P. 1
BAB II

BAB II

|Views: 1,678|Likes:
Published by IndahLaraswati
laporan blok rural dentistry universitas jenderal soedirman jurusan kedokteran gigi
laporan blok rural dentistry universitas jenderal soedirman jurusan kedokteran gigi

More info:

Published by: IndahLaraswati on Oct 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2013

pdf

text

original

pemeriksaan jaringan lunak mulut dan pemeriksaan gigi geligi.

a) Gigi Karies

Klasifikasi karies, antara lain (repository.usu.ac.id):

1. Menurut lokasi

a. Karies pit dan fissure yaitu karies yang terdapat pada

pit dan fissure gigi.

b. Karies pada permukaan halus yaitu karies yang

terdapat pada permukaan halus gigi.

2. Menurut stuktur jaringan yang terkena

a. Karies superfisialis adalah karies yang mengenai

lapisan email.

b. Karies media adalah karies sudah mengenai lapisan

dentin.

c. Karies profunda adalah karies yang sudah mengenai

pulpa.

3. Menurut waktu terjadinya

a. Karies primer

Karies primer adalah karies yang terjadi pada

lokasi yang belum pernah terkena karies sebelumnya.

b. Karies sekunder

Karies sekunder karies yang timbul pada lokasi

yang telah memiliki riwayat karies sebelumnya.

4. Menurut tingkat progresifitas

a. Karies akut

Karies akut adalah karies yang berkembang

dan memburuk dengan cepat, misalnya karies rampan.

b. Karies kronis

Karies kronis adalah karies yang berjalan

lambat dengan penampakan warna kecoklatan sampai

hitam.

c. Karies terhenti

Karies terhenti adalah karies yang tidak

berkembang yang disebabkan oleh perubahan dari

lingkungan.

11) Ulserasi

Ulserasi merupakan kondisi terjadi putusnya permukaan

epitelium mukosa rongga mulut yang menyebabkan terbukanya

ujung saraf yang terletak di lamina propria. Ulser mungkin

merupakan lesi jaringan lunak yang paling sering terjadi dan

dapat bersifat akut maupun kronis. Walaupun kebanyakan ulser

rongga mulut memiliki gambaran klinis yang mirip, akan tetapi

etiologinya bervariasi mulai dari reaktif sampai neoplastik dan

dapat juga merupakan manifestasi oral dari penyakit dermatologis

(repository.usu.ac.id).

12) Erosi

Erosi merupakan kerusakan kulit/ mukosa yang dangkal

oleh karena hilangnya lapisan epitel. erosi memiliki permukaan

yang kasar, basah, sedikit cekung dan biasanya dapat sembuh

tanpa meninggalkan jaringan parut. Erosi bisa ditemukan dari

bulla yang pecah, lichen planus tipe erosif, steven johnson

syndrome (Hamid, 2009).

13) Fistula

Fistula adalah lubang abnormal diantara dua organ

berongga atau dari suatu kavitas ke bagian luar tubuh, misalnya

fistula oro-antral. Fistula juga dapat terbentuk akibat adanya

abses, kista, atau inflamasi di mulut. Fistula dapat terbentuk di

dalam tulang atau jaringan lunak yang memudahkan penyebaran

infeksi ke daerah sekitarnya (repository.usu.ac.id).

14) Abses

Abses adalah daerah jaringan yang didalamnya terdapat

nanah yang terbentuk sebagai usaha untuk melawan aktivitas

bakteri yang menyebabkan infeksi. Abses terbentuk jika tidak ada

jalan keluar nanah atau pus sehingga terperangkap dalam jaringan

dan terus membesar. Abses periapikal adalah kumpulan pus yang

terlokalisir dibatasi oleh jaringan tulang yang disebabkan oleh

infeksi dari pulpa dan atau periodontal (repository.usu.ac.id).

Nanah dari abses dapat dialirkan ke kulit (kutan), mukosa,

jaringan ikat atau tulang, tergantung kepada lokasi gigi yang

terkena. Penyebab abses periapikal adalah tubuh menyerang

infeksi dengan sejumlah besar sel darah putih sehingga

menghasilkan nanah atau pus. Nanah atau pus adalah sekumpulan

sel darah putih dan jaringan yang mati yang terjebak di dalam

jaringan. Nanah dari infeksi gigi pada awalnya dialirkan ke gusi

sehingga gusi yang berada di dekat akar gigi tersebut

membengkak. Gejala abses periapikal yaitu gigi terasa sakit dan

bila mengunyah akan timbul rasa nyeri. Kemungkinan dapat

terjadi demam disertai pembengkakan kelenjar getah bening di

leher. Jika absesnya sangat berat, maka di daerah rahang terjadi

pembengkakan (repository.usu.ac.id).

