P. 1
Himpunan Dan Fungsi

Himpunan Dan Fungsi

|Views: 93|Likes:
Published by Naru Thohir

More info:

Published by: Naru Thohir on Oct 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/16/2012

pdf

text

original

1

HIMPUNAN DAN FUNGSI

Pada bab ini di samping membahas konsep-konsep yang mendasari bahasan
tentang kalkulus, juga diberikan secara terintegrasi tentang istilah-istilah dan
notasi matematis yang sering digunakan pada uraian berikutnya. Kita akan
membiasakan menggunakan notasi matematis untuk menyimbolkan pernyataan
atau kata, dan kita coba hindari kalimat-kalimat naratif yang terlalu panjang.
Dalam hal ini, seperti pada kebanyakan teks matematis, lebih menekankan pada
efektivitas dan efisiensi penulisan teks. Jika dengan menggunakan simbol-simbol
tertentu maksud teks sudah bisa dipahami, tidak akan digunakan kalimat naratif
yang panjang untuk menyampaikan suatu pengertian. Namun hal ini memerlukan
prasyarat, yaitu bahwa simbol atau notasi tertentu harus dipahami dan disepakati
maknanya. Kalu tidak, maka teks tidak akan ada artinya.
Bahasan yang menjadi obyek bahasan dalam kalkulus adalah fungsi. Namun
untuk mendefinisikan mengenai fungsi kita harus memahami lebih dahulu tentang
konsep dasar yang digunakan untuk definisi fungsi, yaitu himpunan dan relasi.
1.1 Himpunan
Himpunan merupakan kumpulan dari objek-obyek (benda) yang
didefinisikan secara jelas. Untuk melambangkan himpunan digunakan hurup
kapital A, B, ... dan anggotanya digunakan huruf kecil a, b, c, ... Jika anggota
dari himpunan A dinotasikan dengan dan dibaca “ di dalam A” atau “x
elemen A”, sebaliknya jika bukan anggota A dinotasikan dengan , dibaca
“ tidak di A” atau “ tidak masuk di A”.
Biasanya himpunan A ditentukan dengan mendaftar secara eksplisit masing-
masing anggota dalam tanda kurung kurawal { }, atau dengan cara menentukan
sifat-sifat khusus anggota himpunan. Jika menyatakan variabel dari anggota
himpunan A, dan menyatakan pernyataan syarat keanggotaan himpunan A,
maka himpuna semua anggota dari himpunan A ditulis { }
Jika benar untuk dikatakan , sebaliknya jika salah untuk
dikatakan .
Misalkan A adalah himpunan mahasiswa matematika. Jika melambangkan
“ mahasiswa matematika”, = Siti dan benar maka Siti mahasiswa
matematika, berati .
Berikut diberikan contoh-contoh beberapa himpunan bilangan. Kita
mempunyai notasi khusus untuk himpunan bilangan, yaitu dengan menggunakan
notasi huruf kapital , seperti contoh-contoh berikut:
Contoh 1.1:
- Himpunan bilangan asli { }
- Himpunan bilangan bulat { }
2

- Himpunan bilangan rasional {

}
- Himpunan bilangan Riil adalah
- Himpunan bilangan kompleks
Contoh 1.2:
a. {

}
Jika ditulis dengan mendaftar {}, karena nilai atau
memenuhi persamaan

.
b. G himpunan bilangan asli genap dapat ditulis { }.
Karena maka G dapat ditulis mendaftara { }
c. S himpunan bilangan asli ganjil dapat ditulis { }.
Karena maka S dapat ditulis mendaftara { }
Himpunan kosong adalah himpunan yang tidak mempunyai anggota dinotasikan
dengan atau { }. Misalkan himpunan himpunan bilangan rii yang kuadratnya
negatif adalah himpunan kosong.
Definisi 1.1
Dua himpunan A dan B dikatakan sama yaitu jika dan hanya jika A dan B
mempunyai anggota yang sama, yaitu setiap anggota A adalah anggotanya B
demikian juga sebaliknya setiap anggotanya B juga anggota A.
Contoh 1.3:
a. {

