P. 1
Apa Itu Imunisasi

Apa Itu Imunisasi

|Views: 107|Likes:
Published by Dessy Eka Puspita

More info:

Published by: Dessy Eka Puspita on Oct 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/14/2012

pdf

text

original

Apa itu Imunisasi ?

Imunisasi adalah pemberian vaksin (virus yang dilemahkan) kedalam tubuh seseorang untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit tersebut. Imunisasi sangat penting diberikan mulai dari lahir sampai awal masa kanak-kanak. Apa pentingnya Imunisasi? Untuk memberikan kekebalan kepada bayi agar : Dapat terhindar dari penyakit. Mencegah anak cacat. Mencegah kematian pada anak.

Tempat Pemberian Imunisasi?

- Posyandu.

- Puskesmas.

- Rumah Sakit Bersalin.

- Rumah Sakit.

- Praktek Dokter/Bidan.

Apa saja jenis Imunisasi?

1. BCG

Fungsi dari imunisasi ini adalah untuk menghindari penyakit TBC.

2. POLIO

Fungsi dari imunisasi ini adalah untuk menghindari penyakit polio. Polio adalah sejenis penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya kelumpuhan.

3. DPT

Fungsi dari imunisasi ini adalah untuk melindungi anak dari 3 penyakit sekaligus yaitu difteri, pertusis dan tetanus.

4. HEPATITIS B

Fungsi dari imunisasi ini adalah untuk menghindari penyakit yang mengakibatkan kerusakan pada hati.

5. CAMPAK

Adalah sejenis penyakit yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini sangat menular,yang ditandai dengan munculnya bintik-bintik merah pada seluruh tubuh. Pemberian vaksin ini saat bayi berusia 9 bulan.

Yang Harus Diperhatikan

Setelah Imunisasi

BCG : Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil dan merah ditempat suntikan. Luka akan sembuh sendiri dengan meninggalkan bekas imunisasi.

DPT : Beberapa bayi menderita panas pada waktu sore hari setelah mendapatkan imunisasi DPT, tetapi panas akan turun dan hilang dalam waktu 2 hari. Keadaan ini tidak berbahaya dan tidak perlu mendapatkan pengobatan khusus, akan sembuh sendiri. Bila gejala diatas tidak timbul tidak perlu

diragukan bahwa imunisasi tersebut tidak memberikan perlindungan dan imunisasi tidak perlu diulang.

POLIO : Jarang timbuk efek samping.

CAMPAK : Anak mungkin panas, kadang disertai dengan kemerahan 4–10 hari sesudah penyuntikan.

HEPATITIS : Belum pernah dilaporkan adanya efek samping.

Jadwal Imunisasi

Umur

Imunisasi Dasar pada Bayi Tabel 1. Jadwal pemberian imunisasi (vaksinasi) bayi Pemberian Imunisasi Selang Waktu Pemberian 0 BCG 1x 3 DPT x (DPT 4 minggu 11 Umur

Vaksin

bulan 2 11

1,2,3) 4 x (Polio

bulan 0 11

Polio

1,2,3,4)

4 minggu

bulan 9 11

Campak Hep. B

1x 3 x (Hep. B 1,2,3) 4 minggu

bulan 0 11

bulan

TENTANG IMUNISASI BAYI DAN VAKSINNYA...

Vaksin adalah suatu produk biologis yang terbuat dari kuman, komponen kuman (bakteri, virus atau riketsia), atau racun kuman (toxoid) yang telah dilemahkan atau dimatikan dan akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu. Jenis-jenis vaksin dalam program imunisasi bayi: 1. Vaksin campak, untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak. 2. Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerine), untuk pemberian kekebaan aktif terhadap tuberkulosa. 3. Vaksin Hepatitis B, untuk pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B. 4. Vaksin Polio, untuk pemberian kekebalan aktif terhadap poliomyelitis 5. Vaksin DPT, untuk pemberian kekebalan secara simultan terhadap difteri, pertusis, dan tetanus. 6. Vaksin DPT-HB, untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, tetanus, pertusis, dan hepatitis B.

(Sumber : Kementerian Kesehatan RI)

Jadwal Imunisasi menurut IDAI : klik pada gambar untuk memperbesar

(dr. Yanuar Ariefudin, Leaflet Puskesmas Karanganyar Kab. Pekalongan)

Adakah efek menunda imunisasi

Kompas.com - Jadwal imunisasi yang dibuat oleh dokter sebenarnya dirancang berdasarkan efektivitas kerja vaksin dan reaksi kekebalan tubuh anak. Karena itulah pemberian imunisasi sesuai jadwal akan menghasilkan hasil yang optimal.

Tetapi kebanyakan orangtua sengaja menunda jadwal imunisasi karena kondisi anaknya dirasa sedang tidak fit. Adakah efek penundaan tersebut terhadap kekebalan tubuh anak?

Menurut dr.Hanifah Oswari, spesialis anak dari FKUI/RSCM Jakarta, pada dasarnya tidak ada kata terlambat untuk memberikan imunisasi pada anak. "Terlambat boleh saja selama si anak belum kena penyakitnya," katanya.

