P. 1
oase (eramuslim)

oase (eramuslim)

|Views: 566|Likes:
Published by Achmad Hidayat

More info:

Published by: Achmad Hidayat on Oct 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/29/2015

pdf

text

original

Sections

Mengapa Takut Tantangan?

Publikasi: 18/03/2005 08:28 WIB

eramuslim - Dalam sebuah pelatihan kepemimpinan, seorang instruktur mengajukan sebuah kasus yang kelihatannya sederhana kepada para peserta. Andaikan Anda seorang nelayan (modern) yang harus berminggu-minggu di tengah laut menangkap ikan, apa yang akan Anda lakukan agar sesampainya di darat ikan hasil tangkapan tetap segar? Beberapa peserta nampak tergugah dan terjadilah dialog yang makin lama makin seru dengan instruktur pelatihan. "Masukkan saja ikan-ikannya dalam freezer," "Itu telah dilakukan. Tapi kesegarannya tetap akan berkurang, karena ketika sampai di darat ikan telah mati cukup lama," "Kalau begitu, supaya tetap hidup, perlu disediakan semacam tangki air untuk menyimpan ikan," "Itu pun telah dilakukan. Tapi karena terlalu lama berada dalam tangki, ikan-ikan itu tetap saja mati atau lemas dan tidak segar lagi ketika dijual ke konsumen. Padahal konsumen menginginkan ikan yang masih segar," Menit-menit berlalu, tak satu solusi pun tampak sesuai sasaran. Akhirnya instruktur memberikan suatu jawaban yang cukup mengejutkan, yang tak pernah terpikirkan sedikit pun di benak peserta, mungkin juga Anda. "Solusi yang pernah dicoba dan ternyata berhasil adalah memasukkan seekor ikan hiu ke dalam tangki ikan," Peserta nampak keheran-heranan mendengar solusi yang bagi mereka tak masuk akal itu. "Bukannya ikan hiu itu justru akan memakan habis ikan-ikan lainnya?" "Ya, memang ada ikan yang dimakan ikan hiu itu, tapi jumlahnya sangat sedikit. Ikanikan lainnya tetap hidup sampai saatnya tiba di darat dan dijual ke konsumen dalam keadaan tetap segar," "Mengapa demikian?" "Jawabannya adalah karena ikan-ikan itu mendapat tantangan dengan dikejar-kejar ikan hiu. Ternyata dengan adanya tantangan, kemampuan ikan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya semakin tinggi. Ikan-ikan tersebut justru mampu bertahan hidup lebih lama dengan adanya ikan hiu di sekitar mereka. Itulah hukum alam."

*** Ilustrasi di atas dapat dianalogikan pada manusia. Kita akan menjadi manusia yang lemah, malas bekerja keras bahkan segan beribadah, dan cenderung santai jika tidak mendapat tantangan yang besar dalam hidup ini. Tantangan akan meningkatkan kecerdasan, kompetensi atau kemampuan diri dalam berusaha menyelesaikan masalah. Bayangkan bila kita tidak merasa ditantang, kita tidak akan pernah terlatih untuk menghadapi masalah, apalagi mau menyelesaikannya. Namun demikian, kadang kala sebuah tantangan bisa menjadi suatu hambatan untuk maju, manakala kita tidak berani menghadapinya, sehingga menjadikan kita seorang looser. Dalam kasus di atas ibaratnya ikan kecil yang kurang gesit, sehingga dapat dimakan oleh ikan hiu. Sesungguhnya Allah lah yang menciptakan tantangan kepada manusia di dunia ini dan sekaligus menyediakan balasannya (reward and punishment), sebagai sarana peningkatan kualitas ketaqwaan. Kadar tantangan-Nya sudah ditakar sangat akurat sesuai dengan kemampuan kita masing-masing, sebagaimana tercermin dalam QS. Al Baqarah 286: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan/tindakan buruk) yang dikerjakannya". Kemampuan dalam menghadapi masalah sebagian besar tidak kita dapatkan di bangku sekolah. Sekolah hanya mengajarkan alat dan metoda yang bisa kita gunakan untuk menyelesaikan masalah. However, a man behind the gun will mostly determine to win a war, kemampuan kitalah yang lebih menentukan. Kemampuan akan lebih meningkat jika kita terus mengasahnya di dunia nyata (pekerjaan, rumah tangga, lingkungan sosial). Semakin kita berhasil melewati tantangan akan menumbuhkan semangat baru untuk menyelesaikan tantangan-tantangan berikutnya Suatu ketika umat Islam mendapat sebuah tantangan. Pada saat itu Rasulullah SAW dan kaum muslimin dikepung oleh pasukan kafir yang bersekutu sehingga jumlahnya berlipat ganda dalam perang Ahzab. Namun ketika sedang memecahkan batu dan menggali parit perlindungan, tiba-tiba dengan izin-Nya Rasulullah SAW mendapat 'gambaran' mengenai masa depan Islam. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW mengatakan: "Allahu Akbar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci istana negeri Persi, dan nampak olehku dengan nyata istana-istana negeri Hirah begitu pun kota-kota maharaja Persi dan bahwa umatku akan menguasai semua itu. Allahu Akbar! Aku telah dikaruniai kuncikunci negeri Romawi, dan tampak olehku dengan nyata istana-istana merahnya, dan bahwa umatku akan menguasainya." Pada saat itu Persi dan Romawi adalah dua imperium besar yang mengelilingi jazirah Arab dan menjadi simbol kekuatan tak terkalahkan selama berabad-abad. Ini adalah sebuah tantangan Allah yang digulirkan oleh Rasulullah kepada kaum Muslimin. Dengan lecutan tantangan ini, Rasulullah dan para sahabatnya kembali bersemangat dan berhasil memenangkan perang Ahzab (Khandaq) walaupun jumlah pasukannya sangat sedikit. Dan tantangan yang dikatakan Rasulullah dalam hadits

tersebut juga menambah semangat syiar Islam dan kelak berhasil diwujudkan pada masa Khulafaur Rasyidin dan Kekhalifahan Utsmaniyah. Begitulah, apa yang pada masa itu tampaknya tidak mungkin terjadi, pada kenyataannya bisa terwujud di kemudian hari. Suatu tantangan tidak harus datang dari luar, namun kita bisa menciptakannya dari diri kita sendiri. Tantangan dalam pekerjaan, keluarga, ataupun dakwah dapat diwujudkan sebagai suatu target pencapaian yang harus dibuat lebih tinggi dari kondisi sekarang. Jangan pikirkan itu sesuatu yang tidak bisa dicapai. Justru dengan tingginya suatu target, kita menjadi terpacu untuk lebih maju, bekerja lebih keras dan berfikir lebih kreatif. Tentu saja suatu target apakah akan dapat terwujud, tertunda untuk sementara waktu, atau bahkan tidak terwujud itu merupakan hak prerogatif Allah semata. Wallahu 'alam bishshowab. *** M. Asmeldi Firman asmeldi.firman@gmail.com Cikarang-Frankfurt am Main, Maret 2005 Pujian Publikasi: 17/03/2005 08:10 WIB

eramuslim - Di sebuah ruang chatting internet, ada seorang teman menyampaikan kajiannya tentang pujian. Kajiannya ini diawali dengan kisah Imam Ali r.a. ketika mendapat teguran dari orang yang ia mintai pendapatnya mengenai ceramahnya itu. Seperti yang kita ketahui, Imam Ali r. a. sangatlah piawai dalam berpidato, sehingga setiap kali beliau berpidato selalu memberikan efek yang membuat para pendengarnya menangis. Mendapat pertanyaan itu, orang yang ditanya langsung menegurnya dan mengingatkannya bahwa jika saja ia (Imam Ali) tidak bertanya seperti itu maka amalannya itu tidak akan rusak. Begitulah kira-kira ceritanya. Menurut makalah yang saya terima ketika saya menghadiri sebuah seminar Public Relation tahun lalu, senang memuji adalah salah satu dari nilai-nilai plus yang membentuk self-PR yang kuat. Bisa kita bayangkan bila orang sudah mau memuji orang lain berarti dia secara tidak langsung mengakui kelemahan diri dan mengakui kelebihan orang lain. Suatu tindakan yang menunjukkan kerendahhatian bukan? Dalam hal ini kita pasti sudah bisa membedakan mana pujian yang perlu dan tulus serta pujian yang menjilat. Dulu saya pernah membaca sebuah kisah orang alim yang selalu dipuji orang karena kealimannya. Dia sungguh merasa tersiksa, karena dia khawatir dengan segala pujian itu

dirinya akan terjebak ke dalam perbuatan riya. Maka suatu hari dia melakukan perbuatan buruk seperti mencuri dan sebagainya yang membuat aneh dan kecewa orang-orang yang dulu suka memujinya. Setelah semua orang mencaci dirinya, barulah dia merasa aman karena setelah itu dia merasa tenang menjalankan ibadah tanpa gangguan ketakutan berbuat riya karena pujian. Apa sebenarnya yang harus kita lakukan ketika kita dipuji agar kita tidak terjebak ke dalam kesombongan ataupun melecehkan orang yang memuji kita? Apalagi hanya karena ingin tenang beribadah sehingga kita rela membuat orang lain menjadi berburuk sangka (kotor hati) terhadap kita, bukankah itu merupakan suatu keegoisan? Memang dalam menanggapi pujian, ucapan yang paling baik dan tepat adalah dengan mengucapkan 'Alhamdulillaah' (segala puji bagi Allah) karena memang Dialah yang pantas untuk dipuji. Kita pintar, kita cantik, kita ganteng, kita sukses dan sebagainya, tidak lain karena kepintaran,kecantikan, kegantengan dan kesuksesan itu adalah karena anugerah dari-Nya, semuanya itu adalah ciptaan-Nya. Selain dari itu, ucapan Alhamdulillah menunjukkan rasa syukur kita kepada-Nya atas semua anugerah yang telah diberikan, juga merupakan wujud rasa terima kasih kita kepada orang yang memuji kita. Kita harus menghargai orang yang telah mau merendahkan hatinya memuji kita. Bisa jadi orang memuji kita malah lebih layak untuk dipuji. Seperti dalam firman Allah dalam surat An-Najm: 32, "Janganlah kamu merasa sudah bersih, Dia Allah lebih mengetahui siapa yang bertaqwa." Juga dalam hadist riwayat Muslim, "Bertawadhulah (merendah dirilah) sehingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya." Dalam beberapa hal pujian sangatlah bermanfaat, seperti pujian seorang ahli kepada orang yang sedang belajar, pujian seorang guru kepada muridnya, pujian orang tua kepada anak-anaknya atas perbuatan baik dan prestasi yang dicapai, juga pujian seorang teman kepada temannya yang selalu tidak percaya diri dan menganggap dirinya seorang "never do well" person. Semua pujian itu niscaya akan membangkitkan semangat mereka dan memandang dirinya sangatlah berharga, sehingga kepercayaan diri akan tumbuh untuk berbuat yang lebih baik. Kalau pujian dianggap sebagai penyebab kesombongan, kita pun harus ingat bahwa penyebab kesombongan tidaklah hanya pujian. Banyak hal lain yang bisa membuat kita terjebak ke dalam perbuatan sombong, seperti hak jawab ketika mendapat kritikan terutama dari orang yang tidak kita sukai atau bersebrangan pandangannnya dengan kita lantas kita memamerkan segala kehebatan kita, merendahkan orang lain hanya karena mereka belum memakai busana muslimah, dan sebagainya. Dalam surat Al-A'raf: 47 Allah berfirman, "Apakah mereka yang kamu katakan tidak bakal mendapat rahmat, tiba-tiba kini diperintahkan : Masuklah kamu ke sorga, dengan tiada rasa takut atau sedih."

Semoga kita semua bisa melatih diri kita menjadi orang yang selalu rendah hati, sehingga setiap pujian yang kita terima lebih membuat kita bertambah kagum kepada-Nya. Aamiin. *** Iswanti onetea03@yahoo.com Sebuah Kepergian Publikasi: 16/03/2005 07:58 WIB

eramuslim - Kali itu Abu Bakar mengasingkan diri ke dalam rumah. Ia mengunci pintu akibat murung dan sedih yang sangat. Sesuatu yang nyeri terasa menusuk ulu hati. Pada saat yang nyaris sama, di jalan-jalan semua orang justru hiruk pikuk akibat gembira. "Agama kita telah sempurna!" seru mereka, sumringah luar biasa. Hari itu Padang Arafah dilanda muram. Di atas untanya seorang lelaki di usia ke-63 terhenyak dikunjungi malaikat utusan. "Pada hari ini Aku (Allah) telah sempurnakan bagimu agamamu, Aku cukupkan nikmat-Ku untukmu, dan Aku rela Islam menjadi agamamu." Seayat wahyu terakhir telah disampaikan, dan Allah telah mengakhiri misi suci Jibril, sang penyampai firman. Islam telah mencapai puncak kesempurnaan. Kabar gembira lekas tersebar. Tapi tidak bagi seorang Abu Bakar. Tergesa-gesa sekumpulan sahabat mendatangi Abu Bakar, mencari sebab terciderainya hati. Ia menjawab, "Kamu semua tidak tahu bencana yang kelak menimpa kita. Apakah kamu tidak paham, bahwa bila telah sampai titik kesempurnaan, maka telah bermula sebuah kemunduran dan kemerosotan. Telah terbayang perpecahan yang akan menimpa kita, dan nasib Hasan dan Husein yang menjadi yatim, serta para isteri Nabi yang menjadi janda." Semua yang hadir tersentak oleh kesadaran yang datang tiba-tiba. Mereka kini paham, ayat itu menjadi isyarat sebuah kepergian. Dan sepenjuru Madinah lekas-lekas berubah, dari gembira menjadi gelanggang air mata. Cinta mereka yang tak berbatas kian menemui kedalamannya menjelang perpisahan. *** Menginjak milenium ketiga yang miskin solidaritas, krisis kepemimpinan, dan demoralisasi yang kronis, membuat sosok seorang Muhammad SAW, lelaki agung itu lebih serupa dengan mitos. Padahal, ia sosok yang nyata, dari kalangan manusia biasa. Sukar untuk membayangkan, seorang penguasa yang duduk di singgasana tikar belukar.

Ia menjadi yang pertama di antara orang-orang yang lapar, dan terakhir untuk mencapai kenyang. Bajunya ia tambal sendiri, tungkunya kerap tak berasap, dan biasa menyapu sendiri lantai rumahnya. Tak alpa, bersama 'Aisyah, sang isteri, ia sering dijumpai berlari pagi. Kewibawaan besarnya tak membatasi diri dari kesediaan melimpahi kemesraan mengagumkan. Sekali waktu iringan jenazah datang dari kejauhan. Muhammad SAW, berdiri dengan sikap penuh hormat. Ketika prosesi mendekat, seorang sahabat berujar memberi ingat, "Tapi, itu jenazah orang Yahudi!" Namun, sang Nabi tetap tegak. Lembut ia berucap, "Jika ada iringan jenazah lewat, berdirilah." Kini, semua orang memang harus belajar dari sebuah keteladanan tentang penghormatan terhadap semua sisi kemanusiaan--sejauh apapun perbedaan ras, golongan, dan bahkan, agama. Kemanusiaan yang sama tanpa batas. Ia mendampingi peristiwa kematian, bencana, kesedihan, dan juga, mungkin, kegembiraan. Kesadaran adalah matahari, demikian Rendra di suatu kali. Kesadaran seorang Muhammad, SAW, mewarisi benih yang indah tentang budi yang luhur--dalam pengertian reason dan moralitas. Sebuah Das Sein (realita) yang tak berbeda dari Das Sollen (idealita). Ia adalah kapital besar yang memiliki kesanggupan mengatasi benci dan amarah. Dalam prasangka-prasangka yang keruh, sisi kemanusiaan yang diajarkan sang Nabi menjadi sumber terang profetik yang melegakan. *** Ibnu Abbas mengisahkan. Menjelang wafatnya, Rasulullah memberi kesempatan pada semua yang pernah teraniaya olehnya untuk membalas. Seorang lelaki berdiri. 'Ukasyah ibn Mukhsin namanya. Ia bercerita bahwa dalam perang Badar Rasulullah pernah mencabuknya tak sengaja. Rasul pun memerintah Bilal mengambil cemeti di rumah Fatimah. Tapi itu tak cukup. 'Ukasyah menambahkan, saat itu pada badannya tak terlapisi kain sehelai benang pun. Maka sang Nabi pun menggelontorkan pakaian. Sebagian sahabat menjadi geram, dan sebagian lainnya menangis tak sanggup menatap orang yang dicintainya akan menerima cambuk. Tapi, sekelebat kemudian 'Ukasyah menubruk dan memeluk Rasulullah dalam tangis terisak, "Siapa pula yang tega hati meng-qishas engkau? Aku berbuat demikian hanya agar tubuhku dapat bersentuhan dengan tubuhmu." Cinta agape dipentaskan jaman. Demikianlah kisah sang Nabi yang mencintai ummatnya begitu dalam. Menjelang mautnya, ia tak berpikir tentang diri sendiri dan kebahagiaan menjumpai Sang Penguasa Akhir Zaman. Dari bibir lelaki itu Anas bin Malik hanya mendengar sebuah gelisah, "Ummatku, ummatku, ummatku..." ***

Anggi Aulina Harahap Danka_center11@yahoo.com Menjadi Pilar Publikasi: 15/03/2005 08:22 WIB

eramuslim - Bukan tak mungkin ada seseorang yang tak bisa menjadi pilar. Keberadaannya yang diharapkan dapat menjadi penyangga yang tangguh bagi atap di atasnya, dan juga mengokohkan tiap jengkal bahan baku yang menyelimutinya, adalah sia-sia bila si pilar tak bersedia untuk berdiri. Pilar itu adalah kekuatan. Bayangkan saja, ia harus berdiri tegak sepanjang bangunan itu ada. Bayangkan saja, bila sebuah pilar harus permisi dan mengundurkan diri barang sedetik, maka tak ayal bangunan itu harus rela kehilangan satu penopangnya dan perlahan menjadi rapuh. Mudah runtuh. Sebab, pilar adalah penahan segala dan penguat tegaknya. Pilar adalah kegagahan. Walaupun keberadaannya tertutup oleh lapisan batu, semen, cat, dan sekian banyak lagi yang menyembunyikan perannya. Ia pun menyendiri, walau tak mungkin pula hanya sebuah yang berdiri, namun tetap sepi. Sebab tegaknya yang gagah itu tak berada berhimpitan. Hingga tak heran, bila ia kesepian. Tugasnya seolah ia laksanakan seorang diri, padahal tak sedikit pilar-pilar lain yang merasakan hal yang sama. Tak semua orang bisa menjadi seorang pemimpin? Memang benar. Tapi ternyata tak juga semua bisa menjadi seorang anggota. Menjadi pemimpin yang memberikan instruksi dan perintah memang tak mudah, sebab ia pun harus mengatur dan mengendalikan sekian banyak orang di bawahnya. Tetapi, ternyata tak kalah sulitnya menjadi seorang yang tugasnya menjalankan perencanaan yang telah dibuat dan menguatkan barisan agar makin melangkah maju ke depan. Tak kalah sulitnya, bahkan untuk mengatasi sebuah kejenuhan akan tugas-tugas yang terasa membosankan, butuh sebuah kekuatan. Menjadi pilar, adalah menjadi penentu kuat rapuhnya sebuah bangunan. Bila ia enggan berdiri, maka tak mungkin lah bangunan tersebut dapat berdiri gagah dan indah. Bila ia bosan dan memutuskan untuk lari, maka bangunan itu akan kehilangan keseimbangan, goyah, dan bisa-bisa hancur rubuh terpecah-pecah. Jadi, bukankah menjadi sebuah pilar adalah menjadi sebuah kekuatan besar? Pilar yang tak gentar melawan hingar bingar cobaan yang menghajar, akan dengan setia menyandang sampai bangunan itu tak

diperlukan lagi ada. Namun pilar yang selalu kalut dan takut menghadapi angin ribut, akan dengan mudah minggir atau terpinggirkan. Setiap diri kita adalah seumpama sebuah pilar. Di manapun kita berada, pasti akan berhadapan dengan seseorang lain yang menjadi pemimpin dan bertugas mengarahkan gerak yang kita lakukan, juga bersinggungan dengan sekian aturan dan perencanaanperencanaan untuk setiap aktivitas keseharian. Di rumah, di jalan, di sekolah, di kampus, di tempat kerja.... Menjadi pilar adalah bertahan. Ketika pondasi yang terletak menginginkan kekokohan penyangga, ketika rangka dan bahan baku lainnya membutuhkannya sebagai penunjang terwujudnya keindahan, ketika atap yang menaungi tak mungkin terbentang tanpa ditopang olehnya. Dan harus tetap tegak walau tak disokong oleh kualitas kulit luar dan bahan baku yang baik, walau kian banyak keropos yang menggerogoti tubuh bangunan. Mengalami kejenuhan akan aktivitas keseharian yang lama-lama terasa monoton, adalah suatu hal yang biasa. Sukses mengatasinya dan tidak menyerah begitu saja terhadap kejenuhan, barulah luar biasa. Seringkali, seseorang yang tak memiliki daya tahan yang kuat terhadap rasa jenuh, memilih untuk pergi meninggalkan segala tugas-tugasnya atau rutinitas yang dirasa membosankan itu, untuk mendapatkan sesuatu hal yang baru. Bukan semata-mata untuk mencari sebuah tantangan, melainkan menyerah sebab tak menemukan cara untuk bertahan. Bila saja mau meluangkan waktu untuk mengasah diri ini menjadi lebih kreatif, maka tiap jenak kebosanan itu akan digantikan oleh berbagai ragam aktivitas lainnya, sebagai penawar. Menjadikan kegiatan-kegiatan sampingan selain aktivitas rutin, seperti mengikuti sebuah organisasi sosial dan melakukan aktivitas yang digemari, sebagai 'obat' bagi rasa jenuh yang selalu berusaha 'mematahkan' semangat diri kita untuk menyelesaikan tugas dengan baik. Bertahan sebagai seorang anggota dengan berbagai keterbatasannya memang tidak mudah. Diri kita akan dibatasi oleh berbagai aturan, sejumlah hak dan kewajiban yang harus dipenuhi, dan berbagai hal lain yang seakan mengekang kebebasan untuk berekspresi sekehendak hati. Tetapi, bukankah di setiap jalan kehidupan membutuhkan aturan untuk memastikannya berjalan lancar minim hambatan? Dan bukankah aturanaturan tersebut akan membantu anggota yang satu dengan yang lainnya agar mudah berkomunikasi dan bekerja sama? Menjadi sebuah pilar, tidaklah ringan sebab ia memegang peranan penting. Dan sesungguhnya setiap diri kita adalah seorang pilar bagi setiap komunitas kecil maupun besar yang kita masuki. Maka, seberapa kuatkah 'model' pilar yang kita mainkan bagi sebuah bangunan yang sedang kita topang? *** Untuk teman-teman tersayang dan diri sendiri dh_devita@yahoo.com

Titik Terakhir Publikasi: 14/03/2005 08:02 WIB

eramuslim - Adakah permasalahan yang membuat Anda gelisah, dan Anda tidak dapat tidur semalaman? Sedih, takut, kemarahan yang meluap-luap, itu semua sering memaksa kita susah tidur. Saya yakin setiap manusia dewasa pernah merasakan tidak bisa tidur semalam karena masalah-masalah itu. Tak terkecuali saya. Sayang, sering kali permasalahan yang membuat bola mata kita terus terjaga itu adalah permasalahan dunia : harta, wanita, saingan kerja, dan masih banyak lagi. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 3.00 pagi hari. Tapi matanya teramat jauh dari kantuk. Andai saat itu ada orang yang menjual rasa kantuk, tentu sangat mahal harganya. Sebenarnya ia biasa tidak tidur malam, karena malam-malam sebelumnya pun ia sibuk begadang. Tak jelas apa yang dikerjakannya? Namun malam ini lain, malam ini ia merasa bau kematian amat dekat dengan dirinya. Ya, saat itu ia sangat takut akan kematian. Ia sadar, penyebabnya ia baru saja berbuat dosa. Dosa yang ia tahu larangannya. Ia tidak menceritakan kepada saya dosa apa yang diperbuatnya. Baru pertama sepanjang hidupnya ia merasakan takut mati. Sehingga kasur empuk di kamarnya kosong ditinggal tuannya. Ia sibuk berzikir dan memohon ampun atas segala dosa-dosanya. Setelah sebelumnya ia shalat sunah dua rakaat. Ia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Airmata dan sajadah merahnya menjadi saksi pertaubatan itu. Azan subuh pun menggema, segera ia melaksanakan shalat berjamaah di mesjid samping kos-nya. Usai shalat subuh ia berzikir lagi di atas sajadah dengan warna yang sama. Tapi kali ini, ia menyerah. Kelopak matanya menutup, tak lama suara dengkuran halus muncul dari tengorokannya yang sedikit tersumbat. Ia tidak ingat lagi apakah benar-benar ia telah di jemput oleh kematian. Jam 8.00 pagi, alarm Casio di pergelangannya berbunyi. Ia tersentak dari duduknya, ia segera bersujud, bersyukur masih diberi kesempatan untuk merasakan hidup. Bersama matahari yang menerangi jendela kamarnya. "Betapa bodohnya aku saat itu!" "Memangnya kenapa?" saya balik bertanya. "Jika Allah mau, bisa saja Ia mengambil nyawaku saat berbuat dosa itu." *** Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya untuk sering-sering mengingat pemutus kenikmatan. Yaitu mati. Sahabat dan Tabi'in mereka adalah orang-orang besar yang gemar melakukannya. Bahkan mereka pun mengadakan majlis-majlis zikir yang oleh Muhammad Ahmad Rasyid disebut 'madrasah kematian'. Khalifah ke empat Ali Bin Abi

Thalib menaruh perhatian besar dalam masalah ini, pada suatu hari di masa kepemimpinannya, ia mengumpulkan rakyatnya di mesjid ibukota Kufah. Kemudian ia berkata: "Sungguh yang aku takutkan terjadi pada kalian hanya dua, panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Panjang angan-angan membuat lupa akhirat, sedang mengikuti hawa nafsu membuat orang menolak kebenaran." Atau dengarkanlah kata-kata indah seorang zahid Tabi'in 'Uwais Al Qarni, "Hendaklah kalian berbantal kematian ketika tidur, dan jadikanlah kematian penyangga tubuh ketika kalian berdiri. Hal paling nyata bagi orang-orang yang selalu mengingat kematian kata seorang ulama pergerakan DR. Abdullah Nashih 'Ulwan adalah ia akan merasakan manisnya iman. Karena dengan itu, ia akan berusaha terus menerus mengumpulkan bekal agar sampai ke negeri akhirat dengan selamat. Negeri yang di janjikan oleh pencipta jagat raya ini. Islam tidak melarang kita untuk kaya dalam hal dunia, bahkan itu dianjurkan. Karena kaidah agama ini adalah bekerja untuk dunia seakan kita hidup selamanya, dan beribadah untuk akhirat seperti kita akan menemui kematian esok hari. Kehidupan orang-orang terdahulu dari umat ini memberi kita warna lain, tidak ada habisnya untuk terus-menerus kita teladani. Abu Hurairah r.a seorang sahabat terkemuka perawi hadist Nabi, ketika menjelang wafatnya ia menangis tersedu-sedu. Seseorang bertanya kepadanya: "Apa yang menjadikan Anda menangis?" "Aku tidak menangis karena dunia yang kalian tempati ini, tetapi karena jauhnya perjalanan yang aku tempuh dan sangat sedikit bekal yang aku bawa. Sungguh aku akan berjalan di suatu tempat yang tinggi, turunnya di surga atau neraka. Sedangkan aku tidak tahu surga atau neraka tempat kembaliku?" *** "Anda di mana?" "Saya sedang di pemakaman Duwaiqah." Jawabnya singkat. Saya langsung berpikir, bahwa kawan yang bercerita di atas tadi sedang mencari hal-hal baru yang mengingatkannya akan kematian. Maka ia pergi ke pekuburan. Pekuburan yang setiap hari kami lewati dalam perjalanan ke kampus Al Azhar. Ada banyak cara untuk selalu mengingat kematian. Salah satunya pergi ke pemakaman, bayangkanlah saat kita di tandu dan pelan-pelan diturunkan ke liang lahat. Lain dari itu, kisah seorang tabi'in Rabi' Bin Khaitsam sungguh unik, ia menggali lubang kubur dan masuk ke dalamnya setiap hari, lalu mengingat-ingat penuh perasaan apa yang dilakukannya itu. Tapi, kita mungkin belum mampu untuk menirunya. Cukuplah saat-saat kita benar-benar sibuk, dan segala urusan telah melupakan kematian. Berhentilah sejenak, tarik nafas, dan

ingat bahwa semua yang Anda lakukan saat ini pasti ada akhirnya. Nafas yang tadi Anda tarik suatu saat akan berhenti tepat pada waktunya, saat itulah kita di jemput kematian. Putaran waktu dan roda-roda perjalanan adalah lembaran hidup yang sedang kita tulis. Kita akan menemukan banyak 'tanda baca' di sana. Yakinkan dalam hati, kita akan menemui titik terakhir. Dimana kita tidak bisa lagi menulis lembaran itu. Titik terakhir itu adalah kematian. Dan semua makhluk bernyawa tidak ada satu pun yang tahu kapan akan menemui titik itu. *** Negeri Para Nabi, 100305, M. Yayan Suryana gaizka_kaka@yahoo.com

Satu Pelajaran dari Pohon Kelapa Publikasi: 10/03/2005 09:44 WIB Sebuah pepatah dari Ranah Minangkabau berbunyi, "Alam takambang jadi guru". Ini bisa diterjemahkan bahwa alam semesta bisa berperan sebagai guru bagi kita, manusia. Dia mengajarkan kita akan banyak hal tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai hamba Allah. Alam semesta -salah satu wujud ayat kauniyah dari Ilahi- tidak tersurat seperti halnya ayat-ayat qouliyah yang kita baca dalam Al Quran. Pelajaran yang diberikannya tidak tertulis dalam bentuk jilid buku dan tidak pula disampaikan pada suatu komunitas belajar, tapi berupa hikmah tersirat yang diperlihatkan melalui fenomena-fenomena alam.

eramuslim - Ada satu jenis tanaman yang menjadi khas di daerah pesisir. Rasanya keelokan alam pesisir belum lengkap tanpa kehadirannya. Dia adalah pohon kelapa, Si Nyiur melambai di tepi pantai. Selain memberi keindahan, sebenarnya kelapa punya keunggulan tersendiri. Untuk mengetahui itu, mari kita kenali lebih dekat. Ahli taksonomi mengklasifikasikan kelapa ke dalam kelas monokotil (tumbuhan biji berkeping satu) dan suku Palmae. Dengan demikian, ciri utama batang kelapa adalah tidak bercabang. Batangnya cukup kokoh dan luas penampangnya juga relatif besar.

Fakta inilah yang membuat batang kelapa menjadi pilihan utama sebagai tiang rumah atau bahan konstruksi jembatan tradisional yang masih sering kita temui di pedesaan. Sekarang kita perhatikan bagian lainnya, yaitu daun. Ketika menghadiri resepsi pernikahan, kita sering melihat hiasan yang biasa disebut janur kuning pada gerbang gedung atau rumah tempat penyelenggaraan acara. Itu dibuat dari daun kelapa. Untuk menyambut hari raya atau acara besar lainnya, tidak jarang kita menemukan ketupat sebagai salah satu hidangan. Kemasan ketupat itu pun dianyam dari daun kelapa. Selain itu, para perangkai bunga juga sering menggunakan daun kelapa untuk melengkapi kesempurnaan kreasinya. Tunggu dulu, masih ada bagian dari daun yang sering kita gunakan, lidi. Dalam keseharian, lidi bisa dijumpai sebagai tusuk sate, sapu lidi, ataupun sebagai salah satu bahan untuk membuat prakarya. Beralih ke buah. Siapa yang tidak pernah merasakan segarnya es kelapa muda? Bahan bakunya adalah air dan daging buah dari kelapa yang masih muda. Dengan menambahkan es, susu, sirup, biji selasih, ataupun bahan makanan lain, kita bisa menghidangkan minuman yang nikmat ini. Di samping itu, air kelapa juga bisa diproses menjadi nata de coco atau ditambahkan ke dalam adonan cabe yang sedang digoreng untuk mendapatkan sepiring dendeng balado yang lezat. Daging buah dari kelapa yang sudah tua bisa diparut kemudian diperas untuk mendapatkan santannya. Santan ini bisa digunakan sebagai salah satu bahan baku makanan dan bisa juga diolah menjadi minyak kelapa. Ampas dari perasan parutan kelapa tadi dapat digunakan untuk membersihkan lantai semen supaya lebih mengkilap. Masih bagian dari buah, yaitu tempurung kelapa. Bagian ini bisa digunakan untuk membuat vas bunga, jepitan rambut, dan aneka kerajinan tangan. Bisa juga diolah menjadi arang yang dipakai untuk membakar sate atau sebagai sumber panas pada setrika tradisional. Tempurung kelapa ini bahkan juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan katalis sebuah reaksi hidrogenasi pada industri petrokimia. Masih ada lagi, sabut kelapa! Lihatlah, dengan memintalnya kita bisa memperoleh seutas tali tambang yang kuat. Untuk menyalakan perapian, kita juga bisa menggunakan sabut kelapa ini bersama pelepah daun kelapa dan kulit terluar buah kelapa. Subhanallah! Betapa mengagumkan si kelapa ini. Setiap bagian kecil tubuhnya pun bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Uraian di atas hanyalah sedikit bukti manfaat kelapa bagi manusia, belum termasuk kegunaannya bagi hewan dan tumbuhan lain. Perjalanan waktu selanjutnya akan melahirkan bukti-bukti lain betapa bermanfaatnya makhluk Allah yang bernama kelapa ini. Dan sadarilah, ini pelajaran penting yang diberikan kelapa kepada kita, yaitu menjadi makhluk yang bermanfaat banyak bagi makhluk lain.

Teman, Allah SWT menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (ahsani taqwim). Masing-masing kita dikaruniai keunikan yang dijadikan modal untuk bergelut di lahan yang diminati. Yang patut digarisbawahi, bagaimanakah kita menggunakan semua titipan-Nya itu selama ini? Memang, kita mungkin tidak pernah menyia-nyiakan semua pemberian-Nya itu. Kita bahkan selalu bekerja keras untuk menggunakan semua potensi yang kita miliki itu seoptimal mungkin. Namun, seringkali kita memanfaatkannya untuk menghasilkan karya-karya yang hanya berorientasi pada diri sendiri. Tak jarang kita hanya berkutat dengan kepentingan diri sendiri dan merasa tidak perlu untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kemaslahatan orang banyak, apalagi untuk alam semesta dalam skala yang lebih besar. Bukankah Allah SWT berfirman, "Dan tidaklah kamu diutus melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam" (QS. Al Anbiyaa [21] : 107) Menjadi rahmat bagi semesta alam adalah peran yang diamanahkan oleh Allah kepada seluruh manusia. Dan Allah takkan memberi amanah tersebut jika kita tak mampu melaksanakannya. Masing-masing kita sebenarnya sudah dibekali-Nya modal dan potensi untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi makhluk lain. Entah itu berupa harta, tenaga, ilmu, pikiran atau yang lainnya. Dengan izin-Nya, semua itu bisa kita kelola supaya memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi makhluk yang lain. Renungkanlah perkataan Sayyid Quthb ketika ia menghadapi kematiannya di tiang gantungan, "Kebahagiaan yang sesungguhnya aku rasakan adalah ketika aku merasa yakin bahwa aku telah meninggalkan sesuatu yang berharga bagi penerusku". Perkataannya bukan tiada bukti. Lihatlah, begitu banyak orang yang memperoleh manfaat banyak dari karya-karyanya, terutama Tafsir Fi Zhilalil Quran yang kerapkali dijadikan rujukan untuk mendalami Islam. Ingatlah Asy-Syahid Yahya Ayyash, sang insinyur elektro kelahiran Rafat, Palestina. Dengan kecerdasannya, lulusan Universitas Beir Zeit ini mampu merakit bom yang susah dicari tandingannya. Bisa dikatakan bahwa ia adalah otak di balik aksi bom syahid HAMAS. Semangat jihadnya yang menggebu-gebu memberi dukungan psikologis yang besar untuk rekan-rekan seperjuangannya. Pada waktu syahidnya 5 Januari 1996 silam, Palestina menangis. Diperkirakan seperempat juta rakyat Palestina turun ke jalanan menyusun iring-iringan sepanjang 40 km untuk mengantar jenazahnya. Mereka tentu tidak akan merasa kehilangan sampai seperti itu jika sepak terjang sang insinyur tidak memberi arti yang sangat penting bagi perjuangan mereka. Dan teladanilah Rasulullah SAW. Penduduk Makkah tidak akan melupakan solusi jeniusnya ketika meletakkan Hajar Aswad kembali pada tempatnya setelah perbaikan Ka'bah. Pertumpahan darah antar kabilah Quraisy terhindarkan. Bukan hanya itu! Gelar Al Amin juga membuat tetangga sekitarnya mempercayakan harta mereka kepada beliau untuk dijaga. Kepiawaiannya dalam memimpin tidak hanya dirasakan oleh ummat Islam, tapi juga oleh orang beragama lain yang merasa nyaman dengan kebijaksanaannya.

Menjelang akhir hayatnya, beliau masih sempat berpesan pada istrinya, Aisyah ra. untuk menginfakkan uangnya yang berjumlah 7 dinar kepada fakir miskin di kalangan Muslimin. Dan sampai saat ini, segala perilakunya dijadikan contoh teladan bagi kita semua. Saudaraku, Hidup sebagai manusia adalah sebuah takdir. Tapi menjalani hidup yang bermanfaat bagi orang lain adalah sebuah pilihan. Bukanlah sembarang pilihan, tapi pilihan yang sangat disukai Allah. Kita-lah yang memilih apakah kita hanya akan berjibaku dengan diri sendiri atau memiliki orientasi yang diridhai-Nya, yaitu menjadi rahmat bagi semesta alam. Kita juga yang menentukan jalan penggunaan tenaga, harta benda, ilmu, pikiran, dan nikmat-nikmat lainnya sebagai sesuatu hal yang bermanfaat banyak, tidak hanya untuk diri kita, tapi juga bagi orang lain dan lingkungan sekitar. Dan tidakkah kita berkeinginan untuk masuk ke dalam golongan terbaik dari ummat Nabi Muhammad SAW? "Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim) Kalau kelapa saja bisa memberi manfaat banyak bagi sekitarnya, apalagi kita, makhluk yang diciptakan-Nya dengan sebaik-baik bentuk? Allahu a'lam bish-showab, *** Sri Susanti Sri.Susanti@gmail.com Taktakan, 9 Januari 2005 Anugerah Hikmah di Balik Musibah Publikasi: 08/03/2005 08:41 WIB

eramuslim - Parno, begitu kami biasa memanggilnya, tetangga saya waktu kecil dulu. Dia lahir di tengah-tengah keluarga yang sangat sederhana. Anak ke empat dari enam bersaudara. Seperti kebanyakan anak-anak lain, hidupnya biasa-biasa saja. Sekolah dan bermain dilalui dengan suka cita bersama teman-teman sebayanya. Selepas pulang sekolah, bersama teman-temannya pula dia membantu orang tua mencari rumput di lapangan desa untuk seekor lembu yang dipelihara keluarganya. Setelah itu dia bermain bola atau layang-layang kesukaannya sampai sore.

Seingat saya dia anak yang tidak pernah absen pergi ke masjid sebelum adzan Magrib berkumandang dengan atributnya yang khas, sarung batik sedikit kedodoran dan peci yang agak kebesaran. Pulang selepas Isya. Waktu antara Magrib dan Isya dilaluinya untuk belajar membaca Al quran atau hanya dihabiskan dengan bermain petak umpet di halaman masjid yang luas. Malang tak dapat di tolak untung tak dapat diraih. Jika Allah sudah berkehendak tak ada satupun manusia yang bisa berdalih. Hidupnya jadi luar biasa ketika tiba-tiba sebuah musibah menghampirinya. Umurnya 12 tahun waktu itu. Pada suatu malam di bulan Ramadhan telapak tangan kanannya hancur karena petasan yang dinyalakannya. Dengan berbekal uang seadanya segera dia dilarikan oleh kakak tertua dan bapaknya ke rumah sakit di kota. Satu bulan, dua bulan lukanya tak kunjung mambaik. Bau yang menyengat menandakan lukanya sudah mulai membusuk. Seiring dengan berjalannya waktu, pembusukan mulai merambat ke atas. Teman-temannya mulai mengejeknya dengan memanggilnya si bacin yang dalam bahasa Indonesia berarti busuk, bahkan ada yang tidak mau bermain lagi bersamanya. Beberapa kali saya melihat dia berlari sekancang-kencangnya ketika hinaan temannya sudah kelewatan. Dia selalu berusaha untuk tidak menumpahkan mendung di matanya di depan teman-teman yang mengejeknya. Hingga pada akhirnya dia sama sekali tidak mau sekolah lagi kerena merasa malu meskipun guru dan kepala sekolahnya berkali-kali datang membujuk. Diantara keterbatasan akan biaya, untuk menghindari semakin meluasnya pembusukan di tangannya, akhirnya orang tuanya setuju dilakukan amputasi sebatas siku. Sedih sekali ketika dia tahu satu tangannya telah hilang. Bahkan dia sempat mengamuk meminta tangannya dikembalikan seperti semula. Dengan perlahan orang-orang di sekitarnya membesarkan hatinya yang terguncang hingga akhirnya dia bisa menerima keadaan meskipun terpaksa. Setelah sembuh, dia kembali lagi bersekolah karena usaha keras dari orang-tua, saudara, guru dan teman-teman yang berusaha membujuknya. Terbayang bagaimana dia berusaha mengoperasikan tangan kirinya untuk mengerjakan semua tugas tangan kanannya yang sudah hilang. Menulis, makan, menyabit rumput dan lain sebagainya. Terbayang bagaimana dia pertama kalinya melangkahkan kaki ke sekolah hanya dengan satu tangan, hampir semua mata memandang satu tangannya yang telah hilang. Dan bagaimana dia menyiapkan hati untuk mendengar ejekan teman-temannya. Seiring dengan berjalannya waktu, dia berusaha bangkit kembali membangun rasa percaya diri yang terkoyak oleh keadaan. Ejekan teman-temannya yang memanggil namanya dengan buntungpun tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar dan berusaha. Prestasi akademisnya tidak berubah, masih tetap ranking satu di kelasnya hingga tamat SD. Seperti kakak-kakaknya yang lain, setelah tamat SD diapun tidak berencana melanjutkan sekolah ke SMP karena keterbatasan biaya. Namun salah satu guru SD-nya yang bisa

membaca potensi yang ada dalam dirinya meminta ijin kepada orang tuanya untuk membiayai sekolahnya di kota. Dia juga dikirim ke Rehabilitation center (RC), yang menangani anak-anak cacat, di kota Solo. Di RC itulah dia menemukan dunia baru, keluarga, orang tua, guru, saudara dan teman-teman senasib. Bermain, belajar, olahraga dilakukan dalam kebersamaan. Saling membantu dan menguatkan disaat masalah melanda dan ketika krisis percaya diri menghampiri. Ejekan, cemoohan, cibiran dan pandangan sinis akan kecacatan dirinya menjadi santapan sehari-hari, yang semakin mencambuk semangatnya untuk terus berusaha. Terbukti rangking pertama di sekolah masih terus dipegangnya. Masalah serius timbul ketika kelas satu SMA di akhir semester pertama. Entah karena apa, orang yang selama ini manopang hidupnya tidak bersedia lagi membantunya. Otomastis setelah itu tidak ada lagi yang membiayai hidupnya. Dia berencana bekerja sepulang sekolah. Keluar masuk toko, bengkel dan restoran mulai dijalaninya untuk mendapatkan pekerjaan. Tapi mana ada orang yang percaya dengan hasil kerja seorang anak bertubuh kurus yang hanya mempunyai tangan satu seperti dirinya. Semua menjawab "Sedang tidak butuh tambahan tenaga" atau "Tidak ada lowongan kerja". Untuk minta pada orang tuanya tak mungkin dilakukan. Sawah satu petak yang dijadikan tumpuan harapan hidup sekeluarga sudah terjual separohnya untuk biaya amputasi tangan kanannya. Dalam kepasrahan, pada Yang Kuasa dia berdoa. Mohon diberikan jalan untuk mengatasi persoalan hidupnya. Di batas ambang putus asa, dia bercerita pada seorang teman baiknya di sekolah, mengutarakan niatnya untuk pulang ke kampung kembali kepada orang tua dan saudara-saudara yang dicintainya, meninggalkan sekolahnya. Dia ceritakan juga masalah yang sedang menghimpitnya. Sungguh Allah Maha Pengatur atas segalanya. Hanya selisih tiga jam sejak dia bercerita, tiba-tiba temannya tadi datang menemuinya di rumah kos, tidak jauh dari RC. Mengikuti langkahnya seorang laki-laki setengah tua berbadan tegap yang akhirnya diketahui sebagai penyelamat masa depannya. Seorang pengusaha kaya yang tidak lain adalah bapak dari sahabatnya itu. Sujud syukur tanpa ditunda dilakukannya. Tak kuasa menahan haru di hatinya hingga butir-butir bening menetes dari kedua sudut matanya. Segera dia jabat dan cium tangan kedua laki-laki di hadapannya. Tak ketinggalan dia sampaikan rasa terimakasih yang teramat sangat atas kebaikannya. Begitulah. Hingga akhirnya dia lulus dari SMA dengan nilai yang sangat memuaskan. Masuk perguruan tinggi negeri favorit di kota Yogykarta tanpa tes. Proses untuk mendapatkan gelar sarjana dilaluinya dengan lancar, hampir tidak ada hambatan yang berarti. Cemoohan, ejekan dan cibiran berganti dengan decak kagum akan prestasi yang diraihnya. Selepas kuliah, setelah melewati jalan yang berliku, akhirnya dia diterima bekerja di salah satu perusahan swasta di kota kami. Sekarang dia tahu kenapa Allah mengambil kembali tangan kanannya hingga dia bertemu orang-orang dermawan yang

menghantarkan langkahnya mengejar masa depan. Sudah saatnya dia menikmati buah atas penderitaan dan usaha kerasnya selama ini. Memetik hikmah atas musibah yang telah menimpanya. Kini dia menjadi tumpuan hidup keluarga, Bapak, ibu, adik-adik dan seorang kakaknya yang sudah menjanda beserta anak tunggalnya. Dia juga yang menanggung biaya sekolah adik-adik dan keponakannya. Ada satu keinginan yang belum didapatkannya, anak yang banyak dari istri yang setahun lalu dinikahinya. Kepada mereka akan diajarkan bagaimana cara bersyukur, menghargai dan menghormati orang lain tanpa melihat status sosial dan juga kelengkapan fisik. Bukankan Allah Yang Maha Penyayang tidak pernah membeda-bedakan umatnya hanya karena hal tersebut. Hanya iman di dadalah yang membedakan kita di mataNya. *** Fitri Budiadi fitribudi@yahoo.com Ia yang Selalu Berbagi Kasih Publikasi: 07/03/2005 08:26 WIB The origin of the child is a mother and is a woman. One shows a man what love, sharing and caring its all about Asal mula seorang anak adalah seorang ibu yang juga merupakan seorang wanita, seseorang yang mengajarkan seorang anak manusia tentang makna kasih sayang, sosok manusia yang senantiasa membagi dan menjaga seluruh kasihnya.

eramuslim - Untaian kalimat yang kubaca dalam sebuah majalah sekitar delapan atau sepuluh tahun yang lalu itu masih terpatri dalam ingatan meskipun aku sudah lupa siapa wanita yang mengucapkannya. Kalimat itu kuanggap penting karena kalimat singkat itu telah mengajarkanku betapa berartinya sosok seorang ibu. Keberartian sosok seorang ibu juga telah berulang kali digambarkan dalam beberapa buah hadits. Sebuah hadits Muttafaq Alaihi menggambarkan situasi pada saat Asma' binti Abi Bakar R.A menanyakan perihal kedatangan ibunya yang masih musyrik pada masa Rasulullah. Lalu Asma meminta petunjuk kepada Rasulullah seraya berucap, "Ibuku telah datang dengan penuh harapan kepadaku, apakah aku harus menyambung hubungan

dengan ibuku itu?" Beliau menjawab, "Benar sambunglah hubungan dengan ibumu!" Pada suatu ketika pernah datang kepada Ibnu Abbas R.A seorang laki-laki dengan mengatakan , "Aku telah melamar seorang wanita, tetapi wanita itu menolak untuk menikah denganku. Lalu dia dilamar oleh laki-laki lain dan dia senang untuk menikah dengannya, kemudian aku cemburu dengannya dan membunuh wanita itu. Apakah aku masih dapat bertaubat?" Beliau bertanya, "Apakah ibumu masih hidup?" Dia menjawab, "Tidak!" Selanjutnya beliau mengatakan , "Bertaubatlah kepada Allah Azza wa Jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya semampu kamu!". Atha' bin Yasar berkata, "Hadits ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas" lalu aku menemui Ibnu Abbas dan bertanya kepadanya, "Mengapa engkau menanyakan mengenai hidup ibunya?" Ibnu Abbas pun menjawab, "Sesungguhnya aku tidak mengetahui suatu amalan yang lebih dekat dengan Azza wa Jala selain berbakti kepada ibu" (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad). Seorang psikoanalis barat bernama Erich Fromm pun tidak melepaskan pembahasan tentang cinta kasih ibu dalam beberapa bagian bukunya. Ia dengan indahnya mengungkapkan bahwa cinta ibu adalah peneguhan tanpa syarat terhadap hidup dan kebutuhan seorang anak. Cinta ibu akan mengajarkan tentang makna pemeliharaan dan tanggung jawab yang tentunya sangat penting bagi kelanjutan hidup dan perkembangan anak. Cinta ibu pulalah yang akan menanamkan rasa syukur pada Tuhan dalam diri setiap anak atas kehidupan yang diterimanya, atas jenis kelaminnya, dan atas kelahirannya di muka bumi. Rasa syukur setiap anak tersebut pada akhirnya akan membuat ia mencintai kehidupan dan bukan hanya berkeinginan untuk tetap hidup. Ibu seringkali dilambangkan sebagai tanah atau alam, oleh karena itu muncul istilah, mother land atau mother nature. Hal ini terjadi karena ibu adalah sosok yang subur seperti halnya tanah dan alam yang menawarkan kelimpahan susu dan madu. Susu merupakan simbol pemeliharaan dan peneguhan kasih ibu. Sedangkan madu melambangkan kecintaan dan kebahagiaan dalam kehidupan. Banyak ibu yang dapat memberikan susu pada anak-anaknya, namun hanya sedikit yang mampu memberikan madu. Untuk dapat memberikan madu, seorang ibu tidak hanya harus menjadi ibu yang baik, namun harus menjadi sosok pribadi yang penuh kasih sayang. Yakni sosok perempuan yang lebih berbahagia dalam memberi dibandingkan menerima, serta sosok yang betul-betul kukuh berakar pada eksistensinya. Sehingga ia tidak lagi menginginkan apa-apa untuk dirinya sendiri. Al-Quran juga telah mengingatkan keutamaan ibu dengan menggambarkan penderitaan yang dirasakannya dalam dua periode kehidupan (mengandung dan menyusui). "Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku kamu kembali." (Luqman:14)

Cinta kasih ibu memang sulit untuk dicapai, karena cintanya yang bersifat sangat altruis dan tanpa syarat. Cinta dalam keadaan di mana satu pihak memerlukan segala bantuan dan pihak lainnya memberikan segalanya. Namun ketulusan dan kesabaran ibu dalam mencintai semua anak-anaknya telah membuat cintanya dikategorikan sebagai jenis cinta yang tertinggi dan sebagai suatu ikatan emosional yang paling luhur. Dan jika saja ada yang bertanya apakah yang ingin kusampaikan pada ibu, mungkin penggalan kalimat dari Gus TF Sakai, seorang penulis dari Sumatera Barat ini dapat sedikit mewakili perasaanku "...Bu kupandang hidup ini dari segala sesutu yang pernah kudengar dari mulutmu. Kuterjemahkan ia dalam langkahku, dan kususun dalam barisbaris kalimat di mana aku belajar memahami sesuatu. Sesuatu yang harus kutemui dan yang bisa mengantarkanku, bukankah begitu?..." *** Sri Rahayu Special for my dearest mother Resolusi Publikasi: 04/03/2005 10:40 WIB eramuslim - Saya punya kebiasaan baru saat bangun pagi hari. Mengambil selembar (atau berlembar-lembar) Post It, menulisinya dengan kalimat pendek dan menempelkannya di lemari kayu, di sebelah kepala tempat tidur saya. Kertas berwarna kuning itu cukup mencolok dengan tulisan tangan menggunakan pulpen warna warni dan ber-glitter. "No more complaining on every thing!" "No more telling every body about your misery!" "Staying cool in any situation!" Aha, tiga kalimat itu sudah beberapa hari bertengger disana dan saya senang membacainya kembali setiap kali. Kalimat-kalimat itu menjadi resolusi harian saya, yang saya usahakan pegang kuat-kuat dan semaksimal mungkin saya laksanakan. Resolusi. Apa sih artinya? Selama ini kata ini tersebut lebih kita kenal sebagai sebuah istilah untuk sikap resmi yang diambil badan dunia PBB terhadap situasi dunia atau negara yang diawasi PBB. Menurut Concise Oxford Dictionary, Resolusi atau resolution adalah a firm decision that is a formal expression of opinion or intention agreed on by a legislative body. Hmm, tidak jauh beda. Tapi dalam banyak hal, resolusi biasa digunakan sebagai istilah personal yang dapat kita terapkan bagi diri kita pribadi untuk mendapatkan suatu capaian tertentu. Biasanya resolusi dibuat saat tahun baru, ulang tahun atau momen-momen khusus lainnya. Namun bisa juga dibuat resolusi harian. Misal, "tahun ini saya harus Lulus dengan rata-rata nilai A". Atau "Saya tidak akan merokok lagi hari ini". Dan saya lebih suka menggunakannya untuk membuat resolusi harian, terutama untuk menghentikan kebiasaan/karakter negatif.

Pagi kemarin resolusi saya adalah "No more complaining on everything" karena selama ini saya sering mengeluh dan menggugat banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan saya. Setiap kali saya mulai mengeluh, saya teringat dan diingatkan oleh resolusi itu sehingga saya berhenti mengeluh. Pagi yang lain resolusi saya adalah "stay cool ini any situation" karena selama ini saya gampang sekali panik jika ada hal yang tak beres. Resolusi itu mengingatkan saya untuk tetap bersikap kalem dan tenang meskipun ada masalah besar di depan mata. *** Rasulullah mengajarkan kita untuk memuhasabah diri setiap malam atau kapan pun dalam kehidupan kita. Melihat mana yang buruk untuk ditinggalkan dan mana yang baik untuk dipertahankan dan ditingkatkan. Rasulullah juga menyatakan bahwa orang-orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia beruntung. Yang hari ini sama dengan kemarin maka dia merugi. Dan yang hari ini lebih buruk daripada kemarin maka dia terlaknat. Resolusi dapat kita tetapkan setelah kita memuhasabah diri. Dan insya Allah ia akan membantu kita tampil lebih baik hari dibanding kemarin. Pagi ini, tempelan di lemari kayu saya bertambah lagi: "Easy Going aja lah. Jangan terlalu serius menyikapi segala hal!" Aha, saya juga senang membacanya. Menyimpannya dalam benak dan berusaha memaksimalkannya. Resolusi itu saya tetapkan setelah seorang teman berkomentar saya terlalu serius dan mendramatisir masalah yang sebenarnya (mungkin) sederhana. Selamat mencoba memberi resolusi bagi diri sendiri! *** (Azimah Rahayu jelang makan siang) azi_75@yahoo.com Laksana Ragam Bunga Publikasi: 03/03/2005 07:48 WIB

eramuslim - Lihatlah betapa indahnya taman bunga. Beragam jenis warna dan bau wewangian ada di sana. Ada yang merah, putih, kuning, ungu, dan lain sebagainya. Ada pula yang besar namun banyak juga yang kecil. Semuanya mempesona untuk menghiasi dunia. Betapa Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan dengan menciptakan taman bunga justru dari beragam hal-hal yang berbeda. Berpadu menyemburatkan nuansa indah, menggoda mata untuk meliriknya.

Coba pula amati keindahan kuntum bunga yang sedang berkembang. Mekar mewangi menengadahkan kelopaknya ke langit. Dengarlah simfoni alam yang mengalunkan tasbih dan tahmid, tatkala bulir-bulir embun di ujung daun jatuh ke tanah. Rasakan juga kelembutan sinar mentari yang diselingi tiupan semilir angin. Indah... Semua begitu indah mempesona. Mengalunkan untaian senandung kesyukuran kepada Sang Pencipta. Hmm... Bukankah kehidupan kita pun laksana ragam bunga di taman? Penuh dengan segala fitrah perbedaan. Namun itulah yang membuat hidup ini menjadi penuh warna dan makna. Bahkan, mestinya sebuah perbedaan justru harus menjadi pelajaran. Tentang bagaimana kita menghadapi, dan memetik hikmah dari semua perbedaan yang terjadi. Namun sayang... Terkadang kita semua bukanlah laksana taman bunga yang dengan segala perbedaannya menimbulkan keindahan. Masing-masing kita seumpama sekuntum bunga yang ingin menyeruak sendirian. Berupaya agar kuntumnya saja yang terlihat cantik, indah dan menawan. Padahal, andaikan semua kuntum bunga itu mekar bersama, tentu akan menimbulkan keindahan yang lebih menakjubkan. Betapa di zaman sekarang ini umat Islam sedang dalam kehinaan, sedangkan kita masih saja larut dengan kesibukan mempermasalahkan perbedaan khilafiyah. Bahkan, tak jarang hingga melepaskan ikatan tali persaudaraan. Kadang kita pun lupa dengan saudara kita sendiri yang juga berjuang untuk kemuliaan Islam. Buruk sangka dan saling menjatuhkan, sehingga yang terjadi adalah perpecahan. Sesungguhnya, ide dan gagasan dakwah yang beragam itu adalah kekuatan. Semua akan menjadi sebuah gerakan terorganisir, rapih, solid dan militan yang Insya Allah mengubah kondisi ummat hingga tak ada lagi fitnah atas Islam. Menciptakan sebuah taman yang indah, dari beragam bunga, sehingga bukan kita saja yang menikmatinya. Namun, akan menjadi taman bunga yang mengundang semua orang dari segala penjuru dunia untuk bersama menikmati keindahannya. Bukankah seorang mujahid Islam, Hasan Al-Banna, pun pernah mengatakan bahwa perbedaan itu bukanlah suatu kemustahilan. Tetapi yang diharapkan, walaupun mempunyai kepentingan sendiri, jangan sampai menutupi kepentingan bersama untuk menegakkan qalam illahi di muka bumi. Antum ruhun jadidah tarsi fi ja-sadil ummah! Kita lah ruh dan jiwa baru itu. Yang mengalir di tubuh ummat, menghidupkan tubuh yang mati dengan Al-Quran. Siap menjadi anak-anak panah yang dilepaskan dari sebuah busur, pedang-pedang tajam untuk menebas musuh, atau laksana dahsyatnya butir peluru yang ditembakkan dan melaju.

Wujudkan seluruh kemampuan untuk kemuliaan Islam hingga jihad fi sabilillah menemui kita. Karena setiap dirimu pun laksana sekuntum bunga dari sekian banyak ragam bunga di dunia. Tumbuh dan mekarlah dengan khas wewangian-mu. Sirami selalu dengan aqidah dan akhlak terbaik, hingga tiba saatnya kita bersama menghiasi dunia ini dengan keindahan ajaran Islam. Kemenangan yang dijanjikan itu akan tiba, percayalah! Semoga tak akan ada lagi di antara kita yang merasa jamaahnya saja yang terbesar, paling benar, terbanyak pengikutnya atau telah banyak berbuat untuk Islam. Siapkan diri, rapatkan barisan, luruskan shaf, rajut ukhuwah Islamiyah di antara kita. Siapapun engkau, apapun namanya dirimu, jangan pedulikan. Karena yang terpenting kita semua adalah bunga-bunga Islam yang siap sedia menyebarkan wanginya ke segala penjuru dunia. Galang persatuan dan kesatuan, bersama tegakkan Al-Islam. Allahu Akbar! Wallahu a'lamu bish-shawaab. *** -Abu AufaBerjuang Melawan Nafsu Diri Publikasi: 02/03/2005 08:17 WIB

eramuslim - Beberapa waktu lalu, pembantu rumah tangga, sebelah majikan saya, disuruh pulang oleh majikan perempuannya. Padahal ia belum genap dua tahun bekerja di Brunei. Permasalahan yang saya dengar, dia menjalin hubungan asmara dengan majikannya yang laki-laki. Seminggu kemudian, seorang pekerja restoran, yang setiap hari saya kirimi mie, tidak kelihatan bekerja. Dari temannya saya tahu jika ia ternyata sudah pulang. Saya kaget lagi. Informasi selanjutnya yang saya peroleh, dia baru saja menggugurkan kandungan di sebuah rumah sakit. Dan tubuhnya terlalu lemah. Hingga akhirnya terpaksa ia pulang.

Rupanya selama bekerja di negeri orang, ia berpacaran lagi dengan seorang lelaki restoran sebelah. Padahal di rumah ia sudah punya suami dan satu anak. Terakhir, teman saya, seorang sopir di sebuah warung makan, terpaksa harus cepat-cepat kawin, karena perempuan yang dipacarinya sudah dua bulan tidak haid. Dan lagi-lagi, terpaksa, keduanya harus pulang ke tanah air. Belum lupa dengan tiga kabar tersebut, suatu malam, majikan saya memberi tahu, kabar yang dibacanya di koran memberitakan, polisi menangkap dua pekerja Indonesia. Mereka seorang lelaki dan perempuan. Keduanya tertangkap basah ketika sedang bercinta di suatu tempat. Satu persatu peristiwa-peristiwa yang menimpa sahabat-sahabat saya bermunculan. Dan itu akan terus disusul dengan berita-berita lain tentunya. Ada yang lucu, unik, tapi ada juga yang sangat serius jika kita lihat dari sudut pandang keimanan. Mengapa tidak? Seorang muslim, yang sedang merantau jauh ke negeri orang, ternyata harus terhempas oleh pernik-pernik nafsu setan. Akhir-akhir ini, saya sering mendapat surat, telepon dan juga email, dari sahabat, tetangga dan juga saudara-saudara saya. Mereka menanyakan pada saya bagaimana caranya bekerja di luar negeri. Atau beberapa teman malah ingin dicarikan kerja di Brunei, karena katanya di Jakarta gajinya hanya cukup untuk makan dan bayar kontrakan. Saya berusaha menerangkan kepada mereka dan sedikit memberi rambu-rambu. Sebab proses bekerja di luar negeri tidak seperti yang dibayangkan. Saya juga memberikan saran agar hati-hati berhubungan dengan PJTKI, atau orang-orang yang mencari tenaga kerja di kampung-kampung. Sebab jika tidak berhati-hati bisa terjerumus sendiri. Banyak sahabat-sahabat kami yang terlunta-lunta di perbatasan, karena ternyata visa kerjanya belum ada. Seperti di sebuah kota kecil di perbatasan Indonesia-Malaysia, Singkawang. Bekerja di luar negeri sah-sah saja. Mereka mungkin tergiur dengan kesuksesan tetangganya. Yang setelah bekerja di luar negeri mampu memperbaiki rumah, menyekolahkan anak, beli tanah dan bisa membeli kebutuhan lainnya. Sehingga kerja di luar negeri seolah sangat indah. Seperti indahnya sebuah gunung yang dilihat dari kejauhan. Atau mungkin karena betapa susahnya mencari penghidupan di sebuah negeri yang bernama Indonesia. Sebab bagi sebagian orang, seperti saya, bisa diandaikan seperti ayam yang sekarat di dalam lumbung padi. Permasalahannya, negeri yang makmur, kata para komponis lagu kebangsaan, negeri belahan sorga, kata Cak Nun, itu masih belum bisa memberikan semacam kesejahteraan pada sebagian rakyatnya. Sehingga mereka beranggapan, bahwa di luar negeri sedang hujan emas, sedang di tanah air sendiri sedang hujan batu. Dan tak lupa saya juga tekankan pada sahabat saya, jika proses medical check sudah selesai, bukanlah selesai segala-galanya. Ada sesuatu yang maha penting di samping kesehatan fisik, yaitu kekuatan iman. Sebab di luar negeri banyak godaan, seperti saya ceritakan di atas tadi.

Sebelum kita berjuang melawan hal-hal lain, seperti mungkin akan menemui majikan keras, mungkin gaji tak terbayar, job kerja tidak sesuai, atau masa kerja yang tidak sesuai dengan aturan buruh, maka hal terpenting yang harus diperhatikan adalah sejauh mana kekuatan iman untuk melawan diri sendiri. Kata Rasulullah, justru perjuangan melawan diri sendirilah yang terberat sebelum terjun ke kancah perjuangan yang lain. Bahkan lebih berat dari perang Badar. Saya bukan lagi sok alim. Atau sedang bergaya kesufi-sufian. Sama sekali tidak. Bahkan saya pun tentu masih belepotan dengan daki-daki dosa. Saya hanya tergerak dengan firman Allah: Bahwa kita harus saling mengingatkan dalam hal kebenaran dan kesabaran. Kenapa ini penting? Karena banyak sekali kejadian-kejadian di sekitar saya, yang intinya sebenarnya adalah lemah iman. Berbekal iman, saya yakin tidak akan rugi. Bahkan akan menuai keuntungan yang sangat besar. Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang yahudi, orang-orang nasrani, orangorang shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Al Baqarah 62) Sebab belum lama ini, saya juga mendapat suatu kejadian juga. Seorang teman, memberi saya nomor HP. Setelah saya hubungi, tenyata nomor itu milik seorang perempuan. Sebelum saya bicara banyak, ia telah nyerocos bicara terlebih dahulu. Ia menawari saya untuk jumpa di mana. Jam berapa. Ia siap bertemu kapan dan di mana saja. Dan terakhir ia juga siap diajak ke mana saja jika saya mau. Termasuk tidur bersama. katanya. Na 'udzubillahi mindzalik. Saya kaget. Pikiran saya menerawang. Ternyata di negeri yang orangnya hampir semua haji ini, ada juga praktek 'jual diri'. Selama ini saya tidak pernah membayangkan. Sebab memang tidak terang-terangan seperti di negeri saya, Indonesia. Sejurus, saya ingat kata-kata Umar bin Khattab: "Seandainya tidak ada akhirat, saya akan nikmati dunia ini sepuas-puasnya." Kalimat dari sahabat nabi yang gagah berani itu, seolah menyiram tubuh saya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tentu saja, kalimat itu sangat menyejukkan. Karena keluar dari seorang manusia yang roh imannya sudah begitu kuat. Sehingga menambah sedikit benteng pertahanan nafsu dunia saya. Maka kepada sahabat saya yang ingin kerja di luar negeri itu, saya menyarankan agar berlatih terus menerus untuk berjuang melawan diri. Melawan nafsu pribadi. Sehingga kelak setelah di luar negeri akan menang melawan siapapun. Apalagi hanya sekedar tawaran manis dari bibir-bibir perempuan. Sebab maaf-maaf saja, Depnaker maupun PJTKI, saat ini belum mengingatkan hal semacam itu. Kecuali hanya "Kuatkan Fisik

Anda Sebelum Kerja di Luar Negri". Itu saja yang terpampang di kantor-kantor Depnaker, maupun kantor-kantor PJTKI. *** Sus Woyo woyo72@yahoo.com (Sebuah catatan kecil untuk seorang sahabat yang ingin kerja di negeri seberang, Brunei Darussalam) Waktu Seperti Pedang Publikasi: 01/03/2005 08:16 WIB

eramuslim - Zaman semakin modern, banyak orang merasa sangat sibuk. Baginya, waktu adalah uang. Kontras dengan itu, tidak sedikit pula manusia yang menghamburhamburkan waktunya. Mereka memiliki motto: "Waktu muda hura-hura, waktu tua kaya raya, kalau mati masuk surga". Namun pandangan mereka mungkin akan berubah kalau saja mereka bisa meresapi makna sebuah sya'ir Arab yang menggambarkan karakter sang waktu: Al-Waqt ka al-saif. Fa in lam taqtha'haa qath'aka (Waktu laksana pedang, jika kamu tidak memanfaatkannya maka ia akan menebasmu). *** Waktu adalah salah satu dimensi dalam hidup manusia. Karakternya, waktu senantiasa berpacu secara cepat, tanpa terasa, dan tiba-tiba menghujam. Tidaklah heran mengapa masyarakat Arab mengkiaskan cepatnya waktu dengan kilatan pedang menyambar. Agar dapat meresapi cara mengatur waktu yang baik agaknya kita perlu belajar dari seorang ksatria mengenai teknik memainkan sebilah pedang. Saya teringat kisah kepiawaian sahabat nabi, Khalid bin Walid dalam bermain pedang. Begitu piawainya ia sampaisampai dijuluki Saifullah (pedang Allah). Suatu saat Khalid memimpin pasukan Islam bertempur sengit di Yarmuk (wilayah perbatasan dengan Syria) melawan pasukan Romawi di bawah panglima Gregorius Theodore. Berkat kepandaiannya bermain pedang, banyak pasukan musuh terbunuh. Lalu terjadilah sebuah peristiwa yang mengesankan. Gregorius ingin menghindari jatuhnya banyak korban di pihaknya dengan menantang Khalid untuk berduel. Dalam pertempuran dua orang itu, tombak Gregorius patah terkena sabetan pedang Khalid. Gregorius lalu mengambil sebilah pedang besar. Ketika

berancang-ancang perang lagi, Gregorius bertanya pada Khalid tentang motivasinya berperang dan kaitannya dengan Islam. Terkesan oleh jawaban Khalid, di hadapan ratusan ribu pasukan Romawi dan Muslim, Gregorius akhirnya menyatakan diri masuk Islam. Ia lalu belajar Islam sekilas, sempat menunaikan salat dua rakaat, bertempur di samping Khalid dan akhirnya mati syahid di tangan mantan pasukannya sendiri. Apa rahasia kesuksesan Khalid? Ternyata kepandaiannya mengibaskan pedang dilandasi dengan iman kepada Allah SWT. Akibatnya lawan yang berhasil ditebasnya hanya musuh-musuh Islam. Sama halnya dengan waktu, berbagai aktivitas untuk mengisinya perlu juga didasari dengan iman yang kuat sehingga menjadi amal shaleh. Sebuah pelajaran yang menarik, bahwa berbuat baik saja ternyata tidak cukup tanpa dilandasi dengan iman dan sesuai dengan syariat-Nya. Allah SWT pun sering mengingatkan manusia dalam berbagai firman-Nya mengenai pentingnya kedua kunci manajemen waktu tersebut. Bahkan dalam QS. Al-Ashr, Dia menambahkan dua kriteria lagi untuk menghindari kerugian yaitu saling nasehatmenasehati dalam kebaikan dan ajak-mengajak dalam kesabaran. Manusia yang bisa memanfaatkan karunia waktu secara fitrah akan mencapai kesuksesan seperti Khalid bin Walid. Namun jika manusia lengah barang sedetik pun, pedang lawan bisa menghunusnya dan berakhir dengan penyesalan. *** Sikap seorang Muslim terhadap waktu dapat diibaratkan dengan sikap seorang ksatria terhadap pedang andalannya. Semakin sering berlatih dan bertempur, maka ia akan semakin berpengalaman dan semakin berkualitas permainannya, akhirnya semakin sulit dikalahkan. Namun demikian menjadi ksatria andalan tidak menjadikannya terlena, lengah, sombong, dan mengurangi latihan. Justru sebaliknya, ia makin meningkatkan kewaspadaan dan tekun berlatih di waktu senggang agar selalu tangguh. Ia tidak segan-segan mengevaluasi dirinya agar kualitas permainannya terus teruji. Seorang ksatria yang berilmu padi justru mempergunakan kepiawaiannya sesuai dengan porsi yang dibutuhkan, mengikuti aturan yang digariskan-Nya untuk membela Diennullah. Itu semua ia lakukan karena sangat paham bahwa kepandaiannya akan dimintai pertanggung-jawaban oleh Yang Maha Kuasa di akhirat kelak. Sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan Mu'adz bin Jabal, "Tidak akan tergelincir (binasa) kedua kaki seorang hamba di hari kiamat, hingga ditanyakan kepadanya 4 perkara, usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya bagaimana ia pergunakan, hartanya dari mana ia dapatkan dan pada siapa ia keluarkan, ilmunya dan apa-apa yang ia perbuat dengannya." (HR. Bazzar dan Thabrani). Demikianlah, seorang muslim harus menyatukan sang waktu ke dalam jiwanya yang beriman sebagaimana pedang Khalid bin Walid yang berpadu dengan kemahirannya.

Bukankah motto hidup seorang muslim seharusnya adalah "Hayatuna kulluha 'ibadah." (Hidup seluruhnya untuk ibadah). *** Vita Sarasi vitasarasi@yahoo.com Morfelden-Walldorf, Jerman, 19 Februari 2005 Manusia-Manusia Malam Publikasi: 28/02/2005 08:34 WIB

eramuslim - Malam bagi sebagian orang yang merasakannya, ada nuansa tersendiri untuk jiwa. Dalam waktu dua belas jam itu segala aktivitas yang biasa terjadi siang hari terhenti. Dan ketika kegelapan menutupi jagat maha luas berdiameter 4,9 exp 9 pc ini, saat itulah keluar binatang malam pertanda dimulai kehidupan lain. Kehidupan malam. Saat terindah bagi sang zahid menghitung-hitung, dan menimbang-nimbang potonganpotongan kehidupannya. Pukul 15.30 menit waktu Kairo ketika ia dihubungi via SMS. Usai shalat Ashar di perempatan mesjid Rab'ah El Adawea. Fisiknya masih lelah, ia baru saja pulang kuliah. Tapi, percikan air wudhu tadi cukup memberinya kesegaran baru, dan shalat Ashar yang baru ditunaikannya menambah energi jiwanya. Sendi-sendinya kembali segar untuk melakukan aktivitas baru. "Nanti malam usai shalat Isya, kita bertemu untuk qiyamul lail" begitu bunyi SMS itu. Ia menghela nafas panjang. Sesaat memutar otaknya ke janji pertemuan yang lain. Ia teringat, tadi di kuliah ia bertemu kawannya satu grup sepak bola. Olah raga rutinnya setiap minggu. Kawannya itu mengajak bertanding di stadion Syabab, Abbasea. Dekat asrama internasional Al-Azhar. Sebuah stadion yang biasa disewakan kepada pelajar asing. Tawaran itu begitu menggiurkannya, karena akan bertanding di malam hari. Usai shalat Isya. Sesuatu yang belum pernah dirasakannya, bermain di bawah lampu tembak dengan ribuan watt. Selama ini hanya melihatnya di layar televisi, ketika ada pertandingan yang benar-benar bagus. Dan besok libur akhir pekan. Pikiran jernihnya lebih memilih untuk ikut acara perkumpulan itu. Acara yang sederhana, tapi dari sana ia menemukan kenikmatan seperti malam-malam yang lalu. "Main bola bisa lain waktu, yang ini lebih penting," gumamnya pelan menjawab protes hawa nafsunya untuk datang ke stadion.

Dalam ruang berukuran cukup luas itu berkumpul beberapa anak muda. Dari berbagai aktivitas dan hobi. Mereka duduk bersama, wajah-wajah mereka terlihat cerah. Seakan beban-beban siang yang menghimpit hilang begitu saja. Mereka akan menjumpai menitmenit yang mahal itu. Seseorang diantara mereka berkata halus, sepertinya yang mengetuai anak-anak muda itu. Ia mengutip perkataan Muhammad Ahmad Rasyid seorang da'i pergerakan dari Irak : "Sujud dalam mihrab, beristigfar ketika menjelang subuh, dan air mata saat munajat merupakan ketinggian yang harus dikumpulkan orang-orang yang beriman. Jika ada kecenderungan dengan gemerlap surga dunia berupa uang, wanita, atau sebuah istana yang megah. Ketahuilah, sungguh surga seorang mukmin itu berada di mihrabnya" *** Suatu waktu ia membaca kisah pemimpin besar yang dicatat sejarah. Biografi Al Faruq Umar Bin Khattab. Otaknya bertanya-tanya apa yang dilakukan lelaki tegas itu di waktu malam, disimaknya beberapa riwayat Umar dalam qiyamul lail. Seorang imam ahli tafsir Al Hafidz Ibnu Katsir berkisah tentang malamnya Umar: "Ia sholat Isya berjamaah, lalu masuk ke rumahnya dan melanjutkan shalat sampai waktu fajar tiba." Ia terdiam. Kagum, haru, dan dalam diam ia bertanya, sanggupkah aku menirunya? Umar sebagai kepala negara, suami, murabbi, dan ayah untuk anak-anaknya, masih menyempatkan diri untuk shalat malam. Ia yakin kesibukan dirinya bukan apa-apa dibanding kesibukan khalifah kedua itu. Ia belum puas, ia simak lagi riwayat lain. Umar pernah berkata kepada sahabat Mu'awiyah Bin Khadij-yang heran karena melihat dirinya jarang tidur: "Jika aku tidur siang hari maka aku akan menelantarkan rakyatku, dan jika aku tidur di malam hari aku menelantarkan diriku. Bagaimana aku bisa tidur dengan dua keadaan ini?" inilah jawaban sederhana dari sosok pemimpin besar, yang setan pun takut berjumpa dengannya. Pemuda ini pemimpin sebuah persatuan pelajar asing. Ia juga seorang yang mandiri dalam ekonomi. Masih muda, baru dua puluh dua tahun. Dengan antrian aktivitas yang panjang. Tapi ia selalu merasa bukan apa-apa. Bukan pujian dari orang-orang yang ingin ia terima karena sukses sebagai aktivis, atau sorak sorai penonton sepak bola saat ia mencetak gol. Bukan, bukan itu kemuliaan. Dulu memang ia sangat menikmati 'fasilitas dunia' itu, tapi ia merasa berjalan sendiri. Hampa seperti kapas yang ditiup angin. Ia merasa lemah untuk memimpin diri sendiri. Cukuplah ia merasa bahagia jika di malam yang gelap gulita ia terbangun, lalu mendirikan shalat untuk mengadukan segala kepenatan hidup. "Anda di sini juga?" tanyanya setengah percaya. Kawan yang disapanya itu adalah yang tadi mengundangnya bertanding sepak bola.

"Iya. Ini lebih penting." Sambil memutarkan pandangannya mengenali seluruh yang ada dalam ruangan itu. Ia merasa kecil sendiri. Malu. Pemuda-pemuda yang ada bersamanya sekarang adalah orang-orang yang kesibukannya lebih banyak darinya. Tapi mereka masih menyempatkan untuk datang. Seribu empat ratus tahun lalu Rasulullah SAW bersabda, "Kenikmatan seorang hamba Allah adalah ketika ia shalat di waktu malam." Dan katanya lagi, "Shalat yang terbaik adalah shalat Daud AS, tidur sampai pertengahan malam dan bangun di sepertiganya." Setiap muslim mengenal Nabi Daud AS, pemimpin kerajaan terbesar Bani Israel sepanjang sejarah. Kelak ia pun mendapat keturunan pemimpin besar yang rakyatnya bukan saja manusia, namun dari bangsa Jin dan binatang-binatang patuh kepadanya. Seorang Nabi juga, Sulaiman AS. Lamat-lamat dalam keheningan malam di temani bau debu gurun dan samar cahaya rembulan, terdengar seseorang melantunkan Ayat Quran. "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan-nya. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)." (Adz Dzariyat 15-18) *** Seribu Menara, 250205 M. Yayan Suryana,gaizka_kaka@yahoo.com Untuk siapa saja yang pernah 'kehilangan' malam. Saat Bintang Meredup Publikasi: 25/02/2005 08:20 WIB Bukan karena ku berubah lemah, Saat aku menangis di pangkuanmu ibu Bukan pula ku jadi pengecut, Saat aku adukan semua kesal dalam dadaku Bukan pula ku tlah munafik, Saat aku tak mampu jadi pahlawan...

eramuslim - Benar apa yang dikatakan ustadz Anis Matta, tak selamanya pahlawan berkubang dalam keemasan di setiap detik hidupnya. Bahkan mungkin hanya ada satu momen besar dalam hidupnya. Sisanya... berkisar kesedihan, jatuh, tertekan atau mungkin hidup yang datar saja. Karena itulah manusia. Hamba yang diciptakan Allah

penuh dengan keluh kesah dalam hidupnya. Bila ujianNya berhasil dilalui layaklah dia menjadi bintang, atau paling tidak tergores namanya di sudut-sudut langit. Seorang penulis terkenal misalnya. Dengan lentik-lentik jemarinya yang menari diatas tuts keyboard komputer, dia bisa merayu manusia menuju kebaikan, dia mampu kobarkan semangat jihad para pejuang, bahkan diapun dapat meruntuhkan jiwa-jiwa pendosa. Tapi, suatu ketika kelak mungkin, dalam hidupnya hamba hadir cobaan hingga jiwa yang begitu tinggi di mata pembaca menjadi lemah di hadapan seorang teman sejati. Naifkah? Apakah kita hendak mengukur kehebatan pahlawan dari sisi manusianya? Bila kita memandangnya sebagai manusia, itu adalah sebuah kewajaran karena manusia adalah seorang hamba. Seorang yang kadar keimanannya bisa naik bisa turun. Apakah kita hendak mengukur kehebatan pahlawan dari sisi ilmunya? Bila kita memandangnya sebagai seorang ulama, itu adalah sebuah kewajaran karena ulama adalah manusia. Makhluk yang bernama manusia yang adalah seorang hamba. Dari sisi manapun pahlawan adalah manusia, hamba yang penuh dengan sisi-sisi kekurangan yang di bekali Allah Subhanallahu Wa Ta'ala sebagai saudara dari kelebihan. Begitu pula dengan kadar keimanan makhluk yang jiwanya ada diantara jemariNya, mudah berubah. Lalu, saat kita hendak mengadili bintang karena sinarnya yang tak lagi terang, sebenarnya sudah adilkah kita hingga pantas untuk mengadilinya? Saat cahaya bintang itu meredup mungkin kabut terlalu tebal melingkupinya hingga dia perlukan pundak seorang sahabat untuk meluruhkan mendung dalam hatinya. Ataukah bintang itu sebenarnya hanya butuh waktu bertapa sejenak dari kebisingan dunia hingga jiwanya kembali tersucikan setelah khalwat dengan pemilik cahaya abadi. Barangkali bintang itu sebenarnya ingin mengungkapkan semua rahasia tapi malu karena dia adalah bintang, hingga hanya goresan-goresan kalimat tidak jelas menghiasi buku hariannya. Di balik itu dalam Al-quran disebutkan bahwa setiap muslim adalah bersaudara. Atau ada ungkapan di balik lelaki yang sukses ada seorang istri yang hebat. Intinya semua hasil tidak bisa terwujud hanya karena satu, diri. Apalagi tanpa melibatkan pemilik semesta. Selain Allah Subhanallahu Wa Ta'ala, tempat memohon pertolongan dan berharap, hamba butuh seorang teman sejati yang mengingatkan ke mana harus berjalan menuju tempat pelabuhan hakiki. Sahabat sejati dapat berwujud suami/istri, orang tua, sahabat ataukah bahkan buku/ilmu. Merekalah penyelamat saat bintang tak mampu berdiri sendiri, saat lelah menyapa hingga saat kesedihan membunuhnya. Merekalah jiwa-jiwa yang diturunkah Allah sebagai Tangan-tanganNya yang penuh kasih.

...bukan karena apa ataukah apa hanya saja ini adalah masanya ... *** Fatiya Al qudsy Batu Aji, 20 feb 05 alqudsy_muhajirin@yahoo.ie

Dialektika Cinta Publikasi: 22/02/2005 07:57 WIB "Samudera kan ku sebrangi" "Gunung-gunung kan ku daki" "Belantara kan ku jelajahi" "Bara Api kan ku tapaki" "Tuk buktikan, Cinta ini padamu jua"

eramuslim - Inikah gerangan ungkapan sosok arjuna yang sedang mabuk kepayang dengan unga-bunga kehidupan bernama cinta? Kekuatan cinta senantiasa menjadi misteri, karena yang lemah tiba-tiba menjadi kuat, yang penakut tiba-tiba menjadi berani, yang bercerai-berai tiba-tiba menjadi bersatu dan yang tadi-nya mahal seketika menjadi murah. Inilah kekuatan cinta, ketika semua mata mengarah memandang, ketika suasana hati menjadi terwarnai, tidak mengenal negara dan bahasa, kekuatan cinta adalah milik semua. Ketika Aceh bergetar dan lautan meluap, segenap cinta pun tercurah, mengundang pejuang cinta dari berbagai pelosok bumi untuk menumpah ruahkan bahasa cinta mereka di bumi rencong.

Entah muslim dari Turki, Mesir, Saudi, Eropa, Pakistan, India, Amerika, Kanada, Malaysia dan pelosok lainnya , walaupun tak fasih mereka mengucap "Aku Cinta Kamu Karena Allah" (dalam bahasa indonesia) tapi cita rasa-nya tetap terasa, rasa-nya rasa cinta! Karena memang cinta tak melulu harus diungkapkan dengan verbal, terkadang lebih pekat rasa-nya jika cinta dibuktikan dengan amal. Gustav Le Bon, seorang filusuf dan ahli psikologis dari perancis menyimpulkan bahwa manusia pada umum-nya kesulitan mencerna sesuatu yang abstrak dibanding sesuatu yang nyata. Jadi, jika ungkapan verbal cinta adalah abstrak, maka amal cinta adalah nyata! Subhanallah wa Allahmdulillahi wa la Ilaha ila Allah wa Allahu Akbar!! Di ujung barat bumi pertiwi, Allah buktikan cinta-Nya dengan nyata, disyahidkan-Nya sekian banyak mujahid dan mujahidah da'wah. Dibuktikan cinta-Nya kepada para syuhada dengan jasad tetap terjaga rapih aurat-nya hingga bersamayam ke dalam lahat, ditebarkan wangi kesturi keluar dari jasad mereka, dan dibiarkan masjid-masjid itu tetap kokoh berdiri. Sebagai bukti cinta, bagi para pencari cinta sejati. Namun inilah yang disebut suka duka dalam bercinta, tak selama-nya cinta bersambut, terkadang hanya bertampuh di sebelah tangan, sebuah cinta yang tak berbalas, tak berbalas oleh bukti cinta. Sebuah ironi cinta. Entah mengapa cinta itu mudah terucap, ketika diperlihatkan kebesaran Allah, "Alhamdulillah, Subhanallah" semua bahasa verbal cinta menjadi teramat mudah terucap, namun sayang bukti cinta-nya tak kunjung ada. Hampa! layak-nya baris-baris jama'ah di masjid-masjid yang tersisa. Entah mengapa warung-warung kopi dan kedai-kedai mie goreng itu bisa menjadi lebih menarik, padahal seumur-umur kedai-kedai tersebut tak pernah mengungkapkan cinta kepada para pengunjungnya, apalagi hingga (mampu) membuktikannya. Rupa-nya cinta telah berlari ke lain hati, ironi cinta, cinta yang tak berbalas. Layak-nya dialektika cinta Syaikh Abdul Mu'iz Abdus Sattar, ketika beliau diutus Al Ikhwanul Muslimin pada tahun 1946 selama 2 bulan penuh ke Palestina untuk menyadarkan bahaya zionis bagi eksistensi muslim Palestina. Didapati oleh Syaikh Abdul Mu'iz kondisi Masjidil Aqsha yang senyap dari para pencari cinta, ketika situasi ini ditanya kepada para jama'ah, jawab mereka kepada Syaikh Abdul Mu'iz. "Sholat itu berat bagi mereka, tapi bila mereka diseru untuk berperang mereka pasti segera memenuhi seruan secepat kilat."

*** Renungan cinta yang tak pupus oleh waktu, "76 tahun berjalan sudah..." "59 tahun Indonesia mengisi kemerdekaannya" "57 tahun sejarah perjuangan Palestina" "20 tahun lebih bunga tarbiyah bersemi" "Aceh.... 6 tahun berjalan sudah..." "Sayang Aceh?... 2 bulan berlalu sudah" bagai dialektika cinta kekal Sang Khaliq kepada mahluk... "Mohonlah pertolongan dengan sabar dan sholat" (QS Al Baqarah: 45) *** Syamsul Bachri <syams at gmx dot de< Keep the spirit to help aceh ! Don't give up bro-sis ! Ishbir wastaqimu...! Take it or Lose it Publikasi: 21/02/2005 11:42 WIB Eramuslim-Dalam sebuah kelas pelatihan, saya mengambil selembar kertas polos kemudian menggunting-guntingnya menjadi beberapa bagian. Ada guntingan besar, ada juga yang kecil. Tapi jumlahnya sengaja saya buat tak sama dengan jumlah peserta dalam kelas itu, dua puluh orang. Kemudian saya meminta kepada peserta untuk mengambil masing-masing satu guntingan kertas yang tersedia di meja depan. "Silahkan ambil satu!" demikian instruksi yang saya berikan. Dapat diduga, ada yang antusias maju dengan gerak cepat dan mengambil bagiannya, ada yang berjalan santai, ada juga yang meminta bantuan temannya untuk mengambilkan. Dua tiga orang bahkan terlihat bermalasan untuk mengambil, mereka berpikir toh semuanya kebagian guntingan kertas tersebut. Hasilnya? Empat orang terakhir tak mendapatkan guntingan kertas. Delapan orang pertama ke depan mendapatkan guntingan besar-besar, yang berjalan santai dan yang meminta diambilkan harus rela mendapatkan yang kecil. Lalu saya katakan kepada mereka, "Inilah hidup. Anda ambil kesempatan yang tersedia atau Anda akan kehilangan kesempatan itu. Anda tak melakukannya, akan banyak orang lain yang melakukannya".

Pagi ini di kereta saya mendapati seorang wanita hamil yang berdiri agak jauh. Saya sempat berpikir bahwa orang yang paling dekat lah yang 'wajib' memberinya tempat duduk. Tapi sedetik kemudian saya bangun dan segera memanggil ibu itu untuk duduk. Ini perbuatan baik, jika saya tak mengambil kesempatan ini, orang lain lah yang melakukannya. Dan belum tentu esok hari saya masih memiliki kesempatan seperti ini. Soal rezeki misalnya, saya percaya ia tak pernah datang sendiri menghampiri orang-orang yang lelap tertidur meski matahari sudah terik. "Bangun pagi, rezekinya dipatok ayam tuh!" Orang tua dulu sering berucap seperti itu. Dan entah kenapa hingga detik ini saya tak pernah bisa menyanggah ucapan orangtua perihal rezeki itu. Saya percaya bahwa orang-orang yang lebih cepat berupaya meraihnya lah yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan rezeki yang lebih banyak. Sementara mereka yang bersantai-santai atau bahkan bermalas-malasan, terdapat kemungkinan kehabisan rezeki. Contoh kecil, datanglah terlambat dari jam kantor Anda yang semestinya. Perusahaan tidak hanya akan mengurangi gaji Anda akibat keterlambatan Anda, bahkan kinerja Anda dianggap minus dan itu mempengaruhi penilaian perusahaan terhadap Anda. Bisa jadi Anda tidak mendapatkan promosi tahun ini, sementara rekan Anda yang tak pernah terlambat lebih berpeluang. Saya sering mendengar teman saya berkomentar negatif tentang apa yang dikerjakan orang lain, "Ah, kalau cuma tulisan begini sih saya juga bisa melakukannya" atau "Saya bisa melakukan yang lebih baik dari orang itu". Kepadanya saya katakan, saya yakin Anda bisa melakukannya. Masalahnya, sejak tadi saya hanya melihat Anda terus berbicara dan tak melakukan apa pun. Sementara orang-orang di luar sana langsung berbuat tanpa perlu banyak bicara. Buktikan, jika Anda sanggup! Terus berbicara dan mengomentari hasil kerja orang lain tidak akan membuat Anda diakui keberadaannya. Hanya orang-orang yang berbuatlah yang diakui keberadaannya. Kepada peserta di kelas pelatihan tersebut saya jelaskan, simulasi tadi juga berlaku untuk urusan ibadah. Saya tidak berhak mengatakan bahwa orang yang lebih tepat waktu akan mendapatkan pahala lebih besar, karena itu hak Allah dan juga tergantung dengan kualitas ibadahnya itu sendiri. Tapi bukankah setiap orang tua akan lebih menyukai anaknya yang tanggap dan cepat menghampiri ketika dipanggil ketimbang anak lainnya yang menunda-nunda? Jika demikian, buatlah Allah suka kepada Anda. Karena suka mungkin saja awal dari cinta. Semoga. Bayu Gautama Janji untuk Ibu Publikasi: 18/02/2005 08:08 WIB

eramuslim - Pautan dua cinta yang terikat kuat antara ibu dan anak sepertinya takan pernah putus. Tetapi kekokohannya bukan tidak mungkin usang dan kendur. Dan selalu anak yang mengendurkan tali kasih itu. Ibu, rasanya terlalu mulia untuk dituduh mengusangkan kekokohan pautan cinta suci yang berakar di hatinya. Ibu tidak pernah mengumbar janji untuk menyayangi anaknya. Derai air mata dan cucuran peluhnya jauh lebih nyaring mengatakan "sayang" ketimbang janji manis atau bahkan omelannya ketika si anak berulah. Baginya cinta dan sayang selalu ada untuk anak-anaknya, hingga ia tak perlu lagi janji, karena janji hanya untuk sesuatu yang belum tersedia. Tetapi janji adalah suara sehari-hari yang sampai ke telinga seorang ibu dari mulut anakanaknya. Dan sering kali janji itu jauh lebih memekakan telinga daripada menjernihkan mata karena melihat bukti dari janji-janji itu. Seorang anak yang merasa sudah cukup sukses suatu ketika berucap janji kepada ibu yang disayanginya. "Ibu, kalau sudah punya cukup uang saya ingin sekali mengongkosi ibu dan ayah naik haji." Ibunya tersenyum. Dari ujung matanya kristal-kristal bening meleleh. Didekapnya buah hati yang memiliki niat baik itu. Tanpa suara. Hanya dadanya yang bergemuruh memikul haru yang begitu besar. Bayangan masa-masa kecil anaknya yang menyimpan banyak kenangan manis lalu pun hadir. Disusul bayangan kerinduan yang sangat untuk berziarah ke baitullah. Dalam hatinya ia berucap, "Semoga niat sucimu terkabul, sayang." Dan sebuah kecupan mendarat di dahi puterinya yang cantik itu. Waktu pun berlari menyisakan hitungan hari, hingga pada suatu saat keberuntungan berpihak pada puteri cantik pemilik niat baik itu. Bersama suami dan anak-anaknya ia kembali ke tanah air dari tugas dinas suaminya. Tentu di kantong keluarga kecil itu telah terkumpul cukup uang. Hal ini dipahami oleh sang ibu. Seketika hatinya berbunga menyambut kepulangan anak, mantu, dan cucunya. Namun meski demikian, pantang bagi si ibu untuk mengungkit janji yang pernah diucapkan puterinya tentang naik haji itu. Ia tak ingin selaksa amalnya terkotori oleh sedikit pun pamrih. Namun, puterinya yang cantik itu seperti lupa dengan janji yang diucapkannya. Seminggu, sebulan, dua bulan, dalam hati, seorang bunda menunggununggu anaknya yang mungkin akan memberikan buku ONH (Ongkos Naik Haji) atas namanya dan suaminya. Waktu pun berlalu tanpa suara, seperti tak berani janji kapan peristiwa itu akan terjadi. Hingga tibalah suatu hari, hati seorang bunda pecah dalam

diam ketika anaknya itu membeli sebidang tanah seharga tiga kali ongkos haji untuk dibuat kolam ikan dan tempat peristirahatan keluarga kecilnya bila pulang ke desa. Tak tahu sebesar apa gemuruh yang bergelombang di dada ibu, hanya dia yang tau, karena ia tetap tersenyum di depan semua anaknya. Tak terkecuali di depan puterinya yang cantik itu. Ia tak pernah menagih janji anaknya, bahkan sekedar mengungkit pun tidak. Tapi, entah isyarat apa ketika ikan-ikan di kolam anaknya tak pernah menghasilkan keuntungan. Rumah peristirahatannya pun menjadi hanya sebatas rumah kosong yang tidak banyak memberi manfaat. Lalu, entah isyarat apa ketika anak-anak yang lain yang ikut menggunakan uang anak perempuan ibu itu untuk berbagai usaha, tak satu pun dari mereka yang sukses. Alih-alih, sebuah kesalah-pahaman keluarga terjadi meretakan keharmonisan keluarga ibu yang diingkari janji itu. Entah isyarat apa. Apakah itu akibat sakit hati ibu karena anaknya sendiri telah mengingkari janji untuknya? Hanya "mungkin" jawabannya. Karena senyum ibu tidak pernah berubah untuk semua anaknya; do'a ibu tidak pernah berganti untuk semua buah hatinya, selalu untuk kebaikan; dan pangkuan serta pelukannya selalu terbuka untuk seluruh belahan jiwanya. Tapi apakah seorang ibu tidak bisa sakit hati? itu juga pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Karena ibu juga manusia biasa, tapi sangat luar biasa jasanya. Terlalu mahal semua jasanya untuk ditukar dengan janji-janji kosong. Mungkin kekebalan hati seorang ibu telah mampu menyembunyikan sepedih apapun sakit hatinya, namun Allah tetaplah Dzat yang Maha Adil yang telah mentakdirkan Rasul-Nya bersabda: "Keridhoan Allah ada dalam keridhoan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah ada dalam kemurkaan Allah." Mungkin lautan kasih sayang ibu terlalu dalam untuk sekedar menenggelamkan sebesar apapun kesalahan anak-anaknya hingga tak muncul kepermukaan. Tetapi sebagai anaknya, kita harus memahami sifat manusiawi ibu kita, bahwa beliau juga punya hati yang sakit jika tergores. Dan yang pasti Allah adalah Dzat yang Maha Adil, dan tidak pernah lupa dengan janji-janji yang tertuang dalam ajaran-ajaran Rasul-Nya. Jadi, berhati-hatilah memelihara janji yang pernah diucapkan di hadapan bunda. Wallahu a'lam. *** Zamzam M. Ma'mun <zetth_two at yahoo dot com> Seketika setelah mendengar teteh menjanjikan ongkos naik haji untuk Umi dan Apa. "Teh, Semoga Allah memberi taufiq untuk menepati janjimu pada Umi dan Apa." Berbeda itu Indah Publikasi: 17/02/2005 08:23 WIB

eramuslim - Saat engkau bertemu saudara yang berbeda rupa, kulit, bangsa ataupun bahasa apa yang engkau pikirkan? Apalagi dia berkulit hitam yang kalau tersenyum hanya gigi putihnya saja yang kelihatan? Tak perlu keluar negeri, di dalam negeri kita sendiri ada banyak yang berbeda bukan? Pertama mungkin kita berkata dalam hati "ah dia bukan asli sini" atau "bukan orang kampungku" dan sebagainya. Dan bila kebetulan berada di negeri orang yang notabene tempat berkumpulnya orang berbagai negara mungkin jadi " hmm bukan dari Asia, atau bukan Eropa, atau bukan Amerika, dan bla... bla..." kata bukan tadi berarti sudah menyebut suatu beda. Berbeda dari kita. Ya terus terang saya sering dibuat terkejut ketika malam-malam sedang asyik di depan komputer asrama tiba-tiba disapa seorang Kenya, ataupun Sudan "Haii... How are you!", pertama kali terus terang saya takut melihat wajah hitam mereka. Maklum, belum terbiasa mungkin. Hingga akhirnya saya pun bersahabat dengan mereka. Saya mengenal Kansly, Musa negro yang muslim, Shako yang baik hati dan otaknya cerdas, dan semuanya yang begitu ramah serta lebih bisa menerima perbedaan dibanding saya yang orang Asia. Saya setuju dengan kata beda itu indah, dia merupakan sinergi yang bisa memberi warna dalam hidup. Bisa membuat kesombongan luruh, memahami kesejatian hidup, menepis segala bentuk rasa prasangka untuk lebih toleran terhadap sesama. Apalagi dengan aneka bahasa verbal dan non verbal yang mendukung terciptanya kolaborasi warna pelangi. Karena yang dinilai bukanlah kebagusan rupa, keindahan wajah, kekayaan yang melimpah tapi satu adalah siapa dari kita yang paling takwa. Subhanallah, Duhai Yang Mencipta Indah dan Perbedaan. Tepatlah kiranya Allah mengatakan Al-Qur'an surat Al-Hujurat: 9, "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah SWT ialah orang yang lebih bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." Dalam hadits pun disebutkan HR Imam Muslim, Shahihul Muslim, tafsir Ibnu Katsier juz 7 hal 322, "Sesungguhnya Allah tidak akan melihat bentuk-bentuk tubuhmu dan harta kamu tetapi akan melihat isi hati kamu dan amal-amalmu". HR Imam Ahmad tafsir Ibnu Katsier juz 7 hal 322 Dari Abu Dzar bahwa Rasulullah saw bersabda kepadanya, "Lihatlah, engkau tidak lebih baik dari yang berkulit merah dan pula dari yang berkulit hitam melainkan jika engkau mengunggulinya dengan taqwa kepada Allah.".

HR Imam Muslim, Terjemahan Shohih Muslim dari Yahya bin Hushain r.a., dari neneknya Ummul Hushain, katanya dia mendengar neneknya bercerita, "Aku pergi menunaikan ibadah haji bersama Rasulullah SAW ketika Haji Wada'. Ketika itu beliau berkhutbah panjang lebar. Antara lain aku mendengar beliau bersabda, "Seandainya pejabat yang kuangkat dalam pemerintahan seorang budak pontong hidung, mungkin yang dimaksud nenek, budak hitam, tetapi dia memerintah kamu dengan Kitabullah, maka hendaklah kamu patuh dan setia kepadanya." Berbeda itu indah. namun semoga ini bisa mencambuk kita untuk lebih mendekat padaNya, sang Pencipta Beda. *** Aridaistia, Kampoeng Soshigaya <arida_bi at yahoo dot com>

Ketika Cinta Berbuah Dilema Publikasi: 17/01/2005 09:29 WIB

eramuslim - Suatu hari Fatimah binti Rasulullah Saw, berkata kepada Sayidina Ali, suaminya. "Wahai kekasihku, sesunguhnya aku pernah menyukai seorang pemuda ketika aku masih gadis dulu." "O ya," tanggap Sayidina Ali dengan wajah sedikit memerah. "Siapakah lelaki terhormat itu, dinda?" "Lelaki itu adalah engkau, sayangku," jawabnya sambil tersipu, membuat sayidina Ali tersenyum dan semakin mencintai isterinya. Percakapan romantis Siti Fatimah dengan Sayidina Ali di atas mungkin sudah menjadi hal biasa bagi para suami isteri. Tetapi tidak bagi mereka yang belum menikah. Percakapan-percakapan romantis yang sering ditemukan dalam buku-buku pernikahan itu sungguh sangat imajinatif bagi para lajang yang sudah merindukan pernikahan, sekaligus juga misteri, apakah ia bisa seromantis Siti Fatimah dan Sayidina Ali? Alangkah bahagianya, seorang pemuda yang sejak lama memimpikan obrolan-obrolan romantis akhirnya sampai di terminal harapan, sebuah pernikahan suci. Apa yang selama

ini menjadi imajinasinya saat itu akan ia ungkapkan kepada isterinya. "Wahai kekasihku, ada satu kata yang dari dulu terpenjara di hatiku dan ingin sekali kukatakan kepadamu, aku mencintaimu." Tetapi, kebahagiaan ini hanya milik mereka yang telah dikaruniai kemampuan untuk mengikat perjanjian yang berat (mitsaqan ghalidha), pernikahan itu. Bagi mereka yang masih harus melajang, semuanya masih hanya mimpi yang terus menggoda. Terkadang, ada pemuda yang tidak kuat melawan godaan imajinasinya. Keinginan untuk mengungkapkan cinta itu tiba-tiba sangat besar sekali. Tetapi kepada siapa perasaan itu harus diungkapkan? Sementara isteri belum punya, kekasih pun tidak ada. Karena kata pacaran sudah lama dihapus dalam kamus remajanya. Tapi, dorongan itu begitu besar, begitu dahsyat. Awalnya, kuat. Sampai tibalah sebuah perjumpaan. Sebuah rapat koordinasi di organisasi kemahasiswaan atau dalam tugas kelompok dari sekolah telah mempertemukan dua pesona. Imajinasi itu kembali menari-nari. "Nampaknya, dibalik jilbabnya yang rapi ia adalah gadis yang kuimpikan selama ini." "Oh, ketegasannya sesuai dengan penampilannya yang kalem, dia mungkin yang kuharapkan." Dan cinta itu hadir. Tetapi, sudahkah saatnya cinta itu diucapkan? Padahal mengikat perjanjian yang berat belum sanggup dilakukan. Lalu apa yang harus dilakukan ketika dorongan untuk mengatakan perasaan semkain besar, teramat besar? Hingga perjumpaan dengannya jadi begitu mengasyikkan; menerima sms-nya menjadi kebahagiaan; berbincang dengannya menjadi kenikmatan; berpisah dengannya menjadi sebuah keberatan; ketidakhadirannya adalah rasa kehilangan. Indah. Tapi ini adalah musibah! Interaksi muslim dan muslimah yang semakin longgar telah menggiring mereka kepada dua dinding dilema yang semakin menyempit dan begitu menekan. Cinta terlanjur hadir. Meski indah tapi bermasalah. Mau menikah, persiapan belum cukup atau kondisi belum mendukung. Menunggu pernikahan, seminggu saja serasa setahun. Melepaskan dan memutuskan komunikasi, cinta terlanjur bersemi. Menjalani interaksi seperti biasa, semuanya membuat hati semakin merasa bersalah.

Apa yang bisa dijadikan solusi? Jawabannya akan sangat panjang lebar jika yang dijadikan landasan adalah realita dan logika. Tetapi, marilah kita bicara dengan nurani dan keimanan, agar semua bisa terselesaikan dengan cepat dan tuntas. Tanyakan kepada nurani tentang keimanan yang bersemayam di dalamnya? Masihkah memiliki kekuatan untuk mempertahankan Allah sebagai nomor satu dan satu-satunya? Dengan kekuatan iman, cinta kepada Allah bisa mengeliminir cinta kepada seseorang yang telah menjauhkan dari keridhaan-Nya. Cinta macam apa yang menjauhkan diri dari keridhaan Allah? Untuk apa mempertahankan cinta yang akhirnya membuahkan benci Dzat yang sangat kita harapkan cinta-Nya? Tanyakan pada keimanan dan nurani, siapa yang lebih dicintai, Allah ataukah "dia"? "Qul Aamantu Billahi tsummastaqim!" (al-Hadits) Wallahu a'lam. *** Special untuk mereka yang sedang terjebak dalam lorong-lorong dilema bernama "cinta". Buat kawan-kawan seperjuangan di Kairo, Tafahna al-Asyraf, dan Zaqaziq, Mesir, kuatkan hatimu! Jadilah pemenang melawan sisi lain hatimu! Bersama doa dan cintaku. Zamzam muharamsyah zetth_two@yahoo.com Kepedihan itu Ternyata Pertolongan-Nya Publikasi: 14/01/2005 08:59 WIB

eramuslim - Hampir selama tujuh bulan saya berada dalam kesedihan mendalam. Bagaimana tidak, majikan tempat saya bekerja, sangat tidak baik. Keras, judes, salah sedikit 'ngamuk', dan banyak lagi sifat yang sesungguhnya seringkali membuat hati ini miris. Saya tidak menyangka jika bekerja di luar negeri ternyata tidak seperti yang saya duga sebelumnya. Minimal itu yang terjadi pada diri saya.

Namun, Alhamdulillah, sedikit demi sedikit saya bisa banyak belajar menghadapi keadaan ini. Ada hal lain yang ternyata lebih menyedihkan saya mengenai perlakuan majikan. Sesuatu yang berhubungan dengan sejauh mana kekuatan keimanan saya selama ini. Kami bekerja lima orang. Semua dari Indonesia. Sayalah orang yang paling baru. Jadi, jika ada apa-apa saya harus menurut pada mereka yang sudah senior. Termasuk masalah makanan sehari-hari. Kami berlima masak sendiri. Yang menjadikan saya sedih adalah bahan-bahan yang kami makan ternyata sesuatu yang diambil dari tempat kerja kami. Dan itu tanpa sepengetahuan sang majikan. Jika majikan tahu, entah apa yang terjadi pada kami. Bertahun-tahun saya belajar agama. Bertahun-tahun saya bergaul dengan mereka-mereka yang sangat taat dengan aturan Allah. Jadi sedikit banyak saya tahu tentang halal, haram dan tentu juga syubhat. Mengalami keadaan yang seperti ini, tentu hati saya sangat berontak. Retak. Tapi mau bagaimana, saya tidak bisa melawan kawan-kawan yang sudah lama. Ingin sekali pindah, namun tak mudah, sebab ini bukan negeri sendiri. Ingin pulang kampung, dan itu juga lebih parah, sebab saya ingat betapa susah proses untuk bisa bekerja di luar negri. Di samping biayanya mahal, ada banyak liku-liku yang saya alami dengan PJTKI di sana. Akhirnya, setiap hari saya selalu berada dalam kebingungan dan kesedihan. Saking bingungnya, saya menulis banyak email kepada seorang penulis yang tulisannya sering saya baca di rubrik oase iman ini. Saya mohon kepadanya untuk didoakan agar saya bisa keluar dari jerat syubhat ini. Suatu hari menjelang datangnya bulan Ramadhan yang penuh berkah, terjadi sebuah peristiwa yang menimpa diri saya. Minuman yang saya buat, untuk dijual ke konsumen, tercemar minyak solar. Konsumen itu mengadu kepada kami. Kami mencoba untuk mengatasi hal ini, tapi ternyata terdengar majikan. Tanpa kompromi lagi, saya dimarahi habis-habisan. Hari itu juga tempat kerja saya dipindah. Semua alat untuk membuat minuman dibawa semua. Saya tidak lagi bekerja bersama empat kawan saya. Saya bekerja sendiri dari pagi sampai petang tidak ada yang menemani. Kecuali pelototan mata majikan yang sangat tidak bersahabat.

Seperti dipenjara, hari-hari saya bekerja dikelilingi tembok yang membatasi dengan dunia luar. Semua masalah saya hadapi sendiri. Tidak seperti ketika kami masih berlima. Kesedihan itu datang lagi. Namun , setelah saya renungkan, ternyata ini adalah sebuah pertolongan besar dari Allah SWT. Karena, walaupun saya diasingkan, ternyata saya justru dapat menghindari makanan tidak halal selama ini. Yang jika boleh saya katakan adalah hasil curian milik majikan. Saya mendapat jatah makanan dari majikan, walaupun kadang sisa-sisa makanan keluarga mereka. Tapi sungguh ini jauh lebih baik. Yang terpenting ada kehalalan di dalamnya. Dan yang paling mengharukan, saya bisa shalat berjamaah tarawih di masjid, sedang teman-teman yang lain terikat dengan order kerja yang sangat banyak. Duh, Allah.., di awal Ramadhan kemarin, saya akhirnya meyakini, ternyata kepedihan yang menimpa bukan sekedar perih dan nyeri tapi jauh lebih dari itu, sebuah anugerah, sebuah pertolongan. Bahwa Allah terrnyata sayang pada hambanya, bahwa Allah tidak rela keberkahan Ramadhan ternodai dengan ketidakhalalan dan Ia memberikan sebuah solusinya. Allah Maha Besar! *** woyo72@yahoo.com Suswoyo (Ketika) Empati Telah Mati Publikasi: 13/01/2005 07:53 WIB

eramuslim - Seorang anak penyapu gerbong berusia tak lebih dari sembilan tahun sempat membuat dua mahasiswi berteriak hingga mengalihkan perhatian hampir seluruh penumpang di gerbong tersebut. Mahasiswi itu merasa kaget karena anak itu manariknarik bagian bawah celana jeans-nya untuk meminta uang. Serta merta seorang pria dewasa berbadan kekar yang tak jauh dari dua mahasiswi itu melayangkan punggung tangannya tepat di bagian belakang kepala anak itu. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali.

"Keluar kamu, kurang ajar!" tangannya terus melayang hinggap di kepala anak tersebut. Tidak cukup di situ, ditambah tendangan keras ke bagian tubuh anak yang tubuhnya hanya sebesar paha si penendang. Saya yang melihat kejadian itu langsung berteriak dan meminta pria itu menghentikan aksi kekerasannya. "Dia ini kurang ajar pak, dari gerbong sebelah sudah kurang ajar." Ia membenarkan aksinya. "Tapi dia juga kan manusia, apa pantas diperlakukan seperti itu?" tanya saya. "Dan apa tindakan bapak itu sebanding dengan kesalahannya? Tak perlu berlebihan seperti itu lah..." Episode berakhir dengan turunnya anak tersebut di stasiun selanjutnya. Sementara pria berbadan tegap itu berdiri dekat pintu gerbong sambil berbincang dengan beberapa penumpang lainnya, lagi-lagi mencoba membenarkan tindakannya. Tiga tahun lalu di Stasiun Kalibata, Jakarta, seorang pria setengah baya babak belur dihajar massa hingga koma. Kondisinya mengenaskan, wajahnya hancur, satu tangannya patah. Di sisa-sisa nafasnya yang tersengal satu persatu, saya menangkap rintihannya, "Saya bukan copet..." Pria tersebut dijadikan tersangka pencopetan ketika seorang mahasiswi secara refleks berteriak "copet" saat tasnya tersenggol pria yang sudah nyaris mati tersebut. Secara serempak, dibarengi emosi yang tinggi puluhan pria langsung menggerebek dan mendaratkan kepalan tangan, juga ayunan kakinya berpuluh-puluh kali kepada pria tersebut. Padahal di belakang kerumunan tersebut, mahasiswi yang tadi refleks berteriak itu meminta orang-orang yang sudah terlanjur beringas itu menghentikan aksinya, karena ternyata, ia tak kehilangan satu apa pun dari dalam tasnya. Tak satu kata pun bisa keluar dari mulut saya menyaksikan peristiwa itu. Bagaimana dengan mereka yang telah terlanjur memukul? Orang bersalah memang harus dihukum, tapi terlalu sering seseorang mendapatkan hukuman yang tak setimpal. Kasus copet-copet yang dibakar misalnya, sebagian orang mudah saja berkata "Bakar saja, atau lempar dari kereta yang melaju cepat, biar jadi pelajaran bagi copet yang lain..."

Satu pertanyaan saja, bagaimana jika copet itu adik, kakak atau saudara Anda? Kalimat itu juga kah yang akan keluar dari mulut Anda? Atau bahkan bila copet itu Anda sendiri? Anda pasti meminta orang-orang menghukum Anda sewajarnya bukan? Anda bisa begitu mudah bertindak berlebihan menghukum atau memberikan balasan atas kesalahan orang lain. Bagaimana jika Anda yang berada pada posisi si bersalah? Relakah jika orang lain memperlakukan Anda secara tidak adil? Ya, begitu pula dengan orang-orang itu. Saya setuju mereka diberi hukuman atas kesalahannya, tapi memberikan hukuman lebih dari tingkat kesalahannya, jelas saya tidak setuju. Seperti kejadian di kereta itu, saya harus berdebat dengan pria berbadan tegap itu dengan mengatakan bahwa tindakan kasarnya -menempeleng dan menendang- sangat tidak sebanding dengan kesalahan yang dilakukan anak itu. Saya juga tak mengerti kenapa nyaris semua orang di gerbong itu terdiam menyaksikan ketidakadilan berlaku di depan mata mereka? Sebagian besar orang yang ada di depan gerbong itu para karyawan, mahasiswa, orang-orang berpendidikan, tapi mengapa mereka hanya menutup mata? Bahkan seorang bapak di samping saya sempat berkata, "Anak itu juga seharusnya jangan kurang ajar..." Saya katakan, cara anak itu meminta uang kepada penumpang (mungkin) memang salah. Tapi itu hanya tindakan kecil yang tak pantas dibalas dengan tempelengan dan tendangan keras berkali-kali ke tubuhnya. Kepada mereka yang terdiam dan tak berusaha melarang pria tegap itu melakukan aksi kekerasan, akankah Anda diam jika anak itu adalah anak, adik, keponakan, atau bahkan diri Anda sendiri? Contoh sederhana, kita sering berharap orang lain memberikan tempat duduknya untuk isteri kita yang tengah mengandung atau menggendong si kecil. Tapi nyaris setiap hari kita tak pernah tergerak untuk berdiri dan merelakan tempat duduk kita untuk mereka yang lebih berhak, kemudian berpura-pura tidur. Adilkah? Mungkin empati sudah mati, atau telah pergi entah ke mana. *** Bayu Gautama Menangislah... Publikasi: 11/01/2005 08:08 WIB

eramuslim - Pernahkah engkau mendengar cerita tentang kota-kota? Ketika ia menumpahkan dahaganya dan memburu fatamorgana, lalu bertarung dalam kebisingan dan kendati dengan kesombongannya ia hanya mampu menggigit jari? Pernahkah engkau mendengar cerita tentang nenek moyang kita yang pelaut, menantang ganasnya ombak agar dapat memberikan kepada cakrawala sebuah garis baru. Dan ketika kegelapan mulai sirna di ujung fajar, sesungguhnya cakrawala terlalu luas untuk dihela oleh sepotong garis? Pernahkah engkau mendengar cerita tentang bumi yang diguncangkan dengan guncangannya yang dahsyat, mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya, hingga manusia bertanya-tanya, "Mengapa bumi jadi begini?" Di sini. Dalam perenungan, kamu dapat menjawabnya selama kamu jauh dari panca indramu. Dalam perenungan, nilai-nilai kehidupan terekam baik-baik, dan kamu niscaya akan menemukan dirimu menjadi makhluk lain, yang tidak menyerupaimu. Aku berkatakata pada diriku sendiri sambil mengedarkan pandanganku ke sekeliling, tercekat duduk di sebuah kursi kecil di sebuah kantin, suara televisi menjeratku ke sana. Memaksa kedua belah mataku terpaku ke arah deretan bocah-bocah kecil yang berbaris tertidur dengan tenang. Beralaskan dan berselimutkan kain seadanya, memanjang menutupi tubuh-tubuh letih mereka dari kaki hingga leher. Sebuah realitas digelar, sebagain besar korban adalah anak-anak. Padahal di mataku bocah-bocah kecil itu tampak begitu suci. Bahkan lebih suci dari cahaya fajar yang tiap hari menyinari negeri ini. Cahaya Fajar? Mungkin mereka tidak lagi mengenalnya ketika ratap tangis yang ada akan menggelayuti mata-mata ibu, ayah dan saudara-saudara yang ditinggalkan. sementara mata mereka terkatup untuk selamanya. Ada juga bocah lain. Dia hanyalah seorang bocah kerempeng, kurus kering. Usianya belum sepuluh tahun. Di wajahnya yang kurus tampak sepasang mata yang cekung oleh kelelahan. Tangannya memerah karena dingin, namun lembut kendali luka-luka memenuhi telapaknya. Tubuhnya mengigil, tapi sulit membedakan apakah ia kedinginan atau sedang ketakutan Dengan pakaian yang basah kuyup ia menatap wajah-wajah asing di sekelilingnya. Lama dalam diam, saat matanya terus memelototi kekosongan dalam kebisuan. Saat yang keras dalam keheningan berlalu, ketika ia mencoba mengingat-ingat nama itu. Akan tetapi secepat kilat kenangannya membawanya menerawang jauh ke belakang. Dia tidak bicara. Siapakah keluarganya? Bahkan ketika ditanya dalam bahasa

Aceh sekalipun. Kebisuannya cukup mewakili seluruh perasaannya yang memang sudah tanpa rasa lagi. 'Mute' total. Ini sudah lebih dari sekedar jawaban. Pemandangan itu pantaskah membuat air mata menetes? Hampir seratus ribu lebih tubuh terbujur kaku, sementara yang lain mengungsi tanpa persediaan makan dan air bersih. Membangkitkan emosi kesedihan, tanpa kata-kata, lebih dari sekedar menangis. Awan gelap kelabu menyelimuti negri ini, saat ia mencuri celak hitam dari mata langit. Ada peristiwa yang tidak pernah terbayangkan di pagi itu, bahkan dalam kekayaan imaji kanak-kanak ribuan bocah kecil yang pulas itu. Sebuah gempuran membahana di gerbang negeri yang bisu, saat yang keras dalam keheningan pagi berlalu. Ketika tangis mereka bersimfoni dengan derasnya air, ratap mereka dengan syahdu disenandungkan lewat acara berkabung nasional, digubah dari relung kegelapan ombak laut yang mengalir dengan cepatnya. Deras. Teriakan menyayat hati yang mampu mengimbangi. "Kenapa harus Aceh?" Pertanyaan ini mewakili sanubarinya. Aku menoleh sekilas. Seorang lelaki dengan kepala bulat - seperti telur yang sedang dinikmatinya bergumam dalam geram. Di kantin ini, ia masih bisa makan, dan aku juga masih bisa makan. Ada air bersih di sini, ada makanan lezat siap santap. "Kenapa harus Aceh?" Aku mengulangi tanyanya, entah dengan maksud apa. "Ya, kenapa harus Aceh? Kenapa tidak Jakarta?" Dia memandangku tajam. Kau tahu? Masyarakat Aceh sudah kenyang dengan penderitaan, teror karena konflik GAM, dan kini bencana alam dan entah nanti apalagi. Sementara daerah lain? kenyang dengan kemaksiatan. Tapi argumen itu tidak cukup, kita tetap tidak akan pernah bisa menjawab, kenapa harus Aceh? Masyarakat Aceh, Sumut, mereka bukan sekedar bagian bangsa kita, tapi bagian dari jantung hati kita yang berdetak di tempat lain. "Jakarta bukan tsunami, tapi meteor jatuh di laut Jawa," seseorang tidak menjawab, tapi memberikan argumen lain. Aku menyahut "Tidak perlu ada bencana. Seharusnya bukan semuanya..." bahwa kemudian kalimatku berhenti begitu saja, menggantung di langit-langit tenggorokanku, ketika teringat kisah kaum Nabi Nuh. Seharusnya tidak perlu ada kata 'Seharusnya' jika segala sesuatu telah digariskan oleh Nya. Sambil bertanya-tanya, mungkinkah hidup mundur sejauh ini?

Di zaman yang berwarna-warni ini, potret bangsa kita terluka dalam cermin sebagai gambaran yang hitam pekat. Ada mereka yang setiap hari sibuk berpikir apa yang tersisa untuk dimakan. Menyeret langkahnya satu persatu di tengah teriknya panas atau sembilunya dingin malam. Tak tersisa kesempatan untuk berfikir istirahat dengan tenang. Bagi mereka hidup adalah usaha keras memeras keringat hingga bencana alam menutup akhir kisah perjalanan hidup mereka. Di luar itu semua, dalam realitas sosial di waktu yang sama, maksiat tetap ditawarkan dengan megah dan gempita. Bahkan terkadang harus bayar mahal untuk itu. Kasus rusaknya generasi dengan data-data yang mencengangkan begitu akrab di telinga dan mata lewat layar televisi, surat kabar dan selebaran-selebaran yang bertebaran di pinggir jalan. Mungkinkah? Inikah jawaban mengapa Allah mengambil anak-anak agar mereka tidak perlu tumbuh menjadi remaja yang disuguhi tayangan 'BCG', 'Virgin', dan semacamnya. Bukankah Allah menjamin anak-anak yang meninggal sebelum baligh akan masuk surga tanpa dihisab? Sementara kelebihan lain diungkapkan Rasulullah SAW dalam sabdanya , dari Abdurrahman bin Samurah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "...Aku melihat seorang dari ummatku (pada hari akhir) ringan timbangannya. Namun afrathnya (anakanaknya yang meninggal masih kecil) mendatanginya dan memberatkan timbangan itu..." Lewat catatan negeri ini yang digelar layar televisi, beberapa berita ditampilkan. Pemerintah mengumumkan dana 50 miliar rupiah untuk ratusan ribu korban bencana Tsunami yang dijanjikan dijaga dengan ketat agar tidak dikorupsi, sementara dalam waktu yang bersamaan seorang bupati di Jawa timur dituduh mengkorupsi dana 63 miliar selama jabatannya. Di Aceh, setelah kejadian bencana ada yang meneriakkan air agar masyarakat lari ketakutan dan mereka dengan bebas menjarah barang-barang berharga yang tersisa. Sementara di ujung daerah lainnya, ada pula pihak-pihak yang memanfaatkan nama lembaga penyalur bantuan dana dengan tujuan untuk memasukkan uang ke nomor rekening pribadi mereka. Lucu. Siapa bilang bangsaku ini tidak punya selera humor, bahkan dalam keadaan genting sekalipun? Sedih rasanya ketika aku meninggalkan kantin dan keluar dengan disambut hujan deras. Sudah beberapa hari ini hujan turun dengan derasnya, tapi aku tau pasti apa yang dibisikkan hujan padaku hari ini, lewat tetes-tetes airnya yang tiada berhenti membasahai tanah pertiwi. Bahkan ketika malam tahun baru menjelang, hujan masih membasahi negeri ini. Senandung tangis keseharian menggema dan menggema lagi, sementara segala

kenangan terbang jauh. Jauh menembus batas negeri yang terkoyak-koyak, melewati auman kata dan tatapan yang perkasa oleh pembangkangannya. Lembaran-lembaran kisah lama, sejumlah panorama kehidupan yang terbentang dalam masa dan kenangan yang berbeda. Semuanya hidup kembali. Seketika terasa ada sesuatu yang ganjil, kala bisikan menembus jiwa negriku sendiri, "Menangislah Indonesiaku, menangislah Negeriku". Menangislah, karena kita memang pantas untuk mengakui betapa besar dosa-dosa kita dibandingkan besarnya gelombang air yang telah diperlihatkanNya. Menangislah untuk mengakui betapa lemahnya kita di hadapanNya, sementara ampunanNya jauh lebih luas dari lautan itu. Betapa Maha Besar Allah yang menunjukkan kebesarannya di Aceh lewat rumah-rumahNya yang masih berdiri kokoh di antara bangunan yang porak-poranda. Mungkin Ia kembali ingin mendengar keluhan-keluhan kita. Keluhan tulus yang kita sampaikan dengan penuh pengharapan. Seperti lagu yang disenandungkan Ebiet G Ade yang samar-samar kudengar saat aku meninggalkan kantin, mengakhiri berita yang ditayangkan layar televisi itu. Ini bukan hukuman Hanya satu isyarat Bahwa kita mesti banyak berbenah Bila kita kaji lebih jauh Dalam kekalutan Masih banyak tangan yang rela berbuat nista Tuhan pasti telah memperhitungkan Amal dan dosa yang kita perbuat Kemana lagi kita kan sembunyi? Hanya kepadaNya kita kembali Tak ada yang dapat, bisa menolong Hanya kepadaNya kita tunduk, sujud padaNya *** <Aathierah at yahoo dot fr> Posko Bantuan NAD dan Sumut, H-1 menjelang keberangkatan para relawan.

Andunisia, Andalusia, dan Lelaki Muda Publikasi: 10/01/2005 10:53 WIB Cuaca sembab di penghujung petang. Sejak pagi angin bertiup kencang, disertai terbangan debu yang memerihkan mata. Matahari hilang entah ke mana. Aku masih setia duduk menanti trem kota yang membawaku pada tujuan. Satu jam berlalu, namun trem kota yang menjadi sahabat karibku belum juga muncul. Aku sibuk merapikan syal yang melilit leher rapat-rapat. Dingin semakin membeku. Orang-orang yang senasib denganku hanya beberapa. Mungkin lantaran cuaca muram, orang-orang jadi malas keluar rumah. Kalau bukan hal ihwal mendesak, aku tak keluar pula. Lebih baik berdiam melahap buku-buku atau berselingkup di balik selimut tebal. Tiba-tiba seorang lelaki muda berusia 30-an mengajak bercakap. Setelah basa-basi sekedarnya, kami terlibat pembicaraan. Aku pikir, di negeri ini basa-basi masih berperan penting. Sehingga, kalau awak tak kuasai barang sedikitpun, tak bakal diperhatikan. Bukan lantaran aku tertarik pada basa-basinya. Karena bagiku, basa-basi sangat menjemukan. Ia mengisahkan perjalanannya ke negeri-negeri Timur Jauh. Ia mengaku pernah menjenguk Cina, Jepang dan Korea. Banyak hal aku belajar dari mereka. Bangsabangsa tadi sangat menghargai waktu dan berdisiplin tinggi. Sehingga satu detik sangat berharga sekali. Tak seperti trem listrik yang tengah kami nanti. Satu jam lebih berlalu tak terasa. Sedangkan cuaca semakin memburuk. Tak lupa ia menanyakan tentangku. Aku katakan padanya. Ana min Andunisia? Min Jazirah Sumathrah? Biasanya, setiap kukatakan 'Min Sumathrah' selalulah mereka langsung paham. Apalagi dalam pelajaran geografi mereka, jazirah ini pernah disinggung. Apalagi kalau mengingat pengembaraan Ibnu Baitutah yang pernah mencatat kesultanan Islam yang menyerucup di pulau sebesar Inggris tersebut. Kalau kita menyimak dalam masterpiece 'Rihlah Ibnu Baitutah' antara lain dicatat tentang kesultanan di Aceh. Aku memang belum menamatkan kitab 'Rihlah Ibnu Baitutah' secara tuntas. Cuma, ketika aku menukil selintas, bagaimana sejarawan dan penjelajah Qordova tersebut mencatat setiap hal yang ditemuinya di pulau tersebut. Karena tertawan keindahan pulau itu, ia lantas menyebut "Andalusia fi Syarqiah" (Andalus di Timur). Seorang penjelajah Eropa berkebangsaan Italia, Marcopolo, pernah bertandang ke pulau

perca tersebut. Ia juga mencatat setiap peristiwa yang ditemui dan ditulis dalam sebuah buku. Sayangnya, aku belum pernah memiliki bukunya. Tapi bukan lantaran sejarah yang kami singgung dalam percakapan tadi yang menarik hatiku. "Kadang aku berpikir, aku sudah mendatangi negeri-negeri jauh, namun sekejap pun aku belum pernah mendatangi Baitullah di Mekkah." Aku pikir hanya basa-basinya lagi. Rupanya bukan, dengan penuh keterharuan ia ceritakan harapannya mengunjungi tanah suci tersebut. "Terus terang aku tidak tahu banyak tentang haji. Kalau kau berbaik hati, di manakah bisa aku dapatkan tentang haji," katanya. "Kau bisa dapatkan di buku-buku manasik haji, bukankah banyak ulama telah mencucurkan penanya membahas rukun Islam satu ini? Kalau kau tertarik, kau bisa beli karya Syeikh Nashiruddin Albani, Syeikh Abdul Aziz Ibn Baz dan alim-ulama lainnya. Di setiap maktabah, akan kau dapatkan dengan mudah. Insya Allah secara panjang lebar telah dijelaskan alim-ulama itu," ujarku. "Apakah kau sudah pergi haji?" tanyanya. "Alhamdulillah, aku sudah menunaikan ibadah haji dua tahun lepas. Tepatnya tahun 2002 lalu." "Bisa tidak kau kisahkan padaku tentang hajimu? Sungguh, aku sama sekali tak tahu tentang haji. Kalau kau tak keberatan, berceritalah tentang tawaf, hajar aswad, maqam Ibrahim As, Hijr Ismail, Zamzam, sai antara safa-marwah hingga selesai." Aku pun berkisah tentang ibadah haji panjang lebar. Aku ceritakan semua padanya. Untuk memudahkan bayangannya, aku keluarkan secarik kertas dan pena. Aku terangkan mana posisi Ka'bah, hajar aswad, hijr Ismail, rukun Iraqi, rukun Yamani, maqam Ibrahim dan sebagainya. Ia menyimak dengan tekun. "Apakah Maqam Ibrahim itu memang benar-benar makamnya?" tanyanya. "Bukan!" ujarku. "Itu hanya bekas telapak kakinya berpijak ketika mendirikan Ka'bah bersama anaknya Ismail a.s. Dulu bekas tapak-tapak dalam bangunan sangat merepotkan bagi jemaah haji yang bertawaf. Seiring pengembangan Masjidil Haram, maka untuk memudahkan jemaah haji yang mau bertawaf, akhirnya jejak-jejak yang membekas

dalam batu tersebut diletakkan dalam sekotak kaca beratap yang bisa dilihat dari seluruh penjuru." Panjang lebar kami membicarakan tentang haji. Tiba-tiba ia bertanya, "Apakah haji membekas padamu?" Aku terdiam beberapa saat, sambil melebarkan daun telinga dan menajamkan pendengaran. "Apa katamu tadi?" tanyaku. "Ya, apakah orang-orang yang sudah menunaikan haji memiliki bekas tersendiri?" tanyanya. Kembali aku terdiam. "Tentang satu ini, maaf, aku tak bisa jawab". Selang sesaat azan maghrib memenuhi langit. "Mohon izin, aku mau ke masjid dulu," kataku. Habis sholat maghrib, ketika hendak keluar masjid, seorang perempuan muda bertanya padaku, "Di manakah tempat sholat kaum perempuan?" "Di atas sana," kataku, sambil menunjuk pintu masuknya. Hatiku terasa sejuk. Tapi mana lelaki muda, kawan satu tujuanku tadi. Ah, agaknya ia telah pergi bersama trem listrik yang datang saat aku tengah sholat tadi. Sampai akhir pembicaraan tadi, kami tak saling berkenalan. Hanya aku tahu, ia satu tujuan denganku dan kebetulan bertemu di mahattah (halte) yang sama. Lagi-lagi aku ingat haji. Aku berdoa pada Allah, agar hajiku lalu diterimanya sebagai Hajjan Mabruuran. Agar segala salah silap dosaku diampuni Allah. Biar aku terasa 'dilahirkan' kembali. Agar selanjutnya, hidupku meniti tuntunan-Nya. Minggu lalu aku baca tulisan guru sastraku yang selalu muncul tiap pekan dengan judul 'Partir' dan 'Sujud' tentang pengalaman hajinya. Tiba-tiba aku ingat lelaki muda tadi. Kawan sepercakapan, namun tak saling kenal. Besoknya, aku dapat kabar, seorang kawan mudaku tak dapat Paspor dan Visa Hajinya. Sabarlah, Dek! Ahmad David Kholilurrahman *Mahasiswa Universitas Al-Azhar-Mesir. Acehku, Bersabarlah! Publikasi: 07/01/2005 08:24 WIB eramuslim - Walaupun saya bukan orang Aceh, tapi nama propinsi paling ujung di Republik ini tidak begitu asing di telinga. Sejak masih duduk di bangku TK di tahun delapan puluhan sampai sekarang, saya merantau di negeri orang, nama tanah rencong selalu melekat di benak.

