P. 1
Makalah Infeksi Sistem Saraf Pusat

Makalah Infeksi Sistem Saraf Pusat

|Views: 125|Likes:
Published by dauz3017

More info:

Published by: dauz3017 on Oct 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/04/2013

pdf

text

original

Makalah Infeksi Sistem Saraf Pusat

Pendahuluan Infeksi pada sistem syaraf pusat dan pada jaringan disekitarnya merupakan kondisi yang mengancam jiwa. prognosis tergantung pada identifikasi tempat dan jenis pathogen yang menyebabkan terjadinya inflamasi sehingga bisa diberikan pengobatan anti biotic yang efektif secepat mungkin. Olehkarena analisis LCS, biopsy, dan analisis laboratorium merupakan Gold standard untuk mengidentifikasi pathogen penyebab meningitis, neuroimaging merupakan pemeriksaan yang sangat penting untuk menggambarkan letak lesi pada otak dan medulla spinalis. gambaran pola lesi menentukan diagnosis yang tepat dan menentukan tatalaksana terapi selanjutnya. khususnya, neuroimaging memiliki peran yang sangat penting pada penyakit-penyakit oportunistik, bukan hanya untuk penegakan diagnosis, namun juga untuk memantau respon terapi. makalah ini membahas penemuan terkini dalam bidang neuroimaging pada infeksi system saraf pusat seperti meningoensefalitis bacterial, ventrikulitis dan infeksi medulla spinalis, baik oleh virus maupun penyakit oportunistik pada system saraf pusat. Meningitis Pada keadaan yang diduga meningitis bakterialis dengan penurunan kesadaran, pemeriksaan CT-Scan cranium direkomendasikan sebelum lumbal punksi untuk menghindari herniasi otak akibat edema serebri. Bagaimanapun, pengobatan antibiotik empiris harus dilakukan sebelum CT-Scan dan lumbal punksi dilaksanakan. pada meningitis fase akut, Pemeriksaan CTScan biasanya norma. Lesi pada parenkim tidak mudah terlihat pada gambaran CT-Scan, kecuali pada iskemik yang disebankan oleh vaskulitis sekunder yang merupakan komplikasi pada lebih dari 20% kasus (Gambar 1). CT-Scan penting dan cukup untuk mengetahui kelainan pada basis cranii yang mungkin sebagai penyebab dan menentukan penanganan yang cepat dan konsultasi bedah jika diperlukan. Sumber infeksi yang potensial diantaranya adalah fraktur sinus paranasal dan os petrosa maupun infeksi telinga bagian dalam dan mastoitis. CT venografi merupakan pemeriksaan yang sangat baik untuk mendiagnosa komplikasi thrombosis sinus sagitalis dan transversa, yang mengharuskan pemberian terapi antikoagulan heparin intra vena, pada stadium lanjut, persistennya tanda-tanda rangsangan meningeal dipikirkan sebagai indikasi untuk CT-Scan untuk menyingkirkan kemungkinan diserapnya hidrosefalus. Jika drainase ventrikuler diperlukan,
1

seperti yang pernah dilaporkan pada kasus meningitis spirosetal. penelitian terbaru menunjukkan bahwa pemeriksaan MRI sangat berguna pada kasus meningitis tuberculosis.maka pada meningitis tuberculosis sangat dianjurkan untuk diperiksa dengan cara ini.pemeriksaan CT-Scan diperlukan untuk menentukan waktu operasi berikutnya. Terkadang. penelitian terbaru mengatakan bahwa dengan terapi adjuvan deksametason pada kasus 2 . gambaran parenkim yang abnormal sebanding lurus dengan gejala neurologis dan akan memperburuk prognosis nya. efusi subdural sering ditemukan yang biasanya sembuh dengans endirinya tanpa pengobatan. pemeriksaan MRI akan membantu memberikan gambaran yang lebih jelas pada parenkim otak. perbaikan setelah pemberian godalinum (gd)DTPA pada pemeriksaan MRI bukan hanya pada jaringan otak dan meedula spinalis. Karena visibilitas gambaran meningen pada T1-weighted lebih bagus terlihat. Gambar 1: CT-Scan seorang pasien dengan meningitis tuberculosis menunjukkan perubahan inflamasi perivaskuler dan infark temporer yang disebabkan oleh vaskulitis Magnetic Resonance Imaging (MRI) bukan merupakan pemeriksaan rutin pada kasus meningitis bakterialis tanpa komplikasi. hal ini sangat penting untuk memulai pengobatan tuberculosis tersebut karena angka morbiditas dan mortilitasnya masih sangat tinggi. pada beberapa kasus. namun juga pada LCS.