Imunisasi merupakan usaha tubuh untuk membentuk kekebalan terhadap suatu penyakit. Jika jeda atau interval dari pemberian satu vaksin ke vaksin ulangannya cukup jauh, maka kemampuan tubuh untuk mengenali suatu virus atau bakteri menjadi lebih lama.

Hanifah menjelaskan, sebenarnya pilek, demam ringan, atau batuk bukanlah kontraindikasi terhadap imunisasi sehingga imunisasi tidak perlu ditunda. "Yang termasuk kontraindikasi adalah adanya gangguan kekebalan tubuh seperti anak yang menderita kanker atau HIV/AIDS," tandasnya.

Namun apabila orangtua merasa cemas jika anaknya yang sedang kurang fit diimunisasi, boleh saja imunisasi ditunda beberapa hari.

Mengenai adanya efek samping setelah anak diimunisasi biasanya hal itu tergantung pada kekebalan tubuh. Efek samping yang sering ditemui pasca imunisasi antara lain bengkak dan kemerahan di sekitar lokasi suntikan, demam ringan, atau anak menjadi agak rewel.

Namun para ibu diharapkan tak perlu takut pada efek samping pasca imunisasi yang biasanya ringan. Yang perlu ditakutkan adalah penyakit yang mungkin timbul jika anak tidak dilindungi imunisasi.

Jadwal Imunisasi Bayi Anda
Label: Artikel, Jadwal Imunisasi, Kebidanan

Imunisasi adalah pemberian kekebalan agar bayi tidak mudah tertular penyakit tertentu. Imunisasi diharapkan diberikan sedini mungkin pada bayi secara lengkap untuk mencegah timbulnya penyakitpenyakit seperti TBC, Hepatitis B, Difteri, Pertusis / Batuk Rejan, Tetanus, Polio dam Campak.

Memberikan suntikan imunisasi pada bayi anda tepat pada waktunya adalah faktor yang sangat penting untuk kesehatan bayi anda, Untuk ibu – ibu atau calon ibu, pada artikel kali ini saya akan berikan jadwal imunisasi bagi bayi anda. ( jadwal ini juga sangat penting untuk ada suami – suami sebagai bapak dari anak anda ).

Jadwal 0 bln 2 bln 3 bln 4 bln 6 9 bln Campak

ImunisasiUmur HB HB DPT DPT bln 1, 2,

Jenis BCG, DPT1, 2, 3, HB Polio Polio Polio Polio

Imunisasi 2 2 3 4 3

Mintalah Imunisasi kepada petugas Kesehatan jika anak anda telah berumur sesuai JADWAL

Setelah lahir, bayi belum punya daya tahan yang cukup untuk menangkal berbagai penyakit. Walaupun memperoleh antibodi bawaan yang diberikan ibu sejak dalam kandungan, bayi memerlukan perlindungan tambahan untuk menjaga ketahanan tubuhnya terhadap penyakit. Imunisasi merupakan suntikan vaksin atau bahan antigenik untuk menghasilkan kekebalan aktif pada tubuh bayi. Gunanya untuk mencegah dan mengenali beberapa penyakit tertentu yang mungkin mengancamnya. Sejak lahir, bayi memerlukan berbagai jenis imunisasi hingga mencapai kanak-kanak. Beberapa imunisasi bayi yang perlu Anda tahu di antaranya: 1. Imunisasi BCG Vaksin ini agar tubuh bayi kebal terhadap bakteri tuberkulosis (TBC). BCG diberikan sekali sebelum anak berumur dua bulan. Imunisasi polio diberikan empat kali pada bayi usia 0-11 bulan dengan interval minimal empat minggu. Imunisasi Campak diberikan satu kali pada bayi usai 9-11 bulan. Imunisasi hepatitis B harus diberikan tiga kali pada bayi usia 1-11 bulan, dengan interval minimal empat minggu. Imunisasi ini bersifat wajib dan disubsidi pemerintah. 2. Imunisasi DPT Imunisasi DPT adalah vaksin 3 in 1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis (batuk rejan) dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi fatal. DPT diberikan tiga kali pada bayi usia 2-11 bulan dengan interval minimal empat minggu. Imunisasi ini juga diwajibkan pemerintah. 3.Imunisasi DT Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh kuman penyebab difteri dan tetanus. Imunisasi diberikan bagi anak dengan kebutuhan khusus, misalnya sudah

mendapat

suntikan

DPT.

4. Imunisasi TT Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus. Jenis imunisasi ini minimal dilakukan lima kali seumur hidup untuk mendapatkan kekebalan penuh. 5. Imunisasi MMR Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan dan campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali. Campak menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler dan mata berair. Gondongan menyebabkan demam, sakit kepala dan pembengkakan pada salah satu maupun kedua kelenjar liur utama, meningitis, pembengkakan buah zakar yang berakibat kemandulan. 6. Imunisasi Hib Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus influenza tipe b. Organisme ini bisa menyebabkan meningitis, pneumonia dan infeksi tenggorokan berat yang bisa menyebabkan anak tersedak. Sampai saat ini, imunisasi HiB belum tergolong imunisasi wajib, mengingat harganya yang cukup mahal. Dua jenis vaksin yang beredar di Indonesia, yaitu Act Hib dan Pedvax. 7. Imunisasi Meningitis Imunisasi ini belum diwajibkan pemerintah karena biayanya masih cukup besar. Imunisasi dilakukan bagi bayi di bawah usia satu tahun hingga balita. Imunisasi ini mencegah terjadinya infeksi meningitis atau lapisan otak yang banyak terjadi pada bayi dan balita. 8.Imunisasi Imunisasi Varisella air.

