P. 1
Makalah Herpes

Makalah Herpes

|Views: 225|Likes:

More info:

Published by: Asmawatifitrye Junaidi Sorenggana on Oct 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/13/2015

pdf

text

original

GROUP ASSIGMENT

INTEGUMEN SYSTEM

NURSING PROGRAM MEDICAL FACULTY BRAWIJAYA UNIVERSITY MALANG 2011-2012

KELOMPOK 1 :
TRIAN AGUS HARTANTO DHITA RUSMAYATI EDWINA NARULITASARI IRMA KURNIAWATI MEIDA UNTARI ASMAWATI FITRIANA J DIKA ARINI P UULUL ALBAB DANASTRI DANISWARI METI VERDIAN YUNISA

I.

TRIGGER
Ny. A ( 35 th ) datang ke Poliklinik kolit mengeluh badannya terasa meriang stelah seminggu yang lalu punya hajatan menikahkan anaknya. Ny. A mengeluh 3 hari yang lalu muncul bula di punggung sebelah kiri dengan diameter 3-5 mm berisi cairan bening bergerombol dari punggung atas sampai bawah. Ny. A mengeluh bulanya terasa nyeri dan panas. Dokter memberikan obat Aciclovir salep dan Asam mefenamat 3x500mg. Kemudian dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan serologi. Ada riwayat varicella.

II.

FIRST DISCUSSION RESULT
A. Clarity Unfamiliar Term Istilah :  Bula Lepuhan suatu lesi kulityang berbatas jelas mengandung cairan, meninggi,, biasanya lebih dari 5 mm (dalam diameter) atau struktur anatomis bulat dan menonjol. Lesi : diskontinuitas jaringan patologis atau traumatic atau hilangnya fungsi suatu bagian.  Aciclovir Nukleosida purin sintetik dengan aktifitas selektif terhadap virus herpes simplek. Digunakan dalam pengobatan infeksi virus herpes genital dan mumokutanus.  Pemeriksaan serologi Suatu pemeriksaan mengenai reaksi antigen-antibodi in vitro  Asam mefenamat Dapat menghilangkan nyeri akut dan kronik, ringan sampai sedang sehubungan dengan sakit kepala, sakit gigi, dismenore primer, termasuk nyeri karena trauma, nyeri sendi, nyeri otot, nyeri sehabis operasi, nyeri pada persalinan.  Varicella Cacar air

Masalah Ny. A menderita penyakit herpes zoster

B. Define The Problem 1) Apa penyebab bula ? 2) Penyakit apa saja yang ditandai dengan munculnya bula ? 3) Apa saja bentuk sediaan Aciclovir ? 4) Apa yang harus dipersiapkan perawat untuk pemeriksaan serologi ? 5) Apa yang menjadi informasi pemeriksaan serologi ? 6) Efek samping apa yang timbul dari pemeriksaan serologi ? 7) Penyakit apa saja yang memerlukan pemeriksaan serologi ? 8) Bagaimana proses pemeriksaan serologi ? 9) Apa tanda-tanda / gejala varicella ? 10) Apa hubungan antara riwayat varicella dengan penyakit Herpes ? 11) Bagaimana diagnose keperwatan terhadap penyakit herpes ? 12) Bagaimana hubungan daya tahan tubuh Ny. A dengan keluhankeluhan yang dideritanya ?

C. Brainstorm Possible Hypothesis or Explanation 1) Kurangnya kebersihan diri terutama kebersihan kulit bekas penyakit terdahulu, respon daya tahan tubuh/antibody terhadap penyakit/benda asing 2) Cacar air, dan herpes 3) Saalep,tablet dan cairan intravena 4) Pengetahuan perawat untuk menjelaskan bagaimana proses dan tujuan dilaksanakannya serologi. Persiapan alat, mental pasien, persetujuan, dan fisik pasien. 5) Perbandingan antara jumlah dari kekuatan antigen/antibody dengan benda asing pada darah. 6) Rasa tidak nyaman pada pasien karena pemeriksaan serologi merupakan tindakan flebotomy yang dapat merusak jaringan kulit. 7) Cacar air, herpes, HIV/AIDS, alergi 8) Preanalitik analitik postanalitik

