P. 1
Makalah Sosiologi Hukum

Makalah Sosiologi Hukum

|Views: 335|Likes:
Published by Wan Doang

More info:

Published by: Wan Doang on Oct 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/03/2015

pdf

text

original

SOSIOLOGI HUKUM DARI EMILE DURKHEIM DAN MAX WEBER

Disusun sebagai tugas makalah mata kuliah Sosiologi Hukum

Oleh : Erwan Permana B2A111031

PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN 2011

baik dari segi jaman maupaun teritorial. yaitu menjadikan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan ilmiah yang sama halnya dengan ilmu pengetahuan alam. sosiologi sebagai ilmu pengetahuan ilmiah disempurnakan oleh Emile Durkheimdengan menempatkan sosiologi di atas dunia empiris. fenomena sosial yang menjadi perhatian. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Perkembangan sosilogi secara nyata terjadi ketika berkembangnya pandanganpandangan filosofis tentang positivism . tergantung dari fokus perhatian. dan mengarah kepada kepastian dan kecermatan. serta metode yang dikembangkan untuk menelaah masalah-masalah di dalam masyarakat yang beragam. bermanfaat. dengan menjadikan pandangan yang dahulu sebagai titik tolak untuk mendapatkan gagasan baru. yang digagas oleh Auguste Comte (1798 – 1857). tergantung dari situasi sosial dan politk pada jamannya. Dalam perkembangan selanjutnya. Suatu pandangan dan pemahaman yang digagas oleh pakar sosiologi pada jaman tertentu. Fenomena sosial yang terjadi di Eropa Barat antara abad ke-15 hingga abad ke-18 merupakan latar belakang yang sangat memperngaruhi perkembangan sosiologi. Pernan Emile Durkheim sangat penting karena usahanya dalam merumuskan objek studi dalam kajian sosiologi beserta dengan metod-metode dan pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam mengamati objek tersebut. . Comte berpendapat bahwa sosiologi harus menjadi ilmu yang positif. di mana objek yang dikaji harus berupa fakta. Oleh karena itu.BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sosiologi merupakan suatu ilmu yang telah melalui proses perkembangan pemikiran filosofi dan empirical-histories. Sosiologi dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang memiliki paradigma majemuk disebabkan oleh kompleksitas permasalahan yang ada di masyarakat sehingga menghasilkan berbagai macam sudut pandang dalam sosiologi itu sendiri. pandanganpandangan sosiologi yang berbeda-beda tersebut menyusun suatu paradigma yang berbeda pula. yang berdasarkan pada pola pikir secara ilmiah. akan mendapat kritikan dan pembaharuan oleh pakar sosiologi pada jaman berikutnya.

Masalah Karena perkembangannya. sosiologi menjadi ilmu pengetahuan dengan keragaman cara pandang dan paradigma. Melihat perbedaan antara sosiologi yang digagas oleh Emile Durkheim dan sosiologi yang digagas oleh Max Weber. baik. . misalnya. Hal ini disebabkan fokus perhatian dan metode yang digunakan oleh para pakar sosiologi juga berbeda-beda. Penjelasan akan dimulai dengan pemaparan masing-masing teori dari masing-masing pakar sosiologi tersebut. fenomena sosial yang dikaji. C. Hal yang membedakan antar a keduanya ini adalah objek perhatian serta metode yang mereka gunakan. Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memahami perbedaan konsep oleh sosiologi yang dirumuskan oleh Emile Durkheim dan Max Weber. adalah pokok masalah yang akan dibahas dalam makalah ini. Dengan memahami perbedaan antara keduanya. baik dari segi fokus perhatian. diharapkan kita dapat menerapakan sosiologi serta paradigma-paradigmanya dengan tepat. meskipun berkutat dengan fenomena sosial tentang masalah struktural fungsional dalam masyarakat serta paradigma definisi sosial.B. dan benar. kemudian akan dianalisa perbedaannya dengan menggunakan contoh ilustrasi. serta metode yang digunakan. Sosiologi Emile Durkheim. memiliki perbedaan yang jelas dengan sosiologi yang dirumuskan oleh Max Weber yang juga berkutat tentang struktural masyarakat dan paradgima definisi sosial.