varisella

memberikan

perlindungan

terhadap

cacar

9.Imunisasi HBV Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Hepatitis B adalah infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian. Karena itu imunisasi hepatitis B termasuk yang wajib diberikan. Jadwal pemberian imunisasi ini sangat fleksibel, tergantung kesepakatan dokter dan orangtua. Bayi yang baru lahir pun bisa memperolehnya. Imunisasi ini pun biasanya diulang sesuai petunjuk dokter. 10.Imunisasi Pneumokokus Konjugata Imunisasi pneumokokus konjugata melindungi anak terhadap sejenis bakteri yang sering menyebabkan infeksi telinga. Bakteri ini juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan bakteremia (infeksi darah) 11.Imunisasi Tipa Imunisasi tipa diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap demam tifoid (tifus atau paratifus). Kekebalan yang didapat bisa bertahan selama tiga-lima tahun dan harus diulang kembali. Imunisasi ini dapat diberikan dalam 2 jenis: imunisasi oral berupa kapsul yang diberikan selang sehari selama 3 kali. Biasanya untuk anak yang sudah dapat menelan kapsul. 12.Imunisasi Hepatitis A Penyakit ini sebenarnya tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya. Tetapi bila terkena penyakit ini penyembuhannya memerlukan waktu yang lama, yaitu sekitar 1 sampai 2 bulan. Jadwal

pemberian yang dianjurkan tak berbeda dengan imunisasi hepatitis B. Vaksin hepatitis A diberikan dua dosis dengan jarak enam hingga 12 bulan.

Apa itu Imunisasi ? http://bestifyna04.multiply.com/journal/item/30 Imunisasi adalah suatu usaha untuk memberikan kekebalan kepada bayi dan anak terhadappenyakit tertentu. Tujuan pemberian imunisasi --> (hanya preventif) 1. Mencegah penyakit infeksi tertentu 2. Apabila terjadi penyakit tidak akan terlalu parah dan dapat mencegahterjadinya gejala yang dapat menimbulkan kecacatan / kematian. KAPAN pemberian Imunisasi ?

imunisasi. y U

y U mur 2 Bln : DPT 1, Polio 2, Hepatitis B2 y

U mur 3 Bln : DPT 2, dan Polio 3 y U mur 4 Bln : DPT3 dan Polio 4 y U mur 9 Bln : Campak, Hepatitis B3 Macam-macam Vaksin 1. Vaksin BCG Imunisasi BCG tujuannya untuk memberikan kekebalan aktif kepada bayi dan balitaterhadap penyakit TBC Paru Paru. 2. Vaksin DPT ( Dipteri, Pertusis,Tetanus ) Imunisasi DPT tujuannya untuk memberikan kekebalan aktif yang bersamaanterhadap penyakit Dipteri, Pertusis dan Tetanus. 3. Vaksin Polio Imunisasi Polio tujuannya untuk memberikan kekebalan kepada bayi dan balitaterhadap penyakit poliomielitis atau kelumpuhan. 4. Vaksin Hepatitis B Imunisasi Hepatits B tujuannya untuk memberikan kekebalan terhadap penyakitHepatitis B atau penyakit kuning.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemberian Imunisasi pada bayi/balita. 1. Imunisasi diberikan pada bayi/balita yang sehat. 2. Pada bayi/balita yang sakit tidak boleh diberikan seperti :a. Sakit kerasb.Dalam masa tunas/ perkembangansuatu penyakit. c. Kekurangan/penurunan daya tahan tubuh Proses terjadinya reaksi pada tubuh bayi/anak setelah Imunisasi yaitu terjadinya reaksi lokal,biasanya terlihat pada tempat penyuntikan misalnya terjadi pembengkakan yang kadang-kadang disertai demam, agak sakit. Terhadap reaksi ini ibu tidak perlu panik sebab panasakan sembuh dan itu berarti kekebalan sudah dimiliki oleh bayi /balita . Tempat memperoleh Imunisasi 1. Posyandu Terdekat. 2. Puskesmas Keliling

Sudahkah Si Kecil Diimunisasi? (1)