perlu pemberiana ntibiotik yang sesuai termasuk ampisilin. penelitian terbaru menyatakan bahwa pemberian steroid dosis tinggi sebelum pemberian antibiotik mampu memberikan hasil yang lebih baik. Neurocystecerosis akan terlihat hipointens pada DWI.meningitis tuberculosis dewasa mampu menurunkan morbidtas. tanpa meningkatkan efek perdarahan saluran cerna. pemeriksaan DWI lebih sensitive jika dibandingkan dengan MRI standar dalam menentukan defisit yang minimal pada korteks. bersamaan dengan dugaan pada riwayat penyakit dan kelainan patologis LCS. pada pasdien rhombensefalitis akibat Listeria monositogen. Beberapa pathogen berpredileksi pada lekukan batang otak. diagnosis Neurocystecerosis bisa ditegakkan dengan neuroimaging. Gambaran toxoplasmosis bervariasi pada pemeriksaan DWI. khususnya. Ventrikulitis piogenik merupakan kasus yang jarang ditemukan namun sangat berakibat fatal sehingga perlu penegakan diagnosis dan terapi yang cepat. lesi yang timbul akan menghilang dengan pemberian praziquantel atau mebendazol. dan akan Nampak pada pemeriksaan MRI. Komplikasi vascular harus di pikirkan pada pasien dengan perburukan kondisi. termasuk ensefalitis. dan respon etradap pemberian dilakukan dengan pemeriksaan ulang setelah 4 minggu. mulai dari normal hingga inflamasi non spesifik SSP dan nervus. pemberian ceftriaxone intravena harus segera dilakukan selama 21 hari. lesi inflamasi akut. walaupun telah diterapi. Pada kasus komplikasi berupa kejang dan disertai dengan gejala-gejala fokal. Pengobatan harus segera dilakukan. Neurobrecellosis menunjukkan gambaran yang bervariasi. Magnetic Resonsnce Angiography (MRA) mampu menyingkirkan atau menegakkan diagnosis vaskulitis yang akan membantu klinisi memutuskan pemberian steroid dosis tinggi. informasi tambahan bisa dilakukan pada pemeriksaan Diffusion Weighted Imaging (DWI). Neuroimaging merupakan satu3 . Pada penyakit Lyme. atau infakr pada substansia alba yang dalam akibat vaskulitis sepsis. operasi pembukaan jaringan otak dan biopsy stereotaxic tidak diperlukan. atau komplikasi vaskuler. pengobatan penyakit ini berupa terapi empiris. multifocal nonenhancing patchy lesions dapat dilihat pada T2 W1. MRI lebih baik jika dibandingkan dengan CT-Scan dalam menggambarkan lesi parenkim pada kasus meningoensefalitis atau komplikasi vaskulitis akibat rentetan FLAIR (Fluid Attenuated Inversion Recovery). Pada kasus ini. cerebritis dan tuberculosis akan terlihat gambaran hiperintens. namun tidak mampu mencegah hendaya.

