P. 1
Proposal

Proposal

|Views: 428|Likes:
Published by Arif Saja

More info:

Published by: Arif Saja on Oct 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/21/2014

pdf

text

original

USULAN PENELITIAN Rancang Bangun Mobile Application Penentu Arah Kiblat dan Pengingat Waktu Sholat Berbasis Android

Oleh: Moh. Arif Samsul Rizal NIM. 07650152

JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2010

USULAN PENELITIAN Rancang Bangun Mobile Application Penentu Arah Kiblat dan Pengingat Waktu Sholat Berbasis Android

Diajukan Untuk Membuat Skripsi Program Sarjana (S-1) pada Jurusan Teknik Informatika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Oleh: Moh. Arif Samsul Rizal NIM. 07650152

JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2010

USULAN PENELITIAN Rancang Bangun Mobile Application Penentu Arah Kiblat dan Pengingat Waktu Sholat Berbasis Android
Nama Nim Jurusan Fakultas : : : : Moh. Arif Samsul Rizal 07650152 Teknik Informatika Sains dan Teknologi

Tanggal Yang Mengajukan

Moh. Arif Samsul Rizal NIM. 07650152 Telah disetujui oleh : Penguji I Penguji II Penguji III

______________________ NIP

____________________ NIP

______________________ NIP

Mengetahui, Ketua JurusanTeknik Informatika

Ririen Kusumawati, S.Si, M.Kom NIP. 197203092005012002

1. Judul
Rancang Bangun Mobile Application Penentu Arah Kiblat dan Pengingat Waktu Sholat Berbasis Android

2. Latar Belakang

                                       
Artinya: ”Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. dan Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS Al-Baqaraah: 144) Ayat tersebut memerintahkan manusia untuk menghadap Masjidil Haram yang di dalamnya terdapat Ka’bah dan merupakan kiblat umat Islam. Selama berabad-abad, orang Muslim di seluruh dunia melaksanakan perintah Allah SWT tersebut, shalat lima waktu menghadap ke kiblat di Makkah. Akan tetapi, bagi mereka yang berada jauh dari Makkah, tentu cukup sulit untuk menentukan arah kiblat secara tepat. Tak jarang urusan kiblat ini lantas menimbulkan perdebatan. Beberapa masjid di Kairo misalnya, memiliki dua kiblat yang masingmasingnya berbeda antara 10 derajat. Satu kiblat berada di luar ruangan dan satunya

lagi di dalam ruangan. Hal yang sama terjadi di Amerika Utara. .( Andri Gunawan, http://pusatberbagi.com) Ka’bah merupakan kiblat umat islam dimana pun mereka berada. Menghadap ka’bah juga menjadi syarat sah dalam menjalankan ibadah sholat, tanpa menghadap kiblat maka sholat seseorang tidak akan sah (Anonim, 2007). Karena sangat pentingnya arah kiblat bagi umat islam, maka dalam menentukannya harus melalui perhitungan–perhitungan yang akurat. Alat penunjuk arah kiblat yang beredar di pasaran yang mengandalkan kompas magnet bumi berdasarkan hasil analisa yang dilakukan ternyata kurang presisi. Arah kiblat yang terukur melalui kompas ternyata berbeda-beda antara masjid satu dengan lainnya. Kebanyakan masjid yang didirikan di indonesia mengukur arah kiblat berdasarkan arah yang ditunjukkan kompas. Padahal arah utara magnetik Bumi itu berbeda di tiap kota dari waktu ke waktu. Hal ini dipengaruhi oleh rotasi Bumi. Penelitian menunjukkan arah utara magnetik terus bergeser sekitar 4,8 kilometer per tahun. Pada tahun 2005 pergeserannya mencapai 800 kilometer dari kutub utara sebenarnya. Pada 2050 diperkirakan utara magnetik Bumi mendekati Siberia. (Anonim, 2006) Beradasarkan data yang diperoleh, Masjid Menara Kudus memiliki sumbu bangunan 25 derajat ke arah utara dari arah barat, Masjid Kotagede yang menempati lahan bekas Dalem Ki Ageng Pemanahan sumbu bangunannya 19 derajat, Masjid Mantingan Jepara sumbu bangunannya hampir 40 derajat, Masjid Agung Jepara 15 derajat, Masjid Tembayat Klaten 26 derajat, dan Masjid Agung Surakarta bergeser 10 derajat. (Ahmad Izzuddin, 2003) Melihat fenomena itu, kiranya kita perlu meluruskan kiblat masjid, agar dapat memberikan keyakinan dalam beribadah, bahwa kita benar-benar menghadap kiblat (Kakbah). Karena perbedaan per derajat saja sudah memberikan perbedaan kemelencengan arah ratusan kilometer. Bagaimana kalau perbedaan puluhan derajat, bisa-bisa arah kiblat melenceng jauh dari Masjidil Haram, atau jauh dari Baitullah (Kakbah). ( Ahmad Izzuddin, 2003) Oleh karena itu, perlu suatu inovasi yang mengkombinasikan sains islam tentang ilmu falak dengan matematik serta teknologi informasi sehingga menghasilkan aplikasi penentu kiblat yang mempunya tingkat akurasi tinggi dan mudah dibawa kemana–mana.