} dan { }, maka
{}
b. {

}, maka
Himpunan Bagian
A dikatakan himpunan bagian B atau A subset B ditulis atau
yang dibaca B memuat A. jika setiap anggota A masuk sebagai anggota B
(jika maka ).
Jika dan ada paling sedikit satu anggota B yang bukan angbgota A maka
dikatakan bahwa A himpunan bagian sejati dari B atau A proper subset dari B,
ditulis . Sehingga jika maka ada dua kemungkinan yaitu atau
.
Definisi 1.2
jika dan hanya jika dan
Contoh 1.3:
a. Himpunan bilangan asli genap adalah himpunan bagian sejati himpunan
bilangan asli .
b.
3

c. Himpunan kosong merupakan himpunan bagian dari sebarang
himpunan. Karena jika bukan himpunan bagian dari sebarang himpunan
berarti harus ada anggota himpunan yang merupakan anggota himpunan
kosong dan ini tidak mungkin terjadi.
Operasi himpunan
Kita akan mendefinisikan suatu cara memperoleh himpunan dari himpunan-
himpunan yang diketahui yang disebut sebagai operasi himpunan. Definisi operasi
himpunan mendasarkan pada pengertian kata “atau” , “dan” , dan “tidak” yang
menghubungkan diantara anggota-anggota himpunan yang diketahui.
Definisi 1.3
a. Gabungan himpunan A dengan himpunan B adalah suatu himpunan
{ }
b. Irisan himpunan A dengan himpunan B adalah suatu himpunan
{ }
c. Komplemen relatif B terhadap A adalah suatu himpunan
{ }
d. Komplemen mutlak A atau cukup disebut komplemen A adalah suatu
himpunan

{ }
S adalah himpunan semesta, yaitu himpunan yang menjadi ruang lingkup
pembicaraan. Komplemen mutlak A sesungguhnya merupakan koplemen
relatif A terhadap himpunan semesta S, yaitu

Contoh1.4
a. Jika S adalah himpunan huruf abjad, yaitu { }
{ } dan { }, maka:
{ }
{ }
{ }

{ }
b. Dalam semesta himpunan bilangan asli dan G = {2,4,6,.....} merupakan
himpunan bilangan genap maka

{ } adalah himpunan
bilangan ganjil.


4

Teorema 1.1
HUKUM ALJABAR HIMPUNAN
Hukum Idempoten
1a. AA = A 1b. A·A = A
Hukum Assosiatif
2a. (AB) C = A(BC) 2b. (A·B) ·C = A·(B·C)
Hukum Komutatif
3a. AB = BA 3b. A·B = B·C
Hukum Distributif
4a. A(B·C) =
(AB) ·(AC)
4b. A·(BC) =
(A·B) (A·C)
Hukum Identitas
5a. AC = A
6a. AS = S
5b. A·S = A
6b. A·C = C
Hukum Komplemen
7a. A A
c
= S
8a. A A
c c
= ) (
7b. A· A
c
= C
8b.
c
S = C,
c
| = S
Hukum De Morgan
9a.
c c c
B A B A · = ) ( 9b.
c c c
B A B A = · ) (

Pemberian nomor dengan menggunakan huruf a dan b dibelakang angka pada
teorema di atas dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kedua pernyataan dalam
hukum aljabar di atas saling dual, yaitu pernyataan yang diperoleh dengan
mempertukarkan dengan dan C dengan S. Sebagai contoh dual dari hukum
5a. AC = A adalah 5b. A·S = A.
Perkalian Silang Kartesius
Sebelum mendefinisikan perkalian himpunan kita definisikan dulu tentang
pasangan berturutan sebagi berikut :
Definisi 1.4
Pasangan berturutan (a,b) didefinisikan sebagai (a,b) = {{a},{a,b}} dan a disebut
komponen pertama sedangkan b disebut komponen kedua.
Dari definisi tersebut terkandung pengertian bahwa suatu pasangan berturutan
harus memperhatikan urutan dari komponen-komponennya. Jika letak dari
komponennya ditukar maka akan diperoleh pasangan berturutan yang berbeda.
Sehingga (a,b) (b,a) dan jika (a,b) = (c,d) maka a = c dan b = d.
5

Definisi 1.5
Untuk sebarang himpuanan A dan B, perkalian himpunan A dengan B ditulis
didefinisikan sebagai himpunan pasangan berturutan anggota A dan
anggota B sebagai berikut :
{ }
Contoh 1.5
a. Misalkan A = {a,b,c} dan B = {1,2}, maka
{ }
AxB dapat digambarkan dalam diagram koordinat dengan sumbu
koordinat horisontal menyatakan himpunan A dan sumbu koordinat
vertikal menyatakan himpunan B. Setiap pasangan berturutan
digambarkan sebagai titik dalam bidang koordinat yang merupakan
pertemuan garis yang melalui komponen masing-masing.

Gambar 1.1: Diagram Koordinat
b. Jika { } maka

{ }
c. Jika merupakan himpunan bilangan riil , maka

{ }
digambarkan dalam bidang koordinat bilangan riil yang disebut ”Bidang
Koordinat Kartesius”.