BAB II PEMBAHASAN A. individu-individu di dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh masyarakat yang menjadi wadah bagi kehidupannya.tindakan individu terhadap masyarakatnya. Yang pertama adalah fakta sosial material. seperti kepercayaan dan agama. seseorang harus melihatnya dari perspektif masyarakat itu. Dalam fenomena sosial. dalam kajian studi Durkheim tentang masyarakat. Fakta sosial. yang bersifat makro dan memberikan penakanan pada tatanan masyarakat secara luas (memaksa individu). Sosiologi Emile Durkheim Emile Durkheim percaya bahwa dalam mempelajari masyarakat. yang juga akan mempengaruhi tindakan. Sedangkan tipe yang keduda adalah fakta sosial nonmaterial. dalam khazanah sosiologi. seperti kultur dan pranata sosial.sama. individu bukan menjadi prioritas utama. menurut Durkheim adalah sesuatu yang berada di lingkungan eksternal individu. Masyarakat memiliki sifat yang menentukan dalam perkembangannya. Karena dalam mempelajari tindakan-tindakan manusia. Fakta-fakta sosial ini mengikat individu dalam suatu integrasi yang menyebabkan satu individu terikat dengan individu lain dalam masyarakat. yang kemudian malah mempengaruhi kehidupan individu-individu tersebut. fakta sosial menjadi objek studi yang paling utama dan harus dipelajari dan diteliti secara empiris. Oleh karena itu. seperti birokrasi dan hukum. Dalam pemahaman Durkheim. Durkheim kemudian membedakan fakta sosial tersebut ke dalam dua tipe. Masyarakat tidak tergantung dari individu-individu di dalamnya. Oleh karena itu. Hal-hal yang berkaitan dengan erat dengan individu sejatinya berasal dari luar diri individu tersebut. Pandangan Durkheim tentang masyarakat adalah masyarakat sebagai wadah paling sempurna bagi kehidupan antara individu yang satu dengan yang lainnya. sosiologi tidak dapat lagi dianggap dalam keadaan murni. tetapi terdiri dari sistem adat istiadat dan kepercayaan yang membentuk suatu lingkungan yang terorganisir. yang dijalani secara bersama. Oleh karena itu Durkheim membangun suatu pemahaman konsep dalam sosiologi tentang fakta sosial. .

. Perilaku menyimpang dianggap sebagai perilaku yang mengancam hidup kelompok secara keseluruhan dan merusak identitas anggota kelompok. Masyrakat yang hidup bersama karena tunduk dengan norma dan aturan yang disepakati secara bersama. dan tujuan (to reflect the shared ideas. dan tidak memiliki rasa ketergantungan antara individu yang satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini. yang terkadang dia menyebutnya sebagai masyarakat primitif. Berdasarkan integrasi yang terjalin di dalam masing-masing masyarakat tersebut. Dalam artian terdapatnya perbedaan kemampuan antara individu satu dengan yang lainnya sehingga memiliki ketergantungan satu sama lainnya. values and ). kolektivitas menodminasi organis individu karena memiliki kesepakatan terhadap suatu kepercayaan dan nilai. Durkheim membuat perbedaan tipa masyarakat sosial. pembagian kerja menjadi lebih kompleks. Dalam masyarakatnya. Masyarakat modern memiliki integrasi yang dipengaruhi oleh fungsi. dan pengalaman hidupyang sama. berkembang suatu hukum kontrak yang mengatur pertukaran barang dan jasa. Individu-individu memilki kemampuan. Masingmasing individu di dalamnya memiliki kesadaran kolektif tersebut yang merefleksikan penggunaan dan pencapaian secara bersama-sama tentang ide (paham). Masyarakat primitive (pra modern) adalah goals contoh masyarakat yang hidup dengan tipe solidartas mekanis. nilai.nilai. Durkheim membagi masyarakat menjadi dua. dimana kehidupan masyarakatnya didasarkan atas kesamaan dan consensus.Dalam memahami masyarakat. pengetahuan. Dalam masyarakat pra modern. yaitu tipe solidaritas mekanis dan tipe solidaritas . Contoh masyarakat dengan tipe solidaritas organis adalah masyarakat yang hidup di lingkungan industri. Durkheim tidak tegas mendefinisikan masyarakat pra modern. Proses perubahan sosial terjadi melalui spesialisasi fungsional dan diferensiasi structural akibat pembagian kerja. Dalam masyarakat ini. Pelanggar an yang terjadi adalah suatu perilaku yang dapat merugikan orang lian sehingga hukum yang berlaku di dalam masyarakatnya adalah hukum yang bersifat memulihkan dan memudahkan interaksi. yaitu masyarakat pra modern dan masyarakat modern. Tipe solidaritas masyar akat modern adalah solidaritas organis.