Salah satu alat teknologi yang menjadi prioritas seseorang untuk dibawa kemana-mana adalah handphone (ponsel). Studi terbaru lembaga penelitian ROA (Research On Asia) mengungkapkan angka pertumbuhan pengguna ponsel tahun 2007 sampai 2010. Disebutkan, pengguna ponsel di Indonesia tercatat sebanyak 68 juta pada akhir tahun 2006 dan tumbuh menjadi 94,7 juta pada tahun 2007. Pada tahun 2010, angka pengguna ponsel di Indonesia mencapai angka 133 juta atau lebih dari 50% penduduk indonesia. (http://us.detikinet.com/) Android merupakan salah satu ............... yang dapat digunakan untuk membuat aplikasi mobile. Android adalah sistem operasi mobile menggunakan versi modifikasi dari kernel Linux. Pada awalnya dikembangkan oleh Android Inc, sebuah perusahaan yang kemudian dibeli oleh Google, dan akhir-akhir ini oleh Open Handset Alliance. Android merupakan software berbasis kode computer yang bisa didistribusikan secara terbuka (open source) sehingga programmer bisa membuat aplikasi baru di dalamnya, terdapat Android Market yang menyediakan ribuan aplikasi baik yg gratis maupun berbayar, serta memiliki aplikasi native Google yang terintegrasi, seperti push email GMail, Google Maps, dan Google Calendar. (http://www.indosat.com/android) Berdasarkan data dari comScore, Android terbukti melejit dengan cepat sebagai platform smartphone yang memiliki lonjakan terbesar berdasarkan data comScore. 53.4 juta orang di Amerika Serikat menjadi pembeli dan pemakai smartphone di jangka waktu 3 bulan yang berakhir pada bulan Juli. Dari realita tersebut, peneliti berinisiatif untuk membuat “Rancang Bangun Mobile Aplication penentu Arah Kiblat dan Waktu Shalat Berbasis Android”. 3. Rumusan Masalah Sebagaimana latar belakang yang dipaparkan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: 1. Bagaimana merancang dan membangun sebuah aplikasi mobile penentu arah kiblat dan waktu shalat yang akurat, mudah untuk dioperasikan dan bisa dibawa kemana saja? 2. Bagaimana memvisualisasikan aplikasi penentu arah kiblat dalam bentuk map (peta), berbasiskan teknologi Global Possitioning System (GPS)? 4. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini yaitu:

1. Untuk merancang dan membangun sebuah aplikasi mobile penentu arah kiblat dan waktu shalat yang akurat, mudah untuk dioperasikan dan bisa dibawa kemana saja. 2. Guna memvisualisasikan aplikasi penentu arah kiblat dalam bentuk map (peta), berbasiskan teknologi Global Possitioning System (GPS). 5. Manfaat Penelitian Manfaat yang dapat diperoleh bagi beberapa pihak dari penelitian ini antara lain: 1. Bagi penulis, dengan melakukan penelitian ini penulis memperoleh pengalaman dan ilmu pengetahuan mengenai cara membuat rancang bangun mobile aplication berbasis android sebagai bentuk aplikasi ilmu yang telah diperoleh selama belajar di bangku kuliah. 2. Bagi masyarakat, hasil penelitian ini dapat memberikan kemudahan dalam menentukan posisi arah kiblat yang akurat khususnya dalam merencanakan pembangunan masjid, mushallah atau surau dan menjadi acuan dalam menentukan waktu shalat. 3. Bagi pengembangan keilmuan, hasil penelitian ini bisa menjadi tambahan referensi baru untuk membuat sebuah rancang bangun mobile aplication penentu arah kiblat dan waktu shalat berbasis android. 6. Batasan Penelitian Aplikasi yang dibangun hanya bisa dioperasikan pada sebuah handphone yang berbasis Android. 7. Tinjauan Pustaka 7.1 Kajian Riset Terdahulu Aan Nurrochman dkk, Mahasiswa Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember dalam Penelitian Kompetitif Mahasiswa 2008 mengadakan penelitian dengan judul Perancangan dan Pembuatan Alat Penentu Arah Kiblat Elektronik Berbasis Mikrokontroler di Laboratorium Elektronika B 202 dan Bengkel Elektro Mekanik (Mekatronik) Jurusan Teknik Elektro ITS. Selain penelitian yang dilakukan oleh Aan Nurrochman ada beberapa web yang menyediakan fasilitas umtuk menentukan arah kiblat. Salah satunya beralamat di www.al-habib.info/arah-kiblat/, web ini memanfaatkan google maps untuk menentukan arah kiblat. Selain itu, ada www.qiblalocator.com yang juga menyediakan fasilitas yang sama. Pada www.qiblalocator.com, kita harus

