai, gantian. Ada yang pernah ketawan sama guru BK Pak M dan pak. E Dari gurunya sendiri, ada gak yang suka melakukan kekerasan? Iya, ada se pak E, dia tu keras, kalo mukul,mukul betulan, kalo salah pasti dipukul sama dia. saya pernah itu di jejek bu, karena bajunya gak masuk. Lumayan

Tema

Siswa pernah menjadi korban bullying

Siswa menjadi pelaku bullying.

Siswa menaruh dendam pada korbannya.

Siswa senior memalak siswa junior.

Guru suka menghukum siswa secara fisik.

135

P: S:

sakit. Lalu ada tidak guru yang tidak menghargai siswanya? Pernah,waktu kelas 1, saya tu kan memang jarang masuk, saya buat tugas gak diterima.

Guru tidak menghargai apa yang dilakukan siswa.

15

P: S:

Apakah guru sering mengawasi perilaku sehari-hari siswa? Gak ada yang ngawasin, wayahnya istirahat guru juga biasa duduk aja di kantor. Dengan orang tua sendiri, sering berdiskusi gak tentang sekolah? Jarang , yang ada berantem. Minta duit kadang gak dikasih jadi marah. Sejak masuk sekolah ini, kamu paham mengenai peraturan sekolah ini dari mana? Iya pas MOS itu lah, disampein sama guru.

Guru kurang memperhatikan perilaku siswanya.

P: S:

Kurangnya komunikasi siswa dan orang tua.

P: 20 S:

Pengenalan pengaturan sekolah saat MOS. Pemahaman siswa mengenai tugas dan fungsi guru BK.

P: S:

P:

S:

25

P: S:

Kamu paham tugas dan fungsi guru BK? Sedikit banyak nya tau lah, Cuma kan sepenuhnya gak ngertilah. Kalo kata saya se buat ngebimbing muridnya untuk lebih baik. Diingetin di kelas pas pelajaran dia. Apakah kamu diajarkan agar tidak terlibat bullying oleh guru bimbingan dan konseling? Ya paling diajarin biar gak emosian, jangan cepet kepancing, terus langsung lapor kalo ada apa-apa. Materi apa yang biasa disampaikan guru BK yang berkaitan dengan bullying? Kalo kelas 3 ini lagi diajarin materi kenakalan remaja.

Layanan penguasaan konten.

Guru BK memberikan materi berkaitan dengan bullying. Siswa datang sendiri untuk mendapatkan

P: S:

Pernah gak curhat dengan guru BK nya? Pernah lah, pas kelas1, pas pelajaran saya ngomong saya ada masalah, terus pas ruang BK nya sepi saya datang curhat.

136

layanan konseling individual. Pernah mendapatkan bimbingan atau konseling kelompok tidak oleh guru BK nya? Gak pernah.

30

Siswa tidak pernah menerima layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok.

P: S:

P: S:

Lalu bagaimana cara penanganan dari guru BK jika terjadi bullying? Yang nangani pak E. jadi didamaiin. Sempet sharing juga sama guru bk nya, ditanya masalahnya kenapa, kok bisa gebukin. Apakah guru BK mengarahkan kamu untuk ikut ekstrakulikuler? Gak, dari kelas 1, 2 emang gak ikut. Kalo kelas 3 ini kan harus fokus dengan ujian nasional. Saat kasus pernah sampai dipanggil orang tua gak? Dipanggil orang tua, semua orang tuanya dikumpulin. Dibilangin kelakuan anaknya di sekolah. Dikasih tau sama guru BK untuk lebih jagain. Waktu itu, orang tua saya dipanggil bu G, bicara 4 mata ngomong berdua aja mereka.

Siswa mendapatkan layanan konseling individual untuk mengatasi bullying.

Guru BK tidak berperan dalam penempatan dan penyaluran siswa.

35 36

P: S:

Layanan mediasi diberikan kepada siswa dan orang tua. Selain itu orang tua juga mendapatkan layanan konsultasi.

