P. 1
Modul Radiator

Modul Radiator

|Views: 960|Likes:
Published by Arif Harianto, S.Pd

More info:

Published by: Arif Harianto, S.Pd on Oct 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/02/2015

pdf

text

original

Melepas dan memasang kembali pompa air harus dilakukan
sebagaimana petunjuk manual. Selain itu terdapat langkah-langkah
keamanan yang perlu diperhatikan. Pada saat membongkar
komponen-komponen perlu diperhatikan letak masing-masing baut
penahan pada pompa air dengan tepat. Pada beberapa mesin baut-
baut penahannya memiliki ukuran yang berbeda-beda pada pompa air.
Jika keliru memasang maka akan timbul kemungkinan terjadi
pemasangan baut panjang yang merusak dinding silinder. Selain itu
juga harus berhati-hati dalam mengencangkan baut atau mur supaya
sesuai dengan kekencangan dan urutan yang ditentukan. Hal ini
bertujuan untuk menghindari kerusakan pada pompa dan ulir pada
baut. Prosedur ini sangat penting dalam pemasangan pompa air atau
rumah dari logam campuran, karena kemungkinan terjadinya
kerusakan bentuk atau kerusakan ulir sangat besar.

Pemasangan pompa air harus selalu menggunakan perapat yang baru.
Perapat yang lama dibuang semuanya. Ini dilakukan untuk
menghindari terjadinya kebocoran pada pompa air. Selain itu perapat-
perapat pompa air harus dipasang dengan menggunakan lak yang
sesuai (aviation cement). Berhati-hatilah dalam memasang kipas-kipas
dan sabuk penggerak pada pompa air. kipas pendingin harus
dipasang pada arah yang benar, karena ada kipas yang dapat bekerja
dengan arah terbalik. Kesalahan pemasangan sudu-sudu kipas akan
mengakibatkan kurangnya aliran udara menuju radiator sehingga
mesin mengalami panas berlebih. Kekencangan sabuk penggerak
pompa air yang sesuai merupakan hal kritis dalam mencegah
terjadinya pembebanan berlebih pada bantalan poros pompa air atau
slip pada puli pompa air saat bekerja dengan rpm yang tinggi.
Pembebanan berlebih pada bantalan poros pompa air yang
diakibatkan oleh tegangan yang terlalu tinggi pada sabuk penggerak
akan mengakibatkan kerusakan bantalan poros yang terlalu dini. Slip
pada puli yang disebabkan oleh kekencangan sabuk penggerak akan
menyebabkan mesin mengalami panas berlebih pada saat bekerja
dengan rpm yang tinggi, selain itu sabuk penggerak menjadi aus.

Pengamanan dalam Penggantian Pompa Air

Pemeliharaan/servis sistem pendinginan
@.rif. h, $.Pd

46

MODUL PEMBELAJARAN ENGINE
OTOMOTIF

Perhatikan dengan jelas posisi masing-masing baut saat dilakukan
pembongkaran;
Buang semua bahan perapat yang lama;
Pasang kembali dengan perapat baru dan lak yang memadai;
Pasang kembali baut-baut pada tempat yang sesuai;
Kencangkan baut-baut penahan dengan urutan dan kekencangan yang
sesuai ketentuan;
Yakinkan bahwa sudu-sudu kipas sudah terpasang dengan benar;
Kekencangan sabuk penggerak pompa air harus sesuai dengan
ketentuan (kelengkungan sebesar 10 mm jika tidak diketahui);
Periksa adanya kebocoran dengan menggunakan tes tekanan.

Gambar 9:

Prosedur pemasangan kembali pompa air dan rakitan kipas

Gambar 10:Kelengkungan sabuk penggerak sebesar 10 mm dapat
diterapkan jika tidak diketahui spesifikasinya.

D. Diagnosis Kerusakan Sistem Pendingin

Prosedur tes diagnosa kebocoran kepala perapat (head gasket) secara visual
adalah sebagai berikut :

Pemeliharaan/servis sistem pendinginan
@.rif. h, $.Pd

47

MODUL PEMBELAJARAN ENGINE
OTOMOTIF

1.Lakukan tes tekanan pada sistem pendingin terhadap adanya kebocoran
eksternal dan perbaiki.
2.Buka tutup radioator, berhati-hatilah jika cairan pendingin dalam keadaan
panas, dan tambahkan cairan pendingin hingga memenuhi leher lubang.
3.Jalankan mesin hingga themostat membuka (suhu kerja) atau hingga pipa
atas radiator menjadi hangat.
4.Jalankan mesin pada 1500 sampai 2000 RPM dan periksa cairan pendingin
apakah terjadi gelembung-gelembung yang keluar dari leher pengisian
radiator. (Jangan jalankan mesin dalam jangka waktu lama dengan tutup
tekanan radiator dalam keadaan terbuka, mesin bisa mengalami panas
berlebihan dan mendesak keluar cairan pendingin yang panas dari leher
radiator.)

5.Setelah tes selesai, tambahkan cairan pendingin seperlunya dan pasang
kembali tutup radiator.

Gambar 31. Pemeriksaan visual dalam diagnosa kebocoran kepala perapat

1) Diagnosa Kerja Thermostat

Diagnosa terhadap kerja thermostat bisa dilaksanakan dengan
memeriksa pengaturan temperatur pada saat kendaraan dijalankan di
jalanan.

Dalam keadaan normal, yaitu sistem pendingin bekerja secara baik,
penunjuk temperatur (temperature gauge) akan bergerak sedikit jika
temperatur operasi telah tercapai.
Saat terjadi perubahan suhu pada kendaraan dari dingin menuju
temperatur kerja maka penunjuk temperatur harus bergerak meningkat
dengan teratur sampai thermostat membuka sehingga mulai terjadi
pengaturan temperatur. Jika terjadi sedikit penurunan pada penunjuk
maka ini menunjukkan titik buka thermostat yang disebabkan oleh

Pemeliharaan/servis sistem pendinginan
@.rif. h, $.Pd

48

MODUL PEMBELAJARAN ENGINE
OTOMOTIF

cairan pendingin radiator yang bersuhu lebih rendah yang memasuki
blok mesin.
Pada kondisi mesin dijalankan dengan stabil baik pada kecepatan
rendah ataupun tinggi tanpa beban, penunjuk temperatur harus relatif
tetap tidak bergerak.

Catatan:

Kadang-kadang kipas pendinginan yang terkontrol secara thermostatik
bisa menimbulkan peningkatan suhu mesin oleh karena itu atur
pembacaan penunjuk temperatur sebelum menyalakan untuk
mendinginkan suhu mesin kembali pada temperatur kerjanya. Dalam
keadaan dengan beban mesin yang tinggi atau kondisi suhu yang tinggi
temperatur mesin dapat sedikit meningkat di atas temperatur kerja
sehingga meningkatkan pembacaan penunjuk temperatur.

a) Pemanasan yang Lamban (thermostat tetap sedikit terbuka)

Jika mesin dijalankan dalam kondisi standar tetapi penunjuk
temperatur tidak menunjukkan temperatur kerja yang normal setelah
jangka waktu yang memadai, mungkin thermostat tetap sedikit
membuka. Akibat dari keadaan ini maka cairan pendingin blok mesin
memanas karena sirkulasinya melalui sistem saat masih dingin.
Dalam keadaan demikian maka kemungkinan kerusakan yang terjadi
adalah waktu pemanasan yang lamban karena thermostat tetap
membuka untuk mengatur aliran cairan pendingin saat mesin
mencapai temperatur kerjanya.
Maka jika terjadi pergerakan penunjuk temperatur yang perlahan
menuju temperatur kerja (pemanasan yang lamban) tetapi bekerja
normal mengatur temperatur mesin yang dijalankan secara normal,
bisa ditetapkan adanya thermostat yang tersangkut menjadi tetap
sedikit terbuka.

b) Pengaturan Temperatur yang Buruk (thermostat tetap membuka)

Thermostat yang tersangkut pada posisi setengah terbuka atau
terbuka penuh akan mengakibatkan waktu pemanasan mesin yang
lama. Akan tetapi kegagalan kontrol pengaturan temperatur akan
menimbulkan dua macam ketidakberesan yang ditunjukkan oleh kerja
penunjuk temperatur.
Kurang baiknya kontrol aliran cairan pendingin yang disebabkan oleh
thermostat yang tetap membuka akan menimbulkan problem
pendinginan berlebihan dari aliran udara yang melalui radiator saat
kendaraan dijalankan tanpa beban pada kecepatan medium sampai
tinggi. Hal ini mengakibatkan penurunan mendadak pergerakan
penunjuk temperatur dari posisi pembacaaan normal ke dingin.
Saat kendaraan dikurangi kecepatannya atau berhenti, temperatur
mesin dan pembacaan penunjuk temperatur meningkat di atas posisi
operasi normal sebagai akibat dari kurangnya aliran udara melalui
radiator dan tingginya aliran cairan pendingin melalui blok mesin yang

Pemeliharaan/servis sistem pendinginan
@.rif. h, $.Pd

49

MODUL PEMBELAJARAN ENGINE
OTOMOTIF

mengakibatkan berkurangnya perpindahan panas. Jika mesin bekerja
keras akan terjadi hal yang sama.
Jadi jika terjadi gerakan penunjuk temperatur yang lambat sedangkan
kendaraan bekerja pada kecepatan rendah atau medium tetapi
meningkat pada nilai yang tinggi pada keadaan diam maka bisa
ditentukan adanya kerusakan thermostat yang tersangkut menjadi
tetap terbuka.

c) Mesin yang Panas (thermostat sedikit menutup)

Thermostat yang tetap berada pada posisi sedikit menutup juga akan
menimbulkan pemanasan mesin yang lambat. Tetapi kegagalan
thermostat untuk lebih membuka dan mengontrol temperatur mesin
dengan cara sirkulasi cairan pendingin akan mengakibatkan posisi
penunjuk temperatur yang tinggi atau di atas normal.
Sirkulasi cairan pendingin yang buruk akan mengakibatkan turunnya
perpindahan panas dari blok mesin ke radiator sehingga terjadi
temperatur operasi yang tinggi.
Selain itu terjadinya panas berlebihan juga dapat timbul karena
membiarkan mesin bekerja dengan kendaraan tetap diam dalam waktu
yang lama, mesin diberi beban yang tinggi atau mendaki jalan yang
curam sedangkan kecepatan dan aliran udara yang melalui radiator
adalah rendah.
Maka jika terjadi gerakan penunjuk temperatur yang perlahan tetapi
terdapat keadaan kerja yang tinggi atau panas berlebihan pada
kecepatan rendah, diam atau beban tinggi dapat ditentukan bahwa
thermostat tersangkut menjadi tetap sedikit menutup.

2) Tes Kebocoran Kepala Perapat

Untuk mendiagnosa terhadap adanya kebocoran kepala perapat
silinder pada sistem pendingin terdapat empat macam metode yang
biasa digunakan.
Cara pertama adalah dengan pemeriksaaan visual sederhana apakah
ada gelembung pada cairan pendingin di dalam radiator. Melalui tes
ini, walaupun bukan merupakan diagnosa yang akurat, bisa dilihat jika
terjadi tekanan pada sistem yang kemungkinan terjadi dari gas
pembakaran yang memasuki cairan pendingin. Tes ini harus
dilaksanakan sebagai pemeriksaan primer yang diikuti dengan tes
diagnosa yang lebih akurat.
Tes ke dua menggunakan alat khusus untuk mencium bau gas cairan
pendingin pada radiator terhadap adanya gas-gas pembakaran (CO2
atau HC) yang menunjukkan adanya kerusakan kepala perapat. Tes ini
sangat mudah untuk dilaksanakan dan bisa mendiagnosa adanya
kebocoran kepala perapat yang hanya sedikit.

Pemeliharaan/servis sistem pendinginan
@.rif. h, $.Pd

50

MODUL PEMBELAJARAN ENGINE
OTOMOTIF

Tes yang ke tiga untuk mengecek adanya kebocoran cairan pendingin
pada sistem pendingin dilakukan dengan menggunakan tester
(analiser) tekanan cairan pendingin. Tester ini mendeteksi adanya
peningkatan cepat pada tekanan sistem saat mesin bekerja melalui
gas pembakaran yang memasuki sistem pendingin. Tes ini merupakan
metode diagnosa kebocoran perapat yang efektif walaupun tidak
seakurat tester CO2, karena hanya mendeteksi kebocoran minor
sampai mayor.
Tiga tes diagnosa tersebut di atas harus dilakukan dengan mesin
berada dalam temperatur kerjanya yaitu mesin dalam keadaan panas
dan komponen-komponen telah memuai sehingga memungkinkan
terjadinya kebocoran perapat.

a) Pemeriksaan Visual

Sebuah sistem pendingin yang dapat bekerja dengan benar dan dalam
kondisi baik merupakan sistem tersekat yang di dalamnya tidak
terdapat udara atau kantung gas dalam cairan pendingin.
Jika dengan pemeriksaan visual cairan pendingin dalam radiator
menunjukkan adanya gelembung udara, maka kemungkinan besar
penyebabnya adalah terjadi kebocoran perapat kepala silinder
sehingga gas hasil pembakaran masuk ke sistem pendingin.
Sebagaimana yang telah disebut di muka pemeriksaan visual hanya
merupakan pemeriksaan primer dan dilaksanakan jika sistem telah
diperiksa terhadap adanya kebocoran eksternal cairan pendingin dan
telah diperbaiki.
Adanya kemungkinan tertariknya udara ke cairan pendingin oleh
pompa air melalui kebocoran eksternal dapat menimbulkan diagosa
yang tidak tepat.
Agar tidak terjadi diagnosa yang salah maka perlu dilaksanakan tes
sekunder serta tes-tes yang lebih akurat.

b) Tester Tekanan Sistem Pendingin

Seperti yang telah diketahui, tester tekanan sistem pendingin dapat
digunakan untuk memeriksa adanya kebocoran eksternal cairan
pendingin dengan memberikan tekanan pada sistem pendingin.
Selain itu analiser ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi
peningkatan tekanan yang terjadi dalam sistem pendingin dari sumber-
sumber internal, seperti misalnya kebocoran kepala perapat atau
retakan pada kepala silinder.
Kebocoran tekanan internal yang berasal dari kepala perapat dari
retakan kepala silinder berupa gas pembakaran yang memasuki cairan

Pemeliharaan/servis sistem pendinginan
@.rif. h, $.Pd

51

MODUL PEMBELAJARAN ENGINE
OTOMOTIF

pendingin sehingga menimbulkan tekanan yang melonjak naik pada
sistem. Peningkatan tekanan ini dapat dideteksi dengan melihat
pembacaan tester dengan mesin yang dijalankan pada temperatur
operasinya.
Tester tekanan diatur pada tekanan rendah dan jika mesin dijalankan
maka jarum penunjuk harus bergerak naik perlahan karena adanya
peningkatan suhu cairan pendingin. Jika terjadi kebocoran internal
akan menyebabkan perubahan nilai tekanan yang meningkat cepat.
Sebagaimana pada pemeriksaan visual sebelum ini perlu diperhatikan
pada tes ini tidak boleh terjadi kebocoran eksternal, karena akan
mengakibatkan hasil diagnosa yang tidak tepat. Hal ini disebabkan
oleh kemungkinan hilangnya tekanan pembakaran pada kebocoran
eksternal sehingga jarum alat pengukur tekanan tidak bergerak naik.

Prosedur tes diagnosa kebocoran kepala perapat dengan menggunakan tester
tekanan (analiser) adalah sebagai berikut :

1.Periksa tekanan sistem pendingin terhadap kebocoran eksternal dan perbaiki
sesuai yang diperlukan.
2.Buka penutup radiator dengan hati-hati jika cairan pendingin dalam keadaan
panas dan tambahkan cairan pendingin hingga penuh.
3.Jalankan mesin sampai thermostat membuka, yaitu pada temperatur kerja,
atau hingga saluran radiator atas menjadi hangat.
4.Basahi karet bos tester tekanan dan pasang pada leher radiator.
5.Pasang analiser pada leher radiator dan beri tekanan pada sistem sebesar 7
sampai 14 kPa (1 hingga 2 psi).
6.Buka saluran beberapa kali sementara anda memperhatikan pembacaan
jarum penunjuk tester.

Catatan :

Jangan menjalankan mesin terlalu lama dengan tester tekanan dalam
keadaan terpasang karena dapat menimbulkan tekanan pada mesin yang
melebihi kapasitas dan merusak analiser atau sistem pendingin.

7.Angka yang ditunjukkan harus turun sedikit saat mesin diakselerasi dan
kembali lagi jika mesin bekerja perlahan. Jarum penunjuk harus naik perlahan
jika temperatur cairan pendingin meningkat selama dilakukan tes.

8.Jika jarum meningkat cepat setiap kali mesin diakselerasi dan tidak turun
kembali berarti terjadi kebocoran pembakaran.
9.Jika tes telah selesai matikan mesin. Hilangkan tekanan pada sistem dengan
hati-hati dan lepas analiser. Tambahkan cairan pendingin seperlunya dan
pasang kembali tutup radiator.

Pemeliharaan/servis sistem pendinginan
@.rif. h, $.Pd

52

MODUL PEMBELAJARAN ENGINE
OTOMOTIF

c. Tugas

Kerjakan tugas dibawah ini dan diskusikan hasilnya dengan teman-temanmu !

1.Sebut kerusakan yang sering terjadi pada sistem pendingin.
2.Jelaskan prosedur diagnosa sistem pendingin yang mengalami panas

belebih.
3.Jelaskan prosedur diagnosa pemanasan mesin yang lambat
4.Jelaskan prosedur diagnosa kebocoran kepala perapat
5.Jelaskan prosedur diagnosa kerja komponen utama sistem pendingin

d. Tes formatif

Kerjakan tugas dibawah ini dengan berpedoman pada prosedur dibawah ini :

Baca modul pemeliharaan/ servis dan perbaikan system pendinginan mesin.
Jawab pertanyaan-pertanyaan.

Bagan Diagnosa Kerusakan

Kerusakan Sistem Pendingin

Kemungkinan Penyebab

Mesin mengalami panas berlebih

Pemanasan mesin yang lambat

Hilang/berkurangnya cairan pendingin

Panas berlebih pada malam hari atau
rpm mesin yang tinggi

Pemeliharaan/servis sistem pendinginan
@.rif. h, $.Pd

53

MODUL PEMBELAJARAN ENGINE
OTOMOTIF

Pelumas pada cairan pendingin radiator

Kipas thermo yang tidak bekerja

Pengukur temperatur yang tidak akurat

Panas berlebih, cuaca panas, menyala
dalam waktu lama, mendaki jalan curam

e. Kunci Jawaban

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->