P. 1
Reinforcement

Reinforcement

|Views: 865|Likes:
Published by Ayub Indra Syafi'i

More info:

Published by: Ayub Indra Syafi'i on Oct 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/14/2014

pdf

text

original

A. DEFINISI REINFORCEMENT 1.

Reinforcement Positif Defenisi reinforcement positif identik dengan defenisi reinforcement itu sendiri, yaitu segala hal yang menyertai perilaku dan berfungsi meningkatkan kemnungkinan untuk mengulangi perilaku. Contoh : memberikan senyum dan menyampaikan kata “bagus” kepada anak yang bertanya, hal tersebut merupakan reinforcement positif yang diharapkan akan meningkatkan perilaku sehingga anak tersebut akan bertanya lagi. Sedangkan stimulus yang timbul dan menjadi konsekuen terhadap munculnya serta beruangnya perilaku yang dikehendaki disebut reinforce. Dalma contoh diatas, yang menjadi konsekuen (Reinforcer) adalah senyuman dan kata “bagus”. Terdapat dua jenis reinforcement positif: 

Reinforcement primer (natural reinforcement) Adalah reinforcement yang alami, tidak perlu syarat dan tidak perlu dipelajari bagi individu yang membutuhkannya. Contoh : makanan dan minuman.

Reinforcement Sekunder (secondary reinforcement) Stimuli yang berhubungan dengan reinforcement positif. Terdapat tiga macam reindorcement sekunder yaitu : a. Social reinforcement, adalah reinforce berupa penerimaan sosial, misalnya senyuman dan sapaan. b. Activity Reinforce adalah reinforce berupa kegiatan, misalnya anak baru boleh bermain PS setelah dia belajar dan mengerjakan tugas, dalam contoh tersebubt bermain PS adalah activity reinforce. c. Token Reinforce adalah reinforce menggunakan barang, misalnya anak TK yang berperilaku baik akan mendapat permen dari gurunya, dalam contoh ini permen adalah token reinforce.

2. Reinforcement Negatif Adalah proses peningkatan tingkah laku dengan cara mengurangi hal-hal atau stimulus yang tidak menyenangkan. Misalnya : siswa yang datang terlambat oleh gurunya dimarahi, dihari kedua siswa tersebut datang lebih terambat, oleh gurunya siswa itu dimarahi dan tidak boleh masuk kelas, dhari ketiga ternyata anak itu tidak berangkat sekolah. Dalam contoh diatas guru yang marah dan tidak boleh masuk kelas adalah reinforce negative, yang meningkatkan perilaku terlambat. Acmad Rifa’I (2009 : 121) mengungkapkan reinforce negative itu sebenarnya adalah merupakan hukuman (punishment). Reinforcemnt negative dalam proses pendidikan seyogyianya dihindari karena akan dapat meningkatkan perilaku yang tidak dikehendaki muncul. Penguatan dapat diberikan secara terus-menerus atau berkala. Jika setiap respons diikuti dengan penguatan, maka tindakan ini dinamakan pemberian penguatan secara terus-menerus (continuous reinforcemen schedules) . Sebaliknya, jika sebagian respons yang mendapatkan penguatan, maka tindakan ini dinamakan pemberian penguatan secara berantara (intermittent schedules of reinforcement). Terdapat tiga macam penguatan secara berantara (intermittent schedules of reinforcement) yaitu : 1. Interval schedules: reinforcement diberikan setelah beberapa waktu tertentu setelah perilaku berlalu/dilakukan.  Fixed-interval schedule: pemberian reinforcement pada interval waktu tertentu (after a fixed amount of time). Contoh: tiap 3 menit, tiap minggu/bulan, uts/uas – – Semakin dekat jangka waktu pemberian, semakin sering respon muncul Jika reinforcement dihilangkan, respon lebih cepat punah pada subjek yang sebelumnya diberikan continuous reinforcement daripada intermittent reinforcement  Variable-interval schedule: reinforcement diberikan pada interval yang bervariasi (a random/variable time schedule) Contoh: orang memancing ikan, kadang cepat dapat, kadang lama baru dapat.

2. Ratio schedules: reinforcement diberikan setelah muncul sejumlah respon tertentu.  Fixed-ratio schedule: Reinforcement diberikan setelah munculnya sejumlah respon dari subjek (a fixed Σ of responses). Contoh: tiap 20 respon, sales bekerja dengan sistem komisi. – –  Tidak dibatasi waktu munculnya respon Semakin banyak respon yang muncul, semakin besar peluang memperoleh reinforcement Variable-ratio schedule: pemberian reinforcement didasarkan pada ratarata jumlah respon antar reinforcement, tetapi ada variabilitas besar di sekitar rata-rata itu (variable but based on an overall average Σ of responses). Contoh: mesin judi