Foto: Getty Images Imunisasi adalah salah satu upaya mencegah penyakit. Namun belakangan ini timbul pro dan kontra seputar keamanan imunisasi yang tak pelak membuat orangtua resah. Apa benar imunisasi tidak halal dan dapat menyebabkan autisme pada anak? Menjawab kegelisahan para ibu tentang pro dan kontra imunisasi yang terus bergulir, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) , dosen FKUI RSCM sekaligus sekretaris I Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI), menjelaskan secara lengkap manfaat imunisasi dan penjelasan mengenai isu-isu yang beredar. Berikut tanya-jawab NOVA dengan dokter yang baru saja mengikuti seminar “Good Clinical Practice dan Vaccinologi” dari WHO pada tanggal 17-19 April 2012 ini. Apa yang dimaksud dengan imunisasi? Imunisasi adalah upaya untuk menimbulkan imunitas atau kekebalan tubuh, baik secara aktif maupun pasif. Imunisasi aktif itu upaya untuk merangsang kekebalan tubuh dengan membentuk antibodi agar dia terangsang dan terbentuk imunitas spesifik. Sementara imunisasi pasif, artinya kita memberikan zat kekebalan tubuh berupa antibodi yaitu immunoglobulin yang sudah siap pakai. Misalnya pemberian immunoglobulin sebagai antihepatitis B. Jadi ketika bayi lahir dari ibu yang terkena hepatitis B aktif, selain diberi imunisasi aktif juga biasanya diberi imunisasi pasif berupa immunoglobulin agar dia bisa cepat "melawan". Benarkah Air Susu Ibu (ASI) sudah cukup untuk memberikan imunitas? Perlu diketahui bahwa kekebalan atau imunitas itu ada yang spesifik dan nonspesifik. Imunitas nonspesifik itu seperti keringat, ingus, dahak, air liur, juga ASI. Artinya, imunitas nonspesifik berlaku untuk semua jenis penyakit tapi dalam kapasitas yang terbatas atau tidak terlalu kuat dan tidak cukup terlatih untuk melawan virus yang berbahaya seperti misalnya polio. Dalam artian, kalau ada yang bilang bahwa imun bisa dihasilkan dari ASI, iya memang betul. Akan tetapi, itu imunitas nonspesifik sehingga tidak didesain untuk melawan penyakit-penyakit berbahaya. Sementara imunitas spesifik memang dibuat untuk melawan penyakit-penyakit tertentu. Bagaimana imunisasi spesifik dapat membentuk antibodi? Nah, imunitas spesifik itu, kan, zat yang bisa merangsang dibentuknya kekebalan atau antibodi terhadap penyakit tertentu dengan cara diteteskan atau disuntikan. Misalnya pada

imunisasi polio, itu berarti diberi virus polio yang dilumpuhkan. Jadi immunoglobulin sudah berlatih mengenal virus itu, sehingga ketika terkena virus polio di kemudian hari, immunoglobulin tersebut sudah terlatih untuk melawannya dan bisa meminimalkan tertular dan mencegah wabah. Jika riwayat imunisasi anak belum lengkap, apakah dapat dilengkapi meskipun usianya sudah besar? Bisa. Begitu kita tahu pentingnya imunisasi, langsung saja imunisasi pada kesempatan pertama. Di umur berapapun bisa, datang saja ke dokter anak dan lengkapi imunisasiimunisasi yang terlewat. Misalnya BCG. Kalau anak sudah terlalu besar, coba saja tes dulu. Jika memang negatif, segera kasih. Akan tetapi kalau sudah positif TBC, misalnya, ya obati. Imunisasi ini sangat penting dan masuk dalam Undang-undang Perlindungan Anak. Apa saja imunisasi yang wajib diberikan pada anak? Semua vaksin dianjurkan untuk anak. Akan tetapi ada yang masuk program pemerintah, ada juga yang belum. Jadi bahasanya bukan vaksinasi yang wajib dan tidak, melainkan yang sudah masuk program dan yang belum. Bedanya, imunisasi yang diprogramkan pemerintah itu sudah diberi subsidi hingga harganya murah. Jadi, sebenarnya semua dianjurkan. Apa saja risiko jika anak tidak diimunisasi? Ada beberapa penyakit berbahaya yang bisa dicegah dengan imunisasi seperti TBC. TBC bahayanya luar biasa karena bisa kena paru-paru, bisa juga jadi radang otak. Jika terkena meningoensafalitis, anak yang tadinya bisa jalan, bisa tiba-tiba kejang dan perkembangannya mundur semua menjadi seperti bayi lagi. Ini akibat dari TBC. Kemudian DPT, imunisasi ini, kan, melindungi anak dari difteri, pertusis, dan tetanus. Rela tidak jika anak kita sedang main, kemudian menginjak paku, lalu tetanus? Itu semua bisa dicegah dengan imunisasi-imunisasi itu dan memang dibutuhkan imunisasi yang spesifik. Memang pada praktiknya, dalam masyarakat itu jika sembilan puluh persen diimunisasi, yang sepuluh persen bisa ikut terlindungi. Akan tetapi, kan, lebih baik jika semuanya terlindungi secara khusus. Tips : - Berikan obat pereda demam 2-3 hari sebelum imunisasi dilakukan. - Bila ia demam bole memberikan obat pereda. - Sebaiknya imunisasi dilakukan saat tubuhnya dalam kondisi sehat.