15) Fisura

Fisura merupakan suatu celah garis pada mukosa dan

sering ditemui pada bibir dan jaringan perioral. Contoh fisura

diantaranya fissured tongue, angular cheilitis, eksfoliatif cheilitis

dan perleche (Hamid, 2009).

16) Cancrum oris (Noma)

Noma merupakan penyakit infeksi opportunistik yang

jarang dan bersifat progresif. Noma berupa gangren yang merusak

mukosa membran pada oral dan jaringan lain. Penyebab

terjadinya noma yaitu nekrosis jaringan akibat invasi bakteri

anaerob (Fusobacterium necrophorum, Borrelia vincentii,

Staphylococcus aureus dan Prevotella intermedia) (Hamid,

2009).

17) Trauma

Gigi yang terkena trauma atau injury bisa menjadi

beberapa keadaan seperti fraktur, kegoyangan, perubahan posisi,

cedera pada ligamen periodontal dan tulangalveolar, serta trauma

pada jaringan pulpa (repository.usu.ac.id).

18) Gigi yang tidak erupsi

Anodonsia (anodontia) adalah kelainan genetik

(keturunan) berupa tidak tumbuhnya gigi karena tidak adanya

benih gigi. Terdapat 3 macam anodonsia, yaitu complete

anodonsia, hipodonsia dan oligodonsia. Complete anodonsia

adalah kelainan genetik berupa tidak tumbuhnya semua gigi di

dalam rongga mulut. Hipodonsia adalah kelainan genetik yang

biasanya berupa tidak tumbuhnya 1 - 6 gigi di dalam rongga

mulut. Oligodonsiaadalah kelainan genetik berupa tidak

tumbuhnya lebih dari 6 gigi di dalam rongga mulut

(http://repository.ui.ac.id, ....).

19) Impaksi

Gigi impaksi atau gigi terpendam adalah gigi yang erupsi

normalnya terhalang atau terhambat oleh gigi di dekatnya atau

oleh jaringan patologis (http://repository.ui.ac.id, ....).

20) Keganasan

Keganasan pada rongga mulut merupakan pertumbuhan

yang sangat cepat dan dapat berinfiltrasi ke jaringan sekitarnya

serta bermetastasis. Penyebabnya yaitu faktor internal (herediter,

faktor pertumbuhan) dan faktor eksternal (bakteri, virus, jamur,

dan lain-lain). Contohnya adalah neoplasma, melanoma, dll

(http://repository.ui.ac.id, ....).

21) Fluorosis

Fluorosis gigi adalah kerusakan enamel yang secara

kualitatif merupakan hasil dari peningkatan konsentrasi fluor di

sekitar ameloblast selama pembentukan enamel gigi. Gigi

menjadi tidak putih seperti gigi normal, tetapi pucat, buram, atau

gelap. Pada keadaan fluorosis, selain terjadi perubahan warna,

enamel menjadi rapuh (Malau, 2005).

Penggunaan fluor dalam waktu lama selama pembentukan

enamel akan mengakibatkan perubahan-perubahan yaitu

timbulnya garis-garis putih yang kecil pada enamel sampai putih

seperti kapur dan opak. Porositas tersebut menggambarkan

peningkatan celah diantara kristal-kristal enamel yang berisi

protein dan air. Karena sifat optik air yang sangat mirip dengan

enamel, sehingga porositas terkadang sukar diamati. Tetapi, bila

dikeringkan maka air berada dalam pori-pori dan sebagian akan

digantikan oleh udara. Udara mempunyai sifat optik yang berbeda

dengan enamel sehingga pori-pori tersebut tampak opak. Tingkat

atau derajat opasitas secara langsung menggambarkan derajat

porositas enamel (Malau, 2005).

Fluorosis gigi disebabkan oleh gigi terlalu banyak terpapar

fluorida dalam jangka panjang pada masa pembentukan gigi.

Tingkat keparahan kondisi tergantung pada dosis (berapa

banyak), durasi (berapa lama) dan waktu (bila dikonsumsi)

asupan fluorida. Sumber-sumber fluorida, yaitu air minum dengan

fluorida, fluorida pasta gigi terutama jika tertelan oleh anak-anak

dan resep suplemen diet di tablet atau tetes fluor (terutama jika

diresepkan untuk anak-anak yang sudah minum air berfluorida).

Pemeriksa harus mencatat pola distribusi dari berbagai kelainan

dan memutuskan apakah termasuk salah satu tipe fluorosis.

Menurut Dean (1942), berdasarkan kriteria indeks Dean dengan

pemeriksaan secara visual menggunakan kaca mulut, dibedakan

menjadi dua yaitu ada fluorosis gigi dan tidak ada fluorosis gigi.