9) Gejala cacar air muncul 12 sampai 14 hari setelah terpapar terinfeksi. Selama periode inkubasi tujuh sampai 17 hari, penderita terlihat dan merasa sehat dan tidak bisa menulari orang lain. Setelah masa inkubasi, tiba-tiba penderita akan mengalami tanda-tanda umum

penyakit cacar seperti flu, demam, merasa tidak nyaman, sakit kepala, lelah, sakit punggung, mual, muntah, dan terkadang diare. Beberapa hari kemudian, gejala cacar air berupa ruam muncul sebagai karakteristik datar, bintik-bintik merah (lesi). Dalam satu atau dua hari, banyak dari lesi berubah menjadi lepuh kecil berisi cairan jernih (vesikel) dan kemudian dengan nanah (pustula). Ruam muncul pertamadi tangan wajah dan lengan, dan kemudian pada tubuh. Ini biasanya paling nyata pada telapak tangan dan telapak kaki. Lesi juga berkembang dalam selaput lendir hidung dan mulut. Distribusi lesi merupakan ciri khas cacar dan cara utama untuk mendiagnosa penyakit. 10) Riwayat varicella cacar air aktif lagi daya tahan tubuh menurun resistensi virus herpes zoster virus

virus berevolusi

Bula (nyeri+panas) 11) Kerusakan integritas kulit Gangguan rasa nyaman Nyeri akut Resiko infeksi

12) Daya tahan menurun menyebabkan virus varicella kembali aktif dan menimbulkan penyakit herpes zoster.

D. Arrange explanation into a tentative solution E. Define The Learning Objectives 1) Jelaskan tentang penyakit herpes ! 2) Jelaskan tentang jenis penyakit herpes ! 3) Jelaskan tentang tanda dan gejala penyakit herpes ! 4) Jelaskan tentang cara mencegah penyakit herpes ! 5) Jelaskan tentang cara penyembuhan penyakit herpes ! 6) Jelaskan tentang patofisiologi virus herpes ! 7) Jelaskan tentang etiologi virus herpes ! 8) Buatlah asuhan keperawatan untuk penyakit herpes !

III.

SECOND DISCUSSION RESULT
1) Definisi

 

Penyakit herpes adalah radang kulit yang ditandai dengan pembentukkan gelembung-gelembung berkelompok. Herpes adalah infeksi yang sangat umum. Hal ini disebabkan oleh dua virus yang berbeda tetapi terkait erat. Virus herpes simplex virus tipe 1 (HSV-I) dan herpes simplex virus tipe 2 (HSV-II). Mereka tetap dalam tubuh untuk hidup dan dapat menghasilkan gejala yang dating dan pergi. Kedua bentuk herpes dapat menginfeksi daerah mulut, area genital, atau keduanya.

Penyakit herpes merupakan suatu radang kulit yang disebabkan oleh virus yang merupakan makhluk setengah hidup dan berkembang biak dari bahan-bahan sel makhluk hidup lainnya. Untuk menghindari serbuan dari system kekebalan tubuh, dia akan masuk ke serabut syaraf dan membuat dirinya dalam keadaan tidak aktif. Akibatnya system kekebalan tubuh akan sulit mendeteksinya. Meski ada obatnya, akan tetapi akan sulit untuk menyembuhkannya kerena herpes berpotensi mengalami raektivasi (kembali membelah). Terdapat beberapa kondisi yang bisa memicu terjadinya rektivasi herpes, diantaranya adalah :stress, kelelahan yang berlebihan dan menstruasi. Penyakit herpes pun sangat bervariasi. Bila dalam keadaan akut bisa menyebabkan perasaan kulit sangat nyeri dan terbakar atau sebaliknya, pasien tidak tahu sama sekali bila dirinya telah terjangkit virus herpes karena dalam beberapa kondisi bersifat silent.

Herpes: radang kulit yang ditandai dengan pembentukan gelembung-gelembung berkelompok.gelembung-gelembung ini berisi air pada dasar peradangan.

Herpes simpleks: Infeksi akut yang disebabkan oleh virus Herpes Simpleks(virus Herpes Hominis) tipe I atau tipe II yang ditandai oleh adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan aneritematosa pada daerah dekat

mukokutan,sedangkan infeksi dapat berlangsung baik primer maupun rekurens.