Karena pada abses harus segera dilakukan aspirasi dan pada tumor nekrosis harus dilakukan biopsi. empiema subdural biasanya menunjukkan gambaran yang lebih intens.satunya alat yang dipercaya untuk menegakkan penyakit yang mengancam jiwa ini. informasi lebih lanjut untuk 4 . pemeriksaan Gd-enhancing MRI sangat membantu dalam mengidentivikasi lesi kecil multiple yang merupakan tanda-tanda suatu metastasis. biopsy stereotaksik merupakan langkah selanjutnya yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis. tindakan bedah saraf merupakan terapi pilihan pada kasus ini. MRI FLAIR lebih sensitif dengan menggambarkan periventrikuler. atau suatu metastasis (Gambar 2). MRI diperlukan untuk mengetahui ruptur intraventrikuler akibat abses piogenik. tindakan Ommaya harus dilakukan. CT-Scan sering menimbulkan keraguan pada lokasi lesi yang sebenarnya. Jika terdapat lesi tunggal pada temuan MRI. mass effect dan hiperintens korteks yang revesibel. Debris yang ireguler pada intraventikuler merupakan gambaran yang spesifik. inflamasi sering menyebabkan kelainan berupa edema. gambaran ini akan terlihat relative lebih hiperintens daripada LCS dan lebih hipointens dari substansia alba pada pemeriksaan T1W1 dan relative lebih hiperintens dari LCS dan substansia nigra pada pemeriksaan T2W1 yang dapat membedakan dengan efusi steril dan hematoma kronik. terapi antibiotik intravena dosis tinggi harus diberikan selama beberapa minggu. terdsapat dilema oelh para klinisi untuk mendiagnosis dan memberikan terapi pada temuan lesi ring-enhancing tunggal pada pemeriksaan CT-Scan. DWI dapat digunakan untuk mengkonfirmasi bahwa kumpulan cairan ekstra axial tersebut adalah empiema. gambaran cairan pus ini dapat terklihat lebih cembung atau terlihat intrahemisfer. epidural empiema menunjukkan pinggiran yang hipointens antara duramater dan parenkim otak. berbeda dengan empiema subdural. kelainan ependimal dan pada beberapa kasus juga pada pial atau kelainan dura-arachnoid. sedangkan epidural empiema menunjukkan gambaran yang kurang intens atau gambaran yang bervariasi.Pada kasus yang etrjadi perburukan kondisi pasien walaupun telah diberikan terapi antibiotic intravena dosis tinggi. Empiema subdural dan epidural Empiema bakterial ekstra axial paling baik jika menggunakan MRI. Abses piogenik Diagnosis abses piogenik merupakan hal sulit ditentukan. dimana hal tersebut harus dibedakan dengan tumor nekrosis (glioblastoma).

penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi hal tersebut. dan laktat serta kolin sebagai penanda non abses. Beberapa peeneliti menyatakan bahwa pemeriksaan ADC saja tidak boleh diandalkan karena sering terjadi overlapping diagnosis. namun tidak bisa memecahkan dilemma diagnosis atau meniadakan pemeriksaan biopsi. asetat. Meskupun metode tersebut sangat membantu. menunjukkan pengurangan resapan abses yang berbeda dengan lesi nonpiogenik yang menunjukkan gambaran hipointens atau gambaran yang bervariasi. alanin dan glisisn. 2 Axial post-gadolinium T11WI showing ring-enhancing lesion with mass effect in a patient with pyogenic brain abscess mengoptimalkan perencanaaan bedah stereotaksik harus dilakukan. dapat dianggap sebagai penanda abses. Hanya chordoma dan epidermoid menunjukkan peningkatan intensitas pada pemeriksaan DWI. pemeriksaan DWI telah diusulkan sebagai metode pilihan. Pemeriksaan ini bukan lah hal yang rutin dilakukan. Meskipun beberapa peneliti 5 . namun beberapapeneliti telah menemukan hal yang menjanjikan dalam hal penegakan diagnosis pada pemeriksaan ini. dalam beberapa penelitian.Gambar. informasi tambahan dapat diperoleh dengan pemeriksaan Proton Magnetic Resonance Spectroscopy (PMRS). pada kasus yang belum begitu jelas. Adanya asam amino laktat sitosol dengan atau tanpa suksinat. hamper semua abses piogenik menunjukkan gambaran yang khas yaitu hiperintens pada pemeriksaan DWI dan penurunan Apparent Diffusion Coefficient (ADC).

Juga dalam kasus toksoplasma atipikal soliter besar. sehingga makin meningkatkan penggunaan neuroimaging. Pada sekitar 80% pasien. maka perlu tambahan terapi osmodiuretik. sehingga menyesatkan bagi dokter dan ahli radiologi. Toxoplasmosis Toxoplasmosis merupakan infeksi oportunistik yang paling sering pada pasien imunosupresi. menunjukkan peningkatan intensitas yang ditandai dengan lesi menyerupai limfoma. yang membahas PMRS dan dengan pencitraan tumor otak. Dalam kasus alergi sulfa. anaerobic maupun abses steril. dalam 7 hari pertama deksametason 4 mg qid harus diberikan sebagai terapi tambahan. Tidak jarang. sementara pasien dirawat sebagai kasus toksoplasmosis. infeksi pada pasien dengan sindrom defisiensi imun dapatan AIDS) atau setelah transplantasi sumsum tulang menyebabkan lesi yang biasanya ganda. terapi dengan pyrimethamin 50-100 mg / hari dan sulfadiazin 4 g / hari harus dimulai segera. Dalam kasus ini. Jika lesi menetap atau makin progresif. Infeksi Medula Spinalis 6 .id sebagai terapi alternative. kontribusi teknik ini dan PET untuk membedakan infeksi dan tumor lebih lanjut dibahas dalam artikel lain. diagnosis harus dipertimbangkan kembali dan terapi harus dievaluasi. MRI memberikan gambatan yang sangat jelas pada keadaan ini yang terkadang juga menunjukkan adanya perdarahan. terapi antitoxoplasma harus dimulai sampai diagnosis telah dipastikan lebih lanjut. Dalam kasus ini.telah melaporkan temuan dalam hal membedakan abses aerobic. Dalam kasus dengan gambaran lesi yang khas. Terutama pada varian ensefalitis fulminan. Sayangnya. Jika dalam perkembangan lebih lanjut terjadi edema. gambaran pada MRI sepenuhnya atipikal. pasien dapat memakai klindamisin 600 mg q. . Dalam kasus ini klinisi harus mencari sarana diagnostik lain. edema neuroimaging menunjukkan lesi toxoplasma dengan dirtandai dengan efek massa dan perifocal. lesi yang tampak pada pemeriksaan T2W1 adalah luas dan sama sekali tanpa adanya peningkatan intensitas gambara. perbaikan radiologis dapat dilihat pada sekitar 1 minggu yang mana hal ini akan mendukung diagnosis. hal tersebut harus dipikirkan dengan sangat matang. dalam kasuskasus imunosupresi berat. Infeksi prenatal dapat menyebabkan peningkatan risiko bangkitan kejang. dengan adanya tambahan gambaran cincin atau padat.

Kontras perangkat tambahan dapat dilihat sebagai tanda awal di fase akut dimana perubahan pada T1/T2WI sangat minimal. oleh karena itu. MRI merupakan metode pilihan dalam kasus kecurigaan spondylodiscitis. subligamentous menyebar ke tiga atau lebih badan vertebral dan keterlibatan sebagian besar badan vertebra toraks. meskipun masih belum bisa menegtahui etiologi pastinya. terutama karena aspergillus dan jarang kriptokokus dapat menunjukkan temuan yang sama MRI sebagai spondylitis bakteri. Patogen yang paling umum adalah Staphylococcus aureus. Berkenaan dgn penyakit spondilitis TB lebih sering menunjukkan gambaran paraspinal abnormal. CT-Scan menunjukkan peningkatan erosi dan kerusakan badan vertebra dan dengan menggunakan kontras ditandai dengan enhancement ruang disk dan gambaran inflamasi dalam daerah paravertebral . tapi lain bakteri termasuk kasus langka Brucellar spondilitis telah dilaporkan. pemeriksaan kedokteran nuklir tidak lagi diterapkan secara rutin.Weighted menunjukkan hilangnya vertebralis tubuh. penghancuran margin kortikal dan gangguan kontinuitas kortikal. Mucormycosis Spinal telah dilaporkan pada beberapa pasien dirawat karena leukemia. Diagnosis abses epidural tulang belakang hanya bisa dilakukan dengan menggunakan CT-Scan. Hal ini penting untuk diingat pada kasus langka yaitu osteomielitis yang disebabkan oleh jamur. Semenjak ditemukan MRI. Pengobatan umumnya dilakukan secara konservatif dengan antibiotik setelah CT-Scan dilakukan dan telah dilakukan aspirasi untuk dan drainase perkutan. Jika perbaikan radiologis 7 . hanya gambaran erosi tulang dan fraktur vertebra yang mampu dilihat. Meskipun CT tulang belakang memiliki sensitivitas yang lebih tinggi terutama jika menggunakan kontras dan dapat menunjukkan spondilitis. itu tidak cukup untuk deteksi dini discitis atau abses epidural. pemeriksaan ini hanya direkomendasikan dalam keadaan darurat dan tidak tersedianya MRI. T2-Weighted menunjukkan intensitas yang tinggi pada tulang yang terkena dan struktur disk. T1. Aplikasi dari gadolinium adalah wajib dan memfasilitasi diagnosis.Penegakan diagnosis ingeksi medulla spinalis dengan menggunakan foto polos sangat sulit dilakukan karena kurangnya spesifisitasnya. CT myelografi setidaknya dapat menunjukkan daerah kompresi. Beberapa fitur telah diidentifikasi muncul membantu dalam diferensiasi TB dari spondilitis piogenik. abses yang minimal. Dalam kasus bakteri dan spondilitis TB. Singkatnya. hanya diferensial diagnosti dari mielopati kompresi dan atau fraktur vertebra yang bisa ditegakkan.

