P. 1
Tugas Filsafat Sila Ke 5

Tugas Filsafat Sila Ke 5

|Views: 93|Likes:
Published by Agustina Dwi

More info:

Published by: Agustina Dwi on Oct 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/23/2012

pdf

text

original

BAB II Pembahasan

A. Keadilan Sosial Cita-cita demokrasi Indonesia tidak hanya memperjuangkan emansipasi dan partisipasi di bidang politik tetapi juga di bidang ekonomi. Para pendiri Republik Indonesia secara sadar menganut pendirian bahwa revolusi kebangkitan bangsa Indonesia, sebagai bekas bangsa jajahan dan sebagai bangsa yang telah hidup dalam alam feodalisme ratusan tahun lamanya, haruslah berwajah dua, yaitu revolusi politik (nasional) dan revolusi nasional. Revolusi politik adalah untuk mengenyahkan kolonialisme dan imperialisme serta untuk mencapai satu Negara Republik Indonesi. Revolusi sosial adalah untuk mengoreksi struktur sosial-ekonomi yang ada dalam rangka mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur. Cita-cita keadilan dan kemakmuran hendak diwujudkan dengan jalan mensinergikan demokrasi politik dengan demokrasi-ekonomi melalui pengembangan dan pengintegrasian pranata-kebijakan ekonomi dan pranata-kebijakan sosial yang berorientasi kerakyatan, keadilan dan kesejahteraan.

Perspektif Historis Demi impian masyarakat yang adil dan makmur, tidak sedikit pengorbanan yang telah dicurahkan oleh para pahlawan bangsa. Seperti perkataan Ir. Soekarno bahwa masyarakat adil dan makmur merupakan tujuan terakhir dari revolusi kita. Dan untuk mencapai harapan itu terdapat di dalam bumi Indonesia, syarat-syarat badaniah, syarat-syarat rohaniah, syaratsyarat material dan spiritual mental. Sebelum zaman es berakhir, penghuni daratan Sunda merupakan perintis peradaban dunia dengan mempelopori pertanian, peternakan, bahkan sudah bisa membuat perabotan. Setelah zaman es berakhir, sejak sekitar 7000 tahun yang lalu telah berkembang jaringan perdagangan maritim pulau dan pesisir diseluruh cincin pasifik dan kepulauan Asia Tenggara. Seorang arkeolog Amerika, Wilhelm Solheim, menyebut budaya jaringan ini “Nusantao”. Asal usul jaringan Nusantao” adalah yang berlayar dari Indonesia Timur dan Filifina selatan yang dengan cepat mengembangkan kemampuan berlayarnya yang didesak oleh tingkat permukaan laut yang meninggi, akibat lelehan es dikutub, yang membutuhkan pergerakan melintasi bentangan-bentangan laut yang terbuka untuk mempertahankan kontak dengan relasi negeri asal. Nusantao mempelopori perdagangan di jalur samudra Hindia, beberapa millennium sebelum masehi, jauh sebelum wilayah itu dijelajahi oleh para pelaut
3

Mesir, India, Yunani, Romawi dan China. Jaringan perdagangan Nusantao yang kemudian disebut juga Nusantara telah mampu mencapai pantai timur Afrika berabad-abad sebelum masehi. Sebagai suatu geografi perekonomian, kepulauan Indonesia bisa dikategorikan dalam suatu susunan perekonomian tersendiri yang terletak di titik silang antara lautan India dan lautan China selatan, dengan Jawa sebagai pusatnya. Sekitar abad pertama Masehi, perdagangan rempah-rempah dan hasil hutan mulai berkembang. Para pelaut Indonesia dengan menggunakan perahu gandung yang besar membawa hasil kayu, seperti kapur barus, kemenyan, damar pinus (yang digunakan dalam obat-obat, dupa, dan wewangian), dan emas ke pelabuhan-pelabuhan di Indonesia dan Cina bagian selatan untuk pertukanan dengan kain, porselen, dan barang-barang dari logam. Kayu manis dan rempah-rempah lainnya dibawa langsung melintasi lautan India ke pantai timur pesisir Afrika dan diteruskan melalui mesir ke pasar di kerajaan Romawi. Pada abad ke 7 dan ke 8, aktivitas perdagangan tumbuh di kawasan Selat Malaka dan Laut Jawa (terutama ujung selatan Laut Jawa) sebagai dua kawasan perekonomian terpenting di nusantara. Periode ini digabungkan dengan munculnya Kerajaan Sriwijaya di Sumatera Tenggara dan Kerajaan Mataram (kuno) di Jawa Tengah. Selat malaka tergantung dengan perdagangan sedangkan di Jawa Bali memperlihatkan kelimpahan sumber daya. Sejak abad ke-7, kerajaan Sriwijaya telah menjadi saluran perdagangan bagi wilayah pedalaman di Sumatera bagian Selatan yang kaya dan memiliki maritim yang kuat, terletak dekat kota Palembang saat ini. Kerajaan Mataram kuno muncul di daerah Kedu yang kondusif untuk penanaman padi sebagai sumber utamanya. Penanaman padi di Jawa membuat tidak adanya hambatan terjal bagi pergerakan manusia menyebabkan terjadinya konsentrasi penduduk terbesar di pulau ini. Selepas abad kesepuluh, pusat peradaban Jawa berpindah ke Jawa Timur, yang mencapai puncaknya dalam kemunculan kerajaan majapahit. Setelah meredupnya kekuasaan Budha-Hindu di Sumatera dari Jawa, kawasan Nusantara memperlihatkan perkembangan baru dalam perdagangan. Pada abad ke-13, para pedagang menunjukkan sikap terbuka terhadap agama Islam dengan pesan tentang kesamaan manusia di hadapan Allah dan aturan eksplisit tentang hubungan komersial. Memasuki abad ke-15, perekonomian nusantara merupakan bagian integral dari dinamika perekonomian dunia dalam konteks globalisasi. Produk perdagangan yang sangat penting adalah lada, dcengkeh, dan pala, yang mendorong pertumbuhan cepat di segala sektor perekonomian. Adapun dunia kebaharian merupakan contoh perekonomian yang giat-hebat (vigorous), tanpa jeda (seamless) dan saling terhubung. Untuk menilai tingkat perkembangan perekonomian Indonesia pada masa pra colonial, Vincent J.H Houben(2002) menggunakan lima indikatorkunci yang bisa diidentifikasi,
4

yaitu:(1) Tingkat spesialisasi perekonomian, (2) Jarak dan diferensiasi jaringan komersial, (3) tingkat monetisasi(monetization), (4) Tingkat urbanisasi, (5) Watak regulasi perekonomian Kesimpulan Houben, bahwa Kepulauan Indonesia pra kolonial terdiri dari sejumlah perekonomian yang terbuka yang mengalami tingkat komersialisasi yang tinggi selama pertumbuhan. Periode antara 1450 dan 1680 merupakan momen puncak aktivitas perekonomian, yang ditandai oleh tingkat spesialisasi yang tinggi, jarak luas dari jaringan komersial, tingkat monetisasi (penggunaan uang) yang tinggi serta proses urbanisasi yang cepat. Perkembangan gemilang perekonomian Nusantara pra-modern ini mengalami gangguan oleh penetrasi kekuatan dari luar, terutama dari Eropa. Pada 1511, armada Portugis menaklukan Malaka, yang telah menggantikan peran Sriwijaya. Kedatangan armada Belanda, Inggris, Denmark dan Prancis juga memberikan pengaruh terhadap nusantara karena kondisi kerajaan-kerajaan yang saling bermusuhan sehingga membuka jalan untuk kolonialisme dan imperialism. Kekuatan Eropa paling kuat adalah Belanda, yang semula mereka merasa terancam kehilangan mata pencaharian akibat pelarangan berdagang oleh Portugis tetapi armada Belanda dipersatukan dalam satu kongsi dagang yaitu VOC. VOC berkuasa hampir 200 tahun (1602-1800). Belanda menjalankan kapitalisme tua yaitu produksi kecil-kecilan dan kemudian menjadi imperialism tua yaitu mengambil rempah-rempah untuk dijual di Eropa. VOC juga mengambil kekuasaan atas Ambon dan Tidore dari Portugis. Pada 1619, VOC dipimpin oleh Jan Pieteszoon Coen menaklukkan pelabuhan Jayakarta dan membangun pos perdagangan di Pantai barat Laut Jawa dengan nama Batavia dan dijadikan pusat pemerintahan serta berkembang menjadi kota Hindia Belanda. Gowa (Makasar) dan Mataram pun dikuasai. Sejak abad ke 17, kewenangan politik Jawa sebagai pusat teladan dihancurkan. Lenyapnya kekuatan Malaka dan Jawa menjadikan lenyapnya kekuatan maritime Asia Tenggara. Pada 31 Desember 1799, VOC bangkrut karena mismanajemen dan diambil alih oleh Republik Batavia di bawah juridiksi pemerintahan Belanda. Setelah kekuasan sementara Inggris selama perang Napoleon (1811-1816), Hindia Belanda pun diserahkan kepada imperium Negara-kolonial yaitu dibawah kekuasaan Inggris. Negara kolonial Belanda pada mulanya ditempuh melalui pengembangan sistem tanam paksa (Cultuur Stelsel) sejak 1830. Melalui sistem ini, pemerintah kolonial memobilisasi tanah dan pekerja untuk memproduksi tanaman perkebunan untuk dikapalkan ke Eropa dengan monopoli perusahaan dagang Belanda bernama Nederlansche HendelMaatschappij. Produk yang dibutuhkan Belanda adalah kopi, the, rempah-rempah, nila, gula dan tembakau. Akibat tanam paksa, banyak kawasan di Jawa jatuh miskin.
5

Kepentingan ekonomi kolonial tidak terbatas pada sektor agrikultural saja. Pada 1840an, mereka juga menambang batubara dan timah pada 1850-an. Pada 1870, sistem tanam paksa diganti dengan sistem perkebunan yang dimiliki secara pribadi karena pengaruh liberalisme di Belanda. Liberalisasi muncul karena uang yang berlimpah hasil perdagangan monopoli dan sistem tanam paksa. Kemakmuran di Belanda memacu tumbuhnya kelas pengusaha dan kelas menengah baru. Mereka tidak puas terhadap pengelolaan uang, memiliki tujuan ingin meraih kekuasaan di Belanda dan kemudian memiliki akses atas keuntungan kolonial. Aspirasi kaum liberal adalah mengenai kebebasan uasaha, kebasan kerja, dan pemilikan pribadi. Upaya memperoleh kendali atas keuntungan kolonial berarti mendesak pemerintah kolonial melindungi modal swasta dalam mendapatkan tanah, buruh, dan kesempatan menjalankan usaha atau perkebunan baru. Melalui desakan perekonomian liberal, uang hasil kolonial ditanam kembali di Hindia Belanda dalam bentuk perkebunan dan pabrik. Pergeseran kearah perekonomian liberal di Indonesia ditandai oleh lolosnya Hukum Agrarua dan Hukum Gula pada 1870 yang menjamin hak-hak kepemilikan dan operasi perusahaan swasta. Hukum Agraria memfasilitasi penerapan ekonomi tunai di Indonesia yang amat menghancurkan kehidupan petani yang kesulitan akses atas tanah dan lahan miliknya tidak dapat menghidupi keluarga. Sebagai akibatnya, orangorang desa yang miskin hidup dengan kredit. Melalui pinjaman uang itu, mereka meminjam lahan kepada pemilik tanah Eropa. Sementara itu buruh perkebunan diberi upah yang murah sedangkan pemilik tanah harus membayar pajak ke pemerintah Belanda. Produk utama perkebunan adalah karet, permintaanya terus meningkat setelah pengenalan mobil model T-Ford pada 1908. Minyak bumi juga menjadi komoditas utama di pasar dunia sejak 1890-an. Pada 1890, wirausahawan Belanda membangun perusahaan minyak di Indonesia, Royal Ducth Sheel, yang seiring pergantian abad mulai membor minyak di Kalimantan dan memiliki sumur minyak di seluruh kawasan tersebut.