bahaya Imunisasi!”, Telaah Tahap I
OPINI | 03 May 2012 | 04:47 menilai menarik Dibaca: 4079 Komentar: 53 1 dari 2 Kompasianer Jujur saja, saya tergelitik untuk menulis lagi gara-gara kejadian kemarin saat jaga Pameran Pembangunan & Potensi Daerah Kabupaten Sleman, dimana saya diminta menjadi Sales Promotion Boy (SPB, oh yes, I‟m still a boy!) pada stand Dinas Kesehatan. Saat itu ada

mbak-mbak PNS dari stand sebelah yang bertanya-tanya tentang imunisasi dan betapa gerakan anti imunisasi sudah merebak di internet, bahkan ada pula seminar-seminarnya di institusi perguruan tinggi, dan nggak tanggung-tanggung, pembicaranya bahkan ada yang dokter pula. Lalu, penasaran, sore tadi saya membuka Google dan mencoba mencari situssitus anti imunisasi dan vaksinasi tersebut, dan hasilnya.. hampir rahang bawah saya copot karena mangap terlalu lebar: betapa banyaknya! jauh lebih banyak daripada situs yang mempromosikan imunisasi. Saya baca dan baca, rata-rata isinya sama, artikel yang sama, dicopy paste berulang-ulang dari satu situs ke situs yang lain dari satu blog ke blog yang lain. Yang membuat saya tambah mangap dan tergeleng-geleng, artikel tersebut seolah-olah benarbenar evidence based, mencatut nama ahli-ahli, penelitian-penelitian, data dan angka, meyakinkan nian. Coba saya cungkil separuh kesini (dari salah satu artikel di blog anak negeri yang populer di Google, http://un2kmu.wordpress.com/2010/04/19/mengungkapkonspirasi-imunisasi-dan-bahaya-vaksin/ ) Mengungkap Konspirasi Imunisasi dan Bahaya Vaksin

Imunisasi dan Konspirasi di dalamnya. Jika kita merunut sejarah vaksin modern yang dilakukan oleh Flexner Brothers, kita dapat menemukan bahwa kegiatan mereka dalam penelitian tentang vaksinasi pada manusia didanai oleh Keluarga Rockefeller. Rockefeller sendiri adalah salah satu keluarga Yahudi yang paling berpengaruh di dunia, dan mereka adalah bagian dari Zionisme Internasional. Kenyataannya, mereka adalah pendiri WHO dan lembaga strategis lainnya : The UN’s WHO was established by the Rockefeller family’s foundation in 1948 – the year after the same Rockefeller cohort established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation established the U.S. Government’s National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation’s Public Health Service (PHS). ~ Dr. Leonard Horowitz dalam “WHO Issues H1N1 Swine Flu Propaganda” Wah hebat sekali ya penguasaan mereka pada lembaga-lembaga strategis. Dilihat dari latar belakang WHO, jelas bahwa vaksinasi modern (atau kita menyebutnya imunisasi) adalah salah satu campur tangan (Baca : konspirasi) Zionisme dengan tujuan untuk menguasai dan memperbudak seluruh dunia dalam “New World Order” mereka. Apa Kata Para Ilmuwan Tentang Vaksinasi? “Satu-satunya vaksin yang aman adalah vaksin yang tidak pernah digunakan.” ~ Dr. James R. Shannon, mantan direktur Institusi Kesehatan Nasional Amerika “Vaksin menipu tubuh supaya tidak lagi menimbulkan reaksi radang. Sehingga vaksin mengubah fungsi pencegahan sistem imun.” ~ Dr. Richard Moskowitz, Harvard University

“Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya.” ~ Dr. W.B. Clarke, peneliti kanker Inggris “Ketika vaksin dinyatakan aman, keamanannya adalah istilah relatif yang tidak dapat diartikan secara umum”. ~ dr. Harris Coulter, pakar vaksin internasional “Kasus polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.” ~ Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962 “Sebelum vaksinasi besar besaran 50 tahun yang lalu, di negara itu (Amerika) tidak terdapat wabah kanker, penyakit autoimun, dan kasus autisme.” ~ Neil Z. Miller, peneliti vaksin internasional “Vaksin bertanggung jawab terhadap peningkatan jumlah anak-anak dan orang dewasa yang mengalami gangguan sistem imun dan syarat, hiperaktif, kelemahan daya ingat, asma, sindrom keletihan kronis, lupus, artritis reumatiod, sklerosis multiple, dan bahkan epilepsi. Bahkan AIDS yang tidak pernah dikenal dua dekade lalu, menjadi wabah di seluruh dunia saat ini.” ~ Barbara Loe Fisher, Presiden Pusat Informasi Vaksin Nasional Amerika “Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.” ~ Dr. William Hay, dalam buku “Immunisation: The Reality behind the Myth” Dan masih banyak lagi pendapat ilmuwan yang lainnya. Dan ternyata faktanya di Jerman para praktisi medis, mulai dokter hingga perawat, menolak adanya imunisasi campak. Penolakan itu diterbitkan dalam “Journal of the American Medical Association” (20 Februari 1981) yang berisi sebuah artikel dengan judul “Rubella Vaccine in Susceptible Hospital Employees, Poor Physician Participation”. Dalam artikel itu disebutkan bahwa jumlah partisipan terendah dalam imunisasi campak terjadi di kalangan praktisi medis di Jerman. Hal ini terjadi pada para pakar obstetrik, dan kadar terendah lain terjadi pada para pakar pediatrik. Kurang lebih 90% pakar obstetrik dan 66% parak pediatrik menolak suntikan vaksin rubella. Stop. Ini baru separuh artikel pembuka. Cukup meyakinkan bukan? sudah pernah baca?

