P. 1
Laporan Buta Warna

Laporan Buta Warna

|Views: 394|Likes:
Dwi Putri Agustin-Unej
Dwi Putri Agustin-Unej

More info:

Published by: Putri Memang Seorang Putri on Oct 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/03/2015

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA BUTA WARNA

OLEH: DWI PUTRI AGUSTIN 100210103041

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PNGETAHUAN UNIVERSITAS JEMBER 2011

I.

JUDUL BUTA WARNA

:

II.

TUJUAN

:

Mengetahui tes buta warna

III.

DASAR TEORI : Buta warna merupakan penyakit yang disebabkan oleh ketidakmampuan sel kerucut mata

untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu. Buta warna bisa disebabkan karena faktor genetis maupun faktor lain seperti karena Shaken Baby Syndrome, cedera atau trauma pada otak dan retina, maupun pengaruh sinar UV. Oleh karena itu, seseorang yang menderita defisiensi warna tersebut, otaknya tidak mampu menerima jenis warna secara normal.Di dalam retina mata itu terdapat tiga tipe reseptor warna, yaitu merah, biru, dan hijau. Anomali warna terjadi sebagai hasil akibat kekurangan satu atau lebih dari reseptor warna tersebut. (http://adiralaff.blogspot.com/2009/10/buta-warna.html) Kemampuan melihat warna diklasifikasikan sebagai berikut: Penglihatan Normal disebut juga trichromatic. Trichromats dapat mencocokkan semua 3 warna dasar. Adanya kelainan dari mencocokkan ketiga warna dasar karena adanya disfungsi dan sel kerucut, disebut anomalous trichromatic. Bentuk kelainan melihat warna yang hanya bisa mencocokkan 2 macam warna dasar, yang disebabkan karena hilangnya beberapa sel kerucut disebut dichromatic. Bentuk buta warna yang sangat jarang terjadi adalah monochromatic.Monochromats tidak bisa mendiskripstkan warna, dan hannya bisa menerima warna abu-abu. Tipe ini dibedakan menjadi 2 berdasarkan kelainan anatominya yaitu: 1) Rod monochromats (tidak terdapat sel kerucut pada retina), dan disertai

berkurangnya daya penglihatan.

2)

Cone monochromats (hanya memiliki satu macam sel kerucut), biasanya masih

memiliki aktivitas visual yang baik. Selain dibedakan berdasarkan kelainan jumlah warna yang dapat dilihat seperti di atas, masing-masing tipe dibedakan lagi berdasarkan jenis warna yang dapat dilihat, yaitu tipe trichromatic dan dichromatic. Pada tipe ini terdapat 2 macam kelainan yaitu: protan dan deutan. Protan dan Deutan pada trichromatic disebut protanomaly dan deuteranomaly, sedangkan Protan dan Deutan pada dichromatic disebut protanopia dan deuteranopia. Hanya terdapat pada tipe dichromatic yang disebut deuteranopia. Tabel 1. Tipe Buta Warna dan Penyebabnya Type Form Red Protanomaly Protanopia Deuteranomaly Deuteranopia Blue Tritanopia Keterangan : * Protanomaly disebabkan disfungsional sel kerucut L (sel kerucut L juga disebut kerucut Merah). * Protanopia disebabkan hilangnya sel kerucut L. * Deuteranomaly disebabkan disfungsional sel kerucut M (kerucut hijau). * Deuteranopia disebabkan hilangnya sel kerucut M. Trichromatic Dichromatics Trichromatic Dichromatics Yellow Dichromatics Cause Defects Disfungsional sel kerucut L Hilangnya sel kerucut L Disfungsional sel kerucut M Hialngnya sel kerucut M Defectss Hilangnya sel kerucut S

* Tritanopia disebabkan hilangnya sel kerucut S (kerucut biru). (Jalmanggeng, 2008). Tes Ishihara adalah tes buta warna yang dikembangkan oleh Dr. Shinobu Ishihara. Tes ini pertama kali dipublikasi pada tahun 1917 di Jepang. Sejak saat itu, tes ini terus digunakan di seluruh dunia, sampai sekarang. Tes buta warna Ishihara terdiri dari lembaran yang didalamnya terdapat titik-titik dengan berbagai warna dan ukuran. Titik berwarna tersebut disusun sehingga membentuk lingkaran. Warna titik itu dibuat sedemikian rupa sehingga orang buta warna tidak akan melihat perbedaan warna seperti yang dilihat orang normal/pseudo-isochromaticism. (Wartamedika, 2007) dibawa oleh kromosm X. Artinya kromosom Y tidak membawa faktor buta warna. Muchlis menderita buta warna yang diturunkan dari kakeknya. Memang pada laki-laki risiko menderita buta warna jauh lebih besar karena pada laki-laki mempunyai satu kromosom X saja, sedangkan pada wanita mempunyai dua kromosom X sehingga kemungkinan besar wanita hanya menjadi pembawa sifat (carrier). Penyakit buta warna pun klasifikasinya bermacam-macam. Secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu monokromasi, dikromasi, dan trikromasi. Penyebabnya bisa karena delesi, hibridisasi, ataupun penyisipan asam amino pada gen pigmen warna dalam sel kerucut mata. Untuk penanganan buta warna, sampai saat ini, belum ditemukan cara untuk menyembuhkan buta warna turunan. Walaupun demikian, tersedia beberapa cara untuk membantu penderitanya. Cara tersebut antara lain adalah : 1. Menggunakan kacamata lensa warna. Tujuannya, agar penderita dapat membedakan warna dengan lebih mudah. Cara ini terbuktif efektif pada beberapa penderita.

2. Menggunakan kacamata dengan lensa yang dapat mengurangi cahaya silau. Biasanya penderita buta warna dapat membedakan warna lebih jelas jika cahaya tidak terlalu terang atau menyilaukan. 3. Jika tidak dapat melihat warna sama sekali (buta warna total), penderita dianjurkan menggunakan kacamata lensa gelap dan mempunyai pelindung cahaya pada sisinya. Suasana lebih gelap diperlukan karena sel rod, yaitu sel yang hanya bisa membedakan warna hitam, putih, dan abu-abu, bekerja dengan lebih baik pada kondisi cahaya yang suram. (http://adiralaff.blogspot.com/2009/10/buta-warna.html) Fakta-fakta tentang Buta Warna;  Buta warna lebih sering terjadi pada seseorang berjenis kelamin lelaki dibandingkan perempuan. Sebanyak 99% seorang buta warna tidak mampu membedakan antara warna hijau dan merah. Juga ditemukan kasus penderita yang tak bisa mengenali perbedaan antara warna merah dan hijau.   Cacat mata ini merupakan kelainan genetik yang diturunkan oleh ayah atau ibu. Belum dapat dipastikan berkaitan jumlah penderita, akan tetapi sebuah penelitian menyebutkan sebesar 8 -12% lelaki Eropa adalah pengidap buta warna. Sementara persentase perempuan Eropa yang buta warna adalah 0,5 -1%. Tingkat buta warna di benua lain tentu bervariasi.  Tidak ada cara untuk mengobati buta warna, karena ia bukan penyakit melainkan cacat mata. Bisa jadi seorang buta warna akan merasa tersiksa dengan keadaan ini. Sebagian perusahaan menetapkan syarat bahwa pekerjanya harus tidak buta warna.   Untuk mengetahui apakah seseorang menderita buta warna, dilakukan tes dengan menggunakan plat bernama Ishihara. Sering kali orang awam menganggap penyandang buta warna hanya mampu melihat warna hitam dan putih, seperti menonton film bisu hitam putih. Anggapan ini sebenarnya salah besar.  Banteng ternyata buta warna. Kesan yang ditimbulkan warna merah mengakibatkan binatang tersebut melonjak emosinya, bukan akibat warna merah itu sendiri.

Pada Perang Dunia II, serdadu yang buta warna dikirim untuk melakukan misi tertentu. Ketidakmampuan mereka untuk melihat warna hijau dialihfungsikan untuk mendeteksi adanya kamuflase yang dilakukan pihak lawan.

  

Artis terkenal yang buta warna diantaranya adalah Mark Twain, Paul Newman, Meat Loaf, Bing Cosby, Bob Dole. Setiap orang terlahir buta warna saat pertama kali lahir. Emerson Moser, pembuat krayon senior, mengaku bahwa dirinya buta warna hijau-biru dan tidak mampu melihat warna secara keseluruhan. Penyandang buta warna selalu dihantui oleh pertanyaan “Warna apakah ini?”

IV.

METODE PRAKTIKUM

4.1 ALAT DAN BAHAN a. ruangan yang cukup terang b. buku tes buta warna

4.2 CARA KERJA Menyiapkan buku tes buta warna

Mempersilahkan peserta mata kuliah membentuk kelompok untuk menguji buta warna satu per satu

Membuat data kelompok dan data kelas

Mmelakukan analisis lebih lanjut bagi mereka yang mengalami buta warna

V.

HASIL PENGAMATAN

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

NAMA NOVITA NURIA FIRLIYANTI SRI WAHYU P.T ARINTA DESTIARI WASIATUS SA’DIAH MIA AVIATUN NATALIA LILIPALI UMROATUL INAYAH RISKA AYU ANIS MUBASIROH DAYU D SETIAWAN APRI FITRI NINGTIAS NURIA NUITRA DWI VIKA FIRMA DIAH PRAJNA APRIS WAHYU

KESALAHAN 1 1 1 1 1 1 2 1 -

KESIMPULAN NORMAL NORMAL NORMAL NORMAL NORMAL NORMAL NORMAL NORMAL NORMAL NORMAL NORMAL NORMAL NORMAL NORMAL NORMAL NORMAL

VI.

PEMBAHASAN

Pada percobaan kali ini adalah mengenai buta warna. Untuk mengetahui seseorang buta warna atau tidak, dilakukan tes buta warna, yaitu dengancara seseorang yang akan dites buta warna membaca plate pada buku tes. Lempengan-lempengan tersebut tersebut berupa angkaangka yang tersusun dari titik-titik dengan warna dan ukuran tertentu. Jika normal, maka dapat membaca benar antara 1-11, jika tidak normal/buta warna bila kurang dari itu. Pada praktikum kali ini, praktikan dipersilahkan membentuk kelompok untuk menguji buta warna. Setiap kelompok perwakilan 2 orang. Dalam satu kelas terdapat 8kelompok, sehingga praktikan yang dites 16 orang. Hasilnya darisemua praktikan dengan jumlah 14 orang wanita dan 2 orang lakilaki, dapat membaca semua plate yang ada. Ini berarti bahwa semua anggota kelompok dinyatakan normal. Pada umumnya buta warna disebabkan oleh faktor gen atau keturunan yang diwariskan dengan cara bersilang. Dimana sifat dari ayah akan diturunkan pada semua anak yang perempuan(baik carrier atau penderita), dan sifat dari ibu akan diturunkan pada semua anak yang laki-laki. Laki-laki itu biasanya cenderung terkena buta warna karena gen yang berfungsi atau bersifat resesif buta warna dibawa oleh kromosom X, dimana laki-laki hanya memiliki satu kromosom X. Laki-laki juga tidak bisa sebagai carrier karena laki-laki hanya memiliki satu kromosom X, sedangkan pada perempuan jarang terkena buta warna karena perempuan memiliki dua kromosom x. Jika satu kromosom X membawa gen resesif c, maka perempuan tersebut hanya pembawa atau normal carrier (XCXc). Jika dua kromosom X pada perempuan terpaut gen resesif c maka disebut pendetita buta warna (XcXc). Meskipun kami tidak bisa mendeteksi genotip dari probandus wanita, normal atau normal heterozigot (carrier). Untuk penentuan genotip dari masing-masing probandus digunakan aturan berikut ini: Seperti pada literatur, karena buta warna bersifat resesif pada kromosom X maka dapat dilambangkan dengan XC, sedangkan pasangan alelnya yang dominan pada huruf X tidak dituliskan huruf C, untuk kromosom Y tidak diberi tanda, sehinggga didapatkan hal-hal berikut:
  

XCXC = perempuan normal XCXc = perempuan carrier XcXc = perempuan buta warna

 

XCY= laki-laki normal XcY= laki-laki buta warna

Sehingga genotip untuk masing-masing probandus laki-laki pada percobaan ini adalah XY. Karena mereka semua tidak buta warna, sedangkan untuk probandus wanita ada dua kemungkinan yakni normal homozigot atau normal heterozigot. Untuk yang normal dominan homozigot fenotipnya XX, sedangkan untuk normal heterozigot XXc. Untuk mengetahui apakah wanitanya normal atau carrier dapat diketahui dari keturunannya nanti bila mereka menikah dengan laki-laki normal. Untuk mengetahui bermacam-macam kemungkinan daari pewarisan buta warna dapat dilakukan persilangan/perkawinan berikut ini:

1. Perkawinan antara wanita normal dengan laki-laki normal. P : G: F1: ♀ XCXC >< ♂ XCY XC XCXC , XC . Y XC Y (NORMAL)

(NORMAL)

Dari persilangan diatas, dapat diketahui bahwa bila ada seorang wanita normal dengan laki-laki normal akan menghasilkan keturunan XCXC (wanita normal) dan XCY (laki-laki normal). Perkawinan tersebut mempunyai perbandingan ratio fenotip 1:1, bahwa kemungkinan semua anaknya normal 100%, akan tetapi anak wanitanya normal heterozigotik/carrier 50% dan anak laki-lakinya normal 50%. Untuk dapat mengetahui hingga keturunan F2nya maka dari keturunan F1 dikawinkan lagi. 2. Perkawinan antara wanita carrier (XCXc) dengan laki-laki normal (XCY) P : ♀ XCXc >< ♂ XCY G : XC Xc XCY(normal) XC Y XcY(penderita)

F1: XCXC(normal) XCXc(carrier)

Dari persilangan diatas, dapat diketahui bahwa bila ada seorang wanita carrier kawin

dengan laki-laki normal maka akan menghasilkan dua anak normal,satu anak carrier, dan satu anak penderita buta warna. Jadi dari hasil persilangan diatas perbandingan ratio fenotip(F1) yaitu 1:2:1. Sehingga peluang lahir anak normal 50%, peluang lahir anak perempuan carrier 25% dan pekuang anak buta warna sebersar 25%. Dan dapat diketahui pula yang menurunkan sifat buta warna adalah gen ibu. Untuk dapat mengetahui hingga keturunan F2nya, maka dari hasil keturunan F1 dikawinkan lagi dengan hasil sebagai berikut: Dengan F1 tadi: XCXC(normal) XCY(normal) Maka P : ♀XCXC >< ♂XcY G: XC Xc Y F1: XCXc(normal) XcY(penderita) XCXc(carrier) XCY(normal) XCXc(carrier) XcY(penderita)

Artinya dari hasil persilangan F1 didapatkan F2nya, bila ada seorang wanita normal dikawinkan dengan laki-laki penderita akan menghasilkan 1 anak normal, 2 anak carrier, dan 1 anak penderita buta warna. Jadi dari hasil persilangan diatas ratio fenotip F2 yaitu 1:2:1. Jadi peluang lahir anak perempuan carrier sebesar 50%, peluang anak laki-laki normal 25%, dan peluang anak buta warna 25%. 3. Perkawinan antara wanita buta warna (XcXc) dengan laki-laki normal (XCY) P : ♀ XcXc >< ♂ XCY G : Xc F1 XCXc (carrier) XC,Y Xc Y (buta warna)

Dari persilangan diatas menunjukkan bahwa bila seorang wanita buta warna kawin dengan laki-laki normal maka akan menghasilkan keturunan pertama yaitu wanita normal carrier (XCXc) dan laki-laki buta warna (XcY). Namun pada kenyataannya, jika seorang penyidap buta warna itu adalah ibunya, maka akan diwariskan secara silang pada anak laki-lakinya. Hal ini disebabkan karena yang membawa penyakit adalah gonosomnya (kromosom kelamin). Dan dari diagram diatas dapat diketahui perbandingan ratio fenotipnya sebesar 1:1 sehingga peluang lahir

anak perempuan normal carrier sebesar 50% dan peluang lahir anak laki-laki buta warna sebesar 50%. Untuk dapat mengetahui hingga keturunan F2nya, maka dari keturunan hasil F1 disilangkan lagi dengan hasil sebagai berikut: Dengan F1: ♀ XCXc(carrier) ♂XcY(buta warna) Maka : P : ♀ XCXc >< ♂ XcY G: XC,Xc XCY(normal) Xc,Y XcXc(buta warna) XCY(normal) F1: XCXc(carrier)

Artinya dari hasil persilangan F1 didapatkan F2nya, bila ada seorang wanita carrier dikawinkan dengan laki-laki normal akan menghasilkan 1 anak carrier, 2 anak normal dan 1 anak penderita. Jadi dari hasil persilangan diatas ratio fenotip F2 yaitu 1:2:1. Maka peluang lahir anak perempuan carrier sebesar 25%, anak laki-laki normal sebesar 50% dan peluang anak buta warna 25%. 4. Perkawinan antara wanita normal (XCXC) dengan laki-laki buta warna (XcY) P : ♀ XCXC >< ♂ XcY G: XC Xc,Y F1: XCXc(carrier) XCY(normal) Dari persilangan diatas dapat diketahui bahwa bila ada seorang wanita normal kawin dengan laki-laki buta warna kana menghasilkan keturunan XCXc(carrier) dan XCY(normal). Perkawinan tersebut mempunyai perbandingan ratio fenotip sebesar 1:1, sehingga peluang anak laki-laki normal sebesar 50% dan anak perempuan carrier sebesar 50%. Adapun yang menurunkan sifat buta warna adalah gen ayah. Untuk dapat mengetahui hingga keturunan F2nya maka dari keturunan hasil F1 disilangkan lagi dengan hasil sebagai berikut: Dengan F1 = ♀ XCXc(carrier) dan ♂ XCY(normal) Maka : P : ♀ XCXc >< ♂ XCY G: XC,Xc XCY(normal) XC,Y XCXc(carrier) XcY(penderita) F1: XCXC(normal)

Artinya dari hasil persilangan F1 didapatkan F2nya, bila ada seorang wanita carrier kawin dengan laki-laki normal akan menghasilkan 1 anak carrier, 2 anak normal, dan 1 anak penderita. Jadi dari hasil persilangan diatas ratio fenotip F2nya yaitu 1:2:1. Maka peluang lahir anak perempuan carrier sebesar 25%, anak laki-laki normal sebesar 25%, anak perempuan normal 25%, dan anak laki-laki penderita 25%. 5. Perkawinan antara wanita carrier (XCXc) dengan laki-laki buta warna (XcY) P : ♀ XCXc >< ♂ XcY G : XC,Xc F1: XCXc(carrier) XCY(normal) Xc,Y XcXc(buta warna) XcY(penderita)

Dari persilangan diatas menunjukkan bahwa bila ada seorang wanita carrier kawin dengan laki-laki buta warna maka akan menghasilkan keturunan pertama(F1) antara lain wanita carrier (XCXc), laki-laki normal (XCY), wanita buta warna (XcXc), dan laki-laki buta warna (XcY). Dan dari persilangan dapat diketahui ratio fenotip (F1) yaitu 1:2:1 sehingga peluang lahir anak normal sebesar 25%, anak normal carrier 25% dan anak buta warna sebesar 50%. Untuk dapat mengetahui hingga keturunan F2nya maka dari keturunan hasil F1 disilangkan lagi dengan hasil sebagai berikut: Dengan F1 = ♀ XCXc(carrier) XCY(normal) Maka : Misal P : ♀ XcXc >< ♂ XCY G: F2: Xc XCXc(carrier) XcY(penderita) Artinya dari hasil persilangan F1didapatkan F2nya, bila ada seorang wanita buta warna (XcXc) dengan laki-laki normal akan menghasilkan 1 anak carrier dan 1 anak penderita. Jadi dari hasil persilangan diatas ratio fenotip F2 yaitu 1:1. Maka peluang lahir anak perempuan carrier sebesar 50% dan anak laki-laki penderita sebesar 50%. Maka dapat disimpulkan yang menurunkan sifat buta warna adalah gen ibu, walaupun ayahnya normal. XC,Y XcXc(buta warna) XcY(penderita)

6. Perkawinan antara wanita buta warna (XcXc) dengan laki-laki buta warna (XcY) P : ♀ XcXc >< ♂ XcY G: Xc Xc,Y XcY(buta warna) F1: XcXc(buta warna) ,

Dari hasil persilangan diatas dapat diketahui apabila ada seorang wanita buta warna kawin dengan laki-laki buta warna maka keturunan F1 100% buta warna (baik laki-laki maupun perempuan). Jadi tidak pernah bisa menghasilkan keturunan yang normal karena semua parentalnya penderita buta warna (buta warna merupakan penyakit yang diturunkan).