137

F. Transkrip verbatim Subjek Tanggal Lokasi :O : 8 November 2010 : Ruang BK

Baris P/S 1 P: S:

P: S:

P: S:

5

P: S:

P: S:

10

P: S:

Isi Wawancara Tema Pernah terjadi tindakan kejahatan di sekitar sini? Pernah, ada kawan, dari sma 8 juga malakin Kebiasaan orang sekitar sekolah anak smp. yang sering melanggar norma. Apakah kamu pernah terlibat perkelahian? Pernah, pas O lagi di kantin, cewek ini Siswa menjadi dateng dari arah berlawanan, terus dia korban bullying. ngomong ngapa lu nyolot ama gua, kan emosi jadi ngedorong. Menurut kamu bagaimana disiplin di SMA 8? Disiplin se, disiplin banget. Kemaren sampe Pemberian hukuman secara 2 jam dijemur, gara-gara telat. Kalo gak fisik. piket dikeluarin dari pelajaran. Kaya gitu se. Pernah gak ada kakak tingkat yang berbuat sewenang-wenang? Ada, sering malah, banyak gara-gara Senioritas sebagai bentuk cowok. Ceweknya itu menel-menel sok kesewenangan berkuasa gitu, cowok yang dia suka sama senior terhadap cewek, cewek ini yang dilabrak. Apalagi juniornya. anak baru kaya O, kalo cewek pindahan pasti dimusuhin. Guru sendiri ada yang menegur gak? Ditegor sama bunda, dipanggil tiba-tiba, ke Guru BK menegur sini ternyata ada 2 cewek dari gank itu, jadi siswa yang melakukan bullying ngomonglah apa masalahnya, lama-lama (layanan mediasi) baekan se, sampe cium pipi malah. Ada gak guru-guru yang berbuat kasar? Ada pak E, untuk disiplin tapi terlalu lo. Guru berlaku kasar kepada siswa. Kaya kemaren ada kawan pake sepatu putih, dipanggil di proses-proses, sepatunya diambil, trus dia ke kelas pake sandal. Pak E tau digebukin dia di kelas, ampe penggaris patah. Pake kaki nendang gitu.

138

P: S:

P: S:

Ada gak guru yang tidak menghargai apa yang sudah kamu kerjakan? Oh iya, ada itu,Ini ada, disuruh buat 18 jurnal umum, udah cape sampe ngantukngantuk, ada 1 salah gak diterima “udahudah gak jadi”, ikhh… ibu ini lo dah capekcapek juga, gak dihargain bener, tandatanganin aja ke kan, ya kaya gitu lah gak dihargain, jadi males, jijik bener gekh, sakit hati saya. Kamu paham mengenai disipilin di SMA ini dari mana? Dikasih tau, pertama masuk dikasih tahu. Guru BK nya juga nyampein di kelas.

Guru tidak menghargai pekerjaan siswanya.

Guru BK memberikan layanan orientasi mengenai peraturan sekolah.

15

P: S:

Apakah diberitahu tidak tugas dan fungsi guru bk dalam mengatasi bullying ? Iya disampein, pas pelajaran BK itu, setiap minggunya. Tugasnya untuk ngebimbing siswa yang terlibat.

Pemahaman siswa mengenai tugas dan fungsi guru BK dalam mengatasi bullying.

P: S:

Kalo kepala sekolah ikut campur tangan gak kalo ada kasus? Kalo kata BK se jangan ke kepala sekolah ,kalo ke kepala sekolah tu udah di akhir dahmau di DO. Diajarin gak sama guru bk nya materi yg berkaitan dengan bullying? Dijelasinlah, waktu kesini pas sendirian, kalo gak pas waktu gurunya ke kelas ngajar. Misalnya, kalo kaya lagi berantem itu. Kata cewek itu kan “gua gak suka liat lu itu, kalo lewat gua gak senyum” berarti kata gurunya kamu harus senyum setiap orang, jangan sombong, jalan tu yang bener, jangan angkuh Lalu, diajarin gak cara melawan tindakan

Kepala sekolah kurang berperan dalam mengatasi bullying.

P: 20 S:

Guru BK memberikan materi berkaitan dengan bullying serta layanan konten untuk menghadapi perilaku bullying.

P:

139

S:

bullying yang kamu terima? Diajarin, misalny kalo emang dia nya udah sangking ngelunjak, kalo udah keseringan gitu tabok aja, dilawan aja.

Layanan penguasaan konten untuk mengatasi jika terkena perilaku bullying.

P: S:

Pernah ngerasa ada kekurangan gak, lalu ada saran dari guru BK buat ngatasin itu? Iya, kan anak baru, beda nya gak punya banyak temen. Disaraninnya buat bisa beradaptasi aja, misalnya kalo lagi belajar gitu harus bisa buat diri itu nyaman, biar temennya nyaman temenan sama kita. Ada tidak upaya penyaluran ke ekstrakulikuler tertentu? Enggak.