Ya, saya juga bukan ahli vaksin, bukan ahli imunisasi, yang juga sahih untuk menganalisis artikel di atas. Saya hanya dokter PNS muda di Puskesmas yang tidak begitu terpencil dari kota Yogyakarta untuk disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi setidaknya saya pernah belajar 6 tahun dan terus berlanjut hingga sekarang mengenai metode kedokteran. Dan selama masa belajar itu saya pernah (kalau tidak lupa) diajarkan tahap pertama dalam pembelajaran: mencari referensi yang sahih, tidak bias/tendens, valid dan reliable. Dan tahap pertama pembelajaran saya itulah yang akan sedikit saya bagikan pada anda, siapa tahu saya nanti beneran bisa dapat tanda jasa dari anda ;). 1. Leonard Horowitz Tentang Dr. Leonard Horowitz yang penulis sebutkan di atas: entah darimana ia dapat gelar DR. di depan namanya. Karakter ini dalam search google dapat anda temukan ratusan dalam situs anti imunisasi yang artikelnya dicopy paste itu. Lihat di situs asing, ia terlibat dalam situs-situs yang menolak pengetahuan & teknologi modern. Yang paling jelas kalau di follow up, ternyata si Horowitz ini sangat berperan dalam situs FluScam.com, situs yang benarbenar membolak-balikkan fakta pengobatan modern, menolak imunisasi, yang ujungujungnya menawarkan pengobatan alternatif. Silakan buka situsnya, dan link situs lainnya, Leonard Horowitz ini ternyata populer juga sebagai semacam penyembuh spiritual di Amrik sana. Dia bahkan menyebut dirinya seorang sakti, semacam mengaku nabi, bahkan mengklaim ada „malaikat‟ menuntunnya, secara tertulis pada bukunya Walking on Water di tahun 2006. Tuntunannya semacam ini: · 5-steps you can take to prompt miraculous healings. · The LOVE frequency to radiate affection and resolve troubled relationships. · Key changes you can make to overcome self-defeating patterns to prosper in all ways. · How to sustain and celebrate LOVE as a core creative force. · Master the mystery of sex, love and your true male/female identity. · Easily and inexpensively produce “holy water” critical for natural healing. · The use of music, foods, language, prayer and faith to heal your life. · The true meaning of your life. · How to prosper, more than ever, by understanding the laws of nature, attraction, giving and receiving. Kaya judul-judul buku kacangan yang dijual 10ribuan. Pesan di dalamnya gampang, sudah bisa ditebak, lupakan teknologi, ciptakan penyembuhan dari diri sendiri (wow!). Dia akan menunjukkan gimana caranya, cukup bayar sekian dolar, via transfer di rekening bla-bla-bla. Buka saja FluScam.com dan ikutilah seluruh anjuran Kiai Dr. Leonard Horowitz, pasti manjur.. 2. Dr. James Shannon

Setelah dilacak-lacak tentang quote dan Dr. James R. Shannon mantan direktur National Health Institute (NIH), ternyata koneksi keduanya cuma ditemukan di situs-situs anti vaksinasi saja. Di situs anti vaksinasi asing kopiannya sebagai berikut “Dr. James R. Shannon, former director of the National Institute of Health reported in December, 2003 that “the only safe vaccine is one that is never used”. Memang ada mantan direktur NIH yang bernama Dr. James Augustine Shannon, lahir tahun 1904, tapi beliau telah meninggal tahun 1994 lalu di usia 89 tahun. Obituarinya bisa dilihat di http://www.nap.edu/readingroom.php?book=biomems&page=jshannon.html Sejauh ini belum ada berita yang mengabarkan Dr. James Augustine Shannon bangkit dari kubur, lalu mengganti nama tengahnya, dan kemudian di tahun 2003 berpidato “the only safe vaccine is one that is never used, dude!”. Ya, koneksinya cuma ketemu di situs-situs anti vaksinasi saja, yang semuanya menulis mantan direktur NIH Dr. James R. Shannon Mungkin ada direktur NIH bernama Shannon yang lain? sudahlah, coba cek di daftar direktur NIH http://www.nih.gov/about/almanac/historical/directors.htm Dengan kata lain, quote James Shannon yang dicopy paste berjuta kali itu cuma tipuan belaka 3. Richard Moskowitz Richard Moskowitz lahir pada tahun 1938, dan kuliah di Harvard (BA) dan New York University (MD). Setelah selesai sekolah kedokteran dia kemudian mengikuti 3 tahun studi pascasarjana di bidang Filsafat di University of Colorado. Dia mengambil magang di Rumah Sakit St. Anthony, Denver, dan telah mempelajari kedokteran keluarga sejak tahun 1967, serta (katanya) membantu 800 kali kasus kelahiran di rumah. Dengan latar belakang kedokteran oriental dan bentuk-bentuk penyembuhan alami, Dr Moskowitz belajar homeopati dengan George Vithoulkas di Yunani dan Rajan Sankaran (dan lain-lain, entahlah saya ngga kenal) di India. Dia telah mempraktekkan metode klasik tersebut secara eksklusif sejak 1974, dan telah mengajar secara luas pada mata pelajaran homeopati dan yang berkaitan dengannya (pengobatan alternatif). Silakan searching, di internet banyak nama dokter Richard Moskowitz, tapi yang dicuplik pendapatnya di situs-situs anti vaksinasi adalah dokter Moskowitz yang ahli homeopati ini. Jadi, sudah jelaslah ia adalah praktisi homeopati, sudah jelas bukan ahli vaksin atau imunisasi, dan tidak mewakili institusi Harvard University. Sudah jelas pula titik bias pendapatnya pada kasus imunisasi. 4. dr W. B. Clarke Aktor fiktif lain, siapa itu dr W. B. Clarke? yang katanya seorang dokter di Indiana di tahun 1900an (iya, tahun 1900, belum ada laptop dan FB saat itu; yang dikutip di atas sana sebagai ahli kanker dari Inggris? keliru mengutip kayaknya si mas). Orangnya saja sudah ngga jelas. Silahkan coba untuk menemukan biografinya dan artikel aslinya yang menyatakan “Cancer is essentially unknown prior to the obligation of smallpox vaccination was introduced. I had faced 200 cases of cancer, and none of those affected by cancer do not get vaccinated before”, anda hanya akan menemukan website-website komunitas anti-vaksin lain yang mengulang-ulang kutipan itu, lagi dan lagi, tanpa menunjukkan sumber dan artikel yang asli. Selain Dr W. B Clarke ahli geologi terkenal (itu lhoo, lihat di wiki), tidak ada ahli lain yang