Dulu, manakala saya senang bermain dan bernyanyi dengan guru taman kanak-kanak, saudara dan tetangga berangkat ke Aceh, ikut program transmigrasi PIR (Perkebunan Inti Rakyat) di ladang kelapa sawit. Sehingga hampir dua bulan sekali, ayah selalu mendapat kabar dari saudara dan tetangga-tetangga yang sudah mukim di propinsi Serambi Makkah itu. Ketika duduk di bangku kelas tiga SD, paman saya yang menjadi guru, membelikan saya sebuah buku tentang pahlawan nasional. Setiap kali membuka buku tersebut, saya selalu berhadapan pertama kali dengan Teuku Umar dan Cut Meutia, dua tokoh pemberani dari bumi Aceh yang Darussalam itu. Kemudian di kelas enam SD, saya diingatkan lagi dengan Aceh, saudara saya waktu itu pulang kampung, karena di Aceh tidak aman, dan selalu dapat ancaman dari GPK, Gerakan Pengacau Keamanan. Waktu itu belum populer dengan istilah GAM seperti sekarang. Mereka meninggalkan perkebunan kelapa sawit, yang bertahun-tahun mereka rawat. Dan sudah bisa menghasilkan uang. Lantas, di bangku SLTP, saya juga tidak bisa lepas dari nama Aceh, karena guru ngaji menganjurkan saya untuk membeli kamus bahasa Arab-Indonesia, karangan Prof. Mahmud Yunus yang kelahiran Aceh. Waktu terus berjalan, di SMU saya dengan izin-Nya tentu saja, saya justru lebih banyak bergulat dengan apa-apa yang berbau Aceh. Dari guru sejarah saya yang menganjurkan agar kami membuat kliping tentang DOM (Daerah Operasi Militer) yang diterapkan di sana, pembahasan keagamaan yang mengambil sumber dari karya-karya Prof. Hasybi Assydiqi, yang ulama besar itu, pembacaan puisi sufistik Nurrudin Ar-Ranniri, si penyair Aceh, sampai dengan perburuan saya terhadap tulisan-tulisan Fachri Ali, sang kolumnis sosial keagamaan, yang juga putra Aceh. Aceh, Aceh dan Aceh. Sampai detik ini, ketika saya bekerja di Brunei Darussalam pun, saya tidak bisa terlepas dari nama itu. Sehabis shalat Maghrib bersama di sebuah masjid mewah , kami sesama TKI, termasuk seorang teman dari Aceh, biasanya berkumpul di beranda masjid sambil menunggu datangnya Isya. Kami bercerita apa saja. Kami berbagi pengalaman-pengalaman yang kami alami tentang kerja di negeri orang. Bahkan tak ketinggalan kami juga sealu membahas isu-isu baik yang terjadi di Brunei maupun di negri kami. Dari soal affair seorang PRT Indonesia dengan sang majikan, sampai

penganiayaan sang majikan pada pembantunya. Dari soal pilpres, sampai tsunami yang melanda sebagian Asia termasuk Aceh. Ada yang hilang dari pandangan kami selama ini, Ismail, pemuda hitam yang bekerja menjadi sopir itu sekarang entah ke mana. Ia sudah lama tidak terlihat berjamaah di masjid. Beberapa waktu yang lalu ia pernah mengeluh tentang susahnya berkirim surat, apalagi uang ke kampung halamannya. Ya, karena daerah konflik. Mudah-mudahan ia tidak menjadi korban dalam musibah besar itu. Dan hari-hari ini, ketika saudara-saudara kami sedang diuji oleh Sang Penguasa Alam, telingaku selalu akrab dengan suara serak-serak basah milik Ustadz Ismuhadi Abdullah. Orang Aceh yang sudah lama tinggal di Brunei . Alumni sebuah universitas Islam di Pakistan dan Arab Saudi itu memang sekarang jadi da'i kondang di Negeri Sultan Hassanal Bolkiah. Hampir setiap hari ia tampil di radio dan televisi Brunei. Beliau pun tak kalah sedihnya atas peristiwa tsunami yang melanda tanah kelahirannya. Acehku, tak ada yang bisa saya sumbangkan untukmu. Hanya sebuah syair, dari lagu legendaris Ebiet G Ade, yang ditulis tahun tujuh puluhan, dan rupanya masih akrab dengan telinga kami. Anugrah dan bencana adalah kehendakNYA Kita mesti tabah menjalani Hanya cambuk kecil, agar kita sadar Adalah Dia diatas segalanya.. Anak menjerit-jerit Hasrat panas membakar Lahar dan badai menyapu bersih Ini bukan hukuman Hanya satu isyarat Bahwa kita mesti banyak berbenah Bila kita kaji lebih jauh Dalam kekalutan Masih banyak tangan yang rela berbuat nista

Tuhan pasti telah memperhitungkan Amal dan dosa yang kita perbuat Kemana lagi kita kan sembunyi? Hanya kepadaNya kita kembali Tak ada yang dapat, bisa menolong Hanya kepadaNya kita tunduk, sujud padaNya Malam itu, sejam menjelang pergantian tahun 2005, saya bersama teman, sesama pekerja Indonesia, mengambil air wudhu, kemudian menghadap Allah, untuk mendirikan sholat Ghaib, untuk saudara-saudara kami yang meninggal dihempas gelombang tsunami, yang pusatnya tak jauh dari Nangro Aceh Darussalam. Dengan iringan do'a, semoga Aceh lebih darussalam, aman dan damai. Acehku, bersabarlah! *** Sus Woyo woyo72@yahoo.com Negeri yang (Kembali) Terluka Publikasi: 06/01/2005 08:07 WIB eramuslim - Aceh yang dulu saya kenal adalah Aceh yang kaya. Melimpahnya sumber gas bumi di Aceh pulalah yang mendorong saya untuk memilih bidang ilmu yang saya tekuni sekarang. "Siapa tahu nanti setelah lulus dapat bekerja di sana, tentu akan bisa berdekatan dengan kerabat di Sumatera", demikian pikiran lugu -yang saat itu saya masih SMA- berbisik. Kendati tidak jadi berkarir di LNG Arun, saya masih terus terkagumkagum, begitu banyaknya karunia Allah untuk negeri sejuta ulama itu. Tercatat beberapa proyek vital negera dibangun di sana. Arun dan gas buminya beserta beberapa pabrik pupuk dan pabrik kertas yang merupakan industri penopang hajat hidup orang banyak. O iya, yang jarang diberitakan media, Aceh adalah salah satu penghasil minyak Nilam terbesar di dunia. Minyak Nilam merupakan minyak atsiri yang sangat diperlukan di industri Fragrance dan Perfumery. Kabarnya minyak ini tidak diolah dengan muatan teknologi yang memadai, melainkan langsung diekspor 'mentah-mentah' ke Singapura. Meski dengan pengolahan yang sangat sederhana, ternyata sudah cukup untuk menghidupi banyak petani Nilam tradisional.

Aceh yang saya kenal adalah negeri para pemberani, itu pasti diakui setiap anak negeri, jika mereka 'sempat' belajar sejarah nasional Indonesia. Aceh adalah sedikit dari bangsa di dunia, yang tidak pernah dijajah, kebanggaan yang mungkin cuma dimiliki Thailand. Daftar nama pahlawan kita yang mulia, didominasi oleh para mujahid dari negeri rencong. Sebutlah nama-nama jalan utama di kota anda, sederetan nama pejuang Aceh tercantum harum di sana. Kesetiaan Aceh untuk republik ini tak berbanding, sehebat ikatan cinta di atas cinta. Kita tentu masih ingat sejarah, cikal bakal armada pesawat AURI Seulawah RI-001 adalah sumbangan rakyat Aceh. Kontribusi itu tentu belum seberapa dibandingkan simbahan peluh, darah serta air mata putra-putri terbaik Aceh yang disumbangkan untuk mengusung kibaran merah putih di bumi pertiwi ini. Entah harus bagaimana semestinya negara memperlakukan Aceh. Yang jelas, Aceh semestinya memiliki tempat terhormat di tanah air kita. Orang-orang Aceh yang saya kenal pun jauh dari kesan biasa-biasa saja. Ada Novri dan Rusdha yang menjadi bintang di kampusnya. Pak Gun, akademisi yang lurus, jujur dan murah senyum. Juga ada Pak Ery, kandidat doktor Teknik Fisika yang juga guru ngaji. Shalih, lurus dan cerdas; mungkin tipikal karakter dari putra-putri Serambi Makkah itu. Didikan agama yang kental, tertanam sejak belia, membuat mereka mampu mewarnai kehidupan sekitar, di manapun mereka merantau. Belum lagi anugerah keindahan fisik yang juga milik mereka. Terlepas dari kekayaan dan potensinya, miris rasanya membaca pemberitaan media massa tentang Aceh, -sejak Indonesia merdeka sampai sebelum periode otonomi daerahkekayaan alamnya nyaris tersedot ke pusat. Itu belum cukup. Tiada henti-hentinya berita duka dari provinsi ini menjadi tajuk utama. Mulai dari gerakan separatis yang memakan korban tiada henti sampai dengan berita tentang pejabat daerahnya yang didakwa menyulap dana helikopter. Mulai dari issue pelanggaran HAM -saat menyandang stempel Daerah Operasi Militer (DOM)- hingga kabar pelaksanaan syariat Islam yang setengah hati. Ahad, 26 Desember lalu, satu lagi musibah menambah derita rakyat Aceh. Gempa terbesar dalam 50 tahun terakhir, disusul tsunami, membuat hujan air mata di negeri Darussalam itu semakin menjadi-jadi. Ribuan tubuh ringkih hilang ditelan sapuan ombak yang datang tiba-tiba. Rasulullah bersabda, barang siapa yang meninggal karena tenggelam dapat tergolong syahid (HR Muslim), semoga para korban yang wafat, dibariskan dalam kelompok syuhada. Jeritan anak yang kehilangan orang tua maupun

kerabat yang lenyap tanpa berita, membingkai liputan demi liputan. Ancaman penyakit menular di depan mata. Drama pengungsian kembali meluruhkan nurani kita. Pengungsi akibat konflik territorial belum tertangani, kini muncul gelombang dhuafa yang lebih massal. Saya tidak ingin ikut-ikutan menyalahkan lemahnya 'early warning system' dari instansi yang terkait. Pun, saya belum mampu berbuat apa-apa, ketika membaca berita maraknya penjualan anak kecil di tengah musibah nasional ini. Saya mungkin hanya mampu menarik nafas, ketika bantuan untuk mereka terancam ditelikung. Untungnya sebagian bangsa ini masih punya hati. Ternyata perlu tangisan pengungsi untuk meruntuhkan petak-petak sosial di kepala kaum muslimin. Butuh tsunami untuk merekatkan ukhuwah. Saat ini adalah saatnya bagi budayawan dan seniman untuk menggelar malam dana. Ini masanya insinyur untuk menyediakan air bersih. Ini giliran pakar geologi dan geofisika untuk mensosialisasikan pengetahuan mereka, setidaknya untuk masyarakat pantai. Ini kewajiban para dermawan untuk menyediakan ransum. Salam takzim untuk para relawan yang sudah memobilisasi dana atau bahkan menjadi sukarelawan, terjun langsung ke lokasi bencana. Beliau-beliau adalah mukmin terpilih, sungguh keputusan yang tidak gegabah untuk menjadi relawan, karena kita tahu betapa banyak mayat membusuk dapat menularkan penyakit dan menyebabkan kematian. **** Ya Arhamar Rahimin, Semoga ini cobaan yang akan mengangkat derajat kami Bukan adzab yang akan menambah luka Yaa Muallifal Qulub Satukan hati-hati kami Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uuna. Allaahumma ajirnii fii mushiibatii wakhluf lii khairan minhaa. *** Mu. Abdur Razzaq <omurazza at yahoo dot com> Nalar Tak Sampai Publikasi: 05/01/2005 07:50 WIB

eramuslim - Ada pengalaman yang mengerikan sekaligus meninggalkan sebuah pertanyaan di hari ke tiga anak saya di rawat di rumah sakit karena Typhus. Saat itu adzan Maghrib berkumandang dan hujan tengah rintik-rintik, ketika Izrail menjemput seorang anak berusia empat tahun di kelas tiga, kelas sebelah anak saya yang dirawat di kelas dua. Segera tangis mengurai di seluruh sudut bangsal, ibu sang anak langsung pingsan tak berdaya menerima kenyataan, sementara ayahnya menatap pilu wajah mungil yang terbujur kaku di hadapannya. Malam itu sangat mencekam, bukan karena hujan tak reda, bukan pula karena semua penunggu pasien nampak termenung melihat kejadian sore tadi. Entah karena apa. Tibatiba sekitar pukul 01.15 dini hari, kembali tangis meledak di ruang yang sama. Seorang anak berusia kurang dari delapan tahun harus menghadap Allah. Yang membuat bingung, anak tersebut baru kurang dari dua jam lalu masuk bangsal tersebut dan ditempatkan di tempat tidur bekas anak yang meninggal sore tadi. "Izrail masih di ruangan ini," ujar seorang ibu lirih sambil menutupi wajah anaknya dengan telapak tangannya berharap Izrail tak melirik anaknya. Maklum tempat tidurnya hanya berjarak satu lirikan saja dari tempat anak yang baru saja meninggal. Tentu saja ungkapan "Izrail masih di sini" kuranglah tepat. Karena, Izrail tentu bisa ada di mana saja. Karena tak berapa lama pembantu Allah itu menjemput dua anak di bangsal RS itu, ia langsung berada di Aceh untuk menghantarkan ratusan ribu warga korban Tsunami untuk bertemu Rabb mereka. "Tidakkah Izrail lelah?" Ah, dasar kita memang manusia. Takkan pernah bisa memahami kehendak dan kekuatan Allah. Saat Dia menurunkan hujan, kita meminta matahari segera bersinar. Saat kemarau berkepanjangan, beramai-ramai kita sholat untuk meminta hujan. Saat rezeki berlimpah menghampiri, kita bertanya-tanya, "mimpi apa semalam?" Tetapi ketika Dia mengambil satu saja dari sekian nikmat yang kita miliki, kita pun marah, "Tuhan, apa dosa saya?" Manusia selalu bertanya, gerangan apa yang dikehendaki Allah dari semua peristiwa yang terjadi. Setiap kali kita mencoba mencari jawabannya, selalu diembeli kata 'mungkin'. Tak pernah ada yang pasti, karena tak satu pun kita bisa tahu pasti rencana Allah. Cara Dia memberi sesuatu, dan cara Dia mengambilnya kembali dari kita, juga tak pernah bisa kita mengerti. Nalar ini tak pernah sanggup mengurai satu persatu kehendakNya.

Tak ada yang bisa menjawab kenapa di usia senja Allah belum juga memberi kita jodoh. Tak ada yang tahu rahasia Allah tak juga menganugerahi keturunan di belasan tahun usia pernikahan kita. Sama tidak mengertinya kita saat Dia tak menyegerakan datangnya rezeki meski selaut tangis dan pinta kita layangkan kepada-Nya. Atau ketika Dia justru menanamkan janin di sebuah rahim yang si empunya belum berkehendak untuk mengandung. Dan adakah yang sanggup menjawab pertanyaan, kenapa kita masih menghirup segarnya udara di pagi hari ini? Nalar manusia takkan pernah mampu menjangkau kehendak Allah. Kemampuan berpikir manusia tak pernah berhasil mengurai rencana Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Sebagian orang mencoba mengerti dan memahami setiap apa yang terjadi di muka bumi ini, meski saya tak pernah benar-benar yakin mereka tak menyisakan satu tanya, mengapa? Seperti halnya musibah di Aceh, Sumatera Utara dan beberapa negara di Asia. Semua bilang Allah tengah murka. Sungguh, saya tak benar-benar yakin Allah tengah murka. Mungkin itu hanya sebuah peringatan saja. Murka Allah begitu besar, begitu hebat. Gelombang tsunami yang baru saja terjadi bukanlah murka Allah, itu tak sebanding dengan semua dosa dan kesalahan yang kita perbuat di muka bumi ini. Kalau Allah mau murka, kenapa harus Aceh (saja)? Padahal yang berbuat salah tidak hanya orang-orang Aceh, yang bergelimang dosa mungkin lebih banyak di daerah lain. Jika Allah mau murka, mungkin seluruh negeri ini akan luluh lantak di hantam badai laut, angin, gunung dan segala yang Allah punyai. Lagi-lagi, nalar kita tak sampai --dan takkan pernah bisa-- mengurai semua kehendakNya. Karena kita cuma manusia. Makhluk yang dengan segala kekerdilannya mencoba memahami jalan Allah. Yang selalu takkan pernah mampu mengerti mengapa Dia mengambil semua yang pernah Dia berikan sebelumnya. Siapkah kita menghadapinya? Ah, jangan coba-coba menjawab dengan nalar lagi. Pagi harinya, masuk lagi seorang anak dengan penyakit yang sama parahnya dan ditempatkan di tempat tidur yang sama bekas dua bocah sebelumnya meninggal. Tapi sampai kepulangan anak saya dari rumah sakit, anak itu berangsur sehat. Mungkin Izrail memang tidak di ruangan itu, mungkin ia tak sedang mengunjungi kita, atau anak kita, tapi pasti ia akan datang. Itu pasti, untuk yang satu ini, saya tak perlu menalar, ia pasti datang, suatu saat.

*** Bayu Gautama Mengenang Seorang Sahabat Publikasi: 04/01/2005 08:48 WIB eramuslim - Sahabat, masih ingatkah dengan sebuah tulisan "Ketika Tuhan Bertanya Maka Nikmat Tuhan Kamu yang Manakah yang Kamu Dustakan?" yang pernah dimuat di rubrik Oase Iman ini sebulan yang lalu? Tulisan itulah yang telah kembali membuka kenangan lama saya bersama almarhumah ibunda tercinta karena ayat tersebut merupakan bagian dari surat Ar-Rahman kesukaan beliau yang hampir setiap malam dilantunkan setelah melaksanakan shalat tahajud. Maka, izinkan saya untuk berdo'a agar Allah masih mengekalkan ingatan kita semua. Karena pada kesempatan ini saya ingin kembali mengajak anda mengenang kebaikankebaikan sang penulis, ketekunan dan keikhlasannya di dalam beribadah kepada Allah, kekuatan semangat dakwahnya yang tiada lekang ditelan kejemuan hidup di alam fana ini. Keusuma Izzati adalah sang penulis tersebut dan para sahabatnya lebih akrab dengan nama kecilnya "Nanda". YISC Al-Azhar, adalah organisasi pemuda masjid Al-Azhar, Jakarta tempat di mana dia dulu melarutkan dirinya sebelum akhirnya kembali ke tanah kelahirannya - Aceh. Seminggu yang lalu tepatnya pada tanggal 25 Desember 2004 jam 11:23 AM Nanda telah melantunkan sebuah bait do'a penuh makna, "Semoga Tuhan tunjukkan jalan terbaik dalam setiap langkah hidupku, dalam peran apapun yang harus aku emban, dan dalam suka maupun dukaku. Karena aku sangat yakin, Allah tidak akan membiarkan aku terus dalam kesendirian...". Sahabat, sungguh kita tidak pernah tahu bahwa do'a itulah mungkin kata-kata terakhirnya untuk kita para sahabatnya karena Nanda adalah salah seorang korban gempa bumi dan hempasan gelombang dahsyat tsunami yang memporak-porandakan tanah rencong kelahirannya yang terjadi keesokan harinya pada tanggal 26 Desember 2004 di pagi hari, yang juga mungkin telah memusnahkan seluruh anggota keluarganya, atau bahkan mungkin juga telah merenggut nyawanya sendiri. Tsunami telah membawanya kembali kepada sang Pencipta - Allah Robbul 'Alamin.

Do'anya mungkin telah terkabul bahwa Allah tidak akan membiarkannya terus dalam kesendirian. Benar, Allah lebih mencintainya daripada kita sehingga Allah mengambilnya lebih cepat dari dugaan kita sebelum ini. Dan kini kita menyadari bahwa antara hidup dan mati memang sangat tipis jaraknya dan kita tidak pernah tahu kapan kematian itu akan datang menjemput. Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?. (QS Ar-Rahman: 26-28) Satu minggu sudah kami tidak pernah lagi mengetahui keberadaannya. Di manakah jasadnya bila memang dia telah tiada pun kami tidak pernah tahu. Hanya berita-berita sedih dan menyayat hatilah yang telah mengisi kehidupan hari demi hari. Betapa banyaknya saudara-saudara kita yang meninggal, yang telah kehilangan anak-anaknya, yang kehilangan orang tuanya, yang kehilangan kakak dan adiknya, paman dan bibinya, tetangga dan kerabatnya, guru-guru dan sahabat-sahabatnya, dan semua orang-orang yang dicintainya, juga tempat tinggal, harta dan kekayaannya yang selalu dibanggakan sebelum ini. Sungguh betapa besar kerugian yang harus ditanggung umat manusia di penghujung tahun ini. Tragedi tsunami dan gempa bumi telah membawa kita pada kebinasaan namun kita selalu yakin bahwa Allah tidak akan menurunkan sesuatu kecuali dengan hikmahnya. Ya hikmahnya yang baik. Kini kita bisa melihat sebuah pemandangan indah yang sangat menakjubkan, persatuan umat manusia sedunia! Yang dulu selalu kita impikan, mereka bahu membahu satu sama lain dengan penuh keikhlasan, mengulurkan tangannya tanpa peduli keringat dan darah, mengeluarkan sedekahnya hingga hampir menghabiskan seluruh gajinya. Dari Jawa hingga ke Afrika. Tiada lagi perbedaan agama, suku, warna kulit dan ideologi. Semua orang berlomba mencari posisi terdepan sebagai volunteer seolah mengejar sebuah jabatan strategis, hanya untuk satu tujuan bersama "Bantuan kemanusiaan bagi para korban tragedi tsunami". Padahal dulu betapa sulitnya kita mengumpulkan sumber daya manusia sebanyak itu, mengumpulkan lembaran demi lembaran uang kertas untuk keperluan bahan-bahan pokok atau hanya sekedar mengumpulkan pakaian bekas yang masih layak pakai untuk hal yang sama juga, menyantuni anak yatim, membantu fakir miskin dan lain sebagainya.

Nanda, sahabat terbaik kami, istirahatlah dengan tenang bila memang Allah telah menemani kesendirianmu. Seruan shalat ghaib pun telah dikumandangkan di seluruh negeri, dan kami telah mendirikannya. Kini seluruh dunia tertunduk layu menyambut bergantinya tahun di antara tragedi tsunami dan gempa bumi. Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?. (QS Ar-Rahman: 37-38) Sahabat, inilah bait-bait puisi terakhir Nanda "Kutitipkan Rahasia Hatiku Padamu" yang dibuat pada tanggal 9 Desember 2004 - dua minggu menjelang tragedi. Sudahlah... satu rintangan terlewati kini satu teka-teki terjawab kini satu angan terpupuskan kini tapi ada satu asa yang masih melangkah walau dalam remang mencoba memijakkan kaki tetap di atas bumi dengan tangan menengadah ke langit Ya Allah... pantulkanlah cinta untukku dari cermin hati hambaMu yang terpapar cahaya cintaMu

Beningkanlah hati kami agar tiada redup pelita kasihMu. 9 Desember 2004 Keusuma *Allah selalu punya cara untuk membuat kita kembali kepadaNya. *** Selamat jalan Nanda dan tersenyumlah bahwa raudhatul jannah sedang menunggumu. Insya Allah. Nugraha Prasidha <nprasidha at elazhar dot net> Ketika Bangsaku Tidak Egois Lagi Publikasi: 03/01/2005 08:27 WIB eramuslim - Suatu saat, seorang pembaca tulisan-tulisan saya mengkritik saya habishabisan. Dia bilang, saya tidak nasionalis karena menjelek-jelekkan bangsa sendiri. Ketika itu saya memang membuat beberapa tulisan tentang korupsi dan keegoisan orangorang Indonesia yang tidak peduli pada peraturan, dan juga orang lain. Bagaimana tidak egois kalau orang-orang menyeberang seenaknya di jalanan? Motormotor naik ke trotoar menyerobot hak pejalan kaki? Mobil-mobil mewah sampai angkot berebut dalam kemacetan, tak peduli jalur berlawanan atau pun lampu merah hingga malah menyebabkan terkuncinya kemacetan di tengah-tengah? Bagaimana tidak egois jika begitu banyak rumah mewah di balik tembok kompleks dan sekitarnya adalah rumah kardus? Bagaimana tidak egois kalau orang-orang berduit dan berilmu malah membabat hutan, membangun vila di bukit-bukit dan menyebabkan daerah di bawahnya kebanjiran? Bagaimana tidak egois jika para pejabat hingga bawahan memasukkan harta negara ke perutnya sendiri sementara rakyat kelaparan? Bagaimana tidak egois jika kantor pelayanan publik hingga yang paling bawah dijadikan sarana mendapat penghasilan tambahan bagi para petugasnya? Bagaimana tidak egois jika orang-orang di pemerintahan, juga swasta bahkan LSM sosial me-mark-up anggaran agar mereka dapat bagian padahal mereka sudah digaji untuk pekerjaan itu? Bagaimana tidak egois jika orang-orang dari level atas sampai pelaksana melakukan praktek percaloan, memalak

orang-orang yang membutuhkan hingga jualan di pasar, di pinggir jalan, mau naik bajaj dan taksi pun kena pungli juga. Bagiamana..., jika diteruskan, satu halaman ini hanya akan terdiri dari satu paragrap yang berisi bukti dan realitas orang-orang Indonesia yang egois. Dan semua pelakunya adalah kita: sebagian saya & anda, warga Indonesia. Kepada kenalan itu saya berkata justru karena saya nasionalis, saya menyatakan semua ini. Justru karena saya nasionalis, saya menyakiti diri sendiri dengan mengungkap semua itu. Sebab saya juga orang Indonesia. Seorang yang nasionalis semestinya mengakui semua kenyataan tentang bangsanya, buruk atau pun baik, bukan menutup-nutupinya atau membela membabi buta. Jika buruk perlu dilakukan otokritik untuk perbaikan, jika baik perlu dipuji dan dipertahankan serta disebarluaskan. Dan kali ini, saya ingin menyatakan kebanggaan saya: Orang Indonesia tidak sepenuhnya egois. Mereka peduli. Mereka penolong. Mereka penuh kasih. Mereka... Hari ini, ketika berita bencana aceh makin mengharu biru. Hari ini ketika kondisi aceh makin pilu. Hari ini ketika warga ujung barat negeri ini meratap sendu. Seorang anak kecil minta berangkat ke Aceh untuk menolong teman-temannya. Seorang balita memecah celengannya untuk disumbangkan. Seorang pemuda pengangguran yang suka mabuk-mabukan menyumbangkan dua celana panjangnya, Seorang tukang cuci menyumbangkan sedikit uang miliknya. Para pengusaha, instansi pemerintah dan perusahaan-perusahaan menyumbang milyaran rupiah. Para pejabat menyerahkan setengah gajinya, hingga sopir angkot dan pembantu rumah tangga pun merelakan sebagian dari penghasilannya. Sekolah-sekolah, kampus-kampus, LSM-LSM, masjidmasjid, kantor-kantor, media informasi, dan lain sebagainya: semua mendirikan posko bantuan. Dari rumah ke rumah, di jalan-jalan, di kampung dan kompleks, aksi penggalangan dana dilakukan. Dari ibu kota Jakarta hingga pelosok desa. Dari provinsi kaya hingga yang juga baru bangkit dari bencana. Semua berlomba menolong. Semua ikut berbagi. Semua ingin berpartisipasi. Semua mengulurkan tangan untuk Aceh yang menderita di ujung barat sana. Dan ini adalah bukti nasionalisme kita, ukhuwah kita, persatuan dan kesatuan kita. Satu bagian tubuh terluka, seluruhnya merasakan sakitnya. Acehku, semoga lukamu menjadi titik tolak bagi kami semua anak bangsa, bahwa masih banyak luka lain bangsa ini yang terlupakan. Semoga dukamu menjadi pengingat bagi seluruh penghuni negeri, ada banyak lagi saudaranya yang tenggelam dalam nestapa.

*** Azimah Rahayuazi_75@yahoo.com @azi, pagi hari ke-4: saatnya airmata dikeringkan & lengan baju disingsingkan Tafakur Hening di Ujung Tahun Publikasi: 30/12/2004 09:29 WIB "Wahai anak cucu Adam, engkau hanyalah kumpulan dari hari-hari yang terhitung. Bila berlalu satu hari berarti hilanglah sebagian darimu. Jika hilang sebagian darimu maka bertambah dekatlah saat kematianmu. Kalau engkau sudah mengetahui hal itu Maka segeralah berbuat! (Beramal, bersiap dan berbekallah)." ( Hasan al-Bashri ) eramuslim - Hari Ahad kemarin mungkin hari yang menyenangkan. Bukankah hari libur selalu menjadi hari untuk sejenak lepas dari rentetan deadline pekerjaan. Hari Ahad kemarin bisa jadi hari yang indah, karena biasanya kita bebas bersantai di rumah tanpa harus menikmati kemacetan jalan, bercengkrama dengan keluarga atau pergi jalan-jalan untuk sebentar melupakan jerat rutinitas kantor. Oh iya, hari Ahad kemarin, hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Eci, teman kantor saya. Karena hari itu ia melangsungkan pernikahan. Hari yang paling ditunggunya. Hari paling berbahagia dalam kehidupannya. Tapi ternyata hari Ahad kemarin adalah hari yang paling menakutkan, bagi saudara kita di bumi Aceh sana. Ternyata hari Ahad kemarin adalah hari paling kelam yang meninggalkan trauma kepedihan bagi hampir semua penduduk Serambi Mekkah. Hari itu tak sedikitpun mereka kira akan menjadi hari sepenuh duka dan luka. Pagi, di hari itu, semuanya masih terasa sama. Arakan awan putih, pohon hijau melambai, ibu-ibu pergi ke pasar, anak-anak bermain ceria, bahkan di sebuah lapangan tengah kota sebuah perlombaan lari tengah di gelar, udara bertiup sejuk. Sampai tiba saat itu. Dalam sekejap semua tak lagi sama. Ujud tanah rencong terkoyak hampir sempurna. Dan bapak itu berkisah, rumahnya berada di pesisir pantai. Ia tengah di dalam rumah, ketika tiba-tiba saja hingar gemuruh singgah di telinga. Bergegas ia ke luar, dan sejenak

ia seperti berada dalam mimpi. Sejauh mata memandang, ia tak melihat setetes pun air laut yang biasanya membiru. Ia bersama yang lainnya menuju ke arah pantai. Mereka tertegun penuh decak kagum. Ternyata laut tak hendak berbagi suka. Air yang surut itu datang. Bergulung-gulung. Tinggi sekali. Ombaknya menjelma tangan yang rindu dan memberikan songsongan kepada kekasihnya. Ia berlari. Sempat ia melihat para tetangganya tenggelam tersapu air yang datang tiba-tiba. Dan ia pingsan. Ketika siuman, sebuah kenyataan membuat hatinya memar. Puluhan ribu nyawa saudaranya terenggut air laut yang juga mengerjarnya tanpa henti. *** Saya tidak sendirian tercenung di depan televisi. Ruang tengah itu hening. Kami tak mampu berkata-kata. Betapa tidak, puluhan jenazah balita berjejer terbujur diam di antara ratusan jenazah dewasa lainnya. Hampir semua berbalut kain yang ujudnya sudah tak layak pakai. Ah, anak-anak polos itu. Ribuan jenazah lainnya masih berserak, di antara tumpukan sampah kayu, di tengah jalan, di mana-mana. Betapa mudah bagi Allah merenggut puluhan ribu nyawa dalam waktu satu jeda. Sangat mudah. "Duh Allah, sedemikian bebalkah saya, hingga harus diingatkan dengan tsunami sedahsyat ini," ucapan kakak ipar terdengar samar. Saya diam. Mendengar ucapannya, saya tersenyum miris. Yah, betapa bebal jiwa ini, hingga Allah harus menegur dengan begitu keras. Sudah membatu seperti apa hati ini, hingga untuk menyentuhnya Allah harus menggeserkan dasar lautan dan terjadilah gempa disertai tsunami. "Ya Ghaffar, janganlah Engkau hukum kami, jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Allah, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, Ampunilah kami." *** Di ujung hening, ada yang di gumamkan ke angkasa diam-diam. Malu-malu. Karena betapa banyak karat dosa yang telah dilakukan. Wahai Yang Maha Lembut pengasihnya, perkenankan kami, menengadah menjemput cahaya keagungan Mu, meski Engkau tau betapa legamnya jiwa-jiwa ini.

Subhanaka Ya Allah, kami tahu betapa hati-hati ini telah ditumbuhi banyak ilalang tinggi bahkan berduri. Kami teramat sering melupakan Engkau dan mencintai dunia. Kami sembah kesenangan, kami agungkan kekayaan. Kami lupa berbagi. Kami lupa memberi. Yang Maha Asih dan Sayang, perkenankan kami kembali belajar. Belajar saling mencinta. Belajar menelagakan kembali gemericik ukhuwah di antara kami. Sahabat, bersyukurlah, kita masih diizinkan Sang Pencipta, untuk memasuki pagi dan petang. Bersyukurlah jika kita masih diperkenankan melihat mentari tahun baru. Bersyukur masih ada porsi usia. Itu berarti bahwa kita masih diberi jeda untuk bertaubat dan berbuat yang terbaik. Jangan pernah menyia-nyiakannya. Sahabat, renungkan petikan email yang saya terima kemarin siang. Penulisnya menganalogikan dosa sebagai pohon berduri : "Di dalam hati kita pohon berduri itu tumbuh saat kita melakukan keburukan kepada Tuhan, diri dan sesama. Jangan menunggu waktu, karena tiap detik adalah kesempatan mengakarkan, mengokohkan pohon itu di sekujur tubuhmu. Ambillah kapak imanmu segera sebelum terlambat untuk menumbangkannya. Penundaan hanyalah melahirkan ketakberdayaan. Kelak saat kapak imanmu tidak lagi tajam, tubuhmu pun sudah kehilangan kekuatan. Belantara pohon berduri itu bahkan kelak menusuk mata, telinga dan hatimu. Sebelum telingamu bernanah oleh cemoohan, matamu menangis oleh kedukaan tak berujung, dan hatimu berdarah oleh himpitan derita dan adzab, tebaslah pohon berduri itu. Janganlah berani melawan waktu, karena waktu selalu menertawakan keringkihanmu." Allah, perkenankan kami pulang, kami ingin menebas pohon berduri itu. *** Mari hantar sepenuh doa untuk semua saudara kita yang terkena bencana. Semoga Allah menerima semua yang pergi menghadap-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan keikhlasan dan kesabaran. Semoga setiap kita diberikan kemampuan untuk mengambil pelajaran dari bencana kemarin. Tiada Kata Kalah Sebelum Nyata di Depan Mata! Publikasi: 28/12/2004 08:34 WIB

eramuslim - Dua laki-laki anak beranak bertampang keren itu menyeringai jahil, tampak cerdik dan penuh percaya diri. Mereka memang pantas untuk itu. Tiga tantangan sebelumnya telah mereka lalui dengan mulus dan sempurna. Bahkan mereka memenangkan babak bonus berupa liburan keluarga selama satu minggu. Dan kini, di babak final, hadiah utama telah menunggu. Keduanya merasakan bahwa kemenangan itu sudah dalam genggaman mereka. Tinggal selangkah lagi. "Kami laki-laki! Kami kuat, kami gesit, kami kompak dan kami cerdik. Kami akan memberikan patokan yang sangat baik dan membuat lawan kami tertekan hingga tak dapat mengejarnya. KAMI AKAN MENANG!" Dua perempuan anak beranak yang menjadi lawannya tak berkata apa-apa. Raut wajah cemas nyata sekali membayang di mereka. Tapi mereka tahu, mereka tak mungkin menghindar atau mundur. Betapapun, tantangan ini harus tetap mereka hadapi. Mereka senang karena tidak mendapat giliran pertama, meski itu sekaligus dapat berarti mereka akan merasa tertekan mendapati hasil yang dibukukan pria ganteng dan cowok kecilnya itu. Ini adalah kompetisi final, memperebutkan hadiah utama senilai hampir setengah milyar dari sebuah reality show produk Amerika yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta. Dan jauh tinggi di atas permukaan laut, empat tabung kaca yang digantung membujur telah menunggu. Para peserta harus merangkak di dalam tabung itu, kemudian pindah ke tabung berikutnya menggunakan alat bantu yang disediakan. Dari tabung pertama ke kedua, mereka harus berayun menggunakan tali layaknya Tarzan. Dari tabung kedua ke ketiga, mereka harus meniti tangga terbalik dengan mengayunkan tangan dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya. Kemudian mereka harus mencapai tabung empat dengan berayun menggunakan ayunan sebatang kayu yang diikat dengan tali layaknya pemain sirkus beraksi. Terakhir, mereka harus terjun ke laut dan berenang menuju perahu karet dan mencabut bendera yang diletakkan di sana. Pertandingan pun dimulai. Pria atletis berusia tengah tiga puluhan itu memberikan instruksi-instruksi dan motivasi mental kepada anak lelakinya yang berusia 10 tahun. Mereka benar-benar memiliki strategi matang untuk menyelesaikan tantangan itu. Benar saja! Si anak yang mendapat giliran pertama bergerak secepat kilat bahkan meluncur dalam tabung, melewati tali, tangga dan ayunan dengan sempurna dan akhirnya terjun dan berenang menuju perahu karet. Dia berhasil!!! Bapaknya pun menyusul dengan tak kalah cepat. Dan akhirnya, mereka menyelesaikan tantangan itu dalam perolehan waktu yang fantastis, dan sempurna tanpa cacat. Dua menit dua puluh satu detik!!! Menyaksikan bagaimana lawan mereka beraksi benar-benar membuat si ibu dan gadis kecil sebelas tahun-nya jiper. Mereka benar-benar shock. "Saya hanya ingin menyelesaikan dan melewati tantangan ini," kata sang ibu. Dan si gadis kecil hanya menjawab "Yeaah" dengan suara lemah ketika sang pembawa acara menyemangatinya. Wajahnya tampak hendak menangis, sampai-sampai si pembawa acara harus berkali-kali mengeluarkan kalimat-kalimat dukungan hingga ledekan karena si kecil tampak betulbetul sudah hopeless. Mereka kalah sebelum bertanding. Betapa menyedihkan! Bahkan, ketika ibu dan anak itu sudah di atas sana, si gadis kecil benar-benar menangis. Dia

sangat ketakutan, meski sang ibu sebisa mungkin memotivasinya. Dan si kecil pun memulai aksinya dengan wajah terguyur air mata. Saya menahan napas. Ikut-ikutan tegang! Tapi lihat! Dia bergerak dengan cepat. Saat menarik tali untuk berayun, O...o, tali itu sempat terlepas kembali. Sungguh membuang-buang waktu. Dia kemudian juga tampak kesulitan meniti tangga terbalik. Tapi si gadis menyelesaikan semua tantangan dengan catatan waktu yang cukup baik. Ibunya pun segera menyusul dengan cepat. Sayang, ketika berayun dengan tali, dia sempat mental kembali. Nyaris saja dia gagal mencapai tabung kedua. Namun dengan susah payah, dia berhasil meraihkan kakinya ke tabung dua. Saya berteriak-teriak menyemangati meski tahu tak akan mengubah apa yang terjadi di layar kaca. Gerakannya meniti tangga terbalik juga diperlamban oleh berat badannya, dan waktu kembali terbuang saat tali yang digunakan untuk menarik ayunan terlepas dari tangannya. Tapi si ibu terus bergerak. Cepat sekali. Dia mengerahkan kekuatannya saatsaat terakhir berenang menuju perahu karet. Dan mereka berhasil! Setelah upaya yang demikian keras dan membuat kesalahan beberapa kali hingga nyaris gagal, dua perempuan itu menyelesaikan tantangan final tersebut. S-e-p-u-l-u-h detik lebih cepat dari si bapak keren dengan anak lelakinya! Saya berteriak histeris atas kemenangan mereka. Benar-benar fantastis. Luar biasa! *** Berapa sering saya merasa gagal? Dan, lebih buruk lagi, berapa sering saya merasa gagal bahkan sebelum bertanding? Berapa sering saya merasa kalah bahkan sebelum memulai? Sering! Teramat sering! Dan intensitas itu diperparah dengan data pengalaman masa lalu yang tersimpan di memori saya: Berkali-kali saya gagal dalam seluruh bidang kehidupan saya. Kegagalan-kegalan yang membuat saya teramat sering bersedih, pedih, dan hancur saat evaluasi karena menyadari semua kegagalan itu adalah karena kenaifan saya yang hanya berbekal semangat dan ketulusan namun sering kali kurang sadar atas kondisi realitas dan kurang mengukur kapasitas diri. Dan semua pengalaman itu, akhirnya membuat saya ragu untuk mencoba lagi, takut, tidak percaya diri dan gamang. Dan akhirnya membentuk pemikiran saya untuk selalu melakukan sesuatu tanpa berharap banyak, dan lebih banyak mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk. Lebih banyak berpikir tetang kondisi realitas yang saya miliki dan kira-kira seberapa besar prosentase saya untuk berhasil. Membuat saya kalah sebelum memulai! Dan seringkali mundur sebelum mencoba. Namun tayangan televisi tadi menunjukkan, berbekal semangat dan ketulusan pun tidaklah selamanya naif. Bisa jadi semangat dan ketulusan akan menjadi kekuatan yang tak terlihat. Bisa jadi semangat dan ketulusan akan mampu mencuatkan pontesi terpendam, dan memberikan energi luar biasa untuk mengalahkan sebuah tantangan. Sesungguhnya kekalahan tidak pernah benar-benar terjadi sampai detik terakhir Allah menunjukkan takdir-Nya. Sesungguhnya kegagalan tidak akan pernah benar-benar terwujud sampai nyata di depan mata. Sesungguhnya, setiap kemungkinan dalam sebuah

pertarungan hidup -gagal atau berhasil- selalu tercipta meski hanya sepersekian detik ke depan. Semua itu mengajarkan pada saya, bahwa sesungguhnya saya pun mampu. Saya bisa! Saya hanya harus terus bernapas, terus berusaha dan tak berhenti hanya karena merasa sudah terlambat. Hanya karena merasa sudah kalah. Hanya karena merasa sudah gagal. Hanya karena merasa sudah tidak ada harapan. Apapun kondisinya, saya hanya harus terus berusaha dan menjalani prosesnya, sesakit apa pun itu, sesedikit apa pun kesempatannya. Tak lebih dan tak kurang. Dan pada akhirnya, saya tahu, bahwa sebagaimana kompetisi ibu-anak dan bapak-anak tadi hanya sebuah permainan, hidup ini pun hanyalah sebuah permainan. Tak perlu bersedih jika gagal, karena sesungguhnya, saya akan tetap menjadi pemenang selama saya menjalani prosesnya dengan benar! Azimah Rahayu (@azi, 27des bakda subuh: Spesial untuk diri sendiri dan semua yang pernah gagal di dunia ini) Maafkanlah... Publikasi: 27/12/2004 08:53 WIB eramuslim - Pada hakikatnya, manusia terlahir sebagai makhluk pribadi dan sosial. Dalam menjalankan perannya sebagai makhluk sosial, manusia harus berinteraksi dengan manusia lain. Interaksi ini tentunya tidak selalu berjalan mulus seperti yang diinginkan. Karena friksi tujuan dan harapan, seringkali menimbulkan riak-riak kecil yang kadangkala berubah menjadi ombak besar sehingga bisa memperkeruh suasana hati dan sulit dijernihkan lagi seperti sediakala. "Aku memaafkanmu". Ini teramat mudah diucapkan di ujung bibir, namun sangat susah dikukuhkan dalam hati. Sulit sekali memaafkan orang yang telah menzalimi kita. Bahkan kadang-kadang kita malah ingin melihat orang itu merasakan hal yang sama. Astaghfirullah, apakah kita pernah seperti itu? Jika pernah, sekali-kali jangan pernah terulangi lagi dan jangan pula mendoakan hal yang buruk padanya. Goresan luka memang meninggalkan bekas, akan tetapi bukankah sakitnya cuma sebentar? Apa keuntungan yang kita peroleh dengan mengungkit-ungkit kesalahan yang telah berlalu? Adalah Ali bin Abi Thalib r.a. yang gagah berani, sepupu Rasulullah SAW yang tangguh bagai singa dalam peperangan ini ternyata memiliki hati yang lembut dan sangat pemaaf. Ketika Abdurrahman bin Muljam -yang menyebabkan kepalanya luka parah dan akhirnya menghantarkannya ke ajal- berhasil ditangkap dan dihadapkan kepadanya, Ali melihat dendam dan kebencian di mata Hasan dan Husain r.a., kedua putranya serta karib kerabatnya. Tahukah kita apa yang diucapkannya saat itu, "Perlakukanlah ia dengan sebaik-baiknya. Hormati martabatnya sebagai manusia. Kalau aku masih hidup, maka akulah yang lebih berhak atasnya. Apakah akan menuntut qishash atau memaafkannya.

Dan kalau aku mati, maka biarkanlah ia menemaniku, untuk kuhadapi di hadapan pengadilan Rabbul 'Alamin. Janganlah kalian membunuh selainnya karena menuntut balas atas kematianku. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." Sekarang marilah kita kenang hari pembebasan Makkah. Setelah kaum kafir Quraisy melanggar Perjanjian Hudaibiyah, tidak ada alasan lagi untuk menahan Rasulullah dan pasukan Muslimin menduduki Makkah. Penduduk Mekkah kala itu dirundung ketakutan yang teramat sangat mengingat apa yang telah mereka lakukan terhadap Rasulullah. Bukankah mereka yang selama ini menganggapnya orang gila dan telah menghasut orang-orang untuk memusuhinya? Bukankah mereka yang mengejeknya, melempari dengan batu dan kotoran unta? Bukankah mereka yang telah memboikot dia dan keluarganya, Bani Hasyim yang dianggap membangkang dari agama leluhur? Bukankah mereka pernah melakukan percobaan pembunuhan terhadapnya? Dan bukankah mereka juga yang telah mengusirnya dari kota kelahirannya ini? Mereka pernah menggempurnya habis-habisan dalam berbagai peperangan. Dan di antara mereka juga ada dalang pembunuhan dan penganiayaan keji atas pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib. Rasanya tak ada lagi alasan untuk membela diri. Sekarang, nyawa mereka terletak pada keputusan dan wewenang Muhammad SAW putra Abdullah atas ribuan balatentara yang bersenjatakan lengkap dan siap meluluhlantakkan Makkah. Mari kita dengar keputusan itu, "Pergilah kamu sekalian! Kamu sekarang sudah bebas!" Dibebaskan? Bukan itu saja! Rasulullah juga melarang keras pasukannya berbuat semena-mena terhadap penduduk Makkah walaupun di antara mereka ada yang menyimpan rasa sakit hati terhadap perlakuan orang Makkah dahulu. Subhanallah! Betapa mudahnya orang-orang ini membuka pintu maaf. Ali bukanlah malaikat. Rasulullah, walaupun diberi beberapa keistimewaan oleh Allah SWT pada dasarnya tetap manusia biasa. Seperti kita, mereka juga punya amarah. Betapa mudah sebetulnya Ali menyuruh Hasan atau Husain r.a. untuk mendera Ibnu Muljam dengan derita. Toh, Ibnu Muljam juga mengaku ingin menghabisinya. Melihat kebencian yang membara di mata anak-anak dan teman-temannya, suami Fathimah r.a. ini sudah membayangkan bagaimana nasib Ibnu Muljam seandainya dia meninggal nanti. Maka timbullah keinginan untuk melindungi pembunuhnya itu dari qishash yang bisa saja berlebihan dan menyimpang dari ajaran agama Islam. Dan renungkanlah, ahli sejarah mencatat, hari pembebasan Makkah adalah kemenangan besar yang diraih kaum muslimin yang sedikit sekali menelan korban jiwa dan kerugian. Kenapa bisa demikian padahal kita tahu bahwa orang-orang Mekkah itu yang paling bersemangat memusuhinya? Bahkan Hindun binti 'Uthbah, istri Abu Sufyan yang menjadi arsitek pembunuhan Hamzah juga dibiarkan hidup begitu saja. Peristiwa pada Hari Pembebasan Makkah hanyalah salah satu dari sekian banyak bukti pemaafnya. Beliau memang tidak mengenal permusuhan dan selalu bersikap sabar atas perlakuan

musuh. Tapi itu tidak berarti lari dan berdiam diri jika diserang oleh kaum kafir. Allah memperbolehkan perang asalkan di jalan Allah dan tidak melampaui batas. Oleh karena itu, Rasulullah tidak pernah memulai peperangan dan tidak pernah menyerang musuh sebelum diserang terlebih dahulu. Beliau juga tidak pernah membunuh orang yang sudah menyerah kalah. Kita tentu pernah membaca cerita tentang guru sekolah yang menyuruh murid-muridnya membawa kentang sebanyak orang yang mereka benci. Selama seminggu, kentangkentang itu harus dibawa ke manapun mereka pergi, bahkan juga ke toilet. Hari berganti hari kentang-kentang pun mulai membusuk. Murid-murid mulai mengeluh, selain berat, baunya juga tidak sedap. Pada hari ke-7, murid-murid tersebut merasa lega karena penderitaan mereka bisa berakhir. Suasana hati kita bisa dianalogikan dengan cerita kentang di atas. Jika hati tidak dibersihkan dari kebencian, kita tidak akan bisa menjalani hidup dengan tentram dan selalu merasa ada beban yang menghimpit. Air susu memang tidak boleh dibalas dengan air tuba. Air tuba pun jangan sampai dibalas dengan air tuba, akan lebih baik dibalas dengan air susu. Betapa indahnya hidup ini tanpa ada perasaan dendam dan benci yang menyelinap di dalam hati. Tak ada gading yang tak retak. Tak ada manusia yang luput dari satu kesalahan pun. Jika kita disakiti, anggaplah itu sebagai ujian kesabaran dari Allah yang akan mengangkat kita ke derajat yang lebih tinggi. Terimalah permintaan maaf itu dengan keikhlasan yang bermuara pada Allah semata. Allah Maha Adil pada ciptaan-Nya dan tentu membalas semua perbuatan baik kita dengan balasan yang setimpal. Bukankah kita menginginkan ridha-Nya sebagai balasan itu? Adakah yang lebih membahagiakan dibandingkan memperoleh ridha Allah? "Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya atas (tanggungan) Allah." (Asy-Syura: 40) Teman, apakah kita masih membawa 'kentang busuk' hari ini? Lebih baik dibuang saja. Maafkanlah... Allahu a'lam bish-showab. Sri Susanti iko_5411@yahoo.com Menciptakan Perbedaan Publikasi: 24/12/2004 07:49 WIB eramuslim - Belum lama saya berkenalan dengan dua wanita hebat di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Keduanya adalah bagian dari relawan yang memberikan pelajaran baca tulis kepada anak-anak jalanan dan juga anak-anak pemulung di beberapa tempat di Jakarta. Secara pribadi, saya–yang pernah besar di jalan- sangat tertarik dengan aktivitas

para relawan ini. Tidak sekadar mengisi waktu sisa, tak juga sebatas aktualisasi diri. Tapi saya yakin, lebih dari semua itu, apa yang mereka lakukan juga membedakan mereka dengan kebanyakan orang di muka bumi ini yang tak peduli dengan masa depan dan pendidikan anak-anak jalanan. Persaingan hidup, kadang menjebak kita pada rutinitas harian yang melelahkan. Bahkan hampir-hampir tak ada waktu tersisa selain untuk mengisi keperluan dan kebutuhan pribadi. Bangun pagi, sarapan kemudian berangkat ke kantor bekerja hingga sore bahkan larut. Kembali ke rumah dan merapatkan diri di pembaringan. Kalau pun ada aktifitas lain, ya masih bagian dari kepentingan diri, ibadah, jalan-jalan dengan keluarga, belanja, dan sebaris jadwal lainnya, yang kesemuanya: pribadi. Jika itu yang kita lakukan, tentu kita tak bedanya dengan milyaran manusia di belahan bumi mana pun. Yang terus menerus terjebak dengan rutinitas hidup demi pemenuhan kebutuhan individu. Kita, tak bedanya dengan orang biasa yang mengejar prestasi pribadi, yang hasilnya pun hanya dirasakan sendiri. Padahal jika hanya demikian, sekali lagi, kita tak bedanya dengan milyaran kepala di bumi ini. Nilai hidup tidak ditentukan oleh berapa banyak uang yang berhasil kita kumpulkan di tabungan pribadi. Tidak juga diukur dari tingkat dan gelar pendidikan yang sudah diraih. Dan saya sendiri tak pernah ‘angkat topi’ melihat jabatan di kartu nama seseorang yang baru saja saya kenal. Hidup akan memiliki nilai jika ada peran serta kita terhadap kehidupan orang lain. Semakin banyak orang lain yang tersentuh oleh keberadaan kita, semakin besarlah nilai hidup kita. Apapun bisa kita lakukan untuk menjadikan hidup ini bernilai. Semakin banyak yang bisa kita perbuat untuk orang lain, tentu hidup ini akan semakin berarti. Semangat inilah yang kemudian membaluri seluruh sendi dan aliran darah di tubuh saya untuk menciptakan perbedaan dengan mencoba lebih banyak berbuat untuk orang lain, tentu dengan cara saya sendiri. Dan saya yakin, setiap manusia di muka bumi ini bisa dengan mudah menciptakan perbedaan itu untuk menambah nilai hidupnya. Seperti dua sahabat baru saya di Stasiun Gambir itu, jejak langkahnya yang seringan kapas, kesabarannya mengajar takkan pernah bisa terlupakan oleh anak-anak jalanan itu. Mereka telah menciptakan sebuah perbedaan dengan apa yang mereka lakukan itu. Tentu tanpa perlu bertanya, saya yakin, hidup mereka jauh lebih berarti. Tak sekadar berarti untuk diri sendiri, atau keluarga. Tapi teramat berharga bagi orang-orang yang pernah disentuhnya. Kini, saya pun selalu mengenang sebuah momentum di tahun 1983 ketika kakek saya meninggal dunia. Rumah keluarga besar kami tak hanya dipenuhi dengan keluarga, sahabat maupun kerabat dekat kakek. Ratusan anak yatim piatu dari beberapa panti asuhan ikut berjejal dan berebut untuk mencium wajah bersih kakek saya dan menghantarkan jasadnya ke tempat terakhir.

Teramat banyak daftar orang-orang yang telah menciptakan perbedaan dan membubuhkan nilai untuk hidupnya. Sehingga pada saat hidupnya berakhir, kenangan tentang dirinya takkan pernah berakhir, sampai kapan pun. Itu bisa dibuktikan dengan seberapa banyak orang yang antri untuk ikut sholat jenazah. Inilah yang menjadi cita-cita terakhir saya, semoga. Bayu Gautama Ibuku, Tangguh! Publikasi: 23/12/2004 08:48 WIB eramuslim - Pernah suatu sore, ibu pulang dengan tapak kaki berdarah. "Tertusuk kerikil," terangnya. Setelah perjalanan panjang yang melelahkan semenjak pagi, wanita yang kasihnya tak terbilang nilai itu mengakhirinya dengan sedikit ringisan, "Tidak apa, cuma luka kecil kok," tenang ibu. Padahal, baru dua hari lalu beberapa orang warga yang tak satu pun saya mengenalnya membopong ibu dalam keadaan pingsan. Ternyata ibu kelelahan hingga tak kuat lagi berjalan. Bermil-mil ia mengetuk pintu ke pintu rumah orang yang tak dikenalnya untuk menawarkan jasa mengajar baca tulis Al-Qur'an bagi penghuni rumah. Tak jarang suara hampa yang ia dapatkan dari dalam rumah, sesekali penolakan, dan tak terbilang kata, "Maaf, kami belum butuh guru mengaji." Tapi ibu tetap tersenyum. Sejak perceraiannya dengan ayah, ibu yang menanggung semua nafkah lima anaknya. Pagi ia berjualan nasi dan ketupat bermodalkan sedikit keterampilan memasak yang ia peroleh selagi muda dulu. Menjelang siang ia memulai menyusuri jalan yang hingga kini takkan pernah bisa kuukur, menawarkan jasa dan keahliannya mengajar baca tulis AlQur'an. Selepas isya' kami ke lima anaknya menunggu setia kepulangan ibu di pinggir jalan. Sempat saya bertanya dalam hati, lelahkah ia? Biasanya kami berebut untuk menjadi tukang pijat ibu, saya di kepala, abang di kaki, sementara kedua tangan ibu dikeroyok adik-adik. Kecuali si cantik bungsu, usianya kurang dari empat tahun kala itu. Bukannya ibu yang tertidur pulas, justru kami yang terlelap satu persatu terbuai indahnya nasihat lewat tutur cerita ibu. Tengah malam saya terbangun, melihat ibu masih duduk bersimpuh di sajadahnya. Ia menangis sambil menyebut nama kami satu persatu agar Allah membimbing dan menjaga kami hingga menjadi orang yang senantiasa membuat ibu tersenyum bangga pernah melahirkannya. Saya ternganga sekejap untuk kemudian terlelap kembali hingga menjelang subuh ia membangunkan kami.

Selepas subuh, wanita yang ketulusannya hanya mampu dibalas oleh Allah itu meneruskan pekerjaanya menyiapkan dagangan. Sementara kami membantu ala kadarnya. Tak pernah saya melihat ia mengeluh meski teramat sudah peluhnya. Satu tanyaku kala itu, kapan ia terlelap? Pagi hari di sela kesibukannya melayani pembeli, ia juga harus menyiapkan pakaian anak-anak untuk ke sekolah. Sabar ia meladeni teriakan silih berganti dari kami yang minta pelayanannya. Wanita yang namanya diagungkan Rasulullah itu, tak pernah marah atau kesal. Sebaliknya dengan segenap cinta yang dimilikinya ia berujar, "Abang sudah besar, bantu ibu ya." Ingin sekali kutanyakan, pernahkah ia berkesah? *** Kini, setelah berpuluh tahun ia lakukan semua itu, setelah jutaan mil jalan yang ia susuri, bertampuk-tampuk doa dan selaut tangisnya di hadapan Allah, saya tak pernah, dan takkan pernah bertanya apakah ia begitu lelah. Karena saya teramat tahu, Ibuku tangguh!. Bayu Gautama Bunda, Rindu Ini Melangit Lagi! Publikasi: 22/12/2004 09:28 WIB Cintamu padaku, Berakar di sukma Rindangnya memenuhi jiwa Sepanjang masa (sebuah sumber) "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya, Ibunya telah mengandungnya Dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, ...." (QS Luqman : 14)

eramuslim - Bunda, malam ini tiba-tiba saja aku mengingatmu dengan utuh. Gurat syahdumu, tulus senyummu bahkan gaya berceritamu di masa kecil. Tiba-tiba saja bayangan sosok anggunmu dengan sorot mata penuh cinta hadir dalam jeda yang panjang kemudian menghilang. Sedang apakah saat ini bunda? Membaca buku? Tadarus AlQur'an? Menonton televisi atau ah entahlah, aku tidak yakin apa yang sedang bunda kerjakan saat ini. Mungkin juga bunda tengah bersiap di peraduan. Malam sudah akan beranjak. Tidur bunda selalu awal. Itu yang kutau. Ah, semoga bunda baik-baik saja.

Bunda, mata ini sudah dari tadi berkabut. Orang-orang yang lalu lalang tak lagi aku pedulikan. Pandangan ini bahkan telah samar. Bening air mata mungkin sebentar lagi luruh. Duh, mengapa lama sekali petugas itu memanggil dan menyerahkah obat yang akan aku tebus. Bunda, aku takut. Bunda, betapa aku ingin menujumu detik ini juga. Merengkuh banyak kekuatan yang seringkali engkau persembahkan ketika masalah tengah menghadang. Memetik bulirbulir kedamaian yang selalu kau hunjamkan teguh ke kedalaman jiwa. "Bunda yakin, Allah pasti memberikan jalan atas masalahmu. Allah tahu batas kemampuanmu. Ia sudah menakarnya. Kamu yang harus yakin." Bunda, betapa bahagia jika saat ini engkau nyata di hadapanku, inginnya aku bersimpuh di pangkuan dan meneguk percik-percik pinta yang kau senandungkan sempurna kepada Allahu Rabbana. "Semoga anak bunda jadi anak yang shalihah, pintar dan mendapat pendamping hidup yang shalih", "Semoga kamu, nak, sehat dan diberikan rezeki yang berkah". Bunda, sungguh gembira tak terkira bila kau ada di sini sekarang, hingga dengan bebas aku meminta kesediaanmu untuk membaluri jiwa dengan param hangat doa-doa ikhlasmu hingga ketenangan itu menjulang. Bunda betapa ingin ku raih itu semua sekarang juga. Dada ini bunda, seperti diterjang beribu gempa. Tahukah bunda, dokter yang memeriksaku barusan memberitahu bahwa janin yang tengah ku kandung tidak bergerak. Aku melihatnya bunda. Gumpalan kecil itu terlihat di layar monitor jelas sekali. Aku melihatnya bunda. Si kecil yang Allah amanahkan di dalam rahim. Dokter mengguncang-guncang alat itu agar si kecil bergerak. Berkali-kali. Lagi dan lagi. Ia diam bunda. Senyap. "Allah, janin kecilku." "Bu, saya masih belum yakin dengan keadaan janin ibu. Dua minggu yang akan datang, kontrol lagi yah, untuk kepastiannya," suara dokter sayup-sayup singgah di telinga. Ia menuliskan resep dan dengan senyuman tulus mengangsurkan kertas itu ke hadapan. "Sabar ya bu, banyak berdo'a," tambahnya menenangkan. Bunda, kecemasan ini begitu kental. Aku merasakannya sekarang perkataan bunda di waktu lalu. "Nak, jangan buat bunda cemas, hati bunda seperti belah ketika kau belum datang juga, lain kali telpon jika akan menginap", "Nak, makanlah, agar sakitmu segera sembuh, bunda tak bisa tidur melihatmu berbaring lemah, bunda cemas nak, sungguh!". Duh bunda, aku tahu khawatir itu saat ini. Dua bulan yang lalu dokter memberi tahu bahwa aku resmi menjadi seorang ibunda. Dan sejak saat itu, aku mulai merasakan perasaan yang tumbuh berganti-ganti. Kesayangan, kebahagiaan, kecemasan hingga perasaan tanpa nama. Bunda, betapa tidak mudah ternyata menyandang gelar itu. Lelah berhari-hari karena mual dan pusing. Menghindari banyak makanan dan menelan obat dan vitamin agar janin yang dikandung sehat. Aku juga harus berhati-hati dalam banyak hal. Dan semuanya, segalanya, demi sesosok cinta di dalam sana.

Bunda, seperti ucapanmu bahwa do'a seorang bunda seperti tuah, seperti bisa, selalu ampuh. Maka aku memohon kepadamu, do'akan agar amanah Allah yang tengah ku kandung baik-baik saja. Pintakan kepada Allah, agar si kecil tumbuh dengan sempurna. Aku juga selalu berdoa untuk amanah ini, do'a yang bunda sendiri ajarkan, "Ya Allah, lindungilah ia yang berada di rahim hamba, jadikanlah ia dalam keadaan baik, bentuk yang sempurna, rupa yang elok, dan teguhkanlah kelak dan hatinya keimanan kepada Mu, mengikuti sunnah Rasul Muhammad, berikanlah kebaikan untuknya di dunia dan akhirat." Aku sayang bunda. Sungguh. Meski aku tahu sayang ini hanya seujung kuku dari bentang cakrawala cinta terindahmu. Meski sangat nyata rindu ini hanya setitik kecil di samudera penantianmu. Meski sangat jelas, ingatan kepada bunda bukanlah apa-apa dibanding semua yang bunda lakukan. Pengorbanan, ketulusan, kasih sayang, sujud-sujud bunda, bahkan air mata kesedihan. Tak tertebus. Tanpa batas. Semoga Allah sajalah yang membalas itu semua. Surga. Bunda, sudah berapa lama kita tidak bertemu. Rindu padamu bunda, membumbung tinggi. Bunda, perkenankan aku bersimpuh dari jauh. Dalam gundah. Dalam lelah. Di setiap detak tak tentu. Serta dalam degup yang menderu. Ingin kusampaikan untai kata ini di gendang telinga mu "Bunda, rindu ini melangit lagi!" *** Husnul Mubarikah *Untuk semua bunda di seluruh dunia, "Selamat Hari Ibu!". *Untuk yang tadi subuh menelpon dan mengingatkan QS Luqman:14 Uzur Publikasi: 21/12/2004 07:52 WIB eramuslim - Seperti apa rasanya menjadi uzur? Pertanyaan itu bergaung dalam kepala saat saya menyaksikan lelaki renta itu berjalan tertatih-tatih sepanjang gerbong KRL Jakarta-Bogor. Keriput menghias seluruh kulitnya. Putih kelabu mewarnai seluruh rambutnya. Ketika kemudian dia mengemis sambil mengumpat tak jelas, diam-diam saya menyimpan tangis dalam dada. Ke mana keluarganya? Seperti apa kehidupannya di waktu muda hingga seperti ini masa tuanya? Betapa meyedihkan terlunta-lunta tanpa sanak saudara. Pun, tanpa ketenangan batin pula. Bapak tua itu terus menerus marahmarah. Wajahnya yang sudah berkerut-merut, menjadi makin tak sedap dipandang karena aura marah, jengkel dan benci membayang di sana. Menyaksikan si bapak tua membawa pikiran saya terbang jauh ke kampung halaman. Seorang lelaki renta juga menghuni rumah saya hingga setahun yang lalu. Dia adalah kakek saya, seorang pria lanjut usia yang tak lagi perkasa. Pendengarannya sudah sangat jauh berkurang. Penglihatannya pun mungkin tak lagi dapat menemukan bentuk benda

yang sesungguhnya. Bahkan untuk berjalan beberapa langkah, ia harus segera duduk kembali beristirahat. Hari-harinya ia habiskan di tempat tidur. Kadang saya prihatin menyaksikannya. Teman-teman sebayanya rata-rata sudah meninggal. Istri, adik dan kakaknya juga sudah meninggal, meski ada beberapa adiknya yang masih hidup namun juga dengan kondisi yang tak jauh berbeda. Dia tampak sering kesepian, sendirian, sedang orang-orang dewasa di sekelilingnya sibuk mencari penghidupan. Namun saya tahu, kakek saya masih beruntung. Dia memiliki bapak saya, anak lakilakinya yang berbakti. Bapak saya seorang laki-laki paruh baya yang penuh kasih sayang terhadap orang tuanya. Selama bertahun-tahun, sejak kakek tak lagi dapat melakukan segala sesuatunya sendiri, kakek tinggal bersama kami. Dan selama itu pula bapak saya yang mengurusnya. Tentu saja termasuk kami: ibu, adik, dan saya jika sedang di rumah. Namun bapak saya memiliki perhatian yang lebih. Beliau yang mencucikan baju-baju kakek saya. Menemaninya jalan-jalan. Mengajaknya ngobrol. Menenangkannya jika kakek mengigau tengah malam. Memijitinya jika kakek sakit. Dan sebagainya. Dan seterusnya. Bahkan ketika setahun terakhir kakek tak lagi tinggal bersama kami dan pindah ke rumah pak dhe saya di kampung sebelah, bapak saya rajin menengoknya, minimal sehari sekali, sekedar duduk berdua dalam diam. Sekedar membenahi selimutnya jika dia tengah tidur. Sekedar menanyakan apakah dia sudah makan atau belum. Sekedar membawakan makanan kecil, ubi-ubian kesukaan kakek. Atau memandikannya jika keluarga pak dhe tidak sempat memandikannya. Seperti lebaran kemarin, ketika dia memandikan kakek saya dan memakaikannnya baju terbaik untuk menyambut anak cucu. *** Mereka berdua duduk bersama dalam diam. Tak ada kata-kata. Tak ada percakapan sebagaimana layaknya dua orang sedang bercengkerama. Tapi saya tahu ada perbincangan di antara batin mereka. Tapi saya tahu ada kasih sayang mengalir dari dadadada mereka. Tapi saya tahu ada kehangatan dalam hati mereka. Mereka, dua laki-laki yang tengah bercengkerama dalam diam dengan suasana lebaran kemarin itu adalah anak beranak. Bapak dan kakek saya. Saya berdoa, semogalah kakek saya menjadi orang yang beruntung karena memiliki anak yang berbakti. Dan semoga bapak saya ketika tiba masanya nanti, selain pahala yang semoga sudah disimpan Allah disisi-Nya untuk hari akhir nanti, akan mendapat bakti yang selayaknya pula dari kami anak-anaknya sebagaimana dia berbakti kali ini. Azimah Rahayu azi_75@yahoo.com (@azi, persembahan untuk bapak menjelang hari ibu: kini engkau pahlawanku, seperti juga ibu) Refleksi

Publikasi: 20/12/2004 09:49 WIB Eramuslim - Refleksi. Kata ini sering terdengar dan sering terbaca, hanya untuk kali ini ada baiknya kita coba cermati lebih lanjut. Refleksi atau pantulan. Begitu banyak alat yang telah dikreasikan manusia sehubungan dengan refleksi. Sebuah mikroskop bisa membantu kita melihat organisme karena adanya refleksi, begitu juga teropong dan kamera. Kemudian hasilnya akan terlihat jelas oleh mata kita sehingga kita bisa berkata, "O, ternyata klorofil itu warnanya memang hijau, sel darah itu pecah atau pohon di atas bukit itu ternyata rantingnya patah" atau "Ops, ternyata waktu di foto itu senyum kita ternyata miring". Itu hasil dari refleksi. Kemudian kita lanjutkan dengan pertanyaan, ke mana kita harus membawa diri ini sehingga muncul sebuah refleksi yang bisa kita nilai keberadaannya? Jawabannya hanya satu! Allah Subhanahu wa ta'ala adalah media untuk mewujudkan refleksi diri. Ketika akan melakukan sesuatu atau bahkan ketika kita sedang berniat melakukan sesuatu. Allah yang Maha Melihat dan Maha Segalanya, akan memperhatikan gerak demi gerak yang terjadi. Di saat kita meyakini ini maka hasilnya: perbuatan kita adalah refleksi dari penglihatan Allah dengan mengandalkan nurani. Nurani yang bersih akan memantulkan penglihatan Allah sesuai dengan semua hal yang disukai Allah dan sebaliknya. Jika peristiwa ini terjadi, maka akhlak yang baik pasti melekat pada diri kita secara otomatis. Bila ternyata perbuatan kita masih di luar kebenaran yang digariskan oleh Allah, berarti kita belum berhasil menjadikan Allah sebagai media refleksi atau media refleksi kita dikaburkan oleh benda-benda lain. Kamera akan memperlihatkan gambar yang kabur kalau kita tidak memperlakukannya dengan benar atau tumbuh jamur di sekitar lensanya atau lemah baterainya dan masih banyak faktor lain. Begitu juga dengan diri kita. Gagalnya kita menjadi refleksi penglihatan Allah bisa jadi karena hati kita yang berfungsi sebagai lensanya kabur tertutup segala noda penyakit hati atau kita gagal memperlakukannya karena tidak membaca petunjuk yang telah diberikanNya yaitu Alquran dan sunnah atau mungkin juga telah kita baca, tapi kita kurang punya semangat untuk merealisasikannya (seperti kamera yang lemah baterai). Begitu banyak alat di sekitar yang bisa membantu kita agar bisa menampilkan gambaran yang jelas tentang refleksi diri yang kita inginkan, salah satunya: ilmu pengetahuan, dengan membaca, tersurat ataupun tersirat. Mohon doanya agar tulisan saya ini memacu saya untuk bisa melihat gambaran yang jelas tentang diri saya tanpa harus ditutupi oleh rasa malu dengan pantulan yang dihasilkannya. Semoga Allah mendengarkan doa kita semua. Sungguh saya sangat tergelitik dengan pertanyaan Jakob Sumardjo dalam bukunya "Orang Baik Sulit dicari (1997)", dituliskan mengapa orang baik sulit dicari, baik pada masa kini, masa lampau, dan mungkin juga masa datang. Kualitas apa saja yang perlu ada dalam pribadi seseorang sehingga ia dapat disebut orang baik?

Yah, pertanyaan ini kadang juga muncul pada diri kita, bahkan pertanyaan itu tidak sengaja pernah kita ajukan untuk diri sendiri, "Apakah saya ini termasuk orang baik?" Saya setuju dengan pendapat Joko yang mengatakan bahwa kebaikan, keindahan, kebenaran, keadilan itu sulit dirumuskan ukurannya. Kita hanya dapat menyebut seseorang itu baik berdasarkan persetujuan hati nurani kita. Kebaikan, keindahan, kebenaran, keadilan seolah sesuatu "transendental", sesuatu yang berasal dari luar kodrat manusia sendiri, sesuatu yang bersifat abadi, kekal, mengatasi ruang dan waktu. Benar, kemudian perlu kita lanjutkan dengan sebuah kepastian bahwa kebaikan itu berasal dari Allah, Sang Pencipta. Kalau saja kita meluangkan waktu sebentar saja, benarkah kita yang telah baik karena memang kita sendiri yang mengerti akan arti kebaikan? atau karena ibu kita telah mengajarkan kebaikan itu jauh hari sebelum kita dilahirkan? Kedua hal itu juga benar. Lalu, dari mana asalnya sehingga ibu, nenek sampai moyang kita dulu mengerti arti kebaikan? Ternyata harus dengan ikhlas kita mengakui semua itu datangnya dari Allah yang Maha Sempurna perhitungannya. Mulai dari diciptakannya manusia pertama yang bernama Adam, Allah telah mengajarkan bahwa kebaikan itu adalah segala yang diridhai-Nya. Ketika Adam dihukum Allah dengan disuruh turun dari surga, kita dapat mengatakan bahwa Adam telah melakukan sebuah kesalahan dan kesalahan adalah suatu hal yang tidak baik. Kemudian ketika "persembahan" Habil diterima oleh Allah, maka kita dapat mengatakan bahwa mempersembahkan benda-benda terbaik yang kita miliki dengan cara terbaik adalah suatu kebaikan. Namun tidak semua hal itu kita dapat dari membaca. Banyak kebaikan-kebaikan lain yang hanya nurani kita yang bisa menilainya. Tidakkah kita menjadi bertambah yakin, kalau hati kita telah mengikat perjanjian dengan aturan-aturan dan larangan-larangan Allah sehingga kita bisa menilai sesuatu itu baik atau buruk? Kenapa hati nurani kita tidak mengatakan memaki itu adalah suatu kebaikan? Hal itu bisa saja terjadi kalau dari awalnya aturan kebaikan itu ditentukan Allah demikian. Untuk urusan kebaikan saja, rasanya tidak henti-hentinya lidah ini memuja keagungan dan kebijaksanaan Allah. Begitu sempurnanya Alquran diturunkan dengan bahasa yang sangat santun. Subhanallah. Apa lagi alasan kita untuk bersombong diri dengan tidak bersyukur? Berikut ini ada kisah dari hamba yang telah berhasil menjadikan Allah sebagai media refleksi. Adalah seorang Abid dari Bani Israil (Imam Al-Ghazali dalam bukunya Di Balik Ketajaman Mata Hati, terjemahan dalam bahasa Indonesia diterbitkan tahun 1997) yang mempunyai banyak keluarga. Dia sedang dilanda kelaparan sampai kondisinya sangat terjepit, disuruhlah istrinya untuk mencari sesuatu untuk keluarganya. Maka berkunjunglah ia ke rumah seorang saudagar dan meminta sesuatu yang dapat dimakan oleh keluarganya. Saudagar kaya itu berkata, "Ya, asal kamu menyerahkan tubuhmu kepadaku," Perempuan itu diam dan pulang ke rumahnya. Dia melihat anak-anaknya berteriak, "Ibu, ibu ! Kami akan mati karena kelaparan, berilah kami apa saja yang bisa kami makan," Perempuan itu kembali lagi kepada saudagar dan menceritakan padanya mengenai anak-anaknya. Saudagar itu berkata, "Adakah keinginanku kau penuhi ?"

Perempuan itu mengangguk, "Ya". Waktu saudagar itu hanya berdua dengannya, gemetarlah semua persendian perempuan itu, seakan-akan semua anggota tubuhnya lepas dari tempatnya. Saudagar itu berkata, "Ada apa kau ini?" Dia menjawab, "Sesungguhnya aku takut kepada Allah," Maka berkatalah saudagar itu, "Engkau dengan keadaan fakir seperti ini masih takut kepada Allah, apalagi aku harus lebih takut daripada engkau". Perempuan dan saudagar itu berhasil mewujudkan penglihatan Allah ke dalam perbuatannya. Sebuah refleksi yang indah. Wallaahu a’lam. Farah Adibah farah_adibah@yahoo.com dalam rangka muhasabah diri sendiri Breaking The Wall Publikasi: 17/12/2004 09:08 WIB eramuslim - Rapat sore itu agak sedikit muram. Sang pimpinan membuka rapat dengan banyak istighfar, "Yah inilah konsekuensinya jika perusahaan kita ini ingin berkembang. Kita harus berani ambil resiko seperti ini. Sekarang atau tidak sama sekali!" tegasnya. "Tapi bos, investasinya lumayan besar. Bagaimana kita mengatasinya?" Rekan saya bertanya. "Kita berdo'a saja kepada Allah. Kita hanya berusaha tapi Dia yang menentukan. Lagipula kita punya misi untuk mendukung aktifitas ke-Islaman dari hasil usaha kita. Masak sih do'a kita tidak didengar," katanya meyakinkan kami semua. "Iya Bos, kalau kita punya modal cukup sih, tidak masalah. Persoalannya darimana dana sebesar itu harus kita siapkan. Lagipula masih banyak proyek kita yang belum selesai. Wah berat sekali, Bos." "Saya juga belum tahu. Tapi percayalah, kita sudah sering ditolong oleh Allah di saat-saat genting. Mari kita perkuat keyakinan kita, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan." Sang Bos berusaha menasehati dan memberikan semangat. Ternyata apa yang dikatakan Sang Bos benar-benar terjadi. Keyakinannya menjadi kenyataan. Semua persoalan dilalui dengan sangat berat, tapi semua itu berganti menjadi kemudahan karena keyakinannya. *** Itulah sepenggal cerita dari seorang rekan saya yang bekerja di sebuah perusahaan yang sedang berupaya keras mempertahankan dan mengembangkan bisnisnya. Sebuah langkah yang fenomenal diambilnya, bayangkan dalam kondisi perusahaan yang sedang sulit saja, dia tetap mengambil keputusan beresiko tinggi tanpa ragu sedikit pun. Dia sebenarnya

sedang menantang dirinya untuk melakukan hal di luar batas kemampuannya. Keberanian yang patut diacungi jempol. Saya yakin dia adalah salah seorang pebisnis tangguh yang akan membawa perusahaannya menuju kesuksesan. Saya jadi ingat dengan kata-kata yang dibuat oleh Reza Syarief seorang supertrainer: Never put any limitation at your start, but if you have done you know your limit. Kita tidak pernah tahu sejauh mana keterbatasan yang kita miliki, hingga kita mencobanya. Banyak orang yang memiliki kemampuan mengagumkan tapi hidupnya tidak beranjak maju disebabkan dia tidak pernah mendobrak tembok keterbatasan dirinya. Ada seorang sahabat dekat punya kemampuan seni luar biasa. Dia mampu melukis, mencipta lagu dan wajahnya lumayan ganteng. Tapi ternyata ketika ditanya kenapa sampai saat ini dia belum juga menikah, jawabannya seribu satu alasan dari mulai ekonomi yang belum mapan sampai urusan mental yang belum siap. Padahal jika mau, dia pasti mampu. Keterbatasan yang melingkupi kita disebabkan oleh cara pandang kita terhadap kehidupan yang sudah terlanjur terkotak-kotak. Waktu kuliah di kampus, kita ditempatkan pada ruangan yang berbeda sesuai jurusan pilihan kita. Sehingga ketika lulus kita hanya mempunyai sudut pandang dari apa yang kita pelajari. Rumah tinggal kita dibangun atas ruangan-ruangan sehingga mempersempit pandangan kita. Akhirnya membuat kita menjadi orang-orang dengan pikiran sempit. Padahal dunia ini terhampar luas tanpa batas, coba anda tengok ke langit. Subhanallah seakan tanpa batas. Lantas, bagaimana caranya mendobrak keterbatasan cara berfikir kita? "Kenali dirimu maka kau takkan terkalahkan. Kenali lawanmu maka tak ada lawan yang tak bisa dikalahkan," Demikian Tsun Zu seorang ahli strategi perang memberikan pandangan termasyhurnya tentang memenangkan peperangan. Kuncinya ada di dalam diri kita sendiri. Mengenali sisi-sisi kelemahan diri, mengakuinya kemudian menantangnya dengan gebrakan-gebrakan kecil. Lalu mulai memfilter apa saja perkataan orang yang bisa mempengaruhi pola fikir kita. "Buat apa begitu, kamu pasti gagal. Itu susah tahu!" "Kamu kan lulusan teknik sipil, nggak mungkin jadi pedagang?" "Saya nggak mampu deh kalo diberi pekerjaan seperti itu." Jika boleh disimpulkan apa yang dikatakan Tsun Zu, pertama sekali yang harus kita lakukakan adalah mengalahkan diri kita sendiri kemudian mengoptimalkannya untuk mengenal siapa musuh kita. Sehingga setangguh apapun musuh yang dihadapi maka kemenangan akan berada di tangan kita. Rasulullah SAW ketika usai perang Badr mengatakan, "Kita baru meninggalkan jihad kecil, menuju jihad besar." Para sahabat yang mengalami sendiri begitu besarnya perang Badr terheran-heran mendengarkan pernyataan ini. Nabi pun menjelaskan jihad yang paling besar adalah jihad untuk menundukkan hawa nafsu.

Kalau saja apa yang dilakukan oleh bos teman saya itu semata hanya dilandasi oleh hawa nafsu, tentu sulit membayangkan dia akan dapat mengobarkan semangat kepada para karyawannya untuk terus maju membangun bisnisnya. Sulit juga dimengerti kenapa ia mengambil keputusan seperti itu. Menggarap proyek tanpa dukungan modal yang memadai. Bagaimana kalau gagal? Bukankah lebih aman jika menyelesaikan proyek yang masih belum selesai? Tapi pilihan-pilihan mudah dan enak itu dia abaikan. Filosofi breaking the wall yang ditunjukkannya berakar dari pemahamannya akan keterbatasan yang dimilikinya kemudian dia mendobraknya dengan keyakinan bahwa segala sesuatu di dunia ini jika Allah berkehendak maka tidak ada yang mustahil. Jadi kapan giliran kita?. *** Inspired by PINK FLOYD Abu Sayyeed asayyeed@yahoo.com.sg Dec 15, 2004 * Buat rekan-rekan seperjuangan, Insya Allah kita akan mampu memecahkan tempurung kelapa yang melingkupi kita dan pasti akan bertemu tempurung yang lebih besar. Akan selalu terus begitu. Namun jika kita tetap solid dan membersihkan niat, sesungguhnya pertolongan Allah sangat dekat. Energi Positif Publikasi: 16/12/2004 08:04 WIB eramuslim - Beberapa pekan lalu, saya berkesempatan mengunjungi seorang sahabat di rumah sakit. Tak ada yang aneh dengan orang sakit, dinding putih teman setia, selimut bergaris biru muda, senampan buah segar bawaan penjenguk yang datang silih berganti, dan sisa makanan pagi yang belum sempat diangkat petugas. Ya, tak ada yang aneh dengan sahabat saya yang sakit kecuali pasien yang satu kamar dengannya. Seorang bapak berusia 60-an tampak iri dengan kehadiran saya beserta beberapa sahabat lain saat menjenguk sahabat saya, pasien sekamarnya. Binar matanya menyiratkan kerinduan akan seseorang seperti halnya sahabat saya yang tak hentinya dijenguk keluarga, kerabat maupun sahabat. Segera saya hampiri ia dan menyapanya. Belum satu kata keluar dari mulut saya ketika tiba-tiba ia menangkap tangan saya dan menariknya perlahan ke dadanya. Sebulir air jatuh dari sudut matanya yang memendam sepi, beberapa kata pun mengalir dengan paraunya. Kepada saya ia bercerita, sudah tiga hari anaknya tidak menjenguknya karena anak tunggalnya itu harus berdagang lebih giat untuk mengumpulkan biaya berobat. Isterinya telah lama meninggal sehingga ia hanya hidup berdua dengan anaknya. Tidak ada keluarganya di Jakarta, kerabat pun tak ada yang menjenguknya. Sahabat? Mungkin sudah terlalu lama ia tak lagi mengenal arti sahabat. Setidaknya, dalam tiga hari

ini. Selain anaknya tak ada lagi yang diharapkannya untuk sekadar tahu keadaannya di rumah sakit. Saya teringat saat ikut serta salah satu kegiatan Kelompok Kerja Sosial (KKS) Melati di RS Fatmawati. Atas seizin pihak rumah sakit, kami, para relawan Melati mengunjungi paviliun anak dan mendongeng untuk anak-anak yang tengah menjalani masa perawatan. Ada ceria, dan tawa, juga tangis selama acara itu berlangsung. Betapa anak-anak yang mulai bosan dengan suasana rumah sakit, jenuh dengan perawat-perawat yang serba putih, atau bahkan wajah orang tua mereka yang tampak muram, hari itu terceriakan. Satu persatu para relawan mendatangi anak-anak yang tidak bisa turun dari pembaringannya, sementara beberapa relawan mengumpulkan anak-anak lainnya di aula untuk diajak bermain dan mendongeng. Ada bening air yang siap tumpah di setiap pelupuk mata para relawan, menyaksikan wajah-wajah muram orang tua yang berhari-hari menunggu anaknya yang tak kunjung sembuh. Tak sedikit yang menangis ikut meresapi penderitaan anak-anak itu, sangat tergambar betapa menderitanya mereka, dari tangisnya, dari sorot matanya yang polos, dari keluh rintihnya menahan sakit, juga dari lunglai tubuhnya. Saya dan juga rekan-rekan relawan lain sangat yakin, bahwa kesembuhan seseorang disebabkan oleh tiga faktor, Allah, dokter yang merawatnya, dan satu lagi yang tak kalah pentingnya adalah semangat untuk sembuh dari si pasien. Dan hal kecil yang kami lakukan pada hari itu hanyalah sedikit energi positif untuk menyalakan semangat hidup anak-anak itu. Setidaknya, semangat untuk sembuh. Kepada bapak tua yang sekamar dengan sahabat saya itu, saya terus merapatkan diri untuk bisa lebih dekat mendengarkan suaranya yang makin parau. Harap saya, semoga hal kecil yang saya lakukan itu bisa memberikan energi positif baginya. Terlebih ketika serombongan sahabat saya memberinya salam dan doa sebelum kami meninggalkan kamar tersebut. Tak lupa, buah tangan yang kami niatkan untuk sahabat kami, dialihkan kepada 'sahabat' baru kami. Dalam banyak kesempatan, tentu kita bisa memberikan energi positif kepada siapapun di lingkungan kita. Seperti halnya saya berharap, tulisan ini pun bisa memberikan energi positif bagi siapa saja yang membacanya. Bayu Gautama Atas Nama Cinta? Publikasi: 15/12/2004 07:48 WIB eramuslim - Seorang pakar cinta dari dataran Cina bernama Mo Tzu, yang hidup sekitar (470 s/d 391 sebelum Masehi) mengajarkan sebuah ajaran cinta kepada dunia. Salah satu kalimatnya tentang cinta berbunyi:

"Seorang yang mengaku taat kepada kehendak langit maka dia akan menebar cinta secara mondial, sedang siapa yang ingkar terhadap kehendak langit dipastikan akan bercinta secara parsial." Alhamdulillah kita lahir dan besar sebagai muslim, salah satu karakteristik agama Islam di antara agama langit (samawi) adalah dia bersifat universal. Tak peduli akan ras, bahasa, dan benua, Islam adalah agama yang Allah peruntukkan untuk dunia dan Insya Allah juga akan (kembali) menyatukan dunia. Sehingga berkesan sekali refleksi Asy-Syahid Hasan Al-Banna tentang kesatuan dunia, "Yang membedakan antara kaum muslimin dan pejuang nasionalis adalah bahwa paham nasionalisme kaum muslimin berdasarkan aqidah Islam. Misalnya, mereka berjuang untuk negara Mesir dengan mati-matian, sebab Mesir adalah bagian dari dunia Islam dan pemimpinnya adalah ummat Islam. Tetapi mereka tidak berhenti sampai di situ saja. Mereka juga berbuat demikian terhadap setiap tanah dan negara Islam yang lain. Sedangkan para pejuang nasionalis berjuang untuk bangsanya saja," Begitu kuat pengaruh cinta kepada dunia, sehingga atas nama cinta seorang Khalid bin Walid, laki laki besar dalam sejarah Islam, bisa 'takluk' kepada dunia. Berkata Khalid, hanya karena cintanya terhadap dua hal sajalah yang sanggup membuatnya 'betah' berada di dunia, yang pertama cintanya yang menelaga terhadap istri tercinta, dan yang ke dua cintanya untuk berjihad membela agama Allah. Bahkan atas nama cinta, Allah menjamin 2 golongan dari 7 yang dijamin-Nya akan memperoleh naungan-Nya di saat tidak ada naungan selain Naungan Allah, yaitu seorang yang di masa mudanya mencintai masjid dan dua pasang kekasih yang saling mencinta karena Allah. Secara global Imam Syafi'i menggambarkan sosok orang yang terbukti sedang jatuh cinta dengan, "Seseorang akan mencintai apa apa yang dicintai oleh orang yang dicintainya." Lebih konkrit, gerakan perjuangan Palestina menggambarkan karakterisitk orang yang telah teruji cintanya dan imannya dengan parameter shalat berjamaah di masjid untuk penilaian kelulusan pelaksanakan amanah mulia berupa aksi mengejar syuhada. Dan atas nama cinta, Zaid bin Tsabit berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Duhai alangkah baiknya negeri Syam itu (Palestina), duhai alangkah baiknya negeri Syam itu." Para shahabat kemudian bertanya, "Ya Rasulullah, kenapa Engkau memuji Syam seperti itu?" "Para malaikat membentangkan sayapnya atas kota Syam tersebut," jawab Nabi selanjutnya. (HR Tirmidzi dan Ahmad) Jadi kira kira apa bukti cinta orang-orang yang berkata, "Aku Bicara Atas Nama Cinta"? Abu Syahidah

Ketulusan Itu (Bukan) Milik Kita Publikasi: 14/12/2004 07:44 WIB eramuslim - Kebaikan hati seolah telah menjadi sesuatu yang terlalu mewah untuk kita miliki dan temui saat ini. Memilikinya ibarat menyimpan bara dalam genggaman. Kebaikan hati akan membuat kita tidak 'competitive' dalam dunia yang keras ini. Hati yang lembut dan lebih 'manusiawi' hanya akan menghambat kita dalam meraih sukses. Sebaliknya, hati yang 'tegaan' dan lebih 'rasional' dianggap akan lebih melapangkan jalan keberhasilan. Menemui kebaikan kini juga seolah semakin sulit. Kita semakin suka berprasangka atas kebaikan yang kita lihat. Tidak ada kebaikan yang tulus, semua pasti ada 'sesuatu' di baliknya. Tidak ada makan siang yang gratis. Bahkan kebaikan hati kini sering dituding sebagai penyebab keterpurukan dan nasib sial. Ketika seorang teman ngemplang tidak membayar hutang, orang-orang mempersalahkan saya. Saya dianggap 'terlalu baik' dan tidak berhati-hati sehingga mudah tertipu tampilan luar seseorang. Dan tidak ada seorangpun yang mempersalahkan teman yang ngemplang tersebut! Berbagai kejahatan dari kelas teri hingga kelas kakap yang kita saksikan sehari-hari di media cetak dan televisi, semakin membekukan hati kita. Selalu waspada dan jangan pernah lengah. Berbaik hati hanya akan menurunkan kewaspadaan dan membuat kita tertipu dan celaka. Saya pun larut dalam arus besar itu. Sampai suatu ketika di akhir November lalu saya menonton sebuah acara reality show di salah satu stasiun televisi swasta. Di acara tersebut seorang aktor akan berlakon sebagai orang yang membutuhkan pertolongan. Lalu ia akan meminta tolong pada semua orang yang ditemuinya secara acak. Orang yang memberi pertolongan akan mendapatkan hadiah. Semua kejadian di rekam oleh kamera tersembunyi sehingga diyakini bahwa orang yang menolong itu benar-benar tulus. Pada edisi itu, ditampilkan seorang nenek tua yang kumal dan lusuh penampilannya, dan diskenariokan meminta minyak tanah ala kadarnya untuk memasak. Sang nenek pun berkeliling dari pintu ke pintu, lengkap sambil menenteng kompor dan jerigen minyak yang juga tak kalah kumalnya dengan penampilan si pemilik. Bertemu orang pertama, sang nenek ditolak secara halus. Berikutnya, di sebuah warung kelontong yang cukup besar dan ramai, sang nenek kembali ditolak. Si pemilik warung terlihat waspada dan 'menginterogasi' si nenek, curiga si nenek adalah penipu. Berikutnya di sebuah rumah sederhana, sang nenek kembali ditolak, bahkan dengan kasar. Sampai akhirnya sang nenek bertemu dengan seorang lelaki setengah baya pengecer minyak tanah yang sedang mengisi stok minyak di sebuah warung. Seorang lelaki yang gigih. Kerasnya kehidupan tampak jelas tergurat di wajahnya yang hitam berpeluh. Namun wajah itu terlihat ramah dengan senyum. Seperti sebelumnya, tanpa basa basi, sang nenek menghampiri dan meminta minyak tanah kepada si penjual itu. Si penjual minyak tanah tampak sabar dan tekun menyimak penjelasan si nenek. Selesai sang nenek bercerita, tanpa berkata apa-apa, si penjual minyak langsung mengambil jerigen si nenek

dan mengisinya. Tetap dengan wajah ramahnya. Tak ada sedikitpun rona kecurigaan, apalagi pertanyaan-pertanyaan 'interogasi'. Bahkan ketika sang nenek 'ngelunjak' meminta kompor bututnya diperbaiki pula, si penjual minyak tetap melayaninya dengan ramah. Tak ada sedikitpun perubahan rona di wajahnya. Benar-benar tulus, tanpa prasangka! Jadilah si penjual minyak 'pemenang' di acara tersebut. Ketika berikutnya sang pemenang diwawancara, semakin terkuaklah 'mutiara' itu. Pengecer minyak tanah itu ternyata cacat. Slamet, lelaki setengah baya itu, terlahir dengan kedua kaki yang cacat dan sebelah mata buta!. Setiap hari ia mencari nafkah berjualan minyak berkeliling perumahan, keluarmasuk kampung, menyusuri jalan raya, dengan sebuah sepeda tua yang dikayuh dengan sebelah tangannya! Dan mengalirlah kemudian kisah tentang sebuah ketegaran jiwa, ketulusan menjalani garis hidup, kegagahan menghadapi kerasnya ombak zaman, dari seorang Slamet. Dan wawancara diakhiri dengan sebuah kalimat yang begitu menggetarkan dari Slamet, "Saya percaya Tuhan itu Maha Adil". Seketika itu, runtuhlah semua kesombongan diri, hancur berkeping diterjang gelombang kesederhanaan. Musnah semua arogansi intelektualitas, tenggelam dalam kebeningan perasaan. Lepas segala ambisi dan nafsu duniawi, jatuh tersungkur di hadapan ketulusan seorang hamba, hamba yang begitu tulus menjalani hidupnya. Dengan semua ujian hidup yang begitu berat, dia tetap tersenyum ramah kepada siapapun, menolong semua tanpa membeda-bedakan walau hanya dalam batas kemampuannya, tak ada iri dan dengki terhadap sekelilingnya yang hidup jauh lebih beruntung, dan dengan ikhlas berkata: Tuhan Maha Adil!. Saya tergugu. Betapa buruknya kita di hadapan seorang Slamet. Kita yang intelek dan terpandang, dipenuhi dengan berbagai nikmat, namun masih merasa tidak cukup. Seringkali protes ketika hanya mendapat sebuah ujian. Menjadi bebal dan keras hati oleh berlimpahnya materi dan kedudukan. Hati yang tulus dan lembut masih ada bahkan banyak, bertebaran memenuhi persada. Memeliharanya memang sulit namun bukan sesuatu yang mustahil. Dunia yang keras dan culas tidak cukup menjadi alasan bagi kita untuk menumpulkan dan membekukannya. Karena kebaikan dan kelembutan hati bukanlah suatu hal bodoh dan sia-sia dalam dunia yang bergetah ini. Terima kasih Mas Slamet! Yusuf Wibisono yusuf_w@yahoo.com

* Munjul, 12 Desember 2004 Kisah Indah Sang Khalifah

Publikasi: 13/12/2004 08:11 WIB Siang di bumi Madinah, suatu hari. Matahari tengah benderang. Teriknya sungguh garang menyapa hampir setiap jengkal kota dan pepasir lembah. Jalanan senyap, orang-orang lebih memilih istirahat di dalam rumah daripada bepergian dan melakukan perniagaan. Namun tidak baginya, lelaki tegap, berwajah teduh dan mengenakan jubah yang sederhana itu berjalan menyusuri lorong-lorong kota sendirian. Ia tidak peduli dengan panas yang menyengat. Ia tak terganggu dengan debu-debu yang naik ke udara. Ia terus saja bersemangat mengayun langkah. Sesekali ekor matanya berkerling ke sana ke mari seperti tengah mengawasi. Hatinya lega, ketika daerah yang dilewatinya sentosa seperti kemarin. Hingga ketika ia melewati salah satu halaman rumah seorang penduduk, tiba-tiba ia berhenti. Langkahnya surut. Pandangannya tertuju pada anak kecil di sana. Ditajamkan pendengarannya, samar-samar ia seperti mendengar suara lirih cericit burung. Perlahan ia mendatanginya dan dengan lembut ia menyapa bocah laki-laki yang tengah asyik bermain. "Nak, apa yang berada di tanganmu itu?" Wajah si kecil mendongak, hanya sekilas dan menjawab. "Paman, tidakkah paman lihat, ini adalah seekor burung," polosnya ringan. Pandangan lelaki ini meredup, ia jatuh iba melihat burung itu mencericit parau. Di dalam hatinya mengalun sebuah kesedihan, "Burung ini tentu sangat ingin terbang dan anak ini tidak mengerti jika mahluk kecil ini teraniaya." "Bolehkah aku membelinya, nak? Aku sangat ingin memilikinya," suaranya penuh harap. Si kecil memandang lelaki yang tak dikenalnya dengan seksama. Ada gurat kesungguhan dalam paras beningnya. Lelaki itu masih saja menatapnya lekat. Akhirnya dengan agak ragu ia berkata, "Baiklah paman," maka anak kecil pun segera bangkit menyerahkan burung kepada lelaki yang baru pertama kali dijumpainya. Tanpa menunggu, lelaki ini merogoh saku jubah sederhananya. Beberapa keping uang itu kini berpindah. Dalam genggamannya burung kecil itu dibawanya menjauh. Dengan hatihati kini ia membuka genggamannya seraya bergumam senang, "Dengan menyebut asma Allah yang Maha Penyayang, engkau burung kecil, terbanglah...terbanglah..." Maka sepasang sayap itu mengepak tinggi. Ia menengadah hening memandang burung yang terbang ke jauh angkasa. Sungguh, langit Madinah menjadi saksi, ketika senyuman senang tersungging di bibirnya yang seringkali bertasbih. Sayup-sayup didengarnya sebuah suara lelaki dewasa yang membuatnya pergi dengan langkah tergesa. "Nak, tahukah engkau siapa yang membeli burung mu itu? Tahukah engkau siapa lelaki mulia yang kemudian membebaskan burung itu ke angkasa? Dialah Khalifah Umar nak..." ***

Malam-malam di kota Madinah, suatu hari. Masih seperti malam-malam sebelumnya, ia mengendap berjalan keluar dari rumah petak sederhana. Masih seperti malam kemarin, ia sendirian menelusuri jalanan yang sudah seperti nafasnya sendiri. Dengan udara padang pasir yang dingin tertiup, ia menyulam langkah-langkah merambahi rumah-rumah yang penghuninya ditelan lelap. Tak ingin malam ini terlewati tanpa mengetahui bahwa mereka baik-baik saja. Sungguh tak akan pernah rela ia harus berselimut dalam rumahnya tanpa kepastian di luar sana tak ada bala. Maka ia bertekad malam ini untuk berpatroli lagi. Madinah sudah tersusuri, malam sudah hampir di puncak. Angkasa bertabur kejora. Ia masih berjalan, meski lelah jelas terasa. Sesekali ia mendongak melabuhkan pandangan ke langit Madinah yang terlihat jelita. Maka ia pun tersenyum seperti terhibur dan memuja pencipta. Tak terasa Madinah sudah ditinggalkan, ia berjalan sudah sampai di luar kota. Dan langkahnya terhenti ketika dilihatnya seorang lelaki yang tengah duduk sendirian menghadap sebuah pelita. "Assalamu'alaikum wahai fulan," ia menegur lelaki ini dengan santun. "Apakah yang engkau lakukan malam-malam begini sendirian," tambahnya. Lelaki itu tidak jadi menjawab ketika didengarnya dari dalam tenda suara perempuan yang memanggilnya dengan mengaduh. Dengan tersendat lelaki itu memberitahu bahwa istrinya akan melahirkan. Lelaki itu bingung karena di sana tak ada sanak saudara yang dapat diminta pertolongannya. Setengah berlari maka ia pun pergi, menuju rumah sederhananya yang masih sangat jauh. Ia menyeret kakinya yang sudah lelah karena telah mengelilingi Madinah. Ia terus saja berlari, meski kakinya merasakan dengan jelas batu-batu yang dipijaknya sepanjang jalan. Tentu saja karena alas kakinya telah tipis dan dipenuhi lubang. Ia jadi teringat kembali sahabat-sahabatnya yang mengingatkan agar ia membeli sandal yang baru. "Umm Kultsum, bangunlah, ada kebaikan yang bisa kau lakukan malam ini," Ia membangunkan istrinya dengan nafas tersengal. Sosok perempuan itu menurut tanpa sepatah kata. Dan kini ia tak lagi sendiri berlari. Berdua mereka membelah malam. Allah menjadi saksi keduanya dan memberikan rahmah hingga dengan selamat mereka sampai di tenda lelaki yang istrinya akan melahirkan. Umm Kultsum segera masuk dan membantu persalinan. Allah Maha Besar, suara tangis bayi singgah di telinga. Ibunya selamat. Lelaki itu bersujud mencium tanah dan kemudian menghampirinya sambil berkata, "Siapakah engkau, yang begitu mulia menolong kami?" Lelaki ini tidak perlu memberikan jawaban karena suara Ummi Kultsum saat itu memenuhi lengang udara, "Wahai Amirul Mukminin, ucapkan selamat kepada tuan rumah, telah lahir seorang anak laki-laki yang gagah." ***

Sahabat, betapa terpesona, mengenang kisah indah Khalifah Umar bin Khatab. Ia adalah seorang pemimpin negara, tapi sejarah mengabadikan kesehariannya sebagai orang sederhana tanpa berlimpah harta. Ia adalah orang yang paling berkuasa, tapi lembaran kisah hidupnya begitu penuh kerja keras dalam mengayomi seluruh rakyatnya. Ia adalah orang nomor satu tapi siang dan malamnya jarang dilalui dengan pengawal. Ia seorang penyayang meski kepada seekor burung. Ia sanggup berlari tanpa henti demi menolong seorang perempuan tak dikenal yang akan melahirkan. Dan ia melakukannya sendiri. Ia melakukannya sendiri. *** Husnul Mubarikah * Syukran bah, atas banyak cintanya Mendengarkan dengan Hati Publikasi: 10/12/2004 07:44 WIB eramuslim - Pekan lalu, satu lagi sahabat saya menikah. Setelah melalui berbagai pertimbangan yang sempat memberatkannya, dengan penuh keyakinan ia jalani dengan mantap tekadnya untuk mengakhiri masa sendirinya. Sore hari beberapa bulan yang lalu, saya menemuinya dalam keadaan tak bersemangat. Pasalnya, orang tua, kakak, adik, tante dan nyaris semua orang yang sejak awal diharapkan memberikan dukungan dan restunya atas rencana pernikahannya justru menentang dengan berbagai alasan. "Dengan penghasilan yang masih pas-pasan, mau dikasih makan apa isteri kamu nanti..." satu pertanyaan pamungkas dari ibunya. Sebelumnya, ayahnya menilai sahabat saya itu belum waktunya menikah, masih ada beberapa adiknya yang membutuhkan bantuan biaya pendidikan. Belum lagi alasan lain yang terlontar dari anggota keluarga yang lain. Semua itu membuatnya semakin bingung, resah sekaligus merasa tertekan, sementara di sisi lain hasratnya untuk menikah semakin kuat. Tidak hanya pada saat seperti yang dialami sahabat saya tersebut. Setiap orang, sebagian dari mereka bahkan orang-orang terdekat kita, pernah mengalami satu posisi di mana ia berdiri di bibir jurang sementara di belakangnya juga terdapat bibir jurang yang tak kalah lebar ternganganya. Segunung keraguan bertengger di pundaknya. Segunung keraguan yang sebagian kecil datang dari dalam dirinya, sebagian besarnya justru ia dapati dari orang-orang maupun keadaan sekitarnya. Bayang-bayang kegagalan dari sejarah masa lalu yang pernah tercatat, yang terus menerus ia dapati dari seluruh referensi, cemoohan dan setumpuk kata juga alasan negatif dari orang-orang yang semestinya memberikan dukungan, seperti merantai kuat kedua kakinya sehingga tak mampu melangkah sedikit pun untuk maju. Di saat seperti itu, ada dua kemungkinan yang akan dipilih, mundur yang artinya ia mungkin akan jatuh lebih dalam dari jurang yang ada di depannya atau mengurungkan niatnya, duduk terdiam dan

menunggu mukjizat datang menghampirinya. Sementara kekuatan untuk melangkah lebih jauh tak berani dicobanya. Saya pernah mengalami masa seperti itu, dan dalam hati terbersih saya, saya yakin sebagian besar orang di atas bumi ini juga pernah menghadapi situasi yang demikian. Tak berani maju karena jurang menganga, mundur pun berarti terjerumus lebih dalam. Di detik-detik terakhir sebelum akhirnya setiap kita kehabisan energi di ambang putus asa, di saat itulah kita berpasrah kepada Allah berharap ia mengirimkan seseorang yang bisa membantunya keluar dari masalah. Di detik terakhir, seorang sahabat menepuk pundak saya dan meminta saya duduk menenangkan diri menceritakan semua yang saya alami. Tidak ada yang ia lakukan kecuali mendengarkan setiap huruf yang keluar dari mulut saya. Tak ada bantahan, tak ada selaan, tak ada kernyit dahi, juga mata yang melengah darinya. Yang ada hanya tatapan mata penuh perhatian, telinga yang terbuka seluas langit dan senyum yang menyiratkan kasih. Tahukah Anda apa yang terjadi setelah itu? Sebuah jembatan seperti terbentang antara bibir jurang di sedepa langkah saya dengan tanah pijakan di seberang yang sebelumnya tak mampu tertangkap oleh mata. Ya, ternyata yang saya butuhkan hanyalah seseorang yang mau mendengarkan -sekali lagi, mendengarkan- dengan hatinya. Dan saya yakin, dia lah sahabat yang dikirimkan Allah dari sepenggal doa saya di ambang keputusasaan. Kepada sahabat saya yang tampak murung menghadapi kesulitan dengan rencana pernikahannya, saya hanya menyediakan hati saya untuk mendengarkannya. Saya ingin membangun sebuah jembatan baginya. Sungguh, saya hanya menepuk pundaknya dan mendengarkan apa pun yang keluar dari mulutnya hingga tak satu pun huruf tersisa. Wallaahu 'alam. Bayu Gautama Fitnah Itu Bernama Teroris (Milad 17 Tahun Intifadhah, 8 Desember 1987) Publikasi: 09/12/2004 09:35 WIB eramuslim - Pada akhir bulan Jumadil Akhir 1424 tahun yang lalu, tersebutlah seorang sahabat bernama Abdullah bin Jahsy Asady. Bersama dengan dua belas sahabat dari kalangan muhajirin berangkatlah ia menjalankan sebuah operasi intelejen rahasia, ikut dalam rombongan tersebut Sa'ad bin Abi Waqqash dan 'Utbah bin Ghazwan. Beliau dititipi sepucuk surat oleh Rasulullah SAW, dengan amanah, baru boleh dibuka, untuk dibaca, dan ditaati serta dilaksanakan sekiranya mereka telah berjalan selama dua hari penuh.

Ketika saat itu tiba, sang komandan perjalanan Abdullah bin Jahsy pun membuka isi surat tersebut, yang ternyata berisi sebuah perintah: "Berangkatlah menuju Nikhlah, antara Mekkah dan Tha'if. Intailah keadaan orang orang Quraisy di sana dan laporkan kepada kami keadaan mereka" Selepas membaca surat ini Abdullah bin Jahsy berucap, "Kutaati perintah ini!" Kemudian diceritakanlah isi surat Rasulullah tersebut kepada para sahabatnya yang lain seraya berkata, "Rasul Allah telah melarang aku memaksa seorang pun dari kalian. Siapa yang ingin mati sebagai pahlawan syahid, marilah berjalan terus bersama aku, dan siapa yang tidak menyukai hal tersebut hendaklah dia pulang...!" Seruan ini disikapi para sahabat dengan sambutan untuk terus melanjutkan ekspedisi hingga tuntas. Hingga terjadilah sebuah peristiwa, unta yang dikendarai secara bergantian oleh Sa'ad dan Utbah hilang, menyebabkan keduanya tertinggal oleh rombongan. Tiba di Nikhlah berpapasanlah rombongan Abdullah bin Jahsy dengan kafilah Quraisy yang dipimpin oleh Amr bin Al Hadharamy. Pertempuran pun tak terhindari, Amr tewas sedangkan dua orang dari mereka berhasil tertawan. Dengan membawa tawanan dan rampasan kafilah, kembali Abdullah bin Jahsy menuju Madinah. Tanpa disadari oleh para sahabat ternyata peristiwa peperangan tersebut terjadi sesudah masuk bulan Rajab, di mana pada bulan tersebut tidak boleh terjadi peristiwa permusuhan, pembunuhan dan peperangan. Tanpa dikomando segeralah berita tentang insiden di Nikhlah memenuhsesakkan wacana obrolan dan pembicaraan masyarakat Madinah, corong-corong Yahudi, satelit-satelit Quraisy dan para munafik Madinah sibuk memelintir dan mencemooh nama-nama sahabat yang tersangkut insiden Nikhlah tersebut. Tidak cukup pada sahabat yangg tekena langsung dampak skandal tersebut, hingga Rasulullah pun namanya ikut diseret ke dalam kasus Nikhlah, nama beliau dicap dengan berbagai macam istilah dan slogan, serta digeneralisasi bahwa umat islam tidak memiliki etika pada bulan haram. "Muhammad telah menghalalkan bulan haram, padahal bulan itu orang penakut saja merasa aman dan semua orang bisa bekerja dengan tenang". Luar biasa fitnah dan sesaknya kondisi pada saat itu, hingga Rasulullah sendiri menolak kedatangan rombongan Abdullah bin Jahsy beserta ghanimah dan tawanan yang dibawa dari Nikhlah, dan menegur mereka, "Aku tidak memerintahkan kalian berperang dalam bulan haram". Hingga fitnah dan wacana yang memojokkan sebagian sahabat pada saat itu diklarifikasi Allah SWT dengan menurunkan ayat 217 surat Al Baqarah:

"Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah, 'Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar'." "Tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah." "Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh." "Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup." "Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." Walau telah diklarifikasi Allah hingga hari ini pun fitnah-fitnah tersebut tak pernah berhenti mengalir dari corong-corong kebathilan, berbagai macam cap dan istilah mereka berikan kepada orang-orang yang menjalankan keyakinan beragama-Nya. Kalau dulu mereka mencap Inlaender Extrimist kepada ulama salih pertiwi yang berjuang dan senantiasa menggelorakan perlawanan jihad fi sabilillah untuk kemerdekan tanah air Indonesia, maka hari ini mereka pun tidak kunjung lelah memberikan gelar teroris bagi rakyat, anak-anak dan remaja-remaja Palestina yang terus istiqomah berjuang merebut kembali tanah suci Al-Aqhsa. Jika dulu mereka menodai kemerdekaan bangsa Indonesia dengan agresi militer di bulan suci Ramadhan, maka hari ini mereka ulangi kembali tabiat jahat mereka, denga menginjak-nginjak kesucian rumah-rumah, dan tanah-tanah Allah di Iraq, juga pada bulan suci Ramadhan. Tidak cukupkah kita umat Islam mengambil pelajaran dari klarifikasi Allah terhadap insiden Nikhlah? Kini saatnya umat Islam harus bersatu padu membela kehormatan agamanya menarik garis besar untuk jelas membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Dua bulan setelah Insiden Nikhlah, Allah SWT mentakdirkan sebuah klarifikasi tegas akan semua fitnah yang mewacana. Hari itu adalah Al-Yaumul Furqon, dimana jelas di atas tanah Badar semua dipertaruhkan dan semua induk fitnah diklarifikasi, dan terjawab sudah klarifikasi fitnah tersebut hingga hari ini, mana sebenarnya golongan haq dan mana pihak yang mengusung kebathilan.

Fitnah hari ini adalah istilah teroris, maka katakan kepada umat Islam di seantero dunia: "Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh" (QS 2:217) dan lawanlah wacana-wacana dan makar-makar bathil mereka, hingga jelas siapa teroris sebenarnya! Kita yang berjuang untuk kedaulatan dan kemerdekaan tauhid? Atau mereka yang (tabiatnya) senantiasa menjajah kita dalam beragama, mengusir kita dari tanah suci milik Allah dan kafir terhadap Allah ? "Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan." (QS 8:39) Abu Syahidah syams@gmx.de Meraih Tempat Mulia Publikasi: 08/12/2004 08:31 WIB eramuslim - Seringkali kita bingung memikirkan bagaimana caranya agar mampu mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah. Tak jarang kita merasa sulit sekali memikirkan usaha untuk berada di posisi tersebut. Padahal kalau saja kita mengetahui begitu mudahnya untuk mendapatkan tempat yang mulia itu, Insya Allah mungkin sebagian besar dari kita akan berada di sana. Ternyata, hanya dengan mencintai dan mempersaudarakan karena Allah kita bisa mencapai posisi yang selalu kita impikan itu. Membina hubungan dengan saudara dan teman di atas fondasi ukhuwah karena Allah, merupakan ikatan yang paling luhur antara dua insan, baik seorang muslim maupun muslimah. Karena ikatan ini merupakan ikatan iman yang dijadikan Allah antar orang beriman. Renungi dengan sepenuh sungguh firman-Nya, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara." (QS Al-Hujurat: 10) Bahkan kita sering mendengar, salah satu cara agar kita bisa merasakan lezatnya iman adalah bila kita dapat mencintai seseorang semata-mata karena Allah. "Di manakah mereka yang saling mencintai karena kebesaran-Ku? Pada hari ini Aku naungi mereka dalam naungan-Ku, hari yang tidak ada naungan selain naungan-Ku." (HR Muslim) Subhanallah, sungguh besar kemuliaannya! Betapa tinggi kedudukan mereka yang saling mencintai karena Allah dan semata-mata bertujuan mencari ridha-Nya, hingga Allah menyediakan sebuah naungan di hari paling berat itu. Memang sangat berat dan sulit untuk mendapatkannya, kecuali orang yang bersih jiwanya, suci rohaninya dan memandang dunia sebagai sesuatu yang tidak ada apa-apanya dan murah.

Tapi harus ada kata permulaan, harus ada perbuatan awal karena kalau tidak, selamanya kita akan mengatakan kalau hal itu sulit sekali dan kita tidak akan mampu untuk melakukannya. Maka sekaranglah masanya. Mulailah untuk mengungkapkan rasa cinta dan sayang kepada sesama, bukan hanya dengan perbuatan saja tapi ungkapkan dengan bahasa yang indah yang mampu mengungkapkan semua rasa cinta kita yang tentu saja semuanya karena Allah. Lalu seperti apa cara menumbuhkan cinta kepada orang lain?, Nabi SAW telah memberikan contoh yang nyata kepada kita. "Demi Allah yang Jiwaku ada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidaklah beriman sehingga kalian saling mencintai. Tidak maukah kamu kutunjukkan suatu amal yang jika kamu melakukannya, kamu menjadi saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kamu." (HR Muslim) Salam. Subhanallah ternyata begitu mudah untuk memasuki surganya Allah, hanya mengucapkan salam setiap bertemu dengan semua saudara-saudara kita. Tapi apakah dalam prateknya semudah teori di atas? Insya Allah, jika ada kasih sayang dalam hati serta bersihnya jiwa dan tentu saja senyum yang ikhlas yang benar-benar tulus, menyebarkan salam bukanlah hal yang sulit dan tentu saja dengan berdoa, "Ya Allah, tolonglah aku untuk berzikir kepada Mu dan bersyukur kepada Mu, dan tolonglah aku dalam melakukan ibadah secara baik kepada Mu." Insya Allah keinginan untuk berada di tempat yang mulia di sisi Allah bukan hanya sekedar impian belaka. Doaku selalu terucap agar kita bisa berada di sana bersama-sama. Amin. Allah Azza wa Jalla berfirman, "Orang-orang yang saling mencintai karena kebesaranKu, akan mendapat mimbar dari cahaya, di mana para Nabi dan syuhada iri kepadanya (ingin mendapatkannya)." (HR Mu’adz bin Jabal RA) Akhirnya, "Aku benar-benar mencintaimu karena Allah saudaraku!"

Amda Usnaka usnaka@yahoo.com Cinta Sang Duta Pertama Publikasi: 07/12/2004 09:10 WIB Kupunya sekeping hati yang ditebari cinta Karena cinta dia rela menghadapi bertubi derita Cinta merebut dirimu dengan pengorbanan jiwa Kan kutebus pula dengan sesuatu diatas jiwa (Ekspresi cinta para sahabat untuk Al-Musthafa, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)

eramuslim - Ia, bagaikan mawar di rerimbunan suku Quraisy. Wajahnya tampan, begitu masyhur di udara Makkah. Cemerlang pemikirannya bukan lagi rahasia, ia sosok cerdas yang menjadi kebanggaan. Tak sampai di situ, ia anak dari seorang bangsawan dengan gemerlap kekayaan. Sejarah menorehkan anugerah panggilan terhadapnya "Penduduk Makkah yang sangat mempesona". Ia tumbuh menjadi anak kesayangan sang ibunda, anak manja begitu para karibnya menyebut sang pemuda. Namun, apakah mungkin jika selanjutnya kisah kehidupan sang pemuda menjadi sebuah legenda keimanan yang begitu agung gaungnya? Allah sebaik-baik penentu lika-liku kehidupan seseorang. Mush'ab bin Umair. *** Bukit Shafa, Makkah, senja hari. Mush'ab gelisah menyusuri setapak jalanan. Sesekali ia menengok kiri dan kanan, memastikan tak ada orang yang mengikutinya. Sampai di rumah Arqam bin Arqam, ia berhenti. Sudah dibulatkan tekadnya untuk menjumpai seseorang yang kelak akan dicinta sampai nafas terhembus dari raga. Perlahan Mush'ab membuka pintu, dan di sana telah duduk sosok yang selama ini hanya mampu ia dengar. Ruangan begitu hening, sementara gemerisik pepasir sahara terdengar mengalun dihantarkan angin. Sesaat kemudian Mush'ab terpaku, lantunan syair syahdu yang begitu indah menyapa merdu gendang telinganya. Mush'ab terbuai, hatinya melembut. Sejenak, Mush'ab serasa mengangkasa, terpesona. "Apakah itu, duhai Muhammad?" tanya Mush'ab setelah bibir manis Rasulullah tak lagi bersuara. "Tadi, adalah Al-Qur'an, firman Allah yang maha benar." "Ya Muhammad, bagaimana caranya aku bisa masuk ke dalam agama yang tengah engkau bawa?" Saat itu betapa berbunga hati manusia pembawa cahaya pada dunia. Pertanyaan yang dilontarkan Mush'ab begitu menggembirakan Al-Musthafa. Akan bertambah pengikutnya satu kepala. Senyuman sang Penerang mengembang, dengan mantap ia bertutur, "Bersaksilah bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah benar utusanNya." Dan beberapa pasang mata menyaksikan sumpah setia sang pemuda berparas jelita. Mush'ab bersyahadat. Mush'ab nampak berbeda, sebuah keharuan menjelma. Dadanya turun naik, Nabi bersegera menujunya. Tangan Al-Musthafa terulur ke dada Mush'ab, meredam gejolak cinta yang kian berdentang. Dan ajaib lubuk hatinya kini damai. Keduanya kini berpandangan disaksikan langit yang juga bersuka cita. Mush'ab bin Umair, pemuda gagah keturunan seorang bangsawan Quraisy kini sempurna menjadi seorang muslim. Sejarah mengisahkan betapa Al-Amin mempercayakan kepadanya sebuah emban. Mush'ab dipilih menjadi seorang utusan. Seorang duta pertama dalam Islam. Ada amanah indah yang harus segera ia tunaikan. Tugasnya mengajarkan tentang Islam kepada kaum Anshar yang telah beriman dan berbaiat kepada Rasulullah di Aqabah. Sebuah misi yang tentu saja tidak mudah. Saat itu telah 12 orang kaum Anshar yang beriman.

Mush'ab juga mengemban misi yang lain yaitu mengajak kabilah lain untuk masuk Islam dan mempersiapkan penyambutan hijrah Rasulullah. Ia sungguh tahu betapa berat amanah itu ditanggung. Namun, titah ini terucap dari bibir manis manusia yang ia cinta, yang dipercayainya dan telah melimpahi hatinya cahaya terang benderang. Berbekal cinta, ia menjadi seorang duta kekasihnya, ke Yastrib. *** Mush'ab memang pemuda kebanggaan, ia berhasil merengkuh hati para penduduk Madinah. Sifat yang ditampakkannya, kejujuran, kezuhudan dan ketulusan telah mengikat banyak perhatian. Ia begitu memahami tugasnya dengan baik. Ia datangi kabilah-kabilah yang bertebaran di Madinah. Setiap rumah, tempat pertemuan, penduduk laki-laki, perempuan, tak luput dari seru syahdu sang Pemuda. Namun tentu bukan tidak ada rintang. Tak lama berselang, Allah yang Maha Akbar memperlihatkan hasil sebuah usaha sungguh-sungguh Mush'ab bin Umair. Berduyun-duyun manusia berikrar mengesakan Allah dan mengakui Rasulullah sebagai utusan Allah. Jika saat ia pergi ada 12 orang golongan kaum Anshar yang beriman, maka pada musim haji selanjutnya umat muslim Madinah mengirim perwakilan sebanyak 70 orang laki-laki dan 2 orang perempuan ke Makkah untuk menjumpai Nabi yang Ummi. Madinah semarak dengan cahaya. Duta pertama pilihan Al-Musthafa sukses tanpa tandingan. Sungguh sebuah keberhasilan yang gemilang. Di Madinah, sebuah persembahan cinta disematkan untuk Mush'ab bin Umair, karena jasa tak terbilangnya sebagai duta. Dari bibir para penduduk Madinah, setiap guru agama akan disapa sebagai "Al-Mush'ab" bukan lagi al-Ustadz. *** Kemilau kehidupan Mush'ab berakhir di sebuah bukit. Akhir kehidupannya menjelma semerbak kisah yang menjadi pelengkap sejarah kebanggaan kaum Muslimin. Siapkan hatimu, dan petik banyak hikmah, agar engkau meneladani ekspresi kecintaannya kepada Nabi. Inilah kisah kepergiannya: Bukit Uhud dalam kecamuk perang. Mush'ab tampil pemberani di sana. Ketika pasukan muslim lengah dan tercerai berai, dan Rasulullah menjadi sasaran setiap kepala pasukan Quraisy, Mush'ab menjelma sebenarbenar pencinta. Ia mengangkat panji itu setinggi-tingginya dan menggemakan takbir ke jauh angkasa. Tujuannya satu, para kafir itu beralih kepada dirinya. Ia memberi isyarat kepada Rasulullah untuk segera pergi. Mush'ab mengerahkan utuh tenaganya. Melompat, berlari, berputar dan menghujamkan sebilah pedang. Seperkasa apapun Mush'ab, ia tetaplah sendirian. Ujung mata tombak itu menembus dadanya. Mush'ab jatuh direngkuh pepasir Uhud.

Jasad pemberani Mush'ab terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah, seolah-olah wajahnya tak berani melihat bencana yang kan menimpa sosok yang teramat dicintanya atau mungkin karena ia malu mati terlebih dahulu sebelum memastikan keselamatan raga nabinya. Allah yang maha Mengetahui. Sungguh saat itu Al-Musthafa berdiri tegak di samping tubuh yang telah sunyi. Wajah rembulan Rasulullah berkabut. Ke dua kelopak matanya terselubungi bening cinta untuk sang duta pertama. Ada luruh air mata dan untaian senandung ketulusan untuk Mush'ab yang kini pergi. Sejenak, Rasul Allah terdiam, namun tak seberapa lama, dari bibir semanis madu itu terungkap sekuntum firman Allah, "Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur..." (QS 33: 23). Uhud senyap, banyak jasad yang tak lagi sempurna. Di sana Mush'ab bin Umair menyambut syahidnya. Wajah yang mempesona sebelumnya itu kini berdarah-darah. Tubuh tegap yang dulu selalu berpakaian indah dan jelita, sekarang hanya berbalut kain lusuh yang tak lagi utuh. Ada banyak luka di sana, hunjaman tombak, sayatan pedang, tusukan anak panah. Ke dua tangan pemegang panji kebanggaan Islam tak lagi ada, tangannya begitu sempurna dibabat pongah pedang para kafir Quraisy. Dan rambut Mush'ab, rambut kebanggaan yang dahulu selalu wangi misk dan hitam berkilat itu kini hanya terlihat masai. Rasulullah mengenang pemuda tampan kebanggaannya. Pemuda cerdas duta pertamanya. Di ujung hening, kesedihan kaum Muslim begitu memulun. Pepasir bukit Uhud, merengkuh begitu banyak para syuhada. Al-Musthafa termenung, ia berjalan perlahan melewati para pemberani yang kini telah disambut para bidadari. Detik itu terpetik sebuah sabda indah untuk mereka yang telah melangkah di jalan Allah, sebuah jaminan pasti untuk mereka, "Rasulullah akan menjadi saksi dihari kiamat, bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah." Dan selanjutnya kekasih Allah memanggil semua sahabat yang masih hidup untuk sejenak berkumpul. Banyak kepala tertunduk menatap pepasir uhud yang kini berujud merah. Pandangan mereka mengabur karena tersaput selaput basah yang begitu mudah hadir. Sesak dada mereka atas banyak kepergian. Sementara dengan agung, Sang Tercinta melantunkan sebuah alunan permintaan, "Hai manusia, ziarahilah mereka, datangilah mereka dan ucapkanlah salam. Demi Allah, tidak seorang muslim pun sampai hari kiamat yang memberi salam kepada mereka kecuali mereka membalasnya." Aduhai Mush'ab bin Umair, salam cinta kami untuk engkau. Keberkahan untukmu Mush'ab yang baik. Kedamaian juga untuk engkau, wahai pencinta Al-Musthafa. Sejahtera atas engkau, wahai Sang Duta pertama. Kami sampaikan salam, semoga engkau mulia di sisi Nya. Amin.

*** Husnul Mubarikah untuk seseorang yang berkata, "Bunda, rindu ini melangit lagi". Ketulusan dalam Kesederhanaan Publikasi: 06/12/2004 11:40 WIB eramulim - Perempuan tua itu tampak bermenung, menunggui kios bensinnya yang sepi ketika seorang pemuda keren dan trendi menghampiri sambil menuntun motornya. Setelah bercakap-cakap sejenak, si ibu mengambil jerigen bensinnya dan mengisi tangki motor pemuda itu. Gratis! Tanpa bayar. Seorang sopir delman memarkir delmannya di pinggir jalan dan melompat turun. Dengan sigap dia memanjat pohon tempat dua biji balon tersangkut dan mengambilnya. Seorang nenek dan cucunya yang tidak ia kenal samasekali, menungguinya di bawah. *** Anda seperti pernah melihat fragmen di atas? Mungkin saja. Karena cerita tersebut saya ambil dari tayangan sebuah reality show di salah satu stasiun televisi. Saat menonton fragmen yang pertama, saya dan teman nonton saya pun berandai-andai, apa kira-kira yang akan kami lakukan jika kami ada dalam posisi si perempuan tua. Mungkin kami akan memandangi si pemuda keren dari atas sampai bawah, kemudian bertanya, "Kok bisa cowok sekeren ini tidak punya uang?" Jika dia menjawab lupa, kami mungkin akan kembali beralasan, "Kalo lupa tidak bawa uang, cari akal dong supaya bisa tetep beli bensin. Jual sepatu kek atau apa!" Setelah itu kami berdua tertawa getir, mentertawakan diri sendiri. Kami memproklamirkan diri sebagai muslimah kaffah, yang 'semestinya' lebih baik dari orang kebanyakan. Namun ternyata 'kelebihan' yang kami miliki tidak membuat kami lebih tulus. Paradigma dan ilmu yang ada membuat kami melakukan penyaringan, bukan hanya terhadap keburukan, tetapi juga ketika hendak melakukan kebaikan. Melihat dulu alasannya, untuk apa dan mengapa kami harus dan tidak harus melakukan sesuatu, bahkan ketika sesuatu itu adalah menolong orang lain yang tampak sedang dalam kesulitan. Kemudian kami membandingkan sikap kami dengan mereka yang dalam tayangan itu menolak permintaan tolong itu karena berbagai alasan. Seorang gadis menolak mengantar ibu tua ke seberang jalan karena dia sedang tergesa-gesa dan tidak searah dengan si ibu. Seorang pemuda menolak meniupkan balon bagi sesosok bocah kecil karena ia mengatakan sedang puasa, takut tidak kuat. Banyak laki-laki bersedia menolong seorang wanita muda cantik mengangkatkan barangnya, (coba saya tebak alasannya: karena perempuan itu cantik!) sementara seorang wanita paro baya harus berkali-kali menerima penolakan atas permintaan tolongnya, karena dia tidak memiliki 'nilai tambah' bagi penolongnya. Meski mungkin alasannya berbeda secara moral, namun pada

kenyataannya kami juga mungkin akan melakukan seleksi dan berpikir-pikir ketika hendak memberikan pertolongan. Lantas? Tak selalu salah mengambil keputusan berbuat baik pada orang lain pada alasan tertentu, namun fragmen-fragmen itu memberi banyak pelajaran bahwa menolong orang lain kadang tidak perlu bertanya mengapa mesti menolong. Pekerjaan menolong itu kadang perlu dilakukan 'hanya' karena ada yang sedang membutuhkan pertolongan sementara kita ingin dan bisa menolong. Betapapun sederhana cara berpikir dan keseluruhan hidup orang-orang 'biasa' itu, mereka memiliki ketulusan yang luar biasa. *** Seorang laki-laki dengan kaki cacat dan mata buta sebelah, mengayuh gerobak khususnya dengan tangan, berkeliling menjual minyak tanah. Ketika seorang nenek dengan kompor di tangan minta minyak yang menjadi sandaran hidupnya itu untuk memasak, ia tanpa banyak kata memberi dengan senyum terukir di wajahnya. Bahkan ketika si nenek juga minta tolong ia membenahi sumbu kompor dan menutupkan kembali, ia pun mengerjakannya tanpa tampak keberatan sedikit pun. Seorang nenek penjual duren di pinggir jalan dengan dagangan duren yang hanya beberapa buah. Seorang bapak dengan pakaian guru menawar hendak membeli durennya dan mengaku hanya punya uang lima ribu sedang harga duren itu puluhan ribu. Dengan ringan dia melepas benda jualannya itu, bahkan memberikan yang terbaik kepada si bapak. Padahal duren itu adalah satu-satunya sarana ia mengais rejeki dengan modal cukup besar dan untung tak seberapa. Seorang kakek tua dengan senang hati mengantar perempuan hamil tua ke rumah sakit tanpa bayar, padahal jalanan menanjak dan jarak yang ditempuh cukup jauh. Seorang... Dan fragmen-fragmen lain pun tertayang, memberikan pelajaran berharga bagi siapa pun yang berkehendak mengambilnya. Azimah Rahayu (@azi, sepenuh takzim untuk para manusia perkasa itu) Seandainya Aku Bisa Terbang Publikasi: 09/09/2004 10:01 WIB eramuslim - Teman, Aku ingin bercerita. Di salah satu dahan pohon yang rindang, terdapat sebuah sarang dimana hidup sepasang burung bersama seekor anak mereka yang baru menetas dari telur beberapa hari lalu. Sepasang Ayah dan Ibu burung itu nampak berbahagia sekali dengan kehadiran si burung kecil. Setiap pagi, sang ayah pergi mencari cacing untuk makan si burung kecil. Setiap hari, sang ibu menemani si burung kecil di sarang, menghangatkan tubuhnya dan melindunginya dari dinginnya desir angin yang

kencang. Si burung kecil pun merasa nyaman dalam dekapan ibunya. Kalau perut terasa lapar, ia tinggal mencicit saja, semua dapat diperolehnya dengan mudah. Hari berganti hari, tak terasa si burung kecil pun mulai bertambah usianya. Bulu-bulu di sekujur tubuhnya mulai tumbuh, si burung kecil sudah punya sepasang sayap mungil. Lalu, sang ayah berkata padanya : "Nak, kini sudah saatnya engkau belajar terbang, mengepakkan sayap yang telah Tuhan berikan padamu... Ayah dan Ibu akan mengajarimu terbang". Tetapi si burung kecil nampak ketakutan, dia merasa belum mampu untuk terbang dengan sayapnya sendiri. Beberapa pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya. Bagaimana nanti kalau sepasang sayapku ternyata tak bisa dikepakkan? Aku takut jatuh dari ketinggian. Bagaimana nanti kalau aku lapar? Aku harus mencari makanan kemana? Bagaimana...? Si burung kecil pun berkata pada Ayah-Ibunya: "Ayah, Ibu, aku ingin tetap tinggal disarang saja, aku tak mau terbang sendiri, aku takut...", ucap si burung kecil lirih. Lalu, sang Ayah burung mendekap tubuh si burung kecil dengan penuh kasih sayang, seraya berkata, "Nak, hilangkan semua kekhawatiran dan ketakutan yang menghantui benakmu itu. Engkau mempunyai sayap untuk terbang kemanapun engkau ingin pergi. Lihatlah dunia di luar sana Anakku, engkau akan bertemu dengan burung-burung lain, engkau akan menjumpai banyak pengalaman hidup yang akan memperkaya dirimu. Jangan pernah engkau risaukan tentang makanan, karena Tuhan telah menyediakan semuanya di alam sana, asalkan engkau mau berusaha menjemputnya Nak". Si burung kecil mendengarkan nasehat Ayahnya dengan sungguh-sungguh, dia termenung sesaat, kemudian dengan semangat dia berkata, "Iya Ayah, aku akan belajar terbang sekarang, aku tidak akan takut." Lalu, si burung kecil mulai mencoba mengepakkan sayapnya perlahan... agak cepat... semakin cepat... dan kemudian... "Aku bisa terbang!", teriak si burung kecil gembira. Ayah dan ibunya tersenyum bahagia menyaksikan usaha anaknya. Kini, siburung kecil itu sudah menjelma menjadi seekor burung besar yang gagah. Ia sudah bisa mencari makan sendiri, ia sudah menjalani banyak perjalanan hidup yang menjadikannya mandiri seperti sekarang, bahkan ia sudah menemukan seekor burung betina cantik menjadi pasangannya. Si burung itu bergumam, "semua ini tidak akan aku dapatkan seandainya aku tak mau belajar terbang" Teman, Dahulu, kita adalah burung-burung kecil itu, yang sangat bergantung pada ayah dan ibu kita. Namun Teman, mari lihatlah dengan seksama diri kita di cermin saat ini. Kita bukan lagi anak kecil yang masih harus selalu di 'suapi' oleh ayah dan ibu seperti dahulu, kita bukan lagi bocah kecil yang harus berdiam diri keenakan menanti 'subsidi' rutin setiap bulan masuk ke rekening tabungan kita dari Ayah dan Ibu. Cobalah Teman, perhatikan sekali lagi sosok pada cermin di hadapanmu itu. Ya Tuhan, ternyata kita sudah dewasa, tak terasa usia sudah merangkak ke angka 24 tahun lebih.

