Laporan Imunologi Reaksi Widal

REAKSI WIDAL

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok : Azwar Abdul Aziz : BIJ010151 : II :4

LAPORAN PRAKTIKUM IMMUNOLOGI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2012

I.

PENDAHULUAN

Tujuan Tujuan praktikum ini adalah untuk mendeteksi penyakit typus dan berat ringannya infeksi oleh bakteri Salmonella typhii dengan melihat titer antibodi dalam serum.5 juta individu tiap tahunnya. pH dan suhu. typhii. Latar Belakang Demam tifoid merupakan penyakit internasional. Antibodi yang terdapat dalam cairan tubuh biasanya disebut antibodi humoral dan beberapa diantaranya dapat menghasilkan reaksi yang dapat dilihat dengan mata (visibel). tetapi ketepatan dan spesifisitas uji widal tabung lebih baik dibandingkan dengan uji widal peluncuran (Wardhani. Diagnosis pasti demam tifoid dengan cara mengisolasi kuman S.memerlukan waktu yang cukup lama (4–7 hari) dan tidak semua laboratorium mampu melaksanakannya. 1989). Sejak 1948 kloramfenikol digunakan untuk mengurangi kasus yang fatal dari 20% menjadi 1%. menjangkit 13. B. Uji widal dengan metode peluncuran dapat dikerjakan lebih cepat dibandingkan dengan uji widal tabung. Antigen merupakan suatu substansi yang dapat merangsang hewan atau manusia untuk membentuk protein yang dapat berikatan dengannya dengan cara spesifik. Fase kedua yaitu pembentukan kisikisi tergantung pada penanggulangan gaya tolak elektrostatik partikel-partikel (Olopoenia dan King. Antibodi yang dihasilkan tadi hanya akan bereaksi dengan antigennya atau dengan antigen lain yang mempunyai persamaan dekat dengan antigen pertama. Fase pertama aglutinasi adalah penyatuan antigen-antibodi terjadi seperti pada presipitasi dan tergantung pada kekuatan ion. Antibodi merupakan suatu substansi yang dihasilkan sebagai jawaban (respon) terhadap antigen yang reaksinya spesifik terhadap antigen tersebut. 1999). Antibodi semacam ini dikenal sebagai antigen seluler (Soenarjo. khususnya di negara berkembang termasuk Indonesia. Aglutinasi merupakan reaksi serologi klasik yang dihasilkan gumpalan suspensi sel oleh sebuah antibodi spesifik yang secara tidak langsung meyerang spesifik antigen. 2010). Uji widal merupakan salah satu uji serologis yang sampai saat ini masih digunakan secara luas. Antibodi spesifik dibentuk di dalam sel tertentu yang bereaksi secara spesifik dan langsung terhadap antigen. Diagnosis demam tifoid sering ditegakkan hanya berdasarkan gejala klinis dan tes serologis saja (Verma. 2005). Uji widal dapat dilakukan dengan metode tabung atau dengan metode peluncuran (slide). bersifat endemis dan masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia.A. Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella typhi merupakan penyakit infeksi sistemik. . sehingga komplikasi dapat dihindari. Beberapa uji telah digunakan secara luas untuk mendeteksi antibodi yang menyerang penyakit yang dihasilkan mikroorganisme pada serum dalam waktu yang lama. Diagnosis dini demam tifoid sangat diperlukan agar pengobatan yang tepat dapat segera diberikan.