Guru BK mengajari siswa untuk mengatasi kekurangan siswa yang kurang dapat bergaul.

25

P: S:

Guru BK tidak berperan dalam penempatan dan penyaluran siswa. Siswa mendapatkan layanan konseling individual.

P: S:

30

P: S: P: S:

Pernah sharing gak sama guru bk nya? Pernah, itu tu gak sengajakan, jadi O tu dari kamar mandi, sama temen tu yang comel, jadi waktu itu salaman sama umi, terus ditanyain kenapa, terus kata temen itu dibilangin baru berantem, dah itu di suruh curhat sama umi. Merasa terbantu gak? Lega lah, soalnya itu kan dah nahan-nahan nangis, lagi sedih banget. Pernah bimbingan atau konseling kelompok? Enggak pernah.

Siswa tidak pernah menerima layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok.

140

G. Transkrip verbatim Subjek Tanggal Lokasi :A : 10 November 2010 : Ruang BK

Baris P/S 1 P: S:

P: S:

5

P: S:

P: S:

Isi Wawancara Sering maen ke ruang BK gak? Pernah kena masalah apa? Pernah, terakhir kelas 2. Biasa kenakalan remaja, berantem. Awalnya salah paham se, dia ngomongin A kan, pas A tanya dia gak mau ngaku , yaudah dia kurang suka A tanyain, ribut ujung-ujungnya. Pernah kena kasus lain gak? Pernah dikeroyok A, ama 10 orang A dikeroyok. Masalahnya gara-gara maen bola mba, A gak sengaja nginjek kaki dia kan, gak seneng dia kirain A maen rusuh, maen curangkan ama dia. Panggil kawankawannya, “A tu badannya gede kalo gua sendiri gak sanggup ramean aja ngeroyokin” kata dia. Denger-denger ngajak A senggolan, iya A samperin, tautau temen-temen nyentangin dari belakang. Alhamdulillah gak papa. Masih pernah masalah lagi di BK? Ini masalahnya pas A kelas 2 mba, masih kawan tetangga anak polisi juga motornya ilang. Kitorang ini sebenernya tujuannya gimana buat bantu kakak kelas itu, tapi pikiran diorang kita mintanya maksa. Gak seneng ngadu ke BK. Kena kasus lagi A. Pernah kasus sama orang luar gak? Kalo di luar pernah lah ribut mba, namanya juga cowok mba. Masalahnya ponakan A, ponakan A cewekkan agak tomboy orangnya anak tamsis dicentang, masa cewek dicentang ama cowok. Pas pulang biru, pas A tanyain berantem ama cewek

Tema

Siswa menjadi pelaku bullying.

Siswa menjadi korban bullying.

Siswa menjadi pelaku bullying

Kebiasaan orang sekitar sekolah yang sering melanggar norma.

141

10

katanya, ya A biarin. Barang ma, kawan dia yang cewek bilang ama A, dia dicentang ama cowok, langsung emosi A. langsung samperin ke sekolahnya bawa rombongan anak-anak 8 ini, tawuran. Ada gak guru yang berbuat kasar kalo memberi hukuman? Kalo di gampar,dijewer biasalah mbak,suka nendang. Pake penggaris, A kemaren baru patah 1 penggaris. Pelajaran dia kan kosong, A ke kantin bentar pas balik ditanya “kenapa keluar-keluar?” megang penggaris dia, dipukul ampe patah. Dari guru lainnya , ada gak yang negor saat Paling-paling BK. Kalo guru-guru lain gak peduli, kalo bukan pelajaran dia terserah mau keluar apa gak.

Guru suka berbuat kasar terhadap siswa.

Guru BK lebih sering memperhatikan perilaku siswa sehari-hari.

15

Ada gak keinginan kamu untuk menghukum adik tingkat yang melanggar peraturan? Paling-paling kalo adek kelas gak sopan. Awal-awal MOS kemaren tu banyak adekadek kelas yan gak sopan. Kita kerjain di kamar mandi, kita mos juga. Kaya kemaren itu ada anak kelas 1 gak sopan ngomong ama kakak kelas, gayanya ngesok tengil. Kita bawa kamar mandi, tanyain bagusbagus ngelawan, tonjokin rame-rame di situ, tapi BK gak tahu. Sering mba,kalo 8 ne hobi ribut. Istilahnya kalo 8 ne mbak, gaya kita tengil ngotak itu bakal dimusuhin di 8 ini. Ada gak guru yang tidak menghargai apa yang udah kamu kerjakan? Ada, guru geografi, masalahnya pertama ama dia itu, pas pelajaran dia A maen basket, diliat ama dia kan. Minggu depannya A masuk pelajaran dia, nama A kan absennya pertamakan langsung dilangkahin gak pernah diabsen. Jadi A

Senioritas sebagai bentuk kesewenangan senior terhadap juniornya.

Guru tidak menghargai apa yang telah diperbuat siswa.

142

20

25

ngerjain tugas 1 semester itu gak dihargain sama dia. Udah minta maaf berulangulang. 1 tahun malah mbak semester 2 nya juga ia gekh mbak. Pernah gak diskusi dengan orang tua tentang masalah sekolah? Jarang, gak pernah juga. Kemaren kasus dimarah-marahin, handphone disita, gak dikasih uang jajan, motor gak dikasih. Semenjak itu dikontrol banget, A gak dateng sekali aja langsung papah ditelpun BK. Dari awal masuk, paham peraturan di SMA 8 dari mana? Diumumin pas baru masuk itu pas MOS itu, guru BK nya juga sering ngingetin, gak pernah bosen-bosen ngingetin kita. Tu pas istirahat, jam kosong, guru BK nya juga seminggu sekali masuk kelas. Saat istirahat atau jam kosong itu, biasanya siswanya yang dipanggil, di suruh sharing. Paham gak sama tugas dan fungsi guru BK..? Biasanya guru BK nya masuk kelas ngasih materi apa? Ngasih tau, misalnya ada masalah untuk diselesaikan, soalnya setiap guru ada masalah sama A atau temen-temen ngadunya ke BK. Pernah dingetin gak sama guru BK nya mengenai dampak jika melakukan bullying? Iya pasti diomongin gitulah, misalnya berantemnya tadi langsung dibawa kesini diingetin, kalo sendirian biasanya pas udah selesai masalah, dipanggil satu-satu terus disuruh share.

Kurangnya komunikasi siswa dengan orangtuanya.

Pengenalan peraturan sekolah saat MOS sebagai bentuk layanan orientasi dalam upaya mengatasi bullying

Guru BK memberikan materi berkaitan dengan bullying.

Guru BK memberikan materi mengenai dampak jika melakukan bullying dan konseling individual.

Kamu pernah jadi korban kan, pernah diajarin gak gimana cara menyelesaikannya?

143

30

35

Diajari, gak usah dibawa dendamlah, Pemberian layanan pokoknya nasehatin biar masalahnya selesai penguasaan konten disitu juga. Terus diajarin jangan sombong. bagi siswa yang menjadi pelaku bullying. Kamu ikut organisasi apa? Ikut itu berdasarkan saran guru BK gak? Karate doank, saya dari kelas 1 SD, dari Guru BK tidak masuk sini A emang udah ikut karate, udah berperan dalam jadi atlet. penempatan dan penyaluran siswa. Sering konseling individual sama guru BK nya? Kalo A lagi ada masalah sering sharing Siswa mendapatkan sama guru BK nya, curhat. layanan konseling individual. Untuk mendamaikan kalian yang bertikai itu, apa yang dilakukan guru BK nya? Guru BK nya yang ngedamain, semuanya Layanan mediasi yang terlibat dikumpulin, orang tuanya juga bagi korban dan dateng semuanya dari yang mukulin yang pelaku bullying dipukul. Diselesaian di sini, sampe selesai serta orang tuanya. semuanya, kalo bisa diluar gak usah diperpanjang lagi. Soalnya kalo abis berantem ya, buat perjanjian kalo ngulangin lagi bakal dikeluarin di skors. Untuk orang tua kamu sendiri apa yang diberikan oleh guru BK nya saat datang itu? Kalo guru BK nya curhat tentang kita juga Layanan konsultasi se, disampein semua ke orang tua, tapi kita bagi orang tua gak tahu itu kan dikhususin pas ngomong siswa yang terlibat ke orang tuanya, siswa nya dipisah dulu. bullying. Menurut kamu mana yang pling efekti bagi kamu Lebih seneng share berdua, soalnya apa Layanan paling efektif dalam yang unek-unek di hati kita itu dikeluarin, mengatasi bullying kao rame-ramekan gak enak yakni konseling individual.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->