P. 1
Cara Mencuci Tangan Baik Dan Benar

Cara Mencuci Tangan Baik Dan Benar

Views: 73|Likes:
Published by Nina Widya Ningrum
personal higiene
personal higiene

More info:

Published by: Nina Widya Ningrum on Oct 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/04/2014

pdf

text

original

CARA MENCUCI TANGAN BAIK DAN BENAR

PROSEDUR PEMASANGAN INFUS
KONTRAINDIKASI – Daerah yang memiliki tanda-tanda infeksi, infiltrasi atau trombosis

– – – – – – – Daerah yang berwarna merah. Larutan IV /infus cairan IV Intravena set /Infus set Abbocath sesuai ukuran Standar/tiang Infus Penghalas Torniqouet Handscoon (sarung tangan) Kapas alkohol 70% Bengkok (nierbeken) Plester sesuai kebutuhan Gunting plester Kasa Larutan iodin Spuit sesuai ukuran Bak spuit PROSEDUR PEMASANGAN INFUS STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENGERTIAN Memasukkan cairan dan elektrolit ke dalam tubuh melalui intravena. bekuan darah. atau kerusakan kulit Lengan pada sisi yang mengalami mastektomi (aliran balik vena terganggu) Lengan yang mengalami luka bakar PERSIAPAN ALAT 1. 5. 13. 3. Klien yang sakit akut atau kronis yang membutuhkan terapi cairan 4. Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air. bengkak dan hangat saat disentuh Vena di bawah infiltrasi vena sebelumnya atau di bawah area flebitis Vena yang sklerotik atau bertrombus Lengan dengan pirai arteriovena atau fistula Lengan yang mengalami edema. Mengoreksi dan mencegah gangguan cairan dan elektrolit 3. lemak dan kalori yang tidak dapat dipertahankan melalui oral. kenyal. 1. 6. 2. 7. 12. 3. 15. vitamin. infeksi. 8. Memperbaiki keseimbangan asam basa TUJUAN 4. 14. Memberikan tranfusi darah 5. Klien yang membutuhkan koreksi/pencegahan gangguan cairan dan elektrolit 3. 2. 10. 9. protein. IV KEBIJAKAN 1. Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) Membantu pemberian nutrisi parenteral Keadaan emergency Keadaan ingin mendapatkan respon yang cepat terhadap pemberian obat Klien yang mendapat terapi obat dalam dosis besar secara terus-menerus melalui . 4. 11. Klien yang mendapatkan tranfusi darah 5. elektrolit. 2. Klien yang mendapat terapi obat yang tidak bisa diberikan melalui oral atau intramuskuler 2. 1. Menyediakan medium untuk pemberian obat intravena 6.

Larutan IV /infus cairan IV 2. Buka set infus. Plester sesuai kebutuhan Gunting plester Kasa Larutan iodin Spuit sesuai ukuran Bak spuit 1. Gunakan sarung tangan (handscoon) sekali pakai 12. Standar/tiang Infus 5. Pilih vena yang berdilatasi baik. 12. mempertahankan sterilisasi pada kedua ujung 7. Torniquet harus membendung aliran vena 2. Tusukkan set infus kedalam kantung atau botol cairan tanpa menyentuh lubangnya 9. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan 3. Buka kemasan steril dengan menggunakan tehnik aseptik 4. Handscoon (sarung tangan) 8. tanggal kadaluarsa. Pastikan selang bersih dari udara dan gelembung udara dengan cara rol dalam keadaan ”on” dan pastikan cairan memenuhi selang. Gunting plester sesuai kebutuhan 3. Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien 3. Menjaga privacy 2. Tekan bilik drip dan lepaskan. 14. Kapas alkohol 70% 9. Menyiapkan alat dan Menempatkan alat di dekat klien dengan benar 2. 13. Tahap Orientasi 1.PETUGAS PERALATAN Perawat / bidan 1. 1. dengan metode-metode : PROSEDUR PELAKSANAAN – mengosok ekstermitas dari distal ke proksimal dibawah tempat vena yang dimaksud – – menggenggam dan melepaskan genggaman menepuk perlahan diatas vena 1. 11. Memberikan salam dan menyapa nama pasien * 2. Mencuci tangan * 3. Pilih tempat distal vena yang digunakan 13. menggunakan ”five right” (benar cairan. Lepaskan penutup logam dan lempeng karet pada botol infus 6. Melakukan verifikasi program pengobatan klien / melakukan pengecekan program terapi 2. Setelah itu Kembalikan klem rol ke posisi off setelah selang terisi 11. warna dan kejernihan) 5. 15. volume cairan. Torniqouet 7. biarkan terisi ⅓ sampai ½ penuh 10. Letakkan torniquet 10 sampai 12 cm atau 2-3 jari diatas tempat penususkan. Intravena set /Infus set 3. Bersihkan tempat insersi dengan gerakan sirkular dengan menggunakan kapas alkohol 70% selama 60 detik . Penghalas 6. Tahap Pra Interaksi 1. Pasang klem roll sekitar 2-4 cm dan pindahkan klem rol pada posisi ”off” 8. Periksa larutan. Abbocath sesuai ukuran 4. Bengkok (nierbeken) 10. Tahap Kerja 1.

6) Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klarifikasi 7) Privacy klien selama komunikasi dihargai. Letakkan bantalan kasa 2 x 2 diatas tempat insersi dan hubungan kateter dan pasang plester sesuai kebutuhan. Tahap Terminasi 1. Pengertian Memasukkan selang karet atau plastik melalui uretra dan kedalam kandung kemih 2. Jangan menyentuh tempat masuk adaptor jarum 6. Berpamitan dengan pasien 3. lepaskan sarung tangan dan singkirkan alat-alat dan cuci tangan 2. Mengevaluasi hasil tindakan 2. Atur kecepatan aliran sampai tetesan yang tepat permenit 10. 4) Penjelasan yang disampaikan dimengerti klien/keluarganya 5) Selama komunikasi digunakan bahasa yang jelas. Lakukan pungsi vena. Tujuan a. Persiapan a. 5. lepaskan torniqouet dan lepaskan stilet. Menghilangkan distensi kandung kemih b. 8) Memperlihatkan kesabaran . Lepaskan klem rol untuk memulai infus pada kecepatan untuk mempertahankan patensi aliran IV 7. Persiapan pasien 1) Mengucapkan salam terapeutik 2) Memperkenalkan diri 3) Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang prosedur dan tujuan tindakan yang akan dilaksanakan. Tusuk dengan bevel (lubang jarum) mengahadap keatas pada sudut 30-45º Tahan vena dengan meletakkan ibu jari diatas vena 4. tempat dan tindakan yang akan dilakukan) . Tuliskan tanggal dan waktu pemasangan aliran serta ukuran jarum pada balutan 11. penuh empati. jika kandung kemih tidak mampu sepenuhnya dikosongkan 3.3. sopan. Rekatkan plester pada balutan 9. Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula 4. Mencuci tangan * 5. Dengan cepat hubungkan adapter jarum dari perangkat atau selang. Jangan menutup hubungan antara selang IV 8. dan perhatian serta respek selama berkomunikasi dan melakukan tindakan 9) Membuat kontrak (waktu. sistematis serta tidak mengancam. Mendapatkan spesimen urine c. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan* KATETERISASI URINE PADA PRIA 1. Turunkan jarum sampai hampir menyentuh kulit. Rapikan penghalas. Tahan kateter dengan satu tangan. Mengkaji jumlah residu urine. Perhatikan keluarnya darah melalui selang jarum yang menandakan bahwa jarum telah memasuki vena.

Masukkan kateter kedalam uretra kira-kira 10 cm secara perlahan-lahan dengan menggunakan pinset sampai urine keluar. Alat dirapihkan kembali n. Pasien dirapihkan kembali m. Kaki sedikit dibuka. g. Pakaian bagian bawah klien dikeataskan/dilepas. kemudian alat-alat didekatkan ke pasien b. Lepaskan sarung l. Prosedur a. Lepaskan duk. Tindakan bisa dilakukan beberapa kali hingga bersih. Bengkok diletakkan didekat bokong klien f. dengan posisi klien terlentang. lalu bersihkan alat genitalia dengan kapas sublimat dengan menggunakan pinset. Mencuci tangan . Tarik sedikit kateter. Apabila pada saat ditarik kateter terasa tertahan berarti kateter sudah masuk pada kandung kemih i. Persiapan alat 1) Bak instrumen berisi : a) Poly kateter sesuai ukuran 1 buah b) Urine bag steril 1 buah c) Pinset anatomi 2 buah d) Duk steril e) Kassa steril yang diberi jelly 2) Sarung tangan steril 3) Kapas sublimat dalam kom tertutup 4) Perlak dan pengalasnya 1 buah 5) Sampiran 6) Cairan aquades atau Nacl 7) Plester 8) Gunting verband 9) Bengkok 1 buah 10) Korentang pada tempatnya 4. Buka bak instrumen. Ambil kateter kemudian olesi dengan jelly. Pasang pengalas/perlak dibawah bokong klien e. Masukkan Cairan Nacl/aquades 20-30 cc atau sesuai ukuran yang tertulis. Bersihkan genitalia dengan cara : Penis dipegang dengan tangan non dominan penis dibersihkan dengan menggunakan kapas sublimat oleh tangan dominan dengan gerakan memutar dari meatus keluar. Fiksasi kateter k. sambungkan kateter dengan urine bag. Pasien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan. Lalu ikat disisi tempat tidur j. Pasang sampiran c. pakai sarung tangan steril. Cuci tangan d. pasang duk steril. Letakkan pinset dalam bengkok h.b.

Menurut Patricia C Paren. Faktor yang berpengaruh pada kejadian infeksi klien: • Jumlah tenaga kesehatan yang kontak langsung dng pasien • Jenis dan jumlah prosedur invasif • Terapi yang diterima • Lamanya perawatan Penyebab infeksi nosokomial meliputi: Traktus urinarius: ν Pemasangan kateter urine ν Sistem drainase terbuka ν Kateter dan selang tdk tersambung ν Obstruksi pada drainase urine ν Tehnik mencuci tangan tidak tepat Traktus respiratorius: ν Peralatan terapi pernafasan yang terkontaminasi ν Tdk tepat penggunaan tehnik aseptif saat suction ν Pembuangan sekresi mukosa yg kurang tepat ν Tehnik mencuci tangan tidak tepat Luka bedah/traumatik: ν Persiapan kulit yg tdk tepat sblm pembedahan ν Tehnik mencuci tangan tidak tepat ν Tdk memperhatikan tehnik aseptif selama perawatan luka .o. yaitu terkena hama penyakit. pasien dikatakan mengalami infeksi nosokomial jika pada saat masuk belum mengalami infeksi kemudian setelah dirawat selama 48-72 jam klien menjadi terinfeksi Infeksi nosokomial bisa bersumber dari petugas kesehatan. Inos dapat terjadi secara eksogen dan endogen. Maka. yang bukan merupakan flora normal. Infeksi eksogen didapat dari mikroorganisme eksternal terhadap individu. pasien yang lain. alat dan bahan yang digunakan untuk pengobatan maupun dari lingkungan Rumah Sakit Unit perawatan intensif (UPI) merupakan area dalam RS yang berisiko tinggi terkena Inos. Infeksi endogen terjadi bila sebagian dari flora normal klien berubah dan terjadi pertumbuhan yang berlebihan. kata nosokomial artinya "yang berasal dari rumah sakit" kata infeksi cukup jelas artinya. Melaksanakan dokumentasi : 1) Catat tindakan yang dilakukan dan hasil serta respon klien pada lembar catatan klien 2) Catat tgl dan jam melakukan tindakan dan nama perawat yang melakukan dan tanda tangan/paraf pada lembar catatan klien Infeksi Nosokomial Nosokomial berasal dari kata Yunani nosocomium. Alasan ruang UPI berisiko terjadi infeksi nosokomial: • Klien di ruang ini mempunyai penyakit kritis • Peralatan invasif lebih banyak digunakan di ruang ini • Prosedur invasif lebih banyak dilakukan • Seringkali prosedur pembedahan dilakukan di ruang ini karena kondisi darurat • Penggunaan antibiotik spektrum luas • Tuntutan tindakan yang cepat membuat perawat lupa melakukan tehnik aseptik Infeksi iatroigenik merupakan jenis inos yg diakibatkan oleh prosedur diagnostik (ex:infeksi pada traktus urinarius yg terjadi setelah insersi kateter). yang berarti rumah sakit.

Obyek terkontaminasi jika tersentuh oleh benda tidak steril.ν Menggunakan larutan antiseptik yg terkontaminasi Aliran darah: λ Kontaminasi cairan intravena saat penggantian λ Memasukkan obat tambahan dalam cairan intravena λ Perawatan area insersi yg kurang tepat λ Jarum kateter yg terkontaminasi λ Tehnik mencuci tangan tidak tepat Asepsis Asepsis berarti tidak adanya patogen penyebab penyakit. disebut juga tehnik steril. menggunakan cangkir untuk obat. bernapas langsung dengan orang lain ν Perhatian pada tanda dan gejala infeksi ν Pertahankan intake PERAWATAN LUKA (PERAWATAN BALUTAN KERING) A. Tehnik aseptik adalah usaha yang dilakukan untuk mempertahankan klien sedapat mungkin bebas dari mikroorganisme. 4. forsep) Nierbekken . Contoh tindakan: mencuci tangan. 2. 3. Sterilisasi membunuh semua mikroorganisme dan spora. Obyek dinyatakan terkontaminasi jika mengandung/diduga mengandung patogen. mengganti linen. merupakan prosedur untuk membunuh mikroorganisme. Sarung tangan steril Sarung tangan sekali pakai Set balutan ( gunting. Peralatan 1. Asepsis terdiri dari asepsis medis dan asepsis bedah. bersin. pinset. tehnik ini digunakan untuk tindakan invasif. Asepsis bedah. Prinsipprinsip asepsis bedah adalah sebagai berikut: ν Segala alat yang digunakan harus steril ν Alat yang steril akan tidak steril jika tersentuh ν Alat yang steril harus ada pada area steril ν Alat yang steril akan tidak steril jika terpapar udara dalam waktu lama ν Alat yang steril dapat terkontaminasi oleh alat yang tidak steril ν Kulit tidak dapat disterilkan Pencegahan infeksi di rumah: ν Cuci tangan ν Jaga kebersihan kuku ν Gunakan alat-alat personal ν Cuci sayuran dan buah sebelum dimakan ν Cuci alat yang akan digunakan ν Letakkan alat-alat yang terinfeksi pada plastik ν Bersihkan seprei ν Cegah betuk. Asepsis medis dimaksudkan untuk mencegah penyebaran mikroorganisme.

Perhatikan kondisinya. Cuci tangan secara menyeluruh 7. hindari kontaminasi permukaan luar kantung. Inspeksi luka. Usap dengan cara seperti pada no. Letakkan kantung plastik agar mudah terjangkau oleh anda 4. Gunakan kasa baru untuk mengeringkan luka atau insisi. Selimut mandi hanya untuk memajankan area luka. Buka botol larutan antiseptik lalu tuang ke dalam kom steril atau kasa steril 14.pinset dan forsep harus tetap pada nampan steril. Lepaskan sarung tangan dengan menarik bagian dalam keluar. 8. Bersihkan luka dengan larutan antiseptik atau larutan garam fisiologis. Lepaskan sarung tangan dan buang pada tempat yang telah disediakan 22. Jika balutan lengket pada luka. 7. Buka pembungkus kemasan bagian luar dengan hati-hati menyibakkannya ke samping. tutup semua jendela yang terbuka 5. kasa kecil. sejajar pada kulit dan mengarah pada balutan(bila masih terdapat plester pada kulit. 10. Bersihkan dari daerah yang kurang terkontaminasi ke area terkontaminasi 17. Buang balutan kotor pada nierbekken atau kantung plastik. 6. Gunakan kasa terpisah untuk setiap usapan membersihkan. Sisihkan semua alat dan bantu klien kembali pada posisi nyaman 23. . 14. Instruksikan klien agar tidak menyentuh area luka atau peralatan steril. Pegang kasa yang dibasahi dalam larutan dengan forsep. B. Buka nampan balutan steril. integritas jahitan dan karakteristik drainase. Buang pada Nierbekken. Angkat balutan secara perlahan dengan menggunakan forsep atau pinset 10. 16 18. (palpasi bila perlu. Lepaskan plester dengan melepaskan ujung dan menariknya dengan perlahan. letak drain. Pakai sarung tangan steril 15. dengan bagian tangan non dominan yang tidak akan menyentuh bahan steril) 16.5. Jangan dioleskan di atas tempat drainase 19. Tutup ruangan dengan tirai. 13. bila di pesankan. Gunakan sarung tangan bersih sekali pakai dan lepaskan plester 8. Beri salep antiseptik. Observasi karakteristik dan jumlah drainase pada balutan 12. Pasang balutan steril kering pada insisi atau letak luka 20. 11. Siapkan peralatan yang diperlukan di meja (jangan membuka peralatan) 3. 13.Plester Aseton Kantung plastik untuk sampah Selimut mandi Prosedur 1. Gunakan plester di atas balutan 21. bantalan kasa Balutan kasa ekstra dan surgipad atau bantalan ABD Kom untuk larutan antiseptik atau larutan pembersih Salep anti septik (jika diperlukan) Larutan pembersih yang diresepkan dokter Larutan garam fisiologis atau H2O steril 11. gunting. 6. Catat pada catatan perawat Menggunakan sarung tangan steril 1) 2) Cuci tangan secara menyeluruh. Bantu klien pada posisi nyaman. dapat dibersihkan dengan aseton) 9. Kasa besar. lepaskan dengan memberikan larutan garam faal atau air steril 11. Jelaskan prosedur kepada klien 2. Balutan. gunakan tehnik seperti pada pembersihan. 12. Ambil kantung plastik dan buat lipatan di atasnya. Cuci tangan 24. 9.

12x12 inci. Pastikan juga bahwa ibu jari dan jari-jari pada posisi yang tepat. Manset biasanya terlepas setelah pemasangan. . 7) Dengan tangan dominan yang telah menggunakan sarung tangan. c) Menambahkan alat-alat ke dalam area steril Ketika menambahkan alat-alat steril ke area steril. kuat dan kering untuk menyiapkan alat steril. Ketika membuka bungkusan steril. 1) 2) Mencuci tangan. pertahankan sarung tangan pada permukaan dalam pembungkus. Pililah permukaan yang datar. et al (1999) adalah sebagai berikut : a) 1) 2) 3) 4) Menata area steril Mencuci tangan. sehingga saat Apabila ingin menambah ala-alat yang steril. cakupkan kedua tangan anda. Jangan membiyarkan sesuatu yang tidak steril menyentuh isi bungkusan steril. 6) Dengan hati-hati tarik sarung tangan pada tangan dominan. b) 1) 2) 3) 5) Membuka bungkusan steril Mencuci tangan. pegang tepi manset sarung tangan untuk tangan dominan.3) Pegang kemasan bagian dalam dan letak pada permukaan yang datar dan bersih tepat diatas ketinggian pergelangan tangan. Jangan biyarkan jari-jari dan ibu jari sarung tangan dominan menyentuh bagian tangan non dominan yang terbuka. hal yang harus diperhatikan adalah menjaga agar tidak terjadi kontaminasi. jangan sampai menyentuh objek yang steril atau areah yang steril. alat-alat dibungkus rapat agar tidak terkontaminasi . Sentuh hanya pada permukaan dalam sarung tangan. Pertahankan ibujari tangan non dominan abduksi ke belakang. 9) Manakala sarung tangan kedua telah terpasang. Setiap sarung tangan mempunyai manset kurang lebih 5 cm. Adapun prosedur-prosedur steril perawatan luka menurut Ellis. Buka kemasan. Pastikan untuk hanya menyentuh bagian yang steril. Peganglah hanya pada sisi luar penbungkusnya. lebarkan manset dan pastikan bahwa manset tidak menggulung pada pergelangan tangan. dibuka alat-alat yang sudah steril tersebut tidak akan terkontaminasi. masukan jari-jari tangan manset sarung tangan kedua. Membuka pembungkus tanpa menyentu area steril. 4) Identifikasi tangan kanan dan kiri. dengan luas kurang lebih Sebelum dilakukan sterilisasi. kenakan sarung tangan pada tangan dominan terlebih dahulu. 5) Dengan ibu jari dan 2 jari lainnya dari tangan non dominan. 8) Dengan hati-hati tarik sarung tangan kedua pada tangan non dominan. tempatkan ke sisi area yang steril.

toksisitas ( keracunan). Eksresi sisa Ada 2 efek obat yakni efek teurapeutik dan efek samping. Bila alat-alat tersebut besar atau berat atau secara hati-hati pada bidang steril atau bisa menggunakan korentang steril . Obat yang digunakan sebaiknya memenuhi berbagai standar persyaratan obat diantaranya kemurnian. Adapun faktor yang mempengaruhi reaksi obat yaitu : 1. penyakit iatrogenic. Tuangkan sedikit cairan. d) 1) 2) 3) 4) 5) Menambahkan cairan ke dalam area steril Mencuci tangan. misalnya betadin kedalam tempat pembuangan sebelum menuangkannya Tuangkan cairan ke dalam wadah steril.selain kemurnian. anlagesik. 4) Jaga agar tangan tidak menyentu bidang steril. melalui suatu reaksi obat.efek terapeutik adalah obat memiliki kesesuaian terhadap efek yang diharapkan sesuai kandungan obatnya seperti paliatif ( berefek untuk mengurangi gejala). Tuangkan secara perlahan-lahan untuk mencegah terjadinya percikan. Reaksi obat dapat dihitung dalam satuan waktu paruh yakni suatu interval waktu yang diperlukan dalam tubuh untuk proses eliminasi sehingga terjadi pengurangan konsentrasi setengah dari kadar puncak obat dalam tubuh. dan efektifitas B. Absorbsi obat 2. kemudian nama dagang ( trade mark) merupakan nama yang keluar sesuai dengan perusahaan atau pabrik dalam menggunakan symbol seperti ecortin. dan lain-lain. kedalam wadah steril. bufferin. Distribusi obat 3. kemudian ada nama resmi yang memiliki arti nama di bawah lisensi salah satu publikasi yang resmi. kegagalan dalam pengobatan. tuangkan kira-kira 6-8 inchi di atasnya. yaitu suatu keadaan yang dimiliki obatkarena unsure keasliannya. Jagalah agar tidak bersentuhan langsung dengan area steril. Metabolisme obat 4. PROSEDUR PEMBERIAN OBAT A. REAKSI OBAT Sebagai bahan atau benda asing yang masuk kedalam tubuh obat akan bekerja sesuai proses kimiawi. nama kimiawi merupakan nama yang berasal dari susunan zat kimianya seperti acetylsalicylic acid atau aspirin. obat juga harus memiliki bioavailibilitas berupa keseimbangan obat. keamanan. dan bahkan kemungkinan dapat membahayakan seperti adanya alerg. empirin. . dan lain-lain. Pada aspek obat ada beberapa istilah yang penting kita ketahui diantaranya: nama generic yang merupakan nama pertama dari pabrik yang sudah mendapatkan lisensi. tidak bias diramal.3) Tempatkan alat-alat tersebut pada bidang yang steril dan jaga agar tangan tidak menyentu bidang steril. kuratif ( memiliki efek pengobatan) dan lain-lain. Sedangkan efek samping adalah dampak yang tidak diharapkan. PENGERTIAN OBAT Obat merupakan sebuah substansi yang diberikan kepada manusia atau binatang sebagai perawatan atau pengobatan bahkan pencegahan terhadap berbagai gangguan yang terjadi di dalam tubuh. tidak ada pencampuran dan potensi yang baik.

Young Da = n/ n +12 X Dd (mg) tidak untuk anak > 12 tahun 2. Tepat waktu Pemberian obat harus benar-benar sesuai dengna waktu yang dprogramkan . yaitu berdasarkan luas permukaan tubuh dan berat badan. 2. Fried Da = m/150 x Dd ( mg ) 5. 1. PERHITUNGAN DOSIS OBAT Dosis pada Bayi dan Anak Balita Pembagian dosis obat pada bayi dan anak balita dibedakan berdasarkan 2 standar. alat untuk membelah tablet dan lain-lain sehingga perhitungan obat benar untuk diberikan kepaad pasien. karena berhubungan dengan kerja obat yang dapat menimbulkan efek terapi dari obat. nomor register. Tepat Dosis Untuk menghindari kesalahan pemberian obat. Gaubius Da = 1/12 + Dd ( mg ) ( untuk anak sampai umur 1 tahun ) Da = 1/8 + Dd ( mg ) ( untuk anak 1-2 tahun ) Da = 1/6 + Dd ( mg ) ( untuk anak 2-3 tahun ) Da = 1/ 4 + Dd ( mg ) ( untuk anak 3-4 tahun ) Da = 1/3 + Dd ( mg ) ( untuk anak 4 – 7 tahun ) 4. Sagel Da = (13 w + 15)/100 + Dd ( mg ) ( umur 0 – 20 minggu ) Da = ( 8w + 7)/100 + Dd ( mg ) ( umur 20 – 52 minggu ) Da = ( 3w+ 12)/100 + Dd ( mg ) ( umur 1-9 minggu ) 6. gelas ukur. dan saat mengembalikan ketempat penyimpanan. 3. PERSIAPANN PEMBERIAN OBAT Ada 6 persyaratan sebelum pemberian obat yaitu dengan prinsip 6 benar : 1. Tepat pasien Obat yang akan diberikan hendaknya benar pada pasien yang diprogramkan dengan cara mengidentifikasi kebenaran obat dengan mencocokkan nama. spuit atau sendok khusus. alamat dan program pengobatan pada pasien.C. 6. Tepat Obat Sebelum mempersipakan obat ketempatnya bidan harus memperhatikan kebenaran obat sebanyak 3 kali yaitu ketika memindahkan obat dari tempat penyimpanan obat. 4. Tepat cara pemberian obat 5. Berdasarkan area permukaan tubuh : Dosis anak = area permukaan tubuh anak/ 1. saat obat diprogramkan.7 mm2 X dosis dewasa normal . Tepat pendokumentasian D. Dilling Da = n / 20 + Dd ( mg ) 3. Clark Da = w anak/ w dewasa x Dd 7. maka penentuan dosis harusdiperhatikan dengan menggunakan alat standar seperti obat cair harus dilengkapi alat tetes.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->