inflamasi di medulla spinalis sebagian besar disebabkan oleh perubahan sekunder dalam abses intraspinal. Terutama pada pasien setelah injeksi paravertebral. Dalam kasus-kasus iskemia saraf tulang belakang karena trombosis dari pembuluh leptomeningeal atau kompresi arteri tulang belakang harus dicurigai sebagai mekanisme yang mendasari.sehingga. Dalam banyak kasus. peningkatan gadolinium dapat bertahan selama berbulan-bulan. neuroimaging digunakan untuk menjelaskan etiologi dan mencegah tindakan bedah yang tidak perlu sebagai intervensi terapeutik. terapi konservatif sudah cukup. Pada kasus Herpesviridae seperti Varicella zoster virus. diferensiasi dari inflammatory polyradiculitis sangat penting segera ditentukannya terapi dengan obat antivirus atau steroid dosis tinggi versus imunoglobulin intravena (IVIG). Karena seringnya kasus-kasus tersebut dengan ascending paraparesis. MRI menunjukkan tingginya perubahan sinyal pada medula spinalis dengan variabel edema dan peningkatan Gd juga 8 . Gambar pada MRI di aksial dan sagital berguna dalam perencanaan pra operasi. Hanya MRI yang dapat menunjukkan gambaran inflamasi pada medulla spinalis. virus tetap dapat teridentifikasi. dan Epstein-Barr virus (EBV) sering digambarkan pada pasien-pasien dengan immunocompromised.tidak membantu. MRI menunjukkan peningkatan intensitas yang berbanding lurus dengan peradangan dan edema pada T2WI. Kasus tanpa kompresi spinal dan tanpa abses tapi dengan tanda-tanda neurologis parah dapat menjadi meragukan diag nostik. cytomegalovirus. Bahkan setelah respon klinis dan dalam tanpa peradangan sistemik. Mielitis dapat menjadi komplikasi yang sering pada infeksi virus. MRI menggambarkan abses epidural sebagai gambaran massa hyperintense dan disertai dengan peningkatan intensitas pada T1WE-Gd. MRI sangat penting untuk memantau tindak lanjut program di bawah pengobatan. sedimentasi tinggi tingkat. Keterlibatan Medula Spinalis dan Meningen Foto polos dan CT. Hanya ketidakstabilan dan abses intraspinal membutuhkan intervensi bedah saraf. Pada saat ini.dilihat dalam 2 minggu. Abses spinal epidural membutuhkan kewaspadaan yang tinggi oleh para klinis . scanning awal harus dipertimbangkan bila ada rasa sakit punggung local yang makin hebat. dan leukositosis. infeksi spirochetal umumnya disebabkan akibat Penyakit LymeBorrelia burgdorferi. Dalam infeksi akibat bakteri. Terapi dengan bedah dekompresi dan drainase diperlukan dalam kasuskasus dengan kompresi struktur saraf.