memasukkan lokasi kota dimana kita berada. Kekurangan aplikasi ini adalah pemasukan lokasi kota yang menyebabkan kekurangvalidan hasil yang didapat. Selain itu, untuk mengakses fasilitas tersebut membutuhkan sebuah computer dan koneksi internet. Perbedaan penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian sebelumnya adalah aplikasi yang akan dibangun berupa aplikasi mobile berbasis Android. Aplikasi mampu melakukan scanning titik posisi pengakses penentu arah kiblat dengan memanfaatkan IP mobile device yang pengguna pakai. pengguna tidak perlu memasukkan posisi tempat. 7.2 Kajian Teori 7.2.1 Penentuan Arah Kiblat Kiblat berasal dari bahasa Arab ( ‫ ) قبلة‬adalah arah yang merujuk ke suatu tempat dimana bangunan Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Ka’bah juga sering disebut dengan Baitullah (Rumah Allah). Menghadap arah Kiblat merupakan suatu masalah yang penting dalam syariat Islam. Menurut hukum syariat, menghadap ke arah kiblat diartikan sebagai seluruh tubuh atau badan seseorang menghadap ke arah Ka'bah yang terletak di Makkah yang merupakan pusat tumpuan umat Islam bagi menyempurnakan ibadah-ibadah tertentu. Pada awalnya, kiblat mengarah ke Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsa Jerusalem di Palestina, namun pada tahun 624 M ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, arah Kiblat berpindah ke arah Ka’bah di Makkah hingga kini atas petunjuk wahyu dari Allah SWT. Beberapa ulama berpendapat bahwa turunnya wahyu perpindahan kiblat ini karena perselisihan Rasulullah SAW di Madinah. Menghadap ke arah kiblat menjadi syarat sah bagi umat Islam yang hendak menunaikan shalat baik shalat fardhu lima waktu sehari semalam atau shalat-shalat sunat yang lain. Kaidah dalam menentukan arah kiblat memerlukan suatu ilmu khusus yang harus dipelajari atau sekurang-kurangnya meyakini arah yang dibenarkan agar sesuai dengan syariat. Teknik/Kaidah Penentuan Arah Kiblat 1.PERHITUNGAN/HISAB ARAH KIBLAT Koordinat Posisi Geografis sehingga

Setiap lokasi di permukaan bumi ditentukan oleh dua bilangan yang menunjukkan kooordinat atau posisinya. Koordinat posisi ini masing-masing disebut Latitude (Lintang) dan Longitude (Bujur). Sesungguhya angka koordinat ini merupakan angka sudut yang diukur dari pusat bumi sampai permukaannya. Acuan pengukuran dari suatu tempat yang merupakan perpotongan antara garis Ekuator dengan Garis Prime Meridian yang melewati kota Greenwich Inggris. Titik ini berada di Laut Atlantik kira-kira 500 km di Selatan kota Accra Rep. Ghana Afrika. Satuan kooordinat lokasi dinyatakan dengan derajat, menit busur dan detik busur dan disimbolkan dengan ( °, ', " ) misalnya 110° 47’ 9” dibaca 110 derajat 47 menit 9 detik. Dimana 1° = 60’ = 3600”. Dan perlu diingat bahwa walaupun menggunakan kata menit dan detik namun ini adalah satuan sudut dan bukan satuan waktu. Latitude disimbolkan dengan huruf Yunani φ (phi) dan Longitude disimbolkan dengan λ (lamda). Latitude atau Lintang adalah garis vertikal yang menyatakan jarak sudut sebuah titik dari lintang nol derajat yaitu garis Ekuator. Lintang dibagi menjadi Lintang Utara (LU) nilainya positif (+) dan Lintang Selatan (LS) nilainya negatif (-) sedangkan Longitude atau Bujur adalah garis horisontal yang menyatakan jarak sudut sebuah titik dari bujur nol derajat yaitu garis Prime Meridian. Bujur dibagi menjadi Bujur Timur (BT) nilainya positif (+) dan Bujur Barat (BB) nilainya negatif (-). Untuk standard internasional angka longitude dan latitude menggunakan kode arah kompas yaitu North (N), South(S), East (E) dan West (W). Misalnya Yogyakarta berada di Longitude 110° 47’ BT bisa ditulis 110° 47’ E atau +110° 47’. Ilmu Ukur Segitiga Bola Ilmu ukur segitiga bola atau disebut juga dengan istilah trigonometri bola (spherical trigonometri) adalah ilmu ukur sudut bidang datar yang diaplikasikan pada permukaan berbentuk bola yaitu bumi yang kita tempati. Ilmu ini pertama kali dikembangkan para ilmuwan muslim dari Jazirah Arab seperti Al Battani dan Al Khawarizmi dan terus berkembang hingga kini menjadi sebuah ilmu yang mendapat julukan Geodesi. Segitiga bola menjadi ilmu andalan tidak hanya untuk menghitung arah kiblat bahkan termasuk jarak lurus dua buah tempat di permukaan bumi.