Herpes

zoster

:

infeksi

virus

akut

pada

bagian

dermatoma(terutama dada dan leher) dan saraf,disebabkan oleh virus Varicella zoster.Gejala yg khas ditandai adanya nyeri radikuler unilateral serta timbulnya lesi vasikuler yang terbatas pada dermatoma yang dipersarafi serabut saraf spinal maupun ganglion serabut saraf sensorik dari nervus kranialis.Terutama terjadi pada orang tua dan infeksi ini merupakan reaktivasi virus Varicella Zoster dari infeksi endogen yang telah menetap dalam bentuk laten setelah infeksi primer oleh kulit.  Virus herpes merupakan sekelompok virus yang termasuk dalam famili herpes viridae yang terdiri dari dua jenis virus yaitu HSV-I dan HSV-II dimana keduanya mempunyai morfologi yang identik dan dapat bersifat laten dalam sel hospes setelah infeksi primer untuk periode yang lama bahkan seumur hidup penderita.  Virus tersebut tetap mempunyai kemampuan untuk mengadakan reaktivasi kembali sehingga dapat terjadi infeksi yang rekuren.

2) Jenis penyakit herpes Secara umum herpes dibagi menjadi 2 jenis, yaitu: a. Herpes simplex Merupakan infeksi akut yang disebabkan oleh human herpes virus tipe 1 dan 2 ditandai denagan vesikel-vesikel kecil berisi cairan pada kulit atau membran mukosa disertai dasar yang eriteminosa dan meninggi dapat berupa infeksi primer atau rekuren akibat reaktivasi infeksi laten. Pada herpes simplex nyeri yang dirasakan timbul akibat terkena benda asing dari luar misalnya air mani atu air liur (saliva). Herpes simplex sendiri memiliki jenis berdasarkan letaknya, yaitu: Herpes genetalia Herpes genetalia Herpes d daerah bibir dan mulut

b. Herpes zoster Merupakan infeksi akut unilateral dan swasirna pada ganglia serebral, ganglia radix posterior, dan saraf tepi dalam distribusi segmental karena reaktivasi infeksi human herpes virus 3 pada

individu yang memiliki kekebalan parsialpasca vericella yang pernah dialaminy, ditandai dengan kelompokan vesikel kecil-kecil pada daerah kulit sepanjang jalur saraf yang terkena disertai neuralgia. Pada herpes zoster nyeri yang dirasakan terus menerus walaupun tidak mendapat rangsangan dari luar. Herpes zoster sendiri memiliki jenis berdasarkan letaknya, yaitu: 1. Herpes zoster oftalmikus Herpes zoster oftalmikus merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf dari cabang ophtalmicus saraf trigeminus (N.V), ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit. Infeksi diawali dengan nyeri kulit pada satu sisi kepala dan wajah disertai gejala konstitusi seperti lesu, demam ringan. Gejala prodromal berlangsug 1 sampai 4 hari sebelum kelainan kulit timbul. Fotofobia, banyak kelar air mata, kelopak mata bengkak dan sukar dibuka. 2. Herpes zoster fasialis Herpes zoster fasialis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf fasialis (N.VII), ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit
3. Herpes zoster brakialis

Herpes zoster brakialis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai pleksus brakialis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit. 4. Herpes zoster torakalis Herpes zoster torakalis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai pleksus torakalis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit. 5. Herpes zoster lumbalis Herpes zoster lumbalis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai pleksus lumbalis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit. 6. Herpes zoster sakralis Herpes zoster sakralis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai pleksus sakralis yang ditandai erupsi herpetik unilateral

pada kulit. 3) Tanda dan gejela  Gejala penyaki herpes sama kayak penyakit flu yakni dengan gejala pertama suhu badan meningkat, sakit pada