MRI perubahan termasuk kelainan parenkimmedla spinalis dan cauda equine enhancement. Deteksi DNA HSV pada SSP dengan PCR merupakan pemeriksaan andalan untuk diagnosis ensefalitis HSV. HHV 7) atau enterovirus 71 dengan infeksi SSP. kadang ditandai dengan tampilan kistik. dalam kasus tropical spastic paraparesis pada HTLV-2 myelopathy gambaran MRI tampak normal dan jarang sekali menunjukkan atrofi. gambaran khas MRI memungkinkan cepatnya diagnosis melalui saluran yang pucat dan vacuolar myelopathy menunjukkan lesi intramedullary. 3). Baru laporan terbaru adanya komplikasi ke tulang belakang yang disebabkan infeksi WNV. MRI Kranial unggul dibanding CT untuk deteksi awal tanda-tanda necrotizing encephalitis yang dapat muncul pada 48 jam pertama pada T2-weighted (T2WI) atau flair images. terkadang peningkatan Gd dapat ditemui. 9 . perlu diingat bahwa pada ensefalitis akut adanya penyebab lain selain HSV.di lumbosacral roots pada infeksi EBV. Jadi. HHV 6 dapat menyebabkan ensefalitis kronis (Gambar. Coxsackie dan virus ECHO dapat menyebabkan myelitis transversal. Dalam tahap selanjutnya. walaupun hasil tes laboratorium mungkin negatif palsu atau munculnya yang terlambat. mielitis yang terjadi dapat menyerupai autoimmune-mediated myelitis. Pada pasien dewasa dengan imunokompeten. hasil pencitraan penelitian penting untuk memutuskan apakah pengobatan antivirus harus dimulai pada pasien dengan suspecten HSV diduga encephalitis. baru diakui virus seperti Nipah virus dan sebelumnya virus-virus yang menyerang ketahanan tubuh manusia seperti Human Herpes Virus 6 atau 7 (HHV 6. Pada pasien immunocompromised agen penyebab yang mungkin lebih luas. Pengobatan dengan steroid biasanya tidak bermanfaat dalam kasus ini. Sebaliknya. Namun. Viral Meningoencephalitis Herpes simplex virus (HSV) merupakan penyebab paling umum encephalitis oeh virus. Pada tahap awal infeksi HIV. baru-baru ini diamatinya epidemi the West Nile Virus.

10 . 3 Axial FLAIR images of a patient with chronic HHV 6 encephalitis showing patchy signal hyperintensities in white matter and cortex Pada bayi dan neonatus. Menariknya.Gambar. T2WI pada individu seropositif asimtomatik dapat menunjukkan lesi kecil hyperintense serupa dengan yang ditemukan pada pasien ensefalitis menunjukkan bahwa adanya varian subklinis ringan pada ensefalitis Nipah virus. Nipah virus merupakan paramyxovirus baru yang erat kaitannya dengan Hendra virus (mobillivirus pada kuda) yang baru-baru ini terbukti menyebabkan ensefalitis akut yang berat. DWI terlihat lebih sensitif dibandingkan T2WI atau flair imaging dalam pendeteksian awal edem sitotoksik kortikal. studi lebih lanjut diperlukan untuk melihat apakah resolusi dari perubahan-perubahan pada DWI berhubungan dengan pengobatan dengan zat-zat antivirus dan apakah persistennya dari perubahan ini mencerminkan kerusakan kortikal dan hasil yang lebih buruk pada pasien dengan ensefalitis HSV. Baru-baru ini. dengan melakukan MRI ulang pada studi yang sama menunjukkan bahwa kelainan difusimenghilang dalam waktu 14 hari setelah onset gejala muncul. penemuan tersebut dapat dikonfirmasikan terhadap pasien dewasa. sedangkan hyperintensities pada T2WI bertahan. T2WI juga dapat menunjukkan lesi transient hyperintense punctuate di batang otak dan korteks. Fitur radiologi biasanya terdiri dari beberapa lesi kecil hyperintense sampai white matter pada T2WI.Menariknya.

Sebuah temuan baru yang dipublikasikan yang menemukan bahwa CT cranial yang tidak normal di sekitar 38%. Klinis. talamus. laboratorium. Fitur yang khas pada MRI terdiri dari lesi mixed intensiy maupun hypointense pada T1WI dan lesi hyperintense atau mixed intensity pada T2WI terutama di thalami. 8 dengan ensefalitis dan 3 dengan polio-like acute flaccid paralysis. dan Amerika. suatu enterovirus dari famili Picornaviridae. MRI dari EV71 ensefalitis biasanya menunjukkan lesi hyperintense pada T2WI terletak di dalam brainstem dan dentate nukleus dari cerebellum. thalamus dan pons. Japanese encephalitis (JE) menyerang sekitar 50. sedangkan CT tetap normal pada semua pasien.8% di midbrain dan 21. dan putamen. dengan wabah besar ensefalitis terakhir pada tahun 2002. Seperti baru-baru ini melaporkan. MRI menunjukkan kelainan yang sangat mirip dengan JE.6-54. Rusia.1-45. Pada pasien acute flaccid paralysis.9-25% di area kortikal. DWI tampaknya lebih sensitif dalam mendeteksi kelainan terutama pada fase awal infeksi WNV pada otak. T2WI menunjukkan perubahan hyperintense dalam thalamus. The West Nile virus (WNV) telah menyebabkan wabah ensefalitis di Eropa Selatan. dapat menyebabkan seperti polio-like brainstem encephalitis dan acute flaccid paralysis.5%. Kelainan thalamus pada T2WI ditemukan pada 87.000 akan mati. Hanya dua dari delapan pasien encephalitic pada T2WI dan DWI menunjukkan fokus lesi hyperintense di ganglia basalis. branstem. 5 pasien dengan meningitis. virus menyerang substantia nigra seperti yang ditunjukkan dengan hyperintensities pada T2WI region tersebut. tetapi juga di ganglia basalis. cerebellum. di antaranya sekitar 10. sedangkan MRI menunjukkan perubahan patologis 90. dan area kortikal. Pada beberapa pasien. pada MRI menunjukkan peningkatan dari cauda eqina dan kumpulan akar saraf. DWI mampu menunjukkan perubahan hyperintense dalam posterior medula tanpa kelainan otak lainnya pada T1WI atau T2WI pada hari pertama dari kerusakan neurologis. perlu digarisbawahi bahwa keunggulan DWI dalam deteksi dini infeksi SSP dibandingkan dengan hasil dari T2WI ataupun dengan kontras yang ditingkatkan pada T1WI. Seperti infeksi SSP lainnya. Pada beberapa pasien. MRI cranial lebih sensitif dibandingkan CT dalam mendeteksi JE yang berhubungandengan kelainan otak. dan fitur neuroimaging digambarkan dalam sebuah studi baru-baru ini yang mengevaluasi WNV seropositif pasien.6 -95. Murray Valley Encephalitis (MVE) termasuk JE antigenik yang kompleks dan merupakan endemik di Australia dan Papua Nugini. 11 . Serupa dengan HSV dan EV71 ensefalitis. lesi dapat diperluas hingga saraf tulang belakang.Enterovirus 71 (EV71). 40.5% baik pada anak-anak dan orang dewasa.2% di ganglia basalis. 28. Pada beberapa pasien.000 orang per tahun.

dan cervical spinal cord. Acute measles virus encephalitis dan subacute sclerosing panencephalitis (SSPE). MRI Konvensional tidak menunjukkan kelainan dalam tahap awal SSPE. yang dapat terdeteksi dalam tahap akhir SSPE. dan 3) SSPE. kesamaan dalam tampilan MRI dari Japanese Encephalitis. SSPE adalah penyakit progresif SSP yang jarang. 2) acute progressive encephalitis. Dengan penambahan Kontras dapat memunculkan di daerah kortikal dan leptomeninges pada beberapa pasien. Infeksi Jamur Infeksi jamur SSP pada umumnya sangat jarang. Sebaliknya. Data tentang temuan pencitraan dalam acute measles encephalitis jarang. Dengan demikian. Kecuali pada penderita diabetes yang sudah menahun. Kadang-kadang pada pasien juga ditemukan lesi bilateral thalamus dan kelainan sinyal dalam corpus callosum. Nilai DWI dalam deteksi dini acute measles encephalitis belum dievaluasi. T2WI dapat menunjukkan adanya edema kortikal dan lesi yang simetris bilateral hyperintense dalam putamen dan nucleus caudatus serta dalam centrum semiovale. Infeksi pada SSP dengan measles virus (MV) dapat menyebabkan 1) acute postinfectious encephalitis. Rasio N-acetylasparate / creatine normal pada tahap awal mungkin mencerminkan tidak adanya kerusakan saraf. Karena kurangnya respon inflamasi. tetapi diungkapkan meluasnya perubahan periventricular hyperintense pada T2WI di SSPE tahap akhir.red nucleus. Perbedaan dalam tampilan pada tahap awal dan tahap akhir SSPE pada MRI tidak didefinisikan dengan baik. Meskipun hampir semua jamur dapat menyebabkan ensefalitis. paling sering ditemui pada keadaan immunocompromised seperti pasien dengan AIDS atau setelah transplantasi organ. substantia nigra. West Nile Encephaliti. dan Murray Valley Encephalitis Nil Barat ensefalitis. biasanya terjadi pada masa kanak-kanak dan awal remaja tetapi juga dapat muncul pada dewasa tua. temuan neuroradiological sering tidak spesifik. dan Murray Valley Encephalitis tidak memberikan perbedaan dari infeksi SSP yang hanya dilihat dari fitur imagingnya saja. meningoencephalitis kriptokokus paling sering ditemui. candidasis Cerebral biasanya didahului oleh 12 . diikuti oleh aspergillosis dan yang lebih jarang lagi candidasis. Sebuah studi baru-baru ini dibandingkan MR spektroskopi dan MRI konvensional pada anak-anak dengan tahap awal dan anak-anak dengan tahap akhir SSPE. MR spektroskopi menunjukkan peningkatan rasiokolin/kreatinin di bagian frontal dan parieto-oksipital white matter pada semua pasien peradangan juga dalam tahap awal SSPE.