bernama W. B Clarke yang dapat anda akui quote dan artikel-artikelnya sebagai seorang dokter dan ahli kanker yang sahih. Tolong perhatikan bahwa http://www.whale.to/ yang merupakan sumber dari berbagai artikel anti vaksinasi adalah merupakan situs pengobatan alternatif, anda pasti tahu apa yang mereka selalu katakan tentang imunisasi 5. Harris L. Coulter, PhD Ya, Anda dapat menemukan ini di wiki: Harris L. Coulter, PhD (8 Oktober 1932 -) adalah seorang sejarawan medis dan dosen yang telah menerbitkan tulisan di berbagai bidang termasuk obat homeopati, kanker, dan apa yang dianggapnya sebagai bahaya vaksinasi. Coulter meraih gelar PhD pada 1969 dari Columbia University, NY, dalam disertasi berjudul “Political and Social Aspects of Nineteenth-Century Medicine in the United States: The Formation of the American Medical Association and its Struggle with the Homeopathic and Eclectic Physicians” dari disertasinya saja sudah terlihat menentang sisi medis. Coulter telah dianggap “sejarawan homeopati terkemuka akhir abad 20.” Nah! Karya Coulter yang paling signifikan adalah empat jilid risalah tentang sejarah kedokteran Barat, Divided Legacy: A History of the Schism in Medical Thought, yang memerinci dua jalur yang berbeda pada pemikiran dan praktek medis sejak zaman Hippocrates hingga saat ini : pendekatan rasional dan pendekatan empiris seperti yang diamati dalam sejarah filosofi. Coulter telah bertugas di berbagai panel penasihat medis, dan telah memberikan masukan tentang konflik antara American Medical Association (AMA) dan homeopati. Dari tahun 1965 sampai 1975, Coulter adalah direktur publikasi untuk American Foundation for Homeopathy, dan 1983-1989 ia menjabat di dewan editorial Journal of the American Institute of Homeopathy. Coulter juga anggota dewan penasehat dari Campaign Against Fraudulent Medical Research. Coulter fasih berbahasa Jerman, Perancis, Spanyol, Latin, Rusia, Hongaria, dan Serbo-Kroasia. Pandangan Coulter telah dikritik, misalnya tentang ide-idenya tentang bahaya vaksinasi. Yah, pendapat apa sih yang anda harapkan dari ahli homeopati mengenai imunisasi? 6. Bernard G. Greenberg, PhD Bagi anda yang tertarik, inilah referensi yang lengkap bagi seluruh dunia (hehe) untuk melihat (dan untuk menunjukkan bagaimana komunitas anti vaksin mendistorsi kebenaran) suatu bagian dari diskusi telah dipublikasikan dengan menutup keseluruhan isi diskusi, dengan tujuan pembohongan publik. Quote di atas dikutip dari diskusi panel yang berjudul “The Present Status of Polio Vaccines” dengan moderator: Herbert Ratner, MD, panelis: Herald R. Cox, ScD, Bernard G. Greenberg, PhD, Herman Kleinman, MD, dan Paul Meier, PhD. Telah dipublikasikan di Illinois Medical Journal. Agustus, 1960. pp 84-93. (Diskusi Panel diedit dari transkrip yang dipresentasikan sebelum Section on Preventative Medicine and Public Health pada 120th Annual Meeting of the ISMS di Chicago, 26 Mei 1960.). Dapat dicari review diskusinya pada jurnal tersebut. Posisi Dr Greenberg tidak menyatakan bahwa vaksin polio tidak efektif, posisinya adalah bahwa itu belum „sangat‟ efektif. Dia juga tidak membuat pernyataan bahwa vaksin tersebut berbahaya.