Selain itu, Dean juga mengklasifikasikan fluorosis gigi menurut

tingkat keparahannya. Kriteria indeks Dean disajikan dalam

berikut:

Tabel 2.8. Kriteria Fluorosis Gigi dengan Index Dean

No.

Kategori

Ciri-ciri gigi

1

0 = Normal

Permukaan enamel halus, berkilau
dan biasanya berwarna putih susu
pucat.

2

1 = Dipertanyakan

Enamel menunjukkan sedikit
penyimpangan dari translusensi
enamel yang normal yang
memiliki range dari sedikit bercak
putih menuju noda berbintik.

3

2 = Sangat Ringan

Kecil, opak, daerah seputih kertas
tersebar tidak beraturan pada gigi
namun melibatkan kurang dari
25% permukaan labial gigi

4

3 = Ringan

Opasitas putih pada enamel gigi
lebih meluas daripada kode 2,
tetapi menutupi kurang dari 50%
permukaan gigi

5

4 = Sedang

Permukaan

enamel

gigi
menunjukkan tanda dan noda
kecoklatan

6

5 = Parah

Permukaan

enamel

sangat
terpengaruh dan hipoplasia sangat
bertanda pada seluruh permukaan
gigi yang terkena. Terdapat daerah
berbintik dan kelihatan dan noda
coklat tersebar luas serta gigi
sering memiliki tampilan korosi

7

6 = Eksklusi
(mis. crown)

8

7 = Tidak tercatat
Sumber: Dean, 1942

4. Sikap Kesehatan Gigi dan Mulut

5. Perilaku Kesehatan Gigi dan Mulut

Gigi adalah jaringan keras pada rongga mulut yang memiliki

struktur dan fungsi yang bervariasi. Organ sangat vital karena memiliki

beberapa fungsi penting di dalam tubuh seperti (www.scribd.com,....):

a. Estetika

Gigi sangat berpengaruh dalam menentukan kecantikan dan

ketampanan seseorang karena gigi dapat berfungsi dalam

membentuk wajah.

b. Menghancurkan Makanan

Peranan ini dilakukan berdasarkan jenis giginya, yaitu:

1) Gigi seri berfungsi untuk memotong makanan

2) Gigi taring berfungsi untuk mengoyak makanan

3) Gigi geraham berfungsi untuk mengunyah makanan

Fungsi gigi dalam menghancurkan makanan dapat membantu

pekerjaan enzim pencernaan, sehingga kerja enzim pencernaan tidak

terlalu keras.

c. Membantu proses bicara

Tekanan antara gigi dengan lidah maupun dengan bibir dapat

membantu dalam pengucapan beberapa huruf, sehingga gigi dapat

membantu proses bicara pada manusia.

Gigi yang sehat adalah gigi yang berwarna putih dan tidak

berlubang. Angka kejadian gigi berlubang di Indonesia sekarang ini sudah

semakin banyak, hal ini disebabkan karena kesadaran masyarakat

Indonesia yang masih sangat kurang terhadap kesehatan gigi dan mulut.

Gigi berlubang pada anak-anak sangat banyak ditemukan sekarang ini, hal

ini disebabkan karena kebiasaan anak-anak yang suka mengkonsumsi

makanan manis dan malas untuk membersihkan gigi mereka. Kesadaran

masyarakat Indonesia yang masih kurang dalam memperhatikan kesehatan

gigi menyebabkan tingginya angka kesakitan gigi yang pada akhirnya

dapat mengganggu konsentrasi dalam melaksanakan berbagai aktivitas

(www.gemari.or.id,...).

Untuk menjaga agar gigi tetap bersih dan sehat, perlu dibiasakan

untuk melakukan hal hal yang baik untuk kesehatan gigi dan mulut,

seperti:

a. Metode Penyikatan Gigi

1) Sikat Gigi

Sikat gigi yang baik adalah sikat gigi yang memiliki bulu

sikat yang halus karena fleksibel dan efektif membersihkan

lekukan dan daerah yang sulit terjangkau, serta tidak merusak

email gigi dan gusi. Kepala sikat yang ramping atau bersudut juga

dapat mempermudah pencapaian sikat di daerah mulut bagian

belakang yang sulit terjangkau. Sikat gigi sebaiknya diganti setiap

tiga bulan sekali, atau saat bulu sikat telah rusak. Setiap anggota

keluarga sebaiknya memiliki sikat gigi pribadi yang tidak

digunakan untuk bersama-sama.