Tapi, mengapa diri ini tak ubahnya seperti si burung kecil tadi yang masih ingin terus berdiam di sarang, karena tak mau susah memikirkan harus mencari makan. Teman, mari sejenak kita layangkan ingatan kita pada Rasulullah SAW yang sudah mandiri sedari Beliau kecil. Malu sekali rasanya diri ini, malu pada kedua orangtua, terlebih lagi malu kepada-Mu Ya Rabb. Teman, Kemanakah perginya taujih Imam Syahid Hasan Al Banna, bahwa salah satu karakter (muwashoffat) seorang kader da'wah adalah Qodiirun 'alal kasbi (mampu mencari nafkah sendiri alias mandiri). Apakah hanya menjadi baris-baris kalimat tak bermakna dalam catatan agenda kita? Semoga tidak. Teman, Apakah kita tak memperhatikan kedua orangtua kita yang sudah mulai lanjut usia, lihatlah kerutan yang mulai menghiasai wajah mereka, lihatlah tenaga mereka sudah tak sekuat dulu lagi. Lalu, Apakah begini bakti kita terhadap mereka? Kita masih 'tega' membiarkan mereka membanting tulang untuk membiayai kuliah dan kebutuhan kita sehari-hari. Teman, padahal sudah saatnya kita menunjukkan pada mereka bahwa kita sudah bisa mandiri seperti si burung kecil tadi. Teman, mari kepakkan 'sayap' mu sekarang juga. Jangan takut dengan kencangnya angin di luar sana, jangan takut dengan ganasnya kehidupan disana. Karena itu akan membawa kita pada sebuah kedewasaan diri akan hakikat hidup sesungguhnya. "Berapa lamakah kau kan tetap menggelepar menggantung di sayap orang. Kembangkan sayapmu sendiri dan terbanglah lepas seraya menghirup udaraBebas di taman luas". (Muh Iqbal) Eka Satriana eka_satriana@yahoo.com Menjadi Seekor 'Angsa' Publikasi: 06/09/2004 12:25 WIB Pada suatu hari seorang petani menemukan sebutir telur angsa di halaman rumahnya dan memasukkan telur tersebut ke dalam kandang ayam di antara telur-telur ayam yang sedang dierami. Beberapa minggu kemudian telur angsa itu menetas dan karena berada di lingkungan ayam, sang anak angsapun berperilaku seperti ayam. Anak angsa tersebut makan seperti ayam, berkokok seperti ayam dan berkumpul di tengah-tengah para ayam. Ketika sedang bermain-main di tengah hutan, tak jarang sang anak angsa memandang iri kepada kerumunan para angsa yang sedang berenang di tengah danau dan berharap di dalam hati seandainya saja ia mampu berenang dan menikmati indahnya danau seperti para angsa tersebut. Hingga suatu hari, para pemburu liar yang mengejar mangsa buruannya ke tengah hutan melepaskan tembakan dan membuat panik para warga hutan. Sang anak angsa berlari dengan kencang hingga ia terhenti di tepi danau dan dengan kesedihan yang mendalam hanya mampu menyaksikan gerombolan para angsa berenang menyeberangi danau untuk menyelamatkan diri. Ia menyesal terlahir sebagai seekor ayam yang tidak mampu berenang. Di tengah-tengah kepanikan, kesedihan serta ketidakberdayaannya, sebutir peluru pemburu bersarang di tubuh sang anak angsa

tersebut. Anak angsa itupun mati tanpa pernah mengetahui bahwa ia seekor angsa dan bahwa ia sebenarnya mampu survive dari kejaran pemburu tersebut. Ilustrasi di atas adalah gambaran umum dari kondisi para pemuda, khususnya para pemuda Islam, sekarang ini. Banyak di antara kita yang merasa cukup puas dengan apa yang telah kita raih, tanpa menyadari bahwa sebenarnya dengan potensi yang kita miliki dan dengan izin Allah s.w.t kita mampu untuk menjadi sesuatu yang lebih dahsyat. Dan tidak sedikit di antara kita yang bahkan tidak pernah mengetahui potensi diri kita sesungguhnya, karena kita sudah merasa nyaman dengan tidak menjadi apa-apa. Kita hanya mampu memandang takjub dengan kegemilangan orang lain, tanpa pernah menyadari bahwa mungkin kita memiliki potensi yang sama atau bahkan lebih dari orang tersebut. Abu Tammam, seorang penyair hikmah dari tanah Arab pernah mengatakan, "Tidak ada aib yang kutemukan dalam diri manusia melebihi aib orang-orang yang sanggup menjadi sempurna, namun tidak menjadi sempurna." Perubahan bukanlah sesuatu yang datang dari luar. Perubahan itu adalah suatu bagian integral dari eksistansi manusia dan hanya dapat dicapai dengan arah dari dalam ke luar. Perubahan itu ada di tangan kita sendiri. Allah s.w.t berfirman, bahwa Ia tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum tersebut mengubah nasibnya sendiri. Kitalah pengemudi kendaraan perubahan itu dengan Allah swt sebagai penunjuk arahnya. Stephen R. Covey, dalam bukunya yang terkenal 7 Habits of Highly Effective People, mengemukakan tentang konsep lingkaran pengaruh. Bayangkanlah dua buah lingkaran, lingkaran dalam dan lingkaran luar. Lingkaran dalam meliputi segala sesuatu yang dapat kita kendalikan seperti diri sendiri, sikap kita, respon kita dan pilihan kita. Lingkaran luar mencakup segala hal yang berada di luar pengaruh kita. Memang, ada hal-hal di dunia ini yang tidak dapat kita kendalikan karena berada di lingkaran luar dari pengaruh kita. Kita tidak dapat menentukan jenis kelamin kita, orang tua yang melahirkan kita, waktu kematian kita, lingkungan tempat kita dibesarkan, cara kita dididik oleh orangtua kita dan sebagainya Tapi kita senantiasa dapat mengoptimalkan pengaruh dari lingkaran dalam yang mampu kita kendalikan. Kita dapat memilih respon, tindakan serta sikap kita dalam menghadapihal-hal yang berada di luar pengaruh kita. Respon kita terhadap hal-hal tersebutlah yang akan menentukan nasib kita. Hal-hal yang berada di luar pengaruh kita tersebut hanya akan mampu mempengaruhi kita tapi tidak dapat menentukan nasib kita! Kesadaran akan hal tersebut akan mampu mengubah paradigma kita dalam memperkokoh izzah Islam yang sebagian besar ditopangkan di pundak kita sebagai seorang pemuda. Kesadaran akan hal tersebut juga akan mampu menghancurkan tembok-tembok di sekitar kita yang menghalangi kita dalam menemukan potensi diri kita menjadi seseorang yang lebih baik dan membawa kemaslahatan bagi ummat. Keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki bukanlah suatu alasan untuk menghindari tanggung jawab moral kita sebagai seorang pemuda yang menjadi tumpuan harapan

ummat. Tirulah semangat Buya Hamka, yang dengan keterbatasan ruang geraknya karena ia berada di dalam penjara ia justru mampu menghasilkan beberapa buku yang menjadi karya terbaiknya. Tirulah semangat Beethoven, yang walaupun dengan keterbatasannya sebagai seorang tuna rungu pada akhir-akhir hayatnya, ia malah mampu menciptakan melodi-melodi indah yang dianggap sebagai sebuah karya jenius oleh para musisi. Tirulah semangat Stephen Hawking, yang walaupun ia terpaksa harus duduk di kursi roda karena kelumpuhan anggota tubuh total yang dideritanya, ia mampu mengoptimalkan bagian dari tubuhnya yang masih dapat berfungsi dengan normal , yaitu otaknya, sehingga ia mampu menciptakan suatu teori kosmologi yang mementahkan konsep Einsten tentang relativitas. Dan teladanilah Rasulullah saw, yang dengan segala keterbatasannya sebagai seorang manusia biasa, walaupun ia diberi beberapa keistimewaan oleh Allah s.w.t., ia mampu mengubah kejahiliyahan menjadi suatau kecemerlangan. Ia mampu menjadikan segala sesuatau yang tidak mungkin dalam logika manusia normal menjadi mungkin dan ia juga mampu menjadi penerang bagi ummat hingga kini, bahkan tanpa kehadiran jasadnya sekalipun ia tetap hidup di hati ummatnya. Bukankah tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Rasulullah saw bersabda dan merupakan peringatan terutama bagi para pemuda, "Gunakanlah yang lima sebelum datangnya lima perkara, usia mudamu sebelum datang usia tuamu, sehatmu sebelum datang sakitmu, kekayanmu sebelum datang fakirmu, hidupmu sebelum datang kematianmu dan kelapanganmu sebelum datang kesibukanmu." (Al-Hadits) Dengan menjadikan Allah s.w.t. sebagai satu-satunya ghayyah, mulailah menjadi bagian dari perubahan itu sekarang juga dengan berusaha mengenali dan menggali potensi yang kita miliki. Bukan tidak mungkin alur ceritanya akan berubah di mana sang anak angsa akhirnya menyadari bahwa ia adalah seekor angsa dan mulai membentangkan sayapnya berenang melintasi danau sehingga ia terhindar dari tembakan sang pemburu. Wallahu a'lam bishawaab. Ihdina Sukma Dewi <aprilmop82 at bdg dot centrin dot net dot id> Einsten, Ali, Barghouti dan Perjalanan ke Dalam Hati Publikasi: 14/09/2004 09:21 WIB eramuslim - "Aku ingin mengerti waktu karena aku ingin mendekati tuhan." Kata-kata jujur itu terlontar dari mulut Albert Einsten puluhan tahun yang lalu. Besso, sang sahabat yang selalu menyediakan waktunya untuk mendengar ide-ide Einsten, hanya mampu terperangah kaget mendengar ungkapan hati sahabatnya itu. Ia selalu terpesona pleh ambisi-ambisi Einsten. Dalam usianya yang ke-26 saja, Einsten telah menyelesaikan tesis Ph.D, satu tulisan ilmiah tentang photon dan satu tulisan tentang gerak Brownian. Proyek baru yang sedang dikerjakan oleh Einsten kini adalah konsepsi tentang relativitas waktu. Besso sama sekali tidak pernah menduga bahwa dibalik apa yang selama ini telah diraih oleh sahabatnya itu, ternyata Einsten masih menyimpan satu pencarian batin, yang

ia tahu tidak akan pernah dapat dipecahkan secara empiris oleh sahabatnya itu. Keheningan menyelimuti kedua sahabat itu. Besso tidak tahu bagaimana ia harus menanggapi ungkapan hati sahabatnya. Besso hanya bisa berpaling ke arah bawah jembatan tempat mereka berada. Ia memandangi perahu berwarna keperakan dalam kemilau matahari senja di sungai Aare. Namun, raut wajah kerinduan untuk mendekati tuhan di wajah Einsten membuyarkan pemandangan indah senja itu. Besso merasa ganjil. Bagaimana mungkin orang yang selama ini terbiasa menyendiri dan sangat tertutup seperti Einsten memiliki kerinduan untuk mendekati Tuhan? Setting cerita berpindah dari pemandangan dua orang sahabat pada suatu senja di jembatan sungai Aare, Jerman, ke suatu siang di tanah pertanian seluas 35 hektar di Berrien Springs, Michigan, puluhan tahun kemudian. Hari itu tanggal 11 September 2001. Muhammad Ali, sang petinju legendaris dan pemilik tanah pertanian tersebut sedang duduk di halaman rumahnya menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan seorang wartawan dari majalah Reader's Digest, salah satu majalah beroplah tertinggi di dunia. Kejadian yang menyentak rakyat Amerika tadi pagi, runtuhnya WTC dan dituduhnya teroris muslim yang terlibat dalam aksi tersebut, membuat Muhammad Ali menerima begitu banyak tawaran wawancara. Pendapatnya sebagai seorang muslim tiba-tiba menjadi begitu penting dalam menanggapi kejadian tersebut. RD : "Orang-orang muslim dituduh bertanggung jawab dalam penyerangan ke WTC pagi ini, bagaimana pendapat anda?" Ali : "Saya marah karena orang-orang menuduh Islam yang menyebabkan kehancuran yang disebabkan oleh fanatik rasis ini. Pelakunya bukan orang-orang muslim, karena Islam adalah negara yang mencintai kedamaian. Islam sama sekali tidak mengajarkan terorisme ataupun membunuh orang." RD : "Bagaimana anda menjalani hidup sebagai seorang muslim di Amerika? Apa artinya keyakinan tersebut bagi anda?" Ali : "Menjalani kehidupan sebagai seorang muslim di Amerika tidaklah mudah. Pertama kali saya mengumumkan keislaman saya, orang-orang berfikir itu adalah sesuatu yang lucu. Saya mengerti mereka berpendapat demikian karena perubahan drastis yang saya lakukan terhadap hidup saya. Namun, Islam bagi saya adalah sebuah tiket ke surga. Kita semua akan mati dan akan ada hari pembalasan. Adanya hari pembalasan tersebut dan keyakinan bahwa Tuhan selalu mengawasi apapun yang saya lakukan membuat saya lebih berhati-hati dalam melangkah dan memperlakukan orang lain. Saya selalu membawa sebungkus korek api kemanapun saya pergi. Setiap kali saya terdorong untuk melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya menurut keyakinan agama saya, saya menyalakan korek api tersebut dan merasakan panasnya api korek tersebut di jari-jari saya sampai saya kesakitan. Setelah itu, saya meyakinkan diri saya bahwa api neraka lebih panas daripada apa yang baru saya rasakan dan sifatnya abadi. Sayapun urung melakukan perbuatan dosa yang akan saya lakukan." Setting cerita berpindah lagi ke Timur Tengah, tepatnya di kota Ramallah, Palestina, pada tanggal 15 April 2002. Kota Ramallah dikejutkan oleh berita tertangkapanya sang tokoh

Intifadah, Marwan Barghouti, oleh Israel. Bukan hanya kota Ramallah, seluruh Palestina dikejutkan oleh berita ini. Bahkan di Lebanon, kelompok Hizbullah bereaksi keras dengan memperingatkan Israel agar memperlakukan Barghouti secara manusiawi. Bahkan, faksi yang berhasil mengusir Israel dari Lebanon Selatan pada Mei 2000 lalu itu, mengancam jika Barghouti disakiti, mereka akan membidik balik Sharon. Marwan Barghouti, ayah tiga orang putra dan satu orang putri ini adalah seorang tokoh utama gerakan intifadah. Barghouti adalah pengganti Khalid Al-Wazir, alias Abu Jihad, seorang pendiri gerakan intifadah yang tewas diberondong peluru tentara Israel pada April 1988. Barghouti, seorang doktor di bidang politik kelahiran 1959 dan juga pengajar di Universitas Al-Quds ini, telah berjuang untuk bangsanya sejak ia masih muda. Bahkan Israel pernah menjebloskannya ke penjara sebelumnya selama enam tahun. Sejak 1978, berbagai upaya penangkapan dan pembunuhan telah dilancarkan Israel terhadap Barghouti, sampai akhirnya mujahid ini tertangkap 15 April lalu. Sampai sekarang tidak jelas apakah Barghouti masih hidup atau tidak, tetapi satu yang jelas bahwa gerakan intifadah di tanah Palestina tidak surut oleh tertangkapnya Barghouti. Coba cermati. Tiga cerita diatas, walaupun memiliki setting, waktu, pelaku, bahkan alur yang berbeda, tetapi memiliki sebuah persamaan yang signifikan. Para pelaku dari ketiga cerita di atas memiliki suatu motor penggerak di dalam hati mereka masing-masing yang mendorong mereka untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan hati nurani mereka. Masing-masing dari mereka, Einsten, Ali dan Barghouti, menciptakan suatu karya fenomenal, melakukan suatu perubahan yang mengejutkan dan berjuang dengan mempertaruhkan nyawanya karena suatu alasan yang mereka anggap layak dan tepat. Mereka memiliki alasan yang kuat untuk melakukan itu semua. Albert Einsten, mampu melahirkan suatu karya fenomenal yang membuatnya tetap dikenang hingga kini, yaitu Teori Relativitas, karena dorongan hatinya untuk lebih mengenal dan mendekat pada tuhan. Alasan ini cukup menyentuh, mengingat Einsten adalah seorang yahudi. Akan tetapi, tidak banyak yang tahu alasan utama dibalik keberhasilan Einsten dan Teori Relativitasnya tersebut. Ataukah hal ini memang sengaja ditutup-tutupi dan disembunyikan? Hanya Allah Yang Maha Tahu. Dan hanya Allah jugalah yang mampu mengetahui apakah ia telah berhasil menemukan pencarian batinnya tersebut sebelum ia meninggal. Bukankah hanya Allah lah yang memiliki kuasa untuk membolak-balikkan hati manusia? Ia akan memberikan hidayahNya hanya kepada orangorang yang Ia anggap layak untuk menerima hidayah tersebut. Muhammad Ali, yang bermetamorfosa dari seorang Cassius Clay yang identik dengan dunia glamour dan penuh kesenangan yang bersifat duniawi menjadi seorang muslim yang survive di negara dimana hedonisme berkiblat, yaitu Amerika dan kemudian melakukan perubahan yang luar biasa terhadap kehidupannya karena suatu alasan yang kuat. Ia berubah karena ia yakin telah menemukan kebenaran yang hakiki, yaitu islam, yang membawanya menemukan kedamaian. Ia dan korek api yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi telah cukup menggambarkan kepada kita keyakinannya terhadap keberadaan Allah dan terhadap adanya hari pembalasan.

Barghouti dan gerakan intifadahnya juga telah membuktikan bahwa rasa cinta terhadap Sang Khalik mampu mendorong seseorang untuk melakukan apa saja. Rasa cintanya tersebut ia anggap cukup layak untuk ia jadikan alasan melakukan suatu pengorbanan bahkan pengorbanan terbesar seperti mengorbankan nyawanya sekalipun. Kisah hidup tokoh intifadah ini menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan cinta, sehingga rasa cinta tersebut mampu menjadi suatu motor penggerak dalam kehidupan manusia. Mudah-mudahan kita semua tidak terlalu arogan untuk mau sejenak bercermin terhadap ketiga kisah diatas dan mencoba untuk menata kembali rencana-rencana yang telah kita buat untuk memanfaatkan sisa hidup kita. Jangan pernah merasa enggan untuk bercermin dan mencoba berkata jujur kepada diri kita masing-masing, bahkan terhadap seorang yahudi seperti Einsten sekalipun. Bukankah filosofi Ibnu Sina mengajarkan kepada kita agar menggunakan pendekatan banyak arah untuk mencapai kebenaran? Lalu mengapa kita masih saja suka mempertahankan filosofi "kacamata kuda" Rene Descartes yang berpandangan satu arah? Lakukanlah perjalanan ke dalam hati kita masing-masing dan coba tengok sejenak apakah yang selama ini telah memotivasi kita untuk melakukan segala aktivitas kita adalah murni karena Allah? Ataukah kita memberikan kavling yang lebih luas terhadap popularitas, gengsi, materi dan segala sesuatu selain Allah lainnya untuk menempati hati kita dan menjadi motor penggerak kehidupan kita? Hanya kitalah yang mampu menjawab pertanyaan tersebut. Cobalah untuk mendengarkan kata hati kita dan meluruskan kembali niat kita. Bukankah selama hidupnya Rasulullah juga lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Sejarah mencatat bahwa Rasulullah hampir tidak pernah berceramah. Khutbahnyapun tidak pernah lama. Lalu mengapa kita tidak coba meniru Rasulullah dengan mulai menjadi pendengar yang baik terhadap sesuatu yang sangat dekat dengan kita, yaitu hati nurani kita. Wallahu'alam bishawaab. Ihdina Sukma Dewi aprilmop82@bdg.centrin.net.id Amal Pembayar Publikasi: 10/09/2004 08:58 WIB eramuslim - Ketika permasalahan hidup membelit dan kebingungan serta kegalauan mendera rasa hati. Ketika gelisah jiwa menghempas-hempas. Ketika semua pintu solusi terlihat buntu. Dan kepala serasa hendak meledak: tak mengerti apalagi yang mesti dilakukan. Tak tahu lagi jalan mana yang harus ditempuh. Hingga dunia terasa begitu sempit dan menyesakkan. Ketika kepedihan merujit-rujit hati. Ketika kabut kesedihan meruyak, menelusup ke dalam sanubari. Atas musibah-musibah yang beruntun mendera diri. Apalagi yang dapat dilakukan untuk meringankan beban perasaan? Apalagi yang dapat dikerjakan untuk melepas kekecewaan? Ketika kesalahan tak sengaja dilakukan. Ketika beban dosa terasa menghimpit badan. Ketika rasa bersalah mengalir ke seluruh pembuluh darah. Ketika penyesalan

menenggelamkan diri dalam airmata kesedihan. Apa yang dapat dilakukan untuk meringankan beban jiwa ini? Allah berfirman,"Barangsiapa bertakwa kepada-Nya, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." Rasulullah bersabda,"Ikutilah kesalahan dengan amal baik, niscaya ia akan menghapus dosa-dosamu." Seperti Ibnul Jauzi bilang, "aku pernah dihimpit permasalahan yang membuatku gelisah dan galau berlarut-larut. Kupikirkan dan kucari solusi dengan segala cara dan usaha. Tapi aku tidak menemukan satu jalan pun untuk keluar darinya, hingga kutemukan ayat itu. Maka kusadari, bahwa jalan satu-satunya keluar dari segala kegalauan adalah ketakwaan. Dan ketika jalan ketakwaan itu kutempuh, tiba-tiba Allah sudah lebih dulu menurunkan penyelesaian. Maha suci Allah". *** Dengan keyakinan, ku coba jalankan titahNya. Tertatih, kucoba mengikuti sunnah Sang Nabi. Saat diri berhadapan dengan permasalahan yang memepatkan rasa, hingga tak terlihat jalan keluarnya, kucoba lebihkan amal-amal dari yang biasa. Berinfaq lebih banyak. Tersenyum lebih banyak. Memaafkan lebih banyak. Menolong orang lebih banyak. Menambah ibadah harian lebih banyak. Dengan semua itu akan memberikan energi positif bagi kondisi fisik dan psikologis, hingga ketenangan pun tercipta dan pikiran jernih pun terasa. Pada gilirannya, jalan keluar mulai tampak ujungnya. Dan Allah menurunkan kemantapan hati dalam memilih langkah penyelesaian. Saat kesedihan menyelimuti dan rasa bersalah menyesaki, kucoba ikuti sunnah nabi dengan disertai doa: Semoga Allah mengampunkan segala dosa. Silaturahmi. Ya, silaturahmi lah yang saya lakukan. Sebuah tindakan paling realistis yang saya temukan saat itu. Saya mengunjungi semua kerabat, kawan dan handai taulan, saudara-saudara, orang-orang saleh, para guru, tetangga sekitar dan lain-lain yang selama ini saya terlupakan oleh kesibukan. Dan ketenangan pun sedikit demi sedikit tercipta. Meredakan gelisah jiwa. Membersihkan noda-noda dalam dada. Sesudahnya, kutemukan jalan menuju taubat dan kutemukan kafarat pembayar dosa dan duka. Azimah Rahayu azi_75@yahoo.com Mengapa Kita Tak Pandai Bersyukur? Publikasi: 08/09/2004 08:20 WIB

eramuslim - Pagi hari, seperti biasa aku mengawali kegiatan dengan bebenah rumah. Cuci piring, menyapu lantai, cuci pakaian dan setumpuk pekerjaan rutin lainnya. Untuk menemaniku bekerja, kuambil sekeping kaset nasyid anak-anak, kumasukkan ke dalam tape recorder yang sudah butut, dan... klik: Ajarilah, aku ya Allah Mengenali, karunia-Mu Begitu banyak yang, Kau beri Begitu sedikit yang, kusadari Ajarilah, aku ya Allah Berterima kasih, pada-Mu Supaya aku dapat slalu Mensyukuri nikmat-Mu Sayup-sayup kudengar alunan sebuah lagu, mengalun merdu dari bibir-bibir mungil anak-anak yang kira-kira masih berusia balita. Hatikupun bergetar, air mata menetes membasahi pipi, menyadari betapa pelitnya diri ini mengucap syukur atas segala karunia yang telah dilimpahkan oleh-Nya. Serta-merta, bibir ini berucap, "astaghfirullahal 'adziim" seraya menghapus air mata. Sejurus kemudian hati ini berbicara, mencoba mengurai satu-persatu nikmat yang telah terkecap. Di pagi yang cerah, ketika sinar mentari menghangati tubuh, sungguh ada sebuah nikmat yang begitu indah terasa. Lalu, ketika kupandangi tubuh ini satu demi satu masih tetap utuh seperti sedia kala, mata yang mampu melihat dengan sempurna, tangan yang mampu memegang dan mengerjakan berbagai aktivitas, kaki yang bisa melangkah, kulit yang mampu merasakan sentuhan angin yang lembut, dan hidung yang mampu menghirup udara segar. Sungguh, inipun merupakan nikmat yang begitu besar. Semakin lama kucoba mengurainya, semakin banyak nikmat yang kurasa. Demikian banyak, dan teramat banyak hingga aku tak mampu menghitung satu persatu, karena memang tak terhingga jumlahnya. Persis seperti yang Allah kabarkan dalam firman-Nya: "Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah) (QS. Ibrahim:31)". Astaghfirullahal 'adziim, lidahkupun menjadi kelu, tak sanggup lebih banyak berucap. Segalanya Allah anugerahkan kepada diri ini dengan cuma-cuma. Tak serupiahpun Allah menetapkan tarifnya, tak secuilpun Allah mengharap imbalannya. Namun mengapakah aku tak pandai bersyukur? Padahal Allah SWT berjanji : "...la in syakartum la aziidannakum, wala in kafartum inna 'adzaabi lasyadiid (Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih)". Dan janji Allah selalu benar adanya, tak pernah salah dan tak pernah lupa.

*** Akupun mencoba merenung, apakah gerangan yang membuat diri ini tak pandai bersyukur? Dalam pandangan masyarakat umum yang kufahami selama ini, segala sesuatu dianggap sebuah nikmat adalah ketika kita memperoleh sesuatu yang menyenangkan. Harta yang banyak, rumah yang indah, teman yang selalu setuju dan menyokong pendapat kita, sehingga kita dapat memenuhi segala keinginan yang ada dengan segala fasilitas yang mudah didapat tanpa harus bersusah payah bekerja. Seringkali pula kita tidak menyadari bahwa, mata yang mampu melihat secara sempurna ini adalah nikmat, tangan yang mampu memegang dan melakukan segala aktivitas adalah nikmat, kaki yang mampu melangkah adalah nikmat, kesehatan kita adalah nikmat, oksigen yang melimpah ruah dan bebas kita hirup adalah nikmat, hidayah Islam yang mengalir dalam diri kita ini adalah nikmat yang teramat mahal harganya, kasih sayang orang tua yang mampu mengalahkan segalanya demi membimbing dan membesarkan kita adalah nikmat, dan entah berapa banyak kenikmatan yang lain yang tidak kita sadari. Padahal, kenikmatan yang Allah karuniakan kepada kita tak terhingga banyaknya. Masya Allah, astaghfirullahal 'adziim, semoga Allah berkenan mengampuni kita dan membimbing kita menjadi hamba-hamba yang pandai bersyukur. Berikutnya, seringkali kita merasa iri dengan kesenangan/kenikmatan yang dimiliki oleh orang lain. Ketika kita melihat orang lain bahagia, bukannya kita ikut bersyukur atas kebahagiaannya. Sebaliknya, kita justru mencibirkan bibir dan menuduh yang tidak-tidak. Membuat berbagai analisa, darimanakah gerangan mereka memperoleh kesenangan. Berprasangka buruk dan menyebarkan bermacam berita, sehingga perilaku tersebut. Menjauhkan diri kita dari rasa syukur kepada Allah. Astaghfirullah wa na'udzubillahi min dzaalik. Tak jarang pula, dalam diri kita terjangkit penyakit "wahn (terlalu cinta dunia, dan takut mati)", hanya kesenangan dan kesenangan yang ingin kita raih, tak sedikitpun ingin merasakan sebuah penderitaan. Sehingga ketika Allah berkenan memberikan sebuah cobaan, diri kita tak sanggup menanggung. Merasa diri menjadi orang yang paling sengsara di dunia, dan bahkan ada yang sampai berani menghujat dan menghakimi Allah sebagai penguasa yang tidak adil. Na'udzubillaahi min dzaalik, astaghfirullahal'adziim. Disisi lain, Allah jua yang berkenan menciptakan kita sebagai makhluk yang senang berkeluh kesah. "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (QS. Al Maariij: 19-21). Bila sifat ini tidak kita kelola dengan baik, maka tidak menutup kemungkinan bila pada akhirnya diri ini tumbuh menjadi makhluk yang tak pernah mampu bersyukur. *** Karenanya, amat baiklah sekiranya kita mampu melatih diri, mensyukuri apa saja yang ada pada diri kita. Apapun yang Allah berikan kepada kita, haruslah kita yakini bahwa itulah pilihan terbaik yang Allah kehendaki. Tak perlu iri dan dengki terhadap nikmat

orang lain, hingga kita mampu menjadi seorang mu'min seperti yang digambarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW: "Amat mengherankan terhadap urusan mu'min, seandainya baik hal itu tidak terdapat kecuali pada orang mu'min. Bila ditimpa musibah ia bersabar, dan bila diberi nikmat ia bersyukur" (HR. Muslim). Terakhir, marilah senantiasa mengamalkan do'a Nabi Sulaiman as. dalam kehidupan kita. Agar kita senantiasa terbimbing, memperoleh ilham dari Allah SWT, sehingga kita menjadi makhluk yang pandai bersyukur pada-Nya. "Robbi awzi'nii an asykuroo ni'matakallatii an'amta 'alayya wa'alaa waalidayya wa an a'mala shoolihan tardhoohu wa ad khilnaa birohmatika fii 'ibaadikashshoolihiin". Ya Robb kami, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kepada dua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhoi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh. (QS. An Naml : 19). Aamiin. Wallaahu a'lam bishshowwab. Ummu Shofi ari_aji_astuti@yahoo.com Mengambil Jatah Publikasi: 07/09/2004 09:08 WIB eramuslim - Urusan mengambil jatah memang bukan hanya milik para binatang yang berebut makan siang dan saling bunuh untuk kelangsungan hidup. Sejak dulu, makhluk yang bernama manusia pun meramaikan arena balap-membalap, salip-menyalip, dan tikung-menikung tersebut. Mengambil jatah di sini maksudnya adalah menarik paksa apa yang sudah menjadi milik orang lain atau sesuatu yang sebenarnya bukan diperuntukkan untuk diri kita. Demi kepuasan, demi kesenangan pribadi, tak peduli apakah orang lain itu rela atau menderita. Tak jelas mengapa, padahal Ia telah "menjatah" rizqi tiap makhluk-Nya tanpa terlewati. Seperti kepayahan para pengungsi di berbagai tempat pengungsian yang tak mendapatkan jatah bantuan makanan atau apapun yang telah diberikan oleh berbagai pihak, akibat serakahnya oknum-oknum tertentu yang juga menginginkan bagian. Seperti mirisnya nasib ibu-ibu rumah tangga, yang setiap hari tak habis mengomel, mengeluh, mungkin juga merutuki naiknya harga-harga barang. Hingga tak tersisa uang bulanan untuk menabung, sedikit bersenang-senang, apalagi merasakan mewahnya masakan rumah. Mereka tak tahu, tak peduli, atau bahkan tak lagi sempat memikirkan, bahwa jatah mereka diambil oleh tamaknya orang-orang yang ingin merasakan nikmatnya berada di pucuk kekuasaan. Orang bilang, itu korupsi. Ibu-ibu itu bilang, ini penderitaan.

Seperti protes ratusan mahasiswa dan calon mahasiswa yang mungkin terancam tak bisa melanjutkan kuliah atau gagal masuk universitas idaman. Sebab uang masuk kian melambung sampai jumlahnya bisa dipakai untuk biaya kuliah hingga lulus para mahasiswa sebelum mereka. Sebab penguasa kampus kini makin kreatif mendulang uang demi kenikmatan mereka sendiri. Seperti preman jalanan yang mengaku sebagai bos bagi para anak-anak jalanan, mengambil jatah uang hasil keringat mereka yang telah lelah seharian bermodalkan suara sumbang sedikit serak dan botol air minum yang diisi pasir atau beras. Tak peduli ia, apakah anak-anak di bawah umur itu sempat makan dari kerja payah mereka. Bagaimana mereka dicaci-maki sejumlah penumpang bus dan mikrolet yang merasa terganggu. Bahkan ada yang mati tergeletak di jalanan, terjatuh dari pintu bus. Mengambil jatah memang bukan urusan sepele. Caranya bisa mudah, bisa pula sukar perlu strategi. Kadang kala, untuk melakukannya tak perlu otak dengan IQ tinggi. Tinggal main rebut, ambil, dan nikmati. Seperti yang dilakukan para hewan di dunia binatang. Tapi manusia pun bisa jadi binatang, bila ia berlaku sesuka hati. Tak perlu pejabat, penguasa, atau petinggi. Tukang copet, tukang jambret, dan tukang todong selalu mengambil rizqi orang lain tanpa permisi. Mengambil jatah tak pernah menjadi urusan sepele. Bahkan kini sebagian besar manusia telah paham dan maklum dengannya. Awalnya coba-coba, ketagihan karena enak, hingga terbiasa jadi aktivitas sehari-hari. Mulai dari urusan rumah tangga, kerjaan di kantor, sampai urusan negara. Mulai dari listrik curian, korupsi karyawan, sampai mengambil jatah kawan. Tak usah heran, bila yang enak makin enak, yang susah tambah payah. Saya tidak tahu, apakah perlu dibuat pemberitahuan dan pengumuman lekas-lekas. Supaya kita semua awas, pada si pengambil jatah. Sebab kalau tidak, bisa-bisa kita tertular penyakitnya. Atau kita perlu vaksinasi, supaya imun dari virus yang sudah menyebar ini. Karena kita tidak pernah tahu kapan ia menghampiri. Hati-hati. Coba tanyakan pada diri sendiri, jatah siapa yang sudah kita ambil hari ini? D.H. Devitadh_devita@eramuslim.com Bulan Tertusuk Ilalang Publikasi: 03/09/2004 08:58 WIB eramuslim - Malam menyelimuti, berganti peran karena takdir hari berputar dengan membawa kebaikan dan kejelekan. Tiada yang menyatakan terjadinya hari itu selain Allah (An Najm:58). Selamat tinggal dunia, bagi orang yang dangkal hatinya. Dia sebenarnya sudah mati walaupun masih di anggap hidup. Harapan palsu masih meninggalkan prasangka. Mesti tiada yang lebih indah daripada sekadar harapan dari mata air imajinasi. Bukanlah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya? (AzZumar:36)

Ketika sinar mentari lama pergi menembus malam menjelang senja, akan banyak yang bernapas lega. Sebab, Dialah yang menjadikan malam pakaian, dan tidur untuk istirahat (Al Furqon:47). Tak perlu ada kedustaan, ketika pintu peraduan telah terbuka untuk jangka waktu yang lama. Ketika semua manusia terbuai dalam naungan penjaga alam semesta. Ketika angin lembut menyapa, menghantarkan setiap insan pada mimpi yang lelap. Mungkin sepenggal cerita bagi orang-orang yang terjaga, yang menekuri malam untuk mengagungkanNya. Seperti malam itu. Udara sejuk, lembut dan wangi. Sinar rembulan merembes ranting dedaunan, membiaskan cahaya kuning pucat pada kaki seorang lelaki paruh baya. Ia bersandar di bawah setanggul pohon tua. Di matanya denting keletihan hidup pecah bergelombang, lalu melebur membentuk pusara harapan bagi buah hatinya seorang. Ada beragam bacaan kehidupan yang ditekuri. Ia tak bisa memahami hakikat kata yang aneh dan mustahil. Meski ia dapat menelan kebisuannya bersama daun-daun pohon yang melambai membentuk bayang-bayang aneh menari-nari. Serentak menyenandungkan simfoni ganjil malam hari. Gadis kecilnya berdiri tak jauh dari situ. Berjalan pelan-pelan, menikmati desir angin yang membelai hamparan ilalang. Ia mengenakan gaun beludru biru pekat berenda putih yang menghiasi kulitnya yang pucat, terpantulkan cahaya bulan. Embun membuat rumput berkilau-kilau. Sepasang kaki mungilnya menjejak dan mendesak-desak, tenggelam di rerumputan yang basah. Sebelum membungkuk dan melepas sepatu hitam yang terbuat dari kulit. Sepatu dipegang erat dengan satu tangannya. Ia tahu kalau ia masuk rumah dengan kaki kotor, seperti biasa ibunya akan marah. Lalu mengeluh, "betapa susah menasehati anak kecil." Namun ia bangga menjadi anak kecil, karena ia dapat menelan kebisuan tanpa kedustaan. Jadi malam itu lilin-lilin kedustaan sudah ia padamkan dalam hati. Di ujung sana Ayahnya hanya melihat langkah-langkahnya yang ringan seakan terbang melayang. Entah berkejar dengan apa. Mungkin sesuatu yang tidak terlihat indra, sesuatu yang membuatnya ceria, imaji kanak-kanaknya. Ketika ia bertanya; "Apa ayah benar-benar melihatnya?" Ayahnya hanya tersenyum, sekalipun ia sebenarnya terperanjat, lalu ia bertanya sambil meneruskan bacaannya. "Kamu bicara apa, nak?" "Bulan itu. Apakah Ayah melihatnya?" Ia menunjuk ke atas. Ayahnya tersenyum lagi. Kerena tak begitu mengerti maksudnya, Ayahnya hanya menyahut; "Ayah tak bisa melihatnya dari bawah pohon". "Tak apa", katanya. "Akan kupindahkan bulan, sehingga Ayah dapat melihatnya"

Rona wajah Ayahnya berubah dalam sekejab. "Kamu tidak bisa memindahkan bulan. Ia terlalu tinggi untukmu" "Tentu saja aku bisa" ia bicara dengan keras, menyentak-nyentakkan kakinya ke tanah. Kedustaan macam apa yang dibuat oleh orang dewasa, ketika mereka merasa asing terhadap dirinya sendiri. Mimpi-mimpi apakah yang dapat menembus wajah-wajah renta ini, yang mencari alasan untuk terus bersembunyi atas nama sepotong realita yang selalu menghantui. Realita yang telah membuat mereka kehilangan jati diri. "Lihat ini," ia berjalan menyusuri rerumputan sambil menengadah ke langit, yang menurutnya, itu menarik bulan menjauh dari pohon. "Bulan itu mengikutiku" ujarnya merasa yakin. Seketika Ayahnya terhenyak dan berdiri dari duduknya, berjalan menjauhi pohon. Ia nyadari kekeliruannya. Inilah untuk kesekian kali anaknya menunjukkan warna-warni imajinasi dengan pensil keluguan. Ia menatap nanap wajah anaknya. "Ya, Ayah dapat melihatnya sekarang" Senja hari itu indah. Bulan hampir penuh, menyisakan satu sisi yang masih tertutup bayangan. "Mengapa bulan itu selalu mengikutiku, Yah?" ia bertanya dengan penuh percaya diri. Ayahnya tidak menjawab, membisu tertegun gagu. Hanya sebuah tatapan beku yang tenggelam dalam alam bawah sadar yang absurb, seribu jawab membentur dindingdinding hatinya. Lalu terpantul kembali dan tenggelam ke lubuk hatinya yang terdalam. Ia sadar tidak mungkin menjelaskan logika paradigma pada putri bungsunya yang baru berumur 5 tahun. Kata Einstein, Jika kau ingin anakmu pintar ceritakan dongeng untuknya, dan jika kau ingin mereka pintar, ceritakan lagi dongeng untuknya. "Bulan itu menunggu untuk kau tangkap" jawab Ayahnya pada akhirnya. Gadis kecil itu mengerutkan kening, lalu bertanya lagi, "Apakah aku bisa menangkapnya?" Ayahnya langsung menyahut. "Tentu saja bisa." Hhhh, bola mata anaknya membulat. "Benarah? bagaimana caranya Yah?" "Coba lihat kemari," Ayahnya menuntun tangan mungilnya perlahan-lahan. Lihat ilalang itu, ia tidak lebih tinggi darimu kan?" ia mengangguk. "Tapi ilalang itu sanggup menggapai bulan" Ayahnya berkata dengan bangga. "Sini...sini...,coba lihat kemari" Lalu Ayahnya merunduk dan mengajaknya tenggelam dalam rumpun ilalang yang menjulang. Ia mengikuti saja tanpa sepenuhnya mengerti apa maksud sang Ayah.

Tapi, Dia tahu sekarang, dia percaya Ayahnya. Di sini, di balik rimbunan ilalang ini, ia hanya melihat sepotong bulan di atas langit yang kelam, dan ilalang yang menjulur-julur menusuknya dari bawah. Ayahnya tersenyum dan berkata, "Sekarang kau percaya kan?" Ia menatap wajah Ayahnya, seolah membenarkan. Kemudian Ayahnya mengajaknya berdiri lagi dan menganggkat tubuhnya yang mungil di bahunya, dan menggendongnya. Dia biarkan gadis kecilnya itu duduk di bahunya untuk beberapa lama, lalu ia berkata : "Anakku... jika kau besar nanti, kau harus mempunyai sebuah impian. Impian yang tinggi dan tinggi sekali, seperti bulan itu. Seolah-olah engkau tidak bisa mencapainya, tapi sebenarnya engkau bisa." Gadis kecilnya mengangguk-angguk, entah mengerti entah tidak. Ayahnya melanjutkan. "Nanti, engkau akan melihat banyak orang menyangsikanmu untuk menggapainya. Seperti engkau menyangsikan ilalang itu, tapi percayalah sebenarnya engkau bisa" ia berhenti sejenak, "Anakku, Ayah tidak tahu berapa lama lagi Ayah bisa menemanimu dan terus membantumu mennggapai impianmu, namun kalaupun nanti kau sendiri, kau harus kuat. Kau harus yakin bahwa kau bisa menggapainya, meski tanpa Ayah. Kau mengerti kan? Coba ulurkan tanganmu ke atas" Di atas mereka langit sangat luas, hanya sepotong bulan yang tersisa. Ketika menengadah dan menjulurkan tangan di atas bahu Ayahnya, sekali lagi ia tahu: Ayahnya benar. "Aku percaya Yah, Aku bisa manangkap bulannya... Aku bisa menangkap bulannya!!!" Ia berteriak-teriak kegirangan. Jauh sebelum semua diungkap, Ayahku telah mengajarkan perspektif dan persepsi. Mengasah ketajaman bashirah hati, menangkap keabstrakan paradigma deklaratif. Dan aku masih tetap di sini melihat bulan, meski tanpa Ayahku. Sama seperti enam belas tahun yang lalu. Bulan yang sama yang kusaksikan di saat kecilku, yang sama yang disaksikan orang di seluruh dunia. Dan mungkin juga disaksikan oleh seseorang yang jauh di belahan bumi sana atau yang dekat di sini. Bulan terang sepenuh lingkaran. Cahanya indah menantang kita keluar malam, untuk menatap. Dia sangat memikat, dan aku sungguh tercekat. Hingga terbentur pada sebuah paradigma yang diajarkannya. Yang terpenting dalam hidup adalah bagaimana cara kita memandang hidup. Sesuatu yang terlihat tinggi, sebenarnya tidak terlampau tinggi untuk dicapai. Semua tergantung dari sudut mana kita memandangnya, itu pesan Ayah. Seperti bulan itu, kucoba membaca cerita kehidupan yang dilukis olehnya, saat purnama kuning pucat terangi kami dengan pendar-pendar imajinasi enam belas tahun yang lalu. Biarkan kami bangkit dari tidur kami yang lelap. Melerai mimpi menuai kehidupan. Karena di sana kami menyaksikan : Bulan tertusuk ilalang.

Salam cinta buat Ayah yang telah memberi banyak cerita di masa kecilku. Ayah, terimalah ungkapan terima kasihku yang terdalam, yang tak kan pernah cukup untuk membalas segala jasa yang engkau berikan. Aathierah Azzahra aathierah@yahoo.fr Kado Istimewa Publikasi: 02/09/2004 09:40 WIB eramuslim - Bisa jadi saya anak yang paling malang di antara anak-anak lain di kampung. Bukan hanya karena ibu jarang memberi uang untuk jajan di sekolah, sehingga saya sering menghabiskan waktu istirahat sekolah untuk mereka-reka berapa uang jajan si Adi, apa yang selalu dibeli Rena, atau memperhatikan nikmatnya es doger di tangan Sukma. Bahkan untuk merayakan hari ulang tahunku yang setahun sekali pun ibu tak melakukannya. Tidak ada tepuk meriah teman-teman, tidak juga tiupan lilin di atas kue tart yang selalu saya saksikan di setiap perayaan ulang tahun Rommy, Hilda, juga Siska. Tidak ada balon, hiasan khas ulang tahun, dan yang pasti, tidak mungkin saya berharap ada kado ulang tahun. Siapa yang mau ngasih? Tak ada pesta, ya tak ada kado. "Ibu yang akan kasih kamu kado..." sapa ibu mengagetkan lamunanku. Sejenak kemudian saya masih terdiam membayangkan gerangan kado apa yang akan diberikan ibu. Sampai akhirnya, sebuah doa terajut dari mulutnya disertai kecupan hangat di kening dan pipiku. Seketika, sebalut kehangatan terasa menelusup ke setiap aliran darahku. Doa ibu, jauh lebih indah dari hiruk pikuk tepuk tangan, tak bisa dibandingkan dengan kue tart termahal sekalipun. Lilin merah dengan api menyala, balon dan hiasan ulang tahun jelas tak seindah doa ibu. Untaian kalimat pinta yang dirajut ibu, bahkan lebih sempurna dari gaun ulang tahun milik siapapun. Kehangatan kecupan ibu jelas lebih sejuk dari jutaan ucapan selamat dari siapapun. Tak ada satupun bingkisan ulang tahun yang mampu menandinginya, kecupan ibu adalah kado termahal yang pernah kuterima. Kemarin, saya terjatuh saat pertama kali belajar naik sepeda. Saya menangis karena dua sebab, kaki saya memar dan sedikit berdarah tepat di lutut kanan, dan kemudi sepeda saya bengkok. Bapak segera mengangkat sepeda sementara ibu langsung mendekapku. Tak ragu, ibu mengusap air mataku dan memberikan satu kecupan pada luka di kakiku. Kecupan ibu juga yang mengantarku masuk ke ruang kelas saat hari pertama sekolah. Mulanya saya takut, mungkin ini juga yang dirasakan setiap anak yang baru pertama kali masuk sekolah. Dalam pandanganku, bangku-bangku sekolah dasar, papan tulis, juga meja belajar itu lebih mirip makhluk aneh yang siap menerkamku. Guru dan temanteman baru itu, lebih terlihat seperti monster menyeramkan bagiku. Tapi, dengan sekali kecupan di ubun-ubunku, ibu berkata, "Masuklah, anak ibu kan jagoan..."

Selang sepekan hari sekolah, tepat di pekan kedua, seharusnya saya kembali masuk sekolah. Tapi demam yang menyerangku sejak malam tak kunjung reda di pagi harinya. Saya sedih tidak bisa sekolah hari itu, sedih juga karena tak bertemu teman-teman baik di kelas, dan yang paling menyedihkan tentu saja saya harus tertinggal pelajaran di kelas. Namun ternyata bukan hanya saya yang sedih saat itu, tepat di pinggir tempat tidurku sesosok anggun terlelap lelah setelah semalaman terjaga menungguku, memberiku obat, mendengarkan setiap keluhanku, membetulkan selimutku dan mendekapku erat saat tubuh ini menggigil kedinginan. Di sudut matanya, masih tersisa bekas air mata semalam. Kini, saya sadari, doa dan kecupan ibu lah kado yang paling kuharapkan di setiap hari ulang tahunku. Dan tentu saja, kehadiran ibu senantiasa lebih kuinginkan dari sekadar ratusan undangan lengkap dengan ratusan kadonya. Bagi saya, ibu adalah kado terindah di setiap ulang tahunku. Terima kasih Allah yang masih memberikan kesempatan saya untuk bersama ibu di hari terindah ini. Dan saya selalu berharap, di tahun depan ibu masih tetap menjadi kado istimewa. Ibu, Semakin kumengerti hadirmu Bayu Gautama Sepenggal kisah tersisa di hari jadi ke enam Spesial buat Raudhatul Ula Kamalia, ponakan Uwak yang ulang tahun ke enam hari ini. Belajar untuk Belajar Publikasi: 01/09/2004 08:22 WIB eramuslim - Hakikatnya hidup ini merupakan rangkaian proses belajar dan menempa diri agar menjadi lebih baik senantiasa. Sungguh, begitu banyak hal dapat disarikan dari perjalanan detik demi detik kehidupan kita. Hal-hal yang kita rasakan, kita lihat, kita dengar, kita keluarkan melalui lisan, semuanya bisa menjadi sesuatu yang sarat makna dan dapat memperkaya khazanah pengalaman kita untuk selanjutnya dijadikan modal bagi proses perbaikan diri, jika kita mau tentunya. Little things mean a lot, ya, banyak hal kecil yang sesungguhnya memiliki makna yang begitu besar, jika saja kita mau sedikit lebih memperhatikan, sedikit melihat lebih ke dalam, dan sedikit saja berpikir. Ketika kita hanya memandang sesuatu dengan cara biasa, semuanya akan tampak biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa, seakan memang demikianlah seharusnya. Ketika peristiwa-peristiwa yang kita temui atau kita jalani hanya lewat begitu saja, maka ia hanya akan menjadi masa lalu hampa nilai yang tidak dapat memberikan pengaruh apa-apa. Padahal jika kita mau sedikit saja menggali lebih dalam, mungkin tidak sedikit bekas-bekas berharga yang tertinggal di sana. Sebagaimana halnya mutiara, sebelum ada yang mengeluarkannya dari cangkang sang kerang, tidak ada yang dapat merasakan pancaran keindahannya.

Menjadi pembelajar sejati, hal yang cukup sulit dilakukan saya rasa. Bagi saya, seorang pembelajar sejati akan selalu mencoba mencari celah pembelajaran dari setiap kejadian yang dialaminya maupun kejadian yang dialami oleh orang lain. Sungguh saya ingin menjadi orang seperti itu: yang senantiasa dapat memaknai hidup dari sudut pandang positif, yang mampu melihat nilai-nilai yang belum tersingkap, serta mampu memunculkan keberhargaan walaupun begitu tersembunyi adanya. Siapa yang tahu di dalam cangkang kerang yang gelap tersimpan mutiara yang begitu indah jika tidak ada yang mencoba menyelam ke dasar lautan dan mendapatkannya. Ya, mutiara itu akan tetap ada, terlepas dari apakah ada yang berusaha membuka cangkang kerang tempatnya bersemayam atau tidak. Belajar, belajar, dan belajar, menunjukkan bahwa manusia benar-benar makhluk yang memiliki banyak kelemahan dalam dirinya. Belajar, bagi saya merupakan bagian dari proses menyaya (diambil dari istilah seseorang dalam sebuah tulisan *meng-aku), menjadi saya, saya yang benar-benar saya, saya yang benar-benar dapat memberikan banyak manfaat bagi orang lain, semoga. Dan proses ini belum akan berhenti sampai ajal menjelang, dan maut datang menjemput. Saat itulah saya baru dapat menunjukkan dan mengatakan "Inilah saya, saya seutuhnya, saya yang sesungguhnya". ftz12@yahoo.com Cintai Aku Hari Ini Publikasi: 31/08/2004 08:40 WIB Hari ini mungkin akan ada tangis lagi. Walau sampai habis air mata, tapi tak mengapa. Karena aku mengiba cinta. eramuslim - Pernah merasakan kerinduan yang teramat sangat? Kerinduan untuk mendapatkan cinta. Saat itu seolah hati merana tak berjiwa. Seperti hampa. Tak berdaya. Namun kehidupan ini memaksanya untuk tetap ada. Kemarin, saya melihat seorang anak menangis di hadapan ibunya. Ia sepupu saya sendiri. Beberapa menit sebelum tangisannya, si ibu memarahinya. Dan hampir juga memukuli. Baru kutahu bahwa si ibu telah meninggalkannya seharian penuh. Entah ke mana. Ia ditinggal di rumah hanya berdua dengan pembantu. Seperti biasa setiap kali ibunya pergi. Ibunya berkata, ia makin hari makin nakal. Baginya, bila ia telah sanggup menyampaikan rasa, hari itu ia rindu ibu. Setiap diri kita pasti butuh cinta. Dan kebutuhan itu terlihat nyata dari perilaku kita, ataupun tersembunyi lewat kata. Entah dinyatakan secara jelas, entah sekedar tersirat hadirnya. Mungkin pula hanya berupa rasa rindu yang menggelora tanpa kuasa meminta. Cinta itu fitrah adanya. Beberapa waktu lalu, saya pernah berselisih dengan seorang sahabat yang telah saya kenal semenjak sepuluh tahun lamanya. Menurut saya, ia telah melakukan kesalahan, dan saya menegurnya. Menurutnya, ia hanya mengikuti kata hatinya, dan tak rela atas teguran saya.

Saat itu saya berpikir, kalau hari itu tak saya tegur ia, maka saya telah berdosa karena telah membiarkannya larut dalam perasaannya sedang ia tak memperhatikan lagi batas perilakunya. Saya tak lagi sempat berpikir bahwa mungkin saja ia telah salah menangkap maksud saya. Padahal saya hanya ingin memberitahunya sesuatu, bahwa saya cinta. Semua perkataan saya, adalah cinta saya kepadanya. Seringkali tak sanggup diri kita untuk memperhatikan lagi rambu-rambu dalam bercinta. Oleh sebab perasaan itu telah kuat adanya. Otak ini serasa beku tak kuasa, sedang hati telah terguratkan olehnya. Ada seorang istri yang marah pada suaminya. Setiap kalimat yang keluar darinya, tak lain hanyalah cercaan belaka. Ia berkata, tak lagi ada rasa percaya. Kita yang mendengarnya, mungkin akan berpikir bahwa ia tak lagi cinta. Tetapi nyatanya tak seperti itu. Sebab waktu akan membuktikan bahwa rasa itu tetap ada. Saat suaminya jatuh sakit, terlihat dari kecemasannya. Saat suaminya terlelap lelah dalam tidurnya, ia memperhatikan dan setia di sampingnya. Kadangkala, kalimat yang kita ucapkan tak melulu mewakili perasaan yang sebenarnya. Seringkali hati lah yang bisa berbicara, namun mulut ini tak sanggup mengutarakannya. Keinginan untuk dicintai itu telah terpendam jauh di pelosok kalbu. Kepada manusia, kita telah melakukan apa saja untuk mendapatkan cinta. Dari ayah dan ibu kita, teman dan sahabat, suami, anak, istri, dan siapa saja yang dekat dengan diri kita. Kepada Sang Pencipta, apakah kita berlaku hal yang sama? Andaikan begitu lemah kita menyampaikan rasa, bagaimana kita meminta kepada-Nya? Bukankah segala pinta tersampaikan lewat doa? Walau hanya sebatas satu kalimat yang terlantunkan dari hati, Ya Allah, cintai aku hari ini... DH. Devita dh_devita@eramuslim.com Apple for an Angel Publikasi: 30/08/2004 09:23 WIB "Pada berbagai tahap kehidupan kita, tanda-tanda cinta yang kita temui itu beragam: ketergantungan, daya tarik, kepuasan, kecemasan, kesetiaan, kesedihan, tetapi di dalam hati, sumbernya selalu sama. Manusia mempunyai sedikit sekali kemampuan untuk saling berhubungan dengan sesamanya, mensyukuri apa adanya.". eramuslim - Dia berjalan dengan mata menatap ke bawah, kepala tertunduk. Ketika dia melihatku, dia bicara, dan aku menangkap pandangannya. Dia lusuh dan kumal, tak ada cahaya di matanya. Dia berkata, "Assalaamu 'Alaykum." Begitu sopannya dia.

Dengan lembut aku menjawab salamnya, "Wa 'Alaykum salaam." Aku terus berjalan dalam kesunyian, pemuda ini -yang tak kuketahui siapa namanya- telah membawa hatiku pergi jauh, entah ke mana. Aku menatap pada kedua matanya, mengamati sebuah harapan yang pernah sirna, kataku dalam hati, "Bagaimanakah perasaan ibu yang melahirkannya? Bagaimanakah perasaan ibu yang telah menyaksikan putranya tumbuh seperti ini?". Beberapa waktu kemudian kudapati jawaban itu tak akan pernah ada, ibunya telah meninggal -tidak beberapa lama setelah ia lahir. Rupanya ia seorang piatu! Kemudian, aku selalu dikejutkannya pada hari-hari yang lain, dengan salamnya yang tulus dan dengan ekspresi wajahnya yang malu-malu. Ketika sengaja menatap ke dalam kedua bola matanya kali ini, aku kembali dikejutkan dengan binar mata yang sekarang hadir. Aku bersyukur, Semoga saja itu memang karena aku tidak mengabaikannya meski hanya dengan sebuah senyuman. Aku ingat ketika aku pertama kali mengamatinya dengan teliti. Pikiranku mengembara entah ke mana. Antara terharu, iba dan rasa kasihan yang tak terkira. Kupikir sudah seharusnya ada sisa-sisa penghargaan pada seorang anak yang terlahir sebagai seorang manusia dengan kerusakan mental yang parah. Tidak hanya itu, ia juga memiliki mata yang jauh lebih besar dari ukuran normal, tanpa naungan alis yang enggan tumbuh di atasnya. Kulitnya kasar dan bersisik, rambutnya merah seperti rambut jagung, giginya besar-besar, hitam, jarang-jarang dan terlalu maju ke depan pada rahang atas. Hal itu membuatnya tampak seperti menyeringai jika tersenyum. Hal itu akan membuat anakanak kecil akan berlari-lari dan mengolok-oloknya dari jauh. "Assalaamu 'Alaykum wa RohmatuLlaahi wa Barokaatuh." Suatu hari ia mengucapkan salam dengan sempurna begitu aku lewat. Seingatku Ini pertama kali ia mengucapkan salam dengan lengkap. Aku baru sadar ia sangat bahagia hanya karena aku selalu menjawab salamnya. Maka pagi itu, aku ikut-ikutan menjawab salam tanpa kusingkat sedikitpun. Sejujurnya jawaban salamku hanya sebetik rasa kasihan. Mengapa Allah menciptakan makhluk yang jauh dari sempurna seperti ini, tanyaku dalam hati. Biarlah, Allah Maha Tahu. Tapi ya Allah, betapa pilu ketika aku melihat ia juga mengucapkan salam pada setiap orang, tapi tak seorangpun yang menanggapinya. Rupanya ini alasannya. Rupanya ini yang membuatnya bahagia jika bertemu denganku. Sebuah pengakuan. Pengakuan sebagai manusia meskipun jauh dari kesempurnaan fisik dan mental yang seharusnya dimiliki. Ini memang sangat menyedihkan. Aku menyelami perasaannya, tapi aku juga tahu mengapa orang-orang yang lewat mengacuhkannya. Apakah perlu menjawab seorang pemuda cacat mental dengan kedewasaan seperti anak-anak yang bahkan belum pantas terdaftar pada sekolah dasar? Mungkin itu pikiran kebanyakan orang. Tapi aku tidak. Aku berusaha menjawab salamnya, selalu dan sebisaku. Belakangan ini ia justru menyadarkanku tentang hakikat salam yang seharusnya. Jika ia mengucapkan salam padaku lebih dulu, aku menjawabnya dengan lengkap dan tanpa sadar membuatku

berpikir. Berpikir tentang makna salam itu sendiri. "Wa 'Alaykum Salaam wa RohmatuLlaah wa Barokaatuh" -Dan salam kesejahteraan juga bagimu dengan Rahmat Allah dan Barokah Allah, doaku dalam hati. sepanjang hidupku, telah banyak kulakukan perbuatan tercela pada orang lain. Aku sadar mengapa salam menjadi hak seorang muslim atas saudaranya. Barangkali doa dalam salam itu berfungsi untuk menghapuskan dosa-dosa yang ada. Ia adalah kebaikan yang mudah diberikan kepada saudara-saudara kita. Sebuah doa, bukan semata-mata ungkapan formalitas tanpa makna. Rupanya aku baru menyadari mengapa Allah menciptakan pemuda cacat ini, kehadirannya bukan tidak berguna seperti dugaanku. Tapi menyadarkan orang-orang sepertiku tentang arti bersyukur pada nikmat Allah yang mudah terlihat tapi sukar di lihat. Nikmat kesempurnaan fisik, kesehatan mental, dan kenikmatan iman. Terima kasih Jo, kataku dalam hati. Jo adalah nama pemuda itu. Akhirnya aku tahu ia tinggal di sebuah kamar petak tidak jauh dari kost-kostanku. Ia rajin pergi ke masjid sebelah rumah kostku, belajar mengaji bersama anak-anak kecil dengan usia minimal 10 tahun di bawah usianya. Aku diberi tahu anak-anak itu -yang tak lain adalah murid-murid ngajiku dulu. Mereka mengatakan bahwa Jo tidak pernah naik dari Iqro 4. Meski begitu ia rajin sekali hadir. Aku sendiri belum pernah melihatnya sewaktu mengajar, atau karena aku tidak memperhatikan saja? Entahlah, kesibukan kuliahku di tingkat akhir membuatku jarang lagi mengajar anak-anak kecil itu. Semoga Allah mengampuniku atas amanah yang telah kulalaikan. Suatu hari aku terkejut mendapati Jo berdiri di depan pintu rumah kostku. Gayanya malumalu, kemudian ia mengucap salam seperti biasa. Aku baru saja selesai membenahi semua barang-barangku dan mengepaknya dalam beberapa kardus besar. Hari ini aku pindah kost. "Teteh mau pindah?" ia bertanya. Aku menjawab dengan sebuah anggukan. Dalam sekejab tatapan matanya menjadi sayu, seolah-olah sangat sedih mendengar berita itu. Hatiku trenyuh. "Teteh ..." ia berkata lagi. Dikeluarkannya sebutir apel lusuh dari balik kantong bajunya yang kumal. Apel besar berwarna hijau masih lengkap dengan tempelan merk Switzerland. Itu apel yang hanya bisa di dapat di departmen store, pikirku. Sungguh, Aku tidak bisa menduga maksud ia menunjukkan apel itu padaku. "Saya memecah celengan ayam saya buat beli apel ini, ini buat teteh." Dia berkata. Diangsurkannya apel itu padaku. Oh, Aku bertanya-tanya dalam hati "Apakah ini tidak salah?" Meski begitu, kuterima saja apel itu dengan tatapan penuh tanya, ia hanya tersipu malu lalu berkata pelan-pelan, "Ustadz bilang, di surga ada banyak bidadari yang baik. Bidadari itu juga hanya makan makanan yang baik-baik di surga, di sana banyak buahbuahan..." Aku menatapnya lebih dalam. Berusaha mencari makna dibalik kata-kata yang belum kupahami.

"Kata ustadz lagi, bidadari surga itu juga ada di dunia dalam bentuk wanita sholihah.." di sini kalimatnya berhenti, ia tersenyum malu-malu dan menundukkan kepalanya dalamdalam, lalu melanjutkan "kata ustadz juga, wanita sholihah itu salah satu cirinya baik hati dan berjilbab rapih seperti teteh ..." Aku terharu mendengar penjelasannya yang sederhana namun sarat makna. Tanpa sadar meremas-remas ujung jilbabku, kuingat Nabi Muhammad SAW bersabda : "Jangan anggap remeh suatu perbuatan baik, bahkan jikapun kamu bertemu saudaramu dengan muka tersenyum (karena itu adalah perbuatan yang berat timbangan kebaikannya)." Kemudian, sewaktu aku menatap kembali ke dalam bola matanya, aku tahu bahwa karena pemuda buruk rupa yang cacat mental ini, aku tidak hanya telah diajak ke dalam dunia perenungan dan kesunyian yang aneh -aku telah diberi kesempatan untuk menghargai orang secara terbuka untuk pertama kalinya dan untuk 'mengenang hal-hal yang baik dalam diri orang lain', sekecil apapun itu. Setelah hari itu, tampaknya jauh lebih mudah untuk memuji dan meluhurkan Allah atas semua yang kuterima dalam hidupku yang 'benar, mulia, dan adil' -termasuk sebutir apel dari seorang pemuda cacat mental seperti Jo. Mungkin baginya hadiah terbesar yang bisa dipersembahkannya kepadaku adalah apel itu. Bukan masalah soal harganya, namun nilai makna yang terkandung dalam apel itu membuatku terharu. Pikirannya memang sangat sederhana, tapi itu justru membuatnya mudah menyerap nilai-nilai kebaikan yang diberikan orang kepadanya. Dengan seulas senyum saja, ia telah memberiku predikat seseorang yang baik-hati. Dengan hanya menjawab salamnya saja ia telah mensejajarkanku dengan bidadari surga! Aku sungguh terharu! Tak akan kulupa dia, saat dia mengiringi kepindahanku dengan tatapan matanya, karena dia telah memberiku sesuatu yang tak akan pernah bisa kubayar. Dia berikan padaku kesempatan untuk memberi yang kumampu, kesempatan untuk menunjukkan cinta pada mereka yang tersingkir --kesempatan untuk sekedar tersenyum dan menjawab salam ketika tak seorang pun bersedia -- kesempatan untuk menjadi manusia istimewa, kesempatan untuk melakukan kebaikan. Aku akan selalu berterima kasih pada pemuda cacat mental itu karena menunjukkan padaku cinta dalam seuntai doa, untuk memberiku kesempatan menjadi seseorang yang memiliki kepekaan hati lebih banyak, untuk memberiku kesempatan menjawab ketukannya di pintu kalbuku. Kau tahu, aku bukanlah bidadari, meski aku ingin sekali menjadi salah satunya. Aku telah melukai banyak orang dengan menjadi diriku, dan orang ini, orang yang cacat ini, yang tidak mengabaikan diriku, untuk sejenak melepaskan seorang bidadari untuk terbang bebas. Aathierah aathierah@yahoo.fr Back to The Floor

Publikasi: 26/08/2004 09:53 WIB eramuslim - "Wah gawat!..." cetusku. Hari ini teman-teman satu timku tidak ada di kantor. Arif baru saja kecelakaan, tangannya patah dan harus beristirahat di rumah. Andre dan Ade cuti nikah, Rully sedang dinas luar dan Anto "Bajuri" tugas ke Batam bersama Pak Heri, sedangkan hari ini ada persiapan tender di Pertamina Balikpapan yang harus diselesaikan hari ini juga. Satu persatu dokumen kupersiapkan sesuai dengan persyaratan. Setelah dirasa cukup lengkap langkah selanjutnya adalah membuat copy salinannya, nah disinilah masalahnya muncul. Di kantor itu yang biasa fotocopy si Mr Kumis alias Ade from Sumedang, but unfortunately Ade tidak ada. Walhasil dengan penuh percaya diri saya coba untuk mengcopy dokumen yang cukup tebal itu sendirian, karena pengalaman meng-copy satu dua lembar tidak ada masalah. "Ada pegawai baru nih..." ledek Deni, rekan satu kantor dari divisi lain. "Yah habis gimana, kalo nggak dikerjakan sendiri siapa lagi dong yang mengerjakan" "Kenapa tidak suruh Edi saja?" "Dia itu kan office boy dan sepengetahuan saya dia nggak bisa fotocopy" "Tapi kan bisa suruh dia ke tukang fotocopy, biar efisien" "Gak usah ah, kalo cuma fotocopy aja sih gampang kok" Tapi ternyata, baru 5 lembar saja saya sudah merasa sangat kerepotan, berbagai masalah timbul dari posisi kertas yang tidak tepat, kertas habis, sampai karena terlalu panik kertas yang dipakai salah ukuran jadi harus diulang. Begitu cepat rasa percaya diri saya hilang dan yang timbul adalah rasa salut saya dengan Ade. Kenapa? Karena ia bisa begitu gesitnya jika mendapat tugas fotocopy, mungkin jika tumpukan dokumen yang saya pegang ditangani oleh Ade hanya memerlukan waktu 10 menit sedang saya sudah hampir 15 menit belum ada tanda-tanda selesai. Memang kita manusia ini masing-masing punya kemampuan unik dalam menjalani hidupnya dan satu sama lain saling membutuhkan. Tapi sayangnya terkadang kita kurang mau memahami posisi orang lain. Padahal jika kita berada dalam posisi orang lain belum tentu kita bisa lebih baik dari orang tersebut. Kita hanya bisa menuntut dari orang kerja yang lebih cepat dan sempurna tanpa mau mengerti bahwa terkadang di dalam prosesnya banyak kendala yang terjadi. Bukannya kita bantu tapi malah kita mengumpat, kesal dan marah. Bahkan bukan tidak mungkin jika orang itu adalah bawahan kita lalu kita pecat dia. Saya jadi teringat dengan sebuah acara reality show di sebuah stasiun TV swasta yang berjudul Back to the floor. Dalam acara tersebut seorang pimpinan perusahaan ditantang untuk melakukan pekerjaan bawahannya dan jika dia berhasil menyelesaikannya dengan

baik maka dia akan mendapatkan hadiah yang cukup besar. Menarik sekali acara ini, mungkin saja kita juga perlu melakukannya. Buat seorang suami apa salahnya jika ada kesempatan menggantikan posisi istrinya memasak makanan untuk keluarga. Atau jika kita punya pembantu, kenapa tidak mencoba suatu hari meliburkan si pembantu dan mengerjakan pekerjaannya sehingga kita bisa memahami begitu berat tugas sang pembantu. So, berani mencoba? MZ Omar omar@akk.co.id Keterangan: Tender=lelang Mengemas Rindu Publikasi: 24/08/2004 08:39 WIB eramuslim - Biasanya, para pencinta selalu mengemas rindu mereka. Pencinta untuk apa dan siapa saja, rindu yang bagaimana saja. Kerinduan, adalah sebuah harta milik kita yang sederhana, namun artinya tak lebih sempit dari luas samudera. Kerap membawa keinginan tak sekadar beredar di khayalan. Namun kekuatan tekad untuk menjadikannya nyata. Mengemas rindu, menjaga cinta. Kerinduanku, adalah akan hadirnya cinta. Seperti milik nabi Ibrahim, saat akan menyembelih anaknya. Seperti milik Ismail, yang mempersembahkannya hanya untuk Tuhannya. Seperti milik Yusuf, yang tak tergoyahkan oleh Zulaikha. Seperti milik mereka, dan mereka yang lain yang juga pencinta. Kerinduanku, adalah akan kekalnya cinta. Tak seperti mereka yang menjualnya lantas mengatakan bahwa itu adalah pengorbanan. Tak seperti mereka yang menjadikannya harta namun diam-diam merusaknya. Tak seperti mereka yang menginginkannya hadir namun tak peduli lantas meninggalkannya. Biasanya, para pencinta tak pernah lupa mengemas rindu mereka. Sebab pintu hati selalu terbuka kapan saja tanpa bisa dipegang kuncinya. Karena kita tak kuasa. Sebab bila tidak, ia akan mudah tergantikan begitu saja. Tanpa tahu alasannya. *** Sebagai manusia, seringkali kita korbankan waktu dan tenaga sia-sia, untuk mengemas rindu yang tak ketahuan adanya, yang bukan rindu sebenarnya. Kerinduan itu disimpan baik-baik dalam hati, tak ingin ia lekas pergi. Sebab bila kerinduan itu hilang, maka cinta yang selalu diharap itu tak pula datang. Kerinduan akan tahta, mengantarkan kita untuk menghamba pada dunia. Tak pernah puas, walau sudah melibas semua yang tertindas.

Kerinduan akan harta, menyebabkan kita buta. Tak peduli mengambil punya siapa, yang penting diri tak menderita. Kerinduan akan cinta manusia, membawakan sengsara. Sebab yang ada hanya kecewa, kalau cinta tak dibalas cinta. Bagaimana dengan milik kita? Kalau setiap harinya selalu kita memuja yang fana. Tanpa menyadari bahwa Ia ada, melihat apa yang tak kita lihat, mengetahui apa yang tersembunyi, menguasai seluruh isi hati. Kalau setiap saat kita tak pernah lalai mempersembahkan cinta, bukan untuk-Nya, melainkan untuk sesuatu yang tak bisa memberikan apa-apa. Juga tak punya kuasa. Kalau hidup ini kita persembahkan untuk melayani mereka yang tak bisa memberi. Kalau rindu itu kita persembahkan untuk sesuatu yang hanya bisa menyakiti. Lalu, untuk siapa kita mengemas rindu? Pernahkah kita mengemas rindu ini untuk-Nya? Apakah kita selalu menjaga cinta ini agar selalu berlabuh pada-Nya? Sedangkan hati ini selalu penuh akan sesuatu, entah apa itu. Lantas, rindu itu untuk siapa? DH Devita dh_devita@eramuslim.com Pagi ini Takkan Kembali Publikasi: 23/08/2004 07:41 WIB eramuslim - Pagi ini sama sekali tidak bersahabat. Mendung tiba-tiba menggarang. Hujan deras yang turun seolah menahan langkah kaki untuk beranjak menuju tempat kerja. Mau tidak mau harus kutunggu dengan sisa kesabaran ini. Kemeja rapi, backpack, sepatu licin, rambut kelimis pasti seratus meter juga basah semua. Kucoba duduk tenangkan diri di beranda kostku. Sesekali kutatap display HP, sudah pasti terlambat. Kulayangkan pandangan ke seberang jalan setapak di depan rumah. Ternyata hujan tidak bisa bertelepati dengan kepentinganku, dan mungkin kepentingan semua orang pagi itu, deras dan kian deras. Payah. Tiba-tiba sesosok kakek melangkah di depanku tanpa atasan, hanya dibalut celana tuanya membuyarkan lamunanku seketika. Tetesan pagi itu tak pelak menghujani tubuhnya yang sudah kelihatan berumur. Aku sempat kaget karena dengan tubuh rentanya dia berani beraktivitas di bawah guyuran hujan. "Pak, nggak dingin Pak? Apa nggak tunggu reda dulu?"

"Apa ?" "Ya, nggak tunggu reda dulu," jawabku lebih lantang tanpa mengurangi rasa hormatku padanya. Karena memang derasnya mengganggu pembicaraan, selain itu juga memang pendengarannya sudah agak berkurang. Dia bapak kostku, seorang betawi tulen pemilik tanah di sekitar rumahnya. Pekerjaannya sehari-hari hanya beternak ayam kampung di depan rumah, mengurusi kebun pisangnya di belakang sana, entah dimana belum pernah kulihat tempatnya, dan melakukan beberapa pekerjaan sederhana lainnya sekedar untuk mengisi kekosongan waktunya. Dan yang membuatku salut, selama dua tahun aku kost, memang dia tidak pernah mengeluh sakit apapun. "He he, kerja nggak kerja ni ujan nggak bakalan reda. Jangan tungguin ujan, udah turun. Basah bisa dikeringin ini. Waktu nggak bisa balik lagi, he he he". Senyum renyahnya tetap menghiasi kerutan wajahnya yang telah merekam banyak cerita. Dia tahu banyak hal. Mungkin ini salah satu pengalaman berharga yang ia dapat sepanjang hidupnya bahwa pagi ini tidak akan kembali. Aku hanya bisa tersenyum membalas kalimatnya yang terakhir. Segera kusadarkan dan kugerakkan diri, doing something dude! Kuambil segera raincoat dan kurapikan diri kembali di kamar. Kali ini kupersiapkan mode hujan. Dan ketika aku kembali ke beranda siap dengan segala perlengkapan. Reda!. Aih, ternyata tidak perlu kita berkompromi dengan hujan, cukup niat kita untuk melakukan yang terbaik dan Dia Sang Pemilik Hujan akan memberikan jalan yang terindah. "Mari Pak berangkat dulu, udah reda Alhamdulillah. Assalamu'alaikum!" pamitku kepada bapak kost. What a wonderful morning. Pagi ini banyak yang bisa aku lakukan dengan atau tanpa halangan. Feli Alfalahfeli@indosatm2.com yang mencoba memahami pagi-pagi terindah Pesona Bunda Publikasi: 20/08/2004 10:30 WIB Bunda adalah kejora, Karena setiap geriknya benderang sayang Bunda adalah bunga Selalu berseri, berwarna dan mempesona Bunda adalah surga Helai nafasnya tidak hanya cinta tapi juga doa

Dalam semesta, Tak ada yang lebih kemilau menyala Kecuali bunda (Bunda, mahabbah12) eramuslim - Bogor suatu hari. Hari masih belia. Udara sejuk jelas terasa. Dan sesosok ibu tengah berjongkok di depan putri kecilnya yang terus saja menangis. Ada banyak rengkuhan yang dipersembahkan, dan saya yakin hangatnya mengalahkan sinar mentari yang bersinar saat itu. Si kecil terdiam, bola matanya merajuk sang bunda. Mulut mungilnya mengerucut sesaat. "Ma, adek takuuttt..." perlahan suaranya terdengar samar, ia hampir berbisik di pendengaran. "Ooh, adek takut ya, nanti mama bilang sama bu guru supaya nemenin adek," binar itu menelaga. Tangan bunda membelai lagi punggung itu, sebelum merapikan topi dan dasi yang sejak dari tadi sudah rapi. Ia akan berdiri namun urung. "Mama kasih sun dulu deh..." dua buah kecupan segera singgah di pipi si kecil. Barulah ia berdiri, menggenggam erat tangan itu dan beranjak menuju gerombolan anak-anak seusianya. "Nah, sebelum ketemu bu guru sekarang adek berbaris dulu yah, mama di sini ngeliatin adek," titah bunda terdengar membujuk. Si kecil nampak ragu, namun ketika dilihatnya bundanya berdiri tak jauh darinya, ia menurut. Sesekali si kecil berpaling mencari bundanya, dan selalu binar yang menelaga yang dijumpainya. Bahkan terakhir bundanya mempersembahkan sun jauh ke arahnya. Si kecil tersenyum dan membalas sun jauh itu lebih mesra. Subhanallah. Saya yang sejak tadi memperhatikan keduanya mengagungkan nama Allah secara spontan. Sang ibu menoleh ke arah saya. "Wah bu, pake kiss bye segala," Saya tersenyum ke arahnya dan mendekatinya. Dan seketika semburat merah itu nampak. "Eh..eh kirain ngga ada yang merhatiin, jadi malu" "Iya tuh, anak saya apa-apa minta di sun. Kalo udah ada sun dari mamanya dia biasanya tenang dan nurut," tambahnya ringan. Saya mengangguk-angguk dan melihat si kecil itu. Dan benar saja ia tak lagi terlihat gelisah. Bahkan untuk selanjutnya ia seperti larut dalam keceriaan anak-anak seusianya. Hari itu adalah hari pertama masuk sekolah. Kebetulan saya disuruh kakak untuk menunggu keponakan yang baru naik ke kelas dua SD karena ia sendiri harus mengantarkan anak bungsunya yang baru masuk TK. Maka sayapun melahap banyak kejora ibunda.. Seperti kisah seorang ibu yang membujuk anaknya yang baru masuk kelas satu dengan kiss bye tadi.

Saat itu, ingatan ini hinggap pada Aufa, keponakan saya yang baru berusia satu setengah tahun. Entah kenapa ia juga berlaku seperti si kecil tadi. Aufa akan merasa nyaman ketikan kecupan sang ummi menjumpainya. Ketika kepalanya terbentur, maka tangisannya berhenti saat kecupan sayang bundanya singgah di bekas benturan. Ketika tangannya gatal-gatal, amukannya segera surut kala sun cinta ibunda melekat di tangannya. Bahkan jeritan Aufa bisa langsung pupus, ketika iming-iming kecupan bunda didengarnya, padahal saya tengah menggodanya tanpa ampun. Ah, adapakah dengan kecupan ibunda. Kesayangankah? Ketulusankah? Kekuatankah? Kedamaiankah? Surgakah? Apapun, itu adalah pesona. *** "Aduhh." Kosakata itu sudah menggema beberapa kali pagi. Saya bisa memastikan ia pasti tengah mendekap bayi mungilnya dengan wajah keruh. Pasalnya menurut saya sepele. Adek bayinya digigit nyamuk lagi dan bekasnya menjadi titik merah yang ukurannya kecil saja. Tapi baginya tidak demikian. Ia sungguh tidak rela. Dan ekspresinya terjelmakan dengan marah-marah. Maka malam-malamnya adalah waspada. Demi menyelamatkan bayi yang umurnya masih bisa dihitung dengan bilangan jari di tangan, maka ia rela melewatkan tidurnya untuk meronda. Ia sudah melakukan banyak cara. Kemarin sebuah kelambu ukuran besar menjadi aksesori kamar. Malam sebelumnya ia telah memproteksi si kecil dengan sarung tangan, sarung kaki dan memakaikan topi. Tapi tetap saja, bekas merah itu dijumpainya lagi pagi ini. Maka sayapun menyeringai mendengar keluhan panjangnya. Apa lagi yang akan dilakukannya nanti malam, pikir saya. Dan malam itu, ia terlihat lain. Dengan kostum tidur yang sungguh ?seksi ? ia berbaring di sebelah bayi mungilnya yang tengah terlelap. Saya bukan terpesona dengan kostum tidurnya yang menyeramkan. Saya hanya terpesona dengan jawaban atas pertanyaan saya kenapa ia memakai kostum demikian padahal ia bisa saja masuk angin. "Umminya masuk angin ga pa pa asal adek selamat, biar tubuh umminya saja yang digigit nyamuk," jawabnya kalem. Duh, hati saya hening. Mencerna. Demikian mempesona ikhtiar seorang bunda. Padahal ia baru menyandang gelar itu beberapa hari yang lalu. ***

Sahabat, saya yakin pesona bunda telah seringkali menyapa dan menjumpaimu setiap saat. Bisa jadi lewat doa, rengkuhan, kecupan, senyuman bahkan menu makanan yang terhidang. Lalu pernahkah kita membuat ibunda terpesona? Hmmm... Husnul Rizka Mubarikah <mahabbah12 at yahoo dot com> *Cisanggiri, pertama kali. Sun sayang buat Mamah. Hari Bumi Diperintahkan Hancur Publikasi: 19/08/2004 10:31 WIB eramuslim - Selalu ada gidik roma untuk setiap nama kiamat. Huru Hara Akhir Zaman? Best seller. Produk-produk lain pun telah bernasib (mirip) sama: Dajjal dan Segitiga Bermuda, Jesus Will Return, The Day After Tomorrow, Armageddon. Isu akhir zaman merk dagang yang menjanjikan. Untuk film, untuk buku. Laris manis ditonton, dibaca, diresapi orang-orang. Uang bukan selalu momok alasan. Saya yakin, ada sense lebih bila bicara hal ini. Dooms Day sudah diprediksi sejak dulu: era kerasulan, analisa para ilmuwan sampai peramalperamal ilmu setan tak jelas. Headline yang (seringkali) berhasil menyedot perhatian massa dalam jumlah besar. Tentu saja. Bermain-main dengan apa yang manusia pikirkan selalu menarik: ketakutan, harapan, ingin tahu. Berdoa semoga saja kiamat masih jauh. Semoga saja kita sudah mati sebelum itu terjadi. Kiamat: Ya, Allah, semoga masih satu abad lagi! Aneka ria reaksi meletup, bermunculan. Macam-macam, tapi satu keyakinan: manusia tidak siap kehidupannya diganggu jeritan sangkakala. Sangkakala yang akan berbunyi begitu tiba-tiba: saat manusia-manusia berani berzina di pinggir jalan tanpa malu seperti sepasang keledai. Hidup dunia terasa sangat nyaman; bokek maupun tidak bokek--hey, kenapa bisa begitu sih? Semua orang lalu beramai-ramai melupakan kiamat bila mendengar siapapun bicara kiamat. Sangat takut. Betul kecut. Membayangkannya saja kerut: gunung-gunung dihambur-hamburkan, langit pecah retak, bumi berguncang luar biasa richter, asap merah berembus, manusia-manusia memutus pita suara mereka dengan berteriak minta tolong--mencari perlindungan yang mungkin juga tengah berteriak mencari perlindungan. Belum lagi bicara hari kebangkitan, hari perhitungan, hari lewati jembatan rambut tujuh belahan: berpenampang neraka yang apinya berwarna-warna: merah, hitam, putih (karena telah Allah siapkan demikian lamanya). Saya sama seperti orang-orang: takut, ngeri. Apa jadinya bila saya mengalami itu semua? Apa saya siap? Apa saya mampu? Apa saya akan selamat?! Blep. Kosong. Saya tidak punya jawaban. Saya kasihan terhadap diri saya sendiri, dan semua orang; kita. Kita yang cuma mampu menduga-duga nasib kelak di kampung

akhirat. Mungkin begini, mungkin begitu. Astaga, siapa sih yang tidak bergetar memikirkan itu semua?! Abu Bakar saja menangis. Rasul saja menangis. Kita? Hoho, ada yang terlalu angkuh untuk melakoni itu semua. Padahal tidak ada jaminan sedikitpun dari Allah, layaknya Nabi Muhammad atau assabiqunal awwalun. Ibadah sedikit, sering tidak khusyuk. Sholat bertabur riya dalam setiap ruku sujud tuma'ninahnya. Sekalinya ikhlas, dirusak dengan menceritakannya pada orang-orang; serta tidak lupa busungkan dada, berharap terlihat gagah dan sholeh/ah. Pelit sedekah, gampang marah-marah. Enggan ukir prassati kebajikan, bahkan untuk diri sendiri. Kalau sudah demikian, jawablah dengan lantang: atas alasan yang mana kita harus masuk surga? Jangan katakan Allah tidak menciptakan neraka untuk kita. Ah, tidakkah kalian tahu jika itu mungkin saja? Mungkin, neraka memang diciptakan untuk membakar kita. Menghanguskan, mendebukan jasad kita--tulang jadi debu, darah jadi debu; habis. Disiksa air mendidih, disembelih parang besar milik malaikat berwajah garang--yang bahkan berwajah masam pada Rasulullah. Tidakkah itu menakutkan? Tidakkah itu sedikit saja membuat kita berpikir untuk menyudahi kepura-puraan kita? Bersandiwara seolah amnesia, seolah lupa nyawa kita akan berakhir di liang kuburan dan dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkannya. Mungkin, kebaikan-kebaikan yang kita lakukan tidak akan membawa kita terbang melewati neraka. Mungkin tidak akan cukup untuk membayar tiket ke surga. Malah, bisa saja, kebaikan itu yang menyeret kita ke bibir jurang nestapa dan melemparkan kita ke dalamnya. Skeptis memang, tapi itulah masa depan. Akhirat masih misteri untuk seluruh makhluk hidup. Segalanya bisa saja terjadi. Penyerupenyeru dakwah bernasib sial. Pendosa-pendosa melenggang lintasi gerbang kesyahduan; surga yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya. Segala tergantung Allah, Rabb penguasa alam--yang menggenggamnya dengan tiada kepayahan sezarrah saja. Yang tahu setiap hati, yang tahu setiap niat yang terbersit. Segalanya masih teka-teki. Akhir hidup kita, ujung nyawa kita. Saya kira benar dugaan saya: saya dan Anda belum tentu masuk surga. Mungkin... malah sebaliknya. Silahkan ketakutan. Silahkan menggigil sampai gila. Hanya ada dua pilihan: surga atau neraka. Kita akan berakhir di salah satunya. Selamanya meneguk kenikmatan atau menangis sepanjang waktu, yang pedihnya tiada berujung lagi sesudah itu. Ada baiknya mulai sekarang kita bersujud. Mengingat Allah sepenuhnya. Mohon ampun dan berazzam jadi hamba yang tawakkal. Ada baiknya kita juga saling mendoakan. Saling menyelamatkan. Atas nama cinta, atas nama kasih sayang. Sebab Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang. Yang memiliki ampunan dan cinta lebih besar dari angkaraNya terhadap kezaliman. Dia menyukai orang-orang yang berbuat baik, yang menebar kebaikan. Orang-orang yang merelakan harta, jiwa, dan tenaganya guna membela dienNya. Orang-orang yang tahu apa itu ukhuwah dan menyemainya di hati peradaban. Bukankah risalah telah mengatakan: ridho Allah membentang pada manusia yang saling mencintai karena-Nya?

Tengadahkan tangan, dan mulailah rangkai munajat. Saat sholat, setiap ingat. Untuk saudara-saudara kita. Agar selamat dunia, agar selamat akhirat. Cepat. Jangan ditundatunda, sebab tak ada cukup dalih untuk menunda-nunda. Para ustadz sudah berceramah. Tanda-tanda zaman telah gamblang berkomentar: wanita lebih banyak dari pria, para gembala berlomba membangun gedung-gedung pencakar langit, AIDS-sindrom/penyakit yang belum pernah ditemui pada masa sebelum ini dan tiada obatnya. Saya mohon... jangan tunggu Dajjal muncul lebih cepat dan mengatakan kalau kiamat itu sudah dekat. Asa Mulchias <asamulchias at yahoo dot com> Secepat Angin Publikasi: 18/08/2004 09:19 WIB eramuslim - duh, memang manusia seolah tak pernah bisa bersyukur atas apa yang ia miliki dan apa yang sedang ia alami. Yang kaya akan merasa masih miskin, yang miskin tak pernah merasa kaya. Yang senang selalu berkeluh seolah menunggu susah, yang menderita tak pernah membuka mata. duh, waktu seperti berjalan lambat-lambat kala hal yang tak diinginkan sedang bersama, dan ia seolah berlari secepat angin bila senang hati mengalami hari. Mari berbicara mengenai rasa syukur. Hari ini, saya menyadari bahwa tak pernah ada sesuatu yang benar-benar bisa memuaskan hati seorang manusia. Entah karena memang hal yang diperolehnya tak sempurna, entah karena memang serakah adalah sifatnya. Tak memiliki harta, ia tak puas. Setelah diberi, tak pernah tercukupi. Dan hari ini saya menyadari, saya pernah dan mungkin masih menjadi bagian dari golongan serakah itu, hingga kini. Mari lihat seberapa besar seorang manusia bisa mensyukuri. Kala ia senang, berteriak, melonjak, berseru gembira, berhura-hura, lalai, lupa, semua seakan tak ada habisnya. Namun bila hadirlah duka, maka tak lupa ia mengumpat, memaki, mencaci, menyesali, meratapi, seolah ia lah manusia yang paling menderita dan nyaris mati. Pernahkah kita semua, sekejap saja, sekedar mengucapkan syukur untuk keberkahan yang telah hadir hari ini? Apabila kita lupa untuk melakukannya kemarin, andaikan kita takut untuk menjadi manusia yang lupa diri. Lakukanlah hari ini, saat ini, sekarang juga. Sebab kita tak pernah tahu, kapankah terbersit keserakahan itu lagi. Kapankah syetan akan menyelip di sela hati, hingga mengikis habis amal yang telah dengan lelah dilakukan selama ini. Beberapa hari lalu, tak sabar rasanya ingin menikmati komputer di tempat kerja idaman hati ini. Kedua belah tangan serasa gatal tak henti,

dan otak ini menyuruh-nyuruh saya untuk segera mengetik setiap ide yang terlintas di kepala. Takut ia lekas pergi. Kini, benda itu sudah di hadapan, namun mengapa otak terasa kosong, sepi, senyap, empty, tak ada inspirasi. Maka, keluarkan selalu rasa syukur dari hati. Bahwa setiap jengkal kenikmatan yang telah kita peroleh, ataupun ia yang masih mengawang sebagai mimpi, kelak akan sampai juga bila Ia menghendaki. Maka tetaplah menjadi seseorang yang selalu mensyukuri, sebab kita tak pernah tahu sampai kapan kenikmatan itu akan dilalui. Bisa jadi ia cepat pergi, seperti angin yang berhembus dan berhenti tanpa permisi. DH Devita dh_devita@hotmail.com Berapa Nilai Dirimu, Saudaraku? Publikasi: 16/08/2004 09:27 WIB eramuslim - Kita makhluk yang paling mulia yang telah diciptakan oleh Allah SWT, makhluk yang paling kuat karena ternyata dari sekian ratus ribu sel sperma yang berjuang untuk hidup, kita lah pemenangnya. Pernahkah kita berpikir untuk memberikan berapa nilai dari diri kita? Apakah harga diri kita hanya sebatas dunia yang ingin kita kuasai, emas dan perak yang ingin kita miliki? Padahal jelas – jelas Rasulullah bersabda, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi : “Dunia ini terkutuk, semua yang ada di dalamnya terkutuk, kecuali dzikir kepada Allah, hal-hal yang bersangkutan dzikir, seorang ‘alim dan seorang pelajar.” Dunia dengan emas dan peraknya, kekuasan dan jabatan yang selalu ingin kita kejar, kemewahan dengan rumah megahnya, sama sekali tidak berhak mengalirkan setetes pun air mata kita. Terkadang kita melupakan bahwa dunia ini hanyalah titipan buat kita. Demikian yang dikatakan oleh Labid, Harta dan keluarga tak lain adalah barang titipan, dan suatu saat barang titipan itu akan dikembalikan Tapi sekali lagi, terkadang kita benar-benar melupakannya, selalu setiap bergantinya hari yang kita pikirkan hanyalah bagaimana agar bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan apa yang kita perlukan, dan pernahkah kita berpikir, apakah saudara-saudara kita di luar sana membutuhkan bantuan kita hanya untuk sekedar makan hari ini?, pernahkah terbersit sedikit saja dipikiran kita bahwa mereka sebenarnya meminta bantuan kita,hanya saja kita selalu membutakan mata dan menulikan telinga kita untuk mereka? Lalu, apakah kita juga mengetahui kalau setiap jiwa mukmin itu lebih berharga dari dunia dan seisinya?, Dan pernahkah kita sedikit saja merenung, bahwa semua kekayaan dan kedudukan yang kita miliki bisa menangguhkan bahkan menghambat maut dari kita,

dapat menolong kita dari siksa dan azabnya Allah?, Jika kita tahu jawabannya tidak, lalu kenapa kita masih selalu saja menghargai diri kita hanya sebatas harta, emas dan perak? Demi hidupmu, kekayaan takkan memberi manfaat kepada seorang pun ketika dada sudah tersengal dan sesak (Hatim Ath-Thai) Pertanyaannya adalah seberapa besarkah nilai kita sebagai seorang manusia yang mulia dan manusia yang terpilih? Hasan Al-Bashri mengatakan, ”Jangan tentukan harga dirimu kecuali dengan surga. Jiwa orang yang beriman itu mahal, tapi sebagian dari mereka justru menjualnya dengan harga yang murah.” Sayangnya, hanya sebagian kecil dari kita yang menyadari kalau jiwa kita sebagai makhluk yang beriman sangatlah mahal, atau mungkin kita selalu berpikir kalau harta dan dunia ini lebih berharga dan lebih mahal dari sebuah jiwa yang beriman, sehingga yang sering kita tangisi adalah di saat kita kehilangan uang, kebakaran rumah yang mewah, kehilangan pekerjaan, kita tidak pernah merasa menyesal dan menangis ketika hati kita mulai terasa mati dan jauh dari Allah, tidak pernah ada air mata ketika kita mengingat semua dosa-dosa yang telah kita perbuat, lalu jika sudah seperti ini, apa lagi yang bisa kita harapkan untuk membantu kita di hari akhir nanti?, dan jika ketaatan kepada Rabb sudah tidak ada lagi, maka dapatkah terwujud untuk mendapatkan cintaNya dan bertemu dengan-Nya dalam keadaan terbaik? Subhanallah, ketika menuliskan artikel ini pun, saya berusaha untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang ada, akankah keinginan untuk memiliki sebuah rumah di syurga-Nya dan engkau menjadi tetangga saya ya saudaraku, dapat terwujud? Insyaallah, Amin Amda Usnaka Stt Telkom usnaka@yahoo.com Rasanya Baru Kemarin Publikasi: 13/08/2004 08:37 WIB eramuslim - Rasanya baru kemarin pohon mangga di depan rumah kutanam. Saya mengambilnya dari kebun liar selagi ia masih sebesar daun ketela yang masih muda. Hati-hati saya membawanya dengan setangkup tangan yang terus merapat sampai ke rumah. Sesampainya di rumah saya langsung menanamnya di halaman depan, memagarinya, memberinya pupuk, menyiraminya setiap pagi dan sore, menghalau setiap unggas yang berupaya memaruh daunnya. Tapi, kemarin sore kami terpaksa menebang pohon mangga itu setelah sekian tahun tak lagi berbuah. Daun-daunnya yang mulai rontok, badannya yang besar tak sanggup lagi kurangkul. Masih bertengger di persimpangan dahan besarnya sebuah rumah kayu kecil yang dulu menjadi tempat saya membaca buku.

Rasanya belum lama, saya masih senang berpangku di pelukan ibu, bermanja mengharap dongeng pengantar tidur darinya. Ibu mengerti, saya tak akan pernah tidur sebelum ia mengusap lembut punggungku selama beberapa menit sambil menggumamkan senandung nina bobo atau sholawat nabi. Tapi hari ini, tangan lembut ibu yang biasa membelai punggungku itu sudah keriput, walau masih terasa halus tatkala kuangkat dan kulekatkan ke pipiku, atau saat aku menciumnya sebelum berangkat kerja. Sore itu, rasanya baru saja saya menanggalkan pakaian merah putih seragam Sekolah Dasar untuk bergegas bermain sepak bola dengan teman-temanku. Masih terngiang sangat jelas di telinga ini makian ibu sepulang saya main bola lantaran tak terlebih dulu merapihkan seragam sekolah dan menggantungnya di belakang pintu kamar. Atau karena kaos yang berlumur tanah dan memberatkan ibu mencucinya. Tapi pagi ini, seperti pagi sebelumnya, saya mencium pipi ibu sebelum berangkat ke kantor meminta ridhanya. Hari ini, tepat tujuh tahun yang lalu ibu menangis bangga melihat anaknya di wisuda. Rasanya belum terlalu lama, saya mulai mengenal lawan jenis. Padahal saat itu saya masih bercelana pendek warna biru setiap ke sekolah. Ada seorang teman wanita yang menaruh hati karena satu hal, saya sering jadi partner belajarnya sehingga kami sering meraih ranking kelas bergantian. Pagi menjelang subuh tadi, sebuah kecupan hangat dari istriku membangunkanku dari mimpi. Dan seperti biasa setiap minggu pagi saya mengajak dua putri cantik saya ke depan istana Bogor untuk melihat dan memberi makan rusa dari balik pagar besi istana itu. Jika masih tersisa waktu, kami sempatkan untuk beristirahat di kebun raya dan membiarkan dua peri cantik itu berlari ke sana kemari mengukur luasnya kebun. Dan ini benar-benar, rasanya baru semalam seorang sahabat meneleponku dan berbincang lama tentang apapun. Seakan tak ada waktu lagi esok hari sehingga ia rela menghabiskan pulsanya untuk berjam-jam ngobrol denganku. Pagi ini teleponku berdering. Di ujung telepon sana, seorang wanita menangis memberi kabar tentang kepergian suaminya menghadap Allah. Dan suaminya itu, sahabat yang semalam meneleponku. Sahabat, demikian cepat waktu berlalu. Sementara, sekian banyak waktu itu terbuang tanpa banyak hal yang kita perbuat menjelang ajal yang datangnya pasti. Mungkin besok. Wallahu a’lam. Bayu Gautama. Mengenang seorang sahabat. “Rid, mungkin hari ini, besok atau lusa kita bertemu” Yang Malu kepada Allah Publikasi: 11/08/2004 08:34 WIB

Allahu Rabbana, Tak pantas aku menjadi penghuni surga, Namun tak juga kuat hamba dalam bara neraka, Maka perkenankan jiwa meminta, Ampunan atas khilaf dan nista Sebab hanya Engkau, pengampun yang paling Maha (Abu Nawas) eramuslim - Adalah seorang perempuan datang menghadap Rasulullah dengan wajah menatap tanah. Masih dalam keadaan tertunduk, perlahan terdengar nafas beratnya keluar satu satu. Sebuah isyarat bahwa ia seperti tengah dihimpit bertubi masalah. Dia masih saja diam. Tak ada untaian kata-kata. Hening. Rasulullah menunggu. Manusia berparas indah dan mempesona ini seolah tahu, seorang perempuan datang ke hadapannya selalu dengan satu perlu. Dalam beberapa jeda, Rasululah membiarkan perempuan ini dalam diamnya, memberinya kesempatan untuk mempertimbangkan apa yang hendak disampaikan. Dalam kegundahan yang jelas terasa, berkata juga sang perempuan. “Wahai manusia terbaik, dengan apa kubahasakan malu ini pada Allah Yang Maha Kuasa. Haruskah dengan isak yang menyesak? Dengan kata yang menyemesta? Dengan keluhan-keluhan panjang?” “Apakah gerangan yang terjadi?” Rasulullah bertanya. “Demi engkau yang dijaga dari segala khilaf, ingin kusampaikan bahwa aku telah melakukan sebuah dosa besar. Wahai Rasulullah, betapa malu kumenghadapkan diri kepada Allah. Betapa tersiksa, ketika hamba menengadah mengharapkan benderang Nya. Obati jiwa ini wahai kekasih Nya” perempuan ini mengucapkannya dengan gemetar. Kini isakannya perlahan terdengar. Rasulullah mendengarkan keluh perempuan dengan haru yang menyatu. Betapa perempuan ini malu kepada Allah Yang Maha Pengampun. Betapa perempuan ini tak mampu menengadahkan pinta kepada Allah Yang Maha Asih dan Maha Sayang. Hingga ia sekarang bersimpuh peluh di hadapannya untuk memohon penawarnya. Dari bibir manis Nabi yang Ummi terucap sebuah titah. “Bertaubatlah kepada Allah, wahai perempuan yang melakukan dosa besar!” “Hamba teramat ingin melakukannya, tapi bumi telah menjadi saksi semua dosa yang telah diperbuat, dan bukankah kelak bumi akan menjadi saksi di hari kiamat?” pedih perempuan ini sambil menangis. “Bumi tidak akan menjadi saksimu” tukas Rasul Allah. Selanjutnya beliau melafalkan QS Ibrahim : 48 “Hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain..”. Perempuan itu masih saja terlihat sedih. Perkataan Nabi hanya singgah di telinga, tapi tidak di hatinya. Selanjutnya dengan kelu lidah perempuan ini berujar parau. “Wahai kekasih Nya, Dari atas, langit juga telah menyaksikan dosa hamba, kelak ia akan menjadi saksi pula”. Mendengar ini, Rasulullah segera menjawab, berharap bahwa perempuan dihadapannya segera tenang dan tidak gelisah.

“Allah akan melipat langit. Bukankah Ia sendiri telah berfirman dalam surat Al-Anbiya 104, Hari ketika Kami menggulung langit bagai menggulung lembaran kitab ..”. Perempuan ini tersenyum mendengar tutur penyeru dari manusia paling indah. Betapa ia juga merasakan bahwa Rasulullah tengah meredakan kegundahannya. Namun, senyuman itu surut ketika tiba-tiba ia mengingat sesuatu. Ia pun berseru. “Duhai Nabi, bukankah para malaikat pencatat segala amalan juga mencantumkan dosa besar itu dalam buku mereka. Bagaimana ini?” rintihnya putus asa. “Allah telah berfirman, Sesungguhnya amal baik dapat menghilangkan amalan buruk (QS Hud :114)” Nabi melanjutkan “Orang yang bertaubat itu seperti orang tak lagi punya dosa”. Kali ini perempuan mengangguk-angguk lega, namun tak seberapa lama kepalanya menggeleng keras, ragu itu kembali menderas. “Lalu bagaimana dengan firman Nya yang menyebutkan “Hari ketika lidah mereka, tangan mereka dan kaki mereka menjadi saksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS An-Nur 24) tutur perempuan kepada Nabi. Rasulullah kembali menjawab dengan suara yang fasih. Untaiannya begitu merdu meyakinkan perempuan yang bertanya. “Allah telah berfirman kepada bumi, juga segenap anggota tubuhnya : “Tahan dirimu, jangan tunjukkan kepada orang yang diterima taubatnya, keburukan selama-lamanya”. Suasana hening. Udara menghantarkan ketenangan. Perempuan semakin tertunduk. Ada banyak gumpalan perasaan yang tak bernama. Allah Maha Pemurah. Terakhir perempuan ini berujar “Benar, wahai Rasulullah, itulah hak orang yang bertaubat. Tetapi gemetar karena malu di hari kiamat, dan rasa malu itu juga adalah dari Allah. Mungkinkah seorang hamba menanggungnya? Padahal engkau pernah bersabda ‘Sesungguhnya orang yang berdosa pada hari kiamat akan menyebut dosa-dosanya lalu malu kepada Allah. Keringat, dosanya, mengucur karena malu. Air keringat akan mengambang hingga menutup lututnya, ada sebagian yang menutup pusarnya dan ada pula yang hingga menutup kerongkongannya”. Tanpa menunggu Rasulullah pun bertutur. “Maka wahai orang yang beriman, kenanglah hari itu, jangan pernah melalaikannya. Bertaubatlah kepada Allah, mendekatlah kepada Nya. Sesungguhnya Allah, Yang Maha Tinggi adalah Tuhan Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang” Dan seketika perempuan ini menangis, air mata yang tak lagi sama seperti semula. Bening air mata yang tumpah bukan lagi karena gundah. Bening air mata yang terjelma bukan lagi karena lara. Bening itu karena gundahnya reda. Bening itu karena laranya sirna. Ia mematrikan setiap kuntum ucap dari sabda Nabi yang Mulia di kedalaman jiwa. Betapa Allah Maha penerima taubat. Betapa Allah Maha Welas atas semua hamba. Sepenuh bumi ia sudah melakukan dosa, sebanyak buih di laut ia pernah berbuat khilaf, serta seberserak pasir di pantai ia bernista maka hanya dengan taubat semuanya dapat tertebus. Dan dengan rahmat Nya yang agung, Allah merengkuh hamba yang kembali. Jua, karena cinta Nya yang paripurna, Allah akan segera menghampiri seorang anak manusia yang kembali pada Nya meski dengan tertatih ringkih.

*** Sahabat, dalam setiap detik yang berdetak. Dalam menit yang berhamburan tak kenal ampun. Juga dalam bilangan jam yang menukik tak terhentikan. Diamlah sejenak. Lihatlah di kedalaman jiwa. Tengok sebentar ujud hatimu. Adakah rupanya bersinar ataukah kau temukan ujud yang legam?. Dan pabila rupa yang kedua yang kau jumpai, maka seperti ucapan perempuan yang bersimpuh peluh di hadapan RasulNya tentang dosa-dosanya, kita juga perlu mengadospsi perkataannya sebagai manifestasi malu “Dengan apa kubahasakan malu ini pada Allah Yang Maha Kuasa. Haruskah dengan isak yang menyesak? Dengan kata yang menyemesta? Dengan keluhan-keluhan panjang?” Tapi pernahkah kita malu dengan bebukit dosa yang diperbuat. Pernahkah merasa enggan bertemu Allah, karena malu atas segala salah yang tak akan luput dari pernglihatan Nya?. Malulah dari sekarang. Malulah dengan sebenar-benar malu, dengan sepenuh malu. Terlalu sering kita berada di sudut yang gelap karena keluar dari orbit benderang Nya. Terlalu mudah kita ingkari nikmat Nya yang agung, hingga kita benar-benar tidak tahu malu. Sekali lagi, Malulah kepada Tuhanmu. Malu adalah sebagian dari iman, itu adalah sabda Rasulullah. Tapi malu yang seperti apa?. Dari Abdullah Ibn Mas’ud r.a, diriwayatkan bahwa Nabi bersabda “Orang yang malu kepada Allah dengan sepenuh malu adalah orang yang menjaga kepalanya dari isinya, menjaga perutnya dari segala rezeki tidak halal, selalu mengingat kematian, meninggalkan kemewahan dunia dan menjadikan perbuatan akhirat sebagai hal yang lebih utama. Sesiapa yang melakukan semua itu, maka ia telah malu kepada Allah dengan sepenuh malu”. Dan, tahukah kalian apa yang Allah berikan sebagai imbalan kepada orang yang malu kepada Nya? Sebuah perlindungan tanpa tanding. Itu janji Nya. Husnul Rizka Mubarikahmahabbah12@yahoo.com *Garut, akhir juli. Untuk diri sendiri yang tidak tahu malu. Dengarlah: Ada Orang Baru Mati Publikasi: 09/08/2004 08:49 WIB eramuslim - Apa yang terjadi bila manusia mendengar kabar kenalannya telah meninggal dunia? Saya tak pernah menyangka harus mengalaminya secepat ini. Seseorang kenalan saya telah dikabarkan meninggal dunia, Jumat, 30 Juli yang lalu. Tepat setahun setelah kelulusannya dari STM Pembangunan, Jakarta. Ya, dia baru lulus satu tahun. Namanya: Yusna. Yusna Dianto. Dia, adik kelas saya-terpaut hanya satu tingkatan. Umurnya? Ah, dia belum setua saya. Mungkin umurnya belum genap 21 tahun. Untuk itu saya banyak diam. Yusna telah pergi di usianya yang masih sangat muda. Seperti Nike Ardilla, Marilyn Monroe. Juga seperti Ade Irma Suryani. Muda, mati.

Sebelum ini -entah kenapa- saya selalu yakin: orang-orang Jakarta -yang saya kenal- akan mati karena usia. Di Jakarta tidak sedang perang seperti di Palestina, atau di Irak. Satusatunya peperangan yang terjadi di sini adalah peperangan kekuasaan. Mungkin, keyakinan saya itu terlalu konyol. Orang bisa mati karena apa saja, bukan? Karena tertimpa batu, kecebur sumur, ditusuk penodong dalam bis, jatuh dari tangga, keracunan, atau tertabrak mobil saat menyeberang jalan. Tapi, tidakkah kita semua -tanpa sadar- tengah percaya pada keyakinan yang sama? Saya bukannya tidak tahu orang mati bisa karena apa saja, tapi kenapa, ya, pengetahuan itu seolah lenyap dari jati diri keseharian kita? Bukankah hanya orang-orang yang punya keyakinan seperti itu yang hidup tanpa beramal baik setiap harinya?! Lihat saja kita sekarang. Pergi pagi, pulang senja. Kerja, kerja, kerja. Habis waktu untuk mencari uang. Subuh kesiangan, Zuhur habis buat makan siang, Ashar tanggung sedikit lagi pulang, Maghrib ada di jalan, Isya berbaring tidur kecapekan -persis lagu sindiran pengamen jalanan. Kalaupun ada waktu untuk berbuat amal, itu harus seijin rasa malas di hati kita. Padahal... ah, rasanya kok, ya, percuma saja. Bicara mati pada orang kota itu sangat susah. Harusnya mereka sendiri yang mengalaminya. Harusnya mereka sendiri yang disadarkan dengan kematian salah satu kerabatnya. Kalau hanya lewat tulisan, besar kemungkinan mereka akan melewatkannya dengan sebelah mata. Sudah mati rasa bila bicara hal semenyeramkan itu. Mungkin mereka masih -terus- percaya: orang-orang Jakarta akan mati bila usia mereka sudah tua. Mereka begitu yakin: mati nanti bila usia telah tua. Dan kini, ketika mereka masih muda, tak perlu risaukan maut dengan banyak beribadah. Kelak mereka akan melakukannya; bila sudah renta, bila ajal semakin nyata di depan mata. Kalau begitu, bila mereka masih percaya itu keyakinan yang tak berguru itu, saya yakin mereka tak akan pernah betul-betul sadar: orang mati bisa kapan saja. Asa Mulchiasasamulchias@yahoo.com Untuk Yusna: Yus, maafkan saya selama ini. Maaf atas segala kesalahan, atas segala kekhilafan. Maafkan segera, sebelum saya menyusulmu kesana... Ah, Yus... sedikit lagi, kan, bulan puasa.... Semangat Berbagi Publikasi: 05/08/2004 13:09 WIB eramuslim - Senja, menjelang maghrib, kesibukanku dimulai lagi. Seperti biasa setiap sore ibu telah nenyiapkan beberapa mangkuk penganan berbuka puasa untuk dibagikan kepada para tetangga terdekat. Berbeda dengan kemarin, sore ini ibu membuat kacang hijau. Hmm, dari aromanya pastilah nikmat sekali. Tapi, apapun makanan buatan ibu sudah pasti saya suka. Hantaran pertama, ke rumah bu Citro, tetangga sebelah rumah yang temboknya jadi satu dengan tembok rumah kami. Kalau malam, bu Citro –nenek berusia 74 tahun- pasti

sering terganggu oleh suara gaduhku dan adik-adik yang hiruk pikuk bercanda hingga larut malam. Mangkuk kedua, saya yang ditemani adik mengantarkan kacang hijau buatan ibu ke rumah pak Mamo. Pak Mamo itu dulu bekas sopir ayah yang kini sudah tak lagi menjadi sopir karena matanya tak lagi seawas dulu ketika masih muda. Ia kini tinggal bersama anaknya. Istrinya,sudah empat belas tahun yang lalu berpulang. Setelah dari rumah pak Mamo, mangkuk berikutnya kami hantarkan ke rumah bu Lastri, tetangga kami yang rumahnya paling besar di kampung. Bu Lastri ini sebenarnya termasuk yang paling pelit, dan kepelitannya itu bahkan sudah terkenal pula warga RW sebelah. Saya sempat bertanya, “Ibu kok ngirim ke bu Lastri sih, kan bu Lastri nggak pernah ngasih apa-apa ke kita.” Kata ibu, “Memberi ya memberi saja, nggak perlu harus dilihat dia itu siapa dan pernah ngasih apa ke kita, nanti disangkap pamrih.” Untuk anak usia 6 tahun sepertiku, kata-kata ibu itu hanya ditanggapi dengan kata, “Ooh gitu”. Mangkuk berikutnya, ini sebenarnya yang paling berat, karena saya harus mengantarnya ke rumah bu Iyak. Pasalnya, Sakti, anak bu Iyak itu adalah musuh bebuyutanku. Dibilang musuh bebuyutan bukan dalam artian bahwa kami ini selalu berkelahi kalau bertemu. Hanya saja, dalam setiap permainan Sakti tidak akan pernah mau satu tim denganku, begitupun juga denganku, lebih senang untuk beradu jago dengannya. Rasanya, ada kepuasan tersendiri jika bisa mengalahkan Sakti dengan timnya, misalnya dalam permainan bola sepak. “Kamu aja deh dik yang nganter ya, abang tunggu di luar,” kataku kepada adikku yang mengangguk saja memenuhi permintaanku. Tapi, suara ibu dari dapur menggagalkan niatku, “Abang langsung temuin bu Iyak ya, bilang nanti malam ibu ada perlu dengannya sepulang sholat tarawih”. Tibalah untuk waktunya mengantar mangkuk terakhir ke rumah bu Asih. Sampai di rumahnya, ibu Asih tidak ada di tempat. Hanya ada mbok Sumi pembantunya. Diikuti langkah kecil adikku, saya urung memberikan kacang hijau itu ke mbok Sumi. Dan kembali ke rumah. “Loh, kok dibawa pulang?” tanya ibu. “Bu Asih-nya nggak ada bu, yang ada cuma mbok Sumi. Makanya abang bawa pulang lagi…” “Ya nggak apa-apa abang, kasih aja ke mbok Sumi, kan sama aja,” lanjut ibu. “Abang nggak mau. Abang kan harus bilang langsung ke bu Asih kalau kacang hijau ini dari ibu…” “Ya ampuun abang. Kalau memberi itu ya nggak perlu pake nyebut-nyebut nama segala dong. Kalau kita ikhlas, Allah lebih senang,” terang Ibu.

“Ooh gitu…” *** Saya tidak pernah menyadari, bahwa kenangan bulan Ramadhan 24 tahun yang lalu itu masih membekas hingga sekarang. Dulu, saya tak pernah mengerti mengapa ibu selalu repot-repot setiap sore menyediakan beberapa mangkuk makanan berbuka untuk para tetangga. Kini, saya mengerti, saat itu ibu tengah menanamkan semangat berbagi kepada anak-anaknya. Dulu, 24 tahun yang lalu, saya juga tak mengerti kenapa bu Iyak keesokan harinya mengantarkan semangkuk sup ke rumah. Atau ketika bu Lastri tiba-tiba datang membawakan sekantong es campur buatannya sendiri. Atau ketika bu Asih mengetuk pintu dan berkata, “Terima kasih ya kiriman bubur kacang hijaunya. Dari rasanya, dan mangkuknya, saya tahu itu kiriman dari ibu. Tidak ada yang bisa membuat kacang hijau seenak buatan ibu”. Bayu Gautama. Special for Relawan 1001buku dan KKS Melati Tak Semahal Conello Publikasi: 21/07/2004 08:09 WIB eramuslim - Anak saya, Hufha, makin semangat mengaji di TPA (Taman Pendidikan Al Qur'an) Masjid dekat rumah kami. Pasalnya, ia memiliki teman yang setia menjemputnya setiap sore. Ia tampak senang berangkat bersama Sita, yang usianya hanya tiga bulan lebih tua darinya. Mereka berdua belum bersekolah, untungnya, TPA tersebut membuka kelas untuk anak-anak seusia Hufha dan Sita. Namun ada yang membuatnya kelihatan tak bersemangat beberapa hari ini, dan setelah saya selidiki, penyebabnya adalah karena Sita, tak bisa mengaji lagi. Sudah hampir satu pekan Sita tak mengaji, saya mencoba menghibur Hufha untuk tetap semangat mengaji walaupun temannya tak lagi mengaji, "Yang pinter nanti juga kan kamu nak, sebaiknya kamu tetap mengaji meski teman yang lain tidak mengaji," bujuk saya suatu kali. Tak seperti dugaanku, ternyata ia tetap tak bersemangat, meski ia tetap berangkat ke TPA. Sita, anak tetangga rumah kami itu merupakan teman bermain Hufha. Hampir tak ada hari yang terlewatkan oleh mereka berdua untuk bermain bersama. Saya cukup senang, karena kami yang merupakan warga baru di wilayah tersebut nampaknya diterima dengan baik oleh masyarakat sekitar, termasuk Hufha yang cepat mendapatkan teman, Sita salah satunya. Tak banyak yang saya ketahui tentang anak tersebut kecuali ia adalah anak yatim. Ayahnya meninggal saat ia masih berumur satu tahun akibat sebuah kecelakaan. menurut cerita para tetangga, Pak Sahid, ayah Sita yang sehari-harinya bekerja sebagai tenaga angkut sayuran di pasar, tertabrak sebuah angkutan umum selepas subuh saat ia

tengah menuju pasar tempatnya mengais rezeki. Kasihan Sita, anak seusianya sudah harus kehilangan ayah sekaligus lelaki pencari nafkah keluarganya. Untuk menghidupi Sita dan dua kakaknya, Ibu Sahid mendapatkan upah dari mencuci pakaian para tetangganya. Itupun tak seberapa, sehingga ia masih harus melakukan beberapa pekerjaan lainnya, antara lain menjadi pembantu paruh waktu di salah satu rumah tak jauh dari tempat mereka tinggal. Sepengetahuan saya juga, keluarga mereka termasuk keluarga yang taat beribadah, sehingga agak mengherankan bagi saya kalau ibunya membiarkan Sita tak lagi mengaji di TPA. Jelas bukan soal uang infaq TPA yang menjadi penyebabnya, karena TPA tersebut justru membebaskan anak-anak yatim seperti Sita dari infaq atau dana apapun. Malam itu, Hufha buka suara. Sambil mengemas dua pasang sandalnya yang tak pernah lagi disentuhnya, ia mengatakan bahwa Sita masih sangat ingin mengaji. Yang menjadi masalah adalah, Sita malu kalau harus pergi mengaji tak menggunakan alas kaki. Sandalnya hilang beberapa waktu yang lalu sepulang mengaji, dan Sita tak berani meminta kepada ibunya untuk membelikan sepasang sandal baru. Mendengar cerita anakku, tubuhku langsung lemas. Bagaimana mungkin saya bisa lalai untuk hal sepele seperti itu. Mungkin yang dibutuhkan Sita bukanlah sandal cantik berhias bunga melati diatasnya, atau selop merah muda berpita halus seperti yang dipunyai Hufha. Untuk bisa berangkat ke TPA -bersama anak saya- mungkin Sita hanya butuh sandal jepit yang harganya tak separuh harga Ice Cream Conello yang biasa dimakan Hufha. Bayu Gautama <bayugautama at yahoo dot com> Lapar Publikasi: 15/07/2004 13:48 WIB eramuslim - Enaknya kalau punya anggota keluarga banyak itu, kita bisa bergilir mengunjungi mereka satu per satu. Makanya aku 'sedih' melihat Keluarga Berencana (KB) di kalangan umat Islam 'berhasil'. Sementara umat 'tetangga' kita membengkak tak terkontrol. Apalagi kalau saudara-saudari kita sudah mapan semua. Aku jadi 'malu' sendiri bila mau mengingat apa yang sudah saya lakukan dulu. Ibu memang nggak selalu mampu menyediakan makanan ekstra untuk anak-anaknya. Empat orang dari tujuh kakakku sudah berkeluarga. Kebetulan tempat tinggal mereka tidak jauh dari rumah kami. Jadilah saya 'manfaatkan' kesempatan ini, utamanya jika 'kebutuhan' perut ini meningkat. Maklum, masa anak-anak biasanya semego (doyan-doyannya nasi) orang Jawa bilang. Diantara anggota keluarga, hanya saya yang tergolong tidak sungkan-sungkan untuk persoalan yang satu ini. Masuk rumah kakak, langsung minta makan. Biasanya saya terus terang tanya kepada siapapun kakak yang saya kunjungi. 'Peduli' amat dengan kakak-

kakak iparku! Toh mereka pikir aku masih anak-anak. “Bikin makanan apa Mbak?” Begitu tanyaku bila berkungjung ke rumah mereka. Barangkali aku memang tipe ndableg (kurang tahu aturan). Bisa saja bukan hanya saya pelakunya. Kalau kebutuhan perut ini mendesak, yang namanya aturan sopan-santun atau etika pergaulan, akan menjadi persoalan kedua. Yang penting kenyang! Selama enam bulan ini salah seorang keponakanku yang baru menikah, saya suruh untuk menempati rumahku BTN, itung-itung dari pada kontrak. Sebulan terakhir ini, karena ia sering harus kerja keluar kota, sering pulang terlambat. Mereka berdua tidak bisa menempati rumah tersebut. Diputuskannya untuk tinggal bersama mertuanya di pusat kota. Minggu lalu, saya dapat kabar dari adik saya, meteran air rumah BTN tersebut diambil orang tanpa ijin si empunya alias mencuri. Yang menjadi pertanyaan saya adalah sedemikian parahkah tingkat kelaparan perut sebagian masyarakat kita, sehingga untuk memenuhinya harus mencuri barang-barang apa saja yang penting bisa diuangkan? Dari jauh, saya ikut prihatin memperhatikan nasib bangsa ini. Lebih prihatin lagi kata Pak Zulkarnaen, seorang koordinator sebuah perusahaan konstruksi terkenal di Jakarta, bahwa tingkat pengangguran yang sudah diatas angka sepuluh juta ini mengakibatkan banyak orang (konon), kalaupun mau mencuri, yang dicuripun tidak ada. Begitu kisahnya yang terjadi di sebuah daerah di Jawa Tengah. Makanya, selama kampanye beberapa minggu lalu, jangan heran kalau beberapa orang yang menemani Pak Amien Rais dalam perjalanan beliau menuju Kampus Universitas Indonesia, HP mereka dicopet. Bukan hanya mereka, salah seorang anggota Tim Sukses Susilo B. Yudhoyono, juga 'kehilangan' HP Communicator nya. Astaghfirullah! Kelaparan dalam arti fisik (baca: perut!) ternyata bisa mempengaruhi tingkah laku seseorang. Contoh-contoh di atas membuktikan, jika tidak pandai mengontrol, cenderung mengesampingkan nilai-nilai agama, sosial dan budaya. Tidak semuanya memang orang pinter mengatasi kelaparan ini. Ada mereka yang sangat bijaksana sekali, misalnya dengan melaksanakan puasa, karena tidak mampu memenuhi kebutuhan perut keluarganya sehari-hari. Sahabat-sahabat Rasulullah SAW tidak sedikit yang melakukan kebiasaan ini. Ada seorang sahabat yang, karena tidak adanya makanan yang cukup ini, terpaksa menyuruh istrinya menggoreng kerikil hanya karena ingin 'menghibur' anak-anaknya yang sedang tidur sementara kelaparan. Bahkan dalam riwayat lain diceriterakan, ketika mereka sedang menerima tamu pun, hanya lentera redup yang dinyalakan karena tidak ingin tamunya mengetahui makanan yang tersedia yang ternyata cuma cukup untuk sang tamu. Padahal sang tuan rumah tidak menikmati secuil makananpun di atas piringnya. Subhanallah! Tingkatan iman kita tidak bisa disamakan dengan derajat keimanan para sahabat Rasulullah SAW. Oleh sebab itu, saya sebenarnya sedih melihat betapa selama pampanye kemarin, begitu banyak kertas-kertas berwarna yang menurut hemat saya, mahal harganya. Pembuangan yang mubadzir. Belum lagi media kampanye dalam bentuk lain semisal kain, plastik, papan kayu, aluminium, balon udara serta media elektronika.

Adakah ini kemewahan semu? Hanya karena ingin predikat 'wah', ditempuhnya cara-cara kamuflase. Layaknya sebuah Bunglon. Semuanya harus dibayar mahal. Coba seandainya segala ongkos media-media kampanye tadi ditukar dalam bentuk rupiah dan dimanfaatkan untuk mengatasi kesengsaraan warga kita? Saya yakin, sebagian dari empat puluh juta rakyat Indonesia yang berada dibawah garis kemiskinan akan bisa terselamatkan. Jutaan manusia Indonesia yang sedang kelaparan, membutuhkan gula, menutupi uang sekolah, membeli beras, dan lain-lain. akan terpenuhi kebutuhannya. Ada yang berpikir, kampanye hendaknya dijajakan tidak dengan kemasan murahan. Apalah artinya kualitas jika realitasnya sebagian besar rakyat kita menderita. Pendidikan mahal, kesehatan tak terjangkau, pekerjaan jadi langka, kejahatan merajalela. Lihat India yang katanya miskin! Saya lihat ijazah Abdul Samad, pemegang sarjana ekonomi, hanya terbuat dari selembar kertas buram. Namun nilainya? Tidak kalah dengan ijazah-ijazah kita yang berpenampilan keren dan mahal kertasnya. Untuk mendapatkan selembar ijazah kita sesudah lulus, dibutuhkan ratusan ribu rupiah. Mungkin lebih. Belum termasuk uang wisuda. Apa arti semua ini jika akhirnya guna memperoleh pekerjaan sesudah lulus ternyata jauh lebih susah dibanding mencari mutiara di lautan? Rasulullah SAW tidak menyukai pemborosan. Acapkali, karena kelaparan dalam artian fisik ini pula, orang jadi carnivora. Mereka 'memakan' sesamanya. Kalangan atas melalap kalangan bawah. Pejabat ngapusin rakyat. Mereka makan hak-hak saudaranya. Mereka rampas milik orang lain. Mereka kunyah sesuatu yang tidak layak. Asalkan masuk perut, tidak jadi masalah. Dalam kelas rendah, mereka bisa jadi 'pemakan segala'. Dalam artian fisik, tengoklah, misalnya, ratusan pengemis yang setiap hari gorek-gorek tempat sampah, mencari sesuatu yang bisa dimakan di Kedung Kandang, pusat pembuangan sampah terbesar di Kotamadya Malang. Berapa jumlah anak-anak usia sekolah yang setiap pagi bongkar-bongkar kotak sampah di jalan-jalan Surabaya dan Jakarta? Padahal mata kita lewat di depannya. Kita sumbangkan ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk kampanye politik, dengan membuka mata lebar-lebar. Tapi kita berusaha menutup mata rapat-rapat kala melihat kaum dhuafa ini. Padahal kita bilang ada di pihak mereka. Kita janjikan akan junjung keadilan bagi mereka! Kita akan angkat tinggi-tinggi hak-hak mereka! Nyatanya? Level kesadaran kita masih rendah. Kita lupakan naluri kemanusiaan kita! Menginginkan manusia-manusia sekitar untuk berpihak kepada kita secara politis, namun kita abaikan kebutuhan mereka yang paling mendasar. Kondisi kita tidak beda dengan kondisi rakyat-rakyat yang lapar ini. Bedanya, perut kita sudah penuh! Kita 'hanya' secara moral, budaya, ekonomi, politik, moral, sosial dan mungkin sekali secara spiritual 'kelaparan'. Keadaan inilah yang justru membuat kita lebih para dibanding pengemis-pengemis jalanan tadi. Bagi si pengemis sedikit uang atau makanan bisa puas. Sedangkan bagi sebagian besar kita tidaklah demikian.

Penghasilan anggota DPR atau DPRD memang 'kecil' katanya Pak Zulkarnaen. Tapi komisi mereka? Ber M-M (milyar-milyar) masuk saku tanpa pajak. Menurut Gatra.com (22 Juni 2004), sebanyak 43 Anggota DPRD Sumatera Barat (Sumbar) dinyatakan bersalah menyelewengkan duit APBD sebesar Rp. 5.9 Milyar. Menurut Indonesian Corruption Watch (ICW), borok parlemen sudah mewabah. Saat ini ada 270 anggota DPRD yang sedang diperiksa, kata Bambang SH, Ketua Dewan Kode Etik ICW (Gatra.com, 22 Juni 2004). Bukankah ini membuktikan bahwa pejabat-pejabat negara kita juga sedang 'kelaparan'? Kelaparan memang tidak harus berarti fisik. Dalam bahasa Inggris disebut 'Hunger', bisa berarti 'to feel or suffer hunger; to have an eager desire; a craving or urgent need for food or a specific nutrient' (Webster's New Collegiate Dictionary, 1996). Sekalipun secara harfiah kata 'hunger' ini kita artikan 'kelaparan', tapi tidak menutup kemungkinan, dilihat dari definisi menurut Webster's yang kedua, 'kelaparan' bisa berarti luas. Tidak terkecuali kondisi sebagian para petinggi negara kita yang haus akan pemenuhan kepentingan pribadi dibanding rakyat banyak. Perbuatan pejabat-pejabat DPR diatas, jika dikaitkan dengan pengertian kelaparan, masuk kategori yang mana? Lapar kekuasaan, lapar kejujuran, lapar ekonomi, lapar politik, lapar sosial, lapar kegamaan, atau kombinasi dari berbagai jenis kelaparan ini? Karena kelaparan ini, hingga yang namanya malu, harga diri, martabat bangsa, nilai moral dan agama, serta predikat positif sosial lainnya tidak pernah mendapatkan tempat dalam hati ini untuk dijadikan bahan pertimbangan mana yang baik dan mana yang buruk. Begitu melihat uang dan kekuasaan, 'kelaparan' merajalela! Astaghfirullah! “Ana kerja di sebuah pabrik!” kata Mukhsin, seorang ikhwan di Jakarta. “Antum beruntung sekali, karena jutaan saudara-saudara kita di negeri ini yang tidak memiliki kesempatan seperti antum. Sepanjang pekerjaan itu halal, patut bersyukur!” kataku jujur. Di negeri ini sudah terlalu banyak orang yang terjangkit penyakit yang satu ini: kelaparan. Dalam ruang lingkup internasional, kelaparan perut akan bisa ditangani dengan campur-tangannya badan dunia misalnya UNICEF atau UNHCR bagi kasuskasus pengungsi. Namun bagaimana dengan kelaparan sosial, moral, spiritual, politik, budaya dan ekonomi yang melanda bangsa ini? Bangsa-bangsa lain hanya mampu menjadi penonton, melihat betapa 'cerdik'nya orangorang kita dalam mempermainkan warga sendiri. Pedihnya, sebagian besar warga kita belum terlalu 'cerdik' mengamati fenomena kelaparan ini. Sudah dalam kondisi lapar, nyatanya kita masih 'mau' dimanfaatkan oleh orang-orang yang 'kelaparan' kekuasaan. Kejujuran belum mendapat tempat yang layak di hati masyarakat kita. Di tengah-tengah menjamurnya kejanggalan-kejanggalan kehidupan yang ada, kita masih bisa terlena dengan 'makanan' yang bersifat sementara mengenyangkan. Makanan yang kita kunyah belum sanggup memberikan kepuasan dalam arti Holistik, suatu pendekatan yang memperlakukan manusia seutuhnya, dari berbagai pandangan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual.

Kelaparan akan mudah ditangani apabila menyerang perut. Sebaliknya, kelaparan akan kompleks sekali sifatnya bila menjalar ke segala sendi kehidupan manusia. Layaknya kebutuhan umat Islam akan sholat wajib. Betapa laparnya kehidupan spiritual ini sekiranya kaum Muslimin hanya sholat seminggu sekali (hari Jum'at) saja. Betapa laparnya kehidupan sosial seorang Muslimin, apabila tidak pernah terlibat dalam jamaah. Betapa laparnya kaum Muslimin yang tidak mau menyalurkan aspirasi politiknya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Lapar memang beda dengan kelaparan. Lapar masih dalam batas konotasi 'positif'. Dalam kondisi normal, orang yang lapar perutnya, akan cepat kenyang dan pulih kondisinya hanya dalam hitungan menit. Akan tetapi kelaparan bertendensi 'negatif'. Malah bisa jadi penyakit menahun jika tidak segera terobati. Orang yang kelaparan butuh waktu berbulan-bulan hingga tahunan guna menormalisasi keadaan. Selagi kita merasa lapar dalam aspek sosial, politik, psikologis ataupun spiritual, akan mungkin sekali dengan mudah terobati. Namun jika sudah terjangkit penyakit kronis yang namanya 'kelaparan' ini, bukan hanya kita sendiri yang bakal jadi korban. Orang lain pun bisa dibikin hancur, turut menanggung dampak komplikasinya, gara-gara teknik pengobatan kita yang kurang profesional. Segala cara diterobos: no speed limit! Syaifoel Hardy shardy at emirates dot net dot ae Puncak Sebuah Prestasi Publikasi: 08/07/2004 07:12 WIB eramuslim - Sore tadi di website-nya Departemen Kesehatan saya dapatkan, masih di halaman pertama, tiga puluh satu dokter yang mengeluh dengan diberlakukannya PTT (Pegawai Tidak Tetap). PTT adalah sebuah peraturan yang mewajibkan dokter yang baru lulus untuk mengabdi ke pemerintah, pengabdian masyarakat. Peraturan tersebut kenyataannya ditemui oleh banyak dokter muda sebagai suatu kebijakan yang terlalu birokratis bahkan menyulitkan. Salah seorang dokter ada yang mengatakan, dari pada mengikuti program PTT gaji kecil dan tidak ada jaminan jadi pegawai negeri, lebih baik jadi satpam di Bank luar negeri saja gajinya bisa mencapai dua juta rupiah! Jangankan profesi lainnya. Dokter pun, sebagai sebuah profesi yang boleh dibilang paling bergengsi, saat ini sudah banyak yang cemas. Menganggur bagi kalangan dokter muda bukan suatu yang aneh sekarang ini. Kecemasan yang menjurus kepada anxiety merambat dimana-mana. Sumpah setia profesinya tinggal sumpah di atas kertas semata, karena dokter pun sudah banyak yang beralih profesi. Begitu salah satu tulisan yang tertera. Pendidikan yang menjanjikan kedudukan terhormat ini ternyata tidak seindah prasangka orang-orang awam! Justru sesudah melaksanakan ujian yang paling ditunggutunggu penyandang sarjana kedokteran, dokter, pada akhirnya bisa dibuat bingung oleh kelangkaan pekerjaan di jaman moderen ini! Adakah ini 'puncak' sebuah prestasi?