3. Natural Reinforcement Dalam makalah 1967 nya, Articifical and Natural reinforcement, Charles Ferster mengusulkan penguatan mengelompokkan ke dalam peristiwa yang meningkatkan frekuensi dari operan sebagai konsekuensi alami dari perilaku itu sendiri, dan peristiwa yang diduga mempengaruhi frekuensi dengan kebutuhan mereka mediasi manusia, seperti benda ekonomi dimana subjek "dihargai" untuk perilaku tertentu dengan benda apa saja yang dinegosiasikan. Pada tahun 1970, Baer dan Wolf menciptakan nama untuk penggunaan penguatan alami yang disebut "perangkap perilaku" [11]. Sebuah perangkap perilaku hanya membutuhkan respon sederhana untuk memasukkan perangkap, namun begitu memasuki, perangkap tidak dapat ditahan dalam menciptakan perilaku umum berubah. Ini adalah penggunaan perangkap perilaku yang meningkatkan repertoar seseorang, dengan mengekspos mereka untuk penguatan alami dari perilaku itu. Perangkap Perilaku memiliki empat karakteristik:   Mereka "umpan" dengan penguatan yang tinggi, "memancing" siswa untuk masuk perangkap Hanya dengan respon yang rendah-upaya dalam sandiwara yang diperlukan untuk memasuki perangkap

Kontinjensi terkait penguatan dalam perangkap memotivasi orang untuk memperoleh, memperluas, dan memelihara keterampilan akademik / sosial yang ditargetkan

Mereka dapat tetap efektif untuk jangka waktu yang lama karena orang menunjukkan sedikit, jika ada, efek kejenuhan

CONTOH MENU REINFORCEMENT Perilaku Muncul Anak bertanya Senyum, “Bagus” Anak mendapat nilai 100 dalam Menyampaikan pujian, diberi hadiah ujian Anak SD kelas 1 yang sudah berani Menyampaikan berangkat sendiri ke sekolah permen pujian, memberi menyampaikan kata yang di Kehendaki Pemberian Reinforcement

B. TINGKAH LAKU MENURUT PSIKOANALSIS DAN HUMANISTIK 1. Tingkah Laku Menurut Teori Psikoanalisa Menurut Sigmund freud, tingkah laku manusia di pengaruhi oleh kesadaran dan ketidaksadaran. Freud mengenalkan tiga model struktural yaitu id, ego dan superego. Id adalah kebutuhan kearah kesenangan, tidak logis, amoral dan tidak toleransi. Ego adalah realitas dan mempunyai kemampuan untuk meredakan ketegangan bersifat realitas, logis dan objektif. Sedangkan superego adalah berisi nilai-nilai luhur, moral, normative dan mengutamakan kesempurnaan, superego disebut juga hati nurani. Perilaku seseorang adalah hasil dari interaksi antara ketiga komponen tersebut. a. Tingkah laku bermasalah psikoanalisa Tingkah laku bermasalah disebabkan karena dinamika yang tidak efektif antara id, ego dan superego. Dan proses belajar pada masa kecil yang salah sehingga menyebabkan tingkah laku bermasalah Contoh dari perilaku bermasalah  Tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan.

 

Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya

b. Tingkah laku normal Tingkah laku yang didasarkan atas tiga tingkatan keribadian menurut freud yaitu id, ego dan superego, yang ketiganya berjalan secara seimbang sehingga menjadikan tingkah laku itu tidak bermasalah atau normal.

2. Tingkah Laku Menurut Teori Humanistik Teori kepribadian humanistic (Koeswara E, 1991:133) merupakan teori yang menekankan pada kualitas manusia yang unik dan mempunyai potensi untuk mengembangkan dirinya. Teori ini dapat dikembangkan dalam proses bimbingan, bahwa manusia itu pada dasarnya mempunyai sifat yang beragam dan berbagai pemikiran yang berbeda. Dan pada dasarnya manusia juga mempunyai potensi untuk mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing individu. Menurut Maslow kebutuhan manusia itu dibagi menjadi lima tingkatan. Pada hakikatnya manusia memang memiliki banyak keinginan-keinginan yang muncul dari dalam diri individu maupun dari lingkungan sekitarnya. Karena itu, hal tersebut dapat memacu individu agar berusaha mencapai kebutuhankebutuhan tersebut. Supaya kebutuhan-kebutuhan tersebut tercapai maka individu tersebut membutuhkan lingkungan atau orang lain. Hendaknya konselor dapat memposisikan dirinya agar dapat memahami kebutuhankebutuhan yang diinginkan oleh kliennya. Pribadi sehat menurut carl rogers diistilahkan pribadi yang berfungsi secara penuh merupakan pribadi yang ideal dengan karakteristik seperti di bawah ini : 1. Keserasian, keserasian antara diri dan pengalaman manusia merevisi gambaran dirinya agar serasi dengan pengalamannya dan dilambangkan dengan tepat.