2) Pasta gigi

Pasta gigi adalah bahan berbentuk pasta atau gel yang

dapat mengangkat plak dan sisa makanan sehingga dapat

meningkatkan kesehatan gigi dan mulut. Pasta gigi sebaiknya

mengandung fluoride yang dapat menguatkan struktur gigi. Pasta

gigi yang diletakkan pada sikat gigi tidak perlu sepanjang

permukaan bulu sikat, tetapi cukup sebesar biji jagung saja. Busa

yang terbentuk saat menyikat gigi juga sebaiknyao tidak ditelan.

3) Waktu menyikat gigi

Waktu menyikat gigi yang baik adalah dua kali sehari,

yaitu setelah sarapan pagi dan sebelum tidur malam. Sikat gigi

setelah sarapan pagi bertujuan untuk membersihkan sisa-sisa

makanan sebelum melaksanakan berbagai aktivitas, sehingga

pada saat gigi berhenti mengunyah makanan hingga makan siang

bakteri tidak merusak struktur gigi terlalu banyak. Menyikat gigi

malam sebelum tidur bertujuan untuk membersihkan sisa-sisa

makanan sebelum tidur, karena pada saat malam hari produksi

saliva yang berfungsi menetralisir asam dirongga mulut menurun,

sehingga aktivitas bakteri akan meningkat jika sisa-sisa makanan

tertimbun di dalam rongga mulut.

4) Cara menyikat gigi

Menyikat gigi secara teratur tidak menjamin gigi

seseorang selalu bersih dan sehat, hal ini bisa disebabkan karena

salahnya cara menyikat gigi sehingga plak tidak seluruhnya

hilang dari permukaan gigi. Menyikat gigi agar hasilnya bersih

harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut (.....):

Cara menyikat harus dapat membersihkan semua deposit

pada permukaan gigi dan gusi secara baik, terutama saku gusi dan

ruang interdental.

a) Gerakan sikat gigi tidak merusak jaringan gusi dan

mengabrasi lapisan gigi dengan tidak memberikan tekanan

berlebih.

b) Cara menyikat harus tepat dan efisien.

c) Membersihkan seluruh permukaan lidah, terutama bagian

atas lidah.

Cara menyikat gigi yang baik dan benar ada beberapa

metode, yaitu (Pratiwi, 2009):

a) Metode Scrub

Cara sikat gigi dengan menggerakkan sikat secara

horizontal. Ujung bulu sikat diletakkan pada area batas gusi

dan gigi, kemudian digerakkan maju dan mundur berulang-

ulang.

b) Metode Roll

Cara menyikat gigi dengan gerakan memutar mulai

dari permukaan kunyah gigi belakang, gusi dan seluruh

permukaan gigi sisanya. Bulu sikat diletakkan pada area batas

gusi dan gigi dengan posisi parallel dengan sumbu tegaknya

gigi.

c) Metode Bass

Meletakkan bulu sikatnya pada area batas gusi dan

gigi sambil membentuk sudut 45 derajat dengan sumbu tegak

gigi. Sikat gigi digetarkan di tempat tanpa mengubah-ubah

posisi bulu sikat.

d) Metode Stillman

Mengaplikasikan metode dengan menekan bulu sikat

dari arah gusi ke gigi secara berulang. Setelah sampai di

permukaan kunyah, bulu sikat digerakkan memutar. Bulu

sikat diletakkan pada area batas gusi dan gigi sambil

membentuk sudut 45 derajat dengan sumbu tegak gigi seperti

pada metode bass.

e) Metode Fones

Mengutarakan metode dengan gerakan sikat secara

horizontal sementara gigi ditahan pada posisi menggigit atau

oklusi. Gerakan dilakukan memutar dan mengenai seluruh

permukaan gigi atas dan bawah.

f) Metode Charters

Meletakkan bulu sikat menekan gigi dengan arah bulu

sikat menghadap permukaan kunyah/oklusal gigi. Arahkan 45

derajat pada daerah leher gigi. Metode ini baik untuk

membersihkan plak di daerah sela-sela gigi,pada pasien yang

memakai kawat gigi.

b. Flossing

Benang gigi adalah cara terbaik untuk membersihkan ruang

antar gigi. Penggunaan dental floss memungkinkan plak dihilangkan

dari permukaan aproksimal gigi yang tidak dapat dijangkau sikat gigi .

Idealnya, flossing dilakukan disamping menggosok gigi sebagai

bagian latihan oral hygiene sehari-hari. Flossing sulit dilakukan dan

memerlukan latihan yang lama sebelum benar-benar menguasai. Oleh

karenanya flossing harus diperkenalkan pada anak dengan teknik yang

mudah dan efisien sebagai bagian dari prosedur menggosok gigi.

Penggunaan floss pada gigi-gigi anterior perlu diperlihatkan terlebih

dahulu, kemudian diperluas ke gigi-gigi posterior. Cara-cara yang

perlu diperhatikan dalam penggunaan flossing antara lain (usu.ac.id,

...):

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->