P. 1
makalah khawarij

makalah khawarij

|Views: 115|Likes:
Published by Masruhanel Syatha

More info:

Published by: Masruhanel Syatha on Oct 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/13/2013

pdf

text

original

Pendahuluan Setiap orang yang ingin mengetahui seluk beluk agamanya secara mendalam, perlu mempelajari teologi yang

terdapat dalam agamanya. Mempelajari teologi akan memberikan kepada seseorang keyakinan yang didasarkan pada landasan yang kuat, yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh perubahan zaman. Teologi dalam Islam dikenal dengan nama “Ilmu Aqaid” atau “Ilmu Tauhid”. Dinamakan demikian karena dalam Islam keyakinan tentang ke-Maha Esaan Tuhan adalah termasuk ajaran yang sangat penting. Teologi Islam disebut juga “Ilmu Kalam”. Dinamakan demikian, karena masalah “kalam” atau firman Tuhan, yaitu Al- Quran, pernah menjadi polemic yang menimbulkan pertentangan-pertentangan keras dikalangan umat Islam, terutama dalam abad 9 sampai 10 Masehi yang membawa kepada penganiayaan-penganiayaan bahkan pembunuhanpembunuhan terhadap sesama muslim pada waktu itu. Dalam Islam sebenarnya terdapat lebih dari satu aliran teologi.1 Ada aliran yang bersifat liberal, ada yang bersifat tradisional dan ada pula yang bersifat tengah-tengah antara liberal dan tradisional. Hal ini mungkin ada hikmahnya. Orang yang bersifat tradisional dalam pemikirannya, mungkin lebih sesuai dan dapat menerima paham-paham dari ajaran teologi tradisional. Sedangkan orang yang bersifat liberal dalam pemikirannya, mungkin lebih sesuai dan dapat menerima paham-paham dari ajaran teologi liberal. Dalam soal paham jabariyah (fatalism) dan paham qadariyah (free will) misalnya, orang yang bersifat liberal dalam pemukimannya, tentu tidak dapat menerima paham jabariyah (fatalisme). Baginya paham qadariyah (free will) yang terdapat dalam ajaran teologi liberalisme yang lebih sesuai dengan jiwa dan pemikirannya. Begitu pula sebaliknya. Adapun beberapa aliran teologi dalam Islam, yaitu aliran Khawarij, aliran Murji’ah, aliran Qadariyah dan aliran Jabariyah. Namun pada kali ini penulis hanya akan menjelaskan paham Khawarij beserta sekte-sektenya.

Arti Kata Khawarij
1 Muhammad Abduh, Risalah Tauhid,alih bahsa firdaus (Jakarta: Bulan bintang, 1996). Hal.4

Sebagaimana kita ketahui dalam sejarah Islam, bahwa kaum khawarij pada mulanya adalah pengikut-pengikut Ali bin Abi Thalib, tetapi kemudaian mereka meninggalkan barisannya, karena tidak setuju dengan sikap Ali bin Abi Thalib yang menerima “tahkim” (arbitrase)2 sebagai jalan untuk menyelesaikan persengketaannya dengan Mu’awiyah ibnu Abi Sufyan. Khawarij adalah bentuk jamak dari “kharij” dan berasal dari akar kata “kharaja”yang berarti keluar, Kata keluar bermaksud “walk out” dari patuh dan loyal kepada pemimpin atau Imam yang sah, seorang khawarij mendemonstrasikan keingkarannya dan membentuk wilayah sendiri yang eksklusif. Ulama Fiqih menyebut Khawarij dengan Istilah “al-Baghi” atau pembangkang. Mereka seringkali disebut juga “Haruriyah” yang berasal dari “Harura”, yaitu nama sebuah desa di dekat kota Kufah di Irak. Di tempat inilah mereka yang pada waktu itu berjumlah dua belas ribu orang, berkumpul di tempat ini, setelah memisahkan diri dari barisan Ali bin Abi Thalib sebagai anti dari Ali. Dalam pertempuran dengan kekuatan Ali mereka mengalami kekalahan besar, tetapi akhirnya seseorang yang bernama Abd al-Rahman ibn al-Muljam dapat membunuh Ali bin Abi Thalib. Sejarah lahirnya al-Khawarij Al-Khawarij lahir dari konflik yang terjadi pada masa Ali bin abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sofyan, konflik tersebut tidak bisa diselesaikan, peristiwa tersebut berawal dari keinginan Ali sebagai Khalifah yang sah untuk mereshufle semua gubernur yang diangkat oleh khalifah Usman bin Affan, tetapi Mu’awiyyah selaku Gubernur Siria menolak dan tidak mentaati keputusan Ali, sehingga terjadilah konflik antara keduanya. Dalam fersi lain menjelaskan bahwa Mu’awiyah termasuk salah satu diantara pejabat yang dipecat oleh Ali bin Abi Thalib. Mu’awiyah menolak keputusan ali, bahkan merencankan untuk menyerangnya di ibu kota Madinah. Mendengar isu Mu’awiyah akan menyerang, ia pun menyiapkan pasukannya untuk menahan penyerangan tersebut,
2 Arbitrase adalah usaha dalam mewujudkan perdamaian sengketa antara dua orang atau kelompok yang berikai dan mereka sepakat untuk menunjuk seseorang yang mereka perangi untuk menyelesaikan sengkerta yang terjadi antara mereka, dan keputusan dari kedua pihak harus dipatuhi dan dijalankan, hakim yang ditunjuk untuk menyelesaikatan sengketa tersebut tidak dari kalangan pemerinta namun kal;angan swasta (lihat Stria Efendi, M Zein, Arbitrase dalam Syari’at Islam, jurnal hokum Islam, No 16 1994, h.53.