Gambar 1.2: Bidang Koordinat Kartesius


6

1.2 Relasi
Jika diberikan dua himpunan A dan B, maka secara intuitif relasi dari A ke
B didefinisikan sebagai pernyataan yang menghubungkan antara anggota A
dengan anggota B. Secara simbolik jika x, y secara berturutan variabel anggota A
dan B maka pernyataan hubungan x dan y dituliskan sebagai P(x,y), misalnya
P(x,y) menyatakan “x kurang dari y”. Sehingga relasi dari A ke B dapat ditulis
sebagai berikut:
( )
Jika a e A, dan b e B maka P(a,b) adalah kalimat tertutup yang bernilai benar
atau salah. Jika P(a,b) benar dikatakan “a berelasi dengan b” dapat ditulis dengan
atau

→ atau (a,b)eR, sedangkan pernyataan “a tidak berelasi dengan b”
ditulis b R a/ atau atau (a,b)eR, yaitu jika P(a,b) bernilai salah.
Relasi juga bisa dipandang sebagai himpunan bagian dari perkalian
himpunan. Relasi R dari himpunan A ke himpunan B dinyatakan .
Beberapa contoh relasi dalam himpunan bilangan riil adalah = , , ,
dan sebagainya
1.3 Fungsi
Fungsi dari himpunan A ke himpunan B yang ditulis → atau


adalah relasi dari A ke B yang memasangkan setiap anggota A ke satu dan hanya
satu anggota B. Secara formal didefinisikan sebagai berikut:
Definisi 1.6
Diberikan himpunan A dan himpunan B. Fungsi dari himpunan A ke B
adalah himpunan dari pasangan berturutan , untuk masing-masing
ada tunggal dengan , atau dengan kata lain jika
dan maka .
Anggota yang terpasangkan dengan anggota disebut peta dari atau
nilai fungsi dari dan ditulis atau → atau

→.
Himpunan A dari elemen pertama disebut domain dari sering ditulis .
Dan himpunan B disebut kodomain. Himpunan elemen ke dua dari disebut
range atau daerah hasil, dinotasikan dengan .
Definisi 1.7
Jika → , maka { }
Berdasarkan definisi tersebut berarti dan
Fungsi dapat ditulis dalam bentuk persamaan . Variabel x disebut
variabel bebas dan y disebut variabel terikat,
7

Contoh 1.6
a. Diberikan fungsi

, maka dan


b. { } dan { } , relasi yang digambarkan dalam diagram
berikut adalah fungsi.

Gambar 1.3: Diagram fungsi dari A ke B
{ }
c. → yang dirumuskan oleh
2
) ( x x f = merupakan fungsi pada bilangan
riil, maka domain dari adalah himpunan bilangan riil R itu sendiri,
sedangkan range adalah himpunan bilangan riil non negatip, yaitu
{ }.

d. Suatu fungsi yang didefinisikan pada bilangan riil dirumuskan oleh

. Domain adalah { } dan range dari
adalah { }

Gambar 1.4: Grafik fungsi √

Peta dan Prapeta
Definisi 1.8
a. Diberikan fungsi → dengan domain dan range .
Peta atau bayangan dari himpunan oleh fungsi adalah
yang didefinisikan sebagai berikut:
{ }
8

b. Jika , maka prapeta atau bayangan invers dari himpunan oleh
fungsi adalah

yang didefinisikan sebagai berikut:

{ }
Contoh 1.7
Diberikan → yang didefinisikan oleh

, maka peta dari
{ } adalah { }.
Jika { } maka prapeta dari adalah himpunan

{ }. Dalam hal ini

. Padahal di sisi lain bahwa
(

) . Tetapi jika { } kita peroleh (

)
{ } . Untuk ilustrasi perhatikan gambar berikut:

Gambar 1.5: Grafik fungsi

, Peta dan Prapeta dari
Macam-macam Fungsi
Fungsi Konstan
Fungsi disebut fungsi konstan jika dan hanya jika setiap anggota domain
dipetakan ke tepat satu anggota kodomain, yaitu , dengan
dalam B.
Contoh 1.7
Diberikan fungsi pada bilangan riil dengan rumus fungsi
adalah fungsi konstan dengan domain dan range {}

Gambar 1.6: Grafik fungsi konstan
9

Fungsi Surjektif
Suatu fungsi → disebut fungsi into jika dan hanya jika ada anggota B yang
tidak terpasangkan dengan sebarang oleh fungsi atau jika ada anngota B
yang bukan nilai fungsi dari sebarang . Tetapi jika semua anggota B
terpasangkan habis oleh fungsi maka disebut fungsi onto atau fungsi surjektif.
Secara formal didefinisikan sebagai berikut:
Definisi 1.9
→ surjektif jika dan hanya jika b a f A a B b = e - e ¬ ) ( ). )( (
Fungsi injektif dan fungsi bijektif
Suatu fungsi → disebut injektif atau fungsi 1-1 jika dan hanya jika setiap
anggota A yang berbeda dipetakan dengan anggota B yang berbeda.
Secara formal didefinisikan sebagai berikut:
Definisi 1.10
Fungsi → injektif atau fungsi 1-1 jika dan hanya jika:

dan

maka

Jika fungsi injektif dan surjektif maka disebut fungsi bijektif atau
korespondensi 1-1.
Untuk membuktikan bahwa injektif, tidak bisa langsung menggunakan definisi
1.10, tetapi kita gunakan pernyataan kontraposisinya, yaitu:

, jika

maka

.
Untuk pembuktian kita asumsikan

kemudian kita tunjukkan
bahwa

Kita dapat menunjukkan secara grafis apakah fungsi injektif atau tidak,
yaitu jika kita menarik garis horisontal akan memotong kurva paling
banyak di satu titik, maka injektif. Selain itu tidak injektif

Gambar 1.7: Kurva fungsi injektif dan tidak injektif
10

Contoh 1.8
Diberikan himpunan { } dan ditentukan

untuk semua
. Tunjukkan bahwa injektif.
Kita misalkan

dan kita asumsikan

. Dengan demikian
diperoleh

Persamaan tersebut dapat diubah menjadi

, sehingga

.
Dengan demikian terbukti injektif.
Kita selidiki apakah dapat menjadi bijektif. Untuk itu kita tentukan range dari
dengan menyelesaikan persamaan

dengan menyatakan x dalam y, yaitu
, sehingga diperoleh

. Dengan membatasi codomain
dengan maka fungsi menjadi fungsi onto. Dengan demikian adalah
fungsi bijektif karena injektif dan onto.
Komposisi Fungsi
Jika diberikan fungsi → dan fungsi → maka kita dapat
mengkomposisikan fungsi dengan dengan cara pertama menentukan fungsi
dan kemudian “memakankan” ke untuk memperoleh (). Hal
ini dimungkinkan jika memenuhi syarat bahwa masuk dalam domain fungsi
. Komposisi fungsi dan dinotasikan dengan .
Secara formal komposisi fungsi dan didefinisikan sebagai berikut:
Definisi 1.11
Jika → dan → , dan jika , maka komposisi
fungsi adalah fungsi dari A ke C, yang ditentukan oleh:
(), untuk setiap .

Gambar 1.6: Diagram Komposisi Fungsi
11

Contoh 1.9
Diberikan fungsi dan yang didefinisikan untuk sebarang bilangan riil ,
yaitu:
dan

Karena dan maka domain juga sama
dengan . Komposisi fungsi diberikan oleh
()

Di lain pihak
()

Jelas di sini bahwa
Fungsi Identitas
Fungsi identitas adalah fungsi yang memetakan sebarang anggota suatu himpunan
ke dirinya sendiri.
Jika A tidak kosong, maka fungsi identitas pada A ditulis

→ , didefiniskan
sebagai berikut:
Definisi 1.12

Dengan menggunakan definisi komposisi fungsi, jika diketahui fungsi → ,

fungsi identitas pada A,

fungsi identitas pada B, maka:

() dan

(

) , sehingga
diperoleh

Jika fungsi pada A dan I fungsi identitasnya maka ditulis

Fungsi Invers
Jika → , maka adalah himpunan bagian khusus dari .
Himpunan pasangan berurutan di dalam yang ditentukan dengan cara
membalik pasangan berurutan anggota dari maka pada umumnya bukan
merupakan fungsi. Namun jika adalah fungsi bijeksi maka himpunan hasil
pembalikan tersebut merupakan fungsi dan disebut “fungsi invers” dari seperti
dinyatakan definisi berikut:

12

Definisi 1.13
Jika → fungsi bijeksi dari keseluruh , maka
{ }
Merupakan fungsi dari ke . Fungsi ini disebut fungsi invers dari dan
ditulis dengan

, atau lebih singkat

sering disebut invers .
Untuk sebarang fungsi bijektif , jika mempunyai invers maka inversnya adalah
tunggal.
Untuk → maka

→ dan dan

maka diperoleh:

()

()

(

) (

)

Padahal dengan definisi komposisi fungsi

()

dan (

)

, sehingga diperoleh:

dan

Dan jika fungsi pada dan fungsi identitas pada maka secara umum
berlaku:

Selain hubungan tersebut di atas jika dan berdasarkan
definisi invers maka

Contoh 1.10
Diberikan fungsi

, fungsi merupakan fungsi bijektif jika dibatas pada
domain { } dan codomain { }, dan oleh
karenanya

ada. Rumus fungsi

dapat dicari dengan menyelesaikan x dari
persamaan

yaitu

Dengan demikian rumus fungsi inversnya adalah

untuk setiap
13

Berdasarkan rumusan fungsinya kita bisa membedakan bermacam-macam fungsi,
seperti dijelaskan dalam uraian berikut:
Fungsi Polinom
Bentuk umum dari fungsi polinom adalah