orang yang tidak punya anak cenderung untuk melakukan bunuh diri dari pada orang yang tidak memiliki orang tua.Dalam membangun konsep fakta sosial. anomic. maka tidak akan banyak tuntutan untuk penurunan . e “Apakah bunuh diri itu ursan pribadi atau didorong oleh struktur masyarakat? Kalau bunuh diri adalah murni putus asa individu. yang bersifat terpisah dari arena psikologis dan filsafat. dapat dijelaskan dalam bentuk bagan sebagai berikut: .” (Durkheim. dan fatalistic . altruistic. yang didasarkan atas penelitian empir is terhadap suatu fenomena sosial. Berdasarkan dua fungsi tersebut. angka bunuh diri juga dipengaruhi e people oleh kepemilikan anak. Keempat tipe bunuh diri ini. seperti janda. penelitian Durkheim memaparkan bahwa orang beraga Protestan lebih banyak melakukan bunuh diri daripada orang yang beragama Katolik. yang diukur dengan jumlah kekayaan). Menurut penelitian Durkheim. 1897) pajak e Durkheim berpendapat bahwa gejala bunuh diri terjadi karena adanya fakta sosial sehingga menyebabkan perbedaan rata-rata bunuh diri. Yang menjadi pertanyaan adalah. apa yang membuat perbedaan angka bunuh diri ini? Durkheim memaarkan bahwa terdapat dua fungsi besar dalam masyarakat. Durkheim menerapkannya dalam mempelajari gejala bunuh diri. Durkheim menjadikannya sebagai variable dalam menganalisa empat tipe bunuh diri. rata-rata orang melakukan bunuh diri disebabkan oleh status diri yang hiudup sendiri (singl atau divorced ). di mana menurut penelitiannya. Penelitian Durkheim tentang gejala bunuh diri ini kemudian dituangkan dalam buku berjudul Suicid . karena adanya tuntutan dalam agama yang mengharuskan orang Protestan untuk meraup kekayaan sebanyak-banyaknya (manusia sejahtera adalah orang yang mendapat kasih Tuhan di dunia. dalam Suicid . Selain itu. yaitu integras (yang dimaknai sebagai prses penyesuaian di antara unsure-unsur yang saling i berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola yang memiliki keserasian fungsi) dan regulas (yang dimaknai sebagai suatu elemen yang memiliki i esensi sebagai menciptakan keteraturan. Empat tipe bunuh diri tersebut antara lain adalah bunuh diri yang bersifat egoistic. kepastian hukum dan komitmen) . Dalam hal kepercayaan.

Contohnya adalah harayang dilakukan oleh samurai Jepang atau para pelaku bom bunuh diri.1. Dalam kehidupannya individu tersebut tidak memiliki tujuan dan cita-cita yang sama dengan kehidupan kelompoknya sehingga ia akan merasa tersudut yang disebabkan oleh egoisme yang berlebihan dan akan mengakibatkan terjadinya bunuh diri. Seorang individu memiliki keterikatan yang begitu kuat dengan kelompoknya sehingga mau merelakan diri demi kepentingan kelompok. disebabkan oleh aturan-ataruan yang begitu ketat. Contohnya adalah ketika pasca revolusi industri yang kemudian menggerogoti aturan dan moral. Altruistic. disebabkan oleh regulasi yang teralalu rendah di dalam masyarakatnya. Contohnya adalah seorang lanjut usia yang melakukan bunuh diri karena sudah kehilangan sentuhan kontak dengan teman atau keluarga. . Contoh lain adalah ketika seseorang terlepas dari pekerjaannya. disebabkan oleh integrasi di dalam masyarakat yang terlalu tinggi. Fatalistic. Contoh dari bunuh diri ini adalah seorang bawahan yang melakukan bunuh diri karena frustasi akibat tekanan dari atasannya. 4. Egoistic. hukum-hukum. dan berada dalam posisi rawan yang dapat menyeretnya ke dalam perilaku yang rentan untuk melakukan bunuh diri. ia tidak bersinggunan lagi dengan regulasi yang mengatur dirinya sebelumnya. serta berbagai aturan moralitas sosial mengalami kekosongan. disebabkan oleh integrasi yang begitu lemah. di mana seorang individu tidak menjalani interkasi dengan baik dan luas. 3. kiri 2. Anomic. Bunuh diri terjadi ketika tatanan.

Di sini berar ti bahwa individu dapat melakukan sesuatu yang diinginkannya meskipun hal itu ditentang oleh individu lain. Oleh karena itu. Weber melihat adanya pembagian kekuasaan dalam masyarakat tersebut menurut tingkat efisiensinya. tidak menutup kemungkinan bahwa. Fenomena sosial harus dipelajari secara empir is dengan metode empiris. Otoritas Kharismatik dan Otoritas Rasional-Legal . muncul suatu cirri khas di mana dalam pelaksanaannya muncul suatu kekuasaan yang bertindak secara sewenang-wenang dengan alasan bahwa aturan yang seperti itu memang sudah ditetapkan ( patrimonalisme ) Sementara itu. Dalam Otoritas Tradisional.Dalam melakukan penelitiannya. Sedangkan Otoritas Rasional-Legal adalah suatu konsep kekuasaan yang berdasarkan kepada kebijakan dan norma. Otoritas Tradisional adalah suatu konsep kekuasaan yang berlandaskan pada suatu kepercayaan akan aturan dan norma yang sudah ada sejak dahulu. Dalam pandangan Weber. Metodologi Durkheim berangkat dari pemahaman bahwa sosiologi lahir dan filsafat. seseorang mau melakukan sesuatu karena perintah dari orang lain. metode yang digunakan oleh Durkheim adalah peneltian empiris. maupun tradisi. i Otoritas . namun harus dapat dipastikan dan dijelaskan secara ilmiah (dijadikan sains). konsep dominasi mengacu pada konsepsi pemaksaan kekuasaan. Seorang individu yang dianggap sangat luar biasa diperlakukan sebagai orang yang berhak memiliki kekuasaan beserta dengan kelebihan dan kekuatankekutan khas yang dimilikinya. golongan. Kekuasaan Rasional-Legal lebih mengedapankan rasionalitas nilai ( birokras ). Weber membagi kekuasaan menjadi tiga jenis kekuasaan. di mana seseorang dapat memerintah atau melakukan tugasnya berdasarkan norma-norma dan aturan-aturan yang berlaku yang tidak terpengaruh oleh kepentingan pribadi. Otoritas Kharismatik adalah suatu konsep kekuasaan yang berlandaskan kepada kepribadian seorang pemimpin. yaitu Tradisional. B. Sosiologi Max Weber Dalam memahami masyarakat.

karena ajaran Kalvinisme mewajibkan umatnya untuk hidup sederhana. Berbeda dengan Marx yang menyatakan bahwa masyarakat kapitalisme modern mengejar keuntungan dengan menggerogoti moral (menindas buruh).Weber berpendapat bahwa dalam masyarakat modern. Dalam buku ini. n Sesuai dengan definisinya: Sosiology… is a science with attempts the interpretative understanding of social action in order thereby to arrive at a causal esplanation of its course and (Wber. menyatakan bahwa sosiologi merupakan ilmu yang berupaya memahami (pengamatan atau verstehe ) tindakan sosial. kapitalisme di Eropa Barat berkembang. Oleh karena itu. Namun untuk menafsirkan tindakan subjektif dalam karya sosiologi. dan bukan pada kolektivitas di dalam masyarakat. Weber mengutar akan penjelasannya tentang Etika Protestan yang berkembang seiring dengan kemunculan Kapitalisme di Eropa Barat. Weber memiliki argument bahwa ajaran Kalvinisme ini mengharuskan umatnya untuk menjadikan dunia sebagai tempat yang makmur. mereka akan mendapatkan berkah yang akan menuntun mereka masuk surga. kekayaan yang didapatkan tersebut diinvestasikan kembali dalam usaha mereka. Dengan cara seperti ini. dalam rumusan konsep sosiologinya. memiliki fokus perhatian pada individu. kelansungan hidup Negara tergantung kepada organisasi birokrasi yang memiliki rasionalitas nilai. hanya Otoritas RasionalLegal yang dapat diterapkan. Weber. kita mungkin harus memperlakukan kolektivitas sebagai individu. Buku yang sangat terkenal yang ditulis oleh Weber adalah The Protestant Ethic and the Siprit of Capitalism (1904). Namun kekayaan tidak boleh digunakan untuk berfoya-foya (konsumsi yang berlebihan). Weber lebih menekankan masyarakat kapitalisme modern memiliki kewajiban bekerja dengan disiplin yang tegas. di mana saat itu berkembang suatu sekte bernama Sekte Kalvinisme dalam agama Protestan. karena semua itu dapat diberlakukan sebagai agen dalam tindakan yang dapat dipahami secara subjektif (Ritzer & Goodman 2004:137). 1964: 88) effects . Pada system kapitalisme modern. pola dan regulasi tindakan. Otoritas ini kemudian berkembang pula dalam masyarakat kapitalisme modern. Max Weber. Weber mengakui untuk beberapa tujuan. kolektivitaskolektivitas ini harus diperlakukan semata-mata sebagai resultan dan mode organisasi dari tindakan individu tertentu. dan harus mendapatkanya dengan kerja keras. Dengan mencapai kemakmuran di dunia itu. sejatinya.

tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar. yang harus dikaji dan menjadi pokok persoalan sosiologi adalah proses pendefinsian sosial yang merupakan akibat-akibat dari suatu aksi karena interaksi sosial. Weber memiliki pandangan yang berbeda dengan Durkheim. dan juga berorientasi pada perilaku orang lain. Dalam tindakan ini. bebas. Alat hanya sebagai pertimbangan dan perhitungan yang sadar. 4. Tindakan Tradisional. yaitu suatu tindakan sosial yang mempertimbangkan tujuan dan alat-alat apa yang digunakan. yaitu tindakan sosial yang didominasi oleh perasaan atau emosi. Menurut Weber. Apakan suatu alat tertentu memiliki efisiensi yang tinggi dan efektif untuk mencapat ? tujuan 2. 1. yaitu suatu tindakan sosial yang didasarkan pada nilai dan tujuan yang sudah ditentukan. Fokus perhatian Weber menjadi lebih bersifat khusus. Yang menjadi utama adalah tujuan. yang menjadi intisari adalah “tindakan yang penuh arti”). 3. atau dengan kata action lain Weber menganggap bahwa suatu tindakan sosial itu adalah sesuatu hal yang sangat penting (dalam tesisnya. Ada empat tipologi tindakan sosial yang dikonsep oleh Max Weber. yaitu tindakan sosial yang berdasarkan kepada kebiasaan tanpa perencanaan dan tanpa refleksi yang sadar. aktor dari tindakan sosial tersebut tidak terlalu memperhitungkan apakah cara-cara yang dipilihnya merupakan cara yang paling tepat atau tidak. Dalam pemahamannya terhadap individu di dalam masyarakat. Sosiologi Weber lebih menekankan konsep tentang makna suatu tindakan sosial ( social ). Menurutnya tidak semua tindakan manusia dapat dianggap sebagai tindakan sosial. seorang individu secara aktif menciptakan kehidupan sosialnya sendiri. Suatu tindakan hanya dapat dikatakan sebagai tindakan sosial apabila tindakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain. bagi Weber. Tindakan Afektif. . Rasionalitas Instrumental. Rasionalitas tujuan. sedangkan struktur dan pranata sosial hanya merupakan wadah tempat proses pendefinisian sosial dan proses interaksi berlangsung. dan internal (personal).Sosiologi merupakan disiplin ilmu yang mengupayakan pemahaman interpretatif dari aksi sosial dalam rangka untuk mencapai sebuah penjelasan dari aksi tersebut dan efek-efek yang ditimbulkannya.

Dalam melakukan penelitiannya tersebut. Durkheim dan Weber menggunakan paradigma yang berbeda. paradigma yang diguanakan adalah tentang definisi sosial yang merupakan suatu akibat dari aksi-aksi sosial karena proses interaksi. Berdasarkan gambaran singkat tentang sosiologi Durkheim dan Weber di atas maka paradigma yang digunakan oleh Durkheim dalam menyusun pengertianpengertian untuk menelusuri atau mencari kebenaran dari suatu realita sosial adalah Paradigma Fakta Sosial ( Social Facts Paradigm ). Sementara itu. serta struktur sosial. Weber tidak menekankan metodologis. di mana lingkungan itu bersifat memaksa dan umum. Dengan memecahkan masalah yang substantive. di mana seorang individu dapat melakukan suatu kehendak meskipun ditentang oleh orang lain. Sedangkan paradigma yang digunakan oleh Weber adalah Paradigma Definisi Sosial ( Social Definition Paradigm ) Fokus perhatian sosiologi Durkheim adalah dominasi masyarakat yang dapat mempengaruhi tindakan individu-individu di dalamnya. Durkheim melaksanan metode dengan penelitian empiris. Perbedaan Antara Sosiologi Durkheim dan Sosiologi Weber dan Contoh Ilustrasinya Dalam memahami persoalan sosiologi dan mempelajari masyar akat dan substansi di dalamnya (individu. metode yang digunakan oleh Weber adalah pengamatan mendalam (verstehen). . nyata dan dapat dirasakan (riil). ilmu pengetahuan akan dapat dibangun dan metodenya dapat berkembang. Paradigma yang digunakan Durkheim menyatakan bahwa tindakan individu sebagai tindakan yang ditentukan oleh norma-norma. tetapi lebih kepada cara-cara memecahkan masalah-masalah yang substantive. Fokus perhatian dalam sosiologi Weber adalah individu di dalam masyarakat. nilai-nilai. di mana fakta-fakta sosial tersebut harus dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Objek yang menjadi studi dalam sosiologi Durkheim adalah tentang lingkungan eksternal yang berada di luar diri individu. Sementara itu. dan merupakan suatu fakta. Objek yang menjadi kajian Weber adalah tentang tindakan sosial serta proses interaksi yang terjadi antara individu yang satu dengan yang lainnya (interaksionisme simbolik). Dalam pemahamannya.C. dalam sosiologi Weber. struktur. pranata).