Salmonella pada umumnya harus diidentifikasikan dengan analisa antigenik seperti Enterobacteriaceae yang lain. 2000). infeksi selaput. bakteri ini mudah tumbuh pada pembenihan biasa. (Soemarno. natrium tetratrionat. dimana antibodi IgG flagela H biasanya berkembang lebih lambat tetapi tetap memanjang. dan A (flagella). tidak berkapsul dan bergerak dengan flagel peritrich. 2011). dan menyebabkan enteris. tetapi hampir tidak pernah meragikan laktosa dan sukrosa. 1996). Antigen ini dapat mengganggu aglutinasi O atau anti serum O dan berhubungan dengan virulensi. TINJAUAN PUSTAKA Uji reaksi Widal menggunakan suspensi bakteri S. Antigen H terletak pada flagel dan jika kehilangan antigen H dapat mengakibatkan Salmonella ini tidak dapat bergerak. sehingga jika kehilangan antigen ini mengakibatkan bentuk koloni yang seharusnya menjadi kasar. Keterlambatan diagnose dapat menyebabkan komplikasi yang berakibat fatal. Bakteri ni ditularkan dari hewan atau produk hewan kepada manusia. Bakteri ini dapat hidup dalam air beku untuk jangka waktu yang cukup lama. kebanyakan spesies kecuali Salmonella pullorumgallinarum dapat bergerak dengan flagel peritrich.al. tetapi beberapa diantaranya ada yang memiliki antigen Vi.. Salmonella mempunyai antigen O dan antigen H. sampai pada kematian. infeksi sistemik dan demam enteric. kebocoran usus. sumsum tulang. Terdapat gejala penyakit tifus segera di lakukan pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosa penyakit tifus. 1974). H (flagelata).II. Salmonella resisten terhadap zat-zat kimia tertentu (misalnya hijau brilliant. Kedua antigen ini dapat digunakan untuk identifikasi Salmonella (Jawetz et al. dkk. (Jawetz. koma. Oleh karena itu senyawa ini bermanfaat untuk dimasukkan dalam pembenihan yang dipakai untuk mengisolasi Salmonella dari tinja. PanjangSalmonella bervariasi. paratyphi dengan perlakuan antigen H dan O. Meskipun diagnosis definitife tetapi. Bakteri ini termasuk asam dan kadang – kadang gas dari glukosa dan maltosa. jenis penyakit ini sulit untuk didiagnosa secara akurat. dan natrium desoksikolat) yang menghambat bakteri enteric lainnya. dari spesimen klinis seperti darah. Penyakit tifus yang berat menyebabkan komplikasi pendarahan. . Antigen ini dikerjakan untuk mendeteksi antibodi yang sesuai pada serum pasien yang diduga menderita demam typhoid.typhii dan S. Tanda-tanda dan gejala PA (Paratyphoid fever A) menunjukan tidak spesifitas. urin atau tinja atau dengan menunjukan meningkatnya titer O (somatic). Salmonella merupakan bakteri Gram (-) batang.. yang terdiri dari satuan-satuan lipopolisakarida yang berulang. Salmonella sering bersifat pathogen untuk manusia atau hewan jika masuk ke dalam tubuh melalui mulut. renjatan bronkopnemonia dan kelainan di otak. Bagian paling luar dari dinding sel lipopolisakarida salah satunya adalah antigen O. dapat dibuat isolasi SPA (serovar Paratyphi A (SPA). dan biasanya membentuk H2S. Antibodi IgM somatik O menunjukksn awal dan merepresentasikan respon serologi awal pada penderita demam thypoid akut. ditandai dengan aglutinasi antibodi dalam sampel serum yang berpasangan (Shukunet.

Bahan-bahan yang diperlukan dalam praktikum ini antara lain serum penderita thypus dan antigen S. Metode Metode yang dilakukan dalam praktikum secara skematis sebagai berikut: . 10 μl. yellow tips.III. B. dan mikroskop. 5 μl. Materi Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah object glass. MATERI METODE A. typhii H dari produk Murex. mikropipet ukuran 20 μl.

typhii H. Masing-masing object glass ditetesi 1 tetes reagen S. Penderita terinfeksi S. Penderita tidak terinfeksi S. titer Ab (+) 1/160 = infeksi aktif c) Pada serum 5 μl. 2. diamati ada tidaknya aglutinasi. hasil positif (+). titer Ab (+) 1/80 = infeksi ringan b) Pada serum 10 μl. dan 5μl. dicampur supaya larutan menjadi homogen. hasil negatif (-). a) Pada serum 20 μl. typhii H.typhii H. Ada aglutinasi. Object glass digoyang-goyang selama 1 menit. Diambil 3 buah object glass dan pada masing-masing object glass dipipetkan serum sebanyak 20μl. 3. Tidak ada aglutinasi. Tepat 1 menit. Interpretasi Hasil : 1. 2. titer Ab (+) 1/320 = infeksi berat . 10μl.Metode yang dilakukan dalam praktikum diuraikan sebagai berikut : 1.