Derajat polinom ditentukan oleh pangkat tertinggi dari variabel. Dalam bentuk di
atas merupakan polinom derajat .

dengan adalah konstanta yang disebut sebagai koefisien dari
variabel

Contoh 1.10

Adalah polinom derajat 4. Koefisien

adalah 0, koefisien x adalah 1, konstanta
atau koefisien

adalah -2.
Fungsi Rasional
Fungsi rasional adalah fungsi yang dinyatakan dalam bentuk

dan adalah polinom dan untuk sebarang
Contoh 1.11
a. Bentuk persamaan

, agar dapat menjadi rumusan fungsi harus
dibatasi untuk .
b.

dapat menjadi rumusan fungsi untuk
Fungsi Nilai Multak
Rumusan fungsi nilai mutlak adalah
Definisi 1.14





Contoh 1.12
a. tetapi ;

14

b. dengan , berdasarkan definisi persamaan tersebut dapat
ditulis atau ( . Sehingga bentuk lain dari persamaan
adalah dengan .

c. Selesaikan persamaan

Berdasarkan definisi persamaan nilai mutlak ekivalen
dengan persamaan
(1) untuk setiap . Jika diselesaikan diperoleh

(2) untuk setiap . Jika diselesaikan
diperoleh

Dengan demikian himpunan selesaiannya adalah {

}

d. Selesaikan
Persamaan yang ekivalen dengan persamaan nilai mutlak
adalah
(1) untuk setiap . Selesaiannya adalah
(2) untuk setiap . Selesaiannya adalah

Dari (1) dan (2) diperoleh himpunan selesaiannya adalah
{

}

1
Berdasarkan definisi nilai di atas, kita dapat menyatakan rumus fungsi nilai
mutlak adalah




Fungsi Transenden
Fungsi dalam bentuk polinom atau rasional sering disebut sebagai fungsi aljabar.
Bentuk-bentuk fungsi lain dari fungsi aljabar disebut fungsi transenden. Misalnya
fungsi eksponen, fungsi logaritma, fungsi trigonometri, fungsi siklometri yang
akan dibahas pada uraian berikutnya.
Contoh 1.12.
a. Fungsi eksponen

dengan konstanta
b. Fungsi logaritma

dengan konstanta
c. Fungsi trigonometri dan sebagainya.


15

Fungsi Genap dan Fungsi Ganjil
Definisi 1.14
(i) Fungsi disebut fungsi genap jika untuk setiap x di dalam domain ,

(ii) Fungsi f disebut fungsi ganjil jika untuk setiap x di dalam domain f ,

Contoh 1.13:
(a) Jika

, maka

.
Dengan demikian fungsi f adalah fungsi genap.

(b) Jika

, maka

.
Dengan demikian fungsi f adalah fungsi ganjil.

Persamaan Parameter
Biasanya rumusan fungsi dapat dituliskan dalam bentuk dengan
variabel bebas dan variabel terikat. Namun selain dua variabel tersebut sering
ada variabel ke tiga, misalnya , demikian sehingga bentuk hubungan fungsional
dapat ditulis dalam persamaan . Bentuk tersebut
dinamakan rumusan fungsi dalam bentuk persamaan parameter.
Contoh 1. 14
Persamaan parameter dan menyatakan persamaan
lingkaran

Persamaan Implisit
Rumusan fungsi yang dituliskan dalam bentuk dengan variabel bebas
dan variabel terikat disebut rumusan fungsi secara eksplisit. Dalam rumusan ini
ruas kiri hanya memuat variabel terikat dan seluruh bentuk variabel bebas dan
konstanta dituliskan di ruas sebelah kanan. Tetapi kadang-kadang suatu
persamaan seluruh variabel dan konstantanya dituliskan di ruas sebelah kiri semua
dan ruas kanan sama dengan 0, yaitu dalam bentuk

Bentuk ini dinamakan bentuk implisit.
Contoh 1.15
a. Fungsi

dinyatakan dalam bentuk implisit menjadi

b. Persamaan

dinyatakan secara implisit menjadi
16

dan secara eksplisit menjadi

atau √

atau sering ditulis lebih singkat sebagai


1.4 Grafik Fungsi
Menggambarkan fungsi dalam bidang koordinat sangat membantu
menyelesaian masalahslah dalam kalkulus. Dengan grafik dapat diperoleh
gambaran yang lebih jelas tentang fungsi itu sendiri, walaupun untuk
menganalisisnya harus tetap dikembalikan secara aljabar. Karena fungsi
merupakan relasi yang khusus, maka penggambaran grafik fungsi juga sama
dengan grafik fungsi, hanya ada ciri khusus grafik fungsi sesuai dengan
kekhususan sifat fungsi itu sendiri.
Seperti halnya relasi bahwa setiap pasangan berurutan dalam

dapat digambarkan dalam bidang koordinat kartesius. Pasangan berurutan
menyatakan koordinat suatu titik yang berada pada posisi (absis) menurut
sumbu mendatar (sumbu ), dan posisi (ordinat) menurut sumbu tegak (sumbu
). Titik dengan koordinat ditulis sebagai .