VII.

KESIMPULAN

Dari hasil percobaan yang telah kami lakukan dapat disimpulkan bahwa: 1) Semua probandus yang diteliti tidak buta warna, dengan genotip laki-laki XY dan genetip perempuan XX atau XXC(carrier) 2) Buka warna lebih banyak diderita oleh laki-laki daripada perempuan. 3) Buka warna adalah suatu penyakit keturunan yang disebabkan oleh gen resesif terdapat pada kromosom X. 4) Hasil keturunan dari beberapa contoh persilangan a. Wanita normal (XCXC) kawin dengan laki-laki (XCY) akan menghasilkan keturunan F1 XCXC(wanita normal) dan XCY(laki-laki normal) dengan perbandingan ratio fenotip sebesar 1:1sehingga peluang anak perempuan lahir normal sebesar 50% dan peluang anak laki-laki normal sebesar 50%. b. Wanita carrier (XCXc) dengan laki-laki normal (XCY) akan menghasilkan keturunan 2 anak normal, 1 anak carrier, dan 1 anak buta warna dengan perbandingan fenotip sebesar 1:2:1 sehingga peluang lahir anak normal sebesar 50%, perempuan carrier sebesar 25% dan peluang anak laki-laki buta warna sebesar 25%. c. Wanita buta warna (XcXc) kawin dengan laki-laki normal (XCY) akan menghasilkan keturunan wanita carrier(XCXc) dan laki-laki buta warna (XcY), dengan perbandingan ratio fenotip sebesar 1:1 sehingga peluang lahir anak perempuan carrier sebesar 50% dan anak laki-laki buta warna sebesar 50%. Dan dapat diketahui juga F2 dengan menyilangkan kembali hasil F1 dengan perbandingan ratio fenotip 1:2:1, dengan peluang lahir anak perempuan carrier sebesar 25%, anak laki-laki normal 50%, dan peluang lahir anak perempuan buta warna 25%. d. Wanita normal (XCXC) dengan laki-laki buta warna (XcY) akan menghasilkan keturunan XCXc(wanita carrier) dan XCY(laki-laki normal) dengan perbandingan ratio fenotip sebesar 1:1 sehingga peluang anak laki-laki normal sebesar 50% dan anak perempuan carrier sebesar 50%. Dan dapat diketahui juga F2 dengan menyilangkan kembali hasil F1 dengan perbandingan ratio fenotip 1:1, dengan
c

yang

peluang lahir anak laki-laki normal sebesar 50% dan anak perempuan carrier sebesar 50%. e. Wanita carrier (XCXc) kawin dengan laki-laki buta warna (XcY) akan menghasilkan keturunan F1 antara lain wanita carrier(XCXc) sebesar 25%, wanita buta warna(XcXc) dan laki-laki normal (XCY) sebesar 25%. Dan dapat diketahui juga F2 dengan menyilangkan kembali hasil F1 dengan perbandingan ratio fenotip 1:1, dengan peluang lahir anak perempuan carrier sebesar 50% dan anak laki-laki penderita buta warna sebesar 50%. f. Wanita buta warna (XcXc) dengan laki-laki buta warna (XcY) akan menghasilkan keturunan pertama 100% buta warna semua (laki-laki maupun perempuan) g. Yang menurunkan sifat buta warna adalah gen ibu.

DAFTAR PUSTAKA      

Ahira, anne. 2010. Buta Warna. online: http://www.anneahira.com/pencegahanpenyakit/buta-warna (diakses tanggal 25 desember 2011)
Anonim.http://id.wikipedia.org/wiki/buta-warna (diakses tanggal 25 desember 2011)

Campbhell, dkk. 2004. Biologi Jilid 1. Jakarta : Erlangga Suryo. 1984. Genetika Strata 1. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada Tim Pembina Genetika. 2011. Petunjuk Praktikum Genetika. Jember : Universitas Jember Waluyo, Joko. 2006. Biologi Dasar. Jember : Universitas Jember.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->