Hasil Tabel 1. Tidak terjadi Aglutinasi . Ade Irma Gambar 1.5 + + + + + + + + + + - Probandus Ria Murniati Ai Nurjanah Ai Nurjanah Ria Murniati Hikmah S. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil pengamatan terjadinya aglutinasi pada serum Kelompok 1 2 3 4 5 6 Terjadi Aglutinasi 20 10 5 2.IV.

khususnya di negara berkembang termasuk Indonesia. menjangkit 13. Mencari standar titer uji Widal seharusnya ditentukan titer dasar (baseline titer) pada anak sehat di populasi dimana pada daerah endemis seperti Indonesia akan didapatkan peningkatan titer antibodi O dan H pada anak-anak sehat (Jawetz et al. Pembahasan Hasil praktikum menunjukkan bahwa setelah serum praktikan yang masing-masing terdiri atas 5 µl. Sejak 1948 kloramfenikol digunakan untuk mengurangi kasus yang fatal dari 20% menjadi 1% (Verma. manfaatnya masih diperdebatkan dan sulit dijadikan pegangan karena belum ada kesepakatan akan nilai standar aglutinasi (cut-off point). 1974). Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam serum. Diagnosis demam tifoid sering ditegakkan hanya berdasarkan gejala klinis dan tes serologis saja. memerlukan waktu yang cukup lama (4–7 hari) dan tidak semua laboratorium mampu melaksanakannya. Sampel 5 µl dan 20 µl tidak tebentuk gumpalan karena tidak adanya reaksi antara antigen dengan antibodi. Kelemahan uji Widal yaitu rendahnya sensitivitas dan spesifisitas serta sulitnya melakukan interpretasi hasil membatasi penggunaannya dalam penatalaksanaan penderita demam tifoid akan tetapi hasil uji Widal yang positif akan memperkuat dugaan pada tersangka penderita demam tifoid (penanda infeksi). deteksi biasanya dikerjakan dengan reaksireaksi sekunder yang merupakan alat bantu untuk memvisualisasikan reaksi. misalnya presipitasi.. bersifat endemis dan masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. 2005). 2005). Demam tifoid merupakan penyakit internasional. Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella typhi merupakan penyakit infeksi sistemik. Interaksi primer atau interaksi awal antigen dengan antibodi merupakan suatu kejadian dasar yang terdiri dari pengikatan molekul antigen dengan molekul antibodi. Interaksi antigen-antibodi kadang-kadang dinyatakan sebagai manifestasi tersier. Antigen mempunyai dua atau lebih tempat reaksi atau antigen-reaction site atau antigendeterminant site. Kontrol menunjukkan hasil positif setelah ditetesi dengan reagen. Uji widal dapat dilakukan dengan metode tabung atau dengan metode peluncuran (slide). Diagnosis pasti demam tifoid dengan cara mengisolasi kuman S. hal ini berarti bahwa serum tersebut terinfeksi oleh bakteri S. terbentuk gumpalan pada serum 10 µl karena tejadi reaksi antara antigen dengan antibodi. Uji widal dengan metode peluncuran dapat dikerjakan lebih cepat dibandingkan dengan uji widal tabung. dan tersier.sehingga komplikasi dapat dihindari. Saat ini walaupun telah digunakan secara luas di seluruh dunia. tetapi ketepatan dan spesifisitas uji widal tabung lebih baik dibandingkan dengan uji widal peluncuran (Wardhani. Imunoglobulin-G (IgG) berstruktur elips memanjang dengan dua atau lebih permukaan tempat reaksi atau antibody-reaction site yang sama. Typhii. 2010). Typhii.5 juta individu tiap tahunnya. Reaksi tertier merupakan ekspresi biologik dari interaksi antigen-antibodi yang dapat berguna untuk merusak. 20 µl di tetesi dengan reagen Salmonella typhii. . Uji widal merupakan salah satu uji serologis yang sampai saat ini masih digunakan secara luas. dimana terbentuknya gumpalan atau aglutinasi. sekunder. Interaksi antigen-ntibodi dibagi dalam 3 kategori yaitu primer.B. 1992). Reaksi-reaksi tersebut adalah merupakan tanda-tanda biologik interaksi antigen-antibodi dan kadang-kadang berguna pada penderita tetapi kadang-kadang dapat menyebabkan penyakit karena injuri imunologik (Bellanti. sehingga secara umum dikenal sebagai substansi yang mempunyai multivalent dan multispesifik. Hal ini menunjukkan bahwa serum praktikan tidak terinfeksi oleh bakteri S. khususnya di negara berkembang termasuk Indonesia. Diagnosis dini demam tifoid sangat diperlukan agar pengobatan yang tepat dapat segera diberikan. typhii. tetapi ketepatan dan spesifisitas uji widal tabung lebih baik dibandingkan dengan uji widal peluncuran (Wardhani. Uji widal merupakan salah satu uji serologis yang sampai saat ini masih digunakan secara luas. 1993). Prinsip uji Widal adalah memeriksa reaksi antara antibodi aglutinin dalam serum penderita yang telah mengalami pengenceran berbeda-beda terhadap antigen somatik (O) dan flagela (H) yang ditambahkan dalam jumlah yang sama sehingga terjadi aglutinasi. Reaksi ini jarang terlihat. 10 µl. Uji widal dengan metode peluncuran dapat dikerjakan lebih cepat dibandingkan dengan uji widal tabung. yaitu satu pada tiap ujungnya dan mempunyai kemampuan ikatan spesifik yang dikenal dengan bivalent atau monovalent (Volk. Uji widal dapat dilakukan dengan metode tabung atau dengan metode peluncuran (slide).