Gambar 1.7: Koordinat titik

Absis bernilai positip jika posisinya berada disebelah kanan dan bernilai
negatip jika di sebelah kiri 0. Sedangkan ordinat bernilai positip jika posisinya
berada di atas 0 dan bernilai negatip jika berada di bawah 0. Dan oleh sumbu
koordiant dan bidang koordinat kartesius dibagi menjadi empat daerah
bidang, yaitu kuadran I ( positip dan positip), kuadran II ( negatip dan
positip), kuadran III ( negatip dan negatip), dan kuadran IV ( positip dan
negatip), seperti gambar berikut:


17



Gambar 1.8: Kuadran Bidang Koordinat kartesius
Perhatikan arah gerak kuadran berlawanan arah dengan
perputaran jarum jam.
Karena himpunan titik-titik pada bidang koordinat kartesius
berkorespondensi dengan himpunan pasangan berturutan dalam

, maka
himpunan pasangan berurutan yang memenuhi suatu persamaan tertentu akan
berkoresponensi dengan suatu kurva pada bidang koordinat, kurva ini disebut
sebagai grafik persamaan, seperti didefinisikan sebagai berikut:
Definisi 1. 15
Grafik dari suatu persamaan dalam

adalah himpunan pasangan
berturutan dalam

yang koordinatnya memenuhi persamaan.
Karena dan didefinisikan pada bilangan riil maka kita tidak mungkin
untuk mendaftar semua koordinat dari grafik persamaan tersebut. Untuk itu kita
gambarkan beberapa koordinat yang penting dan mudah dicari yang memenuhi
persamaan dan dapat memberikan kecenderungan grafik dari persamaan.
Kemudian kita dapat memperhalus grafiknya dari beberapa koordinat titik yang
sudah ditentukan tersebut. Biasanya koordinat yang mudah adalah titik potong
dengan sumbu koordinat maupun , titik-titik ekstrem (balik atau belok), titik-
titik asimtootis, dan titik lain yang mudah dihitung. Semakin banyak titiknya akan
semakin mudah memprediksi dan memperhalus grafiknya.
Cotoh 1.16
Diberikan persamaan

. Gambarkan grafik dari persamaan tersebut
pada bidang koordinat.
Beberapa titik yang memenuhi persamaan seperti pada daftar berikut:
x -3 -2 -1 0 1 2 3

7 2 -1 -2 -1 2 7
Grafiknya berbentuk parabola dengan sumbu simetri sumbu . Ketrampilan dan
latihan sangat diperlukan untuk mengidentifikasi beberapa grafik persamaan.
18


Gambar 1.9: Grafik Persamaan

Untuk mengidentifikasi apakah grafik tersebut merupakan grafik fungsi, kita tarik
garis tegak dengan konstanta dalam wilayah domain. Jika memotong
grafik tepat di satu titik maka grafiknya merupakan grafik fungsi.
Definisi 1.16
Jika suatu fungsi, maka grafik dari fungsi adalah himpunan semua titik
dalam

yang merupakan pasangan berurutan dalam .
Contoh 1.17
a. Jika √ maka sketsa grafik seperti ditunjukkan gambar
berikut:

Gambar 1.10: Grafik Fungsi √
b. Grafik fungsi nilai mutlak






19


Gambar 1.11: grafik fungsi
c. Gambar

Gambar 1.12: Grafik persamaan
Persamaan ini akan merupakan fungsi jika domain dibatasi pada {}
dan merupakan fungsi bijektif jika range dibatasi {}.
d. fungsi yang dirumuskan oleh


{

Grafiknya adalah

Gambar 1.12: Grafik
20

e. Diberikan persamaan √ , tentukan domain dan range
, dan gambarkan grafiknya, untuk bilangan riil.
Agar nilai ada maka syaratnya , sehingga ada dua
kemungkinan:
Kasus 1: atau , yaitu atau . Yang memenuhi
keduanya adalah .
Kasus 2: atau , yaitu atau . Yang memenuhi
keduanya adalah .
Dari kedua kasus tersebut syarat agar adalah domain
{ } { }
Grafik dari ditunjukkan pada gambar berikut:


Gambar 1.13: Grafik fungsi √

Kita akan menggunakan notasi ⟦⟧ untuk menyatakan suatu bilangan bulat
terbesar yang kurang dari atau sama dengan , yaitu:
⟦⟧ jika dengan bilangan bulat
Berdasarkan notasi tersebut diperoleh

⟧ , ⟦⟧ , ⟦⟧ , ⟦⟧ , ⟦⟧ , dan sebagainya.
Suatu fungsi yang memuat notasi ⟦⟧ sering dinamakan fungsi bilangan bulat
terbesar.
Contoh 1.18
a. ⟦⟧

Untuk maka
Untuk maka
Untuk maka
Untuk maka
Untuk maka
Untuk maka
Untuk maka

Dengan demikian grafiknya digambarkan sebagai berikut:
21


Gambar 1.9: Grafik Fungsi Bilangan Bulat Terbesar

b. Gambarkan grafil fungsi ⟦⟧ dengan domain
Jika , ⟦⟧ , sehingga
Jika , ⟦⟧ , sehingga
Jika , ⟦⟧ , sehingga
Jika , ⟦⟧ , sehingga
Jika , ⟦⟧ , sehingga
Dengan demikian grafix seperti berikut:


Gambar 1.19: Grafik fungsi ⟦⟧

1.5 Himpunan Bilangan Riil dan Pertidaksamaan
Himpunan bilangan yang sering dijadikan ranah atau domain fungsi dalam
pembahasan tentang konsep-konsep kalkulus adalah himpunan bilangan riil, yang
dinotasikan dengan . Himpunan bilangan riil terdiri dari bilangan-bilangan riil
terdiri dari bilangan rasional dan irrasional, dengan demikian bimpunan bilangan
riil merupakan gabungan antara himpunan bilangan rasional dan irrasional, yaitu

Bilangan rasional adalah bilangan yang dapat dinyatakan dalam bentuk

dengan
bilangan bulat dan . Selain itu adalah bilangan irrasional.
Himpunan bilangan rasional memuat himpunan bilangan bagian, yaitu:
a. Himpunan bilangan bulat (integer) yang dinotasikan dengan yang terdiri
dari himpunan bilangan bulat positip, negatip dan nol.
22

{ }
Himpunan bilangan bulat positip dinamakan himpunan bilangan asli yang
dinotasikan dengan , yaitu:
{ }
Himpunan bilangan asli dapat diklasifikasi menjadi dua kelompok yang
terpisah, himpunan bilangan genap dan himpunan bilangan ganjil, yaitu
Himpunan bilangan genap { } { }
Himpunan bilangan gasal { } { }
Selain klasifikasi di atas himpunan bagian bilangan asli yang lain
diantaranya adalah:
Himpunan bilangan prima , himpunan yang hanya mempunyai dua
faktor.
{ }
Himpunan bilangan komposit , himpunan yang mepunyai lebih dari dua
faktor.
{ }
b. Himpunan Pecahan positip dan negatip. Contoh pecahan adalah

dan
sebagainya.
c. Bilangan desimal, desimal berhenti dan desimal berulang.
Desimal berhenti, misalnya

Desimal berulang, misalnya

Bilangan irrasional adalah bilangan riil yang tidak dapat dinyatakan sebagai
desimal yang berhenti ataqu berulang, misalnya

adalah bilangan pokok logaritma natural, yaitu

, bersama
mempunyai peranan yang sangat penting dalam analisis matematika khususnya
pada kalkulus.
Peringatan!
adalah bilangan irrasional nilainya tidak sama dengan

yang
desimal berhenti dan bilangan rasional. Namun jika ada pembulatan sampai dua
desimal di belakang koma maka nilai dan

dianggap sama yaitu 3,14.


23

Setiap bilangan riil dapat digambarkan dalam garis bilangan yang disebut garis
bilangan riil.

Gambar 1.20: Garis Bilangan Riil
Himpunan bilangan riil membentuk sistem matematika dengan operasi
penjumlahan “” dan perkalian “ . “. Setiap maka ,
. Sehingga operasi penjumlahan dan perkalian bersifat tertutup,
dalam arti bahwa dua bilangan riil jika dioperasikan (penjumlahan dan perkalian)
juga merupakan bilangan riil. Di samping operasi penjumlahan dan perkalian
tersebut ada dua operasi inversnya yaitu operasi pengurangan “_” yang diartikan
sebagai penjumlahan dengan lawan dan pembagian “ : ” atau “ ” yang diartikan
sebagai perkalian dengan kebalikan.
Misalkan , disebut sebagai negatip atau lawan , sehingga

dengan syarat
Pertidaksamaan
Pada himpunan bilangan riil ada hubungan yang menyatakan ketidaksamaan,
yaitu seperti definsisi berikut:
Definisi 1.17
Jika maka dikatakan kurang dari atau ditulis jika dan hanya
jika positip.
Misalnya karena bilangan positip, karena
positip.
Berdasarkan definisi 1.17 tersebut dapat didefinisikan sebagai berikut:
Definisi 1.18
Jika maka dikatakan lebih dari atau ditulis jika dan hanya jika
positip.
Misalkan karena
24