2. Keterbukaan terhadap pengalaman bila individu berada dalam keadaan bebas ancaman, maka ia akan terbuka terhadap pengalamannya. Terbuka terhadap pengalaman adalah kebalikan dari sikap mempertahankan diri. Hal ini berarati, bahwa setiap stimulus baik yang berasal dari organisme atau dari lingkungan dapat disampaikan secara bebas melalui sistem saraf tanpa dikaburkan atau disalurkan menggunakan defence mechanisem. 3. Penyesuaian diri secara psikologis penyesuaian diri secara psikologis yang optimal akan terjadi bilamana semua pengalaman dapat diasimilasikan pada tingkat simbolik ke dalam keseluruhan struktur diri. 4. Eksistensionalitas individu cenderung melihat pengalaman dalam istilah yang didiferensiasi (dipilah-pilah), menyadari adanya perbedaan ruang dan waktu, mendasarkan diri pada fakta, menilai dengan berbagai cara, menyadari tingkat-tingkat abstraksi yang berbeda, menguji kesimpulan dan abstraksi dalam realita. 5. Matang, kematangan (mature, maturity) individu dikatakan menunjukkan tingkah laku yang matang bilamana ia mempersepsi diri secara realistis, tidak defensif, menerima tanggung jawab, mengevaluasi pengalaman berdasarkan dari penginderaannya sendiri, menerima orang lain sebagai individu yang berbeda dari dirinya dan menghargai diri dan orang lain. Jadi perilaku dalam teori humanistic adalah tidak tercapainya 5 unsur tadi.

C. APLIKASI REINFORCEMENT TERHADAP PERILAKU 1. Psikoanalisis Psikoanalisis berfokus pada keseimbangan id, ego, dan superego untuk mengklasifikasikan individu tersebut bermasalah atau tidak. Jika ketiga komponen tadi seimbang dalam artian tidak terjadi dominasi oleh salah satu komponen, maka muncul perilaku normal. Sebaliknya, jika terjadi dominasi oleh salah satu komponen maka muncul masalah. Pemberian reinforcement positive, pada dasarnya adalah pemberian reward jika perilaku normal dimunculkan. Jadi reinforcement positive tepat digunakan pada saat awal mulai munculnya perilaku normal. Misalnya, seorang ketua

sebuah kelompok dapat mengambil keputusan yang tidak memberatkan anggotanya, reinforcement yang diberikan biasanya berupa sanjungan atau pujian yang dapat di contohkan seperti “Keputusanmu benar-benar tepat, kami senang akan keputusanmu” Pemberian reinforcement negative, tampaknya penguatan ini tidak terlalu bagus jika diberikan pada pendekatan psikoanalisis karena dinilai akan membuat individu yang berperilaku bermasalah akan mencari cara lain untuk melakukan perilaku bermasalah tadi, bukan menghindari perilaku bermasalah tadi. Tetapi, jika perlu digunakan reinforcement ini kemungkinan akan lebih tepat diberikan pada saat individu yang berperilaku bermasalah tadi sedang menjalankan perilaku bermasalah agar individu tersebut mengetahui bahwa apa yang sedang dilakukannya harus dihindari. Misalnya, seorang anak yang sangat senang tidur. Pada saat ia tidur, orang tuanya menegur atau memberikan sindiran bahwa tidur terus menerus tidak baik untuk kesehatan Reinforcement natural diberikan pada saat individu telah menjalankan perilaku normal. Seperti anak yang telah membantu orang tua, kemudian orang tua memberikan penghargaan berupa uang atau benda ekonomis lainnya.

2. Humanistik Pada dasarnya kepribadian yang sehat itu terbentuk setelah individu dapat mengaktualisasikan dirinya seutuhnya. Dalam proses bimbingan hendaknya konselor dapat membantu kliennya agar menjadi pribadi yang sehat serta dapat mencapai keinginan yang ada dalam individu tersebut, serta menggali potensipotensinya. Reinforcement positive diberikan pada saat individu mulai menunjukkan perilaku normal (aktualisasi diri). Misalnya, Siswa yang bertanya mendapat pujian dari guru seperti penggunaan kata “Pertanyaan kamu bagus sekali”. Hal tersebut akan mendorong siswa untuk bertanya lagi. Reinforcement negative akan lebih tepat diberikan pada saat perilaku normal mengalami penurunan atau gangguan agar terhindar dari faktor luar yang mempengaruhi aktualisasi diri. Misalnya, seorang individu yang asalnya

aktif bertanya tiba-tiba menjadi jarang bertanya karena sibuk bermain laptop, reinforcement negative yang diberikan biasanya dalam bentuk sindiran. Reinforcement natural lebih tepat diberikan pada saat muncul gejala-gejala perilaku tidak normal; seperti mulai pemalu, bersikap pasif, penakut, malas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->