kerongkongan, pusing, kelelahan dan sebagainyayang umum pula terjadi pada orang demam. Pada tahap kedua akan muncul lepuhan-lepuhan kecil yang berderet-deret pada permukaan kulit yang disertai rasa panas, nyeri dan gatal, yang kadang sangat menyakitkan dan tidak tertahankan untuk tidak menggaruknya.  Munculnya gejala prodormal : o nyeri radikuler, o parestesia, o malese, o nyeri kepala dan o demam, biasanya terjadi 1-3 minggu sebelum timbul ruam dikulit dan pada anak-anak jarang didahului gejala prodormal  Lesi kulit, lokalisasinya biasanya unilateral dan jarang melewatii garis tengah tubuh. Lokasi yang sering dijumpai yaitu pada dermatom T3 hingga L2 dan nervus ke V dan VII.  Lesi awal berupa makula dan papula yang eritematous, kemudian dalam waktu 12 - 24 jam akan berkembang menjadi vesikel dan akan berlanjut menjadi pustula pada hari ke 3 - 4 dan akhirnya pada hari ke 7 – 10 akan terbentuk krusta dan dapat sembuh tanpa parut, kecuali terjadi infeksi sekunder bakterial.  Gejala yang timbul karena serangan virus herpes adalah menggigil, sesak napas, demam, nyeri persendian atau pegal pada satu bagian tubuh. Selain itu bisa diiringi dengan munculnya bintik-bintik merah pada kulit. Bintik-bintik merah ini membentuk gelembung cair. Terkadang, bisa juuga muncul gejala kontraksi perut. Ini membuat perut menjadi linu, seperti penyakit maag.

4) Cara mencegah  Herpes Simplex  Menggunakan kondom baik untuk laki-laki atau

perempuan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa virus herpes tidak dapat melewati kondom latex jika digunakan dengan benar. Praktik ini cukup bisa mengurangi risiko penularan.  Jujur dengan pasangan jika salah satu memiliki infeksi

penyakit seksual, hal ini bisa membantu mengurangi penularan melalui kontak seksual  Jangan melakukan seks oral jika sedang flu atau

diketahui memiliki HSV 1 di dalam mulut, karena ini bisa menjadi penyebar virus ke alat kelamin.  Setia pada satu pasangan (monogami) dan melakukan

praktik seks yang aman setiap kali berhubungan tanpa ada pengecualian. Mengurangi gesekan dan juga mencegah

timbulnya luka kecil di vagina atau penis yang berpotensi masuknya virus ke tubuh  Mencuci tangan setelah menyentuh luka sebelum

menyentuh bagian tubuh lain untuk menghindari penyebaran virus

Untuk menghindari penyakit herpes zooster (shingles) ada beberapa cara yang bisa dilakukan, yaitu: o Jika belum pernah mendapatkan cacar air sama sekali, usahakan untuk tidak berdekatan dengan orang yang sedang cacar o Melakukan vaksin untuk mencegah terinfeksi virus varicella zooster. Seseorang tidak bisa mendapatkan herpes zooster jika belum pernah mendapatkan cacar air, jadi salah satu caranya adalah melindungi diri dari cacar air dengan melakukan vaksin cacar o Jika sedang mengalami herpes zooster, sering-seringlah mencuci tangan agar penyakit ini tidak menyebar ke bagian tubuh lain.

o Sebisa mungkin menghindari sentuhan atau kontak dengan orang yang sedang sakit herpes zooster, karena sentuhan adalah salah satu media penyebaran dari penyakit ini. o Menjaga sistem kekebalan tubuh agar tidak menurun, sehingga virus sulit untuk menginfeksi tub  Pencegahan Penyakit Herpes

a. Hindari pinjam-meminjam barang pribadi b. Hindari pencetus terjadinya infeksi rekuren, seperti krang tidur, stress berlebihan dan makan-minum sembarangan c. Membiasakan pola hidup sehat dengan cara: Makan-makanan yang bergizi Menghindari rokok Rajin berolahraga Mandi 2-3 kali sehari Membiasakan mencuci tangan 7 langkah dengan sabun sebelum dan sesudah makan maupun BAB dan BAK d. Menghindari berhubungan seksual bila terdapat vasikel e. Penderita Herpes untuk mengurangi resiko penularan virus penyakit Herpes pada orang lain maka dapat diminamilisir dengan mengkonsumsi valasiklovir f. Tenaga kesehatan ketika kontak dengan penderita penyakit Herpes menggunakan sarung tangan dan mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan penderita.