Sebagaimana sudah disepakati secara umum bahwa yang disebut arah adalah “jarak terpendek” berupa garis lurus ke suatu tempat sehingga Kiblat juga menunjukkan arah terpendek ke Ka’bah. Karena bentuk bumi yang bulat, garis ini membentuk busur besar sepanjang permukaan bumi. Lokasi Ka’bah berdasarkan pengukuran menggunakan Global Positioning System (GPS) maupun menggunakan software Google Earth secara astronomis berada di 21° 25' 21.04" Lintang Utara dan 39° 49' 34.04" Bujur Timur. Angka tersebut dibuat dengan ketelitian cukup tinggi. Namun untuk keperluan praktis perhitungan tidak perlu sedetil angka tersebut. Biasanya yang digunakan adalah: φ = 21° 25’ LU dan λ = 39° 50’ BT (1° = 60’ = 3600”) ° = derajat ‘ = menit busur dan “ = detik busur

Arah Ka’bah yang berada di kota Makkah yang dijadikan Kiblat dapat diketahui dari setiap titik di permukaan bumi, maka untuk menentukan arah kiblat dapat dilakukan dengan menggunakan Ilmu Ukur Segitiga Bola (Spherical Trigonometri). Penghitungan dan pengukuran dilakukan dengan derajat sudut dari titik kutub Utara, dengan menggunakan alat bantu mesin hitung atau kalkulator. Untuk perhitungan arah kiblat, ada 3 buah titik yang harus dibuat, yaitu: Titik A, diletakkan di Ka’bah (Mekah) Titik B, diletakkan di lokasi yang akan ditentukan arah kiblatnya. Titik C, diletakkan di titik kutub utara. Titik A dan titik C adalah dua titik yang tetap, karena titik A tepat di Ka’bah dan titik C tepat di kutub Utara sedangkan titik B senantiasa berubah tergantung lokasi mana yang akan dihitung arah Kiblatnya. Bila ketiga titik tersebut dihubungkan dengan garis lengkung permukaan bumi, maka terjadilah segitiga bola ABC, seperti pada gambar. Ketiga sisi segitiga ABC di samping ini diberi nama dengan huruf kecil dengan nama sudut didepannya masing-masing sisi a, sisi b dan sisi c. Dari gambar di atas, dapatlah diketahui bahwa yang dimaksud dengan perhitungan Arah Kiblat adalah suatu perhitungan untuk mengetahui berapa besar nilai sudut K di titik B, yakni sudut yang diapit oleh sisi a dan sisi c.

Pembuatan gambar segitiga bola seperti di atas sangat berguna untuk membantu menentukan nilai sudut arah kiblat bagi suatu tempat dipermukaan bumi ini dihitung/diukur dari suatu titik arah mata angin ke arah mata angin lainnya, misalnya diukur dari titik Utara ke Barat (U-B), atau diukur searah jarum jam dari titik Utara (UTSB). Untuk perhitungan arah kiblat, hanya diperlukan dua data: Koordinat Ka’bah φ = 21o 25’ LU dan λ = 39o 50’ BT. Koordinat lokasi yang akan dihitung arah kiblatnya. Sedangkan data lintang dan bujur tempat lokasi kota yang akan dihitung arah kiblatnya dapat diambil dari berbagai sumber diantaranya : Atlas Indonesia dan Dunia, Taqwim Standar Indonesia, Tabel Geografis Kota-kota Dunia, situs Internet maupun lewat pengukuran langsung menggunakan piranti Global Positioning System (GPS). Data dan Rumus Arah Kiblat yang Digunakan No INDONESIA NILAI ARAB INTERNASIONAL SIMBOL 1) 2) 3) Lintang (LU/LS) + / - ‘Ardul balad Latitude (U/S) phi = φ Bujur (BT/BB) + / - Thulul balad Longitude (E/W) lambda = λ Data geografis Ka’bah di Makkah : φ = 21° 25’ LU dan λ = 39°

50’ BT (diringkas) Dalam ilmu segitiga bola terdapat banyak sekali rumus yang dapat digunakan untuk menghitung arah kiblat serta menghitung jarak dari ka’bah ke lokasi tertentu. Untuk melakukan perhitungan secara manual dapat dilakukan menggunakan alat yang paling sederhana yang disebut “Rubuk Mujayyab”. Alat yang berbentuk seperempat lingkaran ini merupakan alat peninggalan jaman Al Khawarizmi 14 abad yang lalu. Alat ini ternyata memiliki kemampuan melakukan hitungan trigonometri. Alat ini juga dapat dengan mudah kita buat sendiri. Selanjutnya daftar logaritma juga bisa digunakan namun sebaiknya mengunakan kalkulator yang memiliki fungsi trigonometri Sinus, Cosinus dan Tangen juga memori penyimpanan cukup banyak sehingga angka-angka yang telah didapatkan bisa disimpan. Kalkulator yang disarankan untuk melakukan hitungan arah kiblat juga adalah kalkulator yang memiliki kemampuan melakukan programming agar hitungan terhadap banyak data