akhirnya pada tahun 37 Hijriyah terjadilah pertempuran akbar antara Ali dan pengikutnya di sebelah barat sungai Eufrat yang bernama Siffien dan perang ini dikenal sejarah dengan sebutan perang Siffien. Sebanyak 50.000 balatentara dipersiapkan Alibin abi thalib berangkat menuju utara, dan bertempur dengan pasukan Muawiyyah yang berjumlah 80.000. pada saat kemenagan hamper diraih pasukan Ali, maka Amr bin Ash dari kelompok Mu’awiyah memerintahkan salah seorang pasukannya untuk mengangkat alquran di ujung tombaknya sebagai tanda minta bertahqim kepada Al-quran, melihat gelagat yang tanpa diduga itu, Ali merasa ragu dan khawatir kalau semua itu sekedar tipu muslihat, maka Ali terus menyuruh tentaranya untuk terus bertempur, sebelum ahirnya sebagian tentara Ali menentangnya. Kebanyakan diantara mereka menghendaki diadakan perdamaian dan menerima ajakan Mu’awiyah. Akibat dari desakan tentaranya, Ali terpaksa menerima tahqim dan menyuruh komandanya al-ansyar An-naka’I menghentikan pertempuran.3 Anehnya setelah Ali setuju, laskar Ali yang semula mendesak untuk bertahqim yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan tahun 37 Hijriyah, berbalik sikap dan merasa mendesak Ali agar jangan mau melaksanakan tahqim, dan lebih dari itu mereka menuntut agar Ali mengaku talah kafir karena kesalahannya mau bertahqim. Kelompok tersebut memisahkan diri dan pergi ke harura dan tidak mau lagi bergabung dibawah pimpinan Ali, juga mengangakat Abdullah Ibnu wahhab Al-rasyidi sebagai imam mereka. Kelompok inilah yang dikenal dengan nama khawarij yang pada awalnya berjumlah kurang lebih 12.000 orang.4

Sekte – Sekte Khawarij Banyak sekali perbedaan pendapat tentang sekte khawarij, Muhammad bin abdul
3 Hasbi Ashshiddieqy, Sejarah dan pengantar ilmu tauhid, Bulan bintang, Jakarta, 1992, hal. 169 4 Harun nasution, Theologi Islam, Sejarah Analisa Dan Perbandingan, UI Press, Jakarta, 1991, hal.23

karim al syarastani5 menjelaskan kelompok – kelompok khawarij yang terpenting adalah: 1. Al-Muhakamiyah Kelompok Muhakamiyah adalah mereka yang tidak mentaati Ali setelah terjadinya tahqim (abitrasi). Mereka bertempat di desa Harurah, dekat kota kufah. Kelompok ini dipimpin oleh Abdullah ibn al-kawa, Atab ibn al- awar, Abdullah ibn wahab al razi, Urwah ibn jarir, Yazid ibn abi Ashim al- muharibi, harqus ibn zuhair al bahali. Mereka telah menciptakan dua macam bid’ah: a) bid’ah tentang imamah. Menurut mereka imam boleh saja dari Quraisy. Setiap orang yang mereka angkat yang dapat berlaku adil dan menjauh dari kejahatan adalah imam yang sah, setiap yang tidak mentaatinya wajib dibunuh. b) bid’ah tentang Ali bin abi thalib. Mereka menganggap Ali telah melakukan banyak kekeliruan, antaranya adalah abitrasi. 2. Al- Azariqah Al- Azariqah adalah kelompok pendukung Abu Razid Nafi ibn al- Arzaq (60 H). mereka memberontak dari kepemimpinan Ali dan melarikan diri dari Basrah ke Ahwaz dan dapat menguasai daerah sekitarnya seperti kirman. Ajaran bid’ah yang diajarkan kelompok ini ada delapan macam6: a) Mengkafirkan Ali bin abi thalib b) Mengkafirkan setiap orang yang tidak ikut berperang, sekalipun masih melaksanakan ajaran islam. Dan juga mengkafirkan orang yang enggan berhijrah. c) Membolehkan membunuh anak-anak perempuan saat perang melawan musuhnya. d) Tidak mengakui hukuman rajam terhadap para pezina, dengan alasan hal itu tidak tercantum dalam al-quran. Dan membebaskan hukuman cambuk dari orang yang menuduh lelaki berbuat zina, hukuman tersebut hanya berlaku kepada penuduh yang menuduh perempuan berbuat zina. e) Mereka berpendapat bahwa anak orang musyrik bersama orang tuanya di
5 Al- Syahrastani, Al-milal wa nihal, (Beirut: dar al-kutb al-ilmiyah, 1992)juzI, hal 23 6 Ahmad Syalabi, Tarekh al-Islam wa al-hadharah al-Islamiyyah, Juz 1, Mesir, Maktabah alNahdhah al-Misriyyah, 1975, h.302