5) Cara penyembuhan  Acyclovir selama 7-10 hari dengan dosis 2X1000 mg atau 5X200 mg pada fase akut. Sedangkan kasus herpes reaktivitasi bisa diberikan dengan dosis yang sama selama 5 hari.Sementara untuk valasiklovir dapat diberikan 2X1000 mg pada fase akut atau 2X500 mg pada fase reaktivasi. Selain itu penggunaan obatobatan imunomodulator seperti IM-BOOST umumnya ditujukan untuk memodulasi system imun untuk membantu percepatan penyembuhan inveksi virus. (dr. Kanadi Sumapraja, SpOG,M.Sc)  Obat tradisional juga bisa dipakai untuk mengurangi rasa nyeri dari kulit yang melepuh itu, yaitu dengan menggunakan daun

sambung nyawa. Caranya haluskan daun sambung nyawa, lalu ditempelkan ke kulit yang gatal dan nyeri tersebut. Maka kulit tersebut akan kering dan sembuh dengan cepat, berbeda dengan menggunakan salep yang membutuhkan waktu 2 minggu untuk sembuh.  Pengobatan Herpes Zoster 1. Pada anak imunokompeten, biasanya tidak diperlukan pengobatan yang spesifik dan pengobatan yang diberikan bersifat simtomatis yaitu : - Lesi masih berbentuk vesikel, dapat diberikan bedak agar tidak mudah pecah. - Vesikel yang sudah pecah atau sudah terbentuk krusta, dapat diberikan salap antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder. - Dapat diberikan antipiretik dan analgetik, tetapi tidak boleh golongan salisilat (aspirin) untuk menghindari terjadinya terjadi sindroma Reye. - Kuku jari tangan harus dipotong untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder akibat garukan. 2. Obat antivirus - Pemberian antivirus dapat mengurangi lama sakit, keparahan dan waktu penyembuhan akan lebih singkat. - Pemberian antivirus sebaiknya dalam jangka waktu kurang dari 48 – 72 jam setelah erupsi dikulit muncul. - Golongan antivirus yang dapat diberikan yaitu asiklovir, valasiklovir dan famasiklovir. - Dosis anti virus (oral) untuk pengobatan herpes zoster : a. Neonatus : Asiklovir 500 mg / m2 IV setiap 8 jam selama 10 hari. b. Anak ( 2 -12 tahun) : Asiklovir 4 x 20 mg / kg BB / hari / oral selama 5 hari. c. Pubertas dan dewasa : ● Asiklovir 5 x 800 mg / hari / oral selama 7 hari. ● Valasiklovir 3 x 1 gr / hari / oral selama 7 hari. ● Famasiklovir 3 x 500 mg / hari / oral selama 7 hari.

PENGOBATAN HERPES ZOSTER a) Pengobtan topikal 1. Pada stadium vesicular diberi bedak salicyl 2% atau bedak kocok kalamin untuk mencegah vesikel pecah.

2.Bila vesikel pecah dan basah,diberikan kompres terbuka dengan larutan antiseptik atau kompres dingin dengan larutan burrow 3 kali sehari selama 20 menit 3. Apabila lesi berkrusta dan agak basah dapat diberikan salep antibiotik(basitrasin/polysporin) sekundar selama 3 kali sehari. b) Pengobatan sistemik Memakai Aciclovir yang dapat mengintervensi sintesis virus dan replikasinya.Meskitidak menyembuhkan infeksi Herpes namun dapat menurunkan keparahan penyakit dan untuk mencegah infeksi

nyeri.Dapat diberikan secara oral,topikal atau parental. Antiviral lain yang dianjurkan adalah vidarabine (Ara-A,ViraA) dapat diberikan lewat infus intravena atau salep mata. Analgesik non narkotik dan narkotik diresepkan untuk manajemen nyeri dan anthistamin diberikan untuk

penyembuhan priritus.

6) Patofisiologi  VZV menural melalui udara dan tidak memerlukan kontak dekat pribadi. Lesi kulit penuh dengan partikel virus yang menular, hampir tidak mungkin untuk mengisolasi virus dari saluran pernapasan bagian atas. Ada kemungkinan bahwa transmisi udara berasal dari lesi oral tanpa sengaja. Virus ini diduga mendapat jalan masuk lewat saluran pernapasan dan menyebar tidak lama setelah sistem limfoid. Setelah masa inkubasi 14 hari, virus tiba di organ target utamanya, kulit. Virus ini mungkin menyebar ke sistem organ lain dalam tubuh tanpa efek sakit. Namun pada individu immunocompromised dan neonatus,

penyebaran dapat menyebabkan infeksi serius pada paru-paru dan otak. Penyembuhan penyakit diperkirakan menghasilkan kekebalan seumur hidup.