Lima anak yang biasa berkumpul bersama Bu Lia, guru di sebuah sekolah lanjutan atas itu, ternyata bukan anak-anak kandungnya. Itu dikatakannya dihadapan saya dengan linangan air mata bertahun-tahun lalu. “Mereka bukan anak kami Dik! Mereka puteraputeri kakakku, ayah mereka yang meninggal sejak anak-anak masih kecil!” kata wakil kepala sekolah yang waktu itu akan memasuki usia pensiun. “Kepada siapa lagi anakanak ini harus bertumpu? Kecuali kepada kami, karena ibu mereka juga tidak bisa bekerja.” Anak-anak tersebut kini sudah besar-besar dan mereka pisah dengan ibunya. Rumah besar yang ditempatinya juga sudah dijual. Bu Lia dan suaminya yang kini berusia lanjut, tidak lagi sanggup merawat rumah sebesar itu. Mereka menempati rumah baru di sebuah kota besar. Bu Lia yang tergolong 'punya', tidak sulit kalau hanya untuk membeli rumah baru. Saya lihat suami Bu Lia, seorang kontraktor, memiliki beberapa buah rumah. Sementara Bu Subur, ibu ke-lima anak-anak itu, yang semula hidup bersama dengan Bu Lia ketika anak-anak masih kecil, sekarang ikut puteri bungsunya yang sudah berputera dua. Sayangkah saya terhadap harta Bu Lia yang sedemikian banyak hartanya hanya karena dia tidak dikaruani anak oleh Allah SWT? Saya melihatnya beda! “Bu Lia beruntung. Banyak orang yang punya anak, namun mereka nakal-nakal dan tidak berbakti kepada orangtuanya. Keponakan Bu Lia begitu baik pada Ibu, jadi bersyukurlah!” Demikian hiburku, menirukan ucapan A.A.Gym. Hari-hari yang penuh tawa ceria, ketika anak-anak itu masih kecil, musnah sudah. Bu Lia dan suaminya kini 'sendirian' di rumah. Biarpun rumahnya 3 buah, yang ditempati hanya satu! “Ah, harta!” Begitu gumamku, saat sebelum sholat di lantai atas rumah yang baru ditempatinya. Anak-anak yang dulu lucu-lucu, kini sudah mengurusi keluarganya sendiri-sendiri. Kadang kala saja mereka menengoknya. Sejak kepulangannya dari Tanah Suci tiga tahun lalu, hari-hari Bu Lia dan suaminya hanya diisi dengan kegiatan yang tidak lebih dari 'pekerjaan rumah' semata. Inikah 'puncak' sebuah prestasi? Sore hari menjelang Maghrib tadi aku menelepon teman lama yang sedang sakit. Dia menderita penyakit yang 'paling' ditakuti manusia: kanker! Kabar terakhir yang saya dengar, dari hasil pemeriksaan, bekas rekan kerja beberapa tahun lalu itu kini sedang mengalami penjalaran Kanker Payudara ke Lever nya. Astaghfirullah! Padahal ibu satu anak yang belum genap empat tahun usianya ini tidak setua Bu Lia. Penyakit memang tidak mengenal belas kasih, tua atau muda, miskin atau kaya. Dalam perbincangan kami, di tengah 'kicauan' Meme, sang anak, yang terdengar di telepon, dia masih sempat ketawa-ketawa kecil, seolah menutupi penderitaannya selama ini. Mbak Yati. Begitu saya biasa memanggilnya, kata teman-teman, sudah mulai 'putus asa' dengan hasil pemeriksaan selama ini. Dia rajin berobat rutin sebulan sekali ke rumah sakit spesialis kanker guna melihat 'perkembangan' terapinya. Bagi kalangan orang-orang kesehatan, bukan suatu yang 'baru' lagi kasus ini. Dari sekian kasus yang ada, tidak

banyak yang bisa dilakukan oleh penderita kecuali menunggu 'keajaiban'. Tingkat keberhasilan terapi terhadap kanker ini amat kecil. Saya percaya, Mbak Yati sadar betul akan keadaan ini. Yang saya bayangkan hanyalah, bagaimana dia menjelaskan semua ini kepada si Meme yang masih balita? “Mbak Yati yang sering-sering minum air putih pagi hari sesudah bangun tidur ya?” Aku mencoba memberikan saran sebagaimana yang pernah saya dapat dari seorang rekan di Bandung, bahwa minum air putih sebanyak satu setengah liter bisa membantu meringankan beban penderita kanker, sebagai pengobatan yang disebut Hydro Therapy. “Aku nggak sakit koq!” Kata Mbak Yati, sedikit ketawa. Sambil mengayunkan langkah kakiku ke masjid, aku terenyuh sekali mendengarnya. Kutekan tanda switch off HP ku. Andai saja engkau seorang muslimah, do'a ku insyaallah tidak akan sia-sia. Padahal Mbak Yati dulu sehat wal afiat. Padahal dia selalu menjaga makanan. Padahal dia selalu berusaha untuk berbaik budi dengan orangtua dan anggota keluarganya. Hampir semua adik-adiknya, dia yang membeayai kuliah mereka hingga selesai. Bahkan pernikahan mereka Mbak Yati yang membeayai. Mbak Yati pula yang membangun rumah orangtuanya. Kini, dia harus lebih banyak tidur karena pengaruh obat-obat yang sudah seonggok diminumnya. Mulai dari konservatif hingga alternatif. Ketika Mbak Yati bersama suaminya berkunjung menemui salah seorang rekan saya, Abdi, katanya rambut Mbak Yati sudah banyak yang rontok. Anak Abdi, yang belum genap dua tahun, katanya ketakutan sekali begitu mengetahui wajah Mbak Yati sekarang. Tidak perlu saya sebutkan bagaimana perubahan wajah itu terjadi akibat kanker. Padahal beberapa bulan sebelumnya tidak demikian. Subhanallah... Kalau sudah begini keadaannya, kekuatan mana lagi yang sanggup memperbaiki kondisi fisiknya? Hanya kepada Pamilik Kehidupan lah segala sesuatunya bisa digantungkan. Adakah ini 'puncak' sebuah prestasi? Hari ini aku memang ketiban banyak berita. Sedih juga duka. Mendengar berita tentang Halim, salah seorang teman mendapatkan kerjaan baik, aku turut suka sebenarnya. Malah dia dapatkan pekerjaan yang terbaik diantara kami se-profesi. Gaji besar, rumah disediakan, tunjangan sekolah buat anak-anak hingga tiga orang jatahnya, bahkan perabotan rumah tangga juga ada tunjangannya, selain...tiket, pulang pergi ke negara asal untuk sekeluarga. Betapa bahagianya dia.... Agaknya Halim akan memetik buah kebaikan yang dia tanamkan selama ini. Alhamdulillah. Kami bertemu sekitar tiga jam sesudah berita itu hadir di telinga saya. Halim tersenyum. Kami berpelukan. Dalam hati saya juga sedih. Halim dan istrinya adalah sosok yang aktif dalam kegiatan dakwah kelompok kami. Diterimanya Halim di tempat kerja yang baru akan membuat kami kehilangan mereka, orang-orang yang begitu tulus berjuang demi tegaknya Agama Allah SWT. “Do'a anda terkabul!” kataku, yang dijawabnya “Alhamdulillah! Berkat bantuan do'a kalian semua juga!” Adakah ini 'puncak' prestasinya?

Aku pun ingat pesan AA Gym. 'Orang yang sehat adalah yang turut gembira atas kebahagiaan yang menimpa orang lain'. Sedangkan, bila sebaliknya, kita sakit hati manakala melihat orang lain yang berbahagia, itulah aib pribadi! Lahir, sekolah, kerja, nikah, dan mati. Itulah lima urutan kejadian kehidupan yang dialami oleh rata-rata umat manusia. Sebagian umat manusia ada yang kurang beruntung tidak menjalani sebagian dari rangkaian proses tersebut. Ada yang tidak mampu untuk bersekolah maupun bekerja, ada pula yang bisa sekolah namun sulit mendapatkan kesempatan kerja. Ada yang sudah kerja tanpa mengenyam pendidikan formal apapun, ada pula yang sudah sekolah, dapat kerja, tetapi gagal dalam kehidupan rumah tangga. Beberapa golongan manusia sengaja tidak menikah guna 'menyucikan diri', tidak sedikit pula manusia yang menikah dengan status pengangguran! Ada yang kesulitan mencari kerja meskipun tinggi tingkat pendidikannya, sebagaimana dokter-dokter diatas, ada pula yang mudah mendapat rejeki tanpa bersusah payah. Ada yang punya harta banyak, tetapi tidak dikaruniai anak olehNya seperti keluarga Bu Lia, ada pula yang beranak banyak tanpa harta. Ada yang masih muda, namun terserang penyakit 'ganas' seperti yang sedang menimpa Mbak Yati, ada pula yang menikmati rahmat yang berlimpah, seperti yang dialami Halim. Kelima proses kehidupan diatas memang penuh dinamika. Dari orang-per-orang tidak sama dalam menjalani dan menyikapinya. Sudah tentu ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Sebagian menyalahkan sejarah hidup masa lalu, tidak kurang yang menganggap itulah garis hidup! Yang sama adalah kesempatan. Semua manusia memperoleh kesempatan yang sama untuk berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak hatinya. Apapun bentuknya! Sekalipun hakekatnya-oleh karena sejumlah faktor dan latar belakang yang berbeda, terlepas dari kurang dan lebihnya manusia sebagai makhluk bio-psiko-sosio dan spiritual-setiap orang punya kehidupan 24 jam sehari, 7 hari per minggu, dan 12 bulan per tahun. Akan diapakan waktu yang dipunyai selama hidupnya? Allah SWT memberikan 'kebebasan' kepada manusia sepanjang menjalani proses diatas. Rangkaian hidup ini bisa kita isi dengan berbagai variasi kegiatan. Kita lah pengambil keputusannya! Ambillah contoh pada saat anda membaca tulisan ini. Bukankah kalau mau, anda pun bisa berhenti sejenak kemudian makan, minum, menelepon teman, memperbincangkan orang lain, berdoa, membaca buku, dsb? Satu hal yang perlu disadari adalah, diluar kebebasan itu, ternyata terdapat dua hal yang kita tidak kuasa mengendalikannya: yakni awal dan akhir dari proses diatas. Dua kejadian itu adalah kelahiran dan kematian. Keduanya tidak ada yang bisa mengatur ataupun mampu menolaknya. Kapan mulainya dan kapan berakhirnya proses kehidupan ini? Keduanya adalah rahasia Allah SWT. Segala kejadian yang menimpa ditengah-tengah dua peristiwa sebagai Rahasia Allah SWT ini, tidak lebih dari sebuah ujian hidup kita. Seperti Firman Allah SWT dalam Surat Ali Imran: 186, yang artinya: “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu!” Punya anak atau tidak, harta menumpuk atau miskin, sehat atau sakit, mapan

dengan pekerjaan atau pengangguran, semuanya akan menjadi 'sederhana' sekiranya belajar memahami bahwa semua ini hanyalah 'cobaan' yang diujikan oleh Allah SWT. Prestasi akan kita raih bilamana kita sanggup mengatasi segala persoalan diatas. Biarpun sukses merebut kursi kepresidenan, sebutan martabat tertinggi di negeri ini, apabila kita tidak berhasil menyikapinya sebagai sebuah ujian (Baca: amanah), hakekatnya gagal lah kita dalam mencapai puncak prestasi. Ada baiknya kita memang tidak perlu terlalu resah. Apapun yang terjadi pada diri ini, cobalah kita kembalikan semua persoalannya kepada Zat Yang Maha Menguasai segala permasalahan hidup, agar supaya kehidupan ini menjadi 'mudah'. Itulah 'puncak' prestasi yang sebenarnya. Firman Allah SWT dalam Surat Al Baqarah: 155: yang artinya : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orangorang yang sabar.” Wallahu a'lam! Syaifoel Hardy shardy at emirates dot net dot ae Membalut Duka, Mengemban Amanah Publikasi: 22/06/2004 10:14 WIB 'Beruntung' para pengemis di negeri kita tidak dilarang oleh pemerintah untuk memintaminta. Coba seandainya mereka dilarang, akan ke mana mereka meminta sebagian dari 'hak-hak' mereka? Sejak terpuruknya bangsa kita enam tahun lalu, jumlah pengemis memang bukannya semakin berkurang. Di desa kami, per hari, tanpa melebih-lebihkan, tidak kurang dari lima pengemis akan mendatangi setiap rumah, khususnya yang tidak berpagar, dan... tentu saja kelihatan 'punya'. Hari Jum'at, lebih ramai lagi. 'Ladang' beramal? Itu bagi kita yang menyadari. Sayangnya, tidak sedikit para pengemis ini yang menjadikan pekerjaannya sebagai sebuah 'profesi'. Begitu kata sementara orang. Bagi mereka yang punya duit, akan dibangun rumah besar dan bertembok tinggi. Kalau mungkin, akan tertulis di depan pintu 'Dilarang Parkir'. Maksudnya kira-kira begini: para pengemis hendaknya jangan dekatdekat! Di Dubai-United Arab Emirates, dalam dua tahun terakhir ini 'kebijakan' pemerintah terhadap para pengemis memang ketat sekali. Kasarnya, tidak ada kata 'maaf' untuk mereka. Jika tertangkap oleh petugas, karena para pengemis ini biasanya para pendatang, konsekuensinya tidak tanggung-tanggung: dibawa ke kantor polisi, kemudian dideportasi. Maklum, sebagai sebuah negara kaya, apalagi Pemerintah Dubai tengah berupaya menarik wisatawan sebanyak mungkin sebagai the hub of the Middle East, mereka berusaha menciptakan suasana kota yang 'bersih'. Tidak terkecuali dari para pemintaminta ini.

Tapi lepas sholat Maghrib tadi aku menyaksikan sebuah pemandangan lain. Dua orang, sepasang suami istri tengah duduk di atas sebuah becak, katakanlah begitu karena di sana tidak ada angkutan jenis ini. Terkesan rakitan sendiri. Ketikaaku keluar melangkahkan kaki dari masjid, terlihat seorang Arab tengah merogoh kantongnya, kemudian sedikit membungkukkan badannya. Didekatinya mereka dan ditaruhnya kejumlah dirham ke atas telapak tangan yang tengah menengadah. Tangan itu milik seorang ibu berjilbab, mengenakan abaya berbunga-bunga, warna-warni biru, kuning dan putih, tapi lusuh. Ibu yang saya perhatikan menutup semua anggota badannya ini hanya kelihatan dua belah matanya, sebagaimana umumnya pola berpakaian sebagian muslimah di UAE. Dari penampilan sang suami, nampaknya mereka berkebangsaan Pakistan. Sesudah orang Arab pertama yang memberikan sejumlah duit pada perempuan tersebut, saya lihat jamaah-jamaah yang baru saja keluar dari masjid melakukan hal yang sama. Tahu kenapa mereka begitu tergerak mendermakan sebagian rejekinya kepada sepasang suami istri ini? Terlepas dari kekuatiran saya akan ditangkapnya mereka oleh petugas pemerintah, si perempuan setengah baya yang sedang menengadahkan kedua tangannya itu ternyata hanya memiliki separuh anggota badan! Saya melihatnya, apa yang mendorong mereka melakukan pekerjaan ini lebih didasari oleh barangkali niat besar sang suami dalam menjaga amanah yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya dalam memelihara istrinya yang tanpa kedua belah kaki. Subhanallah... betapa beruntungnya kita yang memiliki anggota tubuh yang lengkap. Sayangnya, kebanyakan dari kita kurang pandai bersyukur atas nikmat besar ini. Astaghfirullah... Dalam perjalanan ke rumah, selepas Maghrib tersebut, pikiranku jadi melayang jauh ke nasib yang menimpah seorang rekan saya. Tentu saja dia bukan seorang pengemis. Dia bahkan secara materi boleh dikata punya. Yang hampir sama adalah, apa yang dialami oleh mendiang salah seorang putera rekan saya. Dia lumpuh total! Anggota badannya lengkap, akan tetapi sang anak tidak kuasa bahkan untuk mengangkat kepalanya sendiri. Dan itu sudah berlangsung selama tujuh belas tahun! Subhanallah... As you know, I left Dubai purely because of my disabled child's health weakening. Everything Allah knows, and days are leaving behind me only to make prayers to Allah for my son's day after-Paradise. Demikian bunyi bait kedua surat dari Abdul Azeem, ayah anak cacat tersebut, rekan saya, yang saya terima tanggal 13 November 2003 lalu. Waktu itu bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Dia tinggalkan Dubai, balik ke kampung halamannya di sebuah negara bagian Kerala, India. Sedangkan surat pertama yang saya terima darinya kurang lebih empat bulan sesudah kepulangannya ke India. Saya tidak sempat menemuinya karena ketika dia berangkat ke India, saya sedang cuti tahunan. Abdul Azeem, 52 tahun, ayah 4 orang anak, yang saya kenal adalah orang yang taat beribadah, straight forward, jujur, dan suka menepati janji. Itulah beberapa karakter mulia yang saya ketahui tentang dia. Kepribadian dan perilaku baik ini yang membuat saya

tidak bisa melupakannya sebagai seorang teman. Apalagi pada jaman sekarang di mana sulit mencari teman. Seperti kata Rhoma Irama dalam lagu lamanya, teman hanya mendekat bila uang melekat. Namun lain halnya dengan orang setengah tua yang satu ini. Pada awal kami bertemu, katanya, saya mengingatkan dia akan seorang kenalannya asal Singapore. Maklum, Singapore dan Indonesia kan satu rumpun, jadi penampilan fisik antara temannya dan saya banyak kesamaan, seperti halnya orang India dan Pakistan. Hal itu dituangkannya dalam suratnya: You perhaps are planning to leave the UAE. Earlier, I had a Singaporean friend, named Abdul Hameed, who worked for Armed Forces-Dubai as Aeronautical Engineer. Very nice friend, very co-operative, pious. But later, he left to the States for higher studies. Alhamdulillah he is now in Australia working for some airlines company. For a prolonged period we were in touch. But finally, I don't know. How I missed him and his whereabout, I have no idea...! Seperti yang saya kemukakan diatas, kepulangannya ke India memang semata-mata karena kondisi kesehatan anak lelaki yang ketiga yang semakin memburuk. Sementara di rumah hanya istrinya yang merawat. Kecuali yang satu ini, ketiga anak-anaknya, alhamdulilah sehat, mereka sibuk dengan kegiatan sekolahnya. Saya pernah menyarankan bagaimana jika menyewa seorang baby sitter saja guna membantu istrinya merawat puteranya yang memang membutuhkan bantuan penuh. Dengan begitu beban berat sang istri bisa lebih ringan. Nampaknya sang istri keberatan dengan usulan ini. Keberadaan Abdul Azeem sendiri yang jauh di luar negeri bukannya tanpa alasan. Sebagai seorang kepala keluarga, dialah yang bertanggungjawab memikul beban finansial keluarganya, termasuk beaya sekolah ketiga anaknya yang mulai membengkak. Oleh sebab itu, dia dihadapkan kepada dilema yang berat sekali. Tinggal di luar negeri memberikan keuntungan kepada keluarganya dari segi keuangan. Namun nun jauh di sana, anak lelakinya yang ketiga, membutuhkan perawatan penuh. Abdul Muhymin namanya, terlahir dengan cacat bawaan yang membuat dia lumpuh. Dalam usia yang ke dua belas, ketika pertama kali saya kenal Abdul Azeem, dari fotonya, penampilan Abdul Muhymin tidak ubahnya anak umur 2 tahun yang tidak mampu bergerak sama sekali, kecuali menangis apabila kencing atau buang air besar. Saya mengetahuinya ketika beberapa saat sesudah kami kenal, Abdul Azeem meminta saya untuk menemaninya mencari beberapa perangkat peralatan anak-anak cacat. Saya sendiri dibuat agak heran sebenarnya waktu itu. Akhirnya saya ketahui manakala dia beberkan semuanya. Sebagai seorang teman, saya cukup terharu dibuatnya. Abdul Muhymin memang pernah tinggal di Dubai bersamanya. Hanya saja, biaya perawatan fisioterapi yang semakin mahal membuat Abdul Azeem memutuskan dikirimkan anaknya ke India dimana beaya pengobatan lebih murah. Sementara dia sendiri pada akhirnya kontrak, gabung dengan bujangan-bujangan lainnya. Itung-itung sambil menghemat pengeluaran.

Setiap bulan Abdul Azeem selalu mengirim paket-paket kebutuhan anak-anaknya. Mulai dari sabun mandi, susu, pakaian, hingga pampers. Layaknya kaum lelaki India lainnya, merekalah yang mengurusi sebagian besar kebutuhan rumah tangga. Sementara sang istri tinggal di rumah, sang suami yang berangkat ke pasar, belanja sayur-mayur, lauk-pauk, hingga kebutuhan konstruksi bangunan. Ini mereka lakukan dengan alasan tidak aman jika kaum wanita yang harus keluar rumah. Makanya tidak heran, jika setiap akhir bulan, istrinya mengirim catatan kebutuhan yang diperlukan. Abdul Azeem, yang aktif dalam kegiatan dakwah di Islamic Cultural Centre, tidak kalah sibuknya dengan sang istri. Meski jauh dari keluarga, perhatian yang diberikan terhadap anak-anaknya, tidak bedanya dengan perhatian dan kegiatan istrinya. Yang membedakan, mereka tidak tinggal bersama. Pagi itu, entah apa yang mendorong, saya coba ubungi dia lewat telepon. "He is out!" suara disana, kedengarannya dari salah satu anak lelakinya, menjawab. "I will call again!" saya coba meyakinkan. Tiga hari kemudian, saat saya sedang bekerja, telepon berdering. Innalillahi wa inna ilaii raji'un. Berita yang saya terima: putera Abdul Azeem berpulang ke rahmatullah! Abdul Muhymin, anak berusia 17 tahun yang tidak pernah mengenal arti keindahan permainan anak-anak, bahkan tidak pernah tahu pula perbedaan hitam dan putih, biru atau hijau, menyisahkan kenangan yang tidak akan pernah bisa dilupakan bagi kehidupan Abdul Azeem. Setidaknya demikianlah yang bisa saya tangkap lewat surat yang saya terima sekitar dua minggu sepeninggal puteranya. Sorry. Due to my son's demise, I could not reply your letter as decided. However, you understand my situation. To console my wife is little bit difficult, as you know she is the only lone person to support him 24 hours casualty. Please pray for my late son, Abdul Muhymin, rest in peace! Amanah yang diberikan Allah SWT kepada kita memang bermacam-macam bentuknya. Adakalanya sebuah kenikmatan berupa harta kekayaan, martabat, atau anak-anak. Tidak jarang pula, malah sebaliknya, berupa cobaan hidup. Kehidupan itu sendiri adalah sebuah amanah, apakah didalamnya kita kaya, miskin, bahagia atau menderita. Amanah tidak hanya berlangsung satu dua minggu atau dalam hitungan bulan saja. Bisa bertahun-tahun, tidak jarang pula seumur hidup. Yang menjadi persolan bukanlah bentuk dan lamanya. Akan tetapi bagaimana menyikapi amanah ini. Apa yang telah dihadapi oleh Abdul Azeem diatas adalah salah satu bentuk amanah. Allah SWT memberikan cobaan kepadanya dengan menghadapi buah hatinya sendiri, selama 17 tahun didera nestapa. Sebuah kurun waktu yang tidak singkat. Secara pribadi, apabila saya dihadapkan kepada persoalan yang serupa, bisa saja membuat emosi ini tidak lagi stabil, misalnya mudah tersinggung, marah, dsb. Manusia memang lemah! Duka yang membalut Abdul Azeem dan keluarganya, saya melihatnya sebagai sebuah hikmah. Dibalik segala derita yang menimpa mereka, hakekatnya betapa besar sebenarnya limpahan kasih sayang Allah SWT, dengan memberikan cobaan, sekaligus

kesempatan beramal 24 jam sehari, selama 17 tahun! Buahnya, kini Allah SWT telah 'mengambil' hak milikNya, Abdul Muhymin, kembali menghadapNya. Kembali ke Atas sana, sebagai bunga Surga. Isyaallah! Syaifoel Hardy shardy at emirates dot net dot ae Mimpi Indah di Atas Awan Publikasi: 15/06/2004 16:15 WIB eramuslim - Seperti biasa, saya ayunkan kaki ke ruang kerja saya. Lalu tak lama berselang, kunyalakan komputer dan aktifitas rutin pun mulai menggeliat. Kala itu jarum jam telah mulai beranjak dari angka 8. Sementara itu, dering telepon mulai bersahutan, air putih tampak nongol di atas baki si petugas, dan obrolan khas pengamat jadi-jadian pun mengalir dari mulut-mulut yang penuh cemas dan harap. Cemas akan calon presiden dan wakilnya yang buruk niat dan buruk akhlak, harap akan calon presiden dan wakilnya yang jujur, sederhana dan adil. Klise memang. Tiba-tiba, seseorang mengejutkanku. “Kamu sudah lihat koran hari ini, De,” sapa atasanku. Terang saja saya penasaran. “Memangnya ada apa, Pak?” sahutku. “Coba lihat gambar ini, dech” pintanya. Lalu kulihat dan saya baca. ‘Seorang cawapres tampak terlelap di kursi pesawat pribadinya usai melakukan kampanye’. Demikian tulisan surat kabar itu. Selintas berita itu tak ada yang aneh, alias biasa-biasa saja, gumamku. Toh tak ada salahnya ia punya pesawat pribadi senilai miliaran rupiah seperti kaum jet set di Amerika atau Eropa sana, atau seperti Emir-Emir Arab si raja minyak yang tak punya empati lagi terhadap saudara-saudara searab mereka di Palestina dan Irak yang tengah hidup melarat. Lagi pula burung besi pribadi itu dibeli dengan uang mereka. Tapi tunggu dulu, meminjam gaya bahasa Al-Quran, meski dalam konteks yang sama sekali berbeda, “Farji’il basharo”. Maka lihatlah berulang-ulang. Maka kita akan temukan pesan moral yang teramat memilukan dan menorehkan luka sangat dalam bagi mereka yang masih memiliki sensitifitas dan kepekaaan sosial, atau bahasa pinternya sense of crisis. Sesungguhnya luka kepedihan hati ini sudah lama menganga, oleh sebab gelombang kerakusan, ketamakan dan nafsu kekuasaan yang makin menggurita. Bagaimana tidak, Indonesia kita tercatat sebagai negara paling korup nomor 6 di dunia dan terkorup nomor 2 di kawasan ASEAN, parahnya lagi, seperti tak ingin ketinggalan kereta, para anggota dewan yang terhormat pun ikut latah berkorupsi secara berjamaah. Aji mumpung. Itulah prinsip mereka. Barangkali, bapak cawapres yang terlelap di pesawat pribadinya tengah berpikir dalam mimpinya: bagaimana korupsi ditumpas habis, 35 juta orang miskin kian berkurang, setiap bayi yang lahir tak lagi punya hutang Rp 8 juta, perampokan hutan tak terdengar

lagi, 10 juta orang pengangguran dapatkan pekerjaan, bocah-bocah tak perlu lagi bunuh diri lantaran malu tak mampu bayar SPP, dan seterusnya… Tapi sayang itu sebatas terkaan saja, mimpi lagi. Faktanya, ketika gong kampanye mulai ditabuh, maka kekayaan para capres dan cawapres tak ubahnya angka-angka yang membuat rakyat mengernyitkan dahi, dari yang ratusan miliar sampai ratusan juta rupiah. Bahkan, sang kiai, yang juga kandidat wapres mempunyai kekayaan layaknya pejabat, Rp 7 miliar lebih. Luar biasa. Belum lagi dana kampanye yang jor-joran, sampai-sampai satu pasangan telah menghabiskan Rp 4,5 miliar! “Ahh…andai saya hidup di zaman Abu Bakar atau Umar Bin Abdul Aziz, betapa bahagianya aku, saya tak perlu lagi ambil pusing melihat tingkah mereka yang menyakitkan, tak perlu lagi mencari-cari ‘kepekaan sosial’, yang semakin hari semakin langka saja pada diri para pejabat kita,” khayalku. Tiba-tiba ingatanku mundur ke belakang, 1.400 tahun lalu. Tersebutlah putra mahkota Yaman tiba di Madinah dengan pakaian mewahnya. Lalu dilihatnya sang presiden Abu Bakar hanya mengenakan dua lembar kain warna cokelat, yang selembar menutupi pinggang dan selembar lainnya menutupi sisa badannya. Putra mahkota itu menangis dan langsung melempar pakaian mewahnya sembari berkata, “Dalam Islam, saya tidak menikmati kepalsuan ini.” Pada suatu malam, ketika maut menjemput, sang presiden Abu Bakar bertanya pada putrinya Aisyah, berapa jumlah kain kafan Nabi. Aisyah menjawab, “Tiga.” Abu Bakar langsung menyuruhnya untuk lekas mencuci dua kain yang tengah ia pakai, dan disuruhnya Aisyah membeli sisa satu kain. Tetes air mata Aisyah tak terbendung lagi. Pasalnya, sebenarnya sang ayah tak semiskin itu. Tapi Abu Bakar malah berkata, kain yang baru lebih berguna untuk orang yang hidup ketimbang untuk orang yang telah meninggal. Lalu, lembar puncak kesahajaan itu kembali bersinar. Adalah Umar Bin Abdul Aziz yang menolak kendaraan dinas kerajaan yang serba wah pada zamannya ketika ia dinobatkan sebagai presiden. Ia berkata, “Aku tak memerlukannya. Jauhkanlah kendaraan itu dariku. Bawalah keledaiku ke sini. Itulah kendaraan yang cocok untukku”. Akhirnya, tahukah Anda, Umar Bin Abdul Aziz sang penguasa negara adidaya kala itu ternyata tak punya cukup dana untuk menunaikan ibadah haji, sampai suatu ketika asisten beliau mengatakan bahwa jumlah uang hasil gajinya sebagai presiden telah cukup untuk biaya perjalanan haji. Namun Umar menjawabnya, “Telah lama kami pergunakan uang ini, sekarang umat Islam berhak menikmatinya.” Lalu ia memasukkan hasil pendapatannya ke kas negara. Subhanalloh. Dan saya pun menghela napas sembari bergumam, andai kita hidup di zaman mereka, tentulah tulisan tentang pesawat sang cawapres ini tak perlu. Tapi nyatanya kita memang tengah hidup dengan mereka yang menyebalkan, atau meminjam istilah Eef Syaifulloh Fatah-Bangsaku Yang Menyebalkan.

Surat kabar itu kutatap kembali, tampak dengan santainya ia terlelap di atas awan tengah dimanjakan oleh pesawat pribadinya, sementara nun jauh di bawah sana, bocah itu tak lagi riang berteriak, “Kapal… kapal… minta duit, dong.” Asal tahu saja, kini bocah itu telah tiada karena bunuh diri. Pasalnya, ia tak mampu lagi bayar SPP. Dan kini, hanya satu kata yang tersisa: selamat mimpi indah di atas awan sana. Wallahu ‘Alam Abu Walad lias76 at maktoob dot com Morning Publikasi: 09/06/2004 10:40 WIB Mentari Iizuka menyapa ramah, sinarnya menyelinap dari awan-awan yang bergelayut manja. Cericit suara burung, kepakan lembut sayap kupu-kupu dan bunga yang tersenyum merekah, laksana goresan sebuah lukisan pagi yang indah. Desir angin pun bertiup semilir mendayu, merayu sisa-sisa embun yang berjuntaian laksana kilauan intan berlian. Pagi mengawali denyut nadi kehidupan, menggerakkan jiwa dan raga untuk menganyam helai demi helai berjuta harapan. Bekerja dan berusaha demi masa depan, bagaikan sebentuk cinta yang ngejawantah bagi setiap manusia. Sepasang kakiku pun melangkah, menyusuri sebuah jalan kecil beraspal. Dari balkon lantai dua kokusai kouryuu kaikan, lambaian istri dan anak masih terlihat jelas, memberikan kekuatan cinta untuk meraih cita-cita. Tangan lalu terangkat dan membalas lambaian, tak lupa muaah... penuh kemesraan. "Hmm... mereka lagi," berkata dalam hati seraya tersenyum saat melihat dua sosok tubuh berjalan mendekat. Mereka adalah obachan dan buah hatinya yang pernah memberikan siluet keajaiban cinta seorang ibunda. Lelaki itu masih saja berjalan goyah, mengikuti gerak kepalanya yang berukuran besar dan dicukur botak untuk turut pula bergoyang seirama. Matanya sipit dan turun, serta dagu yang kecil membuat lidah terlihat menonjol keluar. Tubuh pendeknya berbalut kaos berwarna biru dengan nomor punggung 51. Mungkin ia mengidolakan pemain baseball Ichiro Suzuki yang kini bermain di Seattle Mariners itu. "Ohayou gozaimasu," aku menyapa seraya sedikit membungkukkan tubuh. "Morning," balas anak laki-laki itu dengan ramah walaupun nada suaranya terdengar gagap. Aku tersenyum lebar karena balasan sapaannya. Mereka terus berjalan, sementara aku masih saja mengamati sambil terus tersenyum mengingat sapanya barusan. Kemudian mereka terlihat melambai-lambaikan tangan sambil tertawa-tawa kecil kepada istri dan anakku yang masih berdiri dari atas balkon. Perlahan, senyum berganti haru.

Laki-laki itu memang anak istimewa, walaupun terlahir dengan tubuh yang kurang normal. Namun sikap yang ramah kepada siapa saja, bahkan kepada orang asing yang tak pernah dikenal menunjukkan kebeningan hatinya. Hati yang lembut itu pula yang pernah ku lihat membelai-belai seekor kucing liar dengan binar mata penuh kasih sayang, walaupun dengan koordinasi gerakan tangan yang tampak lemah. Kekurangan yang tampak pada raga seseorang, memang tak akan pernah dapat menyembunyikan kelembutan yang terpancar dari jiwanya. Dengan cacat tubuhnya, ia mungkin tak akan pernah bisa membuat origami yang indah dan beraneka ragam bentuknya. Ia pun mungkin harus melupakan ramainya sorak-sorai tepukan dan cucuran keringat saat undoukai. Bahkan harus dikuburnya impian untuk menjadi pemain baseball terkenal seperti sang idola. Ia juga tak pernah mengenal indahnya ajaran Islam, bahkan aku yakin ia pasti tak percaya dengan adanya Tuhan. Namun dengan melihatnya, ia bisa membuatku tersenyum karena keramahan tegur sapa dan tingkah lakunya. Bukankah banyak orang yang terlahir normal namun belum tentu mau bertegur sapa dan bersikap ramah terhadap sesamanya? Lelaki itu memang tercipta dengan segala kekurangan, namun melihatnya membuat siapa saja akan memuji keadilan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan dengan keistimewaan yang ada pada dirinya, ia memancarkan hikmah yang indah bagaikan mutiara. Lalu, dapatkah orang lain pun ingat dan memuji kebesaran-Nya saat melihat diri kita? SubhanaLlah... Maha Suci diri-Mu ya Allah. Dari beragam ciptaan, Engkau ajarkan pula berjuta hikmah. WaLlahua'lam bi shawab. -Abu AufaCatatan: - Iizuka: nama sebuah kota kecil yang terletak di tengah-tengah Fukuoka Prefecture, Pulau Kyushu, Jepang (http://www.city.iizuka.fukuoka.jp/english/). - Kokusai kouryuu kaikan: International House. - Obachan: wanita berumur, setengah tua. - Ohayou gozaimasu: selamat pagi. - Origami: seni melipat kertas yang berasal dari awal abad ke-8 di Jepang. - Undoukai: pesta olahraga yang biasa dilakukan di sekolah-sekolah. Mujahid Ngampar Publikasi: 01/06/2004 08:40 WIB "A, ini ada surat dari saya, tapi jangan dibuka, nanti saja dibacanya setelah Aa tiba di Bandung."

Demikian ucapan yang diucapkan teman saya, mengutip ucapan istrinya yang saat ini sedang ada di Tangerang di rumah orang tuanya, mengawali perbincangannya dengan saya beberapa hari yang lalu, ketika kami bertemu di acara kajian rutin pekanan. Maka setelah di Bandung, dibacalah surat tersebut yang merupakan surat dari istrinya yang sedang menunggu saat-saat kelahiran anak pertama mereka. "A, bila Allah menakdirkan saya meninggal pada saat melahirkan nanti, saya rela meninggalkan dunia ini asal anak kita selamat. A, bila saya meninggal nanti, titip anak kita, jaga dia dengan baik," demikian salah satu isi surat dari istrinya itu. Maka menangislah si Aa tadi setelah membaca surat dari istrinya. Air mata seorang lelaki, air mata seorang suami, air mata seorang calon bapak yang sedang menunggu dengan harap-harap cemas akan kelahiran anak pertamanya, akan keselamatan istri tercintanya yang baru satu tahun dia nikahi. Karena dia tahu bahwa proses kelahiran anak pertama adalah sangat beresiko, bahkan setiap proses melahirkan anak, nyawa ibu dan bayi adalah taruhannya Demikian sekelumit cerita dari teman saya, ketika akhirnya dia bercerita tentang kondisi terakhir dirinya. Sangat terharu saya mendengar ceritanya. Saya bisa membayangkan bagaimana kalau saya menjadi dia, walaupun saya belum pernah menikah. Kemudian dia melanjutkan ceritanya, "Akhi... sekarang saya sedang berusaha mencari tambahan uang, untuk biaya persalinan istri saya nanti. Sekarang saya beralih sementara berjualan kantong kresek, mengedarkan ke toko-toko kecil. Alhamdulillah kelihatannya cukup prospektif, walaupun belum laku banyak," ungkapnya. "Mmm...," guman saya dalam hati. Yang saya tahu bahwa dia berprofesi sebagai pedagang keliling, berjualan dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu emperan jalan ke emperan jalan lainnya, dari satu emperan masjid ke emperan masjid lainnya, dengan menghamparkan tikar dan kemudian menggelar barang dagangannya. Dia cukup senang ketika kami memanggilnya dengan sebutan "Mujahid Ngampar". Pahamlah saya kemudian bahwa dia sedang kesulitan mencari bekal buat persalinan istrinya yang tinggal dalam hitungan hari. Pahamlah saya kemudian ketika beberapa waktu yang lalu dia menawar-nawarkan VCD Player bututnya pada kami. Pahamlah kemudian saya ketika dia menawar-nawarkan topi rimba-nya, yang kemudian saya beli dengan harga 5.000 perak. Pahamlah kemudian saya bahwa itu semua dilakukannya untuk mengumpulkan bekal buat persalinan istrinya, di samping tentunya untuk menyambung hidupnya sekeluarga, walaupun untuk makan ala kadarnya. "Ya Allah, sungguh Engkau telah memberikan pelajaran berharga bagi saya lewat cerita teman saya ini."

Terkadang saya merasa paling menderita ketika tidak makan 3 kali sehari, padahal baginya makan roti seharga 500 perak sehari sekali adalah hal yang lumrah . Terkadang saya merasa susah hati ketika tidur bantalnya sedikit tidak empuk, padahal dia tidur di mesjid beralaskan lantai yang dingin sangatlah sering. Kadang saya merasa bangga sudah berdakwah dengan mengirimkan SMS berisi penggalan Hadist atau kutipan ayat al-Qur'an, yang belum tentu sudah saya amalkan. Padahal dia, kesulitan ekonomi tidak menghalanginya untuk berdakwah secara real di masyarakat, bahkan cukup banyak dia memiliki binaan dakwah, padalah usianya masih cukup muda, 23 tahun. Kadang saya... ahhhh... malu rasanya untuk mengungkapkan semuanya. Ya Allah... Saya takut kenikmatan yang Engkau berikan saat ini adalah untuk membalas sedikit amal yang pernah saya lakukan, dan di kemudian hari ketika nyawa ini dicabut, sudah impas, tidak memiliki amal kebaikan, hanya setumpuk dosa yang saya bawa sebagai beban di kemudian hari nanti. Astagfirullah... Ya Allah, ampunillah dosaku. Sangat mungkin kondisi teman saya tadi adalah cara Allah untuk menghapus dosanya, sehingga kemudian ketika dia meninggal nanti, dia sudah tidak punya dosa lagi, hanya tumpukkan amal kebaikan yang dia bawa nanti. Allahu a'lam "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (Al Baqarah-286) (ish) ~ IdE ~ a_hadiana at yahoo dot com. (untuk seorang al-Akh, saudaraku... yang sedang menunggu kehadiran buah hati pertamanya, semoga Allah melancarkan proses kelahiran anaknya, menyelamatkan istri dan anaknya) Mari Berhenti Sejenak Publikasi: 31/05/2004 10:45 WIB Perjalanan hidup ini melelahkan, ya sangat melelahkan. Betapa tidak, di saat idealisme kita dihadapkan pada realita yang beraneka ragam corak dan warnanya, kita harus bertahan karena kita tidak ingin tujuan hidup ita yang jauh ternodai dengan kepentingan sesaat. Ini bukan soal halal atau haram terhadap dunia dengan segala keindahannya, tapi soal menyikapinya agar tidak tergiur dan terpedaya olehnya.

Gambaran ini dapat kita rasakan di saat harus mengatakan "tidak" di hadapan mereka semua yang berkata "iya". Ketika ramai-ramai orang bicara ini dan itu dengan segala argumentasinya, tuntutan idealisme kita membisikkan kita untuk "diam", tatkala orang lain menilai bahkan mengecam kita dengan tuduhan ini dan itu, idealisme kitapun hanya mengisyaratkan kita untuk sekedar senyum tanpa kata-kata. Di saat orang beretorika dengan segala keahlian bahasanya, idealisme kitapun hanya meminta kita untuk membaca pikiran di balik pikiran. Dan ketika orang ramai-ramai memperbincangkan dunia dengan segala kenikmatannya, idealisme kitapun hanya mengalunkan satu kata, "qonaah". Itulah idealisme kita di hadapan mereka. Terkadang tanpa terasa idealisme kita tergeser lantaran pikiran kita terbawa arus yang kita tidak menyadarinya. Belum lagi kondisi jiwa kita yang terus bergejolak mempengaruhi pikiran kita. Pikiran-pikiran itu selalu datang silih berganti tanpa kenal henti seiring dengan perjalanan hidup ini. Memang, ini semua kita pahami sebagai sunnah kehidupan. Gelombang dan badai harus dipahami sebagai ladang ujian, problematika hidup merupakan hal tidak bisa dipisahkan dari hidup, pahit getir menjadi bumbu yang harus dirasakan oleh setiap kita, jatuh bangun adalah tangga yang harus dilalui dalam menggapai sebuah cita-cita. Letih, lelah itulah yang sering kita rasakan, kita sering merasakan kejenuhan, bosan bahkan tidak peduli dengan kondisi. Namun jangan pernah ada perasaan pesimis apalagi putus asa karena di balik semua itu pasti ada sesuatu yang dapat kita jadikan pengalaman yang berarti. Dan yang kita perlukan adalah berhenti sesaat. Berhenti bukan berarti selesai atau sampai di sini. Berhenti untuk merenungi kembali perjalanan yang telah kita lalui, berhenti untuk memompa kembali semangat beramal, berhenti untuk mencas batrei keimanan kita agar tidak redup. Kita butuh waktu untuk melihat kondisi jiwa kita agar tetap stabil dan tahan dalam menghadapi segalanya. Kita terkadang lupa bahwa ada yang harus kita tengok dalam diri kita, "ruhiyah" kita. Kondisi ruhiyah kita yang selalu membutuhkan suasana yang teduh, tenang sehingga ia menjadi kekuatan yang akan melindungi jiwa kita dari berbagai rintangan yang akan menghalangi kita. Kita memerlukan nuansa ruhiyah yang nyaman agar dapat berpikir jernih dan tetap semangat menjalani hidup ini. Kita butuh ketegaran jiwa dalam menghadapi hiruk pikuk hidup. Inilah yang senantiasa diajarkan oleh Muadz bin Jabal RA kepada sahabatnya dengan ungkapannya yang menyejukkan hati "mari duduk sesaat untuk beriman". Berhenti sejenak untuk menengok kembali kondisi keimanan agar tetap terjaga. Karena segala yang kita alami dalam hidup harus dihadapi dan bukan lari darinya, ingatlah bahwa lari dari masalah tidak akan menyelesaikan masalah itu, bisa jadi justru akan menambah masalah baru. Memperbaharui keimanan akan membawa kita untuk memahami hakekat hidup ini dengan segala problematikanya. Mari kita sempatkan untuk selalu memperbaharui keimanan kita ditengah kesibukan dan hiruk pikuk kehidupan Adih Amin, Lc.

adihamin at arabia dot com. Senja di Nasr City, Kairo, 29 Mei 2004 Hadiah Kesabaran Publikasi: 24/05/2004 12:07 WIB Rumah yang mereka tempati sederhana. Sesederhana penghuninya. Bukan milik mereka berdua, namun rumah dinas. Shaila, perempuan yang tengah hamil tua itu tersenyum menyambut kedatangan kami berlima, tamunya. Kami memang sudah lama tidak bersua, bahkan semenjak Shaila belum menikah dengan Rais, yang masih kuliah hingga sekarang. "Alhamdulilah kami bisa menempati rumah ini!" kata Shaila mengawali bincang-bincang kami, sementara saya melihat-lihat sudut-sudut ruangan yang nampaknya belum selesai dibersihkan. Maklum baru ditempati. Sambil melemparkan pandangan kesana-kemari, dalam hati saya berpikir, betapa beratnya membersihkan rumah yang lama nampaknya tidak ditempati ini. Rumah dinas itu konon sudah lebih dari sepuluh tahun tidak dihuni. Bisa dibayangkan betapa beratnya kalau kita harus membersihkan dan merapikan perabotan dalam bulan-bulan pertama. Kelelahan yang saya bayangkan ini ternyata tidak tergambar dalam raut muka si empunya rumah. Sebaliknya, Shaila dan Rais justru penuh senyuman yang membuat kami makin betah tinggal disana. "Rumahku Surgaku". Barangkali begitu prinsip mereka! Pertemuan Shaila dan Rais terjadi karena si Rais aktif mengurusi pengajian kelompok. Demikian pula Shaila. Ada 5 orang pemuda sebaya Rais yang barangkali karena semangatnya sebagai pemuda dan pelajar, sehingga urusan pengajian menjadikan sebagian kegiatan yang menyenangkan. Tinggal di luar negeri, belajar sambil beribadah, mengurusi pengajian kelompok masyarakat mereka. Rais dan Shaila dipertemukan oleh Allah SWT karena kegiatan positif ini. Tidak ada satu kekuatanpun yang mampu menghalangi yang satu ini, jodoh, jika sudah dikehendaki olehNya. Meski si Shaila sudah bekerja dan Rais masih sekolah. Meski keduanya belum bisa dikatakan siap secara finansial. Meski si Shaila waktu itu diliputi kebingungan kelak akan tinggal di mana jika sudah menikah. Dan masih banyak "meski-meski" lainnya. Allah SWT-lah yang menentukan. "Kun..! (Jadilah!)" maka, jadilah mereka sepasang suami-istri yang sah. Subhanallah! Shaila semula tinggal di sebuah asrama bujangan milik pemerintah. Dua kamar dalam satu flat. Sesudah pernikahannya dengan Rais, Shaila memang belum mampu untuk pindah keluar dari asrama dan mencari pondokan sendiri. Sementara Rais yang masih sekolah, juga tinggal di asrama pelajar. Jadi sebagai suami-istri, mereka "mencuri-curi" kesempatan. Shaila menyadari bahwa jikalau Rais datang ke asramanya, meski mereka sudah menikah, teman se-flat Shaila nampaknya kurang senang. Naluri kewanitaan Shaila yang membaca suasana ini. Sehingga Rais hanya datang di kala teman Shaila sedang bertugas

atau tidak ada di rumah. Kalaupun terpaksa, biasanya Shaila melarang Rais untuk tidak keluar kamar selagi teman Shaila ada di kamar sebelah. Entah apa yang membuat Shaila sepertinya takut sekali terhadap rekan sekerja di asramanya. Yang jelas Shaila memang tidak ingin menyakiti hatinya, sekalipun Rais adalah suami Shaila yang sah. Waktupun terus berlalu. Nampaknya teman se-flat Shaila, sebut saja Ira namanya tidak betah melihat "pemandangan" di depannya. Shaila menyadari betul situasi ini. Kamar yang ditempatinya memang bukanlah disediakan untuk keluarga. Adalah ilegal jika keluarga tinggal di dalam asrama. Shaila tahu betul akan peraturan yang satu ini. Hanya saja, karena Shaila sudah berumah-tangga, sementara sang suami juga tinggal di asrama pelajar, satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi hal ini adalah harapan Shaila terhadap rekan se-flatnya untuk mengerti akan keadaannya. Ternyata harapan Shaila tak tersambut. Perang dingin pun terjadi. "Kan sudah aku kasih tahu, kenapa mau juga masih bawa suamimu ke sini," tanya Ira suatu hari. Menyadari akan kesalahan ini, Shaila hanya diam. "Kalau kamu masih ulangi lagi, saya akan laporkan, bahwa kamu membawa orang lain ke kamar!" ancam Ira terhadap Shaila. Shaila yang penakut, semakin gelisah mengingat ancaman-ancaman dan sikap yang semakin tidak bersahabat dari Ira semenjak pernikahannya dengan Rais. Padahal dulu sikap Ira tidaklah demikian. Bahkan kala menyelenggarakan pengajian bulanan atau arisan bersama, mereka selalu nampak rukun dan bekerja sama menangani segala kebutuhan kelompok. Apa yang menyebabkan si Ira begitu berbeda adalah di luar jangkauan Shaila. Makanya Shaila amat sedih dibuatnya. "Bagaimana jika kita pindah saja dari sini? Apapun yang terjadi, barangkali itu lebih baik ketimbang hubungan saya dan Ira semakin keruh!" begitu keluh Shaila kepada Rais suatu hari. "Tapi pindah ke mana? Status saya tidak memungkinkan, apalagi saya tidak memiliki penghasilan, kecuali uang saku yang teramat sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan jumlah kebutuhan bulanan kita," si Rais mencoba menjelaskan sekali lagi kepada Shaila tentang keadaannya, sekalipun Shaila sebenarnya sudah mengerti. Shaila mendengar berita bahwa kisah suaminya yang sering menginap di asrama puteri sudah sampai "ke atas". Artinya, ada orang yang melaporkan ke sana, yang membuat hatinya semakin sedih. Sebelum Shaila menerima surat peringatan akan hal ini, dia berharap segera mendapatkan jalan keluar. Beberapa saat sesudah itu, Rais ketemu Zulkarnaen, rekan sepengajian. Sebagaimana biasa, perbincangan mereka dari yang sifatnya umum, merambat kepada persoalan rumah tangga. Hingga sampailah kepada permasalahan kamar mereka. "Bagaimana kalau tinggal di tempat kami saja? Biar aku tinggal di kamar sebelah bersama rekan." Begitu ungkap Zulkarnaen mencoba menwarkan jasa baiknya. Rais terdiam, antara senang dan susah. Sebegitu besar pengorbanan mereka. Demikian batinnya. Dalam hati dia tidak ingin menyusahkan temannya, namun dilain pihak, dia juga tidak tega melihat sang istri Shaila menderita batin di asrama manakala Rais

mengunjunginya. Lagi pula, sebagai suami-istri mereka tidak selalu bisa bertemu setiap hari karena kendala yang selama ini mereka alami. Semula Rais berharap-harap cemas atas berita yang akan disampaikan oleh Zulkarnaen hari itu. Rais tahu betul sifat Zulkarnaen yang jika membantu seseorang tidak sebedar di bibir. "Subhanallah. Terimakasih Zul...!" kata Rais ketika Zulkarnaen menyampaikan berita bahwa rekan se-flatnya tidak keberatan akan niat baik Zulkarnaen, yang pula tinggal di apartemen milik pemerintah, untuk bujangan pria. Akhirnya Shaila dan Rais pindah ke flat tempat Zulakrnaen. Legalah perasaan mereka. Di sinipun mereka tinggal gratis. Rais berpikir toh mereka tidak akan selamanya tinggal disana. Rupanya kepindahan mereka kali inipun belum menjanjikan perbaikan nasib. Karena selang beberapa minggu kemudian, mereka mendapatkan berita "buruk". Bahwa pada dasarnya mereka tidak memiliki izin tinggal di asrama tersebut. Ada orang yang kurang senang yang melaporkan kejadian tersebut ke kantor pusat yang mengurusi pemondokan itu. Batin Shaila kembali menangis. Shaila bingung sekali menghadapi kenyataan ini. Bingung karena harus pergi ke mana. Si Rais, meski sebagai suami, namun belum mapan ekonominya, juga dihadapkan pada persoalan yang amat pelik. Tidak pindah ini melanggar hukum dan dapat tekanan, mau pindah ini uang dari mana untuk beaya sewa rumah? Apa yang dikuatirkan kemudian terjadi. Sepasang suami-istri ini kemudian menerima surat panggilan dari dinas, yang mengurusi pemondokan mereka, termasuk Shaila. Dalam kegaduhan yang tidak menentu, mereka esoknya menemui sang manager. "Orangorang kamu ini bagaimana sih? Yang melaporkan kamu ini juga orang-orang dari bangsamu sendiri, bukanya orang lain!" Kata sang manager, menyatakan bahwa laporan yang diterimanya adalah dari orang-orang yang tidak lain adalah rekan-rekan kerja Shaila sendiri. Rasanya malu sekali Shaila mendengarnya. Rais dan Shaila makin bergetar hati menunggu vonis yang bakal mereka terima nanti sebagai konsekuensi tinggal mereka yang tanpa izin. Namun betapa mereka terkejut ketika sang manager memberikan sebuah kunci, dan "Mulai besok, kamu harus keluar dari apartemen Zulkarnaen. Ini kunci rumahnya, dan kamu bisa tinggal di sana mulai besok. Tolong dibersihkan, karena rumah tersebut sudah lama tidak ada penghuninya!" "Subhanallah!" Begitu ungkap Rais dan Shaila menerima berkah dari Allah SWT. Mereka semula sangat takut. Namun, siap menerima sangsi yang bakal diberikan. Hari ini, bukannya hukuman yang mereka terima, tetapi hadiah. Shaila menangis! Terharu menghadapi semua kenyataan ini. Shaila jadi ingat ketika suatu hari Rasulullah SAW bersama Umar r.a sedang melayat, di tengah jalan mereka ketemu seorang Yahudi, Zaid Bin Su'nah namanya. Tiba-tiba ghamis Rasulullah SAW ditarik dengan keras olehnya, sambil berkata kasar "Hai Muhammad, kembalikan hutangmu..!" sementara itu, leher Rasulullah, karena tarikan keras ghamisnya, membekas kemerahan. Melihat sikap kasar tersebut, nyaris Umar r.a.

membabat leher si Zaid. "Kalau bukan karena Rasulullah melarang, sudah aku tebas kepalamu!" kata Umar. "Umar, mestinya aku dan dia lebih membutuhkan perkara yang lain!" kata Rasulullah, maksudnya nasihat. Rasulullah SAW membutuhklan nasihat untuk melunasi hutangnya dan si Zaid membutuhkan nasihat untu meminta hutangnya dengan baik. "Umar, berikan hak-haknya, dan tambahkan dua puluh sa' kurma!" perintah Rasulullah SAW kepada Umar r.a. Melihat Umar membawa serta hutang ditambah 20 sa' kurma, sang Zaid terkejut. "Ada apa ini Umar?" "Rasulullah memerintahkan saya untuk memberikan ini kepadamu sebagai imbalan kemarahanmu!" "Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu berbuat demikian kasar terhadap Rasulullah?" kata Umar. "Saya Zaid bin Su'na. Pendeta Yahudi. Saya sudah mengamati sejak dari dulu tanda-tanda kenabian yang ada pada Muhammad, kecuali dua hal: kesabarannya bisa memupus kejahilan dan kejahilan yang ditujukan kepadanya bisa menambah kemurahan hatinya. Karena itu ketahuilah ya Umar, aku bersaksi bahwa tiada Tuha selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah." Esok harinya Shaila dan Rais berkemas menuju rumah "baru" mereka, sebagai "hadiah" kesabaran yang selama ini mereka jalani. Rumahnya kotor sekali. Perabotan-perabotan yang ada di dalamnya sudah banyak yang rusak. Shaila merapikan perabotan-perabotan tersebut. Bahkan korden pun dia lipati karena kuatir ada orang lain yang memilikinya. Meja kursi pun banyak yang patah kakinya. Sepasang suami istri ini menggotong bersama barang-barang tersebut ke tepi. Karpet rumah juga sudah tidak lagi layak dipakai. Debunya barangkali bisa diukur dalam hitungan centimeter. Hari kedua sesudah mereka bersihkan rumah, sang manager datang lagi. Kali ini bukan melihat hasil bagaimana mereka membereskan rumah yang tidak dihuni selama sepuluh tahun tersebut. Sebaliknya dia membawa barang-barang kebutuhan rumah, termasuk meja-kursi baru, korden, karpet, dan sebagainya, untuk pasangan muda tersebut. Subhanallalah. Melihat Rais dan Shaila saya jadi teringat betapa kita kadang tidak pernah sabar dalam menghadapi sebuah cobaan. Bukannya syukur yang terungkap namun cemoohan. Padahal Allah SWT selalu akan menggantikannya dengan yang jauh lebih baik. Mungkin saja tidak sekarang tapi nanti. Dan itu pasti! Sebagaimana kisah Rasulullah SAW dan Pendeta Yahudi Zaid yang diriwayatkan oleh Hadist Riwayat (HR) Hakim diatas, ternyata sabar selalu berbuah positif bahkan mampu memupus kejahilan. Tidak ada kamus kalah-menang untuk urusan yang satu ini. Dan, sekiranya kesabaran diterapkan sebagai sebuah ibadah, seperti yang dialami Rais dan Shaila, tidak ada istilah kesengsaraan dalam lembaran-lembaran kehidupan. Yang ada hanyalah kenikmatan yang tertunda! Syaifoel Hardy shardy at emirates dot net dot ae Kepada Mereka Para Pejuang

Publikasi: 12/05/2004 07:27 WIB Kawan, Tatkala kita merujuk kepada perjalanan kehidupan Rasurullah, ada hamparan cakrawala maha luas yang terbentang sebagai tempat belajar yang tidak pernah menjemukan, apalagi membosankan. Kawan, Di sana ada gambaran konkrit tentang kerja yang beliau laksanakan dalam membangun puncak peradaban Islam. Kawan, Siapapun Engkau, kewajiban menyeru manusia jangan sebatas lisan, ini adalah hakekat kehidupan, karena uswah dan qudwah telah memberikan bukti konkrit dalam bentuk aktivitas, bukan terbatas pada lembaran sejarah, rangkaian kata, apalagi sekedar diskusi pada seminar dan simposium klasik seperti yang biasa kita lakukan. Kawan, Kerja mentarbiyah ummat tidak bisa dilakukan hanya dengan improvisasi. Ia adalah kerja besar yang menghajatkan adanya manhaj yang baku dan shahih, Al-Quran dan AsSunnah adalah manhaj baku tersebut, yang mesti teraplikasi dalam segenap aspek kehidupan termasuk di dalamnya aspek pembinaan ummat. Kawan, Bentang cakrawala, tepis kemalasan, lepas belenggu dungu. Tunjukan semangat bagai singa membaja. Tidak ada lagi waktu untuk bermalas durja. Bawalah Islam membumbung tinggi Dengan kepal tanganmu. Dalam setiap tarikan nafasmu. Angin, Sampaikanlah salamku kepada mereka para pejuang. Biar ku ikuti tapak kokoh kaki mereka. Walau lemah ku berjalan. Malam, Lerai lelap tidurku. Manjakan qalbu ku dengan munajat. Biar bicara bisu hati ku pada gelap malam. Walau berat air mata ku mengalir. Embun, Teteskanlah kesejukan iman ke dalam rongga dada ku. Biar dapat kupetik mawar Islam. Yang akan mengaharumkan taman hatiku. Walau nafas ku mulai tersenggal. Karena lelahnya ku berjalan. Yesi Elsandra Wajah-Wajah Bercahaya Publikasi: 11/05/2004 07:04 WIB

eramuslim - Wajah-wajah di hadapan saya itu tampak bercahaya. Setiap mata menyambut kedatangan kami dengan penuh persahabatan. "How are you brother?", "How is life?", "Bagaimana keimanan anda hari ini?", "Bagaimana keadaan keluarga, pekerjaaan dan lingkungan anda?". Pertanyaan-pertanyaan tulus tersebut sangat menyejukan. Berkhasiat bagai multivitamin, yang efektif meredakan kepenatan jiwa setelah satu pekan beraktivitas. Ditambah dengan percakapan yang ramah tanpa intrik. Sungguh, sebuah perkumpulan yang meneduhkan hati. Setidaknya kesan itu yang saya tangkap, saat memenuhi undangan seorang sahabat, untuk menghadiri pengajian rutinnya di suatu sudut kota Rotterdam. Dalam hingar-bingar kota yang menjanjikan mimpi dan kemewahan, pengajian itu justru menawarkan ketentraman dengan cara yang lebih elegan. Rutinitas duniawi yang menjadi nyawa kota pelabuhan terbesar di Eropa itu, tidak mampu menganggu kekhusyuan mereka untuk mencari ilmu agama. Saya tergugah oleh kecerahan spiritual yang dipancarkan sahabat-sahabat baru saya tersebut. Majlis dzikir itu mampu menyegarkan ruhiyah, bak oase di padang pasir. Dalam ganasnya persaingan hidup di negara sekuler, saya terhibur oleh suasana persaudaraan yang begitu hebat. Padahal, mereka bukanlah siapa-siapa bagi saya. Mereka bukan kerabat dekat. Bahkan, bukan saudara sebangsa. Para pemilik lisan-lisan, yang selalu bertasbih itu, tampak beragam. Nuansa internasional sungguh terasa disana. Selain muslim Eropa, terlihat juga wajah-wajah Afrika, Asia Tengah dan tentu ada tampang melayu seperti saya. Ikatan ukhuwah yang mereka tawarkan sungguh mengusik hati. "Kok ukhuwah seperti ini, mulai sulit saya dapati di negeri sendiri". Berbagai pengajian yang sama-sama mengaku mengejar ridho dan cinta Rabb mereka, terlihat tidak sinergis. Ormas Islam yang memiliki massa puluhan juta, sepertinya tak pernah akur. Dalam Pemilu 2004 lalu misalnya, partai yang ber-label Islam terlihat berjalan sendiri-sendiri dengan agenda dan kepentingan mereka masing-masing. Wajar jika partai Islam menjadi kurang diminati. "Bagaimana mungkin kita akan mempercayai partai politik yang sudah terjerat nafsu berkuasa dan mengusung kepentingan mereka saja, tanpa pernah mau mengalah untuk kesatuan umat", demikian komentar seorang rekan yang galau dengan kecilnya perolehan suara partai Islam dalam pemilu kemarin. Seorang sahabat yang lain, juga kesal dengan pertikaian yang mewabah di kalangan elit organisasi islam. "Apakah ini sunah dalam perjuangan? Apakah kumpulan-kumpulan yang berserakan itu akan mengundang pertolongan-Nya".

Sepertinya, rekan saya itu benar. Allah lebih mencintai perjuangan dari hamba-Nya yang bersatu-padu. "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaff [61:4]). Bukankah, tali ukhuwah harus lebih ditinggikan diatas kepentingan politik dan fanatisme golongan. "Seorang mu'min dengan mu'min lainnya seperti satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain." (HR Bukhari). Dalam hadist yang senada, Rasul Saw berpesan, "Perumpamaan kaum mu'minin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan menaruh rasa simpati, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut sakit juga, dengan demam dan tidak bisa tidur". Sayangnya, "manajemen perbedaan" kita masih semrawut. Perbedaan yang semestinya menjadi rahmat, malah menjadi perangkap. Konflik dianggap sebagai harga mati dari sebuah perbedaan. Dengan alasan itu, sah-sah saja kalau dua saudara tidak berteguran karena beda partai. Dengan alasan yang sama, wajar saja, bila persahabatan merengang karena beda pengajian. Dalam konteks serupa, "anak gaul" cenderung menjauh dari "anak ngaji". Sebagaimana generasi bapak mereka yang sudah terpisah oleh dikotomi "kaum abangan versus santri". Terlepas dari perbedaan budaya dan fikrah. Sebenarnya, pertikaian-pertikaian tersebut tidak perlu terjadi. Yang sangat disayangkan adalah fakta bahwa perselisihan umat itu justru menjadi warisan turun-temurun. Perselisihan terkesan seperti "dipelihara". Perbedaan antar Ormas; misalnya NU-Muhammadiyah, selalu menjadi komoditas politik para elit negeri. Sementara itu, polemik antar pengajian yang berbeda aliran, sengaja dilestarikan agar umat ini tak pernah hidup rukun, agar bangsa ini tidak sempat duduk bermufakat. **** Jika melihat ukhuwah yang mulai terabaikan dan pertikaian yang mewabah, saya jadi ingat persaudaraan yang ditawarkan majlis dzikir itu. Terbayang hati-hati mereka yang berhimpun dan bertaut oleh tauhid. Untuk menghibur diri, saya akan berusaha mengingat kembali wajah-wajah tulus tersebut. Sambil bermimpi indah akan kembalinya persatuan umat. Semoga, kelak... ini bukan cuma mimpi. Oki Omuraza omurazza at yahoo dot com TU Delft, The Netherlands Menoreh Wajah Lusuh Publikasi: 06/05/2004 11:51 WIB eramuslim - Setiap kali Najiah bertugas, selalu saja yang dia temui wajah yang sama. Gadis desa berpakaian kumuh layaknya tak terawat itu dengan setianya menunggui perempuan tua kaya yang sedang sakit itu.

Sudah lebih dari dua minggu nenek tua tersebut berbaring diatas tempat tidur kelas satu di rumah sakit (RS) umum itu. Nampaknya dari keluarga kaya. Dari beberapa orang yang mengunjunginya bisa dilihat pola hidup mereka. Nenek jompo itu kini tiada berdaya. Berbaring dengan ditemani oleh salah seorang pembantunya, Salma namanya. Orang menyangka bahwa seluruh kerabat, anak-anak dan cucu-cucunya menyayanginya. Bukti yang nyata di depan mata ini tidak dapat dikelabuhi. Tapi kenapa nenek itu ternyata sendirian? Begitu jam kunjung selesai, bukan lagi anggota keluarga dekatnya yang merawatnya, namun para perawat-perawat RS, tidak terkecuali sister Najiah. Keluarga sang nenek membeli jasa mereka, merawat orang yang dulu dengan setia mengasuh dan membesarkan anak-anaknya. Sayang sekali, begitu giliran si ibu yang beranjak usianya, tua lenta, dan kini tidak berdaya, oleh anak-anak yang dulu dicintainya kini dikirimkannya ke RS untuk dirawat orang lain. Macam-macam alasan anak-anaknya yang semakin pintar karena lulusan perguruan tinggi terkenal. Mereka semuanya sibuk sekali dengan urusan profesi dan bisnisnya. Untuk berkunjung menemui sang ibu renta di pembaringan RS saja, harus mengatur waktu yang nampaknya padat sekali. Mereka sepakat untuk bergiliran. Dari empat orang anak yang ada, setiap hari, pagi dan malam, hanya seorang secara bergantian menengoknya. Sang ibu yang sudah tidak lagi jernih penglihatannya, tidak bisa berbuat banyak, kecuali harus menerima apa adanya. Toh si Salma ada di sebelahnya, gadis desa yang lugu itu nyaris berada disana terus, sepanjang dia berbaring di temapt tidur RS. Si Salma, pembantu rumah tangga (PRT) asal desa itu dibayar tadinya bukan untuk menunggu sang nenek. Namun berhubung akhir-akhir ini beliau sakit dan harus mondok di RS, tidak ada cara lain, kecuali menugaskannya disana. Penampilannya? Siapa mau peduli? Mana yang perhatian dengan seorang PRT? Cantik atau tidak, necis atau kumuh, toh tetap seorang PRT. Barangkali itu yang ada di benak si Salma. Tapi bisa juga salah perkiraan ini. Bisa jadi si Salma ingin tampil apa adanya. Kalau memang dia tidak memiliki pakaian yang cukup baik untuk dikenakan, lantas apa yang mau dipakai? Demikian pula dengan make-up. Kenapa dia harus bersaing dengan nyonya-nyonya rumah juragannya untuk urusan yang satu ini. Jadilah si Salma sebagaimana adanya. Dia tampil seperti halnya sebelum bekerja sebagai PRT. Tampak terlalu lugu bagi mereka yang belum pernah mengenalnya. Pakaian yang dikenakan kayaknya juga itu-itu saja. Baju panjang kembangan biru yang sudah agak usang, dengan jilbabnya yang tidak nampak rapi. Ah! Salma, bikin orang malas melihatnya. Pagi itu sister Najiah bertugas. Dia tidak kenal Salma, namun dia tahu siapa dia. Tidak sulit untuk menerka, mana si juragan dan mana si PRT. Sister Najiah sebenarnya juga tidak terlalu mau tahu urusan yang satu ini. Toh bukan pekerjaannya untuk campur tangan urusan orang lain. Beberapa kali dia harus menemui nenek tua di kamar nomor lima itu. Pertama kali dia harus melihat satu persatu pasiennya memang. Yang kedua dia harus membantu mengganti linen tempat tidur. Yang ketiga, mengganti lagi karena sang nenek (maaf) buang air kecil. Keempat, menemani sang dokter yang mengobati si nenek.

Dan masih juga belum jam 10 pagi waktu itu, dia harus kembali menemui nenek itu lagi untuk memberikan obat yang baru saja diresepkan. Lima kali ke kamar lima berarti lima kali pula sister Najiah ketemu Salma. Setiap kali Najiah kesana, setiap kali itu pula dilihatnya Salma hanya duduk, seolah tanpa pekerjaan. Padahal sebenarnya Salma dibebani tanggungjawab. Itu berarti Salma mengerjakan sesuatu, hanya saja Najiah barangkali kurang memperhatikannya. Kalaupun saat Najiah datang, ditemuinya Salma sedang duduk dan hanya memperhatikan bagaimana dia bekerja, itulah memang pekerjaannya. Bisa saja Salma hanya dibebani pekerjaan untuk mengamati sang nenek. Kalau ada apa-apa yang terjadi dengannya, si Salma harus melaporkannya. Barangkali itulah tanggungjawabnya. Melihat bukan berati tidak bekerja! Satu hal ini yang kayaknya belum dimengerti sister Najiah. Itulah yang bikin dia agak "jengkel". Pada dasarnya sister Najiah cukup baik. Dia supel dan santun kepada pasien-pasiennya. Ramah serta cukup sabar, selain cukup cekatan dalam menyelesaikan tugas-tugas keperawatannya. Kadangkala dia sibuk, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk merawat pasien yang berjumlah 20 orang, bersama 3 atau 4 perawat lainnya, bisa saja kurang, utamanya bila si pasien kurang bisa diajak kooperatif. Seperti kasus si nenek di kamar lima. Kelihatannya sister Najiah kurang simpatik dengan melihat penampilan Salma yang begitu lusuh. Dia memahami keadaan gadis desa yang hanya bekerja sebagai PRT itu. Hanya saja, waktu Najiah tidak kuasa menahan perasaannya untuk terus menerus disembunyikan, sehingga "Mbak... mbok ya kalau kami ini sedang bekerja, membantu mandiin si nenek atau memberikan makan, dan lain-lain, diperhatikan lah....!? begitu ungkap sister Najiah, dengan suara agak berat, menyembunyikan kedongkolannya terhadap sikap pasif Salma. Salma diam. Entah apa yang dipikirkan. Siapa yang memang tidak jengkel melihat orang yang berada di depan kita diam saja sementara kita lagi repot bekerja. Itulah konflik yang dihadapi sister Najiah. Dia pendam saja perasaan itu. Toh kasus semacam ini bukan yang pertama kali ditemui. Banyak orang-orang yang tidak peka akan pekerjaan. Bahkan tidak tahu. Jangankan seorang PRT, rekan-rekan dia sendiri yang mengaku profesional ternyata banyak pula yang cuek dengan pekerjaan rekan-rekan sekolega nya, padahal mereka benar-benar sibuk. Eh...yang ini kok enak-enakan ngobrol dengan seseorang lewat telepon genggamnya. Kalau yang profesional saja demikian, bagaimana dengan yang hanya seorang PRT. Begitulah pikiran Najiah yang mencoba menetralisasi keadaan. Untungnya dia tidak ceritera siapa-siapa. Kejadian serupa berulang kali terjadi. Sister Najiah yang pada dasarnya kurang senang disebut sebagai sister yang cerewet, tidak mau banyak bicara. Nggak baik kan? Begitu pikiran yang ada pada diri Najiah setiap kali ingin menyampaikan sesuatu sebagaimana yang pernah dikemukakannya kepada Salma. Sebetulnya bagi dia, itu sudah cukup kasar. Harapannya, dia tidak perlu harus mengulanginya, untuk mengutarakan maksudnya. Tanpa berterus terang. Maklum, orang Jawa.

Rupanya sister Najiah tidak betah untuk tidak mengatakannya langsung. Pagi itu, ketika dia mengunjungi pasien di kamar lima, si nenek yang tidak bisa leluasa berpindah posisi, menuntut Najiah untuk membantunya. Usai membantu memiringkan si nenek yang kini kurus tersebut, dia berkata kepada Salma "Mbak...mbak....kalau kami kerja mbok ya dilihat, biar suatu saat Mbak bisa bantu. Kami kan nggak selalu datang tepat waktu untuk merawat pasien? Apa salahnya sih kalau Mbak juga ikut serta....?" Tanpa menyebut namanya sister Najiah mencoba memberikan saran kepada Salma. Rupanya Salma menyadari sikapnya selama ini, yang membuat sister-sister, khususnya Najiah, jadi tidak enak. Sambil dirapikan posisi jilbabnya, dia berdiri, dan berkata "Sister, sebetulnya saya sangat ingin sekali membantu sister merawat nenek ini. Hanya saja saya memang diperintah oleh juragan untuk tidak ?menyentuh? nenek, saya memang dilarang oleh mereka, kecuali sister!" dia utarakan suaranya perlahan. Plaak!!! Seperti ditampar muka si Najiah. Sister yang juga ibu satu anak ini tidak pernah menyangka bahwa dugaannya tentang Salma selama ini keliru. Dia malu sekali. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menutupi kekeliruannya tentang Salma selama ini. Tentu saja mukanya rada merah karena berbagai perasaan yang campur baur jadi satu. Benci dan marah terhadap diri sendiri, malu, merasa bodoh, sok merendahkan orang lain, dan yang paling menyentuh hatinya adalah menilai Salma karena penampilan fisiknya. Padahal penampilan fisik Salma selama ini tidak seburuk yang dibayangkannya. Apalagi ketika Najiah melihat diatas meja pasien, tempat Salma biasa menyandarkan tangannya, tergeletak beberapa buku. Jadi selama ini Salma juga membaca? Begitu tanya sister Najiah kepada dirinya sendiri. Padahal dia pikir si Salma pemalas dan jauh dari kegiatan apalagi yang namanya bacamembaca ini. Dilihatnya sekilas buku-buku karangan AA Gym juga ada disana. Diantaranya adalah "AA Gym: Apa Adanya". "Maafkan saya ya Allah atas kekeliruan saya selama ini!" Begitu batin si Najiah yang segera menyadari prasangka buruknya terhadap Salma. Sesudah kejadian tersebut, dia merasa tidak enak sama sekali. Setiba di rumah dia berceritera kepada suaminya : "Ba... Selama beberapa hari ini saya telah berbuat tercela!" Begitu akunya, yang membuat sang suami agak terkejut. "Kenapa?" kata suaminya. "Aku telah terlalu berprasangka jelek kepada sesorang hanya karena wajahnya nya yang tidak cantik dan pakaiannya yang lusuh!" sang suami diam, memahami perasaan bersalah sang istri. "Aku maluuu... sekali karena selama ini justru dia yang menurut saya malas, ternyata justru melaksanakan tugasnya dengan baik. Dia tidak membantu kami di RS karena memang begitulah yang telah diperintahkan kepadanya oleh majikannya. Dibalik penampilan yang kurang mengesankan ini ternyata dia seorang pembantu yang rajin belajar tentang Islam! Ini aku sempat dipinjami salah satu bukunya". Sambil ditunjukan buku milik Salma kepada sang Suami, sepertinya Najiah tidak pernah habis-habisnya menyesali sikapnya selama ini. Bahwa Salma yang hitam, Salma yang pendiam, Salma yang nampak kotor, memiliki kepribadian mulia yang nilainya jauh lebih mahal dibanding segunung mutiara di lautan.

Begitulah. Kita terkadang seringkali dikelabuhi oleh pandangan mata kita sendiri, bahwa apa yang nampak di depan mata ini tidak selalu mengekspresikan wajah aslinya. Bahwa yang hitam tidak selalu identik dengan kegelapan dan yang putih tidak harus sama dengan kesucian. Jika kita selalu menuruti apa kata bahasa mata, apa ungkapan penampilan atau kelembutan sebuah rabaan, membuat kita tidak jarang justru tergelincir. Masuk dalam lorong panjang yang melahirkan penyesalan yang amat dalam. Syaifoel Hardy <shardy _at emirates dot net dot ae> Cinta Lelaki Mulia Publikasi: 03/05/2004 16:46 WIB eramuslim - Di Thaif, lelaki mulia itu terluka. Zaid bin Haritsah yang mendampinginya pun ikut berdarah ketika berusaha memberikan perlindungan. Penduduk negeri itu melemparinya dengan batu. Padahal, ajakannya adalah ajakan tauhid. Seruannya adalah seruan untuk mengesakan Allah. "Agar Allah diesakan dan tidak disekutukan dengan apapun." Namun, Bani Tsaqif malah memusuhinya. Pejabat negeri itu menghasut khalayak ramai untuk menyambutnya dengan cercaan dan timpukan batu. Meski diperlakukan sedemikian kasar, Rasulullah tetap pemaaf. Kecintaannya kepada umat mengobati derita yang dialaminya. Beliau menolak tawaran Jibril yang siap mengazab penduduk Thaif dengan himpitan gunung. Sebaliknya, ia mendoakan kebaikan bagi kaum yang mencemoohnya itu, “Ya Allah, berilah kaumku hidayah, sebab mereka belum tahu.” *** Di Bukit Uhud, pribadi pilihan itu kembali terluka. Wajah Rasulullah SAW terluka, gigi seri beliau patah, serta topi pelindung beliau hancur. Fatimah Az-Zahra, putri beliau, bersusah payah untuk menghentikan pendarahan tersebut. Dua pelindungnya terakhir, Ali ra dan Thalhah ra juga terluka parah. Bukit Uhud menjadi saksi kekalahan pahit itu. Pasukan pemanah yang diperintahkan menjaga bukit, dijangkiti gila dunia. Silaunya harta rampasan menggerogoti keikhlasan mereka. Akibatnya, pasukan kaum muslimin porak-poranda dan Rasul pun terluka. Meski kembali disakiti, cinta lelaki mulia itu tetap bergema, “Ya Tuhanku! Berilah ampunan kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” *** Thaif dan Uhud merupakan hari-hari terberat sang Nabi. Pengorbanannya bagi umat tiada berbanding. Iltizam terhadap dakwah mewarnai hari-hari Rasul akhir zaman itu. Kecemasannya pada nasib umat selalu mengemuka. Ia adalah Rasul yang penuh cinta kepada umatnya. Cinta itu berbalas, generasi sahabat (generasi pertama) adalah generasi yang juga sangat mencintainya. Cinta yang diperlihatkan Zaid bin Haritsah di Thaif ketika menjadi tameng bagi rasulnya. Cinta yang dibuktikan Abu Dujanah, Hamzah dan

Mush'ab bin Umair di bukit Uhud. Tapi, adakah generasi terkini masih mencintainya? Apakah umatnya sekarang tetap menyimak sunnah yang diwariskannya? Sejarah berbicara, semakin panjang umur generasi umatnya, semakin menjauh pula generasi itu dari risalahnya. Umatnya saat ini, cenderung mencemooh segelintir mukmin yang masih menghidupkan sunnah. Buku-buku sunnah mulai terpinggirkan. Kitab Bukhari-Muslim harus bersaing dengan textbook dan diktat yang lebih menjanjikan keahlian dan masa depan. Serial sirah nabawiyah hampir menghilang dari tumpukan handbook dan ensiklopedia yang biasanya menjadi asksesoris di ruang tamu keluarga muslim. Aspek sunnah dalam ber-penampilan dan berpakaian, ramai dikritisi dengan alasan tidak praktis. Contoh dari Rasul dalam keseharian, pun semakin dihindari. Sunnah dianggap simbol yang sifatnya tentatif, bukan sebagai panduan kehidupan (minhaaj al-hayaah). Apatah lagi aspek syar'i. Begitu banyak argumen yang dihembuskan sebagai 'pembenaran' untuk berkelit dan menghindari aspek syar'i dari sunnah. Wabah 'ingkar sunnah' ini mulai terjangkit dalam komunitas yang mengaku sebagai pengikutnya. Keutamaan ber-shalawat kepada nabi pun nyaris terlupakan. Padahal Rasul berjanji untuk menghadiahkan syafaat bagi umatnya. “Setiap nabi memiliki doa yang selalu diucapkan. Aku ingin menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat” (HR Muslim). Jurang antara umat dengan warisan risalah Nabinya ini tentu merugikan. Kecemerlangan pribadi Rasul nyaris tak dikenali umatnya. Padahal, dalam pribadinya ada teladan yang sempurna. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab (33): 21). Merujuk kepada sunnah yang diwariskan Rasulullah adalah ungkapan kecintaan kepadanya. Cinta pada Rasul yang lahir dari keimanan kepada Allah. “Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Ali Imran (3): 31). Mencintai manusia mulia itu, berarti meneladani sirah nabawiyah sebagai panduan dalam mengarungi kehidupan. Kecintaan yang akan meluruskan langkah kita untuk ittibaa' (mengikuti) dan mewarisi komitmen untuk menyampaikan risalah kepada masyarakat. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Seorang hamba tidak beriman sebelum aku lebih dicintainya dari keluarganya, hartanya dan semua orang.” (HR Muslim) Omurazza-Delft, Rabiul Awwal, 1425 H Mereka Sebenarnya Mengajarkan Kita Publikasi: 14/04/2004 10:24 WIB

eramuslim - Hal yang sangat menyedihkan adalah saat kau jujur pada temanmu, dia berdusta padamu. Saat dia telah berjanji padamu, dia mengingkarinya. Saat kau memberikan perhatian, dia tidak menghargainya. Hal yang sangat mengecewakan adalah kau dibutuhkan hanya pada saat dia dalam kesulitan. Jangan pernah menyesali atas apa yang terjadi padamu! Sebenarnya hal-hal yang kau alami sedang mengajarimu. Saat temanmu berdusta padamu atau tidak menepati janjinya padamu atau dia tidak menghargai perhatian yang kau berikan, sebenarnya dia telah mengajarimu agar kau tidak berperilaku seperti dia. Bila kau dibutuhkan hanya pada saat dia sedang kesulitan sebenarnya juga telah mengajarimu untuk menjadi orang yang arif dan santun, kau telah membantunya saat dia dalam kesulitan. Hal yang menyakitkan adalah saat kau mencintai seseorang dengan tulus tapi dia tidak mencintaimu atau dia yang kau sayangi tiba-tiba mengirimkan kartu undangan pernikahannya, sebenarnya hal ini sedang mengajarimu untuk RIDHA menerima takdirNya. Begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang sering kau alami atau bertemu dengan orang-orang yang menjengkelkan, egois dan sikap yang tidak mengenakkan. Dan betapa tidak menyenangkan menjadi orang yang dikecewakan, disakiti, tidak diperdulikan/dicuekin, atau bahkan dicaci dan dihina. Sebenarnya orang-orang tersebut sedang mengajarimu uuntuk melatih membersihkan hati dan jiwa, melatih untuk menjadi orang yang sabar dan mengajarimu untuk tidak berperilaku seperti itu. Mungkin ALLAH menginginkan kau bertemu orang dalam berbagai macam karakter yang tidak menyenangkan sebelum kau bertemu dengan orang yang menyenangkan dalam kehidupanmu dan kau harus mengerti bagaimana erterimakasih atas karunia itu yang telah mengajarkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu. yenni@kan.co.id Bidadari Kecil Itu Tak Pernah Sendiri Publikasi: 12/04/2004 10:28 WIB eramuslim - Matanya bulat, cantik dan jernih seolah tak berdosa. Tawanya pun selalu lepas, sehingga menambah keceriaan di wajah. Usianya memang telah dewasa, namun ia berprilaku bagaikan balita yang polos dan tak banyak meminta. Kelembutan yang terpancar dari jiwa, juga telah menghapus kesempatannya untuk berbuat nakal dan dosa. Ia adikku, Dian namanya. Limpahan karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala, menjadikan dirinya ditakdirkan terlahir dengan keterbelakangan mental. Chromosome 15 Trisomy Syndrome yang diderita membuatnya bagaikan seorang kanak-kanak. Namun, tak pernah sekalipun ia terlihat menyesali nasibnya. Dian memang anak istimewa. Selain cacat mental, menjelang akhir hayatnya ia juga menderita sakit ginjal, diabetes, kelainan jantung, lalu lumpuh dan isu. Bahkan beberapa

hari sebelum maut menjemput, kebutaan pun merampas penglihatannya. Tangis ketakutan yang kekanak-kanakan, akan membuat siapapun yang mendengar giris hatinya. "Ma... ma... aku takut, gelap ma. Mama di sini sama aku ya ma," terdengar rengekannya yang pernah membuat air mata mamaku tumpah. Beliau lalu mengajak Dian berdzikir dan membaca do'a-do'a. Apa yang diderita Dian pernah membuatku dan saudara-saudara yang lain berburuk sangka kepada-Nya, "Ya Allah, mengapa Engkau timpakan penderitaan sepedih ini kepada adik kami?" Pertanyaan itu sering kali menyeruak, dan bertubi-tubi menghujani hati ini. Kami pun pernah sedih karena memikirkan Dian yang tak pernah hidup normal seperti layaknya saudara-saudaranya yang lain. Tumbuh dewasa, menikah, lantas merasakan kebahagiaan berumah tangga. Namun, bukankah Allah Yang Maha Pencipta tentu lebih tahu segalanya. Mungkin IA hanya tersenyum bijaksana, menatap kesalahpahaman kami semua. Dian memang cacat fisik dan mental, tapi tidak hatinya. Tubuh yang penuh tutulan obat merah danperban karena koreng bernanah, bahkan sebagian hidupnya yang harus dijalani dengan kursi roda, tak mampu menutupi keistimewaan yang ada pada dirinya. Suatu peristiwa saat ia berusia 5 tahun, menampilkan sosok jiwanya yang begitu lembut. Ia tak pernah tega walaupun terhadap semut-semut yang mengerubungi piring nasinya. Ia hanya menjerit-jerit, "Ma... nyamut, nyamut ma!" karena saat itu ia tidak bisa membedakan antara nyamuk dan semut. Lalu aku yang saat itu mendengar tergopoh-gopoh menghampirinya, "Jangan menangis Dian, ini kan cuma semut. Pukul saja, ntar juga semutnya pergi." Lalu uusir semut-semut itu, dengan tepukan tangan di lantai teras depan rumah kami. Allah Yang Maha Pengasih memang sangat mencintai Dian. Betapa tidak? Kelahirannya disambut dengan penuh kebahagiaan, dan kematiannya di usia 30 tahun adalah peristiwa terindah yang pernah kudengar. Ketika itu, menjelang malaikat maut hendak menjemput, mamaku meminta Dian untuk selalu mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala sambil membelai-belai lembut epalanya, "Dian, nyebut ya sayang, ya Allah... gitu nak. Ya Allah... Allahu Akbar!" Lalu mama membaca surah Yaa siin di pinggir tempat tidur, sedangkan bapak melakukan sholat Ashar, tak jauh dari sisi tempat tidur Dian. Lidah Dian mulai sulit bergerak. Namun orangtuaku dengan tabah berusaha membimbingnya mengucapkan "Allahu Akbar, ya Allah." Hingga suatu saat, ketika mama membisikkan kalimat itu, Dian menggenggam tangannya dengan kuat dan bergumam lirih, "Aaaaaahhhhhh..."

Air bening pun bergulir dari sudut mata Dian yang telah buta. Mungkin sebagai isyarat permintaan maaf, dan mohon kerelaan karena ia sebentar lagi akan erpulang kepada Sang Pencipta. "Pulanglah Dian ke haribaan Allah..." kata mama dengan tabah di sela isakan tangisan. Lalu dengan tenang Dian meninggalkan kami semua dengan hembusan nafas terakhirnya. Di saat penguburan, mama mengecup telapak tangannya sendiri kemudian melambai ke pusara Dian. "Selamat jalan, bidadari kecilku. Tunggu mama di sana ya, nak," katanya seraya menatap lubang peristirahatan terakhir Dian yang mulai ditutupi tanah merah oleh para sanak saudara dan sahabat. Adikku Dian memang benar-benar anak istimewa, bahkan teristimewa di antara saudarasaudaranya. Karena itu Allah Subhanahu wa Ta'ala pun mengirim bapak untuk pulang menyertai Dian, tak lama setelah kepergiannya. Mungkin sebagai jawaban kepada bapak yang memang selalu merindukan anak istimewanya. Sekarang bidadari kecil kami tak perlu takut sendirian, karena bapak telah berada di sana untuk menemaninya. Dian, adikku tersayang... Jangan takut untuk kembali kepada Allah ya sayang. Engkau tahu, engkau tak sendirian. Mama pun selalu berkata, engkau tak akan pernah sendirian, karena do'a dan segenap cinta kami selalu bersama dirimu, adikku tercinta. Kembali kepada Allah adalah sesuatu yang indah. Bahkan teramat indah dari apa yang mungkin pernah engkau bayangkan. Selamat jalan sayang, selamat tinggal adikku yang teristimewa. Engkau memang bidadari kecil yang tak pernah sendirian. WaLlahua'lam bi shawab. Abu Aufa Seperti yang dituturkan ibu Sri Lawson, Highland-Michigan, tentang adiknya almarhumah Rr. Dian Tri Wulandari Catatan: Chromosome 15 trisomy: usually a lethal form of chromosomal aberrations. Most surviving infants have mosaic trisomy 15 and exhibit multiple congenital omalies involving the craniofacial, limb, cardiovascular, and other structures. (Online Congenital Multiple Anomaly/Mental Retardation Syndromes, 1999) Renungan Penyesalan Publikasi: 12/04/2004 09:46 WIB eramuslim - “Penyesalan selalu datang terlambat”, kata-kata ini seakan sudah menjadi hukum yang disepakati bersama. Jarang sekali pendapat “sesal dulu pendapatan, sesal

kemudian tak berguna” bisa diejawantahkan. Hal ini bisa terjadi karena kita belum bisa menyeimbangkan tiga perangkat penting yang dianugerahkan Allah kepada kita : akal, perasaan dan kecerdasan spiritual. Tiga komponen ini adalah satu kesatuan yang tak mungkin dipisahkan. Sulit sekali memang ketika dihadapkan pada sebuah permasalahan atau pilihan, kita “bertanya” dengan apik kepada ketiga komponen yang kita miliki tersebut. Terkadang, perasaan lebih dominan hingga akal terkalahkan. Jadilah keputusan yang dibuat jauh dari cara pandang secara umum. Atau sebaliknya, akal lebih menguasai hingga kita jadi seorang makhluk yang tak punya rasa empati. Lebih parah lagi ketika kita sama sekali tidak melirik pada kecerdasan spiritual yang kita punyai, dan kitapun tidak terlalu cerdas untuk yang satu ini. Maafkan saya sahabat. Penyesalan menjadi penting untuk dibahas, karena kecerobohon demi kecorobohan yang saya lakukan akhir-akhir ini. Spiritual yang tak terasah telah membuat saya melaju menjadi seorang hamba yang sombong, mengabaikan sunatullaah, kehilangan rasa empati dan sering mengeluh. Pertolongan Allah serasa sulit digapai, Syair lagu Bimbo “Aku jauh.. Engkau jauh… Hati adalah cermin.. tempat pahala dan dosa bertarung.. “ seringkali terngiang tapi tak satupun perubahan yang saya lakukan. Saya merasa “stag”, tak bisa bergerak, tak bisa berbuat apa-apa, bahkan menangis pun tak bisa, tak ada yang bisa menyentuh perasaan terdalam padahal saya adalah seorang wanita. “Tangis adalah senjata seorang wanita” tidak berlaku sama sekali. Hati ini terasa begitu gersang. Saya merasa ngeri dengan diri sendiri, berada di “negeri lain” dan tak menghiraukan dunia yang sudah ada. Saya tidak peduli dengan pandangan teman-teman, saya tidak peduli dengan lingkungan, tidak bisa membedakan hak dan kewajiban, mencampuradukkan benar dengan salah, dan tak ingin berpikir yang membuat lelah. Saya lelah lahir batin. Norak ya sobat ? Bacaan-bacaan penggugah semangat juga tak mempan. Perjuangan tak kenal lelah dari Siti Khadijah dalam mendampingi Rasulullah, kesabaran Siti Hajar mencari mata air untuk puteranya ketika terdampar di Padang Pasir, ketegaran Al-Khansa mengantarkan puteranya syahid, kesetiaan para sahabat kepada Rasulullah lewat begitu saja, tak berbekas ! Nasehat demi nasehat dari orang terdekat hanya melintas di telinga untuk sekejap.. Hingga suatu hari, Allah mendatangkan seorang pemuda dari dunia penuh “kerlipan”, dunia selebritis dengan kekayaan yang bisa menggoda iman. Dia berada di puncak kejayaan. Usianya masih sangat muda. Grup band yang diusungnya menempati tiga besar di jajaran panggung hiburan Dengan tampilan bersahaja, ia datang untuk berdiskusi. … “Mba, jiwa saya gelisah, saya ragu apakah Allah ridha dengan apa yang saya perbuat saat ini ? Saya ingin mencintai-Nya seutuhnya. Tahukah mbak? tidak jarang ketika azan berkumandang, saya sedang sibuk berjingkrak-jingkrak dalam kalimat yang tak pantas. Jauh dalam hati saya menangis, ingin berontak…” Kalimat sederhana itu merobohkan semua tiang keangkuhan yang sedang meraja. Subhaanallaah…dia masih sempat ingat Allah dalam dunianya yang hingar-bingar, dia ingin disayang Allah… sementara saya

menampik semua kasih sayang itu. Betapa tak bersyukurnya… Saya malu ya Allah.. benar-benar malu.. Dalam hati, saya teriak dan menangis.. hingga curhat-curhatnya yang lain tak sempat saya dengarkan dengan seksama. Saya rasakan “tamparan demi tamparan” Allah merasuk dalam hati, sejuk sekali.. Kasih sayang Allah serasa menjalar di setiap pembuluh darah. Penyesalan selalu datang terlambat. Tiga bulan, cukup lama untuk sebuah kekecewaan dan kemalasan, cukup lama untuk tidak istiqomah dalam melaksanakan amalan sunnah, cukup lama untuk tidak khusyu shalat dan cukup lama untuk mengabaikan sesama. Tibatiba rasa takut menyelinap.. andaikan Allah memanggil dalam keadaan terburuk itu, sanggupkah saya menghadap-Nya ? Astaghfirullaah.. “Ya Rabb, jadikan penyesalan ku ini sebagai penyesalan terakhir. Beri aku kemampuan untuk mengerahkan semua instrument yang Kau anugerahkan sebagai kompas untuk penuntun langkah dalam setiap detak kehidupan, hingga tiada lagi penyesalan tak berguna. Ijinkan aku menitipkan cinta untuk semua makhluk yang telah Kau hadirkan tuk belajarku. Pandu aku untuk bisa selalu bermuhasabah. Ampuni aku ya Allah. Makasih telah ajari aku cintai-Mu lewat jalan yang Kau sukai” farah_adibah@yahoo.com Aku dan Rabbku Publikasi: 06/04/2004 09:46 WIB eramuslim - “Basahilah lidahmu dengan dzikir” duh.. sudah berapa kali saya denger hadist ini tapi …waktu yang digunakan untuk berdzikir masih sedikit, padahal Allah berfirman “AKu bersama hamba-Ku ketika dia mengingat-Ku”. Allahu Akbar. Luar biasa, mencoba untuk melakukan variasi dalam berdzikir kenapa tidak ? La illahaillallah adalah sebaik2 dzikir …wueshh pikiranpun mulai menerawang balasan apa yang akan Allah kasih jika saya mengucapkan Laillahailallah 1x apakah senilai uang 1 juta,10 juta atau 100 juta, lebih, pasti lebih dari itu di hadapan Rabbul Izzati. Subahannallah. Rugiii…..berapa sudah waktu yag hilang, uang yang hilang, istana yang tertunda di surga nanti – InnaLillahiwainaillaihi’irojiun. Ga papa kan berdagang dengan Allah. Imam Al Ghazali dalam risalahnya Al Asma Al Husna menuliskan kecintaan kepada Allah bisa ditingkatkan dengan tiga cara ; (i) mengingatnya (ii) mempercayainya (iii) mempertahankannya. Begitu pula Pak Ary Ginanjar dalam bukunya “Rahasia membangun kecerdasan Emosional dan Spiritual” beliau menulis bahwa seorang hamba bisa menjadi manusia yang luar biasa jika mau meneladani sifat-sifat Allah dengan cara mengingat-ingatnya dan meneladani sifat-sifat-Nya. Sesungguhnya antara hamba dengan Rabbnya ada 2 panghalang ; (i) ilmu dan (ii) ego (Aku). Perasaan jenuh, bosen, mandek atau tidak ada peningkatan terkadang datang pula, tapi ingat pesan “yang mencari akan menemukan” ada secercah harapan untuk mencari

lagi, baik itu dari buku, artikel baik itu di majalah atau di internet, seminar , maupun taklim - apa saja. Alhamdulillah masih ada rasa haus yang belum terpuaskan dengan minuman yang standard. Mencoba untuk flash back ke zaman para sahabat yang memiliki tingkat keimanan yang mempesona dan berdecak kagum setiap kali membaca kisahnya, sudah tentu pengetahuan mereka tentang surga, neraka, negri akhirat dan segala sesuatu yang terjadi didalamnya berbeda dengan pengetahuan saya dan itu mungkin yang membuat tingkat keimanan saya seolah tak bergerak. Ego, Aku “barang siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya dan barang siapa yang mengenal dirinya maka tidak ada waktu untuk mencari kesalahan orang lain”. Ada perasaan aneh menghampiri ketika mencoba berlama-lama bercermin. sudah berapa jauh saya mengenal diri saya dengan baik dan sudah berapa lama saya menyadari begitu sangat rentannya melakukan kesalahan setiap detik. Menjadi milik-Nya bukan sebaliknya menjadikan Allah sebagai milik saya dan mengikuti semua keinginaan saya – Naudzubillahiminzalik, kebodohan apalagi yang saya lakukan berlarut-larut. STOP. “Ya Rabb biarkan aku menjadi milik-Mu selamanya…menyatu bersama-Mu, biarkan jiwa ini terbakar oleh cahaya-Mu..cinta-Mu”. Teringat kembali firman Allah SWT “Sesungguhnya Aku mengikuti perasaan hamba-Ku terhadap-Ku” kenapa tidak saya coba untuk mengatakan ke diri saya sendiri dengan menggunakan 3 metode dari imam Al Ghazali diatas : “saya selalu bersamaMu ya Allah” ( bukannya saya ingin bersamaMu), “saya selalu mencintaiMu ya Rabb” (bukannya saya ingin mencintai-Mu), “saya selalu merindukan-Mu ya Tuhanku”. Ada perasaan puas yang mengalir, seolah-olah sesuatu yang sudah tercapai dan tinggal menikmati saja perjalanan hidup bersama Al Malik, Al Aziz. Perasaan tenang, aman, damai, bahagia yang selama ini dicaripun mulai rajin menjenguk orang pesakitan seperti saya. WaLlahua'lam bi shawab. yudha_bs@yahoo.com.sg Tak Ada Milik yang Sempurna Publikasi: 01/04/2004 09:29 WIB eramuslim - Rencana. Hidupku penuh rencana. Meskipun belum semuanya bisa aku rencanakan. Tapi pasti bukan hanya aku yang punya rencana. Aku yakin semua orang juga punya rencana. Bagiku, memiliki rencana berarti harus sekaligus mempersiapkan alternatif-alternatif. Mungkin sama dengan yang dimaksud para pelaku bisnis Ada plan A, plan B, plan C dan seterusnya. Tetapi menurutku itu saja tak cukup. Harus ada plan Z. Artinya, harus ada kesiapan ketika semua yang ada di kepala tidak bisa berlaku lagi. Seperti pesimisme. Mungkin. Tetapi bukannya segala bisa terjadi atas kehendak-Nya. Maha besar Dzat yang segala berada di tangan-Nya.

Ku pasang target-target. Dengan begitu otomatis aku menyusun rencana agar target tersebut bisa tercapai. Berusaha, yah, hanya dengan berusaha. Berusaha maksimal. Tak boleh ada kata putus asa. Aahh, begitu besar semangatku. Kalau dengan usaha maksimal kita tidak bisa mencapai target? Ya itulah plan Z. Menyerah? Bukan! Masih ada harapan. Ditangan-Nya lah semua yang tak mungkin terjadi bisa terjadi. Bahagianya, masih mempunyai tempat berharap. Kalau yang terjadi tidak seperti yang kita inginkan? Ya itulah takdir. Terlalu sombong kita bila ingin memaksakan keinginan kita melampaui kehendak-Nya. Qona’ah. Mungkin itulah istilah yang lebih tepat. Kita hanya bisa memohon agar apa yang diberikan-Nya kepada kita menjadi hal terbaik demi keselamatan kita di tempat yang abadi. Bukankah kita sering tidak melihat apa hikmah di balik peristiwa yang tidak kita kehendaki? Bukankah kita tidak bisa melihat, kecuali hanya sedikit? Begitu rapi teori itu tersusun di kepalaku. Kalau ada teman bertanyapun mudah sekali menjelaskan alurnya. Tapi bisakah menghadapinya? Demikianlah, termasuk berumah tanggapun aku targetkan. Dengan berbagai pertimbangan, aku ingin menikah pada usia 25, setelah menyelesaikan studiku dan tentu saja bekerja. Kukira keinginan semacam ini hanyalah cita-cita sederhana. Mungkin hampir semua orang juga memilikinya. Bukan hal yang luar biasa. Ketika usiaku menginjak 23 dan aku belum juga mempunyai calon. Meski beberapa kali ada yang mengutarakan keinginannya menikah denganku, entahlah, tidak ada diantara mereka itu yang sesuai dengan kriteriaku. Belum ada yang bisa membuatku jatuh cinta. Jatuh cinta? Apa pula artinya? Sangat mungkin berbeda dengan orang lain. Tetapi bagiku cukup sederhana untuk mengukur apakah aku jatuh cinta atau tidak: yaitu perasaan bisa menerima dia apa adanya tanpa ada tuntutan-tuntutan lagi. Dengan kata lain, semua kriteriaku sudah terpenuhi. Yah, aku belum pernah jatuh cinta. Maka aku bersiap-siap mencari calon. Pro-aktif. Tentu dengan kriteria-kriteria yang telah kutetapkan. Tabu kata orang timur? Mengapa? Tapi bagaimanapun aku juga menyadari hidup dalam masyarakat timur, yang mau tak mau masuk ke dalam norma-normanya. Kukira tabu yang mereka maksudkan tidak berseberangan dengan syariat Islam. Bahkan mungkin dalam hal tertentu bisa dikatakan mendukung. Di sisi lain, bagiku semua orang diwajibkan berusaha. Jadi bisakah istilah tabu tersebut direkayasa? Yang pasti, bukan pertanyaan itu yang menggelayuti pikiranku. Tapi apa yang bisa kulakukan untuk mencapai targetku. Silaturahim? Memperbanyak wawasan? Perprasangka baik? Memperbaiki akhlak? Semua ingin kulakukan demi mencapai target dengan kriteriaku tersebut. Sampai suatu sore yang begitu cerah dan lengang. Tenang mungkin istilah yang tepat. Awan-awan putih menyibak ketepi mengiringi matahari yang pelan-pelan bergerak semakin condong ke peraduannya. Tenang. Hatikupun terasa bening. Luas. Terasa luas dengan menyibaknya awan-awan putih ke tepi langit. Yang pasti begitulah sore itu.

Tapi sepertinya bukan hanya suasana sore itu yang membuat hatiku bening. Aku sedang menyadari bahwa aku sedang jatuh cinta. Indah rasanya menemukan seseorang yang kita inginkan. Kurasa betapa ini semua adalah nikmat yang agung. Dua puluh empat tahun, dan aku belum pernah mempunyai perasaan semacam ini. Ah, sungguh indah. Dalam lubuk hatiku menggelitik kemungkinan-kemungkinan dan harapan- harapan. Bisakah aku mencapai target yang satu ini. Yang jadi masalah adalah bahwa dia tidak tahu perasaanku ini. What to do? Menunggu? Waktu segera memisahkan. Begitulah, karena sore itu adalah akhir sebuah program yang mengikutsertakan kami. Berharap? Ternyata aku tidak berani berharap banyak. Aku cukup mensyukuri mempunyai perasaan yang indah ini. Jujur, aku merasa tidak harus memilikinya. Do something! Yah, tapi aku harus melakukan sesuatu. Terlalu indah untuk dilewatkan. Terlalu indah untuk mempunyai perasaan ini. Bahkan aku tak yakin akan memiliki yang ke dua kalinya. Maka di sore yang bening itu. Kutulis sehelai puisi. Hanya untuk menyampaikan perasaan ini. Maafkan aku harus menyampaikan semua ini. Kau telah melelehkan hati yang selama ini membeku, kaku, membatu. Tapi aku hanya ingin kau tahu. Kau tak harus mempunyai perasaan yang sama. Begitulah kira-kira isinya. Dengan hati bening pula kusampaikan padanya dalam sebuah amplop dan kuminta dibacanya ketika sampai di rumah. Bukan di tempat itu. Begitulah, rasanya nyaman bisa menyampaikan perasaan indah ini. Tanpa harapan sama sekali? Bohong kalau kukatakan begitu. Ada, meskipun tidak banyak. Logikanya, mungkin juga dia mempunyai perasaan yang sama, tapi tidak berani menyampaikan. Who knows? Tapi juga harus diakui bahwa harapanku memang tidak menggebu-gebu. Benar ternyata logikaku. Keesokan harinya dia mencariku dan mengatakan bahwa dia telah mempunyai perasaan yang sama jauh sebelum aku mengatakannya. Oh, bisa dibayangkan, sebuah keindahan yang hampir sempurna. Bagaikan gayung bersambut. Sayang kami tidak mempunyai waktu bersama lagi. Sayang? Tidak juga. Justru takut juga dengan kebersamaan. Takut fitnah. Takut zina mata, lidah dan lainnya. Hari-hari aku lewati dengan rencana-rencana selanjutnya. Dan pertemuan beberapa kali kami gunakan untuk bicara tentang masa depan dan makna hidup. Sungguh-sungguh indah. Sampai setelah kami tidak bertemu beberapa waktu, dia harus menyampaikan- nya padaku. “Sayang ya dik, tidak ada sesuatupun yang bisa mutlak kita miliki. Hanya Allahlah pemilik yang sempurna,” katanya seperti biasa, bijaksana, dan ini adalah salah satu yang aku kagumi padanya. “Ya, tidak ada milik yang sempurna,” jawabku menyetujui pendapatnya, “Eh, tapi apa sebenarnya maksudmu”. “Maafkan aku. Tapi aku harus mengatakannya padamu. Terlalu indah memiliki semua perasaan ini. Tapi aku harus jujur padamu. Aku juga tidak menghendakinya, tapi itulah yang terjadi,” katanya panjang. Aku sudah tak sabar dengan apa yang ingin dikatakannya.

“Maksudmu?” “Kau tahu kenapa aku tidak menyampaikan perasaanku terhadapmu sejak dulu? Karena….karena sebenarnya aku sudah dijodohkan,” katanya perlahan. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. “Menurutmu apakah orang tuaku salah?” tanyanya kemudian. Aku masih diam. “Ibuku hanyalah seorang janda yang harus menghidupi dan menyekolahkan anakanaknya. Dan tak tahu apa yang harus dilakukannya. Begitulah dik, aku tidak bisa menyalahkan ibuku juga, meskipun jujur aku tidak mencintai gadis itu”. Kuhela nafas dalam-dalam. Sungguh tak tahu apa yang harus kulakukan. Tak percaya dengan apa yang dikatakannya? Tak ada alasan untuk percaya atau tidak. Tetapi kurasa aku tak perlu berburuk sangka dengan tidak mempercayainya. Dia yang kukenal selama ini lebih menguatkan prasangka baikku itu. Tapi sungguh aku tak bisa bicara sepatahpun. Percakapan itu terasa membakar semua harapanku, meskipun tidak mengurangi perasaanku padanya. Akhirnya kukatakan pula dengan segenap kekuatan hatiku agar dia memilih yang terbaik menurutnya. Berat ternyata, tidak semudah teori yang kutata di kepala. Begitulah, semua kami akhiri dengan sehelai surat cinta. Dengan setengah kesadaran, setengah patah semangat. Plan Z. Aku masuk ke plan Z. Biarlah Allah yang memutuskan. Dia maha tahu yang terbaik untukku. Meskipun dia tak boleh jadi milikku, perasaan itu tetap masih menjadi milikku, kecuali dia berubah menjadi seseorang yang tidak lagi berada dalam kriteriaku. Selamat jalan kekasihku. Semoga kita mendapatkan yang terbaik bagi dunia dan akherat kita kelak. Bukankah kita hanya sedikit melihat. Dan Allahlah yang Maha mengetahui segalanya dan maha berkehendak. Benar katamu, tidak ada milik yang sempurna. Allahlah pemilik mutlak atas segala. Orang tua kita, saudara kita, anak-anak kita, suami/istri kita, kekasih kita, kekayaan kita, semua milik-Nya. Ketika Allah mengambilnya, siapa yang bisa bilang tidak. tanti sutrisno tantitan2003@yahoo.com Dia Yang Tidak Sekedar Bicara Publikasi: 25/03/2004 09:49 WIB eramuslim - Ada dua pokok topik pembicaraan yang umumnya digemari remaja. Pertama bagaimana kelak, dimasa depan, mendapatkan pekerjaan atau kedudukan yang enak, dan yang kedua bagaimana bisa memperoleh harta yang banyak. Lumrah kan? Ya! Karena hampir setiap orangtua, dengan bangganya selagi putera-puteri mereka masih kecil, pertanyaan yang sering dilontarkan adalah, sebagai contoh, “Anak mama besok mau jadi apa? Dokter ya?” sebuah paparan ideal. Pokoknya kalau tidak jadi dokter,

ya...insinyur. Padahal mereka tidak menyadari bahwa kedua profesi tersebut, untuk saat ini, tidak sedikit yang berpredikat, maaf, pengangguran. Ceritera lama kah ungkapan tersebut diatas? Tidak juga! Meski banyak lulusan kedokteran yang pada akhirnya tidak kerja, ataupun insinyur yang akhirnya jadi buruh pabrik, kedua profesi itu di sebagian besar belahan bumi lain tetap menjadi profesi yang bergengsi. Hal ini disebabkan, menyandang gelar sebagai dokter atau insinyur identik dengan kemapaman secara sosial dan finansial. Jarang sekali orangtua yang memimpikan anaknya kelak, misalnya, jadi ‘imam besar’, atau cendekiawan Islam, meski yang satu ini tidak boleh dikatakan bahwa secara finansial nanti akan lebih rendah dibanding kedua profesi dokter atau insinyur. Di negara-negara Arab misalnya, jangankan menjadi seorang imam masjid, cukup jadi muadzin nya saja bisa hidup ‘enak’! Jadi yang berada di jalur madarasah, jangan berkecil hati! Tapi teman saya yang satu ini, Salimin, memang lain. Maklum orang desa, yang murni lugu dalam menyikapi kehidupan. Itu terjadi dua puluh tahun lalu, ketika kami masih di bangku sekolah lanjutan atas. Kami biasa omong-omong kosong di sore hari, sambil menunggu saat Maghrib tiba. Desa kami agak masuk sekitar satu kilometer dari jalan raya utama di pesisir pantai Laut Jawa, atau daerah Pantura (Pantai Utara) orang mengistilahkan. Pagi dan sore hari banyak orang-orang dari desa kami yang mayoritas nelayan, berlalu-lalang melewati jalan makadam tersebut. Obrolan kami tidak berfokus, kesana-kemari, tapi tidak membicarakan kejelekan orang lain. Ditengah-tengah obrolan tentang orang-orang yang ‘berseliweran’ di depan mata kami, Salimin, entah apa yang mendorongnya, tiba-tiba berucap: “Jika suatu saat nanti aku punya sepeda motor, akan aku boceng orang-orang yang mau ke jalan raya sana!”. Saya tidak pernah menganggap pembicaraannya serius. Layaknya remaja lain, yang suka ‘menggombal’, walaupun Salimin tidak bisa saya samakan dengan mereka. Salimin amat sederhana. Dari keluarga kurang mampu. Untuk melanjutkan sekolah saja saya tidak terlalu optimis akan bisa dilakukan. Tanpa bermaksud merendahkannya, barangkali yang paling mungkin waktu itu adalah meneruskan profesi ayahnya sebagai pelayan, bertani garam, atau menjual ikan ke kota. Sebagian masyarakat kami berlayar mencari ikan. Sebagian lagi mengolah garam. Taraf sosial ekonomi mereka tidak bisa dibilang cukup, namun juga tidaklah kekurangan. Sehari-hari hanya dunia bisnis laut itulah yang kami lakukakan. Saya sendiri tidak terlalu paham dengan kedalaman nilai-nilai Islam waktu itu. Wayang dan minuman keras adalah sebagian dari hiburan sebagian masyarakat kami. Saya tidak bisa menyalahkan mereka. Bagaimana saya mau menyalahkan kalau saya tidak punya modal sama sekali tentang apa-apa yang harus saya sampaikan. Demikian pula dengan angan-angan Salimin barangkali. Pemuda semacam Salimin merupakan sosok langka di desa kami. Jumlah musholah yang hanya dua buah di desa kami, hanya dikunjungi oleh orang-orang disekitar musholah saja, termasuk si Salimin. Benar apa yang menjadi dugaan saya. Selepas SLTA, Salimin tidak mampu melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Saya agak beruntung. Belum tergolong

kaya, namun dengan bekerja sebagai guru SD, Bapak saya masih mampu untuk membeayai kuliah saya yang setingkat program diploma tiga. Alhamdulillah. Sejak saat itulah hubungan kami, saya dan Salimin, ‘terputus’. Hubungan kami memang tidak terlalu dekat sebenarnya. Hanya kesempatan-kesempatan seperti halnya obrolan menjelang Maghrib sebagaimana yang saya kemukakan diatas, yang membuat kami bisa, boleh dikatakan, melahirkan rasa persaudaraan sesama muslim. Tahun-tahun berikutnya membuat saya ‘beda’. Ya! Beda karena lingkungan tempat saya tinggal, belajar, berteman, semuanya amat berpengaruh terhadap perkembangan saya baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat dikemudian hari. Apalagi sesudah saya bekerja, juga dituntut untuk memenuhi tuntutan perkembangan sebagai anggota profesi. Tentu saja waktu-waktu yang tersita untuk pemenuhan kehidupan saya sebagai kombinasi ‘ketiga makhluk’ tersebut, yaitu pribadi, profesi dan anggota masyarakat’, membuat saya tidak lagi larut dalam kehidupan saya sebagaimana di desa waktu itu. Salimin pun tidak lagi pernah saya temui. Musholah dekat rumah kami juga paling banter hanya bisa saya kunjungi sebulan sekali, karena saya tidak lagi tinggal di desa yang sama. Urban ke kota. Dua puluh tahun sudah berlalu. Tidak terasa sama sekali. Beberapa kali saya berganti pekerjaan. Dari kota satu ke lainnya hingga ke luar negeri. Komunikasi dengan keluarga hanya bisa saya lakukan lewat surat. Ditengah banjirnya sarana telekomunikasi dan komputerisasi, sayangnya desa kami tetap tertinggal. Listrik meski sudah masuk, tapi hanya beberapa tahun terakhir ini saja. Telepon belum bisa sambung sampai ke desa. Padahal jarak ke jalan raya tidak terlalu jauh. Telepon genggam juga suaranya tidak begitu jelas di daerah kami. Singkatnya, desa kami masih tetap ketinggalan. Dari dulu hingga sekarang tidak berubah: nelayan,ikan dan garam! Itulah kehidupan kami, meski sudah dua puluh tahun silam saya meninggalkannya, kondisinya sama! Setiap tahun saya pulang ke desa. Namanya juga ketinggalan! Biar semaju apapun yang saya temui kehidupan di luar negeri, saya tetap prihatin juga melihat kehidupan sebagian teman-teman yang masih tetap menggeluti ketiga dunia yang saya sebutkan diatas. Sayangnya setiap saya pulang, karena suatu dan lain hal, tidak selalu bisa ketemu dengan Salimin. Sebenarnya tidak ada niat untuk melupakan, tapi entah kenapa yang namanya upaya mengingatnya juga tidak ada. Wallahu’alam! Bisa saja karena, yang namanya kami sekeluarga yang jarang ketemu, apalagi teman-teman selama kuliah dan kerja dulu juga rasanya ‘menuntut’ untuk ditemui. Jadi, itulah, nama Salimin tidak pernah tercantum dalam ‘agenda’ liburan saya. Hingga suatu hari..... Saya heran, sekalipun para nelayan desa kami memberikan sumbangsih yang tidak sedikit buat kemajuan negeri ini, dengan ikan dan garam, tetapi jalan raya masuk ke desa kami tidak pernah becus bangunannya. Dua puluh tahun sudah berlalu, masih juga tetap ‘makadam’ saja. Memang yang sekarang ini sudah beraspal, tapi ya... itu.... Maksudnya, biar aspal, tapi tetap makadam. Dengan kata lain, aspal ternyata tidak membuat jalan jadi mulus, alias tetap geronjalan. Jadi apa bedanya? Orang kita kadang aneh!

Ditengah jumlah populasi desa yang membengkak dan krisis ekonomi, alhamdulillah semakin banyak ternyata jumlah penduduk desa kami yang memiliki sepeda motor. Saya kalau sedang pulang biasanya juga meminjam kendaraan bermotor milik kakak atau Pak Lik yang kebetulan punya. Suatu hari ketika saya sedang mengendarai sepeda motor, dari rumah ke jalan raya utama, kebetulan di dekat rumah ada seorang ibu yang mungkin saja sedang menunggu Ojek, atau apa, saya tidak terlalu perhatian. Saya mengenalnya. Saya sempat pula menyapanya, tidak lama, karena saya sedang berada diatas sepeda motor, boncengan bersama adik saya. Kemudian saya pamit padanya untuk meluncur duluan. Ibu tersebut mengiyakan. Saya terkejut sekali ketika sesampai di mulut jalan raya, kok ibu tersebut sudah berada duluan di depan saya. Ketika saya tanya kepada beliau bagaimana bisa sampai datang duluan, dijawabnya “Saya diboceng Pak Salimin, imam musholah kami!” Byaaarrr.....! Ingatan saya seperti dihantam halilintar untuk menengok kembali apa yang dulu pernah kami, saya dan Salimin bicarakan. Bahwa kelak jika dia punya sepeda motor, dia akan antarkan orang-orang desa menuju jalan raya sana. Saya yakin ini bukan suatu kebetulan! Subhanallah. Salimin. Saya tidak pernah menyangka bahwa apa yang dikemukakan kepada saya dulu bukan omong kosong. Tidak sekedar basa-basi dan tanpa makna. Salimin yang dulu ternyata sama dengan yang sekarang saya temui, apalagi dia menduduki posisi lebih mulia kali ini, imam masjid. Saya sadar bahwa ditengah arus globalisasi ini orang sudah banyak yang mulai enggan perhatian terhadap nasib yang menimpa sesamanya kecuali jika memberikan keuntungan. Artinya, setiap kebaikan yang dilakukan sebagian besar umat manusia yang katanya moderen ini, lebih bersifat ‘riya’, alias bermakna ganda. Kita hanya mau melakukan kebaikan karena mengharapkan imbalan. Apa yang dilakukan Salimin benar-benar menggugah kesadaranku. Salimin memiliki kepedulian yang tidak banyak dimiliki oleh sebagian besar umat manusia. Salimin telah mengajarkan sebuah kebajikan yang kemudian diimplementasikan dan menghasilkan produk yang bagi sementara orang nampaknya simpel sekali. Padahal tidak! Kebanyakan kita memang hanya pandai membuat janji, tapi tidak cukup pandai untuk menepatinya. Dan, kebanyakan kita hanya pintar berangan-angan hanya selagi dilanda kemiskinan. Tapi bukan bagi Salimin, sosok kebanyakan. Syaifoel Hardy shardy@emirates.net.ae Artikel ini diilhami oleh ceramah Sdr. Noor Hadi di Ajman, UAE 12/3/2004

Aku Menyaksikan Tangismu… Publikasi: 20/03/2004 15:02 WIB eramuslim - Dia menelungkup, membenamkan wajahnya pada kedua tangan yang dilipat di atas meja, kemudian menangis tanpa suara. Sesaat hening, samar-samar Raihan bersenandung puji-pujian melalui speaker komputer. Kami bertiga duduk berhadapan dalam sebuah laboratorium kedap suara. “Kapan kejadiannya?” tanyaku setengah berbisik. Dia mengangkat wajah dan menerima selembar tissue yang disodorkan ikhwan. “Kamis malam” katanya pendek. Bagaimana mungkin? Kemarin dia terlihat ceria seperti biasanya, alangkah pandainya dia menutupi semua kesedihannya, kataku dalam hati. “Lalu apa yang terjadi?” ikhwan bertanya. “Aku menahan tangan ayah yang sudah mengangkat meja, aku tidak mungkin membiarkan Ibu dipukuli meja kayu.” jawabnya “Kejadiannya cepat, dan aku hilang kontrol, aku tidak bisa menahan diri seperti biasanya, aku akan memukul Ayah, tapi adikku menghalangi Kami, dan menjerit-jerit.” lanjutnya. “Aku ditarik Ibu masuk kamar, Kami berdua mengunci pintu, Ibu menggigil ketakutan, Ayah menggedor-gedor pintu, berteriak-teriak memaki, kemudian berusaha mendobrak masuk., tapi tidak berhasil”. Dia menghela napas “Ayah mulai memecahkan kaca-kaca, bahkan kaca di atas pintu kamar, pecahannya jatuh menancap hanya satu senti dari tanganku. Ayah lalu berteriakteriak dan mengancam akan membakar rumah.” “Apa?” aku dan ikhwan berseru kaget. “Ya, tapi alhamdulillah tiba-tiba nenek datang, beliau langsung menjerit-jerit karena ternyata adikku pingsan, jadi perhatian Ayah langsung teralihkan. Aku dan Ibu akhirnya keluar setelah nenek mengetuk pintu.” Jawabnya, “Tentu saja ayah menyalahkanku karena kejadian ini, dia memaki aku di hadapan saudara-saudaraku yang datang kemudian. Akhirnya adikku siuman jam 6 pagi. Aku pergi kerja setelah didesak Ibu, aku sempat berpesan pada Ibu untuk pergi dari rumah kalau Ayah berusaha menyakitinya lagi”. “Apa Ayahmu melakukannya lagi?” Tanya ikhwan “Tidak, kemarin dia pergi, entah kemana, mungkin berjudi lagi, Ayah baru pulang larut malam.” Katanya “Ugh menyebalkan” kataku tanpa sadar, “Mestinya Ayahmu diadukan ke Asosiasi Pembelaan Perempuan, biar dipenjara.” “Yaaa mesalahnya keadaan tidak sesederhana itu kan..” kata ikhwan. Tiba-tiba dia tersenyum, lalu bangkit “Terima kasih ya kalian sudah mendengarkan, terima kasih.” sebelum melangkah ke luar ruangan dia berkata, “ Semoga suatu saat keadaan membaik.” Aku dan Ikhwan termenung.

Aku memandang gerimis lewat kaca jendela kamar, mengingat kejadian tadi siang. Baru pertama kali aku menyaksikan ia menangis setelah 2 tahun aku berteman dengannya. Aku tidak pernah menyangka bahwa masalah yang ia hadapi begitu berat, sampai ia memutuskan untuk menceritakannya pada diriku dan Ikhwan. Kami bertiga bersahabat baik, hampir sebaya. Tiba-tiba aku menangis, air mataku jatuh satu-satu… Kata-katanya tadi siang masih terngiang : Ayahku pemarah… Ayahku dulu sering selingkuh… Sekarang tidak, tapi dia suka berjudi.. Dia sering memaki Ibu.. Dia sering menyakiti Ibu.. Padahal Ibu lah yang bekerja keras.. Padahal aku yang membiayai adikku sekolah.. Tapi Ayah tetap tidak perduli.. Dia tetap menyakiti kami… Dan Ayah mengancam Ibu.. Dia tidak sanggup lagi berkata…lalu dia menangis….dan aku menyaksikan tangisnya.. Sekarang aku mengerti….mengapa dia melewatkan begitu banyak kesempatan kerja di luar kota, padahal gaji yang akan diperoleh lebih dari apa yang telah dia dapatkan di perusahaan tempat kami bekerja… karena dia tidak mungkin meninggalkan Ibunya, dan belum mampu membawa serta Ibunya dengan kondisi keuangan seperti saat ini.. Sekarang aku mengerti…mengapa dia menunda untuk menikah, karena saat ini dia hanya ingin mencintai Ibunya..Ibunya yang sudah sebatang kara dan sering disakiti Ayahnya… Sekarang aku mengerti....mengapa dia begitu peka terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan seorang Ibu.. Sekarang aku mengerti…dia telah mengorbankan semuanya….Untuk melindungi dan memuliakan Ibunya.. Aku teringat jawaban Rasulullah saw saat seorang sahabat bertanya tentang orang yang mesti dimuliakan..”Ibumu..ibumu…ibumu…, setelah itu baru Ayahmu..” Di luar, gerimis telah menjadi hujan lebat… Maret 2004 pinka@eramuslim.com Hidup di Negeri Orang, Indahkah? Publikasi: 18/03/2004 08:52 WIB

eramuslim - Tergambar ketika harus pergi ke negeri sebrang. Tidak sedikit orang yang memandang dengan rasa bangga, kagum, iri, entah apalagi. Seakan hal-hal yang membahagiakanlah yang tersirat dalam benak mereka. Dalam beberapa hal mungkin mereka tidak salah. Tetapi dalam satu hal yang justru sangat prinsip, pandangan itu tidak bisa dianggap benar. Alhamdulillah kita hidup di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan pemerintahan yang tidak mempersulit kehidupan beragama kita. Apalagi dengan adanya lembaga-lembaga seperti MUI dan tentu masih banyak lagi yang membela kepentingan umat sehingga pelaksanaan ibadah kita tidak dipersulit, kita pantas memanjatkan syukur berlipat-lipat . Berbeda bila kita hidup di negeri orang yang mayoritas penduduknya non muslim atau bahkan jumlah muslim belum masuk dalam hitungan statistik karena dianggap tidak signifikan. Dengan tingkat kesulitan membedakan yang halal dari yang haram, yang boleh dilakukan dan yang tidak tentu dengan parameter norma-norma Islam, mudahkan? Kita pantas berdecak kagum melihat muslim yang masih taat menjaga akidahnya. Bayangkan bagaimana dia bergaul dengan teman-temannya. Bagaimana dia setiap kali menolak ajakan minum alkohol dan makan serba haram yang sudah menjadi budaya mereka. Meskipun, tentu saja, ini adalah contoh klise yang sangat sederhana. Masih seabrek lagi contoh lain. Paling tidak dari contoh ini, tebakan berikutnya adalah: dia pasti dikucilkan dari lingkungannya. Ini adalah social judgment yang mau tak mau langsung dirasakan. Ketika orang lain bisa dekat dengannya pasti dia telah melakukan banyak social bargaining. Jadi kalau ada seseorang semacam itu, tentu dia mempunyai ketahanan mental yang luar biasa. Dengan ilustrasi semacam itu apa yang lebih mungkin terjadi pada muslim yang hidup di lingkungan semacam itu. Kalaupun keislaman masih diakui, ada dua kemungkinan: ikut arus atau berdiri di sudut. Artinya menjadi muslim dengan ketahanan mental yang luar biasa tersebut atau menjadi muslim yang tidak Islami. Tetapi kecenderungan bisa di prediksi. Ketika muslim dalam lingkungan yang kondusif untuk menjalankan tuntunan rasulullah s.a.w. saja tidak bisa dikatakan taat, apa yang akan terjadi bila dia hidup di negara orang. Bagaimanapun, ini hanyalah logika sederhana. Hidayah dan kekuatan sepenuhnya ada di tangan Allah ta’ala. Dan itu yang kita harapkan. Yaitu adanya muslim-muslim yang bermental baja dalam memperjuangkan kebahagiaan yang lebih abadi dan mengesampingkan kesenangan duniawi yang sementara. Yang lebih baik membiarkan dirinya, dalam beberapa hal, terlempar dari pergaulan sesamanya, tetapi merasakan kedamaian karena penuh harapan akan masa depan yang lebih menjanjikan. Tentu saja pembedaan diatas hanyalah merupakan dua kutub dalam suatu kontinum. Di antaranya masih banyak sekali variasi, baik yang lebih cenderung ke kutub satu atau lainnya karena berbagai variable yang menurut mereka syah. Lepas dari hal-hal tertentu yang sifatnya khilafiyah. Dalam beberapa hal situasi yang tidak kondusif dalam

lingkungan semacam ini oleh banyak orang dianggap keadaan yang darurat. Wallahu a’lam. Riri, sebut saja begitu, seorang anak SD, lebih fleksibel bergaul dengan teman lainnya dibanding Vina karena dia menjalani kehidupan yang lebih menyatu dengan temantemannya tersebut. Sedang Vina tidak diperkenankan makan makanan tak halal semeja dengan makanan temann-temannya dan orang tuanya lebih baik membekalinya dengan makanan yang mirip tetapi halal. Ia hanya boleh memakan yang sama bila kebetulan makanan tersebut halal. Ini adalah perbedaan. Dan dimata teman-temannya ini aneh. Tidak seharusnya begitu. Mungkin itulah pikiran sederhana mereka. Ini adalah sebuah konflik yang kelihatannya kecil, tetapi bagi Vina merupakan masalah yang tidak bisa dibilang kecil, karena resiko yang ditanggungnya. Seorang anak, meskipun tahu kenapa dia dilarang oleh orang tuanya, tidak mampu menjelaskan dengan kata-kata yang bisa diterima teman-temannya. Karena mereka juga tidak bisa mengerti dengan mudah mengapa harus begitu. Tapi begitulah semuanya berjalan seperti yang ada. Riri dan Vina, dua anak muslim dengan perilaku yang berbeda. Bisa terbayang perbedaan sikap orang tua yang tercermin dari perilaku anak-anak mereka. Hal-hal yang sifatnya memudahkan sering dianggap syah-syah saja. Yang demikian itu merupakan pendidikan kecil yang bisa beresiko besar sekali. Karena anak akan cenderung menganggap kemudahan-kemudahan yang lainpun harus didapatkannya. Yang terjadi selanjutnya adalah pencampur-adukkan aturan. Antara yang boleh dan yang tidak, yang memang sering tipis, sekarang sudah tidak bisa dibedakan lagi. Bagaimana harus menjelaskan kepada orang lain dengan logis? Bunuh diri. Bunuh diri karena yang tipis yang karena tipisnya harus dipilah dengan hati-hati dicampur-adukkan begitu saja, sehingga ketika dipertanyakan tidak ada lagi jawaban yang bisa diterima akal sehat. Inilah kenyataan yang sering terjadi. Bagi muslim yang hidup dalam lingkungan semacam itu untuk sementara waktu saja, masih lebih banyak harapan akan memperbaikinya bila lingkungan tersebut ditinggalkan. Sedang bagi sebagian yang hidup permanen keimanannya bisa terkikis dari hari ke hari. Dan akhirnya? Bisa tergadai. Naudzubillahi min dzalik. Oleh karenanya kita sangat urgen untuk bergandengan tangan. Bersama-sama memilih dan memilah yang haq dari yang bathil. Saling ingat mengingatkan. Saling menyiram jiwa yang rentan. Tidak perlu harus dengan kritik. Kritik kadang-kadang justru menakutkan bahkan menjijikkan bagi sementara orang. Dan ini justru beresiko dijauhi. Kasih sayang harus lebih banyak ditebar. Meski kadang harus mengesampingkan nyerinya goresan. Masya alloh. Bahagialah jiwa-jiwa yang besar. Inya Alloh, hal sekecil ini menjadi jihad bagi mereka yang masih berusaha menegakkan akidahnya. Insya allah nilai pahalanya lebih dari yang hidup dilingkungan yang kondusif. Terutama bagi mereka yang karena perkawinan harus tinggal di negeri orang yang demikian itu. Bagaimanapun, akidah adalah urusan masing-masing pribadi. Suami/istri kita? Jadilah pintu hidayah bagi mereka. Bukan sebaliknya, mengalir dalam arus yang tak jelas. Ini adalah tugas yang luar biasa berat.

Meski dimulai dari hal yang kelihatannya kecil dengan menciptakan diri kita menjadi diri-diri bermental baja yang tentu tidak mudah. Tidak semudah memilih hitam putih. Tapi usaha kita insya alloh menjadi jihad kita. Bagaimana dengan membiarkan keluarga kita bekerja atau hidup di negeri orang? Ilustrasi di atas mudah-mudahan bisa menjadi pertimbangan. Kesiapan dan resikonya ? Di sinilah bisa dilihat bahwa hidup di negara orang atau menikah dengan orang asing bisa dibilang bukan sesuatu yang membanggakan. Melainkan menyedihkan. Sepintas terasa berat. Tetapi tidak ada yang berat segala sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas lillahi ta’ala. Wa nusyuki wa mahyaya wa mamati, lillahi rabbil’alamin. Semua menjadi ringan. Indah, semua bisa menjadi indah. Dengan memahami bahwa kebahagian dunia hanyalah sementara, dimanapun kita hidup akan terasa indah. Siapkah kita? tantitan2003@yahoo.com Life Is Beautiful Publikasi: 12/03/2004 03:31 WIB eramuslim - 8 Maret 2003, boleh jadi adalah hari paling membahagiakan dalam hidup saya. Hari itu, saya iseng mengikuti bakti sosial di kampus karena kebetulan tidak ada kuliah. Kali ini kunjungannya ke panti asuhan anak-anak dengan cacat ganda. Mula-mula biasa saja tanpa kesan. Saat briefing, para peserta kunjungan sosial cuma diberi petunjuk membuat origami sambil dibagi per kelompok. Saya pun berpikir kunjungan ini akan biasa-biasa saja. Di depan RS Al Ikhsan, angkot yang kami tumpangi berhenti. Bangunan di depan kami biasa saja. Sekilas tampak tak terawat dengan papan nama yang pasti akan terlewatkan begitu saja kalau tak kita perhatikan benar-benar. Saat menapaki tangga masuk, telinga saya dikejutkan dengan teriakan-teriakan yang datang dari beberapa anak penghuni panti. Sungguh, baru pertama kali saya mendengar teriakan-teriakan seperti itu. Mereka tampak sangat senang dan itu diluapkan dengan menjerit, bersorak, dan memegang tangan kami dengan antusias. Buat saya, ini pertama kalinya saya berdekatan dengan anak-anak cacat seperti itu. Dalam kelompok-kelompok itu kami membuat kapal-kapalan, topi bajak laut, pesawat dan lainlain. Di sana saya mengenal mereka. Ada Heni, kepalanya besar seperti penderita Hydrocepallus. Dia mengingatkan saya pada Gutomo, tetangga saya di rumah. Ada Dewi, yang gemuk, lucu, dan pintar menyanyi. Kadang ia berteriak memekakkan telinga, tapi ia selalu mengundang tawa. Ada Osa, anak ini pendiam dan tampak normal tapi tak terlalu cerdas dibanding yang lain. Saat kami pandu membuat origami lipatannya tak serapi Heni.

Ada Titin yang paling antusias menyambut kami. Jika ada orang datang, ia yang paling depan berlari. Ada Sri yang tampak paling parah. Gerakannya tak terkontrol dengan air liur yang selalu menetes. Sri tak bisa berjalan, ia hanya bisa pakai kursi roda. Ada Maya yang sebenarnya cantik meski kadang tampak seperti cowok. Ia juga tak bisa berjalan. Kemana-mana ia ngesot jika tak ada kursi roda. Ada Pipik yang subhanallah, berjilbab dan hapal lagu-lagu nasyid terbaru. Di sana, ia bahkan sempat menunjukkan kebolehannya itu di depan kami. Anak-anak ini dikaruniai kemampuan menahan sakit yang hebat. Saat acara itu, di dekat saya ada seorang anak yang kukunya lepas. Ketika saya tanya, dia bilang itu karena terkena jarum. Ketika diobati, wajahnya tampak biasa saja seperti tak merasa kesakitan, padahal hati saya sudah miris melihatnya. Ibu pengasuh di situ menjelaskan bahwa kemampuan mereka menahan sakit memang luar biasa. Ketika acara nyanyi-nyanyi dimulai, suasana jadi sangat seru dan meriah. Saat itulah saya baru benar-benar merasakan apa itu gembira, apa itu bahagia. Melihat mereka tertawa, bernyanyi, bertepuk tangan, dan bersorak, rasanya semua masalah di kampus lenyap, semua kepenatan kuliah hilang entah kemana. Saya jadi merasa kembali seperti anakanak. Di sana, salah seorang teman berkata bahwa mereka -anak-anak dengan keterbatasan-inilah calon penghuni surga, sementara kami yang diciptakan sempurna boleh jadi malah lebih pantas masuk neraka karena justru dengan kesempurnaan itulah kami jadi punya kesempatan untuk berbuat dosa kapan saja. Ah... saya jadi malu dengan ucapannya. Malu dengan keadaan diri yang cengeng, manja, dan pengeluh, bahkan untuk hal-hal sepele. Keterbatasan mereka tak cuma dalam hal fisik dan mental, tapi juga fasilitas hidup. Asrama anak-anak ini cukup membuat hati saya terenyuh. Cucian kotor yang bertumpuk, kamar mandi yang seadanya dan nyaris terbuka menunjukkan bahwa mereka masih butuh banyak bantuan dari kita. Belum lagi jika membayangkan mereka dilepas di dunia luar panti. Fasilitas umum yang tersedia untuk penderita cacat di negeri kita sangat terbatas, nyaris tak ada malah. Dan subhanallah, mereka dengan segala keterbatasannya tetap semangat menapaki hidup. Allah, betapa selama ini saya selalu menutup mata dengan keadaan di luar, betapa saya tak tahu bersyukur Sesudah sholat, kami bersiap-siap untuk pulang. Rasanya waktu jadi singkat sekali. Berat rasanya berpisah dengan mereka. Saya yakin mereka juga merasakan hal yang sama. Saat hampir pulang, saya tatap salah satu dari mereka. Bentuk kepalanya yang lonjong, jempol kakinya yang bengkok dan proporsi tubuhnya yang aneh membuat saya tersadar akan beragamnya ciptaan-Nya. Dan saya sadar seperti apa pun keadaannya, ia tetap makhluk Allah. Ia manusia, sama seperti saya, anda, kita. Itu pula yang membuat saya tersenyum kepadanya. Tulus.