neraka. f) Allah boleh saja mengangkat seorang nabi yang allah telah mengetahuinya akan menjadi orang yang kafir setelah diangkat menjadi nabi. g) Tidak diperbolehkan Taqiah (berpura-pura) baik dalam perkataan, maupun perbuatan. h) Mereka sependapat bahwa orang yang melakukan dosa besar hukumnya kafir, karena dianggap keluar dari agama islam dan kekal di neraka. Alasannya, karena iblis hanya sekali melakukan dosa besar. 3. An- Najadaat Al- azizirah Kelompok ini adalah pengikut pemikiran Najdah ibn ‘Amir al-Hanafi yang dikenal dengan nama Ashim. Berbeda dengan Azariqah, ajaran agama menurut mereka ada dua hal7: a) Mengenal Allah, para rasul, haram membunuh sesama muslim, mengakui secara umum apa yang diturunkan Allah. Semua ini wajib bagi setiap orang mengenalnya, kejahilan tidak dapat dijadikan alasan. b) Selain yang disebut diatas, kejahilan dapat dijadikan alasan seperti dalam menetapkan yang halal dan haram. 4. Al- Baihasiah Kelompok ini mengikuti pemikiran Abu baihas al- Haisham ibn jabir, mereka menganggap belum muslim orang yang belum mengenal Allah dengan yaqin, mengenal para rasul dan apa yang dibawanya. Iman bagi mereka adalah pengetahuan terhadap yang benar dan yang batil, sedang pengetahuan bukan termasuk ucapan dan perbuatan. 5. Al- ‘Ajarida Kelompok ini pengikut penikiran Abdul Al-karim ‘araj yang isi ajarannya tidak jauh beda dengan ajaran Al- Najadaat. Kelompok ini terbagi menjadi beberapa kelompok kecil: a) Ash- shalthiah (Ustman ibn Abi Shalt) mereka berpendapat “anak seorang muslim atau musrik dapat dikatakan muslim yang wajib melaksanakan ajaran
7Opcit. Hal 38

islam setelah ia baligh dan menyatakan islam sebagai agamanya. b) Al- maimuniyah (Maimun ibn khalid) mereka berpendapat “ segala perbuatan manusia bersumber dari manusia sendiri, karena manusia mempunyai Qudroh (kemampuan) sebelum berbuat. Allah hanya menghendaki kebaikan, bukan keburukan. c) Al- Hamziyyah (Hamzah ibn Adrak) mereka sependapat dengan maimuniyah mengenai qadar, namun berbeda tentang anak orang muslim dan musrik. Bagi mereka keduanya di dalam neraka. d) Al- Halafiyyah ( Khallaf al Khariji) berbeda dengan hamziyyah, bagi mereka kebaikan dan keburukan itu semuanya ciptaan Allah. Dan menganggap bahwa anak orang musrik masuk neraka, karena ia belum ia belum mempunyai perbuatan yang menyebabkan dirinya masuk surga. e) Al- athraahufiyyah, kelompok ini sependapat dengan Hamziyah tentang qodho qodar. Tapi kalau ia sudah mengetahui menurut akalnya itu buruk, hendaknya ia menyingkir. Hal ini hampir sama dengan pemikiran Mu’tazilah. f) Asyu’abiyyah (syuaib bin Muhammad) mereka menyatakan Allah menciptakan perbuatan manusia dan semua yang lahir dari manusia hanya merupakan kasab dari manusia. Karena itu manusia bertanggung jawab atas perbuatannya dan memdapat pahala dan siksa. 6. Ath- Tsa’alibah Pendiri kelompok ini adalah Tsa’labah ibn ‘Amir, menurutnya anak tidak bertanggung jawab semenjak kecil sampai usia menjelang dewasa, namun anakanak lebih condong pada kebatilan. Kelompok ini juga mempunyai beberapa cabang kelompok lagi diantaranya: a) Al- ahnasiyah pengikut akhnas ibnu Qois yang pemikirannya hampir sama dengan Tsa’labah. b) Al- Ma’badiyah kelompok pendukung Ma’bad ibn Abdurrahman, kelompok ini membolehkan seorang muslimah dikawini seorang musyrik. c) Al- Rusyadiyah pendukung Rusyaid at tusi bahwa usaha pertanian yang pengairannya berasal dari air sungai dikenakan zakatnya 10%, sedang dari air hujan 2,5%.