Berikut adalah beberapa kutipan dari beliau tentang tren polio: “Without a doubt, the increasing trend has been reduced to some extent by the Salk vaccine.” “However, any future substantial reduction in this trend will require a more potent vaccine, not simply vaccinating more people. If there were no other vaccine, complete vaccination of all susceptible persons in the population with the Salk vaccine would be justifiable.” Potensitas (kekuatan) vaksin di sini yang dimaksudkan adalah fungsi untuk meningkatan jumlah antigen virus yang dilemahkan dalam vaksin Salk, atau menggunakan virus hidup seperti vaksin Sabin. “Today it may be a serious mistake to be ultraconservative in accepting the new live virus vaccines under the impression that there is no hurry because an almost equivalent immunizer exists in the Salk vaccine. A delay in accepting and promoting better vaccines will be a costly one.” Greenberg mengatakan ini pada tahun 1960 (pada tahun 1961 vaksin monovalen Sabin mendapat lisensi). Dalam pernyataanya Dr Greenberg percaya vaksin Sabin adalah jawabannya, dan lebih baik dari vaksin Salk yang karena kendala teknis (virus propagasi dalam kultur sel) menghambat vaksin Salk untuk menjadi cukup kuat. Lihatlah, Greenberg tidak melarang vaksinasi kan? Di kemudian hari, virus tersebut diadaptasikan dengan kultur sel microsphere terus menerus dalam sel Vero hingga dapat menghasilkan 10^9 virus per ml - dan itulah yang digunakan dalam vaksin polio (IPV) hingga hari ini. Dengan kemampuan untuk menghasilkan sejumlah besar virus dalam kultur sejak awal tahun 1970an, dan dengan diberantasnya polio liar di Amerika Serikat, IPV mengantikan OPV pada tahun 2000 untuk meniadakan kasus langka dari perubahan patogenik kembali dari vaksin Sabin. Thanks to dr. Greenberg. 7. Neil Z. Miller & Barbara Loe Fisher Neil Z. Miller & Barbara Loe Fisher adalah promotor gerakan anti vaksin sejati, mereka meneliti (hingga mempublikasikan riset yang menunjukkan keburukan vaksin di jurnal ilmiah, meskipun penuh rekayasa) untuk komunitas anti vaksin, apakah anda berharap mereka akan berkomentar netral dan obyektif?. Coba anda memasukkan keyword vaksin di google, akan anda temukan situs di daftar teratas bernama “National Vaccine Information Center ” (NVIC), seperti pusat informasi vaksin beneran ya, jangan salah, organisasi dan situs tersebut didirikan oleh Barbara Loe Fisher dan merupakan salah satu anti-vaksin kelompok tertua dan paling berpengaruh di AS, baru-baru ini bekerja sama dengan Joe Mercola untuk bekerjasama mempromosikan paham anti-vaksin. Maka kalau baca di situ dijamin artikelartikelnya yang anti vaksin jauh lebih profesional daripada artikel yang di atas. Tapi ingat siapa pembuatnya, memang tujuannya kan ke arah sana. 8. William Howard Hay, MD Ada juga di wiki. Sang „legendaris‟ William Howard Hay, MD (1866 - 1940)! adalah salah satu aktivis pengobatan alternatif ternama, terutama melalui diet. Awalnya dia memang seorang dokter, tertular penyakit Bright (atau jaman sekarang disebut sebagai nefritis – peradangan pada ginjal). Dengan jantung bengkak dan hampir mati, putus asa karena tidak tertolong dengan metode medis saat itu, Dr Hay mulai mencoba makan hanya makanan alami, (entah kenapa, beruntungnya) kondisinya membaik, menciptakan program diet Hay kemudian hari dan menjadi seorang naturalis. Dia tidak pernah menulis Immunisation: The Reality behind the Myth, tapi kutipan di atas adalah bagian pidatonya di hadapan The Medical

Freedom Society (komunitas pengobatan alternatif lain) pada tanggal 25 Juni 1937 (3 tahun sebelum meninggal beneran, sudah tua bangeet, bayangkan baru sampai di mana teknologi kita tahun itu) di Pocono, Pennsylvania. Anda dapat dengan mudah mencari pidato epiknya yang mencantumkan quote yang dikopi di atas, pidato yang menjadi semacam kitab suci bagi komunitas anti-vaksin dan pengobatan alternatif 9. “Rubella Vaccine in Susceptible Hospital Employees, Poor Physician Participation” OMG, itu adalah kebohongan lain oleh komunitas anti vaksin! publikasi JAMA berjudul “Rubella Vaccine in Susceptible Hospital Employees, Poor Physician Participation”, pada tahun 20 Februari 1981 diambil secara sangat parsial dan sangat didistorsi. Baca keseluruhan artikel asli penelitian tersebut di PubMed pleaseeeee… anda pasti akan tertawa Itu hanya separuh pembahasan dari lelucon komunitas anti-vaksin. Banyak yang kemudian mencampuradukkan dengan dalil agama, silakan. Tapi ingat juga, karya komunitas anti vaksin yang anda campur adukkan asalnya juga dari mana. Lucu kan, bilang anti Amerika anti Yahudi, anti barat, tapi artikel dan penelitiannya yang memperkuat dalil ngopi juga dari sana. Harus terbuka juga, bagaimana bila ternyata para komunitas anti-vaksin tersebut justru yang berupaya melemahkan bangsa kita, justru berkebalikan dengan yang selama ini anda pikirkan. Pertanyaannya kemudian mudah, referensi sebenarnya gampang di cari, kalau memang ada bukti mari berdebat secara ilmiah, jangan langsung percaya sama artikel yang darimana entah kemana tujuannya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->