arah kiblat menjadi lebih cepat. Disarankan juga menggunakan kalkulator yang memiliki layar dot matrix dual line yaitu memiliki dua baris tampilan layar terpisah antara proses dan hasilnya. Kalkulator jenis ini misalnya KARCHE 4600SX, KARCE 4650P, CASIO FX3600SP, CASIO fx4500P dsb. Perlu diketahui bahwa akibat yang akan terjadi karena serongnya arah kiblat terhadap ka'bah yang hanya berukuran 12 x 10.5 x 15 meter serta jauhnya jarak dari Indonesia yaitu sekitar 8000 km à maka selisih 1° akan menyebabkan pergeseran sebesar 126 kilometer di Utara atau Selatan Ka’bah itu sendiri. Terdapat berbagai macam kaidah atau cara yang dapat digunakan untuk menentukan arah kiblat baik untuk menyemakan arah kiblat masjid, langgar / surau / musholla maupun arah kiblat untuk shalat di dalam rumah. Kaidah tersebut meliputi kaidah tradisional maupun kaidah baru menggunakan peralatan modern. 7.2.2 Penentuan Waktu Shalat 7.2.2.1 Kaidah Penentuan Waktu Shalat Dengan berkembangnya peradaban manusia, berbagai kemudahan-kemudahan diciptakan untuk membuat manusia lebih praktis dalam segala hal termasuk dalam beribadah khususnya shalt fardu. Saat ini kita mengetahui banyak sekali diterbitkan jadwal waktu shalat dari berbagai instansi maupun organisasi antara lain; Departemen Agama, PP Muhammadiyah, PP Persis, PP Nahdatul Ulama (NU) dsb. Namun kesemuanya tidak dapat dilepaskan dari kaidah yang sebenarnya digunakan untuk menentukan waktu shalat yaitu "Pergerakan Matahari" dilihat dari bumi. Sebagaimana beberapa firman Allah SWT yaitu:

                      
Artinya: “Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila

kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orangorang yang beriman.” (QS An-Nisaa’: 103)

               
Artinya: “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh[865]. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” ( Q.S. Al-Isra’ : 78 ) Sebelum manusia menemukan hisab/perhitungan falak/astronomi, pada zaman Rasulullah waktu shalat ditentukan berdasarkan observasi terhadap gejala alam dengan melihat langsung matahari. Lalu berkembang dengan dibuatnya Jam Surya atau Jam Matahari serta Jam Istiwa atau seing disebut Tongkat Istiwa dengan kaidah bayangan matahari. 7.2.2.2 Perhitungan Waktu Shalat cara perhitungan waktu shalat dengan menggunakan sejumlah rumus matematika akan disajikan disini. Untuk menentukan waktu lima shalat wajib untuk suatu tempat dan tanggal tertentu, ada beberapa parameter yang mesti diketahui: 1. Koordinat lintang tempat tersebut (L). Daerah yang terletak di sebelah utara garis khatulistiwa (ekuator) memiliki lintang positif. Yang disebelah selatan, lintangnya negatif. Misalnya Fukuoka (Japan) memiliki lintang 33:35 derajat lintang utara (LU). Maka L= 33+35/60=33,5833 derajat. Jakarta memiliki koordinat lintang 6:10:0 derajat LS (6 derajat 10 menit busur lintang selatan). Maka L= minus (6+10/60)= -6,1667 derajat. 2. Koordinat bujur tempat tersebut (B). Daerah yang terletak di sebelah timur Greenwich memiliki bujur positif. Misalnya Jakarta memiliki koordinat bujur 106:51:0 derajat Bujur Timur. Maka B = 106+51/60 = 106,85 derajat. Sedangkan disebelah barat Greenwich memiliki bujur negatif. Misalnya Los Angeles memiliki koordinat bujur 118:28 derajat Bujur Barat. Maka B = minus (118 28/60) = -18,4667 derajat.

3. Zona waktu tempat tersebut (Z). Daerah yang terletak di sebelah timur Greenwich memiliki Z positif. Misalnya zona waktu Jakarta adalah UT +7 (seringkali disebut GMT +7), maka Z = 7. Sedangkan di sebelah barat Greenwich memiliki Z negatif. Misalnya, Los Angeles memiliki Z = -8. 4. Ketinggian lokasi dari permukaan laut (H). Ketinggian lokasi dari permukaan laut (H) menentukan waktu kapan terbit dan terbenamnya matahari. Tempat yang berada tinggi di atas permukaan laut akan lebih awal menyaksikan matahari terbit serta lebih akhir melihat matahari terbenam, dibandingkan dengan tempat yang lebih rendah. Satuan H adalah meter. 5. Tanggal (D), Bulan (M) dan Tahun (Y) kalender Gregorian. Tanggal (D), bulan (M) dan tahun (Y) tentu saja menjadi parameter, karena kita ingin menentukan waktu shalat pada tanggal tersebut. Dari tanggal, bulan dan tahun tersebut selanjutnya dihitung nilai Julian Day (JD). Silakan lihat penjelasan detil tentang Julian Day pada tulisan sebelumnya tentang KALENDER JULIAN, KALENDER GREGORIAN dan JULIAN DAY. Namun ada baiknya untuk dituliskan kembali tentang rumus menghitung Julian Day. Saat ini karena Kalender Masehi yang digunakan adalah kalender Gregorian, maka rumus Julian Day adalah JD = 1720994,5 + INT(365,25*Y) + INT(30,6001(M + 1)) + B + D. Disini INT = lambang untuk nilai integer. Jika M > 2, maka M dan Y tidak berubah. Jika M = 1 atau 2, maka M ditambah 12 sedangkan Y dikurangi 1. Nilai B = 2 + INT(A/4) – A dimana A = INT(Y/100). Nilai JD di atas berlaku untuk pukul 12.00 UT atau saat tengah hari di Greenwich. Adapun JD untuk pukul 12.00 waktu lokal, maka JD pukul 12.00 UT waktu Greenwich tersebut harus dikurangi dengan Z/24 dimana Z adalah zona waktu lokal tersebut. Dari nilai JD tersebut, dihitung sudut tanggal T dengan rumus T = 2*PI*(JD – 2451545)/365,25. Disini PI adalah konstanta yang bernilai 3,14159265359. Sementara itu 2451545 adalah Julian Day untuk tanggal 1 Januari 2000 pukul 12.00 UT. Angka 365,25 adalah banyaknya hari rata-rata dalam setahun. Jadi T menunjukkan sudut tanggal dalam setahun terhitung sejak tanggal 1 Januari 2000 pukul 12.00 UT.

6. Sudut Deklinasi matahari (Delta). Dari sudut tanggal T di atas, deklinasi matahari (Delta) untuk satu tanggal tertentu dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut Delta = 0,37877+23,264*SIN(57,297*T–79,547)+0,3812* SIN(2*57,297*T–82,682)0,17132*SIN(3*57,297*T–59,722) Angka yang terletak di dalam kurung bersatuan derajat. Deklinasi juga bersatuan derajat. 7. Equation of Time (ET). Equation of Time untuk satu tanggal tertentu dapat dihitung sebagai berikut. Pertama kali perlu dihitung dahulu Bujur rata-rata matahari L0 yang dirumuskan L0 = 280,46607 + 36000,7698*U dimana U = (JD–2451545)/36525. L0 bersatuan derajat. Selanjutnya Equation of Time dapat dirumuskan sebagai 1000*ET = -(1789 + 237*U)*SIN(L0) – (7146 – 62*U)*COS(L0) + (9934 – 14*U)*SIN(2*L0) – (29 + 5*U)*COS(2*L0) + (74 + 10*U)*SIN(3*L0) + (320 – 4*U)*COS(3*L0) – 212*SIN(4*L0) Ruas kiri persamaan di atas masih bernilai 1000 kali ET. Dengan demikian hasilnya harus dibagi 1000 untuk mendapatkan ET. Satuan ET adalah menit. 8. Altitude matahari waktu Shubuh dan Isya. Shubuh saat fajar menyingsing pagi disebut dawn astronomical twilight yaitu ketika langit tidak lagi gelap dimana atmosfer bumi mampu membiaskan cahaya matahari dari bawah ufuk. Sementara Isya’ disebut dusk astronomical twilight ketika langit tampak gelap karena cahaya matahari di bawah ufuk tidak dapat lagi dibiaskan oleh atmosfer. Dalam referensi standar astronomi, sudut altitude untuk astronomical twilight adalah 18 derajat di bawah ufuk, atau sama dengan minus 18 derajat. Ada dua jenis twilight yang lain, yaitu civil twilight dan nautical twilight masing-masing sebesar 6 dan 12 derajat di bawah ufuk. Namun demikian ada beberapa pendapat mengenai sudut altitude matahari di bawah ufuk saat Shubuh dan Isya’. Diantaranya berkisar antara 15 hingga 20 derajat. Dengan demikian, perbedaan sudut yang digunakan akan menyebabkan perbedaan kapan datangnya waktu Shubuh dan Isya’. 9. Tetapan panjang bayangan Ashar Disini ada dua pendapat. Pendapat madzhab Syafi’i menyatakan panjang bayangan benda saat Ashar = tinggi

benda + panjang bayangan saat Zhuhur. Sementara pendapat madzhab Hanafi menyatakan panjang bayangan benda saat Ashar = dua kali tinggi benda + panjang bayangan saat Zhuhur. RUMUS WAKTU SHALAT Rumus untuk menentukan waktu shalat dan terbit matahari adalah sebagai berikut. * Zhuhur = 12 + Z – B/15 – ET/60 * Ashar = Zhuhur + (Hour Angle Ashar)/15 * Maghrib = Zhuhur + (Hour Angle Maghrib)/15 * Isya’ = Zhuhur + (Hour Angle Isya’)/15 * Shubuh = Zhuhur – (Hour Angle Shubuh)/15 * Terbit Matahari = Zhuhur – (Hour Angle Terbit Matahari)/15 Dari rumus di atas, nampak bahwa waktu shalat bergantung pada Hour Angle. Rumus Hour Angle (HA) adalah COS(HA) =[SIN(Altitude)-SIN(Lintang)*SIN(Delta)]/[COS(Lintang) *COS(Delta)] sehingga Hour Angle = ACOS(COS(HA)). Rumus Hour Angle dii atas bergantung pada Altitude. Altitude matahari atau sudut ketinggian matahari dari ufuk inilah yang berbeda nilainya untuk setiap waktu shalat. * Untuk Ashar, Altitudenya = ARCCOT(KA+TAN(ABS(Delta–Lintang))), dimana KA = 1 untuk Syafi’i dan 2 untuk Hanafi. Lambang ABS menunjukkan nilai absolut atau nilai mutlak. Misalnya, ABS(-2) = ABS(2) = 2. * Untuk Maghrib, Altitude = 0,8333 – 0,0347*SQRT(H) dimana SQRT menunjukkan lambang akar pangkat dua, dan H = ketinggian di atas permukaan laut. * Untuk Isya’, Altitude = minus(Sudut Isya’). Jika sudut Isya’ diambil 18 derajat, maka Altitude Isya’ = -18 derajat. * Untuk Shubuh, Altitude = minus(Sudut Shubuh). * Untuk Terbit Matahari, Altitudenya sama dengan Altitude untuk Maghrib. (http://jokoradityo.wordpress.com/2010/06/16/cara-menghitung-waktu-shalat/)