d) Al- bidiyyah pengikut yahya ibnu ahdan yang mengatakan: kami yakin bahwa kami dan orang yang mengikuti pendapat kami adalah ahli surga. Karena itu kami tidak mengatakan insya Allah karena perkataan akan menimbulkan keraguan dalam aqidah. 7. Al- Ibadiyah, kelompok ini adalah pengikut Abdullah ibnu ibad yang mengatakan: orang islam yang menyalahi aturan kami adalah kafir, namun bukan kafir musyrik. Oleh itu masih diperbolehkan mengawini wanitanya, dan mewarisi hartanya. Kelompok ini juga terbagi menjadi beberapa kelompok kecil antaranya: a) Al- Hariziyyah, pengikut al- harits al-ibadhi yang hampir sama dengan pemikiran Mu’tazilah b) Al-hafsiyyah pengikut hafas ibnu abi muqoddam, dinama mengatakan seseorang yang telah mengenal Allah, kemudian kafir selain Allah seperti kepada rosul, hari kiamat, surga, neraka, atau melakukan dosa besar seperti zina, mencuri, meminum minuman keras maka ia kafir, tapi selamat dari syirik. 8. Ash- Shufriyyah Az-Ziyadiyah Kelompok ini pengikut pemikiran zayad ibn Ashfar. Pemikirannya agak berbeda dari pada kelompok khawarij yang lain. a) Ia tidak mengkafirkan orang yang tidak ikut berperang selama mereka masih seagama. b) Melarang membunuh anak orang musyrik, dan tidak mengatakan anak orang musyrik kekal di neraka. c) Taqiah tidak boleh dilakukan dalam ucapan, tapi boleh dalam perbuatan. d) Diriwayatkan juga dalam kelompok ini: kami beriman menurut pandangan kami, namun tidak tahu apakah kami terhitung juga dalam pandangan Allah. Karya-karya Tafsir al-Khawarij Tradisi al-Khawarij dalam melahirkan dan membuat karya-karya tafsir tidak sesubur karya Tafsir yang di lahirkan oleh Sunni, Mu’tazilah dan syi’ah, baik dari segi kuantitas (jumlah), ataupun dari segi Kualitas (mutu). Diantara karya-karya tafsir yang

dibuat al-Khawarij adalah :  Tafsir Abdurrahman Bin Rustam al-Farisi (abad ke-3H)  Tafsir Hiwad bin Muhkam al-Hawari (abad ke-3H)  Tafsir Abi Ya’qub, Ysuf bin Ibrahim al-Warjalani (Abad ke-6H)  Tafsir Da’i al-‘Amal li yaum al ‘Amal, oleh Syaikh Muhammad  Yusuf Itfis (Mufassir kontemporer meninggal pada tahun 1332H  Tafsir Himyan al-Zaadi il Dar al-Mi’ad, oleh Syaikh MuhammadYusuf Itfis
 Taisir al-Tafsir, oleh Syaikh Muhammad Yusuf Itfis8

kesimpulan Sekte al-Khawarij mempunyai beberapa mazhab dan masing-masing mazhab memiliki pegangan dan prinsip tersendiri. Namun mereka para Imamimam mazhab sepakat dengan satu prinsip utama mereka yaitu Mengkafirkan sahabat Nabi saw saidina Ali bin abi Thalib ra, Saidina Usman bin affan ra, Muawiyyah bin Abu sufyan ra, Amru bi ash ra, dan semua yang terlibat dalam proses arbitrase atau tahkim, sampai kepada kelompok pelaku dosa yang diluar al- Khawarij juga divonis Kafir.

8 Yayasan Dakwah Islamiayah Malaysia, Ensiklopedi Islam Pelajar, Penerbit Era Visi Publications SdbBhd, hal. 95

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->