7) Etiologi Herpes zoster disebabkan oleh infeksi virus varisela zoster (VVZ) dan tergolong virus berinti DNA, virus ini berukuran 140-200 nm, yang termasuk subfamili alfa herpes viridae. Berdasarkan sifat biologisnya seperti siklus replikasi, penjamu, sifat sitotoksik dan sel tempat hidup laten diklasifikasikan kedalam 3 subfamili yaitu alfa, beta dan gamma. VVZ dalam subfamili alfa mempunyai sifat khas menyebabkan infeksi primer pada sel epitel yang menimbulkan lesi vaskuler. Selanjutnya setelah infeksi primer, infeksi oleh virus herpes alfa biasanya menetap dalam bentuk laten didalam neuron dari ganglion. Virus yang laten ini pada saatnya akan menimbulkan kekambuhan secara periodik. Secara in vitro virus herpes alfa mempunyai jajaran penjamu yang relatif luas dengan siklus pertumbuhan yang pendek serta mempunyai enzim yang penting untuk replikasi meliputi virus spesifik DNA polimerase dan virus spesifik deoxypiridine (thymidine) kinase yang disintesis di dalam sel yang terinfeksi.

8) Asuhan Keperawatan Asuhan Keperawatan pada Ny.A dengan herpes Zoster a. Identitas Pasien Nama : Ny. A Usia : 35 Tahun Jenis Kelamin : perempuan Status Pernikahan : menikah Sumber Informasi : klien b. Status Kesehatan Saat Ini Keluhan Utama : bula di pungggung terasa nyeri dan panas Lama Keluhan : 3 hari yang lalu Kualitas Keluhan : nyeri dan panas Faktor Pencetus : menurunnya system imunitas Faktor Pemberat : adanya riwayat varicella Keluhan Saat Pengkajian :Ny. A mengeluh badannya terasa meriang setelah seminggu yang lalu punya hajatan menikahkan anaknya, dan 3 hari yang lalu muncul bula di punggung sebelah kiri dengan diameter 3-5 mm berisi cairtan bening bergerombol dari punggung atas sampai bawah serta bula tersebut terasa nyeri dan panas c. Riwayat Kesehatan saat Ini Seminngu yang lalu setelah menikahkan anaknya Ny.A merasa badannya meriang dan 3 hari yang lalu muncul bula di punggung sebelah kiri dengan diameter 3-5 mm berisi cairtan bening bergerombol dari punggung atas sampai bawah serta bula tersebut terasa nyeri dan panas. Sehingga Ny. A memutuskan untuk datang ke poloklinik. d. Riwayat Kesehatan Terdahulu Ny. A memiliki riwayat varicella ( cacar air ) e. Analisa Data No 1. Data Etiologi Masalah Data objektif: Penyakit herpes Nyeri akut bula di punggung sebelah kiri (bulanya) dengan diameter 3-5 mm berisi cairtan bening bergerombol dari punggung atas sampai bawah Data subjektif: -Ny. A mengeluh badannya terasa meriang setelah seminggu yang lalu menikahkan anaknya - Ny. A mengeluh bulanya

2.

3.

terasa nyeri dan panas Data objektif: bula di punggung sebelah kiri dengan diameter 3-5 mm berisi cairtan bening bergerombol dari punggung atas sampai bawah Data subjektif: -Ny. A mengeluh badannya terasa meriang setelah seminggu yang lalu menikahkan anaknya - Ny. A mengeluh bulanya terasa nyeri dan panas Data objektif: bula di punggung sebelah kiri dengan diameter 3-5 mm berisi cairtan bening bergerombol dari punggung atas sampai bawah Data subjektif: -Ny. A mengeluh badannya terasa meriang setelah seminggu yang lalu menikahkan anaknya - Ny. A mengeluh bulanya terasa nyeri dan panas

Adanya bula punggung

di Gangguan interegitas kulit

Adanya bula Resiko infeksi dipunggung

f. Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri akut 2. Gangguan intregitas kulit 3. Resiko infeksi g. Rencana asuhan Keperawatan No. 1. Tujuan dan Kriteria Hasil Tujuan: Klien mampu mengontrol nyeri yang ia rasakan karena adanya bula Kriteria Hasil: - Klien mengungka pkan secara visual bahwa nyeri yang ia rasakan berkurang Intervensi Rasional

- Tentukan penyebab nyeri - Membantu mengidentifikasi tindakan yang tepat untuk mengurangi - Catat hasil observasi nyeri secara rinci - Membantu mendeskripsikan secara akurat tentang erupsi kulit untuk diagn - Gunakan terapi topical osis dan pengobatan - Ajarkan pasien tentang - Membantu managemen nyeri meredakan

2.

Klien gejala mematuhi - Tentukan dampak nyeri - Agar klien bisa terapi yang terhadap pemenuhan mengontrol nyeri diprogramk kebutuhan diri yang ia rasakan an - Evaluasi tingkat - Agar klien tetap - Pasien keefektifan dari mampu merasa managemen yang telah memenuhi tenang dilakukan kebutuhan dirinya - Agar mengetahui keberhasilan dari terapi yang dilakukan Tujuan: - Lindungi kulit yang sehat - Maserasi pada Meminimalisir dari kemungkinan kulit dapat kerusakan intregitas maserasi (hidrasi stratum menyebabkan kulit korneum yang berlebihan) pecahnya kulit Kriteria Hasil: ketika memasang balutan dan perluasan - Mempertah basah kelainan primer ankan - Agar bula tidak integritas - Berikan nasihat pada berair dan kulit klien agar bula pada nantinya akan - Tidak ada punggung tidak terkena mengaktifkan meserasi air floranormal - Tidak ada - Mambantu tanda-tanda - Gunakan terapi topikal mengurangi cedera bula/luka termal Tujuan: - Berikan petunjuk yang - Pendidikan klien Infeksi akibat bula jelas dan rinci pada yang efektif tidak akan terjadi pasien tentang program bergantung Kriteria Hasil: terapi pada - Mengidentifi ketrampilan kasi tanda interpersonal dan gejala professional - Berpartisipa professional si dalam kesehatan dan melakukan pada pemberian perawatan institusi yang kulit - Lakukan kompres bsah jelas (mengganti sesuai program untuk - Vasokontroksi balutan, mengurangi intensitas pembuluh darah mandi) inflamasi dapat mengurangi - Terbebas eritema dan dari gejala membantu debridement infeksi vesikel dan krusta serta mengendalikan

- Sediakan terapi inflamasi rendaman sesuai - Melepas program eksudat dan - Gunakan obat topical krusta yang mengandung - Membunuh dan kortikosteroid sesuai mencegah dengan order pertumbuhan mikroorganisme - Selalu edukasdi klien - Memiliki kerja agar menjaga antiinflamasi keberhasilan sehingga mampu menimbulkan vasokonstriksi pada pembuluh darah kecil dalam dermis lapisan atas - Dengan tetap dalam keadaan bersih maka mikroorganisme tidak akan aktif

REFERENSI

1. Buku nic, noc dan diagnose nanda 2. Buku kamus kedokteran Dorland edisi 28 3. Buku kamus keperawatan edisi 17 4. Harahap, M. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hapokrates. 5. Handoko R.P. 2005 , Herpes Simpleks.dalam Ilmu penyakit kulit dan kelamin, Djuanda Adhi, Hamzah M, Aisah S (ed).ed 3 cet.4. Jakarta:Balai Penerbit FK UI, p359-361. 6. Hartadi, Sumaryo, S. 2000.Herpes Simplek dalam Ilmu Penyakit Kulit, Hipokrates, Jakarta. 7. Hernawati, Isna.2008.Herpes Zoster.(http://majalahkesehatan.com/herpeszoster-penyakit-kelanjutan-cacar-air).diakses 4 juni 2012 jam 11.43 8. Ahira, Anne.2011.Penyakit Herpes Zoster, Pengobatan dan Pencegahan.(http://anneahira.com/penyakit-herpes-zoster.html).Diakses 05 Juni 2012 jam 10.43 WIB 9. Gandhi Monica, 2006. “Genital Herpes”, dalam http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ ency/article/000857.htm., Division of Infectious Disease, UCSF, San Francisco, CA. 10. Hanson, KE, Alexander, BD, Woods, C, et al. Validation of laboratory screening criteria for herpes simplex virus testing of cerebrospinal fluid. J Clin Microbiol 2007; 45:721

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->