infeksi dengan malaria atau Enterobacteriaceae lain. 2. antibodi humoral anti-HLA berkembang bersama penolakkan yang diperantarai sel T. (1974). Antibodi yang berikatan dengan antigen H adalah IgG. Antibodi yang tidak mampu bereaksi dalam larutan salin disebut antibodi inkomplet atau antibodi blocking yang termasuk di sini adalah antibodi IgG. pada resipien yang telah diobati dengan obat-obatan imunosupresif setelah pencangkokan (Robbins dan Kumar. Menurut Olopoenia dan King (1999). Positif (+) Positif (+) Negatif Negatif (-) : Terjadi aglutinasi. . Hal yang menyebabkan uji aglutinasi Widal menjadi negatif antara lain tidak adanya infeksi oleh S. Antigen “Vi” yang ada pada perifer ekstrim tubuh atau pada kapsul. dancarrier state. Kandungan sera antibodi anti-O. typhii. Kultur yang mempunyai antigen Vi lebih virulen dari pada yang tidak punyai antigen Vi. ada beberapa hal yang akan menyebabkan hasil aglutinasi Widal menjadi positif maupun negatif. 1995). reaksi silang dengan Salmonella non-typhoid. berarti terdapat antibodi. dan penyakit lain seperti dengue. sebelumnya telah diimunisasi dengan antigen Salmonella. tidak cukupnya inokulum antigen bakteri pada inang untuk menginduksi produksi antibodi. 3. alkohol dan cairan asam. Organisme cenderung akan bermutasi dari satu fase ke fase lain yang disebut dengan fase variasi. Antibodi ini penting sekali dalam penghantaran penolakkan akut lambat. yaitu : 0 1. seperti aglutinasi antigen yang lambat pada masa granular. antigen flagelar ini terbentuk dalam satu atau dua bentuk yang disebut fase 1 dan fase 2. bukan indikasi untuk mengulang pengobatan bilamana tidak lagi didapatkan gejala yang sesuai. keragaman dan minimnya standarisasi preparasi antigen komersial. berarti tidak terdapat antibodi. keragaman preparasi antigen komersial. Hal yang akan menyebabkan hasil aglutinasi Widal menjadi positif antara lain pasien yang dites menderita demam typhoid. Antibodi-antibodi yang mampu bereaksi dengan antigen dalam larutan salin disebut dengan antibodi salin atau komplet yang sebagian besar terdiri atas antibodi IgM. menyatakan bahwa antigen mempunyai tiga struktur utama. “H” atau antigen flagelar yang diinaktifkan oleh pemanasan diatas 60 C dan bisa juga dengan alkohol dan asam. perlakuan antibodi sebelumnya. Antigen ini akan rusak oleh 0 pemanasan selama 1 jam pada suhu 60 C dan oleh asam dan fenol. kesulitan teknis dan eror dalam penampilan uji. (-) : Tidak terjadi aglutinasi. Di dalam spesies salmonella tunggal. Antibodi terhadap antigen O yang utama adalah IgM. Antigen O diambil dari bakteri basil non-motil atau dengan perlakuan dengan pemanasan dan alkohol. Antigen ini merupakan sediaan terbaik untuk uji serologi dengan penambahan formalin pada kultur motil muda. Antibodi dapat menimbulkan penolakkan sehingga interaksi tidak terjadi. 1993). “O” atau antigen somatik yang terbentuk pada permukaan tubuh bakteri baik dalam bentuk motil maupun 0 non-motil dan resisten untuk memanjang pada pemanasan 100 C .Jawetz et al. Hasil ulang pemeriksaan widal positif setelah mendapat pengobatan tifus. Antigen H ini mengandung beberapa unsur pokok imunologi. Jenis antibodi 7S IgG tertentu tidak dapat mengaglutinasi sel darah merah dalam suspensi salin meskipun telah terikat kuat pada antigen (sel darah merah) (Bellanti. Adanya hasil negatif pada hasil praktikum menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara antigen dengan antibody. Proses penolakkan ini dapat terjadi dalam dua bentuk yatitu penolakkan hiperakut terjadi bila antibodi anti donor yang terbentuk sebelumnya sudah ada di dalam sirkulasi resipien serta pada individu yang tidak dibuat peka.