Ada Cita yang tampak sangat kehausan kasih sayang, berkali-kali ia pindah dari gendongan peserta satu ke peserta lain. Cita yang paling tampak berat melepas kami. Maya sebaliknya, ia menyuruh kami cepat-cepat pulang. “Keburu hujan” katanya. Pulangnya, saya masih tercenung. Ketika menulis di diary, saya baru sadar ada 1 hal lagi yang patut saya syukuri. Ya, hari-hari penuh makna yang diberikan Allah dalam kehidupan saya. Betul sekali film Roberto Benigni itu. Betul sekali bahwa hidup itu indah, life is beautiful, la vita e la bella, saya setuju itu! Fatma ngangeni@yahoo.com Inilah Hidup Publikasi: 08/03/2004 11:00 WIB eramuslim - Hidup ini memang menyajikan berbagai cerita dan berbagai fenomena yang menakjubkan. Tak terbayangkan. Seorang ayah yang dia hanya bisa bekerja dan bekerja bagi keluarga, kemiskinan yang menimpa mereka itu adalah garis hidup yang mustahil diubah (anggapan mereka). Di sisi lain, seorang remaja yang hanya memikirkan bagaimana tampil cantik dan menarik. Mereka tak berpikir bahwa hidup ini menuntut orang untuk berjuang, dan ada orang di luar sana yang hanya bisa merenungi dan menerima nasib menjadi orang yang tidak beruntung. Ada juga orang yang hanya bisa memperhatikan, mengamati dan berusaha menghibur mereka yang merasa kurang beruntung. Inilah hidup. Sekali lagi, inilah hidup. Dunia memang aneh. Allah menciptakan semua ini pasti memberikan pelajaran yang berharga, bagi orang-orang yang berpikir. Islam mengajarkan umat manusia untuk berzuhud terhadap dunia, qonaah (menerima) dan istiqomah sebagai napak tilas di jalan surga. Inilah salah satu fenomena hidup yang sempat terekam oleh mataku….. Ketika kutelusuri jalan menjelang maghrib, kulihat laki-laki 40-an sedang mendendangkan sebuah lagu di sebuah restoran mewah. tampak orang-orang di sana ada yang acuh, ada sedikit memberi perhatian. Pernahkah kalian bayangkan bagaimana perasaan laki-laki itu tatkala melihat orang-orang yang kelihatannya lebih sukse dari dia? Pernahkah terpikir oleh kalian apa yang terlintas dalam benaknya takala menyadari mereka lebih beruntung darinya? Aku juga tak tau itu. aku juga tak tahu seberapa besar kekuatan kesabaran, keikhlasan dan kepasrahan yang ada di benaknya. Aku juga tak tahu di mana di menyimpan keping-keping kesonbongan dan rasa malu. Aku rasa di sudah mampu berdamai dengan takdir. Dia orang yang tegar di jalan kehidupan. Ya…. Merekalah pahlawanku masa kini. Kata orang pahlawan adalah orang yang rela mengorbankan harta, jiwa dan darah yang dimiliki untuk kepentingan bangsa dan Negara. Pahlawan adalah orang yang tidak membebani Negara dan mampu mengangkat derajat bangasa di mata dunia.

Tapi entah kenapa menurutku pahlawan di masa bukan seperti definisinya tepatnya untuk kasus yang satu ini. Pahlawan masa kini bukan lagi orang yang rela mengangkat senjata dan mengorbankan nyawa. Pahlawanku bukan pula para politikus, pejabat pemerintahan ataupun pe-men, batman dan supermen. Pahlawanku adalah pahlawan yang rela pergi pagi pulang sore. Dengan berbekal keikhlasan dan keyakinan bahwa nanti sore dia akan membawakan sesuatu untuk keluarganya. Merekalah pahlawna masa kini ku. Yang hidup sederhana, tanpa embenani orang lain. Yang hidup pas-pasan tanpa membebani Negara dan tak mengemis surat pembebasan utang pada Negara . is_ismi@yahoo.com

Sepucuk Surat dari Sahabat Dakwah FSLDK (We Miss U) Publikasi: 19/02/2004 09:42 WIB eramuslim - Hujan semakin deras mengguyur Depok. Jaket hijauku kurapatkan ke tubuh. Masjid Ukhuwwah UI cukup sepi, hanya beberapa orang ikhwan terlihat asyik menekuri mushaf Al-Quran di lantai bawah. Aku tidak mungkin balik ke Surabaya hari ini, karena besok masih ada bahan proposal yang harus aku cari di perpustakaan. Alhamdulillah, ada adik ikhwan teman seperjuangan FSLDKN XII yang akan menjemput. Sekedar mengusir sepi, kuayun langkah ke arah mading. ‘Info FSLDK’, tulisan itu segera menyita perhatianku. FSLDK kembali mengadakan aksi serentak penolakan terhadap pelarangan jilbab di sekolah negeri oleh pemerintah Perancis. Targetnya Kedubes Perancis untuk Indonesia ‘di-PHK’. Wonderfull! Ghirahku menggelora. Aku ingat semua kenangan setahun lalu, suka duka FSLDKN XII. “Afwan Mas, ana telat”. Suara seorang ikhwan mengagetkanku. Beriringan kami menuju mobil di depan gerbang mesjid. Di sepanjang jalan, Ahmad dengan sedih bercerita tentang kondisi tim FSLDK sekarang yang kurang semangat, kurang solid dan sederet kondisi lainnya. “Untuk mengkoordinir aksi jilbab Perancis itu saja sulit”, katanya. Rona sedih mulai membayang di wajahku. Teringat betapa ikhwah-ikhwah sebelumnya yang penuh ghirah mengemban amanah ini. Aku ingat, waktu itu juga kami sempat mengalami ‘kelemahan ghirah’, sampai seorang ukhti mempersembahkan sebuah rangkaian kata mutiara yang tersusun indah, sebuah taushiyah. Seorang ukhti yang selalu mengusung amanah dakwah dengan penuh ghiroh jihad, walaupun kanker tengah menggerogoti tubuhnya. Semoga Allah merahmatimu di FirdausNya, ukhti fillah! Untuk antum yang sedang mengemban amanah di Lembaga Dakwah Kampus –bersama Forum Silaturrahminya- serta antum yang mengemban amanah di wajihah mana pun, kubuka kembali copy surat taushiyah yang masih kusimpan indah sampai hari ini. Semoga untaian hikmahnya menyalakan kembali ghiroh juang kita, di wajihah mana pun kita. Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh Subhanallah, nahmaduhu wa nastaghfiruhu, Ash-sholatu wassalamu ‘ala rasuluhu, Muhammad SAW. Ana awali tulisan ini dengan merangkai basmalah dan istighfar, semoga Allah menjaga untaian kata ini dari berbagai fitnah, dan menjadikannya semata untuk perbaikan dakwah. Sebab, pada Allah lah semuanya bermuara. Nur-Nya lah yang akan mampu menunjuki kita pada perbaikan kualitas dalam mengemban amanah mewarisi misi para Nabi ini, Insya Allah. Bersama bait-bait nada ‘La Tas-aluni’ dari klub nasyid Tarbiyah, ana menekan tuts-tuts keyboard, mengajak kita semua merenungi kembali dan bertanya kembali tentang kehidupan kita ini. “La tas-aluni ‘an hayati, fahia asrorul hayat …” (Jangan kalian tanya tentang hidupku. Ia adalah kehidupan yang penuh misteri... ) Kesempurnaan adalah sebuah hal yang mustahil kita raih, dalam kapasitas apa pun. Namun, cukup lah ke-Maha Sempurna-an Allah menjadi motivasi bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas amal kita. Karena, kita bergantung kepada zat yang Maha Sempurna, akan kah kita ‘merasa nyaman’ dengan berbagai kekerdilan diri kita tanpa upaya perbaikan yang kontinyu? Ikhwah, FSLDK adalah sebuah amanah besar yang ada di pundak kita saat ini, dan di sekeliling kita, begitu banyak ikhwah yang setia menanti karya-karya besar kita untuk akselarasi dan sinergisasi gerak dakwah lewat wajihah Lembaga Dakwah Kampus ini. Perjalanan amanah ini menuntut profesionalisme kerja dari kita semua. Amanah yang nantinya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Ikhwah, Adalah layak untuk kita mengevaluasi perjalanan amanah kita sampai hari ini. Sudah optimalkah kita menjalankan amanah kita? Puluhan juta, bahkan ratusan juta dana yang kita habiskan tiap dwitahunan dalam washilah FSLDK, adakah itu sebanding dengan manfaat yang kita peroleh dalam penataan LDK se-Indonesia? Mari membuat daftar pertanyaan sebanyaknya! Ikhwah, Kalau jawabnya kita belum optimal, apa penyebabnya? Apakah pemahaman kita tentang washilah ini yang kurang, kemampuan kita kah yang terbatas, atau –naudzu billah- ruh dakwah kita kah yang mulai hambar? Kalau jawabnya tidak sebanding, apa yang harus kita lakukan? Manajemen kita kah yang harus diperbaiki, atau memang washilah ini kurang tepat guna? Mari cari jawaban dari tiap pertanyaan itu!

Ikhwah, Ana –dan ana yakin antum juga- punya sebuah ‘mimpi indah’. Mimpi yang membuat ana sedih, ketika di pagi hari ana dihadapkan pada kenyataan bahwa ana harus membuka jendela kamar. Kesedihan yang kemudian ana sadari semestinya menjadi bahan bakar ruh jihad dan nafas harokah islamiyyah. Antum tau, ketika itu aroma yang tertangkap oleh indera pembau adalah aroma kering … aroma kelelahan zaman menanti hadirnya sosoksosok mujahid dakwah yang mengusung SEMANGAT BARU, menapaki jejak-jejak pemuda Ash-Habul Kahfi mencari ridho Ilahi. ‘Kegelisan zaman itu seakan berbisik lewat angin yang berhembus perlahan, bersama mentari yang mengintip malu di balik awan. Dia bergumam: kapan kah gerangan para warotsatul anbiya’ itu berteriak lantang untuk menebar semerbak harum syariat Islam di bumi ini? SEMANGAT BARU JEJAK PEMUDA ASH-HABUL KAHFI MENCARI RIDHO ILAHI ……………………. Mimpi itu ikhwah, ana yakin bukan lah cerita negeri dongeng, atau lakon kartun yang utopi. Mimpi itu hanyalah sebuah harapan sederhana, yang berkisah tentang dakwah yang semerbak, bak bunga-bunga mekar di taman firdaus. Bayangkan …………….. Suatu hari antum terbangun di sepertiga akhir malam, sekitar jam 3 WIB. Setelah memanjatkan doa, antum bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Air wudhu mengaliri anggota tubuhnya meninggalkan kesejukan yang lembut. Lalu pakaian sholat yang harum mulai antum rapikan di tubuh yang ringkih ini. Sesaat sebelum lafaz niat qiyamullail antum lantunkan, indera pendengar antum menangkap sayup-sayup suara tangis yang syahdu menyayat hati. Subhanallah, suara itu milik tetangga sebelah kanan rumah yang sedang qiyamul lail juga. Bukan suara tangis menahan malu karena aib yang tercoreng akibat pergaulan anak gadisnya, bukan pula korupsi yang dilakukan sang ayah atau sejenisnya. Antum pun tertegun sesaat, sembari menggeser posisi sajadah yang mulai ‘kumal’ di ujungnya, pertanda sering dipakai sujud. Tarikan nafas perlahan berusaha menghadirkan segenap molekul tubuh, dalam ‘perjalanan cinta’ yang akan antum lakukan, menemui zat yang antum akui sebagai Ilah, zat yang padaNya, semua harap dan cinta bermuara. “Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu, hal adullukum ‘alaa tijaarotin tunjiikum min ‘adzabin aliim? Tu’minuuna billaahi wa rosuulihii wa tujaahiduuna fi sabiilillah …” lamat-lamat lantunan kalam ilahi itu kembali menyita perhatian antum. Suara itu mengalun syahdu diiringi sesekali isak tangis, seirama dengan tiap kata yang terucap. Pemiliknya tak lain adalah pemuda tetangga sebelah kiri rumah antum. Perniagaan yang menguntungkan … Rabb … indah nian ni’matMu pada kami yang hina ini. Takbiratul ihram pun antum lantunkan penuh kasyahdua., Kesyahduan yang membawa rindu membuncah, bertemu dengan Rabb sekalian alam.

Suara adzan di masjid mengakhiri untaian do’a panjang antum. Sebuah doa yang berisi pengaduan akan begitu banyak kelemahan dan kesalahan diri, dalam mengemban amanah menjadi khalifah Allah di bumi, amanah yang sebelumnya ditolak oleh seluruh langit dan bumi. Do’a itu berharap pula akan pertolongan Allah untuk para mujahidun di berbagai belahan bumi. Mereka … para pahlawan sejati yang telah menukar Ridha Allah dengan harta, tenaga, dan jiwa mereka. Mereka … para petarung yang tak pernah surut walau selangkah, dan tak pernah henti walau sejenak. Mereka yang dengan lantang selalu meneriakkan: ALLAHU AKBAR!!! Dalam tiap ritme perjuangannya. Hampir saja antum tidak mendapat tempat dalam barisan jamaah shalat shubuh, karena antum tiba terlambat, tepat saat muadzzin membaca iqomat. Seluruh jamaah berdiri dalam shaf yang rapi. Pakaian rapi melengkapi wajah-wajah teduh yang selalu terbasuh air wudhu itu. Allah … serasa shalat bersama jamaah para shahabat, degan Rasulullah SAW menjadi sang imam. Kerinduan akan jannhNya semakin membuncah. Jam menunjukkan pukul tujuh ketika antum membaca doa keluar rumah, dan mengawali langkah dengan kaki kanan. Antum akan menuju kampus hari ini. Di halte, bus kampus berhenti ‘menjemput’ antum. Dengan riang antum menyapa pak sopir lewat salam : “assalamu’alaikum pak, shobahal khoir …”. Tentu antum tak perlu berkelit kesana kemari menghindari bersentuhan dengan non-mahrom, karena bus hanya terisi kaum sejenis dengan antum; Tak Ada Ikhtilath! Sampai di kampus, antum menikmati kuliah dengan tenang, tanpa harus khawatir akan terkena zina mata, zina hati de-el-el, karena semuanya berjalan dalam sebuah sistem qurani. Setiap bahasan akan mampu meningkatkan ruhiyah antum. Satu lagi … semua fasilitas dapat antum nikmati GRATIS!, karena zakat, infak dan shadaqah kaum muslimin lebih dari cukup untuk membiayai semuanya. SUBHANALLAH ….!!! Innamal Mu’minuuna ikhwah … Hari itu antum lalui dengan aktivitas yang membangun ‘kesalihan pribadi dan ummat’. Antum saksikan pula bagaimana Allah memenangkan hambaNya lewat ukhuuwwah yang terangkai indah. ISLAM ADALAH RAHMATAN LIL ‘ALAMIN. Sekarang … buka lah mata antum, lihat lah kembali realita! Ternyata, kita belum dalam dunia indah tadi! Kita masih di sini! Di Sumatera, di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua … yang masih menanti perjuangan para mujahid. Kita masih berjuang di sini! Di FKI Rabbani, Salam, JN UKMI, JMMI, Pusdima, Sentra Kerohanian Islam, UKM Birohmah, dan lainnya. Berjuang lewat wajihah LDK tuk sebuah tujuan mulia: TEGAKNYA IZZAH ISLAM WAL MUSLIMUN! Dan … perjalanan perjuangan itu ikhwah. Masih jauh … hampir tak bertemu ujung. Penuh aral nan melintang, penuh onak dan duri. Karena Langkah ini adalah langkahlangkah abadi,

Menapak tegak laju tanpa henti. Tak pernah rasa rugi menapak jalan ini, Syurga Allah menanti Sekali lagi ikhwah, kita masih di sini! Di jalan dakwah ini! Kita di sini untuk berjuang! Setia mengusung cita: HIDUP MULIA ATAU SYAHID MENGGAPAI SYURGA! Karena itu ikhwah … Mari berkarya, dengan yang terbaik yang kita punya tentunya. Jangan pernah malas dan jemu berkorban untuk perniagaan ini! Berjuanglah ikhwah! Dan teruslah berjuang! Sampai Allah, RasulNya dan orang-orang mukmin menjadi saksi akan perjuangan itu. AllahuAkbar!!! syahidah01@plasa.com Antum = Kalian. Ana=Saya. Izzah=Kemuliaan. Ikhwan=Saudara Muslim Laki-laki. Akhwat=Saudara Muslimah Perempuan. Ikhwah=Teman-teman. Akhi=Saudaraku (untuk laki-laki). Ukhti=Saudaraku (untuk perempuan). Afwan=Maaf. Taushiyah=Nasihat. Ghiroh=Semangat. Wasilah=Sarana. Wajihah=Organisasi. Jangan Tangisi Apa Yang Bukan Milikmu Publikasi: 16/02/2004 09:49 WIB eramuslim - Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. Pffhh…sungguh semua itu tlah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa. Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majlis-majlis ilmu, majelis-majelis dzikir yang akan mengantarkan pada ketentraman jiwa. Hidup ini ibarat belantara.Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain.

Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita. Apa yang memeng menjadi jatah kita di dunia, entah itu Rizki, jabatan, kedudukan pasti akan Allah sampaikan.Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan kita bisa miliki, meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya. “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab(Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu)supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikaNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS AlHadid ;22-23) Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh.Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita,bukanya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi benar-benar mendikte Allah: Pokoknya harus dia Ya Allah… harus dia, karena aku sangat mencintainya. Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan pakasa.Dan akhirnya kalaupun Allah memberikanya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkanya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkanya dengan marah karena niat kita yang terkotori. Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan ini dari Allah : “…. Boleh jadi kalian membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian.Allah Maha mengetahui kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 216) Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apaapa yang kita rasa perlu didunia ini harus benar-benar perlu bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang mukmin tidak hidup untuk dunia tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak! Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu! Jazakallah khairan to Akh Salim atas taujihnya. It’s means a lot! shafiyah83@yahoo.com Karena Itu Aku Bangga Publikasi: 11/02/2004 11:14 WIB

eramuslim Aku bangga dengan anakku, Asy Syifa... Bangga dengan tangisannya yang melengking tajam, gelembung-gelembung ludah yang dibuatnya, gigitan gusinya saat menggigit jariku dengan kuat, atau jeritan girangnya saat aku pulang malam menjelang waktu tidurnya. Aku pun bangga dengan pelukannya yang erat dan manja saat kudekap, serta kaki dan tangannya yang selalu bergerak lincah kemana-mana. Ia belum genap 8 bulan, karena itu aku bangga. Aku bangga dengan abangnya, Aufa... Bangga dengan ketegarannya saat banyak jarum infus menusuk tubuhnya, keberaniannya tidur sendirian di kotak inkubator karena sakit yang diderita, dan bangga ia bisa menunjukkan rasa sayangnya sehingga denyut nadinya membaik saat kudekap. Aku bangga dengan wajahnya yang tampan, sosok tubuhnya yang gagah dan senyumannya yang ikhlas hingga menjelang detik-detik terakhir di pelukanku serta umminya. Ia begitu tegar dalam umurnya yang sangat singkat, karena itu aku bangga. Aku bangga dengan anak-anak Indonesia... Bangga dengan Abdurahman Faiz dan Sri Izzati, mereka bisa menghasilkan buah pena yang hebat tanpa kehilangan masa kecilnya. Dari kesederhanaan dan kejujuran kata, begitu banyak hikmah yang ditebarkan sehingga membuat pesona dan menyentuh hati nurani orang dewasa. Aku tak kalah bangga dengan anak-anak jalanan yang tidur di kolong jembatan, bukankah mereka begitu kuat? Tak dirasakannya gigitan dingin yang menusuk tulang atau pun patukan panas yang meradang. Semangat mereka mencari sedikit uang untuk makan membuatku selalu bangga, walaupun terkadang hanya bermodalkan kecrekan dan alunan nada sumbang. Dengan kaos dekil yang penuh bolongan dan kaki telanjang, wajah-wajah kotor beringus itu adalah jagoan-jagoan yang siap menentang hardikan, bahkan pukulan di kerasnya kehidupan jalanan. Aku pun sungguh bangga pada anak Indonesia, mereka masih bisa bermain, berlarian, bergulingan dengan riang gembira dan suara yang ramai, menikmati masa kecilnya di tengah kekalutan masa depan yang suram, karena itu aku bangga. Aku bangga dengan anak-anak Palestina... Mereka begitu tangguh, berani dan gagah. Wajah-wajah mungil itu berbalur asap mesiu dan darah, siap menentang kecongkakan, kekerasan, kekejaman dan kebengisan penjajah-

penjajah la'natuLlah. Teriakan mereka lantang meninju langit, gegap gempita memenuhi ruang udara, Khaibar-Khaibar ya, Yahud! Ja'isyu Muhammad saufa Ya'uud! Masa kecilnya jauh dari kesenangan, tapi semua dijalani dengan penuh ikhlas dalam derap langkah barisan HAMAS. Mereka sungguh berbeda dengan anak-anak di belahan bumi lainnya, karena tekad menjadi syuhada begitu membahana di dada. Batu-batu dan katapel mereka adalah jiwa intifadah, karena itu aku bangga. Namun... Aku tak kalah bangga dengan anak-anak yang hanya bisa tergeletak lemah tak berdaya dengan tatapan mata kosong tanpa makna. Bangga, karena mereka masih bisa tersenyum, tertawa dengan mata yang berbinar-binar menikmati masa gembiranya di sekolah luar biasa, sementara demi kesemuan martabat dan kehormatan orangtuanya, mereka telah dicampakkan dari keluarga. Anak-anak yang terlahir yatim piatu juga membuatku bangga, bukankah seseorang akan diberikan jalan untuk menjadi mulia karena mereka? Usapan di kepala mereka akan melembutkan hati manusia yang keras, bahkan memelihara mereka dengan baik akan menjadikan kedudukannya di surga dekat dengan Rasulullah Sallallaahu Alayhi Wasallam, bagaikan jari telunjuk dan jari tengah. Mereka semua masih anak-anak, tapi dalam usia muda telah menjadikan dirinya sebagai ladang amal dan teladan kepada yang mengenal mereka. Anakku Asy Syifa dan abangnya, almarhum Aufa, kalian adalah amanah dari-Nya, semoga kelak kuterima ganjaran surga karena pengorbananku sebagai orangtua. Dik Faiz dan Izzati, terima kasih ya, karena telah mengajarkan bahwa pena dan kesederhanaan kata pun dapat menuai pahala. Anak-anak jalanan, yatim piatu serta cacat mental, bukankah karena rasa kasih sayang dan cinta yang diberikan akan memudahkan jalanku ke surga? Dan anak-anak Palestina, mereka telah mengajarkan caranya mencintai Allah Subhanahu wa Ta'ala daripada selalu berdebat atau berfatwa. Sampaikan... Aku begitu bangga kepada mereka semua, karena aku tak tahu apakah diriku masih ada atau telah dipanggil-Nya saat mereka telah mengerti apa yang kutuliskan. Allahu a'lam bi shawab. Abu Aufa.

ferryhadary@yahoo.com

Karunia Allah Mana Lagi yang Kita Dustakan? Publikasi: 09/02/2004 16:25 WIB eramuslim - Perasaan memang susah dimengerti. Kadang ingin ini, kadang ingin itu. Tapi selalu saja tidak pernah puas. Namun apa yang terjadi, apabila perasaan kita merasa jauh dari Sang Pencipta, betapa sangat menyesal diri ini, sendiri seorang diri ditengah hiruk pikuk keramaian yang ada disekeliling kita. Sedih tiada yang mengobati, namun tertawa tiada berguna. Hidup serasa hampa apabila kita jauh dariNya , janganlah menjadi mahkluk yang merasa bisa hidup tanpa bimbinganNya, kita hanyalah seonggok sampah tanpa bimbinganNya. Tanpa hidayahNya kita tak lebih dari seorang yang bodoh dan tak ingin belajar. Pergi kesana kemari tanpa tujuan, tanpa tekanan bagaikan angin yang bertiup. Namun kita adalah seorang khalifah yang harus mengatur dunia ini, bukan diatur oleh dunia…”Dunia negara fana penuh dengan tipu daya” berusahalah untuk menjadi yang terbaik dalam beribadah kepadaNya, bukan karena ingin dipuji oleh mahklukNya. Engkau bisa mencapai dunia dengan bekal yang ringan, karena engkau akan segera meninggalkannya menuju alam yang dijanjikan. Jangan tatap dunia dengan segala tindak-tanduk penghuninya, karena dunia takkan mempedulikanmu, maka hiasilah ia dengan kebajikan Bersikap zuhudlah terhadap kenikmatan dunia sebisa-bisanya, karena berjihad melawan hawa nafsu adalah sebaik-baik jihad Dunia hanyalah taman bermain yang menggoda,dan angan-angan pendek para penghuninya akan berakhir jua. D U N I A… Kadang terlihat indah, namun sesungguhnya itulah kelebihannya. Membuat setiap orang yang melihatnya, merasakan keindahannya yang menyesatkan dan menyengsarakan. Namun kadang terlihat pucat dan minta untuk dikasihani oleh siapa saja yang telah sekian lama merasakan, bahwa dunia ini memang hanyalah tempat singgah yang hanya sesaat. Sungguh dunia ini hanyalah tipu daya, tapi tipu daya itu bukan terletak pada dunia itu sendiri, sesungguhnya dunia ini tidak mutlak tercela, ia terpuji bagi orang-orang yang mengerti dan berbekal dari dunia untuk kehidupan akhiratnya. So, what you waiting for… lets pray to Allah SWT. Sunyi… sepi… hidup ini tanpa perlindunganNya, kita pastilah tambah tak berarti bila kita jauh dariNya. But, don’t worry. Allah Maha Pengasih danMaha Penyayang, tapi apakah pantas pabila kita ingin dikasihi tetapi selalu menyakitiNya. Kita selalu lalai menjalankan perintahNya, tapi disatu sisi kita rajin melanggar laranganNya. Ya Allah, dosaku mungkin telah atau bahkan melebihi tingginya gunung. Tapi ku tahu, bahwa pengampunanMu seluas langitMu. Ya Rabb, sinarilah jiwa dan raga hambaMu ini dengan sinar cahaya hidayahMu. Ikhlaskanlah dan tuluskanlah niat hambaMu ini dalam beribadah kepadaMu ya Rabb. “Sungguh teramat sulit bagi diriku, untuk selalu berjalan di jalanMu ya Rabb.”

“ Kalau kita selalu berada dijalanNya, maka malaikat akan turun dan bersalaman dengan kita,” ucap salah seorang saudaraku, ketika aku berkeluh kesah terhadap permasalahan yang sedang aku hadapi. Kata-katanya memang sangatlah sederhana, tapi dalam sekali maknanya. Bagaimana mungkin, kita dapat selalu berada dijalanNya. Sehingga malaikat dapat bersalaman dengan kita, emang kita malaikat juga. Itulah yang ingin disampaikan oleh saudaraku, bagaimana kita bisa selalu berbuat baik dan terus beribadah kepadaNya. Sedangkan kita hanyalah seorang manusia biasa. Tapi kita juga jangan terlalu pesimis apabila kita sedang jauh dariNya sehingga kita akan selalu berusaha segera bertaubat kepadaNya. Siapa lagi yang dapat mengampuni tumpukan dosa-dosa kita? Pernahkah kita berpikir, begitu banyak nikmat dan rezki yang telah diberikanNya kepada kita ?! “Sesungguhnya Kami telah Menempatkan kamu sekalian di muka bumi itu (sumber) Penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 10) Sungguh… Kalau kita mau jujur, tak akan sanggup kita menghitung segala nikmat yang telah diberikanNya. Namun, sering kali kita tidak bersyukur atas segala nikmatNya. Dan barulah disaat tertimpa musibah, kita berputus asa. Ditambah lagi, kita sering kali lupa untuk berterima kasih. Atas segala nikmat yang telah diberikan, sebelum kita tertimpa musibah. “Dan jika Kami Rasakan kepada manusia suatu Rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian Rahmat itu Kami Cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.” (QS. Hud: 9) So, stay away from sin. And lets pray together.

To all muslim and muslimah all around the world. What you waiting for ! Lets make your life to be a good muslim or muslimah then tomorrow. triz3z@eramuslim.com Belajar dari Pak Tino Publikasi: 23/01/2004 08:36 WIB eramuslim - Bagus... bagus... Iih, bagus apaan??? Segitu aja dibilang bagus, dalam hati kesal. Diambilnya lagi sebuah gambar, kali ini tentang pemandangan sebuah desa, ada pegunungan, awan yang berhiaskan burung elang, sawah, ... begitu sederhana, namun lagi-lagi ia berkata, "Ini juga karya teman kalian, bagus... bagus..." sambil menganggukanggukkan kepalanya.

Ah... Kalau saja kita yang berada di tivi itu, mungkin kritikan atau malah cemoohan yang terlontar, "Mestinya, bisa lebih baik lagi dong!!! Masa' sih gambar jelek gini dikirim ke sini? bla... bla... bla..." Sadis? Kalo gak gitu gimana mereka bisa maju? Namun hari demi hari, acara itu selalu mempesona setiap generasi anak-anak. Mereka duduk asyik di depan tivi berbekalkan kertas-kertas dan pinsil warna, asyik dengan kesibukannya. "Tarik garis melengkung ke atas, juga ke bawah, lalu beri satu titik hitam, tidak perlu takut-takut ya. Kita beri warna merah, kuning juga boleh, nah... jadi gambar apa ini adikadik? Iya benar, seekor ikan," kemudian sambungnya lagi, "Menggambar itu mudahkan." Bagai para prajurit perang, anak-anak itu begitu patuh pada perintah. Mereka ikuti komandonya kata demi kata. Dan, begitu orang yang selalu berkaca mata dengan bingkai hitam dan bertopi itu menutup acaranya, "Sampai jumpa minggu depan," lalu mereka berhamburan, berteriakteriak untuk memamerkan gambarnya kepada siapa saja dengan bangga, "Adek udah bisa gambar ikan!!!" jerit mereka kegirangan. "Lho, ini gambar ikan? Ikan apaan?" Deg!!! Belajar menghargai orang lain, kadang teramat berat buat sebagian kita, apalagi bila itu berbentuk lontaran pujian. Padahal menurut ilmu psikologi, manusia lebih suka menerima pujian daripada celaan. Seorang ahli psikologi Jess Lair, di dalam bukunya I Ain't Much Baby, But I'm All I've Got berpendapat, "Pujian laksana cahaya yang menerangi semangat manusia. Kita tidak mampu berkembang dan membesar tanpanya. Kebanyakan manusia hanya bersedia memberikan kritikan kepada seseorang, tetapi enggan untuk menyatakan pujian kepadanya." Ahli pendidikan, John Dewey juga berpendapat, dorongan yang paling kuat dalam diri manusia adalah keinginan untuk dianggap penting. "Pujian akan menimbulkan perasaan berharga, perasaan mampu, dan percaya diri." Tentu saja yang dimaksud disini adalah pujian yang sewajarnya. Apakah lalu dalam Islam tidak boleh mengkritik? Bukankah khalifah Abu Bakar radiyallahu 'anhu dan Umar bin Khatab radiyallahu 'anhu lebih mencintai kritikan? "Jika aku bertindak salah, luruskanlah," kata Abu Bakar radiyallahu 'anhu saat pidato pertamanya sebagai khalifah, tegas. Bahkan seorang rakyat dengan berani menghunus pedangnya apabila Umar bin Khatab radiyallahu 'anhu nanti bertindak salah, dan beliau hanya tersenyum saja. Kritikan sangat berbeda dengan celaan. Kritikan yang baik akan membuat orang lain bangkit dari kekhilafan, tetapi celaan akan dilihatnya sebagai tantangan yang akan memancing lagi sikap kerasnya.

Sayang... sungguh teramat sayang, kadang kita lebih senang mengendus-endus kesalahan saudara kita, lalu menggunjingkannya di mana-mana. Menghina, menganggap remeh pendapat serta kerja mereka, gampang menilai orang lain tak punya kemampuan, hingga dengan ringan melontarkannya dari lidah-lidah yang memang tak bertulang. AstaghfiruLLAH al 'adzim... Pujian yang ikhlas sebenarnya akan memberikan gugusan rang keyakinan, dan ia adalah sebuah perasaan yang terpendam di lautan jiwa yang terdalam. Pun layaknya seperti tanaman, ia-nya akan tumbuh subur apabila ada daya lain yang menumbuhkan, dan salah satunya adalah pujian. Karena pujian adalah motivasi untuk membina jatidiri seseorang. Karena itu pula Aa' Gym pernah berkata, "Belajarlah untuk senang dengan kesenangan orang lain, belajarlah untuk memuji dan menghargai prestasi orang lain, belajarlah untuk menjadi bagian dari kesuksesan orang lain, serta belajarlah untuk menikmati bagaimana diri kita menjadi bagian dari keutamaan dan kemuliaan orang lain, insya Allah hidup akan lebih nikmat, tentram dan bahagia." Almarhum Pak Tino Sidin, telah banyak mengajarkannya pada masa kecil kita. Dari sebuah kata sederhana, "Bagus... bagus..." mungkin tiada makna, tapi sebenarnya ia adalah sebuah mutiara yang berbentuk ungkapan penghargaan, lahir dari hati yang bersih dan jiwa yang besar. ALLAHua'lam bi shawab.

Abu Aufa (Yang harus lebih banyak belajar untuk berjiwa besar) Bisikan Hati Seorang Amerika Publikasi: 20/01/2004 08:27 WIB “Hello…! You ? Oh my, why did you never call me for along time?” Suara itu datang dari jauh di seberang sana, San Antonio, negara bagian Texas, Amerika Serikat. Pemiliknya, Eduard Longoria. Pria berusia 62 tahun, seorang guru, staf pengajar sebuah sekolah menengah di Eagle Pass. Dari nada suara yang saya tangkap, seolah-olah dia tidak yakin bahwa sayalah peneleponnya. Setahun ini kami memang nyaris tidak lagi pernah kontak. Sebenarnya saya sudah berusaha beberapa kali mencoba hubungi lewat ponsel dan emailnya, tetapi saya ketahui kemudian keduanya tidak lagi aktif. Dering telepon diawal tahun ini paling tidak membuat dia lega, bahwa saya tidak melupakannya sebagai seorang teman. Ya! Kami sudah berteman, distance friendship, tidak kurang dari 15 tahun terakhir ini. Selama itu pula kami tidak pernah ketemu, kecuali pada awal pertama ketika saya kenal dengannya sebagai seorang pasien, dan enam bulan sesudahnya.

Mulanya dugaan saya pasien yang satu ini orang Arab Libanon, karena penampilannya mirip-mirip orang Libanon yang ke-eropa-an. Kulit kemerahan, rambut pirang, sebagian nampak beruban, bermata biru, kumis tebal, dan postur tubuh sedang. Siapa pernah menyangka orang Amerika tiba-tiba muncul di rumah sakit, di tengah-tengah orang Arab? Kehadirannya di depan counter, bangsal dimana saya bekerja, pagi hari itu, mengotomatiskan sapaan umum saya, sebagai petugas kesehatan kepada pengunjung. “Inta marid...?” (Anda pasien?) sapaku dalam Bahasa Arab. “I don’t speak Arabic!” jawabnya ringan. “Sorry..!” Kataku mohon maaf. Saya tunjukkan tempat tidurnya di sudut bangsal. Dengan hanya berbekal sebuah tas kecil berisi sejumlah buku bacaan dia segera membaringkan diri di kamar pojok tersebut. Eduard mengalami gangguan sistem perkencingan. Ada darah Spanyol mengalir pada tubuh pria ini. Prasangka awal saya membenarkan, dari namanya, sekalipun dilahirkan di bumi Paman Sam. Pertemuan kami terjadi di Kuwait, sesaat sesudah Perang Teluk, antara Irak-Kuwait. Eduard mengikuti program rekrutmen guru di Texas untuk ditempatkan sebagai tenaga pengajar pada American School of Kuwait. Selama rawat tinggalnya, disela-sela kekosongan waktu yang ada, misalnya dinas sore atau malam, saat Eduard terjaga, nampaknya dia butuh teman berbicara, saya menemuinya. Banyak obrolan yang bermanfaat diantara kami. Katakanlah sharing, berbagai topik. “Orang Amerika tidak seperti apa yang anda lihat di film-film!” katanya suatu saat ketika saya bertanya tentang kondisi lingkungan tempat tinggalnya di Texas. Ada nilai-nilai sosial yang mereka tetap junjung tinggi, baik itu soal penggunaan etika berbahasa maupun pergaulan. Hanya saja, sebagaimana akar budaya yang berbeda, apa yang berlaku di negeri lain, belum tentu bisa diberlakukan disana. Apa yang tabu di negeri kita, tidak mesti tabu di Amerika Serikat. Misalnya, pada satu kesempatan Eduard memberitahu saya, dia diundang oleh temannya, sepasang guru yang akan meninggalkan Kuwait. Saya ditawari pula. Diajak serta memenuhi undangan makan malam di sebuah restoran di down town, Kuwait City. Tentu saja saya senang. Hanya saja yang tidak saya mengerti, ketika sebelum berangkat Eduard memberikan sejumlah uang kepada saya untuk pembayaran bill makan malam nanti. “Katanya diundang makan? Koq menyiapkan duit pembayarannya segala?” tanya saya dalam hati. Keraguan saya terjawab ketika kami berempat selesai makan. Ternyata, meski kita diundang, harus bayar sendiri-sendiri. Bayangkan jika itu terjadi di negeri kita? Memang beda kan? Gangguan kesehatan yang menimpa Eduard, tepatnya pada prostatnya, tidak bisa diharapkan bakal pulih dalam waktu yang singkat. Beberapa kali dia harus pulang balik ke RS, hal yang membuat kami pada akhirnya lebih akrab. Kadang saya diundang ke apartemenya, dikenalkan kepada sesama guru asal AS, diantaranya Ms.Carole dan Mr. Keith. Sejauh pengetahuan saya, orang-orang Amerika ini memang tidak seperti mereka yang ada di film-film, apalagi seperti George W. Bush yang pandangannya ‘miring’ tentang Islam. Mereka baik sekali dalam menjamu tamu, terbuka, dan sopan sebagaimana profesinya, guru. Bergaul bersama mereka memberikan wawasan dan pengkayaan pengalaman hidup yang tersendiri bagi saya.

Berbagai persoalan hidup sempat kami diskusikan, tidak cuman terbatas pada kesehatan dan sosial budaya saja, juga agama. Sekali saya menyinggung soal Spanyol, yang dulunya dikenal sebagai Andalusia, negeri nenek moyang Eduard, yang dijawab dengan anggukan kepala ketika saya kemukakan bahwa mereka adalah orang-orang Islam yang terkhianati. Dalam sebuah buku yang berjudul The Story of Islamic Spain, karya Syed Azizur Rahman (2001), disebutkan bahwa kaum Muslim Andalusia lenyap dari sana sesudah mengukir salah satu peradaban yang paling besar dalam sejarah Eropa. Keturunan mereka kini tidak lagi eksis di Spanyol, dimana selama berabad abad mereka tinggal, saling mengasihi sesama, berani bertarung dengan musuh, menciptakan keindahan, dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Walaupun begitu, sisa-sisa keberadaan mereka masih tetap bisa dirasakan hingga kini. Eduard, sebagai seorang guru yang tahu sejarah, diam saja menyimak, saat sejarah kebesaran perjuangan Islam ke Spanyol yang dipimpin Tariq Ibn Ziyad pada tahun 711 sesudah Masehi ini saya singgung. Tanda setuju? Wallauhu’alam! “I know Islam is a good religion!”, pernyataan itu keluar ketika saya katakan bahwa agama yang dianutnya selama ini bukanlah agama yang benar. Saya tunjukkan beberapa buah buku-buku kecil karya Ahmed Deedat yang saya harapkan bisa turut mewarnai bacaan-bacaan novel petualangan yang berjajar di rak bukunya. Saya berikan pula kopiah hitam dan sebuah sarung Samarinda sebagai kenangan. Dari wajahnya saya ketahui apa yang dikatakannya adalah pernyataan jujur, tidak sekedar membuat lawan bicaranya ‘senang’. Nilai-nilai positif inilah yang membuat saya, sebagai orang asing dimatanya, cukup kagum, terutama keterbukaannya terhadap kebenaran sebuah agama. Dia pernah katakan “It is still very difficult for me to apply Islam to be my religion among my own people!” Saya paham betul apa yang dikatakan, karena pindah agama, tidak semudah membalik tangan! Pernyataan Eduard tentang Islam ternyata bukan hanya terbatas di mulut. Beberapa bulan sebelum kami kenal dia malah sudah belajar Bahasa Arab di Islamic Propagation Center (IPC) Kuwait City. Dia bilang, dia satu-satunya orang Amerika yang mengikuti kursus disana. Saya lihat buku-buku kursus Arabnya. Dia belajar menulis dan merangkai mulai dari Alif, Baa, Tha...hingga Ya’.....! Gaya tulisannya mengingatkan saya ketika baru belajar mengaji pada bulan-bulan pertama di rumah Kyai Arif di kampung kami. Tahu gaya tulisan Arab anak-anak kan? Sebagai pemula, penuh coretan, layaknya belajar menulis pertama kali. Eduard tertawa kecil ketika saya kemukakan bagaimana anak-anak di Indonesia belajar menulis arab di madarasah. Coba saja saya seorang ustadz, barangkali saya bisa bantu mengajarinya. “Saya tahu, Nabi Isa bukanlah Tuhan” katanya. “Saya tidak menyembahnya!” lanjutnya. “Kenapa kamu tidak masuk Islam saja?” Tanyaku ingin tahu lebih dalam. Kelihatannya saya sudah ‘masuk’ terlalu dalam ke sisi kehidupan pribadinya yang bagi kebanyakan orang-orang Barat sebenarnya bersifat personal dan kita orang luar tidak perlu campur tangan. Sekali lagi, niat saya bukan mencampuri urusan pribadinya. Sebagai umat Islam saya tidak ingin orang semacam dia yang pada dasarnya mau membuka hatinya untuk

menerima kebenaran, terperosok lebih jauh kedalam kesesatan. Barangkali dia sedikit butuh ‘encouragement’. Yang saya sadari adalah kendati hidayah hanya datang dari Allah SWT, tugas kita adalah menyampaikan pesanNya, betapapun hanya satu ayat. Sayangnya niat saya tidak kesampaian. Eduard keburu balik ke negeri asalnya. Terbang bersama KLM, transit di Filipina sebelum meneruskan perjalanannya ke Los Angeles, pangkalan dimana dia harus mendarat pertama kali sebelum melanjutkan lagi ke Texas. Selama di Filipina, sebulan disana, koresponden kami berlangsung terus. Setidaknya dua kali surat yang saya terima dari Baougio, kota sejuk tujuan wisata di negerinya Mrs.Arroyo. Disana Eduard berkisah tentang masih dirasakannya gangguan saluran perkencingan yang dialaminya, dimana beberapa kali terjadi perdarahan. Usianya saat ini tergolong tua, katakanlah kakek buat ukuran rata-rata orang kita. Faktor umur ini tidak membuat minat Eduard surut untuk melanjutkan studinya. Semangat belajar dan membacanya tinggi. Itu saya ketahui disaat-saat senggang. Bahkan pada saat memasak di dapur, ataupun mencuci (tentu saja dengan washing machine), sambil membaca. Sebuah nilai positif lagi yang bisa saya petik darinya. Yang mengharukan adalah, ketika diceriterakannya dia harus pisah dengan sang istri. Dia merasa dikhianati wanita asal Mexico beberapa tahun sebelum berangkat ke Kuwait. Meski begitu, “I am strong enough!” katanya tanpa ekspresi sombong. Orang Amerika umumnya memang tidak segan-segan menunjukkan kelebihannya yang bagi orang kita tabu. Hidup sendiri di apartemenya tidak menjadi masalah, semua kerjaan dilakukannya sendiri. Anaknya, Jefrey, saat ini tinggal bersama bekas istri dan mertuanya. Seminggu sekali Eduard mengunjungi Jefrey, biasanya weekend. Perbedaan agama yang ada diantara kami tidak menjadikan penghalang untuk terus berteman tanpa harus menjaga jarak sebagai sesama manusia, umatNya. Hampir 15 tahun sudah kami berteman, selama itu pula saya tidak pernah mengirimkan Kartu Natal, Tahun Baru ataupun ucapan Selamat Ulang Tahun kepada Eduard. Dia sangat menghormati keyakinan saya, bahwa di dalam Islam kami dilarang memberikan ucapan-ucapan tersebut yang pada intinya adalah doa. Padahal untuk menerapkan perlakukan yang sama di Indonesia konsep gaul antar umat beragama semacam kami bisa saja akan sulit. Keterusterangan itu kadang terasa pahit! Sewaktu dia sudah berada di Amerika, saya kirimkan beberapa brosur-brosur tentang Islam. Sebagai imbalannya, saya juga dikirimin ‘Bible’ King James Version, sekedar menambah wawasan saya tentang ajaran Katolik yang dianutnya. Ketika Eduard meminta saya untuk mendoakan perbaikan kondisi sistem perkecingannya yang memakan waktu bertahun-tahun, sempat saya katakan “Ya!”. Saya katakan ‘ya’ dalam arti saya memohon kepada Allah SWT agar dibukakan pintu hati Eduard olehNya. Agar dia mendapatkan hidayahNya. Agar suara hati Eduard terhadap Islam selama ini segera menyeruak. Setahun sesudah kepulangannya dari Kuwait dan tinggal di AS, dia berangkat lagi ke Saudi Arabia, tepatnya di Dammam. Jadi, harapan saya tidaklah berlebihan. Eduard sudah belajar banyak tentang kehidupan orang-orang Islam di tanah Arab, mempelajari

Bahasa Arab, membaca buku-buku Islam, dan mengenal pula sejumlah muslim. “Anakanak Arab nakal-nakal. Tapi di Amerika murid-murid kami jauh lebih nakal” katanya ketika mengomentari perbandingan sebagian pengalaman mengajarnya antara di AS, Kuwait dan Saudi. “However I’ve seen many good moslems”, akunya tanpa memperlihatkan ekspresi pujian. Orang-orang Amerika di tanah Arab umumnya mendapatkan perlakuan yang ‘lebih’. Pelayanan kesehatan gratis, pemondokan rumah tanpa bayar, dan tax-free salary adalah sejumlah fasilitas yang bisa saja malah sulit didapatkan di AS. Subhanallah! Sebuah alasan yang wajar jika mereka betah di Timur Tengah. Sayangnya, serangkaian pengalaman ini tidak cukup bisa kita gunakan sebagai landasan bahwa Eduard lantas akan memeluk Islam. Bagi saya pribadi, minimal, dari sanalah saya bisa berasumsi bahwa gambaran Eduard terhadap Islam adalah jauh dari kesan negatif. Dua kali keberangkatannya ke Timur Tengah dari AS nyatanya bukan semata didasari oleh faktor finansial. Jika hanya karena uang, di Amerika Eduard juga gajinya besar. Sebaliknya, itu suatu pertanda positif, bahwa orang-orang diluar Islam semacam dia justru menaruh ‘simpati’, merasa dilindungi dan dihargai hak-haknya oleh kaum muslimin kala dia tinggal diantara mereka. Siapa tahu pengalaman yang telah dipetik Eduard bisa ditularkan kepada teman-temannya, murid-muridnya, dan orang-orang Amerika lainnya. Bahwa Islam sebagai agama yang cinta damai, tidak identik dengan aneka ragam terorisme yang selama ini banyak digembar-gemborkan oleh media masa Amerika Serikat.

Syaifoel Hardy Shardy@emirates.net.ae Inferiority Complex Publikasi: 09/01/2004 11:12 WIB eramuslim - Inferiority Complex. Apaan tuh? Perasaan malu (shyness), kehilangan kepercayaan diri (diffidence), sifat takut/malu-malu (timidity), atau istilah trendnya anak muda sekarang MINDER dan NGGAK PD. Kok bisa gitu ya? Pertanyaan itu melintas dikepalaku. Kenapa minder dan nggak pd? Kita kan Muslim. Sebelum kita nyari obatnya, tentu kita bakalan cari dulu sebabnya. Kalo aku pikir-pikir, akar permasalahannya adalah datang dari keimanan. Kita mengalami “erosi” iman,....bahkan bukan lagi erosi, namun sudah menjadi “longsor”. Perkembangan teknologi, kemajuan zaman, globalisasi, modernisasi, semua ibarat air hujan yang sedikit demi sedikit mengikis keimanan, bahkan dibeberapa kasus ibarat air bah yang mengakibatkan terjadinya longsoran iman, membawa semua keimanan itu dalam aliran bah. Seiring terkikisnya dan hilangnya keimanan itu, kita mulai meraba-raba, mata mulai melirik, telinga mulai dipertajam, akal pikiran dimainkan. Buat apa? Buat mencari

pijakan dan pegangan. Dan decak kagum pun muncul, ketika mata menemukan fokus yang indah, yang lebih maju dari segi peradaban dan teknologi, namun miskin dari segi rohani, dunia barat. Barat menjadi kiblat, identitas ditunjukkan dengan meniru stylenya barat, gaya hidup berputar 180 derajat. Otakpun mulai melakukan perbandingan dan hitungan matematis, yang sudah pasti persentasenya selalu lebih di barat. Hasilnya, barat adalah “kiblat” dan “figure” yang patut diikuti. Trus, hubungannya dengan inferiority complex itu apa? Sudah pasti ada. Kalau kita mempelajari Islam, yakin akan keislaman kita, keagungan ajaran Islam, inferiority complex nggak bakalan terjadi. Tapi kondisi sekarang, sepertinya cenderung menganggap bahwa Islam itu sendiri kolot dan terbelakang, sehingga melahirkan perasaan minder dan nggak pede tadi untuk mengakui keislaman kita. Sebenarnya, anggapan itu keluar, karena kita tidak mau melihat kembali sejarah Islam itu sendiri. Karena kalau dibandingkan dengan masa kejayaan Romawi dan Yunani, kejayaan Islam adalah yang terpanjang dalam sejarah, bahkan perkembangan barat yang diilhami dengan era renaissance pun mengalami fase kekosongan (vacuum). Kita lihat saja betapa banyak ilmu pengetahuan yang lahir dari pemikiran para ahli-ahli muslim. Dibidang kedokteran, yang kita memandang dunia barat itu sangat maju, padahal banyak sekali konstribusi ahli-ahli kedokteran Islam dari zaman dahulu. Sebut saja, Al Zahrawi (976-1013) yang bukunya menjadi standar bagi Eropa dalam ilmu bedah dan juga anatomi selama berabad-abad, atau Ibn al Quffi (630-1286) yang bukunya itu mengetengahkan permasalahan traumatologi serta ilmu bedah dari kepala hingga kaki. Konstribusi ahli-ahli kedokteran Islam ini meliputi keseluruhan aspek kedokteran. Atau Jabir Ibnu Hayyan (721-815) yang dikenal sebagai bapak kimia, Ibn Sina (981-1037) yang konstribusinya diberbagai bidang, mulai dari kedokteran, filosofi, eksiklopedia, matematika dan juga astronomi. Siapa lagi? Ada Ibn Rusyd, Ibn Khuldun, Umar AlKhayyam, dan masih banyak lagi. Kemampuan para ilmuwan islam ini menjadikan sebutan ilmuwan rangkap atau eksiklopedia, karena penguasaan mereka terhadap beragam keilmuan. Jadi, apa yang membuat kita minder dan nggak pede dengan sekian banyak kekayaan islam itu sendiri. Gimana dengan zaman sekarang? Bagi yang masih ingat dengan Abdus Salam, peraih nobel fisika tahun 1979, yang penelitian-penelitiannya tidak terlepas dari keyakinannya akan ilmu Allah, dan keyakinannya bahwa Al Quran adalah penuntun dalam segala ilmu. Kalo aku sih, memandang ke barat itu boleh saja, tapi kita hanya memandang, sedangkan pegangan kita tetap pada 2 pusaka kita, Al quran dan Hadist. ”Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir".” (QS 3:32) ”Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS 3:132)

Barat itu memang maju secara peradaban dan teknologi, tapi rohaninya miskin. Lihat saja negara-negara Eropa yang dari segi tatanan sosial lebih bagus. Tapi, kemiskinan rohani membuat mereka lelah untuk hidup dan memilih meninggalkan dunia dengan paksa dengan jalan bunuh diri. Dari data WHO, The world health report 2001, disebutkan bahwa di Eropa sendiri, penyebab kematian tertinggi kedua adalah bunuh diri. Di Amerika serikat sendiri, kisaran 19 – 20-an persen masih mewarnai angka korban bunuh diri. Kenapa? Toh mereka sudah maju, peradaban maju dan teknologi nggak kurang modern. Tentu saja statistik itu saja nggak cukup, namun aku cuma mau memperlihatkan bahwa kemiskinan iman gampang sekali mendorong kita ke hal-hal seperti itu. ”..... Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”(QS 4:29) Aku pikir, yang bisa kita jadikan perbandingan dan cambuk buat kebangkitan kita itu adalah bagaimana mereka bisa maju, tatanan sosial mereka yang harmonis, perekonomian mereka yang bagus, pendidikan yang baik, dan sebagainya. Namun, jangan salah, kalau kita mau mempelajari Islam, sebenarnya semua itu sudah ada di dalam Al Quran dan Hadists, berikut pula dengan buktinya, yaitu sejarah kejayaan Islam. Jadi, jangan lagi berpikiran bahwa orang yang memegang teguh syari’at itu kolot, pergi ke pengajian dianggap kuno, nggak ngeceng di mall disebut kuper, dan sebagainya. Aku yakin banget, dengan pemahaman tentang keislaman secara baik akan menghapus segala rasa minder dan nggak pede itu, inferiority complex, dan menjadikan kita bangga sebagai muslim. Jadi jangan seperti lirik lagunya Arie Wibowo, Singkong dan Keju. ...Bajumu dari Paris. Sepatumu dari Italy. Semua demi gengsi. Semua serba luar negeri.... Ade’ d355y_1978@yahoo.com Gothenburg Sesungguhnya Inilah Aku Adanya Publikasi: 07/01/2004 18:09 WIB eramuslim - Sesungguhnya aku dapati diriku dalam keadaan telanjang, kemudian Dia beri aku pakaian. Sesungguhnya aku dapati diriku dalam kebodohan, kemudian Dia beri aku lentera ilmu. Sesungguhnya aku temui diriku dalam kelemahan iman, fisik dan mental, kemudian Dia beri aku keteguhan dan kekuatan

Sesungguhya aku dapati diriku dalam kesesatan dan kejahiliyahan, kemudian Dia memberi aku petunjuk. Sesungguhnya aku dapati diriku dalam kegelapan, kemudian Dia beri aku cahaya. Sesungguhnya aku dapati diriku dalam kebingungan, kemudian Dia beri aku jalan keluar. Sesungguhnya aku dapati dirku dalam kehinaan dan kerendahan, kemudian Dia beri aku kemuliaan dan izzah serta iffah. Akulah petualang yang mencari kebenaran. Akulah manusia yang mencari makna dan hakekat kemanusiaanya di tengah manusia. Akulah patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan, dan kehidupan yang lebih baik bagi tanah air di bawah naungan Islam yang hanif. Mimpi-mimpiku hari ini adalah kenyataan hari esok. Yang akan aku wujudkan dengan kerjasama dan azzam yang mantap. Kemudian bumi yang merana ini akan aku cerahkan dengan kesegaran embun fikrah yang aku miliki. Yang berkuasa tidak akan selamanya di pucuk pimpinan. Yang lemah tidak akan selamanya di bawah. Yang berjuang akan menuai hasil gemilang dan berkah, aku pun terus bersiap untuk turut ambil bagian dalam perjuangan itu. Fikrahku ini akan menang jika kita memiliki iman kuat, tulus dan ikhlas, serta semangat yang berkobar dalam berjuang. Seorang pejuang memiliki empat ciri khas, yaitu iman, ikhlas, semangat dan amal. Dasar iman adalah hati yang hidup, asas ikhlas adalah hati yang suci murni, landasan semangat adalah perasaan yang kuat, sedangkan amal adalah tekat yang selalu segar. Akan kupegang terus azzamku ini, karena sesungguhnya sholatku, ibadahku, dan matiku hanyalah untuk Allah SWT, Tuhan semesta alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Inilah aku, sedangkan kamu, kamu siapa? Yesi Elsandra (Inspirasi dari untaian nasehat Hasan Al-Bana) Pencarian Makna Publikasi: 06/01/2004 13:13 WIB eramuslim - ”Kamu kenapa banyak sekali sholatnya? Apa tidak capek, kan itu mengganggu ritme kerja”, tanya Berti, temanku dari Jerman. Itu kira-kira diskusi awal kami tentang sholat. Berbagai pertanyaan muncul, dan butuh jawaban. Kadang beberapa pertanyaan menimbulkan perdebatan, jawaban yang menurutnya kurang logis akan

mengalami penolakan, dan tentu saja gak mudah menghadirkan jawaban yang bisa mereka cerna. ”Kenapa ya, setiap saya bertanya sama beberapa orang Islam, mereka selalu menjawab bahwa itu perintah Allah, udah ada dalam Al Quran, dan Hadist?”, itu pertanyaan yang biasa dilontarkan beberapa temanku yang non muslim dan datang dari negara-negara maju. Aku mikir juga, padahal jawaban mereka itu bener lho. Toh secara mendasar desain hidup manusia menurut Allah memang untuk beribadat, dan yang pasti gak bisa ditawar. Wama a Khalaqtul Jinna wal Insa Illa liya’buduun. Tapi kenapa jawaban itu gak memuaskan mereka? Menurutku, karena mereka sudah terbiasa berpikir logis, jadi kita mesti memberikan jawaban yang sejalan dengan pikiran mereka. Kalo aku ngeliat harfiah kita sebagai manusia, yang diberikan akal, berarti Allah udah menyuruh kita untuk berfikir, menggali semua potensi langit dan bumi (QS. 55:33) ”Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”. Dan ayat-ayat-Nya yang sarat dengan makna yang perlu digali. Toh, Allah sendiri juga gak suka dengan muslim yang hanya membawa-bawa kitab-Nya tapi gak tahu maknanya. Walo kita tahu kalau sikap kita terhadap perintah Allah adalah sami'na wa atha'na sesuatu yang gak bisa ditawar lagi. Trus, kenapa kita masih mencari makna? Karena manusia diberi akal untuk berpikir, dan dengan berpikir itu melanjutkan proses keimanan agar meningkatkan ketaqwaan. Jadi, pencarian makna itu semata-mata menambah keimanan dan ketaqwaan. Kultur kita yang sebagian besar membentuk keislaman kita. Masyarakat Islam kita sebagian besar terlahir sebagai muslim, dan mereka menjalani hidup dengan tetap berpredikat sebagai muslim, namun yang membedakan apakah mereka menjalankan islam keturunan dan kewajiban, atau menjalankan islam dengan mencari dan memahami islam itu sendiri. Beberapa yang hanya ”islam KTP” toh akhirnya dengan mudah dipengaruhi dan meninggalkan Islam demi sebuah pernikahan, pekerjaan, dan sebagainya. Dan kita juga tahu kalo seorang berilmu, yang menggali makna untuk meningkatkan ketaqwaannya, punya nilai lebih dibanding dengan ahli ibadah yang seharian membaca al quran dan menegakkan sholat, namun tidak tahu maknanya. Dengar saja lirik lagunya Bimbo, Anak Bertanya: Ada anak bertanya pada bapaknya. Buat apa berlapar-lapar puasa.

Ada anak bertanya pada bapaknya. Tadarus tarawih apalah gunanya. Dari lirik itu secara mudah kita simpulkan, bahwa perintah dan larangan Allah itu pasti ada makna dibaliknya. Aku kadang jadi miris juga, denger jawaban orangtua ke anaknya yang menanyakan hal diatas,”Hus, kerjakan saja. Itu udah perintah Allah, jadi tinggal dijalankan saja kalau gak nanti berdosa”. Dengan bekal seperti itu dari kecil, bagaimana generasi berikutnya? Bagaimana mereka tidak menjadi gamang dalam menjalankan keislamannya, sementara dari kecil mereka tidak pernah diperkenalkan dengan makna keislaman itu sendiri. Lapar mengajarmu rendah hati selalu. Tadarus artinya memahami kitab suci. Tarawih mendekatkan diri pada Illahi. d355y_1978@yahoo.com Perenungan Publikasi: 23/12/2003 10:44 WIB eramuslim - Perenungan. Kata yang mudah diucapkan namun susah dimaknai. Suara Pak Ismail masih mengiang ditelingaku, padahal sudah tiga tahun lewat aku mengikuti training ini. Siapa anda? aku gelagapan saat ditanya seperti itu, semua mata memandang ke aku. Spontan kujawab,"Saya manusia, abdi sang Khalik". Pak Is, begitu beliau disapa, melangkah kearahku. "Apakah benar anda manusia? Apakah benar anda berpikir, bertindak dan berlaku sebagai manusia? Apa anda memang menempatkan diri sebagai abdi Sang Khalik?". Rentetan pertanyaan mengalir dari mulut beliau. Saat itu, aku benci....benci banget ikut pelatihan ini. Aku benci sama beliau. Semua yang ikut sudah tua, jauh diatas aku. Apalagi, baru duduk sudah disuguhi pertanyaan yang bikin puyeng. Sungguh hari yang ngeselin. *** Hari kedua, duduk ditempat yang sama. Pak Is membagikan kertas putih dan meminta kami menggambarkan wajah kami disana. Just peace a cake. Saatnya memperlihatkan keahlian menggambar. Gambar itu, yang dipuji disana-sini, ditempelin dan diberi nomor didepan meja masingmasing. Waaahhh...gile. Ternyata aku itu emang penuh potensi, keren gitu hasilnya. Hi...hi...yang laen ...ancur. Pak Is menghentikan kesenanganku. Beliau membagikan lembaran-lembaran soal dan kertas jawaban. Ah....paling cuma test psikologi. Gampang ini.

Hari kedua, aku lewati dengan sedikit perasaan senang, udah bisa unjuk gigi sih. *** Hari ketiga, keempat dan kelima, dilalui dengan permainan, diskusi, debat dan segala macam yang menarik. Eh, ternyata asyik juga ya . *** Hari keenam. Pak Is berdiri didepan dengan dua orang asistennya. Kertas-kertas dibagikan, hasil-hasil dievaluasi. Bantahan bermunculan, penolakan disana-sini. Toh, ini hanya selembar kertas, tidak bisa dijadikan bukti otentik. Masa aku, tidak kenal diriku, masa perlu orang lain untuk mengenalkan aku,......non sense. Boong semua, apaan ini. Pulang kerumah, dengan setumpuk kertas dan pr membuat surat. Kupandangi lekat kertas-kertas bertinta merah dan biru, dengan grafik serta kurva yang melintas saling memotong. Apaan sih ini, ......kayanya perlu dibaca ini penjelasannya. Sombong, overconfidence, nggak punya target, pengambil resiko, dsbnya. Masa sih, aku seperti itu? gila aja. Mataku tidak bisa terpejam mengingat kertas-kertas itu. Kenapa aku sombong? padahal aku kan dikenal supel, banyak teman, pergaulan luas? Over confidence? kok bisa ya....... Segala macam pertanyaan dan jawaban bersiliweran dibenakku. Tak terasa, subuh menjelang, teng.....aku tersentak. Satu malam aku terjaga memikirkan hasil kemaren. *** Pak Is masuk ke kelas dengan senyum khasnya. Dan begitu beliau mengucapkan salam, semua berebutan mengajukan pertanyaan. Dan semua pertanyaan sama, apakah benar saya ini seperti ini? Pak Is tersenyum, dan dengan bijaknya berkata,"Ada satu hal yang bersemayam didalam hati manusia, ego pribadi. Perasaan itu melahirkan kesombongan, yang menutupi hati sehingga hati tidak lagi bisa melihat, hati tidak lagi bisa memberikan penilaiannya, hati cendrung disekap oleh kesombongan. Lalu, si ego meneriakkan pernyataan ini saya, dan otak berpikir, saya tahu dan kenal siapa saya. Itulah rentetannya." Beliau terdiam, lalu bertanya,"Sekarang, siapa dari hadirin sekalian yang tidak menolak penilaian tersebut?". Beliau memutar pandangannya kesekeliling, tak satupun yang menunjukkan tangan.

"Itulah manusia, terlalu cepat menilai, terlalu cepat memvonis, sebelum mengerti dan paham duduk persoalannya. Kembali si-ego bertindak, kembali si-ego menutupi hati dan pikiran". "Sekarang, coba hadirin sekalian beri waktu setengah jam saja, duduk, relaks dan mulai berpikir apa benar ini saya? lihat hasil saudara, renungi hasil itu. Memang itu hanya selembar kertas, tapi itu adalah gambaran sepintas tentang anda sekalian". Hari keenam pun berakhir. Malam semakin larut. Aku duduk dalam perenunganku. Aku tidak tahu lagi berapa banyak perenungan yang sudah aku lakukan. Ya, inilah aku, insan yang sombong dan buta hati. Memang benar, Allah saja menyatakan bahwa manusia itu sombong dan tinggi hati. Teringat kembali, saat aku mebacakan surat untuk saudara kembarku, diriku sendiri, rentetan perjalan hidup, yang penuh suka dan duka, yang jarang aku syukuri. Alunan lagu Ebiet G. Ade masing terngiang dikepalaku.... Perjalanan ini... Terasa sangat menyedihkan .... Tubuhku terguncang. Dihempas batu jalanan. Hati tergetar menatap. kering rerumputan. Perjalanan ini pun. Seperti jadi saksi. Gembala kecil. Menangis sedih. ADE d355y_1978@yahoo.com Kedewasaan Made In India Publikasi: 09/12/2003 10:52 WIB eramuslim - Usai sholat Dzuhur kami langsung menuju kediaman Bapak Konsul Jenderal RI, memenuhi undangan makan siang bersama, masih dalam suasana Lebaran. Tanpa diliputi rasa ‘sungkan’ ikut bersama saya dua orang rekan asal India, Mohammad Thufail dan Abdul Karim, yang sengaja saya ajak untuk mengenal sebagian rasa ‘Inilah Indonesia ku’! Bersalam-salaman, kemudian....makan! Itulah acara intinya. Kebetulan di ruang makan hanya ada kami bertiga, karena yang lainnya sudah selesai makan dan berada di ruangan depan. Kami, cowok semua, memasuki ruangan, sementara di ruang sebelah, disaat saya menjelaskan sebagian bahan dasar makanan yang tersaji kepada dua orang ini, terdengar berulang kali “Ha...ha.....ha....hi..hiii...hiii.!”, suara ibu-

ibu, mbak-mbak, tertawa. Entah apa obyek pembicaraannya. Saya sendiri, karena terbiasa, tidak ‘risih’ mendengarnya. Tetapi dua orang India yang bersama saya, ekspresinya lain. Mohammad Thufail sering memalingkan pandangannya ke saya bilamana ‘geeerrrrr....’ terdengar. Akupun tersenyum. Maklum! “Kenapa perempuan Indonesia kok bicaranya tidak bisa pelan dan tertawa seperti itu?” Aku tersentak oleh pertanyaannya. Tersinggung? Tentu saja “Ya!” Apalagi pertanyaan (Baca: pernyataan!) Thufail adalah bentuk generalisasi, karena tidak semua perempuan Indonesia bersikap seperti di ruang sebelah. Mereka di sana memang omongannya keras dan tertawanya ‘cekikikan’ orang Jawa mengistilahkan. Padahal lebih dari separuh diantara mereka berjilbab? Lantas apa hubungannya jilbab dan omongan serta ketawa yang keras ini? Barangkali itulah batasan yang dimengerti oleh Mohammad Thufail. Bahwa muslimah dan omongan keras ini erat sekali kaitannya. Sebagai ‘tuan rumah’, aku ingin ‘membela’ mereka, betapapun yang diungkapkan Mohammad Thufail adalah nyata dan benar. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa hendaklah perempuan-perempuan itu tidak mengeraskan suaranya..... Mohammad Thufail secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa sikap perempuan-perempuan yang berbicara keras dan tertawa lebar tidak dibenarkan. Itu singkatnya! Namun untuk berbicara langsung seperti itu, kayaknya ‘kasar’. Makanya, pada hemat Thufail, dari pada mendiagnosa, lebih baik bertanya, lebih ‘sopan’. Tapi bagi saya, keduanya tidak beda, bertanya atau mendiagnosa, intinya sama! Setali tiga uang! “Perempuan Indonesia biasanya memang berbicara dan tertawa keras....tetapi mereka tidak membicarakan orang lain Thufail! Tidak seperti perempuan India, mereka berbicara pelan-pelan, namun menggunjingkan orang lain....we call it ‘ngrumpi’!” Gurauku, yang dijawab Thufail pula dengan tawa. Kami pun tertawa (Baca: ha..ha..ha...), namun tidak sekeras di ruangan sebelah, melupakan obyek diskusi segar siang itu. Beberapa kali saya ikut pertemuan, katakan temu publik, dimana laki-laki dan wanita juga kumpul, terpisah tempatnya, diantara orang-orang India. Bagi orang kita, campur baur tidak ‘masalah’. Apa yang ditemui Mohammad Thufail diantara kami yang bukan hanya terjadi pada perempuan-perempuan Indonesia, tanpa melebih-lebihkan, nyaris tidak saya temui diantara komunitas India. Mereka begitu rapi, teratur, padahal jumlahnya tidak sedikit. Tentu yang ini jangan bandingkan dengan gambaran orang India yang ada pada film-film yang beredar di Indonesia! Saya pernah menghadiri pertemuan Indian Muslim Association di Dubai, yang diikuti tidak kurang dari 3000 peserta. Para peserta begitu tertib, tidak gadau, dan subhanallah.....menyiapkan makanan untuk 3000 orang kan tidak sedikit? Meski demikian, terkesan teratur. Mereka adalah kumpulan dari berbagai organisasi Islam India, yang tidak terkesan mengenal adanya perbedaan. Mereka bahu-membahu, mulai dari menggelar tikar hingga mengemasi sampahnya. Sementara masyarakat kita... masyaAllah.... padahal waktu itu bulan puasa, sekitar 200 orang hadir. Usai berbuka, Ta’jil, hanya sebagian yang melaksanakan sholat Maghrib, yang lainnya ngobrol, merokok, seolah tidak sholat bukan menjadi persoalan. Astaghfirullah! Pemandangan itu

ada di depan mata Mohammad Ashraf, orang India lainnya yang kebetulan istrinya seorang warga Indonesia di Dubai. Barangkali saya yang terlalu berburuk sangka terhadap orang kita sendiri, dan terlampau berbaik hati kepada India. Mungkin saja saya orang Indonesia yang ‘sok’ India. Wallahu ‘alam! Kalau mau jujur, orang India memang banyak juga yang buruk perangainya, karena sebagian besar penduduknya yang saat ini sudah mencapai angka diatas satu miliar jiwa, didominasi oleh orang-orang Hindu. Hampir setiap hari kekerasan, pembunuhan, perkosaan, perampokan, bencana alam, kelaparan, dan lain-lain musibah kemanusiaan terjadi di daratan Asia Selatan ini akibat ulah orang India. Tapi bukankah fenomena yang sama juga terjadi di Indonesia? Kembali lagi. Kalau mau jujur, kita lebih baik mencari kebaikan mereka, tidak perlu dinventarisasi kejelekannya. Tapi kita harus pula inventarisasi kejelekan diri sendiri supaya ada upaya untuk memperbaikinya. Kita ambil hikmahnya, agar kita menjadi umat Islam yang berkualitas. Sudah begitu banyak contoh-contoh kebaikan yang bisa jadi ‘prestasi’ orang-orang India yang kita belum mampu menandinginya dalam banyak segi kehidupan. Kita mulai dari segi pendidikan? Cendekiawan kita Nur Cholis Majid mengungkapkan perbandingan jumlah lulusan S2 kita dengan India, yang konon miskin, ternyata 1:60. Jadi jika ingin kualitas pendidikannya seperti mereka, kita masih harus belajar 60 kali lebih giat! Padahal peranan pendidikan ini penting guna meningkatkan kualitas manusia. Dari segi teknologi, hingga saat ini hanya orang asing asal India yang bisa duduk setingkat dengan orang Amerika Serikat di NASA. Hotmail.com, penemunya orang India, Sabir Bhatia namanya. Bos Microsoft Bill Gates sampai akhirnya tertarik untuk menanamkan modalnya di India, negara pengeskpor tenaga kerja komputer terbesar dari Asia, utamanya dari kota Hyderabad, pusat pendidikan komputer negara tersebut. Perdagangan? India berada di peringkat kedua pengkespor terbesar di Timur Tengah, sementara Indonesia di posisi 10. Sampai-sampai penyiar TV BBC pun orang India! Film? Tanpa melihat kualitasnya, mereka mampu memproduksi 1000 film dalam setahun, jauh melebihi Hollywood. Film India jadi tuan rumah di negeri sendiri. Film kita? ‘Boroboro’ jadi tuan rumah dan kualitas. Sudah bisa diproduksi saja sudah lebih dari untung! Kebugaran? Yoga bermula dari India yang sekarang sudah mendunia. Obat-obatan? India hanyalah satu negara disamping Cina yang memiliki sejumlah perguruan tinggi dimana adalah fakultas kedokteran tradisionalnya. University of Hyderabad menyelenggarakan program doktoral untuk Ayurvedic Medicine, pengobatan tradisional India. Padahal Jamu Nyonya Menir, yang sudah puluhan tahun belum juga menyelenggarakan kursus yang diakui Departemen Pendidikan Nasional sebagai lembaga pendidikan resmi yang tingkatannya sejajar dengan keperawatan atau kedokteran.

Tenaga kerja? Dimana di dunia ini yang tidak ada orang India nya? Amerika, Inggris, Afrika Selatan, Jepang, Malaysia, Singapore, Australia, bahkan mereka mampu menembus jaringan televisi Indonesia. Mereka menyebar ke berbagai bidang lapangan pekerjaan, mulai dari bawah tanah hingga luar angkasa. Mereka yang bekerja di hotel tadinya sebagai pelayan, tidak akan berhenti berjuang sebelum menjadi manager. Tekun dan ulet sekali! Tenaga kerja kita? Lebih dari 90 % yang kita ‘ekspor’ rata-rata tenaga kerja yang tidak atau kurang terampil. Bahasa? Pada jaman Orde Baru kita sempat diajarkan untuk bangga dengan istilah-istilah Sansekerta, mulai dari Eka Prasetya Panca Karsa hingga Purna Karya Nugraha. Padahal isitilah-istilah tersebut berasal dari bahasa Sanskrit, India, yang sebenarnya kita ‘pinjam’dari mereka. Suatu hari, rekan saya, Mohammad Koya, orang India Selatan bertanya kepada saya, “Kamu tahu artinya Megawati? Itu diambil dari bahasa kami!” katanya ringan. Lho? Jangankan kata megawati, kata-kata lainnya seperti ‘Apem, Karena, Sampurna, Surya’ dan masih banyak lagi...ternyata....aslinya milik orang India! Kalau ingin tahu nama negara yang paling bangga dengan bahasa dan tulisannya sendiri tanpa harus ketinggalan berbahasa internasional, Inggris, India lah jawabnya! Bahasa kita? Bahasa dan huruf Jawa saja sudah lama ditinggalkan, dan huruf-huruf ABC sampai Z masih harus pinjam kan? Agama? Buku-buku Islam kondang banyak yang dihasilkan oleh maulawi-maulawi asal India. Indonesia ‘pandai’ menterjemahkannya. The Holy Quran English version, standard, yang dipakai di dunia Islam adalah terjemahan karya Abdullah Yusuf Ali yang asal India. The Nobel Quran and The Interpretation juga karya Muhammad Muhsin Khan, dosen di Madinah University. Ahli Perbedaan Agama Ahmed Deedat yang berwarga negara Afrika Selatan juga aslinya India. Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghozali dikemas dalam Bahasa Inggris oleh Maulana Fazlul Karim. Dan masih banyak lagi contoh-contoh prestasi mereka yang membuat kita iri. Sementara ribuan lulusan IAIN dan Al Azhar-Cairo kita bukan apa-apa jika dibanding dengan prestasi ulamaulama India dalam kaitannya dengan penerbitan buku berkelas internasional. Karena buku-buku kita, yang sudah mahal, ternyata hanya muatan lokal, alias untuk mereka yang mampu berbahasa Indonesia! Jika ingin berhasil dalam bisnis di Timur Tengah, ‘pekerjakan orang India’, ungkapan itu tertanam kuat dalam dunia bisnis disana. Namun bukan hanya segi bisnis duniawi saja. Dalam persoalan bisnis ukhrawi, keagamaan, kita juga butuh banyak belajar dari mereka. Pusat Jamaah Tablig terbesar di dunia ada di daerah yang disebut Nizamuddin, New Delhi. Padahal umat Islam di Indonesia lebih banyak ketimbang di India kan? Keuletan mereka dalam berorganisasi, dedikasi mereka terhadap organisasi, tidak diragukan. Abdul Azeem, sekarang sudah balik ke India, 17 tahun lamanya setiap minggu mengedarkan buletin organisasinya, ke sekitar 10 orang langganan dibawah koordinasinya, hanya untuk memperoleh Dhs 2 per eksemplarnya (sekitar Rp 4000). Dia juga rajin mengumpulkan sadaqah orang-orang di desanya setiap bulan sekali secara tetap tidak kurang dari 10 tahun. Masih banyak azeem-azeem lainnya yang saya temui yang melakukan kegiatan serupa.

Orang India paling bangga dengan hasil produksinya sendiri. Mereka yang terjun di organisasi-organisasi Islam, tanpa melihat kualitas buletinnya, terpanggil untuk membelinya secara rutin sebagai pelanggan agar secara finansial organisasinya tetap eksis. Mereka tidak akan berpikir dua tiga kali untuk membeli buku-buku Islam yang terpajang di meja-meja kantor organisasi Islamnya. Mereka khusyuk setiap kali mendengarkan khotbah-khotbah yang disampaikan oleh dai-dai, meskipun kelasnya tidak seperti Aa Gym. Orang kita? Akan menganggap khotbah ‘berkualitas’ jika banyak dibumbuhi oleh lawakan-lawakan segar. Subhanallah! ‘Belomba-lombalah kamu mencari kebajikan!’Begitu perintah Allah SWT. Ada banyak hal yang perlu kita pelajari dari orang India. Sekiranya Malaysia dan Singapura tidak perlu menyeberang dari tempat kita, ingin rasanya teman-teman saya ajak untuk melihat dari dekat bagaimana muslim India disana hidup dan menghidupkan Islam. Sehingga tidak perlu harus jauh-jauh ke negeri asalnya, anak benua Asia Selatan, apalagi harus ke Timur Tengah. Apa yang terpampang dalam film-film India memang banyak yang tidak pantas kita tiru, karena muatannya tidak lebih dari budaya kehidupan bebas, sebagaimana umumnya filmfilm kita. Namun demikian dari uraian diatas, sudah jelas bahwa kita masih harus menimba ilmu banyak dari mereka, agar lebih dewasa lagi. Tidak sekedar menghindari tawa dan berbicara keras saja. Kita perlu belajar banyak supaya bisa dewasa seperti halnya orang-orang Islam kita dulu yang berguru mendapatkan kedewasaan tentang Islam kepada Maulana Malik Ibrahim, salah satu sunan Walisongo kondang yang makamnya berada di Gresik-Jawa Timur. Tahukah anda dari mana asal beliau?

Syaifoel Hardy shardy@emirates.net.ae Parade Jiwa-jiwa Publikasi: 01/12/2003 08:59 WIB Sudut perkantoran di bilangan pusat Jakarta, 10.00 wib. Sesosok gagah menenteng handphone model terbaru di tangan kanannya dan laptop di tangan kirinya. Klimis, berdasi dan berjas rapi parlente dengan kepala sedikit terangkat. Sesekali menjawab suara dari hp-nya yang tak henti berdering. Mencoba mentafakkuri segala aktivitas yang disebutnya sebagai ‘the executive life-style’. Menghabiskan waktu dari satu kafe ke kafe lainnya di tengah gemerlap malam, mencoba memborjukan diri dalam gelimang kehidupan yang tak lepas dari modernitas yang sedikit bablas. Jalan Raya Kuningan , 12.00 wib. Kaki kecil gesit berlari menghampiri deretan kendaraan yang berhenti kala lampu merah menyala. Bibirnya mencoba melantunkan sepenggal nada tak beraturan yang dianggapnya nyanyian. Menggoyang-goyangkan kecrekan yang sejak tadi berada dalam

genggaman, mengiringi suara sumbang yang lebih mirip rintihan kelaparan. Mengetukketuk setiap kaca taksi, BMW, Altis, Peugeot dan beragam pameran kemewahan yang digelar gratis di jalan-jalan, berharap akan terbuka dan terulur sekeping-dua keping logam recehan. Kembali ia ke pinggir trotoar di bawah jembatan hitam, mendekati sosok tua ringkih yang sama lusuhnya. Menyerahkan segenggam rupiah dengan wajah pias harap-harap cemas. Dan segera diterimanya caci-maki, sumpah-serapah yang tidak semestinya. Telah menguap nurani bunda yang dulu melahirkan dan kini membesarkannya dalam keras hidup yang damainya tak lagi berpihak. Telah menghilang kasih sayang yang seharusnya melimpah ruah saat usianya menginjak kanak seperti sekarang. Dan tangan berbungkus kulit keriput itu membentur permukaan halus yang dengan seketika dibanjiri air mata. Perih. Sakit. Nyaris tak percaya sang bocah menatap perempuan yang kini tak beda dengan ibu tiri yang sering ia dengar dari kisah klasik jaman dahulu kala. Pelataran depan Gedung DPR-MPR RI, 14.49 wib. Hilir mudik ratusan biru, merah, kuning, hijau dan abu-abu almamater berjalan di bawah sengat surya yang garang. Tetes-tetes keringat tak dihiraukan kala teriakan penuh semangat dilepaskan. “Perjuangkan nurani! Perjuangkan kebenaran!”. Menggapai idealisme yang tampak terlalu melangit dan tak mudah dibumikan. Satu-satu bergilir di podium menajamkan hakikat perjuangan. Menggedor paksa batubatu bertajuk hati yang kerasnya tak ubah cadas. “Apa gunanya?” tanya mereka yang tak jua paham. “Toh orang-orang di atas sana tak mau dengar,”. Peduli apa. Kami hanya berusaha ketimbang diam tak berdinamika. Melompat-lompat semangat, berteriak-teriak menentang kezhaliman. Membakar emosi agar membumi ke dasarnya, mencoba resapi arti ketertindasan dan keteraniayaan yang menjadi makanan beratus juta jiwa Indonesia. Pahami hakikat empati dengan sebenarbenar maknanya. “Ganyang korupsi! Hancurkan arogansi!” Bara mentari kian didihkan darah yang terus bergejolak. Legam wajah tak dihiraukan, lelah tubuh telah direlakan. Reformasi nyaris mati dan karam kini. Dan jiwa-jiwa pengusungnya tak rela pertiwi terpuruk lagi. Perbatasan Gaza, 23.59 waktu setempat. Bayang seseorang tampak tunduk terpekur dalam keheningan malam. Mencoba mencari dan menyusun kekuatan pada sumber Yang Teramat Kuat, mencoba mengais iba pada Zat Tunggal Yang Maha Perkasa. Tersengguk disekanya tetes-tetes yang menggenang dipelupuk kedua mata. Bukan! Bukan tangis kedukaan! Tetapi keterharuan yang memuncak dalam impian akan perjumpaan dengan wajah Kekasih yang dirindukan. Pun pada wangi kesturi kenikmatan jannah Sang Raja Yang Maha Menundukkan.

Diucapkannya basmalah, dan ditanggalkannya berlapis-lapis riya’ yang mungkin masih terpasung di alam bawah sadarnya. Bangkit ia bergegas menyambut seruan Tuhan, dan menggumam perlahan, “Ini untuk ayah-bundaku, adik-kakak-ku, teman-teman seperjuanganku, untuk Al Aqsho, untuk Palestina, untuk Al Islam!”. Mengeras rahangnya menahan degup dendam suci atas tercabiknya tanah kehormatan. Berkilat mata elangnya menyiratkan tekad penuh kesungguhan dan keberanian tak kenal gentar. Mengendap. Berkelibat di bawah bayang-bayang purnama yang tersaput awan. Begitu mudah memasuki perbatasan yang dijaga ketat budak-budak hina, sosok-sosok kera berwujud manusia. Aman sudah. Dan…, “Dduuaaaarrrrrr!!!!!”. Keping-keping usus terburai, cairan tubuh berlelehan, merah darah memuncrat, daging-daging menjadi potongan kecil serupa cincangan. Jasad itu musnah sudah. Namun ruhnya melayang mengangkasa, djemput cantik bidadari yang tak sempat ditemuinya di dunia. Merengkuh kesucian yang lama dicita-citakan. Dan Sang Cinta Tertinggi beserta singgasana yang mengalir sungai-sungai di bawahnya telah menanti datangnya jiwa. Dunia tidaklah seberapa. Sudut Kamar dengan Biru Aura, 24. 33 wib Kututup lembar hari yang baru berakhir. Rebahkan kepala dan mencoba pejamkan mata. Mengenang bergilirnya episode hidup dan kehidupan yang terus berjalan. Dinamis dan tak pernah statis. Meski kadang ia pelangi, atau guntur yang menakutkan terjadi. Parade jiwa-jiwa hari ini kusaksikan. Dan kupejamkan mata kuat-kuat, menyesali kehidupan sosok muda penuh fatamorgana, berbungkus glamour kesemuan yang memperdaya. Meraup duka dari ratusan sosok mungil yang bertebaran di jalan-jalan karena terpaksa atau bahkan dipaksa. Menganyam empati atas rasa kehilangan ceria di masa kecil terindah yang harus tiada. Mengencangkan semangat dan membakarnya demi tegak nurani dan sepadannya perilaku dan kata. Melantangkan kebenaran di hadapan kezholiman penguasa. Bukan menjadi sosok-sosok apatis yang sibuk berkutat di dunia mininya dengan segudang buku bermilyar halaman, atau yang masih bangga dengan klasiknya semboyan , “Buku, Pesta da Cinta”. Meresap azzam dan cita para syuhada yang tak pernah rela Al Quds ternoda. Mengumpulkan asa dan keberanian yang tiada terkira. Menjemput maut demi prjumpaan dengan Robb-nya semata. Kembali kupejamkan mata. Sepenggal parade jiwa-jiwa hari ini usai sudah.

01.00dinihari, 18.11.03 Detik-detik I’tikaf dalam Ramadhan yang Begitu Cepat Melesat.. Fathy_farahat@yahoo.com Terlambat Bukan Berarti Tidak Sama sekali Publikasi: 17/11/2003 17:37 WIB eramuslim - Kaki ini meniti lemah anak tangga diantara gelap Masjid-Mu. Malam ini sudah masuk 10 malam terakhir ramadhan, malam ke 22 dari untaian malam berkah. Hati berseru takbir dengan kepalan jari-jari lemas terurai lagi. Allah ijinkanlah aku menjumpaimu pada malam-malam terakhir ini, setelah sekian malam aku hanya bergulat dengan dunia. Seharian dikejar amanah kegiatan bukan hal yang lumrah bagiku. Malam ini saatnya aku bercumbu penuh khusyu dengan-Nya dengan tubuh ini diselimuti gigil ngilu. Tilawahku tertinggal waktu. Malu pada jam yang tetap istiqomah berputar, tapi amalanku tak pernah mau untuk istiqomah berjalan. Tarawih dan Qiyamullail semau gue-ku, apakah Engkau terima ? Hanya Engkau yang Maha Menentukan hasil dari semua usaha, aku tak sanggup mendengarkan hasil perhitungan-Mu saat ini. Amalanku yang dijejali riya semoga Engkau ampuni. Berapa kali shadaqahku ? ah, lagilagi malu pada kotak shadaqah, pada tangan kanan dan kiri yang selalu saling melihat ketika kurogoh sisa uang saku. Ramadhan kali ini menyisakan sayatan pilu diruhaniku. Aku tak mampu menghisab diri dari kebaikan dan keburukan, dari amalan dan dosa, apalagi dari ikhlas dan riya. Bukan terlalu banyak, tapi terlalu kecil dan tak terindera. Semuanya aku kembalikan pada-Mu. 22 hari kulewati tanpa makna secuilpun yang tergores di kalbu. Bukan ini mauku. Bukan ini tujuanku. Tapi inilah yang sudah kudapat sampai saat ini. Sebuah keterlambatan. Allah, terangkanlah padaku tentang makna keterlambatan. Semuanya sudah berjalan jauh tapi aku masih berlari kecil di tempat. Lelah ini kulahap sendiri. Ingin rasanya berlari sekencang mungkin untuk menyusul mereka yang telah jauh. Ternyata terlambat bukan berarti tidak samasekali. Masih ada waktu. Masih ada jalan. Manfaatkanlah arti dari kesempatan. Sekarang ijinkanlah hamba-Mu ini memulai lagi. Merangkai malam-malam sunyi menjadi parade dzikir untuk-Mu. Mencuci diri dari noda, yang entah dari mana harus kumulai membersihkannya. Merangkak menggapai uluran maghfirah-Mu. Ramadhan masih tersisa beberapa hari lagi. Dan masih ada Lailatul Qadar yang setia menunggu jelmaan manusia-manusia yang Dia ridloi. Aku sangat menyadari betapa tidak pantasnya diri ini menerima anugerahmu itu. Tapi, apakah salah jika manusia dungu ini menginginkan syurga-Mu.

Ijinkanlah aku menapaki keterlambatan dengan beribu semangat juang. Agar aku bisa sampai kehadirat-Mu seperti juga mereka yang telah sampai mendahuluiku. Ijinkanlah aku mendapatkan anugerah Lailatul Qadar-Mu, mungkin untuk yang pertama kali, dan mungkin sekali-kalinya dalam hidup ini. Karena aku tidak tahu apakah tahun depan bisa berjumpa Ramadhan lagi, dan berjuang bersama mendapatkan anugerah-Mu itu. feli@indosatm2.com Dari yang tertatih di putaran terakhir Ramadhan Sentuhan Berkah Publikasi: 17/11/2003 10:58 WIB eramuslim - Sungguh seorang yang menghamba pada Yang Maha Mulia akan ikut mulia. Karena Yang Mulia memberikan kemuliaan-Nya dengan berkah kasih sayang dan cinta serta ampunan-Nya terhadap kesalahan dan kekhilafan. Di awal bulan istimewa-Nya Allah menurunkan kasih sayang untuk para pemburu cintaNya. Saat sepuluh hari pertama lewat dan seandainya Dia mengumumkan daftar nama orang-orang yang dirahmati-Nya, apakah nama kita termasuk di dalamnya? Kita pun segera memasuki peluang hari berikutnya untuk memburu ampunannya, mencari maghfirah-Nya. Sepuluh hari kedua pun telah lewat. Seandainya Allah mengumumkan list nama-nama yang diampuni oleh-Nya, apakah nama kita ada di sana? Tak ada yang berani menjawabnya. Saat ini, kita memasuki etape terakhir pembekalan ini. Rute tersulit yang di dalamnya– kadang–orang telah kehilangan konsentrasi. Sebagian justru jauh berpikir duniawi ke depan, bagaimana mempersiapkan keadaan setelah puasa. Padahal Ramadhan belum benar-benar meninggalkan kita. Ini merupakan babak final yang menjadi akibat dari dua level sebelumnya. Rahmah dan kasih sayang Allah membawa ampunan untuk para hamba-Nya. Seandainya ia merasa belum maksimal merasakannya, ia akan memburu ampunan tersebut. Dan ampunan tersebutlah yang membawa pembebasan dari kemurkaan-Nya yang dahsyat. Pembebasan dari api neraka. "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur'an) pada malam kemuliaan". (QS. 97:1) Allah menurunkan Al Qur'an pada sebuah malam yang mulia yang "lebih baik dari seribu bulan" . (QS. 97:3) Mengapa Allah begitu mengistimewakan malam itu. Malam yang hanya sebagian saja dari waktunya dijadikan Allah sebagai fasilitator turunnya Kalam-kalam suci itu dari lauh mahfuzh-Nya.

Malam yang hanya bersentuhan sesaat saja dengan Al Qur'an, nilainya digandakan Allah lebih baik dari 30.000 malam yang tidak bersentuhan dengan lailatul qadr tersebut. Betapa beruntungnya malam itu. Lebih beruntung lagi, bagi mereka yang menggunakan kesempatan ini. Bagi para pemburu kebaikan seribu bulan, pasti dijadikan sebuah peluang emas untuk menutupi keterbatasan dua etape sebelumnya di 20 hari yang telah lewat. Lantas bagaimana dengan seorang mukmin yang tenggorokannya dilewati oleh hurufhuruf Al Qur'an. Tentu tenggorokan tersebut lebih baik dari tenggorokan-tenggorokan lainnya. Satu hurufnya saja diberi insentif ukhrawi berupa sepuluh kebaikan. Ada berapa huruf di dalamnya. Telinga yang mendengarkannya, lebih baik dari telinga yang menjauh darinya. Mata yang membacanya, lebih baik dari mata yang menghindarinya. Dan mata ini menjadi akumulasi ketiganya, ia meneteskan air mata karena mendengarkan, melihat dan membacanya. Air mata kesyahduan. Ada ketakutan di sana. Ada pengharapan. Ada kenikmatan. Ada seribu ada, tak terungkap dengan kata-kata. Sungguh, tetesan itu hanya dinikmati oleh mereka yang sanggup meneteskan air mata; sedang orang disekelilingnya keheranan mengapa hal itu bisa terjadi. Itulah kenikmatan bersentuhan dengan keberkahan. Bagaimana seorang mukmin yang seluruh hidupnya selalu bersentuhan dengan Al Qur'an. Dadanya menjaga dan menghafalnya. Perilakunya mencerminkan keberkahan itu. Sungguh, orang seperti ini lebih baik dari seribu orang yang tak pernah bersentuhan dengan keberkahan itu. Abu Musa al Asy'ari meriwayatkan sabda Rasulullah Saw. "Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al Qur'an seperti buah Utrujjah, baunya harum dan rasanya enak. Sedang orang mukmin yang tak suka membaca Al Qur'an bagaikan buah Tamr, tak ada baunya dan rasanya manis…." (HR. Bukhari Muslim) Menurut berbagai riwayat malam keberkahan tersebut terjadi di sepuluh hari terakhir ini, di etape terakhir madrasah pembekalan ini. Ibunda Aisyah binti Abi Bakar Ash Shiddiq ra. meriwayatkan sabda Rasulullah, "Carilah lailatul qadr pada hari-hari ganjil di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan" (HR. Bukhari Muslim) Pada sepuluh hari terakhir, Rasulullah Saw. meningkatkan ibadahnya melebihi 20 hari yang telah lewat. Ali bin Abi Thalib ra. meriwayatkan, "Rasulullah Saw. ketika telah memasuki sepuluh hari terakhir mengencangkan sarung dan membangunkan keluarganya" (HR.Ahmad) Kegigihan Rasulullah Saw. hendak memberi contoh kepada kita betapa siapapun dia, jika tak menggunakan peluang ini akan sangat merugi dan menyesal di kemudian hari. Apakah dia telah memiliki tabungan yang banyak sehingga ia malas menggunakan peluang yang sulit terulang lagi. Karena tak ada jaminan hal ini akan didapatinya di tahun depan. Semuanya serba ghaib. Atau bagi mereka yang hari-hari sebelumnya penuh dengan kekhilafan dan dosa serta kelalaian. Saat inilah kebangkitan hakiki itu.

Pemburu seribu bahkan tiga puluh ribu keberkahan… Syeikh Mubarakfuri mempunyai analisis yang bagus, berkenaan dengan malam keberkahan tersebut. Di hari ke berapakah Al Qur'an turun pertama kali kepada Rasulullah Saw.? Suatu ketika Rasulullah Saw. ditanya, mengapa beliau sering berpuasa pada hari Senin. Beliau menjawab karena pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu aku menerima wahyu dari Allah untuk pertama kali. Sudah menjadi kesepakatan ulama, bahwa al Qu'ran diturunkan pada bulan Ramadhan, sebagaimana yang dinashkan Al Qur'an dan Hadits. Allah telah mengabadikan hal itu "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…". (QS. 2:185). Berikutnya Allah menegaskan lagi, "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan". (QS. 44:3) Pada bulan Ramadhan tahun itu, hari Senin terulang sebanyak empat kali. Yaitu pada tanggal ke 7, 14, 21, dan 28. Dalam hadits-hadits nabawi dianjurkan untuk mencari lailatul qadr pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Bahkan ada yang lebih spesifik lagi, yaitu pada hari-hari ganjil. Dengan demikian, lailatul qadr terjadi pada malam ke 21. Karena 7, 14 dan 28 tidak memenuhi kriteria sebagaimana yang disebutkan dalam gabungan hadits-hadits yang ada. Lantas benarkah, malam keberkahan tersebut terjadi pada hari itu. Allahu a'lam. Sangat banyak pendapat yang mengatakannya. Ada yang menjadikan bulan Ramadhan secara umum. Ada yang mengkhususkan pada sepuluh hari terakhir. Ada yang mengkhususkan lagi pada hari-hari ganjil di sepuluh hari tersebut. Ada yang berpendapat pada hari 27. Ada …. Mengapa Allah merahasiakan malam keberkahan itu. Sungguh hikmah Allah Swt. demi keseriusan hamba-hamba-Nya dalam berusaha. Kesungguhan dalam mencari malam keberkahan tersebut. Seandainya hijab dibuka dan malam tersebut diketahui siapa saja, kemungkinan besar hari-hari dan malam-malam lain akan ditinggalkan mereka yang malas. Kesungguhan beribadah pada malam keberkahan tersebut tak lain adalah pemaknaan kepasrahan yang dalam dari seorang hamba yang menyerahkan segala-Nya pada Sang Pencipta. Penghambaan yang terefleksi dalam kesungguhan beribadah dan totalitas penjiwaan di dalamnya. Ada kekhusyukan. Ada ketakutan. Ada pengharapan. Ada… Kepasrahan dalam menerima cinta dan kasih sayang-Nya serta berharap atas keampunanNya terhadap kekhilafan manusiawi yang dilakukannya.

Masihkah setelah ini ada keraguan? Atau bahkan keputusasaan? Sungguh, saatnya lah sekarang bagi kita untuk memburu hari pembebasan kita dari kemurkaan dan kemarahan Allah. Ya, karena kita telah memiliki cinta-Nya. Yakinlah itu. Kita sedang memburu ampunan-Nya. Dan kemudian pembebasan itu benar-benar diberikan kepada kita. Saatnya sudah dekat. Jangan kita jauhkan dengan kelalaian, kesalahan bersikap, keteledoran dan berbagai kebodohan. "Wahai pemburu kebaikan gunakan kesempatan ini, wahai pemburu dosa berhentilah". "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan". (QS. 55:13) Saiful Bahri saiful_elsaba@yahoo.com Sesuatu Yang Tak Ternilai Publikasi: 12/11/2003 15:02 WIB eramuslim - “Hujanlah sesukamu, toh rinainya akan kami tanggung semua” (Harun Al Rasyid). Kalimat yang terucap dari bibir sang Khalifah tersebut begitu singkat dan sederhana. Sang Khalifah seperti tidak peduli akan hujan turun tiada henti atau bahkan berhenti turun. Itu semua tidak berpengaruh terhadapnya. Meskipun ia pun sadar akan konsekuensi rinai yang muncul saat hujan turun, ia tak tergoyahkan. Tidak ada ketakutan ataupun kekhawatiran akan resiko yang muncul. Ia sadar segala sesuatu sudah diatur dengan cermat dan teliti. Ada zat yang berkuasa atas segalanya. Zat yang ketentuannya tak bisa ditolak ataupun dihindari. Terdapat ketabahan, keberanian, dan juga prasangka baik atas apapun yang terjadi. Ini didasari atas keyakinan bahwa apapun yang ditetapkan Alloh adalah suatu kebaikan. Maka bagi orang-orang yang sangat kuat keyakinannya dan sangat dalam cintanya, apapun yang terjadi pada dirinya tidak sampai mengubah prasangka baiknya kepada Alloh. Tidak ada yang ia takuti. Hari ini ataupun esok. Alloh sajalah tumpuan terakhir, harapan yang tak akan pernah mengecewakan, dan Sang Penghitung yang Maha Teliti tiada dua. Ada sebuah permata di hati orang-orang beriman yang saat ia terasa kelezatannya, segalanya terlihat begitu indah. Permata itu adalah iman. Saat iman meraja, tak ada lagi duka dan derita. Ini bukan karena tidak ada luka dan perih, bukan. Ada duka dan luka. Tapi luka yang ada tidak lagi terasa sakit tertutupi kesadaran akan kenikmatan yang akan diperoleh kelak sebagai hadiah tak terukur dari Alloh. Apabila ini terpatri, seorang hamba akan mampu berteriak lantang menyuarakan kebenaran, berjalan tegap diatas bara celaan orang, gigih membela kebenaran dan keadilan. Ia tak akan gentar akan terpaan gelombang yang menggila, duri, dan amukan badai kehidupan. Iman adalah bekal seorang mukmin untuk mengarungi kehidupan. Mencuat dari lubuk hati, iman merupakan bentuk kesadaran yang sederhana akan kehidupan. Bahwa setiap kehidupan dan kematian berada di tangan Alloh. Termasuk juga didalamnya rizqi dan pengalaman hidup yang akan muncul, baik berupa kesenangan ataupun kesusahannya.

Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasululloh SAW pernah bersabda akan tiga kunci merasakan kelezatan iman: cintai Alloh dan Rasul-Nya diatas segalanya, cintai seseorang hanya karena Alloh semata, dan membenci kekufuran untuk dirinya seakan neraka terletak dihadapannya jika ia melakukannya. Alloh adalah zat yang paling layak untuk dicintai. Ia pantas untuk dinomorsatukan. Karena ia adalah Sang Pencipta, Maha Pemurah yang memiliki cinta yang tak bermusim. Alloh juga memiliki ampunan dan rahmat yang tiada batas. Bagaikan samudra tak berpantai. Tak bertepi. Cintailah Alloh saja karena ia akan membalas berlipat dan tak akan membuat kecewa, sedih dan sakit. Sementara Rasulullah adalah sosok yang lembut, berahlaq mulia, penyantun, dan sangat dalam kasihnya untuk segenap umat. Beliau berpribadi sempurna dan pembawa suluh penerang penjuru alam raya. Cintailah juga saudara kita hanya karena Alloh, karena sifat cinta kita lemah. Kita butuh Alloh untuk menjaga selalu perasaan itu. Tiada keabadian tanpa izin dan kemurahan Alloh. Kita diciptakan dengan segala keterbatasan diri. Cinta saudara karena Alloh akan sangat mengagumkan manakala kita mengaca kepada hubungan kaum Anshar dan Muhajirin. Berbagai kisah yang menyentuh menggambarkan ketulusan dan sikap itsar yang luar biasa. Hinnga ada diantara mereka yang bersedia memberikan istri untuk saudaranya. Cinta karena Alloh akan membuat segalanya tampak sederhana dan penuh makna. Membenci kekufuran adalah syarat ketiga untuk merasakan lezatnya iman. Memang tidak mudah karena iman adalah sesuatu yang tak ternilai. Tak ternilai karena tidak didapatkan secara percuma. Kecuali Alloh berkehendak lain. Tapi yakinlah bahwa hanya dengan iman saja jiwa akan terbebas dari sifat-sifat buruk dan menghiasinya dengan sifat-sifat mulia. Muhammad Iqbal melukiskan dengan heroik dalam puisinya gambaran jiwa yang tercelup iman dan terhiasi keberanian yang menggelora: Gema seruan kita terdengar melintasi gereja-gereja di Britania. Sebelum skuadron membebaskan negeri-negeri. Mengapa kau lupakan Afrika. Jangan kau lupakan hamparan saharanya. Bumi itu mendayung laksana pijar bola api. Bentengkan dada kita sebagai pedang. Mengapa kita gentar saat kezaliman menggila. Kesewenangan merajalela. Laksana kilatan kelewang yang hanya menerpa bunga-bunga terkubur rumput liar. Mengapa sirna nyali kita pada penguasa bengis yang hendak memerangi kita? najwasaja@yahoo.com

Persimpangan Cinta Publikasi: 07/11/2003 09:49 WIB

eramuslim - Perputaran waktu yang terjadi–sungguh–sangat cepat. Belum lama kita menyambut kedatangan tamu Allah, Ramadhan Mubarak. Kini telah berlalu sepertiga dari waktu yang ditentukan Allah untuk kita menemaninya. Ya, berlalu sepertiga berarti takkan lama lagi ia akan berlalu. Dan hari-hari indah itu hanya tinggal kenangan. “Sepertiga pertamanya rahmah” demikian kata Rasulullah Saw. menjelaskan karakteristik bulan barakah ini. Rahmah menjadi permulaan kebaikan yang kita lakukan “Dengan menyebut asma Allah yang Rahman dan yang Rahim”. Rahmah yang menjadi kata di awal persuaan dua orang mukmin,”Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Rahmah yang menjadi sebab kelembutan Rasulullah Saw. dalam berdakwah. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka…”. (QS. 3:159) Dalam Al Qur’an pun Ar Rahman menjadi satu-satunya nama surat Al Qur’an yang menggunakan salah satu dari al asma’ al husna. Betapa besar nilai sebuah rahmah. Apalagi rahmah dari Allah yang merefleksikan cinta dan kasih sayang-Nya. Dan hari ini kita berada dipersimpangan cinta dan rahmah-Nya. Marilah kita bersamasama muhasabah. Sudahkah kita menjadi orang yang penyayang terhadap yang lemah. Pengasih terhadap yang fakir. Lembut terhadap orang lain. Pemaaf terhadap kekhilafan saudara kita. Mencintai orang-orang yang mencintai kita. Memberikan cinta kepada Allah dan RasulNya, kepada orang-orang yang mencintai-Nya serta segala sesuatu yang dapat mendekatkan kita kepada cinta-Nya. Menebarkan cinta kepada orang-orang yang membenci kita. Menyambung tautan persaudaraan kepada mereka yang memutusnya karena ketidaktahuan atau karena kesalahpahaman yang dibesar-besarkan. Sudahkah kita mencintai kaum muslimin. Mencintai sesama manusia. Menyayangi makhluk-makhluk Allah. Sekalipun seekor ikan dalam akuarium yang ada di ruang tamu kita. Sekalipun seekor kucing yang berada dalam rumah kita. Sekalipun seekor burung yang ada di depan rumah kita. Atau tanam-tanaman yang menghias halaman rumah kita. Sudahkah benar-benar kita menghayati sepuluh hari yang penuh cinta ini? Sehingga kita menjadi orang yang benar-benar penyayang dan pengasih terhadap siapa saja. Terutama terhadap saudara kita, sesama kaum muslimin. Masih adakah setelah itu kedengkian. Kebencian. Iri dan dengki. Atau bahkan permusuhan? “Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, niscaya engkau akan disayangi oleh mereka yang di langit”… dan malaikat pun akan menyayangi kita.

“Barang siapa yang tidak menyayangi takkan pernah disayangi”. Bila kita tak pernah mengasihi dan menyayangi orang lain bagaimana mungkin kita berani ‘mengemis’ cintaNya. Sungguh, sangat malu. Sebelum kita menyayangi dan mengasihi serta mencintai orang lain, kita cintai diri kita sendiri. Mencintai diri sendiri dengan menanamkan kecintaan terhadap cinta. Menanamkan cinta berarti mencabut dengki dan permusuhan. Menyemaikan kasih sayang berarti membuang iri dan buruk sangka. Menyuburkan cinta dan kasih sayang berarti memupuk kebaikan terhadap diri kita untuk mempergunakan waktu yang disediakan Allah dengan mengoptimalkan potensi dan kesempatan. Mentadabburi ayatayat-Nya, menyentuhkan kening kita dengan sepenuh cinta, menguraikan air mata cinta pada-Nya, menolong sesama dengan cinta-Nya, bahkan mengeluhkan segalanya kepada Dzat yang selalu memiliki cinta. Dzat yang sayang-Nya takkan berbilang. Dzat yang kasih-Nya tiada pernah pilih kasih. Lautan cinta-Nya tanpa batas dan tak bertepi. Adakah alasan setelah ini untuk berputus asa? Hanya mereka yang benar-benar telah kehilangan rasa cinta terhadap dirinya yang berputus asa. “Semua yang ada di langit di bumi selalu minta kepada-Nya.Setiap waktu Dia dalam kesibukan”.(QS.55:29) Allah Maha Mengetahui. Meski setiap detik dan setiap waktu berbagai permohonan diajukan kepada-Nya. Mereka yang memohon ampunan dan cinta-Nya. Mereka yang memohon rizki yang halal dan berkah. Mereka yang memohon anak yang shalih. Mereka yang memohon kelulusan dalam ujian. Mereka yang memohon pekerjaan. Mereka yang mohon dimudahkan jodohnya. Mereka yang memohon kesembuhan dari penyakit. Mereka yang mohon keselamatan dalam perjalanannya. Mereka yang memohon diselamatkan dari mara bahaya. Mereka yang memohon perlindungan dari godaan nafsu dan syeitan. Mereka yang memohon perlindungan dari kejahatan perampok dan tipu daya pencuri. Dan Allah Maha Mendengar. Selalu mendengar rintihan fakir miskin dan anak yatim. Mendengar keluhan orang-orang tertindas yang dizhalimi. Mendengar kepanikan mereka yang dikejar-kejar kezhaliman. Mendengar keluh kesah orang-orang lemah. Disamping itu Dia tetap menghidupkan dan mematikan, memberi rizki dan menahannya. Namun, bosankah Allah mendengar itu semua? Pernahkah Dia kuwalahan menerima semuanya? Pernahkah Dia kehilangan stok cinta? Apakah kita belum yakin akan janjiNya,”… Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. 2:186)

Dan karunia berharga berupa bulan Ramadhan ini telah benar-benar ada di hadapan kita. Bahkan telah bersama kita sepertiga waktunya. Benarkah kita menjadi orang-orang yang dirahmati. Benarkah kita merasakan adanya rahmah Allah dalam diri kita. Bersama, kita renungkan dan bayangkan. Seandainya saat ini Allah menunjukkan kepada kita daftar orang-orang yang bernar-benar dikasihi dan dicintai-Nya selama sepuluh hari pertama di bulan ini, bisakah kita menjawab pertanyaan berikut: Apakah kita termasuk di dalam daftar tersebut. Berada pada urutan berapakah? Bila kita tak mampu menjawabnya. Takut… sungguh sangat takut kita menjawabnya. Karena keterbatasan kita. Karena kelengahan kita. Maka beristighfarlah. Segera bangun dari kelalaian. Allah telah membuka persimpangan cinta-Nya dengan karunia baru. “… dan tengahnya adalah maghfirah” demikian Rasulullah Saw. menyambung keterangan beliau tentang karakteristik bulan ini. Ada sepuluh hari berikutnya. Maka segera kita gunakan untuk memperbaiki hari kita yang telah lewat. Dengan sepenuh cinta. Karena tiada jaminan kita akan menyelesaikan sepuluh hari ke depan. Semuanya serba ghaib dan menjadi rahasia Allah. “Ya Rahman karuniailah kami cinta-Mu. Karuniailah kami kecintaan kepada kebaikanMu, kekuatan melakukan kebaikan, serta kemampuan menebarkan kebaikan di sekeliling kami. Ya Ghafur, ampunilah segala kekhilafan kami dalam mempergunakan hari-hariMu. Memanfaatkan peluang cinta yang Kau beri. Ampunilah kami dan masukkanlah kami ke dalam golongan mereka yang disayangi dan dicintai serta diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka-Mu” “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55:13) Saiful Bahri saiful_elsaba@yahoo.com Layakkah Kita Mendapat 'Sanjungan' dari Allah? Publikasi: 06/11/2003 15:41 WIB “Kalian adalah umat terbaik,menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah….”(Ali Imran: 110) Apa yang terbersit di hati kita saat ayat tersebut sering kita dengar? Tersanjung atau justru merasa harus berintrospeksi? Allah menurunkan ayat-ayatnya sebagai kabar gembira namun juga tak jarang sebagai sebuah ‘teguran’ bagi manusia pada umumnya dankhususnya pada orang-orang yang beriman. Ayat-ayat Allah tak jarang menimbulkan perasaan gembira dan bangga (terutama bagi orang-orang hatinya masih diberi kesempatan untuk mengecap hidayah) sebab janji Allah, baik yang menyenangkan maupun yang pedih adalah benar adanya.

Ayat diatas dapat bermakna ganda apabila kita mau dan mampu menyelaminya lebih dalam dan kritis. Di sana Allah ‘menyanjung’ kita (seluruh umat Islam) sebagai umat yang terbaik. Tentu saja ini membuat kita merasa lega. Makna pertama dari sanjungan ini adalah sesuatu yang niscaya. Dan sudah menjadi suatu kelayakan bahwa sanjungan ini terutama ditujukan pada para sabiquunal awwalin, Rasulullah dan para sahabat. Pada saat itu jelas bahwa hanya ada dua kubu: Muslim dan kafir. Dan sebaik-baik kurun adalah kurun Rasulullah dan para sahabatnya. Umat terbaik saat itu, yang diwakili oleh Rasulullah dan para sahabat, memiliki karakter yang disebut diselanjtnya: ya’muruuna bil ma’ruf, wa tanhauna ‘anil munkar, wa tu’minuuna billah (menyeru kepada kebaikan, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah). Semua karakter itu telah dilakukan Rasulullah, para sahabat, tabi’in dan tabi’u tabi’in. Nah? Wajar bukan dengan karakter tersebut mereka mendapat ‘sanjungan’ dari Allah? Pemaknaan kedua ayat ini, berlaku bagi umat Islam saat ini. Bahwa untuk mendapatkan predikat umat terbaik, Allah telah menggariskan aktivitas-aktivitas sebagai syarat. Standar umat terbaik menurut ayat ini bukan standar-standar kelayakan yang berpegang pada hal-hal yang nampak dan bukan pula berstandar pada penundukan diri pada dunia dan seisinya. Untuk menjadi mulia dan meraih predikat umat terbaik, maka haruslah ada aktivitasaktivitas sebagai berikut,pertama, mengajak kepada yang ma’ruf (baik, benar,mulia), bahwa karakteristik umat yang terbaik selalu mengajak pada hal-hal yang bermanfaat dan selau dalam kerangka kebenaran mereka tidak jemu dan tidak surut melakukannya hatta orang-orang yang mengikutinya tidak banyak. Disinilah semangat kepeloporan disyaratkan oleh Allah jika ingin meraih predikat ‘umat terbaik’. Kedua, mencegah dari yang mungkar, sudah jama’ apabila aktivitas-aktivitas mencegah kemunkaran lebih sulit dan berat daripada mengajak pada kebaikan. Disinilah pemaknaan yang begitu dalam dapat kita ambil, bahwa untuk menjadi umat terbaik, kita semestinya konsisten terhadap kebenaran dan ajaran-ajaran kebaikan dan tidak ‘bertoleransi’ pada hal-hal munkar yang akan merusak dan menodai kebenaran yang telah kita serukan tadi. Konsistensi dan keteguhan memerangi kemunkaran akan menjadikan kita survive. Lihat saja, bagaimana untuk aktivitas ini Rasulullah dan para sahabat menelan banyak penderitaan, pengorbanan. Ketiga,beriman kepada Allah, bahwa untuk meraih kemuliaan, umat Islam harus melandaskan semua aktivitasnya karena iman kepada Allah. Ciri-cri iman: diyakini dalam hati, dilafadzkan oleh lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan. Maka tanpa iman yang teguh ,mustahail seseorang memiliki visi kedepan untuk menjadikan dirinya dan masyarakatnya menjadi umat terbaik. Maka… seandainya penduduk negeri ini beriman, niscaya Kami turunkan rahmat, begitu janji Allah. Demikianlah.. Allah memberikan kemuliaan pada siapapun yang dikehendaki-Nya . Pun begitu, ada sebab-sebab dhohir yang perlu kita tempuh agar layak mendapatkan apa yang Allah janjikan. Standar umat terbaik telah jelas dipaparkan oleh Allah. Standar itu bisa

berlaku untuk semua bangsa,semua masyarakat yang mendambakan kebaikan. Dan telah jelas pula bahwa Rasulullah dan para sahabat menempuhnya sebalum meraih kemenangan dan kemuliaan. Maka jika kita, umat Islam saat ini enggan menjadi pelopor untuk menyuarakan kebenaran, takut mencegah kemunkaran dan kehilangan keimanan kepada Allah, layakkah kita menyandang predikat ‘Khoiro ummah’? Wallahu a’lam bisshawwab Robi’ah al-Adawiyah. r_aladawiyah@yahoo.com Mhs. FH Univ Negeri Sebelas maret (UNS) Solo

Negthink Publikasi: 31/10/2003 14:09 WIB eramuslim - Seorang teman, sebutlah namanya A, marah-marah karena permintaan konfirmasi dari perusahaan rekanan belum dikirim juga. Padahal penanggungjawabnya adalah B, sahabatnya sendiri. Berkali-kali dia menghubungi ke kantor, yang bersangkutan tidak ada di tempat. Telpon ke HP tidak diangkat, sms tidak dibalas. Berbagai pikiran menyerbu benaknya. Ini orang tidak bertanggungjawab. Dia tidak becus kerja. Tidak professional. Termasuk hubungan pribadi terbawa-bawa. Apa sih maunya si B ini? Sengaja mau menghancurkanku? Dan lain-lain. Semuanya bernuansa negatif. Bahkan akhirnya dia nekat mengirim sms ultimatum. “Tak ada lagi persahabatan setelah semua ini”. Detik-detik terakhir, saat kemarahannya berada pada puncaknya, Hpnya berbunyi. Nama si B terpampang di yar. A sudah siap menyembur dan meledak. Namun mendadak kelu, ketika yang terdengar adalah suara tak di kenal, “Mbak, Saya C kolega B di kantor. B sedang di UGD, tadi siang kecelakaan. Untuk sementara HP B saya pegang, juga semua urusan”. A tertegun, merasa seluruh tulangnya dilolosi. Kemarahannya menguap, berganti dengan sedih, sesal dan malu teramat sangat. Kalau saja sms terakhirnya bisa di undo. Andai pula waktu bisa diputar ulang. Ingin dia segera terbang, menjenguk sang sahabat dan meminta maaf saat itu juga atas prasangkanya. ***

Mungkin kita pernah mengalami dan merasakan kondisi seperti di atas. Dalam skala kecil maupun besar. Dalam kondisi sadar, namun mungkin lebih banyak yang tak sadar. Coba kita tengok ke dalam hati dan benak kita. Apa pikiran spontan yang muncul di benak kita saat, misalnya, orang-orang terdekat cuek-cuek saja pada hari jadi kita? Mereka tidak sayang kita. Dia tidak peduli. Ternyata dia bukan sahabat yang baik, tanggal lahir teman sendiri dilupakan. Barangkali pertanyaan dan pernyataan itu yang kemudian menghuni. Apa pula yang langsung muncul di benak, saat seseorang yang telah membuat janji dengan kita, tidak hadir atau terlambat? Dasar si X selalu molor, tidak tepat janji dsb. Mungkin prasangka itu yang bersemayam di dada, disertai dengan kekesalan menggunung. Padahal, bukankah sebenarnya begitu banyak kemungkinan bisa menjadi penyebabnya? Padahal, jika kita pikir, kecil kemungkinan seorang dekat ‘sengaja’ menyakiti kita? Bukankah, misalnya, sebagai orang dekat -alih-alih erprasangka-, si A mestinya bisa meyakinkan diri bahwa si B tidak akan mengabaikannya apalagi mencelakainya? Atau bisa pula sebaiknya si A mencemaskan kondisi si B karena sulit dihubungi, khawatir ada apa-apa dengannya? Bisa jadi, orang-orang dekat kita tidak mengirim do'a hari lahir karena memang mereka tidak biasa melakukannya atau sedang sibuk sekali, bukan karena tidak sayang pada kita? Mungkin saja, seseorang gagal memenuhi janji karena terjebak macet, demo atau ada urusan mendadak yang harus diselesaikan? Begitu banyak alas an ‘pembenaran’ bisa dicari, namun, sekali lagi, biasanya yang muncul adalah su’udzan, prasangka buruk, negatif thinking. *** Itu hanya contoh sederhana dan berkaitan dengan hubungan antar pribadi. Negthink juga muncul dalam kaitannya terhadap diri sendiri dan juga Allah Sang Pencipta. Banyaknya kasus bunuh diri akhir-akhir ini adalah contoh ekstrim. Mereka mengakhiri hidup karena berputus asa terhadap kondisi dirinya, dan juga, mungkin tanpa sadar, menyalahkan Dia yang telah memberikan ‘takdir’. Barangkali kita tidak seekstrim itu, tapi tak ada salahnya kita tengok: Apa yang kita sangkakan saat kegagalan demi kegagalan menimpa diri? Saat musibah demi musibah tak henti menyapa? Saat harapan tak sesuai kenyataan? Bahkan dalam ruang yang lebih luas, negthink sampai memakan korban. Berapa kali kita mendengar berita pembantaian warga oleh warga karena sangkaan ‘dukun santet’? Berapa banyak tawuran antar sekolah dan antarwarga karena saling mengira pihak lawan yang memulai? Karena seorang warga mengira warga sebelah meludah di hadapannya dengan sengaja? Tanpa sadar, budaya Negthink telah menjadi karakter yang melekat dalam hidup kita. Sehingga nyaris dalam tiap kondisi, pikiran pertama yang muncul di benak adalah sesuatu yang bernada negatif. Terhadap orang lain, terhadap diri sendiri, bahkan terhadap Allah!

*** Jika saat ini di sekeliling kita banyak peristiwa besar terjadi yang disebabkan oleh su’udzan, prasangka buruk dan negthink, mungkin tiba waktunya bagi setiap diri kita untuk bercermin: Apakah persepsi yang muncul secara spontan dalam benak saya lebih sering negatif jika melihat suatu fenomena, mendengar berita, menghadapi masalah? Setelah menemukan jawabnya, kita layak merenungkan pernyataan Ibnul Qayim Al Jauziyah: “Segala amal dan perilaku diawali dari persepsi dan pandangan seseorang”. Jika paradigma dan persepsi spontan kita lebih lebih banyak negatifnya sangat logis jika kemudian juga menghasilkan perilaku dan amal yang negatif pula. Maka, upaya merubah budaya Negthink merupakan upaya utama yang perlu dilakukan oleh setiap kita. Dari hal yang paling kecil. Dalam kedudukan yang paling awal. Yaitu memulai berpikir positif terhadap diri sendiri. Insya Allah, pada gilirannya, kita akan dapat menjiwai firman Allah dalam QS Al Hujurat 12: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa”. Dan semoga, dengan demikian akan banyak persoalan besar akan terselesaikan. Azimah Rahayu revisi kesekian kali Bila Dia Yang Kita Cintai Publikasi: 23/10/2003 08:49 WIB Kira-kira apa perasaan Anda, ketika diberitahu bahwa Anda akan segera kedatangan tamu yang akan menginap di rumah Anda untuk beberapa saat? Seneng ataukah sebaliknya, merasa terganggu atau biasa-biasa saja. Jawabannya sih tergantung siapa tamunya. Kalau tamunya biasa-biasa saja, barangkali kita juga biasa-biasa saja. -Padahal kita diperintahkan untuk memuliakan tamu- Tapi coba bayangkan. Jika yang akan mendatangi kita adalah orang-orang yang kita cintai dan kita hormati, misal bapak dan ibu, mertua, guru atau temen dekaaat kita atau orang yang pernah berjasa dalam hidup kita. Gimana coba? Sudah barang tentu kita akan dengan senang hati menyambutnya. Tak perlu ditanya akan berapa lama mereka di rumah kita. Kita pun akan segera menyiapkan sebuah kamar terbagus untuk mereka. Merapikan dan menghiasnya. Kemudian menyediakan jamuan istimewa untuk mereka. Siap memenuhi segala kebutuhan mereka, siap mengantar mereka kemana pun mereka hendak pergi. Dan bila saat-saat perpisahan itu datang, duh rasanya hati ini khawatir apakah service kita mengecewakan tamu tercinta kita. Dan, … pokoknya sedih dah! Demikian halnya, kita saat ini. Kita sedang berada di gerbang seribu bulan. Bulan yang dimuliakan Allah. Bulan yang ibadah wajibnya dilipatkan Allah hingga 70 kali lipat dan

ibadah sunnahnya disamakan dengan ibadah wajib di bulan lain. Bulan penuh berkah, rahmat dan pengampunan serta pembebasan dari nafsu dan belenggu syeitan. Bulan yang didalamnya terdapat sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Bulan Suci Ramadhan akan mendatangi kita. Pertanyaannya sederhana saja: Apakah kita gembira, bahagia dan senang dengan kedatangan bulan ini? Apakah pertanyaan di atas bukan bid’ah yang diada-adakan. Apakah ada hubungannya kecintaan dan kebahagiaan kita menyambut Ramadhan dengan amalan kita di dalamnya. Kita tak hendak mendiskusikan ini. Karena ada nilai dan pesan normatif yang lebih penting dari itu. Bila kita menjawabnya:Ya, seneng dan gembira. Maka ilustrasi di atas akan membuka cakrawala bagaimana kita menyambut tamu yang kita hormati sekaligus kita cintai. Pertanyaan berikutnya: Apa yang telah kita siapkan untuk menyambutnya. Apa yang kita punyai untuk menyambutnya. Seberapa jauh kita siap dan mempersiapkan keluarga kita untuk menyambutnya? Pertanyaan berikutnya: Salah satu tujuan puasa Ramadhan adalah tercapainya ketaqwaaan. Kira-kira kita yang sudah berpuasa selama 10-20 tahunan atau lebih kurang… sejak kapan kita merasa telah mencapai target taqwa tersebut. Barangkali kita kesulitan untuk merasa, kapan kita mencapai target taqwa. Pertanyaan sederhana berikutnya: Bagaimana dengan Ramadhan tahun kemarin? Bila jawabannya ternyata belum juga, maka… kita punya kesempatan untuk merealisasikannya tahun ini. Ya… insya Allah kita mampu, asal ada kekuatan azam dan niat yang kuat. Kesempatan untuk mengukir prestasi. Dan bila jawabannya sudah. Maka alangkah sedihnya jika pada tahun ini prestasi kita menurun. Sungguh merugi. Sangat merugi. Ada empat golongan dan tipe manusia serta sikap mereka dalam menyambut Bulan Ramadhan: Mukmin yang sungguh-sungguh. Mereka adalah orang-orang yang menganggap bulan ini adalah peluang untuk melejitkan prestasi di hadapan Allah. Maka kita selalu menjumpai orang seperti ini senantiasa merasakan detik-detik Ramadhan sangat berharga. Mereka selalu berada dalam ketaatan. Kalau tidak sedang shalat, baca Al-Qur’an, dzikir, saling menolong dan menasehati, memenuhi kebutuhan saudaranya dsb. Tak ada waktu terlewat kecuali untuk sesuatu yang baik dan bermanfaat. Segolongan orang yang niatnya baik, tapi himmah dan azamnya lemah. Orang ini berniat menargetkan berbuat sesuatu di bulan Ramadhan. Mereka punya tekad berbuat baik. Tapi

karena azamnya lemah, maka hanya bertahan pada awal-awal bulan saja. Kemudian mereka tidak merasakan kehadiran tamu ini. Baik hanya di awalnya saja setelah itu ketahuan aslinya. Orang yang biasa-biasa saja. Artinya kedatangan Ramadhan tidak memberi bekas sama sekali. Kalau ibarat tamu, ia dicuekin. Sedih! Orang-orang yang tidak menyukai kedatangan Ramadhan. Karena mereka menganggap Ramadhan sebagai penghalang bagi mereka untuk memuaskan nafsu dan segala keinginan. Mereka dengan terpaksa menerima kedatangan tamu ini tapi sesungguhnya mereka membencinya. Lebih parah dari pada ini. Orang yang tidak menghormati sama sekali adanya bulan Ramadhan. Dengan sangat ringan menginjak-injak kesucian dan kehormatannya. Kembali kita tanya diri kita sendiri. Kita berada di bagian mana dari ke empat tipe di atas. Jangan sampai kita berada dalam suatu keadaan sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. “Rugi dan merana lah orang yang menjumpai Ramadhan sedang dosanya belum diampuni”. Sedang para sahabat Rasul saw. Setengah tahun setelah berpisah dengan Ramadhan mereka berdoa: “Ya Allah terimalah puasa dan amalan kami di Bulan Ramadhan”. Setengah tahun berikutnya mereka berdoa: “Ya Allah smapaikan –umur- kami hingga kami menjumpai Ramadhan”. Ya, karena mereka tahu penting dan berharganya Ramadhan karenanya berharap sepanjang tahun adalah bulan Ramadhan. Karena mereka sangat mencintai Ramadhan. Gembira ketika tamu Agung itu datang. Bagaimanakah kita? Tak perlu kita jawab sekarang. Masih ada waktu untuk merenungkannya dengan diri kita. Bersegeralah sebelum kita menyesal! saiful_elsaba@yahoo.com Menjadi Apapun Dirimu..... Publikasi: 20/10/2003 13:09 WIB eramuslim - Menjadi karang-lah, meski tidak mudah. Sebab ia ‘kan menahan sengat binar mentari yang garang. Sebab ia ‘kan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah. Sebab ia ‘kan melawan bayu yang keras menghembus dan menerpa dengan dingin yang coba membekukan. Sebab ia ‘kan menahan hempas badai yang datang menggerus terus-menerus dan coba melemahkan keteguhannya. Sebab ia ‘kan kokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus.Sebab ia ‘kan berdiri tegak berhari-hari, bertahun-tahun, berabad-abad, tanpa rasa jemu dan bosan. Menjadi pohon-lah yang tinggi menjulang, meski itu tidak mudah. Sebab ia ‘kan tatap tegar bara mentari yang terus menyala setiap siangnya. Sebab ia ‘kan meliuk halangi angin yang bertiup kasar. Sebab ia ‘kan terus menjejak bumi hadapi gemuruh sang petir. Sebab ia ‘kan hujamkan akar yang kuat untuk menopang. Sebab ia ‘kan menahan gempita hujan yang coba merubuhkan. Sebab ia ‘kan senantiasa berikan bebuahan yang manis dan

mengenyangkan. Sebab ia ‘kan berikan tempat bernaung bagi burung-burung yang singgah di dahannya. Sebab ia ‘kan berikan tempat berlindung dengan rindang daundaunnya. Menjadi paus-lah, meski itu tak mudah. Sebab dengan sedikit kecipaknya, ia akan menggetarkan ujung samudera. Sebab besar tubuhnya ‘kan menakutkan musuh yang coba mengganggu. Sebab sikap diamnya akan membuat tenang laut dan seisinya. Menjadi elang-lah, dengan segala kejantanannya, meski itu juga tidak mudah. Sebab ia harus melayang tinggi menembus birunya langit. Sebab ia harus melanglang buana untuk mengenal medannya. Sebab ia harus melawan angin yang menerpa dari segala penjuru. Sebab ia harus mengangkasa jauh tanpa takut jatuh. Sebab ia harus kembali ke sarang dengan makanan di paruhnya. Sebab ia harus menukik tajam mencengkeram mangsa. Sebab ia harus menjelajah cakrawala dengan kepak sayap yang membentang gagah. Menjadi melati-lah, meski tampak tak bermakna. Sebab ia ‘kan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan. Sebab ia begitu putih, seolah tanpa cacat. Sebab ia tak takut hadapi angin dengan mungil tubuhnya. Sebab ia tak ragu hadapi hujan yang membuatnya basah. Sebab ia tak pernah iri melihat mawar yang merekah segar. Sebab ia tak pernah malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi. Sebab ia tak pernah rendah diri pada anggrek yang anggun. Sebab ia tak pernah dengki pada tulip yang berwarna-warni. Sebab ia tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya. Menjadi mutiara-lah, meski itu tak mudah. Sebab ia berada di dasar samudera yang dalam. Sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia. Sebab ia begitu berharga. Sebab ia begitu indah dipandang mata. Sebab ia tetap bersinar meski tenggelam di kubangan yang hitam. Menjadi kupu-kupulah, meski itu tak mudah pula. Sebab ia harus melewati proses-proses sulit sebelum dirinya saat ini. Sebab ia lalui semedi panjang tanpa rasa bosan. Sebab ia bersembunyi dan menahan diri dari segala yang menyenangkan, hingga kemudian tiba saat untuk keluar. Karang akan hadapi hujan, terik sinar mentari, badai, juga gelombang. Elang akan menembus lapis langit, mengangkasa jauh, melayang tinggi dan tak pernah lelah untuk terus mengembara dengan bentangan sayapnya. Paus akan menggetarkan samudera hanya dengan sedikit gerakan. Pohon akan hadapi petir, deras hujan, silau matahari, namun selalu berusaha menaungi. Melati ikhlas ‘tuk selalu menerima keadaannya, meski tak terhitung pula bunga-bunga lain dengan segala kecantikannya. Kupu-kupu berusaha bertahan, meski saat-saat diam adalah kejenuhan. Mutiara tak memudar kelam, meski pekat lingkungan mengepungnya di kiri-kanan, depan dan belakang. Tapi karang menjadi kokoh dengan segala ujian. Elang menjadi tangguh, tak hiraukan lelah tatkala terbang melintasi bermilyar kilo bentang cakrawala. Paus menjadi kuat dengan besar tubuhnya dalam luas samudera. Pohon tetap menjadi naungan meski ia hadapi beribu gangguan. Melati menjadi bijak dengan dada yang lapang, dan justru

terlihat indah dengan segala kesederhanaan. Mutiara tetap bersinar dimanapun ia terletak, dimanapun ia berada. Kupu-kupu hadapi cerah dunia meskipun lalui perjuangan panjang dalam kesendirian. Menjadi apapun dirimu…, bersyukurlah selalu. Sebab kau yang paling tahu siapa dirimu. Sebab kau yakini kekuatanmu. Sebab kau sadari kelemahanmu. Jadilah karang yang kokoh, elang yang perkasa, paus yang besar, pohon yang menjulang dengan akar menghujam, melati yang senantiasa mewangi, mutiara yang indah, kupukupu, atau apapun yang kau mau. Tapi, tetaplah sadari kehambaanmu.