7.2.3 Google Map Google Map adalah layanan peta online dan virtual gratis milik google. Layanan ini menggunakan teknologi digital imaging seperti foto satelit dan foto street view. (http://forum.scpgsm.net/archive/index.php/t-29618.html) Google Maps secara hak cipta merupakan milik Google secara propierty, dengan begitu apabila programmer ingin menggunakanya memerlukan adanya semacam perjanjian (Agreement). Google menggunakan mekanisme pendaftaran untuk mendapatkan id (API Key) yang didasarkan atas sebuah kunci yang degenerate otomatis ketika menginstal SDK Android. Aplikasi yang berbasis peta sering disebut dengan Location Based Service yang terdiri dari dua pilar yaitu API Map dan API Location. Package setiap dari API ini berbeda dan terpisahkan. Sebagai contoh, paket map berada pada com.google.android.maps dan paket location adalah android.location. API Map menyediakan fasilitas untuk mendisplay dan memanipulasi peta, seperti zoom, mode peta (Satelit View, Street View) atau menambahkan kustom data (overlay). Sedangkan API Location adalah berhubungan dengan data GPS (Global Postitioning System) dan data lokasi real-time. (Mazadi, 2010) Google maps yang disertakan pada Android akan menghubungkan dengan Google Maps di Internet. Untuk membuat aplikasi yang berbasis peta kita membutuhkan MapView dan MapActivity untuk membuat agar Google Maps bisa kita masukkan ke dalam aplikasi yang dibuat. (Mazadi, 2010). 7.2.4 Android Android adalah system operasi mobile menggunakan versi modifikasi dari kernel Linux. Pada awalnya dikembangkan oleh Android Inc, sebuah perusahaan yang kemudian dibeli oleh Google, dan akhir-akhir ini oleh Open Handset Alliance. Android merupakan software berbasis kode computer yang bisa didistribusikan secara terbuka (open source) sehingga programmer bisa membuat aplikasi baru di dalamnya, terdapat Android Market yang menyediakan ribuan aplikasi baik yang gratis maupun berbayar, serta memiliki aplikasi native Google yang terintegrasi, seperti push email GMail, Google Maps, dan Google Calendar. (http://www.indosat.com/android). Android menyediakan platform terbuka bagi para pengembang buat menciptakan aplikasi mereka sendiri untuk digunakan oleh bermacam peranti

bergerak. Awalnya, Google Inc. membeli Android Inc., pendatang baru yang membuat peranti lunak untuk ponsel. Kemudian untuk mengembangkan Android, dibentuklah Open Handset Alliance, konsorsium dari 34 perusahaan peranti keras, peranti lunak, dan telekomunikasi, termasuk Google, HTC, Intel, Motorola, Qualcomm, T-Mobile, dan Nvidia. Di dunia ini terdapat dua jenis distributor sistem operasi Android. Pertama yang mendapat dukungan penuh dari Google atau Google Mail Services (GMS) dan kedua adalah yang benar–benar bebas distribusinya tanpa dukungan langsung Google atau dikenal sebagai Open Handset Distribution (OHD). 8. Metode Penelitian 8.1 Tempat Pelaksanaan Study literature dilakukan di Perpustakaan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dan perancangan program dilakukan di Laboratorium Rekayasa Perangkat Lunak Jurusan Teknik Informatika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. 8.2 Metode penelitian Pada penelitian ini menggunakan metode yang berbeda untuk menentukan posisi arah kiblat dan penentuan waktu sholat. a. Metode Penentuan arah kiblat fhsdfghsdfghffjfsfghsfgs b. Metode penentuan waktu sholat Metode penentuan waktu sholat berdasarkan letak geografis dan tanggal tertentu dengan menggunakan hisab berdasarkan penanggalan Julian Day. Adapun langkah perhitunganya adalah sebagai berikut:

Julian Day (JD): JD = (1720994,5 + INT(365,25*Y) + INT(30,6001(M + 1)) + B + D) - Z/24 A = INT(Y/100) B = 2 + INT(A/4) – A

Sudut Tanggal T T = 2*PI*(JD – 2451545)/365,25. PI 2451545 365,25 = 3,14159265359 = Julian Day 1 Januari 2000 pukul 12.00 UT = rata-rata hari dalam setahun