B. Keadilan Sosial dalam Perumusan Pancasila dan Konstitusi Visi keadilan dan kesejahteraan rakyat yang diidealisasikan oleh para pemimpin pergerakan kebangsaan itu kemudian mewarnai diskusi tentang falsafah Negara dalam persidangan BPUPK. Sebelum dinyatakan Soekarno dalam pidatonya pada 1 Juni 1945, gagasan keadilan dari kesejahteraan telah dikemukakan oleh beberapa pembicara. Pada 29 Mei, Muhammad Yamin pada poin kesepuluh dari pidatonya, menyebutkan tentang pentingnya “Kesejahteraan rakyat: perubahan besar tentang kesejahteraan yang mengenai kehidupan ekonomi dan sosial sehari-hari yang mengenai dari putra-putra negeri”. Pada 30 Mei, A. Rachim Pratalykrama menyatakan bahwa salah satu dasar Negara yang harus
6

diperhatikan adalah masalah perekonomian. “Ekonomi dalam arti seluas-luasnya perlu diperluas dan diperdalam dan disegala lapangan misalnya nasionalisasi dari perusahaanperusahaan. Aturan-aturan hak tanah-tanah komunal dihapuskan, tanah erfpacht,… dan postal harus dikembalikan pada rakyat via pemerintah.” Pada 31 Mei, Abdul Kadir menyatakan bahwa salah satu dari tiga dasar pembentukan Negara baru yang diusulkan adalah “Pembangunan untuk memajukan ekonomi yang sehat agar rakyat menjadi makmur”. Pada tanggal yang sama, Soepomo menguraikan gagasan tentang keadilan sosial ini secara lebih elaboratif, dalam kaitannya dengan “perhubungan antara Negara dan perekonomian”, menurutnya, “Dalam Negara yang berdasar integralistik yang berdasar persatuan, maka dalam lapangan ekonomi akan dipakai sistem „sosialisme negara‟ (staatssocialisme).” Selanjutnya, dia menguraikan tentang bagaimana perekonomian disusun dalam sosialisme negara tersebut. Akhirnya Soepomo menyimpulkan bahwa keadilan merupakan konsekuensi dari negara integralistik yang merefleksikan keinsafan akan keadilan rakyat seluruhnya: atas dasar pengertian negara sebagai persatuan bangsa Indonesia yang tersusun atas sistem hukum yang bersifat integralistik tadi, dimana negara akan berwujud dan bertindak sebagai penyelenggara keinsafan keadilan rakyat seluruhnya, maka kita akan dapat melaksanakan Negara Indonesia yang bersatu dan adil, seperti sudah termuat dalam Pancha Dharma, pasal 2, yang berbunyi: “Kita mendirikan Negara Indonesia, yang makmur, bersatu, berdaulat, adil‟. Maka Negara hanya bisa adil, jikalau negara itu menyelenggarakan rasa keadilan rakyat dan menuntun rakyat pada cita-cita yang luhur, menurut aliran zaman. Perhatian pada prinsip keadilan juga diungkapkan pada hari yang sama oleh Ki Bagoes Hadikoesoemo. Dalam pandangannya, islam, selain “mementingkan perekonomian”, juga memerintahkan untuk “membangun pemerintahan yang adil dan menegakkan keadilan”. Pada 1 Juni 1945, giliran Soekarno menyampaikan pidatonya. Dalam uraiannya mengenai dasar falsafah Negara Indonesia merdeka , dia memasukan prinsip “kesejahteraan” sebagai prinsip keempat. Selanjutnya Soekarno mengemukakan visi emansipasinya, bahwa dengan prinsip kesejahteraan. „tidak aka nada kemiskinan di dalam Indonesia merdeka”, juga tidak akan dibiarkan “kaum kapitalis merajalela”. Saya katakan tadi: prinsipnya San Min Chu I ialah Mintsu, Min Chuan, Min Cheng: nationalism, democracy, socialism. Selama masa reses persidangan BPUPK (2 Juni-9 Juli), panitia kecil berhasil mengumpulkan usul-usul dari 40 anggota Chuo Sangi In (Iin). Usulan-usulan itu antara lain meliputi: Kemerdekaan Indonesia selekas-lekasnya, Dasar Negara, Bentuk Negara, Daerah Negara, Badan Perwakilan Rakyat, Badan Penasihat, Bentuk Pemerintahan dan Kepala Negara, Soal Agama dan Negara, Soal Pembelaan, dan Soal Keuangan. Dalam usulan
7

mengenai dasar negara, prinsip keadilan dan kesejahteraan diusulkan secara eksplisit oleh seorang lin dalam terma “kemakmuran hidup bersama”. Dalam perkembangan selanjutnya, pemikiran-pemikiran yang berkembang di masa persidangan pertamadan usulan dari anggota Chuo Sangi In itu dirumuskan ulang oleh panitia Sembilan yang merancang pembukaan UUD Negara Republik Indonesia 1945. Berdasarkan hasil rumusan panitia Sembilan, prinsip kesejahteraan, yang disebut sebagai prinsip keempat dalam pidato Soekarno pada 1 Juni, ditempatkan menjadi sila ke-5. Redaksinya disempurnakan menjadi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Selain terkandung dalam sila ke-5 Pancasila, Pembukaan UUD 1945 sendiri memberikan perhatian yang istimewa terhadap masalah keadilan, sedemikian rupa sehingga kata “keadilan/adil” dan prinsip keadilan hampir ada di semua alinea kecuali alinea ke-3. Menurut penjelasan tentang UUD Negara Republik Indonesia. Pembukaan UUD 1945 mengandung empat pokok pikiran. Dua dari empat pokok pikiran terkait dengan “keadilan sosial”. pokok pikiran pertama menyatakan, “Negara-begitu bunyinya yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia“. Pokok pikiran ini mengandung pengertian bahwa persatuan nasional – sebagai wahana untuk melindungi segenap bngsa dan tanah air – mensyaratkan perwujudan keadilan sosial. Pokok pikiran yang kedua menyatakan, “Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Dengan pokok pikiran ini, Negara mengemban misi mewujudkan keadilan sosial basis legitimasinya. Pada hari kedua masa persidangan kedua BPUPK (11 Juli), Radjiman Woediodiningat selaku ketua BPUPK membentuk tiga kelompok panitia: 1. Panitia perancang hukum dasar 2. Panitia perancang keuangan dan ekonomi 3. Panitia perancang pembelaan tanah air Yang pertama diketuai oleh Soekarno, yang kedua diketuai oleh Mohammad Hatta, dan yang ketiga diketuai oleh Abikoesno Tjokrosoejoso. Dalam perkembangannya panitia perancang hukum dasar yang diketuai Soekarno membentuk panitia kecil yang bertugas untuk merumuskan rancangan UUD yang dipimpin oleh Soepomo. Persoalan yang menyangkut prinsip keadilan dan kesejahteraan sosial dibicarakan dalam Panitia Kecil perumus perancangan UUD dan dalam panitia Perancang Keuangan dan Ekonomi yang diketuai oleh Mohammad Hatta. Pada rapat besar panitia perancang Undang-undang Dasar (13 Juli), hasil rancangan pertama panitia kecil yang diketuai Soepomo mulai dibahas. Pasal-pasal tersebut dirumuskan
8

panitia kecil perancang hukum dasar dengan mendapatkan masukan dari Mohammad Hatta. Masukan mengenai keadilan dan kesejahteraan sosial itu selengkapnya sebagai berikut: 1. Orang Indonesia hidup dalam tolong-menolong 2. Tiap-tiap orang Indonesia berhak mendapatkan pekerjaan dan mendapat penghidupan yang layak bagi manusia. Pemerintah menanggung dasar hidup minimum bagi seseorang, 3. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama, menurut dasar kolektif, 4. Cabang-cabang produksi yang menguasai hidup orang banyak, dikuasai oleh pemerintah 5. Tanah adalah kepunyaan masyarakat, orang-orang berhak memakai tanah sebanyak yang perlu baginya sekeluarga, 6. Harta milik orang-seorang tidak boleh menjadi alat penindas orang lain, 7. Fakir dan miskin dipelihara oleh pemerintah. Tidak semua masukan dari Hatta itu diakomodasi dalam pasal-pasal UUD, tetapi tetap menjiwai semangat pasal-pasal yang berkaitan dengan keadilan dan kesejahteraan sosial. Pada rapat besar BPUPK (15 Juli) yang membahas rancangan UUD, Soekarno sekali lagi mengingatkan: “kita telah menentukan di dalam sidang pertama, bahwa kita menyetujui kata keadilan sosial dan preambule. Keadilan sosial inilah protes kita yang maha hebat kepada dasar individualisme. Pasal-pasal yang menyangkut keadilan dan kesejahteraan memperoleh tanggapan dari Kolopaking, Boentaran, dan Muhammad Yamin. Kolopaking memandang adanya kekurangan dari rancangan tersebut. Dia mengusulkan, antara lain, perlunya pasal-pasal tentang kesehatan dan hak tanah. Boentaran berkeberatan dengan bunyi pasal 32, “fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara”. Dalam pandangannya, “sesungguhnya dalam Negara yang berdasarkan kekeluargaan, tidak boleh lagi ada fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara untuk menjamin kesehatan rakyat sepenuh-penuhnya.” Oleh karena itu, dia mengusulkan supaya kalimat itu diganti dengan: “kesehatan rakyat seluruhnya dipelihara oleh Negara.” Menurutnya, “itu akan menjamin kesehatan rakyat yang menjadi sendi kekuatan rakyat dan kekuatan Negara. Apabila kesehatan rakyat dipelihara sebaik-baiknya, maka dengan sendirinya akan tidak ada fakir miskin dan anak-anak yang terlantar ini, warisan dari pemerintah jajahan dulu.” Pandangan Boentaran itu menunjukan perbedaan perspektif dengan pandangan Soepomo. Persfektif Boentaran menekankan perlunya pencegahan kemiskinan melalui usaha Negara menjamin kesehatan rakyat seluruhnya. Sedangkan persfektif Soepomo bersifat kuratif, dengan melihat kenyataan bahwa di Negara yang peradabannya sudah tinggi sekalipun fenomena fakir-miskin dan anak-anak terlantar akan selalu dijumpai. Ditambah,
9