peningkatan diffuse meningeal dan juga ventriculitis dapat dilihat pada MRI. Tampilan aspergillus pada infeksi SSP sangat bervariasi. peningkatan gadolinium sering tak tampak. aspergillus adalah agen untuk infeksi SSP oportunistik. beberapa pola cerebral aspergillosis telah dilaporkan: lesi edematous. dan diagnosis dini adalah wajib jika ingin bertahan hidup. dan lebih sering pada pasien yang memiliki transplantasi sumsum tulang (Bone Marrow Transplantation). Hal ini merupakan karakteristik lesi cystic karena invasi kriptokokus di ruang VirchowRobin.infeksi kandida yang sistemik dan sering berhubungan dengan penggunaan kateter. sehingga keputusan pengobatan harus didasarkan pada parameter klinis dan temuan CSF. lesi hemoragik. Pasien dengan imunosupresif. yang mengembangkan immune reconsituation syndrome lesi dapat meluas menjadi cincin yang meningkat. Pada pasien imunokompeten. 4). Temuan ini saja tidak memungkinkan diagnosis spesifik. Bahkan dengan perawatan intensif (amfoterisin B dan 5-flucytosine). Ini lah yang dikatakan les ”soap bubble lessins” dan memungkinkan diagnosis sementara untuk pengobatan antijamur secepatnya. 13 . Kematin tinggi pada pasien tersebut. sering di ganglia basalis. Pada pasien dengan AIDS jarang. temuan neuroradiological sering sulit diinterpretasikan. Dural enhancement biasanya dilihat pada lesi terinfeksi yang berdekatan dengan sinus paranasal. dapat nyata sebagai lesi yang padat atau seperti abses dengan diferensial diagnosis abses piogenik. Laboratorium tidak selalu pastikan diagnosis infeksi jamur sehingga neuroimaging yang penting dalam menetapkan diagnosis. Temuan CT mungkin nonspesifik dan diagnosis infeksi jamur sering dibuat secara retrospektif di otopsi. MRI menunjukkan punctuate atau tanda hyperintensities yang merata pada T2WI. dan infarction-like lesions. Temuan khas berupa lesi punctuate multiple. hasil sering jelek dan kematian setinggi 70%. Pada meningoencephalitis kriptokokus.lesi solid disebut sebagai aspergilloma atau "tumoral form" abscess-like ring-ike lesions (Gambar. penggunaan MRI. Pada pasien nonimmunodeficient atau pasien dengan AIDS di bawah pengobatan antiretroviral yang sangat aktif.

kortikal dan subkortikal infark dengan atau tanpa perdarahan merupakan temuan umum pada infeksi aspergillus yang dijelaskan oleh infiltrasi jamur pada dinding pembuluh darah dan thrombosis. Pengakuan dari tampilan pol radiologi pada pasien dengan aspergillosis otak sangat membantu dalam menegakan diagnosis dini. tetapi bisa juga berkaitan dengan kerusakan produk darah. 4 Coronal T1WI after gadolinium enhancement. besi.Gambar. Ring-enhancing lesion with perifocal edema and mass effect compressing the lateral ventricle. Pada MRI. Pasien dengan AIDS dan setelah BMT. yang dihubungkan dengan jamur hypercontaining yang mengandung unsur paramagnetik seperti mangan. yang mengalami immunoincompetent. dan magnesium. 14 . lesi dapat menunjukkan area isointense atau intensitas sinyal yang rendah pada T2WI. sering tidak menunjukkan peningkatan atau edema perifocal. Patient after bone marrow transplantation with aspergillus encephalitis.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->