yang mempengaruhi adalah tingginya integrasi di dalam masyarakatnya. yang menjadi pertanyaan adalah apakah tindakan bunuh diri yang dilakukan seseorang tersebut adalah tindakan sosial atau tidak? Di sini. Penekanannya di sini adalah struktur dan pranata sosial mempengaruhi seseorang melakukan sesuatu. Dalam pemahaman sosiologi Durkheim. baik itu oleh pengaruh integrasi maupun regulasi di dalam struktur masyar akat. . seseorang tersebut melakukan bunuh diri pasti dipengaruhi oleh lingkungan eksternalnya. Tindakan bunuh diri itu bertujuan untuk menghukum suaminya. kiri Sementara itu. Suatu tindakan muncul sebagai bentuk reaksi atas aksi dalam suatu interaksi. dalam pemahaman sosiologi Weber..Perbedaan paradigma yang digunakan Durkheim dan Weber dapat diilustrasikan dalam contoh. Seseorang tersebut pasti melakukan suatu tindakan sosial apabila mempertimbangkan dan berorientasi kepada perilaku orang lain. Misalnya seseorang yang melakukan bunuh diri. Misalnya saja seseorang yang bunuh diri tersebut disebabkan oleh rasa malu karena suaminya selingkuh. Contohnya samurai Jepang yang melakukan hara. Interaksi antarasi isteri dan suami itu mempengaruhi terjadinya sutau tindakan bunuh diri. fokus perhatian lebih kepada individunya (internal). Misalnya saja seseorang itu bunuh diri karena rasa malu karena telah melakukan kegagalan. Dalam hal ini.

Dalam melakukan penelitiannya ini. fenomena sosial yang menjadi perhatian. serta bunuh diri yang terjadi pada masa itu. . di mana ia mengkombnasikan hal khusus dan umum.tindakan sosial yang dilakukan oleh individu. Weber memiliki paradigma tentang Definisi Sosial dengan fokus perhatian kepada individu. dapat ditarik kesimpulan mengenai perbedaan antara sosiologi Durkheim dan sosiologi Weber. yang berangkat dari fenomena tindakan. Namun. Perbedaan mendasar antara sosiologi Durkheim dan Weber adalah terletak pada paradigma yang digunakan. terutama pada fokus perhatian. Suatu tindakan itu muncul karena adanya interaksi.BAB III PENUTUP DAN KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan dalam bab sebelumnya. Weber lebih menekankan perhatian kepada perilaku individu daripada perilaku kolektif yang ada di masyarakat. demi upaya untuk mengembangkan ilmu dan menjelaskan persoalan-persoalan sosial yang begitu kompleks. Durkheim menggunakan metode empiris yang bersifat ilmiah dalam melakukan penelitiannya. baik dari sejarah maupun sosiologi. metode yang diunakan oleh Weber adalah pendekatan sejarah yang dilakukan melalui pengamatan yang mendalam. pembagian kerja dan fungsi yang kompleks dalam masyarakat modern. juga tentang perkembangan Kalvinisme dan kapitalisme di Eropa Barat. yang berangkat dari fenomena sosial tentang perbedaan antara masyar akat pra-modern dan masyarakat modern. Durkheim memiliki Paradigma Fakta Sosial dengan fokus perhatian kepada masyarakat. Weber juga membangun suatu konsepsi mengenai kekuasaan (individu memaksa individu lain untuk melakukan sesuatu) dan birokrasi. sebelum dia menaruh perhatian pada individu. serta metode yang dikembangkan. di tahun 1904.

D. Pengantar . 2004. Ritzer. Jakarta: LPFE-UI.J. Sociological . 2004 Sosiologi Goodman.DAFTAR PUSTAKA Sunarto. Kamanto.. Theory . Yogyakarta: Kreasi Wacana. G.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->