Equation of Time (ET) ET = -(1789 + 237*U)*SIN(L0) – (7146 – 62*U)*COS(L0) + (9934 – 14* U) * SIN (2*L0) – (29 + 5*U)*COS(2*L0) + (74 + 10*U)*SIN(3*L0) + (320 – 4 * U )* COS (3*L0) – 212*SIN(4*L0) / 1000 L0 U = 280,46607 + 36000,7698*U = (JD – 2451545)/36525

Sudut Deklinasi matahari (Delta) Delta = 0,37877 + 23,264*SIN(57,297*T – 79,547) + 0,3812 * SIN (2*57,297 * T – 82,682) + 0,17132*SIN(3*57,297*T – 59,722)

RUMUS WAKTU SHALAT Zhuhur = 12 + Z – B/15 – ET/60 Ashar = Zhuhur + (Hour Angle Ashar)/15 Maghrib = Zhuhur + (Hour Angle Maghrib)/15 Isya’ = Zhuhur + (Hour Angle Isya’)/15 Shubuh = Zhuhur – (Hour Angle Shubuh)/15 Terbit Matahari = Zhuhur – (Hour Angle Terbit Matahari)/15 COS(HA) = [SIN(Altitude) - SIN(Lintang)*SIN(Delta)]/[COS(Lintang)*COS(Delta)] sehingga Hour Angle = ACOS(COS(HA)).

8.3 Tahapan Pelaksanaan Tahap-tahap penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut: a) Studi literatur Untuk memperkuat ide yang sudah ada maka penulis melakukan study literature. Literatur yang kami gunakan berupa buku-buku, artikel-artikel baik dari internet maupun jurnal serta data-data penelitian dan percobaan yang telah dilakukan sebelumnya. b) Perancangan Desain Program Perancangan desain program digambarkan dengan beberapa flowchart dan Data Flow Diagram. 1. Rancangan Arsitektur Aplikasi Satelit Jalan Lokasi Anda Sekarang Aplikasi Penentu arah kiblat dan penentu waktu sholat Jadwal Sholat Waktu sholat Maps) Pengaturan Waktu Sholat Pengaturan Aplikasi Note Of Reminder

Arah Kiblat Peta(Koneksi Google Maps

Modus Peta

Help Tentang Program

2. Rancangan Desain System Pada penelitian yang akan dilakukan google maps digunakan untuk visualisasi penentuan arah kiblat dan posisi user. Dan mempunyai hubungan 2 dengan Mobile Application

Request

Send

Pada gambar diatas terdapat hubungan 2 arah yang mepunyai tugas masing-masing sebagaimana pada tabel berikut:
No Mobile Application 1 Request halaman google maps melalui 2 koneksi intenet Request modus peta, berdasarkan tampilan satelit atau jalan Google Maps Menerima koneksi dan mengirim halam google maps Mengirim modus peta yang diminta oleh mobile applications

c)

Penulisan Action Script

Penulisan program dilakukan dengan menggunakan Eclipse mengacu pada perancangan desain program. Hasil akhir dari program ini selanjutnya dibuat dalam bentuk installer berextensi .apk yang kemudian diinstall di handphone berbasis Android. d) Uji Coba Sistem Pengujian ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa aplikasi yang dibuat dapat dijalankan pada sebuah handphone berbasis Android.

e)

Penulisan Laporan

Pembutan laporan dilakukan setelah semua tahap terselesaikan sehingga hasil yang diperoleh dari pembuatan sistem dapat dijelaskan secara rinci sesuai dengan data-data yang diperoleh. 8.4 Instrumen Pelaksanaan Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain satu buah handphone berbasis Android, satu unit computer yang terhubung internet yang dilengkapi dengan Eclipse sebagai software utama. Satu buah GPS CD untuk menyimpan hasil akhir aplikasi. 9. JADWAL PENELITIAN

No.
1 2 3 4 5 6

Jenis Kegiatan
I II III

Bulan ke IV V VI

Persiapan proposal Survei dan Pengumpulan data Perancangan dan Pembuatan Software Implementasi Software Ujicoba dan Integrasi Software Penulisan dan Pembuatan Laporan DAFTAR PUSTAKA Publishing

10.

Mulyadi.2010.Membuat Aplikasi Untuk Android.Yogyakarta: Multimedia Center Android Programming Tutorials: Easy-To-Follow Training-Style Exercises on Android Application Development by Mark Murphy. Android: A Programmer‟s Guide Jerome (J.F) by DiMarzio. Professional Android Application Development (Wrox Programmer to Programmer) by Ed Burnette. Begining Android by Mark Murphy. Android SDK Developer Guide: http://develper.android.com/guide/index.html

Andbook: Android Programming by Nicolas Gramlich: http://andbook.anddev.rg/ Hello, Android : Introducing Google‟s Mobile Development Platform (Pragmatic Programmers) by Ed Burnette Blog komunitas Android Indonesia yang beralamat www.android-indonesia.com Wall diskusi pada facebook komunitas Android Indonesia yang beralamat http://www.facebook.com/pages/Komunitas-Android-Indonesia

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->