V. Mikrobiologi Kedokteran. . 1996. pernah menderita thypus karena serumnya mengalami aglutinasi setelah ditetesi dengan reagen S. A. Jakarta. Ernest. Widal Aglutination Test – 100 Years Later : Still Plaqued by Controversi. DAFTAR REFERENSI Bellanti. L Melnick. Jawetz. 1999. S.L King. Howard University. Buku Ajar Patologi I Edisi 4. Jakarta : EGC. Yogyakarta. Canada. Typhii. E. J. 2. Saran Saran yang bisa diberikan adalah bahwa perlu adanya pengujian lebih lanjut mengenai ada tidaknya Salmonella typhii pada darah praktikan. Adelberg. Praktikan yang sampel darahnya diambil ari kelompok 2. 1974. Robbins. Lange Medical Publication. Olopoenia. KESIMPULAN DAN SARAN A. 3. maka tidak akan terjadi aglutinasi karena tidak ada ikatan (interaksi) antara Ag Salmonella dengan Ab terhadap Salmonella typhii (hasil negatif). L. Imunologi III. ECG.A and A. Jawetz. 1993. karena Ab dalam serum akan mengikat Ag bakteri Salmonella typhii (hasil positif). Serum yang mengandung Ab terhadap Salmonella typhii apabila bereaksi dengan AgSalmonella typhii yang dilekatakan pada partikel. akan mengalami aglutinasi. 1995. Gadjah Mada University Press. Washington. Review of Medical Microbiology.L dan V. B. J. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Apabila serum penderita tidak mengandung Ab terhadap Salmonella . Kumar. and E.

Dasar-dasar Imuno Bioreproduksi pada Hewan.Y. Conjia. 1989. Soenarjo. New York. G Singh. 2011. 1992. W. Kanga. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory. S. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Klinis. Verma. 2010. Wardhani. and Xianhua. M. 12 (1) : 31-37. Yogyakarta: Akademi Analis kesehatan Yogyakarta Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Basic Microbiology sevent Edition. Emerging Salmonella parathypi A Enteric fever and changing trends in antimicrobial resistance pattern of salmonella in Shimla.A. P. Indian Journal Of Medical Microbiology. 1(8) pp. Qian. Prihatini. Kemampuan Uji Tabung Widal Menggunakan Antigen Import dan Antigen Lokal. Thakur. and P. C. S. . 28 (1): 51-53. Value of a single serum widal agglutination test in diagnosis of paratyphoid fever A. W. 209-214. Shukun. 2005.Soemarno. 2000. Gupta. W. S. Fakultas Peternakan Unsoed. International Research Journal of Biochemistry and Bioinformatics (ISSN-2250-9941) Vol. Volk. Deshen. Purwokerto. A. W. Harper-Collins Publishers.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful