P. 1
Makalah Fiqih II

Makalah Fiqih II

|Views: 98|Likes:
Published by mubarokniam

More info:

Published by: mubarokniam on Oct 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2012

pdf

text

original

RAHN

Makalah ini di susun guna memenuhi tugas Mata Kuliah : Fiqih II Dosen Pengampu : Agus Khumaedi,M Ag

Disusun Oleh :

Shoqiroh

:

2021 211 155

PROGRAM STUDI S1 TARBIYAH PAI REGULER EKSTENSI SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN TAHUN 2012-2013

[Type text]

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pengertian Rahn (gadai) dalam Islam dan dalam hukum perdata sama-sama bermakna tolongmenolong, namun ada beberapa hal yang membedakan diantara keduannya salah satunya yakni : Rahn dalam Islam mengandung arti tolong-menolong yang dilakukan secara suka rela tanpa mencari keuntungan, sedangkan rahn menurut hukum perdata yakni disamping berprinsip tolongmenolong tetapi juga menarik keuntungan dengan cara menarik bunga atas sewa modal yang telah ditetapkannya. B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian Rahn ? 2. Apasajakah yang menjadi Dasar hukum Rahn ? 3. Apasaakah Rukun dan Syarat Rahn ? 4. Bagaimanakah Sifat Rahn ? 5. Apa hukum Rahn dan adakah dampak dari Rahn ? 6. Apasajakah Syarat-syarat Rahn ? 7. Adakah perbedaan dan persamaan antara Rahn dan Gadai ?

C. TUJUAN PEMBAHASAN

1. Untuk mengetahui pengertian Rahn 2. Untuk mengetahui dasar hukum Rahn 3. Untuk mengetahui Rukun dan Syarat Rahn 4. Untuk mengetahui Sifat Rahn 5. Untuk mengetahui Hukum dan Dampak Rahn 6. Untuk mengetahui Syarat-syarat Rahn 7. Untuk mengetahui Persamaan dan Perbedaan antara Rahn dan Gadai

[Type text]

BAB II PEMBAHASAN

A.

Pengertian Rahn
Secara etimologi Rahn berarti tetap atau lama, sedangkan menurut terminologi

syara’nya adalah Penahanan terhadap suatu barang dengan hak sehingga dapat dijadikan sebagai pembayaran dari barang tersebut. a. Menurut Ulama Syafi’iyah Menjadikan suatu benda sebagai jaminan utang yang dapat dijadian pembayaran ketika berhalangan dalam membayar utang1

B. Dasar hukum Rahn
1. Al-Qur’an Ayat al-Qur’an dapat dijadikan sebagai dasar hukum perjanjian gadai dalam surat (AlBaqarah : 282-283) 2. As-Sunnah Seperti dijelaskan oleh Bukhori Muslim “Dari siti Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW pernah membeli makanan dengan menggadaikan baju besi” 3. Ijtihad Berkaitan dengan pembolehan perjanjian gadai ini, Jumhur Ulama juga berpendapat boleh dan mereka tidak pernah berselisih pendapat mengenai hal ini2

C. Rukun dan Syarat Rahn
Rukun akad Rahn terdiri atas : 1. Rahin (yang menyerahkan barang) 2. Murtahin (Penerima barang) 3. Marhun / Rahn (Barang yang digadaikan) 4. Marhun Bih (Hutang)
1 2

Rahmad Syafe’i, Fiqih Muamalat (Bandung:Pustaka Setia 2004) hal 159-160

[Type text]

5. Ijab dan Qabul Syarat utama yang harus terdapat dalam diri Rahin dan Murtahin adalah Ahliyyah yakni harus berakal dan sudah Tamyiz, Ijab qabul yang terdapat dalam aqadrahn tidak dapat digantungkan (Muallaq)dengan syarat tertentu yang bertentagan dengan substansi akad rahn, dan ia tidak boleh disandarkan di masa waktu mendatang Untuk Marhun bih, Syafi’iyah dan Hanabilah menetapkan tiga syarat utama yakni : 1. Ia harus berupa utang yang tetapdan wajib untuk ditunaikan 2. Utang itu harus bersifat mengikat 3. Nominal utang tersebut diketahui secara jelas dan pasti Marhun harus bisa ditransaksikan, dalam arti, ia ada ketika akad sedang berlangsung, dan bisa diserahterimakan.selain itu harus berupa harta (mal). Ulama fiqih sepakat manfaat tidak bisa dijadikan sebagai marhun, karena ia tidak berupa harta menurut Hanafiyah, atau ia tidak bisa diserahterimakan ketika akad berlangsung. Ketika Murtahin menahan Marhun maka ia berkewajiban untuk menjaganya sebagaimana ia menjaga harta kekayaan pribadinya.Ulama sepakat bahwa biaya yang terkait dengan marhun, menjadi tanggung jawab rahin sebagai pemilik barang, akan tetapi, Ulama berbeda pendapat tantang biaya yang wajib ditanggung oleh rahin. Hanafiyah mengatakan, biaya yang terkait langsung dengann kemaslahatan marhun, mejadi tanggung jawab rahin karena ia adalah pemiliknya.sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk menjaga marhun dari kerusakan, menjadi tanggung jawab murtahin, karena ia yang menahan dan menjaganya Rahin harus menanggung biaya makan, minum, upah, penggembala atas hewan ternak yang dijadikan sebagai marhun.Murtahin berkewajiban atas biaya penjagaan Marhun seerti penyewaan kandang beserta pejaga yang bertugas menjaganya.namun beberapa ulam berbeda pendapat :  Menurut Malikiyah, Syafi’iah, dan Hanabilah segala biaya yang terkait dengan marhun, menjadi tanggung jawab rahin. Baik biaya yang digunakan untuk merawat atau menjaga marhun.jika rahin itu tidak berkenan untuk menanggungnya, maka murtahin boleh mengeluarkan biaya yang diperlukan.setelah itu, murtahin berhak untuk menagih biaya tersebut kepada rahin.

[Type text]

 Menurut Hanafiyah rahin tidak memiliki hak untuk memanfaatkan marhun,kecuali atas izin murtahin  Ulama Malikiyah memiliki pandangan yang lebih ekstrim, rahin tidak memiliki hak untuk memafaatkan marhun.  Berbeda dengan Syafi’iyah rahin ,memiliki hak untuk memanfaatkan marhun, sepajang tidak mengurangi nilai ekonomis yang melekat di dalamnya, seperti mengendarai kendaraan, menempati rumah dan lainnya.  Menurut Hanafiyah Murtahin, tidak memiliki hak untuk memanfaatkan marhun tanpa seizin rahin, karena ia hanya memiliki hak untuk menahan, bukan memanfaatkan.jika rahin memberikan izin, maka diperbolehkan  Begitu juga dengan Malikiyah, jika hutang itu berupa pinjaman (qardh), maka memanfaatkan marhun identik dengan riba. Di mana, jika ada pinjamam yang memberikan nilai manfaat, maka ia adala riba3

D. Sifat Rahn
Secara umum Rahn dikategorikan sebagai akad yang bersifat derma sebab apa yang diberikan penggadai (rahin) kepada penerima gadai (Murtahin) tidak ditukar dengan sesuatu.yang diberikan Murtahin kepada rahin adalah utang bukan penukar atas barang yang digadaikan. Rahn juga termasuk akad yang bersifat Ainiyah, yaitu dikatakan sempurna sesudah menyerahkan benda yang dijadikan akad, sepaerti Hibah, pinjam – meminjam, titipan, dan Qiradh.Semua termasuk akad derma yang dikatakan sempurna setelah memegang.

E. Hukum Rahn dan Dampaknya
Para Ulama sepakat bahwa Rahn dibolehkan, tetapi tidak diwajibkan karena gadainya jaminan jika kedua belah pihak tidak mempercayai4 Sedangkan secara umum hukum rahn terbagi menjadi 2 yaitu : Rahn sahih dan rahn ghairu sahih (fasid), dikatakn fasid karena tidak memenuhi persyaratan. Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa rahn ghairu sahih terbagi menjadi dua : 
3 4

Batal, tidak memenuhi persyaratan pada asal akad, seperti aqid tidak ahli

Dimyuddin Djuwaini, Fiqih Muamalat, (Yogakarta : Pustaka Pelajar, 2008) hal 265 - 267 Rachmat Syafe’i, Op cit, hal 160 - 161

[Type text]

Fasid, tidak terpenuhinya persyaratan pada sifat akad seperi borg berkaitan dengan barang lain

1.

Hukum rahn sahih atau rahn lazim Kelaziman rahn bergantung pada rahin, bukan murtahin. Rahn tidak mempunyai

kekuasaan untuk membatalkannya, sedangkan murtahin berhak membatalkannya kapan saja. Selain itu menurut Jumhur Ulama, rahn baru dipandang sah bila borg sudah dipegang oleh murtahin. Sedangkan menurut Ulama Malikiyah cukup dengan adanya ijab dan qabul, kemuudian meminta kepada rhin untuk menyerahkan borg.

2.

Dampak rahn sahih Jika akad rahn telah sempurna, yakni rahn menyerahkan borg kepada murtahin, terjadilah

beberapa hukum : a. Adanya utang untuk rahn b. Hak menguasai borg c. Menjaga barang gadaian d. Penbiayaan atas borg e. Pemanfaatan gadai f. Tasharuf (mengusahakn) rahn g. Tanggung jawab atas borg h. Menjual rahn i. Penyerahn borg

3.

Hukum rahn fasid Jumhur Ulama sepakat bahwa yang dikategorikan tidak sah dan yang menyebabkan akad

batal atau rusak yakni tidak adanya dampak hukum pada borg. Dengan demikian, murtahin tidak memiliki hak untuk menahannya.Begitu pula rahin diharuskan meminta kembali borg.jika murtahin menolak sampai borg itu rusak maka murtahin dianggap sebagai perampas.5

F. Syarat – syarat Rahn
5

Rachmat Syafe’i, Op cit, hal 170-176

[Type text]

Dalam Rahn disyaratkan beberapa syarat yaitu :

1. Persyaratan Aqid Kedua orang yang akan akad harus memenuhi kriteria Al – Ahliyah. Menurut Ulama Syafi’iyah, Ahliyah adalah orang yang telah sah untuk jual – beli, yakni berakal dan Mumayiz, tetapi tidak disyaratkan harus bailigh.dengan demikian, anak kecil yang sudah Mumayiz, dan orang yang bodoh berdasarkan izin dari walinya dibolehkan melakukan rahn. Menurut Hanafiyah, Ahliyah dalam rahn seperti pengertian ahliyah dalam jual- beli dan derma.Rahn tidak boleh dilakukan oleh orang yang mabuk, gila, bodoh, atau anak kecil yang belum Baligh

2. Syarat Shighat Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa shighat dalam rahntidak boleh memakai syarat atau dikaitkan dengan sesuatu.Hal ini karena, sebab rahn jual –beli, jika memakai syarat terentu, syarat tersebut batal dan rahn tetap sah. Adapun Menurut selain Hanafiyah : A. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa syarat rahn ada 3 :  Syarat Shahih  Mensyaratkan sesuatu yang tidak bermanfaat  Syarat yang merusak akad B. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa syarat rahn ada 2 :  Rahn Sahih  Rahn Fasid C. Ulama Hanabilah berpendapat seperti pendapat Ulama Malikiyah yakni terbagi  Rahn Sahih  Rahn Fasid

menjadi 2 :

3. Syarat Marhun Bih (Utang)  Menurut Ulama Hanafiyah :  Marhun Bih hendaklah barang yang wajib diserahkan  Marhun Bih memungkinkan dapat dibayarkan  Hak atas Marhun bih harus jelas

[Type text]

 Meurut Hanabilah dan Syafi’iyah :  Berupa utang yang tetap dan dapat dimanfaatkan  Utang harus lazim pada waktu abad  Utang harus jelas dan diketahui oleh rahin dan murtahin

4. Syarat Marhun (Borg) Marhun adalah Barang yang dijadikan jaminan oleh rahin.Ulama Hanafiyah mensyaratkan marhun antara lain : a. Dapat diperjual belikan b. Bermanfaat c. Jelas d. Bisa diserahkan e. Milik rahin f. Tidak bersatu dengan barang lain g. Dipegang oleh rahin h. Harta yang tetap dan dapt dipindahkan

5.

Syarat kesempurnaan Rahn (Memegang barang) Secara umum Ulama fiqih sepakat bahwa memegang atau menerima barang adalah

syarat dalam rahn yang disandarkan dalam surat Al-Baqarah : 283 Jumhur Ulama selain Malikiyah berpendapat bahwa memegang bukan syarat sah rahn tetapi syarat lazim.Dengan demikian , Jika barang belum dipegang oleh murtahin, akan bisa dikembangkan lagi, begitu pula sebaliknya. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa memegang marhun adalah syarat kesempurnaan, tetapi bukan syarat sah atau lazim.Menurut Ulama Malikiyah, akad dipandang lazim dengan adanya ijab dan qabul.Akan tetapi, murtahin harus meminta kepada rahin barang yang digadaikan, jika tidak meminta borg maka rahn dianggap batal.

6. Beberapa hal yang berkaitan dengan syaat rahn Beberapa hal yang berkaitan dengan syarat rahn antara lain : a. Borg harus utuh b. Borg yang berkaitan dengan benda lainnya c. Gadai Utang d. Gadai barang yang didagangkan atau dipinjamkan
[Type text]

e. Menggadaikan barang pinjaman f. Gadai tirkah (Harta peninggalan jenazah) g. Gadai barabg yang cepat rusak h. Menggadaikan kitab6

G. Persamaan dan Perbedaan antara Rahn dan Gadai
Merinci persamaan dan perbedaan antara rahn dan gadai diuraikan seagai berikut : Persamaan : 1. 2. 3. 4. 5. Hak gadai berlaku atas pinjaman uang Adanya agunan sebagai jaminan utang Tidak boleh mengambil manfaat dari barang yang digadaikan Biaya yang digadaikan ditanggung oleh pemberi gadai Apabila batas waktu pinjaman uang telah habis, arang yang digadaikan boleh dijual atau dilelang Perbedaan : 1. Rahn dalam hukum Islam dilakukan secara suka rela, sedangkan menurut hukum perdata disamping prinsip tolong menolong juga menarik keuntungan dengan cara menarik bunga atas sewa modal yang telah ditetapkan 2. Dalm hukum perdata hak gadai hanya berlaku pada benda yang bergerak, sedangkan dalam Islam seluruh harta baik yang bergerak maupun yang tidak 3. Di Indonesia penguasaan atas barang dijadikan jaminan dibedakan menjadi gadai dan fidusia. Gadai, penguasaan atas barang yang dijadikan jaminan diberikan kepada penerima gadai dan ha milik yang dijadikan jaminan tetap pada pemberi gadai, sedang findusia, penguasaan atas barang yang dijadikan jaminan diberikan kepada pemberi gadai yang juga sebagai pemilik barang yang digadaikan7

6 7

Rachmat Syafe’i, Op cit, hal 162-169

[Type text]

BAB III PENUTUP

[Type text]

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->