Oct 17, 2003. 15.32 wib. SebuahTaushiyahUntukDiriSendiri fathy_farahat@yahoo.com Suara Mungil nan Merdu itu Masih Terus Mengalun Publikasi: 15/10/2003 13:47 WIB Audzubillahiminassyaitonirrojim……….. Bismillahirrohmanirrohim……… Yaaayyuhalladzinaamanu kutiba ‘alaikumussiyamu kama…….. Suara mungil nan merdu itu mulai berkumandang dihadapanku, disebuah panggung sederhana. Kau begitu anggun dengan balutan busana muslim, dengan jilbab & kopiah dikepala.Suara mungilmu terdengar begitu merdu meskipun tak semerdu suara para artis, mengalunkan Ayat-ayat Allah. Bacaanmu begitu menyentuh kalbu meskipun tak sefasih Hj. Sarini Abdullah Sang Qoriah International idolaku. Malam ini kau tampil didepanku, didepan teman-teman, didepan kedua orang tuamu, dan didepan semua orang, mengumandangkan ayat-ayat Allah. Betapa indahnya……! Seminggu yang lalu, saat kami memasukkan namamu sebagai peserta lomba dengan malu-malu kau menolak, karena gak yakin dengan kemampuanmu. Bahkan orang tuamu selalu menyakan pada kami “ Bisakah kamu mengaji?”, mereka sendiri nggak tau dan nggak yakin dengan semua itu. Tapi malam ini keraguan orang tuamu hilang sudah, yang tersisa adalah sinar kebanggan terlukis diwajah-wajah mereka. Suara merdumu masih terus mengalun meskipun terkadang harus curi-curi nafas…….. Rasanya baru kemarin kami mengajarimu mengucapkan satu persatu huruf alif…ba…tsa….perlahan…. Dengan penuh kesabaran kami didik kamu agar menjadi insane Qur’ani, insane yang selalu mencintai Al Qur’an dan mengamalkan isinya dalam kehidupanmu.Ah….kau

masih terlalu kecil untuk melakukan itu semua. Tapi bukan berarti nggak bisa. Kami terus berusaha menanamkan dalam diri kalian. Walaupun terkadang kesabaran kami hilang melihat kenakalanmu, tak jarang kami memarahi kamu, mendaratkan tangan kami ketelinga kamu…..,tapi kamu gak pernah menjadikan itu sebagai alas an untuk tidak pergi mengaji. Tapi kami selalu berusaha memahami kamu bahwa kenakalan adalah bagian dari setiap anak. Kami terus mengajarimu dengan segala yang kami miliki, meskipun kami nukanlah seorang Guru, bukan seorang yang menyandang gelar Drs, Dra, ataupun Spd. Kami terus mendidikmu dan berusaha menyelami jiwamu agar jiwa kita bisa menyatu, meskipun kami bukanlah seorang Psikolog. Kami terus menuntunmu agar selalu mencintai Allah dan Rosul Nya meskipun kami bukanlah keluargamu, kakakmu, bahkan Orang tuamu. Kamu lebih dari itu……. Kami sadar ilmu yang kami miliki tidaklah banyak, tidak seluas lautan, tidak juga setinggi gunung.Tapi kami akan selalu berusaha memberikan yang terbaik buat kalian, dan selalu berdoa agar kalian bisa lebih baik dari kami kelak. Menggantikan kami mengamalkan ilmu yang kalian miliki pada generasi selanjutnya, kelak jika kami telah tiada. Suara merdumu masih terus mengalun, meski kadang tersendat………… Kulihat orang tuamu melihatmu tanpa kedip. Sesaat sebelum kau menaiki panggung sederhana itu, kulihat wajahmu yang pucat karena takut. Ini penampilan pertamamu diatas panggung. Segera kuhampiri kau dan kuyakinkan bahwa “kaulah yang terbaik” bagi kami. Suara merdumu masih terus mengalun …….mengumandangkan Ayat-ayat Allah! Ada kebanggan terselip didada ini, didada teman-teman, melihatmu mengumandangkan Ayat-ayat Allah dipanggung sederhana itu.dada ini dan dada teman-teman dan mungkin juga dada orang tuamu dan teman-teman sepengajianmu terus berdebar mengiringi alunan suaramu. Shodakollohul’azim……… Ah..akhirnya selesai juga kau membacakannya. Dengan malu-malu kau melangkah turun dari panggung menuju ketempat kami. Kulihat bening kristal diwajah orang tuamu saat memelukmu.dipeluknya engkau erat, begitu eratnya. Kami tahu apa yang ada didalam hati orang tuamu. Ada kebanggaan tersendiri didada kami….. Terima kasih Ya Allah…… Uchi_friends@yahoo.com Tak Selalu Seindah Pelangi

Publikasi: 07/10/2003 08:56 WIB eramuslim - Sore hari di lapangan ujung desa. Keriuhan terdengar dari bibir anak-anak yang sedang bermain. Ada yang bermain voli, atau hanya berkejar-kejaran. Dua ekor kerbau dibiarkan saja merumput. Seoragn anak mengendap-endap mendekati seekor kerbau. Dan … hap ia berhasil mendarat aman di punggung si kerbau. Si kerbau dengan acuh tak peduli dan meneruskan merumput dengan tenang. Sang surya mulai condong di langit barat. Angin bertiup lembut membawa sekumpulan mendung. Tiba-tiba gerimis hadir. Turun dengan pelan membasahi bumi. Anak-anak tak beranjak pulang. Mereka tetap saja bermain dan malah bersorak saat melihat warna-warni indah muncul di kaki bukit. Semburat bianglala mewarnai angkasa. Penuh warna. Gerimis berhenti beberapa saat kemudian. Sayangnya ia turut membawa pergi si bianglala. Hilang begitu saja. Seakan-akan ia tak pernah ada. Sorak sorai anak-anak pun berhenti saat ia pergi. Mereka berharap bisa menyaksikan pelangi itu lebih lama tapi ia keburu lenyap saat gerimis mereda. Dalam menjalani hari, tak jarang sesuatu yang tidak diharapkan terjadi itu hadir. Seorang petani yang menabur benih padi di sawah berharap hanya menuai padi saja di akhir musim. Begitu tanaman itu tumbuh, berbagai tanaman lain bermunculan. Meskipun si petani tidak menanamnya. Tapi rumput, semanggi, dan mungkin bahkan enceng ikut meramaikan ladangnya. Saat rencana untuk bepergian sudah matang, sesuatu terjadi dan menggagalkannya. Tepat di hari-H beberapa peserta tidak bisa hadir. Ada kepentingan lain yang mendadak datang dan tidak bisa dihindari. Kekecewaan menyebar saat acara tak terlaksana. Di waktu yang berbeda, sekelompok anak berjanji untuk bertemu. Tempat dan hari sudah disepakati. Tapi ternyata apa yang terjadi sama sekali diluar dugaan. Mereka baru bisa bertemu saat sinar merah menerangi langit barat. Saat lampu-lampu taman menyala. Padahal mereka berada di tempat yang sama. Di gedung yang sama. Pada waktu yang sama. Jarak yang memisahkan mereka hanya setinggi 3 m antara lantai 1 ke lantai 2. Tapi begitulah, mereka baru bisa berkumpul saat sepenggal hari hendak berganti. Sungguh apapun yang terjadi menunjukkan bahwa Alloh itu ada. Ia berkuasa atas segalanya. Dan telah bertindak sekehendak-Nya. Tidak jarang ketentuan-Nya sangat berbeda dengan apa yang kita harapkan. Mengecewakan atau bahkan membuat kita berduka. Tapi saat kita sedih, kecewa, marah, ataupun terluka ketentuan yang telah Alloh tetapkan takkan berubah. Matahari tetap terbit di ufuk timur. Pasang surut air laut tetap terjadi. Hari-hari terus bergulir. Waktu terus berjalan dan tak pernah kembali. Kita tidak bisa menghentikannya sesuai kehendak kita. Meskipun apa yang terjadi tak selalu seindah mimpi. Tak selalu seindah pelangi. Tapi kita bisa mewarnai hati ini dengan menerima dengan ikhlas dan rela atas ketentuanNya itu. Itu akan membantu menyembuhkan segala rasa. Menutup kekecewaan yang ada. Dan bahkan mungkin diantara badai hati kita akan muncul seberkas pelangi yang indah di sana. Bagaimanapun kita hanyalah hamba dan Allohlah yang berkuasa. When Your Dream Comes True ….

Publikasi: 06/10/2003 09:54 WIB eramuslim - Kutatap layar komputer tak berkedip. Serasa tak percaya. It’s there … on the list. Is that real?, ucap batinku. Kupandangi sekali lagi. Yes …. Namaku ada disana. Alhamdulillah … keinginanku tercapai sudah. Tak terasa pandangan mataku mengabur dan wajahku basah. Ya Alloh, sebuah impian akan segera menjadi kenyataan. Semoga Engkau menjadikannya sebagai ni’mat dan bukannya fitnah atas diriku. Terima kasih sudah mewujudkannya untukku. Pergi ke “Big Apple-nya” Indonesia adalah impianku sejak lama. Dan aku tak pernah mengira kesempatan itu datang sekarang. Saat aku dewasa dan seakan sudah “terprogram” dengan seksama. Bahagia rasanya saat sebagian mimpi indah kita jadi nyata. Mungkin cara kita mengungkapkannya berbeda. Tidak seriuh loncatan Schumacher di atas podium saat merebut juara pertama, tapi mungkin juga tidak se”dingin” Arsene Wenger beberapa tahun lalu saat timnya menang. Pokoknya just bahagia saja. Tidak bisa diungkapkan tapi bisa dirasakan. Impian seperti fatamorgana di alam bawah sadar. Sangat rapuh dan seperti khayal. Tapi karena impianlah yang mendorong orang untuk menjelajahi dunia baru, berpetualang, menundukkan pucak-puncak tertinggi dunia, menyeberangi lautan, dan bergulat dengan canda dan tangisnya kehidupan. Impian jugalah yang menguatkan hati seseorang menapaki dunia dakwah yang penuh tantangan. Impian terindah untuk bisa meraih keridhoan-Nya dan menatap wajah-Nya dengan mesra. Saat impian itu itu terwujud, betapa bahagianya. Kerja keras para mahasiswa selama berbulan-bulan akan lumer dan tertiup angin saat wisuda. Keringat dan peluh para pekerja yang membasahi tubuh akan segera mengering saat hari terima gaji tiba. Pekerjaan yang pernah memberati pundak-pundak kita akan segera terlupa saat kita meraih prestasi dan dipromosikan ke tingkat yang lebih tinggi. Impian apapun yang mengisi hati dan fikiran kita akan segera menghilang saat keinginan itu teraih. Selanjutnya impian baru mungkin akan segera terbentuk dan ada tekad untuk berusaha mewujudkannya lagi. Impian. Satu kata dengan 3 huruf konsonan dan 3 huruf vokal yang mengandung doa yang tersembunyi dan lautan rasa yang tumpah saat menjadi nyata. Namun saat impian tidak terwujud belum tentu itu tidak akan pernah terjadi. Bisa jadi Alloh menyimpan sesuatu yang manis untuk kita di lain hari. Bukankah Alloh sudah berjanji tidak akan mengecewakan hamba-hambanya. Dan tidak ada satu zat pun yang paling menepati janji selain Alloh. Tetaplah berusaha neraihnya dengan doa dan usaha. Simpanlah selalu di hatimu dan berharaplah Alloh akan mewujudkannnya untukmu. [untuk sahabat-sahabat yang kusayang -yang akan wisuda di bulan Oktober, semoga Alloh segera mewujudkan impianmu yang lain] Bening Hati Berbalas Surga Publikasi: 02/10/2003 17:01 WIB

eramuslim - Suatu hari, Rasulullah sedang duduk di masjid dikelilingi para sahabat. Beliau tengah mengajarkan ayat-ayat Qur’an. Tiba-tiba Rasulullah berhenti sejenak dan berkata,”Akan hadir diantara kalian seorang calon penghuni surga”. Para sahabat pun bertanya-tanya dalam hati, siapakah orang istimewa yang dimaksud Rasulullah ini?. Dengan antusias mereka menunggu kedatangan orang tersebut. Semua mata memandang ke arah pintu. Tak berapa lama kemudian, seorang laki-laki melenggang masuk masjid. Para sahabat heran, inikah orang yang dimaksud Rasulullah? Dia tak lebih dari seorang laki-laki dari kaum kebanyakan. Dia tidak termasuk di antara sahabat utama. Dia juga bukan dari golongan tokoh Quraisy. Bahkan, tak banyak yang mengenalnya. Pun, sejauh ini tak terdengar keistimewaan dia. Ternyata, kejadian ini berulang sampai tiga kali pada hari-hari selanjutnya. Tiap kali Rasulullah berkata akan hadir di antara kalian seorang calon penghuni surga, laki-laki tersebutlah yang kemudian muncul. Maka para sahabat pun menjadi yakin, bahwa memang i-laki itulah yang dimaksud Rasulullah. Mereka juga menjadi semakin penasaran, amalan istimewa apakah yang dimiliki laki-laki ini hingga Rasulullah menjulukinya sebagai calon penghuni surga? Akhirnya, para sahabat pun sepakat mengutus salah seorang di antara mereka untuk mengamati keseharian laki-laki ini. Maka pada suatu hari, sahabat yang diutus ini menyatakan keinginannya untuk bermalam di rumah laki-laki tersebut. Si laki-laki calon penghuni surga mempersilakannya. Selama tinggal di rumah laki-laki tersebut, si sahabat terus-menerus mengikuti kegiatan si laki-laki calon penghuni surga. Saat si laki-laki makan, si sahabat ikut makan. Saat si sahabat mengerjakan pekerjaan rumah, si sahabat menunggui. Tapi ternyata seluruh kegiatannya biasa saja. “Oh, mungkin ibadah malam harinya sangat bagus,” pikirnya. Tapi ketika malam tiba, si laki-laki pun bersikap biasa saja. Dia mengerjakan ibadah wajib sebagaimana biasa. Dia membaca Qur’an dan mengerjakan ibadah sunnah, namun tak banyak. Ketika tiba waktunya tidur, dia pun tidur dan baru bangun ketika azan subuh berkumandang. Sungguh, si sahabat heran, karena ia tak jua menemukan sesuatu yang istimewa dari lakilaki ini. Tiga malam sang sahabat bersama sang calon penghuni surga, tetapi semua tetap berlangsung biasa. Apa adanya. Akhirnya, sahabat itu pun pun berterus terang akan maksudnya bermalam. Dia bercerita tentang pernyataan Rasulullah. Kemudian dia bertanya,“Wahai kawan, sesungguhnya amalan istimewa apakah yang kau lakukan sehingga kau disebut salh satu calon penghuni surga oleh Rasulullah? Tolong beritahu aku agar aku dapat mencontohmu”. Si laki-laki menjawab,” Wahai sahabat, seperti yang u lihat dalam kehidupan seharihariku. Aku adalah seorang muslim biasa dengan amalan biasa pula. Namun da satu

kebiasaanku yang bisa kuberitahukan padamu. Setiap menjelang tidur, aku berusaha membersihkan hatiku. Kumaafkan orang-orang yang menyakitiku dan ubuang semua iri, dengki, dendam dan perasaaan buruk epada semua saudaraku sesama muslim. Hingga aku tidur dengan tenang dan hati bersih serta ikhlas. Barangkali itulah yang menyebabkan Rasulullah menjuluki demikian.” Mendengar penjelasan itu, wajah sang sahabat menjadi erseri-seri. “Terima kasih kawan atas hikmah yang kau berikan. Aku akan memberitahu para sahabat mengenai hal ini”. Sang sahabat pun pamit dengan membawa pelajaran berharga. *** Kawan, kisah di atas barangkali tak lagi asing. Namun tiada rugi untuk ditutur kembali. Surga bukan hanya hak para wali, nabi, syuhada dan ulama. Jika kita merasa hanyalah orang kebanyakan, itu tak berarti kita tak berhak atas nikmat surga. Karena amalan kecil pun bisa menjadi kunci masuk surga. Dan ternyata kebersihan hati itu sangat besar nilainya. Jangan pernah berputus asa atas rahmatNya. Sungguh Dia Maha Pemberi Karunia. InsyaAllah, jika kita ikhlas, tulus dan mengerjakan penuh cinta, Dia takkan menyianyiakan hambaNya. Wallahu a’lam

Azimah Rahayu Kotak Surat Malaikat Publikasi: 29/09/2003 10:29 WIB eramuslim - Sekali lagi, aku mendapat kesempatan untuk menangani satu kelas di sekolah musim liburan anak-anak jalanan di Kota Kembang, Bandung. Seorang teman memintaku untuk bergabung dan menangani satu kelas karena dua alasan, ia tahu aku memiliki tidak sedikit pengalaman mengelola kelas di berbagai pelatihan, dan satu lagi, salah seorang tenaga pengajar di sekolah tersebut absen untuk musim liburan kali ini. Mengelola kelas anak jalanan, dari mulai pengemis, pedagang asongan, tukang semir, pengamen, dan bahkan anak-anak yang tidak mengerti bahwa mereka dieksploitasi untuk melakukan tindak kejahatan, meski bukan hal biasa, tapi juga bukan yang pertama bagiku. Ya, satu setengah tahun yang lalu, di kota yang berbeda, pernah bahkan setiap akhir pekan bersama dengan beberapa rekan LSM menangani sekolah gratis anak jalanan, selama hampir tiga bulan. Namun yang membuatku terkejut begitu memasuki kelas, adalah usia rata-rata yang masuk dalam daftar kelas itu memaksaku sedikit membelalakkan mata. Untuk beberapa menit, tak satu katapun keluar dari mulutku setelah sekilas menangkap mata-mata jernih dan penuh tanya yang menatap kehadiranku. Usia rata-rata mereka tak lebih dari tujuh tahun, terdiri dari hanya belasan anak. “Jangan kaget masuk kelas istimewa itu” temanku mengingatkan sebelum kami memasuki kelas masing-masing. Jadi, inikah yang dimaksud kelas istimewa? Belasan

anak bernasib kurang beruntung yang semestinya di usia seperti mereka, masih bermanjamanja dengan kedua orang tua mereka. Tetapi hidup yang mereka jalani menghadirkan mereka di bising kota, deru kendaraan dan lalu lalang pejalan kaki. Merah, hijau dan kuning traffic light seolah menjadi lampu start mereka berhamburan menyerbu bis kota, atau mobil-mobil pribadi untuk mengayunkan krecek dan menyanyikan lagu-lagu yang tak semuanya terhapal dengan baik. Sebagian lain menjajakan rokok, permen serta tissue dari satu bis ke bis kota yang lain, tak peduli beberapa teman mereka yang lain pernah terpelanting dari atas bis ketika hendak turun dari sebuah bis bertepatan dengan nyala lampu hijau. Tak mengherankan, kerasnya kota dan bising jalanan membentuk pribadi-pribadi lembut itu menjadi sosok yang keras, tak teratur, dan terkesan liar. Padahal anak-anak sebayanya, pasti nampak menyenangkan untuk dilihat, didekati, dan diajak bercengkerama, karena lebih sopan dan lembut, bisa diatur, dan aroma yang jelas lebih bersahabat. Tapi nyatanya, di hari pertama, aku berdiri di depan mereka seperti orang yang salah kostum. Kemeja putih bersih dengan aroma Bvlgari for men yang menyegarkan. Akibatnya, satu persatu bergantian mereka mendekat hanya untuk menghirup aromaku dan kembali, beberapa menit kemudian hal itu mereka lakukan. Senang? Tentu tidak. Aku merasa mereka menerimaku hanya karena aroma itu, bukan diriku yang seutuhnya. Hari kedua dan berikutnya, aku sedikit membenahi penampilanku agar tidak ada perbedaan yang mencolok. Aku pernah membaca sebuah buku, untuk bisa diterima di sebuah komunitas, jika perlu seseorang mesti meminimalisir perbedaan dengan komunitas tersebut sehingga dirasakannya seseorang yang baru hadir itu juga bagian dari komunitas. Kemudian hal itu kuartikan, setidaknya, untuk menyeragamkan penampilanku agar tidak terlihat perbedaan. Banyak hal yang tak terduga dalam menangani kelas ini, bisa dibayangkan, aku baru bertemu mereka sejak hari pertama, tak satupun yang kutahu karakter dan tingkah laku masing-masing. Begitu juga Sissy, asisten pengajar yang bersamanya aku bahu membahu menangani kelas tersebut. Sehingga dua pekan pertama kami habiskan untuk mengenal karakter, sikap dan tingkah laku masing-masing. Ini sejalan dengan materi yang diamanahkan kepada kami, Budi Pekerti. Dua pekan yang mengagumkan, bisa langsung berinteraksi dengan segala kebandelan (sengaja tak menggunakan kata ‘nakal’ untuk menggambarkan perilaku mereka), tata tertib yang dibuat hanya diingat di hari pertama karena hingga hari terakhir pekan ketiga, tak satupun ketertiban dipatuhi. Memberikan sanksi kepada anak-anak itu, tentu bukan hal tepat. Materi ‘Budi Pekerti’ yang tergetnya agar anak-anak itu bisa bersikap lebih manis setelah selesai program kelas yang hanya satu bulan ini, nampaknya harus kami kubur dalam-dalam. Hampir saja kami putus asa sebelum, Dani, tukang koran berusia enam setengah tahun bertanya polos, “Kak, pernah nggak liat malaikat? Katanya di dalam dada kita ada malaikat…” Satu pertanyaan yang tak bisa kujawab dengan sempurna. Namun melahirkan satu ide yang ‘menyelamatkan’ kami dari kegagalan merubah –meski sedikit- perilaku mereka.

Hari pertama di pekan terakhir, aku bercerita tentang malaikat yang selalu mengirimkan surat untuk anak-anak yang berperilaku baik di setiap hari. Sebelumnya, aku merayu Sissy untuk mau berdandan seperti malaikat, dan jadilah Sissy, malaikat cantik sepanjang pekan terakhir itu, berjubah putih panjang, lengkap dengan tongkat berujung bintang di lengan kanan, serta sebuah kotak surat di kiri. Sebelum pulang, setelah makan siang dan sholat dzuhur, di depan kelas, aku membagikan kertas-kertas ukuran setengah kwarto yang sudah dipotong-potong kepada anak-anak itu. Mereka diminta untuk menulis tentang kebaikan apapun yang dilakukan oleh teman mereka sepanjang hari itu. Jika menurut mereka terdapat lebih dari satu teman yang melakukan hal baik, ia boleh menambah kertas lain untuk ditujukan buat teman yang lain itu. Setelah semua selesai menuliskan, mereka lalu memasukkannya ke kotak surat milik malaikat cantik. Ketentuannya, mereka hanya boleh menuliskan nama teman yang dituju tanpa perlu mencatatkan nama mereka sebagai pengirim. Sore, setelah semua anak-anak itu kembali ke dunianya masing-masing, aku dan Sissy masih punya tugas lain, membicarakan perkembangan anak-anak, efektifitas metode pembelajaran, dan satu tugas baru, membaca satu persatu surat mereka. Terdapat puluhan surat di hari pertama, diantaranya, untuk Yanti, gadis kecil yang hari itu rambutnya lebih rapih dari hari-hari sebelumnya. Surat lain, untuk Dodo, karena tak membuang ludah sembarangan di dalam kelas. Ada surat untuk Dini, yang hari itu tak menangis. Dini adalah anak paling cengeng dan tak melewatkan satupun harinya di program ini dengan menangis. Ada beberapa anak yang tak mendapat surat, seperti Kholik yang masih terus senang memukul teman-temannya, atau juga zaenudin yang tak henti membuat kebisingan dengan ukulele-nya. Begitu seterusnya, di hari selanjutnya di pekan terakhir itu, surat demi surat masuk ke dalam kotak untuk dibagikan keesokan harinya. Kami bisa menyaksikan kebanggaan anak-anak yang mendapatkan surat dari malaikat. Kami tanamkan satu keyakinan, semakin banyak mendapatkan surat berarti ia semakin baik di mata malaikat dan Tuhan. Sehingga hari demi hari, semakin sering kami dapati perkembangan mengagumkan dari perilaku mereka. Meski berbeda rasa bangga yang diperlihatkan, di hari terakhir semua anak di kelas itu memegang surat-surat catatan kebaikan dari malaikat. Khalik, meski cuma satu surat yang didapatnya, seulas senyum mampir di mata kami yang mulai tergenangi sebulir air. Kupeluk satu persatu mereka di hari perpisahan yang mengharukan itu. (Bayu Gaw) To: Malaikat Cantik. Dimana kini dirimu? Sebuah Mutiara Publikasi: 24/09/2003 12:25 WIB eramuslim - "Nama saya Rita mbak, umur 23 tahun. Anak saya umurnya udah 5 tahun sekarang, ditinggal di Indonesia. Saya ingin belajar islam yang benar..." "Insya Allah...," sahutku sambil menatap di kedalaman matanya yang tulus dan berbinar

binar. "Memangnya selama ini islamnya bagaimana mbak?" sahutku pelan. Bagian lain dari diriku masih bingung, takjub dan terheran-heran. Usianya cuma setahun lebih tua dariku, tapi sudah dikaruniai buah hati sebesar itu, kisah hidupnya pasti luar biasa, bisikku dalam hati. "Saya sholat dan juga berpuasa, tapi saya belum pernah benar-benar masuk Islam karena agama yang diturunkan orangtua bukan islam..., saat ini saya benar-benar ingin jadi muslimah sejati... karena...," ucapnya terhenti, ada bening di dua sudut matanya. Aku cuma diam membiarkan keheningan menyelimuti kami. "Karena... karena saya ingin punya anak anak yang sholeh mbak..." lirihnya pelan. Subhanallah... sebaris kalimat sederhana dan datar, tapi cukup menyentakkan hatiku saat itu. Keharuan merayapi ruang-ruang hatiku. Cerita hidupnya yang berliku kemudian mengalir deras. Cerita-cerita yang tak akan pernah kita dengar di sinetron Indonesia yang penuh mimpi. Cerita hidup sarat perjuangan yang seakan menyadarkanku dari lamunan panjang bahwa beragam kisah terbentang di luar sana. Menunggu untuk dicermati dan dijadikan pelajaran. Diusir dari keluarga karena menikah dengan seorang muslim. Belajar Islam otodidak dan merangkak. Bekerja di negara sekuler dan mendapat majikan keluarga muslim yang tidak pernah sholat. Tapi hidayah Allah memang maha indah, justru dari lingkungan yang tidak kondusif inilah beliau merasakan nikmatnya berislam dan keinginan itu semakin besar ketika dikait-kaitkan dengan si buah hati. Berapa banyak diantara kita yang ingin menjadi muslim/muslimah sejati dengan tujuan mulia agar kelak nantinya bisa membentuk anakanak yang sholeh dan menjadi rahmatan lil 'alamin? Sudahkah keinginan semulia itu mendapat tempat khusus di hati kita? Anak sholeh, investasi abadi dunia akhirat, subhanallah, siapa yang tidak merindukannya. "Saya ingin belajar sholat yang benar mbak, saya merasa sholat saya selama ini tak pernah benar karena kan belajar sendiri," lanjutnya dengan logat melayu yang kental. "Rasanya saya ingin sholat sesering mungkin, menurut saya sholat itu kebutuhan, bukan kewajiban..." lanjutnya mantap. Jleb.. lagi lagi kalimat ajaib meluncur dari mulutnya. Aku terpana. Aku menjelaskan rukun-rukun sholat, dan hal-hal lainnya tentang pelaksanaan sholat, tapi sesungguhnya batinku tidak disana. Aku serasa disindir habis-habisan. Pernahkah terfikir olehku konsep pemahaman sholat seindah yang dimilikinya. Sudahkah selama ini aku menganggap sholat sebagai suatu kebutuhan. Aku yang dilahirkan dari keluarga muslim. dibesarkan dalam lingkungan yang sangat islami. Rasanya aku menjadi tidak ada apa-apanya dibanding dia. Berkali-kali dia menyatakan rasa rendah dirinya karena statusnya sebagai PRT di sini, tapi dimataku dia sungguh wanita yang sangat mulia. Dirinya bagai mutiara yang tersimpan di tengah lumpur hitam pekat. Hari ini cerita hidupnya, dan kalimat-kalimat tulusnya telah kucatat baik-baik dalam hati ini. Akan kusimpan di salah satu bagian

paling penting dalam memori hatiku, dan tak kan kulupakan selamanya. Insya Allah. Saudariku, percayalah... satu satunya pembeda manusia di hadapan Allah hanyalah taqwanya. uNi i_rheen@yahoo.co.uk Teguran itu... Publikasi: 17/09/2003 15:19 WIB eramuslim - Masih lekat dalam ingatan saya ketika mahluk yang tak nampak secara kasat mata, virus, tepatnya corona virus, penyebab SARS (severe acute respiratory sindrome) membuat heboh dunia. Tercatat China, Hongkong, Singapura, dan Canada negara-negara yang terjejas cukup parah. Hingga pada saat yang sama genderang perang Irak-AS terkalahkan gaungnya dengan kehadiran makhluk misterius yang belum diketahui pasti obat penangkalnya. Masih jelas dalam benak saya bagaimana 'gentingnya' negeri mungil yang dalam bola dunia hanya nampak bagai titik, Singapura, menghadapi ulah virus ini. Sekolah setingkat TK sampai SMU diliburkan beberapa minggu ketika salah satu murid terinfeksi olehnya. Ada perguruan tinggi yang mengambil sikap sama, juga perusahaan yang mencutikan pegawainya ketika salah seorang dari mereka didiagnosa positif SARS. Pusat perbelanjaan diserbu. Orang-orang memborong masker, termometer, vitamin, antiseptik baik yang berbentuk cair atau aerosol. Kegundahan merebak ketika salah satu pusat pasar grosir yang menyuplai sayur-sayuran ke market-market di Singapura ditutup selama dua minggu sewaktu diketahui salah satu pembeli terjangkiti virus ini dan dampaknya lebih dari 2000 orang dikarantina selama sepuluh hari. Bisa dibayangkan kerugian yang dihasilkan dari penutupan pasar tersebut? Dan pemerintah Singapura mengeluarkan dana yang sangat tidak sedikit untuk mengatasi hal ini. Bagaimana mungkin negeri yang mahsyur karena kebersihan ini bisa terjejas? Sedangkan meludah dan merokok di tempat tertentu ada dendanya. Makan, minum bahkan membawa durian ke dalam bus, train, tidak diperkenankan. Jadi jarang sekali sampah ditemui apalagi sampah yang menumpuk-numpuk. Lalu mengapa virus SARS dengan lincahnya menular kesana kemari? Teguran dan peringatan atau ujiankah ini, setidaknya bagi saya? Hidup dengan segala kemudahan, rasa aman, ketertiban, ketentraman, keteraturan, kedisiplinan adalah kenikmatan. Segala fasilitas di negeri ini ditujukan bagi kenyamanan masyarakatnya. Sarana transportasi bersih, tertib dan nyaman tak pernah ditemukan, ada yang bergelantungan di bus atau kereta. Jarang ditemui kemacetan terlebih pedagang asongan dan kaki lima apalagi demonstrasi. Ber-handphone ria di transporatasi umum, di jalan-jalan, di keramaian atau tempat sepi, siang atau malam tak perlu khawatir. Kebutuhan sembako selalu terpenuhi karena harga

yang terjangkau oleh uang rakyat sehingga mal-mal kecil sampai mewah bukan milik mereka yang berduit saja. Dan nenek saya bercerita, selama 40 tahun bermukim disini tak pernah merasakan mati lampu, seret air atau kehabisan gas untuk memasak. Namun ternyata segala kemudahan tersebut melenakan diri ini. Ibadah mulai kendor. Shalat tak tepat waktu lagi, tilawah sudah semakin jarang, qiyamullail kadang iya kadang bablas, hafalan qur'an menguap, dzikir ma'tsurat kalau ingat, shaum sunnah tak sekalipun, membaca buku terbengkalai. Sebaliknya hari ke hari diisi dengan cuci mata dari satu mal ke mal yang lain. Lalu datanglah SARS. Penyakit yang nampak sepele karena gejalanya hanya seperti flu biasa namun mematikan. Allah menegur, mengecam diri ini. Ketakutan menghantui diri, kecemasan melanda jiwa bagai sedang perang hanya musuhnya tak nampak bahkan setiap orang berpotensi menjadi musuh karena setiap saat mereka dapat terjangkit dan menjangkiti. Keputusasaan menjalari diri hingga saya ingin lari sejauh-jauhnya namun kaki terasa berat, badan meringkuk bagai udang rebusan dan saya menangis sejadijadinya. Ternyata hanya Allah yang mampu menolong saya, menenangkan saya. Allah yang selama ini telah saya abaikan. Kesadaran itu terbit, jiwa rindu kembali pada-Nya, memperbaiki kesalahan diri, mengubur kelalaian, mengenyahkan kemalasan dan kesiasiaan. Mengejar ketertinggalan saya di hadapan-Nya. Tak ingin alpa untuk kedua kalinya. Perlahan ketakutan sirna terlebih sejak WHO menyatakan dunia bebas SARS Juni lalu. Tapi bukan manusia namanya jika tak mengalami pasang surut keimanan. Begitupun diri ini, tiga bulan tanpa SARS ternyata cukup untuk melenakan hati yang belum sungguhsungguh taubat kepada-Nya. Sampai empat hari yang lalu, mata saya terbelalak ketika reporter televisi memberitakan "... seorang lelaki, 27 tahun, dinyatakan positif SARS dan keluarga serta 25 orang yang pernah berhubungan dengannya dikenakan perintah karantina di rumah..." Tiba-tiba dingin menjalari tubuh saya. Oh, diri yang terpedaya mengapa harus menanti teguran kedua untuk berpaling pada-Nya dengan kesungguhan? Ummi Nida yudithfabiola@yahoo.com.sg Salam Cinta Ini Untukmu Publikasi: 16/09/2003 10:04 WIB eramuslim - Dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwasanya ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw: Bagaimanakah Islam yang baik itu?” Beliau menjawab, “Yaitu mau memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan kepada orang yang belum kamu kenal.” (HR. Bukhari Muslim). Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Salam itu tak lagi terdengar sumbang di telinga, karena ia nyaris sudah menjadi budaya. Kini nyaris semua orang

menjadikannya sebagai salam pembuka, mengawali teks pidato, memulai ceramah, mengantarkan pembicaraan dan sapaan kesopanan. Hingga ia pun terdengar lumrah, seperti halnya selamat pagi, kulonuwun, punten, permisi…. Namun mungkin tak banyak yang masih mengingat, Sang Kekasih Allah telah bersabda, bahwa ucapan itu menjadi salah satu parameter kebaikan seorang muslim, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim di atas; Berislamlah dengan baik dengan mengucap salam kepada yang engkau kenal dan tidak engkau kenal… Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, Ucapan ini sudah sedemikian akrab di lidah ummat muslim. Tiada kagok orang mengucapkannya. Baik yang memang setiap hari menyebutnya minimal lima kali sehari di akhir shalat, maupun mereka yang hanya membasahi lidah dengan salam di acara-acara resmi. Tapi sudahkah ia menjadi menjadi sarana pengikat cinta? Sebagaimana kabar yang disampaikan Abu Hurairah ra? Ia bberkata: Rasulullah Saw bersabda, ”… Maukah kamu sekalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu mengerjakannya maka kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam diantara kamu sekalian”. (HR Muslim). Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, Sungguh kalimat ini amat mudah diucapkan. Hingga kadang orang meremehkan. Bahkan ada yang hendak menggantikannya dengan selamat pagi, atau sapaan lokal dan teritorial lainnya. Tidakkah teringat kata seorang sahabat, Abu Yusuf (Abdullah) bin Salam ra: Saya mendengar Nabi ‘alaihissalaam bersabda: “Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam, berikanlah makanan, hubungkanlah tali peraudaraan, dan shalatlah pada waktu manusia sedang tidur, niscaya kamu sekalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR Turmudzi). Duhai, alangkah nikmatnya! Ternyata tiket surga tidak mahal. ‘Cukup’ dengan menyebarkan salam. Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh, Betapa cinta Rasulullah dengan untaian kata ini. Hingga tak lepas lisannya dari salam di setiap waktu dan kesempatan. Saat mendatangi suatu kaum, Rasulullah mengucapkan salam ini dengan diulang tiga kali. Saat Beliau melewati sekumpulan kaum wanita, saat bertemu dengan sekelompok anak-anak, saat bertamu atau memasuki rumahnya sendiri, doa rahmah itu mengalun indah dari bibirnya. Bahkan saat di dalam majelis, beliau tak bosan membalas salam sahabatnya yang hadir satu persatu, pun ketika mereka satu demi satu kemudian meninggalkan majelis dan kembali mengucap salam. Bahkan beliau pernah bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian bertemu dengan saudaranya, maka hendaklah ia mengucap salam kepadanya. Dan seandainya diantara keduanya terpisah oleh pohon, dinding atau batu, kemudian bertemu kembali, maka hendaklah ia mengucapkan salam lagi”. (Disampaikan oleh Abu Hurairah, HR Abu Dawud). Maka tak heran, jika Abdullah bin Umar suka pergi ke pasar, meski tak hendak membeli sesuatu. Kepada Tufail bin Ubay bin Ka’ab yang pernah menemaninya ia berkata, ”Wahai Tufail, mari ke pasar. Kita sampaikan salam kepada siapa saja yang kita jumpai.

Maka berpuluh kali kalimat itu meluncur sejuk dari mulutnya, kepada para pedagang, pembeli, para kuli, tukang rombengan hingga warga papa. Maka sungguh indah, jikalah salam itu disebarkan oleh wajah penuh senyuman, dihayati dan diresapi sebagaimana Abbas Assisi menyampaikan dalam surat-surat kepada sahabatsahabatnya: Salaam Allah ‘alaika wa rahmatuhu wa barakaatuh. Sungguh damai dan nyaman, jika salam kita sampaikan sebagai ta’abbudan (ibadah) dan mahabbah (kecintaan), bukan sekedar kebiasaan. Salaam Allah yaa Ikhwatii, ya khalilii, wa rahmatuhu wa barakatuh. (Semoga Allah memberikan kedamaian, kasih mesra dan barakahNya untukmu saudaraku, sahabatku). Doa tulus ini kupersembahkan untukmu. (Azimah Rahayu, tengah malam, saat hati meluap dengan gelora rindu) Azi_75@yahoo.com Create Successfully Publikasi: 12/09/2003 07:50 WIB eramuslim - Manusia diciptakan penuh dengan keterbatasan. Ingin rumah luas uang tidak punya untuk membuatnya, ingin sekolah tinggi motivasi tidak ada, ingin menikah keberanian sirna, ingin hidup tenang tapi terus saja gundah gulana, ingin sukses tapi misi dan visi hidup tidak beres. Sungguh Maha Adil Allah yang telah mencipta, dengan segala keterbatasan yang ada, manusia menempati tempat tertinggi dibanding makhluk Allah lainya. Dia beri kita akal untuk menyempurnakan keterbatasan yang kita miliki, Dia beri kita hati nurani yang tidak pernah berdusta, Dia beri kita jasad yang indah lagi sempurna. "Kenapa hidup saya selalu tersiksa begini, gagal dan tidak berarti?" "Akankah ada hari esok penuh ceria untuk saya yang nestapa?" "Masihkan ada ampunan Allah untuk saya yang bergelimang maksiat?" "Kapankah datangnya belahan jiwa yang akan menentramkan hati?" Pertanyaan di atas senantiasa saja ada pada setiap jiwa. Keinginan besar untuk hidup tenang, bahagia, sukses adalah impian kita semua. Keinginan untuk mencapai kesuksesan, prestatif, inovatif, produktif terletak pada seberapa besar kita mampu menempatkan diri pada Zat yang telah menciptakan kita dengan segala keterbatasan ini. Kita tidak pernah mampu menahan maut yang menjemput. Kita tidak pernah bisa bertindak saat usaha telah maksimal ternyata kita masih juga menemui kegagalan. Tidak pula bisa kita tunda saat umur senantiasa bertambah. Apa yang bisa kita lakukan? Rendah hati, qolbu yang bersih, bekerja keras, berdoa, dan tawakal adalah kunci keberhasilan jika kita ingin mejadi pribadi sukses. Allah adalah satu-satunya tempat kita bergantung, karena hanya Dialah yang mengeluarkan kita dari kegelapan kepada cahaya. "Allah adalah pelindung orang-orang beriman, Dia mengeluarkan dari kegelapan kepada cahaya" (QS. Al-Baqarah: 27)

Lia's Gallery menuliskan beberapa prinsip yang harus dimiliki seseorang untuk menjadi pribadi sukses. Saya mencoba mencoba mengadopsinya untuk kemudian menjadi prinsip kita bersama, agar kita menjadi pribadi sukses dengan limpahan Rahman dan Rahim Allah. 1. Bekerjalah karena Allah, bukan karena pamrih kepada orang lain. Maka Anda akan memiliki integritas yang tinggi, yang merupakan sumber kepercayaan dan keberhasilan. 2. Jangan berinspirasi pada yang selain Allah. Jangan berprinsip pada sesuatu yang labil dan tidak pasti seperti harta, nafsu hewani, kedudukan, penghargaan orang lain atau apapun selain Allah. Hal ini akan membuat mental Anda lebih siap menghadapi kemungkinan apapun yang akan terjadi pada diri Anda. 3. Lakukan sesuatu dengan sungguh-sunguh dan sebaik-baiknya karena Allah dan ingatlah selalu Allah yang Maha Tinggi. Maka Anda akan mendapatkan hasil yang jauh berbeda dan jauh lebih baik. 4. Berpedomanlah selalu pada sifat-sifat Allah, seperti ingin selalu maju, ingin selalu adil, ingin selalu memberi kasih sayang, ingin selalu kreatif dan inovatif, ingin selalu bijaksana, ingin selalu memelihara, berfikir jernih, mau belajar sungguh-sungguh. 5. Bangun kepercayaan dari dalam diri, jangan karena penampilan fisik, tetapi iman andalan yang akan memancarkan kharisma. 6. Bangun motivasi Anda, karena Anda adalah makhluk Allah yang sempurna dan Anda adalah wakil Allah. Raihlah cita-cita dan harapan dengan kemauan yang kuat membara. Wallahu 'a'lam bishshowaab. Yesi Elsandra Teman Terbaik Publikasi: 11/09/2003 12:30 WIB eramuslim - Kawan, ingin aku bercerita tentang teman terbaik yang pernah kumiliki. Ayah mengenalkan aku dengannya di tiga tahun usiaku. Meski belum banyak mengerti, aku masih ingat kata-katanya, “Kapanpun dan dimanapun, jadikanlah ia peganganmu, insya Allah kamu akan selamat”. Setelah saat itu, aku mulai rajin untuk mengenalnya. Kemana pergi selalu kuajak serta. Ia bukan saja teman terbaik bagi diriku, tapi juga teman terbaik bagi semua orang, begitu cerita ibu. Ia tidak pernah meminta diajak serta, karena semestinya kita yang membutuhkan keberadaannya kemanapun kaki melangkah. Senantiasa memberi jawaban atas semua tanya, mengoleskan kesejukan untuk setiap hati yang gersang. Bagi yang gelisah dan gundah, ia akan menjadi obat mujarab yang mampu memberikan ketenangan. Ia juga menjadi pelipur lara bagi yang bersedih. Tanpa diminta, jika kita mau, ia selalu menunjukkan jalan yang benar dengan cara yang sangat arif. Ikuti jalannya jika mau

selamat atau tak perlu hiraukan peringatannya asal mau dan sanggup menanggung semua resikonya. Ia tak pernah memaksa kita untuk mematuhinya, karena itu bukan sifatnya. Tutur katanya, indah menyejukkan, menyiratkan kebesaran Maha Pujangga dibalik untaian goretan barisan hikmah padanya. Tak ada yang sehebat ia dalam bertutur, tak ada pula yang seindah ia dalam bersapa. Hingga akhirnya, setiap yang mengenalnya, senantiasa ingin membawanya serta kemanapun. Tak peduli siang, malam, terik ataupun mendung, ia kan setia menemani. Cukup hanya dengan menyelami kedalamannya, tak terasa setitik air bening mengalir dari sudut mataku. Hingga satu masa, aku begitu mencintainya. Sungguh tiada tanding Maha Pujangga pencipta teman terbaikku ini. Sebegitu dekatnya kami berdua, sehingga melewati satu hari pun tanpanya, hati akan kering, gersang dan merinduharu. Ada kegetiran yang terasa menyayat saat tak bersamanya, bahkan pernah aku tersesat, sejenak kemudian aku teringat pesan-pesannya, hingga aku terselamatkan dari kesesatan yang menakutkan. Di waktu lain, aku berada di persimpangan jalan yang membuatku tak tahu menentukan arah melangkah, berkatnyalah aku menemukan jalan terbaik. Entah bagaimana jika ia tak bersamaku saat itu. Kawan, maukah mendengarkan betapa kelamnya satu masaku tanpa teman terbaikku itu? Mulanya hanya lupa tak membawanya serta ke satu tempat. Esoknya sewaktu ke tempat yang berbeda, aku tak mengajaknya serta, karena kupikir, untuk ke tempat yang satu ini, saya merasa tak pantas membawanya serta. Saat itu saya lupa pesan ayah, “jika tak bersamanya, keselamatanmu terancam”. Esok hari dan seterusnya, entah lupa entah sudah terbiasa teman terbaik itu tak pernah lagi kuajak serta. Kubiarkan ia berhari-hari bersandar di salah satu sudut kamarku. Satu minggu, bulan berlalu dan tahun pun berganti, aku semakin lupa kepadanya, padahal ia senantiasa setia menungguku dan masih di sudut kamar hingga berdebu. Hingga satu masa, bukan sekedar lupa. Bahkan aku mulai malu untuk mengajaknya. Disaat yang sama, semakin tak sadar jika diri ini telah jauh terseret dari jalur yang semestinya. Tapi aku tidak perduli, pun ketika seorang teman menyampaikan teguran dari teman terbaikku agar aku memperbaiki langkahku. Kubilang, ia cerewet! Terlalu mencampuri urusanku. Begitulah kawan, Anda pasti sudah tahu akibatnya. Langkahku terseok-seok, pendirianku goyah hingga akhirnya tubuhku limbung. Mata hati ini mungkin telah mati hingga tak mampu lagi membedakan hitam dan putih. Semakin dalam aku terperosok, tanganku menggapai-gapai, nafasku sesak oleh lumpur dosa. Disaat hampir sekarat itu, mataku masih menangkap sesosok kecil sarat debu, disaat kurebahkan tubuh di kamar. Ya! Sepertinya aku pernah mengenalnya. Teman yang pernah dikenalkan ayah kepadaku dulu. Ia yang pernah untuk sekian lama setia menemaniku kemana aku pergi. Teman terbaik yang pernah kumiliki, ia masih setia menungguku di sudut kamar, dan semakin berdebu. Kuhampiri, perlahan kusentuh kembali. “Jangan ragu, kembalilah padaku. Aku masih teman terbaikmu. Ajaklah aku kemanapun pergi” kuat seolah ia berbisik kepadaku

dan menarik tanganku untuk segera menyergapnya. Ffwuhhh…!!! kuhempaskan debu yang menyelimutinya dengan sekali hembusan. Nampaklah senyum indah teman terbaikku itu. Ingin kumenangis setelah sekian lama meninggalkannya. Ternyata, ia teramat setia jika kita menghendakinya. Kini, bersamanya kembali kurajut jalinan persahabatan. Aku tak ingin lagi terperosok, tersesat, terseok-seok hingga jatuh ke jurang yang pernah dulu aku terjatuh. Jurang kesesatan. Bersamanya, hidupku lebih damai terasa. Satu pesanku untukmu kawan, kuyakin masing-masing kita memiliki teman terbaik itu. Jangan pernah meninggalkannya, walau sesaat. Percayalah. Wallaahu ‘a’lam bishshowaab. (Bayu Gaw) Sepenuh Hati Publikasi: 09/09/2003 08:05 WIB eramuslim - Air hujan turun membasahi bukit. Ia mengalir melintasi tebing dan cerukan sempit. Sesekali menabrak batu dan akar pohon yang menjuntai. Membawa bersama partikel hidrogen dan oksigen. Menyelisihi daun kering yang jatuh ke bumi sambil berbisik, “Ku kan membuatmu segar kembali setelah angin dan waktu membuatmu letih.” Ia terus mengalir dan mengalir hingga bertemu “kawan” lain. Membentuk aliran ke hilir hingga jadi sungai yang mengalir ke laut. Dengan segala kerendahan diri untuk mengalir jatuh air telah menghidupkan bumi setelah kering. Membasuh dan membawa harapan baru untuk segenap mahluk. Si sumber kehidupan ini menyimpan kelembutan dan kekuatan sekaligus. Sang Pencipta Tertinggi telah memberinya kekuatan untuk bergerak menerobos celah sempit, meluncur jatuh, membentuk aliran sungai, atau tetap diam diatas bumi dan menjadi danau. Dengan hanya tetesan, ia mampu melubangi batu dan memecahnya. Meski memakan waktu sekian jam atau bahkan hari. Tapi sekeras apapun batu ia tetap bisa melakukannya. Bermula dari setetes saja. Terus menerus. Setetes demi setetes. Hingga batu berlubang, retak dan terbelah. Saat tetesan berhenti, batu tak lagi tertandai. Sesosok mahluk lain di belahan bumi yang berbeda telah berusaha untuk membuat sesuatu yang berguna. Ia berusaha untuk menyimpan listrik dan mengalirkannya menjadi cahaya. Edison telah berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu mencoba membuat impiannya terwujud. Untuk berhasil menyalakan sebuah bolam, ia telah menghabiskan lebih dari seribu empat ratus bolam. Ke semua bohlam itu pecah saat tak mampu menahan panas aliran listrik. Hingga akhirnya sebuah bolam berhasil menyala. Menyala dan hampir tak pernah lagi padam hingga saat ini. Dan pemadaman lampu resmi pertama dilakukan di seluruh kota pada hari ia meninggal untuk menghargai kerja kerasnya itu. Tetesan air yang membelah batu ataupun usaha Edison membuat bola lampu adalah cerminan pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Andai mereka berhenti bergerak dan diam, tak ada yang berubah. Takkan ada yang dihasilkan. Batu takkan pecah saat tetesan berhenti sebelum waktunya. Atau tak ada lampu penerang saat hari gelap. Tetapi kedua mahluk berbeda ini terus bekerja. Terus bekerja hingga aliran sungai

muncul, membasahi bumi, mengairi sawah dan menjadi sumber minum bagi mahluk Allah yang lain. Terus bekerja hingga ada cahaya saat gelap dan penerang bagi kehidupan seluruh manusia hingga hari ini. Seluruhnya bukanlah pekerjaan setengah hati. Memulai pekerjaan yang baru tidak mudah. Butuh keberanian dan semangat tinggi. Tapi itu bukanlah yang tersulit. Yang paling sulit adalah menyelesaikan apa yang telah dimulai itu dengan kebaikan. Karena lebih banyak pengorbanan dan kegigihan yang diberikan. Dan kesungguhan hati yang berbicara pada akhirnya. Janganlah khawatir untuk mengakhiri segala pekerjaan dengan kebaikan, karena sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. Dan ternyata banyak hal yang berguna dengan bekerja sepenuh hati. Yupik Astuti najwasaja@yahoo.com Tamu Terakhir Publikasi: 08/09/2003 08:07 WIB eramuslim - Pagi ini aku sudah tiba di kantor bahkan sebelum office boy tiba, sesaat setelah Pak Satpam membukan pintu gerbang depan. Sejak semalam sudah kusiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan oleh tamu yang akan datang ke kantor pagi ini. Mereka adalah klien baru yang semoga saja bisa mendatangkan keuntungan lumayan besar jika terdapat kesepakatan diantara kami. Kupilih kemeja yang paling bagus dengan setelan celana dan sepatu yang match, tidak lupa dasi, agar lebih terlihat profesional. Semua proposal dari mereka sudah kupelajari sehingga ada keyakinan aku bisa menguasai seluruh pembicaraan selama pertemuan nanti. *** Begitulah satu contoh persiapan yang mungkin pernah kita lakukan ketika hendak menerima tamu. Banyak contoh lain yang bisa diketengahkan, misalkan, biasanya kita akan segera merapihkan semua hal berantakan dan membenahi apapun yang nampak tak sedap dipandang di sekitar ruang tamu saat seseorang hendak bertamu ke rumah. Kesibukan akan lebih terlihat jika tamu yang datang tak terlebih dulu mengkhabari kedatangannya. Bisa jadi, saat mereka tiba, kita belum mandi, masih banyak sisa makanan dan sampah yang tercecer bekas malam tadi, termasuk lantai yang kotor dan belum sempat dibersihkan. Tentu saja, sebagai tuan rumah, kita akan malu jika kedapatan belum mempersiapkan apapun untuk menyambut tamu tersebut. Fenomena lain bisa dilihat dari sisi yang berbeda. Soal makanan misalnya, seorang tuan rumah akan menyediakan makanan, bisa membuat atau membeli, yang terasa spesial buat tamu. Setidaknya, makanan yang biasanya tak pernah tersaji di rumah, jika ada tamu yang akan datang, begitu cepat tersedia. Dan bahkan, tidak jarang tuan rumah harus berhutang untuk sekedar memberikan pelayanan lebih atau biasa disebut dengan ‘menghormati’ tamu. Adalah hal wajar seseorang menerima dengan penuh sukacita dan kebaikan setiap tamu yang datang bersilaturahim ke rumahnya.

Namun tentu tidak semua tamu bisa dilayani seperti itu. Kita tentu pernah mendengar istilah ‘tamu tak diundang’. Mereka bisa jadi, tukang kredit, penagih hutang, atau cuma seorang teman yang biasa meminjam uang. “Bapak tidak ada di rumah,” atau “Bapak sedang istirahat” adalah basa-basi yang biasa terlontar lewat pembantu atau anak kita kepada mereka yang mungkin masih berdiri di luar pagar. Jika di kantor, sekretaris atau resepsionis akan berkata sopan, “Bapak sedang keluar kantor”, bila yang datang adalah tamu atau klien yang tidak diharapkan. Intinya, sikap dan pelayanan yang diberikan oleh seorang tuan rumah akan tergantung siapa dan tujuan apa yang dibawa oleh tamunya. Ia bisa saja menerima dengan tulus dan senang hati, menunda dan memintanya menunggu beberapa saat agar kita bisa bersiap dan berbenah, atau menolak kedatangannya, bila perlu dengan bantuan Satpam. Tamu. Siapapun dia, adalah mereka yang pasti berniat atau mempunyai kepentingan tertentu dengan kita. Yang paling sederhana adalah sekedar bersilaturahim dan menyambung-eratkan hubungan persaudaraan. Semestinya, sebagai tuan rumah yang baik kita menyambutnya dengan hati yang senang, dan tak memperlihatkan ketidaksukaan, menutupi ketidaksiapan dalam penerimaannya. Jika perlu, konflik maupun pertengkaran yang tengah berlangsung antara anggota keluarga, antara suami dengan istri, dihentikan agar tamu tak menjadi penonton peperangan. Semestinya diupayakan agar mereka tak pernah tahu ada perselisihan, konflik, atau ketidakakuran di keluarga kita. Itulah sekelumit hal yang biasa terjadi. Kita berupaya tampil sebaik mungkin menyambut kedatangan tamu. Terlebih jika yang datang adalah tamu yang dihormati, bisa pejabat, atasan di kantor, atau siapapun yang posisinya lebih diatas kita. Sejak kecil, bahkan sejak baru terlahir, seorang manusia sudah terbiasa menerima tamu. Bisa jadi, hampir setiap hari tamu tak henti-hentinya mengetuk pintu rumah. Khabar yang dibawa tentu bermacam-macam, sekali lagi, bisa hal baik atau hal buruk, sesuatu yang sudah biasa didengar, atau mungkin berita yang mengejutkan dan tidak disangka-sangka. Jadi, adalah hal biasa kita mendengar ketukan di pintu rumah untuk menerima kedatangan tamu. Namun, pernahkah kita sadar jika siang nanti, esok pagi atau mungkin sedetik setelah membaca pesan ini, ada ketukan yang terdengar di depan, dan ketika kita tahu bahwa yang datang dan berdiri di hadapan kita adalah ‘tamu terakhir’? tamu yang sama yang pernah hadir di hadapan orang-orang yang telah mendahului kita. Tamu yang datang dengan kabar baik atau buruk tergantung seberapa banyak persiapan dan bekal yang terkumpul untuk hidup di hari kemudian. Tamu terakhir yang tak mungkin kita memintanya untuk menunggu meskipun sedetik agar kita bisa bersiap dan membenahi diri. Tamu terakhir yang mungkin tidak pernah diharapkan kehadirannya, tetapi tak seorang pun bisa membantu kita untuk menolak kehadirannya. Tentu saja, kita akan tersenyum menerima kehadirannya, jika saat tamu terakhir itu datang, semua bekal yang diperlukan sudah dipersiapkan. Bagaimana jika belum? Wallaahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gaw) Dan Gerbong Kereta Pun Bersaksi

Publikasi: 04/09/2003 09:56 WIB eramuslim - “Kemarin kau tak mengaji. Hari ini tak mengaji, tak sembahyang pula kau… mau jadi manusia macam apa kau nak…” tegur seorang ibu kepada anak lelakinya yang baru berusia sekitar delapan tahun. “Bukannya tak mau sembahyang mak. Di kereta banyak pembeli, kan sayang. Lagipula itu kan rejeki…” sanggah sang anak yang masih menggendong kotak rokok dan permen dagangannya. “Hey … apa kau bilang??? Rejeki tu sudah ada yang mengaturnya. Bukan kau yang menentukan apa kau dapat rejeki atau tidak hari ini. Kalau kau tak berdoa pada-Nya, mungkin esok kau tak seberuntung hari ini…”. Kata-kata itu, sungguh membuat ku terkesima. Sebuah cuplikan fragmen keimanan yang kutangkap hanya beberapa menit saat kuberdiri di Stasiun Kereta Api Pasar Minggu, Jakarta, tak seberapa masa menjelang Maghrib. Ada gemuruh yang menderu di dalam dada ini melihat pemandangan menakjubkan di depanku, terlebih mendengar dialog yang lumayan menggetarkan itu. Betapa tidak, seorang ibu yang tengah menggendong anaknya yang masih balita, ditemani putri sulungnya yang berusia tidak lebih dari dua belas tahun, meski tidak serapih muslimah-muslimah yang biasa kutemui di kampus-kampus atau perkantoran, tapi ia berusaha untuk menutupi bagian kepalanya dengan jilbab lusuh, bahu membahu bersama sang Ayah berdagang di emperan stasiun KA Pasar Minggu. Sementara anaknya yang lelaki, diberinya tanggungjawab berjualan rokok, tissue dan permen di gerbong KA Jabotabek. Mari, ingin sekali kuajak Anda merenung tentang mereka sebelum bicara tentang diri kita sendiri. Setiap dini hari mata terjaga mendahului kokok ayam paling pagi untuk mengepak barang-barang yang akan digelar di stasiun kereta api yang berdebu, kadang sesak di pagi dan sore hari saat jam pergi dan pulang kantor, yang sudah pasti tak berpengatur udara. Tak ada kursi empuk selain alas koran yang tidak jarang membuat pinggang dan tulang bokong mereka pegal-pegal sekaligus panas, jika tak sering-sering bangun, kemudian duduk kembali sekedar melancarkan peredaran darah. Keringat yang keluar tak bisa diukur dari nine to five seperti kebanyakan kita. Sedangkan si bocah lelaki keluar masuk dan turun naik dari gerbong ke gerbong, dari pagi hingga sore menjelang dengan segala bentuk bahaya yang senantiasa menanti. Tapi, tak sedikitpun mereka ragu bahwa Dia-lah yang mengatur semua rizki bagi manusia, tidak terkecuali mereka. Sehingga sedemikian marahnya si ibu setelah mendapat laporan dari si sulung bahwa anak lelakinya sudah dua hari tak mengaji, dan hari ini kedapatan tak sembahyang Dzuhur. Kemudian mari tengok diri ini. Di pagi hari tak perlu memanggul karung dan dus yang berat, untuk menggelarnya terpal di emperan manapun. Kita hanya perlu naik kendaraan menuju kantor, duduk di kursi yang empuk, mungkin tak ada peluh yang harus dibasuh karena seharian bekerja di ruangan ber-AC, dan tidak jarang masih mendapatkan pelayanan khusus dari office boy.

Namun dengan kondisi yang demikian lebih baik, tidak jarang dzuhur dan ashar tertinggal, minimal sholat dzuhurnya menjelang ashar. Itu pun jika sempat. Seringkali kesibukan dan terlalu banyak pekerjaan menjadi alasan untuk tak melafazkan barang satu ayatpun kalimah-Nya. Tak mengertikah kita bahwa mungkin saja Dia yang maha mengatur rizki itu tak lagi memberikan kita semua kesibukan yang hari ini menjadi alasan untuk tak mendekati-Nya? Sungguh, enggankah kita membiarkan semua pekerjaan, komputer, meja kerja, kursi empuk, telepon yang berdering-dering itu kelak menjadi saksi di hadapan Allah, bahwa mereka pernah ditinggal oleh pemiliknya di waktu-waktu tertentu saat kita bermunajat pada-Nya? *** Adzan Maghrib pun berkumandang, kuikuti punggung-punggung mereka yang menuruti langkah-langkah kecil menuju mushola. (Bayu Gaw) Kekuatan Doa Publikasi: 03/09/2003 09:06 WIB eramuslim - Dahiku mengernyit ketika menatap angka-angka di rekeningafschriften – laporan saldo bank yang biasa kuterima dua pekan sekali itu. Gawat! Bisa gagal rencana pulang kampung. Dengan jumlah sekian euro tentu tak cukup membeli tiket pesawat untuk kami bertiga, bahkan dengan jadwal last minute dari maskapai yang termurah sekalipun. Padahal sudah sebulan ini bayangan wajah orang tua, dan sanak keluarga di kampung sudah menghiasi mimpi-mimpi tidurku. Rindu. Mereka pun ingin melihat cucunya yang lahir jauh di rantau. Rasa-rasanya sejak aku tidak lagi menerima beasiswa, aku dan suamiku telah berusaha untuk menekan biaya hidup dengan mengandalkan gaji guru suamiku yang berada dibawah UMR-nya Belanda. Tapi memang dasarnya biaya hidup disini semakin hari semakin tinggi, apalagi sejak peralihan mata uang gulden ke euro, harga-harga jadi makin menggila. *** “….Gimana Neng, jadinya pulang bulan apa?” suara Mamah terdengar berlapis-lapis dalam jarak belasan mil diujung sana, di pinggir kota Bandung. Maklum, untuk menghemat pulsa aku menggunaan kartu telepon interlokal yang termurah, dengan resiko kualitas suara yang rendah tentunya. “Belum jelas, Mah. Nantilah Eneng kasih tahu lagi. Mah, udah dulu ya. Rauda mulai nangis nih … Assalamualaikum !” terburu-buru aku memutuskan hubungan telpon dengan Mamah, bukan karena tangis Rauda, tetapi takut Mamah tahu kalau suaraku mulai tersekat menahan tangisku. Aku menghambur ke tempat tidur, menutup wajah ini erat dalam bantal, menumpahkan kegalauan hati yang tertahan sejak tadi. Sementara Rauda, bayiku yang berumur 5 bulan, menatapku dengan heran dan gelisah, sebentar kemudian diapun ikut menangis…

*** “Ayah, coba lihat nih rekeningafschriften-nya. Gimana ini, kita nggak bisa pulang dengan sisa uang segini. Ayah… Ayah ngetik apa sih dari kemarin nggak selesai-selesai, dengerin dong kalo Bunda lagi bicara!” nada suaraku meninggi. “Ehm…” gumam suamiku, yang masih tampak asyik mengetik di komputer tua kami. “Kenapa sih Ayah nggak pernah mikirin gimana kita pulang. Coba dong Ayah cari kerja sampingan, schoonmaak, loper koran, cuci piring di restoran atau apa aja deh… atau kita jual lah beberapa barang-barang kita ke tweedehands… dari dulu Bunda kan bilang…” bla-blabla aku mulai meracau, dan akhirnya menangis. Suamiku menghampiriku, dengan lembut dia membelaiku dan berbisik, “Istighfar Bunda, yang sabar... Insya Allah, kalau niat kita pulang kampung adalah karena ingin menyambung tali silaturahmi dengan sanak keluarga dan memang ada rezekinya si Rauda, Allah pasti berkenan memudahkannya. Perbaiki kualitas doa kita selama ini, karena apapun kesulitan kita tidak ada yang mampu menolong kecuali atas izinNya. Ayah sedang membuat beberapa artikel dan berusaha mengirimnya ke beberapa surat kabar.” Dia melihat ke arah jam dinding, sudah masuk waktu maghrib meskipun tanpa ditandai suara adzan. “Mari kita sholat,” ajak suamiku. Kami sholat berjama'ah dan sesaat kemudian tenggelam dalam dzikir dan doa - bermunajat kepadaNya. *** Beberapa hari kemudian, aku menangis lagi. Kali ini bukan tangis kesal atau kecewa, tapi tangis bahagia. Dalam pelukan suamiku, tak putus-putusnya aku bertasbih, mengucapkan rasa syukurku pada Allah Swt. Pulang mengajar tadi, suamiku datang dan membisikkan kabar gembira itu ke telingaku. Dia mendapat tugas mengikuti penataran guru di Jakarta akhir bulan ini, dan segala biayanya ditanggung oleh sekolah tempat suamiku mengajar. Meskipun tanggungan biaya itu hanya untuk satu orang, akan tetapi setelah menghitung– hitung tabungan kami, ternyata cukup memungkinkan bagi kami untuk pulang ke kampung halaman bersama-sama. Alhamdulillah, Allah telah mengabulkan doa-doa kami, sehingga kami dapat dipertemukan dengan sanak keluarga. Aku merasakan, sungguh, betapa besar sebuah kekuatan doa. Laa haula walakuwwata illa billah. Melati Salsabila Den Haag - The Nederlands Takkan Pernah Sebanding Publikasi: 02/09/2003 09:25 WIB eramuslim - Sobat, pernahkah dirimu merasakan apa yang sedang kurasakan saat ini? Rasa bersalah yang teramat sangat. Jauh dari orang tua yang sekarang hanya tinggal berdua. Tak ada lagi putera-puteri yang tersisa. Semuanya berada dalam radius yang sangat jauh, menempuh episode kehidupan masing-masing. Betapa sepinya mereka.

Sewaktu bayi, entah berapa kali kita mengganggu tidur nyenyak ayah yang mungkin sangat kelelahan setelah seharian bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita. Mungkin juga kotoran kita ikut tertelan Ibu ketika kita buang “pup” di saat ibu sedang makan. Ibu juga tidak peduli ketika teman-temannya marah karena membatalkan acara yang sangat penting karena tiba-tiba anaknya sakit. Kekhawatiran demi kekhawatiran tiada pernah henti mengunjungi mereka setiap kali kita melangkah. Beranjak dewasa, betapa tabahnya ayah dan Ibu menerima pembangkangan demi pembangkangan yang kita lakukan. Mereka hanya bisa mengelus dada karena temanteman di luar sana lebih berarti daripada mereka. Jarang sekali sekali kita mau menyisakan waktu untuk menyelami mimik wajah mereka yang penuh kecemasan ketika kita pulang telat karena ayah dan ibu selalu menyambut kita dengan senyum. Sobat, pernahkah dirimu bangun tengah malam dan mendengar tangisan Ibu dalam doanya seperti yang pernah aku dengar? Tangisan dan doa itulah yang mengantar kesuksesan kita. Pernahkah kita tahu Ayah dan ibu terluka dan mengiba kepada Allah agar kita jangan dilaknat, agar Allah mau mengampuni kita dan memberikan kehidupan terbaik untuk kita? Astaghfirullaahal ‘adziim. Pernahkah kita berterimakasih ketika kita dapati ayah dan ibu berbicara berbisik-bisik karena takut membangunkan kita yang tertidur kelelahan? Pernahkah kita menghargai patah demi patah kata yang mereka susun sebaik mungkin untuk meminta maaf karena mereka tidak sengaja memecahkan kristal kecil hadiah ulang tahun dari teman kita? Pernahkah kita menyesal karena lupa menyertakan mereka di dalam doa? Ah, Sobat, betapa tak sebanding cinta dan pengorbanan mereka dengan balasan kasih sayang yang kita berikan. Setelah dewasa dan bisa “menghidupi” diri sendiri, kita masih bisa melenggang ringan meninggalkan mereka (mereka ikhlas asal kita bahagia). Lalu? Mungkinkah kita bisa seperti Ismail as yang merelakan dirinya disembelih ayah kandung demi menuruti perintah Allah? Atau seperti Musa as yang dihanyutkan ketika bayi? Ternyata kita masih sangat jauh... Lalu bakti seperti apakah yang bisa kita persembahkan? Sobat, bantu aku agar optimis! Ya, masih banyak waktu untuk membahagiakan mereka. Hal yang terkecil yang bisa kita lakukan adalah: tak mengatakan “tidak” ketika mereka menyuruh atau menginginkan sesuatu (tentu saja bukan yang bertentangan dengan agama) dan segera ambil alat komunikasi, hubungi mereka saat ini juga, sapa mereka dengan hangat, pastikan nada suara kita bahagia! Bahagiakan ayah, bahagiakan Ibu! Mulai dari sekarang, selagi Allah masih memberi kesempatan. Walau takkan pernah sebanding, doa-doa kitalah yang mereka harapkan menemani di peristirahatan terakhir nanti.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihi kami sedari kecil. Jadikan kami termasuk anak-anak yang shaleh ya Allah hingga doa-doa kami termasuk doa-doa yang Engkau ijabah. Aamin. farah_adibah@yahoo.com Buku merah itu… Publikasi: 01/09/2003 08:53 WIB eramuslim - Kubaca kembali lembar pertama buku lusuh dihadapanku. Seperti tak percaya kubalik lembar demi lembarnya, untuk memastikan kembali isinya. Ya Allah, memang benar ini tulisanku!!! Buku merah itu kutemukan di tumpukan paling bawah, di laci meja belajarku. Sejak pagi hari tadi, hingga sekarang pukul 11 siang, aku sibuk membereskan kamarku yang berantakan tak terurus. Penyebab utamanya tak lain karena kesibukanku di kantor yang memuncak beberapa bulan ini. Kembali kuamati buku yang ujungnya telah termakan kutu buku. Masing-masing halamannya hanya terbagi dalam tiga kolom. Pertama, kolom hari dan tanggal, selanjutnya aktivitas, dan terakhir keterangan. Kucermati baris pertamanya. Jumat, 14 Juli 2000. Sholat subuh, dhuhur, ashar, magrib dan isya’. Sholat sunnah: tahajud, rawatib dan dhuha. Baca Al Qur’an: 3 juz, wirid: istighfar 500 kali, Tasbih, Tahmid dan Tahlil, masing-masing 100 kali, Al Ma’tsurat pagi dan sore, Surat Yaasin, Waqiah dan Ar Rahman. Selanjutnya, kulihat kolom keterangan. Tampak semua tanda centang berada di kolom ”terlaksana”, yang merupakan bagian dari kolom keterangan. Lalu, tanganku yang kotor oleh debu, refleks membalik lembar demi lembarnya yang tak menampakkan perbedaan, selain menampakkan peningkatan aktivitas ibadah, dari hari ke hari. Dan buku itu, berakhir ditulis pada tanggal 24 Agustus 2000. Subhannallah… mataku nanar, dan setetes air beningnya tak bisa kutahan lagi. *** Otakku berputar untuk mengingat tahun berapa saat ini. Robb, sudah tiga tahun hamba berpaling dari-Mu. Dan aku seperti tak merasakannya. Kesibukan yang kemudian berubah menjadi rutinitas dan membuat hatiku mengeras karena malah menyukainya, telah mengungkungku selama ini. Mungkin banyak orang berkata, bahwa catatan ibadahku tadi bukan apa-apa karena amalan sunnahnya hanya beberapa. Namun bagiku, saat itu adalah puncak kedekatanku dengan-Nya. Tuhan Pencipta Alam Semesta. Karena berikutnya, aku menjauh dan semakin menjauhi-Nya. Astaghfirullahal adziim. Ingatanku kembali menyusuri tiga tahun yang tak berasa. Aku ingat, kejauhanku dengan Robb-ku diawali dengan beratnya melaksanakan ibadah wajib tepat waktu. Lantas bersambung ke ibadah sunnah yang mulai hilang satu-satu. Ujungnya, sholat lima waktu hanya sekedarnya. Sekedar menggugurkan kewajiban. Sementara berdoa, bukan lagi

kurasakan sebagai sarana komunikasi dengan Allah Yang Maha Pemurah, melainkan hanya aliran kata-kata yang tak pernah kuresapi maknanya. Air mata pun tak pernah lagi mengucur deras, saat tangan ini menengadah. Apalagi wirid, karena seusai salam kubaca, mukena pun langsung kulepas. Astaghfirullahal adziim… *** Ya Allah, tiga tahun yang sia-sia. Kerugian yang tiada terhitung. Tuhanku, hamba ingin bangkit. Terlalu banyak titik dosa yang terukir di lembaran hidup hamba, tak sebanding dengan amalan kebajikan yang hamba lakukan. Robb, beri hamba kekuatan untuk bangkit menuju-Mu… agar hati ini kembali tenang. Agar segala yang hamba lakukan mendapat ridho-Mu… Hidup hamba gersang, Tuhanku. Tak ada air sejuk yang mengaliri jalan yang hamba tempuh… tak ada tempat mengadu seperti dulu Ya Allah… hamba terlalu memanjakan diri hamba untuk tidur semalaman, hanya karena alasan terlalu lelah. Padahal, kelelahan yang sesungguhnya adalah saat ini, saat hamba jauh dari-Mu. Ya Allah… ampunkan dosa hamba, Robb. Terima hamba kembali Ya Allah… jangan biarkan hamba jauh dari nur-Mu Yaa Rohim. Hamba ingin sekali kembali, berkhalwat dengan-Mu setiap malam dan menunaikan segala perintah-Mu seperti dulu lagi. Hamba rindu kepada-Mu Ya Allah… teramat rindu. *** Sayup-sayup kudengar suara Emha, dari tape Bapak kostku… Ya Allah Gusti Nyuwun pangaksami Sampun dangu kulo Ninggalke agami Infaq, shodaqoh lan kitab suci Nyuwun tuntunan Ilahi Robbi (Mereka berdo'a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)". (QS Ali Imran:8) antariksa@eramuslim.com Satu Menit? Publikasi: 30/08/2003 09:32 WIB eramuslim - Satu menit? Sepertinya tak bermakna, mungkin karena tak berasa. Lewat begitu saja. Hanya enam puluh ketukan, jika satu ketukan itu bernilai satu detik. Benarbenar tak terasa, hingga akhirnya tak dimaknai. Seringkali kumpulan menit itu kita perlakukan seperti air, mengalir begitu saja. Tanpa kita berikan arah, tanpa kita tetapkan tempat berakhir. Mengalir, mengalir dan mengalir…

Seringkali himpunan menit itu kita perlakukan seperti gelas, kita isi dan nikmati tanpa kita sadari khasiat dari isi gelas itu sendiri. Yang penting lezat, segar dan mengusir rasa haus kita. Padahal satu menit, enam puluh ketukan itu bisa membawa kita kepada dua pilihan tempat berakhir. Keindahan atau kepedihan. Karena enam puluh ketukan itu ternyata bernilai, sangat bernilai dimata Sang Pemilik waktu, Sang Maha Penghenti waktu. Karena satu menit itu tak pernah luput dari penglihatan dan pengawasan Sang Maha Bijak, Sang Maha Pemberi ganjaran. Karena satu menit itu memiliki arti bagiNya, atas keputusan yang ditetapkan untuk kita. Dia akan menghargai satu menit yang dimiliki dalam hidup ini dengan berlipat penghargaan yang tak terbayangkan oleh kita. Karena Dia-lah sebaik-baiknya pemberi penghargaan bagi manusia yang tak pernah lelah mencari perhatianNya. Satu menit saja, tak lebih, dapat bermakna, jika kita mau. Satu menit saja, hanya satu menit, dapat bernilai, jika kita tahu. Karenanya satu menit itu tak layak kita buang. Dalam satu menit, kita bisa melakukan banyak kebaikan dan kebahagiaan. Dalam satu menit kita bisa mendendangkan al-Faatihah dengan penuh cinta sebanyak tiga kali. Hanya tiga kali memang, tapi menurut orang-orang bijak, dengan membaca al-Faatihah satu kali saja, Allah memberikan 600 kebaikan. Dalam satu menit, kita dapat membisikkan surat al Ikhlaas dua puluh kali, tak perlu bersuara, hanya berbisik. Allah menilai bisikan penuh makna itu sama seperti kita membaca sepertiga kitabNya. Dalam enam puluh ketukan itu, kita bisa membaca sedikit saja ayat-ayat dari kalimatNya yang dirangkai dalam Al Qur’an. Dalam satu menit itu, kita bisa mencoba menghafal ayat-ayatNya untuk senantiasa mengingatnya dan mengiri langkah-langkah kita. Dalam satu menit, kita bisa mengaturkan dzikir, Laa ilaaha illallaah wahdahu laa shariikalah,lahu'l-mulk wa lahu'l-hamd wa huwa 'ala kulli shay'in qodiir. Dalam satu menit kita bisa mengirimkan puji Subhaanallaahi wa bi hamdihi sebanyak seratus kali. Allah akan mengampuni dosa-dosa kita meski dosa itu sebanyak buih di lautan. Dalam satu menit kita bisa membalas cintaNya dengan mengucap Subhaan allaahi wa bi hamdihi Subhaanallaahil-'Aziim sebanyak lima puluh kali. Allah mencintai manusia yang mengucapkan dua kata ini dari bibirnya, demikian yang tertulis dalam hadits riwayat Bukhari Muslim. Rasul berkata, “Saat aku mengucapkan 'Subhaanallaah, wa'l-hamdu Lillah, wa laa ilaah ill-Allaah, wa Allaahu Akbar (Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, Tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar), maka cintaNya berhamburan untukku (hadits riwayat Muslim). Dalam satu menit, kita dapat mengucapkan itu sebanyak delapan belas kali. Karena kata-kata ini senantiasa dicintaiNya, kata-kata terbaik penuh dengan makna. Dalam satu menit, kita bisa menyatakan Tidak ada kekuatan dan kekuasaan selain milikNya, Laa hawla wa laa quwwata illa Billaah. Kata-kata ini adalah satu dari

kekayaan dari surga, seperti yang tercantum dalam hadits yang diriwayatkan BukhariMuslim. Kata kata ini membuat Allah mengangkat kesulitan yang ada dan membantu kita meraih yang kita inginkan. Dalam satu menit, kita bisa menegaskan kembali pernyataan kita terdahulu, sebelum kita lahir ke dunia ini, Laa ilaaha ill-Allaah sebanyak lima puluh kali. Ini adalah kata-kata terbesar milikNya. Karena dengan memaknai kata-kata ini dalam hati, sudah cukup bukti bahwa kita mengakui keberadaanNya. Dalam enam puluh ketukan kita bisa membaca Subhaanallaah wa bi hamdih, 'adada khalqihi, wa ridaa nafsihi, wazinata 'arshihi, wa midaada kalimaatihi (Maha suci Allah, sebanyak apa yang diciptakanNya, sebanyak keridhoanNya, seberat Arasy-Nya dan sebanyak tinta kata-kataNya). Dalam satu menit, kita dapat memohon ampunanNya dengan membaca Astaghfir-Allaah sebanyak seratus kali. Dengan kesadaran sepenuhnya atas berjuta dosa yang kita lakukan. Dalam satu menit, kita dapat mengirim doa untuk junjungan kita Nabi besar Muhammad Saw, dengan mengucap Sallallaahu 'alayhi wasallam (Semoga Allah memberkati dan memberinya kedamaian). Dengan doa itu Allah akan memberikan lima ratus kebaikan. Dalam satu menit, kita bisa memotivasi hati kita dengan menghaturkan terima kasih padaNya, MencntaiNya, hanya berharap padaNya, takut atasNya, dan tetap melanjutkan hidup hanya karenaNya. Ini bisa kita lakukan saat kita merebahkan tubuh kita untuk beristirahat atau mungkin saat kita berjalan menuju suatu tempat. Dalam satu menit, kita bisa membaca lebih dari dua halaman dari buku yang bermanfaat bagi kita, dan membuat kita lebih memaknai hidup. Dalam satu menit, kita bisa mencurahkan kerinduan, berbincang dengan teman lama yang terikat karena cinta Allah. Dalam satu menit kita bisa menengadahkan tangan dan memanjatkan doa atas apa yang kita harapkan bagi diri ini. Dalam satu menit kita bisa mengucapkan salam, mendoakan orang lain atas keselamatannya. Dalam satu menit kita bisa sedikit merenung, mengusir bisikan setan yang senantiasa tak pernah bosan mengganggu kita untuk berpaling dariNya. Dalam satu menit kita bisa menikmati sesuatu dengan penuh rasa syukur, bahwa kita masih punya waktu menikmatinya. Dalam satu menit kita bisa memberikan kata-kata berharga bagi saudara kita, sekedar saling mengingatkan ke-alfaannya, menunaikan haknya untuk selalu diingatkan. Dalam satu menit kita bisa membuang sesuatu yang berbahaya ditengah jalan. Hanya satu menit, dan semoga berarti bagiNya. Ami Ruchjat amiruchjat@yahoo.com

Perkenankanlah Aku MencintaiMu Semampuku Publikasi: 28/08/2003 13:58 WIB Tuhanku, Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintaiMu… Lembar demi lembar kitab kupelajari… Untai demi untai kata para ustadz kuresapi… Tentang cinta para nabi Tentang kasih para sahabat Tentang mahabbah para sufi Tentang kerinduan para syuhada Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan… Tapi Rabbii, Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan kemudian tahun berlalu… Aku berusaha mencintaiMu dengan cinta yang paling utama, tapi… Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untukMu… Aku makin merasakan gelisahku membadai… Dalam cita yang mengawang Sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi… Hingga aku terhempas dalam jurang Dan kegelapan…

Wahai Ilahi, Kemudian berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun berlalu… Aku mencoba merangkak, menggapai permukaan bumi dan menegakkan jiwaku kembali Menatap, memohon dan menghibaMu: Allahu Rahiim, Ilaahi Rabbii, Perkenankanlah aku mencintaiMu, Semampuku Allahu Rahmaan, Ilaahi Rabii Perkenankanlah aku mencintaiMu Sebisaku Dengan segala kelemahanku Ilaahi, Aku tak sanggup mencintaiMu Dengan kesabaran menanggung derita Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa hingga Al musthafa Karena itu izinkan aku mencintaiMu Melalui keluh kesah pengaduanku padaMu Atas derita batin dan jasadku Atas sakit dan ketakutanku

Rabbii, Aku tak sanggup mencintaiMu seperti Abu bakar, yang menyedekahkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan Engkau dan RasulMu bagi diri dan keluarga. Atau layaknya Umar yang menyerahkan separo harta demi jihad. Atau Utsman yang menyerahkan 1000 ekor kuda untuk syiarkan dienMu. Izinkan aku mencintaiMu, melalui seratus-dua ratus perak yang terulur pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan, pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan. Pada makanan–makanan sederhana yang terkirim ke handai taulan. Ilaahi, aku tak sanggup mencintaiMu dengan khusyuknya shalat salah seorang shahabat NabiMu hingga tiada terasa anak panah musuh terhunjam di kakinya. Karena itu Ya Allah, perkenankanlah aku tertatih menggapai cintaMu, dalam shalat yang coba kudirikan terbata-bata, meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia. Robbii, aku tak dapat beribadah ala para sufi dan rahib, yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta denganMu. Maka izinkanlah aku untuk mencintaimu dalam satu-dua rekaat lailku. Dalam satu dua sunnah nafilahMu. Dalam desah napas kepasrahan tidurku. Yaa, Maha Rahmaan, Aku tak sanggup mencintaiMu bagai para al hafidz dan hafidzah, yang menuntaskan kalamMu dalam satu putaran malam. Perkenankanlah aku mencintaiMu, melalui selembar dua lembar tilawah harianku. Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku. Yaa Rahiim Aku tak sanggup mencintaiMu semisal Sumayyah, yang mempersembahkan jiwa demi tegaknya DienMu. Seandai para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihadnya bagiMu. Maka perkenankanlah aku mencintaiMu dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan untuk dakwahMu. Maka izinkanlah aku mencintaiMu dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru. Allahu Kariim, aku tak sanggup mencintaiMu di atas segalanya, bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya, dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya. Maka izinkanlah aku mencintaiMu di dalam segalanya. Izinkan aku mencintaiMu dengan mencintai keluargaku, dengan mencintai sahabat-sahabatku, dengan mencintai manusia dan alam semesta. Allaahu Rahmaanurrahiim, Ilaahi Rabbii Perkenankanlah aku mencintaiMu semampuku. Agar cinta itu mengalun dalam jiwa. Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku. Azimah Rahayu azi_75@yahoo.com (29Agustus 2003, tertatih meniti cinta dalam 28 tahun waktu yang Kau berikan)

cat: Judul diatas dipinjam dari judul sebuah puisi karya A Musthofa Bisri Dan, Semesta pun Kehilangan Pelita Terindahnya Publikasi: 27/08/2003 10:01 WIB Ketika Al-Musthafa berada dihadapan Ku pandangi pesonanya dari ujung kaki hingga kepala, Tahukah kalian apa yang terjelma? Cinta! (Abu Bakar ra) eramuslim - Nabi demam kembali, kini panasnya semakin tinggi. Lemah ia berbaring, menghadapkan wajah pada Fatimah anak kesayangan. Sudah beberapa hari terakhir, kesehatannya tidak lagi menawan. Senin itu, kediaman manusia paripurna didatangi seorang berkebangsaan Arab dengan wajah rupawan. Di depan pintu, ia mengucapkan salam "Assalamu’alaikum duhai para keluarga Nabi dan sumber kerasulan, bolehkah saya menjumpai kekasih Allah?". Fatimah yang sedang mengurusi ayahnya, tegak dan berdiri di belakang pintu "Wahai Abdullah, Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri". Fatimah berharap tamu itu mengerti dan pergi, namun suara asing semula kembali mengucapkan salam yang pertama. "Alaikumussalam, hai hamba Allah" kali ini Nabi yang menjawabnya. "Anakku sayang, tahukah engkau siapakah yang kini sedang berada di luar?" "Tidak tahu ayah, bulu kudukku meremang mendengar suaranya" "Sayang, dengarkan baik-baik, di luar itu adalah dia, pemusnah kesenangan dunia, pemutus nafas di raga dan penambah ramai para ahli kubur". Jawaban nabi terakhir membuat fatimah jatuh terduduk. Fatimah menangis seperti anak kecil. "Ayah, kapan lagi aku akan mendengar dirimu bertutur, harus bagaimana aku menuntaskan kerinduan kasih sayang engkau, tak akan lagi ku memandang wajah kesayangan ayahanda" pedih Fatimah. Nabi tersenyum, lirih ia memanggil " Sayang, mendekatlah, kemarikan pendengaranmu sebentar". Fatimah menurut, dan Kekasih Allah itu berbisik mesra di telinga anaknya, "Engkau adalah keluargaku yang pertama kali menyusul sebentar kemudian". Seketika wajah fatimah tidak lagi pasi tapi bersinar. Lalu kemudian, Fatimah mempersilahkan tamu itu masuk. Malaikat pencabut maut berparas jelita itu pun kini berada di samping Muhammad. "Assalamu’alaikum ya utusan Allah" dengan takzim malaikat memberi salam. "Salam sejahtera juga untukmu pelaksana perintah Allah, apakah tugasmu saat ini, berziarah ataukah mencabut nyawa si lemah?" tanya nabi. Angin berhembus dingin.

"Aku datang untuk keduanya, berziarah dan mencabut nyawamu, itupun setelah engkau perkenankan, jika tidak Allah memerintahkanku untuk kembali" "Di manakah engkau tinggalkan Jibril? Duhai izrail?" "Ia ku tinggal di atas langit dunia". Tak lama kemudian, Jibril pun datang dan memberikan salam kepada seseorang yang juga dicintanya karena Allah. "Ya Jibril, gembirakanlah aku saat ini" pinta Al-Musthafa. Terdengar Jibril bersuara pelan di dekat telinga manusia pilihan, "Sesungguhnya pintu langit telah di buka, dan para Malaikat tengah berbaris menunggu sebuah kedatangan, bahkan pintu-pintu surga juga telah di lapangkan hingga terlihat para bidadari yang telah berhias menyongsong kehadiran yang paling ditunggu-tunggu". "Alhamdulillah, betapa Allah maha penyayang" sendu Nabi, wajahnya masih saja pucat pasi. "Dan Jibril, masukkan kesenangan dalam hati ini, bagaimana keadaan ummatku nanti". "Aku beri engkau sebuah kabar akbar, Allah telah berfirman, "Sesungguhnya Aku, telah mengharamkan surga bagi semua Nabi, sebelum engkau memasukinya pertama kali, dan Allah mengharamkan pula sekalian umat manusia sebelum pengikutmu yang terlebih dahulu memasukinya" Jawaban Jibril itu begitu berpengaruh. Maha suci Allah, wajah Nabi dilingkupi denyar cahaya. Nabi tersenyum gembira. Betapa ia seperti tidak sakit lagi. Dan ia pun menyuruh malaikat izrail mendekat dan menjalankan amanah Allah. Izrail, melakukan tugasnya. Perlahan anggota tubuh pembawa cahaya kepada dunia satu persatu tidak bergerak lagi. Nafas manusia pembawa berita gembira itu semakin terhembus jarang. Pandangan manusia pemberi peringatan itu kian meredup sunyi. Hingga ketika ruhnya telah berada di pusat dan dalam genggaman Izrail, nabi sempat bertutur, "Alangkah beratnya penderitaan maut". Jibril berpaling tak sanggup memandangi sosok yang selalu ia dampingi di segala situasi. "Apakah engkau membenciku Jibril" "Siapakah yang sampai hati melihatmu dalam keadaan sekarat ini, duhai cinta," jawabnya sendu. Sebelum segala tentang manusia terindah ini menjadi kenangan, dari bibir manis itu terdengar panggilan perlahan "Ummatku… Ummatku….". Dan ia pun dengan sempurna kembali. Nabi Muhammad Saw, pergi dengan tersenyum, pada hari senin 12 Rabi'ul Awal, ketika matahari telah tergelincir, dalam usia 63 tahun.

Muhammad, Nabi yang Ummi, Kekasih para sahabat di masanya dan di sepanjang usia semesta, meninggalkan gemilang cahaya kepada dunia. Muhammad, pemberi peringatan kepada semua manusia, menorehkan dalam-dalam tinta keikhlasan di lembaran sejarah. Muhammad, yang bersumpah dengan banyak panorama indah alam: "demi siang bila datang dengan benderang cahaya, demi malam ketika telah mengembang, demi matahari sepenggalah naik", telah membumbungkan Islam kepada cakrawala megah di angkasa sana. Ia, Muhammad, menembus setiap gendang telinga sahabatnya dengan banyak kuntum-kuntum sabda pengarah dalam menjalani kehidupan. Ia, Muhammad, yang di sanjung semua malaikat di setiap tingkatan langit, berbicara tentang surga, sebagai tebusan utama, bagi setiap amalan yang dikerjakan. Ia, Muhammad yang selalu menyayangi fakir miskin dan anak yatim, menggelorakan perintah untuk senantiasa memperhatikan manusia lain yang berkekurangan. Dan Ia, Muhammad, tak akan pernah kembali lagi. Sungguh, Madinah berubah kelabu. Banyak manusia terlunta di sana. Dan Aisyah ra, yang pangkuannya menjadi tempat singgah kepala Rasulullah di saat terakhir kehidupannya, menyenandungkan syair kenangan untuk sang penerang, suaranya bening. Syahdunya membumbung ke jauh angkasa. Beginilah Aisyah menyanjung sang Nabi yang telah pergi: Wahai manusia yang tidak sekalipun mengenakan sutera, Yang tidak pernah sejeda pun membaringkan raga pada empuknya tilam Wahai kekasih yang kini telah meninggalkan dunia, Ku tau perut mu tak pernah kenyang dengan pulut lembut roti gandum Duhai, yang lebih memilih tikar sebagai alas pembaringan Duhai, yang tidak pernah terlelap sepanjang malam karena takut sentuhan neraka Sa’ir Dan Umar r.a yang paling dekat dengan musuh di setiap medan jihad itu, kini menghunus pedang. Pedang itu menurutnya diperuntukkan untuk setiap mulut yang berani menyebut kekasih kesayangannya telah kembali kepada Allah. Umar tatap wajah-wajah para sahabat itu setajam mata pedangnya, meyakinkan mereka bahwa Umar sungguh-sungguh. Umar terguncang. Umar bersumpah. Umar berteriak lantang. Umar menjadi sedemikian garang. Ia berdiri di hadapan para sahabat yang terlunta-lunta menunggu kabar manusia yang dicinta. Dan Abu Bakar, sahabat yang paling lembut hatinya, melangkah pelan menuju jasad manusia mulia. Langkahnya berjinjit, khawatir kan mengganggu seseorang yang tidur berkekalan, pandangannya lurus pada sesosok cinta yang dikasihinya sejak pertama berjumpa. Raga berparas rembulan itu kini bertutup kain selubung. Abu bakar hampir pingsan. Nafasnya berhenti berhembus, tertahan. Sekuat tenaga, ia bersimpuh di depan jasad wangi al-Musthafa. Ingin sekali membuka penutup wajah yang disayangi arakan awan, disanjung hembusan angin dan dielu-elukan kerlip gemintang, namun tangannya selalu saja gemetar. Lama Abu bakar termenung di depan jenazah pembawa berkah. Akhirnya, demi keyakinannya kepada Allah, demi matahari yang masih akan terbit, demi

mendengar rintihan pedih ummat di luar, Abu bakar mengais sisa-sisa keberanian. Jemarinya perlahan mendekati penutup tubuh suci Rasulullah, dan dijumpailah, wajah yang tak pernah menjemukan itu. Abu bakar memesrai Nabi dengan mengecup kening indahnya. Hampir tak terdengar ia berucap, "Demi ayah dan bunda, indah nian hidupmu, dan indah pula kematianmu. Kekasih, engkau memang telah pergi". Abu bakar menunduk. Abu Bakar mematung. Abu Bakar berdoa di depan tubuh nabi yang telah sunyi. Dan Bilal bin Rabah, yang suaranya selalu memenuhi udara Madinah dengan lantunan adzan itu, tak lagi mampu berseru di ketinggian menara mesjid. Suaranya selalu hilang pada saat akan menyebut nama kekasih ‘Muhammad’. Di dekat angkasa, seruannya berubah pekik tangisan. Tak jauh dari langit, suaranya menjelma isak pedih yang tak henti. Setiap berdiri kukuh untuk mengumandangkan adzan, bayangan Purnama Madinah selalu saja jelas tergambar. Tiap ingin menyeru manusia untuk menjumpai Allah, lidahnya hanya mampu berucap lembut, "Aku mencintaimu duhai Muhammad, aku merindukanmu kekasih". Bilal, budak hitam yang kerap di sanjung Nabi karena suara merdunya, kini hanya mampu mengenang Sang kekasih sambil menatap bola raksasa pergi di kaki langit. Dan, terlalu banyak cinta yang menderas di setiap jengkal lembah madinah. Yang tak pernah bisa diungkapkan. Semesta menangis. *** Sahabat, Sang penerang telah pergi menemui yang Maha tinggi. Purnama Madinah telah kembali, menjumpai kekasih yang merindui. Dan semesta, kehilangan pelita terindahnya. Saya mengenangmu ya Rasulullah, meski hanya dengan setitik tinta pena. Saya mengingatimu duhai pembawa cahaya dunia, meski hanya dengan selaksa kata. Dan saya meminjam untaian indah peredam gemuruh dada, yang dilafadzkan Hasan Bin Tsabit, salah seorang sahabat penyair dari masa mu: Engkau adalah ke dua biji mata ini Dengan kepergianmu yang anggun, Aku seketika menjelma menjadi seorang buta Yang tak perkasa lagi melihat cahaya Siapapun yang ingin mati mengikutimu Biarlah ia pergi menemui ajalnya, Dan Aku, Hanya risau dan haru dengan kepergian terindah mu Sahabat, kenanglah Nabi Muhammad Saw, meski dalam kelengangan yang sempurna, agar hal ini menjadi obat ajaib, penawar dan penyembuh kegersangan hati yang kerap berkunjung. Agar, di akhirat kelak, dengan agung Nabi memanggil semua manusia yang senantiasa merindukan dan mencintainya. Adakah yang paling mempesona dihadapanmu, ketika suara suci Nabi menyapamu anggun, menjumpaimu dengan paras yang tak pernah kau mampu bayangkan sebelumnya. Adakah yang paling membahagiakan di kedalaman

hatimu, ketika sesosok yang paling kau cinta sepenuh jiwa dan raga, berada nyata di dekatmu dan menemuimu dengan senyuman yang paling manis menembusi relung kalbu. Dan adakah di dunia ini yang paling menerbangkan perasaanmu ke angkasa, ketika jemari terkasih menggapaimu untuk memberikan naungan perlindungan dari siksa pedih azab neraka. Adakah sahabat??? Jika saat ini ada yang bening di kedua sudut kelopak matamu, berbahagialah, karena mudah-mudahan ini sebuah pertanda. Pertanda cinta tak bermuara. Dan, ketika kau tak dapati air mata saat ini, kau sungguh mampu menyimpan cinta itu di dasar hatimu. Salam saya, untuk semua sahabat. Mari bersama bergenggaman, saling mengingatkan, saling memberikan keindahan ukhuwah yang telah Rasulullah tercinta ajarkan. Mari Sahabat! Husnul R Mubarikah mahabbah12@yahoo.com Bapak Tua Itu ... Publikasi: 26/08/2003 09:53 WIB eramuslim - Jalanan Jakarta seperti biasa, panas dan berdebu, walau pagi ini belum juga beranjak menjadi siang. Aku nyalakan tape dan AC di mobilku, sambil bernyanyi-nyanyi kecil untuk menghilangkan kejenuhan, karena jalan menuju kantor seperti pagi-pagi lainnya, penuh dan macet. Ternyata nyanyian itu tidak membuat hatiku menjadi tenang. Batinku merasa lelah, hatiku mengeluh. Jenuhnya aku dengan suasana rutinitasku seharihari, belum lagi urusan kantor yang tidak ada habis-habisnya. Sampai-sampai aku sendiri tidak menikmati lagi apa yang dulu menjadi kenikmatan tersendiri, bekerja di kantorku. Di tengah kemacetan, tiba-tiba kaca mobilku diketuk oleh seorang tua dengan matanya yang sayu. Dia tersenyum padaku dan menawarkan makanan kecil yang dijualnya. “Neng, lima ratus per bungkus Neng.” ujarnya. Tanpa pikir panjang apakah aku suka dengan makanan yang dijualnya aku menjawab “Ya sudah Pak, beli 10 ya.”. Matanya berbinar-binar senang. “Alhamdulillah Neng, penglaris”. Subhanallah betapa senangnya aku melihat bapak tua itu tersenyum bahagia sekaligus mensyukuri rizkinya. Betapa indahnya berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Rasanya pagi itu yang serba membosankan berubah menjadi pagi yang indah untukku. Astaghfirullaahal’azhim…. Rabb baik sekali memberikan kesempatan kepadaku untuk langsung berkaca pada diriku sendiri. Aku yang lebih beruntung dari Bapak tua itu, yang dapat duduk enak di kantor yang dingin, masih mengeluh atas kejenuhanku. Kalau saja mataku lebih terbuka, banyak orang-orang yang lebih tidak beruntung, tetapi mereka mencari nafkah dengan gembira, mensyukuri rizki yang diberikan Allah kepada mereka, sedikit apapun. Bapak tua itu, contohnya. Mungkin keuntungan dari penjualan makanan kecil yang diasongnya hanya mampu untuk menghidupinya hari itu, untuk esok, beliau harus bergulat dengan kerasnya Jakarta, begitu tiap harinya. Ya Allah, semoga Bapak tua dan orang-orang lain yang kurang beruntung diberi keikhlasan dalam menjalani hidup

mereka, berikan mereka nikmat syukur dan nikmat rizki-Mu, berikan mereka ketabahan, tunjukkan mereka selalu jalan menuju istiqamah, Ya Allah, tolong kabulkan, hanya do'a yang dapat aku berikan untuk menolong mereka. Maharani Arrahman maha_rid@yahoo.com

Hanya Ingin Jadi Orang Baik Publikasi: 25/08/2003 09:36 WIB eramuslim - Hari ini aku lelah fisik dan batin. Seharian tadi aku melangkahkan kaki untuk mencari barisan kata penyampai fakta. Tak mudah. Aku harus berlari, berkejaran dengan waktu dan debu. Aku harus berlomba, beradu dengan manusia, sekedar untuk mendapat rangkaian kalimat yang keluar dari mulut sang pejabat. Sekedar meminta ucapan dari sekumpulan orang yang mengaku orang baik. Padahal, sejarah memaparkan, sebagian mereka adalah pembual. Pembual besar. Kadang aku harus sedikit merayu dan memaksa. Bukan apa-apa, tanpa rayu dan paksaan, ada narasumberku yang enggan membuka mulutnya. Padahal dari kalimatnya lah aku mendapat upah. Padahal dari ceritanya lah aku mendapat penghargaan. Sekedar ucapan, “berita kamu bagus.” Tak jarang aku harus berpura-pura iba, mengumbar senyum dan seolah ikut merasai mereka yang memikul duka. Padahal kutahu luka mereka bukan sembarang luka. Luka mereka adalah luka teramat dalam yang tak akan pernah hilang. Luka yang tak pernah kering oleh panasnya matahari. Luka yang tak pernah bisa diterbangkan oleh angin. Namun aku malah memaksanya kembali mengingat dan memaparkan lukanya. Tanpa hatiku memaknai, merasakan lukanya. Tanpa tanganku menawarkan, melingkarkan sebuah pelukan, memberikan sedikit rasa nyaman. Lagi-lagi demi sebuah pujian, demi sebuah kekaguman. Pernah aku dihadapkan pada pilihan. Saat aku harus memutuskan satu saja dari dua. Saat kulihat luka menganga disekitarku, aku harus memilih. Mencoba mengobati luka mereka sesegera atau mendahulukan membuat cerita dari luka itu. Dan aku memilih mendapat acungan jempol, karena cerita ku memampangkan luka itu. Seringkali aku memaksa membuka memori mereka. Kenangan yang tak ingin dibuka. Dan aku memaksanya membuka atau memaksaku membukanya. Tanpa seijin pemiliknya, tanpa merasai akibatnya. Dan itu demi sebuah cerita. Cerita yang membuatku dikejar kalimat berbunga.

Waktu lalu, aku juga pernah menjual kata-kata manis. Seolah aku adalah peri yang bisa membantu si kecil. Padahal tak lain itu adalah bagian dari strategi. Berpura-pura simpati. Kepura-puraan untuk mulusnya penyusunan sebuah kisah. Kisah sejati dan mengharukan. Demi tetesan air mata pendengar cerita. Indikator keberhasilan penyajian cerita duka. Pernah aku menatap bencana dengan datar. Karena itu bukan bencanaku. Bencana itu milik tokoh dalam kisahku. Aku hanya sekedar menyampaikan bencana itu dengan katakata haru. Tambahan pemanis disana-sini. Menuntun si tokoh untuk berekspresi sesuai dengan skenarioku. Seolah itu adalah fiksi, bukan nyata. Tak perlu dimaknai, tak perlu dihargai. Hanya dibungkus. Untuk santapan mata dan kuping sekumpulan orang yang dinamakan penonton. Penonton cerita. Makin banyak mereka, makin baguslah aku. Tapi, hari ini aku lelah. Hari ini, aku tiba-tiba saja ingin merenung. Merenungi makna hidupku, merasai peranku dalam perjalanan sang waktu. Kali ini aku merasa tak lagi berhati. Kali ini di kepalaku hanya ada obsesi. Obsesi dihargai manusia dan diimbali deretan angka di rekeningku setiap bulan berganti. Hari ini aku hanya ingin mengingat. Merindui masa saat aku bercita sederhana. Menjadi orang baik. Orang yang memberi arti bagi orang lain. Tak pernah melukai, meski setitik. Tak pernah menyakiti, meski senoktah. Padahal aku tak pernah ingin berpura-pura dalam hidupku. Aku ingin menjadi aku. Dengan idealismeku dulu. Menyampaikan apa yang perlu kusampaikan. Tak perlu menyampaikan kepalsuan. Aku ingin menyampaikan kebenaran. Jika kepalsuan itu harus disampaikan, semata untuk membuat si palsu terkuak. Aku ingin menjadi orang baik. Padahal aku ingin, dengan peranku aku memberi secercah harap. Seberkas asa. Bagi mereka, Tuhan. Mereka yang dihempas duka, mereka yang terluka, mereka yang menahan jerit. Meski sekedar uluran tangan. Pelukan seorang saudara. Sekedar menenangkan. Meski hanya sementara. Menjadi orang baik. Padahal, dengan peranku, aku bisa tulus berbagi dengan mereka. Membiarkan mereka membagi luka, memberi sedikit kehangatan. Dengan ikhlasku, dengan kerelaanku. Sebagai saudara, sebagai teman, sebagai tempat berbagi. Menjadi orang baik. Padahal dengan peranku, aku tak usah berpura-pura. Aku bisa lebih memaknai senyumku untuk menghadiahkan sedikit bahagia dihati mereka. Dengan simpati yang tak lagi palsu. Sebenar-benarnya simpati. Padahal dengan peranku, dengan kelurusan niatku, aku ingin membuat cerita-ceritaku bermakna. Membuat kisah-kisah dari tanganku dapat merubah dunia. Membuat manusia

lain lebih merasa dan berterimakasih atas takdir mereka yang lebih. Membuat mereka berlomba menjadi orang baik. Padahal dengan peranku, aku bisa mengungkap dusta dan mengusir si durjana. Dengan keteguhan dan keberanianku, aku bisa menghapus kotoran-kotoran dunia. Menuntut mereka untuk menjadi orang baik. Wahai Penguasa Dunia, Penguasa Diriku….. Ampuni aku yang telah menutup hati dan mengebalkan rasa. Ampuni aku yang tidak memaknai peranku. Aku mencintai peranku, Yang Maha Perkasa. Aku ingin lelah fisik dan batinku memberi arti, hanya bagiMu, Penulis Skenario sesungguhnya, bukan sekedar kekaguman para ciptaanmu. Penguasaku, luruskan langkahku. Untuk menjadi ciptaanmu yang tak sia-sia. Yang tak terlupa oleh kecantikan fana. Yang tak membuat peranku, amanahMu, mengantarku pada amarahMu. Yang selalu diingatkan untuk menjadi orang baik. Seperti cita sederhanaku dulu. Raja Dunia, tetapkan niatku untuk memaknai setiap detik peranku. Merasainya, menikmatinya, mensyukurinya sebagai sebuah kepercayaan-Mu padaku. Kuatkan aku untuk melangkahkan kakiku dan menghargai keringatku dengan harapan hanya balasanMu. Menjadi orang baik. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah padaKu.” (Adz Dzariyaat:56) Ami Ruchjat amiruchjat@yahoo.com Aku Memanggil Kalian..., Publikasi: 21/08/2003 11:57 WIB Berkali-kali aku memanggilnya, Berkali-kali aku menyebutnya, Berkali-kali Berkali-kali Muhammad, Ya Muhammad, Sang Kekasih Rahasia Cinta Ruh Kasih (Emha Ainun Nadjib) eramuslim - Sahabat, apa kabar semuanya? Mudah-mudahan engkau diberikan limpahan kasih sayang Nya yang tak berhingga. Aamiin. Saya ingin meminjam waktumu sebentar.

Ada seseorang yang ingin bertutur kepada kita. Ada seseorang yang ingin mengisahkan selaksa kehidupan yang mungkin sering kita dengar. Beginilah lantunannya. Simak baikbaik ya… Mudah-mudahan bermanfaat. Bismillah, Assalamu’alaikum…. Perkenalkan! Namaku Bilal. Ayahku bernama Rabah, seorang budak dari Abesinia, oleh karena itu nama panjangku Bilal Bin Rabah. Aku tidak tahu mengapakah Ayah dan Ibuku sampai di sini, Makkah. Sebuah tempat yang hanya memiliki benderang matahari, hamparan sahara dan sedikit pepohonan. Aku seorang budak yang menjadi milik tuannya. Umayyah, biasa tuan saya itu dipanggil. Seorang bangsawan Quraisy, yang hanya peduli pada harta dan kefanaan. Setiap jeda, aku harus bersiap kapan saja dilontarkan perintah. Jika tidak, ada cambuk yang menanti akan mendera bagian tubuh manapun yang disukainya. Setiap waktu adalah sama, semua hari juga serupa tak ada bedanya, yakni melayani majikan dengan sempurna. Hingga suatu hari aku mendengar seseorang menyebutkan nama Muhammad. Tadinya aku tak peduli, namun kabar yang ku dengar membuatku selalu memasang telinga baik-baik. Muhammad, mengajarkan agama baru yaitu menyembah Tuhan yang maha tunggal. Tidak ada tuhan yang lain. Aku tertarik dan akhirnya, aku bersyahadat diam-diam. Namun, pada suatu hari majikanku mengetahuinya. Aku sudah tahu kelanjutannya. Mereka memancangku di atas pasir sahara yang membara. Matahari begitu terik, seakan belum cukup, sebuah batu besar menindih dada ini. Mereka mengira aku akan segera menyerah. Haus seketika berkunjung, ingin sekali minum. Aku memintanya pada salah seorang dari mereka, dan mereka membalasnya dengan lecutan cemeti berkali-kali. Setiap mereka memintaku mengingkari Muhammad, aku hanya berucap “Ahad... ahad”. Batu diatas dada mengurangi kemampuanku berbicara sempurna. Hingga suatu saat, seseorang menolongku, Abu Bakar menebusku dengan uang sebesar yang Umayyah minta. Aku pingsan, tak lagi tahu apa yang terjadi. Segera setelah sadar, aku dipapah Abu Bakar menuju sebuah tempat tinggal Nabi Muhammad. Kakiku sakit tak terperi, badanku hampir tak bisa tegak. Ingin sekali rubuh, namun Abu Bakar terus membimbingku dengan sayang. Tentu saja aku tak ingin mengecewakannya. Aku harus terus melangkah menjumpai seseorang yang kemudian ku cinta sampai nafas terakhir terhembus dari raga. Aku tiba di depan rumahnya. Ada dua sosok disana. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib sepupunya yang masih sangat muda dan yang di sampingnya adalah dia, Muhammad. Muhammad, aku memandangnya lekat, tak ingin mata ini berpaling. Ku terpesona, jatuh cinta, dan merasakan nafas yang tertahan dipangkal tenggorokan. Wajahnya melebihi rembulan yang menggantung di angkasa pada malam-malam yang sering ku pandangi saat istirahat menjelang. Matanya jelita menatapku hangat. Badannya tidak terlalu tinggi tidak juga terlau pendek. Dia adalah seorang yang jika menoleh maka seluruh

badannya juga. Dia menyenyumiku, dan aku semakin mematung, rasakan sebuah aliran sejuk sambangi semua pori-pori yang baru saja dijilati cemeti. Dia bangkit, dan menyongsongku dengan kegembiraan yang nampak sempurna. Bahkan hampir tidak ku percaya, ada genangan air mata di pelupuk pandangannya. Ali, saat itu bertanya “Apakah orang ini menjahati engkau, hingga engkau menangis”. “Tidak, orang ini bukan penjahat, dia adalah seorang yang telah membuat langit bersuka cita”, demikian Muhammad menjawab. Dengan kedua tangannya, aku direngkuhnya, di peluk dan di dekapnya, lama. Aku tidak tahu harus berbuat apa, yang pasti saat itu aku merasa terbang melayang ringan menjauhi bumi. Belum pernah aku diperlakukan demikian istimewa. Selanjutnya aku dijamu begitu ramah oleh semua penghuni rumah. Ku duduk di sebelah Muhammad, dan karena demikian dekat, ku mampu menghirup wewangi yang harumnya melebihi aroma kesturi dari tegap raganya. Dan ketika tangan Nabi menyentuh tangan ini begitu mesra, aku merasakan semua derita yang mendera sebelum ini seketika terkubur di kedalaman sahara. Sejak saat itu, aku menjadi sahabat Muhammad. Kau tidak akan pernah tahu, betapa aku sangat beruntung menjadi salah seorang sahabatnya. Itu ku syukuri setiap detik yang menari tak henti. Aku Bilal, yang kini telah merdeka, tak perlu lagi harus berdiri sedangkan tuannya duduk, karena aku sudah berada di sebuah keakraban yang mempesona. Aku, Bilal budak hitam yang terbebas, mereguk setiap waktu dengan limpahan kasih sayang Al-Musthafa. Tak akan ada yang ku inginkan selain hal ini. Oh iya, aku ingin mengisahkan sebuah pengalaman yang paling membuatku berharga dan mulia. Inginkah kalian mendengarnya? Di Yathrib, mesjid, tempat kami, umat Rasulullah beribadah telah berdiri. Bangunan ini dibangun dengan bahan-bahan sederhana. Sepanjang hari, kami semua bekerja keras membangunnya dengan cinta, hingga kami tidak pernah merasakan lelah. Nabi memuji hasil kerja kami, senyumannya selalu mengembang menjumpai kami. Ia begitu bahagia, hingga selalu menepuk setiap pundak kami sebagai tanda bahwa ia begitu berterima kasih. Tentu saja kami melambung. Kami semua berkumpul, meski mesjid telah selesai dibangun, namun terasa masih ada yang kurang. Ali mengatakan bahwa mesjid membutuhkan penyeru agar semua muslim dapat mengetahui waktu shalat telah menjelang. Dalam beberapa saat kami terdiam dan berpandangan. Kemudian beberapa sahabat membicarakan cara terbaik untuk memanggil orang-orang. “Kita dapat menarik bendera” seseorang memberikan pilihan. “Bendera tidak menghasilkan suara, tidak bisa memanggil mereka” “Bagaimana jika sebuah genta?” “Bukankah itu kebiasaan orang Nasrani”

“Jika terompet tanduk?” “Itu yang digunakan orang Yahudi, bukan?” Semua yang hadir di sana kembali terdiam, tak ada yang merasa puas dengan pilihanpilihan yang dibicarakan. Ku lihat Nabi termenung, tak pernah ku saksikan beliau begitu muram. Biasanya wajah itu seperti matahari di setiap waktu, bersinar terang. Sampai suatu ketika, adalah Abdullah Bin Zaid dari kaum Anshar, mendekati Nabi dengan malumalu. Aku bergeser memberikan tempat kepadanya, karena ku tahu ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Nabi secara langsung. “Wahai, utusan Allah” suaranya perlahan terdengar. Mesjid hening, semua mata beralih pada satu titik. Kami memberikan kepadanya kesempatan untuk berbicara. “Aku bermimpi, dalam mimpi itu ku dengar suara manusia memanggil kami untuk berdoa...” lanjutnya pasti. Dan saat itu, mendung di wajah Rasulullah perlahan memudar berganti wajah manis berseri-seri. “Mimpimu berasal dari Allah, kita seru manusia untuk mendirikan shalat dengan suara manusia juga….”. Begitu nabi bertutur. Kami semua sepakat, tapi kemudian kami bertanya-tanya, suara manusia seperti apa, lelakikah?, anak-anak?, suara lembut?, keras? atau melengking? Aku juga sibuk memikirkannya. Sampai kurasakan sesuatu diatas bahuku, ada tangan Al-Musthafa di sana. “Suara mu Bilal” ucap Nabi pasti. Nafasku seperti terhenti. Kau tidak akan pernah tahu, saat itu aku langsung ingin beranjak menghindarinya, apalagi semua wajah-wajah teduh di dalam mesjid memandangku sepenuh cinta. “Subhanallah, saudaraku, betapa bangganya kau mempunyai sesuatu untuk kau persembahkan kepada Islam” ku dengar suara Zaid dari belakang. Aku semakin tertunduk dan merasakan sesuatu bergemuruh di dalam dada. “Suaramu paling bagus duhai hamba Allah, gunakanlah” perintah nabi kembali terdengar. Pujian itu terdengar tulus. Dan dengan memberanikan diri, ku angkat wajah ini menatap Nabi. Allah, ada senyuman rembulannya untukku. Aku mengangguk. Akhirnya, kami semua keluar dari mesjid. Nabi berjalan paling depan, dan bagai anak kecil aku mengikutinya. “Naiklah ke sana, dan panggillah mereka di ketinggian itu” Nabi mengarahkan telunjuknya ke sebuah atap rumah kepunyaan wanita dari Banu’n Najjar, dekat mesjid. Dengan semangat, ku naiki atap itu, namun sayang kepalaku kosong, aku tidak tahu panggilan seperti apa yang harus ku kumandangkan. Aku terdiam lama. Di bawah, ku lihat wajah-wajah menengadah. Wajah-wajah yang memberiku semangat, menelusupkan banyak harapan. Mereka memandangku, mengharapkan sesuatu keluar dari bibir ini. Berada diketinggian sering memusingkan kepala, dan ku lihat wajahwajah itu tak mengharapkan ku jatuh. Lalu ku cari sosok Nabi, ada Abu Bakar dan Umar di sampingnya. “Ya Rasul Allah, apa yang harus ku ucapkan?” Aku memohon petunjuknya. Dan kudengar suaranya yang bening membumbung sampai di telinga “

Pujilah Allah, ikrarkan Utusan-Nya, Serulah manusia untuk shalat”. Aku berpaling dan memikirkannya. Aku memohon kepada Allah untuk membimbing ucapanku. Kemudian, ku pandangi langit megah tak berpenyangga. Lalu di kedalaman suaraku, aku berseru : Allah Maha Besar. Allah Maha Besar Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah Aku bersaksi bahwa Muhammad Utusan Allah Marilah Shalat Marilah Mencapai Kemenangan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar Tiada Tuhan Selain Allah. Ku sudahi lantunan. Aku memandang Nabi, dan kau akan melihat saat itu Purnama Madinah itu tengah memandangku bahagia. Ku turuni menara, dan aku disongsong begitu banyak manusia yang berebut memelukku. Dan ketika Nabi berada di hadapan ku, ia berkata “Kau Bilal, telah melengkapi Mesjidku”. Aku, Bilal, anak seorang budak, berkulit hitam, telah dipercaya menjadi muadzin pertama, oleh Dia, Muhammad, yang telah mengenyahkan begitu banyak penderitaan dari kehidupan yang ku tapaki. Engkau tidak akan pernah tahu, mengajak manusia untuk shalat adalah pekerjaan yang dihargai Nabi begitu tinggi. Aku bersyukur kepada Allah, telah mengaruniaku suara yang indah. Selanjutnya jika tiba waktu shalat, maka suaraku akan memenuhi udara-udara Madinah dan Makkah. Hingga suatu saat, Manusia yang paling ku cinta itu dijemput Allah dengan kematian terindahnya. Purnama Madinah tidak akan lagi hadir mengimami kami. Sang penerang telah kembali. Tahukah kau, betapa berat ini ku tanggung sendirian. Aku seperti terperosok ke sebuah sumur yang dalam. Aku menangis pedih, namun aku tahu sampai darah yang keluar dari mata ini, Nabi tak akan pernah kembali. Di pangkuan Aisyah, Nabi memanggil ‘ummatii… ummatiii’ sebelum nafas terakhirnya perlahan hilang. Aku ingat subuh itu, terkakhir nabi memohon maaf kepada para sahabatnya, mengingatkan kami untuk senantiasa mencintai kalam Ilahi. Kekasih Allah itu juga mengharapkan kami untuk senantiasa mendirikan shalat. Jika ku kenang lagi, aku semakin ingin menangis. Aku merindukannya, sungguh, betapa menyakitkan ketika senggang yang kupunya pun aku tak dapat lagi mendatanginya. Sejak kematian nabi, aku sudah tak mampu lagi berseru, kedukaan yang amat membuat ku lemah. Pada kalimat pertama lantunan adzan, aku masih mampu menahan diri, tetapi ketika sampai pada kalimat Muhammad, aku tak sanggup melafalkannya dengan sempurna. Adzanku hanya berisi isak tangis belaka. Aku tak sanggup melafalkan seluruh namanya, ‘Muhammad’. Jangan kau salahkan aku. Aku sudah berusaha, namun, adzanku bukan lagi seruan. Aku hanya menangis di ketinggian, mengenang manusia

pilihan yang menyayangiku pertama kali. Dan akhirnya para sahabat memahami kesedihan ini. Mereka tak lagi memintaku untuk berseru. Sekarang, ingin sekali ku memanggil kalian… memanggil kalian dengan cinta. Jika kalian ingin mendengarkan panggilanku, dengarkan aku, akan ada manusia-manusia pilihan lainnya yang mengumandangkan adzan. Saat itu, anggaplah aku yang memanggil kalian. Karena, sesungguhnya aku sungguh merindui kalian yang bersegera mendirikan shalat. Alhamdulillah kisahku telah sampai, ku sampaikan salam untuk kalian. Wassalamu’alaikum *** Sahabat, jika adzan bergema, kita tahu yang seharusnya kita lakukan. Ada Bilal yang memanggil. Tidakkah, kita tersanjung dipanggil Bilal. Bersegeralah menjumpai Allah, hadirkan hatimu dalam shalatmu, dan Allah akan menatapmu bahagia. Saya jadi teringat sebuah kata mutiara yang dituliskan sahabat saya pada buku kenangan ketika SD “Husnul, shalatlah sebelum kamu di shalatkan”. Sebuah kalimat yang sarat makna jika direnungkan dalam-dalam. Husnul Rizka Mubarikah mahabbah12@yahoo.com Mengangkasa Sendiri Publikasi: 20/08/2003 08:15 WIB eramuslim - Malam belum larut saat sebuah cahaya lemah bergerak. Sebuah bintang kecil melaju tenang membelah langit malam. Melewati deretan bintang lain yang terpaku. Pelan tapi pasti ia bergerak. Gerakan yang terlihat pelan dalam keanggunannya, meski dalam perhitungan matematik bisa jadi lebih cepat dari Titanic sekalipun. Sungguh kekuatan yang luar biasa yang mampu mengerek bintang “kecil” di angkasa yang luas. Sumber energi yang tiada pernah habis. Tenaga yang tak akan lekang dan berkurang. Allah lah pemilik energi itu. Bintang yang terlihat sebagai berkas cahaya kecil dianugerahi Allah energi untuk berpindah. Dan tanpa membantah ia pun patuh. Ia hijrah dari tempatnya semula menuju tempat lain yang asing. Meski ia tak tahu harus berhenti dimana, tapi itu tak menyurutkan langkahnya. Dengan ketaatan penuh ia melaju hingga berkas cahayanya menghilang di kerimbunan dedaunan. Ketaatan penuh sebagai seorang hamba. Hamba Allah lainnya tercatat pernah melakukan perjalanan yang sama. Ibrahim alaihi salam pernah melakukan perjalanan amat panjang bersama Luth alaihi salam dan Sarah, istrinya. Mereka menyusuri gurun tandus yang membentang luas di tepi Asia hingga Afrika. Melintasi perbatasan Yerusalem, Syiria, Mekah, hingga ke Mesir. Terselimuti

debu padang pasir dan terjangan terik mentari yang menyengat. Namun dengan teguh mereka patuh. Berbagi suka dan duka bersama tiupan angin gurun. Semangat yang luar biasa. Tercelup keimanan kental menghapus segala rintangan menjadi jalan meraih cinta Illahi. Banyak sudah peristiwa yang terjadi. Bentuk-bentuk ketaatan yang tercermin pada pribadi mempesona. Penuh pelajaran. Bagai cermin tempat memandang dan menilai diri sendiri. Hijrahnya Ibrahim as diteruskan hingga Utsman bin Affan ra contoh nyata akan jiwa-jiwa yang tersibghoh keimanan kepada Allah. Allah pemilik segala kuasa. Maha Penyantun. Sebaik-baik pemberi rizki. Kepada-Nyalah segala bentuk ketaatan dipersembahkan. Apapun yang kita alami adalah skenario dari Nya. Baik itu sesuatu yang baik ataupun yang buruk dalam pandangan kita. Yakinlah selalu tak ada yang sia-sia. Ada hikmah di setiap peristiwa. Tak ada satupun yang terlewati. Karena tak ada pemberi balasan yang paling baik selain Allah. Dia-lah yang memiliki alam ini sendirian. Dan sesungguhnya karena Dia pulalah yang mengangkasa sendiri. Yupik Astuti najwasaja@yahoo.com Khalilie, Yang Tersendiri Publikasi: 19/08/2003 07:41 WIB Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri, Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya. (Azimah Rahayu) eramuslim - Lembah Ar-Ra’badzah senyap. Deru angin hanya terdengar dari jauh. Debu-debu menari dikeheningannya. Lengang berkelindan sejak tadi. Sayup terdengar isak pedih anak manusia. Seorang perempuan ternyata. Kedua kelopak matanya terlihat lelah, pelupuknya tergenang oleh bening saripati duka. Sungguh tubuhnya kerontang seperti sahara, berbalut ghamis yang hitamnya telah memudar. Ia terus berdesis, menahan sedu sedan dalam rongga dada. Sosok yang berbaring di hadapannya kini bergerak, digapainya tangan perempuan itu lembut. Perlahan paraunya terdengar “Istriku, mengapakah engkau menangis, sedang kematian pasti kan menjelang”. Sunyi beberapa saat. “Suamiku, aku tahu engkau sekarat, bukan hal ini yang membuat lara begitu berat” nafas sang istri tertahan. “Aku tidak mempunyai kain untuk mengkafani engkau” isak sang istri kembali terdengar. “Tenanglah perempuan penyabar, aku pernah mendengar Kekasih Allah bersabda diantara para sahabat “Salah seorang dari kalian akan wafat di padang pasir dan disaksikan oleh beberapa orang mukmin”, Semua yang duduk disana sudah meninggal, kecuali si lemah ini. Insya Allah beberapa orang mukmin akan segera datang. Demi Allah, aku tidak bohong dan tidak dibohongi” paparnya. Nafasnya satu-satu terhembus berat. Senyap kembali hinggap.

Benar saja, derap langkah kabilah samar mulai terdengar. Titik-titik hitam dari kejauhan perlahan mendekat, kepulan debu membumbung. Banyak sosok manusia mengarah ke tempat itu, mereka adalah kabilah yang dipimpin Abdullah Ibnu Mas’ud salah seorang sahabat Nabi yang Mulia. Keharuan menyeruak seketika, mereka menyadari sosok yang sedang sekarat itu, dialah Abu Dzar Al Ghiffary. Abu Dzar wafat dalam keheningan, disaksikan beberapa mukmin. Seseorang berujar lirih “Rasulullah benar, kamu akan berjalan seorang diri, wafat seorang diri dan dibangkitkan masih saja seorang diri”. Waktu seperti berlari kembali ke masa Rasulullah. Simak baik-baik: Tabuk. Sebuah tempat yang sangat jauh dari Madinah, di sinilah pasukan Romawi dengan sekian banyak artileri hebatnya berkumpul, bersiap menyerang perbatasan tanah Arab sebelah utara. Berita ini tentu saja menggelisahkan sang Nabi. Rasulullah menyuruh kaum muslimin untuk menahan serangan ganasnya pasukan Romawi, di tabuk. Itulah mengapa peperangan yang terjadi, digoreskan sejarah sebagai perang tabuk. Ketika itu, musim panas belum berakhir. Teriknya menggentarkan setiap manusia yang akan bepergian merajut sahara. Saat-saat seperti ini membuat semua kepala harus berfikir berulang kali untuk menempuh lautan pasir yang butiran jelitanya siap membakar. Maka ketika Rasul pilihan menabuhkan genderang ajakan kepada kaum Muslimin untuk maju berjihad ke Tabuk sebagai upaya menahan serangan Romawi, Muslim terbagi menjadi dua golongan. Yang pertama menyambut seruan dengan hati bersemarak cahaya, sedangkan lainnya berberat langkah, mencari-cari alasan dan meniupkan kekhawatiran pada para sahabat bahwa pertempuran sungguh akan berat. Pada saat pemberangkatan pasukan, debu-debu mengepul menari di udara, suara ringkikan kuda menyambangi setiap telinga. Para wanita Madinah melepas kepergian mereka dengan tengadah jemari kepada yang Maha Perkasa. Dan, diantara para pemberani itu, adalah Abu Dzar yang menunggangi seekor keledai tua. Selanjutnya Rasulullah dan pasukannya semakin jauh berbahtera. Lapar dan dahaga belumlah seberapa dibandingkan dengan panas bara tandus sahara. Banyak dari para sahabat yang akhirnya tercecer dibelakang rombongan. Setiap itu pula laporan kepada Rasulullah menggema: “Wahai Rasul, Fulan telah tertinggal” “Biarkanlah, andai ia berguna, Allah akan menyusulkannya kepada kita” ujar Nabi pendek. Dan barisan terus maju menyusuri lembah demi lembah. Hingga pada suatu saat, Abu Dzar sedikit demi sedikit juga tertinggal. Keledainya semakin tak bertenaga melangkah. Di halaunya keledai kuat-kuat, namun tunggangan itu semakin diam. Akhirnya Abu Dzar pun turun dan memutuskan menyusul para pemberani dengan berjalan kaki. Ia berlari membelah padang pasir, namun tak didapatinya rombongan. Ia terus berpacu dengan kerinduan membela Islam bersama manusia yang dicinta, Al Musthafa. Sungguh sebuah usaha yang tidak mudah, menelusuri jejak-jejak yang telah terhapus pasir yang diterbangkan angin. Namun, karena jatuh cintanya kepada gemerlap keridhaan Allah lah yang membuatnya tidak berhenti. Para sahabat yang

menyadari kehilangan Abu Dzar segera melaporkannya kepada Nabi. Dan jawaban sama seperti semula tetap terlontar. Hingga akhirnya, usaha Abu Dzar tidak sia-sia. Para sahabat yang melihat titik hitam bergerak cepat mengarah kepada mereka berseru memberi tahu Nabi. “Ya Rasul Allah, ada seorang musafir berjalan seorang diri”. Rasulullah memandang ke kejauhan dan berujar gembira “Mudah-mudahan itu Abu Dzar”. Benar saja, sesosok manusia bermandi peluh itu tiada lain adalah Abu Dzar. Banyak dari mereka yang terpesona, dan menyenandungkan pujian diam-diam. Saat itulah dari bibir manis kekasih Allah terpetik sebuah sabda: “ Semoga Allah, meluapkan limpahan rahmatNya kepada Abu Dzar. Ia berjalan seorang diri, meninggal seorang diri dan dibangkitkan jua seorang diri…”. *** Dari sejarah kita tahu, pada saat mendatangi Makkah, Abu Dzar menghadap Nabi seorang diri untuk bersyahadat. Dalam lembaran sejarah selanjutnya beliau adalah salah satu sahabat terdekat dan dimesrai Nabi begitu tinggi. Berbeda dengan sahabat yang lain, Ia memanggil anggun kekasih Allah dengan sebutan khalilie (Sahabatku yang akrab), hingga Rasul pilihan juga memanggilnya demikian. Kemilau kecintaan Abu Dzar kepada Nabi begitu benderang. Kristal kerinduannya kepada Kekasih Allah selalu saja jelita. Dalam sebuah riwayat, disebutkan pada sebuah kesempatan Nabi mengajaknya berjalanjalan ke luar kota dengan mengendarai unta. Abu Dzar diperintahkan Nabi untuk duduk dibelakangnya. Berlinang air mata Abu Dzar menerima kehormatan ini, gemetar menahan haru Abu Dzar menaiki unta dan menurutnya apakah yang paling membahagiakan selain berdekatan dengan kekasih yang dicinta. Abu Dzar merasa paling beruntung di seluruh semesta. Berboncengan mereka berkendara, dan terlihatlah keakraban yang mempesona. Pada saat-saat seperti itu, Abu Dzar mereguk langsung mata air hikmah dan nasehat yang disabdakan Al-Musthafa. Banyak kuntum-kuntum pesan yang selalu saja semerbak di hati Abu Dzar, meski Nabi sudah telah lama wafat. Salah satunya adalah untuk selalu hidup bersahaja dan mencintai kaum fakir miskin. Itulah mengapa dibeberapa sumber sejarah ia dikenal sebagai Bapak kaum fakir miskin dan Bapak sosialis Islam. Pada masa kekhalifahan Ustman, ia beroposisi karena menurutnya pemerintahan saat itu terlalu royal dengan uang negara untuk kepentingan para penguasa dan keluarganya. Ia sendirian begitu berani mendengungkan peringatan kepada para penguasa untuk tidak menumpuk-numpuk harta. Ia selalu terkenang sosok-sosok penguasa yang dicintanya. Sang purnama Madinah, Rasulullah, pemegang tampuk kekuasaan tertinggi, wafat dalam keadaan baju besi perangnya masih tergadai. Ia merindui sosok pemurah dan berhati lembut, Abu Bakar, yang berwasiat untuk dikafani dengan kain paling sederhana, Siti Aisyah yang memprotesnya mendengar jawaban indah “Anakku, kafan hanya untuk nanah dan tanah”. Dan kenangannya beralih pada Umar, khalifah kedua ini pernah kulitnya menghitam karena selalu menyantap minyak zaitun dan sedikit roti sebagai bukti tulus kesayangannya kepada rakyat.

Abu Dzar Al-Ghiffary memulai usahanya di Syiria yang di Gubernuri Muawiyah bin Abi Sofyan. Di sana beliau mendengungkan begitu nyaring satu peringatan untuk para penguasa pencinta kemewahan dunia: “Beritahukan kepada mereka para penumpuk emas dan perak, bahwa harta yang mereka banggakan, akan segera menyetrikanya dalam neraka”. Perkataan Abu Dzar bergaung dimana-mana. Melihat hal ini, Muawiyah memprediksikan akan terjadi pemberontakan dari rakyat yang sangat membahayakan posisinya. Untuk menghindari bahaya ini, Muawiyah menulis surat kepada Khalifah Ustman. Dan Abu Dzar pun dipanggil pulang ke Madinah. Di Madinah, Abu Dzar betemu sahabatnya Ustman bin Affan yang menjadi Khalifah yang dihormatinya. Mereka berdiskusi dalam sebuah suasana yang lengang. Ustman sangat menyadari bahwa Abu Dzar merupakan seorang yang sangat sederhana dan bersahaja. Ustman menawarinya untuk tinggal disisinya, seperti dugaan sebelumnya Abu Dzar dengan tegas menolaknya. Dan selanjutnya Abu Dzar menyatakan keinginannya yaitu memilih pergi menuju sebuah tempat sunyi. Lembah Ar-Rabadzah. Melihat perjuangannya membumbungkan Islam ke cakrawala terindah dengan ketajaman lidahnya al-Musthafa menyanjungnya dengan “Di bawah langit, tidak akan pernah muncul orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar”. *** Sahabat, ketika dunia begitu enteng engkau dapatkan, kenanglah ksatria ini, hingga mudah-mudahan engkau dengan mudah melihat ke bawah, para anak yatim yang terlunta di jalanan, janda-janda tua di Aceh sana, atau mereka yang sudah tak sanggup lagi menjumpai nasi. Ketika engkau, wahai sahabat, menjadi si beruntung karena dikaruniai Allah rezeki yang lapang, ingatlah sosok bersahaja Abu Dzar, hingga mudah-mudahan, kedermawanan menjadi pakaian kemuliaan. Dan mereka yang tak seberuntung dirimu menyunggingkan senyum kesyukuran atas derma yang kau ulurkan. Dan sahabat, semoga Allah yang maha Asih, selalu membimbing hati-hati ini meneladani denyar cahaya para ksatria. Allahumma Aamiin.

Husnul RM mahabbah12@yahoo.com

Berani Hidup Publikasi: 13/08/2003 10:33 WIB eramuslim - Aktivitas harian kadang menghadirkan rasa bosan sampai ke tingkat jenuh. Badan malas bergerak dan otak jadi malas mikir. Sangat tidak produktif! Yah, hari itu

giliran saya mengalami entah untuk yang keberapa kalinya. Walau telah banyak buku teori yang dibaca sebagai penangkal, masih saja gagal. Bermalas-malasan menjadi satu-satunya pilihan sambil berusaha merangkai khayalan yang indah tentang segala obsesi yang belum tercapai. Silih berganti dengan berandaiandai yang tanpa sadar membawa kepada rasa putus asa, "andai saja…" dan sederet rasa penyesalan yang tak kunjung usai. (Jauh sekali dari ummat dambaan Rasulullah: seorang mukmin yang kuat). Kuasa Allah mengalihkan khayalan itu jadi sebuah perenungan yang panjang. Suara hati berebutan dalam proses penyadaran. "Kamu Pengecut, kamu tidak berani hidup! Orang yang berani hidup akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, karena hidup yang sekarang hanyalah sementara. Dia takkan menyia-nyiakannya, dia ingin hidup bahagia selamanya disamping Rabbul Izzati” “Bukankah kamu pernah membaca? Rasulullah bersabda “dunia adalah sebaik-baik kendaraan menuju akhirat". Dengan caramu sekarang, jangan harap deh kamu bisa menghasilkan yang terbaik". "Wake up donk! Atau kamu ingin bergabung bersama mereka yang bunuh diri hingga kamu tidak perlu lagi capek di hari esok atau kamu akan biarkan syarafmu tegang terus jadi tidak berfungsi hingga esok hari tidak usah berpikir lagi?”. “Allah kuasa memberi peringatan dalam bentuk apapun. Kenapa harus menunggu peringatan itu datang kalau akal sehat masih mampu memperbaiki kesalahan yang terjadi? Menurut berita terbaru, 3 dari 1000 orang di Indonesia sakit jiwa. Kamu ingin menambah panjang daftar itu?” Na’udzubillaahi min dzalik. Saya sadar... kemalasan telah 'mengecilkan' keberadaan Sang Khalik yang telah mempersembahkan semua yang terbaik untuk hamba-Nya. Awan beraneka rupa, tak pernah sama dari hari ke hari. Dihadirkan-Nya duka agar saya bisa merasakan indahnya bahagia, dihadiahi-Nya rasa gagal agar saya bisa memanjatkan syukur yang tak berhingga ketika berhasil. Sayalah yang menjadikan hidup terasa menjemukan. Astaghfirullahal’adziim. Sesungguhnya Allah tidak pernah zalim kepada hamba-hambaNya. Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazhaalimin. Ya, segala hal yang bersifat manusiawi selalu bisa jadi alasan hingga kita permisif dalam menyikapi kemalasan dan kejenuhan. Bukan berarti, kita harus memaksakan diri dalam melakukan suatu pekerjaan. Bukan! Masih banyak alternatif lain untuk menjadikan hidup bermakna. Hobi tidak pernah mendatangkan rasa jenuh bukan? Namanya juga hobi –halhal yang disukai dan disenangi. Bagi yang hobi memasak, segera bangkit dari tempat tidur, masak makanan terbaik dan suguhkan untuk keluarga tercinta. Bagi yang hobi jalan-jalan, simaklah keagungan ciptaan-Nya dan ajaklah anak yatim, bahagiakan hati mereka. Percayalah, kebahagiaan itu menular! Bagi yang hobi membaca, bacalah sebanyak-banyaknya buku, cari hikmahnya dan ceritakan kepada yang lain. Tanpa

disadari, kita sudah berdakwah. Atau langkahkan kaki ke rumah sahabat lama, guru atau orang yang pernah menyakiti kita sekalipun. Yakinlah, silaturahmi bisa merubah suasana hati. Dan jika memang terlalu lelah, berdzikirlah dalam diam... rasakan bahwa Dia begitu dekat... dekaaaat sekali... Ah, ternyata dunia ini sungguh indah. Kunci menghilangkan rasa jenuh, ternyata sangat sederhana: BERGERAK! Hingga kita akhirnya hanya punya dua pilihan: ingin hidup seratus tahun lagi untuk berkarya atau ingin mati besok karena kita yakin hidup kita selama ini telah mengantongi cukup bekal dalam menyongsong kehidupan hakiki di surga-Nya. BERANI HIDUP!!! Wallaahu 'a'lam. farah_adibah@yahoo.com Membincang Tentang Sumur, Danau dan Laut Publikasi: 08/08/2003 09:08 WIB eramuslim - Analisa Sederhana Sastra Islam dan Religius Agaknya, boleh dibilang saya terlalu berani jika mengajak membincang tentang definisi Sastra Islam v.s. Sastra Religius. Pembaca yang saya hormati, saya tidak sedang –istilah Jawanya-- keminter dengan memberanikan diri menghidangkannya di meja untuk kita perbincangkan, kita rasakan... dan kita nikmati. Barangkali –kalau mungkin--, atas hidangan itu kita bisa menuliskan komponen-komponennya atau malah resepnya sekalian. Ya, siapa tahu.... Kalaupun saat ini saya berani, itu tak lebih saya berangkatkan dari seringnya hal ini dipertanyakan dalam forusm-forum kepenulisan. Pun, kalau kemudian saya membincangkannya, bukanlah dalam arti saya hendak menawarkan batasan tentang sastra Islam ataupun sastra religius –atau apalah yang lain...—sebab saya sama sekali bukan orang yang tepat untuk merumuskan. Di sini, saya hanya hendak sedikit berkesah sekaligus mengajak Anda –pembaca— mengarifi sastra dan korelasinya terhadap dakwah. Mudah-mudahan bukan menjadi tema basi yang berusaha untuk diutak-atik lagi. Beberapa saat lalu, utamanya dalam konteks wawasan saya yang sederhana ini, muncul dua kosa kata baru, yakni sastra religius dan sastra Islami. Entah mengapa, dalam sebuah session dialog di sebuah forum kepenulisan –forum FLP—oleh seorang audiens, dua hal ini seperti dipertentangkan. “Seperti apakah batasan sastra Islami itu? Apakah dia merupakan bentuk eksklusifisme Islam dalam wilayah sastra religius?” Duh, mendengar pertanyaan dengan bahasa keriting begitu, kening saya ikut keriting. Maklum, saya tak begitu akrab dengan bahasa-bahsa rumit semacam ini. Cuma, sekilas

tadi kok saya merasa dua hal tersebut seperti dipersaingkan dan berebut daerah kekuasaan... begitu. Yang saya bicarakan ini masih ada kaitannya dengan verbalisasi pesan dan universal yang saya perbincangkan pada sub judul yang lain. Jujur, kali ini saya agak susah memulai perbincangan. Paling tidak, sepenangkapan saya, ada beberapa kalangan yang merasa khawatir jika pesan-pesan verbal dalam sastra Islami diganti dengan yang lebih cair dan humanis, maka akan timbul kerancuan antara sastra Islam dan sastra religius. Oya, sebelum agak jauh, saya sekadar ingin mengingatkan Anda pada ‘pendapat saya’ sebelumnya bahwa mengutip ayat Al Quran atau kalimat-kalimat thayyibah lainnya bukan suatu kemutlakan dalam sastra Islam. Menurut saya, islami atau tidaknya sebuah karya sastra tidak terletak pada dicantumkan atau tidaknya kalimat-kalimat thayyibah tersebut. Saya memang menyesalkan kecenderungan penulis ‘Islami’ kita (baca FLP) terutama yang sebelumnya dibesarkan oleh media non-Annida (and her or his gang), merasa cerpennya telah Islami dengan mencantumkan kata “Assalamu'alaikum,” “Allahu Akbar,” dan sebagainya, akan tetapi tema ceritanya justru mengajak pada sesuatu yang tidak Islami. Mereka telah cukup merasa islami dengan mencantumkan ayat-ayat tersebut namun mengabaikan sisi pesan dan isi. Sebagai contoh, saya pernah menemukan sebuah novel yang diusulkan penerbitannya ke Syaamil, bercerita tentang dua orang (pemuda dan pemudi) yang bertemu untuk (maaf) pacaran, masing-masing mereka mengucap salam terlebih dahulu. Ini benar-benar kejadian, lho. Ada pula yang mengirim foto close up setan (?) berikut fiksi tentangnya yang disertai kutipan ayat dan hadits... tetapi pesan di dalamnya justru berisi tentang khurafat dan takhayul yang membahayakan akidah umat. Dalam konteks yang lain, bolehlah kita ingat bahwa banyak jampi-jampi dan perdukunan memakai tulisan Arab sebagai jimat, tak jarang malah ayat-ayat Al Quran dan shalawat untuk Rasulullah. Ayat Al Quran itu (sepanjang tidak diubah-ubah, dicampur aduk, dipotong sana sambung sini, atau dibaca terbalik) tetaplah ayat Allah yang padanya terletak kebenaran. Yang salah itu adalah amalannya. Membaca Yasiin pada malam Jumat, sampai kapan pun, Yasin bukanlah surat bid’ah. Ia bagian dari Al Quran. Tapi mengkhususkan pada malam jumatnya itu yang bid’ah. Entahlah, tiba-tiba saya teringat pada buku “Roman Sejarah: Muhammad Sang Pembebas.” Buku yang ditulis dengan gaya roman dan berkisah tentang seorang lelaki bernama Muhammad putra Abdullah ini tidak lain adalah penulisan ulang terhadap Sirah Nabawiyah. Akan tetapi, dalam buku yang cukup tebal dengan font mungil-mungil itu, tak akan ditemukan satu pun ayat Al Quran maupun hadits. Bahkan tidak sekalipun penulis menyebut Muhammad bin Abdullah dengan Rasulullah, atau mendeskripsikan tentang penurunan wahyu Al Quran dari Jibril kepadanya.

Dalam kata pengantar buku tersebut, penulis menyebut alasan dari gaya tulisnya yang demikian adalah untuk memperluas spektrum pengaruh. Penulis buku tersebut berharap pembacanya akan menerima kebenaran Islam melalui proses nalar dan logika. Yakni bahwa apa yang bisa dicapai oleh Muhammad pasti juga bisa dicapai oleh setiap yang bernama ‘manusia.’ Penulis juga berharap pembacanya yang nonmuslim tidak perlu merasa terbatasi dari tokoh dalam buku tersebut karena di dalamnya dicantumkan ayat (sesuatu yang --mungkin-- bertentangan dengan keyakinan mereka) dimana akan merangsang tumbuhnya sikap apriori, sentimen pribadi, dan membatasinya dari interaksi terhadap si tokoh. Lantas, betapa kemudian saya ingat dengan sebuah prosa klasik yang menceritakan tentang tokoh bernama Dante. Saya membacanya di buku karangan Aoh Kartahadimaja. Saya hanya membaca cuplikannya tetapi saya bisa membayangkan betapa dahsyat karya ini mengobrak-abrik akidah tauhid umat Islam, kendati di dalamnya disebut-sebut tentang Nabi Muhammad saw. Cuplikan kisah Dante tersebut berusaha mendekontruksi peristiwa Isra’ Mi’raj, namun... di dalamnya diajarkan tentang Trinitas. Jadi, jelaslah bahwa kalimat thayibah ataupun ikon-ikon keagamaan yang lain belum bisa menjadi standart islami atau tidaknya sebuah karya. Islami atau tidaknya karya itu tergantung pada substansinya, pada pesannya, pada apa yang terkandung di dalamnya. Tentu lucu kalau menyebut pakaian yang Islami adalah pakaian yang bergambar masjid. Boleh jadi sebuah jilbab bergambar donald bebek atau spider man. Sepanjang itu digunakan untuk melaksanakan perintah Allah tentang menutup aurat, maka itu jilbab namanya: pakaian yang islami. Beberapa saat yang lalu, ada yang salah menafsirkan kesimpulan dan pendapat saya itu. Jujur, saya bukan tidak setuju atau anti terhadap pencantuman kalimat thayibah. Akan tetapi, dalam konteks saya sebagai penulis fiksi, kalimat thayibah dalam karya fiksi itu adalah bagian yang hidup dan memiliki napas, bukan sesuatu yang dipaksakan ada. Taruhlah contoh ketika kita memutuskan memakai tokoh ‘seorang haji’ dalam fiksi kita. Tentu saja kalimat thayibah –dengan diwakili oleh Pak Haji tersebut—akan banyak ditulis. Tetapi, harap diingat, kalimat thayibah yang diucapkan oleh Pak Haji bukan dalam rangka mengislamikan sicerpen, tetapi sekadar memperkuat karakter. Memang begitulah karakter seorang haji. Saya lebih menyorot kepada pemakaian kalimat thayibah yang berlebihan dan terkesan tempelan. Bayangkan saja jika pada sebuah novel, sepanjang cerita, setiap si tokoh bertemu orang lain, ia akan mengucap, “Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,” dan kemudian lawan bicaranya menjawab sama lengkap, “Wa'alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.” Lagi-lagi ini kejadian nyata. Pernah ada naskah usulan semacam ini di meja saya. Iseng, saya kumpulkan kalimat salamnya, ternyata hampir 50%. Seharusnya, kebiasaan yang

sudah sekaligus dipahami, tidak usah ditulis lagi. Seperti misalnya kita menulis “bangun tidur aku terus mandi,” maka kita akan segera memahami bahwa sesudah bangun tidur, ia turun dari tempat tidur, melangkah keluar kamar, membuka pintu kamar mandi, dan barulah aktivitas mandi itu dilakukan. Bagian yang sduah menjadi pemahaman umum semacam ini juga bukan hal yang salah kalau ditulis. Hanya saja.... Kembalinya adalah proporsional saja. Beberapa waktu lalu saya menulis tentang kopi dkk.. Saya pikir sah-sah saja dan enakenak saja baik tulisan yang verbal maupun universal. Ibaratnya, kalau partai verbal dan partai universal ini masuk menjadi kontestan pemilu, saya akan nyoblos dua-duanya. Kalau kita hanya menghalalkan yang universal, maka tak akan ada pendalaman dalam ruhiyah kita. Seperti saya katakan, saya memerlukan pekik “Allahu Akbar!” dalam fiksi sekadar untuk membangkitkan kembali ingatan saya atas orang-orang yang telah mendahului saya dengan jihad. Saya perlu juga menghibur diri untuk sekadar cengarcengir dengan membaca fiksi-fiksi ringan yang tetap tak kehilangan pesan dan napas islamnya. Bagaimanapun, universal atau tidak, dua hal itu hanyalah kemasan saja. Jika memang segmennya khusus semacam kalangan ikhwah dan lain-lain., tentu akan lebih menyukai tulisan kental nuansa harakah dan aroma tarbiyah. Begitu juga sebaliknya. Akan tetapi kalau kita hanya “menghalalkan” yang verbal saja, maka kita akan kehilangan jembatan yang menghubungkan seorang du’at dengan kaum ammah. Kita hanya berkutat dengan objek-objek yang telah mampu ‘menelan’ bahasa-bahasa ayat dan sunah, sementara orang-orang di luar itu akan menganggap fiksi Islam (yang hanya verbal saja) adalah fiksi tentang negeri di awan. Orang-orang yang di luar garis itu cenderung terabai. Mungkin dalam hal ini ada baiknya saya cantumkan falsafah yang cukup umum dikenal. Selalu berbeda antara sumur, danau, dan laut, kendati ketiganya sama-sama berisi air. Sumur: penampangnya kecil, tapi dalam. Ini adalah seumpama dengan tulisan yang membahas hal kecil (penampang), namun pembahasannya begitu detil dan mendalam. Danau: luas tetapi dangkal. Pembahasan ringan, namun menyeluruh. Bukan hal yang salah dan remeh juga, sebab masing-masing menempati fungsinya sendiri-sendiri. Lantas, laut: luas tetapi dalam. Islam –sebagaimana kita tahu—bukanlah sekadar aturan-aturan untuk shalat, menyembah kepada Tuhan dan ruang-ruang sempit bermerk religi. Definisi ‘ibadah’ dalam Islam lebih luas dari itu, bahkan bersenyawa dengan setiap desahan napas. Amal pun juga bukan sekadar menyerahkan harta ke majelis ibadah, menyumbang untuk panti asuhan dan lain sebagainya. Saya pikir, kekhawatiran seorang saudara akan kerancuan antara Sastra Islam dan Sastra Religius yang sempat terlontar di acara milad lalu, kurang beralasan. Sastra Religius adalah sastra yang napasnya ketuhanan, atau agama. Karena

agama yang menjadi napasnya, maka sudah seharusnya menjadi bagian dari sastra religius itu adalah sastra islami, sastra kristiani, sastra yahudi, dan lain-lain. Kalau sastra Islam dibatasi ‘hanya’ yang memuat kalimat-kalimat thayibah, maka kita akan kehilangan banyak kapling di wilayah sastra religius. Jika kita hanya membatasi diri dengan itu, maka... dengan terpaksa kita harus mencoret banyak karya sastra yang sebenarnya memiliki ruh Islam. Termasuk (barangkali) dalam daftar yang harus kita coret adalah... Roman Sejarah: Muhammad Sang Pembebas, juga cerpen “Lelaki Kabut dan Boneka” yang legendaris itu. Dan dengan kata lain... kita juga harus rela memasukkan novel Dante sebagai bagian dari sastra Islam. Padahal... walaupun ikon tentang Islam termuat di sana, namun secara tema, novel ini jelas menganjurkan untuk berpaling dari islam. Innalillahi... betapa banyak kapling yang harus hilang. Betapa banyak nanti sastra religius tanpa alamat (religi yang mana) karena tema-tema yang diangkatnya cenderung humanis. Sebab, pada kenyataannya, banyak unsur-unsur nilai ketuhanan yang diakui secara umum oleh semua agama, sekaligus diakui secara pribadi oleh masing-masing agama. Contohnya: menolong orang yang dalam kesulitan. Semua agama akan mengklaim itu sebagai ajaran agamanya. Wallahu 'a’lam bishawab. Sakti Wibowo sakti@syaamil.co.id Kenapa Tidak Minta Yang Terbaik? Publikasi: 06/08/2003 08:30 WIB eramuslim - Manusia memang tidak pernah luput dari yang namanya “menyesal”. Setelah menyesal, barulah dia merasa sedih dan memohon ampun pada Sang Khalik. Memang seperti itulah kodratnya. Tetapi bagi hamba yang telah mencapai titik keimanan yang lebih, tentunya ia tidak akan mengalami hal seperti diatas, dia akan pasrah kepadaNya, dan menerima semua keputusan-Nya dengan lapang dada, sehingga tidak tampak penyesalan di wajahnya. Manusia memang diberi nafsu oleh Allah Swt. Jika nafsu itu bisa dikelola dengan baik, artinya apa yang diinginkannya semata-mata adalah untuk mencapai keridhoan-Nya, maka apapun hasilnya, insya Allah, akan menyenangkan. Lain halnya jika manusia bernafsu akan suatu hal, tetapi ia tidak mengelolanya dengan baik, maka hasil apapun yang diberi Allah dianggapnya sebagai suatu tanda bahwa Allah tidak sayang lagi padanya. Manusia hanya manusia pemikir, begitu kata teman saya, semuanya akan kembali kepada Allah juga. Ketika usaha sudah kita lakukan dengan segenap kemampuan kita, sudah sepatutnya semua hasilnya pun kita serahkan pada Allah, tidak lantas memaksa Allah untuk mengabulkan apa maunya kita sendiri. Allah Maha Tahu segalanya, apa yang ada

di hati kita Dia tahu, apa yang terbaik untuk kita jelas Dia sangat tahu. Kenapa masih saja kita memaksakan suatu keinginan kepada-Nya? Seringkali kita baca ayat yang menyebutkan bahwa, apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, dan apa yang buruk menurut kita belum tentu buruk menurut Allah, tapi kenapa pula kita seringkali tidak merealisasikan ayat tersebut? Banyak rahasia Allah yang tidak kita ketahui, mungkin dibalik apa yang buruk menurut kita, Allah menyimpan suatu keberhasilan untuk kita di kemudian hari. Atau sebaliknya, mungkin dibalik apa yang baik menurut kita tersimpan suatu kegagalan di hari depan, sehingga tidak Ia kabulkan apa yang kita minta tersebut. Sudah sepantasnya kita ber-husnudzon kepada Allah. Tidak berat rasanya di setiap do’a kita meminta Allah memberikan yang terbaik untuk hari depan kita, beratkah mengucapkan sebaris kata-kata itu? Mungkin berat karena hati kita masih dikuasai oleh nafsu. Nafsu yang menyelimuti hati punya porsi lebih besar dari kepasrahan kita kepadaNya. Coba kita latih untuk bisa mengucapkan kalimat itu di hadapan-Nya, setiap kita berdo’a. Jika kita sudah mampu mengatakannya, insya Allah, hati kita telah pasrah kepada-Nya dan insya Allah hasil apapun yang Allah berikan akan dapat kita terima dengan ikhlas dan lapang dada. Allah pun, insya Allah, akan memberikan pahala buat kita. Amiin. Berdo’a apa saja memang Allah anjurkan, asalkan itu adalah kebaikan. Tapi tidak ada salahnya jika di setiap akhir do’a kita sisipkan kata-kata itu, sehingga hati lebih tentram. Saya yakin hasil apa pun yang akan Allah berikan akan dapat kita terima dengan ikhlas dan menjalaninya pun akan dengan senang hati. Mulailah untuk dapat meminta yang terbaik kepada Allah, jangan sampai kita terbelenggu oleh nafsu kita sendiri. Ingat, Allah Maha Tahu dan akan memberi yang terbaik untuk hamba-Nya yang beriman. Wallahu’alam bishowab. Terimakasih ya Allah, hamba tahu inilah yang terbaik untuk hamba. Azkia_Salsabila Boneka_kecil@eramuslim.com Seorang Kawan Bernama Yatiman Publikasi: 31/07/2003 08:59 WIB eramuslim - Tahun 1997 adalah tahun yang luar biasa berat untuk saya. Sebuah tragedi besar terjadi dalam hidup saya oleh sebuah pengkhianatan dan fitnah yang dilakukan teman dekat saya. Tahun itu, saya baru saja terkena PHK akibat krisis moneter yang memorak porandakan perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya. Saya terdampar di sebuah pabrik bakery yang manajemennya masih tradisional.

Saya tak hendak berkisah tentang siapa dia dan apa yang dilakukannya. Permasalahannya telah membaur dan berkelindan dengan masalah-masalah lain yang membuat keadaan bertambah keruh. Akibat kejadian itu berikut kondisi-kondisi psikologis yang kurang baik, saya sempat mengidap penyakit semacam insomnia selama setahun lebih. Saya sangat sulit tidur. Dalam sehari, tak jarang saya hanya mampu lelap selama lima belas menit. Kadangkadang, saya berangkat tidur jam delapan malam, namun belum juga bisa tidur hingga adzan shubuh. Ada kalanya tidur selama setengah jam di awal malam dan selebihnya, sampai pagi, jangan harap bisa pejam ini mata. Saat itu, yang saya butuhkan adalah teman ngobrol. Saya ingin ada orang yang bisa saya ajak berbagi. Suatu sore, saya melihat ada karyawan baru, namanya Yatiman. Pertama kali saya melihatnya, langsung tumbuh perasaan benci. Kenapa? Dia sangat mirip dengan teman saya yang baru saja mengkhianati dan memfitnah saya. Tidak hanya wajahnya yang mirip, tetapi juga tutur katanya, suaranya, bahkan cara berjalannya. Potongan rambutnya pula, rambut lurus gaya mandarin ala Andy Lau. Jujur, setiap melihatnya, saya lantas teringat dengan teman saya tersebut, dan karenanya, saya menjadi sangat benci. Apa lacur, kendati saya berusaha menjaga jarak, dia justru ‘ditakdirkan’ lebih sering berada di dekat saya. Ia berada dalam satu group dengan saya. Bahkan, di mess, ia berada tepat di samping saya. Ini berarti, ia lebih sering tidur di samping saya. Seiring dengan waktu, saya mulai berusaha menata hati dan memperbaiki sikap padanya. Apalagi, saya tak melihat sedikit pun hal buruk padanya. Ia jujur, jenaka, dan ramah. Hampir setiap malam, sebelum tidur, seraya bertelekan pada lengannya, ia bertanya dan bercerita macam-macam kepada saya. Potongan-potongan hidup dan episode masa lalunya menjadi puzzle yang semakin kita bisa menghubungkan, maka semakin menariklah itu. Pun, saya jadi mengenal Yatiman dari cerita-ceritanya yang beranjak usang. Lama-lama, sikap saya mencair. Tanpa sadar, kami menjadi teman ngobrol yang bahkan tak jarang mengusik tidur teman lain dan membuat mereka menghardik, “Ssst… Sudah malam! Jangan berisik!” Yang saya suka dari Yatiman adalah sikapnya yang empatik. Yatiman adalah seorang teman yang istimewa untuk saya. Kendati lelah setelah bekerja seharian, ia tak bosan mendengar cerita saya dengan gaya empatiknya yang luar biasa. Ia mau bersabar mendengar cerita-cerita saya, keluhan-keluhan saya yang saya ulang-ulang hampir setiap malam. Volume suara saya yang semula tinggi berangsur-angsur turun –karena khawatir mengganggu yang lain– hingga akhirnya berubah menjadi bisik-bisik. Kadang-kadang dalam keadaan setengah lelap setengah terjaga, ia masih menyempatkan diri menanggapi dengan “oo… jadi begitu?”, “Terus?”, “Wah… hebat!”, “Mm… jadi gitu, ya?”

Terus terang, saya merasa nyaman. Humor-humornya kadang garing dan agak-agak gagap, tetapi saya tertawa dan terhibur. Tahun 1999, ia pindah kerja ke Lampung. Proses pepindahannya terbilang mendadak. Saya menangis. Saya tak bisa membayangkan bagaimana sepinya jika dia tak ada. Alangkah panjang malam-malam saya karena tak ada teman cerita. Toh, seperti ia katakan, hanya jasad kami berpisah, sedangkan hati tetap dekat. Saat berpisah, kami berpelukan lamaaa… tanpa mampu saling berucap. Suara kami cekat di tenggorokan. Saat itu, saya mati-matian menahan linangan air mata. Barulah setelah mobil yang membawanya berlalu, saya menghambur ke kamar mandi dan menuntaskan isak di sana. Lamaaa…. Hampir dua jam saya menangis tanpa suara di kamar mandi. Teman-teman yang lain maklum dan tidak berusaha menghentikan tangis saya. Tak juga mereka mengetuk pintu kamar mandi. Mereka tahu saya sedang bersedih dengan kesedihan yang luar biasa. Sesudah hari itu, cukup lama saya melupakan kesedihan. Setiap melihat bekas lemari pakaian Yat, hati saya terserobot rasa haru dan rindu. Setiap makan siang, saya selalu terkenang makan bersamanya seraya ngobrol banyak hal. Kendati masih ada temanteman yang lain, namun rasanya semua jadi tak lengkap. Darinya, sungguh, saya belajar banyak cara memberi perhatian pada orang lain. Saya selalu berharap bisa menjadi ‘dirinya untuk saya’ pada setiap orang yang saya kenal. Saya ingin… selalu menjadi teman yang istimewa untuk semua orang di mana hal itu bisa dilakukan dengan hal-hal sederhana, sesederhana yang dilakukan Yatiman pada saya. Yat, dengan rindu untukmu.

Sakti Wibowo sakti@syaamil.co.id Setiap Manusia Punya Kelebihan Publikasi: 28/07/2003 14:11 WIB eramuslim - Debu-debu terminal ditingkahi terik matahari dan deru mesin kendaraan siang itu berhasil membungkam mulutku dan teman-teman yang biasanya tak pernah absen mengeluarkan suara. Bertepatan dengan jam kepulangan siswa-siswa siang itu, terus terang penantian itu menghadirkan rasa bosan. Haus, panas, lelah dan sederet keluh lainnya dilantunkan oleh hati diam-diam, mungkin juga oleh empat orang temanku itu, sepertinya mereka juga sibuk dengan suara hati masing-masing. Hampir empat puluh lima menit penantian ini berlangsung, bus kota yang datang secepat kilat penuh. Bagaikan kawanan lebah, calon penumpang langsung menyerbu ketika bus yang ditunggunya datang. Aku dan teman-teman seperti kehilangan energi untuk mengikuti langkah mereka.

Tiba-tiba ada yang tersenyum padaku dari kejauhan, satu blok dari tempatku duduk. Ups! Bukan kepadaku ... tapi pada gadis yang berdiri di sampingku. Dia bukan saja tersenyum sobat! Pemandangan itu begitu memukau ... mereka sedang asyik bercerita dan bercanda. Subhaanallaah, begitu sempurna kebesaran-Mu Allah. Canda dua orang gadis tuna rungu itu tidak terpengaruh sedikitpun oleh deru mesin yang sungguh tidak bersahabat. Walaupun aku tidak mengerti bahasa isyarat tapi aku bisa mengetahui kalau mereka sedang berbagi cerita yang indah. Bisa dilihat dari ekspresi wajahnya yang seringkali tertawa. Pikiranku menerawang, secuplik renungan hadir ... Begitu adilnya Allah, disaat aku dan teman-teman gusar tidak bisa bicara karena kalah bersaing dengan deru mesin disaat itu pula Allah memperlihatkan keindahan ciptaan-Nya, dua orang gadis tuna rungu itu tidak terganggu sama sekali! Mungkin saja karena keterbatasannya, mereka tidak pernah “ngegosip” karena memang mereka tidak bisa mendengarkan percakapan orang-orang normal seperti diriku yang kerap “ngomongin” orang sadar atau tidak. Pastinya, telinga mereka tidak pernah tersentuh oleh musik-musik maksiat atau kata-kata kotor dari corong televisi yang sering singgah di pendengaranku. Ya Allah, alangkah bijak-Nya Engkau menegur hambamu ini. Aku malu… masih ada sederet keluh kesah lagi yang bersarang di hatiku dan Engkau Maha Tahu waktu yang tepat untuk mengingatkanku. Ampuni hamba ya Allah. Segala keterbatasanku mengharapkan ke-Maha Sempurnaan-Mu. Muliakan mereka dengan keberadaannya. Aamiin. Semoga setiap kejadian bisa membawa hikmah kepada kita semua. Allah sangat menyayangi kita dan kasih sayang itu bisa berwujud apa saja, tergantung kegigihan kita untuk mengakuinya. Wallaahu a’alam. farah_adibah@yahoo.com Lutut dan Kewajiban Untuk Sujud Publikasi: 26/07/2003 15:21 WIB eramuslim - Sesungguhnya penciptaan makhluk –termasuk di dalamnya manusia –selalu sesuai dengan kapasitas tugas dan kewajibannya. Itulah yang saya tangkap dari mutiara ceramah Bapak F.X. Rusharyanto di Yogya beberapa tahun yang lalu. Terus terang saja, itu untuk pertama kalinya saya tersedak; antara terharu, tersenyum, dan termenung. Keterpakuan yang membuat kalimat-kalimat beliau terasa terus berngiangngiang di telinga saya. “Saya mendapatkan hidayah dan masuk Islam,” katanya, “lewat mimpi.” Waktu itu, saya tak begitu respek. Entahlah, saya selalu berpendapat dangkal pada orangorang yang masuk Islam lewat mimpi; bertemu (katanya) Rasulullah, orang berjubah putih, dan pengalaman-pengalaman supranatural lainnya. Tentu saja –menurut saya-- hal

ini tidak realistis. Saya pikir, saat seseorang menentukan langkahnya, haruslah berproses dalam pemikiran yang ilmiah. Tetangga saya masuk Islam gara-gara (katanya) mimpi bertemu Sunan Kalijaga. Hanya sebegitu saja. Bertemu thok. Boro-boro kalau sempat berkenalan atau bertukar alamat, berjabat tangan, apalagi ngobrol. Cuma bertemu sebentar. Katanya, Sunan Kalijaga mengenakan jubah warna hijau kesukaan beliau dan sedang berjalan entah ke mana. Paginya, dia masuk Islam. Alangkah mudahnya berganti akidah. Kalau dipikir, apa korelasi antara bertemu Sunan Kalijaga dengan memeluk agama Islam? Toh, zaman dulu banyak orang yang bertemu Sunan Kalijaga –malah –secara wadag. Beruntung saat itu dia mimpi bertemu Sunan Kalijaga. Bagaimana kalau dia bertemu Hitler... atau Syeikh Siti Jenar? Wheladalah... bagaimana kalau dia bertemu dengan Dewa Wisnu yang –walaupun kulitnya hitam arang- namun gantengnya ngudubilah setan itu? Kalau besok dia ngelindur ketemu Dewi Kwan Im, jangan-jangan terus memeluk Konghucu, atau lebih parah, menjadi pengikut Sun Go Kong. Kalau seseorang memutuskan memeluk Islam setelah pergulatan pikiran, nimbangnimbang, mencari kebenaran... dan seterusnya yang akhirnya membawanya pada pemahaman yang proporsional sekaligus mantap, maka –menurut saya –keislamannya tidak perlu disangsikan. Saya acung jempol untuk orang-orang semacam itu. Apa istimewanya mimpi? Dijadikan patokan beli nomor buntut saja masih suka ngaco, apalagi untuk urusan besar yang berkait langsung dengan akhirat. Lha kok.... Karenanya, saya selalu memandang remeh ‘dalam tanda kutip’ untuk orang-orang seperti ini. Tapi, saya juga tidak ngoyoworo. Contoh gampang saja, tetangga saya yang mimpi bertemu Sunan Kalijaga itu nyatanya sampai sekarang –walaupun Islam –tidak shalat. Kalau shalat tarawih sih iya, grubyag-grubyug pas malam bulan Ramadhan. Mungkin karena lingsem atau bagaimana, yang jelas, hidungnya sering nampang di masjid kalau bulan Ramadhan. Saya tidak mengatakan bahwa agama terbebas dari hal-hal irrasional semacam itu. Toh, takdir dan rezeki adalah sesuatu yang tak bisa diterjemahkan secara letterlijk. Ruh, malaikat, jin... adalah mata pelajaran nonwadag dalam kerangka kegaiban yang menjadi komponen kelengkapan iman. Tapi bukan dalam arti juga agama adalah sesuatu yang mutlak irrasional. Semuanya mesti ada dimensi-dimensinya. Cuma, kok ya masih susah juga saya memaklumi orang yang masuk Islam karena ketemu orang berjubah putih dan memakai sorban. Kembali pada materi ceramah Ustadz tadi. Singkat cerita, setiba beliau pada kalimat yang menyatakan proses masuk Islamnya, saya langsung melengos merasa tak begitu tertarik. Seperti saya katakan tadi, apa korelasi antara mimpi bertemu bertemu Sunan Kalijaga dengan masuk Islam?

Ooo... tapi tidak. Dalam ceramah yang saya ikuti dengan ogah-ogahan itu, ternyata akhirnya saya harus tertohok pada pengembaraan pemikiran yang menembus sisi-sisi ruhiyah saya. Dengarlah, mimpi apa yang begitu dahsyat telah mengubah kemudi seorang F.X. Rusharyanto ini. “Saya mimpi bertemu ayam,” katanya. Ayam? Benar-benar ayam? Kok, bukan Sunan siapa gitu atau kalau berani lebih heboh, ketemu Rasulullah. Ayam sehebat apa yang bisa membuat beliau masuk Islam? “Benar-benar ayam,” lanjutnya. “Jangan dulu tertawa dengan mimpi saya yang aneh. Benar, ayam. Saya tidak bermimpi bertemu dengan Rasulullah, orang berjubah putih, atau gadis cantik yang pakai jilbab.” Lantas, apa istimewanya ayam ini? Masih mendingan kalau mimpinya ketemu gadis memakai kerudung seperti yang suka dipajang pada bandrol jilbab. “Ayam ini bisa ngomong.” Ooo... bisa ngomong. Kayak film kartun, dooong? Terus, apa kaitannya dengan Islam? “Ayam itu berkata pada saya, ‘bacalah ayat-ayat Tuhan yang ada pada lututmu.’” Entahlah, mungkin karena agak-agak seperti dongeng fabel ini, maka saya menjadi tertarik. “Lutut?” lanjut sang Ustadz. “Tidak ada ayat apa pun dalam lutut saya,’ begitu bantah saya pada si ayam. Lantas, ayam itu melanjutkan kalimatnya, ‘Tidakkah kauperhatikan perbedaan antara lutut ayam dan lutut manusia? Perhatikanlah wahai manusia dan bacalah. Tempurung lutut kalian diciptakan Tuhan dan diletakkan di depan, berbeda dengan lutut ayam yang diletakkan di belakang. Itu disebabkan kalian tidak diperintah Tuhan untuk mengeram. Ayam diperintahkan untuk mengeram sehingga tubuhnya disempurnakan untuk melaksanakan tugas itu.’ Cukup lama saya memikirkan kalimat ayam itu sebelum kemudian saya bertanya, ‘Lantas, apa yang diperintahkan pada manusia yang memiliki lutut di depan?’” Nah, ini yang membuat saya mulai tertarik. Kenapa? Lantas apa jawaban si ayam? “Ayam itu,” lanjut beliau, “mengatakan, ‘kepada manusia, Tuhan memerintahkan untuk rukuk dan sujud. Itulah kenapa lutut kalian diletakkan di depan, bentuk kesempurnaan penciptaan di mana susunan yang demikian adalah untuk melaksanakan perintah rukuk dan sujud.” Subhanallah... betapa saya selama ini tak pernah membaca ayat yang begini indah. Lantas, berapa banyak lagi ayat yang belum dan tidak terbaca oleh pikiran saya yang lemah ini?

Sungguh, ilmu dan ayat Allah tak akan selesai ditulis kendati laut diubah menjadi tinta dan digunakan untuk menulisnya, bahkan jika didatangkan satu laut lagi sebagai tinta, dan satu laut lagi sebagai tinta, dan.... Allah, pandang-Mu sajalah pandang yang tak terhalang. Ilmu-Mu saja ilmu yang tak berujung. Setiap yang didapati pada manusia, hanyalah sepersekian debu-Mu. Ampunilah kesombongan dan kelemahan kami. Amin. Sakti Wibowo sakti@syaamil.co.id Yang Paling Mempesona Imannya Publikasi: 23/07/2003 10:04 WIB Ya Allah, taburkanlah wangian Diatas kubur nabi yang mulia Dengan semerbak shalawat Dan salam sejahtera (Makrifat Daun, Kuntowijoyo) eramuslim - Malam sudah sampai ditengah-tengah, suara jalanan pun telah lengang. Dan kantuk itu tidak datang seperti biasanya. Ada yang menderu dalam relung dada. Ada yang bergemuruh. Sebuah buku yang masih terbuka di pangkuan, penyebabnya. Buku yang saya maksudkan agar mendatangkan lelap lebih mudah, ternyata malah berkebalikan. Biasanya belum sampai 2 halaman, mata ini pasti sudah rapat-rapat menutup begitu pula dengan bukunya. Lembar demi lembar saya telusuri samudera aksara bermakna, tak lelah mata membaca, fikiran mencerna dan seringnya hati senut-senut. Saya ingin membaginya dengan kalian. Mudah -mudahan saya mampu. *** Madinah Al-munawarah, pada dini hari. Membran malam perlahan tersingkap, berganti dengan subuh syahdu. Lengang berpulun dengan udara dingin menggigit. Dan deru sahara hanya terdengar dari jauh. Cerlang fajar sebentar lagi nampak. Shalat subuh hampir tiba, Rasulullah Saw dan para sahabat menyemut pada satu tempat, masjid. Semua hendak bertemu dengan yang di cinta, Allah. Namun sayang, air untuk berwudhu tidak setetes pun tersedia. Tempat mengambil air seperti biasanya kini kerontang. Dan para sahabat pun terdiam, bahkan ada beberapa yang menyesali kenapa tidak mencari air terlebih dahulu untuk keperluan kekasih Allah itu berwudhu. Rasululllah pun bertanya kepada para sahabat "Adakah diantara kalian membawa kantung untuk menyimpan air?". Berebut para sahabat mengangsurkan kantung air yang dimilikinya. Lalu, Nabi yang begitu mereka cintai itu meletakkan tangannya diatasnya. Tidak

seberapa lama, jemari manusia pilihan itu memancarkan air yang bening. "Hai Bilal, panggil mereka untuk berwudhu" sabda nabi kepada Bilal. Dan para sahabat pun tak sabar merengkuh aliran air dari jemari sang Nabi. Di basuhnya semua anggota wudhu, ada banyak gumpalan keharuan dan pesona yang menyeruak. Bahkan Ibnu mas'ud mereguk air tersebut sepenuh cinta. Shalat subuh pun berlangsung sendu, suara nabi mengalun begitu merdu. Ada banyak telinga yang terbuai, hati yang mendesis menahan rindu. Selesai memimpin shalat, nabi duduk menghadap para sahabat. Semua mata memandang pada satu titik yang sama, Purnama Madinah. Dan di sana, duduk sesosok cinta bersiap memberikan hikmah, seperti biasanya. "Wahai manusia, Aku ingin bertanya, siapakah yang paling mempesona imannya?" AlMusthafa memulai majelisnya dengan pertanyaan. "Malaikat ya Rasul Allah" hampir semua menjawab. Dan nabi memandang lekat wajah para sahabat satu persatu. Janggut para sahabat masih terlihat basah. "Bagaimana mungkin, malaikat tidak beriman sedangkan mereka adalah pelaksana perintah Allah." "Para Nabi, ya Rasul Allah" jawab sahabat serentak. "Dan bagaimana para Nabi tidak beriman, jika wahyu dari langit langsung turun untuk mereka". "Kalau begitu, sahabat-sahabat engkau, wahai Rasulullah" pada saat menjawab ini banyak dari sahabat yang mengucapkannya malu-malu. "Tentu saja para sahabat beriman kepada Allah, karena mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan". Selanjutnya mesjid hening. Semua bersiap dengan lanjutan sabda nabi yang mulia. Semua menunggu, sama seperti sebelumnya pesona sosok yang duduk ditengah-tengah mereka mampu menarik semua pandangan laksana magnet berkekuatan maha. Dan suara kekasih Allah itu kembali terdengar. "Yang paling mempesona imannya adalah kaum yang datang jauh sesudah kalian. Mereka beriman kepadaku, meski tak pernah satu jeda mereka memandang aku. Mereka membenarkan ku sama seperti kalian, padahal tak sedetikpun mereka pernah melihat sosok ini. Mereka hanya menemukan tulisan, dan mereka tanpa ragu mengimaninya dengan mengamalkan perintah dalam tulisan itu. Mereka membelaku sama seperti kalian gigih berjuang demi aku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan para ikhwanku itu". Semua terpekur mendengar sabda tersebut. Kepada mereka nabi memanggil sapaan sahabat, sedang kepada kaum yang akan datang, nabi merinduinya dengan sebutan

"Saudaraku". Alangkah bahagia bisa dirindui nabi sedemikian indah, benak para sahabat terliputi hal ini. Dan terakhir nabi, mengumandangkan QS Al Baqarah ayat 3: "Mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian dari apa yang kami berikan kepada mereka". *** Memang, tiada yang lebih indah, dirindui nabi seperti demikian. Kang Jalaluddin Rakhmat menyebutkan, keistimewaan sebutan 'saudara' ini disebabkan beberapa hal. Pertama: Para sahabat menyaksikan langsung sosok nabi Muhammad, menjumpainya dalam keseharian, menemaninya dalam setiap kesempatan. Para sahabat bertemu langsung dengan beliau, memperhatikan segala perilaku indahnya. Para sahabat beriman kepada Nabi secara lahir. Sedangkan para ikhwan (saudara) mempercayai Rasulullah setelah membaca dan mendengar perilaku beliau. Kedua: Para sahabat mengenal nabi secara langsung, berada di depan mata. Para sahabat melihat mukjizat seperti tadi, bukan dari cerita atau kisah. Para sahabat mengalaminya sendiri. Sedangkan para ikhwan mengenal nabi secara tidak langsung, hanya berdasarkan bukti-bukti yang rasional. Dan hal ini memerlukan pembelajaran yang tidak mudah, karena lebih abstrak. Dan fitrah manusia selalu mengedepankan hal-hal yang dilihat secara nyata. Selanjutnya kang Jalal menghimbau, Cintailah Rasululullah, maka ia akan menjadi pusat perhatian. Kapan saja ia diperbincangkan maka kita akan selalu semangat menyimak. Cintailah Rasulullah maka kita akan meniru perilakunya dengan hasil baik. Dan yang lebih dahsyat lagi, cintailah Rasulullah maka beliau akan menganggap kita sebagai saudara (ikhwan) dan janji Allah dalam QS. Annisa: 69, seorang pencinta Rasul akan digabungkan dengan orang-orang yang memperoleh nikmat Allah yaitu Para nabi, para shidiqin, para syahid dan orang-orang shaleh. *** Tak ada salahnya, pabila saat ini saya mengenang sosok yang hanya saya tahu ciri-cirinya dari sebuah buku. Mengapakah terlalu sering saya mengabaikan teladan sempurna ini. Bahkan, terlalu jauh saya terlontar dari sunnahnya. Padahal, engkau ya Rasul Allah, begitu memperhatikan kami, hingga kami disebut pada saat-saat terakhir kehidupanmu. Ketika maut menjemput, nafas satu-satu dan detik-detik penghabisan di dunia sebelum dengan anggun engkau dipanggil Allah. Maafkan saya, ya nabi pilihan Allah, shirahmu saya baca tetapi saya hanya mengemasnya dengan rapi dalam memori sebagai sebuah kisah yang nantinya akan saya sampaikan kepada yang lain. Engkau merindukan umat yang berjuang untuk membelamu, padahal saya sama sekali tidak berbuat apapun. Engkau rindui sosok-sosok yang mencintaimu

dengan segenap jiwa, dan saya tidak tahu apa bukti kecintaan yang telah saya persembahkan meski hanya sekuntum saja. Betapa malunya saya wahai Rasulullah. Meski demikian, perkenankan saya menyampaikan salam, salam cinta dan salam kerinduan. Salam bagimu ya Rasul Allah, salam bagimu duhai kekasih Allah yang mulia. Inilah si lemah dari sekian abad dari masamu yang terbentang, menyampaikan salam pekat kerinduan. Inilah si dungu, meski dengan tubuh penuh dengan karat dosa, dengan mata yang seringkali tak terarah, dengan mulut yang kerap menghina dan berdusta, dengan telinga yang sering tuli terhadap kepedihan sesama, memberanikan diri menyapamu dalam kesendirian. Mengenang engkau ya Rasul Allah, menetaskan dahaga hebat bagi kerontangnya jiwa ini untuk berjumpa denganmu. Mengingatimu tentang betapa rekatnya engkau mencintai para pengikut yang datang jauh setelah engkau tiada, mengkristalkan haru yang tiada tara. Betapapun besar rasa malu ini, terimalah salam, wahai pembawa cahaya kepada dunia. Betapapun buruk rupa jiwa ini, Betapapun kerdil pikiran ini, Betapapun kelu lidah ini berucap, Ingin saya sampaikan kepadamu wahai nabi al-musthafa: Shallaallaahu ala muhammad, shallalhu alaihi wasallam... Salam bagimu ya Rasul Allah. Sahabat, telah sering kita mengucapkan shalawat terhadap junjungan nabi Mulia, bahkan mungkin disetiap jeda yang kita punya, salam untuk sang tercinta tak lupa kita ungkap. Namun apakah salam yang kita sampaikan benar-benar salam yang ikhlas, salam tanda cinta kita, ataukah salam yang refleks keluar dari mulut kita tanpa ada makna? Wallahu 'A'lam. mudah-mudahan saat ini dalam dadamu ada yang bergemuruh juga. Husnul mahabbah12@yahoo.com Cobalah Mencintai-Nya Publikasi: 21/07/2003 09:42 WIB eramuslim - Cinta mungkin sebuah kata agung yang paling sering membuat seseorang tergugu di hadapannya. Segala teori dan argumentasi yang dilontarkan akan lumpuh begitu saja saat kita sendiri yang mengalami bagaimana hebatnya cinta itu mempengaruhi diri kita. Mungkin sulit dipahami bagi orang yang sedang tak mencinta, bagaimana rasa cinta itu menjelma menjadi ratusan ribu pulsa telepon, berlimpahnya waktu untuk menunggu yang terkasih walau kita sedang dalam deadline ketat, terbuka lebarnya mata mengerjakan tugas-tugas demi membantu yang tersayang. Bongkahan pengorbanan yang tak rela dipecahkan…

Merasakan cinta seperti merasakan hangatnya matahari. Kita selalu merasa kehangatan itu akan terus menyirami diri. Setiap pagi menanti mentari, tak pernah terpikirkan akan turun hujan atau badai karena kita percaya semua itu pasti akan berlalu dan mentari akan kembali, menghangati ujung kaki dan tangan yang sedikit membeku. Mentari ada di sana, dan dia pasti setia. Terkadang kita lupa, matahari yang hidup dan mengisi hidup itu adalah hamba dari Penguasa kehidupan, kehidupan kita, kehidupan matahari. Satu waktu matahari harus pergi, walau ia tak pernah meminta, walau pinta tak pernah kita ucapkan. Jadi, ia akan pergi, apapun yang terjadi. Karena ini adalah kehendak-Nya. Segala yang ada di dunia ini tidak pernah abadi, karenanya ia bisa pergi. Selamanya, bukan sementara. Inilah dunia. Senang atau tidak, kita hanya bisa terima. Mungkin kita ingin protes, ingin teriak; betapa tak adilnya! Tapi kita cuma akan dijawab oleh tebing karang yang bisu, atau lolongan anjing dari kejauhan yang terdengar mengejek. Mungkin kita kecewa dan ingin mengakhiri hidup. Mungkin kita begitu ingin memukul, tapi cuma angin yang bisa dikenai. Sekarang coba dulu lihat, apakah itu mengubah apa pun? Tak ada yang berubah kecuali semakin dalamnya rasa sakit itu. Maka ketika kuasa-Nya yang mutlak menjambak cinta sementara kita pada matahari, kita bisa apa? Karena kita cuma hamba, kita cuma budak! Kita hanya bisa menelan kepahitan yang kita ciptakan sendiri. Mungkin yang perlu kita jawab; mengapa kita melabuhkan cinta begitu besarnya pada manusia? Padahal kita tahu tak ada yang abadi di dunia ini. Mengapa? Allah menciptakan cinta di antara manusia. Dia yang paling hebat, paling tahu bagaimana cinta itu, bagaimana mencintai, bagaimana dicintai. Kenapa kita begitu sok, merasa paling mencintai, merasa paling dicintai, merasa memiliki segalanya dengan cinta. Padahal cinta itu cuma dari manusia, untuk manusia. Dan suatu hari cinta itu akan hilang. Mungkin tak cuma pupus, tapi tak berbekas, tak berjejak. Hanya cinta yang begitukah yang kita inginkan? Kenapa kita tak mencoba raih matahari cintanya Allah, yang tak pernah tenggelam dan tak pernah sirna. Tak pernah usang, tak hancur, dan tak akan pernah sia-sia. Mencintai Allah? Terlalu abstrak, terlalu aneh. Masa’? Itu karena kita tak pernah merasa dekat, tak pernah berusaha mendekati-Nya. Allah menjadi asing karena kita memposisikan Allah sebagai sesuatu yang berada di langit yang tinggi dan tak mungkinlah kita mencapainya. Jangankan mencintai, membayangkan untuk mendekatinya saja tak mungkin. Tahukah kamu, Dia menawarkan cinta-Nya untuk kita. Hebat ‘kan? Kita? Manusia yang hina dina yang berasal dari setetes sperma yang hina? Ditawarkan cinta dari pembuat cinta? Cck… ckk… Apa nggak salah, nih? Kemudian kita malah menolak dan menjauh? Wah… wah… betapa bodohnya ... Kalau cinta seperti itu tertolak, cinta apa lagi yang kita harapkan? Cinta yang membawa pada kekecewaan, rasa sakit, atau derita? Cinta yang hanya mekar semusim lalu luruh tak

berbekas, bahkan wanginya. Percayalah… cinta yang ditawarkan-Nya tak pernah menguncup, mekar, atau luruh. cinta-Nya abadi, mekar selamanya. Dan Dia akan memberi kita cinta dari manusia. Mentari itu terus di sana, kapan dan di manapun kita ingin merasakan hangatnya. Kita punya cinta dari Allah. Apakah kita tak berniat membalas ketulusan cinta itu? al Birru emine_mm@maktoob.com GIP Depok, 10 Juli 2003 Kawan, Pernahkah Seberdosa Ini? Publikasi: 18/07/2003 15:18 WIB Smakin kutahu Jika pepohonan dijadikan pena Dan laut menjadi tinta Niscaya takkan pernah cukup Tuk menuliskan semua nikmat-Nya eramuslim - Lelah. Rasanya terlalu lelah untuk terus berdo’a kepada Allah. Hari ini entah sudah kesekian kalinya aku meminta, tapi tak jua Dia mengabulkan permintaanku. Pekan lalu, saat ku membutuhkan pertolongan Nya, Ia tak segera mengulurkan tanganNya. Ah, jangankan yang baru-baru ini, puluhan bahkan ratusan pintaku bulanbulan sebelumnya, juga tahun sebelumnya, kalau kuingat-ingat, belum juga terkabulkan. Tapi, apa salahnya malam ini ku mencoba berdialog kembali dengan Nya, semoga saja ia mau mendengar. Baru saja kususun jemari ini, belum sempat baris kata-kata yang sebelumnya sudah kurangkai indah di dalam benakku deras terburai keluar dari mulutku, mataku menangkap tajam jemariku yang bergerak … Astaghfirullaah … seketika dadaku sesak. Berdegub kencang. Ingin kuhapus kata-kataku diatas. Tapi sudah terlanjur tumpah. Aku malu telah lancang kepadaNya dan menihilkan semua yang telah diberikan-Nya. Sedetik kemudian, seiring dengan menggenangnya air di pelupuk mata ini yang siap tumpah bagai gelombang yang menunggu perintah menghantam karang, benakku sudah disesaki dengan jutaan tanya … Pernahkah aku meminta kepada Nya untuk memberikan kepadaku jemari yang lengkap dan indah ini, sehingga aku bisa banyak berbuat dengan kesempurnaan penciptaan ini. Aku tak pernah meminta sebelumnya agar Ia melengkapi tanganku ini dengan jemari, aku juga tak pernah berdo’a untuk berbagai kesempatan hingga detik ini aku masih bisa menggerakkan, dan menyentuh dengan jemariku ini. Tapi sampai detik ini, Dia masih memberikannya kepadaku …

Harus kusentuh lagi beberapa anggota tubuh ini. Kemudian aku berdiri, subhanallah, aku masih bisa berdiri. Padahal aku tak pernah sebelumnya meminta agar terus ditetapkan memiliki dua kaki sempurna, tapi Dia masih terus memberikannya. Kupandangi, ups… sebelum kulanjutkan … dengan apa aku memandang? Pernahkah aku meminta Dia menganugerahiku sepasang mata indah ini? Sehingga semua terasa begitu indah untuk dinikmati, semua alam dan lukisan semesta menjadi penghibur hati dengan adanya dua mata ini. Kuyakin juga –aku tak pernah lupa- tak pernah memohon kepada-Nya untuk tetap memberiku dua telinga dengan fungsi pendengaran yang baik. Tapi kenapa aku masih bisa mendengar? Test … test … satu, satu, dua tiga …. Sengaja aku mengetes suaraku. Masih jelas terdengar. Tapi, bukankah Dia memberikannya begitu saja kepadaku tanpa pernah aku memintanya? Lalu aku berjalan, Alhamdulillah aku masih bisa berjalan. Keluar kamar, ke ruang tengah, kulihat masih terlihat sederet makanan di meja makan, kucicipi sepotong tahu. Enak, ya enak. Tapi kenapa aku masih bisa merasakan nikmatnya sepotong tahu? Juga segarnya menyeruput sebotol juice buah yang kuambil dalam kulkas? Yang pasti, tak pernah barisan kata pinta terucap tuk sekedar memohon agar tetap diberikan kemampuan merasa … Kuterus berjalan. Ke kamar mandi. Ada air. Kusentuh segarnya air itu. aah, sejak kapan aku merasakan kesegaran ini. Mungkinkah ketika terlahir dulu sempat aku meminta kepadaNya agar dikaruniakan kesegaran macam ini? atau … hhhhhh, kuhirup udara malam yang sejuk. Eh, apa pernah aku minta Dia tak menyetop pasokan udara untukku? Bahkan … aku masih hidup, aku masih hiduuup (teriakku) … siapa yang tahu dan bisa menerka sampai kapan aku masih bisa menikmati hidup. Tapi yang jelas tak pernah sekalipun keluar dari mulut ini rangkaian kata: “Tuhan, terima kasih atas semua nikmat Mu, sampai hari ini.” (Bayu Gaw) Inspirasi Publikasi: 14/07/2003 07:55 WIB eramuslim - Suatu ketika Mohamdas Karamchand Gandhi akan berangkat dari Durban menuju Pretoria, Afrika Selatan untuk membantu sahabatnya, Dada Abdulla dalam suatu kasus persidangan. Saat itu Gandhi adalah seorang pengacara terkenal di Afrika Selatan. Ia sudah terkenal di kalangan penduduk India dan penduduk lokal di Afrika Selatan. Tatkala menunggu kereta berangkat, Gandhi mencoba untuk membaca buku yang diberikan Dada Abdulla. Baru sampai pada halaman pertama, Gandhi dikejutkan oleh suara lantang dari petugas kereta api. "Hei, Kuli", begitu panggilan seorang Inggris terhadap warga kulit hitam di Afrika Selatan. "Kamu tidak seharusnya berada di sini." Gandhi memang berada di gerbong kelas eksekutif yang biasanya ditempati oleh bangsawan-bangsawan Inggris kelas atas. Gandhi menjawab, "Saya sudah membayar tiket kelas eksekutif ini, jadi saya berhak dan sudah seharusnya mendapat pelayanan yang sama dengan penumpang di gerbong ini." Memang pada saat itu perbedaan antara penduduk lokal maupun pendatang dari India dengan penduduk berkulit putih khususnya

Inggris sangat terasa. Mereka yang berkulit hitam sering mendapat perlakuan semenamena walaupun dari kalangan terpelajar sekalipun. Apa daya, walaupun Gandhi bersikeras untuk tetap duduk di kursi kelas eksekutif, petugas kereta api itu memaksa dengan kekerasan agar Gandhi duduk di kelas biasa. Akhirnya Gandhi yang bertubuh kecil tidak bisa melawan kekerasan dari petugas kereta api yang badannya jauh lebih besar. Ia ditendang keluar dari kereta, semua barangnya pun dihamburkan begitu saja keluar dari kereta. "Jangan lupa bawa bukumu ini, Kuli", demikian kata petugas kereta api membuang buku yang diberikan sahabat Gandhi, Dada Abdulla. Buku itu dilempar dan mengenai kepala Gandhi sehingga terjatuh di sampingnya. "Apakah nasib kami akan terus seperti ini?", pikir Gandhi meratapi nasibnya. Ketika merapikan barangnya Gandhi secara tidak sengaja membaca satu bagian halaman yang terbuka dari buku yang tadi mengenai kepalanya tadi. Bagian itu berbunyi: "Dan sungguhnya Kami telah mengutus seorang utusan pada tiap-tiap bangsa untuk menyerukan: "Sembahlah Allah, dan jauhilah godaan shaitan", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orangorang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (QS. An Nahl:36) Ternyata buku yang diberikan sahabat Gandhi adalah Quran. Sejak membaca penggalan ayat tersebut, Gandhi mulai tergerak hatinya untuk mengajak kaum tertindas di Afrika Selatan dan akhirnya India untuk melawan penjajah. Konon sejak saat itu, Gandhi selalu membaca Qur'an sebagai salah satu referensi penting dalam perjalanan hidupnya, terutama dalam meraih kemerdekaan India dengan cara damainya. Subhanallah! *** Kejadian di atas, penulis ambil dari film "The Making of Mahatma", sebuah film tentang perjalanan hidup Gandhi. Bagian dimana Gandhi membaca Qur'an sangat berbekas dalam ingatan ini. Qur'an menjadi sumber inspirasi penting dari dimulainya perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan. Kita pun akan ingat bagaimana seorang yang keras dan selalu berprinsip semua permasalahan diselesaikan dengan pedang seperti Umar bin Khattab, bisa luluh hatinya oleh bacaan Qur'an dan terinspirasi untuk ikut serta dalam menyebarkan ajaran Islam. Inspirasi dari Allah juga diberikan oleh Allah kepada siapa yang mau mengamati ciptaannya. Kita ingat bagaimana Salman Al Farizi terinspirasi untuk membuat parit di sekeliling kota Madinah, karena melihat keadaan geografis yang menguntungkan pasukan Muslim jika menghadapi serangan. Kita juga ingat bagaimana Jabal Al Thariq yang terinspirasi untuk membakar kapal pembawa mereka dari dataran Maghribi ke Spanyol untuk membakar semangat para pasukannya. "Tidak ada jalan ke belakang lagi, hanya ada satu jalan yaitu terus maju ke depan, Allahu akbar!", demikianlah kata-kata yang dilontarkan Jabal Al Thariq untuk memberi inspirasi kepada pasukannya.

Allah memberikan kita berbagai macam inspirasi lewat berbagai ciptaannya. Tinggal bagaimana kita bisa menangkap inspirasi itu untuk dijadikan sebagai pemicu dalam berbuat sesuatu yang besar, sesuatu yang dapat memberikan inspirasi lagi bagi anak cucu kita. Wallahu'alam bishshawab. Zulfikar S. Dharmawan zulfikar@ukhuwah.or.id Mimpi Publikasi: 11/07/2003 08:50 WIB eramuslim - Dia Cantik. Meskipun wajahnya telah dihiasi kerut merut. Rambutnya hampir separoh telah memutih, dan sepertinya itu asli, bukan dicat. Gaya berpakaiannya cukup trendi. Kadang-kadang mengenakan rok atau celana jeans sedengkul. Kaos masa kini dilengkapi dengan vest denim pendek. Sepatu kets putih dan kaos kaki. Rambutnya kadang diikat di atas tengkuk, kadang dikepang dengan pita-pita banyak. Hampir setiap pagi, saat saya berangkat ke kantor saya bertemu dengannya. Kadang-kadang sore juga. Beberapa kali saya lihat dia duduk di atas mobil yang terparkir di pinggir jalan. Bergaya ala fotomodel, sambil mengisap rokok yang terselip diantara jari-jemarinya. Kadang dia sibuk memunguti batu-batu dan memasukkanya ke kantong plastik. Kadang dia berjalan dengan tentengan di kiri kanan, sedang bahunya menyandang tas trendi pula. Ingin saya menyapanya, tapi niatan itu tak pernah kesampaian. Dia selalu tampak sibuk dengan dunianya sendiri. Pernah saya bertanya pada tukang warung rokok di pinggir jalan tempat perempuan itu biasa mangkal. Dimana rumahnya? Apa yang terjadi dengannya? Tapi tak seorang pun tahu. Yang mereka tahu adalah, wanita itu gila. Hilang ingatan, meski tak sepenuhnya. Hingga saya jadi sering mengira-ngira, ada apakah dengannya? Melihat tingkah lakuknya, saya menduga, mungkin dulu ia pernah bermimpi menjadi seorang bintang, fotomodel, peragawati atau apapun yang berbau selebritis. Terlihat dari pakaiannya yang selalu trendi dan gayanya yang bak fotomodel. Atau mungkin juga ia dulu bercita-cita menjadi seorang aktifis, terlihat dari sikapnya yang selalu sibuk dan sibuk. Atau juga,… entahlah! *** Mimpi. Siapa sih manusia di dunia ini yang tak memiliki mimpi? Sesederhana apa pun dan meskipun orang tak menyebutnya dengan mimpi- saya yakin setiap kita punya mimpi. Punya keinginan yang suatu saat ingin diwujudkan. Memiliki harapan dan citacita, yang kita berusaha semaksimal mungkin untuk menggapainya. Dulu ketika kecil saya suka membayangkan menjadi anak orang kaya, memiliki rumah megah seperti rumah sahabat saya. Impian itu sering saya imajinasikan saat bermain rumah-rumahan dari tanah. Saya bangun rumahnya seperti impian saya, dan saya buat

kehidupan penghuninya seperti cerita yang saya inginkan, yang saya impikan sebagaimana saya lihat di tipi. Ketika saya menginjak remaja, saya bermimpi menjadi selebriti, meskipun sekadar menjadi selebriti tingkat kelas, atau anak gaul sekolah yang dikenal teman-teman. Saat memasuki bangku kuliah, saya iri dengan teman-teman yang aktif di senat maupun di Unit Kegiatan Mahasiswa Islam. Saya berusaha keras untuk bisa masuk dan aktif dalam jajaran mereka. Saat saya selesai kuliah, belasan impian, juga idealita, saya miliki dan menjadi obsesi. Namun jika saya telusuri, nyaris semua kenyataan hidup yang saya jalani berbeda jauh dan bertolak belakang dengan impian dan idealita saya. Mengapa? Ada tiga pelajaran besar yang saya peroleh. Satu, bisa jadi saya kurang kuat berusaha, kurang tekun menjalani, kurang sabar melewati tantangan. Mudah capek, mudah ngambek, mudah patah arang. Padahal, mungkin saja usaha saya belum ada apa-apanya dibanding mereka yang berhasil meraih impiannya. Bahasa ilmiahnya, kurang memiliki motivasi berprestasi. Kedua, bisa jadi impian saya yang terlalu tinggi sementara modal dan pemahaman pas-pasan, tidak sesuai dengan kapasitas. Modal semangat saja tidaklah cukup untuk meraih mimpi. Alih-alih dapat merealisasikan impian, semangat yang terlalu besar menjadikan kita ambisius dan terobsesi kemudian stress. Hal ini sering disebut dengan upaya mengenali potensi: potensi otak, potensi jiwa dan potensi materi/biaya. Ketiga, takdir! Apa yang saya impikan adalah apa yang saya ketahui baik untuk saya pada waktu itu, menurut batas pengetahuan saya, menurut paradigma saya. Namun semestinya saya menyadari, Allah jauh lebih tahu apa yang baik bagi saya dan apa yang tidak. Allah telah menetapkan sesuatu bagi hambaNya, sesuai ukuran dan kapasitas. Kita hanya diperintahkan untuk berusaha semaksimal mungkin. Usaha itu tidak sia-sia, karena ia akan dinilai sebagai amal, meskipun kita tidak memperoleh hasil dari usaha itu. Dan ketika Allah telah menampakkan realitas hidup, tibalah masanya kita berdamai dengan hati, berdamai dengan kenyataan. Tawakkal, berserah diri. Agar tak seperti gadis trendi yang saya temui setiap hari, selalu terobsesi sehingga akhirnya terpaksa hidup dalam dunia mimpi. Azimah Rahayu azi_75@yahoo.com Mencari Surga? Publikasi: 10/07/2003 10:55 WIB eramuslim - Dan butiran pepasir itu pun menangis saat rintihan Yasir bergelung di langit menahan pedihnya siksaan. Langit mendung tak kuasa menahan murungnya ketika Sumayyah merapatkan kedua bibirnya, sesaat kemudian gerigi atasnya mencengkeram kuat-kuat bibir bawahnya. Setetes air mata tak nampak dari sudut matanya meski ribuan tetes darah menghiasi nyaris seluruh raganya. Satu persatu nafas Yasir dan Sumayyah meninggalkan jasad ringkihnya, senyum kemenangan kedua orangtua sahabat Amr bin

Yasir itu melambaikan tangan menyambut panggilan lembut para bidadari Surga. Beberapa hasta dari dua jasad mewangi itu, seorang pemuda belia tengah menghadapi maut untuk menapaki langkah-langkah kedua orangtuanya. Bibirnya bergetar dengan tak henti menyebut nama agung Tuhannya. Ya, Amr bin Yasir, meski sebagian orang sempat meragukan keimanannya, di kemudian hari ia justru menjadikan dirinya sebagai tameng Rasulullah di berbagai kesempatan. Menjelang perang Uhud dimulai, bersama suaminya, Zaid bin Ashim dan kedua putranya, Habib dan Abdullah, ia keluar ke bukit Uhud. Lalu Rasulullah Saw bersabda kepada mereka, "Semoga Allah memberikan berkah kepadamu semua." Setelah itu perempuan bidadari perang Uhud itu berkata kepada beliau, "Berdo'alah kepada Allah semoga kami dapat menemani engkau di surga kelak, ya Rasulullah!" Lalu Nabi Saw berdo'a, "Ya Allah jadikanlah mereka itu teman-temanku di Surga." Maka perempuan itupun berkata lantang, "Aku tidak akan mempedulikan persoalan dunia menimpa diriku." Dialah Ummu Amarah, Nusaibah binti Ka'ab Al Maziniay. Rasulullah menobatkannya sebagai bidadari surga karena perannya membela Rasulullah saat pasukan muslimin terdesak pada perang Uhud. Bersama Mush'ab bin Umair -yang kemudian menemui syahid setelah mendapatkan puluhan tusukan di tubuhnya- Nusaibah menghadang Qam'ah, orang yang dipersiapkan membunuh Rasulullah dalam perang tersebut. Dua belas tusukan dan salah satunya mengenai leher Nusaibah. Bilah-bilah pedang yang satu persatu menghujam tubuhnya, ujung-ujung cadas tombak, dan barisan anak panah yang menghias tubuhnya, dirasainya sebagai sentuhan lembut para penghuni Surga. Darah mengalir dari setiap inci tubuhnya, air matanya menjadi saksi tak terbantahkan untuk memuluskan jalannya ke surga Allah. Dan debu bukit Uhud pun terharu menerima dentuman tubuhnya, tak henti-hentinya milyaran debu itu bersaksi akan harumnya wangi surga dari tubuh perempuan mulia itu. Adalah Mush’ab bin Umair, aroma mewangi sudah tercium persis di depan hidung meski pemuda tampan itu masih berada puluhan meter jauhnya. Pakaiannya terbaik, terbagus dan termahal dari yang pernah dimiliki siapapun di tanah Makkah. Ketampanannya tak terkira, siapa memandang pasti terpesona, bahkan para lelaki pun iri. Siapa yang tak mengenalnya, pemuda perlente anak seorang bangsawan yang kesohor. Tetapi bukan itu yang membuatnya tercatat dalam sejarah manusia mulia pengikut Muhammad. Begitu terucap dari mulut wanginya kalimat Syahadat, bertambah wangi lah setiap sisi rongga mulutnya, wajah yang tampan semakin bersinar penuh cahaya kemuliaan meski tak lagi ia mengenakan gamis kebangsawanan, walau ia menanggalkan semua atribut yang menjadi simbol-simbol kebesaran. Mush’ab tetap tampan, kharismatik, dan menjadi teladan bagi pemuda dan remaja dimasanya, terlebih saat ia dipercaya sebagai duta pertama Rasulullah ke Madinah. Cita-citanya untuk tetap bersama Rasulullah di Surga kelak, di amin-kan oleh seluruh isi langit dan bumi, karena seorang pemuda kaya raya nan tampan itu syahid dengan tubuh penuh lubang dan sayatan. Ia menjadi tameng Rasullullah pada perang Uhud. Meski darah dan debu membaluti wajah dan tubuhnya, siapa yang bisa melepaskan bayang-bayang kharismanya?

Ada seorang budak hitam legam berasal dari Negeri Habasyah (Negeri Ethiopia yang yang hingga kini terus dicengkeram kelaparan). Bertahun-tahun menjadi budak, diinjakinjak, dicaci, diludahi, bahkan dihalalkan darahnya untuk dibunuh oleh sang majikan. Namun Allah mengangkat derajat Bilal bin Rabbah dengan Islam. Hidayah Allah justru turun kepada manusia yang dihinakan oleh manusia lainnya, budak hitam yang orang mensebandingkan hitamnya seperti pantat kuali itu, sesungguhnya putih berseri serta memancarkan kemilauan di mata Allah, Rasulullah dan orang-orang beriman. Saat sang majikan, Suhail, menindihkan batu besar dan panas diatas tubuh budak itu, hanya kata, “Ahad, Ahad …” yang keluar dari mulutnya hingga kemudian seorang sahabat membebaskannya. Jika boleh dan bisa batu itu berbicara, mungkin ia akan berteriak lantang menolak menindih tubuh mulia itu, atau bahkan memilih hancur berkepingkeping ketimbang harus menjadi perantara tangan Suhail untuk menyentuh kulit kasar namun indah itu. Adakah alasan surga tak menginginkan budak hitam ini menjadi salah satu penghuni terhormatnya? *** Dan batu-batu pun iri, debu pun menangis, para cemeti itu menjadi cermin keikhlasan. Bilah-bilah pedang menampung tetes air mata dan darah yang kelak sebagai pemulus jalan membentang menuju surga, bahkan ujung tombak dan mata anak panah bersaksi, betapa orang-orang itu mulia karena perjuangan dan keteguhannya. Mereka tak pernah mencari surga, karena justru surga betul-betul menanti mereka untuk menyinggahi setiap singgasananya, mengarungi riak-riak sungai kautsar yang diatasnya berbagai buah segar dan menawan menanti untuk dinikmati. Tak lupa, bidadari-bidadari cantik nan bermata jeli, membuka tangannya menyambut kehadiran manusia-manusia yang seluruh penghuni langit memujinya. *** Berjalan di muka bumi, sama dengan berjalan diatas batu kerikil tajam yang setiap saat akan siap menghunus telapak kaki ini. Jika tak lengkapi diri dengan kesiapan dan ketahanan yang luar biasa, tentu takkan jauh jalan yang bisa ditapaki. Hidup pasti akan selalu beriringan dengan kesulitan, tetapi tak pernah Allah menciptakan kesulitan tanpa diciptakannya pula pintu keluarnya. Bukan maksud Allah membuat sulit hidup manusia, karena Allah juga memberikan petunjuk-petunjuknya. Tapi sekali lagi, mengikuti petunjuk itu pun bukan tanpa cobaan. Hanya dengan keteguhan dan perjuangan, semua akan bermuara pada kebahagiaan. Masalahnya, sedikit sekali dari kita yang kuat bertahan pada cobaan. Adakah butir-butir debu yang menangis karena melihat kesungguhan perjuangan hidup kita? Ah, nampaknya justru kita lah yang terlalu cengeng. Tidak jarang, untuk meniti jalan kebenaran, teramat banyak pengorbanan yang mesti dilakukan. Tetapi dasar manusia, lebih banyak promosi dan koarnya ketimbang pengorbanannya yang belum seberapa, padahal kita sama sekali belum diuji. Belum, bahkan belum tiba ujian sesungguhnya. Yang saat ini kita hadapi dan jalani baru riak-riak di pinggir pantai sebelum kita benar-benar mengarugi lautan yang penuh ombak serta karang yang menghancurkan. Coba periksa, di bagian mana dari tubuh ini yang tercabik-

cabik penuh darah sebagai bukti besarnya pengorbanan dalam meniti kebenaran? Hmm.. bahkan kita masih enggan untuk menukar sedikit saja yang kita miliki dengan keagungan cinta-Nya. Ini belum terbukti! Hingga satu saat kita dihadapkan pada satu pilihan, mati dengan torehan tinta emas kemuliaan atau tetap hidup diatas perisai hina. Nanti akan terbukti! Hidup ini akan berakhir pada ketetapan atas kebenaran, atau sebaliknya, disaat kehormatan pun berpaling. Adakah neraka Allah tak menerima manusia tampan, cantik, kaya raya namun berakhir pada kenistaan? Wallahu ‘a’lam bishshowaab. (Bayu Gaw) Dari Langit Mengenal Allah Publikasi: 27/06/2003 17:07 WIB "Demi langit yang mempunyai jalan-jalan" (QS. Adz-Dzariat:7) eramuslim - Seorang sahabat baru saja mengirimi saya e-card, bergambar gugusan galaksi dengan pesan singkat sarat makna: "Semoga semakin menambah keyakinan kita tentang keberadaan Allah". Ingatan saya langsung terbang ke sebuah masa. Dulu saya pernah bimbang tentang hal ini, parah-parahnya saat SMU kelas 3. Teman karib juga, bahkan dia pernah tidak shalat beberapa waktu. Saya sering berfikir kalau Allah ada, seperti apa wujudnya. Suatu malam kepala saya pening memikirkannya. Akhirnya saya datangi seorang ulama, tetangga dekat, tanggapannya pertama kali "dasar anak nakal". Tahu saya tidak main-main, akhirnya seperti seorang ayah dengan lemah lembut beliau membimbing. Kami berbincang sangat lama, meski sebetulnya dari pertemuan itu, saya masih tidak puas. Setan memang pintar. Hingga pada saat hari pertama UMPTN tiba. Sudah jauh-jauh hari saya bersiap, insya Allah saya sudah merasa maksimal belajar. Bagi saya UMPTN adalah hal yang besar. Ketika pengawas membagikan lembar soal, saya duduk tenang dan berkonsentrasi. Sekitar sepuluh menit setelah ujian dimulai, tiba-tiba saja saya mengalami kram perut, tangan sampai gemetar, pandangan berkunang-kunang, keringat dingin keluar, saya tidak mampu berfikir. Kalau di rumah, mungkin saya sudah menangis. Seorang pengawas menghampiri, "jangan tegang dik, berdo'a kepada Allah, semoga dimudahkan," katanya, seulas senyum dihadiahkannya kepada saya. Saat itulah saya merasa, saya harus berdoa. "Nak, ketika suatu saat manusia mengalami keadaan yang sangat sulit, ketika manusia lain tidak ada yang mampu menolong, kepada siapa kamu akan memohon pertolongan, paling tidak berdo'a," kalimat ulama kembali terngiang. Hati saya teriris, "Ya Allah......". Dalam kertas ujian saya tulis tebal-tebal "Allah, maafkan saya". Ruangan hening, perut masih terasa kram. Saya terus beristighfar, lambat laun sakitnya reda. Saya sudah kehilangan waktu hampir 15 menit. Ketika, saya sudah mampu membaca, dalam hati saya mengucap "Hamba menyebut nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang". Alhamdulillah, saya masih bisa berusaha. Ketika pengawas itu mengambil jawaban, saya berkata kepadanya "Terima kasih sudah mengingatkan saya". mbaknya hanya tersenyum dan berlalu.

Kini saya mengingat-ingat bimbingan ulama tadi. Dengan serius beliau menyebutkan, untuk membentuk pemuda yang shaleh, hal pertama yang harus ditanamkan kepadanya adalah tentang "Eksistensi Allah". Setelah percaya, maka seseorang akan tertarik untuk mengenal dan ketika sudah mengenal, cinta tumbuh, berputik dan berbunga dengan sendirinya. Seperti kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Aqidah adalah hal pertama yang harus terhujam. "Bagaimana bisa mengenal Allah?" tanya saya. Selanjutnya, beliau yang sudah hafal Alqur'an sejak usia 11 tahun ini, terdiam. Kedua mata yang sudah tidak berfungsi itu menerawang. "Apa yang kau sukai dari semesta raya?," beliau bertanya. Saya berfikir, banyak sekali yang saya kagumi. Gunung Cikuray, Gunung Putri, Gunung Ciremai dan bebukitan yang selalu menemani saya merenung saya suka. Sawah yang menghampar di belakang rumah, tempat saya berjalan mencari angin segar setiap sore, saya juga suka. Apalagi saat menyaksikan Curug Citiis yang airnya jatuh bertenaga. Tapi akhirnya saya memutuskan Langit. "Baiklah, dengarkan!" pintanya. Saya memasang telinga, sambil menatap gunung Ciremai yang begitu megah, saya menyimak. "Salah satu jalan untuk mempercayai bahwa Allah itu ada, lihatlah semesta, itu firman Allah dalam Al-qur'an. Tapi jangan hanya melihat, gunakan akal dan pikiran selanjutnya tafakuri. Hanya melihat saja semua orang juga bisa. Beruntunglah orang-orang yang menggunakan akal. Tidakkah keberuntungan bagi orang-orang yang menggunakan akalnya? Seperti Allah berfirman, ".... Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal". (2:269). "Siapa yang mencipta, semua? Baca Al-qur'an! sumber yang tak dapat diragukan lagi kebenarannya. Subhanallah, Allah menciptakan bumi lengkap dengan perkakasnya, semesta indah beserta manusia. Mengurusi semua mahluk tanpa sejeda pun lelah dan mengantuk. Subhanallah yang Maha Perkasa sekaligus Maha Lembut, demikian megah dunia dan alam raya. Adakah patut kita memandang biasa semua itu. Beruntunglah kamu diberi alat pembeda dengan binatang dan tumbuhan serta semua mahluk belahan dunia manapun. Akal. Dengannya kamu akan terampil memikirkan dan mentafakuri semua." "Arahkan pandanganmu ke atas, adalah yang bernama langit terbentang kokoh diatas sana. Bersyukur kamu masih bisa melihat. Biasakah kamu memandangnya. Ya tentu saja, bukankah kamu suka. Selanjutnya, siapakah yang menciptakan dan memberikan nama langit tanpa retak sedikitpun kepada pemayung bumi?. Tentu saja Allah, "Dan Langit itu Kami bangun dengan kekuasaan Allah..." (51:47). Jika kita sudah terampil menggunakan akal, apa hikmah dibalik penciptaan langit? Banyak persepsi tentu saja." "Pernahkah kamu berfikir, bahwa Allah menciptakan warna langit sesuai dengan kekuatan mata kita. Birunya langit terbukti dapat menghilangkan pepat yang menggayuti hati, coba bayangkan jika langit itu merah menyala. Rasakanlah bahwa dengan memandang langit yang biru menawan memberikan kenikmatan dan kesegaran tersendiri. Lepaskanlah pandangan kita saat kita bosan dan sedih, lihat betapa Allah

membentangkannya untuk manusia. Adakah batas yang dapat kita tangkap. Adakah penyangga?" "Jika malam telah tiba, ada apakah dilangit sana? Tegaklah berdiri dan saksikanlah layar biru dengan gemerlap bintang. Apakah itu biasa saja. Sungguh jika hati kita merasa berat, langit seperti demikian adalah obat penawar segala kegundahan. Jika kita benar-benar mentafakurinya, langit bisa menghantarkan kita untuk mengenali penciptanya. Allah. "Demi langit yang mempunyai jalan-jalan." (51:7). Para ahli tafsir menyebutkan bahwa jalan (Al-Hubuk) ialah jalan yang bisa membawa kita kepada kesadaran betapa Allah Maha Sempurna dalam berkreasi tanpa cacat. Langit sebagai petunjuk yang jelas yang menunjukkan adanya sang pencipta. Langit salah satu bukti luasnya ilmu Allah." "Al-Ghazali menyebutkan manfaat yang didapat dari langit antara lain: Mengurangi kegundahan dan bimbang yang menggelayut, Mengingatkan kepada Allah, Melapangkan hati dalam membesarkan Allah, Menghibur hati yang keras, Menyenangkan hati orangorang yang cinta kepada Allah, Memberi manfaat kepada orang yang terkena flek hitam pada hatinya, sebagai kiblat do'a orang-orang yang sedang berdo'a. Lihat, betapa langit sangat berguna bagi manusia. Maha Suci Allah yang tidak pernah menciptakan segala sesuatunya dengan sia-sia. Padahal Itu baru langit, belum perkakas alam semesta lainnya." "Jika sudah yakin bahwa Allah itu ada. Ingatlah bahwa Allah selalu menatapmu, mengawasimu dari setiap waktunya. Pada saat kita terlelap, berada di sekolah, diam di rumah. Tak pernah ada yang luput dari pengawasannya. Dan kamu tidak bisa memikirkan dzatnya seperti apa, karena akal yang dianugerahkan Allah terbatas, akalmu tidak akan pernah sampai." "Sekarang, pikirkan saja Maha pengasihnya, nikmat tak berhingganya. Bagaimana membalasnya?" Saat itu saya mengangguk, tentu saja saya tahu. "Jika hatimu gundah, sebutlah nama-Nya, hadirkan hatimu ketika berdo'a. Sesungguhnya Allah sangat dekat, lebih dekat dari nadi lehermu sendiri". Saya terpekur, lama, sesak rasanya. "Jika masih belum berhasil, tak usah malu menemui Saya, kita bahas lagi". Sampai sekarang, saya belum pernah menemuinya untuk masalah tadi, kecuali menjenguknya karena kesehatan yang dimilikinya tidak lagi sempurna. mahabbah12@yahoo.com Jejak Indah Sang Pemimpin Publikasi: 25/06/2003 09:45 WIB eramuslim - Malam telah pekat, selimut-selimut semakin dirapatkan para pemiliknya untuk menambah lelap. Angin sahara menderu akrab ditelinga, dingin menusuk, kesunyian hadir sejak tadi. Dia mengendap-endap keluar dari petak rumah sederhana, menyusuri setiap lorong perkampungan Madinah. Jubah kumal bertambalan itu menemaninya pergi. Ditajamkannya pendengaran, adakah rakyatnya menyelami derita

yang luput dari perhatian. Diawaskannya mata, terdapatkah rakyat alami duka akibat kepemimpinannya. Jika dia berlalu dan mendengar dengkuran halus pemilik rumah, senyuman menemaninya berpatroli. Sendirian, dia memamah malam, langkahnya berjinjit khawatir mengganggu istirahat rakyat yang begitu dicintai. Dari setiap detik yang mengalir, selalu kecemasan yang membayang di wajah pemberaninya, jangan-jangan di rumah ini ada janda dengan anakanak yang kelaparan, atau khawatir di rumah selanjutnya orang tua terkapar kesakitan tanpa sanak saudara, adakah di rumah itu yang sakit hati karena pajak terlalu tinggi. Sendirian dia menikmati paruh malam, menyulam harapan keadaan rakyat sentosa senantiasa, merajut do'a agar rakyat dibawah naungan perlindungannya dilingkupi pilinan kedamaian. Langkahnya terhenti, ketika beberapa wanita terdengar bersenandung, dari bilik sebuah rumah: Adakah jalan untuk minuman memabukkan, Dan aku akan meminumnya Atau adakah jalan, Kepada Nashr bin Hajjaj? Saat itu, dia berdiam lama, menghafal sebuah nama asing dalam hatinya, Nashr bin Hajjaj. Selanjutnya patrolinya dilanjutkan, hingga waktu fajar sebentar lagi menjemput. Pagi harinya, dia mencari tahu nama yang didapatinya tadi malam. Salah seorang pembantunya menghadapkan seorang laki-laki dari suku Sulaym, Nashr bin Hajjaj. Berdiri tegap sang pemuda. Dia memandangnya lekat. Pemuda yang menakjubkan, ketampanannya mempesona, rambutnya indah. Dia mengingat syair wanita semalam. Akhirnya sang pemuda diperintahkan untuk memotong rambut, ketika kembali, Nashr tampak lebih tampan, dia pun menyuruhnya mengenakan ikat kepala, kali ini pun Nashr terlihat lebih mempesona. Khawatir menimbulkan banyak fitnah dan kemudharatan di tempat berdiamnya selama ini, Dia pun mengamanahkan Nashr tugas mulia, menjadi anggota pasukan tentara dengan jaminan kehidupan yang lebih baik. Wajah Sang pemuda pun berbunga. Siapakah dia, yang sangat khawatir terjadi kerusakan akhlak para wanita hingga memikirkan solusi terbaik dengan memindahkan Nashr? Tebak, siapa pemimpin yang begitu tulus mencintai rakyatnya dengan berjalan dari satu lorong ke lorong yang lain untuk mencari tahu adakah rakyatnya yang tidak dapat tidur nyenyak? Ya, saya sepakat denganmu sahabat, Dia adalah Umar Bin Khattab, khalifah kedua bergelar amirul mu'minin, pemimpin bagi orang-orang mu'min. Begitu Mahsyur. Suatu periode dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam seperti abu.

Putus asa mendera dimana-mana. Saat itu, Umar sang pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya seksama. Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari diinstruksikan menyembelih onta-onta potong dan disebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondongbondong ribuan rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, "Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran ditangan ini". Sejarah menorehkan kisah Umar yang mengharamkan daging, samin dan susu untuk perutnya, khawatir makanan untuk rakyatnya berkurang. Ia, si pemberani itu hanya menyantap minyak zaitun dengan sedikit roti. Akibatnya, perutnya terasa panas dan kepada pembantunya ia berkata "Kurangilah panas minyak itu dengan api". Minyak pun dimasak, namun perutnya kian bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah demikian, ditabuh perutnya dengan jemari seraya berkata, "Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, hingga rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar". Tahun abu pun berlalu. Daerah kekuasaan Islam bertambah luas, pendapatan negara semakin besar. Masyarakat semakin makmur. Apakah umar berhenti berpatroli? Masih dengan jubah kumal, umar didampingi pembantunya berkeliling merambahi rumahrumah berpelita. Kehidupan keluarga umar, masih saja pas-pasan. Padahal para gubernur di beberapa daerah hidup dalam kemewahan. Para sahabat, mulai berkasak-kusuk, mereka mengusulkan untuk memberi tunjangan dan kenaikan gaji yang besar untuk Umar. Namun, para sahabat tidak berani menyampaikan usul ini langsung kepada umar. Lewat Hafsah putri Umar, yang juga janda Rasulullah, usul ini disampaikan. Sebelumnya mereka berpesan supaya tidak disebut nama-nama mereka yang mengusulkan. "Siapa mereka yang mempunyai pikiran beracun itu, akan ku datangi mereka satu persatu dan menamparnya dengan tanganku ini," berangnya kepada Hafsah. Selanjutnya tatapannya meredup, dipandanginya putri kesayangan itu, "Anakku, makanan apa yang menjadi santapan suamimu, Rasulullah?" Hafsah terdiam, pandangannya terpekur di lantai tanah. Ingatan hidup indah bersama sang purnama Madinah, tergambar. Terbata Hafsah menjawab, "Roti tawar yang keras, ayah. Roti yang harus terlebih dahulu dicelup ke dalam air, agar mudah ditelan". "Hafsah, pakaian apa yang paling mewah dari suamimu," seraknya masih dengan nada kecewa. Hafsah semakin menunduk, pelupuk mata sudah tergenang. Terbayanglah tegap manusia sempurna, yang selalu berlaku baik kepada para istrinya. "Selembar jubah kemerahan, ayah, karena warnanya memudar. Itulah yang dibangga-banggakan untuk menerima tamu kehormatan". Pada saat menjawab, kerongkongan Hafsah tersekat, menahan kesedihan. "Apakah, Rasulullah membaringkan tubuh diatas tilam yang empuk?" pertanyaan ini langsung dipotong Hafsah "Tidakk!" pekiknya. "Beliau berbantal pelepah keras kurma, beralaskan selimut tua. Jika musim panas datang, selimut itu dilipatnya menjadi empat, supaya lebih nyaman ditiduri. Lalu kala musim dingin menjelang, dilipatnya menjadi dua,

satu untuk alas dan bagian lainnya untuk penutup. Sebagian tubuh beliau selalu berada diatas tanah". Saat itu meledaklah tangis Hafsah. Mendengar jawaban itu, Umar pun berkata, "Anakku! Aku, Abu Bakar dan Rasulullah adalah tiga musafir yang menuju cita-cita yang sama. Mengapakah jalan yang harus kutempuh berbeda? Musafir pertama dan kedua telah tiba dengan jalan yang seperti ini." Selanjutnya Umar pun menambahkan "Rasulullah pernah berkata: Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang berpergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak dibawah pohon, kemudian berangkat meninggalkannya". Pada saat kematian menjelang lewat tikaman pisau Abu Lu'Lu'a, budak Mughira bin Syu'bah, ringan ia bertutur, "Alhamdulillah, bahwa aku tidak dibunuh oleh seorang muslim". Mata yang jarang terlelap karena mengutamakan rakyatnya itu menutup untuk selama-lamanya. Umar pun syahid, dalam usia 60 tahun. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raajiiun. Madinah berduka, sebuah syair menghantarkan kepergiannya: Allah membalas kebaikan kepada Imam Memberi berkah ke kulit bumi yang terkoyak Kau raih kemilau sejarah gemilang Kau tinggalkan retak-retak belum selesai Siapa terbang di sayap burung unta Akan terkejar apa yang sudah berlalu sebelumnya? Setelah pembunuhan di Madinah Dunia pun gelap Pohon-pohon tersentak bergetar, Dan tidak kuharapkan Kematiannya dikuku singa Bermata biru, kepala merunduk (Muzarrad bin Dzirar) Pemilu, tinggal menunggu hitungan bulan, sungguh saya merindukan sosok pemimpin yang meneladani Umar dalam mengayomi rakyatnya. mahabbah12@yahoo.com Mata Sehat dan Afiat Publikasi: 11/06/2003 08:13 WIB eramuslim - Seorang pakar dalam sebuah seminar, menyebutkan bahwa mata adalah jendela jiwa kepada dunia. Mata menghantarkan pemiliknya untuk menikmati sekian juta pemandangan semesta raya. Matalah yang menyantap kuning mentari yang begitu syahdu mengelupasi membran kepekatan sisa malam. Jutaan manik-manik bintang sungguh sempurna di layar biru raksasa, mengenyangkan mata pada malam hari. Dengan mata,

seorang suami mampu memilihkan warna baju baru untuk menggembirakan istri tercinta. Untuk menerka apakah hari akan hujan, seseorang mengarahkan mata ke atas, warna langit kelabu atau biru cemerlang. Memiliki mata sehat memang menyenangkan. Mata yang berfungsi secara sempurna, melihat dengan baik dan juga bisa melotot. Seorang teman dekat sempat iri karena saya tidak berkaca mata, meskipun selalu berada di depan layar komputer. Dia harus mengganti kaca mata ketika minusnya bertambah, belum lagi anjuran mamanya agar dia selalu menuntaskan dahaganya dengan juice wortel tak peduli harus pencet hidung plus ekspresi menyedihkan ketika meminumnya. Obat suplemen untuk kesehatan mata pun tak lupa dikonsumsinya. Demi sepasang mata yang sehat. Tetapi, apakah mata sehat saja sudah cukup? Dalam sebuah buku tafsir, ternyata sehat saja masih jauh dari cukup. Selain sehat, mata juga harus afiat. Betapa sering kita mendengar kata yang satu ini bukan? Ya kata yang kita sertakan setelah sehat ketika seseorang menanyakan kabar kita. Dalam kamus bahasa Arab, kata afiat diartikan sebagai perlindungan Allah untuk hambaNya dari segala macam bencana dan tipu daya. Afiat juga dapat diartikan sebagai berfungsinya anggota tubuh manusia sesuai dengan tujuan penciptaannya. Jadi mata yang sehat adalah ketika mata dengan baik dapat melihat maupun membaca. Sedangkan mata yang afiat adalah mata yang dapat melihat dan membaca segala sesuatu yang bermanfaat serta mengalihkan pandangan dari segala sesuatu yang terlarang, karena itulah fungsi yang diharapkan dari penciptaan mata. Pernah suatu waktu, saya berada dalam ruangan mungil bersekat triplek putih, di sebuah warung internet. Sedang asik-asiknya browsing, tiba-tiba saja suara-suara aneh terdengar persis dari bilik sebelah, laki-laki dan perempuan. Tadinya saya tidak ambil pusing, tapi lama kelamaan suara-suara itu jadi tambah menyeramkan, belum lagi "jedak-jeduk" ke dinding triplek tempat saya bersandar. Apakah gerangan yang mereka lakukan? Saya tidak mau memikirkannya lebih jauh. Tapi saya jadi bersu'udzan bahwa mereka sedang mengakses situs yang membuat dengkul keropos. Daripada tidak nyaman terusterusan, akhirnya saya gedor juga dinding penyekat cukup keras, ah tawakkal saja kalo mereka terusik dan mendatangi saya. Tetapi setelah menunggu agak lama, kekhawatiran itu tidak terjadi. Ffuihh ... Legaaa .... Saya yakin mata mereka sehat, saya melihat keduanya tidak buta dan tidak berkacamata, namun sayang mata mereka tidak afiat. Dilain kesempatan, "Mbak pinjam, speaker komputernya dong" pinta adik manis penghuni kamar bawah suatu waktu. Speaker sudah digenggamnya, sumringah dia menuruni tangga. "Mbak nggak curiga buat apa?" tanya seseorang dibawah. Saya menajamkan pendengaran. Suara pintu kamar ditutup, terdengar. Kos-an sepi. Tak lama waktu pun berselang.

"Terima kasih ya mbak," adik itu lagi. Kali ini wajahnya aneh, sedikit shock sepertinya. "Lho udah dek? kalo boleh tau, buat apa sih?" tanya saya hati-hati. "Ng... nng... nonton mbak, tapi speakernya nggak jadi dipake," terbata dia menjawab. "Film bisu dong, emang enak nontonnya?" Dia tersenyum kecut, dan merebahkan diri di tempat tidur. Nafas beratnya keluar paksa satu persatu. Saya yang lagi membaca, menoleh. "Mbak, saya sudah berdosa" lirihnya, matanya dipejamkan kuat-kuat. "Mbak jangan bilang yang lain yah, please, sumpah yah mbak" tambahnya memelas. Dia diam lagi. "Barusan kami nonton VCD Itenas, saya nggak tau sebelumnya, mbak-mbak itu cuma bilang mau nonton, gitu aja, kalo saya tau saya bisa cari alasan komputernya rusak," paparnya. Sebentar kemudian air matanya keluar. Saya beristighfar keras-keras. Kesempatan selanjutnya saya menatap pemilik mata-mata itu. Sehat, tapi sekali lagi sayang tidak afiat. Khusus untuk anda-anda yang mempunyai banyak kesempatan mengakses internet, tentunya harus hati-hati agar mata tidak saja selalu sehat tapi juga afiat. Terlalu banyak halaman-halaman "menyeramkan" yang dengan gampang bisa dikunjungi. Apalagi situssitus super laknat bertebaran dimana-mana. Tinggal mengetikkan sebuah alamat kita dengan kilat pergi kesana, tak peduli rentang jarak. Bahkan ketika seseorang tidak faham alamatnya, sebuah fasilitas search engine menjadikan 'misi' tadi menjadi begitu mudah. Pernah dalam sweeping jaringan komputer sebuah perusahaan yang terhubung ke fasilitas internet, banyak bapak-bapak yang keberatan komputernya dibersihkan tetapi akhirnya menyerah juga dengan tersenyum malu-malu, gambar-gambar porno yang disimpannya, itulah alasannya. Membuat mata sehat relatif lebih mudah dibanding menjadikan mata yang afiat. Padahal ketika mata tidak afiat dalam arti ketika mata tidak difungsikan sesuai dengan harapan pencipta-Nya maka bisa-bisa menjadikan pemiliknya hina dan merugi, sesuai firman Allah tentang sifat para penghuni neraka "Dan sesungguhnya Kami jadikan isi neraka Jahannam kebanyakan dari Jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (Ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda (kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orangorang yang lalai". (Al-A'raf :179). Saudaraku, setan bin iblis beserta kaki tangannya, tak pernah lelah berdiri disamping kita bahkan mengalir di setiap pori-pori. Ketika mata kita seringkali tak terarah, cepatlah beristighfar, memohon ampunan kepada Allah. Jangan menganggapnya remeh, karena dari mata lah semuanya bisa bermula. Anas ra berkata, "Kalian melakukan dosa mata seolah-olah dosa itu sehalus helai rambut. Sedangkan kami dimasa Rasulullah telah menganggapnya sebagai dosa besar, sedang dosa besar itu sungguh membinasakan". Apakah setiap kita ingin binasa? Ibnu Qayyim menuliskan, "Dosa membuat berhentinya ilmu. Hati menjadi terhimpit, kehidupan sulit, badan menjadi lemah dan ketaatan kepada Allah pun menurun. Bahkan barokahnya tercabut, sebaliknya keburukan bermunculan,

dosa-dosa yang lainpun menjelang lalu menjadi manusia yang tak peduli pada masyarakat dan lingkungan. Binatang-binatang mengutuknya, kehinaan menjadi bajunya, hatinya keras dan doanya tertolak. Kedurhakaannya meliputi bumi dan lautan. Hilang segala rasa, musnah semua kenikmatan. Jiwanya diliputi ketakutan, syaitan-syaitan mudah menjerat, dan akhirnya semua miliknya binasa". Saudaraku, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, sebaik-baik manusia adalah bukan yang tidak pernah salah, tetapi ketika dia salah dan menyadarinya, segera dia bertaubat dengan taubat sebenar-benarnya. Meskipun susah sungguh. Tak terhitung manusia menjauh dari agama Allah, maksiat terhidangkan dimana-mana, tayangan televisi, majalah dan tabloid porno, bahkan internet lebih canggih lagi. Walau begitu, Allah maha Kasih dan Sayang, Dia tidak akan menghentikan kemilau hidayah kepada umatnya. Jemputlah hidayah itu, dengan membekali diri oleh pemahaman agama dan ilmu. Sungguh, rengkuhlah hidayah dengan menghadiri banyak majelis dzikir, menafkahi keluarga dengan cara yang halal, mencari teman yang berakhlak baik, menyantuni anak yatim, berbakti kepada orangtua. Boleh jadi sekian waktu kita terjerembab di lembah kehinaan, berkubang dosa dan kemaksiatan. Boleh jadi kitalah si pemilik mata-mata yang tidak afiat itu. Tetapi, tidak usah berlama-lama untuk segera bertaubat. Saudaraku, ketika niat untuk memperbaiki sudah bulat, seringkali hati terasa gamang, gundah... adakah harapan bisa membersihkan diri sementara dosa terasa membumbung? Kita ingin taubat, tetapi terasa tak mungkin. Jangan takut saudaraku, Allah berfirman dalam hadist qudsi, "Wahai anak Adam jika kamu meninta kepada-Ku dan mengharap ampunan, niscaya Aku ampuni semua dosadosamu dan Aku tidak peduli lagi. Wahai anak Adam, jika dosa-dosamu mencapai ujung langit yang paling tinggi kemudian kamu meminta ampun kepada Ku, niscaya Aku ampuni dan Aku tidak peduli lagi. Wahai anak Adam jika kamu datang kepada Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi kemudian menemuiku dengan tidak mensekutukan Aku dengan sesuatu pun, nicaya Aku akan menemuimu dengan ampunan sepenuh bumi pula". (HR Tirmidzi). Betapa Allah maha penerima taubat. Sungguh berbahagia mempunyai mata sehat wal afiat. Saya sampaikan dengan tulus, 'selamat kepada anda yang memiliki keduanya'. "Allahumma Afinii fi bashorii...". mahabbah12@yahoo.com 7 Ciri 'Sok Tahu' Publikasi: 10/06/2003 14:20 WIB eramuslim - 'Sok tahu' pada dasarnya adalah "merasa sudah cukup berpengetahuan" padahal sebenarnya kurang tahu. Masalahnya, orang yang sok tahu biasanya tidak menyadarinya. Lantas, bagaimana kita tahu bahwa kita 'sok tahu'? Mari kita mengambil

hikmah dari Al-Qur'an. Ada beberapa ciri 'sok tahu' yang bisa kita dapatkan bila kita menggunakan perspektif surat al-'Alaq. 1. Enggan Membaca Ketika disuruh malaikat Jibril, "Bacalah!", Rasulullah Saw. menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Lalu malaikat Jibril menyampaikan lima ayat pertama yang memotivasi beliau untuk optimis. Adapun orang yang 'sok tahu' pesimis akan kemampuannya. Sebelum berusaha semaksimal mungkin, ia lebih dulu berdalih, "Ngapain baca-baca teori. Mahamin aja sulitnya minta ampun. Yang penting prakteknya 'kan?" Padahal, Allah pencipta kita itu Maha Pemurah. Ia mengajarkan kepada kita apa saja yang tidak kita ketahui. Disisi lain, ada pula orang Islam yang terlalu optimis dengan pengetahuannya, sehingga enggan memperdalam. Katanya, misalnya, "Ngapain baca-baca Qur'an lagi. Toh udah khatam 7 kali. Mending buat kegiatan lain aja." Padahal, Al-Qur'an adalah sumber dari segala sumber ilmu, sumber 'cahaya' yang tiada habis-habisnya menerangi kehidupan dunia. Katanya, misalnya lagi, "Ngapain belajar ilmu agama lagi, toh sejak SD hingga tamat kuliah udah diajarin terus." Padahal, 'ilmu agama' adalah ilmu kehidupan duniaakhirat. 2. Enggan Menulis Orang yang sok tahu terlalu mengandalkan kemampuannya dalam mengingat-ingat dan menghafal pengetahuan atau ilmu yang diperolehnya. Ia enggan mencatat. "Ngerepotin," katanya. Seolah-olah, otaknya adalah almari baja yang isinya takkan hilang. Padahal, sifat lupa merupakan bagian dari ciri manusia. Orang yang sok tahu enggan mencatat setiap membaca, menyimak khutbah, kuliah, ceramah, dan sebagainya. Padahal, Allah telah mengajarkan penggunaan pena kepada manusia. Di sisi lain, ada pula orang yang kurang mampu menghafal dan mengingat-ingat pengetahuan yang diperolehnya, tapi ia merasa terlalu bodoh untuk mampu menulis. "Susah," katanya. Padahal, merasa terlalu bodoh itu jangan-jangan pertanda kemalasan. Emang sih, kalo nulis buat orang lain, kita perlu ketrampilan tersendiri. Tapi, bila nulis buat diri sendiri, bukankah kita gak bakal kesulitan nulis 'sesuka hati'? Apa susahnya nulis di buku harian, misalnya, "Tentang ciri sok tahu, lihat al-'Alaq!"? 3. Membanggakan Keluasan Pengetahuan Orang yang sok tahu membanggakan kepintarannya dengan memamerkan betapa ia banyak membaca, banyak menulis, banyak mendengar, banyak berceramah, dan sebagainya tanpa menyadari bahwa pengetahuan yang ia peroleh itu semuanya berasal dari Allah. Ia mengira, prestasi yang berupa luasnya pengetahuannya ia peroleh berkat kerja kerasnya saja. Padahal, terwujudnya pengetahuan itu pun semuanya atas kehendakAllah. Mungkin ia suka meminjam atau membeli buku sebanyak-banyaknya, tetapi membacanya hanya sepintas lalu atau malah hanya memajangnya. Ia merasa punya cukup banyak wawasan tentang banyak hal. Ia tidak merasa terdorong untuk menjadi ahli di

bidang tertentu. Kalau ia menjadi muballigh 'tukang fatwa', semua pertanyaan ia jawab sendiri langsung walau di luar keahliannya. Ia mungkin bisa menulis atau berbicara sebanyak-banyaknya di banyak bidang, tetapi kurang memperhitungkan kualitasnya. 4. Merendahkan Orang Lain Yang Tidak Sepaham Bagi orang Islam yang sok tahu, siapa saja yang bertentangan dengan pendapatnya, segera saja ia menuduh mereka telah melakukan bid'ah, sesat, meremehkan agama, dan sebagainya. Bahkan, misalnya, sampai-sampai ia melarang orang-orang lain melakukan amal yang caranya lain walau mereka punya dalil tersendiri. Ia menjadikan dirinya sebagai "Yang Maha Tahu", terlalu yakin bahwa pasti pandangan dirinyalah satu-satunya yang benar, sedangkan pandangan yang lain pasti salah. Padahal, Allah Swt berfirman: "Janganlah kamu menganggap diri kamu suci; Dia lebih tahu siapa yang memelihara diri dari kejahatan." (an-Najm [53]: 32) Muslim yang sok tahu cenderung menganggap kesalahan kecil sebagai dosa besar dan menjadikan dosa itu identik dengan kesesatan dan kekafiran! Lalu atas dasar itu dengan gampangnya ia mengeluarkan 'vonis hukuman mati'. Padahal, dalam sebuah hadits shahih dari Usamah bin Zaid dikabarkan, "Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallaah, maka ia telah Islam dan terpelihara jiwa dan hartanya. Andaikan ia mengucapkannya lantaran takut atau hendak berlindung dari tajamnya pedang, maka hak perhitungannya ada pada Allah. Sedang bagi kita cukuplah dengan yang lahiriah." 5. Menutup Telinga dan Membuang Muka Bila Mendengar Pendapat Lain Orang yang sok tahu tidak memberi peluang untuk berdiskusi dengan orang lain. Kalau toh ia memasuki forum diskusi di suatu situs, misalnya, ia melakukannya bukan untuk mempertimbangkan pendapat yang berbeda dengan pandangan yang selama ini ia anut, melainkan untuk mengumandangkan pendapatnya sendiri. Ia hanya melihat selayang pandang gagasan orang-orang lain, lalu menyerang mereka bila berlainan dengannya. Ia tidak mau tahu bagaimana mereka berhujjah (berargumentasi). Di samping itu, orang yang sok tahu itu bersikap fanatik pada pendapat golongannya sendiri. Seolah-olah ia berseru, "Adalah hak kami untuk berbicara dan adalah kewajiban kalian untuk mendengarkan. Hak kami menetapkan, kewajiban kalian mengikuti kami. Pendapat kami semuanya benar, pendapat kalian banyak salahnya." Orang yang terlalu fanatik itu tidak mengakui jalan tengah. Ia menyalahgunakan aksioma, "Yang haq adalah haq, yang bathil adalah bathil." 6. Suka Menyatakan Pendapat Tanpa Dasar Yang Kuat Muslim yang sok tahu gemar menyampaikan pendapatnya dengan mengatasnamakan Islam tanpa memeriksa kuat-lemahnya dasar-dasarnya. Ia suka berkata, "Menurut Islam begini.... Islam sudah jelas melarang begitu...." dan sebagainya, padahal yang ia ucapkan sesungguhnya hanyalah, "Menurut saya begini.... Saya melarang keras engkau begitu...." dan seterusnya. Kalau toh ia berkata, "Menurut saya bla bla bla....", ia hanya mengemukakan opini pribadinya belaka tanpa disertai dalil yang kuat, baik dalil naqli maupun aqli.

7. Suka Berdebat Kusir Jika pendapatnya dikritik orang lain, orang yang sok tahu itu berusaha keras mempertahankan pandangannya dan balas menyerang balik pengkritiknya. Ia enggan mencari celah-celah kelemahan di dalam pendapatnya sendiri ataupun sisi-sisi kelebihan lawan diskusinya. Sebaliknya, ia tekun mencari-cari kekurangan lawan debatnya dan menonjol-nonjolkan kekuatan pendapatnya. Dengan kata lain, setiap berdiskusi ia bertujuan memenangkan perdebatan, bukan mencari kebenaran. Demikianlah beberapa ciri orang yang sok tahu menurut surat al-'Alaq dalam pemahamanku. Dengan mengenali ciri-ciri tersebut, semoga kita masing-masing dapat melakukan introspeksi dan memperbaiki diri sehingga kita tidak menjadi orang yang sok tahu. Aamien. Aisha Chuang ac4x3@yahoo.com (Karena) Kesendirian Adalah Himpunan Duka Cita Publikasi: 09/06/2003 16:26 WIB Akan merasa sunyi seorang yang tidak memiliki sahabat, dan sia-sia orang yang menahan diri untuk tidak mencarinya. Lebih sia-sia lagi, orang yang telah mendapatkan sahabat, kemudian ia menyia-nyiakannya. (Hilal bin 'Ula Al-Raqy) eramuslim - Matahari sudah condong ke sebelah barat. Berdua dengan Sari, saya menyusuri jalan menuju stasiun. Pengumuman kereta akan segera datang telah terdengar, kami berdua semakin mempercepat langkah. Alhamdulillah masih bisa dikejar. "Kamu sudah beli karcis belum," tanya Sari. "Nggak sempat, nanti kucing-kucingan saja kalau ada petugas," jawab saya ringan, kaki sudah hampir masuk ke gerbong, tapi Sari malah menarik saya menjauhi kereta. Kereta berangkat. "Kenapa ngga beli karcis dulu," kali ini mukanya agak keruh. "Kan ngga sempat, lihat tuh, mana antri lagi, males," mata saya mengarah ke tempat penjualan karcis. "Ya sudah tunggu disini." Sari bergegas pergi, dan dengan tidak enak hati saya memandangi punggungnya yang menjauh. "Berapa lama, waktu antri untuk membeli karcis," katanya ketika tiba di hadapan saya, tangannya menyodorkan karcis. "Sepuluh menit" singkat saya. "Gara-gara sepuluh menit, kamu bisa jadi antri di neraka". Drrrrr, gemetar juga ditembak telak seperti itu. "Dan saya nggak mau ikut-ikutan antri disana, gara-gara nggak ngingetin kamu," tambah Sari. Saya diam, kena setrum sepertinya. "Sudahlah, lain kali jangan curang!" perintahnya, kali ini dia memandang saya penuh arti. Kalau terkenang dengan peristiwa tadi, saya selalu bergumam "Alhamdulillah... saya mempunyai sahabat".

"Eh ada yang kangen ingin berjumpa dengan mu lho, mendengar rayuan mautmu, melihatmu mengemis memohon cinta. Ayo bangun. Tahajud euyy!!!" itu isi SMS dari seseorang yang baru saya kenal beberapa bulan. Pesan yang terus menerus dikirimnya selama hampir 1 minggu, pada jam 03.00 pagi, tidak kurang. Sebuah SMS yang sebelumnya diawali dengan misscall beberapa kali. Awalnya saya sempat merasa terganggu dan menyembunyikan HP dibawah bantal agar bunyinya tidak terdengar. Ketika saya membalas SMS-nya dengan "Tidak sayang pulsa tuh, mengganggu ketenangan orang", SMS-nya pun datang, "lho katanya kamu sedang punya banyak masalah". Sangat singkat, mengingatkan bahwa 2 hari yang lalu saya curhat kepadanya. Sekarang, kala mengingatinya, juga selalu hati ini berujar "Alhamdulillah, saya memiliki sahabat yang demikian....". Ini kisah yang saya dengar dari seorang muslimah. Suatu ketika, dia dan alumni pengurus Rohis SMA, berkumpul. Salah seorang rekan dari pengurus semasa Rohis (sebut saja A) baru saja meninggal, dan mereka baru tahu keadaan ekonomi keluarganya ketika melayat ke rumah A. Ternyata A ini tulang punggung ekonomi keluarganya, selain yatim, ibunya hanya berjualan ala kadarnya. Ibunya bercerita, salah seorang adiknya hampir mau ujian tapi karena tidak ada biaya, akhirnya gagal merampungkan sekolah. Dibahaslah solusi untuk meringankan beban ibunda A, dengan sebelumnya beberapa rangkaian taushiyah bergulir. Semua yang hadir larut, banyak air mata di sana. Air mata cinta. Diakhir pertemuan, terkumpullah materi yang tidak sedikit, perhiasan, uang, sepeda motor, sepeda, dan sepasang sepatu baru. Kita pasti tahu kisah selanjutnya, si ibu tak henti menangis, dan hampir tersungkur di hadapan mereka. Allahu Akbar. Sungguh kisah tadi seperti pesan yang disampaikan seorang ulama "Persahabatan antara orang-orang mukmin, menyatunya kalbu mereka, dan kecintaan yang terjalin diantara mereka merupakan karunia Allah bahkan juga termasuk taqarrub, dalam ketaatan yang paling agung" Dan Alhamdulillah, Almarhum A ini mempunyai sahabat seperti mereka... Dunia menjadi penuh makna ketika kita mempunyai banyak sahabat. Dunia menjadi berpelangi tatkala banyak sahabat mengelilingi kita. Kahlil Gibran menyebut "Kesendirian adalah himpunan duka cita". Tentu saja, karena manusia dicipta untuk hidup dalam kebersamaan, seperti firman Allah "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu sekalian (terdiri dari jenis) laki-laki dan perempuan, dan Kami menciptakan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat:13). Sekali lagi, banyak hikmah yang dapat kita reguk dari persahabatan. Dan juga perlu diingat, kita harus cerdik pula dalam memilihnya. Dalam era sekarang ini, ketika 'fenominul' begitu menyesakkan hati umat Muslim, menjamurnya narkoba, pesta mudamudi, sepertinya kita butuh filter ampuh untuk memilih sahabat. Dan filter itu bisa begitu

ampuh ketika kita mempunyai sahabat yang mampu mendekatkan diri kita kepada pemilik dari segala filter, Allah. Memilih sahabat bukan berarti membeda-bedakan manusia. Memilah sahabat berarti kita menilainya dari karakter dan sifat yang dimilikinya. Sebuah persahabatan yang nantinya akan terjalin juga tidak seharusnya didasarkan pada parameter-parameter duniawi saja. Sungguh, ketika kita berjumpa dengan seorang yang berakhlak baik, menjaga shalatnya, maka itulah parameternya. Dan itulah yang dilakukan orang-orang shalih terdahulu dalam menimbang siapa saja yang pantas menjadi sahabat baginya. Ayo, pikatlah sahabat sebanyak yang kita mampu. Sahabat yang tidak menjadikan kita, manusia yang disebut-sebut Al-Qur'an, "Pada hari si zhalim menggigit kedua tangannya seraya berkata: Ah, seandainya aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Malang nian, mengapa dulu aku menjadikan si fulan menjadi sahabat akrabku". (Al-Furqan 27-28) Dan jangan lupa, "shalih sendiri" juga tidak bermanfaat, jadi pikatlah sahabat yang ketika dia mengenang kita, dia akan berujar "Alhamdulillah, saya mempunyai sahabat sepertimu..." Akhirnya, saya sampaikan salam keselamatan untukmu yang berkenan membaca tulisan ini. Izinkan saya menyebutmu sebagai "sahabat". Saya ingin menggelarimu "sahabat", panggilan mesra Nabi al-Musthafa pada generasi setia di zamannya, sapaan akrab terdengar begitu merdu. Sebuah kosa kata indah yang saya temukan dalam buku "Berbagi cinta dengan para Sufi" sebagai kiasan bertubi untuk orang yang paling mempunyai makna. Dan sekarang, saya ingin mengadopsinya untuk anda yang sekali lagi berkenan membaca tulisan ini. Sahabat, semoga Anda membendaharakan kata ini juga untuk saya. Dan ketika anda menjadi sahabat, tak akan pernah jengah anda memperingatkan, ketika saya salah melangkah. mahabbah12@yahoo.com Jagalah Makananmu Maka Allah Akan Menjagamu Publikasi: 23/05/2003 09:14 WIB eramuslim. MasyaAllah, Sebanyak ini….? Kuamati kembali daftar dzat halal dan haram yang tertera di dalam majalah tersebut. Aku benar-benar shock karena makanan yang selama ini masuk dalam tubuhku mengandung dzat haram. Ingin rasanya aku keluarkan kembali semua isi perutku tapi hal itu tidaklah mungkin. Penyesalan tidak ada gunanya justru saat inilah seharusnya aku banyak bersyukur kepadaNya. Dia Yang Maha Tahu telah mengingatkan aku betapa pentingnya menjaga setiap tetes dzat yang masuk ke dalam tubuh. Dia Yang Maha Tahu pula yang telah mengajariku bahwa dengan menjaga makanan kita, maka kita telah menjaga keimanan.

Saat ini, di negeri orang yang mayoritas penduduknya non muslim, aku merasakan betapa pentingnya arti makanan. Disaat yang lain makan dengan lahap, sementara kita harus teliti membaca kandungan dzat makanan kita. Disaat yang lain bebas memilih makanan kesukaan kita, sementara kita harus menahan rasa lapar yang mendera. Dan semua tidak semudah seperti yang aku bayangkan sebelumnya karena dzat-dzat itu tidak hanya menyeretku ke jurang kemalasan dan ke lembah kehinaan tetapi menutup semua jalan yang ingin aku lewati. “Ya” Aku jadi malas beibadah kepadaNya, dan Allah tidak memperkenankan aku bermunajat kepadaNya di malam hari karena tanpa aku sadari telah begitu banyaknya dzat haram yang masuk kedalam tubuh ini. Belum lagi urusan-urusan tiba-tiba jadi sulit untuk aku tembus. “Kenapa dzat? Kenapa tidak langsung khamr, daging babi dan yang lainnya?“ Karena yang besar dan terlihat secara fisik biasanya lebih mudah untuk dihindari. Justru yang kecil dan tidak terlihat yang sulit sekali dihindari dan kita mudah terjebak. Pada awalnya, aku hanya mengetahui dzat 472e saja yang haram. Setiap kali membeli sesuatu, aku selalu mengeceknya dan semua berjalan lancar. Ibadah harian yang biasa aku kerjakanpun tidak ada masalah berarti. Sampai akhirnya aku menyadari “ada sesuatu yang tidak beres.” Aku sangat sulit… sekali bangun malam walaupun aku sudah mencoba berbagai macam strategi. Dan akhirnya aku menemukan daftar itu di sebuah majalah Islam. Aku bersihkan semua makanan yang mengandung dzat-dzat tersebut dan mulai saat itu aku memilih tidak makan kalau kandungan dzatnya tidak jelas atau meragukan. Subhanallah kini aku bisa bangun malam kembali, bermunajat kepadaNya, dan melaksanakan ibadah yang lain dengan lebih khusyuk. Allahpun membuka begitu banyak jalan kemudahan untukku dan segala urusan menjadi lancar. Alhamdulillah segala Puji Hanya Untuk Allah Yang Mencintai kebaikan dan hanya menerima sesuatu yang baik. Ada kebiasaan hidup yang hampir sama antara Rasulullah, para sahabat, dan orang–orang sholeh, mereka selalu menjaga makanan mereka. Menggalakan puasa demi penyucian diri dan kedekatan dengan RobbNya. Masih segar dalam ingatan kita kisah seorang pemuda yang menemukan apel di sungai, kemudian ia memakannya. Ditengah menikmati apel itu, ia tersadar bahwa apa yang ia makan bukanlah miliknya. Setelah mencari dan mencari, akhirnya ia dapat menemukan sang pemilik buah apel itu. Akhir cerita, sang pemilik pohon apel, menikahkan pemuda itu dengan salah seorang anaknya. Bukti keimanan terpancar dalam diri pemuda tersebut. Ia sangat menyadari bahwa setiap tetes makanan yang masuk kedalam tubuh pasti akan mempengaruhi kecintaannya pada Allah. Karena setiap output pasti tergantung dengan input maka makanlah makanan yang halal, cek dzat-dzat yang terkandung didalamnya, jangan remehkan yang kecil, karena kita bisa selamat dengannya atau bahkan terpuruk dilembah kehinaan karenanya. Jagalah makananmu, maka Allah akan menjagamu. Wallahu'a’lam bishshowab (nnf@eramuslim.com) Merasa dan Dirasa

Publikasi: 22/05/2003 10:32 WIB eramuslim - Perjalanan menggunakan kereta api jabotabek seringkali menimbulkan kekesalan. Berhimpit dan berdesakan setelah sebelumnya berebut dan saling sikut dengan penumpang lain, sepatu terinjak-injak setelah dipoles mengkilat di rumah, baju yang lecek dan basah oleh keringat. Belum lagi bermacam aroma saling berebut berkelebatan di depan hidung. Namun bukan berarti tak ada yang menyenangkan, setidaknya bagi saya, ada satu hal. Berkenalan dengan Sudarmaji, 51 tahun, pagawai swasta di Jakarta yang kebetulan selalu berbarengan saat berangkat maupun pulang kantor. Pria yang tinggal di Depok ini selalu nampak riang dan nothing to lose saat menghadapi semua keadaan yang mesti dihadapinya. Entah itu macet, berdesakan, wajahnya yang tersikut secara tak sengaja, kaki yang terinjak dan bermacam kejadian yang tidak jarang membuat kesal dan panas hati. 1-0 skor buatnya dan saya merasa kalah karena seringkali tak bisa menahan emosi. Satu hal lagi yang ternyata semakin membuat saya kalah telak dengan skor yang tak lagi terhitung, yakni satu pelajaran penting darinya tentang bagaimana merasai perasaan dan pikiran sendiri. Anda yang seringkali menonton tayangan-tayangan mistik di TV, suatu saat di tengah malam berjalan sendiri, akan merasa ‘ngeri’, was-was, bahkan takut. Paranoia segera menghantui, setiap mendengar suara langkah di belakang, seolah ada sesuatu makhluk yang mengikuti sehingga Anda sering-sering menengok ke belakang. Dan bersamaan dengan itu, langkah Anda semakin cepat dan sesekali berlari. Namun saat itu juga, Anda merasa sesuatu yang Anda kira makhluk dari dunia lain itu juga mempercepat langkahnya. Padahal itu hanyalah suara-suara langkah Anda sendiri yang karena persesuaian suara dan perubahan tempat seringkali suara apapun yang Anda hasilkan bisa sedikit tertinggal di belakang walaupun jaraknya teramat tipis sepersekian detik. Jika ada bunyi daun jatuh atau batu yang tersepak oleh kaki sendiri, lalu Anda merasa makhluk itu akan berbuat jahat. Kita seringkali tertipu oleh perasaan-perasaan dan pikiran kita sendiri. Hanya karena terlalu sering menonton tayangan yang menggambarkan bentuk-bentuk hantu, lalu di benak ini tersimpan tajam bahwa bentuk hantu itu seperti yang kita saksikan di TV. Padahal bisa jadi, semua itu hanya rekaan manusia, walaupun kita meyakini keberadaan makhluk lain yang gaib. Misalnya saja, gambaran hantu orang Indonesia sangat berbeda dengan gambaran hantu yang dibuat oleh orang-orang di negara lain. Di AS kita mengenal Zombie misalnya, yang tidak pernah ada di Indonesia, atau juga Vampire di Rumania, sementara mereka tak pernah mengenal kuntilanak. Pak Dar, pria paruh baya itu, awalnya nampak tak menyenangkan karena ia selalu menegur dan berbicara apa saja kepada siapa saja. Laki-laki, perempuan, tua, muda, ia tak peduli, semua orang yang berada didekatnya akan selalu disapanya. Begitu juga dengan saya, mula-mula ia tersenyum, dan saya membalasnya dengan senyum yang terkesan dipaksakan. Lalu ia menyapa, tanya ini tanya itu, dan lain sebagainya. Tidak berhenti disitu, ia akan melanjutkannya dengan berbicara banyak hal, soal sampah di sepanjang kereta api, gerbong-gerbong yang kotor, penumpang yang tidak beli karcis, termasuk petugas KA yang mencari keuntungan pribadi dari penumpang yang ketahuan

tidak membeli karcis itu, sampai soal politik, anggota dewan yang korup dan pemerintah yang menurutnya tidak becus. Pusing? Ya, kadang-kadang kalau sedang tidak mood untuk ngobrol, pasti sebal mendengarkan ocehannya. Tapi ia tak peduli, ia tak pernah sakit hati jika kemudian, banyak ‘teman ngobrol’nya minggir satu persatu, ia juga tak pernah merasa diacuhkan atau tidak dihormati, apalagi dihargai, jika omongannya tak ada yang menanggapi. Pernah saya tanya, bapak tidak memilih dulu siapa yang harus disapa, atau melihat terlebih dulu orang yang hendak diajak bicara, apakah ia senang atau tidak? Pak Dar malah tersenyum. Karena menurutnya, kebanyakan orang sering terbiasa memperturutkan perasaannya kepada orang lain, misalnya, seseorang tidak ingin menegur orang lain hanya karena khawatir orang tersebut marah jika ditegur. Seorang lelaki malas memberi tempat duduk kepada wanita khawatir disangka punya niat lain dibalik ketulusannya. Dan seterusnya, setiap orang saling curiga terhadap orang lainnya atas dasar pengalaman, penglihatan dari kejadian, dan lintasan peristiwa yang dilaluinya. Banyak orang merasa curiga dengan orang-orang berjanggut dan berpakaian model Timur Tengah hanya karena TV-TV sering menayangkan profil Osama bin Laden atau bahkan Amrozi. Orang yang tampak celingak-celinguk di dalam bis kota, bisa jadi dicurigai sebagai copet, padahal mungkin saja ia orang baru dari desa yang tidak tahu Kota Jakarta sehinga bingung mencari alamat yang dituju, atau mungkin tengah terkagum-kagum melihat banyaknya jembatan tinggi tanpa sungai dibawahnya. Seorang peminta sumbangan yang sesungguhnya dicurigai penipu karena terlalu banyak penipu sesungguhnya berkedok peminta sumbangan dengan kotak-kotak amal dan amplop bertuliskan yayasan dan pesantren tertentu. Ada lagi pengamen-pengamen yang harus menanggung nasib dipalingimuka oleh penumpang karena banyak ‘perampok’ yang mengaku baru keluar penjara dan meminta uang dengan suara-suara yang menyalak kasar. Kembali ke Pak Dar, ia tak pernah ambil pusing dengan semua perasaan dan pikiran orang lain. Ia akan tetap menegur dan menyapa orang lain tanpa peduli orang itu suka atau tidak. Akan tetap memberi sumbangan tanpa merasai ini petugas masjid atau pesantren sungguhan atau hanya orang-orang yang mencari uang dari menyamar sebagai peminta sumbangan. Kalau ada rezeki hendak memberi recehan kepada pengamen, ya diberinya tanpa bertanya dulu mau ngamen atau mau nyanyi sambil maksa. Tidak perlu mencurigai orang karena penampilan dan gerak-geriknya yang aneh. Karena, lagi-lagi Pak Dar membuat saya terpojok, “Apa Anda yakin dengan penampilan Anda seperti ini tidak pernah ada yang mencurigai Anda?” “Anda yakin orang akan merasa aman berada didekat Anda?” Sejak kemarin, saya tidak pernah marah orang lain menginjak sepatu mengkilap saya karena bisa jadi saya juga pernah menginjak kaki orang lain. Saya tak tersinggung dengan omongan kasar orang lain sambil terus mengingat-ingat omongan kasar yang mungkin pernah keluar dari mulut ini. Kalau ada yang menyikut muka saya, cukup dengan senyum saya membalasnya. Dan saya sadar, mungkin aroma saya tak sesedap wewangian yang dijual di etalase toko, jadi saya tak perlu merasa tertindas dengan aroma tak sedap dari

sudut-sudut tertentu tubuh orang lain. Saya terus berpikir, banyak orang yang begitu menyebalkan, jangan-jangan saya juga termasuk yang menyebalkan buat orang lain. Benarkah? Wallaahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama) Berkaca Pada Alam Publikasi: 19/05/2003 10:03 WIB eramuslim - Jika kita perhatikan batu-batu yang bertengger dipinggiran sungai, terkadang kuyup oleh sentuhan genit air-air sungai yang menghampiri walaupun mereka terus berjalan. Namun untuk beberapa lama batu-batu itu mengering oleh sinaran matahari yang menembus dari celah-celah dedaunan. Silih berganti air dan matahari menyapa bebatuan yang tak pernah bergeser dari tempatnya, sebelum perubahan alam atau tangan manusia yang menghendakinya berpindah. Kemudian jika terlihat satu sisi dari batu itu yang terus menerus lembab, yang kemudian lumut hijau nan cantik menghiasi seluruh sisi permukaan itu, artinya sinar matahari tak pernah singgah diatasnya. Batu, air sungai dan sinar matahari itu mengajarkan kepada kita tentang banyak hal. Kepasrahan batu-batu menerima air dan sinar matahari, adalah cermin keikhlasan. Dan keteguhannya untuk tetap ditempatnya, adalah kesabaran. Lumut hijau di sisi batu yang tak tersinari matahari adalah petunjuk arah jalan. Mendakilah lebih tinggi, kita akan menemukan jenis tumbuhan, warna daun dan buah yang berbeda. Jalan semakin terjal dan sempit, hanya akar-akar besar dari pohon tua yang terkadang menjadi perantara menuju undakan berikutnya. Sesaat beristirahatlah dan perhatikan semuanya. Tumbuhan, daun dan buah dengan warna yang lebih mencolok dan lebih khas, mengajarkan kepada kita, bahwa Allah Maha Adil dengan menempatkan setiap makhluknya pada keadaan dan tempat dimana ia bisa beradaptasi dan hidup. Satu hal bagi manusia, teruslah bergerak mencari kehidupan, karena Allah akan senantiasa menuntun kita kepada tempat kehidupan terbaik. Namun jika pada akhirnya kita berhenti disatu tempat yang Allah kehendaki setelah semua usaha yang dilakukan, disitulah kita meletakkan prinsip qonaah dan sabar, serta bersyukur atas ketetapan Allah. Saatnya senja menyambut hari. Sinar merah kekuningan yang menyejukkan masih bisa kita nikmati dari celah-celah ranting dan daun, sesekali ia seperti berkedip dan terus memandangi semua makhluk yang terus bergerak. Seperti mengikuti, matanya terus menatap dan mengawasi sementara sinarnya semakin lama semakin redup digantikan malam. Tinggallah menunggu rembulan. kemudian kita terus bergerak, mencari jalan dengan menggunakan mata bathin, penerangan hanya alat bantu karena sesungguhnya kita lebih mempercayai mata bathin dan kontak yang tak pernah putus dengan mata kaki. Senja hanya sesaat, namun kahadirannya begitu memukau dan terasa manfaatnya. Tidak hanya indah, senja senantiasa menebarkan pesona keanggunan kepada siapapun yang menatapnya. Kepada hidup, kepada makhluk dan kepada Allah, semestinya manusiapun seelok, sebermanfaat dan semenyenangkan senja. Karena mungkin, besok tak lagi tersedia waktu untuk melakukan semua itu. Dan bila malam tiba, kabut pekat menutup jarak pandang kita, sementara angin kebekuan menyelimuti kulit tipis kita yang tak henti bergerak. Sejenak berhenti sesungguhnya

hanya menambah tebal selimut kebekuan itu walaupun waktu yang sejenak itu untuk sekedar menyeruput air hangat dari tungku batu. Tak banyak yang bisa dilakukan, tak banyak pilihan selain terus bergerak keatas agar lebih cepat mendapati fajar. Ingin mata terpejam sekedar menghela nafas dan mengaturnya satu persatu agar tak saling menyusul, tapi kehendak kuat yang menggebu untuk segera tiba di puncak seolah tak bisa kompromi. Rembulan hanya mengintip di kejauhan. Sedangkan kita terus bergerak, mencari jalan dengan menggunakan mata bathin, penerangan hanya alat bantu karena sesungguhnya kita lebih mempercayai mata bathin dan kontak yang tak pernah putus dengan mata kaki. Terkadang sering kita mendapat satu kondisi dimana tak lagi mempunyai pilihan untuk berbuat banyak, namun masih ada satu dalam dada ini yang masih kita percayai karena ianya tak pernah berdusta. Ialah mata hati dan nurani. Berhenti bukan jalan yang tepat apalagi kembali ke belakang, padahal jalan tinggal selangkah. Tanyalah pada hati, niscaya kebenaran yang kita dapat. Dan pada akhirnya, setelah semua perjuangan, lelah, juga peluh yang hampir tak bedanya dengan embun dipucuk dahan, sebuah tanah mengering pada pijakan terakhir membuat nafas menjadi lega. Hilang semua lelah, lepas semua keputusasaan yang menghantui selama perjalanan, karena mentari pagi menyambut kehadiran kita di puncak perjalanan. Tersenyum adalah kepastian, kepuasan adalah kewajaran dikala seperti tak ada lagi jarak antara kita dengan Sang Pencipta dari puncak ini. Ingin rasanya berteriak meminta kepada-Nya, namun ditempat ini, berbisik pun Dia pasti mendengarnya, karena kita begitu dekat. Perjalanan takkan pernah berujung, namun sudah pasti ada masanya kita kan berhenti. Teruslah mendaki agar kita semakin dekat pada-Nya. Teruslah bergerak, namun jika telah sampai di puncak semua keinginan, jangan pernah lupa bahwa kita pernah dibawah, dan pasti akan kembali ke bawah. Esok atau nanti. Wallaahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama) Bintang-Bintang di Langit Publikasi: 15/05/2003 12:10 WIB eramuslim - Pernahkah engkau di suatu malam yang cerah memandangi bintang-bintang di langit? Subhanallah, sungguh indah bukan? Bagaikan permata yang menghiasi langit malam. Tetapi, pernahkah terpikir olehmu, untuk apa diciptakan bintang-bintang di langit itu? Apa hikmahnya? Ketahuilah, bahwa segala penciptaan di langit dan di bumi ini pasti ada hikmahnya. Hikmah penciptaan bintang-bintang itu telah diberitahukan Allah dalam Al-Qur'an dalam Ssurat Al-Mulk ayat 5 : "Dan sungguh Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan." Demikian pula dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya, bahwa Qotadah rahimahullah mengatakan: Allah menciptakan bintang-bintang ini, untuk tiga hikmah yaitu sebagai hiasan di langit, sebagai alat pelempar syaithon, dan sebagai tandatanda untuk penunjuk (arah dan sebagainya). Karena itu, barang siapa dalam masalah ini berpendapat selain tersebut, maka dia telah salah dan menyia-nyiakan nasibnya serta membebani diri dengan hal yang di luar batas kemampuannya.

Juga sebagaimana dalam Surat Ash-Shaaffaat ayat 6-8: "Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaithon yang sangat durhaka, syaithonsyaithon itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru." Demikianlah,hikmah keindahan bintang-bintang di langit... Semoga indahnya bintangbintang di langit menjadi lebih bermakna. Wallahu 'a'lam bishshowab. (elok dwi rra /elokdwi@yahoo.com) Email Dari Rasul Publikasi: 13/05/2003 10:23 WIB eramuslim - Malam sudah cukup larut, namun mata ini masih tak bisa terpejam. Semua tugas-tugas kantor yang kubawa pulang sudah selesai, tak lupa kusediakan setengah jam sebelum pukul 23.00 untuk membalas beberapa email yang baru sempat terbaca malam ini. Nyaris saja kupilih menu ‘shut down’ setelah sebelumnya menutup semua jendela di layar komputer, tiba-tiba muncul alert yahoo masuknya email baru. “You have 1 new message(s)...”. Seperti biasanya, aku selalu tersenyum setiap kali alert itu muncul, karena sudah bisa diduga, email itu datang dari orang-orang, sahabat, saudara, kerabat, intinya, aku selalu senang menunggu kabar melalui email dari mereka. Tapi yang ini ... Ooopss ... ini pasti main-main ... disitu tertulis “From: Muhammad Rasul Allah” Walaupun sudah seringkali menerima junkmail atau beraneka spam, namun kali ini aku tidak menganggapnya sebagai email sampah atau orang sedang main-main denganku. Maklum, meski selama ini sering sekali teman-teman yang ‘ngerjain’, tapi kali ini, sekonyol-konyolnya teman-teman sudah pasti tidak ada yang berani mengatasnamakan Rasulullah Saw. Maka dengan hati-hati, kuraih mouse-ku dan ... klik ... “Salam sejahtera saudaraku, bagaimana khabar imanmu hari ini ... Kebaikan apa yang sudah kau perbuat hari ini, sebanyak apa perbuatan dosamu hari ini ...” Aku tersentak ... degub didada semakin keras, sedetik kemudian, ritmenya terus meningkat cepat. Kuhela nafas dalam-dalam untuk melegakan rongga dada yang serasa ditohok teramat keras hingga menyesakkan. Tiga pertanyaan awal dari “Rasulullah” itu membuatku menahan nafas sementara otakku berputar mencari dan memilih kata untuk siap-siap me-reply email tersebut. Barisan kalimat “Rasulullah” belum selesai, tapi rasanya terlalu berat untuk melanjutkannya. Antara takut dan penasaran bergelut hingga akhirnya kuputuskan untuk membacanya lagi. “Cinta seorang ummat kepada Rasulnya, harus tercermin dalam setiap perilakunya. Tidak memilih tempat, waktu dan keadaan. Karena aku, akan selalu mencintai ummatku, tak kenal lelah. Masihkah kau mencintaiku hari ini?”

Air menetes membasahi pipiku, semakin kuteruskan membaca kalimat-kalimatnya, semakin deras air yang keluar dari sudut mataku. “Pengorbanan seorang ummat terhadap agamanya, jangan pernah berhenti sebelum Allah menghendaki untuk berhenti. Dan kau tahu, kehendak untuk berhenti memberikan pengorbanan itu, biasanya seiring dengan perintah yang diberikan-Nya kepada Izrail untuk menghentikan semua aktifitas manusia. Sampai detik ini, pernahkah kau berkorban untuk Allah?”. Kusorot ketengah halaman .... “Sebagai Ayah, aku contohkan kepada ummatku untuk menyayangi anak-anak mereka dengan penuh kasih. Kuajari juga bagaimana mencintai istri-istri tanpa sedikit melukai perasaannya, sehingga kudapati istri-istriku teramat mencintaiku atas nama Allah. Aku tidak pernah merasakan memiliki orangtua seperti kebanyakan ummatku, tapi kepada orang-orang yang lebih tua, aku sangat menghormati, kepada yang muda, aku mencintai mereka. Sudahkah hari ini kau mencium mesra dan membelai lembut anak-anakmu seperti yang kulakukan terhadap Fatimah? Masihkah panggilan sayang dan hangat menghiasi hari-harimu bersama istrimu? Sudahkah juga kau menjadi pemimpin yang baik untuk keluargamu, seperti aku mencontohkannya langsung terhadap keluargaku?. Satu hentakkan pagedown lagi ... “Aku telah memberi contoh bagaimana berkasih sayang kepada sesama mukmin, bersikap arif dan bijak namun tegas kepada manusia dari golongan lainnya, termasuk menghormati keberadaan makhluk lain dimuka bumi. Saudaraku ...” Cukup sudah. Aku tak lagi sanggup meneruskan rentetan kalimatnya hingga habis. Masih tersisa panjang isi email dari Rasulullah, namun baru yang sedikit ini saja, aku merasa tidak kuat. Aku tidak sanggup meneruskan semuanya karena sepertinya Rasulullah sangat tahu semua kesalahan dan kekuranganku, dan jika kulanjutkan hingga habis, yang pasti semuanya tentang aku, tentang semua kesalahan dan dosa-dosaku. Kuhela nafas panjang berkali-kali, tapi justru semain sesak. Tiba-tiba pandanganku menjadi gelap, entah apa yang terjadi. Sudah tibakah waktuku? Padahal aku belum sempat me-reply email Rasulullah itu untuk memberitahukan kepada beliau bahwa aku tidak akan menjawab semua emailku dengan kata-kata. Karena aku yakin, Rasul lebih senang aku memperbaiki semua kesalahanku hari ini dan hari-hari sebelumnya, dari pada harus bermanis-manis mengumbar kata memikat hati, yang biasanya tak berketerusan dengan amal yang nyata. Pandanganku kini benar-benar gelap, pekat sampai tak ada lagi yang bisa terlihat. Hingga ... nit... nit... alarm jam tanganku berbunyi. 00.00 WIB. Ah, kulirik komputerku, kosong, kucari-cari email dari Rasulullah di inbox-ku. Tidak ada. Astaghfirullaah, mungkinkah Rasulullah manusia mulia itu mau mengirimi ummatnya yang belum benar-benar mencintainya ini sebuah email? Ternyata aku hanya bermimpi, mungkin mimpi yang

berangkat dari kerinduanku akan bertemu Rasul Allah. Tapi aku merasa berdosa telah bermimpi seperti ini. Tinggal kini, kumohon ampunan kepada Allah atas kelancangan mimpiku. Wallahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama) Kertas Hitam Putih Publikasi: 07/05/2003 08:34 WIB eramuslim - Disuatu kelas, guru agama di sekolah itu meminta murid-muridnya mengeluarkan dua lembar kertas berwarna hitam dan putih, sesuai dengan perintah kemarin agar membawa kertas tersebut. Tidak lupa, para murid itu juga sudah menyiapkan pinsil warna yang juga hitam dan putih. Kemudian guru tersebut meminta murid-muridnya untuk menuliskan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan dari yang terkecil hingga kesalahan yang besar diatas kertas putih dengan menggunakan pinsil hitam. Sedangkan kertas hitam, para murid diminta menuliskan hal-hal baik yang pernah dikerjakannya dengan menggunakan pinsil berwarna putih. Satu jam berselang, para murid hampir selesai menuntaskan tugasnya menuliskan semua kesalahan di kertas putih yang menggunakan pinsil warna hitam. Bahkan karena terlalu banyaknya kesalahan yang diperbuat, mereka tak lagi menemukan ruang kosong di kertas putihnya. Namun guru itu memaksa para murid untuk memanfaatkan ruang sekecil apapun yang masih tersisa di kertas itu untuk menuliskannya, walaupun harus dengan tulisan-tulisan yang kecil dan tak terlihat. Hingga hasilnya, semua kertas putih di tangan murid-murid itu berubah menjadi hitam. Hampir tak ada celah seruas pun di kertas itu, bahkan sebagian murid mengaku masih banyak kesalahan yang belum tertulis disitu. Setelah itu, guru meminta murid-murid itu mengerjakan tugas berikutnya, yakni menuliskan kebaikan-kebaikan diatas kertas hitam menggunakan pinsil putih. Dalam waktu satu jam, nampak mereka merasa kesulitan membuat kertas hitam itu terwarnai dengan coretan-coretan kebaikan berwarna putih. Satu kebaikan mereka tulis, membuat mereka tersenyum karena bisa memutihkan kertas hitam itu meski sedikit. Namun hingga waktu yang ditentukan selesai, mereka murung, karena kertas hitam itu masih tetap dominan warna hitam. Teramat sedikit warna putih diatasnya, bahkan tak sampai separuh kertas hitam itu terisi. Tak jarang pula ada murid-murid yang malu karena hanya beberapa coretan putih saja menghias kertas hitamnya. Saudaraku, hati yang fitrah, ini semakin lama akan semakin hitam pekat jika terus menerus kita menorehkan noda dosa diatasnya. Saking hitamnya hati ini, kesalahan demi kesalahan berikutnya semakin memekatkan warna hitam itu, hingga nyaris tak ada lagi salah dan dosa yang bisa terdeteksi dan tersensor dalam hati, karena cahaya dalam hati ini tak lagi bersinar. Hanya ada satu cara untuk kembali membersihkan hati itu agar kembali fitrah, yakni dengan memperbanyak kebaikan. Dengan itu, cahaya hati yang redup perlahan akan kembali bersinar, memancarkan sinar putih kemilau dari dalam hati yang menenangkan jiwa. Teruslah berbuat kebaikan, agar tak ada lagi warna hitam dalam hati ini, dan yang terpenting, kita takkan malu menghadap Allah dengan wajah dan hati yang penuh sinar putih kesucian. Wallahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Just Say, Thanks! Publikasi: 02/05/2003 09:27 WIB eramuslim - Karena terburu-buru, saya lompat dan menerobos masuk ke dalam gerbong yang sudah berjalan pelan, hap, berhasil ! tapi ... ups, sikut saya menghantam pelipis seorang bapak bertubuh tegap yang berdiri di pintu gerbong. Belum sempat saya meminta maaf, karena disibukkan perasaan berkecamuk antara takut kena damprat dan egoisme yang bermain-main di benakku, “salah sendiri berdiri di pintu”, ternyata dia malah berucap, “terima kasih”. Saya jadi malu sendiri, kata maaf tak jadi keluar, malu bercampur kagum mendapati senyum yang keluar dari mulutnya, plus heran, kok tidak marah sekalipun sikut saya cukup keras mengenai pelipisnya. Ingin saya bertanya, apa gerangan yang membuatnya bisa ‘memaafkan’ orang yang berbuat salah terhadapnya, dan justru –ini yang aneh- berterima kasih kepada orang yang berbuat ‘kasar’. Saya pernah mendengar sebuah kisah, dimana seorang pria yang terkenal beringas, temperamental, mudah terpancing emosinya, dan tidak jarang berkelahi dengan alasanalasan yang sepele, mendatangi seorang ulama. Kepada sang ulama, pria itu mengeluhkan sikap-sikapnya yang belakangan baru disadari, bahwa ia sangat tertekan dengan semua itu, terlebih terlalu banyak korban dari sifat buruknya itu. terakhir, menurut pengakuannya, ia didamprat habis oleh seorang nenek-nenek akibat ketidakmampuannya menahan emosi. Kepada si pria, ulama itu hanya memberikan satu resep, yakni mencoba menjalani hidup satu hari ini untuk menerima semua perlakuan –seburuk apapun- orang lain terhadap dirinya. Tidak hanya itu, ia pun diminta bersyukur untuk setiap perlakuan buruk yang disengaja maupun tidak dari orang lain terhadapnya. Maka coba dijalaninya lah satu hari ini sesuai petunjuk sang ulama. Belum sampai matahari vertikal lurus di atas kepalanya, seiring dengan panasnya terik, sebuah mobil yang berjalan perlahan menyenggol pinggangnya dan membuatnya terjerembab. Sopir mobil itu segera turun dan hendak menolong, sekaligus minta maaf, namun “plakk ...” sebuah tamparan keras mendarat di bagian kanan wajah sopir itu, kali ini, ganti ia yang tersungkur. Gagallah pria itu. Padahal sebelumnya, semenjak pagi ia sudah mencoba menahan amarah kepada tukang becak yang hampir menabraknya, terhadap orang-orang yang menginjak kakinya di bus yang penuh sesak, dan termasuk kepada kondektur bis yang lupa mengembalikan kelebihan ongkosnya. Jengkel, dan kesal merasa dikerjai oleh sang ulama, sore harinya ia mendatangi ulama kediaman ulama itu. Tanpa basa-basi, belum sepatah kata terucap, sebuah pukulan keras mendarat di wajah sang ulama. Tersungkur, jatuh dan dari sudut bibirnya keluar darah, tapi hanya kata “terima kasih” yang terucap. Pria yang tadinya hendak mendamprat habis sang ulama karena mengira resepnya hanya membuatnya semakin ditindas orang dan seperti orang yang tidak punya harga diri, mengurungkan niatnya. Ia berpikir, bagaimana mungkin ada orang yang disengaja dizalimi, tidak marah, dan hanya berucap “terima kasih”. Sedangkan yang baru saja ia lakukan siang tadi, ia menampar penuh amarah sopir mobil yang jelas-jelas tidak sengaja menyerempetnya.

Dari kisah itu, kita bisa berpikir, kalaulah kita mampu menerima dan memaafkan ketidaksengajaan orang lain, meski terkadang menyakitkan, pastilah kita bisa lebih berjiwa besar untuk hal-hal berikutnya. Sang ulama mencontohkan langsung, dizalimi dengan sengaja, ia masih bisa memaafkan, bagaimana dengan orang yang tidak sengaja? maha lapang ruang maaf di hatinya. Dua belas tahun lalu, saya pernah mengikuti satu pelatihan, dimana salah satu sessi materi dari pelatihan yang berlangsung satu pekan itu, menghadirkan saya di hadapan semua peserta yang lain. Trainer yang memberikan materi pada sessi itu, mempersilahkan semua peserta mengkritik habis, mengevaluasi, bahkan membeberkan sekecil apapun kejelekan, kekurangan saya. Tidak boleh ada yang memuji sekiranya ada satu saja kebaikan pada diri saya. Sebagai manusia yang memiliki sifat defensif, tentu saya harus membantah, berkelit atau berargumentasi terhadap setiap kritik pedas dari teman-teman peserta. Tapi, peraturannya tidak demikian, saya hanya boleh mengucapkan “terima kasih” untuk semua kritikan itu. Awalnya saya masih belum mengerti maksud sessi tersebut, sehingga pada giliran seorang teman lain dihadirkan di depan kelas, saya berpikir inilah saatnya balas dendam. Tapi, entah kenapa, ada perubahan yang hebat sedetik menjelang saya mencoba menghujaninya dengan kritikan. Kritikan tetap meluncur, tapi ianya mengalir dengan tenang, tanpa emosi dan tidak ada motif balas dendam. Terus demikian hingga peserta terakhir menjalani prosesi yang sama. Setelah pelatihan tersebut, saya baru mengerti, perlu jiwa yang besar, hati yang bersih untuk bisa menerima setiap keadaan yang tidak terduga yang bakal terjadi terhadap diri ini. Langit tak selamanya cerah, demikian halnya dengan hidup, tak selamanya menyenangkan, dan menceriakan. Kekecewaan, kegagalan, ketersinggungan, pengalaman pahit dan hal-hal tidak mengenakkan, pun senantiasa mampir dalam perjalanan kehidupan. Namun, bisakah kita menerima setiap lintasan tidak menyenangkan itu seikhlas saat kita mendapati keberhasilan, dan kesenangan? Yang jelas, kita perlu sadari, dalam hati manusia sangat mungkin tertanam benih-benih kesombongan, merasa hebat, merasa lebih, yang kemudian semua rasa itu menyesakkan seluruh rongga dada ini. Sehingga kemudian, saat kita mengalami kegagalan, seperti tak ada ruang untuk menerima kekecewaan, ketika secara tak sengaja orang lain berbuat salah, tak ada lagi ruang di bilik hati ini untuk memaafkan. Pelajaran bersyukur dengan mengucapkan “terima kasih” untuk hal-hal pahit dan jelek, juga kadang menyakitkan kepada kita, akan mampu mengikis habis kesombongan, dan perasaan lebih hebat, lebih baik, lebih segalanya dari orang lain, sehingga untuk kemudian, dada ini layaknya hamparan padang ikhlas yang maha luas yang siap menampung semua kepahitan dan kekecewaan, hati ini seperti lautan cinta dan kasih sayang yang siap memaafkan semua kesalahan orang lain, disengaja ataupun tidak. Kalaulah untuk hal-hal disengaja, kita mampu menerima ikhlas dan memaafkan, bayangkan betapa ringannya sekedar memaafkan perbuatan salah orang lain yang tidak disengaja. Lagipula, sudah barang tentu, seperti saya terhadap orang yang kena sikut di kereta, sungguh takjub dan kagum saya terhadapnya.

Sedikit bersabar dan menahan emosi, kalau perlu berucap “terima kasih” kepada orang yang berbuat zhalim terkadang perlu dilakukan. Hal ini untuk melatih kesabaran kita dan menjadikan kita orang-orang yang berjiwa besar. Namun, seperti kata orang banyak, sabar ada batasnya, saya percaya, pada satu kondisi tertentu, saat diperlukan, memperingatkan orang lain yang tak tahu diri dan keterlaluan, juga wajib dilakukan. Hanya saja, kita punya cara yang beradab, sopan dan tidak menjatuhkan harga diri. Ngomong-ngomong, saya melirik pria di sebelah saya yang tadi tersikut, dia masih tersenyum. Dan kali ini saya membalasnya dengan senyuman, sambil terus mengirangira, jangan-jangan, ini pria yang kisahnya pernah saya dengar itu ... Wallahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama). Batas Yang Tipis Publikasi: 17/04/2003 09:03 WIB eramuslim - Mengisi buku harian ternyata tidak hanya untuk menyalurkan perasaan hati, entah itu sedih, gembira, malu atau marah. Juga tidak hanya sekedar bernostalgia dengan membaca kembali kejadian-kejadian penting dan berkesan dimasa lalu. Bagiku tulisan pada buku harian juga ikut mengingatkan diri untuk tidak melakukan kesalahan dan kebodohan dimasa lalu. Malam ini, aku hendak kembali menggoreskan tinta di lembaran baru buku harianku. Ya, siang tadi salah seorang ibu memintaku melalui telepon untuk mengisi acara pengajian taklim mereka, menggantikan pengisi yang tiba-tiba berhalangan hadir. “...ditunggu besok pagi, Bunda Nisa. Tapi maaf tidak ada yang bisa menjemput karena bla..bla..bla...” kata suara diujung sana. Aku sebenarnya ingin menolak. Seperti ban serep, kalau tiba-tiba bocor barulah dipakai, pikirku. Tapi untuk menolak rasanya tidak enak, jadi terpaksa aku iyakan. Dan saat ini, aku baru akan menuliskan kekesalanku itu di buku harianku. Sebelum menulis, tanpa sengaja buku itu terbuka pada halaman yang sempat kutulis pada musim dingin tahun lalu. Aku sempatkan membacanya. Winter, 12 Desember 11.47 CET “... Astaghfirullah, aku hampir saja terpedaya tipuan syetan jika sepanjang jalan Ayah tidak mengingatkan bahwa pengorbananku ini akan siasia di mata Allah jika ada sedikit saja terbetik rasa berat ataupun riya di dada ini. Memang sejak awal mendapat tugas memberikan pelatihan jurnalistik bagi muslimah disini, syetan telah menggoda hatiku. Ada rasa enggan karena lokasinya yang cukup jauh dan saat ini musim dingin. Meskipun Ayah berkenan mengantar, tetapi rasanya kok berat karena Annisa masih belum seumur jagung usianya dan kami harus menempuh perjalanan dengan kendaraan umum selama beberapa jam. Tapi dorongan semangat Ayah, akhirnya membuatku membulatkan tekad untuk pergi juga. Ternyata syetan tak henti-hentinya menggodaku. Sepanjang perjalanan, hatiku kembali dipenuhi perasaanperasaan berat dan tanpa sengaja aku beberapa kali mengeluh pada Ayah, “Dingin ya, Yah.” atau “Kenapa sih keretanya lama sekali”. Ayah hanya tersenyum melihat tingkahku, “Sabar ya, Bunda...”. Aku pun sesaat menyadari kekhilafan itu. Akan tetapi rupanya syetan tidak rela, dan mulai lagi menggodaku, “Wah, kamu itu hebat. Mana ada

orang yang sekuat dan seikhlas kamu. Sudahlah membawa bayi kecil di tengah musim dingin, dan harus menempuh perjalanan dengan kendaraan umum pula. Pasti disana, saudara-saudaramu akan memberikan pujian yang tak putus-putusnya akan pengorbananmu yang besar. Tentu saja, wajarlah jika kamu berbangga hati karenanya...." Suara-suara itu terus menerus mengiang ditelingaku. Alhamdulillah, Ayah mengerti kondisiku. Dia kemudian menuntunku untuk berzikir, katanya “Bunda harus meluruskan niat, karena batas antara ikhlas dan tidak ikhlas sangat tipis. Jangan sampai kita sudah capek, habis waktu dan ongkos, ternyata tidak ada sedikitpun pahala yang kita dapat dari Allah“ kata Ayah sambil membimbingku supaya tidak terpeleset diatas air yang membeku... Aku merenung sesaat, dan kembali beristighfar serta mengurungkan niatku mencurahkan segala uneg-uneg hati ini di buku harianku. Ya, aku harus kembali meluruskan niat dan membulatkan tekad dalam mencari ridho Allah, karena batas ikhlas dan tidak ikhlas itu sangat tipis. (Melati Salsabila) Jadilah Mentari Bening Pagi Publikasi: 11/04/2003 15:24 WIB eramuslim - Baik buruknya masyarakat tidak terlepas dari komponen individu-individu yang berada di dalamnya. Terciptanya sebuah perdamaian, kemesraan dan kasih sayang dalam masyarakat bukanlah sebuah mimpi yang tidak akan menjadi kenyataan. Layaknya membuat sebuah bangunan, kita membutuhkan batu bata yang kuat, kokoh dan tersusun rapi. Dalam masyarakat, individu adalah batu bata. Alangkah bahagianya jika kita bisa menjadi bagian dari batu bata itu. Setelah menjadi bangunan, batu bata memiliki kontribusi memberikan kehangatan kepada penghuninya di musim hujan, melindungi penghuninya dari kepanasan, tempat beristirahat, bengkel kreatifitas dan manfaat lainya. Walaupun penghuni tidak pernah melihat batu bata, karena tersembunyi dalam balutan semen, tetapi batu bata memberikan manfat yang luar biasa. Hanyalah batu bata yang baik yang bisa mengokohkan. Memperbaiki diri terlebih dahulu adalah sebuah keharusan jika kita ingin memperbaiki masyarakat. Menurut ustad Abbas As-Siisiy yaitu dengan menjadi pribadi muslim yang memiliki karakteristik Islami yang menonjolkan akhlakulkarimah. Senyum tulus kepada alam, menyapa lembut angin, membahagiakan saudara, menjadi solusi setiap masalah, sumber ilmu, perantara cahaya, tidak ada salahnya kita miliki. Individu-individu akan kokoh, damai dan tenang jika kita mampu memberikan kebahagiaan, ketenangan, kasih sayang yang tulus tanpa pura-pura, prasangka dan pamrih. Untuk menciptakan itu semua, tentu pribadi kita terlebih dahulu yang lebih utama untuk diperbaiki. Tidaklah sulit mewujudkan pribadi tersebut. Selain telah dicontohkan Rasulullah, kita memiliki bekal fitrah yang suci. Kita bisa berguru pada hati nurani, dan siroh nabawi.

Tinta Allah tidak akan lupa mencatat setiap amal kebaikan, Allahpun tidak akan luput mengores amal buruk yang kita lakukan. Setiap kita bebas memilih. Pribadi mana yang kita kehendaki. Kelak kita akan membayar mahal pilihan itu. Jangan pertaruhkan kehidupan ini dengan sikap buruk, dendam, iri hati, benci. Tidak ada kemulian di balik itu semua. Hiasilah buku kehidupan kita di dunia ini dengan riwayat amal kebaikan, ibadah khusuk, kemenangan melawan nafsu, prestasi menjulang tinggi. Jadilah seperti mentari bening pagi, menghangatkan, menerangkan dan menggairahkan kehidupan. Atau menjadi keheningan malam, menuntun sujud, munajat dan tafakur manusia. (Yesi Elsandra) U Use It Or U Lose It Publikasi: 09/04/2003 13:54 WIB eramuslim - Berita kriminal yang kerap menghiasi berbagai media, terlebih semakin banyak stasiun TV menyajikan tayangan khusus peristiwa-peristiwa kriminal semakin mengakrabkan kita dengan kejadian-kejadian kejam dan mengerikan. Bahkan tidak jarang, membuat hidup kita semakin tidak nyaman karena bayang-bayang kejahatan terasa begitu dekat. Ada satu pertanyaan yang cukup mendasar, kenapa ada manusiamanusia yang tega berbuat kejahatan atau melakukan perbuatan kejam yang merugikan dirinya bahkan merugikan orang lain? Percayakah Anda jika pertanyaan itu dijawab hanya dengan satu jawaban singkat, “Ada yang bermasalah dengan salah satu fungsi otak manusia tersebut”. Apa hubungannya antara perilaku kejam seseorang dengan perangkat otak? Tentu saja ada. Pada tahun 1980 di Sacramento, California, seorang laki-laki yang berulang-ulang melakukan perilaku yang kejam datang ke rumah sakit menyampaikan keluhannya. Ternyata dokter yang menangani menemukan adanya tumor di otak yang menekan sistem limbic sehingga aktif terus. Setelah dilakukan operasi dengan mengangkat tumor tersebut, pola perilakunya yang kejam hilang sama sekali. Percobaan yang sama dilakukan (Restak, 1984) dengan menggunakan elektroda yang dihidupkan pada seekor tikus dan sapi, lalu terlihat reaksi munculnya perilaku yang agresif dan liar dari kedua hewan tersebut. Elektroda tersebut ditempatkan untuk merangsang peran sistem limbic. Sebaliknya, bila rangsangan elektroda pada sistem limbic ini dihilangkan, maka perilaku kedua hewan tersebut normal kembali. Seperti kita ketahui, otak manusia terdiri dari beberapa bagian yakni Neocortex (rational brain) yang juga disebut the cerebral cortex, sistem limbic (emotional brain), satu bagian otak yang memiliki spesialisasi dalam fungsinya dengan emosi, berperan aktif dalam memori dan lain sebagainya. Dan satu bagian lagi disebut Reticular Activating System (RAS) yang berfungsi sebagai saklar (toggle switch) untuk menghubungkan atau memutus sistem limbic dengan neocortex. RAS ini yang mengendalikan apakah otak emosional ataupun otak belajar/rasional sedang bekerja. RAS ini jugalah yang akan mengatur apakah kita santai atau emosi kita

sedang naik. Sebagai contoh dalam keadaan kaget misalnya, RAS ini akan memutuskan hubungan ke cerebral cortex atau otak belajar. Pada saat yang sama, sistem limbic berada pada kedudukan sentral dan kemampuan nalar kita hilang. Pada saat itulah dapat kita melakukan gerakan otomatis tanpa dipikir lagi alias refleks. Misalnya, ketika jari tersentuh api kita akan segera menarik jari tangan tanpa harus menunggu perintah. Bila kita dalam keadaan normal secara emosional maupun santai, RAS membuka kembali hubungan sistem limbic dan cortex. Posisi ini memungkinkan kita menggunakan logika atau nalar dan mengembangkan kreativitas pada kedudukan sentral. Peran RAS ini begitu penting supaya manusia dapat bertahan hidup atau agar manusia mampu menikmati hidup. (Taufik Bahaudin, Brainware Management, 1998). Pemindahan (switching) dari RAS ini sangat strategis bagi manusia dalam menghadapi berbagai situasi dari waktu ke waktu. Tidak berperannya atau bahkan tidak sempurnanya RAS untuk memutuskan atau membuka hubungan antara cortex dengan sistem limbic berarti bencana bagi orang yang bersangkutan, bisa juga bagi orang lain. Dari studi yang dilakukan pada beberapa pelaku kriminal, terdapat gangguan antara lain berupa tumor pada otak yang membuat RAS tidak mampu melakukan perubahan (switching) secara sempurna –untuk membuka dan memutuskan hubungan antara cortex dengan sistem limbic- sehingga menimbulkan terjadinya perilaku yang kejam atau kurang berperasaan dari para pelaku kriminal tersebut. Life is learning process, atau dalam bahasa Rasulullah Saw, “Tuntutlah ilmu sejak lahir sampai ke liang lahat”, nampaknya bukan sekedar kata-kata indah tanpa makna. Bahwa otak manusia merupakan amanah dari Allah yang mesti kita jaga dan pelihara sebaikbaiknya, adalah satu kewajiban. Caranya adalah dengan menggunakan otak tersebut secara maksimal, memanfaatkannya dengan membiasakan budaya belajar (learning culture) dalam lingkungan kita, lingkungan keluarga, kampus, kerja atau bahkan lingkungan masyarakat yang lebih luas. Budaya kerja yang terbangun dalam diri seseorang (atau sekelompok orang) tentu akan membuat orang tersebut memiliki daya saing yang tinggi. Saat ini, memasuki abad ke 21, pepatah “Siapa yang kuat (besar) dia yang menang” sesungguhnya sudahlah usang. Karena yang berlaku dan wajib dimiliki sekarang untuk memenangkan persaingan -sifat dasar persaingan kini berubah dari berkompetisi (competition) menjadi berlawanan (adversary)- adalah kecepatan (speed) dan inovasi (inovation). Lemahnya budaya belajar, yang sering menjadi satu masalah mendasar manusia, bukan saja menimbulkan akibat langsung pada terhambatnya seseorang menuju kesuksesan, bahkan lebih merugikan dari itu, matinya otak kita karena jarang difungsikan. Hukum yang berlaku pada sel-sel otak kita adalah “Anda pakai atau Anda kehilangan” – You use it, or you lose it. Dengan selalu menggunakan atau memanfaatkan kerja dari sistem selsel otak, kita sebenarnya justru menjaga dan menumbuhkan sel-sel otak itu sendiri. Dengan selalu menggunakannya, otak kita menjadi lebih padat. Taufik Bahaudin (Brainware Management) menuliskan, Huttenlocher, Edelman dan Orsntein memberikan verifikasinya bahwa otak manusia dapat dikatakan memiliki sel-sel yang tidak terhitung banyaknya. Otak merupakan organ yang paling kompleks yang

diketahui manusia saat ini. Perbandingan banyaknya sel otak manusia dengan binatang sangat jauh, otak seekor lalat buah memiliki sekitar 100.000 sel, otak seekor tikus memiliki 5 juta sel, otak seekor kera memiliki sekitar 10 miliar sel, sedangkan otak manusia memiliki sekitar 100 miliar sel. Dalam sehari, sel otak manusia berkurang sekitar 100.000, kita tak perlu khawatir karena beberapa peneliti mengungkapkan bahwa matinya sel-sel itu telah berlangsung sejak saat kelahiran. Namun yang perlu diperhatikan, jumlah tersebut bisa bertambah sekitar 60.000 sel tergantung pada toksin dalam makanan atau minuman yang kita konsumsi, cara hidup kita, ataupun faktor-faktor lain. Disebutkan, alkohol dan obat terlarang (drugs), penyakit kronis, stress yang berkepanjangan, berbagai bahan kimia pada makanan (contoh: pengawet), udara kotor (antara lain yang mengandung timbel, karbon dioksida) serta pola hidup tidak sehat, adalah beberapa pemicu peningkatan jumlah matinya sel otak kita. Dan sel-sel yang mati itu, bisa dari ketiga bagian otak manusia, sistem limbic, cerebral cortex ataupun RAS. Itulah yang menunjukkan korelasi kenapa ada manusia yang (gemar) melakukan kejahatan atau perbuatan kejam. Jadi, ada korelasi yang kuat antara pola hidup yang tidak sehat, minimnya penggunaan otak, dan perbuatan kejam. Lalu ada pertanyaan yang cukup beralasan, kenapa ada manusia yang tampak cerdas (smart) tapi masih juga melakukan kejahatan. Sementara disisi lain, ada orang-orang yang ‘tidak berpendidikan’ bisa berlaku sopan dan menyenangkan. Daniel Goleman, yang mengetengahkan betapa pentingnya seseorang terus mengasah emotional intellegence (EI)-nya dalam hal ini semakin terbukti. Bahwa ada orang yang cerdas bisa berlaku bodoh (berbuat jahat, kejam, termasuk dalam kategori bodoh). Dan mereka yang nampak tidak cerdas secara intelektual, namun mampu menjaga sikapnya sesuai dengan kaidah, norma yang berlaku, bisa jadi memiliki kecerdasan emosi yang tinggi. Dalam konsep zeromind (Ary Ginandjar, ESQ), kita selalu diingatkan untuk kembali ke fitrah atau hati nurani sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu. Dalam satu kaidah hadits Rasul juga disebutkan, bahwa fitrah manusia itu suci, lingkungannya-lah yang membuat mereka keluar dari atau tetap pada fitrah kesuciannya. Maka, dengan satu fakta nyata bahwa semakin sering digunakan otak akan semakin kuat, ditambah dengan terus mengasah kecerdasan emosi, seseorang manusia akan semakin cerdas dan tetap berjalan pada fitrahnya. Sebaliknya, malas dan tidak membudayakan belajar dalam hidupnya, akan semakin sulit membedakan manusia dengan kera, tikus, lalat atau bahkan binatang buas yang kejam. Wallahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama). Parade Kebodohan Publikasi: 04/04/2003 14:15 WIB eramuslim - Siapa yang tidak terpingkal-pingkal tertawa melihat ‘kebodohan’ Mr. Bean dalam setiap aksinya di berbagai film yang sering kita saksikan. Kebodohan demi kebodohan dipraktekkan tokoh lucu yang hanya sesekali berbicara itu hanya untuk memancing tawa para penonton. Dan berhasil. Jauh sebelumnya, Charlie Chaplin telah lama menjadi simbol komedi layar kaca, dan bahkan Chaplin pun menjadi legenda dalam dunia komedi meski penampilannya (terkait dengan teknologi saat itu) tanpa kata-kata

dan hitam putih. Praktis, penonton hanya diperlihatkan beragam perilaku lucu (saya lebih senang menyebutnya: bodoh) sang bintang yang khas dengan kumis perseginya. Di negeri kita, tidak sedikit juga para aktor yang melakoni ‘kebodohan’ untuk menyedot perhatian pemirsa. Bing Slamet misalnya, siapa yang bakal lupa dengan mata ayah dari Adi Bing Slamet itu yang bisa berputar-putar sambil melotot, atau aksi-aksi lucu lainnya di berbagai film yang pernah dibintanginya. Meski sudah tiada, tetap saja orang masih mengingat jasanya dalam dunia hiburan. Setelah Bing Slamet, masih ada Benyamin Sueb yang juga dikenal dengan sebutan Bang Ben. Puluhan film telah dimainkannya, dan lagilagi, peran-peran ‘bodoh’ tidak luput dari aksi sang bintang legendaris itu. Yang lebih jelas lagi, anda pasti ingat tokoh Kabayan dalam komedi Sunda, Jawa Barat. Sangat kuat karakter kebodohan yang ditampilkannya, meski dalam setiap kisahnya, selalu menyandingkan kebodohan yang diakhiri dengan keberuntungan karena meski bodoh, Kabayan memiliki sifat yang sering tidak dimiliki orang lain, kejujuran. Mr. Bean, Charlie Chaplin, Bing Slamet, Benyamin S, Kabayan dan para aktor komedi lainnya, sesungguhnya tidak benar-benar bodoh seperti yang tergambarkan dalam setiap aksinya di layar kaca. Bisa jadi mereka adalah orang-orang cerdas yang melakoni aksi bodohnya hanya sekedar untuk menghibur, mengundang tawa, menyedot perhatian penonton. Dan tidak sedikit pula, popularitas dan kekayaan diraih dari peran ‘bodoh’ itu. Bodoh. Satu kata yang sulit diterjemahkan secara pasti. Karena memang, ada beragam kebodohan yang terjadi di pentas kehidupan ini. Ada yang dibilang bodoh karena ketidaktahuan mereka terhadap sesuatu hal, dan ini dianggap wajar jika orang tersebut memang betul-betul belum mengetahuinya. Bisa dipastikan, pemikiran dan langkahnya akan salah atau minimal tidak sesuai dengan yang semestinya berlaku. Jenis bodoh yang lain, seperti yang ditampilkan para pelawak atau aktor komedi yang bertujuan untuk menghibur, atau bahkan mencari popularitas dan kekayaan meski tak sesungguhnya mereka benar-benar bodoh. Namun ada pula bentuk kebodohan yang lain yang tidak masuk dua kategori diatas, yakni mereka yang sebenarnya tahu akan sesuatu hal, namun sering kali bertindak diluar kontrol dan akal sehatnya. Sehingga tidak jarang, orang-orang seperti ini juga menjadi bahan tertawaan (lebih tepatnya, bahan olok-olok atau cemoohan). Dari waktu ke waktu, dari zaman ke zaman, parade kebodohan dari ketiga kategori itu akan selalu ada. Keberadaan para tokoh ‘bodoh’ dalam dunia komedi di luar negeri, pertanda juga bahwa tidak hanya di negeri ini terdapat orang-orang bodoh. Karena biasanya, para tokoh komedi memerankan karakter-karakter bodoh yang sering mereka dapatkan, mereka lihat dan saksikan langsung dari manusia-manusia lain di lingkungan mereka. Manusia-manusia itu bisa pejabat, kepala negara, politisi dan anggota dewan, aparat negara, para pengusaha, pedagang atau hanya sekedar anggota masyarakat biasa. Saya senantiasa berpikir, bahwa kategori kebodohan pertama, masih bisa dibenarkan. Yang salah adalah ketika orang tersebut tidak bisa mengambil pelajaran dari kecerobohan pertama yang dibuatnya karena kebelumtahuannya. Jenis kebodohan kedua, juga bisa disahkan. Karena orang-orang tersebut, setidaknya cukup berjasa menghibur banyak

orang meski tidak jarang cap ‘bodoh’ harus mereka terima sebagai konsekuensi peranperan mereka. Selain juga mereka punya alasan yang cukup bisa diterima, manusiawi jika seseorang menggunakan kemahirannya untuk mencari nafkah hidup. Yang menjadi masalah adalah kebodohan yang berlaku di dunia ini oleh orang-orang yang tidak menggunakan akal sehatnya, sehingga seringkali melakukan hal-hal diluar kontrol hati nurani dan tidak logis. Sejak Qabil yang membunuh saudaranya sendiri demi mendapatkan seorang gadis cantik, Fir’aun yang diktator dan merasa lebih hebat dari Tuhan, Hamman yang sombong dengan ketinggian ilmunya dan Qarun yang menganggap kekayaannya yang berlimpah bisa melindunginya dari kepunahan. Dan anda tahu, melihat dari sejarah itu, tak satupun orang-orang bodoh dari kategori ketiga ini yang selamat! Hingga kini, parade kebodohan itu masih berlangsung, dan mungkin akan terus terjadi sampai hari akhir nanti. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita akan termasuk dalam golongan orang-orang bodoh karena tidak menggunakan akal sehat ini? Padahal berkalikali sangat tegas Allah mengingatkan hamba-Nya untuk tidak berlaku bodoh. Banyak ayat dalam Al Qur’an yang diakhiri dengan kalimat-kalimat “... jika kamu berakal”, “... bagi orang-orang yang berakal”, “... orang-orang yang menggunakan akalnya” dan lain-lain. Renungkanlah ayat berikut, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS. Ali Imran:190). Ayat ini hanyalah satu dari sekian banyak ayat yang menerangkan betapa bertindak benar sesuai akal sehat-lah yang dapat menghindarkan kita dari perilaku-perilaku bodoh, salah, dan tidak logis. Sehingga, tidak jarang sesudahnya, cemoohan, olok-olok dan bahkan kecaman bertubi-tubi dialamatkan kepada kita. Namun, bukan berarti bertindak benar dan cerdas itu tidak akan mengalami tantangan. Karena sejarah pun mencatat deretan manusia-manusia yang mencoba konsisten dengan akal sehat meraka dengan resiko dan tantangan yang harus diterima. Sebutlah Nabi Nuh alaihi salam, mengikuti perintah Allah membuat Kapal Besar di musim kemarau tentulah mengundang olok-olok dan Nabi Allah itupun dianggap gila. Dianggap gila masih lebih baik, karena yang dialami Galileo Galilei jauh lebih parah. Teori Geosentris yang diagungkan gereja sedikit terbantahkan oleh terori yang dikemukakan Nicolaus Copernicus, bahwa bumi bukanlah pusat alam semesta. Penelitian Copernicus itu kemudian diperkuat oleh Galileo Galilei dan Kepler yang berteori, matahari-lah pusat alam semesta sebenarnya (heliosentris). Dianggap menentang ketentuan dewan gereja, Galilei ditangkap dan dihukum mati oleh dewan gereja. Kebenaran teori heliosentris itu baru bisa dibuktikan 150 tahun kemudian oleh Isaac Newton, dimana sesungguhnya teori tersebut telah termaktub dalam Surat Yasiin ayat 40. Artinya, bertindak benar, sesuai dengan hati nurani dan sejalan dengan akal sehat bukan tanpa perjuangan. Tapi, nampaknya, jika kita masih punya akal sehat dan nurani, sejatinya lebih memilih melewati segala bentuk perjuangan tersebut ketimbang menerima predikat ‘bodoh’, kecuali memang kita adalah orang-orang bodoh sebenarnya. Wallaahu’a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Peta Kehidupan Publikasi: 31/03/2003 08:49 WIB eramuslim - Seorang ibu muda sibuk membuka-buka tumpukan majalah di lemarinya. Satu persatu di keluarkan. Ah... akhirnya ketemu juga. Ya, wanita itu sedang sibuk mencari-cari Al-Qur’an dan terjemahannya. Sebelumnya ia baru saja menelepon ibunya di luar kota untuk mengabari anaknya yang selalu sakit-sakitan. Lalu sang ibu menyuruhnya untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an terutama ayat kursyi. Dengan penuh kebingungan, karena buta membaca Al-Qur’an dan jarang sekali membukanya, wanita muda itu mencari di daftar isi Al-Qur’an, siapa tahu ada di tulis ayat kursyi… sampai beberapa lama di cari tak ia temukan, akhirnya ia menelepon salah seorang tetangganya untuk menanyakan dimana tulisan ayat kursyi itu dicantumkan. Barulah akhirnya ia tahu bila ayat kursyi itu adalah salah satu ayat dalam surat Al-Baqarah (QS Al-Baqarah:255) dan bukan di daftar isi! *** Saat kita akan memasuki suatu daerah yang asing dan belum pernah ada seorang pun yang melewatinya, tentu kita perlu peta petunjuk agar tak salah jalan. Bila kita nekad memasukinya tanpa peta petunjuk, pasti dengan mudah kita tersesat dan mustahil sampai ke tempat yang dituju. Ya... begitulah pula dengan kehidupan saudaraku, hidup ini sesuatu yang asing dan belum pernah kita mengalaminya sebelumnya. Semua manusia lahir ke dunia, menjalani hidup bersiap untuk menjalani kehidupan di alam selajutnya. Lalu bagaimana bila kita tidak berpegang pada peta kehidupan? Jawabannya pasti, ”Tersesat”. Rasulullah Saw bersabda, ”Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang jika kalian berpegang teguh dengan keduanya, niscaya kalian tidak akan tesesat untuk selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.” Kemudian dalam Al-Qur’an, Allah berfirman, ”Kitab ini (Al-Qur’an) tidak ada keraguan padanya dan petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS Al-Baqarah:2). Saudaraku, peta kehidupan itu sudah di berikan pada kita yakni Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Sekarang tinggal kita yang harus terus berpegang padanya. Al Qur’an bukanlah pajangan di ruang tamu dengan tujuan agar jauh dari jin dan setan. Atau hanya sebatas digunakan untuk mas kawin lalu tidak di buka-buka lagi. Al Qur’an adalah navigator kita menjalani hidup. Untuk itu mari kita mulai mempelajarinya, memahaminya lalu mengamalkannya. Jangan malu dan merasa ketuaan bila kita harus memulainya dengan belajar “A, Ba, Ta, Tsa”. Jangan gengsi bila kita harus duduk bersama dengan saudara lain yang jauh lebih muda demi untuk sama-sama mempelajari kitab-Nya.Tanyalah maksud tiap ayat yang kita baca pada orang yang paham agama. Ajarilah anak-anak kita untuk mengenal penciptanya, bantu mereka memahami apa arti kehidupan di dunia, dan bagaimana menggapai kebahagiaan hidup di akhirat. Ajari mereka membaca al-Qur’an, agar tak perlu kita bersusah-susah kelak bila

menasehatinya, dan agar do’a-do’a mereka terus mengalir menerangi kubur kita kelak. Ya, Al-Qur’an warisan terbaik dan berharga untuk mereka. Semua itu berproses dan Allah Swt akan memberi imbalan atas setiap tahap proses yang kita lalui. Cobalah ambil air wudhu, lalu buka kitab-Nya, baca artinya, pahami maksudnya, akan anda temukan semua jawaban persoalan hidup, kedalaman muara cintaNya, dan keMaha AgunganNya. Semua diatas segalanya. Saat ini tidak ada kata terlambat, mari kita mulai menyatu dengan Al-Qur’an. (Ervin Hidayati, ummu_fatih@yahoo.com). Masih Adakah Hujan dan Kantuk Itu? Publikasi: 28/03/2003 14:00 WIB eramuslim - Sejenak aku baca kembali kalimat-kalimat mulia itu. Kemudian akupun termenung memikirkan maksud yang terkandung didalamnya. Sudah satu bulan ini, aku sering sekali membaca tafsir Surat Al-Anfal dan setiap kali aku membacanya setiap itu pula dadaku berdegup dengan cepat khususnya pada ayat 9-12, dimana Allah menurunkan hujan, dan rasa kantuk kepada pasukan muslim di perang Badar. Sempat terlintas dalam kepalaku kenapa rasa kantuk yang diturunkan Allah sebagai salah satu rahmat dan karunia-Nya pada waktu itu, bukan yang lain. Aku buka kembali shirah Rasulullah mulai membaca kisah perang Badar, khususnya yang berkaitan dengan turunnya ayat 9-12. Airmata ini tumpah, membaca kisah tersebut dimana Rasulullah dan pasukan muslim menghadapi kaum kuffar, musyrikin Quraisy dengan kapasitas yang tidak sebanding baik dari jumlah pasukan maupun dari senjata perang. Ditambah lagi kaum musyrikin telah mengusai sumber air. Melihat kondisi tersebut banyak dari pasukan muslim yang khawatir dan gelisah apakah mereka bisa menang atau tidak. Rasulullah sangat sedih melihat kondisi ini, beliau terus berdo'a kepada Allah. Dalam hadits, dikisahkan bahwa Rasulullah berdo'a, "Ya Tuhanku apabila sekelompok kecil ummat-MU ini kalah dalam pertempuran, maka niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di bumi ini." Abu Bakar begitu terenyuh menyaksikan kesungguhan do'a Rasulullah sampai sorbannyapun terjatuh. Sambil memasangkan sorban Rasulullah, ia berkata "Ya Rasulullah, Allah pasti mengabulkan do'amu." Kemudian Allah menurunkan air hujan sebagai rahmat-Nya untuk membasahi hati dan diri pasukan muslim agar hilang rasa was-was dalam diri mereka. Allah juga memberikan rasa kantuk agar hilang rasa gelisah dan mereka terhindar dari godaan setan. Allahpun menurunkan seribu malaikat untuk menolong pasukan muslim. Dalam shirah, diceritakan hanya Rasulullah yang tetap terjaga, mendirikan sholat semalaman. Akhirnya kaum muslimin menang dalam perang Badar padahal kekuatan mereka saat itu hanya kurang lebih 300 orang sementara dipihak lawan lebih dari 3.000 orang dengan persenjataan lengkap. Saat ini, semua orang di seluruh dunia membicarakan invansi Amerika ke Iraq. Dengan jumlah pasukan dan persenjataan yang tidak seimbang, Amerika dan teman-temannya

berusaha membumi-hanguskan Iraq, negeri 1001 malam tempat para ilmuwan dan cendikiawan Islam lahir. Semoga Allah memenangkan pertempuran umat Islam melawan kaum kuffar dan janji Allah pasti benar. Berdasarkan cerita yang pernah aku dengar abad ini, genap sudah 7 abad dunia dikuasai oleh kaum kuffar sejak jatuhnya Andalusia (Turki Utsmani). Mungkin saja inilah saatnya Umat Islam kembali merebut kejayaannya. Wallahu 'a'lam (nn-farida/nnf@eramuslim.com) Ketika Matahari Sepenggalah Publikasi: 26/03/2003 08:50 WIB eramuslim - Pagi belum lagi beranjak, tapi kehidupan sudah lama nampak. Sementara matahari masih bersembunyi, meski bukan di balik gunung, tapi di balik kabut pagi dan asap kendaraan yang mulai banyak. Beginilah suasana kota Jakarta, mungkin juga kotakota lainnya. Orang berduyun-duyun meninggalkan tempat tinggalnya menuju tempat beraktifitas masing-masing. Sekolah, kantor dan pasar, yang kebetulan semua terkonsentrasi di pusat kota. Semua berjibaku, semua bersicepat. Dan jalanan pun menjadi macet. Bunyi klakson bersautan, derum motor dan mobil bergantian. Sesekali diselingi umpatan. Banyak juga yang menggerutu diam-diam. Tak sedikit yang sekedar menghela napas panjang secara berulang, kemudian berubah menjadi dengusan. Mengapakah dunia menjadi terlihat sedemikian menyebalkan? Padahal matahari masih sepenggalah? Padahal hari baru saja dimulai? Rasanya semua menjadi salah dan menjengkelkan. Terjebak di tengah kemacetan, suasana rumah sebelum berangkat pun tergambar: Tadi bangun kesiangan, anak-anak rewel atau orang tua cerewet. Berebut kamar mandi, baju belum diseterika. Akhirnya berangkat terburu-buru dengan dada disesaki kekesalan. Bersegera berangkat, dengan harapan bisa lepas dari keributan kecil di rumah, selain juga karena ingat: masih ada tugas hari ini yang belum diselesaikan, masih ada PR yang belum dikerjakan, masih belum belajar untuk ulangan, ada pekerjaan yang harus selesai hari ini, atau pun presentasi yang belum disiapkan. Aduh, pusiiiiing! Tetapi? Tampaknya cita-cita itu tak bakal kesampaian. Kekesalan yang dibawa dari rumah tidak hilang, malah bertambah. Kemacetan di sepanjang jalan malah semakin membuat BeTe. Berjubelnya kereta membuat diri lecek luar dalam: fisik maupun hati. Tiba di tujuan, mood sudah hilang. Lesu, capek, muka berlipat: jengkel: Bagaimana mungkin tiba di kantor dengan kondisi seperti ini bisa bekerja dengan nyaman dan menjalankan tugas dengan baik? Bagaimana mungkin tiba di sekolah atau kampus dalam mood seperti ini bisa belajar dengan efektif? Matahari masih sepenggalah, tapi rasanya dunia sudah demikian kelam dan mendung. Andai, andai saja seperti ini: Tiba di tempat tujuan, kita luangkan sedikit waktu. Menuju toilet, membersihkan diri, membenahi dandanan dan merapikan pakaian. Jangan lupa

basuh wajah, tangan dan rambut: berwudhu. Duh, alangkah segarnya! Air wudhu yang sejuk, sedikit menurunkan suhu jiwa dan raga yang panas. Kemudian, menuju mushola, sejenak mendirikan shalat dhuha. Dua rekaat pun cukuplah. Hati pun tenang, kondisi stabil, niat kembali tertata. Mental kita pun siap mengerjakan dan menghadapi tugastugas yang menghadang, hingga kita bisa mengerjakan semua dengan maksimal. Jika demikian, masihkah mendung tergambar di wajah kita? Terakhir, mungkin ini bisa menjadi pengingat dan penambah semangat: Dari Nuwas bin Sam’an ra bahwa Rasulullah bersabda: Allah berfirman: Wahai anak adam, sembahyanglah engkau empat rekaat pada permulaan siang (shalat dhuha), niscaya kucukupi kebutuhanmu sore harinya (HR Turmudzi). Aha, siapa tidak mau dijamin rizkinya oleh Allah? (azi_75@yahoo.com, ketika matahari sepenggalah) Dan Kita Pun Akan Menjadi Tua Publikasi: 17/03/2003 14:11 WIB Hidup bagaikan garis lurus Tak pernah kembali ke masa yang lalu Hidup bukan bulatan bola Yang tiada ujung dan tiada pangkal... .

eramuslim - Syair lagu diatas, sering kita dengar dari lantunannya Bimbo, liriknya mengingatkan kita akan sebuah akhir. Kehidupan ini tidak akan berlangsung abadi, hingga suatu saat kita akan menaiki tangga usia, semakin lama usia kita bertambah, semakin berkuranglah sisa umur kita dan andai Tuhan belum memanggil kita di usia muda maka kitapun akan menjadi tua. Melihat garis-garis di wajah sosok yang kita cintai ibu dan ayah kita, ketika kulitnya mulai keriput, rambut hitamnya mulai memutih dan kesehatannya kian menyusut, kita diingatkan oleh-Nya bahwa kitapun sama, suatu saat nanti akan menjadi tua, renta dan butuh begitu banyak pertolongan, kasih sayang serta perhatian dari anak-anak kita. Dan sekaranglah saatnya bagi kita untuk memainkan peran sebagai seorang anak, memelihara dan menyayangi ayah dan ibu kita. Dahulu sembilan bulan kita dalam rahim ibu, kita menyusahkannya, duduk ia tak enak, berbaring tak nyaman. Tapi ibu sabar menanti hari-hari kelahiran kita. Tiba kita di dunia, ibu tersenyum bahagia mendapatkan kita sebagai anugerah dari Tuhan-Nya, disusuinya, dimanjakannya dan dibesarkannya kita dengan penuh kasih sayang. Diajarkannya kita berbagai ilmu dan sebuah kenikmatan yang luar biasa bagi kita diajarkan untuk mengenal Allah sebagai Tuhan kita. Dengan sabar ibu mengajak kita pergi ke pengajian dan ayah selalu mengajak kita shalat berjamaah.

Menginjak remaja, kita semakin menyusahkannya, biaya sekolah yang kian besar serta kenakalan-kenakalan yang sering kita lakukan tak jarang membuat hati ibu terluka. Sikap kita yang kasar, egois dan selalu merasa benar terkadang membuatnya menangis, tapi ibu tetap sabar. Dibimbingnya kita untuk memperbaiki sikap dan tingkah laku kita, ibu selalu menanamkan cinta kepada Allah Rabb Tuhan yang maha kasih dan sayang. Berbahagialah bagi yang masih mempunyai ibu juga ayah, karena masih mempunyai kesempatan untuk memelihara dan menyayangi mereka. Dan saat kita menginjak dewasa, ketika ayah yang dulu kekar sekarang sering terbaring sakit, dan ketika ibu yang dulu selalu melayani kita makan sekarang sering terbaring lemah, inilah saat-saat yang baik bagi kita untuk memuliakan mereka, melayani, memelihara dan memberikan perhatian kepada mereka. Inilah kesempatan kita untuk menjadi anak yang shaleh buat mereka bahagia di ujung usianya, dan buat mereka bangga dengan kita. Ingatkah, dahulu ketika kebetulan kita terbangun dari tidur, terlihat ibu sedang Tahajjud tak henti-hentinya berdo'a untuk kita, agar menjadi anak yang shaleh dan tercapai semua cita. Jenguklah ibu dan ayah kita selagi bisa, sebelum semuanya berakhir menjadi kenangan, bawakan oleh-oleh yang disukainya. Sebab jika mereka telah tiada maka tak akan ada lagi yang menunggu kita pulang, tak ada lagi menyiapkan kita sarapan, yang ada hanyalah rumah yang akan menjadi kenangan. "Muliakanlah Orang tua kita karena kitapun akan menjadi tua" (untuk ibu di rumah dan ayah yang telah tiada, Ananda) Abdullah Fannany. thefannany@yahoo.co.nz Mesin Waktu Publikasi: 11/03/2003 09:21 WIB eramuslim - Mesin waktu. Benda itu sering muncul dalam khayalanku tentang masa depan. Kita bisa memakai benda itu untuk menjelajah waktu, kembali ke masa lalu atau melompat jauh ke masa depan. Mungkin karena dipengaruhi oleh film-film fiksi ilmiah yang sering muncul di TV ataupun dari cerita-cerita novel dan cerpen yang pernah saya baca (contohnya, komik dan kartun Doraemon). Ketika masih SMA, saya mempelajari teori Relativitas Einstein. Dan dari rumus-rumus yang ada itu saya berpikir (atau berkhayal?), ternyata untuk melakukan perjalan waktu itu hal yang tidak mustahil (artinya bisa kan?). Yang penting kita bisa melakukan perjalanan dengan kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya maka kita bisa melangkah ke masa depan! Tapi bagaimana untuk ke masa lalu? Kemarin, seorang teman di Makassar menelepon kakaknya di Jakarta. Waktu itu ingatan tentang masin waktu itu tiba-tiba kembali lagi. Jakarta berada di bagian barat Indonesia dan juga masuk dalam wilayah Waktu Indonesia bagian Barat (WIB) sedangkan Makassar yang berada di bagian Timur Indonesia masuk ke wilayah Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA). Dan antara kedua wilayah waktu tersebut ada perbedaan.

Makassar lebih cepat 1 jam dibandingkan Jakarta. Berarti pada saat berbicara, kakaknya sebenarnya mendengar suara adiknya dari masa lalu dan teman tadi mendengar suara kakaknya dari masa depan? Bagaimana seandainya saya betul-betul bisa melangkah ke masa depan atau ke masa lalu? Seandainya saya ke masa depan atau ke masa lalu ......., Ah, tidak, saya terlalu banyak berkhayal. Tentunya jika itu terjadi, sejarah akan kacau. Sekarang ini, realitas yang ada. Alhamdulillaah bumi masih berputar. Artinya aktifitas kita masih bisa berjalan seperti biasa. Apa yang telah saya perbuat/sumbangkan untuk dunia Islam? Sekarang ini, kita bisa melihat masa lalu kita dalam rangkaian muhasabah harian. Dan dari situ kita bisa mengevaluasi diri kita untuk memperbaiki yang buruk dan berbuat lebih baik lagi untuk sesuatu yang sudah baik. Melihat masa lalu bisa dijadikan sarana belajar untuk mencapai tujuan kita, agar kita tidak lagi memulai sesuatu dari nol, tapi bisa melanjutkan yang sudah ada. "Ummat ini tidak akan bisa bangkit kembali jika tidak mengambil nilai-nilai yang awal" - Umar bin Khattab -. Tapi terus menerus melihat masa lalu juga tidak terlalu baik. Karena di depan kita juga membentang jalan ke masa depan. Sama dengan pengendara bermotor, jika terus menerus melihat ke kaca spion, maka bisa saja akan tertabrak atau menabrak atau masuk got atau .... Yup, kita juga harus melihat jalan luas masa depan yang membentang dihadapan kita. Bagaimana kita akan melewatinya. Sudah pasti banyak hambatan dan tantangan yang akan menghadang, tapi dengan pengalaman masa lalu dan kemampuan penguasaan medan yang kita miliki dan dengan pertolongan Allah SWT kita harus siap melewatinya. Masa depan adalah harapan. "Maka bersiap dan berbuatlah, jangan menunggu datangnya hari esok, kita memang harus menunggu putaran waktu itu, tetapi kita tidak boleh berhenti, kita harus berbuat dan terus melangkah, karena kita tidak mengenal kata berhenti dalam jihad suci ini." Asy Syahid Hasan Al Banna -. Dari teori Einstein tadi, hanya yang bergerak lebih cepat (dari kecepatan cahaya) yang akan lebih dulu ke mencapai masa depan. Maka hanya orang-orang yang mau begerak (bekerja?) lebih cepat (giat) yang bisa mencapai masa depan lebih dulu. Sudah tentu semua gerakan yang dilakukan harus sudah melewati perencanaan-perencanaan yang baik serta urutan-urutan yang benar. Dan jika yang orang-orang yang melakukan gerakan itu berada dalam struktur (organisasi?) yang kuat. Tentunya kebangkitan masa depan akan menjadi lebih cepat lagi. Bagaimana menyiapkan orang-orang untuk mau bergerak untuk bisa menyonsong masa depan yang lebih baik?

Yang harus kita lakukan adalah membangunkan ruhiyahnya. Jangan membiarkan mereka tidur terus dan terbuai oleh mimpi-mimpi. Kita harus membangunkannya dan mengajaknya merealisasikan mimpinya. Kemudian membangkitkan pemikirannya. Kita harus membuat mereka berpikir bahwa kita adalah yang terbaik. Dan kemudian ada penguasaan konsepsional. Mereka yang akan bergerak itu harus tahu untuk apa mereka berbuat. Tidak asal bergerak. Dan gerakan yang dilakukan juga harus menyesuaikan dengan medan yang ada. Jadi ada juga penguasaan medan. Selain itu seperti disebutkan di atas, ada urutan yang benar dalam melangkah dan kemudian semua itu berada dalam gerakan yang terstruktur yang artinya memiliki sistem yang kuat. Istiqamah dan kesinambungan gerak juga merupakan faktor penting yang akan mempercepat kebangkitan masa depan itu. Wallaahu'a'lam. Muhammad Takdirmuhammad034@yahoo.com Antara Mata dan Hati Publikasi: 07/03/2003 09:19 WIB eramuslim - Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Ketika seseorang memiliki niat untuk melakukan sesuatu yang muncul dari dalam hati, maka dia memerlukan mata sebagai penuntunnya. Untuk melihat, mengamati, dan kemudian otak ikut bekerja untuk mengambil keputusan. Bila seseorang memiliki niat untuk melakukan amal yang baik, maka mata menuntunnya kearah yang baik pula. Dan bila seseorang berniat melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, maka mata akan menuntunnya kearah yang tidak baik pula. Sebaliknya bisa pula terjadi, ketika mata melihat sesuatu yang menarik, lalu melahirkan niatan untuk memperoleh kenikmatan dari hal yang dilihatnya, maka hati akan mendorong mata untuk menjelajah lebih jauh lagi, agar dia memperoleh kepuasan dalam memandangnya. Sehingga Allah SWT memberikan kepada kita semua rambu-rambu yang sangat antisipatif, yaitu perintah untuk menundukkan pandangan: "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". "Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya." (QS. An Nuur: 30-31) Demikianlah hal yang terjadi, sehingga ketika manusia terpuruk dalam kesesatan, maka terjadilah dialog antara mata dan hati, seperti yang dituturkan oleh seorang ulama besar

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam bukunya "Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu". Hati berkata kepada Mata Kaulah yang telah menyeretku kepada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman itu, kau mencari kesembuhan dari kebun yang tidak sehat, kau salahi firman Allah, "Hendaklah mereka menahan pandangannya", kau salahi sabda Rasulullah Saw, "Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya, yang akan didapati kelezatannya di dalam hatinya". (H.R. Ahmad) Sanggahan Mata terhadap Hati Kau zhalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan penuntun yang menunjukkan jalan kepadamu. Engkau adalah raja yang ditaati. Sedangkan kami hanyalah rakyat dan pengikut. Untuk memenuhi kebutuhanmu, kau naikkan aku ke atas kuda yang binal, disertai ancaman dan peringatan. Jika kau suruh aku untuk menutup pintuku dan menjulurkan hijabku, dengan senang hati akan kuturuti perintah itu. Jika engkau memaksakan diri untuk menggembala di kebun yang dipagari dan engkau mengirimku untuk berburu di tempat yang dipasangi jebakan, tentu engkau akan menjadi tawanan yang sebelumnya engkau adalah seorang pemimpin, engkau menjadi buidak yang sebelumnya engkau adalah tuan. Yang demikian itu karena pemimpin manusia dan hakim yang paling adil, Rasulullah Saw, telah membuat keputusan bagiku atas dirimu, dengan bersabda: "Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula, dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati." (H.R. Bukhori Muslim dan lainnya). Abu Hurairah Ra. Berkata, "Hati adalah raja dan seluruh anggota tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik, maka baik pula pasukannya. Jika raja buruk, buruk pula pasukannya". Jika engkau dianugerahi pandangan, tentu engkau tahu bahwa rusaknya para pengikutmu adalah karena kerusakan dirimu, dan kebaikan mereka adalah karena kebaikanmu. Jika engkau rusak, rusak pula para pengikutmu. Lalu engkau lemparkan kesalahanmu kepada mata yang tak berdaya. Sumber bencana yang menimpamu adalah karena engkau tidak memiliki cinta kepada Allah, tidak menyukai dzikir kepada-Nya, tidak menyukai firman, ‘asma dan sifat-sifat-Nya. Engkau beralih kepada yang lain dan berpaling dari-Nya. Engkau berganti mencintai selain-Nya. Demikianlah, mata dan hati, sepasang sekutu yang sangat serasi. Bila mata digunakan dengan baik, dan hati dikendalikan dengan keimanan kepada Allah SWT, maka kerusakan dan kemungkaran dimuka bumi ini tak akan terjadi. Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya, maka kerusakan dan bala bencanalah yang senantiasa menyapa kita.

Robb, bimbinglah kami, agar kami mampu mengendalikan hati kami dengan keimanan kepada-Mu, mengutamakan cinta kepada-Mu, dan tidak pernah berpaling dari-Mu. Allaahumma ‘aafinii fii badanii, Allaahumma ‘aafiniifii sam’ii, Allaahumma ‘aafinii fii bashorii. Aamiin. Ya Allah, sehatkanlah badanku, sehatkanlah pendengaranku, sehatkanlah penglihatanku. (Ummu Shofi/ari_aji_astuti@yahoo.com). Jangan Pernah Mengeluh Publikasi: 19/02/2003 09:32 WIB "Berkali kita jatuh, Berdiri jangan mengeluh. Berkali kita gagal, Ulangi lagi dan cari akal" Baris baris pantun di atas saya pelajari belasan tahun lalu saat masih duduk di bangku SMP. Saya lupa pengarangnya, namun jika tak salah, pantun ini ditulis oleh penyair Sumatera Barat. Sampai saat ini, pantun itu terus terpatri di benak saya setiap menemui kegagalan dan jatuh dalam hidup. Intinya bagi saya adalah dalam hidup ini jangan pernah mengeluh dan teruslah berusaha. Namun, usaha tanpa berusaha memperbaiki cara fikir (akal) adalah sia-sia. Untuk itulah, kita harus terus mencari akal-akal baru sehingga peluang untuk berhasil menjadi lebih besar. Mengeluh. Barangkali pekerjaan paling mudah di dunia ini adalah mencari kelemahan dari situasi yang dihadapi dan kemudian mengeluhkannya. Namun, apakah hanya dengan berkeluh kesah masalah yang dihadapi akan hilang? Sepertinya tidak. Malah, masalah baru akan datang dalam bentuk hilangnya rasa percaya diri dan pesimis. Hidup ini, by nature, selalu penuh masalah. Mulai dari masalah sepele seperti ketinggalan bis, file penting terhapus, kehilangan uang, sampai masalah yang besar seperti ditinggal pergi orang yang dikasihi untuk selamanya atau dipecat dari pekerjaan. Namun, selama kita masih bernafas, masalah tersebut seakan menjadi nihil begitu kita ingat bahwa ternyata semua itu 'bukan masalah'. Begitu ada masalah 'baru', kita selalu menganggap bahwa masalah 'lama' adalah 'bukan masalah', dan kadang berfikir kok bisabisanya kita pernah terkungkung oleh masalah 'lama' tersebut. Begitulah, dengan berjalannya hidup, masalah datang silih berganti. Rugi sekali jika alih-alih menikmati hidup kita malah terkungkung oleh masalah. Belasan tahun kemudian, saya kembali menemukan puisi yang juga bernafaskan sama. Namun kali ini, ditulis di negeri Skandinavia. "Fear less, hope more; Whine less, breathe more;

Talk less, say more; Hate less, love more; And all good things are yours." (Swedish Proverb) Di timur dan di barat muka bumi ini, ternyata semangat optimis selalu ditanamkan. Jika demikian, kenapa juga kita selalu mengeluh? Akhirnya, sebagai penutup, mari kita renungkan kalam Ilahi, sang Pencipta yang tahu akan kelemahan makhluk ciptaanNya: "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu [1586], Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap" (Surah Alam Nasyrah) Kepada Allah-lah kita senantiasa berharap. Edi Hamdi Esbjerg, DK (edi_hamdi@yahoo.dk) Qolbu Yang Kenal Dengan Allah Publikasi: 17/02/2003 08:57 WIB eramuslim - Begitu besarnya pengaruh qolbu dalam menentukan karakter dari manusia yang memilikinya sehingga Rasulullah pernah mengatakan bahwa di dalam tubuh setiap manusia ada segumpal daging yang disebut dengan qolbu. Apabila qolbu itu baik maka baiklah manusia yang memilikinya dan begitu juga sebaliknya apabila qolbu itu jelek maka jelek pulalah manusia yang memilikinya. Beruntunglah manusia yang memiliki qolbu yang baik. Karena dengan qolbu yang baik maka akan menghasilkan pemikiran, tindakan dan ucapan yang baik pula. Hanya manusia dengan qolbu yang baik yang akan memiliki akhlak yang baik. Sebaliknya, sudah dapat dipastikan bahwa tingkah laku yang jelek dan tidak terpuji hanya akan dilakukan oleh manusia-manusia yang memiliki qolbu yang jelek pula. Ucapanucapan yang tidak bermakna dan bahkan sering melukai hati dan perasaan orang lain hanya akan terucap dari mulut manusia-manusia dengan qolbu yang tidak baik. Sering terjadi di tengah masyarakat perbuatan atau tindakan yang begitu kejam, sadis dan bahkan tidak dapat dipahami dengan akal sehat. Ini bisa terjadi karena para pelakunya memiliki qolbu yang kejam dan sadis pula. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara agar kita dapat memiliki qolbu yang baik

atau bagaimana cara membuat qolbu menjadi lebih baik? Jawabannya adalah, jadikanlah qolbu itu kenal dan semakin kenal dengan Allah. Semakin kenal dan akrab dengan Allah maka qolbu akan semakin baik. Bagaimana bisa demikian? Karena Allah adalah Zat Yang Maha Baik, Allah begitu mencintai hamba-hamba-Nya yang senantiasa berusaha untuk berbuat baik. Karena itu, qolbu yang kenal dengan Allah maka akan selalu tersinari dengan cahaya Illahi. Qolbu yang selalu bersinar penuh cahaya kebaikan. Qolbu yang senantiasa membisikkan kepada pemiliknya untuk selalu berpikir, bertindak dan berbicara yang baik. Qolbu yang akan memicu dan memdorong pemiliknya untuk mempunyai akhlak yang baik. Orang-orang yang memiliki qolbu yang baik maka akan disayang tidak hanya oleh manusia dan makhluk lainnya tetapi juga oleh Allah. Allah amat menyayangi hambahamba-Nya yang memiliki qolbu yang baik. Ada suatu kisah yang terjadi pada seorang ulama terkenal Abdullah bin Mubarak. Setelah selesai melakukan tawaf, Abdullah bin Mubarak tertidur. Dalam tidurnya dia bermimpi mendengarkan pembicaraan dua malaikat. Malaikat pertama mengatakan bahwa alangkah banyaknya orang yang menunaikan ibadah haji pada tahun itu. Malaikat kedua menanggapi bahwa amat disayangkan semua amal yang dilakukan jemaah ini tidaklah sempurna sehingga tidak bernilai di hadapan Allah. Hanya saja, karena amal yang dilakukan oleh seorang tukang sepatu maka Allah berkenan menerima amal semua jemaah haji tahun itu. Begitu selesai melakukan ibadah haji, Abdullah bin Mubarak pergi mencari tukang sepatu yang disebutkan malaikat dalam mimpinya. Setelah bertemu dengan tukang sepatu tersebut, Abdullah bin Mubarak bertanya, apa amalan yang telah dilakukan yang membuat Allah begitu menyukai dan menghargai amalan tersebut sehingga dapat menyempurnakan amalan dari ribuan jemaah haji waktu itu. Si tukang sepatu menceritakan bahwa semenjak tiga puluh tiga tahun lalu dia mempunyai keinginan untuk melaksanakan ibadah haji. Untuk itu, setiap hari dia menabung dan setelah dihitung maka dirasa cukup untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun itu. Beberapa hari sebelum berangkat, istrinya yang sedang hamil menciumi wangi masakan. Ternyata wangi masakan tersebut berasal dari rumah tetangga. Karena istrinya begitu menginginkan dan karena sayangnya melihat istri yang lagi hamil maka Abdullah menemui tetangganya untuk meminta sedikit dari masakan yang wangi tersebut. Si tetangga mengatakan bahwa demi Allah makanan ini tidak halal bagi keluarga Abdulllah karena yang dimasak adalah sisa bangkai binatang yang didapatkan. Si tetangga terpaksa memasak bangkai binatang ini karena sudah berapa hari dia dan anaknya tidak makan. Demi menghentikan tangis anaknya dan demi mempertahankan hidup maka dia terpaksa memasak bangkai yang didapat tadi. Rasulullah pernah mengatakan bahwa dalam keadaan darurat maka bangkai binatang dihalalkan untuk dimakan. Mendengar cerita dari tetangganya ini Abdullah berlinang air matanya dan memohon ampun kepada Allah karena dia telah lalai memberikan perhatian kepada tetangganya. Lalu dia bergegas pulang mengambil semua tabungannya dan menyerahkan kepada tetangganya. Dengan lembut dia berkata, "silahkan ambil uang tabungan ini, inilah hajiku." Itulah suatu amalan yang lahir dari seorang hamba Allah yang memiliki qolbu yang baik. Suatu amalan yang sangat disukai oleh Allah. Bahkan suatu amalan yang dengannya

membuat banyak amalan lainnya diterima. Mengapa begitu tingginya penghargaan yang diberikan oleh Allah? Karena inilah suatu amalan yang lahir dengan dilandasi oleh keihlasan yang tinggi. Suatu amalan yang terjadi tanpa mengharapkan balasan apapun, termasuk pahala sekali pun. Suatu amalan yang muncul hanya sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah yang begitu banyak yang telah dilimpahkan Allah kepada kita. Sebagai rasa syukur karena kita relatif lebih mudah untuk mendapatkan nikmat tersebut dibandingkan dengan sebagian saudara kita yang lain. Inilah suatu kesadaran yang muncul dari qolbu yang baik bahwa kenikmatan yang telah dititipkan Allah ini tentunya harus didistribusikan juga bagi hamba-hamba-Nya yang lain. Seseorang yang beramal dengan keikhlasan yang tinggi maka dia tidak dipusingkan dengan balasan yang akan diterima. Dia tidak mengharapkan pujian dan penghargaan bahkan balasan pahala sekalipun. Dia yakin bahwa Allah menyukai orang-orang yang bersyukur. Karena itu, Dia hanya berusaha mengoptimalkan dan menyempurnakan akan kebaikan yang diberikan sebagai sarana untuk mensyukuri nikmat dan karunia Allah. Dia begitu yakin bahwa Allah Maha Lembut, Maha Bijak, Maha Menatap dan Maha Mengetahui. Jadi, barometer dari perbuatannya adalah apakah Allah suka atau tidak. Jika Allah suka maka dia dengan senang melakukan. Sebaliknya jika Allah tidak suka maka dia berusaha sekuat tenaga menghentikan atau menjauhi perbuatan itu. Ini bisa muncul jika didorong oleh qolbu yang baik. Alangkah indahnya amalan yang dilakukan oleh hamba-hamba Allah yang memiliki qolbu yang baik. Qolbu yang kenal dengan Allah. Qolbu yang disukai oleh Allah. Semoga kita dikaruniai memiliki qolbu yang demikian oleh Allah, amin. (Salman, presiden@imeanet.org) (Diilhami oleh ceramah K.H. Susanto pada pengajian Qolbun Salim IMEA, Enschede 14 Pebruari 2003) Ketika Cinta Harus Memilih Publikasi: 13/02/2003 12:01 WIB eramuslim - Ketika kita didudukan dalam situasi untuk memilih, tentu naluri kemanusiaan kita akan memilih yang terbaik (best of the best). Lalu bagaimana jika justru ketika pilihan tersebut tidak ada yang memenuhi kriteria kita, haruskah kita tinggalkan dan mencari pilihan lain? Bagaimana jika seandainya pilihan tersebut mutlak yang terakhir? Dan bagaimana jika seandainya pilihan tersebut adalah suatu keputusan yang justru berimplikasi terhadap masa depan kita? Bagaimana seandainya jika justru pilihan tersebut adalah ujian dari Allah Swt sebagai wujud dari kasih sayang-Nya terhadap kita? Banyak cerita di sekeliling kita yang dapat dijadikan bahan renungan tentang makna pilihan, dan buntutnya tentu masalah cinta. Jangan berpikiran sempit dulu tentang cinta itu sendiri. Cinta bukan hanya cinta antara pasangan suami istri (pasutri), atau cinta antara anak dan orang tua, namun juga termaktub cinta kepada suatu barang, misalnya

buku dan lainnya. Bahkan ada seseorang yang sangat mencintai idola-nya, entah itu seorang artis atau aktor film. Bukan suatu kebetulan jika saya mengetengahkan makna cinta ini kok sepertinya berhubungan dengan hari 'valentine' yang sebentar lagi tiba. Jujur saja saya sudah tidak ambil pusing dengan perayaan tersebut semenjak saya tahu bahwa perayaan hari valentine itu sangat jauh dari nilai islami. Bagi saya, cinta itu bersifat universal yang berhak dimiliki dan dinikmati oleh setiap makhluk hidup di bumi Allah ini tanpa batas waktu dan jarak. Lalu, bagaimana jika kita dihadapkan kepada suatu keharusan untuk memilih satu dari dua pilihan yang ada? Sudahkah kita memaknai bahwa pilihan tersebut adalah yang terbaik menurut Allah Swt untuk kita, bukan sebaliknya. Suatu kali pernah seorang teman bercerita tentang kehidupan rumah tangganya yang bermasalah. Namun sayangnya hal tersebut dijadikan alasan oleh sang teman untuk membalas-dendam dengan, maaf, berselingkuh dengan orang lain. Saya pun kerap bertanya kepada diri saya sendiri, bukankah ketika kita memutuskan menikahi pasangan kita adalah suatu pilihan yang pasti terbaik dari segala pilihan yang ada? Tapi tunggu dulu, terbaik menurut siapa? Allah Swt menganugerahi setiap manusia sebuah bonus yang bernama 'akal', mengapa saya katakan 'bonus' karena selain manusia, makhluk lain (hewan dan tumbuhan) tidak dianugerahi hal yang sama. Selain itu, sebagai manusia kita pun dianugerahi 'titel' khalifah (di bumi) oleh Allah Swt. "Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi". (Faathir:39) Kembali kepada cerita seorang teman di atas, salahkah dia dengan pilihan hatinya? Salahkah dia ketika meresa kecewa karena pilihannya ternyata jauh dari apa yang dia impikan? Atau ketika dia diberikan pilihan, sudahkah dia memutuskan memilihnya dengan atas nama Allah? Suami selalu mengingatkan saya untuk tidak terlalu mencintainya kalau bukan karena Allah Swt, karena ketika suatu saat Allah memanggil suami, tidak ada lagi cinta dan tempat bernaung yang tersisa, karena kesemua cinta yang ada sudah dibawanya pergi. Namun, ketika ketika kita mencintainya atas nama Allah, badai rintangan apapun yang menghadang, kita masih dapat berlindung di bawah kasih sayang-Nya karena hanya Allah Swt yang mampu memberikan kesempurnaan perlindungan. Keputusan sang teman untuk berselingkuh, jelas meletakkan nafsu di atas akal. Bukan hanya tidak akan memecahkan masalah, bahkan akan menambah masalah baru. Akal pun dikorbankan atas nama nafsu semata.

Saya teringat ketika adzan maghrib berkumandang, sebagian kita mungkin sedang asyik menyimak berita demonstrasi di sebuah liputan berita nasional di televisi. Dan pilihan kembali disorongkan kepada diri kita. Mematikan televisi dan langsung berwudhu atau mentolerir diri kita dengan 'pembenaran', tokh beritanya tinggal lima menit, dan terus menonton. Kembali akal pun kita korbankan atas nama 'tinggal lima menit' ketika kita diberikan suatu pilihan di hadapan kita. Bangun di waktu subuh ketika adzan berkumandang adalah satu pilihan terberat bagi sebagian orang yang lemah iman. Ketika orang lain sudah melangkah menuju surau/masjid di sisi lain kita mungkin masih enggan beranjak dari dalam selimut. Tidak hiraukan seruan dari surau.... ash shalatu khairun minan naum... **** Cinta kepada orang lain melebihi cinta kepada suami, cinta kepada liputan berita daripada mendirikan sholat maghrib dan cinta kepada kehangatan selimut kita daripada bergegas ke surau adalah suatu pilihan yang diberikan Allah Swt bagi kaum yang berakal. Sudahkah kita termasuk ke dalam orang-orang yang berakal? Sudah pantaskah kita menjadi khafilah di bumi Allah ini? Marilah kita bersegera sujud memohon ampun kehadirat-Nya atas segala keterlenaan kita dan atas keterbiusan kita akan gemerlap duniawi yang sebenarnya tiada kekal. "Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)." (Al-Baqarah:269) Lalu, cinta manakah yang akan Anda pilih? Wallaahu'alam bishshowab. (Rosanti K Adnan/yose@ratelindo.co.id) Terima Kasih! Publikasi: 06/02/2003 09:46 WIB eramuslim - Nicodemus (32) dan Abdul Rohim (23), Anda pasti tak mengenalnya. Seperti saya, sebelum media-media massa hari ini memberitakan jatuhnya Gondola seberat 2 ton yang membawa dua lelaki naas itu saat sedang melakukan aktifitas rutinnya membersihkan kaca Gedung Bank Indonesia (BI). Jatuh dari lantai 13 dan terhempas di lantai 5 bersama dengan benda seberat 2 ton di gedung tersebut, jelas membuat keluarga Nicodemus dan Rohim menangis kehilangan orang yang dicintainya. Setelah kejadian naas tersebut, seolah dua nama tersebut dikenal orang, meski dalam waktu sepekan bisa dipastikan sudah hilang oleh derasnya arus informasi di kota sebesar Jakarta ini. Saya, seperti juga Anda tak pernah mengenal dua lelaki itu, bahkan bisa jadi sebagian besar pegawai BI pun tak pernah mengenalnya meski hampir setiap hari mereka hadir dan melakukan sesuatu untuk (gedung) mereka. Mungkin diantara mereka ada yang berkata: “Ya Allah, kasihan sekali” atau “oooh... itu yang namanya Nico dan Rohim”. Dan bisa jadi ada yang bertanya, “Yang mana sih, koq saya nggak pernah tahu”.

Ada dua hal mutlak yang ada pada diri manusia, pertama, waktu yang dimiliki manusia itu terbatas. Dan kedua, manusia yang satu tidak akan pernah bisa hidup tanpa manusia yang lain. Bahwa waktu yang kita miliki itu terbatas itu suatu kemutlakan yang tidak bisa dibantah. Bukan hanya dalam hitungan jam yang tidak pernah lebih dari menjadi 25 jam perhari, tetapi lebih jauh dari itu, setiap manusia semestinya menyadari batas waktu yang diberikan oleh Allah. Tidak ada satu makhluk pun yang akan hidup kekal, seperti halnya bumi tempat kita berpijak ini pun akan hancur pada masa akhir nanti. Kemutlakan kedua, setiap manusia sebenarnya tak bisa membantah hal ini, namun terkadang tidak sedikit yang menafikan keberadaan, keterlibatan maupun partisipasi manusia lain dalam setiap kesuksesan, prestasi, keberhasilan dan kemenangan yang diraihnya. Nah, kaitannya dengan kemutlakan kedua inilah sedianya setiap kita menyadari status manusia sebagai makhluk sosial yang –setidaknya- telah teringankan sebagian besar beban hidup ini dengan adanya manusia yang lain. Seperti Nico dan Rohim yang setiap hari membantu orang lain menjadikan pemandangan keluar melalui jendela kantor Bank Indonesia tidak nampak kusam. Bayangkan jika tidak ada orang seperti mereka yang mau menanggung resiko terjatuh dari lantai 13. Begitu juga dengan para office boy yang sudah menyiapkan teh atau kopi panas di meja kerja bahkan sebelum sempat kita duduk. Bagaimana dengan para pembantu rumah tangga yang setiap hari melayani kebutuhan Anda dan keluarga, terbangun lebih awal dan tidur paling akhir. Mungkin kita bisa berkilah, karena telah membayar keringat mereka, selain juga mereka yang membutuhkan pekerjaan itu. Bahkan ada yang cukup sarkas menganggap bahwa sudah nasib mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Nico dan Rohim, para office boy, pembantu rumah tangga kita, tukang sampah yang mengangkut sampah dari rumah, sopir bus ataupun sopir pribadi, mereka mungkin tak pernah berharap tips, imbalan atau bonus lain dari apa yang sudah menjadi hak mereka. Mereka tak pernah iri dengan kenaikan gaji atau pangkat kita, tak pernah bermimpi suatu saat tak lagi menghidangkan teh atau kopi panas karena mereka sangat sadar betapa berbedanya mereka dengan kita. Tak pernah terbersit dalam benak para pembantu kita akan menjadi majikan yang kerap dilayani. Tapi, apakah kita pernah menghargai kerja mereka? Bahkan sekedar mengucapkan terima kasih. Ketinggian jabatan, pakaian yang bagus dan mobil mentereng, juga status sebagai majikan, bukan alasan untuk tak sekedar mengucapkan terima kasih atas jasa-jasa mereka. Sungguh, sebagian dari kita ternyata sudah membuktikan, ucapan terima kasih yang tulus kita alamatkan kepada mereka atas setiap pelayanannya, cukup membuat mereka tersanjung dan merasa diri sebagai manusia yang utuh. Dan buat kita, jangan kaget jika hanya karena ucapan ringan itu kualitas pelayanan dan pengabdian mereka kepada kita akan lebih meningkat. Tapi sayang, sebagian kita memang egois dan tak tahu rasa bersyukur. Bahkan sampai orang-orang ‘kecil’ yang telah banyak membantu kita itu telah menemui kemutlakan pertama, kita tak pernah menyapa mereka dengan kasih sayang. Masih ingatkah kita terhadap pembantu rumah tangga yang pernah sekian tahun mengabdi? Dimana mereka sekarang? Masih hidupkah mereka? (Bayu Gautama)

Not In My Back Yard Publikasi: 05/02/2003 08:15 WIB eramuslim. Not in My Back Yard Kata-kata itu saya dapatkan saat saya mendengarkan salah satu talk show pagi hari. Not in My back yard – bukan di pekaranganku, dengan kata lain “menjaga pekaranganku”. Kedengarannya memang tidak terlalu berarti. Tapi, bisa juga sangat berarti –kalau kita mau merenungkannya. My back yard– pekaranganku, apa sih pekaranganku? ada apa di pekaranganku? apa hak dan kewajibanku atas pekaranganku, bagaimana aku memanfaatkanya? Mengapa sih harus dijaga? dan lain-lain. Selintas saya merenungi “my back yard” sambil mengayun kaki menikmati pagi. Pekarangan kita –agak luas lagi- tempat tinggal kita, sebidang tanah yang kita tinggali setiap hari. Kehidupan keluarga kita berdenyut tiap hari di situ. Milik kita, jadi apapun bisa kita lakukan di situ. Tapi, apa iya ‘benar-benar’ milik kita? Lantas teringat saya baitbait puisi renungan dari Rendra, “Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya, bahwa hartaku hanya titipan Nya, bahwa putraku hanya titipan Nya, tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini padaku? Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?” Ternyata, pekarangan kita bukan milik kita, jangankan pekarangan dan rumah, ternyata ‘tubuh dan jiwa kita’ bukan milik kita, namun milik Sang Pencipta, Allahu Rabbii. Dan kita telah berjanji bahwa sesungguhnya hidup dan mati ini untuk-Nya. Tapi, untuk apa semua ini Kau titipkan pada kami, Ya Tuhan, apakah kami mampu mengemban amanah ini? Astaghfirullah, sering kita merasa tak yakin, dan kurang mampu memahami bahwa Allah menciptakan kita dengan sebaik-baiknya dan well-equipped, untuk itu diwajibkan atas kita untuk melakukan dua fungsi utama, sebagai ‘abdun’ (hamba Allah) dan Khalifah fil ardh (khalifah di bumi). That’s it, kita semestinya memperlakukan dan mempergunakan segala yang di’amanah’kan kepada kita berdasarkan tatanan dan aturan Allah. “Apa aku sudah melakukan itu yaa?” pikirku. Tiba-tiba brakk!! Saya menabrak kursi rusak yang dibuang di selokan. Astaghfirullah, renungan saya terhenti. Terlihatlah oleh saya, selokan macet penuh air dan sampah,

beberapa inchi lagi airnya meluber ke jalan. Kondisi selokan itu benar-benar sangat memprihatinkan, padahal sekelilingnya penuh dengan rumah-rumah yang bagus. Astaghfirullah, saya ingin sekali membersihkan selokan itu mengingat musim hujan segera datang, tapi selokan itu bukan di lingkungan rumah saya. Bisa-bisa malah menimbulkan salah persepsi bagi yang tinggal di sekelilingnya. Spontan saya ingat selokan depan rumah saya, di lingkungan pekarangan saya, apakah juga mengganggu orang lain? Cepat-cepat saya pulang dan memeriksa selokan di depan rumah, ‘not in my back yard (NIMBY)’ – bukan di pekaranganku!! Tiba-tiba saja kata-kata itu lebih berarti. Kedengarannya NIMBY memang sepertinya ‘egois’, tapi kembali kalau kita mau mengembangkan maknanya. Hal tersebut bisa menjadi langkah awal kita untuk melakukan perubahan, tentunya ke arah yang lebih baik. Jika setiap orang melakukan gerakan NIMBY, setidaknya mau menjaga dirinya, keluarganya, lingkungannya dari halhal yang merugikan dan hal yang terlarang. Dari lingkungan yang kecil -keluarga, melebar menjadi satu RT, meluas menjadi satu kampung, membahana menjadi satu daerah, yang kemudian Insya Allah seluruh daerah di negara tercinta ini terjaga. Bumi Allah akan terjaga. Mulai dari hal-hal yang kecil-menjaga selokan agar bersih- sampai hal-hal yang paling besar, menjaga hati dan keimanan kita agar tetap bersih sehingga dapat menjaga ‘amanah’ Allah. Insya Allah, diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, negara kita dapat terjaga dari sengsaranya musibah. Insya Allah, banjir tak akan mengancam, narkoba tak mampu menjamah, korupsi tak lagi trendy, kemiskinan bukan tak dapat teratasi. Ya Allah, berilah kekuatan dan petunjuk pada kami untuk menjaga amanah-Mu dan mewujudkan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghaffur. Amien. (Sitta Izza Rosdaniah/sitta@rocketmail.com) You Are What You Think You Are Publikasi: 23/01/2003 07:52 WIB eramuslim - Di perut kereta rel listrik dalam perjalanan Depok-Jakarta, siang itu, sekitar 14.30 wib, muncul sekelompok pengamen cilik dengan segala atributnya. Sembari mengucap salam, dentam musik mereka membangunkan sebagian besar penumpang yang terserang kantuk. Lalu mengalirlah lagu-lagu lawas bernada gembira, serasa membawa nuansa angin segar pada siang yang cukup suntuk dan gerah. “Oo... Carol…. Gitar, gendang, kecrekan dan lengkingan suara bocah 9 tahun-an itu terdengar begitu riang. Tanpa sadar menarik senyum dan hentakan kaki tiap penumpang KRL yang ada. Seolah tanpa lelah, bocah-bocah itu membawakan 3-4 lagu, hingga ketika bait terakhir nyaris usai, 2 orang mahasiswa yang sejak awal begitu menikmati sajian mereka, berteriak lantang, “Lagi! Lagi!”. Dan temannya menimpali, “We want more! We want more!”.

*** Kawan, terkadang hidup ini terasa begitu berat. Jam kerja yang padat, jadwal kuliah yang penuh, kognitif yang tertekan oleh ujian-ujian, ulah anak-anak yang banyak tingkah, kepenatan yang menumpuk, amanah yang tak habis-habis dan tak kunjung selesai, dan segala problematika kehidupan lainnya, terasa begitu membuat tertekan. Tapi, mari kita tengok dan renungkan sejenak. Lihatlah wajah-wajah bocah pengamen cilik tadi yang begitu riang gembira, tetap menghibur orang lain meski tak pernah tahu apakah sukacita dalam dirinya telah cukup melebur. Mereka hanya bernyanyi, dan itu mereka lakukan dengan demi segenggam logam dan recehan. Dan mereka perbuat semua itu demi mempertahankan hidupnya; mungkin untuk makan, mungkin untuk membayar biaya sekolah yang semakin tidak memanusiawikan rasa, atau mungkin hanya untuk setoran kepada ‘atasan’. Sekali lagi, segala sesuatunya itu dilakukan tanpa keluhan, apalagi duka. Tapi kita, Kawan… Kita yang mungkin telah bekerja dengan sangat nyaman di ruangan ber-ac, yang mungkin telah cukup santai belajar di perguruan tinggi atau sekolah yang kadang tidak pantas disebut layak sebagai tempat menimba ilmu, atau yang mungkin telah berpenghasilan tetap tiap bulannya, yang mungkin tengah sibuk berkutat dengan agenda-agenda ummat, berda’wah, mengajar, mengisi forum-forum kajian, berjibaku dengan berbagai amanah, atau apapunlah namanya. Terkadang masih juga mengeluh dan meratap. “Gaji kecil apanya yang menyenangkan?”, “Dosen killer gimana mau nyaman belajar?”, “Materi segudang gimana mau siap ujian?”, “Murid sedikit dan jarang datang, gimana mau semangat?”, “Makanan itu-itu melulu, gimana mau sehat?”, “SDM sedikit, gimana da’wah mau berhasil?”…. dan berjuta keluhan yang kita lontarkan setiap detiknya. Padahal Kawan, dibandingkan bocah-bocah pengamen tadi, kita jauh lebih beruntung. Ada lembar-lembar rupiah yang tiap bulannya kita terima, ada materi-materi kuliah yang dosen kita ajarkan, ada istri yang siap menyambut dengan cinta dan senyuman, memasakkan makanan, membenahi rumah dan mencucikan pakaian, ada objek-objek da’wah yang dengan adanya mereka, ladang pahala siap dialirkan, ada setumpuk amanah yang jika ditunaikan, akan memberatkan timbangan amal kebajikan, ada buah hati yang siap menghibur perasaan dengan kepolosannya yang menggemaskan, dan berjuta lagi kenikmatan yang mungkin justru seringkali kita anggap beban. Kawan, bukan kesyukuran yang ingin diangkat dalam tulisan ini. Tapi yang ingin ditekankan disini bahwa imajinasi kita-lah penentu segala hal yang kita terima. Ketika mungkin gaji kecil yang kita peroleh, kita persepsikan sebagai suatu rezeki dari Allah, tentu kita tak akan banyak mengeluh. Ketika ada dosen 'killer' mengajar, kita persepsikan sebagai cambuk untuk giat belajar, mungkin kita akan selalu bersemangat.

Ketika para murid yang jarang hadir, kita persepsikan sebagai akibat dari kekurangan kita dalam membawakan materi (pelajaran) misalnya, mungkin kita akan senantiasa termotivasi untuk memperbaiki diri. Ketika amanah yang bertumpuk dan datang bertubi, kita persepsikan sebagai kesempatan ‘tuk meraih pahala sebesar-besarnya, mungkin tak ada lagi wajah-wajah tertekuk dan cemberut. Ketika pelayanan istri yang ‘begitu-begitu saja’, kita persepsikan sebagai latihan untuk qona’ah dengan apa yang ada, mungkin rumah tangga akan senantiasa terasa tenteram. Ketika tingkah polah dan kenakalan para bocah yang mengesalkan, kita persepsikan sebagai ajang untuk melatih kesabaran, mungkin kita akan menjadi orangtua yang begitu dicintai putra-putrinya. Ketika hanya ada segelintir SDM di lingkungan kita untuk berda’wah, kita persepsikan sebagai pembelajaran dari Allah dan peluang ‘tuk meraih imbalan-Nya yang lebih besar, mungkin tak akan ada lagi berbagai keluhan. Begitulah, Kawan. Ternyata persepsi kita, cara pandang kita, paradigma kita dalam mengolah kognisi dan rasa jiwa, begitu menentukan sikap kita dalam menjalani kehidupan. Seperti bocah-bocah pengamen tadi. Mereka mempersepsikan kerja keras menghibur orang sebagai suatu keriangan, senyuman, keceriaan, dan rasa sukacita tanpa setitik pun duka. Padahal mereka tidak tahu apakah dengan berlaku seperti itu, mereka cukup dapat memenuhi tuntutan kehidupan yang bisa jadi jauh lebih berat dari kehidupan kita sekarang. Ya, sebab persepsi mereka membahasakannya sebagai suatu kepositifan, bukan hal yang menyebalkan dan menambah beban. Kawan, ada pepatah barat yang mengatakan, You Are What You Think You Are (Kita adalah apa yang kita pikirkan), maka mengapa kita tidak mencoba mengubah pola pikir kita, persepsi-persepsi kita, untuk menjadi lebih positif dan memandang segalanya sebagai hal yang bukan beban? Jika kita telah berpersepsi demikian, maka insya Allah, kehidupan adalah kenikmatan yang harus kita syukuri setiap detiknya, dan kebahagiaan hakiki pun dapat terasakan oleh jiwa-jiwa yang ikhlas lagi lapang. Nah Kawan, Matahari belum terbit di sebelah barat dan belum tenggelam di sebelah timur bumi. Semoga Dia berkenan memberi kita kesempatan untuk terus memperbaiki diri dalam menghadapi perjalanan yang sangat sebentar ini, salah satunya dengan mempersepsikan segala yang terjadi dalam sebuah kepositifan berfikir, sehingga kita ‘kan terus bersyukur kepadaNya, dalam keadaan apapun. Bagaimana? (indra fathiana, psychofath@yahoo.com) Masih Lebih Mudah Bagi Kita Publikasi: 22/01/2003 07:49 WIB eramuslim - Seperti yang sudah saya duga. Sekeping gopekan keluar lagi dari jendela mobil. Penasaran saya makin betambah. Ini bukan yang pertama kali. Sering. Teramat sering malah. Tapi apa alasannya? Sulit bagi saya untuk mengerti. Mereka bukan tak bisa. Hanya kurang berusaha saja. Memberi uang sama artinya dengan memberikan

persetujuan dan pembenaran. Sedangkan kita sudah selayaknya memberikan pelajaran. Kenapa dia harus selalu memberi? Tanpa pernah memilih lagi. Dulu. Pertama kali saya menjadi anak buahnya. Seorang penjual pengharum ruangan masuk ke kantor. Meskipun di pintu depan sudah tertulis besar-besar "PARA PEDAGANG DAN PEMINTA SUMBANGAN DILARANG MASUK". Tetap saja tiada hari tanpa pedagang keliling dan peminta sumbangan di kantor ini. Entah mereka sudah bebal atau kebal, saya juga tidak tahu. Penjual pengharum itu berkeliling ke meja-meja pegawai, menawarkan dagangannya. Sebagian cuek, sebagian lagi menolak dengan halus. Ada pula yang menawar, tapi akhirnya tidak jadi membeli. Ketika para pedagang itu sampai di meja si bapak, tanpa banyak kata, si bapak mengambil beberapa buah barang dagangannya dan membayar tanpa menawar. Beberapa kali kejadian semacam berulang. Si Bapak hampir selalu membeli barang dagangan setiap pedagang yang masuk ke ruangan kami. Pernah suatu saat saya bertanya kenapa beliau suka membeli barang dari para pedagang yang ke kantor. "Siapa lagi yang akan membeli kalau bukan kita? Sudah terlalu banyak yang berbelanja di mall. Biarlah saya berbelanja pada mereka", begitu jawab beliau. Namun ternyata bukan hanya itu. Kalau membeli barang dagangan, sebagaimana alasannya di atas, saya bisa menerima dan mengerti. Tapi ternyata dia juga selalu memberi kepada para peminta sumbangan yang bergantian datang ke kantor kami. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa tak semua peminta sumbangan itu benar-benar peminta sumbangan untuk masjid, anak yatim piatu atau sejenisnya. Banyak dari mereka yang menggunakan metode peminta sumbangan untuk menghidupi diri. Dan saya pernah mengingatkan bapak ini tentang hal itu. Tapi ia tak berkomentar. Beberapa hari terakhir, beliau hampir selalu memberikan koran harian pada saya. Beliau tahu saya suka membaca. "Saya tak butuh koran itu," kata beliau. "Lantas mengapa membeli?" tanya saya. "Karena saya tahu tak banyak orang yang membeli koran dari tukang koran seperti dia,". Itu jawabnya. Dan kini? Ini sudah kesekian kali, ketika saya satu mobil dengan beliau karena ada tugas keluar kantor. Peristiwa yang sama terjadi kembali. Beliau memberi uang kepada setiap peminta-minta di jalanan, baik yang memang terang-terangan meminta-minta, mengamen, polisi cepek maupun yang setengah memalak dengan 'berorasi'. Kali ini saya tak lagi bisa diam. Menurut saya apa yang beliau lakukan tidak mendidik, membuat mereka makin malas, tak mau bekerja keras dan mengharapkan uluran tangan seperti ini. Setidaknya, kalau mau memberi, hendaknya kita pilih-pilih, mana yang

tampak betul-betul membutuhkan. Atau, kalau mau berinfak kenapa tidak melalui lembaga yang benar-benar dapat dipercaya akan menyampaikan amanah kepada yang benar-benar berhak? Saya memberondongnya dengan sebuah argumentasi panjang. "Saya tak yakin dengan tidak memberi akan mendidik mereka. Semestinya ada orangorang yang aware dengan program penyadaran itu. Tugas merekalah yang menyadarkan. Sedang saya, hanya ini yang bisa saya lakukan. Mungkin mereka memang tak sungguhsunguh miskin, bisa jadi mereka hanya malas. Tapi saya yakin, jika mereka bisa semudah kita mencari rizki, mereka tak akan melakukan itu semua. Jika karena tak ada yang mau memberi mereka kelaparan, lantas kepada siapa mereka meminta. Kemana mereka mencari? Sedang kita? Kalaupun harta kita habis karena mereka, setidaknya masih lebih mudah bagi kita untuk mencari lagi dengan bekal kemampuan yang diberikan Allah pada kita." Urain panjang lebarnya membuat saya tertegun. Masih lebih mudah bagi kita. Ya, masih lebih mudah bagi kita mendapat rezeki dibanding para tukang koran. Masih lebih mudah bagi kita mencari penghidupan dibanding para pedagang asongan. Masih lebih mudah bagi kita mencari makan dibanding para pengamen jalanan. Masih lebih mudah bagi kita meminta bantuan teman, dibanding mereka, gelandangan tak berkawan. Masih lebih mudah bagi kita. (azimah rahayu, azi_75@yahoo.com) Karena Bintang Pun Bercahaya Publikasi: 20/01/2003 09:11 WIB eramuslim - Sesekali pandanglah langit di malam hari. Kalau tidak mendung, kita bisa melihat betapa indahnya kelap-kelip bintang menghiasi langit. Ada yang terlihat terang ada yang terlihat meredup. Ada yang terlihat berwarna jingga, ada yang terlihat berwarna biru, ada yang terlihat putih. Semuanya membuat indah walaupun kita sedang di dalam suasana kegelapan malam. Tahukah Anda bahwa sebetulnya cahaya bintang-bintang yang kita lihat saat ini bukan merupakan cahaya yang sebenarnya pada saat ini dipancarkan dari bintang-bintang itu. Bintang-bintang itu sama seperti matahari kita, juga memancarkan cahaya ke bumi. Cahaya itu sampai ke penglihatan kita setelah menempuh waktu yang amat sangat lama. Cahaya itu menempuh jarak dalam satuan tahun cahaya (light year). Kalau biasanya kita menghitung jarak dengan meter, inci, dan lainnya, astronom menggunakan satuan tahun cahaya untuk menghitung jarak yang sangat jauh. Satu tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam satu tahun. Sedikit angka-angka, kecepatan cahaya dalam ruang hampa adalah sekitar 300,000 kilometer per detik. Sehingga dalam satu tahun cahaya berarti mempunyai jarak 9,460,800,000,000 kilometer, hmmm... sungguh jarak yang luar biasa jauh. Ibaratkan seseorang yang menempuh perjalan sejauh itu, tentu akan memakan waktu yang sangat lama. Demikian pula dengan cahaya dari bintang yang jaraknya bisa sampai ratusan tahun cahaya. Misalnya bintang Alkaid mempunyai jarak sekitar 101 tahun cahaya dari

bumi. Berarti cahaya yang kita lihat dari bintang Alkaid sekarang merupakan pancaran cahaya dari 101 tahun yang lalu. Jadi kita melihat cahaya dari masa lampau. Subhanallah. Selain itu, sebagaimana matahari yang suatu saat nanti tidak lagi beraktivitas, semua bintang mempunyai umur hidup yang menentukan pancaran cahaya yang diberikannya. Beberapa bintang sebetulnya bintang itu sudah tidak ada... sudah mati... sudah tidak beraktivitas lagi, tetapi saat ini kita masih bisa melihat pancaran cahayanya. Subhanallah. Kita diberi Allah suatu keajaiban. Di satu sisi, kita diberi alam semesta yang amat sangat luas, sehingga perlu memakan waktu yang sangat lama untuk mengeksplorasinya. Di sisi lain, kita diberi kemampuan untuk melihat masa lampau dari alam semesta ini, melalui cahaya bintang tadi. Melalui cahaya bintang itu, kita bisa mengukur seberapa jauh bumi kita ini dengan bintang lain. Melalui cahaya bintang itu, kita bisa menggunakannya untuk menghitung berapa lama lagi matahari akan meredup dan menjadi mati. Sama halnya dengan bintang, manusia pun diberi waktu hidup. Nabi Muhammad pernah berkata, bahwa kita ini mempunyai umur sekitar 60-70 tahun. Dalam kurun waktu itu, kalau boleh diandaikan dengan bintang, merupakan waktu dimana kita memancarkan cahaya. Waktu dimana kita bisa memberikan yang terbaik untuk kemaslahatan umat dan mencari ridho Allah. Setelah kita wafat nanti, seperti bintang di langit, kita akan meredup dan tidak beraktivitas lagi. Seperti bintang, 'cahaya' dari diri ini masih bisa terus hidup. Cahaya dalam diri ini masih bisa hidup jika amalan yang kita kerjakan bermanfaat bagi umat. Amalan yang baik dan digunakan terus menerus oleh umat akan selalu membuat diri kita yang sudah wafat tadi masih terus dikenang. Lihatlah nama-nama Newton, Einstein, Galileo dan tidak ketinggalan ilmuwan dan tokoh muslim seperti Imam Bukhari, Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan masih banyak lagi yang lain. Mereka tetap dikenang, karena 'cahaya' dari mereka yaitu amal perbuatan mereka berguna bagi umat ini. Apa saja yang sudah kita lakukan? Cukupkah dalam umur begitu pendek, kita mengisinya dengan amalan yang baik? Cukupkah amal yang kita kerjakan membuat 'cahaya' yang kita berikan bertahan? Tinggal bagaimana kita menggunakan waktu kita untuk berbuat baik, sehingga 'cahaya' dari diri kita ini dapat terus menerus menerangi kehidupan orang lain sampai saat ini, walaupun kita sudah wafat. "Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah." (Qur'an Al Mulk:1-4) Wallahu'alam bi shshawab

Zulfikar S. Dharmawan (zulfikar@ukhuwah.or.id) Menikmati Hidup Publikasi: 16/01/2003 08:27 WIB eramuslim - Kawan, ingin kuceritakan padamu indahnya menggenjot pedal sepeda membelah persawahan, menempuh jarak 5 sampai 10 kilometer. Angin segar menerpa, cicit burung dan lenguhan kerbau mengiringi setiap putaran roda. Kehijauan sawah sepanjang mata memandang, berbatas cakrawala langit yang biru dengan saputan awan putih di ketinggian. Sebenarnya semua itu biasa saja, karena aku anak desa. Tapi sungguh, keindahan itu menjadi terasa lebih indah karena lima tahun terakhir aku nyaris tak lagi menyentuh sepeda onthel. Ya, lima tahun terakhir aku lebih banyak naik motor atau menggunakan kendaraan umum. Bahkan ke warung tetangga berjarak dua ratus meter pun selama ini aku tak mau lagi naik sepeda. Indah karena sambil menggenjot pedal aku mengenang masa-masa sebelum lima tahun yang lalu. Saat tiap hari aku menempuh puluhan kilometer di atas sepeda jengki atau sepeda mini, bersaing dengan bis kota di atas sadel sepeda. Bermandi peluh saat matahari siang bolong panas membakar, atau bernafas embun saat kabut pagi masih melingkupi. Kini, lima tahun kemudian, aku naik sepeda hanya sebagai selingan, sekedar sarana untuk berolahraga dan berekreasi. Maka nikmat Allah manakah yang (dapat) aku dustakan? Kawan, ingin kuceritakan padamu nikmatnya mengurus ternak. Mencari dan memberi makan ayam, bebek dan kambing. Juga membersihkan kandang mereka dari rantingranting sisa makanan, juga dari kotorannya. Bau khas ayam, serudukan kambing dan kotorannya terasa nyaman. Beberapa jam berkutat dengan mereka memang melelahkan, tapi sungguh terasa nikmat dan menyenangkan. Bagaimana tidak nikmat dan menyenangkan, sedang aku mengerjakan semua itu hanya sekali dua, saat menjalani liburan. Dulu, lima tahun yang lalu, aku harus melakukan pekerjaan itu tiap hari. Dan kini, rasanya indah sekali, mengenang betapa beratnya pekerjaan itu dulu. Maka nikmat Allah manakah yang (dapat) aku dustakan? Kawan, ingin kubagi padamu tentang asyiknya menimba air dari sumur dengan tali. Meskipun lengan sempat kram dan pegal selama beberapa hari, derit roda katrolnya menimbulkan sensasi yang menggembirakan. Tempelasan air yang menerpa teramat menyenangkan. Segar. Dan keasyikan itu berubah menjadi perasaan yang indah, mengenang lima tahun yang lalu aku harus bercapai-capai menimba berpuluh-puluh ember untuk seluruh kegiatan rumah tangga, juga usaha batu bata ibu. Sedang kini, aku hanya perlu menimba saat listrik mati. Maka nikmat Allah manakah yang (dapat) aku dustakan?

Kawan, aku ingin engkau tahu, menyenangkan sekali memasak dengan kayu bakar. Kuhembus bara-bara dengan sepenuh tenaga, agar makanan di tungku menjadi masak. Meskipun itu berarti abu berhamburan mengotori baju, keringat berleleran karena udara panas di sekitar tungku, dan panci-panci menjadi menghitam serta butuh usaha ekstra untuk mencucinya. Kata orang, memasak dengan api tungku lebih enak. Tapi bukan itu yang paling nikmat dari memasak dengan tungku dan kayu bakar, tapi karena aku sudah lebih dari lima tahun tak melakukannya. Ya, selama ini untuk memasak aku tinggal menyalakan kompor minyak atau kompor gas, menanak nasi dengan rice cooker, memasak air dengan ketel listrik. Dan kini, aku menikmati memasak dengan kayu bakar seperti sedang berpiknik. Lima tahun lalu, tiap hari aku bergulat dengan kayu bakar, abu dan tungku. Maka nikmat Allah manakah yang (dapat) aku dustakan? Kawan, hari ini di sini, nikmat sekali aku mengunyah potongan apel, pir dan jeruk mandarin. Buah-buahan itu beberapa tahun terakhir rasanya tak terlalu istimewa bagiku, bahkan sudah menjadi sarapan sehari-hari. Namun kini, rasanya lain sekali. Saat mengulumnya ingatan tentang masa lima tahun yang lalu melintas-lintas. Ya, lima tahun lalu, aku menahan air liur untuk sekedar dapat mencicipi melon, mangga, semangka apatah lagi buah pir, apel merah dan anggur. Tak ada uang untuk sekedar membeli sepotong, sedang jajan di sekolah pun hanya seminggu sekali, ketika ada pelajaran olah raga. *** Kawan, hari ini, aku ingat sekali, sudah lebih dari lima tahun aku menjadi pegawai negeri. Banyak orang mengatakan, menjadi pegawai negeri itu enak. Kerjanya santai, gaji tetap. Tapi selama ini aku merasa tidak nyaman. Pertama karena aku tidak suka bersantaisantai. Kedua, karena peningkatan prestasi dan karir berjalan sangat lambat. Ya, aku merasa kurang beruntung dibanding teman-teman yang bisa sekolah lagi, kemudian bekerja di tempat swasta dengan gaji besar. Aku merasa kurang beruntung dibanding teman-teman yang sudah menjadi para profesional, dengan gelar akademis tinggi. Aku merasa kurang dibanding teman-teman yang sudah mencapai keberhasilan jauuh di atasku: dalam hal keluarga, karir, pendidikan maupun aktifitas sosial. Tapi hari ini aku tahu, bahwa aku pun telah mendapat pencapaian besar. Dulu aku naik sepeda ontel, kini dapat naik motor dan naik bus kemana-mana. Dulu aku harus mengurus ternak untuk biaya sekolah, kini aku memelihara binatang untuk teman. Dulu aku harus berhemat air agar hemat tenaga untuk menimba, kini aku bisa mandi sepuasnya tanpa usaha. Dulu aku harus puas dengan ubi, pisang dan pepaya dari kebun, kini aku bisa sarapan tiap pagi dengan apel dan jeruk. Maka nikmat Allah yang manakah yang (dapat) aku dustakan?

Mensyukuri nikmat. Phrase ini terdengar teramat klise. Karena ia adalah salah satu ajaran agama Islam dan agama lain yang hampir semua orang ernah mendengarnya. Namun kekliseannya tidak membuat kalimat tersebut gampang diaplikasikan. Ada saat-saat dimana kata-kata tersebut begitu abstrak, sulit dimengerti dan berat dilaksanakan. Atau malahan mudah diucapkan, tapi perbuatan tak sesuai dengan yang dikatakan. Padahal ternyata, phrase itu ternyata bisa teramat sederhana. Mengenang kembali lima tahun yang lalu itu, ternyata semua biasa saja. Dulu aku sanggup hidup sedemikian, maka mengapakah sekarang aku lebih tak bahagia? Mengapa aku harus membandingan diri dengan orang lain dan selalu merasa kurang? Dulu aku sanggup menikmati apa yang ada, apa yang diberikan Allah padaku. Dulu, dengan status anak kos sejak kelas 1 SMA, aku sanggup hidup dengan uang 3-5 ribu rupiah seminggu untuk makan, ongkos jalan dan fotocopy. Oke saja bagiku berjalan kaki maupun ngontel berkilo-kilo. Mie sebungkus untuk dua kali makan pun tak masalah. Dan semua itu dahulu biasa saja. Karena saat itu aku malah belum mengenal dunia, dan apa yang kuperoleh sudah terasa cukup. Menikmati hidup. Tampaknya itu saja kuncinya. (Azi_75@yahoo.com, hari-hari seputar lebaran) Saat Aku Melihatnya … Publikasi: 14/01/2003 07:49 WIB eramuslim. “Ya Allah…. ridhailah hamba …”, kata-kata itu yang selalu terucap saat aku melihatnya. Acara TV itu selalu kutunggu setiap tahun, acara siaran langsung dari Mekkah. Gambar dan suara di TV itu telah mengirimkan sinyal ke otak, dan membuat hati berdebar serta menstimulasi butir-butir air mata yang membasahi pipiku. Labbaikallahumma labbaik, beriring seluruh jama'ah haji menyambut penggilan Allah. Terlihat jelas dari layar gelas itu, mereka bertawaf mengitari rumah-Mu Ya Tuhan, mereka duduk tafakur memanjatkan do’a di padang Arafah, mereka berlari-lari kecil dari Shofa dan Marwah, dan melempar kerikil kecil yang bermakna besar- untuk menghalau iblis jahannam. Aku terhanyut seakan jiwaku bersama mereka. Semua itu, aku saksikan di TV dengan dentuman jantung dan lelehan air mata, seraya tak henti mengucap Ya Allah … ridhailah hamba menyambut panggilan-Mu kelak untuk menjadi tamu-Mu, untuk melakukan haji dan umroh hanya untuk-Mu. Kalau dihitung secara matematis, gajiku sebagai seorang calon PNS tidak akan cukup untuk membiayai impianku– menjadi tamu Allah di Masjidil Haram dan berziarah ke makam Rasulullah di Madinah. Tapi, aku yakin akan firman Allah bahwa kita tidak boleh berputus asa dalam mencapai rahmat Allah. Aku tak bosan-bosan berucap “Ya Allah ... ridhailah hamba…”, setiap saat aku melihat gambar ka’bah dan mendengar talbiyah dikumandangkan.

Di suatu malam yang sunyi dalam Ramadhan di bulan Maret 1997, aku berdiri di pelataran masjid Istiqlal memandang ke langit yang jernih dan berhias bintang, aku menangis menikmati suasana malam itu. “Ya Allah, terima kasih atas saat yang damai ini di rumah-Mu, ridhailah hamba untuk menikmati damainya Masjidil Haram Ya Tuhan”, gumamku. Hamba akan sabar menanti panggilan-Mu Ya Tuhan. Namun rizqiku bukan di tangan Pemerintah, bukan di tangan bosku, bukan di tangan orang tuaku, tapi Penciptaku yang mencukupi dan mendengar do’aku. Rizqi itu datang dari arah yang tak pernah aku sangka. Setelah beberapa bulan aku bekerja tak kenal lelah baik di kantor di pagi hari dan mengajar di malam hari, aku tertegun melihat jumlah saldo tabunganku. Telah cukup bekalmu untuk menunaikan umroh, bisik hati kecilku. Namun, setan mulai membisikbisik dengan segala rayuan dan tipu dayanya berusaha membelokkan niatku. Hampir saja aku tergelincir, tapi Allah menyelamatkan aku. Bergegas aku menukarkan rupiahku dengan US$ yang nilainya semakin naik sampai sekarang dan tidak pernah turun. Allahu Akbar, dengan ridha Allah tersungkur aku bersujud di depan ka’bah, tersedu aku di masjid Nabawi mengingat Rasulullah, menapak kakiku di Masjidil Aqsha. Alhamdulillaah, Ya Allah, telah kaubawa hamba ke tempat yang Kau wajibkan hambaMu untuk mendatanginya. Perjalanan umroh itu menjadi tambahan spirit dalam hidupku, menambah keyakinan akan kasih dan sayang Allah pada hamba-Nya. Hal itu pula yang menguatkan semangatku untuk berusaha mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2. Tahun 1998, aku mendaftar untuk mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Inggris, yang kedutaannya selalu aku lewati jika menuju ke kantor. Setiap aku melintas di depannya setiap hari, dari balik jendela Kopaja secara refleks aku bergumam “Ya Allah … ridhailah hamba …”, kata-kata itu yang selalu terucap saat aku melihatnya. Subhanallaah, di tahun 2000 dengan ridha Allah aku dapat meraih gelar master di Inggris. Kembali ke Indonesia, aku jalani kehidupan sendiri dengan usia yang semakin merambat. Dalam kesepian, di jalan menuju kos-kosan baru aku melihat papan penunjuk jalan itu. Setiap hari aku lewati, sampai aku hafal, ada tanda panah dan tulisan Kantor Urusan Agama di sebelahnya. Setiap hari … spontan aku berucap “Ya Allah, hamba merindukan pendamping hidup”. “Ya Allah ... ridhailah hamba …”, kata-kata itu yang selalu terucap saat aku melihatnya. 11 Januari 2002, dua hari setelah Pak Ustadz menanyakan keputusanku, tanpa persiapan yang rumit namun dengan ridha Allah aku menikah dengan seorang muslim. Betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa KUA yang mencatat pernikahan kami adalah KUA yang tiap hari aku lewati. Allahu Akbar ... Subhanallaah. “Ya Allah … tunjukilah hamba untuk mensyukuri nikmat-Mu ... ibadah hamba, sujud hamba, tangisan hamba tak akan pernah sebanding dengan nikmat-Mu Ya Tuhan. Ya

Allah … ridhailah hamba … untuk senantiasa berada dalam ajaran-Mu”…. Selalu terucap setiap saat aku melihat keindahan dan kebesaran segala ciptaan-Mu Ya Tuhan ... Sitta Izza Rosdaniah (sitta@rocketmail.com) Pagi ... Publikasi: 27/12/2002 09:05 WIB eramuslim - Pagi merupakan awal dari kegiatan bagi sebagian besar makhlukNya untuk berikhtiar. Sementara cuaca masih terasa dingin anak-anak sekolah sudah bertebaran di pinggir jalan menunggu kendaraan umum, begitu pula para pegawai kantoran, pabrik, pasar, atau hanya sekedar buruh di proyek-proyek pembangunan rumah. Satu persatu kendaraan mengangkut penumpangnya, dengan berbagai ekspresi yang sering kita lihat, ada yang bercanda, melamun, atau sekedar memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Pada saat berkendara, mungkin tidak terlalu merugikan apabila sejenak kita coba alihkan perhatian pada lingkungan sekeliling. Rumah-rumah, gedung sekolah, pepohonan, dan sebagainya tampak seperti biasanya tidak ada yang berubah, hanya sedikit saja mungkin, sekolah itu catnya semakin pudar, atau ada pohon kecil yang baru ditanam, atau bahkan ada gedung baru yang dengan kokoh berdiri menjulang. Kendaraan melaju dengan berbagai kecepatan ada yang berjalan perlahan, ada yang menyalip, ada yang membelok dan sebagainya. Tahukah berapa kecepatan kendaraan yang dikendalikan bapak atau ibu sopir itu? Di kota-kota umumnya pada kecepatan sedang sekitar 40-60 km/jam. Lebih jauh lagi, pada kecepatan itu mesinnya sendiri berputar pada kecepatan +/- 2000 rpm (putaran per menit). Mungkin angka ini tidak terlalu berarti bagi kita, namun apabila menengok kembali pada telaah lebih jauh akan diperoleh kenyataan yang menakjubkan. Pada kendaraan umum kecil yang biasa disebut angkot biasanya menggunakan mesin 1000 cc - 1300 cc (1.0 liter-1,3 liter). CC (centimeter cubic) dalam hal ini merupakan kapasitas ruang pembakaran mesin yang digunakan oleh angkot tersebut, sehingga semakin besar angkanya maka ruang bakarnya semakin besar dan tenaga mobil itu semakin besar dan biasanya ukurannya pun semakin besar, seperti sebuah truk sedang dengan mesin 4000 cc atau truk besar dengan mesin 10 000 cc. Secara umum dari data di atas dapat diambil penelusuran bahwa pada sekali proses pembakaran BBM atau satu putaran mesin dihasilkan 1 liter gas buang untuk kendaraan dengan kapasitas mesin 1000 cc atau 1 liter. Melihat kembali kecepatan kendaraan yang melaju sedang dengan kecepatan 40 km/jam dan putaran mesin 2000 putaran/menit, maka dapat diperoleh gas buang kendaraan sebanyak 2000 putaran/menit dikali 1 liter gas buang/putaran mesin atau sebesar 2000 liter gas buang/menit!

Padahal mungkin kita berkendara lebih dari 60 menit dalam satu hari atau menyumbang lebih dari 120 000 liter gas pencemar perhari kepada lingkungan kita, Astaghfirulloh! Bandingkan pula dengan kendaraan truk sedang dengan kapasitas mesin 4.0 liter (4000 cc) akan dihasilkan 4000 liter gas buang permenit! Menurut pengamatan Pusat Teknologi Prasarana Jalan, Bandung pada tahun 2000 tercatat bahwa untuk jalan arteri perkotaan terdapat sekitar 2000 kendaraan perjam yang melewati sebuah ruas jalan. Sehingga apabila kita anggap semua kendaraan itu angkot dengan kapasitas mesin 1000 cc maka dihasilkan gas polusi sebanyak 240 juta liter tiap jam! Sulit, sangatlah sulit untuk mendaur ulang udara yang sudah tercemar. Hal ini disebabkan udara sulit untuk dilokalisir, berbeda dengan air, yang umum bisa dipisahkan antara air kotor dan air bersih. Udara adalah universal, betul-betul anugerah kebebasan, tidak membeda-bedakan warna kulit, agama, harta, sakit atau sehat, penjahat, ulama, dan sebagainya. Kita bersama-sama menghirup udara yang sama, bahkan si pelaku pencemaran sekalipun. Musibah, musibah yang terjadi baru-baru ini mungkin menjadi tidak berarti dibandingkan penghancuran bumi secara masal yang kita lakukan secara gotong royong tanpa disadari. Lebih dahsyat, karena mungkin dalam beberapa generasi manusia berikutnya udara merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup mereka. Walaupun begitu besar produksi limbah terhadap udara kita tiap harinya, kegiatan berkendara merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan. Solusi, meningkatkan kesadaran akan kesehatan lingkungan merupakan solusi terbaik yang relevan pada saat ini. Namun, kesadaran itu sangatlah sulit untuk dikenali karena sifat manusia yang senantiasa khilaf sehingga memerlukan waktu yang tidak sedikit dan perlu kerjasama semua pihak untuk membinanya. Seperti diungkapkan dalam renungan berikut ini, "bila melihat alam yang indah ini tiada terasa kebesaran Allah bila mendapat musibah lupa dirinya hamba nikmat yang datang tiada rasa dariNya patutlah malu kepadaNya karena anugerahNya kepada kita membuat dosa rasa kekesalannya

buta hati lebih berbahaya buta mata tidak nampak dunia buta hati tidak nampak kebenaran buta hati ditipu nafsu dan syaitan bahkan dilupakan saja semua rasa bangga dengan dosa bila menyebut neraka tidak terasa akan derunya bila menyebut syurga tidak terasa akan nikmatnya jiwa itu telah mati... atau buta..." (izzatun nissa')

Dan firman Allah Swt tentang orang-orang fasik (durhaka), "... (Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah, sesudah perjanjian itu teguh dan memutuskan apa yang oleh Allah disuruh menghubungkannya, dan mengadakan kerusakan di bumi ini. Merekalah orang-orang yang rugi." (Al Baqarah:27) Dan tidak ada salahnya untuk mengetahui beberapa peraturan pemerintah, seperti keputusan Menteri Lingkungan Hidup KEP-35/MENLH/10/1993 TENTANG AMBANG BATAS EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR "Kandungan CO (karbon monoksida) dan HC (hidro karbon) dan ketebalan asap pada pancaran gas buang: Sepeda motor 2 (dua) langkah dengan bahan bakar bensin dengan bilangan oktana ³ 87 ditentukan maksimum 4,5% untuk CO dan 3.000 ppm untuk HC; Sepeda motor 4 (empat) langkah dengan bahan bakar bensin dengan bilangan oktana ³ 87 ditentukan maksimum 4,5% untuk CO dan 2.400 ppm untuk HC; Kendaraan bermotor selain sepeda motor 2 (dua) langkah dengan bahan bakar bensin dengan bilangan oktana ³ 87 ditentukan maksimum 4,5% untuk CO dan 1.200 ppm untuk HC; Kendaraan bermotor selain sepeda motor 2 (dua) langkah dengan bahan bakar solar disel dengan bilangan setana ³ 45 ditentukan maksimum ekivalen 50% Bosch pada diameter 102 mm atau 25% opasiti untuk ketebalan asap. Kandungan CO dan HC sebagaimana dimaksud di atas diukur pada kondisi percepatan bebas (idling). Ketebalan asap gas buang sebagaimana dimaksud di atas diukur pada kondisi percepatan bebas." Sudahkah kendaraan Anda layak uji emisi ? Komposisi gas buang kendaraan sebenarnya lebih kompleks seperti senyawa nitrogen oksida(NOx), senyawa belerang oksida(SOx), Ozon (O3), senyawa hidrokarbon (HC), H2O, CO, CO2, dan unsur logam berat yang

sekarang pemerintah berusaha menguranginya. Pada kota-kota besar seperti New York dengan tingkat polusi tinggi kehadiran gas pencemar ini sudah sangat kentara berupa kabut putih yang sering di sebut smog (smoke and fog) atau kabut asap. Termenung sejenak menatap ke luar jendela, di lantai delapan di hadapan meja resik tempat saya bekerja. Kota Jakarta terlihat indah dari sini, menerawang jauh ke depan gedung-gedung tinggi, masjid yang artistik, dan hijau pepohonan di perumahan penduduknya diselimuti kabut putih yang samar, seperti di negeri awan, ah ternyata hari masih pagi. Segera kubaca email satu per satu sambil berharap ada seorang teman yang mengingatkanku akan khilaf hari ini (Je toi aime aussi mon ami, peri kecil). Jakarta, 23 Desember 2002 Riki Hendriana (Riki@excelcom.co.id) Lima Detik Pertama Penentu Sukses Publikasi: 18/12/2002 09:45 WIB eramuslim - Sukses, mungkin tidak satupun manusia di dunia ini yang tak ingin meraihnya, karena bahkan seorang yang berencana bunuh diripun tak ingin mengalami kegagalan. Maksudnya, orang akan menanggung malu teramat besar jika upaya bunuh dirinya ternyata tidak berhasil, meskipun seharusnya ia bersyukur. Mungkin terlalu ekstrim jika yang diambil contoh adalah soal bunuh diri, namun hal itu sekedar ingin memberikan gambaran bahwa untuk hal paling hina pun orang berusaha maksimal untuk merealisasikannya. Apapun, untuk meraih sukses, kuncinya adalah rencana yang matang dan usaha yang maksimal untuk menjalankan semua yang telah terencana itu. Dalam prinsip manajemen, langkah ini biasa dikenal dengan, Rencanakan Apa Yang Hendak Dikerjakan, dan Kerjakan Apa yang Sudah Direncanakan. Artinya, jika keluar dari prinsip tersebut, bisa jadi satu keniscayaan bahwa kegagalan segera menghampiri Anda. Namun, tahukah Anda apa yang paling menentukan dari semua proses awal menuju kesuksesan ketika hendak memulai satu upaya merealisasikan semua rencana? Rahasia sukses seseorang dalam meraih semua impiannya, entah itu berkenaan dengan karir, hubungan interpersonal atau apapun yang menjadi obsesinya ternyata ada pada lima detik pertama setiap langkah awalnya. Lima detik begitu menentukan? Tepat! Karena yang harus Anda lakukan pada lima detik pertama itu adalah kunci sukses nomor satu yang tidak boleh dilewatkan, satu hal yang sangat mudah dan praktis untuk dilakukan: Tersenyum. David J Lieberman dalam sebuah buku laris yang berjudul, Get Anyone To Do Anything menyebutkan, taktik nomor satu untuk menciptakan kesan pertama yang luar biasa tetapi mudah dilakukan adalah: Tersenyum. Mengapa senyum? Jangan pernah pernah menganggap sepele tersenyum, karena Rasulullah pun memberikan nilai sedekah untuk setiap senyum yang kita berikan kepada saudara kita. Selain itu, senyum mampu menciptakan empat hal yang luar biasa: Menimbulkan rasa percaya diri, kebahagiaan, dan semangat. Dan yang lebih penting, tersenyum menandakan penerimaan yang tulus.

Orang yang tersenyum dianggap sebagai orang yang penuh percaya diri karena ketika kita sedang grogi atau tidak yakin dengan diri kita atau sekitar kita, kita cenderung untuk tidak tersenyum. Tentu saja tersenyum menimbulkan kebahagiaan sehingga akan mempertemukan kita kepada orang-orang yang bahagia karena kita melihat mereka dengan cara yang positif. Semangat sangat penting untuk menciptakan kesan yang baik karena semangat itu dapat menular kepada orang lain. Dengan tersenyum menunjukkan bahwa Anda menyenangi tempat dimana Anda berada dan senang bertemu dengan orang yang Anda temui sehingga pada gilirannya dia akan semakin tertarik untuk bertemu Anda. Pada akhirnya, tersenyum menunjukkan penerimaan yang tulus dan menyebabkan orang lain tahu bahwa Anda mau menerima dia dengan tulus. Anda tentu masih ingat pesan sebuah iklan produk parfum pria yang pernah ditayangkan di TV yang berbunyi, “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda …”. Ya, kesan pertama, itulah yang harus Anda ciptakan untuk bisa memulai segalanya lebih lancar sehingga kesuksesan seolah sudah digenggaman Anda. Dan tersenyum, jelas cara yang paling ampuh untuk menciptakan kesan pertama yang mengagumkan. Berkenaan dengan kesan pertama ini, ada sesuatu yang disebut pengaruh pertama, yakni sebuah proses dimana kesan pertama kita terhadap orang lain menyebabkan kita menilai perilaku berikutnya atas dasar kesan pertama kita. Ini artinya, kesan pertama kita terhadap seseorang sangat penting karena segala sesuatu yang kita lihat dan kita dengar selanjutnya disaring melalui pendapat kita yang pertama. Akibatnya, Anda menciptakan citra orang tersebut sebagaimana ketika mula-mula Anda bertemu dengannya dan Anda melihat perilakunya pada masa-masa selanjutnya melalui citra ini. Jadi, apabila kesan pertama seseorang terhadap Anda baik, maka dia akan cenderung lebih baik dalam menilai anda pada masa-masa selanjutnya. Dimanapun, kapanpun, bersama siapapun, sedang apapun ketika Anda tengah berinteraksi dengan orang lain, jadikan senyum sebagai modal utama Anda. Senyum bisa menjadi senjata yang paling ampuh dalam berbagai kondisi, seperti hubungan interpersonal dan interelasi, saat interview, wawancara dan lain sebagainya. Sebagai ingatan, jangan pernah sia-siakan momentum awal (detik-detik pertama) untuk tidak menjadikannya sebaik mungkin, karena percakapan dan hubungan Anda selanjutnya akan disaring melalui momentum awal ini, dengan demikian akan menciptakan kesan yang sangat baik. Itulah sebabnya mengapa tersenyum itu sangat penting. Lakukanlah dengan segera dan senyum akan menjelaskan banyak hal tentang diri Anda: Semuanya Positif. Wallaahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama) Jangan Jadi Robot! Publikasi: 17/12/2002 08:45 WIB eramuslim - Mungkin kita sering melihat film fiksi ilmiah dimana terdapat makhluk yang menyerupai manusia tapi bukan manusia, yang lebih dikenal dengan robot manusia. Secara sepintas memang robot itu seperti manusia. Mereka memiliki mata, telinga, mulut, dan berbagai indera lain sama halnya seperti manusia. Dimana walupun secara fisik berbeda, alat indera itu secara fungsionalitas memiliki kesamaan dengan yang dimiliki manusia.

Robot itu merupakan salah satu kreasi manusia. Tujuannya adalah bagaimana agar hidup ini dapat lebih dipermudah dengan mendelegasikan pekerjaan yang rutin maupun pekerjaan yang seharusnya tidak dikerjakan manusia. Sebagai hasil kreasi manusia, robot akan selalu mengikuti perintah yang membuatnya. Robot bisa diberdayagunakan di pabrik mobil untuk merakit komponen. Robot itu juga bisa digunakan untuk mengoperasikan tugas-tugas tertentu yang beresiko tinggi, misalnya mengendalikan reaktor nuklir. Sampai mungkin suatu saat kita bisa melihat robot bisa dijadikan sebagai angkatan bersenjata sebagaimana kita lihat di film-film fiksi ilmiah. Saat ini bahkan sudah dibuat robot yang mempunyai kemampuan untuk menambah pengetahuannya sendiri. Inilah yang disebut sebagai Artificial Intelligence (AI). Dengan AI, robot itu seakan-akan mempunyai kemampuan berpikir sendiri. Bahkan kini sudah ada emosi buatan disebut artificial emotion, dimana robot akan mempunyai kemampuan untuk beremosi, sebagai respon atas suatu kejadian. Sehingga pada suatu saat, pengetahuan robot itu bisa saja melebihi manusia yang membuatnya dan merespon berdasarkan emosi. Sampai pada tahap tertentu nantinya bisa saja robot akan mengatakan 'tidak' terhadap manusia pembuatnya. Alhamdulillah, kita adalah manusia. Kita bukan robot yang selalu menjalankan tugastugas yang rutin. Tidak seperti robot, kita bisa saja istirahat dari segala aktivitas kita. Tidak seperti robot, kecerdasan yang ada pada diri kita bukanlah buatan tapi merupakan kecerdasan yang sebenar-benarnya. Tidak seperti robot, emosi yang ada pada diri kita juga merupakan emosi yang memang tidak bisa ditebak keadaannya, karena memang itulah sifat dari emosi. Itu semua telah diberikan oleh Allah, sang Maha pencipta. Walaupun demikian, sama halnya seperti robot. Dalam kehidupan sehari-hari kita terjebak dalam keadaan yang memaksa kita berperilaku seperti robot. Selain itu terkadang kecerdasan yang ada pada diri kita ini digunakan untuk berpikir dan menghimpun pengetahuan yang tidak membuat kita semakin mendekatkan diri kepada Allah, tetapi justru semakin menjauhkan kita dari Allah. Kita justru akan mengatakan 'tidak' kepada Allah, pencipta kita sendiri. Sampai-sampai kita merasa orang yang paling pintar di dunia ini dan berlaku sombong. Padahal kecerdasan yang kita miliki hanyalah bagian kecil saja dari seluruh ilmu Allah. Sebagaimana firman Allah: "Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Allah, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Allah, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)" (Quran Surat Al-Kahfi:109). Beruntung bagi kita manusia yang diberikan sisi lain yang tidak mungkin ada pada robot, yaitu sisi spiritual. Sisi spiritual itulah yang memungkinkan kita untuk selalu mengingatNya. Bersyukurlah kita yang tetap menjaga sisi spiritual kita, karena inilah yang membedakan kita dengan robot-robot. Karenanya jika kita tidak ingin dikatakan sebagai robot, ingatlah selalu kepada Allah dengan dzikir dan bersyukur kepada-Nya agar kita bisa menjadi manusia yang sebenarnya.

"Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya." (Quran Surat At-Tin 1-4). Wallaahu'alam bishshawab Zulfikar S. Dharmawan (zulfikar@ukhuwah.or.id) Lelah … Publikasi: 16/12/2002 07:33 WIB eramuslim - Kalau ada orang-orang yang masih terus menerus berdusta, aku tidak mengerti, terbuat dari apakah lidah mereka sehingga teramat hebat merangkai kata-kata indah menutupi kebenaran, menyembunyikan hakikat mengedepankan kepalsuan. Padahal sekali saja berdusta, sudah sedemikian lelahnya kita berpikir untuk mencari segudang alasan baru untuk dusta berikutnya, sudah sebegitu kelunya lidah ini terpaksa menari mengikuti irama gendang kepalsuan yang tak hentinya bertabuh. Jika masih ada sebagian orang yang saling mencaci, menghina, menggunjing, berprasangka buruk dan menjelek-jelekkan saudaranya, aku tidak tahu, sekuat apa penciuman dan mulutnya karena pada saat itu ia seperti tengaha memakan bangkai saudaranya sendiri. Seandainya masih beredar orang-orang yang tak hentinya berlaku sombong, angkuh dan takabbur, aku tak habis pikir, sebesar apa dirinya sehingga sangat lancang menantang kebesaran Tuhannya, dan sekuat apa tubuhnya kelak menanggung akibat dari kesombongannya. Padahal semestinya ia tahu, kesombongan adalah mutlak miliki Allah semata. Sekiranya tetap hidup manusia-manusia yang enggan menyisihkan sebagian harta yang dimilikinya, sementara bertebaran di seluruh penjuru bumi Allah ini anak-anak yatim piatu, fakir miskin dan orang-orang lemah, aku semakin heran, apakah ia selalu berpikir bahwa semua itu diperolehnya murni dari hasil jerih payahnya? Tak pernahkah ia tahu bahwa semua yang ada padanya itu adalah atas kehendak Allah Sang Pemberi Rizki? Yang seandainya Dia berkehendak, dengan sangat mudah pula Dia mengambil darinya? Mungkin saja masih ada segelintir makhluk Allah bernama manusia yang tak bosannya berzina, sungguh aku semakin bingung dibuatnya. Padahal seratus kali ayunan cambuk atau lemparan batu hingga mati bisa jadi satu-satunya alasan Allah untuk memberikan ampunan atas perbuatannya. Dan jika itu tidak dilakukannya, sudah pasti kilatan cambuk Allah di akhirat nanti bukan sekedar mematikan, tetapi menghancurkan tubuh kecil tak berarti ini. Lalu kenapa masih ada yang berani meski sekedar mendekatinya? Umpamanya masih hidup orang-orang yang gemar berbuat maksiat, bangga dengan dosadosanya, sungguh aku tidak akan pernah memahami, setebal apa kulit mereka menahan

api neraka Allah, sekuat tubuh orang-oran