Tanda menyatakan hubungan kurang dari atau sama dengan, dan menyatakan
hubungan lebih dari atau sama dengan, yaitu:
(i) jika dan hanya jika atau
(ii) jika dan hanya jika atau
Berikut disajikan beberapa sifat dari ketidaksamaan:
1. Sifat Trikotomi. Jika maka memenuhi tepat satu diantara ketiga
kemungkinan atau atau . Oleh karena itu jika dan
maka .
Disepakati untuk dan ditulis dengan , demikian juga
kesepakatan yang sama juga berlaku untuk dan
.

2. Jika dan maka
Misalkan dan maka

3. Jika maka dan .
Misalkan maka atau . Demikian juga
atau .

4. Jika dan maka .
Misalkan dan maka atau .

5. Jika dan positip maka .
Misalkan maka atau .

6. Jika dan negatip maka .
Misalkan maka atau .

7. Jika dan maka .
Misalkan dan maka atau .
Interval
Jika dan untuk setiap bilangan riil memenuhi dan , maka
pertidaksamaan tersebut dapat ditulis . Himpunan bilangan riil yang
memenuhi pertidaksamaan tersebut dinamakan interval terbuka, dan dituliskan
sebagai .
Jadi
(i) { }
Disebut sebagai interval terbuka dan digambarkan pada garis bilangan
riil sebagai berikut:
( )

25


(ii) [ ] { }
Disebut sebagai interval tertutub dan digambarkan pada garis bilangan
riil sebagai berikut:
[ ]


(iii) [ { }

Disebut sebagai interval setengah terbuka di kanan dan digambarkan
pada garis bilangan riil sebagai berikut:

[ )


(iv) ] { }

Disebut sebagai interval setengah terbuka di kiri dan digambarkan
pada garis bilangan riil sebagai berikut:

( ]


(v) { }

Disebut sebagai interval tak hingga terbuka di kiri dan digambarkan
pada garis bilangan riil sebagai berikut:

(


(vi) [ { }

Disebut sebagai interval tak hingga tertutup di kiri dan digambarkan
pada garis bilangan riil sebagai berikut:

[


(vii) { }

Disebut sebagai interval tak hingga terbuka di kanan dan digambarkan
pada garis bilangan riil sebagai berikut:
26


)


(viii) ] { }

Disebut sebagai interval tak hingga tertutup di kanan dan digambarkan
pada garis bilangan riil sebagai berikut:

]

(ix) adalah himpunan bilangan riil itu sendiri.
Pertidaksamaan
Interval sering digunakan untuk menyatakan selesaian dari pertidaksamaan.
Pertidaksamaan adalah kalimat terbuka dengan hubungan tidak sama, atau
, misalnya . Dalam semesta , himpunan selesaian dari suatu
pertidaksamaan adalah himpunan dari semua bilangan riil yang memenuhi
pertidaksamaan. Misalkan untuk pertidakasamaan tersebut himpunan selesaiannya
adalah { }. Dengan mendasarkan pada sifat-sifat
ketidaksamaan diperoleh selesaian sebagai berikut:





Dengan demikian himpunan selesaiannya adalah { } .
Contoh 1.19
a. Selesaiakan
Dengan mengalikan

diperoleh . Sehingga himpunan
selesaiannya adalah ].

b. Selesaiakan

Dari pertidakasamaan tersebut tidak mungkin untuk , berarti harus
memenhi syarat . Ada dua kemungkinan untuk nilai x yang akan
diperiksa pemenuhannya pada pertidaksamaan. Untuk akan
diperoleh

, hal ini kontradiksi dengan

berarti tidak mungkin.
Sehingga kemungkinannya hanya untuk . Dengan mengalikan nilai
diperoleh atau

. Himpunan selesaiannya adalah

.


27

c. Selesaiakan

Pertidaksamaan tersebut harus memenuhi syarat atau
Ada dua kasus nilai yang mungkin.
Kasus 1:
atau .
Selesaiannya adalah




Yang memenuhi kasus 1 adalah dan , sehingga himpunan
selesaian kasus 1 adalah .
Kasus 2
atau
Selesaiannya adalah




Yang memenuhi kasus 2 adalah dan , sehingga himpunan
selesaian kasus 1 adalah .
Dari kedua kasus di atas maka himpunan selesaian pertidaksamaan
tersebut adalah

) (
3 4

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->