barangkali, oleh pikiran bahwa usaha preventif mencegah kemiskinan itu sudah diakomodasi dalam pasal-pasal lain (terutama pasal 31, yang pada rancangan akhir menjadi pasal 33). Setelah itu Yamin mengajukan usulan, “hendaklah pasal-pasal tentang kesejahteraan, seperti dijanjikan dalam pembuka undang-undang dasar, diberi jaminan yang lebih luas dan lebih terang.” Yamin juga menekankan perlunya Republik Indonesia mewujudkan diri sebagai “Negara kesejahteraan”. Selengkapnya dia nyatakan: adapun Republik Indonesia ialah Negara kesejahteraan, seperti constitution Weimar, Rusia, Filipina, dan Republik Tiongkok hendaklah garis-garis besar kesejahteraan diatur dengan sebaik-baiknya dan sejelas-jelasnya. Rancangan ini mempunyai isi yang sangat sederhana dan tidak memberi jaminan yang teguh pada suatu dasar, yang telah dijanjikan dalam penerangan kemerdekaan dan preambule undang-undang dasar ini. Tentang hal ini, tidak ada tanggapan dari Soepomo. Namun, masih dalam semangat memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan sosial, pada rapat besar 15 Juli, Hatta menekankan bahwa yang termasuk sebagai utusan golongan yang berhak duduk di MPR adalah utusan badan-badan seperti koperasi dan serikat pekerja. Usaha memperjelas pasalpasal mengenai kesejahteraan yang diminta oleh Yamin itu hingga taraf tertentu diberikan oleh Hatta yang bertugas memberi penjelasan atas pasal 33 (rancangan akhir UUD). Dalam penjelasan tentang UUD Negara Republik Indonesia, yang menyangkut pasal 33 disebutkan: Dalam pasal 33 tercantum dasar demokrasiekonomi, produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua, dibawah pimpinan atau pemilikan anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan bukan kemakmuran orang seorang sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas usaha kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah kooperasi perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi, kemakmuran bagi segala orang itu. Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hidup orang banyak harus dikuasai oleh Negara. Kalau tidak, tampuk produksi jatuh ketangan orang seorang yang berkuasa dan rakyat yang ditindas. Hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak yang boleh ditangan orang seorang.Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Selain itu, UUD yang sifatnya supel memang tidak bisa menampung segala jaminan yang diperlukan. Untuk itu, perlu juga diperhatikan dokumen-dokumen tertulis lain yang dapat mendukung pemahaman terhadap pasal-pasal konstitusi, karena dokumen-dokumen itu merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan dari proses penyusunan UUD. Dalam kaitan dengan prinsip keadilan dan kesejahteraan, dokumen yang patut diperhatikan adalah hasil
10

rumusan Panitia Perancang Keuangan dan Ekonomi bentukan BPUPK yang dipimpin oleh Mohammad Hatta. Hasil rumusan panitia ini melahirkan suatu nota tentang „soal Perekonomian Indonesia Merdeka‟ dan nota tentang „soal keuangan Indonesia Merdeka‟. Nota tentang „soal Perekonomian Indonesia Merdeka‟ mengandung ideologi perekonomian yang harus menjadi haluan perekonomian nasional. Ideologi perekonomian ini bersendikan empat prinsip pokok: 1. Perekonomian Indonesia akan didasarkan pada cita-cita tolong menolong dan usaha bersama (koperasi); 2. Perusahaan-perusahaan besar yang mengusai hidup orang banyak harus di bawah kendali Negara, dan dalam penjelmaannya akan berbentuk koperasi publik; 3. Tanah, sebagai faktor penting produksi terpenting, dibawah kekuasaan Negara; 4. Perusahaan tambang yang besar akan dijalankan sebagai usaha Negara. Uraian selengkapnya berbunyi sebagai berikut: Orang-orang Indonesia hidup dalam tolong-menolong, perekonomian Indonesia merdeka akan berdasar pada cita-cita tolong-menolongusaha bersama, yang akan diselenggarakan berangsur-angsur dengan mengembangkan kooperasi. Pada dasarnya, perusahaan yang besar-besar yang menggunakan hidup orang banyak, tempat beribu-ribu orang menggantungkan nasibnya dan nafkah hidupnya, mestilah dibawah pemerintah. Adalah bertentangan dengan keadilan sosial, apabila sebaik-baiknya perusahaan itu serta nasib beribu-ribu orang yang bekerja di dalamnya diputuskan beberapa orang partikulir saja, yang berpedoman dengan keuntungan semata-mata. Pemerintah harus menjadi pengawas dan pengatur, dengan diawasi dan juga disertai dengan kapital oleh pemerintah adalah bangunan yang sebaik-baiknya bagi perusahan besar-besar. Tanah, sebagai faktor produksi yang terutama dalam masyarakat Indonesia, haruslah dibawah kekuasaan Negara, tanah tidak boleh menjadi alat kekuasaan orang-orang untuk menindas dan memeras hidup orang lain. Perusahaan tambang yang besar dan yang serupa dengan itu dijalankan sebagai usaha Negara, sebab ia dikerjakan oleh orang banyak dan cara mengusahakannya mempunyai akibat terhadap kemakmuran dan kesehatan rakyat. Dan tanah serta isinya Negara yang punya. Tetapi cara menjalankan eksploitasi itu bisa diserahkan kepada badan yang bertanggung jawab kepada pemerintah, menurut peraturan yang ditetapkan. Pada 16 Juli, Soepomo menyetujui secara umum nota dari panitia Perancang Keuangan dan Ekonomi, yang dalam garis besarnya, usulan dari panitia ini memiliki kecocokan pandangan dengan pasal-pasal yang telah dituangkan dalam rancangan UUD. Namun, dia memberi catatan khusus soal tanah, yang dalam nota ditulis bahwa “tanah
11

haruslah kepunyaan masyarakat sesuai dengan hukum adat istiadat asli”. Dalam pandangan Soepomo hukum adat Indonesia asli tidak menolak sistem hak milik seseorang. Soepomo juga menambahkan bahwa, di Perancis pun, beberapa ahli hukum seperti Prof. Duguit menganjurkan supaya hak milik seseorang atas tanah harus memiliki sifat sosial. Oleh karena itu, dia mengusulkan agar ada penegasan bahwa dalam Negara Indonesia, tanah sebagai faktor produksi harus mempunyai tujuan sosial, dan demi tujuan keadilan sosial harus pula ditegaskan bahwa tanah pertanian harus tetap dalam tangan petani. Dokumen lain yang perlu diperhatikan sebagai sesuatu yang menjiwai pasal-pasal UUD adalah nota tentang “soal keuangan Indonesia merdeka”. Disana terkandung apa yang disebut sebagai “dasar politik keuangan”. Dasar pertama yang harus diperhatikan adalah “mencocokan pengeluaran (belanja) dengan pendapatan”. Beberapa saran yang dianjurkan untuk menutupi kekurangan adalah: 1. Perbaikan pemasukan pajak 2. Pemberlakuan pajak progresif 3. Mengadakan pajak baru, yang tidak menimpa penghidupan rakyat jelata 4. Pinjaman dalam negeri berdasarkan prinsip tolong diri sendiri 5. Memperkuat semangat simpanan 6. Mengecilkan belanja Negara 7. Memperbesar pelbagai macam produksi 8. Menaikan pelbagai bea “pemakain jasa pemerintah”. Dasar kedua menyangkut soal sirkulasi, yang berkaitan dengan mata uang. Dalam nota disebutkan: hak mengeluarkan uang kertas menjadi monopoli suatu bank Negara, yang akan diberi nama “Bank Indonesia”. Tanggungan emas sekian persen dari pada sirkulasi tidak diwajibkan. Dasar yang dipakai ialah dasar a-metalisme. Tanggungan 40%dari pada sirkulasi boleh diadakan dengan barang-barang yang tersimpan lama, seperti padi atau bahan-bahan mentah. Padi yang dijadikan “emas tanggungan” itu dapat pula dipergunakan di waktu rakyat kekurangan padi atau beras. Demikianlah, prinsip keadilan sosial dari pancasila mendapatkan perhatian penting dalam pembukaan UUD 1945. Prinsip keadilan sosial dari pembukaan ini meliputi suasana kebatinan perumusan pasal-pasal UUD dan dokumen lain yang terkait dengan itu- yang bisa dijadikan sebagai sumber hukum dasar yang tidak tertulis. Komitmen keadilan itu tampak nyata, baik dalam pasal-pasal yang menyangkut pengelolaan keuangan Negara- yang menekankan pemuliaan partisipasi dan daulat rakyat- maupun dalam pasal-pasal yang menyangkut pengelolaan perekonomian-yang menekankan pemenuhan hak warga dan jaminan keadilan/kesejahteraan sosial.
12

C. Perspektif teoretis Komparatif 1. Pemikiran (Keadilan) Ekonomi Pra Merkantilis Tantangan atas keadilan ekonomi muncul ketika terjadi ketimpangan dalam sistem produksi dan distribusi dan diligitimasi oleh sistem sosial-politik yang ada. Aristoteles melihat ancaman terhadap harmoni sosial ini ditimbulkan oleh tiga gejala, yaitu perolehan dijadikan tujuan dan bukan semata-mata sebagai alat kehidupan yang nyaman, proses akumulasi modal dan kekayaan cenderung tidak mengenal batas padahal kehidupan nyaman hanya memerlukan kekayaan materi yang terbatas, dan keuntungan sebagian anggota masyarakat diperoleh atas kerugian orang lain. Aristoteles mengajukan dua konsep keadilan, keadilan komutatif (commutative justice) dan keadilan distributif (distributive justice). Keadilan komutatif menyangkut keadilan dalam harga pertukaran, bahwa harga yang adil (just price) adalah tingkat harga yang memberikan kepada produsen setiap komoditi , hasil yang sesuai dengan kedudukan sosial berdasar profesi dan keahliannya. Keadilan distributif menyangkut pendapatan yang cukup layak bagi setiap orang. Dalam kaitan ini, Aristoteles memprihatinkan gejala penumpukan kekayaan oleh para pedagang karena proses itu telah mengubah hubungan-hubungan pertukaran yang membawa ketimpangan dalam pembagian pendapatan, yang pada gilirannya menyulitkan pemenuhan kebutuhan materiil masyarakat secara keseluruhan. Ketika Eropa memasuki jaman kegelapan, di belahan dunia lain, peradaban Islam, Cina, dan Nusantara memasuki jaman kegemilangan. Islam memandang positip aktivitas perdagangan baik secara domestik maupun internasional. Betapapun Islam memijarkan etos yang kuat dalam perekonomian, teologi Islam juga memiliki kesamaan dengan tradisi pemikiran Graeceo-Romawi hingga skolastik, dalam hal penekanannya pada moralitas perekonomian. Islam secara tajam mengkritik perilaku boros, tamak, napsu menimbun, dan kesenangan duniawi secara berlebihan, serta pemberhalaan harta. Dengan memuliakan martabat manusia, Islam mengakui konsep hak milik pribadi, namun di dalam hak milik pribadi itu ada fungsi sosial. Dengan fungsi sosial dan hak milik pribadi itu, Islam menekankan keadilan sosial. Stimulus Islam terhadap Dunia Barat mendorong semangat renaisans (renaissance) di Eropa. Perkataan renaisans berasal dari bahasa Perancis renaissance yang artinya adalah Lahir Kembali atau Kelahiran Kembali. Yang dimaksudkan adalah kelahiran kembali budaya klasik terutama budaya Yunani kuno dan budaya Romawi kuno. Masa ini ditandai oleh kehidupan yang cemerlang di bidang seni kesusastraan, pemikiran, dan ilmu pengetahuan. Yang mengeluarkan Eropa dari kegelapan intelektual jaman pertengahan.
13

2.

Pemikiran (Keadilan) Ekonomi Merkantilis Pada mulanya, para pemikir merkantilis menekankan pentingnya regulasi negara atas

perdagangan. Sasaran dan regulasi negara ini antara lain: akumulasi kekayaan atau perhiasan, peningkatan kemakmuran nasional atau pertumbuhan ekonomi, pencapaian keseimbangan perdagangan, pemaksimalan tenaga kerja, proteksi industri lokal, dan peningkatan kekuatan negara. Doktrin merkantilis berkembang lebih jauh karena topangan dari para filsuf hukum alam (natural law), dimana hukum alam ini mulanya diperkenalkan oleh Aquinas dalam kerangka penggunaan nalar untuk menginterpretasikan rencana Ilahi mengenai apa yang benar dan adil, yang dalam perkembangangannya berpengaruh dalam penyediaan topangan baru untuk membenarkan peniagaan bebas. Fransisco de Victoria (1557), seorang ahli Dominikian, menerapkan konsep ini pada hubungan antarbangsa. Lebih lanjut, Fransisco Suarez (1612) berkeyakinan bahwa seluruh perniagaan internasional harus bebas bukan sebagai suatu kewajiban dari hukum alam melainkan dari “hukum bangsa-bangsa” (law of nations, ius gentium). Alberto Gentilli (1612) bahkan beragumen bahwa perang barangkali dibenarkan terhadap negara-negara yang menolak untuk berdagang. Perang adalah alamiah jika dilakukan karena beberapa privilese alam yang ditolak oleh manusia. Memasuki abad ke-17, para penulis Inggris mulai mengembangkan perspektif yang luas mengenai perdagangan. Menulis pada suatu periode yang diwarnai konflik politik dan agama antarnegara, para pemikir merkantilis awal mengambil perspektif ekonomi nasional yang ketat dimana satu-satunya perolehan yang dianggap relevan dari perdagangan ialah yang menguntungkan suatu negara. Pertikaian ekonomi dan politik antar negara memunculkan pandangan, bahwa jika karena jumlah perdagangan di dunia adalah tetap panas setiap titik waktu, maka peningkatan perdagangan suatu negara harus diperoleh dengan pengorbanan negara lain. Perbedaan antara kepentingan privat saudagar dengan kepentingan yang lebih luas dari bangsa dari bangsa membentuk basis fundamental bagi pembelaan merkantilis akan perlunya regulasi negara atas perdagangan. Pengaturan, bimbingan, dan intervensi negara diperlukan untuk mengaitkan aktivitas saudagar dengan kepentingan nasional, untuk menjamin agar perdagangan dilakukan demi kemakmuran negara daripada kesejahteraan saudagar sendirian. Samuel Fortrey (1663) berpendapat bahwa “betapa pentingnya keuntungan publik diletakkan pada suatu tangan kekuasaan untuk keuntungan keseluruhan.”
14

mengarahkan, yang kepentingannya hanya demi

Tekanan merkantilis pada peran negara ini mendapat tantangan dari pemikir “fisiokrasi” Perancis serta filsafat moral Inggris dan Skotlandia. Pierre de Bois dan Francois Quesnay mendukung perdagangan bebas dalam konteks pendekatan laissez-faire secara umum yang memproklamasikan keharmonisan antara tindakan privat dengan kesejahteraan publik. Sedangkan Thomas Hobbes, Richard Cumberland, Lord Kames, dan Josiah Tucker, memperlihatkan posisi yang bernuansa, bahwa kompetisi dalam kerangka kebebasan alamiah (natural liberty) menjamin harmoni yang luas, meski tidak sempurna, dari kepentingankepentingan ini, dengan mengandaikan peran negara dalam menciptakan suatu litasi kovergensi institusional (suatu sistem keadilan) yang akan memfasilitasi konvergensi ini tanpa perlu mengarahkan aktivitas-aktivitas individual. Munculnya jaman pencerahan (Age of Enlightenment) di Eropa sejak sekitar abad ke18, yang mengandung semangat revisi atas kepercayaan-kepercayaan tradisional, memberi stimulus-stimulus baru bagi kemunculan tradisi intelektual yang sedikit berbeda pada pertengahan abad ke-18 di Perancis dan Inggris. Semangat pencerahan ini mendapatkan konteks situasi sosialnya dari revolusi industrial yang berlangsung sejak 1700-an. Tokoh yang terkenal di jaman ini adalah David Hume dalam “Of Commerce” (1752) yang memuji perdagangan luar negeri karena memperbesar kekuasaan negara dan juga kekayaan dann kebahagian subjek. Wawasan kosmopolitan Hume, lebih tampak pada esainya “Of the Balance Trade” (1752) dan “Of the Jealously of Trade” (1758), yang menolak isolasi dan pembatasan perdagangan, meski mendukung tarif dan pajak yang menurutnya berguna untuk mendorong industri dalam negeri.

3.

Pemikiran Keadilan Ekonomi Pasca-Merkantilis Kecenderungan pemikiran yang mendukung liberalisasi perdagangan itu memberi

latar belakang bagi kemunculan pemikiran ekonomi liberalism klasik (classical liberalism) yang merupakan reaksi terhadap kecenderungan menguatnya intervensi negara dalam kehidupan pribadi dan sosial, yang mendapat sokongan dan pemikiran merkantilis awal, sehingga negara cenderung menjadikan manusia semata sebagai alat untuk melayani tujuantujuan arbitrernya, seolah-olah dapat menentukan apa nilai dan impian terbaik bagi setiap individu. Ide pokok dari liberalism klasik adalah suatu oposisi terhadap seluruh intervensi negara dalam kehidupan pribadi dan sosoial, kecuali dalam bentuknya yang paling minimal dan terbatas. Tokoh terpenting dari pemikiran ekonomi liberalisme klasik adalah Adam Smith. Pemikiran Smith berangkat dari suatu pengandaian moral berbasis imajinasi, yang dia rumuskan pertamakalinya dalam The Theory of Moral Sentiments (1759). Teori moral ini
15

berangkat dari suatu asumsi bahwa manusia adalah mahluk dengan daya “imajinasi”, dan penemuan terbesar dari imajinasi adalah moralitas. Dengan Imajinasi, manusia mampu menumbuhkan “simpati” terhadap apa yang dirasakan dan dialami oleh orang lain, bahkan tanpa perlu melalui pengindraan secara langsung. Dengan kekuatan imajinasi dan simpati itu, Smith melihat ada potensi moral dalam kepentingan diri sendiri maupun orang lain. Dalam buku “The Wealth of Nations”, Adam Smith menekankan bahwa kebebasan alamiah individu untuk berinteraksi dalam bidang ekonomi, masing-masing memburu kebaikannya sendiri dengan menawarkan barang dan jasa kepada orang lain akan mengarah pada alokasi sumber daya secara efisien dari sudut pandang masyarakat, individu-individu yang saling berkeinginan dan berkepentingan akan bekerjasama, jika hal itu member keuntunagan, dan hasil tahunan masyarakat akan naik pada level tertinggi. Untuk bekerjanya mekanisme pasar yang menguntungkan semua pihak, diperlukan apa yang disebutnya sebagai kondisi “persaingan yang sempurna”. Hanya dalam persaingan yang fair, akan muncul “tangan-tangan tersembunyi” yang membawa keuntungan secara tidak sengaja bagi semua pihak. Smith mengungkapkan berbagai keadaan dimana dimana

kebijakan pemerintah, seperti penyedian sarana-sarana publik serta penegakan sistem hukum dan keadilan, dapat memungkinkan “tangan-tangan tersembunyi” dari pasar beroperasi secara lebih efektif. Masalah dalam pemikiran ekonomi liberalisme klasik bersumber dari asumsi moralnya yang terlalu optimis dalam mengandalkan simpati moral dari kepentingan individual, serta pengandaian adanya kondisi persaingan pasar yang sempurna. Simpati moral dapat ditumpulkan oleh hasrat akumulasi kapital dengan cara memperoleh keuntungan setinggitingginya melalui cara-cara yang tidak adil dalam ketiadaan kondisi persaingan pasar yang sempurna. Kemacetan simpati moral mulai terlihat tanda-tandanya, sebagai inplikasi dari tuntutan Adam Smith sendiri bahwa pembagian kerja (division of labour) atau spesialisasi merupakan salah satu kunci pertumbuhan ekonomi secara terus-menerus. Pembagian kerja akan berkembang jika pasaran barang yang diproduksi terjamin. Perluasan pembagian kerja akan mandek apabila pasar untuk barang-barang sudah tidak tumbuh lagi, sehingga dibutuhkan perluasan territorial untuk menjamin perluasan pasar yang pada gilirannya juga untuk perluasan kawasan investasi. Untuk itu, Adam Smith mendukung adanya koloni ekonomi meski diandaikan dalam keadaan bebas dan alamiah. Namun, pengandaian itu terlalu bersifat positivistik karena untuk pembentukan koloni ekonomi tersebut nyatanya diperlukan bantuan pemerintah dengan aparatus pernaksnya, yang pada gilirannya melahirkan kolonialisme dan imperialism sebagai
16

perpanjangan dari liberialisme-kapitalisme menunjukkan kegagalan simpati moral berbasis kepentingan individual dan juga kemacetan mekanisme “the invisible hand”, yang hanya menguntungkan kapitalis-kolonialis di atas kerugian dan penderitaan kaum terjajah. Salah seorang pemikir terpenting dari libertarian kanan ini adalah Friedrich von Hayek (1899-1922). Pemikirannya mengenai ekonomi moneter dalam “Prices and Production” (1931) dan “Pure Theory of Capital” (1941) dibahasakan dalam terma politik dalam Road to Serfdom (1944) dan Constitution of Liberty (1966). Gagasan bahwa pemerintah atau lembaga antar-pemerintahan menjadi pelaku pokok amat ditentang oleh von Hayek, dan ini menjadi arah kritik von Hayek pada beberapa gagasan Keynes. Von Hayek mempunyai sisi kuat yaitu dorongan supaya manusia secara aktif membangun interaksi demi kemajuan. Namun gagasan von Hayek, dipandang sebagai purist, tidak memperhitungkan apa yang ditunjukkan oleh game theory dan juga dalam konsep free rider, bahwa manusia dapat menjadi amat oportunis, bahkan dalam hal yang seharusnya amat mulia seperti “amal”. Gagasan von Hayek tidak tahan uji dalam praktik. Dalam model von Hayek, keadilan sosial bias terwujud, namun tidak pasti. Libertarian capitalism membawa paradigma neoliberalisme dalam perekonomian yang cenderung melompat pada individualisme, tanpa mengingat dimensi emansipasi liberalisme klasik yang berusaha menyelamatkan kebebasan dan keadilan individual dari sangkar besi intervensi negara. Dengan langsung melompat pada individualisme, seraya mengabaikan konteks emansipatorisnya, neoliberalisme cenderung meringkus peran negara, dengan membatasi semata-mata sebagai pelayan pasar. Dengan menjadikan negara sebagai pelayan pasar, neoliberalisme member terlalu banyak pada kebebasan individu, melupakan bahwa individualisme yang bersifat predator juga bisa membawa sumber-sumber penindasan dan ketidakadilannya sendiri. Tahun 1848, John Stuart Mill, menunjukkan keterkejutannya atas ketidakadilan serius dalam distribusi kekayaan masyarakat dan mencoba mencari penyebabnya. Dia mengusulkan untuk memisahkan secara tegas antara sistem produksi dan sistem distribusi. Dua puluh tahun kemudian, Karl Marx (1818-1883) menggugat secara radikal teori tentang keadilan ekonomi yang hanya memperhatikan hubungan distribusi, yang menurut penilaiannya tidak mengenai sasaran. Dalam pandangan Marx, yang pertama dianalisis adalah hubungan produksi. Dalam hubungan produksi, buruh berkedudukan lemah karena hanya memiliki tenaga, sedangkan pemilik modal berkedudukan jauh lebih kuat. Eksploitasi nilai tambah oleh pemilik modal di atas pemiskinan kaum buruh, merupakan sumber ketidakadilan ekonomi pada tahap yang lebih dini.
17

Paham sosialisme bangkit kembali sebagai respons atas ketidakadilan baru yang ditimbulkan oleh individualisme. Kata “sosialisme” sendiri pertama kali dimunculkan oleh Robert Owen yang dituangkan dalam majalah Inggris, Coorporative Magazine (1827). Majalah ini dimaksudkan untuk mensosialisasikan pandangan-pandangan Owen sendiri, yang dikemudian dikenal sebagai pendiri utama gerakan kooperasi. Sebagai perintis gerakan sosialisme dan kooperasi, Owen membayangkan adanya masyarakat yang terdiri dari komunitas mandiri yang mempertautkan individu-individu bebas dan berpikir rasional. Permuliannya pada kebebasan individu ini tidaklah jauh berbeda dari paham liberalisme. Namun begitu, segera dia tambahkan bahwa individu-individu kooperatif, yang bersifat altruis, asosiatif, dan harmonis dengan kehidupan dan kebajikan kolektif. Pada perkembangan lebih lanjut, sosialisme ini menuntut egalitarianisme yang lebih tuntas dengan menawarkan konsepsi perjuangan kelas pekerja. Hal ini mendapatkan formulasinya sejak Karl Marx menerbitkan pamflet “Manifesto Komunis” pada 1848, yang pada gilirannya mendorong lahirnya berbagai varian sosialisme. Perbedaan pandangan yang terjadi dalam rumpun Marxisme-sosialisme di Eropa mengenai bagaimana menjalankan proyek transformasi dari kapitalisme menuju sosialisme. Dalam pandangan Marxisme ortodoks, transformasi menuji sosialisme akan terjadi begitu kapitalisme bangkrut akibat kontradiksi-kontradiksi internalnya sendiri. Tugas kaum Marxis adalah mengintensifkan krisis internal kapitalisme melalui pertentangan kelas dan revolusi sosial. Beberapa pemikir utama sosialisme revolusioner adalah Karl Kautsky, Rosa Luxemburg, dan Leon Trotsky. Percobaan pembumian model pemikiran Marxisme ortodoks memperoleh katalisnya melalui Revolusi Rusia pada 1917, yang melahirkan gerakan Marxisme-sosialisme Internasional ke-3, dengan haluannya yang terkenal sebagai haluan bolsjewik atau komunis. Dibawah sistem ini, ekonomi komando dijlankan dengan melahirkan etatisme. Sistem ekonomi etatisme hanya menguntungkan sekelompok kecil elite yang mengarah pada pembentukkan semacam kelas sosial tersendiri yang disebut “nomenklatura” yang menguasai berbagai posisi administratif di semua bidang kehidupan. Menyimpang dari pandangan Marxis orthodox, Eduard Bernstein menganggap bahwa perjuangan demokratik melalui mekanisme parlementer untuk merebut negara merupakan suatu cara yang diperlukan untuk mentranformasikan kapitalisme menuju sosialisme. Pandangan ini membuat Adam Przeworski (1988) melihat gerakan sosial demokrasi sebagai jalan parlementer menuju sosialisme. Penekanan Bernstein adalah pada revisionisme demokratik dan sosialisme yang lebih evolusioner, yang kemudian melahirkan paham “social-democracy” atau sering disebut sosdem.
18

Doktrin revisionisme Bernstein dianggap sebagai kontradiksi terhadap Maxisme mainstream, bahkan Bernstein sendiri akhirnya di cap sebagai pembelot. Pemikiran sosdem berusaha memperjuangkan keadilan ekonomi dengan berusaha mengatasi kelemahankelemahan dari sistem sosialisme-etatisme dan kapitalisme. Hal ini ditempuh melalui intervensi negara dalam penataan pasar dan jaminan sosial, disertai keleluasaan yang diberikan bagi kebebasan kreatif individual. Aktualisasi peran negara ini dikembangkan melalui eksistensi negara kesejahteraan. Gagasan negara kesejahteraan ini beresonansi dengan pemikiran ekonomi yang dikembangkan oleh seorang pemikir ekonomi Inggris, John Maynard Keynes (1883-1946). Keynes amat terkenal dengan karya pentingnya “Treatise on Money” (1930) dan “The General Theory, Interest and Money” (1936), yang juga dilingkupi dengan karya-karya yang lebih politis seperti Economic Consequence of Peace (1919) dan The End of Laissez-Faire (1926). Dalam karyanya, Keynes menunjukkan bagaimana pranata kemanusiaan, terutama negara, mempunyai peranan penting dalam “memutar‟ penghidupan manusia. Jika manusia dibiarkan bertarung dengan manusia lain tanpa adanya pranata, yang terjadi adalah kemustahilan setiap upaya manusia itu sendiri. Keynes memuji gagasan von Hayek dalam ”Road to Sefrdom” (1944) bahwa ketidakbebasan dapat datang dari suatu bentuk kolektivisme, sebagaimana yang ditunjukkan dalam pengalaman Nazisme dan komunisme-Uni-Soviet. Keynes mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan yang unik dalam mengembangkan relasi dan penghidupannya terhadap manusia lain. Pemikiran Keynes yang menekankan pentingnya pranata manusia memperoleh kesempatan dan pembuktiannya, ketika dia dengan memanfaatkan capital market menjadi tokoh penting dalam mendesain ekonomi dunia selama dan setelah Great Depression. Yang lebih penting, Keynes juga menjadi arsitek penting bagi terciptanya negara kesejahteraan. Negara Kesejahteraan dapat didefinisikan sebagai bentuk pemerintahan demokratis yang menempatkan negara sebagai bentuk pemerintahan demokratis yang menempatkan negara sebagai institusi yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat, melalui serangkaian kebijakan publik dalam mengintegrasikan kebijakan ekonomi dan kebijakan sosial demi pencapaian kesejahteraan dan keadialan sosial. Sistem negara kesejahteraan diorientasikan untuk mempromosikan efisiensi ekonomi, menngurangi kemiskinan, memperkuat kesejahteraan sosial, dan mempeomosikan kemandirian individu. Model pertama dari negara kesejahteraan adalah model “universal welfare state”. Model ini berbasis rezim kesejahteraan sosdem yang didirikan dengan cakupan jaminan sosial yang universal dan kelompok target yang luas serta tingkat dekomodifikasi yang ekstensif.
19

Model ini berkembang di Demark, Finlandia, Norwegia, Swedia, dan Belanda. Model ini beresonasi dengan model yang berkembang di negara-negara lain yang lebih konservatif seperti Austria, Belgia, Perencis, Jerman, Italia, dan Spanyol. Dalam persenyawaanya dengan tardisi sosialisme kekristenan, berkembanglah di negara-negara tersebut rezim kesejahteraan konservatif yang melahirkan model “social insurance welfare state”. Model ini dicirikan oleh sistem jaminan sosial yang tersegmentasi serta peran penting jejaring keluarga sebagai penyedia pasok kesejahteraan. Berkaitan dengan hal itu, sebagai respons atas kritik sosialisme dan juga sebagai ikhtiar untuk meredakan perlawanan kelas pekerja dari lingkungan internal kspitalisme sendiri, negara-negara yang berbasis liberal-kapitalisme juga mengembangkan rezim kesejahteraan tersendiri. Hal ini pada gilirannya melahirkan model “residual welfare state”, yang berbasis pada rezim kesejahteraan liberal yang bercirikan jaminan sosial yang terbatas terhadap kelompok target secara sselektif serta dorongan yang kuat bagi pasar untuk mengurus pelayanan public. Model ini berkembang antara lain di Australia, Kanada, Selandia Baru, dan Amerika Serikat. Pergulatan antara sosialisme dan kapitalisme mengarah pada usaha saling belajar untuk mengambil sisi-sisi positif seraya meninggalkan sisi-sisi negative dari kedua paham tersebut. Perkembangan kebijakan perekonmian dari kedua kutub tersebut cenderung bergerak menuju titik keseimbangan antara dimensi individual dan sosial manusia, antara peran negara dan pasar. Dari arah kiri ke kanan, negara komunis (bekas komunis) seperti RRC dan Rusia yang semula menerapkan sistem ekonomi komando, dalam perkembangan terkahir mulai membuka diri bagi peran pasar dalam perekonomiannya. Dari arah kanan ke kiri, terjadi pergeseran dari fundamentalisme pasar menuju ekonomi “pasar sosial”. Ekonomi pasar sosial menghargai hak milik, kombinasi usaha individu dan masyarakat serta keragaman aktivitas ekonomi. Ekonomi pasar sosial meletakkan supremasi demokrasi dan konstitusi sebagai pemandu dan perangkum dari ekonomi suatu negara dan dunia, sebagai basis pembebasan manusia dari penindasan dan ketimpangan. Seiring dengan itu, pranata negara dianggap mempunyai peran penting dalam melindungi dan mengembangkan masyarakat secara memadai, seperti melalui bentuk-bentuk asuransi, skema pendanaan untuk masyarakat, penetapan cadangan komoditi atau modal, dan lain sebagainya. Peran negara amat aktif, tetapi tidak menindas atau meniadakan keragaman. Kecenderungan ke arah ekonomi pasar sosial itu tampak sebagai fenomena yng berkembang di negara-negara Eropa pasca perang dunia II, terutama di Jerman dan Perancis. Berbagai negara di Eropa memilih ekonomi pasar sosial sebagai sebuah pilihan dan pengakuan bahwa pluralitas manusia adalah faktor penting dalam ekonomi. Tidak ada boleh
20

penyeragamanm dan tidak ada boleh dominasi satu kelompok atas kelompok lain. Ekonomi pasar sosial ini juga banyak dikembangkan di negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Ekonomi pertanian amatlah besar, baik dalam hal modal, akses, dan tenaga kerja. Ekonomi yang berbasis pada industri manufaktur yang intensif pastilah bukan pilihan pertama dari negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin, penting, tetapi bukan yang utama. Disini terletak pentingnya ekonomi pasar sosial yang berangkat dari situasi masyarakatnya. Perkembangan selanjutnya, krisis ekonomi-finansial Amerika pada awal millennium baru, yang merembet menjadi krisis global, juga memaksa negara-negara kapitalis untuk memeriksa ulang pengandaian moralnya atas supremasi kebebsasan individual serta keutamaan fundamentalisme pasar. Dapat dikatakan inilah gelombang surut proyek neoliberalisme seperti yang kita kenal. Naomi Klein (2007) mendokumentasikan bagaimana kebijakan neoliberal menyumbang pada tumbuhnya otoritarianisme, eksploitasim

ketidaksetaraan, dan perusakan lingkungan. Robert Kuttner (2007) memperlihatkan bahwa neoliberalisme Amerika Serikat menggunakan kekuatan negara sebagai instrument pasar untuk menderegulasikan industri keuangan. Dengan demikian, secara radikal mengubah pemerintahan dan masyarakat dengan menekankan pada persaingan, desentralisasi, devolusi, deregulasi, dan privatisasi atas industri, tanah, dan pelayanan public, serta mengganti kebijakan-kebijakan sosial yang bersifat welfare dengan “workfarist”. Penekanan yang terlalu berlebihan pada daulat pasar menimbulkan apa yang disebut ekonom Joseph Stiglitz (2008) inkompetensi dari pihak pengambil keputusan serta merangsang ketidakjujuran dari pihak institusi financial. Perilaku tidak patut di dalam dunia korporasi merajalela. Megaskandal Enron, Lehman Brothers, dan yang lainnya menurut Daniel Yankelovich (2006), lebih disebabkan oleh bertemunya tiga kecenderungan. Pertama, deregulasi. Hasrat menggebu melakukan deregulasi pada 1980-an mengubah para penjaga gawang, seperti firma akuntan, bankin, ataub firma hukum bisnis menjadi pelaku utama. Alih-alih mengawasi, mereka justru mempermudah atau malah melakukan tindakan kejahatan bisnis. Kedua praktik menyambungkan bagian terbanyak dari kompensasi CEO ke bursa saham, para petinggi korporat ini diberikan saham bernilai milyaran sebagai bonus atas gaji. Akibatnya mereka lebih mengedepankan nilai saham ketimbang kesejahteraan perusahaan atau masyarakat. Dan ketiga, memasukkan norma-norma kalah atau menang ke dalam kehidupan korporasi. Penggabungan kecenderungan-kecenderungan ini turut menciptakan mesin skandal yang sering membuat skandal sebagai satu keniscayaan. Akhirnya, krisis financial yang berkembang menjadi krisis ekonomi juga menggamarkan sesuatu yang lebih mendalam-apa yang disebut Robert Reich (2007) sebagai
21

“superkapitalisme”. Superkapitalisme adalah suatu konsep yang menggambarkan semakin menguatnya kompetisi di dunia bisnis dalam memperebutkan konsumen dan investor yang kemudian merambah ke dunia politik. Persaingan bisnis itu mengakibatkan dana dalam jumlah besar mengalir dari korporasi dan badan-badan keuangan guna membiayai dan mengarahkan politik dan kebijakan publik demi kepentingan mereka. Dengan kata lain, “capitalism has invaded democracy”. Berbagai moral hazard dalam perekonomian neoliberalisme Amerika Serikat membawa masuk kembali anasir sosialisme melalui pintu belakang. Peran negara kembali diperkuat yang jalannya dicoba diratakan kembali oleh pemerintahan Obama, melalui proyek “nasionalisasi” serta perluasan sistem jaminan sosial. Putaran balik pendulum pemikiran ekonomi ke jalan tengah, dengan penguatan kembali peran negara, juga tercermin dari kecenderungan para peraih anugerah Nobel Ekonomi sejak penghujung abad lalu yang didominasi oleh para ekonom yang berdomisili di Amerika Serikat, Amartya Sen, peraih nobel ekonomi pada 1998 mengakui pentingnya peran negara dalam kaitan antara welfare economics dan kebebasan manusia. Dalam pandangannya, negara mempunyai kekuatan untuk bersiasat dengan berbagai instrument kebijakan untuk melindungi dan mempromosikan kesetaraan dan kebebasan manusia. Pengakuan ini diperkuat antara lain oleh pemikiran peraih nobel ekonomi tahun 2007, Leonid Hurwicz, Eric Maskin, dan Roger Myerson, yang sama-sama berkontribusi dalam mengembangkan apa yang disebut sebagai “mechanism design theory”. Dalam teori ini, diakui bahwa alokasi barang dan jasa diandaikan terjadi secara lebih efisien dalam ekonomi pasar. Kecenderungan perekonomian yang mencari titik keseimbangan antara dimensi individual dan sosial manusia, antara peran pasar dan negara mendapat topangan teoritisnya antara lain dari pemikir liberal kiri John Rawls. Dalam Opus magnum-nya, A Theory of Justice (1971), Rawls menggabungkan konsep hak milik individu dari John Locke, kemauan hidup bersama demi terpenuhi kebutuhan dan kepentingan bersama dari Jean-Jacquaes Rousseau, dan kemauan melakukan kebaikan pada orang lain tanpa tendensi apa pun sesuai dengan aturan formal dari Immanuel Kant. Dalam kerangka teori diatas, Rawls mengasumsi masyarakat sebagai kumpulan individu yang berdimensi ganda, di satu sisi, sebagai mahluk sosial yang mau bersatu karena adanya ikatan untuk memenuhi kepentingan bersama, di sisi lain, sebagai mahluk individual yang masing-masing mempunyai pembawaan serta hak yang berbeda, yang tidak bisa dilebur begitu saja ke dalam kehidupan sosial. Persoalannyam bagaimana menyerasikan antara kehendak memenuhi hak-hak dan pembawaan individu, dengan kewajiban sosial demi
22

memenuhi kebutuhan dan kebijakan kolektif, yang dapat menciptakan hubungan sosial yang berkeadilan. Teori keadian Rawls berusaha menjawab tantangan tersebut. Dengan mendefinisikan keadilan sebagai fairness, Rawls mengajukan dua prinsip keadilan sebagai basis untuk menjaga harmoni antara hak individu dengan kewajiban sosial. Pertama, prinsip kesetaraan kebebasan (principle of equal liberty), bahwa setiap orang memiliki kebebasan dasar yang sama. Kebebasan dasar ini meliputi, antara lain: kebebasan politik, kebebasan berpikir, kebebasan dari tindakan sewenang-sewenang, kebebasan personal, dan kebebasan untuk memiliki kekayaan. Kedua, prinsip perbedaan, bahwa perbedaan yang ada diantara manusia, dalam bidang ekonomi dan sosial, harus diatur sedemikian rupa, dengan perlakuan yang berbeda pula, sehingga dapat menguntungkan setiap orangnya, khususnya orang-orang yang secara kodrati tidak beruntung, dan sesuai dengan kedudukan dan fungsi-fungsi yang terbuka bagi semua orang. Singkat kata bagi Rawls, setiap orang harus diperlakukan secara setara, kecuali jika dengan kesetaraan perlakuan itu, dapat timbul ketidakadilan yang lebih besar. Dalam kondisi seperti itu, perbedaan dalam perlakuan diperlukan dalam rangka menghadirkan keadilan sosial. Untuk itu, perbedaan perlu diatur sedemikian rupa sehingga terjadi ikatan solidaritas sosial dan kerja sama yang saling menguntungkan. Di sinilah, institusi negara memainkan peran penting. Dalam konteks kedenderungan perekonomian yang semakin bergerak ke jalan tengah serta teori keadilan seperti itu, prinsip keadilan sosial yang terkandung dalam sila ke 5 Pancasila, dengan prinsip negara kesejahteraan yang terkandung dalam pasal-pasal UUD 1945 (terutama pasal 23, 27, 31, 33, dan 34) memiliki resonansi yang kuat. Sejak awal, para pendiri bangsa ingin menempatkan sistem keadilan dan ekonomi dalam titik ideal keseimbangan antara peran negara (sosial) dan peran individu (swasta), hak dan kewajiban, serta antara pemenuhan hak sipil dan politik dengan hak ekonomi, sosial, dan budaya. Menurut alam pemikiran pancasila, semangat kekeluargaan yang bersifat tolong menolong merupakan jalan keluar atas kelemahan sistem ekonomi liberal-kapitalisme dan etatisme. Dalam semangat kekeluargaan, hak dan partisipasi warga itu diletakkan dalam kerangka kewajiban untuk memujudkan kebaikan kolektif. Sebaliknya, seperti dikatakan oleh Bung Hatta, dalam konsepsi negara kekeluargaan ala Indonesia, tidak dibenarkan adanya negara kekuasaan atau negara penindas. Dalam implementasinya, usaha mewujudkan perekonomian dalam kerangka keseimbangan antara peran individu (pasar) dan sosial (negara) itu tidaklah bergerak dalam
23

suatu ruang vakum. Dengan mewarisi keadaan ekonomi-politik Indonesia pasca colonial yang ditandai oleh aneka dualism dan kesenjangan, luasnya kemiskinan serta kemajemukan masyarakat, semangat kekeluargaan lebih ditonjolkan. Dalam situasi perdagangan pasar yang tidak sempurna, kompetisi harus diletakkan dalam semagat kooperasi (cita-cita tolong menolong), yang mengarah pada koopetisi, dan menunaikan kewajiban lebih didahulukan ketimbang menuntuk hak. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. Dengan menolak paham individualism-liberalisme yang melahirkan kolonialisme di Indonesia, para pendiri bangsa, baik yang bercorak islamis, nasionalis maupun sosialis, samasama mengidealiasikan sosialisme sebagai basis pemenuhan keadilan sosial. Paham sosialisme ala Indonesia ini, menurut Mohammad Hatta, merupakan perpaduan dari unsure tradisi tolong-menolong (gotong-royong) masyarakat asli Indonesia, dengan unsure sosialisme-religius, serta unsure sosdem dari Eropa. Dengan memadukan unsur-unsur tersebut, sosialisme Indonesia bersendikan nilai-nilai sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi dan keTuhanan. Nilai-nilai ini terkandung dalam sila-sila Pancasila.

D. Membumikan Keadilan Sosial dalam Kerangka Pancasila Dalam menguraikan sila keadilan sosial (prinsip kesejahteraan) Soekarno menyatakan; “ Maka oleh karena itu, jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat, mencinta rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip sociale rechvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan politik, saudara-saudara, tetapi pun diatas lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya.” Dengan mengembangkan persamaan di lapangan ekonomi, Soekarno berharap” tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia merdeka.” Pencapaian tugas luhur itu tidak dipercayakan pada laissez-fair yang berbasis individualism-kapitaslisme, karena Indonesia mengalami pengalaman buruk penindasan politik dan pemiskinan ekonomi yang ditimbulkan oleh kolonialisme; sementara, kolonialisme itu sendiri merupakan perpanjangan dari individualism-kapitalisme. Alih-alih memercayakannya pada individualism-kapitalisme, Soekarno meyatakan bahwa sila keadilan sosial adalah “ protes kita yang maha hebat kepada dasar individualisme.” Titik tumpu pencapaiaannya dipercayakan kepada sosialisme yang bersendikan semangat kekeluargaan dengan menghargai kebebasan kreatif individu. Sosialisme Indonesia menjunjung tinggi asas persamaan dan kebebasan individu, namun dengan penekanan bahwa individu-individu tersebut adalah individu-individu yang kooperatif dengan sikap altruis, yang mengedepankan tanggung jawab dan solidaritas sosial bagi kebajikan kolektif. Dalam sistem
24

sosialisme ini diandaikan bahwa seluruh penghasilan diatur menurut keperluan dan maslahat masyarakat untuk menghindari krisis karena persaingan. Dalam kaitan ini, Sutan Sjahrir menyatakan, “Sekali-kali, tidaklah boleh kepentingan segolongan rakyat banyak yang miskin. Keadilan yang kita kehendaki adalah keadilan bersama yang didasarkan atas kemakmuran dan kebahagiaan” (Sjahrir, 1982:127) Dalam rangka merealisasikan keadilan itu para pendiri bangsa kerap mengemukakan bahwa, “Negara adalah suatu organisasi masyarakat yang bertujuan menyelenggarakan keadilan.” Cita-cita menghadirkan keadilan bernegara dan negara yang berkeadilan mensyaratkan adanya emansipasi dan partisipasi di bidang politik yang berkeadilan dengan emansipasi dan partisipasi di bidang ekonomi. Inilah yang disebut dengan prinsip “sosiodemokrasi.” Menurut Soekarno, “Sosio-demokrasi tidak ingin mengabdi kepada kepentingan sesuatu gundukan kecil sahaja, tetapi kepentingan masyarakat. Sosio-demokrasi adalah demokrasi politik dan demokrasi ekonomi.” ( Soekarno, 1932) Dengan demikian, negara Indonesia tidak dikehendaki sebagai “negara liberal,” melainkan sebagai “ negara kesejahteraan “ (negara sosial). Dalam pemikiran para pendiri bangsa, negara kesejahteraan yang dimaksud adalah suatu bentuk pemerintahan demokratis yang menegaskan bahwa negara bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat (setidaknya secara minimal), bahwa pemerintah harus mengatur pembagian kekayaan negara agar tidak ada rakyat yang kelaparan, tidak ada rakyat yang menemui ajalnya karena tidak memperoleh jaminan sosial. Dalam negara kesejahteraan Indonesia, yang dituntut oleh etika politiknya bukanlah penghapusan hak milik pribadi, melainkan bahwa hak miliki pribadi itu memiliki fungsi sosial dan negara bertanggung jawab atas kesejahteraan umum dalam masyarakat. Berasal dari kata „al-adl‟ (adil), yang secara harfiah berarti: “lurus”, “seimbang”, keadilan berate memperlakukan setiap orang dengan prinsip kesetaraan (principle of equal liberty), tanpa diskriminasi berdasarkan perasaan subjektif, perbedaan keturunan, keagamaan dan status sosial. Adanya aneka kesenjangan yang nyata dalam kehidupan kebangsaansebagai warisan dari ketidakadilan pemerintahan pra-Indonesia-hendak dikembalikan ke titik berkeseimbangan yang berjalan lurus, dengan mengembangkan perlakuan yang berbeda (the principle of difference)-sesuai dengan perbedaan kondisi kehidupan setiap orang (kelompok) dalam masyarakat serta dengan cara menyelaraskan antara pemenuhan hak individual dengan penuaian kewajiban sosial. Komitmen keadilan menurutalam pemikiran Pancasila berdimensi luas. Peran Negara dalam perwujudan keadilan sosial, setidaknya ada dalam kerangka: 1. Perwujudan relasi yang adil di semua tingkat sistem (kemasyarakatan), 2. Pengembangan struktur yang menyediakan kesetaraan kesempatan, 3. Proses fasilitasi akses atas informasi yang diperlukan dan 4.
25

Dukungan atas partisipasi bermakna atas pengambilan keputusan bagi semua orang. Yang dituju dari gagasan keadilan ini juga tidak terbatas pada pemenuhan kesejahteraan yang bersifat ekonomis, tetapi juga terkait dengan usaha emansipasi dalam kerangka pembebasan manusia dari usaha pemberhalaan terhadap benda, pemuliaan pemupukan solidaritas kebangsaan dan penguatan daulat rakyat. Berdasarkan rumusan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan, Universitas Brawijaya (2009), keadilan sekurang-kurangnya terwujud dalam tiga bentuk : 1. Keadilan dalam hubungan ekonomi antarmanusia secara orang-seorang dengan senantiasa memberikan kepada sesamanya apa yang semestinya diterima sebagai haknya. Inilah yang melahirkan keadilan tukar-menukar. 2. Keadilan dalam hubungan ekonomi antara manusia dengan masyarakatnya, dengan senantiasa memberi dan melaksanakan segala sesuatu yang memajukan kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Inilah yang melahirkan keadilan sosial. 3. Keadilan dalam hubungan ekonomi antara masyarakat dengan warganya, dengan senantiasa membagi segala kenikmatan dan beban secara merata sesuai dengan sifat dan kapasitasnya masing-masing. Inilah yang melahirkan”keadilan distributif”. martabat kemanusiaan,

Terhadap ketiga bentuk keadilan tersebut, barangkali perlu ditambahkan satu lagi, yakni keadilan dalam hubungan-hubungan produksi antara pemilki modal dan buruh. Nilai tambah tidak boleh hanya dieksploitasi oleh pemilik modal saja, melainkan juga perlu dibagi kepada buruh. Hal ini bisa ditempuh melalui pengalokasian sebagian saham bagi kaum buruh dan/ atau kepatutan standar penggajian dan jaminan sosial karyawan. Inilah yang melahirkan “keadilan produktif” yang dikenal dengan keadilan dalam hubungan industrial. Untuk mewujudkan keadilan sosial dalam pelbagai hubungan ekonomi tersebut diletakkan dalam kerangka etis, imperative moral Pancasila. Sri-Edi Swarsono (2009:6) menjelaskan bahwa sistem ekonomi Pancasila dapat digambarkan sebagai sisitem ekonomi yang berwawasan sila-sila Pancasila yaitu : 1) Ketuhanan Yang Maha Esa (adanya atau diberlakukannya etik dan moral agama, bukan materialism); 2) Kemanusiaan (kehidupan berekonomi yang humanistic, adil dan beradab), tidak mengenal pemerasan dan penghisapan; 3) Persatuan (berdasar sosio-nasionalisme Indonesia, kebersamaan dan berasas

kekeluargaan, gotong-royonng, bekerjasama, tidak saling mematikan); 4) Kerakyatan (berdasar demokrasi ekonomi, kedaulatan ekonomi, mengutamakan hajat hidup orang banyak, ekonomi rakyat sebagai dasar perekonomian nasional);
26

5)

Keadilan sosial secara menyeluruh (kemakmuran rakyat yang utama, bukan kemakmuran orang-seorang, berkeadilan, berkemakmuran).

Dengan formulasi yang lain, Mubyarto (1994:44-45) menyebutkan ciri-ciri sistem ekonomi Pancasila sebagai berikut : 1. 2. Roda perekonomian digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial dan moral Ada kehendak kuat dari seluruh anggota masyarakat untuk mewujudkan keadaan kemerataan sosial-ekonomi. 3. Prioritas kebijaksanaan ekonomi adalah pengembangan ekonomi-nasional yang kuat dan tangguh, yang berarti nasionalisme selalu menjiwai setiap kebijaksanaan ekonomi. 4. 5. Kooperasi merupakan sokoguru perekonomian nasional Adanya imbangan yang jelas dan tegas antara sentralisme dan desentralisme kebijaksanaan ekonomi untuk menjamin keadilan ekonomi dan keadilan sosial dengan sekaligus menjaga prinsip efisiensi dan pertumbuhan ekonomi.

Emil Salim meringkas pengertian sistem Ekonomi Pancasila ke dalam empat ciri pokok. Pertama, adanya demokrasi ekonomi; produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua dan di bawah pimpinan atau kepemilikan anggota. Kedua, cirri kerakyatan, yaitu memerhatikan penderitaan rakyat. Ketiga, kemanusiaan yang berarti tidak memberi toleransi pada eksploitasi manusia. Dan, keempat, religius, yaitu menerima nilai-nilai agama dalam hidupnya. Dengan landasan konsepsonal tersebut, sistem ekonomi Pancasila berada pada tiga level sekaligus: ontologism, epistemologis dan aksiologis. Secara ontologism, keberadaan sistem Ekonomi Pancasila berangkat dari Pancasila sebagai landasan idelanya dan UUD-45 sebagai landasan konstitusionalnya. Secara epistemologis, sistem ekonomi Pancasila berangkat dari konsepsi paradigmatic yang menempatkan keadilan ekonomi dalam kerangka keseimbangan antara dimensi manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, antara hak dan kewajiban, antara dimensi jasmani dan rohani, serta antara pemenuhan hak sipil dan politik dengan hak ekonomi, sosial dan budaya. Secara aksiologis, sistem ekonomi Pancasila berangkat dari fakta empiris kesenjangan sosial dan ketidaksempurnaan pasar, yang ingin mengatasinya dengan cita-cita tolong-menolong secara kekeluargaan (koperasi). Kata “kooperasi‟, pertama-tama harus dipahami sebagai “kata kerja”(proses), yakni semangat tolong menolong: semangat kekeluargaan yang senantiasa mengupayakan keuntungan bersama, solidaritas sosial yang berorientasi “berat sama dipikul, ringan sama
27

dijinjing.: Dalam arti ini Mohammada Hatta dan juga Sjahrir, menyebutkan badan usaha milik negara dan bahkan perusahaan swasta pun harus berjiwa kooperasi. Dalam pengertian “kata kerja”, sifat kooperasi harus mewarnai segenap komponen sistem ekonomi yang setidaknya meliputi factor: 1. Kepemilikan sumber daya, 2. Pelaku ekonomi, 3. Mekanisme penyelenggaraan kegiatan ekonomi dan 4. Tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal kepemilikan sumber daya, sifat kooperasi itu tercermin pada pasal 33 (2): “ Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara‟; dan pasal 33 (3):” Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.” Dalam hal pelaku ekonomi, sifat kooperasi tercermin pada pembagian peran di antara para pelaku ekonomi. Baik Badan Usaha Milik Negara,badan usaha kooperasi, maupun badan usaha swasta diberi tempat sendiri-sendiri. Lebih dari itu, seluruh bentuk badan usaha itu harus mengembangkan sifat “kooperasi” (“tolong-menolong”). Pembagian peran di antara para pelaku ekonomi ini kira-kira bisa digambarkan sebagai berikut. 1. Negara menguasai lapangan perekonomian yang menguasai hajat hidup orang banyak 2. Produksi, pengangkutan dan distribui bahan penting diselenggarakan oleh negara atau sekurang-kurangnya dikuasai negara 3. Pemerintah daerah dianjurkan bergerak dalam ketiga lapangan produksi,

pengangkutan dan distribusi 4. Kooperasi dianjurkan bergerak di segala lapangan, terutama sector distribusi 5. Swasta diberi tempat yang layak dalam sector produksi dan pengakutan (PSEK Universitas Brawijaya, 2008:21) Dalam hal mekanisme penyelenggaraan ekonomi, sifat kooperasi tampak pada peran negara kekeluargaan yang mengatasi paham perseorangan dan golongan, dalam menyediakan kerangka hukum dan regulasi, fasilitasi, penyediaan dan rekayasa sosial (social engineering). Dalam perekonomian yang bersifat kooperasi, hak milik perseorangan tetap diakui, namun dalam penggunaannya, dibatasi oleh kepentingan bersama. Dengan demikian, hak milik perseorangan memiliki fungsi sosial. Selain itu, sifat kooperasi itu juga harus tercermin baik pada tingkat ekonomi makro maupun ekonomi mikro. Pada tingkat ekonomi makro, sifat kooperasi ditunjukkan melalui pemberdayaan peran serta rakyat dalam politik anggaran. Inilah pesan yang terkandung dalam pasal 23 (1). Penjelasan UUD 1945 mengenai pasal ini menyebutkan “bahwa dalam hal menetapkan pendapatan dan belanja, kedudukan Dewan Perwakilan Rakyat lebih kuat daripada kedudukan Pemerintah. Ini tanda Kedaulatan Rakyat.” Pada tingkat ekonomi mikro, sifat kooperasi ditunjukkan oleh keterbukaan kesempatan
28

berusaha dan bekerja, ketersediaan akses permodalan, informasi dan public goods bagi segenap pelaku ekonomi dan juga pemberdayaan buruh dalam proses produksi dan pemilikan dengan semangat kekeluargaan. Dalam hal tujuan yang ingin dicapai, perekonomian yang bersifat kooperasi hendak mewujudkan perikehidupan kebangsaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, bahagia lahir dan batin. Kebahagiaan yang tidak hanya berdimensi lahiriah melainkan juga batiniah, kebahagiaan juga tidak hanya dinikmati oleh segundukan kecil elite masyarakat, melainkan juga bisa dirasakan oleh rakyat secara keseluruhan dengan relative sama rata dan sama rasa. Oleh para penggagasnya, kooperasi diyakini bisa mendidik semangat percaya pada diri sendiri, memperkuat kemauan bertindak dengan dasar “self-help”. Dengan kooperasi, rakyat seluruhnya dapat ikut serta membangun, berangsur-angsur maju dari yang kecil melalui yang sedang, sampai akhirnya ke lapangan perekonomian yang besar. Tenaga-tenaga ekonomi yang lemah lambat laun disusun menjadi kuat. Peran negara dibutuhkan, oleh karena untuk mencapai hal itu diperlukan didikan, latihan dan pimpinan dari Pemerintah, dengan menunjukkan bidang-bidang ekonomi mana yang harus digarap berangsur-angsur. Kooperasi dapat pula menyelenggarakan pembentukan capital nasional dalam jangka waktu yang lebih cepat, dengan jalan menyimpan sedikit demi sedikit tetapi teratur. Sebab itu, kooperasi dianggap suatu sarana yang efektif untuk membangun kembali ekonomi rakyat yang tertinggal. Kooperasi merasionalkan perekonomian karena

menyingkatkan jalan antara produksi dan konsumsi. Dengan adanya kooperasi produksi dan kooperasi konsumtif yang teratur dan bekerja baik, perusahaan perantaraan yang sebenarnya tidak perlu, yang hanya memperbesar ongkos dan memahalkan harga, dapat disingkirkan. Tenaga-tenaga ekonomi yang tersingkirkan karena itu, dapat dialirkan kepada bidang produksi yang lebih produktif. Antara pabrik pupuk dan kooperasi produksi (pertanian) tidak perlu ada organisasi lain. Kooperasi pertanian dapat langsung memesan keperluannya akan pupuk ke pabrik pupuk. Sampainya pupuk pada kooperasi tani dapat pula diatur pada waktunya. Karena itu, produsen memperoleh upah yang pantas bagi jerih-payahnya dan konsumen membayar harga yang murah. Orientasi perekonomian yang mengarah pada keadilan sosial melalui pemerataan kesempatan dan jaminan sosial inilah yang menjadi misi dari negara kesejahteraan Indonesia. Negara kesejahteraan Indonesia diharapkan bisa menghadirkan kebijakan ekonomi yang dapat menjaga iklim persaingan yang fair, berinvestasi dalam public goods, serta membela yang lemah melalui pemberian jaminan sosial.
29

Persaingan yang fair ditumbuhkan melalui pembagian peran di antara pelbagai jenis badan usaha, serta semangat tolong-menolong (kooperasi) di semua bentuk dan rantai perekonomian, serta kerangka hukum dan regulasi yang berkeadilan-yang mencegah terjadinya monopoli/oligopoly orang seorang. Negara juga dituntut untuk mengembangkan sarana dan prasarana public yang dapat diakses oleh semua, yang dapat mengembangkan kesempatan kerja serta mencegah terjadinya asimetri informasi melalui kewajiban mengembangkan pendidikan yang bisa diakses oleh semua. Inilah pesan pokok dari pasal 27 (2) dan pasal 31, bahwa “Tiap-tiap Warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan,”dan “Tiap-tiap Warga negara berhak mendapat pengajaran.” Selain melalui pendidikan, negara kesejahteraan Indonesia juga berusaha mengatasi kesenjangan sosial yang lebar dengan menerapkan apa yang disebut John Rawls sebagai “prinsip perbedaan” (the principle of difference), yaitu bahwa setiap orang harus diperhatikan setara (principle of equal liberty), kecuali jika dengan kesetaraan perlakuan itu justru melahirkan ketidakadilan yang lebih besar. Perlakuan khusus perlu diberikan oleh negara kepada golongan ekonomi lemah, yang menjadi karakteristik dari mayoritas rakyat Indonesia, baik pada skala ekonomi makro maupun mikro. Pada tingkat ekonomi makro, perlu didorong politik anggaran yang pro-rakyat serta politik moneter yang memberi akses modal bagi golongan ekonomi lemah. Pada tingkat mikro, pemerintah perlu memberi perhatian khusus bagi badan usaha kooperasi serta sector usaha kecil dan menengah. Selain itu, perlu adanya jaminan sosial dalam bentuk asuransi kesehatan dan ketenagakerjaan, tunjangan hari tua, pengajaran, pemenuhan kebutuhan dasar minimum, terutama bagi orang-orang yang hidup di garis kemiskinan. Inilah pesan yang terkandung dari pasal 34: ”Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Selain itu, perlindungan sosial juga diusahakan melalui peran serta dan emansipasi dalam perekonomian. Dalam pasal 36 Konstitusi RIS dan Pasal 37 UUDS 1950, dinyatakan: 1) Meninggikan kemakmuran rakyat adalah suatu hal terus menerus yang

diselenggarakan oleh penguasa, dengan kewajiban senantiasa menjamin bagi setiap orang derajat hidup yang sesuai dengan martabat manusia untuk dirinya serta kekeluarganya. 2) Dengan tidak mengurangi pembatasan yang ditentukan untuk kepentingan umum dengan peraturan-peraturan Undang-undang, maka kepada sekalian orang diberikan kesempatan menurut sifat, bakat dan kecakapan masing-masing untuk turut serta dalam perkembangan sumber-sumber kemakmuran negeri.

30

Selain kedua ayat tersebut, dalam UUDS 1950 ada tambahan ayat, yaitu: (3) Penguasa mencegah adanya organisasi-organisasi yang bersifat monopoli partikulir yang merugikan ekonomi nasional menurut peraturan-peraturan yang ditetapkan dengan undang-undang. Dalam rangka mewujudkan kesejahteraan dan jaminan sosial tersebut, Sjahrir menekankan agar rakyat Indonesia menjadi lebih produktif. Hal ini pada gilirannya memerlukan penambahan produksi melalui indutrialisasi. Guna mewujudkan industrialisasi secara baik, dia mengusulkan pelbagai usaha transformatif: 1. Pengupayaan modal yang terus bertambah 2. Disediakannya alat produksi yang lebih baik serta lebih banyak untuk rakyat 3. Diperbaikinya jalan raya agar menjadi lebih baik 4. Pembangunan gedung-gedung sekolah dan guru-guru yang lebih baik 5. Dibukanya tempat-tempat dan kesempatan untuk melatih generasi muda kita agar memperoleh keahlian serta pengalaman dalam pelbagai kerja 6. Diperbaikinya rumah sakit dan dokter serta juru rawat, poliklinik dan obat-obatnya 7. Perlunya memperbaiki perumahan rakyat 8. Menciptakan kota dan desa bersih dan sehat (Sjahrir 1982:238) Sjahrir mengusulkan beberapa langkah dalam memperleh sumber daya yang diperlukan untuk usaha-usaha perbaikan tersebut, antara lain: 1. Memperbaiki sistem pajak (antara lain melalui sistem pajak progresif) 2. Penanaman modal 3. Penghematan pemakaian dan negara 4. Perbaikan pada usaha yang sudah ada dengan memanfaatkan potensi alam yang dipunyai Indonesia 5. Transmigrasi (Sjahrir, 1982: 213-276) Hampir senada dengan gagasan Sjahrir, Hatta selama menjalankan kabinetnya (Desember 1949-September 1950), berusaha memperbaiki kesejahteraan dan sistem jaminan sosial, antara lain dengan cara: 1. Memperbaiki ekonomi rakyat, keadaan keuangan, perhubungan, perumahan dan kesehatan, mengadakan persiapan untuk jaminan sosial dan pengamatan tenaga kembali ke dalam msyarakat; mengadakan peraturan tentang upah minimum, pengawasan Pemerintah terhadap kegiatan ekonomi agar kegiatan terwujud demi kemakmuran seluruh rakyat. 2. Menyempurnakan perguruan tinggi sesuai dengan keperluan masyarakat Indonesia, membangun pusat kebudayaan nasional dan mempergiat pemberantasan buta huruf di kalangan masyarakat (Tim Riset PSIK, 2007;309)
31

Dalam menjelaskan Pasal 33 (1,2,3), Panitia Lima menyatakan bahwa pemimpinpemimpin Indonesia yang menyusun Undang-Undang Dasar 1945 mempunyai kepercayaan bahwa cita-cita keadilan sosial dalam bidang ekonomi dapat mencapai kemakmuran yang merata. Ayat-ayat yang terkandung dalam pasal ini pada gilirannya membawa kita pada pembahasan soal apa yang dikuasai oleh negara dan soal penguasaan negara demi kemakmuran rakyat itu sendiri. Sebagai akibat dari penguasaa negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat itu dengan sendirinya akan muncul kewajiban negara untuk : (a) segala bentuk pemanfaatan (bumi dan air) serta hasil yang didapat (kekayaan alam), harus secara nyata meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat, (b) melindungi dan menjamin segala hak-hak rakyat yang terdapat di dalam atau di atas bumi, air dan pelbagai kekayaan alam tertentu yang dapat dihasilkan secara langsung atau dinikmati langsung oleh rakyat, (c) mencegah segala tindakan dari pihak mana pun yang akan menyebabkan rakyat tidak mempunyai kesempatan atau akan kehilangan haknya dalam menikmati kekayaan alam. Ketiga kewajiban di atas menjelaskan segala jaminan bagi tujuan hak penguasaan negara atas sumber daya alam yang sekaligus memberikan pemahaman bahwa dalam hak penguasaan itu, negara hanya melakukan pengurusan (bestuursdaad) dan pengolahan (beheersdaad), tidak untuk melakukan eigensdaad. Konsep pandangan “dikuasai negara” ini sebenarnya sangat sejalan dengan pandangan yang pernah muncul di negara ini. Menurut Bung Hatta, “dikuasai oleh negara” tidak berarti bahwa negara sendiri harus menjadi penguasa, usahawan atau ordernemer. Sedangkan menurut Muhammad Yamin, “dikuasai oleh negara” itu termasuk mengatur dan/atau menyelenggarakan terutama untuk memperbaiki dan mempertinggi produksi dengan mengutamakan kooperasi. Sementara itu, Panitia Keuangan dan Perekonomian bentukan BPUPK merumuskan pernyataan „dikuasai oleh negara” itu dalam arti: (a) Pemerintah harus menjadi pengawas dan pengatur dengan berpedoman keselamatan rakyat, (b) semakin besar perusahaan dan semakin banyak jumlah orang yang menggantungkan dasar hidupnya ke sana, semakin besar mestinya pesertaan pemerintah dengan sendirinya perusahaan itu merupakan bangunan korporasi public-itu tidak berarti, bahwa pimpinannya harus bersifat birokrasi, (c) Tanah haruslah di bawah kekuasaan negara dan (d) Perusahaan tambang yang besar dijalankan sebagai usaha negara.

32

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->